Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

Katanya kemudian.” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama. selalu ingin tahu dan penasaran. Jika saudara beruntung. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. Tapi semua orang tahu. Mendengar ini ini. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu. karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana. Bantuannyalah yang berarti bagi kami. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini.12 BAGIAN 1. Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka. bahwa mereka memang harus menunggu. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar.” kata Asap dengan sejujurnya. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin . penghuni hutan dan gunung. Asap menjadi malu dan takhluk. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir. Hening dan sunyi. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu. melalui suatu cara tertentu.” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata. Keheningan itu tidak sia-sia. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya.” Kemudian lanjutnya. tak tega rasanya Ki Gisang. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah. Dan ia masih bertanya-tanya lagi.

” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik. ”Kalau menurut saya. ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda.. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir.. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya.. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan. Yunani. kamu benar sekali Gisang.. ”Benar.13 utama: utara. ”Begini Ki Tapa. Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri.” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung. sang pertapa tua sambil tersenyum. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita. selatan dan barat. ”Ki Tapa. dari pada keliru di kemudian hari.” .” jawab Ki Tapa.. ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini.. apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut. benar.” jawab Gisang dengan yakin.. maaf bila saya masih bertanya. sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu.” ucap Tampar.” sahut Ki Tapa dengan gembira. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang.. ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar.. lambang-lambang ini. Lebih baik sekarang bertanya. timur. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing.

walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga.14 BAGIAN 1. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus.” ucap Ki Gisang sambil menerawang. akan tetapi karena ada . Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit. Pikiran harus bersih. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya. ”Alasannya sudah tua sekali. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. ”Guruku. bahkan lebih tua dari umurku ini. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. kakek guruku dan guru dari kakek guruku. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. dapat diolah oleh mereka. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat. sehingga tanah di sana. Bertahun-tahun sejak itu. akan tetapi dari negeri seberang. Mereka tidak suka. Dari gurunya. sampai ia tiba di desa ini. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya. Bukan menjadi lahan pertanian. ”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya.” Ki Tapa terdiam sejenak. Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. Lanjutnya.

Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya. untuk mengairi ladang-ladang mereka. akan tetapi usul tersebut ditolak.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda. sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih. Ki Patuh. sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu. yang berasal dari tanah seberang. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut. . Dan terpilihlah guru dari kakek guruku. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit.” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. dan memberikan tanahnya kepada mereka. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. Ia melihat ketidak-adilan tersebut. agar penghuni desa yang tandus itu pindah.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya.

basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. Demikian pula dengan tanah. Jurus Tanah dan Jurus Air. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. selatan. utara dan barat. dingin. Ki Duo. timur. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. Ki Tilu dan Ki Uu. kedua. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. Misalnya Jurus Udara.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. yang berarti pertama. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. . apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara. ”akan tetapi Ki Tapa. adanya racun dalam udara. Pemaknaan keempat elemen (udara. kering. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles. Akant terjadi hujan. Kakek guruku adalah Ki Tilu. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua. ketiga dan keempat. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal. Jurus Api.16 BAGIAN 1. api. menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin.

dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan. Dengan cara ini.” ”Akan tetapi. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa. bahan-bahan apa yang kurang. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan.” Lalu lanjut Ki Tapa. dengan mereka di belakangnya menda- . maka kehidupan mulai kembali berjalan. untuk mempelajarinya. ”Nah. Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah.” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya. agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran.” lanjut Ki Tapa.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. orang dapat mencari-cari sumber air. bahkan di daerah yang kering sekalipun. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa.

Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut. hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda. ”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. ”Memang benar. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu. tanpa pengetahuan ilmu bela diri. Kemudian lanjutnya. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin.” sahut Ki Tapa. Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. sambil sesekali menghela napas.” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan. kata Ki Tapa sebelumnya.” Terdiam sebentar Ki Patuh.” ”Tapi. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. sehingga . ”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri.18 BAGIAN 1.

kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut.” bertanya Tampar kemudian.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah. Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa.” sahut Ki Tapa gembira.. walaupun suatu ilmu dimilikinya. sudah ditolong. karena ia kebetulan memang penunggu makam. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah. Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan.” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia.” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya. Berbulan-bulan di dalam tanah. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun . Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini. ”Pertanyaan yang baik sekali. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu.. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut. jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati.” ”Jika hampir semuanya meninggal. Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan.

melainkan hanya guruku. selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan. Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur. yang boleh melakukannya. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. Dan ia tidak ingin. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas.” ”Saat itu sudah lewat petang. biar semua selesai. dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu. mirip posisi pusat dan empat mata angin. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding. Benar-benar cerita yang sukar dipercaya. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam. Dengan tak terlalu tulus. Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. Ki Makam orang menyebutnya. ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi. hiduplah ia. dan hampir gelap. Ki Duwo di selatan. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat.20 BAGIAN 1. Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam. . orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya.” lanjut Ki Tapa. sang penjaga makam. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. Lebih baik dikerjakan hari ini.

jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut. tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin. dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar. sehingga paru-parunya keracunan. hampir saja copot jantungnya. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk . Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. meninggallah Ki Tilu. yang didominasi oleh Tenaga Tanah. walau hanya untuk beberapa jam. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula.” Hening sejenak. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut. Ki Tilu mencegahnya. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. Setelah memperoleh penjelasan. Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. terharulah Ki Makam. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya. ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. Ini yang membahayakan. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru. tanpa terasa mulut mereka menganga.

”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan. Saat Ki Gisang hendak melanjutkan.” tambah Ki Gisang. maka kami akan datang waktu subuh. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api.” jelas Ki Gisang. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya. Sebagai contoh bila kami yang bermasalah. termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa.22 BAGIAN 1. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor. Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar. .” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu. untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti. maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung. Saat itu matahari sudah mulai turun.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya.” kata Ki Tampar menjelaskan.

memiliki kecerdikan yang sangat. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Karena alasan yang dipikir jelas itu. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. Jika kakang terus yang bicara. lelah nanti pasti.23 ”Kita masih punya banyak waktu. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. ia belum berani mencarinya. agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi. agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan.” jelas Ki Gisang. ”baiknya aku saja yang cerita kakang. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya. Sesuai dengan pesan Ki Tilu. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di . Suatu pukulan yang amat jahat. Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu. yaitu Ki Jagad Hitam. akan tetapi salah seorang dari luar.

Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. mungkin mereka dapat terluka dalam.” kata Ki Makam sambil terkejut. walaupun baru tingkat dasar.24 BAGIAN 1. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini. Ngaco kamu!” ”Maaf. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu. dengan tak sengaja.. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup. ”Makam. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya. akan tetapi rusak isi perutnya. Api. jantung. paru-paru. maaf. hati. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan . Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya. pada suatu latihan.. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah. Api. Tanah dan Air dilakukan. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya. sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. Gajah Duduk. kakak Gajah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. masih disimpannya di dalam hati. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan.

keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh. Dengan semakin . yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. tetapi hal itu tidak dilakukannya. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. dibatasi hanya enambelas orang. ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. Tanah dan Air. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. empat orang satu unsur. Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam.25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. maka posisi tersebut dimilikinya. Dengan pengetahuan ini. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. yang juga guru pertamanya. sedangkan lingkaran dalam. Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. yaitu Penjaga Udara. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. aman di tengah-tengah. Api. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam.

Mendengar ini. tanpa melakukan telaah lebih dulu. luka-luka dan sakit. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. akan tetapi dalam suasana persahabatan. dan ini membuatnya tidak terima. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua. Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. Dari mutu ilmu kanuragannya. dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya. akan tetapi di luar arena. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin. Penjuru Angin. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. melabrak murid- . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin. Memang benar dikatakan orang. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin. yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. hanya dua puluh murid tingkat satu. sang guru. Walaupun dengan tingkatannya. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan.26 BAGIAN 1. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. dan juga sang guru. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. akan semakin sulit tugasnya. bahkan menambah rasa malu mereka. Memang pada dasarnya darah muda. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka.

Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. Menjadikan mereka bulan-bulanan. hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda. . Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana.27 murid Perguruan Atas Angin. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. Tak lama setelah rombongan berangkat. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. yaitu Petapa Seberang. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. telah siap untuk berangkat. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. terdapat pula tiga buah kitab lainnya. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam. menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya.

yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. apa yang bisa disimpulkan di sana. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. Dengan dalih ingin segera menolong. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu. melainkan ke timur. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan.28 BAGIAN 1.” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara. Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda. tanpa kehilangan napas. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana. di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. melainkan hanya menggesernya. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh. ”Di masing-masing sisi lubang ini.

”Hmm. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. walaupun tidak sejauh hari ini. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna.” ”Di sini ada tulisan guru. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. bahkan prasasti itu sering digeser-geser. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam.” duga seorang dari Lingkaran Dalam. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. berada di bawah kakinya sendiri. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi.” ucap yang lain.” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti.” geramnya. ”Dia harus di cari guru.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu. di sini tertulis empat kitab. ilmu meringankan tubuh.29 but.” kata Ki Jagad Hitam. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut. ”Makam si penghianat. betul juga. yang telah . sama sekali tidak ada jejaknya. ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap. ”Maaf guru. ”Betul guru!” sahut lainnya.

Ki Jagad Hitam. melalui pengamatan auranya. Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. dan bergegas menangkap Ki Tapa. Walaupun telah tua renta. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. Seperti telah diceritakan sebelumnya. Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. setelah . Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. Sontak saja mereka kaget. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu.30 BAGIAN 1. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui. Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin. lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Setelah ia merasa tiba waktunya. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya. Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja.

Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini. di hadapan mereka. Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung.31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. Ki Tapa. dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka. rendah dan cepat lambat. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran. akan tetapi dengan nada yang berbeda. Ki Tapa. ”Ya. tampaklah seorang tua.” kata Ki Gisang. ”Ia datang. . Tampar. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu. ”Wah ramai sekali di sini.” sahut Ki Gisang.” sahut Asap hormat. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. berlakulah hormat. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya. Ki Tapa. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling. Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung.” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa.” katanya riang. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya. Para anggota rombongan pun bergegas bangun. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini. ”saudara Asap pemimpin rombongan. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap. ”Saya. ”dan siapa orang-orang ini.” sambut Ki Tampar.

” ”Pilihan yang bagus. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara. Gisang. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas. aku ingin bicara sebentar. ”Sudahlah. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki. barulah pergi. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing. Saat ia mengambil obat tersebut. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan.” gapainya pada kedua orang tersebut.” sahutnya kurang senang. saya juga setuju. orang-orang Perguruan Atas Angin.” ”Hmm.” katanya. Telebih tampak pada wajah si sakit. Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain.” jelas Asap. Obat berhasil diperoleh.” ”Baik Ki.” ”Terima kasih Ki. ”jika sudah sembuh benar. ”Tampar.” sahut Ki Tampar. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun. Ki Gisang menggangguk pula. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja. yang ahli obat-obatan. berkatalah Ki Tapa. Mereka telah lama . digigitlah tangannya.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur.32 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa. tanpa berbicara. ini sudah kubuatkan obatnya.” sahut Asap mewakili teman-temannya. ”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang. untung aku membawa kedua penawar tersebut. ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu. bener-benar banyak ucap.

Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu. selain sebagai penghubung. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh.” kata Ki Tapa kembali. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang. dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan.” jawab Asap dengan hormat. Ki Gisang bertanya kepada Asap. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau. dan bagaimana . Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali.” sahut mereka hampir berbarengan.” ”Benar Ki Gisang. Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau. harus mencari obatnya di sini. ”Baiklah kalau kalian setuju.” katanya. bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh.” ”Baik Ki. saat si sakit sedang dalam pengobatan. Mintalah obat kepadanya.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan. ”Saudara Asap. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. ”Sebenarnya. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa. pada suatu ketika.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni. ”ini pun menurut dia.” jelas Asap.” lanjut orang itu.

*** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa. ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Lalu lanjut Ki Tampar. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. Mungkin juga bukan apa-apa. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa.” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. Pun saat ditanya. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. Mereka lega karena Asap tidak berbohong. ceritakan hal tersebut. Seperti biasa . Dan malam pun semakin larut. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini. pikirnya. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya.34 BAGIAN 1.

juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. pedagang. Juru Dagang. Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. Jika dihubungkan. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya. Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. pedagang dan pengrajin. beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. Dan pagi itu.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya. karena harga-harga akan menjadi mahal. Umum- . terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. atau ahli dalam bidangnya. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. di Desa Luar Rimba Hijau itu. yaitu Juru Tani. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. dan pengrajin. Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. Juru Karya dan Juru Cipta.

Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini.36 BAGIAN 1.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. ”Benar usulnya itu. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. jangan sam- . Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa. seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa.” sambut Ki Rabat. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin. Akan tetapi hari itu. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. Ki Surya. kita paranin saja. Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya. Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. kita coba datangi saja mereka. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. sebelum mereka pergi ke luar dari desa. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. ”Sudah.

”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami. ”Selamat pagi. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan. ”Ah. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya.” ”Usul yang baik itu. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka.” jawab Ki Rabat. ”Selamat pagi. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah. para penduduk mengadakan perayaan.” tanya Ki Surya setengah menggoda. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya. Dan para pedangang itu tunduk. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan.” jawab Ki Murah tersenyum. semua.” sapa mereka hampir bersamaan. Ki Surya. Lalu tanyanya pada Juru Dagang. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian. . Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya.” kata Ki Surya. ”masih satu bulan lagi. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya. ”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya.” balas Ki Surya dengan ramah. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya.37 pai menimbulkan keributan.” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya. untuk itu belum Ki Surya.

Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah. perkebunan basah. Dan sebagai tanda kepercayaan. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Kemudian berlalulah Ki Surya. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. ”Baik Ki Surya. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu.38 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini. Akan tetapi untuk memastikan hal itu. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa. Suatu pagi yang cerah. ada perumahan. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah. beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau. yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. sampai akhirnya. perkebunan kering. Ia mengagumi sistem tatanan desa. parit- . dan juga sebagai petunjuk jalan.” jawab mereka serempak.

sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi. ”Jelasnya bagaimana. Hal lain terjadi. ”Begini nak Asap. paman Baja?” tanya Asap ingin tahu. karena toh tidak akan terjadi apa-apa. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. membuatnya kerasan. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. entah itu hasil keluaran tubuh. membuat sejenis . Jarang ada orang yang bertandang kemari. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran. Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini. Apalagi mereka tidak mempunyai anak. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. ”dahulu kala. karena letaknya yang jauh dari mana-mana. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung. istri Ki Baja. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut. Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini. dan adanya seorang muda seperti Asap. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif.

Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. Oleh karena saking gandrungnya. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung. karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. Dan bila tidak baik bagi ternak. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. para penghuni desa jarang jauh keluar desa. sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya. Akibatnya sudah tentu fatal. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. Variasi apa yang dihasilkan. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. akan tetapi pasti. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. Hamparan Hijau mulai berkembang. dan membuanngnya jauh di luar desa. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan.40 BAGIAN 1. dapat terbang bersama air dan angin. yang diperoleh dari luar desa. dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan. Sedikit demi sedikit. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. Karena adanya kesibukan baru. Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu. Jika dahulu kala. Harus dicuci bersih sebelum . sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan.

Dan sampah-sampah yang tadinya . dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. orang itu mengobati penduduk desa. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. suatu pintu air dapat dibuka. para penghuni Desa Ujung keracunan. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan. Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut. mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama.41 dimasak. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu. sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. Tinggal menunggu waktu untuk binasa. mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau. sampai hampir membinasan satu desa.

ia dengan senang hati akan menolongnya. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau. Begitu pesannya. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. telah terbuang banyak tenaganya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. Bila ia ada kesempatan untuk .” jawab Ki Baja. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut.42 BAGIAN 1. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa. ”Untuk itu ada baiknya. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Akan tetapi tidak tampak dari luar. saat terjadi peristiwa tersebut. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. dialihkan ke dalam hutan. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan. Akan tetapi dari kisah Ki Baja. Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana.

bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. demi kemanusiaan dan kedamaian. Orang-orang sipil. akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. diperkosa kebebasannya. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri. mencegah terjadinya perang kembali. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. rasa kebangsaanya. ditindas kemauannya. sudah merupakan anugrah yang me- . Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. Membunuh demi kemanusiaan. Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit. semua untuk kepentingan penguasa. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. Berperang. sudah dipastikan akan dilakukannya. dengan melayangnya nyawa. Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga. Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. Ironis bukan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. dirampas haknya. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur.

karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid. dengan masih ditemani oleh . entah keturunan keberapa. yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. karena ditegur dengan keras. Dalam keadaan luka parah dan depresi. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. Bahkan di kali terakhir. Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. dan sebagainya. Boro-boro menurut. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi. Pembesar menindas rakyat. akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu. yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. pejabat menindas bawahan. Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan. ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet.44 BAGIAN 1. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa.

Hanya pikiran yang dibutuhkan. untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . yang setia kepadanya. kaum pemberontak. jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh. Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu). Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. Selain dari pada itu. Seperti gerak melingkar. Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting.45 beberapa temannya. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. untuk murid yang telah ahli. membelokkan tenaga lawan. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. maka lain halnya dengan Petapa Seberang. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. Pada penggunaannya dalam pertempuran.

46 BAGIAN 1. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Menyerang. kekuatan dari cinta kasih. berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua.Seni Kedamaian. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. Dalam pencerahannya ini. Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. dan menjadi murid dari su- . secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya. Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. ilmu pengetahuan. Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan. saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang. dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. pengobatan dan kebaikan. memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido). Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain. Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang. dinamakan . Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal.

terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. yang dikenal sebagai Atap Langit. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. kepemimpinan. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. Petapa seberang memiliki satu kelemahan. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut. yaitu: keberanian. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. . Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. dari arah putar kanan dan putar kiri. Sejalan dengan berlalunya waktu. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. kedamaian dan ilmu pengetahuan. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. tantangan. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. pengorbanan. kebersamaan. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. mengalah tetapi tidak kalah. semuanya dicernanya dengan baik. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. Akan tetapi walaupun demikian.47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya.

Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. kesabaran dan ketenangan. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu. yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut. Master Tagasi. penyakit. ia merasa belum apaapa. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat. Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. perlahan mulai hilang ditelan waktu. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. Usahanya tidak sia-sia. yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. yang saat itu telah berjumlah lima orang. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang.48 BAGIAN 1. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. yang berarti Ilmu Muda Selamanya. juga dengan pengikut lainnya. dan bersama-sama mereka. yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul.

sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. Pergerakan Hawa. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara.” tanya Petapa Lain Pulau. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya. tapi menjadi kedamaian. Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. Nama ilmu ini sendiri. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar. yang merupakan permintaan terkhirnya. Gerakan Tubuh. Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. ”Kakang Gunung Es. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Pemusatan Pikiran. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es. . yaitu Cara Bernafas. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. Kateda. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga. Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Tujuh Rahasia. merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. Pengendalian Otot. Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil.

” jawab Petapa Gunung Es. lalu ujarnya. tapi pada bagian sebelumnya. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing.” imbuh Petapa Seberang. berdasarkan pemahaman lainnya. yang .” jawabnya dengan serius. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir.” sahut Petapa Seberang menambahkan. Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba.” ”Misalnya. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. ”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut.” ”Kalau aku lupa. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan. melainkan merenung dulu sebentar. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. berdiskusi dan bertapa. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak.50 BAGIAN 1. Sambil kadang salah seorang. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut. ”Bukan adik Seberang. ”sama sekali lain. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab. Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih.” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran.

” jawab Rintah. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki. *** ”Saudara Asap. lalu lanjutnya. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum.” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya. karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan.. ”aku tidak terganggu.” jelasnya sambil tersenyaum. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri .. ”Tidak.” Rintah dan Asap terlihat malu. Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu. tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Sang angin pun tersenyum.” jawab Asap dengan sopan. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau. ”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah. saya memang sedang mengaso. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar. di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri. maaf Ki Tampar. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut. tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. ”Oh. membuat saya keluar dan ingin menyapa. tidak.” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya..” ”Tak apa-apa.. Dan sang angin pun bertiup menjauh.

boleh. ”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik. Asap. Ada hal yang ingin disampaikan. agar mereka besok malam..52 BAGIAN 1. Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan. benar-benar menarik dan menegangkan ini. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap.” jawab Ki Tampar penuh rahasia. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar..” memberitahu Ki Tampar. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan.. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda.. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa.. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap. malam.” sahut Rintah dengan antusias. Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang. Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap.” ”Wah. biasanya begitu.” tanya Rintah malu-malu. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit.” jawab Ki Tampar. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu. Besok ”Eh. ”E.” sahut Ki Tampar.. Tak jauh . Ki Gisang dan Ki Tampar.” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau. maaf Ki Tampar. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau.

Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan. sedangkan bulan belum muncul. akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya. Mereka berdua. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. sebagai penghubung. akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Hari ini Ki Tapa. Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau. baik dari manusia atau alam. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua. dan bahkan juga di antara para kawula tua. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu. Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. dengan membaca tanda-tandanya. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti.

Setelah kedua orang itu tiba. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya.” usul Ki Gisang. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain. Atas permintaan Ki Tapa. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. ”sudah semua datang. kemudian lanjutnya.54 BAGIAN 1. Itu mereka datang!” Dan benar.” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. sejak lama ditunggu-tunggu.” jawab Jaka dengan hormat. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Ki Gisang. ”masih ada dua orang lagi. kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas. Rantih dan Misbaya. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. ”Jaka. ”lihat di ujung lapangan sebelah barat. ”Tak perlu. dan persetujuan para tetua desa. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- . Saat ini adalah saat yang kita. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa. Ki Tampar membuka pembicaraan.

”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba. yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini. Lalu ucapnya. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar. menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu. sehingga punggung mereka saling bersentuhan.” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini. Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba.” sambung Ki Gisang.” kata Ki Tampar. Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. Setelah para tetua berada dalam lingkaran. menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. ”Adapun. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar. melainkan ia malah berjalan berkeliling.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. membuatkan jalan masuk bagi mereka. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. Itu yang penting. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama .” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu. ”Para kawula muda desa sekalian. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya. Ki Surya kami persilakan. saat mereka masuk. Asap. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah.

”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa. Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran.” jawab Ki Tampar. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya.” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun.” jawab Paras Tampan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan .” kata Ki Tampar. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan.56 BAGIAN 1. Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat. ”Utarakan nak Paras Tampan.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu. ”Sebelum kita berangkat.

57 sang pujaan hati. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. menuju Rimba dan Gunung Hijau. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. sambil tetap berdiri. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada. Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut. untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. Saat yang tepat. . dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. menurut petunjuk dari portal dan lontar. Di sana di pelataran berbatu tersebut. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. Umumnya sisi bagian utara. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar. Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut. Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. jarang dipergunakan. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. yang mengarah ke Gunung Hijau. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal.

tampaklah langit kembali di atas kepala. bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa. Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil. Mereka akan berlatih di sana. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. Rimba pun mulai dimasuki. Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki. akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan. Perjalan yang tidak mudah. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas. Setelah itu menentukan arah. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. Kemudian setelah ketemu. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. jika sampai ia salah menafsirkan.58 BAGIAN 1. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini.

sesuatu yang pernah dilihatnya. merasa kakinya hampir habis. Dalam artian ini. Itulah Gunung Hijau. Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . Ki Tapa. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. terutama yang perempuan. maka bisa makna yang salah dapat diperoleh. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi. Setelah beberapa saat berjalan. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. berarti arah yang salah akan dipilih.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. di mana beberapa kawula muda. di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. Citra Wangi. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit. kekar dan dingin. sukar untuk dilupakan. terkesan kasar. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. Ia berusaha mengingat-ingat. melainkan bergerombol. Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. Tinggi. dari luar Rimba Hijau. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya.

Tapi mereka diam saja. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar. karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci. ”Masuklah.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan. Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau.60 BAGIAN 1. Rumah yang sederhana. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya. ”Akhirnya selesai. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. Tikus-tikus. ”Sebentar lagi makan malam selesai. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol. Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. Suasana pun hening. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua. berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. Makan malam. Bau sedap pun mengembang di udara. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira .” lanjutnya.” ucap orang itu. Ia membelakangi mereka. Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. Tidak banyak perabot di dalamnya. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut. masih membelakangi tamu-tamunya. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. di tengah malam? Benar-benar makan malam. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Kemudian ia berbalik. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas.

makanan tersebut mengenyangkan. Belum habis kekaguman mereka. Ternyata walaupun terlihat sedikit. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut. Cukup untuk tambah setiap orang. Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan. kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. hanya beberapa orang yang masih lapar. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana. Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum.” lanjutnya.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya. ia dengan lahap menyantap makanannya. tanpa ada sececerpun air yang tumpah. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. selebihnya merasa telah cukup. Termasuk di kepala meja. Tiada yang jatuh ke lantai. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. ”mari makan. yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. Entah apa kandungannya. Ialah Ki Tapa. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud. jangan malu-malu. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. Di panci masih banyak tersedia. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. . Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata. Semua pun makan tanpa bersuara. ”Mari-mari makan. tempat ia akan duduk nanti. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk. kasar dan bersih.61 dan berwajah ramah. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut.

terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. ”sampai kusuruh berhenti.” perintah Ki Tapa.” Mereka berdua mengiyakan. dengarkan alam sekitar kalian. wangi uap air di udara. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. Punggung bersentuhan. semilir angin di rambut. menuju lapangan di sekitarnya.62 BAGIAN 1. Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan. Dengarkan napas kalian.” ucap Ki Tapa. Gatal-gatal di pantat. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka. Pejamkan mata dan rasakan semua itu. ”Tapa dan Gisang. aliran darah. ”Setiap orang maju sepuluh langkah. Gunung Hijau adalah arah Utara. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang.” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok. denyut jantung. Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana. ”Jangan tidur. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. empat mata angin utama dan empat mata angin antara. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin. Masing-masing kelompok delapan orang.” . Katanya pelan seperti hembusan angin. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah.” perintahnya selanjutnya.

Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. Batu-batu serta Seribu Ramuan. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. *** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. agar dapat menemukan jalan pulang. Perut kurang ditarik ke dalam. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka. salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. Bahu tidak rileks. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. Angin-angin. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. merasakan alam sekitarnya. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. Telah terjadi banyak perubahan di sana. Punggung tidak tegak. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa. Misalnya saja. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Kepada tidak tegak. Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu. Dubur tidak diangkat.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu.64 BAGIAN 1. sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti. .

. dada. resah itu juga tiada gunanya. Pandang matanya kosong. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu. haha.. dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu.. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda. ninini.. hihi. didi.. kera-kera bermain di hutan. tulang bagus..... orang aneh itu pun berhenti. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya. 65 . ”Burung bersiul bersahut-sahutan.. sang anak masih duduk di sana.. buat apa resah.. Dengan masih tersenyum. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka. Buat apa susah. Anak tersebut tampak tak peduli..... sayang sedikit perasa.. trilili..” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh. postur tepat. hmm. susah itu tak ada gunanya.. bunga semerbak merekah. Ia masih saja duduk termangu. ”Bagus. Tralala.. matahari bersinar cerah. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah.. Nanana.” gumamnya.

paman. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran. bukan?” ”Hahaha. ngatain orang budeg.. kecil-kecil sudah budeg.” jawabnya dan lanjutnya. ngeri ah! Kabur. sekarang malah ketawa nggak ketulungan. saat tertawa. Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya. tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. Ia memang begitu.” jawab anak itu. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba. ”Wah. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu. ”Nama saya Lantang. ”engkau cerdik .” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. tidak bisa menahan air matanya.” jawabnya jenaka.. cah bagus.” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut. ”Nah tuh. ”Nggak ada hujan atau angin. ”kalau paman. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya. dan ia pun berkomentar. Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya. benar-benar. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya. wah kamu itu lucu bener.” jawab Rancana terkesan. Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini. ”Wah sayang. karena paman tertawa sambil menangis. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Lalu ucapnya.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi.66 BAGIAN 2. ”Namaku Rancana. ”tentu saja. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu. alih-alih marah.

”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung. api yang diatur dapat digunakan untuk memasak. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. membunuh atau perbuatan jahat lainnya. ia pun akhirnya berkata. ”tapi paman. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya. ”tidak paman. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat.” terangnya kemudian. dengan paman. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. ”saya benci ilmu silat. ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan.. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. ”Logika yang tidak tepat itu. mencetak emas dan lainnya.” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. ilmu silat. Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. misalnya memotong daging untuk dimasak.. Demikian pula dengan api. Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan. cah bagus. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” .67 sekali Lantang. Eh. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru.” Lanjutnya kemudian. ”tentu saja belajar kanuragan. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati. melunakkan logam. sehingga ucapnya..

cah bagus. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. ”Wah. Antara lain untuk menjaga kesehatan. maka tanyanya lebih jauh. si Bayangan Menangis Tertawa. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain. Sesaat. tidak pantang seorang lelaki menangis. ”Menangislah. dan bergulirlah air matanya jatuh. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi.68 BAGIAN 2. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah.” jelas Rancana. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis. Selain suara angin dan debu yang beterbangan. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. Rancana. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih. Melancarkan peredaran darah. Hening. mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. walaupun tanpa suara. ”Apa yang sebenarnya terjadi. Lantang mendadak terlihat murung. tiada suara lain di sekitar mereka. paman!” jawab Lantang jujur. melancarkan nafas. perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak mau terlihat lemah. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. Dan . saya belum pernah mendengar hal seperti itu. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis.

”He. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu. Orang-orang ahli silat. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap. *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang. Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda. Jagad Hitam. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini. Di sisi timur berdiri sembilang orang. sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya. karena mereka berada di daerahnya sendiri. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis. Sedikit lebih baik perasaannya.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya. menyerahlah.. Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan. Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya.” . Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama. bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya. tenanglah Lantang. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua. Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin.” teriak Naga Geni jumawa. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam.

Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang. kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama.70 BAGIAN 2.” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. Naga Geni merengsek maju. ”Hemm. mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. . Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu. dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu. daripada aku yang melakukannya. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. orang-orangmu juga hampir habis. Dengan dua buah kapak. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. dengan arah putaran yang berbeda. berkacalah. akan tetapi tidak yang kedua. ”Naga Geni.

Murid-muridnya. Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung.. perguruan diserang. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. Dan. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin. Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur. Toh. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam.. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya. ”Guru. Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. Mendadak terdengar suara.. Akibatnya sudah dapat diduga. ”capp. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Bertempuran pun kembali dimulai. mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya. sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri.” Mendengar berita itu.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping.71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju. Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. . itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. perguruannya.

”Sesukamulah. Semuanya hancur. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. bukan?” ”Boleh juga usulmu itu. Tapak Kelam. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api.72 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam. lebih baik engkau bunuh diri.” ujar Ki Jagad Hitam.” usul seorang dari Lingkaran Dalam. ”hahaha. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga.” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda..” kata Ki Jagad Hitam. Setelah beristirahat sebentar kemudian. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis. ”terlalu enak apabila dibunuh.” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. bagus Naga Geni. hanya setinggi lutut dari atas tanah. Ada yang mati hangus terbakar. yang membela keunggulan nama perguruannya. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam. Perguruan Atas Angin. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda. jika boleh dikatakan... Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. ”Hmm. tampak di mana-mana. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin. cikal bakal masalah.

harus me- . Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas. Tapi apa dayaku. paman. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan. Setelah puas menyiksa mereka. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya. ”Benar. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri.” Lantang pun terdiam. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung. Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. tentang bagaimana orang tuanya. paman. ”Jadi itu alasanmu. untuk meyakinkan. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja. Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin.73 sanakan niatan itu. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada. oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat.

Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda. jauh dari keramaian. akan tetapi ia tidak bisa. Lambang Perguruan Kapak Ganda. dari pada harus berseteru dengan orang lain. saya tidak suka kekerasan. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan.74 BAGIAN 2. ”Tapi paman. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah . salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu. Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya. Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Ada kotakkotak. Lantang tahu hal itu. Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya.” ”Begini saja. gulungan-gulungan kain. sayur mayur dan barang-barang lainnya. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. Ia memilih lebih baik menyendiri. ia hanya menjauh dan menghindar. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh. atau merupakan bawaan. Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas.

ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan. ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik. Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. marah dan tidak rela. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. karena percuma. Semakin segar mayat yang akan digunakan. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan. Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. Naga Geni. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. Bahkan tidak jarang. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin.75 menimpa perguruan mereka. semakin baik. Mengandung racun keji dan ganas. Mayat Pucat. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau. Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. Sabit Kematian dan Cermin Maut. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. ketakutan. Senjata andalan- . Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci.

” usul seorang. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi. ”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa. tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya.” tanya seorang dari mereka. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang. Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Pun tidak ada gunanya . Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua. Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Apabila dilihat dari wujudnya. Sudah banyak jago-jago muda. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh.76 BAGIAN 2. akan tetapi sudah disebar kemana-mana. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut. yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. terutama yang tampan. Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya.

77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara. di kaki Gunung Hijau..!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu.. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan. Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal. melainkan berganti-ganti. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya. melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan.!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak.!” ”Dua ratus tiga puluh delapan. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi..!” ”Tiga ratus sembilan belas. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan. Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada . ”Tiga ratus delapan belas.. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh. Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda. Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja.

sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. dialirkan. jika yakin masuk dan menang. Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. ”Dengan adanya kuda-kuda. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara. ditahan atau digentak-balikkan. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan.78 BAGIAN 2. Ini dikenal sebagai keras lawan keras. Akan tetapi hati-hati. PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang.” Lanjutnya. Apabila melangkah ke depan. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit. maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat.” jelas Ki Tapa. tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung. ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara. Yang kuat akan menang.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara. dan kita kehilangan kendali. saat itulah serangan akan masuk. tenaga sudah habis diberikan. Kita merugi. Tergantung apa yang hendak diperoleh. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini. Bisa dibelokkan. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. Untuk itu . Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. dengan jarak kirakira selebar bahu.

agar mereka saling membantu. yang melakukannya dengan beriringan. Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. Harus agak serong. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan.” ucap Paras Tampan terengah-engah. Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan. akan tetapi tidak melakukannya. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari. mereka kurang lancar. sahut Rantih. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. karena mereka bisa dengan mudah melihat. ”Wah Rintah. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan. keliru itu langkahmu. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan.!” ”Betul Rintah”. akan tetapi sulit untuk melakukannya. biasanya minta langsung untuk menirukan. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan.. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya.” kata Misbaya. Dan . masing-masing delapan orang. dan bahkan tidak mau. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka. adiknya. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan. ”Habis sudah napasku. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. Mereka yang termasuk dalam golongan ini.79 mereka dibagi dalam tiga kelompok. melengkapi dan mengingatkan.

Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan. kurang lebih sepeminum teh hijau. Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. Tak lama kemudian. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai. Asap. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi.80 BAGIAN 2. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. Di tengah padang rumput. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa. mereka jangan menekuk kakinya. Hanya sebagai catatan. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu. .” Benar. melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan.” begitu jelas Ki Tapa. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati. *** Waktu makan siang pun datang. untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. Sambil sesekali juga bercanda ria. ”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar. Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai.

Dan yang aneh tercium bau wewan- . Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. kadang terdapat sayuran. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. Sedangkan hari-hari selanjutnya. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. makanan pun dihadirkan di sana. oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. ikan. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. Mereka pernah juga membicarakannya. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. bukanlah perkara mudah.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa. Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. Makan siang yang sederhana. mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. ungkap Ki Tapa. Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau. Nasi dan ikan bakar. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar.

Dengan semakin berisinya kalian. akan semakin jelas apa yang tampak. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. lebih dari yang lain. Dalam acara makan bersama seperti itu. seperti halnya dalam latihan. Ia. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. ”Gentong. Untuk sementara waktu.” kata Kirani. Lalu jawabnya. ini bagianku. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di . Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. Kirani. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. Selalu tandas dan bersih. Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. siapapun dia. kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. apalagi di Gunung Hijau ini. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. satu orang sepersepuluh. Ki Tapa hanya tersenyum. Kekurangan setengahnya. Begitu pesannya. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang. simpanlah dulu pertanyaan itu. umumnya hanya makan setengah porsi. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. salah seorang kawula muda putri.82 BAGIAN 2. kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi.

ya ’kan?” jawab temannya kukuh.. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. Kemudian tanpa diperintah. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. Serbuk-serbuk bunga. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. halus. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. tapi tidak untuk tidak melihat. ”Sekali-kali bolehlah. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu. Lakukan sampai seribu tarikan nafas. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu..” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta. Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin.. Sontak mengagetkan kedua insan itu. Kembalikan ke dalam keranjang di sana. Coreng. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih. . ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. ”Moreng. Angin semilir.” kata Ki Tapa. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa. Semut-semut yang berjalan. tapi jelas. makan telah usai dan juga waktu istirahat. Tidak terlihat wujudnya. tapi terdengar suaranya. seakan-akan telah biasa. ”Baiklah. Setelah semua siap. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya.83 antara mereka saat makan. Kecil..

Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu.!” katanya tegas. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu. Coreng. Manusia Tiga Kaki. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia.” sahut Moreng. ”Berikan penjelasan. tak apa-apan. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. Sesampainya di depan Pondok Batu.. ”Tidakkah. ”Maaf Ki Tapa. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga .” jawab Coreng. akan tetapi tanpa senyum. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu. ”Iya. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah. Ki. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia.. Wajahnya masih terlihat ramah. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian. ”Iya.” terang Ki Tapa. kami hanya ingin melihat mereka berlatih. Dengan mengetahuinya. Dan paling besar berukuran sebesar gajah.. maafkan kami.” tambah Moreng. berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami. Ki Tapa pun berpikir sejenak.84 BAGIAN 2.” Tapi tanyanya kemudian. Moreng. lalu lanjutnya. Ki Tapa pun menghela nafas.” jawab Coreng. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil. ”Baiklah. ”Begini. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya. Ki Tapa. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya.

”Mengapa hal itu terjadi. aku tidak apa-apa. jangan tampakkan wujud kalian. bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu. maka tenagaku akan habis dan mati. Dan di saat itu. Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu.” jawab seorang di antara mereka. bolehlah kalian berkenalan. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang... Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- .85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati. Apabila dikatakan tidak terpengaruh. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang. Mungkin sudah hukum alam. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi).” jelas Ki Tapa. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala. aku tidak bisa menjelaskan. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. dapat berbahaya bagi manusia. Terserap. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri. ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan. yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo).?” tanya Coreng bingung. Sebelumnya. Bila mereka telah cukup kuat.” jawab Ki Tapa. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki.” ”Ihh. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi.. sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. ”Benar.

ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. Baik ukurannya. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. . Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan.86 BAGIAN 2. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. Hitam-Putih. dengan kesaktiannya yang tinggi. Hitam-Putih dapat menang. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. Dan hanya dari manusia. maupun sifatnya. tenaganya. pemimpin mereka. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya. Mawon Sanmdi. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. yang dulunya bernama Cipta Raga. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat.

Hanya sayangnya. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. Setelah beberapa mencoba. Misbaya. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya.87 Dan tidak hanya itu. apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya. ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya. Sebagai reaksinya. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka. waktu mengheningkan cipta usai. karena kaki mereka yang kesemutan.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. *** ”Cukup. Dengan senang hati. ”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. Rintah dan Asap. meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan.. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut. Periuk besi yang penuh berisi ramuan. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya. yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya. Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya.

selagi aku sendiri yang membuat ramuan. ”Ini disebut Langkah Ayam. periuk ini dibuat. ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya.88 BAGIAN 2. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya. lentur gerakannya akan tetapi mantap. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li . ”Jangan kuatir. untuk memasak sejenis masakan.” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. saat ia mengawal barang-barang hantaran. yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau. Ki Tapa pun berkata. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu. akan menghasilkan racun pada larutannya. tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. Pikir mereka. yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini. Dengan cara ini. Pertama ia mengejar keretakeretanya.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok).” lanjut Ki Tapa.” Mendengar bahwa periuk. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras. Selang tak berapa lama. Akan tetapi hati-hati. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja. kaki-kakinya menjadi kuat. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan. Beberapa dari mereka tampak kecut. ramuan yang tidak cocok. bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun. sampai menghampiri. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. Berulang-ulang diperagakannya. yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. begitu melihatnya. berkatalah Ki Tapa.” jelas Ki Tapa.

Akan tetapi percuma.. Sedih hatinya melihat muridnya. ”baik. Hanya beberapa orang nelayan dan . Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut.. Agar seperti Li Jeng. sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain. Kawasan yang sunyi dan sepi. Tidak bisa digunakan. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam. jalan darahnya tidak lancar. Moreng. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu. Tidak bisa dialirkan. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana. mungkin pikir mereka.. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam. ”Coreng.!” Terdengar jawaban lirih pula. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka.89 Jeng sedemikian tingginya. Ki Tapa pun tersenyum. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar. tolong Periuk Kerbaunya. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Ia baru saja memeriksa badan muridnya. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana. Sudah berulang kali ia mencoba.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara. Ki. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah. Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang.. dengan lirih ia berkata. Akan tetapi entah karena apa... Tidak banyak orang yang hidup di sana. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh.

” panggil Lantang perlahan. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. menghela napas panjanglah Rancana.90 BAGIAN 2. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. ”Guru. Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya.” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. Ditambah Rancana dan Lantang. Dan seperti guru ingat dulu. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru. ilmu silat yang engkau pelajari. ”Lantang. Toh. guru!” dan kemudian jelasnya. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. ”Janganlah terlalu bersedih. saat mengetahui bahwa tubuhnya. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh.. tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa. saya tidak akan menggunakannya.” ucap Rancana pada muridnya. gurunya. tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar. masih dengan nada yang sedih. hanya lima orang yang hidup di sana.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan. sudah tentu ia bisa mengetahuinya. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. ”Saya tahu. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa.. PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu.

” ucap Lantang..” ”Suka saya mendengarkannya. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. guru. Tidak akan mendatangkan banyak lawan. ”Baiklah kalau begitu.” ”Wah. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus. Terlihat Rancana berpikir sejenak.. Melainkan hanya untuk membela diri.” sahut Lantang patuh. guru. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan. . dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana. Apa mungkin ada orang yang selihai itu. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya. ”Pencipta ilmu ini. guru!” tanggap Lantang. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya. terdengar sangat menarik. Lalu katanya. ”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja.” jelas Rancana.” kata Rancana pada akhirnya. Lantang. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. Lantang!” perintah Rancana.. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar.” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya. Guru Tua Morehe Uwesiba. ”Cobalah engkau serang aku. Jadi dengan ilmu ini. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya.91 nya. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa. bila engkau berlatih dengan baik. ”Tapi.?” bantah Lantang. engkau akan dapat membela dirimu sendiri. di balik lautan. guru.” ”Baik.

” Lantang mengangguk-angguk. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. tanpa tipu-tipu.92 BAGIAN 2. Sederhana karena geraknya mudah.. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya. Rancana hanya tersenyum. dielakkan dan dimusnahkan. Bahkan dipukul balik. Rancana. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. guru?” jawab Lantang muridnya jujur. ”Tidak. mengapa serangannya itu tidak berhasil. ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan. memang serangan paling sederhana dan rumit.” jelas gurunya. Melihat kebingungan muridnya. membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari .” jelas gurunya. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama.. Bila tidak pada saat yang tepat. sehingga Lantang batal terjatuh. mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju. guru!” jawabnya mengiyakan. Rumit karena harus pada saat yang tepat. Ia baru dapat menerima beberapa bagian. Bagian lain masih gelap baginya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang. Pada saat yang tepat. sambil memutar tubuhnya. Dengan cantik dan lemas. akan tetapi dengan lebih lambat. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang. ”Serangan lurus ke depan. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. secara alami bisa setiap orang melakukannya. ”Baik.

Setelah tiga-empat telapak kaki. Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini. ”Cobalah!” ucap gurunya. saya tidak lagi terguling. Setelah mengerti. tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung. dapat mengenaiku.93 belakang. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. Belum sampai.” ucap Rancana. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. Bila tidak sampai. . ”Guru. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. Kesalahan yang sama terjadi lagi. apakah pukulanmu sampai apa tidak. Maju lagi. dengan kedudukan yang stabil.” Lantang pun mengangguk-angguk. Mendekatlah. Dengan demikian. ”Bagus. Lantang pun kembali terjatuh. Cobalah!” Lantang pun mencoba. baru memukul. Jangan lepaskan. ”Benar. Kali ini Rancana membiarkannya. Memajukan kakinya. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. Dan ia tidak lagi tersungkur. ”pada jarak segini. memang dengan cara ini. ia dapat tersungkur. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia. dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. tidak melebihi. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. Penasaran pada hal tersebut. Lantang.” jawab gurunya. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. ”Kamu benar. apalagi ditarik seperti tadi. engkau harus punya rasa. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. Belum sampai. Gurunya tidak bereaksi.

Rancana menghentikan latihan itu. akan tetapi tidak minta berhenti. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. Sudah waktunya beristirahat. ”Tidak apa-apa.” kata Rancana. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Tirukan aku!” perintah gurunya. Mengisi perut. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. guru! Saya lupa lagi.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. Pukulan Meriam. Saat bergerak. . hanya gerakannya mirip.94 BAGIAN 2. Berulang-ulang kali. Kagum ia pada semangat muridnya. pinggang. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. Menuju ceruk kecil. Lantang mencoba menirukan. Hasil rembesan sungai di atasnya. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. tanpa tenaga. Sebelum tenaganya sampai ke dada. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih. Alhasil. ”Kita istirahat dulu. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. Bumi. tangan sudah dikembangkan. telapak kaki. Temui aku nanti di Rumah Kayu. paha. lengan dan meledak sampai ke kepalan. Tapi ia tidak mengeluh. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. kaki belakang melurus dan pinggang berputar.” ”Baik. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali.

Setela kejadian itu. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik.” katanya kepada ketiga orang itu. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana. Rancana dan Lantang muridnya. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. Hidangan makan malam telah tersedia. Ki Sura. Bila dilihat dari atas. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. serta satu keluarga lagi. Itu lebih baik. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. . yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini. akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. tampak ketiga orang lain itu. Nyi Sura. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. ”Selamat malam. dan Telaga. Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. Mereka telah menunggu. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. karena panjangnya pada arah timur-barat. yang hanya terdiri dari lima orang. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana. Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu.

Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. anak dari Ki dan Nyi Sura. senanglah Telaga. Eh. terong dan sudah tentu nasi.” jawab Telaga. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. ”Ada apa sebenarnya. sayur bening. siapa namanya. Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. Seperti telah diduganya. Dulu sebelum Rancana datang. ”Wah.. Tidak banyak bicara mereka. kerang sambal. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu..” jelasnya. makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan. Ki Rancana. sehingga perlu disambut seperti itu. Apalagi Ki Sura. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya. Hanya Telaga yang banyak bicara. lalapan. Ki?” ”Lantang.. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana. karena ada orang yang dapat diajar bicara..” jawab Rancana agak bingung. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. tidak ada teman bicara dia. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya. Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba.” jelas Rancana.” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . Lantang nama anak itu Telaga. melainkan dari Telaga. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. Sebelum ada seorang pun yang berkata. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. pecel belut. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. ”Ceruk mana.96 BAGIAN 2. ”Betul. Memang pendiam orangnya. Ada ikan mas bakar. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut.

jangan bergerak. Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. akan tetapi tidak langsung berpakaian. Rambutnya panjang sebahu. Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. Dengan suatu cara tertentu. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. Ki. Ia tampak telah bersihbersih.97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih.” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Tampaknya ia tidak suka api. Undinen itu pun bergerak mundur. Tapi sebagai seorang ahli silat . ”cah bagus. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya. Biar aku yang menangani Undinen itu. Ayah pasti bisa menolong muridmu. ”perhatikan saja. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. Seakan-akan suatu parit dari batu. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Dalam suatu ceruk yang paling besar. melainkan melihat pada suatu arah tertentu. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang. Terdengar suara lirih Ki Sura. Saat-saat yang menegangkan. Lalu bisiknya lirih.

Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang. tidak banyak berucap. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. tidak mengeluh. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. keluar dari ceruk itu. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu. ”maaf Ki Sura. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. Akan tetapi bila tidak ada. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi. Dengan ukuran aura seperti itu. apakah tadi itu? Yang mem- . selangkah demi selangkah. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa.98 BAGIAN 2. bertanyalah Lantang pada Ki Sura. Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. Begitulah orang-orang yang bersyukur. Malam itu sebenarnya sangatlah indah. Sunyi sesaat. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. Orang-orang yang sederhana. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air. Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. Lantang masih dalam ketegangannya. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka.

Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga. ”Sebenarnya. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen. Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan. air.” jelas Ki Sura lambat-lambat. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. Hanya Rancana yang tidak. Ia masih merasakan ketegangan tadi. ”Itu adalah Roh air. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini. mengapa Ki Sura. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini. Juga istrinya. ”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga. . Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara. Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. Undinen.” jelas Nyi Sura arif. Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. Troll. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini. ”Roh-roh Empat Elemen itu. selain Duyung dan Nixen. yaitu api.99 buatku seakan-akan membeku. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak. udara dan tanah.” Ki Sura tersenyum.” jelas Ki Sura lebih lanjut. ”Jika demikian. Dan hal yang masih tidak dimengertinya.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. sang Roh Air. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara. mereka tidaklah terlalu berbahaya.

yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti. ”Waktu dari menariknya. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. pasti itu penyebabnya. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar.” lalu tanya Nyi Sura. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya. Ya. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. akan membuat tubuhnya semakin dingin. ”Anak Lantang. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya. . Baik Ki Sura. aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine.100 BAGIAN 2. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul.

”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang. akan tetapi tidak bisa menggunakannya. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya..” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri. begitu. ”Bila itu suatu rahasia. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan.” ”Kami. dan tidak untuk kami. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. nak Lantang. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya. Dapat menghimpun tenaga. *** ”Misbaya. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri.” jelas Ki Sura. Melainkan hawa para Rohroh Air. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’.” kata Rancana.” . ya!” menghela napas Ki Sura. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya. Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu. Rahasia ini telah lama disimpan.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. ”malang sekali nasibmu.” papar Ki Sura. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat.101 ”Hmm.

102 BAGIAN 2. Dan Gentong pun . Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. seperti memotong. Rekan-rekannya terkesiap. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. Tak teduga dan cantik. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. Dan untuk itu. Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. ”Pegang yang kuat. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. Kali ini Gentong. sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. atau sendinya akan terkilir atau lepas. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. Dengan perlahan. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. Sedemikian halus. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. Dari pandangan matanya.

Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. dengan debum yang lebih kentara tentunya. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. sudah berangsur-angsur sembuh. Kecuali Asap tentunya. Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten. Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. Bersamaan dengan itu pula.103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. siap mencongkelnya dengan bahu. Cara ini lebih baik. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. Berbagai upaya telah dilakukannya. juga di antara murid-muridnya sendiri. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. Lucu tampaknya. Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah. . rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit.

satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. Ki Surya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau. Akibat luberan ini. menuju Lautan selatan. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba . sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. Dari sanalah diyakini nama itu datang. ke arah barat. Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar. mereka tidak akan menunggunya. bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya.104 BAGIAN 2. menggemuruh. Ki Rabat dan Ki Untung. Dan entah bagaimana. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). Untuk Asap. Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. Padang Batu-batu akan tergenang. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah. Ke arah di mana matahari terbenam. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat. Sungai Hijau orang menamakannya. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama. Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau.

Setelah membicarakan beberapa hal lain.” komentar Ki Untung. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan.. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. ”walaupun dua kali lebih lama. arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai.” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. ya.” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju.” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- . Ki. sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah. akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau.” ”Bila benar begitu. selain ada banyak binatang-binatang beracun. Ki Rabat. Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. Setelah beberapa hari perjalanan... Di Gurun Besar. ”Benar. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara.105 Hijau. seperti kata kalian.. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya.. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan. ”Benar. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai. Sungai itu sudah Sungai Merah. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek.

Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya. Setelah siap berangkatlah rombongan itu. sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. Walaupun pada kenyataannya.106 BAGIAN 2. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan. walaupun tidak terdapat banyak desa. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara. kadang terjadi sebaliknya. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. tertarik untuk melancong ke sana. Tempat yang diduga lebih indah itu. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang. Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- .

Demikian pula dengan rombongan ini. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. Benar-benar membosankan. entah sungai apa namanya. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Lancar dan sedikit membosankan. Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai. akan menjadi terkantuk-kantuk. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau.107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja. Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. Bila langsung menempuh Gurun Besar. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. tiada yang tahu. Untuk melepaskan kebosanan. Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. Malam ketiga. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut.

yang terkena gigitan Kadal Gurun. Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann). Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- . Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Wanita Pengembala Domba (Schferin). Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Akan hancur suatu daerah. Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Taman Utara (Nordpark). sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Laki-laki Petani (Bauer). PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa.108 BAGIAN 2. Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Wanita Petani (Buerin). Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota. Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya. Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann). muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. Entah kapan dan bagaimana mulainya. Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte). Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin.

Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. Malam yang menghebohkan. orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Semuanya hilang. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam. menjadi semakin sepi dan mengiriskan. dan atas usul istrinya. Dingin ini lain. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin.109 gannya. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. terasa amat lengang. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. Membuat tubuh benar-benar terasa lelah.

Dan dua belas buah lagi. sebagai saksi satu-satunya yang ada. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja. sudah di luar kemampuan kita.110 BAGIAN 2. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul.” Semua mengangguk-angguk setuju. Benar-benar menyeramkan. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. Setelah berjalan bersama-sama. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Lalu orang-orang pun bubarlah. Bertanya-tanya hati semua orang. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu. selaku pimpinan di sana. dalam langkah yang tergesa-gesa. Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja. ”baiknya kita menenangkan diri dulu. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. . PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga.

Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. Sunyi. Bisa-bisa sampai menggelegar. Bila banjir. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita. yaitu sisi barat. pada sisi seberang. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. bahkan sekecil apa pun suara.111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. akan semakin keras suaranya. Desa yang sepi. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. Akan tetapi anehnya. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu.

Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya. di antaranya terlihat Ki Murah. misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya. kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. ketiganya.112 BAGIAN 2. kadang pula telah berpermukaan halus. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. Ki Untung dan Ki Rabat. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. Orang menyebutnya Arowana. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan. Bagi Citra Wangi. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur. tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. yang ditemani beberapa orang dari . ibu dan ayahnya sendiri. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. Setelah menunggu beberapa lama. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya. Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air.

indah. Betapa ingin mereka memilikinya. minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat.. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua. ”Ada apa. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki.” Mendengar panggilan itu. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini. ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. ”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu. Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. Mengenakannya.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. ditambahkannya kata-kata. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu . ”Lihatlah. kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. Keduanya mengangguk tanda setuju. Pikirnya. batu-batu hiasan ini. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya.” gapai Ki Rabat dari jauh. Ki?” tanya Citra Wangi sopan. Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat. begitu kata ujar-ujar kuno. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu.. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. ini harga khusus. ”Nak Citra Wangi. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu.

Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. Bukan desa. sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Ia yang biasanya membatasi. Selain suasananya yang nyaman. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. melaului Pantai Selatan. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan. kemudian diturunkan. jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. sejauh subyek perdagangan mereka ada. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. Senanglah . saat itu membiarkannya saja.114 BAGIAN 2. Setelah berunding sejenak. Begitu pikirnya. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka. Di kejauhan Ki Rapih. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang.

hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama.115 hati mereka. . Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. Bila cocok. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. semacam stempel. Mereka berpikir dengan cara ini. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif. Melihat cara perdagangan yang menarik ini. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. barang dan Tigaan berpindah tangan. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya. Desa Pinggiran Sungai Merah. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka. Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. akan lebih mudah berdagang.

Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut. Dan sesuatu itu adalah udara. Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh. Yang tidak dapat mengalirkan hawa. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya. Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. *** Lima tahun waktu pun berlalu. sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. Untuk mencegahnya. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- . maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir.. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. Pernah terdapat Tigaan palsu. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan. Api yang meresap dalam sesuatu. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya.116 BAGIAN 2. Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah.. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana. Lambang tanah. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar.” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini.

Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. yang belum tentu jelek dalam artian luas. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. bersama-sama den- . Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana. Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. membuat mereka merasa kerasan. dan juga utara dan selatan. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau. Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. lima tahun yang lalu. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau. membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. Nyi Apik. Apabila lingkungan berubah. Desa Pinggiran Sungai Merah. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi.

Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah. Apa-apa pun dapat dipesan. . Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara.118 BAGIAN 2. yang mereka namakan Antaran Pasti. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu. akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Dijamin. sungai dan gunung. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. Tidak utuh semuanya. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat. Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. Asalkan ada Tigaan. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. Beberapa patung dibangun kembali. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. Barang sampai pasti.

puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya. Baik dari segi bakat ataupun finansial. bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang. Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. saat yang tepat untuk mulai mendaki. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni. Menunggu isyarat alam. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan. Tiada pesan yang ditinggalkan. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri. ditempatkan sebagai Empat Pilar. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Benar-benar menggirisi. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. Tidak seperti dulu. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu.

PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. Cukup Rimba Hijau. Asap. Rantih. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. Pesannya. Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. dan untuk turut menggagalkan orang lain.120 BAGIAN 2. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. Paras Tampan. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi. bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. melainkan hanya tempat menempa diri. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal. telah gugur tujuh belas orang. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. Jadi untuk ukuran orang biasa. kata Ki Tapa. Walaupun gagal. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau. jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya. tanpa embel-embel perguruan. Misbaya. Rintah. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Bukan perguruan silat. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Kirani dan pemuda itu. dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini.

dua orang yang akan menggantikannya. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. saat matahari sedang tinggi-tingginya. mulai beranjaklah Paras Tampan. dapat atau tidak. Sosok yang membayangkan hawa yang lain. ia dapat berangkat. Dan sekarang gilirannya. Mohon bimbingan atas ujian ini. serta Ki Tapa gurunya. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat.121 diberi waktu dua tahun. seorang Undinen yang rupawan. ke arah mana saja tidak jadi soal. Menenangkan dirinya. Hawa yang menarik hatinya. Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. *** Undinen itu bernama Xyra. Menyusul kemudian Gentong. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Paras Tampan. Bisa sampai di titik ini. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta. Dari urutan yang ditarik. Setelah merasa tenang. Ada rasa nyaman dalam hawa itu. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya. mereka harus kembali turun. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Menurut Ki Tapa. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. Jangan berpura-pura. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. Apa pun yang terjadi. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya. . semakin kental hawa anak itu menarik hatinya. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Asap mendapat giliran sehabis itu. Jadilah dirimu sendiri.

apabila telah selesai belajar. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. Di Rimba Hijau. walaupun tidak menampakkan diri. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu.122 BAGIAN 2. untuk mencarinya ke timur. sering berada dekat dengan Lantang. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. anak dari Ki dan Nyi Sura. masih terlihat cantik. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang. Ia mengambil arah ke selatan. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. Bila tidak dapat menemui dirinya. maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. tanpa tudung kepalanya. Mereka membiarkannya saja. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri. Ia hanya berpesan pada Lantang. karena tidak mengganggu. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. Telaga. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. carilah Ki Tapa. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. Ada urusan yang harus diselesaikannya.

. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni. Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu. ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya..” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk.” ”Menarik. . maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni. ”Kakak Mayat Pucat.!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri.. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni.. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan.. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari. yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. ”Di sini.. melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa. Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni.” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian..123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian. masih ada lambang-lambang aneh. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli. menarik. Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu.

Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. Entah di mana.” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar.124 BAGIAN 2. Lebih baik kita menafsirkan dulu. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. Sudah lama sekali rasanya. . Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu. Lupa. Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin. ”Tentu ada maknanya. Ketiganya pun kembali termenung. Jadi ada empat buah kitab. apa maksud tulisan Naga Geni ini. Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya.” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu. biarkan saja!” usul Mayat Pucat. ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda. ”Sudahlah. bahkan oleh Penjuru Angin.” usul Cermin Maut. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu.” ”Maksud Kakak Pucat. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh. Melayang dalam pikiran masingmasing.” tanya Sabit Kematian.

Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin. Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Bisa dibilang mustahil. apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. Naga Geni. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 . di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar. cukup paling banyak tiga buah. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana. Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya. Tidak banyak. Oleh gurunya.

Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu. Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin. Dan hal ini amatlah wajar. Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya. Ki Tilu. . Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu.126 BAGIAN 3. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. berikut tulisan di bawahnya. Gagasan yang dipakainya. Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. Setelah prasasti tiruan jadi. Mengingat cerita itu.

Gunung Hijau. ”ceritakan.. Setelah berjalan bergegas beberapa lama. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya.. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. ke suatu gunung di tengah belantara hijau. bagaimana semuanya berlangsung.. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya. Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya.. Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya. Ke arah Gurun Besar. Tujuan hidupnya pun juga. sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun. atau bahkan merupakan kuncinya. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu. Langkahnya ringan dan mantap. . Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya. Satu-satunya rumah di kawasan itu. semua telah hancur dan hilang.” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. ceritakan.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya. Ke timur. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya..

” katanya tanpa ekspresi. Informasi ini menggembirakan dirinya. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya.” jelas pemuda itu kemudian.. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya. ”Belum selesai guru. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan. Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. . ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya. gurunya. Jadi mulailah ia bercerita. ”Menarik.. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya.128 BAGIAN 3. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. sementara gantinya sedang melatih tenaga air.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas. bahwa orang itu. guru!” jawab pemuda itu patuh.” terang pemuda itu. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik. Sudah terbiasa ia. Lalu katanya. HAKIM HAUS DARAH ”Baik.. Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal. Tampak seperti ada yang direncanakan. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu.

carilah sendiri. Saat ia sadar. ”Tetapi guru... Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen. jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman.” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini. ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil. Gurun Besar. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk. Tidak bisa tidak. ”aku tidak akan menjawabnya. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya. ”Tak bisa dielakkan. Orang tua itu mengangguk-angguk. Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. ”Yakin sekali kelihatannya. Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu.” komentar gurunya sambil tersenyum. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. Pertempuran harus terjadi... Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian. Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. ia telah berada di tengah gurun ini. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu. pasti akan terjadi” jawabnya tegas. Tapi perlu waktu. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- .” gumamnya.129 Anak kecil itu pun mengangguk.

atau kadang dapat mengeras seperti es. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Sangar dan tampak seperti berwibawa. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri. Akan tetapi pemuda itu lain. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat. Ya. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya. Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. Ia memandang ke arah utara. Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . ilmu beladiri. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. Sunyi dan kering. dibalikkan tubuhnya. Itu saja. Sepi. Gunung Berdanau Berpulau. Tenaga yang mengalir. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi. sampai ribuan kambing dewasa panjangnya. melainkan juga pengguna ilmu itu. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. *** BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Diajarkan oleh kedua orang tuanya. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu.130 nari. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Tenaga Air. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya.

Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya. ia pun pergi merantau. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah.. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. Lalu katanya kemudian menegaskan. di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa. yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya.” ”Tapi. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau. Lain halnya dengan suaminya.131 diri dari batu-batu belaka. mengangguklah Telaga. Mendengar pertanyaan ibunya. membuatnya tidak seperti biasanya. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu. Ki Sura. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas. nak?” tanya ibunya perlahan. Luas menutupi seluruh matanya. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. saya sudah membulatkan tekad.. . Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. ”ya ibu. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. begitu pikirnya. Ia tenang-tenang saja. Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh. ”Telaga. sudah bulatkah tekadmu itu. Anak satu-satunya itu. Padang Batu-batu.” jawabnya ibunya tercekat. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya. Bergetar suaranya saat menanyakan itu. Dulu sewaktu ia muda. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya.

yang besar dan tingginya bervariasi. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. Padang Batu-batu. Dipandangnya berkeliling. Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati. ayah. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. kadang pula lebih. Melompatlah ia perlahan ke bawah. Cengkeraman Kristal Es. Mirip hutan belantara. untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. Berangkatlah pagi-pagi sekali.132 BAGIAN 3. seperti tiang-tiang. Dan selalu hati-hati di sana. Kadang selebar kerbau atau gajah.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya.” jawab Telaga cepat. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. ”hati-hatilah. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar. sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada. Jurus cengkeraman yang amat keras. Di dalam Padang Batu-batu. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang .” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan. dingin dan menantang. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. Katanya kemudian. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. dan menghujam juga dingin. Untuk menentukan arah.

Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu. karena sudah tak begitu jelas terlihat. Untuk makannya selain telah membawa bekal. Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. Jika malam tiba. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu. Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Untuk itu ia mengambil patokan lain. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. Bukan di . Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. semakin cepat angin mengalir di antaranya.133 berdiri berderet-deret acak. Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. ke arah berlawananlah ia harus menuju. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu. membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. yaitu matahari. Menuju selatan. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli). Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai.

Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu. Tak . sehingga serangan dapat dilakukan. Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. untuk mencari ikan dan kepiting. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. HAKIM HAUS DARAH balik batu. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. Mereka memutarinya. apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal.134 BAGIAN 3. yang dibantu dengan posisi matahari. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. Hari keenam. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari. Sebagai contoh misalnya. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini. Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air.

akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi.” sanggah orang kedua temannya. Bungkusan itu cukup besar dan berat. Setelah memeriksa dengan seksama. Orang ketiga.. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu. nanti cepat ketahuan. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. di mana orang-orang itu berada.” kata orang pertama. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang. Di Padang Batu-batu me- . Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air.. Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata.” usul temannya yang lain. Tak ada suara. Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. lemparkan saja di sini. walaupun jernih.” Dengan berkecipuk keras. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu. berkata seorang dari padanya. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam. Entah apa isinya. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang. ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. ”Sudah. ”Jangan. batu. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya. Lempar saja di sini. Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka. Telaga terdiam melihat kejadian itu.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur. Walaupun amat lamat-lamat. Ketiganya masih di sana. Berjalan mereka perlahan-lahan. Tak tahu berapa lama ia tertidur. dapat ia mendengarnya. Kemudian berlalulah ketiganya.

Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air. Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini.136 BAGIAN 3. Kata salah seorang dari mereka. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu. Jurang yang cukup dalam. Niatan Telaga. Tidak ada tanah. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur.” . yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. Masih dalam pinggiran yang sama. Selang tak berapa lama. tampak sebuah iring-iringan datang. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. ”eh. sehingga walaupun airnya jernih. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. Makanya kita nyucinya siang. Suatu pikiran yang cerdas. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin. kamu mimpi kali?” jawab temannya. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu.

membuatnya menjadi bertanya-tanya. Lainnya hanya mengiyakan. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan. Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. ”Sarini. Tak tergoda atas ajakan itu. Tak ditemuinya seorang pun.137 ”Sekalian mandi.. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. ayo mandi. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. dan ingin segera menjauh. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu.” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. Andai saja ia maju setombak dua lagi. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan. Selebihnya telah berendam di tengah. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman. Dibiarkannya keranjangnya mengapung. Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya.. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya. Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih. .!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang.. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan.

Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat. bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya.138 BAGIAN 3.” ucap salah seorang dari mereka. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. ”wah bisa berabe nih kita. Sepotong tali. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya. ”Ini adalah Ki Rontok. Kawan-kawannya telah diperingatkan. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari. Tidak di siang hari bolong seperti ini. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka.” jawab yang lain menegaskan. Menepikannya dan mengamati. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. juga Sarini yang melihat kepergian mereka. ada mayat. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa.. Tidak seorang gadis pun. tampak oleh Telaga..” . di mana belum ada matahari. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. seling mengangguk satu sama lain. Telanjang. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. Penakut disebutkan dirinya.!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air. ”mayat. benar itu Ki Rontok. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. si pedagang keliling. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu..

Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu.” ucap salah seorang dari mereka. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu. Bersama-sama mereka membawanya. yang dikenali sebagai Ki Rontok. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Selain karena . Bisa-bisa ia yang dituduh. Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang.. Untuk kemudian mengikuti. Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. Benar-benar menarik kata-kata itu. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu.139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. dengan tandu dari kain yang mereka bawa. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. Tapi itu harus dilakoni Telaga. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana. Bisa-bisa fatal akibatnya. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah. Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu.

sibuk dengan pikirannya sendiri.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. ”Jangan kuatir.140 BAGIAN 3. Orang tua itu tersenyum. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. Aku si orang tua. Selang tak berapa lama. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. dipandangi sajalah orang tua itu. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya.. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. Tak dibukanya percakapan. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. tapi ia kedapatan sedang mengintip. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. Warna-warna kulit yang aneh. anak muda. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. Telaga tidak tahu harus berbuat apa. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. melainkan terus mengamat-amati Telaga. tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. lalu katanya. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan. Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu. Dari caranya bergerak. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan. ”kita akan bertemu lagi. Tampak belum tua benar ia. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. terlihat tubuh yang terlatih. Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga.!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu. Tampak pula warna busana yang aneh. lebih tinggi . tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan.

juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. Kedua desa itu. bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya. Untuk kebutuhan air minum. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. Selain adat. umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik. . Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh.

Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. Dengan adanya para penjaga keamanan. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. ada pula orang-orang yang menghargainya. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia. Akan terjadi peleburan. Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan. Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu. situasi menjadi aman dan terkendali. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. Kedua kelompok ini. hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. Cara-cara ini sudah tentu tidak baik. walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. Bagi mereka Tigaan lebih penting. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. Gembira hati mereka. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua.142 BAGIAN 3.

Dengan cara ini pasti akan lebih laku. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu. pulang dan mela- . Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Kejamnya politik perdagangan. Akhirnya mereka. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah.143 dari luar Padang Batu-batu. Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. tidak mungkin. Minta tolong ke penduduk kedua desa. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Andai saja Walinggih ada di rumah. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. jauh di barat daya sana. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. Karena ditunggutunggu tidak datang. Yang penting untung dapat diraup. Bila kedua desa bersatu. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. Mengadudomba. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. Walinggih tak tega. bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. Asasin. Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya. Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu. Hal ini tidak boleh terjadi. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. jelasnya. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu. Mungkin akibat ilmunya itu pula. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan.

Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya. Dibelah persis di tengah-tengah. bisa berabe nanti jika ia mengamuk. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Pandangannya berubah terhadap kerukunan. kelompok pembunuh bayaran terkenal. mengingat ilmunya yang tinggi. harus dibayar lain. Untuk kelebihan waktu. Jika ada pertentangan. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya. Dan ditinggalkannya begitu saja. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. Menggiriskan hati suaranya. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. juga penolong. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. Kedua kelompok pedagang. Akan tetapi para pembunuh tidak mau. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. pikirnya. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. Dalam setiap perkara kejahatan. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. Setelah semua orang yang bersalah habis. Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Ia akhirnya mengambil sikap. serta memekakkan telinga.144 BAGIAN 3. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. Simetris. biasanya harus ada yang tersembelih . Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit.

Tapi itulah kenyataannya. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya. Jika bertikai dan berlarutlaru. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat. Alasannya boleh berbicara belakangan. sebelum Walinggih mendengarnya. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan.” usul seseorang. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat.145 simetris. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. Semoga arwahnya nanti damai di sana. Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. Ya. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. Katanya suatu ketika. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya. kecuali kasus-kasus yang parah. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. Orang yang terkena fitnah misalnya. jadi dua bagian. kepala desa?” tanya seorang warga. fatal akibatnya. Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. ”Bagaimana ini. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak. Terlepas dari siapa yang bersalah. Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu. Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah. Alternatif itu lebih baik. . ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya.” Benar-benar pikiran yang gila. melainkan ketenangan dalam paksaan. sudah pasti akan ada pembantaian. Akibatnya kehidupan menjadi tenang.

Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. perlu pula diusut. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali. Kemudian kata orang itu setelah memeriksa. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan..!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat. gadis yang tadi tidak ikut mandi.146 BAGIAN 3. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini. terdapat suatu celah. akan selesai masalah. seperti ditunjukkannya. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong.” gumam seorang takut-takut. si Hakim Haus Darah. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. . Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. Dan memang benar.” ucap seorang. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. Tidak ada korban dari Walinggih. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban. ”Ada yang bisa menceritakan.

Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian. sebagai bukti. semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini. Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran. tak jelas alasannya. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Dengan adanya peristiwa ini. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara.. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. apabila Hakim Haus Darah ditangkap. akan kembali ke masa lalu keadaan di sini. perkenalkan kami. Sementara yang lain.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu. Seperti halnya Ki Rontok. kami datang untuk menangkapnya. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat. Mereka yang terakhir ini kuatir. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya. . dapatlah sang hakim saat ini ditangkap.. ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang. Tak pandang bulu. ”warga desa yang terhormat. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. Saat itulah ia turun tangan.

Kami yang akan menangkap sang hakim.” jawab Telaga sopan. Sudah banyak memang pedangan dan . ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi.” katanya sambil melihat Telaga. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah. nak. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. ”Mau makan apa. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong.148 BAGIAN 3. Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. Tak tahu harus ke mana. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu. Telaga adalah pemuda itu. hanya perlu menjadi saksi. Anak pasti bukan orang sini. untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. paman. ”Yang murah saja. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu. ”ada peristiwa besar ya. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. Ingin dicarinya keterangan. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. bagaimana akhir dari peristiwa ini. sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol. Kalian penduduk desa. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. karena saat ini hari telah menjelang senja.” ”Ya. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. Lalu tanyanya sambil lalu. Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa.

Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Tiada lagi ragu sekarang. tiga perwira. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. Saya berasal dari utara. Cukup sederhana Pepes Keuyeup. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu. ”Iya. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan. Kemudian ditinggalkannya Telaga. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. bukan bercerita. Saya lagi merantau. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan.” jawabnya cepat. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. Di desa itu . Ia tidak punya tempat menginap. paman. Tak berapa lama pesanannya pun datang. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas.149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. Gule Julung-julung. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis.

yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. sejak putrinya masih kecil. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. lalu jawabnya. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi.. ”Beda ya. paman. Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung.” Telaga mengangguk-angguk.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. Saat akan merebahkan dirinya. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa.” katanya. ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf. lalu sapanya. akan tetapi suka keramaian saat bekerja. ”bagus juga. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga. paman. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. Marilah. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang. Selain tidak bagus juga mahal. sama yang di dalam desa. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur. Istrinya telah meninggal karena sakit. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya. Tidak dihias macammacam. Begitu melihat dirinya. melainkan hanya berwarna alami.150 BAGIAN 3. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan. Tidak .?” pancing Arasan. ”Marilah mampir. Batu dan kayu belaka. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik..” jawabnya sopan. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. Jadi bermalam saja saya di luar. Sudah biasa kok.

Tapi lupa. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. ”Sarini. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. tapi putriku. berseru Arasan memanggil putrinya.” Lalu tanyanya. Seorang pemuda yang lugu. ”bukan. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana. Lihatlah ada tamu kubawa serta. Rumah itu cukup besar.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu. Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu. Ruang depan dan ruang belakang. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu. putriku! Ayah pulang.... tempat yang . Sarini makan sendiri.” Bertanya-tanya Telaga dalam hati. ”Ayah.151 terlihat asal dalam menatanya. Sampai depan rumahnya. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya. selamat datang. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk.” Lalu muncullah putri Arasan. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu.!” ajaknya. Nanti kuperkenalkan. Senang pasti hatinya. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu. mari masuk. dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya.. Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya. tetap saja ia merasa malu. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja. ”Mari. Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya. bagaimana rupa dari putri Arasan. Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah.

Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. hampir tidak memperdengarkan suara. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya. Telaga mengikutinya. menekuk dan melemparkan gadis itu. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan.!” teriak suara seorang gadis. Pendaratan yang ringan. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya. Tak lama kemudian mereka tidurlah.. Di saat orang-orang belum bangun. Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. Orang tua itu mengelak tipis. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan. Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. Alih-alih terjatuh. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. ”Huut. hyaaaaa. hanya di pagi hari. memutar tubuhnya. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. tetap dengan menggunakan telapak tangan .152 BAGIAN 3. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Juga adanya tusukan-tusukan. melainkan ayahnya. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam. Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur. Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah.

kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu. ”Belum. ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. ”Ah. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata. Sampai pada gerakan yang menghentak.” kata Arasan sambil menganggukangguk. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. berkatalah Arasan kemudian. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. akan tetapi tidak melatih bagaimana . paman Arasan. Melihat keragu-raguan Telaga. Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. agar susah ia mencobanya. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya. ”tak perlu kau katakan pun.” jawabnya jujur. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu. ”Nak Telaga. ”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya.153 yang dibuka. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air. itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu. Lalu tanyanya kemudian.

nak Telaga. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya. maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman. Telaga pun mengangguk. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Akan tetapi sebagai seorang ayah. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka.. sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri.” tanya Telaga bimbang. yaitu Tenaga Air. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air. Setelah matahari mulai sedikit tampak.. Benar pikirnya.. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana. ”Paman Arasan. Ia ingin hidupnya aman-aman saja.154 BAGIAN 3. ”Sudah tentu. untuk menjaga diri belaka. ”Marilah. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya. HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. Tapi jangan panggil aku guru. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu. suatu saat akan kami ceritakan.. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru. Perihal mengapa.. . nak Telaga.” jelasnya kemudian. mereka pun menghentikan latihan. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya.” jawabnya. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan. Guruku sendiri pernah berujar.

bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. Sebuah rumah di atas batu. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Walinggih. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah. Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. Tempat kediaman Hakim Haus Darah. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. Hari ini Arasan tidak bekerja. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh. selain juga menjadi malu. Jika tidak. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. tampak sederhana. Terlihat . yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya.

”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. Ingin tidak hadir. Seperti bercak darah yang mengering. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. akan tetapi orang ini. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. dan tua karena pikiran. Seorang tua muncul dari dalamnya. Mereka. Hanya beberapa . Sunyi tak terdengar jawaban. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda. keluarlah engkau. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. Pedang mungkin. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. Baru kali ini.156 BAGIAN 3. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit. yaitu baju yang dipakainya. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar.!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu.. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. Sesekali seperti guratan kaki. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih. Orang tua kemarin sudah putih semua. Hanya ada satu persamaan. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding. ”Huh. Juga rambutnya berbeda. Memang samasama tua. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu.

”serahkan dirimu. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah. baru datang. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. lalu katanya. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. di atas batu tinggi. Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan. tak perlu ada kata-kata lagi. Sarini. Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata. Arasan ayahnya dan Telaga.157 yang cukup berilmu tidak.” . Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin. Lemparan itu bukan sembaran lemparan.” kata seorang dari mereka bertiga. ”Bila pedang sudah bicara. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat. membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan.. Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih. ”Hmm.. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya.

Dalam serangan pertama. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. Benar-benar serangan yang lengkap. akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. . Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. Dua buah. Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Untung saja refleksnya masih bekerja. Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih.!” ucap salah seorang dari mereka. Hampir mencium perut-perut mereka. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal. Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang.. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta. Satu menyabet ke arah kepala. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri.158 BAGIAN 3. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Akibat mundurnya itu. Bekeringat dingin ketiga perwira itu. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. ”Bagus.

! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya. Sebagai seorang manusia.. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan. ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang.” kata Walinggih. Belum pernah sebelumnya. Arasan. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu. Cara ini ternyata lebih berhasil. Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. Lalu ucap salah seorang perwira. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. Pertempuran itu pun berlangsung seru. Matahari sudah menempati titik kulminasinya. ”Jadi begitu. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini. ”Walinggih. turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran. Saat satu orang menyerang. tak usah berpura-pura.. salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih.” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur. Itu saja. Kelimanya bergerak ringan. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. . rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran.159 Kembali ketiganya maju serantak. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu. benar-benar ’penegakan hukum’. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah. Hahahaha. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya.” ”Hehehe. ”Hehehe.

Dari pikirannya. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. Sebelum kedelapan orang itu bergerak. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. malah bergerak berputar. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. Satu ke depan satu ke belakang.160 BAGIAN 3. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu. yang disebut sebagai Asasin. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu. Jika tidak. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. alih-alih menjawab pernyataanya. langsung menyerang. sehingga ketiga orang perwira itu dikirim. Sebagai seorang pembunuh bayaran. Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. Dugaan itu tidak salah. menjadi semakin bingun Telaga. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. kakinya meregang terbuka selebar dada. Akibatnya rekan-rekannya .

! Apa mau kalian. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping. Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya. Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat. Dua orang yang jauh dari sasaran pertama.. Hanya tipuan.. pikirnya.. tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih.!” serangan kedua membuahkan hasil. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia. ”Settt. ”Cappp. Melihat hasil ini.. ”Hei. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya. Tak ada yang dapat dilakukan kali. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram..161 berupaya melindungi.!” Akan tetapi terlambat. Tak ada hasil setelahnya. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal. Omong besar di depan. Bukan ke atas melainkan . Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka. ke depan dan belakang. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Terbelah simetris Asasin ini.!” serangan ini pun membuahkan hasil.?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut. ”Tunggu dulu.. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas. Kaki dibuka selebar bahu. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. Siap untuk serangan berikutnya.. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya. juga kedua Asasin. Diatur napasnya tenang. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah.

Kembali ke posisi semula. Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik. takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Walinggih yang akan bergerak. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. Ini sudah . Walinggih kembali ke tengah. Tak berapa lama.162 BAGIAN 3. Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk. Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. ”Wuttt. Terpaku bagai akar pohon. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. Siap melepas serangan lagi bagi pegas. tak dapat ia menyerang keenammnya. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak.. Tegak dan lemas. seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih. Tak berani ia melihat ke bawah. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya.

”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah. Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. di mana orang ketiga sedang menyerang. Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. ”Heggg.. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak . Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka. ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. Entah apa namanya. Masih dengan tenang Walinggih mendengus. bisa tak selamat Telaga. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. Luka bacokan tak dapat dihindari. masih tampak wibawa dan keangkerannya. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka. Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. Sunyi. Alih-alih menggeser kedudukannya. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya.!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih.

Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. Jangan disimpan. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. Mendengar cerita Telaga. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut.. paman. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih.. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. HAKIM HAUS DARAH berdaya. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya . Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana. Ketiganya tampak termangu. kau?” tanyanya tergagap. ”Maaf.” jawab Telaga sedikit malu. Bertempur. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu.164 BAGIAN 3. Jika anaknya masih hidup.. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. Teringat akan anaknya. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. ”Siapakah. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. kok menggunakan racun. sudah pasti sebesar ini tentunya. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu. untuk dibuat bahan membalut. akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran. Setelah mereka bertiga berunding. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Tiba-tiba ia bersorak girang. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. apa-apa yang ada di sana. Di hadapannya. terdapat semacam anak tangga. Tiba-tiba didapatnya akal. Anak tangga pertama lebih . soraknya dalam hati. Cukup lebar dan tinggi. Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. Hitam dan dingin. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. Ia tidak bisa berputar. Ada. sampai ketinggian yang dapat dicapainya.176 BAGIAN 3. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. Akan letaknya jauh di atas. hampir dekat dengan langit-langit. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan. HAKIM HAUS DARAH Hijau. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. Paras Tampan merangkak mundur. Diperiksanya dengan seksama. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana. di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka. Paras Tampan bersorak gembira. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu. ada seperti anak tangga di atas itu. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat.

Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut. Berulang kali dicobanya. Butuh waktu lama. anak tangga berikutnya lebih rendah. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. Dan berikutnya lebih rendah lagi. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang. Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya. Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. Cara ini mungkin lebih masuk akal. Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Seperti dipotong dengan sengaja. Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut. Masih saja gagal. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu.177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Di salah satu sudut lorong. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan. Merangkak pelan. Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Ada lima anak tangga semuanya. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Bila bisa. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan . Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik.

Pemuda itu melihat berkeliling. Tujuh Rahasia. Seribu Ramuan. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Angin-angin. Seni Beperang. Pukulan Tanpa Tanding. Beratus-ratus jumlahnya. agar lebih stabil. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. Dan naiklah ia. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. Dan Sekarang . Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan. Juga yang berikutnya sampai yang kelima. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. Perpustakaan kitab-kitab kuno. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Batu-batu. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Berhasil.178 BAGIAN 3. terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. Racun Selaksa Macam. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno. Aneh-aneh judulnya. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Ilmu Muda Selamanya. Kemudian ia menarik napas panjang. Pukulan Inti Es dan Salju. Puas melihat pekerjaannya. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. Tenaga Air. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan.

. Siap untuk dilahap. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.” jawab Paras Tampan. hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam. Hanya mereka berdua. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan..” kemudian lanjutnya. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya. Angin-angin. ”Pernah guru. Pemuda itu. Misbaya.179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya.. Dipelajari. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya. Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini. Atas kehendak Sang Pencipta.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri . ”dan sekarang. Rintah dan Gentong. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima. Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada. Gunung Hijau. Tapi itu cerita lama. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini. ”Paras Tampan. Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. Paras Tampan. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya. ”Benar.

selain jurus air ini. pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. dekat dengan bagian kepala. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. Jurus Api dan Jurus Air. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Jurus Tanah. ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. Di balik tempat tidurnya. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya. yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. HAKIM HAUS DARAH darinya. Dikarenakan oleh gurunya. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.180 BAGIAN 3. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Entah oleh siapa. Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . Tulisan itu mirip prasasti.

Lapar. Di salah satu ujung ruangan. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu. Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini. Sedari waktu itu. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni. Minta untuk diisi. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain. Arahnya tidak rata tiap barisnya. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku.. Dilihatnya kembali berkeliling. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk. Untuk menunaikan tugas. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya. Tidak ada. Penjaga Keseimbangan. Bacalah itu pada kitab-kitab awal. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam... Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Teringat itu. judul-judul kitab yang ada. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya.181 dalam keadaan yang buru-buru. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya.. Badannya juga terasa lelah. Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Di sana tertulis. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya. Jangan lupa untuk. Sebelum ia belajar. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. Semakin ke bawah. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada.”.” Tulisan tersebut berhenti di sana.

Warna tubuhnya biru tua keunguan. Hampir seukuran dirinya. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan.182 BAGIAN 3. Ranum dan segar kelihatannya. Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Ditambah dengan laparnya. . Sungai Batu Jernih. Mengambang. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya. Sungai yang keluar dari lubang. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu. Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang. ingin ia meraih untuk memakannya. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. Pesat menuju buah-buahan itu. Matanya besar.

183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan. . Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut. Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan.

184 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH .

Manis dan berair. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat. Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. Lembut menyegarkan. ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda. Digigitnya perlahan. Diperiksanya perlahan-lahan. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan. Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 . atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Entah kemana. Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Ke sungai dalam tebing batu itu. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya.Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. Perutnya telah lapar. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang.

Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. kali ini mereka berjalan ringan perlahan. betul. ”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam. BAGIAN 4.” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum.” kembali kata orang pertama.” kata seorang dari mereka. . Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain. Sesampainya di sana. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat. Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya. ”Seorang pemuda yang cerdik. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan.186 banyaknya. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu. Troll. Ia pun tak lama kemudian mendengkur. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana. ”Hehehe. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu. Pulas. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap.

. Hanya herannya ia. ”Kita layani dia. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll. Biarkan nasib yang membawa mereka. Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab. Guratan yang belum selesai itu. kakak Rawarang.?” tanya seseorang dari mereka. seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll.187 ”Benar. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. Tak tahu dirinya. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu. bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan. Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana.” kata temannya. Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab. sayuran tanpa daging dan nasi. Membaca demikian. ”benar-benar berjodoh. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan .” ”Jadi. Mula-mula ragu-ragu ia memakannya. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya.” tegas salah seorang dari mereka. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan.” kata seorang yang lain. Akan tetapi rasa laparnya menang.

Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat. akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. Paras Tampan dapat menghemat waktu. Kadang kepala di atas kadang di bawah. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. selain disertai bahaya untuk jatuh. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. berpijak pada lubang-lubang yang ada. Lebih lanjut pada lubang-lubang. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun.188 BAGIAN 4. Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. se- . untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. Latihan di bagian luar ruangan itu. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. cengkeraman.

para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. yaitu kulit binatang berbulu. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. tampak semakin tegap.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. Paras Tampan. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. Yang penting nyaman dan hangat dipakai. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah. Badannya menjadi tampak pas sekali. . hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. Sederhana tapi cukup memadai. Entah binatang apa. Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. Badannya berisi. tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. Untuk pakaian. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Dengan tidak memakan daging. Peralatan menjahit disediakan mereka. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. telah habis buah-buahannya. Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. Tidak terlalu banyak. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik. Pemuda itu.

Dan untuk belajar jurus itu.190 BAGIAN 4. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. Tapi mereka tidak munculmuncul. Di tepi Sungai Batu Bening. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama. Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan. Alih-alih. Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin. Sentilan Kelereng Es. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening. Benar-benar mengagumkan. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. ditunggunya mereka di luar ruangan. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. Undinen misalnya. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih . seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll. Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka. Sang ikan pun berkecipak-cipuk. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya.

Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. Bila iya. Siang sudah belalu setengahnya. cengkeraman dan panjatan-panjatan. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. para Troll. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal. para Troll akan mengajarinya. Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. Memberinya petunjuk lebih jauh. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi.191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Senja pun tiba. Dengan menggabungkan kedua unsur. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. akan tahulah mereka. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. Otaknya . Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Apabila ia berlatih serius. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi. kapan ia siap untuk dilatih. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap. Toh. Menurut petunjuk yang dibacanya. Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. Hari ini. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya.

Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. . Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya. Dari siulan tadi. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. Menyebar lambat. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. Seorang dari mereka. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri. Tak jauh melebar melainkan memanjang. ”Kecipak. Memasuki gua batu di tengahnya. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. Tak tahu apa yang dilakukan. Perlahan tapi pasti. Berjajar menatap dirinya. Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan. Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air. Paras Tampan pun berdiam diri. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu.!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Membesar. Menunggu.. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan.192 BAGIAN 4. menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Tidak berhenti sampai di sana.

Tak terlihat goyangan yang berarti. juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. Dataran itu cukup luas. Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. Paras Tampan tidak berada paling belakang. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. Kanand dari arah ia tadi datang. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. perlahan tapi pasti. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah . agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya. Benar-benar ruangan yang memukau. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana. Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Padahal apabila dibayangkan. di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Selain malam telah menjelang. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana.

mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu. tampak berenangrenang di kejauhan.194 BAGIAN 4. Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. tapi belum pernah yang tegak seperti ini. . yang terlihat sebagai pemimpin di sana. Bukan tempat bagi makhluk air. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh. Ikan Kolakan.

menjejak terbalik pada langit-langit. Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. Sepanjang satu tombak kira-kira. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan. mencoba kekuatan barisan itu. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. Ia melompat dari tanah. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. Akan tetapi bukan Paras Tampan. kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. tentang bagaimana caranya bisa . Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. Bagaimana caranya ia bisa ke sana.

Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya. Setelah tiga kali dicobanya. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya.. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat. Sesaat sulit juga. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. Darah tidak mengalir deras seperti tadi. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut. untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya.!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. tidak ada masalah. Pada bagian dinding yang tegak. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu. Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala. Hampir lepas pegangannya. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu. Sekarang saat dimulai masalahnya. sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Waktu pun berjalan pelan. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. ”tukk. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Rupanya saat bergantung terbalik itu. Tak lama ia bisa bertahan.196 BAGIAN 4. Tiba-tiba. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya. Pusing dirasakannya.

Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. Tak terasa telah lewat tengah malam. Akibatnya pusing kembali diperolehnya. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut. Para Troll tampak berganti kelompok. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Tidak lebih. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh. Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. Tak ada jalan lain. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. Walaupun belum selincah Troll. Setelah beberapa kali mencoba. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun. Paras Tampan pun telah lelah. akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya. Pada suatu jalan darah tertentu. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. Dilepaskannya pegangan dan pijakan. Mereka juga memakan satu setiap orang. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya.

Sedangkan temannya berambut pendek. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. Wajah . Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi. ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya. bagaimana aku dapat mencapainya. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya. untuk kemudian Mengheningkan Cipta. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. ”Hmmm. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. Gerakannya ringan. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. berabe nih!” gumam Paras Tampan. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. sosok ini pun senang tersenyum. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya.198 dataran batu itu.

menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu. memberimu kitab ilmu-ilmu kami. Lalu jawabnya. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi. Sebelum menjawabnya. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api. Benar-benar suatu sifat yang jumawa. atau jika tidak ada. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. ”Rawarang. Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar. ”Hmmm. ”Maafkan saya. ”Jika memang maksudmu demikian.. Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi. Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya.. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu. kami harus menuliskannya dahulu. Petapa Seberang. ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau.” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas.. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku... ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab.” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu. mana mungkin ki sanak berdua akan datang. mengapa perlu meninggalkan pesan.199 sosok ini tidak seperti kawannya. Ia lebih serius terlihat. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” . ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es..” jawab Rawarang.” sambil ia membungkuk sedikit. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan.” kata orang yang berambut pendek itu.

200 BAGIAN 4. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat. sehingga ada alasan untuk membalas. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana.” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota . mau apa engkau dengan kitab-kitab kami.. ”Ya. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin.. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh.” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. tapi tidaklah jahat. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku.” jawab Rawarang masih jenaka. itu jadi susah. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan.” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya. ”Jika tidak memberikan. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut. Walapun besar dan megah. Lalu katanya. Baik orang-orang yang terlihat berduit. ”kalau begitu jelaskan dulu. Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang.

Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka.201 kecil. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. Mirip dengan buku harian dewasa ini. Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- . Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. Kebiasaan membaca. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. Dan ini sudah tentu terbatas. seperti waktu bercocok tanam. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya. nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. tidak akan ada buku yang bisa dibaca. Di negara itu. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. Jika tidak ada kebiasaan menulis. Pun hal-hal yang berguna. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah.

Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya. Buku harian. dan apa-apa yang mereka lakukan.202 BAGIAN 4. Dengan cara ini. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. Melalui cara ini. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . Dengan perantaraan buku-buku itulah. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. Tidak dibawa pulang. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. dapat dilakukan penghibahan. seorang anak dapat melacak nenek moyangnya. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. Dari membantu melengkapinya. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. amat takjub pada kemegahan itu. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara. sampai memanfaatkannya. Ayahnya yang seorang pedagang perantau.

Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. Dari penjaga perpustakaan ini. yang tidak mau memberitahukan namanya. digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. Bakat sang mantan pencuri itu. meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat.203 membekas sampai ia dewasa. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. Semahir-mahirnya tupai melompat. Buku-buku yang terlambat itu. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya. termasuk di dalam istana kerajaan. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. ilmu kanuragan. Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. suatu saat jatuh juga. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . Jangan seperti gurunya. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya. ilmu alam dan bahasa.

agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. ”jika diminta begitu saja. Lalu kata seorang dari mereka. Para pesilat atau sastrawan. ”Sekarang. Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai.” ”Dan sekarang. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk. ”Saya tidak punya jalan lain. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan.” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya.. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. Umumnya saya menang. Tetapi tidak begitu caranya. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara.” tanya Petapa Lain Pulau. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya. engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini. Sebaik manapun suatu tujuan. jadi susah. atau setidaknya melawan dirinya. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan.” jawab Rawarang. Rawarang. atau tidak mau menanggapi saya. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. ”jadi maksudmu. Memang menurutnya. pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri. . apabila tujuan dari Rawarang ini benar.204 BAGIAN 4. ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar.

kedua petapa itu mengobati Rawarang. didasari rasa kemanusiaan. mau tak mau. ”Buk-buk-buk.. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam. Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya. sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka.?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang.. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir.. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan. dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya. Ia dapat kembali membuka matanya.. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu. berusaha ia . Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka. tiba-tiba ia bergerak cepat. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. Merasai Hawa Pelajari Ilmu.!” terdengar bunyi pukulan keras. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi.. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu. karena luka dalam yang dideritanya. Walaupun wajahnya masih pucat. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es.” gerutu Petapa Gunung Es.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya. apa maksudmu. ”Hey. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah.

Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. Bajunya juga sederhana dan kasar. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan... Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan . kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini. ”Kakak Gunung Es. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka.. Petapa Seberang. Tak perlu katakata diucapkan. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. kakak Lain Pulau.. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. Dibiarkannya tergerai saja. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun. Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. Mengambang tapi jelas.. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api. Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. Petapa Seberang. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan.206 BAGIAN 4. ia tidak memiliki siapa-siapa. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai. Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu. paling muda dari ketiga petapa tersebut. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya. Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa. Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. Wajahnya tampak lebih muda.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu.. kena juga kalian diakali bocah nakal ini.

Ramai sekali suasananya. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Rimba Hijau. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut. Menuju atas. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. Gunung Hijau. Menggirisi apabila menyaksikannya. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Petapa Seberang bergegas menaikinya. Keduanya pun mengangguk tanda mengerti. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Ada hal yang lebih penting. Lima enam anak tangga sekaligus. Cepat dan pesat. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu. Zig-zag ke kanan dan ke kiri. Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. Hampir habis tenaganya.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. Menuju suatu tempat di atas sana. Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki. sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . Tanpa bicara. Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Rawarang si Maling Kitab.

Tiba-tiba pandangannya gelap. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. Lebih baik diikat saja. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya. Membuat udara terasa basah dan segar. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat. seorang makhluk Troll muda. Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. Cepat dan lembut. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. Secarik kain panjang.208 BAGIAN 4. tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Sosok itu. Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Masih ratusan lain yang menunggu. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi. Rawarang tersenyum lemah. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Sebelum ia mencapai lereng puncak. agar ia bisa cepat memanjat ke atas. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Pada sisi kirinya. . Doyong dan bergerak jatuh. Sudh cukup untuk dituliskan. Seakan-akan tak ada bobotnya.

Ilmu Tiga Petapa. Penulisan kitab itu pun berlangsung. berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia. ”Tak banyak lagi waktunya. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah. Juga kaki-kakinya.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun.” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi.. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab. Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang. judulnya. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. ”tapi itulah diriku. Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu. kitab ini harus diselesaikan. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang. . adik Bagadsh.. Tak lama selesailah pekerjaan itu. lalu lanjutnya. Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja. ditampiknya dengan lemas. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya.

Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi. Berangkat ia menuju suatu ruangan. Semakin lama semakin lemah. sebagai bagian dari kalian.. Bagadsh. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana.. selamat tinggal.” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya. Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan.. Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh. Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Ia tidak in- . Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana.. ”Adik Bagadsh.. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu. sang makhluk Troll. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang. tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu. Juga semakin lama semakin miring ke bawah. Memeluknya. Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Meneruskan cita-citanya.. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir. Tangannya pun terkulai lemah. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya.. Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ.210 BAGIAN 4. Membangun perpustakaan di tanah ini. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu.

Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka. Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh. Ia hanya memandang sayu mereka. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. Lebih banyak bertahan. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu. Dan menunggu. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. akan tetapi dapat mem- . Hanya tak dimengertinya. Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga.

Jika tidak tekun merapal ilmu ini. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang. agar dimakamkan pula di sana. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu. kitab karangan ketiga petapa. Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe. atau keturunan-keturunannya. . dan tidak sempat mengamalkannya.212 BAGIAN 4.

ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. . hanya pesan mereka kepada Bagadsh. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula. akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu.213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang. Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum.

214 BAGIAN 4. kira-kira dua . Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. melainkan memang begitu adanya sejak lama. Terduduk dalam capainya. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat. dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. Seakan-akan tanpa celah. Paras Tampan pun kemudian bermimpi. Hanya saja sekarang lain rasanya. Walaupun demikian secara tak sengaja. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat. Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat.

Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Setelah itu ia pun kembali menghilang. Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. Tak ada kata-kata di antara mereka. Setelah cukup dekat.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. Lambang Tanah. Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. Entah apa yang menyebabkan hal itu. Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. dan di- . Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Diletakkannya di atas telapak tangannya. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri. Entah apa. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya. meminta agar Paras Tampan mendekat. orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu. Bagadsh. Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. Batu itu terlihat menempel. seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud.

sehingga efesien pemanfaatannya. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah. ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Paras Tampan pun mengiyakan. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya.216 BAGIAN 4. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Bermacam-macam warna dan ukuran. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. Lama dan stabil. Terlihat sedikit hasil. Paras Tampan pun mencoba lagi. orang itu menepuk bahunya dari belakang. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. tapi menempelkan benda. Kali ini berhasil. Lalu ia berdiri. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. Ini bukan menjejak. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran.

Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu. Kemudian. seakan-akan mengatakan cukup. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. Naik terus sampai dua tombak lebih. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. Demikian pula untuk mengapungkan batu. Lebih jauh ke bawah. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali. orang itu menunjukkan hal lain. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah. akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu. batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya. ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. Batu itu menempel. Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. Hal yang dilihatnya seakan-akan . Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. Diambilnya sebutir batu sembarang. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya.

. uap air. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini.. Padangannya tiba-tiba gelap. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. Benar-benar pukulan yang mengerikan. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir. seperti halnya air yang mendidih. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. Rupanya dalam posisi duduk tadi. Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai.!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya.218 BAGIAN 4. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. Setelah mengurangi tenaganya. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar. Sampai di akhir jurus ke sepuluh. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya.. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan. Liar.. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu. Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari. batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah. dan. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian . Kembali mati seperti keadannya semula. ingin bergegas menjadi gas. Mengambang dan liar. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya. yang merupakan salah satu kelebihannya. Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. ”Dukkk. Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu.

Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. Teringat ia kembali akan mimpinya itu. untuk menarik dan menolak benda-benda padat. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti.. Tapi tanpa batu. baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. Dilontarkannya bongkahan es tersebut. Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. ”Kecipak. Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali. Sakit. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. walaupun masih kaku. Tiba-tiba ia mengerti. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan . Setengah hari pun lewat. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. Cepat dan keras. Pukulan Badai Pasir. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya. tampak sebongkah es terbentuk mengambang.219 jatuh membentur dinding di sampingnya. Perlahan.!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan. Masih berupa gerakan saja. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu. belum terisi oleh Tenaga Tanah. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut.

Hari pun telah menjelang senja. BAGIAN 4. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. melainkan harus langsung. Akhir hari kedua. Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut. Para Troll sudah berganti kembali penjagaan. Saatnya untuk sedikit beristirahat. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Perlahan-lahan. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran.220 untuk berterima kasih. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. Sunyi. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu.

Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. Paras Tampan pun segera berdiri. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Saat ia bangun. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Percobaan terakhir. melingkarkan tubuhnya dan tidur. Benar-benar tidur. Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur. Tidur enam jam sudah cukup baginya. Pemuda itu menggeliat bangun. tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini. Semangat mulai mengisi tubuhnya. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. satu tahun lagi. *** Pagi telah datang. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya. . Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. Hampir-hampir ”terbang”. juga siasat yang diaturnya. gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. Digerak-gerakkan tubuhnya. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara.

Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air. . Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya. agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini. Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil.222 BAGIAN 4. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa.. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya.!!” hentaknya. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar.. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. ”Heghh. Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana. Ia menegadah. Salah seorang dari mereka mempersilakannya. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. Ia akan mulai menyerang para penjaga itu. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang. Satu tidak cukup. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya.

Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. Dan ia berhasil. sampai sekepalan tangan. melainkan langsung dengan serangan langsung. Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. .. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga.!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Hampir habis tenaganya. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu. ”Tak-tak-tak. akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu.. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. Kembali dengan cara yang sama. ia melompat. tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu. melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus.! Masuk ia ke lubang di atas sana. melesat menuju lubang itu. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas.

Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit. Lamat-lamat terdengar suara. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup.224 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh. Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. Hampir habis waktu ujian. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). Di sana.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. ”Bagus nak Paras Tampan. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini.” Sunyai sebentar. Bisa dari depan atau belakangnya. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. Dan anak telah berhasil. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun. ”Majulan terus. Ikuti jalan itu. Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana. . Dan lebih terang. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas.

Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. Melihat kebingungan Paras Tampan. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. Petapa Gunung Es. kadang juga sedih atau gembira. ”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa. Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. Paras Tampan menggelengkan kepalanya. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding. Engkau mem- .” jelas Troll tua tersebut.” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab. Kerangka mereka belum tinggal tulang.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka.225 Setelah dekat dengannya. Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. Kadang tegang. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau. karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. ”Nah. Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya. Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. sekarang setelah engkau berada di tempat ini. Ya. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang.

memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu.” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. ada satu permintaan padamu. PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya. Satu jurus dapat dilakukan cukup lama. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Di Katakombe itu. ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. Terserah ia. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. ”ku harap engkau mau mengabulkannya.” ”Sejauh yang saya bisa. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini.. Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. Kitab yang asli tidak boleh dibawa.” jawab Paras Tampan sopan. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu.. Terli- . Bila mereka telah tiada. Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab. Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya. harus ditinggalkan di sini.226 BAGIAN 4.” jelas Bagadsh. untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. Untuk waktu pembelajaran tersebut. tidak dibatasi. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. ”Aku Bagadsh. nak Paras Tampan.” ucap sang Troll tua. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu. Dan kemudian kembali diam. baru kemudian menyerang dengan cepat.” kemudian lanjut Bagadsh. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. Ki Bagadsh. Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya.

Cermin Maut.. Sudah cukup lama mereka bertanding. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya.. Lain . Rimba Hijau diserang. Gentong. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya. *** ”Hiattt.227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu. Misbaya dan Rintah.. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut. Akan tetapi sayang. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka. takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau. Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka. Asap.!” ”Tringgg. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia.. Ya. trangg. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat. Stamina sudah menurun. Bahkan setelah sang kakak meninggal.. Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya.

. diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak. Masuk sampai ke pondokannya. Akhirnya dengan siksaan-siksaan.228 BAGIAN 4. ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja. dan bukan untuk orang-orang dari seberang. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini. ”Ya. Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini. Akibatnya fatal.. ”kita yang baru turun gunung saja.” kata Misbaya. Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka.” sanggah Rintah. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman.. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang.” Ki Tapa sendiri tampak tegang.. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang.. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau. di Kota Luar Rimba Hijau. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar.

bila saya tak salah.. kemana saja engkau selama sini orang tua. ”Ki Tapa. Sabit yang dibawanya. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya. ”Maaf bila kami tidak tahu. Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami. Hanya orang- .!” tiba-tiba melayang seorang lain.. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti. ”Jangan berpura-pura. ”salah satu pewaris Petapa Seberang. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik. Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua.. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian. menunjukkan perangainya yang kejam.!” ”Benar... Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya. Kami masih mencari siapa yang melakukannya.. sampai tidak mengenai kami.!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara.. ”sejauh yang saya dengar. salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda.. Dibunuh orang. Cermin Maut.!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat. saya Ki Tapa. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda.. ”Hik-hik-hik. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya. Kakak Naga Geni telah berpulang lama.” ucap Ki Tapa. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu.229 ”Tahan.” tawanya sambil menutup mulutnya... Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah. itu sudah cerita lama. Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami. Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur..” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya.

”kita bunuh saja semua. Tak terasa dileletkan lidahnya. Badannya agak tinggi. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. telah melayang seorang lagi dari mereka. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini.” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya.. PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan..” . Mayat Pucat. kakak Mayat Pucat. ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau. Belum sempat Ki Tapa berbicara... Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini. Rimba Hijau. Lain pula dengan Cermin Maut.!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya..230 BAGIAN 4. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Orang itu Sabit Kematian. Memuaskan dahaganya. dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan. tulang baik.” jawab Sabit Kematian tak sabar. ”Maaf Ki Tapa. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini. Wajahnya kurus putih pucat.!” ”Anak baik. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan. baru kita geledah hutan ini. Tanda racun yang amat ganas. ”Tak usah banyak bicara. berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya. ”Jadi.

Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu. Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya. Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda. Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. Pertempuran itu berlangsung singkat. terlihat sudah ketimpangannya. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Asap kekuningan tampak mengambang perlahan.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang.. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. Setelah Cermin Maut. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini. mereka telah menemukan sesuatu.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka. mari kita pergi. Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. . seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. Mereka menyerang dengan ganasnya. ”Hmm. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja.

Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng. Sunyi. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan. kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya. ”Coreng. Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini. saat akan memakamkan mereka. Kembali ke suatu tempat.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat. Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan. bagi.. Tak usah dibalas. PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi.” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya.. Sayang terlambat untuk mencegahnya..... Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. Jauh di pinggir lapang sana. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya. Hawa kembar mungkin bersatu. ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat. tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi. Tapi tegakkan saja keadilan. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak . Angin pun berhembus pelan. Lukanya telah cukup parah. Moreng.. Urusan manusia bukan urusan mereka.232 BAGIAN 4. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang. semua orang. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai..

melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian. Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab.. Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku. Raut mukanya berubah gembira. sampai ditemukannya suatu halaman.” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. Cermin Maut. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini. ”Ini. ”Hmmm.. berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya.. Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi. Di luar sana..233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya. Membantai hampir seluruh penghuni kota itu. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya. Beranjak ia kemudian ke arah meja . Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut. Telah ditemukan apa yang dicarinya.. Lusuh dan buram warnanya. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. Sampai suatu saat ia berhenti. *** ”Guru. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya.!” Tampak sang guru termenung sejenak.

” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya.” tunjuknya dengan bersemangat. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu.234 BAGIAN 4. ”Mari kita jelang. ”Ini. itu suara air..” katanya gembira. terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang.. Lainnya kering. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan.. Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Dihempaskannya buku itu ke atas meja. apa yang engkau tanyakan tadi.” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya. ”Betul. ada di sini.. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat . memang benarbenar telah mendarah daging. Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu.. Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut.... ”. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa.. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya. Bekas sungai yang kering saat kemarau. PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya.. Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut. apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan. Kehidupan akan mulai muncul kembali. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama. Memastikan apa yang didengarnya barusan.. Rujukan menciptakan ruang . dapat disebut ruang. Samar-samar tapi jelas terdengar. Gurun Besar.

Air mengalir pelan tapi pasti. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Suatu pemandangan yang indah. . Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Entah ke mana. terbentuk dari tiada menjadi ada. Air. Aliran itu mengalir cukup aneh. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Menikmati semua itu. Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Benarbenar mengharukan hatinya. Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu. Dibebaskan dari tapanya. Perlahan dengan mendesis pelan. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Orang tua itu berdiri diam. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. Tidak seperti saat ini. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan. Ke tengah-tengah Gurun Besar. Umumnya bila ia ada di sana. Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Ke suatu tempat di tengah sana. sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya.

. sudah saatnya. Delapan yang kecil. Hening. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan.236 BAGIAN 4. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan. Sembilan buah semuanya. seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya.. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- . Lalu ia menutup mata sebentar.. ”Muridku.” Menarik napas sebentar orang tua itu. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu. Tersusun secara alami. Alami terbuat dari batu. ”Ya guru. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja.” panggil orang itu perlahan. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya. Anggota keluarga Pratahu.. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu. mendengarkan yang tak terdengar.. Pratahu dikenal orang-orang. Mencari paman dan sepupumu. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya... Muridnya si anak muda duduk di sisinya..” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal. Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu. mengendalikan sesuatu dengan pikiran. Kemudian lanjutnya. Di atas bangku alam yang lain. Lebih rendah dari batu pertama tersebut. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya. Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya.” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan.” jawab sang murid hormat.. mengelilingi satu yang besar.. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu.

dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. Lain tidak. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa. Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. Korban dalam pihak tentara saja. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. Dengan alasan ini raja yang baru. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. untuk sama-sama dihabisi. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. Sang senopati yang kemudian menjadi raja. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas. Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. Sang raja yang baru itu merasa takut. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik.

Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta. tinggal diambilnya sebagai murid. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Pada suatu malam. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. bisa pula di seberang pulau. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. bisa pula anak perempuan. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. Gurun Besar. Bisa berada di tanah ini. Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut. Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . Bisa berasal dari suku yang sama. Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. Ia hanya harus berkelana. bisa pula berbeda. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. Bila telah yatim piatu lebih mudah. kadang-kadang hilang tertelan pasir. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul. Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga. Hal ini harus dicegah. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi.238 BAGIAN 4. Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. Terjadilah bencana tersebut. sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. Keluarga Semesta. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Bisa anak laki-laki. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan.

Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya.239 bang satu persatu melalui cara ini. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar.. Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka. Rahasia telah dibeberkan... Ia kini punya seorang anak.” ucap anak muda itu tersekat. Menurunkan ilmu-ilmunya. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah. Terbersit pula rasa haru di dadanya.” ucapnya sambil bersujud. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. Dialirkan . Seh Pratahu hanya mengangguk.” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya. pemuda itu pun berlutuh. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. ”Anakku.. Sampai lewatnya Seh Pratahu. ”Jadi guru. Menggapai si anak dan menenangkannya. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak.. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu.. Sampai saat ini baru ada empat orang. Mendengar pertanyaan penuh haru itu. Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta.. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa. Bukan ayah akibat pertalian darah.. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya... adalah ayahku dalam keluarga Pratahu. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu. Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini. melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. ”Ayah..

Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa. Tapi itu dulu. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya. Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. anakku. Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu. Telaga. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih.. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu. Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman. Sarini. ”demikian pula dengan aku.. *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga. PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya.” tanya anaknya tak mengerti. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan. ”tak mudah untuk melakukan hal itu. ”Ayah. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru.” Lalu lanjutnya. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini. walau mereka baru saja tiada saat itu. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya. jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang. Engkau pada awalnya adalah orang asing. Sambil tersenyum sang ayah berkata.240 BAGIAN 4. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih. Dikarenakan lihai dan juga kejam. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah.

Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya. Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat. Bukan uap air atau pun butiran air. Hening. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang. Mengambang. terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak. . Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana. Seperti makhluk hidup. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga.” tunjuk Walinggih pada muridnya.. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. ”Mari. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun.241 yang dalam dan gelap. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya.. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka.. ”Itu makanannya datang. Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi.!” Walinggih sambil menggapai Telaga. Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana.

Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah. keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara. yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu.. Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya.?” ”Ssst. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya.. Kadang ada yang sampai berjungkir balik. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg. ”Jangan ketahuan.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi.242 BAGIAN 4.!” ucapnya. Mereka bergerak-berak. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya.. ”Maaf.?” tanya Telaga. Warna pelangi. Anehnya mereka dapat . yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya. Memangsanya. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana. supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu. Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu. ”Apa itu guru. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara. guru!” sahut Telaga lirih..!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu. Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu.. muncul makhluk hidup lain yang amat aneh. ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu. beterbagangan. Benar-benar indah. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya. Kadal Pelangi (Agama agama).

Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. Di atas batu kecil yang lain. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. terjadi hal yang sama. Entah bagaimana caranya. Lalu lanjutnya. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. guru. Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya.” terang Telaga. ”Indah.” ”Apa itu?” tanya gurunya. ”tapi ada yang membingungkanku.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik. ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya. melainkan miring. Walinggih pun beranjak pergi. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka. Mantap dan kokok. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi.” sahut Telaga pendek. ”Gerakan mereka. . Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring. Melombat ke atas dan kembali. Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk.

Dan tidak hanya itu. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara. Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu. dalam ilmu Pedang Panjang.” ”Kupikir. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat. Dan pada suatu saat. ia kembali melompat pada arah yang berlawanan.” katanya jenaka. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk. Mendarat dengan kakinya kembali. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas. ”Sabetan Tunggal Menuai . ”Sebenarnya juga tidak.. sempai hampir habis napasnya. benar-benar lebih dari itu. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi.. Akhirnya Walinggih pun berhenti. Walinggih melompat ke atas terbalik. Dan berjungkir balik kembali.” jelas gurunya. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya. hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh. Menyentakkannya kembali ke belakang. ”Guru. Bagian dari ilmu Pedang Panjang. Yang barusan guru tunjukkan. barusan tadi.244 BAGIAN 4. ”Gerakan itu kunamai..” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi.” ucap Telaga kagum. Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama. Pelan dan teratur. akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar.

Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. karena sebenarnya hanya memutarnya saja. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis. Setelah bisa. . baru perlu pemahaman teoritis. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan. Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut. Dicobanya menirukan dan melakukannya.” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. akan tetapi memanfaatkannya. Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. Membelokkannya pada arah yang berlawanan. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. ”Mari. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi. sehingga dapat membingungkan lawan.

PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang. sehingga menjadi lebih teduh dan gelap.246 BAGIAN 4. mereka menangkap binatang-binatang yang ada. . Waktu untuk mencari makan. Tidaklah bisa disebut hutan. Matahari telah tinggi di langit. karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya. Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan.

” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya. Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ. haruslah pula berpisah.” ucap Ki Sura.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek. Dan ini memang kehendak suaminya. Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu. Entah kapan mereka dapat bersua kembali. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 . Sudah waktunya pula kita berpisah. ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari. Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga. Dan anak ini. nak Lantang. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan.

. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri.” jawab Ki Sura gembira.. ”Kami akan baik-baik saja.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta..” ”Engkau memang cerdas. Kemungkinan gurumu bertandang ke sana. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau.” jelas Ki Sura. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya. ”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka.” Ki Sura berusaha berkata arif. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya. tak perlu engkau kuatir. nak Lantang. bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air. ”Kamu tahu ’kan. ”Tapi guru berdua. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’.248 BAGIAN 5. Rimba Hijau. Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. ”akan . nak Lantang. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa.” Nyi Sura yang menyahut.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur. Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya. Adik dari Telaga. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka. ki?” tanya Lantang..

sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu. Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. ”Saat itu kami bertiga. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua. Entah di awal-awalnya. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita. apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu. yaitu air.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. ”Jadi bagaimana rencanamu. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. Tapi tidak untuk semua gerakan. Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. Mengenai hubungan dengan gurumu.” terang Ki Sura. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. udara dan api. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam. ternyata bisa.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung.” Mereka kemudian terdiam sejenak. kami tidak tahu. kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. akan tetapi keduanya. tanah. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura.

Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. walau di dalam bawah sadar. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga. Jangan mencari-cari masalah. Pagipagi sekali. karena hal itu tidak baik. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana. yaitu Xyra. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut. Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya.” senyum suaminya. Pulau Tengah Danau. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri. Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya. Selain itu Ki dan Nyi Sura. Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini. Ada suatu sebab. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka.250 BAGIAN 5. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. .

Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Akhirnya ia pun duduk terpekur. Suatu saat ia mungkin kembali. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Tapi tidak ada sahutan. Aneh. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi. Ki dan Nyi Sura. Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Dan mereka dapat kembali bersua. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. yaitu melalui mimpi. Dengan kerja sama ini. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu. ini pun lebih baik. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. Berlatih dalam mimpi Lantang. Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. Biarlah pikirnya. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. dikerahkannya suaranya. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. Barang-barang miliknya tidak banyak. sehingga tidak dibu- .

Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti. ”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik). sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. Dari buku-buku yang dibacanya. membekukan air. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja.. Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu. Menjadi es.252 BAGIAN 5. lama ia berupaya berkonsentrasi. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu. ”Tapi ayah.” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran. dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya.. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. Membuat api. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi. Batu itu tambak bergerak sedikit. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. Belum selesai dengan demonstrasinya. Tidak berhasil. air dalam gelas itu telah membeku semuanya. *** ”Anakku Nah. berputar. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. Alih-alih mengalir. Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen. Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- .

Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya. semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. Suatu tandon sumber tenaga. Unsur Angin dan Unsur Tanah. Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam. ”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya. Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya. kira-kira empat jari di bawah pusar. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya.” jelas sang Ayah. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran. Kadang orang tidak . Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda.253 gujar Tua. yaitu Unsur Air. Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. Unsur Api. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah. ”Pada prinsipnya sama.

Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak. ayah?” tanya Nah amat tertarik.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. tidak menyukai warnanya. walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. akan ayah ajarkan. Pamanmu yang lebih banyak tahu. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri.” jawab Seh sambil tersenyum. Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih . ”Lalu bagaima cara kita melatihnya. maka anak kecil tersebut akan menangis. Lalu lanjutnya.254 BAGIAN 5. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu. Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. karena lawannya telah keder duluan. ”Caranya tidak terlalu sulit. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran.

Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia). boleh dikatakan pelangkapnya. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur. nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah.” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan. antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu. Ditunjukkan pula beberapa cara.” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana. Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna. ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat. Hal-hal lain di luar itu. . ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita. dan sebaliknya. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap). ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada. umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda.” jelas Seh pada Nah. ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda. atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya.” jelas Seh pada Nah.

Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat. Napasnya pun mulai terengah-engah. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. jauh lebih panjang. ”Nah sekarang latihlah. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. ia pun melakukannya. Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya.256 BAGIAN 5. Dan tidak disarungkan. Kadang teratur kadang liar. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu. Juga ingat-ingat akan warna padanannya. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya. Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. Bila dirasa cukup pembayangannya. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran.

Mundur dan mundur. Bertangan kosong. Dengan indah alih-alih mengelak. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang. Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang.. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai. Menuju jalan darah penting ditubuhnya. siapa. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. Tapi Telaga kecele. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya. apalagi menggunakan pedang panjangnya. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. ”Hei.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya. beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan.. Terpaksa Telaga pun mengelak.

Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. sudah dihentikan. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu. Pada jarak seperti itu. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana.258 BAGIAN 5. pedang panjang tidak ada gunanya. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. Pedang tersebut melesat dengan kuat. Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. Mungkin panjang rambutnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga.

rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Saat itu tersadarlah Telaga. janganlah permainkan aku. Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. Tapi kemudian katanya. Darah mudanya pun sedikit bergolak. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. Telaga terkunci. kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang. ”Sarini. Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. Terbanting.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap. ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya. Sarini putrinya. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Lalu katanya. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini. Akibatnya sudah dapat diduga. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya.

Sarini bergerak cepat. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. ”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi. kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya. agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga. Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Terlentang.260 BAGIAN 5. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. di mana Telaga akan mendarat. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. Masih belum menyerang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya. cukup mengelak tipis. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. Ia tidak banyak bergerak. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. Tidak banyak ia bergerak. . Hasil yang mirip diperoleh. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. Sarini telah mengambil posisi rapat. Karena lama tak membuahkan hasil. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Gadis ini benar-benar berhati harimau. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi.

”Tahukan pula. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh.” jelas Arasan. ”Guru. bila itu tadi adalah Walinggih. Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja.261 ”Hehehehe. Setelah mereka berdua berdiam agak lama.. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini. ”tak tahu guru. tidak untuk jarak dekat.. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang .!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya. ”Nak Telaga.” Orang itu ternyata adalah Arasan. Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana. Ia telah lama berada di sana. kena engkau diperdaya Sarini. bertanyalah Arasan pada Telaga. ”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh. Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi.!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana. Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya. Tampak merah mukanya.

”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak.” kata Arasan kemudian.” begitu jelas Arasan.” jawab Arasan. ”Menurut saya. Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu.. perlahan-lahan wajahnya pun memerah. guru. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. nak Telaga. Lalu katanya. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu. Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini. ”Sebenarnya.. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Dan memang demikianlah. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak. Telaga mengiyakan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu.” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut. agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan.” Telaga terngaga mendengar hal itu. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak .262 BAGIAN 5. Bisa kecewa ia nantinya. Walinggih.

Kedua orang tua yang sedang makan. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka. Setuju atau pendapat gurunya. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. Arasan duduk di samping Telaga. merica dan tunas pohon kala. Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu. Dimasak kira-kira hingga tiga jam.263 terduga. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. . Tak lama kemudian mereka pun berlalu. Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga.” jelas Arasan. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. mereka pun kemudian mulai makan. Telaga pun mengangguk-angguk. kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya. Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih.

”Eh. Diupayakan untuk menutup mulutnya. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka. Dia lebih pakar dari paman. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah. Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka.264 BAGIAN 5. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka. tuh! Ini gara-gara kamu sih. ”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah. lihat. Sarini.” tuduh Walinggih jenaka. tidak mau menjelaskan. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih. dipegangnya perutnya yang sakit. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu... pecahlah tawa antara orang muda itu.! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar. Sudah empat kali ia tambah..” jawab Arasan sekenanya. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini... ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar. Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu. ”Ayah. ”Arasan.” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. . Telaga hanya tersenyum. Terdiam. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka... Telaga tak lagi dapat menahan tawanya. terlihat salah tingkah.

bukannya engkau Walinggih yang mulai. berkatalah Arasan.. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini. rendah hati dan bersemangat itu. Seharusnya engkau saja yang bilang. ”Kakak Walinggih. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan . Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. ”Nah. saat ini telah menjalar ke leher dan telingah. Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. Ia pun lalu membalas dengan merendah. Telaga. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus.!” Arasan pun tak mau kalah. Mereka tidak bisa bicara apa-apa. Lalu katanya.265 ”Eh. Dan hanya satu yang mungkin. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah. ”Adik Arasan. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan. putriku Sarini. dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali. Sarini. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak. Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya.. Menjadi keren dan serius. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu. sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu.

Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini.” Kedua orang itu terdiam. akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya.!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih. Pandai masak pula. Yang paling terkejut adalah Sarini. berkatalah Telaga. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya.. Mereka sudah saja merasa yakin. ”ayah. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu. Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata. Setelah berhasil menenteramkan hatinya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini. karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Karena dipergoki oleh ayahnya. mengakulah ia akan hal itu. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya.!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu.. dapat ia merasakan itu. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam. sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya.266 BAGIAN 5.. ”Maafkan perkataan saya ini. terserah ayah saja. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu.... ”Hahahaha.. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga. .

yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air. ”Begini saja. anak dan istri. ”Hmm.” ”Ah. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini...267 Arasan pun menghubungi Walinggih. Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini. gadis yang diam-diam juga ia sukai.” begitu ujar Walinggih.. Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi. kakak Walinggih. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. ”Engkau masih ada orang tua di utara sana. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. Tadinya sempat perasaannya bergolak. kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini. Moga-moga mereka setuju.” jawab Walinggih.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri.. . Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan. Kehilangan keluarga. Baiklah. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan. Yang dihubungi merasa gembira pula. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat.” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega. ”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu. Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya. suka guru. Lalu ujarnya. ”Hmm. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu.” usul Arasan. di tengah laut. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana. ”Saya. gimana ini. Ia hanya bisa pasrah.. ”Eh..

. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya.268 BAGIAN 5. begitu pikir keduanya. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan. Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun. ”tak ada yang kekal di dunia.. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air. Ki dan Nyi Sura. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka.. Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya.” gumamnya. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. Di antara orang-orang yang tinggal di laut. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara.. Suku Pelaut. Dengan atau tanpa pedang panjang. Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. jauh di lepas pantai. Telaga ke arah selatan. Kedua rombongan itu pun berpisah. ada pula waktu berpisah. Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua.. Sekalian mengenal calon mantu mereka.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. . ”Ada waktu berkumpul. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh. Atas usul Arasan. Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu.

. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya.. Buat apa susah. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya.. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah.. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil. matahari bersinar cerah. Untuk menghilangkan rasa sepi. Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa.. ninini. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang. trilili. haha. didi. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur. buat apa resah. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara..” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. Hal-hal tersebut menarik hatinya.. Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu. Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum. kera-kera bermain di hutan. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur. susah itu tak ada gunanya. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu. bunga semerbak merekah. Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung..269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya.. dada. Perangainya yang riang menambah daya tariknya.. resah itu juga tiada gunanya.... Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau. Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja.. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. Mirip kuku- . Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau. Tralala.. Nanana.. hihi.

Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. manis-manisan dan bumbu-bumbu. Saat baru turun gunung.270 BAGIAN 5. tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak. diduganya bahwa itu adalah seorang . Nikmat rasanya. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya. Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. Memandangnya dengan tertarik. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Lantang. teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. Di antaranya terdapat dendeng. pun celingak-celinguk. Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. Agak jauh di hadapannya. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu. Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. di bawah sebuah pohon yang rindang. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. pemuda itu. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana.

Serius. Ada ungkapan terima kasih di matanya. Cepat. Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. Baju yang dikenakannya juga aneh.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan. Seakan-akan mengangguk. Setibanya di dekat air.. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang.271 yang sudah agak tua. Bunyi kukuruyuk. Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum.. Juga guru pertamanya. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu. Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. ”Ki sanak yang di sana. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana. Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. Bukan karena bahannya yang kasar. saat ini kelihatannya tidak lagi. orang itu telah bergerak ke arahnya. Tua sebelum waktunya. melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah. Mirip dengan cara ia datang . Amat cepat. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya. Halus akan tetapi cepat. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. ”hanya makanan sederhana. Kalau tadi bersumber dari perutnya. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya. Sebelah hijau muda. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua. Ki dan Nyi Sura. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi. Tak bisa dirasakan. orang itu kemudian menghilang. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum. Pasti dari orang itu.

Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. Tak lama Lantang pun terlelap. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin. Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. Dalam tidurnya. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan.272 BAGIAN 5. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Tidak jelas alasannya. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya. ia pun bermimpi. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri. Khas pulaupulau delta pada umumnya. Tetapi tidak terjatuh. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. sahabatnya yang seorang Undinen. Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. Kembali dalam posisi siap menyerang. Sebuah muara. . Bukan dari busana mereka. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. apabila mereka bersua kembali. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu.

Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku. Luwes. Menilik dari serangan tadi. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Keduanya ingin mengalahkan yang lain. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Lantang yang tadi melihat dari jauh. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- . Air. Berdiri satu di depan lainnya. Entah bagaimana caranya. Maksud ingin menengahi. Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Bergerak dengan halus dan cepat. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. Mencegah pertarungan ini berlanjut. Keras tetapi tidak getas. Mengendap ke bumi. Mengalir seperti air. Keduanya kembali berhadapan.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Air. ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Lantang langsung bergerka ke tengah. Lentur dan membaur. Membuang tenaganya dalam satu serangan. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. keduanya telah kembali berlaga. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Hanya saja saatnya tidak tepat.

agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan. Xyra. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang. Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Pak Tua. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit. Tapi tak ada tenaga. Kota Luar Rimba Hijau. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . tapi belum semuanya. menjadi puing-puing. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Semampunya. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara. Lantang berusaha untuk bangun. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. Hancur tak tersisa.274 BAGIAN 5. Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya.

Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya. Gentong.. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau. pekarangan di dalamnya. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. Suatu perguruan beladiri. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas. ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku.275 dari satu tempat ke tempat lain. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya.? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. Misbaya. Ya. Sedih dan sunyi. dan lainnya. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. .

Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa. kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu. ”Nak. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu.. Tak terkecuali sosok perempuan tua itu.?” tanya Paras Tampan sekenanya. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. nak Paras Tampan. Sebagai suatu penghormatan saja. Guru mereka semua. Ia tidah tahu harus berkata apa. akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. Nyi Antini... Saat terjadi . Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda. ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. yaitu Kirani dan Rantih..276 BAGIAN 5.. Paras Tampan hanya dapat mengangguk. bagaimana kabar Paman Baja. Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja.. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. Coreng dan Moreng. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu. ”Bibi Antini. sesosok orang tua menyapanya. Setelah cukup lama termenung. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya.

Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang. Dingin dan basah. Nyi Antini pun melaksanakan hal itu.277 pembumihangusan itu. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. sedangkan suaminya hilang entah ke mana. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . Patuh pada perintah suaminya. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. Disuruhnya istrinya. Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. Akan tetapi hal itu tidak digubris. ia dipaksa ikut oleh mereka.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu. Berendam semalaman. begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. Akibatnya ia selamat. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Nyi Antini untuk bersembunyi. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah. untuk membuka jalan di Rimba Hijau. Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas.

yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang. Memerah. Wajah Paras Tampan tampak membeku. Tangannya mengepal keras. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Menyebarkan amis darah. Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya. nak Paras Tampan. Mengeras. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup. Lebih tua dari umur sebenarnya. Harap-harap itu Ki Baja. Nyi Antini. Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor.” Nyi Antini berhenti sebelum . Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda..” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu. Tiba-tiba ”byurr!!!”. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. ”Ada satu hal lagi. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu.. Sesosok mayat dengan luka di mana-mana. Bertambah satu pula tugasnya.278 BAGIAN 5. dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna. ”Maaf nak Paras Tampan.. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini. yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab.

. hanya saja pindah. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah.. ”Tunanganmu. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi. Janganlah nak Paras Tampan kuatir. Belum menikah. Tapi terselip pula rasa yang aneh.” jelas Nyi Antini. ia pun berkata. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Ki Rapih..! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. Untuk menghilangkan jengahnya. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah.279 melanjutkan. . Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu. Gembira ia mendengar kabar ini.. ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari.. Citra Wangi. Citra Wangi masih sendiri.. ”Bibi. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa. bibi... memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan.” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini. Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah.” ucap Paras Tampan sendu. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya. Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban.” ”Katakanlah.

Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis. menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu.” jawab sang gadis jenaka. Langkah keduanya ringan dan mantap. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman. racun hijau.280 *** BAGIAN 5... Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau.. ”Tapi apa bahayanya. Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Entah mereka sadari atau tidak. ”Hatihati. Racun. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda. ”Hmmm. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas. Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai. . Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana..” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna.. Mereka berarah ke utara. tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. Rupanya ia murid sang orang tua.” terang orang tua itu. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya. Batubatu ini terlihat tidak wajar.

muridku. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. Itulah alam. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. . ”Kalau penawarnya sedemikian mudah. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi. Tangannya diletakkan di depan bibirnya.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. Tapi spora ini lain.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara. tentu saja ada. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan.” Kata-katanya tidak diteruskan. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi. ”Ada penawarnya. ”Tidak semudah itu. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi. Dan amat mudah. Lihatlah di sekitarnya.. guru?” ”Hehehe. karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras. ambil dan remas-remas dengan jarimu. terdapat warna-warna merah. Ada pengujar tua yang pernah berkata. muridku. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. Amat indah dan seimbang. ”Ini. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung. ”Engkau benar. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan.

Ia telah berubah. Mengepung dari kedua arah. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang.” ucap salah seorang brewok dari mereka. ”Hehehe. Pasti itu suatu yang berharga. Sekarang semuanya enam orang. Batu Lumut Hitam. ”Maaf. Hanya bekal makanan dan baju pengganti. Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. Tetapi tidak saat ini. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan. Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya. bagaimana ini?” tanya sang murid. ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu.” ucap orang tua itu masih sabar. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. ki sanak sekalian. boleh juga ditinggal. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak. Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian.282 BAGIAN 5. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. ”Dan yang cantik ini. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya. ”Guru.” bentak teman si brewok. . Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang. kalian telah melalui wilayah kami.

biar aku yang di belakang. Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya. Hampir dua kali panjang pedang biasa. Menyerang. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan. ”Pak tua. jika talinya ditarik. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid. kainnya langsung terbuk. orang tua?” tanya balik orang itu. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut.. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang. Jangan lama-lama. cepat serahkan bungkusan itu. lalu katanya lirih. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat. yang langsung dengan sigap menangkapnya. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain. pasti mereka tidak akan memintanya. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi. Dua buah pedang panjang. salah seorang penghadang menghardiknya. Salah seorang dari . Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan.. orang seperti ini tidak boleh diberi ampun. ”Engkau ambil tiga yang di depan. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. Dua buah pedang panjang. Sisakan satu untuk penunjuk jalan. apa maksud kalian. ”Heh.. ”Hey. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu. apa maksudmu.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya..

Sekarang jangan banyak pikiran dulu. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. Lalu katanya. Kemampuan alamiah seorang pemangsa. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa. Tenangkan dirimu. Lalu kata si orang tua. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Walinggih. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian.” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang.” . Ia telah kupesankan caranya. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. ”Nah Sarini.” kata seorang dari mereka. Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. melainkan para perampok jahat. Bangsa Penghadang. ”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. Bukan hanya itu. yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air. Kedua orang itu. Sang guru dan muridnya.284 BAGIAN 5.

Pagi pun datang menjelang. Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Sebelum tahu sebabnya. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. tetapi tidak. Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. . Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. Ditiupnya sedikit. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan. melainkan untuk menyadarkan saja. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra. karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan. Setelah yakin akan panasnya. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda. Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. Penuh dengan kelembutan. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. Bila tidak amat disayangkan. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Lantang telah merasa sehat kembali. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Sebelum Lantang sehat. tak ingin Xyra bersantap.

Bahkan dalam berbagai situasi. semakin besar kemungkinannya untuk menang.. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya.286 BAGIAN 5.. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini. Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang. ”Saudara-saudara perampok. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat.” usul gurunya. Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya. Menghadapi Telaga. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu. Entah apa. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya.. Sarini hanya mengangguk. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi. Akan tetapi sekarang lain. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. Tidak demikian dengan orang-orang ini. Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. ”Cobalah pada mereka. Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” .

bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu. sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. bertubuh gembul dan berkulit agak gelap. Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. Sebilah golok tampak tergantung pada . Wajahnya memerah dan napasnya memburu.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. Repot juga pikirnya. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar. Seorang dari mereka akhirnya berkata. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya. Mirip durian. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. Rakrakrak. *** ”Petani ompong she Gu. Orang dengan tenaga kasar yang besar. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Nafsu telah menguasainya. ”Hehehe. Ikuti saja maunya. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. Seorang dari para perampok tersebut.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. dada yang ranum. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. tak lama. merasa dirinya lebih enakan. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. ”Kakek Gu. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. Ketawa yang ramah dan hangat. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya. Cepat. Mau tak mau terasa pula jengahnya. ia pun segera tertidur. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. Tak terasa ia pun terlelap. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak. Walaupun cukup gemuk.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya. ”Duh. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya. Melihat kekikukkannya itu. Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya.

!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. Lima orang .. Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya. Saat berpusing. Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. para perampok. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita.300 BAGIAN 5. pujaan hati. ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. Akibatnya. Dan tidak tanggung-tanggung. ”Pinggang molek. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. Bagi mereka. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya. Sarini sebagai putri Arasan. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. kaki jenjang. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya. Girang sudah wajah perampok gembul itu. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar.

Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu. pucatlah keenam orang itu. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam. bisa lega aku memulangkan kalian. mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian.” kata seorang dari mereka. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya. ”Sudah lama. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih. ”Biar kalian tak penasaran. ”Satu tahun.” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat. ”Nan.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya. aku sebutkan satu tempat. Desa Batu Barat dan Timur. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin. Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong. ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih.” jawab Walinggih. apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu..” Mendengar nama tempat itu. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin. Walinggih berseru. Belum lama. mereka . ”Hehehe. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya.. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin. Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka.301 yang lain pun menjadi marah.. Kami bukan lagi Asasin. ”tahan!!” ”Orang tua.

Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya. Hakim Haus Darah. Ia telah berubah. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak. juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru.. Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa.” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka.. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang.!!” ujar seorang dari mereka pucat. Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air.. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. sudahlah. Tangan kecil dan halus milik Sarini. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong. gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. ingatan masa lalu akan keluarganya. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik. ”Engkau. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan. ”Paman. Hakim Haus Darah. Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang.302 BAGIAN 5. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua.

Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba. paman!” balasnya. ”Ini juga salahku. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya. ”Omong-omong.” Hanya itu saja. tenagamu itu boleh juga.” puji kakek Gu. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi.!” . ”Ah. Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya. tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya. paman. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu. Salah seorang bernama Rakrakrak.” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo. paman bisa saja. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik. *** ”Maaf.” ”Ah. Saya juga baru belajar dari para Troll. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni. mengguman-gumam.. ”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu. tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali. ”Tidak baik.” ucap kakek Gu sedih.” jelas pemuda itu. Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini. ”Tidak apa-apa.

Alam ini terdiri dari materi. nenek Po pun tersenyum. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu. Dan semuanya patuh pada gaya berat. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. ”Nak Paras Tampan.” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan. apa maksudmu?” ”Ah. ”Anak muda ini. bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. udara dan api. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- . ”Nenek Po. keseimbangan akan terganggu. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. Ada empat unsur air.” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Terutama aliran hawa dalam tubuh. Itu melawan alam. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir.” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. Lalu lanjutnya. Konsekuensinya berat. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. tapi dengan perhitungan tentunya. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. tubuh menjadi kosong.304 BAGIAN 5. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. Dengan mengubah-ubah gaya berat. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat.. tanah. Semunya punya isi. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam.

yaitu Chu Qing Yun. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. yang menceritakan . hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Walaupun demikian. serta Gu Long sendiri. ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. Gu Long adala seorang yang cerdas. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. bila menggunakannya dengan benar. Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah). Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. Sekitar 12 tahun. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. Selain berbahaya bagi lawan. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan.305 pal ilmu itu. Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut. tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya. Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. baik dari nenek Po maupun kakek Gu.

Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. Digigitnya ubi. Ia sendiri pernah mendengar. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Bila sedih ia minum arak. Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. lalu rempah-rempah. dikunyahnya perlahan.” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. akan tetapi tidak lama. Ubinya tinggal sebuah. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Kerap sekali sehingga jatuh sakit. Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. Tidak cukup kiranya . Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu.306 BAGIAN 5. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan. ”Sebaiknya seimbang. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long. ucapan dan pelaksanaan. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya. Gu Long namanya. Ia hidup tidak bahagia. apa yang kita tuangkan dalam karya. Itu yang terbaik.

Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. Khas kecantikan seorang Undinden. Ia mengeluarkan nada tinggi. Ditunggu saja sambil beristirahat. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis.” Lantang pun menurut. Ada sesuatu yang harus dicarinya. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan. Segigit pisang dan rempah-rempah. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. Xyra tampak senang melihat hal itu. Dan ia menemui Ki dan Nyi . Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. Tiba-tiba bahunya ditepuk. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu. maksudmu?” tanya Xyra. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Pindah mengisi lambungnya. ”Ia tadi pergi sebentar. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. ”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang. Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya.307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. ”Wananggo.” katanya pelan. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat.” jelas Xyra. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung.

ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam. Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain.308 BAGIAN 5. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. Keduanya pun terdiam. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. Saat Lantang menderita sakit. Setelah menemukan. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu. . Menggelora jiwa muda. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen.

agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. Lega.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. Darah menetes lembut. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. Senyap. Lepas. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri. Dan jiwa pun tenteram kembali. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. Secarik kulit dicabik halus. Ia sekarang bernama Gu Yo. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Menghirup keheningan. Mengekang nafsu. keponakan jauh dari Gu Ming. Guratan di atas kulit nan indah. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. Sunyi dan sepi. Unbekanteeremit. Menghilang. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu. pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 . Menegaskan guratan-guratan mistis. untuk disalin dan dikumpulkan.” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Menghela napas. Tato. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. Setelah semuanya berakhir. ia menugaskan muridnya.

Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya.” Pemuda itu pun mengangguk. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir. ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. tak usalah. dan kamipun akan merasa lega..” ujar nenek Po ramah.” jawab pemuda itu hormat. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya. ”Dulu. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini. Saya mencari keturunan dari orang itu. ”Sebenarnya. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat. ”Begini saja.. yang disayat dari tubuh empunya. Terdiam sebentar pemuda itu. ”Tidak sama sekali. Kulit yang bertato. BAGIAN 6.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang.. kekek Gu. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini. ”Ya.” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega.” ucap kakek Gu kemudian menengahi.” bingung pula pemuda itu. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang .

.” tak diselesaikannya ucapan itu.” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya . Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka.” cerita kakek Gu. ”tapi berarti. Beda kelompok. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. ”Sebenarnya.” ucap nenek Po. kami bukan menjadi begal atau mungkin belum.. ”Benar. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan.!. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat. kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu..” tambah kakek Gu. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia)... Sungkan ia melanjutkannya. Orang yang sudah dewasa. yang dianggapnya benar-benar membingungkan.. budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya.” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu.” ”Eh. kakek dan nenek. ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka.311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh. dianggap lengkap bila telah memiliki tato. beda ciri khas tato yang digunakan. Setelah tawa berderai keduanya usai. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata. ”Bukan. ”Pada jaman itu..” lanjut nenek Po. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya.

. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya.” kali ini kakek Gu yang menjawab. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato. begitu!” jawab pemuda itu. ”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. akan tetapi sebagian lain tidak.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya. Lalu sambungnya.” jelas nenek Po.312 BAGIAN 6.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya. nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.” jelasnya. padahal itu adalah tubuhnya sendiri. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut.. TATO ke atas.” lanjut nenek Po. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. dan boleh dikatakan menawan. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato. karena hal itu dianggapnya tidak baik. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi.” ”Oh. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya. ”Ceng-Liong Hui-To. ”Dan kakek Gu punya.

Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. di antara orang-orang senasib. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. pemerintah menjadi kalang-kabut. Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan. dan selalu saja berlebihan. Akibatnya jelas. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. anti kemapanan. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka. main tangkap saja orang-orang yang bertato. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. agar dihapuskan. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu.313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. Apa-apa yang tidak dianjurkan. Alih-alih mendengarkan. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Sengaja mereja menggunakan topeng. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. . membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah.

Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Walaupun telah salah tangkap. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. Suasana kembali seperti semula. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Untuk mengenangnya. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. Dengan membawa beberapa saksi dan bukti. tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Akan tetapi dengan hilangnya. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. . Roda perekonomian kembali bergulir normal. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. informasi rahasia dan keamanan. mendatangkan kesan masif dan keren. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum. tidaklah jadi hal itu dilakukan. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan.314 BAGIAN 6. Besar dan gagah. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Tenang dan damai. yaitu CengLiong Hui-To sendiri.

315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Kepala dari gerbang itu. ia melihat berbagai aneka toko-toko. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. Pastilah itu dia. terpahat pada tengah batang melintang. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. Jalan batu. Lambang elemen kuno udara. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu. Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. Citra Wangi. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya. membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. Tidak juga kota tempat asalnya. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. dan tengahnya dicoret garis mendatar. Saat hari hujan. Gerbang Udara. kota Luar Rimba Hijau. istri mendiang Ki Baja dari . Warna udara dan asap. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. tapi tidak ada yang memberatkannya. bagai tanpa akhir. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. Jalan di depannya masih lurus jauh. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama.

”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. .316 BAGIAN 6. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. seperti ”Pake matamu!”. Tapi rasanya bukan ini.” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. Bergegas dipacu langkahnya. karena dialek mereka yang cukup kental. Cepat. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. Akhirnya perburuan itu pun berakhir. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya. Besar dan mewah menurut Gu Yo. pedati dan juga kereta tanpa kuda... Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. ia pun memacu langkahnya. TATO Kota Luar Rimba Hijau. yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. pikirnya. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. saat ia bingung tadi. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. berkali-kali hampir tertabrat.

Janji. sesuatu yang tidak ia temui di kotanya. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu. anak muda!” katanya bersahabat. Mungkin lain kota. itu. anu. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya. orang sedemikian sibuknya. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. ”Ah. ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. Demikian pikirannya menyimpulkan. sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya.?” tanya sang penjaga kembali.. saya ingin bertemu dengan nona tadi. ”Eh. entah toko atau apalah.. akhirnya menggapainya untuk ikut. ”Maaf.. dan disapa balik dengan. Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu. mereka terlebih dahulu harus membuat janji.317 ”Tahan dulu. sehingga untuk bertemu. lain tata cara-nya. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda. maksud saya. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. anu. . Gu Yo tidak tahu. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi.. dapat langsung datang kapan saja. Tak perlu ada janji-janjian segala. itu.. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu. Lalu lanjutnya. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung.. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh.

lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”. Kemudia saat ditanya namanya. ia menyebutkan ”Gu Yo”. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. Seorang pelayan mengantarkan mereka. Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji. kekasihnya dulu. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi.” saran sang gadis tersebut. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . ”nanti sore. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. dan bertanyalah ia pada Gu Yo. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. sebelum bertemu dengan nona Lin. melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. Persoalan membuat janji masih asing baginya. nama sebenarnya dari nona Lin. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo. keperluannya dan waktunya. di kota Siaw Tionggoan.318 BAGIAN 6. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. Untuk keperluannya.

bagaimana?” jawabnya ramah. dari ayam. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. kambing sampai ular dan kelinci. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. sapi. masuk saja. Aku pemilik kedai ini.319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. suatu suara dalam lambungnya merekah. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu. ”Eh. ”Ah. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. tapi. Kamu boleh makan sepuasmu. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. seorang tua menyapanya. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan. mari masuk mencicipi!” ajaknya. orang tua itu memang pemilik kedai itu. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. tapi setelah itu bantu-bantu. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. ”Ayo jangan malu-malu. kerbau. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara.. Kedai Daging Bakar namanya. Setelah berjalan beberapa saat. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu.. pasti kau tidak cukup punya uang. ’kan? Ayo anak muda. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. Yok Seng.

mengingat permintaan yang banyak. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja.. TATO waktu. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. tapi telah membuat janji dengan nona Lin. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk.” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja.” jawabnya. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. ”Eh. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. hasil asahan pengalaman yang menahun. ”Eh. ”Engkau tidak akan bekerja di sana. Ia melihat bahwa pemuda itu. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain. tapi. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya.. saya. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. . sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. Tidak ingin bekerja di sana. Tiada yang tersisia. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. Gu Yo. ”Tidak. Habis.320 BAGIAN 6. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan..

Ma She hanya mengangguk. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo.” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar. Tapi wajahnya ramah. ”Ini Ma She.” ”Ma She. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu. Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya. Oh. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang.” kelakar Yok Seng. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. sehingga tampak gemuk padahal tidak. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. Memerah wajah Gu Yo itu. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Hampir sebesar nampan bundar.” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Tak lupa diambilnya den- . Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. Mukanya lebar dan besar. Lapar. Orangnya tak banyak senyum. pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. Entah berapa jumlahnya. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek. ”kepala koki di sini. Kasih dia makan terus atur tugasnya. ”Duduk di sini dan makan semampumu.

” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. ”jika sudah cukup kecil. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok. Alih-alih menjawab. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut. Saat itu lewatlah seorang gadis. pisau. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. garpu. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut. Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. ia pun berkata. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata.322 BAGIAN 6. ”kalau kurang. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. ”Eh.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. langsung dimakan. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. sumpit. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. Setelah Ma She berlalu dari sana. tangan kiri memegang garpu. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke . Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. Juga tidak bisa.

benar-benar mengajari. Dan seperti yang diduganya. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya. ”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. Bagaimana ia memotong daging. tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya. Sambil tak lupa berucap. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. Tapi saat ini bukan waktunya. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. ”Iya. Masak cuma itu.” ucapnya kemudian. belum.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. ”Eh. ”Ah. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu. . Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya. sedang mengerjai Gu Yo. walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. Setelah diajari oleh Ma Siang. ”Bagus kalau begitu.323 arah garpunya menggunakan pisau. ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu. Ayo. atau sayur yang harus dipotong dulu. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. tampak menggeleng-gelengkan kepala. paman!” jawabnya. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya.

sumpit dan pisaunya. ”Ikut aku!” katanya. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. Kakek Gu. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. seorang menggapai bahunya. kau banyak sekali berdiam. sendok. sudah! Aku mau masak dulu.. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. Kenyang dan tenang. Terpisah. ”Heh. TATO Cara makan yang baru. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri. bahwa ia . Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu. Nenek Po dan kakek Gu. ”Ya.. *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut.” jawap kakek Gu pendek. masih saja tenggelam dalam lamunannya. Segera mereka akan berontak minta diasup.. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya.324 BAGIAN 6. sepeninggal nenek Po. ”Hmmm. Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya.” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya. sebentar lagi kita makan bareng. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu.

Gu Yo. karena dulu dengan hanya berempat. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. Hek-Mo.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan. memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. ada hal yang menarik dari pemuda itu. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. ia pun menoleh. kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. . Apalagi sekarang. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. sontak terkoyak. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan). Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. sehingga tetap lekat pada ingatannya. Entah bagaimana. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir. Dengan dibantu nenek Po. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. jika tidak dibantu oleh Gu Yo. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. Ia terpikir akan pemuda itu. ia tidak mungkin memang. suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. menjadi Gu Yo. yang berwajah agak gelap. Orang berilmu.” ucap seorang dari mereka. Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan.

” . bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya. sudah jelas kedudukan kita masing-masing.326 BAGIAN 6.” jawab kakek Gu pendek. Alih-alih Su-Mo yang menjawab. tidak biasanya berdiam diri. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati.” ”Hmm. Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. akan dihadapinya dengan jantan. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu. si Petani Ompong. ”Su-Mo. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. ”Salam. wahai orang tua!” jawab yang ditanya. bila kami bisa menundukkan dirimu. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya. yang merisaukan hatinya. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak. keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan. ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. ”baiklah. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. menunjukkan emosi yang telah meningkat. Hek-Mo. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar. orang tua yang bergelar Petani Ompong. kata seorang dari mereka. Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”.

enaknya perut telah kenyang. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada.327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. ”Ah. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. Sunyi. ”Ah. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi. banyak tamu ternyata! Mari-mari. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. terima kasih atas jamuanmu. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. Puas rupanya ia telah terisi perutnya. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. Setelah makan semuanya duduk lemas. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. Setengah semangka ukurannya. Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. Semua . Dan mereka pun mulailah makan. sebelum ’berdiskusi’. kakek Gu mulai angkat bicara. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. ”Wahai orang tua. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po.

gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. tidak. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka. apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa . Bila engkau keberatan. keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. TATO dijamu baik. Serangan keempatnya cukup bagus. Mari kita langsung pada permasalahannya.. Tulang beradu tulang. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. seperti mengucapkan. pikir mereka.” ”Tidak. Kakek Gu hanya menggeleng ramah. katakan saja. Tenaga kasar dan otot. menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’. Walaupun demikian.328 BAGIAN 6. tapi kami biasa bertempur berempat. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit. bukannya kami tidak sopan. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas. ”tidak perlu sungkan-sungkan. bahkan cenderung bagus. Empat Begal Hutan. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. ”Wahai orang tua.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. Dalam sepeminum teh. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu.. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong.” Setelah itu.” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. Ya.

Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. . Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. sang pemilik Kedai Daging Bakar. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh.329 apalagi bila menggunakan senjata. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.

tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut.. saya Swee Sian Lin. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. Benda seni menurut beberapa orang. Gambar yang terlihat kadang berupa naga.” . ”Bagaimana. kedua petugas itu. ”Halo. Lalu katanya. anda pasti dari kalangan pesilat. Gu Yo pun melakukannya. Ruangan itu lebar dan terang. Gu Yo yang bingung hanya menjura. ”Eh. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. melihat cara anda memberi salam. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth. ”Ah. sang penjaga dan gadis pencatat janji. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji.330 BAGIAN 6.” pikir Gu Yo.” jawab Gu Yo gugup. anu. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan.. kadang kekuningan atau agak gelap. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang.

Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini. agak memalukan untuk diceritakan. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Pemuda ini lain.331 Gu Yo hanya mengangguk saja. dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. Dilarang oleh hukum. sebenarnya. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. Tapi itu masa lalu. apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari.. ”Itu.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah.. Tato dari seorang korban yang hidup. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Bingung. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. Sopan. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato. ”Jadi. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat.

Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya. Jadi anda salah lihat orang. Entah bagaimana. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. Rupanya hanya masalah salah lihat saja.” jawab Gu Yo pendek.. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. BAGIAN 6. saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. melainkan nona Sian Lin. anu. saya mengerti sekarang. ”Karena anda telah di sini. dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini. ”Tunangan saya. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu. ”Eh. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya.. dirinya menjadi lebih . Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu. Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan.332 mengerti. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya.” usul sang gadis.” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya. ”Ah.

.. itu. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji..... baru dan berdarah-darah pada panel diding.. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita. melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu.. ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut. Dan tidak hanya ia. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut. dan juga bayarannya plus bonus. Bunga Merah. Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah.!” tunjuknya dengan muka pucat. ”Nona Sian Lin. Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada. memang. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi. Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato.” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- . Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya. akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu. ”Dia datang kembali.333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya.. *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya. ”Ini tato seorang gadis panggilan.!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar. Di sininya telah ada seorang pemuda. Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya.

dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. Warna penanda gulungan surat itu hitam. dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. Kematian. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. dan dialirkan ke tempat tujuan.334 BAGIAN 6. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. Sebuah teknologi surat mekanik. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. TATO por. Badannya tegap. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah. bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. perawakannya tidak terlalu tinggi. sam- . yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin. Atau tepatnya meja serba-serbi. dapur kecil. San Cek Kong nama pemuda itu. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. membuatnya menarik untuk dilihat. Akhirnya berhasil didapatkannya. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. Ia makan. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Tabung ringan dan kuat. ”Pembunuhan atau bunuh diri. ya?” gumam San Cek Kong. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar.

Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. walau dalam keadaan kritis. Ya. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. belum tentu terjadi pembunuhan. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana.335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. melainkan langsung ke tempat kejadian. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. *** . Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. sang pemilik tato masih hidup. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi). Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu. Dari surat yang diterimanya. bisa saja korbannya. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Dengan kata lain. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal.

Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. jauh di arah barat dari kota. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan. kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. Agak desa suasananya. Ang Tiong namanya. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. Korbannya sendiri. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi.336 BAGIAN 6. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong. Ceng-Liong Hui-To. belum ditemukan atau bisa diindikasikan. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. bila memang ada. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin. karena ia pada saat tersebut berada . saksi-saksi dan waktu kejadian. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. tempat kejadian itu berlangsung.” lanjutnya kemudian. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. tato tidak lagi menjadi tren. Pada jaman itu. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik.

kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. ”Sian Lin-moymoy. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. Selain lezat. tempat di mana Gu Yo bekerja. ada seorang pemuda. pegawai paturan. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar. Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng. mulailah kakek . sering kami makan-makan di sana. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut.337 di tempat kejadian.” senyum Cek Kong. katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. masih jalan yang sama. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana.” jelas gadis itu. ”Ya. tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. Gu Yo namanya. Ya. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong. ”Eh. Semua pihak. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. keterangan mereka tidak banyak berbeda. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian. kebetulan aku belum sempat makan siang. Gadis itu menggangguk mengiyakan. telah ditanyai. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut.

Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. Cepat. Dan kemudian masih. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. sang penyerang telah bergerak.338 BAGIAN 6. belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu. satu langkah yang salah. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. Dalam pertempuran dengan banyak lawan. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa . Tumit si Zahnloserbauer. Dan benar saja. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya. lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan.

. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak.339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan.. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. si Zahnloserbauer. kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan . Menghidari kebosanan. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu. Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat... Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. Setelah dua orang lolos. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. mereka menjadi tidak berwaspada.!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. ”itu kaki. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu. Tipuan manis yang menghanyutkan. Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala. Serangan seorang pakar pertempuran. awas. yang telah banyak mengalami pertarungan. kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika. Dalam pertarungan juga demikian.. Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia.

Hek-Mo. ”Bagaimana. bersemayam di sana selamanya. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. Sebenarnya di dasar hati mereka.340 BAGIAN 6. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. Mendengar pertanyaan itu. terutama untuk pertarungan jangka panjang. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. bagai akan terbang ditiup angin belaka. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. cepat suruh pemuda itu keluar. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo. Jika tidak. sementara ia melihat . telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. dalam rangka misinya. Ia harus mencari siasat untuk itu.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. telah turun kata dari seorang Su-Mo. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan. tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. ”Kakek Gu. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. berputar keras otak kakek Gu. Seorang yang kelihatannya rapuh. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo.

Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda. ”Boleh juga. tidak sepesat dan segarang sang pemuda. Akhirnya makan malam itu pun usai. Lalu katanya keren. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat. ”Iya. Tempat kerja si gadis. lalu sapa- . tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya.” sahut si gadis pendek mengiyakan. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana. ”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita. Keduanya tampak terduduk agak lemas. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. memang benar. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. Keduanya kemudian terdiam. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar. Sebelum pemuda itu bertanya. Lemas setelah perut diisi penuh.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu. Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung.

Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. ”Selamat malam. tidak perlu inspektur.342 BAGIAN 6. ”Sebentar akan saya panggilkan. yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. bila orang telah kenal lama. Lebih dari cukup.” jawabnya ramah. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau . Ia telah mengenap nona Sian Lin. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. tidak paman. ”bila tidak mengganggu kerjanya. Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah. Hal ini perlu. TATO nya. ”Duduklah. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah. tentu saja. Karena keduanya tidak saling mengenal. Pemuda itu. Sudah penuh lambung kami berdua. Tadi sudah cukup. Tapi kemudian ia menambahkan. Berdasarkan pengalamannya. apa kami – saya dan nona Sian Lin.” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur. ”Saya hanya ingin bertanya. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah.

Alih-alih cemas.. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Empat Begal Hutan. tidak apa-apa. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya.. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ”Tidak. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. berada. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong.343 perkataan orang.!” katanya agak tak yakin. aku. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri. saudara atau lainnya. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Orang yang paling baik. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. bahkan yang terburuk sekalipun. Runyam jadinya. Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. . Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. *** ”Hek-Mo. Padahal kadang sebaliknya. engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam. nenek Po..

Hek-Mo menjadi marah. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. Mendengar itu. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya.344 BAGIAN 6. ”Hehehe. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi. ”Hei. Tanpe membuang waktu. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. Paling kesal padanya. Walau ia sendiri sadar. ia harus berkata-kata yang pedas. di antara hujan serangan. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . kakek Gu mengempos tenaganya. Samar seperti asap. sehingga paling mudah dirasuki. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. Kakek Gu pun mengangguk. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. bagus datanglah Hek-Mo. biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu. Tapi misinya harus dituntaskan. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. Waktu. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Orang yang paling membencinya. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan.

Suatu titik di atanara kedua mata. ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang. Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya. Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Satu ke atas satu ke bawah.345 nya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. yang kemudian . Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). Sabetan menyilang. tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. Suatu serangan yang berbahaya. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Dan bukan hanya itu. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. Suatu jurus dari Hek-Mo. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. tiba-tiba ia menjerit ngeri. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya.

yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya. Dan sikap ini cocok dengan Ma She. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo. ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu.346 BAGIAN 6. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. Tidak dengan Gu Yo. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. . Ma She yang biasanya jarang berbicara. bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. sang kepala koki di tempat itu. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. Pada kebanyakan orang. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo.

Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik.. Usai mendengar cerita Ma Siang...347 ”Gu Yo. ”Tidak.. ”Kamu tahu tidak. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong. ”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar.. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu.! Dimana kamu. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang. Paling tidak.!” pinta Gu Yo. juga sulit. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya. tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. Ia merasa . cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut. kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik.?” tiba-tiba terdengar panggilan orang. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut. Untuk kasus yang satu ini. keponakan dari Ma She.. Gu Yo pun bergegas pergi. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini. Eh. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak.. Tugas titipan mendiang gurunya. di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran. ”Eh.. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Itung-itung sebagai hiburan. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. orang dari mana tato segar itu dikeletek.. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka. engkau Ma Siang.

Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. Po Ting Hwa. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan. Setelah selesai.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. Usai perkataan itu. ”Gu Ming. *** . Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. Menyebar ditiup angin. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. *** ”Manusia. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada. tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. Entah apa ada hubungan antara keduanya. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya. Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin.348 BAGIAN 6. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat. Dari jarak dua tombak lebih. bagaikan memang telah datang waktunya. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. Aku bakal menyusul tak lama lagi. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu.

Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja. Kebiasaannya ini pun berlanjut. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. tidaklah dapat dikatakan indah. dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. ataupun penjahat-penjahat muda. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Tapi katanya penting. Aku akan menemuinya. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. Jika ingin menegakkan keadilan. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau.” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu.349 ”Nona Sian Lin. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. suruh saja ia masuk. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. yang kemudian . ”Gu Yo? Baiklah. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. ”Baik. yang baru mulai meniti karir.

hitam atau coklat tua.” ucap gadis itu menghela napas. Gu Yo. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. Di sana tampak seorang pemuda. Suatu estetika berdarah yang padu. Tato sepadang burung merak. begitu!” sahut pemuda itu.350 BAGIAN 6. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. Suatu kontras telah direncanakan. Orang yang ingin menemuinya. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. putih atau kuning. . bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu. ”Tahukah kamu. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. ”Oh. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya. ”Betul. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. Untuk mengenang sang pahlawan. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Gu Yo. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. putih dan hitam.

Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair. Mengekang nafsu. Secarik kulit dicabik halus. Darah menetes lembut. Guratan di atas kulit nan indah. Menghilang. ”Dari buku-buku. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu.” ”Hei. Menghela napas.” ucap gadis itu kemudian. memang itu judulnya. Dan jiwa pun tenteram kembali.” Sang gadis mengangguk membenarkan. merendahkan diri selalu. Lepas. Menegaskan guratan-guratan mistis. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’.” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini. Sunyi dan sepi. ”Betul. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana.” ”Begitulah orang berilmu. Tato. dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget. ”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing. ”Setelah semuanya berakhir.. ”Deru pun perlahan melembut. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu. ”Tidak.” jawab Gu Yo sederhana. Senyap.. aku hanya senang membaca saja. Menghirup keheningan. Ucapnya lugas. Lega. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya.. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini.” .351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda.

atau potong. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana. yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat.” usul temannya..... ”Kita congkel saja. Lalu katanya. Pasti kain pembungkusnya. ”jika demikian. ”Dapat?” tanya orang pertama..” Dengan penuh tanda tanya. ”Ya.. TATO ”Eh..352 BAGIAN 6. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan.” jawab rekannya itu. pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana . ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada. ”Nanti kujelaskan. keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam. terutama Sian Lin. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu.” ucapnya. agak liat. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.

Tak lama selesailah pekerjaan itu. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka.353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya. Ia tampak tertidur dengan damai.. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat.” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya.. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut. Dengan santai... ”Cepat. Suatu pisau yang tajam. Malam yang diterangi bulan purnama. Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya. Lalu tanpa menunggu perkataan.!! Kita tak punya banyak waktu. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya.. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru.. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya. ”Cepat cari bagian itu. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan. seperti telah biasa. ia mengeluarkan pisau dari sakunya. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato.. Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya.. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya.” ucap salah seorang dari mereka. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. . sebuah peti mati yang belum lama ditanam. tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka.

kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. TATO Rekannya mengangguk.. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. Suatu makam baru pula. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu. Mendengar kata ”tato”.” gumamnya hampir tak terdengar. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. ”Betul. *** ”Ma Siang. yang di dalamnya terdapat seseorang. ”Hmmm. ”Ah. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan .354 BAGIAN 6. Kasus yang sedang ditanganinya. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil.. *** ”Inspektur San Cek Kong. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara. ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya.” jelas sang paturan pembawa berita. ”Hmm. dia adalah pakar dalam bidang ini. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato.

Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini.. tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini. gimana?” ucap gadis itu nakal. karena ingin melihat nona Sian Lin.. ”Baik. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu. kan?” ucap dara itu..355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. ”Eh. yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan. Wajahnya tampak cerita. ”Huss! Tidak ada apa-apa.” ucap pemuda itu. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She. ”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya.” ucap Gu Yo cepat.. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya. Biarlah nanti saja. toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam. ”Eh. aku hanya ada urusan sedikit. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. baiklah. Dan suatu saat harus dibalas. ”Lho. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo.!” mohon Gu Yo. Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo. ”Tolong ya?” mohonnya lagi. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. ”Tolong ya. Ya. Lain halnya jika Ma Siang. Ia tahu jika ia minta ijin langsung.

di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. Orang itu hanya mengangguk. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar. ”Gurame Bakar dan nasi. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga. ”Eh.” ucapnya pendek. Jika saja dulu ia tahu. ”Aku tahu dari paman Ma She. Dan kemudian terdiam. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu. Memasak. Gu Yo. BAGIAN 6. Gu Yo tidak bertanya lagi. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap. TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. tampak orang-orang berseliweran. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. memindahkan bahan-bahan makanan. itu saja pesanan makanannya. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. Dan juga .” jawab dara itu pendek.356 yang dikaguminya. Di dapur dengan kesibukan yang biasa.

kemiri. 6 butir bawang merah. garam secukupnya. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). Termasuk Ma She sang koki kepala. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. 3 siung bawang putih. 1 buah tomat kecil (diiris). bawang putih. 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu. . Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar. ”Bakaran Ikan”. garam dan merica. irisan tomat dan jeruk nipis. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. * Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. 4 buah cabai rawit merah. Ma She. sehingga ikan tetap utuh. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. Tak lama kemudian ia kembali. Tertulis di judulnya. cabai rawit. kunyit. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. 8 butir kemiri. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. Wajahnya cerah. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang.357 meneriakkan pesanan-pesanan. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. merica secukupnya. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. Terutama pada musim-musim ini. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi.

.. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya. menyebutkan . betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. ”ah. ”Kata sang pemesan. Ma She sebagai seorang koki kepala. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos.” jelas Ma She sederhana. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama.. ”Bagus!” pujinya. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk.” gumamnya. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya. saya adalah koki kepala.” jelasnya. Ia pun mengangguk puas. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu.358 BAGIAN 6. melihat-lihat pemandangan di hadapannya. Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. tidak terlalu sulit rupanya. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. Gurame Bakar tidak seperti ini. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. ”Maaf. TATO ”Hmmm. tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. Pucat wajahnya..

” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak. Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya.359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana. ”Ma She.. ”Panggil saja saya. bahwa apa yang terjadi . tidak perlu dipikirkan. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Aku akan bilang. setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Ma She. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya.” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu. ”Eh. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. ”Ceng.” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya. ”Maafkan kelakarku. sambil mengajak Ma She untuk menemani. Ceng-Liong Hui-To.. ”Eh. Sedang pergi bersama seorang pemuda. ”Ia tidak ada.! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum.” katanya bingung..” ucapnya sungguh-sungguh. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan. Ceng Liok. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung. Biar ia tidak terlalu sedih. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan.. berharap dapat melihat sosok dara itu. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu... ”Ah. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa.. anda. Sekaligus berbincang-bincang.

itu adalah tato milik mereka. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda.. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. Paket yang berisikan tato. Kegemaran tuan Ceng Liok.360 BAGIAN 6. Sudah diolah dengan bahan pengawet.. Kelakar dari guru masaknya. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. Kali ini tidak lagi berdarah. TATO hanyalah kelakar saja. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru. segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. *** ”Benar. Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. dari warna kulit yang tidak . Dua buah tato. Suatu mutiara. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut.

menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- . Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki. Dominannya adalah warna biru dan kelabu. Begitu pikirnya. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. Tahun ini. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut. Kulitnya dikletek. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. Gu Yo sedikit berbohong.” Dalam kalimat terkakhir ini. dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. Mendengar itu. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya.361 sama. ”Dan entah dari pembicaraan apa. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait. ”Baiklah. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu.” jelas Gu Yo. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah. yang mendasari kedua karya seni itu.

telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. Yok Seng. Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan. TATO jungan dari pemerintah pusat. Luas dan indah. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. Benar-benar suasana yang meriah. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. Agar yang menunggu ini sabar. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. satu rombongan besar. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. telah dibangun suatu panggung megah. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. umumnya . Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung.362 BAGIAN 6. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan.

akhirnya dapatlah ia pergi. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Panggung telah dibuka. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga. keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. Jenis kemilan yang gurih dan lezat. Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan.363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Karena tanpa Gu Yo. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Sebagian dari . Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan.

Bila ia suka. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. Dan untungnya lagi. rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya. Sudah tiga-empat kios yang diborongnya.364 BAGIAN 6. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. Seorang pemuda tampan. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. Ya. Menelusuri keramaian. Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Hiasan yang tidak ada di waktu lain. Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. dan mungkin juga di tempat lain.

kura-kura. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang.. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan. Ada ben- . pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. ”Harga yang bagus. segera menghampiri pemuda itu. ”Ada kongcu. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering. ”Hai.365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. laba-laba dan masih banyak lainnya.. segera ikut membantu.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya. Ada kepiting. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu. Tanpa terlebih dahulu memberi salam. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut. hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. Suatu hiasan yang dapat dimakan. tak terlalu mahal. kelelawar. penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya. tapi daging sapi yang dikeringkan. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. ”Kongcu. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering.

Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya. Ya.. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal. karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap.. Ya. dapat ditawarkan benda tersebut. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun. ”Sebenarnya ada.. Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil.” ujar Ma Siang pelan. benar-benar memukaunya. Walaupun demikian. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan. Pemuda itu. ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya.. mereka punya. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja. Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu. Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. seribu lima ratus tigaan. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda. Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. walaupun dari kalangan orang kaya.366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6. Masih cukup 8 bagiannya. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. ”Saya suka kuda. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi .

kedua orang yang telah menolongnya. Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. . Mereka pun memesan makanan. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri.367 selain itu. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. sampai yang menggembirakan. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar. Kota Siaw Tionggoan. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa. pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. dan bukan hiasan daging kering. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja.

Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To. Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya. Entah apa yang dibuat mereka berdua. Su-Mo dan Empat Begal Hutan. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. naiklah delapan orang pengacau. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. Untung saja hal itu tidak terjadi. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. Hek-Mo bicara seperti orang melantur. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir.368 BAGIAN 6. yaitu adu ilmu silat. TATO Setelah menghilang beberapa tahun.

Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. Tidak seperti tato-tato pada umumnya. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. mengeleteknya. Orang itu adalah Ma Siang. dan bukan dari wanita tersebut. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. Sebenarnya tidak. adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. lebih . Sedangkan tato hasil rajahan. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan.369 harus diserahkan. Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut.

. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi. Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya. satu tugas sudah selesai. Gu Yo hanya dapat tersenyum. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain. Bagi dirinya sendiri.” kata pemuda itu sambil tersenyum. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang. TATO berat dari sisi dara itu. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi. Mengarah ke utara. sekalian mereka berdua meminta restunya.370 BAGIAN 6. karena ia adalah saudara tua perguruan. Menanyakan kepastian hubungan mereka. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. ”Tugas baru kembali menjelang. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang. si Maling Kitab. Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll. Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut. bila ia masih mau bekerja padanya. melainkan hanya melalui berita para Troll. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua. ”Syukurlah. kali ini dengan anaknya Ceng Siang. Selain Ceng Siang. Melaksanakan tugas berikutnya. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. .. Mungkin. Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya.

memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri. Pemuda yang mengemban tugas yang berat.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu. .

372 BAGIAN 6. TATO .

yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. Dhoruba namanya. ”Angus. Sepeninggal Misun.Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun. Seperti biasa sikapnya. Selalu hujan dan basah. ”Entahlah. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga.” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong. seorang berkata kepada yang tadi berbicara. masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. ia tak banyak bicara. seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. Dhoruba. Aku tidak tahu. Orang yang dipanggil Misun.” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. Hal ini berarti bahwa malam 373 .” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab. Membuatku selalu merasa kelembaban. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya. itu berbegas bangkit dari duduknya. Tak lama kemudian Misun pun kembali. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”.

Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. Malam yang dinanti pun tak lama tiba. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini. ”Ya. Beberapa hari sebelumnya. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. Belum ada petunjuk. Dhoruba dan Misun. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. Lima makam tepatnya.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau.. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. Angus McLeod. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam.374 BAGIAN 7. ”Sulit. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya. *** . Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. ketiga orang tersebut. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Didekatkannya telinganya pada tanah. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. ini dia. Angus. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. Setelelah memberikan tugas itu. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. Wajahnya tampak berubah. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur.” ucap Dhoruba. Aku belum bisa merasakannya.

Gentong. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Suara-suara orang menggali-gali. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. Pemuda itu. Berkali-kali. tapi tidak dapat. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Coba digerakkan tubuhnya. Sebentar lagi. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Kesadaran kembali datang. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Lalu kesadarannya hilang. Setiap kali kesadaran muncul. melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Seperti itu. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. tapi bagai tak ada suara yang keluar. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Bau tanah yang lembab juga menyengat. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu.375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. Hal itu berlangsung berulangulang. Lebih baik dilakukan . Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara.

Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat. sang pemuda. Kesadarannya pun hilang lagi. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut.376 BAGIAN 7.. ”Paman Wananggo. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. tampak biasa-biasa saja. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana. bahwa ia adalah seorang Undinen. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan. Roh Air. Garukan-garukan tangan mulai terdengar. Gelap pun kembali menjelangnya. agar tidak melukai orang yang dikubur itu.. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya. mengangkatnya dan memanggulnya pergi. dan ini fatal akibatnya. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. ”ke mana kita akan mencari buah . *** Tiga orang tampak berjalan beriringan. menciptakan hari yang indah dan cerah.” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. Seorang yang terakhir. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Ia tidak berbuat apa-apa. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut.

”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. ia merasa kerasan. ”Nah itu tempat bermalam kita.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja. Ya. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. ”Nak Xyra. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud. Sebagai keluarga. ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. besok siang akan kita capai. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan.” ucap orang tua itu lagi.” ujar orang tua itu dengan gembira. Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. Air terjun. yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. Lalu tambahnya. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. sebelum waktu bulan purnama tiba. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. Dan tempat yang kita tuju itu. Setelah mendaki sebuah bukit. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar.

” jelas Wananggo. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. Engkau sem- . ”Belum. biarkan saja. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk. Isi perut dengan baik dan tidur. ”Ya. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup.” usulnya. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. saat bulan purnama. Sebuah air terjun yang megah. engkau Angus.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut. demi kesembuhanmu. Dulu juga.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik. ”Masih ’mati’. ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. nona Siaw Liong. ”Itu namanya Air Jatuh. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. kita perlu tenaga dan konsentrasi. ”Tidak. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. mengajukan usul. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. tentu!” jawab Wananggo. Mau tidak mau.” jawab seorang yang ada di hadapannya.378 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI menggelegar.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya. ”Dan untuk itu.

”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. untuk memperoleh tenaga. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu.” jawab orang yang dipanggil Angus itu. Melihat ke segala arah. Jumlah kita sudah cukup. perjalan pulang. Sulit. Lalu ia pun berlalu dari sana.” berkata kembali sang wanita.” katanya pelan. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka.. Ya. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. ia ingat saat itu. melayang.. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati. Ya. saling baku-hantam satu sama lain. Dhoruba sedang mencari makan malam kita. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. Cermin Maut. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. ”Kita perlu bicara malam ini. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka. Pikirannya sedikit . Perjalan pulang bisa dilakukan..” ucap wanita itu sambil tersenyum. memperebutkan kepala lawannya. Ya. Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. *** ”Jadi. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh.

.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. Antara orang- . ”Aku setuju.” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi.” sahut sebuah suara lain.. Sejenis sabit besar. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan. ”Baik jika begitu. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing. Antara yang jahat dan yang baik. Tempat perguruan lawan mereka berada. ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota.” jawab Cermin Maut kemudian. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap.380 BAGIAN 7. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. termasuk di Kota Paparan Karang Utara. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut. Perguruan Atas Angin. Seorang dari mereka. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh.

mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. mereka datang. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. Berapa banyak?” tanyanya kembali. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. benar seperti informasi yang kita terima. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. ”Angus. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian.” jawab pembawa informasi tersebut. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod. setengahnya berkuda. klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Tua-muda. . Pertempuran kali ini pun amat serunya. lelaki dan perempuan. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. Mereka semua harus berjuang. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. suatu klan ekspansionis dan brutal. akan tetapi sebagai bangsa bayaran. orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. ”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp.381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi.” ”Hmm.

Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Dari anak kecil sampai orang tua. Apa boleh buat. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. Yang ditanya hanya mengangguk saja. ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali.382 BAGIAN 7. Tak ada jalan lain. Angus bukan pemimpin klan McLeod. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. selama ayahnya belum sembuh. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar . pemimpin ad interim atau sementara. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. ”Baiklah. kita harus berperang habis-habisan kali ini. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka.” begitu katanya suatu saat. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. Angus McLeod. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Ya. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya. ”Kamu saja yang memimpin. Cemas tampak dalam wajahnya. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. Menjadikan desa mereka. Dari yg sehat sampai yang cacat. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Ian McLeod.” ucapnya lelah. Ya. Jadilah ia.

Dengan adanya isyarat terompet tanduk. jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang. masuk ke dalam desa. Kesetiaan dan penghormatan. Memaksakannya untuk terbuka.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. menginginkan hal itu. Dua kelompok besar orang-orang haus darah. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. satu di kiri dan satu di kanan. Dengan bekal pendobrak batang kayu. Gelombang penyerang pun beringsut maju. darah mereka sendiri. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari. . setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama.. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi. Tidak ingin kalah. klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. Waktu pun berjalan. Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. Pertempuran yang tidak seimbang. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. barisan terdepan pun berlarian. ”Ghrrrrrg. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama. Pintu gerbang pun ditutup. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. Jumlah yang jatuh terus bertambah. tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. Sudut yang pas dengan dada kuda. ”Cepat. tapi kalah dalam jumlah. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir.

Pintu pun terbuka dengan lebar. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Tidak ada. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa.” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh. ”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka. Akibatnya telah diduga.” ”Siapa yang tahu. ”Tidak mungkin. tapi hasilnya nihil. Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang. ”Ada yang aneh. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Rekannya mengangguk. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu.” seru seorang dari klan Darkyzp. Menanti untuk menyerang balik. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan. Semua orang menghilang di dalam desa itu. mungkin sudah semua. Tapi apa yang mereka dapatkan. . Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada. Semua dibolak-balik. Dibalik-balik jerami dan sebagainya.” ucap rekannya.384 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. telah banyak dari mereka bersembunyi. Bila sudah semua.

Di sana. Cukup banyak jatuh korban di an- . Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Tiba-tiba. Tua dan muda. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit. Ia yang luput dari serangan panah. Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. menunggu sampai saat-saat terakhir. Mati. Dan kali ini pun kembali berhasil. segera ia memacu kudanya.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. mudah untuk dihindari. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. Pria dan wanita. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya. Menghiasi hari yang cerah itu. Menghindar dan menyerang balik. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar. Setelah parit terkuak. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Ya. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. Menunggu dengan harap-harap cemas. ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. ”Grrrggghhh!! Di sana. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap.

Orang-orang yang berbeda satu sama lain. ”Hmmm. ”Lihat. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang. Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. berdenyut-denyut tak beraturan. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya . ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. Semua kabur dan berkabut. Walaupun musuh sudah separuhnya habis. memperhatikannya dari dekat. Lambat laun mulai jelas. Jumlah yang tidak seimbang. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod. Tapi ada satu hal yang harus dihormati. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. semakin lemahlah semangat mereka. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu.” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. walaupun mereka bersemangat tinggi. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. Tiga-empat orang. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati.386 BAGIAN 7. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup.” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting.

” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. lalu beranjak mendekati. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu. ”Well. ”I try with other language.387 bangun. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu. Entah apa maksud dari senyum itu. ”Saya. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. Shia Siaw Liong. Misun dan Angus McLeod. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. serta dibawa . Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu.” jawab pemuda itu. ”Watashi wa Misun desu. Penjelasan yang tenang dan pelan. what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu. verstehst du. ”I think he speaks with a local language here. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati. ”Saya Gentong. Ia. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng. Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. Dia Dhoruba. ”Kumpel. sang wanita. Lalu dengan perlahan.” sahut seorang dari mereka. orang hitam berambut keriting.

Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka.388 BAGIAN 7. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. Tanpa terasa ia meraba dadanya. Perguruan Atas Angin. yang saat itu baru memiliki satu cabang. ”Sekarang. ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu. kami biarkan dulu engkau sendiri. lalu kembali pucat. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. merah. perang! Memang demikian halnya. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya.” ucap wanita itu. Dan akhirnya tampak tegan. perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. Gentong. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. Pucat. Ia telah mati dan dikuburkan. yaitu di Kota Paparan Karang Utara. selepas pembantaian terjadi. Ya. sang pemuda. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- . tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Bahanbahan berupa makanan dan senjata.

pertempuran. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru.389 but. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan. Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap .” ucap gadis itu lagi. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. Membuka cabang di dua kota lainnya. Mereka bukannya anti pertempuran. yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. Ya. tapi seperti biasa. *** ”Jadi itu kisahmu.” Kembali pemuda mengangguk. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. yaitu Tapak Kelam. Air Jatuh. ketua Perguruan Kapak Ganda. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. ”Baiklah jika begitu. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. bahkan pertempuran. orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan.

sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi. Ya. orang-orang yang tak bisa mati. *** ”Paman Wananggo. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda. bahwa dalam pertempuran. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . pagi-pagi sekali. ”Baik.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata.390 BAGIAN 7. Dhoruba hanya tersenyum kecil. tapi tidak menyatakan keberatannya.” kata Misun meyakinkan. kira-kira kita butuh tiga hari. bukan pertandingan satu lawan satu. Misun hanya menggumam pelan. terima kasih!” ucap Gentong. Gentong hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas. Harus disingkirkan. menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. Tandanya ia tidak keberatan. Jika demikian telah diputuskan. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. ”Dalam perjalanan ke sana. pasti engkau sudah bisa. senjata memegang peranan penting. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. Misun masih mendekati Gentong. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong. jika dengan tangan kosong. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. Besok. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara.. ia sadar. tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. ORANG-ORANG ABADI mereka ini.” usulnya. ”Baiklah.. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan. Gentong mengangguk mengiyakan.

agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. ”Aneh!!” gumamnya. Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini.” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut.391 enaknya.. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang.” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu.. apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut. ”Eh. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada.. paman.!!” ucap orang tua itu. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata. jatuh menjadi air terjun. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. di antara batu-batu yang menonjol. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur. . Matanya mncari-cari ke sana dan kemari. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur. ”Hati-hati.. ”Tapi apa boleh buat. ah. Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. tapi tak dilihatnya seorang pun. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa.. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah. ke langkah berikutnya.” Langsung segar orang tua itu. Namun tak lama biasanya. Langit sudah agak mulai terang di sana. ”Iya. kita coba saja turun sekarang. untuk turun ke bawah. ”Cepat. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat.

Hehehehe. Keduanya mengangguk mengiyakan. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau.!!” ucap orang tua itu. ini malah untung buat kita. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah. ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka. ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu.. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. kita ketahuan. *** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.392 BAGIAN 7. akhirnya sampailah mereka di bawah. Ternyata mereka ada masalah rupanya. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun.. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni.

tampak merah oleh darah. ”Perguruan Kapak Ganda”. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul. Ada tiga orang yang dicarinya. Menang atau kalah bisa berakibat lain. bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. Jika ada yang sedih dan bersemangat. ”Mereka sudah pergi kemarin. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. . itulah Gentong. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut.” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. mirip bumerang. kelima orang itu segera berangkat pergi. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya. tampak dingin. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi. ”kita tertinggal satu hari. sehingga mereka tidak langsung kembali. Cermin Maut dan Sabit Kematian. Mendengar itu. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama. Mayat Pucat.” ”Belum tentu. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana. Mati. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. pada saat-saat akhir hidupnya. yang papannya sudah miring. Tapi itu belum semua.” ucap Misun. bekas digempur. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya.” jawah Shia Siaw Liong. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. yang diletakkan di punggungnya.

” jawab Shia Siaw Liong memutuskan. mari. ”Yang kedua. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Bagi kedua orang yang lain. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu. makhluk yang memang dalam hidupnya. berjalan cepat. ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap. di sini ternyata terdapat pulau lain.” jawab Gentong. *** ”Mari. .. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. memanfaatkan sifat-sifat air.394 BAGIAN 7.. Bagi Xyra yang Undinen. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan. ”hanya dua. Ia adalah roh air. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah.” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain. basah tidak merupakan masalah. ”Baik. ”Hei. cepat-cepat. Sebuah pulau yang lebih kecil. kita ambil yang kedua. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. Baju mereka masih basah. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. Bagaimana ini bisa dijelaskan.” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. Ia heran karena dari atas sana. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu.” jawab Gentong. jika tidak di dalam air.

Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat. ”Fraktal?” tanya Lantang. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo. baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini.” ucapnya. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan. geometri dan ilusi.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya.” bisik Wananggo. . Setelah di bawah. Setelah didekati ternyata ada dua. sehabis kita pergi dari sini. ia dulu juga begitu. ”Kita kitari seperti cara yang tadi. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama. Ya. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu.395 ”Bukan hanya satu. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya.” ucap Wananggo tersenyum. masih ada dua lagi. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada. akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. ”Baik.” lanjutnya. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari. ”Ya. ”Pernah ada cerita. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya.” jelas Wananggo. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal. jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu. Jika ada waktu. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu.

. yaitu ukuran yang mengecil..396 BAGIAN 7. ”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. lebih baik begini.” ”Mencuri.” ucap Xyra agak tak senang.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra. lalu Lantang menjawab. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat.. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian..” kata Xyra polos. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan.” ucap Wananggo. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana.” tegas Lantang. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat.” jawab Wananggo. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya. ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat.. ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian. Lebih mungil. mencuri. benar. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu . ”Sama persis. ”Ya. hanya. asal tidak bilang bukan mencuri. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari. ini diatur sedemikian rupa. ”tapi kita butuhkan hanya empat. Padahal ada perbedaannya. ya jawabnya. kita bisa minta.” jelas Wananggo.. ”Betul. ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam. ”Ya. Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. Lalu lanjutnya.” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu. Jika sang petapa itu masih hidup..” jawab Wananggo sambil tersenyum.

mencegahnya . ilmu ampuh warisan gurunya. melesat melibat tangan Tapak Kelam. Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan.... Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini.. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut. tidak usah kecewa. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. cah bagus. Anak muridnya telah habis dibunuh. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. nanti dulu. sudah. Tidak segampang itu mati. Tiga orang yang mengerikan. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah. ”Sudah. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka.” lanjut orang terakhir. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu.” tambah seorang dengan mukanya yang pucat. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. ”Eh. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. ”Ya.” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum.397 berwarna kelabu itu. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk. hehehehe.

Di Air Jatuh. kalau mau bunuh. Senang ia melihat lawannya . ”Sudah. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi.” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya.” terkikik genit Cermin Maut. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. Prasasti itu masih ada di sana. ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda.” jawab Tapak Kelam. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu.398 BAGIAN 7. tidak semudah itu. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada. ”Bagus. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh. ”Tak mungkin. ”Curi? Jangan bercanda. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam.” tambahnya. ”Itu palsu. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini.” ucap Tapak Kelam semakin bingung. ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu.” jawab Cermin Maut. Ki Makam namanya. ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian. ”Hehehe. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas. ”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung.

399 itu bingung. kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. di kiri-kanan jalan. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. ke Rimba dan Gunung Hijau. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. mayat dan lain-lain. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kebakaran. Bergembira layaknya seorang pemenang. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. Kebuasan melebihi binatang liar.” ucap Gentong. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- . Memangsa tapi tidak untuk dimakan. Jauh sebelumnya. kereta kuda terbalik. Rumah-rumah yang rusak. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. Kedua rekannya mengangguk. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Habis. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang. itulah yang mereka cari. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. Kelihatannya sepenanak nasi lagi. Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. ”Ya. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. sampailah kita di sana. benar. Tak tersisa.

dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok... Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. Lalu katanya.” jelas Misun. juga hal-hal yang telah dipelajarinya. Itu hanya istilah.” ucap Misun lagi. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. ”sebenarnya tidak juga. ”The one?” tanya Gentong kembali. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita. the one. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri. Misun tidak langsung menjawab.” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah . Ia perlu mencari tahu. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. mereka akan semakin kuat.. ”Misun. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya. ORANG-ORANG ABADI masing. bela diri. dan lain-lain yang ada dalam kepalanya. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat. The one. kekuatan dan menjadi yang terutama. Ilmu pengetahuan. walaupun tidak dapat mati tentunya. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. kamum immortal. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat. ”Ya. the one. Begitulah. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa.” ucap Gentong perlahan. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata.. yang dituliskan dalam suatu ramalan. ”Begini. ”Bingung aku.400 BAGIAN 7. akan tinggal satu orang. ”Ya. Dengan semakin banyak membunuh.

Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya. Hal ini membuatnya . ”Kita sudah sampai. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun. ”Hei. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. Golok melenkung patah. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya.401 di depannya. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda.” katanya pendek. Kedatangan kelima orang ini. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. sudah basah oleh darah lawan-lawannya. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. Membacok dan menendang sana-sini. atau leher yang hampir putus. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini. Dhoruba sudah puluhan. menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan.

Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya. Mayat Pucat. Shia Siaw Liong bergerak cepat. Ia mencabut pedangnya. tinggi dan kurus. Kelima diam seribu bahasa. Putus napasnya. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut. Hitam dengan baju merah berdarah. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari. ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan.402 BAGIAN 7. ”Pakai senjata lebih efektif. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. Khas pedang Tlatah Skotlandia. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat. Pedang yang cukup panjang dan berat. Remuk dan hancur. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini.” tunjuk Misun. tampak tubuh-tubuh malang melintang. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka. Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut.” usulnya. ”cakaran beracun. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. Simpan tenagamu. ”Di sini.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. ”Lihat ini. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. Pertempuran itu tak berlangsung lama. Gentong menangguk mengiyakan. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Angus pun mulai turun ke dalam arena. melucu.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak .

pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. Ruangan dalam. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret. Bawahan langsung dari Tapak Kelam.” usul Angus kemudian. di mana ketiga orang itu berada sekarang. lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. mereka adalah Empat Pilar. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. ”Luas juga.” berkata Lantang membenarkan. ”Mari kita ikut. . Mungkin wakil-wakil ketua. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama. sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah. *** ”Itu.” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. ”Benar. Wananggo. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. Ya. tidak seperti yang aku pikir. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra. di sana pintu masuknya. terlihat cukup luas. Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu.” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah.” ucap Xyra.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. Rongga itu tidak terlalu besar. menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.

” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu. ”Pernah. perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya.404 BAGIAN 7. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan.” jelas Wananggo. sekali waktu. yang tampak di sana-sini. yang seperti diduga. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi. yang dipahat dalam dinding. Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan. ”Mana tanaman yang dimaksud. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. Batu yang dipotong sedemikian rupa. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding. Dengan permainan warna. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. Hanya beberapa rak terbuat dari batu. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya. sahabat dari pemiliki tempat ini. tidak seperti keadaan sebenarnya. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka.” jelas Wananggo kemudian. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut.

”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu.” jawab Wananggo. Alih-alih menjawab. .” ”Siapa nama petapa itu.” ucap Wananggo pendek. Ya. ia malah mengajukan pertanyaan. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang. Seribu Ramuan namanya. Suatu penyakit yang aneh.405 sakit. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi. yang satu Undinen dan yang lain manusia. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. ”Xyra dan Lantang. paman?” tanya Lantang ingin tahu.” tanya Xyra. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya. Wananggo menangguk mengiyakan. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. menanggapi jawaban tersebut. itu!” jawabnya tersenyum. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. ”Oh. ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. ”Mungkin. ”Paman. apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya.” tebak Lantang. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut.

” ucap Xyra. yang akan menjadi tumbuhan baru. sengaja atau tidak sengaja.” ucap Xyra kembali. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu. ”Ini paman. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang. yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. berpindah tempat. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan.” jawab Wananggo. suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta. ”tumbuhan tidak berpindah tempat. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang. Lalu ia kembali terdiam. paman kembali membuat bingung.406 BAGIAN 7. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat.” ”Hampir benar. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu.” jelas Wananggo kemudian. aku tahu. banjir dan sebagainya. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya. ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan. ”Paman.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu. . Hewan selalu berpindah tempat. ”Begitulah alam ini.” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. paman?” tanya Lantang tidak percaya. baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar.

” jelas Wananggo.” ucap Wananggo.” Kedua anak muda itu diam. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. Organisme mikro namanya.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk. ”Benar. kemudian dikenal sebagai pasturisasi. atau disebut juga bibit penyakit. ”Tapi katanya. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- . Lalu Wananggo pun menjelaskan. Amat kecil. lho!” kata Lantang. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik. benar begitu. Ukurannya sangat kecil. selain lezat. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. lalapan itu juga sehat. bahwa tumbuhan dan juga hewan.” ucap Wananggo. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan. ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. menantikan penjelasan yang akan muncul. juga lebih sehat. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. Ikan laut masih baik dimakan mentah. Dan itu terutama daging. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung. ”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh.” jelas Wananggo.

saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik. hanya setinggi beberapa jari saja. sang penanam tumbuhtumbuhan itu. Wananggo tersenyum masih.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut.408 angguk. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. juga keheranannya. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut. . Beberapa tampak berkilauan perak. ”Paman. menerangkan pada dirinya. ”Tenang Xyra. hati-hati!” cegah Wananggo. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu. Lantang. Ada beberapa yang amat beracun. lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian. ”Hai. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. yang ada dihadapannya itu. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. sekali sentuh dapat seorang manusia mati. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram. lalu katanya. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. BAGIAN 7. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan.

Tampak ia berpikir-pikir agak keras. Keduanya mengangguk mengiyakan. apapun.” usul Wananggo. demi kesembuhan Lantang. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. Lantang. Setelah. ”Kita masih ada sedikit waktu. agar hawa kita murni. Jika mati. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan. Menunjukkan niatan yang teguh. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra.. ”Nah. Lebih baik kita mengheningkan cipta. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan.” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat. khasiatnya akan berkurang. dan di antara kita bertiga. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama. ”Nah. ”Dari cerita kalian. Malu. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen.?” ucap Lantang menambahkan. Tapi jangan sampai mati. Xyra mengangguk. meditasi. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. *** .409 ”Bukan. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu.” jawab Wananggo sambil tersenyum. dalam hitungan menit akan berbuah.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana..” jawab Wananggo pendek. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. ”akan aku coba. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu.

Sabit Kematian hanya diam saja. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada. di tengah pulau. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya. bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari . Kagum akan keindahan tempat tersebut. ”Di sana.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung. ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. Lunglai bagaikan boneka saja. Segera mereka berada di atas pulau pertama.. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam..” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya. ”Ayo jika begitu. Kita harus menyeberang. ”Bisa nanti itu kita bicarakan. Tapi matanya tampak juga mengiyakan. ”Ha? Bukannya tadi.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya.” ucapnya. tapi tanda daya. ”Boleh juga bila kita pindah kemari. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat.” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. Hanya dapat berbicara. Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya.” ucap Cermin Maut. Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini.. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi.410 BAGIAN 7. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula.

”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka. mari kita menyeberang. Begitulah mereka berlari cepat. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam. ”Jika demikian.” jawab Tapak Kelam pendek. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat.” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu.” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang. Setelah menemukan- . ”Kelima. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. mendahului keempat orang rekannya. sampai akhirnya tiba di pulau kelima. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut.411 kesempatan untuk melarikan diri. ”kira-kira sepuluh. Di pinggir danau. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu. ”Ya. Yang lain segera menyusulnya. tampak lemas. *** ”Tempat yang menarik. ini sedikit tetetasan darah yang tadi. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. Dengan lunglai ia berkata.

Telusuri isyarat yang ada. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka. yang tadi dalam postur Duduk Teratai. *** Malam pun menjelang tiba. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat. yang hari itu membulat sempurna. Pulau kelima. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. ”Aneh.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. ”Mari kita mulai. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang.” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya. itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang.” usul Shia Siaw Liong. karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru. ”Sudah hampir tengah malam saat ini. ”Selanjutnya. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan. ”Baik jika begitu. ditambah dengan ubun-ubun kepala. dengan lima titik menghadap ke langit. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. ”Kita ikuti saja yang pertama..412 BAGIAN 7.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu. Kedua telapak tangan dan kaki. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk. Upayakan untuk mencari hawa ..” ucap Wananggo hampir berbisik. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. bayangkan engkau hendak mencari Lantang.

kadang ke rak yang . Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan.413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu.” bisik Wananggo perlahan. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini. jangan ke sini. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. terlihat seperti mencari-cari seuatu. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. sang Undinen. dengan membayangkan pemuda itu. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening. ”Arahkan ke tempat lain. Lidah cahaya itu berhenti memanjang. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. Jika suasana terang. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. Xyra. halus dan bersambung-sambung.” kata Wananggo kemudian menambahkan. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra. Ia bergerak perlahan. untuk mencari hawa dari Lantang. Mirip kilauan kunang-kunang. Putih cemerlang.

. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. ”Baik. melingkar. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul. juga berwarna biru tembus pandang. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. Suatu perasaan nyaman luar biasa. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya.” tanya Wananggo.” jawab Xyra pendek. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. kadang ke rak yang sebelah bawah.. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. Setelah beberapa saat hening. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra.” ucap Wananggo perlahan. sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang. Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. Diam seperti mematung.. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. yang lalu tiba-tiba hilang. Rak tersebutlah yang mereka cari. yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. kembalikan peredaran hawa dalammu. ”Atuh napasmu perlahan. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. Pemuda yang dikasihinya.. Lebih bercahaya dan kemilau. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi.414 BAGIAN 7. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. sudah baik kembali. Xyra pun membuka matanya. saling merengkuh. ”Bagaimana keadaanmu sekarang.

suatu hubungan hawa antara dua entitas. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada. . jika suatu saat ada yang membutuhkannya. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya. yang dapat membantu menyembuhkanmu. Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan. di dalam bangunan itu. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya. melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali.. Tidak semuanya. Itu pula yang aku harapkan. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi.” ucap Wananggo. Entah apa. Berbegas Sabit Kematian.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.” ucapnya kemudian. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. *** ”Di sana. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini. Untuk orang lain.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki. berikut kitabnya tersebut. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu.415 ”Pautan hawa. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu.” jelas Wananggo. ”jika tidak. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa..

Ki Jagad hitam. mulai mengamat-amati prasasti pertama. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Ya. Demi melihat prasasti kedua. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat. yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut.416 BAGIAN 7. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. Prasasti sebesar kerbau bunting. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. Lingkaran Dalam. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. Sayangnya. Ia hanya tersenyum getir saja. berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam. Tanpa banyak berbicara. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang. ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini.

Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa.” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut. Rata dan berbentuk kotak. bergaris-garis. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu.” ucap Cermin Maut memperingatkan. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. ”Kita coba saja.417 pat sisinya. ”Hati-hati.” ”Huh!! Jangan kuatir. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut. rusak oleh sabitmu itu. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat. ”Hati-hati. Mencongkel perlahan. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada . ”Belum tentu. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya. sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang. sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana. ”Biar sabitku yang bekerja.” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini. dan tidak ada apa-apa di sana. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut.” ucap Tapak Kelam. kakak Sabit Kematian. ”Kosong.

Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya .. itu mungkin kain pembungkus sesuatu.418 BAGIAN 7. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. Dengan sigap ia bergerak ke samping.. ”Ya. Sudah selesai tugasnya. dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana. Suatu pukulan jarak jauh. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu. ”Keparat. Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. ia melarikan diri. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya. ia bergegas menyelinap keluar.

. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut. . yang akan membawanya ke pulau keempat. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya. Itu belum jelas.. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain.. pastilah anda adalah Cermin Maut. yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku.. golok bumerang.419 itu. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya. Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal.. ”Jika engkau Tapak Kelam. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya.. ”Mau lari kemana engkau. Kawan atau lawan.. bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut. Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. yang diikuti dengan tubuhnya. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan... ”Ya. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. dan orang ini hendak mengejarmu.” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin. Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini.. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah. ”Kamu..!!” ujarnya tersendat.. saya... kalian. Cermin Maut tidak segera menjawab. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu. ”Siapa. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting.

Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. Memang lucu. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir.. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. saya Cermin Maut. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. Kelima orang ini belum. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya. ”Dan engkau juga. Kalian telah membunuh kami.” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek.420 BAGIAN 7.. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. pada suatu saat yang lalu. dapat saling mendekat. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. yang kedua ini . serta Mayat Pucat. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. itu adalah salah seorang murid-murid. Deras dan keras. Sekarang. Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut. Ya. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan. ORANG-ORANG ABADI ”Ya. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. orang yang berseteru. ”Dan sekarang giliran kalian. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. ”Kami mencari Sabit Kematian. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya.

” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. ”seorang dari yang pernah kita bunuh.!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti.. Tapak Kelam pun mengikuti.” jawab Cermin Maut.421 dia tidak yakin.. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat. Dan ia mencarimu. ”Mari kita kejar. ”Mari. agak bingung mereka. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu.. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut.!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau.” jawab Cermin Maut. ”Hei. Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka. di dalam sana. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya. Misun menepuk pundak Gentong. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu.. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda.” ucap Angus yang segera bergegas. ”Tak tahu. Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat. .. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam.

. kita bisa ke pulau berikutnya. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. Biasanya mereka yang dikejar orang.422 BAGIAN 7. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air. ”Eh. kamu.” jawab Tapak Kelam menjelaskan. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya. ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. Berturut-turut Cermin Maut. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja. ”Mari masuk. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. Pulau keempat. ”Belum tentuk kita kalah sama mereka. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran. yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat. Dan dari sana melarikan diri keluar. ”Ini jalan rahasia.” ucap Sabit Kematian jengkel.” ucapnya cerdik. ”Eh. Membuatnya semakin jatuh hati. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut.

”Sekarang coba alirkan hawa.” duga Dhoruba. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian.” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya. Setelah hening beberapa saat. Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana. Sebagian turun. yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. *** ”Minumlah ini. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya.” ucap Wananggo. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur. Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain. Wajahnya .” ucap Shia Siaw Liong. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini.” jawab Wananggo.” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. tampak membuka matanya. pastilah ini menuju ke tempat lain. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. ”Jangan semua masuk. perlahan-lahan. Rekan yang lain mengangguk. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya. ”jika ada jalan rahasia.423 ”Mereka menghilang. ”Aku belum tahu. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku.” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu. sedangkan Gentong. kembali menuju perguruan.

Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya.” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.424 BAGIAN 7. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh..” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya. tak usahlah sedih begitu. Dulu oleh gurunya Rancana.. hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang.. dihancurkan. . juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Ia masih ingat bahwa orang itu. paman. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut. paman! Mari kita pergi dari ini. yang ada di hadapannya sekarang. Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh.” ”Paman. si Bayangan Menangis dan Tertawa. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah.. ”Padahal menurut petapa tersebut. ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya... Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi. semuanya kehendak Sang Pencipta.. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar.. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu. ”Engkau. ”yang penting kita sudah berusaha. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut.!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang. Saat ini oleh Wananggo. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju. ”Sebabanya.” ”Aneh. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini. Dan katanya. ”Mari.. ”Aku merasa lebih sehat dan segar. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya.!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya.

”Minggir!!” jawab orang tersebut. orang itu. tapi bagi anak kecil seusianya saat itu.” katanya kemudian. seorang wanita dan dua orang laki-laki. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ.” ucap Lantang bergetar.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. Mereka segera berhadapan... Keduanya terdiam. Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya. Tidak terlalu sakit.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang.. Ia tidak mempedulikan Lantang. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut... Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya. begitu pikir mereka. segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. tidak dalam keadaan segenting saat itu.. Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti. ”orang itu.” ”Paman.. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya.. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng. yang adalah Tapak Kelam. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku. siap untuk saling serang. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan.. Cermin Maut. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih . yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita.

ini kami. ”saya Shia Siaw Lion. Sembilan tepatnya sekarang. yang wanita. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. berkata salah seorang dari mereka. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya.426 BAGIAN 7. Jika sudah kenal. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. Bersiap hendak saling serang. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. Misun dan Gentong. Angus. malah salah seorang dari mereka berkata. kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. Tidak . ya ia mulai ingat. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba. Cermin Maut. bukan?” ”Ya. ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. ”orang sudah hampir mati kok ya. ini Dhoruba. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut. Ya. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu.

Pemuda itu adalah. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut.. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka. menebas kepala sudahlah cukup.... Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau.. mereka benar-benar nyata adanya. lincah masih geraknya. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo.. Pukulan keras dan lurus. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa. ”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah.. akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu.” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang. Hening sesaat. mereka-yang-tak-bisa-mati.427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya. pemuda yang berada di depannya sekarang. ”Kaum Abadi. Bukan hal yang normal.. ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras.” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak. mau tak mau membuat mereka merinding. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu. Umumnya dengan jarak jauh.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi. Keras . Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh.

Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. kitab tersebut harus ikut. Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. mengemis dan kelaparan di jalan. Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Di mana-mana. Segera ia melompat mundur menjauh. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. senjatana tidak begitu berfungsi baik. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. .428 BAGIAN 7. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. Pusing sesaat dirasakannya. atau berkalang tanah. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. kali ini di bagian tengkuk. di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. Dengan jarak yang sekarang agak jauh. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. Jika saja tidak. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Jika ia harus pergi dari sana. Untung saja ia bertemu dengan gurunya. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. bertempur jarak dekat. mungkin. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. Campur baur antara sedih dan marah. Dalam jarak dekat. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. Rancana.

Cara serang yang baru ini. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. baiknya kita segera berlalu dari sini. tapi Gentong tidak tahu.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. Diantara kedua orang saudara seperguruannya. Lantang. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. ”baiklah paman.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. paman. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. Mundur kena sabit jangkauan panjang. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain.” ajak Wananggo.” jawab Wananggo. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana. Memang sebaiknya kita pergi. Lalu katanya. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. membuatnya sedikit kewalahan. ”Kaum Abadi. ”Nak Lantang. walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. Memang untuk keselamatan kita juga. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya. Lain waktu kita cari lagi orang itu. Kita sebaiknya tidak mencampuri. dipegang di tengah.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam.” . rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. pinggir berganti-ganti. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. Maju kena cengkeraman. ”Aku mengerti. mereka itu.

dan ini Xyra dan Lantang. ”Aku Wananggo. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun. Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. tak perlu kalian takut.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. Terdapat banyak untaian. menirukan. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. Misun lalu membuka baju luarnya. Saat ia berlari cepat. Entah apa. . kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. pulau ketiga.430 BAGIAN 7. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. ”Howgh! Aku Misun. Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. Aku tak ada maksud jahat. segera mengangkat tangan pula. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. ”Maya. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. berbulir-bulir mengambang di udara. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut. Xyra tampak terkejut. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra.

”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. kembali menemui rekanrekannya. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan. ”Howgh!! Tugasku telah selesai. Betul-betul lawan yang tangguh. Sabit Kematian. adalah tidak terlalu berat. Tatapannya yang seakan mengatakan.” ujar Mayat Pucat. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. *** ”Untung ada engkau.” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. sah-sah saja. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati. . Jika harus lewat jalan biasa. ”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra.” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat. Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka. kehilangan seorang rekannya. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra. Tapak Kelam. Mayat Pucat dan Tapak Kelam.

Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. *** ”So. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. bagus!!” Misun. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. Bagus. Senjata yang sudah ’tua’. right!” sambut Dhoruba. Dhoruba terkekeh-kekeh. ”Yeah. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin.432 BAGIAN 7. ”Gentong. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. yang mungkin belum dingin tubuhnya. Mereka segera berlalu dari sana. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong.” sambung Shia Siaw Liong. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. our problem in this land is alreay finished. Menepuk bahunya. sejenak dipikirnya sesuatu. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. isn’t it?” ucap Angus. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Gentong masih tampak termenung. Melihat itu. ”Pilihan yang bagus. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. ”Sudah saatnya kita pergi. Banyak sudah darah yang dimininumnya. Pada suatu gerakan tipuan. mengajaknya berlalu dari situ.

portal!” ucap orang itu.433 nunaikan misi mereka sendiri. ”Ini harusnya tempatnya. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. terutama bagi kaum mereka. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. – merekayang-tak-bisa-mati. orang tua itu. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan. ”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut.!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini. dan mereka akan datang. *** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi. tapi ia tidak mengerti. Ia. persegi. membentuk semakam bekas candi atau kuil. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu.. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini. Undakan batu. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. Saat orang itu bangun. . Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. ”Aku harus memberi tanda di sni.

. kami kemudian membawa anda ke sini. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia. Anda siapa?” tanya orang itu kemudian. Makhluk itu tampak sedih dan muram. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa. ”Maafkan bila tadi malam. Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar. Sejurus tak ada jawaban. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa. ”Saya Coreng. ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah.” ucapnya perlahan. membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi. saya Rancana.. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung. Nanti....” jawab makhluk itu.. Yang membedakan mereka adalah tingginya. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri. ”Eh. kami tahu. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan. pelataran batu tempat anda tidur. ”Ya.434 BAGIAN 7. ”Eh. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. kami ’menculik’ anda dari portal..” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras. Tiga kaki tingginya. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi. Ya. ”Ini. di atas pohon!!” ucapnya kagum. Setelah berkata demikian... Lalu katanya. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana. Manusia Tiga Kaki. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat.

ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. ”Benar. *** ”Engkau yakin. ”Aku telah tiba di sini. Dunia ini luas rupanya. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat. Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. Moreng?” tanya Coreng. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki. Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. Rancana sejenak terkenang akan muridnya. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya. di Rimba Hijau. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. Dan di sini. Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah. Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. itu yang penting. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita. *** . Berikutnya minta pertolongan mereka. telah ditemuinya. Lantang. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini.435 tenang.” ucap Moreng meyakinkan.” gumamnya. apanya!” usul kawannya kemudian.

nanti aku gali sebuah lubang besar. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya.” ujar ayahnya. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. Dara tersebut hanya menangguk. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. Oleh karena itu harus segera dikuburkan.436 BAGIAN 7. berhak atas persemayaman yang layak. Hanya manusia. . ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan. ”Hati-hati. jika juga sudah menjadi mayat. ayah. Berpesta santap daging manusia. jangan dipegang!!” ucap ayahnya. Dara itu kembali mengangguk. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu. lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana.” jawab sang dara. ”Iya. karena selain orang mati. Sambil menutup hidung. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya.. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun..” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya. ”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana.

terutama air terjun di belakang amatlah indah. tidak terlalu takut tidak dapat hidup. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. Entah dari pihak mana. Pintar!!” kata anaknya antusias. yang penting kita coba. ”Mereka toh telah mati.” tanya anaknya kemudian.” ”Ya. . tapi dari tanam-tanaman kita sendiri..437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. Di beberapa ruang halaman. ”dan tempat ini. Perguruan Atas Angin. membuka perguruan silat. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja. Keduanya tampak puas. ”Ya. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu. ”Bagus juga tempat ini. di belakang itu amatlah indah. Sayang untuk ditinggalkan. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh. ”Bercocok tanam. ”Buat apa dipikirkan. Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana.” usul anaknya. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian.” balas ayahnya. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang. benar. aku ada banyak pengalaman.. ”Membuka kedai saja. Yang penting semuanya telah dikuburkan. Keduanya kemudian tertawa berbarengan.” jawab ayahnya. berdagang. Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan.

Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya. ”Mari kita mulai mendaki. ”Masih.” jawab sang dara ceria.438 BAGIAN 7. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta. Lalu keduanya mulai beranjak dari situ. Dara itu mengangguk. di gunung. supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha.” sarannya kemudian. semoga saja.” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. Padang Batubatu. kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. Dalam hatinya ia berkata. ”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu. kita akan berlari cepat sekarang. ”Kita masih harus mendaki gunung ini. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana. ”Kita tidak tahu itu. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. *** ”Masih jauh. Bila tidak. Gunung Berdanau Berpulau. ”Anak wanita kok senangnya bertempur. mengeluarkan ilmu berlari .. paman.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu.

Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Menuju suatu tempat di atas sana. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. Membeku. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. Sedih bahkan. Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. Meloncat di sana-sini.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. yang mengangguk perlahan kepadanya. Memutih dan mengeras. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut. bagai dua buah patung pualam putih. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. cepat hampir tak terlihat. kering. Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum. *** . Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba.

440 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI .

. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai.Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Lautan. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. tepi daratan. Telaga pemuda itu.. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 . jauh di utara sana. Melesak dan tergores halus. Pantai Selatan. Bagi pemuda itu. akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. Tepatnya tiga tahun dari saat ini. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan. Ia tidak asing dengan air.

Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. yang mengajarinya dua jurus pokok. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. Sedangkan dari guru keduanya. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Arasan ia memperoleh dua jurus pula. Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. seperti dipesan oleh orangtuanya. Ki dan Nyi Sura. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi.442 BAGIAN 8. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini. Tapi ia belum merasa puas. Selain belum benar-benar merasa cukup. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Guru yang pertama adalah Walinggih. Tenaga Air. Bila ada nelayan mendarat. Saat perahu yang ditujunya mendarat. Sebuah perahu nelayan. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh.

Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. bergegas berlalu dari situ. Ia pun membuka perbekalannya. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan. Hari sudah menjelang senja. Telaga mencari-cari matanya.” tersadar Telaga dari kekagumannya. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. Cukup terlindung dari angin. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur.443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Ia hanya memandang kagum dan membisu. ”Eh. Tepi Darat Selatan. .. Ia adalah orang asing. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. Belum mereka berkenalan pula. Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan.. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan. hanya bisa terpaku melongo. setidaknya menurut para penghuninya. harus aku ikut dia. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. tamu tepatnya. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa.

apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. baik. mungkin belum muncul saja aksinya. Pelaut Ompong. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya. ”Jangan terlalu curiga. ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu.” usul cucunya itu. ”Jadi apa maumu sekarang.” ucap gadis itu. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat. ”Ah. aku tangkap dia. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian.444 BAGIAN 8. ”Belum tentu. meringkuk miring dan juga mendengkur. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. kakek! Besok baru kita tanyai. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. ”Iya.” goda kakeknya kemudian. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum. engkau harus minta maaf kepadanya. ”Baik. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. saking ringannya . Tapi awas ya.” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. Lebih aman di sana. kalau engkau yang salah. kakek!” rengek sang cucu manja. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan. Dara itu mengangguk. kakek! Pemuda ini.” jawabnya. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

Wajah. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. dada. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. Serangan kasar dan membabi-buta. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Suatu alasan yang picik.456 BAGIAN 8. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. Pelaut Ompong. . Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu. Kaku dan keras. melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya.

Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu. Ia kemudian lanjut berkata. Lalu katanya. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan . Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya..” ”Aku ini sudah bertunangan.457 ”Telaga. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak. Dan termenung. Terengah-engah sekali tampaknya. Sedih.. Wassa. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. jangan engkau menghindar. Ia pun terduduk lelah.” jelas Telaga.” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu. ”Wassa..!! Ayo lawan. Lelah sudah pemuda itu. Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku.. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga. Tak ada gunanya.. kita sudahkan saja hal ini. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani. Bukan begitu?” tanya Telaga balik.” ucap Telaga perlahan. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong.” ”Aku ’kan menumpang di sana.. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. Wassa hanya tersenyum malu. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya. mencoba untuk membantu. terus.. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya. ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat. ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia... Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya.. akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya.

mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua. baiknya kita latihan diam-diam. Aku rasa.? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. ”Di samping itu. Dengan ini kita jadi bersahabat. *** . Menuju desa Tepi Darat Selatan. ”Ini semua hanya salah paham. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu.. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk. Nanti kuceritakan.” katanya sambil mengedarkan pandangan. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. Telaga menganggguk. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku.. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. Nanti malam kita bertemu lagi di sini.458 BAGIAN 8. Wassa mengangguk setuju. Seorang berilmu dan juga ramah. untuk suatu kejutan. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. Telaga. lalu katanya. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. Bagaimana?” usul Telaga. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu. Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. aku juga tertarik dengan tempat ini. Angin pun berhembus perlahan. menyisir lembut daun-daun nyiur.

”Perhatikan bahwa suatu bilangan. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India). setelah bilangan ketiga.” ucap Wassa memberi .” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang. O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja. selebihnya aku tidak hapal. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. ”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya.” ”Menarik.” cerita Mayayo.” jawab Telaga singkat.” ucap Telaga penuh ingin tahu. ”Masih belum mengerti.” ucap Wassa. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu. yaitu Gopala dan Hemachandra. Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. yang dinamakan deret Fibonacci. ”Belum.

kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci.460 petunjuk. Hening sejenak. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya. ”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan. membuatnya benar-benar tertarik. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan.. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- . ”Di balik itu. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut. Rahasia. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa. ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Coba tanyakan kepadanya. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. Lalu terdengar Telaga bertanya.” jawab Wassa. BAGIAN 8. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu. CMLXXXVII. MENARI BERSAMA AIR ”Iya. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. Pelaut Ompong. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu.. ”Menarik!” ucapnya kemudian. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik.

itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan. ”Bahkan. Jadi. Waktu aku seumurmu juga demikian. ”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu.” berkata Pelaut Ompong arif.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat. ”Hahaha. ”Orang yang menceritakan berita itu.. ”Kami tidak berhasil menemukannya..” jawab Telaga jujur.. Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini. . berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya..461 makaman kuno tersebut.. ”Saya dengar dari Wassa.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu.. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali.” ”Jika memang kitab itu tidak ada. ”benar-benar lupa aku.” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi. tunggu dulu.. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu. hmmm.” jawab Pelaut Ompong. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka.

MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. Jangan beritahu siapa-siapa.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. Secara reflek ia tersentak dan berdiri. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu. Telaga beristirahat lebih cepat.462 BAGIAN 8. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. . Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit. karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut. rumah di mana ia menumpang tinggal. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka. *** Malamnya. melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. Sejenak dirasakannya suatu keanehan.

”Itu Telaga. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada.” jawab . Memang kenapa?” tanya balik Mayiya. Malampun semakin larut. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya. Angin masih berhembus lembut di kejauhan. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut. *** Dalam beberapa hari itu. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. ”Enggak ada apa-apa. Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. Mayiya. kek. *** Malam baru menjelang tiba. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. di atas bukit. Tumben. Saat untuk pergi ke bukit. Telaga minta diri untuk beristirahat.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. kok masih hari ini sudah minta diri. Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya.

” jawab cucunya. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi. kek. membuat malam itu gelap dan lengang. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya. kita istirahat juga saja. mungkin juga. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. *** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. Langit benarbenar gelap. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri. . Setelah hampir-hampir tertidur. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai.464 sang kakek. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. ”Ah. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. Malam tanpa bulan. Telaga pun beranjak menuju suatu arah.” jawab kakeknya. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan.” tebak Mayiya. Arah di mana suatu bukit berada. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu. Akhirnya ia berada di luar rumah. ”Kalau begitu. Mayiya. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. BAGIAN 8.” ”Iya. Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap.

ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam.. ia pun mengambil arah berlawanan. Sebelum ia sempat menyalakan obornya. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya.465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. Setelah berjalan beberapa saat. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. Pemakaman kuno di atas bukit . Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. Berdebar-debar jantung Telaga. Jika tidak. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. meraba-raba sana-sini. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Hening. Bukit ada di sana.. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. ”Jangan nyalakan api. Setelah rasa terkejutnya pulih. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Ia sudah hampir berada di sana. Setelah yakin. Perlahan. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua.

Di tengah-tengah pemakaman kuno. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Suasana tampak lengang. dua. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Sedikit gelisah ia menunggu. Suasana yang terlalu sepi. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. Satu. membuatnya sedikit tidak tenang. Sekarang ia telah berada di sana. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan . Setelah ia merasa sedikit nyaman. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. Sepi. tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. merapalkan Tenaga Air. mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Sendiri. Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. Sunyi.466 BAGIAN 8. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut.

Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. Dan kembali berlaku hal yang sama. Se- . sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah. kali ini dari arah kirinya. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. dingin. Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak. ”Maaf. Berkali-kali. Belum belasan langkah ia melangkah.” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. Kembali hening. Hening tak ada jawaban. Menyambar dengan lembut. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. kali ini dengan dada agak berdebar-debar. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. Sunyi. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana.

Dan di depannya. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. tapi jelas. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan. *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi. Ya.. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu. Kita akan bersua lagi nanti.468 BAGIAN 8. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada.. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan.” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya.” suatu suara lirih terdengar samar-samar. pelan. di udara. mengambang sebuah kain lusuh terlipat. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari.. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Suara yang sama. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk. Hari pun sudah mulai mendekati fajar.. Ia tidak begitu ingat. itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya. menghindar karena menyangka dirinya diserang. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. ”Desa Terapung. Ia menggapai kain lusuh tersebut. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya. menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu.. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka. Mengirimkannya hampir tanpa suara. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya. mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap. .

Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. Terkagum-kagum . sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. tidak seperti saat ia pertama kali sadar. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Semuanya serba kayu. Laut. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. Kaku masih. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Terasa benar lemasnya. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya. Desa Terapung. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Membentang di hadapannya tampak air. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Jalan yang juga terbuat dari kayu. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. Sekarang tampak di depannya. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Tak berbunyi. Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat.

peti itu telah hilang dari pandangan . Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul. tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. Di sana. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Kurang dari sepeminum teh. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun.470 BAGIAN 8. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Kadang ke atas kadang ke bawah. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut.

orang yang diselamatkan dari amukan badai. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. ikan paus dan sebagainya. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali.471 mata. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. Lalu seorang dari mereka. tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Bila sudah tentu tidak dibakar. gambar-gambar dan juga ukiran. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Pemuda itu. gurita raksasa. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. mengapa sedari ia datang. Tak ada kata-kata yang terucap. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. mulai bertanya-tanya. termasuk si pemuda. Ada ikan. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Benar-benar tak ada suara yang terucap. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . Ya. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Untuk itu. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk. Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. kapal. yang kelihatannya dituakan. tampak beragam hiasan menempel. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. Tinggal beberapa orang di antara mereka. hanya dengan sang gadis ia berbicara. Dari luar terlihat biasa. laut adalah satu-satunya solusi. Orang yang mati telah dikuburkan. Balai desa dari Desa Terapung.

” jawab gadis itu. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . kebiasaan ini pun tetap dilakukan. Bila tidak ada orang baru. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. ”Siapa namamu?” tanyanya ramah. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. Orang yang ditunjuk mengerti. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. ia kemudian mulai membuka percakapan. dan menempatkan dirinya di samping pemuda. Lalu seorang dari mereka. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini. dengan pendengar orang-orang sendiri. ”Saya Akanamia. ”Saya bernama Mayayo. Gadis tersebut tersenyum padanya. orang yang sudah terlihat cukup tua. Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya.472 BAGIAN 8. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. Ia mengangguk dan berangsur bangkit.” jawabnya. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara.

Selain itu terdapat pula. pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. Kakeknya. Orang-orang pun berbubaran. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. Tapi di luar kekurangan mereka itu. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. Dua orang menghampiri Mayayo. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. mereka memiliki kelebihan. Pelaut Ompong. Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut.473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. berikut pula perahunya. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. . Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. Setelah cerita itu selesai.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali. Bila suatu saat mereka mendapat giliran. telah tiba kembali . Mayayo. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. menjadi bahan pikiran masing-masing orang. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. Pelaut Ompong tak ada di tempat.485 dua orang ini. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. setelah terlebih dahulu membersihkannya. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit. orang-orang pun mulai berpamitan. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok.

486 BAGIAN 8. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya. terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. MENARI BERSAMA AIR di rumah. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. Ia kagum akan sikap pemuda itu. Mayayo. dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. bercerita pulalah ia. . pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya.

Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. Mungkin. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. ”Engkau ada ide. yang hanya mengangguk mengiyakan. Terpikir hanya satu jalan. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. . yaitu berenang. ”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. Pulau yang menjadi tujuan mereka. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. Ya. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. Orang tua. Sebuah danau yang luas dan indah. minta diri.” usulnya kemudian. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya.

” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat.... dan itu matahari sudah mulai hilang. Berjalan agak cepat. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua.” .. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. ”Cape paman. dan makin lama makin cepat. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan.” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma.” ucap Walinggih. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu. Kami ingin sekali membantu mereka kembali. ”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka..488 BAGIAN 8.. sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami. jadi anda berdua ini. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini.” ucap Walinggih ramah. ”Ah. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. pikir Walinggih. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap.. kami bantu menyeberang. Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. ”Baiklah kalau begitu. dan saat ini adalah kesempatan kami. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini.

Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu. *** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Suatu perangkap satu arah. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar.

Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah.490 BAGIAN 8.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya. Lalu kata seorang dari mereka. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan.. ”Nah. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura. Ya. jika tidak. Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga. Atau jika kalian ingin dijemput.” ucap gadis itu. Setelah mengucapkan terima kasih. paman. kita sudah di sini. .. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya. walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. ”Mungkin ke sana. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih. bagaimana tidak. paman! Saya tidak melihatnya tadi. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Untung tidak terlalu lama. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian. ”Betul.

Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya.” Tak ada kata-kata lain.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka. kondisinya pun tak terurus.” jawab Walinggih mengiyakan. dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. Setelah lama mencari-cari. terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. Agak terletak di sebelah dalam. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam. ”Paman. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai. Di sana berdiri sebuah saung. apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. .” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”. mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Pikirannya melayang ke mana-mana. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya.

Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. Keduanya pun segera beranjak ke sana. dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam. MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya. ”Hati-hati. maka guanya berada tak jauh dari ini. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. . ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu. ”Benar. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah.492 BAGIAN 8. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati. Siapapun orang itu. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut.” ucap Walinggih.” ucap Walinggih perlahan. Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan.

”Aku adalah sahabat mereka..” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini. Ki dan Nyi Sura.493 Perlahan kedua orang itu. di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka. Lalu lanjutnya. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan.. kami mencari mereka. ”pada saat-saat itu kebetulan . Hening sejenak meliputi suasana di sana. yang ternyata adalah es. ”Ini.. ”Ya. Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya.. Walinggih dan Sarini. keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu. tampak samar-samar wajah seorang manusia. ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya..” ucapnya perlahan. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih.” jelas orang itu. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu. Tak berani menganggu. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi. ”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah.. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya. Dua buah manusia yang telah membeku. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka.

Dengan membekukan mereka. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya.” . ”Ah.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman.” jawab Rancana pendek. jika saja mereka dapat mendengarnya.” ucapnya pelan. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali. ”Tidak juga. Tak tahu harus berbuat apa.494 BAGIAN 8. Lalu setelah ditanya. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian. MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik. yang mengaku bernama Rancana. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut. Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut. Lalu katanya. ”Tidak tahu. kalian membawa kabar baik.

larut dalam pikirannya masing-masing. seperti lidah dan rongga mulut. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah. rambutnya dan juga kulitnya. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. ”Pesanku. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya.” ucap Rancana. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka.. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku.495 Keduanya kemudian terdiam. Julukan yang telah lama ditinggalkan . Rancana hanya mengangguk. julukan yang dulu dimiliki Walinggih. menjadi patung es. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu.. ”tolong katakan pada muridku. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya. ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. Dugaan Walinggih benar adanya.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau. Sudah bola matanya. Lantang.

Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. Jurus yang . Lantang. Rancana pun memaksa untuk menolong. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. BAGIAN 8. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka.496 dengan sifat-sifat jeleknya. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. Jika saja Ki Tapa masih hidup. kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. sempai bertemu dengan Hitam-Putih. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka.

Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong.497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. disiramai dan akhirnya berbuah. Walinggih. air atau angin. Sia-sia. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. ”Jika belum bisa menerapkan. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Arasan. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Sehabis serangan lewat. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan.” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. Mirip seperti pohon yang dirawat. Ia . Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Perlu waktu memang. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. Walaupun ilmu kami berbeda. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh. Entah apa hubungan antara keduanya. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan.

Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang. Tak lupa disirami . Sarini mengangguk. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya. ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut.498 BAGIAN 8.” perintah gurunya itu kemudian. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping.” ucap gurunya. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. tetapi masih lengket pada tempatnya. membentuk posisi segitiga. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang. memutar. beberapa batu tampak berderak-derak. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak. Ki dan Nyi Sura serta Rancana. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut. bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya. Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. dengan tanah dan rumput-rumputan.

Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. Keduanya tidak banyak bertanya. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. ada waktu berpisah. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. ”Kita tidak berpisah selamanya. sudah tentu . Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. *** ”Akanamia. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada. menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut.

Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat. Postur .” jawab anak muda itu cepat. *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur.” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut. ”Saya akan coba. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama. calon iparnya. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja. Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi.” ucap anak muda itu meyakinkan. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu. ”Baik. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu. ”Menari Bersama Air.” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut. Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia. Akan kuturuti kata-katamu. ”Tidak mudah. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya. paman! Ingin menimba ilmu di kapal. lho! Beda di dengan di darat. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. kakek. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya. ”Benar. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. paman.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal.500 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi. disetujuilan usulan itu.

Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian.501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Tanah seberang. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. Lalu mereka berdua pun berpisah. begitu kata orangorang. ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. bapak dan kedua anaknya. hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. Dilihat dari tongkrongan mereka. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. ”Baik. Tlatah Matahari Terbit. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia.

” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang. .” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi. ”Empat sampai lima minggu. tapi dapat saling mengerti dengan baik.502 BAGIAN 8. ”Hai. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya. Telaga yang tidak sengaja menguping. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. ”Teman-teman yang menarik. entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya. ”bila cuaca buruk dan ada perompak.” jawabnya ramah.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. aku Telaga. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya. apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka.” jawab orang yang ditanya. mungkin malah lebih lama. bertubuh besar dan subur itu. ”Aku Gentong. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat. Juga bahasa yang mereka gunakan. Dengan keempat rekan pemuda itu. Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. ”Yang pertama itu bekerja di laut.

ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong. Suatu yang aneh menurut pemuda itu. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang.” ”Ya. Misun nama orang itu. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya. Keluarga yang terdiri dari ayah. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. akan aku camkan itu.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. ”Jangan terlalu banyak bercerita. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. Setelah ia pergi. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya. Begitulah kehidupan berjalan. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. ”Telaga. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Tidak menggurui. Ki Tapa. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut. Ya. .

MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang. *** . Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka.504 BAGIAN 8. termasuk Telaga pun bersiap. di kejauhan dekat horison. Para anak buah kapal. Dan angin pun bertambah kencang bertiup.

”Aku suka sikapmu. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya.. Jadi bagi saya.” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu. tapi itu bukan suatu buku yang bagus.” jawab pemuda itu rendah hati. buku yang baik atau tidak. ”Oh... menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang. belum bisa saya menilai. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi. itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan. Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 . ”Tidak apa-apa guru.Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah.” ucap orang tua itu kemudian. saya ’kan belum punya banyak pengalaman. Isinya macammacam.” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar. Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu.

Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Banyak tempat duduk yang belum terisi. . Saat itu kereta cukup sepi. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. hari itu adalah hari Kamis.506 BAGIAN 9. Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. ”Lu. Atau mungkin manja? Entahlah. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya. dua hari yang biasa-biasa saja. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Cukup panas menurut kulitku. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya. Hari Pertama Seingatku. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta.

Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. ”Terima kasih!” kata sang orang tua. Tak lama setelah itu. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. dan lanjutnya. Lalu. ”Aqua. Aqua. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. dan mulai kuamati dirinya. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. lima ratus!” katanya. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. lima ratus. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. ”Jeruk seribu. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam. Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut.

Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam.” ”Tapi bapak masih kerja. Tadi masih muda-muda udah ngamen. di kantong ada.508 BAGIAN 9. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. kalo mau kerja pasti dapat. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. seribu. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. Nggak ngamen. Nggak perlu ngamen. Setelah mengeluarkan dompetnya. Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke. Dua setengah kali lebih mahal. ”Rejeki itu dari Tuhan.” katanya. suami enak-enakan nggak kerja. Nggak ada istri. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. ”Nggak ada sodara. ”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. Di kampungnya. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya. Begini-begini kerja dibayar orang. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. ”Bapak tinggal sendiri.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen.” katanya dengan suara yang kurang jelas. ”Ya. ”Satu seribu?” tanyanya antusias. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” . Mampang. Kalau duit sih cukup. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen.

Pak!” Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang di sekelilingnya. Bersyukurlah diriku. Sesaat sebelum turun. kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata. Proses mencari uang juga dipikirkannya. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut. Hari Kedua Pertemuan hari kedua lebih sederhana. . Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. Sayangnya. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. dan dibangunkanlah aku oleh dirinya. akan tetapi terbersit suatu hal. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. ”Bagus. ”Mari pak!” kataku sambil tersenyum. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. pamitlah aku padanya. Amin. Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Uang bukanlah tujuan akhir. Ternyata di hati seorang tua. ”Terima kasih. Pak!” Lalu kami terdiam. sang orang tua. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya. ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. seorang tua dalam hari kedua. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. Entahlah. menurutnya. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. walaupun mungkin secara sederhana saja. Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. Dan kemudian terkantukkantuklah aku dan akhirnya tertidur.

misalnya saja ’komuter’. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen. Manchmal ee ich Fisch und Fleisch. Gemse. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. Brot und Kartoffeln. Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen. Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert.” Ein kleines Restaurant Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. Das was letztes Jahr. Deshalb muss ich viel Geld sparen. da man immer wieder schreiben soll.. Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und mchte es noch immer. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03 Ein Schriftsteller werden mchten Ein heier Tag war es.. obwohl man viele Fehler macht. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. Aber heute habe ich kein Geld. Schon lange hat es nicht geregnet. Meine Mutter a gern Salat und Gemse. Ein Problem hatte ich und ich konnte dafr keine Lsung finden. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU **Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22 ”Hmm. Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst. Fleisch und Fisch). Deshalb a ich alles (Salat. Banyak kata-kata yang tak kumengerti. Aber heute ee ich lieber Suppe.510 BAGIAN 9. biasa saja.” gumam pemuda itu. Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und Zweitenstraen gekauft. um ein kleines Restaurant zu machen. weiter zu screiben. Danach habe ich diese . aber main Vater a nur Fleisch und Fisch. aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben. ”Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut. Das has mich den Mut gegeben. Das ist mein Traum. Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt.

Es ist hei und feucht. da jede Leute saubere Stadt leben. Ich danke ihm fr diesen Rat. Ich bin zu mde. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Di banyak negara diberi nama berbeda. Cepat karena ia tidak mengerti bahasa yang dituliskan. Die Gemeinde soll mehr Mlltonnen machen. aber an seinem Rat erinnere ich mich noch immer. Banyak contoh mengenai hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan? .511 Geschichte geschrieben. Akan tetapi hal itulah yang dapat dikatakan. Aber sie haben nicht immer Schuld daran. Sie machen die Umgebung schmutzig. Und dann sehe ich heute. Lalu ia pun membaca lanjut. denn die Mlleimer sind schwer zu finden. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27 Die Mlleimer werden schwer gefunden Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. finde ich. da die Leute fast immer irgendwo M werfen. Finden Sie auch?