http://members.fortunecity.com/edicahy/selectedworks/ModusAmbon.

html

POLA KERUSUHAN DI TANAH AMBON±LEASE:
Membaca Kejanggalan di Balik Kerusuhan Berkepanjangan

Sudah hampir tiga bulan Ambon²Lease kembali dilanda kerusuhan berdarah dan keji. Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999 telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat. Hingga 2 September 19991) setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya. Transportasi, khususnya transportasi udara, terhenti; harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis; kegiatan pendidikan terhenti. Sementara itu belum ada tanda-tanda pertikaian akan berakhir. Upaya penyelesaian yang telah dilakukan negara dan aparatnya bukannya meredakan konflik dan aksi kekerasan, tapi justru makin memperkeruh keadaan. Aksi kekerasan terus-menerus terjadi tanpa ada penyelesaian. Masyarakat telah kehilangan rasa aman. Rasa saling percaya di antara manusia sesamanya yang dibangun bertahun-tahun sebagai modal kehidupan demokrasi sejati telah dihancurkan. Sementara itu, media massa dan berbagai kelompok masyarakat telah membaca dan menjelaskan aksi kekerasan di tanah Ambon-Lease sematamata sebagai konflik dan pertikaian agama. Kami, para relawan, yang datang dari berbagai latar belakang agama dan etnis, mengajak masyarakat, khususnya masyarakat Ambon²Lease, untuk membaca dengan jernih konflik di bumi Ambon²Lease, yang telah berkembang menjadi kerusuhan dan tindakan kekerasan brutal. Kerusuhan yang terjadi di tanah Ambon²Lease ini tidaklah berdiri sendiri. Kerusuhan ini tidak terlepas dari berbagai peristiwa konflik dan kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat di bumi Indonesia ini: Tragedi 27 Juli, peristiwa Situbondo, Tasikmalaya, tragedi Mei, tragedi "Dukun Santet", Ketapang, Kupang, dan kerusuhan di tempat-tempat lainnya, yang sengaja diciptakan demi kepentingan politis para elite. Berikut ini adalah hasil usaha untuk menutup kesenjangan informasi dan untuk melihat berbagai kejanggalan di balik aksi kerusuhan yang terjadi pada tanggal 19 Januari ² 10 Maret 1999. Awal Kejadian Konflik pertama-tama dipicu oleh kejadian pertengkaran personal antara seorang sopir angkutan umum dan seroang pemuda yang sudah dianggap biasa oleh

serombongan besar massa datang dan menyerang. karena pertengkaran kecil-kecilan antara warga Muslim dan Kristen sudah begitu biasa. dari Islam dan Kristen. tapi mereka menjawab bahwa mereka sudah menyerahkan persoalan itu ke polisi biasa. meskipun sebetulnya masjid itu belum tersentuh sama sekali. Mereka sendiri mengatakan tidak bisa berbuat apaapa. Tapi pada pukul 16. Mereka rupanya menemukan kain-kain lap kotor berlumuran minyak. konflik sudah biasa terjadi dalam masyarakat Ambon tapi kenapa meledak jadi kerusuhan? Kejanggalan terjadi ketika konflik yang sudah dianggap normal terjadi antara orang Muslim dan Kristen merembet menjadi kerusuhan skala besar yang tidak terkendali. kernet dan pedagang pasar. yang keadaan psikologisnya penuh dengan perjuangan dan persaingan hidup dalam usaha mencari makan. lalu dengan menggunakan parang-parang panjang.masyarakat Ambon pada umumnya. Mereka menyeberang jembatan dan masuk ke kampung dalam jumlah besar. Amir mengatakan. menyatakan bahwa sekitar pukul 15. mereka menyulut bagian-bagian lain dari bengkel sehingga api masuk ke dalam rumah. Rumah Amir juga dibakar sampai rata dengan tanah. artinya tidak akan membiarkan pertengkaran kecil menjadi alasan untuk meledaknya kerusuhan yang demikian tak terbayangkan skala akibatnya. Rombongan massa itu terus maju.00. Masyarakat mana pun tentu . Beberapa issue. Pada umumnya orang toh masih toleran. Mereka menyulut kain-kain itu. Amir lalu menelpon ke pihak polisi militer. seperti di kalangan sopir. seperti semua rumah yang ada di Batu Merah. Pertama. Orang-orang itu juga berteriak bahwa mesjid Batu Merah sudah dibakar. Ada dua versi. warga Muslim di kampung Batu Merah Dalam. 9 Januari 1999 dia tak memperhatikan sama sekali apa yang sebenarnya terjadi. dan dia hampir mengenal semua wajah warga kampung itu. Seorang saksi korban bernama Amir (bukan nama sebenarnya). seperti di kawasan sejenis di manapun di Indonesia. tetapi tidak ada hasil. Rombongan massa berhenti di depan bengkel mobil yang terletak di bagian bawah dari rumahnya. di antara rombongan massa itu dia melihat sekitar 10 orang intel berpakaian preman. yang beredar di masyarakat. Sekitar lima orang di muka rombongan itu mengenakan kain putih pada lengan mereka. Dia yakin orang itu bukan orang Batu Merah. Seorang di antaranya meletuskan tembakan ke udara. peristiwa dan kejanggalan kiranya dapat menjadi petunjuk perlunya masyarakat bersikap kritis terhadap seluruh rentetan berkembangnya issue dan kejadian kekerasan.2) Berbagai Kejanggalan Ada beberapa hal yang patut dilihat pada saat-saat awal kejadian kerusuhan meledak dan melebar dalam skala besar. Tawar-menawar dan bahkan pemerasan adalah hal biasa.30. Amir mengatakan dia tinggal di kampung Batu Merah seumur hidupnya. Pertengkaran personal ini kemudian meluas menjadi pertikaian antar kelompok agama dan suku yang meledak menjadi kerusuhan. Tapi dia sama sekali tidak mengenal wajah orang yang memimpin rombongan besar massa penyerang itu. tidak ada orang masuk kerja. Picu kejadian bermula di sebuah kawasan terminal angkutan kota dan pasar. karena hari itu hari libur lebaran.

Setelah kejadian awalnya (19 Januari) sama sekali tidak tampak adanya hal-hal yang dapat langsung dihubungkan dengan perkara agama. Pertanyaannya: bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu orang sudah dapat memimpin serombongan massa yang begitu banyak? Saksisaksi lain menyatakan bahwa orang-orang tak dikenal itu mengendarai sepedasepeda motor dan mobil dan menyebarkan berita bahwa masjid dan gereja dibakar. menyaksikan bahwa pemimpin rombongan massa perusuh itu sama sekali tak dikenalnya. seorang saksi korban. Keempat. Di samping itu. seperempat jam setelah peristiwa pertengkaran personal itu sudah terbentuk segerombolan massa yang siap menyerang. dalam waktu sesingkat itu pihak-pihak yang bertikai sudah siap dengan bom molotov. Padahal tidak ada satu gereja atau masjid yang dibakar sampai detik-detik itu. Antara awal pertengkaran dan pembakaran rumah-rumah hanya berkisar 2 jam. misalnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Amir. kerusuhan terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.memiliki batas toleransi untuk tidak merugikan diri mereka sendiri. jarak waktu terlalu singkat untuk mengerahkan massa. "gereja dibakar". Saksi Amir. Massa datang dari berbagai lokasi desa yang jarak antarlokasinya cukup berjauhan. berkembangnya pertengkaran kecil menjadi kerusuhan yang demikian luas akibatnya. Artinya issue-issue yang berkembang di awal meledaknya kerusuhan rupanya dimaksudkan untuk menimbulkan kemarahan. sangat sulit diterima akal sehat. Kelima. seperti . Ada orangorang tak dikenal oleh masyarakat setempat mempengaruhi percepatan konsentrasi massa dengan menggunakan bantuan alat-alat komunikasi. kalau tidak dipersiapkan dan direncanakan sebelumnya. Maka dalam waktu 30 menit issue dan teriakan "gereja dibakar" dan "masjid dibakar" sudah beredar di mana-mana dan memancing warga dari tempat lain untuk berdatangan dan mengundang konsentrasi kelompok-kelompok massa berdasarkan perbedaan agama di daerah-daerah dan lokasi-lokasi yang rawan konflik. Sehingga aneh bahwa mereka dapat dikumpulkan dalam waktu yang cukup singkat. sekalipun terdapat perbedaan agama yang dalam. Namun anehnya. munculnya teriakan-teriakan provokatif. yang seumur hidup tinggal di Batu Merah Bawah. sejumlah kelewang dan alat-alat kekerasan lainnya. Orang-orang yang sudah lama tinggal di kawasan tempat kejadian kerusuhan bahkan sama sekali tak mengenal mereka. Dengan kata lain. alat komunikasi dan senjata api di tangan para perusuh. apalagi untuk masyarakat Ambon yang sudah lama berada dalam keadaan tenang. sehingga orang demikian cepat menanggapinya dengan aksi kekerasan. Teriakan itu berisikan issue yang sebenarnya tidak ada kebenarannya dalam peristiwa nyata. Amir memastikan bahwa orang tersebut pasti berasal dari luar kawasannya. Kedua. tiba-tiba terdengar di sana-sini issue yang menyebar bahwa "masjid dibakar". munculnya orang-orang tak dikenal. Ketiga. Tapi. Jumlah konsentrasi massa yang sedemikian besar sama sekali sulit dan tak dapat dibayangkan dapat dikumpulkan dalam waktu yang sesingkat itu.

Pola Kerusuhan dan Modus Operandi Kejanggalan-kejanggalan di atas mengindikasikan bahwa berkembangnya konflik personal menjadi kerusuhan bukanlah tindakan spontan masyarakat Ambon. Ketika kerusuhan baru saja meledak. Aparat terlihat memberi pasokan senjata tajam kepada massa. Sulit diterima akal bahwa masyarakat plural yang cukup lama bertahan dalam damai hendak menghancurkan dirinya sendiri. Tabel Pola Kerusuhan dan Modus Operandi Waktu Sebelum kerusuhan Modus Operandi Adanya upaya mengkondisikan masyarakat untuk masuk dalam situasi konflik agama. Indikasiindikasi berikut menggambarkan bagaimana kerusuhan tersebut telah direkayasa. Keenam. Ada usaha-usaha dari pihak luar untuk menjadikan Ambon sebagai wilayah konflik untuk kepentingan politis para elite. desas-desus dari mulut ke mulut dan telepon Mempertajam sentimen agama lewat selebaranselebaran dan desas-desus Adanya upaya memanfaatkan konflik personal sebagai pemicu kerusuhan Adanya upaya o Indikasi Kurang lebih sebelum sebelum meledak kerusuhan. sementara warga Ambon lebih akrab dengan kata "Serani". saling bantai dan baku potong Beberapa warga setempat mendapat telepon interlokal dari Jawa yang memperingatkan saudara dan kenalan yang berada di Ambon untuk segera meninggalkan Ambon Beredarnya issue tentang keputusan gubernur Ambon Saleh Latuconsina yang akan mengganti pegawai kantor gubernuran. dan juga senjata api. tanpa ada unsur eksternal yang mutlak mendorongnya. sudah beredar issue akan terjadi kerusuhan yang akan meletus sebelum Hari Raya Idhul Fitri Di kota Ambon berkembang issue bahwa di sekitar masjid al-Fatah akan terjadi kerusuhan. yang tiba-tiba muncul pada menit-menit pertama kerusuhan meletus. Menjelang dan selama kerusuhan 7. Adanya provokasi lewat selebaran-selebaran yang mencantumkan kata-kata yang tidak biasa digunakan di lingkungan Ambon²Lease. ketika gerombolan massa sudah bergerak. menjelang kerusuhan dan ketika terjadi perusakan serta pembakaran. dengan pegawaipegawai yang seluruhnya Muslim o o o 2. dengan cara: 1. Juga ditemukan selebaran berbahasa Arab yang ditulis dengan ngawur.handytalky. handphones. Penyebaran issue akan adanya kerusuhan melalui selebaran-selebaran. . o Adanya wajah-wajah tak dikenal sama sekali. seperti penggunaan kata "Nasrani". o 8. selebaran dengan kata-kata tak lazim. yang terdiri dari warga Muslim dan Kristen.

000 . Media massa nasional juga mengangkat issue RMS dalam kerusuhan Ambon Warga yang ingin pergi ke kota dan mendapatkan jaminan keamanan dari aparat dikenai pembayaran hingga Rp 400. Tokoh-tokoh agama mendapat teror/ancaman penyerangan Aparat keamanan mengumpat warga sebagai RMS (Republik Maluku Selatan). Adanya upaya untuk memecah warga kota berdasarkan sentimen agama 12. Selebaran itu juga menyebut daerah-daerah sasaran. Hari itu juga massa sudah terbagi dua. Ikat kepala ini menjadi indikasi awal kerusuhan Ketika kerusuhan mulai terjadi (19/1/99) issue yang berkembang adalah perusakan/pembakaran rumah ibadah. Adanya upaya menciptakan situasi tegang yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam bentuk tindakan sewenangwenang disertai komersialisasi jasa o o o o o Masyarakat cemas karena berkembang issu akan adanya serangan dari kelompok lain Pada tanggal 5 Februari 1999 beredar selebaran gelap yang isinya menginformasikan akan adanya serangan dari kelompok-kelompok tertentu pada kelompok lain. Beberapa lonceng gereja dibunyikan bersamaan. Dilancarkannya aksi teror akan terjadinya penyerangan oleh pihak/kelompok lain melalui selebaran-selebaran. di kaca spionnya diikatkan pita merah dan penumpangnya menggunakan HT. namun ada orang-orang yang tidak dikenali warga terus menerus berteriak dan mengajak massa membakar rumah ibadah Warga menangkap seseorang yang memimpin massa melempari masjid dan di saat lain juga memimpin massa untuk membakar gereja Wartawan LKBN Antara dan TVRI Ambon diancam oleh sejumlah orang melalui telepon agar tidak meliput dan memberitakan Setelah kerusuhan 19. telepon dan informasi dari mulut ke mulut 20. Ada mobil kijang mondar-mandir. kelompok Kristen dengan ikat kepala merah dan kelompok Muslim dengan ikat kepala putih. Adanya upaya pengalihan issue kerusuhan dan pencarian kambing hitam 21. Pada hari kedua barulah muncul isu anti BBM. dengan cara: o Penyebaran issu pembakaran rumah ibadah o Penyebaran issue tentang kesiapan masing-masing kelompok untuk menyerang kelompok lain 11. sudah ada sekelompok orang di di Batu Merah menggunakan ikat kepala putih dan pada saat bersamaan di depan gereja Silo sudah ada sekelompok orang dengan ikat kepala merah. Adanya upaya untuk menutup akses pihak-pihak di luar Ambon untuk mengkomunikasikan kejadian yang sebenarnya o o o o pembakaran pertama terjadi.pengumpulan massa di lokasilokasi yang rawan konflik. Warga setempat tidak menghendaki pembakaran rumah ibadah.

menunjukkan bahwa kerusuhan Ambon sudah direncanakan secara sistematis. tanpa disadari oleh masyarakat yang terlibat dalam konflik. eksesif dan tak terkendali. Apalagi jika yang tersebar . Ini terekploitasi menjadi sarana mempermudah meletusnya pertikaian. "Dukun Santet". dll). Langsung terpateri gambaran kerusuhan itu adalah kerusuhan "agama". Sementara pada kasus Ambon lebih banyak masyarakat membaca kerusuhan sebagai konflik agama semata. Informasi yang seharusnya menjadi sarana mutlak untuk menjamin keutuhan masyarakat. Ini terjadi. Tasikmalaya. Ketapang. ada konfirmasi bahwa tak seorang pun melakukannya. Si penelepon menyatakan dirinya dari gereja Maranatha. sehari sebelum rusuh. Kebuntuan akhirnya menimbulkan ketegangan. Beredarnya issue-issue akan adanya kerusuhan mengindikasikan bahwa sebenarnya masyarakat sudah mengetahui. mereka menerima telepon menyesatkan. Masing-masing pihak yang bertikai diisolir dengan issue-issue yang meningkatkan kebencian dan menutup ruang bagi kedua pihak untuk saling berkomunikasi. Dapat dimengerti mengapa masyarakat tak mengantisipasi apa pun. Rupanya banyak orang Ambon sendiri tidak menyadari kelemahan ini. Indikasi-indikasi yang ditemukan sebelum hingga pasca kerusuhan. Dengan adanya perbedaan yang begitu jelas antara mana yang Kristen dan mana yang Muslim. keadaan menjadi semakin meruncing sehingga baku hantam dan baku pukul dengan senjata tak terelakkan lagi.keamanan. Sambas. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelum peristiwa Ambon telah dipahami dan dibaca masyarakat sebagai hasil "rekayasa elite politis". Pada saat kerusuhan terjadi. Beberapa orang dari desa Kariu memberikan kesaksian. tragedi Mei. Sumber: Diolah dari berbagai sumber. Masyarakat umum tidak mengetahui siapa yang paling berkepentingan dengan issue semacam itu. malah sebaliknya ikut mendukung dan membenarkan persepsi perbedaan agama dan suku disertai kepahitan masalah ekonomi. Situbondo. Dan dengan demikian komunikasi dalam masyarakat pun menjadi buntu. telah terhambat arus alirannya pada saat kerusuhan. Kesulitan wartawan mendapatkan informasi sangat mempengaruhi kekeruhan situasi di Ambon. Bisa dipahami bahwa kerusuhan berkembang sangat cepat. hanya tak mempedulikan. Apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat sipil menghadapi issue yang tak jelas berasal darimana dan siapa yang bertanggung jawab atas issue tersebut? Pengalaman hidup damai berpuluh-puluh tahun lebih kuat meyakinkan masyarakat. juga karena kondisi masyarakat sipil masih rentan terhadap aksi adu domba. Pihak perekayasa tampaknya telah belajar banyak dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelumnya (27 Juli. bahwa "akan ada penyerangan". Kupang. situasi serba tak menentu. selain karena rekayasa kerusuhan Ambon itu rapi dan sistematis. Sabtu 18 Januari 1999. tapi setelah diperiksa ke sana. Demikian juga dengan perbedaan antara orang asli dan pendatang. Berbagai segmen dalam masyarakat Ambon terbagi-bagi berdasarkan kelompok agama.

Inilah sikap aparat keamanan yang paling banyak dilaporkan menjelang terjadinya kerusuhan Ambon pada rentetan ledakan kerusuhan yang pertama kali sebelum 20-21 Januari 1999. Banyak fakta lain di balik kerusuhan yang tidak diberitakan media. Akhirnya setelah rusuh meletus. Pertama. disertai back up dari aparat keamanan tanpa senjata. Pola penanganan kerusuhan oleh aparat keamanan malah meningkatkan jumlah korban. namun oleh komandan Batalyon 733 dijawab 'Biarkan mereka. Pada gilirannya kebencian mendesak orang-orang yang kurang sabar untuk segera angkat senjata. banyak orang Kristen di berbagai tempat disembunyikan atau diselamatkan orang-orang Muslim. Tapi aparat keamanan memberikan jaminan tidak akan ada apa-apa. Sebaliknya dan nyatanya. Namun anjuran ini tidak diterima oleh aparat keamanan. Alasannya. Misalnya. Namun apa yang dijawab oleh pihak Komando Distrik Militer? "Belum ada konfirmasi dengan pimpinan". Sebaliknya tidak sedikit orang Muslim diselamatkan orang-orang Kristen. Inilah yang diinginkan para perekayasa kerusuhan itu.kemudian adalah issue-issue yang semakin meningkatkan rasa benci satu sama lain. . karena mereka dipanggil ke Ambon'". Artinya. asalkan tersalur rasa benci itu. entah apa pun wujudnya. Kejanggalan-kejanggalan berikut ²yang terlihat sebelum. tidak semua orang termakan provokasi. yang terjadi di Kampung Hila Kristen. tentara dan polisi sangat lamban dan kurang tanggap mendengar laporan dari warga masyarakat. kerusuhan makin meluas. para tokoh agama yang dikumpulkan oleh pihak keamanan telah menyarankan agar pengamanan dan pembendungan massa tetap menghadirkan para tokoh agama langsung di tengah umatnya. aparat menjawab dengan enteng pula: "Kita telah melapor atau minta petunjuk. selama dan setelah kerusuhan² memberikan banyak petunjuk tentang keterlibatan militer dalam kerusuhan. tak satu pun alat keamanan datang dan berada di lokasi kejadian. antara Kristen dan Muslim. Ketika beredar issue akan adanya penyerangan. Ketika warga mempertanyakan mengapa aparat keamanan tidak mencegah penyerangan. Ketika kerusuhan baru meletus. Banyak contoh yang menggambarkan sikap "menganggap enteng" dari pihak tentara dan polisi atas laporan yang berasal dari warga masyarakat. Misalnya. Benteng Karang dan Telaga Kodok. Ketegangan berubah menjadi kebencian. pasukan dalam jumlah besar telah dioperasikan ke lokasi-lokasi rawan. jawab seorang tentara dengan dingin. warga telah melaporkan adanya desas-desus akan adanya penyerangan. Banyak indikasi menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak hanya gagal dalam mencegah kerusuhan tapi bahkan terlibat dalam pertikaian. warga dari kedua belah pihak yang bertikai (Kristen dan Muslim) telah melaporkan pada pihak aparat keamanan. Indikasi Keterlibatan Militer dan Polisi Begitu banyak pihak yang menyesalkan terjadinya kerusuhan yang sebenarnya bisa diantisipasi dan dicegah keluasannya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Pengkotakan masyarakat ke dalam pembagian Islam dan Kristen menjadi semakin mempermudah dan memperlancar pelepasan tindak kebencian yang sasarannya sudah jelas itu.

19 Januari 1999. ditambah tindakan memukul dengan popor senjata. sebab sejak semula orang sepertinya bertahan untuk bersikap "tidak mengira sama sekali bahwa belakangan akan menjadi begitu besar menelan ratusan nyawa manusia". terutama mereka yang terlibat dalam tindak pertikaian secara langsung. banyak tubuh sudah rubuh bergelimpangan dan rumah-rumah menyala dibakar. Di situ beberapa warga kampung Karang Panjang. 23 Januari 1999. Alat keamananlah yang sebenarnya pasti dan harus sudah mengetahui gejala-gejala yang muncul sebelum rusuh meledak. Saksi pelapor menyatakan seharusnya mereka muncul untuk setidaknya mencegah meluasnya peristiwa yang sampai 24 Januari 1999 telah memakan korban ratusan nyawa. Sudah sangat sering dilaporkan atau diberitakan bahwa pemicu rusuh yang begitu besar dan berkepanjangan di Ambon "tak lain hanyalah berupa peristiwa sepele yang dipandang remeh". Anggapan sepele dan remeh inilah yang berbuntut kerusuhan. segerombolan tentara menghentikan mobil mereka. Namun ketika melintas jalan di depan rumah sakit itu.Kedua. Apalagi mengingat bahwa pada dasarnya kerusuhan bukanlah musibah 'bencana alam' yang tidak dapat dideteksi gejalagejala sebelumnya. aparat keamanan mengecilkan arti faktor pemicu rusuh dan menganggap kerusuhan itu "biasa-biasa saja". alat keamanan seharusnya tahu dan sadar. tentara dan polisi hanya diam saja. tetap tidak tampak aparat keamanan baik polisi maupun tentara datang ke lokasi. lalu menandang. di kota Ambon. Kutipan "pemicu rusuh itu sifatnya sepele dan remeh" akan diulang lagi dan lagi selama beberapa minggu kemudian. aparat negara yang seharusnya menjaga keamanan malah "menganggap biasa-biasa saja". selama lima hari sejak kerusuhan besar pertama kali meletus. Contoh paling jelas terjadi di depan Rumah Sakit Tentara. ingin membeli bahan makanan di supermarket Citra. Setelah rusuh mulai meledak pun. inilah anehnya. Justru sebaliknya. Mereka memperlakukan warga masyarakat secara kasar disertai penggunaan kata-kata vulgar bernada sentimen anti-suku. ketika pertikaian antara warga Kampung Batu Merah dan Kampung Mardika sudah meluas. Tugas alat keamanan dalam menangani kerusuhan adalah menjaga. apalagi bila ternyata berulang-ulang diacu dan dituliskan lalu disebarluaskan. sambil mengumpat keras dan membangkit-bangkitkan sentimen suku secara tak pantas: "Kamu Ambon ya? Kamu kira orang Jawa takut pada kalian?!" Kesaksian warga menyatakan. mencegah meletusnya pertikaian terbuka yang menelan banyak korban. Tanpa bertanya maksud dan tujuan mereka. Banyak saksi pelapor menyatakan: meskipun polisi dan tentara sudah diberitahu dan dilapori. Pengulangan isi berita akan membentuk kenyataan yang direkonstruksikan. Bahkan banyak aparat keamanan selama masa tegang itu dengan seenaknya mengendarai mobil berkelok-kelok memutari kota Ambon hanya untuk menuju . kerusuhan diakibatkan oleh adanya faktor-faktor penentu yang umumnya sudah banyak diketahui orang. Keempat. tentara itu langsung menendang-nendang badan mobil dan menghantamkan popor senjata ke muka beberapa warga yang ada di dalam mobil. yang berjumlah 15 orang. tentara langsung menciptakan suasana tegang. Hal ini terbukti dengan adanya begitu banyak laporan yang sudah disampaikan oleh warga setempat kepada alat keamanan. Ketiga. Karena memang itulah tugas dan kewajiban profesi alat keamanan. Dan tentu saja tidak hanya mereka yang terlibat dalam kerusuhan yang sadar dan tahu tanda-tanda ketidakberesan sebelum rusuh.

meski sudah dipisahkan secara administratif. Dua alasan ini membuat masyarakat menjadi bertanya-tanya. beberapa anggota militer dan polisi setempat turut bersama warga menyerbu asrama tentara OSM. Para prajurit memang sudah ada di situ dan menahan warga Benteng Pantai untuk tetap di tempat. karena warga masyarakat itu sadar mau diserang. ZL turut bergabung dengan massa dan melakukan penyerangan serta penembakan. Terdapat keanehan dalam peristiwa penyerangan warga di Ahuru. Kedua. MP. Tentara dan polisi. 23 Januari 1999. jalan-jalan berusaha dibersihkan tapi batu-batu yang bertumpuk menghalangi jalan tidak disingkirkan. Beberapa warga berani bersaksi soal keterlibatan Serma BT. tapi mereka malah terlibat dalam kerusuhan itu. Karena terdesak.markasnya. tetapi kekerasan brutal yang dilakukan para serdadu TNI terhadap warga desa Benteng pantai. YS. tidak maju. terdapat dua regu pasukan TNI AD yang sedang berjaga.00 WIT. Delapan orang luka terkena tembakan. Sembilan orang tewas terkena tembakan. Ambon. yang ikut menembaki dan menyerang jemaah subuh di kampung Ahuru. warga kemudian melawan para tentara yang menghalang-halangi mereka yang sudah panas hatinya. namun tak cukup orang yang bersaksi dan bukti sehingga ia bisa lolos. satu di antaranya tewas. Saat yang sama. Kesaksian lain menyatakan adanya keterlibatan "oknum" polisi Ambon. apa pun alasannya. Di satu pihak. Malah ada warga desa yang menyabet prajurit dengan parang. Pertama. warga melihat aparat keamanan berinisial MT. tapi mereka tidak melakukan apa-apa. Suatu hal yang sungguh tak bisa dibenarkan dari segi apa pun. Pada peristiwa rusuh di sekitar kampung Benteng Pantai. sekumpulan warga desa Benteng pantai berkumpul untuk membela diri dengan cara menghadang mereka yang mau menyerang. jarak antara tempat penyerbuan dan Mapolda Maluku hanya 5 km. Kelima. Ini penyebab mengapa kemudian prajurit lalu melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga desa Benteng secara serampangan dan membabi buta. seperti diajukan oleh polisi bahwa mereka kesulitan alat komunikasi. malah sebaliknya membiarkan orang-orang kalap itu maju dan menyerang sejumlah warga yang tinggal di sekitar desa Benteng Pantai. yang berbaju preman dari satuan polisi air dan udara. Tak terlalu jauh untuk dapat ditangani atau malah ditunggangi. 20 Januari 1999. alat keamanan malah terlibat kerusuhan. Kemudian prajurit-prajurit itu membabi buta memasuki rumah-rumah penduduk dan merusak banyak rumah dan membakar ludes satu rumah. Dan dalam kerusuhan di Ambon. Namun anehnya. segerombolan prajurit Kostrad yang didatangkan dari Ujung Pandang itu justru tidak menghalau para petikai. sekitar pukul 15. . bagaimana pun tak lepas dari model pendekatan represif yang sudah dikembangkan selama Orde Baru. Dalam insiden penyerangan asrama tentara kelurahan OSM. Tetapi kemudian para tentara itu membiarkan para penyerang maju merangsek warga desa Benteng. sejumlah anggota alat keamanan berada di lokasi kejadian. kurang dari satu kilometer dari tempat kejadian. Juga disebut keterlibatan seorang oknum TNI AD. IL. Yang terjadi bukan lagi kerusuhan antarwarga kampung seperti dipersepsikan secara umum. apa tugas dan yang sebenarnya dilakukan oleh tentara dan polisi dalam perkara keamanan seperti ini. mereka bukannya melakukan tugas yang semestinya mereka jalankan. Wajar bila setelah peristiwa kerusuhan.

Justru situasi mengambang yang tercipta. tidak tanggap. terlalu minim untuk ukuran kerusuhan yang demikian luas dan begitu banyak korbannya. Pada peristiwa yang sama aparat keamanan berinisial MK dan IL tampak memberikan aba-aba menyerang dan kemudian bergabung dengan salah satu pihak yang bertikai dan melakukan penembakan.3) Tak ada yang bisa disimpulkan dari pertanyaan dan ungkapan "keterlibatan orang-orang dari Jakarta" yang terujar seolah-olah tak bersalah dari mulut seorang penanggung jawab keamanan seperti itu. Polisi tidak melakukan tugasnya untuk memberi penerangan yang layak sehingga bukan keamanan yang tercipta. Tidak mustahil bila mereka berangkat untuk saling menyerang lagi. pada dasarnya informasi yang diberikan pada masyarakat sangat sedikit. bagaimana menjelaskan retorika para elite militer bahwa seharusnya mereka. Meskipun pihak polisi secara tak langsung mengakui adanya "provokator". Situasi ini menimbulkan rasa tak pasti dan saling curiga di antara warga masyarakat. kenapa tentara dan polisi diam saja. Sikap aparat ini justru menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. kemarahan dan dendam telah membuat orang semakin sulit menggunakan akal sehatnya. Setidaknya walaupun pikiran semacam itu dipandang terlalu menyeleweng. bersikap "waspada". Apalagi banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya dan berita buruk tentang banyaknya orang yang kehilangan anggota keluarga sudah menimbulkan rasa tak tenang dan luka batin. aparat keamanan berinisial SF mengganti pakaian seragam militer yang dikenakannya dengan pakaian dari salah satu kelompok yang bertikai. aparat keamanan terkesan melindungi dalang dan pelaku kerusuhan. Kepada wartawan Antara. Kapolda Maluku Kol (Pol) Drs Karyono S hanya mengatakan: "Tersangka kerusuhan di Ambon yang kini tengah diperiksa secara intensif mengakui adanya keterlibatan orang-orang dari Jakarta". para penjaga keamanan. Sangat mencurigakan. seperti yang sering dinyatakan oleh para pimpinan tentara negeri ini? Tak ada penjelasan lain yang masuk akal mengenai diamnya dan tidak mampunya aparat keamanan dalam mengatasi kerusuhan selain penjelasan bahwa militer dan polisi adalah bagian dari kerusuhan. Alat keamanan tinggal diam. sehingga muncul pikiran.Pada peristiwa kerusuhan di Pulau Haruku. Penutup . Kejanggalan-kejanggalan yang digambarkan para saksi mata di lokasi-lokasi kerusuhan itu menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana posisi dan peran aparat keamanan dalam kerusuhan yang berlebih-lebihan itu. tetapi malah sebaliknya. Keenam. kemudian ikut bergabung dengan kelompok tersebut dan melakukan penembakan. Terlalu sedikit. apakah mungkin mereka tidak terlibat? Ini mencurigakan. Dapat disimpulkan di sini bahwa terbatasnya informasi. situasi mengambang. Perasaan seperti ini mudah sekali menyebar ke mana-mana di antara seluruh lapisan masyarakat. karena kerusuhan yang berakibat tewasnya ratusan orang menjadikan situasi batin masyarakat menjadi peka.

Kami. dll. baik dari segi kekerasan yang berlangsung maupun korban-korbannya. para relawan pekerja kemanusiaan. Situbondo. yang dapat memonopoli sepenuhnya atas "kebenaran peristiwa rusuh yang terjadi". tragedi "Dukun Santet". Mengatur tata sosial dan keamanan sendiri adalah jauh lebih penting ketimbang bergantung pada kekuatan militer dan polisi. Tasikmalaya. Anggota masyarakat tentu boleh berbeda pendapat. Sambas. baik Muslim maupun Kristen. Ketapang. masyarakat sipil. yang semuanya memberikan petunjuk jelas tentang keterlibatan militer. untuk bersikap terhadap konteks beda agama dalam memahami kerusuhan. kami. hanya penegakan hukumlah yang diperkenankan berperan. Untuk itu. Kepastian hukum haruslah melatarbelakangi semua penyelesaian . berbeda keyakinan agama. Tidak ada satu pihak pun. tragedi Mei 1998. tapi menyangkut kekerasan dan keutuhan tubuh manusia. untuk memahami apa yang sebenarnya bisa dan harus dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. yang jelas-jelas lebih mengutamakan kepentingan elite politik dan kepentingan korps-nya ketimbang kepentingan keamanan masyarakat. para relawan dari berbagai latar belakang agama dan etnis. Jika kita bersandar pada sumber-sumber yang berasal dari kedua belah pihak yang berbeda agama dalam kerusuhan Ambon. Kupang. mengajak segenap warga masyarakat sipil ² khususnya yang menjadi bagian dari masyarakat Ambon-Lease² untuk menegakkan kemandirian masyarakat sipil. Militer dan polisi pada kenyataannya telah gagal dalam menjalankan tugasnya menjaga keamanan masyarakat. khususnya masyarakat Ambon Lease.. Kerusuhankerusuhan itu menunjukkan kesamaan pola. mengajak masyarakat sipil. kita akan sampai pada suatu relativitas dalam bersikap terhadap semua kekejian itu.Gambaran tentang pola dan fakta kerusuhan Ambon pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengan kerusuhan-kerusuhan massal yang terjadi sebelumnya di daerah-daerah lain di Indonesia: tragedi 27 Juli. yaitu: o o o o o o o o o Digunakannya simbol-simbol agama untuk membangkitkan sentimen agama dan etnis Upaya mobilisasi massa penyerang Upaya provokasi untuk menjebak massa dalam aksi kekerasan Upaya memecah belah dan menghancurkan basis pertahanan masyarakat sipil Penyamaran Penyerangan sporadis Teror Operasi intelejen/manajemen issue Pemutarbalikan fakta dan penciptaan kambing hitam Fakta di seputar kerusuhan itu dapat menjadi dasar bagi kita semua. Sementara para dalang dan pelaku kerusuhan tak pernah tersentuh hukum dan dengan mudah melepas tanggung jawab atas semua peristiwa rusuh yang terjadi. Kedua belah pihak akhirnya sama-sama menderita dan menanggung kerugian-kerugian yang mendalam dan menyedihkan. berbeda dalam menafsirkan sejarah masing-masing.

Kami percaya bahwa masyarakat memiliki ketahanan diri dan mampu membangun kembali masyarakat sipil yang merdeka. 2 September 1999 2. "Tempo". Human Rights Watch 3. pembunuhan. Tim Penyusun Fakta Yayasan al-Mukmin di Jakarta. "Penabur". "Tifa". Reuters. "Tajuk". Media massa: Mingguan berita "Umat". Agence France Presse (AFP) . pembantaian. Tim Relawan (Tirus) di Ambon. Jakarta. Justru sebaliknya. KONTRAS. perbedaan memperkaya rasa saling percaya dalam masyarakat. Yayasan Sala Waku Maluku.masalah yang berkaitan dengan kekerasan. Berita Utama. perusakan. 21 September 1999 Wassalam TRK Ambon 1. Jakarta Post. mingguan "Sabili". "Detak" dan media internasional: Associated Press (AP). Perbedaan kiranya tidak dapat menjadi alasan yang mendasar untuk mengarahkan kehancuran pada masyarakat itu sendiri. * Tulisan ini disusun berdasarkan hasil investigasi berbagai kelompok dan media massa: Tim Pencari Fakta dari Partai Keadilan cabang Ambon. 26 Januari 1999. Asian Human Rights Watch di New York.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful