P. 1
Kelompok Islam Minoritas Jawa Tengah

Kelompok Islam Minoritas Jawa Tengah

|Views: 2,434|Likes:
Published by Adi Kiswanto
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Adi Kiswanto on Feb 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2013

pdf

text

original

a. Interaksi Sosial Keagamaan

Interaksi sosial Jamaah Tabligh di Desa Krincing Kecamatan Secang

Kabupaten Magelang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu interaksi warga

Pondok Pesantren Jamaah Tabligh dan Kelompok Tabligh (Khuruj).

1). Warga Pondok Pesantren Jamaah Tabligh

Warga Pondok Pesantren Jamaah tabligh Desa Krincing dapat

dikatakan hanya ada dua macam interaksi sosial keagamaan dengan

masyarakat sekitar, yakni pada malam Jum’at dan sehabis shalat Maghrib.

Hal itu dengan pertimbangan bahwa mereka di pondok memang hanya untuk

ta’lim maupun takhfidz. Oleh karena itu, perihal kehidupan sosial

keagamaan merasa dicukupkan dari pondok pesantren.

Realita semacam itu dapat difahami, bahwa warga pondok tersebut di

atas memang memfokuskan pada pendalaman terhadap materi-materi

keagamaan (Islam) yang bersumber dari kitab-kitab kuning (klasik). Bahkan

menurut salah satu informan menjelaskan, bahwa pondok tersebut memang

mempertahankan sistim salafi. Jadi dalam kehidupan sehari-hari warga

pondok (santri) hanya belajar/mengaji. Oleh karena itu para santripun tidak

pernah dapat melihat TV, membaca koran, menggunakan HP maupun

mendengarkan radio.

Untuk interaksi sosial yang lain yang dilakukan adalah melakukan

silaturahmi ke rumah-rumah warga yang tinggal di sekitar masjid. Adapun

maksud silaturahmi adalah dalam rangka tabligh kepada warga sekitar untuk

memakmurkan masjid khususnya ketika shalat berjamaah.

49

Dalam pelaksanaan pernikahan selain dinikahkan oleh KUA, anggota LDII juga mengadakan
pernikahan khusus yang dilaksanakan secara internal. Menurut Bambang S., bahwa pelaksanaan seperti
itu tidak ada masalah karena berkaitan dengan keyakinan dan tidak mengganggu lingkungan masyarakat.

60

2). Kelompok Tabligh (Khuruj)

Jamaah Tabligh di samping mempunyai kegiatan menyelenggarakan

pendidikan dalam pondok pesantren juga terdapat kegiatan yang secara

realitas empirik lebih dikenal luas oleh masyarakat muslim Indonesia, yaitu

berupa Tabligh (dakwah) secara keliling dari masjid ke masjid di seluruh

wilayah Indonesia atau yang oleh warga jamaah Tabligh disebut sebagai

Tabligh Khuruj.

Pelaksanaan tabligh (khuruj) itu dirancang dengan model kelompok-

kelompok yang setiap kelompok terdiri sekitar 10 irang. Kemudian dari

kelompok-kelompok itu melaksanakan tabligh di sebuah masjid tertentu

dalam waktu sekitar 3 hari. Pada kegiatan tabligh khuruj itu mereka biasa

memakai pakaian muslim (gamis).

Setelah selesai melaksanakan tabligh di sebuah masjid daerah

tertentu, kelompok Jamaah Tabligh tersebut berpindah ke masjid daerah

lainnya. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tabligh khuruj itu pada

intinya adalah untuk mengajak salat berjamaah anggota masyarakat sekitar

masjid yang menjadi sasaran tabligh. Selain itu, mereka juga melakukan

silaturahmi ke rumha-rumah (door to door) warga muslim di sekitar masjid

itu. Jadi secara sederhana dapat difahami, bahwa kegiatan tabligh khuruj

yang dilakukan oleh Jamaah Tabligh adalah tabligh (dakwah) agar

masyarakat mau dan membiasakan salat berjamaah di masjid.

Berdasarkan dua jenis kegiatan sosial keagamaan Jamaah Tabligh di

muka memberikan deskripsi bahwa kelompok tersebut hanya sebatas pada

saat adanya pengajian akbar setiap malam jum’at yang mempunyai konotasi

sebagai adanya interaksi sosial keagamaan dengan masyarakat sekitar

(daerah Krincing). Sedangkan interaksi sosial keagamaan kelompok

Jamamaah Tabligh dengan masyarakat muslim di sekitar masjid yang

amenjadi sasaran tabligh khuruj juga hanya sebatas silaturahmi dengan

masyarakat.

Dengan demikian interaksi sosial keagamaan kelompk Jamaah

Tabligh ada terkesan eksklusif, sebab pada kegiatan-kegiatan keagamaan

yang diselenggarakan oleh masyarakat maupun pemerintah setempat mereka

61

tidak berpartisipasi. Hal itu memang sesuai dengan misi jamaah Tabligh

bahwa kelompk Jamaah Tabligh yang berada dalam pondok pesantren hanya

untuk mendalami ta’lim dan takhfidz. Sedangkan kelompok Jamaah Tabligh

yang di luar pondok pesantren menurut persepsi masyarakat juga kurang

berinteraksi dalam hal keagamaan.

Bagi masyarakat muslim sekitar sentral kelompok Jamaah Tabligh,

mereka (kelompok Jamaah Tabligh) dalam bertabligh (dakwah) ada satu hal

yang dipandang kurang etis, kurang menarik, dan bahkan sudah tidak

relevan. Adapun model tabligh itu adalah dakwah door to door50
.

b. Interaksi Sosial Kemasyarakatan

Ada dua hal yang dapat dipahami dari interaksi sosial kemasyarakatan

kelompok Jamaah Tabligh Desa Krincing Kecamatan Secang Kabupaten

Magelang, yaitu interaksi sosial pada saat melakukan tabligh khuruj (keluar) dan

dalam lingkungan pondok pesantren. Secara otomatis kelompok Jamaah Tabligh

pada saat melakukan kegiatan tabligh khuruj sudah pastu melakukan interaksi

dengan masyarakat muslim di sekitar masjid yang menjadi objek tablighnya.

Interaksi sosial kelompok Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim di

sekitar masjid tersebut sebenarnya bukan merupakan interaksi dalam pengertian

hubungan timbal balik antara dua belah pihak sebagaimana yang telah

didefinisikan oleh pakar interaksi. Tetapi interaksi itu hanya sebatas kegiatan

silaturahmi kelompok Jamaah Tabligh ke rumah-rumah warga muslim di sekitar

masjid dengan maksud untuk mengajak lebih meningkatkan ibadah salat

berjamaah di masjid. Jadi interaksi sosial kemasyarakatan yang dilakukan

kelompok Jamaah Tabligh dalam hal ini hanya sebatas kegiatan silaturahmi.

Oleh karena itu tanpa kegiatan itu, tidak tercipta interaksi antara kelompok

Jamaah Tabligh dengan masyarakat muslim di sekitar masjid yang menjadi

sentral kegiatan.

Dengan kegiatan tabligh khurujyang dilakukan oleh kelompok Jamaah

Tabligh sebagaimana di atas ternyata menimbulkan persepsi pro dan kontra di

kalangan masyarakat. Bagi yang berpersepsi pro mengatakan, bahwa kegiatan

50

Hasil wawancara dengan seorang tokoh agama pada tanggal 31 Mei 2008.

62

tabligh khuruj door to door itu menunjukan bahwa mereka mempunyai i’tikad

baik dalam bermasyarakat. Sebab apapun bentuk kegiatan yang dilakukan

kelompok Jamaah Tabligh itu (khuruj) berarti mereka hendak menjalani

interaksi positif dengan masyarakat.51

Kemudian bagi yang berpersepsi kontra mengatakan bahwa, kegiatan

tabligh khuruj yang dilakukanJamaah Tabligh dengan model door to door itu

dipandang sebagai hal yang kurang menarik dan bahkan mengganggu

ketenangan masyarakat. Sebab apapun alasannya masyarakat yang didatangi

oleh kelompok Jamaah Tabligh itu akan muncul pertanyaan mau apa dan hendak

mengajak beragama macam apa dan sebagainya. Bagi warga masyarakat yang

kemampuan beragamanya sedang-sedang saja atau bahkan kurang, maka tentu

tidak akan mempermasalahkannya. Tetapi sebaliknya, bagi warga masyarakat

yang kemampuan agamanya sudah tinggi, maka akan menjadi risih dan tidak

simpatik.52

Dengan demikian interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah

Tabligh dalam kegaiatan khuruj itu menimbulkan pro dan kontra dalam

kehidupan masyarakat sekitar masjid. Terlepas adanya persepsi pro dan kontra

itu, dalam pembahasan ini interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah

Tabligh dengan masyarakat muslim sekitar masjid yang menjadi sasaran

tablighnya belum terwujud dengan baik.

Selanjutnya, interaksi sosial kemasyarakatan kelompok Jamaah Tabligh

yang berada dalam pondok pesantren desa Krincing Kecamatan Secang

Kabupaten Magelang dengan masyarakat sekitarnya tampak eksklusif. Sebab

warga pondok Jamaah Tabligh dengan masyarakat sekitar dapat dikatakan

hampir tidak pernah berinteraksi dalam keidupan sehari-harinya. Hal itu

disebabkan bagi warga (kelompok) Jamaah Tabligh dalam pondok pesantren

hanya fokus pada belajar ta’lim dan ahfidz.

c. Interaksi dengan Pemerintah/Sosial Politik

Interaksi kelompok Jamaah Tabkligh dengan pemerintah setempat dapat

dikatakan hampir tidak ada, khususnya bagi warga pondok pesantren. Tetapi

51

Hasil wawancara dengan informan masyarakat tanggal 31 Mei 2008.

52

Hasil wawancara dengan tokoh agama tanggal 30 Mei 2008.

63

bagi kelompok Jamaah Tabligh yang bukan warga pondok pesantren tersebut

terdapat interaksi dengan pemerintah setempat. Hal ini terbukti dengan adanya

dari anggota kelompok Jamaah Tabligh ada yang menjadi pengurus RT maupun

RW. Kondisi seperti ini menunjukan, bahwa anggota kelompok Jamaah Tabligh

yang non warga pondok pesantren ada interaksi dengan pemerintah setempat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->