http://members.fortunecity.com/edicahy/selectedworks/ModusAmbon.

html

POLA KERUSUHAN DI TANAH AMBON±LEASE:
Membaca Kejanggalan di Balik Kerusuhan Berkepanjangan

Sudah hampir tiga bulan Ambon²Lease kembali dilanda kerusuhan berdarah dan keji. Konflik dan pertikaian yang melanda masyarakat Ambon-Lease sejak Januari 1999 telah berkembang menjadi aksi kekerasan brutal yang merenggut ribuan jiwa dan menghancurkan semua tatanan kehidupan bermasyarakat. Hingga 2 September 19991) setidaknya telah tercatat 1.132 korban tewas, 312 orang luka parah, 142 orang luka ringan. Sebanyak 765 rumah, 195 ruko serta puluhan kendaraan hancur dibakar. Di samping itu 100.000 ribu orang sudah meninggalkan tempat tinggalnya dan sedikitnya 30.000 orang menjadi pengungsi di 60 kamp penampungan, khususnya di kota Ambon dan sekitarnya. Transportasi, khususnya transportasi udara, terhenti; harga-harga kebutuhan pokok kian melonjak dan persediaan makanan menipis; kegiatan pendidikan terhenti. Sementara itu belum ada tanda-tanda pertikaian akan berakhir. Upaya penyelesaian yang telah dilakukan negara dan aparatnya bukannya meredakan konflik dan aksi kekerasan, tapi justru makin memperkeruh keadaan. Aksi kekerasan terus-menerus terjadi tanpa ada penyelesaian. Masyarakat telah kehilangan rasa aman. Rasa saling percaya di antara manusia sesamanya yang dibangun bertahun-tahun sebagai modal kehidupan demokrasi sejati telah dihancurkan. Sementara itu, media massa dan berbagai kelompok masyarakat telah membaca dan menjelaskan aksi kekerasan di tanah Ambon-Lease sematamata sebagai konflik dan pertikaian agama. Kami, para relawan, yang datang dari berbagai latar belakang agama dan etnis, mengajak masyarakat, khususnya masyarakat Ambon²Lease, untuk membaca dengan jernih konflik di bumi Ambon²Lease, yang telah berkembang menjadi kerusuhan dan tindakan kekerasan brutal. Kerusuhan yang terjadi di tanah Ambon²Lease ini tidaklah berdiri sendiri. Kerusuhan ini tidak terlepas dari berbagai peristiwa konflik dan kerusuhan yang terjadi di berbagai tempat di bumi Indonesia ini: Tragedi 27 Juli, peristiwa Situbondo, Tasikmalaya, tragedi Mei, tragedi "Dukun Santet", Ketapang, Kupang, dan kerusuhan di tempat-tempat lainnya, yang sengaja diciptakan demi kepentingan politis para elite. Berikut ini adalah hasil usaha untuk menutup kesenjangan informasi dan untuk melihat berbagai kejanggalan di balik aksi kerusuhan yang terjadi pada tanggal 19 Januari ² 10 Maret 1999. Awal Kejadian Konflik pertama-tama dipicu oleh kejadian pertengkaran personal antara seorang sopir angkutan umum dan seroang pemuda yang sudah dianggap biasa oleh

Pada umumnya orang toh masih toleran. yang beredar di masyarakat. seperti di kawasan sejenis di manapun di Indonesia. di antara rombongan massa itu dia melihat sekitar 10 orang intel berpakaian preman. Amir mengatakan dia tinggal di kampung Batu Merah seumur hidupnya. Mereka menyulut kain-kain itu. seperti semua rumah yang ada di Batu Merah. Mereka rupanya menemukan kain-kain lap kotor berlumuran minyak. Pertama. dan dia hampir mengenal semua wajah warga kampung itu. mereka menyulut bagian-bagian lain dari bengkel sehingga api masuk ke dalam rumah. peristiwa dan kejanggalan kiranya dapat menjadi petunjuk perlunya masyarakat bersikap kritis terhadap seluruh rentetan berkembangnya issue dan kejadian kekerasan. Amir lalu menelpon ke pihak polisi militer. Seorang di antaranya meletuskan tembakan ke udara. serombongan besar massa datang dan menyerang. konflik sudah biasa terjadi dalam masyarakat Ambon tapi kenapa meledak jadi kerusuhan? Kejanggalan terjadi ketika konflik yang sudah dianggap normal terjadi antara orang Muslim dan Kristen merembet menjadi kerusuhan skala besar yang tidak terkendali. karena pertengkaran kecil-kecilan antara warga Muslim dan Kristen sudah begitu biasa. Tapi pada pukul 16. karena hari itu hari libur lebaran.00. Tapi dia sama sekali tidak mengenal wajah orang yang memimpin rombongan besar massa penyerang itu. Rombongan massa berhenti di depan bengkel mobil yang terletak di bagian bawah dari rumahnya. Pertengkaran personal ini kemudian meluas menjadi pertikaian antar kelompok agama dan suku yang meledak menjadi kerusuhan. seperti di kalangan sopir.30. lalu dengan menggunakan parang-parang panjang. kernet dan pedagang pasar. Amir mengatakan. Tawar-menawar dan bahkan pemerasan adalah hal biasa. Mereka sendiri mengatakan tidak bisa berbuat apaapa. dari Islam dan Kristen.2) Berbagai Kejanggalan Ada beberapa hal yang patut dilihat pada saat-saat awal kejadian kerusuhan meledak dan melebar dalam skala besar. Rumah Amir juga dibakar sampai rata dengan tanah. warga Muslim di kampung Batu Merah Dalam. tidak ada orang masuk kerja. Seorang saksi korban bernama Amir (bukan nama sebenarnya). Dia yakin orang itu bukan orang Batu Merah. tetapi tidak ada hasil. artinya tidak akan membiarkan pertengkaran kecil menjadi alasan untuk meledaknya kerusuhan yang demikian tak terbayangkan skala akibatnya. menyatakan bahwa sekitar pukul 15. Masyarakat mana pun tentu . meskipun sebetulnya masjid itu belum tersentuh sama sekali. Sekitar lima orang di muka rombongan itu mengenakan kain putih pada lengan mereka. Rombongan massa itu terus maju. tapi mereka menjawab bahwa mereka sudah menyerahkan persoalan itu ke polisi biasa. Picu kejadian bermula di sebuah kawasan terminal angkutan kota dan pasar. Beberapa issue. Ada dua versi. Mereka menyeberang jembatan dan masuk ke kampung dalam jumlah besar. yang keadaan psikologisnya penuh dengan perjuangan dan persaingan hidup dalam usaha mencari makan.masyarakat Ambon pada umumnya. Orang-orang itu juga berteriak bahwa mesjid Batu Merah sudah dibakar. 9 Januari 1999 dia tak memperhatikan sama sekali apa yang sebenarnya terjadi.

kerusuhan terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan. yang seumur hidup tinggal di Batu Merah Bawah.memiliki batas toleransi untuk tidak merugikan diri mereka sendiri. Keempat. Teriakan itu berisikan issue yang sebenarnya tidak ada kebenarannya dalam peristiwa nyata. misalnya. alat komunikasi dan senjata api di tangan para perusuh. apalagi untuk masyarakat Ambon yang sudah lama berada dalam keadaan tenang. dalam waktu sesingkat itu pihak-pihak yang bertikai sudah siap dengan bom molotov. tiba-tiba terdengar di sana-sini issue yang menyebar bahwa "masjid dibakar". Massa datang dari berbagai lokasi desa yang jarak antarlokasinya cukup berjauhan. seorang saksi korban. menyaksikan bahwa pemimpin rombongan massa perusuh itu sama sekali tak dikenalnya. Saksi Amir. Antara awal pertengkaran dan pembakaran rumah-rumah hanya berkisar 2 jam. munculnya orang-orang tak dikenal. seperti . Tapi. Amir memastikan bahwa orang tersebut pasti berasal dari luar kawasannya. Pertanyaannya: bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu orang sudah dapat memimpin serombongan massa yang begitu banyak? Saksisaksi lain menyatakan bahwa orang-orang tak dikenal itu mengendarai sepedasepeda motor dan mobil dan menyebarkan berita bahwa masjid dan gereja dibakar. Kedua. Dengan kata lain. Sebagaimana yang disampaikan oleh Amir. munculnya teriakan-teriakan provokatif. kalau tidak dipersiapkan dan direncanakan sebelumnya. Kelima. Artinya issue-issue yang berkembang di awal meledaknya kerusuhan rupanya dimaksudkan untuk menimbulkan kemarahan. Namun anehnya. sejumlah kelewang dan alat-alat kekerasan lainnya. sekalipun terdapat perbedaan agama yang dalam. berkembangnya pertengkaran kecil menjadi kerusuhan yang demikian luas akibatnya. Setelah kejadian awalnya (19 Januari) sama sekali tidak tampak adanya hal-hal yang dapat langsung dihubungkan dengan perkara agama. seperempat jam setelah peristiwa pertengkaran personal itu sudah terbentuk segerombolan massa yang siap menyerang. jarak waktu terlalu singkat untuk mengerahkan massa. Di samping itu. Padahal tidak ada satu gereja atau masjid yang dibakar sampai detik-detik itu. Orang-orang yang sudah lama tinggal di kawasan tempat kejadian kerusuhan bahkan sama sekali tak mengenal mereka. Jumlah konsentrasi massa yang sedemikian besar sama sekali sulit dan tak dapat dibayangkan dapat dikumpulkan dalam waktu yang sesingkat itu. Ketiga. Ada orangorang tak dikenal oleh masyarakat setempat mempengaruhi percepatan konsentrasi massa dengan menggunakan bantuan alat-alat komunikasi. sangat sulit diterima akal sehat. Maka dalam waktu 30 menit issue dan teriakan "gereja dibakar" dan "masjid dibakar" sudah beredar di mana-mana dan memancing warga dari tempat lain untuk berdatangan dan mengundang konsentrasi kelompok-kelompok massa berdasarkan perbedaan agama di daerah-daerah dan lokasi-lokasi yang rawan konflik. "gereja dibakar". sehingga orang demikian cepat menanggapinya dengan aksi kekerasan. Sehingga aneh bahwa mereka dapat dikumpulkan dalam waktu yang cukup singkat.

Tabel Pola Kerusuhan dan Modus Operandi Waktu Sebelum kerusuhan Modus Operandi Adanya upaya mengkondisikan masyarakat untuk masuk dalam situasi konflik agama. handphones. dengan cara: 1. dan juga senjata api. Juga ditemukan selebaran berbahasa Arab yang ditulis dengan ngawur. Menjelang dan selama kerusuhan 7. Penyebaran issue akan adanya kerusuhan melalui selebaran-selebaran. Sulit diterima akal bahwa masyarakat plural yang cukup lama bertahan dalam damai hendak menghancurkan dirinya sendiri. ketika gerombolan massa sudah bergerak. Pola Kerusuhan dan Modus Operandi Kejanggalan-kejanggalan di atas mengindikasikan bahwa berkembangnya konflik personal menjadi kerusuhan bukanlah tindakan spontan masyarakat Ambon. Aparat terlihat memberi pasokan senjata tajam kepada massa. dengan pegawaipegawai yang seluruhnya Muslim o o o 2. sudah beredar issue akan terjadi kerusuhan yang akan meletus sebelum Hari Raya Idhul Fitri Di kota Ambon berkembang issue bahwa di sekitar masjid al-Fatah akan terjadi kerusuhan. Keenam. Ada usaha-usaha dari pihak luar untuk menjadikan Ambon sebagai wilayah konflik untuk kepentingan politis para elite. o Adanya wajah-wajah tak dikenal sama sekali. Indikasiindikasi berikut menggambarkan bagaimana kerusuhan tersebut telah direkayasa. Adanya provokasi lewat selebaran-selebaran yang mencantumkan kata-kata yang tidak biasa digunakan di lingkungan Ambon²Lease. o 8. seperti penggunaan kata "Nasrani". yang terdiri dari warga Muslim dan Kristen. sementara warga Ambon lebih akrab dengan kata "Serani". menjelang kerusuhan dan ketika terjadi perusakan serta pembakaran. selebaran dengan kata-kata tak lazim. yang tiba-tiba muncul pada menit-menit pertama kerusuhan meletus. . saling bantai dan baku potong Beberapa warga setempat mendapat telepon interlokal dari Jawa yang memperingatkan saudara dan kenalan yang berada di Ambon untuk segera meninggalkan Ambon Beredarnya issue tentang keputusan gubernur Ambon Saleh Latuconsina yang akan mengganti pegawai kantor gubernuran. Ketika kerusuhan baru saja meledak.handytalky. desas-desus dari mulut ke mulut dan telepon Mempertajam sentimen agama lewat selebaranselebaran dan desas-desus Adanya upaya memanfaatkan konflik personal sebagai pemicu kerusuhan Adanya upaya o Indikasi Kurang lebih sebelum sebelum meledak kerusuhan. tanpa ada unsur eksternal yang mutlak mendorongnya.

Selebaran itu juga menyebut daerah-daerah sasaran.000 . kelompok Kristen dengan ikat kepala merah dan kelompok Muslim dengan ikat kepala putih. Adanya upaya menciptakan situasi tegang yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam bentuk tindakan sewenangwenang disertai komersialisasi jasa o o o o o Masyarakat cemas karena berkembang issu akan adanya serangan dari kelompok lain Pada tanggal 5 Februari 1999 beredar selebaran gelap yang isinya menginformasikan akan adanya serangan dari kelompok-kelompok tertentu pada kelompok lain. dengan cara: o Penyebaran issu pembakaran rumah ibadah o Penyebaran issue tentang kesiapan masing-masing kelompok untuk menyerang kelompok lain 11. Ada mobil kijang mondar-mandir. Warga setempat tidak menghendaki pembakaran rumah ibadah. telepon dan informasi dari mulut ke mulut 20. Pada hari kedua barulah muncul isu anti BBM. Media massa nasional juga mengangkat issue RMS dalam kerusuhan Ambon Warga yang ingin pergi ke kota dan mendapatkan jaminan keamanan dari aparat dikenai pembayaran hingga Rp 400. Adanya upaya pengalihan issue kerusuhan dan pencarian kambing hitam 21. Adanya upaya untuk memecah warga kota berdasarkan sentimen agama 12. sudah ada sekelompok orang di di Batu Merah menggunakan ikat kepala putih dan pada saat bersamaan di depan gereja Silo sudah ada sekelompok orang dengan ikat kepala merah. di kaca spionnya diikatkan pita merah dan penumpangnya menggunakan HT. Adanya upaya untuk menutup akses pihak-pihak di luar Ambon untuk mengkomunikasikan kejadian yang sebenarnya o o o o pembakaran pertama terjadi. Ikat kepala ini menjadi indikasi awal kerusuhan Ketika kerusuhan mulai terjadi (19/1/99) issue yang berkembang adalah perusakan/pembakaran rumah ibadah. namun ada orang-orang yang tidak dikenali warga terus menerus berteriak dan mengajak massa membakar rumah ibadah Warga menangkap seseorang yang memimpin massa melempari masjid dan di saat lain juga memimpin massa untuk membakar gereja Wartawan LKBN Antara dan TVRI Ambon diancam oleh sejumlah orang melalui telepon agar tidak meliput dan memberitakan Setelah kerusuhan 19. Tokoh-tokoh agama mendapat teror/ancaman penyerangan Aparat keamanan mengumpat warga sebagai RMS (Republik Maluku Selatan). Beberapa lonceng gereja dibunyikan bersamaan. Dilancarkannya aksi teror akan terjadinya penyerangan oleh pihak/kelompok lain melalui selebaran-selebaran. Hari itu juga massa sudah terbagi dua.pengumpulan massa di lokasilokasi yang rawan konflik.

Indikasi-indikasi yang ditemukan sebelum hingga pasca kerusuhan. Si penelepon menyatakan dirinya dari gereja Maranatha. eksesif dan tak terkendali. Kebuntuan akhirnya menimbulkan ketegangan. Beredarnya issue-issue akan adanya kerusuhan mengindikasikan bahwa sebenarnya masyarakat sudah mengetahui. Masing-masing pihak yang bertikai diisolir dengan issue-issue yang meningkatkan kebencian dan menutup ruang bagi kedua pihak untuk saling berkomunikasi. Pada saat kerusuhan terjadi. situasi serba tak menentu. Sambas. tanpa disadari oleh masyarakat yang terlibat dalam konflik. tapi setelah diperiksa ke sana. Kupang.keamanan. Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelum peristiwa Ambon telah dipahami dan dibaca masyarakat sebagai hasil "rekayasa elite politis". tragedi Mei. malah sebaliknya ikut mendukung dan membenarkan persepsi perbedaan agama dan suku disertai kepahitan masalah ekonomi. Sabtu 18 Januari 1999. Ini terjadi. keadaan menjadi semakin meruncing sehingga baku hantam dan baku pukul dengan senjata tak terelakkan lagi. Tasikmalaya. Beberapa orang dari desa Kariu memberikan kesaksian. juga karena kondisi masyarakat sipil masih rentan terhadap aksi adu domba. Apalagi jika yang tersebar . Apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat sipil menghadapi issue yang tak jelas berasal darimana dan siapa yang bertanggung jawab atas issue tersebut? Pengalaman hidup damai berpuluh-puluh tahun lebih kuat meyakinkan masyarakat. telah terhambat arus alirannya pada saat kerusuhan. Dapat dimengerti mengapa masyarakat tak mengantisipasi apa pun. Kesulitan wartawan mendapatkan informasi sangat mempengaruhi kekeruhan situasi di Ambon. Demikian juga dengan perbedaan antara orang asli dan pendatang. mereka menerima telepon menyesatkan. Langsung terpateri gambaran kerusuhan itu adalah kerusuhan "agama". bahwa "akan ada penyerangan". sehari sebelum rusuh. "Dukun Santet". Berbagai segmen dalam masyarakat Ambon terbagi-bagi berdasarkan kelompok agama. Dengan adanya perbedaan yang begitu jelas antara mana yang Kristen dan mana yang Muslim. ada konfirmasi bahwa tak seorang pun melakukannya. Ini terekploitasi menjadi sarana mempermudah meletusnya pertikaian. Dan dengan demikian komunikasi dalam masyarakat pun menjadi buntu. Informasi yang seharusnya menjadi sarana mutlak untuk menjamin keutuhan masyarakat. dll). menunjukkan bahwa kerusuhan Ambon sudah direncanakan secara sistematis. hanya tak mempedulikan. Rupanya banyak orang Ambon sendiri tidak menyadari kelemahan ini. Sementara pada kasus Ambon lebih banyak masyarakat membaca kerusuhan sebagai konflik agama semata. Ketapang. Pihak perekayasa tampaknya telah belajar banyak dari kerusuhan-kerusuhan yang terjadi sebelumnya (27 Juli. Sumber: Diolah dari berbagai sumber. Situbondo. selain karena rekayasa kerusuhan Ambon itu rapi dan sistematis. Bisa dipahami bahwa kerusuhan berkembang sangat cepat. Masyarakat umum tidak mengetahui siapa yang paling berkepentingan dengan issue semacam itu.

Artinya. . Alasannya. namun oleh komandan Batalyon 733 dijawab 'Biarkan mereka. Namun anjuran ini tidak diterima oleh aparat keamanan. warga dari kedua belah pihak yang bertikai (Kristen dan Muslim) telah melaporkan pada pihak aparat keamanan. Indikasi Keterlibatan Militer dan Polisi Begitu banyak pihak yang menyesalkan terjadinya kerusuhan yang sebenarnya bisa diantisipasi dan dicegah keluasannya. Sebaliknya dan nyatanya. karena mereka dipanggil ke Ambon'". asalkan tersalur rasa benci itu. Tapi aparat keamanan memberikan jaminan tidak akan ada apa-apa. Sebaliknya tidak sedikit orang Muslim diselamatkan orang-orang Kristen. Benteng Karang dan Telaga Kodok. Ketegangan berubah menjadi kebencian. Pengkotakan masyarakat ke dalam pembagian Islam dan Kristen menjadi semakin mempermudah dan memperlancar pelepasan tindak kebencian yang sasarannya sudah jelas itu. selama dan setelah kerusuhan² memberikan banyak petunjuk tentang keterlibatan militer dalam kerusuhan. Inilah yang diinginkan para perekayasa kerusuhan itu. tentara dan polisi sangat lamban dan kurang tanggap mendengar laporan dari warga masyarakat. Banyak fakta lain di balik kerusuhan yang tidak diberitakan media. Pola penanganan kerusuhan oleh aparat keamanan malah meningkatkan jumlah korban. Ketika beredar issue akan adanya penyerangan. Inilah sikap aparat keamanan yang paling banyak dilaporkan menjelang terjadinya kerusuhan Ambon pada rentetan ledakan kerusuhan yang pertama kali sebelum 20-21 Januari 1999. Pada gilirannya kebencian mendesak orang-orang yang kurang sabar untuk segera angkat senjata. kerusuhan makin meluas. aparat menjawab dengan enteng pula: "Kita telah melapor atau minta petunjuk. antara Kristen dan Muslim. tidak semua orang termakan provokasi. Ketika warga mempertanyakan mengapa aparat keamanan tidak mencegah penyerangan. warga telah melaporkan adanya desas-desus akan adanya penyerangan. Banyak contoh yang menggambarkan sikap "menganggap enteng" dari pihak tentara dan polisi atas laporan yang berasal dari warga masyarakat. disertai back up dari aparat keamanan tanpa senjata. tak satu pun alat keamanan datang dan berada di lokasi kejadian. yang terjadi di Kampung Hila Kristen.kemudian adalah issue-issue yang semakin meningkatkan rasa benci satu sama lain. para tokoh agama yang dikumpulkan oleh pihak keamanan telah menyarankan agar pengamanan dan pembendungan massa tetap menghadirkan para tokoh agama langsung di tengah umatnya. Pertama. Kejanggalan-kejanggalan berikut ²yang terlihat sebelum. jawab seorang tentara dengan dingin. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Namun apa yang dijawab oleh pihak Komando Distrik Militer? "Belum ada konfirmasi dengan pimpinan". Banyak indikasi menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak hanya gagal dalam mencegah kerusuhan tapi bahkan terlibat dalam pertikaian. Misalnya. Akhirnya setelah rusuh meletus. pasukan dalam jumlah besar telah dioperasikan ke lokasi-lokasi rawan. Ketika kerusuhan baru meletus. entah apa pun wujudnya. Misalnya. banyak orang Kristen di berbagai tempat disembunyikan atau diselamatkan orang-orang Muslim.

selama lima hari sejak kerusuhan besar pertama kali meletus. di kota Ambon.Kedua. ingin membeli bahan makanan di supermarket Citra. tentara langsung menciptakan suasana tegang. Banyak saksi pelapor menyatakan: meskipun polisi dan tentara sudah diberitahu dan dilapori. ditambah tindakan memukul dengan popor senjata. Justru sebaliknya. Anggapan sepele dan remeh inilah yang berbuntut kerusuhan. Bahkan banyak aparat keamanan selama masa tegang itu dengan seenaknya mengendarai mobil berkelok-kelok memutari kota Ambon hanya untuk menuju . Keempat. Tanpa bertanya maksud dan tujuan mereka. Contoh paling jelas terjadi di depan Rumah Sakit Tentara. segerombolan tentara menghentikan mobil mereka. tetap tidak tampak aparat keamanan baik polisi maupun tentara datang ke lokasi. aparat keamanan mengecilkan arti faktor pemicu rusuh dan menganggap kerusuhan itu "biasa-biasa saja". mencegah meletusnya pertikaian terbuka yang menelan banyak korban. 19 Januari 1999. tentara itu langsung menendang-nendang badan mobil dan menghantamkan popor senjata ke muka beberapa warga yang ada di dalam mobil. Karena memang itulah tugas dan kewajiban profesi alat keamanan. lalu menandang. kerusuhan diakibatkan oleh adanya faktor-faktor penentu yang umumnya sudah banyak diketahui orang. terutama mereka yang terlibat dalam tindak pertikaian secara langsung. Dan tentu saja tidak hanya mereka yang terlibat dalam kerusuhan yang sadar dan tahu tanda-tanda ketidakberesan sebelum rusuh. Setelah rusuh mulai meledak pun. Hal ini terbukti dengan adanya begitu banyak laporan yang sudah disampaikan oleh warga setempat kepada alat keamanan. Tugas alat keamanan dalam menangani kerusuhan adalah menjaga. yang berjumlah 15 orang. Apalagi mengingat bahwa pada dasarnya kerusuhan bukanlah musibah 'bencana alam' yang tidak dapat dideteksi gejalagejala sebelumnya. Kutipan "pemicu rusuh itu sifatnya sepele dan remeh" akan diulang lagi dan lagi selama beberapa minggu kemudian. banyak tubuh sudah rubuh bergelimpangan dan rumah-rumah menyala dibakar. 23 Januari 1999. Saksi pelapor menyatakan seharusnya mereka muncul untuk setidaknya mencegah meluasnya peristiwa yang sampai 24 Januari 1999 telah memakan korban ratusan nyawa. Sudah sangat sering dilaporkan atau diberitakan bahwa pemicu rusuh yang begitu besar dan berkepanjangan di Ambon "tak lain hanyalah berupa peristiwa sepele yang dipandang remeh". Ketiga. Alat keamananlah yang sebenarnya pasti dan harus sudah mengetahui gejala-gejala yang muncul sebelum rusuh meledak. Mereka memperlakukan warga masyarakat secara kasar disertai penggunaan kata-kata vulgar bernada sentimen anti-suku. alat keamanan seharusnya tahu dan sadar. inilah anehnya. Namun ketika melintas jalan di depan rumah sakit itu. apalagi bila ternyata berulang-ulang diacu dan dituliskan lalu disebarluaskan. ketika pertikaian antara warga Kampung Batu Merah dan Kampung Mardika sudah meluas. sambil mengumpat keras dan membangkit-bangkitkan sentimen suku secara tak pantas: "Kamu Ambon ya? Kamu kira orang Jawa takut pada kalian?!" Kesaksian warga menyatakan. tentara dan polisi hanya diam saja. Pengulangan isi berita akan membentuk kenyataan yang direkonstruksikan. Di situ beberapa warga kampung Karang Panjang. sebab sejak semula orang sepertinya bertahan untuk bersikap "tidak mengira sama sekali bahwa belakangan akan menjadi begitu besar menelan ratusan nyawa manusia". aparat negara yang seharusnya menjaga keamanan malah "menganggap biasa-biasa saja".

mereka bukannya melakukan tugas yang semestinya mereka jalankan. Terdapat keanehan dalam peristiwa penyerangan warga di Ahuru. Beberapa warga berani bersaksi soal keterlibatan Serma BT. Sembilan orang tewas terkena tembakan. yang ikut menembaki dan menyerang jemaah subuh di kampung Ahuru. tapi mereka malah terlibat dalam kerusuhan itu. jalan-jalan berusaha dibersihkan tapi batu-batu yang bertumpuk menghalangi jalan tidak disingkirkan. sekitar pukul 15. Delapan orang luka terkena tembakan. warga kemudian melawan para tentara yang menghalang-halangi mereka yang sudah panas hatinya. Namun anehnya. Ini penyebab mengapa kemudian prajurit lalu melepaskan tembakan ke arah kerumunan warga desa Benteng secara serampangan dan membabi buta. Dalam insiden penyerangan asrama tentara kelurahan OSM. Saat yang sama. Kesaksian lain menyatakan adanya keterlibatan "oknum" polisi Ambon. Dua alasan ini membuat masyarakat menjadi bertanya-tanya. Juga disebut keterlibatan seorang oknum TNI AD.00 WIT. Malah ada warga desa yang menyabet prajurit dengan parang. ZL turut bergabung dengan massa dan melakukan penyerangan serta penembakan. Kedua. meski sudah dipisahkan secara administratif. bagaimana pun tak lepas dari model pendekatan represif yang sudah dikembangkan selama Orde Baru. Tentara dan polisi. segerombolan prajurit Kostrad yang didatangkan dari Ujung Pandang itu justru tidak menghalau para petikai. Kelima. apa tugas dan yang sebenarnya dilakukan oleh tentara dan polisi dalam perkara keamanan seperti ini. YS. Pada peristiwa rusuh di sekitar kampung Benteng Pantai. Tetapi kemudian para tentara itu membiarkan para penyerang maju merangsek warga desa Benteng. yang berbaju preman dari satuan polisi air dan udara. Kemudian prajurit-prajurit itu membabi buta memasuki rumah-rumah penduduk dan merusak banyak rumah dan membakar ludes satu rumah. 23 Januari 1999. namun tak cukup orang yang bersaksi dan bukti sehingga ia bisa lolos. Suatu hal yang sungguh tak bisa dibenarkan dari segi apa pun. IL. tapi mereka tidak melakukan apa-apa. Para prajurit memang sudah ada di situ dan menahan warga Benteng Pantai untuk tetap di tempat. Wajar bila setelah peristiwa kerusuhan. beberapa anggota militer dan polisi setempat turut bersama warga menyerbu asrama tentara OSM. tetapi kekerasan brutal yang dilakukan para serdadu TNI terhadap warga desa Benteng pantai. apa pun alasannya. alat keamanan malah terlibat kerusuhan. Ambon. terdapat dua regu pasukan TNI AD yang sedang berjaga.markasnya. warga melihat aparat keamanan berinisial MT. Dan dalam kerusuhan di Ambon. jarak antara tempat penyerbuan dan Mapolda Maluku hanya 5 km. kurang dari satu kilometer dari tempat kejadian. malah sebaliknya membiarkan orang-orang kalap itu maju dan menyerang sejumlah warga yang tinggal di sekitar desa Benteng Pantai. Yang terjadi bukan lagi kerusuhan antarwarga kampung seperti dipersepsikan secara umum. seperti diajukan oleh polisi bahwa mereka kesulitan alat komunikasi. . karena warga masyarakat itu sadar mau diserang. MP. Di satu pihak. Karena terdesak. Tak terlalu jauh untuk dapat ditangani atau malah ditunggangi. Pertama. tidak maju. sekumpulan warga desa Benteng pantai berkumpul untuk membela diri dengan cara menghadang mereka yang mau menyerang. sejumlah anggota alat keamanan berada di lokasi kejadian. 20 Januari 1999. satu di antaranya tewas.

bersikap "waspada". Penutup . Meskipun pihak polisi secara tak langsung mengakui adanya "provokator". Tidak mustahil bila mereka berangkat untuk saling menyerang lagi. Sangat mencurigakan. seperti yang sering dinyatakan oleh para pimpinan tentara negeri ini? Tak ada penjelasan lain yang masuk akal mengenai diamnya dan tidak mampunya aparat keamanan dalam mengatasi kerusuhan selain penjelasan bahwa militer dan polisi adalah bagian dari kerusuhan. Polisi tidak melakukan tugasnya untuk memberi penerangan yang layak sehingga bukan keamanan yang tercipta. situasi mengambang. kemudian ikut bergabung dengan kelompok tersebut dan melakukan penembakan. kenapa tentara dan polisi diam saja. Justru situasi mengambang yang tercipta. Apalagi banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya dan berita buruk tentang banyaknya orang yang kehilangan anggota keluarga sudah menimbulkan rasa tak tenang dan luka batin. Situasi ini menimbulkan rasa tak pasti dan saling curiga di antara warga masyarakat.Pada peristiwa kerusuhan di Pulau Haruku. Dapat disimpulkan di sini bahwa terbatasnya informasi. Pada peristiwa yang sama aparat keamanan berinisial MK dan IL tampak memberikan aba-aba menyerang dan kemudian bergabung dengan salah satu pihak yang bertikai dan melakukan penembakan. para penjaga keamanan. Alat keamanan tinggal diam. Sikap aparat ini justru menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. aparat keamanan terkesan melindungi dalang dan pelaku kerusuhan.3) Tak ada yang bisa disimpulkan dari pertanyaan dan ungkapan "keterlibatan orang-orang dari Jakarta" yang terujar seolah-olah tak bersalah dari mulut seorang penanggung jawab keamanan seperti itu. Perasaan seperti ini mudah sekali menyebar ke mana-mana di antara seluruh lapisan masyarakat. bagaimana menjelaskan retorika para elite militer bahwa seharusnya mereka. Kepada wartawan Antara. karena kerusuhan yang berakibat tewasnya ratusan orang menjadikan situasi batin masyarakat menjadi peka. kemarahan dan dendam telah membuat orang semakin sulit menggunakan akal sehatnya. Setidaknya walaupun pikiran semacam itu dipandang terlalu menyeleweng. tetapi malah sebaliknya. Keenam. apakah mungkin mereka tidak terlibat? Ini mencurigakan. terlalu minim untuk ukuran kerusuhan yang demikian luas dan begitu banyak korbannya. Kejanggalan-kejanggalan yang digambarkan para saksi mata di lokasi-lokasi kerusuhan itu menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana posisi dan peran aparat keamanan dalam kerusuhan yang berlebih-lebihan itu. aparat keamanan berinisial SF mengganti pakaian seragam militer yang dikenakannya dengan pakaian dari salah satu kelompok yang bertikai. tidak tanggap. Terlalu sedikit. sehingga muncul pikiran. Kapolda Maluku Kol (Pol) Drs Karyono S hanya mengatakan: "Tersangka kerusuhan di Ambon yang kini tengah diperiksa secara intensif mengakui adanya keterlibatan orang-orang dari Jakarta". pada dasarnya informasi yang diberikan pada masyarakat sangat sedikit.

dll. khususnya masyarakat Ambon Lease. baik dari segi kekerasan yang berlangsung maupun korban-korbannya. Tasikmalaya.. yang semuanya memberikan petunjuk jelas tentang keterlibatan militer. mengajak masyarakat sipil. Kami. Kedua belah pihak akhirnya sama-sama menderita dan menanggung kerugian-kerugian yang mendalam dan menyedihkan. tapi menyangkut kekerasan dan keutuhan tubuh manusia.Gambaran tentang pola dan fakta kerusuhan Ambon pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengan kerusuhan-kerusuhan massal yang terjadi sebelumnya di daerah-daerah lain di Indonesia: tragedi 27 Juli. Mengatur tata sosial dan keamanan sendiri adalah jauh lebih penting ketimbang bergantung pada kekuatan militer dan polisi. Sementara para dalang dan pelaku kerusuhan tak pernah tersentuh hukum dan dengan mudah melepas tanggung jawab atas semua peristiwa rusuh yang terjadi. Anggota masyarakat tentu boleh berbeda pendapat. Jika kita bersandar pada sumber-sumber yang berasal dari kedua belah pihak yang berbeda agama dalam kerusuhan Ambon. yang jelas-jelas lebih mengutamakan kepentingan elite politik dan kepentingan korps-nya ketimbang kepentingan keamanan masyarakat. berbeda keyakinan agama. yaitu: o o o o o o o o o Digunakannya simbol-simbol agama untuk membangkitkan sentimen agama dan etnis Upaya mobilisasi massa penyerang Upaya provokasi untuk menjebak massa dalam aksi kekerasan Upaya memecah belah dan menghancurkan basis pertahanan masyarakat sipil Penyamaran Penyerangan sporadis Teror Operasi intelejen/manajemen issue Pemutarbalikan fakta dan penciptaan kambing hitam Fakta di seputar kerusuhan itu dapat menjadi dasar bagi kita semua. hanya penegakan hukumlah yang diperkenankan berperan. tragedi "Dukun Santet". Kerusuhankerusuhan itu menunjukkan kesamaan pola. untuk bersikap terhadap konteks beda agama dalam memahami kerusuhan. Sambas. untuk memahami apa yang sebenarnya bisa dan harus dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. tragedi Mei 1998. Kepastian hukum haruslah melatarbelakangi semua penyelesaian . baik Muslim maupun Kristen. Tidak ada satu pihak pun. para relawan dari berbagai latar belakang agama dan etnis. yang dapat memonopoli sepenuhnya atas "kebenaran peristiwa rusuh yang terjadi". kami. masyarakat sipil. kita akan sampai pada suatu relativitas dalam bersikap terhadap semua kekejian itu. Militer dan polisi pada kenyataannya telah gagal dalam menjalankan tugasnya menjaga keamanan masyarakat. Ketapang. para relawan pekerja kemanusiaan. Untuk itu. Situbondo. mengajak segenap warga masyarakat sipil ² khususnya yang menjadi bagian dari masyarakat Ambon-Lease² untuk menegakkan kemandirian masyarakat sipil. berbeda dalam menafsirkan sejarah masing-masing. Kupang.

"Detak" dan media internasional: Associated Press (AP). pembantaian. pembunuhan. "Penabur". Human Rights Watch 3.masalah yang berkaitan dengan kekerasan. perusakan. Yayasan Sala Waku Maluku. 21 September 1999 Wassalam TRK Ambon 1. Jakarta Post. Kami percaya bahwa masyarakat memiliki ketahanan diri dan mampu membangun kembali masyarakat sipil yang merdeka. Asian Human Rights Watch di New York. perbedaan memperkaya rasa saling percaya dalam masyarakat. Tim Penyusun Fakta Yayasan al-Mukmin di Jakarta. mingguan "Sabili". "Tifa". * Tulisan ini disusun berdasarkan hasil investigasi berbagai kelompok dan media massa: Tim Pencari Fakta dari Partai Keadilan cabang Ambon. Agence France Presse (AFP) . Reuters. KONTRAS. "Tajuk". Berita Utama. Media massa: Mingguan berita "Umat". 26 Januari 1999. Perbedaan kiranya tidak dapat menjadi alasan yang mendasar untuk mengarahkan kehancuran pada masyarakat itu sendiri. Jakarta. Tim Relawan (Tirus) di Ambon. Justru sebaliknya. 2 September 1999 2. "Tempo".