P. 1
Lulu_835280_ek-isi

Lulu_835280_ek-isi

|Views: 188|Likes:
Published by sviridi

More info:

Published by: sviridi on Feb 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/30/2012

pdf

text

original

Sections

  • Perubahan-perubahan
  • Hakim Haus Darah
  • Penjaga Keseimbangan
  • Orang-orang Abadi
  • Menari Bersama Air

Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

Bantuannyalah yang berarti bagi kami. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama. Mendengar ini ini. Tapi semua orang tahu.12 BAGIAN 1. Keheningan itu tidak sia-sia. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu.” kata Asap dengan sejujurnya. Asap menjadi malu dan takhluk. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. melalui suatu cara tertentu. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja.” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. tak tega rasanya Ki Gisang. Hening dan sunyi.” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata. Katanya kemudian. Dan ia masih bertanya-tanya lagi. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya. Jika saudara beruntung. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini. selalu ingin tahu dan penasaran. penghuni hutan dan gunung.” Kemudian lanjutnya. mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin . karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana. Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu. bahwa mereka memang harus menunggu.

sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu.” jawab Gisang dengan yakin.” ucap Tampar. maaf bila saya masih bertanya. ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang.. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita.” sahut Ki Tapa dengan gembira. ”Kalau menurut saya. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing.. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya. Yunani.13 utama: utara.” jawab Ki Tapa. Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri. ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda. apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut. ”Benar. dari pada keliru di kemudian hari.” ... ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir.” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung.. ”Ki Tapa.. benar. ”Begini Ki Tapa. sang pertapa tua sambil tersenyum.. timur. Lebih baik sekarang bertanya.” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik. lambang-lambang ini. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan... selatan dan barat. kamu benar sekali Gisang.

akan tetapi dari negeri seberang. Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. akan tetapi karena ada . sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban.” Ki Tapa terdiam sejenak. sehingga tanah di sana. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. ”Alasannya sudah tua sekali. dapat diolah oleh mereka. Mereka tidak suka. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu.14 BAGIAN 1. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus. Bukan menjadi lahan pertanian. Dari gurunya. kakek guruku dan guru dari kakek guruku. Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. sampai ia tiba di desa ini. ”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. ”Guruku. mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. Lanjutnya. Pikiran harus bersih. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya.” ucap Ki Gisang sambil menerawang. Bertahun-tahun sejak itu. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya. bahkan lebih tua dari umurku ini.

Ki Patuh. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah. agar penghuni desa yang tandus itu pindah. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya. Dan terpilihlah guru dari kakek guruku.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang. yang berasal dari tanah seberang. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. Ia melihat ketidak-adilan tersebut.” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. akan tetapi usul tersebut ditolak.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut. dan memberikan tanahnya kepada mereka. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim. . Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya. sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya. untuk mengairi ladang-ladang mereka. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih.

kering. apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. yang berarti pertama. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal. Jurus Api. menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. api. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. Jurus Tanah dan Jurus Air. Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. ”akan tetapi Ki Tapa. adanya racun dalam udara. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar.16 BAGIAN 1. Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. selatan. kedua. Kakek guruku adalah Ki Tilu. Demikian pula dengan tanah. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. . timur. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. utara dan barat. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. Ki Tilu dan Ki Uu. dingin. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. Akant terjadi hujan. Ki Duo. ketiga dan keempat. basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. Pemaknaan keempat elemen (udara. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin. Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. Misalnya Jurus Udara.

sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah. ”Nah.” ”Akan tetapi. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus.” Lalu lanjut Ki Tapa. Dengan cara ini. sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut. bahan-bahan apa yang kurang.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti.” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.” lanjut Ki Tapa. agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu. orang dapat mencari-cari sumber air. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya. untuk mempelajarinya.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan. dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan. dengan mereka di belakangnya menda- . maka kehidupan mulai kembali berjalan. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa. bahkan di daerah yang kering sekalipun. Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin.

Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut. hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja.” Terdiam sebentar Ki Patuh.18 BAGIAN 1. kata Ki Tapa sebelumnya. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan.” sahut Ki Tapa. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. ”Memang benar. ”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut. sehingga .” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. ”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti. Kemudian lanjutnya. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari. tanpa pengetahuan ilmu bela diri. sambil sesekali menghela napas.” ”Tapi. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya.

” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu. Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut. sudah ditolong. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah. Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa. karena ia kebetulan memang penunggu makam.” bertanya Tampar kemudian. jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati. Berbulan-bulan di dalam tanah. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain.. kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah. walaupun suatu ilmu dimilikinya.” ”Jika hampir semuanya meninggal.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu.” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia. Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini.” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya.” sahut Ki Tapa gembira. Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun . ”Pertanyaan yang baik sekali. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam.. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah.

dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut.” lanjut Ki Tapa. sang penjaga makam. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah.” ”Saat itu sudah lewat petang. Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam. Dan ia tidak ingin. . Benar-benar cerita yang sukar dipercaya.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. melainkan hanya guruku. mirip posisi pusat dan empat mata angin. Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada. hiduplah ia. ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat. Ki Makam orang menyebutnya.20 BAGIAN 1. biar semua selesai. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu. selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur. orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. Dengan tak terlalu tulus. Ki Duwo di selatan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman. yang boleh melakukannya. dan hampir gelap. berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh. Lebih baik dikerjakan hari ini. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan.

tanpa terasa mulut mereka menganga. seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk . tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. Ki Tilu mencegahnya. yang didominasi oleh Tenaga Tanah. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya. bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. Ini yang membahayakan. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar. sehingga paru-parunya keracunan.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya.” Hening sejenak. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu. dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Setelah memperoleh penjelasan. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut. Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru. terharulah Ki Makam. jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya. hampir saja copot jantungnya. Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. walau hanya untuk beberapa jam. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya. meninggallah Ki Tilu.

” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya. Saat itu matahari sudah mulai turun. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang. Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar.” jelas Ki Gisang. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah. . Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan. ”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan. maka kami akan datang waktu subuh. Sebagai contoh bila kami yang bermasalah.” tambah Ki Gisang.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca. termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa. maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya.” kata Ki Tampar menjelaskan. Saat Ki Gisang hendak melanjutkan. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara.22 BAGIAN 1. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut.

Karena alasan yang dipikir jelas itu. Sesuai dengan pesan Ki Tilu. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan. Jika kakang terus yang bicara. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut.23 ”Kita masih punya banyak waktu. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. Suatu pukulan yang amat jahat. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin. Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. ia belum berani mencarinya. yaitu Ki Jagad Hitam. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di .” jelas Ki Gisang. akan tetapi salah seorang dari luar.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi. agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya. lelah nanti pasti. Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu. ”baiknya aku saja yang cerita kakang. memiliki kecerdikan yang sangat.

maaf. jantung. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup. Api. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan . Gajah Duduk.. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya. Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya. Tanah dan Air dilakukan. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan. ”Makam.” kata Ki Makam sambil terkejut.24 BAGIAN 1. Api. Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. pada suatu latihan. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. kakak Gajah. sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya. akan tetapi rusak isi perutnya. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. masih disimpannya di dalam hati. walaupun baru tingkat dasar. mungkin mereka dapat terluka dalam.. dengan tak sengaja. hati. Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin. paru-paru. Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk. Ngaco kamu!” ”Maaf. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun.

ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. maka posisi tersebut dimilikinya. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam. empat orang satu unsur. Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. Api. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh.25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. tetapi hal itu tidak dilakukannya. aman di tengah-tengah. Tanah dan Air. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang. Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. Dengan semakin . sedangkan lingkaran dalam. Dengan pengetahuan ini. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. yaitu Penjaga Udara. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. dibatasi hanya enambelas orang. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. yang juga guru pertamanya.

bahkan menambah rasa malu mereka. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. Mendengar ini. melabrak murid- . yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. akan tetapi di luar arena. Walaupun dengan tingkatannya. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. dan juga sang guru. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. Dari mutu ilmu kanuragannya. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka. hanya dua puluh murid tingkat satu. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin. akan semakin sulit tugasnya. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. akan tetapi dalam suasana persahabatan. sang guru. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. Memang benar dikatakan orang. Memang pada dasarnya darah muda. tanpa melakukan telaah lebih dulu. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. luka-luka dan sakit. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan. karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua. Penjuru Angin. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran. dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya.26 BAGIAN 1. dan ini membuatnya tidak terima. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin.

menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. yaitu Petapa Seberang. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot.27 murid Perguruan Atas Angin. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. Tak lama setelah rombongan berangkat. Menjadikan mereka bulan-bulanan. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda. telah siap untuk berangkat. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. terdapat pula tiga buah kitab lainnya. Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. . jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang.

” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil. Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. ”Di masing-masing sisi lubang ini. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. apa yang bisa disimpulkan di sana. tanpa kehilangan napas. Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu. yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. melainkan ke timur. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana. di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda.28 BAGIAN 1. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan. Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh. melainkan hanya menggesernya. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. Dengan dalih ingin segera menolong.

” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam. ilmu meringankan tubuh. ”Maaf guru.29 but. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. yang telah . berada di bawah kakinya sendiri. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut. sama sekali tidak ada jejaknya. ”Dia harus di cari guru. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan. harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu.” duga seorang dari Lingkaran Dalam. betul juga.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi.” kata Ki Jagad Hitam. bahkan prasasti itu sering digeser-geser. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. ”Betul guru!” sahut lainnya.” ”Di sini ada tulisan guru.” geramnya. ”Hmm. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. ”Makam si penghianat. walaupun tidak sejauh hari ini. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan.” ucap yang lain. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus. di sini tertulis empat kitab. ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang.

lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. dan bergegas menangkap Ki Tapa. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. Ki Jagad Hitam. Setelah ia merasa tiba waktunya. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. setelah . Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja. Sontak saja mereka kaget. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. melalui pengamatan auranya. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya.30 BAGIAN 1. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. Seperti telah diceritakan sebelumnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. Walaupun telah tua renta. Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin.

dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah.” sahut Ki Gisang. ”saudara Asap pemimpin rombongan. tampaklah seorang tua. Para anggota rombongan pun bergegas bangun. akan tetapi dengan nada yang berbeda. ”Wah ramai sekali di sini. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran. Tampar. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. berlakulah hormat. ”Ya.” sahut Asap hormat. ”Saya.” sambut Ki Tampar. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya. Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini.” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa.31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. ”dan siapa orang-orang ini. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat.” katanya riang.” kata Ki Gisang. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya. ”Ia datang. Ki Tapa. . rendah dan cepat lambat. Ki Tapa. di hadapan mereka. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini. Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap. Ki Tapa. Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini.

”jika sudah sembuh benar. Saat ia mengambil obat tersebut.32 BAGIAN 1.” ”Hmm. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas. Gisang. Mereka telah lama . ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan.” sahut Asap mewakili teman-temannya. ”Sudahlah.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur. barulah pergi.” ”Terima kasih Ki. Ki Gisang menggangguk pula.” ”Baik Ki. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara. berkatalah Ki Tapa. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing. bener-benar banyak ucap. Telebih tampak pada wajah si sakit. untung aku membawa kedua penawar tersebut.” gapainya pada kedua orang tersebut. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang. ini sudah kubuatkan obatnya. aku ingin bicara sebentar. ”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa.” jelas Asap. Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain.” sahutnya kurang senang. tanpa berbicara. Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja.” katanya. digigitlah tangannya. ”Tampar. saya juga setuju.” sahut Ki Tampar. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun.” ”Pilihan yang bagus. yang ahli obat-obatan. orang-orang Perguruan Atas Angin. Obat berhasil diperoleh.

harus mencari obatnya di sini.” ”Benar Ki Gisang. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau.” jelas Asap. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. pada suatu ketika. Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali.” ”Baik Ki.” sahut mereka hampir berbarengan. saat si sakit sedang dalam pengobatan.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas. selain sebagai penghubung. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh. ”ini pun menurut dia. ”Saudara Asap.” lanjut orang itu. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa.” jawab Asap dengan hormat. yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan. bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh. dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan.” katanya. ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh. ”Baiklah kalau kalian setuju. Mintalah obat kepadanya. Ki Gisang bertanya kepada Asap. dan bagaimana . Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu. ”Sebenarnya.” kata Ki Tapa kembali. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni.

*** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. pikirnya. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa. Lalu lanjut Ki Tampar. ceritakan hal tersebut. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah. Mereka lega karena Asap tidak berbohong. Seperti biasa . ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau.” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa. Mungkin juga bukan apa-apa. Pun saat ditanya. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa.34 BAGIAN 1. Dan malam pun semakin larut.

untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. Juru Karya dan Juru Cipta. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. di Desa Luar Rimba Hijau itu. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. pedagang dan pengrajin. Jika dihubungkan. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. atau ahli dalam bidangnya. karena harga-harga akan menjadi mahal. Juru Dagang. Dan pagi itu. Umum- . Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. dan pengrajin.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya. yaitu Juru Tani. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. pedagang. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya.

Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah. kita coba datangi saja mereka. kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut. Ki Surya. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. kita paranin saja. Akan tetapi hari itu.36 BAGIAN 1. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. sebelum mereka pergi ke luar dari desa. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini. ”Sudah.” sambut Ki Rabat. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan. seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya. Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini. Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya. jangan sam- . ”Benar usulnya itu.

untuk itu belum Ki Surya. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin. semua.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. Dan para pedangang itu tunduk.” jawab Ki Murah tersenyum. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini. ”Selamat pagi. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah. ”Ah. Lalu tanyanya pada Juru Dagang.” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya.” kata Ki Surya.” balas Ki Surya dengan ramah. ”masih satu bulan lagi.” sapa mereka hampir bersamaan. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini. ”Selamat pagi.” tanya Ki Surya setengah menggoda. . Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. para penduduk mengadakan perayaan.” jawab Ki Rabat. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya. ”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami.37 pai menimbulkan keributan. ”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya. karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya.” ”Usul yang baik itu. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka. Ki Surya.

Dan sebagai tanda kepercayaan. bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. sampai akhirnya.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah. Suatu pagi yang cerah. parit- .38 BAGIAN 1. Akan tetapi untuk memastikan hal itu. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa. perkebunan basah. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. Ia mengagumi sistem tatanan desa. ada perumahan. Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. perkebunan kering. dan juga sebagai petunjuk jalan. ”Baik Ki Surya. *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. Kemudian berlalulah Ki Surya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini. yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah.” jawab mereka serempak. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik.

Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami. entah itu hasil keluaran tubuh. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi. ”Begini nak Asap. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung. paman Baja?” tanya Asap ingin tahu. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut. membuat sejenis . karena letaknya yang jauh dari mana-mana.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. ”Jelasnya bagaimana. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. Apalagi mereka tidak mempunyai anak.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. dan adanya seorang muda seperti Asap. karena toh tidak akan terjadi apa-apa. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut. Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. membuatnya kerasan. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. istri Ki Baja. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif. Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. ”dahulu kala. Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran. Jarang ada orang yang bertandang kemari. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini. Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri. Hal lain terjadi.

Akibatnya sudah tentu fatal. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. Jika dahulu kala. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh. Hamparan Hijau mulai berkembang. Harus dicuci bersih sebelum . sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. Sedikit demi sedikit. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa.40 BAGIAN 1. yang diperoleh dari luar desa. Variasi apa yang dihasilkan. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. dan membuanngnya jauh di luar desa. akan tetapi pasti. Oleh karena saking gandrungnya. sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. dapat terbang bersama air dan angin. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. para penghuni desa jarang jauh keluar desa. Karena adanya kesibukan baru. Dan bila tidak baik bagi ternak. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan. dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada.

yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan. para penghuni Desa Ujung keracunan. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. Tinggal menunggu waktu untuk binasa. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. orang itu mengobati penduduk desa. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. Dan sampah-sampah yang tadinya . mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat. suatu pintu air dapat dibuka. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. sampai hampir membinasan satu desa. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan.41 dimasak.

ia dengan senang hati akan menolongnya. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa. Akan tetapi dari kisah Ki Baja. saat terjadi peristiwa tersebut. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. ”Untuk itu ada baiknya. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. telah terbuang banyak tenaganya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani. dialihkan ke dalam hutan.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Begitu pesannya. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. Bila ia ada kesempatan untuk .” jawab Ki Baja. Akan tetapi tidak tampak dari luar. karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana.42 BAGIAN 1. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita.

Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga. dirampas haknya. Membunuh demi kemanusiaan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang. tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’. Ironis bukan. dengan melayangnya nyawa. bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. Orang-orang sipil. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. ditindas kemauannya. mencegah terjadinya perang kembali. sudah merupakan anugrah yang me- . semua untuk kepentingan penguasa. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. Berperang. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. sudah dipastikan akan dilakukannya. rasa kebangsaanya. demi kemanusiaan dan kedamaian. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang. diperkosa kebebasannya. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit.

Pembesar menindas rakyat. yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet. pejabat menindas bawahan. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu. adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi. Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan.44 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. dan sebagainya. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. Boro-boro menurut. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. Bahkan di kali terakhir. Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. dengan masih ditemani oleh . Dalam keadaan luka parah dan depresi. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid. karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara. entah keturunan keberapa. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan. karena ditegur dengan keras.

kaum pemberontak. untuk murid yang telah ahli. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh. untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama. akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. Seperti gerak melingkar. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. Pada penggunaannya dalam pertempuran. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna. yang setia kepadanya. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. Hanya pikiran yang dibutuhkan. Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting. dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh. jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. membelokkan tenaga lawan. Selain dari pada itu.45 beberapa temannya. maka lain halnya dengan Petapa Seberang. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu).

saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan. Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya. Menyerang. suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal. ilmu pengetahuan. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru. memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido). Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. dan menjadi murid dari su- . pengobatan dan kebaikan. akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang. Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. Dalam pencerahannya ini.Seni Kedamaian. Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. kekuatan dari cinta kasih. Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang. dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. dinamakan .46 BAGIAN 1.

Petapa seberang memiliki satu kelemahan. Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya.47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. Akan tetapi walaupun demikian. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. Sejalan dengan berlalunya waktu. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. kedamaian dan ilmu pengetahuan. berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. yaitu: keberanian. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. kebersamaan. Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. pengorbanan. yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. tantangan. semuanya dicernanya dengan baik. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. yang dikenal sebagai Atap Langit. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. mengalah tetapi tidak kalah. dari arah putar kanan dan putar kiri. kepemimpinan. . terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang.

yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini. juga dengan pengikut lainnya. ia merasa belum apaapa. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. yang berarti Ilmu Muda Selamanya. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu. Usahanya tidak sia-sia. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . Master Tagasi. yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut. yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. penyakit.48 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. dan bersama-sama mereka. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. perlahan mulai hilang ditelan waktu. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. yang saat itu telah berjumlah lima orang. kesabaran dan ketenangan. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam.

Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil. Pergerakan Hawa. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. yaitu Cara Bernafas. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. Pemusatan Pikiran. Nama ilmu ini sendiri. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya. Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan.” tanya Petapa Lain Pulau. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. yang merupakan permintaan terkhirnya. . merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. tapi menjadi kedamaian. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. Tujuh Rahasia. Gerakan Tubuh. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. ”Kakang Gunung Es. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara. Pengendalian Otot. Kateda. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es.

”Bukan adik Seberang. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut. sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab.” sahut Petapa Seberang menambahkan. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. ”sama sekali lain. Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran. berdiskusi dan bertapa. tapi pada bagian sebelumnya.” jawabnya dengan serius. berdasarkan pemahaman lainnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut. ”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing.” imbuh Petapa Seberang. melainkan merenung dulu sebentar. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran.” ”Misalnya.” jawab Petapa Gunung Es. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam. Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih.” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. lalu ujarnya. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu. yang .” ”Kalau aku lupa.50 BAGIAN 1. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir. Sambil kadang salah seorang.

”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah.. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut..” jelasnya sambil tersenyaum. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Dan sang angin pun bertiup menjauh. maaf Ki Tampar. tidak. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri . saya memang sedang mengaso. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya. Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu. Sang angin pun tersenyum. tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya. ”Oh. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan.” jawab Asap dengan sopan.” jawab Rintah. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar. ”Tidak. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum.” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya.” Rintah dan Asap terlihat malu.” ”Tak apa-apa. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau.” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya.. karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu. ”aku tidak terganggu. membuat saya keluar dan ingin menyapa. lalu lanjutnya. tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga. di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki. *** ”Saudara Asap..

Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan. Tak jauh ..” memberitahu Ki Tampar. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda.” jawab Ki Tampar. Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu..” sahut Rintah dengan antusias.52 BAGIAN 1. ”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh... benar-benar menarik dan menegangkan ini. maaf Ki Tampar. biasanya begitu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan.” sahut Ki Tampar. ”E. Ki Gisang dan Ki Tampar. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap. Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya.. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu. malam. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau.. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap.” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya.” tanya Rintah malu-malu. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar. boleh.” ”Wah. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau. Asap. agar mereka besok malam. Besok ”Eh.” jawab Ki Tampar penuh rahasia. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit. Ada hal yang ingin disampaikan.

Hari ini Ki Tapa. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. dan bahkan juga di antara para kawula tua. Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. Mereka berdua. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua. sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. sedangkan bulan belum muncul. dengan membaca tanda-tandanya. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti. Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau. sebagai penghubung. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu. sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. baik dari manusia atau alam. Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya.

”lihat di ujung lapangan sebelah barat. kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- .” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain. ”masih ada dua orang lagi. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau.54 BAGIAN 1. Itu mereka datang!” Dan benar. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. Setelah kedua orang itu tiba. kemudian lanjutnya. Saat ini adalah saat yang kita. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut. sejak lama ditunggu-tunggu. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran. ”sudah semua datang.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut. Ki Tampar membuka pembicaraan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau. Rantih dan Misbaya. ”Jaka. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas.” usul Ki Gisang. ”Tak perlu. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. dan persetujuan para tetua desa. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Ki Gisang. Atas permintaan Ki Tapa. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa.” jawab Jaka dengan hormat. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar.

menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya. yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba. melainkan ia malah berjalan berkeliling. Lalu ucapnya.” kata Ki Tampar. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama . menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah. Setelah para tetua berada dalam lingkaran. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini. ”Para kawula muda desa sekalian. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba.” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. membuatkan jalan masuk bagi mereka. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh.” sambung Ki Gisang. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya. ”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan. saat mereka masuk. Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu. Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut. Ki Surya kami persilakan. sehingga punggung mereka saling bersentuhan. ”Adapun.” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. Asap. Itu yang penting.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar.

” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda. mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan.” kata Ki Tampar. ”Utarakan nak Paras Tampan. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda. Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba.” jawab Ki Tampar.56 BAGIAN 1.” jawab Paras Tampan. Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya. ”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan . ”Sebelum kita berangkat. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk.

Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. menuju Rimba dan Gunung Hijau. sambil tetap berdiri. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut. Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut. untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. yang mengarah ke Gunung Hijau. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman.57 sang pujaan hati. dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. menurut petunjuk dari portal dan lontar. Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. Umumnya sisi bagian utara. jarang dipergunakan. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. . Saat yang tepat. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar. Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. Di sana di pelataran berbatu tersebut. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut.

Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil. Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki. Rimba pun mulai dimasuki. Tidak ada seorang pun yang bersuara. tampaklah langit kembali di atas kepala. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. . diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. jika sampai ia salah menafsirkan. Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas. Setelah itu menentukan arah. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini. Perjalan yang tidak mudah. Mereka akan berlatih di sana. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau.58 BAGIAN 1. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. Kemudian setelah ketemu. bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa.

karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. Dalam artian ini. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. sukar untuk dilupakan. terutama yang perempuan. di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. Ki Tapa. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. sesuatu yang pernah dilihatnya. Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. Ia berusaha mengingat-ingat. Citra Wangi. melainkan bergerombol. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. di mana beberapa kawula muda. Tinggi. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan. terkesan kasar. merasa kakinya hampir habis. berarti arah yang salah akan dipilih. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit. kekar dan dingin.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut. Setelah beberapa saat berjalan. dari luar Rimba Hijau. Itulah Gunung Hijau. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. maka bisa makna yang salah dapat diperoleh. Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh.

karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci.” lanjutnya. Suasana pun hening. ”Akhirnya selesai. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu. ”Sebentar lagi makan malam selesai. Makan malam. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. Ia membelakangi mereka. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira . masih membelakangi tamu-tamunya. Tapi mereka diam saja. Rumah yang sederhana. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan.60 BAGIAN 1. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Tidak banyak perabot di dalamnya. ”Masuklah. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar. Kemudian ia berbalik. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya. berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. di tengah malam? Benar-benar makan malam. Bau sedap pun mengembang di udara.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api. Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut.” ucap orang itu. Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut. Tikus-tikus. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya.

tanpa ada sececerpun air yang tumpah. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan. hanya beberapa orang yang masih lapar. Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. kasar dan bersih. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. . Tiada yang jatuh ke lantai. Belum habis kekaguman mereka. ”mari makan. yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. selebihnya merasa telah cukup. Di panci masih banyak tersedia. jangan malu-malu. Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. Entah apa kandungannya.” lanjutnya. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. Termasuk di kepala meja. Ialah Ki Tapa. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. tempat ia akan duduk nanti. Ternyata walaupun terlihat sedikit. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut. ”Mari-mari makan. ia dengan lahap menyantap makanannya. Semua pun makan tanpa bersuara. kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut.61 dan berwajah ramah. makanan tersebut mengenyangkan. Cukup untuk tambah setiap orang.

Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu. terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. Katanya pelan seperti hembusan angin.62 BAGIAN 1.” perintah Ki Tapa. dengarkan alam sekitar kalian. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin. semilir angin di rambut. wangi uap air di udara. ”Tapa dan Gisang. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok.” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok.” . Dengarkan napas kalian. Punggung bersentuhan. aliran darah. ”Jangan tidur.” ucap Ki Tapa. denyut jantung. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana.” perintahnya selanjutnya. Pejamkan mata dan rasakan semua itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. ”sampai kusuruh berhenti. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta. Gatal-gatal di pantat. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin. ”Setiap orang maju sepuluh langkah. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini. empat mata angin utama dan empat mata angin antara. Gunung Hijau adalah arah Utara. menuju lapangan di sekitarnya. Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka.” Mereka berdua mengiyakan. Masing-masing kelompok delapan orang. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah.

melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. Angin-angin. Bahu tidak rileks. bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. Telah terjadi banyak perubahan di sana. Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. Perut kurang ditarik ke dalam. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. Dubur tidak diangkat. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa. *** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka. Punggung tidak tegak. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. Batu-batu serta Seribu Ramuan. salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. Misalnya saja. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. Kepada tidak tegak. agar dapat menemukan jalan pulang. merasakan alam sekitarnya. tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru.

. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu. sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin.64 BAGIAN 1. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti.

trilili.. ”Bagus. hmm. Pandang matanya kosong.. resah itu juga tiada gunanya... dada. Ia masih saja duduk termangu. Tralala. matahari bersinar cerah.. didi... kera-kera bermain di hutan. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka.Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu..... Buat apa susah. postur tepat.. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu. 65 . haha. orang aneh itu pun berhenti.... Dengan masih tersenyum.. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda. sayang sedikit perasa. ninini.” gumamnya. sang anak masih duduk di sana. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling. susah itu tak ada gunanya. Nanana.. bunga semerbak merekah. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah. hihi. buat apa resah... dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh. tulang bagus.. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya.. Anak tersebut tampak tak peduli.

Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya. ”Nama saya Lantang. tidak bisa menahan air matanya.” jawab anak itu. ”kalau paman. ”Nah tuh. saat tertawa. ngatain orang budeg. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. paman.. ”Wah sayang. ”Wah. alih-alih marah. Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini. ”tentu saja. karena paman tertawa sambil menangis. bukan?” ”Hahaha. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran. ”Nggak ada hujan atau angin.” jawabnya dan lanjutnya. ”engkau cerdik . ngeri ah! Kabur. dan ia pun berkomentar. ”Namaku Rancana.” jawabnya jenaka. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya. tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. cah bagus. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi.66 BAGIAN 2.” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut. Ia memang begitu. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu. kecil-kecil sudah budeg. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut. benar-benar.. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya.” jawab Rancana terkesan. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. Lalu ucapnya.” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. wah kamu itu lucu bener. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya. sekarang malah ketawa nggak ketulungan.

”tapi paman. misalnya memotong daging untuk dimasak. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu. ”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya... Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya.67 sekali Lantang. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari.” terangnya kemudian. dengan paman. Eh. ilmu silat. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. ”tidak paman. ”tentu saja belajar kanuragan. Demikian pula dengan api. membunuh atau perbuatan jahat lainnya. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat. sehingga ucapnya.” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah.” Lanjutnya kemudian. Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan.. ”saya benci ilmu silat. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. ”Logika yang tidak tepat itu. ia pun akhirnya berkata. melunakkan logam. mencetak emas dan lainnya.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung. api yang diatur dapat digunakan untuk memasak. cah bagus. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru. Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” . ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng.

melancarkan nafas. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. Hening. ”Apa yang sebenarnya terjadi. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. si Bayangan Menangis Tertawa. walaupun tanpa suara. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis. Lantang mendadak terlihat murung. Rancana. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi.68 BAGIAN 2. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. paman!” jawab Lantang jujur. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis. saya belum pernah mendengar hal seperti itu. Sesaat.” jelas Rancana. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. cah bagus. Selain suara angin dan debu yang beterbangan. ”Menangislah. Antara lain untuk menjaga kesehatan. dan bergulirlah air matanya jatuh. Ia tidak mau terlihat lemah. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. tiada suara lain di sekitar mereka. perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. Dan . Melancarkan peredaran darah. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah. ”Wah. maka tanyanya lebih jauh. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih. tidak pantang seorang lelaki menangis. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca.

Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang. menyerahlah.. sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya. Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya. Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin. Di sisi timur berdiri sembilang orang. karena mereka berada di daerahnya sendiri. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya. bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua. tenanglah Lantang.” . Sedikit lebih baik perasaannya. Orang-orang ahli silat. Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap.” teriak Naga Geni jumawa. ”He. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis. Jagad Hitam. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam. *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang.

dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu. yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. berkacalah. ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. dengan arah putaran yang berbeda. ”Naga Geni.” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda. Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. ”Hemm. dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang. orang-orangmu juga hampir habis.70 BAGIAN 2. Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. Naga Geni merengsek maju. mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. akan tetapi tidak yang kedua. Dengan dua buah kapak. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. daripada aku yang melakukannya. . kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes.

Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri. Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. ”capp. perguruannya. Bertempuran pun kembali dimulai. mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya.71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. Murid-muridnya.. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. Mendadak terdengar suara. sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya.. . Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping. Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya. Akibatnya sudah dapat diduga. ”Guru.. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin. perguruan diserang. Toh. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya. itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut. Dan. Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam.” Mendengar berita itu.

”hahaha. jika boleh dikatakan. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan. cikal bakal masalah. lebih baik engkau bunuh diri.. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam.” usul seorang dari Lingkaran Dalam. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda.” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam.. Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam. ”Hmm. Setelah beristirahat sebentar kemudian. Semuanya hancur. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga. ”Sesukamulah.72 BAGIAN 2. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda. Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis.” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . tampak di mana-mana. Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah. yang membela keunggulan nama perguruannya. Ada yang mati hangus terbakar.. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. Perguruan Atas Angin. Tapak Kelam. bukan?” ”Boleh juga usulmu itu.” ujar Ki Jagad Hitam. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu.” kata Ki Jagad Hitam. ”terlalu enak apabila dibunuh. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. bagus Naga Geni. hanya setinggi lutut dari atas tanah. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin.

oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka. tentang bagaimana orang tuanya. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat. untuk meyakinkan. harus me- . Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas. paman. Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada.73 sanakan niatan itu. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. paman. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. Setelah puas menyiksa mereka. ”Jadi itu alasanmu. Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan. ”Benar. Tapi apa dayaku. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa. tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran.” Lantang pun terdiam. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang.

Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh. saya tidak suka kekerasan. sayur mayur dan barang-barang lainnya. jauh dari keramaian. Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya.74 BAGIAN 2. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju. Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya. dari pada harus berseteru dengan orang lain. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. Ada kotakkotak. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. ”Tapi paman. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. Lambang Perguruan Kapak Ganda. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah . Ia memilih lebih baik menyendiri. atau merupakan bawaan. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. gulungan-gulungan kain. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. ia hanya menjauh dan menghindar.” ”Begini saja. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda. Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat. akan tetapi ia tidak bisa. Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. Lantang tahu hal itu.

Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan.75 menimpa perguruan mereka. marah dan tidak rela. Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. Sabit Kematian dan Cermin Maut. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. Mayat Pucat. sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. semakin baik. Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. Semakin segar mayat yang akan digunakan. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa. Bahkan tidak jarang. ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. karena percuma. ketakutan. Mengandung racun keji dan ganas. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. Senjata andalan- . saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau. Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Naga Geni. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat.

Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur. yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Sudah banyak jago-jago muda. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. akan tetapi sudah disebar kemana-mana. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat.76 BAGIAN 2. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa. terutama yang tampan. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang.” tanya seorang dari mereka. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut. Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya.” usul seorang. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Apabila dilihat dari wujudnya. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud. Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh. Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. ”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. Pun tidak ada gunanya .

Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan.!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak.!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu.77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh.!” ”Tiga ratus sembilan belas.. melainkan berganti-ganti. melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja.. Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang.!” ”Dua ratus tiga puluh delapan.. Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada .. di kaki Gunung Hijau. Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan. ”Tiga ratus delapan belas.

dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut. Yang kuat akan menang. Ini dikenal sebagai keras lawan keras.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini. Apabila melangkah ke depan. tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. dan kita kehilangan kendali. Untuk itu . sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. Bisa dibelokkan. tenaga sudah habis diberikan. dengan jarak kirakira selebar bahu. Tergantung apa yang hendak diperoleh. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara. dialirkan. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit.” Lanjutnya. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara. Kita merugi. Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara.78 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang.” jelas Ki Tapa. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. Akan tetapi hati-hati. Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. saat itulah serangan akan masuk. jika yakin masuk dan menang. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. ditahan atau digentak-balikkan. ”Dengan adanya kuda-kuda.

” kata Misbaya. akan tetapi tidak melakukannya. Dan . ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan.79 mereka dibagi dalam tiga kelompok. adiknya. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan.!” ”Betul Rintah”. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. sahut Rantih. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan.” ucap Paras Tampan terengah-engah. biasanya minta langsung untuk menirukan. mereka kurang lancar. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. Harus agak serong. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari. karena mereka bisa dengan mudah melihat. akan tetapi sulit untuk melakukannya. yang melakukannya dengan beriringan. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. ”Habis sudah napasku. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. keliru itu langkahmu. melengkapi dan mengingatkan. Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. masing-masing delapan orang.. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. ”Wah Rintah. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan. Mereka yang termasuk dalam golongan ini. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya. agar mereka saling membantu. dan bahkan tidak mau.

untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. kurang lebih sepeminum teh hijau. . Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. mereka jangan menekuk kakinya. Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan. Sambil sesekali juga bercanda ria. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka.80 BAGIAN 2.” begitu jelas Ki Tapa. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati. *** Waktu makan siang pun datang. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. Asap. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Tak lama kemudian.” Benar. melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa. Hanya sebagai catatan. Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. Di tengah padang rumput. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. ”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar.

oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar. Mereka pernah juga membicarakannya. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. ikan. Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama. Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya. makanan pun dihadirkan di sana. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. kadang terdapat sayuran.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. Makan siang yang sederhana. Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau. Nasi dan ikan bakar. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. Dan yang aneh tercium bau wewan- . mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. ungkap Ki Tapa. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. Sedangkan hari-hari selanjutnya. bukanlah perkara mudah. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa.

Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. seperti halnya dalam latihan.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi. salah seorang kawula muda putri. Lalu jawabnya. Selalu tandas dan bersih. Dalam acara makan bersama seperti itu. simpanlah dulu pertanyaan itu. Kirani. apalagi di Gunung Hijau ini. umumnya hanya makan setengah porsi. Ia. satu orang sepersepuluh. Kekurangan setengahnya. ini bagianku. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. akan semakin jelas apa yang tampak. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di .82 BAGIAN 2. Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau. Begitu pesannya. ”Gentong. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang. lebih dari yang lain. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya.” kata Kirani. siapapun dia. Ki Tapa hanya tersenyum. Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. Untuk sementara waktu. Dengan semakin berisinya kalian.

Serbuk-serbuk bunga.. Kembalikan ke dalam keranjang di sana. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih. Kemudian tanpa diperintah. Sontak mengagetkan kedua insan itu. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. .. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu. tapi terdengar suaranya. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. tapi jelas. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin. ”Moreng. ”Sekali-kali bolehlah..” kata Ki Tapa. Semut-semut yang berjalan.83 antara mereka saat makan. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. tapi tidak untuk tidak melihat. Setelah semua siap. Angin semilir.. ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa. ya ’kan?” jawab temannya kukuh. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya. Coreng. Lakukan sampai seribu tarikan nafas.” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta. makan telah usai dan juga waktu istirahat. ”Baiklah. Kecil. seakan-akan telah biasa. Tidak terlihat wujudnya. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai. halus.

” tambah Moreng. ”Iya. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah.” jawab Coreng. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka. Dengan mengetahuinya..” Tapi tanyanya kemudian. Sesampainya di depan Pondok Batu.. lalu lanjutnya.!” katanya tegas. Moreng. berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami. ”Iya. Manusia Tiga Kaki. tak apa-apan.” terang Ki Tapa. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. ”Begini. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu. Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. ”Berikan penjelasan. kami hanya ingin melihat mereka berlatih. Ki. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. akan tetapi tanpa senyum. ”Maaf Ki Tapa. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya masih terlihat ramah. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia. Ki Tapa pun berpikir sejenak. ”Tidakkah. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia.. ”Baiklah. maafkan kami. Coreng.” sahut Moreng. Dan paling besar berukuran sebesar gajah. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya. Ki Tapa.84 BAGIAN 2. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga . Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya.” jawab Coreng. Ki Tapa pun menghela nafas.

jangan tampakkan wujud kalian.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala.” ”Ihh. Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek. sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. Sebelumnya. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati. Terserap. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka.” jawab Ki Tapa.” jelas Ki Tapa.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi. dapat berbahaya bagi manusia. telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan.” jawab seorang di antara mereka. ”Mengapa hal itu terjadi.. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi)..?” tanya Coreng bingung. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka. Dan di saat itu. maka tenagaku akan habis dan mati. Apabila dikatakan tidak terpengaruh. yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo). Mungkin sudah hukum alam. aku tidak apa-apa. bolehlah kalian berkenalan. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian.85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. aku tidak bisa menjelaskan. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Bila mereka telah cukup kuat.. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- . ”Benar. ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang. bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu.

yang dulunya bernama Cipta Raga. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri. dengan kesaktiannya yang tinggi. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. tenaganya. Baik ukurannya. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu. pemimpin mereka. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. Dan hanya dari manusia. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang. ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. . Hitam-Putih. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat. Hitam-Putih dapat menang. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. Mawon Sanmdi. Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. maupun sifatnya.86 BAGIAN 2.

karena kaki mereka yang kesemutan. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya. Misbaya. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya. Periuk besi yang penuh berisi ramuan. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya. waktu mengheningkan cipta usai. Dengan senang hati. Setelah beberapa mencoba. tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut. Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. ”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini.. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting.87 Dan tidak hanya itu. yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan. Rintah dan Asap. apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa. Hanya sayangnya. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. *** ”Cukup. Sebagai reaksinya. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya.

berkatalah Ki Tapa. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja. Dengan cara ini. begitu melihatnya. Akan tetapi hati-hati.” lanjut Ki Tapa. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. Beberapa dari mereka tampak kecut. lentur gerakannya akan tetapi mantap. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li .” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini. saat ia mengawal barang-barang hantaran. ”Jangan kuatir.88 BAGIAN 2. sampai menghampiri.” Mendengar bahwa periuk. yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau. yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. Pertama ia mengejar keretakeretanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok). ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya. Pikir mereka. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. akan menghasilkan racun pada larutannya. bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun. Selang tak berapa lama. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya. untuk memasak sejenis masakan. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini. Berulang-ulang diperagakannya. periuk ini dibuat.” jelas Ki Tapa. tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. kaki-kakinya menjadi kuat. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan. ramuan yang tidak cocok. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. selagi aku sendiri yang membuat ramuan. ”Ini disebut Langkah Ayam. Ki Tapa pun berkata.

Hanya beberapa orang nelayan dan . Ki. Moreng. Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut. Tidak bisa dialirkan.. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana..!” Terdengar jawaban lirih pula.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam. sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain. Kawasan yang sunyi dan sepi. mungkin pikir mereka. Agar seperti Li Jeng. ”baik.. tolong Periuk Kerbaunya. Tidak banyak orang yang hidup di sana.. Ia baru saja memeriksa badan muridnya.89 Jeng sedemikian tingginya. Akan tetapi entah karena apa. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat.. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah. Sedih hatinya melihat muridnya. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam. Ki Tapa pun tersenyum. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung.. Tidak bisa digunakan. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada. jalan darahnya tidak lancar. Sudah berulang kali ia mencoba. Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu. ”Coreng. Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Akan tetapi percuma. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh. dengan lirih ia berkata.

guru!” dan kemudian jelasnya. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang. gurunya. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya. ”Janganlah terlalu bersedih. hanya lima orang yang hidup di sana. ”Guru. ilmu silat yang engkau pelajari. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. Toh.. saya tidak akan menggunakannya. tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar.” ucap Rancana pada muridnya.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa. saat mengetahui bahwa tubuhnya. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat. masih dengan nada yang sedih. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. Dan seperti guru ingat dulu. tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa.” panggil Lantang perlahan. Ditambah Rancana dan Lantang. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini.90 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu.” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru. ”Lantang. ”Saya tahu. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh. sudah tentu ia bisa mengetahuinya. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka. menghela napas panjanglah Rancana. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana.. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan. masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya.

”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja. .” ”Suka saya mendengarkannya. di balik lautan...” ”Baik. ”Pencipta ilmu ini. Lantang. Jadi dengan ilmu ini.91 nya. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya.?” bantah Lantang.” jelas Rancana. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu.” ”Wah. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. bila engkau berlatih dengan baik.” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya. Melainkan hanya untuk membela diri. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa. Terlihat Rancana berpikir sejenak. Tidak akan mendatangkan banyak lawan.” sahut Lantang patuh. Lantang!” perintah Rancana. dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya. guru!” tanggap Lantang. ”Baiklah kalau begitu. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan. engkau akan dapat membela dirimu sendiri. terdengar sangat menarik. ”Tapi.” kata Rancana pada akhirnya. guru. Lalu katanya. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana. guru.. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. guru.” ucap Lantang. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar. Guru Tua Morehe Uwesiba. ”Cobalah engkau serang aku. Apa mungkin ada orang yang selihai itu.

sehingga Lantang batal terjatuh. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan.. Rancana. Pada saat yang tepat. Rumit karena harus pada saat yang tepat. Bagian lain masih gelap baginya. ”Baik. Sederhana karena geraknya mudah. Dengan cantik dan lemas. Bahkan dipukul balik. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. guru!” jawabnya mengiyakan. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju.” Lantang mengangguk-angguk. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura. Bila tidak pada saat yang tepat.92 BAGIAN 2. Melihat kebingungan muridnya. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. akan tetapi dengan lebih lambat. mengapa serangannya itu tidak berhasil. tanpa tipu-tipu. mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya.” jelas gurunya. Ia baru dapat menerima beberapa bagian. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari . bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya.. membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya.” jelas gurunya. ”Serangan lurus ke depan. ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. secara alami bisa setiap orang melakukannya. memang serangan paling sederhana dan rumit. Rancana hanya tersenyum. ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. guru?” jawab Lantang muridnya jujur. ”Tidak. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya. sambil memutar tubuhnya. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama. dielakkan dan dimusnahkan.

”Bagus. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. Lantang. Belum sampai. Maju lagi. Dengan demikian. Kali ini Rancana membiarkannya. Jangan lepaskan. dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. Setelah mengerti. dengan kedudukan yang stabil. . saya tidak lagi terguling. ”Kamu benar. ”Benar. memang dengan cara ini. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. ”pada jarak segini. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. baru memukul. ”Cobalah!” ucap gurunya. apakah pukulanmu sampai apa tidak.93 belakang. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. Kesalahan yang sama terjadi lagi. Memajukan kakinya.” jawab gurunya. apalagi ditarik seperti tadi. engkau harus punya rasa. Setelah tiga-empat telapak kaki. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya.” Lantang pun mengangguk-angguk. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. Gurunya tidak bereaksi. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia. ia dapat tersungkur. Bila tidak sampai. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya. tidak melebihi. Dan ia tidak lagi tersungkur. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama. Penasaran pada hal tersebut. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. dapat mengenaiku. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. Cobalah!” Lantang pun mencoba. Belum sampai. Lantang pun kembali terjatuh. Mendekatlah. ”Guru. tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung.” ucap Rancana.

Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah.94 BAGIAN 2. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. guru! Saya lupa lagi. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. Rancana menghentikan latihan itu. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. ”Kita istirahat dulu. Sebelum tenaganya sampai ke dada. . tangan sudah dikembangkan. Hasil rembesan sungai di atasnya. Tirukan aku!” perintah gurunya. Temui aku nanti di Rumah Kayu. Bumi. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali. Sudah waktunya beristirahat. kaki belakang melurus dan pinggang berputar. tanpa tenaga.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya. Saat bergerak. Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. Alhasil. Menuju ceruk kecil. akan tetapi tidak minta berhenti.” ”Baik. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. paha. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. Tapi ia tidak mengeluh. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih. Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. hanya gerakannya mirip.” kata Rancana. ”Tidak apa-apa. Mengisi perut. Berulang-ulang kali. Pukulan Meriam. telapak kaki. lengan dan meledak sampai ke kepalan. Kagum ia pada semangat muridnya. pinggang. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Lantang mencoba menirukan. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan.

Bila dilihat dari atas. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana.” katanya kepada ketiga orang itu. . Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa. akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Itu lebih baik. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. yang hanya terdiri dari lima orang. Hidangan makan malam telah tersedia. dan Telaga. Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. karena panjangnya pada arah timur-barat. Nyi Sura. yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung. serta satu keluarga lagi. ”Selamat malam. Ki Sura. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu. Setela kejadian itu. Rancana dan Lantang muridnya. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik. Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. tampak ketiga orang lain itu. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana. Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. Mereka telah menunggu.

PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. Ki?” ”Lantang. ”Wah. karena ada orang yang dapat diajar bicara. sayur bening. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya.” jawab Telaga.96 BAGIAN 2. Dulu sebelum Rancana datang. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. senanglah Telaga. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. kerang sambal.” jelas Rancana.. Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu. lalapan. terong dan sudah tentu nasi.. Sebelum ada seorang pun yang berkata. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya. Lantang nama anak itu Telaga. sehingga perlu disambut seperti itu. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu. Hanya Telaga yang banyak bicara. Ada ikan mas bakar. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam.. Ki Rancana.. siapa namanya. makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan. Memang pendiam orangnya. Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. Apalagi Ki Sura. melainkan dari Telaga. anak dari Ki dan Nyi Sura.” jelasnya. Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba. ”Ceruk mana. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut. Seperti telah diduganya.” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . ”Betul. Eh. tidak ada teman bicara dia. ”Ada apa sebenarnya. Tidak banyak bicara mereka.” jawab Rancana agak bingung. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. pecel belut.

Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. Undinen itu pun bergerak mundur. Dalam suatu ceruk yang paling besar. ”cah bagus. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka. Terdengar suara lirih Ki Sura. Lalu bisiknya lirih.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas. Rambutnya panjang sebahu. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi.97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu. Ayah pasti bisa menolong muridmu. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. Ki. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya. Tapi sebagai seorang ahli silat . Dengan suatu cara tertentu. jangan bergerak. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. Seakan-akan suatu parit dari batu. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Tampaknya ia tidak suka api. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. melainkan melihat pada suatu arah tertentu. Saat-saat yang menegangkan. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. akan tetapi tidak langsung berpakaian. ”perhatikan saja. Biar aku yang menangani Undinen itu. Ia tampak telah bersihbersih.” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang.

Begitulah orang-orang yang bersyukur. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. Dengan ukuran aura seperti itu. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa. selangkah demi selangkah. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. ”maaf Ki Sura. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. Malam itu sebenarnya sangatlah indah. bertanyalah Lantang pada Ki Sura. Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. apakah tadi itu? Yang mem- . dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang. Sunyi sesaat. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. tidak banyak berucap. keluar dari ceruk itu. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. tidak mengeluh. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka. Lantang masih dalam ketegangannya. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi.98 BAGIAN 2. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. Akan tetapi bila tidak ada. Orang-orang yang sederhana. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura.

Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan. mereka tidaklah terlalu berbahaya. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen. Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara.” jelas Ki Sura lambat-lambat. ”Jika demikian. air. sang Roh Air. udara dan tanah. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen. . ”Sebenarnya. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini. selain Duyung dan Nixen. ”Itu adalah Roh air. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga. Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini.” Ki Sura tersenyum. ”Roh-roh Empat Elemen itu. Undinen. mengapa Ki Sura. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. ”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. Dan hal yang masih tidak dimengertinya.” jelas Ki Sura lebih lanjut. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga. Troll.” jelas Nyi Sura arif. Ia masih merasakan ketegangan tadi.99 buatku seakan-akan membeku. Hanya Rancana yang tidak. maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. yaitu api. Juga istrinya.

PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul. Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu. akan membuat tubuhnya semakin dingin.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka.100 BAGIAN 2. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya. yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. ”Anak Lantang. ”Waktu dari menariknya. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan.” lalu tanya Nyi Sura. . pasti itu penyebabnya. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam. Baik Ki Sura. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. Ya. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan.

begitu. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini.101 ”Hmm. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan. nak Lantang. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan.” papar Ki Sura. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya.” . akan tetapi tidak bisa menggunakannya. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’. ”malang sekali nasibmu. dan tidak untuk kami. Rahasia ini telah lama disimpan. ”Bila itu suatu rahasia.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini.” jelas Ki Sura. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri.” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan.” kata Rancana. Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu. ya!” menghela napas Ki Sura.” ”Kami. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat. Dapat menghimpun tenaga. Melainkan hawa para Rohroh Air. *** ”Misbaya. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka..

Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa. Sedemikian halus. Dari pandangan matanya. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. Dengan perlahan. Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. Dan Gentong pun . yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala. Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. seperti memotong. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Kali ini Gentong. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya. Dan untuk itu. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu.102 BAGIAN 2. Rekan-rekannya terkesiap. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. ”Pegang yang kuat. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. Tak teduga dan cantik. atau sendinya akan terkilir atau lepas.

sudah berangsur-angsur sembuh. Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak. Bersamaan dengan itu pula. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. Lucu tampaknya. .103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. dengan debum yang lebih kentara tentunya. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. Cara ini lebih baik. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan. Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat. Berbagai upaya telah dilakukannya. siap mencongkelnya dengan bahu. Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. Kecuali Asap tentunya. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. juga di antara murid-muridnya sendiri. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten.

Padang Batu-batu akan tergenang. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama. menggemuruh. Dan entah bagaimana. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau. Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. Ki Rabat dan Ki Untung. Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. mereka tidak akan menunggunya. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. Ki Surya. Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar.104 BAGIAN 2. Ke arah di mana matahari terbenam. Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. menuju Lautan selatan. Untuk Asap. Dari sanalah diyakini nama itu datang. ke arah barat. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat. Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba . Sungai Hijau orang menamakannya. sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya. Akibat luberan ini. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau. satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah.

” ”Bila benar begitu. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- . akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian. Setelah membicarakan beberapa hal lain..” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju. Ki. Setelah beberapa hari perjalanan. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai.” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju... Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan.. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek.. Ki Rabat. ya. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya. sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah.” komentar Ki Untung. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan.” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. ”walaupun dua kali lebih lama. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai. Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. ”Benar. Di Gurun Besar. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang.105 Hijau. Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya. selain ada banyak binatang-binatang beracun. ”Benar. seperti kata kalian. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima. Sungai itu sudah Sungai Merah. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya.

sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. walaupun tidak terdapat banyak desa. Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang. Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. Setelah siap berangkatlah rombongan itu. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- . kadang terjadi sebaliknya. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan.106 BAGIAN 2. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. Tempat yang diduga lebih indah itu. Walaupun pada kenyataannya. Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. tertarik untuk melancong ke sana. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi.

Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . entah sungai apa namanya. mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. Benar-benar membosankan. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. akan menjadi terkantuk-kantuk. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Untuk melepaskan kebosanan. Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan. Demikian pula dengan rombongan ini. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja.107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Malam ketiga. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai. Lancar dan sedikit membosankan. Bila langsung menempuh Gurun Besar. tiada yang tahu.

Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa. sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). Wanita Pengembala Domba (Schferin). Entah kapan dan bagaimana mulainya. PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya. Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Wanita Petani (Buerin). Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann). Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin. Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. yang terkena gigitan Kadal Gurun. Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). Taman Utara (Nordpark). Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). Akan hancur suatu daerah. Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya.108 BAGIAN 2. Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- . Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota. Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann). Laki-laki Petani (Bauer). desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte).

Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara. Malam yang menghebohkan. Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Membuat tubuh benar-benar terasa lelah. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. dan atas usul istrinya. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Dingin ini lain. Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar. terasa amat lengang.109 gannya. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. menjadi semakin sepi dan mengiriskan. Semuanya hilang. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana.

. Bertanya-tanya hati semua orang. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. selaku pimpinan di sana. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas. Benar-benar menyeramkan. bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. sebagai saksi satu-satunya yang ada. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga.110 BAGIAN 2. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul. Dan dua belas buah lagi. Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri. ”baiknya kita menenangkan diri dulu. sudah di luar kemampuan kita. Lalu orang-orang pun bubarlah. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Setelah berjalan bersama-sama. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. dalam langkah yang tergesa-gesa.” Semua mengangguk-angguk setuju. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi.

111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. Desa yang sepi. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . Bisa-bisa sampai menggelegar. yaitu sisi barat. akan semakin keras suaranya. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam. yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. bahkan sekecil apa pun suara. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. Akan tetapi anehnya. Sunyi. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. pada sisi seberang. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita. Bila banjir. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu. lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu.

Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan.112 BAGIAN 2. Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. Setelah menunggu beberapa lama. di antaranya terlihat Ki Murah. pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya. yang ditemani beberapa orang dari . Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. ketiganya. tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. Orang menyebutnya Arowana. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. Bagi Citra Wangi. Ki Untung dan Ki Rabat. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. ibu dan ayahnya sendiri. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. kadang pula telah berpermukaan halus. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya.

Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. indah. Pikirnya. ”Nak Citra Wangi. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar.. Ki?” tanya Citra Wangi sopan.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. begitu kata ujar-ujar kuno. ”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki. ”Ada apa. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. Mengenakannya. ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti. minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu.. Keduanya mengangguk tanda setuju. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat. ditambahkannya kata-kata.” Mendengar panggilan itu. ini harga khusus. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat. ”Lihatlah. Betapa ingin mereka memilikinya.” gapai Ki Rabat dari jauh. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu. batu-batu hiasan ini. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu .

sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka. Selain suasananya yang nyaman. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. Begitu pikirnya. karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar.114 BAGIAN 2. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. Di kejauhan Ki Rapih. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah. kemudian diturunkan. Bukan desa. saat itu membiarkannya saja. Ia yang biasanya membatasi. sejauh subyek perdagangan mereka ada. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. Senanglah . melaului Pantai Selatan. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya. Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan. Setelah berunding sejenak.

Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Mereka berpikir dengan cara ini. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. semacam stempel. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. . akan lebih mudah berdagang. Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. barang dan Tigaan berpindah tangan. Desa Pinggiran Sungai Merah. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya. terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka. hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif.115 hati mereka. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. Melihat cara perdagangan yang menarik ini. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. Bila cocok.

Lambang tanah.116 BAGIAN 2. Api yang meresap dalam sesuatu. Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir. Untuk mencegahnya. sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut. Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- . Dan sesuatu itu adalah udara. Yang tidak dapat mengalirkan hawa. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. Pernah terdapat Tigaan palsu. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya. *** Lima tahun waktu pun berlalu. Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu.. maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen..” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana. Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh.

Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. Nyi Apik. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. bersama-sama den- . Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau. Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. lima tahun yang lalu. Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan. yang belum tentu jelek dalam artian luas. membuat mereka merasa kerasan. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. Desa Pinggiran Sungai Merah.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana. dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. dan juga utara dan selatan. Apabila lingkungan berubah.

Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara. akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh. sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. yang mereka namakan Antaran Pasti. Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada. Tidak utuh semuanya. Asalkan ada Tigaan. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. Dijamin. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. Barang sampai pasti. Beberapa patung dibangun kembali.118 BAGIAN 2. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu. . Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. Apa-apa pun dapat dipesan. sungai dan gunung. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat.

Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . Baik dari segi bakat ataupun finansial. posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya. Benar-benar menggirisi. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. Tiada pesan yang ditinggalkan. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Menunggu isyarat alam. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu. lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan. ditempatkan sebagai Empat Pilar. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni. Tidak seperti dulu. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. saat yang tepat untuk mulai mendaki. bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid.

dan untuk turut menggagalkan orang lain. Bukan perguruan silat. dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. Rantih. bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau. kata Ki Tapa. sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. Kirani dan pemuda itu. Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. Asap. jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Pesannya. Paras Tampan. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. melainkan hanya tempat menempa diri. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi. tanpa embel-embel perguruan. Rintah. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu.120 BAGIAN 2. Jadi untuk ukuran orang biasa. telah gugur tujuh belas orang. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan. Walaupun gagal. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. Cukup Rimba Hijau. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Misbaya. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa.

saat matahari sedang tinggi-tingginya. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. Mohon bimbingan atas ujian ini. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Jangan berpura-pura. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Jadilah dirimu sendiri. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya. ke arah mana saja tidak jadi soal. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. Asap mendapat giliran sehabis itu. Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. Sosok yang membayangkan hawa yang lain. dapat atau tidak. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya. seorang Undinen yang rupawan. Dan sekarang gilirannya. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Menenangkan dirinya. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. *** Undinen itu bernama Xyra. Ada rasa nyaman dalam hawa itu. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen. dua orang yang akan menggantikannya. Hawa yang menarik hatinya. Setelah merasa tenang. Apa pun yang terjadi. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta.121 diberi waktu dua tahun. Dari urutan yang ditarik. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Bisa sampai di titik ini. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Paras Tampan. . Menurut Ki Tapa. Menyusul kemudian Gentong. ia dapat berangkat. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. serta Ki Tapa gurunya. Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. semakin kental hawa anak itu menarik hatinya. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. mereka harus kembali turun. mulai beranjaklah Paras Tampan. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya.

maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. sering berada dekat dengan Lantang. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan.122 BAGIAN 2. Di Rimba Hijau. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya. carilah Ki Tapa. Telaga. Ada urusan yang harus diselesaikannya. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. Bila tidak dapat menemui dirinya. masih terlihat cantik. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. Ia hanya berpesan pada Lantang. Ia mengambil arah ke selatan. walaupun tidak menampakkan diri. tanpa tudung kepalanya. akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang. apabila telah selesai belajar. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. anak dari Ki dan Nyi Sura. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. untuk mencarinya ke timur. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. Mereka membiarkannya saja. karena tidak mengganggu. Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu.

melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa.” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan.. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu.. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni.” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu. menarik.123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya. masih ada lambang-lambang aneh. yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm.” ”Menarik.. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna.!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri. Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian. Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara.. ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli. ”Kakak Mayat Pucat. ”Di sini. maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni.. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian.. . Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu..

Melayang dalam pikiran masingmasing.” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja. Entah di mana. Jadi ada empat buah kitab. Lupa. .” tanya Sabit Kematian. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. Ketiganya pun kembali termenung. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin.” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu.” ”Maksud Kakak Pucat. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh.” usul Cermin Maut. Sudah lama sekali rasanya. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini.124 BAGIAN 2. Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya. Lebih baik kita menafsirkan dulu. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. bahkan oleh Penjuru Angin. ”Tentu ada maknanya. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. biarkan saja!” usul Mayat Pucat. ”Sudahlah. apa maksud tulisan Naga Geni ini. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti. ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab.

yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. cukup paling banyak tiga buah. Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana. Naga Geni. Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar. Bisa dibilang mustahil. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 . Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya. Oleh gurunya. Tidak banyak. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno.Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda.

Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. berikut tulisan di bawahnya. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. Setelah prasasti tiruan jadi. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. Ki Tilu. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang. Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. Gagasan yang dipakainya. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu.126 BAGIAN 3. Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah. . Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. Dan hal ini amatlah wajar. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. Mengingat cerita itu.

Satu-satunya rumah di kawasan itu.. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya. bagaimana semuanya berlangsung.. Ke timur. Gunung Hijau. Ke arah Gurun Besar. atau bahkan merupakan kuncinya. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin.” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. Langkahnya ringan dan mantap.. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya. . ke suatu gunung di tengah belantara hijau. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya. semua telah hancur dan hilang. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya.. Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya. Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu. Tujuan hidupnya pun juga. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. ceritakan. Setelah berjalan bergegas beberapa lama. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. ”ceritakan..

Jadi mulailah ia bercerita. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka. guru!” jawab pemuda itu patuh. Tampak seperti ada yang direncanakan. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka. Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. Lalu katanya.” katanya tanpa ekspresi.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. gurunya. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian. bahwa orang itu. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. . Sudah terbiasa ia. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan. ”Menarik.” terang pemuda itu. HAKIM HAUS DARAH ”Baik. Informasi ini menggembirakan dirinya. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya.. sementara gantinya sedang melatih tenaga air. Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. ”Belum selesai guru. Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu.. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya..128 BAGIAN 3.” jelas pemuda itu kemudian. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas. Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal. ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa.

Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. Tidak bisa tidak. Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. Orang tua itu mengangguk-angguk.. ”Tak bisa dielakkan. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- . ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. ”Tetapi guru. Saat ia sadar.. ia telah berada di tengah gurun ini. pasti akan terjadi” jawabnya tegas..” komentar gurunya sambil tersenyum. ”Yakin sekali kelihatannya. Pertempuran harus terjadi. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk. Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen.” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman.129 Anak kecil itu pun mengangguk. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil. Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu. ”aku tidak akan menjawabnya. Tapi perlu waktu. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya. carilah sendiri.” gumamnya. Gurun Besar. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian..

Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . ilmu beladiri. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. dibalikkan tubuhnya. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. Ia memandang ke arah utara. Tenaga Air. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu. Ya. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Tenaga yang mengalir. Sangar dan tampak seperti berwibawa. *** BAGIAN 3. Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya. Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Itu saja. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri. atau kadang dapat mengeras seperti es. Akan tetapi pemuda itu lain. Sepi. Gunung Berdanau Berpulau. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya. Sunyi dan kering. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu. Diajarkan oleh kedua orang tuanya. melainkan juga pengguna ilmu itu.130 nari. sampai ribuan kambing dewasa panjangnya. ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat.

. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. sudah bulatkah tekadmu itu.. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura. begitu pikirnya. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa.” ”Tapi. Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. mengangguklah Telaga. membuatnya tidak seperti biasanya. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah. yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. Bergetar suaranya saat menanyakan itu. Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh. saya sudah membulatkan tekad. Ia tenang-tenang saja. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas.” jawabnya ibunya tercekat. Padang Batu-batu. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. Ki Sura. Luas menutupi seluruh matanya. Dulu sewaktu ia muda. ”Telaga. ia pun pergi merantau. Anak satu-satunya itu. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu.. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau. ”ya ibu. Lain halnya dengan suaminya. Lalu katanya kemudian menegaskan. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya. Mendengar pertanyaan ibunya. Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. nak?” tanya ibunya perlahan. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya.131 diri dari batu-batu belaka. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya.

Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. Cengkeraman Kristal Es.132 BAGIAN 3. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. Kadang selebar kerbau atau gajah. kadang pula lebih. yang besar dan tingginya bervariasi. untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. Jurus cengkeraman yang amat keras.” jawab Telaga cepat. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut. sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. dan menghujam juga dingin. Padang Batu-batu. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. Di dalam Padang Batu-batu. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya. dingin dan menantang. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada. Dipandangnya berkeliling. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. Katanya kemudian. ayah. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Dan selalu hati-hati di sana. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. ”hati-hatilah. Untuk menentukan arah. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang . seperti tiang-tiang. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. Berangkatlah pagi-pagi sekali. Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. Melompatlah ia perlahan ke bawah. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya.” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. Mirip hutan belantara.

Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. Menuju selatan. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. semakin cepat angin mengalir di antaranya. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya. Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. karena sudah tak begitu jelas terlihat. yaitu matahari. Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu. Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. ke arah berlawananlah ia harus menuju. Bukan di . Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu. Jika malam tiba.133 berdiri berderet-deret acak. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai. Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. Untuk makannya selain telah membawa bekal. Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli). Untuk itu ia mengambil patokan lain.

Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari. Hari keenam. untuk mencari ikan dan kepiting. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik. HAKIM HAUS DARAH balik batu. apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. Mereka memutarinya. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. yang dibantu dengan posisi matahari. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. Tak . Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam.134 BAGIAN 3. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. sehingga serangan dapat dilakukan. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. Sebagai contoh misalnya. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini.

dapat ia mendengarnya. Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka.” usul temannya yang lain.” sanggah orang kedua temannya. Orang ketiga. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang.. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air. Ketiganya masih di sana. mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu. di mana orang-orang itu berada. Telaga terdiam melihat kejadian itu. Walaupun amat lamat-lamat.” Dengan berkecipuk keras. ”Jangan. Lempar saja di sini. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu. Kemudian berlalulah ketiganya. nanti cepat ketahuan.” kata orang pertama. ”Sudah. Tak tahu berapa lama ia tertidur. Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi. Setelah memeriksa dengan seksama. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang. Tak ada suara. ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. Di Padang Batu-batu me- . berkata seorang dari padanya.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur. Berjalan mereka perlahan-lahan. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam. walaupun jernih. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. Entah apa isinya. Bungkusan itu cukup besar dan berat. Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. batu. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu.. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya. lemparkan saja di sini.

Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. Masih dalam pinggiran yang sama. Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini.” . Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin. Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Tidak ada tanah. Kata salah seorang dari mereka. Jurang yang cukup dalam. Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu. Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu. Makanya kita nyucinya siang. Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. kamu mimpi kali?” jawab temannya.136 BAGIAN 3. Selang tak berapa lama. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. Niatan Telaga. sehingga walaupun airnya jernih. tampak sebuah iring-iringan datang. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air. Suatu pikiran yang cerdas. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. ”eh. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu. Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan.

. Selebihnya telah berendam di tengah. Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. dan ingin segera menjauh. Lainnya hanya mengiyakan. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih. Dibiarkannya keranjangnya mengapung.!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang. Tak tergoda atas ajakan itu. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu.” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang.. ”Sarini. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. Tak ditemuinya seorang pun. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan. ayo mandi.137 ”Sekalian mandi. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan. membuatnya menjadi bertanya-tanya. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu. Andai saja ia maju setombak dua lagi.. setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua.. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan.

seling mengangguk satu sama lain. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka. ”Ini adalah Ki Rontok.. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. Tidak seorang gadis pun. tampak oleh Telaga. Kawan-kawannya telah diperingatkan. Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu. di mana belum ada matahari.138 BAGIAN 3. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. ada mayat. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya. Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini.” ucap salah seorang dari mereka.. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya.. Penakut disebutkan dirinya. Tidak di siang hari bolong seperti ini. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. juga Sarini yang melihat kepergian mereka. si pedagang keliling. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari. Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. ”mayat.” jawab yang lain menegaskan. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa.!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air. Menepikannya dan mengamati. Telanjang. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. Sepotong tali. bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. ”wah bisa berabe nih kita. benar itu Ki Rontok.” . Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu.

Bisa-bisa fatal akibatnya. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. Bersama-sama mereka membawanya. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang. Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana.139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. Bisa-bisa ia yang dituduh.. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. Selain karena . Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu.” ucap salah seorang dari mereka. Untuk kemudian mengikuti. yang dikenali sebagai Ki Rontok. Benar-benar menarik kata-kata itu. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu. dengan tandu dari kain yang mereka bawa. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi. Tapi itu harus dilakoni Telaga.

Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah. Dari caranya bergerak. dipandangi sajalah orang tua itu. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi. Telaga tidak tahu harus berbuat apa. ”kita akan bertemu lagi. Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu. Tampak belum tua benar ia. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. Aku si orang tua. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. lebih tinggi . lalu katanya. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan. melainkan terus mengamat-amati Telaga. terlihat tubuh yang terlatih. Tampak pula warna busana yang aneh. anak muda. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. Tak dibukanya percakapan. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. sibuk dengan pikirannya sendiri. Orang tua itu tersenyum. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan.140 BAGIAN 3. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. Selang tak berapa lama. ”Jangan kuatir. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda.. tapi ia kedapatan sedang mengintip. Warna-warna kulit yang aneh. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya. tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan.!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu.

juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya. Kedua desa itu. Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh. Untuk kebutuhan air minum. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. . Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung. dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya. bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. Selain adat. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan.

Akan terjadi peleburan. Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Bagi mereka Tigaan lebih penting. ada pula orang-orang yang menghargainya. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. Dengan adanya para penjaga keamanan. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. situasi menjadi aman dan terkendali. Kedua kelompok ini. Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan. Gembira hati mereka.142 BAGIAN 3. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. Cara-cara ini sudah tentu tidak baik. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan. hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu.

Mengadudomba. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. jauh di barat daya sana. Mungkin akibat ilmunya itu pula. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. Bila kedua desa bersatu. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. jelasnya. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana. Kejamnya politik perdagangan. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. Hal ini tidak boleh terjadi. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. Akhirnya mereka. Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu. tidak mungkin. Walinggih tak tega. Dengan cara ini pasti akan lebih laku. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu. Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Yang penting untung dapat diraup. pulang dan mela- . Asasin. Karena ditunggutunggu tidak datang. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu.143 dari luar Padang Batu-batu. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. Andai saja Walinggih ada di rumah. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. Minta tolong ke penduduk kedua desa.

Akan tetapi para pembunuh tidak mau. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. kelompok pembunuh bayaran terkenal. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. mengingat ilmunya yang tinggi. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu. Dan ditinggalkannya begitu saja. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Untuk kelebihan waktu. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Menggiriskan hati suaranya. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana. Jika ada pertentangan. serta memekakkan telinga. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya.144 BAGIAN 3. Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. juga penolong. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. harus dibayar lain. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. bisa berabe nanti jika ia mengamuk. Dalam setiap perkara kejahatan. Kedua kelompok pedagang. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. pikirnya. Pandangannya berubah terhadap kerukunan. Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. Ia akhirnya mengambil sikap. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. Setelah semua orang yang bersalah habis. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya. biasanya harus ada yang tersembelih . Dibelah persis di tengah-tengah. Simetris. Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal.

Semoga arwahnya nanti damai di sana. jadi dua bagian. walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak.” usul seseorang. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok. ”Bagaimana ini. Ya. Orang yang terkena fitnah misalnya. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat. kecuali kasus-kasus yang parah. Alasannya boleh berbicara belakangan. Katanya suatu ketika. Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu. Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. Jika bertikai dan berlarutlaru. Akibatnya kehidupan menjadi tenang. Tapi itulah kenyataannya. Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya. kepala desa?” tanya seorang warga. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. sudah pasti akan ada pembantaian. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. Alternatif itu lebih baik. fatal akibatnya. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya. . Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat.145 simetris. melainkan ketenangan dalam paksaan. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya. Terlepas dari siapa yang bersalah. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu. sebelum Walinggih mendengarnya.” Benar-benar pikiran yang gila.

Tidak ada korban dari Walinggih. ”Ada yang bisa menceritakan. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah.” gumam seorang takut-takut. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. akan selesai masalah. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. Kemudian kata orang itu setelah memeriksa. perlu pula diusut. Dan memang benar. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. si Hakim Haus Darah. berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat. bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling. gadis yang tadi tidak ikut mandi.” ucap seorang. seperti ditunjukkannya. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan. . Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini. terdapat suatu celah.!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban.. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah.146 BAGIAN 3.

ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan. perkenalkan kami. Seperti halnya Ki Rontok. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang. Tak pandang bulu. Mereka yang terakhir ini kuatir. Saat itulah ia turun tangan. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. . semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu. tak jelas alasannya. apabila Hakim Haus Darah ditangkap.. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. akan kembali ke masa lalu keadaan di sini.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. sebagai bukti. dapatlah sang hakim saat ini ditangkap. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau. Sementara yang lain. ”warga desa yang terhormat. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Dengan adanya peristiwa ini. Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran. kami datang untuk menangkapnya.. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa.

” ”Ya. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah. Kami yang akan menangkap sang hakim. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. hanya perlu menjadi saksi. ”Yang murah saja. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. Sudah banyak memang pedangan dan . nak.” katanya sambil melihat Telaga. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi. karena saat ini hari telah menjelang senja. ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat.148 BAGIAN 3. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. Anak pasti bukan orang sini. untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri. Ingin dicarinya keterangan. paman. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol. Kalian penduduk desa. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya.” jawab Telaga sopan. Telaga adalah pemuda itu. Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. Lalu tanyanya sambil lalu. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu. ”ada peristiwa besar ya. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. ”Mau makan apa. Tak tahu harus ke mana. bagaimana akhir dari peristiwa ini.

”Iya. bukan bercerita.” jawabnya cepat. Ia tidak punya tempat menginap. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas. Saya berasal dari utara. Di desa itu .149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. Gule Julung-julung. Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. Saya lagi merantau. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan. tiga perwira. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani. Tiada lagi ragu sekarang. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. paman. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. Tak berapa lama pesanannya pun datang. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. Cukup sederhana Pepes Keuyeup. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. Kemudian ditinggalkannya Telaga. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis.

akan tetapi suka keramaian saat bekerja. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya. paman. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat. Tidak .. melainkan hanya berwarna alami. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. Marilah. Jadi bermalam saja saya di luar. sejak putrinya masih kecil. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya. Sudah biasa kok. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya. lalu sapanya. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya.” jawabnya sopan. Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur. Saat akan merebahkan dirinya.” Telaga mengangguk-angguk. ”Beda ya.150 BAGIAN 3. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. Selain tidak bagus juga mahal. Begitu melihat dirinya. Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. ”bagus juga. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa. Istrinya telah meninggal karena sakit. ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf.” katanya. paman. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi. ”Marilah mampir. lalu jawabnya. sama yang di dalam desa. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik.. Batu dan kayu belaka. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga. Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan.?” pancing Arasan. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang. yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. Tidak dihias macammacam.

Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu. dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya.” Lalu tanyanya.151 terlihat asal dalam menatanya. mari masuk.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu. Rumah itu cukup besar. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis.” Lalu muncullah putri Arasan. Seorang pemuda yang lugu.!” ajaknya. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi. Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. ”Mari. berseru Arasan memanggil putrinya. tetap saja ia merasa malu. ”Sarini. Nanti kuperkenalkan. ”Ayah. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu..” Bertanya-tanya Telaga dalam hati. tapi putriku. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu. Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan. tempat yang . Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya. Sampai depan rumahnya. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya.. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. Tapi lupa. putriku! Ayah pulang. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah. Sarini makan sendiri. bagaimana rupa dari putri Arasan. selamat datang.. Lihatlah ada tamu kubawa serta.. ”bukan. Senang pasti hatinya. Ruang depan dan ruang belakang. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya.

hanya di pagi hari. Tak lama kemudian mereka tidurlah. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. hyaaaaa. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam.. Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. menekuk dan melemparkan gadis itu. Orang tua itu mengelak tipis. Di saat orang-orang belum bangun. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. Telaga mengikutinya. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. hampir tidak memperdengarkan suara. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya. tetap dengan menggunakan telapak tangan . ”Huut. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan.152 BAGIAN 3. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja. Alih-alih terjatuh. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur. memutar tubuhnya. menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya.!” teriak suara seorang gadis. Pendaratan yang ringan. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. Juga adanya tusukan-tusukan. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. melainkan ayahnya. Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya.

”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. berkatalah Arasan kemudian.153 yang dibuka. Melihat keragu-raguan Telaga. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata. Lalu tanyanya kemudian. akan tetapi tidak melatih bagaimana . ”tak perlu kau katakan pun. ”Belum. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja. ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. paman Arasan. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. Sampai pada gerakan yang menghentak. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. agar susah ia mencobanya. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. ”Ah.” kata Arasan sambil menganggukangguk. ”Nak Telaga. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya. itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu.” jawabnya jujur. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air. kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu.

” jawabnya. sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri. maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman. Guruku sendiri pernah berujar. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. nak Telaga.. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. . Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan. Tapi jangan panggil aku guru. mereka pun menghentikan latihan. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Akan tetapi sebagai seorang ayah. nak Telaga. Setelah matahari mulai sedikit tampak. Benar pikirnya. Ia ingin hidupnya aman-aman saja. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. ”Sudah tentu. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. Telaga pun mengangguk.. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri. ”Paman Arasan.” jelasnya kemudian. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya.” tanya Telaga bimbang. Perihal mengapa. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya.154 BAGIAN 3. untuk menjaga diri belaka.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu. yaitu Tenaga Air. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya... Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. ”Marilah. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air. suatu saat akan kami ceritakan. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka.. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai.

Hari ini Arasan tidak bekerja. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. selain juga menjadi malu. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu. Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. Sebuah rumah di atas batu. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Tempat kediaman Hakim Haus Darah. tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ. tampak sederhana. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. Walinggih. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. Terlihat . yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. bisa-bisa Telaga tersangkut-paut.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya. Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. Jika tidak. Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya.

Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda. Memang samasama tua. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. Sunyi tak terdengar jawaban. ”Huh. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih. Ingin tidak hadir. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. akan tetapi orang ini. Pedang mungkin. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. Hanya ada satu persamaan.156 BAGIAN 3. dan tua karena pikiran. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. Seperti bercak darah yang mengering. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. ”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. keluarlah engkau. ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar. Mereka. Sesekali seperti guratan kaki. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. Seorang tua muncul dari dalamnya. Baru kali ini. Hanya beberapa .!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. Orang tua kemarin sudah putih semua. sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam. yaitu baju yang dipakainya.. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu. Juga rambutnya berbeda.

tak perlu ada kata-kata lagi. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. Lemparan itu bukan sembaran lemparan.” . Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan.” kata seorang dari mereka bertiga. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih.. Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya.. Sarini.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun. Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. ”Bila pedang sudah bicara. Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata. lalu katanya. Arasan ayahnya dan Telaga. di atas batu tinggi. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. ”serahkan dirimu. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. ”Hmm. baru datang. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk.157 yang cukup berilmu tidak.

. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan. Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. Dalam serangan pertama.158 BAGIAN 3. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju. Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. Benar-benar serangan yang lengkap. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu. Satu menyabet ke arah kepala. Hampir mencium perut-perut mereka. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. . Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. Bekeringat dingin ketiga perwira itu.!” ucap salah seorang dari mereka. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal. Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. Dua buah. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta. Akibat mundurnya itu. ”Bagus. Untung saja refleksnya masih bekerja. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya.

Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini. benar-benar ’penegakan hukum’. Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu.159 Kembali ketiganya maju serantak. Saat satu orang menyerang. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan. rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran. ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang.” kata Walinggih. turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran.” ”Hehehe. Itu saja.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu. ”Hehehe. ”Jadi begitu. Lalu ucap salah seorang perwira. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin. Arasan.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah.. Pertempuran itu pun berlangsung seru..” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu. Kelimanya bergerak ringan. tak usah berpura-pura. Belum pernah sebelumnya.! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. ”Walinggih. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih. Cara ini ternyata lebih berhasil. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. . salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. Matahari sudah menempati titik kulminasinya. Hahahaha. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu. Sebagai seorang manusia.

Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. Sebelum kedelapan orang itu bergerak. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. yang disebut sebagai Asasin. mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. Dari pikirannya. langsung menyerang. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu.160 BAGIAN 3. Dugaan itu tidak salah. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. menjadi semakin bingun Telaga. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. Akibatnya rekan-rekannya . Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. Satu ke depan satu ke belakang. sehingga ketiga orang perwira itu dikirim. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. malah bergerak berputar. Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. alih-alih menjawab pernyataanya. Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. Sebagai seorang pembunuh bayaran. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. kakinya meregang terbuka selebar dada. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Jika tidak. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan.

Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat. ”Cappp. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. Tak ada yang dapat dilakukan kali.!” serangan kedua membuahkan hasil. Terbelah simetris Asasin ini. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas.. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka. Melihat hasil ini. Kaki dibuka selebar bahu. ”Settt. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping. Omong besar di depan. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. Bukan ke atas melainkan . Siap untuk serangan berikutnya. Tak ada hasil setelahnya. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal. pikirnya..!” Akan tetapi terlambat.. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. Dua orang yang jauh dari sasaran pertama.. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya. Hanya tipuan. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya.. ”Hei. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman..! Apa mau kalian. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram.161 berupaya melindungi. Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Diatur napasnya tenang.!” serangan ini pun membuahkan hasil.. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya.?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut. juga kedua Asasin. ke depan dan belakang. tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah. ”Tunggu dulu.

Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Tegak dan lemas. tak dapat ia menyerang keenammnya. Walinggih yang akan bergerak. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak.162 BAGIAN 3. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk. Tak berani ia melihat ke bawah. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan. Terpaku bagai akar pohon. Tak berapa lama. Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming.. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya. Walinggih kembali ke tengah. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Ini sudah . seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih. takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Kembali ke posisi semula. tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. ”Wuttt. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. Siap melepas serangan lagi bagi pegas.

Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya. ”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka. Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Alih-alih menggeser kedudukannya. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka.!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu.. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah. ”Heggg. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih. Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. bisa tak selamat Telaga. di mana orang ketiga sedang menyerang. ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. Entah apa namanya. Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. Sunyi. masih tampak wibawa dan keangkerannya. Luka bacokan tak dapat dihindari. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak . Masih dengan tenang Walinggih mendengus.

”Siapakah. Teringat akan anaknya. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih. Jangan disimpan. Jika anaknya masih hidup. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut. Bertempur. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. untuk dibuat bahan membalut. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu. sudah pasti sebesar ini tentunya. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. HAKIM HAUS DARAH berdaya.. paman.” jawab Telaga sedikit malu. Setelah mereka bertiga berunding. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya .. Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali.. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram. Ketiganya tampak termangu. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. ”Maaf. Mendengar cerita Telaga. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. kok menggunakan racun. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. kau?” tanyanya tergagap. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai. akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya.164 BAGIAN 3.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. Akan letaknya jauh di atas. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Di hadapannya. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka.176 BAGIAN 3. Paras Tampan merangkak mundur. apa-apa yang ada di sana. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Hitam dan dingin. Anak tangga pertama lebih . Paras Tampan bersorak gembira. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat. HAKIM HAUS DARAH Hijau. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Cukup lebar dan tinggi. Ia tidak bisa berputar. ada seperti anak tangga di atas itu. Tiba-tiba ia bersorak girang. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. sampai ketinggian yang dapat dicapainya. terdapat semacam anak tangga. Diperiksanya dengan seksama. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. Ada. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan. hampir dekat dengan langit-langit. di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Tiba-tiba didapatnya akal. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. soraknya dalam hati.

Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu. Berulang kali dicobanya. Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Masih saja gagal. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan . Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. anak tangga berikutnya lebih rendah. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu. Seperti dipotong dengan sengaja. Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. Butuh waktu lama. Dan berikutnya lebih rendah lagi. Merangkak pelan. Ada lima anak tangga semuanya. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. Cara ini mungkin lebih masuk akal.177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya. Bila bisa. Di salah satu sudut lorong. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang.

Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Dan Sekarang . terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Tujuh Rahasia. Pukulan Tanpa Tanding. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. Racun Selaksa Macam.178 BAGIAN 3. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu. Seni Beperang. Pukulan Inti Es dan Salju. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. Puas melihat pekerjaannya. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Seribu Ramuan. Perpustakaan kitab-kitab kuno. Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Dan naiklah ia. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. Batu-batu. Angin-angin. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Beratus-ratus jumlahnya. Ilmu Muda Selamanya. Kemudian ia menarik napas panjang. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Juga yang berikutnya sampai yang kelima. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Pemuda itu melihat berkeliling. Aneh-aneh judulnya. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Berhasil. agar lebih stabil. Tenaga Air. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan.

Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya. Paras Tampan. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. ”Benar. ”Pernah guru. ”Paras Tampan. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini.” kemudian lanjutnya. hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan. Gunung Hijau. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dipelajari.. Pemuda itu. Angin-angin. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri . Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. Rintah dan Gentong. Siap untuk dilahap. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima. Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam.. Hanya mereka berdua. Tapi itu cerita lama. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya.” jawab Paras Tampan. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu.179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu. Atas kehendak Sang Pencipta.. Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. ”dan sekarang. Misbaya. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka.

ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. selain jurus air ini. HAKIM HAUS DARAH darinya. Dikarenakan oleh gurunya. karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. Di balik tempat tidurnya. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. Jurus Api dan Jurus Air. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. Tulisan itu mirip prasasti. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya.180 BAGIAN 3. Jurus Tanah. Entah oleh siapa. dekat dengan bagian kepala. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya.

181 dalam keadaan yang buru-buru. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada.” Tulisan tersebut berhenti di sana.. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya. Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya.. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. Lapar. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk. Jangan lupa untuk. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu. Badannya juga terasa lelah. Semakin ke bawah. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini.. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni. Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Penjaga Keseimbangan. Tidak ada. judul-judul kitab yang ada. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain. Arahnya tidak rata tiap barisnya. Sedari waktu itu.”. Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Bacalah itu pada kitab-kitab awal. Sebelum ia belajar. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya. Minta untuk diisi. Untuk menunaikan tugas. Di salah satu ujung ruangan.. Di sana tertulis. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. Teringat itu. Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat. Dilihatnya kembali berkeliling. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku. Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya.

Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang. ingin ia meraih untuk memakannya. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. . Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Sungai Batu Jernih. Hampir seukuran dirinya. tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Warna tubuhnya biru tua keunguan. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. Sungai yang keluar dari lubang. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Mengambang.182 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. Ditambah dengan laparnya. Ranum dan segar kelihatannya. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. Matanya besar. Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan. Pesat menuju buah-buahan itu.

183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan. Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut. Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan. .

HAKIM HAUS DARAH .184 BAGIAN 3.

Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 . Manis dan berair. Perutnya telah lapar. Digigitnya perlahan. Ke sungai dalam tebing batu itu. ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya. Entah kemana.Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. Lembut menyegarkan. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda. Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat. Diperiksanya perlahan-lahan. Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut.

”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan. ”Seorang pemuda yang cerdik. betul. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain. ”Hehehe.186 banyaknya. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. Pulas. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam.” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. BAGIAN 4.” kata seorang dari mereka. Troll. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. . Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana. Sesampainya di sana. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain.” kembali kata orang pertama. Ia pun tak lama kemudian mendengkur. Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya. kali ini mereka berjalan ringan perlahan. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu.

Akan tetapi rasa laparnya menang. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu.” tegas salah seorang dari mereka. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding. Membaca demikian.” kata temannya. Biarkan nasib yang membawa mereka. Hanya herannya ia. sayuran tanpa daging dan nasi. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu.” kata seorang yang lain. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan . bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. Guratan yang belum selesai itu.187 ”Benar. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap. kakak Rawarang. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll. Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana.. seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan. ”Kita layani dia. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya. Mula-mula ragu-ragu ia memakannya. Tak tahu dirinya. ”benar-benar berjodoh. Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab.?” tanya seseorang dari mereka.” ”Jadi.

188 BAGIAN 4. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. selain disertai bahaya untuk jatuh. Latihan di bagian luar ruangan itu. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat. akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. se- . Kadang kepala di atas kadang di bawah. berpijak pada lubang-lubang yang ada. Lebih lanjut pada lubang-lubang. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. Paras Tampan dapat menghemat waktu. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. cengkeraman. Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding. Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya.

yaitu kulit binatang berbulu. Dengan tidak memakan daging. Paras Tampan. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. Yang penting nyaman dan hangat dipakai. . telah habis buah-buahannya. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. Peralatan menjahit disediakan mereka. Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar. tampak semakin tegap. Badannya berisi. hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang. Sederhana tapi cukup memadai. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Tidak terlalu banyak. Pemuda itu. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah. Badannya menjadi tampak pas sekali. Untuk pakaian. Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. Entah binatang apa. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang.

Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju. ditunggunya mereka di luar ruangan. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama. Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin. Undinen misalnya. Di tepi Sungai Batu Bening. Alih-alih. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll. Dan untuk belajar jurus itu. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. Sentilan Kelereng Es. Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka.190 BAGIAN 4. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih . Sang ikan pun berkecipak-cipuk. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Benar-benar mengagumkan. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. Tapi mereka tidak munculmuncul. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening.

Senja pun tiba. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. kapan ia siap untuk dilatih. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. Bila iya. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut. Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin. sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. Apabila ia berlatih serius. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Hari ini. akan tahulah mereka. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama. Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Toh. cengkeraman dan panjatan-panjatan. para Troll. Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. para Troll akan mengajarinya. Siang sudah belalu setengahnya. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah. Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. Dengan menggabungkan kedua unsur. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Otaknya .191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Memberinya petunjuk lebih jauh. Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. Menurut petunjuk yang dibacanya. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal.

Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya. Seorang dari mereka. Menunggu. Membesar. . Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es.192 BAGIAN 4. Paras Tampan pun berdiam diri. Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. Perlahan tapi pasti. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. Menyebar lambat. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan. Tak tahu apa yang dilakukan. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. Tidak berhenti sampai di sana. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti. Tak jauh melebar melainkan memanjang. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar. Dari siulan tadi. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. ”Kecipak. mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri.. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya. Memasuki gua batu di tengahnya. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama.!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Berjajar menatap dirinya.

Dataran itu cukup luas. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. Paras Tampan tidak berada paling belakang. Kanand dari arah ia tadi datang. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah . juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. perlahan tapi pasti. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. Benar-benar ruangan yang memukau. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya. tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat. Padahal apabila dibayangkan. Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Tak terlihat goyangan yang berarti. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. Selain malam telah menjelang. tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan. di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya.

tapi belum pernah yang tegak seperti ini. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. Bukan tempat bagi makhluk air. Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. Ikan Kolakan. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu.194 BAGIAN 4. . Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. tampak berenangrenang di kejauhan. mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. yang terlihat sebagai pemimpin di sana. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai. Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya.

kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding. Akan tetapi bukan Paras Tampan. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun. mencoba kekuatan barisan itu. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. tentang bagaimana caranya bisa . Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. menjejak terbalik pada langit-langit. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Sepanjang satu tombak kira-kira. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan. Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. Ia melompat dari tanah. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut.

Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala.196 BAGIAN 4. untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. Sesaat sulit juga. Setelah tiga kali dicobanya. ”tukk. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka. Rupanya saat bergantung terbalik itu. sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . Sekarang saat dimulai masalahnya.. Waktu pun berjalan pelan. Tak lama ia bisa bertahan. Hampir lepas pegangannya.!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut. tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu. Pada bagian dinding yang tegak. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya. Tiba-tiba. tidak ada masalah. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya. Darah tidak mengalir deras seperti tadi. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Pusing dirasakannya. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya.

Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun. Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. Tak ada jalan lain. Para Troll tampak berganti kelompok. memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. Tak terasa telah lewat tengah malam. Paras Tampan pun telah lelah. tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. Dilepaskannya pegangan dan pijakan. Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. Pada suatu jalan darah tertentu. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Setelah beberapa kali mencoba. Mereka juga memakan satu setiap orang. Tidak lebih. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu. Walaupun belum selincah Troll. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka. Akibatnya pusing kembali diperolehnya. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh.

berabe nih!” gumam Paras Tampan. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. ”Hmmm. Gerakannya ringan. sosok ini pun senang tersenyum. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. bagaimana aku dapat mencapainya. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Sedangkan temannya berambut pendek. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi. Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya. BAGIAN 4. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya. Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. untuk kemudian Mengheningkan Cipta. ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya.198 dataran batu itu. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Wajah .

Benar-benar suatu sifat yang jumawa. ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau. ”Rawarang. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi.” jawab Rawarang. Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu.” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. ”Jika memang maksudmu demikian. mana mungkin ki sanak berdua akan datang. Lalu jawabnya. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua. ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi. Ia lebih serius terlihat. ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Sebelum menjawabnya. memberimu kitab ilmu-ilmu kami... menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu. atau jika tidak ada... Petapa Seberang. seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api.” kata orang yang berambut pendek itu. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan. kami harus menuliskannya dahulu.” sambil ia membungkuk sedikit. ”Maafkan saya. Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar.199 sosok ini tidak seperti kawannya. ”Hmmm.. mengapa perlu meninggalkan pesan.” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” . Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga.

” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya. ”kalau begitu jelaskan dulu.” jawab Rawarang masih jenaka. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. mau apa engkau dengan kitab-kitab kami. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya. Lalu katanya. ”Ya. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin.. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. sehingga ada alasan untuk membalas. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah.200 BAGIAN 4. Walapun besar dan megah. ”Jika tidak memberikan. itu jadi susah. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota .” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. tapi tidaklah jahat. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan.” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno.. Baik orang-orang yang terlihat berduit.

Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah. Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. Begitu pula dengan sekolah-sekolah.201 kecil. Kebiasaan membaca. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini. Di negara itu. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. tidak akan ada buku yang bisa dibaca. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- . Jika tidak ada kebiasaan menulis. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. seperti waktu bercocok tanam. Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. Mirip dengan buku harian dewasa ini. jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Pun hal-hal yang berguna. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka. Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Dan ini sudah tentu terbatas.

Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. Dari membantu melengkapinya. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. amat takjub pada kemegahan itu. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara. Tidak dibawa pulang. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. dan apa-apa yang mereka lakukan. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. dapat dilakukan penghibahan. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang. Ayahnya yang seorang pedagang perantau. Buku harian. Dengan perantaraan buku-buku itulah. sampai memanfaatkannya. Dengan cara ini. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. seorang anak dapat melacak nenek moyangnya.202 BAGIAN 4. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. Melalui cara ini.

Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya. Buku-buku yang terlambat itu. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. ilmu kanuragan. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. Bakat sang mantan pencuri itu. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. ilmu alam dan bahasa. Jangan seperti gurunya. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. Dari penjaga perpustakaan ini. termasuk di dalam istana kerajaan. digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. Semahir-mahirnya tupai melompat. suatu saat jatuh juga. yang tidak mau memberitahukan namanya.203 membekas sampai ia dewasa. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan.

”jika diminta begitu saja.. ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara. ”Sekarang. . ”jadi maksudmu. atau setidaknya melawan dirinya.204 BAGIAN 4. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk. Rawarang. atau tidak mau menanggapi saya. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya.” tanya Petapa Lain Pulau. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. apabila tujuan dari Rawarang ini benar. pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang.” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. Sebaik manapun suatu tujuan. Lalu kata seorang dari mereka. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. Umumnya saya menang. Memang menurutnya.” ”Dan sekarang. Tetapi tidak begitu caranya. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas. engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai. Para pesilat atau sastrawan. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini. ”Saya tidak punya jalan lain. agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang.” jawab Rawarang. jadi susah.

karena luka dalam yang dideritanya. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es.. tiba-tiba ia bergerak cepat. ”Buk-buk-buk. ”Hey. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi.. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. didasari rasa kemanusiaan.!” terdengar bunyi pukulan keras. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka.?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Walaupun wajahnya masih pucat.. dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya.” gerutu Petapa Gunung Es. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau.. adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya. Merasai Hawa Pelajari Ilmu. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam. Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka. kedua petapa itu mengobati Rawarang. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya. Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. berusaha ia . apa maksudmu. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir. Ia dapat kembali membuka matanya. sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka. mau tak mau..

Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan . Petapa Seberang.. Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. Dibiarkannya tergerai saja. ia tidak memiliki siapa-siapa. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan. kakak Lain Pulau. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka. Wajahnya tampak lebih muda. Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. Mengambang tapi jelas. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau.. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini. Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu.. Bajunya juga sederhana dan kasar. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api. Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. paling muda dari ketiga petapa tersebut.206 BAGIAN 4. kena juga kalian diakali bocah nakal ini. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya.. Petapa Seberang. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu. Tak perlu katakata diucapkan. ”Kakak Gunung Es.. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun.. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka.

Zig-zag ke kanan dan ke kiri. Gunung Hijau. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Menuju atas. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. Lima enam anak tangga sekaligus. Cepat dan pesat. Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Keduanya pun mengangguk tanda mengerti. Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. Menuju suatu tempat di atas sana. Rawarang si Maling Kitab. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Ramai sekali suasananya. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara. Dipahat sedemikian rapi dan halus. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. Ada hal yang lebih penting. Petapa Seberang bergegas menaikinya. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Tanpa bicara. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. Hampir habis tenaganya. sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. Menggirisi apabila menyaksikannya. Rimba Hijau.

Sosok itu. Sudh cukup untuk dituliskan. Seakan-akan tak ada bobotnya. Lebih baik diikat saja. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang. Masih ratusan lain yang menunggu. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Pada sisi kirinya. Doyong dan bergerak jatuh. Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. . Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi.208 BAGIAN 4. Secarik kain panjang. seorang makhluk Troll muda. Rawarang tersenyum lemah. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Membuat udara terasa basah dan segar. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebelum ia mencapai lereng puncak. jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Tiba-tiba pandangannya gelap. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat. Cepat dan lembut. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. agar ia bisa cepat memanjat ke atas. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya.

Tak lama selesailah pekerjaan itu. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. judulnya. kitab ini harus diselesaikan. adik Bagadsh. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu. lalu lanjutnya. Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang. ditampiknya dengan lemas. Juga kaki-kakinya. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang. Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab..” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi. Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. ”tapi itulah diriku.. Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. . Ilmu Tiga Petapa. ”Tak banyak lagi waktunya. berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. Penulisan kitab itu pun berlangsung.

Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya. Ia tidak in- .. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana. sebagai bagian dari kalian. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. Berangkat ia menuju suatu ruangan. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan. ”Adik Bagadsh.” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi. Bagadsh. Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang..210 BAGIAN 4... Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. Memeluknya. Membangun perpustakaan di tanah ini. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana. Semakin lama semakin lemah. Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Meneruskan cita-citanya. tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. selamat tinggal. sang makhluk Troll. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana. Tangannya pun terkulai lemah.. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya. Juga semakin lama semakin miring ke bawah... Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju.

akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Dan menunggu. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka. Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Ia hanya memandang sayu mereka. Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya. Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini. Hanya tak dimengertinya. akan tetapi dapat mem- . Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. Lebih banyak bertahan. Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut.

Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. Jika tidak tekun merapal ilmu ini. dan tidak sempat mengamalkannya. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. . kitab karangan ketiga petapa. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug. atau keturunan-keturunannya. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. agar dimakamkan pula di sana. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain.212 BAGIAN 4. Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang.

Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. hanya pesan mereka kepada Bagadsh. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata. Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. . Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula.213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu. akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat.

Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi. kira-kira dua . melainkan memang begitu adanya sejak lama. Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. Seakan-akan tanpa celah. Paras Tampan pun kemudian bermimpi. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. Terduduk dalam capainya. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. Hanya saja sekarang lain rasanya. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan.214 BAGIAN 4. Walaupun demikian secara tak sengaja. Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat.

Entah apa yang menyebabkan hal itu.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama. Diletakkannya di atas telapak tangannya. Setelah itu ia pun kembali menghilang. Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel. Entah apa. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya. Setelah cukup dekat. dan di- . Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri. Bagadsh. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. Lambang Tanah. Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud. Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. Batu itu terlihat menempel. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. Tak ada kata-kata di antara mereka. meminta agar Paras Tampan mendekat.

Paras Tampan pun mencoba lagi. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Terlihat sedikit hasil. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya. sehingga efesien pemanfaatannya. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. Ini bukan menjejak. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya. Paras Tampan pun mengiyakan. Bermacam-macam warna dan ukuran. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan.216 BAGIAN 4. Lama dan stabil. ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. Kali ini berhasil. tapi menempelkan benda. orang itu menepuk bahunya dari belakang. Lalu ia berdiri.

Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. Naik terus sampai dua tombak lebih. Demikian pula untuk mengapungkan batu. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu. seakan-akan mengatakan cukup. Batu itu menempel. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya. Kemudian. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. Diambilnya sebutir batu sembarang. orang itu menunjukkan hal lain.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. Hal yang dilihatnya seakan-akan . dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. Lebih jauh ke bawah. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah.

Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. seperti halnya air yang mendidih.. Padangannya tiba-tiba gelap. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari. yang merupakan salah satu kelebihannya. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai. Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. uap air. Kembali mati seperti keadannya semula. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar. ingin bergegas menjadi gas. Rupanya dalam posisi duduk tadi. Sampai di akhir jurus ke sepuluh. batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah. Benar-benar pukulan yang mengerikan. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali. Setelah mengurangi tenaganya. Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian . Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. Mengambang dan liar. Liar. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh.!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya..218 BAGIAN 4. dan. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya.. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu.. ”Dukkk.

baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Setengah hari pun lewat. Dilontarkannya bongkahan es tersebut. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. Tapi tanpa batu. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. Masih berupa gerakan saja. Sakit. Teringat ia kembali akan mimpinya itu. Pukulan Badai Pasir. Cepat dan keras. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. belum terisi oleh Tenaga Tanah. Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. tampak sebongkah es terbentuk mengambang. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan . Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi. Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. untuk menarik dan menolak benda-benda padat.. walaupun masih kaku. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. ”Kecipak. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya.219 jatuh membentur dinding di sampingnya. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. Tiba-tiba ia mengerti. Perlahan. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu.!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan.

BAGIAN 4. Saatnya untuk sedikit beristirahat. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu. Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. melainkan harus langsung. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. Para Troll sudah berganti kembali penjagaan. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu.220 untuk berterima kasih. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. Akhir hari kedua. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut. Sunyi. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. Perlahan-lahan. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. Hari pun telah menjelang senja.

Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara. Pemuda itu menggeliat bangun. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. melingkarkan tubuhnya dan tidur. . Digerak-gerakkan tubuhnya. Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini. Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. Hampir-hampir ”terbang”. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. satu tahun lagi.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. Benar-benar tidur. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. juga siasat yang diaturnya. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat. Saat ia bangun. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya. Tidur enam jam sudah cukup baginya. Percobaan terakhir. gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. Semangat mulai mengisi tubuhnya. Paras Tampan pun segera berdiri. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. *** Pagi telah datang.

222 BAGIAN 4. . Ia menegadah. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya. Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana. Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini.!!” hentaknya. Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang.. Satu tidak cukup. Ia akan mulai menyerang para penjaga itu. agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini. dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya. Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu.. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa. Salah seorang dari mereka mempersilakannya. ”Heghh. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya.

Kembali dengan cara yang sama. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan. tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. Dan ia berhasil. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat.. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang. melainkan langsung dengan serangan langsung. melesat menuju lubang itu. akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu.. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan. Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu.! Masuk ia ke lubang di atas sana.!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya. Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata. sampai sekepalan tangan. . Hampir habis tenaganya. melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga. ia melompat. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut. ”Tak-tak-tak.

Ikuti jalan itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). Dan lebih terang. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. Bisa dari depan atau belakangnya.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana. Lamat-lamat terdengar suara. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas. Hampir habis waktu ujian. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. ”Bagus nak Paras Tampan. . Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. Di sana. Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh.224 BAGIAN 4. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. ”Majulan terus. Dan anak telah berhasil. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini.” Sunyai sebentar.

Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. kadang juga sedih atau gembira. sekarang setelah engkau berada di tempat ini. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab.” jelas Troll tua tersebut.” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka. karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. ”Nah. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau. melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Paras Tampan menggelengkan kepalanya. Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. Kerangka mereka belum tinggal tulang. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. Ya. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding. Engkau mem- . ”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa. Melihat kebingungan Paras Tampan.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. Petapa Gunung Es.225 Setelah dekat dengannya. Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. Kadang tegang.

Satu jurus dapat dilakukan cukup lama.” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang. nak Paras Tampan. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini.” jawab Paras Tampan sopan.” jelas Bagadsh. ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. ada satu permintaan padamu. Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu.226 BAGIAN 4. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab. memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. ”ku harap engkau mau mengabulkannya. Kitab yang asli tidak boleh dibawa. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. Terserah ia. Di Katakombe itu. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. ”Aku Bagadsh. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. Bila mereka telah tiada. untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat. Terli- . PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya..” ”Sejauh yang saya bisa. Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu. baru kemudian menyerang dengan cepat. Untuk waktu pembelajaran tersebut. Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu. harus ditinggalkan di sini.” ucap sang Troll tua. Dan kemudian kembali diam. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ki Bagadsh. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu..” kemudian lanjut Bagadsh. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. tidak dibatasi. Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya.

Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka. Cermin Maut.. Rimba Hijau diserang. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu. trangg. Bahkan setelah sang kakak meninggal. Akan tetapi sayang. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut.227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu.. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali.!” ”Tringgg. Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut. Sudah cukup lama mereka bertanding. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya. *** ”Hiattt. Asap.. Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu. Ya. Gentong. Misbaya dan Rintah. Lain . Stamina sudah menurun... takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya.

ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar.. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak.. di Kota Luar Rimba Hijau. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu. Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja. ”Ya. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak.228 BAGIAN 4... diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka.” sanggah Rintah. dan bukan untuk orang-orang dari seberang. Akhirnya dengan siksaan-siksaan. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang. Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba.” Ki Tapa sendiri tampak tegang. Akibatnya fatal. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau. .” kata Misbaya. Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini. Masuk sampai ke pondokannya. ”kita yang baru turun gunung saja. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka.

.. menunjukkan perangainya yang kejam. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah. Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami. bila saya tak salah. sampai tidak mengenai kami. saya Ki Tapa. ”Maaf bila kami tidak tahu.” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya. Dibunuh orang. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya. Kakak Naga Geni telah berpulang lama. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti... ”Hik-hik-hik. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat.!” tiba-tiba melayang seorang lain. kemana saja engkau selama sini orang tua. itu sudah cerita lama.. ”sejauh yang saya dengar. Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik.. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu. Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami. Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua.” tawanya sambil menutup mulutnya.. Sabit yang dibawanya. ”Ki Tapa.!” ”Benar..!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara. ”salah satu pewaris Petapa Seberang.. ”Jangan berpura-pura.229 ”Tahan.!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah.. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian. Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya. Cermin Maut. salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda.” ucap Ki Tapa. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya. Kami masih mencari siapa yang melakukannya. Hanya orang- ...

Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan. Tak terasa dileletkan lidahnya. telah melayang seorang lagi dari mereka. Tanda racun yang amat ganas. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh. dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. Memuaskan dahaganya. Orang itu Sabit Kematian. kakak Mayat Pucat. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini.” . berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini. Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini... ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya. PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur.!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian. Rimba Hijau.. baru kita geledah hutan ini. ”Maaf Ki Tapa. Mayat Pucat. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman. tulang baik. ”Jadi. Badannya agak tinggi. ”kita bunuh saja semua.” jawab Sabit Kematian tak sabar. Lain pula dengan Cermin Maut. Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya. Wajahnya kurus putih pucat..” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. ”Tak usah banyak bicara. Belum sempat Ki Tapa berbicara.230 BAGIAN 4. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan..!” ”Anak baik. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda.

Asap kekuningan tampak mengambang perlahan. seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka. Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang. ”Hmm. terlihat sudah ketimpangannya. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini. mari kita pergi. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda. Setelah Cermin Maut. Mereka menyerang dengan ganasnya. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu. Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu.. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja. Pertempuran itu berlangsung singkat. mereka telah menemukan sesuatu. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. . Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka.

kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya. Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng. Angin pun berhembus pelan. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. Lukanya telah cukup parah. Sunyi.. Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. Sayang terlambat untuk mencegahnya. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat. Kembali ke suatu tempat.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. bagi. tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana. PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya. Tapi tegakkan saja keadilan. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya.... Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai.” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak . Urusan manusia bukan urusan mereka. Hawa kembar mungkin bersatu. ”Coreng. saat akan memakamkan mereka. Moreng. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan. Tak usah dibalas. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu.... ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta.. semua orang.232 BAGIAN 4. Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan. Jauh di pinggir lapang sana.

. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya. Di luar sana. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian. Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku.. Cermin Maut. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. sampai ditemukannya suatu halaman. Raut mukanya berubah gembira. berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu. ”Hmmm.!” Tampak sang guru termenung sejenak. Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut..” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi.. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya. Membantai hampir seluruh penghuni kota itu. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya.. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar. ”Ini. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya. Telah ditemukan apa yang dicarinya. Lusuh dan buram warnanya. Sampai suatu saat ia berhenti.233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya. Beranjak ia kemudian ke arah meja . Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. *** ”Guru. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana. Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab. Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun.

. ”. Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut. Lainnya kering. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut.” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat. Rujukan menciptakan ruang .” katanya gembira... apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan. Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan. Bekas sungai yang kering saat kemarau. Gurun Besar. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat . Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama. apa yang engkau tanyakan tadi. terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang.” tunjuknya dengan bersemangat.” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya. Memastikan apa yang didengarnya barusan.. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya. dapat disebut ruang.. ”Ini. Samar-samar tapi jelas terdengar. ”Betul. PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada. Dihempaskannya buku itu ke atas meja. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya. Ia berdiri di tengah-tengah pintu.234 BAGIAN 4. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu. ”Mari kita jelang.. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada. ada di sini. memang benarbenar telah mendarah daging. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang.. Kehidupan akan mulai muncul kembali. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa.. itu suara air. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan....

Dibebaskan dari tapanya. Air. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Umumnya bila ia ada di sana. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. Menikmati semua itu. Perlahan dengan mendesis pelan. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. Benarbenar mengharukan hatinya. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Aliran itu mengalir cukup aneh. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. . sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Entah ke mana. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Suatu pemandangan yang indah. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu. Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Ke suatu tempat di tengah sana. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. Orang tua itu berdiri diam. Tidak seperti saat ini. Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan. terbentuk dari tiada menjadi ada. Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya. Air mengalir pelan tapi pasti. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. Ke tengah-tengah Gurun Besar.

. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu.” Menarik napas sebentar orang tua itu. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan.. Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya. Sembilan buah semuanya. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan... seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya. Muridnya si anak muda duduk di sisinya. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya.. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya. Alami terbuat dari batu. Anggota keluarga Pratahu. Kemudian lanjutnya. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu.. di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal. Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. Mencari paman dan sepupumu. Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu. Di atas bangku alam yang lain. Tersusun secara alami.” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang.... mengendalikan sesuatu dengan pikiran. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan. ”Muridku. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu.. Pratahu dikenal orang-orang. Lalu ia menutup mata sebentar. ”Ya guru.” panggil orang itu perlahan. Delapan yang kecil.” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. sudah saatnya. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. Hening.” jawab sang murid hormat.236 BAGIAN 4. mendengarkan yang tak terdengar. mengelilingi satu yang besar. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya. Lebih rendah dari batu pertama tersebut. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- .

Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. Korban dalam pihak tentara saja. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas. Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik. Dengan alasan ini raja yang baru. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. Sang raja yang baru itu merasa takut. dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama. Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. untuk sama-sama dihabisi. Lain tidak.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. Sang senopati yang kemudian menjadi raja. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu.

Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. Terjadilah bencana tersebut. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta. Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga. Bila telah yatim piatu lebih mudah. ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. Bisa berasal dari suku yang sama. Hal ini harus dicegah. kadang-kadang hilang tertelan pasir. Bisa anak laki-laki. sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. bisa pula anak perempuan. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. Ia hanya harus berkelana. Pada suatu malam. Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi. Keluarga Semesta. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul. bisa pula di seberang pulau. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir).238 BAGIAN 4. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Bisa berada di tanah ini. bisa pula berbeda. Gurun Besar. tinggal diambilnya sebagai murid. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya.

pemuda itu pun berlutuh.. ”Ayah.. Bukan ayah akibat pertalian darah. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar.. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu. Sampai saat ini baru ada empat orang.. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa. ”Jadi guru. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak. Menggapai si anak dan menenangkannya. Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya.” ucapnya sambil bersujud. Terbersit pula rasa haru di dadanya. Sampai lewatnya Seh Pratahu. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ.” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya.” ucap anak muda itu tersekat. Ia kini punya seorang anak. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu.. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka. Seh Pratahu hanya mengangguk. Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah. adalah ayahku dalam keluarga Pratahu.239 bang satu persatu melalui cara ini. ”Anakku..... Mendengar pertanyaan penuh haru itu. Menurunkan ilmu-ilmunya. Rahasia telah dibeberkan.. Dialirkan . Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta.. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok.

PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya. Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang. Sarini. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman.” tanya anaknya tak mengerti. *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih. walau mereka baru saja tiada saat itu.240 BAGIAN 4. Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa. ”tak mudah untuk melakukan hal itu.” Lalu lanjutnya. Telaga. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. ”Ayah. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo.. Dikarenakan lihai dan juga kejam. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu. anakku. ”demikian pula dengan aku. Engkau pada awalnya adalah orang asing. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu.. jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga. Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. Sambil tersenyum sang ayah berkata. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini. Tapi itu dulu. Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur.

Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka.. Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. Mengambang. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. ”Mari. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. Hening. Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati. Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana. terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain.. Bukan uap air atau pun butiran air. . Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya.” tunjuk Walinggih pada muridnya. Seperti makhluk hidup. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu.241 yang dalam dan gelap. ”Itu makanannya datang. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah.. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat.!” Walinggih sambil menggapai Telaga.

PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg.. muncul makhluk hidup lain yang amat aneh. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya. ”Jangan ketahuan.!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu. Kadang ada yang sampai berjungkir balik. ”Apa itu guru. Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu. yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air. Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah. Benar-benar indah. supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi. ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu. beterbagangan. guru!” sahut Telaga lirih. yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu.. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana.. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya. Mereka bergerak-berak. Warna pelangi. keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara.242 BAGIAN 4.!” ucapnya. Kadal Pelangi (Agama agama).. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya. Memangsanya. Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu.?” ”Ssst. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya. ”Maaf.. Anehnya mereka dapat .?” tanya Telaga. Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya.

melainkan miring. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya. ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. ”tapi ada yang membingungkanku.” terang Telaga. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan.” sahut Telaga pendek. Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi. Walinggih pun beranjak pergi. terjadi hal yang sama. Di atas batu kecil yang lain. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. . Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik.” ”Apa itu?” tanya gurunya. Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. guru. ”Gerakan mereka. Entah bagaimana caranya. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula. Mantap dan kokok. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya. Lalu lanjutnya. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. Melombat ke atas dan kembali. Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. ”Indah. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka.

Bagian dari ilmu Pedang Panjang. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya. ”Gerakan itu kunamai.” ucap Telaga kagum. Mendarat dengan kakinya kembali. Akhirnya Walinggih pun berhenti. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Dan pada suatu saat. sempai hampir habis napasnya.. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu. ”Guru. barusan tadi. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu.244 BAGIAN 4. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat. akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali. Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama.. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat.” katanya jenaka. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu.” jelas gurunya. Yang barusan guru tunjukkan. Pelan dan teratur. dalam ilmu Pedang Panjang. Menyentakkannya kembali ke belakang. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya.” ”Kupikir. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi.. hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh.” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi. ”Sebenarnya juga tidak. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara. ”Sabetan Tunggal Menuai . Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi. ia kembali melompat pada arah yang berlawanan. Dan tidak hanya itu. setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa. Dan berjungkir balik kembali. benar-benar lebih dari itu. Walinggih melompat ke atas terbalik.

karena sebenarnya hanya memutarnya saja. Setelah bisa. Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. akan tetapi memanfaatkannya. Membelokkannya pada arah yang berlawanan.” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya. baru perlu pemahaman teoritis. sehingga dapat membingungkan lawan. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna. Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. ”Mari. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya. Dicobanya menirukan dan melakukannya. . Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan.

sehingga menjadi lebih teduh dan gelap.246 BAGIAN 4. Tidaklah bisa disebut hutan. PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang. Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan. . karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya. Matahari telah tinggi di langit. Waktu untuk mencari makan. mereka menangkap binatang-binatang yang ada.

Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu. Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. Dan anak ini. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 .” ucap Ki Sura. Entah kapan mereka dapat bersua kembali. Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan. nak Lantang. Dan ini memang kehendak suaminya. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya. ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini. Sudah waktunya pula kita berpisah.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek.” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya. haruslah pula berpisah. Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga.

ki?” tanya Lantang. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa.. nak Lantang. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya.” jawab Ki Sura gembira. ”Kami akan baik-baik saja. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama. nak Lantang. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya.” Nyi Sura yang menyahut.” ”Engkau memang cerdas.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya. Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya. Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga.. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka. Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. tak perlu engkau kuatir. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. ”Kamu tahu ’kan. Rimba Hijau. ”akan .. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya.” Ki Sura berusaha berkata arif.” jelas Ki Sura. bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’. Adik dari Telaga.248 BAGIAN 5.. Kemungkinan gurumu bertandang ke sana. ”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. ”Tapi guru berdua.

kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. kami tidak tahu. Entah di awal-awalnya. Tapi tidak untuk semua gerakan. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. tanah. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri.” terang Ki Sura. Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu. apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni. ”Jadi bagaimana rencanamu. ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua.” Mereka kemudian terdiam sejenak. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura. akan tetapi keduanya. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita. udara dan api. sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . Mengenai hubungan dengan gurumu. ”Saat itu kami bertiga. sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. ternyata bisa. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. yaitu air. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu.

Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini.” senyum suaminya. Pulau Tengah Danau. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur. karena hal itu tidak baik. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri. Ada suatu sebab. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat. Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. Pagipagi sekali. tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana. Jangan mencari-cari masalah. . Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. yaitu Xyra. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. Selain itu Ki dan Nyi Sura. Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya.250 BAGIAN 5. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya. walau di dalam bawah sadar. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya.

Barang-barang miliknya tidak banyak. Akhirnya ia pun duduk terpekur. Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. yaitu melalui mimpi. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Suatu saat ia mungkin kembali. Dengan kerja sama ini. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. sehingga tidak dibu- . Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu. Ki dan Nyi Sura. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. Berlatih dalam mimpi Lantang.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. dikerahkannya suaranya. ini pun lebih baik. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. Dan mereka dapat kembali bersua. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. Aneh. Biarlah pikirnya. Tapi tidak ada sahutan. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi.

*** ”Anakku Nah. ”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik). berputar.” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran. Membuat api. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. air dalam gelas itu telah membeku semuanya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. Menjadi es. Batu itu tambak bergerak sedikit. Tidak berhasil. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya.. lama ia berupaya berkonsentrasi. Belum selesai dengan demonstrasinya. Dari buku-buku yang dibacanya. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi. dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu. membekukan air. Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- . Alih-alih mengalir.. Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu.252 BAGIAN 5. sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. ”Tapi ayah. Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu. Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen.

Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya. ”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran. yaitu Unsur Air. Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya. Kadang orang tidak . semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. Unsur Angin dan Unsur Tanah. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya.253 gujar Tua. kira-kira empat jari di bawah pusar. Suatu tandon sumber tenaga. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. ”Pada prinsipnya sama. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya. Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya. Unsur Api. Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda.” jelas sang Ayah. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran.

Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. ”Caranya tidak terlalu sulit. ayah?” tanya Nah amat tertarik. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran. ”Lalu bagaima cara kita melatihnya. akan ayah ajarkan. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. karena lawannya telah keder duluan. Pamanmu yang lebih banyak tahu. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu. Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain.254 BAGIAN 5. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih . Hal ini akan ayah ceritakan belakangan. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding.” jawab Seh sambil tersenyum. Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Lalu lanjutnya. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. tidak menyukai warnanya. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan. maka anak kecil tersebut akan menangis. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak.

umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. Ditunjukkan pula beberapa cara. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap). nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat.” jelas Seh pada Nah.” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan. Hal-hal lain di luar itu. atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya. boleh dikatakan pelangkapnya. dan sebaliknya. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia).” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah. Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna. Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya. antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu. ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda. Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda.” jelas Seh pada Nah. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita. ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada. . dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya.

”Nah sekarang latihlah. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. Kadang teratur kadang liar. Bila dirasa cukup pembayangannya. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya. ia pun melakukannya. Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya. Napasnya pun mulai terengah-engah. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. Dan tidak disarungkan. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya.256 BAGIAN 5. jauh lebih panjang. serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. Juga ingat-ingat akan warna padanannya.

beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya. Terpaksa Telaga pun mengelak. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar.. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya. Tapi Telaga kecele. Mundur dan mundur. Dengan indah alih-alih mengelak. apalagi menggunakan pedang panjangnya. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. ”Hei.. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang. Menuju jalan darah penting ditubuhnya. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut. Bertangan kosong.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya. siapa. Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut.

258 BAGIAN 5. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Pedang tersebut melesat dengan kuat. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung. Mungkin panjang rambutnya. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya. sudah dihentikan. pedang panjang tidak ada gunanya. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. Pada jarak seperti itu. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana. ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya. Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu.

Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap. Tapi kemudian katanya. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya. Telaga terkunci. ”Sarini. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. Lalu katanya. janganlah permainkan aku. Akibatnya sudah dapat diduga. Darah mudanya pun sedikit bergolak. Saat itu tersadarlah Telaga. kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. Terbanting. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Sarini putrinya. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini.

Tidak banyak ia bergerak. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Ia tidak banyak bergerak. di mana Telaga akan mendarat. Masih belum menyerang. . Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya. Terlentang. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. Sarini telah mengambil posisi rapat.260 BAGIAN 5. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. ”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. Sarini bergerak cepat. kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya. Hasil yang mirip diperoleh. cukup mengelak tipis. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. Gadis ini benar-benar berhati harimau. Karena lama tak membuahkan hasil. agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan.

”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya. Ia telah lama berada di sana.261 ”Hehehehe. Tampak merah mukanya. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana.!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja. tidak untuk jarak dekat. ”Tahukan pula.” Orang itu ternyata adalah Arasan.!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya... Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana. kena engkau diperdaya Sarini. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. ”tak tahu guru. Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh. bila itu tadi adalah Walinggih. Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja. ”Guru. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang . bertanyalah Arasan pada Telaga. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya. Setelah mereka berdua berdiam agak lama.” jelas Arasan. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh. ”Nak Telaga.

” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini. guru. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini. ”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak.. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu.” Telaga terngaga mendengar hal itu. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu.” jawab Arasan. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak . Telaga mengiyakan..” kata Arasan kemudian. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak. agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan.262 BAGIAN 5. Dan memang demikianlah. Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu.” begitu jelas Arasan.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. Lalu katanya. perlahan-lahan wajahnya pun memerah. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. ”Sebenarnya. ”Menurut saya. Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga. Bisa kecewa ia nantinya. Walinggih. nak Telaga. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu.

kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. Telaga pun mengangguk-angguk. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka. Setuju atau pendapat gurunya. Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga. merica dan tunas pohon kala.” jelas Arasan. Arasan duduk di samping Telaga. Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya. Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. mereka pun kemudian mulai makan. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Dimasak kira-kira hingga tiga jam. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas.263 terduga. Kedua orang tua yang sedang makan. . Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. Tak lama kemudian mereka pun berlalu.

.264 BAGIAN 5.. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar. Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. dipegangnya perutnya yang sakit.” tuduh Walinggih jenaka. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka. ”Arasan.. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka. Sudah empat kali ia tambah.” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab.. ”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan. Diupayakan untuk menutup mulutnya. tidak mau menjelaskan. ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka. pecahlah tawa antara orang muda itu. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya... Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar. Sarini. Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya. . Terdiam.! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. lihat. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka. terlihat salah tingkah. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini. tuh! Ini gara-gara kamu sih. ”Ayah.” jawab Arasan sekenanya. ”Eh. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih. Dia lebih pakar dari paman.. Telaga tak lagi dapat menahan tawanya. Telaga hanya tersenyum.

saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak. ”Kakak Walinggih. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. Dan hanya satu yang mungkin.265 ”Eh. Ia pun lalu membalas dengan merendah. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. ”Nah. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu. Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. Telaga. dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya.. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah. Seharusnya engkau saja yang bilang. berkatalah Arasan. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan . Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. Sarini..!” Arasan pun tak mau kalah. Lalu katanya. ”Adik Arasan. Menjadi keren dan serius. putriku Sarini. bukannya engkau Walinggih yang mulai. rendah hati dan bersemangat itu. Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini. Mereka tidak bisa bicara apa-apa. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali. saat ini telah menjalar ke leher dan telingah.

akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya. ”ayah. sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. ”Hahahaha. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini. Karena dipergoki oleh ayahnya.. . Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam. Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini. karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini.. terserah ayah saja. dapat ia merasakan itu. Yang paling terkejut adalah Sarini. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan.266 BAGIAN 5. mengakulah ia akan hal itu.!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih. berkatalah Telaga.. Setelah berhasil menenteramkan hatinya..!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu.. ”Maafkan perkataan saya ini. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga. Mereka sudah saja merasa yakin.. Pandai masak pula.” Kedua orang itu terdiam. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya.. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya.

Tadinya sempat perasaannya bergolak. ”Begini saja. ”Saya. ”Hmm. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air.. Kehilangan keluarga.. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. ”Hmm. ”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga. anak dan istri. ”Eh.” begitu ujar Walinggih. ”Engkau masih ada orang tua di utara sana. gimana ini.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri.. Lalu ujarnya. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu. di tengah laut. suka guru. yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa.267 Arasan pun menghubungi Walinggih. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat. Moga-moga mereka setuju. gadis yang diam-diam juga ia sukai.” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega. Ia hanya bisa pasrah. Baiklah. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu. Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi.. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana.. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini. Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya. Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini. Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan.” usul Arasan.” ”Ah.. kakak Walinggih. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. Yang dihubungi merasa gembira pula.” jawab Walinggih. . kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini.

Suku Pelaut. Sekalian mengenal calon mantu mereka. Kedua rombongan itu pun berpisah. Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun. ada pula waktu berpisah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. Dengan atau tanpa pedang panjang. . Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua.” gumamnya. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara. begitu pikir keduanya. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula.. Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain.. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya. Ki dan Nyi Sura. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air. Telaga ke arah selatan. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka..268 BAGIAN 5. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan. jauh di lepas pantai. ”tak ada yang kekal di dunia. Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan. Di antara orang-orang yang tinggal di laut.. Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. ”Ada waktu berkumpul. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. Atas usul Arasan.. Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan.

Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara. Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum.. Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah. Nanana.. Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau. didi. Perangainya yang riang menambah daya tariknya. buat apa resah.. bunga semerbak merekah... Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. Tralala. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu.. Hal-hal tersebut menarik hatinya. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur. Untuk menghilangkan rasa sepi. Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau.. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil.. resah itu juga tiada gunanya.. matahari bersinar cerah. Mirip kuku- . hihi. kera-kera bermain di hutan. haha. Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur. Buat apa susah.” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. dada.. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung.. trilili. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang.. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu.... susah itu tak ada gunanya..269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya. ninini.

diduganya bahwa itu adalah seorang . Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. manis-manisan dan bumbu-bumbu. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya. pun celingak-celinguk. teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana. pemuda itu. Agak jauh di hadapannya. Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. Lantang. Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak. di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. Saat baru turun gunung. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu.270 BAGIAN 5. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya. Memandangnya dengan tertarik. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. Di antaranya terdapat dendeng. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. Nikmat rasanya. Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau.

Amat cepat.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. Halus akan tetapi cepat. Baju yang dikenakannya juga aneh. saat ini kelihatannya tidak lagi. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan.. melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya. Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya. Sebelah hijau muda. ”hanya makanan sederhana. Pasti dari orang itu. orang itu kemudian menghilang. Kalau tadi bersumber dari perutnya. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana. Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. Ada ungkapan terima kasih di matanya. Cepat. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum. orang itu telah bergerak ke arahnya. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. Setibanya di dekat air. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. Mirip dengan cara ia datang . Seakan-akan mengangguk. ”Ki sanak yang di sana. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi. Tua sebelum waktunya. Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Serius. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Juga guru pertamanya. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang. Tak bisa dirasakan. Bunyi kukuruyuk. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua. Ki dan Nyi Sura.271 yang sudah agak tua.. Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. Bukan karena bahannya yang kasar.

. Bukan dari busana mereka. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin. Dalam tidurnya. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. sahabatnya yang seorang Undinen. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu. Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya. Kembali dalam posisi siap menyerang. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. Tidak jelas alasannya. Sebuah muara. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. ia pun bermimpi.272 BAGIAN 5. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. apabila mereka bersua kembali. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan. Khas pulaupulau delta pada umumnya. Tetapi tidak terjatuh. Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. Tak lama Lantang pun terlelap. Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut.

Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- . Mengalir seperti air. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku. Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Membuang tenaganya dalam satu serangan. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. Lentur dan membaur.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Entah bagaimana caranya. Berdiri satu di depan lainnya. Mencegah pertarungan ini berlanjut. Air. Keduanya kembali berhadapan. Mengendap ke bumi. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Menilik dari serangan tadi. Keras tetapi tidak getas. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. Lantang yang tadi melihat dari jauh. Bergerak dengan halus dan cepat. Lantang langsung bergerka ke tengah. Luwes. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Maksud ingin menengahi. keduanya telah kembali berlaga. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. Air. Keduanya ingin mengalahkan yang lain. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Hanya saja saatnya tidak tepat.

Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Tapi tak ada tenaga. Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. menjadi puing-puing. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Xyra. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi.274 BAGIAN 5. Lantang berusaha untuk bangun. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. Pak Tua. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Semampunya. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang. Hancur tak tersisa. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. tapi belum semuanya. Kota Luar Rimba Hijau.

Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. Gentong. pekarangan di dalamnya. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau.. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. . dan lainnya. Sedih dan sunyi. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. Misbaya. ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat.? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. Ya. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya. Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Suatu perguruan beladiri. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas.275 dari satu tempat ke tempat lain.

Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja.. ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Ia tidah tahu harus berkata apa.. bagaimana kabar Paman Baja. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung. ”Bibi Antini. sesosok orang tua menyapanya. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya. yaitu Kirani dan Rantih. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda.. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu... Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada. Saat terjadi . Paras Tampan hanya dapat mengangguk. nak Paras Tampan. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa. Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa. ”Nak. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu. Tak terkecuali sosok perempuan tua itu. Setelah cukup lama termenung. Sebagai suatu penghormatan saja.?” tanya Paras Tampan sekenanya. Coreng dan Moreng. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini. Nyi Antini. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya. Guru mereka semua.276 BAGIAN 5. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu.. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat.

Nyi Antini pun melaksanakan hal itu. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air. untuk membuka jalan di Rimba Hijau. Patuh pada perintah suaminya. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka.277 pembumihangusan itu. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Akan tetapi hal itu tidak digubris. sedangkan suaminya hilang entah ke mana. Berendam semalaman. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah. Akibatnya ia selamat. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Dingin dan basah. Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Nyi Antini untuk bersembunyi. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. ia dipaksa ikut oleh mereka.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu. Disuruhnya istrinya. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau.

Sesosok mayat dengan luka di mana-mana. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. Mengeras. Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Nyi Antini. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya. Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu. Lebih tua dari umur sebenarnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda.” Nyi Antini berhenti sebelum . ”Ada satu hal lagi. dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini.278 BAGIAN 5. Menyebarkan amis darah. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita. Tangannya mengepal keras. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu. nak Paras Tampan.” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya. Harap-harap itu Ki Baja. Bertambah satu pula tugasnya. ”Maaf nak Paras Tampan. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor.. Tiba-tiba ”byurr!!!”. Memerah. yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab. Wajah Paras Tampan tampak membeku.. yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang. Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya..

Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya.” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini.! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng. ia pun berkata. Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah. Ki Rapih.279 melanjutkan.” ”Katakanlah. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa..” ucap Paras Tampan sendu. .. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban.. Janganlah nak Paras Tampan kuatir. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah.. Untuk menghilangkan jengahnya. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari. memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Tapi terselip pula rasa yang aneh. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi.” jelas Nyi Antini. Belum menikah. Citra Wangi. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya.. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Gembira ia mendengar kabar ini. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana. Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu. ”Bibi. Citra Wangi masih sendiri. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan. ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini. ”Tunanganmu.. bibi. hanya saja pindah.. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya.. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu.

racun hijau. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas.. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna. Langkah keduanya ringan dan mantap. Racun.” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya.” jawab sang gadis jenaka. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda. Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Mereka berarah ke utara.. tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai.280 *** BAGIAN 5. . Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua... Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara. Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis. Entah mereka sadari atau tidak. ”Hmmm. Rupanya ia murid sang orang tua. Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu..” terang orang tua itu. Batubatu ini terlihat tidak wajar. ”Tapi apa bahayanya. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan. ”Hatihati. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur.

”Tidak semudah itu.. muridku.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya. Tapi spora ini lain. Amat indah dan seimbang. terdapat warna-warna merah. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal.” Kata-katanya tidak diteruskan. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi. ”Ada penawarnya. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. ”Ini. ”Kalau penawarnya sedemikian mudah. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok. ”Engkau benar. guru?” ”Hehehe. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi. ambil dan remas-remas dengan jarimu. Lihatlah di sekitarnya. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. Tangannya diletakkan di depan bibirnya. Ada pengujar tua yang pernah berkata. muridku. . Itulah alam.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan. tentu saja ada. karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya. Dan amat mudah.

ki sanak sekalian. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. Sekarang semuanya enam orang. ”Maaf. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya. Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang. Mengepung dari kedua arah. ”Dan yang cantik ini.282 BAGIAN 5. kalian telah melalui wilayah kami. ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu. . bagaimana ini?” tanya sang murid. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya. Pasti itu suatu yang berharga. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. boleh juga ditinggal. Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu. Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan.” bentak teman si brewok. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. ”Hehehe. Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung.” ucap salah seorang brewok dari mereka. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya.” ucap orang tua itu masih sabar. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. Hanya bekal makanan dan baju pengganti. Ia telah berubah.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang. Tetapi tidak saat ini. Batu Lumut Hitam. ”Guru. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang.

. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu.. Menyerang. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak. ”Hey.. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid. Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan. ”Heh. apa maksudmu. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain. cepat serahkan bungkusan itu. yang langsung dengan sigap menangkapnya. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka. biar aku yang di belakang. orang tua?” tanya balik orang itu. Salah seorang dari . orang seperti ini tidak boleh diberi ampun. lalu katanya lirih. Sisakan satu untuk penunjuk jalan. kainnya langsung terbuk. Hampir dua kali panjang pedang biasa. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan. Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya. pasti mereka tidak akan memintanya. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. Dua buah pedang panjang. ”Pak tua. ”Engkau ambil tiga yang di depan. Dua buah pedang panjang. jika talinya ditarik. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut. Jangan lama-lama. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu.. apa maksud kalian. salah seorang penghadang menghardiknya.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya.

” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. Kemampuan alamiah seorang pemangsa. ”Nah Sarini. ”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali.” .” kata seorang dari mereka. Bukan hanya itu. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu.284 BAGIAN 5. Tenangkan dirimu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya. Lalu kata si orang tua. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya. melainkan para perampok jahat. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. Bangsa Penghadang. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa. Sang guru dan muridnya. Walinggih. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam. Ia telah kupesankan caranya. Lalu katanya. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati. Sekarang jangan banyak pikiran dulu. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia. Kedua orang itu.

Penuh dengan kelembutan. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Sebelum tahu sebabnya. Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. . Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. Bila tidak amat disayangkan. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. Sebelum Lantang sehat. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. melainkan untuk menyadarkan saja. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. Setelah yakin akan panasnya. karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan. Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Ditiupnya sedikit. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. Lantang telah merasa sehat kembali. Pagi pun datang menjelang. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. tak ingin Xyra bersantap. Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. tetapi tidak.

”Saudara-saudara perampok. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu.. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. Tidak demikian dengan orang-orang ini. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” . Menghadapi Telaga. ”Cobalah pada mereka. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. Akan tetapi sekarang lain. semakin besar kemungkinannya untuk menang. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya. Entah apa. Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya. Bahkan dalam berbagai situasi. Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. Sarini hanya mengangguk. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat...” usul gurunya. Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan.286 BAGIAN 5. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya. Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka.

bertubuh gembul dan berkulit agak gelap. Sebilah golok tampak tergantung pada . bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Nafsu telah menguasainya. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya. Seorang dari mereka akhirnya berkata. Repot juga pikirnya. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Mirip durian. Seorang dari para perampok tersebut. *** ”Petani ompong she Gu. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu. Rakrakrak.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. Ikuti saja maunya. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. Orang dengan tenaga kasar yang besar. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. ”Hehehe. Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Mau tak mau terasa pula jengahnya. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. ia pun segera tertidur. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . Ketawa yang ramah dan hangat. Walaupun cukup gemuk. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. ”Kakek Gu. ”Duh. dada yang ranum.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana. pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. Cepat.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya. Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. Melihat kekikukkannya itu. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya. merasa dirinya lebih enakan. perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. tak lama. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. Tak terasa ia pun terlelap. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak.

Girang sudah wajah perampok gembul itu. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya. Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. Akibatnya. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. para perampok. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita. Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. ”Pinggang molek. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya. kaki jenjang. Sarini sebagai putri Arasan. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. pujaan hati. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka. ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu. Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. Dan tidak tanggung-tanggung.300 BAGIAN 5. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya.!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. Bagi mereka.. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu. Saat berpusing. Lima orang . Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya.

” jawab Walinggih..” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya.” kata seorang dari mereka.” Mendengar nama tempat itu. Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia. ”Satu tahun. Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin.301 yang lain pun menjadi marah. aku sebutkan satu tempat. mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin. Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka. Desa Batu Barat dan Timur. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka. ”Sudah lama. Kami bukan lagi Asasin. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya. pucatlah keenam orang itu. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin. ”Biar kalian tak penasaran. ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. ”Hehehe. mereka . apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. bisa lega aku memulangkan kalian. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya. Belum lama. Walinggih berseru. ”tahan!!” ”Orang tua.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu.. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih.. ”Nan. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat.

Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa. sudahlah. Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka. Hakim Haus Darah. anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak. ”Paman. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik. Ia telah berubah. Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa...!!” ujar seorang dari mereka pucat. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua. gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah. ”Engkau.302 BAGIAN 5. juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi.. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air. Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong. Hakim Haus Darah. Tangan kecil dan halus milik Sarini. ingatan masa lalu akan keluarganya. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding.” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini.

”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu. Salah seorang bernama Rakrakrak. mengguman-gumam. Saya juga baru belajar dari para Troll.” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo. tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali.!” .” ucap kakek Gu sedih. paman bisa saja. tenagamu itu boleh juga.” Hanya itu saja.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu. tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu. ”Ini juga salahku. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu. paman!” balasnya.” puji kakek Gu. paman. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo.. tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni. ”Ah.” ”Ah. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin. Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya. *** ”Maaf. ”Tidak apa-apa. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya.” jelas pemuda itu. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba. Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini. ”Tidak baik. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini. ”Omong-omong.

Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu. tubuh menjadi kosong. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan. Konsekuensinya berat.” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan. Dan semuanya patuh pada gaya berat. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. tapi dengan perhitungan tentunya. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu.” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Ada empat unsur air. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. Semunya punya isi. Terutama aliran hawa dalam tubuh. udara dan api. tanah. bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam. keseimbangan akan terganggu. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir. Itu melawan alam. ”Nak Paras Tampan. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu. ”Nenek Po. Lalu lanjutnya. Alam ini terdiri dari materi. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- . apa maksudmu?” ”Ah.. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu.304 BAGIAN 5.” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. ”Anak muda ini. nenek Po pun tersenyum. Dengan mengubah-ubah gaya berat.

Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah). Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. Sekitar 12 tahun. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan. bila menggunakannya dengan benar. Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. Gu Long adala seorang yang cerdas. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. yaitu Chu Qing Yun. baik dari nenek Po maupun kakek Gu. yang menceritakan . Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. Selain berbahaya bagi lawan. serta Gu Long sendiri. Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut.305 pal ilmu itu. Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. Walaupun demikian. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita.

Kerap sekali sehingga jatuh sakit.306 BAGIAN 5.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. Ia hidup tidak bahagia. Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long. Ubinya tinggal sebuah. Itu yang terbaik. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu. apa yang kita tuangkan dalam karya. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. Bila sedih ia minum arak. lalu rempah-rempah. Gu Long namanya. yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. akan tetapi tidak lama. ”Sebaiknya seimbang. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. Ia sendiri pernah mendengar. Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu. Tidak cukup kiranya . Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. dikunyahnya perlahan. Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi. Digigitnya ubi.” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. ucapan dan pelaksanaan.

307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan. ”Ia tadi pergi sebentar.” katanya pelan. Ada sesuatu yang harus dicarinya. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Dan ia menemui Ki dan Nyi . ”Wananggo.” Lantang pun menurut. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. Khas kecantikan seorang Undinden.” jelas Xyra. Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya. Tiba-tiba bahunya ditepuk. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. Segigit pisang dan rempah-rempah. ”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung. Ia mengeluarkan nada tinggi. Ditunggu saja sambil beristirahat. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu. Xyra tampak senang melihat hal itu. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. maksudmu?” tanya Xyra. Pindah mengisi lambungnya.

Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. . Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. Saat Lantang menderita sakit. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. Keduanya pun terdiam. Setelah menemukan. ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam. Menggelora jiwa muda. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu.308 BAGIAN 5.

pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 . Mengekang nafsu. Menghela napas. Menghirup keheningan. Menegaskan guratan-guratan mistis. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. Guratan di atas kulit nan indah. ia menugaskan muridnya. Menghilang. untuk disalin dan dikumpulkan. Tato. Setelah semuanya berakhir. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu.” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Lega.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. Secarik kulit dicabik halus. Dan jiwa pun tenteram kembali. Senyap. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. Unbekanteeremit. agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. keponakan jauh dari Gu Ming. Lepas. Darah menetes lembut. Ia sekarang bernama Gu Yo. Sunyi dan sepi.

yang disayat dari tubuh empunya.” ujar nenek Po ramah. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. Terdiam sebentar pemuda itu. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang .” bingung pula pemuda itu. kekek Gu. ”Begini saja. ”Ya.. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir. ”Sebenarnya. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak. Saya mencari keturunan dari orang itu. Kulit yang bertato. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. ”Dulu. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu.. ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan. BAGIAN 6. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini. dan kamipun akan merasa lega. ”Tidak sama sekali. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang.” Pemuda itu pun mengangguk.. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat. tak usalah. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya.” jawab pemuda itu hormat.” ucap kakek Gu kemudian menengahi. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu.” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega.

Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh.. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya. budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya.!. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu. kami bukan menjadi begal atau mungkin belum.. kakek dan nenek. ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka.” lanjut nenek Po.311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya..” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya.” ”Eh. kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu.” tambah kakek Gu. dianggap lengkap bila telah memiliki tato. yang dianggapnya benar-benar membingungkan..” tak diselesaikannya ucapan itu. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia). ”Sebenarnya.. Setelah tawa berderai keduanya usai. Sungkan ia melanjutkannya.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya .” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu. ”Bukan. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata. Beda kelompok. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat. ”tapi berarti.” cerita kakek Gu. beda ciri khas tato yang digunakan. Orang yang sudah dewasa.. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya. ”Benar.. Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka. ”Pada jaman itu.” ucap nenek Po.

” jelas nenek Po. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali. akan tetapi sebagian lain tidak. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya. TATO ke atas. dan boleh dikatakan menawan. ”Dan kakek Gu punya. Lalu sambungnya. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu. begitu!” jawab pemuda itu.. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya.” lanjut nenek Po. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita.” jelasnya.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian. nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga. karena hal itu dianggapnya tidak baik. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. . ”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara.” ”Oh. ”Ceng-Liong Hui-To. padahal itu adalah tubuhnya sendiri.” kali ini kakek Gu yang menjawab. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang.312 BAGIAN 6.

Alih-alih mendengarkan. dan selalu saja berlebihan. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. main tangkap saja orang-orang yang bertato. Akibatnya jelas. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. agar dihapuskan. Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. pemerintah menjadi kalang-kabut. Apa-apa yang tidak dianjurkan. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. anti kemapanan. membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. di antara orang-orang senasib. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. . Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Sengaja mereja menggunakan topeng. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka.313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini.

Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. Tenang dan damai.314 BAGIAN 6. tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Dengan membawa beberapa saksi dan bukti. Suasana kembali seperti semula. yaitu CengLiong Hui-To sendiri. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato. tidaklah jadi hal itu dilakukan. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. . Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. Besar dan gagah. Walaupun telah salah tangkap. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. Akan tetapi dengan hilangnya. informasi rahasia dan keamanan. mendatangkan kesan masif dan keren. Roda perekonomian kembali bergulir normal. Untuk mengenangnya. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan.

Warna udara dan asap. Tidak juga kota tempat asalnya. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama. kota Luar Rimba Hijau. terpahat pada tengah batang melintang. Citra Wangi. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu. Lambang elemen kuno udara. Pastilah itu dia. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. Jalan di depannya masih lurus jauh. Kepala dari gerbang itu. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri.315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. dan tengahnya dicoret garis mendatar. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. Gerbang Udara. Jalan batu. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. bagai tanpa akhir. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. istri mendiang Ki Baja dari . tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. tapi tidak ada yang memberatkannya. Saat hari hujan. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. ia melihat berbagai aneka toko-toko. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan. sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya.

” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. pedati dan juga kereta tanpa kuda. Akhirnya perburuan itu pun berakhir.. Besar dan mewah menurut Gu Yo. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. Cepat. TATO Kota Luar Rimba Hijau. pikirnya. ”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan. yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu. Bergegas dipacu langkahnya. saat ia bingung tadi. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar.. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. ia pun memacu langkahnya. karena dialek mereka yang cukup kental. . Tapi rasanya bukan ini. berkali-kali hampir tertabrat. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian. Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. seperti ”Pake matamu!”.316 BAGIAN 6. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya.

Orang-orang di sana bila ingin berkunjung. Gu Yo tidak tahu.317 ”Tahan dulu.. ”Ah. ”Maaf. dan disapa balik dengan. Demikian pikirannya menyimpulkan. sehingga untuk bertemu. dapat langsung datang kapan saja. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini. . itu. Janji. Lalu lanjutnya. anak muda!” katanya bersahabat. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda. mereka terlebih dahulu harus membuat janji.. Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu. Mungkin lain kota. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. saya ingin bertemu dengan nona tadi. sesuatu yang tidak ia temui di kotanya. anu. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda... Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. itu. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan.?” tanya sang penjaga kembali. orang sedemikian sibuknya. anu.. sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu. ”Eh.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. lain tata cara-nya. maksud saya. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. entah toko atau apalah.. akhirnya menggapainya untuk ikut. ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya. Tak perlu ada janji-janjian segala.

Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi. lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. ”nanti sore. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. Persoalan membuat janji masih asing baginya. melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. Seorang pelayan mengantarkan mereka. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin. Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. ia menyebutkan ”Gu Yo”. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. dan bertanyalah ia pada Gu Yo. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. Kemudia saat ditanya namanya. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya. sebelum bertemu dengan nona Lin. keperluannya dan waktunya.318 BAGIAN 6. di kota Siaw Tionggoan. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu.” saran sang gadis tersebut. nama sebenarnya dari nona Lin. Untuk keperluannya. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. kekasihnya dulu. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji.

seorang tua menyapanya. ”Ah. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. dari ayam. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan. orang tua itu memang pemilik kedai itu. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu. masuk saja. kerbau. Setelah berjalan beberapa saat. Kamu boleh makan sepuasmu... Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing. mari masuk mencicipi!” ajaknya. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. suatu suara dalam lambungnya merekah. Yok Seng.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. Kedai Daging Bakar namanya. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . ”Eh. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. pasti kau tidak cukup punya uang. Aku pemilik kedai ini. ’kan? Ayo anak muda. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap. tapi.319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. sapi. bagaimana?” jawabnya ramah. ”Ayo jangan malu-malu. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara. kambing sampai ular dan kelinci. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. tapi setelah itu bantu-bantu.

Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. ”Engkau tidak akan bekerja di sana. ”Tidak. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. hasil asahan pengalaman yang menahun. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu.” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain..” jawabnya. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit. TATO waktu. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja. ”Eh. ”Eh.. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. . paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan. Ia melihat bahwa pemuda itu. sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras.320 BAGIAN 6. Gu Yo.. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. mengingat permintaan yang banyak. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi. tapi telah membuat janji dengan nona Lin. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. Tiada yang tersisia. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya. saya. tapi. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. Habis. Tidak ingin bekerja di sana. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu.

” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. Hampir sebesar nampan bundar. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada. ”Duduk di sini dan makan semampumu. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang. Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya.” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. Orangnya tak banyak senyum. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan.” kelakar Yok Seng. Tapi wajahnya ramah.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Oh.” ”Ma She. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima. Entah berapa jumlahnya. pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. Ma She hanya mengangguk. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. Lapar. Tak lupa diambilnya den- . Kasih dia makan terus atur tugasnya. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. Memerah wajah Gu Yo itu. ”Ini Ma She. ”kepala koki di sini. sehingga tampak gemuk padahal tidak. Tubuhnya tak terlalu tinggi.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek. Mukanya lebar dan besar.

Juga tidak bisa. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. Saat itu lewatlah seorang gadis. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. pisau. ia pun berkata. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. Setelah Ma She berlalu dari sana.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. ”kalau kurang. ”jika sudah cukup kecil. Alih-alih menjawab. langsung dimakan. Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. sumpit. garpu. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata. tangan kiri memegang garpu. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo.322 BAGIAN 6. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. ”Eh. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke .

tampak menggeleng-gelengkan kepala. Masak cuma itu. Dan seperti yang diduganya. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. . walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo. ”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari. ”Ah. Setelah diajari oleh Ma Siang. benar-benar mengajari. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. sedang mengerjai Gu Yo. ”Iya. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. Ayo. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu. atau sayur yang harus dipotong dulu. ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu. Bagaimana ia memotong daging. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya.323 arah garpunya menggunakan pisau. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya.” ucapnya kemudian. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang. tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. Tapi saat ini bukan waktunya. ”Bagus kalau begitu. ”Eh. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu. paman!” jawabnya. belum. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. Sambil tak lupa berucap. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu.

Segera mereka akan berontak minta diasup. Terpisah. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut.” jawap kakek Gu pendek. Kakek Gu. sendok. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. Kenyang dan tenang.. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri. *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. ”Ya.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu. sepeninggal nenek Po. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan..” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut. seorang menggapai bahunya. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. ”Hmmm. kau banyak sekali berdiam.324 BAGIAN 6. sudah! Aku mau masak dulu. sumpit dan pisaunya. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri. Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya.. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. TATO Cara makan yang baru. ”Heh. sebentar lagi kita makan bareng. masih saja tenggelam dalam lamunannya. ”Ikut aku!” katanya. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. Nenek Po dan kakek Gu. bahwa ia . Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu.

Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu. kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. menjadi Gu Yo. saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. sehingga tetap lekat pada ingatannya. suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. . yang berwajah agak gelap. Ia terpikir akan pemuda itu. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. karena dulu dengan hanya berempat. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. Hek-Mo. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. ada hal yang menarik dari pemuda itu. Orang berilmu. ia tidak mungkin memang.” ucap seorang dari mereka. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. Gu Yo. memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. Dengan dibantu nenek Po. salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan). ia pun menoleh. Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). sontak terkoyak. Entah bagaimana. jika tidak dibantu oleh Gu Yo. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. Apalagi sekarang.

kata seorang dari mereka. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak.326 BAGIAN 6. akan dihadapinya dengan jantan. Alih-alih Su-Mo yang menjawab. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. yang merisaukan hatinya.” . Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. sudah jelas kedudukan kita masing-masing. ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya. orang tua yang bergelar Petani Ompong. Hek-Mo.” jawab kakek Gu pendek. ”baiklah. keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan. tidak biasanya berdiam diri. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. wahai orang tua!” jawab yang ditanya. ”Su-Mo. ”Salam. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo. si Petani Ompong. menunjukkan emosi yang telah meningkat. bila kami bisa menundukkan dirimu. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu.” ”Hmm. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar.

Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. sebelum ’berdiskusi’. Dan mereka pun mulailah makan. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu. terima kasih atas jamuanmu. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. Puas rupanya ia telah terisi perutnya. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po. enaknya perut telah kenyang. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. ”Wahai orang tua. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. Semua . Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. kakek Gu mulai angkat bicara. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania.327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang. ”Ah. ”Ah.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. Setelah makan semuanya duduk lemas. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi. banyak tamu ternyata! Mari-mari. Setengah semangka ukurannya. Sunyi.

” Setelah itu. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit. bahkan cenderung bagus. ”tidak perlu sungkan-sungkan.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa . TATO dijamu baik. menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’. keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. Walaupun demikian. katakan saja. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas.” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. Empat Begal Hutan.. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu.328 BAGIAN 6. bukannya kami tidak sopan. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. Serangan keempatnya cukup bagus.. pikir mereka. tidak. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka. tapi kami biasa bertempur berempat.” ”Tidak. Ya. Bila engkau keberatan. Tulang beradu tulang. Dalam sepeminum teh. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka. Mari kita langsung pada permasalahannya. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. Tenaga kasar dan otot. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. ”Wahai orang tua. Kakek Gu hanya menggeleng ramah. seperti mengucapkan.

Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. sang pemilik Kedai Daging Bakar. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya.329 apalagi bila menggunakan senjata. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun. . Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu.

Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan. ”Eh.” . anu. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”. ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak. melihat cara anda memberi salam. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat. saya Swee Sian Lin. kadang kekuningan atau agak gelap. Gu Yo yang bingung hanya menjura.” jawab Gu Yo gugup. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. Gu Yo pun melakukannya. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji. anda pasti dari kalangan pesilat. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. ”Bagaimana. kedua petugas itu.330 BAGIAN 6. Benda seni menurut beberapa orang.. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut. Gambar yang terlihat kadang berupa naga. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. ”Halo. sang penjaga dan gadis pencatat janji.” pikir Gu Yo. Lalu katanya. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth.. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. ”Ah. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. Ruangan itu lebar dan terang.

agak memalukan untuk diceritakan. Dilarang oleh hukum. ”Jadi. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . Tato dari seorang korban yang hidup. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian.331 Gu Yo hanya mengangguk saja. Bingung. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji. Sopan. Pemuda ini lain.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah. Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat. karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka. dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato.. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia.. ”Itu. sebenarnya. Tapi itu masa lalu. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki.

Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya.. saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. Jadi anda salah lihat orang. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. Entah bagaimana. dirinya menjadi lebih . Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya.” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Rupanya hanya masalah salah lihat saja. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya. ”Eh.” jawab Gu Yo pendek. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya. ”Karena anda telah di sini. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang. saya mengerti sekarang. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan. ”Ah.332 mengerti. anu.” usul sang gadis. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya. ”Tunangan saya.. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu. BAGIAN 6. hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini. melainkan nona Sian Lin.

akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu. Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih. Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada. memang.. Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya... Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita. Di sininya telah ada seorang pemuda.. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar.. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya. dan juga bayarannya plus bonus. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi.” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- . *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya. ”Dia datang kembali.!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin. ”Nona Sian Lin. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut.. Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah.. ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut.. ”Ini tato seorang gadis panggilan.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu.!” tunjuknya dengan muka pucat. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar.333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut. Bunga Merah. itu. baru dan berdarah-darah pada panel diding.. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya.. Dan tidak hanya ia.

bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. sam- . Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. dapur kecil. ya?” gumam San Cek Kong. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. perawakannya tidak terlalu tinggi. dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. Badannya tegap. Sebuah teknologi surat mekanik. Tabung ringan dan kuat. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. membuatnya menarik untuk dilihat. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. Warna penanda gulungan surat itu hitam. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. Akhirnya berhasil didapatkannya. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. Ia makan. ”Pembunuhan atau bunuh diri. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. Atau tepatnya meja serba-serbi. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja.334 BAGIAN 6. dan dialirkan ke tempat tujuan. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. Kematian. TATO por. San Cek Kong nama pemuda itu. yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin.

*** . Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. bisa saja korbannya. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu. Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana. Ya. Dari surat yang diterimanya. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal. Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi). Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. walau dalam keadaan kritis. sang pemilik tato masih hidup. melainkan langsung ke tempat kejadian. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya.335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. belum tentu terjadi pembunuhan. Dengan kata lain. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya.

Korbannya sendiri. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. tato tidak lagi menjadi tren. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. belum ditemukan atau bisa diindikasikan.” lanjutnya kemudian. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. Pada jaman itu. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi. tempat kejadian itu berlangsung. Ceng-Liong Hui-To. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah. karena ia pada saat tersebut berada . Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin.336 BAGIAN 6. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. Ang Tiong namanya. Agak desa suasananya. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan. bila memang ada. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. jauh di arah barat dari kota. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. saksi-saksi dan waktu kejadian. Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda.

337 di tempat kejadian. sering kami makan-makan di sana. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato. ”Ya. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut. Semua pihak. Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. mulailah kakek . katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. tempat di mana Gu Yo bekerja.” senyum Cek Kong. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. Selain lezat. ada seorang pemuda. masih jalan yang sama. Ya. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana. ”Eh. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng. Gu Yo namanya. keterangan mereka tidak banyak berbeda. mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. ”Sian Lin-moymoy. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian. Gadis itu menggangguk mengiyakan. tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. telah ditanyai. pegawai paturan. Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. kebetulan aku belum sempat makan siang.” jelas gadis itu. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama.

Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. satu langkah yang salah. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa .338 BAGIAN 6. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. sang penyerang telah bergerak. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. Dalam pertempuran dengan banyak lawan. lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. Tumit si Zahnloserbauer. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. Cepat. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. Dan benar saja. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. Dan kemudian masih. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya.

Dalam pertarungan juga demikian. Setelah dua orang lolos. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu. yang telah banyak mengalami pertarungan. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang.. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut. Serangan seorang pakar pertempuran. si Zahnloserbauer. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan .339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Menghidari kebosanan. Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia. Tipuan manis yang menghanyutkan. mereka menjadi tidak berwaspada. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak.. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan.!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. ”itu kaki. Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu... Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. awas.. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak. kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat.

Hek-Mo. Seorang yang kelihatannya rapuh. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. Mendengar pertanyaan itu. Jika tidak. sementara ia melihat . tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. bagai akan terbang ditiup angin belaka. Ia harus mencari siasat untuk itu. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka. cepat suruh pemuda itu keluar. bersemayam di sana selamanya. telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. berputar keras otak kakek Gu. ”Bagaimana. Keduanya mengalami luka yang cukup parah.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. ”Kakek Gu. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. Sebenarnya di dasar hati mereka. telah turun kata dari seorang Su-Mo. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya.340 BAGIAN 6. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. dalam rangka misinya. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. terutama untuk pertarungan jangka panjang. Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren.

Lalu katanya keren. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. memang benar.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu. tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu. ”Iya. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana. Keduanya tampak terduduk agak lemas.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat.” sahut si gadis pendek mengiyakan. masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. tidak sepesat dan segarang sang pemuda. Lemas setelah perut diisi penuh. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. ”Boleh juga. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan. Sebelum pemuda itu bertanya. Keduanya kemudian terdiam. lalu sapa- . ”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita. Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat. Akhirnya makan malam itu pun usai. Tempat kerja si gadis. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap.

” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. bila orang telah kenal lama. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur. ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. Hal ini perlu. ”Duduklah. Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah.342 BAGIAN 6. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. Tadi sudah cukup. ”bila tidak mengganggu kerjanya.” jawabnya ramah. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. TATO nya. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. Sudah penuh lambung kami berdua. boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo. Karena keduanya tidak saling mengenal. Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah. Ia telah mengenap nona Sian Lin. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. ”Selamat malam. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau . tidak perlu inspektur. Lebih dari cukup. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. ”Sebentar akan saya panggilkan. Pemuda itu. Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. tidak paman. tentu saja. Berdasarkan pengalamannya.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk. Tapi kemudian ia menambahkan. ”Saya hanya ingin bertanya. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. apa kami – saya dan nona Sian Lin.

!” katanya agak tak yakin. saudara atau lainnya. Empat Begal Hutan.. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri. engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam. aku. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. bahkan yang terburuk sekalipun. kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. ”Tidak. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan.. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. nenek Po. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. berada. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu. Orang yang paling baik. Alih-alih cemas. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. *** ”Hek-Mo. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. Padahal kadang sebaliknya. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya.. tidak apa-apa. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu.343 perkataan orang. Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Runyam jadinya. . Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak.

Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. kakek Gu mengempos tenaganya. Paling kesal padanya. ”Hehehe. Kakek Gu pun mengangguk. Walau ia sendiri sadar. ”Hei. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . bagus datanglah Hek-Mo. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari.344 BAGIAN 6. ia harus berkata-kata yang pedas. di antara hujan serangan. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. Tanpe membuang waktu. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu. Samar seperti asap. Tapi misinya harus dituntaskan. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Hek-Mo menjadi marah. Mendengar itu. sehingga paling mudah dirasuki. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. Orang yang paling membencinya. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. Waktu. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi.

tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. yang kemudian . Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. Dan bukan hanya itu. ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Sabetan menyilang. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. Suatu titik di atanara kedua mata. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Suatu serangan yang berbahaya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. Suatu jurus dari Hek-Mo. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. tiba-tiba ia menjerit ngeri. anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher.345 nya. Satu ke atas satu ke bawah. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati. Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya.

bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. . Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Pada kebanyakan orang. yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Tidak dengan Gu Yo. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. sang kepala koki di tempat itu. Dan sikap ini cocok dengan Ma She. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya.346 BAGIAN 6. Ma She yang biasanya jarang berbicara.

?” tiba-tiba terdengar panggilan orang. keponakan dari Ma She. kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. ”Tidak. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang.. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran. ”Kamu tahu tidak. Paling tidak.!” pinta Gu Yo. orang dari mana tato segar itu dikeletek. Itung-itung sebagai hiburan. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu. juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini.. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja.. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang. engkau Ma Siang. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka. Untuk kasus yang satu ini.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut. ”Eh.. ”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Ia merasa . di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. Tugas titipan mendiang gurunya.. Gu Yo pun bergegas pergi. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias... Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya.. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong. tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik.. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu. juga sulit. cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut.! Dimana kamu.347 ”Gu Yo. Eh. Usai mendengar cerita Ma Siang.

348 BAGIAN 6. Aku bakal menyusul tak lama lagi. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. ”Gu Ming. Menyebar ditiup angin. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan. bagaikan memang telah datang waktunya. *** . tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu. Dari jarak dua tombak lebih. Setelah selesai. Po Ting Hwa.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. Usai perkataan itu. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. *** ”Manusia. Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Entah apa ada hubungan antara keduanya. Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat.

”Gu Yo? Baiklah. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. suruh saja ia masuk. membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. yang baru mulai meniti karir. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya. ”Baik. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini.” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu.349 ”Nona Sian Lin. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. tidaklah dapat dikatakan indah. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. Kebiasaannya ini pun berlanjut. ataupun penjahat-penjahat muda. dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Tapi katanya penting. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau. Aku akan menemuinya. yang kemudian . Jika ingin menegakkan keadilan. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja.

Untuk mengenang sang pahlawan. Suatu kontras telah direncanakan. putih atau kuning. .” ucap gadis itu menghela napas. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. Di sana tampak seorang pemuda. Tato sepadang burung merak. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ”Betul. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. Gu Yo. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. Orang yang ingin menemuinya. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. putih dan hitam. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja. ”Oh. begitu!” sahut pemuda itu. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. Suatu estetika berdarah yang padu. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. hitam atau coklat tua.350 BAGIAN 6. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. ”Tahukah kamu. Gu Yo.

melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu. memang itu judulnya. ”Betul.” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya. ”Setelah semuanya berakhir. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini. Ucapnya lugas. merendahkan diri selalu. ”Deru pun perlahan melembut. Menghirup keheningan. Sunyi dan sepi. Dan jiwa pun tenteram kembali.” Sang gadis mengangguk membenarkan. ”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing. Mengekang nafsu. Menghilang. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. Secarik kulit dicabik halus..” jawab Gu Yo sederhana. Darah menetes lembut.351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda. Guratan di atas kulit nan indah. dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget.” ”Hei. Senyap.” ”Begitulah orang berilmu.” . Menegaskan guratan-guratan mistis.. Lepas. aku hanya senang membaca saja.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana. Tato. ”Dari buku-buku. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu. Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini. Menghela napas.. Lega.” ucap gadis itu kemudian. ”Tidak.

352 BAGIAN 6. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana .” ucapnya. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada. yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat. kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya.” jawab rekannya itu. atau potong.” Dengan penuh tanda tanya.. Lalu katanya... ”jika demikian. keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan. ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong. pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo.” usul temannya.. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. ”Dapat?” tanya orang pertama. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. agak liat. ”Nanti kujelaskan. ”Kita congkel saja. Pasti kain pembungkusnya. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. TATO ”Eh. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana.. terutama Sian Lin.. ”Ya.

353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya.. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan..” ucap salah seorang dari mereka. Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu. Ia tampak tertidur dengan damai. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya.. ia mengeluarkan pisau dari sakunya. sebuah peti mati yang belum lama ditanam. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka.” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya. Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru. Malam yang diterangi bulan purnama. seperti telah biasa. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka. Suatu pisau yang tajam.. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut.. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu. Dengan santai. Lalu tanpa menunggu perkataan.. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. ”Cepat.. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya.. . tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya.!! Kita tak punya banyak waktu. ”Cepat cari bagian itu.

354 BAGIAN 6. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato.. *** ”Inspektur San Cek Kong. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu. Mendengar kata ”tato”. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya. ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan . ”Hmmm. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Suatu makam baru pula. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. TATO Rekannya mengangguk. ”Betul. dia adalah pakar dalam bidang ini. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya.” jelas sang paturan pembawa berita. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya. Kasus yang sedang ditanganinya. yang di dalamnya terdapat seseorang.. ”Ah. ”Hmm.” gumamnya hampir tak terdengar. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. *** ”Ma Siang.

”Lho. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. ”Eh. ”Huss! Tidak ada apa-apa. aku hanya ada urusan sedikit. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. Lain halnya jika Ma Siang. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo.” ucap Gu Yo cepat. toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam.” ucap pemuda itu. ”Baik. Ya. ”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. baiklah. yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah.. tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu.355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya.. karena ingin melihat nona Sian Lin. Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini. Dan suatu saat harus dibalas. ”Tolong ya. Ia tahu jika ia minta ijin langsung. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya. ”Tolong ya?” mohonnya lagi. kan?” ucap dara itu. Biarlah nanti saja. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She. gimana?” ucap gadis itu nakal. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya..!” mohon Gu Yo. ”Eh. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini.. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. Wajahnya tampak cerita.

TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Di dapur dengan kesibukan yang biasa. Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. tampak orang-orang berseliweran. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap. Jika saja dulu ia tahu. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu. Orang itu hanya mengangguk. Dan juga .356 yang dikaguminya. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar. BAGIAN 6. itu saja pesanan makanannya. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. Gu Yo. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. memindahkan bahan-bahan makanan. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu. ”Aku tahu dari paman Ma She. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. ”Gurame Bakar dan nasi.” ucapnya pendek. Dan kemudian terdiam.” jawab dara itu pendek. Gu Yo tidak bertanya lagi. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya. ”Eh. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga. Memasak.

6 butir bawang merah. Ma She. .357 meneriakkan pesanan-pesanan. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. 3 siung bawang putih. Wajahnya cerah. Terutama pada musim-musim ini. sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. Termasuk Ma She sang koki kepala. 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. merica secukupnya. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. kunyit. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. cabai rawit. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. irisan tomat dan jeruk nipis. sehingga ikan tetap utuh. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini. Tak lama kemudian ia kembali. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. 8 butir kemiri. Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar. garam secukupnya. 4 buah cabai rawit merah. bawang putih. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. kemiri. garam dan merica. Tertulis di judulnya. 1 buah tomat kecil (diiris). Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. * Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. ”Bakaran Ikan”. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi.

Ia pun mengangguk puas. ”Kata sang pemesan.. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya.” jelas Ma She sederhana. melihat-lihat pemandangan di hadapannya. ”ah. Ma She sebagai seorang koki kepala.. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya. tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya. tidak terlalu sulit rupanya. ”Bagus!” pujinya. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara.. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti.358 BAGIAN 6.” gumamnya. betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. Gurame Bakar tidak seperti ini. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos.. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. TATO ”Hmmm. Pucat wajahnya. ”Maaf. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang. menyebutkan . Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu. saya adalah koki kepala. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama.” jelasnya.

Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan..359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa.. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya.” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana. Biar ia tidak terlalu sedih. anda. ”Eh. Sekaligus berbincang-bincang.. tidak perlu dipikirkan. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu. sambil mengajak Ma She untuk menemani.. setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Ma She. ”Panggil saja saya.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya.! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum. ”Ceng.” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To..” katanya bingung. ”Ma She.” ucapnya sungguh-sungguh. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung.. Ceng-Liong Hui-To.” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya.. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak. ”Ah. ”Maafkan kelakarku. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. berharap dapat melihat sosok dara itu. Sedang pergi bersama seorang pemuda. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu. ”Ia tidak ada. Aku akan bilang. Ceng Liok. bahwa apa yang terjadi . ”Eh.

Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. Dua buah tato. dari warna kulit yang tidak . Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. *** ”Benar. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru.. Suatu mutiara. Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. TATO hanyalah kelakar saja. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. Sudah diolah dengan bahan pengawet. Kegemaran tuan Ceng Liok. Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu.360 BAGIAN 6. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh.. Kali ini tidak lagi berdarah. Paket yang berisikan tato. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. itu adalah tato milik mereka. Kelakar dari guru masaknya. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit.

Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu.” jelas Gu Yo. yang mendasari kedua karya seni itu. ”Dan entah dari pembicaraan apa. Begitu pikirnya. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah. Kulitnya dikletek. Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. Gu Yo sedikit berbohong. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut. Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. ”Baiklah.” Dalam kalimat terkakhir ini. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- . dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. Mendengar itu. Tahun ini. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan.361 sama. Dominannya adalah warna biru dan kelabu. Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki.

Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami. Luas dan indah. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. satu rombongan besar. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. TATO jungan dari pemerintah pusat. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan. Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. telah dibangun suatu panggung megah. Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. Benar-benar suasana yang meriah. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu.362 BAGIAN 6. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. Agar yang menunggu ini sabar. Yok Seng. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. umumnya . Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki.

tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Jenis kemilan yang gurih dan lezat. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. Sebagian dari . Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. Panggung telah dibuka. Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. Karena tanpa Gu Yo. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga.363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. akhirnya dapatlah ia pergi. Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan.

Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain. Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air. dan mungkin juga di tempat lain. Hiasan yang tidak ada di waktu lain. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. Ya. Bila ia suka.364 BAGIAN 6. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis. Dan untungnya lagi. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. Seorang pemuda tampan. Menelusuri keramaian. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya.

penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. tapi daging sapi yang dikeringkan. pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera. tak terlalu mahal. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya. segera ikut membantu. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. Suatu hiasan yang dapat dimakan. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering. laba-laba dan masih banyak lainnya. Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. ”Harga yang bagus. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya.. Ada ben- . Ada kepiting.. ”Ada kongcu. hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang. kura-kura. ”Hai. segera menghampiri pemuda itu. kelelawar. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut.365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap. ”Kongcu. Tanpa terlebih dahulu memberi salam. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan.

366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap. dapat ditawarkan benda tersebut. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi ... ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. Walaupun demikian. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. ”Sebenarnya ada. Masih cukup 8 bagiannya. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. walaupun dari kalangan orang kaya.” ujar Ma Siang pelan. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu. Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. ”Saya suka kuda. Ya. Pemuda itu. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal. Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda. seribu lima ratus tigaan. Ya.. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja.. benar-benar memukaunya. Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing. mereka punya. harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian.

Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Kota Siaw Tionggoan. atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. dan bukan hiasan daging kering. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. . Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. Mereka pun memesan makanan. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa.367 selain itu. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. kedua orang yang telah menolongnya. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri. sampai yang menggembirakan.

Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya.368 BAGIAN 6. Untung saja hal itu tidak terjadi. kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. naiklah delapan orang pengacau. Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir. Su-Mo dan Empat Begal Hutan. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya. Hek-Mo bicara seperti orang melantur. Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. TATO Setelah menghilang beberapa tahun. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang. yaitu adu ilmu silat. Entah apa yang dibuat mereka berdua.

Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut. Tidak seperti tato-tato pada umumnya. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya.369 harus diserahkan. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan. mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. mengeleteknya. Sebenarnya tidak. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. Orang itu adalah Ma Siang. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. lebih . Sedangkan tato hasil rajahan. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut. dan bukan dari wanita tersebut.

Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini. Selain Ceng Siang. ”Syukurlah. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya.370 BAGIAN 6. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut.” kata pemuda itu sambil tersenyum. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali. TATO berat dari sisi dara itu. Menanyakan kepastian hubungan mereka. Bagi dirinya sendiri. satu tugas sudah selesai. Mungkin. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya. melainkan hanya melalui berita para Troll. Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. ”Tugas baru kembali menjelang. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain. Gu Yo hanya dapat tersenyum. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. si Maling Kitab.. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. sekalian mereka berdua meminta restunya. Mengarah ke utara. karena ia adalah saudara tua perguruan. Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. bila ia masih mau bekerja padanya. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua. Melaksanakan tugas berikutnya. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. . kali ini dengan anaknya Ceng Siang. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang. Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan.. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya.

memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri. . Pemuda yang mengemban tugas yang berat.

TATO .372 BAGIAN 6.

Selalu hujan dan basah. seorang berkata kepada yang tadi berbicara. Seperti biasa sikapnya.” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik.Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun. Hal ini berarti bahwa malam 373 .” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya. ”Angus. ia tak banyak bicara. Orang yang dipanggil Misun. Aku tidak tahu. yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. Tak lama kemudian Misun pun kembali. seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. Membuatku selalu merasa kelembaban. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”. Sepeninggal Misun. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong. Dhoruba namanya. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab.” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. ”Entahlah. itu berbegas bangkit dari duduknya. Dhoruba. masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah.

. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. *** . Belum ada petunjuk. Angus McLeod. ”Sulit. Wajahnya tampak berubah. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya.” ucap Dhoruba. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau. ketiga orang tersebut. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. Setelelah memberikan tugas itu. Beberapa hari sebelumnya. Malam yang dinanti pun tak lama tiba. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Aku belum bisa merasakannya. Dhoruba dan Misun. Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. Didekatkannya telinganya pada tanah. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. ”Ya. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. Angus. Lima makam tepatnya.374 BAGIAN 7. ini dia.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada.

Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. Lalu kesadarannya hilang. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara. Suara-suara orang menggali-gali. tapi tidak dapat. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Hal itu berlangsung berulangulang. melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Coba digerakkan tubuhnya. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. Gentong. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. Pemuda itu. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Bau tanah yang lembab juga menyengat. Lebih baik dilakukan . Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. tapi bagai tak ada suara yang keluar. Seperti itu. Kesadaran kembali datang. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. Berkali-kali. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. Setiap kali kesadaran muncul.375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Sebentar lagi. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya.

Gelap pun kembali menjelangnya. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut.376 BAGIAN 7. *** Tiga orang tampak berjalan beriringan. agar tidak melukai orang yang dikubur itu. mengangkatnya dan memanggulnya pergi.. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. tampak biasa-biasa saja. bahwa ia adalah seorang Undinen.” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. menciptakan hari yang indah dan cerah. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Seorang yang terakhir. Ia tidak berbuat apa-apa. Garukan-garukan tangan mulai terdengar. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana.. dan ini fatal akibatnya. ”Paman Wananggo. sang pemuda. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Roh Air. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan. Kesadarannya pun hilang lagi. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. ”ke mana kita akan mencari buah . Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak.

Air terjun. ia merasa kerasan. Lalu tambahnya.” ujar orang tua itu dengan gembira.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja. Dan tempat yang kita tuju itu. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud. besok siang akan kita capai.” ucap orang tua itu lagi. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. Setelah mendaki sebuah bukit. Ya. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi. ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut. yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit. ”Nak Xyra. Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Sebagai keluarga. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. sebelum waktu bulan purnama tiba. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. ”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. ”Nah itu tempat bermalam kita.

Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. ”Masih ’mati’. biarkan saja. engkau Angus. Mau tidak mau. nona Siaw Liong. tentu!” jawab Wananggo. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup.” jelas Wananggo. ”Tidak. ”Ya.” jawab seorang yang ada di hadapannya. saat bulan purnama.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik.378 BAGIAN 7. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab. ”Dan untuk itu. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. ”Itu namanya Air Jatuh. Sebuah air terjun yang megah. demi kesembuhanmu. Isi perut dengan baik dan tidur. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan. Dulu juga. ORANG-ORANG ABADI menggelegar. kita perlu tenaga dan konsentrasi. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. mengajukan usul.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut. ”Belum. Engkau sem- . Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya.” usulnya. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali.

Ya. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. ”Kita perlu bicara malam ini.” ucap wanita itu sambil tersenyum. saling baku-hantam satu sama lain. Ya. Lalu ia pun berlalu dari sana. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka. ia ingat saat itu. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja. Cermin Maut. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. melayang. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. Perjalan pulang bisa dilakukan. untuk memperoleh tenaga. Sulit.. Pikirannya sedikit .. perjalan pulang. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. ”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. *** ”Jadi.” katanya pelan.” berkata kembali sang wanita.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. memperebutkan kepala lawannya. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu.” jawab orang yang dipanggil Angus itu. Ya. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. Dhoruba sedang mencari makan malam kita. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Jumlah kita sudah cukup. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh.. Melihat ke segala arah. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Angus hanya mengangguk tanpa menjawab.

Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap. Antara orang- .” sahut sebuah suara lain.. termasuk di Kota Paparan Karang Utara. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh. Antara yang jahat dan yang baik. ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu.380 BAGIAN 7. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. ”Aku setuju. Sejenis sabit besar. mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. Seorang dari mereka.” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya.. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. Tempat perguruan lawan mereka berada.” jawab Cermin Maut kemudian. Perguruan Atas Angin. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. ”Baik jika begitu.

orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. lelaki dan perempuan. . Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. Mereka semua harus berjuang.” jawab pembawa informasi tersebut. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk. ”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. akan tetapi sebagai bangsa bayaran. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. benar seperti informasi yang kita terima. klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. Tua-muda. mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. setengahnya berkuda. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang. mereka datang. Pertempuran kali ini pun amat serunya. ”Angus.381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. suatu klan ekspansionis dan brutal.” ”Hmm. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. Berapa banyak?” tanyanya kembali.

Dari yg sehat sampai yang cacat. Ya. ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. ”Kamu saja yang memimpin. pemimpin ad interim atau sementara. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini.” begitu katanya suatu saat. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. Ian McLeod.” ucapnya lelah. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar . kita harus berperang habis-habisan kali ini. Jadilah ia. selama ayahnya belum sembuh. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan. Angus bukan pemimpin klan McLeod. Tak ada jalan lain. Yang ditanya hanya mengangguk saja. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. Cemas tampak dalam wajahnya. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Apa boleh buat. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing. Ya. Dari anak kecil sampai orang tua. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. Angus McLeod. Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. Menjadikan desa mereka.382 BAGIAN 7. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. ”Baiklah.

setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama. Dengan adanya isyarat terompet tanduk. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir.. Pintu gerbang pun ditutup. Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi. Kesetiaan dan penghormatan.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. Memaksakannya untuk terbuka. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. darah mereka sendiri. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang. klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. tapi kalah dalam jumlah. Waktu pun berjalan. ”Cepat. Sudut yang pas dengan dada kuda. jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. Tidak ingin kalah. menginginkan hal itu.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama. . yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. Gelombang penyerang pun beringsut maju. Dua kelompok besar orang-orang haus darah. Jumlah yang jatuh terus bertambah. tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. Pertempuran yang tidak seimbang. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. Dengan bekal pendobrak batang kayu. satu di kiri dan satu di kanan. masuk ke dalam desa. ”Ghrrrrrg. barisan terdepan pun berlarian. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka.

telah banyak dari mereka bersembunyi. Rekannya mengangguk. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh.” seru seorang dari klan Darkyzp. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang. ”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi.384 BAGIAN 7. Menanti untuk menyerang balik.” ”Siapa yang tahu. Pintu pun terbuka dengan lebar. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu. . Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada. mungkin sudah semua. Dibalik-balik jerami dan sebagainya. Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. tapi hasilnya nihil. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Semua orang menghilang di dalam desa itu. Tidak ada.” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh. ”Tidak mungkin. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka. Semua dibolak-balik. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang. Bila sudah semua. ”Ada yang aneh. Akibatnya telah diduga.” ucap rekannya. Tapi apa yang mereka dapatkan.

Dan kali ini pun kembali berhasil. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. Menghindar dan menyerang balik. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Ya. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. Menunggu dengan harap-harap cemas. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya. Setelah parit terkuak. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. Ia yang luput dari serangan panah. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. menunggu sampai saat-saat terakhir. Tua dan muda. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar. Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. Menghiasi hari yang cerah itu. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Di sana. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. Tiba-tiba. segera ia memacu kudanya. ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. ”Grrrggghhh!! Di sana. Pria dan wanita. Mati.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Cukup banyak jatuh korban di an- . mudah untuk dihindari.

Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya.” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting. Lambat laun mulai jelas. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang.386 BAGIAN 7. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya.” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati. berdenyut-denyut tak beraturan. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup. memperhatikannya dari dekat. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. walaupun mereka bersemangat tinggi. Orang-orang yang berbeda satu sama lain. Walaupun musuh sudah separuhnya habis. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod. Jumlah yang tidak seimbang. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. Tapi ada satu hal yang harus dihormati. Semua kabur dan berkabut. Tiga-empat orang. tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya . ”Lihat. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. semakin lemahlah semangat mereka. ”Hmmm.

Ia. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini. Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu. Dia Dhoruba. Misun dan Angus McLeod.387 bangun. menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. ”I think he speaks with a local language here. Lalu dengan perlahan. ”Saya. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. ”I try with other language. lalu beranjak mendekati. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. ”Kumpel. serta dibawa . what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang. ”Watashi wa Misun desu. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. ”Well. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu. orang hitam berambut keriting.” jawab pemuda itu.” sahut seorang dari mereka. sang wanita. Entah apa maksud dari senyum itu. verstehst du. Shia Siaw Liong. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu.” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. ”Saya Gentong. Penjelasan yang tenang dan pelan. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati.

tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah.” ucap wanita itu. tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. lalu kembali pucat. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. perang! Memang demikian halnya. yang saat itu baru memiliki satu cabang. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit. selepas pembantaian terjadi. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. sang pemuda. Ia telah mati dan dikuburkan. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. Bahanbahan berupa makanan dan senjata. Perguruan Atas Angin. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- .388 BAGIAN 7. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Pucat. Ya. kami biarkan dulu engkau sendiri. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. Dan akhirnya tampak tegan. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya. ”Sekarang. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. merah. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara. Gentong. yaitu di Kota Paparan Karang Utara. Tanpa terasa ia meraba dadanya. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan.

Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap . orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. bahkan pertempuran. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. tapi seperti biasa. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. ketua Perguruan Kapak Ganda.389 but. ”Baiklah jika begitu. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. Membuka cabang di dua kota lainnya. Air Jatuh. *** ”Jadi itu kisahmu. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. pertempuran.” Kembali pemuda mengangguk. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. Mereka bukannya anti pertempuran. yaitu Tapak Kelam.” ucap gadis itu lagi. yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. Ya. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh.

Besok.390 BAGIAN 7. Dhoruba hanya tersenyum kecil. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan. bahwa dalam pertempuran.” usulnya. Gentong hanya menggelengkan kepala. sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. Tandanya ia tidak keberatan. terima kasih!” ucap Gentong. ”Baiklah.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat.. senjata memegang peranan penting. kira-kira kita butuh tiga hari. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. Misun masih mendekati Gentong. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong. Ya. tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. Jika demikian telah diputuskan. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah.” kata Misun meyakinkan. pasti engkau sudah bisa. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. ia sadar. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. ”Dalam perjalanan ke sana. bukan pertandingan satu lawan satu. sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi.. Harus disingkirkan. pagi-pagi sekali. ”Baik. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu. *** ”Paman Wananggo. Misun hanya menggumam pelan. jika dengan tangan kosong. tapi tidak menyatakan keberatannya. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara. Gentong mengangguk mengiyakan. ORANG-ORANG ABADI mereka ini. orang-orang yang tak bisa mati.

agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. jatuh menjadi air terjun. Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil... ke langkah berikutnya.” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut. ”Aneh!!” gumamnya. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada.” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu. paman.” Langsung segar orang tua itu. apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. . ”Hati-hati. untuk turun ke bawah.. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari.!!” ucap orang tua itu. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. ”Iya. ”Cepat. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan. di antara batu-batu yang menonjol. Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. kita coba saja turun sekarang. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut. tapi tak dilihatnya seorang pun. Langit sudah agak mulai terang di sana. ”Eh.. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini.. ah. Namun tak lama biasanya. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur. ”Tapi apa boleh buat.391 enaknya.

Hehehehe. *** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. Keduanya mengangguk mengiyakan. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka. ini malah untung buat kita. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. akhirnya sampailah mereka di bawah. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua.!!” ucap orang tua itu. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu... Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu.392 BAGIAN 7. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah. Ternyata mereka ada masalah rupanya. ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. kita ketahuan.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara.

bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. Mati. pada saat-saat akhir hidupnya. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul. Cermin Maut dan Sabit Kematian.” jawah Shia Siaw Liong. Menang atau kalah bisa berakibat lain. Mayat Pucat.” ucap Misun.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. ”Perguruan Kapak Ganda”. tampak dingin. yang diletakkan di punggungnya. Ada tiga orang yang dicarinya. . tampak merah oleh darah. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana. Jika ada yang sedih dan bersemangat. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari. ”Mereka sudah pergi kemarin. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Mendengar itu.” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. yang papannya sudah miring. sehingga mereka tidak langsung kembali. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil. Tapi itu belum semua.” ”Belum tentu. mirip bumerang. kelima orang itu segera berangkat pergi. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. itulah Gentong. bekas digempur. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. ”kita tertinggal satu hari.

berjalan cepat.” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. mari. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. ”Yang kedua.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. jika tidak di dalam air. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain. Baju mereka masih basah. ”Hei. ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran. ”hanya dua. Bagi Xyra yang Undinen. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. ”Baik.” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap..394 BAGIAN 7. Ia adalah roh air. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah. kita ambil yang kedua.” jawab Shia Siaw Liong memutuskan.” jawab Gentong. Bagaimana ini bisa dijelaskan. Bagi kedua orang yang lain. makhluk yang memang dalam hidupnya. Sebuah pulau yang lebih kecil. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil.” jawab Gentong. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu. memanfaatkan sifat-sifat air. di sini ternyata terdapat pulau lain. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu.. Ia heran karena dari atas sana. *** ”Mari. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak. . basah tidak merupakan masalah. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. cepat-cepat. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan.

Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya. ”Ya. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini. Jika ada waktu. Setelah di bawah. ”Baik. ia dulu juga begitu. masih ada dua lagi. akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. ”Kita kitari seperti cara yang tadi. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan.” ucapnya.” bisik Wananggo. . baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu.” jelas Wananggo. sehabis kita pergi dari sini. jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan. Ya. ”Pernah ada cerita. Setelah didekati ternyata ada dua. ”Fraktal?” tanya Lantang. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama.” lanjutnya. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal. geometri dan ilusi.395 ”Bukan hanya satu. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua.” ucap Wananggo tersenyum.

”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan..” ”Mencuri.. Lalu lanjutnya.” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu. mencuri. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian. ”Sama persis. lalu Lantang menjawab. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat. ini diatur sedemikian rupa. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan.” jawab Wananggo. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin. hanya. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra. ”Betul. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu. ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam. ”Ya.. ya jawabnya. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya. Padahal ada perbedaannya.. ”Ya.” ucap Wananggo. ”tapi kita butuhkan hanya empat. benar. Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri.. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu . ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. asal tidak bilang bukan mencuri. yaitu ukuran yang mengecil. lebih baik begini. ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian.” jelas Wananggo.” jawab Wananggo sambil tersenyum.396 BAGIAN 7.” ucap Xyra agak tak senang. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu..” kata Xyra polos.. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat. Lebih mungil. kita bisa minta. Jika sang petapa itu masih hidup.” tegas Lantang.

Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. melesat melibat tangan Tapak Kelam. ”Ya.” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. ”Sudah.. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. Anak muridnya telah habis dibunuh. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk. Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu. Tidak segampang itu mati. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam. cah bagus. nanti dulu.397 berwarna kelabu itu. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. tidak usah kecewa. hehehehe. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini.” lanjut orang terakhir. ”Eh.. Tiga orang yang mengerikan. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu. mencegahnya . Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut.. ilmu ampuh warisan gurunya. sudah..” tambah seorang dengan mukanya yang pucat. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa.

ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. Ki Makam namanya. kalau mau bunuh. ”Sudah. Prasasti itu masih ada di sana. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. ”Bagus.” jawab Tapak Kelam. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian. ”Curi? Jangan bercanda. Di Air Jatuh. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini. ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian. tidak semudah itu. ”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung.” tambahnya.” jawab Cermin Maut. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas.” terkikik genit Cermin Maut. ”Tak mungkin. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh. ”Itu palsu. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada.” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya.398 BAGIAN 7.” ucap Tapak Kelam semakin bingung. Senang ia melihat lawannya . ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi. ”Hehehe. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda.

kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. ”Ya. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat.399 itu bingung. tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. Rumah-rumah yang rusak. Tak tersisa. Jauh sebelumnya. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. Kedua rekannya mengangguk. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. Habis. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang. mayat dan lain-lain. sampailah kita di sana. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- . Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. kereta kuda terbalik. di kiri-kanan jalan. Kebuasan melebihi binatang liar. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. Bergembira layaknya seorang pemenang. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran.” ucap Gentong. menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. benar. itulah yang mereka cari. Kebakaran. ke Rimba dan Gunung Hijau. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Kelihatannya sepenanak nasi lagi. Memangsa tapi tidak untuk dimakan. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal.

Ia perlu mencari tahu. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat. Itu hanya istilah. The one. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. ”Begini. akan tinggal satu orang.” jelas Misun. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal. dan lain-lain yang ada dalam kepalanya. ”Ya.. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa. the one. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. Lalu katanya. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya. the one. Misun tidak langsung menjawab. kamum immortal. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata. ”The one?” tanya Gentong kembali. mereka akan semakin kuat. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat. ”Ya.. walaupun tidak dapat mati tentunya..” ucap Gentong perlahan. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati. ”sebenarnya tidak juga. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya. Dengan semakin banyak membunuh.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya.400 BAGIAN 7. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. Begitulah. ORANG-ORANG ABADI masing.” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah . bela diri. ”Bingung aku. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita..” ucap Misun lagi. dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok. ”Misun. Ilmu pengetahuan. juga hal-hal yang telah dipelajarinya. kekuatan dan menjadi yang terutama. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. yang dituliskan dalam suatu ramalan.

menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya.” katanya pendek. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. sudah basah oleh darah lawan-lawannya. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. Kedatangan kelima orang ini. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. Hal ini membuatnya . Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya. ”Kita sudah sampai. Golok melenkung patah. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda. Dhoruba sudah puluhan. ”Hei. atau leher yang hampir putus. Membacok dan menendang sana-sini.401 di depannya.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga.

Pertempuran itu tak berlangsung lama. Angus pun mulai turun ke dalam arena.” usulnya. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. Kelima diam seribu bahasa. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. Pedang yang cukup panjang dan berat. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari. Putus napasnya. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. ”Pakai senjata lebih efektif.” tunjuk Misun. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun. Shia Siaw Liong bergerak cepat. ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan. Hitam dengan baju merah berdarah. tampak tubuh-tubuh malang melintang. Khas pedang Tlatah Skotlandia. tinggi dan kurus. Mayat Pucat. Remuk dan hancur. ”Lihat ini. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya. Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut. ”Di sini. Ia mencabut pedangnya. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. Gentong menangguk mengiyakan.402 BAGIAN 7. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. melucu. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak . Simpan tenagamu. ”cakaran beracun.

Ya.” ucap Xyra. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. di mana ketiga orang itu berada sekarang. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu.” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah.” usul Angus kemudian. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu. mereka adalah Empat Pilar. ”Luas juga.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret. ”Benar. menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret. Ruangan dalam. Wananggo. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama. ”Mari kita ikut. di sana pintu masuknya. terlihat cukup luas. . sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya. tidak seperti yang aku pikir.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu.” berkata Lantang membenarkan. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah. Bawahan langsung dari Tapak Kelam. Rongga itu tidak terlalu besar. lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. *** ”Itu.” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra. Mungkin wakil-wakil ketua.

perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap. sahabat dari pemiliki tempat ini. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding. Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut. yang seperti diduga.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya. walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu. Batu yang dipotong sedemikian rupa. sekali waktu. ”Pernah. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . yang tampak di sana-sini. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. Hanya beberapa rak terbuat dari batu.” jelas Wananggo kemudian. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu.404 BAGIAN 7. ”Mana tanaman yang dimaksud.” jelas Wananggo. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi. Dengan permainan warna. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. tidak seperti keadaan sebenarnya. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya. yang dipahat dalam dinding.” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo.

”Paman.” tebak Lantang. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo. ”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu.405 sakit.” ”Siapa nama petapa itu. ”Oh. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya. menanggapi jawaban tersebut.” ucap Wananggo pendek. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman. paman?” tanya Lantang ingin tahu. Seribu Ramuan namanya. Wananggo menangguk mengiyakan. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. . apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. Ya. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. yang satu Undinen dan yang lain manusia. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini. ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu.” tanya Xyra. Alih-alih menjawab. ”Xyra dan Lantang. Suatu penyakit yang aneh. ia malah mengajukan pertanyaan. itu!” jawabnya tersenyum.” jawab Wananggo. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. ”Mungkin.

Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. sengaja atau tidak sengaja.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu. ”tumbuhan tidak berpindah tempat. Lalu ia kembali terdiam. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri. aku tahu. ”Paman.” jawab Wananggo. . ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan. ”Ini paman.406 BAGIAN 7. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor. yang akan menjadi tumbuhan baru. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. banjir dan sebagainya. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu. ”Begitulah alam ini.” ”Hampir benar.” ucap Xyra kembali. Hewan selalu berpindah tempat. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain. suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta. paman?” tanya Lantang tidak percaya. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu.” jelas Wananggo kemudian. paman kembali membuat bingung. yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. berpindah tempat.” ucap Xyra. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang. baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar.

”Tapi katanya. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. lho!” kata Lantang. Amat kecil. juga lebih sehat. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh. Organisme mikro namanya. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. kemudian dikenal sebagai pasturisasi.” ucap Wananggo. benar begitu. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik. Ikan laut masih baik dimakan mentah. menantikan penjelasan yang akan muncul. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. ”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu. ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. atau disebut juga bibit penyakit. bahwa tumbuhan dan juga hewan. lalapan itu juga sehat. selain lezat. Ukurannya sangat kecil.” ucap Wananggo. Lalu Wananggo pun menjelaskan.” Kedua anak muda itu diam. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- . Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung. ”Benar. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan. Dan itu terutama daging.” jelas Wananggo.” jelas Wananggo.

hanya setinggi beberapa jari saja. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. lalu katanya. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. sang penanam tumbuhtumbuhan itu. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. ”Tenang Xyra. Lantang.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut. menerangkan pada dirinya. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian. ”Paman. yang ada dihadapannya itu. . saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu.408 angguk.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik. Wananggo tersenyum masih. Beberapa tampak berkilauan perak. BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. hati-hati!” cegah Wananggo. juga keheranannya. sekali sentuh dapat seorang manusia mati. Ada beberapa yang amat beracun. ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. ”Hai. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut.

Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. Tapi jangan sampai mati. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan. ”Nah. Jika mati.?” ucap Lantang menambahkan.. dan di antara kita bertiga. Xyra mengangguk.” jawab Wananggo sambil tersenyum. Malu.409 ”Bukan. Lebih baik kita mengheningkan cipta.. Setelah.” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut. ”Dari cerita kalian. untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen.” jawab Wananggo pendek. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan. ”akan aku coba. agar hawa kita murni. Lantang. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. khasiatnya akan berkurang. *** . ”Kita masih ada sedikit waktu. Menunjukkan niatan yang teguh. Tampak ia berpikir-pikir agak keras. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu. ”Nah. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah.” usul Wananggo. Keduanya mengangguk mengiyakan. demi kesembuhan Lantang. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra. dalam hitungan menit akan berbuah. apapun.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. meditasi.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu.

” ucapnya. tapi tanda daya. Lunglai bagaikan boneka saja. ”Di sana. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. Kita harus menyeberang.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung. Sabit Kematian hanya diam saja.. ”Boleh juga bila kita pindah kemari. ”Ha? Bukannya tadi. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari . Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya. bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh. ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe. Hanya dapat berbicara.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya. Tapi matanya tampak juga mengiyakan. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah.” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya.. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi. Segera mereka berada di atas pulau pertama.” ucap Cermin Maut. ”Ayo jika begitu. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut. Kagum akan keindahan tempat tersebut. Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini. ”Bisa nanti itu kita bicarakan. di tengah pulau.410 BAGIAN 7. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya..

” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang. Begitulah mereka berlari cepat. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu. Setelah menemukan- . mendahului keempat orang rekannya.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh.” jawab Tapak Kelam pendek. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. ”Ya. ini sedikit tetetasan darah yang tadi. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut. Dengan lunglai ia berkata. tampak lemas. *** ”Tempat yang menarik. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. Di pinggir danau. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. ”Kelima. sampai akhirnya tiba di pulau kelima. ”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka.411 kesempatan untuk melarikan diri. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya. ”Jika demikian.” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu. ”kira-kira sepuluh. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian. mari kita menyeberang. Yang lain segera menyusulnya. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala.

karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu.412 BAGIAN 7. Rasakan hawa yang dikeluarkannya.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. Kedua telapak tangan dan kaki. ”Mari kita mulai. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk. ”Sudah hampir tengah malam saat ini. ”Baik jika begitu. yang tadi dalam postur Duduk Teratai. ditambah dengan ubun-ubun kepala. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya.” ucap Wananggo hampir berbisik.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang. ”Kita ikuti saja yang pertama. Upayakan untuk mencari hawa . dengan lima titik menghadap ke langit. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. yang hari itu membulat sempurna. Telusuri isyarat yang ada.. itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti. ”Aneh.” usul Shia Siaw Liong.. *** Malam pun menjelang tiba. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang. Pulau kelima. ”Selanjutnya.” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. bayangkan engkau hendak mencari Lantang. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya.

” bisik Wananggo perlahan. Xyra. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. dengan membayangkan pemuda itu. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. Ia bergerak perlahan. Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. terlihat seperti mencari-cari seuatu. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek. halus dan bersambung-sambung. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap.413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut. sang Undinen. Putih cemerlang. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya.” kata Wananggo kemudian menambahkan. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. untuk mencari hawa dari Lantang. Lidah cahaya itu berhenti memanjang. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. ”Arahkan ke tempat lain. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. jangan ke sini. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening. Jika suasana terang. kadang ke rak yang . Mirip kilauan kunang-kunang. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada.

” ucap Wananggo perlahan. yang lalu tiba-tiba hilang. ”Bagaimana keadaanmu sekarang. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. juga berwarna biru tembus pandang.” tanya Wananggo. saling merengkuh. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. melingkar. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang.. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. Lebih bercahaya dan kemilau. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul. sudah baik kembali. Xyra pun membuka matanya.” jawab Xyra pendek. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang. Rak tersebutlah yang mereka cari.. Suatu perasaan nyaman luar biasa. yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. . kembalikan peredaran hawa dalammu.414 BAGIAN 7. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. kadang ke rak yang sebelah bawah. Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu. ”Baik.. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. Setelah beberapa saat hening. ”Atuh napasmu perlahan. sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang. Pemuda yang dikasihinya. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu. Diam seperti mematung.

.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki. *** ”Di sana. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil.. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa. Tidak semuanya. Itu pula yang aku harapkan. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada.” ucapnya kemudian.” ucap Wananggo.. Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan.415 ”Pautan hawa. Berbegas Sabit Kematian. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. yang dapat membantu menyembuhkanmu. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. jika suatu saat ada yang membutuhkannya. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. Entah apa. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini. Untuk orang lain. melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya. berikut kitabnya tersebut. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang.” jelas Wananggo. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. ”jika tidak. suatu hubungan hawa antara dua entitas. di dalam bangunan itu. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.

berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu. Demi melihat prasasti kedua. ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini. Lingkaran Dalam. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. Tanpa banyak berbicara. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. Ia hanya tersenyum getir saja. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. Ya. Sayangnya. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Prasasti sebesar kerbau bunting. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Ki Jagad hitam. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. mulai mengamat-amati prasasti pertama.416 BAGIAN 7. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat.

Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada .” ucap Cermin Maut memperingatkan. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut. bergaris-garis.” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya. ”Biar sabitku yang bekerja.” ucap Tapak Kelam. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat. rusak oleh sabitmu itu. ”Belum tentu. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut. sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang.” ”Huh!! Jangan kuatir. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. dan tidak ada apa-apa di sana. Rata dan berbentuk kotak. ”Hati-hati. ”Hati-hati. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa.417 pat sisinya. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu.” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut. ”Kita coba saja. ”Kosong. sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. Mencongkel perlahan. kakak Sabit Kematian.

dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Dengan sigap ia bergerak ke samping. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana.418 BAGIAN 7. Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. itu mungkin kain pembungkus sesuatu. ia melarikan diri. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Suatu pukulan jarak jauh. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. ”Ya. Sudah selesai tugasnya. ia bergegas menyelinap keluar. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet. yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya . Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya.. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa.. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu. ”Keparat. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu.

. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan. Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini... ”Mau lari kemana engkau. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. yang diikuti dengan tubuhnya. ”Jika engkau Tapak Kelam.!!” ujarnya tersendat. Cermin Maut tidak segera menjawab. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut.. ”Kamu. . yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. saya..” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin. orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku. pastilah anda adalah Cermin Maut... Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri.419 itu. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu.. ”Ya. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah. dan orang ini hendak mengejarmu. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting.. waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. ”Siapa. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya.. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain. kalian. Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal. Kawan atau lawan. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya... bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut. yang akan membawanya ke pulau keempat. golok bumerang. Itu belum jelas.. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya..

Kalian telah membunuh kami. ”Kami mencari Sabit Kematian. ORANG-ORANG ABADI ”Ya. yang kedua ini . Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. saya Cermin Maut. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. pada suatu saat yang lalu. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. itu adalah salah seorang murid-murid. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya.. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau.. ”Dan engkau juga. Kelima orang ini belum. Sekarang. Ya. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. Deras dan keras.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. ”Dan sekarang giliran kalian. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata.” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek. serta Mayat Pucat. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. dapat saling mendekat. orang yang berseteru. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian.420 BAGIAN 7. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir. Memang lucu.

. di dalam sana. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya.” jawab Cermin Maut..!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya. ”seorang dari yang pernah kita bunuh. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat. . Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya.” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut.. ”Mari. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka. ”Tak tahu. Dan ia mencarimu. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. Tapak Kelam pun mengikuti. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu. ”Hei.” ucap Angus yang segera bergegas.!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti.. agak bingung mereka. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut. Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. ”Mari kita kejar. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian..” jawab Cermin Maut. Misun menepuk pundak Gentong.421 dia tidak yakin. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau.

tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. ”Eh. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu.” jawab Tapak Kelam menjelaskan. ”Ini jalan rahasia. Biasanya mereka yang dikejar orang. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. Membuatnya semakin jatuh hati. kita bisa ke pulau berikutnya. ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka.” ucap Sabit Kematian jengkel. ”Eh. ”Mari masuk. Dan dari sana melarikan diri keluar. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja.422 BAGIAN 7. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. ”Belum tentuk kita kalah sama mereka. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu.” ucapnya cerdik. Berturut-turut Cermin Maut.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya. . yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. Pulau keempat. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran. kamu.

Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain.” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu. yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain. Rekan yang lain mengangguk. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. Wajahnya .” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku. sedangkan Gentong. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian. perlahan-lahan. pastilah ini menuju ke tempat lain.” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya.” ucap Shia Siaw Liong. sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. ”Sekarang coba alirkan hawa.” duga Dhoruba. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya.” ucap Wananggo. *** ”Minumlah ini. Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana. tampak membuka matanya. Sebagian turun. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya. Setelah hening beberapa saat. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini. ”Jangan semua masuk.” jawab Wananggo. ”jika ada jalan rahasia. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya. ”Aku belum tahu. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. kembali menuju perguruan.423 ”Mereka menghilang.

”Aku merasa lebih sehat dan segar. dihancurkan. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya.” ”Paman. si Bayangan Menangis dan Tertawa. ”Sebabanya.. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah. paman. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju.” ”Aneh. Dan katanya. Dulu oleh gurunya Rancana.. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini. yang ada di hadapannya sekarang. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi.. Saat ini oleh Wananggo. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi. Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya. ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana. ”Padahal menurut petapa tersebut. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh.. ”Mari. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo.424 BAGIAN 7.. ”yang penting kita sudah berusaha... juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya.!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Ia masih ingat bahwa orang itu. tak usahlah sedih begitu. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya..” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. semuanya kehendak Sang Pencipta. Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh.. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut. . ”Engkau. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu. paman! Mari kita pergi dari ini. hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang.!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang.

”Minggir!!” jawab orang tersebut.” katanya kemudian. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita. Keduanya terdiam. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. orang itu. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng.. ”orang itu. Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya. siap untuk saling serang. Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya. Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya.” ucap Lantang bergetar. Cermin Maut. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang. segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut... tapi bagi anak kecil seusianya saat itu. begitu pikir mereka.. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih .” ”Paman.. Sabit Kematian dan Mayat Pucat.. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya. yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut.. yang adalah Tapak Kelam. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti.. tidak dalam keadaan segenting saat itu.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. Mereka segera berhadapan. seorang wanita dan dua orang laki-laki. Ia tidak mempedulikan Lantang.. Tidak terlalu sakit. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ.

Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba. Tidak . kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa. malah salah seorang dari mereka berkata. yang wanita. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. ”orang sudah hampir mati kok ya. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. Angus.426 BAGIAN 7. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya. berkata salah seorang dari mereka. Misun dan Gentong. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. Cermin Maut. ”saya Shia Siaw Lion. ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut. ini kami. Sembilan tepatnya sekarang. bukan?” ”Ya. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. Bersiap hendak saling serang. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. ya ia mulai ingat. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. Ya. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. Jika sudah kenal. ini Dhoruba.

Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. pemuda yang berada di depannya sekarang. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu. Pukulan keras dan lurus. Umumnya dengan jarak jauh. Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong. Keras .427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya.. Pemuda itu adalah. Hening sesaat. ”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. mereka-yang-tak-bisa-mati...” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak.. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo. akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka.. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut. ”Kaum Abadi. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu. ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi. lincah masih geraknya.. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat. mau tak mau membuat mereka merinding. Bukan hal yang normal. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras.. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah. menebas kepala sudahlah cukup.” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh. mereka benar-benar nyata adanya. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau..

Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. Jika ia harus pergi dari sana. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana.428 BAGIAN 7. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. kitab tersebut harus ikut. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. . di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. Untung saja ia bertemu dengan gurunya. Jika saja tidak. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar. Campur baur antara sedih dan marah. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. senjatana tidak begitu berfungsi baik. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. bertempur jarak dekat. atau berkalang tanah. Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Dengan jarak yang sekarang agak jauh. Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Rancana. mungkin. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. Pusing sesaat dirasakannya. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. Segera ia melompat mundur menjauh. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. kali ini di bagian tengkuk. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. mengemis dan kelaparan di jalan. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. Dalam jarak dekat. Di mana-mana.

walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. Memang sebaiknya kita pergi. paman. Cara serang yang baru ini. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain. membuatnya sedikit kewalahan. Lain waktu kita cari lagi orang itu. Diantara kedua orang saudara seperguruannya. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk.” jawab Wananggo. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. Lantang. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu. pinggir berganti-ganti. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. Mundur kena sabit jangkauan panjang. ”Aku mengerti. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut.” ajak Wananggo. baiknya kita segera berlalu dari sini. rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang. mereka itu. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. ”Nak Lantang. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. Memang untuk keselamatan kita juga. tapi Gentong tidak tahu. Kita sebaiknya tidak mencampuri. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya. dipegang di tengah. ”Kaum Abadi. ”baiklah paman. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju. Maju kena cengkeraman. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. Lalu katanya.” .

Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana.430 BAGIAN 7. Entah apa. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun. ”Aku Wananggo. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Xyra tampak terkejut. tak perlu kalian takut. Aku tak ada maksud jahat. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. ”Maya. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. berbulir-bulir mengambang di udara. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain. Saat ia berlari cepat. Misun lalu membuka baju luarnya. ”Howgh! Aku Misun. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut. . pulau ketiga. dan ini Xyra dan Lantang. Terdapat banyak untaian. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. segera mengangkat tangan pula. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. menirukan. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu.

”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu. Tapak Kelam. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. ”Howgh!! Tugasku telah selesai.” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. ”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. *** ”Untung ada engkau.” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra. kembali menemui rekanrekannya. Betul-betul lawan yang tangguh. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat. sah-sah saja. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati. Sabit Kematian. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. kehilangan seorang rekannya. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. Jika harus lewat jalan biasa.” ujar Mayat Pucat. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan. adalah tidak terlalu berat. Tatapannya yang seakan mengatakan. . Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra.

*** ”So. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Melihat itu. yang mungkin belum dingin tubuhnya. right!” sambut Dhoruba. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. bagus!!” Misun. Senjata yang sudah ’tua’. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan.432 BAGIAN 7. Gentong masih tampak termenung. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong. Pada suatu gerakan tipuan. Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar.” sambung Shia Siaw Liong. mengajaknya berlalu dari situ. ”Yeah. Menepuk bahunya. isn’t it?” ucap Angus. Bagus. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. Banyak sudah darah yang dimininumnya. our problem in this land is alreay finished. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. sejenak dipikirnya sesuatu. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. ”Pilihan yang bagus. ”Sudah saatnya kita pergi. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. Dhoruba terkekeh-kekeh. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. Mereka segera berlalu dari sana. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. ”Gentong.

”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. persegi. ”Ini harusnya tempatnya. dan mereka akan datang. Ia. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini. tapi ia tidak mengerti. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. orang tua itu. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan.433 nunaikan misi mereka sendiri. *** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. . terutama bagi kaum mereka.!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini. ”Aku harus memberi tanda di sni. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. membentuk semakam bekas candi atau kuil. – merekayang-tak-bisa-mati. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. Saat orang itu bangun. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu.. Undakan batu. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. portal!” ucap orang itu. di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut.

kami kemudian membawa anda ke sini. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan.. ”Ya. Nanti.” jawab makhluk itu.. ”Eh. Manusia Tiga Kaki. di atas pohon!!” ucapnya kagum. Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar.. ”Saya Coreng.. kami ’menculik’ anda dari portal.. saya Rancana. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa.” ucapnya perlahan.. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi. pelataran batu tempat anda tidur. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri. Setelah berkata demikian. jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda. ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana. Sejurus tak ada jawaban. Lalu katanya. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi. ”Maafkan bila tadi malam..” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki. Yang membedakan mereka adalah tingginya. membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa. Anda siapa?” tanya orang itu kemudian. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya.. Tiga kaki tingginya.. ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras. ”Ini. Ya.434 BAGIAN 7. kami tahu. Makhluk itu tampak sedih dan muram. ”Eh.

Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita. Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. itu yang penting. Dan di sini. *** ”Engkau yakin. Dunia ini luas rupanya.” gumamnya. ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya. apanya!” usul kawannya kemudian. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. *** . Rancana sejenak terkenang akan muridnya. ”Aku telah tiba di sini. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki. telah ditemuinya. ”Benar. Lantang. Moreng?” tanya Coreng. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah. di Rimba Hijau. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini. Berikutnya minta pertolongan mereka.435 tenang. Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat.” ucap Moreng meyakinkan.

jika juga sudah menjadi mayat. . lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini.. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun.436 BAGIAN 7. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari.. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. Hanya manusia. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora.” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan. Dara itu kembali mengangguk. ayah.” ujar ayahnya. Dara tersebut hanya menangguk. nanti aku gali sebuah lubang besar. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. Oleh karena itu harus segera dikuburkan. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. jangan dipegang!!” ucap ayahnya. ”Iya. ”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu. ”Hati-hati.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. Sambil menutup hidung. Berpesta santap daging manusia. ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana.” jawab sang dara. karena selain orang mati. berhak atas persemayaman yang layak. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana.

”Bercocok tanam. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian. terutama air terjun di belakang amatlah indah. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian. Perguruan Atas Angin. berdagang. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan.” tanya anaknya kemudian. ”Ya. . Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. ”Membuka kedai saja. Yang penting semuanya telah dikuburkan. aku ada banyak pengalaman. yang penting kita coba. tidak terlalu takut tidak dapat hidup. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh.. Entah dari pihak mana.” jawab ayahnya..” usul anaknya. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup. Sayang untuk ditinggalkan. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang. Pintar!!” kata anaknya antusias. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana. di belakang itu amatlah indah. Keduanya tampak puas.437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja. ”Bagus juga tempat ini. benar. ”Buat apa dipikirkan. ”dan tempat ini. tapi dari tanam-tanaman kita sendiri. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu. ”Mereka toh telah mati. Keduanya kemudian tertawa berbarengan. membuka perguruan silat.” ”Ya. Di beberapa ruang halaman.” balas ayahnya. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya.

Bila tidak.” sarannya kemudian.438 BAGIAN 7. kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. *** ”Masih jauh. Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian. Padang Batubatu. ”Kita tidak tahu itu. Dara itu mengangguk. di gunung. paman. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. ”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu. ”Kita masih harus mendaki gunung ini. paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya.” jawab sang dara ceria. ”Mari kita mulai mendaki. Gunung Berdanau Berpulau. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. Dalam hatinya ia berkata. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. semoga saja.. ”Masih. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta. Lalu keduanya mulai beranjak dari situ. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura. mengeluarkan ilmu berlari . kita akan berlari cepat sekarang. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari. ”Anak wanita kok senangnya bertempur.” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu.

Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut. Meloncat di sana-sini. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum. *** . Menuju suatu tempat di atas sana. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. Membeku. Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba. Sedih bahkan. cepat hampir tak terlihat. bagai dua buah patung pualam putih. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. yang mengangguk perlahan kepadanya. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. Memutih dan mengeras. kering.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu.

ORANG-ORANG ABADI .440 BAGIAN 7.

Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Melesak dan tergores halus. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 . Tepatnya tiga tahun dari saat ini. jauh di utara sana. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Ia tidak asing dengan air. tepi daratan. Sebelah utara dari Padang Batu-batu..Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau.. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Lautan. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta. Bagi pemuda itu. Telaga pemuda itu. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai. akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang. Pantai Selatan. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau.

Guru yang pertama adalah Walinggih. seperti dipesan oleh orangtuanya. Arasan ia memperoleh dua jurus pula. Bila ada nelayan mendarat. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi. Selain belum benar-benar merasa cukup. Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut.442 BAGIAN 8. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini. memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. Sebuah perahu nelayan. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Ki dan Nyi Sura. Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Sedangkan dari guru keduanya. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Tapi ia belum merasa puas. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Saat perahu yang ditujunya mendarat. yang mengajarinya dua jurus pokok. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Tenaga Air.

Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut. Ia pun membuka perbekalannya. .443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan... harus aku ikut dia. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan. Telaga mencari-cari matanya. Ia adalah orang asing.” tersadar Telaga dari kekagumannya. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup. hanya bisa terpaku melongo. tamu tepatnya. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Ia hanya memandang kagum dan membisu. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Tepi Darat Selatan. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan. Cukup terlindung dari angin. Belum mereka berkenalan pula. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. Hari sudah menjelang senja. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. ”Eh. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur. bergegas berlalu dari situ. setidaknya menurut para penghuninya.

kakek! Pemuda ini. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya.” usul cucunya itu.444 BAGIAN 8. ”Ah. kalau engkau yang salah.” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum. mungkin belum muncul saja aksinya. apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. baik. aku tangkap dia. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan. engkau harus minta maaf kepadanya. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. kakek! Besok baru kita tanyai. kakek!” rengek sang cucu manja. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. Tapi awas ya. ”Jadi apa maumu sekarang. saking ringannya . meringkuk miring dan juga mendengkur.” jawabnya. Pelaut Ompong.” goda kakeknya kemudian. ”Belum tentu.” ucap gadis itu. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan. Lebih aman di sana. ”Baik. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. ”Iya. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga. Dara itu mengangguk. ”Jangan terlalu curiga. ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah.456 BAGIAN 8. . Suatu alasan yang picik. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Kaku dan keras. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. dada. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Serangan kasar dan membabi-buta. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. Wajah. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. Pelaut Ompong. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu.

Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong. terus.!! Ayo lawan. Wassa. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya.. mencoba untuk membantu. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak. ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat. Sedih. Tak ada gunanya. Bukan begitu?” tanya Telaga balik.. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga. Dan termenung. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya. Lelah sudah pemuda itu.” ”Aku ’kan menumpang di sana.” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu. ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia.” ucap Telaga perlahan.. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu... jangan engkau menghindar... Lalu katanya.” jelas Telaga. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya.457 ”Telaga.” ”Aku ini sudah bertunangan. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu... akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya. Ia kemudian lanjut berkata. kita sudahkan saja hal ini. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani. Wassa hanya tersenyum malu. ”Wassa.. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. Ia pun terduduk lelah. Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan . Terengah-engah sekali tampaknya. Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku.

? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. baiknya kita latihan diam-diam. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain. aku juga tertarik dengan tempat ini. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua. Nanti malam kita bertemu lagi di sini. mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. menyisir lembut daun-daun nyiur. lalu katanya. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling. ”Ini semua hanya salah paham. *** . Menuju desa Tepi Darat Selatan. untuk suatu kejutan. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir. Dengan ini kita jadi bersahabat. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu.. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. Bagaimana?” usul Telaga. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu.” katanya sambil mengedarkan pandangan. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis. Seorang berilmu dan juga ramah. Nanti kuceritakan. Telaga menganggguk. Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. Angin pun berhembus perlahan.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. Aku rasa. ”Di samping itu.. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu. Wassa mengangguk setuju.458 BAGIAN 8. Telaga.

O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja. selebihnya aku tidak hapal.” ucap Wassa.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan. yang dinamakan deret Fibonacci. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini. ”Masih belum mengerti.” jawab Telaga singkat. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. ”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya.” ucap Telaga penuh ingin tahu. ”Perhatikan bahwa suatu bilangan. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang.” cerita Mayayo. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India). setelah bilangan ketiga. yaitu Gopala dan Hemachandra. ”Belum.” ”Menarik. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti. Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong.” ucap Wassa memberi .

Hening sejenak. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut.. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar. Coba tanyakan kepadanya. CMLXXXVII. ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. Lalu terdengar Telaga bertanya. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- .. MENARI BERSAMA AIR ”Iya. Rahasia. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. ”Di balik itu.460 petunjuk. Pelaut Ompong.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu.” jawab Wassa. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. ”Menarik!” ucapnya kemudian. membuatnya benar-benar tertarik. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung. ”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi. BAGIAN 8. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci.

”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian.. Jadi. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi. ”Orang yang menceritakan berita itu. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu. .” ”Jika memang kitab itu tidak ada.. ”Hahaha. ”benar-benar lupa aku. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu.” berkata Pelaut Ompong arif. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu.461 makaman kuno tersebut. hmmm. Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa..” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu..” jawab Telaga jujur. ”Kami tidak berhasil menemukannya. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini.. itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan.” jawab Pelaut Ompong. ”Saya dengar dari Wassa. Waktu aku seumurmu juga demikian. tunggu dulu. ”Bahkan.. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu.. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali. berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya.

Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. *** Malamnya. rumah di mana ia menumpang tinggal. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut. Telaga beristirahat lebih cepat. . Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Sejenak dirasakannya suatu keanehan. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu. melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya.462 BAGIAN 8. Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Secara reflek ia tersentak dan berdiri. Jangan beritahu siapa-siapa. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit.

Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. Angin masih berhembus lembut di kejauhan. ”Itu Telaga. di atas bukit. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya. kok masih hari ini sudah minta diri. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang.” jawab . Saat untuk pergi ke bukit. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut. kek. Hari-hari pun berlalu dengan cepat.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. Mayiya. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. Malampun semakin larut. *** Malam baru menjelang tiba. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan. *** Dalam beberapa hari itu. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong. Tumben. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya. Telaga minta diri untuk beristirahat. Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya. ”Enggak ada apa-apa.

kita istirahat juga saja. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. ”Kalau begitu. Telaga pun beranjak menuju suatu arah. Malam tanpa bulan. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri.464 sang kakek. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. Langit benarbenar gelap. Arah di mana suatu bukit berada. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap. . Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Akhirnya ia berada di luar rumah.” tebak Mayiya. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu. ”Ah. mungkin juga. Mayiya. membuat malam itu gelap dan lengang. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya.” jawab cucunya. BAGIAN 8. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan. Setelah hampir-hampir tertidur. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri.” ”Iya. Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya.” jawab kakeknya. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. *** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. kek.

Ia sudah hampir berada di sana.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. ”Jangan nyalakan api...465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak. ia pun mengambil arah berlawanan. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Berdebar-debar jantung Telaga. Setelah berjalan beberapa saat. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. Jika tidak. Sebelum ia sempat menyalakan obornya. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. Pemakaman kuno di atas bukit . Perlahan. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam. Hening. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. meraba-raba sana-sini. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Bukit ada di sana. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. Setelah yakin. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya. Setelah rasa terkejutnya pulih. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya.

mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Suasana tampak lengang. Satu. Sekarang ia telah berada di sana. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi.466 BAGIAN 8. Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. merapalkan Tenaga Air. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian. tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Sepi. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai. dua. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan . tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Di tengah-tengah pemakaman kuno. Suasana yang terlalu sepi. Sunyi. Sedikit gelisah ia menunggu. Setelah ia merasa sedikit nyaman. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. membuatnya sedikit tidak tenang. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. Sendiri. Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama.

kali ini dengan dada agak berdebar-debar. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya.” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya. Sunyi. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya. Berkali-kali. sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh. Dan kembali berlaku hal yang sama. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. dingin. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. ”Maaf. Menyambar dengan lembut. Se- . Kembali hening. Hening tak ada jawaban. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana. kali ini dari arah kirinya. Belum belasan langkah ia melangkah. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya.

menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada. di udara. Kita akan bersua lagi nanti. ”Desa Terapung. . Mengirimkannya hampir tanpa suara. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka.” suatu suara lirih terdengar samar-samar.. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu. tapi jelas. mengambang sebuah kain lusuh terlipat. menghindar karena menyangka dirinya diserang. mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan.. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya. Hari pun sudah mulai mendekati fajar. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk. Suara yang sama. pelan. Ia menggapai kain lusuh tersebut. Ia tidak begitu ingat. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik.468 BAGIAN 8.. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Ya.. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu.” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya. Dan di depannya. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya.. itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya.

Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Terasa benar lemasnya. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Desa Terapung. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. Semuanya serba kayu. tidak seperti saat ia pertama kali sadar. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. Tak berbunyi. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Kaku masih. Laut. Terkagum-kagum . pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat. Membentang di hadapannya tampak air. Jalan yang juga terbuat dari kayu. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Sekarang tampak di depannya. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya.

tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Kurang dari sepeminum teh. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut. Di sana. Kadang ke atas kadang ke bawah. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu.470 BAGIAN 8. peti itu telah hilang dari pandangan . Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun. di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran.

hanya dengan sang gadis ia berbicara. Tinggal beberapa orang di antara mereka. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Balai desa dari Desa Terapung. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. Bila sudah tentu tidak dibakar. Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Ya. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk. gambar-gambar dan juga ukiran. Lalu seorang dari mereka. Benar-benar tak ada suara yang terucap. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Tak ada kata-kata yang terucap. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. kapal. mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. laut adalah satu-satunya solusi. termasuk si pemuda. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. mengapa sedari ia datang. ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. Orang yang mati telah dikuburkan. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. yang kelihatannya dituakan. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. Ada ikan. tampak beragam hiasan menempel. mulai bertanya-tanya. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. gurita raksasa.471 mata. Pemuda itu. orang yang diselamatkan dari amukan badai. Untuk itu. ikan paus dan sebagainya. Dari luar terlihat biasa. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali.

Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Bila tidak ada orang baru. Lalu seorang dari mereka. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . Ia mengangguk dan berangsur bangkit.” jawabnya. ”Saya bernama Mayayo. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. dengan pendengar orang-orang sendiri. Orang yang ditunjuk mengerti. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. ia kemudian mulai membuka percakapan.” jawab gadis itu. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing. Gadis tersebut tersenyum padanya. dan menempatkan dirinya di samping pemuda.472 BAGIAN 8. ”Saya Akanamia. orang yang sudah terlihat cukup tua. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. kebiasaan ini pun tetap dilakukan. ”Siapa namamu?” tanyanya ramah.

Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. Selain itu terdapat pula. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. Setelah cerita itu selesai. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. Dua orang menghampiri Mayayo. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. Pelaut Ompong. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. Tapi di luar kekurangan mereka itu. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. Kakeknya. berikut pula perahunya. pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. . Orang-orang pun berbubaran. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya.473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. mereka memiliki kelebihan. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya. menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. telah tiba kembali . Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. orang-orang pun mulai berpamitan. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali.” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. Mayayo. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. Bila suatu saat mereka mendapat giliran. setelah terlebih dahulu membersihkannya.485 dua orang ini. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. Pelaut Ompong tak ada di tempat.

bercerita pulalah ia. Ia kagum akan sikap pemuda itu. pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. Mayayo. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya.486 BAGIAN 8. dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan. terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. . Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. MENARI BERSAMA AIR di rumah. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa.

yang hanya mengangguk mengiyakan. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. Pulau yang menjadi tujuan mereka. minta diri. Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. ”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan. ”Engkau ada ide.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang. Mungkin. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka.” usulnya kemudian. Sebuah danau yang luas dan indah. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. Ya. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. Terpikir hanya satu jalan. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. . Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. yaitu berenang. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini. Orang tua.

”Cape paman.” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. dan saat ini adalah kesempatan kami. ”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu. kami bantu menyeberang. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. jadi anda berdua ini.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong.” . Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut.” ucap Walinggih. Berjalan agak cepat.. Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini.. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini.” ucap Walinggih ramah. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.488 BAGIAN 8. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu. Kami ingin sekali membantu mereka kembali.. ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma. ”Baiklah kalau begitu..” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya.. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka. sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu. pikir Walinggih. dan makin lama makin cepat. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami.. ”Ah. dan itu matahari sudah mulai hilang..

Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. *** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Suatu perangkap satu arah. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula.

di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. ”Mungkin ke sana. Untung tidak terlalu lama. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. Setelah mengucapkan terima kasih. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga.” ucap gadis itu. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya. paman! Saya tidak melihatnya tadi. Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru. Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih. kita sudah di sini.. Ya. Lalu kata seorang dari mereka. bagaimana tidak.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. . Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. Atau jika kalian ingin dijemput. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian. jika tidak. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. ”Betul. ”Nah..490 BAGIAN 8. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. paman.

terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. Di sana berdiri sebuah saung. apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati.” Tak ada kata-kata lain. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka. ”Paman. Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam. mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Pikirannya melayang ke mana-mana. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”. Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu.” jawab Walinggih mengiyakan. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini. Agak terletak di sebelah dalam. dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud.” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. kondisinya pun tak terurus. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya. Setelah lama mencari-cari. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. .

” ucap Walinggih perlahan. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. .” ucap Walinggih.492 BAGIAN 8. Keduanya pun segera beranjak ke sana. Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini. MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. ”Hati-hati. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi. ”Benar. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. maka guanya berada tak jauh dari ini. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam. dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu. Siapapun orang itu. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya.

Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya. keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu. ”pada saat-saat itu kebetulan .. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan. ”Aku adalah sahabat mereka. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih. di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya. Lalu lanjutnya. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. ”Ini. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu. kami mencari mereka. ”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah. Hening sejenak meliputi suasana di sana.. seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. Tak berani menganggu. Walinggih dan Sarini.” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka.. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. yang ternyata adalah es. ”Ya.” jelas orang itu.493 Perlahan kedua orang itu. Ki dan Nyi Sura.. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka. tampak samar-samar wajah seorang manusia. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya. Dua buah manusia yang telah membeku..” ucapnya perlahan..

”Tidak tahu. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai.” jawab Rancana pendek. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu. Dengan membekukan mereka. yang mengaku bernama Rancana. kalian membawa kabar baik. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka. Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman. ”Tidak juga. Lalu katanya.494 BAGIAN 8. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut. jika saja mereka dapat mendengarnya. ”Ah. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. Tak tahu harus berbuat apa. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka.” . Lalu setelah ditanya.” ucapnya pelan. MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik.

julukan yang dulu dimiliki Walinggih. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya. menjadi patung es. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka.. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya. ”Pesanku. Sudah bola matanya.” ucap Rancana. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah. rambutnya dan juga kulitnya. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. larut dalam pikirannya masing-masing. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. seperti lidah dan rongga mulut. ”tolong katakan pada muridku. ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. Lantang. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. Julukan yang telah lama ditinggalkan . Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih.. Dugaan Walinggih benar adanya. Rancana hanya mengangguk.495 Keduanya kemudian terdiam.

Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna. Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. Jika saja Ki Tapa masih hidup. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan.496 dengan sifat-sifat jeleknya. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. Lantang. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. Rancana pun memaksa untuk menolong. Jurus yang . Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. sempai bertemu dengan Hitam-Putih. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. BAGIAN 8. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti.

Guru pertama adalah ayahnya sendiri. ”Jika belum bisa menerapkan. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. Mirip seperti pohon yang dirawat. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Walinggih. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana.497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Walaupun ilmu kami berbeda. Arasan. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. disiramai dan akhirnya berbuah. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Perlu waktu memang. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka. Ia . Entah apa hubungan antara keduanya. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. air atau angin. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu.” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Sia-sia. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya. Sehabis serangan lewat. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar.

” perintah gurunya itu kemudian. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. Tak lupa disirami . Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya.” ucap gurunya. Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. Sarini mengangguk. tetapi masih lengket pada tempatnya.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. membentuk posisi segitiga. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut. Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. dengan tanah dan rumput-rumputan. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus.498 BAGIAN 8. bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya. memutar. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. beberapa batu tampak berderak-derak. Ki dan Nyi Sura serta Rancana. ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu.

Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau. Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. ada waktu berpisah. menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut. Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. *** ”Akanamia. ”Kita tidak berpisah selamanya. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. Keduanya tidak banyak bertanya. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana. sudah tentu . kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai.

Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. ”Saya akan coba. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya. kakek. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama. ”Baik.500 BAGIAN 8. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya. paman. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi.” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. lho! Beda di dengan di darat. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu.” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut. Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi. ”Tidak mudah. Akan kuturuti kata-katamu. ”Benar. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal.” jawab anak muda itu cepat. Postur . *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu.” ucap anak muda itu meyakinkan. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa. calon iparnya. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat. paman! Ingin menimba ilmu di kapal. disetujuilan usulan itu. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. ”Menari Bersama Air.

Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. bapak dan kedua anaknya. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah. ”Baik. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian. hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. Tlatah Matahari Terbit. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. begitu kata orangorang. Dilihat dari tongkrongan mereka. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya. ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai.501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras. Tanah seberang. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. Lalu mereka berdua pun berpisah. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya.

entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya.” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang.502 BAGIAN 8. Telaga yang tidak sengaja menguping. ”Empat sampai lima minggu. mungkin malah lebih lama.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. ”bila cuaca buruk dan ada perompak. Dengan keempat rekan pemuda itu. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. ”Hai. tapi dapat saling mengerti dengan baik. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat.” jawabnya ramah. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat.” jawab orang yang ditanya. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya. bertubuh besar dan subur itu. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya. yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. Juga bahasa yang mereka gunakan. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. . aku Telaga. ”Aku Gentong. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. ”Yang pertama itu bekerja di laut. ”Teman-teman yang menarik. apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka.” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi.

Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. Suatu yang aneh menurut pemuda itu. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Misun nama orang itu. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. ”Jangan terlalu banyak bercerita. Ki Tapa. . ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. akan aku camkan itu. sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya. Begitulah kehidupan berjalan.” ”Ya. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong. ”Telaga. Keluarga yang terdiri dari ayah. Tidak menggurui. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong. Setelah ia pergi. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Ya. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri.

Para anak buah kapal. Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal. *** . di kejauhan dekat horison. termasuk Telaga pun bersiap. Dan angin pun bertambah kencang bertiup. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka.504 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang.

”Aku suka sikapmu.” jawab pemuda itu rendah hati. belum bisa saya menilai. menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang.Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah. Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu. saya ’kan belum punya banyak pengalaman. ”Tidak apa-apa guru. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi.” ucap orang tua itu kemudian. ”Oh.” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar. Jadi bagi saya.” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu. Isinya macammacam.. buku yang baik atau tidak. Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 . itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. tapi itu bukan suatu buku yang bagus.. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan..

Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. . Banyak tempat duduk yang belum terisi. Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Saat itu kereta cukup sepi. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas.506 BAGIAN 9. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Hari Pertama Seingatku. hari itu adalah hari Kamis. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. ”Lu. dua hari yang biasa-biasa saja. Cukup panas menurut kulitku. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya. Atau mungkin manja? Entahlah. Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta.

”Terima kasih!” kata sang orang tua.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. Tak lama setelah itu. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam. lima ratus. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. Aqua. lima ratus!” katanya. jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Lalu. Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. dan mulai kuamati dirinya. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. ”Aqua. dan lanjutnya. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. ”Jeruk seribu.

”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan.” ”Tapi bapak masih kerja. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” . dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. Mampang. ”Ya. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. ”Rejeki itu dari Tuhan. ”Bapak tinggal sendiri. Dua setengah kali lebih mahal. Nggak ngamen. ”Nggak ada sodara. kalo mau kerja pasti dapat. Nggak perlu ngamen. Nggak ada istri. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen. Kalau duit sih cukup. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. suami enak-enakan nggak kerja.508 BAGIAN 9. Begini-begini kerja dibayar orang. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya.” katanya. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah.” katanya dengan suara yang kurang jelas. Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. seribu. di kantong ada. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya. Di kampungnya. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. Setelah mengeluarkan dompetnya. ”Satu seribu?” tanyanya antusias.

masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. sang orang tua. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. ”Terima kasih. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. pamitlah aku padan