P. 1
Fatwa DSN

Fatwa DSN

|Views: 572|Likes:
Published by camcit1984

More info:

Published by: camcit1984 on Feb 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2012

pdf

text

original

Sections

  • Konversi Akad Murabahah
  • Penjadwalan Kembali Murabahah
  • Penyelesaian Piutang Murabahah
  • Potongan Tagihan Murahabah
  • Pembiayaan Multijasa
  • Ganti Rugi (Ta' Widh)
  • Syariah Charge Card
  • Pengalihan Hutang
  • Pembiayaan Pengurusan Haji LKS
  • Rahn Emas
  • Rahn
  • Potongan Pelunasan Murabahah
  • Sanksi Atas Nasabah
  • Diskon Murabahah
  • Uang Muka Murabahah
  • Pembiayaan Ijarah
  • Musyarakah
  • Mudharabah (Qiradh)
  • Jual Beli Istishna'
  • Murabahah
  • Deposito
  • Tabungan
  • Giro

Konversi Akad Murabahah

Thursday, 18 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah. Menimbang : a. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah; b. bahwa dalam hal nasabah mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan, maka ia dapat diberi keringanan; c. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk konversi dengan membuat akad baru dalam penyelesaian pembayaran kewajiban; d. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam, Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain: o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Nisa' [4]: 29:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan

janganlah kamu membunuh dirimu,. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." o QS. al-Ma'idah [5]: 1:

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya." o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syrar-,Nyrar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatangbinatang qala'id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." o QS. al-Baqarah [2]: 280:

"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." Mengingat : Hadis-hadis Nabi s.a.w.; antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban :

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir, datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat".

o

Hadits Nabi Riwayat Muslim, beliau bersabda:

"Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, beliau bersabda:

"Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. " 3. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." o "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan".

Memperhatikan: o Surat Direksi BSM No.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. o o Hasil workshop BPH-DSN, 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Jum'at, 16 Muharram 1426/ 25 Februari 2005. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG KONVERSI AKAD MURABAHAH Pertama: Ketentuan Konversi Akad LKS boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/ melunasi pembiayaan murabahahnya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi ia masih prospektif, dengan ketentuan: a. Akad murabahah dihentikan dengan cara: o o o Obyek murabahah dijual oleh nasabah kepada LKS dengan harga pasar; Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan; Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka kelebihan itu dapat dijadikan uang

KH. M. o Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah yang cara pelunasannya disepakati antara LKS dan nasabah. o Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Din Syamsuddin . LKS dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad: Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik atas barang tersebut di atas dengan merujuk kepada fatwa DSN No. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). Mudharabah dengan merujuk kepada fatwa DSN No.A Sahal Mahfudh Prof. atau Musyarakah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. M. H. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah. Sekretaris. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. b. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al Ijarah AlMuntahiyah Bi Al-Tamlik. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.muka untuk akad ijarah atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah. Dr.

c. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). d. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah.Penjadwalan Kembali Murabahah Thursday. Mengingat : 1. Menimbang : a. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Orang yang mengulangi (mengambil . maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Firman Allah SWT. maka ia dapat diberi keringanan. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk penjadwalan kembali dalam pembayaran kewajibannya. antara lain: o QS. b. Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. bahwa dalam hal nasabah mengalami penuruan kemampuan dalam pembayaran cicilan. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. dan urusannya (terserah) kepada Allah.

" o QS. al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal . dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia.. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram." o QS. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji.a. al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. mereka kekal di dalamnya. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. al-Nisa' [4]: 29 "Hai orang yang beriman.riba). maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka." o QS. jangan (mengganggu) binatang binatang hadya. Dihalalkan bagimu binatang ternak." o QS. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. dan binatang-binatang qala'id. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Hadis-hadis Nabi s. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. maka bolehlah berburu. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak." 2. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.w. kecuali yang akan dibacakan kepadamu. jika kamu mengetahui.

Pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya riil. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENJADWALAN KEMBALI TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Penjadwalan Kembali LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. o Fatwa ini herlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekel iruan. Hasil workshop BPH-DSN.atau menghalalkan yang haram.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H . semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. dengan ketentuan: o o o Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa. Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya." 3. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005 Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa." Memperhatikan: o o o Surat Direksi BSM No.

M. Sekretaris. Dr. KH. H.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. M.A Sahal Mahfudh Prof. Din Syamsuddin .

Firman Allah SWT. Mengingat : 1. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. al-Ma'idah [5]: 2: . Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Dewan Syari'ah Nasonal memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. c. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. al-Nisa' [4]: 29: " Hai orang yang beriman. jika kamu mengetahui. bahwa dalam hal nasabah tidak mampu membayar. " o QS. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 47/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar. antara lain: o QS. Menimbang : a. b." o QS.Penyelesaian Piutang Murabahah Thursday. maka diselesaikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yung batil. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. al-Baqarah [2]: 180: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.

ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir." "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan" Memperhatikan: • Fatwa DSN No.. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Bailullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih sanadnya : Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. Kaidah fiqh: • • "Pada dasarnya. maka bolehlah berburu. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah.a. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." 3. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. • Hadits Nabi riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). antara lain: • Hadits Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban : Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah . sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." 2. dan binatang-binatang qala'id.w. Hadits-hadits Nabi s."Hai orang yang beriman.

Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. • 2. Surat Direksi BSM No. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG MURABAHAH BAGI NASABAH TIDAK MAMPU MEMBAYAR Pertama: Ketentuan Penyelesaian LKS boleh melakukan penyelesaian murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL . • • • • Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan. Kedua: Ketentuan Penutup • 1.• • • Hasil workshop BPH-DSN. dengan ketentuan: • Obyek murabahah dan atau jaminan lainnya dijual oleh nasabah kepada atau melalui LKS dengan harga pasar yang disepakati. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihakpihak terkait. Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka LKS mengembalikan sisanya kepada nasabah. maka LKS dapat membebaskannya. Apabila nasabah tidak mampu membayar sisa hutangnya. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005.

H.A Sahal Mahfudh Prof. M. Sekretaris. KH.MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Din Syamsuddin . Dr. M.

Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman.Potongan Tagihan Murahabah Thursday. Menimbang : a. . b. antara lain: o QS. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 46/DSNMUI/II/2005 tentang Potongan Tagihan Murahabah. Mengingat : 1. bahwa penghargaan dan keringanan yang merupakan mukafa 'ah tasyji 'iyah (insentif) tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk potongan dari total kewajiban pembayaran. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). bahwa dalam hal nasabah telah melakukan pembayaran cicilan dengan tepat waktu. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. d. Sedangkan nasabah yang mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan dapat diberi keringanan c. maka ia dapat diberi penghargaan. al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Firman Allah SWT. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah.

kecuali yang akan dibacakan kepadamu. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah.a. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dcngan kerelaan kedua belah pihak." o QS. Dihalalkan bagimu binatang ternak. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji." 2. Al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. Nabi s. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." . Hadis-hadis Nabi s. Orang yang mengulangi (mengambil riba). maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.w. mereka kekal di dalamnya. bersabda: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji.a. Dan janganlah kamu membunuh dirimu." o QS. jika kamu mengetahui. dan binatang-binatang qala'id. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan dishahih-kan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." o QS. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. o QS. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. maka bolehlah berburu. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu.dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu." o Hadis Nabi riwayat Imam Tirmidzi dari `Amr bin `Auf al-Muzani. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram.w. Al-Nisa' [4]: 29: "Hai orang yang beriman.

Surat Direksi BSM No. " Memperhatikan: o o o o Fatwa DSN No. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Nabi Saw. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. 3. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS. Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai . Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. tanggal 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. Kedua: Ketentuan Penutup 1. 2. LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan tepat waktu dan/atau nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran. Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". 3. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabi Allah. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah Hasil workshop BPH-DSN. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG POTONGAN TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Pemberian Potongan 1.o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia.

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. H. 2.kesepakatan melalui musyawarah. KH. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Dr. Sekretaris.A Sahal Mahfudh Prof. M. Din Syamsuddin .

18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 44/DSN-MUI/VII/2004 tentang Pembiayaan Multi Jasa. Firman Allah SWT. Bahwa LKS perlu merespon kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan jasa tersebut c. akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya." o QS. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.. Dewan Syariah Nasional MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang pembiayaan multijasa untuk dijadikan pedoman. Bertaqwalah kepada Allah.. al-Baqarah [2]: 233: ". Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah.Pembiayaan Multijasa Thursday. yaitu pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat atas suatu jasa b. al-Qashash [28]: 26: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. Bahwa salah satu bentuk \pelayanan jasa keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pembiayaan multi jasa.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. dan aku menjamin ." o QS. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Mengingat : 1. Yusuf [12]: 72: "Penyeru-penyeru itu berseru: `Kami kehilangan piala Raja. 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). antara lain: o QS. Menimbang : a. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

beritahukanlah upahnya." o Hadis riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash. `Ya'." o Hadis riwayat `Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. `Apakah ia mem-punyai hutang?' Sahabat menjawab. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya.. Rasulullah saw bertanya. beliau men-salatkannya. bahwa Nabi bersabda: "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering. o QS.terhadapnya. Maka." o QS. Lalu Abu Qatadah berkata. al-Isra' [17]: 34: " . Hadis-hadis Nabi s. al-Ma'idah [5]: I : "Hai orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu...w.". Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. Bukhari dari Salamah bin Akwa').a.w. Nabi s." o Hadis Nabi riwayat Bukhari: "Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. . al-Ma'idah [5]: 2: "Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa." o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. `Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya).." (HR. o Hadits Nabi riwayat Imam Ibnu Majah. al-Daraquthni. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut. `Saya menjamin hutangnya." o QS. dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran.Dan penuhilah janji. dan yang lain. `Tidak'. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain. ya Rasulullah'. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjcnvabannya." 2. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.a. antara lain: o Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar. `Apakah ia mempunyai hutang?' Sahabat menjawab. Rasulullah pun bertanya.. Rasulullah berkata. dari Abu Sa'id al-Khudri. maka.

. seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan. antara lain: o "Pada dasarnya. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain. per-nyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman.a. karena hutang orang itu belum fix. Kaidah fiqh.." "Kesulitan dapat menarik kemudahan" "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari 'at). jilid II: 201-202: (Hal yang dijamin) yaitu hutang disyaratkan harus berupa hak yang bersifat fix pada saat akad." 3." o b. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya. Pendapat para ulama." o o o "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. Redaksi dalam fasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata.dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu . " Memperhatikan : 1.Nabi s. Dalam pasal tentang Qardh. Kitab Mughni al-Muhtajj.-penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum fix-. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban." o o Hadits Nabi riwayat Abu Daud. Kitab I'anah al-Thalibin.w. (Qaul qadim --Imam menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban). Tirmizi dan Ibn Hibban Sabda Rasulullah SAW : "Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Oleh karena itu. antara lain: o a.' Dengan demikian. jilid 111/77-78 "Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku men--jaminnya. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menja-minnya.. pensyarah telah menuturkan masalah ini .. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (awjah)..' Penjaminan tersebut tidak sah.

Oleh karena akad jual beli atas benda dibolehkan. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah." 2. maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah." o c. • 3. Kitab al-Muhadzdzab. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTAG PEMBIAYAAN MULTI JASA Pertama : Ketentuan Umum • • 1. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut. maka sudah seharusnya boleh pula akad ijarah atas manfaat. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah 3. Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah. B. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004 5. Keempat : Ketentuan Penutup . • • 4. hari Rabu. Hasil Rapat Pleno DSN-MUI.yang akan dihutangkan. Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah. Ketiga : Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak..02-DPS/UUS/04/2004 perihal Permohonan Fatwa DSN tentang Pembiayaan Multi Jasa. 5.terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut.. Substansi Fatwa DSN No. Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee. 2. Surat dari BRI Syariah No. 11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah 4. Substansi Fatwa DSN No. Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. juz I Kitab al-Ijarah hal.

akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.A Sahal Mahfudh Prof. Dr. Din Syamsuddin .Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan. Sekretaris. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. H. M. M. jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.

Bahwa syari'ah Islam melindungi kepentingan semua pihak yang bertransaksi. d. c. sehingga tidak boleh ada satu pihak pun yang dirugikan hak-haknya. Firman Allah SWT. Bahwa masyarakat.Ganti Rugi (Ta' Widh) Thursday. Bahwa para pihak yang melakukan transaksi dalam LKS terkadang mengalami risiko kerugian akibat wanprestasi atau kelalaian dengan menunda-nunda pembayaran oleh pihak lain yang melanggar perjanjian. antara lain: o QS. Bahwa lembaga keuangan syari'ah (LKS) beroperasi berdasarkan prinsip syari'ah untuk menghindarkan praktik riba atau praktik yang menjurus kepada riba. al-Ma'idah [5]: 1 “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Bahwa dalam upaya melindungi para pihak yang bertransaksi. baik nasabah maupun LKS.”. Menimbang : a. . 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang Ganti Rugi (Ta'Widh).. dalam hal ini para pihak yang bertransaksi dalam LKS meminta fatwa kepada DSN tentang ganti rugi akibat penunda-nundaan pembayaran dalam kondisi mampu f. termasuk masalah denda finansial yang biasa dilakukan oleh lembaga keuangan konvensional b. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang ganti rugi (ta'widh) untuk dijadikan pedoman Mengingat : 1.. Bahwa kerugian yang benar-benar dialami secara riil oleh para pihak dalam transaksi wajib diganti oleh pihak yang menimbulkan kerugian tersebut e.

al-Baqarah [2]: 194: .Dan penuhilah janji. segala bentuk mu' amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang .. jika kamu mengetahui. dan Malik dari Yahya: "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." o Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari `Ubadah bin Shamit. al-Baqarah [2]: 279-280: ". lebih baik bagimu.o QS. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Abu Dawud dari Syuraid bin Suwaid. Ahmad dari Abu Hurairah dan Ibn Umar.Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.. Kaidah Fiqh.maka. seimbang dengan kerugian yang telah ia timpakan kepadamu... Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu. al-Isra' [17]: 34: "." o Hadis Nabi riwayat Nasa'i dari Syuraid bin Suwaid.." o QS." o Hadis Nabi riwayat jama'ah (Bukhari dari Abu Hurairah. Abu Daud dari Abu Hurairah. dan Darami dari Abu Hurairah): "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Tirmizi dari Abu Hurairah dan Ibn Umar. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya." 3. Hadis-hadis Nabi s. riwayat Ahmad dari Ibnu `Abbas. Nasa'i dari Abu Hurairah. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. balaslah ia.a. antara lain: o "Pada dasarnya. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar." 2. bahwa Allah beserta orangorang yang bertakwa. barang siapa melakukan aniaya (kerugian) kepadamu.. Ibu Majah dari Syuraid bin Suwaid. dan Ahmad dari Syuraid bin Suwaid: "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.w.. antara lain: o Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Muslim dari Abu Hurairah. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran." o QS. Malik dari Abu Hurairah.

bahwa penundaan pembayaran kewajiban dapat menimbulkan kerugian (dharar) dan karenanya harus dihindarkan. 96). Sementara itu. maka menurut ketentuan hukum fiqh hal tersebut tidak dapat diganti (dimintakan ganti rugi). Hal ini karena ia (kreditur) akan menderita kerugian (dharar) akibat keterlambatan (memperoleh) haknya pada saat jatuh tempo. juz IV. 1996: "Ganti rugi karena penundaan pembayaran oleh orang yang mampu didasarkan pada kerugian yang terjadi secara riil akibat penundaan pembayaran dan kerugian itu merupakan akibat logis dari keterlambatan . bahaya). 93). karena dengan demikian.. Nazariyah al-Dhaman. Hal itu karena obyek ganti rugi adalah harta yang ada dan konkret serta berharga (diijinkan syariat untuk memanfaatkannya" (h. ia boleh melakukan perjalanan tersebut. kerugian kreditur dapat dihindarkan. perlu kita perhatikan sebagai berikut. Damsyiq: Dar al-Fikr.. atau jika pihak berpiutang (kreditur) bermaksud melarang debitur (melakukan perjalanan). ia menyatakan: "Jika orang berhutang (debitur) bermaksud melakukan perjalanan." o Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. hlm 342. maka wajib menggantinya dengan benda yang sama (sejenis) atau dengan uang" (h. 1998: "Ta'widh (ganti rugi) adalah menutup kerugian yang terjadi akibat pelanggaran atau kekeliruan" (h. antara lain sebagai berikut:  Pendapat Wahbah al-Zuhaili." o Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang dhaman atau ta'widh.  Pendapat 'Abd al-Hamid Mahmud al-Ba'li. 87). Akan tetapi.mengharamkannya." Memperhatikan: o Pendapat Ibnu Qudamah dalam al-Mughni. Apabila jatuh tempo hutang ternyata sebelum masa kedatangannya dari perjalanan --misalnya. seperti memperbaiki dinding. perjalanan untuk berhaji di mana debitur masih dalam perjalanan haji sedangkan jatuh tempo hutang pada bulan Muharram atau Dzulhijjah-. "Ketentuan umum yang berlaku pada ganti rugi dapat berupa: (a) menutup kerugian dalam bentuk benda (dharar. (b) memperbaiki benda yang dirusak menjadi utuh kembali seperti semula selama dimungkinkan.maka kreditur boleh melarangnya melakukan perjalanan. Apabila hal tersebut sulit dilakukan. Mafahim Asasiyyah fi al-Bunuk al-Islamiyah. al-Qahirah: al-Ma'had al-`Alami li-al-Fikr al-Islami. hilangnya keuntungan dan terjadinya kerugian yang belum pasti di masa akan datang atau kerugian immateriil. apabila debitur menunjuk penjamin atau menyerahkan jaminan (qadai) yang cukup untuk membayar hutangnya pada saat jatuh tempo. seperti mengembalikan benda yang dipecahkan menjadi utuh kembali.

hari Rabu. o Fatwa DSN No 18/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pencadangan Penghapusan Aktiva Produktif dalam LKS o o Rapat BPH DSN MUI – BI – Perbankan Syari'ah. 4. Kerugian yang dapat dikenakan ta'widh sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas. 2. 1997: "Kerugian harus dihilangkan berdasarkan kaidah syari'ah dan kerugian itu tidak akan hilang kecuali jika diganti. yaitu bahwa pelaku ghashab bertanggung jawab atas manfaat benda yang di-ghasab selama masa ghashab.17/DSN-MUI/IX/2000 tentang S anksi Atas Nasabah Mampu Yang Menundanunda Pembayaran. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004. Ganti rugi (ta. 5. karena itu. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG GANTI RUGI (TA'WIDH) Pertama: KETENTUAN UMUM 1. Rapat Pleno DSN-MUI. menurut mayoritas ulama.pembayaran tersebut. sedangkan penjatuhan sanksi atas debitur mampu yang menunda-nunda pembayaran tidak akan memberikan manfaaat bagi kreditur yang dirugikan. Hukm al-Gharamah al-Maliyah fi al-Fiqh al-Islami. Penundaan pembayaran hak sama dengan ghashab." o Fatwa DSN No. 3. 18 Juli 2004 di Lippo Karawaci-Tangerang. Besar ganti rugi (ta'widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss atau al-furshah al-dha-i' ah)."  Pendapat ulama yang membolehkan ta'widh sebagaimana dikutip oleh 'Isham Anas alZaftawi. Kerugian riil sebagaimana dimaksud ayat 2 adalah biaya-biaya riil yg dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yg seharusnya dibayarkan. seyogyanya stastus hukumnya pun sama. al-Qahirah: al-Ma'had al `Alami li-al-Fikr al-Islami. di samping ia pun harus menanggung harga (nilai) barang tersebut bila rusak.widh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain. Ganti rugi (ta‘widh) hanya boleh dikenakan pada transaksi (akad) yang menimbulkan utang piutang .

(dain), seperti salam, istishna' serta murabahah dan ijarah. 6. Dalam akad Mudharabah dan Musyarakah, ganti rugi hanya boleh dikenakan oleh shahibul mal atau salah satu pihak dalam musyarakah apabila bagian keuntungannya sudah jelas tetapi tidak dibayarkan. Kedua: KETENTUAN KHUSUS 1. Ganti rugi yang diterima dalam transaksi di LKS dapat diakui sebagai hak (pendapatan) bagi pihak yang menerimanya. 2. Jumlah ganti rugi besarnya harus tetap sesuai dengan kerugian riil dan tata cara pembayarannya tergantung kesepakatan para pihak. 3. Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad. 4. Pihak yang cedera janji bertanggung jawab atas biaya perkara dan biaya lainnya yang timbul akibat proses penyelesaian perkara. Ketiga: Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Keempat: Ketentuan Penutup Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,

KH. M.A Sahal Mahfudh

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Syariah Charge Card
Wednesday, 17 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 42/DSN-MUI/V/2004 tentang Syariah Charge Card. Menimbang : a. Bahwa untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan transaksi dan penarikan tunai diperlukan charge card b. Bahwa fasilitas charge card yang ada dewasa ini masih belum sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. c. Bahwa agar fasilitas tersebut dilaksanakan sesuai dengan Syari'ah, Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain: o QS. al-Ma'idah [5]: 1

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...”. o QS.Yusuf [12]: 72:

"Penyeru-penyeru itu berseru: 'Kami kehilangan piala Raja,. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya." o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran..." o QS. al-Furqan [25]: 67

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak herlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." o QS. Al-Isra' [17]:

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborospemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." o QS. al-Isra' [17]: 34:

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya." o QS. al-Qashash [28]: 26:

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Baqarah [2]: 282:

"Hai orang yang beriman! Jika kamu bermu'amalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis..." o QS. al-Bagarah [2]: 280:

"Dan jika ia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai ia berkelapangan..." 2. Hadist-hadist Nabi SAW, antara lain: • Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, Nabi s.a.w. bersabda:

"Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." • Hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, al-Daraquthni, dan yang lain, dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi

w. `Ya'. menghalalkan harga diri dan memberikan sanksi kepadanya. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. "Apakah ia mempunyai hutang?" Sahabat menjawab." • Hadis Nabi riwayat Nasa'i. dan Ahmad. beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain." • Hadis Nabi riwayat Bukhari dari Salamah bin al-Akwa': "Telah dihadapkan kepada Rasidullah s. Ibn Majah. dan Allah senantiasa menolong hanzba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" • Hadis Nabi riwayat Jama'ah.a." • Hadis Nabi riwayat Bukhari. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak " • Hadis riwayat 'Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. Lalu Abu Qatadah berkata." • Hadis Nabi riwayat Muslim. 'Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). ya Rasulullah'. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah berkata. `Tidak'. Rasulullah pun bertanya. `Saya menjamin hutangnya. a. Abu Daud. Rasulullah bertanya.a. Nabi s. Apakah ia mempunyai hutang?' Mereka menjawab." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash..s. Tirmizi dan lbn Hibban: "Za'im (penjamin) adalah gharinz (orang yang menanggung hutang). antara lain: • "Pada dasarnya. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud. Nabi bersabda: "Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja.w.w. jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. beritahukanlah upahnya. maka.. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang . Maka. Nabi bersabda: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia." Kaidah Fiqh. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat.

karena hutang orang itu belum terjadi..terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut. (Qaul qadim --Imam al-Syafl'i-menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban)." "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari'at). Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya. Dalam pasal tentang Qardh.” o Kitab al-Muhadzdzab..' Dengan demikian." "Keperluan dapat menduduki posisi darurat. Manakala akad jual beli atas benda dibolehkan.mengharamkannya.. Redaksi dalam pasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (aitjah). Oleh karena itu. pernyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman. maka sudah seharusnya dibolehkan pula akad ijarah atas manfaat." • • • "Kesulitan dapat menarik kemudahan. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban." • "Menghindarkan kerusakan (kerugian) harus didahulukan (diprioritaskan) atas mendatangkan kemaslahatan... seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan. juz I Kitab al-Ijarah hal.." .. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu yang akan dihutangkan.' Penjaminan tersebut tidak sah. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda." o Kitab Mughni al-Muhtaj." Memperhatikan: • Pendapat fuqaha' antara lain dalam: o Kitab I'anah al-Thalibin. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya. jilid 111/77-78 : "(Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban. pensyarah telah menuturkan masalah ini --penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum terjadi dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin. jilid II: 201-202: "(Hal yang dijamin) yaitu hutang (disyaratkan harus berupa hak yang telah terjadi) pada saat akad.

11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah. • Surat-surat masuk Bank BII Syariah. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG SYARIAH CHARGE CARD Pertama: HUKUM Penggunaan charge card secara syariah dibolehkan. .19/DSN-MUI/IV/2001 tentang Qardh. Merchant Fee adalah fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). • Substansi Fatwa DSN No. b. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil aldayn). termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin menggunakan fasilitas kartu. c.o Kitab Fiqh al-Sunnah jilid 4/221-222 : "Kafalah (jaminan) harta yaitu kajil (penjamin) berkewaj iban memberikan jaminan dalam bentuk harta. Syariah Charge Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh pemegang kartu (hamil albithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditetapkan. Bank BNI Syariah. dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Kedua: KETENTUAN UMUM Dalam fatwa ini. Bahrain. Substansi Fatwa DSN No. 07 Rabi'ul Akhir 1425 H. perihal permohonan fatwa tentang kartu berdasarkan prinsip syariah. nomor 2 tentang Bithaqah al-Hasm wa Bithaqah alI'timan. 9/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. al-Ma 'ayir al-Syar 'iyah Mei 2001: al-Mi'yar alSyar'i. Bank Danamon Syariah dan lain-lain. Substansi Fatwa DSN No. / 27 Mei 2004." o Pendapat Majma' al-Fiqh al-Islami & Hai'ah al-Muhasabah wa al-Muraja'ah li-al-Mu'assasah al-Maliyah al-Islamiyah. yang dimaksud dengan: a. • Pendapat Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional MUI pada hari Kamis. Membership Fee (rusum al-'udhwiyah) adalah iuran keanggotaan.

Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat. Ketentuan Fee: • Iuran keanggotaan (Membership fee) Penerbit kartu boleh menerima iuran keanggotaan (rusum al-'udhwiyah) termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin penggunaan fasilitas kartu. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan cara menetapkan pagu. f. Denda keterlambatan (Late Charge) adalah denda akibat keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil al-dayn). Ketiga: KETENTUAN AKAD Akad yang dapat digunakan untuk Syariah Charge Card adalah: a. Untuk transaksi pengambilan uang tunai digunakan akad al-Qardh wal Ijarah. • Ujrah (Merchant Fee) Penerbit kartu boleh menerima fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). Tidak mengakibatkan hutang yang tidak pernah lunas (ghalabah al-dayn). b. Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada waktunya. Untuk transaksi pemegang kartu (hamil cd-bithaqah) melalui merchant (qabil al-bithaqahlpenerima kartu). Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) adalah denda yang dikenakan karena melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. akad yang digunakan adalah akad Kafalah wal Ijarah. 2. • Fee Penarikan Uang Tunai . Ketentuan dan batasan (dhawabith wa hudud) Syariah Charge Card : • • • • • Tidak boleh menimbulkan riba.d. Keempat: 1. Fee Penarikan Uang Tunai adalah fee atas penggunaan fasilitas untuk penarikan uang tunai (rusum sahb alnuqud) e.

Sekretaris. Ketentuan Denda • Denda Keterlambatan (Late Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 27 Mei 2004 / 07 Rabiul Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.A Sahal Mahfudh Prof. Dr. • Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda karena pemegang kartu melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. Keenam : Ketentuan Penutup • Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihakpihak terkait.Penerbit kartu boleh menerima fee penarikan uang tunai (rusum sahb al-nuqud) sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya tidak dikaitkan dengan jumlah penarikan. KH. Din Syamsuddin . 3. H. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. • Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. M.

Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya melalui akad pengalihan hutang oleh LKS. Menimbang : a. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. tentang Pengalihan Hutang. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyrakat adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi non-syariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang sesuai dengan syariah b... Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. dan . Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya • Firman Allah QS.. al-Baqarah [2] : 275 : “dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.Pengalihan Hutang Sunday. al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 31/DSNMUI/VI/2002. Mengingat : • • Firman Allah QS. al-Isra [17] : 34: dan penuhilah janji. c..” • Firman Allah QS. Firman Allah QS. penuhilah aqad-aqad itu. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. Bahwa agar akad tersebut dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah Islam.

” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” “Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syari’at). keadaan mereka yang demikian itu. Nabi s. • Firman Allah QS. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. yang dimaksud dengan: .a. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada Hari Rabu. al-Daraquthni. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka.”. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. orang yang kembali (mengambil riba).w bersabda: “Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. dan yang lain. adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat). Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). dan urusannya (terserah) kepada Allah.bertakwalah kamu kepada Allah. tanggal 15 Rabiul Akhir1423H/ 26 Juni 2002. padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. • Hadis nabi riwayat Imam Ibnu Majah. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PENGALIHAN HUTANG. mereka kekal di dalamnya. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. dari Abu Sa’id al-Khudri. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Pertama : Ketentuan Umum Dalam fatwa ini. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. al-Baqarah [2] : 275: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.

dengan pembayaran secara cicilan. LKS memberikan qardh kepada nasabah. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nyal dan dengan demikian asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. Fatwa DSN no. d. 3. 2. yang ingin mengalihkan hutangya ke LKS. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. 4. Kedua : Ketentuan Akad Akad dapat dilakukan melalui empat alternatif berikut: Alternatif I : 1.a.19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud alternatif I ini. LKS menjual secara murabahah aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. Pengalihan hutang adalah pemindahan hutang nasabah dari bank/lembaga keuangan konvensional ke bank/lembaga keuangan syariah. Nasabah adalah (calon) nasabah LKS yang mempunyai kredit (hutang) kepada Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) untuk pembelian aset. Al-Qardh adalah akad pinjaman dari LKS kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan pokok pinjaman yang diterimanya kepada LKS pada waktu dan dengan cara pengembalian yang telah disepakati. Alternatif II : . Aset adalah aset nasabah yang dibelinya melalui kredit dari LKK dan belum lunas pembayaran kreditnya. c. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardh-nya kepada LKS. b.

. asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. dengan pembayaran secara cicilan. 4. sesuai dengan fatwa DSN-MUI no. Alternatif III : 1. terjadilah syirkah al-milk antara LKS dan nasabah terhadap aset tersebut. Alternatif IV : 1. LKS membeli sebagaian aset nasabah. 19/DSNMUI/IV/2001. 4. dengan seizin LKK. Besar imbalan jasa Ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan yang diberikan LKS kepada nasabah sebagaimana dimaksudkan angka 2. Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas aset. Apabila diperlukan. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nya. LKS memberikan qardh kepada nasabah. 3. 2. Bagian aset yang dibeli oleh LKS sebagaimana dimaksud angka 1 adalah bagian aset yang senilai dengan hutang (sisa cicilan) nasabah kepada LKK. LKS dapat membantu menalangi kewajiban nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. 9/DSN-MUI/IV/2002. sehingga dengan demikian. LKS menjual secara murabahah bagian asset yang menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. dan dengan demikian. 2. Akad ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh dipersyaratkan dengan (harus terpisah dari) pemberian talangan sebagaimana dimaksudkan angka 2. Fatwa DSN no: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif II ini. nasabah dapat melakukan kad Ijarah dengan LKS.1. 3.

4. .2. 3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. LKS menyewakan aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. 2. Ketiga : Ketentuan Penutup 1. Sekretaris. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardhnya kepada LKS. dengan akad al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik. Fatwa DSN no: 19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no: 27/DSN-MUI/III/2002 tentang al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif IV ini.

K. M.H. M. Dr. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. H. dihalalkan bagimu binatang ternak. ‘Hai ayahku! . Sahal Mahfudh Prof. Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah. tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah. • Firman Allah QS. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pengurusan haji dan talangan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang pengurusan dan pembiayaan haji oleh LKS untuk dijadikan pedoman. c. Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. Din Syamsuddin Pembiayaan Pengurusan Haji LKS Sunday. kecuali yang akan dibacakan kepadamu. penuhilah aqad-aqad itu. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 29/DSNMUI/VI/2002. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. Menimbang : a. b.A. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Mengingat : • Firman Allah QS. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Al-Baqarah [2] : 282 : Hai orang yang beriman! Jika kamu bermuamalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu.w riwayat al-Nasa’i. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” • Hadis Nabi s.w bersabda: Barang siapa mempekerjakan pekerja. buatlah secara tertulis..W tentang beberapa prinsip bermuamalah.a. dan Ahmad: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga dirinya dan memberikan sanksi kepadanya. • Firman Allah tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif. Nabi s.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” . (QS. Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.A. QS. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.w riwayat al-Bukhari: Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Al-Baqarah [2] : 280 : Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran.a. Al-Maidah [5] : 2). antara lain hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia. antara lain QS.Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). • Hadis Nabi s.”.a.”.” • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. • Hadis Nabi s. Al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. • Hadis-hadis Nabi S. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.w riwayat Jama’ah: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.. Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.. Abu Daud. dan bertakwalah kamu kepada Allah. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. beritahukanlah upahnya.a. • Firman Allah QS.”. Ibn Majah. • Firman Allah.

Wahbah Al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (V/4058). Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di . Jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji. Fatwa-fatwa DSN-MUI mengenai Ijarah. Kedua : 1. 9/DSNMUI/IV/2000. 19/DSNMUI/IV/2001. Pendapat ulama tentang Wakalah bil Ujrah. Murabahah. Qardh. Mudharabah. LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no.Memperhatikan : 1. Apabila diperlukan. 5. Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada tanggal 14 September 2002 / 7 Rajab 1423 H. Salam/Istishna’. Pertama : Ketentuan Umum 1. dan Musyarakah. Asy-Syarkhasi dalam Takmilah Fathul Qadir (VI/2). 4. Surat Direksi BMI Nomor 150/BMI/FSG/VII/2002 tertanggal 11 juli 2002 perihal permohonan fatwa tentang skema transaksi LC impor dan LC ekspor. LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-ijarah sesuai fatwa DSN-MUI no. 3. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (V/85). 2. 2. Dalam pengurusan haji bagi nasabah. 4. Pendapat para ulama tentang Al-Bai’ (jual-beli) dan mewakilkan dalam jual-beli. Besar imbalan jasa al-ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN PENGURUSAN HAJI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH. 3.

Sekretaris.H. Sahal Mahfudh Prof.antara para pihak. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.A. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Din Syamsuddin . Dr. 2. H. M. M. K.

c. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 26/DSN-MUI/III/2002. tentang Rahn Emas. yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Al-Baqarah[2]:283 : "Dan apabila kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak memperoleh seorang juru tulis maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah Rahn.. Bahwa bank syari'ah perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. b. Bahwa masyarakat pada umumnya telah lazim menjadikan emas sebagai barang berharga yang disimpan dan menjadikannya objek rahn sebagai jaminan hutang untuk mendapatkan pinjaman uang d. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal itu untuk menjadikan pedoman.. Menimbang : a. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Mengingat : • Firman Allah.Rahn Emas Sunday. QS." .

2. 3.A. 4." Memperhatikan : 1.W bersabda: "Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan.W pernah membeli makanan dengan berhutang dari seroang Yahudi. 3/305/DPM Tanggal 23 Oktober 2001 Tentang Permohonan Fatwa atas Produk Gadai Emas. V:181). Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin). kecuali Muslim dan al-Nasai'i. dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.A." • Hadis Nabi riwayat Jama'ah. ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah S. Nabi S. 2. 1985. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat fatwa DSN nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn). Nabi S. Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.• Hadis Nabi Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu." • Ijma' : Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (al-Zuhaili. Pertama : 1.W bersabda: "Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Biaya penyimpanan barang (marhun) dilakukan berdasarkan akad ijarah. • Kaidah Fiqh:"Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.A. Surat dari Bank Syariah Mandiri No. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat . Hasil Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Kamis. 14 Muharram 1423 H/28 Maret 2002 M. MEMUTUSKAN Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN EMAS. Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan." • Hadis Nabi riwayat al-Syafi'i.

kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,

K.H. M.A. Sahal Mahfudh

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Rahn
Sunday, 16 April 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 25/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn. Menimbang : a. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang b. Bahwa lembaga keuangan syariah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya c. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal untuk dijadikan pedoman tentang Rahn, yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 283: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang...”. • Hadis nabi riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah membeli makanan dengan berhutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.”. • Hadis Nabi riwayat al-Syafi’i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w bersabda: “Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia

memperoleh manfaat dan menanggung resikonya.” • Hadis nabi riwayat Jama’ah kecuali Muslim dan al-Nasai, Nabi s.a.w bersabda: “Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Orang yang menggunakan kendaraan dan memerah susu tersebut wajib menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan.”. • Ijma: Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (Al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1985, V:181). • Kaidah Fiqh: Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Memperhatikan : 1. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 dan hari rabu, 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002.

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN.

Pertama

: Hukum Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk rahn dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut.

Kedua

: Ketentuan Umum 1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai semua hutang Rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi. 2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya, Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh Murtahin kecuali seizin Rahin ,dengan tidak mengurangi nilai Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya. 3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin,

Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban Rahin. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi hutang. Penjualan Marhun a. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ketiga : Ketentuan Penutup 1. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M . 4. sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban Rahin. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. d. 2. maka Marhun dijual paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah. Apabila jatuh tempo. biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penujualan.namun dapat dilakukan juga oleh Murtahin. c. Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera melunasi hutangnya. b. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi hutangnya. 5.

M. M. Dr. Sekretaris. Din Syamsuddin . K.H.A. Sahal Mahfudh Prof. H.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

Al-Baqarah (2): 275: “.Potongan Pelunasan Murabahah Sunday. Bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut ajaran Islam.. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 23/DSN-MUI/III/2002. Bahwa dalam hal nasabah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan pelunasan dalam murabahah sebagai pedoman bagi LKS dab nastarajat secara umum. Mengingat : • Firman Allah QS..”.. c. LKS sering diminta nasabah untuk memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran tersebut.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Menimbang : a. tentang potongan pelunasan dalam murabahah.. b. . Bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah... Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. • Firman Allah QS.”.

Maka Rasulullah saw berkata: ‘Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat’ “..”... Ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: ‘Wahay Nabiyallah.. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.”. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo’.”.. • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda.. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG POTONGAN PELUNASAN DALAM MURABAHAH. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.’ (HR. Firman Allah QS. Surat dari pimpinan Unit Usaha Syariah Bank BNI no: UUS/2/878. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati.• • Firman Allah QS. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. 2. LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut. Al-Ma’idah (5): 2: “.”. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan . ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. Pertama : Ketentuan Umum 1. Memperhatikan : 1.dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. 2. tanggal 14 Muharram1423H/ 28 Maret 2002.

K. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Sahal Mahfudh Prof. Din Syamsuddin . M.H. Sekretaris. M. H.A. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.pertimbangan LKS. Dr.

pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan di antara kedua belah pihak. Bahwa oleh karena itu. kecuali dengan jalan perniagaan yang . Bahwa masyarakat banyak memerlukan pembiayaan dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan pada prinsip jual beli maupun akad lain yang pembayarannya kepada LKS dilakukan secara angsuran. Menimbang : a.Sanksi Atas Nasabah Sunday. b. tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Mengingat : • Firman Allah QS. Bahwa masyarakat. c. untuk dijadikan pedoman oleh LKS. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 17/DSNMUI/IX/2000. DSN perlu menetapkan fatwa tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran menurut prinsip syariah Islam. An-Nisa [4]: 29 Hai orang-orang yang beriman. Bahwa nasabah mampu terkadang menunda-nunda kewajiban pembayaran baik dalam akad jual beli maupun akad yang lain. dalam hal ini pihak LKS. d. meminta fatwa kepada DSN tentang tindakan atau sanksi apakah yang dapat dilakukan terhadap nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran tersebut menurut syariat Islam.

semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Nasai.”. • • Firman Allah QS.”. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. • Hadis Nabi riwayat jama’ah (Bukhari.. Ibn Majah dan Ahmad dari syraid bin Suwaid: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan.. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. Abu Dawud. Memperhatikan : a. Ahmad. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. Tirmidzi. Muslim. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit.” • Hadis Nabi riwayat Nasai.”. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. Darami dari Abu Hurairah. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG SANKSI ATAS NASABAH YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN Pertama : Ketentuan Umum . Malik. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar): “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu.”..” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. b. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.. Abu Daud.

4. 3. 6. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M . tetapi menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi.1. yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. 2. 5. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang mampu membayar. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial.

A. M. H. Sekretaris. Din Syamsuddin .DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. K. Dr.H. M. Sahal Mahfudh Prof.

c. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan harga (diskon) dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. Bahwa penjual (Lembaga Keuangan Syariah. sesuai dengan prinsip syariah Islam. . Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. ataukah merupakan hak pembeli (nasabah) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) mengugnakan harga setelah diskon. tentang Diskon dalam Murabahah. tentang status diskon dalam transaksi murabahah tersebut. Mengingat : • Firman Allah QS.. Bahwa salah satu prinsip dasar dalam murabahah adalah penjualan suatu barang kepada pembeli dengan harga (tsaman) pembelian dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Bahwa dengan adanya diskon timbul permasalahan: apakah diskon tersebut menjadi hak penjual (LKS) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) menggunakan harga sebelum diskon.. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 16/DSN-MUI/IX/2000. d. LKS) terkadang memperoleh potongan harga (diskon) dari penjual pertama (supplier).”.Diskon Murabahah Sunday. b. Bahwa untuk mendapatkan kepastian hukum. Menimbang : a.

Harga dalam jual beli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jual beli. di sana terdapat hukum Allah”. Jika dalam jual beli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier.”. lebih tinggi maupun lebih rendah. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DISKON DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum 1.• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. 3. 2. Memperhatikan : a. b. Harga (tsaman) dalam jual beli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Jika pemberian diskon terjadi setelah akad. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan .”. pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. • “Dimana terdapat kemaslahatan. 5. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. karena itu diskon adalah hak nasabah. 4. harga sebenarnya adalah setelah diskon. Dalam akad.

Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Sahal Mahfudh Prof. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. Dr. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak.ditandatangani. Din Syamsuddin . akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. H. M. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Sekretaris.H. K.A. M.

Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. • • Firman Allah QS. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang uang muka dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS..”.Uang Muka Murabahah Sunday.. Bahwa agar dalam pelaksanaan akad murabahah dengan memakai uang muka tidak ada pihak yang dirugikan. tentang Uang Muka dalam Murabahah. b. tuliskanlah. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”.. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang . Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 282: “Hai orang yang beriman! Jika kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk jangka waktu yang ditentukan. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 13/DSN-MUI/IX/2000. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”. sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Menimbang : a. LKS dapat meminta uang muka. Bahwa untuk menunjukkan kesungguhan nasabah dalam permintaan pembiayaan murabahah dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS). dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit..

tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000.”. • Para ulama sepakat bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). b. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.lain. 3. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. Jika nasabah membatalkan akad murabahah. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000.”. Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat. Memperhatikan : a. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai . nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian. Dalam akad pembiayaan murabahah. 2. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. 4. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG UANG MUKA DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Uang Muka: 1. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. 5. LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada nasabah.

kesepakatan melalui musyawarah. K. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Sekretaris. Sahal Mahfudh Prof. Dr.H. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. M. Din Syamsuddin . H. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. M.A.

Bahwa agar akad tersebut sesuai dengan ajaran Islam. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 09/DSN-MUI/IV/2000. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : “. Al-Zukhruf (43) : 32: “Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”..Pembiayaan Ijarah Saturday.. c. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang akad ijarah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperoleh manfaat suatu barang sering memerlukan pihak lain melalui akad ijarah. yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. tentang Pembiayaan Ijarah.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. b. Menimbang : a. Bertaqwalah kepada . Bahwa kebutuhan akan ijarah kini dapat dilayani oleh lembaga keuangan syariah (LKS) melalui akad pembiayaan ijarah. dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat.

semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. • “Memghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan. maka.”. • Hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar. Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN IJARAH Pertama : Rukun dan Syarat Ijarah : . • • • Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa.”.w bersabda: “Barangsiapa mempekerjakan pekerja. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. beritahukanlah upahnya. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. bahwa Nabi bersabda: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.a. • Hadis riwayat Abu daud dari Sa’ad Ibn Abi Waqqash.”. ‘Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Nabi s. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”.Allah.”. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. ia berkata: “Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000.”. • Firman Allah QS.

Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah obyek kontrak yang harus dijamin. 4. 7. 4. 5. 3. Sighat Ijarah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syari’ah.1. baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent. Kedua : Ketentuan Obyek Ijarah: 1. Ketiga : Kewajiban LKS dan Nasabah dalam pembiayaan Ijarah . Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijararah. 8. pemilik aset. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa. Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) : terdiri atas pemberi sewa (lessor. karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri. nasabah). 3. dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah). pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset. 2. Pernyataan Ijab dan Qabul. Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa. 6. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik. 5. 2. Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan. 9. Ketentuan (flexibility) dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu. Obyek kontrak: pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset. Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. LKS) dan penyewa (lesee. Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak. tempat dan jarak. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas. termasuk jangka waktunya. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat.

bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan. Jika aset yang disewa rusak. . Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak materiil). Keempat : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. c. b. 2. Kewajiban nasabah sebagai penyewa: a. Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan.1. ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Menanggung biaya pemeliharaan aset. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak. c. Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa: a. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. b. Sekretaris. Menyediakan aset yang disewakan. juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. kini telah dilakukan oleh lembaga keuangan syraiah. baik dalam berbagi keuntungan maupun resiko kerugian. KH. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang musyarakah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS. Shad (38) : 24: “. kecuali orang yang beriman . Ali Yafie Drs. Menimbang : a. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan usaha terkadang memerlukan dana dari pihak lain. A. Nazri Adlani Musyarakah Saturday.Prof. c. di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.. antara lain melalui pembiayaan musyarakah.H. tentang Pembiayaan Musyarakah. b. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 08/DSN-MUI/IV/2000. Bahwa pembiayaan musyarakah yang memiliki keunggulan dari segi kebersamaan dan keadilan..Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebagian lain.

Akad dituangkan secara tertulis..”. Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah.” • • Firman Allah QS.. Ijma’ Ulama atas bolehnya musyarakah. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. dan amat sedikitlan mereka ini. . Jika salah satu pihak telah berkhianat. Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Beberapa Ketentuan : 1. aku keluar dari mereka. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a.”.. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis.’ (HR. atau dengan menggunakan caracara komunikasi modern. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). yang dishahihkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah). • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”. melalui korespondensi. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000.. Abu Daud. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. c. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). Rasulullah berkata: “Allah swt berfiman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. b.dan mengerjakan amal shaleh. • • • Taqrir Nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan masyarakat pada saat itu. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan. kerja. dan memperhatikan hal-hal berikut: a. Pada prinsipnya. emas. seperti barang-barang. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum. Modal yang diberikan harus uang tunai. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal. c. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan. harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. akan tetapi. tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja. iii. dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan. Para pihak tidak boleh meminjam. kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. LKS dapat meminta jaminan. b. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan. dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan. kecuali atas dasar kesepakatan. b. e. menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain. perak atau yang nilainya sama. Obyek akad (modal. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah. dan sebagainya. dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan . Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya. Modal i. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. ii.2. meminjamkan. keuntungan dan kerugian) a. 3. Jika modal berbentuk aset. properti. d. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi weewnang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya. Kerja i.

4. iv. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Keuntungan i. d. c.tambahan bagi dirinya. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. b. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. Biaya operasional dipersengkatakan. ii. Kerugian Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masingmasing dalam modal. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M . Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. a. ii. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya. iii. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra.

pihak LKS dapat menyalurkan dananya kepada pihak lain dengan cara mudharabah. Nazri Adlani Mudharabah (Qiradh) Saturday. Ali Yafie Drs. dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang mudharabah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. nasabah) bertindak selaku pengelola. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Menimbang : a. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 07/DSN-MUI/IV/2000. tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). Mengingat : • Firman Allah QS. KH. yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik. shahib al-mal.H. A. Prof. Bahwa dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dana lembaga keuangan syari’ah (LKS). Sekretaris. sedang pihak kedua (‘amil. b.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. LKS) menyediakan seluruh modal. kecuali dengan jalan perniagaan yang . mudharib.

Diriwayatkan. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. • • Firman Allah QS. Firman Allah QS.. Ibnu Majah.. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000. Thabrani dari Ibnu Abbas). muqaradhah (mudharabah). sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.berlaku dengan sukarela di antaramu. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah.”. Ibnu Majah dari Shuhaib). 4/838). • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. beliau membenarkannya” (HR.”.”... Al-Baqarah (2): 283: “. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. bukan untuk dijual. Daaqauthni. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.”. 1989. • Ijma. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUDHARABAH (QIRADH) . jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. serta tidak membeli hewan ternak...Maka. ia (mudharib) harus menanggung resikonya.” (HR. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. Karenanya. Jika persyaratan itu dilanggar.. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah.”. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily..

5. 9. 10. 2. 8. Kriteria pengusaha. . Pada prinsipnya. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. tatacara pengembalian dana. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) menbiayai 100% kebutuhan suatu proyek (usaha) sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha. 3. lalai. 6. Mudharab boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan seusai dengan syari’ah. dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha). 7. mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan. LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. atau menyalahi perjanjian. dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN. Dalam hal penyandang dana (LKS ) tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan. prosedur pembiayaan. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Jangka waktu usaha. dan LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan.Pertama : Ketentuan Pembiayaan : 1. 4. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan. dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan.

Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. c. Modal adalah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut: a. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya. b. melalui korespondensi. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi: a. . Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk satu pihak. Akad dituangkan secara tertulis. sesuai dengan kesepakatan dalam akad. baik secara bertahap maupun tidak. Jika modal diberikan dalam bentuk aset. b. Penyedia dana (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum. 4. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. c.Kedua : Rukun dan Syarat Pembiayaan: 1. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). c. 3. atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. 2. b. kelalaian atau pelanggaran kesepakatan. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a.

2. dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu. yaitu keuntungan. tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan. Pada dasarnya. 3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA . harus memperhatikan hal-hal berikut: a. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah. Pengenlola tidak boleh menyalahi hukum syari’ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah. atau pelanggaran kesepakatan. Ketiga : Beberapa ketentuan hukum pembiayaan: 1. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib) sebagai perimbangan modal yang disediakan oleh pneyedia dana. 4. tanpa campur tangan penyedia dana. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. c. b. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.5. karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah). dalam mudharabah tidak ada ganti rugi. kelalaian. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib. kecuali akibat dari kesalahan disengaja.

15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 06/DSN-MUI/IV/2000. b. Mengingat : . Sekretaris. Bahwa kebutuhan masyarkat untuk memperoleh sesuatu. A. sering memerlukan pihak lain untuk membuatkannya. Ali Yafie Drs. dan hal seperti itu dapat dilakukan melalui jual beli istishna’. mustashni’) dan penjual (pembuat. Nazri Adlani Jual Beli Istishna' Saturday. Bahwa transaksi istishna’ pada saat ini telah dipraktekkan oleh lembaga keuangan syariah. tentang Jual Beli Istishna'. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. KH. c. Prof. Menimbang : a. shani’). yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang istishna’ untuk menjadi pedoman.H.Ketua.

tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Penyerahannya dilakukan kemudian. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan. Daaqauthni. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya. . Harus dapat dijelaskan spesifikasinya. 2. baik berupa uang. 2. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR. Kedua : Ketentuan tentang Barang: 1. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. istishna’ hukumnya boleh (jawaz) karena hal itu telah dilakukan oleh masyrakat muslim sejak masa awal tanpa ada pihak (ulama) yang mengingkarinya. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). • Menurut mazhab Hanafi.”. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI ISTHISHNA’ Pertama : Ketentuan tentang pembayaran : 1. Ibnu Majah. barang atau manfaat. 3. 3.”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.

Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan. hukumnya mengikat. A. 3. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’. Sekretaris.4. Tidak boleh menukar barang. 5. 7. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. 2.H. maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Nazri Adlani . Ketiga : Ketentuan Lain 1. kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan. Ali Yafie Drs. 6. Prof. Pembeli (mushtashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad. KH.

Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan. tentang Murabahah. Bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank berdasarkan prinsip jual beli. . yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. bank syari’ah perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 04/DSN-MUI/IV/2000. b. Menimbang : a.Murabahah Saturday.

Firman Allah QS.”. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Ibnu Majah dari Shuhaib)..”.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. muqaradhah (mudharabah).. • Hadis Nabi riwayat ‘Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam: “Rasulullah SAW. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu..Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Bahwa oleh karena itu..”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.c..” (HR...”. II/161. al-Kasani... maka beliau menghalalkannya. • Hadis Nabi riwayat Jama’ah: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.”. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil...’ (HR. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. • Ijma’ Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara Murabahah (Ibnu Rusyd. ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli.. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Bidayah al-Mujtahid.”. Bada’i as-Sana’i V/220-222). • • Firman Allah QS. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).”.”. maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan. • Firman Allah QS. Ibnu Majah dan Ahmad: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. bukan untuk dijual. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang Murabahah untuk dijadikan pedoman oleh bank syari’ah Mengingat : • Firman Allah QS. • Hadis Nabi riwayat Nasa’i Abu Dawud. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. .. Al-Baqarah (2) : 280 : “. Al-Baqarah (2): 275: “.

Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. 9.Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam. misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. 7. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. secara prinsip menjadi milik bank. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang. 3. 6. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepaki. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah. 4. 2. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah: 1. 5. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya. . Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. 8.

Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang. Jaminan dalam murabahah dibolehkan. 3. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah. Jika nasabah batal membeli. agar nasabah serius dengan pesanannya. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. 2. 6. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka. 2. dan jika uang muka tidak mencukupi. nasabah wajib melunasi kekurangannya. b. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. 5. 7. karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank.Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah: 1. maka: a. kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli. Ketiga : Jaminan dalam Murabahah: 1. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. ia tinggal membayar sisa harga. Jika bank menerima permohonan tersebut. Keempat : Hutang dalam Murabahah: . 4.

Keenam : Bangkrut dalam Murabahah: Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. Secara prinsip. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir.1. 2. Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah: 1. ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 . Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. 2. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank. maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. atau berdasarkan kesepakatan. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan. 3. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut.

Bahwa oleh karena itu. memerlukan jasa perbankan. b. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan deposito pada bank syari’ah.H. Nazri Adlani Deposito Saturday. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. Menimbang : a. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Prof. c. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 03/DSN-MUI/IV/2000. pada masa kini. yaitu simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimapanan dengan bank. bahwa kegiatan deposito tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). KH. kecuali dengan jalan perniagaan yang . Sekretaris. tentang Deposito. Ali Yafie Drs. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah deposito. A.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Mengingat : • Firman Allah QS.

Karenanya. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. • • Firman Allah QS. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. • Qiyas. Jika persyaratan itu dilanggar..” • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.. • Ijma. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan.. • Para ulama menyatakan. Diriwayatkan. 4/838). 1989.” (HR. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain.berlaku dengan sukarela di antaramu.”. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. bukan untuk dijual.. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.”. modal) dari satu pihak (malik. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. beliau membenarkannya” (HR. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. Memperhatikan : .”.. • Firman Allah QS. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.Maka. Ibnu Majah dari Shuhaib). Al-Baqarah (2): 283: “... Transaksi mudharabah. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. serta tidak membeli hewan ternak.”.Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. Thabrani dari Ibnu Abbas)... al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil.. muqaradhah (mudharabah). yakni penyerahan sejumlah harta (dana. diqiyaskan kepada transaksi musaqah.. Firman Allah QS. Oleh karena itu.”. Al-Baqarah (2) : 198 : “. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.

Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. yaitu Deposito yang berdasarkan prinsip Mudharabah. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DEPOSITO Pertama : Deposito ada dua jenis: 1. 5. 3. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 2. 6. 4. Ditetapkan di : Jakarta . yaitu Deposito yang berdasarkan perhitungan bunga. Deposito yang dibenarkan. Kedua : Ketentuan Umum Deposito berdasarkan Mudharabah: 1. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. 2. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib.

Nazri Adlani . KH. A. Sekretaris. Prof. Ali Yafie Drs.Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.H.

dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah tabungan. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan tabungan pada bank syari’ah. yaitu simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati tetapi tidak dapat ditarik dengan cek. memerlukan jasa perbankan.Tabungan Saturday. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 02/DSN-MUI/IV/2000. bahwa kegiatan tabungan tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). tentang Tabungan.”. bilyet giro dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. . Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. pada masa kini. Mengingat : • Firman Allah QS. c. b... kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. Bahwa oleh karena itu. Menimbang : a.

• Ijma. Thabrani dari Ibnu Abbas)... mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai.. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan. 1989. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Ibnu Majah dari Shuhaib).. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. Transaksi mudharabah. • • • Firman Allah QS. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah.” (HR. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. modal) dari satu pihak (malik. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. diqiyaskan kepada transaksi musaqah.. Karenanya.”. • Qiyas.”. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. Diriwayatkan. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya.”.. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000.Maka. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. beliau membenarkannya” (HR.. Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. bukan untuk dijual.. 4/838).• Firman Allah QS. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. muqaradhah (mudharabah). al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. • Para ulama menyatakan. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. . dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Oleh karena itu. Jika persyaratan itu dilanggar.. Al-Baqarah (2): 283: “. Firman Allah QS.”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. serta tidak membeli hewan ternak.”.

dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. 6. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak betentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. . yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. 2.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG TABUNGAN Pertama : Tabungan ada dua jenis: 1. 2. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Tabungan yang dibenarkan. Kedua : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Mudharabah: 1. 5. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Ketiga : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Wadi’ah: 1. yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan Wadi’ah. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 4. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. 3. Bersifat simpanan.

3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank. Prof. KH. A. Sekretaris. Ali Yafie Drs.2.H. Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepatakan. Nazri Adlani .

Menimbang : a.. pada masa kini. . Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan giro pada bank syari’ah... Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. atau dengan pemindahbukuan. yaitu simpanan dana yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan penggunaan cek. • Firman Allah QS.Giro Saturday. memerlukan jasa perbankan. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah giro.Maka. Bahwa oleh karena itu. tentang Tabungan.. Al-Baqarah (2): 283: “..”. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Mengingat : • Firman Allah QS.”. bahwa kegiatan giro tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 01/DSN-MUI/IV/2000.. bilyet giro. b. sarana perintah pembayaran lainnya. c. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain.

”. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.”.• • • Firman Allah QS. muqaradhah (mudharabah). sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. serta tidak membeli hewan ternak. Ibnu Majah dari Shuhaib). diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. .. bukan untuk dijual. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Thabrani dari Ibnu Abbas). • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. beliau membenarkannya” (HR. • Ijma.”.. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Diriwayatkan. modal) dari satu pihak (malik. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai.. 4/838). Oleh karena itu. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. Transaksi mudharabah.”. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.” (HR. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. Karenanya. Jika persyaratan itu dilanggar. • Qiyas. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. • Para ulama menyatakan. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan. 1989. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Firman Allah QS.. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan.

Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. 3. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan ditunangkan dalam akad pembukaan rekening. yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat . Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. Ketiga : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Wadi’ah : 1. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentang dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG GIRO Pertama : Giro ada dua jenis: 1. 2. 2. Giro yang tidak dibenarkan secara syari’ah. 5. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga. Kedua : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Mudharabah: 1. 2. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. 3. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. 4. 6. Bersifat titipan. Giro yang dibenarkan secara syari’ah. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. Titipan bisa diambil kapan saja (on call).

KH. Nazri Adlani . Ali Yafie Drs. Sekretaris. Prof.H. A. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.sukarela dari pihak bank.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->