P. 1
silabus-dan-rpp-penjas1

silabus-dan-rpp-penjas1

|Views: 421|Likes:

More info:

Published by: Mozzaini Sichusnul Hakim on Feb 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2012

pdf

text

original

Sections

  • 1.2 Rumusan Masalah
  • 1.5 Tujuan Penelitian
  • 1.6 Manfaat Penelitian
  • 2.1 Persepsi
  • 2.2 Kinerja
  • 2.3 Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
  • 3.1 Penentuan Obyek Penelitian
  • 3.2 Teknik Pengumpulan Data
  • 3.3 Analisis Uji Instrumen
  • 3.4 Metode Analisis Data
  • HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
  • 4.1 Hasil Penelitian
  • antar sekolah
  • 25. Guru Penjasorkes Mengenal Internet
  • Tabel 4.26 Guru Penjasorkes Aktif dalam MGMP
  • 27. Guru Penjasorkes Aktif Berolahraga di Luar Jam Kerja
  • Tabel 4. 27 Guru Penjasorkes Aktif Berolahraga di Luar Jam Kerja
  • menjawab guru Penjasorkes aktif berolahraga di luar jam kerja
  • masyarakat sekitar

PERSEPSI GURU NON PENJASORKES TERHADAP KINERJA GURU PERNJASORKES TINGKAT SMA DI KECAMATAN MOGA KABUPATEN PEMALANG TAHUN

2008 / 2009

SKRIPSI Diajukan Dalam Penyelesaian Strata I Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh RIFAI 6101404086

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2009

SARI Rifai. 2009. Skripsi ini berjudul “Persepsi Guru Non Penjasorkes Terhadap Kinerja Guru Pernjasorkes Tingkat SMA Di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang Tahun 2008 / 2009”. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Semarang. Kata kunci : Persepsi, Kinerja Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran karena bagi dunia pendidikan, guru memegang kunci keberhasilan dimana secara lebih dominan akan mempengaruhi mutu pendidikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas guru memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan kualitas output pendidikan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru pendidikan jasmani? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja Pembelajaran Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Tingkat SMA Di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang tahun ajaran 2008 / 2009. Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah guru Non Pendidikan jasmani tingkat SMA di Kecamatan Moga yang berjumlah 3 sekolahan, dengan jumlah guru bukan penjas orkes sebanyak 65 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan penelitian populasi yaitu dengan mengambil seluruh populasi, yang berjumlah 65 orang. Metode pemilihan data yang dilakukan ini adalah dengan metode angket atau kuesioner. Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian adalah dengan menggunakan metode deskriptif persentase. Berdasakan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 9,2% menyatakan bahwa kinerja guru penjasorkes termasuk dalam kategori rendah sekali, 6,2% menyatakan kinerja guru penjasorkes rendah, 12,3% menyatakan kinerja guru penjasorkes sedang dan selebihnya sebanyak 72,3% menyatakan kinerja guru pernjasorkes termasuk kategori tinggi. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah : “Sebagian besar persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang termasuk dalam kategori tinggi (72,30%)”. Hendaknya guru Penjasorkes mampu meningkatkan kinerjanya terutama dalam bidang komputer dan internet. Hal ini akan sangat menunjang kinerja guru terutama dalam menyusun atau membuat laporan-laporan terkait dengan proses pembelajaran di sekolah. Adapun saran yang dapat peneliti berikan diantaranya guru hendaknya mampu meningkatkan kemampuannya dalam perilaku atau bertindak secara bijaksana dalam mengatasi kenakalan siswa, peduli dan empati dengan sesama guru, menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai dengan sesama guru, mendiskusikan permasalahan yang dihadapi siswa dengan orang tua dan mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar.

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi.

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Drs. Tri Nurharsono,M.Pd NIP. 131571556

Mohamad Annas,S.Pd, M.Pd NIP. 132307269 Mengetahui, Ketua Jurusan PJKR

Drs. Hermawan Pamot Raharjo, M.Pd NIP 131961216

iii

M. Nasution. Zaeni.Kes NIP. 131961216 Dewan Penguji.Pd NIP.Pd NIP. 131413271 (Ketua Penguji) 2.Pd. M. Drs. Hermawan Pamot R. M. M. M. Sekretaris. 1. H.Pd NIP. 131876219 Drs. S. Tri Nurharsono. M.Pd NIP. Drs. Mohammad Annas. 131571556 (Anggota I) 3. 132307269 (Anggota II) iv . Drs.HALAMAN PENGESAHAN Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang Pada hari Tanggal : : Panitia Ujian Ketua Panitia.

baik sebagian atau seluruhnya. 6101404086 v . Semarang. Maret 2009 RIFAI NIM. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

dan Waginah Eka Setyaningsih teman dekatku Rekan-rekan PJKR Teman-teman cost yang memberi dukungan Almamater Universitas Negeri Semarang vi . maka jelas bahwa tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselesaikan” (Penulis) Skripsi ini kupersembahkan sebagai tanda ketulusan cinta dan bakti kepada: Bapak dan Ibu tercinta. Tarniti. Casmadi dan Sumirah yang telah membimbing dan membesarkanku Saudara-saudaraku. Sukirno. Muryati.MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO “Tidak ada kusut yang tidak dapat diurai. Tasirin.

4. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini. M. Dekan FIK UNNES. M.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya. vii . sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Bapak Mohamd Annas. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian. dan bantuan dari berbagai pihak. Fakultas Ilmu Keolahragaan.Pd. Tri Nurharsono. 6. 3. pengarahan. serta bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Ketua Jurusan PJKR FIK UNNES atas persetujuan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. 5. Zaeni. S. Universitas Negeri Semarang.Pd selaku pembimbing pendamping yang telah memberikan pengarahan dan bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Drs. Rektor Universitas Negeri Semarang 2. Bapak Drs. maka dalam penelitian ini penulis untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Keberhasilan dalam penyelesaian skripsi ini tentunya tidak lepas dari bimbingan. M. selaku pembimbing utama yang telah memberikan petunjuk.Pd. H.Pd.

Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya. Staf Administrasi dan TU FIK UNNES yang telah membantu proses adinistrasi. 9. Semarang. Semoga Allah Swt melimpahkan rahmat dan karunia-Nya atas kebaikan semua pihak yang banyak membantu materiil maupun spirituil kepada penulis. Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Kepala Sekolah dan Guru Penjasorkes di SMA se-Kabupaten Pemalang yang telah membantu dalam pengambilan data penelitian. Rekan-rekan mahasiswa PJKR atas bantuan dan dorongannya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 11. untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Januari 2009 Penulis viii .7. Bapak dan Ibu dosen FIK UNNES yang telah memberikan bekal-bekal ilmu kepada penulis selama menjadi mahasiswa. 10. Dengan segala keterbatasan dan kerendahan hati penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangannya. 8.

........................ 29 3......................................3 Analisis Uji Instrumen ......................3 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.. 10 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS ......................................5 Manfaat Penelitian ............. vii DAFTAR ISI................................................................ iii PENGESAHAN.................................. 10 1........................................................................ 28 3..... i SARI.................................................................1 Hasil Penelitian .......................................................................... vi KATA PENGANTAR ... v MOTTO DAN PERSEMBAHAN .......................................................... 53 ix ....................... iv PERNYATAAN ....................................................... 34 4........................................................................................................................................................DAFTAR ISI Hal JUDUL ...................................... 14 2.............................. 12 2.............................. 30 3.......... ........................................1 Penentuan Obyek Penelitian .....2 Teknik Pengumpulan Data.................. xiii BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................................3 Penegasan Istilah .1 Persepsi ............................................... 5 1....................................2 Rumusan Masalah ..................................................................................................4 Metode Analisis Data ....... 28 3..................................................................................................... ix DAFTAR TABEL ............................................ 1 1.............................................................................................................................................................................................................. 31 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................... 5 1.......................................... ii PERSETUJUAN .............................................................................................................1 Latar Belakang .................2 Kinerja........................................................................... 1 1....... 34 4................................ 12 2........................................................................................................ 21 BAB III METODE PENELITIAN ...................................................4 Tujuan Penelitian ......2 Pembahasan................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN............................

....................................2 Saran............................................... 56 5....................................................BAB V SIMPULAN DAN SARAN ...........................................................1 Simpulan ........... 56 5....................... 56 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN x ....................

.........................................2 Guru Penjasorkes senantiasa bertindak sesuai dengan norma................................. ............ ..................................1 Guru Penjasorkes yang disiplin...........13 Guru Penjasorkes memiliki inisiatif untuk merancang dan mengembangkan media/sarana belajar sederhana untuk kepentingan proses belajar mengajar...4 Selama berada di lingkungan sekolah Guru Penjasorkes berprilaku sopan...14 Guru Penjasorkes tepat waktu dalam menyelenggarakan dan menyerahkan hasil evaluasi belajar.............................................................15 Guru Penjasorkes membuka diri untuk menjalin keakraban dengan perserta didik.. .. 41 4.............................................................................................................................................3 Selama berada di lingkungan sekolah Guru Penjasorkes sopan dalam bertutur........................................ .................................... ............ 38 4.........................8 Guru Penjasorkes menunjukkan komitmen sebagai umat beragama.....................................................................9 Peserta didik di sekolah tampak bersemangat saat mengikuti proses pembelajaran penjas......... 34 4................6 Guru Penjasorkes disegani oleh peserta didik.................................... 36 4.........................12 Guru Penjasorkes melakasanakan kewajiban dalam menyusun dan mengembangkan silabus dan RPP..11 Pembelajaran Guru Penjasorkes menyelenggarakan diminati oleh peserta didik.........7 Guru Penjasorkes memiliki wibawa sebagai seorang pendidik......................................... 40 4.......................... ........................ 39 4...... 36 4.............. ..................... ..................... tata tertib dan komitmen yang telah disepakati..... 40 4..... 41 xi ....... 35 4....... ...........................................................10 Guru Penjasorkes pernah memberikan hukuman fisik pada peserta didik............... 37 4.......... 38 4.. 35 4.....................5 Guru penjasorkes di sekolah berpenampilan tepat sesuai situasi dan kondisi............ 39 4................. 37 4......... .........................................DAFTAR TABEL Tabel Hal 4..........................

..... ............................................................................................. 45 4. 50 4............. 45 4.........................16 Guru Penjasorkes mampu bertindak bijaksana dalam mengatasi kenakalan peserta didik...22 Guru Penjasorkes Menyelenggarakan Pertandingan Olahraga Antar Sekolah.......................... 43 4..................32 Guru Penjasorkes Pernah Memiliki Permasalahan Dengan Masyarakat Sekitar ...................................26 Guru Penjasorkes Aktif dalam MGMP ............... 48 4........................ 50 4................... ..........18 Guru Penjasorkes memainkan salah satu cabang olahraga........... 48 4.................................................................................................................29 Guru Penjasorkes Dapat Bekerjasama Dengan Teman Sejawat .... melalui ekstrakulikuler ata klub atau kegiatan pengembangan lainnya......................................................................... 42 4. 44 4.............. 42 4........... 49 4....................................................30 Guru Penjasorkes Mengkomunikasikan Pikirannya Dengan Kalimat Yang Jelas .................................................................. ...................................................31 Guru Penjasorkes Pernah Memiliki Permasalahan Dengan Orangtua Siswa ............24 Guru Penjasorkes Mampu Mengoperasikan Komputer .............................. 47 4......................................28 Guru Penjasorkes Bersosialiasi Dengan Baik di Lingkungan Sekolah..... 51 xii .....25 Guru Penjasorkes Mengenal Internet ............ 44 4.....................33 Guru Penjasorkes Terlibat Aktif Dalam Kegiatan Sosial di Sekolah..........27 Guru Penjasorkes Aktif Berolahraga di Luar Jam Kerja .........4....................................................................... 47 4................................................17 Guru Penjasorkes tampak terampil dalam memberikan contoh gerak dalam proses pembelajaran... ........................................................20 Guru Penjasorkes membina salah satu cabang olahraga........................34 Persepsi Guru Penjasorkes Terhadap Kinerja Guru Penjasorkes di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang ..................................23 Guru Penjasorkes Mengikuti Pertandingan Olahraga Antar Sekolah.................... 46 4..................19 Guru Penjasorkes mengajarkan lebih dari 2 cabang olahraga............... 46 4................... 43 4......21 Guru Penjasorkes Menyelenggarakan Pertandingan Olahraga Antar Kelas ...... 49 4.......

. 80 xiii ........................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Hal 1.. Instrumen Penelitian .................. Frequency Table ........................................... Surat Keterangan Telah Penelitian.................................................................... Uji Validitas dan Reliabilitas .......... 66 6.................................................... 60 3.......................... SK Penetapan Dosen Pembimbing .... 78 8...................... 61 4................ Data Hasil Penelitian................................................... Permohonan Ijin Penelitian .................. 59 2............................................................................................................................. 63 5.................................... 76 7............. Usulan Penetapan Dosen Pembimbing .............................

prinsip. mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang. Pendidikan bermaksud mengembangkan segala potensi yang dimiliki individu yang secara alami sudah dimiliki. Kepribadian yang dimaksud adalah semua aspek yang meliputi cipta.1 Latar Belakang Masalah Pada hakekatnya yang disebut dengan pendidikan adalah pengaruh bimbingan. juga mempunyai kepercayaan bahwa pendidik yang memberi arahan mampu membuat dirinya menjadi manusia dewasa yang berkepribadian lebih baik (Zaenal Aqib. tanggung jawab. baik disadari maupun tidak disadari. Objek sosial ini berpengaruh terhadap perkembangan individu. karsa (Zainal Aqib. pendidik harus mempunyai kepercayaan diri bahwa ia mampu memberikan arahan pada anak didiknya. Dalam pelaksanaanya. untuk itu individu perlu diberi berbagai kemampuan dalam pengembangan berbagai hal antara lain: konsep. arahan dari orang dewasa kepada anak yang belum dewasa menjadi dewasa. dan ketrampilan. kreativitas. 2008:14). rasa. Pertumbuhan dan perkembangan seseorang yang bersifat kualitatif juga merupakan hasil dari proses pendidikan. Individu juga makhluk yang ingin berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan dapat di kembangkan suatu keadaan yang seimbang serta perkembangan aspek individual dan aspek sosial. Potensi yang ada pada individu tersebut apabila tidak dikembangkan menjadi sumber daya yang terpendam tanpa dapat kita lihat dan rasakan hasilnya. 2008:14).BAB I PENDAHULUAN 1. Pendidikan merupakan kebutuhan setiap orang dalam kehidupannya. anak yang perlahan-lahan mulai matang. Sebaliknya. Guru sebagai tenaga pendidik 1 .

olahraga. latihan ketrampilan dan pemberantasan buta huruf dengan mendayagunakan fasilitas yang ada. sekolah. masyarakat dan pemerintah. olahraga. selanjutnya dengan adanya persepsi yang baik dari guru lain terhadap kinerja guru pendidikan jasmani. Selain motivasi faktor lain yang mempengaruhi kinerja guru pendidikan jasmani. dan kesehatan juga akan berjalan dengan lancar. Persepsi merupakan salah satu peran yang penting dalam pencapaian tujuan dan meningkatkan kinerja guru. Pendidikan juga menjangkau luar sekolah yaitu pendidikan yang bersifat kemasyarakatan. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi dalam proses pencapaian kinerja guru secara optimal diantaranya adalah motivasi. Sehubungan dengan itu maka untuk mencapai realisasi dan tujuan pendidikan nasional perlu adanya partisipasi seluruh lapisan masyarakat termasuk guru. Motivasi merupakan suatu bentuk dorongan yang membuat seseorang untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan yang dikehendaki atau untuk mendapat kepuasan dirinya. dengan adanya fasilitas yang memadai maka seorang guru lebih mudah dalam melakukan proses pembelajaran pendidikan jasmani. diharapkan guru dapat meningkatkan kinerjanya dalam pembelajaran. persepsi dimulai dari pengamatan dan penangkapan mengenal objek-objek dan fakta-fakta melalui pengamatan panca indra. karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga. olahraga.2 sekaligus pengajar harus mampu menunjukkan kepercayaan dirinya tersebut dihadapan siswa melalui kinerja yang sesuai dengan komptensi profesinya sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar. persepsi dan fasilitas. dan kesehatan. dan masyarakat. Peran guru menjadi penentu kualitas bangsa dan sebagai tenaga profesional . dan kesehatan yaitu persepsi.

Berdasarkan keterangan diatas menunjukkan bahwa sebagian guru penjasorkes belum bisa bekerja secara maksimal. Semakin menurunnya prestasi olah raga di Sekolah yang ada di kecamatan Moga. yakni 10 guru SMA N 1 Moga. 10 guru SMK Al-Falah. Hal yang masih sering dipertanyakan adalah tentang keprofesionalan guru pendidikan jasmani. khususnya dalam cabang olah raga bola voli tingkat kabupaten. dan kesehatan di sekolah dan guru menjadi penyebabnya. 6 guru memberikan pendapat bahwa guru penjas bekerja sangat baik . 11 guru memberikan pendapat guru Penjasorkes bekerja dengan sedang sedangkan sisanya yaitu 7 guru memberikan pendapat guru Penjasorkes bekerja kurang maksimal. Berdasarkan survey terhadap 30 guru non penjasorkes di 3 sekolah tingkat SMA di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang yang dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus sampai 6 Agustus 2008 pada 30 guru tingkat SMA di kecamatan Moga kabupaten Pemalang. olahraga. padahal dari tahun ajaran 2003/2004 SMA Moga selalu berada diposisi 3 besar. dari 30 guru yang memberikan pendapat. sedangkan sisanya memberikan pendapat guru penjas sudah mengajar secara maksimal.6 guru memberikan pendapat guru Penjasorkes bekerja dengan baik. olahraga dan. kesehatan . terutama di SMA 1 Moga yang dalam 2 tahun terahir tidak mendapat prestasi apa-apa dalam bidang olah raga. bahkan ditahun ajaran 2004/2005 sempat menjadi juara 1 dalam kejuaraan bola voli tingkat SMA Se-Kabupaten Pemalang kemudian ditahun 2005/2006 menjadi runner-up. Dari data di atas diperoleh kesimpulan bahwa belakangan ini banyak sorotan yang berkaitan dengan terus menurunnya kualitas pembelajaran jasmani. Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran tingkat SMA di kecamatan Moga dihadapkan pada permasalahan berikut. 10 guru SMA Al-Fudlola.3 kependidikan yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam berhasil atau tidaknya program pendidikan tergantung dari kinerja guru itu sendiri.

. metode dan jumlah siswa e. Mengevaluasi secara formatif dan sumatif Masyarakat mempunyai pendapat yang perlu ditingkatkan oleh guru pendidikan jasmani. dan kesehatan adalah: Apakah guru membuat satuan pembelajaran dan rencana pembelajaran dalam mengajar. olahraga.4 dalam melaksanakan tugas mengajar. olahraga. dan mengevaluasi setelah pelajaran selesai. apakah guru memakai pakaian olahraga saat mengajar. materi. dan kesehatan harus: a. prasarana. Untuk itu penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul: “Persepsi Guru Non Pernjasorkes Terhadap Kinerja Guru Pernjasorkes Tingkat SMA Di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang Tahun 2008 / 2009”. Menyiapkan diri dalam hal fisik dan mental b. dalam pencapaian hasil belajar terdapat beberapa faktor meliputi kemampuan mengajar. dan kesehatan. Menyiapkan materi pelajaran sesuai GBPP dan membuat satuan pelajaran c. olahraga. Suryobroto (2001:71) mengatakan bahwa guru pendidikan jasmani. cara mengajar. sarana. apakah guru memperhatikan keselamatan siswa. olahraga. Menyiapkan alat. Agus S. dan fasilitas agar terhindar dari bahaya dan kecelakaan d. Mengkoreksi siswa secara individual dan klasikal f. Mengatur formasi siswa sesuai dengan tujuan. Sebab guru sangat berperan dalam pencapaian hasil belajar siswa. metode mengajar. maka timbulah salah satu pertanyaan bagaimana kinerja guru pendidikan jasmani. dan kesehatan yang baik dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Bertitik tolak dari pokok pikiran dan pendapat dari masyarakat yang telah dipaparkan didepan. perkakas.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas guru memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan kualitas output pendidikan. Untuk itu perlu sebuah kajian lebih mendalam mengenai kinerja guru mengingat guru sebagai sentral dalam proses belajar mengajar. Kinerja guru yang dimaksudkan didasarkan pada kompetensi profesionalisme. alat-bahan. . manajemen sekolah. guru memegang kunci keberhasilan dimana secara lebih dominan akan mempengaruhi mutu pendidikan. antara lain: kurikulum. bertujuan mensuplay ketrampilan melalui pelayanan dan bimbingan kepada siswa. kinerja guru dalam mengajar menjadi diharapkan mampu menghasilkan output sesuai dengan standar yang ditentukan. Profesionalisme disini sebagai suatu spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui studi dan training. sekaligus tempat bertanya bagi siswa. Tenaga pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran karena bagi dunia pendidikan.5 1. Oleh karenanya. Guru dipandang sebagai gudangnya ilmu dan metodologi. hendaknya memiliki kinerja yang berkualitas dengan harapan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan data hasil survey awal menunjukkan bahwa sebagian pendapat guru non penjasorkes menyatakan bahwa kinerja guru penjasorkes masih kurang optimal. sarana-prasarana.2 Rumusan Masalah Mutu produk pendidikan sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan pembelajaran yang dipengaruhi oleh banyak faktor. lingkungan (iklim) kerja dan kerja sama industri. proses pembelajaran. tenaga pendidikan. Guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan.

6 1. Dengan demikian berdasarkan . 1. hubungan antara gejala. Sehingga ada kecenderungan perilaku yang ditunjukan oleh seseorang dalam menanggapi rangsang banyak diwarnai oleh persepsinya oleh rangsang tersebut. sifat dan intensitas perannya dalam kehidupan sehari-hari. penulis merasa perlu untuk membuat batasan yang memperjelas dan mempertegas istilah yang dimaksud dalam penelitian sebagai berikut. Irwanto dkk (1989:71) “proses diterimanya rangsang (obyek.4 Penegasan istilah Untuk menghindari agar tidak terjadi salah pengertian dalam penafsiran judul skripsi ini. yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra. persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses indra. Persepsi Persepsi dapat diartikan sebagai penafsiran atau menafsirkan stimulus yang telah ada di dalam otak. seseorang turut menentukan bentuk. maka dapat permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana Persepsi Guru Non Penjasorkes Terhadap Kinerja Guru Penjasorkes” 1. Dimyati Mahmud (1989:43).3 Permasalahan Dari uraian rumusan masalah tersebut di atas. Filosof Immanuel Kant dalam M. maupun peristiwa) sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti disebut persepsi” Batasan persepsi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses aktivitas kejiwaan seseorang dalam upaya mengenali dan memahami suatu obyek tertentu berdasarkan stimulus yang ditangkap panca indranya. bahwa persepsi itu merupakan pengertian kita tentang situasi sekarang dalam artian pengalaman-pengalaman kita yang telah lalu. kualitas. Menurut Bimo Walgito (1992:70).

dari tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan.7 uraian di atas timbulnya suatu persepsi seseorang dengan yang lain akan berbedabeda tentang kinerja guru pendidikan . Dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja tersebut memiliki ukuran atau prasyarat tertentu dan mencakup dimensi yang cukup luas dalam arti bahwa penelitian tetap mempertimbangkan berbagai situasi dan kondisi yang mempengaruhi hasil kerja tersebut. Bernadin dan Russel dalam Gomes (2003:135) “memberikan batasan kinerja adalah sebagai catatan hasil kerja yang dihasilkan dari fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode tertentu”. Tujuan belajar mengubah tingkah laku siswanya.Kinerja yang berkaitan dengan tugas-tugas guru itu menuju pada kompetensi guru yang harus dilaksanakan guru tersebut dalam rangka untuk mencapai tujuan belajar yang dikehendaki. Unjuk kerja yang terkait dengan tugas yang diemban dan merupakan tanggung jawab profesionalnya. Dalam hal ini kinerja yang mengacu pada tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh seorang guru. Kinerja guru adalah unjuk kerja. Byars dan Rue (dalam Akhmad Radhani. 2. sesuatu yang diharapkan”. Kinerja Pengertian kinerja menurut kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “prestasi yang diperlihatkan kemampuan kerja. 2002:10) mengatakan bahwa kinerja menunjukkan pada tingkat penyelesaian tugas-tugas yang membentuk pekerjaan seorang individu. dan kesehatan. . dari tidak mempunyai keterampilan menjadi terampil (dalam hal memecahkan masalah). Kinerja merefleksikan seberapa baiknya seorang individu memenuhi prasarat-prasarat dari sebuah pekerjaan itu. olahraga.

memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan potensi peserta didik dalam dunia olahraga dan memiliki kemampuan untuk menyalurkan hobinya dalam olahraga. Guru Pendidikan Jasmani. dan menilai serta mengkoreksi dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. dan kesehatan harus mempunyai karakteristik untuk dikatakan mampu mengajar pendidikan jasmani. 4) tidak buta warna. dan kesehatan. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa guru adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. dan kesehatan. mengembangkan dan memanfaatkan faktor-faktor lingkungan yang ada dalam upaya mencapai pendidikan jasmani. mampu memberikan bimbingan dan pengembangan anak dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani. mampu merencanakan. dan kesehatan. . dan kesehatan. mampu membangkitkan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi dan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. Seorang guru pendidikan jasmani. memiliki kemampuan untuk menciptakan. olahraga.olahraga. mengendalikan. 5) intelegen. memiliki pemahaman tentang unsur-unsur kondisi fisik. olahraga. memiliki pemahaman dan penguasaan keterampilan gerak. serta mampu menumbuhkan potensi kemampuan dan keterampilan motorik anak. olahraga dan kesehatan yaitu: memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan karakteristik anak didik. Sukintaka (2001:42) mengatakan bahwa agar mempunyai profil guru pendidikan jasmani maka dituntut memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) sehat jasmani dan rohani dan berprofil olahragawan. dan Kesehatan Menurut UU No. olahraga. olahraga. 3) tidak gagap.8 3. menilai pembelajaran. 2) berpenampilan menarik. Olahraga. melaksanakan. 6) energik dan berpenampilan motorik.

olahraga.2002:1). mental. Menurut kurikulum SMA tahun 2003 (Depdiknas. perceptual. . 2003:2) Pendidikan jasmani. kognitif dan emosional dalam rangka mewujudkan sistem pendidikan nasional”. atau dengan kata lain adalah karakteristik individu seperti intelegensi. sosial dan emosional yang selaras. Dalam penelitian ini peneliti tegaskan kemampuan kerja guru pendidikan jasmani. dan Kesehatan Pendidikan jasmani. dan kesehatan adalah mata pelajaran yang merupakan bagian dari pendidikan keseluruhannya yang dalam proses pembelajarannya mengutamakan aktivitas jasmani dan kebiasaan hidup sehat menuju pada pertumbuhan dengan pengembangan jasmani. kemampuan menilai kemajuan proses belajar mengajar. olahraga. dan kesehatan merupakan suatu potensi untuk melakukan sesuatu hal dalam pekerjaan.9 Penulis menyimpulkan bahwa kemampuan kerja guru pendidikan jasmani. Olahraga. olahraga. kemampuan melaksanakan atau mengelola proses mengajar. traits yang merupakan kekuatan potensi seseorang untuk berbuat yang bersifat stabil. dan kesehatan dapat dikelompokkan dalam kemampuan dasar yaitu: kemampuan menguasai materi. dan kesehatan adalah “proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik. 4. Pendidikan Jasmani. kemampuan merencanakan program belajar mengajar. olahraga. manual skill. serasi dan seimbang (GBPP. neoromuskuler.

Bagi pihak sekolah. 1. intelegensi.5 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk mengetahui kinerja Pembelajaran Guru Pendidikan Jasmani. . olahraga dan kesehatan dalam pelaksanaannya memiliki tujuan dan fungsi menumbuhkembangkan siswa dari aspek organik. olahraga dan kesehatan sangat memperhatikan landasan-landasan kesehatan dan kematangan. Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan mengenai konsepkonsep pendidikan jasmani. 1. Olahraga.6 Manfaat Penelitian 1. olahraga dan kesehatan dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani. olahraga dan kesehatan direncanakan sedemikian rupa untuk mencapai perkembangan total dari peserta didik yang mencakup bukan saja perkembangan fisik. emosi dan sosial. informasi ini nantinya dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam mengambil langkah-langkah melaksanakan kinerja pembelajaran guru pendidikan jasmani. karena di dalam pendidikan jasmani. neoromuskular. perceptual. olahraga dan kesehatan. pendidikan jasmani. emosional. dan Kesehatan Tingkat SMA Di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang tahun ajaran 2008 / 2009. fisik dan merupakan suatu proses gerak manusia yang menuju pada pengembangan pola-pola perilaku manusia. kognitif. akan tetapi aspek moral dan spiritual.10 Seperti kegiatan pendidikan lainnya.

dan kesehatan. 6. Dari hasil penelitian ini dapat sebagai bahan masukan untuk prodi PJKR tentang kekurangan dan kelebihan kinerja pembelajaran guru. 3. olahraga. Berguna bagi pembaca yaitu dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam peningkatan kinerja guru pendidikan jasmani. 4. Sebagai bahan informasi untuk penelitian lebih lanjut yang mempunyai relefansinya. Memberikan informasi kepada masyarakat agar bisa menilai guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Memberikan informasi kepada guru dalam peningkatan pengetahuan dan peningkatan profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan.11 2. 5. .

Robbins. namun seperti sebagian besar dari kita tahu. manajemen yang bijaksana dan bertanggungjawab. kondisi kerja yang menyenangkan. dimungkinkan bahwa semua karyawan dalam perusahaan tertentu memandang organisasi sebagai tempat yang hebat untuk bekerja. 2007 : 170). cakrawala dan pengetahuannya. Persepsi menurut kamus besar bahasa adalah merupakan tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu. 2007 : 171). Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman. namun sering terdapat ketidaksepakatan. pengalaman masa lalu dan harapan (Stephen P. kepribadian. kepentingan atau minat. sangatlah tidak biasa untuk mendapatkan kesepakatan seperti itu (Stephen P. Robbins.1 Persepsi a) Pengertian persepsi Persepsi adalah proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam memberikan makna kepada lingkungan mereka. Diantara karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan obyektif. Pada saat seseorang memandang sebuah obyek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya. 12 . motif. Misalnya. Tidak harus selalu berbeda. penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi individu pelaku persepsi itu. tugas pekerjaan yang menarik. upah yang baik. Mar’at (1981:22-23) “persepsi merupakan proses pengamatan seseorang berasal dari komponen kognisi.BAB II LANDASAN TEORI 2.

ide tau situasi tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sebagai berikut: 1. b) Faktor yang mempengaruhi persepsi Persepsi bukan hanya proses penginderaan tetapi terdapat proses pengorganisasian dan penilaian yang bersifat psikologis. Batasan persepsi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses aktivitas kejiwaan seseorang dalam upaya mengenali dan memahami suatu obyek tertentu berdasarkan stimulus yang ditangkap panca indranya. Sedangkan objek psikologik ini dapat berupa kejadian. Obyek Obyek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indra atau reseptor. dan kesehatan. Sedangkan pengetahuannya dan cakrawalanya memberikan arti terhadap obyek psikologik tersebut. Dengan demikian berdasarkan uraian di atas timbulnya suatu persepsi seseorang dengan yang lain akan berbeda-beda tentang kinerja guru pendidikan .13 Manusia mengamati suatu objek psikologik dengan kacamatanya sendiri dengan diwarnai oleh nilai dari kepribadiannya. sifat dan intensitas perannya dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pengalaman. Stimulus dapat datang dari luar individu yang bersangkutan yang langsung . proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. Sehingga ada kecenderungan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang dalam menanggapi rangsang banyak diwarnai oleh persepsinya terhadap rangsang tersebut. olahraga. seseorang turut menentukan bentuk. dan kemudian akan timbul suatu konsep tentang apa yang dilihat”. Melalui komponen kognitif ini akan menimbulkan ide.

Di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf. Dan alat indera merupakan syaraf fisiologi. 2. yaitu otak sebagai pusat kesadaran. 2.14 mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor. Perhatian Untuk menyadari alat untuk mengadakan persepsi diperlukan adanya perhatian. Pengertian kinerja menurut kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “prestasi yang diperlihatkan kemampuan kerja. Namun sebagian besar stimulus datang dari luar individu. 1994:70).2 Kinerja a. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan pada sesuatu atau sekumpulan obyek. Dan perhatian merupakan syarat psikologi (Bimo Walgito. 3. Bernadin dan Russel dalam Gomes (2003:135) “memberikan batasan kinerja adalah sebagai catatan hasil kerja yang . yaitu merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam rangka mengadakan persepsi. Sebagai alat untuk mengadakan respon diperlukan syaraf motoris. sesuatu yang diharapkan”. Reseptor Reseptor merupakan alat untuk menerima stimulus. Pengertian Kinerja Kinerja merupakan salah satu yang patut diperhatikan dalam rangka peningkatan produktifitas kerja suatu organisasi atau perusahaan dalam upaya peningkatan produknya agar mampu bertahan maupun dapat meningkatkan keunggulan ditengah pasar persaingan yang sangat kuat.

Dalam hal ini kinerja yang mengacu pada tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh seorang guru. Kinerja merefleksikan seberapa baiknya seorang individu memenuhi prasarat-prasarat dari sebuah pekarjaan itu. Kinerja guru terlihat pada kegiatan perencanaan. dan disiplin profesional guru. Byars dan Rue (dalam Akhmad Radhani. .melaksanakan dan menilai proses belajar mengajar yang intensitasnya dilandasi oleh etos kerja. Murphy (dalam Sukadjo 2000:20) “kinerja berarti kualitas perilaku yang berorientasi pada tugas atau pekerjaan”. 2002:10) mengatakan bahwa kinerja menunjukan pada tingkat penyelesaian tugas-tugas yang membentuk pekerjaan seorang individu. dari tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan. Hani Handoko (1987:135) mengatakan “penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah proses melalui mana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan”. Tujuan belajar mengubah tingkah laku siswanya. T.15 dihasilkan dari kerja yang dihasilkan dari fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama periode tertentu”. Kinerja menurut Milkovich dan Boudreu dalam Diah Zuhrianah. Kinerja yang berkaitan dengan tugas-tugas guru itu menuju pada kompetensi guru yang harus dilaksanakan guru tersebut dalam rangka untuk mencapai tujuan belajar yang dikehendaki. seperti yang dibedakan dari pengetahuan atau informasi yang tidak diterjemahkan kedalam tindakan”. (2001:17) mengatakan bahwa “kinerja pegawai adalah tingkatan dimana prestasi kerja pegawai disyaratkan”. Performance menurut Atkinson (1983:452) adalah “perilaku yang tampak. dari tidak mempunyai ketrampilan menjadi terampil (dalam hal memecahkan masalah).

sehingga pengakuan terhadap profesi guru semakin berkurang karena masih saja ada orang memaksa diri menjadi guru walaupun sebenarnya yang bersangkutan tidak dipersiapkan untuk itu. . Profil guru setidak-tidaknya memenuhi persyaratan minimal ialah merupakan seorang yang berjiwa Pancasila. Guru merupakan profesi atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang kependidikan. Guru Pendidikan Jasmani. walaupun dalam kenyataannya masih ada orang luar kependidikan yang melakukannya. b. Unjuk kerja yang terkait dengan tugas yang diemban dan merupakan tanggung jawab profesionalnya. Kinerja guru adalah unjuk kerja.16 Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah merupakan hasil kerja tersebut memiliki ukuran atau prasyarat tertentu dan mencakup dimensi yang cukup luas dalam arti bahwa penelitian tetap mempertimbangkan berbagai situasi dan kondisi yang mempengaruhi hasil kerja tersebut. 20 th 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 39 ayat 2 menyebutkan bahwa guru adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Menurut Sukinta (1992:84) profil guru pada umumnya merupakan dasar tugas seorang pendidik. serta pendukung dan pengembang norma. Tugas yang diemban seorang guru bukanlah hal yang ringan karena sebagian dari masa depan generasi muda terletak ditangan guru. Bagaimana cara guru pendidikan mengajar saat ini akan menentukan kualitas generasi. menilai pembelajaran. dan Kesehatan Menurut UU No. dan Undang-Undang Dasar 1945. Olahraga.

dan Kesehatan Profesi guru adalah sebuah pernyataan bahwa seseorang melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. sehingga dapat menyelenggarakan . Olahraga. Atas dasar tanggung jawab itu maka tingkat komitmen dan kepedulian terhadap tugas pokok harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. antara guru pendidikan jasmani. Uzer Usman (2007:17) adalah: 1) Menguasai landasan kependidikan 2) Menguasai bahan pelajaran 3) Menyusun program pengajaran 4) Melaksanakan program pengajaran 5) Menilai hasil proses belajar mengajar yang dilaksanakan Sedang menurut Rochmah Z. Dimensi kompetensi professional guru yag terkait langsung dengan pembelajaran terkait langsung dengan 5 hal yang dikemukakan oleh Moh. dan melatih mereka yang dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu guru sebagai profesi punya tanggung jawab yang multidimensional. dan kesehatan dan guru bidang studi yang lain membutuhkan kompetensi (kemampuan) dasar yang hampir sama. olahraga. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari disekolah. membimbing. mendidik dan melatih. Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani. Tugas utama guru adalah mengajar.17 c. Bakti (1992:3) dalam dunia kependidikan dikenal sepuluh kompetensi guru yang telah dikembangkan oleh proyek pengembangan lembaga kependidikan adalah sebagai berikut 1) Menguasai landasan-landasan kependidikan Dengan menguasai landasan-landasan pendidikan diharapkan guru memiliki wawasan teoritis dengan tugasnya. tanggung jawab dalam mengajar.

sehingga siswa dapat menerima dan mengelolanya secara menetap sebagai bekal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.18 pendidikan sesuai dengan tuntutan perkembangan siswa dalam membina dan mengembangkan pribadi keterampilannya 2) Menguasai bahan pelajaran Mengetahui bahan pelajaran. 5) Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar. 3) Kemampuan mengelola kelas Kemampuan dalam mengelola kelas memungkinkan guru menumbuhkan dan mengembangkan suasana kelas yang dapat mendorong siswa mengikuti proses belajar mengajar dengan penuh minat. memungkinkan guru mengatur kegiatan siswa dalam belajar. memungkinkan guru memilih berbagai media dan sumber belajar yang tepat. sehingga siswa mencapai hasil belajar yang optimal. . sehinga dapat diikuti oleh siswa dengan mudah dan efektif. sehingga keputusan dalam langkah-langkah pembinaan dan pengembangan siswa selanjutnya. 4) Kemampuan mengelola program belajar mengajar Kemampuan mengelola program belajar mengajar. berarti kemungkinan guru dapat menyajikan bahan pelajaran sebaik-baiknya. memungkinkan guru merencanakan dan menyelenggarakan pengajaran dengan baik. 6) Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar Kemampuan menggunakan media dan sumber belajar.

sikap toleransi terhadap sesama teman seprofesinya. pengetahuan tentang bimbingan penyuluhan. artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. pengetahuan tentang kemasyarakatan serta kemampuan umum.Tabrani Risyan (1994:24-25) kemampuan guru dapat dibagi dalam tiga bidang. karena jumlah jam sangat sedikit tiap minggunya. pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa. c) Kemampuan perilaku (performance) artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan dan perilaku. membimbing. seperti penguasaan materi pelajaran. olahraga. Perbedaan dengan kemampuan kogntif berkenaan dengan aspek teori atau pengetahuan. Misalnya sikap menghargai pekerjaannya mencintai dan memiliki rasa senang terhadap mata pelajaran yang dibinanya. yaitu: a) Kemampuan dalam bidang kognitif artinya kemampuan intelektual. pengetahuan mengenai cara mengajar. dan lain-lain. dan kesehatan efektifitas guru dalam mengajar sangat diperlukan. b) Kemampuan dalam bidang sikap.19 Menurut Cece Wijaya dan A. menggunakan alat bantu pelajaran. Dalam pendidikan jasmani. pengetahuan tentang administrasi kelas. . keterampilan menyusun persiapan. bergaul atau berkomunikasi dengan siswa. menilai. pada kemampuan perilaku (performance) diutamakan adalah praktek keterampilan melaksakannya. yaitu keterampilan mengajar. perencanaan mengajar. keterampilan melaksanakan administrasi kelas. pengetahuan mengenai belajar dan tingkah laku individu.

dan kesehatan yang efektif dan efisien jika: 1) Guru tidak mudah marah 2) Guru memberikan penghargaan dan pujian kepada siswa 3) Guru berperilaku yang mantap 4) Waktu untuk pengelolaan kelas tidak banyak 5) Kelas teratur dan tertib 6) Kegiatan bersifat akademis 7) Guru kreatif dan hemat tenaga 8) Guru aktif dan kreatif Sukintaka (2001:42) mengatakan bahwa agar mempunyai profil guru pendidikan jasmani maka dituntut memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) sehat jasmani dan rohani dan berprofil olahragawan. dan kesehatan harus efektif dan efisien dalam melaksanakan proses belajar mengajar. serta mampu menumbuhkan potensi kemampuan dan keterampilan motorik anak. olahraga dan kesehatan yaitu: memiliki kemampuan untuk mengidentifikasikan karakteristik anak didik. Menurut Agus S. 2) berpenampilan menarik. guru pendidikan jasmani. dan kesehatan harus mempunyai karakteristik untuk dikatakan mampu mengajar pendidikan jasmani. 6) energik dan berpenampilan motorik. Seorang guru pendidikan jasmani. dan kesehatan. olahraga. mampu memberikan bimbingan dan pengembangan anak dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan . 5) intelegen. mampu membangkitkan dan memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi dan aktif dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. olahraga.20 maka dari itu pengelolaan kelas seorang guru pendidikan jasmani. olahraga. olahraga. Suryobroto (2001:28) dalam pengelolaan kelas. 3) tidak gagap. 4) tidak buta warna.

Olahraga. dan kesehatan. olahraga. memiliki pemahaman tentang unsur-unsur kondisi fisik.3 Pendidikan Jasmani. Dalam penelitian ini peneliti tegaskan kemampuan kerja guru pendidikan jasmani. olahraga. dan kesehatan dapat diguguskan dalam kemampuan dasar yaitu: kemampuan menguasai materi. Penulis menyimpulkan bahwa kemampuan kerja guru pendidikan jasmani. atau dengan kata lain adalah karakteristik individu seperti intelegensi. manual skill. mampu merencanakan. olahraga. mengembangkan dan memanfaatkan faktor-faktor lingkungan yang ada dalam upaya mencapai pendidikan jasmani. kemampuan melaksanakan atau mengelola proses mengajar. olahraga. Olahraga. mengendalikan. dan kesehatan.21 pendidikan jasmani. dan kesehatan. olahraga. kemampuan menilai kemajuan proses belajar mengajar. memiliki pemahaman dan penguasaan kerampilan gerak. dan kesehatan merupakan salah satu bagian yang penting dari proses pendidikan keseluruhan yang pola pencapaian tujuannya . traits yang merupakan kekuatan potensi sesesorang untuk berbuat yang bersifat stabil. kemampuan merencanakan program belajar mengajar. memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi potensi peserta didik dalam dunia olahraga dan memiliki kemampuan untuk menyalurkan hobinya dalam olahraga. dan Kesehatan a) Pengertian Pendidikan Jasmani. dan menilai serta mengkoreksi dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani. melaksanakan.olahraga. memiliki kemampuan untuk menciptakan. dan kesehatan merupakan suatu potensi untuk melakukan sesuatu hal dalam pekerjaan. dan Kesehatan Pendidikan jasmani. 2.

Seperti kegiatan pendidikan lainnya. dan aspek psikomotor. olahraga dan kesehatan direncanakan sedemikian rupa untuk mencapai perkembangan total dari peserta didik yang mencakup bukan saja perkembangan fisik. perseptual. mental. olahraga dan kesehatan sangat memperhatikan landasan-landasan kesehatan dan kematangan.2002:1).22 menggunakan aktivitas jasmani. kognitif dan emosional dalam rangka memajukan sistem pendidikan nasional”. perseptual. olahraga dan kesehatan dalam pelaksanaannya memiliki tujuan dan fungsi menumbuhkembangkan siswa dari aspek organik. 2003:2) adalah “proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan ndividu secara organik. neoromuskular. intelegensi. fisik dan merupakan suatu proses gerak manusia yang menuju pada pengembangan pola-pola perilaku manusia. aspek afektif. olahraga. neoromuskuler. Pendidikan jasmani. emosional. karena didalam pendidikan jasmani. dan kesehatan adalah mata pelajaran yang merupakan bagian dari pendidikan keseluruhannya yang dalam proses pembelajarannya mengutamakan aktivitas jasmani dan kebiasaan hidup sehat menuju pada pertumbuhan dengan pengembangan jasmani. Berdasarkan pendapat-pendapat yang dikemukakan mengenai konsepkonsep pendidikan jasmani. olahraga dan kesehatan dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani. sedangkan sasaran tujuannya meliputi aspek kognitif. serasi dan seimbang (GBPP. . emosi dan sosial. Menurut kurikulum SMA 2003 (Depdiknas. pendidikan jasmani. social dan emosional yang selaras. akan tetapi aspek moral dan spiritual. kognitif.

. jujur. dan Kesehatan Menurut Depdiknas (20003:2) menyatakan tujuan pendidikan jasmani dan kesehatan sebagai berikut: 1) Meletakan landasan karakter yang kuat melalui nilai dalam pendidikan jasmani. 9) Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif. 8) Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai keselamatan. 7) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. sikap sosial dan toleransi dalam kontek kemajemukan budaya. kerja sama. kebugaran. 5) Mengembangkan keterampilan gerak dan ketrampilan teknik serta strategi berbagai permainan dan olahraga. 3) Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran jasmani. disiplin. aktivitas ritmik. dan pendidikan luar kelas. dan pola hidup sehat.23 b) Tujuan Pendidikan Jasmani. etnis dan agama. bertanggung jawab. sikap cinta damai. percaya diri dan demokratis melalui aktivitas jasmani. 2) Membangun landasan kepribadian yang kuat. 6) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani. Olahraga. 4) Mengembangkan sikap sportif. senam. aktivitas pengembangan.

b. menekuk. Mengembangkan melengkung. seperti: mengayun. meliuk. aspek neuromuskuler. 2. melangkah. yaitu: aspek organik. meloncat. Aspek organik meliputi: a. aspek perseptual. d. Meningkatkan kekuatan yaitu jumlah tenaga maksimal yang dikeluarkan oleh otot atau kelompok otot. . b.Olahraga. Meningkatkan fleksibilitas. Mengembangkan ketrampilan lokomotor seperti: berjalan. non-lokomotor meregang.24 c) Fungsi Pendidikan Jasmani. menggantung. menderap. kapasitas individual untuk melakukan aktivitas yang berat secara terus-menerus dalam waktu relatif lama. c. e. dan Kesehatan Fungsi Pendidikan Jasmani menurut Depdiknas (2003:4-6) meliputi berbagai aspek. aspek kognitif. meluncur. mendorong. Menjadikan fungsi sistem tubuh menjadi lebih baik sehingga individual dapat memahami tuntutan lingkungannya secara memadai serta memiliki landasan untuk pengembangan keterampilan. 1.yaitu rentang gerak dalam persendian yang diperlukan untuk menhasilkan gerakan yang efisien dan mengurangi cidera. Meningkatkan daya tahan kardiovaskuler. Meningkatkan daya tahan yaitu kemampuan otot atau kelompok otot untuk menahan kerja dalam waktu yang lama. berlari. Aspek neuromuskuler meliputi : a. c. keterampilan bergoyang. bergulir dan menarik. aspek emosional. membongkok. Meningkatkan keharmonisan antara fungsi saraf dan otot.

e. rasa gerak. Mengembangkan keseimbangan tubuh yaitu: kemampuan mempertahankan keseimbangan statis dan dinamis. mengubah memantulkan. berkemah. d.25 d. Aspek perceptual meliputi: a. seperti: memukul. tenis. g. g. bawah. e. bola basket. 3. Mengembangkan dominasi yaitu konsistensi dalam menggunakan tangan atau kaki kanan atau kaki kiri dalam melempar dan menendang. power. memvoli. f. irama. berenang. Mengembangkan ketrampilan olahraga seperti: sepak bola.bergulir. yaitu kemampuan mengenali obyek yang ada didepan. softball. baseball. dan lain sebagainya. atletik. Mengembangkan hubungan-hubungan yang berkaitan dengan tempat atau ruang. arah. b. kelincahan. menangkap. sebelah kiri. c. ketrampilan dasar berhenti. Mengembangkan kemampuan menerima dan membedakan isyarat. Mengembangkan koordinasi gerak visual yaitu: kemampuan mengkoordinasikan pandangan dengan ketrampilan gerak yang melibatkan tangan . Mengembangkan faktor-faktor gerak seperti: ketepatan. waktu reaksi. tubuh dan kaki. Mengembangkan lateris yaitu: kemampuan membedakan antara sisi kanan atau sisi kiri tubuh diantara bagian dalam kanan atau kiri tubuhnya sendiri. belakang. manipulative melempar. bola voli. mendaki. Mengembangkan menendang. Mengembangkan ketrampilan rekreasi seperti: menjelajah. f. sebelah kanan. . Mengembangkan image tubuh yaitu: kesadaran bagian tubuh atau seluruh tubuh dan hubungannya tempat atau ruang. beladiri.

Meningkatkan pengetahuan bagaimana fungsi tuubuh dan hubungannya dengan aktivitas jasmani. sikap dan nilai agar berfungsi sebagai anggota masyarakat. Mengembangkan kemampuan membuat pertimbangan dan keputusan dalam kelompok. dan arah yang digunakan dalam mengimplementasikan aktivitas dan dirinya. h. d. kecepatan. keselamatan dan etika. Mengembangkan sifat-sifat kepribadian yang positif. d. memahami. . Belajar komunikasi dengan orang lain. Menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan dimana ia berada. Aspek sosial meliputi: a. e. memperoleh pengetahuan dan membuat keputusan. waktu. g. b. f. Meningkatkan pengetahuan peraturan permainan. Mengembangkan kepribadian. 5. Belajar menggunakan waktu luang yang konstruktif. Mengembangkan kemampuan penggunaan strategi dan teknik yang terlibat dalam aktivitas yang terorganisasi. Mengembangkan kemampuan bertukar pikiran dan mengevaluasi ide dalam kelompok. c. Aspek kognitif meliputi: a. menemukan sesuatu. Meningkatkan pemahaman tentang pemecahan problem-problem perkembangan melalui gerak. f. bentuk. Menghargai kinerja tubuh: penggunaan pertimbangan yang berhubungan dengan jarak. Mengembangkan kemampuan menggali.26 4. Mengembangkan rasa memiliki dan rasa diterima masyarakat. b. e. c.

sedangkan pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang digunakan siswa untuk menguasai materi pembelajaran”. e. teknik. Mengembangkan sikap yang mencerminkan karakter moral yang baik. 8) menutup pelajaran. 6) penggunaan waktu. 2) penyampaian materi.27 i. Mengembangkan respon yang sehat terhadap aktivitas jasmani. 3) interaksi pembelajaran. metode. 7. “Strategi pembelajaran yang berupa tatap muka terkait dengan pemilihan pendekatan. b. Memberikan saluran untuk mengekspresikan diri dan kreatifitas. Bagian ini menjelaskan mengenai media dan alat yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang akan menunjang pencapaian standar kompetensi atau kompetensi dasar yang ditentukan dan memuat jenis pendekatan atau metode yang dipilih atau digunakan. 4) penguasaan materi. . Sedangkan menurut tim pengajar Micro teaching (2005:8) mengatakan strategi pembelajaran mencakup tatap muka dan pengetahun belajar. 6. (2003:37) “strategi pembelajarn yaitu spesifikasi untuk menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan belajar dalam suatu pelajaran . Dan dalam penilaian proses pembelajaran meliputi: 1) membuka pelajaran. dan media pembelajaran yang digunakan. Menghargai pengalaman estetika dari berbagai aktivitas yang relevan. 7) mengevaluasi. Mengembangkan reaksi yang positif sebagai penonton. Strategi Pembelajaran Menurut Gagne dalam Nasution S. Aspek emosional meliputi: a. 5) pengelolaan kelas. c. Melepaskan aktivitas ketegangan melalui aktivitas fisik yang tepat. d.

(1997:115) populasi merupakan keseluruhan obyek penelitian.1 Penentuan Obyek Penelitian a. Selanjutnya menurut Suharsimi Arikunto (1998:117). lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. dengan jumlah guru bukan penjas orkes sebanyak 65 orang dari jumlah keseluruhan guru Non Penjasorkes di 3 sekolah tingkat SMA di kecamatan moga. dimana universum itu dapat berupa orang. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian.BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. b. Dan apabila subjeknya kurang dari 100. atau 20-25% atau lebih. dimana populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah guru Non Pendidikan jasmani tingkat SMA di Kecamatan Moga yang berjumlah 3 sekolahan. Populasi Menurut Sudarman Danim (2000:87) populasi adalah universum. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto. Selanjutnya jika jumlah penelitiannya besar dapat diambil antara 10-15%. Sampel Sutrisno Hadi (1996:221) mengatakan bahwa “sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi”. jadi sampel dalam penelitian ini menggunakan penelitian populasi yaitu dengan 28 . adalah sebagian atau wakil dari populasi yang di teliti. benda atau wilayah yang ingin diketahui oleh peneliti.

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh arti dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto. dengan cara pengambilan setiap sekolahan. Adapun metode pemilihan data yang dilakukan ini adalah dengan metode angket atau kuesioner. . 1997:163). Metode kuesioner ini digunakan sebagai alat pengumpulan data tentang persepsi guru mata pelajaran selain pendidikan jasmani. Dan untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian terlebih dahulu memilih metode pemilihan data yang tepat. Kuesioner adalah alat pengukur data penelitian dirumuskan dengan kriteria tertentu.29 mengambil seluruh populasi. yang berjumlah 65 orang.2 Teknik Pengumpulan Data Faktor penting yang berhubungan dengan data adalah metode pengumpulan data. dan kesehatan dan tingkat SMA yang ada di kecamatan Moga yang berjumlah 33 soal. keusioner yang dirumuskan tanpa kriteria yang jelas. 1998:140). tidak banyak manfaatnya dilihat dari tujuan penelitian dan hipotesis yang akan diuji (Sudarman Danim. olahraga. 3. Dan ini dilakukan di semua sekolah tingkat SMA di kecamatan Moga. olahraga dan kesehatan terhadap kinerja guru pendidikan jasmani. olahraga dan kesehatan. yaitu saat jam istirahat kemudian diambil secara acak dengan jumlah guru disetiap sekolahan selain guru mata pelajaran pendidikan jasmani.

Untuk mengukur validitas digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson sebagai berikut: rxy = {N ∑ X N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y ) 2 2 − (∑ X ) N ∑ Y − (∑ Y ) 2 }{ 2 } Keterangan: rxy X Y N = koefisien korelasi antara variabel x dan variabel y = nilai factor tertentu = nilai factor total = jumlah peserta (Suharsini Arikunto.30 3. Jika harga reseptor xy hitung lebih besar dari reseptor tabel maka dikatakan item soal atau instrument tersebut valid.3 Analisis Uji Instrumen a.404. 2002:147) Hasil perhitungan rxy dikonsultasikan dengan harga reseptor kritik product moment dengan taraf signifikansi 5% adalah validitas 0. Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kualitas atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto. . 2002:146).

4 Metode Analisis Data Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut: 1. Reabilitas Reabilitas menunjukan pada suatu pengertian bahwa instrumen cukup dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena alat instrumen itu sudah baik (Suharsimi Arikunto. 2002:171) Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan harga tabel r kritik product moment dengan taraf signifikansi 5% adalah realibilitas 0. Dalam penelitian ini untuk mencari realibilitas alat ukur digunakan teknik dengan menggunakan rumus alpha : r11 ⎡ k ⎤⎡ = ⎢ ⎢1 − ⎣ k − 1⎥⎢ ⎦⎣ ∑δ δt 2 b ⎤ ⎥ ⎥ ⎦ Keterangan: R11 K = realibilitas instrumen = banyaknya butir 2 b ∑δ δt = jumlah varian butir = varian total (Suharsimi Arikunto.31 b.404. Jika harga r11 lebih besar dari reseptor tabel maka dikatakan instrumen tersebut reliable. 2002:154). 3. Data dari angket yang didapat berupa data kualitatif. . Agar data tersebut dapat dianalisis maka haruslah diubah menjadi data kuantitatif (Suharsimi Arikunto.

Menetapkan skor tertinggi 2. akan dihasilkan angka dalam bentuk prosentase. sehingga digunakan analisis presentase.32 2002:96). Mengkuantitatifkan jawaban item pertanyaan dengan memberikan tingkat-tingkat skor untuk masing-masing jawaban sebagai berikut: Jawaban option a diberikan skor 3 Jawaban option b diberikan skor 2 Jawaban option c diberikan skor 1 (Kategori ya) (Kategori tidak) (Kategori tidak tahu) 2. Menghitung frekuensi untuk tiap-tiap kategori jawaban yang ada pada masingmasing variabel atau subvariabel. 1991-:164) 4. Hasil analisis dipersentasikan dengan tabel criteria deskriptif persentase. Analisis data penelitian disesuaikan dengan tujan penelitian. Adapun analisis untuk analisis Deskriptif Presentase (DP) adalah: DP = n × 100 % N Keterangan: DP N n = skor yang diharapkan = jumlah skor maksimum = jumlah skor minimum (Sutrisno Hadi. Dari hasil perhitungan dalam rumus. 3. Langkah-langkah perhitungan: 1. Kemudian ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif. Menetapkan skor terendah .

75% Keterangan Tinggi Sedang Rendah Rendah Sekali .76%-62.75% Interval 81. Menetapkan persentase terendah=25% 5.26%-100% 62. Menetapkan rentang persentase= 100%-25%=75% 6.00%-43.50 25. Menetapkan interval=70%:4=18.51%-81. Menetapkan persentase tertinggi=100% 4.25 43.33 3.

1.1 Analisis Tiap Butir Soal 1.3% menjawab guru penjasorkes tidak disiplin dan selebihnya 52 responden atau 80% menjawab guru penjasorkes merupakan guru yang disiplin.1 Hasil Penelitian Untuk memberikan gambaran mengenai persepsi guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru pendidikan jasmani tingkat SMA maka anlisa yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif persentase.0% 52 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 5 responden atau 7. Guru Penjasorkes Merupakan Guru Yang Disiplin Persepsi guru non Penjasorkes mengenai tingkat kedisiplinan guru Penjasorkes dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1 Guru Penjasorkes Merupakan Guru Yang Disiplin No Frekuensi Persentase % 7. 8 responden atau 12.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.3% 8 Tidak 2 80. 34 . Berikut ini adalah persepsi guru non pendidikan jasmani terhadap kinerja guru pendidikan jasmani tingkat SMA di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang dilihat dari dua analisa tersebut : 4.7% 5 Tidak tahu 1 12.7% menjawab tidak tahu. Analisa deskriptif persentase akan disajikan dalam dua bagian yaitu analisa tiap butir soal dan analisa secara keseluruhan.

35 2.5% menjawab guru penjasorkes tidak sesuai norma dan selebihnya 54 responden atau 83.1% 2 Tidak 2 89.2% 58 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 5 responden atau 7.2 Guru Penjasorkes Bertindak Sesuai Norma No Frekuensi Persentase % 15. 2 responden atau 3. Guru Penjasorkes Bertindak Sesuai Norma Persepsi guru non penjas mengenai tindakan guru penjasorkes dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 3.1% menjawab guru penjasorkes tidak sopan dalam bertutur dan selebihnya 52 responden atau 80% menjawab guru Penjasorkes merupakan guru sopan dalam bertutur.4% menjawab bahwa tidak tahu. .1% menjawab guru penjasorkes bertindak sesuai dengan norma. Guru Penjasorkes Sopan Dalam Bertutur Persepsi guru non penjas mengenai tingkat kesopanan guru penjasorkes dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.7% menjawab bahwa tidak tahu.1% 54 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 10 responden atau 15. 1 responden atau 1.7% 5 Tidak tahu 1 3.5% 1 Tidak 2 83.4% 10 Tidak tahu 1 1.3 Guru Penjasorkes Sopan Dalam Bertutur No Frekuensi Persentase % 7.

36

4. Guru Penjasorkes Berperilaku Sopan Persepsi guru non Penjasorkes mengenai perilaku guru Penjasorkes dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.4 Guru Penjasorkes Berperilaku Sopan No Frekuensi Persentase % 10.8% 7 Tidak tahu 1 1.5% 1 Tidak 2 87.7% 57 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 2 responden atau 10.8% menjawab bahwa tidak tahu, 1 responden atau 1,5% menjawab guru penjasorkes tidak sopan dalam berperilaku dan selebihnya 57 responden atau 87,7% menjawab guru Penjasorkes merupakan guru yang sopan dalam berperilaku. 5. Guru Penjasorkes Berpenampilan Sesuai dengan Situasi dan Kondisi Persepsi guru non Penjasorkes dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.5 Guru Penjasorkes Berpenampilan Sesuai dengan Situasi dan Kondisi No Frekuensi Persentase % 13.8% 9 Tidak tahu 1 3.1% 2 Tidak 2 83.1% 54 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 9 responden atau 13.8% menjawab bahwa tidak tahu, 2 responden atau 3,1% menjawab guru penjasorkes tidak berpenampilan sesuai dengan situasi dan kondisi dan selebihnya 54 responden atau 83,1% menjawab guru Penjasorkes berpenampilan sesuai dengan situasi dan kondisi. mengenai penampilan guru Penjasorkes

37

6. Guru Penjasorkes Disegani Oleh Peserta Didik Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan bahwa guru Penjasorkes disegani oleh siswa dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.6 Guru Penjasorkes Disegani Oleh Peserta Didik No Frekuensi Persentase % 20% 13 Tidak tahu 1 3.1% 2 Tidak 2 76.9% 50 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 13 responden atau 20% menjawab bahwa tidak tahu, 2 responden atau 3,1% menjawab guru penjasorkes tidak disegani dan selebihnya 50 responden atau 76,9% menjawab guru Penjasorkes disegani oleh siswa. 7. Guru Penjasorkes Memiliki Wibawa Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes berwibawa sebagai pendidik dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.7 Guru Penjasorkes Memiliki Wibawa No Frekuensi Persentase % 21.5% 14 Tidak tahu 1 1.5% 1 Tidak 2 76.9% 50 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 14 responden atau 21.5% menjawab bahwa tidak tahu, 1 responden atau 1,5% menjawab guru Penjasorkes tidak berwibawa dan selebihnya 50 responden atau 76,9% menjawab guru Penjasorkes merupakan guru yang berwibawa. 8. Guru Penjasorkes Menunjukkan Komitmen Sebagai Umat Beragama Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan bahwa guru Penjasorkes menunjukkan komitmen sebagai umat beragama dapat dilihat pada tabel berikut :

38

Tabel 4.8 Guru Penjasorkes Menunjukkan Komitmen Sebagai Umat Beragama No Frekuensi Persentase % 1 Tidak tahu 10 15.4% 2 Tidak 0 0% 3 Ya 55 84.6% Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 10 responden atau 15.4% menjawab bahwa tidak menunjukkan komitmen dan selebihnya 55 responden atau 84,6% menjawab guru Penjasorkes menunjukkan komimen sebagai umat beragama. 9. Guru Penjasorkes Bersemangat Saat Mengikuti Proses Pembelajaran Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes bersemangat saat pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.9 Guru Penjasorkes Bersemangat Saat Mengikuti Proses Pembelajaran No Frekuensi Persentase % 18.5% 12 Tidak tahu 1 1.5% 1 Tidak 2 80.0% 52 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 12 responden atau 18,5% menjawab bahwa tidak tahu, 1 responden atau 1,5% menjawab guru Penjasorkes tidak bersemangat dan selebihnya 52 responden atau 80% menjawab guru Penjasorkes merupakan guru yang bersemangat. 10. Guru Penjasorkes Pernah Memberikan Hukuman Fisik Kepada Peserta Didik Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes pernah memberikan hukuman fisik dapat dilihat pada tabel berikut :

9% menjawab guru Penjasorkes pernah memberikan hukuman fisik. Guru Penjasorkes Melaksanakan Kewajiban dalam Menyusun dan Mengembangkan Silabus dan RPP Persepsi guru non Penjasorkes mengenai tingkat kedisiplinan guru Penjasorkes dapat dilihat pada tabel berikut : .4% menjawab bahwa tidak tahu.9% Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 10 responden atau 15.10 Guru Penjasorkes Pernah Memberikan Hukuman Fisik No Frekuensi Persentase % 1 Tidak tahu 10 15.7% 44 Ya Jumlah 65 100 No 1 2 3 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 21 responden atau 32.7% menjawab guru Penjasorkes merupakan guru yang diminati oleh siswa.4% 2 Tidak 31 47. 11.7% 3 Ya 24 36. Guru Penjasorkes Diminati Oleh Peserta Didik Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes diminati oleh peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.3% menjawab guru Penjasorkes tidak diminati oleh siswa dan selebihnya 44 responden atau 67. 31 responden atau 47.11 Guru Penjasorkes Diminati Oleh Peserta Didik Frekuensi Persentase % 32. 12.3% 21 Tidak tahu 0% 0 Tidak 67.39 Tabel 4.7% menjawab guru Penjasorkes tidak pernah memberikan hukuman fisik dan selebihnya 24 responden atau 36.

2% 19 Tidak tahu 1 7.7% 5 Tidak 2 63.40 Tabel 4.0% 39 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 20 responden atau 30. 13 Guru Penjasorkes Memiliki Inisiatif Untuk Merancang Dan Mengembangan Media Atau Sarana Pembelajaran No Frekuensi Persentase % 30.1% 41 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 19 responden atau 29.2% menjawab tidak tahu.2% menjawab guru Penjasorkes tidak memiliki inisiatif untuk merancang dan mengembangkan media atau sarana .8% 20 Tidak tahu 1 9.7% menjawab guru Penjasorkes melaksanakan kewajiban menyusun dan mengembangkan selabus dan RPP dan selebihnya 41 responden atau 63.8% menjawab tidak tahu. 6 responden atau 9. 13.1% menjawab guru Penjasorkes melaksanakan kewajiban menyusun dan mengembangkan silabus dan RPP.12 Guru Penjasorkes Melaksanakan Kewajiban dalam Menyusun dan Mengembangkan Silabus dan RPP No Frekuensi Persentase % 29. 5 responden atau 7. Guru Penjasorkes Memiliki Inisiatif Untuk Merancang Dan Mengembangan Media Atau Sarana Pembelajaran Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes memiliki inisiatif untuk merancang dan mengembangkan medua atau sarana pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2% 6 Tidak 2 60.

3 responden atau 4. 14.41 belajar dan selebihnya 39 responden atau 60% menjawab guru Penjasorkes memiliki inisitif untuk merancang dan mengebangkan media atau sarana belajar.2% 45 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 17 responden atau 26.14 Guru Penjasorkes Tepat waktu Dalam Menyelenggarakan Dan Menyerahkan Hasil Evaluasi No Frekuensi Persentase % 26..6% 3 Tidak 2 69.2% 17 Tidak tahu 1 4.6% menjawab guru Penjasorkes tidak disiplin dalam menyerahkan hasil evaluasi dan selebihnya 45 responden atau 69%2 menjawab guru Penjasorkes disiplin dalam menyerahkan hasil evaluasi.1% 2 Tidak 0 0% 3 Ya 63 96. Guru Penjasorkes Membuka Diri Untuk Menjalin Keakraban Dengan Peserta Didik Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes membuka diri untuk menjalin keakraban dengan peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 15. Guru Penjasorkes Tepat waktu Dalam Menyelenggarakan Dan Menyerahkan Hasil Evaluasi Persepsi guru non Penjasorkes mengenai kedisiplinan guru Penjasorkes dalam menyerahkan hasil evaluasi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.15 Guru Penjasorkes Membuka Diri Untuk Menjalin Keakraban Dengan Peserta Didik No Frekuensi Persentase % 1 Tidak tahu 2 3.2% menjawab tidak tahu.9% Jumlah 65 100 .

0% 0 Tidak 2 80. 17.16 Guru Penjasorkes Bertindak Bijaksana No Frekuensi Persentase % 18.5% 12 Tidak tahu 1 1.5% menjawab tidak tahu.42 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 2 responden atau 3. 16.1% menyatakan guru Penjasorkes menutup diri dengan siswa dan selebihnya 63 responden atau 96. Guru Penjasorkes Terampil Dalam Memberi Contoh Gerak Dalam Proses Pembelajaran Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes terampil dalam memberi contoh gerak dalam pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.0% 13 Tidak tahu 1 0.0% 52 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 12 responden atau 18.17 Guru Penjasorkes Terampil Dalam Memberi Contoh Gerak Dalam Proses Pembelajaran No Frekuensi Persentase % 20.5% menjawab guru Penjasorkes tidak bijaksana dalam mengatasi kenakalan siswa dan selebihnya 52 responden atau 80% menjawab guru Penjasorkes bijaksana dalam mengatasi kenakalan siswa.9% menjawab guru Penjasorkes membuka diri untuk menjalin keakraban dengan siswa. Guru Penjasorkes Bertindak Bijaksana Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes bertindak bijaksana dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.0% 52 Ya 3 Jumlah 65 100 .5% 1 Tidak 2 80. 1 responden atau 1.

.9% menjawab tidak tahu.19 Guru Penjasorkes Mengajarkan Lebih Dari 2 Jenis Cabang Olahraga No Frekuensi Persentase % 27. Guru Penjasorkes Memainkan Salah Satu Cabang Olahraga Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes dapat memainkan salah satu cabang olahraga dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.7% 18 Tidak tahu 1 3.9% 2 Tidak 2 3.2% 45 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 18 responden atau 27.7% bahwa tidak tahu.18 Guru Penjasorkes Memainkan Salah Satu Cabang Olahraga No Frekuensi Persentase % 1 Tidak tahu 11 16.1% menjawab guru Penjasorkes tidak mengajarkan . 2 responden atau 3. 18. 2 responden atau 3.1% 3 Ya 52 80.43 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 13 responden atau 20% guru Penjasorkes tidak terampil dalam memberi contoh gerak dalam proses pembelajaran dan selebihnya 52 responden atau 80% menjawab guru Penjasorkes terampil dalam memberi contoh gerak dalam proses pembelajaran. 19.0% Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 11 responden atau 16. Guru Penjasorkes Mengajarkan Lebih Dari 2 Jenis Cabang Olahraga Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes mengajarkan lebih dari 2 cabang olahraga dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1% 2 Tidak 2 69.1% menjawab guru Penjasorkes tidak dapat memainkan salah satu cabang olahraga dan selebihnya 52 responden atau 80% menjawab guru Penjasorkes dapat memainkan salah satu cabang olahraga.

6% menjawab guru Penjasorkes tidak membina salah satu cabang olahraga dan selebihnya 51 responden atau 78. Guru Penjasorkes Menyelenggarakan Pertandingan Olahraga Antar Kelas Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes menyelengarakan salah satu cabang olahraga dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 3 responden atau 4.2% menjawab guru Penjasorkes mengajarkan lebih dari 2 jenis cabang olahraga. .9% menjawab tidak tahu.5% 51 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 11 responden atau 16.44 lebih dari 2 cabang olahraga dan selebihnya 45 responden atau 69. 11 responden atau 16.9% menjawab guru Penjasorkes tidak menyelenggarakan pertandingan olahraga antar kelas dan selebihnya 45 responden atau 69.2% menjawab guru Penjasorkes menyelenggarakan pertandingan olahraga antar kelas.6% 3 Tidak 2 78. 21.8% menjawab tidak tahu.5% menjawab guru Penjasorkes membina salah satu cabang olahraga. Guru Penjasorkes membina Salah Satu Cabang Olahraga Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes membina salah satu cabang olahraga dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.9% 11 Tidak 2 69.20 Guru Penjasorkes membina Salah Satu Cabang Olahraga No Frekuensi Persentase % 16. 20.21 Guru Penjasorkes Menyelenggarakan Pertandingan Olahraga Antar Kelas No Frekuensi Persentase % 13.2% 45 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 9 responden atau 13.9% 11 Tidak tahu 1 4.8% 9 Tidak tahu 1 16.

9% menjawab guru Penjasorkes pernah mengikuti pertandingan olahraga antar sekolah.9% menjawab tidak tahu.45 22. . 4 responden atau 6.9% 50 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 11 responden atau 16. 23 Guru Penjasorkes Mengikuti Pertandingan Olahraga Antar Sekolah No Frekuensi Persentase % 16.9% 11 Tidak tahu 1 6.2% menjawab guru Penjasorkes tidak pernah mengikuti pertandingan olahraga antar sekolah dan selebihnya 50 responden atau 76.9% 11 Tidak tahu 1 1. Guru Penjasorkes Menyelenggarakan Pertandingan Olahraga Antar Sekolah Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes menyelenggarakan pertandingan antar sekolah dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.9% menjawab tidak tahu. Guru Penjasorkes Mengikuti Pertandingan Olahraga Antar Sekolah Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes mengikuti pertandingan olahraga antar sekolah dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. 1 responden atau 1.5% 1 Tidak 2 81.2% 4 Tidak 2 76.22 Guru Penjasorkes Menyelenggarakan Pertandingan Olahraga Antar Sekolah No Frekuensi Persentase % 16.5% menjawab guru Penjasorkes pernah menyelenggarakan pertandingan antar sekolah. 23.5% menjawab guru Penjasorkes tidak pernah menyelnggarakan pertandingan antar sekolah dan selebihnya 53 responden atau 81.5% 53 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 11 responden atau 16.

2% 4 Tidak 2 52.8% 22 Tidak tahu 1 10.24 Guru Penjasorkes Mampu Mengoperasikan Komputer No Frekuensi Persentase % 33.4% menjawab guru Penjasorkes mampu mengoperasikan komputer.8% 7 Tidak 2 55.46 24.8% menjawab guru Penjasorkes tidak dapat mengoperasikan komputer dan selebihnya 36 responden atau 55. Guru Penjasorkes Aktif dalam MGMP Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes aktif dalam MGMP dapat dilihat pada tabel berikut : .5% 27 Tidak tahu 1 6. 25. 25 Guru Penjasorkes Mengenal Internet No Frekuensi Persentase % 41. 7 responden atau 10.3% 34 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 27 responden atau 41.4% 36 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 22 responden atau 33. 4 responden atau 6.3% menjawab guru Penjasorkes mengenal internet. 26. Guru Penjasorkes Mengenal Internet Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes mengenal internet dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4. Guru Penjasorkes Mampu Mengoperasikan Komputer Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes mampu mengoperasikan komputer dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2% menjawab guru Penjasorkes tidak mengenal internet dan selebihnya 34 responden atau 52.8% menjawab tidak tahu.5% menjawab tidak tahu.

9% menjawab tidak tahu. 27.1% menjawab guru Penjasorkes aktif dalam MGMP. 4 responden atau 6.9% menjawab guru Penjasorkes aktif berolahraga di luar jam kerja.8% 2 Tidak 4 6.8% menjawab tidak tahu.2% menjawab guru Penjasorkes tidak aktif berolahraga di luar jam kerja dan selebihnya 37 responden atau 56. Guru Penjasorkes Aktif Berolahraga di Luar Jam Kerja Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes aktif berolahraga di luar jam kerja dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1% Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 20 responden atau 30. 4 responden atau 6.2% menjawab guru Penjasorkes tidak aktif dalam MGMP dan selebihnya 41 responden atau 63.47 Tabel 4.9% 37 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 24 responden atau 36.2% 3 Ya 41 63.26 Guru Penjasorkes Aktif dalam MGMP No Frekuensi Persentase % 1 Tidak tahu 20 30.2% 4 Tidak 2 56.9% 24 Tidak tahu 1 6. 28. 27 Guru Penjasorkes Aktif Berolahraga di Luar Jam Kerja No Frekuensi Persentase % 36. Guru Penjasorkes Bersosialiasi Dengan Baik di Lingkungan Sekolah Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes bersosialisasi dengan lingkungan sekolah dapat dilihat pada tabel berikut : .

3 responden atau 4. Guru Penjasorkes Dapat Bekerjasama Dengan Teman Sejawat Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes dapat bekerjasama dengan baik dengan teman sejawat dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.8% 2 Tidak 3 4.5% menjawab guru Penjasorkes tidak dapat bekerjasama dengan baik dengan teman sejawat dan selebihnya 54 responden atau 83.48 Tabel 4.4% menjawab tidak tahu. 29 Guru Penjasorkes Dapat Bekerjasama Dengan Teman Sejawat No Frekuensi Persentase % 15.1% 54 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 10 responden atau 15.28 Guru Penjasorkes Bersosialiasi Dengan Baik di Lingkungan Sekolah No Frekuensi Persentase % 1 Tidak tahu 9 13. 29.5% Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 9 responden atau 13.4% 10 Tidak tahu 1 1. .6% 3 Ya 53 81.5% menjawab guru Penjasorkes bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekolah.8% menjawab tidak tahu.1% menjawab guru Penjasorkes dapat bekerjasama dengan teman sejawat.6% menjawab guru Penjasorkes tidak bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekolah dan selebihnya 53 responden atau 81.5% 1 Tidak 2 83. 1 responden atau 1.

Guru Penjasorkes Pernah Memiliki Permasalahan Dengan Orangtua Siswa Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes pernah memiliki permasalahan dengan orangtua siswa dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1% menjawab tidak tahu. 2 responden atau 12.5% menjawab guru Penjasorkes dapat mengkomunikasikan pikirannya dengan kalimat yang jelas.49 30.1% 17 Tidak tahu 1 66.5% 12 Tidak tahu 1 3.3% menjawab guru Penjasorkes tidak berkomunikasi dengan baik dan selebihnya 51 responden atau 78.7% 5 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 17 responden atau 26. 30 Guru Penjasorkes Mengkomunikasikan Pikirannya Dengan Kalimat Yang Jelas No Frekuensi Persentase % 18.5% 51 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 12 responden atau 18. 43 responden atau 66.5% menjawab tidak tahu.31 Guru Penjasorkes Pernah Memiliki Permasalahan Dengan Orangtua Siswa No Frekuensi Persentase % 26. 31.2% 43 Tidak 2 7.2% menjawab guru Penjasorkes .1% 2 Tidak 2 78. Guru Penjasorkes Mengkomunikasikan Pikirannya Dengan Kalimat Yang Jelas Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes mengkomunikasikan pikirannya dengan kalimat yang jelas dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.

5% 1 Tidak 2 78. 33.5% menjawab guru Penjasorkes pernah terlibat permasalahan dengan masyarakat sekitar.5% 1 Ya 3 Jumlah 65 100 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 4 responden atau 6.7% menjawab guru Penjasorkes pernah memiliki permasalahan dengan orangtua siswa. 32. Guru Penjasorkes Terlibat Aktif Dalam Kegiatan Sosial di Sekolah Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes terlibat aktif dalam kegiatan sosial di sekolah dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2% 4 Tidak tahu 1 92. 60 responden atau 12.5% 51 Ya 3 Jumlah 65 100 .32 Guru Penjasorkes Pernah Memiliki Permasalahan Dengan Masyarakat No Frekuensi Persentase % 6.3% 60 Tidak 2 1. Guru Penjasorkes Pernah Memiliki Permasalahan Dengan Masyarakat Sekitar Persepsi guru non Penjasorkes yang menyatakan guru Penjasorkes pernah terlibat permasalahan dengan masyarakat sekitar dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.33 Guru Penjasorkes Terlibat Aktif Dalam Kegiatan Sosial di Sekolah No Frekuensi Persentase % 20.2% menjawab tidak tahu.3% menjawab guru Penjasorkes tidak pernah terlibat permasalahan dengan masyarakat sekitar dan selebihnya 1 responden atau 1.50 tidak pernah memiliki permasalahan dengan orangtua siswa dan selebihnya 5 responden atau 7.0% 13 Tidak tahu 1 1.

5% menjawab guru Penjasorkes terlibat secara aktif dalam kegiatan sosial di sekolah. 4 responden atau 6. 1 responden atau 1.2% 6 Rendah sekali 1 6.5% menjawab guru Penjasorkes tidak terlibat aktif dalam kegiatan sosial di sekolah dan selebihnya 51 responden atau 78.2% menyatakan kinerja guru penjasorkes rendah.3% 47 Tinggi 4 Jumlah 65 100 Berdasakan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 6 responden atau 9.3% menyatakan kinerja guru penjasorkes sedang dan selebihnya sebanyak 47 responden atau 72. 8 responden atau 12.1.2 Analisis Kinerja Guru Penjasorkes Setelah dilakukan analisa deskriptif persentase pada tiap butir pertanyaan maka langkah selanjutnya adalah menggambungkan keseluruhan jawaban guru non penjasorkes menjadi satu. 4.2% menyatakan bahwa kinerja guru penjasorkes termasuk dalam kategori rendah sekali.3% menyatakan kinerja guru pernjasorkes termasuk kategori tinggi.3% 8 Sedang 3 72. Hasil jawaban tersebut menunjukkan persepsi guru non penjasorkes terhadap kinerja guru penjasorkes secara keseluruhan. 34 Persepsi Guru Penjasorkes Terhadap Kinerja Guru Penjasorkes di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang No Frekuensi Persentase % 9. Berikut adalah ahsil deskriptif persentase persepsi guru penjasorkes terhadap kinerja guru penjasorkes di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang : Tabel 4.51 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa 13 responden atau 20% menjawab tidak tahu. .2% 4 Rendah 2 12.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagain besar persepsi guru non penjasorkes terhadap kinerja guru penjasorkes menunjukkan bahwa kinerja guru penjasorkes termasuk dalam kategori tinggi (72. kinerja guru dalam mengajar menjadi diharapkan mampu menghasilkan output sesuai dengan standar yang ditentukan. Oleh karenanya. Kinerja guru dalam mengajar menarik untuk dikaji. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas guru memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap pembentukan kualitas output pendidikan.2 Pembahasan Tenaga pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran karena bagi dunia pendidikan guru memegang kunci keberhasilan dimana secara lebih dominan akan mempengaruhi mutu pendidikan. mengingat guru sebagai sentral dalam proses belajar mengajar.52 4. sekaligus tempat bertanya bagi siswa. Guru dipandang sebagai gudangnya ilmu dan metodologi. . Mereka cenderung meminta bantuan kepada bagian tata usaha ataua kepada guru yunior yang dapat mengoperasikan komputer untuk membantu tugas-tugasnya. Beberapa guru terutama guru senior yang sudah merasa ketinggalan kemampuannya dalam bidang komputer tidak berusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Beberapa indikator yang terlihat pada butir soal menunjukkan bahwa kinerja guru penjasorkes masih perlu ditingkatkan terutama dalam bidang teknologi.3%).

lembaga pendidikan harus mampu menjadi salah satu wahana yang dijadikan pencipta sumber daya manusia. Untuk menjawab problema multi dimensional yang dihadapi dunia pendidikan dan sekaligus mengantisipasi ketidakmampuan menjawab tantangan jaman. hendaknya memiliki kinerja yang berkualitas dengan harapan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai secara optimal. Begitu besar harapan yang diminta dari guru. menilai hasil pembelajaran. melakukan pembimbingan dan pelatihan. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran tidak dapat dilepaskan dari peranan guru dan kepala . Sebab kemajuan pada profesi guru akan berdampak pada kemajuan pada bidang pendidikan yang lebih luas. Kinerja guru yang dimaksudkan didasarkan pada kompetensi profesionalisme. Guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan. bertujuan mensuplay ketrampilan melalui pelayanan dan bimbingan kepada orang lain. bahkan boleh jadi juga berdampak pada bidang-bidang kehidupan lainnya. Profesionalisme disini sebagai suatu spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui studi dan training. Dengan alasan-alasan tersebut sewajarnya jika profesi guru mendapat perhatian yang terus menerus dan serius dalam usaha meningkatkan keprofesiannya. begitu luas bidang garap tugas guru dan begitu berat beban yang dipikul oleh profesi guru di Indonesia. serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.53 Dalam UU Sisidiknas Bab XI Pasal 39 disebutkan bahwa guru mempunyai tugas untuk merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Begitu pasti fungsi yang ada pada profesi guru.

54 sekolah dalam mengelola satuan pendidikan. Agar guru dapat melaksanakan tugas profesionalnya. mengikuti kegiatan yang relevan dengan bidang tugasnya. mengikuti penataran. . guru harus selalu berupaya untuk meningkatkan kemampuannya baik melalui study lanjut.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. Hal ini akan sangat menunjang kinerja guru terutama dalam menyusun atau membuat laporan-laporan terkait dengan proses pembelajaran di sekolah. menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai dengan sesama guru. Hendaknya guru Penjasorkes mampu meningkatkan kinerjanya terutama dalam bidang komputer dan internet. peduli dan empati dengan sesama guru. mendiskusikan permasalahan yang dihadapi siswa dengan orang tua dan mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat sekitar. Pada indikator-indikator kompetensi sosial guru hendaknya mampu meningkatkan kemampuannya dalam perilaku atau bertindak secara bijaksana dalam mengatasi kenakalan siswa.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian maka kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah : “Sebagian besar persepsi guru non Penjasorkes terhadap kinerja guru Penjasorkes di Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang termasuk dalam kategori tinggi (72. 55 .2 Saran Adapun saran yang dapat peneliti berikan terkait dengan hasil penelitian dan pembahasan antara lain : 1.30%)”. 2. 5.

Untuk peneliti selanjutnya dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai acuan dalam melakukan penelitian yang sama atau dapat mengembangkan penelitian mengenai kinerja guru Penjasorkes ditinjau dari persepsi siswa atau orangtua siswa.56 3. .

Yogyakarta: Andi Offset. Ketentuan Umum. Jakarta Sukintaka. Menjadi Guru Profesional.Bukti panduan Mahasiswa. (1994). (2001). (2007). Jakarta. (2003). (1998). (2003). Jakarta. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Bumi Aksara Irwanto dkk. Perilaku Organisasi. Robbins. Yogyakarta. Yogyakarta: FIK UNY. Pedoman Praktek Pengalaman Lapangan. (1994). Sutrisno Hadi. Yogyakarta: ESA Grafika Solo. Yogyakarta: Andi Offset. Moh. Teknologi Pembelajaran Pendidikan Jasmani. (1983). Teori Bermain Pendidikan. (1999). Dimyati Mahmud. Depdiknas. (1989). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (edisi Revisi IV). Stephen P. Pengantar Psikologi Umum. (1992). Bimo Walgito. Jakarta: Depsiknas. (1981). Pengantar Psikologi. Bakti. Yogyakarta: CV Andi Offset. Jakarta: Rineka Cpta. Atkinson Richard C . (1991). Anallisis Butir Untuk Instrumen. Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek (edisi Revisi IV). Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukuran.57 DAFTAR PUSTAKA Agus S. 2003. Remaja Rosda Karya Rohmah Z. . Tabrani Rusyan. PT. Manajemen Sumber Daya Manusia. Uzer Usman. Teori bermain Pendidikan Jasmani. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Gagne dalam Nasution S. Suryo Broto. Mar’at. Hilgard Ernest R. Jakarta: Gramedia. Jakarta: Rineka Cipta. Macanan Jaya Cemerlang. Manajeman Penelitian. Depdiknas Suharsimi Arikunto. Cece Wijaya dan A. Pengantar Psikologi Alih Bahasa Taufik Nurjanah. Bandung: Ghali Indonesia. (2006). (2007). Yogyakarta: ESA Grafika Solo. Bandung: Remaja Roedakarya Offset. Atkinson Rita . BPFE. (2001). (2003). (2002).Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Fortissimo Cardoso Gomes.

CV.58 T. Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Yogyakarta: UGM. 2008. Zaenal Aqib. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. (1987). Hani Handoko. Bandung . Yrama Widya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->