P. 1
The King of Torts Complet - Unknown

The King of Torts Complet - Unknown

|Views: 156|Likes:
Published by dianwangi

More info:

Published by: dianwangi on Feb 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/29/2013

pdf

text

original

TEMBAKAN-TEMBAKAN yang me-nyemburkan peluru yang menembus kepala Pumpkin didengar tak kurang dari delapan orang

. Tiga orang secara naluriah menutup jendela mereka, memeriksa kunci pintu, dan menarik diri ke dalam apartemen kecil mereka yang aman, setidaknya tertutup. Dua lainnya, masing-masing berpengalaman dalam masalah seperti itu, lari dari tempat tersebut secepat mungkin, kalau bukan malah lebih cepat daripada si penembak sendiri. Seorang, lainnya, orang fanatik tentang daur ulang daerah itu, sedang menggali-gali sampah mencari kaleng alumunium ketika mendengar bunyi keras tembak-menembak yang terjadi setiap hari itu dari jarak yang amat dekat. Ia melompat ke belakang tumpukan kardus hingga tembakan itu berhenti, kemudian menyelinap ke lorong di mana ia melihat apa yang tersisa dari diri Pumpkin. Dan dua orang melihat hampir segalanya. Mereka sedang duduk di peti susu dari plastik, di sudut jalan Georgia dan Lamont, di depan toko minuman, agak tersembunyi di balik mobil yang diparkir di sana sehingga si penembak, yang melihat sekeliling dengan cepat sebelum membuntuti Pumpkin memasuki gang, tak melihat mereka. Keduanya kelak mengatakan pada polisi bahwa mereka melihat pemuda berpistol itu merogoh ke dalam saku dan mengeluarkannya; mereka yakin melihatnya, sepucuk pistol hitam. Sedetik kemudian mereka mendengar tembakan, meskipun mereka tidak benar-benar melihat kepala Pumpkin dihantam peluru. Sedetik kemudian lagi, pemuda bersenjata itu melesat dari gang dan, entah karena alasan apa, berlari lurus ke arah

mereka. Ia berlari sambil membungkuk, bak anjing ketakutan, jelas bersalah. Ia memakai sepatu basket merah dan kuning yang tampak lima ukuran kebesaran dan berbunyi keras ketika mengenai jalanan saat ia kabur. Ketika berlari melewati mereka, ia masih memegangi pistol itu, mungkin kaliber 0,38, dan terenyak cuma sesaat ketika melihat mereka dan menyadari mereka telah melihat terlalu banyak. Selama satu detik yang mengerikan, ia sepertinya menaikkan pistol seolah hendak menghabisi para saksi, yang sama-sama berhasil menggulingkan badan ke balik peti susu plastik mereka dan kalang kabut bertemperasan. Kemudian ia pun menghilang. Salah satu di antara mereka membuka pintu toko minuman dan berteriak menyuruh orang menelepon polisi, telah terjadi penembakan. Tiga puluh menit kemudian, polisi menerima telepon bahwa pemuda yang cocok dengan ciri-ciri orang yang menghabisi Pumpkin dua kali terlihat di Ninth Street membawa sepucuk pistol secara terbuka dan gerakgeriknya lebih aneh daripada kebanyakan orang di Ninth Street. Ia mencoba memancing sedikitnya satu orang agar memasuki tempat kosong, tetapi calon korban berhasil lolos dan melaporkan kejadian tersebut. Polisi menemukan buruan mereka satu jam kemudian. Namanya Tequila Watson, laki-laki kulit hitam, usia dua puluh tahun, dengan catatan polisi pernah tersangkut urusan obat terlarang. Tak ada keluarga. Tak ada alamat. Tempat ia tidur terakhir adalah unit rehabilitasi di W Street. Ia berhasil membuang pistol di suatu tempat, dan seandainya ia merampok Pumpkin, maka ia pun sudah membuang uang atau obat

terlarang atau apa pun jarahannya. Sakunya bersih, seperti juga matanya. Polisi yakin Tequila tidak dalam pengaruh obat apa pun ketika ditangkap. Interogasi cepat dan kasar dilakukan di jalan, kemudian ia diborgol dan didorong masuk ke jok belakang mobil kepolisian DC. Mereka membawanya kembali ke Lamont Street, di mana mereka mengatur pertemuan spontan dengan dua saksi tadi. Tequila dibawa memasuki gang di mana ia meninggalkan Pumpkin. 'Teman ke sini?" seorang polisi bertanya. Tequila tak mengatakan apa-apa, cuma memelototi genangan darah segar di atas beton yang kotor. Dua saksi didorong memasuki gang itu, lalu diam-diam dibawa ke suatu tempat di dekat Tequila. "Itu orangnya," keduanya berkata bersamaan. "Ia memakai baju yang sama, sepatu basket yang sama, segalanya kecuali pistol itu." "Dialah orangnya." "Tidak diragukan lagi." Tequila sekali lagi didorong ke dalam mobil dan dibawa ke penjara. Ia diproses dengan tuduhan melakukan pembunuhan dan dikurung tanpa peluang pembebasan dengan uang jaminan dalam waktu dekat. Entah karena pengalaman atau hanya karena ketakutan. Tequila tak pernah mengucapkan sepatah kata pun pada polisi sewaktu mereka memancing, membujuk, bahkan mengancamnya. Tak ada apa pun yang memberatkan, tak ada yang berguna. Tak ada indikasi mengapa ia membunuh Pumpkin. Tidak ada petunjuk tentang latar belakang mereka, seandainya memang ada. Seorang detektif veteran menulis catatan ringkas di berkas perkara bahwa pembunuhan itu kelihatan sedikit lebih acak daripada yang

biasa. Tak ada permintaan untuk menelepon. Tidak disinggung tentang pengacara atau orang yang akan membayar jaminan pembebasan. Tequila tampak linglung tapi kelihatannya tak keberatan mendekam di sel yang berjejalan dan memandangi lantai. Pumpkin tak memiliki ayah yang dapat dilacak tapi ibunya bekerja sebagai satpam di lantai bawah tanah gedung perkantoran besar di New Y ork Avenue. Polisi butuh waktu tiga jam untuk memastikan nama asli putranya—Ramon Pumphrey, menentukan alamatnya dan menemukan tetangga yang bersedia mengatakan pada mereka bahwa ia punya ibu. Adelfa Pumphrey duduk di belakang meja tak jauh dari jalan masuk ke lantai bawah, semestinya sedang mengamati deretan layar monitor. Ia wanita berperawakan besar kekar dalam seragam ketat berwarna khaki, menyandang sepucuk pistol di pinggang, dan wajahnya sama sekali tak peduli. Polisi yang menghampirinya pernah melakukan hal yang sama ratusan kafi. Mereka menyampaikan kabar, kemudian mencari supervisor wanita itu. Di kota tempat anak-anak muda saling membunuh. setiap hari, pembantaian telah menebalkan kulit dan mengeraskan hati, dan setiap ibu kenal banyak ibu lain yang kehilangan anak. Setiap kehilangan membawa kematian selangkah lebih dekat, dan setiap ibu tahu hari apa pun bisa jadi hari terakhir. Para ibu tersebut menyaksikan yang lain bertahan hidup dalam kengerian itu. Sewaktu Adelfa Pumphrey duduk di belakang meja dengan wajah terbenam dalam tangan, ia memikirkan putranya dan tubuhnya yang tak bernyawa lagi, saat ini tergeletak di

suatu tempat di kota ini, dipandangi orang-orang yang tak dikenal. Ia bersumpah akan membalas siapa pun yang membunuhnya. Ia mengutuki si ayah karena meninggalkan anak itu. Ia menangisi permata hatinya. Dan ia tahu ia akan bertahan hidup. Entah bagaimana, ia akan bertahan. Adelfa pergi ke pengadilan untuk menyaksikan pembacaan perkara. Polisi mengatakan padanya bangsat yang membunuh putranya dijadwalkan melakukan pemunculan pertamanya, urusan rutin dan cepat di mana ia akan menyampaikan pengakuan tak bersalah dan meminta didampingi pengacara. Ia duduk di deretan belakang, diapit saudara lelakinya dan seorang tetangga, air matanya membasahi saputangan yang sudah lembap. Ia ingin melihat bocah itu. Ia juga ingin menanyakan alasannya, tapi ia tahu takkan pernah mendapat kesempatan itu. Mereka menggiring para penjahat itu masuk seperti ternak dalam pelelangan. Semuanya berkulit hitam, semuanya memakai pakaian terusan oranye dan borgol, semuanya muda. Sungguh sia-sia. Selain borgol. Tequila juga memakai rantai pada pergelangan tangan dan kaki karena kejahatannya sangat biadab, meskipun ia tidak tampak begitu berbahaya ketika menyeret kaki memasuki ruang sidang bersama rombongan pelanggar hukum lain. Ia melihat sekeliling dengan cepat, ke arah orang banyak, untuk melihat apakah ada yang ia kenali, apakah mungkin ada seseorang di luar sana hadir untuknya. Ia didudukkan di deretan kursi, dan sekadar supaya dramatis, petugas bailiff pengadilan yang bersenjata membungkuk dan berkata, "Bocah yang

kaubunuh itu. Itu ibunya di belakang sana, bergaun biru." Dengan kepala tertunduk, Tequila perlahan-lahan menoleh dan memandang lurus mata ibu Pumpkin yang basah dan sembap, tapi hanya selama sedetik. Adelfa menatap pemuda kurus berpakaian terusan ukuran besar itu dan dalam bati bertanya di manakah ibunya berada, bagaimana ia membesarkannya, apakah ia punya ayah, dan, yang paling penting, bagaimana dan mengapa ia sampai bertemu anaknya. Mereka berdua kira-kira sebaya, belasan tahun atau awal dua puluhan. Polisi mengatakan padanya, setidaknya pada permulaan, bahwa kelihatannya tidak ada masalah obat terlarang dalam pembunuhan tersebut. Tapi ia lebih tahu bagaimana sesungguhnya. Obat terlarang selalu terlibat dalam setiap lapisan kehidupan jalanan. Adelfa mengetahuinya benar. Pumpkin pernah memakai pot dan crack dan pernah satu kali ditahan karena ketahuan memilikinya, tapi ia tak pernah melakukan kekerasan. Polisi mengatakan kejadiannya tampak seperti pembunuhan acak. Semua pembunuhan di jalanan adalah pembunuhan acak, demikian saudara lelakinya pernah berkata, tapi semuanya punya alasan. Di salah satu sisi ruang sidang ada meja yang dikelilingi sekumpulan petugas penegak hukum. Para polisi itu berbisik-bisik dengan para jaksa, yang membalikbalik halaman berbagai berkas dan laporan dan bekerja giat menyiapkan berbagai dokumen itu mendahului para penjahat. Di sisi lain ada meja tempat para pembela datang dan pergi sementara roda keadilan berputar. Tuduhan berbagai kasus obat terlarang dibacakan

berentetan oleh sang hakim, satu tuduhan perampokan bersenjata, beberapa serangan bermotif seksual yang tidak begitu jelas, kasus obat terlarang lagi, banyak sekali pelanggaran pembebasan percobaan. Ketika nama mereka dipanggil, para tersangka itu digiring maju ke hadapan meja hakim, di mana mereka berdiri membisu. Kertas-kertas dokumen dibolak-balik, kemudian mereka digiring pergi kembali ke penjara. 'Tequila Watson," bailiff mengumumkan. Ia dibantu berdiri oleh bailiff lain. Ia maju tertatih-tatih, rantainya bergemerincing. "Mr. Watson, kau dituduh melakukan pembunuhan," sang hakim mengumumkan dengan suara keras. "Berapa umurmu?" "Dua puluh," Tequila berkata, sambil memandang ke bawah. Tuduhan pembunuhan itu bergema di dalam ruang sidang dan menimbulkan keheningan sesaat. Penjahatpenjahat lain yang berseragam oranye itu memandang dengan sorot kagum. Para pengacara dan polisi dirasuki perasaan ingin tahu. "Apakah kau mampu membayar pembela?" 'Tidak." "Sudah kuduga," sang hakim menggumam dan mengalihkan pandangan ke meja pembela. Ladang-ladang subur Superior Court D.C. Divisi Pidana, Cabang Tindak Pidana Berat, digarap setiap hari oleh OPD—Kantor Pembela Umum, jaring pengaman bagi semua tersangka yang tidak mampu. Tujuh puluh persen berkas perkaranya ditangani pengacara yang ditunjuk pengadilan, dan biasanya di sana selalu ada setengah lusin PD atau Pembela Umum yang hilir mudik dalam setelan jas murahan dan pantofel usang dengan berbagai berkas mencuat dari tas kerja mereka. Tetapi, saat itu

hanya ada seorang PD di sana, Yang Terhormat Clay Carter II, yang mampir untuk memeriksa satu atau dua perkara yang lebih ringan, dan kini mendapati dirinya seorang diri dan ingin melompat kabur dari ruang sidang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dan menyadari Yang Mulia Hakim memandangnya. Ke manakah semua PD lainnya pergi? Seminggu sebelumnya, Mr. Carter menyelesaikan perkara pembunuhan yang berlarut-larut hingga hampir tiga tahun dan akhirnya ditutup dengan dikirimnya kliennya ke penjara yang takkan pernah ditinggalkannya lagi, setidaknya secara resmi. Clay Carter cukup senang kliennya kini ditahan, dan merasa lega bahwa ia, saat ini, tidak memiliki berkas perkara pembunuhan di meja kerjanya. Hal itu jelas akan berubah. "Mr. Carter?" Hakim berkata. Itu bukan perintah, tapi undangan melangkah maju ke depan untuk mengerjakan apa yang diharapkan dari setiap PD— membela perkara kaum fakir miskin, tak peduli apa pun kasusnya. Mr. Carter tidak boleh memperlihatkan kelemahan, terutama karena hadirnya para polisi dan jaksa itu. Ia menelan ludah dengan berat, menolak menunjukkan perubahan ekspresi, dan berjalan menghampiri meja hakim seolah hendak menuntut diadakan peradilan dengan juri sekarang juga. Ia mengambil berkas itu dari Hakim, membaca isinya yang tipis dengan cepat sambil mengabaikan pandangan me-, mohon Tequila Watson, lalu berkata, "Kami akan mengajukan pernyataan tidak bersalah, Yang Mulia." 'Terima kasih, Mr. Carter. Dan kami akan mencatat Anda sebagai pembela perkara ini?" "Untuk sekarang ini, ya."

Mr. Carter sudah menyusun berbagai dalih untuk melimpahkan kasus ini pada orang lain di OPD. "Baiklah. Terima kasih," sang hakim berkata, sudah meraih berkas perkara berikutnya. Pengacara dan klien itu duduk rapat di meja tersangka selama beberapa menit.. Carter mengambil informasi sebanyak yang ingin diberikan Tequila, informasi yang sangat minimi. Ia berjanji mampir ke penjara besok untuk wawancara yang lebih panjang. Sewaktu mereka berbisik-bisik, meja itu tiba-tiba dikerumuni pengacara-pengacara muda dari kantor Pembela Umum, kolega-kolega Carter yang sepertinya muncul begitu saja. Apakah ini jebakan? Carter bertanya pada diri sendiri. Apakah mereka tadi sengaja menghilang karena tahu ada terdakwa kasus pembunuhan di dalam ruang sidang ini? Selama lima tahun terakhir, seorang diri ia mengerjakan kasus-kasus semacam itu. Mengelak dari kasus-kasus berat adalah suatu bentuk seni tersendiri di OPD. Ia menyambar tas kerja dan bergegas pergi,, berjalan di gang tengah di antara deretan bangku, melewati deretan sanak keluarga yang khawatir, melewati Adelfa Pumphrey dan kelompok pendukungnya yang tidak besar, memasuki lorong yang dijejali lebih banyak lagi penjahat beserta ibu, pacar, dan pengacara mereka. Ada pengacara-pengacara di OPD yang bersumpah mereka hidup demi kekacaubalauan H. Cari Moultrie Courthouse— tekanan berat persidangan, ancaman bahaya dari orangorang yang tinggal dalam ruangan yang sama dengan begitu banyak manusia ganas, konflik menyakitkan antara para korban dan penganiaya mereka, berkas perkara yang

terus menumpuk, panggilan untuk membela si miskin dan memastikan perlakuan adil dari polisi dan sistem. Jika Clay Carter dulu tertarik untuk meniti karier di OPD, ia kini tidak bisa mengingat alasannya. Seminggu lagi ulang tahun kelima ia bekerja di sana dan peristiwa itu akan berlalu begitu saja, tanpa perayaan, dan, mudah-mudahan, tanpa ada siapa pun yang mengetahuinya. Di usianya yang 31 tahun, Clay sudah habis terperah, terperangkap di kantor yang malu ditunjukkannya pada teman-temannya, mencari jalan keluar tapi tak punya tujuan, dan kini dibebani kasus pembunuhan tak masak akal lain yang makin lama makin berat. - Di dalam lift ia mengumpati diri sendiri karena terjebak menangani kasus pembunuhan. Itu kekeliruan pelonco; ia sebenarnya sudah terlalu lama di sana sampai bisa melangkah masuk ke perangkap seperti itu, terlebih perangkap yang dipasang di medan yang sudah begitu dikenalnya. Aku akan berhenti, ia berjanji pada diri sendiri; sumpah yang sama dengan yang ia gumamkan hampir setiap hari setahun terakhir ini. Ada dua orang lain dalam lift itu. Yang satu semacam klerek di pengadilan itu, dengan tangan penuh berbagai macam berkas. Yang lainnya laki-laki berusia empat puluhan memakai jeans hitam buatan desainer, T-shirt, jaket, sepatu bot kulit buaya. Ia memegang surat kabar dan kelihatan seperti membacanya dari balik kacamata kecil yang bertengger di ujung hidungnya yang panjang dan elegan. Sesungguhnya, ia mengamati Clay, yang tak menyadarinya. Apa perlunya orang memperhatikan orang lain di lift gedung ini? Seandainya Clay waspada,

bukannya bermuram durja, ia tentu melihat bahwa pakaian laki-laki itu terlalu bagus bagi terdakwa, tetapi terlalu santai bagi pengacara. Ia tak membawa apa pun kecuali surat kabar, yang sebenarnya ganjil sebab H. Carl Moultrie Courthouse bukanlah tempat untuk membaca. Ia tidak tampak seperti hakim, klerek, korban, atau terdakwa, tapi Clay tak pernah menyadarinya. Di kota dengan 76.000 pengacara, banyak di antaranya bergerombol di berbagai biro hukum raksasa dalam jarak setembakan senjata api dari gedung Capitol—biro-biro kaya dan berkuasa tempat para associate paling cemerlang menerima bonus penandatanganan kontrak dengan jumlah tak kira-kira, mantan anggota Kongres paling payah diberi uang besar untuk segala macam lobi, dan litigator paling top datang membawa agen— Kantor Pembela Umum—OPD— berada jauh di papan bawah. Kelas kambing. Beberapa pengacara OPD memang fanatik mencurahkan komitmen untuk membela kaum miskin dan tertindas, dan bagi mereka pekerjaan itu bukanlah baur lompatan ke karier lain. Tak peduli betapa kecil penghasilan mereka atau betapa ketat anggarannya, mereka terus hidup dari kemerdekaan kerja mereka yang sepi dan rasa puas dari memberikan perundungan bagi kaum underdog. Pengacara PD lain berkata pada diri sendiri bahwa pekerjaan itu hanyalah sementara, sekadar pelatihan tetek bengek yang mereka butuhkan untuk lepas landas menuju karier yang lebih menjanjikan. Menapaki tangga karier yang terjal, membiarkan tangan jadi kotor, melihat dan melakukan apa saja yang 2 takkan pernah didekati

associate biro hukum besar, dan suatu hari kelak suatu biro hukum dengan visi sungguhan akan mengganjar jerih payah itu. Pengalaman persidangan yang tak terbatas, pengetahuan luas tentang para hakim, panitera, dan polisi, manajemen beban kerja, keterampilan dalam menangani klien-klien paling sulit—semua itu cuma beberapa dari banyak keunggulan yang bisa dimiliki pengacara PD sesudah hanya beberapa tahun memegang pekerjaan ini. OPD punya delapan puluh pengacara, semuanya bekerja di dua lantai yang padat dan penuh sesak di Gedung Pelayanan Masyarakat Distrik Columbia, bangunan beton pucat persegi yang dijuluki The Cube alias Si Kubus, di Mass Avenue dekat Thomas Circle. Ada sekitar empat puluh sekretaris dan paralegal bergaji rendah bertebaran di seluruh penjuru labirin bilik kantor. Direkturnya adalah wanita bernama Glenda yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mengunci diri di dalam kantor sebab merasa aman di sana. Gaji awal pengacara OPD adalah $36.000. Kenaikan sangatlah kecil dan jarang terjadi. Pengacara paling seniornya, laki-laki tua dan letih berusia 43 tahun, berpenghasilan $57.600 dan sudah sembilan belas tahun ini mengancam untuk mengundurkan diri. Beban kerja di sana sungguh menggetarkan sebab kota ini terpuruk dalam pertempurannya melawan kejahatan. Pasokan bajingan-bajingan miskin mengalir tanpa putus. Setiap tahun selama delapan tahun terakhir Glenda terus mengajukan anggaran yang meminta sepuluh pengacara dan selusin paralegal lagi. Dalam masingmasing anggaran empat tahun terakhir ini ia menerima

uang lebih sedikit daripada tahun sebelumnya. Kebingungannya saat ini adalah menentukan paralegal mana yang harus diberhentikan dan pengacara mana yang harus dipaksa bekerja paro waktu. Seperti kebanyakan pengacara OPD lainnya, Clay Carter kubah di sekolah hukum tanpa rencana karier, atau bahkan secuil pun khayalan, untuk membela penjahat-penjahat tak mampu. Tidak. Dulu ketika Clay masih di college, kemudian di sekolah hukum Georgetown, ayahnya memiliki biro hukum di D.C. Clay bekerja parowaktu di sana selama bertahuntahun, kemudian memiliki ruangan kantor sendiri. Impianimpiannya saat itu tak terbatas, ayah dan anak mengurus perkara bersama-sama sementara uang mengalir masuk. Tetapi biro hukum itu ambruk saat Clay menempuh tahun terakhir di sekolah hukum, dan ayahnya meninggalkan kota. Bu cerita lain. Clay menjadi pengacara publik sebab tidak ada pekerjaan lain untuk diraih pada detik terakhir. Ia buruh waktu tiga tahun untuk berkutat dan berkomplot demi mendapatkan ruang kantor sendiri, bukan ruangan yang dipakai bersama pengacara atau paralegal lain Kira-kira seukuran lemari besar di pinggiran kota, kantor itu tak berjendela dan berisi meja kerja yang menempati setengah luas lantainya. Kantornya di* biro hukum milik ayahnya dulu empat kali lebih besar daripada itu dan memiliki pemandangan ke Washington Monument, dan meskipun mencoba melupakan pemandangan itu, ia tak dapat menghapuskannya dari kenangan. Lima tahun sesudahnya, ia sekali-sekali masih duduk di belakang meja kerjanya dan menatap dinding, yang serasa makin

rapat setiap bulannya, dan bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana, sesungguhnya, ia bisa jatuh dari satu kantor ke kantor lainnya? Ia melemparkan berkas perkara Tequila Watson ke atas mejanya yang sangat bersih dan sangat rapi lalu menanggalkan jas. Sebenarnya mudah, di tengah lingkungan yang menyedihkan seperti ini, untuk membiarkan tempat tersebut seadanya, membiarkan berkas dan dokumen menumpuk, membiarkan kantornya acak-acakan dan menyalahkan keadaan pada beratnya beban kerja dan kurangnya staf. Tetapi ayahnya dulu memiliki keyakinan bahwa meja kerja yang teratur adalah tanda pikiran yang teratur. Bila kau tak bisa menemukan sesuatu dalam tiga puluh detik, maka kau kehilangan uang, demikian ayahnya selalu berkata. Balas telepon segera adalah peraturan lain yang diajarkan pada Clay untuk dipatuhi. Jadi ia rewel dalam soal meja kerja dan kantornya, menimbulkan kegelian di antara para koleganya yang usil. Ijazah dari Sekolah Hukum Georgetown tergantung dalam bingkai indah di tengah salah satu dinding. Selama dua tahun pertama di OPD ia menolak memajang ijazah itu karena takut pengacara lain bertanyatanya mengapa lulusan Georgetown bekerja demi gaji minimum. Untuk pengalaman, katanya pada diri sendiri, aku di sini untuk menimba pengalaman. Satu sidang setiap bulan—sidang-sidang berat melawan jaksa-jaksa tangguh di depan juri yang sulit. Untuk memperoleh latihan langsung dari bawah yang tidak bisa disediakan biro hukum besar. Uang akan datang kelak, ketika ia sudah jadi pengacara yang tangguh ditempa pertempuran pada usia sangat

muda. Ia memandangi berkas Watson yang tipis di tengah meja kerjanya dan dalam hati bertanya-tanya bagaimana ia dapat melimpahkannya pada orang lain. Ia sudah muak dengan kasus-kasus sulit, pelatihan hebat, dan segala macam dalih omong kosong yang dikatakannya sebagai pengacara OPD bergaji kecil. Ada enam slip merah jambu berisi pesan telepon di mejanya; lima berkaitan dengan urusan pekerjaan, satu dari Rebecca, pacarnya sejak lama. Ia meneleponnya lebih dulu. "Aku sangat sibuk," Rebecca memberitahu sesudah basa-basi pembukaan. "Kau tadi meneleponku," kata Clay. "Ya, aku cuma bisa bicara satu-dua menit." Rebecca bekerja sebagai asisten anggota Kongres peringkat rendah yang menjabat ketua suatu subkomite yang tak ada gunanya. Tapi karena ia sang ketua, ia punya kantor tambahan yang perlu dikelola orang-orang seperti Rebecca yang jungkir balik sepanjang hari mempersiapkan rangkaian persidangan yang tak dihadiri seorang pun. Ayahnya dulu memakai pengaruh untuk mendapatkan pekerjaan tersebut baginya. "Aku sibuk juga," kata Clay. "Baru saja mendapatkan kasus pembunuhan lagi." Ia susah payah menambahkan nada bangga pada ucapannya, seolah ia mendapatkan kehormatan menjadi pengacara bagi Tequila Watson. Itulah permainan yang mereka mainkan: Siapa paling sibuk? Siapa paling penting? Siapa kerja paling keras? Siapa paling mendapat tekanan? "Besok ulang tahun ibuku," kata Rebecca, lalu berhenti sebentar seakan Clay seharusnya tahu soal ini. Ia tidak tahu. Ia tidak peduli. Ia tidak suka ibu Rebecca. "Mereka mengundang kita

menghadiri jamuan makan malam di klub." Hari yang menyebalkan jadi lebih menyebalkan lagi. Satu-satunya tanggapan yang bisa. ia berikan hanyalah, "Baik." Dan itu diucapkannya dengan cepat. "Sekitar pukul tujuh. Jas dan dasi." 'Tentu." Aku lebih suka makan malam bersama Tequila Watson di penjara, pikirnya dalam hati. "Aku harus pergi," kata Rebecca. "Sampai jumpa nanti. Love you." "Love you." Itu percakapan khas antara mereka berdua, hanya beberapa kalimat pendek sebelum bergegas pergi menyelamatkan dunia. Ia memandang foto Rebecca di atas meja kerja. Kisah mereka dibumbui berbagai kericuhan yang cukup untuk menenggelamkan sepuluh perkawinan. Ayah Clay pernah menggugat ayah Rebecca, dan tak pernah jelas siapa menang siapa kalah. Keluarga Rebecca mengaku berasal dari masyarakat Alexandria lama; ia sendiri anak kolong. Mereka kaum Republiken sayap kanan, Clay bukan. Ayah Rebecca dikenal sebagai Bennett the Bulldozer karena pengembangan tak kenal ampun dan tak habis-habisnya di pinggiran Virginia Utara di seputar D.C. Clay membenci meluasnya Virginia Utara dan diam-diam membayar iuran menjadi anggota kelompok-kelompok pembela lingkungan melawan para pengembang. Ibu Rebecca orang yang agresif dalam menaiki tangga sosial dan menginginkan dua putrinya menikah dengan orang yang benar-benar kaya. Clay sudah sebelas tahun tidak mengunjungi -ibanya sendiri. Ia tidak memiliki ambisi sosial apa pun. Ia tidak punya uang. Selama hampir sebelas tahun, percintaan mereka bertahan hidup menghadapi perselisihan bulanan,

kebanyakan dipicu ibu Rebecca. Hubungan itu bertahan hidup karena cinta, gelora hati, dan tekad untuk berhasil meskipun banyak halangan. Akan tetapi Clay mencium adanya keletihan di pihak Rebecca, kelelahan yang merayap datang dibawa usia dan tekanan terus-menerus dari keluarganya. Rebecca berumur 28 tahun. Ia tidak menginginkan karier. Ia ingin suami, keluarga, dan hari-hari panjang untuk dihabiskan di country club memanjakan anak-anak, bermain tenis, makan siang bersama ibunya. Paulette Tullos muncul entah dari mana dan mengejutkan Clay. "Kau terperangkap, bukan?" katanya sambil menyeringai. "Kasus pembunuhan baru." "Kau tadi ada di sana?" tanya Clay. "Aku melihat semuanya. Aku melihat itu akan terjadi, aku melihat kejadiannya, tak bisa menyelamatkanmu, Sobat" "Terima kasih. Aku berutang budi padamu." Ia sesungguhnya hendak menawarkan tempat duduk, tapi tak ada kursi lain di dalam kantornya. Tidak ada tempat kosong untuk kursi dan selain itu, kursi tidaklah diperlukan karena semua kliennya ada di penjara. Duduk dan bercakap-cakap bukanlah bagian dari kegiatan harian di OPD. 22 "Seberapa peluangku untuk menyingkirkan kasus ini?" katanya. •' 'Tipis sampai mustahil. Kepada siapa kau ingin melimpahkannya?" 'Tadinya aku mempertimbangkanmu." "Maaf. Aku sudah punya dua kasus pembunuhan. Glenda tidak akan menggesernya darimu." Paulette adalah teman terdekatnya di kantor OPD. Sebagai produk bagian ganas kota itu, ia dengan susah payah merayapi college dan fakultas hukum di waktu malam dan sepertinya ditakdirkan

hidup sebagai kelas menengah hingga ia berjumpa lelaki Yunani tua dengan kegemaran akan wanita muda berkulit hitam. Ia menikahi Paulette dan memberinya rumah nyaman di Washington Barat Laut, lalu akhirnya kembali ke Eropa, di mana ia lebih suka tinggal. Paulette curiga ia punya satu atau dua istri lain di sana, tapi ia tidak begitu peduli. Ia cukup makmur dan jarang sendirian. Sesudah sepuluh tahun, cara seperti itu berjalan cukup baik. . "Aku dengar jaksa-jaksa itu berbicara," katanya. "Satu lagi pembunuhan jalanan, tapi motifnya patut dipertanyakan." "Sama sekali bukan yang pertama kali dalam sejarah D.C." 'Tapi tanpa motif yang jelas." "Motif selalu ada— uang, obat bius, seks, sepasang sepatu Nike." 'Tapi bocah itu lumayan jinak, tidak ada catatan kekerasan?" "Kesan pertama jarang benar, Paulette, kau tahu itu." "Jennaine dua hari yang lalu mendapatkan kasus yang sangat mirip. Tak ada motif yang jelas." "Aku belum dengar." "Kau mungkin boleh coba dia. Ia masih baru dan ambisius dan, siapa tahu, kau mungkin bisa melemparkan kasus ini padanya." "Akan kulakukan sekarang juga." Jennaine tak ada di tempat tapi pintu Glenda, entah karena alasan apa, sedikit terbuka. -Clay mengetuknya dengan buku-buku jari sambil melangkah masuk "Ada waktu sebentar?" tanyanya, tahu Glenda benci menyisihkan waktu sedikit pun dengan siapa pun di stafnya. Ia menunaikan pekerjaannya lumayan baik, mengatur kantor, mengelola kasus yang bertumpuk, mengatur anggaran, dan yang paling penting, bermain politik di Balai Kota. Tapi ia tidak menyukai orang. Ia lebih suka menyelesaikan pekerjaan di balik pinta yang terkunci.

. "Baik," katanya kaku, tanpa sedikit pun nada meyakinkan. Jelas ia tidak menyukai gangguan ini, persis dugaan Clay. "Aku kebetulan berada di Divisi Pidana pagi tadi pada saat yang keliru, terjebak harus menangani kasus pembunuhan, yang lebih suka kualihkan pada orang lain. Aku baru saja menyelesaikan kasus Traxel, yang seperti kauketahui, berkepanjangan sampai hampir tiga tahun. Aku butuh istirahat dari kasus pembunuhan. Bagaimana kalau kasus itu ditangani salah satu pengacara yang lebih muda?" "Kau memohon, Mr, Carter?" is bertanya, alisnya melengkung. "Benar. Boleh tumpukan kasus obat bius dan pencurian selama beberapa bulan. Itu saja yang kuminta." "Dan siapa yang kausarankan menangani, uh, apa kasusnya?" 'Tequila Watson." "Tequila Watson. Siapa yang seharusnya menanganinya, Mr. Carter?" "Aku tidak peduli. Aku hanya butuh istirahat." Glenda bersandar di kursinya, seperti gaya direktur yang sudah tua dan bijaksana, dan mulai menggigit ujung pena. "Bukankah kita semua demikian, Mr. Carter? Kita semua ingin istirahat, bukan?" "Ya atau tidak?" "Kita punya delapan puluh pengacara di sini, Mr. Carter, setengahnya punya kualifikasi untuk menangani kasus pembunuhan. Setiap orang sedikitnya punya dua kasus. Alihkanlah kalau kau bisa, tapi aku tidak akan memberi perintah untuk memindahkan kasus ini." |$*; Sewaktu hendak berlalu, Clay berkata, "Aku ingin sekali mendapatkan kenaikan gaji kalau kau bisa mengusahakannya." 'Tahun depan, Mr. Carter. Tahun depan." "Dan seorang paralegal." 'Tahun depan." Dan berkas perkara Tequila Watson tetap berada

di ruang kerja yang rapi dan teratur milik Jarrett Clay Carter II, Pengacara. Bangunan itu, bagaimanapun juga, - adalah penjara. Meskipun baru dan saat grand opening menjadi sumber kebanggaan bagi sejumlah pimpinan kota, bangunan tersebut tetaplah penjara. Dirancang konsultankon-sultan pertahanan kota yang hebat dan dilengkapi perangkat pengaman high-tech, ia masih tetap penjara. Efisien, aman, manusiawi, dan meskipun dibangun untuk seabad mendatang, ia langsung penuh pada hari pembukaan. Dari luar ia menyerupai sebongkah batu bata merah yang bertengger di sisinya, tanpa jendela, tanpa harapan, dipenuhi narapidana dan orang-orang tak terhitung yang menjaga mereka. Untuk membuat hati merasa lebih nyaman, tempat itu diberi nama Criminal Justice Center alias Lembaga Pemasyarakatan, eufemisme modern yang digunakan secara luas oleh arsitek-arsitek penggarap proyek seperti itu. Bangunan tersebut adalah penjara. Dan ia adalah bagian dari ladang nafkah Clay Carter. Ia menemui hampir semua kliennya di sana, sesudah mereka ditahan dan sebelum mereka dilepaskan dengan uang jaminan, jika mereka mampu menyetornya. Kebanyakan tak mampu. Kebanyakan ditahan karena tindak kejahatan tanpa kekerasan, dan bersalah atau tidak, mereka tetap dikurung sampai pemunculan akhir mereka di pengadilan. Tigger Banks menghabiskan waktu hampir delapan bulan di dalam penjara itu karena pencurian yang tidak ia lakukan. Ia kehilangan kedua pekerjaan paro waktunya. Ia kehilangan apartemennya. Ia kehilangan martabatnya. Telepon terakhir

Tigger pada Clay adalah percakapan mengenaskan hati, bocah itu meminta uang. Ia memakai kokain lagi, hidup di jalanan, dan beranjak menuju masalah. Setiap pengacara pidana di kota ini punya kisah Tigger Banks, seluruhnya dengan akhir yang tak membahagiakan dan tak ada yang bisa dilakukan. Butuh biaya $41.000 setahun untuk menampung seorang narapidana. Mengapa sistem ini begitu ingin membakar uang? Clay muak dengan pertanyaan-pertanyaan itu, muak dengan Tigger-Tigger lain dalam kariernya, dan muak dengan penjara serta para penjaga bermuka masam yang menyambutnya di pintu masuk lantai bawah tanah yang digunakan kebanyakan pengacara. Dan ia muak dengan bau tempat itu, dan prosedur-prosedur kecil yang konyol pegawai administrasi yang membaca buku pegangan tentang bagaimana agar penjara tetap aman. Saat itu pukul 09.00, hari Rabu, meskipun bagi Clay setiap hari sama. Ia pergi ke jendela geser di bawah tanda PENGACARA, dan sesudah pegawai itu yakin Clay sudah menunggu cukup lama, ia membuka jendela itu dan tak mengucapkan apa-apa. Tak ada yang perlu diucapkan, karena ia dan Clay telah saling memelototi tanpa menyapa selama hampir lima tahun sekarang. Clay menandatangani daftar kunjungan, mengembalikannya, dan pegawai itu menutup jendela yang pasti tahan peluru untuk melindunginya dari pengacarapengacara yang mengamuk. Glenda mencurahkan waktu dua tahun untuk mencoba menerapkan metode telepondulu yang sederhana sehingga pengacara-pengacara OPD, dan orang lain, bisa menelepon satu jam sebelum

tiba dan klien mereka bisa berada di dekat ruang pertemuan pengacara. Itu permintaan yang sederhana, dan justru kesederhanaannya itulah yang menyebabkan permintaan itu tenggelam dalam neraka birokrasi. Ada sederet kursi menempel ke dinding, tempat para pengacara diharapkan menunggu sementara permintaan mereka dikirim pada seseorang di lantai atas dengan kecepatan seperti siput. Pada pukul 09.00 selalu ada beberapa pengacara yang duduk di sana, mengutak-atik berkas perkara, berbisik-bisik ke telepon genggam, tak menghiraukan satu sama lain. Pada suatu ketika di awal kariernya yang masih muda, Clay sering membawa bukubuku hukum tebal untuk dibaca dan ditandai dengan warna kuning, dengan demikian menimbulkan kekaguman pengacara lain karena kerajinannya. Kini ia mengeluarkan koran Post dan membaca rubrik olahraga. Seperti biasa, ia melihat sepintas arlojinya untuk melihat berapa lama waktu yang akan terbuang sia-sia karena menunggu Tequila Watson. Dua puluh empat menit Lumayan. Penjaga membawanya menyusuri lorong ke ruangan panjang yang disekat-sekat dengan lembaran Plexiglass tebal. Si penjaga menunjuk bilik keempat dari ujung, dan Clay duduk. Dari balik kaca, ia bisa melihat paro lain bilik itu kosong. Menunggu lagi. Ia mengeluarkan koran dari tas kerja dan mulai memikirkan pertanyaan untuk Tequila. Bilik di sebelah kanannya diisi pengacara di tengah percakapan yang tegang tapi sayup-sayup dengan kliennya seseorang yang tak bisa dilihat Clay. Si penjaga kembali dan berbisik pada Clay, seolah percakapan

seperti itu melanggar hukum. "Orangmu baru saja melewatkan malam yang heboh," katanya sambil membungkuk dan melirik ke atas pada kamera kemananan. "Oke," kata Clay. "Ia menerjang seseorang pukul dua dini hari tadi, memukulinya habis-habisan, memicu perkelahian hebat. Butuh enam orang kami untuk melerainya. Keadaannya kacau." "Tequila?" "Watson, itulah dia. Bocah satunya harus masuk rumah sakit. Bersiaplah untuk beberapa tuduhan tambahan." "Kau yakin?" Clay bertanya sambil melihat dari atas pundak. "Semuanya terekam dalam video." Akhir percakapan. Mereka mengangkat muka ketika Tequila dibawa ke tempat duduknya oleh dua penjaga, masing-masing memegangi satu siku. Ia diborgol, dan meskipun para tahanan biasanya dibebaskan untuk bicara dengan pengacara mereka borgol Tequila tidak dibuka. Ia duduk. Penjaga-penjaga itu bergeser menjauh tapi tetap tinggal di dekatnya. Mata kirinya bengkak hingga tertutup, dengan darah kering di kedua sudutnya. Yang kanan terbuka dan pupilnya merah darah. Ada plester dan perban di tengah keningnya, dan Band-Aid di dagu. Bibir dan rahangnya melepuh dan bengkak sampai Clay ragu apakah ia berhadapan dengan klien yang benar. Seseorang baru saja memukuli laki-laki yang duduk satu meter darinya, terpisah Plexiglass. Clay mengangkat gagang telepon hitam dan memberi tanda pada Tequila untuk berbuat sama. Ia memegangnya dengan canggung dengan dua tangan. "Kau Tequila Watson?" Clay bertanya dengan sebanyak mungkin kontak mata. Ia mengangguk

mengiyakan, sangat lamban, seolah tulang-tulang longgar bergeser di seluruh kepalanya. "Kau sudah menemui dokter?" Satu anggukan, ya. "Apakah polisi yang melakukan ini padamu?" Tanpa sangsi ia menggelengkan kepala. Tidak. "Orang lain di sel yang melakukannya?" Satu anggukan, ya. "Polisi-polisi itu mengatakan padaku kaulah yang memulai perkelahian, memukuli seseorang sampai masuk rumah sakit. Apakah itu benar?" Satu anggukan, ya. Sulit membayangkan Tequila Watson, dengan bobot cuma 75 kilogram, memukuli orang di dalam sel yang penuh sesak di penjara D.C. "Apakah kau kenal bocah itu?" Gerakan mendatar. Tidak. Sejauh ini telepon tidak diperlukan, dan Clay bosan dengan bahasa isyarat ini. "Sebenarnya mengapa kau memukuli bocah itu?" Dengan susah payah bibir bengkak itu akhirnya membuka. "Aku tidak tahu," ia berhasil mendengus, kata-katanya meluncur lambat dan penuh kesakitan. "Bagus sekali, Tequila. Itu memberiku dasar untuk bekerja. Bagaimana kalau membela diri? Apakah bocah itu mencoba menyakitimu? Melontarkan pukulan pertama?" 'Tidak." "Apakah ia memakai obat atau mabuk?" "Tidak." "Apakah omongannya mengganggu, mengancam, atau semacamnya?" "Ia sedang tidur." 'Tidur?" "Y eah." "Apakah ia mendengkur terlalu keras? Lupakanlah." Si pengacara memutuskan kontak mata, ia tiba-tiba perlu menuliskan sesuatu di buku catatan kuningnya. Clay menuliskan tanggal, waktu, tempat, nama klien, lalu kehabisan fakta penting untuk dicatat Ia punya seratus pertanyaan di dalam benaknya, dan sesudah itu ada seratus pertanyaan lain.

Dalam wawancara awal seperti ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang bervariasi, hanya garis besar kehidupan kliennya yang menyedihkan dan bagaimana mereka sampai bertemu. Kebenaran dijaga bak permata langka, disampaikan lewat Plexiglass hanya bila si klien tidak terancam. Pertanyaan-pertanyaan tentang keluarga, sekolah, pekerjaan, dan teman-teman biasanya dijawab dengan cukup jujur. Tetapi pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan tindak kejahatan butuh kecanggihan bermain. Setiap pengacara pidana tahu untuk tidak terlalu banyak bicara tentang tindak kejahatan itu pada wawancara-wawancara pertama. Galilah rinciannya di tempat lain. Lakukanlah penyelidikan tanpa petunjuk klien. Kebenarannya mungkin akan terungkap kelak. Akan tetapi. Tequila sepertinya agak berbeda. Sejauh ini. ia tidak menunjukkan ketakutan akan kebenaran. : Clay memutuskan menghemat berjam-jam waktunya yang berharga. Ia mencondongkan badan lebih dekat dan memelankan suara. "Kata mereka kau membunuh seseorang, lima kali menembak kepalanya." Kepala yang bengkak itu mengangguk sedikit. "Seseorang bernama Ramon Pumphrey, juga dikenal sebagai Pumpkin. Apakah kau kenal orang ini?" Satu anggukan, ya. "Apakah kau menembaknya?" Suara Clay nyaris seperti berbisik. Penjaga-penjaga itu tertidur tetapi pertanyaan seperti itu tetaplah bukan pertanyaan yang diajukan pengacara, sedikitnya tidak di dalam penjara. "Ya," jawab Tequila lirih. HfF" "Lima kali?" "Aku kira enam." Oh well, persidangan akan percuma saja kalau begini caranya. Aku akan

membuat kasus ini ditutup dalam enam puluh hari, pikir Clay dalam hati. Tawar-menawar yang cepat. Pengakuan bersalah sebagai imbalan untuk penjara seumur hidup. "Transaksi narkoba?" ia bertanya. "Tidak." "Apakah kau merampoknya?" I Tidak." Tolonglah aku, Tequila. Kau punya alasan, bukan?" "Aku kenal dia." "Itu saja? Kau kenal dia? Itukah dalih terbaik darimu?" Ia mengangguk tapi tak mengucapkan apa-apa. "Soal perempuan, bukan? Kau memergokinya dengan pacarmu? Kau punya pacar, bukan?" Ia menggeleng. Tidak. "Apakah penembakan itu ada kaitannya dengan seks?" Tidak. "Bicaralah padaku, Tequila, aku pengacaramu. Akulah satu-satunya orang di planet ini yang saat ini berusaha menolongmu. Beri aku sesuatu sebagai dasar untuk bekerja." "Aku dulu suka beli obat dari Pumpkin." "Sekarang kau bicara. Sudah berapa lama?" "Beberapa tahun." "Oke. Apakah ia berutang uang atau obat padamu? Apakah kau berutang sesuatu padanya?" "Tidak." Clay menghela napas panjang dan untuk pertama kalinya memperhatikan tangan Tequila. Kedua tangan itu terbuka oleh takikan-takikan kecil dan bengkak begitu parah sehingga tak satu pun buku jarinya kelihatan. "Kau sering berkelahi?" Mungkin anggukan, mungkin gelengan. "Tidak lagi." "Kau dulu begitu?" "Masalah anak-anak. Aku pernah sekali berkelahi dengan Pumpkin." Akhirnya. Clay kembali menarik napas dalam dan mengangkat pena. 'Terima kasih, Sir, atas pertolonganmu- Kapan tepatnya kau berkelahi dengan Pumpkin?" "Sudah lama." "Umur berapa kau waktu itu?" Pundak diangkat, jawaban atas pertanyaan dungu. Clay

tahu dari pengalaman bahwa para kliennya tidak punya konsep tentang waktu. Mereka dirampok kemarin atau mereka ditahan bulan lalu, tapi cobalah menggali ke tiga puluh hari yang lalu, maka semua sejarah meleleh jadi satu. Kehidupan jalanan adalah pergulatan untuk bertahan hidup hari ini, tidak ada waktu untuk mengenang-ngenang dan tak ada apa pun di masa lalu untuk dikenang. Tidak ada masa depan sehingga acuan waktu seperti itu tidaklah dikenal. "Anak-anak," Tequila berkata, bertahan dengan jawaban singkat, mungkin kebiasaan dengan ataupun tanpa rahang patah. "Umur berapa kau waktu itu?" "Mungkin dua belas." "Kalian di sekolah?" "Main basket." "Apakah itu perkelahian hebat, dengan luka dan tulang patah atau semacamnya?" "Tidak. Anak-anak besar melerainya." Clay meletakkan gagang telepon sesaat dan menyusun ringkasan pembelaannya. Bapak dan Ibu anggota juri, klien saya menembak Mr. Pumphrey (yang tidak bersenjata) lima atau enam kali dalam jarak dekat di gang kumuh dengan pistol curian karena dua alasan; pertama, ia mengenalnya, dan kedua, mereka pernah saling dorong di taman bermain sekitar delapan tahun lalu. Mungkin kedengarannya bukan alasan, bapak-ibu sekalian, tapi kita semua tahu bahwa di Washington, D.C. dua alasan tersebut sama baiknya dengan alasan lain apa pun. Melalui telepon itu lagi, ia bertanya, "Apakah kau sering bertemu Pumpkin?" "Tidak." "Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya sebelum ia tertembak?" Pundak diangkat. Persoalan kembali ke masalah waktu. "Apakah kau bertemu dengannya sekali seminggu?" 'Tidak." "Sekali

sebulan?" "Mungkin." "Ketika bertemu dengannya dua hari yang lalu, apakah kau bertengkar mulut dengannya? Bantulah aku di sini, Tequila, aku bekerja terlalu keras untuk mendapatkan detail." "Kami tidak bertengkar." "Mengapa kau pergi ke gang itu?" Tequila meletakkan gagang telepon dan mulai menggerakkan kepala ke depan dan belakang, sangat perlahan-lahan, untuk mengendurkan kekakuan. Ia jelas kesakitan. Borgol itu tampak mengiris ke dalam kulitnya. Ketika mengangkat gagang telepon itu kembali, ia berkata, "Akan kukatakan yang sebenarnya. Aku punya pistol, dan ingin menembak seseorang. Siapa saja, tak jadi soal. Aku meninggalkan Camp dan mulai berjalan begitu saja, tanpa tujuan, mencari-cari seseorang untuk ditembak. Aku hampir menembak laki-laki Korea di luar tokonya, tapi di 35 sana ada terlalu banyak orang. Aku melihat Pumpkin Aku kenal dia. Kami bicara sebentar. Kukatakan aku punya kokain kalau ia mau memakainya. Kami pergi ke gang itu. Kutembak bocah itu. Aku tidak tahu apa alasannya. Aku cuma ingin membunuh seseorang." Ketika jelas bahwa penuturan itu selesai, Clay bertanya, "Apa itu Camp?" Tempat rehabilitasi. Di situlah aku tinggal." I "Sudah berapa lama kau di sana?" Lagi-lagi soal waktu. Tapi jawabannya sangat mengejutkan. "Seratus lima belas hari?" "Kau sudah seratus lima belas hari bersih dari obat-obatan?" "Ya." "Kau bersih waktu menembak Pumpkin?" "Ya. Sampai sekarang. Seratus enam belas hari." "Kau pernah menembak orang sebelum itu?" Tidak." "Dari mana kau mendapatkan senjata itu?" "Mencurinya dari rumah sepupuku." "Bukankah Camp

tempat yang tertutup?" "Ya." "Apakah kau kabur?" "Aku mendapat dua jam. Sesudah seratus hari, kau boleh keluar selama dua jam, lalu masuk kembali." "Jadi kau berjalan keluar dari Camp, pergi ke rumah sepupumu, mencuri sepucuk pistol, lalu berjalan-jalan mencari seseorang untuk ditembak, dan kau menemukan Pumpkin?" Tequila mengangguk di akhir kalimat tersebut. "Itulah yang terjadi. Jangan tanya mengapa. * Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu." Mungkin ada sedikit air mata pada mata kanan Tequila yang merah, mungkin muncul karena perasaan bersalah dan menyesal tapi Clay tidak bisa memastikan. Ia mengeluarkan beberapa dokumen dari tas kerja dan menyorongkannya melewati celah. "Tandatanganilah di bagian yang diberi tanda merah. Aku akan kembali beberapa hari lagi." Tequila mengabaikan kertas-kertas itu. "Apa yang akan terjadi padaku?" ia bertanya. "Kita akan bicarakan soal itu nanti." "Kapan aku bisa keluar?" "Mungkin masih lama." 37 Orang-orang yang mengelola Deliverance Camp merasa tak ada perlunya bersembunyi dari masalah. Mereka tidak berusaha menyingkir dari zona peperangan tempat mereka mengambil korban-korban mereka. Tak ada fasilitas tenang di pinggir kota. Tak ada klinik terpencil di bagian kota yang lebih baik. Penghuni mereka datang dari jalanan dan mereka akan kembali ke jalanan. Camp menghadap ke W Street di NW, kelihatan dari sederetan rumah petak ditutup palang kayu yang kadang digunakan pengedar narkoba. Dari sana terlihat jelas lapangan kosong pompa bensin lama yang terkenal itu. Di sini penjual narkoba bertemu penjual grosiran

mereka dan melakukan transaksi tanpa peduli siapa yang mungkin melihat. Menurut catatan tidak resmi pihak kepolisian, lapangan itu memproduksi mayat-mayat tertembus peluru lebih banyak daripada tempat mana pun di DC. Clay mengemudikan mobilnya perlahan-lahan menyusuri W Street, semua pintunya dikunci, tangannya mencengkeram kemudi, matanya waspada memandang ke segala penjuru, telinganya menunggu suara letusan senjata api yang tak terelakkan. Bocah kulit putih di ghetto ini merupakan sasaran yang sangat menggoda, tak peduli waktunya. 4 D Camp adalah gudang tua, lama dibiarkan telantar oleh entah siapa yang terakhir memanfaatkannya untuk menyimpan barang, dicampakkan kota ini, lalu dilelang seharga beberapa dolar pada suatu yayasan nirlaba yang entah bagaimana melihat potensinya. D Camp adalah sosok bangunan besar, bata merahnya disemprot warna merah anggur dari trotoar hingga atap, dengan beberapa tingkat bawahnya dicat ulang oleh para spesialis grafiti daerah itu. Bangunan tersebut terbentang di jalan lalu ke belakang sampai satu blok. Semua pintu dan jendela pada sisi-sisinya sudah ditutup semen dan dicat, dengan demikian pagar dan kawat duri tidak dibutuhkan. Siapa saja yang berniat kabur tentu butuh martil, pahat, dan sehari kerja keras tanpa henti. Clay memarkir Honda Accord-nya tepat di depan bangunan dan berdebat dengan diri sendiri apakah akan tancap gas pergi atau keluar. Ada papan nama kecil di atas pintu ganda tebal: DELIVERANCE CAMP. BUKAN UNTUK UMUM. Dilarang masuk tanpa izin. Seolah orang bisa

masuk begitu saja, atau ingin melakukannya. Di sekitarnya berkeliaran berbagai macam orang jalanan: beberapa preman muda yang tak disangsikan membawa narkoba dan cukup senjata untuk menahan polisi, sepasang gelandangan yang berjalan terhuyung-huyung, sepertinya anggota keluarga yang menunggu untuk mengunjungi mereka yang ada di dalam D Camp. Pekerjaannya membawanya ke hampir semua tempat yang tak dikehendaki di D.C, dan ia sudah terampil berakting seolah tak kenal takut Aku pengacara. Aku ke sini untuk urusan pekerjaan. Jangan halangi aku. Jangan bicara padaku. Dalam kurun waktu hampir lima tahun di OPD, ia belum pernah ditembak. Ia mengunci Accord itu dan meninggalkannya di pinggir jalan. Sambil melakukan hal itu, ia dengan sedih mengakui pada diri sendiri bahwa seandainya ada preman di jalan itu yang tertarik pada mobil kecilnya, pasti jumlahnya tidaklah banyak. Mobil tersebut berusia dua belas tahun dan sudah terpakai hampir 322.000 kilometer. Ambillah, katanya. Ia menahan napas dan mengabaikan pandangan ingin tahu gerombolan itu. Tak ada wajah putih lain dalam radius tiga kilometer dari sini, pikirnya. Ia menekan tombol di sebelah pintu dan terdengar suara bergemerisik melalui interkom. "Siapa?" "Nama saya Clay Carter. Saya pengacara. Saya ada janji dengan Talmadge X pukul sebelas ini." Ia mengucapkan nama itu dengan jelas, masih yakin itu suatu kekeliruan. Dalam pembicaraan telepon ia menanyai si sekretaris bagaimana mengeja nama belakang Mr. X, dan sekretaris itu berkata, dengan agak kasar, bahwa itu sama

sekali bukan nama belakang. Kalau begitu apa? Itu hanya huruf X. Terima atau tidak, terserah. Tidak akan ada yang berubah. Tunggu sebentar," suara itu berkata, dan Clay menunggu. Ia menatap pintu, -mencoba dengan sia-sia untuk mengabaikan segala di sekitarnya. Ia menyadari adanya gerakan di sisi kirinya, sesuatu yang dekat. "Nah, man, kau pengacara?" Terdengar pertanyaan itu, suara pemuda kulit hitam bernada tinggi melengking, cukup keras untuk didengar semua orang. Clay menoleh dan melihat kacamata hitam funky pengusiknya. "Ya," jawabnya, semantap mungkin. "Kau bukan pengacara," tukas pemuda itu. Gerombolan kecil terbentuk di belakangnya, semua memandanginya. "Aku khawatir begitu," kata Clay. "Tak mungkin kau pengacara, man." "Tidak mungkin," salah seorang dalam gerombolan itu menimpali. "Kau benar pengacara?" "Ya," kata Clay, mengikuti permainan. "Kalau kau pengacara, mengapa kau pakai mobil rongsokan butut seperti itu?" Clay tak tahu pasti mana yang lebih menyakitkan— tawa cemooh dari pinggir jalan atau kebenaran pernyataan itu sendiri. Ia membuat keadaan jadi lebih parah. "Istriku memakai Mercedes," ia berkata, upaya yang buruk untuk melontarkan humor. "Kau tidak punya istri. Kau tidak pakai cincin kawin." Apa lagi yang mereka perhatikan? Clay bertanya pada diri sendiri. Mereka masih tertawa ketika salah satu pintu berdetak dan membuka. Ia dengan susah payah berhasil melangkah ke dalam dengan santai, bukannya kabur mencari keselamatan. Ruang penerimaan tamu itu bagai bunker dengan lantai beton, dinding bata,

pintu-pintu besi, tanpa jendela, langit-langit rendah, beberapa lampu, segalanya ada kecuali karung-karung pasir dan senjata. Di belakang meja panjang standar kantor pemerintah ada resepsionis yang menjawab dua telepon. Tanpa mengangkat muka ia berkata, "Ia akan ke sini sebentar lagi." Talmadge X adalah laki-laki kurus, penuh semangat, berusia lima puluhan, tanpa sedikit pun lemak pada sosoknya yang ramping, tanpa secercah pun senyum pada wajahnya yang keriput dan tua. Matanya besar dan menyimpan luka, yang ditorehkan kehidupan jalanan selama berpuluh tahun. Ia sangat hitam dan pakaiannya sangat putih—kemeja katun dan celana dari kain tebal kaku. Sepatu bot tempur yang digosok mengilap sempurna. Kepalanya juga mengilat, tanpa sehelai rambut pun. Ia menunjuk kursi satu-satunya di dalam kantornya yang seadanya, dan menutup pintu. "Kau punya dokumen?" ia bertanya pendek. Jelas basa-basi bukan bakarnya. Clay mengangsurkan dokumen-dokumen yang diperlukan, semua berisi tulisan cakar ayam Tequila Watson yang diborgol. Clay melihat ia tidak memakai arloji, juga tak suka jam dinding. Waktu telah ditinggalkan di pintu depan sana. "Kapan ia menandatangani ini?" "Semua tertanggal hari ini. Aku menemuinya sekitar dua jam yang lalu di penjara." "Dan kau pembelanya?" Talmadge X bertanya. "Resminya?" Laki-laki ini sudah berpengalaman menghadapi sistem peradilan pidana. "Ya. Ditunjuk pengadilan, ditugaskan Kantor Pembela Publik," "Glenda masih di sana?" "Ya." "Kami sudah lama kenal." Hanya sejauh itulah basa-basi mereka. "Apakah kau tahu

tentang penembakan itu?" Clay bertanya, sambil mengambil notes dari tas kerja. 'Tidak, sampai kau menelepon satu jam yang lalu. Kami tahu ia pergi hari Selasa dan tidak kembali, tahu ada yang tidak beres, tapi toh memang kami selalu siap ada yang tidak beres." Katakatanya lambat dan tepat, matanya sering berkedip tapi sorotnya tak pernah beralih. "Ceritakan padaku apa yang terjadi" "Semua ini rahasia, bukan?" Clay bertanya. "Aku penasihatnya. Aku juga pendetanya. Kau pengacaranya. Segala yang terucap di dalam ruangan ini tetap tinggal di ruangan ini. Setuju?" "Baik." Clay memberitahukan detail yang telah dikumpulkannya sejauh ini, termasuk cerita versi Tequila. Secara teknis dan etis, ia tidak seharusnya mengungkapkan pada siapa pun segala pernyataan yang disampaikan klien padanya. Tapi siapa peduli? Talmadge X tahu tentang Tequila Watson jauh lebih banyak daripada yang bisa diketahui Clay. Sewaktu ceritanya berlanjut dan peristiwa-peristiwa dipaparkan di depan Talmadge X, tatapan matanya akhirnya terputus dan ia memejamkan mata. Ia menengadahkan kepala, memandang langit-langit, seolah ingin bertanya pada Tuhan mengapa ini terjadi. Ia melamun, tenggelam dalam pikiran sendiri dan sangat prihatin. Ketika Clay selesai, Talmadge X bertanya, "Apa yang bisa kulakukan?" "Aku ingin melihat arsipnya. Ia sudah memberiku wewenang." Berkas arsip itu tergeletak di meja di depan Talmadge X. "Nanti," katanya. 'Tapi mari kita bicara lebih dulu Apa yang ingin kauketahui?" "Mari kita mulai dengan Tequila. Dari manakah asalnya?" Tatapan itu kembali, Talmadge siap membantu. "Dari

jalan, dari tempat mereka semua berasal. Ia dirujuk Dinas Sosial, sebab ia kasus yang tanpa harapan. Tanpa keluarga untuk diajak bicara. Tak pernah tahu siapa ayahnya. Ibunya tewas karena j AIDS ketika ia berumur tiga tahun. Dibesarkan satu atau dua bibi, dititipkan berpindahpindah pada keluarga, rumah yatim piatu di sana-sini, keluar-masuk pengadilan dan penjara khusus untuk remaja. Putus sekolah. Kasus yang tipikal bagi kami. Kau tahu tentang D Camp?" "Tidak." "Kami mendapatkan kasuskasus berat, para pedanda permanen. Kami mengurung mereka berbulan-bulan, memberi mereka lmgkungan seperti kamp latihan perang. Kami berdelapan di sini, delapan penasihat, dan kami semua adalah pencandu, sekali jadi pencandu selamanya pecandu, tapi kau harus tahu itu. Empat di antara kami kini adalah pendeta. Aku sudah tiga belas tahun memberikan pelayanan untuk kasus-kasus narkoba dan perampokan, kemudian aku menemukan Y esus. Omong-omong, kami mengkhususkan diri pada pencandu-pencandu crack berusia muda yang tak bisa ditolong orang lain." "Cuma crackT "Crack-lah biang keroknya, man. Murah, banyak, membawa pikiranmu lepas dari kehidupan selama beberapa menit. Begitu mulai memakainya, kau takkan bisa berhenti." 'Tequila tidak bisa bercerita banyak tentang catatan tindak* kejahatannya." Talmadge X membuka berkas dan membalik-balik halaman. "Itu mungkin karena ia tidak bisa mengingat banyak. Tequila telah bertahun-tahun memakai narkoba. Ini dia; segala macam kejahatan kecil ketika ia masih remaja, perampokan, pencurian mobil, segala hal biasa yang kami

semua lakukan agar bisa membeli obat Pada umur delapan belas tahun, ia menjalani kurungan selama empat bulan karena mengutil barang di toko. Ia ditangkap karena memiliki narkoba tahun lalu, dipenjara tiga bulan. Bukan catatan yang buruk bagi salah satu di antara kami. Tak ada apa pun yang disertai kekerasan." "Berapa kali ia melakukan tindak pidana berat?" "Aku tidak melihat satu pun." "Aku kira itu akan menolong," kata Clay. 'Dari segi tertentu." "Kedengarannya takkan ada apa pun yang bisa menolong." "Aku diberitahu bahwa ada dua saksi mata. Aku tidak optimis." "Apakah ia sudah mengaku pada polisi?" "Belum. Mereka bercerita padaku bahwa ia mengunci mulut ketika mereka menangkapnya dan tidak bicara apa-apa." "Itu langka." "Benar," kata Clay; "Gelagatnya kurungan seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat." kata Talmadge X, menyuarakan pendapat berdasarkan pengalaman. "Kau benar." 'Itu bukan kiamat bagi kita, kau tahu, Mr. Carter. Dalam berbagai segi, kehidupan di penjara lebih baik daripada kehidupan di jalanan. Aku punya banyak teman yang lebih menyukainya. Sedihnya, Tequila adalah satu di antara sedikit yang seharusnya bisa jadi orang." "Mengapa begitu?" "Bocah itu punya otak. Ketika kami berhasil melepaskannya dari kecanduan dan membuatnya sehat, ia merasa begitu senang dengan keadaannya. Untuk pertama kali dalam hidup dewasanya, ia bebas dari ketergantungan. Ia .tidak bisa membaca, jadi kami mengajarinya. Ia suka menggambar maka kami mendorongnya berkesenian. Kami tak pernah merasakan gairah kegembiraan di sini,

tapi Tequila membuat kami bangga. Ia bahkan berpikir untuk mengganti nama, karena alasan yang jelas." "Kau tidak pernah merasakan gairah kegembiraan?" "Kami kehilangan enam puluh enam persen, Mr. Carter. Dua pertiga. Kami membawa mereka masuk ke sini dalam keadaan sakit seperti anjing, mabuk berat, tubuh dan otak mereka terpanggang crack, kurang gizi, bahkan kelaparan, kudisan, rambut rontok, pencandu-pencandu paling sakit yang bisa diproduksi oleh D.C, dan kami menggemukkan mereka, membersihkan mereka, mengurung mereka dalam program latihan dasar di mana mereka bangun pukul enam pagi, membersihkan kamar mereka dan menunggu inspeksi, sarapan pukul setengah tujuh, lalu cuci otak nonstop dari sekelompok penasihat tangguh yang semuanya pernah berada dalam kondisi seperti mereka, tidak ada tahi kucing, maafkan bahasaku, jangan cobacoba menipu kami sebab kami semua penipu. Sesudah satu bulan mereka bersih dan mereka sangat bangga. Mereka tidak merasa kehilangan dunia luar sebab tak ada apa pun yang baik menunggu mereka—tak ada pekerjaan, tak ada keluarga, tak ada yang menyayangi mereka. Mereka gampang dicuci otak, dan kami tak kenal ampun. Setelah tiga bulan, tergantung si pasien, kami mungkin melepasnya kembali ke jalan selama satu atau dua jam sehari. Sembilan dari sepuluh kembali, tak sabar untuk pulang ke kamar sempit mereka. Kami menahan mereka selama satu tahun, Mr. Carter. Dua belas bulan, tak kurang sehari pun. Kami berusaha sedikit mendidik mereka, mungkin memberi sedikit pelatihan kerja dengan komputer.

Kami bekerja keras mencarikan pekerjaan untuk mereka. Mereka lulus, kami semua menangis. Mereka pergi, dan dalam setahun dua pertiga dari mereka kembali memakai crack dan terancam terjeblos lagi." "Apakah kau mengambil mereka kembali?" "Jarang. Kalau mereka tahu mereka bisa kembali, maka lebih besar kemungkinan mereka akan sembrono." "Apa yang terjadi dengan sepertiga sisanya?" "Itulah sebabnya kami ada di sini, Mr. Carter. Itulah sebabnya aku jadi penasihat. Orang-orang itu, seperti diriku, berhasil selamat di dunia, dan mereka melakukannya dengan ketegaran yang takkan dimengerti siapa pun. Kami pernah ke neraka dan kembali lagi dan sungguh buruk jalan yang harus ditempuh. Banyak di antara yang selamat itu bekerja menolong pencandu-pencandu lain." "Berapa banyak yang bisa kau tampung sekaligus?" "Kami punya delapan puluh ranjang, semuanya penuh. Kami punya ruangan untuk dua kali lipat jumlah itu, tapi tak pernah ada cukup uang." "Siapakah yang mendanai kalian?" "Delapan puluh persen dari dana federal, dan tidak ada jaminan kepastian dari tahun ke tahun. Sisanya kami mengemis dari yayasan-yayasan. Kami terlalu sibuk untuk bisa mengumpulkan banyak uang." F' Clay membalik satu halaman dan membuat catatan. 'Tidak ada seorang pun anggota keluarga yang bisa kuajak bicara?" Talmadge X membalik-balik berkas arsipnya lalu menggelengkan kepala. "Mungkin ada bibi entah di mana. tapi jangan berharap banyak. Kalaupun kau menemukannya bagaimana ia bisa membantumu?" "Tidak bisa Tapi menyenangkan kalau ada anggota keluarga untuk

dihubungi." Talmadge X terus membalik-balik arsip seolah ada sesuatu dalam benaknya. Clay curiga ia mencari-cari catatan atau dokumen yang perlu diambil sebelum berkas itu diserahkan. "Kapan aku bisa melihat itu?" Clay bertanya. "Bagaimana kalau besok? Aku ingin menelitinya lebih dulu" Clay mengangkat pundak. Kalau Talmadge X mengatakan besok, maka besoklah kejadiannya "Baiklah, Mr. Carter, aku tidak memahami motifnya. Ceritakanlah apa alasannya." "Aku tidak bisa. Kaulah yang seharusnya memberitahuku. Hampir empat bulan kau mengenalnya Tak ada sejarah tindak kekerasan atau penyalahgunaan senjata. Tak ada kecenderungan berkelahi. Kedengarannya ia pasien teladan. Kau telah melihat semuanya. Coba katakan padaku apa alasannya." "Aku sudah melihat segalanya," Talmadge X berkata, matanya jadi lebih sedih daripada sebelumnya. "Tapi aku belum pernah menyaksikan yang seperti ini. Bocah itu takut kekerasan.' Kami tidak menolerir perkelahian di sini, tapi anak lelaki tetaplah anak lelaki, dan selalu ada intimidasi. Tequila termasuk yang lemah. Tidak terbayangkan ia meninggalkan tempat ini, mencuri, senjata, memilih korban secara acak, dan membunuhnya. Dan tidak terbayangkan ia menyerang seseorang di penjara sehingga orang itu " sampai masuk rumah' sakit. Aku tidak mempercayainya." "Jadi apa yang akan kukatakan pada juri?" "Juri apa? Sidangnya pasti berdasarkan pengakuan bersalah dan kau tahu itu. Ia sudah tamat, terjeblos di penjara sepanjang sisa hidupnya. Aku yakin ia kenal banyak orang di sana" Ada keheningan panjang dalam percakapan itu, jeda yang

sepertinya tak sedikit pun mengusik Talmadge X. Ia menutup berkas dan mendorongnya ke pinggir. Pertemuan ini akan berakhir. Tapi Clay si pengunjung. Sudah saatnya untuk pergi. "Aku akan kembali besok," katanya "Pukul berapa?" "Sesudah pukul sepuluh," kata Talmadge X. "Aku akan mengantarmu keluar." "Tidak perlu," Clay berkata, senang dengan kawalan itu. Gerombolan di luar bertambah besar dan tampaknya menunggu si pengacara keluar dari D Camp. Mereka duduk-duduk dan bersandar pada Accord, yang masih di sana dan tetap utuh. Apa pun permainan yang mereka rencanakan seketika itu juga terlupakan saat melihat Talmadge X. Dengan sekali mengentakkan kepala ia membubarkan gerombolan itu, dan Clay memacu mobilnya pergi, tak kurang suatu apa pun dan ngeri dengan kunjungannya kembali besok. Ia mengemudi delapan blok dan menemukan Lamont Street, lalu tikungan Georgia Avenue, di mana ia berhenti sejenak untuk sepintas melihat * keadaan. Di sana banyak sekali gang kecil tempat seseorang mungkin menembak orang lain, dan ia tidak berniat pergi mencari darah. Daerah itu sama terpencilnya dengan yang baru saja ia tinggalkan. Ia akan kembali lagi nanti bersama Rodney, paralegal kulit hitam yang kenal jalanan itu, dan mereka akan memeriksa dan bertanya-tanya. Potomac Country Club di McLean, Virginia didirikan seratus tahun yang lalu oleh orang-orang kaya yang dihina country club lain. Orang-orang kaya sanggup menolerir apa pun, kecuali penolakan. Orangorang buangan itu memompakan sumber daya mereka yang besar luar biasa ke Potomac dan membangun klub

terbaik di wilayah D.C. Mereka menarik para senator dari klub-klub pesaing dan mememikat anggota-anggota terkemuka lainnya dan tak lama kemudian Potomac berhasil membeli kehormatan. Begitu memiliki cukup anggota untuk bertahan, ia mulai melakukan praktik wajib menyisihkan yang lain. Meskipun masih dikenal sebagai country club baru, klub itu tampak dan merasa dan bersikap seperti yang lainnya. Namun demikian, ia berbeda dalam satu segi penting. Potomac tak pernah menyangkal fakta bahwa keanggotaannya bisa langsung dibeli bila seseorang punya cukup uang. Lupakan daftar tunggu, komite seleksi, dan pemungutan suara secara rahasia oleh dewan penerimaan. Bila kau orang baru di D.C, atau bila kau mendadak jadi kaya maka status dan prestise dapat diperoleh dalam semalam bila cekmu cukup besar. Sebagai hasilnya Potomac memiliki lapangan golf, sarana tenis, kolam renang, clubhouse, ruang makan paling bagus, segala yang diinginkan country club ambisius. Sejauh yang bisa diketahui Clay, Bennett Van Horn menulis-cek dengan nilai besar. Tak peduli apa pun statusnya saat ini, orangtua Clay tidak memiliki uang dan pasti tidak akan diterima di Potomac. Ayahnya pernah menggugat Bennett delapan belas tahun yang lalu karena transaksi real estate yang buruk di Alexandria. Waktu itu, Bennett realtor dengan mulut besar, banyak utang, dan sangat sedikit aset yang tak dibebani utang. Waktu itu ia bukan anggota Potomac Country Club, meskipun kini berlagak seolah lahir di sana. Bennett the Bulldozer menemukan ladang emas di akhir dekade delapan puluhan

ketika menyerbu hamparan perbukitan Virginia. Transaksitransaksi berjatuhan mulus pada tempatnya. Mitra-mitra berhasil didapatkan. Ia bukan pencipta gaya babat-danbakar ala pengembangan real estate di luar kota, tetapi ia jelas menyempurnakan gaya tersebut. Di bukit-bukit yang masih perawan ia membangun mail. Di dekat tanah keramat bekas pertempuran, ia membangun kompleks perumahan. Ia meratakan seluruh desa demi salah satu pengembangan real estate yang direncanakannya— apartemen, kondominium, rumah besar, rumah kecil, taman di tengahnya dengan kolam dangkal berdasar lumpur dan dua lapangan tenis, daerah pertokoan kecil menarik yang tampak indah di kantor sang arsitek tapi tak pernah dibangun. Ironisnya, meskipun ironi tak mempan lagi pada Bennett, ia menamai proyek-proyek babat hutan itu menurut nama lingkungan yang dihancurkannya—Rolling Meadows, Whispering Oaks, Forest Hills, dan sebagainya. Ia bergabung dengan para pengembang lain dan melobi para wakil rakyat di negara bagian Richmond, meminta lebih banyak uang agar lebih banyak jalan dibangun sehingga lebih banyak lahan dijadikan real estate dan lebih banyak lalu lintas diciptakan. Dengan berbuat demikian, ia menjadi tokoh dalam permainan politik, dan egonya pun membengkak. Di awal dekade sembilan puluhan, kelompok perusahaan BVH Group miliknya tumbuh pesat, dengan pendapatan meningkat dengan kecepatan sedikit lebih tinggi daripada pembayaran utang. Ia dan istrinya, Barb, membeli rumah di kawasan prestisius McLean. Mereka bergabung dengan Potomac Country Club dan

menjadi tamu tetap di sana. Mereka bekerja keras menciptakan ilusi bahwa mereka selalu punya uang. Pada tahun 1994, menurut laporan SEC—Komisi Surat Berharga dan Bursa—yang dengan cermat dipelajari Clay dan disimpannya, Bennett memutuskan untuk membawa perusahaannya go public dan berhasil menangguk $200 juta. Ia merencanakan memakai uang tersebut untuk melunasi sejumlah utang, tapi, yang lebih penting lagi, untuk "...berinvestasi dalam masa depan tanpa batas dari Northern Virginia," Dengan kata lain, lebih banyak buldoser, lebih banyak pengembangan dengan cara babatdan-bakar. Membayangkan Bennett Van Horn dengan uang sebanyak itu tentu membuat dealer-dealer Caterpillar setempat bergairah. Dan hal itu mestinya membuat pemerintah daerah merasa ngeri, tetapi mereka tidur saja. Dikelola bankir investasi cemerlang, saham BVHG melambung hingga $10 per lembar dan mencapai puncaknya pada $16,50, bukan prestasi yang buruk tapi jauh dari apa yang diperkirakan pendiri dan CEO-nya. Seminggu menjelang peluncuran saham itu, kepada umum ia berkoar di Daily Profit, tabloid bisnis lokal, bahwa "...pialang-pialang di Wall Street yakin nilainya akan mencapai empat puluh dolar per lembar." Di pasaran, saham itu melayang turun ke bumi dan mendarat keras pada harga sekitar $6,00. Bennet secara tidak bijaksana menolak melepaskan sebagian sahamnya seperti semua wirausahawan yang baik. Ia mempertahankan empat juta sahamnya dan menyaksikan nilai pasarnya turun dari 66 juta dolar hingga hampir nol. Setiap pagi hari kerja,

sekadar ingin tahu, Clay memeriksa harga satu saham dan hanya satu itu. Saham BVHG saat ini diperdagangkan dengan nilai $0,87 per lembar. "Bagaimana keadaan sahammu?" adalah sapaan pedas yang tak pernah berani digunakan Clay. "Mungkin malam ini," gumam Clay pada diri sendiri sewaktu mengendarai mobilnya di jalan masuk menuju Potomac Country Chib. Karena ada kemungkinan pernikahan dalam waktu dekat, kekurangan Clay adalah bermain bagus di meja jamuan makan malam. Tapi itu bukan kelemahan Mr. Van Horn. "Hei, selamat, Bennett, nilai sahamnya bergeser naik dua belas sen dalam dua bulan terakhir," katanya nyaring. "Hebat kau, ya! Sudah waktunya untuk Mercedes baru?" Semua yang ingin dikatakannya. Untuk menghindari pengeluaran uang tip untuk valet parking. Clay menyembunyikan Accord-nya di tempat parkir yang jauh di belakang lapangan tenis. Sewaktu berjalan menuju clubhouse ia meluruskan dasi dan meneruskan bergumam. Ia benci tempat ini—ia benci karena semua keparat yang jadi anggotanya, benci karena ia tak bisa bergabung, benci karena ini sarang Van Horn dan mereka ingin dirinya merasa seperti orang yang memasuki tempat terlarang. Untuk keseratus kalinya hari ini, seperti halnya setiap hari, ia menanyai diri sendirimengapa jatuh cinta pada perempuan yang orangtuanya begitu tak tertahankan. Seandainya ia punya rencana, maka rencana tersebut adalah kawin lari dengan Rebecca dan pindah ke Selandia Baru, jauh dari OPD, dan sejauh mungkin dari keluarga Rebecca. Tatapan mata dingin petugas penyambutnya mengatakan, Aku tahu kau bukan

anggota, tapi aku tetap akan mengantarmu ke meja. "Ikuti saya," ia berkata sambil sepintas menyunggingkan senyum terpaksa. Clay tak mengucapkan apa-apa. Ia menelan ludah dengan berat, memandang lurus ke depan, dan mencoba mengabaikan perasaan melilit di dalam perutnya. Bagaimana ia bisa menikmati santap malam dalam lingkungan semacam ini? Ia dan Rebecca pernah dua kali makan di sana—sekali bersama Mr. dan Mrs. Van Horn, sekali tanpa mereka. Makanannya mahal dan lumayan lezat, tapi Clay sehari-hari makan daging kalkun yang sudah diproses sehingga standar enaknya rendah dan ia tahu itu. Bennet tak ada di sana Clay memeluk ringan Mrs. Van Horn, ritual yang dibenci mereka berdua, lalu mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" yang tak begitu bergairah. Ia mencium pipi Rebecca. Letak meja itu sangat bagus, dengan pemandangan penuh ke green delapan belas, tempat makan yang sangat bergengsi sebab orang bisa menyaksikan orang-orang tua eksentrik berjalan tertatih-tatih di sand trap dan meleset ketika melakukan putt dua kaki. "Mana Mr. Van Ham?" Clay bertanya, sambil berharap orang itu tertahan urusan di kota, atau lebih baik lagi, dirawat di rumah sakit karena penyakit berat. Ta sedang dalam perjalanan ke sini," kata Rebecca. Ta seharian di Richmond, rapat dengan Gubernur," Mrs. Van Horn menambahkan, sekadar basa-basi. Mereka memang tak kenal ampun. Clay ingin mengatakan, "Kalian menang! Kalian menang! Kalian lebih penting daripada aku!" Ta sedang menangani apa?" ia bertanya sopan, sekali lagi terkesima dengan kemampuannya untuk terdengar tulus.

Clay tahu persis mengapa sang Bulldozer ada di Richmond. Negara bagian itu tak punya uang dan tidak mampu membangun jalan-jalan baru di Virginia Utara, di mana Bennett dan orang-orang semacamnya menuntut agar jalan-jalan tersebut dibangun. Dukungan suara dalam pemilu ada di Virginia Utara. Penyusun undang-undang sedang mempertimbangkan referendum lokal untuk menentukan pajak penjualan sehingga kota-kota dan county-county di sekitar DC dapat membangun jalan raya sendiri. Lebih banyak jalan, lebih banyak kondominium, lebih banyak mail, lebih banyak lalu lintas, lebih banyak uang bagi BVHG yang sedang merana. "Urusan politik," kata Barb. Sesungguhnya, ia kemungkinan tidak tahumenahu apa yang dirundingkan suaminya dengan sang gubernur. Clay sangsi perempuan itu tahu berapa harga saham BVHG saat ini. Ia tahu hari apa klub bridge-nya bertemu dan ia tahu betapa sedikit penghasilan Clay, tapi hampir seluruh detail lain diserahkan pada Bennett. "Bagaimana kabarmu hari ini?" Rebecca bertanya, lembut tapi dengan cepat mengalihkan percakapan dari soal politik. Clay pernah dua atau tiga kali menggunakan kata berantakan ketika memperdebatkan beberapa persoalan dengan orangtua Rebecca, dan keadaan jadi tegang. "Seperti biasa," katanya. "Dan kau?" "Akan ada sidang besok, jadi semua 'di kantor sibuk hari ini." "Rebecca bercerita kau mendapat kasus pembunuhan lagi," kata Barb. "Ya, benar," Clay berkata, sambil bertanya-tanya dalam hati aspek lain apa lagi dari pekerjaannya sebagai pembela umum yang mereka bicarakan. Di depan mereka

masing-masing ada segelas, anggur putih. Masing-masing gelas itu sudah setengah kosong. Ia telah menyela perbincangan, barangkali tentang dirinya. Atau apakah ia sama sekali tidak peka? Mungkin. "Siapa klienmu?" Barb bertanya. "Anak jalanan." "Siapa yang dibunuhnya?," "Korbannya anak jalanan lain." Jawaban ini agak melegakan Barb. Kulit hitam membunuh kulit hitam. Siapa peduli kalau mereka semua saling bunuh? "Apakah ia melakukannya?" ia bertanya. "Untuk sekarang ini praduganya adalah tidak bersalah. Begitulah caranya." "Dengan kata lain. ia melakukannya." "Kelihatannya begitu.** "Bagaimana kau bisa membela orang-orang seperti itu? Kalau kau tahu mereka bersalah, bagaimana kau bisa bekerja begitu keras mencoba membebaskan mereka?" Rebecca menghabiskan anggur dalam satu tegukan besar dan memutuskan tidak ikut campur dalam pembicaraan ini. Rebecca makin jarang menolongnya beberapa bulan terakhir ini. Ada pikiran yang mengusik: hidup memang terasa menakjubkan bersamanya, tapi jadi mimpi buruk jika mereka bersama. Mimpi buruk mulai menang. "Konstitusi kita menjamin setiap orang mendapatkan pembela dan peradilan yang adil," ia berkata dengan nada merendahkan, seolah setiap orang tolol seharusnya tahu hal ini. "Aku sekadar menjalankan pekerjaan." Barb membelalakkan matanya yang baru dioperasi dan memandang green delapan belas. Banyak perempuan di Potomac memakai ahli bedah plastik yang spesialisasinya, jelaslah, penampilan gaya Asia. Sesudah operasi kedua, sudut mata mereka ditarik ke belakang,

dan meskipun memang jadi bebas kerut, mata mereka kelihatan sangat palsu. 01' Barb dioperasi, ditarik, dan menjalani program Botox tanpa rencana jangka panjang, dan transisinya sama sekali tidak berhasil. Rebecca kembali meneguk anggur banyak-banyak. Pertama kali mereka makan bersama orangtuanya, Rebecca menendang lepas sepatu di bawah meja dan menggerayangi kaki Clay dengan jemarinya seolah mengatakan, "Ayo kita tinggalkan saja tempat ini dan lompat ke ranjang." Tapi tidak malam ini. Ia dingin dan tampak asyik dengan pikirannya sendiri. Clay tahu Rebecca tidak sedang mengkhawatirkan hearing tak penting yang akan dijalaninya besok. Ada banyak masalah di sini, tepat di bawah permukaan, dan dalam hati Clay bertanya-tanya apakah jamuan makan malam ini akan jadi pertikaian, pertemuan dengan taruhan masa depan mereka. Bennett tiba dengan tergesa-gesa penuh permintaan maaf palsu karena terlambat. Ia menepuk punggung Clay seolah mereka sahabat karib, dan mencium pipi anak-istrinya. "Bagaimana kabar Gubernur?" Barb bertanya, cukup keras untuk didengar orang-orang yang makan malam di seberang ruangan. "Baik. Ia mengirimkan salam. Presiden Korea akan datang ke kota ini minggu depan. Guv mengundang kita menghadiri pesta gala resmi di istana" Ini pun diucapkan dengan volume penuh. "Wah!" seru Barb, wajahnya yang dipermak itu merekah penuh kegembiraan. Pasti ia bisa berbaur di kalangan orang Korea, pikir Clay. "Pasti hebat," Bennet berkata sewaktu mengeluarkan sederet telepon selular dari

saku dan menjajarkan-nya di meja. Beberapa detik setelah ia datang, muncul pelayan membawa segelas double Scotch, Chivas dengan sedikit es, seperti biasa. Clay memesan es teh. "Bagaimana Congressman kita?" Bennett berseru ke seberang meja pada Rebecca, lalu melontarkan pandangan ke kanan untuk memastikan pasangan di meja sebelah mendengarnya. Aku punya Congressman sendui.' "Ia baik-baik. Daddy. Ia kirim salam. Ia sangat f sibuk." "Kau kelihatan letih, Sayang, kerja keras hari ini?" "Lumayan." Tiga anggota keluarga Van Horn minum seteguk. Keletihan Rebecca adalah topik pembicaraan favorit di antara orangtuanya. Mereka merasa ia bekerja terlalu keras. Mereka merasa ia seharusnya sama sekali tidak bekerja. Umurnya mendekati tiga puluh dan sudah saatnya ia menikah dengan pemuda baik-baik dengan pekerjaan bergaji besar dan masa depan cemerlang sehingga ia bisa melahirkan cucu-cucu mereka dan menghabiskan sisa hidupnya di Potomac Country Chib. Clay sesungguhnya tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka inginkan, tapi Rebecca punya impian yang sama. Pernah ia bicara tentang karier dalam pelayanan masyarakat, tapi sesudah empat tahun di Hill ia jadi muak dengan birokrasi. Ia ingin suami, anak, dan rumah besar di luar kota. Menu diedarkan. Bennett mendapat telepon dan dengan kasar menanggapinya di meja itu. Ada transaksi yang terancam gagal. Masa depan kebebasan finansial Amerika di ujung tanduk. "Apa yang harus kukenakan?" Barb bertanya pada Rebecca sementara Clay bersembunyi di balik menu. "Sesuatu yang

baru," kata Rebecca. "Kau benar," Barb langsung setuju. "Ayo, Sabtu ini kita pergi berbelanja." "Gagasan bagus." Bennett menyelamatkan transaksi itu, dan mereka memesan makanan. Dengan murah hati ia bercerita pada mereka tentang rincian percakapan telepon tadi—salah satu bank tidak bergerak cukup cepat, ia harus melecut mereka, bla, bla. Ini terus berlanjut sampai salad tiba. Sesudah beberapa suap, Bennett berkata, dengan mulut penuh seperti biasanya, "Ketika di Richmond, aku makan siang dengan sahabat karibku Ian Ludkin, juru bicara Parlemen. Kau pasti menyukai orang ini,. Clay, sungguh hebat. Gentleman Virginia yang sempurna." Clay mengunyah dan mengangguk seakan tak sabar untuk menemui semua teman baik Bennett. "Yah, Ian berutang budi padaku, kebanyakan mereka di sana begitu, jadi aku begitu saja mencetuskan pertanyaan itu." Butuh waktu satu detik bagi Clay untuk menyadari para wanita sejak tadi berhenti makan. Garpu mereka tergeletak sementara mereka mengawasi dan mendengarkan dengan penuh harap. 'Tertanyaan apa?" Clay bertanya sebab rasanya mereka mengharapkannya mengucapkan sesuatu. "Well, aku bercerita tentang dirimu, Clay. Pengacara muda yang cemerlang, cerdas, pekerja keras, lulusan Sekolah Hukum Georgetown, lelaki muda yang tampan dengan karakter sejati, dan ia mengatakan ia selalu mencari bakat baru. Tuhan kiranya tahu hal itu sulit dicari. Katanya ia punya lowongan sebagai staf. Kubilang aku tidak tahu apakah kau akan tertarik, tapi dengan senang hati aku akan menyampaikannya padamu. Bagaimana pendapatmu?"

Menurut pendapatku, aku disergap tiba-tiba, begitu yang nyaris diucapkan Clay. Rebecca menatapnya, mengamati lekat-lekat reaksi pertamanya. Sesuai skenario, Barb berkata, "Kedengarannya hebat" Berbakat, cemerlang, pekerja keras, berpendidikan, bahkan tampan. Clay tercengang melihat betapa cepat nilai sahamnya melonjak. "Menarik," katanya sejujurnya. Setiap aspek dari tawaran itu menarik. Bennett langsung menerkam. Sudah tentu ia memegang kendali untuk memberikan kejutannya. "Ini posisi bagus. Kerjanya menarik. Kau akan bertemu orangorang yang berpengaruh di sana. Takkan pernah ada saat yang membosankan. Tapi perlu kerja keras, setidaknya saat sidang penyusunan undang-undang, tapi kukatakan pada Ian bahwa kau orang yang tangguh dengan pundak kokoh. Tumpukkan saja tanggung jawab padanya." "Tepatnya, apakah yang akan kulakukan?" Clay dengan susah payah bertanya. "Oh, aku tidak tahu urusan ahli hukum. Tapi, kalau kau tertarik, Ian mengatakan ia akan senang menjadwalkan wawancara. Tapi persaingannya ketat. Katanya banyak resume yang datang. Kau harus bergerak cepat" "Richmond tidak terlalu jauh," kata Barb. Jelas jauh lebih dekat daripada Selandia Baru, pikir Clay. Barb sudah merencanakan pernikahan. Clay tidak bisa membaca pikiran Rebecca. Kadang gadis itu merasa tercekik oleh orangtuanya, tapi ia jarang memperlihatkan keinginan untuk menyingkir dari mereka. Bennett menggunakan uangnya, kalau masih ada, sebagai pancingan untuk mempertahankan kedua putri mereka tetap dekat dari rumah. "Well, uh, terima kasih," kata Clay,

roboh karena beban berat pada pundaknya yang barusan dibilang kokoh. "Gaji awal sembilan puluh empat ribu per tahun," Bennett berkata, satu atau dua oktaf lebih rendah sehingga orang lain di sana tak bisa mendengar. Sembilan puluh empat ribu dolar berarti lebih dari dua kali lipat jumlah yang Clay peroleh saat ini, dan ia asumsikan setiap orang di seputar meja tahu hal itu. Keluarga Van Horn menyembah uang dan ter-obsesi dengan gaji dan nilai nominal. "Wah," Barb berkata, sesuai yang diharapkan. "Itu jumlah yang besar," Clay mengakui. "Bukan awal yang buruk," kata Bennett. "Kata Ian, kau akan bertemu pengacara-pengacara besar di kota. Kontak adalah segalanya. Tekuni beberapa tahun, maka kau akan bisa menulis tiketmu sendiri untuk memasuki dunia hukum korporasi. Di sanalah tempat uang banyak berada, kau tahu." Rasanya tidak nyaman mengetahui Bennett Van Horn mendadak berminat merencanakan sisa hidup Clay. Perencanaan itu, tentu saja, tak ada sangkut pautnya dengan Clay, dan sangat tersangkut paut dengan Rebecca. "Bagaimana kau bisa menolaknya?" kata Barb, memaksa. "Jangan mendesak, Ibu," kata Rebecca. 63 "Peluang ini sungguh bagus," kata Barb, seolah Clay tidak bisa menyadari hal yang begitu jelas. Timbang-timbanglah dulu,'* kata Bennett Hadiah sudah diserahkan. Coba lihat apakah bocah ini cukup cerdik untuk mengambilnya. Clay melahap salad-nya dengan tekad baru.. Ia mengangguk seakan tak dapat berbicara. Scotch kedua tiba dan membuyarkan kecanggungan. Bennett kemudian menuturkan gosip terbaru dari Richmond tentang

kemungkinan waralaba bisbol profesional baru untuk wilayah D.C, salah satu topik favoritnya. Ia terlibat salah satu dari tiga kelompok investor yang berniat mengambil waralaba itu, jika dan ketika disetujui, maka ia bernafsu mengetahui perkembangan terakhir. Menurut artikel baru di Post, kelompok Bennett berada di urutan ketiga dan setiap bulan makin terdesak kalah. Keuangan mereka tidak jelas, sangat goyah, demikian menurut salah satu sumber yang tak disebutkan namanya, dan dalam seluruh artikel itu nama Bennett Van Horn tak pernah disebut. Clay tahu ia terlilit utang dalam jumlah besar. Beberapa proyek pengembangannya tertahan kelompok-kelompok pencinta lingkungan yang berusaha melestarikan seberapa pun lahan yang tersisa di Virginia Utara. Ia menggugat para bekas partnernya di pengadilan Sahamnya praktis tak memiliki nilai. Tapi lihatlah ia di sini, meneguk Scotch dan mengumbar omongan tentang stadion baru bernilai 400 juta dolar, fee waralaba senilai $200 juta, dan gaji sedikitnya $100 juta Steak mereka tiba tepat ketika lalad habis, dengan menyelamatkan Clay dari siksaan terlibat percakapan tanpa ada yang bisa dijejalkan ke mulut. Rebecca tak menghiraukannya dan Clay pun jelas tak menghiraukannya. Pertarungan akan terjadi sebentar lagi. Ada beberapa cerita tentang Gubernur, teman dekat yang sedang menata persiapan untuk maju mencalonkan diri menjadi anggota Senat dan tentu saja ia ingin Bennett terlibat. Bennett mengungkapkan juga dua transaksinya yang paling hot. Ada pembicaraan tentang pesawat terbang baru, tapi hal ini sudah beberapa kali dibicarakan

dan Bennett tidak bisa menemukan pesawat yang ia inginkan. Makan malam itu sepertinya telah berlangsung selama dua jam, tapi sesungguhnya baru sembilan puluh menit berlalu ketika mereka menolak makanan penutup dan bersiap mengakhiri pertemuan. Clay mengucapkan terima kasih pada Bennett dan Barb untuk makanan tersebut dan sekali lagi berjanji untuk bergerak cepat menanggapi pekerjaan di Richmond. "Peluang seumur hidup," kata Bennett bersungguh-sungguh. "Jangan siasiakan." Ketika yakin mereka telah pergi, Clay minta Rebecca pergi ke bar sebentar. Mereka menunggu minuman tiba sebelum salah satunya berbicara. Saat keadaan tegang mereka berdua punya kecenderungan menunggu yang lain lebih dulu melepaskan tembakan. "Aku tidak tahu soal pekerjaan di Richmond," Rebecca mulai. "Aku merasa sulit mempercayainya Sepertinya seluruh keluarga sudah sepakat. Ibumu jelas tahu soal itu." "Ayahku cuma memprihatinkantnu, itu saja." Ia ingin mengatakan. Ayahmu idiot "Tidak, ia khawatir tentang kau. Tidak bisa membiarkanmu menikah dengan laki-laki tanpa masa depan, jadi ia mengatur masa depan untuk kita. Tidakkah menurutmu lancang untuk memutuskan ia tidak suka pekerjaanku maka ia mencarikanku pekerjaan baru?" "Mungkin ia sekadar mencoba membantu. Ia menyukai permainan utang budi." "Tapi mengapa* ia berasumsi aku butuh pertolongan?" "Mungkin kau memang butuh." "Mengerti aku sekarang. Akhirnya terungkaplah yang sebenarnya." "Kau tidak bisa selamanya bekerja di sana, Clay. Kau hebat dalam pekerjaanmu dan kau peduli pada

klienmu, tapi mungkin sekarang saatnya beralih. Lima tahun di OPD adalah waktu yang lama. Kau sendiri pernah berkata begitu." "Mungkin aku tidak ingin tinggal di Richmond. Mungkin aku tak pernah punya pikiran meninggalkan B.C. Bagaimana kalau aku tidak ingin bekerja di bawah salah satu kroni ayahmu? Misalkan saja aku tidak tertarik bekerja dikelilingi segerombolan politikus lokal? Aku pengacara, Rebecca, bukan juru tulis." "Baik. Terserahlah." "Apakah pekerjaan mi ultimatum?" "Dari segi apa?" "Dari segala segi. Bagaimana kalau aku mengatakan tidak?" "Kukira kau sudah mengatakan tidak, tipikal dirimu. Keputusan instan." "Keputusan instan gampang diambil bila pilihannya jelas. Aku akan mencari pekerjaanku sendiri, dan jelas aku tidak meminta ayahmu memanfaatkan utang budi orang lain. Tapi apa yang terjadi kalau aku mengatakan tidak?" "Oh, aku yakin matahari akan tetap terbit seperti biasa." "Dan orangtuamu?" "Aku yakin mereka akan kecewa" "Dan kau?" Ia mengangkat bahu dan meneguk minuman. Pernikahan sudah beberapa kali dibicarakan tapi belum pernah ada kesepakatan. Tak ada pertunangan, dan jelas tak ada jadwal. Kalau kau ingin lepas, ada banyak ruang gerak, meskipun sulit melakukannya. Tapi sesudah empat tahun (1) tak berkencan dengan orang lain, dan (2) terus meneguhkan cinta mereka pada satu sama lain, dan (3) menikmati seks sedikitnya lima kali seminggu, hubungan ini menuju ke arah status permanen. Namun demikian, Rebecca tidak bersedia mengakui fakta bahwa ia ingin istirahat dari kariernya, dan suami dan keluarga, kemudian mungkin tak

ada karier sama sekali. Mereka masih bersaing, masih memainkan permainan siapa yang lebih penting. Ia tak dapat mengakui ia ingin suami untuk menunjangnya. "Aku tak peduli, Clay," katanya "Itu cuma tawaran pekerjaan, bukan penunjukan sebagai anggota Kabinat. Katakan tidak kalau maumu begitu." 'Terima kasih." Sekonyong-konyong ia merasa dirinya seperti orang tolol. Bagaimana kalau Bennett sekadar mencoba membantu? Ia begitu tak menyukai orangtua Rebecca sehingga segala yang mereka lakukan mengesalkan harinya. Itu masalahnya, bukan? Mereka punya hak untuk mengkhawatirkan masa depan pasangan putrinya, ayah cucu mereka. Dan, Clay dengan berat hati mengakui, siapa yang tidak akan khawatir bermenantukan dirinya? "Aku mau pergi," kata Rebecca. "Baiklah." Ia mengikuti Rebecca keluar dari klub dan memandanginya dari belakang, hampir mengatakan ia punya waktu untuk mampir ke apartemennya demi kencan kilat. Tapi mood Rebecca mengatakan tidak, dan. mengingat suasana malam ini, ia pasti menikmati kesempatan untuk memberikan penolakan mentah-mentah. Kemudian Clay akan merasa dirinya seperti si dungu yang tak dapat mengendalikan diri, dan memang tepat itulah dirinya pada saat-saat seperti ini. Jadi ia bungkam saja, merapatkan rahang rapat-rapat, dan membiarkan momen itu berlalu. Sewaktu Clay membantunya masuk ke BMWnya, Rebecca berbisik, "Bagaimana kalau kau mampir sebentar?" Clay berlari kencang ke mobilnya Ia merasa agak aman bersama Rodney, — plus pukul 09.00 masih terlalu pagi bagi jenis-jenis orang berbahaya di Lamont

Street. Mereka masih pulas karena racun entah apa saja yang mereka konsumsi malam sebelumnya. Para pedagang perlahan-lahan memulai kesibukan mereka. Clay parkir dekat gang. Rodney adalah paralegal karier di OPD. Ia kuliah hukum di malam hari, putus-sambung selama satu dasawarsa dan masih sering mengatakan suatu hari kelak akan meraih gelar dan lulus ujian pengacara. Tapi dengan empat anak remaja di rumah, maka waktu maupun uang adalah sesuatu yang langka. Karena berasal dari jalanan D.C, ia mengenainya dengan baik. Sebagian kegiatan rutin hariannya adalah menerima permintaan dari pengacara OPD, biasanya yang berkulit putih, ketakutan, dan tidak begitu berpengalaman, untuk menemaninya ke zona pertempuran guna menyelidiki suatu kasus kejahatan keji. Ia paralegal, bukan penyidik, dan ia menolak sesering ia mengiyakan. Tapi tak pernah ia mengatakan tidak pada Clay. Mereka berdua telah bekerja sama menangani banyak kasus. Mereka menemukan tempat dalam gang itu di mana Ramon jatuh dan memeriksa daerah sekitarnya 6 dengan cermat, mengetahui sepenuhnya bahwa polisi telah beberapa kali menyisir tempat tersebut. Mereka menghabiskan satu rol film untuk memotret, lalu pergi mencari saksi. • Tak ada seorang pun, dan ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Saat Clay dan Rodney baru lima belas menit di tempat kejadian perkara, kabar sudah menyebar. Ada orangorang tak dikenal di -tempat kejadian, memeriksa pembunuhan terakhir, jadi kuncilah pintu dan jangan katakan apa pun. Saksi-saksi di peti susu milik toko

minuman, dua laki-laki yang menghabiskan berjam-jam setiap hari di tempat yang sama dengan meneguk anggur murahan dan tak melewatkan apa pun, sudah sejak lama pergi dan tak seorang pun tahu-menahu tentang mereka. Para pedagang tampak terkejut ada penembakan di sana. "Di sekitar sini?" salah satu bertanya, seolah kejahatan belum pernah mencapai ghetto-nya. Sesudah satu jam, mereka berlalu dan pergi menuju D Camp. Sementara Clay mengemudi, Rodney meneguk kopi dingin dari cangkir kertas. Kopi yang tidak enak, kalau dilihat dari ekspresi wajahnya. "Jermaine mendapat kasus yang hampir sama beberapa hari yang lalu," katanya. "Bocah dari pusat rehab, dikurung beberapa bulan, lalu keluar, tidak jelas apakah ia kabur atau dibebaskan, tapi dalam waktu dua puluh empat jam ia mengambil senjata dan menembak dua orang, satu tewas." "Acak?" "Apakah yang acak di sekitar sini? Dua orang di dalam mobil tanpa asuransi berserempetan dan mulai baku tembak. Apakah itu acak, ataukah beralasan?" "Apakah karena obat terlarang, perampokan, bela diri?" "Acak tanpa alasan, kukira." "Di mana pusat rehabnya?" Clay bertanya "Bukan D Camp. Suatu tempat dekat Howard, kukira. Aku belum melihat berkasnya. Kau tahu sendiri bagaimana lambannya Jermaine bekerja" "Jadi kau tidak menangani kasus itu?" 'Tidak. Aku mendengarnya dari selentingan." Rodney mengendalikan jaringan desas-desus dan gosip dan tahu lebih banyak tentang para pengacara OPD serta kasus mereka daripada Glenda, sang direktur. Ketika mereka berbelok memasuki W Street, Clay bertanya "Kau pernah

ke D Camp sebelum ini?" "Sekali atau dua kali. Tempat ini untuk kasus-kasus parah, perhentian terakhir sebelum kuburan. Tempat yang keras, dikelola orang-orang yang keras." "Kau kenal laki-laki bernama Talmadge X?" "Tidak." Di sana tidak ada sirkus trotoar yang harus diterobos. Clay parkir di depan gedung dan mereka bergegas masuk. Talmadge X tak ada di tempat, ada kejadian darurat yang menuntutnya pergi ke. rumah sakit. Kolega bernama Noland dengan ramah memperkenalkan diri sebagai kepala penasihat di sana. Di kantornya di meja kecil, ia mengambilkan berkas Tequila Watson dan mempersilakan mereka memeriksanya. Clay mengucapkan terima kasih, yakin berkas itu sudah digodok dan dibersihkan. "Aturan di sini, aku tetap tinggal di dalam ruangan sementara kau memeriksa berkas," Noland menjelaskan. "Kalau kau perlu salinannya, biayanya dua puluh Ingatannya baik sampai ia mulai memakai crack, lima sen per lembar. maka beberapa tahun terakhir hanya berupa sesuatu "Baik-" kata Clay- Aturan itu ndak Perlu ditawar- yang kabur. TX mengikuti detailnya dan ada beberapa Dan seandainya menginginkan seluruh berkas itu, ia surat serta e-mail yang menegaskan beberapa perWsa mendapatkannya kapan saja dengan subpoena, hentian di sepanjang jalan yang menyedihkan itu. atau surat perintah pengadilan. Noland pergi ke bela- Ketika berumur empat belas tahun, Tequila melewatkang meja kerjanya, di mana setumpuk dokumen kan waktu satu bulan di unit penyalahgunaan obat di menunggu. Clay mulai membalikbalik arsip itu. pUsat Rebabuitasi Pemuda di D.C. Setelah

dibebaskan, Rodney membuat catatan. ia langsung pergi ke pengedar dan membeli crack Latar belakang Tequila menyedihkan dan bisa Dua bulan di Orchard House, fasilitas tertutup yang ditebak Ia masuk ke sana bulan Januari; dirujuk dari terkenal untuk remaja yang kecanduan crack, tak Dinas Sosial sesudah diselamatkan dari overdosis menghasilkan kemajuan apa pun. Tequila mengaku heroin murahan, ia sama sekali putus sekolah. Men- merupakan salah satu kasus tragis dengan "kemungsejenis obat. Bobotnya sekitar enam puluh kilogram dan tingginya 175 sentimeter. Pemeriksaan medis terhadap dirinya dilakukan di D Camp. Ia mengalami sedikit demam, meriang, sakit kepala, bukan sesuatu yang luar biasa untuk pencandu. Selain kekurangan gizi, sedikit flu, dan tubuh yang dikoyak obat bius, tak ada yang lain yang layak dicatat, demikian menurut dokter. Seperti semua pasien lain, selama tiga puluh hari pertama ia dikurung dan diberi makan terusmenerus. pada TX bahwa di "OH" ia mengkonsumsi narkoba sebanyak di luar. Umur enam belas tahun, ia dimasukkan ke Clean Streets, fasilitas rehabilitasi serius yang sangat mirip D Gamp. Prestasi mengagumkan selama 53 hari berhasil dicapai di sana, lalu ia pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Catatan TX berbunyi "...teler berat karena crack dua jam sesudah pergi." Pengadilan anak-anak di bawah umur memerintahkannya mengikuti kamp pelatihan musim panas bagi remaja-remaja bermasalah ketika ia berusia tujuh belas tahun, tapi sistem keamanannya lemah dan ia bahkan mendapat uang dari

menjual narkoba pada rekan-rekan sesama pengikut program. Usaha terakhir untuk bebas dari ketergantungan, sebelum D Camp, adalah mengikuti program di Grayson Church, di bawah bimbingan Pendeta Jolley, penasihat pencandu obat-obatan ternama. Jolley mengirim sepucuk surat kepada Talmadge X, mengungkapkan bahwa Tequila Menurut catatan yang ditulis TX, Tequila mulai terlibat masalah pada usia delapan tahun ketika ia dan saudara laki-lakinya mencuri sekardus bir dari truk pengirim barang. Mereka minum setengahnya dan menjual setengah sisanya, dan dengan uang itu membeli segalon anggur murahan. Ia ditendang keluar dari berbagai sekolah dan kira-kira pada umur dua belas tahun, sekitar saat ia mengenal crack atau kinan tanpa harapan". Betapa pun menyedihkan sejarah itu, di sana tak pernah ada catatan tindak kekerasan. Tequila pernah ditahan lima kali karena pencurian, sekali karena mengutil di toko, dan dua kali karena tindak pidana ringan memiliki barang terlarang. Tequila tak pernah menggunakan senjata untuk melakukan tindak kejahatan, setidaknya saat melakukan kejahatan yang membuatnya ditangkap saat itu. Hal ini pun bukannya tak diperhatikan TX, yang dalam salah satu catatannya pada Hari ke-39 mengatakan "...punya kecenderungan menghindari ancaman konflik fisik paling minimal sekalipun. Tampaknya sangat takut terhadap anak-anak yang lebih besar, dan kebanyakan anak kecil juga." Pada hari ke-45, ia diperiksa dokter. Beratnya mencapai 69 kilogram yang sehat Kulitnya bersih dari "...koreng dan luka kecil". Ada catatan tentang kemajuannya belajar

membaca, dan minatnya pada seni. Sementara hari demi hari berlalu, catatan itu jadi jauh Jebih pendek. Kehidupan di D Camp sederhana dan berkembang jadi biasa-biasa saja. Beberapa hari berlalu tanpa catatan sama sekali. Catatan pada hari ke-80 berbeda: Ta menyadari ia butuh bimbingan spiritual dari atas untuk tetap-bertahan bersih. Ia tak mampu melakukannya sendirian. Katanya ia ingin tinggal di D Camp selamanya." Hari ke-100: "Kami merayakan hari keseratus dengan makan brownies dan es krim. Tequila menyampaikan pidato singkat. Ia menangis. Ia dihadiahi izin keluar selama dua jam/' Hari ke-104: "Izin keluar dua jam. Ia pergi, kembali dalam dua puluh menit dengan membawa es Hari ke-107: "Disuruh ke kantor pos, pergi selama hampir satu jam, kembali." Hari ke-110: "Izin keluar dua jam, kembali, tidak ada masalah." Catatan terakhir adalah hari ke-I 15: "Izin keluar dua jam, tidak kembali." Noland memandangi sewaktu mereka mendekati akhir berkas. "Ada pertanyaan?" ia bertanya, seolah mereka telah cukup memboroskan waktunya. "Menyedihkan," kata Clay, sambil menutup berkas dengan tarikan napas dalam. Ia punya banyak pertanyaan tetapi tak satu pun dapat, atau akan, dijawab Noland. "Di dunia penuh penderitaan, Mr. Carter, ini memang salah satu yang paling menyedihkan. Hatiku jarang tersentuh sampai menitikkan air mata, tapi Tequila pernah membuatku menangis." Noland berdiri. "Apakah ada yang ingin kaukopi?" Pertemuan sudah berakhir. "Mungkin nanti," kata Clay. Mereka mengucapkan terima kasih atas waktunya dan mengikutinya ke tempat penerimaan tamu.

Di dalam mobil, Rodney memasang sabuk pengaman dan melihat sekeliling daerah itu. Dengan sangat tenang ia berkata, "Oke, Sobat, kita punya kawan baru." Clay mengawasi penunjuk bensin dan berharap mereka punya cukup bahan bakar untuk kembali ke kantor. "Kawan macam apa?" "Kau lihat Jeep merah anggur di sana itu, setengah blok, di seberang jalan?" Clay melihat dan berkata, "Memangnya kenapa?" "Ada lelaki kulit hitam di belakang kemudi, berperawakan besar, memakai topi Redskins, kurasa. Ia mengawasi kita." Clay menajamkan mata dan samar-samar melihat sosok pengemudi, sedangkan ras dan topinya tak dapat dikenalinya. "Bagaimana kau tahu ia mengawasi kita?" Ia ada di Lamont Street ketika tadi kita di sana, aku melihatnya dua kali. Ia lewat begitu saja, melihat ke arah kita tapi tidak benar-benar melihat. Ketika parkir di sini sebelum pergi ke dalam, aku melihat Jeep itu tiga blok di belakang sana. Sekarang ia ada di sana." "Bagaimana kau tahu itu Jeep yang sama?" "Merah anggur warna yang aneh. Kau lihat penyok di spatbor depannya, sebelah kanan?" "Y eah, mungkin." "Jeep yang sama, tak diragukan lagi. Ayo kita pergi ke arah sana, kita amati lebih dekat." Clay meluncur ke jalanan dan melewati Jeep merah anggur itu. Selembar koran langsung terangkat di depan si pengemudi. Rodney mencatat pelat nomornya. "Mengapa ada orang yang tertarik membuntuti kits?" Clay bertanya. "Obat. Selalu obat terlarang. Mungkin Tequila mengedarkannya. Mungkin bocah yang ia bunuh itu punya teman-teman jahat. Siapa tahu?" "Aku ingin mencari tahu." "Saat ini janganlah

menggali terlalu dalam. Kau mengemudi, dan aku akan mengawasi belakang kita." Mereka meluncur ke selatan di sepanjang Puerto Rico Avenue selama tiga puluh menit dan berhenti di pompa bensin dekat Sungai Anacostia. Rodney mengawasi setiap mobil sementara Clay mengisi bensin. "Penguntit itu sudah pergi," kata Rodney ketika mereka bergerak lagi. "Ayo kita ke kantor." "Mengapa mereka berhenti menguntit lata?' Clay bertanya. Ia akan percaya penjelasan apa pun. "Aku tidak tahu," kata Rodney, sambil masih memeriksa kaca spion samping. "Bisa jadi mereka cuma ingin tahu apakah kita pergi ke D Camp. Atau mungkin mereka tahu kita melihat mereka. Tapi sementara ini waspadailah belakangmu." "Ini hebat. Belum pernah aku dibuntuti orang." "Berdoalah mereka tidak memutuskan untuk menangkapmu." Jermaine Vance berbagi ruang kantor dengan pengacara muda lain yang saat itu kebetulan sedang keluar, maka Clay ditawari duduk di kursinya yang kosong. Mereka membandingkan catatan tentang tersangka kasus pembunuhan terakhir mereka. Klien Jermaine penjahat kambuhan berumur 24 tahun bernama Washad Porter, yang, tidak seperti Tequila, memiliki sejarah tindak kekerasan yang panjang dan menakutkan. Sebagai anggota geng terbesar di D.C, Washad pernah dua kali terluka parah dalam pertempuran bersenjata dan sekali divonis karena usaha pembunuhan. Tujuh dari 24 tahun hidupnya dihabiskannya di balik terali besi. la sedikit sekali menunjukkan minat membersihkan diri; satu-satunya upaya rehabilitasi adalah saat di penjara dan itu p^, jelas tidak berhasil. Ia dituduh menembak dua

oran empat hari sebelum pembunuhan Ramon Pumphrey Satu dari dua orang itu tewas seketika, yang lainnya antara hidup dan mati. Washad menghabiskan waktu enam bulan di Clean Streets, dikurung dan rupanya berhasil bertahan melewati program keras di sana. Jermaine pernah berbicara dengan penasihatnya, dan percakapan itu sangat mirip pembicaraan Clay dengan Talmadge X. Washad bersih dari ketergantungan, pasien teladan, sehat, dan harga dirinya meningkat setiap hari. Satu-satunya halangan dalam perjalanan hanyalah episode sebelumnya ketika ia menyelinap ke mar, teler karena obat, tapi kembali lagi dan memohon pengampunan. Kemudian ia melewatkan hampir empat bulan tanpa masalah apa pun. Ia dibebaskan dari Clean Streets pada bulan April, dan keesokan harinya menembak dua pria dengan senjata curian. Sepertinya korban dipilih secara acak. Yang pertama pengirim barang yang sedang bekerja di dekat Walter Reed Hospital. Ada perang kata-kata, dorongmendorong, lalu empat tembakan ke kepala, dan Washad terlihat melarikan diri. Pengirim barang itu kini. masih dalam keadaan koma. Satu jam kemudian, enam blok dari sana, Washad menggunakan dua peluru terakhirnya untuk menembak pengedar obat kelas teri yang pernah punya urusan dengannya Ia dihajar teman-teman si pengedar yang, bukannya membunuhnya sendiri, menyerahkannya pada polisi-Jermaine pernah berbicara sangat singkat dengan Washad di ruang sidang pada kehadiran pertamanya ana. "Ia sedang dalam tahap penyangkalan," kata i rmaine. "Ekspresi wajahnya kosong dan padaku ia t

rus-rnenerus mengatakan tak percaya telah menembak orang- Katanya im Washad yang lama, bukan yang baru. Clay bisa mengingat bahwa hanya sekali dalam empat tahun terakhir ini ia menelepon, atau mencoba menelepon, Bennett the Bulldozer. Upaya itu berakhir dengan menyedihkan ketika ia tak mampu menembus lapisanlapisan penghalang yang mengitari orang besar tersebut Mr. BVH ingin orang-orang beranggapan ia menghabiskan waktunya dengan "bekerja", yang baginya berarti berada di luar di antara mesin-mesin pengeruk tanah di mana ia bisa mengatur berbagai kegiatan dan mengendus potensi tak terhingga Virginia Utara. Di dalam rumah keluarganya ada foto-foto besar dirinya "bekerja", memakai helm buatan khusus dan bermonogram, menunjuk ke sana-sini sementara tanah diratakan dan mall-mall serta pusat-pusat perbelanjaan dibangun. Ia mengatakan terlalu sibuk untuk obrolan omong kosong dan mengaku benci telepon, tetapi selalu punya banyak pesawat telepon di dekatnya untuk mengurus bisnis. Kenyataan yang sebenarnya, Bennett sering bermain golf, dan menurut ayah salah satu teman kuliah Clay, ia bermain dengan buruk. Rebecca lebih dari satu kali ketelepasan mengatakan ayahnya main sedikitaya empat kali seminggu di Potomac, dan diamdiam memendam impian memenangkan kejuaraan di klub itu. 7 Mr. Van Horn adalah orang yang suka bertindak, tanpa'kesabaran terhadap kehidupan di belakang meja kerja. Ia sedikit sekali menghabiskan waktu di sana, katanya. Si operator telepon yang menjawab "BVH Group" dengan enggan menghubungkan Clay pada sekretaris lain

jauh lebih dalam di perusahaan itu. "Pengembangan," perempuan kedua im berkata kasar, seolah perusahaan tersebut punya divisi yang tak terhingga banyaknya. Perlu sedikitnya lima menit lagi untuk berbicara dengan sekretaris pribadi Bennett. "Ia keluar kantor," katanya. "Bagaimana saya bisa menghubunginya?" "Ia sedang bekerja." "Ya, saya duga begitu. Bagaimana saya bisa menghubunginya?" "Tinggalkan nomor telepon dan saya akan sampaikan bersama pesan lain untuknya," katanya. "Oh, terima kasih," Clay berkata, dan meninggalkan nomor telepon kantornya. Tiga puluh menit kemudian Bennett membalas telepon. Kedengarannya ia berada di dalam ruangan, mungkin di Men's Lounge di Potomac Country Club, dengan double Scotch di tangan, sebatang cerutu besar, permainan remi dengan rekan-rekan sedang berlangsung. "Clay, bagaimana kabarmu?" ia bertanya, seolah mereka berbulan-bulan tak berjumpa. "Baik, Mr. Van Horn, dan Anda?" "Baik sekali. Sangat menikmati makan malam kemarin." Clay tidak mendengar suara raungan mesin diesel di latar belakang, tak ada deruman. "Oh ya, sungguh menyenangkan. Aku selalu menikmatinya," Clay berbohong. Apa yang bisa kulakukan untukmu, Nak? "Well, aku ingin Anda tahu bahwa aku sungguh menghargai usaha Anda mencarikanku pekerjaan di Richmond. Aku tidak menyangka, dan Anda baik sekali ikut turun tangan seperti itu." Diam sesaat sewaktu Clay menelan ludah dengan susah payah. 'Tetapi sesungguhnya, Mr. Van Horn, aku tidak merencanakan kepindahan ke Richmond dalam waktu dekat ini Aku sejak

dulu tinggal di D.C. dan di sinilah rumahku." Clay punya banyak alasan untuk menolak tawaran tersebut Tetap tinggal di D.C. adalah alasan yang ada di pertengahan daftarnya Motif yang utama adalah menghindari kemungkinan hidupnya direncanakan Bennett Van Horn dan terlilit utang budi padanya. "Kau tentu tidak serius," kata Van Horn. "Ya aku sangat serius. Terima kasih, tapi tidak." Clay sama sekati tidak mau menghadapi omong kosong si brengsek itu. Pada saat-saat seperti ini ia sangat menyukai telepon; faktor penyeimbang yang luar biasa. "Salah besar, Nak," kata Van Horn. "Kau tidak melihat gambar keseluruhannya, bukan?" "Mungkin tidak. Tapi aku tidak yakin Anda juga melihatnya" "Kau punya harga diri besar, Clay. Aku suka itu. Tapi kau juga masih sangat hijau. Kau harus belajar bahwa hidup ini merupakan permainan saling bertukar budi, dan ketika seseorang mencoba menolongmu, maka kau menerima budi. Suatu hari kelak kau mungkin punya kesempatan membalasnya. Kau melakukan kekeliruan di sini, Clay, sesuatu yang aku khawatir bisa menimbulkan konsekuensi serius." "Konsekuensi macam apa?" "Ini bisa benar-benar mempengaruhi masa depanmu." "Ah, ini masa depanku, bukan masa depan Anda. Aku akan memilih pekerjaan berikutnya, dan pekerjaan lain sesudah im. Saat ini aku bahagia di tempatku berada." "Bagaimana kau bisa bahagia membela bajingan-bajingan sepanjang hari? Aku sama sekali tidak mengerti." Ini bukan percakapan baru, dan bila dibiarkan mengikuti jalur biasanya, maka keadaan akan memburuk dengan cepat. "Aku yakin Anda pernah

mengajukan pertanyaan im. Tak perlulah kita membahasnya lagi." "Kita bicara soal kenaikan gaji dalam jumlah besar, Clay. Lebih banyak uang, pekerjaan yang lebih baik, kau akan menghabiskan waktu bersama orangorang penting, bukan segerombolan bajingan jalanan. Bangunlah, Nak!" Ada suara orang di latar belakang. Di mana pun Bennett berada saat ini, ia beraksi di hadapan penonton. Clay mengenakkan gigi dan tidak menanggapi kata "Nak". "Aku tidak berniat berdebat, Mr. Van Horn. Aku menelepon Anda untuk mengatakan tidak." "Kau sebaiknya mempertimbangkannya lagi." "Aku sudah mempertimbangkannya lagi. Tidak, terima kasih." "Kau memang pecundang, Clay, kau tahu itu. Aku sudah lama mengetahuinya. Ini cuma menegaskan pendapat itu. Kau menolak pekerjaan yang menjanjikan sehingga kau bisa tetap tinggal di tempat kumuh dan bekerja demi gaji minimal. Kau tak punya ambisi, tak punya nyali, tak punya visi." "Kemarin malam aku pekerja keras—punya pundak lebar, banyak bakat, dan aku cerdas luar biasa." "Aku tarik kembali. Kau pecundang." "Dan kemarin aku berpendidikan baik, bahkan tampan." "Aku bohong. Kau pecundang." Clay menutup telepon duluan. Ia membanting telepon im sambil tersenyum, cukup bangga telah membuat Bennett Van Horn yang agung jadi begitu kesal. Ia telah bertahan pada pendirian dan mengirim pesan tegas bahwa ia tidak mau didorong ke sana kemari oleh orang-orang im. Ia akan berurusan dengan Rebecca nanti, dan itu pasti tidak menyenangkan. Kunjungan Clay yang ketiga dan terakhir ke D Camp jauh lebih dramatis

daripada dua yang pertama. Dengan Jermaine di jok depan dan Rodney di belakang, Clay mengikuti mobil polisi D.C. dan kembali parkir tepat di depan gedung. Dua polisi, keduanya masih muda, berkulit hitam, dan bosan dengan pekerjaan melaksanakan panggilan pengadilan, bernegosiasi untuk masuk. Dalam beberapa menit mereka sudah terlibat konfrontasi tegang dengan Talmadge X, Noland, dan penasihat lain, orang be-rangasan bernama Samuel. Sebagian karena ia satu-satunya yang berkulit putih di kerumunan itu, tapi terutama karena ia pengacara yang membawa surat perintah pengadilan, tiga konselor itu memusatkan caci maki mereka pada Clay Ia sama sekali tidak peduli. Ia takkan pernah menemui orang-orang ini lagi. ^ "Kau sudah melihat berkasnya, man!" Noland berteriak pada Clay. "Aku melihat berkas yang kalian ingin agar kulihat," balas Clay. "Sekarang aku akan mendapatkan sisanya." "Apa maksudmu?" Talmadge X bertanya. "Aku ingin semua yang ada nama Tequila" "Kau tidak bisa melakukan itu." Clay menoleh pada polisi yang membawa dokumen dan berkata "Bisakah kaubacakan surat perintah pengadilan im?" Polisi mengacungkannya tinggi-tinggi untuk dilihat semuanya, dan membaca: "Semua berkas yang berkaitan dengan penerimaan, evaluasi medis, pengobatan medis, pengurangan obatobatan, konseling penyalahgunaan obat-obatan, rehabilitasi, dan pembebasan Tequila Watson. Sesuai perintah Yang Mulia F. Floyd Sackman, Divisi Pidana Superior Court D.C." "Kapan ia menandatanganinya?" Samuel bertanya "Tiga jam yang lalu." "Kami sudah

memperlihatkan semuanya padamu," kata Noland pada Clay. "Aku meragukannya. Aku bisa tahu mana berkas yang telah dimodifikasi." 'Terlalu rapi," Jemiaine menambahkan untuk membantu, akhirnya. "Kita tidak akan berkelahi," kata satu dari dua polisi yang bertubuh besar tersebut, sedikit pun tak menyisakan keraguan bahwa mereka akan senang kalau terjadi perkelahian hebat "Dari mana kita mulai?" "Evaluasi medisnya rahasia," kata Samuel. "Aku yakin itu hak istimewa antara dokter dan pasien." Itu alasan yang sangat bagus, tapi agak menyimpang. "Arsip dokter memang rahasia," Clay menjelaskan. 'Tapi arsip si pasien tidak. Aku punya surat izin dan pernyataan melepaskan tuntutan yang ditandatangani Tequila Watson yang mengizinkan aku melihat semua berkasnya, termasuk arsip medis." Mereka mulai di dalam ruangan tanpa jendela dengan lemarilemari arsip beraneka macam berjajar melapisi dindingdindingnya Sesudah beberapa menit, Talmadge X dan Samuel menghilang dan ketegangan mulai mereda. Polisipolisi itu menarik kursi dan menerima kopi yang ditawarkan resepsionis. Ia tak menawarkan apa pun pada orang-orang dari OPD. Sesudah satu jam membongkar, mereka tak menemukan apa pun yang berguna. Clay dan Jermaine meninggalkan Rodney untuk meneruskan pencarian. Ada beberapa polisi lagi yang harus mereka temui. Penggeledahan di Clean Streets sangat mirip. Dua pengacara itu berjalan memasuki kantor depan bersama dua polisi di belakang mereka. Si direktur diseret keluar walaupun sedang rapat. Sewaktu membaca surat perintah

pengadilan itu, ia menggumamkan sesuatu bahwa ia kenal Hakim Sackman dan akan berurusan dengannya nanti. Perempuan itu sangat kesal, tetapi dokumen pengadilan tersebut sudah berbicara sendiri. Bahasa yang sama— semua berkas dan dokumen yang berkaitan dengan Washad Porter. "Ini tidak perlu," katanya pada Clay. "Kami selalu bekerja sama dengan pengacara." "Bukan seperti itu yang kudengar," kata Jermaine. Memang benar, Clean Streets punya reputasi menentang permintaan paling remeh sekalipun dari OPD. Ketika ia selesai membaca surat perintah pengadilan itu untuk yang kedua kalinya, salah satu polisi berkata, "Kami tidak akan menunggu sepanjang hari." Wanita itu memimpin mereka ke ruang kerja luas dan memanggil asisten yang segera mulai mengangkuti berkas-berkas. "Kapan kami akan menerimanya kembali?" ia bertanya. "Begitu kami selesai," ujar Jermaine. "Dan siapa yang menyimpannya?" "OPD, dalam keadaan terkunci* Kisah cinta mereka dimulai di Abe's Place. Rebecca berada di salah satu meja bersama dua teman perempuannya ketika Clay berjalan menuju kamar kecil. Mereka beradu pandang, dan Clay benar-benar berhenti selama satu detik, tak tahu pasti apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Teman-teman perempuan itu segera menghilang. Clay menyingkirkan teman minumnya. Mereka duduk bersama di bar selama dua jam dan bercakap-cakap nonstop. Kencan pertama terjadi malam berikutnya. Seks seminggu kemudian. Rebecca menghindarkan Clay dari orangtuanya selama dua bulan. Kini, empat tahun kemudian, keadaan menjadi

basi dan ia di bawah tekanan untuk terus tnaju. Rasanya cocok bahwa mereka akan mengakhiri segalanya di Abe's Place. Clay tiba lebih dulu' dan berdiri di bar, di tengah kerumunan orang Hill Rats yang menandaskan isi gelas mereka berbicara keras, cepat, dan serentak tentang masalah-masalah penting yang mereka bereskan sepanjang hari. Ia cinta D.C, dan ia benci D.C. Ia mencintai sejarah,* energi, dan nilai pentingnya. Dan ia benci antekantek yang tak terhingga jumlahnya saling kejar dalam permainan ingar bingar siapa lebih penting daripada yang lain. Perbincangan yang paling dekat dengannya adalah perdebatan penuh semangat tentang undang-undang pengolahan air limbah di Central Plains. Abe's Place tak lebih dari tempat minum yang ditempatkan secara strategis di dekat Capitol Hill untuk menangkap rombongan orang haus yang menuju pinggiran kota. Wanita-wanita cantik. Berpakaian bagus. Banyak di antara mereka berburu kencan. Gay melihat beberapa lirikan. Rebecca murung, tegas, dan dingin. Mereka menyelinap ke booth dan keduanya memesan minuman keras sebagai persiapan untuk pembicaraan yang akan terjadi, day mengajukan beberapa pertanyaan tak penting tentang sidang subkomite yang dimulai tanpa gembar-gembor, setidaknya begitulah menurut Post. Minuman tiba dan mereka langsung meneguknya. "Aku bicara dengan ayahku," Rebecca memulai. "Aku juga." "Mengapa kau tidak dari semula mengatakan padaku bahwa kau tidak hendak mengambil pekerjaan di Richmond?" "Mengapa tidak dari semula kaukatakan padaku bahwa ayahmu

memanfaatkan koneksi untuk mencarikan pekerjaan bagiku di Richmond?" "Kau seharusnya memberitahu aku." "Aku sudah menunjukkannya dengan jelas." 'Tak ada yang jelas denganmu." Keduanya meneguk minuman. "Ayahmu menyebutku pecundang. Begitukah pendapat keluargamu?" "Saat ini, ya." "Kau juga?" "Aku punya keraguan sendiri. Harus ada yang realistis di sini." Memang pernah ada ganjalan serius dalam kisah cinta mereka, kegagalan yang sangat menyedihkan. Sekitar setahun yang lalu mereka memutuskan untuk membiarkan suasana mendingin, meneruskan hubungan sebagai teman dekat, tapi juga melihat-lihat sekeliling untuk alternatif lain, mungkin mencoba-coba, memastikan tidak ada orang lain di luar sana. Barb merekayasa perpisahan im sebab, seperti Clay dapati kemudian, ada laki-laki muda kaya raya di Potomac Country Club yang baru saja kehilangan istrinya karena kanker rahim. Bennett adalah sahabat dekat keluarga im, dll, dsb. Ia dan Barb memasang perangkap, tetapi si duda mencium adanya umpan. Sebulan bergaul dengan keluarga Van Horn dan laki-laki im memutuskan membeli rumah di Wyoming. Akan tetapi, ini perpecahan yang lebih hebat Kali ini nyaris pasti menjadi akhir cerita. Clay meneguk lagi minuman dan berjanji pada diri sendiri bahwa apa pun yang dikatakan Rebecca, dan dalam keadaan bagaimana pun, ia tidak akan mengucapkan apa pun yang akan menyakiti hatinya. Rebecca boleh habis-habisan menyakitinya kalau ia mau. Tapi ia tidak akan melakukannya. §ty- • "Apa yang kauinginkan, Rebecca?" "Aku tidak tahu." "Kau tahu.

Apakah kau ingin putus?" "Rasanya begitu," katanya, dan matanya seketika menjadi basah. "Apakah ada orang lain?" Tidak." Setidaknya belum. Coba beri Barb dan Bennett beberapa hari. "Masalahnya kau tidak beranjak ke mana-mana, Clay," katanya. "Kau pintar dan berbakat, tapi kau tak punya ambisi," "Wah, sungguh menyenangkan mengetahui aku pintar dan berbakat lagi. Beberapa jam yang lalu aku pecundang." "Apakah kau mencoba melucu?" "Mengapa tidak, Rebecca? Mengapa kita tidak tertawa? mi sudah berakhir, marilah kita hadapi. Kita saling mencintai, tapi aku pecundang yang tidak beranjak ke mana pun. Itu masalahmu. Masalahku adalah orangtuamu. Mereka akan mencincang laki-laki malang yang kaumkahi," "Laki-laki malang?" "Benar. Aku kasihan dengan laki-laki malang yang kaunikahi sebab orangtuamu sungguh tak tertahankan. Dan kau tahu itu." "Laki-laki malang yang aku nikahi?" Matanya tidak lagi basah. Mata itu berapi-api. "Tenanglah." "Laki-laki malang yang aku nikahi?" "Dengar, aku ada tawaran untukmu. Mari kita menikah sekarang juga. Kita berhenti bekerja, menikah kilat tanpa dihadiri siapa pun, jual segala yang kita miliki, dan terbang ke, katakanlah, Seattle atau Portland, suatu tempat yang jauh dari sini, dan kita hidup dari cinta beberapa lama." "Kau tak mau pergi ke Richmond tapi kau akan pergi ke Seattle?" "Richmond terlalu dekat dengan orangtuamu, oke?" "Lalu apa?" "Lalu kita akan cari pekerjaan." , "Pekerjaan macam apa? Apakah daerah Barat sana kekurangan pengacara?" "Kau melupakan sesuatu. Ingat percakapan semalam, aku pintar, berbakat,

berpendidikan baik, cerdas, bahkan tampan. Biro-biro hukum besar akan mengejar-ngejar diriku. Dalam waktu delapan belas bulan aku akan jadi partner. Kita akan punya anak." "Lalu orangtuaku akan datang," 'Tidak, sebab kita tidak akan mengatakan di mana kita berada. Dan bila mereka menemukan kita, maka kita akan ganti nama dan pindah ke Kanada." Dua gelas minuman lagi tiba dan mereka tak membuang waktu menyisihkan yang lama. Suasana ringan berlalu dengan cepat. Tetapi hal itu mengingatkan mereka berdua tentang mengapa mereka saling mencintai dan betapa mereka menikmati kebersamaan mereka Dulu lebih banyak tawa daripada kesedihan, meskipun keadaan berubah. Lebih sedikit tawa Lebih banyak percekcokan tanpa nalar. Lebih banyak pengaruh dari keluarga Rebecca. "Aku tidak suka Pantai Barat," akhirnya ia berkata. "Kalau begitu pilihlah tempat mana saja," Clay berkata menyudahi pemalangan. Tempat Rebecca sudah dipilihkan, dan ia tidak mau pergi terlalu jauh dari Mommy dan Daddy. Apa pun yang dibawa Rebecca ke pertemuan ini akhirnya harus diucapkan. Sam tegukan panjang, lalu ia mencondongkan badan ke depan dan menatap lurus ke mata Clay. "Clay, aku sungguh butuh istirahat" ."Jangan menyusahkan diri sendiri, Rebecca. Kita akan melakukan apa pun yang kauinginkan." "Terima kasih." "Berapa lama istirahatnya?" "Aku tidak mau tawarmenawar, Clay." "Sebulan?" "Lebih lama dari im." "Tidak, aku tidak akan menyetujuinya. Mari kita coba tiga puluh hari tanpa • saling menelepon, oke? Hari ini tanggal tujuh Mei-Mari kita bertemu di sini pada tanggal enam Juni,

tepat di meja ini, dan kita akan bicarakan lagi kemungkinan perpanjangan,*' "Perpanjangan?*' "Sebut apa saja semaumu." Terima kasih. Aku menyebutnya putus hubungan, Clay. The big bang. Splitsville. Kau tempuh jalanmu, aku tempuh jalanku sendiri. Kita akan bicara sebulan lagi, tapi aku tidak mengharapkan perubahan. Keadaan tidak berubah banyak setahun terakhir ini." "Seandainya aku katakan ya untuk tawaran pekerjaan menyebalkan di Richmond, apakah kita akan bicara soal putus hubungan ini?" "Mungkin tidak." "Apakah im punya arti lain dari tidak?" "Tidak." "Jadi, semua im memang perangkap, bukan? Pekerjaan im, ultimatum im? Begitulah yang ada dalam pikiranku kemarin malam, sergapan mendadak. Ambillah pekerjaan ini, Nak, kalau tidak, tahu sendiri" Rebecca tak menyangkalnya. Ia malah berkata, "Clay, aku lelah bertengkar, oke? Jangan meneleponku selama tiga puluh hari." Ia menyambar tas dan berdiri. Saat beranjak keluar dari booth, ia menempelkan ciuman kering dan tanpa makna di dekat pelipis kanan Clay, tapi Clay tak menanggapi. Ia tidak mengawasi Rebecca berlalu. Rebecca pun tak menengok ke belakang. Apartemen Clay adalah kompleks tua - di Arlington. Ketika menyewanya empat tahun yang lalu, ia tak pernah mendengar tentang BVH Group. Belakangan, ia tahu perusahaan I itu membangun tempat tersebut pada awal delapan puluhan dalam salah satu petualangan bisnis pertama Bennett. Bisnis itu bangkrut, kompleks tersebut dijualbelikan beberapa kali, dan tak sepeser pun uang sewa Clay masuk ke kocek Mr. Van Horn. Malah, tak satu pun

anggota keluarga itu tahu Clay tinggal di gedung yang mereka bangun. Bahkan Rebecca pun tidak. Ia berbagi unit dengan dua kamar tidur bersama Jonah, teman lama dari sekolah hukum yang empat kali gagal ujian pengacara sebelum akhirnya lulus dan kini berjualan komputer. Ia berjualan sebagai pekerjaan parowaktu dan tetap mendapatkan penghasilan lebih besar daripada Clay, fakta yang selalu menghantui mereka. Pagi hari sesudah perpisahan itu, Clay mengambil koran Pott di luar pintu dan duduk di belakang meja dapur sambil menikmati kopi pertamanya. Seperti biasa, ia langsung memeriksa berita keuangan untuk mengecek sebentar perkembangan menyedihkan BVHG. Sahamnya nyaris tak diperdagangkan dan 8 beberapa investor salah langkah yang memilikinya kini bersedia menjualnya dengan harga $0,75 per lembar. Siapakah yang jadi pecundang di sini? Tak ada sepatah kata pun tentang sidang subkomite Rebecca yang penting itu. Ketika selesai dengan keisengan itu, ia beralih ke rubrik olahraga dan mengatakan pada diri sendiri bahwa sudah saatnya melupakan keluarga Van Horn. Semuanya. Pukul 07.20, saat ia biasanya makan semangkuk sereal, telepon berdering. Ia tersenyum dan berpikir, Pasti Rebecca. Sudah kembali. Tak ada orang lain yang akan menelepon sepagi ini. Tak ada siapa pun kecuali pacar atau suami perempuan yang mungkin tidur di lantai atas bersama Jonah untuk menghilangkan pusing akibat mabuk. Selama bertahun-tahun ini Clay beberapa kali menerima telepon seperti itu. Jonah suka perempuan, terutama mereka yang

terikat pada orang lain. Lebih menantang, katanya. Tapi ternyata telepon itu bukan dari Rebecca dan bukan pula dari pacar atau suami. "Mr. Clay Carter," kata suara lakilaki tak dikenal. . "Aku sendiri." "Mr. Carter, nama saya Max Pace. Saya pencari tenaga kerja untuk beberapa biro hukum di Washington dan New Y ork. Nama Anda menarik perhatian kami, dan saya punya dua lowongan sangat menarik yang mungkin Anda minati. Bisakah kita makan siang bersama hari ini?" Sama sekali tak mampu berkatakata, belakangan AC Clay ingat, di kamar mandi, bahwa pikiran pertama yang melintas dalam benaknya saat im, anehnya, adalah makan siang yang menyenangkan. "Uh, baiklah." ia susah payah berkata. Headhunter adalah bagian dari bisnis hukum, sama seperti setiap profesi lain. Tetapi mereka jarang menghabiskan waktu mereka mencari-cari di Kantor Pembela Umum di bawah sana. "Bagus. Mari kita bertemu di lobi Hotel Willard siang ini?" ^v- **' "Siang ini bolehlah," kata Clay, pandangan matanya terfokus pada setumpuk peralatan makan kotor di bak cuci Ya, ini benar nyata. Ini bukan mimpi. "Terima kasih, sampai jumpa nanti. Mr. Carter, saya janji ini pasti layak untuk waktu yang Anda sisihkan." "Uh, tentu." Max Pace menutup telepon dengan cepat, dan sesaat Clay memegangi gagang telepon, memandangi piring-piring kotor, dan bertanya-tanya dalam hati siapakah di antara teman-teman kuliahnya yang berada di balik lelucon ini. Atau mungkinkah Bennett si Bulldozer melakukan sisa-sisa pembalasan terakhir? ia tidak punya nomor telepon Max Pace. Ia bahkan tidak terpikir untuk menanyakan nama

perusahaannya. Selain itu, ia juga tidak punya setelan jas bersih. Ia punya dua setel, dua-duanya berwarna kelabu, yang satu tebal dan yang satu tipis, keduanya sangat tua dan sering dipakai. Pakaiannya di ruang sidang. Untungnya, kantor OPD tidak punya aturan berpakaian, maka Clay biasanya memakai celana khaki dan blazer biru tua. Kalau pergi ke pengadilan, ia memakai dasi dan menanggalkannya segera setelah kembali ke kantor. Di dalam kamar mandi, ia memutuskan bahwa pakaiannya tidak jadi soal. Max Pac*e tahu di mana ia bekerja dan tentunya tahu betapa kecil penghasilannya. Kalau Clay datang untuk wawancara dengan celana khaki, maka ia bisa minta lebih banyak uang. Sambil duduk di tengah kepadatan lalu lintas Arlington Memorial Bridge, ia memutuskan ini pasti ulah ayahnya. Pak tua im memang tersingkir dari D.C. tapi ia masih punya kontak. Ia akhirnya menemukan sasaran yang tepat, menelepon meminta pertolongan, mencarikan putranya pekerjaan yang pantas. Ketika karier hebat Jarrett Carter berakhir bak bara api yang penuh warna, ia mendorong putranya ke Kantor Pembela Umum. Kini masa magang sudah berakhir. Lima tahun di parit perlindungan, dan tibalah saatnya untuk pekerjaan sejati. Biro hukum macam apakah yang mencarinya? Rasa ingin tahunya sangat terusik oleh misteri ini. Ayahnya benci biro-biro besar yang menangani masalah korporasi dan melakukan lobi, yang berjejalan di sepanjang Connecticut dan Massachusetts Avenue. Dan ia memandang sebelah mata pada biro-biro kecil yang mengiklankan diri di bus dan billboard dan menjejali sistem

dengan kasus-kasus tak keruan. Biro hukum Jarrett yang dulu punya sepuluh pengacara, sepuluh petarung di ruang sidang yang memenangkan vonis dan dicari orang. "Ke sanalah aku menuju," Clay bergumam sendiri sewaktu melihat Sungai Potomac di bawahnya. Sesudah melewatkan pagi paling tidak produktif dalam kariernya, Clay meninggalkan kantor pada pukul setengah dua belas dan tanpa terburu-buru mengendarai mobil ke Hotel Willard, yang kini secara resmi disebut sebagai Willard Inter Continental Hotel. Ia langsung disambut di lobi oleh laki-laki muda berotot yang samar-samar seperti dikenalnya. "Mr. Pace ada di atas," ia menerangkan. "Ia ingin bicara dengan Anda di atas sana, kalau Anda tidak keberatan." Mereka berjalan ke arah lift. "Baiklah," kata Clay. Bagaimana dirinya begitu gampang dikenali, ia tidak tahu persis. Mereka saling tak menghiraukan dalam perjalanan ke atas. Mereka.melangkah keluar di lantai sembilan dan pengawal Glay mengetuk pintu suite Theodore Roosevelt Pintu terbuka dengan cepat dan Max Pace menyapa dengan senyum resmi. Ia berusia pertengahan empat puluhan, rambutnya hitam bergelombang, kumisnya hitam, segalanya hitam. Jins denim hitam, T-shirt hitam, sepatu bot berujung lancip hitam. Sosok Holh/wood di Hotel Willard. Sama sekali tidak mirip sosok pebisnis yang dikira Clay. Sewaktu mereka berjabatan tangan, ia langsung merasakan bahwa keadaan tidaklah seperti yang tampak. Dengan lirikan cepat, si pengawal diperintahkan pergi. 'Terima kasih atas kedatangan Anda," Max berkata sewaktu mereka berjalan

memasuki ruangan oval serbapualam. 98 "Sama-sama." Clay mengamati suite itu; kulit dan kain mewah, berbagai ruangan bercabang ke segala penjuru. "Tempat yang menyenangkan." "Ini milik saya beberapa hari lagi. Saya pikir kita bisa. makan di sini, memesan room service sehingga kita bisa bicara tanpa gangguan." 'Tidak ada masalah." Pertanyaan melintas dalam benaknya, yang pertama di antara banyak lainnya. Apa yang dikerjakan headhunter Washington di sini dengan menyewa suite hotel yang mahal luar biasa? Mengapa ia tidak punya kantor di dekat sini? Apakah ia benar-benar butuh pengawal pribadi? "Ingin makan masakan tertentu?" "Saya gampang kok." "Mereka punya capellini dan hidangan salmon yang lezat. Saya sudah mencobanya kemarin. Luar biasa." "Saya akan coba." Saat itu Clay mau mencoba apa saja; ia kelaparan. Max pergi ke telepon sementara Clay mengagumi pemandangan Pennsylvania Avenue di bawah. Ketika makan siang sudah dipesan, mereka duduk di dekat jendela dan dengan cepat melewatkan basa-basi membicarakan cuaca, rentetan kekalahan Orioles, dan keadaan perekonomian yang buruk belakangan ini. Pace pintar bicara dan sepertinya merasa nyaman berbicara tentang apa saja selama yang diinginkan Clay, la jelas serius berlatih angkat beban dan ingin orang mengetahuinya. Kausnya menempel ketat ke dada dan lengannya dan ia suka mengelus kumis. Tiap kali ia melakukan hal itu, otot bisepnya berkontraksi dan menggelembung. Ia mungkin stuntman, tapi jelas bukan headhunts dari perusahaan besar. Sepuluh menit berlalu

untuk mengobrol, dan Clay berkata, "Dua biro hukum itu, bagaimana kalau Anda menceritakannya sedikit?"Mereka tidak ada." kata Max. "Saya akui saya berbohong pada Anda. Dan saya berjanji hanya sekali ini saya berbohong pada Anda." "Anda bukan headhunted" "Bukan." "Kalau begitu apa?" "Saya pemadam kebakaran.'* , "Terima kasih, itu benar-benar menjelaskan segalanya.'* "Biarkan saya bicara sebentar. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan, dan sesudah saya selesai, saya berjanji Anda akan senang." "Kusarankan Anda bicara cepat-cepat, Max, kalau tidak aku akan keluar dari sini" "Tenanglah, Mr. Carter. Boleh saya panggil Anda "Tidak sekarang." "Baiklah. Saya agen, kontraktor, pekerja parowaktu dengan keahlian khusus. Saya disewa perusahaanperusahaan besar untuk memadamkan kebakaran. Mereka melakukan kesalahan, mereka menyadari kesalahan mereka sebelum para pengacara mengetahuinya, lalu mereka menyewa saya untuk diamdiam menangani situasi, membereskan kekacauan mereka, dan, mudah-mudahan, menghemat banyak uang mereka. Jasa layanan saya sangat dibutuhkan. Nama saya boleh Max Pace dan boleh apa saja. Tidak jadi soal. Siapa saya dan dari mana asal saya tidaklah relevan. Yang penting di sini saya disewa perusahaan besar untuk memadamkan kebakaran. Ada pertanyaan?" 'Terlalu banyak untuk diajukan saat ini." "Tunggulah. Saya tidak mengatakan nama klien saya sekarang, mungkin takkan pernah. Kalau kita mencapai kesepakatan, maka saya bisa menceritakan lebih banyak pada Anda. Begini

ceritanya: Klien saya perusahaan multinasional yang memproduksi obat-obatan. Anda akan mengenali namanya. Perusahaan ini membuat berbagai produk, mulai obat-obatan umum yang ada di lemari obat Anda saat ini sampai obat-obatan yang rumit untuk melawan kanker dan obesitas. Perusahaan blue-chip yang sudah tua dan mapan, dengan reputasi menjulang. Sekitar dua tahun yang lalu, ia menemukan sejenis obat yang mungkin menyembuhkan kecanduan terhadap opium dan narkotika berbasis kokain. Jauh lebih maju daripada methadone, yang meskipun menolong banyak pencandu, ia sendiri bersifat adiktif dan sangat banyak disalahgunakan. Kita sebut saja obat ajaib ini Tarvan— begitulah nama julukannya sementara ini. Obat tersebut ditemukan secara tak sengaja dan dengan cepat digunakan pada setiap binatang laboratorium yang ada. Hasilnya luar biasa, tapi masalahnya, sulit menduplikasi kecanduan crack pada tikus percobaan." "Mereka butuh manusia," kata Clay. Pace mengelus kumis dan bisepnya berkontraksi. "Ya. Potensi Tarvan cukup untuk membuat orang-orang besar itu terjaga sepanjang malam. Bayangkan, minum satu pil sehari selama sembilan puluh hari dan kau jadi bersih. Ketagihanmu akan obat-obatan mi hilang. Kau bebas dari kokain, heroin, crack—begitu saja. Sesudah bersih kau minum sebutir Tarvan tiap dua hari dan bebas kecanduan seumur hidup. Hampir seperti penyembuh instan, bagi jutaan pecandu. Bayangkan keuntungannya—pasanglah berapa saja harga yang kau mau untuk obat ini karena seseorang entah di mana akan dengan senang hati

membayarnya. Bayangkan berapa kehidupan yang bisa diselamatkan, kejahatan yang tidak jadi dilakukan, keluarga-keluarga yang tetap utuh, miliaran dolar yang tidak perlu dihamburkan dalam usaha merehabilitasi pencandu. Makin jauh orang-orang besar itu memikirkan betapa hebat potensi Tarvan, semakin cepat mereka menginginkannya beredar di pasar. Tapi, seperti kaukatakan, mereka masih butuh manusia." Diam sesaat, seteguk kopi. T-shirt itu bergelombang berkat banyak olah tubuh Ia meneruskan. "Jadi mereka mulai melakukan kesalahan. Mereka memilih tiga tempat—Mexico City, Singapura, dan Belgrade—tempat-tempat yang jauh di luar yurisdiksi FDA. Dengan samaran sebagai yayasan bantuan kemanusiaan internasional, mereka membangun klinik-klinik rehabilitasi, sarana-sarana tertutup yang benarbenar bagus di mana para pencandu bisa dikendalikan sepenuhnya. Mereka memilih pencandu-pencandu paling parah yang bisa mereka temukan, memasukkan mereka, membersihkan mereka, mulai menggunakan Tarvan meskipun para pnecandu itu tidak tahu-menahu. Mereka sama sekali tidak peduli—semuanya gratis." "Laboratorium manusia," kata Clay. Cerita itu sejauh ini sangat menarik, dan Max si pemadam kebakaran pintar menuturkannya. "Tak lain tak bukan memang laboratorium manusia. Jauh dari sistem gugatan ganti rugi Amerika. Dan dari pers Amerika. Dan penegak hukum Amerika. Sungguh rencana yang cemerlang. Dan obat itu berhasil baik. Sesudah tiga puluh hari, Tarvan menumpulkan kebutuhan akan obat-obatan. Sesudah enam puluh hari,

pencandu-pencandu itu sepertinya cukup senang untuk tetap bersih, dan sesudah sembilan puluh hari mereka tidak takut lagi kembali ke jalan. Segalanya dipantau—diet, latihan, terapi, bahkan percakapan mereka. Klien saya sedikitnya punya satu pegawai untuk satu pasien, dan masing-masing klinik ini punya seratusan ranjang. Sesudah tiga bulan, pasien-pasien itu dilepaskan, dengan kesepakatan mereka akan kembali ke klinik dua hari sekali untuk mendapatkan jatah Tarvan mereka. Sembilan puluh persen tetap memakai obat ini, dan tetap bebas dari kecanduan. Sembilan puluh persen! Hanya dua persen kembali kecanduan." "Dan delapan persen lainnya?" "Merekalah yang jadi masalah, tapi klien saya tidak tahu betapa serius keadaannya. Bagaimanapun, semua ranjang penuh, dan dalam kurun waktu delapan belas bulan sekitar seribu pencandu diobati dengan Tarvan. Hasilnya sungguh mencengangkan. Klien saya bisa mencium keuntungan bernilai miliaran dolar. Dan tak ada pesaing di bidang ini. Tak ada per? usahaan lain yang mengembangkan riset untuk obat anti kecanduan. Kebanyakan perusahaan farmasi menyerah bertahun-tahun yang lalu." "Dan kesalahan selanjutnya?" Max diam sesaat, lalu berkata, "Jumlahnya begitu banyak." Suara bel berbunyi, makan siang tiba. Pelayan mendorongnya di atas kereta dan menghabiskan lima menit untuk menatanya. Clay berdiri di depan jendela, menatap puncak Washington Monument, tapi terlalu tenggelam dalam pikiran sendiri untuk melihat apa pun. Max memberikan tip pada si pelayan dan akhirnya menyingkirkannya dari ruangan. "Anda lapar?" ia

bertanya. "Tidak. Teruslah bicara." Clay menanggalkan jas dan duduk di kursi. "Kukira kau sampai di bagian yang bagus." "Bagus, jelek, tergantung bagaimana Anda melihatnya. Kesalahan selanjurnya adalah membawa pertunjukan itu ke sini. Di sinilah keadaan jadi benar-benar kacau. Klien saya dengan sengaja mengamati bola dunia dan memilih satu tempat untuk orang Kaukasia, satu untuk orang Latin, dan satu untuk Asia Masih diperlukan beberapa orang Afrika." "Kita punya banyak di D.C." "Begitulah pendapat klien saya." "Kau bohong, bukan? Katakan padaku kau bohong." "Saya sudah satu kali berbohong pada Anda, -Mr. Carter. Dan saya berjanji tidak akan melakukannya lagi." Clay perlahan-lahan berdiri dan berjalan mengitari kursi, menghampiri jendela lagi. Max mengamatinya dengan penuh perhatian. Santapan siang itu mulai mendingin, tapi sepertinya tak seorang pun di antara mereka peduli. Waktu seperti berhenti berjalan. Clay berbalik dan berkata, "Tequila?" Max mengangguk dan berkata, "Ya." "Dan Washad Porter?" "Ya." Satu menit berlalu. Clay bersedekap dan bersandar pada dinding, menghadapi Mac, yang merapikan kumis. "Teruskan," kata Clay. "Pada sekitar delapan persen pasien-pasien itu, terjadi ketidakberesan," Max berkata. "Klien saya tidak tahu apa atau bagaimana atau bahkan siapa yang mungkin berisiko. Tetapi Tarvan membuat mereka membunuh. Jelas dan sederhana. Sesudah sekitar seratus hari, ada sesuatu di otak mereka yang berubah, dan mereka merasakan dorongan tak tertahankan untuk menumpahkan darah. Tak ada perbedaan apakah mereka punya sejarah

melakukan kekerasan atau tidak. Umur, ras, jenis kelamin, tak ada yang membedakan mereka jadi pembunuh." "Itu berarti delapan puluh orang tewas?" "Paling sedikit. Tetapi sulit mendapatkan informasi di daerah-daerah kumuh Mexico City." "Ada berapa di sini, di D.C?" Ini pertanyaan pertama yang membuat Max resah, dan ia mengelak. "Saya akan menjawab pertanyaan itu beberapa menit lagi. Biar saya selesaikan.cerita saya. Maukah Anda duduk? Saya tidak suka menengadah saat berbicara." Clay duduk, seperti diminta. "Kekeliruan selanjurnya adalah menghindari FDA." "Tentu saja." "Klien saya punya banyak teman penting di kota ini. Mereka jago dalam membeli para politisi dengan uang PAC, dan mempekerjakan istri, pacar, dan bekas asisten mereka, yang biasa dilakukan si kaya raya di sini. Suatu perjanjian busuk dibuat. Ini melibatkan orang-orang penting dari Gedung Putih, Departemen Dalam Negeri, DEA, FBI, dan beberapa lembaga lain, tak satu pun dilakukan secara tertulis. Tak ada uang yang berpindah tangan; tak ada penyuapan. Klien saya dengan pintar berhasil meyakinkan cukup banyak orang bahwa Tarvan mungkin bisa menyelamatkan dunia kalau ia bisa menunjukkan hasil di satu laboratorium lagi. Karena FDA butuh dua atau tiga tahun untuk memberikan persetujuan, dan karena mereka toh punya beberapa teman di Gedung Putih, maka kesepakatan itu pun diambil. Orang-orang besar itu, yang nama-namanya kini hilang selamanya, menemukan cara untuk menyelundupkan Tarvan ke beberapa klinik rehabilitasi terpilih di D.C. yang didanai pemerintah federal. Kalau

obat itu berhasil di sini, maka Gedung Putih dan orangorang besar itu akan menekan FDA habis-habisan untuk memberikan persetujuan secepatnya." "Ketika mereka melakukan persekongkolan ini, apakah klienmu tahu tentang delapan persen itu?" "Saya tidak tahu. Klien saya tidak menceritakan segalanya dan takkan pernah melakukannya. Saya pun tidak mengajukan banyak pertanyaan. Tugas saya di bidang lain. Tetapi, saya curiga klien saya tidak tahu-menahu soal delapan persen itu. Kalau., tidak, risikonya pasti terlalu besar untuk melakukan eksperimen di sini. Semua ini terjadi sangat cepat, Mr. Carter." "Kau boleh memanggilku Clay sekarang." 'Terima kasih, Clay." "Sama-sama." "Kukatakan di sini tidak ada suap-menyuap. Sekali lagi; begitulah yang diceritakan klienku padaku. Tapi mari kita bersikap realistis. Perkiraan laba awal selama sepuluh tahun mendatang dari Tarvan adalah tiga puluh miliar dolar. Laba, bukan penjualan. Perkiraan awal pajak yang dihemat Tarvan adalah sekitar seratus miliar dolar untuk periode yang sama. Jelas akan ada uang yang berpindah tangan selama itu." "Cuma semua itu sudah jadi sejarah?" "Oh ya. Obat itu ditarik enam hari yang lahv Klinik-klinik canggih di Mexico City, Singapura, dan Belgrade ditutup tengah malam dan semua penasihat hebat itu menghilang seperti hantu. Semua eksperimen dilupakan. Semua dokumen dihancurkan. Klienku tak pernah dengar tentang Tarvan. Kami ingin mempertahankannya agar tetap demikian." "Aku punya firasat pada titik inilah aku mulai terlibat." "Hanya kalau kau mau. Kalau kau menolak, aku siap menemui pengacara

lain." "Menolak apa?" "Kesepakatan, Clay, kesepakatan. Hingga sekarang ini, sudah ada lima orang di D.C. dibunuh pecandu-pencandu yang memakai Tarvan. Satu orang dalam keadaan koma, mungkin tidak akan selamat Korban pertama Washad Porter. Berarti seluruhnya ada enam. Kami tahu siapa mereka, bagaimana mereka mati, siapa yang membunuh mereka, segalanya. Kami ingin kau mewakili keluarga mereka. Ambil mereka sebagai klien, kami yang membayar, segala urusan dibereskan dengan cepat, tanpa ribut-ribut, tanpa gugatan, tanpa publisitas, tanpa jejak apa pun di mana pun." "Mengapa mereka mau memakaiku?*' "Sebab mereka tidak tahu mereka punya kasus. Mereka hanya tahu orang-orang yang mereka kasihi menjadi korban tindak kekerasan acak di jalanan. Itu adalah cara hidup di sini. Anakmu ditembak bajingan jalanan, kau memakamkannya, bajingan itu ditahan, kau pergi ke pengadilan, dan berharap ia masuk penjara seumur hidup. Tapi kau tak pernah memikirkan gugatan. Kau akan menggugat bajingan jalanan? Pengacara paling lapar sekalipun tidak akan mengambil kasus seperti itu. Mereka akan memakaimu sebab kau akan pergi pada mereka, mengatakan pada mereka bahwa mereka punya kasus, dan katakan kau bisa mendapatkan empat juta dolar dengan penyelesaian yang sangat rahasia dan cepat" "Empat juta dolar," Clay mengulangi, tak yakin apakah itu terlalu banyak atau terlalu sedikit. "milah risiko kami, Clay. Kalau Tarvan sampai diketahui pengacara entah siapa, dan terus terang, kau adalah yang pertama mencium adanya masalah, maka ada kemungkinan

persidangan. Anggap saja orang itu pengacara sidang yang tangguh dan berhasil memilih anggota juri yang seluruhnya kulit hitam di D.C. sini." Ttu cukup gampang." 'Tentu saja itu gampang. Dan katakanlah pengacara ini entah bagaimana, mendapatkan bukti-bukti yang benar. Mungkin beberapa dokumen yang terlewat tidak dimusnahkan. Kemungkinan lebih besar, ada seseorang _yang bekerja untuk klienku buka mulut. Pokoknya, persidangan itu sepenuhnya berpihak pada keluarga almarhum. Kemungkinan akan jatuh vonis ganti kerugian yang sangat besar. Lebih parah lagi, setidaknya bagi klienku, publisitas negatifnya akan sangat mengerikan. Nilai sahamnya bisa runtuh. Bayangkan yang terburuk, Clay, lukis sendiri mimpi burukmu, dan percayalah padaku, orang-orang ini juga melihatnya. Mereka melakukan sesuatu yang buruk. Mereka mengetahuinya, dan ingin meluruskannya. Tapi mereka juga berusaha membatasi kerusakan di sini." "Empat juta itu murah sekali." "Ya dan tidak. Ambil saja Ramon Pumphrey sebagai contoh. Umur dua puluh dua, bekerja paro-waktu, penghasilannya enam ribu dolar setahun. Dengan tingkat harapan hidup normal hingga lima puluh tiga tahun lebih, dan dengan asumsi pendapatan tahunannya dua kali upah minimum, maka nilai ekonomis hidupnya, dihitung dengan nilai dolar saat ini, adalah sekitar setengah juta dolar. Itulah nilainya." "Sanksi ganti rugi tentu mudah didapatkan" 'Tergantung. Kasus ini akan sangat sulit dibuktikan, Clay, sebab tidak ada dokumen apa pun. Berkas-berkas yang kauambil kemarin tidak akan mengungkapkan apa pun. Konselor-konselor di

D Camp dan Clean Streets tidak tahu obat apa yang mereka berikan. FDA tidak pernah mendengar tentang Tarvan. Klienku siap membelanjakan satu miliar dolar untuk membayar pengacara dan para pakar dan siapa saja yang mereka butuhkan untuk melindungi mereka. Litigasi akan jadi perang sebab klienku begitu bersalah!" "Enam kali empat berarti 24 juta." 'Tambahkan sepuluh juta untuk pengacaranya." "Sepuluh juta?" "Ya, itulah kesepakatannya, Clay. Sepuluh untukmu." "Kau pasti bercanda." "Sangat serius. Tiga puluh juta, total. Dan bisa menuliskan ceknya sekarang juga." "Aku perlu pergi berjalan-jalan." "Bagaimana dengan makan siangnya?" 'Tidak, terima kasih." BeRJALAN kaki tanpa tujuan tertentu di depan Gedung Putih. Hilang sejenak di antara sekelompok turis Belanda yang memotret dan menunggu Presiden melambaikan tangan pada mereka, lalu berjalan kaki melintasi Lafayette Park di mana para tunawisma menghilang di siang hari, lalu ke bangku panjang di Farragut Square tempat ia makan sandwich dingin tanpa merasakan apa pun. Semua indranya tumpul, segala pikiran melamban dan kacau balau. Saat itu bulan Mei, tapi udara tidak bersih. Kelembapan sedikit pun tidak membantunya berpikir. Ia membayangkan dua belas wajah berkulit hitam duduk di boks juri, orang-orang yaag geram dan sudah seminggu mendengarkan sejarah Tarvan yang mengguncang perasaan. Ia berbicara pada mereka dalam pidato akhirnya: "Mereka membutuhkan tikus-tikus laboratorium berkulit hitam, bapak-ibu sekalian, lebih disukai warga Amerika sebab di sinilah uang berada. Jadi

mereka membawa Tarvan yang hebat itu ke kota kita." Dua belas wajah itu menyimak setiap patah kata dan mengangguk setuju, tak sabar untuk pergi dan memutuskan keadilan. . Berapakah vonis terbesar dalam sejarah dunia/ Apakah Guinness Book punya catatan rekor seperti 9 itu? Berapa pun nilainya, dirinyalah yang menentukan jumlahnya. "Pikirkan sendiri sisanya, saudarasaudara anggota juri." Kasus ini tidak akan pernah disidangkan; takkan ada juri yang mendengarnya. Siapa pun pembuat Tarvan siap menghamburkan, jauh lebih banyak dari 34 juta dolar untuk mengubur kejadian sebenarnya. Dan mereka akan menyewa segala macam preman untuk mengancam, mencuri dokumen, menyadap telepon, dan membakar kantor, apa saja yang perlu dilakukan agar rahasia mereka tidak terungkap di hadapan dua belas wajah marah itu. Ia memikirkan Rebecca. Betapa ia akan jadi wanita yang berbeda begitu terbungkus dalam kemewahan uangnya. Betapa cepat ia akan meninggalkan segala kekhawatiran Capitol Hill dan mengundurkan diri dalam kehidupan sebagai ibu. Ia akan menikahi Clay dalam waktu tiga bulan, atau secepat Barb bisa merencanakan segalanya. Ia memikirkan keluarga Van Horn, tapi, anehnya, bukan sebagai orang-orang yang ia kenal. Mereka sudah keluar dari kehidupannya; ia mencoba melupakan mereka. Ia bebas dari orang-orang itu, sesudah empat tahun dalam pasungan. Mereka tidak akan pernah lagi menyiksanya Ia akan terbebas dari banyak hal lain. Satu jam berlalu. Ia mendapati dirinya berada di DuPont Circle, menatap jendela-jendela

berbagai toko kedi yang menghadap Massachusetts Avenue; buku langka, piring langka, kostum langka; orang langka di mana-mana. Ada cermin pada bagian depan sebuah toko, dan ia memandang mata sendiri lurus-lurus dan bertanya dengan suara keras pada diri sendiri apakah Max si pemadam kebakaran benar nyata atau penipu atau hantu. Ia berjalan sepanjang trotoar, muak dengan pemikiran bahwa perusahaan terhormat bisa memaksa orang-orang paling lemah yang dapat ia temukan, lalu beberapa detik kemudian tergetar oleh prospek mendapatkan uang lebih banyak daripada yang pernah ia impikan. Ia butuh ayahnya. Jarrett Carter tentu tahu apa yang harus dilakukan. Satu jam lagi berlalu. Ia diharapkan berada di kantor untuk menghadiri rapat staf mingguan entah apa. "Pecat saja aku," gumamnya sambil tersenyum. Beberapa lama ia melihat-lihat di Kramerbooks, toko buku favoritnya di D.C. Mungkin tak lama lagi ia-bisa pindah dari bagian paperback yang murah ke bagian hardback. Ia bisa mengisi dinding-dinding barunya dengan deretan buku. Pukul 15.00, sesuai jadwal, ia berjalan ke bagian belakang Kramer's, memasuki kafe, dan di sanalah Max Pace, duduk seorang diri, minum jus, sambil menunggu. Ia jelas' gembira.melihat Clay lagi. "Apakah kau mengikuti aku?" Clay bertanya, duduk dan menjejalkan tangan ke dalam saku celana. "Tentu saja. Mau minum?" "Bagaimana kalau aku memasukkan gugatan besok, atas nama keluarga Ramon Pumphrey? Satu kasus ini saja nilainya bisa lebih daripada yang kautawarkan untuk enam orang seluruhnya." Pertanyaan itu sepertinya sudah diantisipasi. Max telah

siap dengan jawaban. "Kau akan menghadapi daftar masalah yang panjang. Mari kuberitahukan tiga masalah teratas. Pertama, kau tidak tahu siapa yang harus digugat. Kau tidak tahu siapa yang membuat Tarvan. dan ada kemungkinan tak seorang pun akan pernah mengetahuinya. Kedua, kau tidak punya uang untuk bertarung dengan klienku. Paling tidak, kau butuh sepuluh juta dolar untuk melakukan serangan berkelanjutan. Ketiga, kau akan kehilangan peluang untuk mewakili semua penggugat yang sudah diketahui. Kalau kau tidak mengatakan ya secepatnya, aku siap pergi ke pengacara selanjurnya dalam daftarku dengan tawaran yang sama. Tujuanku adalah membereskan persoalan ini dalam waktu tiga puluh hari." "Aku bisa saja pergi ke biro hukum besar yang biasa menangani gugatan ganti kerugian." Ta, dan itu akan menimbulkan lebih banyak masalah. Pertama kau harus merelakan sedikitnya setengah dari uang jasamu. Kedua, akan butuh lima tahun, atau mungkin lebih, sebelum ada hasil. Ketiga, biro hukum terbesar di bidang ini bisa dengan mudah kalah dalam kasus ini. Kejadian sebenarnya, Clay, mungkin takkan pernah terungkap." "mi seharusnya diketahui orang." "Mungkin, tapi aku tidak peduli bagaimana seharusnya Tugasku adalah membungkam persoalan; memberikan kompensasi layak kepada korban, lalu menguburkannya selama-lamanya. Jangan bodoh, temanku." "Kita bukan teman." "Benar, tapi kita makin mendekati status itu." "Kau punya daftar pengacara?" "Ya, aku punya dua nama lagi, keduanya sangat mirip denganmu." "Dengan kata lain, mereka

lapar." "Ya, kau lapar. Tapi kau juga cerdas." "Begitulah kata orang. Dan aku punya pundak lebar. Dua pengacara itu ada di kota ini?" "Ya, tapi sebaiknya tidak usah kaupikirkan mereka. Hari ini hari Kamis. Aku butuh jawaban Senin siang. Kalau tidak, aku akan pergi ke orang berikut." "Apakah Tarvan digunakan di kota lain di AS?" 'Tidak, hanya di D.C." "Dan berapa orang pernah diobati dengannya?" *¦ "Seratus, kurang-lebih." Clay minum air es yang diletakkan pelayan di dekatnya. "Jadi masih ada beberapa pembunuh lagi di luar sana?" "Kemungkinan. Tak perlu dikatakan, kami menunggu dan mengawasi dengan kekhawatiran besar." 'Tidak bisakah kau menghentikan mereka?" "Menghentikan pembunuhan jalanan di D.C? Tak seorang pun bisa meramalkan Tequila Watson akan pergi meninggalkan D Camp dan dalam dua jam membunuh orang. Tidak pula dengan Washad Porter. Tarvan tidak memberikan petunjuk apa pun tentang siapa yang mungkin mengalami gangguan itu, juga kapan mereka akan mengalaminya. Ada beberapa bukti bahwa sesudah sepuluh hari tanpa obat itu, orang.jadi tidak berbahaya lagi. Tapi semua itu masih spekulatif." "Jadi pembunuhan-pembunuhan itu seharusnya berhenti hanya dalam beberapa hari?" "Kami mengharapkan begitu. Aku berharap kami bisa bertahan hingga akhir pekan ini." "Klienmu seharusnya masuk penjara." "Klienku adalah sebuah perusahaan." "Perusahaan pun bisa didituntut bertanggung jawab melakukan tindak pidana." "Sebaiknya jangan berdebat soal itu, oke? Tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kita perlu memusatkan perhatian padamu

dan apakah kau mampu menghadapi tantangan ini." "Aku yakin kau punya rencana." "Ya, sangat terperinci." *Aka berhenti dari pekerjaan yang sekarang, lalu apa?" Pace mendorong minumannya ke samping dan mencondongkan badan lebih rendah, seolah ada sesuatu yang bagus untuk disampaikan. "Dirikan biro hukum sendiri. Sewa kantor, lengkapi dengan perabotan bagus, dan seterusnya. Kau harus menjual jasa, Gay, dan satu-satunya cara untuk melakukan hal itu adalah tampil, dan bertindak seperti pengacara pengadilan yang sangat sukses. Klien-klien potensialmu akan dibawa ke kantormu. Mereka perlu mendapatkan kesan bagus. Kau akan perlu staf dan pengacara lain untuk bekerja padamu. Percayalah padaku. Aku dulu pun pengacara. Klien ingin kantor-kantor bagus. Mereka ingin melihat keberhasilan. Kau akan mengatakan kepada orang-orang ini bahwa kau bisa mendapatkan uang ganti kerugian empat juta dolar." "Empat juta terlalu murah." "Nanti, oke? Kau harus kelihatan berhasil; itulah maksudku." "Aku mengerti maksudmu. Aku besar di biro hukum yang sangat sukses." "Kami tahu. Itulah salah satu yang kami sukai pada dirimu." "Seberapa sulitkah mendapatkan ruang kantor saat ini?" "Kami menyewa ruang kantor di Connecticut Avenue. Kau mau melihatnya?" Mereka meninggalkan Kramer's melalui pintu belakang dan berjalan di trotoar seperti dua sahabat lama yang berjalan-jalan. "Apakah aku masih dikuntit?" Clay bertanya. "Kenapa?" "Oh, entahlah. Cuma ingin tahu. Itu tidak terjadi setiap hari. Aku cuma ingin tahu apakah aku akan ditembak kalau melarikan diri." Pace benar-benar terkekeh

mendengar ucapan ini. "Itu agak absurd, bukan?" "Benarbenar konyol." "Klienku sangat resah, Clay." "Dengan alasan yang kuat." "Saat ini mereka punya puluhan orang di kota, mengawasi, menunggu, berdoa semoga tidak ada pembunuhan lagi. Dan mereka berharap kau jadi orang yang menyampaikan kesepakatan ini." "Bagaimana dengan masalah etika?" "Yang mana?" "Aku bisa menyebutkan dua hal—konflik kepentingan dan dorongan untuk melakukan litigasi tidak benar." "Itu lelucon. Coba lihatlah papan-papan iklan itu." Mereka berhenti di perempatan. "Saat ini aku mewakili tersangka," kata Clay sewaktu mereka menunggu. "Bagaimana aku bisa menyeberang begitu saja dan mewakili korbannya?" "Lakukan saja. Kami sudah meriset segala kitab suci etika. Memang agak repot, tapi tidak ada pelanggaran apa pun. Begitu kau mengundurkan diri dari OPD, kau bebas membuka kantor sendiri dan menerima perkara." "Itu bagian yang gampang. Bagaimana dengan Tequila Watson? Aku tahu mengapa ia melakukan pembunuhan. Aku tidak bisa menyembunyikan pengetahuan itu darinya, atau dari pembelanya yang akan datang" "Mabuk atau terpengaruh obat-obatan bukanlah pembelaan untuk tindak kejahatan. Ia bersalah. Ramon Pumphrey sudah meninggal. Kau harus melupakan Tequila." Mereka berjalan lagi. "Aku tidak suka jawaban itu," kata Clay. "Itulah jawaban terbaik yang kupunya. Kalau kau mengatakan tidak padaku dan terus mewakili klienmu, pada akhirnya akan mustahil bagimu untuk membuktikan ia pernah memakai obat bernama Tarvan. Kau akan tahu,

tapi kau tidak akan bisa membuktikannya. Kau akan tampak tolol menggunakan itu sebagai dalih pembelaan." "Itu mungkin bukan pembelaan, tapi bisa jadi alasan yang meringankan." "Hanya kalau kau bisa membuktikannya, Clay. Di sini" Mereka berada di Connecticut Avenue, di depan gedung modern memanjang dengan gerbang masuk tiga tingkat terbuat dari kaca dan perunggu. Clay menengadah dan berkata, "Distrik dengan biaya sewa yang mahal." "Ayo. Kau di lantai empat, kantor di sudut dengan pemandangan yang fantastis." Di serambi luas berlapis marmer, sebuah direktori menunjukkan apa dan siapa di dunia hukum D.C. "Ini sama sekali bukan tempatku," Clay berkata sewaktu membaca nama biro-biro hukum itu. "Bisa jadi," kata Max. "Bagaimana kalau aku tidak ingin di sini?" 'Itu terserah padamu. Kami hanya kebetulan punya tempat. Kami akan mengontrakkannya padamu dengan harga yang sangat ringan." "Kapan kau menyewanya?" "Jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan, Clay. Kita berada dalam tim yang sama." "Belum." Karpet sedang digelar dan dinding-dinding kantor Clay di lantai empat itu sedang dicat. Karpet mahal. Mereka berdiri di dekat jendela kantor yang luas dan kosong dan mengamati: lalu lintas Connecticut Avenue di bawah. Ada seribu hal yang harus dilakukan untuk membuka biro hukum baru, dan ia hanya bisa memikirkan seratus. Dan ia punya firasat Max punya segala jawabannya. "Bagaimana pendapatmu?" tanya Max. "Aku tidak terlalu bisa berpikir saat ini. Segalanya buram." "Jangan lewatkan peluang ini, Clay. Ini tidak akan pernah

datang lagi. Dan jam terus berdetik." "Rasanya seperti tidak nyata." "Kau bisa membereskan anggaran dasar biro hukummu secara online, butuh sekitar satu jam. Pilih sebuah bank, buka rekening. Kop surat dan hal-hal semacamnya bisa dikerjakan dalam semalam. Kantor bisa selesai dan didekorasi dalam waktu beberapa hari. Rabu depan kau bisa duduk di sini, di belakang meja kerja bagus, mengelola pertunjukanmu sendiri." "Bagaimana aku mendapatkan kasus-kasus lainnya?" Teman-temanmu Rodney dan Paulette. Mereka kenal kota ini dan orangorangnya. Pekerjakanlah mereka naikkan gaji mereka tiga kali lipat, beri mereka kantor bagus di gang sana. Mereka bisa bicara pada para keluarga korban. Kami akan membantu." "Kau sudah memikirkan segalanya," Ta Segalanya. Aku menjalankan mesin yang sangat efisien, mesin yang sedang bekerja nyaris dalam keadaan siaga satu. Kami bekerja dua puluh empat jam, Clay. Kami cuma butuh ujung tombak." Dalam perjalanan ke bawah, lift berhenti di lantai tiga. Tiga laki-laki dan seorang wanita melangkah masuk, semuanya berpakaian bagus dan terawat dan membawa tas kerja kulit yang mahal, dengan aura orang penting yang ada pada diri pengacarapengacara di biro hukum besar. Max begitu asyik dengan penuturannya sehingga tak melihat mereka. Namun Clay memperhatikan mereka—tindak tanduk mereka, cara bicara mereka yang terjaga, keseriusan mereka, keangkuhan mereka. Ini pengacara-pengacara besar, pengacara-pengacara penting, dan mereka tidak menganggapnya ada. Tentu saja, dalam celana khaki tua

dan pantofel butut, ia sama sekali tidak mencerminkan citra sesama anggota Pengacara D.C. Hal itu bisa berubah dalam semalam, bukan? Ia mengucapkan selamat tinggal pada Max dan kembali berjalan kaki, kali ini kuranglebih ke arah kantornya. Ketika ia akhirnya tiba, tak ada catatan mendesak di mejanya. Rapat yang tidak dihadirinya rupanya tak banyak dihadiri yang lainnya. Tak seorang pun menanyakan ke mana ia tadi. Tak seorang pun sepertinya menyadari bahwa siang ini ia tidak ada di tempat. Kantornya tiba-tiba jadi jauh lebih sempit, dan lebih kumal, dan perabotannya kusam bukan main. Ada setumpuk berkas di meja-kerjanya, kasus-kasus yang kini tak bisa dipikirkan otaknya. Lagi pula, semua kliennya ini penjahat. Peraturan OPD mensyaratkan pemberitahuan tiga puluh hari sebelum mengundurkan diri. Akan tetapi, peraturan itu tidak ditegakkan karena memang tak bisa ditegakkan. Orang-orang setiap saat berhenti dengan pemberitahuan mendadak atau tanpa pemberitahuan apa pun. Glenda akan menulis surat ancaman. Ia akan menulis surat balasan yang menyenangkan, dan urusan pun selesai. Sekretaris terbaik di kantor itu adalah Miss Glick, pahlawan kawakan yang mungkin akan langsung menerkam kesempatan untuk meraih dua kali gaji sekarang dan meninggalkan suramnya kantor OPD. Kantor Clay akan jadi tempat yang menyenangkan untuk bekerja, demikian ia memutuskan. Gaji, bonus, libur panjang, bahkan mungkin pembagian laba. Ia menghabiskan satu jam terakhir hari kerja itu di balik pintu yang terkunci, menyusun rencana, mencuri pegawai, «berdebat dengan

diri sendiri mengenai pengacara dan paralegal mana yang mungkin cocok. Ia menemui Max Pace untuk ketiga kalinya hari itu, untuk makan malam, di Old Ebbitt Grille, di Fifteenth Street, dua blok di belakang Hotel Willard. Ia terkejut ketika Max mulai dengan martini, dan ini membuatnya jauh lebih santai. Tekanan situasi mulai .berkurang akibat minum gin, dan Max jadi orang yang nyata: Ia pernah menjadi pengacara di California, sebelum peristiwa malang mengakhiri kariernya di sana. Melalui beberapa kontak, ia menemukan tempat di dunia lrtigasi sebagai pemadam kebakaran. Pemberes masalah. Agen yang dibayar mahal untuk diam-diam menyelinap masuk membersihkan kekacauan, dan menyelinap ke luar tanpa jejak. Sambil menyantap steak dan sesudah botol pertama anggur Bordeaux, Max mengatakan ada hal lain yang sudah menunggu Max sesudah Tarvan. "Sesuatu yang jauh lebih besar," kata Max, dan ia benar-benar melirik sekeliling restoran untuk mengamati apakah ada matamata yang mendengarkan. "Apa?" Clay bertanya sesudah menunggu lama. Sekali lagi Max mengamati kalau-kalau ada pe-nguping, lalu berkata, "Klienku punya pesaing yang melepaskan obat buruk di pasar. Tak ada yang tahu soal ini. Obat tersebut mengungguli obat kami. Tapi klienku sekarang punya bukti andal bahwa obat jelek itu memicu tumor. Klienku menunggu momen yang tepat untuk menyerang.". "Menyerang?" . "Ya, gugatan class-action yang diajukan pengacara muda dan agresif yang memiliki bukti-bukti tepat." "Kau menawari aku kasus lain?" "Ya. Kau terima kasus Tarvan ini, bereskan urusannya dalam

tiga puluh hari, lalu kami akan serahkan padamu berkas perkara yang bernilai jutaan dolar." "Lebih besar daripada Tarvan?" "Jauh lebih besar." Mendengar itu, Clay berhasil dengan susah payah menghabiskan setengah filet mignonnya tanpa merasakan apa-apa. Setengah lainnya tak tersentuh. Ia sangat kelaparan tapi tak punya selera. "Mengapa aku?" ia bertanya, lebih pada diri sendiri daripada kepada teman barunya itu. "Itu pertanyaan yang sama dengan yang diajukan pemenang lotre. Kau telah memenangkan lotre, Clay. Lotre ahli hukum. Kau cukup pintar untuk mengendus jejak Tarvan, dan pada saat yang kama kami sangat membutuhkan pengacara muda yang bisa kami percaya. Kita saling menemukan, Clay, dan kita punya peluang singkat ini di mana kau membuat keputusan yang akan mengubah arah hidupmu. Katakan ya, dan kau akan jadi pengacara yang sangat besar. Katakan tidak maka kau kalah lotre." "Aku mengerti maksudmu. Aku butuh waktu untuk berpikir, untuk menjernihkan pikiran." "Kau punya waktu selama akhir pekan ini." "Terima kasih. Dengar, aku akan bepergian sebentar, berangkat pagi, kembali Minggu malam. Menurutku, kalian sama sekali tidak perlu menguntitku." "Boleh aku tanya ke mana?" , "Abaco, di kepulauan Bahama." "Untuk menemui ayahmu?" Clay terperanjat, tapi sebenarnya ia tak perlu kaget "Ya," katanya. "Untuk apa?" "Bukan urusanmu. Untuk memancing." "Maaf, tapi kami sangat cemas. Kuharap kau mengerti." "Tidak Aku akan memberikan informasi penerbanganku, tapi jangan buntuti aku, oke?" "Kau boleh pegang janjiku." PuLAU Abaco Besar adalah sekeping

daratan sempit panjang di ujung utara kepulauan Bahama, sekitar 160 kilometer sebelah selatan Florida. Clay pernah sekali ke sana, empat tahun yang lalu ketika ia mampu mengumpulkan cukup uang untuk tiket pesawat Perjalanan itu libur akhir pekan panjang, di mana Clay merencanakan mendiskusikan persoalan-persoalan serius dengan ayahnya dan menceritakan beberapa persoalan. Hal itu tidak terjadi. Jarrett Carter masih terlalu memikirkan aibnya dan hanya asyik minum rum punch dari siang hingga malam. Ia bersedia berbicara tentang apa saja kecuali hukum dan pengacara. Kunjungan ini akan berbeda. Clay tiba menjelang sore dengan pesawat turboprop Coconut Air yang sangat panas dan sesak. Petugas di Pabean melihat sepintas paspornya dan melambaikan tangan menyuruhnya lewat Perjalanan dengan taksi ke Marsh Harbor butuh waktu lima menit, di sisi jalan yang berkebalikan dengan Amerika. Pengemudinya suka mendengarkan musik gospel keras-keras dan Clay malas memprotes. Ia juga malas memberi tip. Ia keluar dari mobil itu di pelabuhan dan pergi mencari ayahnya. Jarrett Carter pemah mengajukan gugatan terhadap Presiden Amerika Serikat, dan meskipun ia kalah, pengalaman itu mengajarkan padanya bahwa setiap tergugat sesudah itu merupakan sasaran yang lebih mudah. Ia tidak takut terhadap siapa pun, di pengadilan maupun di luarnya. Reputasinya aman berkat satu kemenangan besar—vonis besar atas tuduhan malapraktik oleh Ketua Ikatan Dokter Amerika, dokter yang baik tetapi melakukan kesalahan ketika melakukan pembedahan. Juri yang tak kenal

kasihan di sebuah county yang konservatif menjatuhkan vonis itu, dan Jarrett Carter tiba-tiba menjadi pengacara sidang yang dicari orang. Ia mengambil kasus-kasus paling berat, memenangkan sebagian besar di antaranya, dan pada umur empat puluh tahun menjadi litigator dengan reputasi luas. Ia mendirikan biro hukum yang dikenal karena cara-caranya yang tak kenal ampun di ruang sidang. Clay tak pernah meragukan ia akan mengikuti ayahnya dan menghabiskan kariernya di sidang-sidang pengadilan. Roda nasib berputar ketika Clay kuliah di college. Perceraian yang kisruh menguras uang Jarrett. Biro hukumnya mulai terpecah belah karena para partner yang saling menggugat. Tak bisa mencurahkan perhatian, Jarrett bekerja dua tahun tanpa memenangkan satu perkara pun, dan reputasinya rusak hebat. Ia melakukan kesalahan terbesar ketika ia dan akuntannya mulai mengutak-atik pembukuan—menyembunyikan pendapatan, menggelembungkan pengeluaran. Ketika mereka ditangkap, si akuntan bunuh diri tapi Jarrett tidak. Tapi ia hancur, dan penjara rasanya tak terelakkan. Untungnya, jaksa yang bertanggung jawab atas gugatan itu adalah teman lamanya di sekolah hukum. Rincian kesepakatan mereka akan tetap merupakan rahasia gelap. Tak pernah ada gugatan, hanya kesepakatan tidak resmi di mana Jarrett diam-diam menutup kantornya, menyerahkan izin berpraktik hukum, dan meninggalkan negeri ini. Ia kabur tanpa apa pun, meskipun* orang-orang yang dekat dengan perkara itu menduga ia telah menyembunyikan sesuatu di luar negeri. Clay tak pernah

melihat indikasi adanya harta simpanan seperti itu. Maka Jarrett Carter yang hebat menjadi kapten perahu memancing di Bahama, sesuatu yang bagi beberapa orang kedengaran seperti kehidupan yang sangat menyenangkan. Clay mendapatinya di perahu, Wavedancer ukuran enam puluh kaki yang terselip di marina yang penuh sesak. Perahu-perahu sewaan lainnya sedang kembali dari melaut sesiangan. Nelayan-nelayan dengan kulit terbakar mengagumi tangkapan mereka. Lampu kilat kamera-kamera menyambar. Kuli-kuli Bahama hilir-mudik menurunkan kotak-kotak pendingin berisi ikan kerapu dan tuna. Mereka mengangkati tas-tas berisi botol dan kaleng bir kosong. Jarrett berada di haluan dengan slang air" di satu tangan dan spons di tangan lainnya. Clay mengamatinya beberapa saat, tak mau menyela orang yang sedang bekerja. Ayahnya jelas tampak seperti salah satu ekspatriat perantauan yang kabur dari tanah air— bertelanjang kaki dengan kulit bak disamak, janggut kelabu ala Hemingway, kalung perak melingkar di leher, topi pancing berparuh panjang, kemeja katun putih tua dengan lengan digulung hingga bisep. Kalau bukan karena perut yang- sedikit membuncit karena bir, Jarrett pasti kelihatan cukup bugar. "Wah, kejutan!" ia. berseru ketika melihat putranya. "Perahu yang bagus," Clay berkata sambil melangkah ke atasnya. Jabatan tangan yang erat, tapi tak lebih dari itu. Jarrett bukan tipe yang suka memperlihatkan perasaan kasih sayang, setidaknya pada anaknya. Beberapa mantan sekretaris pernah menuturkan beberapa cerita yang berbeda. Ia mencium bau keringat kering, air

laut, bir basi—seharian di laut. Celana pendek dan kemeja putihnya kotor. "Y eah, milik seorang dokter di Boca. Kau kelihatan sehat." "Kau juga." "Aku sehat, itulah yang penting. Ambillah bir." Jarrett menunjuk kotak pendingin di dek. Mereka membuka tutup kalengnya dan duduk di kursi kanvas sementara sekelompok pemancing berjalan terseret-seret di sepanjang dermaga. Perahu itu bergoyang lembut "Hari yang sibuk, heh?" kata Clay. "Kami berangkat sejak matahari terbit, disewa ayah dan dua anak lelakinya, bocah-bocah besar dan kuat, mereka semua atlet angkat besi serius. Dari New Jersey entah bagian mana. Belum pernah aku menyaksikan begitu banyak otot di satu kapal. Mereka menarik ikan gergaji berbobot lima puluh kilogram dari laut seperti menarik ikan trout saja." Dua wanita berumur empat puluhan berjalan lewat membawa ransel kecil dan perlengkapan memancing. Mereka tampak terbakar matahari dan letih, seperti semua pemancing lain. Salah satunya agak gemuk, yang lain tidak, tapi Jarrett mengamati mereka hingga menghilang dari pandangan. Caranya memandang nyaris membuat jengah. "Apakah kau masih punya kondo?" Clay bertanya. Kondominium yang ia lihat empat tahun yang lalu adalah apartemen dua kamar yang usang di sisi belakang Marsh Harbor. "Y eah, tapi aku tinggal di perahu ini sekarang. Pemiliknya jarang datang, jadi aku tinggal saja di sini. Di dalam kabin sana ada sofa untukmu." "Kau tinggal di perahu ini?" "Ya, perahu ini ber-AC, luas. Biasanya hanya aku yang ada di sini, kau tahu." Mereka meneguk bir dan mengawasi sekelompok pemancing lain

berjalan lewat. "Besok ada penyewa," Jarrett berkata. "Kau mau ikut?" "Apa lagi yang bisa kulakukan di sini?" "Ada beberapa badut dari Wall Street yang ingin berangkat pukul tujuh besok pagi." "Kedengarannya menarik." "Aku lapar," Jarrett berkata, sambil melompat berdiri dan melemparkan kaleng bir ke dalam tempat sampah. "Ayo pergi." Mereka berjalan menyusuri dermaga, melewati puluhan perahu berbagai jenis. Di perahu-perahu layar itu orang-orang mulai makan malam. Para kapten perahu minum bir dan bersantai. Mereka semua menyerukan sesuatu pada Jarrett, yang menjawab masing-masing pertanyaan dengan cepat. Ia masih bertelanjang kaki. Clay berjalan selangkah di belakangnya dan berpikir, Itulah ayahku, Jarrett Carter yang hebat, kini gelandangan pantai bertelanjang kaki dalam celana pendek kusam dan kemeja tak dikancing, sang raja di Marsh Harbor. Dan orang yang sangat tidak bahagia. Bar Blue Fin penuh orang dan bising. Jarrett sepertinya kenal setiap orang. Sebelum mereka bisa mendapatkan dua kursi yang bersebelahan, pelayan bar sudah menghidangkan dua gelas tinggi berisi.rum punch untuk mereka. "Cheers" Jarrett berkata, sambil menyentuhkan gelasnya pada gelas Clay, lalu meneguk setengahnya Percakapan serius tentang memancing kemudian ditimpali kapten lain dan untuk beberapa lama Clay terabaikan. Itu tidak jadi soal baginya. Jarrett menghabiskan rum punch pertama dan berseru memesan berikutnya. Lalu yang berikutnya lagi. Hidangan pesta sedang disiapkan di meja bundar besar di salah satu sudut. Pirmg-piring berisi lobster, kepiting dan udang

diletakkan di tengah. Jarrett memberi tanda kepada Clay untuk mengikutinya, dan mereka duduk di depan meja tersebut bersama setengah lusin orang lain. Musiknya keras, percakapannya lebih keras lagi. Setiap orang di sekeliling meja itu berusaha keras untuk mabuk, dengan dipimpin Jarrett. Pelaut di sebelah kanan Clay adalah hippie tua yang katanya menghindari perang Vietnam dan membakar surat panggilan milisinya. Ia menolak segala gagasan demokratis, termasuk pajak penghasilan dan pendapatan. "Sudah tiga puluh tahun berkeliling Karibia," ia membual dengan mulut penuh udang. "FBI bahkan tidak tahu aku ada." Clay curiga FBI tidak menaruh minat apakah laki-laki ini ada atau tidak, dan itu berlaku juga pada semua orang aneh yang kini makan malam bersamanya. Pelaut, kapten kapal, nelayan purnawaktu, semua lari dari sesuatu—kewajiban memberikan tunjangan pada mantan istri, pajak, gugatan, perjanjian bisnis yang tak keruan. Mereka membayangkan diri sebagai kaum pemberontak, nonkonformis, jiwa-jiwa merdeka—bajakbajak laut modern, jauh terlalu modern untuk dibatasi peraturan-peraturan normal masyarakat. Angin topan pernah.melanda Abaco dengan hebat pada musim panas sebelumnya, dan Kapten Floyd, lelaki bersuara paling keras di meja itu, sedang bertarung dengan perusahaan asuransi. Hal ini memancing serentetan cerita tentang angin topan, yang, tentu saja, memerlukan satu putaran rum punch lagi. Clay berhenti minum; ayahnya tidak. Jarrett jadi bicara lebih keras dan lebih mabuk, sama seperti yang lainnya di meja itu. Sesudah dua jam, makanan pun habis

tetapi rum punch terus datang. Pelayan menghidangkannya dalam pitcher sekarang, dan Clay memutuskan keluar secepatnya. Ia meninggalkan meja tanpa disadari siapa pun dan menyelinap ke luar dari Blue Fin. Begitulah makan malam yang tenang bersama Dad. Ia terjaga dalam kegelapan karena suara ayahnya hilir-mudik di kabin bawah, bersiul keras, bahkan menyanyikan lagu yang samar-samar kedengaran seperti ciptaan Bob Marley. "Bangun!" Jarrett berseru. Perahu itu bergoyang-goyang, tapi bukan karena air tapi lebih karena sikap Jarrett yang bising menghadapi hari baru. Clay tetap berbaring di sofa pendek dan sempit itu beberapa lama mencoba mengingat di mana dirinya berada, dan ia teringat pada legenda tentang Jarrett Carter. Ayahnya selalu berada di kantor sebelum pukul 06.00, sering kali pukul 05.00 dan kadang-kadang pukul 04.00. Enam hari seminggu, kadang tujuh. Ia melewatkan sebagian besar pertandingan bisbol dan football Clay sebab terlalu sibuk Ia tak pernah pulang sebelum gelap, dan sering kali sama sekali tidak pulang. Ketika Clay beranjak dewasa dan bekerja di biro hukumnya, Jarrett terkenal suka menggilas para associate muda dengan tumpukan pekerjaan. Sewaktu perkawinannya memburuk ia tidur di kantor, kadangkadang seorang diri. Tak peduli apa pun kebiasaan buruknya, Jarrett ! selalu bangun pagi, dan selalu sebelum orang lain j bangun. Ia suka minum, tapi bisa berhenti ketika j alkohol ikut mempengaruhi pekerjaan. Ja tidak buruh tidur pada hari-hari kejayaannya, dan rupanya beberapa kebiasaannya tidak mau mati. Ia melewati sofa

sambil bernyanyi keras dan menyebarkan wangi orang yang habis mandi pagi dan aftershave murahan. "Ayo berangkat!" ia berteriak. Sarapan tak pernah disinggung. Clay mandi cepat i dengan air dingin di dalam bilik sempit yang disebut kamar mandi. Ia tidak menderita klaustrofobia, tapi j membayangkan tinggal terkurung di dalam perahu yang sempit ini membuatnya berkunangkunang. Di luar awan tebal dan udara sudah hangat. Jarrett berada di anjungan, mendengarkan radio, mengernyit memandang langit. "Kabar buruk," katanya. "Ada apa?" "Ada badai besar datang. Mereka meramalkan akan turun hujan lebat sepanjang hari." "Pukul berapa sekarang?" "Setengah tujuh:" "Pukul berapa kau pulang tadi malam?" "Kau bicara seperti ibumu saja. Kopi ada di sana." Clay menuangkan kopi kental ke cangkir dan duduk di sebelah kemudi. Wajah Jarrett ditutupi kacamata hitam tebal, janggut, dan paruh topinya. Clay curiga matanya menunjukkan sisa mabuk hebat, tapi tak seorang pun tahu hal itu. Siaran radio ramai dengan berita cuaca dan peringatan datangnya badai dari perahu-perahu yang lebih besar di lautan. Jarrett dan kapten-kapten perahu sewaan lain berteriak pada satu sama lain, meneruskan laporan, memberikan prakiraan, menggeleng-gelengkan kepala memandangi awan. Setengah jam berlalu. Tak ada seorang pun yang meninggalkan pelabuhan. "Sialan," pada suatu titik Jarrett berkata. "Satu hari terbuang sia-sia." Empat pialang muda Wall Street itu tiba, semua memakai celana pendek tenis putih, sepatu lari baru, dan topi memancing baru. Jarrett melihat keempat orang itu

mendatangi dan menemui mereka di buritan. Sebelum mereka bisa melompat ke perahu, ia berkata, "Maaf, tidak ada acara memancing hari ini. Akad ada badai." Empat kepala itu menengadah semua untuk memeriksa langit. Pengamatan cepat pada awan membawa keempatnya pada kesimpulan bahwa ramalan cuaca itu keliru. "Kau bercanda." salah satu berkata. "Hanya hujan sedikit," kata yang lain. "Ayo kita coba," kata yang satu lagi. "Jawabannya tidak," kata Jarrett 'Tidak ada yang memancing hari ini." Tapi kami sudah membayar sewa." "Kalian akan menerima kembali uang kalian." Mereka kembali memeriksa awan, yang makin lama makin gelap. Lalu guntur menggelegar, seperti suara meriam di kejauhan. "Maaf, Sobat" Jarrett berkata. "Bagaimana kalau besok?" salah satu bertanya. "Aku sudah dipesan. Maaf," Mereka berjalan pergi, yakin mereka telah diper-daya hingga tak bisa menangkap ikan marlin. Kini sesudah masalah pekerjaan dibereskan, Jarrett pergi ke kotak pendingin dan meraih sekaleng bir. "Mau?" ia bertanya pada Clay. "Pukul berapa sekarang?" "Waktunya untuk minum bir, kurasa." "Aku belum lagi menghabiskan kopiku." Mereka duduk di kursi memancing di dek dan mendengarkan sementara guruh makin keras. Marina jadi sibuk ketika para kapten dan anak buahnya mengikat perahu-perahu mereka dan para pemancing yang tak senang bergegas kembali ke dermaga sambil membawa kotak-kotak pendingin dan tas-tas penuh tabir surya dan kamera. Angin perlahan-lahan mulai makin cepat. "Apakah kau sudah bicara dengan ibumu?" Jarrett bertanya.

"Belum." Sejarah keluarga Carter bagai mimpi buruk, dan mereka berdua tahu untuk tidak membongkarnya. "Kau masih di OPD?" Jarrett bertanya. "Ya, dan aku ingin bicara denganmu tentang itu." "Bagaimana Rebecca?" "Sudah jadi sejarah, kurasa." "Apakah itu baik atau buruk?" "Saat ini rasanya.menyakitkan." "Berapa umurmu sekarang?" "Dua puluh empat tahun lebih muda darimu. Tiga puluh satu." "Benar. Kau masih terlalu muda untuk menikah." 'Terima kasih, Dad." Kapten Floyd bergegas mendatangi di dermaga dan berhenti di perahu mereka. "Gunter ada di sini. Poker sepuluh menit lagi. Ayo berangkat!" Jarrett melompat berdiri, tiba-tiba jadi seperti bocah di pagi hari Natal. "Kau mau ikut?" ia bertanya pada Clay. "Ikut apa?" "Poker." "Aku tidak main poker. Siapa Gunter?" Jarrett mengulurkan tangan dan menunjuk. "Kau lihat yacht ukuran seratus kaki di sana itu. Itu milik Gunter. la pria Jerman tua dengan semiliar dolar dan sekapal penuh gadis-gadis. Percayalah padaku, itu tempat yang lebih baik untuk melewatkan badai." «Ayo berangkat!" Kapten Floyd berseru, sambil berjalan pergi. jarrett memanjat keluar dan perahunya menujui dermaga. "Apakah kau ikut?" serunya kepada Clay. "Tidak." "Jangan konyol. Ini jauh lebih menyenangkan daripada duduk-duduk di sini seharian." Jarrett berjalan pergi mengikuti Kapten Floyd. Clay melambaikan tangan. "Aku akan baca buku." "Terserahlah." Mereka melompat ke sampan kecil bersama pemberontak lain dan melaju di pelabuhan hingga menghilang di belakang yacht-yacht. Itulah terakhir kali Clay melihat ayahnya hingga beberapa bulan. Hanya

begitulah hasil upayanya mendapatkan nasihat. Ia sendirian. 11 ? •*x OUITE itu ada di hotel yang berbeda. Pace berpindah-pindah di D.C. seolah ada mata-mata yang membuntutinya. Sesudah tukar sapa cepat dan tawaran kopi, mereka duduk untuk membicarakan bisnis. Clay bisa melihat bahwa tekanan dari tugas menguburkan rahasia itu mulai mempengaruhi Pace. Ia tampak letih. Gerakan-gerakannya resah. Kata-katanya keluar lebih cepat. Senyumnya hilang. Tak ada pertanyaan tentang acara akhir pekan atau memancing di Bahama sana. Pace hendak memutuskan kesepakatan, apakah dengan Clay Carter atau pengacara berikut dalam daftarnya. Mereka duduk di meja, masing-masing dengan buku catatan, pena siap beraksi. "Aku pikir lima juta untuk tiap nyawa adalah angka yang lebih baik," Clay mulai. "Memang benar mereka anak jalanan yang hidupnya memiliki sedikit nilai ekonomis, tapi apa yang dilakukan klienmu bernilai ganti rugi materiil jutaan dolar. Jadi kita gabungkan nilai aktualnya dengan kemungkinan ganti mgi dan sampai pada angka lima juta." "Orang yang dalam keadaan koma itu meninggal tadi' malam," Pace berkata. "Jadi kita punya enam korban." "Tujuh. Kami kehilangan satu lagi Sabtu pagi. Clay begitu sering mengalikan lima juta dengan juta dengan angka enam sehingga sulit menerima angka baru itu. "Siapa? Di mana?" "Akan kuberikan info kotornya nanti, oke?' Terima i saja bahwa kemarin adalah akhir pekan yang panjang.] Sementara kau memancing, kami memantau semua panggilan telepon darurat ke 911, yang pada akhir pekan yang sibuk di kota ini memerlukan satu

pasuk-] an kecil." "Kau yakin itu kasus Tarvan?" "Kami yakin." Clay menuliskan sesuatu yang tak bermakna dan 1 mencoba menyesuaikan strategi. "Mari kita sepakati I lima juta per nyawa," katanya. "Setuju." Ketika terbang pulang dari Abaco, Clay meyakin- I kan diri sendiri bahwa ini permainan angka nol. I Jangan memikirkannya sebagai uang sebenarnya, ha- I nya sederetan angka 0 sesudah angka tertentu. Untuk j sementara ini, lupakan saja apa yang bisa dibeli ¦ uang tersebut. Lupakan perubahanperubahan dramatis M yang akan terjadi. Lupakan apa yang mungkin di- j lakukan juri bertahun-tahun kelak. Mainkan saja j angka-angka nol itu Abaikan saja tikaman pisau j tajam di perutmu. Berpura-puralah isi perutmu dilapisi j baja. Lawanmu lemah dan ketakutan, sangat kaya I dan sangat keliru. Clay menelan ludah dengan berat dan mencoba j berbicara dengan nada normal. "Uang jasa penasihat I hukumnya terlalu rendah," katanya. "Oh, benarkah?" kata Pace dan bahkan tersenyum. I "Sepuluh juta tidak cukup?" 'Tidak untuk kasus ini. Kau akan lebih terekspos kalau biro hukum besar terlibat." "Kau cepat mengerti, ya?" "Setengahnya akan masuk kas pajak. Biaya overhead yang kaurencanakan untukku akan sangat mahal. Aku diharapkan membangun biro hukum sesungguhnya hanya dalam waktu beberapa hari, begitu juga kantor dengan harga sewa mahal itu. Plus, aku ingin berbuat sesuatu untuk Tequila dan tersangka lain yang terjebak dalam keadaan ini." "Beri saja aku angkanya." Pace menulis-nulis sesuatu. "Lima belas juta akan membuat transisinya lebih mulus." "Apakah kau mengambil angka

secara sembarang-an?" 'Tidak, hanya bernegosiasi." "Jadi kau ingin lima puluh juta;—tiga puluh lima. untuk para keluarga, lima belas untukmu. Begitukah?" "Itu rasanya memadai." "Setuju." Pace mengulurkan tangan dan berkata, "Selamat." Clay menjabatnya. Ia tidak bisa memikirkan tanggapan lain untuk diucapkan kecuali 'Terima kasih." "Kontraknya, berikut segala rincian dan persyaratannya, sudah ada." Max meraih ke dalam koper kecil. "Persyaratan apa?" "Yang pertama, kau tidak boleh menyebut-nyebut Tarvan pada Tequila Watson, pengacaranya yang baru, atau pada para tersangka lain yang terlibat dalam masalah ini. Melakukan hal itu berarti membahayakan segalanya. Seperti yang sudah kita bicarakan, k< canduan obat bukanlah pembelaan hukum untuk suat tindak kejahatan. Itu bisa menjadi situasi yang me ringankan vonis, tetapi Mr. Watson tetaplah melaku kan pembunuhan dan apa pun obat yang ia pergunakan saat itu tidaklah relevan dengan pembelaannya." "Aku lebih mengerti soal ini daripada kau." "Kalau begitu lupakan saja pembunuh-pembunuh itu. Kau kini mewakili keluarga korban mereka. Kau kini berada di sisi yang berseberangan, Clay, jadi terimalah. Kesepakatan kita ini akan memberimu lima juta dolar di depan, lima juta lagi dalam sepuluh hari, dan lima juta sisanya sesudah semua persoalan dibereskan. Kalau sampai kau menyebut-nyebut Tarvan pada siapa pun, maka kesepakatan ini batal, j Kauingkari kepercayaan kami dengan tersangka, maka kau akan kehilangan banyak uang." Clay mengangguk dan menatap surat kontrak tebal yang kini berada di meja. "Ini

pada dasarnya perjanjian menjaga kerahasiaan," j Max meneruskan, sambil mengetuk dokumen itu. J "Ini mengandung rahasia-rahasia gelap, yang sebagian besar harus kausembunyikan bahkan dari sekretarismu sendiri. Sebagai contoh, nama klienku tidak pernah i disebut. Ada perusahaan kosong yang didirikan di Bermuda dengan divisi baru di Dutch Antilles yang bertanggung jawab pada perusahaan Swiss yang ber- j kantor pusat di Luxemburg. Jejak dokumennya dimulai dan berakhir di sana dan tak seorang pun, bahkan diriku sendiri, bisa melacaknya tanpa tersesat. Klien-klien barumu akan mendapatkan uangnya; mereka tidak perlu bertanya. Kami kira ini tidak akan j jadi masalah. Bagimu, kau akan mencetak uang. Kami tidak mengharapkan khotbah tentang moral. Ambil uangmu, selesaikan tugas, dan semua orang akan lebih senang." "Jual saja jiwaku?" "Seperti kukatakan tadi, tidak perlu berkhotbah. Kau tidak melakukan apa pun yang melanggar etika. Kau mendapatkan uang ganti kerugian dalam jumlah besar bagi klien yang sama sekati tidak tahu bahwa mereka seharusnya mendapatkannya. Itu sama sekati tidak menjual jiwa. Dan bagaimana kalau kau jadi kaya? Kau bukan pengacara pertama yang mendapatkan durianruntuh." . Clay mentikirkan lima juta pertama itu. Yang segera akan mterimanya. Max mengisi beberapa bagian kosong di dalam kontrak itu, lalu menyodorkannya ke seberang meja. "Ini kesepakatan awal kita. Tandatanganilah, maka aku bisa menceritakan lebih jauh tentang klienku. Aku akan pesan kopi dulu." Clay mengambil dokumen tersebut, memeganginya sementara

dokumen itu jadi terasa lebih berat, lalu mencoba membaca alinea pembukaannya. Max berbicara dengan room service di telepon. Ia harus segera mengundurkan diri, hari itu juga, dari Kantor Pembela Umum dan mengundurkan diri sebagai pembela Tequila Watson. Dokumennya sudah disiapkan dan dilampirkan pada kontrak itu. Ia akan langsung mengurus akte pendirian biro hukumnya sendiri; mempekerjakan cukup banyak staf, membuka rekening bank, dan lain-lain. Di situ dicantumkan juga usulan anggaran dasar Kantor Biro Hukum J. Clay Carter U, semuanya dalam bahasa baku yang resmi. Begitu memungkinkan, ia harus menghubungi tujuh keluarga itu dan memulai proses mewakili kepentingan hukum mereka. Kopi tiba dan Clay terus membaca. Max berbicara di ponselnya di seberang suite, berbisik-bisik dengan suara lirih dan serius, tentu menyampaikan kejadian-kejadian terakhir pada atasannya. Atau mungkin ia sedang mamantau jaringannya untuk mencari tahu apakah telah terjadi pembunuhan Tarvan lain. Untuk tanda tangannya di halaman sebelas, Clay akan menerima melalui teleks transfer kilat sejumlah lima juta dolar, angka yang baru saja ditulis rapi oleh Max. Tangannya gemetar ketika menorehkan tanda tangan, bukan karena perasaan takut atau keraguan moral, tapi karena guncangan angka nol. Ketika ronde pertama urusan dokumen itu selesai, mereka meninggalkan hotel, dan naik SUV yang disopiri pengawal yang dulu menemui Clay di Tobi Hotel Willard "Kusarankan kita lebih dulu membuka rekening bank," Max berkata lembut tapi tegas. Clay bagai Cinderella yang

akan pergi ke pesta dansa, menikmati perjalanan sebab saat ini semua hanya niimpi. "Baik, gagasan bagus," katanya susah payah. "Ingin bank tertentu?" Pace bertanya. Bank Clay saat ini pasti kaget melihat kegiatan 'yang akan datang. Rekeningnya di sana selama ini hanya memiliki saldo secukupnya di atas minimum sehingga setoran dalam jumlah besar akan menimbulkah kegemparan. Manajer rendahan bank itu pernah menelepon untuk mengabarkan ada sedikit pinjaman I' yang sudah jatuh tempo. Ia hampir bisa mendengar bos besar di lantai atas terkesiap kaget ketika melihat printout rekeningnya. "Aku yakin kau sudah punya gagasan," Clay berkata. "Kami punya hubungan dekat dengan Chase. Transfer akan berjalan mulus di sana." Kalau begitu Chase-lah pilihannya, pikir Clay sambil tersenyum. Apa saja untuk mempercepat transfer itu. "Chase Bank, di Fifteenth Streeth," Max berkata pada si sopir, yang sudah mengarahkan mobil ke sana. Max mengeluarkan beberapa dokumen lain. "Ini sewa kantormu. Seperti kau tahu, tempat itu sangat diminati dan tentu tidak murah. Klienku memakai satu perusahaan untuk menyewanya selama dua tahun dengan harga delapan belas ribu sebulan. Kami bisa mengoperkannya kepadamu dengan harga sewa yang sama." "Itu berarti empat ratus ribu dolar, kurang-lebih." Max tersenyum dan berkata, "Kau bisa membayarnya, Sir. Mulailah berpikir seperti pengacara peradilan dengan uang segunung." Semacam wakil direktur sudah disiapkan untuk mereka. Max meminta orang yang tepat dan karpet merah pun digelar di setiap lorong. Clay membereskan urusannya

dan menandatangani semua dokumen yang diperlukan. Transfer akan diterima pukul 17.00, demikian menurut si wakil direktur. Kembali ke dalam SUV, Max tak berbasabasi lagi. "Kami mendahului mempersiapkan anggaran dasar untuk biro hukummu," ia berkata, sambil men* angsurkan lebih banyak dokumen. "Aku sudah melihat ini," kata Clay, masih me mikirkan transfer. "Semuanya bersifat umum—tidak ada yang sensitif. Dikerjakan lewat Internet Biayanya dua ratus dolar, dibayar dengan kartu kredit, dan kau siap bekerja. Hanya butuh waktu satu jam kurang. Kau bisa mengerjakannya dari meja kerjamu di OPD." Clay memegangi dokumen-dokumen itu dan melihat ke luar jendela. Jaguar XJ merah anggur yang mulus berhenti di samping mereka di lampu merah, dan pikirannya mulai berkelana. Ia mencoba memusatkan perhatian pada urusan pekerjaan, tapi tidak bisa. "Bicara soal OPD," Max berkata, "bagaimana kau ingin menangani orang-orang itu?" "Mari kita lakukan sekarang." *M di Eighteenth," kata Max pada si sopir, yang sepertinya tak melewatkan apa pun. Kembali pada Clay ia berkata, "Apakah kau sudah memikirkan soal Rodney dan Paulette?" 'Ta. Aku akan bicara dengan mereka hari ini/' "Bagus." "Senang kau sependapat." "Kami juga punya beberapa orang yang kenal baik kota ini. Mereka bisa membantu. Mereka akan bekerja untuk kita, tapi klienmu tidak akan tahu." Ia mengangguk pada si sopir sewaktu mengucapkan ini. "Kita tidak bisa bersantai, Clay, sampai tujuh keluarga i itu seluruhnya jadi klienmu." "Sepertinya aku perlu memberi tahu Rodney dan Paulette segalanya." "Hampir segalanya.

Hanya merekalah di biro hukummu yang akan tahu apa yang terjadi. Tapi kau tidak bisa menyebut Tarvan atau perusahaan itu, dan mereka tidak akan pernah melihat perjanjian penyelesaian masalahnya. Kita akan mempersiapkan itu untukmu." "Tapi mereka harus tahu apa yang kita tawarkan." "Jelas. Mereka harus meyakinkan keluarga-keluarga itu agar menerima uangnya. Tapi mereka tidak akan pernah tahu dari mana uang itu berasal." "Itu suatu tantangan." "Mari kita pekerjakan mereka lebih dulu." Seandainya ada orang di OPD yang kehilangan Clay, hal itu tidaklah kentara. Bahkan Miss Glick yang andal itu pun asyik dengan telepon dan tidak ada waktu untuk mengucapkan "Dari mana saja kau?" seperti biasanya. Ada selusin pesan di meja kerjanya, seluruhnya tak relevan lagi sekarang sebab semuanya sudah tak penting lagi. Glenda sedang menghadiri suatu konferensi di New Y ork, dan, seperti biasa, ketidakhadirannya berarti istirahat makan siang lebih panjang dan cuti sakit lebih banyak di OPD. Ia cepat-cepat mengetik sepucuk surat pengunduran diri dan mengirimkannya lewat e-mail. Dengan pintu tertutup, ia mengisi dua tas kerja dengan barang-barang pribadinya dan meninggalkan buku-buku lama serta benda-benda yang dulu dirasanya memiliki nilai sentimental. Ia selalu bisa kembali, meskipun tahu ia takkan melakukannya. Meja Rodney terletak di ruang kerja sempit yang rdipakainya bersama dua paralegal lain. "Punya waktu sebentar?" kata Clay. 'Tidak," kata Rodney, sama sekali tidak mengangkat muka dari setumpuk laporan. "Ada

terobosan baru dalam kasus Tequila Watson. Ini cuma perlu waktu sebentar." Rodney dengan enggan menyisipkan pena di belakang salah satu telinga dan mengikuti Clay kembali ke kantornya, di mana rak-rak sudah dibersihkan, dan pintu dikunci di belakang mereka. "Aku akan berhenti," Clay mulai, nyaris berbisik. Mereka berbicara selama hampir satu jam, sementara Max Pace menunggu tak sabar di dalam S U V, yang diparkir melanggar aturan di pinggir jalan. Ketika Clay muncul dengan dua tas kerja yang berat, Rodney ikut bersamanya, juga membawa tas kerja dan kantong kertas belanja yang penuh barang. Ia pergi ke mobilnya dan menghilang. Clay masuk ke SUV. j "Ia ikut," kata Clay. "Sungguh suatu kejutan" Di kantor di Connecticut J Avenue, mereka menemui konsultan desain yang sudah diberi panjar oleh Max. Clay diberi pilihan mebel-mebel mahal yang kebetulan ada di gudang dan dengan demikian bisa dikirim dalam waktu, 24 jam. Ia menunjukkan berbagai desain dan contoh, semuanya di sisi tertinggi dalam daftar harga. Ia menandatangani order pembelian. Sistem telepon sedang dipasang. Konsultan telepon tiba sesudah si dekorator pergi. Pada suatu titik, Clay membelanjakan uang begitu cepatnya sehingga ia mulai bertanya pada diri sendiri apakah ia memeras cukup uang dari Max. jei lai pa ba 53 Tak lama menjelang pukul 17.00, Max keluar dari kantor yang baru saja dicat dan menyisipkan ponsel-nya ke saku. "Transfernya sudah masuk," katanya pada Clay. "Lima juta?" "Begitulah. Kau kini multijutawan." "Aku mau pergi," kata Clay. "Sampai jumpa besok." "Mau ke mana

kau?" "Jangan pernah bertanya seperti itu lagi, oke? Kau bukan bosku. Dan berhentilah menguntitku. Kita sudah sepakat." Ia berjalan kaki sepanjang Connecticut Avenue sejauh beberapa blok, berdesak-desakan dengan orang banyak yang baru pulang kantor, tersenyum-senyum dungu pada diri sendiri, kakinya tak pernah menyentuh beton. Menyusuri Seventeenth Street sampai ia melihat Reflecting Pool dan Washington Monument, di mana rombonganrombongan anak sekolah menengah berkumpul untuk berfoto. Ia belok ke kanan dan berjalan menerobos Constitution Gardens dan melewati Vietnam Memorial. Setelah dari sana, ia berhenti di kios, membeli dua batang cerutu murah, menyalakan salah satu, dan meneruskan perjalanan ke tangga Lincoln Memorial, di mana ia berlama-lama duduk dan memandangi The Mali hingga Capitol di kejauhan. Berpikir jernih mustahil dilakukan. Satu pikiran jernih langsung dilanda dan didorong keluar pikiran lain. Ia memikirkan ayahnya yang hidup di perahu pancing pinjaman, berpura-pura itu kehidupan yang bagus tapi berkutat untuk mencari penghidupan; umur 1 tahun tnnna masa depan apa pun; banyak minum untuk melarikan diri dari penderitaan. Ia mengisa cerutu itu dan membayangkan dirinya berbelanj; dan sekadar bersenangsenang ia menghitung berap banyak yang akan dibelanjakannya seandainya ii membeli segala yang ia inginkan—pakaian baru mobil yang benar-benar bagus, perangkat stereo, bertamasya. Seluruhnya hanyalah pengurangan sedikit dari kekayaannya. Pertanyaan utamanya, Mobil macam apakah yang akan dibelinya:

Sukses tapi tidak pamer. Dan tentu saja ia butuh alamat baru. Ia akan melihat-lihat daerah Georgetown untuk mencari rumah town house tua yang bagus. Ia pernah mendengar cerita bahwa beberapa di antaranya dijual seharga enam juta, tapi ia tidak butuh yang semahal itu. Ia yakin bisa menemukan rumah dalam kisaran harga satu juta dolar. Satu juta di sini Satu juta di sana. Ia memikirkan Rebecca, meskipun berusaha untuk tidak terus melakukannya. Selama empat tahun terakhir ini Rebeccalah satu-satunya teman tempatnya berbagi segalanya Kini tak ada seorang pun untuk diajak bicara. Perpisahan mereka baru lima hari, dan masih berlaku, tapi begitu banyak yang telah terjadi hingga ia hampir tak punya waktu memikirkannya. "Lupakan keluarga Van Horn," ia berkata keras, sambil mengepulkan segumpal asap tebal. Ia akan menyumbangkan hadiah dalam jumlah J besar pada Piedmont Fund, ditujukan untuk perjuangan melestarikan keindahan alam Virginia Utara. Ia akan menggaji paralegal untuk tidak mengerjakan j apa-apa selain melacak pembebasan tanah dan rencana-rencana pengembangan terakhir yang akan dilakukan BVH Group, dan jika memungkinkan, ia diam-diam akan menyelinap dan menyewa pengacara bagi pemilik-pemilik tanah kecil yang tak menyadari bahwa mereka akan menjadi tetangga Bennett si Buldozer. Oh, betapa besar kesenangan yang akan ia dapatkan di segi lingkungan! Lupakanlah orangorang itu. Ia menyalakan cerutu kedua dan menelepon Jonah, yang berada di toko komputer untuk bekerja beberapa jam. "Aku pesan satu meja di Citronelle untuk

jam delapan nanti," kata Clay. Tempat itu restoran Prancis favorit semua orang di D.C. saat ini. "Baik," kata Jonah. "Aku serius. Kita akan mengadakan perayaan. Aku ganti pekerjaan. Akan kujelaskan nanti. Datanglah saja ke sana." "Boleh aku bawa teman?" "Sama sekali tidak." Jonah ke mana-mana selalu dengan pacarnya yang terbaru. Saat pindah nanti, Clay akan pergi sendiri, dan tidak akan merindukan kelakuan ajaib Jonah di kamar. Ia menelepon dua teman kubah lain, tapi keduanya sudah punya anak dan kewajiban, lagi pula pemberitahuan itu sangat mendadak. Makan malam.bersama Jonah. Selalu merupakan petualangan. jLfl dalam saku kemejanya ada kartu —- nama baru, tintanya nyaris belum kering, dikirim langsung pagi tadi dari percetakan kilat Kartu nama itu menyatakan dirinya sebagai Paralegal Kepala dari Kantor Hukum J. Clay Carter JJ. Rodney Albritton, Paralegal Kepala, seolah biro hukum itu punya divisi penuh paralegal di bawah perintahnya Kenyataannya tidak, tapi ia berkembang dengan kecepatan yang mengesankan. Seandainya punya waktu untuk membeli setelan jas baru, ia mungkin tidak akan memakainya pada misinya yang pertama. Seragam lama akan lebih berhasil—blazer biru tua, dasi dilonggarkan, jeans pudar, sepatu tentara lusuh. Ia masih bekerja* di jalanan dan ia perlu tampil seperti itu. Ia menemukan Adelfa Pumphrey di tempat kerjanya, menatap dinding penuh monitor closed-circuit tapi tak melihat apa pun. Anak laJd-lakinya meninggal sepuluh hari yang lalu. Ia memandang Rodney dan menunjuk clipboard di mana semua tamu diharuskan membubuhkan tanda tangan.

Rodney mengeluarkan selembar kartu nama dan memperkenalkan diri "Saya bekerja untuk se-" orang pengacara di pusat kota," katanya. "Baguslah," katanya lembut, tanpa sedikit pun melirik kartu nama itu. "Saya ingin bicara beberapa menit dengan Anda." "Soal apa?" 'Tentang anak Anda, Ram6n." "Ada apa dengannya?" "Saya tahu beberapa hal yang tidak Anda ketahui tentang kematiannya." "Itu bukan salah satu pokok pembicaraan favoritku saat ini." "Saya mengerti, dan saya minta maaf hams bicara tentang hal itu. Tapi Anda akan menyukai apa yang akan saya katakan^ dan saya takkan berlama-lama." Ia melihat sekeliling. Jauh di ujung lorong ada penjaga berseragam lain, berdiri di sebelah pintu, setengah tertidur. "Aku bisa istirahat dua puluh menit lagi," katanya. "Temui aku di kantin, satu lantai di atas." Sewaktu berjalan pergi, Rodney berkata pada diri sendiri bahwa, ya, memang ia layak mendapatkan setiap . sen dari gaji barunya yang gemuk. Orang kuKt putih yang mendekati Adelfa Pumphrey dengan persoalan yang begitu peka tentu akan masih berdiri di depannya sana, gelisah, gemetar, bingung mencari kata-kata sebab Adella akan bergeming. Wanita itu takkan percaya padanya, takkan percaya dengan apa pun yang ia ucapkan, takkan menaruh minat pada apa pun yang ia katakan, setidaknya dalam lima belas menit pertama. Tapi Rodney cakap, pintar, dan berkulit hitam, dan Aldelfa ingin bicara pada seseorang. 151 Berkas Max Pace tentang Ramon Pumphrey ringkas tapi mendalam; tak banyak informasi yang perlu diulas. Pria yang diduga sebagai ayahnya tak pernah menikah dengan ibunya.

Nama laki-laki itu Leon Tease, dan ia saat ini ada di penjara Pennsylvania, menjalani hukuman kurungan tiga puluh tahun karena perampokan bersenjata dan melakukan percobaan pembunuhan. Jelas ia dan Adelfa hidup bersama cukup lama untuk mendapatkan dua anak— Ramon dan satu saudara laki-laki yang sedikit lebih muda bernama Michael. Adik laki-laici lain dilahirkan kemudian dari laki-laki yang dinikahi Adelfa dan lantas diceraikannya Ia saat ini tidak menikah dan berusaha membesarkan dua anak laki-lakinya yang tersisa, ditambah dua keponakan perempuan, anak adik perempuan yang masuk penjara karena menjual crack. Adelfa memperoleh penghasilan $21.000 dari bekerja pada perusahaan' swasta yang disewa untuk menjaga gedung-gedung perkantoran berisiko rendah di D.C. Dari apartemennya di proyek perumahan di Timur Laut, ia mondar-mandir ke pusat kota setiap hari dengan kereta bawah tanah. Ia tidak punya mobil dan tidak pernah belajar mengemudi. Ia punya rekening bank dengan saldo yang sangat kecil dan dua kartu kredit yang terus menjerumuskannya dalam masalah dan menghancurkan peluang apa pun untuk memperoleh kredit yang baik. Ia tidak punya catatan kriminal. Selain bekerja dan mengurus keluarga, minat satu-satunya di luar rumah tampaknya hanyalah Old Salem Gospel Center tak jauh dari tempat tinggalnya. Karena sama-sama besar di kota yang sama, mereka memainkan permainan "Siapa yang kau kenal?" selama beberapa menit'. Di mana kau bersekolah? Dari mana orangtuamu berasal? Mereka menemukan satu-dua hubungan renggang. Adelfa minum

diet cola. Rodney minum kopi pahit. Kantin itu setengah penuh dengan birokrat-birokrat rendahan yang berceloteh tentang apa saja kecuali pekerjaan monoton yang harus mereka lakukan. . "Kau ingin bicara tentang anakku," katanya sesudah beberapa menit basa-basi yang canggung. Suaranya lembut dan rendah, tertekan, dan masih menderita. Rodney bergerak-gerak sedikit resah dan mencondongkan badan lebih rendah. "Ya, dan, sekali lagi, saya minta maaf harus bicara tentangnya. Saya juga punya anak; Saya tak bisa membayangkan apa yang Anda alami." "Kau benar soal itu." "Saya bekerja untuk seorang pengacara di kota ini, masih muda, sangat cerdas, dan sedang menangani sesuatu yang bisa memberi Anda banyak uang." Gagasan tentang uang dalam jumlah besar itu tampaknya tak menggugah hati Adelfa. Rodney meneruskan. "Bocah yang membunuh Ram6n itu baru saja keluar dari fasilitas rehabilitasi kecanduan obat di mana ia selama empat bulan dikurung. Ia pencandu, anak jalanan, tanpa banyak peluang dalam hidupnya. Sebagai bagian dari pengobatannya, mereka memberinya sejenis obat. Kami kira salah satu obat itu membuatnya cukup sinting untuk memilih korban sembarangan dan mulai menembak." "Bukan jual-beli obat terlarang yang jadi tidak beres?" "Bukan, sama sekali bukan." Matanya menerawang, lalu jadi basah, dan beberapa saat Rodney bisa melihat perasaannya akan runtuh. Tapi kemudian Adelfa memandangnya dan berkata, "Uang dalam jumlah besar? Berapa banyak?" "Lebih dari satu juta dolar," katanya dengan wajah tak menunjukkan perubahan

perasaan apa pun, wajah pemain poker yang sudah puluhan kali dilatihnya sebab ia sangat sangsi bisa menyampaikan kalimat itu tanpa membuat matanya berbinar-binar liar. Tak ada reaksi Adelfa yang kelihatan, setidaknya pada permulaan. Sekali lagi matanya menerawang ke sekeliling ruangan. "Kau mempermainkan aku?? ia bertanya -fy&n "Apa alasan saya melakukan hal itu? Saya tidak mengenal Anda. Mengapa saya datang ke sini dan mempenflainkan Anda? Ada uang, dalam jumlah besar. Uang perusahaan farmasi besar yang menginginkan Anda mengambilnya dan menutup mulut." "Perusahaan besar apa?" "Dengar, saya sudah menceritakan segala yang saya tahu. Tugas saya adalah menemui Anda, menceritakan pada Anda apa yang terjadi, dan mengundang Anda menemui Mr. Carter, pengacara yang menjadi atasan saya. Dia akan menjelaskan segalanya." "Orang kulit putih?" "Yap. Orang baik. Saya sudah lima tahun bekerja dengannya. Anda akan menyukainya, dan Anda akan menyukai apa yang ia katakan." Mata yang basah itu sudah kering, la mengangkat bahu dan berkata, "Baiklah." "Pukul berapa Anda selesai kerja?" ia bertanya. "Setengah lima." "Kantor kami ada di Connecticut Avenue, lima belas menit dari sini. Mr. Carter akan menunggu Anda. Anda sudah punya kartu nama saya." Ia memandang kartu nama itu lagi. "Dan ada satu hal yang sangat penting," Rodney berkata, nyaris berbisik. "Semua ini akan lancar kalau Anda tetap bungkam. Ini rahasia yang sangat penting. Anda lakukan apa yang disarankan Mr. Carter untuk Anda lakukan, maka

Anda akan mendapat uang lebih banyak daripada yang pernah Anda impikan. Tapi kalau sampai ada omongan bocor ke luar, maka Anda takkan mendapatkan apa-apa." Adelfa mengangguk. "Dan Anda perlu mulai memikirkan untuk pindah." "Pindah?" "Misalnya pindah ke rumah baru di kota baru, di mana tak ada orang yang mengenal Anda dan tak seorang pun tahu Anda punya banyak uang. Rumah bagus di jalan yang aman, tempat anak-anak bisa mengendarai sepeda di trotoar, tak ada pengedar narkoba, tidak ada geng, tidak ada detektor logam di sekolah. Tidak ada sanak keluarga yang menginginkan Ayo berangkat!" Kapten Floyd berseni, sambil berjalan pergiJarrett memanjat keluar dan perahunya menuju dermaga. "Apakah kau ikut?" serunya kepada Clay. Tidak." "Jangan konyol, hai jauh lebih menyenangkan daripada duduk-duduk di sini seharian." Jarrett berjalan pergi mengikuti Kapten Floyd. Clay melambaikan tangan. "Aku akan baca buku." "Terserahlah." Mereka melompat ke sampan kecil bersama pemberontak lain dan melaju di pelabuhan hingga menghilang di belakang yacht-yacht. Itulah terakhir kali Clay melihat ayahnya hingga beberapa bulan. Hanya begitulah hasil upayanya mendapatkan nasihat. la sendirian. 11 SuiTE itu ada di hotel yang berbeda. Pace berpindah-pindah di D.C. seolah ada matamata yang membuntutinya. Sesudah tukar sapa cepat dan tawaran kopi. mereka duduk untuk membicarakan bisnis. Clay bisa melihat bahwa tekanan dari tugas menguburkan rahasia itu mulai mempengaruhi Pace. Ia tampak letih. Gerakan-gerakannya resah. Kata-katanya keluar lebih

cepat. Senyumnya hilang. Tak ada pertanyaan tentang acara akhir pekan atau memancing di Bahama sana. Pace hendak memutuskan kesepakatan, apakah dengan Clay Carter atau pengacara berikut dalam daftarnya. Mereka duduk di meja, masing-masing dengan buku catatan, pena siap beraksi. "Aku pikir lima juta untuk tiap nyawa adalah angka yang lebih baik," Clay mulai. "Memang benar mereka anak jalanan yang hidupnya memiliki scdiki nilai ekonomis, tapi apa yang dilakukan klienmu dolar. Jadi kita uuui eKonomis, u*j» "i'- » dolar. ..... bernilai ganti rugi materiil ^^„„igkinan S"»fl gabungkan nilai aktualnya den» rugi dan sampai pada nngk^ kotna itu «•»«•** "Orang yang dalam tadi malam," Pace berk"^ ^„i." pagi.' "Jadi kita pu»y"1c,;i,»ii',tU "luluh. Kami wW«*n* Clay begitu sering mengalikan lima juta denga angka enam sehingga sulit menerima angka barui "Siapa? Di mana?" "Akan kuberikan info kotornya nanti, oke? Terima saja bahwa kemarin adalah akhir pekan yang panjang. Sementara kau memancing, kami memantau semua panggilan telepon darurat ke 911, yang pada akhir pekan yang sibuk di kota ini memerlukan saru pasuk-j an kecfl." "Kau yakin itu kasus Tarvan?" "Kami yakin." Clay menuliskan sesuatu yang tak bermakna dan mencoba menyesuaikan strategi. "Mari lata sepakati lima juta per nyawa," katanya. "Setuju." Ketika terbang pulang dari Abaco, Clay meyakinkan diri sendiri bahwa ini permainan angka nol j Jangan memikirkannya sebagai uang sebenarnya, hanya sederetan angka 0 sesudah angka tertentu. Untuk j sementara isi, lupakan saja apa yang bisa dibelil uang tersebut Lupakan perubahan-

perubahan dramatis j yang akan terjadi. Lupakan apa yang mungkin di- I lakukan jari bertahun-tahun kelak. Mainkan saja J angka-angka no) itu. Abaikan saja tikaman pisau B tajam di perutmu. Berpura-puralah m perutmu dilapisi f' baja. Lawanmu lemah dan ketakutan, sangat kaya j dan sangat keliru. day menelan ludah dengan berat dan mencoba I berbicara dengan nada normal. "Uang jasa penasihat M hukumnya terlalu rendah," katanya. "Oh, benafkahr kata Pace dan bahkan tersenyum. I "Sepuluh juta tidak cukup?" 'Tidak untuk kasus ini. Kau akan lebih terekspos kalau biro hukum besar terlibat." "Kau cepat mengerti, ya?" "Setengahnya akan masuk kas pajak. Biaya overhead yang kaurencanakan 'Untukku akan sangat mahal. Aku diharapkan membangun biro hukum sesungguhnya hanya dalam waktu beberapa hari begitu juga kantor dengan harga sewa mahal itu. Plus, aku ingin berbuat sesuatu untuk Tequila dan tersangka lain yang terjebak dalam keadaan ini." "Beri saja aku angkanya." Pace menulis-nulis sesuatu. "Lima belas juta akan membuat transisinya lebih mulus." "Apakah kau mengambil angka secara sembarang-an?" 'Tidak, hanya bernegosiasi." "Jadi kau ingin lima puluh juta—tiga puluh lima untuk para keluarga, lima belas untukmu. Begitukah?" "Itu rasanya memadai." "Setuju." Pace mengulurkan tangan dan berkata. "Selamat." Clay menjabatnya. Ia tidak bisa memikirkan tanggapan lain untuk diucapkan kecuali "Terima kasih." "Kontraknya, berikut segala rincian dan persyaratannya, sudah ada." Max meraih ke dalam koper kecil. "Persyaratan apa?" "Yang pertama, kau tidak boleh

menyebut-nyebut Tarvan pada Tequila Watson, pengacaranya yang: baru. 'V 1 , .„ i,.;., vanc terlibat dalam pada para «cW »" J J mcnlbahayakan masalah ini. Melakukan hai iw «¦ segalanya. Seperti yang sudah kita bicarakan, k. canduan obat bukanlah pembelaan hukum untuk suat tindak kejahatan. Itu bisa menjadi situasi yang me ringankan vonis, tetapi Mr. Watson tetaplah melaku-kan pembunuhan dan apa pun obat yang ia pergunakan saat itu tidaklah relevan dengan pembelaannya." "Aku lebih mengerti soal ini daripada kau." "Kalau begitu lupakan saja pembunuh-pembunuh itu. Kau kini mewakili keluarga korban mereka. Kau kini berada di sisi yang berseberangan, Clay, jadi terimalah. Kesepakatan kita ini akan memberimu lima juta dolar di depan, lima juta lagi dalam sepuluh hari, dan lima juta sisanya sesudah semua persoalan dibereskan. Kalau sampai kau menyebut-nyebut ' Tarvan pada siapa pun, maka kesepakatan ini batal. \ Kauingkari kepercayaan kami dengan tersangka, maka kau akan kehilangan banyak uang." Gay mengangguk dan menatap surat kontrak tebal j yang kini berada di meja. "Ini pada dasarnya perjanjian menjaga kerahasiaan," Max meneruskan, sambil mengetuk dokumen itu. j Tbb mengandung rahasia-rahasia gelap, yang sebagian besar harus kausembunyikan bahkan dari sekretarismu j sendiri. Sebagai contoh, nama klienku tidak pernah disebut Ada perusahaan kosong yang didirikan di 1 Bermuda dengan divisi baru di Dutch Antilles yang bertanggung jawab pada perusahaan Swiss yang berkantor pusat di Luxemburg Jejak dokumennya dimulai dan berakhir di sana dan tak

seorang pun, bahkan diriku sendiri, bisa melacaknya tanpa tersesat. Khe»^^ baronw akan mendapatkan uangnya; meI ««' tidak akan jadi masalah. Bagimu, kau akan mencetak uang. Kami tidak mengharapkan khotbah tentang moral Ambil uangmu, selesaikan tugas, dan semua orang akan lebih senang." "Jual saja jiwaku?" "Seperti kukatakan tadi, tidak perlu berkhotbah. Kau tidak melakukan apa pun yang melanggar etika. Kau mendapatkan uang ganti kerugian dalam jumlah besar bagi klien yang sama sekali tidak tahu bahwa mereka seharusnya mendapatkannya. Itu sama sekali tidak menjual jiwa. Dan bagaimana kalau kau jadi kaya? Kau bukan pengacara pertama yang mendapatkan durian- runtuh." . Clay memikirkan lima juta pertama itu. Yang segera akan diterimanya. Max mengisi beberapa bagian kosong di dalam kontrak itu, lalu menyodorkannya ke seberang meja. "Ini kesepakatan awal kita. Tandatanganilah, maka aku bisa menceritakan lebih jauh tentang klienku. Aku akan pesan kopi dulu." Clay mengambil dokumen tersebut, memeganginya sementara dokumen itu jadi terasa lebih berat, lalu mencoba membaca alinea pembukaannya. Max berbicara dengan room service di telepon. Ia harus segera mengundurkan diri, hari itu juga, dari Kantor Pembela Umum dan mengundurkan diri sebagai pembela Tequila Watson. Dokumennya sudah disiapkan dan dilampirkan pada kontrak itu. Ia akan langsung mengurus akte pendirian biro hukumnya sendiri; mempekerjakan cukup banyak staf. membuka < i. i j„rt ]„in-['iiii Di situ dicantumkan rekening bank, dan lain-iain. *» : B , „„,„„ dasar Kantor Biro Hukum

juga usulan anggaran uasar J. Clay Carter II. semuanya dalam bahasa baku yang resmi. Begitu memungkinkan, ia harus menghubungi tujuh keluarga itu dan memulai proses mewakili kepentingan hukum mereka. Kopi tiba dan Clay terus membaca. Max berbicara di ponselnya di seberang suite, berbisik-bisik dengan suara lirih dan serius, tentu menyampaikan kejadian-kejadian terakhir pada atasannya. Atau mungkin ia sedang mamantau jaringannya untuk mencari tahu apakah telah terjadi pembunuhan Tarvan lain. Untuk tanda tangannya di halaman sebelas, Clay akan menerima melalui teleks transfer kilat sejumlah lima juta dolar, angka yang baru saja ditulis rapi oleh Max. Tangannya gemetar ketika menorehkan tanda tangan, bukan karena perasaan takut atau keraguan moral, tapi karena guncangan angka nol. Ketika ronde pertama urusan dokumen itu selesai, ; mereka meninggalkan hotel, dan naik SUV yang disopiri pengawal yang dulu menemui Clay di lobi j Hotel Willard. "Kusarankan kita lebih dulu membuka rekening bank," Max berkata lembut tapi tegas. Clay bagai Cinderella yang akan pergi ke pesta dansa, ; menikmati perjalanan sebab saat ini semua hanya mimpi. "Baik, gagasan bagus," katanya susah payah. "Ingin bank tertentu?" Pace bertanya. Bank Clay saat ini pasti kaget melihat kegiatan yang akan datang. JUkeningnya di sana selama ini j hanya memiliki' saldo secukupnya di atas minimum j sehingga setoran dalam jumlah besar akan menimbulkan kegemparan. Manajer rendahan bank itu pernah j menelepon untuk mengabarkan ada sedikit pinjaman yang sudah jatuh tempo, la hampir bisa

mendengar bos besar di lantai atas terkesiap kaget ketika melihat printout rekeningnya. "Aku yakin kau sudah punya gagasan," Clay berkata. "Kami punya hubungan dekat dengan Chase. Transfer akan berjalan mulus di sana." Kalau begitu Chase-lah pilihannya, pikir day sambil tersenyum. Apa saja untuk mempercepat transfer itu. "Chase Bank, di Fifteenth Streeth," Max berkata pada si sopir, yang sudah mengarahkan mobil ke sana. Max mengeluarkan beberapa dokumen lain. "Ini sewa kantormu. Seperti kau tahu, tempat itu sangat diminati dan tentu tidak murah. Klienku memakai satu perusahaan untuk menyewanya selama dua tahun dengan harga delapan belas ribu sebulan. Kami bisa mengoperkannya kepadamu dengan harga sewa yang sama." "Itu berarti empat rams ribu dolar, k u rang-lebih." Max tersenyum dan berkata, "Kau bisa membayarnya, Sir. Mulailah berpikir seperti pengacara peradilan dengan uang segunung." Semacam wakil direktur sudah disiapkan untuk mereka. Max meminta orang yang tepat dan karpet merah pun digelar di setiap lorong. Ctoy membereskan urusannya dan menandatangani semua dokumen yang diperlukan. ^ me. Transfer akan diterima pukul i'w< " nurut ai wakil direktur. tak berbasa-basi Kembali ke dalam ,bU v' mDcre;apkan anggaran lagi. "Kami mendahului mempers. P 143 dasar antuk biro hukummu," m berkata, sambil meog. angsurkan lebih banyak dokumen. "Aku sudah melibat ini." kata Clay, masih memikirkan transfer. "Semuanya bersita: umum— tidak ada yang sensitif. Dikerjakan lewat Internet. Biayanya dua ratus dolar, dibayar dengan kartu kredit, dan kau siap

bekerja. Hanya butuh waktu satu jam kurang. Kau bisa mengerjakannya dari meja kerjamu di OPD." Clay memegangi dokumen-dokumen itu dan melihat ke luar jendela. Jaguar XJ merah anggur yang mulus berhenti di samping mereka di lampu merah, dan pikirannya mulai berkelana. Ia mencoba memusatkan perhatian pada urusan pekerjaan, tapi tidak bisa. "Bicara soal OPD," Max berkata, "bagaimana kau ingin menangani orang-orang itu?" "Mari kita lakukan sekarang." "M di Eighteenth," kata Max pada si sopir, yang sepertinya tak melewatkan apa pun. Kembali pada Clay ia berkata, "Apakah kau sudah memikirkan soal Rodney dan Paulette?" "Ya. Aku akan bicara dengan mereka hari ini." "Bagus." "Senang kau sependapat." "Kami juga punya beberapa orang yang kenal baik kota ini. Mereka bisa membantu. Mereka akan bekerja untuk kita, tapi klienmu tidak akan tahu." Ia mengangguk pada si sopir sewaktu mengucapkan ini. "Kita tidak bisa bersantai, Clay, sampai tujuh keluarga "Sepertinya aku perlu membentahu Rodney dan Paulette segalanya." "Hampir segalanya. Hanya merekalah di biro hukummu yang akan tahu apa yang terjadi. Tapi kau tidak bisa menyebut Tarvan atau perusahaan itu. dan mereka tidak akan pernah melihat perjanjian penyelesaian masalahnya. Kita akan mempersiapkan itu untukmu." "Tapi mereka harus tahu apa yang kita tawarkan." "Jelas. Mereka harus meyakinkan keluarga-keluarga itu agar menerima uangnya. Tapi mereka tidak akan pernah tahu dari mana uang itu berasal." "Itu suatu tantangan." "Mari kita pekerjakan mereka lebih dulu." Seandainya ada orang

di OPD yang kehilangan Clay, hal itu tidaklah kentara. Bahkan Miss Glick yang andal itu pun asyik dengan telepon dan tidak ada waktu untuk mengucapkan "Dari mana saja kau?" seperti biasanya. Ada selusin pesan di meja kerjanya, seluruhnya tak relevan lagi sekarang sebab semuanya sudah tak penting lagi. Olenda sedang menghadiri suatu konferensi di New Y ork, dan. seperti biasa, ketidakhadirannya berarti istirahat makan siang lebih panjang dan cuti sakit lebih banyak di OPD. Ia cepatcepat mengetik sepucuk surat pengunduran diri dan mengirimkannya lewat entail. Dengan pintu tertutup, ia mengisi dua tas kerja dengan barang-barang pribadinya dan meninggalkan buku-buku lama serta benda-benda yang dulu dirasanya memilik, nilai sentimental. It selalu bisa kembali, iwaktpun tahu .« takkan melakukannya. CJ>1__i. Mnn Meja Rodney terletak di mang kerja stnp,. yang dirakimya bersama dua paralegal fain. "Punya wakt sebentar, kata City. Tidak." kata Rodney, sama sekali tidak menangkal muka dari setumpuk laporan. "Ada terobosan baru dalam kasus Tequila Watson. Ini cuma perlu waktu sebentar." Rodney dengan enggan menyisipkan pena di belakang salah satu telinga dan mengikuti Clay kembali ke kantornya, di mana rak-rak sudah dibersihkan, dan pintu dikunci di belakang mereka. "Aku akan berhenti." Clay mulai, nyaris berbisik. Mereka berbicara selama hampir satu jam, sementara Max Pace menunggu tak sabar di dalam S U V. yang diparkir melanggar aturan di pinggir jalan Ketika Gay muncul dengan dua tas kerja yang berat, Rodney ikut bersamanya, juga membawa tas kerja dan

kantong kertas belanja yang penuh barang. Ia pergi ke mobilnya dan menghilang. Gay masuk ke SUV. la ikut," kata Gay. "Sungguh suatu kejutan." Dt kantor di Connecticut Avenue, mereka menemui konsultan desain yang sudah diberi panjar oleh Max. Clay diberi pilihan mebel-mebel mahal yang kebetulan ada di gudang dan dengan demikian bisa dikirim dalam waktu 24 jam la menunjukkan berbagai desain dan contoh, semuanya di ain tertinggi dalam daftar harga. Ia menandatangani order pembelian. Sistem telepon sedang dipasang. Konsultan telepon tiba sesudah si dekorator pergi, Pada suatu titik, Oay membelanjakan uang begitu cepatnya sehingga ia mulai bertanya pada diri sendiri apakah ia memeras cukup uang dari Max. Tak lama menjelang pukul 17.00, Max keluar dari kantor yang baru saja dicat dan menyisipkan ponscl-nya ke saku. "Transfernya sudah masuk." katanya pada Clay. "Lima juta?" "Begitulah. Kau kini multijutawan." "Aku mau pergi," kata Clay. "Sampai jumpa besok." "Mau ke mana kau?" "Jangan pernah bertanya seperti itu lagi. oke? Kau bukan bosku. Dan berhentilah menguntitku. Kita sudah sepakat." Ia berjalan kaki sepanjang Connecticut Avenue sejauh beberapa bk)k. berdesak-desakan dengan orang banyak yang baru pulang kantor, tersenyum-senyum dungu pada diri sendiri, kakinya tak pernah menyentuh beton. Menyusuri Seventeenth Street sampai ia melihat Reflecting Pool dan Washington Monument, di mana rombongan-rombongan anak sekolah menengah berkumpul untuk berfoto. Ia belok ke kanan dan berjalan menerobos Constitution Gardens dan melewati Vietnam

Memorial. Setelah dan sana. ia berhenti di kios, membeli dua batang cerutu murah, menyalakan salah satu. dan meneruskan perjalanan ke tangga Lincoln Memorial, di mana ia berlama-lama duduk dan memandangi The Mali hingga Capitol di kejauhan. Berpikir jernih mustahil dilakukan. Satu pikiran jernih langsung dilanda dan didorong keluar pikiran lain. ta memikirkan ayahnya yang hidup di perata pancing pinjaman, berpura-pura itu kehidupan yang bagus tapi berkutat untuk mencari penghidupan; umur tahun tanpa masa depan apa pun; banyak minum untuk melarikan diri dari penderitaan, la mengisap cerahi itu dan membayangkan dirinya berbelanja, dan sekadar bersenang-senang u menghitung berapa banyak yang akan dibelanjakannya seandainya ia membeli segala yang ia inginkan—pakaian baru, mobd yang benar-benar bagus, perangkat stereo, bertamasya Sekeruhnya hanyalah pengurangan sedikit dan kekayaannya. Pertanyaan utamanya. Mobil macam apakah yang akan dibelinya. Sukses tapi tidak Dan tentu saja ia butuh alamat bani. Ia akan melihat-lihat daerah Georgetown untuk mencari rumah town house tua yang bagus, la pernah mendengar cerna bahwa beberapa di antaranya dijual seharga enam juta, tapi ia tidak butuh yang semahal itu. Ia yakin bisa menemukan rumah dalam kisaran harga Satu juta di sini. Satu juta di sana Ia memikirkan Rebecca, meskipun berusaha untuk tidak terus melakukannya. Selama empat tahun terakhir ini Rebeccalah satu-satunya teman tempatnya berbagi segalanya Kau tak ada seorang pun untuk diajak bicara Perpisahan

mereka baru lima hari, dan masih berlaku, tapi begitu banyak yang telah terjadi hingga ia hampir tak punya waktu memikirkannya. "Lupakan keluarga Van Horn," ia berkata keras, sambil mengepulkan segumpal asap tebal la akan menyumbangkan hadiah dalam jumlah besar pada Piedmont Pood, ditujukan untuk perjuangan melestarikan keindahan alam Virginia Utara la akan menggaji paralegal untuk tidak mengerjakan apa-apa selat» melacak pembebasan tanah dan rencana-rencana pengembangan terakhir yang akan dilakukan BVH Group, dan jika memungkinkan, ia diam-diam akan menyelinap dan menyewa pengacara bagi pemilik-pemilik tanah kecil yang tak menyadari bahwa mereka akan menjadi tetangga Bennett si Buldozer. Oh, betapa besar kesenangan yang akan ia dapatkan di segi lingkungan! Lupakanlah orangorang itu. Ia menyalakan cerutu kedua dan menelepon Jonah, yang berada di toko komputer untuk bekerja beberapa jam. "Aku pesan satu meja di Citronelle untuk jam delapan nanti," kata Clay. Tempat itu restoran Prancis favorit semua orang di D.C. saat ini. "Baik," kata Jonah. "Aku serius. Kita akan mengadakan perayaan. Aku ganti pekerjaan. Akan kujelaskan nanti. Datanglah saja ke sana." "Boleh aku bawa teman?" "Sama sekali tidak." Jonah ke mana-mana selalu dengan pacarnya yang temani. Saat pindah nanti, Clay akan pergi sendiri, dan tidak akan merindukan kelakuan ajaib Jonah di kamar, la menelepon dua teman kuliah lain. tapi keduanya sudah punya anak dan kewajiban, lagi pula pemberitahuan itu sangat mendadak. Makan malam bersama Jonah Selalu

merupakan petualangan. 12 Dt dalam saku kemejanya ada kartu nama baru, tintanya nyaris belum kering, dikirim langsung pagi tadi dari percetakan kilat. Kartu nama itu menyatakan dirinya sebagai Paralegal Kepala dari Kantor Hukum J. Clay Carter JJ. Rodney Albritton, Paralegal Kepala, seolah biro hukum itu punya divisi penuh paralegal di bawah perintahnya Kenyataannya tidak, tapi ia berkembang dengan kecepatan yang mengesankan. Seandainya punya waktu untuk membeli setelan jas baru, ia mungkin tidak akan memakainya pada misinya yang pertama. Seragam lama akan lebih j berhasil—blazer biru tua, dasi dilonggarkan, jeans pudar, sepatu tentara lusuh. Ia masih bekerja» di jalanan dan ia perlu tampil seperti itu. Ia menemukan Adelfa Pumphrey di tempat kerjanya, menatap dinding penuh monitor bsed-circuit tapi tak melihat apa pun. Anak laki-Jakinya meninggal sepuluh hari yang iafu. la memandang Rodney dan menunjuk clipboard di mana semua tamu diharuskan membubuhkan tanda tangan. Rodney mengeluarkan selembar kartu nama dan memperkenalkan diri "Saya bekerja untuk fe-' orang pengacara di p "Baguslah." katanya lembut, tanpa sedikit pun melirik kartu nama itu. "Saya ingin bicara beberapa menit dengan Anda." "Soal apa?" Tentang anak Anda, Ramon." "Ada apa dengannya?" "Saya tahu beberapa hal yang tidak Anda ketahui tentang kematiannya." "Itu bukan salah satu pokok pembicaraan favoritku saat ini." "Saya mengerti, dan saya minta maaf harus bicara tentang hal itu. Tapi Anda akan menyukai apa yang akan saya katakan^ dan saya takkan berlama-lama." Ia melihat sekeliling. Jauh

di ujung lorong ada penjaga berseragam lain, berdiri di sebelah pintu, setengah tertidur. "Aku bisa istirahat dua puluh menit lagi," katanya. 'Temui aku di kantin, satu lantai di atas." Sewaktu berjalan pergi, Rodney berkata pada diri sendiri bahwa, ya, memang ia layak mendapatkan setiap.sen dari gaji barunya yang gemuk. Orang kulit putih yang mendekati Adelfa Pumphrey dengan persoalan yang begitu peka tentu akan masih berdiri di depannya sana, gelisah, gemetar, bingung mencari kata-kata sebab Adella akan bergeming. Wanita itu takkan percaya padanya, takkan percaya dengan apa pun yang ia ucapkan, takkan menaruh minat pada spa pun yang ia katakan, setidaknya dalam hma belas menit pertama- berkulit hitam. Tapi Rodney cakap, pintar, «n dan Aldelfa ingin bicara pada seseorang. Berkas Max Pace tentang Ramon Pumphrey ringkas tapi mendalam; tak banyak informasi yang perlu diulas. Pria yang diduga sebagai ayahnya tak pernah menikah dengan ibunya. Nama laki-laki itu Leon Tease, dan ia saat ini ada di penjara Pennsylvania, menjalani hukuman kurungan tiga puluh tahun karena perampokan bersenjata dan melakukan percobaan pembunuhan. Jelas ia dan Adelfa hidup bersama cukup lama untuk mendapatkan dua anak—Ramon dan satu saudara lakilaki yang sedikit lebih muda bernama Michael. Adik lakilaki lain dilahirkan kemudian dan laki-laki yang dinikahi Adelfa dan lantas diceraikannya Ia saat ini tidak menikah dan berusaha membesarkan dua anak laki-lakinya yang tersisa, ditambah dua keponakan perempuan, anak adik perempuan yang masuk penjara karena menjual crack,

Adelfa memperoleh penghasilan $21.000 dari be- j kerja pada perusahaan swasta yang disewa untuk menjaga gedung-gedung perkantoran berisiko rendah di D.C. Dari apartemennya di proyek perumahan di Timur Laut, ia mondar-mandir ke pusat kota setiap hari dengan kereta bawah tanah. Ia tidak punya J mobil dan tidak pernah belajar mengemudi, la punya rekening bank dengan saldo yang sangat kecil dan I. dua kartu kredit yang terus menjerumuskannya dalam I masalah dan menghancurkan peluang apa pun untuk memperoleh kredit yang baik Ia tidak punya catatan I kriminal. Selain bekerja dan mengurus keluarga, minat satu-satunya di luar rumah tampaknya hanyalah Old Salem Gospel Center tak jauh dari tempat tinggalnya. Karena sama-sama besar di kota yang sama, mereka memainkan permainan "Siapa yang kau kenal?" selama beberapa menit. Di mana kau bersekolah? Dari mana orangtuamu berasal? Mereka menemukan satu-dua hubungan renggang. Adelfa minum diet cola. Rodney minum kopi pahit. Kantin itu setengah penuh dengan birokrat-birokrat rendahan yang berceloteh tentang apa saja kecuali pekerjaan monoton yang harus mereka lakukan. "Kau ingin bicara tentang anakku," katanya sesudah beberapa menit basa-basi yang canggung. Suaranya lembut dan rendah, tertekan, dan masih menderita. Rodney bergerak-gerak sedikit resah dan mencondongkan badan lebih rendah. "Ya, dan. sekali lagi, saya minta maaf harus bicara tentangnya Saya juga punya anak: Saya tak bisa membayangkan apa yang Anda alami" "Kau benar soal itu." "Saya bekerja untuk seorang

pengacara di kota ini, masih muda, sangat cerdas, dan setiang menangani sesuatu yang bisa memberi Anda banyak uang." Gagasan tentang uang dalam jumlah besar itu tampaknya tak menggugah hati Adelft. . „„ «Rncah van u membunuh Rodney meneruskan. Bocah y ^ Ramon itu baru W* ™w d* empat bulan kecanduan obat di mana m dikurung. Ia pencandu, anak jalanan, tanpa banyak I peluang dalam hidupnya. Sebagai bagian dari pengobatannya mereka memberinya sejenis obat. Kami kira salah satu obat itu membuatnya cukup sinting j untuk memilih korban sembarangan dan mulai menembak" "Bukan jual-beli obat terlarang yang jadi tidak beres?" "Bukan, sama sekali bukan." Matanya menerawang, lalu jadi basah, dan beberapa saat Rodney bisa melihat perasaannya akan runtuh. Tapi kemudian Adelfa memandangnya dan berkata, "Uang dalam jumlah besar? Berapa banyak?" "Lebih dari satu juta dolar," katanya dengan wajah tak menunjukkan perubahan perasaan apa pun, wajah pemain poker yang sudah puluhan kali dilatihnya sebab ia sangat sangsi bisa menyampaikan kalimat itu tanpa membuat matanya berbinar-binar liar. Tak ada reaksi Adelfa yang kelihatan, setidaknya pada permulaan. Sekali lagi matanya menerawang ke sekeliling ruangan. "Kau mempermainkan aku?" ia bertanya. . "Apa alasan saya melakukan hal itu? Saya tidak mengenal Anda. Mengapa saya datang ke sini dan mempermainkan Anda? Ada uang, dalam jumlah besar. Uang perusahaan farmasi besar yang menginginkan Anda mengambilnya dan menutup mulut." "Perusahaan besar apa?" "Dengar,

saya sudah menceritakan segala yang saya tahu. Tugas saya adalah menemui Anda, menceritakan pada Anda apa yang terjadi, dan mengundang Anda menemui Mr. Carter, pengacara yang menjadi atasan saya. Dia akan menjelaskan segalanya" "Orang kulit putih?" "Yap. Orang baik. Saya sudah lima tahun bekerja dengannya. Anda akan menyukainya, dan Anda akan menyukai apa yang ia katakan." Mata yang basah itu sudah kering, la mengangkat bahu dan berkata, "Baiklah." "Pukul berapa Anda selesai kerja?" ia bertanya. "Setengah lima." "Kantor kami ada di Connecticut Avenue, lima belas menit dari sini. Mr. Carter akan menunggu Anda. Anda sudah punya kartu nama saya." la memandang kartu nama itu lagi. "Dan ada satu hal yang sangat penting," Rodney berkata, nyaris berbisik, "Semua ini akan lancar kalau Anda tetap bungkam. Ini rahasia yang sangat penting. Anda lakukan apa yang disarankan Mr. Carter untuk Anda lakukan, maka Anda akan mendapat uang lebih banyak daripada yang pernah Anda impikan. Tapi kalau sampai ada omongan bocor ke luar, maka Anda takkan mendapatkan apa-apa." Adelfa mengangguk. "Dan Anda perlu mulai memikirkan untuk pindah." "Pffldah?" "Misalnya pindah ke rumah baru di kota baru, di mana tak ada orang yang mengenal Anda dan tak seorang pun tahu Anda punya banyak uang. Rumah bagus di jalan yang aman, tempat anak-anak bisa mengendarai sepeda di trotoar, tak ada pengedar narkoba, tidak ada geng. tidak ada detektor logam d, sekolah. Tidak ada sanak keluarga yang menginginkan uang Anda. Tenmalah nasihat dari seseorang yan

mbesarkan seperti diri Anda. Pindahlah. Tinggalkan tempat ini. Anda bawa uang ini kembali ke Lincoln Towers, maka mereka akan melahap Anda hidup, hidup." Rayuan Clay ke OPD sejauh ini berhasil menjaring Miss Glick sekretaris yang sangat efisien itu, yang hanya sedikit sangsi pada prospek mendapatkan gaji dua kali lipat, dan rekan lamanya Paulette Tullos yang, meskipun diurus dengan baik oleh suami Yunani-nya yang jauh, toh langsung menerkam peluang memperoleh $200.000 setahun, bukannya $40.000; dan tentu saja, Rodney. Rayuan itu me; mancing dua telepon mendesak dari Glenda yang masih harus dijawab, dan serentetan e-mail tajam, yang juga diabaikan, setidaknya untuk sekarang ini. Clay bersumpah kepada diri sendiri untuk menemui Glenda dalam waktu dekat dan memberikan dalih lemah mengapa ia mencuri orang-orang baiknya. Untuk mengimbangi orang-orang baik itu, ia mempekerjakan teman serumahnya, Jonah, yang meskipun tak pernah melakukan praktik hukum—r-ia lulus ujian pengacara setelah lima kali mencoba—adalah teman dan kepercayaan yang diharapkan Clay bisa mengembangkan keahlian hukum. Jonah punya mulut besar dan suka minum, jadi Clay sangat samar-samar menceritakan detail biro hukumnya yang baru. ia merencanakan memberi Jonah informasi sedikit demi sedikit, tapi ia mulai dengan perlahan-lahan. Mencium bau uang, Jonah menegosiasikan gaji awal sebesar $90.000, yang sebetulnya kurang dari gaji sang Paralegal -Kepala, meskipun tak seorang pun di biro hukum itu tahu berapa penghasilan yang lain. Kantor Akuntan Publik di lantai tiga

menangani segala pembukuan dan pembayaran gaji. Clay memberi Paulette dan Jonah penjelasan cermat seperti pada Rodney. Ringkasnya: Ia kebetulan terlibat persekongkolan yang melibatkan sejenis obat buruk— nama obat itu dan nama perusahaannya tidak akan pernah diungkapkan pada mereka atau pada orang lain. Ia menjalin hubungan dengan perusahaan ini. Kesepakatan dibuat dengan cepat. Uang dalam jumlah besar berpindah tangan. Kerahasiaan sangatlah penting. Kerjakan saja tugasmu dan jangan banyak bertanya Kita akan membangun biro hukum kecil yang bagus, tempat kita mencetak banyak uang sambil bersenang-senang. Siapa bisa mengatakan tidak pada tawaran seperti itu? Miss Glick menyambut Adelfa Pumphrey seolah ia klien pertama yang memasuki biro hukum baru yang mengilap itu, dan sebenarnya memang ya. Segalanya berbau baru—cat, karpet, kertas dinding, mebel Italia berlapis kulit asli di tempat penerimaan tamu. Miss Glick membawakan air untuk Adelfa di dalam gelas kristal yang belum pernah dipakai. lalu kembali pada tugasnya mengatur meja kerja barunya yang berlapis kaca dan krom. Paulette adateli orang beriLmya Ia membawa Adelfa masuk kantornya uunT^embicaraan awal, yang lebih dan percakapan semiserius antarwaxuta. PauJette membuat banyat catatan tentang keluarga dan latar belakangnya, info. masi yang sama dengan yang disiapkan Max Pace* Ia mengucapkan kata-kata yang tepat bagi ibu yan»' sedang berduka cita. Sejauh ini setiap orang yang menemuinya berkulit j hitam, dan Adelfa merasa tenteram dengan fakta ini. "Anda

mungkin pernah melihat Mr. Carter," Paulette berkata, mengikuti skenario kasar yang disiapkannya bersama Clay.' la ada di pengadilan ketika Anda berada di sana. ia ditunjuk Hakim mewakili Tequila Watson, tapi ia melepaskan kasus itu. Begitulah ia terlibat dalam urusan penyelesaian masalah ini." Adelfa kelihatan sebingung yang mereka kira. Paulette meneruskan. "Saya dan dia sudah lima tahun bekerja bersama di Kantor Pembela Umum. Kami mengundurkan diri beberapa hari yang lalu dan membuka biro hukum ini. Anda akan menyukainya Dia orang yang sangat menyenangkan dan pengacara yang baik Jujur, dan loyal pada kliennya." "Kalian baru saja buka?" "Ya Clay sudah lama ingin punya biro hukum sendiri Dia meminta saya bergabung. Anda ada di tangan orang-orang yang sangat andal, Adelfa." Kebingungan berubah menjadi keheranan. "Ada pertanyaan?" Paulette bertanya. "Aku punya begitu banyak pertanyaan sampai tidak tabu dari mana hams mulai" "Saya mengerti. Inilah saran saya untuk Anda. Jangan banyak bertanya. Ada perusahaan besar di luar sana yang ingin membayar Anda dalam jumlah besar untuk membereskan kemungkinan gugatan berkaitan dengan kematian anak Anda. Kalau Anda sangsi dan mengajukan pertanyaan, Anda bisa dengan mudah tidak mendapatkan apa pun. Ambil saja uang itu, Adelfa. Ambil dan lari." Ketika akhirnya tiba saat untuk menemui Mr. Carter. Paulette membimbingnya berjalan di lorong menuju kantor besar di sudut. Sudah satu jam Clay mondar-mandir dengan gelisah, tetapi ia menyambut perempuan itu dengan tenang dan

mengucapkan selamat datang ke biro hukumnya. Dasinya dikendurkan, lengan kemejanya digulung ke atas, meja kerjanya ditampi segala macam berkas dan dokumen seolah ia sedang mengurus banyak perkara di berbagai bidang. Paulette tinggal di sana sampai suasana benarbenar mengendur, lalu, sesuai rencana, ia mengundurkan diri. "Saya kenal Anda," Adelfa berkata. "Ya, saya ada di pengadilan saat pembacaan tuduhan. Hakim melimpahkan kasus itu pada saya, tapi saya melepaskannya. Sekarang saya bekerja di pihak yang berseberangan." "Saya mendengarkan." "Anda mungkin bingung dengan semua ini." "Benar." "Sesungguhnya masalahnya cukup sederhana." Clay duduk di pinggir meja kerja dan memandangi wajah yang kebingungan itu. Ia melipat lengan di dada dan mencoba menampilkan sikap bahwa ia pernah melakukan hal ini. Ia meluncurkan narasinya tentang perusahaan farmasi besar itu, dan meskipun imJebih panjang dan lebih hidup daripada penuturan Rodney, ismya adalah cerita yang sama tanpa mengungkap^ fakta haru. Adelfa duduk di kursi kulit empuk iS tak mengedipkan mata, tak yakin apa yang harus dipercayainya. Saat menutup cerita, Clay berkata, "Mereka ingin memberi Anda uang dalam jumlah besar, sekarang juga." "Siapa sebenarnya mereka?" "Perusahaan farmasi itu." "Apakah ia punya nama?" "Perusahaan ini punya beberapa nama, dan beberapa alamat, dan Anda tidak akan pernah tahu identitasnya yang sejati Itu bagian dari kesepakatan ini. Kita Anda dan saya, pengacara dan klien, harus setuju untuk merahasiakan segalanya." Adelfa akhirnya berkedip,

lalu menyilangkan kembali J tangannya dan menggeser berat badan. Matanya nanar I ketika ia menatap permadani Persia baru yang melapisi I setengah kantor itu. "Berapa?" ia bertanya lirih. "Lima juta dolar." I Ta Tuhan," katanya sebelum tangisnya pecah. Ia j menutupi mata dan terisakisak dan beberapa lama tidak berusaha menghentikannya. Clay mengangsurkan j tisu dalam kotak. f Uang penyelesaian perkara itu disimpan di Chase Bank di sebelah uang Clay, menunggu dibagikan Dokumen Max ada di meja kerja, setumpuk. Clay menuntun Adeha mempelajarinya, menjelaskan bahwa uang itu akan ditransfer besok pagi-pagi begitu bank buka. Ia membalik halaman demi halaman dokumen itu, memberikan penjelasan-penjelasan pokok tentang persoalan hukum, meminta tanda tangannya di mana diperlukan. Adelfa terlalu bingung untuk berbicara banyak. "Percayalah pada saya," kata Clay lebih dari sekali. "Kalau Anda mau uang itu, tandatanganilah di sana." "Saya merasa seperti melakukan sesuatu yang salah," katanya suatu ketika. Tidak, kekeliruan itu dilakukan orang lain. Di sini Anda adalah korban, Adelfa, korban dan sekarang klien." "Saya perlu bicara dengan seseorang," katanya begitu membubuhkan tanda tangan lagi. Tapi tak ada siapa pun untuk diajak bicara. Menurut data intelijen Max, ada pacar yang datang dan pergi, dan ia bukan jenis orang untuk dimintai nasihat Ia punya beberapa saudara laki-laki dan perempuan, tersebar dari D.C. hingga Philadelphia, tapi mereka jelas tidak lebih pintar daripada Adelfa. Kedua orang-tuanya sudah meninggal. "Itu akan merupakan

tindakan keliru," kata Clay hati-hati "Uang ini akan meningkatkan kehidupan Anda kalau Anda tetap diam. Kalau Anda bicara, maka ia akan menghancurkan Anda." "Saya tidak pandai mengelola uang." "Kami bisa membantu. Kalau Anda mau, Paulette bisa memantau semuanya untuk Anda dan memberikan nasihat." "Saya ingin begitu." "Untuk itulah kami ada di sini." Paulette mengantarnya pulang dengan mengemudikannya perlahanlahan di tengah I I jam sibuk. Sesudahnya, ia bercerita pada* ClatV^ Adelfa sangat sedikit berbicara, dan ketika' a tiba di proyek perumahan, i. tidak mau tunuTT" puiuh upannva menit, yang mereka duduk di sana selama tiga bercakap-cakap pelan tenang kehid bara. Tak ada lagi tunjangan sosial, tak ada lag; tembakan senjata api di waktu malam. Tak-perlu lagi doa-doa agar Tuhan melindungi anak-anaknya. Tak perlu lagi ia khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya seperti dulu terhadap Ramon. Tak ada lagi geng. Tak ada lagi sekolah jelek. Ia menangis ketika akhirnya mengucapkan selamat tinggal. 13 mi M LOBIL Porsche Carrera hitam itu - meluncur hingga berhenti di bawah pohon pelindung di Dumbarton Street. Clay keluar dan selama beberapa detik ia bisa tak menghiraukan mainan terbarunya tapi sesudah melihat sepintas ke segala penjuru, ia berpaling dan sekali lagi mengagumi mobil itu. Sudah tiga hari ini jadi miliknya, dan ia masih belum bisa percaya ia memilikinya. Biasakanlah, ia terus berkata pada diri sendiri, dan dengan susah payah ia bisa berlagak seolah itu cuma mobil biasa, tak ada yang istimewa, tetapi melihatnya lagi sesudah beberapa lama

tetap membuat denyut nadinya terpacu. "Aku mengendarai Porsche," katanya pada diri sendiri dengan suara keras sewaktu menderu di tengah lalu lintas seperti pembalap Formula Satu. Ia berada delapan' blok dari kampus utama Georgetown University, tempat ia menghabiskan empat tahun sebagai mahasiswa sebelum pindah ke sekolah hukumnya di dekat Capitol Hill. Rumah-rumah town house di sana memiliki nilai sejarah dan indah; halaman rumputnya yang sempit dipangkas llpi; jalanannya diteduhi peopohonan ek dan maple tua. Berbagai toko, bar, dan restoran yang sibuk d Street hanya dua blok ke selatan, dapat dicapai dengan mudah dengan berjalan kaki. Selama empat tahun dulu ia suka berjoging di jalan-jalan ini, dan menghabiskan malam-malam panjang bersama teman-teman babah untuk "berburu" di berbagai pub sepanjang Wisconsin Avenue dan M Street. Kini ia akan tinggal di sini. Rumah yang menarik perhatiannya itu ditawarkan dengan harga $1,3 juta Ia menemukannya saat berjalan-jalan dengan mobilnya di Georgetown dua hari yang lalu. Ada satu lagi di N Street dan satu lainnya di Vona, semua hanya sepelemparan batu dari satu sama lain. Ia bertekad membeli salah satu sebelum akhir pekan ini. Rumah di Dumbarton itu, pilihan pertamanya, dibangun pada tahun 1850-an dan sejak itu selalu dirawat baik-baik. Tampak mukanya yang terbuat dan bata sudah dicat berkali-kali dan kini berwarna biru pudar. Empat tingkat, termasuk lantai bawah tanah. Agen real estatnya mengatakan rumah tersebut sangat dirawat pasangan suami-istri yang sudah pensiun dan pernah menjamu

keluarga Kennedy dan Kissinger dan banyak orang penting lain. Agen-agen real estat Washington bisa menyebut nama terkenal lebih cepat danpada yang di Beverly Hills, terutama saat menjajakan properti di Georgetown. Clay bma belas menit lebih awal. Rumah itu kosong; menurut si agen, pemiliknya kini menjalani hidup dengan dibantu orang lain. Ia berjalan melewati gerbang di samping rumah dan mengagumi kebun kecil di belakang. Tidak ada kolam renang dan tidak ada tempat untuk itu; lahan real estat sangat berharga di Georgetown. Ada path di belakang rumah, dengan mebel dan besi tempa dan sulur tanaman merambat dari bedeng bunga. Clay akan punya waktu untuk berkebun, tapi tidak banyak. Mungkin ta akan membayar saja perusahaan pengurus halaman. la suka rumah itu dan rumah-rumah lain di sebelahnya, la suka jalan itu, kenyamanan daerah tersebut, semua orang tinggal dekat satu sama lain tapi menghormati privasi masing-masing. Duduk di tangga depan, ia memutuskan akan menawar satu juta bulat, lalu ngotot menegosiasikannya, menggertak dan berjalan pergi, dan senang menyaksikan agen real estat itu mondar-mandir, tapi pada akhirnya ia dengan senang hati bersedia membayar harga yang diminta. Memandangi Porsche itu, pikirannya kembali mengembara menjelajahi dunia fantasi di mana uang tumbuh di pohon dan ia bisa membeli apa saja yang ia inginkan. Setelan jas Italia, mobil sport Jerman, real estat Georgetown, kantor di pusat kota. dan apa berikutnya? Ia selama ini berpikir untuk membelikan perahu buat ayahnya, berukuran lebih besar tentunya, untuk

memberikan penghasilan lebih banyak. Ia bisa mendirikan bisnis penyewaan perahu di Bahama, mendepresiasikan nilai perahu itu, menghapuskan sebagian besar nilai bukunya, hingga memungkinkan ayahnya menikmati hidup yang memadai. Jarrett sekarat di sana, minum terlalu banyak, tidur dengan apa saja yang bisa ia temukan, tinggal di perahu pinjaman, mengais-ngais tip. Clay bertekad membuat hidupnya lebih mudah. Terdengar pintu dibanting dan menyela lamunan belanjanya, yang hanya sesaat. Si agen sudah tiba. Daftar korban Pace berhenti di nomor tujuh. Tujuh yang ia ketahui. Tujuh yang dapat dipantaunya dan orang-orangnya Tarvan kini sudah delapan belas hari ditarik, dan berdasarkan pengalaman perusahaan itu,-mereka tahu bahwa apa pun yang dilakukan obat tersebut sehingga membuat orang membunuh biasanya berhenti bekerja sesudah sepuluh hari. Daftarnya kronologis, dengan Ramon Pumphrey pada urutan keenam. Nomor satu adalah mahasiswa di George Washington yang bara saja keluar dari kedai kopi Starbucks di Wisconsin Avenue, Bethesda, dan kebetulan dilihat seorang laki-laki bersenjata. Mahasiswa itu berasal dari Bluefield, West Virginia. Clay menempuh perjalanan lima jam ke sana dengan rekor baru, sama sekali tak tergesa-gesa tapi seperti pengemudi mobil balap melesat menerobos Lembah Shenandoah. Mengikuti instruksi Pace dengan tepat, ia menemukan rumah orangtua korban, bungalo kecil yang tampak agak menyedihkan di dekat pusat kota. Ia duduk di jalan masuk dan dengan suara keras benar-benar mengatakan, Tak bisa kupercaya

aku melakukan ari." Ada dua hal yang memotivasinya keluar dari mobil. Pertama, ia tak punya pilihan. Kedua, prospek mendapatkan seluruh hma belas juta dolar itu, bukan sepertiga atau dua pertiganya. Seluruhnya Ia memakai pakaian kawal dan meninggalkan tas kerjanya di dalam mobil. Si ibu ada <H rumah tapi si ayah masih bekerja. Dengan enggan wanita itu menyalakannya masuk, tapi kemudian menawarkan teh dan makanan kecil. Clay menunggu di sofa di ruang duduk foto-foto si almarhum anak ada di mana-mana. Tirai-tirainya ditutup. Rumah itu acak-acakan. Apakah yang kulakukan di sini? Wanita itu lama berbicara tentang anaknya, dan Clay mendengarkan setiap kata. Si ayah menjual asuransi beberapa blok dari sana, dan ia pulang sebelum es di dalam gelas teh meleleh. Clay menceritakan duduk perkaranya pada mereka, sejelas mungkin. Pada mulanya muncul beberapa pertanyaan ragu—Berapa banyak lagi yang mati karena ini? Mengapa kita tidak bisa pergi pada pihak yang berwajib? Tidakkah seharusnya hal ini diungkapkan? Clay menjawabnya seperti veteran. Pace telah mempersiapkannya dengan baik Seperti semua korban, mereka punya pilihan. Mereka bisa marah, mengajukan pertanyaan, mengajukan tuntutan, menginginkan keadilan, atau mereka bisa mengambil uang itu tanpa ribut-ribut Jumlah 5 juta dolar itu pada mulanya tak dapat dipahami, atau seandainya dipahami, mereka dengan baik menyembunyikannya. Mereka ingin marah dan tak tertarik pada uang, paling tidak pada awalnya. Tapi saat siang menjelang mereka mulai paham. "Kalau Anda tidak bisa

mengatakan pada kami nama sebenarnya perusahaan tersebut maka saya tidak akan menerima uang itu," si ayah berkata di suatu saat. - »saya tidak tahu nama sebenarnya," kata Clay. Ada air mata dan ancaman, cinta dan kebencian, pengampunan dan pembalasan, hampir semua emos: datang dan pergi sepanjang siang hingga menjelang malam. Mereka bara saja memakamkan putra bungsu mereka dan kepedihan itu mematikan perasaan dan tak terkirakan beratnya Mereka tak menyukai CJay karena datang, tapi mereka mengucapkan terima kasih tak terimgga atas keprmatinannya. Mereka tak mempercayainya sebagai pengacara kota besar yang jelas-jelas berbohong tentang penyelesaian perkara yang begitu tak masuk akal, tapi mereka memintanya tinggal untuk makan malam, apa pun makanannya. ( Santapan malam tiba tepat pukul 18.00. Empat wanita dari gereja mereka membawa cukup makanan untuk seminggu. Clay diperkenalkan sebagai teman dari Washington, dan langsung jadi sasaran pemeriksaan habis-habisan oleh empat wanita itu. Pengacara peradilan paling gigih pun tak mungkin lebih ingin tahu dari mereka Para wanita itu akhirnya berlalu. Sesudah makan malam, sewaktu malam melarut, Clay mulai mendesak mereka. Ia menawarkan satu-satunya kesepakatan yang akan mereka peroleh. Tak lama sesudah pukul 22.00, mereka mulai menandatangani dokumen. Nomor tiga jelas merupakan yang paling sulit Ia pelacur berumur tujuh bela» tahun yang bekerja di jalanan hampir sepanjang hidupnya, Pihak kepolisian mengira ia dan pembunuhnya pernah punya hubungan bisnis, tapi

tidak ada petunjuk apa pun mengapa pria itu menembaknya. Si pembunuh melakukannya di luar bar. di depan tiga sakat. Ia dikenal dengan nama Bandy, tanpa perlu nama keluarga apa pun. Riset Pace tidak mengungkapkan adanya suami, ibu, ayah, saudara, anak. alamat rumah, sekolah, gereja, atau, yang paling mencengangkan, catatan polisi. Tidak ada upacara pemakaman. Seperti dua lusin lainnya di D.C. setiap tahun. Bandy dimakamkan sebagai gelandangan tanpa sanak keluarga. Ketika salah satu agen Pace menanyai kantor pengurus pemakaman kota, ia di beri tahu, "Ia dikuburkan di makam pelacur tak dikenal." Pembunuhnya memberikan satu-satunya petunjuk. Ia mengatakan pada polisi bahwa Bandy punya bibi yang tinggal di Little Beirut, ghetto paling berbahaya di daerah tenggara D.C. Tetapi sesudah penyelidikan tak kenal lelah selama dua minggu, si bibi tidak ditemukan. Dengan- tak diketahuinya pewaris, uang penyelesain perkara mustahil diberikan. JEN Tarvan terakhir yang akan menandatangani dokumen itu adalah orang-tua mahasiswi Howard University berusia dua puluh tahun yang baru satu minggu drop out dari sekolah dan terbunuh minggu berikutnya. Mereka tinggal m' Warrenton, Virginia, empat puluh mil sebelah barat D.C. Selama satu jam mereka duduk di kantor Clay dan berpegangan tangan erat-erat, seolah mereka tidak bisa berfungsi jika sendirian. Mereka kadang-kadang menangis, menumpahkan kesedihan tak terkatakan. Kadang-kadang mereka tenang, begitu kaku dan kuat dan sepertinya tak tergerak oleh uang itu sehingga Clay menyangsikan

mereka akan menerima uang penyelesaian perkara. Tetapi mereka menerimanya, meskipun di antara semua klien yang telah diprosesnya; Clay yakin merekalah yang paling sedikit terpengaruh oleh uang tersebut. Bersama lewatnya waktu mereka mungkin akan menghargainya; tapi untuk sekarang ini mereka hanya ingin putri mereka kembali. Paulette dan Miss Glick mengantar mereka keluar dari kantor dan menuju :M, di mana semua berpelukan lagi. Sewaktu pintu menutup, orangtua itu menahan air mata. Tim kecil Clay bertemu di mang rapat di mana 170 mereka membiarkan waktu berlalu dan bersyukur tak ada lagi janda dan orangtua berkabung yang mengunjungi mereka, setidaknya dalam waktu dekat ini. Sampanye yang sangat mahal sudah didinginkan untuk merayakan peristiwa ini, dan Clay mulai menuangkannya. Miss Glick menolak sebab ia tidak minum apa pun yang mengandung alkohol, tapi ia satu-satunya di biro hukum ini. Paulette dan Jonah kelihatan sangat haus. Rodney lebih suka bir Budweiser, tapi ia meneguk minuman itu bersama yang lain. Giliran botol kedua, Clay bangkit untuk berbicara. "Aku punya beberapa pengumuman," katanya sambil mengetuk gelasnya. "Pertama, kasus:kasus Tylenol sekarang sudah beres. Selamat dan terima kasih untuk kalian semua." Ia menggunakan nama Tylenol sebagai kode untuk Tarvan, nama yang takkan pernah mereka dengar. Tidak pula mereka akan tahu berapa besar uang jasanya. Jelas Clay dibayar sangat banyak, tapi mereka tak tahu jumlahnya. Mereka bertepuk tangan untuk diri sendiri. "Kedua, kita akan' mulai merayakannya malam ini dengan makan

malam di Citronelle. Pukul delapan tepat Ini bisa jadi malam yang panjang sebab tidak ada kerja besok. Kantor ditutup." Tepuk tangan lagi, sampanye lagi. "Ketiga, dua minggu lagi kita akan berangkat ke Paris. Kita semua, ditambah satu teman masing-masing, lebih disukai suami atau istri kalau kalian punya. Semua pengeluaran akan ditanggung. Tiket pesawat kelas satu, hotel mewah, gaji. Kita akan pergi selama satu minggu. Tanpa perkecualian. Akulah bosnya dan aku memerintahkan kalian semua pergi ke Paris." Miss Glide menutup mulutnya dengari dua tangan. Mereka semua tertegun-tegun, dan Paulette yang pertama berbicara. "Bukan ke Paris, Tennessee." "Bukan, Sayang, Paris yang sesungguhnya." "Bagaimana kalau aku kebetulan bertemu suamiku di sana?" ia bertanya sambil setengah tersenyum, dan meledaklah tawa di sekeliling meja. "Kau boleh pergi ke Tennessee kalau mau," kata Clay. 'Tidak usah ya." Ketika aMiimya bisa berbicara, Miss Glick berkata, "Aku akan perlu paspor." "Formulirnya ada di mejaku. Aku akan mengurusnya Itu hanya butuh waktu kurang dari seminggu. Ada yang lain?" Mereka berbincang-bincang tentang cuaca dan makanan dan apa yang harus dipakai. Jonah langsung mulai berdebat tentang gadis mana yang akan dibawanya Paulette satu-satunya yang pernah ke Paris, saat berbulan madu, pertemuan singkat yang berakhir menyedihkan ketika si Yunani dipanggil untuk menangani urusan mendesak. Ia terbang pulang seorang diri, di kelas ekonomi, meskipun ia berangkat ke sana di kelas satu. "Sayang, di kelas satu mereka menyediakan sampanye

untuk kalian," ia menjelaskan pada mereka semua. "Dan tempat duduknya sebesar sofa." "Aku boleh membawa siapa pun?" Jonah bertanya, jelas berkutat tentang keputusannya. "Mari kita batasi pada siapa pun yang belum bersuami, oke?" kata Clay. "Itu mempersempit pilihan." "Siapa yang akan kaubawa?" Paulette bertanya. k 172 "Mungkin tidak ada," kata Clay, dan ruangan jadi hening sesaat. Mereka sudah berbisik-bisik soal Rebecca dan perpisahan itu, Jonah yang memasok sebagian besar gosipnya. Mereka ingin bos mereka bahagia, meskipun tidak cukup dekat untuk ikut campur. "Apa nama menara di sana?" Rodney bertanya. "Menara Eiffel," kata Paulette. "Kau bisa naik sampai ke puncaknya." "Aku tidak akan melakukannya. Kelihatannya tidak aman." "Kau akan jadi pelancong sejati, aku bisa melihatnya." "Akan berapa lama kita di sana?" tanya Miss Glick. 'Tujuh malam," kata Clay. "Tujuh malam di Paris." Dan mereka semua hanyut tak tentu arah, terbawa sampanye. Sebulan yang lalu mereka terkurung di OPD, melakukan pekerjaan yang menjemukan. Semuanya kecuali Jonah, yang waktu itu secara parowaktu berjualan komputer. Max Pace ingin bicara, dan. karena biro hukum tutup, Clay menyarankan mereka bertemu di sana, siang hari, sesudah sisa mabukmabukan disingkirkan. Hanya sakit kepala yang tersisa. "Kau kelihatan tak keruan," Pace mulai dengan ramah. "Kami merayakannya." ¦ "Apa yang akan kubicarakan ini sangat penting. Apakah kau siap?" "Aku bisa memahami omonganmu. Katakan saja." Pace memegang gelas kertas tinggi berisi kopi yang dibawa-bawanya sewaktu mondar-

mandir di ruangan. "Kekacauan Tarvan sudah berakhir," katanya pasti. Masalah baru berakhir ketika ia mengatakannya berakhir, dan tidak sebelumnya. "Kita sudah membereskan keenam kasus itu. Kalau sampai muncul seseorang yang menyatakan dirinya sebagai keluarga Bandy, maka kami berharap kau mengurusnya. Tapi aku yakin ia tidak punya keluarga." "Aku juga" "Kerjamu bagus, Clay." "Aku dibayar mahal untuk itu." "Aku akan mentransfer pembayaran terakhir hari ini. Seluruh lima belas juta akan ada di rekeningmu. Yang tersisa darinya" "Apa yang kauharapkan akan kulakukan? Mengendarai mobil tua, tidur di apartemen kumuh, terus memakai pakaian murahan? Kau sendiri yang mengatakan aku hams memakai sebagian uang itu untuk menciptakan kesan yang tepat" "Aku-bercanda. Dan caramu tampil seperti orang kaya itu hebat" "Terima kasih." "Kau melakukan penyesuaian diri dari miskin menjadi kaya dengan sangat gampang." "Itu bakat." "Tapi berhati-hatilah. Jangan menarik terlalu banyak perhatian." "Ayo kita bicarakan kasus selanjutnya»" Sambil berkata begitu, Pace duduk dan menyodorkan berkas. "Obat itu Dyloft, dibuat Ackerman Labs. Itu obat antiinflamasi yang sangat manjur untuk penderita arthritis akut. Dyloft masih baru dan para dokter sudah tergila-gila padanya Khasiatnya luar biasa, pasien menyukainya. Tapi ada dua masalah: Pertama, obat itu dibuat oleh salah satu pesaing klienku; kedua, ia dikaitkan dengan timbulnya tumor kecil di kandung kemih. Klienku, klien yang sama dengan Tarvan, membuat obat yang mirip dan cukup populer sampai dua

belas bulan yang lalu ketika Dyloft dipasarkan. Pasar obat ini bernilai sekitar tiga miliar dolar setahun. Dyloft sudah menduduki urutan kedua dan mungkin akan meraih satu miliar dolar tahun ini. Sulit untuk mengetahuinya sebab pertumbuhannya begitu pesat. Nilai penjualan obat klienku mencapai satu setengah miliar dolar dan pangsa pasarnya menyusut cepat. Penjualan Dyloft melonjak hebat dan tak lama lagi akan menghantam habis semua pesaing. Obat ini begitu hebat khasiatnya. Beberapa bulan yang lalu klienku membeli perusahaan farmasi kecil di Belgia. Perusahaan itu dulu punya divisi yang kemudian dicaplok Ackerman Labs. Beberapa perisetnya dikeluarkan dan ditipu. Beberapa hasil kajian laboratorium menghilang lalu muncul kembali di tempat yang tak seharusnya. Klienku punya saksi dan dokumen untuk membuktikan Ackerman tahu masalah potensial obat tersebut setidaknya selama enam bulan terakhir ini. Kau masih memahami keteranganku?" »Ya. Berapa banyak yang sudah memakai Dyloft?" "Sangat sulit mengetahuinya sebab angkanya meningkat begitu cepat. Mungkin satu juta." "Berapa persen yang kena tumor? 175 lima persen, "Riset itu mengindikasikan sekitar cukup untuk membunuh obat itu." "Bagaimana kau tahu pasien menderita tumor atau hdakr "Dari analisis urine." "Kau ingin aku menggugat Ackerman Labs?" Tunggu dulu. Fakta sebenarnya tentang Dyloft akan segera terungkap. Sampai saat ini, belum ada gugatan, klaim, penelitian merugikan yang diterbitkan di jurnal-jurnal kedokteran. Mata-mata kami mengatakan Ackerman sedang sibuk menghitung uang dan menyembunyikannya

untuk dipakai membayar pengacara saat badai melanda. Ackerman mungkin juga akan memperbaiki obat tersebut, tapi itu makan waktu lama dan perlu persetujuan FDA. Mereka benar-benar dalam kesulitan sebab mereka buruh uang tunai. Mereka meminjam dana besar-besaran untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan lain, yang kebanyakan belum lunas dibayar. Saham mereka dijual dengan harga sekitar empat puluh dua dolar. Setahun yang lalu nilainya delapan puluh dolar." "Apa pengaruh berita tentang Dyloft terhadap perusahaan itu?" "Memukul nilai sahamnya, dan inilah yang sesungguhnya, diinginkan klienku. Kalau gugatannya ditangani dengan benar, dan aku mengasumsikan kau dan aku bisa melakukannya dengan baik, kabar itu akan mematikan Ackerman Labs. Dan karena kita punya bukti dari dalam bahwa Dyloft memang jelek, maka perusahaan itu tidak akan punya pilihan kecuali menyelesaikan perkaranya di luar sidang. Mereka tidak bisa menanggung risiko diperkarakan di peng176 adilan, tidak mungkin dengan produk berbahayasepera* itu." "Apa sisi lemahnya? "Sembilan puluh lima persen dari tumor itu jinak, dan sangat kecil. Tidak ada kerusakan sebenarnya pada kandung kemih." "Jadi gugatan itu digunakan untuk mengguncang pasar." "Ya, dan, tentu saja, memberikan kompensasi pada korban. Aku tidak ingin ada tumor di kandung kemihku, jinak atau ganas. Kebanyakan juri tentu punya perasaan yang sama. Inilah skenarionya: kumpulkan sekelompok penggugat, katakanlah lima puluh orang atau lebih, lalu ajukan gugatan resmi ke pengadilan atas nama seluruh pasien Dyloft.

Pada saat yang sama, kauluncurkan serangkaian iklan televisi untuk menjaring lebih banyak kasus lagi. Lancarkan serangan kilat dan keras, dan kau akan memperoleh ribuan kasus. Iklan itu akan ditayangkan dari Pantai Barat hingga Timur—iklan singkat untuk menakut-nakuti orang dan membuat mereka menelepon nomor bebas pulsamu di D.C. sini, di mana kau punya paralegal segudang penuh untuk menjawab telepon dan melakukan pekerjaan kasarnya. Memang kau akan mengeluarkan uang, tapi kalau kau mendapatkan, katakanlah, lima ribu kasus saja, dan kau meminta dua puluh ribu dolar untuk penyelesaian setiap perkara, itu berarti seratus juta dolar. Bagianmu sepertiganya." "Keterlaluan!" . 'Tidak Clay itu tuntutan ganti rugi massal dalam bentuk terbaiknya. Begitulah sistemnya bekerja zaman 177 sekarang ini. Dan kaJau kau tak melakukannya, aku berani jamin orang lain akan melakukannya. Dan segera. Begitu besar jumlah uang yang terlibat sehingga pengacara gugatan massal menunggu tanda-tanda adanya obat buruk seperti sekawanan burung bangkai. Dan percayalah, banyak obat jelek di pasaran." "Mengapa aku yang beruntung?" "Masalah waktu, Sobat. Kalau klienku tahu pasti kapan kau mengajukan gugatan itu, maka mereka bisa bereaksi terhadap pasar." "Dari mana aku mendapatkan lima puluh klien?" Clay bertanya Max menepuk satu berkas lain. "Kami tahu sedikitnya seribu orang. Nama, alamat, semuanya ada m sini." "Kau tadi bilang ada paralegal segudang?" "Setengah lusin. Akan butuh sebanyak itu untuk menjawab telepon dan mengorganisir dokumen. Kau

bisa menjaring lima ribu klien." "Iklan televisi?" "Yap. Aku punya nama perusahaan yang bisa membuat iklan seperti itu dalam waktu kurang dari tiga hari. Bukan sesuatu yang rumit—suara, lalu gambar pil berjatuhan ke meja, potensi buruk Dyloft, teror hma belas detik yang dirancang untuk membuat orang menelepon Kantor Hukum. Clay Carter II. Iklan seperti ini.berhasil, percayalah. Tayangkan di semua pasar utama selama satu minggu dan kau akan mendapatkan lebih banyak klien daripada yang bisa kau hitung." "Berapa biayanya?" "Beberapa juta, tapi kau pasti sanggup membayarnya" Kini giliran Clay mondar-mandir di, ruangan' dan membiarkan darahnya beredar. Ia pernah melihat iklan-iklan tentang pil diet yang ternyata menimbulkan efek merugikan, iklan-iklan di mana para pengacara mencoba menakut-nakuti orang agar menelepon nomor bebas pulsa. Sudah tentu ia tidak akan tenggelam serendah itu. Tapi uang jasa senilai 33 juta dolar! Ia masih keder karena nasib mujur pertamanya. "Bagaimana jadwalnya?" Pace punya daftar hal yang harus lebih dulu dikerjakan. "Kau harus menjaring klien, dan itu buruh dua minggu, maksimum. Tiga hari untuk menyelesaikan iklan. Beberapa hari untuk membeli slot tayangan televisi. Kau perlu mempekerjakan paralegal dan menempatkan mereka di kantor sewaan di daerah pinggiran kota; sewa ruangan di sini terlalu mahal. Gugatan hams disiapkan. Kau punya staf yang baik. Kau seharusnya bisa menyelesaikannya kurang dari tiga puluh hari." "Aku akan membawa seluruh karyawan biro hukum ke Paris selama satu minggu, tapi kami akan

membereskannya." "Klienku ingin gugatan itu diajukan ke pengadilan dalam waktu kurang dari sebulan. Tepatnya, tanggal dua Juli." Clay kembali ke meja dan menatap Pace. "Aku belum pernah menangani gugatan seperu mi, katanya. Pace mencabut sesuatu dari berkasnya. 'Apakah kau sibuk akhir pekan ini?" ia bertanya, sambil melihat brosur. 'Tidak terlalu." 'Teraan ke New Orleans akhir-akhir ini?" "Sekitar sepuluh tahun lalu." 'Ternah dengar tentang Circle of Barristers?" "Mungkin." "Itu kelompok lama dengan kehidupan baru— sekelompok pengacara yang mengkhususkan diri pada gugatan massal untuk memperoleh uang ganti kerugian. Mereka terkumpul dua kali setahun dan bicara tentang tren terakhir dalam litigasi. Ini akan jadi akhir pekan yang produktif" Ia mengangsurkan brosur itu pada Clay yang mengambilnya. Pada halaman depan ada foto berwarna Hotel Royal Sonesta di French Quarter. New Orleans panas dan lembap seperti biasanya, terutama di Quarter." Ia sendirian, dan itu tidak jadi masalah. Kalaupun ia dan Rebecca masih bersama, Rebecca pasti tidak akan ikat Ia pasti terlalu sibuk bekerja, dengan acara belanja akhir pekan bersama ibunya. Kegiatan rutin biasa. Pernah terlintas dalam benaknya untuk mengajak Jonah, tapi saat ini hubungan mereka agak tegang. Clay pindah dari apartemen mereka yang kumuh dan sesak ke rumah yang nyaman di Georgetown tanpa menawari Jonah untuk ikut" suatu penghinaan, tapi Clay sudah mengantisipasinya dan siap menghadapinya. Ia sama sekali tidak mau di rumah town house-nya yang baru ada rekan serumah yang liar, datang dan pergi setiap

saat bersama kucing liar mana saja yang bisa dibawanya Uang mulai mengisolasi dirinya. Teman-teman lama yang dulu sering diteleponnya sekarang diabaikannya sebab ia tidak menginginkan segala macam pertanyaan. Tempattempat lama tidak lagi dikunjunginya sebab ia kini mampu membayar yang lebih baik. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia berganti pekerjaan, rumah, mobil, bank, pakaian, tempat makan, tempat olahraga, dan hampir dipastikan ia dalam proses berganti pacar, meskipun belum ada calon pengganti di depan mata. Mereka sudah dua puluh hari tidak berbicara. Ia beranggapan akan menelepon Rebecca pada hari ketiga puluh, seperti yang dijanjikannya, tapi begitu banyak yang telah berubah sejak itu. Pada waktu Clay memasuki lobi Hotel Royal Sonesta, kemejanya sudah basah dan lengket di punggung. Biaya registrasinya $5.000, jumlah yang keterlaluan untuk kumpulkumpul beberapa hari dengan sekelompok pengacara. Angka sebesar itu mengumumkan pada dunia hukum bahwa tidak setiap orang diundang, hanya kaum kaya yang serius dengan urusan gugatan massal. Tarif kamarnya $450 semalam, dan ia membayarnya dengan kartu kredit platinum yang belum pernah dipakai. Berbagai seminar sedang berlangsung. Ia mencoba mengikuti diskusi tentang gugatan limbah beracun, dipimpin dua pengacara yang pernah menggugat per-kimia karena mencemari air minum yang barangkali rnenimbutkan kanker atau barangkali tidak, tapi perusahaan itu toh membayar setengah miliar dolar dan dua pengacara ini jadi kaya raya. Di ruang sebelah, pengacara yang pernah dilihat Clay di

televisi berceramah penuh semangat tentang cara menangani media, tapi pendengarnya tidak banyak. Sesungguhnya, kebanyakan seminar itu tidak terlalu banyak dihadiri pendengar Tetapi saat itu Jumat siang dan pembicara-pembicara kelas beratnya baru tiba hari Sabtu Clay akhirnya menemukan kerumunan orang di aula pameran kecil tempat perusahaan pembuat pesawat terbang sedang mempertontonkan video tentang jet mewahnya yang akan datang, jenis paling canggih di generasinya. Tayangan itu ditampilkan di layar lebar di salah satu sudut ruang pameran, dan pengacarapengacara itu berkerumun, semuanya diam, semuanya memelototi keajaiban terbaru dalam dunia penerbangan ini Jarak jelajah empat ribu mil—""Dari Pantai Barat ke Timur, atau New York ke Paria, nonstop tentunya."^ Jet mi lebih irit bahan bakar dibandingkan empat jet lain yang belum pernah didengar Clay, dan terbang lebih cepat. Interiornya lega dengan tempat duduk dan sofa di mana-mana, bahkan dengan pramugari cantik berok mini, membawa sebotol sampanye serta semangkuk ceri. Kulit pelapisnya berwarna kecokelatan indah. Untuk bersenang-senang atau untuk "bekerja, karena Galaxy 9000 dilengkapi sistem telepon terbaru dan penerima satelit yang memungkinkan si pengacara supersibuk untuk menelepon ke mana saja di dunia ini' dan mesin faks dan fotokopi, dan, tentu saja, akses Internet instan. Video itu bahkan memperlihatkan sekelompok pengacara bertampang garang yang berkerumun di seputar meja kecil, dengan lengan baju tergulung seolah mereka bekerja keras menggarap

tuntutan uang penyelesaian perkara, sementara si pirang yang cantik berok mini itu beserta sampanyenya tak dihiraukan. Clay beringsut mendekati kerumunan itu, merasa dirinya seperti orang yang menerobos tempat terlarang. Dengan bijaksana video itu sama sekali tidak pernah memberitahukan harga jual Galaxy 9000. Ada transaksi yang lebih menarik, termasuk tukar tambah dan pembayaran berjangka, sewa beli, semuanya bisa dijelaskan beberapa pegawai penjualan yang berdtn di dekat sana, siap berbisnis. Ketika layar kosong, semua pengacara itu mulai berbicara bersamaan, bukan tentang obat yang buruk dan gugatan class-action, tapi tentang jet dan berapa gaji pilot. Para pegawai penjualan itu dikepung calon-calon pembeli yang berminat. Sampai suatu saat. Clay tak sengaja mendengar seseorang berkata, "Untuk yang baru, kisarannya sekitar tiga puluh lima." Sudah tentu itu bukan 35 juta. Peserta-peserta pameran lain menawarkan segala macam barang mewah. Suatu perusahaan pembuat perahu dikerumuni sekelompok pengacara serius yang tertarik pada yacht Ada spesialis real estat di Karibia. Yang lain menawarkan ranch peternakan di Montana. Stan elektronik dengan berbagai perangkat mahal luar biasa kelihatan sangat sibuk. Dan mobil-mobil. Salah satu dinding dipenuhi peragaan mobilmobil mahal—Mercedes-Benz convertible coupe, Corvette edisi terbatas, Bentiey merah hati, yang harus dimiliki setiap pengacara ganti rugi massal. Porsche memamerkan SUV-nya dan seorang wiraniaga sedang menerima order. Kerumunan terbesar meman-dangT

Lamborghini biru mengilap. Label harganya nyaris tersembunyi, seolah pabrik pembuatnya sendiri takut melihatnya. Hanya $290.000, dan jumlahnya sangat terbatas. Beberapa pengacara tampak siap bergulat untuk memperoleh mobil itu. Di bagian yang lebih tenang di aula itu, penjahit dan beberapa asistennya sedang mengukur pengacara berperawakan besar untuk setelan jas Italia. Papan namanya menyebutkan mereka berasal dari Milan, tapi Clay mendengar bahasa Inggris yang sangat beraksen Amerika. Di sekolah hukum dulu, ia pernah menghadiri diskusi panel tentang penyelesaian perkara dengan uang dalam jumlah besar, dan apa yang seharusnya dilakukan pengacara untuk melindungi klien-klien mereka yang lugu agar tidak langsung menerima godaan mendapatkan kekayaan mendadak. Beberapa pengacara menceritakan cerita-cerita mengerikan tenperkara, dan SaSS. ^ ^ P^1^ menankten^tkuJ Patan, seorang8 *** lontarkan lelu^T^ Jlam VmA tersebut me-mereka nyaris se^-T*0 membelanjakan uang ^ CWmc^na^ lakukan." pameran, ia melihat 0«, 8,111 ke ^keliling aula belanjakan uang seceoat^^f^gacara itu mem-Apakah ia bersalah karena m. !** menghasilkannya. ¦neiakukan ini? Tentu saja tidak. Ia tetap berpegang pada hal-hal yang pokok, setidaknya hingga sejauh ini. Siapa sih yang tidak menginginkan mobil baru dan rumah yang lebih baik? Ia tidak membeli yacht, pesawat terbang, dan ranch. Ia tak menginginkannya Dan seandainya Dyloft memberinya lebih banyak uang lagi, dalam keadaan apa pun ia tidak akan menghamburkan uang untuk membeli jet dan rumah kedua. Ia akan mengubur uang itu di bank, atau

di halaman belakang. Pesta konsumsi gila-gilaan ini membuatnya mual, dan Clay meninggalkan hotel. Ia ingin kerang dan Dixie Beer. 185 SaKJ-SATUNYA sesi pukul sembilan hari Sabtu pagi itu adalah penyampaian informasi terbaru tentang perundang-undangan class action yang sedang diperdebatkan di Kongres. Topik itu hanya menarik sedikit peminat. Untuk $5.000, Clay bertekad mendapatkan sebanyak yang bisa ia raih. Dari sedikit yang hadir, tampaknya ia satu-satunya yang tidak menunjukkan sisa mabuk. Cangkir-cangkir tinggi berisi kopi mengepul diteguk di seluruh penjuru ruang pertemuan. Pembicaranya pengacara/pelobi dari Washington yang mengawali presentasinya dengan buruk, menceritakan dua lelucon jorok, keduanya gagal. Seluruh hadirin berkulit putih, semuanya pria, orang-orang yang sudah saling mengenal, tapi tidak berselera mendengarkan lelucon tanpa cita rasa seperti itu. Presentasi itu dengan cepat bergeser dari lelucon jelek menjadi kebosanan. Akan tetapi, materinya sendai agak menarik dan lumayan informatif, setidaknya bagi Clay, karena ia hanya tahu sedikit tentang class action, sehingga segalanya masih baru. Pada pukul sepuluh, ia harus memilih antara diskusi panel tentang perkembangan terakhir Skinny Ben atau presentasi pengacara yang spesialisasinya adalah cat bertimbal, topik yang kedengarannya menjemukan bagi Clay, maka ia memilih yang pertama. Ruangan itu penuh. Skinny Ben adalah julukan untuk pil obesitas yang sangat terkenal dan pernah diresepkan bagi jutaan pasien. Pembuatnya mengantongi miliaran dolar dan sudah siap

menaklukkan dunia ketika masalah mulai muncul pada sejumlah besar pemakai Masalah jantung yang dengan gampang dapat dilacak berkaitan dengan obat itu. Gugatan bermunculan di sana-sini dalam sekejap dan perusahaan itu tak punya minat maju ke pengadilan. Kantongnya cukup tebal dan ia mulai membeli para penggugat itu dengan uang penyelesaian perkara dalam jumlah besar. Selama tiga tahun terakhir, pengacarapengacara spesialis gugatan massal dari seluruh lima puluh negara bagian hiruk pikuk menjaring kasus-kasus Skinny Ben. Empat pengacara duduk di belakang meja dengan moderator dan menghadap ke hadirin. Tempat duduk di sebelah Clay kosong sampai pengacara gesit berperawakan kecil bergegas datang dan menyisipkan diri di antara deretan-deretan. Ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan buku catatan, materi seminar, dua ponsel, dan pager. Ketika pos komandonya sudah beres diatur dan Clay beringsut sejauh mungkin, ia berbisik, "Selamat pagi." "Pagi," balas Clay berbisik. Ia. melihat telepon selulernya dan berpikir dalam hati siapa yang hendak diteleponnya pada pukul 10.00 hari Sabtu. "Berapa kasus yang kaupunya?" pengacara itu berbisik lagi. tidak Pertanyaan yang menarik, uan c«ty siap menjawabnya. Ia baru saja menyelesaikan kasus Tanan dan sedang menyusun rencana serangan Dyloft, tapi pada saat itu, ia tidak punya kasus apa pun. Tapi jawaban semacam itu tidaklah memadai dalam lingkungan sekarang, di mana semua angkanya besar dan digembungkan. "Beberapa lusin," ia berbohong. Laki-laki itu mengerenyit. seolah ini

sama sekali tak bisa cfaterima, dan percakapan itu jadi beku, setidaknya selama beberapa menit. Panelis mulai berbicara dan seluruh ruangan jadi hening. Topiknya adalah laporan finansial Healthy Living, perusahaan pembuat Skinny Ben. Perusahaan itu punya beberapa divisi, kebanyakan menghasilkan laba. Harga sahamnya tidak terpengaruh. Bahkan, sesudah setiap pemberian uang penyelesaian perkara berjumlah besar, harga sahamnya malah menguat, bukti bahwa investor tahu perusahaan ini punya banyak uang. "Itu Patton French," pengacara di sebelahnya berbisik. "Siapakah dia?' Clay bertanya. "Pengacara gugatan massal pating hebat di negeri ini Menangguk uang jasa sebesar tiga ratus juta dolar tahun la»." "Dia pembicara utama siang ini, bukan?" "Benar, jangan lewatkan dia." . Mr. French menerangkan dengan rincian yang menyakitkan bahwa kurang-lebih tiga ratus ribu kasus Skirmy Beo sudah diselesaikan di luar pengadilan dengan ganti kerugian sekitar $7,5 miliar. Ia, beserta pakar-pakar lain, memperkirakan masih ada seratus ribuan kasus di luar sana dengan nilai sekitar dua hingga tiga miliar dolar. Perusahaan tersebut dan asuransi penanggungnya punya cukup banyak uang untuk menutup semua perkara gugatan itu, jadi terserahlah pada semua yang ada di ruangan ini untuk berburu di luar sana dan menemukan kasus-kasus yang tersisa. Ucapan ini membangkitkan semangat orang banyak. Clay tidak ada niat untuk ikut terjun bersama orang banyak. Ia tidak bisa menerima fakta bahwa keparat pendek, gemuk, dan pongah dengan mikrofon itu tahun lalu memperoleh uang

jasa sebesar $300 juta dan masih begitu penuh motivasi untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Diskusi bergeser ke cara-cara kreatif untuk menarik klien baru. Salah satu panelis mencetak uang begitu banyak hingga dalam daftar gaji karyawannya ada dua dokter yang bekerja penuh untuk pergi dari kota ke kota, melakukan screening terhadap mereka yang pernah memakai Skinny Ben. Panelis lain sepenuhnya mengandalkan iklan televisi, topik yang sesaat menarik minat Clay tapi segera berubah menjadi debat menyedihkan tentang apakah sebaiknya si pengacara muncul di televisi atau menyewa aktor untuk melakukannya. Ganjilnya, tidak ada diskusi tentang strategi persidangan— saksi-saksi ahli, bocoran dari sumber dalam, pemilihan juri, bukti medis—informasi yang biasa dipertukarkan para pengacara di seminar. Clay menyadari kasus-kasus ini jarang sampai ke persidangan. Keterampilan di ruang sidang tidaklah penting Persoalannya adalah bagaimana menjaring perkara Dan memperoleh uang jasa dalam jumlah besar. Pada beberapa kesempatan selama diskusi «tu, keempat panelis dan beberapa orang yang melemparkan 189 — pertanyaan-pertanyaan aneh tak tahan untuk tidak mengungkapkan bahwa mereka menangguk jutaan dolar dalam penyelesaian perkara barubaru ini. Clay jadi ingin mandi lagi. Pada pukul sebelas, dealer lokal Porsche menggelar jamuan Bloody Mary yang sangat populer. Kerang mentah. Bloody Mary, dan celoteh tanpa henti tentang berapa kasus yang dimiliki seseorang. Dan bagaimana mendapatkan lebih banyak lagi. Seribu di sini, dua ribu di sana Jelas taktik yang populer adalah

menjaring kasus sebanyak-banyaknya, lalu bekerja sama dengan Patton French, yang dengan senang hati akan memasukkannya dalam perjuangan class action yang dilakukannya di rumahnya di Mississippi, di mana hakim, juri, dan vonis selalu berpihak padanya dan pabrik obat ngeri untuk menginjakkan kaki. French mengomandoi orang banyak itu bak bos geng Chicago. la bicara lagi pukul 13.00, sesudah buffet makan siang yang menghidangkan makanan Cajun dan Dixie Beer. Pipinya merah, lidahnya lancar dan penuh nuansa Tanpa catatan, ia menguraikan sejarah singkat sistem hukum penggantian kerugian di Amerika dan betapa pentingnya hal itu dalam melindungi masyarakat dari perusahaan-perusahaan besar dan rakus yang membuat produk-produk berbahaya. Dan, meskipun terlibat, ia tidak menyukai perusahaan asuransi, bank, dan perusahaan multinasional, juga kaum Republiken. Kapitalisme tanpa kendali telah mencintakan kebutuhan akan orang-orang seperti jiwa-jiwa tegar di Circle of Barrister*, mereka yang bertempur di ' parit-parit perlindungan, tanpa kenal takut melawan perusahaanperusahaan besar demi kaum pekerja, orang-orang kecil. Dengan uang jasa sebesar $300 juta setahun, sulit menggambarkan Patton French sebagai underdog. Tetapi ia bermain untuk orang banyak. Clay melihat ke sekeliling dan bertanya-tanya dalam hati, bukan untuk pertama kalinya, apakah ia satu-satunya orang waras di sana. Apakah orang-orang ini begitu buta matanya oleh uang sehingga sejujurnya percaya diri mereka sebagai pembela kaum miskin dan sakit? Kebanyakan dari mereka punya

pesawat jet! Kisah pertempuran French mengalir lancar. Uang penyelesaian perkara class action sebesar $400 juta untuk obat kolesterol yang buruk. Sam miliar dolar untuk obat diabetes yang menewaskan sedikitnya seratus pasien. Untuk kabel listrik cacat yang dipasang di dua ratus ribu rumah sehingga menimbulkan seribu lima ratus kebakaran dan menewaskan tujuh belas orang dan membakar empat puluh lainnya, $150 juta. Pengacarapengacara itu menyimak setiap patah kata. Di sana-sini bertaburan petunjuk tentang di mana uangnya dibelanjakan. 'Ttu membuat mereka mengeluarkan uang senilai sebuah Gulfstream baru," ia melontarkan lelucon dan orang banyak benar-benar bertepuk tangan mendengarnya. Sesudah berkeliaran di Royal Sonesta kurang dari 24 jam, Clay tahu Gulfstream adalah yang terbaik di antara semua pesawat jet pribadi dan harga jual pesawat baru sekitar $45 juta. Rival French adalah pengacara kasus tembakau di Mississippi yang mencetak sekitar semiliar dolar dan membeli yacht sepanjang 180 kaki. Yacht lama milik French hanya berukuran 140 kaki, maka ia melakukan tukar tambah untuk yackt baru berukuran 200 kaki. Hadirin merasa hal ini lucu juga. Biro hukumnya kini punya tiga puluh pengacara dan ia butuh tiga puluh lagi. Ia kini hidup bersama istri keempat. Istri terakhir mendapat apartemen di London. Dan seterusnya dan seterusnya. Uang didapatkan, uang dibelanjakan. Tidak mengherankan ia bekerja tujuh hari seminggu. Hadirin yang normal tentu akan "jengah oleh perbincangan tentang kekayaan yang begitu vulgar, tetapi French kenal

pendengarnya. Bahkan sesungguhnya, ia menyemangati mereka untuk mencetak uang lebih banyak, menghabiskan lebih banyak, mengajukan perkara lebih banyak, menjaring klien lebih banyak. Selama satu jam ia sungguh kampungan dan tak kenal malu, tapi jarang membosankan. Lima tahun di OPD rupanya telah membutakan Clay dari banyak aspek praktik pengacara modem. Ia banyak membaca tentang ganti rugi massal tapi sama sekali tidak tahu bahwa praktisinya adalah kelompok yang begitu terorganisir dan terpusat. Mereka tampaknya tidak terlalu pintar. Strategi mereka terfokus di sekitar cara mengumpulkan kasus dan menyelesaikannya di luar pengadilan, sama sekali bukan kerja di persidangan. French sanggup bicara selamanya, tapi sesudah satu jam ia berhenti dan disambut tepuk tangan meriah, meskipun canggung Ia akan kembali pukul 15.00 nanti untuk seminar tentang forum shopping_ bagaimana menemukan yurisdiksi terbaik untuk kasus j Anda. Acara siang nanti sepertinya cuma akan mengulangi yang pagi tadi, dan Clay merasa sudah cukup. Ia berkeliaran di Quarter, bukan mengunjungi bar dan kelab tari telanjang, tapi ke berbagai toko barang antik dan galeri, walau ia tak membeli apa pun sebab masih dikuasai keinginan menimbun uangnya. Siang itu, ia duduk seorang diri di kafe pinggir jalan di Jackson Square dan mengamati orang-orang datang dan pergi. Ia meneguk dan mencoba menikmati kopi chicory panas, tapi tidak berhasil. Meskipun belum menuliskan angka-angka di atas kertas, ia dalam hati sudah berhitung. Empat puluh lima persen uang jasa kasus Tarvan untuk

pajak dan berbagai biaya, dipotong apa yang sudah ia pakai, sisanya sekitar $6,5 juta. Ia bisa menguburnya di bank dan memperoleh penghasilan bunga sebesar $300.000 setahun, kira-kira delapan kali jumlah yang ia peroleh dari bekerja di OPD. Tiga rams ribu setahun berarti $25.000 sebulan, dan duduk di tempat teduh pada sore yang hangat di New Orleans ini, ia tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa membelanjakan uang sebanyak itu. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Uang itu ada di rekeningnya. Ia akan kaya sepanjang sisa hidupnya dan tidak akan jadi salah satu dari badut-badut di Royal Sonesta yang mengomel tentang biaya untuk pilot atau kapten yacht. Satu-satunya masalah yang tersisa memang signifikan. Ia sudah mempekerjakan orang dan memberikan janji: Rodney, Paulette, Jonah, dan Miss Glick, semua meninggalkan pekerjaan yang sudah lama mereka tekuni dan menaruh kepercayaan buta padanya. Ia 193 tidak bisa begitu saja cabut dari pekerjaan, membawa uangnya, dan kabur. Ia beralih ke bir dan mengambil keputusan besar. Ia akan bekerja keras dalam jangka waktu singkat untuk menangani kasus Dyloft. yang terus terang, akan sangat tolol untuk ditolak karena Max Pace bagai menyerahkan tambang emas baginya. Setelah kasus Dyloft beres, ia akan memberikan bonus besar kepada stafnya dan menutup kantor. Ia akan menjalani kehidupan tenang di Georgetown, melancong ke seluruh dunia bila ia ingin, memancing bersama ayahnya menonton uangnya berkembang, dan dalam keadaan apa pun, takkan pernah lagi dekat-dekat dengan pertemuan

Circle of Barristers. Ia bam saja memesan sarapan dari room service ketika telepon berdering.-Dari Paulette, satusatunya yang tahu pasti di mana ia berada. "Apakah kau berada di kamar yang bagus?" ia bertanya. "Begitulah." "Apakah dilengkapi mesin faks?" Tentu saja." |§?' "Berikan nomornya, aku akan mengirimkan sesuatu ke sana." Ternyata kopi kliping koran Post edisi Minggu. Pengumuman pernikahan. Rebecca Allison Van Horn dan Jason Shubert Myers IV. "Mr. dan Mrs. Bennett Van Horn dari McLean,: Virginia, mengumumkan pertunangan putri mereka, Rebecca, dengan Mr. Jason Shubert Myers IV, putra Mr. dan Mrs. D. Stephens Myers dari Falls Church..." Foto itu, meskipun difotokopi dan difaks dari jarak seribu mil lebih ternyata cukup jelas—gadis yang sangat cantik akan menikahi orang lain. D. Stephens Myers adalah putra Dallas Myers, penasihat beberapa presiden, mulai dari Wbodrow Wilson dan berakhir pada Dwight Eisenhower. Menurut pengumuman itu, Jason Myers dulu kuliah di Sekolah Hukum Brown dan Harvard dan sudah jadi partner di Myers & O'Malley, mungkin biro hukum tertua di D.C, dan jelas yang paling sesak. Ia men-ciptakan divisi baru untuk menangani masalah kekayaan intelektual dan menjadi partner termuda dalam sejarah Myers & O'Malley. Selain kacamata bundarnya, tak ada yang tampak intelektual pada curinya, meskipun Clay tahu dirinya tidak bisa bersikap adil walau ingin. Ia bukannya tidak menarik tapi jelas tidak sepadan bagi Rebecca. Pernikahan direncanakan akan diadakan di gereja Episcopal di McLean pada bulan Desember, dengan resepsi di

Potomac Country Club. Dalam waktu kurang dari sebulan Rebecca telah menemukan seseorang yang cukup ia cintai untuk dinikahinya. Seseorang yang bersedia menanggung beban untuk hidup dengan Bennett dan Barb. Seseorang dengan cukup uang untuk membuat seluruh keluarga Van Horn terkesan. Telepon berdering lagi dan itu dari Paulette. "Kau tidak apa-apa?" ia bertanya. "Aku baik-baik saja," katanya susah payah. "Aku sungguh menyesal, Clay. "Semua sudah berakhir, Paulette. Sudah berantakao selama satu tahun. Ini sesuatu yang baik. Kini aku bisa sama sekali melupakannya." "Kalau begitu katamu." "Aku baik-baik saja Terima kasih telah menelepon." "Kapan kau pulang?" "Hari ini. Aku akan ada di kantor besok pagi." Sarapan riba tapi 1st lupa bahwa ia tadi memesannya Ia minum sari buah tapi mengabaikan segala lainnya. Mungkin kisah cinta ini sudah digodok beberapa lama Yang diperlukan Rebecca hanyalah me-nymgkirkan Clay, dan ia bisa melakukan hal itu dengan cukup mudah. Pengkhianatannya terasa makin besar saat menit demi menit berlalu. Clay bisa melihat dan mendengar ibu Rebecca menyusun rencana di latar belakang, memanipulasi perpisahan mereka, menggelar perangkap untuk Myers, kini merencanakan setiap detail perkawinan itu. "Pembersihan yang bagus," gumamnya. Kemudian ia memikirkan seks, Myers menggantikan dirinya, dan Clay melemparkan gelas kosong ke seberang ruangan hingga menghantam dinding dan hancur berkeping-keping Ia memaki diri sendiri karena bertindak seperti idiot Berapa banyak orang yang saat ini melihat pengumuman ha dan

memikirkan Clay? Berkata, "Cepat sekali Rebecca mencampakkannya, ya?" "Wah, cepat sekali, bukan?" Apakah Rebecca memikirkannya? Seberapa besar kepuasan yang dirasakannya saat memandangi pengumuman pernikahannya dan memikirkan Clay? Mung196 Idn banyak. Mungkin sedikit. Apa bedanya? Tak disangsikan, Mr. dan Mrs. Van Horn melupakan dirinya dalam semalam. Mengapa ia tidak bisa membalas saja kebaikan itu? Rebecca terburu-buru, itu Clay tahu pasti. Hubungan cinta mereka sudah terlalu lama dan terlalu intens dan perpisahan mereka masih terlalu baru bagi Rebecca untuk begitu saja mencampakkan Clay dan memilih orang lain. Ia berhubungan dengan Rebecca selama empat tahun; Myers baru sebulan, atau kurang, mudah-mudahan tidak lebih. Ia berjalan kembali ke Jackson Square, di mana para seniman, pembaca kartu tarot, pemain akrobat, dan pemusik jalanan beraksi. Ia membeli es krim dan duduk di bangku dekat patung Andrew Jackson. Ia memutuskan akan menelepon Rebecca dan setidaknya menyampaikan ucapan selamat. Kemudian ia memutuskan akan mencari wanita cantik berambut pirang dan memamerkannya di depan Rebecca. Mungkin ia akan membawa perempuan itu ke pernikahan mereka, tentu saja dengan rok mini dan tungkai sangat panjang. Dengan uangnya sekarang, perempuan seperti itu mestinya gampang didapat Persetan, kalau terpaksa ia akan menyewa perempuan seperti itu. "Ini sudah berakhir, Nak," ia berkata pada diri sendiri, lebih dari sekali. "Tabahkanlah hatimu." Biarkan ia pergi. 197 l/ARA

berpakaian di kantor dengan ........ cepat berubah menjadi "apa pun jadi". Gayanya ditentukan si bos yang cenderung ke arah jins dan T-shirt mahal, dengan mantel sport di dekatnya kalau-kalau ia perlu pergi makan siang di luar. Ia punya setelan jas rancangan desainer untuk rapat dan pemunculan di pengadilan, tapi untuk sementara ini keduanya merupakan peristiwa langka karena biro hukum itu tidak punya klien dan tidak punya kasus apa pun. Semua orang meningkatkan gaya berpakaian mereka dan ini sangat memuaskan bati Gay. Mereka bertemu hari Senin pagi di ruang rapat— Paulette, Rodney, dan Jonah yang tampak agak letih. Meskipun punya peran cukup penting dalam sejarah singkat biro hukum itu, Miss Glick tetap cuma sekretaris/resepsionis. "Sobat, ada pekerjaan yang harus kita lakukan," kata Clay memulai rapat. Ia memperkenalkan Dyloft pada mereka, dan berdasarkan cerita ringkas Pace, ia memberikan deskripsi dan sejarah obat itu. Dengan menggunakan ingatan, ia memberikan uraian singkat tentang rahasia busuk Ackerman Labs— penjualan, laba, uang para pesaing, serta masalahmasalah hukum lain. "Hingga hari ini, belum ada gugatan hukum apa pun yang diajukan ke pengadilan. Tapi kita akan mengubah hal itu. Pada tanggal dua Juli, kita akan memulai peperangan dengan mengajukan gugatan class action di D.C. sini atas nama seluruh pasien yang celaka karena obat itu. Ini akan menimbulkan kegemparan, dan kita akan berada tepat di tengahnya." "Apakah kita sudah punya klien?" Paulette bertanya. "Belum. Tapi kita punya nama dan alamat Kita akan mulai menjaring mereka hari

ini. Kita akan menyusun rencana untuk mengumpulkan klien, lalu kau dan Rodney akan bertanggung jawab melaksanakannya." Meskipun ragu tentang iklan televisi, saat terbang pulang dari New Orleans ia telah meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada alternatif lain yang bisa jalan. Begitu ia mengajukan gugatan ke pengadilan dan mengungkapkan obat itu, maka burung-burung pemangsa bangkai yang baru saja ia temui di Circle of Barristers akan berkerumun mencari klien. Satu-satunya cara yang efektif untuk dengan cepat mencapai pasien Dyloft dalam jumlah besar adalah dengan iklan televisi. Ia menjelaskan hal ini pada para anggota biro hukumnya dan berkata, "Paling sedikit akan menelan biaya dua juta dolar." "Biro hukum ini punya dua juta dolar?" Jonah menukas, mengucapkan apa yang dipikirkan yang • lain-lainnya. "Punya. Kita mulai menggarap iklan itu hari ini." "Bukan kau yang akan berakting, kan, bos?" Jonah bertanya, nyaris memohon. "Please. " Seperti semua 19* 199 kota besar, D.C. pun dibanjiri iklan dini hari dan larut malam yang membujuk orang-orang yang terluka untuk menelepon pengacara ini-itu yang siap bekerja keras dan tidak menarik biaya apa pun untuk konsultasi awal Kerap kali pengacara-pengacara itu sendiri muncul di iklan, biasanya dengan hasil yang memalukan. Paulette pun menunjukkan ekspresi ketakutan dan samar-samar menggelengkan kepala. Tentu saja tidak. Itu akan dilakukan orang-orang profesionaL" "Berapa banyak klien yang kita harapkan?* Rodney bertanya. • "Ribuan. Sulit untuk disebutkan." Rodney menuding mereka masing-masing, perlahan-lahan

menghitung hingga empat "Menurut hirunganku," katanya "kita hanya berempat" "Jumlah kita akan bertambah. Jonah bertanggung jawab untuk pengembangan ini. Kita akan menyewa tempat di pinggiran kota dan mengisinya dengan paralegal. Mereka akan menangani telepon masuk dan mengatur berkas-berkas." "Dari mana kita bisa mencari paralegal?" Jonah bertanya "Dari iklan lowongan kerja di jurnal asosiasi pengacara. Mulailah memeriksa iklan-iklan itu. Dan kau ada janji pertemuan siang ini dengan agen real estat di Manassas. Kita butuh tempat kerja seluas kurang-lebih hnta ribu kaki persegi, tidak usah mewah, tapi memiliki banyak prasarana untuk telepon dan sistem I komputer lengkap, yang seperti kita ketahui, adalah spesialisasimu. Sewalah, lengkapi, isi dengan staf lahJ aturlah. Makin cepat makin baik." "Y sir." "Berapa nilai es satu kasus Dyloft?" Paulette bertanya. "Sebesar yang akan dibayar Ackerman Labs. Kisarannya antara sepuluh ribu sampai lima puluh, tergantung beberapa faktor, salah satu yang penting adalah sejauh mana kerusakan pada kandung kemihnya." Paulette menghitung-hitung angka di buku tulis. "Dan berapa banyak kasus yang mungkin kita dapatkan?" "Mustahil mengatakannya sekarang." "Bagaimana menurut tebakanmu?" "Aku tidak tahu. Beberapa ribu." "Oke, katakanlah jumlahnya tiga ribu kasus. Tiga ribu kasus kali minimum sepuluh ribu dolar berarti tiga puluh juta, benar?" Paulette mengucapkan ini perlahan-lahan, sambil terus mencoret-coret pada catatan. "Benar." "Dan berapa uang jasa untuk pengacara?" ia bertanya Tiga orang lainnya mengawasi Clay lekat-lekat

"Sepertiga," kata Clay. "Itu berarti sepuluh juta sebagai jasa pengacara," katanya perlahan-lahan. "Semua untuk biro hukum ini?" "Ya. Dan kita akan membagi uang itu." Kata membagi itu bergema ke seluruh penjuru ruangan selama beberapa detik. Jonah dan Rodney melirik Paulette, seolah hendak mengatakan, "Teruskan, selesaikan." "Bagi bagaimana?" Paulette bertanya, sangat hati-hati. "Sepuluh persen untuk kalian masing-masing." "Jadi menurut hipotesisku tadi, bagian imbalanku adalah saru juta?" "Benar." "Dan, uh. sama untukku?" Rodney bertanya. "Sama untukmu. Sama untuk Jonah. Dan, harus kukatakan bahwa menurutku itu perkiraan terendahnya." Terendah atau tidak, mereka menyerap angka-angka itu sambil membisu beberapa lama, masing-masing secara naluriah sudah membelanjakan uang tersebut Bagi Rodney, itu berarti perguruan tinggi untuk anak-anaknya. Bagi Paulette, itu berarti perceraian dengan lelaki Yunani yang hanya ditemuinya sekali tahun lalu. Bagi Jonah itu berarti hidup di perahu layar. "Kau serius, bukan, Clay?" Jonah bertanya. "Sangat serius. Kalau kita bekerja keras sepanjang tahun depan, ada peluang besar kita akan memiliki I pilihan untuk pensiun dini." "Siapa yang memberitahumu soal Dyloft ini?" tanya Rodney. "Aku takkan pernah bisa menjawab pertanyaan itu, Rodney. Maaf. Percaya sajalah padaku." Dan pada saat itu Clay berharap kepercayaannya yang membuta pada Max Pace bukanlah ketololan. "Aku nyaris lupa tentang-Paris," kata Paulette. "Jangan lupa. Kita akan ke sana minggu depan." Jonah melompat berdiri dan meraih buku catatan. "Siapa

nama agen real estat itu?" ia bertanya. Di lantai tiga ramah town houge^ayt, Clay membuat kantor kecil. Bukan berarti ia merencanakan menyelesaikan banyak pekerjaan di sana, tapi ia butuh tempat untuk dokumen-dokumennya. Meja kerjanya bekas meja tukang daging yang ia temukan di toko antik di Fredericksburg, di ujung jalan. Meja itu memenuhi satu dinding dan cukup panjang untuk tempat telepon, mesin faks, dan komputer laptop. Di sanalah ia untuk pertama kalinya masuk ke dunia ganti rugi massal, mencari klien untuk melakukan gugatan massal. Ia menunda telepon itu hingga hampir pukul 21.00, ketika sebagian orang pergi tidur, terutama orang-orang tua dan mungkin mereka yang menderita arthritis. Segelas minuman keras penambah keberanian, dan ia pun menekan nomor itu. Telepon itu dijawab seorang wanita, barangkali Mrs. Ted Worley dari Upper Marlboro, Maryland. Clay memperkenalkan diri dengan ramah, mengutarakan bahwa ia pengacara, seolah orang seperti dirinya biasa menelepon dan tidak ada yang perlu dikagetkan, dan meminta berbicara dengan Mr. Worley. "Ia sedang nonton Orioles," katanya. Jelas Ted tidak menerima telepon saat Orioles main. "Ya—apakah saya bisa berbicara dengannya sebentar?" "Anda katakan tadi Anda pengacara?" ."Ya, Ma'am, dari D.C. sini." "Apa yang telah ia lakukan?" "Oh, tidak ada, sama sekali tidak ada apa-apa Saya dingin bicara soal arthritis-nya" Dorongan hati untuk menutup telepon dan lari. datang dan pergi. Clay bersyukur pada Tuhan tak ada yang melihat atau mendengarkan. Pikirkanlah uangnya, ia terus berkata pada

diri sendiri. Pikirkanlah uang unbaiannya. "Aiihritis-ny&l Saya kira anda pengacara, bukan dokter." "Ya, Ma'am, saya pengacara, dan saya punya alasan untuk percaya ia memakai obat berbahaya untuk arthritis-ay*. Kalau Anda tidak keberatan, saya hanya perlu bicara dengannya sebentar." Terdengar suara-suara di latar belakang sewaktu ia meneriakkan sesuatu pada Ted yang balas berteriak. Akhirnya, Ted menerima telepon itu. "Siapa ini?" ia bertanya galak, dan Clay cepat-cepat memperkenalkan diri. "Berapa skornya?" Clay bertanya. Tiga-satu Red Sox di posisi kelima. Apakah aku kenal kau?" Mr. Worley sudah berumur tujuh puluh tahun. "Tidak, Sir. Saya pengacara di D.C. sini, dan saya mengkhususkan diri pada gugatan berkaitan dengan obat-obatan yang tidak sempurna. Saya menggugat pabrik farmasi bila mereka menjual produk yang berbahaya" "Oke, apa yang kauinginkan?" "Dari sumber-sumber Internet, kami mendapat nama Anda sebagai pemakai potensial obat arthritis bernama Dyloft. Bisakah Anda memberi tahu saya apakah Anda memakai obat ini?" "Mungkin aku tidak ingin menceritakan resep apa yang kugunakan." Dalih yang sangat sahih, yang dikira Clay sudah siap dihadapinya. "Tentu saja Anda tidak perlu mengatakannya, Mr. Worley. Tetapi satu-satunya cara untuk menentukan apakah Anda berhak untuk menerima uang penggantian adalah dengan mengatakan pada saya apakah Anda memakai obat itu." "Internet keparat," gumam Mr. Worley, lalu ia terlibat percakapan cepat dengan istrinya, yang jelas berada di dekat telepon. "Uang penggantian apa?" ia bertanya. "Mari

kita bicarakan soal itu sebentar lagi. Saya perlu tahu apakah Anda menggunakan Dyloft. Kalau tidak, Anda orang yang beruntung." "Well, uh, kurasa itu bukan rahasia, kan?" "Bukan." Tentu saja itu rahasia. Mengapa sejarah medis seseorang bukan sesuatu yang rahasia? Dusta kecil seperti ini perlu, Clay terus berkata pada diri sendiri. Lihatlah secara keseluruhan. Mr. Worley dan ribuan Orang seperti dia mungkin takkan pernah tahu mereka memakai produk yang buruk kecuali diberitahu. Ackerman Labs jelas tidak berterus terang. Itu tugas Clay. "Y eah, aku memakai Dyloft." "Sudah berapa lama?" "Mungkin setahun. Manjur sekali." "Ada efek samping?" "Misalnya?" "Darah dalam urine Anda. Rasa panas saat Anda buang air kecil." Clay sudah pasrah dengan fakta bahwa ia akan membicarakan masalah kandung kemih dan urine dengan banyak orang dalam beberapa bulan mendatang. Sama sekali tidak ada cara menghindarinya. Mereka tidak mempersiapkanmu untuk menangani soal seperti ini di sekolah hukum. "Tidak. Kenapa?" "Kami punya riset awal bahwa Ackerman Labs, pabrik yang membuat Dyloft, mencoba menutup-nutupinya. Obat itu didapati menimbulkan tumor kandung kemih pada beberapa orang yang menggunakannya" Dengan demikian Mr. Ted Worley, yang beberapa menit sebelumnya tak peduli pada apa pun dan cuma menonton permainan Orioles kesayangannya, kini akan menghabiskan sisa malam itu dan sebagian -besar minggu depan dengan mengkhawatirkan tumor yang tumbuh di dalam kandung kemihnya. Clay merasa tak keruan dan ingin minta maaf, tapi, sekali lagi, ia mengatakan pada diri sendiri bahwa ini

harus dilakukan. Bagaimana lagi agar Mr. Worley mengetahui yang sebenarnya? Seandainya laki-laki malang itu benar mengidap tumor, bukankah ia. ingin tahu tentang hal itu? Sambil memegangi telepon dengan satu tangan dan menggosok-gosok sisi rubuhnya dengan tangan lain, Mr. Worley berkata, "Kau tahu, kalau dipikirpikir lagi, aku ingat memang ada rasa panas beberapa hari yang lalu." "Apa yang kalian bicarakan?" Clay mendengar Mrs. Worley berbicara di latar belakang. "Jangan menyela dulu," kata Mr. Worley pada Mrs. Worley. Clay langsung menimbrung sebelum perselisihan itu berkembang di luar kendali. "Biro hukum saya mewakili banyak pemakai Dyloft. Saya pikir Anda seharusnya mempertimbangkan untuk menjalani tes." "Tes apa?" "Ini urinalisis. Kami punya dokter yang bisa me206 lakukannya besok. Anda tidak perh! mengeluarkan biaya sesen pun." "Bagaimana kalau ia menemukan ada yang tidak beres?" "Kalau sampai begitu, kita bisa membicarakan pilihan Anda. Saat berita tentang Dyloft terungkap dalam beberapa hari ini, akan ada banyak gugatan pengadilan. Biro hukum saya akan jadi pemimpin dalam serangan terhadap Ackerman Labs. Saya ingin Anda jadi klien." "Mungkin aku seharusnya bicara dengan dokterku." "Anda tentu bisa melakukan hal itu, Mr. Worley. Tetapi ia mungkin bertanggung jawab juga. Ia yang meresepkan obat itu. Mungkin yang terbaik bagi Anda adalah memperoleh pendapat yang tanpa bias." 'Tunggu sebentar," Mr. Worley menutup gagang telepon dengan tangan dan melakukan pembicaraan sengit dengan istrinya. Ketika kembali, ia

berkata, "Aku tidak setuju soal menggugat dokter." "Saya pun tidak. Spesialisasi saya adalah memburu perusahaanperusahaan besar yang mencelakai orang." "Apakah aku sebaiknya berhenti memakai obat itu?" "Mari kita lakukan tes itu lebih dulu. Dyloft kemungkinan akan ditarik dari peredaran musim panas ini" "Di mana aku harus melakukan tes itu?" "Dokternya ada di Chevy Chase. Bisakah Anda ke sana besok?" i* "Y eah, baiklah, kenapa tidak? Rasanya konyol untuk menundanya, bukan?" "Memang." Clay memberikan nama dan alamat 207 dokter yang ditemukan Max Pace. Clay akan me ngeluarkan biaya $300 untuk pemeriksaan seharga $80, tapi itu harga yang harus dibayar untuk melakukan bisnis. Ketika rincian urusan itu selesai dibicarakan, Clay meminta maaf atas gangguan itu, mengucapkan terima kasih atas waktu yang ia sediakan, dan meninggalkannya menanggung penderitaan sambil menonton sisa pertandingan. Saat menutup telepon, barulah Clay merasakan butiran-butiran keringat di atas alisnya. Mencari-cari kasus untuk diperkarakan lewat telepon? Jadi pengacara macam apakah dirinya sekarang? Pengacara yang kaya, ia terus berkata pada diri sendiri. Ini butuh kulit yang tebal, sesuatu yang tidak dimiliki Clay dan ia tidak yakin sanggup mengadakannya Dua hari kemudian, Clay memasuki jalan di halaman keluarga Worley di Upper Marlboro dan menemui mereka di pintu depan. Urinabsis, yang termasuk pemeriksaan sitologis, mengungkapkan adanya sel-sel abnormal dalam urine, tanda yang tegas—menurut Max Pace dan riset medisnya yang mendalam dan ilegal—

bahwa ada tumor di dalam kandung kemih. Mr. Worley dirujuk ke urolog yang akan ia temui minggu depan. Pemeriksaan dan pengambilan tumor akan dilakukan dengan bedah sitoskopis, dengan memasukkan slang dengan alat pengindra kecil dan 208 I k. pisau melalui penii ke kandung kemih, dan meskipun ini diakui cukup rutin, Mr. Worley tak melihat ada yang biasa dalam hal itu. Ia khawatir setengah mati. Mrs. Worley berkata suaminya tidak tidur dua malam terakhir, begitu pula dirinya. Meskipun ingin melakukannya, Clay tidak dapat mengatakan pada mereka bahwa tumor itu kemungkinan jinak. Lebih baik biarkan dokter yang melakukan hal itu sesudah pembedahan. Sambil meneguk kopi instan dengan creamer bubuk, Clay menerangkan kontrak untuk jasanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang litigasi itu. Ketika Ted Worley membubuhkan tanda tangan di bagian bawah, ia menjadi penggugat Dyloft pertama di negeri ini! Dan sampai beberapa lama, rasanya seakan ia mungkin akan jadi satu-satunya. Bekerja nonstop dengan telepon, Clay berhasil meyakinkan sebelas orang untuk datang menjalani urinabsis. Sebelas orang itu seluruhnya menunjukkan hasil negatif. 'Teruslah bekerja," Max Pace mendorong. Sekitar sepertiga dari orang-orang itu langsung memutus telepon atau menolak percaya Clay serius dengan apa yang ia katakan. Ia, Paulette, dan Rodney membagi daftar mereka menjadi klien prospektif kulit hitam dan kulit putih. Jelas orang-orang kulit hitam tidak securiga orang •kulit putih sebab mereka lebih mudah dibujuk untuk menemui dokter.

Atau mereka mungkin menikmati perhatian medis itu. Atau barangkali, seperti yang dikatakan Paulette lebih dari sekali, dirinya lebih berbakat dalam membual. 209 Pada akhir minggu itu. Clay berhasil mendapati-tiga klien yang telah dites positif memiliki s I abnormal. Rodney dan Paulette, bekerja sebagai ' menjaring tujuh lagi yang menandatangani kontrak"11. Goo actio* Dyloft siap bertempur. Menurut angka-angka yang dengan cermat dicatat Rex Crittle, laki-laki yang kian lama kian kenal dengan hampir segala aspek kehidupan Clay, petualangan di Paris itu menghabiskan biaya $95.300. Crittle adalah akuntan publik dengan kantor berukuran sedang tepat di bawah suite Carter. Tidaklah mengejutkan bahwa ia pun dirujuk Max Pace. Sedikitnya satu kali seminggu, Clay turun atau Crittle naik lewat tangga belakang, dan mereka menghabiskan sekitar setengah jam untuk membicarakan uang Clay dan bagaimana menanganinya dengan baik. Sistem akunting untuk biro hukum itu masih sederhana dan mudah diterapkan. Miss Glick memasukkan semua catatan transaksi dan mengirimkannya ke komputer Crittle. Menurut pendapat Crittle, kekayaan mendadak se-Perti itu hampir pasti akan menarik perhatian Dinas Pajak untuk melakukan audit. Meskipun janji-janji Pace menjamin sebaliknya, Clay setuju dan berkeras melakukan pencatatan serapi mungkin tanpa daerah abu-abu bila masalahnya mengenai write-off dan pemotongan. Ia meraup uang lebih banyak daripada Vang pemah ia impikan. Tak masuk akal mencoba Mengakali pemerintah dengan menghindari pajak. Bayar semua pajak dan

tidurlah dengan nyenyak. "Untuk apakah pembayaran setengah juta dolar kepada East Media ini?" Crittle bertanya. "Kami sedang menggarap iklan tekmsi untuk lio', gasi. Itu cicilan pertamanya." "Cicilan? Berapa kali lagi?" Ia memandang dari atas kacamata bacanya dan melontarkan pandangan yang pernah dilihat Clay sebelum ini. Pandangan itu mengatakan, "Nak, apakah kau sudah kehilangan kewarasanmu?" "Jumlah seluruhnya dua juta dolar. Kami akan mengajukan gugatan besar beberapa hari lagi. Pengajuan perkaranya akan dikoordinasikan dengan kampanye iklan yang ditangani East Media" "Oke," Grime berkata, jelas waswas dengan pengeluaran sebesar itu. "Dan aku mengasumsikan akan ada uang jasa tambahan untuk menutup semua ini." "Mudah-mudahan," Clay berkata sambil tertawa. "Bagaimana dengan kantor baru di Manassas? Uang muka sewa sebesar lima belas ribu dolar?" "Ya, kami sedang berkembang. Aku akan menambah enam paralegal di kantor sana. Sewanya lebih murah." "Senang melihat kau prihatin juga dengan pengeluaran. Enam paralegal." "Ya, empat sudah dipekerjakan. Aku punya kontrak kerja dan dahar gaji mereka di mejaku." ifipr Crittle mempelajari printout itu sebentar, selusin pertanyaan berkecamuk di dalam kalkulator di balik kacamatanya. "Boleh aku tanya mengapa kau butuh enam paralegal lagi sedangkan kau hanya punya kasus begitu sedikit?" "Nah, itu pertanyaan menarik," kata Clay. Ia 212 dengan cepat menguraikan gugatan class action yang akan dilakukan tanpa menyebutkan obat itu atau pembuatnya, dan bila uraian

ringkasnya tersebut menjawab pertanyaan Crittle, nal itutidaklah kelihatan. Sebagai akuntan, ia sewajarnya skeptis terhadap siasat yang mendorong lebih banyak orang untuk menggugat. "Aku yakin kau tahu apa yang kaulakukan," ia berkata, curiga Clay sebenarnya telah kehilangan akal sehat. "Percayalah padaku, Rex, uang akan segera mengalir masuk." 'Tang jelas, saat ini uang mengalir ke luar." "Kau harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan uang." "Begitulah kata orang." Serangan dimulai saat matahari terbenam tanggal 1 Juli. Semua orang kecuali Miss Glick berkumpul di depan televisi ruang rapat, menunggu hingga tepat pukul 20.32, lalu semua bungkam dan diam. Iklannya hanya sepanjang lima belas detik, dimulai dengan penampilan aktor muda dan tampan yang memakai jas putih dan memegang buku tebal dan tampak tulus di depan kamera. "Perhatian kepada seluruh penderita arthritis. Bila Anda memakai obat bernama Dyloft, Anda kemungkinan mempunyai klaim terhadap pembuat obat itu. Dyloft telah dikaitkan dengan beberapa efek samping, termasuk umbulnya tumor dalam 213 kandung kemih." Di bagian bawah layar muncul kata-kata dalam huruf tebal: DYLOFT HOT LINE— HUBUNGI 1-800555-DYLO. Si dokter meneruskan, "Segeralah telepon«nomor ini. Dyloft Hot Line dapat memberikan tes medis gratis untuk Anda. Teleponlah sekarang juga.'" Tak seorang pun bernapas selama lima belas detik, dan tak seorang pun berbicara ketika iklan itu habis. Bagi Clay, itu adalah saat-saat yang sangat menyiksa sebab ia baru saja meluncurkan serangan yang sangat ganas dan mungkin

melumpuhkan terhadap sebuah perusahaan raksasa, yang tak disangsikan akan menanggapi dengan semangat balas dendam. Bagaimana kalau Max Pace keliru mengenai obat itu? Bagaimana kalau Pace menggunakan Clay sebagai pion dalam pertandingan catur dunia bisnis besar? Bagaimana kalau Clay tak dapat membuktikan, dengan kesaksian para saksi ahli, bahwa obat itu mengakibatkan tumor? Ia bergulat dengan semua pertanyaan ini selama beberapa minggu, dan sudah seribu kali menanyai Pace. Mereka dua kali bertengkar dan beberapa kali bertukar kata-kata tajam. Max akhirnya menyerahkan hasil riset efek Dyloft, dokumen curian atau setidaknya didapat secara gelap. Clay meminta rekan kuliah di Georgetown, yang kini jadi dokter di Baltimore, untuk menelitinya. Clay akhirnya meyakinkan diri sendiri bahwa ia I benar dan Ackerman Labs keliru. Tetapi menyaksikan iklan itu- dan terenyak oleh tuduhannya membuat [i lututnya lemas. -IjiS "Sungguh mengerikan," kata Rodney,; yang sudah I puluhan kali melihat video iklan itu. Namun, tayangan j sebenarnya di televisi tampak jauh lebih keras. East Media menjanjikan enam belas persen dari setiap pasar akan menonton masing-masing tayangan. Iklan itu akan ditayangkan dua hari sekali selama sepuluh hari di sembilan puluh wilayah pasar dari pantai ke pantai. Prakiraan jumlah penontonnya adalah delapan puluh juta. "Ini pasti berhasil," Clay berkata, layaknya pemimpin. Selama satu jam pertama, iklan itu ditayangkan di berbagai stasiun televisi di tiga puluh pasar sepanjang Pantai Timur, lalu disebarkan ke delapan belas pasar lain

di Zona Waktu Bagian Tengah. Empat jam sesudah dimulai, iklan itu akhirnya mencapai Pantai Barat dan 42 wilayah pasar. Biro hukum kecil Chty menghabiskan lebih dari $400.000 malam pertama itu untuk iklan yang tersebar dari Pantai Timur ke Barat. Nomor telepon berawalan 800 tersebut membawa para penelepon ke Sweatshop, julukan- bara bagi cabang penjaring klien Kantor Hukum J. Clay Carter II. Di sana, enam paralegal bara menerima telepon, mengisi formulir, mengajukan segala pertanyaan yang sudah dirancang, merujuk para penelepon ke Dyloft Hot Line Web Site, dan menjanjikan telepon balasan dari salah satu staf pengacara. Dua jam sesudah tayangan iklan pertama, semua sambungan telepon jadi sibuk. Komputer mencatat nomor-nomor penelepon yang tidak bisa masuk. Pesan komputer merujuk mereka ke situs Web. Pada pukul sembilan keesokan paginya, Clay menerima telepon mendesak dari pengacara di biro hukum besar di jalan yang sama. Ia mewakili Ackerman Labs dan mendesak iklan tersebut segera dihentikan. Ia pongah, meremehkan, dan melontarkan ancaman akan melakukan semua tindakan hukum bila Clay tidak segera menyerah. Kata-kata jadi kasar, lalu agak tenang sedikit. "Apakah kau masih akan berada di kantor beberapa menit lagi?" Clay bertanya. "Ya, tentu saja. Kenapa?" "Ada yang akan kukirimkan. Aku akan menyuruh ¦ kurir ke sana Hanya perlu lima menit" Rodney, si kurir, berjalan kaki membawa fotokopi gugatan setebal dua puluh halaman. Clay berangkat ke pengadilan untuk memasukkan gugatan aslinya Sesuai instruksi Pace, beberapa kopi juga

dikirimkan dengan faks ke The Washington Post, The Wall Street Journal dan The New Y ork Times. Pace juga memberikan kisikan bahwa penjualan kosong sahara Ackerman Labs akan menjadi langkah investasi yang cerdik Saham itu ditatap pada hari Jumat dengan nilai $42,50. Ketika pasar dibuka Senin pagi, Clay melakukan transaksi pada posisi jual untuk seratus ribu saham. Ia akan membelinya kembali dalam beberapa hari, mudahmudahan dengan nilai sekitar $30, dan meraup sejuta dolar lagi. Bagaimanapun, itulah rencananya. Kantornya sibuk luar biasa ketika ia kembali Ada enam sambungan telepon bebas pulsa ke Sweatshop di Manassas, dan selama jam kerja, ketika keenamnya sibuk telepon masuk dialihkan ke kantor utama di Connecticut Avenue. Rodney, Paulette, dan Jonah berbicara di telepon dengan para pemakai Dyloft yang tersebar di seluruh penjuru Amerika Utara. "Kau mungkin ingin melihat ini," Miss Glick berkata. Kertas pesan berwarna merah jambu itu memuat nama wartawan The Wall Street Journal. "Dan Mr. Pace ada di kantormu." Max memegangi secangkir kopi dan berdiri di depan jendela. "Sudah dimasukkan ke pengadilan," kata Clay. "Kita telah mengguncang sarang lebah." "Nikmatilah." "Pengacara mereka menelepon. Aku sudah mengirimkan satu kopi berkas gugatan pada mereka." "Bagus. Mereka.sekarat. Mereka baru saja disergap ¦ dan tahu akan dibantai. Ini impian pengacara, Clay, nikmatilah sepuasnya." "Duduklah. Aku ada satu pertanyaan." Pace, dalam pakaian serbahitam seperti biasanya, menjatuhkan diri di kursi dan menyilangkan kaki. Sepatu lars koboi itu

tampaknya terbuat dari kulit ular derik. "Seandainya Ackerman Labs menyewamu sekarang juga, apakah yang akan kaulakukan?" Clay bertanya. "Putaran langkah sangatlah penting. Aku akan mulai mengedarkan press release, menyangkal segalanya menimpakan kesalahan pada pengacara-pengacara rakus. Membela obatku. Tujuan awalnya, sesudah bom meledak dan debu mengendap, adalah melindungi harga saham. Saham itu dibuka seharga 42,5, nilai yang sangat rendah; sekarang turun hingga 33. Aku akan menyuruh CEO-nya tampil di televisi untuk mengatakan semua hal yang benar. Akan kuperintahkan orang-orang humas mendongkrak propaganda Aku akan menyuruh pengacara menyiapkan pembelaan yang terorganisir. Aku akan menyuruh orangorang penjualan meyakinkan para dokter bahwa obat ini aman." Tapi obat itu tidak aman." "Aku akan mengkhawatirkan soal itu nanti. Untuk beberapa hari pertama semuanya soal putaran, setidaknya di permukaan. Kalau investor percaya ada yang tidak beres dengan obat itu, mereka akan berbondong-bondong melepas saham dan harganya akan terus jatuh. Begitu langkah ini terlaksana, aku akan bicara serius dengan para petinggi perusahaan. Begitu tahu ada masalah dengan obat itu, aku akan mengumpulkan para tukang hitung dan memperkirakan berapa besar uang penyelesaian perkaranya. Dengan obat jelek seperti ini, kau tidak akan pernah maju ke pengadilan. Setiap anggota juri bisa menjatuhkan vonis berapa saja semaunya. Ada juri yang memberikan sejuta dolar pada penggugat. Juri berikutaya

di negara bagian lain jadi gusar dan menghadiahkan dua puluh juta dolar sebagai ganti kerugian: Ini permainan dengan risiko luar biasa besar. Jadi kaubereskan di luar pengadilan. Seperti kaupelajari dengan cepat, pengacarapengacara gugatan massal itu mengambil prosentase, jadi mereka gampang diajak berdamai." "Berapa banyak yang mampu dibayar Ackerman?" "Mereka diasuransikan sedikitnya tiga ratus juta dolar. Ditambah mereka punya sekitar setengah miliar tunai, sebagian besar diperoleh dari Dyloft. Mereka hampir mencapai plafon kredit di bank, tapi kalau aku yang mengatur, aku merencanakan akan membayar saru miliar. Dan aku akan melakukannya dengan cepat." "Apakah Ackerman akan melakukannya dengan cepat?" "Mereka belum menyewaku, jadi' mereka tidak terlalu pintar. Aku sudah lama mengawasi perusahaan itu, dan mereka tidak terlalu cerdik. Seperti semua pabrik farmasi, mereka ngeri dengan perkara pengadilan. Bukannya memakai pemadam kebakaran seperti diriku, mereka malah melakukannya dengan cara kuno—mereka mengandalkan pengacara-pengacara mereka, yang tentu saja tidak menaruh minat untuk melakukan penyelesaian perkara secepatnya di luar pengadilan. Biro hukum utamanya adalah Walker-Steams di New Y ork. Sebentar lagi kau akan mendengar kabar dari mereka." "Jadi tidak akan ada uang penyelesaian perkara segera?" "Kau memasukkan gugatan satu jam yang lalu. Santai saja." "Aku tahu, tapi sekarang aku seperti membakar semua uang yang baru saja kauberikan padaku." "Tenang saja. Dalam setahun kau akan lebih

kaya lagi." "Setahun, heh?" "Itu terkaanku. Pengacarapengara mereka harus jadi gemuk dulu. Walker-Steams akan mengerahkan lima puluh associate untuk kasus ini, dengan tagihan 219 yang bertambah dengan kecepatan penuh. Gugatan class action Mr. Worley bernilai seratus juta dolar untuk pengacara Ackerman sendiri. Jangan lupakan itu." "Mengapa mereka tidak membayar saja seratus juta dolar padaku agar menyingkir?" "Sekarang kau berpikir seperti pengacara gugatan massal sejati. Mereka akan membayarmu lebih banyak lagi, tapi pertama mereka harus membayar pengacara mereka. Begitulah cara kerjanya." "Tapi kau tidak akan melakukannya dengan cara seperti itu?" Tentu saja tidak. Dengan Tarvan, klienku mengatakan kejadian sebenarnya. Sesuatu yang jarang terjadi. Aku mengerjakan tugasku, menemukanmu, dan membereskan segalanya diam-diam, cepat, dan murah. Lima puluh juta, dan tak sepeser pun untuk pengacara klienku sendiri." Miss Glick muncul di pintu dan berkata, "Wartawan dari The Wall Street Journal menelepon lagi." Clay memandang Pace yang berkata, "Ajaklah mengobrol Dan ingat, pihak lawan punya sepasukan humas yang mengupayakan putaran." The Times dan The Post memuat berita singkat tentang gugatan class action terhadap Dyloft di halaman depan seksi bisnis mereka pagi berikutnya. Keduanya menyebut nama Clay, kejutan yang diam-diam dimkmattaya. Porsi artikel lebih banyak diberikan untuk tanggapan tergugat. CEO-nya menyebut gugatan hukum itu "mengada-ada" dan "contoh lain penyalahgunaan hukum oleh profesi pengacara." Wakil Presiden bidang Riset

mengatakan, "Dyloft telah diriset tuntas tanpa bukti adanya efek samping merugikan." Kedua koran itu memberitakan bahwa saham Ackerman Labs, yang anjlok lima puluh persen dalam tiga kuartal sebelumnya, kembali mengalami pukulan karena gugatan kejutan itu. The Wall Street Journal menulis dengan benar, setidaknya menurut pendapat Clay. Pada tahap awal, wartawannya menanyakan umur Clay. "Baru tiga puluh satu?" katanya, dan ini berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan tentang pengalaman Clay, biro hukumnya, dan lain-lain. Kisah David lawan Goliath jauh lebih menarik untuk dibaca daripada data finansial atau laporan laboratorium yang kering, dan berita itu berkembang sendiri. Seorang fotografer dikirim, dan sewaktu Clay berpose, stafnya menyaksikan dengan perasaan senang. Di halaman depan, di kolom paling kiri, judul beritanya berbunyi: ANAK KEMARIN SORE MENANTANG ACKERMAN LABS. Di sebelahnya ada karikatur dikomputerisasi, memperlihatkan Clay Carter yang tersenyum. Alinea pertamanya berbunyi: "Kurang dari dua bulan yang lalu, pengacara D.C. Clay Carter masih bekerja keras di sistem peradilan pidana kota ini sebagai pembela OPD bergaji rendah dan tak dikenal. Kemarin, sebagai pemilik biro hukumnya sendiri, ia mengajukan gugatan senilai satu miliar dolar terhadap perusahaan farmasi ketiga ter-besar di dunia, menyatakan obat ajaib terbarunya, Dyloft, bukan saja meringankan nyeri akut pan penderita arthritis, tetapi juga menyebabkan tumoi dalam kandung kemih mereka." Artikel itu dipenuhi pertanyaan tentang bagaimana Clay menjalani transformasi radikal

secepat itu. Dan karena ia tak dapat menyebut Tarvan atau apa pun yang berkaitan dengannya, ia samar-samar menyinggung penyelesaian perkara gugatan yang melibatkan orang-orang yang ia temui sebagai pengacara OPD. Ackerman Labs mendapat bagian di tulisan itu dengan mengungkapkan dalih biasa tentang penyalahgunaan gugatan hukum dan para pengacara yang mencari-cari perkara sehingga menghancurkan perekonomian, tapi sebagian besar artikel itu tentang Clay dan kariernya yang melambung dalam dunia gugatan massal. Ada beberapa hal positif tentang ayahnya, "litigator D.C. legendaris" yang telah "pensiun" ke Bahama. Glenda di OPD memuji Clay sebagai "pembela kaum miskin yang penuh komitmen", komentar bagus yang memberinya makan siang di restoran mewah. Presiden National Trial Lawyers Academy mengaku belum pernah mendengar tentang Clay Carter, tapi toh "sangat terkesan dengan hasil kerjanya". Seorang dosen hukum dari Yale mengeluh, "Sam contoh lagi penyalahgunaan litigasi class action," sementara dosen lain di Harvard mengatakan itu adalah "contoh sempurna bagaimana class action seharusnya dilakukan untuk memburu perusahaan besar pembuat kesalahan." "Pastikan ini tercantum di situs Web," Clay berkata sambil mengangsurkan artikel itu pada Jonah. '-'Klien kita akan menyukainya" 222 1EQUILA Watson menyatakan diri bersalah melakukan pembunuhan terhadap Ramon Pumphrey dan divonis penjara seumur hidup. Ia berhak mendapatkan pembebasan bersyarat sesudah dua puluh tahun meskipun berita di Post tidak

menyebutkan hal itu. Namun koran itu menyebutkan korbannya adalah salah saru dari beberapa korban tembakan dalam serangkaian pembunuhan yang tampaknya terlalu acak meskipun untuk kota yang terbiasa dengan kekerasan tanpa nalar. Polisi tidak punya penjelasan. Clay menyisihkan waktu untuk menelepon Adelfa dan menanyakan kabarnya. Ia berutang sesuatu pada Tequila, tapi ia tidak tahu pasti apa. Dan tak ada cara untuk memberikan kompensasi pada mantan kliennya itu. Ia bernalar Tequila menghabiskan sebagian besar hidupnya mengkonsumsi obat terlarang dan mungkin memang akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi, dengan atau tanpa Tarvan, tapi dalih ini tidak terlalu berhasil membuat Clay merasa terhormat. Ia telah menjual kliennya, jelas dan sederhana. Ia mengambil uang itu dan mengubur kebenaran. Dua halaman di belakang ada artikel lain yang menarik perhatiannya dan membuatnya melupakan Tequila Watson. Wajah gemuk Mr. Bennett Van Horn tampak di foto, di bawah topi helmnya yang berhiaskan monogram namanya, bekerja di lokasi pembangunan di suatu tempat. Ia penuh perhatian mengaman satu set gambar dengan laki-laki lain yang diidentifikasikan sebagai insinyur proyek BVH Group. Perusahaan itu terlibat pertarungan seru mengenai usulan pengembangan daerah di dekat padang pertempuran Chancellorsville, sekitar satu jam sebelah selatan D.C. Bennett, seperti biasa, mengusulkan salah satu dari koleksi rencana pembangunan rumah, kondominium, apartemen, pertokoan,. taman bermain, lapangan tenis,

dan kolam, seluruhnya dalam jarak satu mil dari pusat padang pertempuran itu dan sangat dekat dengan tempat Jendral Stonewall Jackson ditembak prajurit Konfederasi. Kaum pelestari situs bersejarah, pengacara, sejarawan perang, pelestari lingkungan, dan Komunitas Konfederasi mengacungkan pedang dan akan mencincang Bennett the Bulldozer. Tidaklah mengejutkan, Post memuji-muji kelompok ini tanpa menyebutkan apa pun yang baik tentang Bennett. Namun demikian, lahan yang diperdebatkan itu merupakan tanah pribadi yang dimiliki beberapa petani tua, dan ia kelihatannya sedang di atas angin, setidaknya untuk sementara ini. Artikel itu berlanjut panjang dengan cerita tentang padang pertempuran lain di seluruh penjuru Virginia yang dibangun para pengembang. Organisasi bernama Civil War Trust memimpin perlawanan. Pengacaranya digambarkan sebagai orang radikal yang tidak takut menggunakan Mgasi untuk melestarikan tempat ber224 sejarah. "Tapi kami butuh uang untuk mengurus perkara di pengadilan," demikian ia dikutip. Dua telepon lagi dan Clay berbicara dengannya di telepon. Mereka berbicara selama setengah jam, dan ketika menutup telepon, ia menulis selembar cek senilai $100.000 untuk Civil War Trust, Chancellorsville Litigation Fund. Miss Glick mengangsurkan pesan telepon tersebut padanya saat ia berjalan melewati meja kerjanya Ia melihat nama itu dua kali, dan masih merasa skeptis ketika duduk di ruang rapat dan menekan nomor itu. "Mr. Patton French," katanya ke telepon. Pesan telepon itu mengatakan ini urusan mendesak. "Dari siapa ini?" "Clay

Carter, dari D.C." "Oh ya ia menunggu Anda." Sungguh sulit membayangkan pengacara yang begitu berkuasa dan sibuk seperti Patton French menunggu telepon dari Clay. Dalam beberapa detik orang besar itu sendiri berbicara di telepon. "Halo, Clay, terima kasih telah meneleponku kembali," katanya begitu akrab sampai Clay terperangah. "Cerita yang bagus di Journal, heh? Lumayan untuk mokie — pemula. Omong-omong, maaf aku tidak sempat bicara denganmu ketika kau di New Orleans." Ini suara yang sama dengan yang didengarnya dari balik mikrofon, tapi jauh lebih rileks. 'Tidak apa-apa," kata Clay. Saat itu ada dua ratusan pengacara di pertemuan Circle of Barrister. Tak ada alasan apa pun bagi Clay untuk menemui j Patton French, dan tak ada alasan mengapa French \ perlu tahu Clay ada di sana. Pria itu jelas telah mengerjakan riset. "Aku ingin bertemu denganmu, Clay. Kupikir kita . bisa mengerjakan bisnis bersama. Dua bulan lalu j aku sudah mencium jejak Dyloft Kau memukulku j dengan telak, tapi ada berton-ton uang di luar sana" 1 Clay tidak punya keinginan bermitra dengan Patton French. Tapi di lain pihak, cara-caranya memeras j uang penyelesaian perkara dalam jumlah besar dari perusahaan farmasi sudah melegenda. "Kita bisa J bicara," kata Clay. "Dengar, aku akan ke New Y sekarang juga j Bagaimana kalau aku ork menjemputmu di D.C. dan kau j ikut denganku ke sana? Aku punya Gulfstream 5 bara yang ingin kupamerkan. Kita menginap di Manhattan, menikmati santap malam yang hebat j malam ini. Bicara urusan bisnis. Kembali besok siang. Bagaimana menurutmu?" "Well, aku cukup sibuk."

Clay ingat jelas perasaan muaknya di New Orleans ketika French terus menyinggung-nyinggung "mainannya" dalam pidato. | Pesawat Gulfstream baru, yacht, puri di Skotlandia. "Aku tahu. Dengar, aku pun sibuk juga. Aduh, H kita semua sibuk. Tapi ini bisa menjadi perjalanan I paling menguntungkan yang pernah kaulakukan. Aku tidak mau ditolak. Aku akan menemuimu di bandara ms nasional Reagan tiga jam lagi. Setuju?" '• Selain beberapa telepon yang harus ia lakukan dan permainan racquetbaU malam ifu, tak banyak yang akan dikerjakan Clay. Telepon-telepon kantor memang berdering nonstop dari para pemakai Dyloft yang ketakutan, tapi Clay tidak menangani telepontelepon itu. Ia sudah beberapa tahun tidak ke New Y ork "Baiklah, mengapa tidak?" katanya hatinya dipenuhi keinginan melihat Gulfstream 5 dan bersantap di restoran mewah. "Langkah yang cerdas, Clay. Langkah cerdas." Terminal pesawat pribadi di Reagan dipenuhi para eksekutif dan birokrat yang sibuk datang dan pergi. Di dekat konter penerimaan, gadis cantik berambut cokelat dan berok pendek memegang plakat buatan tangan bertuliskan nama Clay. Clay memperkenalkan diri padanya. Perempuan itu Julia, tanpa nama belakang. "Silakan ikuti saya," katanya dengan senyum sempurna. Mereka melewati pinta keluar dan dibawa melintasi landasan naik van. Puluhan pesawat Lear, Falcon, Hawker, Challenger, dan Citation diparkir atau meluncur datang dan pergi dari terminal. Kru landasan dengan hati-hati membimbing jet-jet itu melewati satu sama lain, sayapnya hanya terpisah beberapa inci. Mesin-mesin melengking

dan seluruh pemandangan itu menggetarkan saraf. "Dari mana kau?" Clay bertanya. "Kami berkantor di Biloxi," kata Julia "Di sana Mr. French menempatkan kantor utamanya." "Aku mendengarnya berbicara dua minggu yang ialii di New Orleans." "Ya kami ada di sana. Kami jarang di rumah." "Ia kerja terus, ya?" "Sekitar seratus jam seminggu.' i Mereka berhenti di sebelah jet terbesar d. landasan. "Bb jet kita," kata Julia, dan mereka turun dari van, Pilot menyambar tas Clay dan pergi membawanya. Patton French, tentu saja, sedang bicara di telepon. Ia melambaikan tangan menyambut Clay di pesawat sementara Julia menerima jasnya dan menanyakan ia ingin minum apa Air saja dengan jeruk nipis. Pengalaman pertamanya di dalam jet pribadi tak mungkin lebih mengguncang hati. Video-video yang ia saksikan di New Orleans sama sekali tak bisa dibandingkan dengan aslinya. Aromanya kulit ash, kulit yang sangat mahal. Tempat duduknya sofa sandaran kepala panel, bahkan meja-mejanya dilapisi kulit dengan berbagai nuansa biru dan cokelat. Lampu-lampu, kenop, dan perangkat kontrolnya semua disepuh emas. Kayu bingkainya berwarna gelap dan dipelitur cermat, mungkin kayu mahoni. Ini state mewah di hotel bintang lima tapi dilengkapi sayap dan mesin.' Tinggi Clay 180 sentimeter, tapi ruang di atas kepalanya masih lega Kabin itu panjang, dengan entah kantor apa di belakang. French ada di belakang sana, masih berbicara di telepon. Bar dan dapurnya tepat di belakang kokpit Julia muncul membawa air minum. "Silakan duduk," katanya. "Kita akan berangkat"

Ketika pesawat mulai bergerak, French sekonyongkonyong mengakhiri percakapan dan berjalan ke depan. Ia menyambut Clay dengan jabatan tangan kuat dan senyum lebar serta permintaan maaf karena tidak menemuinya di New Orleans. Ia berperawakan cukup besar, berambut tebal berombak yang mulai beruban dengan bagus, mungkin berumur 55 tahun I tapi belum menginjak enam puluh. Kekuatan bagai merembes ke luar dari setiap poripori dan embusan napasnya. Mereka duduk berhadapan di salah satu meja. "Pesawat yang bagus, heh?" French berkata, sambil melambaikan lengan kiri ke arah interior. "Bagus sekali." "Kau sudah punya jet?" "Belum." Dan ia benar-benar merasa kurang sebab tak memiliki pesawat jet Pengacara macam apakah dirinya? "Itu takkan lama lagi, Nak. Kau tidak bisa hidup tanpa jet. Julia, ambilkan aku vodka, mi yang keempat, jet maksudku, bukan vodka. Perlu dua belas pilot untuk menerbangkan empat jet Dan lima Julia Ia cantik, heh?" "Benar;" "Biaya overhead-nya besar, tapi toh banyak uang di luar sana. Apakah kau mendengar aku bicara di New Orleans?" "Ya. Sangat menyenangkan." Clay berbohong sedikit. Betapa pun menyebalkan French di podium, ia toh menghibur dan informatif. "Aku benci bicara terus soal uang seperti itu, tapi aku harus bermain untuk orang banyak. Sebagian besar dari orang-orang itu suatu saat akan membawakan kasus gugatan ganti kerugian besar kepadaku. Harus terus menyemangati mereka kau tahu. Aku telah membangun biro hukum gugatan massal terbesar di Amerika, dan yang kami lakukan hanyalah memburu perusahaan-perusahaan

besar. Bila kau memperkarakan perusahaan seperti Ackerman Labs — 228 dan siapa saja yang termasuk dalam Fortune 500, kau harus punya amunisi punya kekuatan. Uang mereka tak ada habisnya. Aku hanya sekadar mencoba menyeimbangkan kekuatan." Julia membawakan minuman dan memakai sabuk pengaman untuk lepas landas. "Kau makan siang?" French bertanya. "Ia bisa memasak apa saja." 'Tidak, terima kasih. Aku masih kenyang." French meneguk vodkanya banyakbanyak, lalu riba-riba duduk bersandar, memejamkan mata, dan kelihatan seperti berdoa sewaktu pesawat Gulfstream itu melesat di landas pacu dan terangkat naik. Clay menggunakan jeda itu untuk mengamati pesawat. Pesawat ini begitu mewah dan mahal detailnya sehingga rasanya hampir keterlaluan. Empat puluh, 45 juta dolar untuk jet pribadi! Dan, menurut gosip di kalangan Circle of Barristers, pabrik Gulfstream tidak bisa membuatnya cukup cepat untuk melayani permintaan. Pesanan mereka menumpuk untuk produksi dua tahun! Menit demi menit berlalu hingga mereka mencapai ketinggian jelajah, lalu Julia menghilang ke dapur. French terbangun dari meditasinya, minum seteguk lagi. "Apakah semua yang ditulis di Journal itu benar?" ia bertanya, jauh lebih tenang sekarang. Clay mendapat kesan bahwa suasana hati French berubah sangat cepat dan dramatis. "Mereka benar." "Aku pernah dua kali dimuat di halaman depan, tak ada yang bagus. Tidak mengherankan bahwa mereka tidak menyukai pengacara gugatan massal seperti kita. Sebetulnya, tak ada yang suka, kau akan segera

mengetahuinya. Uang akan menyingkirkan citra negatif itu Kau akan terbiasa dengannya. Kami semua begitu. Aku sebenarnya pernah bertemu dengan ayahmu sekali." Matanya menyipit dan bergerak kian kemari saat ia berbicara, seolah ia terus memikirkan tiga kalimat di depan. "Benarkah?" Clay tidak yakin ia mempercayainya. "Dua puluh tahun yang lalu, aku bekerja di Departemen Kehakiman. Kami memperkarakan sejumlah lahan suku Indian. Orang-orang Indian itu membawa Jarrett Carter dari D.C. dan peperangan pun berakhir. Ia sangat hebat." Terima kasih," kata Clay dengan perasaan bangga luar biasa. "Harus kukatakan padamu, Clay, seranganmu dengan kasus Dyloft ini sungguh bagus. Dan sangat luar biasa. Pada kebanyakan kasus, kabar tentang obat yang buruk menyebar perlahan-lahan bersama makin banyaknya pasien yang mengeluh. Dokter-dokter itu lamban sekali dalam berkomunikasi. Mereka bekerja sama erat dengan pabrik farmasi, jadi mereka tidak. punya alasan apa pun untuk mengangkat masalah. Plus, di kebanyakan wilayah yurisdiksi, dokter ikut digugat karena meresepkan obat itu. Perlahan-lahan, pengacara mulai terlibat. Tiba-tiba saja, tanpa alasan apa pun, ada darah dalam air seni Paman Luke, dan sesudah ia mengamatinya selama satu atau dua bulan ia akan pergi ke dokternya di Podunk, Louisiana. Dan si dokter akhirnya memerintahkannya berhenti memata obat ajaib baru yang SuT resepkan. Paman Luke mungkm perg, menemui pengacara keluarga, biasanya pengacara kota kecil yang kerjanya mengurus surat wasiat dan perceraian dan kebanyakan tidak tahu adanya peluang

menuntut ganti kerugian besar bila ia mendapat kasus. Perlu waktu lama sampai obat-obat buruk ini ditemukan. Apt yang kaulakukan sangatlah unik." Clay puas dengan mengangguk dan mendengarkan. French puas dengan memimpin pembicaraan. Ini tentu mengarah ke sesuatu. R?^-< "Hal ini membuatku berkesimpulan bahwa kau punya informasi dari dalam." Diam sejenak, jeda singkat di mana Clay diberi kesempatan untuk meng-konfinnasikan bahwa ia memang punya informasi dari dalam. Tapi ia tidak memberi petunjuk apa pun. "Aku punya jaringan pengacara dan kontak yang sangat luas di seluruh penjuru negeri. Tak satu pun, tak seorang pun, pernah mendengar ada masalah dengan Dyloft sampai beberapa minggu yang lalu. Di biro hukumku aku punya dua pengacara yang menggarap penelitian awal terhadap obat itu, tapi hasilnya masih jauh untuk mengajukan gugatan ke pengadilan. Sekonyong-konyong, aku melihat berita tentang seranganmu dan wajahmu yang tersenyum di halaman depan The Wall Street Journal. Aku tahu bagaimana permainan ini dimainkan,- Clay, dan aku tahu kau punya informasi dari dalam." "Benar. Dan aku takkan pernah menceritakannya kepada siapa pun." "Bagus, bu membuatku merasa lebih lega. Aku melihat iklan-iklanmu. Kami memantau hal-hal semacam itu di setiap wilayah pasar. Lumayan. Sesungguhnya, iklan lima belas detik yang kaugunakah itu terbukti sebagai cara paling efektif. Apakah kau tahu itu?" 'Tidak." "Hantam mereka keraskeras di waktu malam dan dini hari. Pesan pendek untuk menakuti mereka, lalu nomor telepon di mana mereka bisa

mendapatkan bantuan. Aku telah melakukannya seribu kali. Berapa kasus yang sudah kaudapatkan?" "Sulit menentukannya. Mereka harus melakukan analisis awal pada urine mereka. Telepon tak pernah berhenti berdering." "Iklanku sendiri akan mulai besok. Aku punya enam orang yang tidak melakukan hal lain kecuali menggarap iklan. Bisakah kau percaya? Enam orang bekerja penuh hanya untuk menangani iklan. Dan mereka tidak murah." Julia muncul membawa dua piring makanan —satu berisi udang dan satu dipenuhi keju dan berbagai macam daging—prosciutto, salami, dan beberapa makanan lain yang namanya tidak diketahui Clay. "Sebotol anggur putih Chili," Patton berkata "Pasti sudah dingin sekarang. "Kau suka anggur?" ia bertanya sambil menyambar udang pada buntutnya. "Sedikit. Aku bukan pakar." "Aku sangat suka anggur. Di pesawat ini aku menyimpan seratus botol." Udang lagi. "Omong-omong, kami perhitungkan ada sekitar lima puluh sampai seratus ribu kasus Dyloft. Angka itu rasanya cukup mendekati?" . . . „ "Seratus ribu mungkin perkiraan tertinggi, Clay berkata hati-hati. 233 232 "Aku agak khawatir dengan Ackerman Labs, Sebelum ini aku pernah dua kali menggugat mereka, kau tahu?" "Aku tidak tahu." "Sepuluh tahun lalu, waktu mereka punya banyak uang. Mereka dulu punya satu-dua CEO yang melakukan sejumlah akuisisi curang. Kini mereka punya utang sebesar sepuluh miliar dolar. Sungguh tolol. Khas kejadian tahun 1990-an. Bank menyodornyodorkan uang kepada perusahaan-perusahaan blue chip, yang langsung mengambilnya dan mencoba membeli

seluruh dunia. Bagaimanapun juga, Ackerman tidak dalam bahaya mengalami kebangkrutan atau apa pun seperti itu. Mereka punya asuransi." Sampai di sini French rupanya memancing dan Clay memutuskan memakan umpan itu. "Mereka sedikitnya punya asuransi sebesar tiga ratus juta dolar," katanya. "Dan mungkin setengah miliar dialokasikan untuk Dyloft." French tersenyum dan nyaris meneteskan liur mendengar informasi ini. Ia tidak bisa dan tidak berusaha menyembunyikan kekagumannya "Hebat sekali, Nak, luar biasa. Sebagus apa informasi orang dalam yang kaumiliki?" "Bagus sekali. Kami punya orang dalam yang bersedia menumpahkan segala informasi, dan kami punya laporan laboratorium yang tak seharusnya mereka miliki Ackerman tidak mungkin berani membawa Dyloft untuk diadili juri." "Mengagumkan," ia berkata sambil memejamkan mata dan menyerap kata-kata ini. Pengacara yang tak punya perkara lalu mendapatkan kasus pertama af I menangani kecelakaan mobil tak mungkin lebih bahagia dari ini. Julia kembali sambil membawa anggur, yang ia mang ke dalam dua gelas anggur yang tak terkirakan harganya. French membaurnya baik-baik dan mengevaluasinya perlahan-lahan, dan ketika sudah puas ia minum seteguk. Ia mendecakkan bibir dan menganggukkan kepala, lalu mencondongkan badan untuk meneruskan gosip. "Ada sensasi luar biasa ketika mengetahui perusahaan besar, kaya, dan ternama melakukan sesuatu yang buruk. Rasanya lebih hebat daripada seks, Clay, lebih hebat daripada seks. Itu sensasi terhebat yang -kukenal. Kau tangkap basah bangsat-

bangsat rakus itu mengedarkan produk buruk yang mencelakai orang-orang tak berdosa dan kau, si pengacara, harus menghukum mereka. Untuk itulah aku hidup. Memang, uangnya sangat sensasional, tapi uang itu datang sesudah kau menangkap mereka. Aku takkan pernah berhenti, tak peduli berapa banyak uang yang kuperoleh. Orang-orang berpendapat aku serakah sebab aku bisa saja berhenti dan hidup -di pantai sepanjang sisa hidupku. Membosankan! Aku lebih suka bekerja seratus jam seminggu mencoba menangkap bajingan-bajingan besar itu. Itulah hidupku." Pada saat itu, gelora semangatnya terasa menular. Wajahnya bersinar-sinar dengan fanatisme. Ia mengembuskan napas dengan berat, lalu bertanya "Kau suka anggur ini?" '• "Tidak, rasanya seperti minyak tanah," kata Clay. "Kau benar. Julia! Singkirkan ini! Bawakan kami sebotol MeursauTt yang kita beli kemarin." Tapi, pertama-tama Julia membawakan telepon. "Dari Muriel." French menyambarnya dan berkata "Halo." Julia membungkuk dan, hampir berbisik, ia berkata, "Muriel sekretaris kepala, si Ibu Asrama. Muriel selalu bisa menghubunginya sedangkan istri-istrinya tidak." French menutup telepon dan berkata, "Coba kutawarkan satu skenario untukmu, Clay. Dan kujanjikan padamu bahwa ini dirancang agar kau mendapatkan lebih banyak uang dalam waktu lebih singkat. Jauh lebih banyak." "Aku mendengarkan." "Aku akhirnya akan menjaring kasus Dyloft sebanyak dirimu. Kini sesudah kau membuka pintu, ratusan pengacara lain akan memburu kasus ini. Kita, kau dan aku. bisa mengendalikan litigasinya kalau kita

memindahkan gugatanmu dari D.C. ke wilayahku di Mississippi. Itu akan membuat Ackerman Labs ketakutan setengah mati, lebih daripada apa pun yang bisa kaubayangkan. Mereka sekarang sudah khawatir sebab kau menghantam mereka di D.C, tapi mereka juga berpikir, 'Ah, ia cuma pelonco, belum pernah ke sini, belum pernah menangani kasus gugatan massal, ini gugatan class action-nya. yang pertama,' dan seterusnya Tapi kalau kita gabungkan kasusmu dengan kasusku, gabungkan semuanya menjadi satu gugatan class action, dan memindahkan perkaranya ke Mississippi, maka Ackerman akan mengalami serangan jantang hebat." Clay dipenuhi keraguan dan pertanyaan. "Aku mendengarkan," itu saja yang bisa dikatakannya. "Kau tetap tangani kasusmu, aku*tangani milikku. 236 Kita gabungkan semuanya dan sementara pengacara-pengacara lain ikut menjaring kasus ini, aku akan menghadap hakim pengadilan dan memintanya menunjuk suatu komite pengawas mewakili semua penggugat. Aku selalu melakukannya. Aku akan jadi ketuanya. Kau akan-duduk dalam komite itu sebab kau yang pertama memasukkan gugatan. Kita akan memantau, litigasi Dyloft, menyidangkannya, dan mengorganisir segalanya meskipun pasti sangat sulit melakukannya bila kita bekerja bersama segerombolan pengacara sombong. Aku sudah puluhan kali melakukannya.. Komite itu akan memberi kita kendali. Kita akan segera mulai bernegosiasi dengan Ackerman. Aku kenal pengacara-pengacara mereka. Kalau informasi dari orang dalam itu sekuat yang kaukatakan, kita akan mendesak mereka dengan hebat

untuk menyelesaikan perkaranya segera." "Secepat apa?" 'Tergantung pada beberapa faktor. Berapa banyak kasus sebenarnya ada di luar sana? Secepat apa kita bisa menjaringnya? Berapa banyak pengacara lain yang ikut memanfaatkan keramaian ini? Dan, yang paling penting, sejauh mana obat itu merugikan kesehatan klien kita." "Tidak terlalu hebat Sebetulnya semua tumor itu jinak." French mendengarkan ini, mulanya mengernyit mendengar kabar buruk itu, lalu dengan cepat melihat sisi baiknya. "Lebih baik lagi. Pengobatannya adalah bedah sitoskopis." "Benar. Prosedur rawat jalan yang bisa dilakukan ' dengan biaya sekitar seribu dolar." "Dan prognosis jangka panjangnya?" "Sembuh total Menyingkirlah dari Dyloft dan hidup akan kembali menjadi normal, yang bagi sejumlah pendenta arthritis ini tidaklah menyenangkan." French membaui anggurnya, memutarmutar gelas, dan akhirnya menyesapnya. "Jauh lebih bagus, bukan begitu menurutmu?" "Ya," kata Clay. "Tahun lalu aku melakukan tur mencicip anggur di Burgundy. Seminggu kuhabiskan untuk membaui dan meludahkannya. Sungguh menyenangkan." Satu tegukan lagi sementara ia merenung dan mengurutkan prioritas tiga gagasan berikutnya, tanpa meludahkan anggurnya "Itu lebih baik lagi," kata French. "Jelas lebih baik bagi pasien kita sebab mereka tidak sakit terlalu parah. Lebih baik bagi kita sebab uang penyelesaian perkaranya akan lebih cepat beres. Kuncinya di sini adalah menjaring kasuskasus itu. Makin banyak kasus yang kita dapatkan, makin besar kendali yang kita miliki atas gugatan class action ini.

Makin banyak kasus, makin besar uang jasa kita." "Aku mengerti." "Berapa banyak uang yang kausisihkan untuk iklan?" "Dua juta" "Lumayan, sangat lumayan." French ingin menanyakan dari mana sebenarnya pelonco punya dua juta dolar untuk biaya iklan? Tapi ia mengendalikan diri dan tidak menanyakannya. Terasa tenaga pesawat terbang itu berkurang saat hidungnya sedikit turun. "Berapa lama kita sampai ke New Y ork?" tanya Clay. 238 "Dari D.C. sekitar empat puluh menit. Burung kecil ini terbang dengan kecepatan enam ratus mil per jam." "Bandara mana?" "Teterboro, di New Jersey. Semua pesawat jet pribadi menuju ke sana." "Jadi itulah sebabnya aku belum pernah mendengarnya." "Pesawat jetmu akan segera datang, Clay, bersiaplah. Kau bisa mengambil semua mainanku, sisakan saja satu jet untukku. Kau harus punya satu." "Aku akan pakai punyamu saja." "Mulailah dengan pesawat Lear kecil. Kau bisa membelinya kapan saja seharga dua juta dolar. Kau perlu dua pilot, masing-masing gajinya tujuh puluh lima ribu. Itu hanya bagian dari biaya overhead. Kau harus punya. Kau akan tahu." Untuk pertama kali dalam hidupnya Clay mendapat nasihat tentang pesawat jet. Julia membereskan nampan-nampan makanan dan mengatakan-mereka akan mendarat lima menit lagi. Clay jadi terpesona oleh pemandangan kaki langit Manhattan di sebelah timur. French tertidur. Mereka mendarat dan meluncur melewati sederet terminal pesawat pribadi, di mana puluhan jet bagus diparkir atau diservis. "Di sini kau akan melihat lebih banyak jet pribadi daripada di tempat lain mana pun di dunia," French menerangkan ketika

mereka memandang ke luar jendela. "Semua orang kaya di Manhattan memarkir pesawat mereka di sini. Hanya 45 menit bermobil ke kota. Kalau kau benar-benar punya uang, kau punya helikopter sendiri untuk membawamu dari sini ke kota. Hanya butuh waktu. sepuluh menit" "Apakah kita punya helikopter?" Clay bertanya. "Tidak. Tapi seandainya aku tinggal di sini, aku akan punya satu." Limusin menjemput mereka di landasan, hanya beberapa meter dari tempat mereka turun dari pesawat. Para pilot dan Julia tetap tinggal di pesawat, berberes dan pasti sedang memastikan anggur didinginkan untuk penerbangan berikutnya. The Peninsula," kata French pada sopir. TYa, Sir, Mr. French," jawabnya. Apakah ini limo sewaan atau milik Patton sendiri? Pengacara gugatan massal terhebat di dunia pasti. tidak akan memakai mobil sewaan. Clay memutuskan untuk membiarkan pertanyaan itu lewat. Apa bedanya? "Aku ingin tahu tentang iklanmu," French berkata, sewaktu mereka bergerak di tengah padatnya lalu lintas New Jersey. "Kapan kau mulai menayangkannya?" "Malam Senin, di sembilan puluh wilayah pasar, dari Pantai Barat ke Timur." "Bagaimana kau memprosesnya?" "Sembilan orang menerima telepon —tujuh paralegal, dua pengacara. Kami menerima dua ribu telepon hari Senin kemarin, tiga ribu kemarin. Sims Web Dyloft kami diakses delapan ribu orang setiap hari. Dengan asumsi rasio hit yang biasa, kira-kira sudah ada seribu Mien." "Dan berapa banyak orang yang mungkin menderita efek sampingnya?" "Menurut sumberku, yang sejauh ani cukup akurat, 240 jumlahnya antara lima puluh

sampai tujuh puluh lima ribu." "Aku ingin bertemu sumbermu." "Lupakan saja." French membunyikan bukubuku jari dan mencoba menerima penolakan ini. "Kita harus menjaring kasus-kasus ini, Clay. Iklanku akan mulai besok. Bagaimana kalau kita membagi negeri ini? Kau ambil wilayah Utara dan Timur, beri aku wilayah Selatan dan Barat. Akan lebih mudah membidik pasar yang lebih sempit, dan jauh lebih mudah lagi menangani kasusnya. Ada pengacara di Miami yang akan muncul di televisi beberapa hari yang akan datang. Dan ada lagi di California yang, berani kupastikan padamu, saat ini sedang menjiplak iklanmu. Kita adalah ikan-ikan hiu, oke. Burung-burung pemangsa, tidak lain tidak bukan. Perlombaan menuju pengadilan sudah dimulai, Clay. Kita sudah jauh mendahului, tapi gerombolan itu berlari menyusul." "Aku kerja sebaik mungkin." "Beri aku anggaranmu," kata French, seolah ia dan Clay sudah berbisnis bersama selama bertahun-tahun. Apa salahnya? pikir Clay. Duduk bersama di belakang limo itu, mereka jelas seperti mitra. "Dua juta untuk iklan, dua juta lagi untuk analisis urine." "Inilah yang akan kita lakukan," French berkata tanpa sedikit pun jeda dalam percakapan. "Alokasikan seluruh uangmu untuk iklan. Jaring kasus itu sebanyak-banyaknya, oke! Aku akan menyetorkan uang untuk urinalisis itu, seluruhnya, dan kita akan paksa Ackerman Labs menggantinya saat kita membereskan perkara di luar pengadilan. Itu bagian normal dari setiap penyelesaian perkara, memaksa si perusahaan membiayai semua biaya medis." "Satu tes biayanya tiga

ratus dolar." "Kau ditipu. Aku akan mencari analis dan kita akan melakukannya dengan biaya lebih murah." Ini mengingatkan French pada suatu cerita di awal litigasi Skinny Ben. Ia mengubah empat bus Greyhound menjadi klinik berjalan dan menjelajahi seluruh penjuru negeri untuk melakukan screening terhadap klien-klien potensial. Clay mendengarkan dengan minat yang semakin luntur sementara mereka melintasi George Washington Bridge. Sam cerita lain menyusul. Suite Clay di The Peninsula menghadap ke Fifth Avenue. Segera setelah aman terkunci di dalam, jauh dari Patton French, ia menyambar telepon dan mulai mencari Max Pace. Nomor telepon seluler ketiga mencapai Pace di lokasi yang dirahasiakan. Laki-laki tanpa rumah itu makin jarang saja berada di D.C. beberapa minggu terakhir ini. Tentu saja ia sedang memadamkan kebakaran lain, membatalkan gugatan perkara untuk klien lain yang nakal, meskipun ia tidak mengakui hal itu. Memang tidak perlu. Saat ini Clay sudah mengenalnya cukup baik untuk tahu ia pemadam kebakaran yang banyak dicari. Tak ada kekurangan produk cacat di luar sana. Clay terkejut ketika menyadari betapa ia terhibur mendengar suara Pace. Ia menerangkan bahwa ia berada di New Y ork, bersama siapa dan mengapa ia ada di sana. Kata pertama Pace membuyarkan segalanya. "Cemerlang," katanya. "Sangat cemerlang." "Kau kenal dia?" "Setiap orang dalam bisnis ini kenal Patton French," kata Pace. "Aku tidak pernah berurusan dengannya, tapi ia legenda." Clay menceritakan persyaratan-persyaratan tawaran French. Pace dengan

cepat memahaminya dan mulai berpikir jauh ke depan. "Kalau kau memasukkan gugatan lagi di Biloxi, Mississippi, nilai saham Ackerman akan terpukul lagi," katanya. "Saat mi mereka sudah dalam tekanan luar biasa —tekanan dari bank mereka dan dari pemegang saham. Ini cemerlang, Clay. Lakukanlah!" "Oke. Baik." "Dan amati New Y Times besok pagi. Ada berita besar tentang ork Dyloft. Laporan medis pertama sudah keluar. Ini pasti menghancurkan." "Bagus." Ia mengambil bir dari mini bar —harganya delapan dolar tapi siapa peduli—lama sekali ia duduk di depan jendela dan mengamati hiruk-pikuk di Fifth Avenue. Rasanya sama sekali tak enak, dipaksa bergantung pada Max Pace guna mendapatkan nasihat, tetapi tak ada orang lain baginya untuk tempat berpaling. Tak seorang pun, bahkan tidak pula ayahnya, pernah dihadapkan pada pilihan semacam ini: "Mari kita pindahkan lima ribu kasusmu ke sini dan satukan dengan lima ribu kasusku, dan kita tidak mengajukan dua gugatan class action melainkan satu saja, dan aku akan sisihkan satu atau dua juta dolar untuk pemeriksaan medis sementara kau menambah anggaran iklanmu dua kati lipat, dan kita akan meraup empat puluh persen dari uang peerkara, lalu dipotong pengeluaran, maka kita akan menangguk harta karun. Bagaimana pendapatmu, Clay?" Dalam satu bulan terakhir ini ia memperoleh uang lebih banyak daripada yang pernah diimpikannya. ¦ KM, setelah segalanya berkembang di luar kendati, ia merasa seakanakan ia menghamburkannya lebih cepat lagi. Besarkan nyalimu, ia terus berkata pada diri sendiri, ini peluang

langka. Besarkan nyali, hajar dengan cepat, ambil kesempatan, lemparkan dadu, dan kau bisa kaya raya tak terkira. Ada suara lain yang terus mendesaknya agar memelankan langkah, jangan menghamburkan uang itu, kuburkan dan milikilah selamanya. Ia telah memindahkan satu juta dolar ke rekening di luar negeri, bukan untuk menyembunyikannya tapi untuk melindunginya. Ia takkan pernah menyentuhnya, bagaimanapun keadaannya. Seandainya ia keliru mengambil pilihan dan menghabiskan seluruh uangnya dalam pertaruhan, ia masih tetap punya uang untuk menikmati hidup di pantai. Ia akan menyelinap keluar dari kota seperti ayahnya dan takkan pernah kembali lagi. Satu juta dolar di rekening rahasia itu adalah kompromi yang ia ambil. Ia mencoba menelepon kantor tetapi semua saluran telepon sibuk, pertanda baik. Dengan ponsel ia menghubungi Jonah yang sedang duduk di belakang meja kerjanya. "Di sini suasananya kisruh," kata Jonah, sangat letih. "Kacau balau." "Bagus!" "Bagaimana kalau kau kembali ke sini dan membantu?" "Besok." Pada pukul 19.32, Clay menghidupkan televisi dan menemukan iklannya pada sebuah saluran televisi. kabel. Dyloft kedengaran lebih mengerikan lagi di New York. 245 Makan malam dilakukan di Montrachet, bukan karena makanannva. yang memang sangat enak, tetapi karena daftar pilihan anggurnya, yang memang lebih tebal daripada tempat-tempat lain di New Y ork. French ingin mencicipi beberapa jenis anggur merah burgundy dengan daging sapi mudanya. Lima botol dibawa ke meja dengan gelas yang berbeda untuk setiap jenis anggur. Tak banyak

tempat yang tersisa untuk roti dan mentega. Si sommelier, pelayan khusus untuk menyajikan anggur, dan Patton mengoceh dalam bahasa lain ketika membicarakan isi masing-masing botol. Clay bosan dengan seluruh proses itu. Segelas bir dan hamburger mungkin pilihan yang lebih ia sukai, meskipun ia bisa melihat seleranya akan berubah drastis dalam waktu dekat. Ketika anggur sudah dibuka dan menyebarkan baunya French berkata "Aku menelepon ke kantor. Pengacara di Miami itu sudah mengudara dengan iklan Dyloft-hya Ia mendirikan dua klinik pemeriksaan dan menggiring mereka ke sana seperti ternak. Namanya Carlos Hernandez, dan ia sangat bagus." "Orang-orangku tidak bisa menjawab semua telepon masuk," kata Clay. "Apakah kita akan bekerja sama?" kata French. "Mari kita bicarakan kerja samanya." Dengan ucapan itu French langsung mengeluarkan dokumen terlipat. "Itulah memo kerja samanya," ia berkata, mengangsurkannya sambil meraih botol anggur pertama. "Isinya ringkasan dari apa yang telah kita diskusikan sejauh ini." Clay membacanya dengan cermat dan membubuhkan tanda tangan di bagian bawah. French, sambil meneguk anggur, menandatanganinya juga, dan kemitraan itu pun lahirlah. "Mari kita masukkan gugatan class action-nya di Biloxi besok," kata French. "Aku akan segera melakukannya begitu aku pulang. Aku punya dua pengacara yang sedang menggarapnya sekarang. Segera sesudah dimasukkan ke pengadilan, kau bisa mencabut gugatanmu di D.C. sini. Aku kenal penasihat hukum Ackerman Labs. Kurasa aku bisa bicara dengannya. Kalau

perusahaan itu langsung bersedia bernegosisasi dengan kita tanpa melibatkan penasihat hukum luar, maka mereka bisa menghemat sangat banyak dan memberikan uang itu pada kita. Dan itu akan sangat mempercepat urusan, Kalau pengacara luar mereka yang bertanggung jawab menangani negosiasi, maka kita bisa menghamburkan setengah tahun dengan sia-sia" "Sekitar seratus juta dolar, bukan?" "Sekitar itulah. Itu bisa jadi uang kita." Telepon berdering di salah satu saku dan French mengeluarkannya dengan tangan kiri sambil memegangi gelas anggur dengan tangan kanan. "Maaf," katanya pada Clay. Itu pembicaraan tentang Dyloft dengan pengacara lain, seseorang di Texas, jelas teman lama orang yang bisa bicara lebih cepat daripada Patton French. . Kelakarnya sopan, tapi French bersikap hati-hati. Ketika menutup telepon, ia berkata "Sialan!" "Ada pesaing?" 'Tesaing serius. Namanya Vic Brcnnan, pengacara besar di Houston, sangat cerdik dan agresif. Ia pun 247 terjun dalam urusan Dyloft dan ingin tahu rencani permainan kita." "Ia tidak mendapatkan apa pun darimu." 'Ia tahu. Ia akan meluncurkan iklan besok—radio, televisi, koran. Ia akan menangguk beberapa ribu kasus." Selama beberapa saat, ia menghibur diri dengan seteguk anggur, tegukan yang membuatnya tersenyum. 'Terlombaan ini sudah dimulai, Clay. Kita harus menjaring kasus-kasus itu." "Keadaannya akan lebih gila lagi," kata Clay. Mulut French terisi penuh dengan Pinot Noir, sehingga ia tidak bisa berbicara. "Apa?" wajahnya bertanya "Besok pagi, akan ada berita besar di New Y ork Times. Laporan penelitian pertama

tentang keburukan Dyloft, menurut sumberku." Keliru menyebutkan itu dalam santap malam seperti ira. French langsung melupakan daging sapinya, yang masih dimasak di dapur. Dan ia lupa pada anggur-anggur mahal yang memenuhi mejanya, meskipun berhasil juga menghabiskannya selama tiga jam mendatang. Tetapi pengacara gugatan massal macam apakah yang bisa memusatkan perhatian pada makanan dan anggur bila hanya beberapa jam lagi New Y ork Times akan mengungkapkan calon tersangkanya beserta obatnya yang berbahaya? Telepon berdering dan cuaca di luar masih gelap Ketika berhasil memusatkan pandangan ke jam dinding, ia melihat waktu menunjukkan pukul enam kurang seperempat. "Bangun!" geram French padanya "Dan buka pintunya." Begitu ia membuka kunci, French mendorongnya hingga terbuka dan berjalan lewat dengan membawa koran dan secangkir kopi. "Sungguh tak bisa dipercaya!" ia berkata, sambil melemparkan koran Times itu ke atas ranjang Clay "Jangan tidur saja seharian, Nak. Bacalah ini!" Ia memakai pakaian hotel, jubah mandi dari kain handuk, dan sepatu mandi putih. "Sekarang belum lagi pukul enam." "Tak pernah aku tidur sampai lewat pukul lima selama tiga puluh tahun ini. Terlalu banyak kasus di luar sana." Clay tidak memakai apa pun kecuali celana dalam. French meneguk kopi dan membaca berita itu lagi, memandang tajam ke bawah melalui hidungnya yang tidak mancung dan kacamata yang bertengger di ujungnya. Tak ada tanda-tanda sisa mabuk. Clay jadi bosan dengan anggur-anggur itu, yang baginya toh terasa sama saja, dan

mengakhiri malam dengan minum air botolan. French meneruskan pertempuran, bertekad mengumumkan pemenang di antara lima anggur burgundy itu, meskipun perhatiannya begitu terpikat oleh Dyloft sehingga hatinya tidak tercurah ke sana. Atlantic Journal of Medicine melaporkan bahwa dylofedamint, yang dikenal sebagai Dyloft, dikaitkan dengan timbulnya tumor kandung kemih pada sekitar enam persen pasien yang telah menggunakannya selama setahun. "Naik dari lima persen," Clay berkata saat ia membaca "Bukankah itu bagus?" tanya French. Tidak kalau kau termasuk dalam enam persen itu." "Aku tidak." Beberapa dokter sudah menarik obat itu. Ackerman Labs memberikan penyangkalan lemah, mengalihkan kesalahan, seperti biasa ke pengacara-pengacara rakus, meskipun perusahaan itu tampak agak gentar. Tak ada komentar dari FDA. Seorang dokter di Chicago menulis artikel setengah kolom tentang betapa hebatnya obat itu, betapa puas pasienpasiennya menggunakan obat tersebut Kabar baiknya, kalau memang bisa disebut demikian, tumor tersebut tampaknya tidak ganas, setidaknya sampai sejauh ini. Saat Clay membaca berita itu, ia merasa Max Pace sepertinya sudah membaca itu sebulan yang lalu. Hanya ada satu alinea tentang gugatan class action yang diajukan di D.C. pada hari Senin, dan tidak disebut-sebut tentang pengacara muda yang mengajukannya fiai£n Saham Ackerman terjerembap dari $42,50 Senin pagi menjadi 132,50 pada penutupan hari Rabu. "Seharusnya kujual saham keparat itu," gumam French. Clay menggigit lidah

dan menyimpan rahasia salah satu dari beberapa rahasia yang disimpannya dalam 24 jam terakhir ini. "Kita bisa membacanya lagi di pesawat," kata French. "Ayo kita pergi dari sini." 250 Harga saham itu mencapaj $28 saat Clay melangkah masuk ke kantornya dan mencoba menyapa stafnya yang kecapekan. Ia online dengan suatu situs Web di Internet untuk memantau informasi pasar terakhir dan mengeceknya setiap lima belas menit, menghitung keuntungan yang diperolehnya. Karena ia menghamburkan uang di satu medan, rasanya melegakan juga melihat ada keuntungan di medan lain. Jonah adalah orang pertama yang mampir. "Kami di sini sampai tengah malam kemarin," katanya. "Sungguh gila." 'Keadaan akan jadi lebih gila lagi. Kita akan menggandakan iklan TV." "Kita sudah tidak bisa melayani semuanya sekarang." "Pekerjakan beberapa paralegal kontrak." "Kita butuh orang-orang komputer, sedikitnya dua lagi. Kita tidak bisa cukup cepat memasukkan data." "Bisakah kau mendapatkan orang-orang itu?" * "Mungkin beberapa pekerja kontrak. Aku kenal satu atau dua orang yang mungkin bisa bekerja malam dan lembur." "Pekerjakan mereka." Jonah hendak berlalu, lalu berbal i k dan menutup pintu di belakangnya. "Clay, dengar, ini hanya antara kau dan aku, ya?" Clay melihat sekeliling kantor dan tak melihat ada orang lain. "Ada apa?" "Well kau memang orang yang pintar. Tapi tahukah kau apa yang sedang kaulakukan di sini? Maksudku, kau memakai uang lebih cepat «tanpsd. siapa pun. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa? 251 "Kau khawatir?** "Kami semua agak khawatir, oke? Biro

hukum ini melesat dengan awai yang hebat. Kami ingin tetap di -sini, bersenang-senang dan menghasilkan uang dan semua itu. Tapi bagaimana kalau kau keliru dan jatuh terjengkang? Ini pertanyaan yang wajar." Clay berjalan memutar ke pinggir meja tulisnya dan duduk di sudut. "Aku akan sangat jujur denganmu. Kupikir aku tahu apa yang kulakukan, tapi karena belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, aku tidak bisa pasti. Ini pertaruhan besar. Kalau aku menang, kita semua akan meraup uang dalam jumlah yang sangat besar. Kalau aku kalah, kita masih tetap dalam bisnis ini. Cuma kita tidak akan kaya." "Kalau kau ada waktu, katakan pada yang lain, oke?" "Ya" Istirahat siang hanyalah jeda sepuluh menit untuk makan sandwich di mang rapat. Jonah punya angka-angka terakhir. Selama tiga hari pertama, sambungan hot tine mereka menerima 7.100 telepon dan situs Web itu- ratarata menerima 8.000 pertanyaan setiap hari. Paket-paket informasi dan kontrak untuk layanan hukum sudah diposkan secepat mungkin, meskipun mereka tetap ketinggalan. Clay memberi Jonah wewenang untuk mempekerjakan dua asisten komputer parowaktu. Paulette ditegaskan mencari tiga atau empat paralegal tambahan untuk bekerja di Sweatshop mereka. Dan Miss Glick diperintahkan menyewa juru tulis kontrak sebanyak yang diperlukan untuk menangani korespondensi dengan klien. Clay menceritakan pertemuannya dengan Patton French dan menjelaskan strategi hukum baru mereka, la memperlihatkan artikel di Times pada mereka; mereka sebelumnya terlalu sibuk untuk memperhatikannya.

"Perlombaan sudah dimulai, Sobat," ia berkata, mencoba sebisanya memotivasi orang-orang yang letih itu. "Ikanikan hiu itu memburu klien kita" "Kitalah ikan hiu itu," kata Paulette. Patton French menelepon menjelang sore dan melaporkan bahwa gugatan class action itu sudah diperbaiki sehingga mencantumkan juga penggugat dari Mississippi dan kemudian didaftarkan di pengadilan Biloxi. "Kita telah menempatkannya di tempat yang kita inginkan, Sobat," katanya. "Aku akan mencabut yang di sini besok" Clay berkata berharap sebaliknya. "Kau akan memberi kisikan pada pers?" "Aku tidak berencana begitu," kata Clay. Ia tidak tahu bagaimana cara memberi kisikan pada pers. "Biar aku yang menanganinya" Perdagangan saham Ackerman Labs dimtup hari itu dengan harga $26,25, berarti di atas kertas Clay memperoleh keuntungan sebesar $1.625.000 bila ia melakukan transaksi beli dan menutup spekulasi penjualan jangka pendeknya. Ia memutuskan menunggu. Kabar tentang pengajuan gugatan di Biloxi akan muncui besok pagi, dan berita itu tidak akan mengakibatkan apa-apa kecuali makin menjatuhkan nilai saham itu. Tengah malam ia duduk di belakang meja tulis, mengobrol dengan seorang laki-laki di Seattle yang sudah hampir setahun memakai Dyloft dan kini ketakut» ia mungkin meng,dap tumor Clav nya «gar secepatnya menemui dokter unn i"*"88'1^ analisis urine, la member, tahukan situs W »!*enjalani berjanji untuk mengirimkan paket info J! • dan Pagi-pagi. Ketika mereka mengakhiri teta ' bes°k lak, itu di ambang tangis. Cpon' 20 K, .ABAR buruk terus membuntuti _— Dyloft, si obat ajaib. Dua

penelitian medis lain diterbitkan, salah satunya dengan meyakinkan mengemukakan bahwa Ackerman Labs tidak mengungkapkan risetnya secara lengkap dan menggunakan segala koneksi yang dimilikinya agar obat tersebut disetujui. FDA akhirnya memerintahkan Dyloft ditarik dari pasaran. Berita buruk itu, tentu saja, merupakan kabar baik bagi para pengacara, dan hiruk-pikuk itu makin menggila sewaktu mereka yang terlambat mulai ikut bergabung. Pasien-pasien yang memakai Dyloft menerima peringatan tertulis dari Ackerman Labs dan dan dokter mereka sendiri, dan pesan-pesan menakutkan ini hampir selalu diikuti bujukan tak memenangkan dari pengacarapengacara gugatan massal. Surat langsung sangat efektif. Iklan surat kabar digunakan di setiap wilayah pasar yang besar. Dan nomor-nomor telepon hot line bertebaran di televisi. Ancaman adanya tumor yang tumbuh liar mendorong semua pemakai Dyloft untuk menghubungi pengacara. Belum pernah Patton French menyaksikan gugatan vassal class action sebagus itu. Karena ia dan Clay memenangkan lomba memasukkan gugatan d, Biloxi, ®aka gugatan merekalah yang pertama disahkan. Semua penggugat Dyloft tain « "«g-jukan 255 gugatan class action itu akan dipaksa bergabung dengan mereka, dan Komite Pengawas Penggugat ¦ mengeruk tambahan uang jasa. Hakim yang punya j hubungan baik dengan French sudah menunjuk suatu ] komite beranggotakan lima pengacara^ —French, Clay, ' Carlos Hernandez dari Miami, dan dua kroni lain dari New Orleans. Dalam teori, komite ini akan menangani sidang yang besar dan rumit terhadap

Ackerman Labs. Dalam kenyataannya, mereka berlima hanya akan menangani dokumen dan urusan administrasi agar lima ribuan klien itu dan pengacara mereka agak terorganisir. Penggugat Dyloft selalu bisa memilih "keluar" dari gugatan class action ini, dan menggugat sendiri Ackerman Labs dalam persidangan terpisah. Sementara para pengacara di seluruh penjuru negeri mengumpulkan kasus dan menyusun koalisi, konflik yang tak terelakkan itu pun muncul. Beberapa tidak setuju dengan gugatan di Biloxi dan ingin melakukannya sendui. Beberapa orang muak terhadap Patton French. Beberapa lainnya menginginkan persidangan di yurisdiksi mereka, dengan peluang mendapatkan vonis ganti kerugian besar. Tetapi French sudah berkali-kali terjun dalam pertempuran seperti ini Ia hidup di pesawat Gulfstream-nya, terbang dari pantai ke pantai, menemui pengacara-pengacara yang mengumpulkan ratusan kasus, dan entah bagaimana menjaga keutuhan koalisi yang rapuh itu: Uang penyelesaian perkaranya akan lebih besar di Biloxi, ia berjanji. Ia setiap hari berbicara dengan penasihat hukum tetap Ackerman Labs, petarung tua yang telah ditempa berbagai pertempuran dan sudah dua kali mencoba mengundurkan diri tapi tak diperkenankan sang CEO. Pesan French jelas dan sederhana—mari kita bicarakan uang penyelesaian perkaranya sekarang, tanpa pengacara luarmu, sebab kau tahu kau takkan maju ke sidang dengan obat seperti ini. Ackerman mulai mendengarkan. Pada pertengahan Agustus, French menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi di antara para pengacara Dyloft di

randi-nya yang luas dekat Ketchum, Idaho, la menjelaskan pada Clay bahwa kehadirannya, sebagai salah satu anggota Komite Pengawas Penggugat merupakan kewajiban, dan, sama pentingnya dengan hal itu, para pengacara lain sangat ingin berkenalan dengan bintang muda yang mengungkapkan kasus Dyloft ini. "Ditambah lagi, dengan orang-orang ini. kau jangan sampai melewatkan satu pertemuan pun, kalau tidak mereka akan menikammu dari belakang." "Aku akan datang ke sana," kata Clay. "Aku akan mengirimkan jet," French menawarkan. 'Tidak, terima kasih. Aku akan ke sana." Clay menyewa Lear 35, pesawat jet kecil yang indah, kurang-lebih sepertiga ukuran Gulfstream 5, tapi karena ia bepergian seorang diri, maka pesawat itu cukup memadai. Ia menemui pilot-pilotoya di terminal pribadi di bandara nasional Reagan, di mana ia bergabung dan berbaur dengan orang-orang penting lain, semuanya lebih tua, dan mencoba setengah mati untuk berlagak tak ada yang istimewa naik pesawat jetnya sendiri. Memang pesawat itu dimiliki perusahaan penyewaan, tetapi selama tiga hari mendatang pesawat itu miliknya. 256 Saat naik ke udara menuju utara, ia memandang sungai Potomac di bawah, lalu Lincoln Memorial, dan semua gedung di pusat kota. Di sanalah gedung kantornya, dan di kejauhan, tak jauh dari sana, kantor OPD. Apa kata Glenda dan Jermaine dan orang-orang yang ia tinggalkan itu seandainya mereka melihatnya sekarang? Apa kata Rebecca? Seandainya Rebecca mau bertahan sebulan saja Sedikit sekali waktu yang ia miliki untuk memikirkan Rebecca. Pesawat masuk

ke awan dan pemandangan itu pun-menghilang. Tak lama kemudian, Washington sudah tertinggal bermil-mil. Clay Carter berangkat menuju rapat rahasia dengan pengacarapengacara paling kaya di Amerika, para spesialis gugatan massal, orang-orang yang punya otak dan nyali untuk memburu perusahaan-perusahaan paling berkuasa. Dan mereka ingin bertemu dengannya! Pesawat jetnya yang paling kecil di bandara Ketehum-Sun Valley di Friedman, Idaho. Sewaktu pesawatnya meluncur melewati jet-jet Gulfstream dan Challenger, pikiran konyol bahwa jetnya tidaklah memadai melintas dalam benaknya, bahwa ia perlu yang lebih besar. Kemudian ia menertawakan diri sendiri—inilah dia, di dalam kabin berlapis kulit di dalam jet Lear seharga tiga juta dolar, dan ia masih berdebat dengan diri sendiri apakah ia seharusnya memakai pesawat 258 yang lebih besar. Setidaknya ia masih bisa tertawa. Akan jadi apa dirinya bila sudah tidak bisa tertawa? Mereka parkir di sebelah pesawat yang sudah famillier, jet dengan nomor ekor 000MT. Nol, Nol, Nol, Mass Tort, rumah terbang Patton French Jet itu membuat tumpangan Clay jadi kerdil, dan selama satu detik ia menengadah iri saat melihat jet dengan kemewahan terhebat di dunia itu. Sebuah van sudah menanti, dengan sosok di belakang kemudi yang tampak seperti koboi palsu. Untunglah sopir itu bukan orang yang suka bicara, dan Clay menikmati perjalanan selama 45 lima menit itu dalam keheningan. Mereka berkelok-kelok naik di jalanan yang makin sempit. Tidaklah mengejutkan, ranch milik Patton sempurna seperti gambar di kartu pos dan sangat

baru. Rumahnya berupa bangunan dengan cukup banyak sayap dan tingkat untuk menampung biro hukum berukuran lumayan. Koboi lain mengambil tas Clay. "Mr. French menunggu di dek belakang," ia berkata, seolah Clay sudah berkahkah ke sana. Swiss sedang jadi topik percakapan ketika Clay menemui mereka—resor ski terpencil yang mereka sukai. Ia mendengarkan sesaat ketika mendekat. Empat anggota lain Komite Pengawas Penggugat itu bersantai di kursi, menghadap ke pegunungan, menikmati cerutu hitam dan meneguk minuman. Ketika menyadari kehadiran Clay, mereka langsung berdiri seakan hakim baru saja memasuki mang sidang. Dalam tiga menit pertama percakapan penuh semangat itu, ia disebut "cemerlang", "cerdik", "bernyali", dan, yang jadi favoritnya, "punya visi". 259 "Kau harus menceritakan pada kami bagaimana kau menemukan Dyloft," Carlos Hernandez berkata. "Ia takkan mau menceritakannya," French berkata sambil mencampur suatu ramuan memabukkan untuk Clay. "Ayolah." kata Wes Saulsberry, teman terbaru Clay. Dalam waktu beberapa menit saja, Clay jadi tahu bahwa Wes pernah mendapat setengah miliar dolar dalam penyelesaian perkara tembakau tiga tahun sebelumnya. "Aku disumpah untuk tutup mulut," kata Clay. Pengacara lain dari New Orleans adalah Damon Didier, salah satu pembicara dalam sesi yang dihadiri Clay pada pertemuan akhir pekan Circle of Barristers. Wajah Didier membatu dan sorot matanya tajam, dan Clay ingat pernah bertanya dalam hati bagaimana orang seperti ini bisa mengambil hati juri. Dengan segera ia tahu bahwa Didier menangguk

kekayaan ketika perahu sungai yang penuh mahasiswa tenggelam di Danau Pontchartrain. Peristiwa yang amat menyedihkan. Mereka butuh tanda jasa dan medali, seperti layaknya pahlawan perang. Yang ini mereka berikan padaku karena ledakan kapal tanker yang menewaskan dua puluh orang. Aku mendapatkan yang ini karena kebakaran yang menghanguskan beberapa orang di pengeboran lepas pantai Yang besar ini dari Skinny Ben. Ini, dari pertempuran melawan perusahaan rokok besar. Ini, dari pertempuran melawan organisasi kesehatan. Karena Clay tidak punya cerita perang, ia hanya mendengarkan. Cerita Tarvan mungkin akan membuat mereka terenyak, tapi ia tak pernah bisa menceritakannya. 260 Kepala pelayan dengan kemeja model Roy Rogers memberitahu Mr. French bahwa santap malam akan dihidangkan satu jam lagi. Mereka pindah ke bawah, ke mang permainan dengan meja biliar dan layar-layar lebar. Ada sekitar selusin laki-laki kulit putih sedang minum dan berbicara, beberapa memegangi tongkat biliar. "Anggota lain persekongkolan im," Hernandez berbisik pada Clay. Patton memperkenalkannya pada kelompok itu. Nama, wajah, dan asal mereka dengan cepat menjadi kabur. Seattle, Houston, Topeka, Boston, dan berbagai tempat lain yang tidak ia tangkap. Dan Effingham, Illinois. Mereka semua datang menghormati litigator muda "cemerlang" yang telah mengguncang mereka dengan serangan gagah berani terhadap Dyloft. "Aku menyaksikan iklan im pada malam pertama ditayangkan," kata Bernie anu dari Boston. "Aku belum pernah mendengar tentang Dyloft. Jadi aku

menelepon sambungan hot line-mu, diterima orang yang ramah. Kuceritakan padanya bahwa selama ini aku memakai obat itu, mengumpaninya, kau tahu. Kukunjungi situs Web-nya. Bagus sekali. Kukatakan pada diri sendiri, 'Aku bara saja disergap.' Tiga hari kemudian aku mengudara mengiklankan hot line Dyloft-ku sendiri." Mereka semua tertawa, mungkin karena mereka masingmasing bisa menuturkan cerita yang mirip. Tak pernah terpikir oleh Clay bahwa pengacara lain akan menelepon nomor hot /me-nya dan menggunakan situs Web-nya untuk menjaring kasus, lapi mengapa ini mengejutkannya? Ketika acara penghormatan im akhirnya selesai, French berkata ada beberapa hal yang perlu dibicara kan sebelum makan malam, yang, omong-omong akan menghidangkan juga beberapa jenis anggur pilihan dari Australia. Clay sudah pening karena cerutu Kuba berkualitas dan bom double vodka pertama tadi. Ia memang pengacara termuda di sana, dan ia merasa dirinya sebagai pelonco dari segala segi. Terutama bila urusannya sampai pada minuman keras. Ia berada di antara orang-orang profesional. Pengacara termuda. Jet terkecil. Tanpa cerita perang. Had paling lemah. Clay memutuskan sudah saatnya menjadi dewasa. Mereka berkerumun di sekehling French, yang menikmati saat-saat seperti ini. Ia mulai berbicara, "Seperti kalian ketahui, aku menghabiskan banyak waktu dengan Wicks, penasihat hukum Ackerman Labs. Garis besarnya, mereka akan membayar uang penyelesaian perkara, dan akan melakukannya dengan cepat Mereka mendapat pukulan dari segala penjuru, dan

mereka ingin masalah ini beres secepatnya. Harga saham mereka begitu rendah sekarang sehingga mereka takut akan terjadi pengambilalihan. Burung-burung pemangsa itu, termasuk kita, bergerak untuk melancarkan serbuan mematikan. Kalau mereka- tahu berapa banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk Dyloft, maka mereka bisa merestrukturisasi utang dan mungkin bertahan. Yang tidak mereka inginkan adalah perkara yang berlarut-larut di banyak front, dengan vonis berjatuhan di mana-mana. Mereka juga tidak ingin membuang puluhan juta dolar untuk membayar pembela untuk perkara im." "Sungguh malang nasib mereka," seseorang berkata. 262 "Business Week menyebut-nyebut kemungkinan bangkrut," seseorang berkata, "Apakah mereka sudah menggunakan itu sebagai ancaman?" "Belum. Dan aku tidak mengharapkan mereka melakukannya. Ackerman punya aset terlalu banyak. Kita baru saja menyelesaikan analisis finansialnya— kita akan pelajari angka-angkanya besok pagi—orang-orang kami berpendapat perusahaan itu punya sekitar dua sampai tiga miliar dolar untuk menyelesaikan perkara Dyloft." "Berapakah pertanggungan asuransi yang tersedia?" "Hanya tiga ratus juta. Perusahaan itu punya divisi kosmetika yang sudah satu tahun dijual di pasar saham. Mereka menginginkan satu miliar dolar. Nilai sesungguhnya sekitar tiga perempatnya. Mereka bisa melepasnya dengan harga setengah miliar dolar dan punya cukup uang untuk memuaskan klien kita." Clay menyadari bahwa para klien jarang sekali disebut. Burung-burung pemangsa im merapat di sekeliling French, yang

meneruskan, "Kita perlu menentukan dua hal. Pertama, berapa banyak penggugat potensial yang ada di luar sana. Kedua, berapa nilai masing-masing kasus." "Mari kita jumlahkan," seseorang dari Texas berkata dengan suara sengau. "Aku punya seribu." "Aku punya seribu delapan ratus," kata French. "Carlos,'" "Dua ribu," Hernandez berkata sambil mulai mencatat. "Wes?' "Sembilan ratus." 263 Si pengacara dari Topeka punya enam ratus, angka terendah. Dua ribu adalah angka tertinggi sampai French menyisakan yang terbaik untuk yang terakhir. "Clay?" ia berkata, dan setiap orang mendengarkan dengan penuh perhatian. "Tiga ribu dua ratus," Clay berkata, berusaha mempertahankan ekspresi muram datar. Tetapi, temanteman barunya itu tampak cukup senang. Atau setidaknya begitulah tampaknya. "Dahsyat," seseorang berkata. Clay curiga tepat di balik senyum lebar dan "Dahsyat" mereka itu ada orang-orang yang sangat iri. "Itu berarti dua puluh empat ribu," Carlos berkata sesudah menghitung dengan cepat. "Kita bisa dengan aman mengasumsikan jumlahnya dua kafi itu, berarti seluruhnya hampir lima puluh ribu, jumlah yang sudah dipatok Ackerman. Dua miliar untuk lima puluh ribu berarti empat puluh ribu dolar per kasus. Bukan awal yang buruk." Clay dengan cepat melakukan penghitungan sendiri—$30.000 kati 3.200 kasus miliknya berarti sekitar $120 juta Dan sepertiga dari im, wah, otaknya membeku dan lututnya jadi lemas. "Apakah perusahaan itu tahu berapa banyak di antara kasus ini yang melibatkan tumor ganas?" tanya Bemie dari Boston. Tidak. Terkaan mereka sekitar saru persen." "Itu berarti

lima ratus kasus." "Dengan ganti kerugian minimum sejuta dolar masing-masing." "Itu berarti setengah miliar lagi." "Satu juta dolar im cuma lelucon." "Lima juta per kasus di Seattle." "Kita bicara tentang kasus kematian tak wajar, di sini." Tidaklah mengejutkan, masing-masing pengacara ingin mengajukan pendapat dan mereka serentak melakukannya. Setelah memulihkan ketertiban, French berkata, "Saudara-saudara, mari kita makan." Makan malam im bencana. Meja jamuan berupa kayu berpelitur yang diambil dari sebatang pohon, batang pohon maple merah raksasa dan megah yang bertahan berabad-abad sampai ia dibutuhkan oleh Amerika yang kaya raya. Sedikitnya empat puluh orang bisa duduk mengelilinginya. Ada delapan belas orang yang ikut makan malam, dan dengan bijaksana mereka didudukkan berpencar. Kalau tidak, seseorang mungkin akan meninju yang lain. Di dalam ruangan yang dipenuhi ego melambung, di mana setiap orang merasa dirinya pengacara terbesar ciptaan Tuhan, pembual paling menjengkelkan adalah Victor K. Brennan, laki-laki Texas dengan suara keras dan sengau dari Houston. Sesudah anggur gelas ketiga atau keempat, sekitar setengah menghabiskan daging steak yang tebal Brennan mulai mengeluh tentang rendahnya harapan uang ganti kerugian untuk masing-masing kasus. Ia punya pasien berumur empat puluh tahun yang berpenghasilan besar dan kini mengidap tumor ganas gara-gara Dyloft. 265 "Aku bisa mendapatkan sepuluh juta dolar uanj ganti kerugian dan dua puluh juta dolar lagi sebara ganjaran kelalaian perusahaan dari juri mana pun d Texas," bualnya.

Hampir semua orang setuju. Beberapa orang bahkan menambahkan bahwa mereka bisa mendapat lebih banyak di daerah mereka. French berpegang teguh pada teori bahwa bila minoritas mendapatkan jutaan dolar maka yang mayoritas akan mendapatkan sedikit. Brennan tidak mau menerima pendapat ini tapi kesulitan membalas argumentasi tersebut Ia punya gambaran samar bahwa Ackerman Labs memiliki lebih banyak uang daripada yang mereka perlihatkan. Sampai pada titik ini kelompok im terpecah. Garis batasnya bergeser begitu cepat dan kesetiaan begitu sementara sehingga Clay kesulitan menentukan di mana posisi kebanyakan dari mereka. French menantang Brennan dengan pernyataannya bahwa ke- ; lalaian perusahaan akan begitu gampang dibuktikan. "Kau punya dokumennya, bukan?" Brennan bertanya j "Clay sudah menyediakan sejumlah dokumen, j Ackerman belum mengetahui soal im. Kalian belum melihatnya. Dan mungkin tidak akan pernah me- 3 lihatnya kalau kalian tidak tetap dalam kesepakatan class action." Pisau dan garpu berhenti bergerak ketika tujuh j belas orang (tidak termasuk Clay) mulai berteriak j bersamaan. Para pelayan meninggalkan ruangan. Clay j hampir bisa melihat mereka kembali ke dapur, mem- j bungkuk rendah di balik meja untuk menyiapkan makanan. Brennan ingin berkelahi dengan seseorang. Wes Saul8berry tidak mau mundur. Bahasa yang •W 266 mereka gunakan jadi memburuk. Dan di tengah ingar-bingar itu, Clay memandang ke ujung meja dan menyaksikan Patton French mengendus gelas anggur, mengirup seteguk, memejamkan mata, dan

kembali mengevaluasi anggur baru im. Berapa banyak perkelahian seperti ini yang pernah dialami French? Mungkin seratus. Clay memotong steak. Ketika suasana mereda, Bernie dari Boston menceritakan lelucon tentang pastor Katolik dan ruangan im pun meledak dalam tawa. Makanan dan anggur dinikmati selama lima menit sampai Albert dari Topeka menyarankan strategi untuk memaksa Ackerman Labs mengumumkan kebangkrutan. Ia sudah dua kali melakukan hal seperti im terhadap perusahaan lain, dengan hasil yang memuaskan. Dalam dua kesempatan itu, perusahaan sasarannya menggunakan undang-undang kebangkrutan untuk menggasak uang bank dan kreditor lain, jadi menyediakan lebih banyak uang untuk Albert dan ribuan kliennya. Mereka yang berbeda pendapat menyuarakan kekhawatiran mereka dan itu menyinggung Albert, dan segera sesudah itu terjadilah perkelahian lain. Mereka berkelahi tentang segala hal— dokumen lagi, apakah mereka perlu mendesak agar perkara segera disidangkan dan mengabaikan penyelesaian kilat perkara, tempat perkara, iklan, bagaimana menyatukan kasus-kasus lain, biaya uang jasa. Perut Clay terasa nyeri dan ia tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Yang lain tampak sangat menikmati makanan sambil meneruskan dua atau tiga perdebatan gecara bersamaan. Pengalaman, kala Clay pada diri sendiri. Sesudah santap malam terpanjang dalam hidui Clay, French memimpin mereka turun ke bawah, kembali ke ruang biliar di mana cognac dan cerutu menunggu. Mereka yang tadi saling mengumpat selama tiga jam kini

minum dan tertawa-tawa seperti layaknya teman seasrama. Begitu ada kesempatan, Clay menyelinap pergi dan, sesudah bersusah payah ia berhasil menemukan kamarnya. Pertunjukan Barry dan Harry dijadwalkan pukul 10.00 hari Sabtu, waktu bagi setiap orang untuk menghilangkan sisa mabuk dan menghabiskan sarapan berat. French menyiapkan acara memancing ikan trout dan menembak sasaran, tapi tak seorang pun dari pengacarapengacara itu tertarik. Barry dan Harry punya perusahaan di New Y ork yang tidak melakukan apa pun selain menganalisis j keuangan perusahaan-perusahaan sasaran. Mereka punya berbagai sumber, kontak, dan mata-mata, juga j reputasi mampu menguliti rahasia perusahaan dan menemukan kebenaran. French menerbangkan mereka j ke sana untuk melakukan presentasi selama satu jam." j "Biayanya dua ratus ribu dolar," bisiknya bangga j kepada Clay, "dan akan kita buat Ackerman Labs j menggantinya. Bayangkan." Presentasi mereka merupakan kerja tim, Barry i memaparkan grafntgrafik, Harry bekerja dengan pointer, dua dosen di podium. Keduanya berdiri di j depafi teater kecil, satu tingkat di bawah ruang biliar. Kali ini, para pengacara im diam. Ackerman Labs punya asuransi dengan nilai pertanggungan paling sedikit $500 juta—$300 juta dari penanggung langsung mereka, dan $200 juta dari reasuransi. Analisis cash-flowaya padat sehingga Harry dan Barry harus berbicara sekaligus untuk menyelesaikannya. Angka-angka dan presentasi menyembur keluar dan tak lama kemudian menenggelamkan semua orang di dalam mangan im.

Mereka bicara tentang divisi kosmetik Ackerman, yang mungkin akan mengeruk $600 juta bila dijual cepat. Ada divisi plastik di Meksiko yang ingin dilepas perusahaan ini dengan harga $200 juta Dibutuhkan waktu lima belas menit untuk menjelaskan struktur utang perusahaan im. Barry dan Harry juga sarjana hukum, dan dengan demikian cukup tangkas, menilai kemungkinan tanggapan suatu perusahaan terhadap bencana gugatan massal seperti Dyloft. Akan bijaksana bagi Ackerman untuk menyelesaikan perkaranya dengan cepat, dalam beberapa tahapan. "Penyelesaian perkara dengan sistem kue dadar," kata Harry. Clay yakin ia satu-satunya dalam mangan itu yang tidak tahu-menahu tentang apa yang disebut "sistem kue dadar" im. "Tahap pertama adalah dua miliar dolar untuk seluruh penggugat tingkat satu," Harry meneruskan, berbaik hati menggelar bagian-bagian rencana itu. "Menurut kami, mereka mungkin akan melakukan ini dalam sembilan puluh hari," Barry menambahkan. 'Tahap dua adalah setengah miliar untuk penggugat 269 tingkat dua, mereka yang menderita tumor ganas tapi tidak mati." "Dan tahap tiga akan dibiarkan terbuka selama lima tahun untuk mencakup kasus-kasus kematian." ; "Kami pikir Ackerman sanggup membayar sekitar dua koma lima sampai tiga miliar selama tahun depan, lahi setengah miliar lagi selama lima tahun." "Angka berapa pun melebihi itu, dan kalian bisa berhadapan dengan pasal sebelas." "Langkah yang tidak disarankan untuk perusahaan im. Terlalu banyak bank punya hak prioritas atas gadai harta mereka." "Dan

pengajuan kebangkrutan akan menghentikan arus uang. Perlu tiga sampai lima tahun untuk mendapatkan uang penyelesaian perkara yang layak." Tentu saja pengacarapengacara itu ingin berdebat sebentar. Vincent dari Pittburgh yang paling bertekad untuk membuat yang lain terkesan dengan pengetahuan finansialnya, tapi Harry dan Barry segera mengembalikannya ke tempat semula. Sesudah saru jam, mereka pergi memancing. French menggantikan tempat mereka di depan mangan. Setarah argumentasi sudah diselesaikan. Pertarungan berakhir. Saatnya menyepakati rencana. Langkah pertama adalah menjaring kasus-kasus Z**'3? ^ Wwj» sendiri. Tak perlu dan in mereka ba™ mendapatkan setengah pengacara kS dt^Td ^ ^Th kasus, bawa merS U? pukh atau liSa Pulut yang diperlukan untk *rgabun8- Akukan apa saja menjanng kasus-kasus itu. 270 Langkah kedua adalah konferensi penyelesaian kara dengan Ackerman Labs dalam enam puluh Jigjj. Komite Pengawas Penggugat akan menyusun jadwalnya dan mengirimkan pemberitahuan. ' Langkah ketiga adalah upaya habis-habisan mempertahankan setiap orang dalam gugatan class action ini. Kekuatannya terletak pada jumlah. Mereka yang memilih untuk "keluar" dari gugatan class action dan ingin membawa sendiri perkara mereka ke sidang tidak akan memiliki akses ke dokumen-dokumen mematikan tersebut Sesederhana itulah. Permainan keras, tapi itulah litigasi. Setiap pengacara di dalam ruangan itu punya keberatan tertentu terhadap sebagian dari rencana tersebut, tapi persekutuan im bertahan: Dyloft kelihatan akan jadi penyelesaian

perkara tercepat dalam sejarah gugatan massal, dan para pengacara im mencium bau uang. Reorganisasi pada biro hukum yang masih muda itu terjadi dengan gaya yangsama kacau balaunya dengan sebelumnya, dan karena alasan-alasan yang sama— terlalu banyak klien, terlalu banyak dokumen baru, tidak cukup tenaga kerja, dan garis komando yang tidak jelas, juga gaya manajemen yang sangat tidak pasti karena tak seorang pun di jajaran puncak pernah jadi manajer, mungkin kecuali Miss Glick. Tiga hari sesudah Clay kembali dari Ketchum, Paulette dan Jonah menghadangnya di kantor dengan daftar panjang berisi segala masalah mendesak. Pemberontakan menghadang di depan mata. Saraf yang tegang Jan keletihan membuat keadaan yang buruk menjadi lebih buruk. Menurut perkiraan terbaik, biro hukum im kini memiliki 3.320 kasus Dyloft, dan karena semua kasus im baru, mereka butuh perhatian segera. Tanpa j menghitung Paulette, yang dengan enggan menerima j perannya sebagai manajer kantor, dan tanpa menghitung Jonah, yang menghabiskan waktu sepuluh jam sehari untuk menangani sistem komputer untuk bisa melayani seluruh kasus tersebut, dan tentu saja tanpa menghitung Clay sebab ia bos dan harus melakukan wawancara dan bepergian ke Idaho, biro hukum itu telah mempekerjakan dua pengacara dan kini punya sepuluh paralegal, yang tak seorang pun, kecuali Rodney, punya pengalaman lebih dari tiga bulan- "Aku tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek," kata Paulette. "Masih terlalu pagi." la memperkirakan masing-masing paralegal dapat

menangani seratus sampai dua ratus kasus. "Klien-klien ini ketakutan," katanya. "Mereka ketakutan sebab menderita tumor. Mereka ketakutan sebab berita tentang Dyloft bertebaran di pers. Sialan, mereka ketakutan sebab kita menakuti mereka setengah mati." "Mereka ingin diajak berbicara," kata Jonah. "Dan mereka ingin pengacara menjawab telepon mereka, bukan paralegal yang bekerja kalang kabut di jalur perakitan. Aku khawatir tak lama lagi kita akan kehilangan klien." "Kita tidak akan kehilangan klien," kata Clay, memikirkan ikan-ikan hiu yang baru saja ia temui di Idaho dan betapa gembiranya mereka menjaring klien-kliennya yang tidak puas. "Kita tenggelam dalam pekerjaan menangani dokumen," Paulette berkata, mengambil alih pembicaraan dari Jonah dan tak menghiraukan Clay. "Setiap tes medis awal harusdianalisis, lalu diuji ulang dengan tes susulan. Saat ini, kami pikir kita punya sekitar empat ratus orang yang butuh tes lebih lanjut. Ini bisa jadi kasus-kasus yang serius, bisa jadi orang-orang ini sudah sekarat, Clay. Tapi seseorang harus mengkoordinasikan perawatan medis mereka dengan dokter. Im tidak dilaksanakan, Clay, oke?" "Aku mendengarkan," katanya. "Berapa banyak pengacara yang kita butuhkan?" Paulette melontarkan pandangan letih pada Jonah. Keduanya tak punya jawaban. "Sepuluh," katanya "Sedikitnya sepuluh," kata Jonah. "Sepuluh untuk sementara ini, sekarang juga, dan lebih banyak lagi nanti." "Kita akan meningkatkan iklan," kata Clay. Suasana hening diwarnai keletihan saat Jonah dan Paulette menyerap ucapan itu. Ia sudah memberi mereka keterangan ringkas

tentang hal-hal penting hasil perundingan di Ketchum, tapi tidak detailnya. Ia meyakinkan mereka bahwa setiap kasus yang mereka jaring tak lama lagi akan mendatangkan keutungan besar, tapi menyimpan strategi penyelesaian perkara im untuk diri sendiri. Omongan yang tak dijaga mengakibatkan kekalahan, French memperingatkannya, dan dengan staf yang belum teruji seperti ini, langkah terbaik adalah membiarkannya tak tahu-menahu. Biro hukum di ujung jalan baru saja memberikan surat pemberhentian kepada 35 associate-nya. Perekonomian sedang lesu, tagihan merosot, merger direncanakan; apa pun alasan sebenarnya, kabar seperti im laku di D.C. karena pasaran tenaga kerja biasanya tahan banting. Pengurangan tenaga kerja! Dalam profesi hukum? Di D.C? Paulette menyarankan mereka mempekerjakan beberapa associate itu—tawari mereka kontrak saru tahun tanpa janji perpanjangan apa pun. Clay menawarkan diri menelepon soal itu esok paginya. Ia juga akan mencari ruang kantor dan perabotannya. Jonah punya gagasan yang agak luar biasa untuk mempekerjakan dokter selama satu tahun, orang untuk mengkoordinir semua tes dan bukti medis. "Kita bisa cari dokter yang baru lulus dengan bayaran seratus ribu setahun," katanya. "Ia mungkin tidak punya banyak pengalaman, tapi siapa peduli? Ia tidak akan melakukan operasi, hanya mengurus dokumen." "Kerjakanlah," kata Clay. Hal berikutnya pada daftar Jonah adalah masalah situs Web. Pengiklanan membuat situs tersebut cukup populer tapi mereka butuh orang-orang yang bekerja penuh untuk menanggapinya. Ditambah lagi,

situs Web im perlu diperbaharui hampir setiap minggu untuk mencantumkan perkembangan gugatan class action itu dan berita buruk terakhir tentang Dyloft. "Semua klien sangat mengharapkan informasi, Clay," katanya Bagi mereka yang tidak menggunakan Internet, dan Paulette menduga sedikitnya setengah dari klien mereka termasuk kelompok ini, buletin tentang Dyloft merupakan hal yang sangat penting. "Kita butuh satu orang yang bekerja penuh untuk menyunting dan mengirimkan buletin im," katanya. "Bisakah kau mencari seseorang untuk im?" Clay bertanya. "Kurasa bisa." "Kalau begitu kerjakanlah." Ia memandang Jonah, seolah apa pun yang perlu dikatakan seharusnya datang darinya. Jonah melemparkan buku tulis ke atas meja dan membunyikan buku-buku jari. "Clay, kita menghamburkan banyak uang di sini," ia berkata. "Apakah kau yakin kau tahu apa yang kaulakukan?" "Tidak, tapi kurasa aku cukup tahu. Percayalah saja padaku, oke? Kita akan menangguk uang besar. Tapi untuk mencapainya, kita harus mengeluarkan uang." "Dan kau punya uangnya?" Paulette bertanya. Tap." Pace ingin malam-malam minum di bar di Georgetown, dalam jarak tempuh jalan kaki dan rumah Clay. Ia keluar-masuk kota ini, dan seperti biasanya, sangat tidak jelas dari mana ia datang dan kebakaran apa yang dipadamkannya. Pakaian yang dikenakannya bernuansa lebih muda dan ia kini lebih suka warna cokelat —sepatu lars kulit ular berujung lancip warna cokelat, jaket kulit suede cokelat. Bagian dari penyamarannya, pikir Clay. Setelah menghabiskan setengah gelas bir pertama, Pace mulai bicara tentang Dyloft, dan jelaslah bahwa apa pun

proyeknya saat ini, proyek itu masih ada kaitannya dengan Ackerman Labs. Clay, dengan gaya pengacara sidang yang masih hijau, memberikan penjelasan panjang-lebar tentang perjalanannya ke ranch milik French, dan gerombolan maling yang ia temui di sana, juga santap malam tiga jam yang ribut di mana setiap orang jadi mabuk dan berdebat sekaligus, dan Pertunjukan Barry dan Harry. Ia tak punya kebimbangan apa pun untuk memberi Pace seluruh detail sebab Pace tahu lebih banyak daripada siapa pun. "Aku tahu tentang Barry dan Harry," Pace berkata, seolah mereka tokoh-tokoh dari dunia bawah. "Mereka sepertinya tahu benar urusan mereka, dan untuk dua ratus ribu dolar seharusnya memang begitu." Clay bicara tentang Carlos Hernandez, Wes Saulsberry, dan Damon Didier, teman-teman barunya di Komite Pengawas Penggugat. Pace berkata ia pernah mendengar tentang mereka semua. Menjelang gelas bir kedua, Pace bertanya, "Kau menjual kosong Ackerman, bukan?" Ia melihat sekeliling, tapi tak ada yang mendengarkan, ini bar untuk mahasiswa pada malam yang tidak terlalu ramai. "Seratus ribu saham dengan harga empat puluh dua setengah dolar," kata Clay bangga. "Saham Ackerman ditutup hari ini dengan harga dua puluh tiga dolar." "Aku tahu. Aku menghitungnya setiap hari." "Sudah saatnya menutup transaksi jangka pendek dan membelinya kembali. Mungkin besok pagi-pagi." "Akan terjadi sesuatu?" "Ya, dan karena kau sudah terjun di situ, belilah semua yang bisa kau beli dengan harga dua puluh tiga dolar, lalu tahan sampai naik." "Sampai sejauh mana kemungkinan

naiknya?" "Nilainya akan berlipat dua." - Enam jam kemudian, Clay berada di kantor, sebelum matahari terbit, mencoba mempersiapkan satu hari lagi yang penuh kegilaan. Dan juga resah menunggu pasar saham buka. Daftar berbagai hal yang harus ia lakukan mencapai dua halaman, hampir 277 semuanya melibatkan tugas raksasa untuk secepatnya mempekerjakan sepuluh pengacara baru dan menemukan mang kantor untuk menampung mereka. Tampaknya tanpa harapan, tapi ia tak punya pilihan; ia menelepon agen real estat pada pukul setengah delapan sehingga orang im terpaksa keluar dari kamar mandi. Pada pukul setengah sembilan ia melakukan wawancara dengan pengacara yang baru saja dipecat, namanya Oscar Mulrooney. Laki-laki malang im dulu mahasiswa cemerlang di Yale,, lalu direkrut dengan bayaran tinggi, dan tersingkir dari pekerjaannya saat biro hukum raksasa melakukan merger dengan perusahaannya Ia juga baru dua bulan menikah dan sangat butuh pekerjaan. Clay seketika itu juga mempekerjakannya dengan bayaran $75.000 setahun. Mulrooney punya empat teman, juga dari Yale, yang juga sedang menganggur dan mencari pekerjaan. Pergi, panggillah mereka. Pada pukul sepuluh pagi, Clay menelepon pialang sahamnya dan menutup transaksi jual saham Ackerman, mengeduk laba sebesar $1,9 juta lebih. Dalam percakapan telepon yang sama, ia mengambil seluruh laba im dan membeli dua ratus ribu saham lagi seharga $23, menggunakan margin dan rekening kreditnya. Melalui Internet ia mengamati pasar saham sepagian. Tak ada yang berubah. Oscar Mulrooney

kembali pada siang hari bersama rekan-rekannya, semua penuh semangat seperti pramuka. Clay mempekerjakan yang lainnya, lalu menugaskan mereka menyewa perabotan, memasang sambungan telepon, mengerjakan apa saja yang diperlukan untuk memulai karier baru mereka sebagai 278 pengacara gugatan massal tingkat rendah. Oscar bertugas mempekerjakan lima pengacara lain yang harus menemukan ruang kantor sendiri, dan lainlain. Cabang Yale pun lahirlah. Pada pukul lima sore waktu Amerika timur, Philo Products mengumumkan akan membeli saham mayoritas Ackerman Labs dengan harga $50 per lembar, merger dengan nilai $14 miliar. Clay menyaksikan drama itu di televisi layar lebar di mang rapat kantornya, seorang diri sebab yang lain menjawab telepon. Saluran-saluran televisi berita keuangan melahap berita itu. CNN bergegas mengirim reporterke White Plains, New Y ork, markas besar Ackerman Labs, di mana mereka hilir mudik di gerbang depan seolah-olah perusahaan yang terkepung im akan melangkah keluar dan menangis di depan kamera. Pakar dan analis pasar yang tak terhingga jumlahnya mengoceh tak habisnya tentang segala macam pendapat yang tanpa dasar. Dyloft sejak awal sering disebut-sebut. Meskipun selama bertahun-tahun Ackerman Labs tidak dikelola dengan manajemen yang baik, tak disangsikan bahwa Dyloft berhasil menariknya dari jurang kehancuran. 'Apakah Philo pembuat Tarvan? Klien Pace? Apa-Jcah Clay selama ini dimanipulasi untuk mewujudkan pengambilalihan senilai $14 miliar im? Dan yang paling meresahkan hati, apakah arti semua im bagi masa depan

Ackerman Labs dan Dyloft? Meskipun memang sangat menggairahkan untuk menghitung keuntungan barunya dari saham Ackerman, Clay harus bertanya pada diri sendiri apakah ini berarti akhir mimpi Dyloft. Tetapi sesungguhnya tidak ada cara apa pun untuk mengetahuinya. Ia pemain kecil di tengah transaksi besar antara dua korporasi raksasa. Ackerman Labs punya aset ia menghibur diri sendiri. Dan perusahaan im membuat produk yang sangat buruk dan mencelakai banyak orang. Keadilan akan bertahan. Patton French menelepon dari pesawatnya, di suatu tempat antara Florida dan Texas, dan meminta Clay berada di tempat selama sattt-dua jam ini. Komite Pengawas Penggugat perlu mengadakan konferensi darurat lewat telepon. Sekretarisnya sedang menghubungi semua orang. French kembali menelepon sejam kemudian, kini di atas tanah di Beaumont, tempat ia akan rapat besok pagi dengan pengacara-pengacara yang punya kasus obat anti kolesterol yang membutuhkan bantuannya, kasus-kasus bernilai luar biasa, tapi, akhirnya ia tidak bisa menemukan anggota lain dalam steering committee tersebut. Ia sudah bicara dengan Barry dan Harry di New Y ork dan mereka tidak khawatir dengan pengambilalihan oleh Philo. "Ackerman masih memiliki dua bela. juta saham sendiri, kini paling t fS^ lima Pratah dolar selembar tapi mungkin W* tinggi lagi sebelum situasi mereda. rZt:z^zhTr-moM segar r menyiju.nl^ dL "t ^M ^ an ini dLertJi*" ^ **** -belum mengatakan ya. Selain itu, Philo terkenal suka menghindari ruang sidang. Mereka membereskan-perkara di luar peradilan dengan cepat dan

diam-diam." Kedengarannya seperti Tarvan, pikir Clay. "Secara keseluruhan, ini kabar baik," French berkata, dengan mesin faks mendengung di latar belakang. Clay bisa melihatnya berjalan hilir mudik di dalam pesawat Gulfsream miliknya sementara pesawat itu menunggu di landasan Beaumont. "Aku akan terus mengabarimu." Dan ia pun menghilang. 281 22 Rfx 1\EX Crittle ingin mengomel, diyakin-——--- kan, menguliahi, mendidik, tapi klien yang duduk di seberang meja kerjanya sepertinya sedikit pun tak tergoyahkan oleh angka-angka itu. "Biro hukum ini baru berumur enam bulan," Crittle berkata, sambil menatap dari atas kacamata bacanya dengan setumpuk laporan di depannya. Bukti! la punya bukti bahwa biro hukum mendadak J. Clay Carter H sebetulnya dikelola orang-orang idiot "Biaya overhead-ma mulai dengan angka yang mengesankan, tujuh puluh hina ribu sebulan— tiga pengacara, satu paralegal, satu sekretaris, uang sewa, perabotan bagus. Sekarang jumlahnya mencapai setengah juta dolar sebulan, dan terus bertambah setiap hari." "Kau harus memakainya atau menghasilkannya," Clay berkata, sambil meneguk kopi dan menikmati kejengkelan akuntannya Itu tanda-tanda tukang hitung yang teliti—orang yang tidur lebih sedikit daripada kliennya sendiri memikirkan segala biaya. "Tapi kau tidak menghasilkan apa-apa" Crittle berkata hati-hati. Tidak ada pemasukan apa pun dalam tiga bulan terakhir." Tapi tahun ini tahun yang baik." "Oh ya. Lima belas juta dolar uang jasa memang menjadikan''ini sebagai tahun yang baik. Masalahnya uang itu mulai menguap. Bulan lalu kau

menghabiskan empat belas ribu dolar untuk menyewa jet." "Sekarang, karena kau menyebutnya, aku jadi berpikir-pikir untuk membeli satu. Aku butuh kau untuk menghitung angka-angkanya." "Aku sedang menghitungnya. Kau tidak punya alasan untuk membelinya." "Bukan itu persoalannya. Masalahnya adalah apakah aku mampu membayarnya atau tidak." 'Tidak, kau tidak mampu membayarnya." Tunggu sebentar, Rex. Penghasilan sudah di depan mata." "Kuasumsikan yang kaumaksud kasus Dyloft? Empat juta dolar untuk iklan. Tiga ribu sebulan untuk situs Web Dyloft. Sekarang tiga ribu dolar sebulan untuk buletin Dyloft. Semua paralegal di Manassas itu. Semua pengacara baru im." "Kurasa pertanyaannya adalah, apakah aku sebaiknya menyewanya untuk lima tahun atau langsung membelinya?" "Apa?" "Gulfstream." "Apakah Gulfstream itu?" "Pesawat jet pribadi terbaik di dunia." "Apa yang akan kaulakukan dengan Gulfstream?" Terbang." "Sebenarnya, mengapa menurut pendapatmu kau butuh pesawat im?" «Itu pesawat jet yang disukai semua pengacara besar di bidang gugatan massal." "Oh, itu masuk akal." 283 "Sudah kuduga kau tentu akan mengerti." "Tahu berapa kira-kira harganya?" "Empat puluh, empat puluh lima juta" "Aku benci mengatakan kabar ini, Clay, tapi kau tidak punya empat puluh juta dolar." "Kau benar. Kurasa aku akan menyewa saja." Crittle menanggalkan kacamata bacanya dan memijat-mijat hidungnya yang panjang, kurus, seolah sakit kepala hebat sedang berkembang di sana. "Dengar, day aku cuma akuntanmu. Tapi aku tidak yakin apakah ada orang lain yang mengatakan kepadamu agar

mengendurkan langkah. Tenanglah, Sobat Kau baru saja meraup keuntungan besar, nikmatilah. Kau tidak butuh biro hukum besar dengan pengacara sebanyak itu. Kau tidak butuh pesawat jet Apa yang berikutnya? Yacht?" "Ya" "Kau serius?" "Ya." "Kukira kau benci perahu." "Memang. Ini untuk ayahku. Bisakah aku men-depresias ikannya?" t#< Tidak." "Berani bertaruh aku bisa." "Bagaimana?" "Aku akan menyewakannya saat tidak memakainya." Ketika Crittle selesai memijati hidung, ia mema- j sang kembali kacamatanya dan berkata, Terserah. Im uangmu, Sobat." Mereka bertemu di New Y City, medan yang netral, di ork ballroom kumuh hotel tua di dekat Central Park, tempat yang tak diduga siapa pun untuk pertemuan sepenting im. Di satu sisi meja duduk Dyloft Komite Pengawas Penggugat, beranggotakan lima orang, termasuk Clay Carter muda yang merasa tak pantas berada di sana, dan di belakang mereka duduk segala jenis asisten, associate, dan keroco yang dipekerjakan Mr. Patton French. Di seberang meja duduk tim Ackerman, dikepalai Cal Wicks, veteran terkemuka yang diapit suporter dengan jumlah seimbang. Seminggu sebelumnya, pemerintah menyetujui merger dengan Philo Products, dengan harga saham $53 per lembar, yang bagi Clay berarti laba lagi sekitar $6 juta. Ia sudah menguburkan setengahnya di luar negeri untuk tidak disenruh-sentuh. Jadi perusahaan terhormat yang didirikan Ackerman bersaudara seabad yang lalu akan ditelan Philo, perusahaan dengan pendapatan tahunan tak sampai setengahnya tetapi dengan utang yang jauh lebih sedikit dan manajemen yang lebih cerdas. Sewaktu Clay

mengambil tempat duduk dan menggelar berkasberkasnya dan mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa, ya, sialan, ia memang pantas di sini, ia merasa melihat tatapan mata dengan alis dikernyitkan dari seberang. Akhirnya orang-orang Ackerman Labs melihat langsung orang kaya baru dari D.C. yang memulai mimpi buruk Dyloft bagi mereka. Patton French mungkin punya banyak pendukung, tapi ia tak membutuhkan seorang pun. Ia menangani 285 sesi pertama im dan tak lama kemudian setiap orang lain pun menutup mulut, kecuali Wicks, yang ber- \ bicara hanya bila diperlukan. Mereka menghabiskan j pagi im untuk menetapkan jumlah kasus yang ada di luar sana Gugatan ciass action di Biloxi punya I 36.700 penggugat. Sekelompok pengacara murtad di Georgia punya 5.200 dan mengancam akan menyodok dengan gugatan class action lain. French merasa yakin ia bisa membujuk mereka untuk membatalkannya. Pengacarapengacara lain memilih keluar dari gugatan class action itu dan merencanakan persidangan solo di daerah mereka sendiri, tapi sekali lagi, French tidak mengkhawatirkan mereka. Mereka tidak memiliki dokumen-dokumen penting itu, dan kecil kemungkinan mereka akan mendapatkannya. Angka-angka tertuang cepat, dan Clay segera bosan dengan semuanya. Satu-satunya angka yang penting baginya adalah 5.380—perkara Dyloft bagiannya. Punyanya masih lebih banyak daripada masing-masing pengacara itu, meskipun French sendiri telah menambal kesenjangan dengan sangat brilian dan menjaring 5.000 kasus lebih. Sesudah tiga jam nonstop membicarakan

statistik, mereka setuju untuk rehat makan siang selama satu jam. Komite penggugat naik ke sebuah suite, di mana mereka makan sandwich dan hanya minum air. Tak berapa lama French sudah berbicara dan berteriak-teriak di telepon. Wes Saulsberry ingin cari angin, dan mengajak Clay berjalan-jalan di sekeliling blok ha Mereka berjalan kaki di Fifth Avenue, di seberang teman. Saat itu pertengahan November, udara dingin dan ringan, dedaunan beterbangan 286 diembus angin di jalanan. Saat yang menyenangkan untuk berada di kota ini. "Aku senang datang ke sini dan aku senang meninggalkannya," Saulsberry berkata. "Saat ini suhu udara di New Orleans masih delapan puluh lima derajat Fahrenheit, kelembapannya masih sembilan puluh persen." Clay hanya mendengarkan. Ia terlalu asyik dengan gejolak perasaan saat itu, penyelesaian perkara yang hanya terpaut beberapa jam lagi, uang jasa yang besar luar biasa, kebebasan total karena berusia muda, lajang, dan begitu kaya. "Berapakah umurmu, Clay?"-Wes berkata. 'Tiga puluh satu." "Ketika aku umur tiga puluh tiga tahun, aku dan partnerku meraup banyak sekali uang penyelesaian perkara karena meledaknya sebuah kapal tanker. Kasus yang mengerikan, ada selusin orang yang mari terbakar. Kami membagi uang jasa sebesar dua puluh delapan juta dolar sama rata Partnerku mengambil empat belas juta dolarnya dan pensiun. Aku menanamkan uangku pada diri sendiri. Aku membangun biro hukum yang penuh pengacara berdedikasi, orang-orang berbakat yang mencintai apa yang mereka kerjakan. Aku membangun

gedung di pusat kota New Orleans, teras mempekerjakan orang-orang terbaik yang dapat kutemukan. Sekarang kami punya sembilan puluh pengacara, dan dalam sepuluh tahun terakhir kami mengeduk delapan ratus juta dolar uang jasa Partner lamaku? Kasus yang menyedihkan. Kau tidak pensiun saat berumur tiga puluh tiga tahun, im tidak normal. Sebagian besar uang itu dihamburkan percuma Tiga perkawinan yang gagal. Masalah judi. Aku mempe kerjakannya dua tahun yang lalu sebagai paralega dengan gaji enam puluh ribu dolar, padahal sebenarnyi nilainya tidaklah sampai sejauh itu." "Aku belum berpikir untuk pensiun," Clay berkata. Suatu kebohongan. "Jangan. Kau akan meraup uang banyak, dan kau layak mendapatkannya. Nikmatilah. Belilah pesawat terbang, belilah perahu yang bagus, kondominium di tepi pantai, rumah di Aspen, semua mainan itu. Tetapi curahkan kembali seluruh uang im kembali ke biro hukummu. Turutilah nasihat dari seseorang yang pernah mengalaminya" "Terima kasih." Mereka belok ke jalan Seventy-third dan menuju ke timur. Saulsberry belum selesai. "Kau tahu tentang kasus-kasus cat bertimbal?'' "Tidak begitu." "Tidak setenar kasus-kasus obat, tapi uangnya sangat besar. Aku memulai kegemparannya sekitar sepuluh tahun yang lalu. Klien kami adalah sekolah, gereja rumah sakit, gedung-gedung komersial, semua yang dindingnya berlapis cat bertimbal. Zat yang sangat berbahaya. Kami menggugat pabrik-pabrik cat, membereskan perkara dengan beberapa di antaranya. Sudah dua miliaran sejauh ini. Omong-omong, saat

mengungkapkan perkara ini pada salah satu perusahaan, aku menemukan kasus gugatan massal lain yang mungkin menarik bagimu. Aku tak dapat menanganinya karena ada beberapa konflik kepentingan." "Aku mendengarkan." "Perusahaan im ada di Reedsburg, Pennsylvania, j dan ia membuat adukan semen yang dipakai tukang batu dalam membangun rumah baru. Produk dengan teknologi rendah, tapi tambang emas yang potensial. Sepertinya mereka ada masalah dengan adukan semen mereka. Ada satu batch produksi yang jelek. Sesudah sekitar tiga tahun, bahan itu mulai runtuh. Saat semen im hancur, batabatanya pun mulai rontok. Pemakaiannya terbatas pada wilayah Baltimore, mungkin digunakan pada sekitar dua ribu rumah. Dan masalah ini baru saja diperhatikan orang." "Berapa besar nilai kerugiannya?" "Butuh kira-kira lima belas ribu dolar untuk membetulkan setiap rumah." Lima belas ribu dolar kali dua ribu rumah. Dengan kontrak senilai sepertiga uang ganti kerugiannya maka uang jasa pengacaranya mencapai $10 juta. Clay mulai cepat menghitung angka-angka. "Buktinya akan gampang diperoleh," Saulsberry berkata. "Perusahaan im tahu kasus ini mulai terungkap. Penyelesaian perkara semestinya takkan jadi masalah." "Aku ingin memeriksanya." "Akan kukirimkan berkasnya tapi kau hams menyimpan rahasiaku." "Kau akan dapat bagian?" 'Tidak. Im uang balas jasaku untuk Dyloft. Dan, tentu saja kalau kau punya kesempatan untuk membalas jasa ini kelak, itu tentu akan sangat dihargai. Beginilah cara sebagian dari kita bekerja, Clay. Persaudaraan pengacara gugatan massal ini penuh

dengan tukang gorok leher dan egomamak, tapi beberapa di antara kami mencoba untuk saling membantu." 289 Menjelang sore ban itu, Ackerman Labs menyepakati minimum $62.000 untuk masing-masing penggugat Dyloft dalam Kelompok Satu, orang-orang pengidap rumor jinak yang bisa diangkat dengan prosedur bedah sederhana, yang ongkosnya juga akan ditanggung perusahaan. Kirakira empat puluh ribu penggugat termasuk dalam kategori ini, dan uangnya akan disediakan segera. Sebagian besar dari tawar-menawar yang menyusul kesepakatan im berputar sekitar cara yang digunakan untuk menetapkan siapa yang berhak atas penggantian kerugian tersebut. Perselisihan seru meledak ketika soal uang jasa pengacara dikemukakan. Seperti kebanyakan pengacara lain, Clay punya kontrak persiapan yang memberinya sepertiga dari penggantian kerugian apa pun, tetapi dalam penyelesaian perkara seperti ini biasanya persentasenya dikurangi. Rumus yang sangat rumit digunakan dan diperdebatkan, dengan French bersikap agresif luar biasa. Bagaimanapun, itu uangnya. Ackerman akhirnya sepakat dengan angka 28 persen uang jasa pengacara untuk Kelompok Satu. Penggugat Kelompok Dua adalah mereka yang menderita tumor ganas, dan karena pengobatan mereka akan makan waktu berbulan-bulan atau bertahuntahun, penyelesaian perkaranya dibiarkan terbuka. Tidak ada plafon untuk penggantian kerugian ini— bukti, menurut Barry dan Harry, bahwa Philo Products ada di latar belakang, menunjang Ackerman dengan uang ekstra Para pengacara ini akan memperoleh 25 persen untuk

Kelompok Dua, meskipun Clay tidak tahu apa alasannya French mengolah angka-angka itu terlalu cepat bagi siapa pun. Penggugat Kelompok Tiga adalah mereka dari Kelompok Dua yang meninggal karena Dyloft. Karena sampai sejauh ini belum ada kasus kematian, kategori ini pun dibiarkan terbuka. Uang jasa pengacaranya dipatok pada angka 22 persen. Mereka bubar pukul tujuh dengan rencana untuk bertemu kembali esok harinya guna memastikan detail untuk Kelompok Dua dan Tiga. Di dalam lift menuju ke bawah, French menyerahkan printout padanya. "Lumayan juga kerja hari ini," ia berkata sambil tersenyum. Im ringkasan kasus milik Clay dan uang jasa yang akan diterima, termasuk tambahan tujuh peisen untuk perannya di dalam Komite Pengawas Penggugat. Dari Kelompok Satu saja ia mengharapkan uang jasa kotor sebesar $106 juta. Ketika akhirnya sendirian, ia berdiri di depan jendela kamarnya dan memandangi senja menyelimuti Central Park. Jelas Tarvan tidak melatihnya menghadapi guncangan mendapatkan kekayaan seketika ini. Ia kebas, bisu, membeku selamanya di jendela im sementara berbagai pikiran berkecamuk keluar-masuk otaknya yang sangat kelebihan beban. Ia minum dua gelas wiski dari mini bar tanpa efek apa pun. '2*^ Masih di depan jendela, ia menelepon Paulette, yang mengangkatnya sesudah setengah dering. "Bicaralah padaku," ia ^T^^Z^^ * "Ronde pertama sudah selesai, katanya. 291 "Jangan bicara berbelit-belit!" "Kau baru saja memperoleh sepuluh juta dolar," Clay berkata, kata-kata itu keluar dari mulutnya tapi dengan suara milik orang lain. "Jangan bohong

padaku. Clay." Kata-katanya melemah hilang. "Ini benar. Aku tidak bohong." Suasana hening sesaat ketika Paulette mulai menangis. Clay melangkah mundur dan duduk di pinggir ranjang, dan untuk beberapa saat merasa dirinya ingin menangis juga. "Oh Tuhan," Paulette berkata terbatabata dua kati. "Aku akan meneleponmu kembali beberapa menit lagi," kata Clay. Jonah masih berada di kantor. Ia mulai berteriak-teriak di telepon, lalu meletakkannya untuk pergi memanggil Rodney. Clay mendengar mereka berbicara di latar belakang. Pintu terbanting. Rodney mengangkat gagang telepon dan berkata, "Aku mendengarkan." "Bagianmu sepuluh juta," Clay berkata untuk ketiga kalinya, berlagak seperti Sinterklas karena ia tidak j akan pernah melakukannya lagi. "Mercy, mercy, mercy," Rodney berkata. Jonah meneriakkan sesuatu di latar belakang. , "Sulit untuk dipercaya," kata Clay, Sesaat ia membayangkan Rodney duduk di meja kerjanya yang lama di OPD, berbagai berkas dan dokumen di manamana, foto-foto istri dan anak-anaknya menempel pada f dinding, orang baik yang bekerja keras demi gaji yang E sangat rendah, Apakah yang akan ia ceritakan pada istrinya saat ia menelepon ke ramah beberapa menit lagi? Jonah mengangkat sambungan telepon dan mereka bercakap-cakap beberapa lama tentang rapat penyelesaian perkara itu—siapa yang ada di sana, di mana dilakukan, bagaimanakah keadaannya? Mereka tak mau berhenti, tapi Clay mengatakan ia sudah berjanji menelepon Paulette lagi. Ketika selesai menyampaikan berita itu, lama ia duduk di ranjang, sedih menyadari tak

ada orang lain yang harus ditelepon. Ia bisa melihat Rebecca, dan tiba-tiba mendengar suaranya dan merasakannya dan menyentuhnya. Mereka bisa membeli rumah di Tuscany atau Maui atau tempat mana saja yang diinginkan Rebecca. Mereka bisa hidup bahagia di sana dengan selusin anak dan tanpa mertua, dengan pengasuh, pembantu, dan koki, bahkan mungkin pengurus rumah tangga. Ia akan mengirim Rebecca pulang dengan jet dua kati setahun supaya bisa bertengkar dengan orangtuanya. Atau mungkin keluarga Van Horn tidak akan begitu menyebalkan kalau ada seratus juta dolar dalam keluarga mereka, di luar jangkauan mereka tapi cukup dekat untuk dibuatkan. Ia mengertakkan geraham dan memutar nomor Rebecca. Saat im hari Rabu, malam yang sepi di country c/wo.Tentu saja ia ada di apartemennya. Sesudah tiga dering Rebecca berkata, "Halo," dan mendengar suaranya membuat Clay lemas. "Hai, ini Clay," ia berkata, berusaha agar kedengaran biasa-biasa saja. Tak ada separah kata pun dalam enam bulan ini, tetapi kekakuan itu segera lumer. "Halo, Stranger," kata Rebecca. Ramah. "Apa kabar?" "Baik, sibuk seperti biasa. Kau?" "Kurang-lebih sama. Aku ada di New Y ork, membereskan beberapa kasus." "Kudengar keadaanmu sangat baik." Ucapan yang mengecilkan keadaan sebenarnya. "Lumayan. Tak ada yang kukeluhkan. Bagaimana pekerjaanmu?" "Aku masih punya enam hari lagi." "Kau akan berhenti?" "Ya. Akan ada pernikahan, kau tahu." "Begitulah yang kudengar. Kapan?" "Tanggal dua puluh Desember." "Aku belum terima undangan." "Well, aku tidak mengirimimu undangan.

Kurasa kau tidak ingin datang." "Mungkin tidak. Apakah kau yakin kau ingin menikah?" "Mari kita bicara soal lain." Tidak ada soal lain, sungguh." "Apakah kau sudah kencan dengan seseorang?" "Banyak wanita mengejar-ngejarku. Di mana kau bertemu laki-laki ini?" "Dan kau baru membeli rumah di Georgetown?" "Itu berita lama." Tapi ia senang Rebecca tahu. Mungkin ia ingin tahu tentang keberhasilannya baru-^Jf*1*11 W»," katanya. Sudahlah, Clay. Kita bicara baik-baik." ^vng dan kau tahu itu, Rebecca." ^-telepon sekarang." <JesiTLm^dCnga^ Rebecl Ada desa, »ia cacing. Ia homoseks. Apa lagi? Tumpahkan emuanya, Clay, supaya kau merasa lebih lega." "Jangan lakukan, Rebecca. Orangtuamu akan memakannya hiduphidup. Ditambah lagi, anak-anakmu nanti akan seperti dirinya. Segerombolan ular kecil." Sambungan terputus. Ia berbaring telentang di ranjang dan menatap langit-langit, masih mendengar suara Rebecca, terpukul hebat oleh kesadaran betapa ia merindukannya. Kemudian telepon berdering keras dan menyentak-kannya. Dari Patton French, menunggu di lobi dengan limo. Makan malam dan anggur selama tiga jam mendatang. Seseorang harus melakukannya. 295 Semua peserta sudah disumpah untuk menjaga rahasia. Dokumen-dokumen tebal ditandatangani para pengacara yang menjanjikan kerahasiaan total mengenai negosiasi dan penyelesaian perkara Dyloft. Sebelum mereka meninggalkan New Y ork, Patton French berkata pada kelompoknya, "Beritanya akan muncul di koran dalam empat puluh delapan jam. Philo akan membocorkannya, dan harga saham mereka akan

melambung." Esok paginya, The Wall Street Journal memuat berita itu; tentu saja, seluruh kesalahan ditimpakan pada para pengacara. Judul beritanya berbunyi, PENGACARA-PENGACARA gugatan massal MEMAKSAKAN penyelesaian kilat kasus DYLOFT. Ada banyak komentar dari sumber-sumber yang tak dapat disebutkan namanya. Rinciannya akurat Dana sejumlah 2,4 miliar dolar akan disalurkan sebagai uang penyelesaian perkara putaran pertama, dengan kemungkinan 1,5 miliar lagi sebagai cadangan untuk kasus-kasus yang lebih serma. Saham Philo Products dibuka dengan harga $82 dan dengan cepat melonjak ke $85. Seorang analis mengatakan para investor merasa lega dengan kabar i penyelesaian perkara tersebut. Perusahaaan itu akan bisa mengendalikan biaya litigasi. Tak ada gugatan perkara berkepanjangan. Tak ada ancaman munculnya vonis di luar dugaan. Pengacara-pengacara itu berhasil dikendalikan, dan sumber-sumber yang tak disebutkan namanya di Philo menyebutnya sebagai kemenangan. Clay memantau berita itu di televisi dalam kantornya. Ia juga menangani telepon dari para reporter. Pada pukul sebelas, reporter'dari The Journal tiba bersama fotografer. Dalam pembicaraan awal, Clay menyadari bahwa si wartawan tahu tentang penyelesaian perkara itu sebanyak yang diketahui Clay. "Hal-hal seperti ini tidak pernah benar-benar dirahasiakan," katanya. "Kami tahu di hotel mana kalian bersembunyi." Off the record, Clay menjawab semua pertanyaan. Lalu on the record, ia tidak bersedia berkomentar tentang penyelesaian perkara itu. Tapi ia

memberikan beberapa keterangan tentang dirinya sendiri, lompatan cepat dari kantor OPD menjadi miliarder dalam gugatan massal, semuanya hanya dalam beberapa bulan, dan biro hukum hebat yang didirikannya, dan lain-lain. Ia bisa membayangkan cerita itu ditulis, dan im akan spektakuler. Keesokan paginya, ia membaca cerita im di Internet sebelum matahari terbit Di sana ada wajahnya, dalam sketsa-sketsa mengerikan yang dipopulerkan The Journal, dan tepat di atasnya tertulis judul RAJA GANTI RUGI, DARI $40.000 KE $100.000 DALAM ENAM BULAN. Di bawahnya ada keterangan kecil: "Kau pasti cihta hukumi" Cerita im panjang, dan seluruhnya tantang Clay. Latar belakangnya, besar di D.C, ayahnya. Sekolah Hukum Georgetown, kutipan komentar positif dari Olenda dan Jermaine di OPD, komentar dari dosen yang tak diingatnya, ulasan singkat tentang iitigasi Dyloft. Bagian terbaik adalah perbincangan panjang-lebar dengan Patton French, di mana "pengacara gugatan massal yang terkenal ganas" itu menyebut Clay Carter sebagai "bintang muda paling cemerlang", "tak kenal takut", dan "kekuatan baru yang harus diperhitungkan." "Korporasi Amerika pasti gemetar mendengar namanya," demikian lanjutan komentar bombastis itu. Dan. akhirnya, 'Tak disangsikan, Clay adalah Raja Ganti Rugi terbaru." la membacanya dua kali lalu mengirimkannya lewat e-mail kepada Rebecca dengan catatan di atas dan bawah: "Rebecca, Tolong tunggu, Clay." Ia mengirimkannya ke apartemen dan kantor Rebecca, dan saat melalaikannya, ia membuang tulisannya sendiri dan mengirimkan kabar im ke kantor-

kantor BVH Group lewat faksimili. Pernikahan im tinggal sebulan lagi. .;5las: Ketika akhirnya ia tiba di kantor, Miss Glick menyerahkan setumpuk pesan kepadanya—sekitar setengahnya berasal dari teman-teman kubah yang bercanda meminta pinjaman, sekitar setengahnya berasal dari wartawan segala jenis. Kantor itu bahkan lebih kacau balau daripada biasanya. Paulette, Jonah, dan Rodney masih di awang-awang dan sama sekali tak bisa memusatkan perhatian. Setiap klien menginginkan uang hari itu juga. Untunglah ada Cabang Yale, di bawah Mr. Oscar Mulrooney yang cemerlang, yang menangani tugas itu dan menyusun rencana untuk bertahan hidup hingga uang perkara itu dibayarkan. Clay memindahkan Mulrooney ke kantor di lorong dekat kantornya, menaikkan gajinya dua kali lipat, dan membiarkannya mengurus segala kekacauan itu. Clay butuh istirahat. Karena paspor Jarrett Carter diam-diam telah dicabut Departemen Kehakiman AS, gerakannya jadi agak terbatas. Ia bahkan tidak yakin bisa kembali ke negaranya sendiri, meskipun dalam enam tahun ini ia tak pernah mencobanya. Ada banyak lubang kelemahan dalam kesepakatan di bawah meja yang ia lakukan agar bisa menyingkir dari kota tanpa tuntutan hukum itu. "Kita lebih baik tetap di Bahama," katanya pada Clay di telepon. Mereka meninggalkan Abaco dengan pesawat Cessna-Citation V, satu lagi mainan dari armada pesawat terbang yang ditemukan Clay. Mereka menuju Nassau, tiga puluh menit dari sana. Jarrett menunggu sampai mereka mengudara sebelum berkata, "Oke, tumpahkanlah unek-unekmu." Ia sudah

meneguk bir. Dan ia memakai celana pendek denim kumal, sandal, dan topi pancing tua, sangat mirip orang asing yang dikucilkan ke pulau-pulau itu dan menjalani hidup seperti bajak laut. Clay sendiri membuka sekaleng bir, lalu memulai ceritanya dengan Tarvan dan mengakhirinya dengan Dyloft. Jarrett sudah mendengar desas-desus tentang keberhasilan anaknya tapi ia tak pernah membaca koran dan mencoba sebaik mungkin mengabaikan 299 segala berita dari rumah. Satu kaleng bir lagi sementara ia mencoba memahami gagasan memiliki lima ribu klien sekaligus pada saat yang sama. Angka $100 juta itu membuat matanya terpejam, wajahnya memucat, atau setidaknya menjadi berwarna tembaga terang, dan membuat keningnya yang bagaikan kulit samak im mengernyit dalam gelombang kerut-merut tebal. Ia menggeleng, meneguk bir lagi, lalu mulai tertawa. Clay meneruskan, bertekad menyelesaikan kisahnya sebelum mereka mendarat "Apa yang akan kaulakukan dengan uang im?" Jarrett bertanya masih terguncang. "Memakainya sepuas-puasnya" Di hiar bandara Nassau mereka menemukan taksi, Cadillac kuning tahun 1974 dengan sopir yang merokok ganja Ia mengantar mereka dengan selamat ke Sunset Hotel and Casino di Paradise Island, yang menghadap ke Pelabuhan Nassau. Jarret beranjak ke meja blackjack dengan bekal lima ribu dolar tunai yang baru saja diberikan anaknya Clay menuju kolam renang dan berjemur. Ia ingin matahari dan bikini. Perahu itu katamaran ukuran 63 kaki yang dibangun pembuat perahu layar terbaik di Fort Lauderdale.

Kapten/wiraniaganya adalah orang Inggris pemberang bernama Maltbee yang dibantu pelaut Bahama kurus kering. Maltbee menggeram dan ribut sampai mereka 300 keluar dari Pelabuhan Nassau dan masuk ke teluk. Mereka menuju sisi selatan selat, menikmati setengah hari di bawah matahari terang benderang dan air yang tenang, uji coba panjang pada perahu yang kata Jarrett bisa menghasilkan uang banyak. Ketika mesin dimatikan dan layar dikembangkan. Clay turun untuk memeriksa kabin. Perahu ini mestinya bisa menampung tidur delapan orang, ditambah dua awak perahu. Bilik-bilik yang sempit tapi memang semuanya ukuran junior. Kamar mandinya terlalu sempit untuk memutar badan di dalamnya. Suite utamanya seukuran lemarinya yang paling kecil. Itulah kehidupan di kapal layar. Menurut Jarrett, mustahil mendapat penghasilan dengan menangkap ikan. Bisnis seperti itu sporadis sifatnya. Untuk memperoleh laba harus ada yang menyewa setiap hari, tapi pekerjaannya terlalu berat. Mustahil untuk mempertahankan awak perahu. Uang tip tak pernah cukup. Kebanyakan kliennya memang cukup menyenangkan tetapi banyak juga yang buruk sehingga menjadikan pekerjaan ini merugi. Ia sudah lima tahun jadi kapten perahu sewaan dan sudah jenuh. Uang besar dapat dihasilkan dari perahu pribadi untuk disewakan kepada kelompok-kelompok kecil orang kaya yang ingin bekerja, bukan dimanja. Pelaut-pelaut semiserius. Pilih perahu yang bagus—perahumu sendiri, lebih disukai tanpa jaminan hak gadai—dan berlayar mengelilingi Karibia selama satu bulan sekali jalan Jarrett punya teman dari Freeport yang

sudah bertahun-tahun mengelola perahu seperti im dan •ndapatkan banyak uang. Klien-klien im sendiri . yang menentukan jalur, memilih waktu dan rute mereka, menentukan menu makanan dan minuman, dan berangkatlah mereka dengan seorang kapten dan seorang kelasi selama satu bulan. "Sepuluh ribu dolar seminggu," kata Jarrett. "Ditambah kau benar-benar berlayar, menikmati angin, matahari, dan lautan, pergi ke mana saja. Tidak seperti memancing, di mana kau harus menangkap ikan marlin besar, kalau tidak semua orang akan marah." Ketika Clay keluar dari kabin itu, Jarrett sedang memegang kemudi, tampak sangat nyaman, seolah sudah bertahun-tahun ia memacu yacht-yacht mahal. Clay pindah ke dek dan berjemur telentang. Mereka mendapat angin dan mulai membelah anyang tenang, menuju ke timur sejajar teluk, dengan Nassau mulai menghilang di kejauhan. Clay menanggalkan pakaian hingga tinggal celana pendek dan berbalur krim; ia hampir tertidur ketika Maltbee merayap ke sebelahnya "Ayahmu mengatakan kaulah yang punya uang." Mata Maltbee tersembunyi di balik kacamata hitam pekat. "Aku rasa ia benar," kata Clay. "Perahu ini nilainya empat juta dolar, praktis masih bara, salah satu perahu terbaik kami. Dibangun untuk salah satu miliarder komputer yang menghabiskan uang lebih cepat daripada menghasilkannya. Banyak yang bernasib menyedihkan seperti im, kalau kau tanya aku. Pendeknya kami terpaksa mengambil alih. Pasaran sedang lesu. Kami akan melepasnya dengan harga tiga juta, dan dengan harga seperti itu kau seharusnya dituntut karena melakukan

pencurian. Kalau kau mendaftarkan perahu ini di bawah undang-undang Bahama sebagai perahu sewaan, maka ada segala macam cara untuk mengakali pajak. Aku tidak bisa menjelaskannya tapi kami punya pengacara di Nassau yang menangani urusan dokumennya Kalau kau bisa menemuinya dalam keadaan tidak mabuk." "Aku pengacara." "Kalau begitu, mengapa kau tidak mabuk?" Ha ha ha; mereka berdua tertawa terpaksa. "Bagaimana dengan depresiasinya?" Clay bertanya. "Besar, lumayan besar, tapi sekali lagi, rtu urusan pengacara seperti kau. Aku cuma wiraniaga. Tapi kurasa ayahmu menyukainya. Perahu-perahu seperti ini sangat digemari dari sini hingga Bermuda dan Amerika selatan. Ia akan menghasilkan uang." Begitulah kata si wiraniaga dan caranya membujuk tidaklah meyakinkan. Kalau Clay sampai membelikan perahu untuk ayahnya, maka impian satu-satunya adalah perahu itu akan impas dan tidak jadi lubang hitam yang terus menyedot uang. Maltbee menghilang secepat ia tadi muncul. Tiga hari kemudian, Clay menandatangani kontrak akan membayar $2,9 juta untuk perahu itu. Si pengacara, yang sesungguhnya tidak sepenuhnya bebas dari mabuk dalam dua pertemuannya dengan Clay, meregistrasikan perahu im sebagai perusahaan Bahama atas nama Jarrett. Perahu im merupakan hadiah dari anak kepada ayah, aset untuk disembunyikan di kepulauan tersebut, sama seperti Jarrett sendiri. Saat bersantap pada malam terakhir mereka di Nassau, di belakang kedai lusuh penuh pengedar obat bius, pengelak pajak, dan penghindar kewajiban membayar tunjangan cerai, semuanya orang

Amerika, Clay memecah cangkang kepiting dan akhirnya mengajukan pertanyaan yang sudah berminggu-minggu ia pertimbangkan. "Apakah ada kemungkinan kau bisa kembali ke Amerika?" "Untuk apa?" "Untuk praktik hukum. Untuk jadi partnerku. Untuk melakukan litigasi dan bertarung lagi." Pertanyaan itu membuat Jarrett tersenyum. Membayangkan ayah dan anak bekerja bersama. Gagasan bahwa Clay menginginkannya kembali; kembali ke kantor, kembali pada sesuatu yang terhormat. Anak ini hidup di bawah bayangan awan kelabu yang ditinggalkan si ayah. Akan tetapi, dengan keberhasilannya baru-baru im, awan gelap itu jelas menyusut. "Aku meragukannya, Clay. Aku sudah menyerahkan izin praktikku dan berjanji untuk menyingkir." "Apakah kau ingin kembali?" "Mungkin untuk membersihkan nama, tapi tidak untuk menjalankan praktik hukum lagi. Terlalu banyak beban, terlalu banyak musuh lama yang mengintai. Aku berumur lima puluh lima, dan im sedikit terlambat untuk memulai kembali." "Akan berada di manakah kau sepuluh tahun lagi?" "Aku tidak berpikir seperti itu. Aku tidak percaya dengan kalender, jadwal, dan daftar hal-hal yang harus dikerjakan. Menentukan tujuan adalah kebiasaan tolol khas Amerika. Tidak untukku. Aku mencoba hidup hari demi hari, mungkin sedikit memikirkan bagaimana betok, dan itu saja. Merencanakan masa depan adalah sesuatu yang menggelikan." "Maaf aku bertanya." "Hiduplah untuk saat ini, Clay. Urusan besok adalah untuk besok. Menurutku, tanganmu sudah sangat penuh sekarang." "Uang itu mestinya akan membuatku sibuk" "Jangan kauhabiskan,

Nak. Aku tahu im kelihatannya mustahil, tapi kau akan terkejut. Teman-teman baru akan muncul di mana-mana. Wanita akan berjatuhan dari langit." "Kapan?" "Tunggu saja. Aku pernah membaca buku—Fool's Gold, atau seperti itulah judulnya. Sam kisah disusul kisah lain tentang kekayaan yang ditandaskan orang-orang tolol yang memilikinya. Bacaan yang menarik. Belilah buku itu." "Kurasa aku tidak mau." Jarrett melemparkan seekor udang ke dalam mulut dan mengganti pokok pembicaraan, "Apakah kau akan membantu ibumu?" "Mungkin tidak. Ia tidak butuh bantuan. Suaminya kaya raya, ingat?" "Kapan kau bicara dengannya?" "Sudah sebelas tahun yang lalu, Dad. Mengapa kau begitu peduli?" "Hanya ingin tahu. Rasanya aneh. Kau menikahi seorang wanita, hidup dengannya selama dua puluh lima tahun, dan kau kadangkadang ingin tahu apa yang ia lakukan." "Mari kita bicara soal lain." "Rebecca?" "Berikutnya." "Ayo kita main lempar dadu. Aku masih empat ribu dolar." Ketika Mr. Ted Worley dari Upper Marlboro, Maryland, menerima amplop tebal dari Kantor Hukum J. Clay Carter U, ia langsung membukanya Ia sudah menyaksikan berbagai laporan berita tentang penyelesaian perkara Dyloft. Ia sudah mengamati situs Web Dyloft dengan sepenuh hati, menunggu tanda-tanda bahwa sudah tiba saatnya untuk mengambil uang dari Ackerman Labs. Surat itu dimulai dengan, "Mr. Worley yang terhormat Selamat. Gugatan class action Anda terhadap Ackerman Labs sudah diselesaikan di Pengadilan Distrik AS di Southern District of Mississippi. Sebagai penggugat dalam Kelompok'.

Pertama bagian uang penyelesaian perkara Anda adalah $62.000. Sesuai dengan Perjanjian Layanan Hukum antara Anda dan biro hukum ini, maka pembayaran untuk biaya jasa pengacaranya adalah 28 persen. Di samping itu, pengadilan telah menyetujui potongan sebesar $1.400 untuk biaya gugatan. Angka bersih dari uang penyelesaian perkara Anda adalah $43.240. Harap tanda-tangani perjanjian dan formulir kesediaan terlampir dan kembalikanlah segera dalam amplop terlampir. Hormat kami, Oscar Mulrooney, Pengacara." Tiap kali pengacaranya berbeda" Mr. Worley i berkata sambil terus membalik-balik halaman. Di sana ada kopi surat perintah pengadilan yang mengesahkan penyelesaian perkara im, dan pengumuman kepada semua penggugat class action, dan beberapa dokumen lain yang membuat ia mendadak tak berselera membacanya. $43.240! Im jumlah total yang akan ia terima dari perusahaan farmasi raksasa busuk yang sengaja memasarkan obat yang mengakibatkan tumor tumbuh di kandung kemihnya? $43.240 sebagai imbalan berbulan-bulan ketakutan, stres, dan ketidakpastian akan hidup atau mati? $43.240 untuk penderitaan diiris pisau mikroskopis dan penis dijejali slang hingga ke kandung kemih di mana empat gumpal tumor diambil satu persatu dan dikeluarkan lewat penis lagi? $43.240 untuk tiga hari penderitaan ketika darah dan gumpalan keluar bersama urinenya? Ia terenyak memikirkannya. Ia menelepon enam kali dan meninggalkan enam pesan mendesak dan menunggu enam jam sampai Mr. Mulrooney balas meneleponnya. "Siapakah ini?" Mr.

Worley mulai dengan menyenangkan. Dalam sepuluh hari terakhir ini, Oscar Mulrooney telah jadi pakar dalam menangani telepon semacam itu. Ia menerangkan bahwa ia pengacara yang bertanggung jawab atas kasus Mr. Worley. "Uang penyelesaian perkara ini lelucon!" Mr. Worley berkata. "Empat puluh tiga ribu dolar adalah tindak kejahatan." "Uang ganti kerugian Anda adalah enam puluh dua ribu dolar, Mr, Worley," Oscar berkata. "Aku menerima empat puluh tiga, Nak." Tidak, Anda mendapatkan enam puluh dua. Anda setuju memberikan sepertiganya kepada pengacara 307 Anda. yang tanpa mereka Anda tentu takkan men. dapatkan apa-apa. Bagian ini sudah dikurangi menjadi dua puluh delapan persen oleh perjanjian penyelesaian perkara ini. Kebanyakan pengacara mengambil empat puluh lima atau lima puluh persen." "Wah, aku sungguh bangsat yang beruntung. Aku tidak akan menerimanya." Menanggapi ini, Oscar memberikan uraian singkat dan telah terlatih baik tentang bagaimana Ackerman Labs hanya bisa membayar sebanyak im tanpa jadi bangkrut keadaan yang akan mengakibatkan Mr. Worley menerima lebih sedikit lagi, bahkan mungkin sama sekati tidak mendapatkan apa-apa. "Im sungguh menyenangkan," Mr. Worley berkata. "Tapi aku tidak akan menerima uang penyelesaian perkara ini." "Anda tidak punya pilihan." "Peduli amat" "Lihatlah Perjanjian Pelayanan Hukum itu, Mr. Worley. Di halaman sebelas dalam paket yang Anda terima. Pasal delapan itu disebut Preautorisasi. Bacalah persyaratannya, Sir, dan Anda akan lihat bahwa Anda telah memberikan wewenang pada

biro hukum m» untuk menyelesaikan perkara dengan ganti kerugian di atas tam puluh ribu dolar." Aku ingat hn, tapi waktu im dijelaskan kepadaku «bagai angka awal. Aku mengharapkan lebih banyak." «^anPT,e?aa perkara A^a sudah disahkan penerimaan, ZT**"** ^ t dan akhWalt dVkan * °»>enkan pada orang lain." -Kalian gerombolan penipu, kau tahu im? Aku tidak tahu siapa yang lebih busuk —perusahaan yang membuat obat im atau pengacarapengacaraku sendiri yang mengecohku sehingga tidak mendapatkan ganti •rugi yang adil." "Kami prihatin Anda merasa begitu," "Kau tidak prihatin sedikit pun. Kata koran kalian mendapatkan seratus juta dolar. Dasar maling!" Mr. Worley membanting telepon dan melemparkan dokumendokumen itu ke seberang dapur. Ik kJAMPUL majalah Capitol Magazim edisi Desember menampilkan Clay Carter, tampak cokelat terbakar matahari dan cukup tampan mengenakan setelan jas Armani, duduk di sudut meja kerjanya di dalam kantor yang ditata bagus. Itu pengganti mendadak untuk artikel berjudul "Natal di Potomac," edisi liburan biasanya di mana seorang senator tua dan kaya dengan istri terbarunya yang cantik membuka rumah pribadinya yang besar untuk dilihat semua orang. Pasangan itu, dan dekorasi, kucing, dan resep fevorimya, tersisih ke halaman dalam, sebab D.C. adalah ibu kota tentang uang dan kekuasaan. Seberapa sering majalah im punya kesempatan mendapatkan cerita hiar biasa tentang pengacara muda dan miskin yang menjadi kaya begitu cepat? Ada gambar Clay di beranda bersama anjing yang ia pinjam dari Rodney, dan Clay berpose di sebelah boks

juri di dalam ruang sidang kosong seolah ia baru saja mendapatkan vonis besar untuk menghukum orang-orang jahat, dan tentu saja, Clay sedang mencuci Porsche barunya. Ia mengaku bahwa kegemarannya adalah berlayar, dan ada perahu baru yang bersandar di Bahama. Tak ada kisah cinta yang serius saat ini, dan cerita tin langsung memberinya predikat pria lajang paling diidamkan di kota. 310 Mendekati bagian belakang adi foto para calon pengantin wanita, diikuti berbagai pengumuman pernikahan yang akan berlangsung. Setiap wanita muda, gadis murid sekolah swasta, dan kalangan country club di metropolitan D.C, memimpikan dirinya muncul di halaman Capitol Magazine. Makin besar fotonya, makin pentinglah keluarga itu. Para ibu yang ambisius diketahui suka mengambil penggaris dan mengukur foto putri mereka dan foto si rival, lalu kalau bukan berpuas diri karena merasa lebih hebat dari yang lain, tentulah mereka diam-diam menyimpan sakit hati sampai bertahun-tahun. Ada foto Rebecca Van Horn, gemilang duduk di bangku rotan di taman entah di mana, foto yang indah tapi dirusak wajah pengantin laki-laki dan calon suaminya, Yang Terhormat Jason Shubert Myers IV, duduk rapat di sebelahnya dan jelas menikmati kamera. Berita pernikahan itu untuk pengantin wanita, bukan untuk lakilaki. Mengapa mereka berkeras menampilkan wajah mereka dalam pengumuman juga? Bennett dan Barbara tentu memakai pengaruh mereka; pengumuman Rebecca nomor dua terbesar di antara selusin lainnya. Enam halaman sesudahnya, Clay melihat iklan BVH. Group

sehalaman penuh. Itu imbalannya. Clay bersuka ria menikmati penderitaan yang diakibatkan majalah im di keluarga Van Horn saat ini. Pernikahan Rebecca, peristiwa sosial yang memungkinkan Bennett dan Barbara menghamburkan uang dan mengesankan dunia, ternyata dikalahkan musuh lama mereka. Berapa kali putri mereka tampil dalam pengumuman pernikahan Capitol Magazine? Betapa 311 kens mereka telah berusaha untuk memastikan ditampilkan secara menonjol? Dan semua itu. ki tersisih oleh gelegar Ctay. Dan sorotan pada dirinya belum berakhir. Jonah mengumumkan bahwa pensiun merupakan kemungkinan serius. Ia menghabiskan sepuluh hari di Antigua bukan dengan satu perempuan tapi dua, dan ketika kembali ke D.C. dalam badai salju awal bulan Desember, ia mengaku pada Clay bahwa secara mental dan psikologis ia tidak mampu melakukan praktik hukum lagi. Ia sudah mendapatkan segala yang bisa ia raih. Karier hukumnya sudah berakhir. Ia merencanakan hidup di perahu layar sendiri. Ia telah menemukan wanita yang suka berlayar dan, karena wanita itu memasuki ambang bubarnya perkawinan, ia pun butuh waktu banyak-banyak di lautan. Jonah berasal dari Annapolis dan, tidak seperti Clay, sudah berlayar seumur hidupnya. "Aku butuh boneka hidup, lebih disukai yang berambut pirang," kata Clay sambil duduk 'di kursi di i seberang meja tulis Jonah. Pintunya dikunci. Saat itu pukul 18.00 lebih hari Rabu dan Jonah sudah membuka I botol bir pertama. Mereka berkompromi untuk menaati peraturan tak tertulis bahwa tidak ada minuman keras j sebelum pukul 18.00. Kalau

tidak, Jonah tentu akan i langsung mulai sesudah makan siang. "Laki-laki lajang paling diidamkan di kota ini mengalami kesulitan menggaet perempuan?" "Aku sudah beberapa lama keluar dari peredaran. Aku akan menghadiri pernikahan Rebecca, dan aku butuh wanita yang bisa mencuri perhatian." "Oh, ini sungguh bagus," ia berkata sambil tertawa dan meraih ke dalam laci meja kerjanya. Hanya Jonah yang menyimpan berkas data tentang wanita. Ia mengaduk-aduk dokumen dan menemukan apa yang ia inginkan. Ia melemparkan surat kabar terlipat ke seberang meja. Di sana ada iklan pakaian dalam untuk sebuah toserba. Dewi berusia muda yang menawan itu bisa dibilang tidak memakai apa-apa di bawah pinggang dan hanya menutupi buah dadanya dengan lengan terlipat. Clay ingat jelas pernah melihatnya pada pagi hari ketika iklan tersebut pertama kali dimuat. Berbulan-bulan yang lalu. "Kau kenai dia?" "Tentu saja aku kenal dia. Kaupikir aku menyimpan iklan pakaian dalam hanya sekadar iseng?" "Takkan mengejutkanku." "Namanya Ridley. Setidaknya begitulah namanya yang dikenal orang." "Ia tinggal di sini?" Clay masih memelototi si cantik mencengangkan dalam gambar hitam-putih yang ia pegangi. "Ia berasal dari Georgia" "Oh, gadis Selatan." "Bukan, Rusia. Negara Georgia Ia datang sebagai peserta program pertukaran mahasiswa dan tak pernah meninggalkan negeri ini." "Kelihatannya ia masih berumur delapan belas. 'Tertengahan dua puluh." "Berapa tingginya? "Sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter." Tangkarnya kelihatan seperti satu setengah met

panjangnya" "Apakah kau tidak suka?" Dalam usaha agar tampak tak acuh, Clay melempa kan kertas im kembali ke meja. "Ada kekurangan?" "Ya. ia didesas-desuskan sebagai switch-hitter." "ApaT Ta suka laki-laki dan perempuan." "Oh" "Belum ada yang memastikan, tapi banyak mode wanita yang begitu. Setahuku, bisa jadi hanya sekadai desas-desus." • "Kau pernah kencan dengannya." Tidak. Teman dan teman. Ia memang ada dalam daftarku. Aku masih menunggu konfirmasi. Cobalah. Kalau kau tidak menyukainya, kita akan cari perempuan lain.' "Bisakah kau yang menelepon?" Tentu saja, tidak ada masalah. Im tentu mudah, karena kau sekarang Cowok Sampul, lajang paling diidamkan, Raja Ganti Rugi. Entah mereka tahu atau tidak istilah ganti ragi di Georgia sana." "Tidak kalau mereka beruntung. Telepon saja." Mereka bertemu untuk makan malam di restoran bulan ini, restoran Jepang yang banyak dikunjungi kaum muda dan kaya, Ridley tampak lebih bebat lagi daripada dalam foto. Banyak kepala menoleh dan leher berputar sewaktu mereka dibawa ke tengah restoran dan ditempatkan di meja yang sangat istimewa. Banyak percakapan terhenti di tengah kalimat Pelayan-pelayan merubung mereka. Bahasa Inggris Ridley yang sedikit beraksen im sempurna dan cukup eksotis untuk menambah kesan seksi pada dirinya, seolah ia masih membutuhkannya saja. Pakaian bekas yang usang dari pasar loak sekalipun akan tampak hebat pada tubuh Ridley. Tantangan yang ia hadapi adalah bagaimana berpakaian sederhana, sehingga pakaian im tidak akan bersaing dengan rambut pirang, mata biru laut,

tulang pipi yang tinggi, dan segala lekuk wajahnya yang sempurna. Nama sebenarnya Ridai Petashnakol, yang harus diejanya dua kali sebelum Clay menangkapnya. Untungnya, para model, seperti pemain sepak bola bisa bertahan hidup hanya dengan satu nama maka ia hanya dikenal sebagai Ridley. Ia tidak minum alkohol, tapi memesan sari buah cranberry. Clay berharap ia tidak memesan sepiring wortel untuk makan malam. Ridley punya kecantikan dan Clay punya uang. dan karena mereka tidak bisa membicarakan keduanya maka selama beberapa menit mereka sibuk mencari-cari topik yang aman. Ia orang Georgia, bukan Rusia, dan tak peduli pada politik atau terorisme atau sepak bola. Ah. film! Ia menonton apa saja dan menyukai semuanya Bahkan filmfilm mengerikan yang tak ditonton orang huh. Film-film yang gagal dalam box-office sangat disukai Ridley, dan Clay mulai merasakan keragu-raguan, ia cuma bimbo, kata Clay pada diri sendiri. Makan 1 malam sekarang, pernikahan Rebecca nanti, dar Ridley pun jadi sejarah. Ia bisa lima bahasa, tapi karena kebanyakan adalah bahasa-bahasa Eropa timur, rasanya kemampuan itu tak ada manfaatnya untuk memperbaiki karier. Yang sungguh melegakan hati Clay, ia memesan sajian pertama kedua dan makanan penutup. Percakapan tidaklah mudah, tapi kedua belah pihak berusaha keras. Latar belakang mereka begitu berbeda. Jiwa pengacara di dalam dirinya menginginkan pemeriksaan mendalam terhadap sang saksi; nama sebenarnya, umur, golongan darah, pekerjaan ayah, gaji, sejarah perkawinan, sejarah seksual—benarkah kau

switch' hitter? Tapi dengan susah payah ia berhasil mengendalikan diri dan sama sekali tidak membongkarbongkar masalah im. Ia menyinggung-nyinggung sedikit sekali atau dua kali, tak mendapatkan apa-apa dan kembali pada soal film. Ridley kenal setiap j aktor kelas dua berumur dua puluhan dan siapa yang dikencaninya saat ini—omongan yang sangat membosankan tapi mungkin tidaklah begitu membosankan juga seperti mendengarkan segerombolan pengacara berbicara tentang kemenangan terakhir mereka di persidangan atau penyelesaian ganti rugi limbah beracun. Clay meneguk anggur dan membuat dirinya lebih santai. Anggur itu anggur merah burgundy. Patton French tentu akan bangga. Seandainya saja rekan-rekannya sesama pengacara gugatan massal im bisa melihatnya sekarang, duduk di depan boneka Barbie ini. Satu-satunya hal negatif adalah desas-desus busuk itu. Tidak mungkin ia menyukai sesama wanita. Ia terlalu sempurna, terlalu elok, terlalu menarik bagi lawan jenis. Ia ditakdirkan menjadi istri untuk dipamerkan! Tetapi ada 'sesuatu pada dirinya yang terus membuat Clay curiga. Begitu rasa terpesona pertama pada penampilannya mulai luntur, dan itu butuh sedikitnya dua jam serta sebotol anggur, Clay menyadari bahwa ia tidak pernah tahu' lebih dari yang ada di permukaan. Baik karena tidak ada kedalaman apa pun, atau mungkin hal im dilindungi dengan hati-hati. Saat menyantap makanan penutup, chocolate mousse yang dimain-mainkan Ridley tapi tidak dimakannya Clay mengundangnya menghadiri resepsi pernikahan. Ia mengaku bahwa si pengantin wanita

adalah mantan pacarnya, tapi berbohong ketika ia mengatakan hubungan mereka sekarang hanyalah teman biasa. Ridley mengangkat pundak seakan lebih suka pergi ke bioskop. "Kenapa tidak?" katanya Sewaktu belok ke jalan masuk Potomac Country Club, Clay teringat kenangan lama. Kunjungan terakhirnya ke tempat celaka ini barulah tujuh bulan yang lalu, makan malam menyiksa bersama orangtua Rebecca. Waktu im ia menyembunyikan Honda tuanya di belakang lapangan tenis. Kini, ia memamerkan Porsche Carrera baru. Waktu im, ia menghindari valet untuk menghemat uang. Kini ia memberi tip ekstra pada juru parkir itu. Waktu itu, ia seorang diri dan ketakutan menghadapi beberapa jam mendatanj bersama keluarga Van Horn. Kini ia bersama Ridley dengan kecantikannya yang tak ternilai, yang memegangi sikunya dan menyilangkan kaki sedemikian rupa sehingga belahan roknya memperlihatkan keindahan sosoknya hingga ke pinggang; dan di mana pun orangtua Ridley kini berada pasti mereka tidak akan ikut campur dalam hidup Clay. Waktu im, ia merasa seperti gelandangan di tempat terhormat. Kini Potomac Country Club pasti akan menyetujui keanggotaannya besok bila ia menulis cek dengan jumlah yang tepat. "Resepsi pernikahan Van Horn," ia berkata pada penjaga yang mempersilakannya masuk. Mereka terlambat satu jam, saat yang sempurna. Ruang resepsi im penuh dan band rhythm and blues bermain di salah satu ujungnya. "Dekat-dekatlah denganku," Ridley berbisik sewaktu mereka masuk. "Aku tidak akan kenal siapa pun di sini." "Jangan khawatir," kata Clay. Dekat-

dekat dengannya takkan jadi masalah. Dan meskipun berpura-pura sebaliknya ia pun tak kenal siapa-siapa di sini. Kepala-kepala mulai menoleh. Mulut ternganga. Dalam keadaan setengah mabuk, pria-pria im tidak ragu untuk melotot memandangi Ridley sewaktu ia dan kencannya berjalan ke depan. "Hai, Clay!" seseorang berseru, dan Clay berpaling untuk melihat wajah Randy Spino yang sedang tersenyum, teman kuliah yang bekerja di biro hukum raksasa dan, dalam keadaan normal, takkan pernah bicara dengan I Clay dalam lingkungan seperti ini. Seandainya kebetulan berpapasan di jalan, mungkin Spino akan berkata, "Apa kabar?" tanpa memelankan langkah. Tapi sapaan seperti im takkan pernah terjadi di country club yang penuh orang, terutama klub yang begitu didominasi orang-orang dari biro-biro hukum besar. Tetapi itu dia, menyodorkan satu tangan ke arah Clay sambil memamerkan setiap giginya pada Ridley. Gerombolan kecil mengikuti. Spino memimpin, mem-perkenal semua teman baiknya pada teman baiknya juga, Clay Carter dan Ridley tanpa nama belakang. Ridley lebih mengeratkan pegangannya pada siku Clay. Semua laki-laki im ingin beramah taman. Agar bisa mendekati Ridley, mereka perlu bercakap-cakap dengan Clay, maka hanya butuh beberapa detik sebelum seseorang berkata "Hai, Clay, selamat, kau berhasil mengalahkan Ackerman Labs." Clay tak pernah kenal orang yang memberi selamat kepadanya itu. Ia menduga orang im pengacara, mungkin dari biro hukum besar, mungkin biro hukum besar yang mewakili perusahaan-perusahaan besar seperti Ackerman Labs,

dan ia tahu sebelum kalimat im selesai bahwa pujian palsu im didorong perasaan iri. Dan keinginan untuk memandangi Ridley. 'Terima kasih," kata Clay, seolah itu hanya kejadian sehari-hari di kantor. "Seratus juta dolar. Wah!" Wajah ini pun milik orang yang tak dikenal, seseorang yang tampaknya mabuk. " "Ah setengahnya untuk pajak, kata Clay. Siapakah zaman" sekarang iniyang bisa cukup hanya dengan $30 juta? 319 Kerumunan im meledak tertawa, seolah Clay baru saja mengucapkan lelucon paling lucu. Lebih banyak lagi orang datang berkerumun, seluruhnya laki-laki, semuanya beringsut maju ke arah wanita pirang memesona yang samar-samar kelihatan seperti sudah mereka kenal. Mungkin mereka tak mengenalinya dalam tampilan full color dengan pakaian lengkap. Seseorang yang pongah dan suka bicara berkata, "Kami punya Philo. Aduh, sungguh senang perkara Dyloft sudah diselesaikan." Itu penyakit yang diderita kebanyakan pengacara di D.C. Setiap perusahaan di dunia punya penasihat hukum di D.C. meskipun hanya nama, dan begitu pula setiap perselisihan atau setiap transaksi punya konsekuensi serius di kalangan pengacara-pengacara kota itu. Sebuah kilang minyak meledak di Thailand dan seorang pengacara akan berkata, "Y eah, kita punya Exxon." Sebuah real estat besar bangkrut—"Kami punya Disney." Sebuah mobil SUV terguling dan menewaskan lima orang—"Kami punya Ford" ''Kami Punya" adalah permainan yang selama ini didengar Clay sampai ia muak. Aku punya Ridley, ia ingin berkata, jadi singkirkan tanganmu. Suatu pengumuman

disampaikan dari panggung dan i ruangan jadi lebih tenang. Pengantin pria dan wanita I akan berdansa, kemudian pengantin wanita dan ayahnya, I lalu pengantin pria dan ibunya, dan seterusnya. Orang I banyak berkerumun untuk menonton. Band mulai 11 memainkan "Smoke Gets in Y our Eyes." Ia sangat cantik," Ridley berbisik, sangat dekat I di telinga kanan Clay. Memang Rebecca sangat cantik, j I Dan ia berdansa dengan Jason Myers, yang meskipun I 320 I lebih pendek lima sentimeter, di mata Rebecca tampaknya ia satu-satunya penghuni dunia ini. Rebecca tersenyum dan berseri-seri saat mereka berputar perlahan-lahan di lantai dansa, si pengantin wanita yang meng-atur gerakan sebab pengantin prianya sekaku papan. Clay ingin menyerang, ingin menyerbu menerobos kerumunan dan menonjok Myers dengan sepenuh kekuatan yang bisa ia kerahkan. Ia akan menyelamatkan pacarnya dan membawanya pergi, menembak ibunya kalau ia menemukan mereka. "Kau masih mencintainya, bukan?" Ridley berbisik. 'Tidak, semua sudah berakhir," ia balas berbisik. "Kau masih mencintainya. Aku tahu." 'Tidak." Malam ini, pengantin baru im akan pergi ke suatu tempat dan tidur bersama untuk menyempurnakan perkawinan mereka, meskipun karena telah mengenal Rebecca secara intim, ia tahu Rebecca selama ini pasti tidak hidup tanpa seks. Ia mungkin sudah mengajak si ular Myers ini dan mendidiknya bennain di ranjang. Laki-laki yang beruntung. Berbagai hal yang pernah diajarkan Clay padanya kini diturunkannya pada orang lain. Sungguh tidak adil. Dua orang im sungguh

menyakitkan untuk dilihat, dan Clay bertanya pada diri sendiri mengapa ia ada di sana. Penutupan, apa pun arti kata itu. Salam perpisahan. Tapi ia ingin Rebecca melihatnya, dan melihat Ridley, dan tahu bahwa Clay baikbaik saja dan tidak merindukannya. Menyaksikan Bennett the Bulldozer berdansa juga menyakitkan karena alasan lain. Ia menganut teori bahwa laki-laki kulit putih berdansa tanpa meng. gerakkan kaki, dan ketika ia mencoba menggoyang pantat band benar-benar tertawa. Pipinya sudah merah tua karena terlalu banyak minum Chivas. Jason Myers berdansa dengan Barbara Van Horn yang. dari kejauhan, tampak seolah baru saja menjalani satu atau dua kali bedah plastik dengan ongkos didiskon, ia dibungkus gaun yang, meskipun indah, sebenarnya beberapa ukuran terlalu kecil, sehingga gelambir lemaknya menyembul di tempat-tempat yang salah dan sepertinya siap melepaskan diri dan membuat setiap orang muntah. Ia menghiasi wajahnya dengan senyum paling palsu yang pernah ia tunjukkan—namun tanpa kerut di mana pun karena Botox yang berlebihan—dan Myers balas tersenyum seakan mereka berdua akan jadi teman akrab selamanya, la menikam punggung menantunya dan lakilaki ha terlalu tolol untuk mengetahuinya. Sedihnya Barbara sendiri mungkin tidak mengetahuinya juga. Begitulah sifat sejati binatang buas. "Maukah kau berdansa?" seseorang bertanya pada Ridley. "Enyah sana," kata Clay, htiu ia memimpinnya ke lantai dansa di mana aerombongan orang bergoyang mengikuti irama musik Motown yang lumayan bagus, j Bila Ridley yang berdiri diam merupakan

karya seni, j maka Ridley yang bergerak adalah harta nasional. Ia I berdansa dengan irama alami dan keanggunan yang j mtth», ditambah gaun berpotongan leher pendek yang sekadar cukup tinggi dan belahan rok yang berkibaran terbuka untuk memperlihatkan berbagai bagian tubuh. Kerumunan laki-laki berkumpul untuk menonton. Dan Rebecca ikut menonton. Sambil beristirahat untuk bercakap-cakap dengan tamunya, ia memperhatikan hadirin dan memandang orang banyak, di sana ia melihat Clay berdansa dengan bidadari Ia pun tertegun melihat Ridley, tapi karena alasan lain. Ia meneruskan bercakap-cakap beberapa lama. lalu kembali ke lantai dansa. Sementara itu, mata Clay terus sibuk mengamati Rebecca tanpa selangkah pun ketinggalan irama dengan Ridley. Lagu im berakhir, lagu lain berirama lambat dimulai, dan Rebecca melangkah di antara mereka. "Halo, Clay," ia berkata tanpa menghiraukan teman kencannya. "Bagaimana kalau kita berdansa?" Tentu," katanya. Ridley mengangkat bahu dan bergeser menjauh, hanya sendirian selama satu detik sebelum kerumunan laki-laki mengepungnya. Ia memilih yang paling tinggi, melingkarkan lengannya, dan mulai bergoyang. "Aku tidak ingat bahwa aku mengundangmu." Rebecca berkata dengan lengan pada pundak Clay. "Kau ingin aku pergi?" Clay menariknya sedikit lebih rapat tapi gaun pengantin yang tebal im mencegah kontak yang ia inginkan. "Orangorang melihat," kata Rebecca, sambil tersenyum untuk mereka "Mengapa kau ke sini?" "Untuk merayakan pernikahanmu. Dan untuk melihat suami barumu im."

"Jangan jahat, Clay. Kau cuma cemburu." "Aku lebih dari cemburu. Aku ingin mematahkan lehernya." "Dari mana kau mendapatkan perampuan im?" "Sekarang siapa yang cemburu?" "Jangan khawatir. Rebecca, b tidak bisa menyc ruhmu di ranjang." Kalau dipikir lagi. harangk Rniley mgm melakukannya Tapi. "Aku sama sekait tidak ingin mendengar rentan itu. Pokoknya jangan sampai hamil, oke?" Itu sama sekait bukan urusanmu." "Itu sepenuhnya urusanku." Ridley dan pasangan dansanya melewati mereka Untuk pertama kalinya Clay bisa melihat jelas punggungnya, yang hampir seluruhnya kelihatan karena gaunnya terbuka sampai hanya beberapa inci di atas bokongnya yang bulat dan sempurna. Rebecca melihatnya juga. "Apakah namanya tercantum dalam daftar gaji karyawanmu?" ia bertanya. -Behm" "Apakah ia di bawah umur?" "Ok, tidak, ia benar-benar sudah dewasa Katakan padaku kau masih mencintaiku." "Aku tidak mencintaimu." "Kau bohong." "Mungkin sebaiknya kau pergi sekarang juga, dan bawalah ia denganmu." "Baiklah, ini pestamu. Aku tidak bermaksud merusak suasana." "Itulah satusatunya alasan kau ada di sini, Clay." j Rebecca menarik diri sedikit lebih menjauh tapi terus berdansa Tunggulah setahun, <**T kata Clay "Saat im aku I akan punya doa ratos juta Kita bisa naik jetku, meledakkan tempat ini, menghabiskan sisa hidup kita di mcht. Orangtuamu takkan pernah menemukan kita." Rebecca berhenti bergerak dan berkata, "Selamat tinggal, Clay." "Aku akan menunggu." Clay berkata, lalu tertabrak ke pinggir oleh Bennett yang berkata, "Maaf." Ia menyambar putrinya dan

menyelamatkannya dengan membimbingnya ke sisi lain lantai dans*. Barbara yang berikutnya. Ia memegang tangan Clay dan menebarkan senyum palsu. Tidak perlu ribut dan jadi tontonan orang," ia berkata tanpa menggerakkan bibir. Mereka mulai bergerak kaku, tak seorang pun bakal keliru menganggapnya sebagai dansa. Dan bagaimana kabar Anda Mrs. Van Horn?" Clay bertanya, dalam cengkeraman ular beludak. "Baik-baik saja, sampai aku melihatmu. Aku yakin k«u tidak diundang menghadiri pesta kecil ini." "Aku hendak pergi." "Bagus. Aku benci memanggil satpam" "Itu tidak perlu." "Jangan merusak suasana demi dirinya, kumohon." "Seperti tadi kukatakan. Aku sudah hendak pergi." Musik berhenti dan Clay tersentak menjauh dari Mrs. Van Horn. Rombongan kecil muncul mengitari Ridley, tapi Clay menuntunnya pergi. Mereka mundur ke belakang ruangan di mana ada bar yang menarik lebih banyak penggemar daripada band. Clay menyambar segelas bir dan sedang menyusun rencana keluar ketika serombongan penonton lain mengepung mereka. Gerombolan pengacara Im berbondong-bondong ingin bicara tentang Benangnya menangani gugatan massal sambil merapat kc Ridley. Sesudah beberapa menit basa-basi konyol dene orangorang yang ia benci, laki-laki muda ber perawakan tegap dalam tuxedo sewaan muncul * sebelah Clay dan berbisik. "Saya petugas keamanan" Ia memiliki wajah yang ramah dan tampak sangat "Aku hendak pergi," Clay balas berbisik. Diusir dan resepsi pernikahan Van Horn. Dilempar keluar dari Potomac Country Club yang megah.

Me- i ngemudikan mobil pergi dari sana. dengan Ridley meringkuk rapat padanya, ia diam-diam menyatakan itu adalah salah satu saat terindah baginya. 326 PeNGUMUMAN im mengatakan pengantin baru im akan berbulan madu di Meksiko. Clay sendiri memutuskan untuk bepergian. Kalau ada orang yang layak berlibur sebulan di pulau, maka dialah orangnya. Tim kerjanya yang dulu tangguh i m telah kehilangan arah. Mungkin gara-gara liburan, mungkin karena uangnya. Apa pun alasannya, Jonah, Paulette. dan Rodney makin sedikit menghabiskan waktu di kantor. Demikian juga Clay. Tempat itu dipenuhi ketegangan dan percekcokan. Begitu banyak klien Dyifot yang tidak puas dengan sedikitnya uang penyelesaian Perkara mereka. Surat-suratnya brutal. Mengelak dari telepon sudah jadi semacam permainan. Beberapa feuen berhasil menemukan tempat im dan menghadap Miss Glick dengan tuntutan menemui Mr. Carter, yang kebetulan selalu menghadiri persidangan besar di suatu tempat. Biasanya, ia duduk di dalam kantornya dengan pintii terkunci melewati badai lain. Sesudah suatu hari yang luar biasa meresahkan, ia menelepon Patton French untuk meminta nasib at "Tegarkan diri, Sobat" kata French. "Selalu begitu Persoalannya. Kau mendapat harta mehmpahdalam Perkara gugatan massal, inilah aan negattrhya. Me-rnang perlu kulit yang tebal." 327 Kulit paling tebal di biro hukum ¦ ini dimiliki 1 Oscar Mulrooney, yang terus mencengangkan Clay j dengan keterampilan organisasi dan ambisinya. ' Mulrooney bekerja lima belas jam sehari dan men- j dorong anak buahnya di Cabang

Yale untuk mengumpulkan uang Dyloft secepatnya. Ia siap menangani oigas-tugas . tak menyenangkan apa pun. Dengan Jonah yang tidak menyembunyikan rencananya untuk berlayar mengelilingi dunia, Paulette memberikan isyarat akan pergi ke Afrika selama satu tahun untuk belajar seni, dan Rodney mengikuti mereka dengan ocehan samar-samar untuk berhenti begitu saja, maka jelaslah bahwa tak lama lagi akan ada tempat kosong di jajaran puncak. Sama jelasnya bahwa Oscar berjuang secepatnya untuk menjadi partner, atau setidaknya memperoleh bagian. Ia mempelajari litigasi besar-besaran yang masih berkecamuk hebat terhadap Skinny Ben, pil diet yang jadi tak keruan, dan ia yakin sedikitnya masih ada sepuluh ribu kasus di luar sana yang masih belum diklaim, meskipun publisitas sudah berlangsung nonstop selama empat tahun. Cabang Yale kini punya sebelas pengacara, tujuh di antaranya benar-benar pernah kuliah di Yale. Sweatshop berkembang, mempekerjakan dua belas paralegal, semuanya terkubur dalam berkas dan dokumen. Clay sedikit pun tidak sangsi untuk menyerahkan tanggung jawab pengelolaan dua unit itu pada Mulrooney selama beberapa minggn. la yakin saat kembali nanti, kantor im akan lebih baik keadaannya daripada ketika ia pergi. A 328 Natal jadi perayaan yang dicoba diabaikannya, meskipun hal im sulit, la tak punya keluarga untuk merayakannya bersama-sama. Rebecca selalu berusaha keras menyertakannya dalam apa saja yang dilakukan keluarga Van Horn, namun meskipun menghargai usaha itu, ia mendapati bahwa duduk seorang diri di apartemen

kosong sambil minum anggur murah an dan menonton filmfilm lama di malam Natal jauh lebih menyenangkan daripada membuka kado bersama orang-orang itu. Di antara kado-kado yang pernah ia berikan, tak satu pun yang cukup baik di mata mereka. Keluarga Ridley masih di Georgia, dan kemungkinan akan tetap di sana. Pada mulanya, Ridley yakin ia tidak bisa mengatur kembali jadwal tugas modelingnya dan meninggalkan kota selama beberapa minggu. Namun tekadnya untuk melakukan hal im menghangatkan hati Clay. Ridley benar-benar ingin terbang dengan jet ke pulau-pulau im dan bermain dengannya di pantai. Ridley akhirnya mengatakan pada salah satu kliennya untuk tidak sungkan-sungkan memecatnya; ia tidak peduli. Ini perjalanan pertama Ridley dengan pesawat jet pribadi. Clay mendapati dirinya ingin membuat Ridley terkesan dengan berbagai cara. Terbang nonstop dari Washington ke St. Lucia, empat jam dan sejuta mil. Cuaca D.C. dingin dan kelabu ketika mereka meninggalkannya, dan ketika mereka melangkah turun dari pesawat, matahari dan hawa panas menerpa mereka dengan keras. Mereka berjalan melewati lari. grasi hampir tanpa ada yang melirik ke arah mereka, setidaknya tak ada yang diarahkan pada Clay. Kepala setiap laki-laki selalu menoleh untuk mengagumi Ridley. Anehnya, Clay jadi terbiasa dengannya Ridley sendiri seperti tak menyadarinya. Im sudah begitu lama jadi bagian hidupnya sehingga ia tak menghiraukan siapa pun, yang justru membuat mereka yang memelototinya jadi makin penasaran. Makhluk yang begitu indah, sempurna dari

kepala hingga kaki, tapi begitu tinggi, begitu tak tersentuh. Mereka naik pesawat penumpang menempuh perjalanan lima belas menit ke Mustique, pulau eksklusif yang dimiliki kaum kaya dan ternama pulau dengan segalanya kecuali landas pacu yang cukup panjang untuk pesawat jet pribadi. Bintang-bintang rock dan para aktris serta miliarder punya rumah besar di sana. Rumah mereka selama satu minggu ini dulunya milik pangeran yang menjualnya pada seorang dotcommer, orang kaya baru di dunia Internet, yang menyewakannya saat ia sendiri tak memakainya. Pulau itu gunung yang dikelilingi perairan Karibia yang tenang. Dari ketinggian tiga ribu kaki, ia tampak berwarna gelap dan rimbun, bak gambar pada kartu pos. Ridley mencari-cari dan berpegangan erat-erat saat mereka turun dan lapangan terbang kecil itu mulai kelihatan. Si pilot memakai topi anyaman dan mestinya bisa mendaratkan pesawat dengan mata ditutup. Marshall, si sopir/ kepala pelayan, sudah menunggu dengan senyum lebar dan Jeep terbuka. Mereka melemparkan tas-tas mereka yang agak ringan di belakang dan mulai menyusuri jalan yang berkelok-kelok. Tak 330 ada hotel, tak ada kondominium, tak ada turis, tak ada lalu lintas. Selama sepuluh menit mereka tak melihat kendaraan lain. Rumah itu terletak di sisi gunung, begitulah menurut Marshall, meskipun sebenarnya im cuma bukit. Pemandangannya sangat menakjubkan— dua ratus kaki di atas air dan bermil-mil lautan yang tak berujung. Tak ada pulau lain yang bisa dilihat: tak ada perahu di sana, tak ada orang. Ada empat atau lima kamar tidur, Clay tidak bisa menghitungnya

tersebar di sekeliling bangunan utama dan dihubungkan dengan jalan setapak berlapis tegel. Makan siang dipesan; apa pun yang mereka inginkan, sebab di sana ada koki tetap. Dan seorang tukang kebun, dua pengurus rumah, dan seorang kepala pelayan. Staf terdiri atas lima orang— ditambah Marshall—dan mereka semua tinggal entah di mana di tempat tersebut. Belum lagi mereka membongkar barang bawaan di suite utama Ridley sudah melucuti pakaian sampai nyaris tak memakai apa-apa dan masuk ke kolam renang. Topless, dan seandainya tidak memakai cawat kecil bertali yang nyaris tak terlihat, ia tentu sudah telanjang bulat Baru saja Clay merasa sudah biasa melihatnya tapi ia mendapati dirinya nyaris berkunangkunang. Ridley menutupi tubuhnya untuk makan siang. Hidangan laut segar, tentu saja—udang dan kerang panggang. Sesudah minum dua kaleng bir, Clay pun terhuyung-huyung ke ayunan untuk tidur siang. Besok malam Natal, dan ia tak peduli. Rebecca berada di hotel turis entah di mana, bermesraan dengan si kecil Jason. Dan ia tak peduli. Dua hari sesudah Natal, Max Pace tiba bersama seorang rekan. Namanya Valeria, wanita kekar, jenis yang suka pemajangan di luar rumah, dengan pundak lebar dan tanpa makeup, dengan senyum yang sangat enggan. Max adalah lelaki yang sangat tampan, tapi tak ada yang menarik pada temannya Mudah-mudahan Valeria tetap memakai pakaiannya di kolam renang. Ketika menjabat tangannya Clay merasakan kulit yang kapalan. Ah, setidaknya ia tidak akan jadi godaan bagi Ridley. Pace segera berganti memakai celana pendek dan

pergi ke kolam renang. Valeria memakai sepatu lars untuk hiking dan menanyakan trek untuk joging. Marshall harus dimintai keterangan, tapi ia mengatakan tidak tahu ada trek seperti itu. Tentu saja ini membuat Valeria tak senang tapi toh ia pergi juga mencari dinding karang untuk dipanjat. Ridley j menghilang ke dalam ruang duduk rumah utama, di mana ia punya setumpuk video untuk ditonton. Karena Pace tidak punya berita apa pun, maka tak banyak yang mereka bicarakan. Setidaknya, pada i mulanya Akan tetapi, tak lama kemudian jelaslah bahwa ia punya sesuatu yang penting dalam benak- j nya "Mari kita bicara urusan bisnis," ia berkata se-sudah tidur sebentar di bawah matahari. Mereka pindah k* bar dan Marshall membawakan minuman, j "Ada satu obat lagi di luar sana," Pace mulai, dan Clay langsung mulai melihat uang. "Dan ini besar" ] "Baiklah, kita malai lagi." 'Tapi kali ini rencananya sedikit berbeda. Aku ingin bagian." "Untuk siapa kau bekerja?" "Aku sendiri. Dan kau. Aku dapat dua puluh lima persen dari nilai kotor uang jasa pengacaranya." "Apa sisi positifnya?" "Ini bisa lebih besar daripada Dyloft." "Kalau begitu kau boleh ambil dua puluh lima persen. Lebih kalau kau mau." Mereka berdua sama-sama menyimpan begitu banyak rahasia busuk, bagaimana mungkin Clay menolak? "Dua puluh lima persen angka yang adil," Max berkata, dan mengulurkan tangan untuk berjabatan. Kesepakatan pun tercapai. "Mari kita tangani." "Ada obat hormon wanita bernama Maxatil. Digunakan sedikitnya empat juta wanita menjelang atau sesudah menopause, berusia antara empat puluh lima sampai tujuh puluh lima

tahun. Ia muncul lima tahun yang lalu sebagai obat ajaib lain. Obat ini meredakan serangan rasa gerah dan gejalagejala menopause lainnya. Sangat efektif. Ia juga digembar-gemborkan mampu mempertahankan kekuatan tulang, menurunkan hipertensi dan risiko penyakit jantung. Perusahaannya adalah Ooffman." "Goffman? Pembuat pisau cukur dan obat kumur?" "Benar. Nilai penjualannya tahun lalu mencapai dua puluh satu miliar dolar. Yang paling diminati di antara perusahaan-perusahaan bluechip. Utangnya sangat sedikit, manajemennya mantap. Tradisi Amereka lapi mereka agak terburu-buru dengan Maxatil. cerita biasa—labanya tampak sangat besar, obat itu kelihatan 333 ¦m-a uan mcrckj mendesakkannya ke FDA untuk mendapati» um P**nasaran dan selama beberan» tahun pertama semua pihak bahagia. Dokter m«s Wanita-wanita im jatuh cinta padang sebab oi a beberapa masalah. Masalah besar. Peli pemerintah mengamati dua puluh ribu ! memakai obat ini selama empat tahun. Penelitian im baru saja selesai, dan laporannya akan diumumkan beberapa minggu lagi. Hasil penelitian itu pasti mengguncang. Pada beberapa persen di antara para wanita itu. obat tersebut meningkatkan risiko kanker payudara, serangan jantung, dan stroke." "Berapa persen?" "Sekitar delapan persen." "Siapa saja yang tahu tentang laporan itu?" "Sangat sedikit Aku punya kopinya." "Mengapa aku tidak terkejut?" Clay minum dari botol bir dalam tegukan panjang dan melihat sekeliling mencari Marshall. Denyut nadinya terpacu Ia sekonyong-konyong bosan dengan Mustique. "Ada beberapa pengacara yang

mengamatinya, tapi mereka belum melihat laporan pemerintah itu," Pace meneruskan. "Ada gugatan yang sudah diajukan di Arizona, tapi itu bukan gugatan class action. " "Cuma kasus tuntutan ganti kerugian model kuno. Urusan sekali beres." "Sungguh membosankan." "Sama sekali tidak. Pengacaranya seseorang bernama Dale Mooneyham, dart Tucson. Ia menangani ih la kini perkara satu persatu, dan tidak pernah dalam jalur yang tepat sebagai orang pnramai yang akan membidik Gofi'man. Perkara ini bisa menentukan hitarn-putihnyt seluruh penyelesaian perkara. Kuncinya adalah jadi yang pertama dalam memasukkan gugatan class action. Kau sudah belajar soal itu dan Patton French." "Kita bisa jadi yang pertama memasukkan gugatan itu," Clay berkata, seolah sudah bertahun-tahun melakukannya. "Dan kau bisa melakukannya seorang diri, tanpa French dan bangsatbangsat itu. Masukkanlah gugatan-an di D.C, lalu hantam cepat dengan iklan Hasilnya akan besar." "Sama seperti Dyloft." "Kecuali bahwa kali ini kau yang bertanggung jawab. Aku akan berada di belakang layar, ikut mengatur kendali, membereskan pekerjaan kotornya. Aku punya banyak kontak dengan orang-orang yang tepat. Ini gugatan kita, dan dengan namamu di baliknya, Goftman pasti akan ketakutan." "Penyelesaian perkara secepatnya?" "Mungkin tidak secepat Dyloft, tapi kasus itu memang cepat luar biasa Kau harus mengerjakan pekerjaan rumahmu, mengumpulkan segala bukti, menyewa pakar-pakar, menggugat dokter-dokter yang selama ini meresepkan obat itu, mendorong kuat-kuat agar diadakan sidang

pertama. Kau harus meyakinkan Goffman bahwa kau tidak tertarik menyelesaikan perkara ini di luar pengadilan, bahwa kau menginginkan persidangan—«idang besar yang akan menarik perhatian umum di wilayahmu sendiri." 335 -Sisi rwgatifnya?" Chy bertanya, mencoba i&s kelihatan hati-hati. "Sejauh yang bisa kulihat, tidak ada. kecuali kau harus mengeluarkan biaya beberapa juta dolar untuk iklan dan persiapan sidang." 'Tidak ada masalah." "Kau sepertinya punya kecakapan istimewa untuk j menghamburkan uang." "Aku masih kelas teri." "Aku ingin uang panjar sebesar satu juta dolar. I Dipotong dari jatahku nanti." Pace minum seteguk. "Aku sedang membersihkan beberapa urusan lama di kandangku." Fakta bahwa Pace menginginkan uang dirasakan Clay sebagai sesuatu yang janggal. Akan tetapi, dengan begitu banyak yang dipertaruhkan, dan dengan rahasia Tarvan di antara mereka, ia tidak berada dalam posisi untuk menolak, "Setuju," katanya. Mereka tidur-tiduran di ayunan ketika Valeria kembali, basah kuyup oleh keringat dan kelihatan agak rileks, la menanggalkan seluruh pakaian dan melompat ke dalam kolam renang. "Gadis California," kata Pace hnh. "Ada hubungan serius?" Clay bertanya sepintas. • "Sudah putus-sambung selama beberapa tahun." mennrtuskan pembicaraan sampai di situ. daeL ivS California meminta santap malam tanpa nS atSS J***' -«P«S- la j«* lain. Acara tak'7 T*3?* ,km bakar untuk yang Ridley tak S malam itu selesai dengan cepa-^ ^ wbar untuk 1^ dan bersernbunyi * 336 kamarnya dan Clay sama tak sabarnya untuk menyingkir dari Valeria face dan temannya

tinggal selama dua hari, dan im sedikitnya sehari terlalu lama. Tujuan perjalanan itu sepenuhnya untuk bisnis, dan karena kesepakatan sudah dicapai maka Pace pun siap berlalu. Clay mengamati mereka melesat pergi, Marshall mengemudi lebih cepat daripada kapan pun. "Apakah ada tamu lain?" Ridley bertanya waswas. ".ft.paa.au ~ «Aduh, tidak," kata Clay "Bagus" 337 SeLURUH lantai di atas kantor hukumnya kosong menjelang akhir tahun. Clay menyewa setengahnya dan meng-konsohdasikan operasinya Ia memindahkan dua belas paralegal dan lima sekretaris dari Sweatshop ke sana; pengacara-pengacara dari Cabang Yale yang selama ini bekerja di tempat lain pun ditransfer ke Connecticut Avenue, ke tempat dengan sewa yang lebih tinggi, di mana mereka merasa lebih betah Ia ingin seluruh biro hukum itu berada di bawah satu atap. dan berada dekat kendali, sebab ia merencanakan mempekerjakan mereka semua sampai semaput. Ia menyerbu tahun baru. dengan jadwal kerja yang ganas— datang ke kantor pukul enam dan sarapan, makan siang, dan kadang makan malam di meja kerjanya. Ia biasanya tinggal di sana hingga pukul 20.00 atau 21.00, dan tak meninggalkan sedikit pun keraguan bahwa ia mengharapkan jadwal kerja yang serupa dari mereka yang ingin tinggal di biro hukum itu. Jonah tidak melakukannya. Ia pergi pada pertengahan Januari, kantornya dibersihkan dan dikosongkan, ucapan perpisahannya singkat saja. Kapal layar sudah menunggu. Tak usah repot-repot menelepon. Transfer saja uangnya lewat teleks ke rekening di Aruba. 338 Oscar Mulrooney mengukur kantor Jonah

sebelum ia keluar dari pintu. Ruangan itu lebih besar dan pemandangannya lebih baik, bukan sesuatu yang berarti baginya, tetapi letaknya lebih dekat ke kantor Clay dan itulah yang penting. Mulrooney mencium bau uang, dalam jumlah besar. Ia ketinggalan dalam kasus Dyloft, tapi ia takkan ketinggalan lagi. Ia dan seluruh anggota cabang Yale sudah tersisih dari dunia hukum korporasi yang dulu mereka dambakan, dan kini mereka bertekad melakukan pembalasan. Dan apakah cara yang terbaik selain menjaring dan menangani perkara obat-obatan? Tak ada yang lebih memuakkan bagi orang-orang pongah di birobiro hukum kaum berdarah biru itu. Litigasi gugatan massal bukanlah praktik hukum. Im bentuk wiraswasta yang licik. Playboy tua yang dulu menikahi Paulette Tullos dan kemudian meninggalkannya tampaknya mendapat kabar tentang uang yang baru saja diperolehnya Ia muncul di D.C, menelepon Paulette ke kondominium megah yang dulu ia hadiahkan, dan meninggalkan pesan pada mesin penjawab. Ketika Paulette mendengar suaranya ia bergegas meninggalkan rumah dan terbang ke London, di mana ia menghabiskan liburan dan terus bersembunyi. Ia berkali-kali mengirim e-mail kepada Clay sewaktu berada di Mustique, memberitahukan kesulitannya dan menginstruksikan bagaimana harus menangani perceraiannya saat Clay kembali. Clay memasukkan dokumen-dokumen yang diperlukan ke pengadilan, tapi lelaki Yunani itu tak bisa ditemukan. Paulette pun tidak. Ia mungkin akan kembali beberapa bulan lagi; mungkin 339 tidak. "Maaf. Clay," katanya di telepon. 'Tapi aki sungguh

tidak ingin bekerja lagi" Maka Mulrooney pun jadi tangan kanannya partna tak resmi dengan ambisi besar. Ia dan timnya mempelajari pergeseran peta litigasi class action. Mereka mempelajari undang-undang dan prosedurnya. Mereka membaca artikel-artikel ilmiah para akademisi, dan membaca kisah-kisah perang di pengadilan oleh para pengacara. Di Internet ada puluhan situs Web—ada yang bertujuan mendaftar semua gugatan class action yang saat ini masih belum diselesaikan di Amerika Serikat, seluruhnya ada sebelas ribu kasus; yang lainnya memberikan instruksi kepada para penggugat potensial bagaimana cara bergabung dalam gugatan semacam itu dan menerima uang ganti rugi; satu lagi mengkhususkan diri dalam gugatan yang berkaitan dengan kesehatan kaum wanita; lainnya lagi untuk kaum pria, beberapa mengenai pil diet Skinny Ben; beberapa lagi tentang gugatan kasus tembakau Tak pernah begitu banyak kepintaran, didukung begitu banyak uang, ditujukan ke pembuat produk-produk yang buruk. Mulrooney punya rencana. Dengan begitu banyaknya gugatan class action yang diajukan ke pengadilan, biro hukum ini bisa membelanjakan dananya untuk menjaring klien bani. Karena Clay punya uang untuk iklan dan pemasaran, mereka bisa memilih gugatan class action yang paling menguntungkan dan membidik penggugat-penggugat yang belum ditangani pengacara lain Mengenai kasus Dyloft, hampir setiap gugatan yang sudah diselesaikan dengan uang ganti rugi dibiarkan terbuka selama beberapa tahun agar 340 penggugat baru bisa mengumpulkan apa yang

menjadi nak mereka. Biro hukum Clay bisa saja mendompleng ketenaran pengacara-pengacara gugatan massal lain, mengumpulkan remah-remah, tetapi dengan uang jasa yang besar. Ia memakai Skinny Ben sebagai contoh. Jumlah penggugat potensial diperkirakan mencapai tiga ratus ribu orang, dengan kemungkinan seratus ribu lainnya masih tak teridentifikasi dan tentu saja belum diwakili pengacara mana pun. Litigasi im sudah diselesaikan perkaranya; perusahaan itu mencurahkan miliaran dolar. Penggugat hanya perlu mendaftar pada administrator class action, membuktikan catatan medisnya, dan mengambil uangnya. Seperti jenderal menggerakkan pasukan, Clay menugaskan dua pengacara dan seorang paralegal untuk menangani Skinny Ben. Ini tak sesuai dengan yang diminta Mulrooney, tapi Clay punya rencana lebih besar. Ia menggelar rencana perang terhadap Maxatil, gugatan hukum yang akan ia tangani sendiri. Laporan penelitian pemerintah itu, yang masih belum diumumkan dan jelas dicuri Max Pace, terdiri atas 148 halaman dan dipenuhi data yang menghancurkan. Clay membacanya dua kali sebelum memberikannya kepada Mulrooney. Pada suatu malam bersalju di akhir bulan Januari, mereka bekerja hingga lewat tengah malam, lalu menyusun rencana terperinci untuk melancarkan serangan. Clay menugaskan Mulrooney dan dua pengacara lain, dua paralegal, dan tiga sekretaris untuk menangani litigasi Maxatil. Pada pukul dua dini hari, dengan salju yang turun lebat memukul-mukul jendela ruang rapat, Mulrooney 341 berkala ada sesuatu yang tak menyenangkan yan hendak

ia bicarakan. "Kita butuh uang lebih banyak. "Berapar tanya Clay. "Sekarang kita bertiga belas, semuanya dari biro biro hukum besar di mana kami mendapat imbalan cukup. Sepuluh di antara kami sudah menikah, kebanyakan punya anak. kami mulai merasakan tekanannya Clay. Kau memberi kami kontrak satu tahun dengan imbalan tujuh puluh lima ribu dolar, dan, percayalah padaku, kami senang menerimanya Kau tidak tahu bagaimana rasanya kuliah di Yale, atau universitas seperti itu, dijamu biro-biro hukum besar, mendapat pekerjaan, menikah, lalu dilempar begitu saja ke jalan tanpa apa-apa Melukai ego kami, kau tatar "Aku mengerti." "Kau sudah menaikkan gajiku dua kali lipat dan aku menghargainya lebih daripada yang kau tahu. Aku cukup. Tapi yang lain harus berkutat. Dan mereka orang-orang yang sangat memegang harga diri." "Berapar "Aku tidak ingin kehilangan siapa pun di antara mereka. Mereka orangorang yang cemerlang. Mereka bekerja mati-matian/' "Mari kita selesaikan seperti ini, Oscar. Aku orang yang sangat murah hati belakangan ini. Akan kuberi kalian semua kontrak baru selama satu tahun dengan gaji dua ratus ribu. Sebagai imbalan, aku akan mendapatkan jam kerja lebih banyak. Kita sekarang berada di ambang sesuatu yang besar, jauh lebih besar I daripada tahun Mu. Kalian berikan basilnya, dan ASL k i aku akan berikan bonus. Bonus besar. Aku suka bonus, Oscar, karena alasan yang jelas. Setuju?" "Baiklah, Chief." Salju turun terlalu lebat untuk mengemudi di jalan, jadi mereka meneruskan kerja maraton itu. Clay punya laporan awal tentang perusahaan

di Rcedsburg. Pennsylvania, yang membuat semen yang tidak sempurna. Wes Saulsberry memberikan berkas rahasia yang ia sebutkan di New Y dulu. Semen perekat ork bata tidaklah begitu menarik seperti tumor kandung kemih atau gumpalan darah atau klep jantung bocor, tapi toh uangnya sama hijau: Mereka menugaskan dua pengacara dan seorang paralegal untuk menyiapkan gugatan class action dan pergi mencari penggugat. Selama sepuluh jam penuh mereka bersama-sama di ruang rapat itu, meneguk kopi, makan bagel basi, menyaksikan hujan salju berubah menjadi badai, menyusun rencana tahun itu. Meskipun awalnya dimulai sebagai pertukaran gagasan, sesi im berubah jadi sesuatu yang jauh lebih serius. Biro hukum baru mulai terbentuk, biro hukum dengan gagasan jelas akan pergi ke mana dan apa yang ingin dicapai. Presiden membutuhkannya! Kendati pemilihan umum masih dua tahun lagi, lawan-lawannya sudah mulai mengumpulkan uang. Ia tetap teguh berpihak pada para pengacara sejak masih menjadi senator baru, h dulu litigator kota kecil, dan masih membangga343 k arm ya. dan ia fcmi butuh bantuan Clay untuk menangkis minat egois bisnts-bisnts besar Wahana yang diusulkannya untuk mengenai Clay secani pribadi adalah apa yang dinamakan Presidential Renew, kelompok pengacara terkemuka dan pimpinan serikat pekerja yang bisa menubs cek dalam jumlah besar dan melewatkan waktu untuk berbincang. Musuh-musuh sedang merencanakan serangan besar yang dinamai Tort Reform Now—Reformasi Peraturan Ganti Rugi. Mereka ingin menentukan batasan penggantian kerugian aktual maupun

punitif dalam gugatan. Mereka ingin membongkar sistem gugatan class actum yang selama ini membantu mereka (para pengacara gugatan massal itu) dengan begitu baik. Mereka ingin mencegah orang menggugat dokter. Presiden akan berdiri teguh, seperti biasanya, tetapi ia tentu saja buruh bantuan Surat tiga halaman dengan kop bertinta emas yang indah itu diakhiri dengan permintaan dana. dalam jumlah yang tidak sedikit Clay menelepon Patton French, yang anehnya kebetulan berada di kantornya di Biloxi. French bicara lugas, seperti biasa. Tulis cek keparat itu," katanya. Pembicaraan telepon berlangsung bolak-balik antara Clay dan Direktur Presidential Review. Sesudah itu, ia tidak ingat lagi berapa banyak yang mula-mula ingin disumbangkannya tapi jelas sama sekali tidak mendekati angka $250.000 yang akhirnya ia tulis. Kurir mengambil dan mengantarnya ke Gedung Putih. Empat jam kemudian, kurir lam mengantarkan amplop sees) dari Gedung Putih kepada Clay. Catatan im berisi tulisan tangan pada* kartu korespondensi Presiden: Dear Clay: Aku sedang dalam rapel Kabinet («Bantal berusaha agar tetap terjaga), kasau tidak akn tentu sudah menelepon. Terima kasih .u.i-, dukungannya Nt.in kita makan malam bersama dan berbincang-bincang. Ditandatangani Presiden. Menyenangkan, tapi untuk seperempat juta dolar ia tidak mengharapkan kurang dari itu. Keesokan harinya kurir lain mengirimkan undangan tebal dan Gedung Putih. Stempel HARAP DIBALAS SECEPATNYA tertera di bagian luar. Clay dan para tamu diminta menghadiri jamuan makan

malam resmi untuk menyambut Presiden Argentina. Dengan jas dan dasi. tentu saja RSVP segera sebab acara ini hanya empat hari lagi. Sungguh mencengangkan apa yang bisa dibeli dengan $250.000 di Washington. Ridley, tentu saja perlu gaun yang pantas, dan karena Clay yang membayar, maka Clay pergi berbelanja bersamanya. Dan ia melakukannya tanpa mengeluh sebab ingin memberi beberapa masukan mengenai apa yang akan dipakai wanita im. Kalau tidak diawasi, Ridley bisa-bisa akan mengejutkan orang-orang Argentina itu dan semua yang lainnya dengan kain tembus pandang dan belahan rok hingga pinggang. No sir. Clay ingin melihat pakaian itu sebelum Ridley membelinya. Tapi sungguh mengejutkan bahwa Ridley ternyata sederhana saja dalam selera dan harga. Segala hal tampak indah pada dirinya: lag' Pu,a « J* <»°dcl-Spun sepertinya ia makin lama mak,n jarang l Rid|cy akhirnya memilih gaun merah yang indah tapi sederhana dan memamerkan lebih sedik kulitnya daripada yang biasa ia lakukan. Denga harga $3.000. gaun im lumayan murah. Sepatu, kaluti; mutiara kecik gelang emas dan berlian, dan Clai pun selamat dengan pengeluaran di bawah $15.000. Duduk di dalam limusin di luar Gedung Putih, menunggu orang-orang di depan mereka diperiksa segerombolan penjaga Ridley berkata "Sungguh tak bisa kupercaya aku melakukan hal ini. Aku, gadis miskin dari Georgia pergi ke Gedung Putih." Ia berada dalam pelukan tangan kanan Clay. Tangan Clay menumpang di pahanya. Aksen Ridley jadi lebih tegaa yang terjadi saat ia resah. "Sulit dipercaya" kata Clay, perasaannya sendai cukup

bergelora. Ketika mereka keluar dan limo, di bawah awning Sayap Timur, seorang Marinir berseragam parade menggandeng lengan Ridley dan mengawal mereka menuju Ruang Timur Gedung Putih, di mana para tamu berkumpul dan menikmati minuman. Clay mengikuti, sambil mengamati sosok Ridley dari belakang, menikmati setiap detik. Marinir im dengan enggan melepaskannya, dan pergi untuk menjemput orang lain. Fotografer memotret mereka. Mereka bergerak ke kelompok pertama yang sedang bercakap-cakap dan memperkenalkan diri kepada orang-orang yang takkan pernah mereka jumpai lagi. Makan malam diumumkan, dan para tamu pindah ke Ruang Jamuan Makan, di mana lima belas meja j untuk sepuh* orang diatur rapat dan dipenuhi j porselen, perak, dan kristal lebih daripada yang pernah dikumpulkan di satu tempat. Tempat duduk sudah 346 diatur sebelumnya, dan tak seorang pun duduk di sebelah pasangan atau tamunya. Clay mengantar Ridley ke mejanya, menemukan tempat duduknya, membantunya duduk, lalu mencium pipinya dan berkata "Semoga berhasil." Ridley melontarkan senyum model, berseri-seri dan penuh percaya dm. tapi Clay tahu ia saat ini cuma gadis kecil dan Georgia yang sedang ketakutan. Belum lagi Clay menjauh sampai tiga meter, dua laki-laki sudah menghampiri Ridley, menjabat tangannya dengan perkenalan yang sangat hangat. Clay sudah siap untuk malam yang panjang. Di kanannya duduk ram masyarakat dari Manhattan, perempuan keriput yang begitu lama membiarkan diri kelaparan hingga tampak seperti mayat. Ia tuli dan berbicara dengan suara keras. Di

sebelah kirinya ada putri konglomerat pemilik mal dari Midwestern yang dulu kuliah bersama Presiden. Clay mengalihkan perhatian padanya dan dengan susah payah membuka percakapan sebelum menyadari bahwa perempuan itu tak punya apa pun untuk dibicarakan. Jam berhenti bergerak. Clay membelakangi Ridley; ia tidak tahu bagaimana keadaan wanita itu. Presiden berbicara, lalu makan malam dihidangkan. Penyanyi opera di seberang Clay mulai merasakan pengaruh anggur yang diminumnya dan mulai menceritakan lelucon-lelocon jorok. Pria itu bicara dengan suara keras dan aksen sengau daerah pegunungan entah di mana. dan sama sekati tidak sungkan-sungkan menggunakan kata-kata jorok di depan wanita bahkan di Gedung Putih. 347 Tiga jam sesudah ia duduk. Clay akhirnya berdiri dan mengucapkan selamat tinggal pada semua teman barunya yang hebat im. Makan malam selesai; band sedang menyetem alat musik di belakang Ruang Timur. Ia menyambar Ridley dan mereka beranjak ke sana untuk menikmati musik. Tak lama menjelang tengah malam, saat orang-orang makin sedikit hingga tinggal beberapa lusin. Presiden dan Ibu Negara bergabung dengan orang-orang yang lebih ceria itu untuk berdansa. Ia tampak benar-benar senang bertemu Mr. Clay Carter. "Aku sudah membaca ulasan pers tentang kau. Nak. bagus," katanya. Terima kasih, Mr. President," "Siapa si manis im?" Teman." Apa akan dilakukan kaum feminis seandainya mereka tahu Presiden memakai kata si manis? "Boleh aku berdansa dengannya?" Tentu saja Mr. President." Dan dengan itu, Ms. Ridai Petashnakol,

mantan mahasiswi program pertukaran pelajar dari Georgia berusia 24 tahun, dipegang, dipeluk rapat, dan berkenalan dengan Presiden Amerika Serikat. 27 __. IENGIR1MAN pesawat Gulfstream 5 membutuhkan paling sedikit 22 bulan sejak pemesanan, mungkin lebih lama lagi, tapi itu bukanlah halangan terbesar. Harga terakhirnya $44 juta, tentu saja dilengkapi segala perangkat dan mainan terbaru, itu harga yang terlalu mahal, meskipun Clay benar-benar tergoda. Si pialang menerangkan bahwa pesawat G-5 terbaru biasanya dibeli pemsahaanperusahaan besar dengan kekayaan miliaran dolar yang memesan dua atau tiga sekaligus dan terus menerbangkannya. Tawaran yang lebih baik untuknya, sebagai pemilik tunggal, adalah melakukan sewa beli pesawat yang sedikit lebih tua untuk jangka waktu, katakanlah, enam bulan, untuk memastikan itulah yang ia inginkan. Kemudian ia bisa membelinya, dengan harga jual dipotong 90 persen uang sewa yang telah dibayarkan. Si pialang punya pesawat yang tepat. Model G-4 SP (Special Performance) tahun 1998 yang baru saja ditukar tambah salah satu perusahaan dalam daftar Fortune 500. Ketika Clay melihatnya berdiri anggun di landasan bandara Reagan National, jantungnya serasa melompat dan denyut nadinya makin cepat. Warnanya putih salju, dengan garisgaris biru muda 349 yang anggun. Pans dalam enam jam. London lima jam. la naik bersama si pialang. Kalau pesawat itu satu inci lebih kecil daripada pesawat G-5 milik Patton French, maka Clay tidak bisa merasakannya. Di mana-mana ada kulit asli. kayu mahoni, dan kuningan.

Ada dapur. bar. dan kamar kecil di belakang; perangkat avionik terbaru di depan untuk pilotnya. Sofa yang bisa dibuka menjadi ranjang, dan sepintas ia membayangkan Ridley, mereka berdua di balik selimut pada ketinggian empat ribu kaki. Sistem stereo, video, dan telepon yang canggih. Faks, PC, akses ke Internet Pesawat im kelihatan seperti baru, dan si wiraniaga menjelaskan bahwa pesawat tersebut baru saja keluar dari pabriknya di mana bagian luarnya dicat ulang dan interiornya diperbaharui. Ketika didesak, ia akhirnya berkata "Ini jadi milik Anda dengan harga tiga puluh juta." Mereka duduk di meja kecil dan memulai transaksi. Gagasan untuk melakukan sewa beli perlahan-lahan menguap ke luar jendela. Dengan pemasukan Clay, ia tidak akan mendapat kesulitan untuk memperoleh paket pendanaan yang menarik. Uang cicilannya hanya $300.000 sebulan, cuma sedikit lebih tinggi daripada pembayaran sewa Dan setiap saat kalau Clay ingin tukar tambah, si broker akan mengambil- ] nya kembali untuk ditawarkan pada pasar yang memberikan nilai tertinggi, dan menyediakan apa pun j yang ia inginkan. Dua pilot memerlukan biaya $200.000 setahun, termasuk tunjangan tahunan, pelatihan, apa saja Clay i 350 bisa mempertimbangkan untuk mendaftarkan pesawat im sebagai pesawat perusahaan carter. Tergantung berapa banyak Anda memakainya Anda bisa memperoleh penghasilan sejuta dolar setahun dengan menyewakannya," kata si pialang, bergerak menutup transaksi Itu akan menutup biaya pilot, sewa hangar, dan pemeliharaan." 'Tahu kira-kira berapa banyak aku akan

memakainya?" Clay bertanya otaknya berputar dengan berbagai kemungkinan. "Saya sudah menjual banyak pesawat kepada pengacara," si wiraniaga berkata mengingat-ingat riset yang tepat. Tiga ratus jam setahun adalah angka maksimal. Anda bisa menyewakannya dua kali lipat jumlah im." Wah, pikir Clay. Benda ini mungkin bisa benar-benar menghasilkan pemasukan. Ada suara mengingatkan untuk berhati-hati, tapi mengapa menunggu? Dan kepada siapakah ia bisa berpaling untuk mendapatkan nasihat? Kenalannya yang memiliki pengalaman dalam soal im adalah teman-temannya sesama pengacara gugatan massal, dan mereka masingmasing akan mengatakan, "Kau belum punya pesawat jet sendiri? Belilah!" Maka ia pun membelinya. Penghasilan Goffman pada kuartal keempat meningkat Iri tahun sebelumnya dengan tingkat penjualan me-mecahka^ rekor. Harga sahamnya mencapai $65; 351 angka tertinggi dalam dua tahun. Dimulai dari minggu rxnarna bulan Januari, perusahaan tersebut meluncurkan kampanye iklan di luar kebiasaan, yang bukan mempromosikan satu di antara banyak produknya, tetapi perusahaan itu sendiri. "Gofrman selalu setia," demikianlah slogan dan temanya, dan setiap iklan televisi diisi berbagai montase tayangan produk terkenal yang digunakan untuk menenangkan dan melindungi Amerika: ibu menempelkan plester pada luka putranya yang masih kecil; lelaki muda tampan dengan perut datar, bercukur dan menikmatinya; pasangan yang sudah beruban bersenang-senang di pantai, bebas dari wasir; pelari yang kesakitan, meraih obat penahan sakit;

dan seterusnya. Daftar produk konsumen tepercaya yang diproduksi Goffman sangatlah panjang. Mulrooney mengamati perusahaan itu lebih cermat daripada analis saham, dan ia yakin kampanye iklan itu. tak lain tak bukan adalah cara untuk mempersiapkan investor dan konsumen menghadapi guncangan Maxatil. Risetnya menemukan bahwa tak pernah ada pesan "feel-good" lain dalam sejarah pemasaran Goffman. Perusahaan itu adalah saru di antara pengiklan paling top di negeri ini, tapi biasanya selalu mencurahkan uangnya untuk produk tertentu pada masa tertentu, dengan hasil yang luar biasa. Max Pace, yang tinggal di Hotel Hay-Adams, juga sependapat. Clay mampir ke suite-nya untuk makan malam bersama, makan malam yang dipesan dari layanan kamar. Pace resah dan tak sabar untuk menjatuhkan bom pada Goffman. Ia membaca revisi terakhir gugatan clcui actum yang akan dimasukkan di pengadilan D.C Seperti biasanya, ia menuliskan catatan di pinggirnya. "Apa rencananya?** ia berkata, mengabaikan makanan dan anggurnya. Clay tidak mengabaikan makanannya. "Iklannya akan dimulai pukul delapan pagi," ia berkata dengan mulut penuh daging sapi muda. "Serangan mendadak di delapan wilayah pasar, dari Pantai Timur ke Barat. Sambungan hot line sudah dipasang. Situs Web sudah siap. Biro hukumku yang kecil ini telah siaga. Aku akan berjalan kaki ke pengadilan sekitar pukul sepuluh dan memasukkan gugatan itu sendiri" "Kedengarannya bagus." "Kita pernah melakukannya. Kantor Hukum J. Clay Carter II adalah mesin gugatan massal, terima kasih banyak." 'Teman-teman barumu im

tidak tahu-menahu tentang ini?" Tentu saja tidak. Mengapa aku harus memberi tahu mereka? Kami memang bekerja sama dalam perkara Dyloft, tapi French dan orang-orang im juga pesaingku. Aku dulu membuat mereka terguncang, aku akan buat mereka terperanjat sekarang. Aku sudah tak sabar." "Ini bukan Dyloft, ingat im. Waktu im kau beruntung karena menohok perusahaan yang lemah pada saat yang tak menguntungkan mereka. Goflman akan jauh lebih tangguh." Pace akhirnya melemparkan berkas gugatan im ke bufet dan duduk untuk makan. Tapi mereka membuat obat yang buruk," Clay berkata. "Dan orang tidak akan maju ke pengadilai dengan obat semacam im." 'Tidak dalam gugatan class action. Sumber-sumberku mengatakan Goffman mungkin ingin membawa kasus di Flagstaff itu ke persidangan karena hanya ada satu penggugat tunggal." "Kasus Mooneyham?" "hu dia Kalau mereka kalah, mereka akan bersikap lebih lunak dalam merundingkan penyelesaian perkara lewat penggantian uang kerugian. Kalau mereka menang, maka ini bisa jadi pertarungan panjang." "Kau pernah mengatakan Mooneyham tidak pernah kalah." "Selama dua puluh tahun atau lebih. Juri menyukainya. Ia memakai topi koboi, jaket kulit, sepatu bot merah, dan semacam itulah. Mengingatkan orang pada zaman ketika pengacara benarbenar menyidangkan kasus mereka. Benar-benar kerja keras. Kau harus pergi menemuinya. Itu layak dilakukan." "Aku akan cantumkan itu dalam daftar tugasku." j Gulfstream itu hanya bertengger di hangar, tak sabar | untuk terbang. Telepon berdering dan Pace menghabiskan

lima menit dalam pembicaraan dengan suara lirih di sisi lain state. "Valeria" katanya ketika ia kembali ke meja. Clay sepintas membayangkan makhluk tanpa , jenis kelamin itu menggerogoti wortel. Max yang malang. Ia bisa memilih yang jauh lebih baik. Clay tidur di kantor. Ia menambahkan kamar tidur kecil dan kamar mandi di sebelah ruang rapat. Ia I sering bekerja hingga lewat tengah malam, lalu tidur beberapa jam sebelum mandi cepat-cepat, dan kembali j I af%. L ' ke meja kerja pada pukul enam. Kebiasaan kerjan itu jadi legenda bukan saja di biro hukumnya sendiri, tapi sampai di seluruh penjuru kota juga. Banyak gosip di kalangan hukum tentang dirinya, setidaknya untuk saat ini, dan kebiasaanya bekerja enam belas jam sehari sering dilebih-lebihkan sampai delapan belas atau dua puluh jam oleh orang-orang di bar atau pesta. Dan mengapa tidak bekerja siang-malam? Ia baru 32 tahun, masih lajang, tanpa kewajiban serius yang menyita waktunya. Lewat keberuntungan dan sedikit kepintaran ia diberi peluang unik untuk meraih keberhasilan seperti Sedikit orang lain. Mengapa tidak mencurahkan seluruh tenaga pada biro hukumnya ini selama beberapa tahun, lalu bubarkan semuanya dan pergi bermain sepanjang sisa hidupnya? Mulrooney tiba tak lama setelah pukul enam, sudah berbekal empat cangkir kopi di dalam perutnya dan seratus gagasan di dalam kepala. "Hari H?" ia bertanya ketika menerobos ke kantor Clay. "Hari H!" "Mari kita hajar mereka!" Pada pukul tujuh, tempat im penuh para associate dan paralegal yang asyik mengamati jam, menunggu invasi im. Para sekretaris

membawa kopi dan bagel dari kantor ke kantor. Pukul delapan, mereka berkumpul di ruang rapat dan menonton TV layar lebar. Afiliasi ABC untuk metro D.C. menayangkan Man pertama: Seorang wanita menarik berumur awal enam puluhan, rambut pendek kelabu yang dipotong rapi, berkacamata 355 tawan desainer, duduk di balik meja dapur kecil, menerawang sedih ke luar jendela. Suara narasi [terdengar menakutkan]: "Bila selama ini Anda memakai obat hormon wanita Maxatil. Anda mungkin berisiko lebih tinggi mengidap kanker payudara, penyakit jantung, dan stroke." Sorotan lebih dekat ke tangan si wanita: di atas meja, gambar close-up botol pil dengan tulisan MAXATIL dalam huruf tebal. (Gambar tengkorak dan tulang bersilang tak mungkin lebih mengerikan dari ini.) Suara: "Segeralah berkonsultasi dengan dokter Anda. Maxatil mungkin menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan Anda." Chse-up wajah wanita itu, lebih sedih lagi sekarang lalu matanya jadi basah. Suara: "Untuk infonnasi lebih lanjut hubungi Maxatil Hot Line." Nomor telepon berawalan 800 tampak di dasar layar. Gambar terakhir, si wanita menanggalkan kacamata dan menyeka setitik air mata dari pipi. Mereka bertepuk tangan dan bersorak seolah uangnya akan segera dikirimkan dengan kurir. Kemudian Clay mengirim mereka semua ke pos mereka, untuk duduk di dekat telepon dan mulai mengumpulkan klien. Dalam beberapa menit, telepon mulai berdatangan. Tepat pukul sembilan, seperti dijadwalkan, kopi berkas gugatan im dikirim lewat faks ke redaksi berbagai surat kabar dan stasiun-stasiun televisi

kabel khusus berita finansial. Clay menelepon teman lamanya di The Wall Street Journal dan membocorkan kabar tersebut. Ia mengatakan ia mungkin mempertimbangkan wawancara satu atau dua hari lagi. Perdagangan saham Goffman dibuka pada angka $65 tetapi langsung merosot karena berita gugatan Maxatil di DC. Clay membiarkan dirinya difoto 356 wartawan setempat sewaktu ia memasukkan gugatan tersebut di pengadilan. Siangnya, saham Goffman anjlok ke $61. Perusahaan itu buru-buru merilis pernyataan pers yang dengan teguh menyangkal Maxatil menimbulkan segala hal mengerikan yang dituduhkan tanpa dasar dalam gugatan itu. Mereka akan membela kasus im mati-matian. Patton French menelepon saat "makan siang". Clay sedang makan sandwich sambil berdiri di belakang meja kerja dan memandangi pesan telepon yang terus menumpuk. "Kuharap kau tahu apa yang kaulakukan," French berkata curiga. "Aduh, aku pun berharap begitu, Patton. Apa kabar?" ggr-V 'Hebat. Kami sudah enam bulan yang lalu mengamati Maxatil cermat-cermat. Kami putuskan untuk membiarkannya. Membuktikannya sebagai penyebab kanker akan jadi masalah serius." Clay meletakkan sandwich-nya dan mencoba bernapas. Patton French menolak suatu gugatan massal? la membiarkan saja gugatan dass action terhadap salah satu korporasi paling kaya di negeri ini? Clay tersadar tak ada yang diucapkan, jeda percakapan yang terasa menyesakkan. "Well, uh, Patton, kami melihat persoalan dengan cara yang berbeda." Ia mengulurkan tangan ke belakang, mencari-

cari kursi. Akhirnya ia menjatuhkan diri ke sana. "Sebenarnya, setiap orang membiarkannya, sampai kau Saulsberry, Didier, Carlos di Miami. Ada satu nencacara di Chicago yang punya beberapa kasus. J, a belum mengajukan gugatan resmi ke pengadilan. Entahlah, aku tidak tahu, mungkin kau benar Cuma kami tidak melihat peluangnya, itu saja." French memancing informasi. "Kami punya data bagus tentang mereka." kata Clay. Laporan penelitian pemerintah itu! itu dia? Clay memilikinya dan French tidak. Akhirnya, tarikan napas panjang, dan darah mulai terpompa lagi. "Kau sebaiknya benar-benar menyiapkannya. Clay. Orang-orang ini sangat hebat. Mereka membuat si Wicks tua dan orang-orang di Ackerman tampak sepera anak-anak pramuka." "Kau kedengarannya ketakutan, Patton, aku sung"Sama sekali tidak takut. Tapi kalau sampai ada satu lubang saja dalam teorimu tentang tanggung jawab mereka, maka mereka akan menelanmu hidup-hidup. Dan, jangan pernah berpikir akan mencapai penyelesaian perkara secepatnya di luar pengadilan." "Apakah kau akan ikut?" "tidak. Aku tidak menyukainya enam bulan yang lalu, dan tetap tak menyukainya sekarang. Ditambah lagi, aku masih punya banyak besi panas yang harus segera ditempa. Selamat" Clay menutup dan mengunci pintu kantornya. Ia berjalan ke jendela dan berdiri di sana paling sedikit lima menit sebelum merasakan kemejanya yang dingin lembap menempel ke punggungnya. Kemudian ia menyeka kening dan mendapati butiran-butiran keringat. judul berita di koran Daily Profit itu bagai menjerit: seratus juta DOLAR

BUSUK TIDAKLAH cukup. Dan segalanya jadi makin buruk sesudah itu. Cerita itu dimulai dengan alinea singkat tentang gugatan "tak keruan" yang dimasukkan ke pengadilan D.C. terhadap Goffman, salah satu perusahaan pembuat produk konsumen terbaik di Amerika. Maxatil, obatnya yang bagus itu, telah menolong kaum wanita yang jumlahnya tak terhitung untuk menjalani masa menopause, tapi kini obat itu diserang ikan-ikan hiu yang sama dengan yang telah membangkrutkan A.H. Robins, Johns Manville, Owens-Illinois, dan praktis seluruh industri asbes Amerika. Cerita itu mulai memanas ketika sampai pada si hiu pemimpinnya, jagoan muda dan kurang ajar dari D.C. bernama Clay Carter yang, menurut sumber-sumber mereka, tak pernah mengikuti sidang gugatan perdata di hadapan juri. Namun demikian, tahun lalu ia berhasil meraup $100 juta lebih dalam lotre gugatan massal. Jelaslah bahwa si reporter punya sumber-sumber tetap yang dapat dipercaya. Yang pertama adalah eksekutif pada Kamar Dagang AS. yang mencerca segala gugatan pada umumnya dan pengacara-pengacara pada khususnya. "Para Clay Carter lain di dunia hanya akan mengilhami orang-orang lain untuk mengajukan gugatan mengada-ada ini. Ada sejuta pengacara di negeri ini. Bila seseorang tak dikenal seperti Mr. Carter dapat memperoleh uang begitu banyak dalam waktu begitu cepat, maka tak ada saru pun perusahaan yang aman." Dosen hukum pada universitas yang tak pernah didengar Clay berkata» "Orang-orang ini tak kenal kasihan. Keserakahannya luar biasa, dan karena itu mereka

akhirnya akan mencekik mati angsa bertelur emas." Seorang anggota Kongres bermulut besar dari Connecticut memanfaatkan kesempatan untuk mendesak diterimanya perombakan undang-undang gugatan yang La rancang. Akan ada berbagai sidang komite, dan Mr. Carter mungkin akan dipanggil untuk memberikan kesaksian di depan Kongres. Sumber-sumber di dalam Goffman yang tak disebutkan namanya mengatakan perusahaan itu akan membela diri mati-matian, bahwa ia tidak akan menyerah pada pemerasan class action, dan bahwa pada saat yang tepat ia akan menuntut ganti pembayaran untuk biaya penasihat hukum dan litigasi karena klaim yang keterlaluan dan mengada-ada ini. Saham perusahaan itu sudah anjlok sebelas persen, modal investor sebesar $2 miliar hilang, semua gara-gara kasus hasil rekayasa ini. "Mengapa para pemegang saham Goffman tidak menuntut orang-orang seperti Cby Carter?" tanya si profesor dari tekolah hukum tak dikenal itu. Artikel itu sungguh berat antuk dibaca, tapi Clay tentu saja tidak bisa mengabaikannya. Tajuk di Investment Time» mengimbau Kongres untuk secara serius mempertimbangkan reformasi litigasi. Tajuk itu pun panjang-lcbar menyoroti fakta bahwa Mr Carter muda berhasil menangguk kekayaan luar biasa dalam waktu kurang dari setahun. Ia tak lebih hanyalah "tukang peras" dengan jarahan yang hanya akan mengilhami pengacarapengacara jalanan untuk memperkarakan setiap orang yang dilihatnya. Julukan "tukang peras" itu melekat beberapa hari di kantor, untuk sementara waktu menggantikan julukan "Sang Raja". Clay tersenyum dan

berlagak seolah itu pujian, "Setahun yang lalu tak ada seorang pun yang bicara tentang diriku," bualnya. "Kini. mereka tidak pernah merasa cukup." Namun di balik pintu kantor yang terkunci ia merasa cemas dan resah dengan ketergesaannya menggugat Goffman. Fakta bahwa rekanrekan sesama pengacara gugatan massal tidak ikut merubung terasa sangat menyesakkan hati. Buruknya pemberitaan pers menggerogoti perasaannya. Sejauh ini, belum ada seorang pun yang membelanya. Pace menghilang, bukan sesuatu yang luar biasa, tapi Clay sama sekali tidak menginginkannya saat ini. Enam hari sesudah memasukkan gugatan ke pengadilan, Pace mengecek dari California. "Besok adalah hari besar," katanya. "Aku butuh kabar baik," kata Clay. "Laporan pemerintah itu." .__ «Tidak bisa kupastikan." jawab Pace Dan jangan ada lagi pembicaraan telepon. Mungkin ada yang j Lrkan Aku akan menjelaskan begitu ada di mendengarkan. a*« kota. Nanti." mendengarkan? Di sebelah Mungkin ada yang mana—Clay atau Pace? Dan siapakah orangnya Lenyaplah lagi kesempatan tutur malam. Penelitian Ameni-an Council on Aging itu awalnyi dirancang untuk menguji dua puluh ribu wanita antara usia 45 sampai 75 tahun selama jangka waktu tujuh tahun. Kelompok itu dibagi dua sama rata, dengan kelompok pertama diberi satu dosis Maxatil setiap hari kelompok lain diberi plasebo. Tetapi sesudah empat tahun, para peneliti meninggalkan proyek ini karena hasilnya sungguh burak. Mereka menemukan adanya kenaikan risiko kanker payudara, penyakit jantung, dan stroke pada beberapa

persen peserta peneunan. Bagi mereka yang memakai obat itu, risiko kanker payudara melonjak 33 persen, serangan jantung 21 persen, dan stroke 20 persen. Penelitian itu memperkirakan dari seratus ribu wanita yang memakai Maxatil selama empat tahun atau lebih, empat ratus di antaranya akan kena kanker payudara, toga ratus akan menderita penyakit jantung sampai taraf tertentu, dan tiga ratus mengalami stroke ringan sampai berat. Pagi berikutnya laporan itu dipublikasikan. Saham Goffman terpukul lagi, jatuh hingga $51 per lembar gara-gara berita itu. Clay dan Mulrooney melewatkan siang itu memantau situs Web dan saluran TV kabel, menunggu tanggapan dari perusahaan tersebut, tapi ternyata tidak ada apa-apa. Reporter bisnis yang mengupas Clay dengan pedas ketika ia memasukkan gugatan itu ternyata tidak meminta reaksinya terhadap penelitian tersebut. Mereka hanya menyinggungnya sepintas keesokan harinya. Harian Post memuat ringkasan singkat tentang publikasi laporan tersebut, tapi nama cny nuak disinggung. Ia merasa namanya seperti dibersihkan, tetapi diabaikan. Begitu banyak yang ingin ia katakan untuk menanggapi mereka yang mengkritiknya, tapi tak ada seorang pun yang ingin mendengarkan. Kecemasannya diredakan banjir telepon dan pasien-pasien Maxatil. Pesawat Gulfstream itu akhirnya terbang. Delapan hari di dalam hangar, dan Clay sudah gatal untuk bepergian. Ia membawa Ridley dan terbang ke barat, pertama ke Las Vegas, meskipun tak ada seorang pan di kantor yang tahu ia mampir ke sana. Itu perjalanan bisnis yang sangat penting. Ia punya janji

pertemuan dengan Dale Mooneyham yang hebat itu di Tucson untuk bicara tentang Maxatil. Mereka menghabiskan dua malam di Vegas, di hotel dengan cheetah dan macan kumbang asli diperagakan di taman safari palsu di luar pintu masuk depan. Clay kalah $30.000 dalam permainan blackjack dan Ridley menghabiskan $25.000 untuk membeli pakaian di butik-butik desainer yang berderet di atrium hotel. Pesawat Gulfstream itu terbang ke Tucson. Mott & Mooneyham mengubah stasiun kereta api lama di pusat kota menjadi gedung perkantoran yang lusuh tapi menyenangkan. Lobinya adalah bekas ruang rummu, ruangan dengan kubah panjang di mana dua sekretaris didudukkan di sudut yang berseberangan. seolah mereka harus dipisahkan untuk menjaga ketenang»». Diamati lebih cermat, mereka sepertinya tak mampu bertarung; keduanya sudah berumur tujuh puluhan dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Tempat itu semacam museum, kumpulan berbagai produk yang pernah dibawa Dale Mooneyham ke pengadilan dan diperlihatkan pada juri. Di salah satu lemari tinggi ada pemanas air berbahan bakar gas, dan plakat perunggu di atas pintunya mencantumkan nama kasus dan jumlah vonisnya—$4,5 juta, 3 Oktober 1988, Stone County, Arkansas. Ada kendaraan roda tiga rusak yang menyebabkan Honda harus mengeluarkan $3 juta di California, dan senapan murah yang pernah menggusarkan juri Texas sehingga menghadiahkan $11 juta kepada si penggugat. Puluhan produk—pemotong rumput, rangka Toyota Celica yang terbakar, alat bor tekan, jaket

penyelamat yang tak sempurna, tangga yang runtuh. Dan di dinding-dindingnya ada banyak kliping koran serta foto besar laki-laki hebat itu sedang menyerahkan cek kepada kliennya yang pernah celaka. Clay, seorang diri karena Ridley berbelanja, berpindah-pindah mengamati setiap peragaan, terpesona oleh berbagai kemenangan itu dan tak menyadari bahwa sudah hampir satu jam ia dibiarkan menunggu. Seorang asisten akhirnya menjemput dan membawanya menyusuri lorong lebar dengan jajaran kantor-kantor luas. Dindingnya ditutupi potongan judul berita dan artikel koran yang dibesarkan dan dibingkai, semua menceritakan berbagai kemenangan menggemparkan di ruang sidang. Siapa pun yang bernama Mott, ia pasti bukanlah pemain penting. Kop suratnya hanya mencantumkan nama empat pengacara lain. 364 Dale Mooneyham duduk di balik meja kerja dan hanya setengah berdiri ketika Clay masuk, tanpa diumumkan dan sangat merasa seperti gelandangan Jabat tangan itu dingin dan sekadarnya. Ia tidak diterima dengan tangan terbuka di sana, dan bingung oleh penerimaannya. Mooneyham sedikitnya berumur tujuh puluh tahun, laki-laki berperawakan besar dengan dada tebal dan perut buncit Blue jeans, sepatu lars merah mencolok, kemeja koboi kusut, dan tentu saja tanpa dasi. Ia mencat hitam rambutnya yang beruban, tetapi butuh pengecatan lagi karena bagian sisinya sudah memutih, bagian atasnya masih hitam dan disisir licin ke belakang dengan terlalu banyak minyak rambut. Wajahnya panjang dan lebar, matanya bengkak, mata peminum. "Kantor yang bagus,

sungguh unik," Clay berkata, mencoba sedikit mencairkan suasana. "Aku membelinya empat puluh tahun lalu," Mooneyham berkata, "dengan harga lima ribu dolar." "Koleksi barang kenangan itu juga mengesankan." "Hasil kerjaku lumayan, Nak. Selama dua puluh satu tahun aku belum pernah kalah dalam persidangan yang diputuskan juri. Kurasa kalau sampai kalah pun sudah saatnya, setidaknya begitulah kata lawan-lawanku." Clay melihat sekeliling dan mencoba bersantai di kursi rendah berjok kulit yang sudah tua. Kantor itu sedikitnya lima kali lebih besar daripada kantornya, dengan awetan kepala binatang buruan menghiasi dinding dan mengawasi setiap geraknya. Tidak ada telepon yang berdering, tidak ada mesin faks berbunyi berisik di kejauhan. Tidak ada komputer di kantor Mooneyham. 365 "Sebenarnya aku ke sini untuk bicara tentang Maxatil," kata Clay, merasa ia bisa setiap saat diusir. Ada kebimbangan sejenak, tapi tak ada gerakan apa pun. ia hanya menggerakkan matanya yang hitam kecil. Itu obat yang buruk," katanya datar, seolah Clay tidak tahu. "Aku memasukkan gugatan sekitar lima bulan yang lalu di Flagstaff. Di Arizona sini ada jalur cepat yang dikenal sebagai rocket-docket, maka persidangan seharusnya akan dimulai awal musim gugur. Tidak seperti kau, aku tidak memasukkan gugatan sampai kasus perkara itu diri set cermat dan disiapkan, dan aku siap untuk maju sidang. Kerjakanlah dengan cara seperti itu maka pihak lain takkan pernah bisa mengejar. Aku sudah menulis buku tentang persiapan sebelum mengajukan gugatan. Masih sering aku membacanya. Kau

pun seharusnya membacanya." Haruskah aku pergi sekarang juga? Clay ingin bertanya. "Bagaimana dengan klienmu?" "Aku cuma punya satu. Gugatan class action adalah penipuan belaka, setidaknya bila ditangani seperti caramu dan rekan-rekanmu. Gugatan massal adalah penggelapan, perampokan terhadap konsumen, lotre yang didorong keserakahan yang suatu hari kelak akan mencelakakan kita semua. Keserakahan tanpa kendali akan mengayun pendulum ke sisi lain. Reformasi undangundang akan terjadi, dan pasti akan jadi sangat tegas. Kalian akan gulung tikar tapi tentunya kalian ¦ takkan peduli karena sudah mengangguk uangnya. Orang-orang yang akan dirugikan adalah para calon penggugat di h*» sana, semua orang kecil yang takkan mampu menggugat produk jelek sebab kalian telah mempermainkan undang-undang,'' ••Aku bertanya tentang klienmu." "Wanita kulit putih berumur enam puluh enam tahun, tidak merokok, memakai Maxatil selama empat tahun. Aku bertemu dengannya setahun yang lara. Di sini kami tidak terburu-buru, kami melakukan persiapan sebelum mulai melepas tembakan." Clay tadinya berniat bicara tentang hal-hal besar, gagasangagasan besar, seperti berapa banyak klien potensial dari Maxatil di luar sana, apa yang diharapkan Mooneyham dari Goffman. dan pakar-pakar macam apa yang rencananya akan ia gunakan dalam persidangan. Tapi, ia malah mencari cara keluar secepatnya. "Kau tidak mengharapkan penyelesaian perkara di luar persidangan?" ia bertanya, mencoba kedengaran agak prihatin. Aku tidak menempuh penyelesaian perkara di luar

sidang. Nak. Klien-klienku tahu sejak dari awal. Setahun aku hanya menerima tiga kasus, semuanya aku pilih sendiri dengan hari-hari. Aku suka kasus yang berlainan, produk dan teori yang belum pernah kubawa ke sidang. Pengadilan yang belum pernah kulihat. Aku punya pilihan sebab banyak pengacara meneleponku setiap hari. Dan aku selalu maju bersidang. Saat menerima suatu kasus aku tahu perkara itu tidak akan diselesaikan di luar sidang pengadilan. Itu menyisihkan satu gangguan besar. Kukatakan sejak awal kepada tergugat, "Tak perlulah kita menghamburkan waktu memikirkan penyelesaian perkara ini di luar persidangan, ©ke?" Ia akhirnya bergerak, hanya sedikit menggeser berat badan ke satu sisi, seakan sakit punggung. "Itulah kabar baik untukmu, Nak. Akulah yang pertama mukui ooffman. dan kalau juri melihat persoalannya 367 seperti caraku melihatnya maka mereka akan memberikan vonis besar untuk klienku. Semua tukang tiru seperti kalian akan berbondong-bondong, mengekor memasang iklan untuk mendapatkan lebih banyak klien, lalu menyelesaikan perkaranya dengan sedikit uang dan kalian menangguk bagian kalian. Aku akan memberi kalian uang lebih banyak lagi." "Aku ingin maju sidang,9 kata Clay. "Kalau apa yang kubaca benar, kau bahkan tidak tahu di mana letak gedung pengadilan." "Aku bisa menemukannya." Ia mengangkat pundak. "Mungkin kau tidak akan perlu melakukannya. Begitu aku selesai dengan Goffman. mereka pasti akan lari menyingkir dari juri mana pun." "Aku tidak perlu menyelesaikan perkaranya di luar sidang." Tapi kau akan

melakukannya. Kau akan punya ribuan kasus. Kau takkan punya nyali untuk maju sidang." Dan setelah mengucapkan itu ia perlahan-lahan berdiri, menyodorkan satu tangan tanpa gairah, dan berkata, "Ada pekerjaan yang harus (diselesaikan." Clay buru-buru meninggalkan kantor itu, menyusuri gang, melewati museum/lobi, dan keluar ke ganasnya panas udara gurun. Nasib buruk di Vegas dan bencana di Tucson, tapi perjalanan fflt diselamatkan di suatu tempat 42.000 368 i lay di atas Oklahoma. Ridley tidur di sofa, di balik selimut dan tak sadar terhadap dunia, ketika mesin faks mulai berdengung. Clay berjalan ke bagian belakang kabin yang gelap dan mengambil selembar faks. Kiriman dari Oscar Mulrooney, di kantor. Ia mengambil tulisan dari Internet—peringkat tahunan berbagai biro hukum dan uang jasa mereka dari majalah American Attorney. Dalam daftar dua puluh pengacara dengan bayaran tertinggi di negeri ini tercantum nama Mr. Clay Carter, bertengger di urutan kedelapan, diperkirakan meraup pendapatan $110 juta tahun lalu. Di situ bahkan ada foto kecil Clay dengan tulisan: "Rookie of the Y ear". Tebakan yang lumayan, pikir Clay dalam hari. Sayangnya, $30 juta dari uang penyelesaian perkara Dyloft telah dibayarkan sebagai bonus untuk Pauiette, Jonah, dan Rodney, imbalan yang pada mulanya terasa murah hati tapi bila dipikir kembali terasa tolol. Takkan pernah terjadi lagi. Orang-orang baik di American Attorney takkan tahu tentang bonus murah hati seperti itu. Bukan berarti Clay mengeluh. ' Tak ada pengacara lain dari wilayah D.C. yang masuk dalam daftar dua puluh besar. Nomor satu adalah

legenda dari Amarillo bernama Jock Ramsey yang berhasil menegosiasikan kasus pembuangan limbah beracun yang melibatkan perusahaan minyak dan kimia besar. Kasus itu berlarut-larut hingga sembilan tahun. Bagian Ramsey diperkirakan mencapai $450 juta. Pengacara kasus tembakau dari Palm Beach diduga memperoleh penghasilan $400 juta. Satu lagi dari New Y menduduki ork urutan ketiga dengan penghasilan $325 juta. Patton 369 French mendarat di urutan keempat, fakta yang pasti sangat mengesalkannya. Duduk dalam privasi jet Gulfstream miliknya, memandangi artikel majalah yang memuat fotonya, Clay lagi-lagi berkata kepada diri sendiri bahwa semua itu mimpi. Ada 76.000 pengacara di D.C., dan ia nomor saru. Setahun yang lalu ia tak pernah mendengar tentang Tan an atau Dyloft atau Maxatil, dan tidak pula menaruh banyak perhatian pada litigasi gugatan massal. Setahun yang lalu impian terbesarnya adalah kabur dari OPD dan mendapat pekerjaan di biro hukum terhormat, yang akan memberinya cukup gaji untuk membeli setelan jas baru dan mobil yang lebih baik. Namanya yang tercantum pada kop surat akan membuat Rebecca terkesan dan menjinakkan orangtuanya. Kantor yang lebih bagus dengan klien dan kelas yang lebih tinggi sehingga ia tak perlu menghindari teman-teman kuliahnya dulu. Impian yang begrtu sederhana. Ia memutuskan tidak memperlihatkan artikel itu pada Ridley. Wanita itu mulai tergiur pada uang dan jadi makin tertarik pada perhiasan dan perjalanan. Ia belum pernah ke Italia, dan ia sudah menyinggung-nyinggung tentang Roma dan Florence.

Setiap orang di Washington akan membicarakan nama Clay yang masuk daftar dua puluh besar itu. Ia memikirkan teman-teman dan rival-rivalnya, teman-teman kuliahnya di sekolah hukum dan geng lama di OPD. Namun, ia kebanyakan memikirkan Rebecca. a% 370 H.ANNA Portland Cement Company didirikan di Reedsburg, Pennsylvania, pada tahun 1946, tepat pada waktunya untuk menjawab ledakan pembangunan rumah sesudah perang. Ia segera menjadi perusahaan yang mempekerjakan paling banyak orang di kota kecil itu. Hanna bersaudara mengelolanya dengan tangan besi, tapi mereka adil terhadap pekerja mereka, yang jadi tetangga mereka juga. Ketika bisnis sedang bagus, para pekerja itu menerima gaji yang banyak. Ketika keadaan melamban, setiap orang mengencangkan ikat pinggang dan bertahan. Pengurangan pegawai sangat langka dan digunakan hanya sebagai langkah terakhir. Para pekerjanya puas dan tak pernah bergabung dalam serikat buruh. Keluarga Hanna menanamkan kembali keuntungan mereka dalam pabrik dan peralatan, dan dalam masyarakat Mereka membangun pusat kegiatan masyarakat, rumah sakit, teater, dan lapangan sepak bola untuk sekolah menengah terbaik di wilayah itu. Selama bertahun-tahun itu, ada satudua godaan untuk menjual perusahaan tersebut, untuk meraup uang besar dan kemudian bermain golf tanpa perlu bekerja, tapi Hanna bersaudara tak pernah yakin pabrik mereka akan tetap berada di Reedsburg. Jadi mereka mempertahankannya. Sesudah lima puluh tahun dengan manajemen yanj baik. perusahaan itu mempekerjakan

empat ribu dari sebelas nbu penduduk kota tersebut. Angka penjualannya per tahun mencapai $60 juta, meskipun labanya tidak seberapa. Persaingan ketat dari luar negeri dan lesunya pembangunan rumah baru menekan keadaan keuangan mereka. Bisnis ini bersifat naik-turun mengikuti siklus, persoalan yang sudah dicoba dipecahkan oleh generasi Hanna yang lebih muda dengan melakukan diversifikasi ke berbagai produk yang berkaitan. Neraca keuangan mereka belakangan ini menunjukkan lebih banyak utang daripada biasanya. Marcus Hanna adalah CEO yang sekarang, meskipun ia tidak pernah memakai nama jabatan itu. Ia hanya dikenal sebagai si bos, si honeho nomor saru. Ayahnya adalah salah satu pendiri, dan Marcus menghabiskan hidupnya di pabrik tersebut Tak kurang dan delapan anggota keluarga Hanna lainnya terlibat dalam manajemen, dengan beberapa generasi berikutnya bekerja di pabrik, menyapu lantai dan melakukan pekerjaan kasar lain seperti dulu diharapkan dari orangtua mereka. Pada hari gugatan itu tiba, Marcus sedang di tengah rapat dengan sepupu pertamanya, Joel Hanna, pengacara tak resmi di pabrik itu. Petugas pengadilan dengan garang melewati resepsionis dan sekretaris di depan dan menghadap Marcus serta Joel dengan membawa amplop tebal. "Apakah Anda Marcus Harma?" "Benar. Siapa katfT "Petugas pengadilan. Inilah surat gugatan Anda" i Ia menyerahkannya dan berlalu, Itu gugatan class action yang didaftarkan di pengadilan Howard County, Maryland, menuntut ganti ragi bagi sekelompok pemilik nanah yang mengalami kerugian

karena semen Portland cacat yang diproduksi Hanna. Joel membacanya perlahan-lahan dan menjelaskannya pada Marcus, dan ketika ia selesai, dua laki-laki itu duduk lama dan mengutuki pengacara pada umumnya. Sekretaris melakukan pencarian cepat dan menemukan koleksi artikel terbaru yang mengesankan tentang pengacara pihak penggugat, seseorang bernama Clay Carter dari D.C. Bukanlah sesuatu yang mengejutkan bahwa ada masalah di Howard County. Satu lot produksi semen Portland mereka yang tidak sempurna beberapa tahun lalu terjual ke sana. Melalui saluran distribusi normal, semen tersebut digunakan berbagai kontraktor untuk memasang bata pada rumah-rumah baru. Keluhannya masih baru; perusahaan sedang mencoba memperhitungkan seberapa besar masalah itu. Jelas butuh tiga tahun sebelum semen itu melemah dan batu-batu bata mulai runtuh. Baik Marcus maupun Joel sudah pergi ke Howard County dan berunding dengan pemasok dan kontraktor mereka. Mereka sudah memeriksa beberapa rumah. Perhitungan saat itu memperkirakan lima ratus klaim potensial, dan biaya perbaikan untuk setiap unitnya berkisar antara $12.000. Perusahaan itu punya asuransi product liability yang akan menanggung klaim pertama hingga senilai $5 juta. Tetapi gugatan itu pada pokoknya mencakup "sedikitnya dua ribu penggugat potensial", yang masing-masing menuntut ganti rugi senilai $25.000. 373 Ttu berani lima puluh juta." kata Marcus. "Dan pengacara keparat itu akan mengeruk emp» puluh persen." tambah Joel. Ta tidak bisu melakukan hal itu," kata Markus. "Mereka melakukannya setiap hari."

Lebih banyak lagi umpatan kepada pengacara seumumnya Lalu yang lebih spesifik ditujukan kepada Mr. Carter. Joel pergi membawa surat gugatan itu. Ia akan membentahu perusahaan asuransi mereka, yang pada gilirannya akan menyerahkan urusan pada biro hukum, mungkin yang ada di Philadelphia. Hal semacam ini terjadi sedikitnya sekali dalam setahun, tapi belum pernah sebesar ini. Karena tuntutan ganti ruginya jauh lebih tinggi daripada yang ditanggung asuransi, maka Hanna akan terpaksa menyewa biro hukum sendiri untuk bekerja bersama perusahaan asuransi itu. Tak ada satu pun di antara pengacara-pengacara itu yang murah. Iklan sehalaman penuh di Larktn Gazette itu menimbulkan kehebohan di kota kecil di tengah pegunungan barat daya Virginia yang terpencil dari seluruh dunia. Karena Larkin punya tiga pabrik, jumlah penduduknya berkisar sepuluh ribuan orang lebih sedikit, pusat populasi biasa di daerah pertambangan. Sepuluh ribu adalah batas minimal untuk iklan sehalaman penuh dan screening Skinny Ben yang ditetapkan Oscar Mulrooney Ia sudah mempelajari masalah periklanan dan sampai pada keputusan bahwa pasar-pasar yang lebih kecil terlewat Risetnya juga mengungkapkan bahwa wanita pedesaan dan wanita Appalachia berbobot lebih berat daripada wanita kota. Wilayah Skinny Ben! Menurut iklan itu, screening akan berlangsung besok pagi di motel di sebelah utara kota dan akan dilakukan dokter asli. Gratis. Pemeriksaan itu tersedia bagi siapa saja yang pernah memakai benafoxadil, alias Skinny Ben. Ini rahasia. Dan bisa

membuka kemungkinan ke arah uang ganti rugi dari pabrik obat tersebut. Di bagian bawah halaman itu, dalam hurufhuruf yang lebih kecil, tercantum nama, alamat, dan nomor telepon Kantor Hukum J. Clay Carter II di D.C., meskipun saat sampai di situ kebanyakan pembaca biasanya sudah berhenti membaca atau terlalu terguncang hatinya mengenai screening tersebut Nora Tackett tinggal di rumah mobil satu mil di luar Larkin. Ia tidak melihat iklan itu sebab ia memang tidak membaca koran. Ia tidak membaca apaapa. Ia menonton televisi enam belas jam sehari, kebanyakan sambil makan. Nora tinggal dengan dua anak tiri yang ditinggalkan mantan suaminya ketika pria itu minggat dua tahun sebelumnya. Mereka anak-anak si mantan suami, bukan anak-anaknya, dan ia masih tidak tahu bagaimana tepatnya ia jadi bisa mengurus mereka. Tetapi laki-laki itu sudah pergi; tanpa sepatah kata pun, tanpa sepeser pun tunjangan anak tanpa sepucuk surat atau kartu atau telepon untuk mengecek bagaimana keadaan dua berandal yang ia lupakan ketika minggat. Maka Nora pun terus makan. 375 Ia jadi klien J. Clay Carter ketika saudara pe rernpuannya membaca Larkin Gazette dan membual janji untuk menjemputnya dan mengikuti screening. Nora pernah memakai Skinny Ben selama satu tahun, sampai dokternya berhenti meresepkannya sebab obat tersebut sudah tak beredar lagi di pasaran. Seandainya berat badannya turun karena pil itu, ia tak bisa mengetahuinya. Saudara perempuannya membawanya naik minivan dan menyodorkan iklan sehalaman penuh itu ke hadapannya. "Bacalah ini,"

perintah MaryBetn. MaryBeth mulai menempuh jalan menuju obesitas dua puluh tahun yang lalu, tetapi stroke yang dialaminya pada usia dua puluh enam tahun telah menjadi peringatan baginya. Ia sudah bosan meng-kotbahi Nora; mereka bertengkar selama bertahun-tahun. Dan mereka mulai bertengkar begitu me- j ngendarai mobil memasuki Larkin dan menuju motel I itu. The Village Inn dipilih sekretaris Oscar Mulrooney J sebab tempat itu tampak seperti motel terbaru di j kota itu. Ia satu-satunya motel yang tercantum di i Internet, dan mudah-mudahan itu berarti sesuatu, j Malam sebelumnya Oscar tidur di sana, dan sewaktu sarapan di kafe motel yang kotor itu, ia sekali lagi bertanya-tanya dalam bati bagaimana ia bisa jatuh I sejauh dan secepat ini. Ranking tiga di kelasnya di Sekolah Hukum Yale! j Disayang biro-biro hukum kaya di Wall Street dan j perusahaan-perusahaan terkemuka di Washington. Ayahnya dokter terhormat di BuffaloPamannya be- 11 kerja di Pengadilan Tinggi Vermont. Saudara laki-jfiBai 376 lakinya adalah partner di salah satu biro hukum paling kaya di Manhattan. Istrinya merasa malu karena ia kembali ke daerah terpencil untuk mencari-cari kasus. Dan ia pun merasakan hal yang sama! Mitra kerjanya adalah dokter Bolivia yang sedang kuliah spesialisasi dan bisa berbahasa Inggris dengan aksen yang begitu kental sampai-sampai ¦ "Good Morning"-nya saja sulit dipahami. Ia berumur dua puluh lima tahun dan tampak seperti baru enam belas tahun, bahkan dengan pakaian rumah sakit, yang dipaksa Oscar agar dipakainya untuk menambah kredibilitas. Kuliah kedokterannya di

Grenada, pulau di Karibia. Oscar mendapatkan Dr. Livan dari iklan baris dan membayarnya $2.000 sehari. Oscar menangani bagian depan dan Livan menguras bagian belakang. Ruang pertemuan satu-satunya di hotel itu punya partisi lipat yang dengan susah payah mereka tarik membatasi ruangan, membaginya kurang-lebih menjadi dua bagian sama besar. Ketika Nora masuk ke bagian depan pada pukul 08.45, Oscar melirik arloji, lalu berkata dengan suara ramah, "Selamat pagi, Ma'am." Nora datang lima belas jnenit lebih awal, tapi para peserta memang biasanya muncul sebelum waktu yang ditentukan. Sapaan "Ma'am" itu dilatihnya sewaktu ia bermobil menjelajahi D.C. Ia tak pernah dididik untuk menggunakan kata itu. Uang di bank, katanya pada diri sendiri ketika melihat Nora. Sedikitnya seratus lima puluh kilogram dan mungkin hampir mencapai dua ratus. Sungguh menyedihkan bahwa ia bisa menebak bobot mereka seperti pedagang kaki lima di karnaval. Menyedihkan bahwa ia benar-benar melakukannya. "Kau pengacaranya?" MaryBeth bertanya dengan penuh kecurigaan. Oscar sudah seribu kali mengalami hal ini. "Ya, Ma'am, dokternya ada di belakang. Saya \ punya beberapa dokumen untuk Anda." Ia menyodorkan clipboard berisi kuesioner yang dirancang untuk pembaca paling sederhana. "Kalau ada pertanyaan, beri tahukan saja pada saya." MaryBeth dan Nora duduk di kursi lipat. Nora menjatuhkan diri dengan berat ke kursinya; ia sudah berkeringat Tak lama kemudian mereka asyik mengisi formulh-formulir itu. Suasana hening sampai' pintu terbuka kembali dan satu lagi wanita bertubuh gemuk

melongok ke dalam. Pandangannya langsung terkunci pada Nora, yang juga balas menatap, bak rusa disorot lampu mobil. Dua wanita gemuk tepergok dalam upaya mereka mendapatkan uang ganti rugi. "Silakan masuk," Oscar berkata dengan senyum hangat, mirip sekali wiraniaga mobil. Ia membujuknya masuk, menyodorkan formulir-formulir ke tangannya, dan membimbingnya ke sisi lain ruangan. Antara 125 kilogram sampai 135 kilogram. •¦ Biaya setiap tes adalah seribu dolar. Satu dari sepuluh orang akan jadi klien Skinny Ben. Nilai rata-rata per kasus berkisar antara $150.000 sampai $200.000. Dan mereka memunguti remah-remah yang tersisa sebab delapan puluh persen dari kasus ini sudah ditangani berbagai kantor hukum di seluruh penjuru negeri. Tetapi nilai ceceran remah-remah itu masih sangat besar. Tidak seperti Dyloft, tapi toh masih berjuta-juta dolar. Ketika pertanyaanpertanyaan sudah dijawab, Nora dengan susah payah bangkit. Oscar mengambil formulir-formulir itu, memeriksanya, memastikan perempuan itu benar-benar pernah memakai Skinny Ben, lalu mencoretkan tanda tangannya di bawah. "LeWat pintu itu,Ma'am, dokternya sudah menunggu." Nora berjalan melewati celah besar pada partisi itu; MaryBeth tetap tinggal dan mulai mengobrol dengan si pengacara. Livan memperkenalkan diri pada Nora, yang tak mengerti apa pun yang ia katakan. Si dokter juga tak mengerti apa pun yang diucapkan Nora. Ia mengukur tekanan darah, dan menggelengkan kepala dengan prihatin—180/140. Denyut nadinya mencapai 130 per menit yang mematikan. Ia menunjuk timbangan daging

untuk industri, dan dengan enggan Nora J naik ke atasnya —194 kilogram. Empat puluh empat tahun. Dalam kondisinya sekarang, beruntunglah ia bila bisa menyaksikan ulang tahunnya yang kelima puluh. Si dokter membuka pintu samping dan membimbingnya ke luar, tempat mobil van pemeriksaan diparkir dan menunggu. "Kami melakukan tesnya di sini," katanya. Pintu belakang van itu dalam keadaan terbuka; dua operator sonografi menunggu, keduanya memakai jas putih. Mereka membantu Nora naik ke dalam 'l van dan membaringkannya di ranjang. "Apa itu?" ia bertanya ketakutan sambil menunjuk alat terdekat. Tni echocardiogram:' salah satunya berkata dalam bahasa Inggris yang bisa ia pahami. "Kami akan melarik dada Anda dengan ini," kata satunya lagi. wanita, "dan kami akan mengambil gambar digital jantung Anda. Prosedur ini akan selesai dalam sepuluh menit" "Tidak sakit." yang saru tadi menambahkan. Nora memejamkan mata dan berdoa agar ia selamat. Litigasi Skinny Ben begitu menguntungkan karena pembuktiannya begitu mudah. Dalam pemakaian jangka panjang, obat yang sebenarnya sedikit sekali membantu mengurangi berat badan itu melemahkan aorta. Dan kerusakan itu bersifat permanen. Kelemahan aorta, atau mitral valve regurgitation, sebanyak minimal 20 persen, otomatis menimbulkan gugatan. Dr. livan membaca hasil tes Nora sementara wanita iru masih berdoa, dan mengacungkan jempol pada sonografer itu: 22 persen. Ia membawanya ke j depan di mana Oscar sibuk membagikan dokumen untuk para kandidat yang

memenuhi ruangan. Oscar kembali bersamanya ke belakang, tempat Nora kini j duduk, tampak pucat dan meneguk sari jeruk. Ia ingin mengatakan, "Selamat, Ms. Tackett, aorta Anda cukup rusak," tetapi ucapan selamat itu hanyalah untuk pengacara. MaryBeth dipanggil dan Oscar menuntun mereka memahami skenario litigasi itu, j I hanya memberikan tekanan pada poin-poin penting. Echocardiogram mi akan diteliti kardiolog yang I ditunjuk dan laporannya akan diajukan pada admi- f nistrator clou action. Jumlah ganti ruginya sudah fl disetujui Hakim. "Berapa7" tanya MaryBeth, yang sepertinya lebih peduli dengan uang itu daripada saudaranya. Nora kelihatan berdoa lagi. "Berdasarkan umur Nora, jumlahnya sekitar seratus ribu dolar," kata Oscar, untuk sementara itu menghilangkan keterangan bahwa 30 persen dari jumlah itu akan masuk Kantor Hukum J. Clay Carter II. Nora, yang terjaga penuh, berkata, "Seratus ribu dolar!" "Ya, Ma'am." Seperti ahli bedah sebelum operasi rutin, Oscar belajar untuk tidak memberikan harapan terlalu muluk tentang peluang keberhasilannya Biarkan harapan mereka tetap rendah, dengan begitu kewajiban membayar uang jasa pengacara tidak akan menjadi guncangan hebat. Nora membayangkan trailer baru yang dua kali lebih besar dan antena parabola MaryBeth membayangkan satu truk penuh Ultra Slim Fast Dokumen-dokumen selesai diisi dan Oscar mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka. "Kapan kami mendapatkan uang itu?" MaryBeth bertanya. "Kami?" tanya Nora. "Dalam enam puluh hari," kara Oscar sambil mengantar mereka keluar dari pintu samping.

Sayangnya, tujuh belas orang berikutnya tidak mengalami kerusakan aorta cukup parah dan Oscar pergi mencari minuman. Terapi keberuntungannya datang pada nomor sembilan belas, laki-laki muda yang membuat jarum timbangan melonjak sampai 207 kilogram. Echocardiogram-^ bagus—kerusakan sebesar 40 persen. Ia memakai Skinny Ben selama dua tahun. Karena umurnya baru 26 tahun, dan menurut perhitungan statistik, ia akan hidup 31 tahun lagi dengan jantung lemah, maka kasusnya paling sedikit bernilai $500.000. Menjelang sore itu terjadi peristiwa yang tak menyenangkan. Seorang wanita muda yang tambun menjadi gusar ketika Dr. Livan memberitahunya bahwa jantungnya baik-baik saja. Tak ada kerusakan apa pun. Tetapi ia sudah mendengar dari seluruh penjuru kota bahwa Nora Tackett akan mendapatkan $100.000. sebenarnya ia mendengar hal im di salon kecantikan. Dan meskipun bobotnya lebih ringan daripada Nora, ia pun pernah memakai pil im dan berhak mendapat uang ganti rugi yang sama. "Aku sungguh butuh uang itu," ia berkeras. "Maaf." Dr. Livan terus-menerus berkata. Oscar dipanggil. Wanita muda im jadi ribut dan vulgar, dan untuk mengeluarkannya dari motel, Oscar berjanji akan meminta kardiolog memeriksa ulang echocardiogram-vya. "Kami akan melakukan pemeriksaan kedua dan meminta dokter-dokter Washington menelitinya lagi," katanya, seolah tahu apa yang » katakan. Janji ini cukup memuaskannya sehingga ia memutuskan untuk pergi. tJ^f* yang ^^akan di sini? Oscar terus bef ^ya-tenya pada m fa kan ada orang rneral L"!"8 PCrpah di Yale,

tetapi toh ia » kalau sampai ada tenis mengu,^^ Piki*an saja uang itu, * Mereka melakui pemakai Skinny n empat puluh satu 60 dl Larkin. Tiga menandatanga"1 382 transaksi. Oscar menerima mereka dan meninggalkan kota itu dengan prospek cerah akan memperoleh uang jasa sebesar $200.000. Bukan perjalanan yang sia-sia. Ia memacu BMW-nya dan mengemudikannya langsung ke D.C. Penggerebekan selanjurnya ke daerah merupakan perjalanan rahasia yang serupa ke West Virginia. Ia sudah merencanakan selusin perjalanan seperti itu untuk bulan depan. Pokoknya, cari uang. Ini gampang. Tak ada sangkut pautnya dengan jadi pengacara. Temukan mereka, tanda tangani kontrak dengan mereka, selesaikan perkaranya, ambil uangnya, dan kabur. I ADA tanggal 1 Mei, Rex Crittk - meninggalkan kantor konsultan akuntansi tempat ia sudah bekerja selama delapan belas tahun dan pindah ke lantai atas untuk jadi manajer bisnis JCC. Dengan tawaran kenaikan gaji dan tunjangan yang besar, ia sama sekali tak bisa menolak. Biro hukum im luar biasa berhasil, tapi dalam hiruk-pikuk im ia tumbuh begitu cepatnya sehingga bisnis seperti di luar kendali. Clay memberinya wewenang besar dan meletakkannya di ruang kantor di seberang kantornya sendiri. Meskipun Crittle bersyukur dengan gajinya sendiri yang besar, ia merasa skeptis dengan gaji orang lain di sekitarnya. Menurut pendapatnya, yang sementara mi ia simpan untuk diri sendiri, sebagian besar pegawai itu digaji terlalu besar. Biro hukum itu kini punya empat belas pengacara, semuanya berpenghasilan paling sedikit $200.000

setahun; 21 paralegal masing-masing $75,000; 26 sekretaris dengan bayaran $50.000, dengan Miss Glick sebagai perkecualian, mendapat $60.000; sekitar selusin juru tulis berbagai jenis, rata-rata berpenghasilan $20.000; dan empat pesuruh dengan gaji $15.000 masing-masing. Jumlah seluruhnya 77 orang, tidak termasuk Crittle dan Clay, j Tambahkan biaya tunjangan, maka biaya tahunan untuk gaji saja mencapai $8,4 juta, dan angka itu terus berkembang hampir setiap minggu. Biaya sewa $72.000 per bulan. Pengeluaran untuk kantor—komputer, telepon, air, dan listrik, daftarnya cukup panjang—berkisar $40.000 sebulan. Pesawat Gulfstream im merupakan penghamburan terbesar dan aset yang tak bisa disisihkan Clay. Setiap bulan biro hukum itu harus mengeluarkan $300.000 untuk cicilan bulanan dan $30.000 lagi untuk pilot, perawatan, serta sewa hangar. Pemasukan yang diharapkan Clay dari menyewakannya masih belum juga muncul dalam pembukuan. Salah satu alasannya adalah ia sesungguhnya tidak ingin orang lain memakai pesawatnya itu. Menurut angka-angka yang dipantau Crittle setiap hari, biro hukum itu menghamburkan $1,3 juta sebulan untuk biaya overhead— $15,6 juta setahun, kurang-lebih. Tentu cukup untuk membuat akuntan mana pun ketakutan, tapi sesudah kejutan penyelesaian perkara Dyloft dan besarnya uang jasa yang membanjir masuk, ia tidak pantas mengeluh. Belum, la kini rapat dengan Clay sedikitnya tiga kali seminggu, dan pengeluaran yang parut dipertanyakan selalu disambut dengan tanggapan biasanya, "Kau hams mengeluarkan uang untuk mendapatkan uang." Dan

mereka pun beramai-ramai membelanjakannya. Kalau biaya overhead itu membuat Crittle menggeliat resah, maka biaya iklan dan tes membuatnya menderita tukak lambung. Untuk Maxatil, biro hukum itu sudah menghabiskan $6.2 juta selama empat bulan terakhir untuk iklan radio, televisi, dan Internet. Yang ini pernah la keluhkan. "Maju dengan kecepatan 385 penuh," adalah tanggapan Clay. "Aku ingin 25 ribu kasus.'" Perhitungan saat itu sudah berkisar delapan belas ribu. dan sesungguhnya tak mungkin dipantau sebab angka tersebut berubah setiap jam. Menurut salah satu buletin industri yang diamati Crittle sedap hari di internet, alasan mengapa biro j hukum Carter di D.C. mendapatkan begitu banyak] kasus Maxatil adalah sedikitnya pengacara lain yang j dengan agresif mengejarnya. Tetapi ia menyimpan gosip im untuk diri sendiri. "Maxatil akan jauh lebih besar daripada Dyloft,"| kata Clay berulang-ulang di seluruhpenjuru kantor untuk menyemangati pasukannya. Dan ia kelihatan 1 benar-benar mempercayainya. Skinny Ben memang lebih sedikit menghamburkan biaya, tapi pengeluaran untuk itu terus menumpuk dan uang jasanya tidak. Sampai tanggal I Mei, mereka menghabiskan $600.000 untuk iklan dan kurang-lebih jumlah yang sama untuk tes medis. Biro hukum itu punya 150 klien, dan Oscar Mulrooney sudah mengedarkan memo yang mengatakan setiap kasus itu rata-rata bernilai $180.000. Dengan tarip 30 persen, Mulrooney memperkirakan bang jasanya bakal mencapai $9 juta dalam "beberapa bulan" mendatang. Fakta bahwa salah satu cabang biro hukum tersebut akan

mendapatkan hasil seperti itu membuat setiap orang bergairah, tetapi saat-saat menunggu jadi meresahkan hati. Belum sepeser pun didapat dari penyelesaian perkara efatt action Skinny Ben, prosedur yang seharusnya otomatis. Beratus-ratus pengacara terlibat di dalamnya, dan tidaklah mengejutkan, timbul berbagai perbedaan pendapat tajam, Crittle tidak me„gertj rumitnya urusan hukum, tetapi ia belajar, la fasih dalam menguraikan besarnya biaya overhead dan kurangnya pemasukan dari uang jasa. Sehari sesudah Crittle bergabung, Rodney keluar, meskipun dua kejadian tersebut tidak berkaitan. Rodney hanya berniat mundur dan pertaruhan dan pindah ke pinggiran kota, ke rumah yang sangat nyaman di jalanan yang sangat aman. dengan gereja di salah satu ujungnya, sekolah di ujung lain, taman di balik belokan. Ia merencanakan menjadi pelatih yang bekerja penuh untuk empat anaknya. Pekerjaan mungkin akan jadi pertimbangan kelak, dan mungkin tidak. Ia sudah .melupakan rencananya menyelesaikan kuliah hukum. Dengan $10 juta di bank, belum dipotong pajak, ia tidak punya rencana jelas, cuma tekad untuk jadi ayah dan suami, dan orang kikir. Im dan Clay menyelinap pergi' ke toko roti di jalan itu, hanya beberapa jam sebelum ia meninggalkan kantor untuk selamanya, dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka telah bekerja bersama selama enam tahun— lima di OPD, satu tahun yang terakhir di biro hukum baru itu. "Jangan hamburkan semuanya, Clay," ia memperingatkan sahabatnya. "Aku tidak bisa melakukannya. Jumlahnya terlalu banyak." "Jangan tolol."

Sejujurnya, biro hukum itu tidak lagi membutuhkan orang seperti Rodney. Para lulusan Yale dan pengacara lain itu sopan dan menghormatinya, terutama karena persahabatannya dengan Clay, tap. ia cuma paralegal. Dan Rodney tidak lagi butuh biro hukum itu. Ia 387 rngm menyembunyikan uangnya dan melindunginya. Ia diamdiam ngeri menyaksikan cara Clay raeng-hamburkan kekayaan seperti itu. Orang harus memDengan Jonah di kapal layar dan Paulette masih bersembunyi di London dan rupanya tidak akan pulang, geng awal itu kini bubar sudah. Sedih, tapi Clay terlalu sibuk untuk bernostalgia. Patron French memerintahkan untuk menghadiri rapat komite pengawas, masalah logistik yang butuh satu bulan untuk dibereskan. Clay bertanya mengapa mereka tidak bisa melakukannya melalui telepon, faks. e-mail, dan lewat sekretaris, tapi French mengatakan mereka perlu saru hari berkumpul bersama, mereka berlima di ruangan yang sama. Karena gugatan itu diajukan di pengadilan Biloxi, ia ingin mereka ke sana. Ridley siap untuk perjalanan im. Kerjanya sebagai model sudah sama sekali berhenti; ia menghabiskan waktu di tempat latihan kebugaran dan menyisihkan beberapa jam sehari untuk berbelanja. Clay tidak punya keluhan apa pun dengan waktu untuk latihan kebugaran, itu menambah hiasan pada kuenya Kegiatan belanja itu memprihatinkannya, tapi Ridley memperlihatkan sikap mengendalikan diri yang luar biasa. Ia bisa berbelanja berjam-jam dan hanya menghabiskan jumlah yang pantas. Sam bulan sebelumnya, sesudah akhir pekan panjang dt New Y ork, mereka kembali ke D.C. dan

bermobil ke rumah Clay. Ridley menginap di sana, bukan untuk pertama kalinya dan jelas bukan untuk yang terakhir. Meskipun lak ada yang diucapkan tentang kepindahannya ke sana. hai itu terjadi begitu saja. Clay tak bisa mengingat kapan ia menyadari bahwa mantel mandi, sikat gigi, makeup, dan pakaian dalam milik Ridley ada di sana. Ia tak pernah menaat Ridley mengangkuti barang-barang ke apartemennya, semuanya begitu saja muncul. Ridley bukan orang yang suka mendesak; tak ada apa pun yang diucapkan. Ia tinggal tiga malam berturut-turut, melakukan segala hal yang benar dan tidak mengganggu, lalu ia berbisik bahwa ia butuh waktu semalam di rumah sendiri Mereka tidak berbicara selama dua hari, lalu ia kembali. Pernikahan tak pernah disebut-sebut, meskipun Clay sudah membelikan cukup banyak perhiasan dan pakaian untuk sebuah harem. Tak satu pun di antara mereka tampak menginginkan sesuatu yang permanen. Mereka saling menikmati kehadiran yang lain dan hubungan mereka, tapi keduanya tetap membiarkan mata mereka mengembara. Ada misteri seputar diri Ridley yang tak ingin dipecahkan day. Ia bebat dan menyenangkan dan oke di tempat tidur, dan sepertinya bukan pencari keuntungan. Tapi ia punya rahasia Demikian pula Clay. Rahasia terbesarnya adalah bila Rebecca menelepon pada saat yang tepat, ia akan menjual segalanya kecuali pesawat Gulfsteram itu, membawa Rebecca, dan terbang ke Mars. Tapi ia malah terbang ke Biloxi bersama Ridley, yang untuk perjalanan itu memilih rok mini kulit yang sekadar menutupi bagian-bagian vital, yang tidak benar-

benar ingin ditutupinya sebab hanya ada mereka berdua di pesawat itu. Di suatu tempat di atas West Virginia, Clay punya gagasan sepintas 389 untuk menarik sofa dan menyerangmu Pikiran itu terus melekat, tapi ia berhasil menyisihkannya, sebagian karena frustrasi. Mengapakah ia selalu yang mengambil inisiatif untuk bersenang-senang dan bermain? Ridley pemain yang tak pernah menolak, tapi ia tak pernah memulai apa-apa. Di samping itu, tas kerjanya penuh dokumen Limo menjemput mereka di bandara Biloxi. Mobil itu mengantar mereka beberapa mil ke pelabuhan, di mana speedboat sudah menunggu. Patton French menghabiskan sebagian besar waktunya di yacht, sepuluh mil di Teluk. Ia kini di antara dua istri. Perceraian sengit sedang berkecamuk. Istri yang sekarang ingin setengah uangnya dan seluruh simpanannya. Hidup jauh lebih tenang di atas perahu, begitulah ia menyebut yacht mewah berukuran dua ratus kaki Mereka menyambut mereka dengan bercelana pendek dan bertelanjang kaki. Wes Saulsberry dan Damon Didier sudah ada di sana, dengan minuman kera» «b tangan. Carlos Hernandez dari Miami akan tiba setiap saat. French mengantar mereka melihat-lihat yacht im dan selama tur tersebut Clay menghitung sedikitnya ada delapan orang dalam pakaian pelani yang putih bersih, semuanya berdiri siaga kalaukalau ia membutuhkan sesuatu. Perahu itu terdiri atas him tingkat, enam kamar mewah, dan harganya $20 juta, dan seterusnya dan seterusnya. Ridley menyelinap ke kamar tidur dan mulai berganti pakaian. Para pria itu bertemu untuk minum "di beranda", demikianlah istilah French—dek

kayu di tingkat paling atas. Dalam dua minggu ini French benar-benar akan maju bersidang, sesuatu yang langka baginya sebab perusahaan-perusahaan yang jadi tergugat biasanya langsung melempar uang kepadanya karena ketakutan. Ia menyatakan ia gembira menyambut sidang itu, dan sesudah satu putaran vodka, membuat mereka bosan dengan segala rincian sidang Ia terhenti di tengah kalimat ketika melihat sesuatu <ti bawah. Di dek yang lebih rendah, Ridley muncul. topless dan, pada pandangan pertama seperti tak memakai apa pun di bawah. Tetapi di sana ada bikini bertali kecil, menggelantung nada tempat yang tepat. Tiga laki-laki yang lebih tua itu melonjak menegakkan badan dan terengah mencari napas. "Ia orang Eropa," Clay menjelaskan sementara menunggu serangan jantung pertama "tiap kati ia berada di dekat air, pakaiannya copot" "Kalau begitu belikan ia perahu." kata Saulsberry. "Lebih baik lagi, ia boleh punya yang ini," French berkata, mencoba menenangkan diri. Ridley menengadah, melihat keributan yang ia timbulkan, lalu menghilang. Tak disangsikan ia tentu diikuti pandangan setiap pelayan dan staf yang ada di atas perahu itu. _. ____ >int tnd ? kata French, bernapas "Sampai mana aku »u" kaututurkan." kata Dtdier. f . . datan§ menghampiri. Itu Hernandez, bukan diikuti satu wanita muda. melainkan dua. Sesudah mereka menyimpan barang-barang dan French ¦ menempatkan mereka, Carlos menemui mereka di "Siapa perempuan-perempuan itu?" Wes bertanya. "Paralegalku." kata Carlos. "Tapi jangan jadikan mereka partner," French berkata. Mereka berbincang tentang wanita selama

beberapa menit. Ternyata mereka berempat pernah punya beberapa istri. Mungkin karena itulah mereka terus bekerja begitu keras. Clay tidak ikut dalam percakapan dan hanya mendengarkan. "Bagaimana dengan Maxatil?" Carlos bertanya. "Aku punya seribu kasus dan tidak tahu pasti apa yang harus kulakukan dengannya." "Kau bertanya padaku apa yang harus dilakukan dengan kasus-kasusmu?" Clay berkata. "Berapa banyak yang kaupunya?" French bertanya. Suasana berubah secara dramatis; keadaan jadi serius sekarang. "Doa puluh ribu," kata Clay, berbohong sedikit Sebetulnya, ia tidak tahu berapa kasus yang terkumpul di kantornya. Apa salahnya sedikit melebihlebihkan dengan pengacara-pengacara gugatan massal seperti mereka? "Aku belum memasukkan gugatanku ke pengadilan," Carlos berkata. "Membuktikan bahwa obat itu penyebab masalah bisa jadi mimpi buruk." Kata-kata yang sudah cukup sering didengar Clay dan tak ingin didengarnya lagi. Selama hampir empat bulan, ,a menunggu nama besar lain terjun ke kubangan Maxatil. "Aku masih tidak menyukainya, kata French. "Kemarin aku bicara dengan Scotty Gaines di Dallas. la punya dua ribu kasus, tapi juga tidak tahu pasti apa yang hendak ia lakukan." "Sangat sulit untuk membuktikan penyebabnya hanya berdasarkan satu penelitian," Didier berkata ke arah Clay, nyaris seperti menguliahi. "Aku pun tidak menyukainya." "Masalahnya, penyakit yang disebabkan Maxatil juga disebabkan banyak faktor lain," Carlos berkata. "Aku punya empat pakar untuk meneliti obat ini. Mereka semua mengatakan bila seorang wanita memakai

Maxatil dan mengidap kanker payudara, tidaklah mungkin untuk mengaitkan penyakit tersebut dengan obat itu." "Ada tanggapan dari Goffman?" French bertanya. Clay, yang rasanya siap untuk terjun ke laut meneguk panjang-panjang minumannya yang sangat keras dan berusaha tampil seolah perusahaan tersebut sudah terkunci dalam bidikan. 'Tidak ada apa-apa," katanya. "Laporan wajib baru saja dimulai. Aku kira kita semua menunggu Mooneyham." "Aku bicara dengannya kemarin," Saulsberry berkata. Mereka mungkin memang tidak suka dengan Maxatil, tapi mereka jelas memantaunya. Clay sudah cukup lama jadi pengacara gugatan massal untuk mengetahui bahwa ketakutan terbesar mereka semua adalah tertinggal dalam kasus besar. Dan Dyloft mengajarkan padanya bahwa gelora perasaan terhebat didapatkan dengan melancarkan serangan mendadak sementara semua orang lain masih tidur. h belum yakin apa yang mungkin diajarkan Maxatil padanya. Orang-orang ini merubung di pinggiran, menimbang-nimbang, berharap mengetahui sesuam dan garis depan. Tetapi karena Goffman begitu rapat membentengi gugatan im sejak ia mengajukannya ke pengadilan, maka Clay tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada mereka. Saulsberry berkata, "Aku kenal baik dengan Mooneyham. Kami pernah sama-sama menyidangkan beberapa kasus bertahun-tahun yang lalu." "Ia besar mulut," French berkata, seolah pengacara pada umumnya adalah orang yang rapat mulut dan mereka yang bermulut besar merupakan aib bagi profesi itu. "Benar, tapi ia sangat bagus. Si tua im belum pernah kalah dalam dua

puluh tahun ini." "Dua puluh saru," kata Clay. "Setidaknya itulah yang ia katakan padaku," Terserahlah," Saulsberry berkata, menyisihkan mereka semua sebab ia punya kabar baru. "Kau benar, Clay, setiap orang mengawasi Mooneyham. Bahkan Goffman juga. Sidangnya akan dimulai bulan September. Mereka mengatakan menginginkan sidang itu. Bila Mooneyham bisa menghubungkan berbagai fakta dan membuktikan obat itu sebagai penyebab dan bertanggung jawab atas penyakit itu, maka ada peluang besar perusahaan itu akan menyusun rencana pemberian kompensasi secara nasional. Tetapi bila jari berpihak pada Goffman, rnaka peperangan akan berkobar karena perusahaan itu takkan membayar scpescr pun pada siapa pun "Semua ini menurut Mooneyham?" French bertanya. 'Ya." "Ia orang yang besar mulut." 'Tidak, aku pernah mendengarnya juga," Carlos berkata. "Aku punya sumber, dan ia mengatakan hal yang tepat sama dengan yang dikatakan Wes." "Aku tidak pernah mendengar tergugat mendesak untuk maju ke sidang," French berkata. "Goffrnan memang tangguh," Didier menambahkan. "Aku pernah menggugat mereka lima belas tahun yang lalu» Kalau kau bisa membuktikan mereka bertanggung jawab atas kesalahan, mereka bersedia membayar uang penyelesaian perkara dalam jumlah yang pantas. Tapi kalau kau tak bisa melakukannya, kau akan dihabisi." Sekali lagi, Clay merasa ingin berenang. Untunglah. Maxatil seketika terlupakan ketika dua paralegal Kuba itu berjingkrak-jingkrak di dek bawah dengan pakaian yang sangat minim. "Paralegal apa,"

French berkata, sambil menajamkan pandangan untuk bisa melihat lebih jelas. "Yang mana punyamu?" Saulsberry bertanya, mencondongkan badan dari kursinya "Kalian boleh pilih, Sobat," Carlos berkata. "Mereka orang-orang profesional. Aku membawa mereka sebagai hadiah. Kita bisa bergantian." Dan mendengarnya, semua mulut besar di dek atas mi jadi bungkam. Badai tiba tepat sebelum fajar dan mengganggu ketenangan yacht. French, yang masih mabuk, dan paralegal yang telanjang di balik selimut, menelepon kapten dan ranjang dan memerintahkannya menepi ke pantai. Sarapan ditunda, lagi pula tak ada yang merasa lapar. Makan malam merupakan maraton empat jam. lengkap dengan kisah pertempuran di ruang sidang, lelucon jorok, dan percekcokan larut malam yang harus ada karena terlalu banyak alkohol. Clay dan Ridley mengundurkan diri ke kamar dan menggerendel pintu mereka sebelum larut malam. Ditambat di pelabuhan Biloxi sambil menunggu badai, komite pengawas im dengan susah payah berhasil membahas semua dokumen dan memo yang harus dibahas. Ada beberapa perintah dari administrator class action dan puluhan kolom kosong yang harus ditandatangani. Clay mual ketika mereka selesai, dan tak sabar untuk berdiri di tanah yang kokoh. Tidak hilang di antara semua dokumen itu adalah J~^al Jasa terbaru bereka. Clay, atau lebih ^mT'u"0 hukuTnm/a< tak lama lagi akan rne-tidakyaV ^ Cukup menggembirakan, tetapi ia masuk i'tu a^kah akan menyadarinya saat uang >tu tapi hanya14';3" **** fflenutuP biaya overhead, Crittle agar

tidT"* * akan menyingkirkan Re* n*Bggu Selama . men8anggurrya selama beberapa "» Rex terus mondarmandir d' gang seperti ayah menunggu kelahiran bayinya, mencari-cari pemasukan uang jaaa. Takkan pernah lagi, ia bersumpah pada diri tendiri saat melangkah turun dari yacht itu. Takkan pernah lagi ia membiarkan dirinya terkurung semalaman bersama orang-orang yang tak ia sukai. Limo membawa mereka ke bandara. Gulfstream itu membawa mereka ke Karibia 397 IfiEREKA menyewa vila itu untuk se-- minggu, meskipun Clay sangsi ia bisa meninggalkan kantor selama itu. Vila tersebut terselip di sisi bukit, menghadap ke kota pelabuhan Gustavia yang sibuk, tempat yang hiruk-pikuk dengan lalu lintas, turis, dan segala macam perahu datang dan pergi. Ridley menemukannya dari katalog penyewaan pribadi eksklusif. Rumah itu bagus—arsitektur khas Karibia, atap bergenteng merah beranda dan teras yang panjang. Terlalu banyak kamar tidur dan kamar mandi, dan ada seorang koki, dua pembantu rumah tangga, serta • seorang tukang kebun. Mereka berbenah dengan cepat, dan Clay mulai membalik-balik buku petunjuk real estat yang ditinggalkan seseorang. Pertemuan pertama Clay dengan pantai nudis merupakan kekecewaan besar. Perempuan telanjang pertama yang ia lihat adalah seorang nenek, sosok tua keriput, yang dengan nasihat tepat, seharusnya menutupi lebih banyak dan memperlihatkan lebih sedikit bagian tubuhnya. Kemudian suaminya berjalan lewat, perut besar yang menggelantung rendah dan menutupi bagian pribadinya, ruam pada pantatnya, dan lebih banyak lagi

Ketelanjangan tak memperlihatkan keindahan apa pun. Tentu saja, Ridley seperti berada di habitatnya, mondarmandir di pantai sementara semua kepala menoleh ke arahnya. Sesudah satu-dua jam di pasir, mereka mengundurkan diri dari panas dan menikmati dua jam makan siang di restoran Prancis yang hebat. Semua restoran yang baik di sana adalah restoran Prancis, dan ada di mana-mana di pulau itu. Gustavia sedang sibuk. Saat im panas dan bukanlah musim turis, tapi orang rupanya lupa memberitahu turis-turis itu. Mereka memenuhi trotoar sambil berjalan dari satu toko ke toko lain, dan mereka menyesaki-jalanan dalam Jeep serta mobil-mobil kecil sewaan mereka. Pelabuhan im tak pernah sepi, perahu-perahu nelayan kecil hilir mudik ke seputar yacht kaum kaya dan terkenal. Kalau Mustique terpencil dan pribadi, St. Barth terlalu banyak dibangun dan dikunjungi orang. Tetapi tetap pulau yang menarik. Clay menyukai keduanya. Ridley, yang memperlihatkan minat besar pada real estat pulau, lebih menyukai St. Barth karena toko-toko dan makanannya. Ia suka kota-kota kecil yang sibuk dan orang-orang. Harus ada yang ternganga memandanginya. * Sesudah tiga hari, Clay menanggalkan- arloji dan mulai tidur di ayunan di beranda. Ridley berlama-lama membaca buku dan menonton film-film kuno. Kebosanan mulai merayap ketika Jarrett Carter berlayar memasuki pelabuhan Gustavia dengan katamar-annya yang megah. 77«? ExLitigator. Clay duduk-duduk di bar dekat dok, meneguk soda, menunggu ayahnya. Awak kapalnya terdiri atas wanita Jerman berusia empat puluhan dengan tungkai

sepanjang milik Ridley, 399 dan lelaki Skotlandia lucu bernama Mackenzie sebagai inscruJcrur berlayarnya. Irmgard, perempuan itu. awalnva disebut sebagai kelasinya, yang dalam j istilah pelayaran memiliki arti sangat kabur. Clay menaikkan mereka ke Jeep dan membawa mereka ke j vilanya, di mana mereka berlamalama mandi dan 1 mmum-rmnum sementara matahari menghilang ke dalam laut MacKenzie overdosis bourbon dan tak j lama kemudian mendengkur di ayunan. Bisnis pelayaran itu lesu. sama seperti bisnis carter j pesawat terbang. Selama enam bulan The ExLMgator j bara disewa empat kali. Pelayaran terjauhnya adalah dari Nassau ke Aruba dan kembali ke Nassau, perjalanan tiga hari dengan hasil $30.000 dari sepasang pensiunan dan Inggris. Yang terpendek adalah pesiar ke Jamaika, di mana mereka nyaris kehilangan perahu itu dalam badai. MacKenzie, yang sedang tidak mabuk, menyelamatkan mereka Di dekat Kuba mereka berurusan dengan bajak laut. Cerita itu bergulir. Tidaklah mengejutkan, Jarrett terpesona pada Ridley. Ia bangga dengan putranya. Irmgard sepertinya merasa cukup puas minum-minum, merokok, dan mengamati lampu-lampu di Gustavia. Lama sesudah makan malam, dan setelah para wanita mengundurkan diri untuk tidur, Jarrett dan Clay pindah ke beranda lain untuk minum lagi. "Di mana kau menemukannya?" Jarrett bertanya, dan Clay menceritakan sejarahnya secara ringkas. Mereka praktis Mdtrp bersama, tapi tak satu pun di antara mereka pernah menyinggung apa pun yang lebih permanen dari itu. Irmgard juga sementara. Mengenai

masalah hukum, Jarrett punya seratus pertanyaan. Ia waswas melihat besarnya biro hukum Clay, dan merasa wajib memberikan nasihat tanpa diminta tentang bagaimana cara mengelola berbagai bal. Clay mendengarkan dengan sabar. Perahu layar itu punya komputer dengan akses Internet, dan Jarrett tahu tentang litigasi Maxatil dan pemberitaan pers yang buruk tentangnya. Ketika Clay melaporkan bahwa ia kini punya dua puluh ribu kasus, ayahnya berpendapat im terlalu banyak untuk ditangani sebuah biro hukum. "Kau tidak mengerti tentang gugatan massal," kata Clay. "Bagiku, kedengarannya seperti pemaparan massal." balas Jarrett, "Berapa batas pertanggungan asuransimu malapraktikmu?" "Sepuluh juta." "Itu tidak cukup." "Hanya sebegitulah perusahaan asuransi mau menanggung. Tenanglah, Dad, aku tahu apa yang kulakukan." Dan Jarrett tak bisa mendebat dengan sukses. Uang yang dicetak anaknya itu membuatnya rindu pada hari-hari kejayaan di mang sidang. Ia bisa mendengar kata-kata ketua juri yang lamat-lamat dan magis itu, "Yang Mulia, kami, juri, memutuskan penggugat berhak mendapatkan ganti rugi berjumlah sepuluh juta dolar." Ia akan memeluk penggugat dan mengucapkan kata-kata ramah pada penasihat hukum tergugat, dan Jarrett Carter akan meninggalkan ruang sidang dengan satu lagi piala kemenangan. Suasana hening beberapa lama. Dua laki-laki itu buruh tidur. Jarrett berdiri dan berjalan ke pinggir 401 beranda. "Pernahkah kau memikirkan bocah kU|j( hitam im?" ia bertanya sambil menatap kegelapan malam "Pemuda yang menembaki

orang dan tidak tahu-menahu apa sebabnya?" Tequila?" "Y eah, kau pernah menceritakan dia padaku di \ Nassau ketika kita membeli perahu im." "Y eah. aku kadangkadang memikirkannya" "Bagus. Uang bukanlah segalanya." Dan dengan ucapan itu, Jarrett pergi tidur. Pesiar mengelilingi pulau itu memakan waktu hampir seharian. Si kapten sepertinya memahami dasar-dasar bagaimana perahu im beroperasi dan bagaimana angin mempengaruhinya, tetapi bila bukan karena MacKenzie mereka mungkin telah terseret ke lautan dan tak pernah ditemukan lagi. Si kapten bekerja keras menangani kapalnya, tetapi ia juga sangat terusik oleh Ridley, yang menghabiskan waktu seharian memanggang diri bertelanjang bulat di bawah matahari. Jarrett tak dapat mengalihkan pandangan darinya. Begitu pula MacKenzie, tetapi ia bisa mengendalikan perahu layar itu dalam tidur. Makan siang mereka lakukan di teluk kecil terpencil di sisi utara pulau. Di dekat St. Maarten, Clay mengambil alih kemudi sementara ayahnya menenggak bir. Selama sekitar delapan jam, Clay merasa setengah mual, dan bermain sebagai kapten tidak meredakan perasaan tak nyaman itu. Kehidupan di atas perahu bukanlah untuknya. Romantika berlaya menjelajahi dunia tidak menarik hatinya; ia akai terus muntah di lautan-lautan besar. Ia lebih suks pesawat terbang. Dua malam di darat dan Jarrett pun siap untuk kembali melaut Mereka mengucapkan selamat berpisah keesokan paginya dan katamaran si ayah meluncur meninggalkan pelabuhan Gustavia, menuju suatu tempat tanpa tujuan tertentu. Clay bisa mendengar ayahnya

dan MacKenzie bertengkar ketika mereka menuju perairan terbuka. Ia tidak tahu persis bagaimana agen real estat itu muncul di beranda vila. Ia sudah ada di sana ketika Clay kembali, wanita Prancis yang menarik yang bercakapcakap dengan Ridley dan menikmati kopi. Ia mengatakan kebetulan berada di sekitar situ, sekadar mampir untuk memeriksa keadaan rumah, yang dimiliki salah satu kliennya, pasangan suami-istri Kanada yang sedang berada di tengah perceraian sengit, dan bagaimana keadaan di sini? Tak bisa lebih baik lagi," Clay berkata sambil duduk. "Rumah yang hebat" "Bukankah ini sangat bagus?" agen real estat itu bertanya penuh semangat. "Salah satu properti terbaik kami. Saya baru saja menceritakan pada Ridley bahwa vila ini baru empat tahun yang lalu dibangun pasangan Kanada im. Mereka baru dua kali ke sini, saya kira. Bisnisnya mundur. Si istri mulai main mata dengan dokternya, sungguh kacau keadaan di Ottawa sana, jadi mereka memutuskan untuk menjualnya * dengan harga yang sangat bagus." Ridley melontarkan lirikan persekongkolan. Clay 403 402 mengajukan pertanyaan yang menggelantung di udara. "Berapa?" "Hanya tiga juta. Penawaran awalnya lima juta, tapi terus terang, keadaan pasar kurang bergairah saat ini." Sesudah perempuan itu berlalu, Ridley menyerang Clay di kamar tidur. Seks di pagi hari tadinya tak terbayangkan, tapi mereka melakukannya dengan sangat mengesankan. Siangnya juga. Makan malam di restoran yang bagus; Ridley tak bisa melepaskan tangannya dari Ciay. Sesi tengah malam dimulai di kolam renang, pindah ke Jacuzzi,

lalu ke kamar tidur, dan sesudah acara semalam suntuk, si agen real estat kembali sebelum makan siang. Clay kehabisan tenaga dan sama sekali tidak ber- I minat membeli properti lagi. Namun karena Ridley menginginkan rumah im lebih daripada apa pun yang ia inginkan selama ini, maka Clay membelinya Harga im sebenarnya murah; di bawah harga pasaran, saat pasar menguat lagi ia selalu bisa menjualnya untuk mendapatkan keuntungan. Saat penandatangan dokumen, Ridley secara pribadi menanyai Clay apakah mungkin lebih bijaksana untuk membeli rumah im atas namanya, karena alasan pajak. Pengetahuan Ridley tentang undang-undang pajak Prancis dan Amerika kurang-lebih sama banyaknya seperti pengetahuan Clay tentang hukum waris Georgia, kalau hal seperti im memang ada. Aduh, tidak, katanya pada diri sendiri, tapi pada Ridley ia berkata tegas, Tidak, itu tidak akan bisa, karena alasan pajak." Ridley kelihatan terluka, tapi kepedihan im hilang dengan cepat saat Clay mengambil alih kepemilikan. Clay pergi ke bank di Gustavia, seorang diri. mentransfer uang dari rekening luar negeri. Ketika bertemu pengacara properti im, ia melakukannya tanpa Ridley. "Aku ingin tinggal di sini beberapa lama lagi," kata Ridley saat mereka menghabiskan siang yang panjang dengan bersantai di beranda. Clay merencanakan berangkat keesokan paginya, dan ia mengasumsikan Ridley akan berangkat juga. "Aku ingin membereskan rumah ini," katanya. "Menemui dekorator. Dan bersantai satu-dua minggu." Kenapa tidak? pikir Clay. Sekarang setelah aku memiliki tempat keparat ini, tak ada salahnya

memanfaatkannya. Ia kembali ke D.C. seorang diri, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini ia menikmati keheningan rumahnya di Georgetown. Selama beberapa hari Joel Hanna mempertimbangkan untuk melakukan permainan solo—hanya dirinya, seorang diri di satu sisi meja, menghadapi sepasukan kecil pengacara beserta asisten mereka di sisi lain. Ia akan mempresentasikan rencana kelanjuran perusahaan itu; ia benar-benar tidak butuh bantuan karena ini permainannya sejak kanak-kanak. Akan tetapi Babcock, penasihat hukum perusahaan asuransi mereka, berkeras hadir di sana. Kliennya akan mengklaim $5 juta, dan kalau ia ingin hadir di sana, maka Joel tak bisa menahannya. Bersama-sama mereka berjalan kaki memasuki 405 gedung di Connecticut Avenue. Lift berhenti di lantai empat dan mereka memasuki suite yang mewah dan indah milik Kantor Hukum J. Clay Carter II. Logo "JCC" dengan hurufhuruf panjang dari perunggu yang disiarkan ke seluruh dunia itu tergantung pada dinding yang sepertinya terbuat dari kayu ceri atau bahkan mungkin kayu mahoni. Mebel di ruang penerimaan tamu im mewah dan buatan Italia Wanita I muda cantik berambut pirang di balik meja kaca berangka krom menyambut mereka dengan senyum efisien dan menunjuk ke ruangan di ujung gang. Pengacara bernama Wyatt menyambut mereka di pintu, mengantar mereka masuk, menangani per- j kenalan kepada dan dari geng di sisi lain, dan sementara Joel serta Babcock mengeluarkan isi tas j kerja mereka, seorang wanita muda cantik lainnya muncul entah dari mana dan menerima

pesanan kopi mereka. Ia menyajikannya dengan perangkat minum kopi dari perak dengan logo JCC terukir pada teko dan pada cangkir-cangkir porselen halus itu Ketika semua sudah siap dan tak ada persiapan lain, Wyatt menyalak kepada asistennya, "Beritahu Clay kita semua sudah di sini." Satu menit yang canggung berlalu sewaktu Mr. JCC membiarkan setiap orang menunggu. Akhirnya, ia masuk dengan terbum-buru, jas ditanggalkan, berbicara kepada sekretaris sambil menoleh, benar-benar orang yang sangat sibuk. Ia langsung menghampiri Joel Hanna dan Babcock dan memperkenalkan diri seolah mereka semua ada di sana secara sukarela dan akan terlibat suatu kerja sama. Kemudian ia berjalan ke H seberang dan menduduki singgasana raja di tengah timnya yang terpisah 2,5 meter jauhnya Joel Hanna mau tak mau berpikir, "Orang ini meraup seratus juta dolar tahun lalu." Babcock punya pikiran yang sama, tapi ia menambah hal im dengan gosip bahwa bocah ini tak pernah menyidangkan gugatan perdata. Ia memang pernah menghabiskan waktu lima tahun bersama jagoan-jagoan di pengadilan pidana, tetapi belum pernah sekali pun ia meminta sepeser pun dari juri Dengan segala lagak im, Babcock melihat tanda-tanda kegelisahan. "Anda bilang Anda sudah punya rencana," Mr. JCC mulai. "Mari kita dengarkan." Rencana penyelamatan im cukup sederhana Perusahaan im bersedia mengakui, untuk keperluan rapat ini saja, bahwa mereka pernah memproduksi saru batch semen Portland yang tak memenuhi standar htahtas, dan karena itu, sejumlah X rumah baru di wilayah Baltimore terpaksa harus

dibangun ulang. Diperlukan dana untuk memberikan kompensasi kepada para pemilik rumah, tetapi tidak mencekik perusahaan im sampai mati. Meski hanya sesederhana im-rencananya, Joel buruh waktu setengah jam untuk mempresentasikannya. Babcock berbicara atas nama perusahaan asuransi. Ia mengakui ada dana pertanggungan sejumlah $5 juta, sesuatu yang jarang ia ungkapkan dalam tahap seawal ini. Kliennya dan perusahaan Hanna akan berperan serta dalam pengumpulan dana im. Joel Hanna menjelaskan bahwa perusahaannya sedang kekurangan uang, tetapi bersedia meminjam dalam jumlah besar untuk memberikan kompensasi pada para korban. "Ini kesalahan kami, dan kami berniat memperbaikinya," katanya lebih dari satu kali. "Apakah Anda punya angka yang tepat menyangkut jumlah rumah-rumah im?" JCC bertanya, dan setiap bawahannya mencatat ucapan ini. "Sembilan ratus dua puluh dua," kata Joel. "Kami sudah mengunjungi para grosir, lalu para kontraktor, lalu subkontraktor pembangunannya. Saya kira itu j angka yang akurat, tetap bisa lebih besar sekitar lima persen." JCC membuat catatan. Ketika berhenti ia berkata, ] "Jadi kalau kita asumsikan kompensasi yang memadai bagi masing-masing klien adalah dua puluh lima ribu dolar, kita perkirakan dana seluruhnya sekitar dua puluh tiga juta dolar." "Kami cukup yakin bahwa biaya untuk memperbaiki rumah-rumah itu tidak akan mencapai dua puluh lima nbu dolar," Joel berkata. Seorang asisten menyerahkan dokumen kepada JCC. "Kami punya surat pernyataan dari empat sub-' kontraktor di wilayah Howard

County. Masing-masing dari empat sub itu sudah ke lapangan untuk memeriksa kerusakannya. Masing-masing menyerahkan angka perkiraan. Yang terendah adalah delapan belas ribu sembilan ratus, yang tertinggi adalah dua puluh satu lima ratus. Rata-rata dari keempatnya adalah dua puluh ribu dolar." "Saya ingin melihat perkiraan itu," Joel berkata. "Mungkin nanti. Ditambah lagi, masih ada kerugian lain. Para pemilik rumah ini berhak mendapatkan aanti kerugian atas kekesalan mereka, rasa mahi, hilangnya kenyamanan, dan stres emosional. Salah satu klien kami menderita sakit kepala hebat memikirkan hal ini. Satu lagi kehilangan peluang menjual rumahnya dengan harga yang menguntungkan karena batanya rontok." "Kami punya perkiraan bahwa kisarannya adalah sekitar dua belas ribu dolar," kata Joel. "Kami tidak akan menyelesaikan kasus ini dengan ganti ragi dua belas ribu dolar," JCC berkata, dan setiap kepala di sisi lain menggeleng. Lima belas ribu dolar adalah kompromi yang pantas dan cukup untuk membelikan bata baru- bagi setiap rumah. Tapi penyelesaian seperti itu hanya akan menyisakan sembilan ribu dolar untuk klien sesudah JCC memotong sepertiga bagiannya Sepuluh ribu dolar akan cukup untuk mencopot bata lama dan membeli bata bara sampai di tempat, tetapi tidak cukup untuk membayar tukang batu- menyelesaikan pekerjaannya. Sepuluh ribu dolar hanya akan membuat persoalan makin parah— rumah im akan dibongkar, halaman depannya jadi lumpur acak-acakan, bata-bata bara bertumpuk di jalan masuk tapi tak .ada seorang pun yang memasangnya. Sembilan

rams dua puluh dua kasus, dengan uang jasa pengacara masing-masing $5.000—total $4,6 juta. JCC melakukan perhitungan matematika itu dengan cepat, kagum sendiri melihat betapa tangkas dirinya menjalin deretan angka nol im. Sembilan puluh persen akan jadi miliknya; ia harus membagi sebagian jumlah im dengan beberapa pengacara yang datang belakangan dalam permainan im. Uang jasa yang lumayan. 409 Itu akan menutup biaya pembelian vila baru di St Barth. tempat Ridley masih bersembunyi tanpa minat untuk pulang, dan sesudah dipotong pajak hanya tinggal sedikit saja yang tersisa. Pembayaran SI5.006 untuk setiap klaim, Hanna bisa bertahan. Mengambil S5 juta dari klien Babcock, perusahaan itu bisa menambah sekitar $2 juta dari uang yang saat ini ada di tangan, dana yang disisihkan untuk pabrik dan peralatan. Dana sejumlah $15 juta dibutuhkan untuk membayar setiap klaim potensial. Delapan juta sisanya bisa dipinjam dari bank-bank di Pittsburgh. Akan tetapi, informasi ini disimpan antara Hanna dan Babcock. Ini baru pertemuan pertama, bukan saatnya untuk memainkan setiap kartu. Permasalahannya akan bergolak seputar berapa banyak yang Mr. JCC inginkan untuk usahanya. Ia bisa menjadi pialang untuk pembayaran uang penyelesaian perkara yang adil, mungkin dengan mengurangi prosentase untuk dirinya, masih tetap meraup beberapa juta dolar, melindungi kliennya, membiarkan perusahaan lama yang baik tetap hidup, dan menyebutnya sebagai kemenangan. Atau, ia bisa mengambil garis keras dan setiap pihak akan menderita. Miss Glick

kedengaran sedikit gemetar di interkom. "Ada dua orang, Clay," ia berkata, nyaris berbisik. "FBI." Mereka yang masih b am dalam permainan gugatan massal ini sering menoleh ke belakang seolah apa yang mereka lakukan ilegal. Namun, bersama lewatnya waktu, kulit mereka jadi begitu tebal sehingga mereka merasa seperti Teflon. Baru mendengar kata "FBI" saja Clay langsung terlonjak, lalu ia tertawa sendiri atas kepengecutannya. Sudah jelas ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Kelihatan jelas mereka agen baru; dua agen muda yang rapi, memperlihatkan lencana dan mencoba membuat terkesan setiap orang yang mungkin menyaksikan. Yang berkulit hitam adalah Agen Spooner dan yang putih adalah Agen Lohse. Dibaca LOOSH. Mereka serentak membuka kancing jas mereka sewaktu duduk di kursi di sudut kantor Clay. "Kenalkah Anda dengan seseorang bernama Martin Grace?" Spooner mulai. "Tidak." "Mike Packer?" tanya Lohse. . "Tidak." "Nelson Martin?" 'Tidak." 411 "Max Pacer Ta~ "Mereka semua orang yang sama,** Spooner bor-kata. "Tahu di mana ia mungkin berada?" l idak "Kapan terakhir Anda bertemu dengannya?" Gay berjalan ke meja kerjanya, menyambar kalender, lalu kembali ke kursinya, la mengulur-ulur waktu untuk mengatur pikiran. Dalam keadaan apa pun. ia sebenarnya tidak harus menjawab pertanyaan mereka. Ia bisa minta mereka pergi kapan saja dan kembali bila ia sudah punya pengacara di sana. Bila mereka menyebut-nyebut Tawan, maka ia akan minta berhenti Tidak begitu pasti," katanya, sambil membalikbalik halaman. "Kejadiannya sudah beberapa bulan yang

lalu. Sekitar pertengahan Februari" Lohse berperan sebagai si penulis catatan; Spooner si mterogator. "Di mana Anda bertemu dengannya?" j "Makan malam, di hotelnya." "Hotel mana?" "Saya tidak ingat Mengapa kalian tertarik pada Max Pacer Mereka berdua bertukar pandang sepintas. Spooner meneruskan. Tas bagian dan penyelidikan SEC. Pace punya sejarah melakukan penipuan sekuritas, insider trading Apakah Anda tahu latar belakangnya?" "Tidak, la misterius." "Bagaimana dan mengapa Anda menemuinya?" Clay melemparkan kalender ke meja kopi. "Sebut saja itu urusan bisnis." 'Sebagian besar mitra bisnisnya masuk penjara. Anda lebih baik memikirkan alasan lain." Itu cukup untuk sekarang Mengapa kalian ke sini?" Tfjnri sedang memeriksa para taksi Kami tahu ia pernah beberapa lama di D.C. Kami tabu it mengunjungi Anda di Mustiquc Natal tam. Kami tahu pada bulan Januari ia melakukan transaksi jual kosong saham Goffman seharga enam puluh dua seperempat dolar per lembar sehari sebelum Anda memasukkan gugatan Anda ke pengadilan. Membelinya kembali pada harga lima puluh sembilan per lembar dan mengeruk beberapa juta dolar Menurut kami ia punya akses pada laporan rahasia pemerintah tentang salah satu obat produksi Goffman bernama Maxatil, dan ia menggunakan informasi im untuk melakukan penipuan saham." "Apa lagi lainnya?" Lohse berhenti menulis dan berkata, "Apakah Anda juga melakukan transaksi jual kosong atas saham Goffinan sebelum memasukkan gugatan?" Tidak." "Apakah Anda pernah memiliki saham

Goffman?" Tidak." "Apakah ada anggota keluarga, partner, perusahaan selubung, dana di luar negeri yang Anda kendalikan?" 'Tidak, tidak, tidak." Lohse memasukkan pena ke saku. Polisi yang baik selalu mengusahakan pertemuan pertama berlangsung singkat. Biarkan saksi/sasaran/tersangka gelisah dan mungkin melakukan tindakan tolol. Pertemuan kedua akan jauh lebih panjang. Mereka berdiri dan beranjak ke pintu. "Bila Anda dengar kabar dan Pace, kami ingin mengetahuinya," Spooner berkata. "Jangan terlalu berharap." kata Clay. Ia tidak akan pernah bisa mengkhianati Pace sebab mereka samasama menyimpan begitu banyak rahasia. "Oh. kami sangat berharap, Mr. Carter. Pada kunjungan berikutnya kami akan bicara tentang Ackerman Labs. Sesudah menghabiskan dua tahun dan S8 miliar untuk membayar ganti rugi, Healthy Living akhirnya menyerah. Perusahaan itu, menurut pendapatnya sendiri, telah melakukan upaya berdasarkan itikad baik untuk memberikan ganti rugi atas mimpi buruk akibat pil diet Skinny Ben buatannya Ia berusaha dengan gagah berani memberi kompensasi sekitar setengah juta dolar kepada orang yang celaka karena memakai obat im setelah melihat iklannya yang agresif tanpa mengungkapkan seluruh fakta. Ia dengan sabar menanggung serangan ganas bertubi-tubi dari ikanikan hiu itu—para pengacara gugatan massal, la telah membuat mereka kaya. Dalam keadaan babak-belur, ciut, dan bagai telur di ujung tanduk, perusahaan itu kembali dipukuli dan tak mampu lagi menerimanya. Serangan terakhir adalah gugatan cUum action Max yang diajukan

penga^ra-pengacara tak dikenal yang mewakili ^^mS^srt meng*unakan y «n tapi tak mengalami efek merugikan. iMI 414 Mereka menginginkan berjuta-juta dolar sebagai ganti rugi hanya karena mereka telah mengkonsumsi pil tersebut, kini khawatir dengannya, dan mungkin akan terus khawatir di masa mendatang sehingga meruntuhkan kesehatan emosional mereka yang sudah rapuh. Healthy Living meminta perlindungan ke pengadilan dengan menyatakan diri bangkrut menurut Undang-Undang Pasal 11 dan berjalan pergi meninggalkan kekacauan im. Tiga divisinya sudah ditutup, dan tak lama lagi perusahaan tersebut akan lenyap, la melambaikan tangan kepada semua pengacara,itu dan semua klien mereka dan meninggalkan gedung. Berita im merupakan kejutan bagi komunitas finansial, tetapi tak ada kelompok lain yang lebih terguncang daripada pengacara-pengacara gugatan massal itu. Mereka akhirnya mencekik mati angsanya yang bertelur emas. Oscar Mulrooney melihatnya lewat Internet di meja kerjanya dan mengunci pintu. Dengan perencanaannya yang bervisi jauh, biro hukum im telah menghabiskan $2,2 juta untuk iklan dan tes medis, yang sejauh ini berhasil menjaring 215 klien Skinny Ben yang sah. Dengan nilai ganti rugi sebesar $180.000, maka kasus-kasus im sedikitnya akan menghasilkan $15 juta sebagai uang jasa pengacara, yang akan menjadi basis untuk bonus akhir tahun yang sangat ia harapkan. Dalam tiga bulan terakhir, ia tidak bisa mendapatkan persetujuan dari administrator class actio* atas Waimnya Ada desasdesus tentang pertikaian antara para pengacara yang tak

terhitung jumlahnya itu kesulitan mendapatkan uang yang semestinya sudah Berkeringat, ia menelepon ke sana kemari, menghubungi pengacara-pengacara lain yang terlibat dalam class action itu. mencoba bicara dengan si administrator, lalu sang Hakim. Ketakutan terhebatnya dikonfirmasi seorang pengacara di Nashville, yang punya beberapa Tarus kasus, seluruhnya diajukan ke pengadilan sebelum kasus Oscar. "Kita tertipu habis," pengacara itu berkata. "HL punya utang pembayaran empat kali lipat lebih besar daripada asetnya, dan tak ada uang. Kita tertipu habis." Oscar menenangkan diri. meluruskan dasi, me- j ngancingkan lengan kemeja, mengenakan jas, dan pergi untuk memberi tahu Clay. Sam jam kemudian ia menyiapkan sepucuk surat untuk masing-masing dari 215 kliennya. Ia tidak memberikan harapan kosong kepada mereka. Keadaan benar-benar tampak suram. Biro hukum itu akan memantau cermat prosedur kebangkrutan dan perusahaan tersebut Ia akan mengusahakan secara agresif segala cara yang memungkinkan untuk mendapatkan uang ganti rugi im. Tetapi sedikit sekali alasan untuk optimis. Dua hari kemudian, Nora Tackett menerima Suralaya. Karena tukang posnya kenal dengan Nora, ia tahu bahwa Nora sudah pindah alamat. Nora kini tinggal di trailer baru berukuran ekstrabesar yang terletak lebih dekat ke kota. Ia ada di rumah, seperti selamanya, mungkin menonton opera sabun pada televisi layar lebarnya yang baru, makan kue-kue I rendah lemak, ketika si tukang pos meletakkan «e-pucuk surat dari sebuah biro hukum, tiga surat I tagihan, dan beberapa brosur penjualan

ke dalam j kotak surat Ia belakangan ini menerima banyak surat dari pengacaraa-pengacara di DC. dan setiap orang di Larkin tahu apa sebabnya. Pada mulanya uang penggantian kerugian dan pabrik pil diet itu didesasdesuskan mencapai $100.000. lalu ia memberi tahu seseorang di bank bahwa jumlahnya mungkin mencapai $200.000. Angka im melompat lagi saat digunjingkan di seluruh penjuru Larkin. Ear! Jeter, yang tinggal di selatan kota. menjual trailer barunya pada Nora ketika mendengar kabar bahwa wanita im akan mendapatkan hampir setengah juta dolar, dan dalam waktu dekat Ditambah lagi. saudarinya, MaryBeth, sudah menandatangani giro mundur sembilan puluh hari. Tukang pos im tahu benar uang tersebut telah menimbulkan segala macam masalah bagi Nora. Setiap orang bermarga Tackett di county itu meneleponnya untuk meminta uang jaminan pembebasan bila ada penangkapan. Anak-anaknya, atau anak-anak yang ia asuh, dijemput di sekolah sebab ibu mereka begitu gendut dan kaya. Ayah mereka, laki-laki yang tak pernah terlihat batang hidungnya di daerah itu selama dua tahun terakhir, kini kembali ke kota. Ia bilang pada orang-orang di salon bahwa Nora adalah wanita paling manis yang pernah dinikahinya. Ayah Nora pernah mengancam akan membunuh laki-laki im dan itulah alasan lain mengapa Nora tetap tinggal di "dalam dengan pintu terkunci Tapi hampir semua tagihannya sudah lewat jatuh ora? Itu rvrt.unaan bc«J ifth keluar satu jam kern tak aria seorang pun dj ke dalam *mitr. Teleponnya kepada N Rapat itu berlangsung larut malam, tepat ketika Clay hendak

meninggalkan kantor. Pembicaraan dimulai dengan urusan yang tidak menyenangkan dan keadaan tidak membaik. Crittle berjalan masuk dengan wajah masam dm mengumumkan, "Penanggung asuransi kerugian kita memberi tahu bahwa mereka membatalkan tanggungan asuransinya." "Apa!" Clay berteriak. "Kau mendengarku." "Mengapa kau baru memberitahukannya sekarang? Aku sudah terlambat makan malam." "Seharian aku berbicara dengan mereka." Jeda sejenak ketika Clay melemparkan jasnya ke sofa dan berjalan ke jendela "Mengapa?" ia bertanya. "Mereka telah mengevaluasi praktik kerjamu dan tidak «ha dengan yang mereka lihat. Dua puluh ribu kaut Maxatil membuat mereka ketakutan. Tcr4IS kta besar jumlah yang ditanggung kalau sampai otjJi sesuatu yang tidak beres Sepuluh juta dolar „„fa hanya akan jadi setetes air rit dalam ember, jadi mereka kabur." "Bisakah mereka melakukan itu'" Tentu saja bisa. Perusahaan asuransi bata menghentikan pertanggungan mereka kapan saja mereka mau. Mereka berutang pengembalian premi kepada kita. tapi jumlahnya kecil sekali. Kita sama sekali telanjang. Clay. Tidak ada perlindungan asuransi " "Kita tidak akan butuh perlindungan " "Aku mendengarmu, tapi aku tetap khawatir" "Seingatku, kau juga khawatir dengan Dvlofi." "Dan aku keliru." "Nah, Rex sobatku, kau pun keliru tentang Maxatil. Sesudah Mr. Mooneyham selesai dengan Goffintn di Flagstaff, mereka pasti tak sabar untuk menyelesaikan perkara ini. Mereka sudah menyisihkan dana miliaran dolar untuk menangani gugatan e/e» metiom ini. Tahu berapa besar nilai dua puluh empat ribu kasus itu? Cobalah terka."

"Beri aku kejutan." "Hampir satu miliar dolar. Rex. Dan Goffman sanggup membayarnya." "Aku masih khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak beres?" "Kau harus punya sedikit keyakinan, Sobat Soal seperti ini butuh waktu. Persidangan di sana direncanakan mulai bulan September. Saat sidang im selesai uang akan kembali membanjir masuk." "Kita sudah menghabiskan delapan juta untuk iklan ¦ Tidak bisakah kita setidaknya mengurungi 41P kecepatan? Mengapa kau tidak bisa berpikir bahwa 24 ribu kasus sudah cukup?" "Sebab itu belum cukup." Dan dengan ucapan itu Clay terseny-urrt, mengambil jasnya, menepuk pundak Crittle. dan pergi untuk makan malam. Ia seharusnya menemui mantan teman sekamar di college dulu di Old Ebbitt Grille, di Fifteenth Street, pukul setengah sembilan, la menunggu di bar sampai hampir satu jam sebelum ponselnya berdering. Teman sekamaraya im terikat rapat yang tampaknya takkan pernah berakhir. Ia mengucapkan permintaan maaf seperti biasanya. Ketika beranjak pergi, Clay melontarkan pandangan sepintas ke dalam restoran dan melihat Rebecca makan malam dengan dua perempuan lain. ia melangkah kembali ke bar, menemukan kursinya, dan memesan segelas ale. Ia menyadari benar bahwa Rebecca sekali lagi menghentikan langkahnya Ia ingin sekali berbicara dengannya, tapi bertekad untuk tidak menyela. Perjalanan ke kamar kecil pasti akan ada hasilnya. Ketika Clay berjalan melewati mejanya, Rebecca mengangkat muka dan langsung tersenyum. Ia memperkenalkan Clay pada dua temannya, dan Clay

menjelaskan ia sedang di bar, menunggu teman kuliah lama untuk makan malam. Teman im terlambat, mungkin cukup lama, maaf telah menyela. Oh well, haru» perg,. Senang bertemu denganmu. Lima belas menit kemudian, Rebecca muncul di bar yang penuh orang dan berdiri rapat di sebelahnya. Sangat dekat "Aku cuma punya waktu sebentar," katanya. "Mereka menunggu." Ia mengangguk ke arah restoran. "Kau kelihatan hebat," Clay berkata, tak sabar untuk mulai mencari peluang. "Kau juga." "Mana Myers?** Ia mengangkat pundak seolah tidak peduli. "Bekerja. Ia selalu bekerja" "Bagaimana kehidupan perkawinan?" "Sangat kesepian," katanya sambil memalingkan muka. Clay minum. Seandainya tidak di bar yang penuh orang, dengan teman-teman menunggu di dekatnya. Rebecca tentu sudah menumpahkan segala unek-unek. Terlalu banyak yang hendak ia katakan. Perkawinan im tidak berjalan sukses.' Clay berjuang untuk menahan senyum. "Aku masih menunggu," katanya. Mata Rebecca basah ketika ia mencondongkan badan dan mencium pipinya Kemudian ia pergi tanpa sepatah kata lagi. Dengan orioles enam angka di bawah Devil Rays— padahal Devil Rays payah—Mr. Ted Worley terjaga dari tidur siang yang langka dan berdebat sendiri apakah akan pergi ke toilet saat im juga atau menunggu sampai inning ketujuh. Ia tertidur selama satu jam, sesuatu yang tidak biasa baginya sebab tiap siang ia selalu tidur tepat pukul dua. Orioles memang membosankan tapi tak pernah membuatnya tertidur. Namun sesudah mimpi buruk Dyloft itu, ia tidak pernah memaksakan kandung kemihnya

sampai batas kemampuan. Tidak minum terlalu banyak, tidak minum bir sama sekali. Dan jangan ada tekanan pada instalasi pipa di bawah sana; kalau ia perlu buang ari kecil, maka ia tidak akan ragu. Dan apa masalahnya kalau ia tidak menonton beberapa pitcM la berjalan ke kamar kecil untuk tamu di ujung gang, di sebelah kamar tidur tempat Mrs. Worley duduk di kursi goyang, mengerjakan rajutan yang mengisi sebagian besar hidupnya. Ia menutup pintu di belakangnya, membuka ritsleting celana, dan mulai buang air. Ada sedikit rasa panas yang menyebabkannya melihat ke bawah, dan ketika melakukan hal ft», ia hampir jatuh pingsan. Kencingnya berwarna seperti karat besi— cairan merah kecokelatan, la terengah dan menyangga diri dengan satu tangan di dinding. Ketika selesai, ia tidak mengguyurnya; ia duduk di toilet selama beberapa menit untuk menenangkan diri. ' "Apa yang kaukerjakan di sana?" istrinya berseru. "Bukan urusanmu," balasnya membentak. "Kau tidak apa-apa, Ted?" "Aku baik-baik saja." Tapi keadaannya tidak baik-baik saja. Ia mengangkat penutup kloset, sekali lagi melihat alarm mematikan yang baru saja dikeluarkan tubuhnya, lalu mengguyurnya, dan berjalan kembali ke ruang duduk. Devil Rays kini memimpin delapan angka, tetapi permainan itu telah kehilangan makna apa pun yang tadi ada pada inning pertama. Dua puluh menit kemudian, sesudah tiga gelas air, ia menyelinap turun ke lantai bawah dan buang air kecil di kamar mandi kecil, sejauh mungkin dari istrinya. Im darah, ia memutuskan. Tumor im kembali, dan apa pun bentuknya, kini tumor im jauh lebih serius daripada

sebelumnya Ia menuturkan kejadian sebenarnya pada istrinya keesokan paginya, sambil makan roti panggang dan selai. Ia lebih suka merahasiakannya dari si istri selama mungkin, tapi hubungan batin mereka begitu erat sehingga rahasia apa pun, tamtama yang berkaitan dengan kesehatan, sangatlah sulit untuk disimpan sendiri. Sang istri langsung mengambil tindakan,' menelepon urolog mereka, berbicara galak pada sekretaris yang membuat janji, mendaftar untuk datang sesudah makan siang. Ini darurat dan besok sama sekali tidak bisa diterima. Empat hari kemudian, tumor ganas ditemukan dalam ginjal Mr. Worley. Selama pembedahaan yang berlangsung lima jam. nara dokter mengangkat semua Kepala bagian urologi memantau si pasien dengan cermat Seorang kolega di rumah sakit Kansas City melaporkan kasus yang sama sebulan sebelumnya; munculnya rumor ginjal pasca pemakaian Dyloft. Si pasien di Kansas City kini menjalani kemoterapi dan keadaannya memburuk dengan cepat Hal yang sama kemungkinan bisa terjadi pada Mr. j Worley, meskipun spesialis onkologinya bersikap sangat hati-hati dalam kunjungan pertamanya sesudah operasi. Mrs. Worley merajut sambil mengeluh tentang kualitas makanan rumah sakit yang memang tak j diharapkan lezat tapi mestinya setidaknya hangat Dengan harga seperti ini? Mr. Worley bersembunyi di balik selimut dan menonton televisi. Dengan penuh pengertian ia mematikan suara televisi ketika spesialis onkologi itu tiba, meskipun ia terlalu sedih dan tertekan untuk bercakapcakap. Ia boleh pulang sekitar seminggu lagi, dan segera

setelah ia cukup kuat, mereka akan memulai terapi yang agresif untuk menangkal kankernya. Mr. Worley menangis ketika pertemuan im selesai. Dalam pembicaraan lanjutan dengan kolega di Kansas Chy, si kepala bagian urologi itu mendapat satu kasus lain. Ketiga pasien tersebut dulunya penggugat Dyloft dalam Kelompok Sam. Kini mereka sekarat. Nama seorang pengacara disebut. Pasien dari Kansas City itu diwakili biro hukum kecil di New Y eekCtty. Sungguh pengalaman yang langka dan menyenangkan bagi seorang dokter untuk bisa menyampaikan nama pengacara yang mau menggugat pengacara lain. dan kepala bagian urologi im bertekad untuk menikmati hal itu. Ia masuk ke kamar Mr. Worley. memperkenalkan diri sebab mereka belum pernah bertemu, dan menjelaskan perannya dalam pengobatan itu. Mr. Worley sudah muak dengan dokter dan. seandainya bukan karena segala macam slang yang simpang siur pada tubuhnya yang rusak, ia tentu sudah mengumpulkan barang-barangnya dan meninggalkan rumah sakit Tak lama kemudian percakapan im pun sampai pada Dyloft, lalu uang penyelesaian perkara, lalu lahan subur profesi hukum. Ini memicu lelaki tua itu; wajahnya merona, matanya berapiapi. Uang penyelesaian perkara itu, betapa pun sedikitnya, telah dibereskan tak sesuai keinginannya. Sedekah $43.000, dengan si pengacara mengambil sisanya! Ia sudah menelepon dan menelepon dan akhirnya terhubung dengan pengacara muda bermulut licin yang mengatakan padanya untuk memeriksa persyaratan-persyaratan dalam tumpukan dokumen yang telah ia tandatangani. Di situ ada

klausul pemberian otorisasi yang mengizinkan pengacara menyelesaikan perkara im bila uangnya melebihi ambang yang sangat rendah. Mr. Worley pernah mengirim dua surat penuh racun kepada Mr. Clay Carter, tapi tak satu pun berhasil memancing tanggapan. "Aku memang tidak setuju dengan penyelesaian perkara im." Mr. Worley tema berbicara. "Kurasa sudah terlambat sekarang." Mrs. Worley menambahkan. "Mungkin tidak." si dokter berkata. Ia menceritakan pada mereka tentang pasien dari Kansas City itu, laki-laki yang sangat mirip Ted Worley. "la membayar pengacara untuk menggugat pengacaranya sendiri," si dokter berkata dengan perasaan puas luar biasa. "Aku sudah terlalu banyak berurusan dengan pengacara," Mr. Worley berkata. Dengan dokter juga, kalau mau terus terang, tetapi ia menahan lidahnya. "Apakah Anda punya nomor teleponnya?" Mrs. Worley bertanya. Ia berpilar jauh lebih jenuh daripada suaminya. Sedihnya, ia juga membayangkan satu atau dua tahun ke depan saat Ted pergi. Spesialis urologi im kebetulan punya nomor tersebut Satu-satunya hal yang ditakuti pengacara-pengacara gugatan massal im adalah sesama pengacara seperti mereka. Predator. Pengkhianat yang menguntit di belakang untuk membereskan kekeliruan mereka. Subspesialisasi yang berkembang di mana beberapa pengacara yang sangat cakap dan sangat keji memburu sesama mereka karena menangani penyelesaian perkara dengan tidak benar. Helen Warshaw sedang menulis buku panduannya. Bagi golongan yang mengaku begitu cinta pada ruang sidang, pengacara-

pengacara gugatan massal itu langsung merasa lemas membayangkan diri sendiri duduk d. meja tergugat, memandang malu-malu pada juri sementara informasi keuangan pribadi mereka dikupas habis di pengadilan terbuka. Bagi Helen Warshaw, menyeret mereka ke sana merupakan panggilan tugas. Namun demikian, hal itu jarang terjadi. Pekik perang mereka: Gugat Seluruh Dunia! dan Kami Cinta Juri! rupanya berlaku bagi orang lain. Ketika dihadapkan dengan bukti kesalahan, tak ada yang menyelesaikan perkara di luar persidangan lebih cepat daripada pengacara gugatan massal. Tak seorang pun. bahkan dokter yang bersalah sekalipun, yang mengelak dari ruang sidang dengan energi sehebat pengacara TVIbillboard yang ketahuan melakukan kecurangan dalam penyelesaian perkara yang melibatkan uang ganti rugi. Warshaw punya empat kasus Dyloft di kantornya di New Y dan sedang meneliti tiga lainnya ketika menerima ork telepon dari Mrs. Worley. Biro hukum kecilnya punya berkas data tentang Clay Carter dan berkas yang lebih tebal lagi tentang Patton French. Ia memantau dua puluh biro hukum gugatan massal paling top di negeri ini dan puluhan kasus ciass action terbesar. Ia punya banyak klien dan memperoleh banyak uang jasa, tapi tak ada yang lebih menggairahkannya daripada bencana Dyloft. Beberapa menit bercakap-cakap di telepon dengan Mrs. Worley, dan Helen pun tahu persis apa yang telah terjadi. "Saya akan ke sana pukul lima," katanya. "Hari ini?" "Ya. Sore ini." . .. Ia naik pesawat penumpangke bandara^Dulles. Ia tidak punya pesawat jet sendiri, karena dua ajasan yang sangat

haik. Pertama, ia hemat dengan uang dan tidak percaya dengan penghamburan seperti itu. Kedua, kalau sampai ia diperkarakan ke pengadilan, ia tidak ingin juri mendengar tentang pesawat jet Tahun sebelumnya, pada satu-satunya kasus yang bisa ia bawa ke sidang, ia memperlihatkan pada juri foto-foto berwarna ukuran besar dari pesawat jet pengacara tergugat keduanya, luar-dalam. Ditambah juga foto-foto yatAr-nya. rumah peristirahatan di Aspen. dan lain-lain. Juri sangat terkesan. Ganjarannya adalah dua puluh juta dolar punitif. Ia menyewa mobil—bukan limusin— dan menemukan rumah sakit im di Bethesda. Mrs. Worley sudah mengumpulkan dokumen-dokumen mereka, yang dipelajari Warshaw selama satu jam saat Mr. Worley tidur sore. Ketika ia terjaga, ia tidak ingin bicara. Ia sudah letih dengan pengacara, terutama pengacara perempuan dari New Y yang suka mendesak. Akan tetapi, istrinya punya ork banyak waktu dan merasa lebih mudah untuk mencurahkan perasaan pada wanita. Mereka berdua pergi ke lounge untuk minum kopi dan bercakap-cakap. Pelaku kejahatan utamanya adalah Ackerman Labs, dulu dan selamanya. Mereka membuat obat yang buruk, mempercepat proses pemberian izin, meng-iklankannya besar-besaran, tidak cukup mengujinya, tidak sepenuhnya mengungkapkan segala yang mereka ketahui tentang obat rto. Kini dunia belajar bahwa Dyloft ternyata lebih berbahaya daripada perkiraan senada. Ms. Warshaw sudah memperoleh bukti medis yang meyakinkan bahwa kambuhnya tumor berkaitan dengan pemakaian Dyloft. Pelaku kejahatan kedua adalah dokter yang meresepkan obat itu, meskipun

tingkat kejahatannya rendah. Ia mengandalkan Ackerman Labs. Obat im sangat manjur. Dan seterusnya. Sayangnya, dua pelaku pertama itu sudah sepenuhnya dibebaskan dari segala tanggung jawab ketika Mr. Worley menyelesaikan perkara gugatannya dalam gugatan class action Biloxi. Meskipun dokter arthritis Mr. Worley tidak pernah digugat, pembebasan tanggung jawab menyeluruh im meliputi dirinya juga. 'Tetapi Ted sebenarnya tidak ingin menyelesaikan perkara im di luar sidang," Mrs. Worley berkata lebih dari satu kali. Tidak jadi soal. Ia sudah melakukannya. Ia telah memberikan wewenang kepada kuasa hukumnya untuk menyelesaikan perkara im. Si pengacara sudah melakukannya, dan dengan demikian jadi pelaku kejahatan ketiga. Dan yang teiakhir yang masih tersisa. Satu minggu kemudian,- Ms. Warshaw mengajukan gugatan terhadap J. Clay Carter, F. Patron French, M. Wesley Saulsberry, dan semua pengacara lain, dikenal maupun tak dikenal, yang telah secara prematur menyelesaikan perkara Dyloft dengan uang ganti rugi. Sekali lagi, penggugat utamanya adalah Mr. Ted Worley dari Upper Marlboro, Maryland, mewakili dan atas nama semua pihak lain yang dirugikan, dikenal atau tidak dikenal pada saat itu. Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Dvstrik Columbia, tidak terlalu jauh I dan kantor JCC. Meminjam satu halaman dari buku permainan ter- i gugat sendiri, Ms. Warshaw mengirimkan salinan gugatannya dengan faks kepada selusin surat kabar terkemuka lima belas menit sesudah ia memasukkannya ke pengadilan. Petugas pengadilan yang

kasar dan bertubuh kekar mendatangi resepsionis kantor Clay dan menuntut untuk menemui Mr. Carter. "Ini mendesak," ia ber-keras. la dikirim ke gang di mana ia harus berurusan dengan Miss Glick. Ia memanggil bosnya, yang dengan enggan keluar dari kantor dan mengambil dokumen yang akan merusak suasana hari ini. Mungkin tahun ini. Para reporter sudah menelepon saat Clay selesai membaca gugatan class action itu. Oscar Mulrooney bersamanya; pintunya dikunci. "Belum pernah aku mendengar yang seperti ini," Clay menggumam, dengan pedih menyadari ada begitu banyak yang tidak ia ketahui tentang permainan gugatan massal ini. >¦%¦ Tak ada yang salah dengan sergapan mendadak, tetapi setidaknya perusahaan-perusahaan yang ia perkarakan tahu mereka punya masalah yang sedang menggelegak. Ackerman Labs tahu ia punya obat yang buruk sebelum Dyloft masuk pasar. Hanna Portland Cement Company sudah mengirim orang-orang ke Howard County untuk menghitung klaim awal. Ooftrnan sudah digugat Dale Mooneyham karena Maxatil, dan pengacara-pengacara lain mengerubungi. Tetapi yang ini? Clay tidak tahu bahwa Ted Worley sakit lagi. Tak ada sedikit pun tanda-tanda masalah di mana pun di seluruh penjuru negeri. Ini tidak adil. Mulrooney terlalu kaget untuk berbicara. Melalui interkom Miss Glick mengumumkan, 'Clay, di sini ada reporter dari Washington Post.*' 'Tembak saja bangsat im," geram Clay. "Apakah im berarti 'Tidak'?" "Itu"Sama sekali tidak!"' "Katakan padanya Clay tidak ada di sini," Oscar dengan susah payah berkata. "Dan panggil satpam," Clay

menambahkan. Kematian tragis teman dekat tidak akan menimbulkan suasana yang lebih murung daripada ini. Mereka bicara tentang pengendalian situasi—bagaimana menanggapi, dan kapan? Haruskah mereka cepat-cepat menyusun penyangkalan agresif terhadap gugatan itu dan mengajukannya ke pengadilan hari im juga? Mengirimkan kopinya dengan faks kepada pers? Haruskah Clay berbicara kepada reporter? Tak ada yang diputuskan sebab mereka tidak bisa membuat keputusan. Keadaan jungkir balik; ini wilayah bara. Oscar mengajukan diri secara sukarela untuk menyebarkan kabar im di biro hukum, memutar segalanya menjadi positif untuk mempertahankan semangat. "Kalau aku keliru, aku akan membayar klaim itu," kata Clay. "Semoga saja Mr. Worley adalah satu-satunya dari biro hukum ini." 431 "Itulah pertanyaan besarnya, Oscar. Ada berapa Ted Worley di luar sana?" Tidur mustahil dilakukan. Ridley ada di St Barth, merenovasi vila, dan untuk itu Clay merasa bersyukur. Ia dihina dan dipermalukan: setidaknya Ridley tidak tahu tentang im. Pikirannya tertuju pada Ted Worley. Ia tidak marah, jauh dan itu. Tuduhan tanpa dasar dalam suatu gugatan biasanya jarang tepat, tetapi yang ini kedengarannya akurat. Mantan kliennya tidak akan menyatakan diri menderita rumor ganas kalau tumor im tidak benar-benar ada. Kanker Mr. Worley disebabkan obat yang buruk, bukan pengacara yang buruk. Tetapi secara tergesa-gesa menyelesaikan suatu kasus di luar persidangan untuk imbalan $62.000 padahal kasus itu sesungguhnya bernilai jutaan dolar merupakan mala-

praktik dan keserakahan. Siapa yang bisa menyalahkan laki-laki itu jika melakukan pukulan balasan? Sepanjang malam yang panjang itu, Clay tenggelam dalam perasaan kasihan pada diri sendiri—egonya yang terluka hebat; hinaan di antara rekan-rekan, teman, dan pegawai; kegembiraan musuh-musuhnya, kengerian esok, dan cercaan masyarakat yang akan ia terima di surat kabar, tanpa seorang pun membelanya. Kadang-kadang ia ketakutan. Mungkinkah ia benar-benar kehilangan segalanya? Apakah ini awal dari akhir riwayatnya? Persidangan tentulah akan mendapatkan simpati besar dari juri—untuk pihak lain! mn berapa banyakkah penggugat potensial yang ada J; luar sana? Masingmasing kasus bernilai jutaan dolar. ., Omong kosong. Dengan 25 ribu kasus Maxatil menunggu, ia bisa menanggung apa saja. Tetapi semua pemikiran im akhirnya kembali pada Mr. Worley, klien yang tidak dilindungi pengacaranya sendiri. Rasa bersalah begitu berat sehingga ia merasa ingin menelepon laki-laki im dan meminta maaf. Mungkin ia akan menulis sepucuk surat untuknya. Ia ingat membaca dua surat yang ia terima dari mantan kliennya. Ia dan Jonah menertawakannya. Tak berapa lama setelah pukul empat dini hari. Clay membuat satu teko kopi pertama. Pada pukul lima, ia memeriksa Internet dan membaca Post Tidak ada serangan teroris dalam 24 jam terakhir. Tidak ada pembunuh berantai yang beraksi. Kongres sudah pulang. Presiden sedang berlibur. Sam hari yang kurang berita, jadi mengapa tidak memasang wajah "Raja Ganti Rugi" yang sedang

tersenyum pada halaman depan, separo halaman bagian kawah? PENGACARA GUGATAN MASSAL DIGUGAT MASSA adalah judul yang cerdik. Alinea pertamanya berbunyi: J. Clay Carter, pengacara dari Washington yang dijuluki Raja Ganti Rugi terbaru, kena batunya kemarin ketika ia digugat beberapa kliennya yang kecewa. Gugatan itu menyatakan bahwa Carter yang dikabarkan tahun lalu memperoleh uang jasa sebesar $110 juta. secara prematur menyelesaikan kasus-kasusnya dengan ganti rugi kecil, padahal sebenarnya nilainya mencapai Juta» dolar. 433 DeJapan alinea sisanya tidaklah lebih baik. Diare berat melanda di wakru malam, dan Clay terpaksa berlari ke kamar mandi. Sobatnya di The Wall Street Journal ikut menyerang dengan artileri berat. Halaman depan, sisi kiri, sketsa mengerikan wajah Clay yang berpuas diri. Judul beritanya APAKAH RAJA GANTI RUGI AKAN DIGULINGKAN? Nada artikel im seolah Clay seharusnya digugat di pengadilan pidana dan dipenjarakan, bukan sekadar diturunkan dari tahta. Setiap kelompok bisnis di Washington punya pendapat sendiri tentang persoalan itu. Kegembiraan mereka hampir tak dimmp-mmpi. Betapa ironisnya bahwa mereka begitu gembira melihat satu gugatan lagi. Presiden National Trial Lawyers Academy tidak berkomentar. No comment.' Dari safu-satunya kelompok yang tak pernah melepaskan dukungannya pada pengacara. Alinea berikutnya menjelaskan apa sebabnya. Helen Warshaw adalah anggota aktif New Y ork Trial Lawyers Academy. Sesungguhnya, kredensialnya sangat mengesankan.

Advokat pengadilan besertifikat Editor Law Review di Columbia. Ia berumur 38 tahun, ikut maraton sekadar untuk hobi, dan digambarkan "biantan lawannya sebagai orang yang "cemerlang dan ulet". Kombinasi yang mematikan, pikir Clay sewaktu ia berlari kembali ke kamar mandL Duduk di toilet, ia menyadari para pengacara itu tidak akan memihak siapa pun dalam perkara ini. Ini perselisihan antaranggota keluarga. Ia tidak bisa meng- . j harapkan simpati ataupun pembela. Sumber yang tidak disebutkan namanya menyatakan penggugatnya mencapai jumlah saru lusin. Diharapkan akan ada sertifikasi class action, karena ^'perkirakan kelompok penggugat ini akan lebih besar lagi. "Seberapa besar?" Clay bertanya pada diri sendiri sewaktu membuat kopi lagi. "Ada berapa banyak Worley di luar sana?" Mr. Carter, berusia 32 tahun, tidak ada di tempat untuk memberikan komentar. Patron French menyebut gugatan im "mengada-ada tak keruan", deskripsi yang menurut artikel im ia pinjam dari delapan perusahaan yang pernah ia gugat selama empat tahun terakhir. Ia melangkah lebih jauh dengan mengatakan gugatan itu "...berbau persekongkolan antara pendukung reformasi undang-undang gugatan massal dan pihak-pihak yang diuntungkan, industri asuransi." Mungkin wartawan im mewawancarai Patton sesudah beberapa gelas vodka. Keputusan harus diambil. Karena ia benar sakit, maka ia bisa bersembunyi di rumah dan menunggu badai lewat. Atau ia bisa melangkah ke dalam dunia yang kejam dan menghadapi segala cemooh. Ia benar-benar ingin minum obat dan kembali ke ranjang dan terbangun seminggu

kemudian dengan mimpi buruk itu di belakangnya Lebih baik lagi, melompat ke pesawat dan pergi menemui Ridley. Ia sudah di kantor pada pukul rujuh, dengan ekspresi wajah dibuat sewajar mungkin, meneguk kopi banyak-banyak, hilir mudik di gang bersenda gurau dan tertawa-tawa dengan pekerja shrfi pagi membuat rV Z. taruna lucu tentang kemungkinan ada petugas lelucon kurang ^ ^ reporter raengendus. pengadilan 435 eooux aan panggilan Pengadilan beterbangan di sana-SIM. Itu pertunjukan yang hebat dan herani, sesuatu yang dibutuhkan dan dihargai biro hukumnya. HaJ itu berian t ui hingga menjelang lengah hari ketika Mtss Glick menghentikannya seketika dengan menusuki kantornya yang terbuka sambil berkala Tlay, dua agen FBI im kembali lagi." "Bagus sekali!" katanya* sambil menggosokgosokkan kedua belah tangan seolah akan menampar Spooner dan Lohse muncul dengan senyum dingin j dan tanpa jabatan tangan. Clay menutup pintu, me-ngertakkan gigi, dan memerintahkan diri sendui agar meneruskan pertunjukan. Tetapi keletihan menerpa dengan keras. Dan ketakutan juga. Kali ini Lohse yang berbicara sementara Spooner menulis catatan. Rupanya foto Clay di halaman depan sarat kabar telah mengingatkan mereka bahwa ia pantas dikunjungi lagi. Itulah harga ketenaran. "Ada tandatanda dari teman Anda. Pace?" Lohse 'Tidak, sedikit pun tidak " Dan im benar Betapa ia butuh nasihat Pace dalam krisis seperti ini. "Anda yakin?" "Apakah kaitan tali?" balas Clay. Ia tiap meminta mereka pergi bila pertanyaanpertanyaan mereka jadi berbelit Mereka cuma penyelidik,

bukan jaksa. "Aku sudah bilang tidak." "Kami pikir ia ada di kota minggu lalu." *BagusMi. Aku belum bertemu dengannya." "Anda memasukkan gugatan pada Ackerman Labs pada tanggal dus fon tahun lalu, benarT "Ya. "Apakah Anda punya saham perusahaan im sebelum Anda mengajukan gugatan'' Tidak." "Apakah Anda melakukan transaksi jual. lalu membelinya kembali dengan harga lebih rendah?" Tentu saja ia melakukannya, atas saran Pace, teman baiknya Mereka tahu jawaban atas pertanyaan itu. .Mereka punya data transaksi tersebut, ia yakin. Sejak kunjungan pertama mereka, ia sudah melakukan riset mendalam tentang penipuan sekuritas dan insider trading. Menurut pendapatnya, posisinya berada di daerah yang tidak jelas, abu-abu, memang bukan tempat yang baik tetapi jauh dan bersalah. Bila direnungkan kembali, ia seharusnya tidak melakukan transaksi jual-beli saham im. Seribu kali disesalinya, seandainya saja ia tak melakukan hal itu. "Apakah aku dalam pemeriksaan atas sesuatu?" ia bertanya Spooner sudah mengangguk sebelum Lohse berkata, "Ya." "Kalau begitu pertemuan ini selesai. Pengacaraku akan menghubungi kalian." Clay berdiri dan beranjak ke pintu. IT UNTUK, rapat Komite Pengawas penggugat Dyloft berikutnya, tergugat Patton French memilih hotel di pusat kota Vtlanta. di mana ia sedang berperan dalam salah iatu di antara banyak seminarnya tentang bagaimana nenjadi kaya dengan memburu pabrikpabrik farmasi, im adalah rapat darurat. French tentu saja menempati Presidential Suite, ruangan norak di lantai paling atas hotel itu yang tak terpakai, dan di sanalah

mereka berkumpul Ini pertemuan yang tidak biasa karena tidak ada saling membandingkan catatan tentang mobil mewah terbaru atau ranch mereka, tak ada sedikit pun. Tidak pula ada minat di antara mereka berlima untuk membual tentang kemenangan-kemenangan terakhir mereka dalam persidangan. Keadaan tegang sejak saat Clay memasuki suite, dan tidak pernah membaik. Bocahbocah kaya "m ketakutan. Dan karena alasan yang tepat. Carlos Hernandez dari Miami tahu ada tujuh dari para penggugat Dyloft Kelompok Satu yang diwakilinya kini mengidap tumor ganas pada ginjal. Mereka bergabung dalam class actum 'M dan kini diwakili Helen Warshaw. "Mereka bermunculan di mana-mana," katanya panik, la kelihatan seperti sudah berhari-hari tidak tidur. Sesungguhnya, mereka berlima tampak lusuh dan letih. Ia perempuan yang tak kenal ampun." Wcs Saulsberry berkata, dan yang lain menganggukkan kepala menyetujuinya. Jelas legenda tentang Ms. Warshaw dikenal luas. Seseorang lupa memberi tahu Clay. Wes punya empat mantan klien yang kini menggugatnya. Damon Didier punya tiga. French punya lima. Clay merasa luar biasa lega hanya punya satu. tetapi kelegaan seperti im hanya sementara. "Sebenarnya, kau punya tujuh," French berkata, dan mengangsurkan printout dengan nama Clay di atasnya serta daftar mantan klien/sekarang penggugat di bawahnya. "Aku diberi tahu Wicks di Ackerman bahwa kita boleh bersiap daftarnya akan bertambah," kata French. "Bagaimana reaksi mereka?" Wes bertanya. 'Terguncang hebat Obat mereka

membunuhi orang di mana-mana. Philo menyesal mereka pernah mendengar tentang Ackerman Labs." "Aku sependapat dengan mereka," Didier berkata, melontarkan pandangan sebal ke arah Clay, seolah mengatakan, "semua ini salahmu." Clay mengamati kembali tujuh nama pada daftarnya Selain Ted Worley, ia tidak mengenali yang lain. Kansas, South Dakota, Maine, dua dari Oregon. Georgia, Maryland. Bagaimanakah ia bisa mewakili orangorang ini? Sungguh cara yang ganjil dalam melakukan praktik hukum—menggugat dan menyelesaikan perkara bagi orang-orang yang tak pernah ia temuil Dan kini mereka menggugatnya! "Apakah aman untuk berasumsi bukti medisnya kuat?" Wes bertanya. "Maksudku, apakah ada peluang untuk melawan, untuk mencoba dan membuktikan bahwa kambuhnya kanker ini tidak berkaitan dengan Dyloft? Kalau memang begitu, ini akan membebaskan kita dari jerat, dan Ackerman juga. Aku tidak ingin berurusan dengan badut-badut, tapi di sinilah kita sekarang." Tidak! Kita sudah terjerat." kata French. Kadang-kadang ia bisa begitu berterus terang sehingga terasa menyakitkan. Tak ada gunanya membuang waktu, j "Wicks mengatakan padaku obat ini lebih berbahawa j daripada sebutir peluru yang menembus kepala. Orang- J orang riset mereka sendiri mengundurkan diri gara- j gara mi Karier mereka hancur. Perusahaan im mungkin takkan bertahan hidup." "Maksudmu Philo?" Ta, ketika Philo membeli Ackerman, mereka pikir mereka sanggup mengendalikan masalah Dyloft. Kini tampaknya Kelompok Dua dan Tiga akan jadi lebih besar jumlahnya dan jauh

lebih mahal. Mereka setengah mati" "Bukankah kita semua begitu?" Carlos menggumam, lata ia memandang Clay seolah peluru pantas menembus kepalanya. "Kalau kita bertanggung jawab, maka tidak akan ada jalan bagi kha untuk membela dari dalam kasus iai" Wes berkata, menyatakan sesuatu yang sudah jelas. '*na harus bernegosiasi," kata Didier. 'Kita bicara i soal hidup-mati di sira." "Berapa nilai satu kasusnya?" Clay bertanya, suaranya masih bisa keluar. "Di depan juri, nilainya bisa dua sampai sepuluh juta, tergantung seberapa besar hukumannya" kata French. "Itu masih rendah," kata Carlos. 'Tak ada juri mana pun yang akan melihat wajahku di pengadilan," Didier berkata, "tidak dengan semua fakta ini." "Rata-rata penggugat im berumur enam puluh delapan tahun dan sudah pensiun," Wes berkata. "Jadi. secara ekonomis, kerugiannya tidaklah besar bila penggugat im meninggal. Kesakitan dan penderitaan akan menambah perhitungan. Tetapi tanpa persoalan lain, kau bisa menyelesaikan perkara ini dengan ganti ragi satu juta dolar untuk masing-masing kasus." "Masalahnya tidak begitu," tukas Didier. "Jelas," bentak Wes. 'Tapi coba dapatkan tergugat yang begitu bagus, misalnya segerombolan pengacara gugatan massal yang rakus, maka nilainya akan melonjak ke awan." "Aku lebih suka di pihak penggugat daripada pihakku sendiri," Carlos berkata sambil menggosok-gosok matanya yang letih. Clay memperhatikan mereka tidak mengkonsumsi setetes pun alkohol; hanya ada kopi dan air. Ia setengah mati menginginkan salah satu ramuan vodka French. "Kita

mungkin akan kalah dalam ciass action kita," French berkata. "Semua yang masih bergabung mencoba melepaskan diri. Seperti kalian tahu, sedikit sekali penggugat Kelompok Dua dan Tiga yang sudah meTierima ganti rugi. dan alasannya jelas, mereka tidak ingin ikut dalam gugatan ini. Aku tahu sedikitnya ada hma kelompok pengacara yang siap meminta pengadilan membatalkan gugatan class ¦ action kita dan menyingkirkan lata. Tak bisa benar-benar menyalahkan mereka." "Kita bisa bertarung melawan mereka," Wes berkata. "Kita punya uang jasa di luar sana. Dan kita bakal membutuhkannya.1* Tapi mereka tidak berminat bertarung, setidaknya saat im Tak peduli berapa banyak uang yang mereka akui mereka punya masing-masing merasa khawatir, tapi dengan kadar yang berlainan. Clay kebanyakan hanya mendengarkan, dan ia merasa ingin tahu bagaimana empat orang lainnya bereaksi Patton French mungkin punya uang lebih banyak daripada siapa pun di sana, dan ia sepertinya yakin mampu menanggung tekanan finansial gugatan ini. Sama dengan Wes, yang memperoleh penghasilan $500 juta dari industri rokok Carlos kadang-kadang pongah, tetapi ia tidak bisa berhenti bergerak-gerak gelisah. Didier yang berwajah keras itulah yang paling ketakutan. Mereka semua punya uang lebih banyak daripada Clay, dan Clay punya lebih banyak kasus Dyloft daripada siapa pun di antara mereka. Ia tidak suka perhitungan itu. la memilih angka S3 juta sebagai kemungkinan uang ganti rugi untuk menyelesaikan masalah ini. Kalau daftarnya berhenti dengan tujuh nama,

maka ia bisa menanggung pukulan pengeluaran dalam kisaran $20 juta. Tapi bila daftarnya terus bertambah... Clay mengemukakan topik asuransi, dan terguncang ketika mengetahui tak satu pun di antan empat orang itu yang memilikinya. Sudah bertahun-tahun sebelumnya mereka ditolak perusahaan asuransi Sedikit sekali asuransi penanggung risiko malapraktik di dunia hukum yang mau menyentuh pengacara gugatan massal. Dyloft adalah contoh yang sempurna mengapa mereka tak mau melakukannya. "Bersyukurlah kau punya sepuluh juta itu," kata Wes. "Uang im tidak akan keluar dari sakumu." Rapat im tak lebih dari acara berkeluh kesah dan bertangistangisan. Mereka ingin ditemani kesedihan yang lain, tetapi hanya sebentar. Mereka menyepakati rencana yang sangat umum untuk berbicara dengan Ms. Warshaw pada waktu yang belum ditetapkan di masa mendatang dan dengan hati-hati menjajaki kemungkinan negosiasi. Ms. Warshaw menegaskan ke mana-mana bahwa ia tidak ingin menyelesaikan perkara dengan uang ganti rugi. Ia ingin sidang di pengadilan—pemandangan sensasional, mentereng, heboh, di mana para Raja Ganti Rugi sekarang dan masa lalu akan diseret masuk dan ditelanjangi di hadapan juri. Clay melewatkan siang dan malam tanpa berbuat apa-apa di Atlanta, di mana tak seorang pun mengenalnya . u„„ m,,sn kerjanya di OPD, Clay melakukan ranisw WaWBcaro seperti itu biasanya ny» «lakukan di penjara443 mulai dengan lamban, dengan si tersangka, yang hampir selalu orang kulit hitam, tidak yakin berapa banyak yang seharusnya ia katakan pada pengacaranya

yang kulit putih. Informasi latar belakang biasanya agak mencairkan suasana, tetapi segala fakta, rincian, dan kebenaran tentang tindak kejahatan yang dituduhkan itu jarang diberikan pada penemuan pertama. Sungguh ironis bahwa Clay, kini sebagai tersangka kulit putih, berjalan gelisah untuk menghadiri wawancara awalnya dengan seorang pengacara kulit hitam Dengan tarif S750 per jam, Zack Battle sebaiknya bersiap mendengarkan dengan cepat Tidak perlu basa-basi, memancing-mancing, dan melantur dengan tarif seperti itu. Battle akan langsung mendapatkan cerita sebenarnya, secepat ia bisa mencatatnya. Tetapi Battle ingin bergosip. Ia dan Jarrett adalah teman minum bertahun-tahun sebelumnya, jauh sebelum Battle berhenti dan jadi pengacara pidana terbesar di D£.. Oh betapa banyak cerita yang bisa ia tuturkan tentang Jarrett Carter. Tidak dengan tarif $750, Clay ingin berkata. Mati- \ kan jam itu dan kita bisa mengobrol selamanya. Kantor Battle menghadap ke Lafayette Park, dengan Gedung Putih di latar belakang. Suatu malam ia dan Jarrett mabuk dan memutuskan untuk minum bir bersama gelandangan dan tuna wisma di taman itu. Polisi menciduk mereka, menyangka mereka orangorang dengan kecenderungan sesat sedang mencari kesempatan beraksi. Mereka berdua ditahan dan butuh bantuan banyak orang di bank agar kabar itu tidak tersiar di serat kabar. Clay tertawa sebab ia diharapkan tertawa. Battle berhenti minum minuman keras dan beralih merokok pipa, dan kantornya yang penuh barang berserakan dan kotor im berbau asap rokok yang sudah lama. Bagaimana

kabar ayahmu? ia ingin tahu. Clay dengan cepat menceritakan gambaran murah hati dan nyaris romantis tentang Jarrett yang berlayar menjelajahi dunia. Ketika akhirnya mereka selesai, Clay bercerita tentang Dyloft, dimulai dengan Max Pace dan diakhiri dengan FBI. Ia tidak bicara tentang Tarvan, tetapi ia akan melakukannya kalau keadaan memaksa. Anehnya, Battle tidak membuat catatan. Ia hanya mendengarkan, mengernyit dan mengisap pipa, sesekali menerawang dalam renungan dalam, tapi tak pernah mengungkapkan apa yang ia pikirkan. "Hasil riset curian yang Max Pace miliki itu," ia berkata, lalu berhenti sejenak, lalu menyedot pipa. "Apakah kau sudah memilikinya ketika kau menjual saham dan memasukkan gugatan?" "Tentu saja. Aku harus tahu bahwa aku bisa membuktikan kesalahan Ackerman kalau kita sampai maju sidang." "Kalau begitu, im insider trading. Kau bersalah. Lima tahun dalam penjara. Tapi ceritakanlah padaku, bagaimana FBI bisa membuktikannya." , Ketika jantungnya mulai berdetak lagi, Clay berkata, "Max Pace bisa memberi tahu mereka, kurasa." "Siapa lagi yang punya hasil riset im?" "Patton French, mungkin satu atau dua orang lagi dari mereka." "Apakah Patton French tahu kau sudah punya informasi ini sebelum kau memasukkan gugatan?" 445 "Aku tidak tabu. Aku tidak pernah mengatakan padanya kapan aku mendapatkannya." "Jadi si Max Pace inilah satu-satunya orang yang bisa menjeratmu." Sejarahnya cukup jelas, day sudah mempersiapkan gugatan class action Dyloft, tapi tak bersedia mendaftarkannya ke pengadilan kecuali Pace

bisa memberikan cukup bukti. Beberapa kali mereka bertengkar. Suatu hari Pace masuk dengan dua tas kerja tebal bensi berbagai dokumen dan berkas dan berkata. "Ini dia, dan kau tidak mendapatkannya darika." Ia langsung berlalu. Clay mempelajari materi hu, iaJu meminta seorang teman kuliah untuk mengevaluasi keabsahannya. Teman im dokter terkemuka di Baltimore. "Bisakah dokter ini dipercaya?" Battle bertanya. Sebelum ia bisa mengatakan apa-apa. Battle menolongnya menjawabnya. "inilah pokok persoalannya, Clay. Kalau FBI tidak tahu kau punya hasil riset rahasia ini ketika kau | menjual kosong saham itu, maka mereka tidak bisa menuduhmu melakukan insider trading. Mereka punya catatan transaksi saham, tetapi itu saja tidak cukup. Mereka harus membuktikan kau tahu." "Haruskah aku bicara dengan temanku di Baltimore?" "Tidak. Kalau FBI tahu tentang dia, mungkin ia akan disadap. Lalu kau akan masuk ke penjara selama tujuh tahun, bukannya lima." "Bisakah kau berhenti mengatakan ituT" "Dan kalau FBI tidak tahu tentang dia, maka kau mungkin ceroboh menuntun mereka kepadanya. Mereka mungkin mengawasimu. Mereka mungkin menyadap teleponmu. Aku akan membuang hasil riset itu, Membersihkan berkasberkas dokumenku, berjaga-jaga kalau mereka mendadak datang dengan surat perintah pengadilan. Dan aku juga akan banyak berdoa supaya Max Pace mati atau bersembunyi di Eropa," "Ada lainnya?" Clay bertanya, siap untuk mulai berdoa. "Pergilah temui Patton French, pastikan hasil riset itu tidak bisa dilacak sampai

kepadamu. Dilihat dan keadaannya, litigasi Dyloft ini baru saja dimulai" "Itulah yang mereka katakan padaku." Alamat si pengirimnya adalah penjara. Meskipun ia punya banyak bekas klien di balik jeruji besi. Clay tidak bisa mengingat seseorang bernama Paul Watson. Ia membuka amplop im dan mengeluarkan sehelai surat, sangat rapi dan dibuat dengan komputer. Bunyinya: Dear Mr. Carter: Anda mungkin mengingat saya sebagai Tequila Watson. Saya berganti nama sebab nama lama itu sudah tidak cocok lagi. Saya membaca Injil setiap hari dan tokoh favorit saya adalah Rasul Paulus, jadi saya pinjam namanya. Saya minta petugas catatan sipil ke Sini untuk mengescdtkannya. Saya ingin minta tolong. Kalau Anda kebetulan bisa menyampaikan kabar kepada keluarga Pumpkin, katakan bahwa saya sangat menyesal atas apa yang terjadi. Saya berdoa kepada Tuhan dan la memaafkan saya. Saya akan merasa jauh lebih lega kalau keluarga Pumpkin bisa melakukan hai yang sama. Saya masih tidak percaya bahwa saya membunuhnya begitu saja Bukan sayalah yang melakukan penembakan, tetapi iblislah, saya kira. Tetapi saya tidak punya dalih. Saya masih bersih. Banyak sekali narkoba di penjara, banvak barang busuk, tapi Tuhan membantu saya melewati setiap hari. Akan sangat menyenangkan kalau Anda bisa menulis surat kepada saya. Saya tidak menerima banvak surat. Sungguh sayang Anda harus berhenti jadi pengacara saya. Saya pikir Anda orang yang menyenangkan. Salam, Paul Watson Tunggu sebentar, Paul, gumam Clay pada diri sendiri. Dengan kecepatan ku jatuh saat ini, kita mungkin

akan jadi teman satu sel. Telepon itu mengejutkannya. Ternyata dari Ridley, di St. Barth dan ingin pulang. Bisakah Clay mengirimkan jet besok? Tidak ada masalah, Sayang. Biayanya cuma $3.000 per jam untuk menerbangkan benda im. Empat jam ke sana, empat jam kembali— $24.000 untuk terbang bolak-balik, tetapi itu cuma setetes kecil dibandingkan berapa yang telah ia habiskan untuk vila tersebut. JJ hidup dari bocoran, kau mati karena bocoran. Clay sudah beberapa kali memainkan permainan itu, secara off the record memberikan gosip hangat pada reporter, lalu dengan puas mengatakan "No comment" yang dicetak beberapa baris di bawah cerita sebenarnya. Hal itu terasa menyenangkan waktu itu; tapi kini terasa menyakitkan. Ia tidak bisa membayangkan siapa yang ingin mempermalukannya lebih jauh. Untunglah ia mendapat sedikit peringatan. Reporter dari Post menelepon kantor Clay, di mana ia diper-suakan menghubungi Zack Battle. Ia menemukannya dan mendapat jawaban standar. Zack menelepon Clay dengan laporan tentang pembicaraan im Beritanya muncul di rubrik Metro, halaman tiga, dan im merupakan kejutan yang menyenangkan sesudah berbagai cerita, heroik di halaman depan, lalu" disusui skandal. Karena begitu sedikitnya fakta yang ada sedangkan tempat kosong im hams diisi, maka dipasanglah foto Clay. RAJA GANTI RUGI DALAM PENYELIDIKAN SBC. "Menurut sumbersumber yang tak mau disebutkan namanya..." Zack dikutip beberapa kali, semuanya membuat Clay kedengaran lebih bersalah lagi. Sewaktu membaca artikel itu ia ingat betapa

seringnya ia menyaksikan Zack melaku» 449 kan yang sama—menyangkal, menangkis, dan menjanjikan pembelaan hebat, selalu melindungi bajingan-bajingan terbesar di. kota. Makin buruk bajingan itu, makin cepatlah ia berlari ke kantor Zack Battle, dan untuk pertama kalinya, Clay berpikir j mungkin ia menyewa pengacara yang salah. Ia membacanya di rumah di mana ia bisa sendirian i karena Ridley sedang melewatkan satu atau dua hari j di apartemen barunya, apartemen yang kontrak sewa J belinya ditandatangani Clay. Ridley menginginkan 1 kebebasan hidup di dua tempat, apartemennya sendiri I dan rumah Gay, dan karena flat lamanya sudah j terlalu sesak, Ciay setuju untuk menyediakan apar- I temen yang lebih bagus. Sebenarnya, kebebasan 1] Ridley menuntut tempat ketiga-—vila di St Barth, j I yang selalu disebut wanita itu sebagai milik "kita". i Bukannya Ridley suka membaca surat kabar. Se- II sungguhnya, ia sepertinya hanya tahu sedikit tentang J masalah Clay. Perhatiannya lebih terpusat pada cara j membelanjakan uang day, tanpa terlalu peduli bagai- / mana Clay memperolehnya Seandainya ia melihat j artikel berita di halaman tiga itu, ia sama sekali tak I menyinggungnya. Begitu pula Clay. * Sementara saru hari sial lagi bergulir, Clay mulai I menyadari betapa sedikitnya orang yang sepertinya j menanggapi berita itu. Seorang bekas teman kuliah j dulu menelepon dan mencoba menggembirakan hari- W nya, dan itu saja. Ia bersyukur dengan telepon itu, 1 tapi percakapan tersebut hanya sedikit membantu. Di j manakah teman-teman lainnya? Meskipun ia sekuat

tenaga berusaha tidak melaku I kannya, ia tak tahan untuk tidak memikirkan Rebecca I keluarga Van Horn. Tak diragukan lagi muka mereka pasti berubah hijau karena perasaan in dan mual oleh penyesalan ketika Raja Ganti Rugi yang baru im dinobatkan, rasanya baru beberapa minggu yang lahi. Apa pendapat mereka sekarang? Ia tidak peduli, katanya pada diri sendiri berkali-kali. Tetapi kalau ia tidak peduli, mengapa ia tidak bisa menghapus mereka dari benaknya? Paulette Tullos mampir menjelang siang dan membangkitkan semangatnya. Ia tampak hebat —beberapa kilogram sudah hilang, pakaiannya mahal. Beberapa bulan terakhir ini ia berkelana keliling Eropa, menunggu perceraiannya beres. Desas-desus tentang Clay ada di mana-mana, dan ia prihatin mendengarnya. Sewaktu makan siang panjang yang dibayari Paulette, perlahan-lahan terungkaplah bahwa ia juga khawatir dengan dirinya sendiri. Uang jatahnya dari kasus Dyloft mencapai $10 juta lebih sedikit, dan ia ingin tahu apakah ia mungkin tersangkut Clay meyakinkannya bahwa ia sama sekali tak tersangkut apa-apa. Ia bukan partner di biro hukum im saat penyelesaian perkara im dilakukan, hanya associate. Nama Clay ada di semua surat penyataan dan dokumen untuk pengadilan. "Kaulah yang cerdik," kata Clay. "Kau ambil uang im dan kabur." "Aku merasa tidak enak hati." "Jangan. Segala kesalahan akulah yang membuatnya, bukan kau." , . Meskipun Dyloft akan sangat mahal bagmya-sedikitnya ada dua puluh gabung dengan class a » Warshaw—ia masih 451 meninamkm banyak uang untuk MtOUtSL DlTloa„ 23 ribu kasus, imbalannya

akan besar luar biasa. "Jalanku agak berbatu-baru sekarang, tapi keadaan akan membaik. Dalam satu tahun, aku akan me. "Dan FBI?" ia bertanya Paulette sepertinya mempercayai ucapan ini dan kelegaan harinya tampak jelas. Seandainya benar ia mempercayai segala yang dikatakan Clay, ia satuRapat ketiga im akan jadi yang terakhir, meskipun day maupun semua orang yang duduk di sisinya tak menyadari hal UU. Joel Hanna membawa serta sepupunya, Marcus. CEO perusahaan im, dan meninggalkan Babcock. penasihat hukum perusahaan asuransi mereka. Seperti biasa, dua orang itu menghadapi pasukan kecil di seberang meja, dengan Mr. JCC duduk di tengah Sang raja. Sesudah basa-basi pemanasan. Joel mengumumkan. "Kami sudah menemukan delapan belas rumah lagi i yang harus ditambahkan pada daftar. Jadi jumlah keseluruhannya sembilan ratus empat puluh. Kami merasa sangat yakin takkan ada lag) lainnya." "Bagas," Clay berkata tanpa perasaan. Daftar yang lebih panjang berarti lebih banyak klien baginya. I lebih banyak ganti rags yang dibayar perusahaan J Hanna day mewakili hampir sembilan puluh persen I jari seluruh penggugat, dengan beberapa pengacara ! ).„„ di pinggiran. Timnya yang menangani kasus Hanna ini bekerja sangat baik dalam meyakinkan para pemilik rumah untuk tetap bersama biro hukumnya Mereka diyakinkan bahwa mereka akan men-' dapatkan lebih banyak uang sebab Mr. Carter adalah pakar dalam litigasi massal. Setiap klien potensial sudah menerima paket informasi bensi pujian tentang berbagai keberhasilan Raja Ganti Rugi terbaru ini. Itu memang iklan

dan bujukan yang tak kenal malu. ! inilah aturan permainan sekarang. Dalam pertemuan terakhir. Clay menurunkan tuntutannya dari $23.000 per klaim menjadi S22.500. ganti rugi yang akan memberinya uang jasa sekitar $74 juta. Perusahaan Hanna memberikan penawaran sebesar $17.000, yang berarti merentang habis kapasitasnya untuk mendapatkan utang. Dengan $17.000 per rumah, Mr. JCC akan mem» ' peroleh uang jasa sekitar $4,8 juta, bila ia bertahan dengan jatah tiga puluh persen. Akan tetapi, bila bagian jatahnya hanya dua puluh persen maka masingmasing kliennya akan mendapatkan $13.600 bersih. Pengurangan seperti itu akan memangkas pendapatan uang jasanya sekitar $1,5 juta. Marcus Hanna sudah mendapatkan kontraktor ternama yang setuju untuk memperbaiki setiap nimah dengan biaya $13.506. Telah jelas dalam pertemuan terakhir bahwa bayaran pengacara menjadi persoalan yang sama pentingnya dengan masalah pemberian ganti rugi kepada pemilik rumah. Akan tetapi, sejak rapat terakhir itu muncul beberapa berita tentang Mr. JCC di sunt kabar, tak satu pun di antaranya bagus. Pengurangan uang jasa pengacara bukanlah sesuatu yang siap dirundingkan biro hukumnya. "Ada penambahan lagi dari pihak Anda?" Clay bertanya, tanpa basa-basi. Bukannya mengatakan 'Tidak" Joel menguraikan langkahlangkah yang telah diambil perusahaan itu untuk mengevaluasi kembali situasi keuangannya, ] pertanggungan dari asuransi, dan kemampuannya un-1 tuk meminjam paling sedikit $8 juta guna menambah j dana penggantian kerugian tersebut. Tetapi, sedihnya, .J tak ada

yang benar-benar berubah. Bisnis sedang merosot. Pesanan lesu. Pembangunan rumah baru bahkan lebih lesu lagi, setidaknya di pasar mereka. Kalau keadaan kelihatan muram bagi Hanna Portland Cement Company, maka di sisi lain meja im pun keadaannya tidak lebih' baik. Clay sekonyong-konyong menghentikan semua iklan untuk menjaring klien Maxatil baru, langkah yang sangat melegakan seluruh biro hukumnya. Rex Critde bekerja lembur ] untuk memangkas biaya, meskipun budaya kerja JCC masih harus beradaptasi dengan gagasan radikal seperti rtu. Ia bahkan mulai membicarakan masalah pengurangan pegawai, dan dengan berbuat demikian memancing tanggapan pedas dari bosnya. Tak ada pemasukan uang jasa yang berarti. Bukannya menghasilkan uang banyak, bencana Skinny Ben im malah menghamburkan jutaan dolar. Karena mantan klien Dyloft mereka menemukan jalan ke Helen Warshaw, biro hukum im pun terhuyung-huyung. Tadi tidak ada perubahan?" Clay bertanya ketika Joel selesai. Tidak. Tujuh belas ribu adalah batas maksimal kami. Ada pembahan dari pihak Anda?" "Dua puluh dua ribu lima rams adalah ganti ragi yang adil," Clay berkata tanpa mengubah air muka ataupun berkedip. "Kalau Anda tidak bergeser, maka kami pun tidak." Suaranya keras seperti baja. Stafnya terkesan pada ketegarannya, tetapi juga cemas, berharap akan ada kompromi. Tetapi Clay membayangkan Patton French di New Y ork, di dalam ruangan penuh petinggi Ackerman Labs, berbicara keras dan menekan, sangat memegang kendali. Ia yakin bila ia terus mendesak, Hanna akan

bertekuk lutut Satu-satunya yang ragu dan vokal di pihak Clay adalah pengacara muda bernama Ed Wyatt, kepala Tim Hanna. Sebelum pertemuan itu, ia sudah menjelaskan pada Clay bahwa, menurut pendapatnya, Hanna akan memperoleh keuntungan dari perlindungan dan reorganisasi menurut Pasal 11 undang-undang kebangkrutan. Penggantian kerugian kepada pemilik rumah akan ditunda sampai dewan pengawas bisa menilai klaim mereka dan memutuskan berapa kompensasi yang pantas. Wyatt berpendapat pihak penggugat akan beruntung bila mendapatkan $10.000 berdasarkan Pasal 11. Perusahaan tersebut belum pernah mengancam akan mengajukan gugatan bangkrut, cara yang normal dalam situasi seperti ini. Clay sudah mempelajari pembukuan Hanna dan merasa perusahaan ini punya aset terlalu banyak dan harga diri terlalu besar untuk mempertimbangkan langkah sedrastis itu. Ia melempar dadu untuk bertaruh. Biro hukum ini membutuhkan ««masukan sebanyak yang bisa mereka peras. Marcus Hanna sekonyong-konyong berkata, "Well, 455 kalau begffu, sudah waktunya untuk pergi." Ia dan sepupunya bersama-sama melempar dokumen-dokumen mereka dan menerobos keluar dari ruang pertemuan. Clay mencoba keluar dengan cara dramatis juga, seakan memperlihatkan pada pasukannya bahwa tak ada yang menggentarkannya. Dua jam kemudian, di pengadilan kebangkrutan AS untuk Distrik Timur Pennsylvania Hanna Portland Cement Company mengajukan petisi Pasal II, me- j minta perlindungan dari para kreditornya, dengan j kreditor

terbesar adalah mereka yang terkumpul dalam j gugatan class action yang diajukan J. Clay Carter U dan Washington D.C. Rupanya salah saru dari keluarga Hanna itu mengerti juga pentingnya membocorkan berita. Koran Baltimore Press memuat benta panjang tentang kebangkrutan dan reaksi seketika para pemilik rumah. Rinciannya sangat akurat, bukti bahwa ada seseorang yang sangat dekat dengan negosiasi penyelesaian perkara itu telah memberikan kisikan pada reporter. Perusahaan itu menawarkan $17.000 untuk tiap penggugat padahal perkiraan kasar untuk memperbaiki masingmasing rumah itu adalah $15.000. Gugatan itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik kalau bukan gara-gara uang jasa untuk pengacara. Sejak awal Hanna sudah mengakui tanggung jawabnya. Ia bersedia meminjam uang dalam jumlah besar untuk memperbaiki kesalahan. Dan seterusnya. Para penggugat sangat tidak senang. Reporter itu menjelajah ke pinggiran kota dan mendapati rapat spontan di garasi.- Ia diantar melihat-lihat beberapa rumah untuk meneliti kerusakannya. Ia mengumpulkan berbagai komentar "Kita seharusnya berurusan langsung dengan Hanna." "Perusahaan im sudah datang ke sini sebelum pengacara im terlibat." 'Tukang batu yang kuajak bicara mengatakan ia bisa menyingkirkan bata yang lama dan memasang yang baru dengan biaya sebelas ribu dolar. Dan kita menolak tujuh belas ribu dolar? Aku sungguh tidak mengerti." 'Aku tidak pernah bertemu pengacara itu." "Aku tidak pernah tahu bahwa aku termasuk dalam cms action im sampai gugatan im dimasukkan ke pengadilan:" "Kami

tidak ingin perusahaan itu bangkrut" 'Tidak, mereka orang baik. Mereka berusaha menolong kita." Bisakah kita menggugat pengacara im?" "Aku mencoba meneleponnya, tapi sambungannya sibuk." Reporter im merasa wajib memberitahukan /atar belakang Clay Carter, dan tentu saja ia mulai dengan uang jasa dari Dyloft. Dari sana segalanya jadi makin buruk saja. Tiga foto membantu menceritakan berita im; yang pertama petailik ramah menunjuk batabatanya yang runtuh; yaiig kedua rapat pertemuan di garasi im; dan yang ketiga Clay memaka, tuksedo lrT Ridley memakai gaun yang indah berpose di Suun Putih menjelang jamuan makan malam. Si 457 wanita cantik mengagumkan; Clay sendiri cukup tampan, meskipun kalau dilihat konteksnya sulit untuk menganggap mereka sebagai pasangan menarik. Sungguh bualan murah an "Mr. Carter, yang dalam gambar di atas terlihat menghadiri jamuan makan malam Gedung Putih, tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar." • Mereka sama sekali tidak bisa menyentuhku, pikir day Dan dengan demikian mulailah satu hari lagi di kantor JCC. Telepon berdering nonstop sewaktu klien j yang gusar mencari sasaran untuk dimaki. Satpam ditempatkan di lobi untuk berjaga-jaga. Para associate 'i bergosip dalam kelompok-kelompok kecil tentang mdup-mati tempat ini. Setiap pegawai menerka-nerka. Si bos mengunci diri di dalam kantornya Tak ada kasus yang harus ditangani sebab saat ini yang dimiliki biro hukum im hanyalah bertumpuk-tumpuk berkas Maxatil, dan tak banyak yang bisa dilakukan dengannya sebab GofTman pun tak membalas telepon. Olok-olok dan

gurauan tentang Clay beredar di seluruh penjuru Distrik, meskipun Clay sendiri tidak mengetahuinya sampai berita im dimuat di Press. Awalnya kisah-kisah Dyloft di The Wall Street Journal, beberapa faks dikirim ke sana-sini di seluruh penjuru kota untuk memastikan semua yang mengenal Clay, baik di college, sekolah hukum, ayahnya, atau OPD, mendapatkan berita terbaru. Ceritanya makin heboh ketika American Attorney menempatkannya di urutan kedelapan sebagai pengacara berpendapatan terbesar— lebih banyak lagi faks, e-mait, beberapa lelucon ditambahkan sebagai bumbu. Kisah itu jadi lebih populer lagi ketika Helen Warshaw memasukkan gugatannya yang keji. Seorang pengacara yang punya terlalu banyak waktu di kota im menulis artikel berjudul "The King of Shorts", membuatnya dalam format kasar dan cepat, dan mulai mengirimkannya lewat faks. Seseorang dengan sedikit bakat seni menambahkan kartun yang menggambarkan Clay telanjang dengan celana dalam melorot hingga mata kaki dan tampak kebingungan. Berita apa pun tentang dirinya akan memicu edisi lain. Penerbitnya mengambil cerita dari Internet mencetaknya dalam format buletin, dan membagikannya. Penyelidikan pidana merupakan berita besar. Di situ ada foto dari Gedung Putih, gosip tentang pesawat terbangnya, dan cerita tentang ayahnya. Editor anonim im mengirimkan faks ke kantor Clay sejak awal, tapi Miss Gtick menghancurkannya. Beberapa pengacara lulusan Yale im juga menerima faks, dan mereka pun melindungi bos mereka. Oscar membawakan edisi terakhir dan melemparkannya ke ¦ meja kerja Clay. "Supaya kau

tahu saja," karanya. Edisi terbaru im adalah reproduksi berita di Press. 'Tahu siapa kira-kira di belakang semua ini?" Clay bertanya. "Tidak. Ini difakskan ke seluruh penjuru kota, mirip surat berantai." "Tidakkah oraag-orans ini pmy pakoj"» y°itbl §8 Memang selalu ^'i^pobadi. Aduh. aduh, oela-"Jadi aku Vf** Wu o* seorang pun kenal pan belas bulan yang namaku.' 459 Ada keributan di luar—suarasuara marah dan keras. Clay dan Oscar berlari dari kantornya menuju 1 gang di mana satpam bergulat dengan laki-laki yang 1 sangat marah. Para associate dan sekretaris ber- 1 datangan. "Mana Clay Carter!" laki-laki im berteriak. "Di sini!" Clay balas berseru dan berjalan menghampvri. "Apa yang kauinginkan?" Laki-laki im sekonyongkonyong tertegun diam, meskipun satpam tetap memeganginya. Ed Wyatt j dan associate lam bergerak mendekatinya "Aku salah satu klienmu." laki-laki im berkata, napasnya ter-ensah-engah berat. "Lepaskan aku," ia membentak dan mengguncang lepas pegangan si satpam. "Biarkan dia," Clay berkata. "Aku ingin bicara dengan pengacaraku," kata laki-laki itu. "Bukan begun cara menjadwalkan pertemuan," balas Clay dengan sangat tenang. Ia sedang diamati pegawai-pegawainya. "Y eah, well, aku sudah coba cara lain, tapi semua sambungan sibuk. Kau mengkhianati kami sehingga tidak bisa mendapatkan ganti rugi yang baik dari pabrik semen itu. Kami ingin tahu apa sebabnya. Uangnya tidak cukup untukmu?" "Kurasa kau percaya segala yang kaubaca di koran," kata Clay. "Aku percaya kami dtperdaya" pengacara kami sendiri. Dan kami tidak akan

menerimanya tanpa melawan." "Kaitan sertu bersantai dan berhenti membaca koran. Kami naasi» mengurus ganti rugi penyelesaian perkara itu" Ini kebohongan, tetapi dikemukakan dengan niat baik. Pemberontakan tersebut perlu diredam, setidaknya di kantor ini. "Potong uang jasamu dan beri kami uang." kata laki-laki im geram. "Dan im dari klien-klienmu." "Aku akan mendapatkan uang ganti rugi untukmu," Clay berkata dengan senyum dibuat-buat. 'Tenanglah." "Kalau tidak, kita akan mengadukanmu ke asosiasi pengacara." "Tetaplah tenang." Laki-laki mi melangkah mundur, lalu berbalik dan meninggalkan suite. "Semuanya kembali bekerja," Clay berkata sambil bertepuk tangan seolah semua orang punya banyak pekerjaan. Rebecca tiba satu jam kemudian, sekadar pengunjung biasa yang mampir. Ia melangkah masuk ke suite JCC dan memberikan secarik catatan pada resepsionis. 'Tolong berikan ini kepada Mr. Carter," katanya. "Ini sangat penting." Resepsionis im memandang sepintas ke satpam, yang berjaga waspada, dan dibutuhkan waktu beberapa derik untuk memastikan wanita muda yang menarik im mungkin bukanlah ancaman, "Aku teman lama," kata Rebecca. Siapa pun dirinya, ia berhasil menarik Mr. Carter keluar dari belakang sana lebih cepat daripada suipa pun dalam sejarah pendek b.ro h^Mc" (juii *«» * . kantornya; Rebecca di sofa, «ka duduk ,dl f^edctet mungkin. Beberapa day di ^/^^rueap. Perasaan Clay terlalu lama tak ™^ mengucapkan kalimat yang sesuai, bergejouuc ui 461 Kehadiran Rebecca bisa merniliki seratus makna yang berbeda, dan tak ada satu pun yang

buruk. b ingin menubruknya, merasakan tubuhnya lagi, mencium parfum pada lehernya, mcmbelaikan tangan pada kakinya. Tak ada yang berubah—gaya rambutnya sama. makeup-nya sama, lipstiknya sama, gelangnya 1 sama. "Kau memelototi kakiku." Rebecca akhirnya berkata. ' "Ya" "Clay, kau tidak apa-apa? Begitu banyak pemberitaan jelek tentang dirimu sekarang ini." "Dan itukah sebabnya kau ke sini?" "Ya Aku pnhann." Trihatm berarti kau masih peduli padaku." "Benar." "Jadi kau belum melupakan aku." "Belum. Saat ini memang perhatianku sedang teralih, karena perkawinan dan segala persoalan, tapi aku masih memikirkanmu." "Sefator "Ya, makin lama makin sering." Clay memejamkan mata dan meletakkan satu tangan pada lutut Rebecca, yang langsung ditolak dan disisihkan wanita itu. "Aku wanita bersuami, Clay." "Kalau begitu, mari kita berselingkuh." "Tidak." 'Terhatianmu sedang teralih? Kedengarannya seperti untuk sementara. Apa yang terjadi, Rebecca?" "Aku ke sini bukan untuk membicarakan perkawinanku. Aku sedang berada di sekitar sini, teringat padamu, dan sekadar mampir" "Seperti anjing yang tersesat? Aku tidak percaya." 462 "Memang tak perlu. Bagaimana kabar perempuan piaraanmu?" Ta datang dan pergi. Itu kesepakatan kami." Rebecca merenungkan hal itu, jelas tidak senang dengan kesepakatan tersebut. Tidak apaapa jika ia sendui menikahi orang lain, tapi ia tidak suka Clay berhubungan dengan orang lain. "Bagaimana kabar si ular?" Clay bertanya. "Biasa saja." "Itu omongan istri baru yang mesra sekali. Sekadar biasa saja?" "Hubungan kami

lumayan." "Menikah kurang dari setahun dan itukah yang terbaik yang bisa kaulakukan? Hubungan kalian lumayan?" "Ya." "Kau tidak memberinya seks, bukan?" "Kami menikah." "Tapi ia sungguh payah. Aku menyaksikan kalian berdansa pada pesta pernikahan dan aku ingin muntah. Katakan padaku ia menyebalkan di ranjang." "Ia menyebalkan di ranjang. Bagaimana dengan piaraanmu itu?" Ta suka perempuan." Mereka berdua tertawa, dan itu tidak berlangsung lama. Sesudahnya mereka terdiam lagi, sebab begitu banyak yang hendak diucapkan. Rebecca menyilangkan kembali kakinya sementara Clay mengawasi tanpa berkedip. Ia nyaris bisa menyentuhnya. "Apakah kau akan mampu bertahan?" Ridley bertanya. 463 "Jangan bicara tentang aku. Mari kita bicara tentang kita." "Aku tidak berniat melibatkan diri dalam persi lingkuhan," katanya. Tapi kau menimbang-nimbang kemungkinan itu. bukan?" Tidak, tapi aku tahu kau memikirkan hal itu." Tapi im tentu menyenangkan, bukan?" "Mungkin, dan mungkin tidak. Aku tidak mau hidup seperti itu." ""Aku pun tidak. Rebecca. Aku tidak mau berbagi. Dulu aku memilikimu seutuhnya dan aku membiarkanmu pergi. Aku akan menunggu sampai kau kembali jadi lajang. Tapi maukah kau bergegas?" "Itu mungkin tidak akan terjadi, Clay." "Ya, pasti terjadi." 464 D ENGAN Ridley di sampingnya di -— ranjang, sepanjang malam im Clay memimpikan Rebecca. Ia berkali-kali terjaga, selalu bangun dengan senyum konyol tersungging di wajah. Tetapi semua senyum lenyap ketika telepon berdering beberapa saat sesudah pukul 05.00. Ia menjawabnya di ranjang, lalu mengalihkannya ke pesawat

telepon di ruang kerja. Dari Mei Snelling, rekan sekamar waktu kuliah di college, kini dokter di Baltimore. "Kita harus bicara, Sobat," katanya, "Ini sangat mendesak." "Baiklah," Clay berkata, lututnya lemas. "Pukul sepuluh pagi di depan Lincoln Memorial." "Aku bisa melakukannya." "Dan kemungkinan besar seseorang akan membuntuti aku," katanya, lalu sambungan im terputus. Dr. Snelling-lah yang meneliti hasil riset Dyloft curian itu bagi Clay, sebagai bantuan untuk teman. Kini FBI 'telah menemukannya. .__ Untuk pertama kalinya terlintas gagasan g.ta dalam benak Clay untuk kabur begitu saja. Tranter u^ . „ nnfnh berantah, tlnggaiKan yang tersisa ke negara "«JJ*"^ tentu saja> kota, pelihara janggut, menghilang. > bawa Rebecca bersamanya. FBr. Ibunya akan menemukan mere** 465 b membuat kopi dan berlama-lama mandi. [a memakai jins. dan sebetulnya hendak mengucapkan selamat tinggal pada Ridlev tapi perempuan itu sama sekali tak bergerak. Ada kemungkinan besar Mei dipasangi perangkat penyadap. Karena FBI sudah menemukannya, mereka tentu akan mencoba berbagai tipuan busuk yang mereka miliki. Mereka pasti mengancam akan menggugatnya juga kalau ia menolak buka mulut tentang temannya Mereka merecokinya dengan kunjungan bertubi-tubi. telepon, pengawasan. Mereka tentu menekannya untuk memakai alat penyadap dan menggelar perangkap bagi Cby. Zack Battle sedang ke luar kota, jadi Clay sendirian, b tiba di Lincoln Memorial pukul 09.20 dan berbaur dengan beberapa wisatawan yang ada di sana. Beberapa menit kemudian Mei muncul, yang menurut Cby ganjil. Mengapa

ia datang ke sana setengah jam sebelum janji pertemuan mereka? Apakah penyergapan au diatur? Apakah Agen Spooner dan Lohse ada di dekat-dekat sana dengan mikrofon, kamera, dan senjata? Begitu melihat paras Mei, tahulah Cby bahwa kabar yang dibawanya buruk. Mereka berjabat tangan, bertukar salam, dan mencoba bersikap hangat. Cby curiga setiap patah kata direkam. Saat im awal bulan September, udara dingin tapi tidak terlalu menusuk; namun Mei terbungkus pakaian tebal seolah akan turun hujan salju. Bisa jadi ada kamera di balik pakaiannya. "Ayo kita pergi jalan-jalan," kata Cby, sepintas menunjuk ke ujung The Mali menuju Washington Monument. "Baiklah," Met berkata sambil mengangkat pundak. U tak peduli Jelas tidak ada jebakan apa pun yang direncanakan di dekat Mr. Lincoln. "Apakah mereka menguntitmu?" Clay bertanya. "Kurasa tidak. Aku terbang dari Baltimore menuju Pittsburgh, dari Pittsburgh ke Reagan National, lalu naik taksi. Kurasa tidak ada siapa pun di belakangku." "Apakah mereka Spooner dan Lohse?" "Ya, kau kenal mereka?" "Mereka pernah beberapa kali mampir." Mereka berjalan di sebelah Reflecting Pool, di trotoar sisi selatan. Cby tidak berniat mengatakan apa pun yang tidak ingin didengarnya lagi. "Mei, aku tahu bagaimana FBI bekerja. Mereka suka menekan saksi. Mereka suka memasangi orang dengan alat penyadap dan mengumpulkan bukti dengan peralatan dan permainan hi-tech. Apakah mereka memintamu memakai alat penyadap?" "Ya." "Dan?" "Aku katakan pada mereka, 'Persetan, tidak.'" 'Terima kasih." "Aku punya pengacara yang hebat Clay. Aku sudah bicara

dengannya, menceritakan segalanya. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun sebab aku tidak memperdagangkan saham im. Aku tahu kau melakukannya dan aku yakin kau tentu akan mengambil langkah yang berbeda seandainya mendapat kesempatan. Mungkin aku punya beberapa informasi dari dalam, tapi aku tidak berbuat apa-apa dengannya. Aku bersih. Tetapi persoalannya akan muncul bila aku dipanggil menghadap grand jury" Kasus ini belum diajukan ke grand jury. Mel 467 memang benar mendengarkan^pasihat pengacara yang bebat. Untuk pertama kalinya selama empat jam ini, irama napas Clay jadi sedikit lebih santai. 'Teruskan," katanya hati-hati. Tangannya dibenamkan dalam-dalam ke saku jinsnya. Di balik kacamata hitam matanya mengawasi setiap orang di sekitar mereka Kalau Mei sudah menceritakan segalanya kepada FBI. mengapa mereka butuh alat perekam dan penyadap? 'Tertanyaan terbesarnya adalah bagaimana mereka menemukan aku? Aku tak mengatakan kepada siapa j pun bahwa aku meneliti berkas im. Siapakah yang kaubentahu?" "Sama sekali tidak ada, Mei." "Sungguh sulit dipercaya" "Sumpah. Buat apa aku menceritakan soal ini pada orang lain?" Mereka berhenti sesaat untuk membiarkan lalu lintas lewat di Seventeenth Street. Ketika berjalan kembali, mereka menuju ke kanan, menjauh dari orang banyak. Mei berkata, hampir dengan napas tertahan, "Kalau aku berbohong pada grand jury tentang riset itu, mereka akan sulit mendakwa dirimu. Tapi kalau aku ketahuan berbohong, maka aku sendiri akan masuk penjara. Siapa lagi yang tahu aku yang mempelajari riset

itu?" ia bertanya lagi. Dan dengan itu, Clay menyadari tidak ada alat perekam, penyadap, tak ada yang mendengarkan. Mei tidak sedang memburu bukti—ia cuma ingin diyakinkan. "Namamu tak ada di mana pun, Mei," kata Clay. "Aku mengirimkan hasil penelitian itu kepadamu. Kau. tidak mengkopi apa pun, bukan?" "Tidak." "Kau mengirimkannya kembali kepadaku. Aku mempelajarinya lagi. Tidak ada sedikit pun jejakmu di mana-mana. Kita bicara di telepon lima-enam kali. Semua pemikiran dan pendapatmu tentang riset tersebut disampaikan secara lisan." "Bagaimana dengan pengacara-pengacara lain dalam kasus ini?" "Beberapa di antara mereka sudah melihat riset itu. Mereka tahu aku mendapatkannya sebelum mengajukan gugatan. Mereka tahu ada seorang dokter yang mempelajarinya untukku, tapi mereka.sama sekali tidak tahu siapa orangnya." "Bisakah FBI mendesak mereka untuk bersaksi bahwa kau mendapatkan riset im sebelum kau mengajukan gugatan?" 'Tidak mungkin. Mereka bisa mencoba, tapi orang-orang ini pengacara, ahli hukum, Mei. Mereka tidak gampang ditakut-takuti. Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun—mereka tidak memperdagangkan saham im—dan mereka takkan memberikan apa pun pada FBI. Dalam hal ini aku terlindung." "Kau yakin?" Mei bertanya, jelas tak yakin. "Aku yakin." "Jadi apa yang harus kulakukan?"\ 'Terus dengarkan pengacaramu. Besar kemungkinan masalah ini tidak akan sampai ke grand jury " kata Clay, ucapannya lebih berupa doa permohonan daripada fakta. "Kalau kau tetap teguh, mungkin masalah ini akan hilang." Mereka

berjalan seratus meter tanpa sepatah kata pun. Washington Monument makin dekat. '.'Kalau 469 aku mendapat perintah menghadap pengadilan," Mei berkata lambat-lambat. "kita sebaiknya bicara lagi." Tentu." "Aku tidak ingin masuk penjara karena urusan ini, CUy." "Aku pun tidak." Mereka berhenti di tengah orang banyak di trotoar dekat monumen tersebut. Mei berkata. "Aku akan menghilang. Selamat tinggal. Dariku, tidak ada kabar berarti kabar baik." Gedung Pengadilan Coconino County di Flagstaff relatif tenang pada hari sebelum sidang. Kegiatannya rutin; tidak ada tanda-tanda historis dari konflik tak terduga yang tak lama lagi akan berkecamuk di sana. Saat im minggu kedua bulan September, suhu udara mencapai 105 derajat Fahrenheit, Clay dan Oscar berjalan-jalan di daerah pusat kota, lalu dengan cepat memasuki gedung pengadilan im untuk mencari hawa sejuk AC. Akan tetapi, di dalam ruang sidang itu, berbagai mosi pra persidangan sedang diperdebatkan dan keadaan cukup tegang. Tak ada juri duduk di boks; proses pemilihannya akan segera dimulai pukul sembilan esok pagi. Dale Mooneyham dan timnya menguasai satu sisi arena. Gerombolan Goffman, dipimpin litigator mahal dari LA bernama Roger Redding, mendudaki setengah bagian lainnya. Roger the Rocket, sebab ia menyerang dengan cepat dan keras. Roger the Dodger, sebab ia menjelajahi seluruh penjuru negeri, bertarung melawan pengacarapengacara terbesar yang bisa ia temukan, berkelit dari vonis-vonis besar. Clay dan Oscar duduk bersama penonton lain yang jumlahnya cukup mengesankan untuk

standar sidang yang memperdebatkan mosi. Wall Street akan mengawasi persidangan ini dengan cermat Ini akan jadi berita bersambung di kalangan pers keuangan. Dan, tentu saja, burung-burung bangkai seperti Clay pun merasa ingin tahu. Di dua deret terdepan duduk selusin orang bisnis, tak disangsikan pastilah orang-orang Goffman yang sangat gelisah. Mooneyham berjalan berat ke" sekeliling ruang sidang im bak jagoan di bar, berbicara keras pada Hakim, lalu pada Roger. Suaranya dalam dan enak didengar dan kata-katanya selalu menantang. Ia pejuang tua, dengan jalan sedikit pincang yang kadang ada kadang tidak. Sekali-sekali, ia mengambil tongkat untuk dipakai hilir mudik, lalu kadang-kadang seperti melupakannya. Roger berpenampilan seperti bintang Hollywood— pakaian yang bagus rapi, kepala yang ditebari rambut beruban, dagu yang kokoh, profil yang sempurna Mungkin suatu saat dulu ia ingin jadi aktor. Ia berbicara dengan prosa yang lancar, kalimat-kalimat indah yang bergulir keluar tanpa keraguan. Tak pernah ada "Uh" atau "Ah" atau "Well..." Tak ada awal yang salah. Ketika ia mulai memperdebatkan suatu pokok persoalan, ia menggunakan kosa kata luar biasa yang bisa dipahami siapa saja, dan ia punya kecakapan untuk membiarkan tiga- atau empat argu471 men hidup bersamaan sebelum mengaitkan semuanya dalam saru pokok pemikiran yang logis luar biasa. Tak ada rasa takut terhadap Dale Mooneyham. tak ada rasa takut terhadap sang Hakim, tak ada rasa takut terhadap fakta-fakta kasus tersebut. Saat Redding mengajukan argumentasi tentang suatu pokok persoalan

terkecil sekalipun. Clay mendapati dirinya bagai terulur. Pikiran yang menakutkan menerpanya: Seandainya Clay terpaksa bersidang di D.C.. maka Gorirnan tidak akan ragu mengirim Roger the Rocket untuk bertempur di sana. Sewaktu ia merasa terhibur menyaksikan dua pengacara hebat di atas panggung di hadapannya, Cby j dikenali orang. Salah satu pengacara di meja di j belakang Redding mengedarkan pandang ke sekeliling ruang sidang dan merasa melihat wajah yang dikenalnya, b menyenggol rekannya, dan bersama-sama mereka melakukan identifikasi positif Catatan-catatan kecil ditulis dan disampaikan pada tokoh-tokoh di deretan depan. Hakim mengumumkan reses lima belas menit supaya ia bisa pergi ke toilet. Clay meninggalkan ruang sidang dan pergi mencari soda. b diikuti dua laki-laki yang akhirnya menyudutkannya di ujung lorong. "Mr. Carter," yang pertama berkata dengan suara menyenangkan. "Saya Bob Mitchell, wakil presiden dan penasihat hukum tetap di Goffman." la menyodorkan tangan dan meremas tangan Clay dengan erat. "Senang bertemu Anda," kata Clay. "Daa ari Sterling Gibb, salah saru penasihat hukum kam dari New Y ork." Cby terpaksa berjabat tangan dengan Gibb juga. "Kami sekadar ingin berkenalan," Mitchell berkata. •Tidaklah mengejutkan melihat Anda di sini." "Saya agak tertarik dengan sidang ini," kata Clay. "Itu terlalu mengecilkan persoalan. Berapa kasus yang Anda punyai sekarang?" "Oh, saya tidak tahu. Ada beberapa." Gibb cukup puas hanya dengan menyeringai dan menatap "Kami mengamati situs Web Anda setiap hari." Mitchell

berkata. "Ada dua puluh enam ribu pada penghitungan terakhir." Gibb mengubah seringainya; jelaslah ia benci dengan permainan gugatan massal ini. "Kurang-lebih seperti itulah," kata Cby. "Sepatinya iklan Anda berhasil Akhirnya Anda mendapatkan cukup banyak kasus, saya rasa." Gh, Anda takkan pernah merasa cukup. Mr. Mitchell." "Apakah yang akan Anda lakukan dengan semua kasus im kalau kami memenangkan sidang ini?" tanya. Gibb yang akhirnya berbicara juga. "Apakah yang akan kalian lakukan kalau kalian kalah dalam sidang ini?" balas Clay. Mitchell maju selangkah lebih dekat "Kalau kami menang di sini, Mr. Carter, Anda akan punya banyak waktu untuk mencari pengacara malang yang menginginkan dua puluh enam ribu kasus Anda itu. Nilainya takkan seberapa." "Dan kalau kalian kalah?" Clay bertanya. Gibb maju selangkah lebih dekat. Kalau kam. kalah di sini. kami akaa datang ke D.Cuntuk mem-l. I t i t^rhadan gugatan class action y mg mengada473 "Oh, saya akan siap " Clay berkata, kewalahan menghadapi serangan itu. "Bisakah Anda menemukan gedung pengadilan-j nya?" Gibb bertanya "Saya main golf dengan hakimnya," kata Clay. "Dan saya berkencan dengan wartawan pengadilan." j Semua dusta! Tapi im berhasil menahan mereka sesaat. Mitchell berhasil menguasai diri, mengulurkan tangan kanannya lagi. dan berkata, "Oh baiklah, hanya ingin kenal." Clay menjabatnya dan berkata, "Sungguh senang mendengar sesuatu dari Goffman. Selama ini kalian hampir tak menanggapi gugatanku." Gibb berbalik dan berjalan pergi. "Biarkan kami selesaikan yang ini," kata

Mitchell. "Sesudah im baru kita bicara." Clay hendak memasuki ruang sidang lagi ketika seorang reporter nekat menghadangnya Ia Derek anu dari Financial Weekly dan ingin bicara sata-dua patah kata. Korannya berhaluan kanan, pembenci pengacara sidang, suka gugatan massal, juru bicara perusahaan, dan Clay tahu diri untuk tidak mengatakan "No comment atau "Kiss off untuk mengusirnya. Nama Derek samar-samar sudah dikenalnya. Diakah reporter yang menulis begitu banyak bal buruk tentang Clay? "Boleh kutanya apa yang kaukerjakan di sini?" Derek berkata. "Kurasa bisa." "Apakah yang kaulakukan di sini?" "Sama seperti yang kaulakukan di sini." "Dan apakah itu?" 474 "Menikmati keramaian." "Benarkah kau punya dua puluh lima ribu kasus Maxatil?" •Tidak." "Berapa banyak?" "Dua puluh enam ribu." "Berapakah nilai keselunmannya?" "Antara nol sampai dua miliar." Clay tidak tahu Hakim telah memberlakukan larangan bicara terhadap pengacara dari kedua belah pihak mulai saat im sampai akhir persidangan. Karena ia bersedia berbicara, maka ia menarik kerumunan orang banyak. Ia terperanjat menyaksikan dirinya dikerumuni wartawan. Ia menjawab beberapa pertanyaan lagi tanpa mengatakan banyak hal. Arizona Ledger, mengutipnya bahwa kasusnya bisa bernilai $2 miliar. Koran im menampilkan foto Clay di luar ruang sidang, mikrofon berjejalan di depannya, dengan keterangan "Raja Ganti Rugi Turun Gunung." Foto im disusul uraian ringkas mengenai kunjungan Clay, dengan beberapa alinea tentang persidangan besar im sendiri. Si

reporter tidak secara langsung menyebutnya pengacara yang rakus dan oportunis, tetapi implikasinya menyiratkan ia burung pemakan bangkai, terbang berputar-putar, kelaparan, menunggu I! untuk menyerang bangkai Goftman. Ruang sidang dipenuhi penonton dan orangorang yang berpotensi menjadi anggota juri. Pukul sembilan 475 pagi tiba dan berlalu tanpa tanda-tanda dari para 1 pengacara atau sang Hakim. Mereka masih di ruang ] belakang, tak disangsikan masih memperdebatkan j persoalan-persoalan pra persidangan. Polisi pengadilan | dan jura tulis menyibukkan dari di seputar meja hakim, j Seorang laki-laki muda yang mengenakan setelan jas 1 muncul dari belakang, melewati pagar, dan berjalan j menyusuri lorong tengah. Ia mendadak berhenti,! memandang lurus ke arah Clay, lalu membungkukkan badan dan berbisik, "Apakah Anda Mr. Carter?" Terperanjat, Clay menganggukkan kepala. "Hakim ingin menemui Anda." Koran im ada di tengah meja tubs sang Hakim Dale Mooneyham berdiri di salah saru sudut kantor yang luas tersebut. Roger Redding bersandar pada meja di dekat jendela. Sang Hakim berayun-ayun di kursi putarnya. Tak seorang pun di antara mereka bertiga tampak gembira. Perkenalan berlangsung dengan sangat canggung. Mooneyham menolak melangkah maju dan menjabat tangan Clay, ia hanya menawarkan sedikit anggukan kepala dan tatapan yang menyiratkan kebencian. "Apakah Anda tahu adanya larangan yang saya tetapkan untuk berbicara pada orang luar, Mr. Carter?" tanya sang Hakim 'Tidak, Sir." "Nah, larangan itu sudah

ditetapkan." "Saya bukan salah satu pengacara dalam kasus ini" kata Clay. "Kami bekerja keras untuk menyelenggarakan pengadilan yang adil di Arizona, Mr. Carter. Kedua belah pihak menginginkan juri yang sebisa mungkin tidak tahu-menahu tentang kasus ini dan tidak berpihak. Sekarang, gara-gara Anda, orang-orang yang berpotensi menjadi anggota juri jadi tahu bahwa seducitnya ada dua puluh enam ribu kasus yang hampir sama di luar sana." Clay tidak mau kelihatan lemah atau menyesal, tidak karena ada Roger Redding yang mengawasi setiap gerakan. "Mungkin im tak dapat dihindari," kata Clay. Ia takkan pernah bersidang dengan hakim ini. Jangan biarkan dirinya terintimidasi. "Bagairnana kalau kau meninggalkan negara bagian Arizona?" Mooneyham berkata dengan suara menggelegar dari sudut. "Aku sama sekali tak perlu melakukannya," balas Clay. "Kau ingin aku kalah?" Dan dengan ucapan im, Clay sudah mendengar cukup banyak. Ia tidak tahu pasti bagaimana kehadirannya mungkin merugikan Mooneyham, tetapi mengapa ambil risiko? "Baiklah, Yang Mulia, saya rasa saya akan bertemu lagi dengan Anda." "Gagasan yang sangat bagus," kata si Hakim. Clay memandang Roger Redding dan berkata, "Sampai jumpa di D.C." Roger tersenyum sopan, tetapi perlahan-lahan menggelengkan kepala menolak. Oscar setuju untuk tetap di Flagstaff dan memantau persidangan itu. Clay naik ke pesawat Gulfstream, menempuh perjalanan pulang dalam kemurungan. Diusir dari Arizona, 477 Dl Reeds burg, kabar bahwa Hanna memutuskan hubungan kerja dengan 1-200 pekerja membuat kota itu

berhenti berdenyut Pengumuman im disampaikan dengan surat yang ditulis Marcus Hanna dan diberikan kepada seluruh karyawan. Dalam lima puluh tahun, perusahaan itu hanya empat kali melakukan perampingan. Ia bertahan melewati pasang-surut dan selalu berusaha keras mempertahankan setiap orang. Kini karena urusannya adalah gugatan pailit maka aturannya berbeda. Perusahaan im berada dalam tekanan untuk membuktikan pada pengadilan dan kreditornya bahwa keadaan finansialnya punya masa depan. Kesalahan ditimpakan pada peristiwa-peristiwa di luar kendali pihak manajemen. • Tingkat penjualan yang rendah merupakan suatu faktor, tetapi hal itu bukan sesuatu yang belum pernah dialami perusahaan. Pukulan yang mematikan adalah kegagalan untuk mencapai kesepakatan ganti rugi dalam gugatan class action. Perusahaan tersebut telah melakukan tawarmenawar dengan itikad baik, tetapi sebuah biro hukum di D.C. yang terlalu bersemangat dan rakus mengajukan tuntutan-tuntutan yang tak masuk akal. Kelangsungan perusahaan tersebut dipertaruhkan, dan Marcus meyakinkan orang-orangnya bahwa perusahaan im takkan mati. Akan perlu dilakukan pemotongan biaya secara drastis. Pengurangan anggaran pengeluaran yang menyakitkan untuk tahun depan mungkin akan menjamin keuntungan di masa depan. Kepada 1.200 pegawai yang mendapatkan surat pemberitahuan merah jambu, Marcus menjanjikan segala bantuan yang bisa diberikan oleh perusahaan itu. Pesangon dari PHK bisa membiayai hidup mereka selama satu tahun. Jelas Hanna akan

mempekerjakan mereka kembali secepat mungkin, tetapi tidak ada janji apa pun yang diberikan. PHK itu mungkin akan jadi permanen. Di berbagai kafe dan tempat tukang cukur, di lorong-lorong sekolahan dan bangku-bangku gereja, di bangku stadion sepak bola, di trotoar di sekeliling alun-alun kota, di bar dan rumah biliar, tak ada hal lain yang dibicarakan seluruh kota itu. Setiap orang dari sebelas ribu penduduknya kenal seseorang yang baru saja kehilangan pekerjaan mereka di Hanna PHK massal im bencana terbesar dalam sejarah Reedsburg yang tenang. Meskipun kota kecil itu terpencil jauh di daerah AUeghenies, kabar toh bocor keluar. Reporter koran Baltimore Press yang menulis tiga artikel tentang gugatan class action Howard County masih mengawasi. Ia memantau gugatan pailit im. la masih bercakap-cakap dengan para pemilik ramah sementara bata rumah mereka rontok berjatuhan. Kabar tentang PHK massal itu memancingnya untuk i ke Reedsburg. Ia mendatangi berbagai kate, mah biliar, dan pertandingan sepak bola. Tulisan pertama dari dua artikelnya itu hampir 479 sepanjang novel pendek. Pengarang yang sengaja berniat memfitnah tidak mungkin lebih keji dari ini. Segala penderitaan di Reedsburg ini sebenarnya bisa dengan mudah dihindari seandainya pengacara class action itu. J. Clay Carter II dari D.C, tidak begitu serakah memburu uang jasa yang besar. Karena Clay tidak membaca koran Baltimore Press, dan pada kenyataannya ta menghindari hampir semua koran dan majalah, ia sebenarnya mungkin dapat menghindarkan dari dari kabar tentang Reedsburg,

setidaknya untuk sementara. Akan tetapi, editor tak dikenal dan buletin tak resmi dan tak diharapkan itu mengirimkan berita tersebut dengan faks. Edisi ter- i akhir dan The King of Shorts", yang jelas dibuat dengan terburu-buru itu, memuat benta dari Baltimore Press Cby membacanya dan ingin menggugat koran itu. Akan tetapi ta segera melupakan Baltimore Press sebab mimpi buruk yang lebih hebat mendatanginya. Seminggu sebelumnya, reporter dari Newsweek menelepon dan, seperti biasanya, dicegat Miss Glick. Setiap pengacara memimpikan pemberitaan nasional, tetapi hanya bila beritanya tentang kasus menggemparkan atau vonis bernilai miliaran dolar. Cby punya dugaan bahwa pemberitaan mi tidaklah menyangkut keduanya, dan ia benar. Newsweek tidak benar-benar tertarik pada Clay Carter, melainkan lebih berminat pada pembalasan terhadapnya. Beritanya menyanjung Helen Warshaw, dua halaman berisi liputan menyanjung yang bisa membuat pengacara manapun rela membunuh antuk mendapatkannya. Foto yang mengesankan menampakkan Ms. Warshaw di ruang sidang entah di mana, berdiri di depan boks juri yang kosong, tampak tangguh dan cemerlang, tetap juga sangat bisa dipercaya. Cby belum pernah melihatnya, dan ia tadinya berharap perempuan im berpenampilan selayaknya "ruthless bitch", bajingan tak kenal ampun, seperti istilah Saulsberry. Ternyata tidak, la sangat menarik—pendek, rambut hitam dan mata cokelat sedih yang akan menarik perhatian juri mana pun. Clay menatapnya dan berangan-angan seandainya dirinyalah yang menangani kasus perempuan im dan bukan

sebaliknya Semoga saja mereka takkan pernah bertemu. Dan seandainya terjadi, janganlah di ruang sidang. Ms. Warshaw adalah satu dari tiga partner di biro hukum New Y yang mengkhususkan diri pada perkara malapraktik ork pengacara, ceruk yang langka tapi makin berkembang. Kini ia memburu pengacara-pengacara terbesar dan terkaya di negeri ini, dan ia tidak akan berdamai di luar pengadilan. "Belum pernah aku menyaksikan satu kasus pun yang begitu meyakinkan bagi juri," katanya, dan Clay ingin mengiris nadi sendiri. Ia punya lima puluh klien Dyloft, semuanya sedang sekarat, semuanya menggugat Artikel itu menguraikan sejarah singkat dan kotor litigasi class action tersebut. Dari lima puluh klien itu, karena alasan tertentu si reporter memusatkan perhatian pada Mr. Ted Worley dari Upper Marlboro, Maryland, dan memuat foto laki-laki malang tersebut duduk di halaman belakang rumah dengan sang istri di belakangnya, tangan mereka bersedekap, wajah keduanya sedih dan mengernyit Mr. Worley, yang lemah, gemetar, dan gusar, 481 menguraikan kontak pertamanya dengan Clay Carter telepon mendadak entah dan mana sewaktu ia mencoba menikmati pertandingan Orioles, berita mengeri-kan tentang Dyloft unnalisis itu, kunjungan si pengacara muda, pengajuan gugatan ke pengadilan. Segalanya. "Saya tidak ingin menyelesaikan perkara dengan uang ganti rugi," katanya lebih dari sekali. Untuk Newsweek Mr. Worley memperlihatkan seluruh dokumen—catatan medis, dokumen gugatan ke pengadilan, kontrak busuk dengan Carter yang memberi si pengacara wewenang untuk

menyelesaikan gugatan dengan uang ganti rugi di atas $50.000. Segalanya, termasuk salinan dua pucuk surat yang pernah ditulis Mr. Worley kepada Mr. Carter sebagai j protes karena telah "menjual" dirinya Si pengacara tidak menjawab surat-surat tersebut Menurut para dokternya, hidup Mr. Worley hanya tinggal kurang dari enam bulan. Perlahan-lahan membaca setiap kara yang menyesakkan dalam artikel nu, Clay merasa seakan-akan dirinyalah yang bertanggung jawab atas kanker tersebut. Helen menerangkan juri akan mendengarkan kesaksian sebagian besar kliennya itu dari video, karena mereka mungkin takkan bertahan hingga sidang. Sungguh ucapan yang sangat kejam, pikir Clay, rapi memang segala yang ada dalam cerita itu kejam. Mr. Carter menolak berkomentar. Sekadar sebagai tambahan, mereka memuat foto Clay dan Ridley di Gedung Putih, dan mereka tidak tahan untuk tidak menceritakan bahwa ia pernah menyumbangkan $250.000 untuk Presidential Review. "Ia akan butuh teman-teman seperti Presiden," i kata Helen Warshaw, dan Clay nyaris bisa merasakan peluru menembus di antara dua matanya la melemparkan majalah itu ke seberang mang kantornya. Dengan menyesal ia berangan andai saja ia tak pernah pergi ke .Gedung Putih, tak pernah bertemu Presiden, tak menulis cek terkutuk itu, tak pernah bertemu Ted Worley, tak pernah bertemu Max Pace, tak pernah berangan masuk sekolah hukum. Ia menelepon pilot-pilotnya dan menyuruh mereka bergegas ke bandara. "Pergi ke mana, Sir?" "Entahlah. Ke mana kalian ingin pergi?" "Maaf?" "Biloxi, Mississippi." "Sam

atau dua orang?" "Hanya aku." Sudah 24 jam ia tidak melihat Ridley dan tidak punya keinginan untuk membawanya serta. Ia butuh waktu untuk pergi dari kota im dan apa saja yang mengingatkannya padanya Tetapi dua hari di yacht milik French sedikit sekali menolong. Clay butuh kehadiran anggota lain dari persekongkolan itu, tapi Patton sedang terlalu asyik dengan gugatan class action lainnya. Mereka makan dan minum terlalu banyak. French menempatkan dua associate di ruang sidang di Phoenix dan mereka terus mengirim e-maii setiap jam. Ia tetap mengabaikan Maxatil sebagai sasaran yang potensial, tetapi ia terus mengawasi setiap gerakan. Im pekerjaannya, katanya, karena ia pengacara gugatan massal terbesar di antara mereka semua. Ia punya pengalaman, uang, dan reputasi. Semua gugatan massal cepat atau lampat, akhirnya akan mendarat di meja kerjanya. 483 Cby membaca berbagai email im, dan berbicara dengan MuJrooney. Pemilihan anggota juri berlangsung sehari penuh. Dale Mooneyham sekarang perlahan-lahan menggelar kasus penggugat terhadap obat im. Hasil penelitian pemerintah rtu menjadi bukti yang sangat kuat. Juri sangat tertarik padanya. "Sejauh mi sangat bagus," kata Oscar. "Mooneyham memang aktor yang bagus, tapi Roger memiliki keterampilan lebih baik di ruang sidang." Sementara French berakrobat dengan tiga telepon sekaligus, dengan kepala mau pecah karena minuman. Clay berjemur di dek atas dan mencoba melupaj kan masalahnya. Sore hari kedua, sesudah dua gelas , vodka di atas dek, French bertanya, "Berapa banyak yang

masih kaumiliki?" "Entahlah. Aku takut menghitung angkanya" "Terka saja." "Dua puluh juta, mungkin." "Dan berapa yang ditanggung asuransi?" "Sepuluh juta. Mereka sudah membatalkan asuransiku, tapi mereka masih bertanggung jawab untuk Dyloft" French menyesap jeruk nipis dan berkata, "Aku tidak yakin tiga puluh juta cukup untukmu." Tampaknya tidak cukup, bukan?" "Ya. Kau punya dua puluh satu gugatan sekarang, dan jumlahnya hanya bisa bertambah. Kita akan beruntung kalau bisa menyelesaikan masalah ini dengan ganti rugi sebesar tiga juta untuk masing-masing gugatan." ^Berapa banyak yang kau punya?" "Sembilan belas, menurut perhitungan kemarin." '"Dan berapa banyak uang yang kau punya?" "Dua ratus juta. Tak akan ada masalah denganku." Kalau begitu mengapa kau tidak meminjamiku, katakan saja, lima puluh juta? Cby kesal bercampur geli ketika menyadari bagaimana mereka membicarakan angkaangka itu. Pelayan membawakan alkohol lebih banyak lagi, sesuatu yang mereka butuhkan. "Dan yang lain?" Clay bertanya. "Wes tidak akan apa-apa. Carlos bisa bertahan kalau angkanya tetap di bawah tiga puluh. Dua istri Didier yang terakhir sudah menguras habis uangnya Ia sudah tamat. Dialah yang pertama pailit, yang pernah malaminya sebelumnya." Yang pertama? Dan siapakah yang kedua? Sesudah keheningan yang cukup lama, Clay bertanya, "Apa yang terjadi kalau Goffman menang di < Flagstaff? Aku punya seluruh kasus ini." Kau akan jadi anak anjing yang sakit, itu sudah pasti. Pernah menimpaku sepuluh tahun yang lalu dengan beberapa kasus bayi cacat Aku

mencari kian kemari, menjaring mereka, menggugat terlalu cepat, lalu urusan berantakan dan tidak ada cara untuk memulihkannya. Para klienku mengharapkan jutaan dolar karena mereka punya bayi-bayi kecil yang cacat, kau tahu, jadi mereka jadi sangat emosional dan tak mungkin ditenangkan. Banyak di antara mereka menggugatku, tapi aku tak pernah membayarnya. Pengacara tidak bisa menjanjikan hasil apa pun. Tapi bagaimanapun aku tetap keluar uang cukup banyak." "Bukan im yang ingin kudengar." "Berapa banyak yang sudah kaukeJuarkan untuk Maxatil?" 485 "Delapan juta hanya untuk iklan." "Aku akan mendiamkannya dulu, sambil melihat-hhat apa yang dilakukan Goffinan. Aku sangsi mereka akan menawarkan apa pun. Mereka gerombolan yang "keras hati. Bersama lewatnya waktu, para klienmu akan berontak dan kau bisa mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh minggat." Satu tegukan vodka Tapi berpikirlah positif. Mooneyham belum pernah kalah selama bertahun-tahun. Sam vonis besar, dan seluruh dunia akan jadi berbeda. Kau, sekali lagi. duduk di atas tambang emas." "Goffinan berkata kepadaku bahwa berikutnya ' mereka akan datang langsung ke D.C." "Bisa jadi mereka menggertak, tergantung apa yang terjadi di Flagstaff. Kalau mereka kalah besar, maka mereka harus mempertimbangkan untuk menyelesaikan perkara im dengan ganti rugi. Bila vonisnya didapat bukan dengan keputusan bulat— dinyatakan bertanggung jawab tapi hanya dengan sedikit denda— maka mereka mungkin ingin mencoba lagi maju ke sidang. Kalau mereka memilih kasusmu, maka kau bisa

mengundang jagoan di ruang sidang dan menggilas mereka." "Kau tidak menyarankan aku sendiri yang maju sidang?" "Tidak. Kau tidak punya pengalaman. Perlu waktu bertahun-tahun di mang sidang sebelum kau siap untuk masuk ke liga utama, Clay. Bertahun-tahun yang panjang," Meskipun suka berapi-api bicara tentang berbagai perkara besar, jelaslah bagi Clay bahwa Patton sama sekah tidak antusias dengan skenario yang baru saja digelarnya. Ia tidak sukarela mengajukan diri untuk jadi jagoan mang sidang im di kasus D.C. ini. It membahas mosi-mosinya dalam usaha menenangkan hati koleganya yang masih muda im Keesokan harinya Clay berangkat agak siang dan terbang ke Pittsburgh, ke mana saja kecuali D.C. Dalam perjalanan, ia berbicara dengan Oscar, dan membaca e-mail dan laporan berita persidangan di Flagstaff. Penggugat, wanita berusia 65 tahun dengan kanker'payudara, memberikan kesaksian dan menguraikan kasusnya dengan sangat bagus. Ia sangat simpatik, dan Mooneyham memainkannya bak biola. Ayo bekuk mereka, Sobat, Clay terus bergumam kepada diri sendiri. Ia menyewa mobil dan mengendarainya ke arah timur laut selama dua jam, memasuki jantung Pegunungan Allegheny. Menemukan letak Reedsburg di peta nyaris sesulit menemukannya di jalan raya. Sewaktu ia mendaki bukit di pinggiran kota, ia melihat pabrik raksasa di kejauhan. SELAMAT DATANG DI REEDSBURG, PENNSYLVANIA, begitu tulisan di papan besar. DOMISILI HANNA CEMENT COMPANY DIDIRIKAN TAHUN 1946. . Dua cerobong asap raksasa menyemburkan debu kapur

yang mengapung perlahan-lahan bersama angin. Setidaknya pabrik im masih beroperasi, pikir Clay. Ia mengikuti rambu-rambu menuju pusat kota dan menemukan tempat parkir di Main Street. Memakai iins dan topi bisbol, dengan janggut yang tiga hari jira ur khawatir dikenali orang. Ia bertok dlC L Ethel's Coffee Shop dan duduk di Jalan, mlT di depan konter. Ethel sendiri yang kursi reyoi menyambut dan melayani pesanannya. Kopi dan roti panggang isi keju. Di meja di belakangnya ada dua lelaki tua yang berbincang tentang football. Reedsburg High Cougars sudah tiga kali berturutturut menelan kekalahan, dan mereka berdua bisa lebih baik mengatur strategi permainan daripada si pelatih kepala. Menurut jadwal yang tertempel eh dinding dekat mesin kasir, akan ada pertandingan menjamu lawan malam itu. Ketika Ethel membawakan kopi, ia berkata, "Kau hanya lewat?" "Ya," kata Clay, menyadari perempuan ini kenal setiap orang dari sebelas ribu jiwa penduduk Redsburg. "Dari mana asalmu?" "Pittsburgh." Ia tidak bisa mencerna apakah itu baik atau buruk, tapi Ethel berlalu tanpa pertanyaan lebih jauh. Di meja lainnya, dua laki-laki yang lebih muda mengobrol tentang pekerjaan. Tak lama kemudian jelaslah bahwa tak satu pun di antara mereka punya pekerjaan. Salah sarunya memakai topi denim dengan logo Hanna Cement di bagian depan. Sementara Clay makan roti keju panggangnya, ia mendengar mereka berkeluh kesah tentang uang pesangon, cicilan rumah, tagihan kartu kredit, pekerjaan parowaktu. Yang satu lagi merencanakan menyerahkan pickup Ford-nya kepada

dealer setempat yang berjanji menjualkannya kembali untuknya. Pada dinding di sebelah pintu depan terdapat meja lipat dengan botol air plastik di atasnya.' Poster buatan tangan mengimbau semua orang untuk memberikan sumbangan kepada "Hanna Fund". Uang logam dan kertas mengisi setengah botol itu. "Untuk apa itu?" Clay bertanya pada Ethel ketika ia mengisi kembali cangkirnya. "Oh itu. Im pengumpulan sumbangan untuk membantu keluarga-keluarga yang di-PHK dari pabrik" "Pabrik apa?" Clay bertanya, berlagak tak tahu-menahu. "Hanna Cement, perusahaan dengan pekerja terbanyak di kota ini. Seribu dua ratus orang di-PHK minggu lalu. Kami di sini selalu bergotong royong. Yang semacam itu ada di seluruh penjuru kota—di toko, kafe, gereja, bahkan di sekolah. Sampai sejauh ini sudah terkumpul enam ribu dolar. Uang im akan digunakan untuk membayar tagihan listrik dan belanja kalau keadaan jadi makin parah. Kalau tidak, uangnya akan disumbangkan ke rumah sakit." "Apakah bisnisnya merugi?" Clay berkata sambil mengunyah. Memasukkan sandwich ke dalam mulut adalah urusan gampang; menelannya merupakan urusan yang lebih sulit. "Tidak, pabrik im selama ini dikelola dengan baik. Keluarga Hanna tahu apa yang mereka lakukan. Mereka mendapat gugatan dari suatu tempat di Baltimore. Pengacara-pengacara im jadi rakus, ingin terlalu banyak uang, dan memaksa Hanna, pailit." "Sungguh sayang," kata salah satu lelaki tua itu. Percakapan-percakapan di kedai kopi diikuti semua yang hadir. "Seharusnya tak perlu terjadi. Keluarga Hanna mencoba menyelesaikan gugatan

im baik-baik dengan itikad bagi, tapi bangsat-bangsat di n C itu menodongnya. Hanna bersaudara itu berkata, 489 Terkutuklah kau', dan berjalan meninggalkan perundungan." Sekilas itu Clay berpikir Cukup tepat ringkasan cerita itu. "Aku sudah empat puluh tahun bekerja di sana, tak pernah sekali pun terlambat menerima gaji. Sungguh sayang." Karena Clay diharapkan mengucapkan sesuatu agar percakapan berlanjut ia berkata, "PHK jarang terjadi, huh?" "Keluarga Hanna tidak suka PHK." "Apakah mereka akan mempekerjakan mereka kembali?" "Mereka akan berusaha. Tetapi pengadilan kepailit-anlah yang sekarang berwenang." Clay mengangguk dan cepat-cepat kembali makan sandwich-nya. Dua laki-laki yang lebih muda itu berdiri, beranjak ke mesin kasir. Ethel mengusir mereka pergi. Tidak usah bayar, Kawan. Kali ini gratis." Mereka mengangguk sopan, dan ketika hendak berlalu keduanya menjatuhkan beberapa uang logam ke dalam kotak Dana Hanna. Beberapa menit kemudian, Clay mengucapkan selamat tinggal pada beberapa orang tua itu, membayar tagihan, mengucapkan terima kasih kepada Ethel, dan memasukkan selembar $100 ke botol air tersebut. Sesudah gelap, ja duduk seorang diri di bangku ffj***tim dan menyaksikan Reedsburg Cougars itu.ngarbmSlPeT,Uh- Bandnya ke**> orang-orang Namun pertandi ***** ^«inginkan kemenangan ngan football itu gagal memikat perhatiannya. Ia melihat daftar pemain dan bertanya-tanya dalam hati berapa banyak di antara para pemain yang terdaftar di sana berasal dari keluarga yang kena pemecatan massal. Ia memandang ke seberang

lapangan pada berderet-deret penggemar Reedsburg dan dalam hati bertanya-tanya siapakah dari mereka yang punya pekerjaan dan siapa yang tidak. Sebelum tendangan pertama dilakukan, dan tak lama sesudah lagu kebangsaan dinyanyikan, pendeta setempat memanjatkan doa untuk keselamatan seluruh pemain dan untuk bangkitnya kekuatan ekonomi masyarakat im. Ia mengakhiri doanya dengan, Tuhan, tolonglah kami melewati saat-saat sulit ini. Amin." Apabila Clay pernah merasa hatinya lebih tak keruan daripada saat itu, ia tidak bisa mengingat kapan im terjadi. 49I Ridley menelepon hari Sabtu menjelang malam dengan agak marah. Ia tidak bisa menghubungi Clay selama empat hari! Tak seorang pun di kantor yang tahu di mana ia berada, atau seandainya tahu mereka tak mau mengatakan kepadanya. Di lain pihak, Clay sama sekali tidak berusaha meneleponnya Mereka berdua punya lebih dari saru telepon. Inikah cara untuk meneruskan hubungan lebih lanjut? Sesudah mendengarkan keluh kesah selama beberapa menit, Clay mendengar sesuatu berdengung di sambungan telepon itu dan bertanya, "Di mana kau?" "St. Barth. Di vila kita." "Bagaimana kau pergi ke sana?" Clay/" tentu saja, selama ini memakai pesawat Gulfstream itu. "Aku menyewa jet yang lebih kecil. Terlalu kecil sebetulnya, kami harus berhenti di San Juan untuk mengisi bahan bakar. Pesawat itu tidak mungkin nonstop sampai ke sini." Kasihan. Clay tidak tahu pasti bagaimana Ridley tahu nomor telepon perusahaan penyewaan pesawat. "Mengapa kau ke sana?" ia bertanya, pertanyaan tolol. ¦

"Aku begitu stres sebab tidak bisa menemukanmu. Kau tidak boleh melakukannya lagi, Clay." Clay mencoba mengaitkan dua hal tersebut—menghilangnya dirinya dan kepergian Ridley ke St. Barth. tapi dengan cepat ia menyerah. "Maaf," katanya "Aku pergi terburu-buru. Patton French memerlukan aku di Biloxi. Aku terlalu sibuk untuk menelepon." Mereka terdiam beberapa lama sementara Ridley berdebat dengan diri sendiri apakah ia sebaiknya langsung memaafkannya atau menunggu satu-dua hari. "Berjanjilah padaku kau takkan melakukannya lagi." ia merajuk. Clay tidak berminat berkeluh kesah atau berjanji, dan ia mendapati dirinya merasa lega Ridley ada di luar negeri. "Itu takkan terjadi lagi. Bersantailah, bersenangsenanglah di sana." "Bisakah kau datang ke sini?" ia bertanya tapi tanpa perasaan apa pun. Seperti permintaan asal saja. 'Tidak mungkin karena sidang di Flagstaff akan mulai." Ia sangat meragukan apakah Ridley menaruh minat terhadap persidangan di Flagstaff. "Maukah kau meneleponku besok?" ia bertanya. "Tentu.-' Jonah sudah kembali ke kota, dengan banyak pemalangan pelayaran untuk dilaporkan. Mereka janji bertemu pukul sembilan di bistm di Wisconsin Avenue untuk makan malam panjang. Sekitar pukul setengah sembilan, telepon berdering, tapi si penelepon langsung memutus sambungan tanpa separah kata pun. Kemudian telepon itu berdering lagi, dan Clay menyambarnya sambil mengancingkan kemeja. "Apakah ini Clay Carter?" suara laki-laki bertanya. "Ya, siapa ini?" Karena banyaknya klien yang tidak puas di luar sana— Dyloft dan Skinny Ben dan, 493 kini yang paling utama,

para pemilik rumah di Howard County yang sangat gusar— Clay sudah dua kali mengganti nomor teleponnya dalam dua bulan terakhir, la sanggup menanggung segala cercaan di kantor, tapi ia lebih suka hidup dengan tenang. "Aku dari Reedsburg. Pennsylvania, dan aku punya informasi berharga tentang perusahaan Hanna." Kata-kata itu membuat bulu kuduk meremang, dan Clay duduk di pinggir ranjang. Pancing agar ia . terus bicara di telepon, katanya pada diri sendiri '¦, sementara mencoba berpikir jernih. "Oke, aku mendengarkan." Seseorang dari Reedsburg, entah bagaimana berhasil mendapatkan nomor telepon barunya yang tak terdaftar. "Kita tidak bisa bicara di telepon," suara itu 1 berkata. Tiga puluh tahun, laki-laki kulit putih, pendidikan sekolah menengah aras. "Mengapa tidak?" "Ceritanya panjang. Ada beberapa dokumen." "Di manakah kau?" "Aku ada di kota ini. Aku akan menemuimu di lobi Hotel Four Seasons di M Street. Kira bisa bicara di sana." Bukan rencana yang buruk. Akan banyak pejalan kaki lalu-lalang di lobi, kalau-kalau seseorang ingin mencabut senjata dan mulai menembaki pengacara. "Kapan?" Clay bertanya. "Secepatnya. Aku akan sampai di sana dalam lima menit. Berapa lama waktu yang kauperlukan?" Clay tidak berniat mengatakan fakta bahwa ia tinggal hanya enam blok dari sana, meskipun alamat„ya bukanlah rahasia. "Aku akan sampai ke sana dalam sepuluh menit." "Bagus. Aku memakai jins dan topi Steelers hitam." "Aku akan menemukanmu," Clay berkata, lalu menutup telepon. Ia menyelesaikan berpakaian dan bergegas keluar dari rumah. Sambil

berjalan cepat di sepanjang Dumbarton, ia mencoba membayangkan informasi apakah yang mungkin ia butuhkan atau bahkan inginkan tentang perusahaan Hanna. Ia baru saja menghabiskan delapan belas jam di Reedsburg, dan sedang berusaha, meskipun tidak berhasil, melupakan tempat tersebut Ia belok ke selatan di Thirty-first Street, bergumam pada diri sendiri, tenggelam dalam dunia penuh skenario persekongkolan dan sogokmenyogok dan mata-mata. Seorang wanita lewat dengan membawa anjing kecil yang mencari-cari tempat yang. tepat di trotoar itu untuk kencing. Lelaki.muda dalam jaket hitam untuk bersepeda dengan sebatang rokok menggantung dari mulurnya bergerak mendekat, meskipun Clay hampir tak melihatnya Sewaktu mereka berdua berpapasan, di depan rumah yang temaram dan di bawah cabang-cabang pohon maple merah, laki-laki im sekonyong-konyong, dengan perhitungan waktu dan ketepatan yang sempurna, melontarkan pukulan pendek menyilang yang mengenai Clay tepat di dagu. Clay tak pernah melihatnya. Ia ingat mendengar suara berderak keras pada wajahnya, dan kepalanya menabrak pagar besi tempa. Ada semacam tongkat, dan laki-laki lain, mereka berdua menghunjamkan pukulan bertubi-tubi. Clay berguling bertumpu pada sisi tubuhnya dan berhasil menopang tubuh dengan 495 s»*" hitut, lalu tongkat itu mendarat di belakang tengkoraknya bagaikan ledakan pistol. Ia mendengar suara wanita di kejauhan, lalu ia pun tak sadarkan diri. Perempuan im sedang berjalan-jalan dengan anjing-nya ketika mendengar keributan di

belakangnya. Ada perkelahian entah apa. dua lawan saru, dengan satu orang tergeletak di tanah, mengalami penganiayaan, (a berian mendekat dan tertegun ngeri menyaksikan dua laki-laki memakai jaket hitam memukuli korbannya dengan tongkat hitam. Ia berteriak, dan mereka berlari. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi 911. Dua laki-laki im berlari ke ujung blok dan menghilang di balik sudut gereja di N Street. Perempuan mi mencoba menolong laki-laki muda yang tergeletak di tanah, yang tak sadarkan diri dan mengalami perdarahan hebat. Clay dibawa ke Rumah Sakit Universitas George Washington, di mana tim dokter menstabilkan keadaannya. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya dua luka besar di kepala yang diakibatkan benda tumpul, sobekan pada miang pipi kanan, sobekan di telinga kiri, dan memar di sana-sini. Tulang betis kanannya retak dengan rapi jadi dua. Tempurung lutut kirinya remuk dan pergelangan kaki kirinya patah. Kepalanya dicukur gundul dan dibutuhkan 81 jahitan untuk menutup dua koyakan besar itu, Tengkoraknya memar 496 hebat tetapi tidak retak. Enam jahitan di tulang pipi. sebelas di telinga, dan mereka memasukkannya ke kamar bedah untuk membereskan kakinya. Jonah mulai menelepon sesudah menunggu tak sabar selama tiga puluh menit. Ia meninggalkan restoran im setelah satu jam dan berjalan kaki menuju rumah town house milik Clay. Ia mengetuk pintu, lalu membunyikan bel, mengumpat dengan suara tertahan, dan siap melemparkan batu ke jendela ketika ia melihat mobil Clay diparkir di antara dua mobil lain di jalan tersebut. Yah, ia menebak im

mobil Clay. Ia berjalan perlahan-lahan menghampirinya. Ada yang tidak beres di sana, cuma ia tidak tahu pasti apa. Benar mobil im Porsche Carrera hitam, tetapi mobil im tertutup debu putih. Ia menelepon polisi. Kantong semen Portland Hanna ditemukan dalam keadaan robek dan kosong di kolong Porsche im. Jelas seseorang sengaja menaburi mobil im dengan semen, lalu menyiramnya dengan air. Di beberapa tempat, terutama di atap dan tutup mesin, gumpalan-gumpalan besar mengering dan menempel pada mobil. Sewaktu polisi memeriksanya, Jonah mengatakan pada mereka bahwa pemiliknya tidak diketahui. Sesudah pencarian dengan komputer, nama Clay pun muncul, dan Jonah berangkat ke rumah sakit, la menelepon Paulette, dan Paulette sudah berada di sana sebelum ia sendiri tiba. Clay sedang menjalani pembedahan, tetapi hanya karena patah miang dan mungkin gegar otak. Tampaknya cederanya tidak mengancam jiwanya. Wanita dengan anjing im bercerita pada polisi bahwa dua penyerang tersebut sama-sama berkulit putih. Tiga mahasiswa yang memasuki bar di Wisconsin Avenue melaporkan melihat dua laki-laki kulit putih berjaket hitam belok tergesa-gesa di sudut N Street. Mereka naik ke van hijau metalik, di mana pengemudinya sudah menunggu. Saat im terlalu gelap untuk melihat pelat nomornya. Telepon yang diterima Clay pada pukul 20.39 malam im dilacak ke telepon umum di M Street, sekitar lima menit dari rumahnya. Jejak petunjuk im mendingin dengan cepat. Lagi pula im hanyalah kasus pemukulan. Pemukulan yang terjadi pada malam Minggu. Pada malam

yang sama mungkin terjadi dua pemerkosaan di kota itu, dua penembakan dari mobil yang melukai lima orang, dan dua pembunuhan, keduanya seperti dilakukan secara acak. Karena Clay tidak punya keluarga di kota ini, Jonah dan Paullete mengambil peran sebagai juru bicara dan pembuat keputusan. Pada pukul 01.30, dokter melaporkan kepada mereka bahwa operasi berlangsung lancar, semua miang sudah ditata dan siap untuk pemulihan, beberapa sekrup dan pin sudah dipasang, keadaan tak mungkin lebih baik daripada itu. Mereka akan memantau kegiatan otaknya dengan cermat. Mereka yakin telah terjadi gegar otak tapi tidak tahu seberapa parah. Ta kelihatan parah," ia memperingatkan mereka. Dua jam berlalu, sementara Clay perlahan-lahan 498 dipindahkan ke lantai atas. Jonah berkeras meminta kamar pribadi. Mereka akhirnya melihatnya sesudah pukul 04.00. Balutan pada mumi pun mungkin kalah banyak. Kedua kakinya dibungkus gips tebal dan digantung beberapa inci dari ranjang dengan serangkaian kabel dan katrol. Selembar seprai menyembunyikan dada dan lengannya. Perban tebal menutupi tengkorak dan setengah wajahnya. Matanya bengkak dan tertutup; untunglah ia masih tak sadarkan diri. Dagunya bengkak, bibirnya lebam dan biru. Darah mengering pada lehernya. Mereka berdiri diam membisu, memperhatikan parahnya luka-luka im, mendengarkan monitor berdetik dan berdenyut, mengawasi dadanya bergerak naik-turun, sangat lambat. Kemudian Jonah mulai tertawa. "Lihatlah keparat itu," katanya. "Hus, Jonah," Paulette mendesis, siap menamparnya. "Di sinilah

berbaring Raja Ganti Rugi," Jonah berkata, tubuhnya terguncang-guncang karena tawa ditahan. Kemudian, Paulette pun melihat sisi lucu tersebut. Ia tertawa tanpa membuka mulut, dan beberapa lama mereka berdua berdiri di kaki ranjang Clay, berusaha keras mengendalikan perasaan geli mereka. Ketika perasaan geli im mereda, Paulette berkata. "Kau seharusnya malu." "Aku memang malu. Maaf." Perawat mendorong ranjang masuk. Paulette akan menjaga pasien pada malam pertama Jonah mendapat giliran malam kedua. Untungnya, penyerangan im terlalu larut untuk • 499 dimuat di Post edisi Minggu. Miss Glick menelepon setiap anggota biro hukum itu dan meminta mereka tidak mengunjungi rumah sakit dan tidak mengirim bunga. Im mungkin akan dibutuhkan nanti, tetapi untuk sementara ini harap panjatkan saja doa. Clay akhirnya kembali dari dunia lain sekitar tengah hari Minggu. Paulette sedang berbalik di ranjang lipat ketika ia bertanya, "Siapa itu?" Paulette melompat berdiri dan berlari ke sisinya. "Ini aku. Clay." Dari matanya yang bengkak dan kabur ia bisa melihat seraut wajah hitam. Sudah pasti itu bukan Ridley. Ia mengulurkan satu tangan dan bertanya, "Siapa?" "Paulette, Clay. Tidak bisakah kau melihat?" Tidak. Paulette? Apa yang kaulakukan di sini?" Kata-katanya kental, lambat, dan nyeri. "Sekadar merawatmu, Bos." "Di manakah aku?" "Rumah Sakit Universitas George Washington." "Mengapa, apa yang terjadi?" "Inilah yang mereka sebut sebagai penganiayaan gaya kuno." "Apa?" "Kau diserang. Dua laki-laki dengan tongkat. Kau perlu pil penahan sakit?"

mg -. "Ya." Ia bergegas keluar dari kamar dan menemui perawat. Dokter muncul beberapa menit kemudian dan, dengan rincian yang menyakitkan, menjelaskan kepada Clay separah apa dirinya dianiaya. Sebutir pil lagi, dan Clay kembali hanyut tertidur. Sebagian besar hari Minggu itu dihabiskan dalam kabut yang menyenangkan, dengan Paulette dan Jonah mengasuhnya sambil membaca koran dan menonton pertandingan football profesional. Cerita im merebak hebat pada hari Senin, dan semuanya sama. Paulette mematikan suara televisi dan Jonah menyembunyikan surat kabar. Miss Glick dan seluruh anggota biro hukum mengamankan kantor dan memberikan ucapan "No comment" kepada semua orang. Wanita itu menerima e-mail dari kapten kapal layar yang menyatakan diri sebagai ayah Clay. Ia berada di Semenanjung Yucatan di Teluk Meksiko dan minta tolong agar seseorang memberinya kabar terbaru tentang kondisi Clay. Miss Glick melakukannya—kondisinya stabil, beberapa tulangnya patah, gegar otak. Ia mengucapkan terima kasih kepada Miss Glick dan berjanji akan mengecek lagi keesokan harinya. Ridley tiba Senin siang. Paulette dan Jonah menyingkir, gembira meninggalkan rumah sakit im beberapa lama. Rupanya jelas bahwa orang-orang Georgia tidak mengerti ritual yang pantas untuk menunggu di rumah sakit. Kalau orang Amerika menunggui kekasih mereka yang sakit dan terluka sampai menginap, orang-orang dari budaya lain merasa lebih praktis untuk mampir selama satu jam, lalu membiarkan rumah sakit merawat pasiennya. Ridley memperlihatkan

kasih sayang luar biasa selama beberapa menit dan mencoba membuat Clay terkesan dengan renovasi terakhir vila mereka. Kepala Clay berdenyut lebih nyeri dan ia meminta saru pil lagi. Ridley bersantai di ranjang lipat dan mencoba untuk tidur siang, katanya lelah karena penerbangan pulang. 501 Nonstop. Naik pesawat Gulfstream. Clay tertidur juga, dan ketika ia terjaga Ridley sudah pergi. Seorang detektif datang berkunjung untuk pemeriksaan lanjutan. Segala kecurigaan mengarah pada sejumlah preman dari Reedsburg. tetapi tak ada setitik pun buku. Clay tak mampu menjelaskan seperti apa laki-laki yang melakukan pukulan pertama kepadanya. "Aku tak pernah melihatnya," katanya sambil menggosok-gosok dagu. Untuk membuat perasaan Clay lebih lega, polisi itu menunjukkan empat foto berwarna ukuran besar Porche hitam tersebut, penuh bercak semen putih, dan Clay pun butuh satu pil lagi. Bunga berdatangan. Adelfa Pumphrey, Glenda di OPD, Mr. dan Mrs. Rex Crittle, Rodney, Patton French, Wes Saulsberry, hakim yang dikenal Clay di Pengadilan Tinggi. Jonah membawakan laptop, dan Clay lama bet-chatting dengan ayahnya. Buletin The King of Shorts" terbit tiga edisi pada hari Senin, masing-masing diisi berita dan gosip koran terbaru tentang pemukulan terhadap Clay. Ia tak membaca satu pun di antaranya. Tersembunyi di kamar rumah sakit, ia dilindungi temantemannya. Selasa pagi, Zack Battle mampir dalam perjalanan ke kantornya dan menyampaikan beberapa berita menggembirakan. Pihak SEC menangguhkan penyelidikannya terhadap Clay. Ia sudah bicara dengan

pengacara Mei Snelhrig di Baltimore. Mel bergeming tak menyerah terhadap tekanan FBI. Dan tanpa Mei, mereka tidak bisa menyusun pembuktian yang diperlukan. "Aku kira FBI melihatmu di koran-koran dan 502 merasa kau sudah cukup menerima hukuman," kata Zack. "Aku masuk koran?" Clay bertanya. "Ada beberapa berita." "Apakah aku ingin membacanya?" "Aku sarankan tidak." Kejemuan terkurung di rumah sakit mulai terasa hebat—kaki digantung, ranjang sorong, kunjungan perawat yang tak ada hentinya setiap jam, percakapan-percakapan pendek yang menyesakkan dengan para dokter, empat dinding itu, makanan yang memuakkan, penggantian perban yang tak ada hentinya, pengambilan darah untuk tes lagi, kejemuan berbaring di sana, tak mampu bergerak. Gips itu akan tetap menempel padanya selama beberapa minggu, dan ia tidak dapat membayangkan hidup di kota im dengan kursi roda dan tongkat penopang. Sudah direncanakan sedikitnya ada dua operasi tambahan, operasi kecil, janji mereka padanya. Guncangan sesudah pemukulan im mulai menghantuinya, dan ia ingat lebih banyak tentang bunyi dan sensasi fisik ketika dipukuli. Ia melihat wajah laki-laki yang melontarkan pukulan pertama, tapi tak bisa memastikan apakah itu nyata atau cuma mimpi. Jadi ia tidak mengatakannya pada si detektif. Ia mendengar jeritan-jeritan dari kegelapan, tapi semua im pun bisa saja merupakan bagian dari mimpi buruk. Ia ingat melihat tongkat hitam seukuran pemukul bisbol terangkat ke udara. Untunglah, ia sudah pingsan dan tidak bisa mengingat sebagian besar pukulan lainnya. Bengkak-bengkak im

mulai mereda; kepalanya 503 mulai berpilar jernih. Ia berhenti memakai i sakit supaya bisa berpikir dan mencoba Penahan kantornya dengan telepon dan e-mail Read"10"8*'018 sibuk di sana. kata setiap orang yang ia^aiTK^ Tetapi ia curiga yang sebaliknya. Cara Rkfley himayan menyenangkan untuk kw saru jam menjelang siang dan sam jam lari 1 "gan sore la berdiri di samping ranjang dan rSnunSk^ kasih sayang luar biasa, terutama bila ada ^T^* dekat-dekat sana. Paulette benci patrTy ST"* * cepat menghilang ketika Ridley memasuk, rZT~ Ta mengincar uangmu," kata Paulette pada S J** aku mengincar tubuhnya," kata Clay * Hfah, saat mi ia jauh lebih untung." UnTUK membaca, setengah bagian - ranjangnya terpaksa dinaikkan, dan karena kakinya sudah mengarah ke atas. ia jadi terlipat seperti huruf V. Posisi yang menyakitkan. Ia bisa bertahan dalam posisi hu tak lebih dari sepuluh menit sebelum menurunkan ranjang dan menghilangkan tekanan. Dengan menyandarkan laptop Jonah pada kedua gips, ia sepintas membaca artikelartikel dari koran Arizona ketika Paulette menjawab telepon. "Dari Oscar," katanya. Minggu malam im mereka sempat bercakap-cakap sebentar, tapi Clay dalam pengaruh obat dan tidak teratur bicaranya Kini ia benarbenar sadar dan siap untuk mendengarkan rinciannya. "Coba kita dengarkan," katanya, sambil menurunkan ranjang dan mencoba menggeliat. "Mooneyham selesai menyampaikan gugatan dan pemeriksaan saksinya hari Sabtu pagi. Gugatannya tak mungkin lebih sempurna lagi. Orang itu benar-benar cemerlang, dan ia menuntun

anggota juri dengan tangannya. Orang-orang Goffinan begitu angkuh ketika sidang dimulai, kini kukira mereka berlanan mencan lubang perlindungan. Roger Redding mengajukan satei ahli mereka kemarin siang, periset yang membenkan kesaksian bahwa tidak ada kaitan langsung antara obat ¦i aengan kanker payudara si penggugat. Kurasa orang itu sangat bagus, sangat bisa dipercaya, ia punya tiga gelar doktor. Juri memperhatikan Kemudian Mooneyham mengoyaknya berkeping-keping. Ia mengeluarkan beberapa riset buruk yang dilakukan orang itu dua puluh tahun lalu. Ia menyerang kredibilitasnya. Saksi itu benar-benar terbantai habis ketika pemeriksaan selesai. Aku sampai berpikir. Tolong teleponkan 911, singkirkan orang ini dari sini.' Tak pernah aku melibat saksi dipermalukan habis-habisan seperti itu Roger pucat pasi. Orang-orang Goffman duduk di sana seperti segerombolan bajingan dijajarkan untuk diperiksa polisi." "Bagus, bagus," Clay terus berkata, telepon itu menempel pada kain kasa di sisi kiri wajahnya, kebajikan dan telinganya yang koyak. "Inilah bagian yang bagus. Aku mengetahui di mana orangorang Goffinan menginap, maka aku pindah hotel. Aku melihat mereka sarapan. Aku melihat mereka di bar larut malam. Mereka tahu siapa aku, jadi kami seperti dua anjing gila yang saling mengitari. Mereka punya pengacara tetap bernama Fleet yang memergoki aku di lobi hotel kemarin ¦ sesudah sidang selesai, sekitar satu jam sesudah saksi ahli mereka dibantai. Ia berkata ingin minum, la minum segelas, aku minum tiga. Alasan ia hanya minum satu adalah karena ia harus kembali ke suite

Goffman di lantai paling atas tempat mereka menghabiskan malam itu untuk mondar-mandir sambil berpikir, menimbang-nimbang kemungkinan untuk menyelesaikan perkara dengan uang ganti rugi." Tolong ulangi lagi," km Clay Mh. "Kau sudah mendengarku, GofTman saat ini sedang menimbang-nimbang untuk menyelesaikan perkara dengan Mooneyham. Mereka ketakutan. Mereka yakin, seperti setiap orang lain di ruang sidang itu, bahwa juri ini akan menghabisi perusahaan mereka. Uang ganti ruginya pasti sangat besar jumlahnya sebab si tua itu tak mau menyelesaikan perkara tersebut di luar sidang. Clay, ia melahap makan siang mereka! Roger memang luar biasa, tapi ia bukan tandingan Mooneyham." WJth "Kembali ke uang ganti rugi im." "Kembali ke uang ganti rugi itu. Fleet ingin tahu berapa banyak di antara kasus kita yang sah. Aku katakan, 'Semua dari dua puluh enam ribu im.' Ia memancing-mancing sebentar, lalu bertanya apakah menurutku kau mau mempertimbangkan untuk me nyelesaikaa perkara ini dengan ganti rugi sekitar . seratus ribu dolar untuk tiap kasus. Im berani dua koma enam miliar, Clay. Apakah kau menghitungnya?". "Sudah." "Dan uang jasa kita?" "Ya." Dan mendengar im rasa sakit langsung menghilang. Tengkorak yang berdenyut-denyut nyeri itu mereda. Gips- yang berat itu jadi seringan bulu. Memar-memar kedi im tidak lagi ada Clay merasa ingin menangis. "Bagaimanapun, ini jelas bukan tawaran untuk menyelesaikan perkara, cuma penjajakan pertama. Penjajakan yang menegangkan. Kau mendengar banyak desas-desus di seputar pengadilan, terutama dari para

pengacara dan analis pasar saham. Menurut gosip yang beredar, Goffman sanggup membayar ganti ragi total hingga tujuh miliar dolar. Kalau perusahaan im membereskan perkara sekarang, maka harga sahamnya mungkin akan tetap stabil sebab mimpi buruk Maxatil ini akan berakhir. Im salah satu teori, tapi sesudah babak belur kemarin, maka ini rasanya sangat masuk akal. Fleet datang padaku sebab kitalah yang paling besar menangani gugatan class action ini. Gosip pengadilan mengatakan jumlah yang mungkin mengajukan klaim berkisar sekitar enam puluh ribu. jadi kita punya sekitar empat puluh persen dan seluruhnya Kalau kita bersedia menerima penyelesaian perkara ini dengan ganti rugi sekitar seratus ribu per kasus, maka mereka bisa memperhitungkan biaya mereka." "Kapan kau akan menemuinya lagi?" "Sekarang sudah hampir pukul delapan di sini, sidang akan dimulai lagi dalam satu jam. Kami setuju untuk bertemu di luar ruang sidang." Teleponlah aku secepatnya" "Jangan khawatir, Grief. Bagaimana tulangtulang yang patah itu?" "Jauh lebih baik sekarang." Paulette mengambil telepon. Beberapa detik kemudian, telepon tersebut berdering lagi. Ia menjawabnya, lalu kembali mengangsurkannya kepada Clay, dan berkata, "Ini untukmu, dan aku akan keluar dari sini." Dari Rebecca, di lobi rumah sakit, dengan menggunakan ponsemya, menanyakan apakah tidak apa-apa untuk berkunjung sebentar. Beberapa menit kemudian, ia berjalan memasuki kamar Clay dan 508 langsung terguncang melihat keadaannya. Ia mencium pipi Clay, di antara

memar-memar itu. "Mereka bawa tongkat," kata Clay. "Agar seimbang. Kalau tidak, tentu tidak adil karena aku pasti lebih kuat." la menekan tuas kontrol ranjang dan mengangkat tubuhnya ke posisi huruf V. "Kau tampak tak keruan," kata Rebecca. Matanya basah: 'Terima kasih. Kau, sebaliknya, tampak spektakuler." Rebecca menciumnya lagi, di tempat yang sama, dan mulai menggosok-gosok lengan kiri Clay. Sesaat berlalu tanpa suara. "Boleh aku mengajukan satu pertanyaan?" Clay bertanya. "Tentu." "Di manakah suamimu saat ini?" "Kalau tidak di Sao Paulo. tentu di Hong Kong. Aku tidak bisa mengikuti jejaknya" "Apakah ia tahu kau ada di sini?" "Tentu saja tidak,"' "Apakah kiranya yang akan ia lakukan seandainya tahu kau ada di sini?" "Ia akan marah. Aku yakin kami akan bertengkar." "Apakah im luar biasa?" "Aku khawatir hal itu selalu terjadi. Perkawinan ini tidak harmonis, Clay. Aku mau putus." Dengan berbagai luka sepera itu, Clay menikmati hari yang sangat menyenangkan. Uang dalam jumlah besar sudah ada dalam jangkauannya, seperti juga halnya Rebecca. Pintu ke kamarnya terbuka tanpa suara dan Ridley, masuk. Ia ada di kaki ranjangnya, tak diperhatikan, ketika ia berkata, "Maaf menyela," "Hai, Ridley." Clay berkata lemah. Dua wanita im saling melontarkan tatapan yang akan membuat ular kobra sekalipun ketakutan. Ridley pindah ke sisi lain ranjang, berhadapan langsung dengan Rebecca, yang tetap memegang lengan Clay yang memar. "Ridley, ini Rebecca. Rebecca, ini Ridley," kata Clay, lalu serius mempertimbangkan untuk menarik selimut menutupi

kepala dan berpura-pura man. Tak seorang pun tersenyum. Ridley mengulurkan tangan hanya beberapa inci dan mulai menggosok-gosok lembut lengan kanan Clay. Meskipun dimanja dua wanita cantik, ia merasa seperti binatang yang bara saja ditabrak sebelum kawanan serigala datang beberapa detik kemudian. Karena selama beberapa detik sama sekali tak ada yang bisa diucapkan siapa pun. Clay mengangguk ke kiri dan berkata, Ta teman lama," lalu ke kanan, dan berkata, Ta teman baru." Dua wanita itu, setidaknya pada saat itu, merasa jauh lebih dekat pada Clay daripada sekadar teman. Keduanya merasa kesal. Tak satu pun menjauhkan diri atau bergeser meski hanya sernci. Posisi mereka sudah dipancangkan. "Aku yakin kami hadir di resepsi pernikahanmu," Ridley akhirnya berkata. Peringatan yang tidak terlalu halus pada Rebecca bahwa ia sudah bersuami. Tak diundang, seingatku," kata Rebecca. "Oh, aduh, waktu untuk suntikan urus-urus," kata Cby, dan tak seorang pun tertawa kecuali dirinya. Kalau sampai meletus perkelahian di kedua sisi ranjangnya maka ia akan teraniaya lebih bebat lagi. Lhna menit sebelumnya ia berbicara di telepon 510 dengnn Oscar, memimpikan rekor uang jasa sebagai pengacara. Kini, dua wanita saling mencabut pedang Dua wanita yang sangat cantik Keadaan bisa lebih buruk, katanya pada diri sendiri. Di mana para perawat? Setiap saat mereka menerobos masuk sepanjang hari, tak memedulikan privasi atau pola tidur. Kadang-kadang mereka datang berpasangan. Dan bila pengunjung kebetulan sedang berada di kamar Clay, dijamin akan ada perawat yang

melongok tanpa tujuan tertentu. "Ada yang bisa kami ambilkan untuk Anda, Mr. 'Carter?" "Perlu mengatur tempat tidur Anda? "Mau menghidupkan TV?" "Atau mematikannya?" Lorong-lorong im sunyi. Dua wanita im siap mencakarnya. Rebecca yang pertama berkedip, la tak punya pilihan. Bagaimanapun, ia memang punya suami. "Kurasa aku akan pergi." Ia meninggalkan kamar im perlahan-lahan, seolah tak ingin berlalu, tak mau menyerahkan wilayah. Perasaan Clay melambung oleh hal im. Segera setelah pintu menutup, Ridley mundur ke jendela, di mana ia berdiri beberapa lama dengan pandangan menerawang. Clay membaca surat kabar, sama sekali tak peduli dengannya dan apa pun perasaan hatinya. Sikap dingin yang dengan susah payah ditunjukkan Ridley im kebetulan disambut baik. "Kau mencintainya, bukan?" Ridley bertanya, sambil masih memandang ke luar jendela, mencoba kelihatan tcrluka. "Siapa?" "Rebecca." 511 "Oh, dia. Tidak, ia cuma teman lama," Mendengar ucapan im Ridley berbalik dan berjalan ke sisi ranjangnya. "Aku tidak tolol. Clay!" "Aku tidak mengatakan begitu." Ia masih membaca koran, tak tergoyahkan oleh usaha penampilan drama . im. Ridley menyambar dompet dan mengentakkan kaki. berjalan keluar dari kamar, tumit sepatunya berdetak sekeras mungkin. Tak lama kemudian perawat masuk, untuk memeriksa apakah terjadi sesuatu padanya. Oscar menelepon beberapa menit kemudian, dengan telepon selulernya di luar ruang sidang. Hakim memerintahkan reses singkat. "Ada desas-desus bahwa Mooneyham

menolak sepuluh juta dolar pagi ini," katanya. "Fleet yang mengatakan ini kepadamu?" "Bukan, kami tidak bertemu. Ia sibuk menangani beberapa mosi Aku akan mencoba dan menemuinya saat makan siang." "Siapa yang maju bersaksi?" "Saksi ahli lain dari Goffinan, profesor wanita dan Duke yang mendiskreditkan penelitian pemerintah terhadap Maxatil. Mooneyham sedang mengasari pisaunya. Ini pasti mengerikan." "Apakah kau percaya desas-desus im?" "Aku tidak tahu pasti apa yang harus kupercaya. Orang-orang Wall Street im sepertinya sangat bergairah dengannya. Mereka ingin penyelesaian perkara di luar sidang sebab mereka pikir itulah cara terbaik untuk meramalkan biaya. Aku akan menelepon lagi saat makan siang." Ada tiga hal yang mungkin terjadi di Flagstaff; 312 dua di antaranya tentu menyenangkan. Vonis bersalah terhadap Goffman akan memberikan tekanan luar biasa pada perusahaan im untuk menyelesaikan perkara dengan uang ganti rugi dan menghindari proses peradilan bertahun-tahun dan rentetan vonis besar. Penyelesaian perkara di tengah persidangan di sana kemungkinan besar berarti rencana ganti rugi bagi semua penggugat secara nasional. Vonis tidak bersalah bagi Goffman akan memaksa Clay cepat-cepat putar haluan dan bersiap menghadapi persidangannya sendiri di D.C. Kemungkinan im kembali menghunjamkan rasa sakit ke dalam tengkorak dan kakinya. Berbaring tak bergerak selama berjam-jam di ranjang rumah sakit sudah merupakan siksaan tersendiri. Kini, telepon yang diam tak bersuara im membuat keadaan jadi jauh lebih parah. Setiap saat, Goftman bisa

menawarkan cukup uang kepada Mooneyham untuk membuatnya berdamai. Egonya mungkin akan mendorong dirinya untuk sampai pada vonis hakim, tapi bisakah ia mengabaikan kepentingan kliennya? Perawat menutup tirai, mematikan lampu dan TV. Ketika ia sudah pergi, Clay meletakkan telepon di perutnya, menarik selimut hingga ke atas kepala, dan menunggu. ESOKAN paginya, Clay dibawa kembali menjalani pembedahan untuk penyesuaian kecil pada pin dan sekrup di kakinya. "Sedikit tarik-tarik," demikian dokter menyebutnya Apa pun namanya, prosedur itu memerlukan anastesi dengan dosis penuh, yang menyapu habis sebagian besar hari itu. Ia kembali ke kamarnya tak lama sesudah tengah hari, dan tidur selama tiga jam sebelum obat bius im habis efeknya. Paulette, bukan Ridley dan bukan Rebecca, menungguinya ketika ia akhirnya sadar. "Ada kabar dari Oscar?" tanyanya dengan lidah kelu. Ta menelepon, katanya persidangan berlangsung baik. Im saja," Paulette melaporkan. Ia mengatur tempat tidur dan bantal Clay dan memberinya air, dan sesudah Clay benar-benar sadar, ia pergi untuk melakukan beberapa pekerjaan. Dalam perjalanan keluar, ia menyerahkan amplop kiriman kilat yang belum dibuka. Dari Patton French. Secarik surat pendek menyampaikan ucapan semoga cepat sembuh, dan sesuatu lainnya yang tak dapat dipahami Clay. Memo yang terlampir im ditujukan kepada Komite Pengawas Penggugat Dyloft (kini jadi Tergugat). Helen Warshaw sudah memasukkan tambahan kasus baru dalam 514 gugatan class action-nya. Daftar itu terus membengkak. Kerusakan residual- akibat

Dyloft bermunculan di seluruh penjuru negeri, dan para Tergugat jadi tenggelam makin dalam di pasir apung. Sekarang sudah ada 381 anggota dalam gugatan class action tersebut, 24 di antaranya adalah mantan klien JCC yang sudah mengikat kontrak dengan Ms. Warshaw, bertambah tiga orang dari jumlah minggu sebelumnya. Seperti biasa, Clay perlahan-lahan membaca nama-nama tersebut, dan sekali lagi bertanya-tanya dalam hati bagaimana nasib mereka pernah dipertemukan. Pasti para mantan kliennya im senang melihatnya terbaring di rumah sakit—luka-luka, remuk, dan memar. Mungkin salah satu ada di ujung lorong sana, mengidap tumor dan organ tubuhnya diangkat, berkumpul dengan orang-orang yang dicintai sementara jam terus berdetak keras. Ia tahu ia tidak menyebabkan penyakit mereka tetapi karena alasan tertentu ia merasa bertanggung jawab atas penderitaan mereka. Ridley akhirnya mampir dalam perjalanan pularig dari tempat latihan kebugaran. Ia membawa beberapa buku dan majalah dan mencoba tampak prihatin. Sesudah beberapa menit ia berkata, "Clay, dekoratornya menelepon. Aku perlu kembali ke vila." Apakah dekorator im laki-laki atau perempuan? Ia merenungkan pertanyaan im tetapi tidak mengemukakannya. . Sungguh gagasan yang sempurna! "Kapan?" ia bertanya. "Besok, mungkin. Kalau pesawatnya bisa dipakai." Mengapa tidak bisa? Clay jelas tidak akan pergi ke mana-mana. 515 "Baiklah. Aku akan rnendepon pitanya." Menyingkirkannya keluar kota akan membual hidup Clay lebih mudah Tak ada gunanya Ridley ada di rumah Terima kasih." ia berkata,

lalu duduk di kursi dan mulai membalik-balik halaman majalah. Sesudah tiga puluh menit waktunya pun habis. Ia mencium Detektif im adalah pengunjung berikutnya. Tiga laki-laki dan Reedsburg telah ditahan hari Minggu pagi di luar bar di Hagerstown, Maryland. Terjadi perkelahian. Mereka mencoba meninggalkan tempat kejadian dengan minivan hijau tua, tetapi si pengemudi keliru memperhitungkan sesuatu dan mereka terperosok ke dalam selokan. Detektif im memperlihatkan tiga foto berwarna para tersangka—semuanya orang bertampang kasar. Clay tak bisa mengidentifikasi siapa pun di antara mereka. Mereka bekerja di pabrik Hanna. demikian menurut Kepala Kepolisian di Reedsburg. Dua orang barubaru ini di-PHK, tapi hanya itulah informasi yang berhasil didapatkan si detektif dari pihak yang berwajib di sana "Mereka sangat tidak kooperatif," katanya. Karena pernah pergi ke Reedsburg, Clay mengerti apa sebabnya. "Kalau kau tidak bisa mengidentifikasi orang-orang ini, maka aku tidak punya pilihan selain menutup kasus ini," si detektif berkata. "Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya," kata Clay, Si detektif memasukkan kembali foto-foto itu ke berkasnya dan berlalu untuk selamanya. Barisan perawat dan dokter datang dengan lebih banyak pemeriksaan, dan sesudah satu jam Clay jatuh tertidur Oscar menelepon sekitar pukul 21.30. Sidang hari im baru saja selesai. Setiap orang kelelahan, terutama karena Dale Mooneyham telah menyebabkan pembantaian besar-besaran di ruang sidang. Goffman dengan enggan mengajukan saksi ahlinya yang ketiga, peneliti laboratorium berkacamata tanduk

yang bertanggung jawab atas percobaan klinis Maxatil. dan sesudah pemeriksaan yang hebat dan kreatif dari Roger the Dodger, Mooneyham mulai membantai lelaki malang im dalam pemeriksaan silang. "Ini gaya penyiksaan model kuno," Oscar tertawa. "GofTman semestinya ketakutan untuk memanggil saksi lagi." "Penyelesaian perkara dengan ganti rugi?" Clay bertanya, masih terpengaruh obat. lamban, dan mengantuk, tapi dengan susah payah mencoba menangkap rinciannya. Tidak ada, tapi malam ini akan jadi malam yang panjang. Desas-desusnya GofTman mungkin akan mengajukan satu saksi ahli lagi besok, lalu masuk ke lubang perlindungan dan merunduk menantikan vonis. Mooneyham menolak bicara dengan mereka. Penampilan dan tindak-tanduknya menunjukkan seolah ia menantikan vonis yang akan jadi rekor." Clay jatuh tertidur dengan telepon terjepit di sisi kepalanya Perawat mengambilnya satu jam kemudian. CEO Goffinan tiba di Flagstaff hari Rabu larut malam dan langsung dibawa ke bangunan tinggi di pusat kota di mana para pengacaranya berkumpul menyusun strategi. Ia diberi penjelasan ringkas oleh Roger Redding dan semua anggota rim pembela dan ditunjukkan angka-angka terakhir oleh orang-orang bagian keuangan. Setiap pembicaraan berpusat di seputar skenario han kiamat. Karena Redding telah dilecut habishabisan, ia berteras pembelaan tetap dilakukan sesuai rencana semula dan memanggil saksi-saksi yang tersisa. Pasti gelombang pasang akan berbalik. Pasti ia akan menemukan peluang dan mendapatkan beberapa angka dan juri. Tetapi Bob Mitchell, kepala pengacara tetap dan

wakil presiden perusahaan itu, dan Sterling Gibb, pengacara kawakan perusahaan dan teman main golf sang CEO, sudah melihat cukup banyak. Sekali lagi pembantaian saksi oleh Mooneyham, maka juri akan melompat berdiri dari kursi mereka dan menyerang eksekutif Goffinan yang duduk paling dekat Ego Reddmg benar-benar terhika. Ia ingin terus maju, sambil mengharapkan mukjizat. Mengikutinya adalah nasihat yang buruk. Mitchell dan Gibb rapat dengan sang CEO sendirian, sekitar pukul 03.00, sambil makan donat. Hanya mereka bertiga. Betapa pun buruk keadaan saat itu bagi perusahaan, masih ada sejumlah rahasia tentang Maxatil yang tak pernah bisa diungkapkan. Seandainya Mooneyham punya informasi ini, atau seandainya ia bisa memerasnya keluar dari saksi, maka langit benar-benar akan runtuh menimpa Goffinan. Sampai tahapan persidangan ini, mereka tidak bisa mengemukakan dalih apa pun untuk mengungguli Mooneyham. Sang ceo akhirnya mengambil keputusan untuk menghentikan pertumpahan darah. Ketika sidang dimulai pukul 09.00, Roger Redding mengumumkan bahwa pihak tergugat selesai dengan pengajuan saksinya. "Tidak ada saksi lain?" sang Hakim bertanya. Sidang yang dijadwalkan berlangsung lima belas hari baru saja dipangkas jadi setengahnya. Bolehlah ia berharap bisa main golf seminggu penuh? "Benar, Yang Mulia," Redding berkata dengan seulas senyum ke arah juri, seolah keadaan baikbaik saja. "Ada bantahan, Mr. Mooneyham?" Pengacara pihak penggugat perlahan-lahan berdiri. Ia menggaruk

kepala, menatap tajam pada Redding, dan berkata, "Kalau mereka sudah selesai, maka demikian pula kami." Hakim menjelaskan pada juri bahwa mereka akan reses selama satu jam sementara ia akan membicarakan beberapa persoalan dengan para pengacara. Ketika mereka kembali,, mereka akan mendengarkan argumentasi penutup, dan saat makan siang kasus im akan diserahkan kepada mereka. Bersama setiap orang lainnya, Oscar lari ke lorong, memegangi ponsel. Tak ada jawaban dari kamar Clay di rumah sakit. Ia menghabiskan waktu tiga jam untuk menunggu pemotretan sinar X tiga jam berbaring di ranjang dorong di lorong yang sibuk di mana para perawat dan mantri mur mudik sambil mengobrolkan segala hal. Ia meninggalkan telepon selulernya di kamar, maka selama tiga jam itu ia terisolasi dari dunia sementara ia menunggu jauh di dalam Rumah Sakit Universitas George Washington. Pengambilan foto sinar X itu buruh waktu hampir saru jam, tapi seharusnya bisa lebih singkat kalau saja si pasien tidak begitu rewel dan agresif dan, kadang-kadang, sangat tidak sopan. Perawat mendorongnya kembali ke kamarnya dan dengan gembira meninggalkannya di sana. Clay sedang tidur ketika Oscar menelepon. Saat itu pukul lima lewat dua puluh menit waktu setempat, berarti pukul tiga lewat dua puluh di Phoenix. "Dari mana saja kau?" Oscar bertanya. "Jangan tanya." "Goffman melempar handuk pagi tadi, mencoba menyelesaikan perkara dengan uang ganti rugi, tapi Mooneyham tidak bersedia diajak bicara. Segalanya terjadi sangat cepat sesudah itu. Argumentasi penutup

dimulai sekitar pukul sepuluh, kurasa, iuri menerima kasus itu untuk diputuskan tepat tengah hari" "Jun masih mempertimbangkannya?" Clay bertanya, praktis berteriak ke telepon. "Sudah selesai." "Sudah mempertimbangkannya. Sudah selesai Mereka berunding selama tiga jam dan memutuskan Goffinan tidak bersalah. Aku menyesal. Clay. Setiap orang di sini juga terguncang." 'Tidak." "Aku khawatir begitulah halnya." "Katakan padaku kau bohong, Oscar." "Andaikan saja begitu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tak adat seorang pun yang tahu. Redding menyampaikan argumentasi penutup yang spektakuler, tapi aku terus mengawasi anggota jari Aku kira Mooneyham berhasil menawan mereka." "Dale Mooneyham kalah perkara?" "Bukan sembarang perkara. Clay. Ia kalah dalam menangani perkara kita." "Tapi kok bisa?" "Aku tidak .tahu. Tadinya aku berani mempertaruhkan seluruh kekayaanku melawan Goffman." "Kita baru saja melakukannya" "Maaf." "Dengar, Oscar, aku berbaring di ranjang sini, seorang diri. Aku memejamkan mata sekarang, dan aku ingin kau berbicara padaku, oke. Jangan tinggalkan aku. Tak ada orang lain di sini. Bicaralah saja padaku. Katakan sesuatu padaku." "Sesudah vonis dijatuhkan, aku disudutkan Fleet, dan dua orang lain—Bob Mitchell dan Starling Gibb. Benar-benar manis sikap mereka. Mereka begitu gembira sampai rasanya akan meledak. Mereka mulai dengan menanyakan apakah kau masih hidup—bagaimana pendapa tmu dengan pertanyaan im? Kemudian mereka kirim salam, sepertinya benar-benar tulus. Mereka katakan kepadaku

mereka akan membawa pertunjukan mereka turun ke jalan —Roger the Dodger and Company-dan sidang berikutnya adalah di D.C., melawan Mr. Clay Carter, Raja Ganti Rugi, yang seperti kita semua tahu. belum pernah menyidangkan satu pun perkara gugatan massal. Apa yang bisa kukatakan? Mereka baru saja mengalahkan pengacara hebat di kandangnya sendiri." "Semua perkara kita itu tak ada nilainya, Oscar." "Jelas demikian pendapat mereka. Kata Mitchell mereka tidak akan menawarkan satu sen pun untuk kasus Maxatil di mana pun di negeri ini. Mereka menginginkan persidangan. Mereka ingin pembalasan dendam Nama yang bersih. Segala omong kosong itulah." Ia menahan Oscar berbicara di telepon selama satu jam sementara kamarnya yang tak berpenerangan jadi gelap. Oscar memainkan kembali argumentasi penutup itu dan ketegangan luar biasa saat menunggu vonis. Ia menguraikan guncangan pada wajah penggugat, wanita yang sedang sekarat dengan pengacara yang menolak untuk mengambil berapa pun yang ditawarkan Goffman, diperkirakan jumlahnya $ 10 juta. Dan Mooneyham, yang sudah begitu lama tak pernah kalah sepertinya ia lupa bagaimana rasanya kalah, menuntut agar dewan jun diharuskan mengisi kuesioner dan menjelaskan Keputusan mereka. Sesudah Mooneyham berhenti untuk wLrt^ bangkh ^ angkatnya ^isan WanTrPermalukan dki sendiri habis" mana •eromrxmin^1^in^ P11^ Goffinan, di duduk dengan k^i dengan setelan jas hitam KCpala tertunduk seperti memanjatkan doa bersama sampai juru bicara juri mengucapkan kata-katanya yang hebat. Sesudah im orang

berbondong-bondong keluar dari ruang sidang saat para analis Wall Street bergegas menelepon ke sana kemari." Oscar mengakhiri narasinya dengan, "Aku akan pergi ke bar' sekarang." Clay memanggil perawat dan meminta sebutil pil tidur. v Sesu D AH sebelas hari hidup terkurung. Clay akhirnya dibebaskan. Gips yang lebih ringan dipasang pada kaki Ionnya dan meskipun tak bisa berjalan, ia setidaknya bisa sedikit n* lakukan manuver. Paulette mendorong kursi rodanya keluar dan rumah sakit menuju van sewaan yang dikemudikan Oscar. Lima belas menit kemudian mereka mendorongnya memasuki rumah town house-uya. dan mengunci pintu. Paulette dan Miss Glick mengubah ruang baca lantai bawah jadi kamar tidur sementara. Telepon, faks, dan komputernya drpmdahkan ke meja lipat di dekat ranjangnya. Pakaiannya ditumpuk rapi di rak plastik di sebelah perapian. Selama dua jam pertama beTada di rumah, ia membaca surat, laporan keuangan, dan kliping, tapi hanya bacaan yang sudah diseleksi Paulette. Hampir semua yang telah diterbitkan tentang Clay dijauhkan darinya. Sesudah vtu, setelah tidur siang, ia duduk di meja dapur sementara Paulette dan Oscar mengumumkan sudah tiba saatnya untuk mulai. Segala kekusutan mulai diurai. Persoalan pertama adalah biro hukumnya. Crittle sudah bersusah payah merampingkan pengeluaran, tetapi biaya overhead-nyt masih melaju dengan angka satu juta dolar sebulan. Tanpa pemasukan baru, dan tak ada pemasukan untuk diharapkan, maka pemecatan tak dapat dihindari. Mereka meneliti daftar pegawai—pengacara, paralegal, sekretaris,

juru tulis, pekerja serabutan—dan menyusun daftar pemotongan yang menyakitkan itu. Meskipun mereka sudah menganggap kasus Maxatil tak ada harganya lagi, toh mereka tetap perlu bekerja untuk menutup berkasberkas itu. Clay mempertahankan empat pengacara dan empat paralegal untuk melaksanakan pekerjaan itu. la bertekad menghormati setiap kontrak kerja yang pernah ia tandatangani dengan pegawainya, tapi melakukan hal im berarti akan melahap uang yang amat sangat dibutuhkan. Clay melihat nama-nama pegawai yang harus pergi, dan hal im membuatnya mual. "Aku ingin mempertimbangkan ini," katanya, tak mampu mengambil keputusan akhir. "Hampir semua dari mereka sudah memperkirakannya, Clay," Paulette berkata Ia memandangi nama-nama im dan mencoba membayangkan gosip yang merebak di loronglorong biro hukumnya sendiri. Dua hari sebelumnya, Oscar dengan enggan menyetujui pergi ke New Y ork dan berunding dengan Helen Warshaw. Ia menyampaikan gambaran kasar 525 tentang aset Clay Carter dan tanggung jawabnya, dan pada dasarnya memohon belas kasihan. Bosnya tidak ingin mengajukan gugatan pailit, tetapi bila didorong terlalu keras oleh Ms. Warshaw maka ia takkan punya pilihan lain. Ms. Warshaw sama sekali tak terkesan. Clay adalah salah saru anggota dari sekelompok pengacara, tergugatnya, yang menurut perkiraannya memiliki kekayaan bersama sejumlah $1,5 miliar. Ia tidak bisa membiarkan Clay menyelesaikan gugatan ini dengan ganti rugi, sebut saja, SI juta dolar untuk masing-masing kliennya, sementara kasus yang sama terhadap Patton

French mungkin akan menangguk tiga kafi jumlah itu. Ditambah lagi, ia tidak berniat menyelesaikannya dengan ganti rugi. Persidangannya merupakan sesuatu yang penting— upaya berani untuk merombak penyalahgunaan sistem peradilan, sesuatu yang amat disorot media. Ia merencanakan menikmati setiap detiknya Oscar kembali ke D.C. seperti anjing berlari dengan buntut dilipat di selangkangan, yakin Helen Warshaw, sebagai pengacara kelompok kreditor Clay yang paling besar, menginginkan darah! Kata pailit yang ditakuti im untuk pertama kalinya diucapkan Rex Crittle di dalam kamar Clay di rumah sakit Kata im memotong udara bak sebutir peluru dan mendarat seperti mortir. Kemudian ia digunakan lagi. Clay mulai mengucapkannya, tapi hanya pada diri sendiri. Paulette mengatakannya satu kali. Oscar sudah menggunakannya di New Y ork. Kata itu tidak cocok dan mereka tidak menyukainya, tapi selama minggu terakhir ia jadi bagian kota kata mereka, gewa kantor bisa dihentikan, melalui kepailitan Kontrak kerja bisa dikompromikan, melalui kepailitan. Pesawat Gulfstream im bisa dikembalikan dengan persyaratan yang lebih baik, melalui kepailitan. Klien-klien Maxatil yang sangat tidak puas dapat dibungkam, melalui kepailitan. Para penggugat Hanna yang tidak puas dapat diyakinkan untuk menyelesaikan perkara mereka dengan ganti rugi uang, melalui kepailitan. Dan, yang paling penting, Helen Warshaw dapat dikendalikan, melalui kepailitan. Oscar hampir sama tertekannya dengan Clay, dan sesudah beberapa jam penuh penderitaan ia pergi ke kantor. Paulette mendorong

Clay keluar, ke beranda kecil tempat mereka minum secangkir teh hijau dengan madu. "Ada dua hal yang ingin kukatakan," ia berkata, duduk sangat dekat dan menatap Clay. "Pertama, aku akan memberimu sebagian dari uangku." 'Tidak." "Ya. Kau membuatku kaya padahal kau tidak wajib melakukannya. Aku tak bisa apa-apa kalau kau bocah putih yang tolol dan kehilangan segalanya, tapi aku masih menyayangimu. Aku akan menolongmu, Clay." "Bisakah kau mempercayai semua ini, Paulette?" 'Tidak. Semua ini di luar yang bisa kita percayai, tapi ini nyata. Sudah terjadi. Dan keadaan akan jauh lebih buruk lagi sebelum membaik. Jangan baca koran, Clay. Aku mohon. Berjanjilah padaku." "Jangan khawatir." "Aku akan membantumu. Kalau kau kehilangan segalanya, aku akan bersamamu untuk memastikan kau baik-baik saja." "Aku tak tahu apa yang harus kukatakan." "Jangan katakan apaapa." Mereka berpegangan tangan dan Clay berjuang menahan air mata. Beberapa saat berlalu. "Nomor dua." katanya "Aku sudah bicara dengan Rebecca. Ia takut menenunmu sebab ia mungkin akan tepergok. Ia punya ponsel baru yang tak diketahui suaminya. Ia memberikan nomornya kepadaku. Ia ingin kau meneleponnya" "Saran seorang wanita?" "Tidak dariku. Kau tahu bagaimana perasaanku terhadap pelacur Rusia itu. Rebecca wanita yang manis, tapi ia punya beban, begitulah istilah halusnya. Kau sendirian" Terima kasih." "Sama-sama Ia ingin kau meneleponnya siang ini. Suaminya sedang ke luar kota. Aku akan pergi beberapa menit lagi." Rebecca parkir di balik tikungan dan bergegas menyusuri Dumbarton Street

ke pintu rumah Clay. Ia tidak pintar sembunyi-sembunyi; tidak pula Clay. Hal pertama yang mereka putuskan adalah mereka tidak akan meneruskannya, la dan Jason Myers memutuskan untuk membubarkan perkawinan mereka secara bersahabat. Pada mulanya Jason Myers ingin mengikuti konseling dan menunda perceraian, tetapi ia juga lebih suka bekerja delapan belas jam sehari, apakah itu di D.C, New Y ork, Palo Alto, atau Hong Kong. Perusahaannya yang sangat besar itu punya berbagai kantor di 32 kota, dan ia punya klien di seluruh penjuru dunia. Kerja jauh lebih penting daripada apa pun lainnya, la begitu saja meninggalkan Rebecca, tanpa permintaan maaf dan tanpa rencana untuk mengubah cara hidupnya. Dokumen-dokumen akan diajukan ke pengadilan dalam dua hari. Rebecca sudah mengemasi tas-tasnya. Jason tetap memiliki kondominium itu; Rebecca masih samarsamar tentang ke mana ia akan pergi. Dalam setahun usia perkawinan mereka, mereka hanya mengumpulkan sedikit kekayaan. Jason mitra dalam perusahaannya dengan penghasilan $800.000 setahun, tapi Rebecca tak menginginkan sesen pun uangnya. Menurut Rebecca, orangtuanya tidak ikut campur. Mereka tidak punya kesempatan. Myers tidak menyukai mereka, dan im bukan kejutan, dan Clay curiga salah satu alasan mengapa ia lebih menyukai kantor cabangnya di Hong Kong karena kantor im begitu jauh dari keluarga Van Horn. Keduanya punya alasan untuk lari. Dalam keadaan apa pun, Clay tidak, akan menetap di D.C. pada tahun-tahun mendatang. Rasa malu yang ditanggungnya begitu menyakitkan dan

mendalam, dan ada dunia besar di luar sana, di mana orang-orang tak mengenalnya. Ia rindu tidak dikenal orang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Rebecca hanya ingin menyingkir—menyingkir dari perkawinan yang berantakan, menyingkir dari keluarganya, menyingkir dari country chib itu dan orang-orang tak tertahankan yang pergi ke sana. menyingkir dari tekanan untuk bekerja menghasilkan uang dan mengumpulkan kekayaan, menyingkir dari McLean dan sedikit teman yang pernah ia kenal. Butuh satu jam bagi Clay untuk membawanya ke ranjang, rapi seks mustahil dilakukan dengan gips dan segala perban im. Ia hanya ingin memeluknya dan menciuminya dan membayar waktu yang hilang. Rebecca menginap malam im dan memutuskan untuk pergi lagi. Sambil minum kopi keesokan paginya, Clay mulai dengan kisah Tequila Watson dan Tarvan dan menururkan segalanya. Paulette dan Oscar kembali dengan membawa lebih banyak berita buruk dan kantor. Penghasut di Howard County membujuk para pemilik rumah im untuk mengajukan keluhan etika terhadap Otty karena kacaunya pemberian ganti rugi dalam perkara dengan Hanna. Beberapa lusin sudah diterima Asosiasi Pengacara O.C. Enam gugatan terhadap Cby telah diajukan ke pengadilan, seluruhnya oleh pengacara yang sama yang secara aktif mencari lebih banyak penggugat lagi. Kantor Clay sedang menyusun rencana penyelesaian perkara untuk diajukan kepada hakim dalam perkara kepailitan Hanna. Janggalnya, biro hukum im mungkin akan memperoleh uang jasa, meskipun jauh lebih kecil daripada yang dulu

ditolak Clay. Ada mosi mendesak dari Warshaw yang menuntut dikumpulkannya kesaksian di mar ruang sidang dan beberapa penggugat Dyloft. Urusan ini mendesak sebab mereka menjelang ajal dan kesaksian dalam video itu akan sangat penting dalam persidangan nanti, yang diperkirakan akan berlangsung setahun. Menggunakan taktik pembelaan dengan cara menunda-nunda, mengulur waktu, dan menangguhkan urusan tentulah sangat tidak adil bagi para penggugat ini. Clay setuju untuk menjadwalkan pengambilan kesaksian sesuai yang disarankan Ms. Warshaw. meskipun ia tidak punya rencana untuk menghadirinya. Dengan tekanan dari Oscar, Clay akhirnya setuju memberhentikan sepuluh pengacara dan hampir semua paralegal, sekretaris, serta juru tulis. Ia menandatangani surat untuk setiap orang—singkat dan penuh penyesalan..Ia menerima tanggung jawab sepenuhnya atas matinya biro hukum itu. Terus terang, tidak ada orang lain yang bisa disalahkan. Surat kepada para klien Maxatil dibuat. Di dalamnya, Clay menguraikan persidangan Mooneyham di Phoenix. Ia berkeyakinan obat im benar berbahaya, tetapi kini membuktikan obat itu sebagai penyebab masalah kesehatan adalah "sangat sulit, kalau bukan mustahil". Perusahaan im tidak bersedia mempertimbangkan penyelesaian perkara di luar pengadilan, dan, mengingat masalah kesehatan Clay saat. m. ia tidak dalam posisi untuk menyiapkan persidangan yang berkepanjanganl« benci memakai pemukulan terhadap dinnya itu sebagai dalih, namun Oscar berkeras. Hal itu kedengaran dapat dipercaya di dalam surat. Di titik

bawah kariernya ini, ia terpaksa menyambar keuntungan apa saja yang bisa ia dapatkan. Karena itu ia melepas setiap klien, dan melakukan hal im dalam tempo yang cukup bagi masing-masing untuk menyewa pengacara lain dan memburu Goffinan fa bahkan mengucapkan selamat kepada mereka. Surat-surat im akan memicu badai kontroversi. "Kami akan menanganinya,'* Oscar terus berkata. "Setidaknya kita akan lepas dari orang-orang ini." Mau tidak mau Clay memikirkan Max Pace, teman lamanya yang membawanya ke dalam bisnis Maxatil ini. Pace, salah satu dari sedikitnya lima nama alias, telah dituntut karena melakukan penggelapan surat-surat berharga, tetapi belum dapat ditemukan. Tuntutan kepadanya im menyatakan ia menggunakan informasi dan dalam untuk menjual hampir saru juta saham GofTman sebelum Clay memasukkan gugatan. Sesudah itu, ia menutup transaksi itu dan menyelinap ke luar negeri dengan uang sekitar SIS juta. Lari, Max. lari. Kalau ia sampai tertangkap dan diseret ke pengadilan, maka ia mungkin akan menumpahkan segala rahasia kotor mereka. Ada seratus hal lain dalam daftar Oscar, tapi Clay mulai letih. "Apakah aku harus jadi perawat malam ini?" Paulette berbisik di dapur "Tidak, Rebecca ada di sini." "Kau memang suka cari masalah, ya7" "fa akan memasukkan gugatan cerai besok. Perceraian baik-baik." "Bagaimana perempuan jalang itu?" »Ia tamat begitu kembali dari St. Barth." Selama seminggu berikutnya, Clay tak pernah meninggalkan rumah. Rebecca mengemasi seluruh barang Ridley ke dalam tiga puluh kantong sampah

dan mcnjejalkannya di gudang bawah tanah. Ia membawa beberapa barangnya sendiri, meskipun Clay memperingatkan bahwa ia akan kehilangan rumah tersebut. Rebecca memasak berbagai masakan lezat dan merawatnya kapan saja ia membutuhkan perawatan. Mereka menonton film-film lama hingga tengah malam, lalu tidur saat dini hari. Ia mengantar Clay menemui dokternya. Ridley menelepon dua hari sekali dari pulau. Clay tidak mengatakan padanya bahwa wanita itu sudah kehilangan tempatnya, ia lebih suka melakukan bal i m secara pribadi, ketika dan seandainya Ridley kembali Renovasi berjalan dengan baik. meskipun Clay telah melakukan pemotongan besar-besaran terhadap anggarannya. Perempuan itu sepertinya tak tahu-menahu tentang masalah finansial Clay. Pengacara terakhir yang memasuki kehidupan Clay adalah Mark Munson, pakar kepailitan yang mengkhususkan diri dalam kasus-kasus kepailitan perorangan berskala besar dan rumit Crittle yang menemukannya. Sesudah Clay memberikan uang muka padanya, Crittle memperlihatkan kepadanya seluruh pembukuan, bukti sewa, kontrak, gugatan hukum, aset. dan utang. Segalanya. Ketika Munson dan Crittle datang ke rumahnya. Clay minta Rebecca pergi, la mgm membebaskan Rebecca dari rincian data yang Dalam tujuh belas bulan sejak ia meninggalkan OPD. Clay telah memperoleh uang jasa sebesar $121 juta—530 juta dibayarkan kepada Rodney. Paulette. dan Jonah sebagai bonus; $20 juta habis untuk biaya kantor dan pembelian Gulrstnnun; $16 juta terbuang habis untuk iklan dan uji Dyloft. Maxatil. dan Skinny Ben

$34 juta untuk pajak, baik yang terbayar atau yang ditambahkan. S4 juta untuk vila: $ 3 juta untuk kapal layar. Sam juta di sana-sini—rumah itu. "pinjaman" untuk Max Pace, dan kemewahan biasa Perahu katamaran baru yang indah milik Jarrett merupakan persoalan yang menarik. Clay yang membayarnya, tetapi perahu im atas nama perusahaan Bahama yang sepenuhnya dimiliki ayahnya Munson berpendapat pengadilan kepailitan akan mengambil satu dan dua keputusan—bahwa perahu im hadiah, yang berarti Clay harus membayar pajak hadiah, atau perahu itu milik orang lain dan dengan demikian bukan bagian dari kekayaan Clay. Apa pun putusannya, perahu itu tetap menjadi milik Jarrett Carter Clay juga memperoleh $7,1 juta dengan memperdagangkan saham Ackerman. dan meskipun sebagian darinya sudah dikubur di luar negeri, uang itu harus diangkut kembali "Kalau kau menyembunyikan aset apa pun, kas akan masuk penjara/' Munson menguliahi, tanpa sedikit pun meninggalkan keraguan bahwa ia tidak mentolerir pemikiran semacam rtu Neraca keuangannya menunjukkan kekayaan total sebesar $19 juta. dengan sedikit kreditor Akan tetapi, tanggung jawab yang harus dibayar benar-benar bencana. Dua puluh enam mantan klien yang kini menggugat karena kekacauan penyelesaian perkara Dyloft. Angka itu diperkirakan akan meningkat, dan meskipun mustahil untuk menebak berapa nilai masing-masing kasus tersebut, yang harus dibayarkan Clay jelas jauh lebih banyak daripada seluruh kekayaannya. Penggugat class action dalam kasus Hanna mulai mendidih dan terorganisir. Akibat susulan

kasus Maxatil akan sangat tidak menyenangkan dan berkepanjangan. Tak satu pun pengeluaran untuk itu bisa diramalkan. "Biarkan pengawas kepailitan yang menanganinya," kata Munson. "Kau pergi hanya dengan pakaian yang menempel pada tubuhmu, tapi setidaknya kau takkan berutang apa pun." "Wah, terima kasih," kata Clay, sambil masih memikirkan perahu layar im. Kalau mereka berhasil menjauhkannya dari perkara kepailitan ini, maka Jarrett bisa menjualnya, membeli yang lebih kecil, dan Clay bisa punya uang untuk hidup. Sesudah dua jam bersama Munson dan Crittle, meja dapur im dipenuhi spreadsheet, printout, dan catatan-catatan yang sudah tak terpakai, saksi atas kehidupannya yang penuh gejolak selama tujuh belas bulan terakhir. Ia jengah pada keserakahannya dan malu pada ketololannya. Sungguh memuakkan apa yang telah dilakukan uang terhadapnya. Pikiran untuk pergi membantunya bertahan hidup setiap hari. 535 Ridley menelepon dari St Barth dengan kabar gempar bahwa ada papan DIJUAL muncul di depan vila "mereka". "Karena sekarang vila itu memang dijual," kata Clay. "Aku tak mengerti." "Pulanglah dan akan kujelaskan padamu." "Apakah ada masalah?" "Boleh dibilang begitu." Sesudah lama terdiam, Ridley berkata, "Aku lebih suka tinggal di sini." "Aku tidak bisa memaksamu palang, Ridley." "Memang tidak." "Baiklah. Tinggallah di vila itu sampai terjual. Aku tidak peduli." "Berapa lamakah itu?" la bisa melihat Ridley melakukan apa yang bisa dibayangkan untuk menyabot kemungkinan penjualan. Pada saat ini, Clay sama sekali tak peduli. "Mungkin sebulan, mungkin

setahun. Entahlah." "Aku akan tinggal," katanya. "Baiklah." Rodney mendapati sahabat lamanya duduk di tangga depan rumah town house yang indah, tongkat penyangga di sisinya, sehelai syal di pundak untuk menepis hawa dingin musim gugur. Angin berpusing memutar dedaunan di sepanjang Dumbarton Street. "Aku butuh udara segar," kata Clay. "Sudah tiga minggu aku terkurung di dalam sana." "Bagaimana mlang-mlangmu?" Rodney bertanya saat ia duduk di sebelah Clay dan memandang ke jalan. "Pulih dengan baik." Rodney sudah pindah meninggalkan kota dan benar-benar jadi penduduk pinggiran kota. Bercelana khaki dan bersepatu olahraga, dengan mobil SUV bagus untuk mengantar anak-anak. "Bagaimana kepalamu?" "Tidak ada kerusakan otak tambahan." "Bagaimana jiwamu?" 'Tersiksa, untuk tidak membesarbesarkannya. Tapi aku akan bertahan hidup." "Kata Paulette kau akan pergi." "Setidaknya untuk beberapa lama. Aku akan memasukan gugatan pailit minggu depan, dan aku takkan berada di sekitar sini saat hal itu terjadi. Paulette punya flat di London yang bisa kupakai selama beberapa bulan. Kami akan bersembunyi di sana." "Kau tidak bisa menghindari kepailitan?" 'Tidak mungkin. Terlalu banyak tuntutan, dan semuanya sah. Ingat Ted Worley, penggugat Dyloft yang pertama kita wakili?" 'Tentu." "la meninggal, kemarin. Bukan aku yang menarik picu, tetapi jelas aku juga tak melindunginya. Di depan juri, kasusnya bernilai lima juta dolar. Ada dua puluh enam kasus seperti im. Aku akan pergi ke London." "Clay, aku ingin membantu." "Aku takkan mengambil uangmu. Itulah

sebabnya kau ke sini, dan aku tahu itu. Sudah dua kali aku bicara soal ini dengan Paulette dan sekali dengan Jonah. Kau mendapatkan uangmu dan kau cukup pintar untuk keluar. Aku tidak.** Tapi kami tidak akan membiarkanmu mati. man. Kau tidak perlu memberi kami sepuluh juta dolar. Tapi kau melakukannya. Kami akan mengembalikan sebagian" .' *V Tidak" . Ta Kami bertiga sudah bicara tentang ini. Kami akan menunggu sampai kasus kepailitan ini selesai, lalu kami masing-masing akan mentransfernya Hadiah." "Kau bekerja untuk mendapat uang itu, Rodney. Simpanlah." "Tak ada "orang bekerja enam bulan dan mendapatkan sepuluh juta dolar. Clay. Kau mungkin bisa memenangkannya, mencurinya, atau mendapatkannya jatuh dan langit, tapi tak seorang pun bekerja dengan penghasilan seperti itu. Tidak wajar dan tidak pantas. Aku akan mengembalikan sebagian. Begitu juga Paulette. Aku tidak tahu pasti dengan Jonah, tapi ia akan datang." "Bagaimana kabar anak-anak?" "Kau mengalihkan pembicaraan." Ta, aku mengalihkan pembicaraan." Jadi mereka mengobrol tentang anak-anak, teman-teman lama di OPD, dan klien serta kasus-kasus lama di sana. Mereka duduk di tangga depan itu hingga hari gelap, ketika Rebecca datang dan saat makan malam tiba. 538 Reporter koran Post itu adalah Art Mariani, laki-laki muda yang kenal baik dengan Clay Carter sebab dialah yang mendokumentasikan kariernya yang melambung sangat mencengangkan dan kejatuhannya yang sama menakjubkan dengan penuh perhatian terhadap rincian dan dengan sikap yang cukup berimbang. Ketika Mariani

tiba di rumah Clay, ia disambut Paulette dan diantar menyusuri lorong sempit menuju dapur di mana orangorang menunggu. Clay tertatih bangkit dan memperkenalkan diri, lalu memperkenalkan orang-orang di sekeliling meja—Zack Battle, pengacaranya; Rebecca Van Horn, temannya; dan Oscar Mulrooney, mitranya. Tape recorder dipasang. Rebecca menuangkan kopi dari teko. "Ceritanya panjang," kata Clay, "tapi kita punya banyak waktu." "Aku tidak punya tenggat," kata Mariani. Clay meneguk kopi, menarik napas panjang, dan terjun ke dalam cerita Ia mulai dengan penembakan Ramon "Pumpkin" Pumphrey oleh kliennya, Tequila Watson. Tanggal, jam, tempat, Clay punya catatan untuk segalanya dan seluruh berkasnya. Kemudian Washad Porter dan dua pembunuhnya. Lalu empat lainnya. Camp Deliverance, Clean Streets, hasil yang mencengangkan dari obat bernama Tarvan. Meskipun ndak pernah menyebut nama Max Pace, ia secara terperinci menjelaskan sejarah Tan an sesuai cerita Pace—;percobaan-percobaan klinis rahasia di Mexico •City, Belgrade, dan Singapura, niat pabrik obat untuk mengujicobakannya pada orang-orang keturunan Afrika, lebih disukai yang ada di Amerika Serikat. Kedatangan obat itu di D.C. "Siapakah yang membuat obat itu?" tanya Mariani, jelas terguncang. Sesudah terdiam lama di mana ia sepertinya tak mampu berbicara. Clay menjawab, "Aku tidak tahu pasti. Tapi kurasa itu adalah Philo." Thilo Products?" Ta." Clay meraih setumpuk dokumen tebal dan menyorongkannya kepada Mariani. "Ini satu dari perjanjian penyelesaian perkara itu.

Seperti akan kaulihat, di situ disebut dua perusahaan luar negeri Kalau kau bisa menembus mereka, melacak jejaknya, maka itu mungkin akan menuntunmu ke perusahaan kosong di Luxemburg, lalu ke Philo." "Oke, tapi mengapa kau mencurigai Philo?" "Aku punya sumber. Itu saja yang bisa kukatakan padamu." Sumber misterius ini memilih Clay di antara semua pengacara di D,C. Dan meyakinkannya agar menjual jiwa dengan harga SI5 juta. Dengan cepat ia berhenti dari OPD dan membuka biro hukum sendiri. Mariani tahu banyak tentang ini. Clay menghubungi keluarga keenam korban itu, dengan gampang meyakinkan mereka untuk mengambil $5 juta dan tutup mulut, dan dalam tiga puluh hari ia membereskan semuanya. Rincian cerita itu mengalir keluar, demikian pula segala dokumen dan perjanjian penyelesaian perkara itu. "Saat aku menerbitkan cerita ini, apa yang akan terjadi pada klienmu, keluarga para korban itu?" Mariani bertanya. " "Selama ini aku tak bisa tidur mengkhawatirkan hal itu, tapi kurasa mereka akan baik-baik saja," kata Clay. "Pertama, mereka sudah mengantongi uang itu selama setahun, jadi kiranya aman untuk mengasumsikan bahwa banyak yang sudah mereka pakai. Kedua, gilalah pembuat obat itu kalau berniat maju ke pengadilan dan membatalkan perjanjian penyelesaian perkara ini." "Dengan begitu keluarga-keluarga itu bisa menggugat langsung perusahaan tersebut," Zack menambahkan. "Dan vonisnya bisa menghancurkan perusahaan besar mana pun. Belum pernah aku menyaksikan rangkaian fakta yang begitu mudah berubah." "Perusahaan itu takkan menyentuh

perjanjian penyelesaian perkara itu," kata Clay. "Mereka beruntung berhasil lolos, dengan membayar lima puluh juta dolar sebagai ganti rugi." "Bisakah para keluarga itu melanggar perjanjian itu saat mereka tahu fakta yang sebenarnya?" Mariani bertanya. "Sulit." "Bagaimana dengan kau? Kau menandatangani perjanjian untuk menjaga kerahasiaan?" "Aku bukan faktor penting lagi. Aku akan bang-krut. Aku akan menyerahkan surat izinku untuk melakukan praknk hukum Mereka tidak bisa menyentuhku.*' Itu pengakuan yang menyedihkan, pengakuan yang menyakitkan bagi teman-teman Clay dan bagi dirinya sendiri. Mariani menulis beberapa catatan dan berganti persneling. "Apa yang terjadi pada Tequila Watson, Was had Porter, dan beberapa orang lain yang divonis bersalah atas pembunuhan-pembunuhan itu?" "Pertama, mereka mungkin bisa menggugat pabrik pembuat obat tersebut dan itu tidak banyak manfaatnya bagi mereka di penjara. Kedua, ada kemungkinan kasus mereka dapat dibuka kembali, setidaknya dalam aspek vonisnya." Zack Battle berdeham dan setiap orang menunggu. "Off the record. Sesudah kau menerbitkan apa saja yang kauputuskan untuk diterbitkan, dan sesudah badai mi reda, aku merencanakan mengambil kasus ini dan meminta peninjauan kembali. Aku akan menggugat atas nama tujuh terdakwa itu, kalau kami bisa mengidentifikasi perusahaan farmasi tersebut Aku mungkin akan mengajukan petisi ke pengadilan pidana untuk meninjau kembali vonis mereka." "Ini sangat eksplosif," kata Mariani, mengutarakan sesuatu yang

sudah jelas. Ia mengamati catatannya beberapa lama. "Apa yang menyebabkan timbulnya gugatan kasus Dyloft?" "Itu bab lain untuk hari lain," kata Clay. "Lagi pula, kau sudah mendokumentasikan hampir seluruhnya. Aku tidak akan bicara tentang itu." "Baiklah. Apakah cerita ini sudah habis?" "Bagiku sudah" kata Clay. 542 aulcttc dan Zack mengantar mereka ke bandara, ke Reagan National di mana pesawat Gulfstrearn kesayangan yang dulu dimiliki Clay bertengger sangat dekat di tempat ia pertama kali melihatnya. Karena mereka akan pergi sedikitnya selama enam bulan, barang bawaan mereka cukup banyak, terutama milik Rebecca. Clay, yang sudah menyingkirkan begitu banyak barang dalam satu bulan terakhir ini. bepergian tanpa banyak beban. Ia bisa bergerak leluasa dengan tongkat ketiak, tetapi ia tidak bisa membawa apaapa. Zack bertindak sebagai portir. Dengan tabah ia memamerkan pesawatnya kepada mereka, meskipun mereka semua tahu ini adalah perjalanan terakhir. Clay memeluk Paulette dan merangkul Zack, mengucapkan terima kasih pada mereka berdua dan berjanji menelepon beberapa hari lagi. Ketika kopi lot mengunci pintu. Clay menarik penutup jendela sehingga ia tidak akan sedikit pun melihat Washington ketika mereka terbang. Bagi Rebecca, jet itu lambang mengerikan kekuatan destruktif keserakahan. Ia merindukan flat mungil di London, di mana tak seorang pun mengenal mereka, dan tak seorang pun peduli apa yang mereka pakai, kendarai, beli, makan, atau di mana mereka bekerja, berbelanja, atau berlibur, la tidak akan pulang. Ia telah bertengkar dengan orangtuanya untuk

terakhir kali. Clay merindukan dua kaki yang baik dan buku catatan yang bersih, la berhasil selamat dari salah 543 satu keruntuhan karier paling hebat dalam sejarah hukum Amerika, dan persoalan itu makin jauh dan ,auh di belakangnya la memiliki Rebecca untuk diri sendiri, dan tak ada hal ban yang lebih penting. Di suatu tempat di atas Newfoundland, mereka membuka sob bpat dan tertidur di bawah selimut<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->