P. 1
KESANTUNAN BERBAHASA

KESANTUNAN BERBAHASA

|Views: 1,389|Likes:
Published by petthok

More info:

Published by: petthok on Feb 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2013

pdf

text

original

KESANTUNAN BERBAHASA: SEBUAH KAJIAN SOSIOLINGUISTIK

Oleh Masnur Muslich Pengertian Kesantunan Kesantunan (politiness), kesopansantunan, atau etiket adalah tatacara, adat, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh karena itu, kesantunan ini biasa disebut “tatakrama”. Berdasarkan pengertian tersebut, kesantunan dapat dilihat dari dari berbagai segi dalam pergaulan sehari-hari. Pertama, kesantunan memperlihatkan sikap yang mengandung nilai sopan santun atau etiket dalam pergaulan sehari-hari. Ketika orang dikatakan santun, maka dalam diri seseorang itu tergambar nilai sopan santun atau nilai etiket yang berlaku secara baik di masyarakat tempat seseorang itu megambil bagian sebagai anggotanya. Ketika dia dikatakan santun, masyarakat memberikan nilai kepadanya, baik penilaian itu dilakukan secara seketika (mendadak) maupun secara konvensional (panjang, memakan waktu lama). Sudah barang tentu, penilaian dalam proses yang panjang ini lebih mengekalkan nilai yang diberikan kepadanya. Kedua, kesantunan sangat kontekstual, yakni berlaku dalam masyarakat, tempat, atau situasi tertentu, tetapi belum tentu berlaku bagia masyarakat, tempat, atau situasi lain. Ketika seseorang bertemu dengan teman karib, boleh saja dia menggunakan kata yang agak kasar dengan suara keras, tetapi hal itu tidak santun apabila ditujukan kepada tamu atau seseorang yang baru dikenal. Mengecap atau mengunyah makanan dengan mulut berbunyi kurang sopan kalau sedang makan dengan orang banyak di sebuah perjamuan, tetapi hal itu tidak begitu dikatakan kurang sopan apabila dilakukan di rumah. Ketiga, kesantunan selalu bipolar, yaitu memiliki hubungan dua kutub, seperti antara anak dan orangtua, antara orang yang masih muda dan orang yang lebih tua, antara tuan rumah dan tamu, antara pria dan wanita, antara murid dan guru, dan sebagainya. Keempat, kesantunan tercermin dalam cara berpakaian (berbusana), cara berbuat (bertindak), dan cara bertutur (berbahasa). Jenis Kesantunan Berdasarkan butir terakhir itu, kesantunan dapat dibagi tiga, yaitu kesantunan berpakaian, kesantunan berbuat, dan kesantunan berbahasa. Kecuali berpakaian, dua kesantunan terakhir tidak mudah dirinci karena tidak ada norma baku yang dapat digunakan untuk kedua jenis kesantunn itu.

Masnur Muslich, Drs., MSi. adalah dosen Universitas Negeri Malang – Indonesia. Kini (Juni – Desember 2006) diperbantukan di Faculty of Humanities and Social Sciences, Princes of Songkhla University (PSU), Campus Pattani, Thaliland.

1

ada dua hal yang perlu diperhatikan. bahkan tidak berbudaya. Kedua. tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan. seperti pakaian tembus pandang (transparan). dan rok yang terlalu mini atau terbelah terlalu tinggi. Pertama. berpakaianlah yang rapi dan sesuai dengan keadaan. duduk dengan “jigrang” ketika mengikuti kuliah dosen. Bagaimana sikap dan gerak-gerik keika berbicara. tidak beradat. cara membersihkan mulut setelah makan. 4.misalnya ketika menerima tamu. tak acuh. tidak akan sesuai apabila dipakai dalam suatu acara resmi. misalnya tidaklah santun apabila kita berwajah murung ketika menerima tamu. yaitu berpakaian resmi pada acara resmi. misalnya. misalnya dituduh sebagai orang yang sombong. Tatacara berbahasa harus sesuai dengan unsur-unsur budaya yang ada dalam masyarakat tempat hidup dan dipergunannya suatu bahasa dalam berkomunikasi. mendahului orang lain dengan bersenggolan badan atau ketika berjalan di tempat umum tanpa sebab. 3. 6. egois. Kapan dan bagaimana giliran berbicara dan pembicaraan sela diterapkan. Ketika berkomunikasi. Kesantunan perbuatan adalah tatacara bertindak atau gerak-gerik ketika menghadapi sesuatu atau dalam situasi tertentu. Ragam bahasa apa yang sewajarnya dipakai dalam situasi tertentu. menguap selebar-lebarnya sambil mengeluarkan suara di depan orang lain. yaitu hindarilah pakaian yang dapat merangsang orang lain terutama lawan jenis. bertamu ke rumah orang. 5. 1. berpakaianlah yang sopan di tempat umum. Mmasing-masing situasi dan keadaan tersebut memerlukan tatacara yang berbeda. menunggu giliran (antre). terutama dalam proses belajar mengajar bahasa. dan sebagainya. Sekedar contoh terkait dengan kesantunan tindakan. cara mengambil makanan.Dalam kesantunan berpakaian (berbusana. 2.bertolak pinggang ketika berbicara dengan orang tua. menampakkan bagian badan yang pada umumnya ditutup. Kesantunan berbahasa tecermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda verbal atau tatacara berbahasa. Kapan harus diam dan mengakhiri pembicaraan. Apabila tatacara berbahasa seseorang tida sesuai dengan norma-norma budaya. berpakaian renang pada waktu renang. menghadapi orang yang kita hormati. berdandan). dan mencungkil gigi tanpa menutup mulut ketika sedang makan bersama di tempat umum. Dengan mengetahui tatacara berbahasa diharapkan orang lebih bisa memahami pesan yang disampaikan dalam komunikasi karena tatacara berbahasa bertujuan mengatur serangkaian hal berikut. makan bersama di tempat umum. Tatacara berbahasa seseorang dipengaruhi norma-norma budaya suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu. kita tunduk pada normanorma budaya. Pada waktu makan bersama. masalah tatacara berbahasa ini harus mendapatkan perhatian. Betapapun mahalnya pakaian renang. duduk di ruang kelas. angkuh. Apa yang sebaiknya dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu. Bagaimana mengatur kenyaringan suara ketika berbicara. Oleh karena itu. Tatacara berbahasa orang Inggris berbeda 2 . nyelonong ke loket ketika yang lain sedang antre menanti giliran. cara makan atau mengunyah. berpakaian santai pada situasi santai. berjalan di tempat umum. memerlukan kesantuan dalam cara duduk. Tatacara berbahasa sangat penting diperhatikan para peserta komunikasi (komunikator dan komunikan) demi kelancaran komunikasi. cara memakai sendok. dan cara memakai tusuk gigi. maka ia akan mendapatkan nilai negatif.

juga menerapkan prinsip kesopanan dengan keenam maksimnay. saya memang pantas mendapatkan predikat cumlaud. dan (6) maksim kesimpatisan yang mengutakan rasa simpati pada orang lain. rasa salut atau rasa hormat. pujian. kecocokan. Berkut ini contoh yang memperlihatkan bahwa si A mengikuti prinsip kesopanan dengan memaksimalkan pujian kepada temannya yang baru saja lulus magister dengan predikat cumlaud dan tepat waktu. (3) maksim kemurahan yang mengutamakan kesalutan/rasa hormat pada orang lain dan rasa kurang hormat pada diri sendiri. 1986) pada hakikatnya harus memperhatikan empat prinsip. orang todak lagi menggunakan ungkapan-ungkapan yag merendahkan orang lain sehingga komunikasi akan berjalan dalam situasi yang kondusif. dan kesimpatikan kepada orang lain’ dan (bersmaan dengan itu) meminimalkan hal-hal tersebut pad diri sendiri. Itulah sebabnya kita perlu mempelajari atau memahami norma-norma budaya sebelum atau di samping mempelajari bahasa. maksim kualitas. Pembentukan Kesantunan Berbahasa Sebagaimana disinggung di muka bahwa kesantunan berbahasa menggambarkan kesantunan atau kesopansantunan penuturnya. Prinsip ini ditandai dengan memaksimalkan kesenangan/kearifan. Anda lulus dengan predikat maksimal! B : Oh. kata-kata yang merujuk padaorgan-organ tubuh yang lazimditutupi pakaian. penghindaran pemakaian kata tabu (taboo). A : Selamat. maksim relevansi. kata-kata yang merujuk pada sesuatu benda yang menjijikkan. Contoh berikut ini merupaka kalimat yang menggunakan kata tabu karena diucapkan oelh mahasiswa kepada dosen ketika perkuliahan berlangsung. Kedua. Kesantunan berbahasa (menurut Leech. dan kata-kata “kotor” daqn “kasar” termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari. dan maksim cara. Pertama. tatacara berbahasa yang mengikuti norma-norma budaya akan menghasilkan kesantunan berbahasa. (5) maksim kecocokan yang mengutamakan kecocokan pada orang lain. tetapi si B tidak mengikuto prinsip kesopanan karena memaksimalkan rasa hormat atau rasa hebat pada diri sendiri. 3 . kata-kata yang berbau seks. yaitu maksim kuantitas.dengan tatacara berbahasa orang Amerika meskipun mereka sama-sama berbahasa Inggris. kecuali untuk tujuan-tujuan tertentu. Begitu juga. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang sudah mendarah daging pada diri seseorang berpengaruh pada pola berbahasanya. Dalam berkomunikasi. yaitu (1) maksim kebijakan yang mengutamakan kearifan bahasa. di samping menerapkan prinsip kerja sama (cooperative principle) dengan keempat maksim (aturan) percakupannya. Pada kebanyakan masyarakat. keuntungan. (2) maksim penerimaan yang menguatamakan keuntungan untuk orang lain dan kerugian untuk diri sendiri. Sebab. (4) maksim kerendahan hati yang mengutamakan pujian pada orang lain dan rasa rendah hati pada diri sendiri. Dengan menerapkan prinsip kesopanan ini. tatacara berbahasa orang Jawa bebeda dengan tatacara berbahasa orang Batak meskipun mereka sama-sama berbahasa Indonsia. penerapan prinsip kesopanan (politeness principle) dalam berbahasa.

bahasa krama inggil (laras tinggi) dalam bahasa Jawa perlu digunakan kepada orang yang tingkat sosial dan usianya lebih tinggi dari pembicara. saya ingin kencing! Ketiga. dan sebagainya. Misalnya. Keempat. saya mau berak! . bagi bahasa yang mengenal tingkatan. Penggunaan kata-kata honorifik ini tidak hanya berlaku bagi bahasa yang mengenal tingkatan (undha-usuk. Yang perlu diingat adalah. Atau. maka eufemisme justru berakibat ketidaksantunan. Bu. saya mau ke kamar kecil. tidak berlebihan. “ditahan” diganti “dirumahkan”. Penggunaan eufemisme ini perlu diterapkan untuk menghindari kesan negatif. “penyelewengan” diganti “kesalahan prosedur.Pak. penggunaan eufemisme. sebutan kata diri Engkau. yaitu ungkapan penghalus. Walaupun bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan. mohon izin sebentar. Anda. Atau. mohon izin sebentar.mohon izin sebentar. yaitu ungkapan hormat untuk berbicara dan menyapa orang lain.Pak. “kelaparan” diganti dengan “busung lapar”. saya mau ke belakang. (1) Engkau mau ke mana? (2) Saudara mau ke mana? (3) Anda amau ke mana? 4 ..Pak.Pak. eufemisme harus digunakan secara wajar. Keempat kalimat berikut menunjukkan tingkat kesantunan ketika seseorang pemuda menanyakan seorang pria yang lebih tua. . bukan untuk memperhalus kata-kata yang tabu. Bapak/bu mempunyai efek kesantunan yang berbeda ketika kita pakai untuk menyapa orang. sehubungan dengan penghindaran kata tabu. Di sini terjadi kebohongan publik. Kata “miskin” diganti dengan “prasejahtera”. sya mau buang air besar. Contoh kalimat mahasiswa yang tergolong tabu di atas akan menjadi ungkapan santun apabila diubah dengan penggunaan eufemisme. Hanya saja. Misalnya. Saudara. Kebohongan itu termasuk bagian dari ktidaksantunan berbahasa. Jawa) tetapi berlaku juga pada bahasa-bahasa yang tidakmengenal tingkatan. Jika eufemisme telah menggeser pengertian suatu kata. yang paling halus: . penggunaan pilihan kata honorifik.Mohon izin. penggunaan eufemisme dengan menutupi kenyataan yang ada. penentuan kata-kata honorifik sudah ditetapkan secara baku dan sistematis untuk pemakaian setiap tingkatan. misalnya sebagai berikut. mohon izin keluar sebentar. yang lebih halus lagi: . bahkan pelecehan. atau kepada orang yang dihormati oleh pembicara. yang sering dikatakan pejabat.

kinetik. Oleh karena itu. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburka komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tahu apa yang dimaksudkannya. pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan. Unsur-unsur nonverbal yang dimaksud adalah unsur-unsur paralinguistik. Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. unsur-unsur nonverbal yang selalu terlibat dalam berkomunikasi pun perlu diperhatikan. sudah. Percakapan via telepon antara mahasiswi dan sitri dosen berikut merupakan contoh kekurangsopanan. hanya karena si mahasiswa tidak mengikuti norma kesantunan berbahasa. Percakapan yang tidak menggunakan kata sapaan pun dapat mengakibatkan kekurangsantunan bagi penutur. ini rumah Supomo. 5 .) Istri dosen tersebut menganggap bahwa mahasiswa yang baru saja bertelepon itu tidak sopan. Ini siapa? : Mahasiswinya. istrinya. Dia kan dosen pembimbing saya. tetapi di masyarakat penutur bahasa Indonesia dinilai kurang (bahkan tidak) santun. kalimat (1) dan (2) tidak atau kurang sopan diucapkanoleh orang yang lebih muda. (Telepon langsung ditutup. tetapi kalimat (4)-lah yang sepatutnya diucapkan jika penuturnya ingin memperlihatkan kesantunan. : Ya. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia kaena terbawa oleh budaya “tidak terus terang” dan menonjolkan perasaan.(4) Bapak mau ke mana? Dalam konteks ini. begitu. Bahasa mahasiswa seperti itu bisa saja tepat di masyarakat penutur bahasa lain. Mahasiswi Istri Mahasiswi Istri Mahasiswi Istri Mahasiswi : Halo. pantas saja kalau istri dosen tersebut muncul rasa jengkel setelah menerima telepon mahasiswi itu. yaitu tidak menggunakan kata sapaan ketika menyebut nama dosennya. kalau begitu. ya? : Betul. Aspek-aspek Non-linguistik yang Mempengaruhi Kesantunan Berbahasa Karena tatacara berbahasa selalu dikaitkan dengan penggunaan bahasa sebagai sistem komunikasi. Kok saya tunggu-tunggu tidak ada. dan proksemika. : Oh. yang tidak tepat sasaran. Pemerhatian unsur-unsur ini juga dalam rangka pencapaian kesantunan berbahasa. : Ini adiknya. walaupun lebih patut penggunaan kalimat (4). yaitu tidak menunjukkan identitas atau nama sebelumnya dan diakhiri tanpa ucapan penutup terima kasih atau salam. atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. ya? : Bukan.maka selain unsur-unsur verbal. Kalimat (3) lazim diucapkan kalau penuturnya kurang akrab dengan orang yang disapanya. Sudah janjian dengan saya di kapus. toh. Oleh karena itu. Ditambah lagi tatacara bertelepon mahasiswi yang juga tidak mengikuti tatakram.

yang bersangkutan cukup menggunakan gerak tangan berulang-ulang sebagai pengganti ucapan “Hai. suara sedang. sambil mengulurkan tangan kannya. ia langsung berjabat erat dan bernagkulan. tangan kirinya menepuk bahu mahasiswa yang bersangkuan. Si mantan dosen. Penutur mesti memahami kapan unsurunsur ini diterapkan ketika berbicara dengan orang lain kalau ingin dikatakan santun. karena ada makna yang dirahasiakan. suara keras. anggukan kepala. dan dapat pula disalahgunakan untuk menciptakan ketidaksantunan berbahasa. Sebenarnya banyak gerak isyarat (gesture) digunakan secara terpisah dengan unsur verbal karena pertimbangan tertentu. Suara keras yang menyertai unsur verbal penutur ketika berkomunikasi dengan atasannya bisa dianggap kurang sopan. Apabila penggunaannya bersamaan dengan unsur verbal dalam berkomunikasi. gelengan kepala.Paralinguistik berkenaan dengan viri-ciri bunyi seperti suara berbisik. Tetapi. tetapi sebaliknya ekspresi wajah yang murung ketika berbicara dengan tamunya dianggap kurang santun. seorang anak diajak ibunya ke dokter. Misalnya. ketika ia bertemu dengan mantan dosennya. dilanjutkan dengan saling bercerita sambil menepuk-nepuk bahu. 6 . gerak isyarat) yang juga perlu diperhatikan ketika berkomunikasi. yaitu menyampaikan pesan kepada penerima tanda. Penerapan unsur ini akan berdampak pada kesantunan atau ketidaksantunan bwerkomunikasi. tetapi hal itu dapat dimaklumi apabila penutur berbicara dengan orang yang kurang pendengarannya. apabila penggunaannya terpisah dari unsur verbal. tidak mau” (verbal) sambil menggeleng-gelengkan kepala (kinesik). atau pengubahan intonasi yang menyertai unsur verbal dalam berbahasa. Seorang ayah membentangkan jari telunjuk secara vertikal di depan mulut agar anaknya (penerima tanda) segera diam karena sejak tadi bercanda dengan temannya saat khutbah Jumat berlangsung. yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah kinetik atau gerak isyarat (gesture) dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kesantunan berbahasa. Masih banyak contoh lain yang bisa diketengahkan berkaitan dengan kinetik ini. setelah beberapa lama berpisah. Namun. fungsinya sama dengan unsur verbal itu. ketika ada seorang penceramah berbicara dalam suatu seminar. walaupun sudah lama berpisah. fungsinya sebagai pemerjelas unsur verbal. tetapi kurang santun berbisik dengan temannya dalam pembicaraan yang melibatkan semua peserta karena dapat menimbulkan salah paham pada peserta lain. Ekspresi wajah yang senyum ketika menyambut tamu akan menciptakan kesantunan. suara rendah. Unsur nonlinguistik lain yang perlu diperhatikan ketika berkomunikasi verbal adalah proksemika. Ketika seseorang bertemu dengan teman lama. ia langsung menundukkan kepala sambil bwrjabat tangan dengan kedua tangannya. ketika bermaksud memanggil temannya. Misalnya. suara meninggi. Akan tetapi. dan ekspresi wajah seperti murung dan senyum merupakan unsur kinesik (atau ada yang menyebut gesture. ia menjawab “Tidak. cukup dengan mengerdipkan mata kepada lawan komunikasi agar orang di sekelilingnya tidak tahu maksud komunikasi tersebut. Misalnya. Misalnya. ayo cepat ke sini!”. yaitu sikap penjagaan jarak antara penutur dan penerima tutur (atau antara komunikator dan komunikan) sebelum atau ketika berkomunikasi berlangsung. adalah santun dengan cara berbisik agar tidak mengganggu acara yang sedang berlangsung. Gerak tangan. kalau peserta seminar ingin berbicara dengan temannya. kedipan mata.

New York: Basil Blackwell. misalnya sikap dan posisi duduk tuan rumah ketika menerima tamu. “Bahasa sebagai Ungkapan Perasaan”. Jakarta: PT Gramedia. Yang penting. Daftar pustaka Edward. tenteram. Cambridge. 1986. Pengaturan ketiga unsur ini tidak kaku dan absolut karena berbeda setiap konteks situasi. Depok: Fakultas Sastra UI. Wardhaugh. An Introduction to Sociolinguistics. dan tatacara berbahasa. Yang jelas. sikap duduk seorang pimpinan ketika berbicara di hadapan anak buahnya. dan mengenakkan. tidaklah sopan menggunakan telepon genggam (handphone) atau menerima telepon dari luar. Mamsih banyak contoh lain yang berkaitan dengan proksemika ini. George N. berbincang-bincang dengan teman sebelah ketika ada pertmuan dalam forum resmi. 7 . 1986. hal lain yang perlu diusahakan adalah penjagaan suasana atau situasi komunikasi oleh peserta yang terlibat. Apabila penjagaan jarak kedua peristiwa itu dipertikarkan. dan sebagainya.maka akan terlihat janggal. posisi duduk ketika berbicara dengan pimpinan di ruang direksi. Goody. anda Identity. Makalah. sewaktu ada acara yang memerlukan pembahasan bersama secara serius. PWJ.Pada contoh kedua peristiwa itu. bagaimana ketiga unsur bisa menciptakan situasi komunikasi yang tidak menimbulkan salah paham dan ketersinggungan kepada yang diajak berkomunikasi. John. Esther N (Ed. Nababan. terlihat ada perbedaan jarak antara pemberi tanda dan penerima tanda. 1990. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa unsur paralinguistik. Silzen. New York: Hasting House. apalagi dengan suara keras. sebaiknya menjauh dari acara tersebut atau suara diperkecil. kinetik. language. Kecenderungan mendominasi pembicaraan. keharmonisan. Peter. Mialnya. 1985. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. New York: Basil Blackwell. Kalau terpaka menggunakan atau menerima telepon. Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. melihat ke arah lain dengan gaya melecehkan pembicara. Renold. Salam. Gordon. yang bisa berakibat mengganggu tujuan komunikasi. Selain ketiga unsur di atas. Questions and Politiness: Strategy in Social Interaction. tertawa kecil atau sinis merupakan sebagian cara yang tidak menjaga suasana komunikasi yang kondusif. 1985. dan proksemika yang sesuai dengan situasi komunikasi diperlukan dalam penciptaan kesantunan berbahasa. The Languages of Communication. bahkan dinilai tidak sopan.). 1969. Society. H Burhanuddin 1987. Jakarta: PT Rineka Cipta. penjagaan jarak yang sesuai antara peserta komunikasi akan memperlihatkan keserasian.

bunyi). tetapi cara menyebutkannya. Terkait dengan ini. peramah’. Sebagai contoh. tidak pemarah. kaya – miskin. Setiap anggota masyarakat percaya bahwa kesantunan yang diterapkan mencerminkan budaya suatu masyarakat. Kesantunan memang amat penting di mana pun individu berada. E. misalnya. Pada hikayat-hikayat lama. termasuk kesantunan berbahasa. Kalau diteliti lebih jauh. sebab setiap individu mempunyai latar belakang dan pengalaman yang berbeda. 8 .Cacatan: Lemah Lembut Bertutur sebagai Ciri Kesantunan Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinikan “lemah lembut” sebagai ‘baik hati. Sedangkan “lembut” diartikan sebagai ‘halus dan enak didengar. Penilaian yang diberikan kepada hierarkhi sosial merupakan penilaian emotif yang diberikan kepada seseorang individu atau kelompok. Unsur-unsur ini mengandung makna tersirat yang mengiringi tuturan yang berlangsung yang berlangsung yang dinamakan “makna emosi” penutur. tidak bengis. tinggi-rendah. Karena intonasi mengandung unsur nada (tone). Suasana formal atau resmi sangat menekankan kesantunan ini. Apakah masyarakat yang bahasanya mengenal tingkatan bebahasa (undha-usuk. … Dia dapat mengeksploitasikan intonasi untuk mengkomunikasikan sesuatu yang secara objektif mungkin tidak di situ. Kita tahu bahwa masyarakat kita (indonesia) sangat menjunjung kesantunan dalam berbahasa. satu-satunya yang bisa dipakai sebagai patokan adalah norma masyarakat penutur bahasa yang bersangkutan. dan tempo (duration). akan berdampak pada keadaan sebaliknya. misalnya ada kalimat-kalimat “Titah tuanku saya junjung”. Couper-Kuhlen memberikan komentar sebagai berikut. Pada sisi lain. baik hati (halus budi bahasanya). “bukan apa yang disebut penutur. pemilihan kata yang tepat apabila disampaikan dengan cara kasar akan tetap dianggap kurang santun. Dalam praktiknya. fenomena ini sudah diterapkan oleh masyarakat kita sejak dulu. salah paham. majikan – buruh. faktor konteks juga menyebabkan kesantunan perlu diterapkan. lembut hati’. Penilaian sepeti ini merupakan tanda hormat atau apresiasi kepada yang bersangkutan. dan status lainnya. Hal ini terjadi karena mereka telah menentukan penilaian tertentu. Oleh karena itu. dan salah tanggap. antara tua – muda. aspek ini sering menjebak penutur karena apabila ia salah menerapkan intonasi. Makna yang akan disampaikan tidak hanya terkait dengan pemilihan kata. tetapi juga cara penyampaiannya. Slain itu. tidak pemarah. guru – murid. dan penjang-pendek suara dalam tuturan. Untuk menyatukan persepsi terkait dengan penerapan intonasi ini memang sukar. tidak kasar.” Komentar ini memantapkan betapa aspek intonasi merupakan aspek penting karena tumpuan beralih dari pemilihan kata dan susunan kalimat ke pada cara pengujaran atau penuturan. Jawa) atau tidak mengenalnya. tidak keras atau tidak nyaring (tentang suara. tekanan (stress). Apalagi setiap masyarakat selalu ada hierarkhi sosial yang dikenakan pada kelompok-kelompok anggota mereka. deskripsi ini tecermin pada bagaimana seseorang mengekspresikan tuturan dalam pengaturan intonasi. maka pengaturan intonasi ni bisa diarahkan pada bagaimana mengatur keras-lemah. misalnya pendengar tersinggung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->