Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar. Keheningan itu tidak sia-sia. tak tega rasanya Ki Gisang. penghuni hutan dan gunung. Asap menjadi malu dan takhluk. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir. mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. Jika saudara beruntung. selalu ingin tahu dan penasaran. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja. Tapi semua orang tahu. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini.” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. Hening dan sunyi. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama. melalui suatu cara tertentu. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu.” Kemudian lanjutnya. bahwa mereka memang harus menunggu. Katanya kemudian. Dan ia masih bertanya-tanya lagi. Mendengar ini ini. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah.” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata.” kata Asap dengan sejujurnya. Bantuannyalah yang berarti bagi kami. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin .12 BAGIAN 1. karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya.

” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik. Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri..” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung. lambang-lambang ini. Lebih baik sekarang bertanya. ”Benar.” jawab Gisang dengan yakin. Yunani. maaf bila saya masih bertanya. selatan dan barat.... apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut.. ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita. sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu.13 utama: utara. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing. ”Begini Ki Tapa. dari pada keliru di kemudian hari. ”Ki Tapa... sang pertapa tua sambil tersenyum. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya.” jawab Ki Tapa. benar. ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda..” ..” sahut Ki Tapa dengan gembira. ”Kalau menurut saya. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang.” ucap Tampar. timur. kamu benar sekali Gisang. ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar.

Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya. guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat. Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan. Mereka tidak suka. sehingga tanah di sana. walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. akan tetapi dari negeri seberang. dapat diolah oleh mereka. sampai ia tiba di desa ini. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga. Dari gurunya.14 BAGIAN 1.” ucap Ki Gisang sambil menerawang. sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. Bertahun-tahun sejak itu. Lanjutnya. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya.” Ki Tapa terdiam sejenak. Pikiran harus bersih. mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. bahkan lebih tua dari umurku ini. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. akan tetapi karena ada . Bukan menjadi lahan pertanian. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban. kakek guruku dan guru dari kakek guruku. ”Guruku. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus. ”Alasannya sudah tua sekali. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. ”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut.

Ia melihat ketidak-adilan tersebut. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih. sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. akan tetapi usul tersebut ditolak. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini. Ki Patuh. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu. Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. yang berasal dari tanah seberang. . untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. agar penghuni desa yang tandus itu pindah.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang.” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. untuk mengairi ladang-ladang mereka. Dan terpilihlah guru dari kakek guruku. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya. dan memberikan tanahnya kepada mereka.

Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita.16 BAGIAN 1. Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. Jurus Tanah dan Jurus Air. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. kering. api. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. selatan. ”akan tetapi Ki Tapa. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. Ki Tilu dan Ki Uu. basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. ketiga dan keempat.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. . utara dan barat. Akant terjadi hujan. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara. Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. yang berarti pertama. Ki Duo. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. Kakek guruku adalah Ki Tilu. Pemaknaan keempat elemen (udara. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. Jurus Api. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. adanya racun dalam udara. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin. menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan. Misalnya Jurus Udara. dingin. apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. kedua. timur. Demikian pula dengan tanah.

Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin. untuk mempelajarinya.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran.” Lalu lanjut Ki Tapa. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan. orang dapat mencari-cari sumber air. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa. bahkan di daerah yang kering sekalipun. sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa. dengan mereka di belakangnya menda- . dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien. maka kehidupan mulai kembali berjalan. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus. bahan-bahan apa yang kurang.” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya. Dengan cara ini. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan. sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa.” ”Akan tetapi.” lanjut Ki Tapa.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah. ”Nah. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda.” Terdiam sebentar Ki Patuh. sambil sesekali menghela napas. Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. kata Ki Tapa sebelumnya. tanpa pengetahuan ilmu bela diri. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. sehingga . hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut. Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap.” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut.” sahut Ki Tapa. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu.” ”Tapi. ”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. ”Memang benar.18 BAGIAN 1. ”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. Kemudian lanjutnya. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti.

. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas.” ”Jika hampir semuanya meninggal. Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu.” bertanya Tampar kemudian. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut.” sahut Ki Tapa gembira. Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia. karena ia kebetulan memang penunggu makam. ”Pertanyaan yang baik sekali.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. Berbulan-bulan di dalam tanah. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah. jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah. Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun. kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut.” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun . Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan. sudah ditolong. sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya.” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam. walaupun suatu ilmu dimilikinya. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi.” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya.

Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. . berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman.” ”Saat itu sudah lewat petang. Lebih baik dikerjakan hari ini. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan. Ki Makam orang menyebutnya. yang boleh melakukannya. biar semua selesai. Dengan tak terlalu tulus.” lanjut Ki Tapa. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu. dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. Ki Duwo di selatan. selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. Dan ia tidak ingin. dan hampir gelap. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding. mirip posisi pusat dan empat mata angin. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh. melainkan hanya guruku. Benar-benar cerita yang sukar dipercaya. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada. hiduplah ia. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya. Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam. ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi.20 BAGIAN 1. sang penjaga makam. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah.

Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. yang didominasi oleh Tenaga Tanah. Ini yang membahayakan. Setelah memperoleh penjelasan. dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. meninggallah Ki Tilu. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar. karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu. Ki Tilu mencegahnya. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. walau hanya untuk beberapa jam. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru. tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin. hampir saja copot jantungnya. tanpa terasa mulut mereka menganga. bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup. terharulah Ki Makam. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut. ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian.” Hening sejenak. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. sehingga paru-parunya keracunan. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk . jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya.

Sebagai contoh bila kami yang bermasalah.” kata Ki Tampar menjelaskan.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca.22 BAGIAN 1.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. Saat Ki Gisang hendak melanjutkan. maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya. Saat itu matahari sudah mulai turun.” tambah Ki Gisang. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan. ”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita. Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara. Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan. . termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa.” jelas Ki Gisang. maka kami akan datang waktu subuh. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini.” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu.

yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut.23 ”Kita masih punya banyak waktu. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.” jelas Ki Gisang. ia belum berani mencarinya. Suatu pukulan yang amat jahat. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya. ”baiknya aku saja yang cerita kakang. lelah nanti pasti. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. Jika kakang terus yang bicara. Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan. Karena alasan yang dipikir jelas itu. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk. akan tetapi salah seorang dari luar. Sesuai dengan pesan Ki Tilu. Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. yaitu Ki Jagad Hitam.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi. agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di . agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut. memiliki kecerdikan yang sangat.

Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk. Api. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini.” kata Ki Makam sambil terkejut. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya. jantung. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. masih disimpannya di dalam hati. Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. maaf. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. Tanah dan Air dilakukan. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. kakak Gajah. Ngaco kamu!” ”Maaf. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya. mungkin mereka dapat terluka dalam. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan .. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya. pada suatu latihan. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta.24 BAGIAN 1. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. hati. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. akan tetapi rusak isi perutnya. ”Makam. Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. Gajah Duduk. walaupun baru tingkat dasar. dengan tak sengaja. paru-paru. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah.. Api. Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin.

yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. dibatasi hanya enambelas orang. Tanah dan Air. Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. sedangkan lingkaran dalam. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. aman di tengah-tengah. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. yaitu Penjaga Udara. Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. empat orang satu unsur. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam. Dengan pengetahuan ini. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya. tetapi hal itu tidak dilakukannya. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang.25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh. yang juga guru pertamanya. Api. maka posisi tersebut dimilikinya. ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. Dengan semakin .

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin. Penjuru Angin. dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya. akan tetapi di luar arena. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. bahkan menambah rasa malu mereka. akan semakin sulit tugasnya.26 BAGIAN 1. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. Mendengar ini. sang guru. dan juga sang guru. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka. karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua. akan tetapi dalam suasana persahabatan. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan. dan ini membuatnya tidak terima. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul. Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran. luka-luka dan sakit. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. hanya dua puluh murid tingkat satu. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. Memang pada dasarnya darah muda. Walaupun dengan tingkatannya. melabrak murid- . Memang benar dikatakan orang. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin. Dari mutu ilmu kanuragannya. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. tanpa melakukan telaah lebih dulu.

Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. terdapat pula tiga buah kitab lainnya. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah. Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot.27 murid Perguruan Atas Angin. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. . Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. Menjadikan mereka bulan-bulanan. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. telah siap untuk berangkat. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. yaitu Petapa Seberang. dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. Tak lama setelah rombongan berangkat.

melainkan hanya menggesernya. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. Dengan dalih ingin segera menolong. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. ”Di masing-masing sisi lubang ini. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. apa yang bisa disimpulkan di sana. melainkan ke timur. yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. tanpa kehilangan napas. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh.” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya. Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara.28 BAGIAN 1. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu.

” duga seorang dari Lingkaran Dalam. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. berada di bawah kakinya sendiri. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus.” geramnya. ”Dia harus di cari guru. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan. ”Betul guru!” sahut lainnya. ilmu meringankan tubuh. harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. betul juga.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat. sama sekali tidak ada jejaknya. ”Makam si penghianat. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah.” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti. di sini tertulis empat kitab. walaupun tidak sejauh hari ini. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi. ”Hmm. ”Maaf guru. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna.” ucap yang lain.” kata Ki Jagad Hitam. bahkan prasasti itu sering digeser-geser.” ”Di sini ada tulisan guru. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. yang telah . ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap.29 but.

membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya. Sontak saja mereka kaget. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. Seperti telah diceritakan sebelumnya. Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. setelah . Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui. Setelah ia merasa tiba waktunya. dan bergegas menangkap Ki Tapa. lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. Walaupun telah tua renta. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu. Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. Ki Jagad Hitam.30 BAGIAN 1. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. melalui pengamatan auranya.

Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu. ”Ia datang. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling.” sahut Asap hormat. ”Wah ramai sekali di sini.” sambut Ki Tampar. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini. ”Saya. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah. di hadapan mereka. tampaklah seorang tua. ”dan siapa orang-orang ini. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap.” sahut Ki Gisang. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini. ”Ya.” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa. ”saudara Asap pemimpin rombongan. berlakulah hormat. dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat.” kata Ki Gisang.31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. Ki Tapa. rendah dan cepat lambat. Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung. Tampar. akan tetapi dengan nada yang berbeda. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran. Ki Tapa. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya.” katanya riang. Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. . Ki Tapa. Para anggota rombongan pun bergegas bangun.

” ”Hmm.” ”Pilihan yang bagus. barulah pergi.” ”Terima kasih Ki.32 BAGIAN 1. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing. Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain. berkatalah Ki Tapa. aku ingin bicara sebentar. tanpa berbicara.” ”Baik Ki. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki. Telebih tampak pada wajah si sakit. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas. yang ahli obat-obatan. Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. Saat ia mengambil obat tersebut. ini sudah kubuatkan obatnya. untung aku membawa kedua penawar tersebut. ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu. Mereka telah lama . orang-orang Perguruan Atas Angin. digigitlah tangannya. bener-benar banyak ucap. saya juga setuju. Ki Gisang menggangguk pula. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara.” sahut Ki Tampar. Gisang. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan.” jelas Asap. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja.” gapainya pada kedua orang tersebut. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa. Obat berhasil diperoleh.” sahut Asap mewakili teman-temannya. ”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya. ”jika sudah sembuh benar.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur.” katanya. ”Tampar. ”Sudahlah.” sahutnya kurang senang.

yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan.” ”Baik Ki. saat si sakit sedang dalam pengobatan. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau.” ”Benar Ki Gisang. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris. dan bagaimana .” katanya. Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali. pada suatu ketika. Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang. Mintalah obat kepadanya. ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas. selain sebagai penghubung. ”Sebenarnya.” jelas Asap. harus mencari obatnya di sini. ”Baiklah kalau kalian setuju.” kata Ki Tapa kembali. bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau.” sahut mereka hampir berbarengan.” lanjut orang itu. ”ini pun menurut dia. ”Saudara Asap. Ki Gisang bertanya kepada Asap.” jawab Asap dengan hormat.

Dan malam pun semakin larut. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini. Seperti biasa . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya. ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. Lalu lanjut Ki Tampar. Mereka lega karena Asap tidak berbohong. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. Pun saat ditanya. Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya.34 BAGIAN 1. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Mungkin juga bukan apa-apa. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa. ceritakan hal tersebut. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. *** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau.” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. pikirnya. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa.

maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. yaitu Juru Tani. dan pengrajin. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan. di Desa Luar Rimba Hijau itu. Jika dihubungkan.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. pedagang dan pengrajin. karena harga-harga akan menjadi mahal. Dan pagi itu. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya. Umum- . Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. Juru Karya dan Juru Cipta. pedagang. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. atau ahli dalam bidangnya. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. Juru Dagang.

Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa. sebelum mereka pergi ke luar dari desa. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. Akan tetapi hari itu. ”Sudah. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. jangan sam- . ”Benar usulnya itu. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. Ki Surya. Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini. kita paranin saja. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya. kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa.36 BAGIAN 1. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan. Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. kita coba datangi saja mereka.” sambut Ki Rabat. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama.

” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya. semua. ”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami.37 pai menimbulkan keributan. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin. ”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya.” sapa mereka hampir bersamaan. para penduduk mengadakan perayaan. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. ”Ah. Ki Surya. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian. ”Selamat pagi.” tanya Ki Surya setengah menggoda. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya. Lalu tanyanya pada Juru Dagang. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini. untuk itu belum Ki Surya.” ”Usul yang baik itu.” balas Ki Surya dengan ramah.” kata Ki Surya. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini. ”masih satu bulan lagi. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah. karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka. . Dan para pedangang itu tunduk.” jawab Ki Murah tersenyum. ”Selamat pagi. Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya.” jawab Ki Rabat.

yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu. *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau. Kemudian berlalulah Ki Surya. Ia mengagumi sistem tatanan desa. dan juga sebagai petunjuk jalan. perkebunan basah. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa.” jawab mereka serempak. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa. parit- . Dan sebagai tanda kepercayaan. bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan. Akan tetapi untuk memastikan hal itu. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah. ”Baik Ki Surya. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. perkebunan kering. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. sampai akhirnya. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini. Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah.38 BAGIAN 1.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. Suatu pagi yang cerah. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. ada perumahan.

paman Baja?” tanya Asap ingin tahu. karena letaknya yang jauh dari mana-mana. ”dahulu kala. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut. ”Jelasnya bagaimana.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. istri Ki Baja. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. entah itu hasil keluaran tubuh. membuatnya kerasan. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi. Jarang ada orang yang bertandang kemari. karena toh tidak akan terjadi apa-apa.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. Apalagi mereka tidak mempunyai anak. Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri. membuat sejenis . Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami. Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran. dan adanya seorang muda seperti Asap.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. Hal lain terjadi. Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. ”Begini nak Asap. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif. Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini.

Harus dicuci bersih sebelum . sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. dapat terbang bersama air dan angin. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. Akibatnya sudah tentu fatal. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung. akan tetapi pasti. sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. para penghuni desa jarang jauh keluar desa. Sedikit demi sedikit. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan. Variasi apa yang dihasilkan. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada. Dan bila tidak baik bagi ternak. dan membuanngnya jauh di luar desa. karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan. Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya.40 BAGIAN 1. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. Jika dahulu kala. Oleh karena saking gandrungnya. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh. Hamparan Hijau mulai berkembang. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. yang diperoleh dari luar desa. Karena adanya kesibukan baru.

Dan sampah-sampah yang tadinya . para penghuni Desa Ujung keracunan. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat. mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama. mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. Tinggal menunggu waktu untuk binasa. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. suatu pintu air dapat dibuka. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu.41 dimasak. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan. orang itu mengobati penduduk desa. sampai hampir membinasan satu desa. yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau.

”Untuk itu ada baiknya. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang. telah terbuang banyak tenaganya. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan.42 BAGIAN 1. Akan tetapi tidak tampak dari luar. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. dialihkan ke dalam hutan. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau. saat terjadi peristiwa tersebut. Akan tetapi dari kisah Ki Baja. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut. Begitu pesannya. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan. karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. Bila ia ada kesempatan untuk . ia dengan senang hati akan menolongnya. Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau.” jawab Ki Baja. bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau.

tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. rasa kebangsaanya. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang. Ironis bukan. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit. Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. Membunuh demi kemanusiaan. sudah merupakan anugrah yang me- . dengan melayangnya nyawa. diperkosa kebebasannya. bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. demi kemanusiaan dan kedamaian. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri. akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. Orang-orang sipil. ditindas kemauannya. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. dirampas haknya. semua untuk kepentingan penguasa. Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. sudah dipastikan akan dilakukannya. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. Berperang. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga. mencegah terjadinya perang kembali.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi.

akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan. Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. pejabat menindas bawahan. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid. Boro-boro menurut. entah keturunan keberapa. dan sebagainya. Dalam keadaan luka parah dan depresi. Bahkan di kali terakhir. dengan masih ditemani oleh . adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara. karena ditegur dengan keras. cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. Pembesar menindas rakyat. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu.44 BAGIAN 1. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi.

Selain dari pada itu. Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna.45 beberapa temannya. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. membelokkan tenaga lawan. Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul. akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. yang setia kepadanya. untuk murid yang telah ahli. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. kaum pemberontak. jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. Pada penggunaannya dalam pertempuran. Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu). Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting. Seperti gerak melingkar. membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh. yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. maka lain halnya dengan Petapa Seberang. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. Hanya pikiran yang dibutuhkan. dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh.

dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. pengobatan dan kebaikan. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. Dalam pencerahannya ini. Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua. Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido). Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. dinamakan . Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. dan menjadi murid dari su- . secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain. kekuatan dari cinta kasih. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang. saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal. akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang.46 BAGIAN 1. Menyerang. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. ilmu pengetahuan. Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung.Seni Kedamaian. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya.

yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus. mengalah tetapi tidak kalah. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. dari arah putar kanan dan putar kiri. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. Sejalan dengan berlalunya waktu.47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. kebersamaan. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. pengorbanan. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. yaitu: keberanian. Petapa seberang memiliki satu kelemahan. Akan tetapi walaupun demikian. . kedamaian dan ilmu pengetahuan. berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. kepemimpinan. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. yang dikenal sebagai Atap Langit. yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. semuanya dicernanya dengan baik. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya. tantangan. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit.

Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. juga dengan pengikut lainnya. penyakit. Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut. Usahanya tidak sia-sia. kesabaran dan ketenangan. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. yang berarti Ilmu Muda Selamanya. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat. ia merasa belum apaapa. yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. perlahan mulai hilang ditelan waktu. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut. Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. dan bersama-sama mereka. Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . Master Tagasi. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. yang saat itu telah berjumlah lima orang. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu. yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut.48 BAGIAN 1. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul.

Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar. ”Kakang Gunung Es. Nama ilmu ini sendiri. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. yang merupakan permintaan terkhirnya. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es. merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara. Pengendalian Otot. yaitu Cara Bernafas. Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. Tujuh Rahasia. Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil. tapi menjadi kedamaian. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. Pemusatan Pikiran. Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. Kateda. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. Pergerakan Hawa.” tanya Petapa Lain Pulau. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya. Gerakan Tubuh. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. .

”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran. tapi pada bagian sebelumnya.” jawabnya dengan serius. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing.” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran. berdasarkan pemahaman lainnya. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. lalu ujarnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. melainkan merenung dulu sebentar. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir. yang . Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih.” ”Kalau aku lupa. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum.” sahut Petapa Seberang menambahkan. Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam.” ”Misalnya. Sambil kadang salah seorang.” jawab Petapa Gunung Es. ”sama sekali lain. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. ”Bukan adik Seberang.50 BAGIAN 1. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini. sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab.” imbuh Petapa Seberang. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan. berdiskusi dan bertapa.

karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki. maaf Ki Tampar. Dan sang angin pun bertiup menjauh. Sang angin pun tersenyum. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. tidak. saya memang sedang mengaso. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum. ”Oh. lalu lanjutnya. ”Tidak..” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya. Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri . tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga..” jelasnya sambil tersenyaum. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya.” ”Tak apa-apa. ”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan. di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri.. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar. ”aku tidak terganggu. *** ”Saudara Asap. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah..” jawab Rintah.” Rintah dan Asap terlihat malu.” jawab Asap dengan sopan. membuat saya keluar dan ingin menyapa.” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya.

. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa..” ”Wah.” sahut Rintah dengan antusias.. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya. Asap. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu. Ada hal yang ingin disampaikan.. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa. Tak jauh . benar-benar menarik dan menegangkan ini. ”E. Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan.” sahut Ki Tampar. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik.” jawab Ki Tampar penuh rahasia. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda. biasanya begitu. Besok ”Eh. ”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh.52 BAGIAN 1.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau. agar mereka besok malam. Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar. boleh. malam. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau. Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang. maaf Ki Tampar.” jawab Ki Tampar. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda..” memberitahu Ki Tampar. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap.” tanya Rintah malu-malu.” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. Ki Gisang dan Ki Tampar..

berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti. Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan. akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau. sedangkan bulan belum muncul. Hari ini Ki Tapa. dengan membaca tanda-tandanya. sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu. baik dari manusia atau alam. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung. dan bahkan juga di antara para kawula tua. Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini. Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. Mereka berdua. sebagai penghubung.

Itu mereka datang!” Dan benar. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar. ”masih ada dua orang lagi. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau. ”lihat di ujung lapangan sebelah barat. dan persetujuan para tetua desa. ”sudah semua datang. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya.” jawab Jaka dengan hormat. ”Jaka. kemudian lanjutnya. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa. Setelah kedua orang itu tiba. ”Tak perlu.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa.” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. Ki Gisang. Rantih dan Misbaya. Saat ini adalah saat yang kita.” usul Ki Gisang. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. sejak lama ditunggu-tunggu. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- .54 BAGIAN 1. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Atas permintaan Ki Tapa. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. Ki Tampar membuka pembicaraan.

” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya. Lalu ucapnya. menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. Ki Surya kami persilakan.” sambung Ki Gisang. Itu yang penting.” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. sehingga punggung mereka saling bersentuhan. melainkan ia malah berjalan berkeliling. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama . ”Para kawula muda desa sekalian. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut. ”Adapun. menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh.” kata Ki Tampar. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran. membuatkan jalan masuk bagi mereka. Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. ”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya. saat mereka masuk. Asap. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba. yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba. Setelah para tetua berada dalam lingkaran.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan . mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya.” kata Ki Tampar. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. ”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa.” jawab Paras Tampan. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba. ”Sebelum kita berangkat. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda. Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali. Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran.” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda.56 BAGIAN 1.” jawab Ki Tampar. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. ”Utarakan nak Paras Tampan.

Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut. sambil tetap berdiri. dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. jarang dipergunakan. Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut. Saat yang tepat. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar. yang mengarah ke Gunung Hijau. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar.57 sang pujaan hati. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada. menuju Rimba dan Gunung Hijau. . untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. menurut petunjuk dari portal dan lontar. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman. Umumnya sisi bagian utara. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. Di sana di pelataran berbatu tersebut. Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor.

Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki. Kemudian setelah ketemu. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau. akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. Tidak ada seorang pun yang bersuara. . Setelah itu menentukan arah. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan. Perjalan yang tidak mudah. bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil. Rimba pun mulai dimasuki. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar.58 BAGIAN 1. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. tampaklah langit kembali di atas kepala. Mereka akan berlatih di sana. Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. jika sampai ia salah menafsirkan. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan.

Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. melainkan bergerombol.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit. sukar untuk dilupakan. merasa kakinya hampir habis. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh. Ki Tapa. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. Itulah Gunung Hijau. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut. di mana beberapa kawula muda. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. Citra Wangi. terkesan kasar. dari luar Rimba Hijau. sesuatu yang pernah dilihatnya. maka bisa makna yang salah dapat diperoleh. Dalam artian ini. berarti arah yang salah akan dipilih. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan. terutama yang perempuan. Tinggi. kekar dan dingin. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. Setelah beberapa saat berjalan. Ia berusaha mengingat-ingat.

” ucap orang itu. di tengah malam? Benar-benar makan malam. Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. ”Masuklah. ”Akhirnya selesai.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut. Ia membelakangi mereka. Tapi mereka diam saja. Kemudian ia berbalik. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya. karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan.60 BAGIAN 1. Tidak banyak perabot di dalamnya. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya. Rumah yang sederhana. Tikus-tikus. berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. ”Sebentar lagi makan malam selesai. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas. masih membelakangi tamu-tamunya. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. Bau sedap pun mengembang di udara.” lanjutnya.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api. Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira . Makan malam. Suasana pun hening.

hanya beberapa orang yang masih lapar. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa.61 dan berwajah ramah. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. Termasuk di kepala meja. ”mari makan. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk. Ternyata walaupun terlihat sedikit. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya.” lanjutnya. jangan malu-malu. Ialah Ki Tapa. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya. yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Belum habis kekaguman mereka. ia dengan lahap menyantap makanannya. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana. . tempat ia akan duduk nanti. Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. Di panci masih banyak tersedia. tanpa ada sececerpun air yang tumpah. kasar dan bersih. Tiada yang jatuh ke lantai. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata. makanan tersebut mengenyangkan. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut. Semua pun makan tanpa bersuara. Cukup untuk tambah setiap orang. Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. ”Mari-mari makan. Entah apa kandungannya. selebihnya merasa telah cukup. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan.

62 BAGIAN 1. ”Jangan tidur. Pejamkan mata dan rasakan semua itu. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok. aliran darah. terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin. semilir angin di rambut. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah. ”Setiap orang maju sepuluh langkah.” perintah Ki Tapa. Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan.” ucap Ki Tapa. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin. dengarkan alam sekitar kalian. ”Tapa dan Gisang. Dengarkan napas kalian. menuju lapangan di sekitarnya. Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka.” perintahnya selanjutnya. empat mata angin utama dan empat mata angin antara. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. Gatal-gatal di pantat. denyut jantung. Punggung bersentuhan.” . wangi uap air di udara. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana. Masing-masing kelompok delapan orang. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini.” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok. ”sampai kusuruh berhenti. Gunung Hijau adalah arah Utara. Katanya pelan seperti hembusan angin.” Mereka berdua mengiyakan.

bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka. Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Angin-angin. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. *** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Misalnya saja. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. Punggung tidak tegak. Telah terjadi banyak perubahan di sana. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa. Kepada tidak tegak. Perut kurang ditarik ke dalam. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. merasakan alam sekitarnya.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. Bahu tidak rileks. salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam. Dubur tidak diangkat. agar dapat menemukan jalan pulang. Batu-batu serta Seribu Ramuan. tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa.

. sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti.64 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu.

dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. didi. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling... ”Burung bersiul bersahut-sahutan. ”Bagus...... buat apa resah. trilili. sang anak masih duduk di sana. bunga semerbak merekah.. Tralala.Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu.. tulang bagus. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah.. postur tepat.. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya. Pandang matanya kosong. Nanana.. haha. Buat apa susah.. susah itu tak ada gunanya. hmm.” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh. kera-kera bermain di hutan.. matahari bersinar cerah. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka.” gumamnya. Ia masih saja duduk termangu... sayang sedikit perasa. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda.. dada. Anak tersebut tampak tak peduli. resah itu juga tiada gunanya.. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu. Dengan masih tersenyum... hihi.. ninini. orang aneh itu pun berhenti. 65 .

” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut. ”Namaku Rancana.” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. dan ia pun berkomentar.” jawab Rancana terkesan.66 BAGIAN 2.. sekarang malah ketawa nggak ketulungan. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu. ”Nah tuh. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu. ”tentu saja. ”Wah sayang. paman.. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. bukan?” ”Hahaha. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. ”Nggak ada hujan atau angin. kecil-kecil sudah budeg. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut.” jawabnya jenaka. ”Nama saya Lantang. wah kamu itu lucu bener.” jawabnya dan lanjutnya.” jawab anak itu. Ia memang begitu. ”Wah. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran. cah bagus. tidak bisa menahan air matanya. Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi. Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini. ”engkau cerdik . tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. ”kalau paman. Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya. Lalu ucapnya. benar-benar. alih-alih marah. saat tertawa. ngatain orang budeg. ngeri ah! Kabur. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba. karena paman tertawa sambil menangis. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya.

”Logika yang tidak tepat itu. ilmu silat.67 sekali Lantang.” terangnya kemudian.. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka. Eh. ”saya benci ilmu silat.. misalnya memotong daging untuk dimasak. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya. ”tapi paman. mencetak emas dan lainnya. ”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api.. membunuh atau perbuatan jahat lainnya. melunakkan logam. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng. cah bagus. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. ”tidak paman. ia pun akhirnya berkata. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” .” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan. api yang diatur dapat digunakan untuk memasak. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari. sehingga ucapnya. Demikian pula dengan api. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. ”tentu saja belajar kanuragan. dengan paman. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya.” Lanjutnya kemudian.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati. Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat.

Ia tidak mau terlihat lemah. ”Wah. si Bayangan Menangis Tertawa. Selain suara angin dan debu yang beterbangan. Rancana. tidak pantang seorang lelaki menangis. Lantang mendadak terlihat murung.68 BAGIAN 2. mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. Hening. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis. cah bagus. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. Dan . menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. ”Menangislah. perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. walaupun tanpa suara. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain. paman!” jawab Lantang jujur. dan bergulirlah air matanya jatuh. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. maka tanyanya lebih jauh. Sesaat. ”Apa yang sebenarnya terjadi. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. Melancarkan peredaran darah. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. saya belum pernah mendengar hal seperti itu. melancarkan nafas. tiada suara lain di sekitar mereka. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah. Antara lain untuk menjaga kesehatan. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri.” jelas Rancana.

sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya.” . bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya. karena mereka berada di daerahnya sendiri. Sedikit lebih baik perasaannya. Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya. Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan. *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang.. Di sisi timur berdiri sembilang orang.” teriak Naga Geni jumawa. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama. Orang-orang ahli silat. Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis. ”He. Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang. Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. menyerahlah. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap. Jagad Hitam. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda. tenanglah Lantang. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu.

dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang. Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu. dengan arah putaran yang berbeda. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni.70 BAGIAN 2. Dengan dua buah kapak. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang. . mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda. ”Hemm.” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. Naga Geni merengsek maju. orang-orangmu juga hampir habis. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. daripada aku yang melakukannya. yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama. ”Naga Geni. Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. berkacalah. akan tetapi tidak yang kedua.

Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. Mendadak terdengar suara. . sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya. perguruan diserang. Murid-muridnya. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya..71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju.. ”Guru. Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam. Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya. Akibatnya sudah dapat diduga. perguruannya.” Mendengar berita itu. Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri. Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung. Bertempuran pun kembali dimulai. ”capp. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam. mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. Toh. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur. Dan..

Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda. Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. ”Sesukamulah. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda. Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya. Setelah beristirahat sebentar kemudian. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis. Ada yang mati hangus terbakar.” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . lebih baik engkau bunuh diri.” usul seorang dari Lingkaran Dalam. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu. Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin.” kata Ki Jagad Hitam. bukan?” ”Boleh juga usulmu itu. Perguruan Atas Angin. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. bagus Naga Geni.72 BAGIAN 2. Semuanya hancur. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api. ”terlalu enak apabila dibunuh. hanya setinggi lutut dari atas tanah. ”hahaha... PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam. Tapak Kelam. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam. cikal bakal masalah. tampak di mana-mana.” ujar Ki Jagad Hitam. jika boleh dikatakan. ”Hmm..” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga. yang membela keunggulan nama perguruannya. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis.

” Lantang pun terdiam. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri. Setelah puas menyiksa mereka. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa. oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. paman.73 sanakan niatan itu. tentang bagaimana orang tuanya.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran. Tapi apa dayaku. untuk meyakinkan. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada. Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. paman. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu. ”Jadi itu alasanmu. harus me- . Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas. Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat. Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan. ”Benar.

PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas.74 BAGIAN 2. Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda. Lambang Perguruan Kapak Ganda. Ada kotakkotak. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya. gulungan-gulungan kain. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. atau merupakan bawaan. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh.” ”Begini saja. Lantang tahu hal itu. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah . Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. akan tetapi ia tidak bisa. sayur mayur dan barang-barang lainnya. Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya. saya tidak suka kekerasan. ia hanya menjauh dan menghindar. dari pada harus berseteru dengan orang lain. Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. jauh dari keramaian. Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. Ia memilih lebih baik menyendiri. ”Tapi paman. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu.

Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan. Bahkan tidak jarang. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin. Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. ketakutan. Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. semakin baik. marah dan tidak rela. Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan. Sabit Kematian dan Cermin Maut. Naga Geni. saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau. karena percuma. Mayat Pucat. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa. Semakin segar mayat yang akan digunakan. sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. Senjata andalan- .75 menimpa perguruan mereka. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Mengandung racun keji dan ganas. ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik.

”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya. Pun tidak ada gunanya . Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi. yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat. Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Sudah banyak jago-jago muda. Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini.76 BAGIAN 2.” tanya seorang dari mereka. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud. Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua. terutama yang tampan. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang. akan tetapi sudah disebar kemana-mana. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh. Apabila dilihat dari wujudnya.” usul seorang.

Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. ”Tiga ratus delapan belas. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya.!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang.!” ”Tiga ratus sembilan belas. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja. melainkan berganti-ganti. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal.. melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan.!” ”Dua ratus tiga puluh delapan.. di kaki Gunung Hijau.!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh... Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan. Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada . Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda.77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak.

Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung. Yang kuat akan menang. tenaga sudah habis diberikan. dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. ”Dengan adanya kuda-kuda. tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya.” jelas Ki Tapa.” Lanjutnya. Apabila melangkah ke depan.78 BAGIAN 2. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan. ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. Untuk itu . dengan jarak kirakira selebar bahu. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat. saat itulah serangan akan masuk. Tergantung apa yang hendak diperoleh. dialirkan. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. Bisa dibelokkan. Kita merugi. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara. jika yakin masuk dan menang. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang. dan kita kehilangan kendali. ditahan atau digentak-balikkan. Akan tetapi hati-hati. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut. Ini dikenal sebagai keras lawan keras. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit.

Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan. yang melakukannya dengan beriringan. Harus agak serong. ”Wah Rintah. mereka kurang lancar. ”Habis sudah napasku. Mereka yang termasuk dalam golongan ini. Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. keliru itu langkahmu. dan bahkan tidak mau. ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka.” kata Misbaya. Dan . Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka. akan tetapi sulit untuk melakukannya.!” ”Betul Rintah”. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan. melengkapi dan mengingatkan. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. akan tetapi tidak melakukannya. agar mereka saling membantu. adiknya.. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan. sahut Rantih.79 mereka dibagi dalam tiga kelompok. karena mereka bisa dengan mudah melihat. Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. biasanya minta langsung untuk menirukan. masing-masing delapan orang. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan.” ucap Paras Tampan terengah-engah.

”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar. *** Waktu makan siang pun datang.” begitu jelas Ki Tapa. Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. Asap. . Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu. Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. Sambil sesekali juga bercanda ria. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka. mereka jangan menekuk kakinya. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. Hanya sebagai catatan. melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. Di tengah padang rumput. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai.” Benar. kurang lebih sepeminum teh hijau.80 BAGIAN 2. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi. Tak lama kemudian. Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan.

Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. ikan. Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau. ungkap Ki Tapa. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. Sedangkan hari-hari selanjutnya. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. Mereka pernah juga membicarakannya. Nasi dan ikan bakar. Makan siang yang sederhana. Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. kadang terdapat sayuran. Dan yang aneh tercium bau wewan- . makanan pun dihadirkan di sana. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya. bukanlah perkara mudah. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar.

kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya. Begitu pesannya. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. Dalam acara makan bersama seperti itu. Selalu tandas dan bersih. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di . kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah. ini bagianku. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. Dengan semakin berisinya kalian. seperti halnya dalam latihan.82 BAGIAN 2. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. apalagi di Gunung Hijau ini. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang. umumnya hanya makan setengah porsi. Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. Ki Tapa hanya tersenyum. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. satu orang sepersepuluh. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. Ia. siapapun dia. Kekurangan setengahnya. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau.” kata Kirani. simpanlah dulu pertanyaan itu. Untuk sementara waktu. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. ”Gentong. lebih dari yang lain.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya. Lalu jawabnya. akan semakin jelas apa yang tampak. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri. Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. Kirani. salah seorang kawula muda putri.

. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. ya ’kan?” jawab temannya kukuh. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. ”Moreng. ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. Kecil.. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya. Setelah semua siap. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. Lakukan sampai seribu tarikan nafas. Coreng. Semut-semut yang berjalan. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. Tidak terlihat wujudnya. Serbuk-serbuk bunga. makan telah usai dan juga waktu istirahat. tapi terdengar suaranya. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. tapi tidak untuk tidak melihat. Sontak mengagetkan kedua insan itu. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih. Angin semilir. ”Baiklah. halus. . Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin.. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. seakan-akan telah biasa.” kata Ki Tapa. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. ”Sekali-kali bolehlah.” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta. Kembalikan ke dalam keranjang di sana.83 antara mereka saat makan. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu. tapi jelas. Kemudian tanpa diperintah..

Dan paling besar berukuran sebesar gajah. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu. Coreng. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian.!” katanya tegas. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya. Dengan mengetahuinya. Ki. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga . PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia. ”Iya. Manusia Tiga Kaki. maafkan kami. ”Begini. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia.. ”Iya.” jawab Coreng. Ki Tapa pun berpikir sejenak.. kami hanya ingin melihat mereka berlatih.84 BAGIAN 2. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya. Wajahnya masih terlihat ramah. Moreng. Sesampainya di depan Pondok Batu. lalu lanjutnya. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Berikan penjelasan. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. tak apa-apan. ”Maaf Ki Tapa. Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. Ki Tapa pun menghela nafas.” jawab Coreng.” tambah Moreng.” sahut Moreng. Ki Tapa. Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil. ”Baiklah. ”Tidakkah. akan tetapi tanpa senyum.” terang Ki Tapa. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah.” Tapi tanyanya kemudian.. berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami.

dapat berbahaya bagi manusia. ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. jangan tampakkan wujud kalian. ”Benar. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada.” jelas Ki Tapa. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi. Sebelumnya. bolehlah kalian berkenalan.85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Terserap. Mungkin sudah hukum alam. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi). Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri.?” tanya Coreng bingung.” ”Ihh. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang.” jawab seorang di antara mereka.. maka tenagaku akan habis dan mati. telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan.. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala. yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo). Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu. aku tidak bisa menjelaskan.” jawab Ki Tapa. aku tidak apa-apa. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian.. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek. Bila mereka telah cukup kuat. Apabila dikatakan tidak terpengaruh. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang. Dan di saat itu. ”Mengapa hal itu terjadi. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- . sebenarnya juga tidak seluruhnya benar.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka.

maupun sifatnya. Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. Hitam-Putih dapat menang. dengan kesaktiannya yang tinggi. tenaganya. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya. Dan hanya dari manusia. ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. yang dulunya bernama Cipta Raga. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Hitam-Putih. Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. Mawon Sanmdi. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang. . yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu.86 BAGIAN 2. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. pemimpin mereka. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. Baik ukurannya.

Sebagai reaksinya. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan. Rintah dan Asap. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. Misbaya.. Periuk besi yang penuh berisi ramuan.87 Dan tidak hanya itu. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya. meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. *** ”Cukup.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut. waktu mengheningkan cipta usai. yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya. ”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini. Setelah beberapa mencoba.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. Hanya sayangnya. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka. ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. Dengan senang hati. Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka. apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya. karena kaki mereka yang kesemutan. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa. tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya.

berkatalah Ki Tapa. ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya. yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini. ”Jangan kuatir. saat ia mengawal barang-barang hantaran. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini.” Mendengar bahwa periuk. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. Akan tetapi hati-hati. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li . kaki-kakinya menjadi kuat. Beberapa dari mereka tampak kecut. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun.” lanjut Ki Tapa.88 BAGIAN 2. sampai menghampiri.” jelas Ki Tapa. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras. Pertama ia mengejar keretakeretanya.” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. akan menghasilkan racun pada larutannya. Pikir mereka. Ki Tapa pun berkata. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan. selagi aku sendiri yang membuat ramuan. ”Ini disebut Langkah Ayam. untuk memasak sejenis masakan. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. lentur gerakannya akan tetapi mantap. ramuan yang tidak cocok.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok). yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau. Selang tak berapa lama. Berulang-ulang diperagakannya. begitu melihatnya. Dengan cara ini. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. periuk ini dibuat. yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja. tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu. bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun.

Agar seperti Li Jeng. jalan darahnya tidak lancar.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara. Tidak banyak orang yang hidup di sana. mungkin pikir mereka.!” Terdengar jawaban lirih pula. Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat.89 Jeng sedemikian tingginya. ”Coreng. Ki Tapa pun tersenyum. Moreng. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah.. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada. ”baik. Sedih hatinya melihat muridnya. Kawasan yang sunyi dan sepi. Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu. Ia baru saja memeriksa badan muridnya. Tidak bisa dialirkan. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah.. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh. Tidak bisa digunakan. dengan lirih ia berkata. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam.. Akan tetapi entah karena apa. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana.. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar. tolong Periuk Kerbaunya. Akan tetapi percuma. Sudah berulang kali ia mencoba. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Ki. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana.. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana. Hanya beberapa orang nelayan dan . sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain.. Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut.

PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan. masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya. menghela napas panjanglah Rancana. masih dengan nada yang sedih. ”Lantang. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat.” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. Ditambah Rancana dan Lantang. guru!” dan kemudian jelasnya. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka.90 BAGIAN 2. Dan seperti guru ingat dulu. tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh. tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang. ”Guru. ”Saya tahu. Toh. sudah tentu ia bisa mengetahuinya.. gurunya.” panggil Lantang perlahan. ilmu silat yang engkau pelajari. ”Janganlah terlalu bersedih. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini. saya tidak akan menggunakannya. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . hanya lima orang yang hidup di sana. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa.” ucap Rancana pada muridnya. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. saat mengetahui bahwa tubuhnya. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana.. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru.

Terlihat Rancana berpikir sejenak. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba.” ucap Lantang. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana. ”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. Apa mungkin ada orang yang selihai itu. ”Baiklah kalau begitu.” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya.?” bantah Lantang.. Tidak akan mendatangkan banyak lawan. Lantang!” perintah Rancana. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya. .” jelas Rancana. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa. Guru Tua Morehe Uwesiba. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar. Lantang. ”Tapi.91 nya.” ”Baik. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya.” kata Rancana pada akhirnya. terdengar sangat menarik. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. guru.. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Melainkan hanya untuk membela diri. guru!” tanggap Lantang. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu. dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya.” sahut Lantang patuh. di balik lautan. bila engkau berlatih dengan baik. ”Cobalah engkau serang aku. engkau akan dapat membela dirimu sendiri. ”Pencipta ilmu ini. Jadi dengan ilmu ini. Lalu katanya. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus. guru.” ”Suka saya mendengarkannya.. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya. guru.” ”Wah.

mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya. ”Baik. sehingga Lantang batal terjatuh. memang serangan paling sederhana dan rumit. Melihat kebingungan muridnya. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya. guru!” jawabnya mengiyakan. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. akan tetapi dengan lebih lambat.” Lantang mengangguk-angguk. Pada saat yang tepat. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya. mengapa serangannya itu tidak berhasil. Ia baru dapat menerima beberapa bagian. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan.. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura.92 BAGIAN 2. Rancana hanya tersenyum. Dengan cantik dan lemas. Rancana. ”Serangan lurus ke depan.. ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari . ”Tidak. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama. dielakkan dan dimusnahkan.” jelas gurunya. secara alami bisa setiap orang melakukannya. Bila tidak pada saat yang tepat. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu. Rumit karena harus pada saat yang tepat. Sederhana karena geraknya mudah. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. Bagian lain masih gelap baginya. guru?” jawab Lantang muridnya jujur. Bahkan dipukul balik.” jelas gurunya. sambil memutar tubuhnya. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju. tanpa tipu-tipu. bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang.

Cobalah!” Lantang pun mencoba.93 belakang. ia dapat tersungkur. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia. Mendekatlah. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. ”pada jarak segini. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama. memang dengan cara ini. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. ”Bagus. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. Memajukan kakinya. Gurunya tidak bereaksi. Setelah mengerti. apalagi ditarik seperti tadi. Setelah tiga-empat telapak kaki. Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini. Jangan lepaskan.” ucap Rancana. baru memukul. ”Cobalah!” ucap gurunya. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung. . engkau harus punya rasa. Kesalahan yang sama terjadi lagi. Belum sampai.” Lantang pun mengangguk-angguk. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya. Penasaran pada hal tersebut. ”Kamu benar. dengan kedudukan yang stabil. Lantang. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya.” jawab gurunya. apakah pukulanmu sampai apa tidak. Kali ini Rancana membiarkannya. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. Dengan demikian. Dan ia tidak lagi tersungkur. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. Bila tidak sampai. Belum sampai. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. Lantang pun kembali terjatuh. Maju lagi. ”Guru. ”Benar. saya tidak lagi terguling. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. dapat mengenaiku. tidak melebihi.

Bumi. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. Tapi ia tidak mengeluh. Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan.” ”Baik. Pukulan Meriam. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. Sudah waktunya beristirahat. Kagum ia pada semangat muridnya. Tirukan aku!” perintah gurunya. guru! Saya lupa lagi. Saat bergerak. Sebelum tenaganya sampai ke dada. Mengisi perut. hanya gerakannya mirip. tanpa tenaga. Lantang mencoba menirukan. Menuju ceruk kecil. ”Kita istirahat dulu. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. lengan dan meledak sampai ke kepalan. Temui aku nanti di Rumah Kayu. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali. Rancana menghentikan latihan itu. Hasil rembesan sungai di atasnya. Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. kaki belakang melurus dan pinggang berputar. Alhasil. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. akan tetapi tidak minta berhenti. paha. ”Tidak apa-apa. Berulang-ulang kali. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. telapak kaki. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. tangan sudah dikembangkan. pinggang. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. . Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya.” kata Rancana.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya.94 BAGIAN 2. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih.

Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu.” katanya kepada ketiga orang itu. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. ”Selamat malam. Nyi Sura. Rancana dan Lantang muridnya. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Mereka telah menunggu. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. . Hidangan makan malam telah tersedia. akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung. Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu. yang hanya terdiri dari lima orang. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. Itu lebih baik. dan Telaga. Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana. karena panjangnya pada arah timur-barat. Setela kejadian itu. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. tampak ketiga orang lain itu. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa. Bila dilihat dari atas. Ki Sura. serta satu keluarga lagi.

Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu. makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana.96 BAGIAN 2.. Ki Rancana. Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. Eh. ”Wah. terong dan sudah tentu nasi. Hanya Telaga yang banyak bicara. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. sehingga perlu disambut seperti itu. ”Ceruk mana.. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya. Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya. siapa namanya. ”Betul. Lantang nama anak itu Telaga. sayur bening. pecel belut. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. melainkan dari Telaga. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. Ki?” ”Lantang. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. anak dari Ki dan Nyi Sura. Dulu sebelum Rancana datang. tidak ada teman bicara dia.” jelas Rancana. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut.” jawab Rancana agak bingung. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu..” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . kerang sambal. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. Tidak banyak bicara mereka. Memang pendiam orangnya. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. karena ada orang yang dapat diajar bicara. Sebelum ada seorang pun yang berkata. lalapan. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang. Ada ikan mas bakar.” jelasnya. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya. senanglah Telaga. Seperti telah diduganya. ”Ada apa sebenarnya.” jawab Telaga. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana.. Apalagi Ki Sura. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid.

Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. ”perhatikan saja. Undinen itu pun bergerak mundur. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. Dalam suatu ceruk yang paling besar. Dengan suatu cara tertentu. akan tetapi tidak langsung berpakaian. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. Tampaknya ia tidak suka api. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Saat-saat yang menegangkan. Ki. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Ayah pasti bisa menolong muridmu. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi.97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas. ”cah bagus. Terdengar suara lirih Ki Sura. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. melainkan melihat pada suatu arah tertentu. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. Lalu bisiknya lirih. Ia tampak telah bersihbersih. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya. Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. Tapi sebagai seorang ahli silat . Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. jangan bergerak. Biar aku yang menangani Undinen itu. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu. Seakan-akan suatu parit dari batu. Rambutnya panjang sebahu.” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang.

Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura. Akan tetapi bila tidak ada. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. keluar dari ceruk itu. tidak banyak berucap. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. ”maaf Ki Sura. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. Malam itu sebenarnya sangatlah indah. Orang-orang yang sederhana. Lantang masih dalam ketegangannya. Dengan ukuran aura seperti itu. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. tidak mengeluh. Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. selangkah demi selangkah. dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka. Sunyi sesaat. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. Begitulah orang-orang yang bersyukur. apakah tadi itu? Yang mem- . Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu.98 BAGIAN 2. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. bertanyalah Lantang pada Ki Sura. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air.

”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. mengapa Ki Sura. Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini. sang Roh Air.” Ki Sura tersenyum. Hanya Rancana yang tidak. Juga istrinya.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak. Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. mereka tidaklah terlalu berbahaya. Ia masih merasakan ketegangan tadi.99 buatku seakan-akan membeku. yaitu api. ”Itu adalah Roh air. Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. ”Jika demikian. ”Roh-roh Empat Elemen itu. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga. udara dan tanah. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen. maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini. Dan hal yang masih tidak dimengertinya. Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. ”Sebenarnya. selain Duyung dan Nixen. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga.” jelas Ki Sura lebih lanjut. Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). Undinen.” jelas Nyi Sura arif.” jelas Ki Sura lambat-lambat. . air. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. Troll.

. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya. aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya. ”Anak Lantang.” lalu tanya Nyi Sura. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul.100 BAGIAN 2.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. pasti itu penyebabnya. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti. yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. ”Waktu dari menariknya. akan membuat tubuhnya semakin dingin. Ya. Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka. Baik Ki Sura. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan.

akan tetapi tidak bisa menggunakannya. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya.” papar Ki Sura.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya.101 ”Hmm. ”malang sekali nasibmu. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. Dapat menghimpun tenaga. Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia. *** ”Misbaya.” kata Rancana. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan.” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya.” jelas Ki Sura. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. Melainkan hawa para Rohroh Air. begitu.. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang.” ”Kami. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini. ”Bila itu suatu rahasia. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan. ya!” menghela napas Ki Sura. Rahasia ini telah lama disimpan.” . nak Lantang. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri. dan tidak untuk kami. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang.

Sedemikian halus. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu. seperti memotong. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa. Dan untuk itu. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. Tak teduga dan cantik. Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. Dengan perlahan. sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. Dari pandangan matanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. atau sendinya akan terkilir atau lepas. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. Rekan-rekannya terkesiap. yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala.102 BAGIAN 2. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. ”Pegang yang kuat. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. Kali ini Gentong. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Dan Gentong pun .

Cara ini lebih baik. sudah berangsur-angsur sembuh. . Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan. siap mencongkelnya dengan bahu. dengan debum yang lebih kentara tentunya. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. juga di antara murid-muridnya sendiri. Lucu tampaknya. Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. Bersamaan dengan itu pula. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. Berbagai upaya telah dilakukannya. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau.103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Kecuali Asap tentunya. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak. Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan. rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham.

Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. Ke arah di mana matahari terbenam. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah. Ki Rabat dan Ki Untung.104 BAGIAN 2. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat. Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. Akibat luberan ini. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. Dari sanalah diyakini nama itu datang. menuju Lautan selatan. Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya. sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama. satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. Untuk Asap. Sungai Hijau orang menamakannya. Ki Surya. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba . Padang Batu-batu akan tergenang. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. menggemuruh. telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau. mereka tidak akan menunggunya. ke arah barat. Dan entah bagaimana.

sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah.. ”Benar. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek.” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju. Setelah membicarakan beberapa hal lain. ”walaupun dua kali lebih lama. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan.” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. Setelah beberapa hari perjalanan. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas.” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju. Ki Rabat. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau. seperti kata kalian. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai... arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. ya. ”Benar.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- .105 Hijau. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya.. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan. Sungai itu sudah Sungai Merah.” komentar Ki Untung.. Di Gurun Besar. Ki. Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut.” ”Bila benar begitu. selain ada banyak binatang-binatang beracun. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai.

106 BAGIAN 2. tertarik untuk melancong ke sana. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. Setelah siap berangkatlah rombongan itu. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. kadang terjadi sebaliknya. Tempat yang diduga lebih indah itu. walaupun tidak terdapat banyak desa. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. Walaupun pada kenyataannya. sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- . hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang.

107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Malam ketiga. entah sungai apa namanya. Benar-benar membosankan. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. Untuk melepaskan kebosanan. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih. mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Demikian pula dengan rombongan ini. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . tiada yang tahu. akan menjadi terkantuk-kantuk. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. Bila langsung menempuh Gurun Besar. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. Lancar dan sedikit membosankan. Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut.

Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya. Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Wanita Petani (Buerin). Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). yang terkena gigitan Kadal Gurun. Entah kapan dan bagaimana mulainya. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin. Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. Akan hancur suatu daerah. Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte). Taman Utara (Nordpark). Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- . Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann). muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. Laki-laki Petani (Bauer). Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota. sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Wanita Pengembala Domba (Schferin). Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann).108 BAGIAN 2.

Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar.109 gannya. terasa amat lengang. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. menjadi semakin sepi dan mengiriskan. Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. dan atas usul istrinya. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu. Semuanya hilang. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. Dingin ini lain. orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. Membuat tubuh benar-benar terasa lelah. Malam yang menghebohkan. Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri.

110 BAGIAN 2. sudah di luar kemampuan kita. bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. selaku pimpinan di sana. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas.” Semua mengangguk-angguk setuju. sebagai saksi satu-satunya yang ada. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. dalam langkah yang tergesa-gesa. Bertanya-tanya hati semua orang. Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja. Benar-benar menyeramkan. Lalu orang-orang pun bubarlah. ”baiknya kita menenangkan diri dulu. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja. Dan dua belas buah lagi. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. Setelah berjalan bersama-sama. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi. . hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa.

Akan tetapi anehnya. Sunyi. yaitu sisi barat. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. akan semakin keras suaranya. bahkan sekecil apa pun suara. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya.111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu. yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Bila banjir. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . Desa yang sepi. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam. perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. Bisa-bisa sampai menggelegar. pada sisi seberang.

kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya. Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. Ki Untung dan Ki Rabat. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. Orang menyebutnya Arowana. kadang pula telah berpermukaan halus. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. Setelah menunggu beberapa lama. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. ketiganya.112 BAGIAN 2. Bagi Citra Wangi. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu. di antaranya terlihat Ki Murah. yang ditemani beberapa orang dari . Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya. ibu dan ayahnya sendiri.

. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini. ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik. Keduanya mengangguk tanda setuju. ditambahkannya kata-kata. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. Mengenakannya. ini harga khusus.” Mendengar panggilan itu.. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. Pikirnya. Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki. Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat. Ki?” tanya Citra Wangi sopan. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu . minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu. ”Nak Citra Wangi. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. batu-batu hiasan ini. indah. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri. begitu kata ujar-ujar kuno. kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar. ”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu. Betapa ingin mereka memilikinya. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat. ”Lihatlah. ”Ada apa.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua.” gapai Ki Rabat dari jauh.

Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. Ia yang biasanya membatasi. sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. Senanglah . akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. Bukan desa. Begitu pikirnya. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. Setelah berunding sejenak. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka.114 BAGIAN 2. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. sejauh subyek perdagangan mereka ada. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. kemudian diturunkan. Selain suasananya yang nyaman. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah. jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan. melaului Pantai Selatan. karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. saat itu membiarkannya saja. Di kejauhan Ki Rapih. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang.

Melihat cara perdagangan yang menarik ini. barang dan Tigaan berpindah tangan. Desa Pinggiran Sungai Merah. akan lebih mudah berdagang. Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. semacam stempel. Bila cocok. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya. Mereka berpikir dengan cara ini. . terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka.115 hati mereka. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka. Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif. Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya.

Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya.. Lambang tanah. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana. Api yang meresap dalam sesuatu. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir. maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- . Pernah terdapat Tigaan palsu. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya.” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya.. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini. Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah. Yang tidak dapat mengalirkan hawa. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru.116 BAGIAN 2. Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen. sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan. Dan sesuatu itu adalah udara. Untuk mencegahnya. *** Lima tahun waktu pun berlalu.

membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Nyi Apik. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini. Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan. membuat mereka merasa kerasan. Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. lima tahun yang lalu. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana. Desa Pinggiran Sungai Merah. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. bersama-sama den- . yang belum tentu jelek dalam artian luas. Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. dan juga utara dan selatan. Apabila lingkungan berubah.

Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara. Apa-apa pun dapat dipesan. Tidak utuh semuanya. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. sungai dan gunung. Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya. Barang sampai pasti. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. yang mereka namakan Antaran Pasti. Asalkan ada Tigaan. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh.118 BAGIAN 2. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. Beberapa patung dibangun kembali. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. . Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. Dijamin. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat. Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu.

puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. ditempatkan sebagai Empat Pilar. saat yang tepat untuk mulai mendaki. Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Benar-benar menggirisi. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. Baik dari segi bakat ataupun finansial. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid. Tiada pesan yang ditinggalkan. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. Menunggu isyarat alam.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. Tidak seperti dulu. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan.

Rintah. Kirani dan pemuda itu. dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau. dan untuk turut menggagalkan orang lain. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. Rantih. Misbaya. kata Ki Tapa. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Bukan perguruan silat. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu. Paras Tampan. Asap. tanpa embel-embel perguruan. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. telah gugur tujuh belas orang. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini. Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. melainkan hanya tempat menempa diri. Walaupun gagal. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan.120 BAGIAN 2. Pesannya. Cukup Rimba Hijau. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya. Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. Jadi untuk ukuran orang biasa.

dapat atau tidak. saat matahari sedang tinggi-tingginya. dua orang yang akan menggantikannya. serta Ki Tapa gurunya. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. seorang Undinen yang rupawan. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya. Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Apa pun yang terjadi. Jadilah dirimu sendiri. Menyusul kemudian Gentong. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. Menenangkan dirinya. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. *** Undinen itu bernama Xyra. mulai beranjaklah Paras Tampan. Asap mendapat giliran sehabis itu. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Paras Tampan. Dan sekarang gilirannya. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat.121 diberi waktu dua tahun. . Sosok yang membayangkan hawa yang lain. ke arah mana saja tidak jadi soal. Hawa yang menarik hatinya. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta. semakin kental hawa anak itu menarik hatinya. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. Ada rasa nyaman dalam hawa itu. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. ia dapat berangkat. Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. Bisa sampai di titik ini. mereka harus kembali turun. Menurut Ki Tapa. Dari urutan yang ditarik. Jangan berpura-pura. Mohon bimbingan atas ujian ini. Setelah merasa tenang.

Telaga. Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. Bila tidak dapat menemui dirinya.122 BAGIAN 2. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. karena tidak mengganggu. masih terlihat cantik. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu. Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang. anak dari Ki dan Nyi Sura. carilah Ki Tapa. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. walaupun tidak menampakkan diri. mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. apabila telah selesai belajar. Di Rimba Hijau. tanpa tudung kepalanya. maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura. Mereka membiarkannya saja. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. Ada urusan yang harus diselesaikannya. Ia hanya berpesan pada Lantang. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. sering berada dekat dengan Lantang. akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. Ia mengambil arah ke selatan. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. untuk mencarinya ke timur. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik.

yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu.” ”Menarik. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. ”Di sini. . ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya.. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni..” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian. menarik. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli.” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering.. masih ada lambang-lambang aneh. maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni.. Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni. Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing..!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri.. ”Kakak Mayat Pucat.123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya.. melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa.

Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu.” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu. apa maksud tulisan Naga Geni ini. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya. Lupa. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin.” usul Cermin Maut. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh. Entah di mana. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda.” ”Maksud Kakak Pucat. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu.” tanya Sabit Kematian. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu. ”Tentu ada maknanya. Melayang dalam pikiran masingmasing. Lebih baik kita menafsirkan dulu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti.” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja.124 BAGIAN 2. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu. Sudah lama sekali rasanya. ”Sudahlah. Jadi ada empat buah kitab. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. . Ketiganya pun kembali termenung. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. bahkan oleh Penjuru Angin. ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab. biarkan saja!” usul Mayat Pucat.

Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya. Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. Bisa dibilang mustahil. Oleh gurunya. yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Naga Geni. Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. cukup paling banyak tiga buah. Tidak banyak. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 . apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno. mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin.Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana.

Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya. Dan hal ini amatlah wajar. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. Mengingat cerita itu. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. . Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. Gagasan yang dipakainya. Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. Setelah prasasti tiruan jadi. Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. Ki Tilu. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah.126 BAGIAN 3. berikut tulisan di bawahnya.

sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun. bagaimana semuanya berlangsung.. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin.. Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu. Ke timur. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu. . Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Ke arah Gurun Besar.. Satu-satunya rumah di kawasan itu. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya. semua telah hancur dan hilang. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu. Gunung Hijau. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. atau bahkan merupakan kuncinya. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya. Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia. Tujuan hidupnya pun juga... Setelah berjalan bergegas beberapa lama. ceritakan.” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. ”ceritakan. Langkahnya ringan dan mantap. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya. ke suatu gunung di tengah belantara hijau.

”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. Jadi mulailah ia bercerita. ”Belum selesai guru.” terang pemuda itu. Informasi ini menggembirakan dirinya. HAKIM HAUS DARAH ”Baik. bahwa orang itu. Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya. Sudah terbiasa ia. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik.” jelas pemuda itu kemudian. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu. Lalu katanya.128 BAGIAN 3. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi. Tampak seperti ada yang direncanakan. ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya. Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. gurunya. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka.. ”Menarik. sementara gantinya sedang melatih tenaga air. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian.” katanya tanpa ekspresi. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara. .. Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa.. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya. guru!” jawab pemuda itu patuh. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya.

Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. Gurun Besar. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian. Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk. ”aku tidak akan menjawabnya. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian. Saat ia sadar. ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini. Tidak bisa tidak. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman. ”Tetapi guru. ”Yakin sekali kelihatannya.. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil.” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya. ”Tak bisa dielakkan.129 Anak kecil itu pun mengangguk. carilah sendiri. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu.. Pertempuran harus terjadi. pasti akan terjadi” jawabnya tegas. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen... Orang tua itu mengangguk-angguk. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya. ia telah berada di tengah gurun ini.” komentar gurunya sambil tersenyum. Tapi perlu waktu.” gumamnya. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- . Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu.

ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. sampai ribuan kambing dewasa panjangnya.130 nari. Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Diajarkan oleh kedua orang tuanya. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. Akan tetapi pemuda itu lain. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya. atau kadang dapat mengeras seperti es. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. Sepi. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat. Tenaga Air. Sunyi dan kering. melainkan juga pengguna ilmu itu. ilmu beladiri. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. Tenaga yang mengalir. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. Itu saja. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. dibalikkan tubuhnya. *** BAGIAN 3. Ya. Ia memandang ke arah utara. Sangar dan tampak seperti berwibawa. Gunung Berdanau Berpulau.

Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa. ia pun pergi merantau. yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh. Anak satu-satunya itu.131 diri dari batu-batu belaka. di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. Ia tenang-tenang saja. ”Telaga. nak?” tanya ibunya perlahan. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah.. Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas. membuatnya tidak seperti biasanya. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu. . Lalu katanya kemudian menegaskan. Mendengar pertanyaan ibunya. Padang Batu-batu. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya. Ki Sura. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. Dulu sewaktu ia muda. saya sudah membulatkan tekad. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya. mengangguklah Telaga. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura.” ”Tapi.. Bergetar suaranya saat menanyakan itu. Luas menutupi seluruh matanya. ”ya ibu.” jawabnya ibunya tercekat. Lain halnya dengan suaminya. sudah bulatkah tekadmu itu. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya. begitu pikirnya.

Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang . Mirip hutan belantara. Dipandangnya berkeliling. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. seperti tiang-tiang. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya. Di dalam Padang Batu-batu. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. yang besar dan tingginya bervariasi. Padang Batu-batu. Dan selalu hati-hati di sana. dan menghujam juga dingin.” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. Melompatlah ia perlahan ke bawah.132 BAGIAN 3. kadang pula lebih. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. ”hati-hatilah. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. Kadang selebar kerbau atau gajah. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. Untuk menentukan arah. Jurus cengkeraman yang amat keras. Cengkeraman Kristal Es. Katanya kemudian. dingin dan menantang. ayah.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. Berangkatlah pagi-pagi sekali. Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi.” jawab Telaga cepat. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati.

Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu.133 berdiri berderet-deret acak. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. Jika malam tiba. Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai. Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. Bukan di . Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. yaitu matahari. Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Untuk itu ia mengambil patokan lain. Untuk makannya selain telah membawa bekal. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu. Menuju selatan. semakin cepat angin mengalir di antaranya. ke arah berlawananlah ia harus menuju. Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli). karena sudah tak begitu jelas terlihat. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu.

Sebagai contoh misalnya. Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. yaitu tombak-tombak setinggi dirinya.134 BAGIAN 3. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting. Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. Hari keenam. Mereka memutarinya. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. HAKIM HAUS DARAH balik batu. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Tak . Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. untuk mencari ikan dan kepiting. sehingga serangan dapat dilakukan. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini. yang dibantu dengan posisi matahari.

Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. batu. Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. Lempar saja di sini. Entah apa isinya. lemparkan saja di sini. Tak tahu berapa lama ia tertidur. Bungkusan itu cukup besar dan berat. Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka. Di Padang Batu-batu me- . ”Jangan. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu. Setelah memeriksa dengan seksama. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu. Orang ketiga. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam.” usul temannya yang lain. Tak ada suara. Telaga terdiam melihat kejadian itu. akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi. Kemudian berlalulah ketiganya. ”Sudah. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. di mana orang-orang itu berada.” sanggah orang kedua temannya. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang. dapat ia mendengarnya. Berjalan mereka perlahan-lahan. walaupun jernih. ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air. Ketiganya masih di sana. berkata seorang dari padanya... mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata.” Dengan berkecipuk keras.” kata orang pertama.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur. nanti cepat ketahuan. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang. Walaupun amat lamat-lamat.

Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan. Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang. Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. Tidak ada tanah. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. Niatan Telaga. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak. Jurang yang cukup dalam. Suatu pikiran yang cerdas. Selang tak berapa lama. sehingga walaupun airnya jernih. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu. kamu mimpi kali?” jawab temannya. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu.” . Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. Makanya kita nyucinya siang. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. tampak sebuah iring-iringan datang. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini. Kata salah seorang dari mereka. ”eh. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin.136 BAGIAN 3. Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Masih dalam pinggiran yang sama. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur.

” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. Tak tergoda atas ajakan itu. membuatnya menjadi bertanya-tanya.. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang. . Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan.137 ”Sekalian mandi.!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang. dan ingin segera menjauh. Dibiarkannya keranjangnya mengapung. ayo mandi. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. Andai saja ia maju setombak dua lagi. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu. Lainnya hanya mengiyakan. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. Selebihnya telah berendam di tengah. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. ”Sarini. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana... Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman. Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir. setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. Tak ditemuinya seorang pun.

Kawan-kawannya telah diperingatkan.138 BAGIAN 3. Sepotong tali. ”mayat. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. ada mayat.” ucap salah seorang dari mereka. benar itu Ki Rontok. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. juga Sarini yang melihat kepergian mereka. si pedagang keliling.. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat.!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air. Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya. bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu. Menepikannya dan mengamati.” jawab yang lain menegaskan. Penakut disebutkan dirinya. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini.. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa. seling mengangguk satu sama lain. ”wah bisa berabe nih kita. Tidak seorang gadis pun. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu. Tidak di siang hari bolong seperti ini.” .. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Telanjang. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya. di mana belum ada matahari. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi. ”Ini adalah Ki Rontok. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari. tampak oleh Telaga.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan.” ucap salah seorang dari mereka. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. Bersama-sama mereka membawanya.139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. yang dikenali sebagai Ki Rontok. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana. Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu. Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. Bisa-bisa fatal akibatnya. Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu. Bisa-bisa ia yang dituduh. Untuk kemudian mengikuti. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Tapi itu harus dilakoni Telaga. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya.. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Selain karena . Benar-benar menarik kata-kata itu. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. dengan tandu dari kain yang mereka bawa. sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu.

Tampak belum tua benar ia.140 BAGIAN 3. Tak dibukanya percakapan. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan. Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. Dari caranya bergerak. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah. sibuk dengan pikirannya sendiri. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. Warna-warna kulit yang aneh. Aku si orang tua. Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. dipandangi sajalah orang tua itu. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. melainkan terus mengamat-amati Telaga. tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan. ”kita akan bertemu lagi. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. terlihat tubuh yang terlatih. ”Jangan kuatir. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. Tampak pula warna busana yang aneh. tapi ia kedapatan sedang mengintip. Orang tua itu tersenyum. lalu katanya. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. Telaga tidak tahu harus berbuat apa..!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu. anak muda. lebih tinggi . tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Selang tak berapa lama.

orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. . Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. Kedua desa itu. Selain adat. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh. Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu. yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah. Untuk kebutuhan air minum.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh.

Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia. ada pula orang-orang yang menghargainya. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan. Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Gembira hati mereka. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Dengan adanya para penjaga keamanan. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. Cara-cara ini sudah tentu tidak baik. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. Bagi mereka Tigaan lebih penting.142 BAGIAN 3. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. Kedua kelompok ini. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. situasi menjadi aman dan terkendali. Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan. Akan terjadi peleburan. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku.

jauh di barat daya sana. Karena ditunggutunggu tidak datang. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. pulang dan mela- . Yang penting untung dapat diraup. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. Asasin. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. Walinggih tak tega. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Kejamnya politik perdagangan. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Bila kedua desa bersatu. Hal ini tidak boleh terjadi. Andai saja Walinggih ada di rumah. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. jelasnya. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. Mungkin akibat ilmunya itu pula. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana.143 dari luar Padang Batu-batu. Akhirnya mereka. bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya. Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu. Dengan cara ini pasti akan lebih laku. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu. Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. tidak mungkin. Minta tolong ke penduduk kedua desa. Mengadudomba. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur.

juga penolong. harus dibayar lain. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. pikirnya.144 BAGIAN 3. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Jika ada pertentangan. Dan ditinggalkannya begitu saja. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. bisa berabe nanti jika ia mengamuk. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. Simetris. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. serta memekakkan telinga. kelompok pembunuh bayaran terkenal. mengingat ilmunya yang tinggi. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. Menggiriskan hati suaranya. Pandangannya berubah terhadap kerukunan. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Untuk kelebihan waktu. Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. Akan tetapi para pembunuh tidak mau. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Dibelah persis di tengah-tengah. Ia akhirnya mengambil sikap. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. Setelah semua orang yang bersalah habis. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya. Dalam setiap perkara kejahatan. Kedua kelompok pedagang. biasanya harus ada yang tersembelih .

sudah pasti akan ada pembantaian. ”Bagaimana ini. Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. Alternatif itu lebih baik. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. Terlepas dari siapa yang bersalah. Semoga arwahnya nanti damai di sana. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok.” usul seseorang. sebelum Walinggih mendengarnya. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. Tapi itulah kenyataannya. Akibatnya kehidupan menjadi tenang. Katanya suatu ketika. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya.145 simetris.” Benar-benar pikiran yang gila. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat. . Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. jadi dua bagian. melainkan ketenangan dalam paksaan. Alasannya boleh berbicara belakangan. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat. Orang yang terkena fitnah misalnya. kepala desa?” tanya seorang warga. walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah. Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. kecuali kasus-kasus yang parah. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. fatal akibatnya. Ya. Jika bertikai dan berlarutlaru. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu.

berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. terdapat suatu celah. Kemudian kata orang itu setelah memeriksa. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. seperti ditunjukkannya.” ucap seorang. . bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling.146 BAGIAN 3. Dan memang benar. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali.!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya. Tidak ada korban dari Walinggih. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong. si Hakim Haus Darah.” gumam seorang takut-takut. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini. gadis yang tadi tidak ikut mandi. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. akan selesai masalah. perlu pula diusut. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan. Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini. ”Ada yang bisa menceritakan. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris.. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah.

Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu. Sementara yang lain. semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. tak jelas alasannya. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara. akan kembali ke masa lalu keadaan di sini. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik.. kami datang untuk menangkapnya. . ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu. Saat itulah ia turun tangan.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau. Dengan adanya peristiwa ini. dapatlah sang hakim saat ini ditangkap. apabila Hakim Haus Darah ditangkap. sebagai bukti. Tak pandang bulu.. ”warga desa yang terhormat. Mereka yang terakhir ini kuatir. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian. Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. Seperti halnya Ki Rontok. perkenalkan kami. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini.

”Mau makan apa. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. ”ada peristiwa besar ya. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu. Kami yang akan menangkap sang hakim. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. Sudah banyak memang pedangan dan . Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah. ”Yang murah saja. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. Lalu tanyanya sambil lalu.” jawab Telaga sopan. sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi.” ”Ya. paman. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. Ingin dicarinya keterangan. Tak tahu harus ke mana. hanya perlu menjadi saksi. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi.148 BAGIAN 3. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. Anak pasti bukan orang sini. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol. bagaimana akhir dari peristiwa ini. Kalian penduduk desa. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri.” katanya sambil melihat Telaga. untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. karena saat ini hari telah menjelang senja. nak. Telaga adalah pemuda itu.

” jawabnya cepat. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat. ”Iya. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. Gule Julung-julung. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. Saya berasal dari utara. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Tiada lagi ragu sekarang. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana. Kemudian ditinggalkannya Telaga. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan. Cukup sederhana Pepes Keuyeup. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas. tiga perwira. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu. perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Saya lagi merantau. Di desa itu . Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. paman.149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. Ia tidak punya tempat menginap. bukan bercerita. Tak berapa lama pesanannya pun datang. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga.

Marilah. Sudah biasa kok. paman. Begitu melihat dirinya. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. sejak putrinya masih kecil. Saat akan merebahkan dirinya. ”bagus juga. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri. melainkan hanya berwarna alami. Istrinya telah meninggal karena sakit.” Telaga mengangguk-angguk. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang. lalu sapanya. Jadi bermalam saja saya di luar. Batu dan kayu belaka. Selain tidak bagus juga mahal. Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya.150 BAGIAN 3. Tidak dihias macammacam.” katanya. Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung.?” pancing Arasan. yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan.” jawabnya sopan. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan. lalu jawabnya. Tidak . ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf. ”Marilah mampir. akan tetapi suka keramaian saat bekerja. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa. paman. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya.. sama yang di dalam desa. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi. ”Beda ya.. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya.

tapi putriku. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah. Sarini makan sendiri. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi. Tapi lupa. bagaimana rupa dari putri Arasan. Sampai depan rumahnya.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu. Nanti kuperkenalkan. ”bukan. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu.. Seorang pemuda yang lugu. Lihatlah ada tamu kubawa serta.!” ajaknya. Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. mari masuk.151 terlihat asal dalam menatanya. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis. putriku! Ayah pulang. Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu.. Senang pasti hatinya. berseru Arasan memanggil putrinya. selamat datang. Rumah itu cukup besar. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya.” Lalu muncullah putri Arasan. tempat yang . Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana.” Lalu tanyanya. ”Ayah.” Bertanya-tanya Telaga dalam hati. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu. Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan.. tetap saja ia merasa malu. Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya.. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya. ”Mari. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu. dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng. ”Sarini. Ruang depan dan ruang belakang.

Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. menekuk dan melemparkan gadis itu. Orang tua itu mengelak tipis. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. hyaaaaa. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya. hanya di pagi hari.152 BAGIAN 3. tetap dengan menggunakan telapak tangan . Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. Di saat orang-orang belum bangun. memutar tubuhnya. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya.. Telaga mengikutinya. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. melainkan ayahnya. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya. hampir tidak memperdengarkan suara. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya. Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja. Juga adanya tusukan-tusukan. Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. Alih-alih terjatuh.!” teriak suara seorang gadis. Pendaratan yang ringan. Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. ”Huut. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur. Tak lama kemudian mereka tidurlah.

” jawabnya jujur. ”tak perlu kau katakan pun. Sampai pada gerakan yang menghentak. Lalu tanyanya kemudian. agar susah ia mencobanya. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. berkatalah Arasan kemudian. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya.153 yang dibuka. paman Arasan. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. Melihat keragu-raguan Telaga. ”Belum. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu.” kata Arasan sambil menganggukangguk. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. ”Nak Telaga. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. akan tetapi tidak melatih bagaimana . Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata. ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. ”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu. ”Ah. itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak.

sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri. suatu saat akan kami ceritakan. Benar pikirnya. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru.. maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. Telaga pun mengangguk.” jelasnya kemudian. yaitu Tenaga Air. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. untuk menjaga diri belaka.. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya. Akan tetapi sebagai seorang ayah. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan. Guruku sendiri pernah berujar. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini.. nak Telaga. Setelah matahari mulai sedikit tampak. Ia ingin hidupnya aman-aman saja. Tapi jangan panggil aku guru. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya. ”Marilah. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai.. nak Telaga. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya. ”Paman Arasan. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku. ”Sudah tentu.154 BAGIAN 3. mereka pun menghentikan latihan. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri.. HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air. Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana. Perihal mengapa. .” jawabnya. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air.” tanya Telaga bimbang.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu.

selain juga menjadi malu. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius. Terlihat . Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya. Jika tidak. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu. Walinggih. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. Hari ini Arasan tidak bekerja. Sebuah rumah di atas batu. Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. tampak sederhana. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah. tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh. Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. Tempat kediaman Hakim Haus Darah.

Sunyi tak terdengar jawaban. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit. Baru kali ini. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih. akan tetapi orang ini. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. Seperti bercak darah yang mengering. Memang samasama tua..156 BAGIAN 3. Orang tua kemarin sudah putih semua. sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda.!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Hanya ada satu persamaan. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. ”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. keluarlah engkau. Juga rambutnya berbeda. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. yaitu baju yang dipakainya. Ingin tidak hadir. Mereka. dan tua karena pikiran. Sesekali seperti guratan kaki. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar. Seorang tua muncul dari dalamnya. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. ”Huh. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. Pedang mungkin. Hanya beberapa .

Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. baru datang.” .. ”serahkan dirimu. ”Hmm. lalu katanya. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya.157 yang cukup berilmu tidak. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan. membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. tak perlu ada kata-kata lagi.. ”Bila pedang sudah bicara. di atas batu tinggi. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata. Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. Sarini. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. Arasan ayahnya dan Telaga. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan. Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk.” kata seorang dari mereka bertiga. Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. Lemparan itu bukan sembaran lemparan. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah.

158 BAGIAN 3. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya. Untung saja refleksnya masih bekerja. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. ”Bagus. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. Akibat mundurnya itu. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan. Satu menyabet ke arah kepala.. Dalam serangan pertama. Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang. Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya. Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal.!” ucap salah seorang dari mereka. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih. . akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. Benar-benar serangan yang lengkap. Bekeringat dingin ketiga perwira itu. Dua buah. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu. Hampir mencium perut-perut mereka.

Sebagai seorang manusia. Saat satu orang menyerang. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah.” ”Hehehe. benar-benar ’penegakan hukum’. Lalu ucap salah seorang perwira. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya. Itu saja. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini. Belum pernah sebelumnya. Arasan. rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran. Matahari sudah menempati titik kulminasinya. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu. ”Walinggih. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang. Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. Cara ini ternyata lebih berhasil. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya. .. Pertempuran itu pun berlangsung seru. salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga.159 Kembali ketiganya maju serantak. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu.. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. ”Hehehe. ”Jadi begitu. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih. Hahahaha. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur.! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. Kelimanya bergerak ringan. tak usah berpura-pura.” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu.” kata Walinggih.

Sebelum kedelapan orang itu bergerak. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan. kakinya meregang terbuka selebar dada. Dari pikirannya. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. Dugaan itu tidak salah. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut. Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. Jika tidak. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. malah bergerak berputar. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. Sebagai seorang pembunuh bayaran. menjadi semakin bingun Telaga. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. Satu ke depan satu ke belakang. alih-alih menjawab pernyataanya. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu.160 BAGIAN 3. Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. langsung menyerang. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. yang disebut sebagai Asasin. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. Akibatnya rekan-rekannya . mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. sehingga ketiga orang perwira itu dikirim.

161 berupaya melindungi.. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat. ke depan dan belakang. Terbelah simetris Asasin ini. Dua orang yang jauh dari sasaran pertama. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih.. Omong besar di depan. Tak ada hasil setelahnya. Melihat hasil ini. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal. Kaki dibuka selebar bahu. ”Hei. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya. ”Tunggu dulu..!” serangan ini pun membuahkan hasil... Siap untuk serangan berikutnya. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram. Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. Hanya tipuan.!” serangan kedua membuahkan hasil. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia..! Apa mau kalian.?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping.!” Akan tetapi terlambat. ”Cappp.. Diatur napasnya tenang. tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih. pikirnya. Bukan ke atas melainkan . juga kedua Asasin. ”Settt. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya. Tak ada yang dapat dilakukan kali.

membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. Siap melepas serangan lagi bagi pegas. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan. Tegak dan lemas.. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. tak dapat ia menyerang keenammnya. tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya. seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih. Terpaku bagai akar pohon. Ini sudah . Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. Tak berani ia melihat ke bawah. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. Walinggih yang akan bergerak. takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak. ”Wuttt. Tak berapa lama. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang.162 BAGIAN 3. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. Walinggih kembali ke tengah. Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih. Kembali ke posisi semula.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk.

”Heggg.!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. di mana orang ketiga sedang menyerang. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak . ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Alih-alih menggeser kedudukannya. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. masih tampak wibawa dan keangkerannya.. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat. Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka. Sunyi.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka. Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu. Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga. ”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah. Entah apa namanya. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya. Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. Luka bacokan tak dapat dihindari. bisa tak selamat Telaga. Masih dengan tenang Walinggih mendengus. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja.

. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram. Teringat akan anaknya. Jangan disimpan. ”Maaf. Bertempur. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya . akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran.” jawab Telaga sedikit malu. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu. kok menggunakan racun. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. HAKIM HAUS DARAH berdaya.. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih. Jika anaknya masih hidup. untuk dibuat bahan membalut. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai.. Setelah mereka bertiga berunding. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. Mendengar cerita Telaga.164 BAGIAN 3. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut. ”Siapakah. Ketiganya tampak termangu. Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali. sudah pasti sebesar ini tentunya. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. kau?” tanyanya tergagap. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. paman.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

apa-apa yang ada di sana. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. HAKIM HAUS DARAH Hijau. Tiba-tiba ia bersorak girang. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. Anak tangga pertama lebih . Cukup lebar dan tinggi. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka.176 BAGIAN 3. hampir dekat dengan langit-langit. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana. Diperiksanya dengan seksama. Hitam dan dingin. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. soraknya dalam hati. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Paras Tampan merangkak mundur. Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. terdapat semacam anak tangga. Tiba-tiba didapatnya akal. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. Paras Tampan bersorak gembira. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. ada seperti anak tangga di atas itu. sampai ketinggian yang dapat dicapainya. Akan letaknya jauh di atas. di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. Ada. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. Di hadapannya. Ia tidak bisa berputar.

Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. Cara ini mungkin lebih masuk akal. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu. Seperti dipotong dengan sengaja. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. anak tangga berikutnya lebih rendah. Bila bisa. Ada lima anak tangga semuanya. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. Dan berikutnya lebih rendah lagi. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Butuh waktu lama. Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya.177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Berulang kali dicobanya. Merangkak pelan. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu. Di salah satu sudut lorong. Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut. Masih saja gagal. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan . Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang.

Angin-angin. Beratus-ratus jumlahnya. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. Seni Beperang. Pemuda itu melihat berkeliling. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Racun Selaksa Macam. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu. Seribu Ramuan. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Berhasil. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Dan naiklah ia. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Kemudian ia menarik napas panjang. Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain. Puas melihat pekerjaannya. Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. Tenaga Air. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan.178 BAGIAN 3. Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan. Aneh-aneh judulnya. Pukulan Tanpa Tanding. Tujuh Rahasia. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu. Perpustakaan kitab-kitab kuno. Pukulan Inti Es dan Salju. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. agar lebih stabil. Dan Sekarang . Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Ilmu Muda Selamanya. Juga yang berikutnya sampai yang kelima. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. Batu-batu. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno.

”Pernah guru. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Rintah dan Gentong. Dipelajari. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam.. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. ”dan sekarang. Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima..” kemudian lanjutnya. ”Benar. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri . Misbaya. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. Atas kehendak Sang Pencipta.179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka.” jawab Paras Tampan. hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. Gunung Hijau. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. Tapi itu cerita lama. Angin-angin. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan. Hanya mereka berdua. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini.. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada. Pemuda itu. Siap untuk dilahap. Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Paras Tampan. ”Paras Tampan.

Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut.180 BAGIAN 3. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. Entah oleh siapa. Di balik tempat tidurnya. Tulisan itu mirip prasasti. Dikarenakan oleh gurunya. selain jurus air ini. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. Jurus Api dan Jurus Air. ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. dekat dengan bagian kepala. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. Jurus Tanah. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. HAKIM HAUS DARAH darinya.

Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Tidak ada. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya. Sedari waktu itu. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada. Di sana tertulis. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni.181 dalam keadaan yang buru-buru. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini. Jangan lupa untuk. Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini.”.. Sebelum ia belajar.. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu. Teringat itu. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. Lapar. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam. Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Di salah satu ujung ruangan. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya. Untuk menunaikan tugas.” Tulisan tersebut berhenti di sana. Semakin ke bawah. Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat. Bacalah itu pada kitab-kitab awal. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya. judul-judul kitab yang ada. Penjaga Keseimbangan. Dilihatnya kembali berkeliling. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya.. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya.. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing. Badannya juga terasa lelah. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk. Arahnya tidak rata tiap barisnya. Minta untuk diisi.

tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Matanya besar. Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. . Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan. Sungai Batu Jernih. Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang. Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. Hampir seukuran dirinya. Warna tubuhnya biru tua keunguan. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. Ditambah dengan laparnya. Sungai yang keluar dari lubang. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Ranum dan segar kelihatannya. ingin ia meraih untuk memakannya. Mengambang. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Pesat menuju buah-buahan itu. yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu.182 BAGIAN 3.

183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan. Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut. . Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan.

184 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH .

Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat. Ke sungai dalam tebing batu itu. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang. Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Digigitnya perlahan. Diperiksanya perlahan-lahan. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya. Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 . Entah kemana. atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. Lembut menyegarkan. Perutnya telah lapar. Manis dan berair. ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu.Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda.

Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya.” kembali kata orang pertama. ”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam. ”Seorang pemuda yang cerdik. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu.186 banyaknya.” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. . Pulas. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain. Ia pun tak lama kemudian mendengkur.” kata seorang dari mereka. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan. Troll. Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain. betul. kali ini mereka berjalan ringan perlahan. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. BAGIAN 4. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. Sesampainya di sana. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. ”Hehehe.

Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab. Guratan yang belum selesai itu. Hanya herannya ia. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding. Biarkan nasib yang membawa mereka.” kata seorang yang lain. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. ”Kita layani dia. Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab.” kata temannya. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. sayuran tanpa daging dan nasi. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan . Mula-mula ragu-ragu ia memakannya. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. kakak Rawarang.” ”Jadi.” tegas salah seorang dari mereka.. bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya. Membaca demikian. seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan.187 ”Benar. ”benar-benar berjodoh. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll. Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan.?” tanya seseorang dari mereka. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll. Akan tetapi rasa laparnya menang. Tak tahu dirinya. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap.

Latihan di bagian luar ruangan itu. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal.188 BAGIAN 4. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat. Lebih lanjut pada lubang-lubang. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. Paras Tampan dapat menghemat waktu. selain disertai bahaya untuk jatuh. Kadang kepala di atas kadang di bawah. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. cengkeraman. berpijak pada lubang-lubang yang ada. se- .

Yang penting nyaman dan hangat dipakai. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. Peralatan menjahit disediakan mereka. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan. Badannya menjadi tampak pas sekali. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. Sederhana tapi cukup memadai. Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. . Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar. Tidak terlalu banyak. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. telah habis buah-buahannya. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. Dengan tidak memakan daging. Untuk pakaian. Paras Tampan. para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Badannya berisi. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. Pemuda itu. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik. tampak semakin tegap. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. yaitu kulit binatang berbulu. Entah binatang apa. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang.

Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. Dan untuk belajar jurus itu. Alih-alih. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. Di tepi Sungai Batu Bening. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama. ditunggunya mereka di luar ruangan. Benar-benar mengagumkan. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Sentilan Kelereng Es. Undinen misalnya. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin. Sang ikan pun berkecipak-cipuk. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih . Tapi mereka tidak munculmuncul. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya.190 BAGIAN 4. Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka. seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll.

kapan ia siap untuk dilatih. Otaknya . Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. cengkeraman dan panjatan-panjatan. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. Dengan menggabungkan kedua unsur. Menurut petunjuk yang dibacanya. Siang sudah belalu setengahnya. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut. Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah. Senja pun tiba. Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. Hari ini. Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin. para Troll akan mengajarinya. para Troll. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. akan tahulah mereka.191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap. Toh. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. Apabila ia berlatih serius. sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Memberinya petunjuk lebih jauh. Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. Bila iya. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal. Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama.

mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. .!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air. Perlahan tapi pasti. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti. Menyebar lambat. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Tak jauh melebar melainkan memanjang. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan. Membesar. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Dari siulan tadi. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. Paras Tampan pun berdiam diri. Tidak berhenti sampai di sana. Menunggu. Seorang dari mereka. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih. Memasuki gua batu di tengahnya. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan. menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Berjajar menatap dirinya. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya. Tak tahu apa yang dilakukan. ”Kecipak. Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya.. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu.192 BAGIAN 4.

tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana. Paras Tampan tidak berada paling belakang. agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. Dataran itu cukup luas. Padahal apabila dibayangkan. di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. Benar-benar ruangan yang memukau. Selain malam telah menjelang. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. Kanand dari arah ia tadi datang. Tak terlihat goyangan yang berarti.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. perlahan tapi pasti. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah .

Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya.194 BAGIAN 4. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai. Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. . Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. yang terlihat sebagai pemimpin di sana. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu. tampak berenangrenang di kejauhan. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. Bukan tempat bagi makhluk air. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. Ikan Kolakan. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh. mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu. tapi belum pernah yang tegak seperti ini.

Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. tentang bagaimana caranya bisa . seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. Sepanjang satu tombak kira-kira. mencoba kekuatan barisan itu. Ia melompat dari tanah. Akan tetapi bukan Paras Tampan. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. menjejak terbalik pada langit-langit. kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada.

tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Darah tidak mengalir deras seperti tadi. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Rupanya saat bergantung terbalik itu. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya.. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala.!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. ”tukk. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya. Pusing dirasakannya. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. Sekarang saat dimulai masalahnya. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. tidak ada masalah. Pada bagian dinding yang tegak. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu. Tiba-tiba. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat.196 BAGIAN 4. Sesaat sulit juga. Setelah tiga kali dicobanya. Hampir lepas pegangannya. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh. Waktu pun berjalan pelan. sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. Tak lama ia bisa bertahan. Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya.

memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. Akibatnya pusing kembali diperolehnya. Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. Tak terasa telah lewat tengah malam. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Walaupun belum selincah Troll. Tidak lebih. Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka. tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh. Setelah beberapa kali mencoba. Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya. Mereka juga memakan satu setiap orang. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Pada suatu jalan darah tertentu. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya. Dilepaskannya pegangan dan pijakan. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu. Paras Tampan pun telah lelah. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. Tak ada jalan lain. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya. Para Troll tampak berganti kelompok.

”Hmmm. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Gerakannya ringan. Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. untuk kemudian Mengheningkan Cipta.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. BAGIAN 4. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Sedangkan temannya berambut pendek. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. sosok ini pun senang tersenyum. Wajah . berabe nih!” gumam Paras Tampan. bagaimana aku dapat mencapainya. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan.198 dataran batu itu. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya.

” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas. ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es.” sambil ia membungkuk sedikit.. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi..” kata orang yang berambut pendek itu. Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga. ”Hmmm. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua. Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api.” jawab Rawarang. mengapa perlu meninggalkan pesan. mana mungkin ki sanak berdua akan datang.” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi. atau jika tidak ada. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. ”Rawarang. ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab. Lalu jawabnya. menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu.199 sosok ini tidak seperti kawannya. kami harus menuliskannya dahulu. Petapa Seberang.. ”Jika memang maksudmu demikian. memberimu kitab ilmu-ilmu kami.. Benar-benar suatu sifat yang jumawa. Ia lebih serius terlihat.. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya. Sebelum menjawabnya. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” . ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.. seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. ”Maafkan saya.

itu jadi susah. mau apa engkau dengan kitab-kitab kami. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah. tapi tidaklah jahat.” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai. Baik orang-orang yang terlihat berduit. ”Jika tidak memberikan. sehingga ada alasan untuk membalas. ”kalau begitu jelaskan dulu. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana.” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. Lalu katanya. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota . Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang. Walapun besar dan megah. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut... ”Ya.200 BAGIAN 4.” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum.” jawab Rawarang masih jenaka.

akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. Dan ini sudah tentu terbatas. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya. Mirip dengan buku harian dewasa ini. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. seperti waktu bercocok tanam. Kebiasaan membaca. tidak akan ada buku yang bisa dibaca. Pun hal-hal yang berguna. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya.201 kecil. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- . jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut. Di negara itu. Jika tidak ada kebiasaan menulis.

Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad.202 BAGIAN 4. sampai memanfaatkannya. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. dan apa-apa yang mereka lakukan. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. Melalui cara ini. amat takjub pada kemegahan itu. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. Dengan cara ini. Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. Dari membantu melengkapinya. seorang anak dapat melacak nenek moyangnya. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . Buku harian. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. dapat dilakukan penghibahan. Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. Dengan perantaraan buku-buku itulah. Tidak dibawa pulang. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya. umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. Ayahnya yang seorang pedagang perantau.

digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . Bakat sang mantan pencuri itu. yang tidak mau memberitahukan namanya. Buku-buku yang terlambat itu. Semahir-mahirnya tupai melompat. Jangan seperti gurunya. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. suatu saat jatuh juga. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. ilmu alam dan bahasa. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat. Dari penjaga perpustakaan ini. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. termasuk di dalam istana kerajaan. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri.203 membekas sampai ia dewasa. ilmu kanuragan.

”jika diminta begitu saja. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan. Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai. Lalu kata seorang dari mereka. ”Saya tidak punya jalan lain. Tetapi tidak begitu caranya.204 BAGIAN 4. ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar. atau tidak mau menanggapi saya. apabila tujuan dari Rawarang ini benar. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini. engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. ”Sekarang. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan.. Memang menurutnya.” ”Dan sekarang. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas. pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri. . Para pesilat atau sastrawan.” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang. atau setidaknya melawan dirinya. ”jadi maksudmu. agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. Sebaik manapun suatu tujuan. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya.” jawab Rawarang. Umumnya saya menang.” tanya Petapa Lain Pulau. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya. jadi susah. Rawarang.

. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu.?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang. ”Hey. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. Walaupun wajahnya masih pucat. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka. Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka. Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. mau tak mau. Merasai Hawa Pelajari Ilmu. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh.” gerutu Petapa Gunung Es. didasari rasa kemanusiaan. tiba-tiba ia bergerak cepat. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam. kedua petapa itu mengobati Rawarang. apa maksudmu.. dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya. karena luka dalam yang dideritanya. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah.. ”Buk-buk-buk.!” terdengar bunyi pukulan keras. adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya. Ia dapat kembali membuka matanya. sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang.. berusaha ia .. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu.

Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan . Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api. Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai. ia tidak memiliki siapa-siapa. kena juga kalian diakali bocah nakal ini. Wajahnya tampak lebih muda. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan. kakak Lain Pulau. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun. Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut. Tak perlu katakata diucapkan. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau. Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu.. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. Petapa Seberang. Mengambang tapi jelas. kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu.. Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu.. paling muda dari ketiga petapa tersebut.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka.. Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. Petapa Seberang. Bajunya juga sederhana dan kasar.. Petapa Seberang hanya bisa tersenyum.206 BAGIAN 4. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. Dibiarkannya tergerai saja. ”Kakak Gunung Es..

Keduanya pun mengangguk tanda mengerti.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Ramai sekali suasananya. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. Tanpa bicara. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. Lima enam anak tangga sekaligus. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni. Menggirisi apabila menyaksikannya. sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . Rawarang si Maling Kitab. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara. Menuju atas. Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. Ada hal yang lebih penting. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Gunung Hijau. Hampir habis tenaganya. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Zig-zag ke kanan dan ke kiri. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu. Menuju suatu tempat di atas sana. Petapa Seberang bergegas menaikinya. Cepat dan pesat. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Rimba Hijau. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki.

Secarik kain panjang. jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Sudh cukup untuk dituliskan. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang.208 BAGIAN 4. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. Sebelum ia mencapai lereng puncak. Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Pada sisi kirinya. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. . Cepat dan lembut. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Lebih baik diikat saja. Masih ratusan lain yang menunggu. Membuat udara terasa basah dan segar. Sosok itu. Tiba-tiba pandangannya gelap. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi. Rawarang tersenyum lemah. agar ia bisa cepat memanjat ke atas. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Seakan-akan tak ada bobotnya. seorang makhluk Troll muda. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. Doyong dan bergerak jatuh. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat.

Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang.” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia.. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak. . adik Bagadsh. Ilmu Tiga Petapa. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila.. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. ditampiknya dengan lemas. Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun. Juga kaki-kakinya. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang. Penulisan kitab itu pun berlangsung. kitab ini harus diselesaikan. Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. lalu lanjutnya. ”tapi itulah diriku. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. judulnya.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. ”Tak banyak lagi waktunya. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah.

Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana... Memeluknya. Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Semakin lama semakin lemah. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan. Ia tidak in- .210 BAGIAN 4. Juga semakin lama semakin miring ke bawah. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma.. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan. sebagai bagian dari kalian... Berangkat ia menuju suatu ruangan. Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir.. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana.” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu. selamat tinggal. Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka. sang makhluk Troll. Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. Membangun perpustakaan di tanah ini. Bagadsh. Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana.. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi. ”Adik Bagadsh. Tangannya pun terkulai lemah. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju. Meneruskan cita-citanya.

Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut. Ia hanya memandang sayu mereka. demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini. mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. akan tetapi dapat mem- . ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik. Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka. akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh. Dan menunggu. Lebih banyak bertahan. Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Hanya tak dimengertinya. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu.

Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. kitab karangan ketiga petapa.212 BAGIAN 4. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. . Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu. agar dimakamkan pula di sana. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Jika tidak tekun merapal ilmu ini. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain. dan tidak sempat mengamalkannya. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe. atau keturunan-keturunannya. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug.

Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar. Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula. akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. hanya pesan mereka kepada Bagadsh. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. . yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu. Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu.213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang.

214 BAGIAN 4. kira-kira dua . Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat. Terduduk dalam capainya. Paras Tampan pun kemudian bermimpi. Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi. Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Hanya saja sekarang lain rasanya. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat. Seakan-akan tanpa celah. melainkan memang begitu adanya sejak lama. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. Walaupun demikian secara tak sengaja. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan.

orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. dan di- . Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. Lambang Tanah. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. Entah apa yang menyebabkan hal itu. Setelah cukup dekat. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. Setelah itu ia pun kembali menghilang. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Tak ada kata-kata di antara mereka. Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. meminta agar Paras Tampan mendekat. seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya. Diletakkannya di atas telapak tangannya. Bagadsh. Batu itu terlihat menempel. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama. Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. Entah apa. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu.

sehingga efesien pemanfaatannya. yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. Ini bukan menjejak. Paras Tampan pun mengiyakan. Lalu ia berdiri. Terlihat sedikit hasil. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Paras Tampan pun mencoba lagi. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya. tapi menempelkan benda.216 BAGIAN 4. Bermacam-macam warna dan ukuran. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Lama dan stabil. Kali ini berhasil. orang itu menepuk bahunya dari belakang. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah.

orang itu menunjukkan hal lain. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. Kemudian. Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. Demikian pula untuk mengapungkan batu. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya. Batu itu menempel. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik. ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu. Naik terus sampai dua tombak lebih. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah. Diambilnya sebutir batu sembarang. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. Lebih jauh ke bawah. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu. Hal yang dilihatnya seakan-akan . Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. seakan-akan mengatakan cukup. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali.

Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. Setelah mengurangi tenaganya. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu. Mengambang dan liar. ingin bergegas menjadi gas. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir.. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Rupanya dalam posisi duduk tadi. uap air. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh.. Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. dan. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya. Padangannya tiba-tiba gelap. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. Sampai di akhir jurus ke sepuluh. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali.. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. ”Dukkk. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian . Benar-benar pukulan yang mengerikan. Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari. Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini.. seperti halnya air yang mendidih. Liar. batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah. yang merupakan salah satu kelebihannya. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan.!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar. Kembali mati seperti keadannya semula.218 BAGIAN 4.

Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. Pukulan Badai Pasir. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya.!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan. Perlahan. belum terisi oleh Tenaga Tanah. Cepat dan keras. ”Kecipak. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi. tampak sebongkah es terbentuk mengambang. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu. Setengah hari pun lewat. Sakit. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. Tapi tanpa batu.. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut. Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti. baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya.219 jatuh membentur dinding di sampingnya. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan . untuk menarik dan menolak benda-benda padat. walaupun masih kaku. Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. Tiba-tiba ia mengerti. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. Dilontarkannya bongkahan es tersebut. Teringat ia kembali akan mimpinya itu. Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali. Masih berupa gerakan saja.

220 untuk berterima kasih. Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut. Para Troll sudah berganti kembali penjagaan. melainkan harus langsung. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. BAGIAN 4. Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. Sunyi. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu. Akhir hari kedua. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. Hari pun telah menjelang senja. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Saatnya untuk sedikit beristirahat. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. Perlahan-lahan.

Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. . *** Pagi telah datang. melingkarkan tubuhnya dan tidur. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. juga siasat yang diaturnya. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. Saat ia bangun. Paras Tampan pun segera berdiri. Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara. Benar-benar tidur.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Hampir-hampir ”terbang”. tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. Pemuda itu menggeliat bangun. Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Digerak-gerakkan tubuhnya. satu tahun lagi. Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Percobaan terakhir. Tidur enam jam sudah cukup baginya. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. Semangat mulai mengisi tubuhnya.

Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini. Satu tidak cukup.!!” hentaknya. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut. Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar. . agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini.222 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya.. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air. Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana. Ia menegadah. Ia akan mulai menyerang para penjaga itu. Salah seorang dari mereka mempersilakannya. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya.. Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. ”Heghh.

!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas. Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah. melainkan langsung dengan serangan langsung. .. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat. Kembali dengan cara yang sama. tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. ia melompat. melesat menuju lubang itu. Hampir habis tenaganya. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu. Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu.! Masuk ia ke lubang di atas sana. ”Tak-tak-tak. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang. melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata. Dan ia berhasil.. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan. sampai sekepalan tangan.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus.

Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. ”Majulan terus. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun. Bisa dari depan atau belakangnya. Dan lebih terang. Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas. Ikuti jalan itu. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya.224 BAGIAN 4. Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit. Lamat-lamat terdengar suara. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Di sana.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. Hampir habis waktu ujian. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. ”Bagus nak Paras Tampan.” Sunyai sebentar. Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. . Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. Dan anak telah berhasil.

Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. kadang juga sedih atau gembira. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding. Melihat kebingungan Paras Tampan. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab. Ya. sekarang setelah engkau berada di tempat ini. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau.225 Setelah dekat dengannya. Petapa Gunung Es. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. ”Nah.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya. Engkau mem- . Kerangka mereka belum tinggal tulang. Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu.” jelas Troll tua tersebut. ”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana.” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. Paras Tampan menggelengkan kepalanya. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Kadang tegang.

Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut.. Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya. tidak dibatasi. Terli- . Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. Bila mereka telah tiada. untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab. Tidak mengulangi kesalahan yang sama.” jawab Paras Tampan sopan. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu. Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat.” ”Sejauh yang saya bisa. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. ada satu permintaan padamu.” jelas Bagadsh. ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. ”Aku Bagadsh. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang.226 BAGIAN 4. Dan kemudian kembali diam. harus ditinggalkan di sini.” kemudian lanjut Bagadsh. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini. nak Paras Tampan. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu. Satu jurus dapat dilakukan cukup lama. Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya. Untuk waktu pembelajaran tersebut. memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. Kitab yang asli tidak boleh dibawa. ”ku harap engkau mau mengabulkannya. Di Katakombe itu. Ki Bagadsh. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu..” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. Terserah ia. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang. baru kemudian menyerang dengan cepat.” ucap sang Troll tua.

Stamina sudah menurun.. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali.227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya.. Sudah cukup lama mereka bertanding. trangg. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut. Lain . Asap. Misbaya dan Rintah. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat. Gentong. takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda.!” ”Tringgg. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. Ya.. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Cermin Maut. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya. *** ”Hiattt. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya. Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu.. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka. Bahkan setelah sang kakak meninggal. Akan tetapi sayang. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia. Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut.. Rimba Hijau diserang.

” Ki Tapa sendiri tampak tegang. di Kota Luar Rimba Hijau.. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja. . ”kita yang baru turun gunung saja. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka. Akhirnya dengan siksaan-siksaan. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak. diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan..” kata Misbaya.228 BAGIAN 4. Akibatnya fatal. dan bukan untuk orang-orang dari seberang.” sanggah Rintah. ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini. Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang. Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang. ”Ya. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Masuk sampai ke pondokannya. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini.. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau.. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba.

229 ”Tahan.. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda.” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya. ”Ki Tapa. Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya.. Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami.. Sabit yang dibawanya.!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara. Kami masih mencari siapa yang melakukannya. Kakak Naga Geni telah berpulang lama.” ucap Ki Tapa. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti.. Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua.!” ”Benar. sampai tidak mengenai kami.. itu sudah cerita lama.!” tiba-tiba melayang seorang lain.. kemana saja engkau selama sini orang tua. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu.!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah.. Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami. ”sejauh yang saya dengar. menunjukkan perangainya yang kejam. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat.. Cermin Maut. ”Hik-hik-hik. saya Ki Tapa. ”salah satu pewaris Petapa Seberang. Dibunuh orang. ”Maaf bila kami tidak tahu.. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik.. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya.. ”Jangan berpura-pura. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian.. Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya. bila saya tak salah.” tawanya sambil menutup mulutnya. Hanya orang- . salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah.

Tak terasa dileletkan lidahnya.. Lain pula dengan Cermin Maut. Tanda racun yang amat ganas. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau. ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya.” jawab Sabit Kematian tak sabar.. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh. telah melayang seorang lagi dari mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan. Memuaskan dahaganya. Rimba Hijau. Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat. tulang baik. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya. Belum sempat Ki Tapa berbicara. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan.. ”kita bunuh saja semua. kakak Mayat Pucat.!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian. ”Jadi. baru kita geledah hutan ini. Orang itu Sabit Kematian. Mayat Pucat. ”Tak usah banyak bicara.” ... Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan. berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya. Badannya agak tinggi. Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini.” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya.230 BAGIAN 4. ”Maaf Ki Tapa. Wajahnya kurus putih pucat.!” ”Anak baik. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman.

Setelah Cermin Maut. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka.. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. . seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. ”Hmm. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. mari kita pergi. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. Pertempuran itu berlangsung singkat. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka. terlihat sudah ketimpangannya. Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. mereka telah menemukan sesuatu. Asap kekuningan tampak mengambang perlahan.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Mereka menyerang dengan ganasnya. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang. Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu. Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu.

PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi. semua orang. Angin pun berhembus pelan. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta. ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya. Sayang terlambat untuk mencegahnya.. Tak usah dibalas. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya.232 BAGIAN 4. saat akan memakamkan mereka. bagi. Tapi tegakkan saja keadilan. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat. kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya. Moreng.. tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. Lukanya telah cukup parah. Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi.. ”Coreng.. Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng. Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. Kembali ke suatu tempat. Jauh di pinggir lapang sana.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu..” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak . Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan.. Sunyi. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana. Hawa kembar mungkin bersatu.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang.. Urusan manusia bukan urusan mereka..

Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana. Telah ditemukan apa yang dicarinya. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini. Lusuh dan buram warnanya.. Membantai hampir seluruh penghuni kota itu.233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya... Sabit Kematian dan Mayat Pucat. Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya.. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya. sampai ditemukannya suatu halaman. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu. ”Ini. Beranjak ia kemudian ke arah meja . Di luar sana.” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku. Raut mukanya berubah gembira. melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian.. Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut. *** ”Guru. ”Hmmm. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. Sampai suatu saat ia berhenti. Cermin Maut.!” Tampak sang guru termenung sejenak.

.” tunjuknya dengan bersemangat. Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu.. terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang... Dihempaskannya buku itu ke atas meja. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama. Memastikan apa yang didengarnya barusan. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut. Samar-samar tapi jelas terdengar.. Kehidupan akan mulai muncul kembali. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya. ”Ini. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada. ada di sini. Gurun Besar. itu suara air.. dapat disebut ruang.234 BAGIAN 4. Lainnya kering..” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya.. ”Betul. Rujukan menciptakan ruang . Bekas sungai yang kering saat kemarau.” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya. Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan... Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu. ”. Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka.” katanya gembira. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat .. apa yang engkau tanyakan tadi. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang. PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada. memang benarbenar telah mendarah daging. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya. apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan. ”Mari kita jelang.

Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi. Perlahan dengan mendesis pelan. Dibebaskan dari tapanya. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. terbentuk dari tiada menjadi ada. Aliran itu mengalir cukup aneh. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. Ke tengah-tengah Gurun Besar. Tidak seperti saat ini. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. Air. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Benarbenar mengharukan hatinya. Suatu pemandangan yang indah. Ke suatu tempat di tengah sana. Umumnya bila ia ada di sana. Air mengalir pelan tapi pasti. Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan. Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. Entah ke mana. . Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Menikmati semua itu. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Orang tua itu berdiri diam. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya.

PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya. Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan. ”Ya guru. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu.” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang..” jawab sang murid hormat. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu.” Menarik napas sebentar orang tua itu..” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. Alami terbuat dari batu. ”Muridku. Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu.. Anggota keluarga Pratahu. Kemudian lanjutnya.. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya. Tersusun secara alami.. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- . mengelilingi satu yang besar. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan. Sembilan buah semuanya.236 BAGIAN 4. Muridnya si anak muda duduk di sisinya. Pratahu dikenal orang-orang.. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya. Mencari paman dan sepupumu. Hening.. di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya.” panggil orang itu perlahan. mengendalikan sesuatu dengan pikiran. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja. mendengarkan yang tak terdengar. Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. Lalu ia menutup mata sebentar. Lebih rendah dari batu pertama tersebut.. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan.. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. sudah saatnya. seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya.. Delapan yang kecil. Di atas bangku alam yang lain. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu.

Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. Sang senopati yang kemudian menjadi raja. Lain tidak. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas. Sang raja yang baru itu merasa takut. Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. Korban dalam pihak tentara saja. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. Dengan alasan ini raja yang baru. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. untuk sama-sama dihabisi. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa.

Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). Bisa anak laki-laki. Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. Ia hanya harus berkelana. Bila telah yatim piatu lebih mudah. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. Terjadilah bencana tersebut. Keluarga Semesta. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta.238 BAGIAN 4. kadang-kadang hilang tertelan pasir. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. Bisa berada di tanah ini. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan. Gurun Besar. bisa pula anak perempuan. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Pada suatu malam. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. Bisa berasal dari suku yang sama. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. Hal ini harus dicegah. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya. bisa pula di seberang pulau. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. bisa pula berbeda. tinggal diambilnya sebagai murid. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi. sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul. Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut.

Sampai saat ini baru ada empat orang... ”Jadi guru.” ucapnya sambil bersujud. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. Bukan ayah akibat pertalian darah.... Rahasia telah dibeberkan. Seh Pratahu hanya mengangguk. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar.. Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta. Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya. melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. ”Ayah. Menurunkan ilmu-ilmunya. Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya. adalah ayahku dalam keluarga Pratahu. Ia kini punya seorang anak. pemuda itu pun berlutuh. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa. Dialirkan . Sampai lewatnya Seh Pratahu. Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak. Terbersit pula rasa haru di dadanya. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka. ”Anakku. Mendengar pertanyaan penuh haru itu.. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu.239 bang satu persatu melalui cara ini. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah..” ucap anak muda itu tersekat. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok. Menggapai si anak dan menenangkannya....” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu.

” tanya anaknya tak mengerti.240 BAGIAN 4. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan. Sarini. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya. anakku. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya. ”Ayah. jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga. Tapi itu dulu.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu. Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . ”tak mudah untuk melakukan hal itu. Dikarenakan lihai dan juga kejam. *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru. Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa. walau mereka baru saja tiada saat itu. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini. Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. Engkau pada awalnya adalah orang asing. PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya..” Lalu lanjutnya. Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang.. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih. Sambil tersenyum sang ayah berkata. ”demikian pula dengan aku. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. Telaga. Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu.

Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak. Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut. Mengambang. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat. Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. Hening. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana.. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah. ”Itu makanannya datang. . ”Mari.241 yang dalam dan gelap. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain..!” Walinggih sambil menggapai Telaga.” tunjuk Walinggih pada muridnya.. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya. Seperti makhluk hidup. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka. Bukan uap air atau pun butiran air. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu. Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain.

Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya. ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu.!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu. guru!” sahut Telaga lirih. keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg. Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya.242 BAGIAN 4.?” ”Ssst. ”Apa itu guru. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. beterbagangan. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya.. Kadal Pelangi (Agama agama). supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu.. Benar-benar indah. Anehnya mereka dapat . ”Jangan ketahuan. Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya. Memangsanya. Kadang ada yang sampai berjungkir balik.?” tanya Telaga. yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air.. Warna pelangi.!” ucapnya. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara. muncul makhluk hidup lain yang amat aneh. yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu.. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya. Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah. ”Maaf. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana. Mereka bergerak-berak.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi..

Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu. Melombat ke atas dan kembali. Lalu lanjutnya. ”Gerakan mereka. Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan. guru. Walinggih pun beranjak pergi. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. ”tapi ada yang membingungkanku. ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. . Mantap dan kokok. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik. Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. Entah bagaimana caranya.” sahut Telaga pendek. melainkan miring. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. Di atas batu kecil yang lain. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas.” terang Telaga.” ”Apa itu?” tanya gurunya. terjadi hal yang sama. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. ”Indah. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula.

ia kembali melompat pada arah yang berlawanan.244 BAGIAN 4. Mendarat dengan kakinya kembali. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk. dalam ilmu Pedang Panjang. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu.” jelas gurunya. Dan berjungkir balik kembali.” katanya jenaka. ”Guru. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara.” ”Kupikir. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat. Bagian dari ilmu Pedang Panjang. Akhirnya Walinggih pun berhenti.. Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama. ”Sabetan Tunggal Menuai . barusan tadi. benar-benar lebih dari itu.. Yang barusan guru tunjukkan. Walinggih melompat ke atas terbalik. ”Sebenarnya juga tidak. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi. Pelan dan teratur. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara. hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh. Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas. Menyentakkannya kembali ke belakang.” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi. ”Gerakan itu kunamai. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu. Dan pada suatu saat. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali. akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi.. Dan tidak hanya itu. sempai hampir habis napasnya.” ucap Telaga kagum. setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa.

Setelah bisa. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi. Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. sehingga dapat membingungkan lawan. baru perlu pemahaman teoritis. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya. . Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna. Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut.” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. karena sebenarnya hanya memutarnya saja.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Dicobanya menirukan dan melakukannya. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. Membelokkannya pada arah yang berlawanan. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya. akan tetapi memanfaatkannya. ”Mari. Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya.

sehingga menjadi lebih teduh dan gelap. Tidaklah bisa disebut hutan. PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang.246 BAGIAN 4. Matahari telah tinggi di langit. Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan. Waktu untuk mencari makan. . mereka menangkap binatang-binatang yang ada. karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya.

Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga. haruslah pula berpisah. Sudah waktunya pula kita berpisah.” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya.” ucap Ki Sura. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari. Dan ini memang kehendak suaminya. Dan anak ini. Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. Entah kapan mereka dapat bersua kembali. Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu. ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 . nak Lantang. Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ.

nak Lantang.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. ”Tapi guru berdua. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya. Rimba Hijau. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya.. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka.. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri.. bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. nak Lantang. ”akan . Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air.” jawab Ki Sura gembira. tak perlu engkau kuatir. Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga. ”Kamu tahu ’kan. Adik dari Telaga.” jelas Ki Sura. ki?” tanya Lantang.” Nyi Sura yang menyahut. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’.” Ki Sura berusaha berkata arif.” ”Engkau memang cerdas. Kemungkinan gurumu bertandang ke sana.248 BAGIAN 5.. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. ”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu. ”Kami akan baik-baik saja. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau.

sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam.” terang Ki Sura. apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri. yaitu air.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu. kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. Tapi tidak untuk semua gerakan. ”Jadi bagaimana rencanamu. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita. Mengenai hubungan dengan gurumu. ternyata bisa. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya.” Mereka kemudian terdiam sejenak. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu. ”Saat itu kami bertiga. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni. udara dan api. ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua. tanah. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura. akan tetapi keduanya. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. kami tidak tahu. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . Entah di awal-awalnya.

Ada suatu sebab. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut.” senyum suaminya. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. karena hal itu tidak baik. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga. Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. Pagipagi sekali. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya.250 BAGIAN 5. Selain itu Ki dan Nyi Sura. Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. Pulau Tengah Danau. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya. . Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya. Jangan mencari-cari masalah. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. walau di dalam bawah sadar. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana. yaitu Xyra. tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka. Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri.

Berlatih dalam mimpi Lantang. Aneh. Biarlah pikirnya. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Dan mereka dapat kembali bersua. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. Ki dan Nyi Sura. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. dikerahkannya suaranya. Akhirnya ia pun duduk terpekur. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu. Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. Tapi tidak ada sahutan. Dengan kerja sama ini. Suatu saat ia mungkin kembali. Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. Barang-barang miliknya tidak banyak. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi. ini pun lebih baik. Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. sehingga tidak dibu- . Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. yaitu melalui mimpi.

”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik).252 BAGIAN 5. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu. lama ia berupaya berkonsentrasi. Menjadi es. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu. Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- . Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya. Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti. ”Tapi ayah. *** ”Anakku Nah.” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran. sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. Batu itu tambak bergerak sedikit. berputar. Membuat api. Tidak berhasil. Belum selesai dengan demonstrasinya. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. Dari buku-buku yang dibacanya. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja.. Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen. membekukan air. air dalam gelas itu telah membeku semuanya. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi.. Alih-alih mengalir. mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu.

semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. Kadang orang tidak . Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda.” jelas sang Ayah. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya. Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya. Unsur Api. kira-kira empat jari di bawah pusar. yaitu Unsur Air. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu.253 gujar Tua. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. ”Pada prinsipnya sama. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. ”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. Suatu tandon sumber tenaga. Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya. Unsur Angin dan Unsur Tanah. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah.

YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. ”Caranya tidak terlalu sulit. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya. Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. tidak menyukai warnanya. Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. ”Lalu bagaima cara kita melatihnya. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran. maka anak kecil tersebut akan menangis. walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih .” jawab Seh sambil tersenyum. ayah?” tanya Nah amat tertarik. Lalu lanjutnya. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. Pamanmu yang lebih banyak tahu. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak. karena lawannya telah keder duluan. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan.254 BAGIAN 5. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. akan ayah ajarkan. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding.

Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya. dan sebaliknya.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya. Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda. boleh dikatakan pelangkapnya. Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita.” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana. Ditunjukkan pula beberapa cara.” jelas Seh pada Nah. Hal-hal lain di luar itu. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap).” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan. . ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda. nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat.” jelas Seh pada Nah. antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia). atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur. Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna.

YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. Kadang teratur kadang liar. Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . ”Nah sekarang latihlah. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. Bila dirasa cukup pembayangannya. Juga ingat-ingat akan warna padanannya. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja. Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya. Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya.256 BAGIAN 5. Napasnya pun mulai terengah-engah. jauh lebih panjang. Dan tidak disarungkan. ia pun melakukannya. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya.

siapa. Terpaksa Telaga pun mengelak. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya. Mundur dan mundur. Bertangan kosong. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya.. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya. apalagi menggunakan pedang panjangnya. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. ”Hei. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya. Menuju jalan darah penting ditubuhnya. Tapi Telaga kecele. Dengan indah alih-alih mengelak.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga. Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang.. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai.

Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Pedang tersebut melesat dengan kuat. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung. pedang panjang tidak ada gunanya. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. sudah dihentikan. Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Mungkin panjang rambutnya. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. Pada jarak seperti itu. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu.258 BAGIAN 5. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya. Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu.

rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. janganlah permainkan aku. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . ”Sarini. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga. Darah mudanya pun sedikit bergolak. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Saat itu tersadarlah Telaga. mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap. Terbanting. Telaga terkunci. Akibatnya sudah dapat diduga. ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. Sarini putrinya. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Tapi kemudian katanya. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Lalu katanya.

. Sarini telah mengambil posisi rapat. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. cukup mengelak tipis. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya. Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Gadis ini benar-benar berhati harimau. Hasil yang mirip diperoleh. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya. ”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. Masih belum menyerang. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi. Karena lama tak membuahkan hasil. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. di mana Telaga akan mendarat. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. Sarini bergerak cepat. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan. Ia tidak banyak bergerak. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini.260 BAGIAN 5. Tidak banyak ia bergerak. Terlentang. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat.

Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh. ”tak tahu guru. tidak untuk jarak dekat. ”Nak Telaga. Setelah mereka berdua berdiam agak lama. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini. Ia telah lama berada di sana.” Orang itu ternyata adalah Arasan. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang . ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana.. bila itu tadi adalah Walinggih. Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya.” jelas Arasan. ”Guru. ”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja.261 ”Hehehehe. bertanyalah Arasan pada Telaga.. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana.!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya. Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya.!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu. Tampak merah mukanya. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh. ”Tahukan pula. kena engkau diperdaya Sarini. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya.

agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan. Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. nak Telaga. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya. ”Sebenarnya.” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi.” Telaga terngaga mendengar hal itu. Telaga mengiyakan. Dan memang demikianlah. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain. Bisa kecewa ia nantinya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu.” jawab Arasan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini. ”Menurut saya. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga. Lalu katanya. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. guru. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak . Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. Walinggih. perlahan-lahan wajahnya pun memerah.” begitu jelas Arasan.. ”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak.262 BAGIAN 5. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini.” kata Arasan kemudian.. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut.

. Telaga pun mengangguk-angguk. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga. kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Arasan duduk di samping Telaga. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. Dimasak kira-kira hingga tiga jam. Tak lama kemudian mereka pun berlalu. Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu.” jelas Arasan. merica dan tunas pohon kala. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini.263 terduga. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. mereka pun kemudian mulai makan. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Kedua orang tua yang sedang makan. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Setuju atau pendapat gurunya. Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka. Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya.

Telaga tak lagi dapat menahan tawanya. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini... Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar. tuh! Ini gara-gara kamu sih. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. tidak mau menjelaskan. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah. Sudah empat kali ia tambah. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya. ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. dipegangnya perutnya yang sakit.. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya.264 BAGIAN 5. Terdiam. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah. lihat. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu. ”Arasan. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. pecahlah tawa antara orang muda itu. Sarini.. Dia lebih pakar dari paman.. ”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih. Diupayakan untuk menutup mulutnya.. terlihat salah tingkah.! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu. ”Ayah. Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka. ”Eh. . Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu..” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab. Telaga hanya tersenyum.” jawab Arasan sekenanya. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka.” tuduh Walinggih jenaka.

saat ini telah menjalar ke leher dan telingah. Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan.265 ”Eh. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. berkatalah Arasan. putriku Sarini. rendah hati dan bersemangat itu. Sarini. Seharusnya engkau saja yang bilang. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali... Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. Mereka tidak bisa bicara apa-apa. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. ”Kakak Walinggih. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah. saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. bukannya engkau Walinggih yang mulai. sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. ”Nah. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini. Menjadi keren dan serius. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. Dan hanya satu yang mungkin. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak. Lalu katanya. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus. Ia pun lalu membalas dengan merendah.!” Arasan pun tak mau kalah. ”Adik Arasan. Telaga. dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan . Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan.

!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih. sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga. akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya. Mereka sudah saja merasa yakin. Karena dipergoki oleh ayahnya. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya. mengakulah ia akan hal itu. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga. terserah ayah saja. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam. ”ayah.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini. Setelah berhasil menenteramkan hatinya. Pandai masak pula. Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata.. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini.!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga.. dapat ia merasakan itu.266 BAGIAN 5.. Yang paling terkejut adalah Sarini. . ”Maafkan perkataan saya ini. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu. berkatalah Telaga. karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri.. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan.. ”Hahahaha. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya.. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya.” Kedua orang itu terdiam..

Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini..” ”Ah. Ia hanya bisa pasrah. suka guru. Yang dihubungi merasa gembira pula. ”Hmm. ”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga. di tengah laut. Moga-moga mereka setuju.. Baiklah. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu. Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya. gimana ini.” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega. . ”Saya. ”Eh. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. ”Engkau masih ada orang tua di utara sana. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan. kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini.” usul Arasan. kakak Walinggih. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. Kehilangan keluarga. ”Begini saja. yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat. anak dan istri.. Tadinya sempat perasaannya bergolak.” begitu ujar Walinggih. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini.. Lalu ujarnya.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri. ”Hmm. Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi. Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan.. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini..” jawab Walinggih. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana.267 Arasan pun menghubungi Walinggih. gadis yang diam-diam juga ia sukai. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air.

Telaga ke arah selatan..268 BAGIAN 5. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula. Ki dan Nyi Sura. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya. Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain. ada pula waktu berpisah. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara.. Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua. Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan. Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. Atas usul Arasan. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. Di antara orang-orang yang tinggal di laut. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh. ”tak ada yang kekal di dunia. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. begitu pikir keduanya. Suku Pelaut. Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. ”Ada waktu berkumpul. jauh di lepas pantai.. Dengan atau tanpa pedang panjang... . Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya. Kedua rombongan itu pun berpisah. Sekalian mengenal calon mantu mereka. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain.” gumamnya.

.. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu. Perangainya yang riang menambah daya tariknya. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara. Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau... Buat apa susah.... ninini. trilili.. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung. kera-kera bermain di hutan... dada. Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum. Mirip kuku- . Hal-hal tersebut menarik hatinya... Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu. hihi. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil. Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri. haha. Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja. matahari bersinar cerah.” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang.. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur. didi... Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa. Nanana. Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung. Tralala. resah itu juga tiada gunanya. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah. ”Burung bersiul bersahut-sahutan..269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya. buat apa resah. Untuk menghilangkan rasa sepi. Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur. susah itu tak ada gunanya. bunga semerbak merekah.

teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. manis-manisan dan bumbu-bumbu. Nikmat rasanya. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya. di bawah sebuah pohon yang rindang. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. Di antaranya terdapat dendeng. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk. pun celingak-celinguk. Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. Agak jauh di hadapannya. diduganya bahwa itu adalah seorang .270 BAGIAN 5. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak. Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Lantang. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. pemuda itu. Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. Saat baru turun gunung. Memandangnya dengan tertarik. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya.

Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu. Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana. Kalau tadi bersumber dari perutnya. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. Bunyi kukuruyuk. Cepat. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang. saat ini kelihatannya tidak lagi. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya.. Mirip dengan cara ia datang . Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua. melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah. orang itu kemudian menghilang. Juga guru pertamanya. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. ”Ki sanak yang di sana. Tak bisa dirasakan. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. Seakan-akan mengangguk. Setibanya di dekat air. ”hanya makanan sederhana. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. Pasti dari orang itu. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya. Ada ungkapan terima kasih di matanya.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. Ki dan Nyi Sura. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu.271 yang sudah agak tua. Halus akan tetapi cepat. orang itu telah bergerak ke arahnya. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan. Tua sebelum waktunya. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. Baju yang dikenakannya juga aneh. Serius. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. Sebelah hijau muda.. Bukan karena bahannya yang kasar. Amat cepat.

Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. sahabatnya yang seorang Undinen.272 BAGIAN 5. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. apabila mereka bersua kembali. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Khas pulaupulau delta pada umumnya. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah. Sebuah muara. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Tak lama Lantang pun terlelap. ia pun bermimpi. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin. Kembali dalam posisi siap menyerang. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan. Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. Bukan dari busana mereka. Tidak jelas alasannya. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. Dalam tidurnya. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. Tetapi tidak terjatuh. . Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya.

Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. Keduanya kembali berhadapan. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku. Mengendap ke bumi. Lantang langsung bergerka ke tengah. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. Keduanya ingin mengalahkan yang lain.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Luwes. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Bergerak dengan halus dan cepat. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Entah bagaimana caranya. Maksud ingin menengahi. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Hanya saja saatnya tidak tepat. Berdiri satu di depan lainnya. Lentur dan membaur. Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. Membuang tenaganya dalam satu serangan. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. Keras tetapi tidak getas. Mengalir seperti air. Air. Air. keduanya telah kembali berlaga. Menilik dari serangan tadi. Lantang yang tadi melihat dari jauh. Mencegah pertarungan ini berlanjut. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- .

Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit. tapi belum semuanya. menjadi puing-puing. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan. Lantang berusaha untuk bangun. Xyra. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan. agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. Hancur tak tersisa. Kota Luar Rimba Hijau. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing.274 BAGIAN 5. Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara. Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Tapi tak ada tenaga. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Semampunya. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Pak Tua.

Sedih dan sunyi. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. dan lainnya. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api. ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya.? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. pekarangan di dalamnya. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah. Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya. .. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas.275 dari satu tempat ke tempat lain. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. Gentong. Misbaya. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. Ya. Suatu perguruan beladiri.

Tak terkecuali sosok perempuan tua itu. nak Paras Tampan. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat. yaitu Kirani dan Rantih. sesosok orang tua menyapanya. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu.. ”Nak. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu. Setelah cukup lama termenung.. Guru mereka semua. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. Saat terjadi . Coreng dan Moreng. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung.. akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Paras Tampan hanya dapat mengangguk. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa. Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Nyi Antini. Sebagai suatu penghormatan saja. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu. Ia tidah tahu harus berkata apa. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya. Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada.?” tanya Paras Tampan sekenanya. kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka... ”Bibi Antini.. Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya.276 BAGIAN 5. bagaimana kabar Paman Baja.

Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau. untuk membuka jalan di Rimba Hijau. Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas. menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. Disuruhnya istrinya. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. ia dipaksa ikut oleh mereka. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Nyi Antini pun melaksanakan hal itu. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang. sedangkan suaminya hilang entah ke mana. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan. begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . Berendam semalaman. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya.277 pembumihangusan itu. Dingin dan basah. Patuh pada perintah suaminya. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi hal itu tidak digubris. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Nyi Antini untuk bersembunyi. Akibatnya ia selamat. Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu.

Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini.” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. Harap-harap itu Ki Baja. Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. Tangannya mengepal keras. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu. Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita.. Memerah. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. Menyebarkan amis darah. Mengeras. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. nak Paras Tampan.. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup.” Nyi Antini berhenti sebelum . Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Sesosok mayat dengan luka di mana-mana. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu. Wajah Paras Tampan tampak membeku.. Nyi Antini. ”Ada satu hal lagi. Bertambah satu pula tugasnya. yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang. Tiba-tiba ”byurr!!!”. ”Maaf nak Paras Tampan. Lebih tua dari umur sebenarnya. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab.278 BAGIAN 5. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya. dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih.

. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan. Untuk menghilangkan jengahnya.. Janganlah nak Paras Tampan kuatir. Belum menikah. ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya. ”Tunanganmu. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban.” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini. . Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya. hanya saja pindah. Tapi terselip pula rasa yang aneh. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah.” ucap Paras Tampan sendu. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng. memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah..279 melanjutkan.” ”Katakanlah. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah.. bibi. Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah..... Gembira ia mendengar kabar ini.” jelas Nyi Antini. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi. ”Bibi.! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Citra Wangi masih sendiri. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu. Citra Wangi. Ki Rapih. Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu. ia pun berkata.

. Entah mereka sadari atau tidak. menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu.. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman. Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua.. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara. Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. ”Hmmm. ”Hatihati.. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya. Racun. Mereka berarah ke utara. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda.” jawab sang gadis jenaka.” terang orang tua itu. Batubatu ini terlihat tidak wajar. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan..” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya. Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana. tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. racun hijau.280 *** BAGIAN 5. Langkah keduanya ringan dan mantap. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna. ”Tapi apa bahayanya. Rupanya ia murid sang orang tua. Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur. Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas. .

guru?” ”Hehehe. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya. terdapat warna-warna merah. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu. ”Kalau penawarnya sedemikian mudah.. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya. Lihatlah di sekitarnya. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok. ”Tidak semudah itu.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya. . Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. tentu saja ada. Tangannya diletakkan di depan bibirnya.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya. Tapi spora ini lain. muridku. muridku. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. ”Ada penawarnya. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan. Dan amat mudah. ambil dan remas-remas dengan jarimu. Ada pengujar tua yang pernah berkata. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi. ”Ini. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras. ”Engkau benar. Itulah alam. karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu.” Kata-katanya tidak diteruskan. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi. Amat indah dan seimbang. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara.

Ia telah berubah. boleh juga ditinggal. kalian telah melalui wilayah kami. ”Maaf. Pasti itu suatu yang berharga. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya. Tetapi tidak saat ini.” bentak teman si brewok. Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. Sekarang semuanya enam orang. ki sanak sekalian. Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung. ”Hehehe. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu. ”Guru. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Dan yang cantik ini. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar. Batu Lumut Hitam. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya. ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu.” ucap orang tua itu masih sabar. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang. Mengepung dari kedua arah. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. bagaimana ini?” tanya sang murid.” ucap salah seorang brewok dari mereka. Hanya bekal makanan dan baju pengganti. .282 BAGIAN 5. Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang.

orang seperti ini tidak boleh diberi ampun. orang tua?” tanya balik orang itu. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa.. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid.. Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka. Hampir dua kali panjang pedang biasa. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak. apa maksudmu. ”Pak tua. kainnya langsung terbuk.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu. Dua buah pedang panjang. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut.. pasti mereka tidak akan memintanya. ”Hey. ”Engkau ambil tiga yang di depan. Sisakan satu untuk penunjuk jalan. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu.. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya. salah seorang penghadang menghardiknya. Salah seorang dari . Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya. ”Heh. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi. cepat serahkan bungkusan itu. yang langsung dengan sigap menangkapnya. apa maksud kalian. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. lalu katanya lirih. Jangan lama-lama. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat. Dua buah pedang panjang. jika talinya ditarik. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya. biar aku yang di belakang. Menyerang.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain.

”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali. Tenangkan dirimu. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Bukan hanya itu. Lalu kata si orang tua. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya.” kata seorang dari mereka.284 BAGIAN 5. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu. Bangsa Penghadang. Lalu katanya. Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya. Kedua orang itu. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa. melainkan para perampok jahat. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air.” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. Ia telah kupesankan caranya. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. Sang guru dan muridnya. Kemampuan alamiah seorang pemangsa. Walinggih.” . Sekarang jangan banyak pikiran dulu. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. ”Nah Sarini. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia.

Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. Sebelum tahu sebabnya.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Penuh dengan kelembutan. Bila tidak amat disayangkan. tetapi tidak. Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Pagi pun datang menjelang. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. . Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya. Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. Setelah yakin akan panasnya. Lantang telah merasa sehat kembali. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. Ditiupnya sedikit. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra. Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. melainkan untuk menyadarkan saja. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Sebelum Lantang sehat. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan. tak ingin Xyra bersantap. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin.

. Entah apa. Menghadapi Telaga. ”Saudara-saudara perampok. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya. Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya. Bahkan dalam berbagai situasi. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” . Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. Tidak demikian dengan orang-orang ini. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu.286 BAGIAN 5. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. Akan tetapi sekarang lain. ”Cobalah pada mereka. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi.” usul gurunya.. Sarini hanya mengangguk. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya. Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru. Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan. Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka.. semakin besar kemungkinannya untuk menang.

sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Mirip durian. membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan. Nafsu telah menguasainya. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu. Ikuti saja maunya. Seorang dari mereka akhirnya berkata. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. Seorang dari para perampok tersebut. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. bertubuh gembul dan berkulit agak gelap. ”Hehehe. Rakrakrak. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. *** ”Petani ompong she Gu. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya. Repot juga pikirnya. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. Sebilah golok tampak tergantung pada . Orang dengan tenaga kasar yang besar.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Walaupun cukup gemuk. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya. Mau tak mau terasa pula jengahnya. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. tak lama. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana. Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. ”Duh. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. dada yang ranum. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. ”Kakek Gu. Tak terasa ia pun terlelap. Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak. Melihat kekikukkannya itu. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. Cepat. perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . ia pun segera tertidur. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini. Ketawa yang ramah dan hangat. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. merasa dirinya lebih enakan. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya.

para perampok. ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya.. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat. Girang sudah wajah perampok gembul itu. Dan tidak tanggung-tanggung. pujaan hati. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik. ”Pinggang molek. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. Saat berpusing. Sarini sebagai putri Arasan. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya.!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya.300 BAGIAN 5. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita. Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. Lima orang . Akibatnya. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu. Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. kaki jenjang. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka. Bagi mereka.

Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka. Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya. Belum lama.” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya.” jawab Walinggih.. ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. Kami bukan lagi Asasin. Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian.. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu.301 yang lain pun menjadi marah. ”Biar kalian tak penasaran.” kata seorang dari mereka. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya.” Mendengar nama tempat itu. ”Nan. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih. ”Sudah lama. Walinggih berseru. pucatlah keenam orang itu. Desa Batu Barat dan Timur. apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. ”Satu tahun. ”Hehehe. ”tahan!!” ”Orang tua.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu. aku sebutkan satu tempat. mereka . Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya. bisa lega aku memulangkan kalian. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong.. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya.

Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah. Hakim Haus Darah.. Ia telah berubah. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong. juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru. Tangan kecil dan halus milik Sarini. ”Paman. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka. anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya. Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik.. Hakim Haus Darah.302 BAGIAN 5. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. sudahlah. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa. gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua. ingatan masa lalu akan keluarganya. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak..!!” ujar seorang dari mereka pucat.” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. ”Engkau.

” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu. Saya juga baru belajar dari para Troll. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi. ”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu. tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali. ”Omong-omong. paman!” balasnya. tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. Salah seorang bernama Rakrakrak. tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya. paman bisa saja. ”Tidak baik. tenagamu itu boleh juga.!” . Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini. ”Ah. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni.” Hanya itu saja.” ucap kakek Gu sedih. *** ”Maaf.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu.” jelas pemuda itu. mengguman-gumam.” puji kakek Gu. ”Ini juga salahku..” ”Ah. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini. paman. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya. ”Tidak apa-apa. Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya.

apa maksudmu?” ”Ah. ”Nenek Po. Lalu lanjutnya. Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan. tubuh menjadi kosong.. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu. Itu melawan alam. keseimbangan akan terganggu. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam. bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. Ada empat unsur air. Semunya punya isi. ”Nak Paras Tampan. Konsekuensinya berat. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po.” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- .” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. Alam ini terdiri dari materi. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan. tapi dengan perhitungan tentunya. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. tanah. Terutama aliran hawa dalam tubuh. Dengan mengubah-ubah gaya berat. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. ”Anak muda ini. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. Dan semuanya patuh pada gaya berat. udara dan api. nenek Po pun tersenyum.304 BAGIAN 5.” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir.

ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. serta Gu Long sendiri. yaitu Chu Qing Yun. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya. Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). baik dari nenek Po maupun kakek Gu. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita. tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. Selain berbahaya bagi lawan. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri.305 pal ilmu itu. Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. yang menceritakan . bila menggunakannya dengan benar. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. Walaupun demikian. Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah). Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. Gu Long adala seorang yang cerdas. Sekitar 12 tahun.

”Sebaiknya seimbang. lalu rempah-rempah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. ucapan dan pelaksanaan. dikunyahnya perlahan. Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu. Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. Ia hidup tidak bahagia. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya. Tidak cukup kiranya . Gu Long namanya.” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi.306 BAGIAN 5. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. Bila sedih ia minum arak. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. Digigitnya ubi. Itu yang terbaik. Ubinya tinggal sebuah. Ia sendiri pernah mendengar. Kerap sekali sehingga jatuh sakit. apa yang kita tuangkan dalam karya. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long. akan tetapi tidak lama.

307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. Khas kecantikan seorang Undinden. ”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat. Ditunggu saja sambil beristirahat. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. Ada sesuatu yang harus dicarinya. Dan ia menemui Ki dan Nyi . Xyra tampak senang melihat hal itu.” jelas Xyra. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat.” katanya pelan. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. maksudmu?” tanya Xyra. Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya. Segigit pisang dan rempah-rempah. ”Wananggo. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya.” Lantang pun menurut. ”Ia tadi pergi sebentar. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang. Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. Ia mengeluarkan nada tinggi. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan. Tiba-tiba bahunya ditepuk. Pindah mengisi lambungnya. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu.

Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. . ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu. Menggelora jiwa muda. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Keduanya pun terdiam. Setelah menemukan.308 BAGIAN 5. Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. Saat Lantang menderita sakit. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu.

Secarik kulit dicabik halus. ia menugaskan muridnya. Tato. Guratan di atas kulit nan indah. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. Senyap. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. Mengekang nafsu. Dan jiwa pun tenteram kembali. Lega. Ia sekarang bernama Gu Yo. Setelah semuanya berakhir. keponakan jauh dari Gu Ming. untuk disalin dan dikumpulkan. Unbekanteeremit. Menghilang.” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. Menegaskan guratan-guratan mistis. Darah menetes lembut. pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 . Sunyi dan sepi. Menghirup keheningan. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Lepas. Menghela napas. agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak.

kekek Gu.” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak. ”Dulu.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang. Saya mencari keturunan dari orang itu.. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. ”Ya. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya.” bingung pula pemuda itu. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini. ”Tidak sama sekali. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. Kulit yang bertato..” ucap kakek Gu kemudian menengahi. dan kamipun akan merasa lega. ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan.” jawab pemuda itu hormat. yang disayat dari tubuh empunya. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu.. ”Begini saja.” Pemuda itu pun mengangguk. ”Sebenarnya. tak usalah. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang . BAGIAN 6. Terdiam sebentar pemuda itu.” ujar nenek Po ramah.

. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan. ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka. kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya. beda ciri khas tato yang digunakan.” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu. ”Pada jaman itu.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya . budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia). Sungkan ia melanjutkannya.. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata.” ucap nenek Po.!. kakek dan nenek. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu. Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka.. ”Benar. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat.” cerita kakek Gu. yang dianggapnya benar-benar membingungkan.. Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. Orang yang sudah dewasa.311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. ”Bukan.. Setelah tawa berderai keduanya usai. ”tapi berarti..” ”Eh. ”Sebenarnya.. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya.” tambah kakek Gu.” lanjut nenek Po.” tak diselesaikannya ucapan itu. dianggap lengkap bila telah memiliki tato. kami bukan menjadi begal atau mungkin belum.” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini. Beda kelompok.

Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. . ”Dan kakek Gu punya. Lalu sambungnya. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu.” jelasnya. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar. dan boleh dikatakan menawan. ”Ceng-Liong Hui-To. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya. padahal itu adalah tubuhnya sendiri.” kali ini kakek Gu yang menjawab. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga. nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah. TATO ke atas. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato. karena hal itu dianggapnya tidak baik. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali.” lanjut nenek Po.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.. begitu!” jawab pemuda itu. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita.” jelas nenek Po.” ”Oh. ”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya. akan tetapi sebagian lain tidak.312 BAGIAN 6.

agar dihapuskan. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini. Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. main tangkap saja orang-orang yang bertato. di antara orang-orang senasib. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. dan selalu saja berlebihan. . Sengaja mereja menggunakan topeng. pemerintah menjadi kalang-kabut. Alih-alih mendengarkan.313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. anti kemapanan. membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah. Akibatnya jelas. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka. Apa-apa yang tidak dianjurkan.

Dengan membawa beberapa saksi dan bukti. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. Tenang dan damai. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato. Akan tetapi dengan hilangnya. Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah.314 BAGIAN 6. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. . tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. yaitu CengLiong Hui-To sendiri. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Suasana kembali seperti semula. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Untuk mengenangnya. Besar dan gagah. tidaklah jadi hal itu dilakukan. Walaupun telah salah tangkap. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Roda perekonomian kembali bergulir normal. informasi rahasia dan keamanan. mendatangkan kesan masif dan keren. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu.

Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. Lambang elemen kuno udara. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu.315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. tapi tidak ada yang memberatkannya. dan tengahnya dicoret garis mendatar. ia melihat berbagai aneka toko-toko. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. bagai tanpa akhir. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. Jalan batu. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. istri mendiang Ki Baja dari . Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Kepala dari gerbang itu. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan. terpahat pada tengah batang melintang. Gerbang Udara. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Saat hari hujan. tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. Tidak juga kota tempat asalnya. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. kota Luar Rimba Hijau. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. Citra Wangi. Jalan di depannya masih lurus jauh. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. Warna udara dan asap. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. Pastilah itu dia. sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas.

yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora. Bergegas dipacu langkahnya. . yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya.” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. Tapi rasanya bukan ini. saat ia bingung tadi. pikirnya. pedati dan juga kereta tanpa kuda. ”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. seperti ”Pake matamu!”. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri. ia pun memacu langkahnya. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. berkali-kali hampir tertabrat. Akhirnya perburuan itu pun berakhir.316 BAGIAN 6. Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya. karena dialek mereka yang cukup kental. TATO Kota Luar Rimba Hijau. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. Besar dan mewah menurut Gu Yo. Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”.. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya.. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu. Cepat.

dan disapa balik dengan. sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya. Lalu lanjutnya. akhirnya menggapainya untuk ikut. sesuatu yang tidak ia temui di kotanya.. ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. ”Ah. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. Mungkin lain kota. anu. dapat langsung datang kapan saja. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda.?” tanya sang penjaga kembali. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini.... saya ingin bertemu dengan nona tadi. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu. Tak perlu ada janji-janjian segala. ”Eh. itu. . maksud saya. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. sehingga untuk bertemu. orang sedemikian sibuknya.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh...317 ”Tahan dulu. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. anu. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda. lain tata cara-nya. Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu. Janji. Demikian pikirannya menyimpulkan. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya. anak muda!” katanya bersahabat. ”Maaf. Gu Yo tidak tahu. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu. entah toko atau apalah. mereka terlebih dahulu harus membuat janji. itu.

Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya.318 BAGIAN 6. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. Persoalan membuat janji masih asing baginya. kekasihnya dulu. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. Seorang pelayan mengantarkan mereka. dan bertanyalah ia pada Gu Yo. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. nama sebenarnya dari nona Lin. lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”. Untuk keperluannya. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. di kota Siaw Tionggoan. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. keperluannya dan waktunya. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. ia menyebutkan ”Gu Yo”. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. ”nanti sore. sebelum bertemu dengan nona Lin. Kemudia saat ditanya namanya. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin.” saran sang gadis tersebut. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu.

kambing sampai ular dan kelinci. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. sapi. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap. Aku pemilik kedai ini. orang tua itu memang pemilik kedai itu. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing.319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. tapi setelah itu bantu-bantu. pasti kau tidak cukup punya uang. Kedai Daging Bakar namanya. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. masuk saja. suatu suara dalam lambungnya merekah. kerbau. dari ayam. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu. bagaimana?” jawabnya ramah. Setelah berjalan beberapa saat. mari masuk mencicipi!” ajaknya. seorang tua menyapanya. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar.. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan. ”Ah. Kamu boleh makan sepuasmu. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. tapi. Yok Seng. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. ’kan? Ayo anak muda. ”Eh. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini.. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. ”Ayo jangan malu-malu.

” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja. mengingat permintaan yang banyak. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit. sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras.” jawabnya. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. ”Eh.. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu.. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi. ”Eh. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. Gu Yo. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu. Tiada yang tersisia. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. hasil asahan pengalaman yang menahun. saya. benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya. ”Tidak. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya. ”Engkau tidak akan bekerja di sana. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain.. .320 BAGIAN 6. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. Habis. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. tapi telah membuat janji dengan nona Lin. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana. Ia melihat bahwa pemuda itu. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. TATO waktu. paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. Tidak ingin bekerja di sana. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. tapi.

” kelakar Yok Seng. Mukanya lebar dan besar. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya. Orangnya tak banyak senyum. Entah berapa jumlahnya.” ”Ma She. Hampir sebesar nampan bundar. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. ”Duduk di sini dan makan semampumu. Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. ”kepala koki di sini. Tapi wajahnya ramah. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima. Tak lupa diambilnya den- .” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek. Ma She hanya mengangguk. ”Ini Ma She. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada. sehingga tampak gemuk padahal tidak. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Memerah wajah Gu Yo itu. Lapar. Oh. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Kasih dia makan terus atur tugasnya.” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul.

Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. pisau. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo.322 BAGIAN 6. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. ”Eh. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo. ”kalau kurang. garpu. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. langsung dimakan. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan. Setelah Ma She berlalu dari sana. Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke . Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata. Alih-alih menjawab. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. Saat itu lewatlah seorang gadis. sumpit. tangan kiri memegang garpu. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. ”jika sudah cukup kecil. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. Juga tidak bisa. ia pun berkata. Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut.

Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. Bagaimana ia memotong daging. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. Ayo. Sambil tak lupa berucap. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya. walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu. sedang mengerjai Gu Yo. ”Ah. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. Dan seperti yang diduganya.323 arah garpunya menggunakan pisau. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu. . Untung ada gadis itu tadi yang mengajari. belum. atau sayur yang harus dipotong dulu. benar-benar mengajari. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. ”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. Masak cuma itu. Setelah diajari oleh Ma Siang. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya. paman!” jawabnya. tampak menggeleng-gelengkan kepala. ”Bagus kalau begitu. ”Eh. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya. Tapi saat ini bukan waktunya.” ucapnya kemudian. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. ”Iya. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu.

.324 BAGIAN 6.. masih saja tenggelam dalam lamunannya. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri. Nenek Po dan kakek Gu. bahwa ia . seorang menggapai bahunya. Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya. TATO Cara makan yang baru. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. sendok.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. sudah! Aku mau masak dulu. sebentar lagi kita makan bareng. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut. ”Heh. Kenyang dan tenang. sumpit dan pisaunya. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri.” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya. sepeninggal nenek Po. Segera mereka akan berontak minta diasup.” jawap kakek Gu pendek. *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. Kakek Gu.. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. Terpisah. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut. kau banyak sekali berdiam. ”Ikut aku!” katanya. ”Ya. ”Hmmm.

yang berwajah agak gelap. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. Ia terpikir akan pemuda itu. Orang berilmu. sontak terkoyak. salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan). suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar. Gu Yo. Hek-Mo. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Entah bagaimana. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. ia tidak mungkin memang. . memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan. sehingga tetap lekat pada ingatannya. kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. karena dulu dengan hanya berempat. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. ia pun menoleh. saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan. menjadi Gu Yo. ada hal yang menarik dari pemuda itu.” ucap seorang dari mereka. Apalagi sekarang. Dengan dibantu nenek Po. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. jika tidak dibantu oleh Gu Yo.

Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. Hek-Mo. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. ”Salam. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu. menunjukkan emosi yang telah meningkat. bila kami bisa menundukkan dirimu. orang tua yang bergelar Petani Ompong. Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya.” jawab kakek Gu pendek. keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan. tidak biasanya berdiam diri. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar. si Petani Ompong.” . ”baiklah.326 BAGIAN 6. sudah jelas kedudukan kita masing-masing.” ”Hmm. Alih-alih Su-Mo yang menjawab. ”Su-Mo. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. kata seorang dari mereka. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya. yang merisaukan hatinya. wahai orang tua!” jawab yang ditanya. akan dihadapinya dengan jantan. ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo. Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo.

Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi. Setengah semangka ukurannya. enaknya perut telah kenyang. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. Setelah makan semuanya duduk lemas. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. Dan mereka pun mulailah makan. Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. ”Wahai orang tua. Sunyi. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. sebelum ’berdiskusi’. ”Ah. ”Ah. Puas rupanya ia telah terisi perutnya. banyak tamu ternyata! Mari-mari. terima kasih atas jamuanmu. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. kakek Gu mulai angkat bicara. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po.327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada. Semua . Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po.

seperti mengucapkan. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. tapi kami biasa bertempur berempat. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. Kakek Gu hanya menggeleng ramah. ”Wahai orang tua.328 BAGIAN 6. gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu. Dalam sepeminum teh.” Setelah itu.” ”Tidak. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa . bahkan cenderung bagus. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. bukannya kami tidak sopan. Empat Begal Hutan. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. Bila engkau keberatan. katakan saja. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini. keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. Walaupun demikian. ”tidak perlu sungkan-sungkan. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka. Tulang beradu tulang. Tenaga kasar dan otot. TATO dijamu baik. Mari kita langsung pada permasalahannya.. tidak.” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. pikir mereka. Ya.. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit. apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. Serangan keempatnya cukup bagus.

sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. sang pemilik Kedai Daging Bakar.329 apalagi bila menggunakan senjata. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. . Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali.

ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya.. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang.” jawab Gu Yo gugup. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji. anda pasti dari kalangan pesilat. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth. Lalu katanya. melihat cara anda memberi salam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. saya Swee Sian Lin. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. ”Halo. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. kedua petugas itu. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat. ”Ah. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut.. tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak.330 BAGIAN 6. kadang kekuningan atau agak gelap. anu. sang penjaga dan gadis pencatat janji. Ruangan itu lebar dan terang. Benda seni menurut beberapa orang. Gu Yo pun melakukannya. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. Gambar yang terlihat kadang berupa naga. ”Bagaimana. ”Eh.” .” pikir Gu Yo. Gu Yo yang bingung hanya menjura. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi.

”Itu. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka.. Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini.. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . Tato dari seorang korban yang hidup. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat. Pemuda ini lain. agak memalukan untuk diceritakan. Bingung. ”Jadi. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia. karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri. apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Sopan. sebenarnya. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato.331 Gu Yo hanya mengangguk saja. Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian. Tapi itu masa lalu. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. Dilarang oleh hukum.

saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya.” jawab Gu Yo pendek. Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu. ”Ah. Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu.332 mengerti. ”Karena anda telah di sini. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. ”Eh. Entah bagaimana. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. BAGIAN 6. dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. Rupanya hanya masalah salah lihat saja. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini. anu. dirinya menjadi lebih . melainkan nona Sian Lin.. hanya kagum tetapi tidak kurang ajar.” usul sang gadis. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. saya mengerti sekarang. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma.” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Jadi anda salah lihat orang. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya.. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. ”Tunangan saya. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya.

dan juga bayarannya plus bonus. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya..333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.!” tunjuknya dengan muka pucat. ”Ini tato seorang gadis panggilan.!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut. Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya.. Di sininya telah ada seorang pemuda. itu. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih. ”Nona Sian Lin.. Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah... Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato. Bunga Merah.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu... Dan tidak hanya ia.. ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi. memang.” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- . Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya. *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya.. melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita. ”Dia datang kembali. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu.. baru dan berdarah-darah pada panel diding.

ya?” gumam San Cek Kong. Badannya tegap. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. TATO por. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah. dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Tabung ringan dan kuat. perawakannya tidak terlalu tinggi. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. San Cek Kong nama pemuda itu. membuatnya menarik untuk dilihat. Atau tepatnya meja serba-serbi. sam- . Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja. Akhirnya berhasil didapatkannya. ”Pembunuhan atau bunuh diri. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. Warna penanda gulungan surat itu hitam.334 BAGIAN 6. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. Ia makan. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. Sebuah teknologi surat mekanik. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. Kematian. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. dan dialirkan ke tempat tujuan. dapur kecil.

Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Ya. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. *** . Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. bisa saja korbannya. belum tentu terjadi pembunuhan. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi). sang pemilik tato masih hidup. Dengan kata lain. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. Dari surat yang diterimanya. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. melainkan langsung ke tempat kejadian. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. walau dalam keadaan kritis. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi.335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput.

kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah. saksi-saksi dan waktu kejadian. belum ditemukan atau bisa diindikasikan. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. Ceng-Liong Hui-To. Korbannya sendiri. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong. Ang Tiong namanya. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. Agak desa suasananya. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. tempat kejadian itu berlangsung. tato tidak lagi menjadi tren. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. jauh di arah barat dari kota. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.336 BAGIAN 6. bila memang ada. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. karena ia pada saat tersebut berada . Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi.” lanjutnya kemudian. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. Pada jaman itu. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin. ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan.

Selain lezat. pegawai paturan. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut. ”Sian Lin-moymoy. kebetulan aku belum sempat makan siang. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato. mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. masih jalan yang sama. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut. Gadis itu menggangguk mengiyakan. kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. Gu Yo namanya. tempat di mana Gu Yo bekerja. Semua pihak. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian.” jelas gadis itu. Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. mulailah kakek . ”Bagaimana bila kita makan malam di sana. ”Eh. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong.” senyum Cek Kong. Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. keterangan mereka tidak banyak berbeda. tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. ”Ya.337 di tempat kejadian. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. Ya. telah ditanyai. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar. sering kami makan-makan di sana. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. ada seorang pemuda. katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng.

lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan.338 BAGIAN 6. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. Dan benar saja. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. Dan kemudian masih. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Cepat. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. Dalam pertempuran dengan banyak lawan. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa . Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. satu langkah yang salah. sang penyerang telah bergerak. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. Tumit si Zahnloserbauer.

Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia. Menghidari kebosanan. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka.... kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu.. Dalam pertarungan juga demikian. yang telah banyak mengalami pertarungan. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. mereka menjadi tidak berwaspada. awas. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak. kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. Serangan seorang pakar pertempuran. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut. Suatu serangan di luar perkiraan mereka.!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah.339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Setelah dua orang lolos. si Zahnloserbauer. Tipuan manis yang menghanyutkan. ”itu kaki. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu. Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan . Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang. Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu.. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat.

340 BAGIAN 6. sementara ia melihat . TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. telah turun kata dari seorang Su-Mo. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo. Jika tidak. terutama untuk pertarungan jangka panjang. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Sebenarnya di dasar hati mereka. ”Kakek Gu. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. cepat suruh pemuda itu keluar. Seorang yang kelihatannya rapuh. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. dalam rangka misinya. ”Bagaimana. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Mendengar pertanyaan itu. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka. bersemayam di sana selamanya. tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. bagai akan terbang ditiup angin belaka. Hek-Mo. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. Ia harus mencari siasat untuk itu. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. berputar keras otak kakek Gu.

Akhirnya makan malam itu pun usai. Keduanya kemudian terdiam. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. Sebelum pemuda itu bertanya. Tempat kerja si gadis. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda. lalu sapa- . Lalu katanya keren. ”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung. Keduanya tampak terduduk agak lemas. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. Lemas setelah perut diisi penuh.” sahut si gadis pendek mengiyakan. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar. tidak sepesat dan segarang sang pemuda. tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. ”Iya. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan. ”Boleh juga.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu. masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu. memang benar.

Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah.342 BAGIAN 6. Pemuda itu.” jawabnya ramah. TATO nya. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. Sudah penuh lambung kami berdua. ”Saya hanya ingin bertanya. Karena keduanya tidak saling mengenal. Tapi kemudian ia menambahkan. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. Ia telah mengenap nona Sian Lin. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah. ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur. Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. Lebih dari cukup. Berdasarkan pengalamannya. yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. ”bila tidak mengganggu kerjanya. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau .” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. tidak perlu inspektur. Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. ”Duduklah. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. Hal ini perlu. tidak paman. boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo. bila orang telah kenal lama. tentu saja. ”Selamat malam. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. ”Sebentar akan saya panggilkan.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk. apa kami – saya dan nona Sian Lin. Tadi sudah cukup.

engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam. Alih-alih cemas. ”Tidak. kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Orang yang paling baik.343 perkataan orang. Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. saudara atau lainnya.!” katanya agak tak yakin. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan. . Runyam jadinya. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu.. Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya. bahkan yang terburuk sekalipun. aku.. berada. Empat Begal Hutan. tidak apa-apa.. *** ”Hek-Mo. Padahal kadang sebaliknya. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. nenek Po. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri.

biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali.344 BAGIAN 6. Tanpe membuang waktu. Waktu. sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari. ”Hei. Walau ia sendiri sadar. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. di antara hujan serangan. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . Kakek Gu pun mengangguk. Samar seperti asap. ia harus berkata-kata yang pedas. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. sehingga paling mudah dirasuki. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. Orang yang paling membencinya. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan. bagus datanglah Hek-Mo. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi. Mendengar itu. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. Paling kesal padanya. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. kakek Gu mengempos tenaganya. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. ”Hehehe. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. Hek-Mo menjadi marah. Tapi misinya harus dituntaskan. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi.

Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher. Suatu titik di atanara kedua mata. tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. tiba-tiba ia menjerit ngeri. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Suatu jurus dari Hek-Mo. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. Sabetan menyilang. yang kemudian . Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya.345 nya. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. Dan bukan hanya itu. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Suatu serangan yang berbahaya. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. Satu ke atas satu ke bawah.

yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. . ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. Tidak dengan Gu Yo. bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo. ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Dan sikap ini cocok dengan Ma She. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. Pada kebanyakan orang. Ma She yang biasanya jarang berbicara. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi.346 BAGIAN 6. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. sang kepala koki di tempat itu. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang.

?” tiba-tiba terdengar panggilan orang. orang dari mana tato segar itu dikeletek. di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. keponakan dari Ma She. cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut.. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya.. kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik. Usai mendengar cerita Ma Siang. Paling tidak.. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. engkau Ma Siang. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang. juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini.. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. Tugas titipan mendiang gurunya..347 ”Gu Yo.. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu. Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. Gu Yo pun bergegas pergi. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja.. tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. Ia merasa . Untuk kasus yang satu ini. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak.. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran.. juga sulit. ”Eh. ”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.!” pinta Gu Yo. Eh. ”Tidak. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong. ”Kamu tahu tidak.! Dimana kamu. Itung-itung sebagai hiburan.

Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. Setelah selesai. Menyebar ditiup angin. Dari jarak dua tombak lebih. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan. Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. Po Ting Hwa. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. Aku bakal menyusul tak lama lagi. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar. ”Gu Ming. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat. Entah apa ada hubungan antara keduanya. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana.348 BAGIAN 6. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. Usai perkataan itu. *** . bagaikan memang telah datang waktunya. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam. *** ”Manusia. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya.

tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja. tidaklah dapat dikatakan indah. suruh saja ia masuk. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. Jika ingin menegakkan keadilan. ”Baik. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. ”Gu Yo? Baiklah. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. ataupun penjahat-penjahat muda. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan.” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. Aku akan menemuinya. dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Kebiasaannya ini pun berlanjut. membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato.349 ”Nona Sian Lin. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau. yang baru mulai meniti karir. Tapi katanya penting. yang kemudian . Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu.

hitam atau coklat tua. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. ”Betul.350 BAGIAN 6. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. Untuk mengenang sang pahlawan. putih dan hitam. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. putih atau kuning. Suatu estetika berdarah yang padu. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain.” ucap gadis itu menghela napas. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. ”Oh. Gu Yo. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. Tato sepadang burung merak. . Gu Yo. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. Di sana tampak seorang pemuda. Orang yang ingin menemuinya. bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu. Suatu kontras telah direncanakan. begitu!” sahut pemuda itu. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya. ”Tahukah kamu.

”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. Lepas. Ucapnya lugas. merendahkan diri selalu. melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu.351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda... ”Deru pun perlahan melembut. memang itu judulnya. ”Setelah semuanya berakhir.. Guratan di atas kulit nan indah. Dan jiwa pun tenteram kembali. ”Tidak. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini.” Sang gadis mengangguk membenarkan.” ”Hei.” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda.” jawab Gu Yo sederhana. Sunyi dan sepi.” . Lega. dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget.” ucap gadis itu kemudian. Senyap. Mengekang nafsu. Menghirup keheningan. Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair. Darah menetes lembut. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu.” ”Begitulah orang berilmu. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya. Secarik kulit dicabik halus. Menghilang.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. aku hanya senang membaca saja. Menghela napas. Menegaskan guratan-guratan mistis. ”Dari buku-buku. ”Betul. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini. Tato. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’.

keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan. yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat.” Dengan penuh tanda tanya. ”jika demikian. agak liat.. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam. ”Nanti kujelaskan.. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana. atau potong.352 BAGIAN 6. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana . TATO ”Eh. kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya. pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo.” usul temannya.” jawab rekannya itu.. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah. ”Kita congkel saja. ”Ya. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. Lalu katanya... ”Dapat?” tanya orang pertama. Pasti kain pembungkusnya.. ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong..” ucapnya. terutama Sian Lin.

Untuk dioleh lebih lanjut tentunya. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk... Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya. Malam yang diterangi bulan purnama. Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu. ”Cepat cari bagian itu.353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya... orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut. tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya. ”Cepat. ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk.. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Lalu tanpa menunggu perkataan.” ucap salah seorang dari mereka. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka. Dengan santai.!! Kita tak punya banyak waktu. Ia tampak tertidur dengan damai... . seperti telah biasa.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka.. Suatu pisau yang tajam. sebuah peti mati yang belum lama ditanam. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya.” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu.

.” jelas sang paturan pembawa berita. ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut.. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil. Suatu makam baru pula. ”Hmm. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan . *** ”Ma Siang. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato. *** ”Inspektur San Cek Kong. ”Betul. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu. yang di dalamnya terdapat seseorang. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. ”Hmmm. ”Ah. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. dia adalah pakar dalam bidang ini. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara.” gumamnya hampir tak terdengar. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya. Kasus yang sedang ditanganinya. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya. TATO Rekannya mengangguk.354 BAGIAN 6. Mendengar kata ”tato”. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya.

Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. gimana?” ucap gadis itu nakal. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo.!” mohon Gu Yo. ”Tolong ya?” mohonnya lagi.. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini. ”Eh. ”Huss! Tidak ada apa-apa.” ucap pemuda itu. Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu.. Lain halnya jika Ma Siang. Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya. Wajahnya tampak cerita. Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. karena ingin melihat nona Sian Lin. kan?” ucap dara itu. ”Tolong ya. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini.. ”Lho. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya. ”Eh. baiklah. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu. Dan suatu saat harus dibalas. Ia tahu jika ia minta ijin langsung.355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. ”Baik. ”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. aku hanya ada urusan sedikit. toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan.” ucap Gu Yo cepat. Ya. Biarlah nanti saja. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya..

Gu Yo tidak bertanya lagi. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo.356 yang dikaguminya. Jika saja dulu ia tahu. tampak orang-orang berseliweran. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. ”Eh. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar. Orang itu hanya mengangguk. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya.” jawab dara itu pendek. Dan kemudian terdiam. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan. di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap.” ucapnya pendek. itu saja pesanan makanannya. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. Dan juga . TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. memindahkan bahan-bahan makanan. ”Aku tahu dari paman Ma She. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu. BAGIAN 6. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu. Di dapur dengan kesibukan yang biasa. ”Gurame Bakar dan nasi. Memasak. Gu Yo.

. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). sehingga ikan tetap utuh. Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar. * Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. irisan tomat dan jeruk nipis.357 meneriakkan pesanan-pesanan. Ma She. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. 1 buah tomat kecil (diiris). Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. ”Bakaran Ikan”. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. Tak lama kemudian ia kembali. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang. Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. Tertulis di judulnya. 8 butir kemiri. Termasuk Ma She sang koki kepala. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. garam secukupnya. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. 6 butir bawang merah. kunyit. garam dan merica. Wajahnya cerah. kemiri. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. 4 buah cabai rawit merah. cabai rawit. 3 siung bawang putih. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. Terutama pada musim-musim ini. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. bawang putih. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu. merica secukupnya.

Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk. tidak terlalu sulit rupanya. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu. ”ah. ”Maaf. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan. betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. ”Bagus!” pujinya. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya.358 BAGIAN 6.. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. menyebutkan . ”Kata sang pemesan.” jelas Ma She sederhana. melihat-lihat pemandangan di hadapannya.. tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti. Ma She sebagai seorang koki kepala. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang.. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos. Ia pun mengangguk puas.” gumamnya.” jelasnya. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara. Pucat wajahnya. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. saya adalah koki kepala. TATO ”Hmmm.. Gurame Bakar tidak seperti ini. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya.

”Ah.” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu. ”Ceng.. Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan. sambil mengajak Ma She untuk menemani. ”Eh. bahwa apa yang terjadi .. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya. ”Ia tidak ada.” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa. Ceng-Liong Hui-To.. tidak perlu dipikirkan. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung.359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi.. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan.” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak. Aku akan bilang. Sekaligus berbincang-bincang.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya.” katanya bingung. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu. ”Panggil saja saya. anda. Biar ia tidak terlalu sedih. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa..” ucapnya sungguh-sungguh. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan. Ceng Liok. Ma She.! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu.. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. ”Eh. ”Maafkan kelakarku. setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Sedang pergi bersama seorang pemuda.. berharap dapat melihat sosok dara itu. ”Ma She. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana.

segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Kelakar dari guru masaknya. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda.. Dua buah tato.360 BAGIAN 6. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. itu adalah tato milik mereka. Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. dari warna kulit yang tidak . Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut. Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu.. Suatu mutiara. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. TATO hanyalah kelakar saja. Kegemaran tuan Ceng Liok. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru. Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. Paket yang berisikan tato. Sudah diolah dengan bahan pengawet. Kali ini tidak lagi berdarah. *** ”Benar. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara.

menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- . setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait. yang mendasari kedua karya seni itu. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu.361 sama. Tahun ini. ”Baiklah. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. ”Dan entah dari pembicaraan apa. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut.” jelas Gu Yo. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba. Gu Yo sedikit berbohong. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. Begitu pikirnya.” Dalam kalimat terkakhir ini. Mendengar itu. Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. Kulitnya dikletek. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. Dominannya adalah warna biru dan kelabu.

Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. TATO jungan dari pemerintah pusat. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. satu rombongan besar. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. Benar-benar suasana yang meriah. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. telah dibangun suatu panggung megah.362 BAGIAN 6. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung. Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami. Yok Seng. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. umumnya . Agar yang menunggu ini sabar. Luas dan indah. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas.

akhirnya dapatlah ia pergi. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. Panggung telah dibuka. Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. Jenis kemilan yang gurih dan lezat. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan. keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. Karena tanpa Gu Yo. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini. Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Sebagian dari .363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu. tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya.

Seorang pemuda tampan. Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal. Dan untungnya lagi. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. Menelusuri keramaian. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. Bila ia suka. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat.364 BAGIAN 6. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja. Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . Ya. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. dan mungkin juga di tempat lain. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. Hiasan yang tidak ada di waktu lain. Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain.

. Suatu hiasan yang dapat dimakan. tapi daging sapi yang dikeringkan. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya. Tanpa terlebih dahulu memberi salam.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu. segera ikut membantu. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya. Ada ben- . Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu. ”Hai. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan. ”Harga yang bagus. ”Ada kongcu. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan. tak terlalu mahal. Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. kura-kura.. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering. segera menghampiri pemuda itu. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap. laba-laba dan masih banyak lainnya. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu. ”Kongcu. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. Ada kepiting. hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab.365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya. penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. kelelawar. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering.

Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda. Ya. Pemuda itu. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. mereka punya.. dapat ditawarkan benda tersebut. ”Saya suka kuda. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. Walaupun demikian. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal. benar-benar memukaunya.366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. Masih cukup 8 bagiannya. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi . Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja. Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. Ya.. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu.. ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. ”Sebenarnya ada. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun. walaupun dari kalangan orang kaya. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. seribu lima ratus tigaan.” ujar Ma Siang pelan. karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing. harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu..

sampai yang menggembirakan. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. kedua orang yang telah menolongnya. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. Kota Siaw Tionggoan. Mereka pun memesan makanan. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar.367 selain itu. pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. dan bukan hiasan daging kering. . atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit.

Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. Entah apa yang dibuat mereka berdua. naiklah delapan orang pengacau. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. yaitu adu ilmu silat. Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya. TATO Setelah menghilang beberapa tahun. Su-Mo dan Empat Begal Hutan. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir. Hek-Mo bicara seperti orang melantur. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang.368 BAGIAN 6. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. Untung saja hal itu tidak terjadi. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut.

Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. mengeleteknya. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya. dan bukan dari wanita tersebut. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. Sedangkan tato hasil rajahan. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya.369 harus diserahkan. Orang itu adalah Ma Siang. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan. Tidak seperti tato-tato pada umumnya. Sebenarnya tidak. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan. lebih . Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang.

Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai.. . Mungkin. kali ini dengan anaknya Ceng Siang. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut. Mengarah ke utara. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. karena ia adalah saudara tua perguruan.370 BAGIAN 6. satu tugas sudah selesai. Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini. sekalian mereka berdua meminta restunya. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi.” kata pemuda itu sambil tersenyum. Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya. melainkan hanya melalui berita para Troll. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali. Gu Yo hanya dapat tersenyum. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll. ”Syukurlah. Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. si Maling Kitab. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat. Bagi dirinya sendiri. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya.. bila ia masih mau bekerja padanya.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. Selain Ceng Siang. Melaksanakan tugas berikutnya. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang. Menanyakan kepastian hubungan mereka. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan. ”Tugas baru kembali menjelang. TATO berat dari sisi dara itu. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang.

Pemuda yang mengemban tugas yang berat.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri. . memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara.

TATO .372 BAGIAN 6.

Aku tidak tahu. Sepeninggal Misun.” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. Seperti biasa sikapnya.” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu. ”Entahlah.” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik. seorang berkata kepada yang tadi berbicara. Hal ini berarti bahwa malam 373 . ia tak banyak bicara. itu berbegas bangkit dari duduknya. Orang yang dipanggil Misun. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong. Dhoruba namanya. Membuatku selalu merasa kelembaban. yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”. Tak lama kemudian Misun pun kembali.Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah. Dhoruba. masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya. Selalu hujan dan basah. seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. ”Angus. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab.

”Sulit. Didekatkannya telinganya pada tanah. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba.. Belum ada petunjuk. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. Angus McLeod. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam.374 BAGIAN 7. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. *** . ini dia. Dhoruba dan Misun. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. Setelelah memberikan tugas itu. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. ”Ya. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. Beberapa hari sebelumnya. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. ketiga orang tersebut.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri.” ucap Dhoruba. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. Malam yang dinanti pun tak lama tiba. Wajahnya tampak berubah. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Angus. Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. Lima makam tepatnya. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. Aku belum bisa merasakannya. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu.

Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara. Coba digerakkan tubuhnya. Suara-suara orang menggali-gali. melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Hal itu berlangsung berulangulang. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu. tapi tidak dapat. Bau tanah yang lembab juga menyengat. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. Pemuda itu.375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Kesadaran kembali datang. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. tapi bagai tak ada suara yang keluar. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Sebentar lagi. Lebih baik dilakukan . Lalu kesadarannya hilang. Setiap kali kesadaran muncul. Seperti itu. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Berkali-kali. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Gentong.

Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. Garukan-garukan tangan mulai terdengar.376 BAGIAN 7. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. Ia tidak berbuat apa-apa. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana. tampak biasa-biasa saja. Kesadarannya pun hilang lagi. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan. Roh Air. sang pemuda. bahwa ia adalah seorang Undinen. Gelap pun kembali menjelangnya. ”ke mana kita akan mencari buah . dan ini fatal akibatnya. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan..” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. ”Paman Wananggo. mengangkatnya dan memanggulnya pergi. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya. *** Tiga orang tampak berjalan beriringan.. agar tidak melukai orang yang dikubur itu. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. Seorang yang terakhir. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. menciptakan hari yang indah dan cerah. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat.

Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra. ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut. ia merasa kerasan. Ya. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. sebelum waktu bulan purnama tiba. ”Nah itu tempat bermalam kita.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. Dan tempat yang kita tuju itu. ”Nak Xyra. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. besok siang akan kita capai. Lalu tambahnya. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu. ”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. Setelah mendaki sebuah bukit. Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya.” ucap orang tua itu lagi. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi.” ujar orang tua itu dengan gembira. Sebagai keluarga. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara. Air terjun.

tentu!” jawab Wananggo. Sebuah air terjun yang megah. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin.” usulnya.” jawab seorang yang ada di hadapannya. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. kita perlu tenaga dan konsentrasi. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik. Mau tidak mau. Dulu juga. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya. ”Tidak. saat bulan purnama.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. demi kesembuhanmu. ”Masih ’mati’.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan.” jelas Wananggo. ”Belum. ”Itu namanya Air Jatuh. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. nona Siaw Liong. biarkan saja. Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. mengajukan usul. ”Ya. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut. Isi perut dengan baik dan tidur. engkau Angus. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali. ORANG-ORANG ABADI menggelegar. ”Dan untuk itu. Engkau sem- . ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan.378 BAGIAN 7. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana.

perjalan pulang. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’. Pikirannya sedikit . Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja. ”Kita perlu bicara malam ini.” berkata kembali sang wanita. Sulit.. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Cermin Maut. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. Perjalan pulang bisa dilakukan.” jawab orang yang dipanggil Angus itu. Melihat ke segala arah.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. Ya. memperebutkan kepala lawannya. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati. Ya.” ucap wanita itu sambil tersenyum.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. Jumlah kita sudah cukup. melayang.. ia ingat saat itu.. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. ”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. *** ”Jadi. saling baku-hantam satu sama lain. untuk memperoleh tenaga. Dhoruba sedang mencari makan malam kita. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Lalu ia pun berlalu dari sana.” katanya pelan. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. Ya. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh.

Antara yang jahat dan yang baik. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut..” jawab Cermin Maut kemudian. Sejenis sabit besar. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota.. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap. Tempat perguruan lawan mereka berada. termasuk di Kota Paparan Karang Utara. ”Aku setuju. ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu. Antara orang- .” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. Perguruan Atas Angin.” sahut sebuah suara lain. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing.380 BAGIAN 7. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. ”Baik jika begitu. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. Seorang dari mereka.

381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi. lelaki dan perempuan. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. mereka datang. Tua-muda. Berapa banyak?” tanyanya kembali. akan tetapi sebagai bangsa bayaran.” jawab pembawa informasi tersebut. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. Pertempuran kali ini pun amat serunya. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. ”Angus. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. ”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk. Mereka semua harus berjuang. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. setengahnya berkuda. benar seperti informasi yang kita terima. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. suatu klan ekspansionis dan brutal. Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. .” ”Hmm. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur.

Angus McLeod. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing. Dari anak kecil sampai orang tua. Apa boleh buat. Menjadikan desa mereka. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar . Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. Jadilah ia. pemimpin ad interim atau sementara. ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali. Tak ada jalan lain. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan. Terompet dari tanduk pun ditiupkan.382 BAGIAN 7. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. ”Kamu saja yang memimpin. Ya. kita harus berperang habis-habisan kali ini. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. selama ayahnya belum sembuh.” begitu katanya suatu saat. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. ”Baiklah. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya.” ucapnya lelah. Ya. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Dari yg sehat sampai yang cacat. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. Cemas tampak dalam wajahnya. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. Angus bukan pemimpin klan McLeod. Ian McLeod. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Yang ditanya hanya mengangguk saja. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit.

Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. Dua kelompok besar orang-orang haus darah.. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama. yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. barisan terdepan pun berlarian. Dengan bekal pendobrak batang kayu. darah mereka sendiri. ”Ghrrrrrg. ”Cepat. tapi kalah dalam jumlah. Tidak ingin kalah.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. Jumlah yang jatuh terus bertambah. Pintu gerbang pun ditutup. . Kesetiaan dan penghormatan. Pertempuran yang tidak seimbang. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari. jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. Gelombang penyerang pun beringsut maju. satu di kiri dan satu di kanan. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang. Dengan adanya isyarat terompet tanduk. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir. Waktu pun berjalan. klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. menginginkan hal itu. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi. Sudut yang pas dengan dada kuda. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. Memaksakannya untuk terbuka. masuk ke dalam desa.

tapi hasilnya nihil. telah banyak dari mereka bersembunyi. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu. Pintu pun terbuka dengan lebar. Tidak ada. Semua dibolak-balik. Tapi apa yang mereka dapatkan. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. Akibatnya telah diduga. .” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh. ”Tidak mungkin. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka.384 BAGIAN 7.” seru seorang dari klan Darkyzp. Menanti untuk menyerang balik. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. mungkin sudah semua. ”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi. Dibalik-balik jerami dan sebagainya. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui.” ucap rekannya. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. Semua orang menghilang di dalam desa itu. ”Ada yang aneh. Bila sudah semua. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang. Rekannya mengangguk. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan. Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang.” ”Siapa yang tahu.

Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap. Tiba-tiba. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit. Ia yang luput dari serangan panah. ”Grrrggghhh!! Di sana. Menghiasi hari yang cerah itu. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Tua dan muda. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. Menunggu dengan harap-harap cemas. ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. Cukup banyak jatuh korban di an- . mudah untuk dihindari. Pria dan wanita. Di sana. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. Mati. Ya. Dan kali ini pun kembali berhasil. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Setelah parit terkuak. menunggu sampai saat-saat terakhir. Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. segera ia memacu kudanya. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Menghindar dan menyerang balik.

” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. walaupun mereka bersemangat tinggi. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. Tiga-empat orang. Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati. Jumlah yang tidak seimbang. berdenyut-denyut tak beraturan. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. Tapi ada satu hal yang harus dihormati. Orang-orang yang berbeda satu sama lain. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya. ”Lihat. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya . Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. memperhatikannya dari dekat. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. ”Hmmm. ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. Walaupun musuh sudah separuhnya habis. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. semakin lemahlah semangat mereka.386 BAGIAN 7.” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting. Lambat laun mulai jelas. Semua kabur dan berkabut. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup.

” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. ”Kumpel. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati. Penjelasan yang tenang dan pelan. ”Well. Ia.387 bangun. ”Saya Gentong. orang hitam berambut keriting. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong.” jawab pemuda itu. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. Dia Dhoruba. Entah apa maksud dari senyum itu. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. ”I think he speaks with a local language here. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng. verstehst du. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu.” sahut seorang dari mereka. ”I try with other language. ”Saya. Misun dan Angus McLeod. ”Watashi wa Misun desu. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini. Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. Lalu dengan perlahan. Shia Siaw Liong. serta dibawa . what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. lalu beranjak mendekati. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. sang wanita.

”Sekarang. sang pemuda. merah. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. perang! Memang demikian halnya. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. selepas pembantaian terjadi. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan. ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara. Dan akhirnya tampak tegan. Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. yaitu di Kota Paparan Karang Utara. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. Bahanbahan berupa makanan dan senjata.388 BAGIAN 7. Ia telah mati dan dikuburkan. Perguruan Atas Angin. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka. kami biarkan dulu engkau sendiri. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit.” ucap wanita itu. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. lalu kembali pucat. Tanpa terasa ia meraba dadanya. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. Ya. yang saat itu baru memiliki satu cabang. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Pucat. Gentong. tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- .

”Baiklah jika begitu. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka.” ucap gadis itu lagi. Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap . pertempuran. ketua Perguruan Kapak Ganda. bahkan pertempuran. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami.” Kembali pemuda mengangguk. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. Membuka cabang di dua kota lainnya. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. yaitu Tapak Kelam. Mereka bukannya anti pertempuran. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. Air Jatuh. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang.389 but. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan. Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam. *** ”Jadi itu kisahmu. tapi seperti biasa. yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Ya.

senjata memegang peranan penting. terima kasih!” ucap Gentong. Jika demikian telah diputuskan. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara. ”Baik. pasti engkau sudah bisa. Gentong hanya menggelengkan kepala. Gentong mengangguk mengiyakan. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda. Tandanya ia tidak keberatan.. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. tapi tidak menyatakan keberatannya. tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. Misun masih mendekati Gentong. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas.” kata Misun meyakinkan.” usulnya. jika dengan tangan kosong.390 BAGIAN 7. orang-orang yang tak bisa mati. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. ia sadar. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. pagi-pagi sekali. ORANG-ORANG ABADI mereka ini.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. Dhoruba hanya tersenyum kecil. menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah. Besok.. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong. ”Dalam perjalanan ke sana. bukan pertandingan satu lawan satu. Harus disingkirkan. Ya. ”Baiklah. sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . *** ”Paman Wananggo. Misun hanya menggumam pelan. bahwa dalam pertempuran. sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi. kira-kira kita butuh tiga hari. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan.

”Eh. di antara batu-batu yang menonjol.. tapi tak dilihatnya seorang pun. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat..” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu. jatuh menjadi air terjun.” Langsung segar orang tua itu.. ”Hati-hati. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana.” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut. Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. ”Aneh!!” gumamnya. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur. kita coba saja turun sekarang. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur. Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun. ah.!!” ucap orang tua itu. . Namun tak lama biasanya. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang. Langit sudah agak mulai terang di sana. ”Tapi apa boleh buat.. paman. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini.391 enaknya.. untuk turun ke bawah. agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. ”Iya. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. ”Cepat. apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. ke langkah berikutnya.

Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. Keduanya mengangguk mengiyakan. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. *** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut.!!” ucap orang tua itu. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya.. ini malah untung buat kita. Ternyata mereka ada masalah rupanya. menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut.392 BAGIAN 7. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah. akhirnya sampailah mereka di bawah. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua. ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup. Hehehehe. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka.. kita ketahuan. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara.

” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. Jika ada yang sedih dan bersemangat. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul. kelima orang itu segera berangkat pergi. tampak dingin. Cermin Maut dan Sabit Kematian. sehingga mereka tidak langsung kembali. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. yang diletakkan di punggungnya. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. yang papannya sudah miring. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. mirip bumerang. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana. bekas digempur. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. ”Perguruan Kapak Ganda”. ”Mereka sudah pergi kemarin. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama. Mati. Tapi itu belum semua. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. pada saat-saat akhir hidupnya. bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh.” jawah Shia Siaw Liong. Mendengar itu. itulah Gentong.” ”Belum tentu. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil. Menang atau kalah bisa berakibat lain. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut. ”kita tertinggal satu hari. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Mayat Pucat.” ucap Misun. tampak merah oleh darah. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. Ada tiga orang yang dicarinya. .

kita ambil yang kedua. *** ”Mari. cepat-cepat. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. ”hanya dua.” jawab Shia Siaw Liong memutuskan. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. berjalan cepat. Bagi kedua orang yang lain.” jawab Gentong.. ”Yang kedua. basah tidak merupakan masalah.. Sebuah pulau yang lebih kecil. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap.” jawab Gentong. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan. Bagaimana ini bisa dijelaskan.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. memanfaatkan sifat-sifat air. makhluk yang memang dalam hidupnya.394 BAGIAN 7. Baju mereka masih basah. ”Baik.” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. ”Hei. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. mari. . Ia heran karena dari atas sana.” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain. Bagi Xyra yang Undinen. ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka. jika tidak di dalam air. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. Ia adalah roh air. di sini ternyata terdapat pulau lain.

Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya. ”Kita kitari seperti cara yang tadi.” lanjutnya. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama. ”Pernah ada cerita. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini. Setelah di bawah.” ucapnya. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. Ya. ”Ya.395 ”Bukan hanya satu. ”Fraktal?” tanya Lantang. ”Baik. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. ia dulu juga begitu.” jelas Wananggo. Jika ada waktu. masih ada dua lagi. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan.” bisik Wananggo. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya. Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. geometri dan ilusi. sehabis kita pergi dari sini.” ucap Wananggo tersenyum. Setelah didekati ternyata ada dua. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada. akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. . jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat. baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari.

hanya. kita bisa minta.” kata Xyra polos. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu.” tegas Lantang. lebih baik begini.” jawab Wananggo. ”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. Lalu lanjutnya. Jika sang petapa itu masih hidup. mencuri. Lebih mungil.. lalu Lantang menjawab. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya. ”Betul. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat.. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat.. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian. ”Ya.” ucap Xyra agak tak senang. ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin. ”Ya. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri. ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. benar. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari.” jawab Wananggo sambil tersenyum. yaitu ukuran yang mengecil.. ini diatur sedemikian rupa. Padahal ada perbedaannya.396 BAGIAN 7..” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu..” jelas Wananggo. ya jawabnya.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat.. ”tapi kita butuhkan hanya empat.” ucap Wananggo. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu . ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian. ”Sama persis. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu.” ”Mencuri. asal tidak bilang bukan mencuri. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana.

Tiga orang yang mengerikan. Anak muridnya telah habis dibunuh. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa.. nanti dulu.” lanjut orang terakhir. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda.. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini. ”Eh. sudah. tidak usah kecewa. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. ”Ya. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu. melesat melibat tangan Tapak Kelam. mencegahnya .” tambah seorang dengan mukanya yang pucat..397 berwarna kelabu itu. hehehehe. ilmu ampuh warisan gurunya. Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum.” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah.. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam. sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. Tidak segampang itu mati. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. ”Sudah. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa. cah bagus. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis.

”Hehehe. Ki Makam namanya. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda. ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini.” tambahnya.” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya. Prasasti itu masih ada di sana. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh.” terkikik genit Cermin Maut. ”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung. Di Air Jatuh. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas. ”Itu palsu. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. tidak semudah itu. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. kalau mau bunuh. ”Curi? Jangan bercanda.398 BAGIAN 7.” jawab Tapak Kelam. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. ”Bagus. ”Tak mungkin. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi. ”Sudah. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu.” ucap Tapak Kelam semakin bingung.” jawab Cermin Maut. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar. Senang ia melihat lawannya . ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian.

ke Rimba dan Gunung Hijau. Bergembira layaknya seorang pemenang. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- . Kebuasan melebihi binatang liar. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. kereta kuda terbalik. ”Ya. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. di kiri-kanan jalan.” ucap Gentong. Rumah-rumah yang rusak. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. Memangsa tapi tidak untuk dimakan. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat. Habis. Kedua rekannya mengangguk. benar. menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. sampailah kita di sana. kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. itulah yang mereka cari.399 itu bingung. Kelihatannya sepenanak nasi lagi. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. Tak tersisa. Jauh sebelumnya. Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. mayat dan lain-lain. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. Kebakaran.

Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya.. ”Ya. Ilmu pengetahuan. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita. Dengan semakin banyak membunuh. akan tinggal satu orang. ”Begini.” ucap Gentong perlahan. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal.. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. ”Bingung aku. Itu hanya istilah. The one. ”Misun. the one.” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah . juga hal-hal yang telah dipelajarinya. kamum immortal. dan lain-lain yang ada dalam kepalanya.. Ia perlu mencari tahu. bela diri. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati. kekuatan dan menjadi yang terutama. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. mereka akan semakin kuat.. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri.” ucap Misun lagi. the one.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. ”sebenarnya tidak juga. ”The one?” tanya Gentong kembali. untuk memperoleh ilmu pengetahuan.400 BAGIAN 7. ”Ya. yang dituliskan dalam suatu ramalan. walaupun tidak dapat mati tentunya. Misun tidak langsung menjawab. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan.” jelas Misun. ORANG-ORANG ABADI masing. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. Lalu katanya. dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok. Begitulah.

sudah basah oleh darah lawan-lawannya. menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang. Kedatangan kelima orang ini. ”Hei. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. Hal ini membuatnya .401 di depannya. atau leher yang hampir putus. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. Membacok dan menendang sana-sini. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. Dhoruba sudah puluhan. ”Kita sudah sampai. Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Golok melenkung patah. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin.” katanya pendek.

Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut. tinggi dan kurus. melucu. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. Kelima diam seribu bahasa. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. Simpan tenagamu. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun. ”Di sini.” tunjuk Misun. Putus napasnya. Khas pedang Tlatah Skotlandia. Hitam dengan baju merah berdarah.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi. Mayat Pucat. Pedang yang cukup panjang dan berat.” usulnya. Ia mencabut pedangnya.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak . Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini. Shia Siaw Liong bergerak cepat. ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan. ”cakaran beracun. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. tampak tubuh-tubuh malang melintang. Remuk dan hancur.402 BAGIAN 7. Gentong menangguk mengiyakan. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. ”Lihat ini. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Pertempuran itu tak berlangsung lama. ”Pakai senjata lebih efektif. Angus pun mulai turun ke dalam arena.

” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. di sana pintu masuknya. lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. Mungkin wakil-wakil ketua. Rongga itu tidak terlalu besar.” ucap Xyra. Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu. pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu. tidak seperti yang aku pikir. ”Benar. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra.” usul Angus kemudian. menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.” berkata Lantang membenarkan. Ruangan dalam. sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya. .” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah. *** ”Itu. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. Ya. di mana ketiga orang itu berada sekarang. Bawahan langsung dari Tapak Kelam. Wananggo. terlihat cukup luas. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret. mereka adalah Empat Pilar. ”Mari kita ikut.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. ”Luas juga. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini.

Hanya beberapa rak terbuat dari batu. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya. Batu yang dipotong sedemikian rupa. yang seperti diduga. yang tampak di sana-sini. perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi. sekali waktu. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut.” jelas Wananggo kemudian. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya.” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo. seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. tidak seperti keadaan sebenarnya. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. Dengan permainan warna. sahabat dari pemiliki tempat ini. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. ”Pernah. bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi. ”Mana tanaman yang dimaksud. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu.” jelas Wananggo. yang dipahat dalam dinding. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya.404 BAGIAN 7. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding.

Seribu Ramuan namanya. menanggapi jawaban tersebut. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang. ”Paman. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. Suatu penyakit yang aneh.405 sakit. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu.” tanya Xyra. ”Oh. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya. apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya.” tebak Lantang. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. Alih-alih menjawab. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. ia malah mengajukan pertanyaan.” jawab Wananggo. ”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu. itu!” jawabnya tersenyum.” ”Siapa nama petapa itu. yang satu Undinen dan yang lain manusia. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Ya. ”Xyra dan Lantang. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra. ”Mungkin. paman?” tanya Lantang ingin tahu. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya.” ucap Wananggo pendek. . Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. Wananggo menangguk mengiyakan. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita.

” jawab Wananggo. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor.406 BAGIAN 7. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain. aku tahu. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya. ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan. baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri. Hewan selalu berpindah tempat. suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta. paman?” tanya Lantang tidak percaya. yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen. ”Begitulah alam ini. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu. yang akan menjadi tumbuhan baru. ”tumbuhan tidak berpindah tempat. berpindah tempat.” ucap Xyra kembali. ”Paman.” ucap Xyra. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang.” jelas Wananggo kemudian. Lalu ia kembali terdiam. paman kembali membuat bingung. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu.” ”Hampir benar. banjir dan sebagainya. .” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. sengaja atau tidak sengaja. ”Ini paman. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh. Organisme mikro namanya. ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. bahwa tumbuhan dan juga hewan. atau disebut juga bibit penyakit. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk. menantikan penjelasan yang akan muncul. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit. ”Benar.” Kedua anak muda itu diam.” ucap Wananggo. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut. benar begitu. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung. kemudian dikenal sebagai pasturisasi. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan.” ucap Wananggo. lho!” kata Lantang. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. lalapan itu juga sehat. Amat kecil. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- . selain lezat. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik. Lalu Wananggo pun menjelaskan. ”Tapi katanya. Dan itu terutama daging. Ikan laut masih baik dimakan mentah.” jelas Wananggo. Ukurannya sangat kecil. juga lebih sehat. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro.” jelas Wananggo. ”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu.

juga keheranannya. menerangkan pada dirinya. saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut. ”Tenang Xyra. sekali sentuh dapat seorang manusia mati. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. hati-hati!” cegah Wananggo. lalu katanya.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut. ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu. BAGIAN 7. . lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian. sang penanam tumbuhtumbuhan itu. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram. Lantang.408 angguk. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. Beberapa tampak berkilauan perak.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. ”Paman. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut. ”Hai. hanya setinggi beberapa jari saja. yang ada dihadapannya itu. Ada beberapa yang amat beracun. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. Wananggo tersenyum masih. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu.

Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan. demi kesembuhan Lantang. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana. dan di antara kita bertiga. meditasi. ”Nah. khasiatnya akan berkurang.” jawab Wananggo sambil tersenyum. Jika mati. ”akan aku coba. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama. Malu. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. Tapi jangan sampai mati. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah.?” ucap Lantang menambahkan. *** . dalam hitungan menit akan berbuah. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. ”Kita masih ada sedikit waktu. Lantang.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti.. agar hawa kita murni. ”Nah. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. Setelah.. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. Lebih baik kita mengheningkan cipta. Menunjukkan niatan yang teguh. apapun.409 ”Bukan. ”Dari cerita kalian. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra.” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut. Tampak ia berpikir-pikir agak keras. Xyra mengangguk. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. Keduanya mengangguk mengiyakan.” usul Wananggo. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen.” jawab Wananggo pendek. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu.

ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. ”Bisa nanti itu kita bicarakan. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut.” ucap Cermin Maut.” ucapnya. Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut. Hanya dapat berbicara..” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah.” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya. Lunglai bagaikan boneka saja. di tengah pulau. Tapi matanya tampak juga mengiyakan. ”Di sana. Segera mereka berada di atas pulau pertama. tapi tanda daya. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat. bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari . Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini. ”Boleh juga bila kita pindah kemari.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada.. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. Kagum akan keindahan tempat tersebut.410 BAGIAN 7.. Kita harus menyeberang. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam. ”Ha? Bukannya tadi. Sabit Kematian hanya diam saja. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya. ”Ayo jika begitu.

Di pinggir danau. ”Kelima. ini sedikit tetetasan darah yang tadi.” jawab Tapak Kelam pendek.411 kesempatan untuk melarikan diri. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian. ”Jika demikian. ”Ya. Setelah menemukan- . Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. *** ”Tempat yang menarik.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. Yang lain segera menyusulnya. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala.” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu. Begitulah mereka berlari cepat. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam. ”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka. tampak lemas. mendahului keempat orang rekannya. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat.” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang. Dengan lunglai ia berkata. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut. mari kita menyeberang. ”kira-kira sepuluh. sampai akhirnya tiba di pulau kelima.

” usul Shia Siaw Liong. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk. yang tadi dalam postur Duduk Teratai.” ucap Wananggo hampir berbisik. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu. ditambah dengan ubun-ubun kepala. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. ”Aneh. Upayakan untuk mencari hawa . itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti. karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. ”Selanjutnya. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang. bayangkan engkau hendak mencari Lantang. Pulau kelima. Telusuri isyarat yang ada. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat. ”Kita ikuti saja yang pertama. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. *** Malam pun menjelang tiba. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. ”Baik jika begitu. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. dengan lima titik menghadap ke langit. yang hari itu membulat sempurna. Kedua telapak tangan dan kaki.” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. ”Sudah hampir tengah malam saat ini..412 BAGIAN 7. ”Mari kita mulai. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan..

Mirip kilauan kunang-kunang.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening. Putih cemerlang. ”Arahkan ke tempat lain.” kata Wananggo kemudian menambahkan. kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. terlihat seperti mencari-cari seuatu. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini. memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. halus dan bersambung-sambung. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra.413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut.” bisik Wananggo perlahan. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya. Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. Ia bergerak perlahan. dengan membayangkan pemuda itu. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. Jika suasana terang. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. Xyra. sang Undinen. jangan ke sini. Lidah cahaya itu berhenti memanjang. untuk mencari hawa dari Lantang. kadang ke rak yang . Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar.

yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya.. ”Atuh napasmu perlahan. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang.” jawab Xyra pendek..” ucap Wananggo perlahan. melingkar. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi. juga berwarna biru tembus pandang. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo.. Rak tersebutlah yang mereka cari. Pemuda yang dikasihinya. . Lebih bercahaya dan kemilau. kadang ke rak yang sebelah bawah. sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra. Diam seperti mematung. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang. yang lalu tiba-tiba hilang. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. ”Bagaimana keadaanmu sekarang. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang. saling merengkuh. sudah baik kembali. ”Baik. kembalikan peredaran hawa dalammu. Setelah beberapa saat hening.414 BAGIAN 7. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. Xyra pun membuka matanya. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu. Suatu perasaan nyaman luar biasa. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul.” tanya Wananggo.

Tidak semuanya.” ucapnya kemudian. *** ”Di sana.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang. di dalam bangunan itu. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada. ”jika tidak. Untuk orang lain. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu. Entah apa.” ucap Wananggo. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa.” jelas Wananggo. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. yang dapat membantu menyembuhkanmu.. suatu hubungan hawa antara dua entitas. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan. .415 ”Pautan hawa. berikut kitabnya tersebut. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu. Itu pula yang aku harapkan. Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan. jika suatu saat ada yang membutuhkannya. melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. Berbegas Sabit Kematian.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki..

Tanpa banyak berbicara. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Lingkaran Dalam. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. Prasasti sebesar kerbau bunting. Sayangnya. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. Ia hanya tersenyum getir saja. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . Ki Jagad hitam. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. Ya. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. mulai mengamat-amati prasasti pertama.416 BAGIAN 7. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Demi melihat prasasti kedua. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu.

sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang. ”Biar sabitku yang bekerja. dan tidak ada apa-apa di sana. ”Belum tentu. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut.” ucap Cermin Maut memperingatkan. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana. ”Kita coba saja. Mencongkel perlahan. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut. bergaris-garis. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada . Rata dan berbentuk kotak.417 pat sisinya.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut.” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut. kakak Sabit Kematian. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya.” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya. ”Kosong. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat.” ucap Tapak Kelam.” ”Huh!! Jangan kuatir. ”Hati-hati. ”Hati-hati. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang. rusak oleh sabitmu itu. sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku.

Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana. Suatu pukulan jarak jauh.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. ia melarikan diri. Sudah selesai tugasnya. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu. ia bergegas menyelinap keluar. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya. yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi.. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi.418 BAGIAN 7. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya. ”Ya. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet. Dengan sigap ia bergerak ke samping. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. itu mungkin kain pembungkus sesuatu. dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya . ”Keparat. dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu..

Kawan atau lawan.. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang.. yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. pastilah anda adalah Cermin Maut.... Cermin Maut tidak segera menjawab. ”Mau lari kemana engkau. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut. waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri. ”Siapa. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini... Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini. orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku.. yang akan membawanya ke pulau keempat.!!” ujarnya tersendat. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu.. bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut. Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya.. ”Ya. Itu belum jelas.. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya. kalian... Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal. golok bumerang. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah. yang diikuti dengan tubuhnya. dan orang ini hendak mengejarmu. ”Kamu. saya. .” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain. ”Jika engkau Tapak Kelam.419 itu..

setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. Ya. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh. Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. Deras dan keras. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. ”Kami mencari Sabit Kematian. itu adalah salah seorang murid-murid. Memang lucu.. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. orang yang berseteru. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan.” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. ORANG-ORANG ABADI ”Ya. saya Cermin Maut. Kalian telah membunuh kami. yang kedua ini .420 BAGIAN 7. ”Dan sekarang giliran kalian. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. dapat saling mendekat. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. pada suatu saat yang lalu. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. ”Dan engkau juga. serta Mayat Pucat.. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian. Sekarang. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. Kelima orang ini belum.

Tepatnya oleh kakak Sabit Maut.421 dia tidak yakin.” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. ”Mari kita kejar... di dalam sana. Misun menepuk pundak Gentong. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. ”Tak tahu. ”Hei. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. Tapak Kelam pun mengikuti.!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu.” ucap Angus yang segera bergegas. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat. ”seorang dari yang pernah kita bunuh. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian. ”Mari. agak bingung mereka. Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam. Dan ia mencarimu.” jawab Cermin Maut. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat. .” jawab Cermin Maut. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu....!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti.

kamu. ”Mari masuk. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran.422 BAGIAN 7. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu. Membuatnya semakin jatuh hati. . ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut.” ucap Sabit Kematian jengkel. ”Eh. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. kita bisa ke pulau berikutnya. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. Berturut-turut Cermin Maut.” ucapnya cerdik. Dan dari sana melarikan diri keluar. ”Eh. Biasanya mereka yang dikejar orang. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air. tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu. Pulau keempat.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang.” jawab Tapak Kelam menjelaskan. ”Ini jalan rahasia. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja. ”Belum tentuk kita kalah sama mereka. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh.

” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya. ”jika ada jalan rahasia.” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. perlahan-lahan. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya.” jawab Wananggo. sedangkan Gentong. ”Sekarang coba alirkan hawa. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian. sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya. Rekan yang lain mengangguk. Setelah hening beberapa saat.” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu.423 ”Mereka menghilang. Sebagian turun. Wajahnya . yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain. tampak membuka matanya. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. pastilah ini menuju ke tempat lain. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini. Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana.” ucap Shia Siaw Liong. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur.” ucap Wananggo. ”Jangan semua masuk. ”Aku belum tahu. *** ”Minumlah ini.” duga Dhoruba. Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. kembali menuju perguruan.

Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya. Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya. tak usahlah sedih begitu. ”Mari. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini.. Ia masih ingat bahwa orang itu.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi. . semuanya kehendak Sang Pencipta. ”Padahal menurut petapa tersebut.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini.” ”Aneh. ”Engkau. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah. juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura. Dan katanya. ”yang penting kita sudah berusaha. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut. Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo. ”Aku merasa lebih sehat dan segar.. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju..” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Dulu oleh gurunya Rancana.. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya. ”Sebabanya.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya..!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh..” ”Paman. dihancurkan. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut.. si Bayangan Menangis dan Tertawa. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh.424 BAGIAN 7. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu. hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang. ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana... yang ada di hadapannya sekarang. paman! Mari kita pergi dari ini. paman. Saat ini oleh Wananggo. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar.!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya.

Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. ”orang itu. orang itu. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang.” ”Paman. ”Minggir!!” jawab orang tersebut... tidak dalam keadaan segenting saat itu. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita.” ucap Lantang bergetar. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya. Keduanya terdiam. seorang wanita dan dua orang laki-laki. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih .. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Cermin Maut. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ. begitu pikir mereka. Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku.. Ia tidak mempedulikan Lantang. segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. tapi bagi anak kecil seusianya saat itu. yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang.. Mereka segera berhadapan.. yang adalah Tapak Kelam. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti.. siap untuk saling serang. Tidak terlalu sakit. Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng..” katanya kemudian.. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu.

Jika sudah kenal. bukan?” ”Ya. Tidak . Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. Sembilan tepatnya sekarang. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya.426 BAGIAN 7. yang wanita. Bersiap hendak saling serang. ”saya Shia Siaw Lion. ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. Misun dan Gentong. Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. ini kami. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa. ya ia mulai ingat. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. Angus. ”orang sudah hampir mati kok ya. Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. malah salah seorang dari mereka berkata. berkata salah seorang dari mereka. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. ini Dhoruba. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. Ya. Cermin Maut.

mau tak mau membuat mereka merinding. pemuda yang berada di depannya sekarang. ”Kaum Abadi.” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang.. Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu. ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar. Pemuda itu adalah..427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya. Umumnya dengan jarak jauh. Keras . Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh...” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu.. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras.. Hening sesaat... mereka benar-benar nyata adanya. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak. mereka-yang-tak-bisa-mati. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka. Bukan hal yang normal. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut. ”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. lincah masih geraknya. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat. Pukulan keras dan lurus. akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo. menebas kepala sudahlah cukup. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa.

di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. Dalam jarak dekat. Di mana-mana. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. mungkin. Campur baur antara sedih dan marah. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. kitab tersebut harus ikut. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar. . Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Pusing sesaat dirasakannya. Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. Segera ia melompat mundur menjauh.428 BAGIAN 7. senjatana tidak begitu berfungsi baik. Rancana. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. bertempur jarak dekat. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. mengemis dan kelaparan di jalan. Untung saja ia bertemu dengan gurunya. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. Dengan jarak yang sekarang agak jauh. Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. kali ini di bagian tengkuk. Jika ia harus pergi dari sana. Jika saja tidak. atau berkalang tanah.

walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. Lalu katanya.” jawab Wananggo. ”Aku mengerti. Lantang. ”baiklah paman. Diantara kedua orang saudara seperguruannya. paman. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. dipegang di tengah. Kita sebaiknya tidak mencampuri. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam. ”Kaum Abadi. rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang.” ajak Wananggo. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. Maju kena cengkeraman. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain. Cara serang yang baru ini.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu.” . Memang untuk keselamatan kita juga. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. pinggir berganti-ganti. Mundur kena sabit jangkauan panjang. baiknya kita segera berlalu dari sini. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. membuatnya sedikit kewalahan. tapi Gentong tidak tahu. aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. Lain waktu kita cari lagi orang itu. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. ”Nak Lantang. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. Memang sebaiknya kita pergi. mereka itu.

”Maya. berbulir-bulir mengambang di udara. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu. Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra. yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. Xyra tampak terkejut. kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Saat ia berlari cepat. Misun lalu membuka baju luarnya. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain. dan ini Xyra dan Lantang. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. Terdapat banyak untaian. . Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. pulau ketiga.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. menirukan. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. tak perlu kalian takut. segera mengangkat tangan pula. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. ”Aku Wananggo. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. Entah apa. ”Howgh! Aku Misun.430 BAGIAN 7. Aku tak ada maksud jahat. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana.

kembali menemui rekanrekannya. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. Jika harus lewat jalan biasa. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. adalah tidak terlalu berat. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka. Tatapannya yang seakan mengatakan.” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. kehilangan seorang rekannya. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut. ”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan. ”Howgh!! Tugasku telah selesai. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh.” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian. Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi.” ujar Mayat Pucat.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. . Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Sabit Kematian. sah-sah saja. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. Tapak Kelam. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati. ”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Betul-betul lawan yang tangguh. *** ”Untung ada engkau.

our problem in this land is alreay finished. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. Gentong masih tampak termenung. Banyak sudah darah yang dimininumnya. Bagus. Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin. ”Sudah saatnya kita pergi. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. *** ”So.432 BAGIAN 7. ”Yeah. Pada suatu gerakan tipuan. ”Pilihan yang bagus. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. Dhoruba terkekeh-kekeh. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan. isn’t it?” ucap Angus. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. right!” sambut Dhoruba. Mereka segera berlalu dari sana. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Menepuk bahunya. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Melihat itu. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. sejenak dipikirnya sesuatu. Senjata yang sudah ’tua’. bagus!!” Misun. mengajaknya berlalu dari situ. ”Gentong. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. yang mungkin belum dingin tubuhnya. yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya.” sambung Shia Siaw Liong. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan.

orang tua itu. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. ”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan. Ia. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. Saat orang itu bangun. *** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi. tapi ia tidak mengerti. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan.. dan mereka akan datang. . terutama bagi kaum mereka. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. ”Aku harus memberi tanda di sni. di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut. – merekayang-tak-bisa-mati. Undakan batu. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. ”Ini harusnya tempatnya.!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini. membentuk semakam bekas candi atau kuil. persegi. portal!” ucap orang itu.433 nunaikan misi mereka sendiri.

jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda.” ucapnya perlahan. membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. di atas pohon!!” ucapnya kagum. Manusia Tiga Kaki.. ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah. Sejurus tak ada jawaban. saya Rancana. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat.434 BAGIAN 7. Ya. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi.. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia. ”Ini.” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki.... ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras. Tiga kaki tingginya.. ”Ya. Yang membedakan mereka adalah tingginya. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung. kami ’menculik’ anda dari portal. ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi. ”Saya Coreng. Anda siapa?” tanya orang itu kemudian. kami tahu. Lalu katanya. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan.” jawab makhluk itu. pelataran batu tempat anda tidur. Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar. ”Eh. ”Eh. Makhluk itu tampak sedih dan muram.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa.. Setelah berkata demikian. kami kemudian membawa anda ke sini. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri.. ”Maafkan bila tadi malam.. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa. Nanti.

435 tenang.” ucap Moreng meyakinkan. Rancana sejenak terkenang akan muridnya. kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat. Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. Lantang. *** . Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah. Dan di sini. Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. *** ”Engkau yakin. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya.” gumamnya. telah ditemuinya. Dunia ini luas rupanya. ”Benar. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian. ”Aku telah tiba di sini. Berikutnya minta pertolongan mereka. di Rimba Hijau. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita. itu yang penting. apanya!” usul kawannya kemudian. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. Moreng?” tanya Coreng.

436 BAGIAN 7. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. ”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana. Sambil menutup hidung. lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora... ayah. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan. Dara tersebut hanya menangguk. berhak atas persemayaman yang layak. ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. ”Iya. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu.” jawab sang dara. jangan dipegang!!” ucap ayahnya. Oleh karena itu harus segera dikuburkan. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. Hanya manusia. nanti aku gali sebuah lubang besar. karena selain orang mati. Dara itu kembali mengangguk. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. . Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana. ”Hati-hati. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. Berpesta santap daging manusia. jika juga sudah menjadi mayat. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan.” ujar ayahnya.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan.” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya.

benar..” jawab ayahnya. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang.” usul anaknya. ”Bercocok tanam. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup. Entah dari pihak mana.437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. Sayang untuk ditinggalkan. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. Di beberapa ruang halaman. Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana. Yang penting semuanya telah dikuburkan. ”Membuka kedai saja. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan.” ”Ya. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja. tidak terlalu takut tidak dapat hidup.” balas ayahnya. aku ada banyak pengalaman. Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. terutama air terjun di belakang amatlah indah. ”Ya. ”Mereka toh telah mati. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian. Pintar!!” kata anaknya antusias. .” tanya anaknya kemudian. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya. yang penting kita coba. ”Buat apa dipikirkan. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu. ”Bagus juga tempat ini. di belakang itu amatlah indah. membuka perguruan silat. Keduanya kemudian tertawa berbarengan. berdagang. Keduanya tampak puas. ”dan tempat ini. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. tapi dari tanam-tanaman kita sendiri. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian. Perguruan Atas Angin..

Lalu keduanya mulai beranjak dari situ. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha. Dara itu mengangguk. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. ”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana. di gunung. ”Masih. paman.” jawab sang dara ceria. kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari. Dalam hatinya ia berkata. ”Anak wanita kok senangnya bertempur. ”Mari kita mulai mendaki.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu. ”Kita masih harus mendaki gunung ini.. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. mengeluarkan ilmu berlari . semoga saja.” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. kita akan berlari cepat sekarang. Bila tidak. Padang Batubatu. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu.438 BAGIAN 7. Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan. Gunung Berdanau Berpulau. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu. ”Kita tidak tahu itu. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta. supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. *** ”Masih jauh.” sarannya kemudian. paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya.

Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. bagai dua buah patung pualam putih. Menuju suatu tempat di atas sana. Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba. Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. yang mengangguk perlahan kepadanya. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. Meloncat di sana-sini. Memutih dan mengeras. Sedih bahkan. Membeku. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. *** . cepat hampir tak terlihat. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. kering.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut.

ORANG-ORANG ABADI .440 BAGIAN 7.

akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. Lautan.. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan.. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan. Telaga pemuda itu. Melesak dan tergores halus. Bagi pemuda itu. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau.Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai. Ia tidak asing dengan air. jauh di utara sana. Pantai Selatan. Tepatnya tiga tahun dari saat ini. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 . tepi daratan. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan.

Tapi ia belum merasa puas. Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. yang mengajarinya dua jurus pokok. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Arasan ia memperoleh dua jurus pula.442 BAGIAN 8. memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Selain belum benar-benar merasa cukup. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. Guru yang pertama adalah Walinggih. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini. Sebuah perahu nelayan. seperti dipesan oleh orangtuanya. Tenaga Air. Bila ada nelayan mendarat. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi. Ki dan Nyi Sura. Saat perahu yang ditujunya mendarat. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. Sedangkan dari guru keduanya.

Tepi Darat Selatan. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa. Telaga mencari-cari matanya. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar.443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. ”Eh. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Cukup terlindung dari angin. Ia adalah orang asing. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan. Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut. Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan.. setidaknya menurut para penghuninya. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur. Ia pun membuka perbekalannya. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. Hari sudah menjelang senja. . tamu tepatnya. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut.” tersadar Telaga dari kekagumannya. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut. Belum mereka berkenalan pula. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu.. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. bergegas berlalu dari situ. hanya bisa terpaku melongo. Ia hanya memandang kagum dan membisu. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. harus aku ikut dia. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu.

”Belum tentu. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. kalau engkau yang salah. Lebih aman di sana. aku tangkap dia. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya. ”Iya. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. ”Jangan terlalu curiga. baik. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya.” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. kakek! Besok baru kita tanyai. ”Ah. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. Tapi awas ya. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut. saking ringannya . ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat.444 BAGIAN 8. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya. ”Baik. meringkuk miring dan juga mendengkur. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. kakek!” rengek sang cucu manja. kakek! Pemuda ini. Dara itu mengangguk. ”Jadi apa maumu sekarang. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu. engkau harus minta maaf kepadanya. Pelaut Ompong. mungkin belum muncul saja aksinya.” usul cucunya itu.” goda kakeknya kemudian. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan.” jawabnya.” ucap gadis itu.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Pelaut Ompong. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. Kaku dan keras. Suatu alasan yang picik. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Wajah. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini.456 BAGIAN 8. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. . adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. dada. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. Serangan kasar dan membabi-buta. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain.

. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak. Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Dan termenung..... Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain.” jelas Telaga. Wassa hanya tersenyum malu.” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu. ”Wassa. kita sudahkan saja hal ini. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan . Ia pun terduduk lelah. ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya. Bukan begitu?” tanya Telaga balik. Lelah sudah pemuda itu. terus. Ia kemudian lanjut berkata.” ”Aku ini sudah bertunangan. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya. Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu.. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong.457 ”Telaga.. Terengah-engah sekali tampaknya. Tak ada gunanya. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu. mencoba untuk membantu. akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya. Wassa. jangan engkau menghindar..” ”Aku ’kan menumpang di sana. Sedih..!! Ayo lawan. ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat. Lalu katanya..” ucap Telaga perlahan. Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya.

aku juga tertarik dengan tempat ini. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir. Telaga. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku. Telaga menganggguk. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. menyisir lembut daun-daun nyiur. Seorang berilmu dan juga ramah. baiknya kita latihan diam-diam. Aku rasa. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu. Wassa mengangguk setuju. Menuju desa Tepi Darat Selatan. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain. *** . Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. Dengan ini kita jadi bersahabat. ”Ini semua hanya salah paham.. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua.. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling. ”Di samping itu.? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. Bagaimana?” usul Telaga. lalu katanya. untuk suatu kejutan.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga.” katanya sambil mengedarkan pandangan. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk. Nanti malam kita bertemu lagi di sini. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu. Nanti kuceritakan. Angin pun berhembus perlahan.458 BAGIAN 8.

Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini. yaitu Gopala dan Hemachandra.” ucap Wassa memberi .” ”Menarik.” jawab Telaga singkat. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India).” cerita Mayayo. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. selebihnya aku tidak hapal.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. ”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja. Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu. ”Perhatikan bahwa suatu bilangan. setelah bilangan ketiga.” ucap Wassa. yang dinamakan deret Fibonacci. ”Belum.” ucap Telaga penuh ingin tahu. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh. ”Masih belum mengerti.

MENARI BERSAMA AIR ”Iya. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan. Lalu terdengar Telaga bertanya. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu.460 petunjuk. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- . ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. Pelaut Ompong. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu. Hening sejenak.” jawab Wassa. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. ”Menarik!” ucapnya kemudian. ”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu.. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya. Coba tanyakan kepadanya. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. membuatnya benar-benar tertarik. kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini.. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar. ”Di balik itu. BAGIAN 8. Rahasia. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. CMLXXXVII. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan.

” ”Jika memang kitab itu tidak ada.461 makaman kuno tersebut... ”Bahkan. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali. ”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian.. .” jawab Pelaut Ompong.. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi. Jadi.” jawab Telaga jujur.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi. Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu. itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan.. ”Saya dengar dari Wassa. ”Hahaha. ”Kami tidak berhasil menemukannya. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu. ”Orang yang menceritakan berita itu.” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat.. tunggu dulu. Waktu aku seumurmu juga demikian.. ”benar-benar lupa aku. hmmm. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu.” berkata Pelaut Ompong arif. berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa.

Jangan beritahu siapa-siapa. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. rumah di mana ia menumpang tinggal. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit. Secara reflek ia tersentak dan berdiri. Telaga beristirahat lebih cepat. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. Sejenak dirasakannya suatu keanehan. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. *** Malamnya. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu.462 BAGIAN 8. . Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka.

Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. Telaga minta diri untuk beristirahat. di atas bukit. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya.” jawab . kek. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. ”Itu Telaga. *** Malam baru menjelang tiba. kok masih hari ini sudah minta diri. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. Saat untuk pergi ke bukit. Mayiya. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. ”Enggak ada apa-apa. Malampun semakin larut.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya. *** Dalam beberapa hari itu. Tumben. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. Angin masih berhembus lembut di kejauhan. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya.

*** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu.” ”Iya. membuat malam itu gelap dan lengang. ”Ah. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan. kita istirahat juga saja.464 sang kakek. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. Malam tanpa bulan. Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap. mungkin juga. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. . Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya. Langit benarbenar gelap. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. Arah di mana suatu bukit berada.” jawab kakeknya. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. Mayiya. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi. ”Kalau begitu.” tebak Mayiya. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri. BAGIAN 8. kek.” jawab cucunya. Telaga pun beranjak menuju suatu arah. Setelah hampir-hampir tertidur. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. Akhirnya ia berada di luar rumah.

Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam. Perlahan. Bukit ada di sana. Setelah yakin. Berdebar-debar jantung Telaga. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. Setelah rasa terkejutnya pulih. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. ”Jangan nyalakan api. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya.. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak. Pemakaman kuno di atas bukit .. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain.465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. ia pun mengambil arah berlawanan. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Sebelum ia sempat menyalakan obornya. Hening. meraba-raba sana-sini. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. Ia sudah hampir berada di sana. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. Setelah berjalan beberapa saat. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua. Jika tidak.

menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan . merapalkan Tenaga Air. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. Di tengah-tengah pemakaman kuno. dua. Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. Suasana tampak lengang. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. membuatnya sedikit tidak tenang. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya.466 BAGIAN 8. Sendiri. mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. Satu. Suasana yang terlalu sepi. Sepi. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. Sekarang ia telah berada di sana. Sedikit gelisah ia menunggu. Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. Setelah ia merasa sedikit nyaman. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. Sunyi.

Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. Dan kembali berlaku hal yang sama. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. Sunyi. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana. Belum belasan langkah ia melangkah. Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya. kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya. ”Maaf. Se- . Hening tak ada jawaban. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Berkali-kali. kali ini dari arah kirinya. dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. Menyambar dengan lembut. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula. Kembali hening. kali ini dengan dada agak berdebar-debar.” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. dingin. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya.

di udara. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu.468 BAGIAN 8..” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan.” suatu suara lirih terdengar samar-samar. ”Desa Terapung. pelan. . *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini. Ia menggapai kain lusuh tersebut. mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap.. menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu. Ya. Hari pun sudah mulai mendekati fajar. Ia tidak begitu ingat. menghindar karena menyangka dirinya diserang. Mengirimkannya hampir tanpa suara.. Suara yang sama. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi.. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana.. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk. Kita akan bersua lagi nanti. mengambang sebuah kain lusuh terlipat. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan. tapi jelas. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. Dan di depannya. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada. itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya.

Membentang di hadapannya tampak air. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. Desa Terapung. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. Kaku masih. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Sekarang tampak di depannya. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Semuanya serba kayu. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. Terasa benar lemasnya.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya. Jalan yang juga terbuat dari kayu. Laut. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. tidak seperti saat ia pertama kali sadar. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga. Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. Terkagum-kagum . Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. Tak berbunyi.

lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat. tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Kurang dari sepeminum teh. membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran.470 BAGIAN 8. peti itu telah hilang dari pandangan . Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. Di sana. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Kadang ke atas kadang ke bawah. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara.

ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. orang yang diselamatkan dari amukan badai. gurita raksasa. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. ikan paus dan sebagainya. Bila sudah tentu tidak dibakar. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. Untuk itu. Ada ikan. gambar-gambar dan juga ukiran. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. yang kelihatannya dituakan. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Pemuda itu. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. hanya dengan sang gadis ia berbicara. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. tampak beragam hiasan menempel. termasuk si pemuda. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. mulai bertanya-tanya. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . Benar-benar tak ada suara yang terucap. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk. kapal. tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. Dari luar terlihat biasa. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. Tinggal beberapa orang di antara mereka. mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali. mengapa sedari ia datang. Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran.471 mata. Ya. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. Balai desa dari Desa Terapung. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Orang yang mati telah dikuburkan. laut adalah satu-satunya solusi. Lalu seorang dari mereka. Tak ada kata-kata yang terucap.

”Siapa namamu?” tanyanya ramah. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya. orang yang sudah terlihat cukup tua. ”Saya Akanamia. dengan pendengar orang-orang sendiri. Ia mengangguk dan berangsur bangkit. Orang yang ditunjuk mengerti. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. Gadis tersebut tersenyum padanya. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . ”Saya bernama Mayayo. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. dan menempatkan dirinya di samping pemuda. ia kemudian mulai membuka percakapan. Bila tidak ada orang baru. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut.” jawabnya. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing. tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi.472 BAGIAN 8.” jawab gadis itu. Lalu seorang dari mereka. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. kebiasaan ini pun tetap dilakukan.

Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. .473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. Dua orang menghampiri Mayayo. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. Kakeknya. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. Tapi di luar kekurangan mereka itu. mereka memiliki kelebihan. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. Orang-orang pun berbubaran. Pelaut Ompong. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. Selain itu terdapat pula. Setelah cerita itu selesai. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis. pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. berikut pula perahunya. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

telah tiba kembali . Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. orang-orang pun mulai berpamitan. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya. Bila suatu saat mereka mendapat giliran.” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit. menjadi bahan pikiran masing-masing orang.485 dua orang ini. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Mayayo. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. setelah terlebih dahulu membersihkannya. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. Pelaut Ompong tak ada di tempat. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa.

Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan.486 BAGIAN 8. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Mayayo. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. MENARI BERSAMA AIR di rumah. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. bercerita pulalah ia. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. . dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu. Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Ia kagum akan sikap pemuda itu. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka.

sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. Mungkin. yaitu berenang. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. Ya. ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. minta diri. Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. Sebuah danau yang luas dan indah. Orang tua. ”Engkau ada ide. . Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka. yang hanya mengangguk mengiyakan. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya.” usulnya kemudian. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. Terpikir hanya satu jalan. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. Pulau yang menjadi tujuan mereka. ”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan.

” ucap Walinggih ramah. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini.. ”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu.” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. ”Baiklah kalau begitu. Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua. pikir Walinggih. Kami ingin sekali membantu mereka kembali. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu.” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat... sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan. Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka. kami bantu menyeberang.” ucap Walinggih. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami.. ”Ah.488 BAGIAN 8. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini.” . ”Cape paman.. ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma.. dan makin lama makin cepat. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. jadi anda berdua ini. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. dan itu matahari sudah mulai hilang. Berjalan agak cepat. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong. dan saat ini adalah kesempatan kami.

Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja. Suatu perangkap satu arah.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. *** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik. saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih.

Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti. bagaimana tidak. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. Atau jika kalian ingin dijemput. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. Untung tidak terlalu lama.” ucap gadis itu. paman. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya.. di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian. paman! Saya tidak melihatnya tadi. Lalu kata seorang dari mereka.490 BAGIAN 8. kita sudah di sini. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya. Setelah mengucapkan terima kasih. walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. ”Betul.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. . Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan.. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. jika tidak. ”Mungkin ke sana. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru. Ya. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. ”Nah.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih.

Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka. dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. Pikirannya melayang ke mana-mana. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”. ”Paman. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud.” Tak ada kata-kata lain. terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. Agak terletak di sebelah dalam. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. Setelah lama mencari-cari. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka. Di sana berdiri sebuah saung. apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan.” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. kondisinya pun tak terurus. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati. . mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam.” jawab Walinggih mengiyakan.

Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu. ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam. Keduanya pun segera beranjak ke sana. Siapapun orang itu.492 BAGIAN 8. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi. . Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. ”Hati-hati. tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau.” ucap Walinggih. ”Benar. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu.” ucap Walinggih perlahan. MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. maka guanya berada tak jauh dari ini. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap.

tampak samar-samar wajah seorang manusia. kami mencari mereka. Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. yang ternyata adalah es. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. ”Ya. ”Ini. Ki dan Nyi Sura. Dua buah manusia yang telah membeku. ”pada saat-saat itu kebetulan ... ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya..” jelas orang itu. di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. ”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah.” ucapnya perlahan. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan. seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu. Walinggih dan Sarini. Hening sejenak meliputi suasana di sana.. Tak berani menganggu. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka. Lalu lanjutnya. ”Aku adalah sahabat mereka..493 Perlahan kedua orang itu.” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka.. keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu.

Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut.494 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. Tak tahu harus berbuat apa. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai. ”Tidak juga. ”Ah. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. Dengan membekukan mereka. kalian membawa kabar baik. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima.” jawab Rancana pendek.” . Lalu katanya. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman. jika saja mereka dapat mendengarnya. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka.” ucapnya pelan. Lalu setelah ditanya.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya. yang mengaku bernama Rancana. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian. ”Tidak tahu. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian.

Sudah bola matanya. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau. rambutnya dan juga kulitnya. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. Julukan yang telah lama ditinggalkan . seperti lidah dan rongga mulut.. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari.495 Keduanya kemudian terdiam. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. Rancana hanya mengangguk. ”Pesanku.” ucap Rancana. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah. Dugaan Walinggih benar adanya. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. larut dalam pikirannya masing-masing. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. Lantang. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku. julukan yang dulu dimiliki Walinggih. ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. ”tolong katakan pada muridku. Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih. menjadi patung es. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura.. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu.

Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka. Rancana pun memaksa untuk menolong. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. Jika saja Ki Tapa masih hidup. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. BAGIAN 8. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna. Lantang. Jurus yang . Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya.496 dengan sifat-sifat jeleknya. sempai bertemu dengan Hitam-Putih.

Ia . Guru pertama adalah ayahnya sendiri.” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong. air atau angin. Entah apa hubungan antara keduanya. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan. Sehabis serangan lewat. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana. ”Jika belum bisa menerapkan.497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. Perlu waktu memang. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh. Sia-sia. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. Walinggih. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. Mirip seperti pohon yang dirawat. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Walaupun ilmu kami berbeda. disiramai dan akhirnya berbuah. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka. Arasan.

Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus. dengan tanah dan rumput-rumputan. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping. Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang.498 BAGIAN 8. Ki dan Nyi Sura serta Rancana. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini.” perintah gurunya itu kemudian. Tak lupa disirami . ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.” ucap gurunya. Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya. bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. membentuk posisi segitiga. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak. Sarini mengangguk. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. tetapi masih lengket pada tempatnya. memutar.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. beberapa batu tampak berderak-derak.

Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. *** ”Akanamia. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. ”Kita tidak berpisah selamanya. menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka. kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada. Keduanya tidak banyak bertanya. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. ada waktu berpisah. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. sudah tentu . Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu.

Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. ”Saya akan coba. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama.” jawab anak muda itu cepat. *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya. kakek.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya.” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut. ”Benar. paman. Postur . Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi. disetujuilan usulan itu. calon iparnya. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. ”Baik.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. ”Tidak mudah. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. paman! Ingin menimba ilmu di kapal. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya.” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut. Akan kuturuti kata-katamu. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu. ”Menari Bersama Air. lho! Beda di dengan di darat. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu.500 BAGIAN 8. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja.” ucap anak muda itu meyakinkan. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat.

Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. bapak dan kedua anaknya. Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Dilihat dari tongkrongan mereka. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. begitu kata orangorang. Lalu mereka berdua pun berpisah. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. Tlatah Matahari Terbit. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. ”Baik. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah.501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras. ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. Tanah seberang. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya.

Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini.” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. aku Telaga. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya.” jawab orang yang ditanya. tapi dapat saling mengerti dengan baik. ”Aku Gentong. ”bila cuaca buruk dan ada perompak.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat. Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. Dengan keempat rekan pemuda itu. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. ”Yang pertama itu bekerja di laut. Telaga yang tidak sengaja menguping. . yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti. apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya.502 BAGIAN 8.” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. bertubuh besar dan subur itu. ”Hai. ”Teman-teman yang menarik. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya. Juga bahasa yang mereka gunakan.” jawabnya ramah. entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat. mungkin malah lebih lama. ”Empat sampai lima minggu.

Tidak menggurui. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya. Setelah ia pergi. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang. Ki Tapa. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong. . sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut. Keluarga yang terdiri dari ayah. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Misun nama orang itu. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. ”Jangan terlalu banyak bercerita. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. akan aku camkan itu. Ya. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. Suatu yang aneh menurut pemuda itu.” ”Ya. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Begitulah kehidupan berjalan. ”Telaga. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya.

termasuk Telaga pun bersiap. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang. *** . MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal.504 BAGIAN 8. Para anak buah kapal. di kejauhan dekat horison. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka. Dan angin pun bertambah kencang bertiup.

saya ’kan belum punya banyak pengalaman.Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah.” jawab pemuda itu rendah hati. tapi itu bukan suatu buku yang bagus. ”Oh. Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya. ”Aku suka sikapmu. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan.” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar.. belum bisa saya menilai. ”Tidak apa-apa guru.” ucap orang tua itu kemudian. menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang. itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. Isinya macammacam. buku yang baik atau tidak.” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu.. Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 . Jadi bagi saya.. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi.

Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Cukup panas menurut kulitku. Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. . Hari Pertama Seingatku. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini.506 BAGIAN 9. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. hari itu adalah hari Kamis. ”Lu. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya. Saat itu kereta cukup sepi. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. dua hari yang biasa-biasa saja. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. Atau mungkin manja? Entahlah. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Banyak tempat duduk yang belum terisi. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya.

Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut. ”Terima kasih!” kata sang orang tua. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . Tak lama setelah itu. Lalu. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam. ”Aqua. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. lima ratus!” katanya. dan mulai kuamati dirinya. ”Jeruk seribu. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Aqua. dan lanjutnya. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. lima ratus. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual.

Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. ”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke.” ”Tapi bapak masih kerja.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya. Setelah mengeluarkan dompetnya.” katanya dengan suara yang kurang jelas. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. ”Rejeki itu dari Tuhan. di kantong ada. Mampang. ”Ya. Begini-begini kerja dibayar orang. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” . Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan.508 BAGIAN 9. Nggak ngamen. Kalau duit sih cukup. ”Nggak ada sodara. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah.” katanya. ”Satu seribu?” tanyanya antusias. kalo mau kerja pasti dapat. Dua setengah kali lebih mahal. suami enak-enakan nggak kerja. seribu. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya. ”Bapak tinggal sendiri. Di kampungnya. Nggak ada istri. Nggak perlu ngamen.

Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut. Pak!” Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang di sekelilingnya. Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. Proses mencari uang juga dipikirkannya. Sesaat sebelum turun. kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. Amin. Entahlah. Pak!” Lalu kami terdiam. Sayangnya. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. . akan tetapi terbersit suatu hal. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. seorang tua dalam hari kedua. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. walaupun mungkin secara sederhana saja. Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya. Ternyata di hati seorang tua. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. Uang bukanlah tujuan akhir. Hari Kedua Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. ”Terima kasih. dan dibangunkanlah aku oleh dirinya. menurutnya. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. pamitlah aku padanya. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri. masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. Dan kemudian terkantukkantuklah aku dan akhirnya tertidur. ”Mari pak!” kataku sambil tersenyum. ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. sang orang tua. ”Bagus.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya. Bersyukurlah diriku. Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku.

Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und Zweitenstraen gekauft. Das ist mein Traum. Ein Problem hatte ich und ich konnte dafr keine Lsung finden. Manchmal ee ich Fisch und Fleisch. ”Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut.510 BAGIAN 9. Brot und Kartoffeln. Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen. Das has mich den Mut gegeben. misalnya saja ’komuter’.. Danach habe ich diese .. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03 Ein Schriftsteller werden mchten Ein heier Tag war es. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU **Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22 ”Hmm. Meine Mutter a gern Salat und Gemse.” Ein kleines Restaurant Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. biasa saja. weiter zu screiben. Deshalb a ich alles (Salat. Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben. Deshalb muss ich viel Geld sparen. obwohl man viele Fehler macht. Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt. um ein kleines Restaurant zu machen. Banyak kata-kata yang tak kumengerti.” gumam pemuda itu. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen. Schon lange hat es nicht geregnet. Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und mchte es noch immer. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. Gemse. Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. Fleisch und Fisch). Aber heute ee ich lieber Suppe. aber main Vater a nur Fleisch und Fisch. da man immer wieder schreiben soll. Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert. Aber heute habe ich kein Geld. Das was letztes Jahr.

Banyak contoh mengenai hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan? . da die Leute fast immer irgendwo M werfen. Cepat karena ia tidak mengerti bahasa yang dituliskan. Ich bin zu mde. Und dann sehe ich heute. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27 Die Mlleimer werden schwer gefunden Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. Bukankah hal ini menjadi suatu paradoks? Mungkin. da jede Leute saubere Stadt leben. um auf den nchsten Zug zu warten. Ich denke. deshalb steige ich in diesen Zug ein. Boleh setuju boleh juga tidak. obwohl er schon voll ist. tetapi intinya sama. finde ich. Akan tetapi hal itulah yang dapat dikatakan. Pasrah diri secara total” Cinta adalah masalah yang memusingkan. Die Gemeinde soll mehr Mlltonnen machen. Aber sie haben nicht immer Schuld daran. Ich danke ihm fr diesen Rat. aber an seinem Rat erinnere ich mich noch immer.di mana dalam novel ini terdapat jurus Tepukan Satu Tangan yang merupakan pemahaman Eyang Sepuh terhadap Kitab Bumi. Di banyak negara diberi nama berbeda. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya.” ”Ilmu segala ilmu itu adalah Tepukan Satu Tangan. Sie machen die Umgebung schmutzig. Ich habe schon den Name des Schriftstellers von dem Buch vergessen.511 Geschichte geschrieben. di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Bertepuk Sebelah