KH.

Zainal Abidin Moenauwwir Pembela Syari’at Islam

Nasab KH. Zainal Abidin Moenauwwir KH. Zainal Abidin Moenawwir dilahirkan di Bantul Yogyakarta pada tanggal 18 Jumadil Akhirah 1350 H bertepatan dengan tanggal 31 Oktober 1931 M. Beliau merupakan putra ke 9 dari 11 saudara dari pasangan almarhum wa al-Maghfurlah KH. M. Moenawwir al-Hafidz al-Muqri` bin KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashori (Kasan Besari, ajudan Pangeran Diponegoro) dengan istri kedua, Ibu Nyai Sukis. KH. M. Moenauwwir sendiri dikenal di kalangan pesantren Abad 20 sebagai ulama yang ahli dalam bidang qiraat al-Qur`an yang ternama. Pendidikan KH. Zainal Abidin Moenauwwir Sejak kecil, KH. Zainal Abidin Moenauwir hidup di lingkungan pesantren. Pendidikan beliau dihabiskan di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, dibawah bimbingan bapak beliau sendiri al-marhum wa al-Maghfurlah KH.M. Moenauwir dan kakak ipar beliau al-marhum wa al-Maghfurlah KH. Ali Maksum. Dengan pendidikan langsung yang ditangani bapak dan kakak iparnya tersebut, KH. Zainal Abidin akhirnya menjadi seorang yang alim, khususnya dalam bidang fiqh, bahkan pada masa berikutnya seringkali mendapat julukan sebagai ulama fiqh-nya Yogyakarta untuk saat ini. Tempaan yang dilakukan oleh KH. Ali Makshum terhadap KH. Zainal Abidin dan saudara-saudara beliau yang lain, di antaranya KH. Abdul Qadir Moenauwir (alm), KH. Mufid Mas’ud (Alm), KH. Nawawi Abdul Aziz , KH. Dalhar Moenawir, KH. Ahmad Munawir (Alm) dan KH. Achmad Warson Munawir yang kesemuanya adalah “ahlul bait“ keluarga Krapyak, sangatlah ketat dan disiplin. Kerasnya Kaderisasi yang dilakukan oleh KH. Ali Makshum ini dibenarkan oleh K.H. Zainal Abidin Munawwir, beliau menegaskan bahwa semasa dididik Kyai Ali dirinya “dipaksa” untuk bisa menguasai kitab-kitab kuning. Terhadap “ahlul bait”, tambah Kyai Zainal, Kyai Ali dikenal sangat keras. Hampir tak ada waktu untuk santai. Setiap “ahlul bait” selalu dipantau perkembangan ilmunya. Kesaksian terhadap pola pendidikan yang diterapkan KH. Ali Makshum, juga diungkapkan oleh KH. Achmad Warson Moenawwir ketika mengenang kesungguhan KH. Ali Makshum dalam mendidik beliau dan saudara-saudara beliau yang lain, pada suatu kesempatan beliau mengatakan: ” Opo maneh ming didukani, disabet lan dibandem sandal, aku wis tau nganti dicencang neng kayu... Simbok kadang nangis ndelok aku... Tapi nek Kang Ali ora koyo ngono, ibarate lawlahu, aku ra ngerti aku bakal dadi opo...'' (Jangankan hanya dimarahi, dipukul dan dilempar sandal pun sudah pernah saya alami, bahkan diikat di sebatang kayu, Ibuku terkadang sampai menangis melihat saya seperti itu, akan tetapi kalau KH. Ali Makshum tidak seperti itu, ibaratnya Laulahu (Jika tidak ada dan bukan karena dia -Arab) saya tidak tahu saya mau jadi apa). Demikian halnya yang dialami oleh mbah Zainal. Selain dikenal sebagai seorang kyai dan pengasuh pesantren, KH. Zainal Abidin Moenawwir juga dikenal sebagai kyai yang aktif berorganisasi, baik organisasi politik maupun organisasi keagamaan. Dalam keorganisasian politik, beliau pernah tercatat sebagai Ketua Golongan Partai Islam tahun 1964, Anggota DPRD DIY 19671971, Anggota DPRD DIY/Ketua fraksi PPP 1971-1977. Sementara itu organisasi keormasan, di antaranya adalah Pengurus Tanfidliyyah NU DIY 1963-1971, Pengurus

kecuali terlebih dahulu menanyakan kepada para ulama di daerah lain. jika ada santri dipanggil oleh kyai. beliau menjawab: ”kalo ada saksi. Negara maupun bangsa. tidak hanya mencukupkan pada persaksian seseorang. dengan penuh tanda tanya dan rasa khawatir (karena seperti pada umumnya kehidupan di pesantren. dimana ketika beliau . menanyakan kepada saksi tentang berbagai hal terkait dengan pengamatan awal bulan.Syuriyah NU DIY 1971-1985. para santri hanya manggut-manggut mengiyakan apa yang disampaikan oleh beliau. Yang luar biasa lagi. Di antaranya adalah terkait dengan penetapan awal bulan Ramadlan dan Syawwal. utamanya ulama-ulama di Jawa Timur. Diceritakan. Zainal Abidin Moenauwwir merupakan salah satu ulama yang sangat teguh di dalam menjalankan ajaran hukum Islam (fiqh). Sebagai bukti terhadap keteguhan beliau di dalam memegang ajaran hukum Islam. dan pasti para santri yang lewat jalan tersebut melihatnya. di sekitar jalan dekat pondok yang sering dilalui oleh para santri. Mustasyar NU DIY 1985-1997. Pemegang Teguh Hukum Islam (Fiqh) Menurut pandangan penulis. Misalnya di ta’zir atau lainnya) para santri kemudian sowan ke dalem beliau. Ali Makshum menjawab: ”Kuwi urusane Zainal” (Kalo masalah itu. Zainal yang dipahami oleh penulis adalah Wira`i (kehati-hatian dalam bersikap) banyak contoh yang menggambarkan sikap beliau ini. ketika berkesempatan nyantri kepada beliau. baik terkait dengan Agama. yang semakin menegaskan pengakuan terhadap sifat kewira’ian mbah Zainal. Zainal Abidin dalam berbagai hal. Zainal memanggil beberapa santri senior ke ndalemnya. Saat itu. dan hanya menganggapnya sebagai cerita. bahwa suatu ketika KH. KH. Namun ketika beliau ditanya lagi: Kapan takbiran dan shalat id (hari raya) di Masjid Krapyak? Mbah KH. Pengurus Wilayah Jam’iyyah Thariqah Mu’tabaroh al-Nahdliyyah dan Pengurus Besar (PB) Jam’iyyah Thariqah Mu’tabaroh al-Nahdliyyah. karena memang sudah menjadi kebiasaan beliau. Zainal Abidin) ditanya oleh seorang santri tentang penetapan bulan syawal. Melihat patung. dengan terlebih dahulu dilakukan sumpah. Pribadi yang Wira`i Di antara sifat dan karakter mbah KH. ditemukan patung. Hal ini dialami oleh penulis. tetapi lebih dari itu. Sekitar awal tahun 2000-an. maka besok syawal”. Aktivitas beliau di atas menunjukkan peran riil KH. menurut KH. KH. hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW “Puasa lah kalian karena melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya” dan persaksian itu pada umumnya dapat diterima dengan pengamatan satu orang saksi. kebiasaan yang diterapkan mbah Zainal. Ada sebuah cerita yang berkaitan dengan penentuan awal bulan syawwal. mbah Zainal sepertinya tidak mantap dalam menerima kesaksian seseorang dalam pengamatan rembulan. dapat dipaparkan disini beberapa peristiwa yang dapat menggambarkan hal itu. pada umumnya rukyat al-Hilal seringkali berhasil dari daerah tersebut. Karena memang. Zainal Abidin (tentunya berdasarkan kepada beberapa literatur fiqh yang mu’tabar) adalah haram. tanyakan ke Zainal saja”. bahwa penetapan awal bulan ramadlan atau syawal adalah dengan melakukan pengamatan langsung terhadap keberadaan rembulan. mesti ada urusan yang sangat urgent. lebih-lebih bagi pembuatnya. Zainal Abidin kemudian bercerita bahwa. Seperti telah dimaklumi. secara tiba-tiba KH. Namun demikian. Setelah sejenak menanyakan kabar para santri yang saat itu sowan. Ali Makshum (mantan Rois Am PBNU dan kakak ipar KH.

kemudian memintanya untuk tidak lagi menempatkannya di pinggir jalan. Tanpa disangka mbah Zainal tetap pada pendiriannya. suatu ketika penulis nderekke (mengantar) KH. yaitu Bapak Ir.berkesempatan bertemu dengan santri. Zainal. Ibu Nyai Hj. utamanya yang terkait dengan masalah seputar fiqh. KH. serta merta bantalan kucing tersebut dihilangkan kepalanya oleh KH. yen ono patunge (Bagaimana bisa mengharap rahmatnya Allah/kesehatan jika ada patung di rumah sakit “ Sejak saat itu. kalo tidak mau. Ibu Nyai Ida kemudian mengatakan:“waduh. Tanpa disangka. Zainal kemudian melanjutkan dawuhnya: “ Kalo demikian. MSI. Bahkan menurut cerita istri beliau. Abdul Basith tentang keprihatinannya terkait fenomena banyaknya rumah sakit yang ada patungnya. dan menyampaikan keinginan KH. bahwa kami siap memindahkan patung tersebut. tanpa banyak pikir mengikuti apa yang sudah didawuhkan beliau. salah satu dari Putra KH. Zainal Abidin Moenauwwir sakit dan menjalani rawat inap di Rumah sakit PKU Muhammadiyyah Yogyakarta. al-Bajuri Juz III. Zainal Abidin kemudian mengatakan“ Piye arep nyadong rahmate Allah. pembuat patung yang saat itu kami temui marah besar. layaknya makhluq hidup pada umumnya“. (I’anatu al-Thalibin Juz III. Spontan ketika melihat patung yang ada di sekitar rumah sakit tersebut. Saat beliau menjenguk. mBah Zainal kemudian bercerita kepada Ir. seringkali beliau bercerita berbagai hal. mendapat jawaban tersebut. dengan negosiasi yang alot. Mughni al-Muhtaj Juz III. diceritakan. di RS. KH. kebetulan terdapat boneka kucing nya.: . Para santri kemudian kembali kepada pemilik patung. KH. Setelah diam beberapa saat. Zainal Abidin Munawwir ke salah satu rumah sakit di Yogya. atau paling tidak menutupi patung dengan kain sehingga tidak terlihat dari jalan. Zainal Abidin. suatu ketika bu Nyai Ida membeli bantalan kursi mobil. harganya mahal kok dirusak. ndak apa-apa sebab tidak lagi sempurna.“ kalau kepalanya hilang. ada cerita menarik yang sampai kepada penulis. Kenapa kepala bonekanya dihilangkan?“ mBah Zainal kemudian menjawab. untuk menjenguk keponakan beliau yang melahirkan. sampai-sampai mengancam para santri dan hendak nggruduk pondok serta mengajukan kami ke pengadilan. bertemu dengan salah satu pengurus yayasan PKU Muhammadiyah. Suatu ketika. Gimana?“ Kami saat itu. maka katakan kepada pembuat patung. yaitu patung harus ditutupi. maka saya memerintahkan kepada kalian. Basith Wahid. Dasar pengharaman patung seperti yang diyakini oleh KH. Zainal Abidin berkomentar:“Malaikat Rahmat tidak mau masuk tempat yang ada patungnya“ . singkat cerita. Ida Rufaida. bersama-sama menghadap orang yang membuat patung. dan menemui pembuat patung. Hal yang sama juga diterapkan kepada keluarga beliau. KH. mendapati hal tersebut. PKU Muhammadiyah tidak pernah dibangun patung. akhirnya pemilik patung mengikuti apa yang didawuhkan mbah Zainal. KH. Hal yang hampir mirip juga dialami sendiri oleh penulis. Masih terkait dengan patung. Zainal. hasil Keputusan Nahdlatul Ulama pada Muktamar Ke-1 di Surabaya 1345 H/1926 M No masalah 16) Juga sabdaNabi Muhammad SAW. kalaupun seandainya dikasih nyawa tetap saja tidak hidup. para santri kemudian menyampaikan kepada KH. Zainal Abidin adalah َ ٍ ُ ِ َ ٍ َ َ ُ ْ ُ ُ ْ ‫ي َحرمت َصوِي ْر حي َوان وَذات روْح ع َلى حائ ِط أ َوْ أ َرض وَن َحوِهاب ِعَي ْن ما ل َن ّها ت ُشب ِه ا ْل َصنام‬ َ ْ ٍ َ َ َ ْ ُ ْ َ ٍ َ ٍ ْ “Haram membuat patung hewan atau mahkluk bernyawa dari bahan apapun dan dipasang di sembarang tempat”.

Atau diberikan waktu terakhir sebelum TPS ditutup. Hasil dari upaya para kyai yang digagas oleh KH. Menurut para kiai ini. KH Mu’tashim Billah (Ponpes Sunan Pandanaran) serta KH Ishomul Hadi (Kulonprogo). Zainal Abidin Moenawwir dalam memegang prinsip ajaran fiqh. )حلم ق ن ( علن‬ ِ ً َ َ ِ ْ َ َ ُ َ ِ ّ ‫عائشة‬ َ ّ ‫إ ِن أ َشد ّ الناس ع َذابا ي َوْم ال ْقيامةِ ال ْمصوّرون. dan KH Masrur Ahmad (Cakringan). متفق عليه‬ ُ ْ ْ ْ َ َ ْ “Orang-orang pemilik patung akandisiksa di hari kiamat. dalam memberikan fatwa terhadap pertanyaan seputar fiqh (hukum Islam) mbah Zainal selalu menerapkan hukum yang ketat. Para kyai. tapi yang jadi masalah adalah sampainya air ke anggota wudhu dan mandi. demikian seterusnya. KH Salimi ( Ponpes As-Salimiyyah Mlangi) KH Mukhtar Dawam (Ponpes Al Huda Mlangi). Wujud siksaannya ialah bahwa mereka dipaksamenghidupkan patung miliknya. KH Najib A Qodir (ketiganya pengasuh Ponpes Al Munawwir Krapyak Bantul). yakni dengan cara melubangi atau memberikan tanda di KTP atau kartu pemilihnya. pasti akan membawa risiko yang sangat berat kelak di akhirat. KH Ahmad Zabidi (Ponpes Ar Romly Bantul). di antaranya terkait dengan tinta pemilu. Zainal) mengingat tinta itu dapat menghalangi sampainya air wudlu. Zainal Abidin Moenauwwir Sejumlah ulama dan kiai se-Provinsi DIY menolak penggunaan cap tinta dalam pencoblosan pada Pemilu 5 April 2003 yang lalu . saat itu menyayangkan sikap KPU Pusat dan KPU Provinsi DIY yang masih bersikukuh dengan fatwa MUI yang membolehkan penggunanan tinta dengan asumsi bahwa tinta itu suci. Persoalannya. Pada peristiwa tersebut. adalah gagasan beliau dalam menyikapi fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. KH Mukhtarom Idris (Bantul). Di antara kyai yang mendukung gagasan KH Zainal Abidin Munawwir dalam penolakan penggunaan tinta dalam pelaksanaan pemilu adalah KH A Warson Munawwir. Zainal Abidin tersebut. dua fatwa itu tidak dapat dijadikan dasar sama sekali. mandi besar ke anggota badan. KH Dalhar Munawwir. ) حم م ( عن ابن مسعود ) صح‬ َ ُ َ ُ ً َ َ َ ِ َ ِ ّ “Orang-orang yang paling pedih siksaannya kelak di hari kiamat adalah pembuatpembuat patung hewan atau manusia“ ُ َ ‫وقال النبى صلى الله عليه وسلم : إ ِن أ َصحاب هَذ ِهِ الت ّصاوِي ْرِ ي ًعَذ ّبون ي َوْمال ْقيامةِ ، ي ُقال‬ َ ُ َ َ ْ ّ َ َ ِ َ َ ‫ل َهُم : أ َحيوا ما خل َقت ُم . Lain daripada itu secara umum. kemudian secara berurutan terun ke level berikutnya. para kiai juga memberikan peringatan bahwa penggunaan cara yang dapat mengganggu peribadatan seperti tidak sahnya salat. bukan masalah suci tidaknya tinta atau disunahkannya penggunaan pacar. Demikian pula perubahan sifat air ketika sampai ke anggota badan. Hal ini (menurut KH. Sebagai .” Contoh lain keteguhan KH. atau minimal menyebabkan sampainya air ke kulit dalam keadaan suci tapi tidak menyucikan.ّ ِ َ َ ِ َ َ َ ‫أ َشد ّ الناس ع َذابا عن ْد َ اللهِ يلوْم ال ْقيامةاللذ ِي ْن ي ُضلاهون ب ِخللق الللهِ . Atas prakarsa KH. Menurut para kiai. pada Pemilu 1999 akhirnya KPU DIY membuat keputusan khusus yang mengakomodasi usulan ini kemudian diumumkan di surat kabar. Demikian pula dengan fatwa ulama Saudi Arabia yang menyatakan disunahkan penggunaan tinta’ (pacar). sebagai solusinya agar pemilih tidak bisa mencoblos di TPS lain. sehingga tidak memungkinkan mereka untuk pindah TPS.

jam masuk beliau selalu tepat. ketika penulis didawuhi (diperintah) untuk mengantar beliau guna menghadiri acara tertentu. beliau selalu menanyakan SIM (Surat Izin Mengemudi). . di antaranya adalah Jusuf Kalla (mantan Presiden RI). wilayah maupun dalam arena muktamar. Hal ini seperti kesaksian salah seorang mantan pengurus NU cabang Sleman. namun dibalik hal itu semua. kecuali pada saat beliau sakit atau ada agenda acara di luar kota. sejauh pengalaman penulis. Bahkan sekalipun ada acara di Pesantren yang waktunya bertepatan dengan jadwal mengajar. Mura’i. Al-Munawwir. Bahkan sebelum kampanye pencalonannya menjadi presiden di lapangan Denggung Kabupaten Sleman Yogyakarta (tanggal 21 Juni 2004) SBY menyempatkan diri sowan ke mBah Zainal. dan tidak bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahram. maka beliau tidak mau diantar oleh santri tersebut. KH. juga tergambar dengan keaktifan beliau dalam mendiskusikan masalahmasalah agama dalam berbagai forum Bahtsul Masail (diskusi untuk memecahkan problem kekinian dengan prespektif fiqh). Sehingga tepat kiranya jika aktivitas beliau diibaratkan dengan “tiada hari tanpa mengajar“ dan sangat layak disebut sebagai “pecinta sejati ilmu pengetahuan“ Dalam kesehariannya. beliau tetap mengajar. salah satu kyai sepuh yang aktif dan di arena Bahtsul Masail adalah KH. Ma’mun Muhammad Mura’i. rasanya untuk saat ini susah mencari profil kyai seperti KH. Masih menurut KH. dalam masalah thawaf haji. oleh karena itu orang yang thawaf harus suci. Beliau selalu berpendapat bahwa salah satu rukun thawaf adalah suci dari hadats besar dan kecil. Zainal Abidin dikenal sebagai sosok kyai yang dekat dengan berbagai kalangan. tidak pernah barang satu kali pun jadwal kuliah beliau yang kosong. suatu ketika beliau bercerita bahwa pada saat Muktamar ke 31 di Donohudan Solo Jawa Tengah.contoh. dan justru sebaliknya para mahasiswa Ma’had Aly yang terlambat masuk. KH. Zainal Abidin. Dekat dengan berbagai kalangan KH. Ke faqihan dan semangat beliau di dalam menegakkan prinsip ajaran hukum Islam (Fiqh). Semangat beliau dalam mengajar juga luar biasa. Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI) dan pejabat-pejabat lainnya. Sebagai contoh. aktivitas mengajar beliau dimulai dari ba’da shubuh hingga larut malam sekitar jam 11 malam. jika saya atau santri yang diutus mengantar beliau tidak punya SIM. beliau dikenal sebagai sosok kyai yang sangat rajin. Kedekatan beliau dengan masyarakat kecil diwujudkan dalam bentuk kegiatan mujahadah yang diikuti oleh masyarakan sekitar minimal dalam waktu sebulan sekali. sekilas. Ma’mun M. Jendral Purnawirawan Wiranto (Mantan Pangab). Hal ini dialami sendiri oleh penulis. sebelum sampai pada tingkatan dlarurat (sangat terpaksa). Zainal Abidin Moenauwwir. Zainal Abidin juga menerapkan disiplin yang menurut penulis bisa dikatakan “ketat“. dari masyarakat kecil hingga pejabat Negara. hal itu tidak mudah atau mustahil untuk dilakukan. Bahkan seringkali. yang juga dosen pada UIN Yogyakarta dan Ma’had Aly. Zainal Abidin Moenauwwir adalah kedisiplinan beliau dalam segala hal. Selama kuliah di Ma’had Aly PP. Sebagai seorang kyai yang salah satu aktivitas utamanya adalah Ta’lim wa al-Ta’allum. makna yang terkandung adalah kita tidak boleh serta-merta mengambil hukum yang paling ringan. Sedangkan kedekatan beliau dengan pejabat negara dibuktikan dengan banyaknya tokoh Nasional yang pernah sowan kepada beliau. Pribadi yang Disiplin Sisi menarik dari pribadi KH. baik ditingkat kepengurusan NU tingkat cabang.

Jadi kalau masih ada orang itu.. Manasik Haji tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji. Zainal Abidin dengan kealimannya. Zainal juga dikenal juga sebagai kyai yang dermawan. Bahkan tidak ada rasa canggung sedikitpun. ora bakal kelakon kiamat. penulis mengalami kejadian yang sangat berkesan. mBah Ali suatu ketika pernah mengatakan: "Zaenal iku songgo-ne langit. meskipun dengan hal-hal yang tidak seberapa untuk ukuran umum. di antaranya dengan cara beliau memerintahkan atau memanggil santri untuk kemudian disuruh melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi santri itu sendiri. KH. hal itu sangatlah bermakna. Di antara karya beliau adalah Tarikh Hadlarah yang berisi tentang sejarah peradaban Islam. Zainal Abidin ketika penulis sowan ke nDalem beliau." (Zainal itu penyangganya langit. Zainal Abidin juga dikenal sebagai salah seorang kyai yang produktif menulis kitab. Ali Makshum juga merupakan editor (pentashih) dari kamus al-Munawwir yang ditulis oleh KH. Zainal Abidin Cukup kiranya untuk menjelaskan karomah yang dimiliki oleh KH.. Beliau bersama KH. namun bagi santri beliau. selama masih ada beliau. Zainal KH." Wah2 Karya KH. yaitu dibuatkan air minum oleh KH. Seringkali beliau memberikan buah tangan bagi santri yang sowan. al-Ta’rif Bi Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah berbicara tentang akidah dan sejarah munculnya faham Ahlussunnah wal Jama’ah al-Muqtathafat Min Jami’ Kalamihi Shallallhu Alaihi Wa Sallam kumpulan hadits Nabi SAW yang diringkas dari kitab hadits karya al-Hafidz Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi dan kitab yang merupakan ringkasan dari kitab Fayd al-Qadir karya Imam al-Manawi berdasarkan kitab syarah yang ditulis oleh al-Allamah al-Manawi dan al-Furuq Fi Masail al-Furuq yang membahas tentang . menurut penilaian penulis adalah sosok kyai yang sangat dekat dengan santri. karena kita tidak khawatir langit ambruk sebab masih ada penyangganya.Kyai yang dekat dengan Santri dan dermawan KH.. Dadi nek isih ono wong iku. apa yang diceritakan oleh salah satu keluarga dan santri KH. Ali Makshum. tidak akan bakal terjadi kiamat) Komentar Gus Yahya Kholil Staquf yang saat itu mendengar ngendiko nya mbah Ali berkelakar: "Ini juga berarti. Ahmad Warson Moenauwwir. Disamping dikenal sebagai kyai yang dekat dengan santri. Kedekatan beliau dengan santri diwujudkan dengan beberapa hal. Wadlaif al-Muta’allim. [] faqih . kita masih bisa pethakilan (bertindak bebas) di dunia ini.. Zainal Abidin. Almarhum mBah Ali memberikan komentar tentang mBah Zaenal. Karomah KH. Kutaib Gharib al-Nadlir Bi Kasyf Min Mas’uliyyat alMuta’allim Bahtsan Fiqhiyyan berbicara tentang menuntut ilmu dan permasalahannya dalam prespektif fiqh .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful