BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah

B. Identifikasi Perumusan Masalah Adapun identifikasi perumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini antara lain : 1. Apa yang dimaksud autisme? 2. Bagaimana gambaran yang khas (unik) dari anak autis? 3. Bagaimana gambaran perilaku autis? 4. Apa layanan pendidikan bagi anak autis?

C. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan

D. Manfaat Pembahasan Sesuai dengan tujuan penelitian, manfaat yang akan diperoleh dari pembahasan ini ialah : 1. untuk memperoleh gambaran alternatif media pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan membaca dalam pengajaran sastra; 2. sebagai acuan pengembangan media pendidikan, khususnya pada tingkatan atau jenjang sekolah dasar.

E. Sistematika Penulisan KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi dan Perumusan Masalah C. Tujuan Pembahsan D. Manfaat Pembahasan E. Sistematika Penulisan BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian autisme B. Gambaran yang khas (unik) dari anak autis C. Gambaran perilaku autis D. Layanan pendidikan bagi anak autis BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA

dan aktivitas imajinasi. Tingkatan manifestasi gangguan juga sangat lebar. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi. kasusnya. Istilah autisme ini baru diperkenalkan sejak tahun 1943 oleh Leo Kanner. Mengingat kalau kita perhatikan. bekaitan satu sama lain dan unik karena tidak sama untuk masing-masig kasus. Seseorang baru dapat dikatakan termasuk kategori Autisme. minat yang terbatas disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan. interaksi sosial. Gejala tersebut harus sudah terlihat sebelum usia 3 tahun. kognisi. Pengertian Autisme Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri.BAB II PEMBAHASAN A. maka kita akan mendapat kesan bahwa penyandang autis itu seolah-olah hidup di dunianya sendiri. maka dapat disimpulkan bahwa autisme sesungngguhnya adalah sekumpulan gejala klinis yang dilatarbelakangi berbagai faktor yang sangat bervariasi. kualitas yang kurang dalam kemampuan komunikasi timbal balik. Bahkan pada autisme infatil gejala sudah ada sejak lahir. Oleh karena itu pula. Di satu sisi terdapat individu yang memiliki semua gejala dan di sisi lain adalah individu yang memiliki . Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun. secara klinis. Mengingat bahwa tiga aspek gangguan perkembangan di atas terwujud dalam berbagai bentuk yang berbeda. bila ia memiliki hambatan perkembangan dalam tiga aspek yakni kualitas kemampuan interaksi sosial dan emosional. sering ditemukan gejala yang bercampur baur atau bertumpang tindih dengan gejala-gejala dari beberapa gangguan perkembangan yang lain. antara yang berat hingga yang ringan.

bahkan yang kembar sekalipun. 5. Anak tampak seperti tuli. Kadangkala anak mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Perbedaan manifestasi gangguan-gangguan tersebut menjadikan setiap individu sangat unik. tetapi kemudian sirna. sangat ditekankan. sehingga apa yang ia baca sukar dipahami. sulit berbicara. atau pernah berbicara. kalender dan lagu-lagu 6. Misalnya dalam bercerita kembali dan soal berhitung yang menggunakan kalimat. Adapun karakteristik (ciri khas} yang tampak pada perilaku anak autis adalah: 1. Anak tidak mempunyai empati dan tidak tahu apa reaksi orang lain atas perbuatannya 4. seperti sukar bekerja sama dalam kelompok anak sebayanya. agar orang tua dan guru tidak memberikan layanan pendidikan yang seragam atau klasikal bagi sekelompok anak.sedikit gejala. Anak belum dapat bersosialisasi dengan teman sekelasnya. Pemahaman anak sangat kurang. 2. Anak tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang lain kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti diri sendiri 3. Itu sebabnya. . Dalam belajar mereka lebih mudah memahami lewat gambar-gambar (visual learners) 7. Mengingat tidak ada dua individu autis yang sama persis. seperti perkalian. bermain peran dan sebagainya.

Pada dasarnya tidak semua gejala tersebut ada pada individu autis. Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang. dokter ahli perkembangan anak. psikiater anak atau neuropediatris. B. . pedagog khusus anak autis dan gangguan perkembangan yang akan membuat suatu assessment/pengkajian yang diikuti dengan pelaksanaan diagnosa. tingkat sosio-ekonomi serta geografi. Karakteristik tersebut meliputi kecenderungan: (1) Selektif berlebihan terhadap rangsangan (stimulation of overselectivity) Yaitu kemampuan terbatas dalam menangkap isyarat yang berasal dari lingkungan. mengepakkan tangan seperti burung. 9. seperti: suka marah. Gejalanya dapat beranekaragam sehingga tampak bahwa tidak ada anak autis yang benar-benar sama dalam semua tingkah lakunya.8. Kesulitan mengekspresikan perasaannya. Jika terdiagnosa dini. Dengan demikian lebih terbuka peluang perubahan ke arah perilaku normal. mendekatkan mata ke pesawat TV. maka anak autis dapat ditangani segera melalui proses pembelajaran yang terstruktur dan terpadu. dan terdapat pada semua lapisan masyarakat. etnik/ras. Jika seorang anak memperlihatkan beberapa gejala di atas segera hubungi psikolog klinis/perkembangan. mudah frustrasi bila tidak dimengerti dan dapat menimbulkan tantrum (ekspresi emosi dalam bentuk fisik atau marah yang tidak terkendali). Sedangkan perbandingan lakilaki : perempuan adalah sekitar 4 : 1. Gambaran yang khas (unik) dari Anak Autis Anak atau individu autis mempunyai gambaran unik tersendiri. berputar-putar.

mereka juga cenderung tidak termotivasi untuk menjelajahi lingkungan baru. yaitu jika guru memberi perintah untuk membuka kotak berwarna tertentu kemudian memberikan anak imbalan makanan. Imbalan langsung juga merupakan dasar dari terjadinya stimulasi-diri (self-stimulatory). yaitu didapatnya imbalan dari penginderaan (sensori) terhadap stimulasi-diri tersebut. banyak penyandang autis yang menghabiskan sebagian waktu bangun/terjaganya pada aktivitas non produktif tersebut. Imbalan yang tak langsung. . Oleh sebab itu. Misalnya umpan balik visual mulai dari memperhatikan gerakan tangannya. Supaya memperoleh imbalan langsung. Sebagai contoh. Anak autis belajar paling efektif pada kondisi imbalan langsung. (3) Respons stimulatori diri Jika diberi kesempatan. menurunkan perilaku stimulasi diri dan menggantikannya dengan respons yang lebih produktif sering merupakan prioritas tujuan pendidikan bagi penyandang autis. juga mengganggu proses belajar. (4) Respons unik terhadap imbalan (reinforcement) dan konsekuensi lainnya Ini merupakan karakteristik dari individu autis. kadang juga sukar diidentifikasi. seorang anak harus secara benar berespons pada suatu rangkaian perilaku. jika anak sedang diajar membedakan warna. Perilaku tersebut selain mengganggu integrasi sosial.(2) Kurangnya motivasi Tidak hanya karena mereka sering menarik diri dan asyik dengan dunianya sendiri. dengan membuka tutup dari kotak warna yang berisi makanan kesukaannya. sehingga imbalan amat individualistik. untuk memperluas lingkup perhatian mereka.

D. Banyak perilaku autistik yang berbeda daripada perilaku normal. untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada keluarga. Gambaran Perilaku Autistik Perilaku adalah segala sesuatu yang orang kerjakan atau katakan. hingga setelah 7 tahun tingkat perkembangan otak relatif lambat. Ada tiga alasan mengapa intervensi dini sangat penting. perbedaannya yaitu adanya perilaku yang berkelebihan (excessive). setelah itu sampai usia 5 tahun tingkat perkembangan otak anak menurun walaupun masih cukup tinggi. dan untuk memaksimalkan manfaat anak dan keluarga terhadap masyarakat sekitar. rasakan atau dengar ketika seseorang melakukan kegiatan tertentu dan juga apa yang kita sendiri katakan dan kerjakan. jadi perilaku adalah apa saja yang kita dapat lihat. maka perilaku-perilaku tersebut merupakan masalah di . karena untuk mengoptimalkan tingkat perkembangan anak. Sampai dengan usia 3 tahun. Behavioral excesse (Perilaku yang berkelebihan) misalnya mengamuk (tantrum) dan perilaku stimulasi diri.umpan balik gerakan dan suara yang berhubungan dengan hentakan/ketukan yang berulang-ulang. Adapun tingkat kemampuan belajar dan perkembangan manusia adalah paling cepat pada tahun-tahun pra sekolah. Intervensi meliputi mengidentifikasi dan menghilangkan imbalan penginderaan. dan atau adanya perilaku yang berkekurangan (deficient) yang mungkin sampai pada tingkat yang hampir tidak ada. di atas usia 5 tahun sampai dengan usia 7 tahun perkembangan sangat jauh menurun. masa yang paling pesat pada tingkat perkembangan otak anak. Jika intensitas dan frekuensi perilaku yang berlebihan itu muncul.

Sebagai contoh. mungkin terjadi bahkan jika kemauan kecil tidak dituruti pada beberapa anak.rumah. seorang anak mungkin memanjat ke pangkuan ibu. tetapi mereka tidak menggunakan kata-kata tersebut untuk berkomunikasi. Ekstrim lain dari perilaku yang berlebihan seperti yang digambarkan di atas. pada ekolali segera. seperti gambaran perilaku berikut ini: (1) Ciri umum mereka adalah gangguan bicara. Meminta/menyuruh mereka berjalan dengan tenang di Supermarket. Pada kasus-kasus yang lebih ekstrim. Mereka mungkin non verbal. (2) Anak mungkin kurang sesuai perilaku sosialnya. duduk di restoran. tantrum mungkin terjadi menjadi sedemikian hebat sehingga perilaku-perilaku tersebut juga mengganggu proses belajar. atau berdiri di barisan pada loket penjualan karcis mungkin menghasilkan jeritan. atau mungkin sedikit suara dan kata-kata. tendangan. gigitan dan cakaran. Sebagai contoh. Mengamuk (tantrum). jika ditanya “Nama kamu siapa?” anak mungkin berespons dengan mengatakan “Nama kamu siapa?” bukannya memberikan jawaban yang benar. seorang anak duduk pada meja makan mungkin mengulangi perintah-perintah gurunya kata per kata pada waktu sebelumnya di sekolah. dan mengganggu ketika orang tua membawa anak ke tempat-tempat umum. Anak-anak autistik lain mungkin ekolali (membeo) dan mengulang kata-kata yang mereka telah dengar (segera atau setelah beberapa waktu). Pada ekolali lambat. sebagai contoh. yaitu anakanak autis mungkin menunjukkan berbagai kekurangan perilaku (behavioral deficit). tidak untuk kasih sayang tetapi supaya dapat meraih kaleng kue. . Mereka mungkin bereaksi terhadap orang seakan mereka adalah benda.

(3) Anak mungkin menunjukkan defisit sensasi (indera) yang nyata sehingga kadang disangka tuli. maka proses pembelajaran anak autisme melalui tatalaksana perilaku dengan tujuan memperbaiki perilaku ekses (berlebihan) dan perilaku deficit (kurang berperilaku) tersebut sangat mendesak untuk segera direalisasikan. kecuali sekolah umum. (5) Anak sering menunjukkan emosi yang tidak sesuai. Sebagai contoh. E. Sebagai contoh. Anak kadang berespons sedemikian normalnya. bukannya mengendarai truk mainan tetapi membalikannya dan memutar roda berjam-jam. Lainnya hampir tidak menunjukkan perilaku emosional. (4) Anak sering tidak bermain dengan benar. Layanan Pendidikan bagi anak autis Penanganan anak sungguh-sungguh dilakukan dengan memperhatikan pada kebutuhan khusus yang ada pada anak. seorang anak mungkin hanya duduk dan memandang ke ruang kosong jika seseorang mencoba menggelitiknya. Tujuan orang tua memasukkan anak ke jalur pendidikan reguler bisa untuk ‘academic mainstream’ (agar anak sepenuhnya bisa mengikuti kegiatan akademis) atau soscial mainstream (agar anak dapat mengikuti kegiatan sosialisasi bersama teman sebayanya). Di Indonesia (khususnya di Bandung) belum tersedia berbagai fasilitas pendidikan khusus bagi anak autis usia sekolah. tetapi tidak sama sekali pada yang lainnya. Itu . Dengan mengetahui perilaku ekses dan defisitnya. Beberapa menjerit atau tertawa dengan sedikit atau tanpa provokasi. pada pemeriksaan pendengaran tidak ditemukan gangguan.

irama) terhadap stimulus lingkungan juga kerap membuat anak berperilaku kurang menyenangkan. dimana para guru lalu merasa kewalahan dalam menangani anak-anak ini karena tidak cukup hanya memberikan kesempatan. Masalah Anak Autis di Sekolah a. Perilaku tersebut sangat tidak wajar dan cenderung mengalihkan perhatian. sulit berinteraksi) atau reaksi anak terhadap stimulasi lingkungan yang tidak dapat mereka prediksi. 1. apa saja masalah yang dihadapi oleh anak-anak ini. mau tidak mau seringkali menghambat anak autis mengikuti pelajaran di sekolah umum. tanpa membekali para guru dengan keterampilan menangani anak-anak ini. Bagaimanapun. sulit berkomunikasi. Selain masalah perilaku yang lebih berupa dorongan dari perkembangan neurobiologis. b. sentuhan. Keadaan anak yang cenderung „peka secara berlebihan‟ (suara. daripada jalan keluar. Perilaku Adanya perilaku stereotip/khas pada anak autis sering kali membuat para guru dan anak lain di kelas bingung. Guru perlu dibantu untuk memahami. Mereka lebih .sebabnya orang tua berbondong-bondong memasukkan putra/putrinya ke sekolah umum yang bersedia memberikan kesempatan untuk menampung individu autis. usaha mereka memberikan kesempatan bagi anak autis di sekolah umum akan terasa lebih sebagai beban. sering masalah perilaku merupakan manifestasi dari frustrasi anak (sulit memahami materi belajar. Pemahaman Gangguan proses informasi dan koneksi. Timbul masalah baru.

menggunakan kalimat pendek dengan kosakata yang sederhana. Itu sebabnya kadang mereka tampak seakan tidak mendengar. Lingkungan yang kurang dapat melihat ciri ini secara obyektif akan memaksakan agar anak-anak tersebut berbicara dalam mengungkapkan diri. seringkali mengungkapkan diri melalui perilaku. dimana mereka memerluian jeda waktu sedikit lebih lama sebelum berespons. membuat reaksi mereka lebih lambat daripada anak lain. mendengarkan sambil menulis. c. sehingga instruksi dan uraian verbal (apalagi yang panjang dalam bahasa rumit) akan sulit mereka pahami. Seringkali mereka bisa mengerti orang lain tapi hanya bila orang tersebut berbicara langsung kepada mereka. Anak autis yang sulit berkata-kata/berbicara. Mereka mengalami kesulitan memusatkan perhatian.30 anak dengan suara yang sangat hiruk pikuk. padahal jelas-jelas kita memanggil mereka. Semakin mereka tidak dipahami. apalagi di kelas yang sarat dengan . dan sebagainya. Kecenderungan „mono‟ pada diri mereka tidak memungkinkan mereka mengerjakan 2-3 hal sekaligus pada satu waktu yang sama (menatap sambil mendengarkan.) Gaya berpikir mereka yang visual dalam bentuk film/gambar. meskipun dapat berbicara. Sebagian besar dari mereka. . Komunikasi Salah satu kesulitanan anak autis adalah dalam hal komunikasi.berespons terhadap stimulus visual. dimana mereka sulit berekspresi diri. maka mereka semakin frustrasi. terus menerus terdistraksi.

tapi kemudian bisa menjadi alasan bagi si anak untuk enggan bergaul. Minat mereka yang terbatas pada orang lain di sekitarnya. Interaksi Anak autis juga bermasalah pada perkembangan keterampilan sosialnya. sehingga biasanya tidak memiliki banyak teman. belum tentu juga bila anak sudah sangat terlatih dalam berkomunikasi. Gangguan komunikasi. Setiap aspek saling berkaitan. memang adalah masalah gangguan perkembangan neurobiologis. Sebaliknya.sehingga berakibat tekanan pada mereka yang lalu membuat mereka berperilaku negatif. 2. Seperti: gangguan perilaku umumnya disebabkan oleh gangguan perkembangan neurologis. sulit berkomunikasi. sedikit banyak membuat mereka lebih senang menyendiri atau sangat pemilih dalam bergaul. tidak mungkin melihat permasalahan secara terpisah dan terkotak-kotak. tidak mnampu memahami aturan-aturan dalam pergaulan. d. Keterkaitan berbagai aspek tersebut di atas . ia tidak memiliki masalah pemahaman atau proses informasi. dan pada umumnya mengalami kesulitan beradaptasi dalam berbagai kelompok yang dibentuk secara acak/mendadak. tapi bisa juga karena masalah frustrasi dalam berkomunikasi. mereka hanya memiliki 1-2 teman yang dapat memberikan rasa aman kepada mereka. Alternatif Penanganan Dalam upaya memahami dan mengatasi masalah-masalahh anak-anak autis di sekolah. dan biasanya saling tumpang tindih menjadi sebab dan atau akibat.

Pendidikan bagi anak autis. memerlukan . sudah tidak terlalu memerlukan penanganan one-on-one untuk meningkatkan kepatuhan. dan ada minat terhadap alat permainan. dimana sekelompok anak yang semuanya autis. sudah ada respons terhadap pujian. dan sering berubah-ubah. idealnya diberikan dalam bentuk sekelompok penanganan untuk membantu mereka mengatasi kebutuhan khususnya. belajar bersama-sama mengikuti jenis instruksi yang khas. 1996): a. dan biasanya merupakan anak-anak yang masih kecil yang belum mampu imitasi dengan baik. Designated Autistic Classes Salah satu bentuk transisi dari penanganan individual ke bentuk kelas klasikal. unik. Anak-anak ini berada dalam kelompok yang kecil (1 .3 anak). Individual therapy Antara lain melalui penanganan di tempat terapi atau di rumah (home-based therapy dan kemudian homeschooling). anak belajar berbagai konsep dasar dan belajar mengembangkan sikap mengikuti aturan yang ia perlukan untuk berbaur di masyarakat. Ability Grouped Classes Anak-anak yang sudah dapat melakukan imitasi. c. b. antara lain (Siegel. Melalui penanganan one-on-one. Intervensi seperti ini merupakan dasar dari pendidikan individu autis. Di Amerika Serikat. spesifik.menyebabkan masalah seorang individu autis menjadi sangat kompleks. banyak bentuk-bentuk pendidikan tersedia.

Hal ini baik sekali bagi si anak autis. Biasanya anak autis berespons dengan baik bila dikelompokkan dengan anak-anak Down Syndrome yang cenderung memiliki ciri „hyper-social‟ (ketertarikan berlebihan untuk membina hubungan sosial dengan orang lain). memerintah. . Social skills Development and mixed Disability Classes Kelas ini terdiri atas anak dengan kebutuhan khusus.jenis lingkungan yang menyediakan teman sebaya yang secara sosial lebih baik meski juga memiliki masalah perkembangan bahasa. tetapi tidak hanya anak autis. Ciri ini membuat mereka cenderung bertahan. dan berlari-lari di sekitar anak autis sekedar untuk mendapatkan respons. d.

Musjafak. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. 1998.DAFTAR PUSTAKA Hidayat dan Asjari. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi http:/www.htm .com/ balipastcetak/2004/12/12/apresiasi.balipast.

Pd. M. tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Rekan-rekan seperjuangan S1 PGSD Program Dual Modes UPI Kampus Tasikmalaya atas dorongan dan semangatnya. Sholawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan umat manusia di dunia hingga akhir zaman. penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Pengenalam Autisme dan Layanan Pendidikannya ”. Keluarga tercinta yang telah memberikan kasih sayang dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Enung Rukiah. karena berkat rahmat dan ridho-Nya. demi sempurnanya makalah ini. 3. untuk itu saran dan kritik para pembaca sangat penulis harapkan. . Ibu Dra.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. 2. selaku Dosen mata kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus yang telah memberikan bimbingan dan arahannya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Tidak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1.

Semua pihak yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Tasikmalaya. Mudah-mudahan makalah ini berguna bagi penulis sendiri khususnya sebagai langkah awal dalam kegiatan proses belajar mengajar di sekolah serta para pembaca sendiri pada umumnya.4. Oktober 2010 Penulis .

. Tujuan Pembahsan ……………………………………………. Latar Belakang Masalah ……………………………………. Gambaran perilaku austik ……………………………………… D. Kesimpulan ……………………………………………………………. E. B. Manfaat Pembahasan ………………………………………….DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR …………………………………………………… i DAFTAR ISI ……………………………………………………………... B.. A.. Pengertian autisme ……. A. ii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………. D. C. Gambaran yang khas (unik) dari anak autis …………………… C.……………………………………. Saran …………………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… . Sistematika Penulisan ………………………………………… BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………….. Layanan pendidikan bagi anak autis …………………………… BAB III PENUTUP ………………………………………………………… A. B. Identifikasi dan Perumusan Masalah ………………………….

MAKALAH PENGENALAN AUTISME DAN LAYANAN PENDIDIKANNYA Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus Dosen : Dra. Disusun Oleh : Kelas Semester KELOMPOK 4 : Bahasa Indonesia 2 : Lima / 5 1008577 1008319 1007831 1007515 1008555 1008532 GITA ANDANSARI DISYE NOVALIA RANI LIA SEPTRIANA HERA SITI ANDRIANI YULIANI SRI ROHIMAH . Enung Rukiah. M.Pd.

S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR PROGRAM DUAL MODES UPI KAMPUS TASIKMALAYA .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful