P. 1
Kelompok Islam Minoritas Jawa Tengah

Kelompok Islam Minoritas Jawa Tengah

|Views: 2,434|Likes:
Published by Adi Kiswanto
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Adi Kiswanto on Feb 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

1. Sejarah Singkat

Secara nasional Kelompok Jamaah Syahadatain telah terdaftar di

Departemen Agama urutan ke-56 dengan nomor administrasi

D.III/OT.014/174/2001 tanggal 8 Mei 2001. Sedangkan di Departemen Dalam

Negeri telah didaftarkan pada tanggal 28 Maret 2001 dengan Nomor Surat

05/B/DPP/III/2001 dan diterima keberadaannya berdasarkan Surat Nomor

Inventaris : 39/D.I/IV/2001. Dalam surat ini dijelaskan sifat kekhususan adalah

Kesamaan Agama Islam dengan nama organisasi Jamaah Asy Syahadatain

Indonesia.

Keberadaan Syahadatain sebagai kelompok keagamaan yang berada di

Kabupaten Banyumas ini berasal dari Cirebon Provinsi Jawa Barat. Kelompok

ini berdiri pada tahun 1945 di Kabupaten Banyumas tepatnya di Desa Purbadana

Kecamatan Kembaran Purwokerto. Proses berdirinya berawal kepulangan Kyai

Husein (almarhum) dari Pondok Pesantren Tebuireng (Jamsaren) Provinsi Jawa

Timur dan melanjutkan untuk memperdalam ilmu agama ke Cirebon tepatnya

pada Kyai Abah Umar dan Abah Ismail. Pada saat belajar untuk memperdalam

inilah Kyai Husein aktif dipengajian yang didirikan oleh Kyai Abah Umar

dengan nama pengajian AsySyahadatain.34

Berdirinya kelompok Syahadatain di Desa Purbadana adalah diawali

dengan pendirian masjid Syahadatain oleh Kyai Husein yang didukung oleh

34

Pada saat Kyai Husein (almarhum) berangkat ke Cirebon ditemani oleh Kyai Abdul Shomad dan
bersama-sama berguru pada Abah Umar dan Abah Ismail. Namun demikian, setelah pulang
keduanya tidak memiliki pemahaman yang sama dalam pengembangan agama melalui dakwah. Kyai
Abdul Shomad memilih untuk tidak mengembangkan Syadatain melainkan lebih mengembangkan
Tarekat Syadzaliyah dan berdakwah ke berbagai daerah. Kedua Kyai muda tersebut pada akhirnya
harus berpisah untuk membawa misi yang berbeda, yaitu Kyai Husein lebih memilih Syahadatain
untuk menerapkan metode berdakwah dan menganggap sebagai kelompok yang mempertahankan
organisasi Nahdlotul ‘Ulama (istilahnya NU yang konsekuen), sedangkan Kyai Abdul Shomad
memilih berdakwah dengan “gaya” NU sebagaimana yang dikembangkan oleh NU umumnya.

28

adiknya (Kyai Mustangin)35

dan putra-putranya. Proses pendirian masjid ini

tidak dipermasalahkan oleh warga setempat meskipun tidak jauh dari masjid

Syahadatain terdapat masjid yang lebih banyak dikunjungi ketika shalat Jum’at.

Menurut Kepala Desa (Bapak Warsito) keberadaan masjid Syahadatain tidak

mengganggu lingkungan sekitar,36

baik pada saat melakukan kegiatan

Dzikir/Tahlil dan Yasin setiap Kamis malam jum’at maupun tawasulan setiap

hari Minggu malam Senin.

Perkembangan kelompok Syahadatain untuk wilayah Desa Purbadana

tidak terlalu pesat, hal ini dikarenakan proses ”ritual” yang diselenggarakan

ketika dzikir, Tahlil maupun Tawasulan terlalu lama sehingga peminatnya tidak

banyak. Menurut Warsito, bahwa keengganan anggota masyarakat untuk tidak

mengikuti lebih dikarenakan tidak kuat mengikuti acara ”ritual” dzikir maupun

tawasulan. Apabila dilihat dari aspek ibadah shalat tidak ada masalah dan bisa

diikuti oleh seluruh umat Islam.37

Jumlah anggota jamaah kelompok Syahadatain pada awalnya hanya pada

lingkup keluarga Kyai Husein, namun demikian dalam perkembangannya telah

diminati oleh beberapa orang dari berbagai wilayah di luar Kecamatan

Kembaran. Secara administrasi tidak terdapat jumlah yang pasti, hanya saja

menurut Ahmadi (Anggota sekaligus putra Kyai Mustangin) jumlah jamaah

sekitar 200 orang, hal ini akan terlihat ketika penyelenggaraan acara ”Rajaban”

dan acara besar lainnya yang melibatkan seluruh anggota jamaah.

2. Paham Keagamaan

Sumber ajaran yang dipedomani oleh warga Jamaah Kelompok

Syahadatain sama dengan umat Islam pada umumnya, yaitu berpedoman pada

Al Qur’an dan Hadits atau Ahlul Sunnah wal Jamaah. Selain kedua dasar utama

35

Kyai Mustangin adalah adik kandung Kyai Husein yang memiliki kemiripan dari berbagai aspek,
terutama dalam aspek fisik. Kyai Mustangin ini secara otomatis menjadi pimpinan Syahadatain setelah
Kyai Husein meninggal dunia pada bulan Maret 2008.

36

Dari hasil pengamatan, bahwa jumlah jamaah shalat jum’at kurang dari 30 orang laki-laki dan 5 orang
perempuan. Adapun jamaah yang shalat jum’at lebih banyak dari wilayah yang cukup jauh sehingga
kebanyakan mereka memakai kendaraan roda dua, sedangkan anggota masyarakat sekitar lebih
memilih shalat jum’at di masjid umum.

37

Anggota kelompok Syahadatain termasuk golongan usia yang telah lanjut dan sudah berkeluarga,
meskipun ketika shalat terlihat anak muda usia yang berjamaah dan berjubah putih. Sementara itu,
orang tua Warsito sebagai Kepala Desa termasuk pengikut setia kelompok Syahadatain.

29

tersebut juga mengikuti paham Sunni yang melekat pada organisasi Nahdlotul

’Ulama. Bagi Kelompok Jamaah Syahadatain, bahwa Al Qur’an dan Al Hadits

itu sebagai sumber utama yang paling agung, akan tetapi untuk menambah

amalan-amalan ibadah lainnya dibutuhkan pedoman lain yang melekat pada

guru atau berusaha menjalankan amalan seperti yang dijalankan oleh gurunya.

Menurut H. A. Mawardi yang menjadi pengikut sejak tahun 1972 bahwa

ajaran yang dijalankan oleh anggota kelompok Syahadatain adalah sebagaimana

yang dilakukan dan diajarkan oleh guru pendahulunya di Cirebon dengan tidak

mengurangi sedikitpun dan ajaran tersebut sama dengan yang dijalankan oleh

anggota jamaah Nahdlotul ’Ulama (NU). Oleh karena itu, kelompok ini merasa

kelompoknya adalah pengikut NU yang konsisten. Hal ini dilihat dari misi

utamanya adalah mengistiqomahkan masalah sunnah, seperti selalu bersorban

putih, selalu menjalankan sunnah Rowatib dan selalu menjalankan shalat sunnah

Dhuha dan Tahajjud.

Sebagai pelengkap untuk melakukan amalan ibadah setelah shalat fardlu

digunakan buku pedoman yang diberi nama Aurod Asy-Syahadatain. Buku ini

berisi tentang bacaan sebelum melakukan shalat fardlu (puji-pujian), do’a buka

puasa sebagaimana yang dibaca umat islam lainnya, niat shalat sunnah,38

niat

shalat fardlu dan beberap do’a pada umumnya.

Selain niat dan do’a di atas, buku ini juga menuntun jamaah untuk

melakukan wirid dengan nama Aurod Ati Saalim yang diawali dengan Syahadat

3 kali, istighfar 100 kali, Dzikir 100 kali, Alloh 100 kali, Huu 100 kali yang

dilanjutkan dengan kalimat Huwalloohu ahad …. Sampai surat al Ikhlas selesai..

Bacaan dilakukan setelah shalat fardlu habis maghrib dan isya terutama malam

Jum’at. Sedangkan bacaan lainnya yang diberi nama tawasulan dibaca setiap

hari Ahad malam Senin.39

38

Dalam pelaksanaan shalat sunnah ini terdapat shalat sunnah Daf’il Balaa’ dan shalat Isyrooq yang
dilakukan dengan dua rokaat.

39

Pelaksanaan pembacaan Aurod ATi Salim setiap malam jum’at adalah dikarenakan setiap hari kamis
sore Ruh orang yang sudah meninggal datang kepada keluarganya, sehingga diupayakan setiap sejak
sore sebelum maghrib sudah mulai dibacakan wirid dan do’a-do’a agar ruh yang datang merasa senang.
Sedangkan untuk tawasulan dilakukan setiap hari ahad (minggu) malam senin dikarenakan senin adalah
hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga harus selalu diingat dan dibacakan do’a dengan tawasul
agar limpahan rahmat, berkah dan hidayahnya melimpah kepada umatnya terutama kepada yang
membaca.

30

Baik pujian maupun dalam membaca wirid dan bacaan lainnya tidak

semuanya dalam bentuk bahasa Arab melainkan juga bahasa Jawa. Khusus

untuk pujian, sebelum melaksanakan shalat fardlu berbeda lafadz atau bacaan-

bacaan yang dibaca. Misalkan pada saat akan shalat dhuhur pujian yang dibaca

diawali dengan kalimat Robbanaa Dholamna….., dan pada shalat ashar pujian

dalam bentuk shalawatan yang diawali dengan kalimat Alloohumma Sholli ‘Alaa

nuuril anwaari.

a. Aqidah

Terkait dengan akidah yang dikembangkan oleh kelompok

Syahadatain tidak berbeda dengan umat Islam lainnya. Hal ini terlihat dari

keyakinan terhadap rukun iman yang enam, yaitu iman kepada Allah SWT,

malaikat, rasul, kitab, hari akhir, qodha dan qodar. Menurut H. A. Mawardi,

bahwa aqidah yang dikembangkan dalam kelompok Syahadatain sama sekali

tidak ada perbedaan, yaitu tetap menganut pada keyakinan yang 6 sebagai

rukun iman. Keyakinan ini tidak lagi dibicarakan dalam kelompoknya

dikarenakan sudah pasti dan tidak akan ada perubahan.

Keyakinan terhadap rukun iman ini juga nampak dari lafadz-lafadz

yang dibaca setelah shalat wajib dengan menempatkan Malaikat setelah para

Nabi. Sebagai contoh ketika shalat maghrib selesai (Aurod Ba’dal Maghrib)

dilakukan bacaan Syahadat 3x, Istighfar 7 x, Subhanalloh 3 x, Al

Hamdulillah 3 x, Allohu Akbar 3 x, Dzikir 11 x, shalawat 7 x dilanjutkan

dengan bacaan do’a dengan wasilah kepada para Rasul dan juga para

Malaikat.40

b. Syariat

Rukun Islam yang menjadi rujukan atau yang dipedomani oleh

kelompok Syahasdatain juga sama dengan umat Islam lainnya, yaitu

Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Syahadat yang dikenal adalah

Syahadat Tauhid untuk mengesakan Allah SWT dan syahadat Rasul untuk

meyakinan utusan Allah SWT. Begitu juga dalam persoalan shalat,

kelompok Syahadatain berpegang pada adanya shalat wajib (fardlu) dan

40

Aurod Asy-Syahadatain, Buku Pedoman kelompok Syahadatain.

31

shalat sunnah. Untuk shalat fardlu dilakukan sama dengan umat Islam

lainnya, yaitu 5 waktu (Isa, Subuh, Luhur, Asar dan Maghrib). Sedangkan

untuk shalat sunnah terdapat shalat sunnah yang tidak dikenal oleh ummat

Islam pada umumnya, yaitu shalat sunnah Daf’ul Balaa’ yang dilakukan

setelah shalat Isya dengan jumlah rakaat 2 rakaat.

Dalam shalat sunnah Daf’ul Balaa’ ini terdapat aturan-aturan

tertentu, yaitu bacaan setelah shalat adalah Syahadat 3 kali, istighfar 7 kali

dan surat-surat pendek lainnya, seperti Alqodr, Ayat Kursi, Al Fiil.

Pembacaan surat diawali dengan kalimat Allohumma bihaqqi Alam Taro….

Dilanjutkan shalawat sampai ke khalifah dan dilanjutkan dengan kalimat

bahasa Jawa seperti Abdi Tiyang odo tiyang salah nuhun gendul nuhun

Syafaat kanjeng Nabi Muhammad SAW…… Menawi wonten bala fitnah

saking kilen tidingna ngilen( terus) nyebul ngulon.

Rangkaian selanjutnya dalam melakukan shalat tolak bala’ ini adalah

menghadap ke barat (Madep Ngulan) dengan membaca surat Al Qodr

dilanjutkan Laailaahaillallah Muhammadurrosuulullah menawi wonten bala

saking ler sapunana ngaler – nyebul ngalor. Hal ini dilanjutkan dengan

menghadap ke timur (mdep ngetan), madep ngidul, dan madep ngulon

dangak mundur dengan bacaan yang tidak jauh berbeda.

Dalam shalat wajib secara umum tidak ada perbedaan yang berarti.

Hanya saja ketika shalat Jumat terdapat perbedaan yang nampak dari

keumuman yang dilakukan oleh masyarakat NU. Perbedaan tersebut antara

lain jumlah jamaah shalat Jum’at tidak harus 40 orang sebagaimana yang

dilakukan di masjid NU umumnya, Jamaah kebanyakan berasal dari luar

wilayah desa Purbadana dan shalat sunnah qobliyah maupun ba’diyah

dilakukan secara berjamah.

Puasa, zakat dan haji yang dijadikan pedoman sekaligus dilaksanakan

oleh kelompok Syahadatain tidak berbeda dengan masyarakat Islam pada

umumnya, yaitu puasa wajib dilaksanakan ketika bulan Ramadhan dengan

mengikuti pemerintah untuk mengawali dan mengakhiri. Adapun untuk

shalat Iedul fithri maupun Iedul Adha dilaksanakan di Masjid Syahadatain.

Begitu juga zakat yang dilakukan adalah zakat fitrah sebelum shalat Iedul

32

Fithri dan Haji diwajibkan bagi yang memiliki kemampuan secara finasial

dan fisik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->