Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka. Katanya kemudian.” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. Tapi semua orang tahu. Hening dan sunyi.” Kemudian lanjutnya. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin . bahwa mereka memang harus menunggu. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu. Asap menjadi malu dan takhluk. Mendengar ini ini. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah. penghuni hutan dan gunung. Jika saudara beruntung. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar.” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. melalui suatu cara tertentu.” kata Asap dengan sejujurnya. Dan ia masih bertanya-tanya lagi. Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. tak tega rasanya Ki Gisang. selalu ingin tahu dan penasaran. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya.12 BAGIAN 1. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama. Bantuannyalah yang berarti bagi kami. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini. Keheningan itu tidak sia-sia. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya. karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana.

” ucap Tampar.. benar. ”Ki Tapa.” sahut Ki Tapa dengan gembira. Yunani.” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik... ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini. ”Benar. Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita.. maaf bila saya masih bertanya. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang. selatan dan barat...” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung. lambang-lambang ini. sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya.13 utama: utara. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan. sang pertapa tua sambil tersenyum. apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut.. Lebih baik sekarang bertanya.” . ”Kalau menurut saya. ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar. ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda.” jawab Gisang dengan yakin. kamu benar sekali Gisang. ”Begini Ki Tapa.” jawab Ki Tapa. dari pada keliru di kemudian hari. timur...

dapat diolah oleh mereka. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. Lanjutnya. walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu. guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. ”Alasannya sudah tua sekali.14 BAGIAN 1. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. bahkan lebih tua dari umurku ini. kakek guruku dan guru dari kakek guruku. Mereka tidak suka. akan tetapi dari negeri seberang.” Ki Tapa terdiam sejenak. Dari gurunya. ”Guruku. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut. Bertahun-tahun sejak itu. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya.” ucap Ki Gisang sambil menerawang. mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. Bukan menjadi lahan pertanian. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. sampai ia tiba di desa ini. ”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit. sehingga tanah di sana. Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. akan tetapi karena ada . Pikiran harus bersih. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat.

sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya. Dan terpilihlah guru dari kakek guruku. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya. Ia melihat ketidak-adilan tersebut. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut. dan memberikan tanahnya kepada mereka.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak. . sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya. yang berasal dari tanah seberang. akan tetapi usul tersebut ditolak. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. untuk mengairi ladang-ladang mereka. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya. untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. agar penghuni desa yang tandus itu pindah.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang. Ki Patuh. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini.” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

Pemaknaan keempat elemen (udara. . yang berarti pertama. basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. kering. apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles. timur. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua. Demikian pula dengan tanah. ”akan tetapi Ki Tapa. Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita. utara dan barat. Ki Duo. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar. adanya racun dalam udara. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan. Akant terjadi hujan. menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. dingin. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas. Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup. Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. Jurus Tanah dan Jurus Air. ketiga dan keempat. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal.16 BAGIAN 1.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin. Jurus Api. Ki Tilu dan Ki Uu. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. kedua. api. selatan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. Misalnya Jurus Udara. Kakek guruku adalah Ki Tilu.

agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran. sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih. Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa. bahan-bahan apa yang kurang. dengan mereka di belakangnya menda- . sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut. dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan. untuk mempelajarinya. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari. bahkan di daerah yang kering sekalipun. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya.” ”Akan tetapi.” lanjut Ki Tapa. orang dapat mencari-cari sumber air. maka kehidupan mulai kembali berjalan.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus. ”Nah. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan.” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien. Dengan cara ini.” Lalu lanjut Ki Tapa.

”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. ”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti. sehingga . karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu. Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan. ”Memang benar. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda.” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. kata Ki Tapa sebelumnya. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari.18 BAGIAN 1. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. sambil sesekali menghela napas. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh.” sahut Ki Tapa. hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja. Kemudian lanjutnya. Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. tanpa pengetahuan ilmu bela diri.” Terdiam sebentar Ki Patuh. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut.” ”Tapi.

Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun. walaupun suatu ilmu dimilikinya. Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini. Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan.” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia..” ”Jika hampir semuanya meninggal.” sahut Ki Tapa gembira. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun . jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu. kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut.” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia. sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut. karena ia kebetulan memang penunggu makam. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas.” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya.” bertanya Tampar kemudian. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. sudah ditolong.. Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. Berbulan-bulan di dalam tanah. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu. ”Pertanyaan yang baik sekali.

orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya. Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam. yang boleh melakukannya. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu. mirip posisi pusat dan empat mata angin. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. hiduplah ia. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. melainkan hanya guruku. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah. Dan ia tidak ingin. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. Ki Makam orang menyebutnya. . selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. biar semua selesai. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh. dan hampir gelap. Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman. berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam.20 BAGIAN 1. Lebih baik dikerjakan hari ini. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. Ki Duwo di selatan.” lanjut Ki Tapa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur.” ”Saat itu sudah lewat petang. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding. Dengan tak terlalu tulus. sang penjaga makam. Benar-benar cerita yang sukar dipercaya.

karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. tanpa terasa mulut mereka menganga. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut. Ki Tilu mencegahnya. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar. Ini yang membahayakan. hampir saja copot jantungnya. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula. tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin. terharulah Ki Makam. walau hanya untuk beberapa jam. bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. yang didominasi oleh Tenaga Tanah. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu. Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk . meninggallah Ki Tilu. Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru. jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut.” Hening sejenak. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya. dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Setelah memperoleh penjelasan. sehingga paru-parunya keracunan. seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut.

Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya. Saat itu matahari sudah mulai turun. untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api. termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa.” kata Ki Tampar menjelaskan. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti.22 BAGIAN 1. Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan.” tambah Ki Gisang. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara. maka kami akan datang waktu subuh. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini. maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca. Sebagai contoh bila kami yang bermasalah.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. ”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita.” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya.” jelas Ki Gisang. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang. . Saat Ki Gisang hendak melanjutkan.

Sesuai dengan pesan Ki Tilu. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu. Karena alasan yang dipikir jelas itu.” jelas Ki Gisang. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk. Suatu pukulan yang amat jahat. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin.23 ”Kita masih punya banyak waktu. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. yaitu Ki Jagad Hitam. ”baiknya aku saja yang cerita kakang. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. ia belum berani mencarinya. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi. memiliki kecerdikan yang sangat. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di . akan tetapi salah seorang dari luar. lelah nanti pasti. agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin. Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan. Jika kakang terus yang bicara. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya. yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut.

Api. Gajah Duduk.” kata Ki Makam sambil terkejut. walaupun baru tingkat dasar.. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu.24 BAGIAN 1. Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta. hati. maaf. Ngaco kamu!” ”Maaf. pada suatu latihan. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. mungkin mereka dapat terluka dalam. Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup.. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya. Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya. dengan tak sengaja. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. jantung. masih disimpannya di dalam hati. Tanah dan Air dilakukan. paru-paru. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya. Api. kakak Gajah. sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. akan tetapi rusak isi perutnya. ”Makam.

Tanah dan Air. sedangkan lingkaran dalam. ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. tetapi hal itu tidak dilakukannya. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. aman di tengah-tengah. Api. Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. empat orang satu unsur. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh. maka posisi tersebut dimilikinya. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam. dibatasi hanya enambelas orang. keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. Dengan semakin .25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam. Dengan pengetahuan ini. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. yang juga guru pertamanya. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. yaitu Penjaga Udara.

sang guru. Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran. Walaupun dengan tingkatannya. Memang benar dikatakan orang. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. Penjuru Angin. akan semakin sulit tugasnya. dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya. yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul. dan ini membuatnya tidak terima. akan tetapi dalam suasana persahabatan. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. dan juga sang guru. melabrak murid- . Dari mutu ilmu kanuragannya. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. hanya dua puluh murid tingkat satu. Mendengar ini. bahkan menambah rasa malu mereka. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. tanpa melakukan telaah lebih dulu. karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua.26 BAGIAN 1. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan. luka-luka dan sakit. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin. akan tetapi di luar arena. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. Memang pada dasarnya darah muda. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin.

dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda. Tak lama setelah rombongan berangkat. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya. Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot. jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. terdapat pula tiga buah kitab lainnya.27 murid Perguruan Atas Angin. menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. yaitu Petapa Seberang. Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. . Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. Menjadikan mereka bulan-bulanan. telah siap untuk berangkat.

Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan. Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil.” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. Dengan dalih ingin segera menolong. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. apa yang bisa disimpulkan di sana. melainkan ke timur. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. tanpa kehilangan napas. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya. ”Di masing-masing sisi lubang ini. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara. melainkan hanya menggesernya. Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana.28 BAGIAN 1. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu.

” kata Ki Jagad Hitam.” ”Di sini ada tulisan guru. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. ”Makam si penghianat. ”Betul guru!” sahut lainnya. betul juga. di sini tertulis empat kitab. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah.” ucap yang lain. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. sama sekali tidak ada jejaknya. yang telah . harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu. berada di bawah kakinya sendiri.” geramnya. bahkan prasasti itu sering digeser-geser. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam.” duga seorang dari Lingkaran Dalam. ”Hmm. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan.29 but. ilmu meringankan tubuh.” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti. ”Maaf guru.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat. walaupun tidak sejauh hari ini. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. ”Dia harus di cari guru.

Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. Walaupun telah tua renta. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. Ki Jagad Hitam.30 BAGIAN 1. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. dan bergegas menangkap Ki Tapa. Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya. melalui pengamatan auranya. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. Sontak saja mereka kaget. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja. lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. Setelah ia merasa tiba waktunya. Seperti telah diceritakan sebelumnya. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. setelah .

Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung.” katanya riang. Tampar. Para anggota rombongan pun bergegas bangun. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling. akan tetapi dengan nada yang berbeda. Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung.” kata Ki Gisang. ”Wah ramai sekali di sini. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya.31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini.” sahut Ki Gisang.” sambut Ki Tampar. di hadapan mereka. ”Ya. ”saudara Asap pemimpin rombongan. berlakulah hormat. Ki Tapa. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya. ”Saya. Ki Tapa. Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap. . ”dan siapa orang-orang ini. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu.” sahut Asap hormat. Ki Tapa.” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini. ”Ia datang. rendah dan cepat lambat. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat. tampaklah seorang tua. dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka.

aku ingin bicara sebentar.32 BAGIAN 1. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas. Mereka telah lama . Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain. ini sudah kubuatkan obatnya. Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. barulah pergi. ”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya.” sahut Asap mewakili teman-temannya. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang. untung aku membawa kedua penawar tersebut.” ”Terima kasih Ki. Obat berhasil diperoleh. ”jika sudah sembuh benar. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan.” ”Hmm. saya juga setuju.” gapainya pada kedua orang tersebut. tanpa berbicara. Ki Gisang menggangguk pula.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur.” katanya.” sahutnya kurang senang. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki. ”Sudahlah. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja. ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu. berkatalah Ki Tapa.” sahut Ki Tampar.” jelas Asap. bener-benar banyak ucap. ”Tampar. Telebih tampak pada wajah si sakit. Gisang.” ”Pilihan yang bagus. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa. yang ahli obat-obatan. Saat ia mengambil obat tersebut. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing. orang-orang Perguruan Atas Angin. digigitlah tangannya.” ”Baik Ki. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara.

” ”Baik Ki. dan bagaimana .” sahut mereka hampir berbarengan. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas. ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh.” kata Ki Tapa kembali. Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau. saat si sakit sedang dalam pengobatan. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa. ”ini pun menurut dia. bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh. harus mencari obatnya di sini. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni.” katanya. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya. ”Sebenarnya. ”Saudara Asap.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris.” jawab Asap dengan hormat. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.” jelas Asap. dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau.” lanjut orang itu. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh. Ki Gisang bertanya kepada Asap. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau. selain sebagai penghubung. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Mintalah obat kepadanya. yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan. Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu. ”Baiklah kalau kalian setuju. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang.” ”Benar Ki Gisang. pada suatu ketika. Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali.

Mereka lega karena Asap tidak berbohong. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa. Lalu lanjut Ki Tampar. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya. Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa.” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah.34 BAGIAN 1. Dan malam pun semakin larut. ceritakan hal tersebut. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. Pun saat ditanya. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. Mungkin juga bukan apa-apa. Seperti biasa . sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini. pikirnya. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. *** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa.

Dan pagi itu. juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. di Desa Luar Rimba Hijau itu. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. Jika dihubungkan. Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan. pedagang dan pengrajin. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. yaitu Juru Tani. Juru Dagang. untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. Umum- . Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul. dan pengrajin.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. karena harga-harga akan menjadi mahal. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya. maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. atau ahli dalam bidangnya. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. Juru Karya dan Juru Cipta. pedagang. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya.

seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa. ”Sudah. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin. Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini. Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya. Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. Ki Surya. kita paranin saja. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya.36 BAGIAN 1. kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. jangan sam- . sebelum mereka pergi ke luar dari desa. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah. Akan tetapi hari itu.” sambut Ki Rabat. kita coba datangi saja mereka. ”Benar usulnya itu.

”Selamat pagi. ”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami.” ”Usul yang baik itu. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. semua. Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya. ”Ah.” balas Ki Surya dengan ramah. ”masih satu bulan lagi. untuk itu belum Ki Surya. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya. ”Selamat pagi.” kata Ki Surya. Dan para pedangang itu tunduk. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah.” jawab Ki Rabat. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya.” jawab Ki Murah tersenyum. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya.” tanya Ki Surya setengah menggoda. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian. para penduduk mengadakan perayaan. ”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya. . Ki Surya. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini.37 pai menimbulkan keributan. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya.” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya.” sapa mereka hampir bersamaan. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini. Lalu tanyanya pada Juru Dagang. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini. Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. perkebunan kering. yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. ada perumahan. sampai akhirnya. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik. perkebunan basah. bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan. Akan tetapi untuk memastikan hal itu. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. parit- . *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. ”Baik Ki Surya. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu. Suatu pagi yang cerah. Dan sebagai tanda kepercayaan.” jawab mereka serempak. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa. dan juga sebagai petunjuk jalan.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. Ia mengagumi sistem tatanan desa. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah.38 BAGIAN 1. Kemudian berlalulah Ki Surya. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah.

sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. paman Baja?” tanya Asap ingin tahu. ”dahulu kala. membuat sejenis . Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. entah itu hasil keluaran tubuh. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. dan adanya seorang muda seperti Asap. Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. Jarang ada orang yang bertandang kemari. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi. Hal lain terjadi. ”Jelasnya bagaimana. ”Begini nak Asap. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri. karena letaknya yang jauh dari mana-mana. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini. Apalagi mereka tidak mempunyai anak.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. karena toh tidak akan terjadi apa-apa. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut. istri Ki Baja. Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. membuatnya kerasan. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif.

Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin. yang diperoleh dari luar desa. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. Variasi apa yang dihasilkan. Dan bila tidak baik bagi ternak. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. Harus dicuci bersih sebelum . dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada. Karena adanya kesibukan baru. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya. sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. dapat terbang bersama air dan angin. Jika dahulu kala. para penghuni desa jarang jauh keluar desa. dan membuanngnya jauh di luar desa. Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan.40 BAGIAN 1. Hamparan Hijau mulai berkembang. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. Akibatnya sudah tentu fatal. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan. akan tetapi pasti. sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. Sedikit demi sedikit. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. Oleh karena saking gandrungnya. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan.

Tinggal menunggu waktu untuk binasa. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu. dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat.41 dimasak. Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. Dan sampah-sampah yang tadinya . sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. orang itu mengobati penduduk desa. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. suatu pintu air dapat dibuka. Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan. sampai hampir membinasan satu desa. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. para penghuni Desa Ujung keracunan. yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau.

Akan tetapi tidak tampak dari luar. telah terbuang banyak tenaganya. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. saat terjadi peristiwa tersebut. Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Akan tetapi dari kisah Ki Baja. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana. bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. ia dengan senang hati akan menolongnya. ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita. Bila ia ada kesempatan untuk . dialihkan ke dalam hutan.” jawab Ki Baja. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya. ”Untuk itu ada baiknya. karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. Begitu pesannya.42 BAGIAN 1. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut.

bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. Ironis bukan. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran. dirampas haknya. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. Berperang. demi kemanusiaan dan kedamaian. Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. sudah merupakan anugrah yang me- . mencegah terjadinya perang kembali. Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang. diperkosa kebebasannya. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. sudah dipastikan akan dilakukannya. Orang-orang sipil. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit. dengan melayangnya nyawa. Membunuh demi kemanusiaan. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur. Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri. rasa kebangsaanya. ditindas kemauannya. bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar. semua untuk kepentingan penguasa. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’.

yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula. dan sebagainya. akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. pejabat menindas bawahan. Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan. cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. Pembesar menindas rakyat. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan. karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara.44 BAGIAN 1. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu. bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. Bahkan di kali terakhir. Boro-boro menurut. entah keturunan keberapa. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa. karena ditegur dengan keras. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. Dalam keadaan luka parah dan depresi. dengan masih ditemani oleh .

membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama. Selain dari pada itu. aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. Hanya pikiran yang dibutuhkan. Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. membelokkan tenaga lawan. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. maka lain halnya dengan Petapa Seberang. jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya. untuk murid yang telah ahli. Pada penggunaannya dalam pertempuran. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna. akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. yang setia kepadanya. Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu). dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. Seperti gerak melingkar. yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. kaum pemberontak. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh.45 beberapa temannya.

Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya. berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua. suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang. Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan. Menyerang. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya. Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang. pengobatan dan kebaikan. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. Dalam pencerahannya ini.Seni Kedamaian. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru. dan menjadi murid dari su- . Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. kekuatan dari cinta kasih. Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. dinamakan . Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang.46 BAGIAN 1. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. ilmu pengetahuan. memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido).

berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit. Akan tetapi walaupun demikian. .47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus. semuanya dicernanya dengan baik. Petapa seberang memiliki satu kelemahan. tantangan. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. kebersamaan. Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam. yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. yang dikenal sebagai Atap Langit. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. kedamaian dan ilmu pengetahuan. dari arah putar kanan dan putar kiri. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. kepemimpinan. yaitu: keberanian. Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. Sejalan dengan berlalunya waktu. mengalah tetapi tidak kalah. yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. pengorbanan. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut.

Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. Master Tagasi. Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. ia merasa belum apaapa. penyakit. Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. dan bersama-sama mereka. Usahanya tidak sia-sia. juga dengan pengikut lainnya. yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. kesabaran dan ketenangan. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul. Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. yang berarti Ilmu Muda Selamanya.48 BAGIAN 1. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. yang saat itu telah berjumlah lima orang. perlahan mulai hilang ditelan waktu. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini.

yaitu Cara Bernafas. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja. Pengendalian Otot. merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga. Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan. Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. tapi menjadi kedamaian. Pergerakan Hawa. Kateda. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya. Pemusatan Pikiran. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara. Nama ilmu ini sendiri. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. yang merupakan permintaan terkhirnya. Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. Gerakan Tubuh. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar. ”Kakang Gunung Es. Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Tujuh Rahasia. sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. .” tanya Petapa Lain Pulau.

” imbuh Petapa Seberang. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum. Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut. melainkan merenung dulu sebentar. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. ”Bukan adik Seberang.” jawab Petapa Gunung Es.50 BAGIAN 1. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. tapi pada bagian sebelumnya. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran. sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut. Sambil kadang salah seorang. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing. lalu ujarnya. ”sama sekali lain.” ”Kalau aku lupa.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba. berdiskusi dan bertapa.” jawabnya dengan serius. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan.” ”Misalnya. berdasarkan pemahaman lainnya. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu.” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama. ”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam. Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut.” sahut Petapa Seberang menambahkan. yang .

karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu. ”Tidak.. Dan sang angin pun bertiup menjauh. maaf Ki Tampar. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki. Sang angin pun tersenyum.. tidak.” jawab Rintah.” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya.” ”Tak apa-apa.” jawab Asap dengan sopan. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau. ”Oh. ”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut. ”aku tidak terganggu. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan. Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu.. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri . tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya. tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar..” Rintah dan Asap terlihat malu. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau. di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri. *** ”Saudara Asap.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya. saya memang sedang mengaso.” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum. membuat saya keluar dan ingin menyapa.” jelasnya sambil tersenyaum. lalu lanjutnya.

” ”Wah. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau.. biasanya begitu. Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap.” memberitahu Ki Tampar. Besok ”Eh. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu.” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. maaf Ki Tampar. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa.” sahut Ki Tampar.. Tak jauh . Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu.. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap. malam.. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda.” jawab Ki Tampar penuh rahasia. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit..” sahut Rintah dengan antusias. boleh. agar mereka besok malam.” jawab Ki Tampar. ”E. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik. Ki Gisang dan Ki Tampar. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar. Ada hal yang ingin disampaikan. Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya. benar-benar menarik dan menegangkan ini..” tanya Rintah malu-malu. ”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh. Asap.52 BAGIAN 1.

Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau. berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. sedangkan bulan belum muncul. Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua. sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. sebagai penghubung. Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. dengan membaca tanda-tandanya. akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu. dan bahkan juga di antara para kawula tua. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau. Mereka berdua. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan. Hari ini Ki Tapa. baik dari manusia atau alam.

” jawab Jaka dengan hormat. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. Atas permintaan Ki Tapa. Saat ini adalah saat yang kita. ”Jaka. Setelah kedua orang itu tiba. ”lihat di ujung lapangan sebelah barat. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas. Ki Gisang. kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. Rantih dan Misbaya. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- .” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Ki Tampar membuka pembicaraan. sejak lama ditunggu-tunggu. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran. ”masih ada dua orang lagi.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut. ”sudah semua datang. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya.54 BAGIAN 1. Itu mereka datang!” Dan benar. kemudian lanjutnya. dan persetujuan para tetua desa.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut.” usul Ki Gisang. ”Tak perlu.

Ki Surya kami persilakan. yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba. saat mereka masuk. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut.” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. sehingga punggung mereka saling bersentuhan. ”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan. Setelah para tetua berada dalam lingkaran.” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya. Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. membuatkan jalan masuk bagi mereka. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah.” sambung Ki Gisang. Lalu ucapnya. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar. Itu yang penting. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar. melainkan ia malah berjalan berkeliling. menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh. Asap.” kata Ki Tampar. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama . Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. ”Para kawula muda desa sekalian. ”Adapun. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini.

Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba. Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk.” jawab Paras Tampan. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. ”Utarakan nak Paras Tampan.56 BAGIAN 1. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran.” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba. ”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa.” kata Ki Tampar. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan .” jawab Ki Tampar. ”Sebelum kita berangkat. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba. Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya.

Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. yang mengarah ke Gunung Hijau. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar. untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau.57 sang pujaan hati. Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar. Di sana di pelataran berbatu tersebut. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. Saat yang tepat. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman. Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut. Umumnya sisi bagian utara. menurut petunjuk dari portal dan lontar. sambil tetap berdiri. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. . Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. menuju Rimba dan Gunung Hijau. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. jarang dipergunakan. Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada.

Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. Setelah itu menentukan arah. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. . bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa. akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. tampaklah langit kembali di atas kepala. Mereka akan berlatih di sana. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing. Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau. Perjalan yang tidak mudah. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. jika sampai ia salah menafsirkan. Tidak ada seorang pun yang bersuara. diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan.58 BAGIAN 1. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. Rimba pun mulai dimasuki. Kemudian setelah ketemu. Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki.

di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. Ki Tapa. di mana beberapa kawula muda. Setelah beberapa saat berjalan. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. berarti arah yang salah akan dipilih. Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. kekar dan dingin. dari luar Rimba Hijau. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. terutama yang perempuan. merasa kakinya hampir habis. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. Dalam artian ini. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. Itulah Gunung Hijau. Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. terkesan kasar. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. sesuatu yang pernah dilihatnya. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh. karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya. melainkan bergerombol. sukar untuk dilupakan. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. Tinggi. maka bisa makna yang salah dapat diperoleh. Ia berusaha mengingat-ingat. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. Citra Wangi. Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit.

Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira . berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan. masih membelakangi tamu-tamunya. Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. ”Akhirnya selesai. Kemudian ia berbalik. Suasana pun hening. Bau sedap pun mengembang di udara. Tapi mereka diam saja. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya. di tengah malam? Benar-benar makan malam. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. Ia membelakangi mereka. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol.” ucap orang itu. Tidak banyak perabot di dalamnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu. Rumah yang sederhana. Makan malam. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya.60 BAGIAN 1. ”Sebentar lagi makan malam selesai.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api.” lanjutnya. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Tikus-tikus. Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua. Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. ”Masuklah.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut.

”Mari-mari makan. Cukup untuk tambah setiap orang. Di panci masih banyak tersedia. yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. tempat ia akan duduk nanti. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut. Ialah Ki Tapa. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa. jangan malu-malu. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana. Semua pun makan tanpa bersuara. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut. Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. selebihnya merasa telah cukup. makanan tersebut mengenyangkan. Entah apa kandungannya. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya. Tiada yang jatuh ke lantai. ia dengan lahap menyantap makanannya. tanpa ada sececerpun air yang tumpah. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata.” lanjutnya. kasar dan bersih. Belum habis kekaguman mereka. . ”mari makan. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan. Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya. Ternyata walaupun terlihat sedikit. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk.61 dan berwajah ramah. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. Termasuk di kepala meja. Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. hanya beberapa orang yang masih lapar.

” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana.” . Punggung bersentuhan. ”Tapa dan Gisang. empat mata angin utama dan empat mata angin antara. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka.” perintah Ki Tapa. Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu. Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin. wangi uap air di udara. Katanya pelan seperti hembusan angin. semilir angin di rambut. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta.62 BAGIAN 1. Pejamkan mata dan rasakan semua itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. Gatal-gatal di pantat. ”Setiap orang maju sepuluh langkah. terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. denyut jantung. Dengarkan napas kalian. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah. Masing-masing kelompok delapan orang. ”Jangan tidur. Gunung Hijau adalah arah Utara. menuju lapangan di sekitarnya. aliran darah. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini.” perintahnya selanjutnya. dengarkan alam sekitar kalian. ”sampai kusuruh berhenti. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok.” ucap Ki Tapa.” Mereka berdua mengiyakan.

melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. Telah terjadi banyak perubahan di sana. agar dapat menemukan jalan pulang. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut. Misalnya saja. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa. Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. merasakan alam sekitarnya. Dubur tidak diangkat. Kepada tidak tegak. Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa. tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . Perut kurang ditarik ke dalam. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. *** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. Angin-angin. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam. Bahu tidak rileks. Batu-batu serta Seribu Ramuan. Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. Punggung tidak tegak. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur.

. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti. sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin.64 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu.

. Tralala.. Buat apa susah.. 65 . Anak tersebut tampak tak peduli.... bunga semerbak merekah. hmm. Nanana.. sang anak masih duduk di sana. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. didi. ninini. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu. trilili.. ”Bagus. Dengan masih tersenyum. Ia masih saja duduk termangu. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah.Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu. hihi. susah itu tak ada gunanya..” gumamnya. Pandang matanya kosong. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling.. matahari bersinar cerah. orang aneh itu pun berhenti. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda.. kera-kera bermain di hutan.. postur tepat.... tulang bagus.. resah itu juga tiada gunanya. haha. buat apa resah. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka. dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh.... dada... sayang sedikit perasa. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya.

Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi. Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya. ”Wah sayang..” jawabnya dan lanjutnya. ”Nah tuh. benar-benar.” jawab anak itu. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu.” jawab Rancana terkesan. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut. ngatain orang budeg. ngeri ah! Kabur. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba. alih-alih marah. tidak bisa menahan air matanya. wah kamu itu lucu bener.. ”Wah. cah bagus. ”Nggak ada hujan atau angin. Lalu ucapnya. saat tertawa. sekarang malah ketawa nggak ketulungan. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya.” jawabnya jenaka.66 BAGIAN 2.” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. paman. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya. ”Nama saya Lantang. ”engkau cerdik . Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya. karena paman tertawa sambil menangis. bukan?” ”Hahaha. ”kalau paman. tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. Ia memang begitu. kecil-kecil sudah budeg. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran. ”Namaku Rancana. ”tentu saja. dan ia pun berkomentar.” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut.

”tentu saja belajar kanuragan. Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. ”Logika yang tidak tepat itu. membunuh atau perbuatan jahat lainnya.. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” . Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan. ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung. sehingga ucapnya. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat. ”tapi paman. Demikian pula dengan api. ”tidak paman...67 sekali Lantang. ”saya benci ilmu silat. misalnya memotong daging untuk dimasak. melunakkan logam. ilmu silat. dengan paman. ia pun akhirnya berkata.” Lanjutnya kemudian. mencetak emas dan lainnya.” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. Eh. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. cah bagus. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru.” terangnya kemudian. ”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api. api yang diatur dapat digunakan untuk memasak.

mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. Melancarkan peredaran darah. Lantang mendadak terlihat murung. ”Apa yang sebenarnya terjadi.68 BAGIAN 2. perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. cah bagus. menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. tiada suara lain di sekitar mereka. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. Sesaat. si Bayangan Menangis Tertawa. Hening. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Rancana. Selain suara angin dan debu yang beterbangan. paman!” jawab Lantang jujur. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi. Dan . saya belum pernah mendengar hal seperti itu. Antara lain untuk menjaga kesehatan. dan bergulirlah air matanya jatuh. melancarkan nafas. tidak pantang seorang lelaki menangis. ”Menangislah. Ia tidak mau terlihat lemah. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain.” jelas Rancana. ”Wah. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis. maka tanyanya lebih jauh. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. walaupun tanpa suara. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis.

Orang-orang ahli silat. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam. ”He. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya. Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang. Sedikit lebih baik perasaannya. Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap. sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini.. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama. Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin. menyerahlah. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda. karena mereka berada di daerahnya sendiri. *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang. tenanglah Lantang. Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua. bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya.” .” teriak Naga Geni jumawa. Jagad Hitam. Di sisi timur berdiri sembilang orang.

berkacalah. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. orang-orangmu juga hampir habis.” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang. akan tetapi tidak yang kedua. kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes. Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu.70 BAGIAN 2.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. ”Naga Geni. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya. dengan arah putaran yang berbeda. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam. ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni. . yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. ”Hemm. daripada aku yang melakukannya. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda. Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. Dengan dua buah kapak. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. Naga Geni merengsek maju.

Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam.. Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri.71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju. Toh. perguruannya. Murid-muridnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin. .. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. Mendadak terdengar suara. ”Guru. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya. Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran. itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut. mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya.. Akibatnya sudah dapat diduga. perguruan diserang. sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. Dan.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya. ”capp. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung. Bertempuran pun kembali dimulai.” Mendengar berita itu.

Setelah beristirahat sebentar kemudian. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin. Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda. ”hahaha. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis. tampak di mana-mana. hanya setinggi lutut dari atas tanah. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. cikal bakal masalah. lebih baik engkau bunuh diri..” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. Semuanya hancur. Ada yang mati hangus terbakar. Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah.” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya.” usul seorang dari Lingkaran Dalam. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga. jika boleh dikatakan. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu. ”terlalu enak apabila dibunuh. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam. PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam.72 BAGIAN 2.. yang membela keunggulan nama perguruannya. Tapak Kelam. ”Hmm. bukan?” ”Boleh juga usulmu itu. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api. ”Sesukamulah. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis.” ujar Ki Jagad Hitam. Perguruan Atas Angin. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan.” kata Ki Jagad Hitam. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. bagus Naga Geni. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda..

Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin. Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas. untuk meyakinkan. ”Benar. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran.73 sanakan niatan itu. oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang. harus me- . paman. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. tentang bagaimana orang tuanya. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat. Tapi apa dayaku. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan.” Lantang pun terdiam. Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri. paman. Setelah puas menyiksa mereka. tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. ”Jadi itu alasanmu. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin.

Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya.74 BAGIAN 2.” ”Begini saja. ia hanya menjauh dan menghindar. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Lambang Perguruan Kapak Ganda. jauh dari keramaian. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju. saya tidak suka kekerasan. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. Ia memilih lebih baik menyendiri. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. Lantang tahu hal itu. gulungan-gulungan kain. ”Tapi paman. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. akan tetapi ia tidak bisa. Ada kotakkotak. Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda. salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu. atau merupakan bawaan. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah . Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. dari pada harus berseteru dengan orang lain. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya. PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh. sayur mayur dan barang-barang lainnya.

ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik. Senjata andalan- . Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. karena percuma. ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. marah dan tidak rela. Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci. Mengandung racun keji dan ganas. saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau. Mayat Pucat. Semakin segar mayat yang akan digunakan. Bahkan tidak jarang. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. Naga Geni. Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan. Sabit Kematian dan Cermin Maut. ketakutan.75 menimpa perguruan mereka. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. semakin baik. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa.

” tanya seorang dari mereka.76 BAGIAN 2.” usul seorang. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya. Apabila dilihat dari wujudnya. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. akan tetapi sudah disebar kemana-mana. yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya. terutama yang tampan. ”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud. Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua. Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar. Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat. Pun tidak ada gunanya . Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Sudah banyak jago-jago muda. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur.

di kaki Gunung Hijau. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja. melainkan berganti-ganti.. ”Tiga ratus delapan belas.!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu. Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya. Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda.!” ”Tiga ratus sembilan belas. Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada . melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang.!” ”Dua ratus tiga puluh delapan.. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan.!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa.. Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan..77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara.

tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. dan kita kehilangan kendali. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara.” jelas Ki Tapa. tenaga sudah habis diberikan. dengan jarak kirakira selebar bahu. Apabila melangkah ke depan. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. Ini dikenal sebagai keras lawan keras. ditahan atau digentak-balikkan. Yang kuat akan menang. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut.78 BAGIAN 2. ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. dialirkan. Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut. dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. Untuk itu . PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini. Bisa dibelokkan. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan. saat itulah serangan akan masuk. ”Dengan adanya kuda-kuda. Kita merugi. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung.” Lanjutnya.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. Akan tetapi hati-hati. Tergantung apa yang hendak diperoleh. jika yakin masuk dan menang. Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat.

agar mereka saling membantu. akan tetapi sulit untuk melakukannya. ”Wah Rintah. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan.” ucap Paras Tampan terengah-engah. adiknya. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan. Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan. melengkapi dan mengingatkan.” kata Misbaya. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan. Dan . yang melakukannya dengan beriringan. Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. keliru itu langkahmu. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan. akan tetapi tidak melakukannya. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. dan bahkan tidak mau. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. ”Habis sudah napasku. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan. biasanya minta langsung untuk menirukan. Mereka yang termasuk dalam golongan ini. karena mereka bisa dengan mudah melihat. masing-masing delapan orang. Harus agak serong. Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya.. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan.!” ”Betul Rintah”. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. mereka kurang lancar. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. sahut Rantih.79 mereka dibagi dalam tiga kelompok.

Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa.” begitu jelas Ki Tapa. Sambil sesekali juga bercanda ria. Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. mereka jangan menekuk kakinya. Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai. kurang lebih sepeminum teh hijau. Tak lama kemudian. Hanya sebagai catatan. .” Benar. ”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai. Di tengah padang rumput. Asap.80 BAGIAN 2. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. *** Waktu makan siang pun datang. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu. melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan.

Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. kadang terdapat sayuran. makanan pun dihadirkan di sana. Makan siang yang sederhana. Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. Nasi dan ikan bakar. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. Mereka pernah juga membicarakannya. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar. ikan. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau. Sedangkan hari-hari selanjutnya. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. ungkap Ki Tapa. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. Dan yang aneh tercium bau wewan- . Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar. bukanlah perkara mudah.

Begitu pesannya. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau. ini bagianku. Kirani.82 BAGIAN 2. ”Gentong. apalagi di Gunung Hijau ini. lebih dari yang lain. Dalam acara makan bersama seperti itu. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya.” kata Kirani. simpanlah dulu pertanyaan itu. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi. kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. Ki Tapa hanya tersenyum. tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. salah seorang kawula muda putri. Ia. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. akan semakin jelas apa yang tampak. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di . Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. Lalu jawabnya. Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya. Untuk sementara waktu. kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. umumnya hanya makan setengah porsi. Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. Dengan semakin berisinya kalian. Kekurangan setengahnya. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. satu orang sepersepuluh. Selalu tandas dan bersih. Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri. seperti halnya dalam latihan. siapapun dia. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang.

”Baiklah.. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai. ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. Angin semilir. Kecil. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih.” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta. Coreng. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu.. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. tapi tidak untuk tidak melihat. Serbuk-serbuk bunga. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. Semut-semut yang berjalan. tapi terdengar suaranya. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. Kemudian tanpa diperintah. .. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa. Kembalikan ke dalam keranjang di sana. ya ’kan?” jawab temannya kukuh.” kata Ki Tapa. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. ”Moreng. Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin. tapi jelas. Lakukan sampai seribu tarikan nafas. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. seakan-akan telah biasa. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya. halus. ”Sekali-kali bolehlah. Setelah semua siap. Tidak terlihat wujudnya. makan telah usai dan juga waktu istirahat.. Sontak mengagetkan kedua insan itu.83 antara mereka saat makan.

berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami. Ki Tapa. akan tetapi tanpa senyum. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu. Dan paling besar berukuran sebesar gajah. ”Iya. Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil..84 BAGIAN 2. Manusia Tiga Kaki. Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. Ki Tapa pun berpikir sejenak. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga .” tambah Moreng. maafkan kami.” terang Ki Tapa. ”Maaf Ki Tapa. kami hanya ingin melihat mereka berlatih. ”Begini. tak apa-apan. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya.” jawab Coreng..” sahut Moreng. ”Berikan penjelasan.” Tapi tanyanya kemudian.. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian. Dengan mengetahuinya. Ki Tapa pun menghela nafas. Sesampainya di depan Pondok Batu. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka. Ki. ”Tidakkah. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu. Coreng. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia.” jawab Coreng. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia. ”Baiklah. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. lalu lanjutnya. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah.!” katanya tegas. Wajahnya masih terlihat ramah. Moreng. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya. ”Iya.

?” tanya Coreng bingung. maka tenagaku akan habis dan mati. ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. ”Benar. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang.. ”Mengapa hal itu terjadi. bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan. yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo). Sebelumnya. sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi. aku tidak apa-apa.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati. bolehlah kalian berkenalan. Apabila dikatakan tidak terpengaruh. jangan tampakkan wujud kalian. dapat berbahaya bagi manusia..” jawab Ki Tapa. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan. aku tidak bisa menjelaskan. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala.” jawab seorang di antara mereka.85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian. Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang. Dan di saat itu. Mungkin sudah hukum alam. Terserap. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- . Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi).” ”Ihh.” jelas Ki Tapa. Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek.. Bila mereka telah cukup kuat. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki.

Hitam-Putih. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan. Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang. tenaganya. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. yang dulunya bernama Cipta Raga. ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. maupun sifatnya. Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. pemimpin mereka. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. . Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. Hitam-Putih dapat menang. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya.86 BAGIAN 2. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri. Dan hanya dari manusia. Baik ukurannya. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. Mawon Sanmdi. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. dengan kesaktiannya yang tinggi. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja.

apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya. Dengan senang hati. ”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya. Rintah dan Asap. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan.. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka. Misbaya. Hanya sayangnya. tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa. waktu mengheningkan cipta usai. Periuk besi yang penuh berisi ramuan.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih. Setelah beberapa mencoba.87 Dan tidak hanya itu. Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut. Sebagai reaksinya. meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya. karena kaki mereka yang kesemutan. *** ”Cukup. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan.

Beberapa dari mereka tampak kecut. yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. ”Ini disebut Langkah Ayam. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini.” lanjut Ki Tapa.88 BAGIAN 2. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li .” Mendengar bahwa periuk. Berulang-ulang diperagakannya. tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. Pikir mereka.” jelas Ki Tapa. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. Selang tak berapa lama. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya. bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun. ”Jangan kuatir. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja. ramuan yang tidak cocok. Akan tetapi hati-hati. berkatalah Ki Tapa. saat ia mengawal barang-barang hantaran. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras. yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau. Ki Tapa pun berkata. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan. ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya. sampai menghampiri. lentur gerakannya akan tetapi mantap. Pertama ia mengejar keretakeretanya. yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini. begitu melihatnya. kaki-kakinya menjadi kuat. selagi aku sendiri yang membuat ramuan.” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. untuk memasak sejenis masakan. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun. akan menghasilkan racun pada larutannya. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. Dengan cara ini. periuk ini dibuat.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok).

Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu.!” Terdengar jawaban lirih pula. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana. sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain. Ki Tapa pun tersenyum. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada. dengan lirih ia berkata. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Moreng. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam..89 Jeng sedemikian tingginya. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana. Tidak bisa dialirkan.. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam. ”Coreng.. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang. Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. ”baik. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah. Kawasan yang sunyi dan sepi. mungkin pikir mereka. tolong Periuk Kerbaunya. Akan tetapi percuma. Agar seperti Li Jeng. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah. Ki. Tidak banyak orang yang hidup di sana. Sedih hatinya melihat muridnya. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara. jalan darahnya tidak lancar. Ia baru saja memeriksa badan muridnya... Tidak bisa digunakan.. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Hanya beberapa orang nelayan dan . Sudah berulang kali ia mencoba. Akan tetapi entah karena apa. Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut.

tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang. ”Guru. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya. ”Saya tahu. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa.. sudah tentu ia bisa mengetahuinya. Toh. Dan seperti guru ingat dulu. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana. masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. ”Lantang. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru. hanya lima orang yang hidup di sana. saat mengetahui bahwa tubuhnya. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. saya tidak akan menggunakannya. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat. gurunya. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. guru!” dan kemudian jelasnya. masih dengan nada yang sedih. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . Ditambah Rancana dan Lantang. Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya. ilmu silat yang engkau pelajari.. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini.” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan. menghela napas panjanglah Rancana.” ucap Rancana pada muridnya. ”Janganlah terlalu bersedih. tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang.90 BAGIAN 2. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh.” panggil Lantang perlahan. yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat.

Apa mungkin ada orang yang selihai itu. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. terdengar sangat menarik. . ”Tapi. Lantang!” perintah Rancana. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu. Melainkan hanya untuk membela diri. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. guru. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar.” sahut Lantang patuh.” kata Rancana pada akhirnya. guru.91 nya. ”Cobalah engkau serang aku. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana.” ”Suka saya mendengarkannya.” ”Baik.. Lantang. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. ”Pencipta ilmu ini. Guru Tua Morehe Uwesiba. Tidak akan mendatangkan banyak lawan. bila engkau berlatih dengan baik.?” bantah Lantang. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya. Terlihat Rancana berpikir sejenak.” ucap Lantang. di balik lautan. guru.” jelas Rancana. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya.. Jadi dengan ilmu ini. guru!” tanggap Lantang. engkau akan dapat membela dirimu sendiri. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa. ”Baiklah kalau begitu.” ”Wah. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan. ”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja. dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya. Lalu katanya..” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya.

ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang. Bagian lain masih gelap baginya. ”Tidak. Pada saat yang tepat. ”Baik. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. guru?” jawab Lantang muridnya jujur.” jelas gurunya.. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari . sambil memutar tubuhnya. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. akan tetapi dengan lebih lambat. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura. Sederhana karena geraknya mudah. membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya. Dengan cantik dan lemas. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan. Rancana hanya tersenyum. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. memang serangan paling sederhana dan rumit. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu. sehingga Lantang batal terjatuh.92 BAGIAN 2. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. Melihat kebingungan muridnya. ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. Bahkan dipukul balik. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama. secara alami bisa setiap orang melakukannya. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. Rumit karena harus pada saat yang tepat. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju. Bila tidak pada saat yang tepat.. Rancana. dielakkan dan dimusnahkan. ”Serangan lurus ke depan. Ia baru dapat menerima beberapa bagian. mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil. tanpa tipu-tipu. mengapa serangannya itu tidak berhasil.” jelas gurunya. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. guru!” jawabnya mengiyakan.” Lantang mengangguk-angguk.

Mendekatlah. Setelah mengerti. tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia. Penasaran pada hal tersebut. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. . Bila tidak sampai. Lantang. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. Dan ia tidak lagi tersungkur. ”pada jarak segini. memang dengan cara ini. Belum sampai. Gurunya tidak bereaksi.” jawab gurunya.” ucap Rancana. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini. Setelah tiga-empat telapak kaki. ”Kamu benar. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. Memajukan kakinya. Cobalah!” Lantang pun mencoba. ”Bagus. Kesalahan yang sama terjadi lagi. ”Cobalah!” ucap gurunya. Lantang pun kembali terjatuh. Jangan lepaskan. ”Guru. saya tidak lagi terguling. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. apalagi ditarik seperti tadi. Dengan demikian. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama. ia dapat tersungkur. apakah pukulanmu sampai apa tidak. Belum sampai. dengan kedudukan yang stabil. dapat mengenaiku. Maju lagi. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. ”Benar.93 belakang.” Lantang pun mengangguk-angguk. baru memukul. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. Kali ini Rancana membiarkannya. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya. engkau harus punya rasa. dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. tidak melebihi. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya.

telapak kaki. guru! Saya lupa lagi. Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. Mengisi perut.” kata Rancana.” ”Baik. Sebelum tenaganya sampai ke dada. Tapi ia tidak mengeluh. tangan sudah dikembangkan. Kagum ia pada semangat muridnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. paha. Sudah waktunya beristirahat. ”Kita istirahat dulu. akan tetapi tidak minta berhenti. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. Tirukan aku!” perintah gurunya.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya. tanpa tenaga. Rancana menghentikan latihan itu. lengan dan meledak sampai ke kepalan. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan. Saat bergerak. ”Tidak apa-apa. hanya gerakannya mirip. Pukulan Meriam. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Berulang-ulang kali. Temui aku nanti di Rumah Kayu. Bumi. Hasil rembesan sungai di atasnya. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih. Lantang mencoba menirukan. . kaki belakang melurus dan pinggang berputar. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali. Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. Alhasil.94 BAGIAN 2. pinggang. Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. Menuju ceruk kecil.

Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu. Setela kejadian itu. Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa. dan Telaga. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. serta satu keluarga lagi. yang hanya terdiri dari lima orang. Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Ki Sura. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. karena panjangnya pada arah timur-barat. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana. ”Selamat malam. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. tampak ketiga orang lain itu. Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Rancana dan Lantang muridnya. Hidangan makan malam telah tersedia. Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya.” katanya kepada ketiga orang itu. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. Itu lebih baik. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini. . Mereka telah menunggu. Bila dilihat dari atas. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik. Nyi Sura.

. Memang pendiam orangnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana. makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan.. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana. Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba. ”Ceruk mana.” jawab Telaga. kerang sambal. Apalagi Ki Sura. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang. melainkan dari Telaga. Ki?” ”Lantang. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu.” jelas Rancana.” jelasnya. Dulu sebelum Rancana datang.” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . siapa namanya. karena ada orang yang dapat diajar bicara. Seperti telah diduganya. Eh. sehingga perlu disambut seperti itu.” jawab Rancana agak bingung. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid. terong dan sudah tentu nasi. sayur bening. Lantang nama anak itu Telaga. Tidak banyak bicara mereka. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu. lalapan. Ki Rancana. ”Ada apa sebenarnya. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. anak dari Ki dan Nyi Sura. senanglah Telaga. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya. tidak ada teman bicara dia. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam.96 BAGIAN 2. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. Hanya Telaga yang banyak bicara. pecel belut. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. ”Betul.. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. Sebelum ada seorang pun yang berkata.. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya. Ada ikan mas bakar. ”Wah.

Rambutnya panjang sebahu. Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Dalam suatu ceruk yang paling besar. Undinen itu pun bergerak mundur. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. Saat-saat yang menegangkan. Ki.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. akan tetapi tidak langsung berpakaian. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. melainkan melihat pada suatu arah tertentu. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. Tapi sebagai seorang ahli silat .97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih. Biar aku yang menangani Undinen itu. ”perhatikan saja. jangan bergerak. Lalu bisiknya lirih. Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi.” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Dengan suatu cara tertentu. Tampaknya ia tidak suka api. Seakan-akan suatu parit dari batu. Terdengar suara lirih Ki Sura. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu. Ia tampak telah bersihbersih. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas. Ayah pasti bisa menolong muridmu. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. ”cah bagus.

Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu. Begitulah orang-orang yang bersyukur. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. bertanyalah Lantang pada Ki Sura.98 BAGIAN 2. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. Malam itu sebenarnya sangatlah indah. selangkah demi selangkah. tidak mengeluh. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. Akan tetapi bila tidak ada. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Sunyi sesaat. ”maaf Ki Sura. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. tidak banyak berucap. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. keluar dari ceruk itu. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. apakah tadi itu? Yang mem- . Lantang masih dalam ketegangannya. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. Orang-orang yang sederhana. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. Dengan ukuran aura seperti itu. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang.

Ia masih merasakan ketegangan tadi. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. Dan hal yang masih tidak dimengertinya. ”Jika demikian. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini. . Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini. ”Itu adalah Roh air. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. Undinen. ”Sebenarnya. Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. sang Roh Air.” jelas Nyi Sura arif. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga.99 buatku seakan-akan membeku. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan. Hanya Rancana yang tidak.” jelas Ki Sura lebih lanjut. mengapa Ki Sura. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen. ”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen.” jelas Ki Sura lambat-lambat.” Ki Sura tersenyum. mereka tidaklah terlalu berbahaya. Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini. air. udara dan tanah. ”Roh-roh Empat Elemen itu. selain Duyung dan Nixen. yaitu api. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). Juga istrinya. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. Troll.

aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini. ”Anak Lantang.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. . Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya.” lalu tanya Nyi Sura. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya.100 BAGIAN 2. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. Baik Ki Sura. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. akan membuat tubuhnya semakin dingin. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan. Ya. yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. ”Waktu dari menariknya. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. pasti itu penyebabnya. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam.

Rahasia ini telah lama disimpan. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan. ”Bila itu suatu rahasia. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya.101 ”Hmm.” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri. Dapat menghimpun tenaga. ”malang sekali nasibmu. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka. Melainkan hawa para Rohroh Air.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. *** ”Misbaya. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri..” . Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu.” papar Ki Sura. ya!” menghela napas Ki Sura.” ”Kami. akan tetapi tidak bisa menggunakannya. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri. nak Lantang. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’.” kata Rancana.” jelas Ki Sura. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. begitu. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat. dan tidak untuk kami.

PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. seperti memotong. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. Dengan perlahan. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. Rekan-rekannya terkesiap. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. Tak teduga dan cantik. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala. Sedemikian halus. atau sendinya akan terkilir atau lepas. Kali ini Gentong. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Dari pandangan matanya. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa. ”Pegang yang kuat. Dan Gentong pun . sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa.102 BAGIAN 2. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. Dan untuk itu. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya.

Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan. juga di antara murid-muridnya sendiri. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan. siap mencongkelnya dengan bahu. Bersamaan dengan itu pula. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten.103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. Lucu tampaknya. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. Cara ini lebih baik. Berbagai upaya telah dilakukannya. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau. Kecuali Asap tentunya. dengan debum yang lebih kentara tentunya. sudah berangsur-angsur sembuh. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. . Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat.

Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah. Ki Rabat dan Ki Untung. Dan entah bagaimana. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau. Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar. ke arah barat. Sungai Hijau orang menamakannya. mereka tidak akan menunggunya. bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya. sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat. telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau. Akibat luberan ini. menggemuruh. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. Ki Surya. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. Padang Batu-batu akan tergenang. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). Ke arah di mana matahari terbenam. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat. satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. menuju Lautan selatan. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba .104 BAGIAN 2. Dari sanalah diyakini nama itu datang. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama. Untuk Asap.

105 Hijau. Setelah beberapa hari perjalanan. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang. Ki. ”Benar.” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju.. Ki Rabat. sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah. ”Benar.” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju.. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai..” ”Bila benar begitu. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- . Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. selain ada banyak binatang-binatang beracun. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan. Sungai itu sudah Sungai Merah. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan. Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya.” komentar Ki Untung. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara. Di Gurun Besar. ”walaupun dua kali lebih lama... Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang. seperti kata kalian. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima. Setelah membicarakan beberapa hal lain. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya. ya.” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya.

Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu. walaupun tidak terdapat banyak desa. Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya. Walaupun pada kenyataannya. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- . Setelah siap berangkatlah rombongan itu. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan. sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan. hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. Tempat yang diduga lebih indah itu. tertarik untuk melancong ke sana. kadang terjadi sebaliknya. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara.106 BAGIAN 2. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya.

Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. akan menjadi terkantuk-kantuk. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. Malam ketiga. Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai. Untuk melepaskan kebosanan. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. entah sungai apa namanya. Lancar dan sedikit membosankan. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut. akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. Bila langsung menempuh Gurun Besar. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. tiada yang tahu.107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Benar-benar membosankan. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Demikian pula dengan rombongan ini. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih.

Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). Wanita Petani (Buerin). Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Wanita Pengembala Domba (Schferin). Taman Utara (Nordpark). sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya. Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota.108 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. Laki-laki Petani (Bauer). Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin. Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- . Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann). Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). Akan hancur suatu daerah. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Entah kapan dan bagaimana mulainya. Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa. desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. yang terkena gigitan Kadal Gurun. Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte). Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann).

Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. dan atas usul istrinya. Dingin ini lain. Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. Semuanya hilang. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara.109 gannya. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Membuat tubuh benar-benar terasa lelah. menjadi semakin sepi dan mengiriskan. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. Malam yang menghebohkan. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana. ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar. terasa amat lengang. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu.

bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. Bertanya-tanya hati semua orang. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi. selaku pimpinan di sana. Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. Setelah berjalan bersama-sama. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. sebagai saksi satu-satunya yang ada. ”baiknya kita menenangkan diri dulu. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu.110 BAGIAN 2. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. Benar-benar menyeramkan. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. sudah di luar kemampuan kita. dalam langkah yang tergesa-gesa. Dan dua belas buah lagi.” Semua mengangguk-angguk setuju. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul. hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga. . Lalu orang-orang pun bubarlah. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja.

lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. Desa yang sepi. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. Akan tetapi anehnya. bahkan sekecil apa pun suara. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu.111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. Bila banjir. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. Bisa-bisa sampai menggelegar. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya. yaitu sisi barat. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. pada sisi seberang. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. Sunyi. akan semakin keras suaranya. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu.

pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya. Setelah menunggu beberapa lama. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan. Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air. Orang menyebutnya Arowana. ibu dan ayahnya sendiri. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu.112 BAGIAN 2. yang ditemani beberapa orang dari . Bagi Citra Wangi. di antaranya terlihat Ki Murah. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. Ki Untung dan Ki Rabat. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya. ketiganya. tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. kadang pula telah berpermukaan halus.

Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat.. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu. Ki?” tanya Citra Wangi sopan. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki. Pikirnya. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini. ”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. begitu kata ujar-ujar kuno. ini harga khusus. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar. Mengenakannya.” Mendengar panggilan itu. ”Nak Citra Wangi. ”Ada apa. ”Lihatlah. Keduanya mengangguk tanda setuju. batu-batu hiasan ini. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. indah. ditambahkannya kata-kata. ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu . Betapa ingin mereka memilikinya. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua.” gapai Ki Rabat dari jauh. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat.. minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti.

Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. Senanglah . Selain suasananya yang nyaman. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. sejauh subyek perdagangan mereka ada. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. Begitu pikirnya. kemudian diturunkan. Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan.114 BAGIAN 2. Ia yang biasanya membatasi. sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan. melaului Pantai Selatan. Bukan desa. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka. Setelah berunding sejenak. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. Di kejauhan Ki Rapih. saat itu membiarkannya saja. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya.

Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. akan lebih mudah berdagang. Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. Mereka berpikir dengan cara ini. terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan.115 hati mereka. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya. semacam stempel. hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. Desa Pinggiran Sungai Merah. . Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. barang dan Tigaan berpindah tangan. Melihat cara perdagangan yang menarik ini. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka. Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan. Bila cocok. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan.

. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh. Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya.. Dan sesuatu itu adalah udara.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- . Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. Lambang tanah.116 BAGIAN 2. Yang tidak dapat mengalirkan hawa. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen. *** Lima tahun waktu pun berlalu. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air. Pernah terdapat Tigaan palsu. Api yang meresap dalam sesuatu. Untuk mencegahnya. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan. sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan. Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana. Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar.” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara.

yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. Desa Pinggiran Sungai Merah. bersama-sama den- . Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau. membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. Nyi Apik. yang belum tentu jelek dalam artian luas. dan juga utara dan selatan. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. membuat mereka merasa kerasan. Apabila lingkungan berubah. lima tahun yang lalu. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini. Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana.

Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota. . Dijamin. yang mereka namakan Antaran Pasti.118 BAGIAN 2. sungai dan gunung. Tidak utuh semuanya. Beberapa patung dibangun kembali.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat. sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu. Asalkan ada Tigaan. akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah. Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. Barang sampai pasti. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. Apa-apa pun dapat dipesan.

Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid. saat yang tepat untuk mulai mendaki. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Benar-benar menggirisi. posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. ditempatkan sebagai Empat Pilar. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. Baik dari segi bakat ataupun finansial. bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. Menunggu isyarat alam. Tidak seperti dulu. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri. Tiada pesan yang ditinggalkan. Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya.

Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. Pesannya. sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi.120 BAGIAN 2. melainkan hanya tempat menempa diri. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Jadi untuk ukuran orang biasa. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. Paras Tampan. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan. Kirani dan pemuda itu. tanpa embel-embel perguruan. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. Bukan perguruan silat. Rantih. Asap. Rintah. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. telah gugur tujuh belas orang. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Walaupun gagal. jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya. Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau. dan untuk turut menggagalkan orang lain. Misbaya. Cukup Rimba Hijau. Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. kata Ki Tapa. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal.

Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. semakin kental hawa anak itu menarik hatinya. Menyusul kemudian Gentong. saat matahari sedang tinggi-tingginya. *** Undinen itu bernama Xyra. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Ada rasa nyaman dalam hawa itu. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. Setelah merasa tenang. Dari urutan yang ditarik. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. dapat atau tidak. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Apa pun yang terjadi. . Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen. Menurut Ki Tapa. ia dapat berangkat. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Menenangkan dirinya. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. Asap mendapat giliran sehabis itu. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya. Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. Jadilah dirimu sendiri. Jangan berpura-pura. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. Dan sekarang gilirannya. ke arah mana saja tidak jadi soal. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. mulai beranjaklah Paras Tampan. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya. dua orang yang akan menggantikannya. seorang Undinen yang rupawan. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Paras Tampan.121 diberi waktu dua tahun. Sosok yang membayangkan hawa yang lain. Bisa sampai di titik ini. Mohon bimbingan atas ujian ini. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Hawa yang menarik hatinya. serta Ki Tapa gurunya. mereka harus kembali turun.

Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. Ia hanya berpesan pada Lantang. Di Rimba Hijau. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. Ada urusan yang harus diselesaikannya. karena tidak mengganggu. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . Ia mengambil arah ke selatan. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. anak dari Ki dan Nyi Sura. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. carilah Ki Tapa. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya.122 BAGIAN 2. untuk mencarinya ke timur. sering berada dekat dengan Lantang. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. Telaga. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik. Mereka membiarkannya saja. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. Bila tidak dapat menemui dirinya. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang. mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. tanpa tudung kepalanya. Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. masih terlihat cantik. apabila telah selesai belajar. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura. maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. walaupun tidak menampakkan diri. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri.

.” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan. ”Di sini.” ”Menarik.. melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa. ”Kakak Mayat Pucat. Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian.. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara. ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya.. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari.” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering. menarik. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu.. Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing. Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu. yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang..!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri. maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni. .123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya. masih ada lambang-lambang aneh..

Entah di mana.” tanya Sabit Kematian. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin.” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja. Lebih baik kita menafsirkan dulu. Sudah lama sekali rasanya. .” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu. bahkan oleh Penjuru Angin. ”Sudahlah. Ketiganya pun kembali termenung. biarkan saja!” usul Mayat Pucat. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini. Melayang dalam pikiran masingmasing. apa maksud tulisan Naga Geni ini. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh. ”Tentu ada maknanya. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya.124 BAGIAN 2. Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda. ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab.” ”Maksud Kakak Pucat. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu.” usul Cermin Maut. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. Lupa. Jadi ada empat buah kitab. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu.

Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. Naga Geni. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. Bisa dibilang mustahil. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno. yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya. di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana. Tidak banyak.Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 . mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin. cukup paling banyak tiga buah. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar. Oleh gurunya.

Setelah prasasti tiruan jadi. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. . Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. Mengingat cerita itu.126 BAGIAN 3. Ki Tilu. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah. Dan hal ini amatlah wajar. Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. berikut tulisan di bawahnya. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. Gagasan yang dipakainya. Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah.

. atau bahkan merupakan kuncinya. ceritakan. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. ”ceritakan. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu. semua telah hancur dan hilang. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya. Ke arah Gurun Besar. Satu-satunya rumah di kawasan itu. Tujuan hidupnya pun juga. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. Ke timur. ke suatu gunung di tengah belantara hijau. Gunung Hijau. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. bagaimana semuanya berlangsung. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu.. Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia. Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya. .” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya. Langkahnya ringan dan mantap. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana.. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya.. Setelah berjalan bergegas beberapa lama. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya.. sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun.

sementara gantinya sedang melatih tenaga air. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. Jadi mulailah ia bercerita. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. Lalu katanya. gurunya.” katanya tanpa ekspresi. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi.. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa. . Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas. ”Menarik.” jelas pemuda itu kemudian. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya. HAKIM HAUS DARAH ”Baik. bahwa orang itu. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.128 BAGIAN 3. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu. ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. Informasi ini menggembirakan dirinya. Sudah terbiasa ia. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara... Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya. Tampak seperti ada yang direncanakan. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya.” terang pemuda itu. ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian. ”Belum selesai guru. guru!” jawab pemuda itu patuh. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka.

” gumamnya. pasti akan terjadi” jawabnya tegas. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu.. jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu. Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. Tapi perlu waktu. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil. Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu. Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. Pertempuran harus terjadi. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian.. ”Tak bisa dielakkan. ”Yakin sekali kelihatannya.” komentar gurunya sambil tersenyum. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- . Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian. Saat ia sadar. Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen... carilah sendiri. Orang tua itu mengangguk-angguk.129 Anak kecil itu pun mengangguk. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. ”Tetapi guru. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. ”aku tidak akan menjawabnya.” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Gurun Besar. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya. ia telah berada di tengah gurun ini. Tidak bisa tidak. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini.

Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Ia memandang ke arah utara. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. atau kadang dapat mengeras seperti es. Sunyi dan kering. Tenaga yang mengalir. Akan tetapi pemuda itu lain. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Sepi. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. Ya. ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu. Gunung Berdanau Berpulau. Tenaga Air. Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Diajarkan oleh kedua orang tuanya.130 nari. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu. melainkan juga pengguna ilmu itu. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat. dibalikkan tubuhnya. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. ilmu beladiri. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Sangar dan tampak seperti berwibawa. Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. sampai ribuan kambing dewasa panjangnya. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. *** BAGIAN 3. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Itu saja. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya.

”ya ibu. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya. Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya. Ia tenang-tenang saja. Ki Sura. di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. Lalu katanya kemudian menegaskan. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada.. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. ”Telaga. ia pun pergi merantau. Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah.” ”Tapi. membuatnya tidak seperti biasanya. Lain halnya dengan suaminya. . Mendengar pertanyaan ibunya. Bergetar suaranya saat menanyakan itu. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura.. Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa. Anak satu-satunya itu. Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh.” jawabnya ibunya tercekat. sudah bulatkah tekadmu itu. begitu pikirnya.131 diri dari batu-batu belaka. saya sudah membulatkan tekad. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas. Padang Batu-batu. Luas menutupi seluruh matanya. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu. nak?” tanya ibunya perlahan. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu. mengangguklah Telaga. Dulu sewaktu ia muda. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah.

Kadang selebar kerbau atau gajah. Mirip hutan belantara. Cengkeraman Kristal Es.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. dingin dan menantang. Dipandangnya berkeliling. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut. Jurus cengkeraman yang amat keras. seperti tiang-tiang. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih.” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. Berangkatlah pagi-pagi sekali. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. ayah. kadang pula lebih.” jawab Telaga cepat. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. ”hati-hatilah. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang . yang besar dan tingginya bervariasi. Katanya kemudian. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar. Di dalam Padang Batu-batu. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada. Melompatlah ia perlahan ke bawah. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya. dan menghujam juga dingin. Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. Untuk menentukan arah. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi. Padang Batu-batu. Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi.132 BAGIAN 3. Dan selalu hati-hati di sana.

Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu. karena sudah tak begitu jelas terlihat. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. ke arah berlawananlah ia harus menuju. Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. Untuk itu ia mengambil patokan lain. Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli). Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. yaitu matahari. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai. Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. Bukan di . Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu.133 berdiri berderet-deret acak. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu. Jika malam tiba. Untuk makannya selain telah membawa bekal. Menuju selatan. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. semakin cepat angin mengalir di antaranya.

sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. Hari keenam.134 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH balik batu. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting. Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Mereka memutarinya. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. Tak . sehingga serangan dapat dilakukan. Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. Sebagai contoh misalnya. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. yang dibantu dengan posisi matahari. Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal. untuk mencari ikan dan kepiting. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini. Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya.

Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka. Walaupun amat lamat-lamat. nanti cepat ketahuan. Berjalan mereka perlahan-lahan. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam.” Dengan berkecipuk keras. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu.. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu. Orang ketiga.” usul temannya yang lain. Tak tahu berapa lama ia tertidur. Ketiganya masih di sana. Bungkusan itu cukup besar dan berat. akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi. Entah apa isinya. Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air. di mana orang-orang itu berada. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. Tak ada suara. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang. walaupun jernih. Kemudian berlalulah ketiganya. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang. ”Jangan. Setelah memeriksa dengan seksama. ”Sudah. dapat ia mendengarnya. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu. Lempar saja di sini. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya. batu.” sanggah orang kedua temannya. Di Padang Batu-batu me- . ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata.. Telaga terdiam melihat kejadian itu.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur.” kata orang pertama. berkata seorang dari padanya. Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. lemparkan saja di sini.

Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Selang tak berapa lama. yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. tampak sebuah iring-iringan datang. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. Masih dalam pinggiran yang sama. Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. sehingga walaupun airnya jernih. Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. Niatan Telaga. Tidak ada tanah. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak. ”eh. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. Suatu pikiran yang cerdas. kamu mimpi kali?” jawab temannya.” . Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin.136 BAGIAN 3. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. Jurang yang cukup dalam. Kata salah seorang dari mereka. Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu. Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu. Makanya kita nyucinya siang. Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air.

Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir. Tak tergoda atas ajakan itu. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan.. ayo mandi. Lainnya hanya mengiyakan. Tak ditemuinya seorang pun. Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu. Dibiarkannya keranjangnya mengapung. membuatnya menjadi bertanya-tanya. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang. Andai saja ia maju setombak dua lagi.137 ”Sekalian mandi. Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. . Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu.. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. Selebihnya telah berendam di tengah. ”Sarini. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman.!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya.. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana.” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. dan ingin segera menjauh.

tampak oleh Telaga.” jawab yang lain menegaskan.” . bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya. ”mayat. seling mengangguk satu sama lain. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. si pedagang keliling. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. Tidak seorang gadis pun. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya..!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air. juga Sarini yang melihat kepergian mereka. di mana belum ada matahari.. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. Menepikannya dan mengamati. Penakut disebutkan dirinya. ”wah bisa berabe nih kita. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu. Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. Sepotong tali.. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu. benar itu Ki Rontok. Tidak di siang hari bolong seperti ini. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat. ”Ini adalah Ki Rontok. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini.138 BAGIAN 3. Kawan-kawannya telah diperingatkan. ada mayat. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka. Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya. Telanjang.” ucap salah seorang dari mereka.

sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang. Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. dengan tandu dari kain yang mereka bawa. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Bersama-sama mereka membawanya. Benar-benar menarik kata-kata itu. Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi.” ucap salah seorang dari mereka.. Untuk kemudian mengikuti. Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. yang dikenali sebagai Ki Rontok. Selain karena . Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah. Tapi itu harus dilakoni Telaga. Bisa-bisa ia yang dituduh. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu.139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Bisa-bisa fatal akibatnya. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana.

Tampak belum tua benar ia.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. terlihat tubuh yang terlatih. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. tapi ia kedapatan sedang mengintip. Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. Tak dibukanya percakapan. ”kita akan bertemu lagi. Aku si orang tua. Selang tak berapa lama. Orang tua itu tersenyum. tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan. melainkan terus mengamat-amati Telaga.!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi.. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. anak muda. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. Warna-warna kulit yang aneh. Telaga tidak tahu harus berbuat apa. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. lalu katanya. Tampak pula warna busana yang aneh. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. lebih tinggi .140 BAGIAN 3. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan. ”Jangan kuatir. dipandangi sajalah orang tua itu. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. Dari caranya bergerak. sibuk dengan pikirannya sendiri. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya. tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan.

Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik. dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. Untuk kebutuhan air minum. . bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. Kedua desa itu. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung. Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya. Selain adat. umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh.

Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Gembira hati mereka. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan.142 BAGIAN 3. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Dengan adanya para penjaga keamanan. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. Bagi mereka Tigaan lebih penting. ada pula orang-orang yang menghargainya. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. Cara-cara ini sudah tentu tidak baik. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. situasi menjadi aman dan terkendali. Akan terjadi peleburan. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. Kedua kelompok ini. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur.

Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Minta tolong ke penduduk kedua desa. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana. Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. Bila kedua desa bersatu. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. Hal ini tidak boleh terjadi. Asasin. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. Dengan cara ini pasti akan lebih laku. jauh di barat daya sana. Mengadudomba. Akhirnya mereka. tidak mungkin. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu. Andai saja Walinggih ada di rumah. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. pulang dan mela- . Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. Walinggih tak tega. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Mungkin akibat ilmunya itu pula. Karena ditunggutunggu tidak datang. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. jelasnya. Kejamnya politik perdagangan. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi.143 dari luar Padang Batu-batu. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. Yang penting untung dapat diraup. Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu.

Pandangannya berubah terhadap kerukunan. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. Ia akhirnya mengambil sikap. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. Setelah semua orang yang bersalah habis. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. Dalam setiap perkara kejahatan. juga penolong. Untuk kelebihan waktu. Menggiriskan hati suaranya. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. pikirnya. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. Dibelah persis di tengah-tengah. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. Simetris. harus dibayar lain. kelompok pembunuh bayaran terkenal. biasanya harus ada yang tersembelih . bisa berabe nanti jika ia mengamuk. Jika ada pertentangan. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. Dan ditinggalkannya begitu saja. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Akan tetapi para pembunuh tidak mau. serta memekakkan telinga.144 BAGIAN 3. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. mengingat ilmunya yang tinggi. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Kedua kelompok pedagang. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya.

jadi dua bagian. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. Tapi itulah kenyataannya. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok.” usul seseorang. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal. kecuali kasus-kasus yang parah. Orang yang terkena fitnah misalnya. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya. .” Benar-benar pikiran yang gila. Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. Alternatif itu lebih baik. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. Akibatnya kehidupan menjadi tenang. sebelum Walinggih mendengarnya. Semoga arwahnya nanti damai di sana. ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya.145 simetris. sudah pasti akan ada pembantaian. Jika bertikai dan berlarutlaru. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat. fatal akibatnya. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu. Ya. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. kepala desa?” tanya seorang warga. Terlepas dari siapa yang bersalah. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. melainkan ketenangan dalam paksaan. ”Bagaimana ini. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya. Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu. Alasannya boleh berbicara belakangan. Katanya suatu ketika.

gadis yang tadi tidak ikut mandi. terdapat suatu celah. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah. berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah. .!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya.” ucap seorang. Kemudian kata orang itu setelah memeriksa. bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling. seperti ditunjukkannya. si Hakim Haus Darah. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan.” gumam seorang takut-takut. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. Dan memang benar. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan. perlu pula diusut. ”Ada yang bisa menceritakan. Tidak ada korban dari Walinggih. akan selesai masalah. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah. Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali..146 BAGIAN 3.

”warga desa yang terhormat. Tak pandang bulu. akan kembali ke masa lalu keadaan di sini. Dengan adanya peristiwa ini. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara. perkenalkan kami. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang. Seperti halnya Ki Rontok. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. Sementara yang lain. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa. Mereka yang terakhir ini kuatir. tak jelas alasannya. . Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu. Saat itulah ia turun tangan. apabila Hakim Haus Darah ditangkap. kami datang untuk menangkapnya. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu.. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik. dapatlah sang hakim saat ini ditangkap. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau. ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu.. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. sebagai bukti. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu.

”Yang murah saja. Lalu tanyanya sambil lalu. Anak pasti bukan orang sini. Telaga adalah pemuda itu. Tak tahu harus ke mana. Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu. Ingin dicarinya keterangan. ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi. paman. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri. bagaimana akhir dari peristiwa ini. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa.148 BAGIAN 3. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. Kalian penduduk desa. hanya perlu menjadi saksi. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol.” jawab Telaga sopan. Kami yang akan menangkap sang hakim.” ”Ya. karena saat ini hari telah menjelang senja. ”Mau makan apa. sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi.” katanya sambil melihat Telaga. Sudah banyak memang pedangan dan . ”ada peristiwa besar ya. nak. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu.

” jawabnya cepat. Tak berapa lama pesanannya pun datang. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. Di desa itu . Kemudian ditinggalkannya Telaga. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani. Saya lagi merantau. Gule Julung-julung. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana. Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan. tiga perwira. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi.149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. Saya berasal dari utara. Cukup sederhana Pepes Keuyeup. bukan bercerita. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. paman. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat. Ia tidak punya tempat menginap. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Tiada lagi ragu sekarang. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. ”Iya.

Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. Sudah biasa kok..150 BAGIAN 3. Tidak dihias macammacam. paman. melainkan hanya berwarna alami. sejak putrinya masih kecil. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa. Istrinya telah meninggal karena sakit. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang. lalu sapanya. ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf. Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya. paman. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga.. Jadi bermalam saja saya di luar. yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. ”Beda ya.” Telaga mengangguk-angguk. Saat akan merebahkan dirinya. ”bagus juga. Begitu melihat dirinya. Selain tidak bagus juga mahal. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya. ”Marilah mampir. Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur.?” pancing Arasan. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat. Tidak . Batu dan kayu belaka. lalu jawabnya.” katanya. akan tetapi suka keramaian saat bekerja. Marilah.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. sama yang di dalam desa. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya.” jawabnya sopan. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya.

Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk.. mari masuk.” Lalu tanyanya. berseru Arasan memanggil putrinya. Lihatlah ada tamu kubawa serta.. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. Tapi lupa. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana.” Bertanya-tanya Telaga dalam hati. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis. Ruang depan dan ruang belakang. Rumah itu cukup besar. dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya. bagaimana rupa dari putri Arasan.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu. tapi putriku. ”Ayah. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya. ”bukan. Sarini makan sendiri. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja. selamat datang. ”Sarini. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. tempat yang ... Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu. Sampai depan rumahnya. Senang pasti hatinya. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu. Nanti kuperkenalkan. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu.!” ajaknya. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng. ”Mari. tetap saja ia merasa malu. Seorang pemuda yang lugu. Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya.151 terlihat asal dalam menatanya.” Lalu muncullah putri Arasan. putriku! Ayah pulang.

Orang tua itu mengelak tipis. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan. hyaaaaa.. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. Telaga mengikutinya. Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. memutar tubuhnya. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher.!” teriak suara seorang gadis. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. ”Huut. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. melainkan ayahnya. hanya di pagi hari. menekuk dan melemparkan gadis itu. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur. tetap dengan menggunakan telapak tangan . menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya. Alih-alih terjatuh. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga. Di saat orang-orang belum bangun. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. Tak lama kemudian mereka tidurlah. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya. Juga adanya tusukan-tusukan. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya. hampir tidak memperdengarkan suara.152 BAGIAN 3. Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. Pendaratan yang ringan.

kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu. agar susah ia mencobanya. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. Sampai pada gerakan yang menghentak. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. Melihat keragu-raguan Telaga. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya.153 yang dibuka. paman Arasan. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air.” kata Arasan sambil menganggukangguk. ”Nak Telaga. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata. akan tetapi tidak melatih bagaimana . itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak. ”tak perlu kau katakan pun. ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu.” jawabnya jujur. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. ”Belum. ”Ah. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. berkatalah Arasan kemudian. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. ”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. Lalu tanyanya kemudian. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya.

”Paman Arasan. ”Marilah. suatu saat akan kami ceritakan. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air. Ia ingin hidupnya aman-aman saja. mereka pun menghentikan latihan.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air. Telaga pun mengangguk.. untuk menjaga diri belaka. ”Sudah tentu. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan. Benar pikirnya. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku.. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya.” jelasnya kemudian. nak Telaga. nak Telaga. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka. Guruku sendiri pernah berujar. Setelah matahari mulai sedikit tampak. Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana. Akan tetapi sebagai seorang ayah. . maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya.. Tapi jangan panggil aku guru. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya. Perihal mengapa. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan.. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri.” jawabnya. yaitu Tenaga Air. sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri.154 BAGIAN 3..” tanya Telaga bimbang.

Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. selain juga menjadi malu. bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. tampak sederhana. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. Jika tidak. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya. Hari ini Arasan tidak bekerja. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu. Tempat kediaman Hakim Haus Darah. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan. Walinggih. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. Sebuah rumah di atas batu. Terlihat . Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius.

Baru kali ini. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda. Sesekali seperti guratan kaki. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. Pedang mungkin. Hanya beberapa . keluarlah engkau. Seperti bercak darah yang mengering. Hanya ada satu persamaan. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit.. Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar. yaitu baju yang dipakainya. dan tua karena pikiran. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam.!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu.156 BAGIAN 3. ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Orang tua kemarin sudah putih semua. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. akan tetapi orang ini. Ingin tidak hadir. Juga rambutnya berbeda. Mereka. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. Sunyi tak terdengar jawaban. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. ”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. Memang samasama tua. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. ”Huh. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu. Seorang tua muncul dari dalamnya. Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih.

membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun. ”serahkan dirimu.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. di atas batu tinggi. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan. baru datang. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih. Sarini. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut.. lalu katanya. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata.. Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah.” kata seorang dari mereka bertiga. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya. Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. Arasan ayahnya dan Telaga.” . Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. ”Bila pedang sudah bicara. ”Hmm. Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. Lemparan itu bukan sembaran lemparan. tak perlu ada kata-kata lagi. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin.157 yang cukup berilmu tidak.

. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya.!” ucap salah seorang dari mereka. Hampir mencium perut-perut mereka. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta. Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya. Bekeringat dingin ketiga perwira itu. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. Satu menyabet ke arah kepala. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Akibat mundurnya itu. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. . Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. Dalam serangan pertama. Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. Benar-benar serangan yang lengkap. ”Bagus. Untung saja refleksnya masih bekerja. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Dua buah. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju.158 BAGIAN 3. Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal.

turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran. Hahahaha. Itu saja. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu. Matahari sudah menempati titik kulminasinya. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin. ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang.. ”Walinggih. tak usah berpura-pura. Cara ini ternyata lebih berhasil. Pertempuran itu pun berlangsung seru. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan.” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. Sebagai seorang manusia.! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. ”Jadi begitu. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya.159 Kembali ketiganya maju serantak. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih.” kata Walinggih. Saat satu orang menyerang. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah. ”Hehehe. salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. Kelimanya bergerak ringan. Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. Belum pernah sebelumnya.” ”Hehehe. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. Lalu ucap salah seorang perwira. Arasan. . benar-benar ’penegakan hukum’. rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung..

Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. yang disebut sebagai Asasin. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Sebelum kedelapan orang itu bergerak. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. Jika tidak. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. alih-alih menjawab pernyataanya. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu. langsung menyerang. kakinya meregang terbuka selebar dada. Sebagai seorang pembunuh bayaran. Dari pikirannya. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. menjadi semakin bingun Telaga. Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. malah bergerak berputar. Satu ke depan satu ke belakang. Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran.160 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut. sehingga ketiga orang perwira itu dikirim. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. Dugaan itu tidak salah. Akibatnya rekan-rekannya .

ke depan dan belakang. Bukan ke atas melainkan . Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. Tak ada yang dapat dilakukan kali.. Terbelah simetris Asasin ini. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat. Hanya tipuan. Kaki dibuka selebar bahu. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram.!” Akan tetapi terlambat.?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut. tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia. Diatur napasnya tenang.. Dua orang yang jauh dari sasaran pertama. Omong besar di depan.. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka. juga kedua Asasin..!” serangan ini pun membuahkan hasil. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. pikirnya. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya.!” serangan kedua membuahkan hasil. Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal. Siap untuk serangan berikutnya. Tak ada hasil setelahnya. ”Tunggu dulu. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas.. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. ”Hei. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah..! Apa mau kalian.161 berupaya melindungi. ”Settt. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman.. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya. Melihat hasil ini. ”Cappp. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya.

Siap melepas serangan lagi bagi pegas.. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. Kembali ke posisi semula. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya. Walinggih yang akan bergerak.162 BAGIAN 3. Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan. Tak berapa lama. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. tak dapat ia menyerang keenammnya. Ini sudah . Terpaku bagai akar pohon. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan. Walinggih kembali ke tengah. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik. takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih. seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Tegak dan lemas. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya. Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. ”Wuttt. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk. Tak berani ia melihat ke bawah. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri.

Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga.!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih. Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. ”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. ”Heggg. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. Alih-alih menggeser kedudukannya. Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah. Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Luka bacokan tak dapat dihindari. Masih dengan tenang Walinggih mendengus. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja. bisa tak selamat Telaga. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat. Entah apa namanya. Sunyi. masih tampak wibawa dan keangkerannya. Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. di mana orang ketiga sedang menyerang. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka.. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak .

Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu.. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih. kau?” tanyanya tergagap. Setelah mereka bertiga berunding. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut. Teringat akan anaknya. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana.. sudah pasti sebesar ini tentunya. ”Siapakah. untuk dibuat bahan membalut. Ketiganya tampak termangu. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok.” jawab Telaga sedikit malu. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. Bertempur. Mendengar cerita Telaga. paman. kok menggunakan racun..164 BAGIAN 3. Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. HAKIM HAUS DARAH berdaya. Jika anaknya masih hidup. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya . Jangan disimpan. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. ”Maaf. Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

Diperiksanya dengan seksama. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. Paras Tampan bersorak gembira. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Di hadapannya. Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. apa-apa yang ada di sana. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. Ia tidak bisa berputar. ada seperti anak tangga di atas itu. terdapat semacam anak tangga. Paras Tampan merangkak mundur. soraknya dalam hati. Tiba-tiba ia bersorak girang. hampir dekat dengan langit-langit. Ada. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. Hitam dan dingin. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu. Tiba-tiba didapatnya akal. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. HAKIM HAUS DARAH Hijau. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana.176 BAGIAN 3. sampai ketinggian yang dapat dicapainya. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Anak tangga pertama lebih . Cukup lebar dan tinggi. Akan letaknya jauh di atas.

Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Cara ini mungkin lebih masuk akal. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu. Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. Masih saja gagal. Berulang kali dicobanya. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan. Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya. Bila bisa. Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu.177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Butuh waktu lama. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. Dan berikutnya lebih rendah lagi. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. Ada lima anak tangga semuanya. anak tangga berikutnya lebih rendah. Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik. Merangkak pelan. Seperti dipotong dengan sengaja. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Di salah satu sudut lorong. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan . Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut.

agar lebih stabil. Seribu Ramuan. terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. Pemuda itu melihat berkeliling. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno. Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan. Racun Selaksa Macam. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Ilmu Muda Selamanya. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Tujuh Rahasia. Kemudian ia menarik napas panjang. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. Pukulan Inti Es dan Salju. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Tenaga Air. Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Seni Beperang. Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu.178 BAGIAN 3. Angin-angin. Pukulan Tanpa Tanding. Aneh-aneh judulnya. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. Puas melihat pekerjaannya. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. Batu-batu. Dan Sekarang . Beratus-ratus jumlahnya. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. Berhasil. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan. Dan naiklah ia. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Perpustakaan kitab-kitab kuno. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. Juga yang berikutnya sampai yang kelima.

”Pernah guru. Gunung Hijau. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri . ”dan sekarang. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini. Atas kehendak Sang Pencipta. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya. Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan. Paras Tampan.. Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat.. ”Benar.” kemudian lanjutnya.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu. Hanya mereka berdua. Misbaya. hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam. Dipelajari. Tapi itu cerita lama. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima. ”Paras Tampan. Siap untuk dilahap. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu. Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya.179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau.” jawab Paras Tampan. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini. Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Angin-angin. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. Pemuda itu.. Rintah dan Gentong.

karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut.180 BAGIAN 3. ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Tulisan itu mirip prasasti. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Di balik tempat tidurnya. Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut. Jurus Api dan Jurus Air. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Entah oleh siapa. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu. selain jurus air ini. dekat dengan bagian kepala. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. Dikarenakan oleh gurunya. HAKIM HAUS DARAH darinya. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. Jurus Tanah. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki.

Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat. Jangan lupa untuk. Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk.”. judul-judul kitab yang ada. Untuk menunaikan tugas. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain. Bacalah itu pada kitab-kitab awal. Di sana tertulis. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada. Arahnya tidak rata tiap barisnya. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. Di salah satu ujung ruangan. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini. Tidak ada. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya.181 dalam keadaan yang buru-buru. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing. Semakin ke bawah. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya.. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya. Dilihatnya kembali berkeliling. Penjaga Keseimbangan... Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Sedari waktu itu. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya. Lapar. Minta untuk diisi. Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu. Badannya juga terasa lelah.” Tulisan tersebut berhenti di sana. Sebelum ia belajar. Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya.. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni. Teringat itu.

Sungai yang keluar dari lubang. Warna tubuhnya biru tua keunguan. Sungai Batu Jernih. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan. tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Hampir seukuran dirinya.182 BAGIAN 3. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). Ranum dan segar kelihatannya. Matanya besar. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. Ditambah dengan laparnya. . Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. ingin ia meraih untuk memakannya. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Pesat menuju buah-buahan itu. yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Mengambang.

. Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut. Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan.183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan.

184 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH .

Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. Perutnya telah lapar. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang. atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Lembut menyegarkan. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan. Ke sungai dalam tebing batu itu.Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. Diperiksanya perlahan-lahan. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 . Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat. Digigitnya perlahan. ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu. Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Manis dan berair. Entah kemana.

”Seorang pemuda yang cerdik. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam. Troll. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain.” kata seorang dari mereka. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. Pulas. Sesampainya di sana. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya.” kembali kata orang pertama. ”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan. betul. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. BAGIAN 4. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap.” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. Ia pun tak lama kemudian mendengkur. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat. . Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya. ”Hehehe.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu. kali ini mereka berjalan ringan perlahan. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini.186 banyaknya. Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain.

Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding. Guratan yang belum selesai itu. ”benar-benar berjodoh. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap. Biarkan nasib yang membawa mereka.?” tanya seseorang dari mereka. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan. Mula-mula ragu-ragu ia memakannya.” kata seorang yang lain.” ”Jadi.” kata temannya. kakak Rawarang. bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. Akan tetapi rasa laparnya menang. Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab.” tegas salah seorang dari mereka. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya.187 ”Benar. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu. Membaca demikian. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. Tak tahu dirinya. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan . ”Kita layani dia. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan.. Hanya herannya ia. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. sayuran tanpa daging dan nasi. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll.

Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. selain disertai bahaya untuk jatuh. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. Lebih lanjut pada lubang-lubang. Kadang kepala di atas kadang di bawah. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. se- . cengkeraman. Paras Tampan dapat menghemat waktu. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya.188 BAGIAN 4. berpijak pada lubang-lubang yang ada. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun. Latihan di bagian luar ruangan itu. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding.

Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Paras Tampan. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik. Entah binatang apa. para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Untuk pakaian. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. yaitu kulit binatang berbulu. Dengan tidak memakan daging. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. Peralatan menjahit disediakan mereka. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. tampak semakin tegap. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. . Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. Badannya menjadi tampak pas sekali. Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah. Pemuda itu. Badannya berisi. Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar. hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. Yang penting nyaman dan hangat dipakai. Tidak terlalu banyak. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. telah habis buah-buahannya. Sederhana tapi cukup memadai.

Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Sang ikan pun berkecipak-cipuk. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka. Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan.190 BAGIAN 4. Undinen misalnya. Tapi mereka tidak munculmuncul. Sentilan Kelereng Es. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih . Di tepi Sungai Batu Bening. ditunggunya mereka di luar ruangan. Benar-benar mengagumkan. Dan untuk belajar jurus itu. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening. Alih-alih. seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama.

Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat.191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. Senja pun tiba. sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Dengan menggabungkan kedua unsur. Apabila ia berlatih serius. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi. Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. cengkeraman dan panjatan-panjatan. Menurut petunjuk yang dibacanya. para Troll. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal. Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. Siang sudah belalu setengahnya. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. para Troll akan mengajarinya. Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. Toh. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya. Memberinya petunjuk lebih jauh. Bila iya. Otaknya . Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. kapan ia siap untuk dilatih. Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut. Hari ini. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama. akan tahulah mereka. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah.

menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. Tidak berhenti sampai di sana. Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening.192 BAGIAN 4. Membesar. Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Paras Tampan pun berdiam diri. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Berjajar menatap dirinya. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Dari siulan tadi. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. Menyebar lambat. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Perlahan tapi pasti. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan. Memasuki gua batu di tengahnya. Seorang dari mereka. Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih.. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. Tak tahu apa yang dilakukan. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air. mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri. Tak jauh melebar melainkan memanjang. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan. Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es. . Menunggu.!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. ”Kecipak. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya.

agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. Padahal apabila dibayangkan. Paras Tampan tidak berada paling belakang. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah . Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. Benar-benar ruangan yang memukau. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan. Selain malam telah menjelang. Dataran itu cukup luas. Tak terlihat goyangan yang berarti. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat. Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya. tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. Kanand dari arah ia tadi datang. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es. perlahan tapi pasti.

dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. tapi belum pernah yang tegak seperti ini. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya. . Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. tampak berenangrenang di kejauhan.194 BAGIAN 4. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. Ikan Kolakan. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. yang terlihat sebagai pemimpin di sana. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu. Bukan tempat bagi makhluk air. mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari.

Akan tetapi bukan Paras Tampan. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. menjejak terbalik pada langit-langit. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. tentang bagaimana caranya bisa . Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada. Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana. Sepanjang satu tombak kira-kira. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. mencoba kekuatan barisan itu. Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit. kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. Ia melompat dari tanah. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding.

tidak ada masalah. Pusing dirasakannya. ”tukk. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat. Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala. Rupanya saat bergantung terbalik itu.196 BAGIAN 4. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. Darah tidak mengalir deras seperti tadi. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit.. Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka. Waktu pun berjalan pelan. Sekarang saat dimulai masalahnya. Pada bagian dinding yang tegak. sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya.!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. Setelah tiga kali dicobanya. tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Tiba-tiba. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya. Sesaat sulit juga. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Tak lama ia bisa bertahan. Hampir lepas pegangannya. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut.

tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya. Tak ada jalan lain. Akibatnya pusing kembali diperolehnya. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya. Para Troll tampak berganti kelompok. Tak terasa telah lewat tengah malam. Walaupun belum selincah Troll. Dilepaskannya pegangan dan pijakan. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. Mereka juga memakan satu setiap orang. Tidak lebih. Paras Tampan pun telah lelah. Setelah beberapa kali mencoba. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. Pada suatu jalan darah tertentu. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu.

Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya. berabe nih!” gumam Paras Tampan. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap.198 dataran batu itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya. Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. sosok ini pun senang tersenyum. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. BAGIAN 4. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. Gerakannya ringan. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Wajah . Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. ”Hmmm. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. untuk kemudian Mengheningkan Cipta. Sedangkan temannya berambut pendek. bagaimana aku dapat mencapainya.

Sebelum menjawabnya.” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu.” sambil ia membungkuk sedikit. ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab.” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas. atau jika tidak ada.... Petapa Seberang. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku.” kata orang yang berambut pendek itu. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar. memberimu kitab ilmu-ilmu kami. mengapa perlu meninggalkan pesan. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan. Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi. ”Jika memang maksudmu demikian. ”Rawarang.” jawab Rawarang. menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi.. Lalu jawabnya. mana mungkin ki sanak berdua akan datang... ”Maafkan saya.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu. ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” . ”Hmmm. Benar-benar suatu sifat yang jumawa. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua. Ia lebih serius terlihat. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api. seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga.199 sosok ini tidak seperti kawannya. ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau. Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. kami harus menuliskannya dahulu. Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. tapi tidaklah jahat. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku.” jawab Rawarang masih jenaka. sehingga ada alasan untuk membalas.. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah. Lalu katanya. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai. ”Jika tidak memberikan. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota .” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya.200 BAGIAN 4. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat.” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. Baik orang-orang yang terlihat berduit..” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya. ”kalau begitu jelaskan dulu. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. itu jadi susah. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana. Walapun besar dan megah. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin. ”Ya. mau apa engkau dengan kitab-kitab kami.

Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut. yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- . Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka. seperti waktu bercocok tanam. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah. Jika tidak ada kebiasaan menulis. Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. Dan ini sudah tentu terbatas. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. tidak akan ada buku yang bisa dibaca. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. Kebiasaan membaca. jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Di negara itu. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. Pun hal-hal yang berguna.201 kecil. Mirip dengan buku harian dewasa ini. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini.

amat takjub pada kemegahan itu. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. dan apa-apa yang mereka lakukan. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. sampai memanfaatkannya.202 BAGIAN 4. umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad. Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. Melalui cara ini. Ayahnya yang seorang pedagang perantau. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Dengan perantaraan buku-buku itulah. seorang anak dapat melacak nenek moyangnya. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. dapat dilakukan penghibahan. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. Buku harian. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. Tidak dibawa pulang. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. Dari membantu melengkapinya. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. Dengan cara ini. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya.

Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan. ilmu alam dan bahasa. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri. Jangan seperti gurunya. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat. Buku-buku yang terlambat itu. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. Semahir-mahirnya tupai melompat. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. termasuk di dalam istana kerajaan. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . ilmu kanuragan. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. Bakat sang mantan pencuri itu. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. suatu saat jatuh juga. Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. yang tidak mau memberitahukan namanya. Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Dari penjaga perpustakaan ini. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya.203 membekas sampai ia dewasa. Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya.

engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. Umumnya saya menang.” tanya Petapa Lain Pulau. ”jadi maksudmu. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan. atau tidak mau menanggapi saya. Para pesilat atau sastrawan. Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai. jadi susah.204 BAGIAN 4. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas. Lalu kata seorang dari mereka. apabila tujuan dari Rawarang ini benar. atau setidaknya melawan dirinya. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. ”Saya tidak punya jalan lain.” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras.. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk. Sebaik manapun suatu tujuan. ”Sekarang. ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar. ”jika diminta begitu saja. . pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini.” jawab Rawarang. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. Memang menurutnya. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya.” ”Dan sekarang. agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya. Rawarang. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan. Tetapi tidak begitu caranya. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara.

Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan.. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi. Merasai Hawa Pelajari Ilmu. Ia dapat kembali membuka matanya. karena luka dalam yang dideritanya. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau. sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka. apa maksudmu.!” terdengar bunyi pukulan keras. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang.. tiba-tiba ia bergerak cepat. ”Buk-buk-buk. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya.. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh. berusaha ia .?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir.. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka. mau tak mau.” gerutu Petapa Gunung Es. didasari rasa kemanusiaan.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang. Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka.. ”Hey. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya. Walaupun wajahnya masih pucat. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya. kedua petapa itu mengobati Rawarang. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es.

Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu. Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut. Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan . Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu. kena juga kalian diakali bocah nakal ini. Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. kakak Lain Pulau. Bajunya juga sederhana dan kasar.. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. Tak perlu katakata diucapkan.. kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini.. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau.206 BAGIAN 4. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu. Mengambang tapi jelas. Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan. ia tidak memiliki siapa-siapa. Wajahnya tampak lebih muda.. ”Kakak Gunung Es. paling muda dari ketiga petapa tersebut. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang.. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya. Petapa Seberang. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai. Petapa Seberang. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api. Dibiarkannya tergerai saja..

Cepat dan pesat. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. Rawarang si Maling Kitab. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Menuju suatu tempat di atas sana. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Hampir habis tenaganya. Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. Ramai sekali suasananya. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. Zig-zag ke kanan dan ke kiri. Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. Petapa Seberang bergegas menaikinya. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. Menggirisi apabila menyaksikannya. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. Rimba Hijau. Gunung Hijau. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki. Lima enam anak tangga sekaligus. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. Tanpa bicara. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Keduanya pun mengangguk tanda mengerti. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Menuju atas. Ada hal yang lebih penting. Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara.

Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. Cepat dan lembut. Sudh cukup untuk dituliskan. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi. Rawarang tersenyum lemah. Seakan-akan tak ada bobotnya. Masih ratusan lain yang menunggu. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat. Tiba-tiba pandangannya gelap. Doyong dan bergerak jatuh. . tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Lebih baik diikat saja. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya. agar ia bisa cepat memanjat ke atas. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. Sosok itu. Pada sisi kirinya. Sebelum ia mencapai lereng puncak. seorang makhluk Troll muda.208 BAGIAN 4. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. Membuat udara terasa basah dan segar. Secarik kain panjang. Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya.

Juga kaki-kakinya. ”tapi itulah diriku. lalu lanjutnya. . Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. kitab ini harus diselesaikan. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun. Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya. Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia. Penulisan kitab itu pun berlangsung.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah.. ditampiknya dengan lemas. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab. judulnya. adik Bagadsh.. Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila.” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak. ”Tak banyak lagi waktunya. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Ilmu Tiga Petapa.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat.

Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi. Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Memeluknya.. Bagadsh. sebagai bagian dari kalian. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang.. Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh.. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana. Membangun perpustakaan di tanah ini. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju. Juga semakin lama semakin miring ke bawah. Meneruskan cita-citanya.. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan. Tangannya pun terkulai lemah. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana. ”Adik Bagadsh. Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu.. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan.” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya..210 BAGIAN 4. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. selamat tinggal. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana. Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang.. Ia tidak in- . Berangkat ia menuju suatu ruangan. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir. Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi. Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka. Semakin lama semakin lemah. sang makhluk Troll.

demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini. Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. Ia hanya memandang sayu mereka. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Dan menunggu. Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. Hanya tak dimengertinya. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik. Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. Lebih banyak bertahan. Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka. akan tetapi dapat mem- .

dan tidak sempat mengamalkannya. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. kitab karangan ketiga petapa. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. agar dimakamkan pula di sana. Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. .212 BAGIAN 4. Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. Jika tidak tekun merapal ilmu ini. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe. atau keturunan-keturunannya.

Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. .213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu. yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu. ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum. hanya pesan mereka kepada Bagadsh. agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar. akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata. Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula.

ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat. kira-kira dua . Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. Hanya saja sekarang lain rasanya. dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat.214 BAGIAN 4. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. Walaupun demikian secara tak sengaja. Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. Terduduk dalam capainya. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. Seakan-akan tanpa celah. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. Paras Tampan pun kemudian bermimpi. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. melainkan memang begitu adanya sejak lama. Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi.

Entah apa yang menyebabkan hal itu. Setelah itu ia pun kembali menghilang. orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. dan di- . Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya. Tak ada kata-kata di antara mereka. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. Batu itu terlihat menempel. Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. Lambang Tanah. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. Bagadsh. Setelah cukup dekat. Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri. Entah apa. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Diletakkannya di atas telapak tangannya. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu. Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. meminta agar Paras Tampan mendekat. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya. Ini bukan menjejak. Terlihat sedikit hasil. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. tapi menempelkan benda. Kali ini berhasil. menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. orang itu menepuk bahunya dari belakang. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. Bermacam-macam warna dan ukuran. yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. sehingga efesien pemanfaatannya. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. Lalu ia berdiri. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. Paras Tampan pun mencoba lagi. Paras Tampan pun mengiyakan. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan.216 BAGIAN 4. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . Lama dan stabil. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran. Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik.

ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. Kemudian. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. Lebih jauh ke bawah. Naik terus sampai dua tombak lebih. seakan-akan mengatakan cukup. Demikian pula untuk mengapungkan batu. Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. Diambilnya sebutir batu sembarang. Batu itu menempel. Hal yang dilihatnya seakan-akan . batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. orang itu menunjukkan hal lain. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah.

Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari.. ingin bergegas menjadi gas. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu. Rupanya dalam posisi duduk tadi. Benar-benar pukulan yang mengerikan. Sampai di akhir jurus ke sepuluh. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. dan. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya. Kembali mati seperti keadannya semula. yang merupakan salah satu kelebihannya. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian . Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh. seperti halnya air yang mendidih. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara. uap air. batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah.!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya. Padangannya tiba-tiba gelap. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini.218 BAGIAN 4. Setelah mengurangi tenaganya. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir.. Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu.. Mengambang dan liar.. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. Liar. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan. ”Dukkk.

Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. walaupun masih kaku. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. Perlahan. Dilontarkannya bongkahan es tersebut.219 jatuh membentur dinding di sampingnya. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti. untuk menarik dan menolak benda-benda padat.. Teringat ia kembali akan mimpinya itu. Tapi tanpa batu. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Setengah hari pun lewat. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. tampak sebongkah es terbentuk mengambang. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi. Pukulan Badai Pasir.!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan. Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali. Tiba-tiba ia mengerti. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan . Masih berupa gerakan saja. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. ”Kecipak. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. Sakit. Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. belum terisi oleh Tenaga Tanah. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu. Cepat dan keras. Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu.

Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam. BAGIAN 4. Para Troll sudah berganti kembali penjagaan. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. Saatnya untuk sedikit beristirahat. Perlahan-lahan. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . Hari pun telah menjelang senja. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. Akhir hari kedua. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran.220 untuk berterima kasih. melainkan harus langsung. ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Sunyi.

Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. Percobaan terakhir. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. . Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Tidur enam jam sudah cukup baginya. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara. Benar-benar tidur. Hampir-hampir ”terbang”. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat. Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. Paras Tampan pun segera berdiri. satu tahun lagi. Digerak-gerakkan tubuhnya. *** Pagi telah datang. Semangat mulai mengisi tubuhnya. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya. juga siasat yang diaturnya. melingkarkan tubuhnya dan tidur. Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. Pemuda itu menggeliat bangun. gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. Saat ia bangun.

”Heghh. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya. Ia menegadah. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya..!!” hentaknya. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya.. Ia akan mulai menyerang para penjaga itu. Satu tidak cukup. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air. . Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar. Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa.222 BAGIAN 4. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya. Salah seorang dari mereka mempersilakannya. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil. Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini. agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya.

tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga. Dan ia berhasil. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu.! Masuk ia ke lubang di atas sana. Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah.. melainkan langsung dengan serangan langsung. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut.. melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga. sampai sekepalan tangan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. . akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu. ia melompat. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu.!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata. Kembali dengan cara yang sama. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan. melesat menuju lubang itu. ”Tak-tak-tak. Hampir habis tenaganya. Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang.

” Sunyai sebentar. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). . Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Dan anak telah berhasil. Lamat-lamat terdengar suara. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. Bisa dari depan atau belakangnya. Dan lebih terang. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun. ”Majulan terus. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas. Hampir habis waktu ujian. Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang.224 BAGIAN 4. Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja. Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya. Di sana. Ikuti jalan itu. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini. ”Bagus nak Paras Tampan.

Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya. Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding.225 Setelah dekat dengannya. Melihat kebingungan Paras Tampan. Kerangka mereka belum tinggal tulang. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding. melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. Petapa Gunung Es. sekarang setelah engkau berada di tempat ini.” jelas Troll tua tersebut. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Engkau mem- . karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau. ”Nah. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu. Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. Kadang tegang. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. kadang juga sedih atau gembira. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. Ya. Paras Tampan menggelengkan kepalanya.” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka. ”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa.

Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat. PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya.” kemudian lanjut Bagadsh.” jelas Bagadsh. memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab. Biarkan kami hidup dengan damai di sini.. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini. Untuk waktu pembelajaran tersebut. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. Di Katakombe itu.” ”Sejauh yang saya bisa. Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya.” ucap sang Troll tua. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. ”ku harap engkau mau mengabulkannya. Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut. ada satu permintaan padamu. Satu jurus dapat dilakukan cukup lama. Ki Bagadsh. ”Aku Bagadsh. Terserah ia. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu. baru kemudian menyerang dengan cepat.” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu.226 BAGIAN 4. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu. Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. Terli- . untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. harus ditinggalkan di sini. tidak dibatasi. Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya..” jawab Paras Tampan sopan. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang. Kitab yang asli tidak boleh dibawa. Dan kemudian kembali diam. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu. Bila mereka telah tiada. nak Paras Tampan.

trangg. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya.. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka. Stamina sudah menurun. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka. Akan tetapi sayang. Asap. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia. Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya.. Lain . Misbaya dan Rintah. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu. Sudah cukup lama mereka bertanding. Gentong. Cermin Maut.. Ya. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat.227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu. Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu.!” ”Tringgg. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka.. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali.. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau. Bahkan setelah sang kakak meninggal. Rimba Hijau diserang. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya. *** ”Hiattt.

Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini.. Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya. di Kota Luar Rimba Hijau. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak.. dan bukan untuk orang-orang dari seberang.” Ki Tapa sendiri tampak tegang. Akhirnya dengan siksaan-siksaan. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang.228 BAGIAN 4. Masuk sampai ke pondokannya. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja.. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak. Akibatnya fatal. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang.” sanggah Rintah. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu. ”kita yang baru turun gunung saja. ”Ya. . Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini. Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman..” kata Misbaya. diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar.

Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya... Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami. bila saya tak salah. Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu. Kakak Naga Geni telah berpulang lama. sampai tidak mengenai kami. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu.. salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti...229 ”Tahan. menunjukkan perangainya yang kejam. Hanya orang- . ”Maaf bila kami tidak tahu. kemana saja engkau selama sini orang tua. Sabit yang dibawanya. ”Jangan berpura-pura. itu sudah cerita lama. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya..!” tiba-tiba melayang seorang lain... ”Ki Tapa. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah.!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah.. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat. Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami.” ucap Ki Tapa.!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara.!” ”Benar.” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya. Dibunuh orang. ”sejauh yang saya dengar... Kami masih mencari siapa yang melakukannya. Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua. ”salah satu pewaris Petapa Seberang. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik. ”Hik-hik-hik. saya Ki Tapa..” tawanya sambil menutup mulutnya. Cermin Maut. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya.

.. Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. Tak terasa dileletkan lidahnya. Wajahnya kurus putih pucat. dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman.” . PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan. ”Tak usah banyak bicara. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau..” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. ”kita bunuh saja semua. Badannya agak tinggi. tulang baik. kakak Mayat Pucat.230 BAGIAN 4. Memuaskan dahaganya. telah melayang seorang lagi dari mereka.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya. Lain pula dengan Cermin Maut. Tanda racun yang amat ganas.. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan.” jawab Sabit Kematian tak sabar. ”Jadi. Belum sempat Ki Tapa berbicara.!” ”Anak baik. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya. baru kita geledah hutan ini. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini. Mayat Pucat. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Rimba Hijau. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh. Orang itu Sabit Kematian. Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan. berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya..!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian. ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya. Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat. ”Maaf Ki Tapa.

”Hmm. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini.. mari kita pergi. terlihat sudah ketimpangannya. Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya. Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya. . Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Asap kekuningan tampak mengambang perlahan.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu. Pertempuran itu berlangsung singkat. mereka telah menemukan sesuatu. Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu. seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. Mereka menyerang dengan ganasnya. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka. Setelah Cermin Maut. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda.

Jauh di pinggir lapang sana.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. bagi. Kembali ke suatu tempat. Tak usah dibalas. Hawa kembar mungkin bersatu.. semua orang. Angin pun berhembus pelan. Sunyi.” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya. Lukanya telah cukup parah. Sayang terlambat untuk mencegahnya. Urusan manusia bukan urusan mereka. tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang.. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya.. ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat.. kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai.. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya.. saat akan memakamkan mereka.232 BAGIAN 4.. Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan.. Moreng.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu. Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng. Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan. ”Coreng. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi. Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. Tapi tegakkan saja keadilan. PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak .

Lusuh dan buram warnanya. Raut mukanya berubah gembira. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. Sampai suatu saat ia berhenti. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar. Beranjak ia kemudian ke arah meja .!” Tampak sang guru termenung sejenak.. Telah ditemukan apa yang dicarinya. Cermin Maut. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya. ”Hmmm. *** ”Guru. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini. Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi.” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya.. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya. ”Ini. sampai ditemukannya suatu halaman. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya. Di luar sana. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya.233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya. Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab. berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu... Membantai hampir seluruh penghuni kota itu. melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana..

Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan. Samar-samar tapi jelas terdengar.. Memastikan apa yang didengarnya barusan. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa. ”Betul. dapat disebut ruang. ada di sini. Gurun Besar. Bekas sungai yang kering saat kemarau. itu suara air. ”Ini.. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut.” tunjuknya dengan bersemangat... apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan..” katanya gembira..” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat . Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama.234 BAGIAN 4. Dihempaskannya buku itu ke atas meja.. Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu. Rujukan menciptakan ruang .. Lainnya kering. Kehidupan akan mulai muncul kembali.. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat. PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada. Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan. memang benarbenar telah mendarah daging.. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang.. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada. Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. ”Mari kita jelang. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya. Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya.” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya. ”. apa yang engkau tanyakan tadi. terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang.

Benarbenar mengharukan hatinya. Orang tua itu berdiri diam. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. Entah ke mana. Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu. Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Tidak seperti saat ini. Air. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan. Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. Menikmati semua itu. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. . Ke tengah-tengah Gurun Besar. sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. terbentuk dari tiada menjadi ada. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Air mengalir pelan tapi pasti. Ke suatu tempat di tengah sana. Umumnya bila ia ada di sana. Perlahan dengan mendesis pelan. Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya. Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Aliran itu mengalir cukup aneh. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Suatu pemandangan yang indah. Dibebaskan dari tapanya. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu.

Lalu ia menutup mata sebentar. sudah saatnya.” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang.236 BAGIAN 4. Lebih rendah dari batu pertama tersebut.. Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. Anggota keluarga Pratahu. Delapan yang kecil. Pratahu dikenal orang-orang. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan... Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan. Muridnya si anak muda duduk di sisinya. Tersusun secara alami.” panggil orang itu perlahan. Sembilan buah semuanya. Mencari paman dan sepupumu.. Hening. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan. mengendalikan sesuatu dengan pikiran.. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- .. Di atas bangku alam yang lain. mengelilingi satu yang besar. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja.” Menarik napas sebentar orang tua itu. Alami terbuat dari batu. mendengarkan yang tak terdengar.. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya.. ”Ya guru.” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu. Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu. Kemudian lanjutnya. di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal... ”Muridku. seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu.” jawab sang murid hormat.

Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. Sang raja yang baru itu merasa takut. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . Sang senopati yang kemudian menjadi raja. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik. Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan. Dengan alasan ini raja yang baru. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa. untuk sama-sama dihabisi. Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. Lain tidak. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu. Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. Korban dalam pihak tentara saja.

Pada suatu malam. Bisa anak laki-laki. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya. Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. Hal ini harus dicegah. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). tinggal diambilnya sebagai murid. Terjadilah bencana tersebut. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. kadang-kadang hilang tertelan pasir. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan. bisa pula di seberang pulau.238 BAGIAN 4. bisa pula anak perempuan. Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut. Gurun Besar. sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. Bila telah yatim piatu lebih mudah. ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. Ia hanya harus berkelana. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . Keluarga Semesta. Bisa berada di tanah ini. Bisa berasal dari suku yang sama. Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. bisa pula berbeda. Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga.

Dialirkan . Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta. ”Jadi guru. Menurunkan ilmu-ilmunya.... Menggapai si anak dan menenangkannya. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa. Ia kini punya seorang anak. Sampai lewatnya Seh Pratahu. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya.. Mendengar pertanyaan penuh haru itu. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok. adalah ayahku dalam keluarga Pratahu.” ucapnya sambil bersujud. Bukan ayah akibat pertalian darah.. Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya.. ”Anakku. Rahasia telah dibeberkan.” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya... ”Ayah. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah.” ucap anak muda itu tersekat. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar.. Terbersit pula rasa haru di dadanya. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu. melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak. Sampai saat ini baru ada empat orang.. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka. Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya.. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu. Seh Pratahu hanya mengangguk. pemuda itu pun berlutuh.239 bang satu persatu melalui cara ini.

Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu. Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga. Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa. Engkau pada awalnya adalah orang asing.. ”Ayah.” Lalu lanjutnya. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. Sarini. Tapi itu dulu. walau mereka baru saja tiada saat itu. Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang. ”demikian pula dengan aku. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu.” tanya anaknya tak mengerti. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini.240 BAGIAN 4. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman. Telaga. Dikarenakan lihai dan juga kejam. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu. anakku. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru. Sambil tersenyum sang ayah berkata. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan. ”tak mudah untuk melakukan hal itu. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih..

Mengambang.!” Walinggih sambil menggapai Telaga. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah. Seperti makhluk hidup. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. ”Mari. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana.241 yang dalam dan gelap. Bukan uap air atau pun butiran air. terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak.. Hening. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu.” tunjuk Walinggih pada muridnya. ”Itu makanannya datang. Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya.. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang. Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya.. . Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut.

Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya. Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu. Kadang ada yang sampai berjungkir balik. muncul makhluk hidup lain yang amat aneh.. ”Jangan ketahuan. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara. Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah. Mereka bergerak-berak. Warna pelangi. ”Maaf.?” ”Ssst.!” ucapnya. Anehnya mereka dapat .. ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu.242 BAGIAN 4. Benar-benar indah. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. guru!” sahut Telaga lirih.!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi.. yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya.. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana. keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara. Kadal Pelangi (Agama agama). yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya. beterbagangan. supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu. Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu.?” tanya Telaga. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg. ”Apa itu guru. Memangsanya..

Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan. Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. . Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi.” sahut Telaga pendek. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. Entah bagaimana caranya. Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring. Melombat ke atas dan kembali. Walinggih pun beranjak pergi. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. Mantap dan kokok.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik. guru. terjadi hal yang sama. ”Gerakan mereka. ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas. Lalu lanjutnya. Di atas batu kecil yang lain. Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. ”tapi ada yang membingungkanku. melainkan miring.” ”Apa itu?” tanya gurunya.” terang Telaga. ”Indah.

Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama. Mendarat dengan kakinya kembali. sempai hampir habis napasnya. Dan pada suatu saat.. ”Guru. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali. benar-benar lebih dari itu. Dan berjungkir balik kembali. ”Gerakan itu kunamai. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi. Menyentakkannya kembali ke belakang. akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar. Akhirnya Walinggih pun berhenti.244 BAGIAN 4.” jelas gurunya. dalam ilmu Pedang Panjang. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu. ”Sabetan Tunggal Menuai . Dan tidak hanya itu.” ”Kupikir. ia kembali melompat pada arah yang berlawanan.. Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya. Bagian dari ilmu Pedang Panjang.. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Walinggih melompat ke atas terbalik.” ucap Telaga kagum. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara.” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas. Pelan dan teratur. setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu.” katanya jenaka. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat. ”Sebenarnya juga tidak. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara. Yang barusan guru tunjukkan. hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh. barusan tadi.

Membelokkannya pada arah yang berlawanan. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa. baru perlu pemahaman teoritis. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya. Dicobanya menirukan dan melakukannya. Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. .” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. ”Mari. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. sehingga dapat membingungkan lawan. akan tetapi memanfaatkannya. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. Setelah bisa. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna. Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan. karena sebenarnya hanya memutarnya saja. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya.

karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya. Waktu untuk mencari makan. Matahari telah tinggi di langit. mereka menangkap binatang-binatang yang ada. PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang. Tidaklah bisa disebut hutan. Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan.246 BAGIAN 4. . sehingga menjadi lebih teduh dan gelap.

Entah kapan mereka dapat bersua kembali. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 .” ucap Ki Sura. Dan anak ini. ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan. Sudah waktunya pula kita berpisah. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya. Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ. haruslah pula berpisah. Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari. nak Lantang. Dan ini memang kehendak suaminya. Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu.” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek.

Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur. Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama.” ”Engkau memang cerdas.. Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga.” jawab Ki Sura gembira. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta. bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka.. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’. nak Lantang. ki?” tanya Lantang.” Ki Sura berusaha berkata arif. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri.248 BAGIAN 5. Kemungkinan gurumu bertandang ke sana.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana. ”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu.” Nyi Sura yang menyahut. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Rimba Hijau. ”Kamu tahu ’kan. tak perlu engkau kuatir. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya. ”akan . YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. ”Kami akan baik-baik saja. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa.. Adik dari Telaga. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya. Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya.. nak Lantang. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka.” jelas Ki Sura. ”Tapi guru berdua.

sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda. Entah di awal-awalnya. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri. ternyata bisa. sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam. kami tidak tahu. Mengenai hubungan dengan gurumu. ”Saat itu kami bertiga. ”Jadi bagaimana rencanamu.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu. apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. tanah. akan tetapi keduanya. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung.” terang Ki Sura. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. yaitu air. Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu.” Mereka kemudian terdiam sejenak. ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua. udara dan api. kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura. Tapi tidak untuk semua gerakan.

Ada suatu sebab. . tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. Jangan mencari-cari masalah. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri. walau di dalam bawah sadar.250 BAGIAN 5. Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya. karena hal itu tidak baik. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana. yaitu Xyra.” senyum suaminya. Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga. Pagipagi sekali. Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. Pulau Tengah Danau. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut. Selain itu Ki dan Nyi Sura. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini.

Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. ini pun lebih baik. Ki dan Nyi Sura. Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati. Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. Dan mereka dapat kembali bersua. Dengan kerja sama ini. Tapi tidak ada sahutan. Biarlah pikirnya. yaitu melalui mimpi. dikerahkannya suaranya. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. Suatu saat ia mungkin kembali. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. Akhirnya ia pun duduk terpekur. Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi. Barang-barang miliknya tidak banyak. Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Berlatih dalam mimpi Lantang. Aneh. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. sehingga tidak dibu- . Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu.

mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. ”Tapi ayah. Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya. Tidak berhasil. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. air dalam gelas itu telah membeku semuanya. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. membekukan air. Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- . YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya. berputar. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti.. dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu.. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. Membuat api.” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran. Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu. Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. Dari buku-buku yang dibacanya.252 BAGIAN 5. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi. Alih-alih mengalir. lama ia berupaya berkonsentrasi. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. ”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik). Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu. Menjadi es. *** ”Anakku Nah. Belum selesai dengan demonstrasinya. sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. Batu itu tambak bergerak sedikit. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu.

”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran. Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda. semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya.253 gujar Tua. Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran. Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya. Suatu tandon sumber tenaga. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. yaitu Unsur Air. ”Pada prinsipnya sama. Kadang orang tidak . kira-kira empat jari di bawah pusar. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. Unsur Angin dan Unsur Tanah. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya.” jelas sang Ayah. Unsur Api.

Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu. akan ayah ajarkan.” jawab Seh sambil tersenyum. Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran. ayah?” tanya Nah amat tertarik. Pamanmu yang lebih banyak tahu. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. Lalu lanjutnya. tidak menyukai warnanya. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak. karena lawannya telah keder duluan. Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran. ”Lalu bagaima cara kita melatihnya. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri. Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan. ”Caranya tidak terlalu sulit. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih . walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. maka anak kecil tersebut akan menangis.254 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran.

atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia). ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya. nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat. dan sebaliknya. antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu.” jelas Seh pada Nah. Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya. Ditunjukkan pula beberapa cara. dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna. Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda. umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. .” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap). ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda.” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana. boleh dikatakan pelangkapnya. Hal-hal lain di luar itu.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah. Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur.” jelas Seh pada Nah.

Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat.256 BAGIAN 5. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya. serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. Napasnya pun mulai terengah-engah. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya. ”Nah sekarang latihlah. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja. Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat. Kadang teratur kadang liar. Bila dirasa cukup pembayangannya. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. jauh lebih panjang. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya. Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Juga ingat-ingat akan warna padanannya. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. Dan tidak disarungkan. ia pun melakukannya.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu.

Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. siapa. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya.. Tapi Telaga kecele. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya. Menuju jalan darah penting ditubuhnya.. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang. Terpaksa Telaga pun mengelak. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu. Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya. ”Hei. Dengan indah alih-alih mengelak. apalagi menggunakan pedang panjangnya. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. Bertangan kosong. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam. Mundur dan mundur. Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut.

Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga. Pada jarak seperti itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. sudah dihentikan. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung.258 BAGIAN 5. Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu. Pedang tersebut melesat dengan kuat. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya. Mungkin panjang rambutnya. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya. pedang panjang tidak ada gunanya.

Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Telaga terkunci. Lalu katanya. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . janganlah permainkan aku. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga. ”Sarini. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. Terbanting. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini. Saat itu tersadarlah Telaga. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. Akibatnya sudah dapat diduga. kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Sarini putrinya. Tapi kemudian katanya. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Darah mudanya pun sedikit bergolak. Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap.

agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga. Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. Sarini bergerak cepat. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. . Ia tidak banyak bergerak. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. Masih belum menyerang. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya.260 BAGIAN 5. Hasil yang mirip diperoleh. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. ”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. Tidak banyak ia bergerak. Gadis ini benar-benar berhati harimau. Terlentang. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi. di mana Telaga akan mendarat. Sarini telah mengambil posisi rapat. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. Karena lama tak membuahkan hasil. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. cukup mengelak tipis.

” Orang itu ternyata adalah Arasan. Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. ”Guru. Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh. ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja. Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana..!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu.!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. ”tak tahu guru.” jelas Arasan. bertanyalah Arasan pada Telaga.261 ”Hehehehe. Setelah mereka berdua berdiam agak lama. bila itu tadi adalah Walinggih. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini.. ”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. ”Nak Telaga. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang . kena engkau diperdaya Sarini. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana. ”Tahukan pula. tidak untuk jarak dekat. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi. Ia telah lama berada di sana. Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja. Tampak merah mukanya.

guru. agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan.” jawab Arasan. Telaga mengiyakan. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak .” Telaga terngaga mendengar hal itu. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain. nak Telaga.” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya. ”Menurut saya. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga. Dan memang demikianlah.262 BAGIAN 5. Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya. ”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak. perlahan-lahan wajahnya pun memerah. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. Bisa kecewa ia nantinya. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. ”Sebenarnya.” kata Arasan kemudian.” begitu jelas Arasan.. Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu.. Lalu katanya. Walinggih. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu.

Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih. Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. mereka pun kemudian mulai makan. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Tak lama kemudian mereka pun berlalu. Setuju atau pendapat gurunya. Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga. kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit. merica dan tunas pohon kala.263 terduga. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. .” jelas Arasan. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. Dimasak kira-kira hingga tiga jam. Kedua orang tua yang sedang makan. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. Arasan duduk di samping Telaga. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Telaga pun mengangguk-angguk. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya.

”Eh. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar.. Sudah empat kali ia tambah. ”Arasan. Terdiam. ”Ayah. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu.” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab.... Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. Diupayakan untuk menutup mulutnya.” tuduh Walinggih jenaka. . Dia lebih pakar dari paman. tidak mau menjelaskan. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya. Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar.. dipegangnya perutnya yang sakit. tuh! Ini gara-gara kamu sih. pecahlah tawa antara orang muda itu. Sarini. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka.. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya.! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. Telaga hanya tersenyum.264 BAGIAN 5. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka. Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya. lihat.. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu. ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Telaga tak lagi dapat menahan tawanya. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka. terlihat salah tingkah.” jawab Arasan sekenanya. ”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan.

Mereka tidak bisa bicara apa-apa.. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan .!” Arasan pun tak mau kalah. Telaga. saat ini telah menjalar ke leher dan telingah. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali. Lalu katanya. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. rendah hati dan bersemangat itu. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. ”Adik Arasan. Dan hanya satu yang mungkin. Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya. berkatalah Arasan.. Ia pun lalu membalas dengan merendah. saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. ”Kakak Walinggih. ”Nah. putriku Sarini. sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini.265 ”Eh. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. Menjadi keren dan serius. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. Sarini. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak. Seharusnya engkau saja yang bilang. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan. Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan. bukannya engkau Walinggih yang mulai. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus.

berkatalah Telaga. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri. ”Hahahaha.” Kedua orang itu terdiam. Mereka sudah saja merasa yakin.. Setelah berhasil menenteramkan hatinya. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya. mengakulah ia akan hal itu. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. Karena dipergoki oleh ayahnya.. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya.. akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya. ”Maafkan perkataan saya ini. dapat ia merasakan itu. Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga.. karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka.. .!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu. Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya.!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih. terserah ayah saja. Yang paling terkejut adalah Sarini. sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu.. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam.. ”ayah.266 BAGIAN 5. Pandai masak pula.

Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini.. di tengah laut. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. Baiklah. gimana ini. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. ”Saya. Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan. Lalu ujarnya. Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya. anak dan istri. . Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi. Moga-moga mereka setuju. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini.. Kehilangan keluarga. Ia hanya bisa pasrah. ”Engkau masih ada orang tua di utara sana.” ”Ah.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana. Yang dihubungi merasa gembira pula. suka guru. gadis yang diam-diam juga ia sukai.” begitu ujar Walinggih.. Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini. kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat. ”Hmm.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri. ”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga. Tadinya sempat perasaannya bergolak.. ”Eh. kakak Walinggih. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air.” jawab Walinggih. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan.” usul Arasan. yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu..” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega.. ”Begini saja.267 Arasan pun menghubungi Walinggih. ”Hmm.

Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun.. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. Ki dan Nyi Sura... jauh di lepas pantai. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara. Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya.. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. Atas usul Arasan. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. Dengan atau tanpa pedang panjang. Suku Pelaut. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan. ada pula waktu berpisah. Kedua rombongan itu pun berpisah.. Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya.” gumamnya. ”tak ada yang kekal di dunia. Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua. Telaga ke arah selatan. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula. . Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh. Sekalian mengenal calon mantu mereka. Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya. ”Ada waktu berkumpul.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. begitu pikir keduanya. Di antara orang-orang yang tinggal di laut.268 BAGIAN 5. Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya.

Tralala. Nanana. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur. Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum.. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur.. Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya... hihi. trilili. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung. Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa. Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri.. kera-kera bermain di hutan. didi. haha. ninini.. Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung. matahari bersinar cerah.” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil. Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau. Mirip kuku- .. bunga semerbak merekah. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya.. Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau. buat apa resah.... susah itu tak ada gunanya.. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara.. Buat apa susah. Hal-hal tersebut menarik hatinya. dada.. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah.. resah itu juga tiada gunanya. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang.. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu.269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya. Untuk menghilangkan rasa sepi. Perangainya yang riang menambah daya tariknya.

Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. pun celingak-celinguk. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. diduganya bahwa itu adalah seorang . Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. Lantang. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. Di antaranya terdapat dendeng. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. manis-manisan dan bumbu-bumbu. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. Saat baru turun gunung. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. Agak jauh di hadapannya. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. pemuda itu.270 BAGIAN 5. di bawah sebuah pohon yang rindang. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk. Memandangnya dengan tertarik. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak. Nikmat rasanya.

orang itu kemudian menghilang. Cepat. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. Juga guru pertamanya. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana. melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah. Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. Ki dan Nyi Sura. Amat cepat. Bunyi kukuruyuk. Setibanya di dekat air. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. Serius. Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu.271 yang sudah agak tua. ”hanya makanan sederhana. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Tua sebelum waktunya. saat ini kelihatannya tidak lagi. Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. Tak bisa dirasakan. Mirip dengan cara ia datang . Pasti dari orang itu. Baju yang dikenakannya juga aneh. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. Halus akan tetapi cepat. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang. Kalau tadi bersumber dari perutnya. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan.. ”Ki sanak yang di sana. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua. orang itu telah bergerak ke arahnya. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya. Seakan-akan mengangguk. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi. Sebelah hijau muda. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum.. Ada ungkapan terima kasih di matanya. Bukan karena bahannya yang kasar.

Khas pulaupulau delta pada umumnya. sahabatnya yang seorang Undinen. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya. Dalam tidurnya. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. ia pun bermimpi. Tetapi tidak terjatuh. Bukan dari busana mereka. Tak lama Lantang pun terlelap. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. . Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. Kembali dalam posisi siap menyerang. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua.272 BAGIAN 5. Tidak jelas alasannya. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah. apabila mereka bersua kembali. Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. Sebuah muara. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin.

Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Keduanya ingin mengalahkan yang lain. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Keras tetapi tidak getas. Luwes. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. Lantang yang tadi melihat dari jauh. keduanya telah kembali berlaga. Keduanya kembali berhadapan. Mengendap ke bumi. Mengalir seperti air. Lentur dan membaur. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. Menilik dari serangan tadi. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- . Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Mencegah pertarungan ini berlanjut. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Lantang langsung bergerka ke tengah. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Maksud ingin menengahi. Air. Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu. Berdiri satu di depan lainnya. Membuang tenaganya dalam satu serangan. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. Air. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. Hanya saja saatnya tidak tepat. Entah bagaimana caranya. Bergerak dengan halus dan cepat. Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku.

274 BAGIAN 5. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Hancur tak tersisa. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang. Tapi tak ada tenaga. tapi belum semuanya. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. menjadi puing-puing. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit. Kota Luar Rimba Hijau. Semampunya. Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . Xyra. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Pak Tua. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. Lantang berusaha untuk bangun. Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan.

? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas.. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. Gentong. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Ya. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya. dan lainnya. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. pekarangan di dalamnya.275 dari satu tempat ke tempat lain. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau. . ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Sedih dan sunyi. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Suatu perguruan beladiri. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda. Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah. Misbaya. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api. Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya.

Paras Tampan hanya dapat mengangguk. Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Saat terjadi .. bagaimana kabar Paman Baja. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya. Nyi Antini. Tak terkecuali sosok perempuan tua itu... akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. Setelah cukup lama termenung. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya.. ”Bibi Antini. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda. Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada.276 BAGIAN 5. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik.. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa. Ia tidah tahu harus berkata apa. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya. Coreng dan Moreng. Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya. yaitu Kirani dan Rantih. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu.. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu. kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka. sesosok orang tua menyapanya.?” tanya Paras Tampan sekenanya. ”Nak. Sebagai suatu penghormatan saja. ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Guru mereka semua. nak Paras Tampan.

Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan. Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas. ia dipaksa ikut oleh mereka. Patuh pada perintah suaminya. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah.277 pembumihangusan itu. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Akibatnya ia selamat. Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. Berendam semalaman. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . sedangkan suaminya hilang entah ke mana. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. Akan tetapi hal itu tidak digubris. untuk membuka jalan di Rimba Hijau. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu. Nyi Antini untuk bersembunyi. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Dingin dan basah. Nyi Antini pun melaksanakan hal itu. Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Disuruhnya istrinya. menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang.

Mengeras. Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. Harap-harap itu Ki Baja. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu. Tiba-tiba ”byurr!!!”. Bertambah satu pula tugasnya..” Nyi Antini berhenti sebelum . Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita.” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu. yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu.. Menyebarkan amis darah. yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang. ”Ada satu hal lagi.. Memerah. nak Paras Tampan. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. Sesosok mayat dengan luka di mana-mana. Nyi Antini. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. Tangannya mengepal keras. Lebih tua dari umur sebenarnya. Wajah Paras Tampan tampak membeku. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya.278 BAGIAN 5. ”Maaf nak Paras Tampan. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup. dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini.

. ia pun berkata. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya.. Ki Rapih. hanya saja pindah. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya.” ucap Paras Tampan sendu. Gembira ia mendengar kabar ini.. ”Bibi. bibi.279 melanjutkan.. Citra Wangi. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah.” ”Katakanlah.” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari.. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng. Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan.. . ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban. Janganlah nak Paras Tampan kuatir. memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah. Citra Wangi masih sendiri..” jelas Nyi Antini. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi. Tapi terselip pula rasa yang aneh.. ”Tunanganmu. Untuk menghilangkan jengahnya. Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu.! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. Belum menikah. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana.

... tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. ”Tapi apa bahayanya. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda. Racun.. Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis. Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara. Langkah keduanya ringan dan mantap. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur.” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya. Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua. .” terang orang tua itu. Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau. ”Hatihati. Rupanya ia murid sang orang tua. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Mereka berarah ke utara.. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai.” jawab sang gadis jenaka. racun hijau. ”Hmmm. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya.280 *** BAGIAN 5. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan. Batubatu ini terlihat tidak wajar. Entah mereka sadari atau tidak. Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu.

karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. ”Tidak semudah itu. Dan amat mudah. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya. Tapi spora ini lain. . Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal. Tangannya diletakkan di depan bibirnya. Amat indah dan seimbang. Ada pengujar tua yang pernah berkata.. guru?” ”Hehehe. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu. ”Kalau penawarnya sedemikian mudah. ”Ini. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok. Lihatlah di sekitarnya.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi. Itulah alam. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara. ”Ada penawarnya. ambil dan remas-remas dengan jarimu. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan. terdapat warna-warna merah. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. muridku. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti. muridku.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. ”Engkau benar. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi. tentu saja ada. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu.” Kata-katanya tidak diteruskan. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya.

282 BAGIAN 5.” ucap salah seorang brewok dari mereka. ”Guru. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. Tetapi tidak saat ini. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya. kalian telah melalui wilayah kami.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya. Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya.” ucap orang tua itu masih sabar. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. boleh juga ditinggal. Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang. Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian. ”Dan yang cantik ini. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak. Mengepung dari kedua arah. ”Hehehe. ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu. Hanya bekal makanan dan baju pengganti.” bentak teman si brewok. Ia telah berubah. ”Maaf. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar. Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. ki sanak sekalian. Pasti itu suatu yang berharga. . Sekarang semuanya enam orang. Batu Lumut Hitam. bagaimana ini?” tanya sang murid.

Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. lalu katanya lirih.. Menyerang. cepat serahkan bungkusan itu. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu. Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya.. Dua buah pedang panjang. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa. apa maksudmu. Dua buah pedang panjang. pasti mereka tidak akan memintanya. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak. Jangan lama-lama. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka. apa maksud kalian. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan.. jika talinya ditarik.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut. kainnya langsung terbuk. orang seperti ini tidak boleh diberi ampun. biar aku yang di belakang. ”Engkau ambil tiga yang di depan. salah seorang penghadang menghardiknya. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya. ”Hey. orang tua?” tanya balik orang itu. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang. ”Pak tua. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat. ”Heh.. Sisakan satu untuk penunjuk jalan. Salah seorang dari . yang langsung dengan sigap menangkapnya. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu. Hampir dua kali panjang pedang biasa. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya.

” kata seorang dari mereka. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. Lalu kata si orang tua.284 BAGIAN 5. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam. Tenangkan dirimu. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya.” . Bukan hanya itu. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Bangsa Penghadang. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa. Sekarang jangan banyak pikiran dulu. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya. ”Nah Sarini. Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. Kedua orang itu. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu. ”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali. Sang guru dan muridnya. Lalu katanya. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya. Ia telah kupesankan caranya. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu.” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. melainkan para perampok jahat. Walinggih. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya. Kemampuan alamiah seorang pemangsa.

Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. Pagi pun datang menjelang. . karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya. Penuh dengan kelembutan. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. tetapi tidak. Lantang telah merasa sehat kembali. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. Bila tidak amat disayangkan. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. Sebelum tahu sebabnya. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. Sebelum Lantang sehat. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra. Ditiupnya sedikit. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. tak ingin Xyra bersantap. Setelah yakin akan panasnya. Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. melainkan untuk menyadarkan saja. Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan.

Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang. Sarini hanya mengangguk. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. Akan tetapi sekarang lain. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru.. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya. Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan.. Bahkan dalam berbagai situasi. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini. Tidak demikian dengan orang-orang ini. semakin besar kemungkinannya untuk menang..” usul gurunya. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi. ”Saudara-saudara perampok.286 BAGIAN 5. Menghadapi Telaga. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. Entah apa. Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” . ”Cobalah pada mereka. Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya.

sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Nafsu telah menguasainya. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. *** ”Petani ompong she Gu. Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. Seorang dari para perampok tersebut. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Orang dengan tenaga kasar yang besar. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu. Mirip durian. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. ”Hehehe. Ikuti saja maunya. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar. Seorang dari mereka akhirnya berkata. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan. Rakrakrak. Repot juga pikirnya. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Sebilah golok tampak tergantung pada . Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu. bertubuh gembul dan berkulit agak gelap.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. Melihat kekikukkannya itu. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. Mau tak mau terasa pula jengahnya. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. merasa dirinya lebih enakan. pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. ”Duh. Cepat. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. dada yang ranum. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya. ia pun segera tertidur. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya. ”Kakek Gu. tak lama. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. Walaupun cukup gemuk. Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. Tak terasa ia pun terlelap. Ketawa yang ramah dan hangat.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana.

Sarini sebagai putri Arasan. pujaan hati. Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya.!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu.300 BAGIAN 5. Dan tidak tanggung-tanggung. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. Bagi mereka. Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu. Girang sudah wajah perampok gembul itu. Lima orang . Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita. Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka. kaki jenjang. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya. ”Pinggang molek. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik. Saat berpusing.. para perampok. Akibatnya.

Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu.” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya. apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. bisa lega aku memulangkan kalian.301 yang lain pun menjadi marah. Walinggih berseru. ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin. Belum lama. ”Sudah lama. ”Satu tahun. aku sebutkan satu tempat. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya.. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam. ”Biar kalian tak penasaran. mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat.” jawab Walinggih. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya. Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka.. mereka . pucatlah keenam orang itu. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu. ”tahan!!” ”Orang tua. Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong. ”Nan. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka.. ”Hehehe. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya.” kata seorang dari mereka. Desa Batu Barat dan Timur. Kami bukan lagi Asasin.” Mendengar nama tempat itu.

302 BAGIAN 5. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. Ia telah berubah. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan..” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. ”Paman. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi.. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya. ingatan masa lalu akan keluarganya. Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air. ”Engkau. Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa. Tangan kecil dan halus milik Sarini.. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa. juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong. Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak. sudahlah. Hakim Haus Darah. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik.!!” ujar seorang dari mereka pucat. Hakim Haus Darah.

”Tidak apa-apa. ”Ah. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu. Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini. *** ”Maaf. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba.” ”Ah. mengguman-gumam. tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya. Salah seorang bernama Rakrakrak.” jelas pemuda itu.” ucap kakek Gu sedih. paman. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini. paman!” balasnya.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu. Saya juga baru belajar dari para Troll. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo. tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik. tenagamu itu boleh juga. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya.” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo. paman bisa saja.. ”Omong-omong. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni. ”Ini juga salahku. tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu. ”Tidak baik. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi.” puji kakek Gu.” Hanya itu saja.!” . ”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu. Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya.

” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. Semunya punya isi. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. udara dan api. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu. Lalu lanjutnya.. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan.” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Dan semuanya patuh pada gaya berat. Terutama aliran hawa dalam tubuh. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu. Alam ini terdiri dari materi. Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat.304 BAGIAN 5. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu. ”Nak Paras Tampan. ”Anak muda ini. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat. Itu melawan alam. Dengan mengubah-ubah gaya berat. ”Nenek Po. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam. keseimbangan akan terganggu. nenek Po pun tersenyum. Konsekuensinya berat.” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. tanah. Ada empat unsur air. apa maksudmu?” ”Ah. tapi dengan perhitungan tentunya. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- . bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. tubuh menjadi kosong. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan.

Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. baik dari nenek Po maupun kakek Gu. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. bila menggunakannya dengan benar. Selain berbahaya bagi lawan. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. serta Gu Long sendiri. Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan. yaitu Chu Qing Yun. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. Walaupun demikian. Sekitar 12 tahun. Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah).305 pal ilmu itu. tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. Gu Long adala seorang yang cerdas. ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. yang menceritakan . ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita. Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya.

Bila sedih ia minum arak. lalu rempah-rempah. akan tetapi tidak lama. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Ia sendiri pernah mendengar. Ubinya tinggal sebuah.306 BAGIAN 5. Itu yang terbaik. dikunyahnya perlahan. Digigitnya ubi. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu. apa yang kita tuangkan dalam karya. ”Sebaiknya seimbang. Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. Ia hidup tidak bahagia.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Kerap sekali sehingga jatuh sakit. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan.” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. Gu Long namanya. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. Tidak cukup kiranya . Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi. ucapan dan pelaksanaan.

Khas kecantikan seorang Undinden.” jelas Xyra. ”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang. Xyra tampak senang melihat hal itu. Segigit pisang dan rempah-rempah. Ia mengeluarkan nada tinggi. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. Pindah mengisi lambungnya. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. ”Ia tadi pergi sebentar. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu.” Lantang pun menurut. Dan ia menemui Ki dan Nyi . Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat. ”Wananggo. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Ditunggu saja sambil beristirahat. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung.307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya.” katanya pelan. Ada sesuatu yang harus dicarinya. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. maksudmu?” tanya Xyra. Tiba-tiba bahunya ditepuk. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu.

Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. Keduanya pun terdiam. Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. Saat Lantang menderita sakit. Menggelora jiwa muda. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu. Setelah menemukan. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu. Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam.308 BAGIAN 5. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. .

ia menugaskan muridnya. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. Menegaskan guratan-guratan mistis. agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu.” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Senyap. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po. Menghela napas. untuk disalin dan dikumpulkan. Setelah semuanya berakhir. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Lega. Sunyi dan sepi. Dan jiwa pun tenteram kembali. Menghilang. pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 . Darah menetes lembut. Unbekanteeremit. Menghirup keheningan. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri. Guratan di atas kulit nan indah. Ia sekarang bernama Gu Yo. Mengekang nafsu. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. keponakan jauh dari Gu Ming.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. Tato. Lepas. Secarik kulit dicabik halus. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula.

”Ya. kekek Gu.. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya..” ujar nenek Po ramah. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini.” Pemuda itu pun mengangguk. ”Tidak sama sekali.. ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan. yang disayat dari tubuh empunya. ”Begini saja.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. Terdiam sebentar pemuda itu. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu. tak usalah. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang .” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini.” jawab pemuda itu hormat.” ucap kakek Gu kemudian menengahi. ”Sebenarnya. ”Dulu. Kulit yang bertato. BAGIAN 6. dan kamipun akan merasa lega.” bingung pula pemuda itu. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak. Saya mencari keturunan dari orang itu.

beda ciri khas tato yang digunakan. yang dianggapnya benar-benar membingungkan. ”Benar. budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya. Orang yang sudah dewasa.” tak diselesaikannya ucapan itu. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya.311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan.. ”Sebenarnya. Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh... ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka. ”Bukan. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya . kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat. Beda kelompok. kakek dan nenek.” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu..!.” ”Eh.” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini. Setelah tawa berderai keduanya usai. ”tapi berarti.. kami bukan menjadi begal atau mungkin belum. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya.” ucap nenek Po. Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka.. ”Pada jaman itu. dianggap lengkap bila telah memiliki tato. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata.. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia).” cerita kakek Gu.” lanjut nenek Po. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya. Sungkan ia melanjutkannya.” tambah kakek Gu.

. karena hal itu dianggapnya tidak baik.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian. ”Dan kakek Gu punya. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. ”Ceng-Liong Hui-To. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga.” ”Oh. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya.” jelas nenek Po. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. akan tetapi sebagian lain tidak. ”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Lalu sambungnya.” lanjut nenek Po.312 BAGIAN 6. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. dan boleh dikatakan menawan. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya.” jelasnya. padahal itu adalah tubuhnya sendiri. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah. nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru.” kali ini kakek Gu yang menjawab. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya. TATO ke atas. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya. . Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato. begitu!” jawab pemuda itu.

membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini. Alih-alih mendengarkan. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka.313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. Apa-apa yang tidak dianjurkan. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. agar dihapuskan. main tangkap saja orang-orang yang bertato. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. pemerintah menjadi kalang-kabut. di antara orang-orang senasib. Akibatnya jelas. dan selalu saja berlebihan. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. . Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. Sengaja mereja menggunakan topeng. anti kemapanan. Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas.

tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Roda perekonomian kembali bergulir normal. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. mendatangkan kesan masif dan keren. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Suasana kembali seperti semula. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato. Dengan membawa beberapa saksi dan bukti. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. Akan tetapi dengan hilangnya. Besar dan gagah. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Tenang dan damai. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. Untuk mengenangnya. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. . Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. yaitu CengLiong Hui-To sendiri. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. tidaklah jadi hal itu dilakukan. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. informasi rahasia dan keamanan. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum.314 BAGIAN 6. Walaupun telah salah tangkap. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.

Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. terpahat pada tengah batang melintang. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Lambang elemen kuno udara. Citra Wangi. Kepala dari gerbang itu. Pastilah itu dia. tapi tidak ada yang memberatkannya. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. kota Luar Rimba Hijau. ia melihat berbagai aneka toko-toko. Warna udara dan asap. tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. Saat hari hujan. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. Gerbang Udara. Jalan batu. dan tengahnya dicoret garis mendatar. Tidak juga kota tempat asalnya. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu. istri mendiang Ki Baja dari . Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. bagai tanpa akhir. Jalan di depannya masih lurus jauh.315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain.

Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya.” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. Cepat. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. pedati dan juga kereta tanpa kuda. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. saat ia bingung tadi. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya. Besar dan mewah menurut Gu Yo. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. berkali-kali hampir tertabrat. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu. yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. pikirnya. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri..316 BAGIAN 6.. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian. yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. karena dialek mereka yang cukup kental. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. TATO Kota Luar Rimba Hijau. seperti ”Pake matamu!”. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. . Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. Tapi rasanya bukan ini. Akhirnya perburuan itu pun berakhir. ia pun memacu langkahnya. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. Bergegas dipacu langkahnya. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora. ”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan.

lain tata cara-nya. anu. ”Ah. Tak perlu ada janji-janjian segala. ”Eh. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu.?” tanya sang penjaga kembali. ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. Lalu lanjutnya. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda. Janji. anu. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. Gu Yo tidak tahu. mereka terlebih dahulu harus membuat janji. sehingga untuk bertemu. ”Maaf. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh.. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu. orang sedemikian sibuknya. itu.. . Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu. saya ingin bertemu dengan nona tadi. anak muda!” katanya bersahabat. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini... Demikian pikirannya menyimpulkan. akhirnya menggapainya untuk ikut... sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. entah toko atau apalah. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. sesuatu yang tidak ia temui di kotanya.317 ”Tahan dulu. dan disapa balik dengan. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. maksud saya. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. itu. dapat langsung datang kapan saja. Mungkin lain kota.

Untuk keperluannya. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis.” saran sang gadis tersebut. Seorang pelayan mengantarkan mereka. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. di kota Siaw Tionggoan. dan bertanyalah ia pada Gu Yo. keperluannya dan waktunya. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji. sebelum bertemu dengan nona Lin. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. Kemudia saat ditanya namanya. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”.318 BAGIAN 6. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. kekasihnya dulu. melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin. nama sebenarnya dari nona Lin. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. ”nanti sore. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya. ia menyebutkan ”Gu Yo”. Persoalan membuat janji masih asing baginya.

319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. sapi. tapi setelah itu bantu-bantu. Setelah berjalan beberapa saat. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. seorang tua menyapanya. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . ”Ayo jangan malu-malu. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. bagaimana?” jawabnya ramah. dari ayam. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan. kambing sampai ular dan kelinci. suatu suara dalam lambungnya merekah. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. pasti kau tidak cukup punya uang.. Kedai Daging Bakar namanya. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu.. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing. kerbau. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu. Yok Seng. orang tua itu memang pemilik kedai itu. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. tapi. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. ”Ah. Aku pemilik kedai ini. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. Kamu boleh makan sepuasmu. masuk saja. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. ”Eh. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. mari masuk mencicipi!” ajaknya. ’kan? Ayo anak muda. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar.

. tapi telah membuat janji dengan nona Lin. .” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain.” jawabnya.. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja. ”Eh. hasil asahan pengalaman yang menahun. paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja.320 BAGIAN 6. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi. tapi. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. mengingat permintaan yang banyak. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit. TATO waktu. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya. ”Engkau tidak akan bekerja di sana.. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu. Tidak ingin bekerja di sana. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu. ”Tidak. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. Ia melihat bahwa pemuda itu. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. saya. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. Gu Yo. Habis. benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. ”Eh. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana. Tiada yang tersisia.

Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang. Tapi wajahnya ramah. Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Kasih dia makan terus atur tugasnya. Mukanya lebar dan besar. Ma She hanya mengangguk. pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini.” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. ”Duduk di sini dan makan semampumu. sehingga tampak gemuk padahal tidak.” ”Ma She. Tubuhnya tak terlalu tinggi. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. ”kepala koki di sini. Tak lupa diambilnya den- .” kelakar Yok Seng.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu. Memerah wajah Gu Yo itu.” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. Entah berapa jumlahnya. Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya. Orangnya tak banyak senyum. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. Lapar. ”Ini Ma She. Hampir sebesar nampan bundar. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. Oh. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada.

Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. garpu. ”Eh.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. ”jika sudah cukup kecil. langsung dimakan. Juga tidak bisa. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok. Setelah Ma She berlalu dari sana. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata. Saat itu lewatlah seorang gadis. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. sumpit. ia pun berkata. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut. ”kalau kurang. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau. Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. Alih-alih menjawab.322 BAGIAN 6. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. tangan kiri memegang garpu. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke . pisau. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu.

tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. belum. Masak cuma itu. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. Sambil tak lupa berucap. sedang mengerjai Gu Yo. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya. paman!” jawabnya. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. Dan seperti yang diduganya. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya. Setelah diajari oleh Ma Siang. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu. walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. ”Bagus kalau begitu. ”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. tampak menggeleng-gelengkan kepala. . benar-benar mengajari. Ayo. atau sayur yang harus dipotong dulu. ”Iya. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya. Bagaimana ia memotong daging. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari. ”Eh. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. ”Ah. Tapi saat ini bukan waktunya.323 arah garpunya menggunakan pisau.” ucapnya kemudian. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka.

Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut. Nenek Po dan kakek Gu. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. sebentar lagi kita makan bareng. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung.324 BAGIAN 6. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. kau banyak sekali berdiam. Terpisah. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri... *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. sumpit dan pisaunya. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. ”Ikut aku!” katanya. Kakek Gu. bahwa ia . Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya. ”Ya. sendok.” jawap kakek Gu pendek. sudah! Aku mau masak dulu. masih saja tenggelam dalam lamunannya. ”Hmmm.” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu. TATO Cara makan yang baru. Segera mereka akan berontak minta diasup. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan.. ”Heh. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. seorang menggapai bahunya. Kenyang dan tenang. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. sepeninggal nenek Po.

kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. ada hal yang menarik dari pemuda itu. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. sehingga tetap lekat pada ingatannya. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. jika tidak dibantu oleh Gu Yo. salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan). menjadi Gu Yo. Hek-Mo.” ucap seorang dari mereka. Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. ia tidak mungkin memang. memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar. ia pun menoleh. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. sontak terkoyak. Orang berilmu. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. Entah bagaimana. . Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. Gu Yo. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan. karena dulu dengan hanya berempat. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). Apalagi sekarang. saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. Ia terpikir akan pemuda itu. yang berwajah agak gelap. Dengan dibantu nenek Po.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu.

Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. bila kami bisa menundukkan dirimu.” . Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. ”Salam. yang merisaukan hatinya. si Petani Ompong. orang tua yang bergelar Petani Ompong. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak.” jawab kakek Gu pendek. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. sudah jelas kedudukan kita masing-masing. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar. akan dihadapinya dengan jantan. tidak biasanya berdiam diri. ”baiklah. Alih-alih Su-Mo yang menjawab.” ”Hmm. bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya. wahai orang tua!” jawab yang ditanya. ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya. menunjukkan emosi yang telah meningkat. ”Su-Mo. Hek-Mo. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo. kata seorang dari mereka. keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan.326 BAGIAN 6. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”.

Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po. ”Ah. Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. Puas rupanya ia telah terisi perutnya. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. enaknya perut telah kenyang. banyak tamu ternyata! Mari-mari. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada.327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi. Dan mereka pun mulailah makan. Setelah makan semuanya duduk lemas. terima kasih atas jamuanmu. Sunyi. kakek Gu mulai angkat bicara. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. Setengah semangka ukurannya. Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang. ”Ah. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania. sebelum ’berdiskusi’. ”Wahai orang tua. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. Semua .

menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’. bahkan cenderung bagus. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa .. apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka.” Setelah itu. tapi kami biasa bertempur berempat. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. katakan saja. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit. seperti mengucapkan. Ya. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. bukannya kami tidak sopan. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. Empat Begal Hutan. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya.” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini.328 BAGIAN 6. ”Wahai orang tua. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. tidak.” ”Tidak. Bila engkau keberatan. Walaupun demikian. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. Dalam sepeminum teh. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. Tenaga kasar dan otot. TATO dijamu baik.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Kakek Gu hanya menggeleng ramah. ”tidak perlu sungkan-sungkan. pikir mereka. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut.. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu. Serangan keempatnya cukup bagus. Mari kita langsung pada permasalahannya. Tulang beradu tulang.

Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. . Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia.329 apalagi bila menggunakan senjata. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. sang pemilik Kedai Daging Bakar. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan.

kedua petugas itu. ”Eh. Gu Yo pun melakukannya. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. Gu Yo yang bingung hanya menjura. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat.330 BAGIAN 6. ”Ah. Gambar yang terlihat kadang berupa naga. ”Halo. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak.” pikir Gu Yo.” jawab Gu Yo gugup.. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji. anu.” . Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan. kadang kekuningan atau agak gelap. melihat cara anda memberi salam. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain.. Lalu katanya. Benda seni menurut beberapa orang. Ruangan itu lebar dan terang. ”Bagaimana. sang penjaga dan gadis pencatat janji. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut. anda pasti dari kalangan pesilat. saya Swee Sian Lin.

.. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah. agak memalukan untuk diceritakan. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat. Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri.331 Gu Yo hanya mengangguk saja. Bingung. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Tato dari seorang korban yang hidup. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato. Pemuda ini lain. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji. apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. ”Jadi. sebenarnya. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini. Tapi itu masa lalu. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki. Dilarang oleh hukum. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia. Sopan. ”Itu.

Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu.” jawab Gu Yo pendek. Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang. BAGIAN 6.” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Entah bagaimana. saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya. anu. Jadi anda salah lihat orang. ”Karena anda telah di sini.” usul sang gadis. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda.332 mengerti. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu. hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. ”Tunangan saya. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya. Rupanya hanya masalah salah lihat saja. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. ”Eh. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini. saya mengerti sekarang.. ”Ah. melainkan nona Sian Lin. dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana.. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma. dirinya menjadi lebih .

. Bunga Merah. dan juga bayarannya plus bonus.!” tunjuknya dengan muka pucat. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya. Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato. akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih. Di sininya telah ada seorang pemuda. ”Dia datang kembali. itu.” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- .!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin. Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada... *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya... ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut. memang. ”Ini tato seorang gadis panggilan.... Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah. melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar. Dan tidak hanya ia.. Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita. baru dan berdarah-darah pada panel diding. ”Nona Sian Lin. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut.333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu.

Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. Tabung ringan dan kuat. dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. ”Pembunuhan atau bunuh diri. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. Kematian. bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. TATO por. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. San Cek Kong nama pemuda itu. Sebuah teknologi surat mekanik. dapur kecil. Badannya tegap. sam- . Ia makan. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. membuatnya menarik untuk dilihat. Atau tepatnya meja serba-serbi. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. ya?” gumam San Cek Kong. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. perawakannya tidak terlalu tinggi. dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. Warna penanda gulungan surat itu hitam. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. dan dialirkan ke tempat tujuan. Akhirnya berhasil didapatkannya. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah.334 BAGIAN 6.

Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Dengan kata lain. belum tentu terjadi pembunuhan. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. Ya. bisa saja korbannya. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. sang pemilik tato masih hidup. Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya. *** . Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu. walau dalam keadaan kritis. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput. Dari surat yang diterimanya. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. melainkan langsung ke tempat kejadian. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi).

Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. Ceng-Liong Hui-To. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. belum ditemukan atau bisa diindikasikan. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin. saksi-saksi dan waktu kejadian. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong.336 BAGIAN 6. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. Ang Tiong namanya. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong. tempat kejadian itu berlangsung. jauh di arah barat dari kota. Korbannya sendiri. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. Agak desa suasananya. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Pada jaman itu. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah.” lanjutnya kemudian. ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. karena ia pada saat tersebut berada . Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. bila memang ada. tato tidak lagi menjadi tren.

Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. pegawai paturan.337 di tempat kejadian. telah ditanyai. Gadis itu menggangguk mengiyakan. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. sering kami makan-makan di sana. ”Sian Lin-moymoy. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian. Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. Semua pihak. Ya. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana. masih jalan yang sama. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng. tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. ”Eh.” jelas gadis itu. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. Selain lezat.” senyum Cek Kong. ”Ya. kebetulan aku belum sempat makan siang. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. keterangan mereka tidak banyak berbeda. mulailah kakek . tempat di mana Gu Yo bekerja. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. Gu Yo namanya. kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. ada seorang pemuda. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar.

yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. Dan benar saja. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya. sang penyerang telah bergerak. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. Dalam pertempuran dengan banyak lawan. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya.338 BAGIAN 6. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa . berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya. belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu. satu langkah yang salah. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. Cepat. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. Dan kemudian masih. Tumit si Zahnloserbauer. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang.

awas. Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu..!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat.. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan . kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. Dalam pertarungan juga demikian. Setelah dua orang lolos. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. yang telah banyak mengalami pertarungan. Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Serangan seorang pakar pertempuran. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan.339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. Menghidari kebosanan. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut.. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia.. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika. si Zahnloserbauer. ”itu kaki. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu. mereka menjadi tidak berwaspada.. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Tipuan manis yang menghanyutkan.

sementara ia melihat . Ia harus mencari siasat untuk itu. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. terutama untuk pertarungan jangka panjang. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. berputar keras otak kakek Gu. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren. cepat suruh pemuda itu keluar. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. dalam rangka misinya. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. telah turun kata dari seorang Su-Mo. telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. Sebenarnya di dasar hati mereka. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. Mendengar pertanyaan itu. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Jika tidak. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. Seorang yang kelihatannya rapuh. bagai akan terbang ditiup angin belaka. ”Bagaimana. tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. bersemayam di sana selamanya. Hek-Mo. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. ”Kakek Gu. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka.340 BAGIAN 6. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo.

Kakek Gu pun memantapkan niatnya. Akhirnya makan malam itu pun usai. Keduanya tampak terduduk agak lemas. Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu. tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu. Lalu katanya keren. ”Iya.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. lalu sapa- . masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat.” sahut si gadis pendek mengiyakan. Lemas setelah perut diisi penuh. Keduanya kemudian terdiam. ”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita. memang benar. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu. tidak sepesat dan segarang sang pemuda. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana. Sebelum pemuda itu bertanya. Tempat kerja si gadis. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda. ”Boleh juga. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar.

Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah. Tapi kemudian ia menambahkan. TATO nya. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. apa kami – saya dan nona Sian Lin. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau . ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. Hal ini perlu. ”Saya hanya ingin bertanya.” jawabnya ramah. ”Selamat malam. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. Ia telah mengenap nona Sian Lin. Karena keduanya tidak saling mengenal. Sudah penuh lambung kami berdua. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo. Lebih dari cukup. Tadi sudah cukup.” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah.342 BAGIAN 6. ”bila tidak mengganggu kerjanya. bila orang telah kenal lama. Pemuda itu. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. tidak perlu inspektur. Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. tidak paman. tentu saja. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. ”Duduklah.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk. Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. ”Sebentar akan saya panggilkan. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur. Berdasarkan pengalamannya.

!” katanya agak tak yakin. Orang yang paling baik. . berada. engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam. tidak apa-apa... Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. Alih-alih cemas. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. nenek Po. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. bahkan yang terburuk sekalipun. Runyam jadinya. Empat Begal Hutan.. *** ”Hek-Mo. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu. aku. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. Padahal kadang sebaliknya. Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya. Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. saudara atau lainnya. ”Tidak.343 perkataan orang.

Waktu. ”Hehehe. Tapi misinya harus dituntaskan. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Tanpe membuang waktu. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. bagus datanglah Hek-Mo.344 BAGIAN 6. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. Walau ia sendiri sadar. Hek-Mo menjadi marah. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi. Paling kesal padanya. ”Hei. Kakek Gu pun mengangguk. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari. sehingga paling mudah dirasuki. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan. kakek Gu mengempos tenaganya. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. Samar seperti asap. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. di antara hujan serangan. ia harus berkata-kata yang pedas. biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. Mendengar itu. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Orang yang paling membencinya. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu.

Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Suatu serangan yang berbahaya. anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. Suatu titik di atanara kedua mata. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. Dan bukan hanya itu. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. Satu ke atas satu ke bawah. tiba-tiba ia menjerit ngeri. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya. Suatu jurus dari Hek-Mo. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. Sabetan menyilang. tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang.345 nya. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. yang kemudian . Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya.

bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. sang kepala koki di tempat itu. Ma She yang biasanya jarang berbicara. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo. ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. . Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo. Dan sikap ini cocok dengan Ma She. yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai.346 BAGIAN 6. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. Tidak dengan Gu Yo. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. Pada kebanyakan orang. ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya.

”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. juga sulit. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak.. cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut. Paling tidak. orang dari mana tato segar itu dikeletek. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. ”Kamu tahu tidak.. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang.347 ”Gu Yo.... juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini.. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar. tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut. Itung-itung sebagai hiburan. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. Tugas titipan mendiang gurunya.. Ia merasa . keponakan dari Ma She. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong. ”Tidak. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu. Usai mendengar cerita Ma Siang.!” pinta Gu Yo. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang. Gu Yo pun bergegas pergi. ”Eh. kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik. Untuk kasus yang satu ini.?” tiba-tiba terdengar panggilan orang.. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik. Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah..! Dimana kamu. Eh. engkau Ma Siang.

bagaikan memang telah datang waktunya. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. Aku bakal menyusul tak lama lagi.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan. Dari jarak dua tombak lebih. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. Entah apa ada hubungan antara keduanya. Po Ting Hwa. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada. tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat. *** . Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. Menyebar ditiup angin. Usai perkataan itu. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu. ”Gu Ming. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. Setelah selesai. *** ”Manusia.348 BAGIAN 6. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya.

Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. ”Gu Yo? Baiklah.349 ”Nona Sian Lin. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja. Kebiasaannya ini pun berlanjut. ”Baik. tidaklah dapat dikatakan indah.” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. yang baru mulai meniti karir. suruh saja ia masuk. Aku akan menemuinya. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. yang kemudian . Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. Tapi katanya penting. Jika ingin menegakkan keadilan. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. ataupun penjahat-penjahat muda. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat.

Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja. putih dan hitam. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. ”Tahukah kamu. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah.350 BAGIAN 6. Orang yang ingin menemuinya. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. Suatu kontras telah direncanakan. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. Tato sepadang burung merak. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Gu Yo. putih atau kuning. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya.” ucap gadis itu menghela napas. ”Betul. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. hitam atau coklat tua. Untuk mengenang sang pahlawan. . Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. Di sana tampak seorang pemuda. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. Gu Yo. ”Oh. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. begitu!” sahut pemuda itu. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Suatu estetika berdarah yang padu.

dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget. Sunyi dan sepi. ”Betul. Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair.” ”Begitulah orang berilmu. Darah menetes lembut.” ”Hei. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini.” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. Secarik kulit dicabik halus. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. Menegaskan guratan-guratan mistis. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’. Menghela napas.. ”Setelah semuanya berakhir. Menghilang. ”Dari buku-buku. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini. melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu.” jawab Gu Yo sederhana. Mengekang nafsu.” . Ucapnya lugas.. Menghirup keheningan.351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda. Lega. memang itu judulnya.” ucap gadis itu kemudian. ”Deru pun perlahan melembut. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu. aku hanya senang membaca saja. Senyap. merendahkan diri selalu. Tato. ”Tidak. Dan jiwa pun tenteram kembali. ”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing.. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya.” Sang gadis mengangguk membenarkan. Guratan di atas kulit nan indah. Lepas.

” Dengan penuh tanda tanya. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada. atau potong. keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan. kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya.. ”Nanti kujelaskan.. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah. Pasti kain pembungkusnya. Lalu katanya. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana .. agak liat. ”jika demikian.. yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat.352 BAGIAN 6.. ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota.” usul temannya. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu.” ucapnya. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu. ”Dapat?” tanya orang pertama. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana.. pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo. ”Kita congkel saja. ”Ya.” jawab rekannya itu. terutama Sian Lin. TATO ”Eh. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam.

orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka. Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu. seperti telah biasa. ”Cepat cari bagian itu. Lalu tanpa menunggu perkataan.. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan.” ucap salah seorang dari mereka.” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya... Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya.. sebuah peti mati yang belum lama ditanam. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat.. ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. Suatu pisau yang tajam. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. ”Cepat. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya.!! Kita tak punya banyak waktu.. tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu.353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya. Dengan santai. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang. Ia tampak tertidur dengan damai. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan. Malam yang diterangi bulan purnama. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya. ... Satu berwarna meran dan satu berwarna biru.

Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. Suatu makam baru pula.” gumamnya hampir tak terdengar. ”Hmmm.. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya. ”Betul. *** ”Inspektur San Cek Kong. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan .” jelas sang paturan pembawa berita. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu. dia adalah pakar dalam bidang ini. yang di dalamnya terdapat seseorang. Mendengar kata ”tato”. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya. TATO Rekannya mengangguk. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda.354 BAGIAN 6. *** ”Ma Siang. Kasus yang sedang ditanganinya. ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut. ”Hmm. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. ”Ah..

Wajahnya tampak cerita. yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan. ”Baik. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya. ”Huss! Tidak ada apa-apa. Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . ”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. ”Eh.. tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. ”Tolong ya. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. gimana?” ucap gadis itu nakal. Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo.355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. ”Tolong ya?” mohonnya lagi. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah. Ia tahu jika ia minta ijin langsung. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya.. Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. baiklah. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya. Biarlah nanti saja.!” mohon Gu Yo. ”Eh.. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She. Dan suatu saat harus dibalas.” ucap pemuda itu. Lain halnya jika Ma Siang.” ucap Gu Yo cepat. ”Lho. kan?” ucap dara itu. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. aku hanya ada urusan sedikit. toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo. karena ingin melihat nona Sian Lin. Ya. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She..

Dan kemudian terdiam. Gu Yo tidak bertanya lagi.” jawab dara itu pendek. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. ”Aku tahu dari paman Ma She. itu saja pesanan makanannya. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. Jika saja dulu ia tahu. ”Gurame Bakar dan nasi. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Di dapur dengan kesibukan yang biasa. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. memindahkan bahan-bahan makanan. Memasak. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap. Orang itu hanya mengangguk. di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Dan juga . BAGIAN 6. ”Eh. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu.356 yang dikaguminya. Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. tampak orang-orang berseliweran. TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. Gu Yo. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga.” ucapnya pendek. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar.

. bawang putih. sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. 3 siung bawang putih. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. kemiri. Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu.357 meneriakkan pesanan-pesanan. merica secukupnya. Tertulis di judulnya. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. Ma She. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. cabai rawit. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. Tak lama kemudian ia kembali. * Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. 8 butir kemiri. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). Wajahnya cerah. 1 buah tomat kecil (diiris). Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. 4 buah cabai rawit merah. 6 butir bawang merah. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. irisan tomat dan jeruk nipis. Terutama pada musim-musim ini. garam dan merica. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. Termasuk Ma She sang koki kepala. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. kunyit. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi. sehingga ikan tetap utuh. 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. garam secukupnya. ”Bakaran Ikan”. Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar.

tidak terlalu sulit rupanya. ”Kata sang pemesan. Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan.” gumamnya. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. Ia pun mengangguk puas. menyebutkan . saya adalah koki kepala. melihat-lihat pemandangan di hadapannya. betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga. TATO ”Hmmm. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara. Gurame Bakar tidak seperti ini. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama..” jelasnya. Ma She sebagai seorang koki kepala. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu.. Pucat wajahnya. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan.. ”ah. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu.358 BAGIAN 6. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk.” jelas Ma She sederhana.. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya. ”Maaf. ”Bagus!” pujinya.

! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana.” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa.” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu. Ma She. bahwa apa yang terjadi . berharap dapat melihat sosok dara itu.. ”Ia tidak ada. Sedang pergi bersama seorang pemuda. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak. Biar ia tidak terlalu sedih.. ”Eh. ”Ceng. tidak perlu dipikirkan.. setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya.. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa. sambil mengajak Ma She untuk menemani. ”Ah. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya. Sekaligus berbincang-bincang. Aku akan bilang. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan. ”Maafkan kelakarku. Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu..” katanya bingung.. ”Ma She.” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya. ”Eh.359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi. ”Panggil saja saya. anda.” ucapnya sungguh-sungguh. Ceng-Liong Hui-To.. Ceng Liok.

*** ”Benar. itu adalah tato milik mereka. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya. Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. Dua buah tato. Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. Sudah diolah dengan bahan pengawet. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Paket yang berisikan tato. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda.360 BAGIAN 6. Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit. Kelakar dari guru masaknya. dari warna kulit yang tidak . Satu berwarna merah dan satu berwarna biru... Kegemaran tuan Ceng Liok. Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut. Suatu mutiara. TATO hanyalah kelakar saja. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu. Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. Kali ini tidak lagi berdarah.

menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- . tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki. Kulitnya dikletek. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. Begitu pikirnya. Tahun ini. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. Mendengar itu. dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. Dominannya adalah warna biru dan kelabu. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. yang mendasari kedua karya seni itu.” Dalam kalimat terkakhir ini.361 sama. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah. ”Baiklah. setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut. Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti.” jelas Gu Yo. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan. Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. Gu Yo sedikit berbohong. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu. ”Dan entah dari pembicaraan apa.

satu rombongan besar. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. umumnya . Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. Yok Seng. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan.362 BAGIAN 6. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung. Luas dan indah. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. TATO jungan dari pemerintah pusat. telah dibangun suatu panggung megah. Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. Agar yang menunggu ini sabar. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. Benar-benar suasana yang meriah. Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan.

Karena tanpa Gu Yo. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Panggung telah dibuka. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga. Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. akhirnya dapatlah ia pergi. Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan.363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. Sebagian dari . keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini. Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. Jenis kemilan yang gurih dan lezat. Sudah tentu Gu Yo pun turut.

Menelusuri keramaian. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat. Hiasan yang tidak ada di waktu lain. Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. dan mungkin juga di tempat lain. Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. Ya. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. Bila ia suka. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal.364 BAGIAN 6. Seorang pemuda tampan. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. Dan untungnya lagi. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja. Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain.

tapi daging sapi yang dikeringkan. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. ”Ada kongcu. penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. segera menghampiri pemuda itu. pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera. ”Harga yang bagus. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan. ”Hai. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya. ”Kongcu. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu.. kura-kura. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering. Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. Tanpa terlebih dahulu memberi salam. laba-laba dan masih banyak lainnya. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya. segera ikut membantu. hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang. tak terlalu mahal. Ada ben- .. kelelawar. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya. Suatu hiasan yang dapat dimakan.365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. Ada kepiting. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab.

Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu. seribu lima ratus tigaan. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal. Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi . karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing. Walaupun demikian. Pemuda itu.. ”Sebenarnya ada. Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil. Ya. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan.366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6.” ujar Ma Siang pelan. walaupun dari kalangan orang kaya. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda. Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. ”Saya suka kuda. Ya. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun.. benar-benar memukaunya. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya... harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. Masih cukup 8 bagiannya. Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu. dapat ditawarkan benda tersebut. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. mereka punya.

Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. Kota Siaw Tionggoan. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. . Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar. sampai yang menggembirakan. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She. atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po.367 selain itu. dan bukan hiasan daging kering. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. kedua orang yang telah menolongnya. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. Mereka pun memesan makanan.

Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya.368 BAGIAN 6. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang. Su-Mo dan Empat Begal Hutan. Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. Hek-Mo bicara seperti orang melantur. telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. yaitu adu ilmu silat. kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . TATO Setelah menghilang beberapa tahun. naiklah delapan orang pengacau. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. Entah apa yang dibuat mereka berdua. Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. Untung saja hal itu tidak terjadi. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut.

Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang. dan bukan dari wanita tersebut. Sebenarnya tidak. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. Sedangkan tato hasil rajahan. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. Tidak seperti tato-tato pada umumnya. adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. mengeleteknya. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan. Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut. lebih . mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. Orang itu adalah Ma Siang.369 harus diserahkan.

Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll.. si Maling Kitab. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. Menanyakan kepastian hubungan mereka. Melaksanakan tugas berikutnya. sekalian mereka berdua meminta restunya. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi.” kata pemuda itu sambil tersenyum. Mengarah ke utara. kali ini dengan anaknya Ceng Siang. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat. TATO berat dari sisi dara itu. Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya. Selain Ceng Siang. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali. Bagi dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Mungkin. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya. bila ia masih mau bekerja padanya. . Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi. Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua.370 BAGIAN 6. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut.. satu tugas sudah selesai. ”Syukurlah. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua. Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. melainkan hanya melalui berita para Troll. karena ia adalah saudara tua perguruan. ”Tugas baru kembali menjelang. Gu Yo hanya dapat tersenyum. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya.

. Pemuda yang mengemban tugas yang berat. memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu.

372 BAGIAN 6. TATO .

masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini.” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu. yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. Dhoruba.” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik. ”Entahlah. Aku tidak tahu. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong. Seperti biasa sikapnya. Selalu hujan dan basah. seorang berkata kepada yang tadi berbicara.Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun. ia tak banyak bicara. Orang yang dipanggil Misun. ”Angus. seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. Dhoruba namanya.” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. Membuatku selalu merasa kelembaban. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab. Sepeninggal Misun. itu berbegas bangkit dari duduknya. Tak lama kemudian Misun pun kembali. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”. Hal ini berarti bahwa malam 373 .

Dhoruba dan Misun. ketiga orang tersebut. ”Ya. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. Didekatkannya telinganya pada tanah. Angus McLeod.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. ”Sulit. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau. Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya. Belum ada petunjuk. Setelelah memberikan tugas itu. ini dia. Angus. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Aku belum bisa merasakannya. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Beberapa hari sebelumnya.. Wajahnya tampak berubah. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana. Malam yang dinanti pun tak lama tiba. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam. Lima makam tepatnya. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba.” ucap Dhoruba. *** . Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur.374 BAGIAN 7. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya.

melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Suara-suara orang menggali-gali. Seperti itu. tapi tidak dapat. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Berkali-kali. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. Setiap kali kesadaran muncul. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Pemuda itu. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. tapi bagai tak ada suara yang keluar. Lebih baik dilakukan .375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara. Sebentar lagi. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Kesadaran kembali datang. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Gentong. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Coba digerakkan tubuhnya. Lalu kesadarannya hilang. Hal itu berlangsung berulangulang. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Bau tanah yang lembab juga menyengat.

Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup. Roh Air. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan.” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. *** Tiga orang tampak berjalan beriringan. bahwa ia adalah seorang Undinen. Ia tidak berbuat apa-apa. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya. ”Paman Wananggo. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. ”ke mana kita akan mencari buah .. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan.. dan ini fatal akibatnya.376 BAGIAN 7. Seorang yang terakhir. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya. Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana. Kesadarannya pun hilang lagi. mengangkatnya dan memanggulnya pergi. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. menciptakan hari yang indah dan cerah. agar tidak melukai orang yang dikubur itu. tampak biasa-biasa saja. Gelap pun kembali menjelangnya. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. Garukan-garukan tangan mulai terdengar. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. sang pemuda.

Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. Sebagai keluarga. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi.” ucap orang tua itu lagi. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud.” ujar orang tua itu dengan gembira.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu. Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra. ia merasa kerasan. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. ”Nak Xyra. Ya. ”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. Dan tempat yang kita tuju itu. yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan. besok siang akan kita capai. Setelah mendaki sebuah bukit. sebelum waktu bulan purnama tiba. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. Air terjun. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. ”Nah itu tempat bermalam kita.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja. Lalu tambahnya. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison.

ORANG-ORANG ABADI menggelegar. ”Dan untuk itu. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya.” usulnya. ”Belum. engkau Angus. Mau tidak mau. Isi perut dengan baik dan tidur. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. ”Tidak. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. mengajukan usul.378 BAGIAN 7. Dulu juga. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab. kita perlu tenaga dan konsentrasi. ”Itu namanya Air Jatuh. nona Siaw Liong. biarkan saja. ”Masih ’mati’. ”Ya. Sebuah air terjun yang megah. tentu!” jawab Wananggo. Engkau sem- . Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam.” jawab seorang yang ada di hadapannya. demi kesembuhanmu. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. saat bulan purnama.” jelas Wananggo. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali.

Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. melayang.. ia ingat saat itu. ”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. perjalan pulang.. *** ”Jadi. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Ya. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja. memperebutkan kepala lawannya. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. ”Kita perlu bicara malam ini. Melihat ke segala arah.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu.” katanya pelan. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh. Perjalan pulang bisa dilakukan. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’. Ya. Ya.” berkata kembali sang wanita. Lalu ia pun berlalu dari sana.” ucap wanita itu sambil tersenyum.. Pikirannya sedikit . untuk memperoleh tenaga. saling baku-hantam satu sama lain.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu. Dhoruba sedang mencari makan malam kita. Cermin Maut. Jumlah kita sudah cukup.” jawab orang yang dipanggil Angus itu. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. Sulit. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati.

Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut.. ”Aku setuju. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota. Seorang dari mereka.” sahut sebuah suara lain. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi.” jawab Cermin Maut kemudian. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri. mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu.” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. Perguruan Atas Angin.. Antara orang- . Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. Sejenis sabit besar. Tempat perguruan lawan mereka berada. ”Baik jika begitu. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan. Antara yang jahat dan yang baik.380 BAGIAN 7. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh. termasuk di Kota Paparan Karang Utara.

. lelaki dan perempuan. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. mereka datang. Pertempuran kali ini pun amat serunya. ”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. benar seperti informasi yang kita terima. ”Angus.381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi. akan tetapi sebagai bangsa bayaran. orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. suatu klan ekspansionis dan brutal. Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis.” ”Hmm. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. Berapa banyak?” tanyanya kembali. Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang. mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. Tua-muda. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan.” jawab pembawa informasi tersebut. setengahnya berkuda. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod. Mereka semua harus berjuang.

selama ayahnya belum sembuh. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. Angus McLeod. ”Kamu saja yang memimpin. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing. Ian McLeod. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan.” begitu katanya suatu saat. Cemas tampak dalam wajahnya. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Yang ditanya hanya mengangguk saja.382 BAGIAN 7. Dari anak kecil sampai orang tua. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar . Tak ada jalan lain. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Apa boleh buat. Menjadikan desa mereka. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. Ya.” ucapnya lelah. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. pemimpin ad interim atau sementara. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. ”Baiklah. Jadilah ia. Ya. Dari yg sehat sampai yang cacat. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. Angus bukan pemimpin klan McLeod. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. kita harus berperang habis-habisan kali ini. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya.

tapi kalah dalam jumlah. Dua kelompok besar orang-orang haus darah. klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir. Kesetiaan dan penghormatan. Dengan adanya isyarat terompet tanduk. tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. Sudut yang pas dengan dada kuda. Tidak ingin kalah. Gelombang penyerang pun beringsut maju. yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. ”Cepat. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. menginginkan hal itu. masuk ke dalam desa. Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. Dengan bekal pendobrak batang kayu. ”Ghrrrrrg. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar. Jumlah yang jatuh terus bertambah. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. Memaksakannya untuk terbuka. barisan terdepan pun berlarian. satu di kiri dan satu di kanan.. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi. Pintu gerbang pun ditutup. Pertempuran yang tidak seimbang. . darah mereka sendiri. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. Waktu pun berjalan. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang.

”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan. ”Tidak mungkin. Dibalik-balik jerami dan sebagainya.” ucap rekannya. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu. Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. Semua orang menghilang di dalam desa itu. Bila sudah semua.” ”Siapa yang tahu.384 BAGIAN 7. Tidak ada. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka. Semua dibolak-balik. Tapi apa yang mereka dapatkan. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu.” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh. . Pintu pun terbuka dengan lebar. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. ”Ada yang aneh. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Rekannya mengangguk. Menanti untuk menyerang balik. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Akibatnya telah diduga.” seru seorang dari klan Darkyzp. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada. tapi hasilnya nihil. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. telah banyak dari mereka bersembunyi. Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang. mungkin sudah semua.

Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya. mudah untuk dihindari. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana. ”Grrrggghhh!! Di sana. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Menghiasi hari yang cerah itu. Menghindar dan menyerang balik. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Mati. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Cukup banyak jatuh korban di an- . Ia yang luput dari serangan panah. Dan kali ini pun kembali berhasil. Tua dan muda. Menunggu dengan harap-harap cemas. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. Pria dan wanita. menunggu sampai saat-saat terakhir. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Setelah parit terkuak. Di sana. Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Tiba-tiba. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. segera ia memacu kudanya. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap. Ya. ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit.

Orang-orang yang berbeda satu sama lain. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod. Jumlah yang tidak seimbang. Tiga-empat orang. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya .” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting. Tapi ada satu hal yang harus dihormati. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati. Lambat laun mulai jelas. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu. tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. semakin lemahlah semangat mereka. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. ”Hmmm. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. Walaupun musuh sudah separuhnya habis. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup. berdenyut-denyut tak beraturan. Semua kabur dan berkabut. memperhatikannya dari dekat. walaupun mereka bersemangat tinggi. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas.386 BAGIAN 7.” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya. ”Lihat. ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan.

Misun dan Angus McLeod. sang wanita. Entah apa maksud dari senyum itu. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang. ”I try with other language. ”Watashi wa Misun desu.” jawab pemuda itu. lalu beranjak mendekati.387 bangun. Lalu dengan perlahan. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. ”Saya Gentong.” sahut seorang dari mereka. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu. Shia Siaw Liong. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati. Penjelasan yang tenang dan pelan. serta dibawa . menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. Ia.” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. ”Kumpel. orang hitam berambut keriting. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. ”Well. ”I think he speaks with a local language here. Dia Dhoruba. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. ”Saya. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. verstehst du. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini.

ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. Ya. Ia telah mati dan dikuburkan. Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. perang! Memang demikian halnya. Gentong. Bahanbahan berupa makanan dan senjata. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. Tanpa terasa ia meraba dadanya. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya.” ucap wanita itu. sang pemuda. perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan. Pucat. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. yang saat itu baru memiliki satu cabang. Perguruan Atas Angin. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. Dan akhirnya tampak tegan. tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah.388 BAGIAN 7. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka. lalu kembali pucat. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. selepas pembantaian terjadi. ”Sekarang. kami biarkan dulu engkau sendiri. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- . tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. merah. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara. yaitu di Kota Paparan Karang Utara.

Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. Ya. yaitu Tapak Kelam. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. *** ”Jadi itu kisahmu. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Air Jatuh.389 but. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun.” ucap gadis itu lagi. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. ketua Perguruan Kapak Ganda. yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. ”Baiklah jika begitu. bahkan pertempuran. Membuka cabang di dua kota lainnya. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam.” Kembali pemuda mengangguk. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan. tapi seperti biasa. Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap . Mereka bukannya anti pertempuran. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. pertempuran. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan.

bukan pertandingan satu lawan satu.” usulnya. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan. pasti engkau sudah bisa. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. Harus disingkirkan. ia sadar. ”Baik. pagi-pagi sekali. sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . orang-orang yang tak bisa mati. ”Dalam perjalanan ke sana. Dhoruba hanya tersenyum kecil. Tandanya ia tidak keberatan. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah.” kata Misun meyakinkan. sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi. tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. Gentong mengangguk mengiyakan. *** ”Paman Wananggo. Misun masih mendekati Gentong. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong. ”Baiklah. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. jika dengan tangan kosong.. ORANG-ORANG ABADI mereka ini.390 BAGIAN 7. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. Misun hanya menggumam pelan. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. Ya. kira-kira kita butuh tiga hari. senjata memegang peranan penting. Gentong hanya menggelengkan kepala. Jika demikian telah diputuskan. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. Besok. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu.. terima kasih!” ucap Gentong. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. bahwa dalam pertempuran. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda. tapi tidak menyatakan keberatannya.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas.

Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. untuk turun ke bawah. ”Cepat. Langit sudah agak mulai terang di sana. paman.!!” ucap orang tua itu. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat. ”Iya. ”Aneh!!” gumamnya.” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata.” Langsung segar orang tua itu... Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun.. agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. jatuh menjadi air terjun. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah.391 enaknya. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini. ”Hati-hati. Namun tak lama biasanya. ”Eh.. di antara batu-batu yang menonjol. ah. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana. ”Tapi apa boleh buat. ke langkah berikutnya. Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah.. tapi tak dilihatnya seorang pun. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada. . apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur. kita coba saja turun sekarang.” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut.

Ternyata mereka ada masalah rupanya. menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun.. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah.392 BAGIAN 7. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . ini malah untung buat kita. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. kita ketahuan. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. Keduanya mengangguk mengiyakan. *** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. akhirnya sampailah mereka di bawah. Hehehehe. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau. ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi.!!” ucap orang tua itu. ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah.

” ”Belum tentu. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. pada saat-saat akhir hidupnya.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama. ”Perguruan Kapak Ganda”. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Mati. bekas digempur. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. Cermin Maut dan Sabit Kematian. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. itulah Gentong. kelima orang itu segera berangkat pergi. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. ”kita tertinggal satu hari. Tapi itu belum semua. . Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. yang papannya sudah miring. Mendengar itu. sehingga mereka tidak langsung kembali. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari. Mayat Pucat. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. tampak dingin. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul.” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. Ada tiga orang yang dicarinya. mirip bumerang. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya. Jika ada yang sedih dan bersemangat.” jawah Shia Siaw Liong. yang diletakkan di punggungnya. Menang atau kalah bisa berakibat lain.” ucap Misun. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. tampak merah oleh darah. ”Mereka sudah pergi kemarin. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana.

”Hei. berjalan cepat. Bagi Xyra yang Undinen..” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. ”Baik. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. Bagi kedua orang yang lain. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak.. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain. Baju mereka masih basah. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan. Ia heran karena dari atas sana. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. ”Yang kedua. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu. Bagaimana ini bisa dijelaskan.” jawab Gentong.394 BAGIAN 7. kita ambil yang kedua. di sini ternyata terdapat pulau lain. Ia adalah roh air. *** ”Mari. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu.” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong. basah tidak merupakan masalah. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. makhluk yang memang dalam hidupnya. jika tidak di dalam air.” jawab Shia Siaw Liong memutuskan. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Sebuah pulau yang lebih kecil. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap. ”hanya dua. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. cepat-cepat. ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran. memanfaatkan sifat-sifat air.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka.” jawab Gentong. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka. mari. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. .

Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo. ”Fraktal?” tanya Lantang. jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan. geometri dan ilusi. Setelah di bawah. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada.” ucap Wananggo tersenyum. Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. . akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal. ”Baik. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini. masih ada dua lagi.” bisik Wananggo. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu.” lanjutnya. Setelah didekati ternyata ada dua. ”Kita kitari seperti cara yang tadi. sehabis kita pergi dari sini. ia dulu juga begitu. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu. Ya. ”Pernah ada cerita. Jika ada waktu. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama. baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar.” jelas Wananggo. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya. ”Ya. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat.395 ”Bukan hanya satu.” ucapnya. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu.

ya jawabnya. mencuri. Jika sang petapa itu masih hidup. lalu Lantang menjawab... ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat.. ”Sama persis. ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam.. hanya.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra. ini diatur sedemikian rupa. ”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana. Padahal ada perbedaannya. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu.” kata Xyra polos. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian.” jawab Wananggo. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu . Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan.. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin.. ”Ya. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat. ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. ”tapi kita butuhkan hanya empat. benar.. Lalu lanjutnya. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu. ”Ya. yaitu ukuran yang mengecil.” ucap Wananggo. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri.” tegas Lantang.” ”Mencuri. ”Betul. asal tidak bilang bukan mencuri.396 BAGIAN 7. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya. lebih baik begini. Lebih mungil. kita bisa minta.” jawab Wananggo sambil tersenyum.” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu.” jelas Wananggo.” ucap Xyra agak tak senang.

Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan. Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. hehehehe. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. ”Sudah. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa. ”Eh.. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. nanti dulu.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang. mencegahnya . Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut.” lanjut orang terakhir. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan.” tambah seorang dengan mukanya yang pucat. cah bagus. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. tidak usah kecewa. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. Tiga orang yang mengerikan. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya... Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu.. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk. Tidak segampang itu mati. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini. sudah.” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. melesat melibat tangan Tapak Kelam. ”Ya. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Anak muridnya telah habis dibunuh. Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. ilmu ampuh warisan gurunya.397 berwarna kelabu itu.

” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya. ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. Di Air Jatuh. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu.” jawab Tapak Kelam. Senang ia melihat lawannya . Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi. ”Hehehe. ”Sudah. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas.” tambahnya. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu. tidak semudah itu. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh.” ucap Tapak Kelam semakin bingung. ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian.398 BAGIAN 7. ”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar. ”Itu palsu. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini. kalau mau bunuh. Prasasti itu masih ada di sana.” jawab Cermin Maut. ”Tak mungkin. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada. Ki Makam namanya. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda.” terkikik genit Cermin Maut. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam. ”Bagus. ”Curi? Jangan bercanda.

itulah yang mereka cari. mayat dan lain-lain. Bergembira layaknya seorang pemenang. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kelihatannya sepenanak nasi lagi. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang.” ucap Gentong. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. sampailah kita di sana. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. Memangsa tapi tidak untuk dimakan. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- . tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. kereta kuda terbalik. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. Habis. ”Ya. kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat. Kedua rekannya mengangguk. benar. Kebuasan melebihi binatang liar. Jauh sebelumnya. di kiri-kanan jalan. Rumah-rumah yang rusak. ke Rimba dan Gunung Hijau. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. Kebakaran.399 itu bingung. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Tak tersisa.

dan lain-lain yang ada dalam kepalanya.. ORANG-ORANG ABADI masing. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. ”Begini. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa. ”Misun. ”Bingung aku. bela diri. ”Ya..” ucap Misun lagi. akan tinggal satu orang. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. Begitulah. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat.400 BAGIAN 7. mereka akan semakin kuat. Lalu katanya. the one.” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah . Ia perlu mencari tahu. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya.. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata. Itu hanya istilah. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya.” ucap Gentong perlahan. Misun tidak langsung menjawab. ”sebenarnya tidak juga.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. kekuatan dan menjadi yang terutama.” jelas Misun. ”Ya. Dengan semakin banyak membunuh. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri. juga hal-hal yang telah dipelajarinya. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal. the one. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita. ”The one?” tanya Gentong kembali. walaupun tidak dapat mati tentunya. The one. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya. Ilmu pengetahuan. dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok. kamum immortal. yang dituliskan dalam suatu ramalan.. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat.

Kedatangan kelima orang ini. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. Dhoruba sudah puluhan. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. Hal ini membuatnya . Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya. atau leher yang hampir putus. sudah basah oleh darah lawan-lawannya.401 di depannya. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher.” katanya pendek. Golok melenkung patah. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya. ”Kita sudah sampai. ”Hei. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. Membacok dan menendang sana-sini. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda.

Ia mencabut pedangnya. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. Remuk dan hancur. Kelima diam seribu bahasa. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. Khas pedang Tlatah Skotlandia. Shia Siaw Liong bergerak cepat. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. melucu. Pedang yang cukup panjang dan berat. Angus pun mulai turun ke dalam arena. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya. ”Di sini. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat. ”Lihat ini. Putus napasnya.402 BAGIAN 7. Hitam dengan baju merah berdarah. Simpan tenagamu. Pertempuran itu tak berlangsung lama. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. ”Pakai senjata lebih efektif. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun. Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut.” tunjuk Misun. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini. tinggi dan kurus. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. Mayat Pucat.” usulnya. Gentong menangguk mengiyakan.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak . Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut. tampak tubuh-tubuh malang melintang.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi. ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka. ”cakaran beracun. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari.

lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. Rongga itu tidak terlalu besar. Mungkin wakil-wakil ketua.” usul Angus kemudian. sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya. mereka adalah Empat Pilar. ”Benar. ”Luas juga. Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu. . di sana pintu masuknya. *** ”Itu. Ruangan dalam. menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah.” ucap Xyra. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu.” berkata Lantang membenarkan. ”Mari kita ikut. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra. terlihat cukup luas. di mana ketiga orang itu berada sekarang. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. Wananggo.” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. tidak seperti yang aku pikir. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. Bawahan langsung dari Tapak Kelam.” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. Ya. pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu.

bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. Dengan permainan warna. ”Mana tanaman yang dimaksud. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi.” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo. ”Pernah. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya. tidak seperti keadaan sebenarnya. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut. Batu yang dipotong sedemikian rupa. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. yang seperti diduga.404 BAGIAN 7. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu.” jelas Wananggo kemudian. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan.” jelas Wananggo. Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. sekali waktu. yang dipahat dalam dinding. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding. walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu. Hanya beberapa rak terbuat dari batu. yang tampak di sana-sini. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya. sahabat dari pemiliki tempat ini.

. Ya. ”Paman. ”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. itu!” jawabnya tersenyum. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu.” jawab Wananggo.” tanya Xyra. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang. Alih-alih menjawab.” ”Siapa nama petapa itu. ”Oh. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut. menanggapi jawaban tersebut. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita. Wananggo menangguk mengiyakan.” tebak Lantang. ”Xyra dan Lantang. ia malah mengajukan pertanyaan. Seribu Ramuan namanya. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. yang satu Undinen dan yang lain manusia. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman.405 sakit. paman?” tanya Lantang ingin tahu. ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu.” ucap Wananggo pendek. Suatu penyakit yang aneh. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya. ”Mungkin. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo.

paman?” tanya Lantang tidak percaya. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan. ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan.” ”Hampir benar. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya. sengaja atau tidak sengaja. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang. Lalu ia kembali terdiam. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang. paman kembali membuat bingung. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu.” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri.” jelas Wananggo kemudian. banjir dan sebagainya.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu.” ucap Xyra. ”Ini paman. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. berpindah tempat. ”Begitulah alam ini. yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. ”Paman. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu. yang akan menjadi tumbuhan baru.406 BAGIAN 7. suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta. Hewan selalu berpindah tempat.” ucap Xyra kembali. aku tahu.” jawab Wananggo. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu. ”tumbuhan tidak berpindah tempat. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen. . baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar.

juga lebih sehat. Amat kecil. Ikan laut masih baik dimakan mentah. lalapan itu juga sehat. ”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan.” jelas Wananggo. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut.” ucap Wananggo. lho!” kata Lantang. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- . ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik.” jelas Wananggo. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut. ”Benar.” Kedua anak muda itu diam. benar begitu. Lalu Wananggo pun menjelaskan. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit. Ukurannya sangat kecil. kemudian dikenal sebagai pasturisasi. bahwa tumbuhan dan juga hewan.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. menantikan penjelasan yang akan muncul. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. Dan itu terutama daging. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. ”Tapi katanya.” ucap Wananggo. Organisme mikro namanya. atau disebut juga bibit penyakit. selain lezat.

sang penanam tumbuhtumbuhan itu. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu.408 angguk. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut. lalu katanya. BAGIAN 7. ”Hai. lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut. Beberapa tampak berkilauan perak. ”Paman.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu. hati-hati!” cegah Wananggo. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian. Ada beberapa yang amat beracun. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan. sekali sentuh dapat seorang manusia mati. . Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. Wananggo tersenyum masih. Lantang. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram. ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. ”Tenang Xyra. yang ada dihadapannya itu. hanya setinggi beberapa jari saja. juga keheranannya.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik. menerangkan pada dirinya.

Malu. dan di antara kita bertiga. Keduanya mengangguk mengiyakan. ”Dari cerita kalian. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. Xyra mengangguk. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana. ”Kita masih ada sedikit waktu.” jawab Wananggo sambil tersenyum. khasiatnya akan berkurang. ”akan aku coba.” jawab Wananggo pendek..” usul Wananggo. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. apapun. ”Nah. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. agar hawa kita murni. Setelah. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. Tampak ia berpikir-pikir agak keras.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan. meditasi. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu. *** .” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut.?” ucap Lantang menambahkan. Lebih baik kita mengheningkan cipta.. Jika mati. Lantang.409 ”Bukan. untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan. Menunjukkan niatan yang teguh. dalam hitungan menit akan berbuah. Tapi jangan sampai mati. demi kesembuhan Lantang. ”Nah.

Kagum akan keindahan tempat tersebut.” ucap Cermin Maut.. Kita harus menyeberang. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. di tengah pulau. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari . bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh.” ucapnya.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung..” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. Tapi matanya tampak juga mengiyakan. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut.. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. ”Ha? Bukannya tadi. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada. Sabit Kematian hanya diam saja. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat. ”Bisa nanti itu kita bicarakan. ”Di sana. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya.” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam. ”Boleh juga bila kita pindah kemari. Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini. Segera mereka berada di atas pulau pertama.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. ”Ayo jika begitu. Lunglai bagaikan boneka saja. tapi tanda daya. Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya.410 BAGIAN 7. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi. ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya. Hanya dapat berbicara.

”Ya.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. tampak lemas. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. Begitulah mereka berlari cepat. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat.411 kesempatan untuk melarikan diri. Di pinggir danau. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya. Dengan lunglai ia berkata. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu.” jawab Tapak Kelam pendek. ini sedikit tetetasan darah yang tadi.” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut. mari kita menyeberang. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian. *** ”Tempat yang menarik. sampai akhirnya tiba di pulau kelima. ”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala. ”kira-kira sepuluh. Setelah menemukan- . mendahului keempat orang rekannya. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam.” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang. Yang lain segera menyusulnya. ”Kelima. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. ”Jika demikian.

” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru. Pulau kelima. ”Aneh. *** Malam pun menjelang tiba. dengan lima titik menghadap ke langit.412 BAGIAN 7. ”Sudah hampir tengah malam saat ini. ”Mari kita mulai. ”Baik jika begitu.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan. ditambah dengan ubun-ubun kepala. bayangkan engkau hendak mencari Lantang. yang tadi dalam postur Duduk Teratai.” usul Shia Siaw Liong. ”Selanjutnya. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya.. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu.. itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang. Upayakan untuk mencari hawa . Telusuri isyarat yang ada. Kedua telapak tangan dan kaki. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat.” ucap Wananggo hampir berbisik. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. yang hari itu membulat sempurna. ”Kita ikuti saja yang pertama. karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk.

”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. jangan ke sini. halus dan bersambung-sambung. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. ”Arahkan ke tempat lain. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra. kadang ke rak yang . Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada. Xyra. sang Undinen.” kata Wananggo kemudian menambahkan. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. Ia bergerak perlahan. terlihat seperti mencari-cari seuatu. Mirip kilauan kunang-kunang. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada. kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. Putih cemerlang. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening.413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. Jika suasana terang.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek. untuk mencari hawa dari Lantang. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan.” bisik Wananggo perlahan. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya. Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. dengan membayangkan pemuda itu. Lidah cahaya itu berhenti memanjang.

Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. sudah baik kembali. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. melingkar. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. yang lalu tiba-tiba hilang. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. Xyra pun membuka matanya. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu.” tanya Wananggo. juga berwarna biru tembus pandang. sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi. ”Atuh napasmu perlahan. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. ”Baik. Setelah beberapa saat hening. ”Bagaimana keadaanmu sekarang.” ucap Wananggo perlahan. Lebih bercahaya dan kemilau. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo. . Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang. Suatu perasaan nyaman luar biasa.. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. Pemuda yang dikasihinya. kadang ke rak yang sebelah bawah. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang.414 BAGIAN 7. kembalikan peredaran hawa dalammu..” jawab Xyra pendek.. saling merengkuh. Rak tersebutlah yang mereka cari. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. Diam seperti mematung.

Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.” ucap Wananggo. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang. suatu hubungan hawa antara dua entitas. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini. *** ”Di sana. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa. Tidak semuanya.” ucapnya kemudian. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. Berbegas Sabit Kematian. berikut kitabnya tersebut. Untuk orang lain.415 ”Pautan hawa. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan. di dalam bangunan itu.. Entah apa. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada.” jelas Wananggo. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini. . Itu pula yang aku harapkan. ”jika tidak. jika suatu saat ada yang membutuhkannya. Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu. yang dapat membantu menyembuhkanmu. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu.. melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya.

Sayangnya. Demi melihat prasasti kedua. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. Prasasti sebesar kerbau bunting. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. Ya. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. Ia hanya tersenyum getir saja. Lingkaran Dalam. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat. berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam. yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut.416 BAGIAN 7. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. mulai mengamat-amati prasasti pertama. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. Ki Jagad hitam. Tanpa banyak berbicara. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu.

” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut. ”Biar sabitku yang bekerja. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat.417 pat sisinya. sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang. Rata dan berbentuk kotak.” ucap Cermin Maut memperingatkan. dan tidak ada apa-apa di sana. bergaris-garis. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya. ”Hati-hati. rusak oleh sabitmu itu.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut. ”Hati-hati.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut. ”Belum tentu. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana. ”Kita coba saja. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada . sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. ”Kosong. kakak Sabit Kematian.” ”Huh!! Jangan kuatir.” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut.” ucap Tapak Kelam. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. Mencongkel perlahan. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang.

dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana. dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi. ia bergegas menyelinap keluar. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. Dengan sigap ia bergerak ke samping. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa. Sudah selesai tugasnya. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. itu mungkin kain pembungkus sesuatu. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya.. ”Keparat. Suatu pukulan jarak jauh. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya.418 BAGIAN 7. ia melarikan diri. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya . Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu.. ”Ya. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet.

kalian. ”Jika engkau Tapak Kelam. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut. yang diikuti dengan tubuhnya.. yang akan membawanya ke pulau keempat...” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin.. Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini. golok bumerang. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain.. saya. pastilah anda adalah Cermin Maut. Itu belum jelas... Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya. bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut. ”Mau lari kemana engkau. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan. Cermin Maut tidak segera menjawab.. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang. dan orang ini hendak mengejarmu.. Kawan atau lawan.419 itu. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan.!!” ujarnya tersendat.. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya. orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku. ”Ya... ”Kamu. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah. . waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya... yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. ”Siapa. Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal.

Kelima orang ini belum. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian.. pada suatu saat yang lalu. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. itu adalah salah seorang murid-murid. Deras dan keras. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. dapat saling mendekat. serta Mayat Pucat. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir.” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek.. yang kedua ini . ”Kami mencari Sabit Kematian. Kalian telah membunuh kami. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. saya Cermin Maut. setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. Sekarang. ”Dan sekarang giliran kalian. Ya. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. ORANG-ORANG ABADI ”Ya. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. orang yang berseteru. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya. ”Dan engkau juga. Memang lucu. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong.420 BAGIAN 7. Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut.

.” jawab Cermin Maut. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu. Dan ia mencarimu. Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. . Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat. di dalam sana. agak bingung mereka. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka. Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya.!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. ”Hei.. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau. ”Tak tahu. ”seorang dari yang pernah kita bunuh.!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat...” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. Tapak Kelam pun mengikuti. ”Mari..421 dia tidak yakin. ”Mari kita kejar. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya.” jawab Cermin Maut.” ucap Angus yang segera bergegas. Misun menepuk pundak Gentong.

Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. ”Mari masuk. kita bisa ke pulau berikutnya.” ucapnya cerdik. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. ”Ini jalan rahasia.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. ”Belum tentuk kita kalah sama mereka. ”Eh. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu. yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. Dan dari sana melarikan diri keluar. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut.422 BAGIAN 7. Biasanya mereka yang dikejar orang. ”Eh. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. Berturut-turut Cermin Maut. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. Pulau keempat. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran. .” ucap Sabit Kematian jengkel. Membuatnya semakin jatuh hati.” jawab Tapak Kelam menjelaskan. kamu. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh.

Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. ”Aku belum tahu. Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya.” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain.” ucap Wananggo. sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. ”jika ada jalan rahasia. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya. Setelah hening beberapa saat. Rekan yang lain mengangguk. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian. Sebagian turun. Wajahnya . sedangkan Gentong. pastilah ini menuju ke tempat lain.” jawab Wananggo. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. ”Sekarang coba alirkan hawa.” ucap Shia Siaw Liong. perlahan-lahan. *** ”Minumlah ini. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini.” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu. tampak membuka matanya. kembali menuju perguruan. ”Jangan semua masuk.” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya.” duga Dhoruba.423 ”Mereka menghilang. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku.

. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi.” ”Aneh. ”Aku merasa lebih sehat dan segar. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh. ”Sebabanya.. ”yang penting kita sudah berusaha. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah. tak usahlah sedih begitu. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo. ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi.. si Bayangan Menangis dan Tertawa. Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya..!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang.424 BAGIAN 7. juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya. Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh.. semuanya kehendak Sang Pencipta.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini.” ”Paman. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu. Ia masih ingat bahwa orang itu.. paman. .. ”Mari. paman! Mari kita pergi dari ini. ”Padahal menurut petapa tersebut.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju.” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat ini oleh Wananggo... hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini. dihancurkan. Dan katanya. ”Engkau. Dulu oleh gurunya Rancana. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. yang ada di hadapannya sekarang.!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya.

. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang. segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ. Mereka segera berhadapan. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu..” ucap Lantang bergetar.. yang adalah Tapak Kelam. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih . Keduanya terdiam. Ia tidak mempedulikan Lantang. seorang wanita dan dua orang laki-laki. ”orang itu. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita.. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti. tapi bagi anak kecil seusianya saat itu.” ”Paman.. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut. ”Minggir!!” jawab orang tersebut.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang. Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya.” katanya kemudian.. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. begitu pikir mereka.. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang. Tidak terlalu sakit. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. siap untuk saling serang. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya.. orang itu. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku.. Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra. tidak dalam keadaan segenting saat itu. Cermin Maut.

berkata salah seorang dari mereka. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. malah salah seorang dari mereka berkata. yang wanita. Ya.426 BAGIAN 7. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. ini kami. Angus. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Bersiap hendak saling serang. ya ia mulai ingat. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. Cermin Maut. ”orang sudah hampir mati kok ya. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. ini Dhoruba. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. ”saya Shia Siaw Lion. kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa. Tidak . Misun dan Gentong. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba. Jika sudah kenal. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya. bukan?” ”Ya. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. Sembilan tepatnya sekarang.

Bukan hal yang normal.. ”Kaum Abadi. Hening sesaat. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau. Pemuda itu adalah. Pukulan keras dan lurus. ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar.. Keras . Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka. Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong. ”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat... Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain.” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak. pemuda yang berada di depannya sekarang. lincah masih geraknya. akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa. menebas kepala sudahlah cukup.. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah. mau tak mau membuat mereka merinding.427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi. Umumnya dengan jarak jauh. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras.. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh... mereka benar-benar nyata adanya. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu. mereka-yang-tak-bisa-mati.” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang.

Rancana. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. senjatana tidak begitu berfungsi baik. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. mengemis dan kelaparan di jalan. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. bertempur jarak dekat. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. Pusing sesaat dirasakannya. kali ini di bagian tengkuk. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. atau berkalang tanah. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Di mana-mana. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. mungkin. Dalam jarak dekat. Jika saja tidak. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Untung saja ia bertemu dengan gurunya.428 BAGIAN 7. . kitab tersebut harus ikut. Segera ia melompat mundur menjauh. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. Campur baur antara sedih dan marah. Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. Jika ia harus pergi dari sana. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. Dengan jarak yang sekarang agak jauh.

aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali. Cara serang yang baru ini. ”Aku mengerti. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang. Lalu katanya.” jawab Wananggo.” . pinggir berganti-ganti. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. membuatnya sedikit kewalahan. Kita sebaiknya tidak mencampuri. mereka itu. Diantara kedua orang saudara seperguruannya.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam. dipegang di tengah. tapi Gentong tidak tahu. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk. Memang sebaiknya kita pergi. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. ”baiklah paman. Memang untuk keselamatan kita juga. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain. Lantang. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. Maju kena cengkeraman. Mundur kena sabit jangkauan panjang. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. baiknya kita segera berlalu dari sini. ”Kaum Abadi.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu.” ajak Wananggo. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. ”Nak Lantang. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. paman. Lain waktu kita cari lagi orang itu.

Saat ia berlari cepat. kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. menirukan.430 BAGIAN 7. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya. Xyra tampak terkejut. Entah apa.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. segera mengangkat tangan pula. pulau ketiga. . yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. berbulir-bulir mengambang di udara. ”Aku Wananggo. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. tak perlu kalian takut. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. ”Howgh! Aku Misun. Aku tak ada maksud jahat. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut. dan ini Xyra dan Lantang. Terdapat banyak untaian. ”Maya. Misun lalu membuka baju luarnya. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain.

Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. kembali menemui rekanrekannya. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut. Tapak Kelam. ”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu.” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian. Jika harus lewat jalan biasa. Betul-betul lawan yang tangguh. ”Howgh!! Tugasku telah selesai. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Sabit Kematian. Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama.” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. kehilangan seorang rekannya. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. adalah tidak terlalu berat. . Tatapannya yang seakan mengatakan.” ujar Mayat Pucat. sah-sah saja. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka. *** ”Untung ada engkau. ”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan.

bagus!!” Misun. Melihat itu. ”Gentong. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan. Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. right!” sambut Dhoruba. mengajaknya berlalu dari situ. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong. *** ”So. sejenak dipikirnya sesuatu. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. Banyak sudah darah yang dimininumnya.432 BAGIAN 7. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin.” sambung Shia Siaw Liong. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. yang mungkin belum dingin tubuhnya. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . Senjata yang sudah ’tua’. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Bagus. yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. Menepuk bahunya. Gentong masih tampak termenung. ”Yeah. Mereka segera berlalu dari sana. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. Pada suatu gerakan tipuan. isn’t it?” ucap Angus. ”Sudah saatnya kita pergi. our problem in this land is alreay finished. Dhoruba terkekeh-kekeh. ”Pilihan yang bagus.

di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. terutama bagi kaum mereka. tapi ia tidak mengerti. membentuk semakam bekas candi atau kuil. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu. orang tua itu. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini. Ia. ”Aku harus memberi tanda di sni. ”Ini harusnya tempatnya.. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. portal!” ucap orang itu. – merekayang-tak-bisa-mati. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. persegi.!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. Saat orang itu bangun. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. . dan mereka akan datang. ”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. Undakan batu. *** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi.433 nunaikan misi mereka sendiri. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan.

”Ini... Sejurus tak ada jawaban.” ucapnya perlahan. Yang membedakan mereka adalah tingginya.” jawab makhluk itu. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia. jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan. kami ’menculik’ anda dari portal. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa. saya Rancana. Nanti. ”Ya.. Tiga kaki tingginya.. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung. Lalu katanya.. ”Maafkan bila tadi malam. Anda siapa?” tanya orang itu kemudian. di atas pohon!!” ucapnya kagum. ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah. kami kemudian membawa anda ke sini. Manusia Tiga Kaki.” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki. ”Eh. ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat.. ”Saya Coreng. Makhluk itu tampak sedih dan muram. ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras.434 BAGIAN 7. ”Eh. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. pelataran batu tempat anda tidur. Ya. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi... membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana.. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. Setelah berkata demikian. kami tahu.

Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah. *** ”Engkau yakin. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. di Rimba Hijau. Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. Berikutnya minta pertolongan mereka. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. Rancana sejenak terkenang akan muridnya. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya. *** . membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita. ”Benar. itu yang penting. ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. Lantang. Moreng?” tanya Coreng.435 tenang. Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. Dunia ini luas rupanya. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya. ”Aku telah tiba di sini. Dan di sini.” gumamnya. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian. telah ditemuinya. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki. Masih penuh pertanyaan di benak Rancana.” ucap Moreng meyakinkan. apanya!” usul kawannya kemudian. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini.

”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana.” ujar ayahnya.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. Sambil menutup hidung. nanti aku gali sebuah lubang besar. Oleh karena itu harus segera dikuburkan. Hanya manusia. Dara tersebut hanya menangguk. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. berhak atas persemayaman yang layak. . Berpesta santap daging manusia. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun. lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat. karena selain orang mati. ”Iya. ”Hati-hati. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya.” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu. jika juga sudah menjadi mayat. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana.436 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. jangan dipegang!!” ucap ayahnya. ayah. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. Dara itu kembali mengangguk.. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana.” jawab sang dara.. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora.

Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu. Perguruan Atas Angin.. tapi dari tanam-tanaman kita sendiri. ”Bercocok tanam. aku ada banyak pengalaman. membuka perguruan silat. ”dan tempat ini. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh. Keduanya tampak puas. Yang penting semuanya telah dikuburkan. di belakang itu amatlah indah. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja. terutama air terjun di belakang amatlah indah. ”Membuka kedai saja. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan.” usul anaknya. . Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana. Di beberapa ruang halaman. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup. ”Buat apa dipikirkan. yang penting kita coba.” jawab ayahnya. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang. benar. ”Bagus juga tempat ini. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian.” ”Ya.” balas ayahnya. Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. berdagang. ”Mereka toh telah mati. tidak terlalu takut tidak dapat hidup.. Keduanya kemudian tertawa berbarengan. ”Ya. Pintar!!” kata anaknya antusias. Entah dari pihak mana.” tanya anaknya kemudian.437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. Sayang untuk ditinggalkan. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian.

”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. ”Kita masih harus mendaki gunung ini. di gunung.438 BAGIAN 7. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan..” sarannya kemudian. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya.” jawab sang dara ceria.” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. ”Kita tidak tahu itu. Lalu keduanya mulai beranjak dari situ. paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya. supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu. Padang Batubatu. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. ”Masih. Gunung Berdanau Berpulau. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha. ”Anak wanita kok senangnya bertempur. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. mengeluarkan ilmu berlari . kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana. semoga saja. *** ”Masih jauh. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura. kita akan berlari cepat sekarang. Dara itu mengangguk. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu. Dalam hatinya ia berkata. paman. Bila tidak. Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian. ”Mari kita mulai mendaki. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari.

cepat hampir tak terlihat. *** . Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. Meloncat di sana-sini. Memutih dan mengeras. yang mengangguk perlahan kepadanya. Sedih bahkan. kering. Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Menuju suatu tempat di atas sana.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. bagai dua buah patung pualam putih. Membeku.

440 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI .

Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Lautan. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. Telaga pemuda itu. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 ... tepi daratan. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta.Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai. Tepatnya tiga tahun dari saat ini. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. jauh di utara sana. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Pantai Selatan. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau. Bagi pemuda itu. Melesak dan tergores halus. Ia tidak asing dengan air. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan.

Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Bila ada nelayan mendarat. Sebuah perahu nelayan. Tapi ia belum merasa puas. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. Saat perahu yang ditujunya mendarat. yang mengajarinya dua jurus pokok. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . Sedangkan dari guru keduanya. seperti dipesan oleh orangtuanya. Ki dan Nyi Sura. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. Tenaga Air. Guru yang pertama adalah Walinggih. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Arasan ia memperoleh dua jurus pula. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini. Selain belum benar-benar merasa cukup.442 BAGIAN 8. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut.

Ia pun membuka perbekalannya. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. setidaknya menurut para penghuninya. Telaga mencari-cari matanya.. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. Tepi Darat Selatan. . ”Eh. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan.443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut.. Hari sudah menjelang senja. Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. Ia hanya memandang kagum dan membisu. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup. Ia adalah orang asing. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu. hanya bisa terpaku melongo. Cukup terlindung dari angin. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana. tamu tepatnya. bergegas berlalu dari situ. harus aku ikut dia. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut.” tersadar Telaga dari kekagumannya. Belum mereka berkenalan pula. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai.

aku tangkap dia. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga. ”Belum tentu. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan. Tapi awas ya. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum.” goda kakeknya kemudian. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. saking ringannya . ”Jadi apa maumu sekarang. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. engkau harus minta maaf kepadanya. ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan. Lebih aman di sana. kakek! Besok baru kita tanyai. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut. kakek!” rengek sang cucu manja. ”Ah.” usul cucunya itu. apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. meringkuk miring dan juga mendengkur. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat. ”Baik.444 BAGIAN 8. kakek! Pemuda ini.” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. mungkin belum muncul saja aksinya. ”Jangan terlalu curiga. ”Iya.” jawabnya. kalau engkau yang salah. Dara itu mengangguk. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya. baik. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu. Pelaut Ompong.” ucap gadis itu.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

Wajah. Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Pelaut Ompong. . ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. Serangan kasar dan membabi-buta. adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya.456 BAGIAN 8. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Suatu alasan yang picik. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain. Kaku dan keras. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. dada. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu.

Sedih.!! Ayo lawan. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu.” ”Aku ini sudah bertunangan. ”Wassa.. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan . Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya. akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain. Wassa hanya tersenyum malu. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani.. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak..” ”Aku ’kan menumpang di sana.. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya. Ia pun terduduk lelah. Wassa. ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia.. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga. ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat.” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu. Ia kemudian lanjut berkata. mencoba untuk membantu. Bukan begitu?” tanya Telaga balik.457 ”Telaga. kita sudahkan saja hal ini. Terengah-engah sekali tampaknya. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. jangan engkau menghindar.” ucap Telaga perlahan... Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku.” jelas Telaga. Dan termenung.. Tak ada gunanya.. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya. Lelah sudah pemuda itu.. terus. Lalu katanya. Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya.

Nanti kuceritakan.. Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu. Telaga menganggguk. Telaga. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir. menyisir lembut daun-daun nyiur. Angin pun berhembus perlahan. *** . Nanti malam kita bertemu lagi di sini. baiknya kita latihan diam-diam.. untuk suatu kejutan. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis. Wassa mengangguk setuju. ”Ini semua hanya salah paham. lalu katanya. Dengan ini kita jadi bersahabat. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. Aku rasa. aku juga tertarik dengan tempat ini. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. Menuju desa Tepi Darat Selatan. ”Di samping itu. mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain.? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. Bagaimana?” usul Telaga. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu.458 BAGIAN 8. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu. Seorang berilmu dan juga ramah.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat.” katanya sambil mengedarkan pandangan. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling.

”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India). Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. yaitu Gopala dan Hemachandra. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu.” cerita Mayayo. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. ”Perhatikan bahwa suatu bilangan. ”Belum.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.” ucap Telaga penuh ingin tahu.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan.” ucap Wassa memberi . setelah bilangan ketiga. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini. ”Masih belum mengerti. O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti.” jawab Telaga singkat.” ”Menarik. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. selebihnya aku tidak hapal.” ucap Wassa. yang dinamakan deret Fibonacci. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang.

Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. ”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- . MENARI BERSAMA AIR ”Iya. kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung.. ”Menarik!” ucapnya kemudian. ”Di balik itu. membuatnya benar-benar tertarik.460 petunjuk. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci.” jawab Wassa. Hening sejenak. ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar. Pelaut Ompong.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan. Coba tanyakan kepadanya. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. BAGIAN 8. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. CMLXXXVII. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu. Rahasia. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. Lalu terdengar Telaga bertanya. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa..

.. Waktu aku seumurmu juga demikian.” ”Jika memang kitab itu tidak ada.461 makaman kuno tersebut. ”Hahaha... Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak. .. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi.. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali. ”Orang yang menceritakan berita itu. ”Kami tidak berhasil menemukannya. itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan.” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu.” jawab Telaga jujur. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi. berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya.” berkata Pelaut Ompong arif. ”Saya dengar dari Wassa. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa.” jawab Pelaut Ompong. ”benar-benar lupa aku. ”Bahkan.. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka. Jadi. hmmm. ”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. tunggu dulu. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat.

karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut. Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. rumah di mana ia menumpang tinggal. Secara reflek ia tersentak dan berdiri.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Jangan beritahu siapa-siapa. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana.462 BAGIAN 8. Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. *** Malamnya. Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Telaga beristirahat lebih cepat. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. . Sejenak dirasakannya suatu keanehan.

Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya. *** Malam baru menjelang tiba. Angin masih berhembus lembut di kejauhan. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. kek. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. ”Itu Telaga. ”Enggak ada apa-apa. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya. di atas bukit. Tumben. Telaga minta diri untuk beristirahat.” jawab . Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. *** Dalam beberapa hari itu. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. Saat untuk pergi ke bukit. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. Mayiya. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong. Malampun semakin larut. kok masih hari ini sudah minta diri.

” tebak Mayiya. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan. ”Kalau begitu. Mayiya. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan. Arah di mana suatu bukit berada. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. mungkin juga. kita istirahat juga saja. Langit benarbenar gelap.” ”Iya. Akhirnya ia berada di luar rumah.464 sang kakek. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri.” jawab cucunya. membuat malam itu gelap dan lengang. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya. Malam tanpa bulan. *** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. Setelah hampir-hampir tertidur. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Telaga pun beranjak menuju suatu arah. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu. BAGIAN 8. . Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. kek.” jawab kakeknya. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. ”Ah.

Setelah berjalan beberapa saat.. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa.. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. Setelah rasa terkejutnya pulih. Berdebar-debar jantung Telaga. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam. Sebelum ia sempat menyalakan obornya. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. meraba-raba sana-sini. Perlahan. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak. Jika tidak. Bukit ada di sana. Setelah yakin. ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. ”Jangan nyalakan api. Pemakaman kuno di atas bukit . Hening. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam.465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. ia pun mengambil arah berlawanan. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. Ia sudah hampir berada di sana. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur.

Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. Satu. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. Sekarang ia telah berada di sana. Sendiri. dua. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. Suasana tampak lengang. tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. membuatnya sedikit tidak tenang. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Di tengah-tengah pemakaman kuno. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. Sunyi. mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. merapalkan Tenaga Air. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan .466 BAGIAN 8. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan. Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Sepi. Sedikit gelisah ia menunggu. Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. Setelah ia merasa sedikit nyaman. Suasana yang terlalu sepi. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian.

Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. kali ini dari arah kirinya. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. Berkali-kali. dingin. dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh. ”Maaf. Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya.” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana. Dan kembali berlaku hal yang sama. Menyambar dengan lembut. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. Sunyi. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. Hening tak ada jawaban. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula. Belum belasan langkah ia melangkah. kali ini dengan dada agak berdebar-debar. Se- . kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. Kembali hening. sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah.

itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu. mengambang sebuah kain lusuh terlipat. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu.468 BAGIAN 8. menghindar karena menyangka dirinya diserang. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini.. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi. Ia menggapai kain lusuh tersebut. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya.. . Ia tidak begitu ingat.. di udara. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi. Kita akan bersua lagi nanti. Suara yang sama. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan. mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk.. menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu.. ”Desa Terapung. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. pelan.” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik. Hari pun sudah mulai mendekati fajar. Mengirimkannya hampir tanpa suara.” suatu suara lirih terdengar samar-samar. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Ya. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya. tapi jelas. Dan di depannya.

Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Kaku masih. Semuanya serba kayu. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Jalan yang juga terbuat dari kayu. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. tidak seperti saat ia pertama kali sadar.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. Desa Terapung. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat. Laut. sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Sekarang tampak di depannya. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. Terasa benar lemasnya. Terkagum-kagum . Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Tak berbunyi. Membentang di hadapannya tampak air. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya.

Di sana. MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut. di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan.470 BAGIAN 8. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. Kurang dari sepeminum teh. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. peti itu telah hilang dari pandangan . Kadang ke atas kadang ke bawah. membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul.

Benar-benar tak ada suara yang terucap. Tak ada kata-kata yang terucap. ikan paus dan sebagainya. laut adalah satu-satunya solusi. gambar-gambar dan juga ukiran. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. Ya. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. gurita raksasa. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. Balai desa dari Desa Terapung. Untuk itu. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata.471 mata. kapal. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. Tinggal beberapa orang di antara mereka. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Orang yang mati telah dikuburkan. mengapa sedari ia datang. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Lalu seorang dari mereka. yang kelihatannya dituakan. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . mulai bertanya-tanya. Ada ikan. ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. hanya dengan sang gadis ia berbicara. Bila sudah tentu tidak dibakar. tampak beragam hiasan menempel. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Dari luar terlihat biasa. Pemuda itu. orang yang diselamatkan dari amukan badai. Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. termasuk si pemuda.

”Saya bernama Mayayo. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Ia mengangguk dan berangsur bangkit. ia kemudian mulai membuka percakapan. ”Siapa namamu?” tanyanya ramah. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. Bila tidak ada orang baru. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya. orang yang sudah terlihat cukup tua. Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing.” jawabnya. kebiasaan ini pun tetap dilakukan. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara.” jawab gadis itu. dengan pendengar orang-orang sendiri. ”Saya Akanamia. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. Orang yang ditunjuk mengerti. Gadis tersebut tersenyum padanya. Lalu seorang dari mereka. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. dan menempatkan dirinya di samping pemuda. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini.472 BAGIAN 8.

Setelah cerita itu selesai. . Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut. Kakeknya. Dua orang menghampiri Mayayo.473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. Pelaut Ompong. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. mereka memiliki kelebihan. yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. Orang-orang pun berbubaran. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. berikut pula perahunya. Selain itu terdapat pula. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua. pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. Tapi di luar kekurangan mereka itu.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

Mayayo. telah tiba kembali . Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. Pelaut Ompong tak ada di tempat. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. Bila suatu saat mereka mendapat giliran. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini.” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. orang-orang pun mulai berpamitan. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa. setelah terlebih dahulu membersihkannya.485 dua orang ini.

Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Ia kagum akan sikap pemuda itu. . Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya. terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. bercerita pulalah ia. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu. Mayayo. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan.486 BAGIAN 8. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. MENARI BERSAMA AIR di rumah. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu.

Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. ”Engkau ada ide. Ya. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. Sebuah danau yang luas dan indah. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini. Pulau yang menjadi tujuan mereka. yaitu berenang. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka. Orang tua.” usulnya kemudian. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. . ”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan. Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. minta diri.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang. Mungkin. Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. Terpikir hanya satu jalan. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. yang hanya mengangguk mengiyakan.

Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya.. dan itu matahari sudah mulai hilang. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan. Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut. kami bantu menyeberang. sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu.” . pikir Walinggih.” ucap Walinggih. dan saat ini adalah kesempatan kami. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. Berjalan agak cepat... ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong.. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua.. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu. ”Baiklah kalau begitu. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap.” ucap Walinggih ramah. ”Cape paman. jadi anda berdua ini. Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. Kami ingin sekali membantu mereka kembali. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini. dan makin lama makin cepat. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu. ”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka..488 BAGIAN 8. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut.” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat.. ”Ah.” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.

Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. *** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Suatu perangkap satu arah. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi.

Atau jika kalian ingin dijemput.. ”Betul. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru.490 BAGIAN 8.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya. di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya. Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti. . walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. Lalu kata seorang dari mereka. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. paman! Saya tidak melihatnya tadi. paman.. Ya.” ucap gadis itu. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian. ”Mungkin ke sana.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. bagaimana tidak. ”Nah. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura. Untung tidak terlalu lama. Setelah mengucapkan terima kasih. kita sudah di sini. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. jika tidak.

Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”. Agak terletak di sebelah dalam. Di sana berdiri sebuah saung. Setelah lama mencari-cari. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. ”Paman.” jawab Walinggih mengiyakan.” Tak ada kata-kata lain. kondisinya pun tak terurus.” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati. Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. . terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. Pikirannya melayang ke mana-mana. mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi.

Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini.” ucap Walinggih perlahan. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam.” ucap Walinggih. Keduanya pun segera beranjak ke sana. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya.492 BAGIAN 8. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap. dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah. Siapapun orang itu. ”Hati-hati. ”Benar. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu. . tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. maka guanya berada tak jauh dari ini. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu.

di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi.. ”Ini... ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya.493 Perlahan kedua orang itu. Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya. ”pada saat-saat itu kebetulan . ”Ya. Ki dan Nyi Sura. Walinggih dan Sarini.” jelas orang itu. Dua buah manusia yang telah membeku. kami mencari mereka.. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. Lalu lanjutnya. ”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka. Tak berani menganggu.” ucapnya perlahan. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih. tampak samar-samar wajah seorang manusia. seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. Hening sejenak meliputi suasana di sana. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu.” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. ”Aku adalah sahabat mereka... keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu. yang ternyata adalah es. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan.

Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka. yang mengaku bernama Rancana.” jawab Rancana pendek. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian. ”Tidak tahu. kalian membawa kabar baik. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali. Dengan membekukan mereka. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut. Lalu katanya.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu.” . ”Ah. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri. Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman. Lalu setelah ditanya. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima. Tak tahu harus berbuat apa. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai. ”Tidak juga.494 BAGIAN 8. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. jika saja mereka dapat mendengarnya.” ucapnya pelan. MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam.

Rancana hanya mengangguk. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. larut dalam pikirannya masing-masing. Lantang. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga. ”Pesanku. ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura.495 Keduanya kemudian terdiam. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya.. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku. Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih. julukan yang dulu dimiliki Walinggih. Sudah bola matanya. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya.. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka.” ucap Rancana. ”tolong katakan pada muridku. menjadi patung es. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. Julukan yang telah lama ditinggalkan . Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. seperti lidah dan rongga mulut. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya. rambutnya dan juga kulitnya. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu. Dugaan Walinggih benar adanya.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura.

Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. Jika saja Ki Tapa masih hidup. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. Lantang. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. BAGIAN 8. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka.496 dengan sifat-sifat jeleknya. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini. sempai bertemu dengan Hitam-Putih. Jurus yang . MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. Rancana pun memaksa untuk menolong. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna.

Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Sia-sia. Ia . Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. Walinggih. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu.” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. Perlu waktu memang. air atau angin. Walaupun ilmu kami berbeda.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. ”Jika belum bisa menerapkan. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. Arasan. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan.497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. disiramai dan akhirnya berbuah. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya. Mirip seperti pohon yang dirawat. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. Sehabis serangan lewat. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan. Entah apa hubungan antara keduanya. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya.

Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. membentuk posisi segitiga. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. memutar. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya. MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini. beberapa batu tampak berderak-derak. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping. Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. tetapi masih lengket pada tempatnya. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan. Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus. ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.” perintah gurunya itu kemudian. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang. Sarini mengangguk.” ucap gurunya. Ki dan Nyi Sura serta Rancana. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. Tak lupa disirami . dengan tanah dan rumput-rumputan. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut.498 BAGIAN 8.

Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai. Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. Keduanya tidak banyak bertanya. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. ”Kita tidak berpisah selamanya. latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. sudah tentu . ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut. Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana. menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. *** ”Akanamia. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua. ada waktu berpisah.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana.

paman! Ingin menimba ilmu di kapal. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Postur . calon iparnya. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. ”Benar. ”Menari Bersama Air. *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya.” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya. lho! Beda di dengan di darat.” ucap anak muda itu meyakinkan. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya. paman. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. kakek. ”Tidak mudah. Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama. ”Baik. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi. ”Saya akan coba. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa.” jawab anak muda itu cepat.500 BAGIAN 8.” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut. disetujuilan usulan itu. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu. Akan kuturuti kata-katamu.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi.

Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Lalu mereka berdua pun berpisah. Tlatah Matahari Terbit. bapak dan kedua anaknya. ”Baik. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras.501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . begitu kata orangorang. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian. Tanah seberang. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah. Dilihat dari tongkrongan mereka. hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya.

Dengan keempat rekan pemuda itu. tapi dapat saling mengerti dengan baik. bertubuh besar dan subur itu.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat.” jawab orang yang ditanya. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu.” jawabnya ramah. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. ”bila cuaca buruk dan ada perompak. ”Aku Gentong. apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. Telaga yang tidak sengaja menguping. entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya.502 BAGIAN 8. ”Hai. Juga bahasa yang mereka gunakan.” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi. mungkin malah lebih lama. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini. Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. ”Empat sampai lima minggu. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya. ”Teman-teman yang menarik. . aku Telaga. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya.” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat. ”Yang pertama itu bekerja di laut. yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan.

Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. akan aku camkan itu. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. Keluarga yang terdiri dari ayah. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung. sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang.” ”Ya. . Ki Tapa. ”Telaga.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. Misun nama orang itu. Suatu yang aneh menurut pemuda itu. Begitulah kehidupan berjalan. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. Ya. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya. ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya. Setelah ia pergi. Tidak menggurui. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. ”Jangan terlalu banyak bercerita. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong.

MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang.504 BAGIAN 8. Dan angin pun bertambah kencang bertiup. di kejauhan dekat horison. Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal. Para anak buah kapal. *** . termasuk Telaga pun bersiap. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka.

” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu. itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. ”Tidak apa-apa guru.” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar.” jawab pemuda itu rendah hati.” ucap orang tua itu kemudian. Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu. Jadi bagi saya. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi.Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah. ”Oh. ”Aku suka sikapmu.. belum bisa saya menilai. menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang.. buku yang baik atau tidak. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya. Isinya macammacam. Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 .. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan. saya ’kan belum punya banyak pengalaman. tapi itu bukan suatu buku yang bagus.

Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya.506 BAGIAN 9. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. hari itu adalah hari Kamis. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. Banyak tempat duduk yang belum terisi. Cukup panas menurut kulitku. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. . Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya. dua hari yang biasa-biasa saja. ”Lu. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Atau mungkin manja? Entahlah. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Saat itu kereta cukup sepi. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Hari Pertama Seingatku. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas.

Lalu. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. Aqua. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya. lima ratus!” katanya. Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. ”Terima kasih!” kata sang orang tua. ”Aqua. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. lima ratus. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. Tak lama setelah itu. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. dan lanjutnya. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. dan mulai kuamati dirinya. Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut. jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. ”Jeruk seribu. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut.

”Bapak tinggal sendiri.508 BAGIAN 9. Nggak perlu ngamen. ”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. Di kampungnya. ”Nggak ada sodara. ”Satu seribu?” tanyanya antusias. di kantong ada.” katanya dengan suara yang kurang jelas. Begini-begini kerja dibayar orang. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya. suami enak-enakan nggak kerja. ”Rejeki itu dari Tuhan. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam. Setelah mengeluarkan dompetnya. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen. Mampang. Nggak ada istri. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. seribu. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah.” katanya. Kalau duit sih cukup. dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. ”Ya. kalo mau kerja pasti dapat. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya.” ”Tapi bapak masih kerja. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. Nggak ngamen. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Dua setengah kali lebih mahal. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” . Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke.

Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. Uang bukanlah tujuan akhir. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. Pak!” Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang di sekelilingnya. Dan kemudian terkantukkantuklah aku dan akhirnya tertidur. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri. pamitlah aku padanya. walaupun mungkin secara sederhana saja. sang orang tua. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. ”Mari pak!” kataku sambil tersenyum. Bersyukurlah diriku. Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. Sesaat sebelum turun. dan dibangunkanlah aku oleh dirinya. . Entahlah. ”Terima kasih. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Pak!” Lalu kami terdiam. Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. Proses mencari uang juga dipikirkannya. masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. seorang tua dalam hari kedua. Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. akan tetapi terbersit suatu hal. Hari Kedua Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. Sayangnya. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. Amin. Ternyata di hati seorang tua. ”Bagus. menurutnya. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya.

Das was letztes Jahr. Gemse. Deshalb a ich alles (Salat. Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und Zweitenstraen gekauft.510 BAGIAN 9. Ein Problem hatte ich und ich konnte dafr keine Lsung finden. Aber heute habe ich kein Geld. da man immer wieder schreiben soll.. weiter zu screiben. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. ”Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut.. Brot und Kartoffeln. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU **Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22 ”Hmm. biasa saja. aber main Vater a nur Fleisch und Fisch.” gumam pemuda itu. Fleisch und Fisch). Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst. Banyak kata-kata yang tak kumengerti. Schon lange hat es nicht geregnet. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen. Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03 Ein Schriftsteller werden mchten Ein heier Tag war es. Das has mich den Mut gegeben. misalnya saja ’komuter’. aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben. Deshalb muss ich viel Geld sparen. Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt. Aber heute ee ich lieber Suppe. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. Danach habe ich diese . Das ist mein Traum. Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und mchte es noch immer.” Ein kleines Restaurant Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. Manchmal ee ich Fisch und Fleisch. Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen. obwohl man viele Fehler macht. Meine Mutter a gern Salat und Gemse. Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert. um ein kleines Restaurant zu machen.

denn die Mlleimer sind schwer zu finden. Akan tetapi hal itulah yang dapat dikatakan. Finden Sie auch? **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-10-06 Tiga kisah pendek dengan cepat dibaca pemuda itu. Bertepuk Sebelah Tangan ”Terinsipirasi dengan Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto :p . di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Ich habe schon den Name des Schriftstellers von dem Buch vergessen. um auf den nchsten Zug zu warten.511 Geschichte geschrieben. Ich bin zu mde. Lalu ia pun membaca lanjut. Banyak contoh mengenai hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan? . Pasrah diri secara total” Cinta adalah masalah yang memusingkan. Gestern haben wir mit dem Lehrer ber dem Mll in dem Deutschunterricht diskutiert. finde ich. Cepat karena ia tidak mengerti bahasa yang dituliskan. Es ist hei und feucht. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. aber an seinem Rat erinnere ich mich noch immer. Boleh setuju boleh juga tidak. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27 Die Mlleimer werden schwer gefunden Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. Sie machen die Umgebung schmutzig. Ich denke. deshalb steige ich in diesen Zug ein.di mana dalam novel ini terdapat jurus Tepukan Satu Tangan yang merupakan pemahaman Eyang Sepuh terhadap Kitab Bumi. Aber sie haben nicht immer Schuld daran. tetapi i