Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. Keheningan itu tidak sia-sia. Jika saudara beruntung. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah. selalu ingin tahu dan penasaran.” Kemudian lanjutnya. karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana. bahwa mereka memang harus menunggu. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. Katanya kemudian. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang.12 BAGIAN 1. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu. Tapi semua orang tahu. Hening dan sunyi. Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama. penghuni hutan dan gunung.” kata Asap dengan sejujurnya. tak tega rasanya Ki Gisang. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. melalui suatu cara tertentu. Bantuannyalah yang berarti bagi kami.” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata. Dan ia masih bertanya-tanya lagi. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin . Mendengar ini ini. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya. Asap menjadi malu dan takhluk. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar. mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka.

Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri. Lebih baik sekarang bertanya. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir.” . Yunani. ”Begini Ki Tapa. selatan dan barat. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita. timur. ”Ki Tapa. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya...” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung.13 utama: utara.” ucap Tampar..” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik. apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut. sang pertapa tua sambil tersenyum. ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan.” sahut Ki Tapa dengan gembira. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang. ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini. ”Kalau menurut saya... dari pada keliru di kemudian hari... ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda. lambang-lambang ini.” jawab Ki Tapa. benar. sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu.. ”Benar. maaf bila saya masih bertanya. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing. kamu benar sekali Gisang.” jawab Gisang dengan yakin..

sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. ”Guruku. ”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. Bertahun-tahun sejak itu. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya. Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. ”Alasannya sudah tua sekali. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga. akan tetapi dari negeri seberang. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. kakek guruku dan guru dari kakek guruku.14 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. Bukan menjadi lahan pertanian. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya. Lanjutnya.” ucap Ki Gisang sambil menerawang. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus. dapat diolah oleh mereka. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit.” Ki Tapa terdiam sejenak. Dari gurunya. mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. Mereka tidak suka. bahkan lebih tua dari umurku ini. akan tetapi karena ada . guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu. Pikiran harus bersih. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya. sampai ia tiba di desa ini. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. sehingga tanah di sana. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban.

” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. untuk mengairi ladang-ladang mereka. dan memberikan tanahnya kepada mereka. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim. sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya. agar penghuni desa yang tandus itu pindah. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda. yang berasal dari tanah seberang. Ki Patuh. untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. Dan terpilihlah guru dari kakek guruku.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. Ia melihat ketidak-adilan tersebut. akan tetapi usul tersebut ditolak. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak. Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut. .

menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. timur. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. api. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan. Demikian pula dengan tanah. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup.16 BAGIAN 1. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. Misalnya Jurus Udara. Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. Jurus Api. ”akan tetapi Ki Tapa. ketiga dan keempat. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. utara dan barat. Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara. Akant terjadi hujan. Kakek guruku adalah Ki Tilu. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar. . dingin. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. adanya racun dalam udara. Jurus Tanah dan Jurus Air. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. kering. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal. Ki Tilu dan Ki Uu. selatan. Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita. Ki Duo. yang berarti pertama. Pemaknaan keempat elemen (udara. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. kedua.

” lanjut Ki Tapa. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu. untuk mempelajarinya. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan. sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih. dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa.” Lalu lanjut Ki Tapa.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. maka kehidupan mulai kembali berjalan. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah.” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. dengan mereka di belakangnya menda- . agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran. ”Nah. Dengan cara ini. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa. sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari.” ”Akan tetapi. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa. bahan-bahan apa yang kurang. bahkan di daerah yang kering sekalipun. orang dapat mencari-cari sumber air. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus. Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin.

Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. kata Ki Tapa sebelumnya. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari. ”Memang benar.” sahut Ki Tapa.” Terdiam sebentar Ki Patuh. karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. ”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut. sehingga . hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja.18 BAGIAN 1. ”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu.” ”Tapi.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut.” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. tanpa pengetahuan ilmu bela diri. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya. sambil sesekali menghela napas. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh. Kemudian lanjutnya.

” sahut Ki Tapa gembira. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu.. Berbulan-bulan di dalam tanah.. kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah. jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan. Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah.” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia.” ”Jika hampir semuanya meninggal. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya. Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang. sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa.” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun .” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. ”Pertanyaan yang baik sekali. Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi. karena ia kebetulan memang penunggu makam. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut. walaupun suatu ilmu dimilikinya.” bertanya Tampar kemudian. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa. sudah ditolong. Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun.

Dengan tak terlalu tulus.20 BAGIAN 1. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas.” ”Saat itu sudah lewat petang. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya. Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. Lebih baik dikerjakan hari ini. dan hampir gelap. Ki Makam orang menyebutnya. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding. Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya. berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan. Dan ia tidak ingin. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman. orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya. mirip posisi pusat dan empat mata angin. yang boleh melakukannya. sang penjaga makam. Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur. hiduplah ia. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. Ki Duwo di selatan. . ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi. melainkan hanya guruku. dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut.” lanjut Ki Tapa. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. biar semua selesai. Benar-benar cerita yang sukar dipercaya. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh.

yang didominasi oleh Tenaga Tanah. sehingga paru-parunya keracunan. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk . bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut. tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin.” Hening sejenak. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya. jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya. Ki Tilu mencegahnya.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya. terharulah Ki Makam. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula. walau hanya untuk beberapa jam. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu. meninggallah Ki Tilu. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Setelah memperoleh penjelasan. Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. Ini yang membahayakan. Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. tanpa terasa mulut mereka menganga. hampir saja copot jantungnya. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut.

Sebagai contoh bila kami yang bermasalah. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah.” kata Ki Tampar menjelaskan.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan.” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti. Saat itu matahari sudah mulai turun.” tambah Ki Gisang. Saat Ki Gisang hendak melanjutkan.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya. maka kami akan datang waktu subuh. ”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita.” jelas Ki Gisang. untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api. maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya. termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa. Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut. . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya. Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api.22 BAGIAN 1. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor.

yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di . Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu. lelah nanti pasti. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. yaitu Ki Jagad Hitam. agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. ia belum berani mencarinya. Jika kakang terus yang bicara. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin. akan tetapi salah seorang dari luar. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi.” jelas Ki Gisang. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. memiliki kecerdikan yang sangat. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. Karena alasan yang dipikir jelas itu. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. Sesuai dengan pesan Ki Tilu. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk.23 ”Kita masih punya banyak waktu. Suatu pukulan yang amat jahat. Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan. ”baiknya aku saja yang cerita kakang.

jantung. Ngaco kamu!” ”Maaf. akan tetapi rusak isi perutnya. Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. Api. pada suatu latihan. sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. Gajah Duduk. Tanah dan Air dilakukan. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. hati. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. paru-paru. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan.24 BAGIAN 1.” kata Ki Makam sambil terkejut. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini. mungkin mereka dapat terluka dalam.. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan . Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin. masih disimpannya di dalam hati. walaupun baru tingkat dasar. ”Makam. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. kakak Gajah. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta. dengan tak sengaja. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. maaf. Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah. Api.. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya.

Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. yaitu Penjaga Udara. Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. dibatasi hanya enambelas orang. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. Dengan pengetahuan ini. maka posisi tersebut dimilikinya. ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. sedangkan lingkaran dalam.25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. aman di tengah-tengah. keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. Dengan semakin . Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. tetapi hal itu tidak dilakukannya. yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. Api. yang juga guru pertamanya. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. empat orang satu unsur. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. Tanah dan Air. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang.

Mendengar ini. Walaupun dengan tingkatannya. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. dan juga sang guru. melabrak murid- . dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya. hanya dua puluh murid tingkat satu. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. akan semakin sulit tugasnya. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin. Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran.26 BAGIAN 1. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. akan tetapi dalam suasana persahabatan. akan tetapi di luar arena. Penjuru Angin. sang guru. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. dan ini membuatnya tidak terima. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. bahkan menambah rasa malu mereka. Dari mutu ilmu kanuragannya. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan. Memang benar dikatakan orang. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin. karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua. luka-luka dan sakit. Memang pada dasarnya darah muda. yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. tanpa melakukan telaah lebih dulu. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul.

Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot. Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam. Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah.27 murid Perguruan Atas Angin. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. telah siap untuk berangkat. terdapat pula tiga buah kitab lainnya. . hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. yaitu Petapa Seberang. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. Tak lama setelah rombongan berangkat. Menjadikan mereka bulan-bulanan. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda.

” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. ”Di masing-masing sisi lubang ini. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. Dengan dalih ingin segera menolong. apa yang bisa disimpulkan di sana. melainkan hanya menggesernya. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu. yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana. melainkan ke timur. tanpa kehilangan napas. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu. di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang.28 BAGIAN 1. Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara. Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan.

Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. walaupun tidak sejauh hari ini. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam. berada di bawah kakinya sendiri. ”Hmm.” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti. ”Dia harus di cari guru. harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu.” kata Ki Jagad Hitam. bahkan prasasti itu sering digeser-geser. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. di sini tertulis empat kitab. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. ”Makam si penghianat. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang.” duga seorang dari Lingkaran Dalam. sama sekali tidak ada jejaknya. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. yang telah .” geramnya. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. ilmu meringankan tubuh. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut.” ucap yang lain. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus. ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap. betul juga. ”Maaf guru.” ”Di sini ada tulisan guru. ”Betul guru!” sahut lainnya.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi.29 but.

Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja. setelah . Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. Seperti telah diceritakan sebelumnya. Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu. Sontak saja mereka kaget. Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. Walaupun telah tua renta. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan.30 BAGIAN 1. lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. melalui pengamatan auranya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. Ki Jagad Hitam. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. Setelah ia merasa tiba waktunya. di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. dan bergegas menangkap Ki Tapa. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.

” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa. ”Ia datang. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran. di hadapan mereka. . Ki Tapa. Para anggota rombongan pun bergegas bangun. Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling. akan tetapi dengan nada yang berbeda.31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap. ”dan siapa orang-orang ini. Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung.” sahut Asap hormat. ”Ya. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini. dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat. Ki Tapa. ”saudara Asap pemimpin rombongan. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu.” sahut Ki Gisang. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini. Tampar. berlakulah hormat. Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini.” sambut Ki Tampar. tampaklah seorang tua. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. rendah dan cepat lambat. ”Saya.” kata Ki Gisang. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya. Ki Tapa. ”Wah ramai sekali di sini.” katanya riang.

” ”Baik Ki. barulah pergi.” sahutnya kurang senang.32 BAGIAN 1. Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain. Obat berhasil diperoleh.” gapainya pada kedua orang tersebut. ”jika sudah sembuh benar. Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. saya juga setuju.” ”Pilihan yang bagus. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun.” ”Terima kasih Ki.” ”Hmm. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara. untung aku membawa kedua penawar tersebut. tanpa berbicara. ini sudah kubuatkan obatnya. Saat ia mengambil obat tersebut.” jelas Asap. digigitlah tangannya. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan. ”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing. yang ahli obat-obatan. orang-orang Perguruan Atas Angin. ”Sudahlah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas.” katanya.” sahut Ki Tampar. ”Tampar. Mereka telah lama . bener-benar banyak ucap. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki. aku ingin bicara sebentar. Ki Gisang menggangguk pula.” sahut Asap mewakili teman-temannya. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang. Telebih tampak pada wajah si sakit. ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu. Gisang. berkatalah Ki Tapa.

” ”Benar Ki Gisang.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau.” katanya. ”Baiklah kalau kalian setuju. bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni. harus mencari obatnya di sini. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. pada suatu ketika. dan bagaimana . ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh. ”Saudara Asap. yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan.” lanjut orang itu. ”ini pun menurut dia. selain sebagai penghubung.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa. Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali.” kata Ki Tapa kembali. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Mintalah obat kepadanya. dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan. Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu.” ”Baik Ki. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang.” jelas Asap. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya. Ki Gisang bertanya kepada Asap.” sahut mereka hampir berbarengan. saat si sakit sedang dalam pengobatan.” jawab Asap dengan hormat. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau. ”Sebenarnya.

Lalu lanjut Ki Tampar. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya. sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa. Seperti biasa . Mereka lega karena Asap tidak berbohong. pikirnya. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa. Dan malam pun semakin larut.” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. Pun saat ditanya. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. ceritakan hal tersebut. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa.34 BAGIAN 1. ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. Mungkin juga bukan apa-apa. Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. *** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah.

pedagang. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya. Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. karena harga-harga akan menjadi mahal. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. Dan pagi itu. atau ahli dalam bidangnya. beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul. Juru Dagang. Jika dihubungkan. Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. pedagang dan pengrajin. dan pengrajin. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya. yaitu Juru Tani. Juru Karya dan Juru Cipta. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. Umum- . juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. di Desa Luar Rimba Hijau itu.

Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini. ”Sudah. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. Akan tetapi hari itu. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. Ki Surya. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama. seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin.” sambut Ki Rabat. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. ”Benar usulnya itu. kita paranin saja. Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah. kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. kita coba datangi saja mereka.36 BAGIAN 1. Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa. sebelum mereka pergi ke luar dari desa. jangan sam- .

.” balas Ki Surya dengan ramah. karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya. ”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya.” jawab Ki Rabat. para penduduk mengadakan perayaan. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka.” sapa mereka hampir bersamaan. Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin. ”Selamat pagi. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah. Dan para pedangang itu tunduk. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. ”Selamat pagi. semua. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah.37 pai menimbulkan keributan. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka.” kata Ki Surya.” jawab Ki Murah tersenyum. ”masih satu bulan lagi. Lalu tanyanya pada Juru Dagang.” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya. ”Ah.” tanya Ki Surya setengah menggoda.” ”Usul yang baik itu. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian. ”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan. Ki Surya. untuk itu belum Ki Surya.

Dan sebagai tanda kepercayaan. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa. ada perumahan. yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. parit- . bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan. Akan tetapi untuk memastikan hal itu.38 BAGIAN 1. dan juga sebagai petunjuk jalan. Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. perkebunan basah.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. sampai akhirnya. Kemudian berlalulah Ki Surya. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah. beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau.” jawab mereka serempak. Suatu pagi yang cerah. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik. ”Baik Ki Surya. perkebunan kering. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. Ia mengagumi sistem tatanan desa.

Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini. Hal lain terjadi. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. ”dahulu kala. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung. membuatnya kerasan. dan adanya seorang muda seperti Asap. membuat sejenis . Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. ”Begini nak Asap. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini. ”Jelasnya bagaimana. Apalagi mereka tidak mempunyai anak. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif. paman Baja?” tanya Asap ingin tahu.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. karena toh tidak akan terjadi apa-apa. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi. Jarang ada orang yang bertandang kemari. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut. karena letaknya yang jauh dari mana-mana. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. istri Ki Baja.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. entah itu hasil keluaran tubuh. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri. Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran.

karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. Oleh karena saking gandrungnya. sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. Hamparan Hijau mulai berkembang. Jika dahulu kala. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya. Variasi apa yang dihasilkan. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. Sedikit demi sedikit. Karena adanya kesibukan baru. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin. Harus dicuci bersih sebelum . Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. yang diperoleh dari luar desa. Dan bila tidak baik bagi ternak. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan. akan tetapi pasti. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan. para penghuni desa jarang jauh keluar desa. Akibatnya sudah tentu fatal. dapat terbang bersama air dan angin. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung.40 BAGIAN 1. dan membuanngnya jauh di luar desa. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh.

Tinggal menunggu waktu untuk binasa. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat. Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. sampai hampir membinasan satu desa. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau. dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan. Dan sampah-sampah yang tadinya . para penghuni Desa Ujung keracunan. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau. Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. orang itu mengobati penduduk desa. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. suatu pintu air dapat dibuka. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut.41 dimasak.

Akan tetapi dari kisah Ki Baja.42 BAGIAN 1. ia dengan senang hati akan menolongnya. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau. bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. ”Untuk itu ada baiknya. Begitu pesannya. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut. Bila ia ada kesempatan untuk . ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. saat terjadi peristiwa tersebut.” jawab Ki Baja. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang. Akan tetapi tidak tampak dari luar.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani. dialihkan ke dalam hutan. telah terbuang banyak tenaganya. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana.

Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri. Orang-orang sipil. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. sudah dipastikan akan dilakukannya. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi. dengan melayangnya nyawa. diperkosa kebebasannya. semua untuk kepentingan penguasa. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. Membunuh demi kemanusiaan. dirampas haknya. bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. rasa kebangsaanya. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur. bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. mencegah terjadinya perang kembali. sudah merupakan anugrah yang me- . Ironis bukan. tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. Berperang. demi kemanusiaan dan kedamaian. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang. ditindas kemauannya. Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga.

cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu. Pembesar menindas rakyat. bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula.44 BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. Dalam keadaan luka parah dan depresi. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. Boro-boro menurut. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan. karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa. Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. entah keturunan keberapa. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan. dengan masih ditemani oleh . Bahkan di kali terakhir. karena ditegur dengan keras. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid. dan sebagainya. pejabat menindas bawahan.

Selain dari pada itu. yang setia kepadanya. Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama.45 beberapa temannya. aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. maka lain halnya dengan Petapa Seberang. Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu). membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). membelokkan tenaga lawan. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul. dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. Seperti gerak melingkar. yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. untuk murid yang telah ahli. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. Hanya pikiran yang dibutuhkan. Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. Pada penggunaannya dalam pertempuran. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. kaum pemberontak. Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya.

Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. dan menjadi murid dari su- . Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung. ilmu pengetahuan.46 BAGIAN 1. Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang.Seni Kedamaian. Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal. akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. kekuatan dari cinta kasih. dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. Dalam pencerahannya ini. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang. dinamakan . memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido). berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua. Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. pengobatan dan kebaikan. Menyerang. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru.

berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang. kepemimpinan.47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. kedamaian dan ilmu pengetahuan. yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. . mengalah tetapi tidak kalah. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. kebersamaan. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. yang dikenal sebagai Atap Langit. Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. Akan tetapi walaupun demikian. tantangan. terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. semuanya dicernanya dengan baik. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. Petapa seberang memiliki satu kelemahan. yaitu: keberanian. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. dari arah putar kanan dan putar kiri. Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya. pengorbanan. Sejalan dengan berlalunya waktu.

yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. ia merasa belum apaapa. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut. Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini. penyakit. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul. dan bersama-sama mereka. Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut. Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. yang berarti Ilmu Muda Selamanya. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. perlahan mulai hilang ditelan waktu. yang saat itu telah berjumlah lima orang. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu.48 BAGIAN 1. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. Usahanya tidak sia-sia. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang. Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. Master Tagasi. kesabaran dan ketenangan. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut. Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. juga dengan pengikut lainnya.

Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. ”Kakang Gunung Es. Pergerakan Hawa. Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar. yaitu Cara Bernafas. Kateda. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. Pengendalian Otot. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. yang merupakan permintaan terkhirnya. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga. Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja. Tujuh Rahasia. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. Pemusatan Pikiran.” tanya Petapa Lain Pulau.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Nama ilmu ini sendiri. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. tapi menjadi kedamaian. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es. . Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Gerakan Tubuh.

sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir.” jawabnya dengan serius. Sambil kadang salah seorang.” ”Misalnya.50 BAGIAN 1. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam. lalu ujarnya. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan. tapi pada bagian sebelumnya. Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih. ”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu. yang .” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran. ”Bukan adik Seberang. melainkan merenung dulu sebentar. berdiskusi dan bertapa.” jawab Petapa Gunung Es.” sahut Petapa Seberang menambahkan. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini. Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut. ”sama sekali lain.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut.” ”Kalau aku lupa.” imbuh Petapa Seberang. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran. berdasarkan pemahaman lainnya. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing.

Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman.” Rintah dan Asap terlihat malu. *** ”Saudara Asap. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum. ”Tidak. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah.” jawab Rintah. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau.” jelasnya sambil tersenyaum. tidak.” jawab Asap dengan sopan. karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya. maaf Ki Tampar. membuat saya keluar dan ingin menyapa. lalu lanjutnya. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau.. Sang angin pun tersenyum. tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki.” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya... ”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah.” ”Tak apa-apa. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri . di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri. ”aku tidak terganggu.” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya. ”Oh. Dan sang angin pun bertiup menjauh.. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar. saya memang sedang mengaso.

agar mereka besok malam. maaf Ki Tampar. Asap. ”E.52 BAGIAN 1. ”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda.. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau.” ”Wah. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda..” sahut Rintah dengan antusias.” jawab Ki Tampar.. Ki Gisang dan Ki Tampar. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu. biasanya begitu.” tanya Rintah malu-malu.” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu. boleh. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik. Tak jauh .. Ada hal yang ingin disampaikan.” sahut Ki Tampar. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar. Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan. Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap.” memberitahu Ki Tampar. benar-benar menarik dan menegangkan ini.” jawab Ki Tampar penuh rahasia.. malam. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa. Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang.. Besok ”Eh.

Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya. berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Hari ini Ki Tapa. sebagai penghubung. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. Mereka berdua. sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti. Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau. dan bahkan juga di antara para kawula tua. akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau. baik dari manusia atau alam. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini. sedangkan bulan belum muncul. akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan. dengan membaca tanda-tandanya. Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu.

Saat ini adalah saat yang kita.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa. ”Tak perlu. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau.” jawab Jaka dengan hormat.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya. kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. ”lihat di ujung lapangan sebelah barat. Ki Gisang. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. ”sudah semua datang. dan persetujuan para tetua desa.” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. Ki Tampar membuka pembicaraan. Setelah kedua orang itu tiba. Itu mereka datang!” Dan benar.54 BAGIAN 1. kemudian lanjutnya.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut. ”masih ada dua orang lagi. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- . Rantih dan Misbaya. Atas permintaan Ki Tapa.” usul Ki Gisang. ”Jaka. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran. sejak lama ditunggu-tunggu.

”Para kawula muda desa sekalian. Asap. ”Adapun. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu.” kata Ki Tampar.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar. menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut. Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. saat mereka masuk. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini.” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar. menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu. melainkan ia malah berjalan berkeliling. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. membuatkan jalan masuk bagi mereka. yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini. Lalu ucapnya. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya. Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran. Setelah para tetua berada dalam lingkaran. Itu yang penting. Ki Surya kami persilakan.” sambung Ki Gisang. ”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh.” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama . sehingga punggung mereka saling bersentuhan.

Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. ”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya. ”Utarakan nak Paras Tampan. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda.” jawab Paras Tampan. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran. ”Sebelum kita berangkat.” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan . Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda.” kata Ki Tampar. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba. Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat.” jawab Ki Tampar. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba.56 BAGIAN 1. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau.

Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. menurut petunjuk dari portal dan lontar. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar. jarang dipergunakan. Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman.57 sang pujaan hati. Umumnya sisi bagian utara. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. Saat yang tepat. . untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau. Di sana di pelataran berbatu tersebut. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. menuju Rimba dan Gunung Hijau. sambil tetap berdiri. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar. yang mengarah ke Gunung Hijau. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut.

akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. Setelah itu menentukan arah. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa. Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. Tidak ada seorang pun yang bersuara. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing. Mereka akan berlatih di sana. diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar. Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan.58 BAGIAN 1. Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas. . Perjalan yang tidak mudah. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. jika sampai ia salah menafsirkan. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. Rimba pun mulai dimasuki. tampaklah langit kembali di atas kepala. Kemudian setelah ketemu. Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil.

Dalam artian ini. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. terutama yang perempuan. Setelah beberapa saat berjalan. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . maka bisa makna yang salah dapat diperoleh. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. Citra Wangi. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. sukar untuk dilupakan. Tinggi. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. di mana beberapa kawula muda. Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh. Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. Itulah Gunung Hijau. merasa kakinya hampir habis. terkesan kasar. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi. Ki Tapa. Ia berusaha mengingat-ingat. Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. dari luar Rimba Hijau. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit. kekar dan dingin. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. melainkan bergerombol. sesuatu yang pernah dilihatnya. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya. berarti arah yang salah akan dipilih. Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut.

Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api. Tidak banyak perabot di dalamnya. Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut. di tengah malam? Benar-benar makan malam. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira . Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar. Kemudian ia berbalik. masih membelakangi tamu-tamunya. ”Akhirnya selesai.” ucap orang itu. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. Rumah yang sederhana. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya. Bau sedap pun mengembang di udara.” lanjutnya. karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci. Tapi mereka diam saja. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol. Makan malam. ”Sebentar lagi makan malam selesai. ”Masuklah. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya. Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Suasana pun hening. Tikus-tikus. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. Ia membelakangi mereka.60 BAGIAN 1.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut.

kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. Cukup untuk tambah setiap orang. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. Termasuk di kepala meja.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya.” lanjutnya. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana. ”Mari-mari makan. Tiada yang jatuh ke lantai. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud. tanpa ada sececerpun air yang tumpah.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut. ”mari makan. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum. selebihnya merasa telah cukup.61 dan berwajah ramah. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. hanya beberapa orang yang masih lapar. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. Belum habis kekaguman mereka. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. makanan tersebut mengenyangkan. Ialah Ki Tapa. kasar dan bersih. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya. tempat ia akan duduk nanti. ia dengan lahap menyantap makanannya. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan. Semua pun makan tanpa bersuara. yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Ternyata walaupun terlihat sedikit. Entah apa kandungannya. . Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi. jangan malu-malu. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum. Di panci masih banyak tersedia.

denyut jantung. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta. Dengarkan napas kalian. wangi uap air di udara.62 BAGIAN 1. ”Jangan tidur. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. aliran darah. empat mata angin utama dan empat mata angin antara.” . dengarkan alam sekitar kalian.” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang. Katanya pelan seperti hembusan angin. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini. ”Setiap orang maju sepuluh langkah. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok. semilir angin di rambut. menuju lapangan di sekitarnya. Gatal-gatal di pantat.” perintah Ki Tapa. terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin.” ucap Ki Tapa. Punggung bersentuhan.” Mereka berdua mengiyakan. Gunung Hijau adalah arah Utara. Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu.” perintahnya selanjutnya. ”Tapa dan Gisang. Pejamkan mata dan rasakan semua itu. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin. Masing-masing kelompok delapan orang. Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah. ”sampai kusuruh berhenti.

salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa. Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. merasakan alam sekitarnya. Telah terjadi banyak perubahan di sana. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut. *** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu. Dubur tidak diangkat. Bahu tidak rileks. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . Perut kurang ditarik ke dalam. Batu-batu serta Seribu Ramuan. agar dapat menemukan jalan pulang. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. Punggung tidak tegak. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. Kepada tidak tegak. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru. Misalnya saja. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Angin-angin. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu.64 BAGIAN 1. . sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti.

. sang anak masih duduk di sana.. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling.. Pandang matanya kosong. ”Burung bersiul bersahut-sahutan.. kera-kera bermain di hutan. ninini.. hihi. Ia masih saja duduk termangu.” gumamnya. resah itu juga tiada gunanya. sayang sedikit perasa. 65 . postur tepat. Buat apa susah. Dengan masih tersenyum. Tralala.. didi. buat apa resah.. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda.. haha. ”Bagus. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya... trilili..... hmm.. tulang bagus.. bunga semerbak merekah... Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu.. Anak tersebut tampak tak peduli. dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.. matahari bersinar cerah. orang aneh itu pun berhenti.” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh. dada.. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah. susah itu tak ada gunanya.Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu. Nanana. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka.

”tentu saja. Lalu ucapnya. cah bagus. ”engkau cerdik .. ”Namaku Rancana. karena paman tertawa sambil menangis.” jawabnya jenaka.66 BAGIAN 2. Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi.” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. wah kamu itu lucu bener. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. dan ia pun berkomentar. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. tidak bisa menahan air matanya. ngeri ah! Kabur.” jawabnya dan lanjutnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. kecil-kecil sudah budeg. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu. ”kalau paman. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran.. ”Nama saya Lantang.” jawab Rancana terkesan. Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya. ”Wah sayang. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut. alih-alih marah. ngatain orang budeg. tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. ”Wah.” jawab anak itu.” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut. sekarang malah ketawa nggak ketulungan. Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya. paman. bukan?” ”Hahaha. benar-benar. Ia memang begitu. saat tertawa. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya. ”Nah tuh. ”Nggak ada hujan atau angin.

Eh. ia pun akhirnya berkata.” Lanjutnya kemudian. ”Logika yang tidak tepat itu. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng.67 sekali Lantang. api yang diatur dapat digunakan untuk memasak. sehingga ucapnya.” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. cah bagus. membunuh atau perbuatan jahat lainnya. ”saya benci ilmu silat. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru. Demikian pula dengan api.. ”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api. mencetak emas dan lainnya.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung.. melunakkan logam. Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka.” terangnya kemudian. misalnya memotong daging untuk dimasak.. dengan paman. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” . ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya. ”tapi paman. ”tentu saja belajar kanuragan. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. ilmu silat. ”tidak paman.

saya belum pernah mendengar hal seperti itu. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. si Bayangan Menangis Tertawa. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi. Selain suara angin dan debu yang beterbangan.68 BAGIAN 2. Ia tidak mau terlihat lemah. Lantang mendadak terlihat murung. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sesaat. Hening. ”Wah. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. melancarkan nafas. maka tanyanya lebih jauh. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. Rancana. tidak pantang seorang lelaki menangis. Antara lain untuk menjaga kesehatan. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur. perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. ”Menangislah. dan bergulirlah air matanya jatuh. tiada suara lain di sekitar mereka. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah. walaupun tanpa suara. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. Melancarkan peredaran darah. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis. ”Apa yang sebenarnya terjadi. paman!” jawab Lantang jujur. mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih.” jelas Rancana. cah bagus. Dan .

Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang. Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin. Orang-orang ahli silat.” teriak Naga Geni jumawa.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu. karena mereka berada di daerahnya sendiri. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda. Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam.” . bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya.. Jagad Hitam. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan. *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang. Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap. Sedikit lebih baik perasaannya. ”He. Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis. tenanglah Lantang. Di sisi timur berdiri sembilang orang. menyerahlah. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini.

ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam. orang-orangmu juga hampir habis. Dengan dua buah kapak. Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya. yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang.70 BAGIAN 2. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes. Naga Geni merengsek maju.” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. . Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. berkacalah. dengan arah putaran yang berbeda. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang. akan tetapi tidak yang kedua. daripada aku yang melakukannya. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda. ”Hemm. mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. ”Naga Geni. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya. Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu.

Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya. Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar. Bertempuran pun kembali dimulai. ”Guru. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur. mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya. Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut.71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju. Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam. Mendadak terdengar suara. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran. . perguruannya. sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. Akibatnya sudah dapat diduga. itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. Dan. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. Murid-muridnya... Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. Toh. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya. ”capp. perguruan diserang. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya..” Mendengar berita itu. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam. Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping.

Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda. Semuanya hancur. yang membela keunggulan nama perguruannya. bagus Naga Geni.. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis.” usul seorang dari Lingkaran Dalam.. ”Sesukamulah. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda. ”hahaha. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam.” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. Perguruan Atas Angin. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis. tampak di mana-mana. ”terlalu enak apabila dibunuh. Ada yang mati hangus terbakar. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. hanya setinggi lutut dari atas tanah. ”Hmm.” ujar Ki Jagad Hitam. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu. jika boleh dikatakan. Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya. Setelah beristirahat sebentar kemudian. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam.” kata Ki Jagad Hitam. cikal bakal masalah. lebih baik engkau bunuh diri. Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah.. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin. Tapak Kelam.” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . bukan?” ”Boleh juga usulmu itu.72 BAGIAN 2.

untuk meyakinkan. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa. Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin. tentang bagaimana orang tuanya. Tapi apa dayaku. ”Benar. Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri.” Lantang pun terdiam. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. ”Jadi itu alasanmu. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin.73 sanakan niatan itu. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu. paman. tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri. Setelah puas menyiksa mereka. Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. harus me- . paman. Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada. oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat.

Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah . salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh.” ”Begini saja. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. dari pada harus berseteru dengan orang lain. Ada kotakkotak. sayur mayur dan barang-barang lainnya. atau merupakan bawaan. ia hanya menjauh dan menghindar. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya. jauh dari keramaian. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. saya tidak suka kekerasan. Ia memilih lebih baik menyendiri. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. akan tetapi ia tidak bisa. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. Lantang tahu hal itu. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. Lambang Perguruan Kapak Ganda. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya. Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda.74 BAGIAN 2. Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. ”Tapi paman. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. gulungan-gulungan kain. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut.

Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. Mengandung racun keji dan ganas. Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa. Semakin segar mayat yang akan digunakan. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan. marah dan tidak rela. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. semakin baik. ketakutan. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. Sabit Kematian dan Cermin Maut. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan. Bahkan tidak jarang. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. karena percuma. Senjata andalan- . sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. Mayat Pucat. Naga Geni.75 menimpa perguruan mereka. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau.

Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Pun tidak ada gunanya . Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Apabila dilihat dari wujudnya. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya. Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur. Sudah banyak jago-jago muda. yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. ”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi.76 BAGIAN 2. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh. Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar. akan tetapi sudah disebar kemana-mana.” usul seorang. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang.” tanya seorang dari mereka. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. terutama yang tampan.

. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi. di kaki Gunung Hijau. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang.. ”Tiga ratus delapan belas.!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya.. Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan.77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara. Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan.!” ”Dua ratus tiga puluh delapan. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh.!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu. Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada . Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak. melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan.!” ”Tiga ratus sembilan belas. melainkan berganti-ganti.. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal.

dan kita kehilangan kendali. dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit. Akan tetapi hati-hati. tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. Ini dikenal sebagai keras lawan keras. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. ditahan atau digentak-balikkan.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. Kita merugi. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara. dengan jarak kirakira selebar bahu. jika yakin masuk dan menang. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut. Tergantung apa yang hendak diperoleh. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. ”Dengan adanya kuda-kuda. maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. saat itulah serangan akan masuk. Untuk itu . ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan. Yang kuat akan menang. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara. Bisa dibelokkan. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara.” Lanjutnya. dialirkan. Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung.78 BAGIAN 2. Apabila melangkah ke depan. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut. tenaga sudah habis diberikan.” jelas Ki Tapa.

Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan. karena mereka bisa dengan mudah melihat. Mereka yang termasuk dalam golongan ini. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan. Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. ”Habis sudah napasku. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan. ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. adiknya. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran.!” ”Betul Rintah”. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka.” kata Misbaya. melengkapi dan mengingatkan. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan. biasanya minta langsung untuk menirukan. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. akan tetapi tidak melakukannya. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. ”Wah Rintah. mereka kurang lancar.” ucap Paras Tampan terengah-engah. sahut Rantih. yang melakukannya dengan beriringan. Dan ..79 mereka dibagi dalam tiga kelompok. akan tetapi sulit untuk melakukannya. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan. Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. keliru itu langkahmu. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari. Harus agak serong. agar mereka saling membantu. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. masing-masing delapan orang. dan bahkan tidak mau.

Tak lama kemudian. mereka jangan menekuk kakinya. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati. ”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar.” Benar.” begitu jelas Ki Tapa. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Sambil sesekali juga bercanda ria. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. Asap. Hanya sebagai catatan. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai. kurang lebih sepeminum teh hijau. *** Waktu makan siang pun datang. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. . Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa.80 BAGIAN 2. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai. untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan. Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. Di tengah padang rumput. melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu.

Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. Nasi dan ikan bakar. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar. oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. ungkap Ki Tapa. bukanlah perkara mudah. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. makanan pun dihadirkan di sana. Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. Dan yang aneh tercium bau wewan- . Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. ikan. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. Sedangkan hari-hari selanjutnya. kadang terdapat sayuran. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. Makan siang yang sederhana. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. Mereka pernah juga membicarakannya. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa.

tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. salah seorang kawula muda putri. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang. Dengan semakin berisinya kalian. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri. Kekurangan setengahnya.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya.82 BAGIAN 2. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi.” kata Kirani. kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. akan semakin jelas apa yang tampak. Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. Ki Tapa hanya tersenyum. Selalu tandas dan bersih. Ia. siapapun dia. ini bagianku. simpanlah dulu pertanyaan itu. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di . Begitu pesannya. ”Gentong. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. Untuk sementara waktu. apalagi di Gunung Hijau ini. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. Dalam acara makan bersama seperti itu. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. umumnya hanya makan setengah porsi. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. seperti halnya dalam latihan. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih. satu orang sepersepuluh. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. lebih dari yang lain. Kirani. Lalu jawabnya. Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah. Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau.

Kecil.. Setelah semua siap. makan telah usai dan juga waktu istirahat. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. tapi jelas. tapi terdengar suaranya. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. Lakukan sampai seribu tarikan nafas. ya ’kan?” jawab temannya kukuh. tapi tidak untuk tidak melihat. ”Sekali-kali bolehlah. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa. Kembalikan ke dalam keranjang di sana. Semut-semut yang berjalan. seakan-akan telah biasa. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. .83 antara mereka saat makan. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu.. ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. Kemudian tanpa diperintah. ”Moreng. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai.. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara.. halus.” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. ”Baiklah. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih.” kata Ki Tapa. Sontak mengagetkan kedua insan itu. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. Coreng. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. Tidak terlihat wujudnya. Serbuk-serbuk bunga. Angin semilir.

Manusia Tiga Kaki.” tambah Moreng. Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil. Ki Tapa pun berpikir sejenak. Moreng. ”Iya. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu. tak apa-apan. maafkan kami.. berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami. ”Maaf Ki Tapa. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia.” jawab Coreng. Sesampainya di depan Pondok Batu.. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Iya. Ki Tapa pun menghela nafas.” terang Ki Tapa. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu.” sahut Moreng. Ki. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian.” Tapi tanyanya kemudian.84 BAGIAN 2. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya. ”Berikan penjelasan. ”Baiklah. akan tetapi tanpa senyum. Dengan mengetahuinya. Ki Tapa. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu. ”Tidakkah. Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. Coreng. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga . Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya. kami hanya ingin melihat mereka berlatih. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. lalu lanjutnya. Wajahnya masih terlihat ramah. ”Begini.” jawab Coreng. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia.!” katanya tegas. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka.. Dan paling besar berukuran sebesar gajah.

Bila mereka telah cukup kuat.85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. bolehlah kalian berkenalan. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek.” jawab Ki Tapa. Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada. aku tidak bisa menjelaskan. aku tidak apa-apa. Sebelumnya. maka tenagaku akan habis dan mati.” jelas Ki Tapa. dapat berbahaya bagi manusia. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Dan di saat itu. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian.. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi. Terserap.” ”Ihh. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- . yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo). telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang.?” tanya Coreng bingung. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati.” jawab seorang di antara mereka. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi).. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala.. bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri. ”Mengapa hal itu terjadi. jangan tampakkan wujud kalian. ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. ”Benar. sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka. Mungkin sudah hukum alam. Apabila dikatakan tidak terpengaruh.

Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri. Mawon Sanmdi. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu. tenaganya. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. dengan kesaktiannya yang tinggi. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. Baik ukurannya. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan. ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. pemimpin mereka. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. . yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. maupun sifatnya. Hitam-Putih.86 BAGIAN 2. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya. yang dulunya bernama Cipta Raga. bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. Hitam-Putih dapat menang. Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. Dan hanya dari manusia. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang.

waktu mengheningkan cipta usai. apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya. ”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih.. Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. Rintah dan Asap. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya. Misbaya. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan. Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting. *** ”Cukup. Sebagai reaksinya.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya. karena kaki mereka yang kesemutan. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan. Dengan senang hati. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka.87 Dan tidak hanya itu. Hanya sayangnya. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa. Setelah beberapa mencoba.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut. meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut. Periuk besi yang penuh berisi ramuan. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut.

tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. ramuan yang tidak cocok. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun. periuk ini dibuat. saat ia mengawal barang-barang hantaran. Pikir mereka.” Mendengar bahwa periuk. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras. Akan tetapi hati-hati. Pertama ia mengejar keretakeretanya. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. akan menghasilkan racun pada larutannya. yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li . Ki Tapa pun berkata. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. Dengan cara ini. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun. Berulang-ulang diperagakannya. yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini.” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. sampai menghampiri.88 BAGIAN 2. untuk memasak sejenis masakan. selagi aku sendiri yang membuat ramuan. ”Jangan kuatir. ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya. ”Ini disebut Langkah Ayam. Selang tak berapa lama. Beberapa dari mereka tampak kecut. kaki-kakinya menjadi kuat. lentur gerakannya akan tetapi mantap. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok).” lanjut Ki Tapa. begitu melihatnya. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan.” jelas Ki Tapa. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja. berkatalah Ki Tapa.

Sudah berulang kali ia mencoba... Ki Tapa pun tersenyum. Akan tetapi percuma. Ia baru saja memeriksa badan muridnya. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar. ”Coreng. ”baik. jalan darahnya tidak lancar... mungkin pikir mereka. Moreng. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara.89 Jeng sedemikian tingginya. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu. Kawasan yang sunyi dan sepi. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana. tolong Periuk Kerbaunya.. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah. Ki. Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam. Tidak bisa dialirkan. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam. dengan lirih ia berkata. Akan tetapi entah karena apa. Agar seperti Li Jeng.. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat. Sedih hatinya melihat muridnya. Tidak banyak orang yang hidup di sana. sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain.!” Terdengar jawaban lirih pula. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Tidak bisa digunakan. Hanya beberapa orang nelayan dan . Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada.

90 BAGIAN 2. yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat. Ditambah Rancana dan Lantang.. guru!” dan kemudian jelasnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini. saya tidak akan menggunakannya. Dan seperti guru ingat dulu. ”Saya tahu. masih dengan nada yang sedih.” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. hanya lima orang yang hidup di sana. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru. Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya. Toh. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat. menghela napas panjanglah Rancana. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar.. tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa. masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka. saat mengetahui bahwa tubuhnya.” panggil Lantang perlahan. ilmu silat yang engkau pelajari. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. ”Guru. gurunya. ”Janganlah terlalu bersedih.” ucap Rancana pada muridnya. ”Lantang. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. sudah tentu ia bisa mengetahuinya. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang.

engkau akan dapat membela dirimu sendiri.” jelas Rancana..” sahut Lantang patuh.” ”Suka saya mendengarkannya. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana. Lalu katanya.. Apa mungkin ada orang yang selihai itu. Lantang!” perintah Rancana. Lantang.91 nya. ”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. guru. guru. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus. ”Baiklah kalau begitu. Guru Tua Morehe Uwesiba. Melainkan hanya untuk membela diri.” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya.” ”Wah. di balik lautan. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar. .?” bantah Lantang. ”Tapi. Tidak akan mendatangkan banyak lawan. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba.” ucap Lantang. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya.” kata Rancana pada akhirnya. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya. ”Cobalah engkau serang aku. guru. Terlihat Rancana berpikir sejenak.. guru!” tanggap Lantang. ”Pencipta ilmu ini. bila engkau berlatih dengan baik. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. Jadi dengan ilmu ini. terdengar sangat menarik.” ”Baik. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa. dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya.

Rancana hanya tersenyum. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura. ”Tidak. Ia baru dapat menerima beberapa bagian.” jelas gurunya. Melihat kebingungan muridnya. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju. Rumit karena harus pada saat yang tepat. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya. guru?” jawab Lantang muridnya jujur. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu. ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. Bila tidak pada saat yang tepat. dielakkan dan dimusnahkan. secara alami bisa setiap orang melakukannya. sambil memutar tubuhnya. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. Dengan cantik dan lemas. ”Serangan lurus ke depan. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. Sederhana karena geraknya mudah. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang.” jelas gurunya. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. Bahkan dipukul balik. ”Baik. sehingga Lantang batal terjatuh.92 BAGIAN 2.” Lantang mengangguk-angguk. membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. Pada saat yang tepat. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil.. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari .. Bagian lain masih gelap baginya. mengapa serangannya itu tidak berhasil. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. guru!” jawabnya mengiyakan. ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. tanpa tipu-tipu. akan tetapi dengan lebih lambat. Rancana. memang serangan paling sederhana dan rumit. bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya.

dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. ia dapat tersungkur. dapat mengenaiku. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya. baru memukul. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. Setelah tiga-empat telapak kaki. Kali ini Rancana membiarkannya. Cobalah!” Lantang pun mencoba. Gurunya tidak bereaksi.93 belakang. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya. Lantang pun kembali terjatuh. apalagi ditarik seperti tadi. . tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. ”Benar.” ucap Rancana. Dan ia tidak lagi tersungkur. Belum sampai. Penasaran pada hal tersebut. Belum sampai. apakah pukulanmu sampai apa tidak. Setelah mengerti. ”Bagus. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. Dengan demikian. saya tidak lagi terguling. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. tidak melebihi. memang dengan cara ini. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. ”pada jarak segini. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. ”Cobalah!” ucap gurunya. Bila tidak sampai. Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini. ”Kamu benar. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. Maju lagi. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. ”Guru. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama. Mendekatlah. engkau harus punya rasa. Kesalahan yang sama terjadi lagi. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia. dengan kedudukan yang stabil. Jangan lepaskan.” jawab gurunya.” Lantang pun mengangguk-angguk. Memajukan kakinya. Lantang.

Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. Rancana menghentikan latihan itu. Lantang mencoba menirukan. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. hanya gerakannya mirip. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan. Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. pinggang. Alhasil. . telapak kaki. Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. Kagum ia pada semangat muridnya. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah.” ”Baik. kaki belakang melurus dan pinggang berputar. Tirukan aku!” perintah gurunya. Tapi ia tidak mengeluh. akan tetapi tidak minta berhenti. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. Mengisi perut. Sudah waktunya beristirahat. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Menuju ceruk kecil. Sebelum tenaganya sampai ke dada. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. tangan sudah dikembangkan. paha. ”Kita istirahat dulu. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. Saat bergerak. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. guru! Saya lupa lagi.94 BAGIAN 2. tanpa tenaga. ”Tidak apa-apa. Berulang-ulang kali. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali.” kata Rancana. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih. Temui aku nanti di Rumah Kayu.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. Hasil rembesan sungai di atasnya. lengan dan meledak sampai ke kepalan. Bumi. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. Pukulan Meriam.

akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Itu lebih baik. Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. karena panjangnya pada arah timur-barat. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. Ki Sura. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa. Mereka telah menunggu. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana. Rancana dan Lantang muridnya. . Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Bila dilihat dari atas. Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. serta satu keluarga lagi. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. dan Telaga. tampak ketiga orang lain itu.” katanya kepada ketiga orang itu. yang hanya terdiri dari lima orang. Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. Nyi Sura. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. ”Selamat malam. Hidangan makan malam telah tersedia. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. Setela kejadian itu. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung.

sehingga perlu disambut seperti itu.” jawab Rancana agak bingung. pecel belut. Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. Seperti telah diduganya. kerang sambal. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. lalapan.96 BAGIAN 2. Ki?” ”Lantang.. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya. Memang pendiam orangnya. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana. Hanya Telaga yang banyak bicara.” jelas Rancana. karena ada orang yang dapat diajar bicara. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. ”Wah. Sebelum ada seorang pun yang berkata.. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut.. ”Ceruk mana. Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu. Dulu sebelum Rancana datang. ”Betul. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. tidak ada teman bicara dia. Ki Rancana. Tidak banyak bicara mereka. Apalagi Ki Sura.” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba. siapa namanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana. Eh. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid. Ada ikan mas bakar. ”Ada apa sebenarnya. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan. senanglah Telaga.. terong dan sudah tentu nasi. anak dari Ki dan Nyi Sura. sayur bening.” jawab Telaga. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya.” jelasnya. Lantang nama anak itu Telaga. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. melainkan dari Telaga.

Ayah pasti bisa menolong muridmu.97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi. Tapi sebagai seorang ahli silat . Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang. Rambutnya panjang sebahu. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang. akan tetapi tidak langsung berpakaian. Terdengar suara lirih Ki Sura. Seakan-akan suatu parit dari batu. ”perhatikan saja.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. ”cah bagus. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. Tampaknya ia tidak suka api. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. Ki. Dalam suatu ceruk yang paling besar. Undinen itu pun bergerak mundur. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu. Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. Lalu bisiknya lirih. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. Ia tampak telah bersihbersih. melainkan melihat pada suatu arah tertentu. jangan bergerak. Dengan suatu cara tertentu. Biar aku yang menangani Undinen itu. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas.” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Saat-saat yang menegangkan.

selangkah demi selangkah. tidak banyak berucap. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. tidak mengeluh. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. Malam itu sebenarnya sangatlah indah. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu. ”maaf Ki Sura. bertanyalah Lantang pada Ki Sura. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. Akan tetapi bila tidak ada. Begitulah orang-orang yang bersyukur.98 BAGIAN 2. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. apakah tadi itu? Yang mem- . Sunyi sesaat. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi. Orang-orang yang sederhana. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. keluar dari ceruk itu. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Dengan ukuran aura seperti itu. Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang. Lantang masih dalam ketegangannya.

. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan.99 buatku seakan-akan membeku. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). air. mengapa Ki Sura. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen. Undinen.” jelas Nyi Sura arif. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. ”Roh-roh Empat Elemen itu. ”Sebenarnya. Ia masih merasakan ketegangan tadi. ”Jika demikian. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini.” Ki Sura tersenyum. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara.” jelas Ki Sura lambat-lambat. selain Duyung dan Nixen. Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini. yaitu api. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga. ”Itu adalah Roh air. sang Roh Air.” jelas Ki Sura lebih lanjut. Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. udara dan tanah. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. Hanya Rancana yang tidak. Dan hal yang masih tidak dimengertinya. Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara. ”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. Juga istrinya. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen. mereka tidaklah terlalu berbahaya. Troll.

yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. ”Waktu dari menariknya. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. akan membuat tubuhnya semakin dingin. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. Baik Ki Sura.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul. Ya. .100 BAGIAN 2. pasti itu penyebabnya. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam. ”Anak Lantang. Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini.” lalu tanya Nyi Sura. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka.

begitu.” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang. Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan. *** ”Misbaya. ya!” menghela napas Ki Sura. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri.” papar Ki Sura. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. ”Bila itu suatu rahasia.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan.” ”Kami.” kata Rancana. dan tidak untuk kami. ”malang sekali nasibmu. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya.” . akan tetapi tidak bisa menggunakannya.101 ”Hmm. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia.. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka. nak Lantang. Melainkan hawa para Rohroh Air.” jelas Ki Sura. Dapat menghimpun tenaga. Rahasia ini telah lama disimpan. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri.

102 BAGIAN 2. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. seperti memotong. PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. Dan untuk itu. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. Sedemikian halus. Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu. Rekan-rekannya terkesiap. yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. Dari pandangan matanya. Tak teduga dan cantik. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia. Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa. atau sendinya akan terkilir atau lepas. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. ”Pegang yang kuat. Kali ini Gentong. Dan Gentong pun . Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Dengan perlahan.

Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. Lucu tampaknya. siap mencongkelnya dengan bahu. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah. Cara ini lebih baik. juga di antara murid-muridnya sendiri. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. Bersamaan dengan itu pula. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. sudah berangsur-angsur sembuh. Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit. . Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. Berbagai upaya telah dilakukannya. Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak.103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan. Kecuali Asap tentunya. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. dengan debum yang lebih kentara tentunya.

Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat.104 BAGIAN 2. bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya. Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar. menggemuruh. sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. Ki Surya. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama. Padang Batu-batu akan tergenang. Ke arah di mana matahari terbenam. mereka tidak akan menunggunya. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau. Untuk Asap. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). Dan entah bagaimana. Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. Sungai Hijau orang menamakannya. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. Ki Rabat dan Ki Untung. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. Dari sanalah diyakini nama itu datang. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba . Akibat luberan ini. menuju Lautan selatan. Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. ke arah barat. satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat.

akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian.105 Hijau. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai. Ki. Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya. Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. ”Benar.. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan.. Di Gurun Besar.. arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai.. sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang.” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju. Sungai itu sudah Sungai Merah. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek.” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju. Ki Rabat. ”walaupun dua kali lebih lama. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- .” komentar Ki Untung. seperti kata kalian. selain ada banyak binatang-binatang beracun.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut. Setelah membicarakan beberapa hal lain. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima.” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab.” ”Bila benar begitu. Setelah beberapa hari perjalanan.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya. ya. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan.. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai. ”Benar. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau.

PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. kadang terjadi sebaliknya. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya. sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. tertarik untuk melancong ke sana. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya. Setelah siap berangkatlah rombongan itu. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi.106 BAGIAN 2. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan. hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- . Tempat yang diduga lebih indah itu. Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. walaupun tidak terdapat banyak desa. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara. Walaupun pada kenyataannya. Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu.

Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja.107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. Benar-benar membosankan. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Untuk melepaskan kebosanan. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan. entah sungai apa namanya. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. tiada yang tahu. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut. mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. akan menjadi terkantuk-kantuk. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Lancar dan sedikit membosankan. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Malam ketiga. Demikian pula dengan rombongan ini. Bila langsung menempuh Gurun Besar. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai.

Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Laki-laki Petani (Bauer). sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya. Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). Taman Utara (Nordpark). Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. yang terkena gigitan Kadal Gurun. Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota. Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. Wanita Petani (Buerin). Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Wanita Pengembala Domba (Schferin). Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa. Entah kapan dan bagaimana mulainya. Akan hancur suatu daerah. PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann). Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin. Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu.108 BAGIAN 2. Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann). Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte). Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- .

Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Semuanya hilang. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. menjadi semakin sepi dan mengiriskan. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . Membuat tubuh benar-benar terasa lelah. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar. dan atas usul istrinya. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri. Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. terasa amat lengang. Malam yang menghebohkan. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Dingin ini lain. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada.109 gannya. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam.

Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu. hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga. Dan dua belas buah lagi. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja. sudah di luar kemampuan kita. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Lalu orang-orang pun bubarlah. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi. ”baiknya kita menenangkan diri dulu. selaku pimpinan di sana. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. dalam langkah yang tergesa-gesa. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Setelah berjalan bersama-sama. sebagai saksi satu-satunya yang ada. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri.” Semua mengangguk-angguk setuju. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. . Bertanya-tanya hati semua orang.110 BAGIAN 2. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. Benar-benar menyeramkan. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja.

bahkan sekecil apa pun suara. akan semakin keras suaranya.111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. Bila banjir. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita. Akan tetapi anehnya. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. Bisa-bisa sampai menggelegar. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. Desa yang sepi. pada sisi seberang. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu. Sunyi. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu. yaitu sisi barat. perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam.

tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. Setelah menunggu beberapa lama. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan. Ki Untung dan Ki Rabat. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur. Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. yang ditemani beberapa orang dari . Orang menyebutnya Arowana. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. Bagi Citra Wangi. misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. ibu dan ayahnya sendiri. Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. ketiganya. Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. kadang pula telah berpermukaan halus.112 BAGIAN 2. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. di antaranya terlihat Ki Murah. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya.

. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik.” gapai Ki Rabat dari jauh.. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya. Mengenakannya. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini. Keduanya mengangguk tanda setuju.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. batu-batu hiasan ini. ditambahkannya kata-kata. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti. ”Ada apa. ”Nak Citra Wangi. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. Betapa ingin mereka memilikinya. minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu. Ki?” tanya Citra Wangi sopan.” Mendengar panggilan itu. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri. begitu kata ujar-ujar kuno. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu . Pikirnya. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua. Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar. Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki. ”Lihatlah. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat. ini harga khusus. indah. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. ”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu.

Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka. Bukan desa.114 BAGIAN 2. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. Selain suasananya yang nyaman. sejauh subyek perdagangan mereka ada. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Senanglah . Begitu pikirnya. Setelah berunding sejenak. akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya. Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. saat itu membiarkannya saja. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. Ia yang biasanya membatasi. Di kejauhan Ki Rapih. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah. jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. melaului Pantai Selatan. kemudian diturunkan. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan.

Bila cocok. Desa Pinggiran Sungai Merah. Mereka berpikir dengan cara ini. barang dan Tigaan berpindah tangan. Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. akan lebih mudah berdagang. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan. semacam stempel. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. Melihat cara perdagangan yang menarik ini. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. . hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama.115 hati mereka. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif. Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan.

Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya.116 BAGIAN 2. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir.. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- . sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan. maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut.” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh. Api yang meresap dalam sesuatu. *** Lima tahun waktu pun berlalu. Yang tidak dapat mengalirkan hawa.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. Untuk mencegahnya. Dan sesuatu itu adalah udara. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu. Lambang tanah. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini. Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah. Pernah terdapat Tigaan palsu.. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya. Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru.

lima tahun yang lalu. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. yang belum tentu jelek dalam artian luas. dan juga utara dan selatan. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. Nyi Apik. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. membuat mereka merasa kerasan. Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. bersama-sama den- . Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana. membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. Apabila lingkungan berubah. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Desa Pinggiran Sungai Merah. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota.

Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. . akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Asalkan ada Tigaan. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah. Tidak utuh semuanya. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. yang mereka namakan Antaran Pasti. Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. sungai dan gunung. sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat. Apa-apa pun dapat dipesan. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya. Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota.118 BAGIAN 2. Beberapa patung dibangun kembali. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. Barang sampai pasti. Dijamin. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu.

Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya. lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. Menunggu isyarat alam. puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Baik dari segi bakat ataupun finansial. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid. Benar-benar menggirisi. Tiada pesan yang ditinggalkan. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. ditempatkan sebagai Empat Pilar. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya. Tidak seperti dulu. saat yang tepat untuk mulai mendaki. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu.

dan untuk turut menggagalkan orang lain. kata Ki Tapa. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. Kirani dan pemuda itu. dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. Asap. bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. Jadi untuk ukuran orang biasa. Cukup Rimba Hijau. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan. Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau. PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. Rintah. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. telah gugur tujuh belas orang. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. Pesannya.120 BAGIAN 2. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. Paras Tampan. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal. Bukan perguruan silat. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. Walaupun gagal. melainkan hanya tempat menempa diri. Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. Rantih. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi. tanpa embel-embel perguruan. Misbaya. jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya.

mereka harus kembali turun. *** Undinen itu bernama Xyra. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. . Dan sekarang gilirannya. ke arah mana saja tidak jadi soal. dua orang yang akan menggantikannya. seorang Undinen yang rupawan. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. Mohon bimbingan atas ujian ini. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya. Menyusul kemudian Gentong. Asap mendapat giliran sehabis itu. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. ia dapat berangkat. Paras Tampan. Dari urutan yang ditarik. Setelah merasa tenang. semakin kental hawa anak itu menarik hatinya.121 diberi waktu dua tahun. Jadilah dirimu sendiri. Menenangkan dirinya. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Menurut Ki Tapa. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. serta Ki Tapa gurunya. Sosok yang membayangkan hawa yang lain. dapat atau tidak. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Bisa sampai di titik ini. Apa pun yang terjadi. mulai beranjaklah Paras Tampan. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta. Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Jangan berpura-pura. saat matahari sedang tinggi-tingginya. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Hawa yang menarik hatinya. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Ada rasa nyaman dalam hawa itu.

carilah Ki Tapa.122 BAGIAN 2. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. apabila telah selesai belajar. sering berada dekat dengan Lantang. Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya. Ia hanya berpesan pada Lantang. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. Telaga. Ia mengambil arah ke selatan. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. Di Rimba Hijau. karena tidak mengganggu. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. Mereka membiarkannya saja. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. masih terlihat cantik. walaupun tidak menampakkan diri. Ada urusan yang harus diselesaikannya. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. anak dari Ki dan Nyi Sura. mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. untuk mencarinya ke timur. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. tanpa tudung kepalanya. Bila tidak dapat menemui dirinya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang. akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura.

Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli.” ”Menarik..123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm. . Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu. yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni. maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni..” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk. ”Kakak Mayat Pucat. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna..” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan.. ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya. masih ada lambang-lambang aneh. ”Di sini. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu.. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian.. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu.. melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa. menarik. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni.!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri.

PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti.” tanya Sabit Kematian.124 BAGIAN 2. ”Tentu ada maknanya. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. Lupa. . Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu. Ketiganya pun kembali termenung.” usul Cermin Maut. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu. Entah di mana. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti. Lebih baik kita menafsirkan dulu. ”Sudahlah. apa maksud tulisan Naga Geni ini. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. Melayang dalam pikiran masingmasing. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya. ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab. Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini. Sudah lama sekali rasanya. biarkan saja!” usul Mayat Pucat.” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja. Jadi ada empat buah kitab.” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda. bahkan oleh Penjuru Angin.” ”Maksud Kakak Pucat.

Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 . Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. Naga Geni. Tidak banyak. maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Oleh gurunya. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno. yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana. cukup paling banyak tiga buah. apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin. Bisa dibilang mustahil. di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan.Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya.

Ki Tilu. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah. . Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. berikut tulisan di bawahnya. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu. Mengingat cerita itu. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. Setelah prasasti tiruan jadi. Gagasan yang dipakainya. Dan hal ini amatlah wajar. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya.126 BAGIAN 3. Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah.

Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu. atau bahkan merupakan kuncinya... ”ceritakan.. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya. ke suatu gunung di tengah belantara hijau. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. .. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu. Ke arah Gurun Besar. Ke timur. Langkahnya ringan dan mantap. sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun. semua telah hancur dan hilang. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. Setelah berjalan bergegas beberapa lama. Tujuan hidupnya pun juga. bagaimana semuanya berlangsung.. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. ceritakan. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Gunung Hijau. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. Satu-satunya rumah di kawasan itu. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya.” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya. Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya.

Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. . Informasi ini menggembirakan dirinya. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara. ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya.” terang pemuda itu. ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya. ”Menarik. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya. guru!” jawab pemuda itu patuh. Sudah terbiasa ia... gurunya. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya. Lalu katanya.. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik. ”Belum selesai guru. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya. bahwa orang itu. Jadi mulailah ia bercerita. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka. Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya. Tampak seperti ada yang direncanakan. sementara gantinya sedang melatih tenaga air.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum.” katanya tanpa ekspresi. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa. HAKIM HAUS DARAH ”Baik. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal.128 BAGIAN 3.” jelas pemuda itu kemudian.

carilah sendiri.. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian.” komentar gurunya sambil tersenyum. ”Yakin sekali kelihatannya. Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil. Tidak bisa tidak.129 Anak kecil itu pun mengangguk. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen. Tapi perlu waktu. ia telah berada di tengah gurun ini. Saat ia sadar. ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Pertempuran harus terjadi. jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman. ”Tak bisa dielakkan. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini. pasti akan terjadi” jawabnya tegas. Orang tua itu mengangguk-angguk. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- ..” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya. Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang.. ”aku tidak akan menjawabnya. Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya.. Gurun Besar. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk.” gumamnya. ”Tetapi guru.

Tenaga Air. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu. Itu saja. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . melainkan juga pengguna ilmu itu. Diajarkan oleh kedua orang tuanya. Sunyi dan kering. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. Gunung Berdanau Berpulau. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu.130 nari. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. Ia memandang ke arah utara. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi. sampai ribuan kambing dewasa panjangnya. Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. Sangar dan tampak seperti berwibawa. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya. *** BAGIAN 3. ilmu beladiri. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. atau kadang dapat mengeras seperti es. Tenaga yang mengalir. Akan tetapi pemuda itu lain. Ya. Sepi. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. dibalikkan tubuhnya.

di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah. Lain halnya dengan suaminya. Mendengar pertanyaan ibunya. ”ya ibu. Lalu katanya kemudian menegaskan.” ”Tapi. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu. membuatnya tidak seperti biasanya. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya. . yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya. begitu pikirnya. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas. Bergetar suaranya saat menanyakan itu. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya. mengangguklah Telaga. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. sudah bulatkah tekadmu itu. saya sudah membulatkan tekad. Anak satu-satunya itu. Padang Batu-batu.. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya. ia pun pergi merantau. Ia tenang-tenang saja. Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa.131 diri dari batu-batu belaka. Dulu sewaktu ia muda.. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu.” jawabnya ibunya tercekat. Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. nak?” tanya ibunya perlahan. Ki Sura. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. ”Telaga. Luas menutupi seluruh matanya. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah. Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh.

” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. kadang pula lebih. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya. Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada. seperti tiang-tiang. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. Katanya kemudian. ayah. Berangkatlah pagi-pagi sekali. dan menghujam juga dingin. Padang Batu-batu. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. Di dalam Padang Batu-batu. Dipandangnya berkeliling. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang . sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut.132 BAGIAN 3. Cengkeraman Kristal Es. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar. dingin dan menantang. untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. Mirip hutan belantara. Kadang selebar kerbau atau gajah. Melompatlah ia perlahan ke bawah. Untuk menentukan arah. Dan selalu hati-hati di sana.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi.” jawab Telaga cepat. yang besar dan tingginya bervariasi. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. Jurus cengkeraman yang amat keras. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan. ”hati-hatilah. Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati.

Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Bukan di . Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu. Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu. membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. Jika malam tiba. semakin cepat angin mengalir di antaranya. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai. Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. yaitu matahari. Untuk itu ia mengambil patokan lain. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. ke arah berlawananlah ia harus menuju. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli).133 berdiri berderet-deret acak. Untuk makannya selain telah membawa bekal. Menuju selatan. karena sudah tak begitu jelas terlihat. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya.

Tak . yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu. apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. yang dibantu dengan posisi matahari. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal. HAKIM HAUS DARAH balik batu. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. sehingga serangan dapat dilakukan. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. Sebagai contoh misalnya. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari.134 BAGIAN 3. Hari keenam. Mereka memutarinya. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. untuk mencari ikan dan kepiting. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air. Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting.

Setelah memeriksa dengan seksama. berkata seorang dari padanya.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata. Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam. Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air. ”Jangan. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya.” kata orang pertama.” Dengan berkecipuk keras. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu. Orang ketiga.” usul temannya yang lain. akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi. nanti cepat ketahuan. batu. Ketiganya masih di sana. ”Sudah. Berjalan mereka perlahan-lahan. Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. Entah apa isinya. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. Telaga terdiam melihat kejadian itu. Lempar saja di sini. Bungkusan itu cukup besar dan berat. di mana orang-orang itu berada. Kemudian berlalulah ketiganya. Tak tahu berapa lama ia tertidur. walaupun jernih. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu. Walaupun amat lamat-lamat. dapat ia mendengarnya.. Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. Di Padang Batu-batu me- . lemparkan saja di sini.. Tak ada suara.” sanggah orang kedua temannya.

Tidak ada tanah. ”eh. Suatu pikiran yang cerdas. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu. sehingga walaupun airnya jernih. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. tampak sebuah iring-iringan datang. Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Niatan Telaga. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak. Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin. Masih dalam pinggiran yang sama. kamu mimpi kali?” jawab temannya. Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. Kata salah seorang dari mereka. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu.136 BAGIAN 3. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. Selang tak berapa lama.” . Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. Makanya kita nyucinya siang. Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu. Jurang yang cukup dalam.

Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan. membuatnya menjadi bertanya-tanya. Selebihnya telah berendam di tengah.!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang. .. setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman.137 ”Sekalian mandi. Dibiarkannya keranjangnya mengapung. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua. Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir.. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih. Andai saja ia maju setombak dua lagi. ayo mandi. Tak tergoda atas ajakan itu. Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. ”Sarini. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana. Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya.” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. Tak ditemuinya seorang pun. Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan. dan ingin segera menjauh. Lainnya hanya mengiyakan.. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya.

benar itu Ki Rontok. Penakut disebutkan dirinya. seling mengangguk satu sama lain..” . ada mayat. ”mayat. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini. ”Ini adalah Ki Rontok. Kawan-kawannya telah diperingatkan. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. Telanjang. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya..!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air. Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat. Sepotong tali. Menepikannya dan mengamati. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Tidak seorang gadis pun. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi.138 BAGIAN 3. si pedagang keliling. Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. Tidak di siang hari bolong seperti ini. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu. tampak oleh Telaga. ”wah bisa berabe nih kita. bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa.” jawab yang lain menegaskan. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya. di mana belum ada matahari. Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. juga Sarini yang melihat kepergian mereka.” ucap salah seorang dari mereka..

” ucap salah seorang dari mereka. Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi. dengan tandu dari kain yang mereka bawa. Tapi itu harus dilakoni Telaga.. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya.139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. yang dikenali sebagai Ki Rontok. Bersama-sama mereka membawanya. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana. Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu. Bisa-bisa ia yang dituduh. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. Selain karena . Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. Bisa-bisa fatal akibatnya. Untuk kemudian mengikuti. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. Benar-benar menarik kata-kata itu.

tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu. dipandangi sajalah orang tua itu. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. Tampak pula warna busana yang aneh. tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. melainkan terus mengamat-amati Telaga. Aku si orang tua. Selang tak berapa lama. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. sibuk dengan pikirannya sendiri. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”.. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. tapi ia kedapatan sedang mengintip. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. anak muda. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah. Warna-warna kulit yang aneh. Telaga tidak tahu harus berbuat apa. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. Dari caranya bergerak. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. ”Jangan kuatir. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. lebih tinggi . Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. Tak dibukanya percakapan.140 BAGIAN 3. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. terlihat tubuh yang terlatih. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Orang tua itu tersenyum. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. Tampak belum tua benar ia. lalu katanya.!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. ”kita akan bertemu lagi. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda.

Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh. Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. Untuk kebutuhan air minum. bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. . dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya. Kedua desa itu. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu. Selain adat. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung.

walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Kedua kelompok ini. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. Gembira hati mereka. Bagi mereka Tigaan lebih penting. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . ada pula orang-orang yang menghargainya. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan.142 BAGIAN 3. Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Dengan adanya para penjaga keamanan. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur. Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia. hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. situasi menjadi aman dan terkendali. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Akan terjadi peleburan. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. Cara-cara ini sudah tentu tidak baik. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua.

Bila kedua desa bersatu. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana. jauh di barat daya sana. Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Andai saja Walinggih ada di rumah. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Asasin. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur. Mungkin akibat ilmunya itu pula. Kejamnya politik perdagangan. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. Hal ini tidak boleh terjadi. Akhirnya mereka. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. tidak mungkin. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. Yang penting untung dapat diraup.143 dari luar Padang Batu-batu. bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Karena ditunggutunggu tidak datang. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu. Dengan cara ini pasti akan lebih laku. Mengadudomba. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. Minta tolong ke penduduk kedua desa. jelasnya. pulang dan mela- . Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu. Walinggih tak tega. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya.

Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. kelompok pembunuh bayaran terkenal. Menggiriskan hati suaranya. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Jika ada pertentangan.144 BAGIAN 3. pikirnya. bisa berabe nanti jika ia mengamuk. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana. Dan ditinggalkannya begitu saja. Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Untuk kelebihan waktu. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. Dibelah persis di tengah-tengah. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. Simetris. Dalam setiap perkara kejahatan. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. harus dibayar lain. mengingat ilmunya yang tinggi. juga penolong. serta memekakkan telinga. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. Kedua kelompok pedagang. Pandangannya berubah terhadap kerukunan. Ia akhirnya mengambil sikap. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. Setelah semua orang yang bersalah habis. Akan tetapi para pembunuh tidak mau. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. biasanya harus ada yang tersembelih . Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu.

Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya. Tapi itulah kenyataannya. Orang yang terkena fitnah misalnya.” Benar-benar pikiran yang gila. Semoga arwahnya nanti damai di sana. kecuali kasus-kasus yang parah. Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. Alasannya boleh berbicara belakangan. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. ”Bagaimana ini. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal. melainkan ketenangan dalam paksaan. kepala desa?” tanya seorang warga. Jika bertikai dan berlarutlaru. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat. Akibatnya kehidupan menjadi tenang. jadi dua bagian. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak. Ya. Terlepas dari siapa yang bersalah.145 simetris. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu.” usul seseorang. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu. . Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. Alternatif itu lebih baik. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah. Katanya suatu ketika. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. fatal akibatnya. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. sebelum Walinggih mendengarnya. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat. sudah pasti akan ada pembantaian.

Kemudian kata orang itu setelah memeriksa.” ucap seorang. berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. si Hakim Haus Darah. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong. . Tidak ada korban dari Walinggih.146 BAGIAN 3. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. gadis yang tadi tidak ikut mandi. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban. Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong.. terdapat suatu celah. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. perlu pula diusut.!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya. seperti ditunjukkannya. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. ”Ada yang bisa menceritakan. akan selesai masalah. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini.” gumam seorang takut-takut. bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. Dan memang benar.

apabila Hakim Haus Darah ditangkap.. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. Seperti halnya Ki Rontok. Tak pandang bulu. Sementara yang lain. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat. . ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya. Dengan adanya peristiwa ini. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian. Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu. semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. dapatlah sang hakim saat ini ditangkap. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini. tak jelas alasannya. Saat itulah ia turun tangan. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang. perkenalkan kami. sebagai bukti. ”warga desa yang terhormat. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. Mereka yang terakhir ini kuatir. kami datang untuk menangkapnya. akan kembali ke masa lalu keadaan di sini. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu.. Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran.

untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri. hanya perlu menjadi saksi.” jawab Telaga sopan. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. Ingin dicarinya keterangan. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah.” ”Ya. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu.148 BAGIAN 3. ”ada peristiwa besar ya. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi. paman. Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa. Lalu tanyanya sambil lalu. bagaimana akhir dari peristiwa ini. nak. Telaga adalah pemuda itu. ”Yang murah saja. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. karena saat ini hari telah menjelang senja. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. ”Mau makan apa. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya. Anak pasti bukan orang sini. Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. Tak tahu harus ke mana. sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. Sudah banyak memang pedangan dan . Kalian penduduk desa.” katanya sambil melihat Telaga. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. Kami yang akan menangkap sang hakim.

Cukup sederhana Pepes Keuyeup. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Tiada lagi ragu sekarang. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. ”Iya. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu.149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan. bukan bercerita. Saya berasal dari utara. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis. Di desa itu . akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat. Saya lagi merantau. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. tiga perwira. Kemudian ditinggalkannya Telaga. Tak berapa lama pesanannya pun datang. Gule Julung-julung. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini. paman. Ia tidak punya tempat menginap. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi.” jawabnya cepat. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani.

sama yang di dalam desa. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi.” katanya. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan. Begitu melihat dirinya. akan tetapi suka keramaian saat bekerja. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. ”Marilah mampir. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. sejak putrinya masih kecil. Tidak dihias macammacam.150 BAGIAN 3. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa. ”Beda ya. Saat akan merebahkan dirinya. ”bagus juga. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang.. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri. Istrinya telah meninggal karena sakit. melainkan hanya berwarna alami. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. Selain tidak bagus juga mahal. paman. Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya. ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf. lalu sapanya. Jadi bermalam saja saya di luar. yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi. Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur.. Tidak . Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung.?” pancing Arasan. Batu dan kayu belaka. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. Marilah.” jawabnya sopan. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya. paman. Sudah biasa kok. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. lalu jawabnya.” Telaga mengangguk-angguk. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya.

dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya. tempat yang . ”Sarini. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya.. tetap saja ia merasa malu. selamat datang. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu. Rumah itu cukup besar. Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu. berseru Arasan memanggil putrinya. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya. Ruang depan dan ruang belakang. Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. bagaimana rupa dari putri Arasan. ”Ayah. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk. mari masuk. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana. Lihatlah ada tamu kubawa serta. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja.151 terlihat asal dalam menatanya. ”Mari. Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah. Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya. Sampai depan rumahnya. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu. Sarini makan sendiri. putriku! Ayah pulang. ”bukan..” Bertanya-tanya Telaga dalam hati.. tapi putriku. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis.” Lalu muncullah putri Arasan. Seorang pemuda yang lugu. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu.!” ajaknya. Tapi lupa. Nanti kuperkenalkan. Senang pasti hatinya.” Lalu tanyanya.. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng.

menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. melainkan ayahnya. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya. tetap dengan menggunakan telapak tangan . Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. Pendaratan yang ringan.. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. menekuk dan melemparkan gadis itu. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur. Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam. ”Huut. Orang tua itu mengelak tipis. Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. Tak lama kemudian mereka tidurlah. hampir tidak memperdengarkan suara. Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja.152 BAGIAN 3.!” teriak suara seorang gadis. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan. Telaga mengikutinya. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. Juga adanya tusukan-tusukan. Alih-alih terjatuh. Di saat orang-orang belum bangun. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. memutar tubuhnya. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. hanya di pagi hari. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. hyaaaaa. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya.

Melihat keragu-raguan Telaga. itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak. ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. ”tak perlu kau katakan pun. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya. paman Arasan. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu.” kata Arasan sambil menganggukangguk. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata.153 yang dibuka. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air. ”Nak Telaga. Sampai pada gerakan yang menghentak.” jawabnya jujur. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja. ”Ah. ”Belum. Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. ”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. akan tetapi tidak melatih bagaimana . kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu. Lalu tanyanya kemudian. berkatalah Arasan kemudian. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya. agar susah ia mencobanya.

Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini.” jawabnya... nak Telaga. yaitu Tenaga Air.. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri. HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya. ”Sudah tentu. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu. Setelah matahari mulai sedikit tampak. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya. Telaga pun mengangguk.154 BAGIAN 3. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Tapi jangan panggil aku guru. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. Benar pikirnya. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. ”Marilah. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri. untuk menjaga diri belaka. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. . Ia ingin hidupnya aman-aman saja. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. ”Paman Arasan. Akan tetapi sebagai seorang ayah.” tanya Telaga bimbang. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai. Perihal mengapa. Guruku sendiri pernah berujar.” jelasnya kemudian. mereka pun menghentikan latihan. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka.. Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan.. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air. nak Telaga. suatu saat akan kami ceritakan. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku.

Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. Hari ini Arasan tidak bekerja. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya. Sebuah rumah di atas batu. bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. tampak sederhana. Jika tidak. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. selain juga menjadi malu. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu. Walinggih. tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Tempat kediaman Hakim Haus Darah. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan. Terlihat .

dan tua karena pikiran. keluarlah engkau. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda. Memang samasama tua. Mereka. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. ”Huh. ”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. Juga rambutnya berbeda. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. Seorang tua muncul dari dalamnya. Sunyi tak terdengar jawaban.156 BAGIAN 3. sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam. yaitu baju yang dipakainya. Sesekali seperti guratan kaki. Orang tua kemarin sudah putih semua. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu. Pedang mungkin. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. Baru kali ini. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih.. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. Ingin tidak hadir. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding.!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. akan tetapi orang ini. Hanya ada satu persamaan. Hanya beberapa . Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. Seperti bercak darah yang mengering.

Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. ”Hmm. di atas batu tinggi. Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. tak perlu ada kata-kata lagi. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. Lemparan itu bukan sembaran lemparan. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata..” kata seorang dari mereka bertiga. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya..157 yang cukup berilmu tidak. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih.” . Arasan ayahnya dan Telaga. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah. lalu katanya. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. Sarini. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun. Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk. ”Bila pedang sudah bicara. Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. baru datang. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan. ”serahkan dirimu. Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya.

”Bagus. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta.!” ucap salah seorang dari mereka. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. Benar-benar serangan yang lengkap. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu.158 BAGIAN 3. Akibat mundurnya itu. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. Bekeringat dingin ketiga perwira itu. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. Untung saja refleksnya masih bekerja. . Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. Dua buah. Dalam serangan pertama. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih.. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. Hampir mencium perut-perut mereka. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya. Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. Satu menyabet ke arah kepala. Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang.

” ”Hehehe. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini.. turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran. rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran. Belum pernah sebelumnya. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya. Saat satu orang menyerang. Kelimanya bergerak ringan. Pertempuran itu pun berlangsung seru. Cara ini ternyata lebih berhasil. Matahari sudah menempati titik kulminasinya. Hahahaha. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. Sebagai seorang manusia. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih. ”Jadi begitu. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung. Itu saja. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu.” kata Walinggih. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya.! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. ”Hehehe. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu.159 Kembali ketiganya maju serantak. tak usah berpura-pura. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur. ”Walinggih. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. benar-benar ’penegakan hukum’. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga. . ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang.. Arasan. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin.” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu. Lalu ucap salah seorang perwira. Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan.

Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. Dari pikirannya. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. alih-alih menjawab pernyataanya. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. sehingga ketiga orang perwira itu dikirim.160 BAGIAN 3. Akibatnya rekan-rekannya . kakinya meregang terbuka selebar dada. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. Dugaan itu tidak salah. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. menjadi semakin bingun Telaga. Satu ke depan satu ke belakang. Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu. yang disebut sebagai Asasin. Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Jika tidak. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan. Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. langsung menyerang. Sebelum kedelapan orang itu bergerak. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu. Sebagai seorang pembunuh bayaran. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. malah bergerak berputar. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya. mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut.

Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya.. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya.!” serangan ini pun membuahkan hasil. Hanya tipuan. Siap untuk serangan berikutnya.! Apa mau kalian. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram. tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih. Diatur napasnya tenang.161 berupaya melindungi. ke depan dan belakang. Tak ada hasil setelahnya. Melihat hasil ini. ”Cappp.. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya. juga kedua Asasin.!” serangan kedua membuahkan hasil. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira.. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Tak ada yang dapat dilakukan kali.. ”Hei..!” Akan tetapi terlambat. Terbelah simetris Asasin ini.. ”Settt. Bukan ke atas melainkan . Dua orang yang jauh dari sasaran pertama. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat. Omong besar di depan. pikirnya. Kaki dibuka selebar bahu. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal.?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut.. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. ”Tunggu dulu. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman.

Kembali ke posisi semula. ”Wuttt. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya. takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. Tak berapa lama. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik.. Walinggih kembali ke tengah. Ini sudah . tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih. Tegak dan lemas. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Walinggih yang akan bergerak. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan.162 BAGIAN 3. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. tak dapat ia menyerang keenammnya. Terpaku bagai akar pohon. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih. Siap melepas serangan lagi bagi pegas. Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. Tak berani ia melihat ke bawah.

!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih. Entah apa namanya. Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja. di mana orang ketiga sedang menyerang. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat.. bisa tak selamat Telaga. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. Masih dengan tenang Walinggih mendengus. ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka. Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya. Luka bacokan tak dapat dihindari. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak . Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. Sunyi. masih tampak wibawa dan keangkerannya. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. ”Heggg. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. Alih-alih menggeser kedudukannya. ”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah.

Mendengar cerita Telaga. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. sudah pasti sebesar ini tentunya. HAKIM HAUS DARAH berdaya. Setelah mereka bertiga berunding. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. ”Siapakah. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya . kok menggunakan racun. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai. paman. untuk dibuat bahan membalut. Jika anaknya masih hidup. Ketiganya tampak termangu. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih.. ”Maaf. Bertempur.” jawab Telaga sedikit malu. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. Jangan disimpan. Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran.. kau?” tanyanya tergagap. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. Teringat akan anaknya. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok.. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram.164 BAGIAN 3. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

176 BAGIAN 3. hampir dekat dengan langit-langit. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. Paras Tampan merangkak mundur. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka. Tiba-tiba ia bersorak girang. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Tiba-tiba didapatnya akal. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana. Anak tangga pertama lebih . Di hadapannya. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. HAKIM HAUS DARAH Hijau. ada seperti anak tangga di atas itu. Cukup lebar dan tinggi. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. apa-apa yang ada di sana. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. Paras Tampan bersorak gembira. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan. Diperiksanya dengan seksama. Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Hitam dan dingin. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. terdapat semacam anak tangga. soraknya dalam hati. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. Ia tidak bisa berputar. sampai ketinggian yang dapat dicapainya. Ada. di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. Akan letaknya jauh di atas.

Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. Masih saja gagal. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Ada lima anak tangga semuanya. Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Seperti dipotong dengan sengaja. Cara ini mungkin lebih masuk akal. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata.177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Bila bisa. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut. Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. Dan berikutnya lebih rendah lagi. Berulang kali dicobanya. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. Merangkak pelan. anak tangga berikutnya lebih rendah. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan . Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. Di salah satu sudut lorong. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Butuh waktu lama. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu.

Pemuda itu melihat berkeliling. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Racun Selaksa Macam. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu. Ilmu Muda Selamanya. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain.178 BAGIAN 3. Pukulan Inti Es dan Salju. terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Berhasil. Dan naiklah ia. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno. agar lebih stabil. Seribu Ramuan. Tenaga Air. Kemudian ia menarik napas panjang. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. Juga yang berikutnya sampai yang kelima. Batu-batu. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. Dan Sekarang . Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. Seni Beperang. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. Puas melihat pekerjaannya. Tujuh Rahasia. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. Angin-angin. Aneh-aneh judulnya. Pukulan Tanpa Tanding. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Beratus-ratus jumlahnya. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. Perpustakaan kitab-kitab kuno.

Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada. Paras Tampan. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. ”Benar.” kemudian lanjutnya.. ”Paras Tampan. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu. Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya. Angin-angin..179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya. Hanya mereka berdua.. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri . ”dan sekarang. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan. Misbaya. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya. Tapi itu cerita lama. Pemuda itu. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini. Atas kehendak Sang Pencipta. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Siap untuk dilahap. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima. Gunung Hijau. Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu. Dipelajari. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini.” jawab Paras Tampan. ”Pernah guru. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka. Rintah dan Gentong.

Entah oleh siapa. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. Di balik tempat tidurnya. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya. selain jurus air ini. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Dikarenakan oleh gurunya. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu. HAKIM HAUS DARAH darinya. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya. pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. dekat dengan bagian kepala.180 BAGIAN 3. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Tulisan itu mirip prasasti. Jurus Tanah. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. Jurus Api dan Jurus Air. karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Semakin ke bawah.. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. Arahnya tidak rata tiap barisnya. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni.181 dalam keadaan yang buru-buru.”. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing. Teringat itu. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain.. Lapar. Sedari waktu itu. judul-judul kitab yang ada. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam. Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Jangan lupa untuk. Untuk menunaikan tugas. Minta untuk diisi. Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai.” Tulisan tersebut berhenti di sana. Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini. Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Tidak ada. Penjaga Keseimbangan. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu. Badannya juga terasa lelah. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya. Dilihatnya kembali berkeliling. Bacalah itu pada kitab-kitab awal. Sebelum ia belajar. Di salah satu ujung ruangan. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya. Di sana tertulis.. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya.. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya.

Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. Ranum dan segar kelihatannya. Matanya besar. Ditambah dengan laparnya. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Sungai Batu Jernih. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Pesat menuju buah-buahan itu. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu.182 BAGIAN 3. Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu. ingin ia meraih untuk memakannya. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Warna tubuhnya biru tua keunguan. Mengambang. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Hampir seukuran dirinya. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. Sungai yang keluar dari lubang. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan. Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya. . yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip.

Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut. Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan.183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan. .

HAKIM HAUS DARAH .184 BAGIAN 3.

Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Digigitnya perlahan. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang. Perutnya telah lapar. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya. Entah kemana. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu.Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 . Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. Manis dan berair. Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda. Diperiksanya perlahan-lahan. Lembut menyegarkan. Ke sungai dalam tebing batu itu. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan.

”Seorang pemuda yang cerdik. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. betul. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan.” kembali kata orang pertama. Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain. ”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab. Pulas. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya.” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. kali ini mereka berjalan ringan perlahan. Ia pun tak lama kemudian mendengkur. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini. BAGIAN 4. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan. ”Hehehe. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap.” kata seorang dari mereka. Troll. Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya. . Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. Sesampainya di sana. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu.186 banyaknya.

” kata seorang yang lain. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab. sayuran tanpa daging dan nasi.” tegas salah seorang dari mereka. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap. seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan .?” tanya seseorang dari mereka. Biarkan nasib yang membawa mereka. Hanya herannya ia. Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab. Akan tetapi rasa laparnya menang. ”Kita layani dia. Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana. Guratan yang belum selesai itu.” ”Jadi. Tak tahu dirinya. Membaca demikian.187 ”Benar.” kata temannya.. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. ”benar-benar berjodoh. Mula-mula ragu-ragu ia memakannya. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. kakak Rawarang. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll.

Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. cengkeraman. Lebih lanjut pada lubang-lubang. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun. Latihan di bagian luar ruangan itu. untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. Paras Tampan dapat menghemat waktu. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding. Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. berpijak pada lubang-lubang yang ada. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. se- . akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. selain disertai bahaya untuk jatuh. Kadang kepala di atas kadang di bawah. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat.188 BAGIAN 4. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya.

tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. . Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik. Untuk pakaian. telah habis buah-buahannya. Badannya berisi. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang. Peralatan menjahit disediakan mereka. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah. Badannya menjadi tampak pas sekali.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. Entah binatang apa. Tidak terlalu banyak. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan. hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. Yang penting nyaman dan hangat dipakai. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. Sederhana tapi cukup memadai. Dengan tidak memakan daging. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. yaitu kulit binatang berbulu. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. Pemuda itu. Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. tampak semakin tegap. Paras Tampan. Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar.

seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih . Benar-benar mengagumkan. Sentilan Kelereng Es. Sang ikan pun berkecipak-cipuk. Tapi mereka tidak munculmuncul. Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya. Alih-alih. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. Dan untuk belajar jurus itu. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. Di tepi Sungai Batu Bening. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Undinen misalnya. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. ditunggunya mereka di luar ruangan.190 BAGIAN 4. Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin.

sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta.191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Menurut petunjuk yang dibacanya. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. Toh. Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin. Hari ini. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. Siang sudah belalu setengahnya. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. kapan ia siap untuk dilatih. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama. Apabila ia berlatih serius. Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. akan tahulah mereka. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. Memberinya petunjuk lebih jauh. para Troll akan mengajarinya. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. Senja pun tiba. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. cengkeraman dan panjatan-panjatan. Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya. Bila iya. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. Dengan menggabungkan kedua unsur. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal. para Troll. Otaknya . Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut.

Seorang dari mereka. mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan. Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya. . Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es. Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. Tak tahu apa yang dilakukan. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya. Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. Dari siulan tadi. Menyebar lambat. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan. Tidak berhenti sampai di sana. ”Kecipak. Membesar. Memasuki gua batu di tengahnya. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. Tak jauh melebar melainkan memanjang. Menunggu. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Berjajar menatap dirinya. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll.!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air.. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar. menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. Paras Tampan pun berdiam diri. Perlahan tapi pasti.192 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti.

tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah . Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. Dataran itu cukup luas. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. Benar-benar ruangan yang memukau. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. Selain malam telah menjelang. juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Paras Tampan tidak berada paling belakang. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya. Tak terlihat goyangan yang berarti. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. perlahan tapi pasti. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. Kanand dari arah ia tadi datang. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana. agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu. Padahal apabila dibayangkan. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana.

Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai. yang terlihat sebagai pemimpin di sana. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu. Ikan Kolakan. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. .194 BAGIAN 4. Bukan tempat bagi makhluk air. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya. tampak berenangrenang di kejauhan. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. tapi belum pernah yang tegak seperti ini. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh.

Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. Sepanjang satu tombak kira-kira. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. tentang bagaimana caranya bisa . Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada. mencoba kekuatan barisan itu. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit. Akan tetapi bukan Paras Tampan. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. menjejak terbalik pada langit-langit. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. Ia melompat dari tanah.

Waktu pun berjalan pelan. Darah tidak mengalir deras seperti tadi. tidak ada masalah. Sekarang saat dimulai masalahnya. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali.196 BAGIAN 4. Tiba-tiba. Setelah tiga kali dicobanya. Pusing dirasakannya. ”tukk. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu. Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka. tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya.!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh.. Rupanya saat bergantung terbalik itu. sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . Tak lama ia bisa bertahan. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Pada bagian dinding yang tegak. Sesaat sulit juga. Hampir lepas pegangannya. untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu.

Pada suatu jalan darah tertentu. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun. Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. Tak terasa telah lewat tengah malam.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. Paras Tampan pun telah lelah. Akibatnya pusing kembali diperolehnya. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya. Tidak lebih. Walaupun belum selincah Troll. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya. Dilepaskannya pegangan dan pijakan. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. Tak ada jalan lain. Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Mereka juga memakan satu setiap orang. Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Para Troll tampak berganti kelompok. Setelah beberapa kali mencoba. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka.

”Hmmm. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya.198 dataran batu itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi. BAGIAN 4. Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. berabe nih!” gumam Paras Tampan. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. sosok ini pun senang tersenyum.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Gerakannya ringan. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. untuk kemudian Mengheningkan Cipta. Wajah . ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih. bagaimana aku dapat mencapainya. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. Sedangkan temannya berambut pendek. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan.

” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab.. memberimu kitab ilmu-ilmu kami. Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku. mengapa perlu meninggalkan pesan. Sebelum menjawabnya. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan. Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api.” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu. ”Rawarang. ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua... seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi. Petapa Seberang. Ia lebih serius terlihat. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga.” sambil ia membungkuk sedikit. Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi. atau jika tidak ada. mana mungkin ki sanak berdua akan datang. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” . kami harus menuliskannya dahulu. Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu.” kata orang yang berambut pendek itu.. ”Hmmm. ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau. Benar-benar suatu sifat yang jumawa. Lalu jawabnya. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi.199 sosok ini tidak seperti kawannya.. ”Jika memang maksudmu demikian. menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu. ”Maafkan saya..” jawab Rawarang.

sehingga ada alasan untuk membalas. ”kalau begitu jelaskan dulu.” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. Walapun besar dan megah. tapi tidaklah jahat. ”Ya. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya.200 BAGIAN 4. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah.. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh. Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang. Baik orang-orang yang terlihat berduit. ”Jika tidak memberikan. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. mau apa engkau dengan kitab-kitab kami. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota . PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai.” jawab Rawarang masih jenaka. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat.” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum.” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya.. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. itu jadi susah. Lalu katanya.

Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka.201 kecil. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- . yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. Di negara itu. jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. Mirip dengan buku harian dewasa ini. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah. Jika tidak ada kebiasaan menulis. Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Dan ini sudah tentu terbatas. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. seperti waktu bercocok tanam. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya. Kebiasaan membaca. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Pun hal-hal yang berguna. nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. tidak akan ada buku yang bisa dibaca.

dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. Melalui cara ini. Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. sampai memanfaatkannya. amat takjub pada kemegahan itu.202 BAGIAN 4. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad. Ayahnya yang seorang pedagang perantau. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. seorang anak dapat melacak nenek moyangnya. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. dan apa-apa yang mereka lakukan. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. dapat dilakukan penghibahan. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. Dari membantu melengkapinya. Dengan cara ini. Tidak dibawa pulang. Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. Buku harian. Dengan perantaraan buku-buku itulah. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang.

yang tidak mau memberitahukan namanya. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya. digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. Bakat sang mantan pencuri itu. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Semahir-mahirnya tupai melompat. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. Buku-buku yang terlambat itu. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. termasuk di dalam istana kerajaan. meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan. Dari penjaga perpustakaan ini. Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. ilmu alam dan bahasa. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. ilmu kanuragan. Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. Jangan seperti gurunya. suatu saat jatuh juga.203 membekas sampai ia dewasa. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya.

” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras. ”jika diminta begitu saja. engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. jadi susah. Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas.” jawab Rawarang. atau tidak mau menanggapi saya. Umumnya saya menang. ”jadi maksudmu.” tanya Petapa Lain Pulau. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang. Lalu kata seorang dari mereka. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan. Sebaik manapun suatu tujuan. agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. Rawarang. pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri. . ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. Memang menurutnya. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini. ”Saya tidak punya jalan lain. Tetapi tidak begitu caranya. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya. apabila tujuan dari Rawarang ini benar.” ”Dan sekarang. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya. Para pesilat atau sastrawan. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan. ”Sekarang. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk.. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya. atau setidaknya melawan dirinya.204 BAGIAN 4.

!” terdengar bunyi pukulan keras.. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam.. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir. Ia dapat kembali membuka matanya. berusaha ia . adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. tiba-tiba ia bergerak cepat. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya. didasari rasa kemanusiaan.?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang. Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang..” gerutu Petapa Gunung Es. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. Walaupun wajahnya masih pucat. apa maksudmu. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang. dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya. Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka. ”Buk-buk-buk. ”Hey. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya.. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah. karena luka dalam yang dideritanya.. kedua petapa itu mengobati Rawarang. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. Merasai Hawa Pelajari Ilmu. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh. mau tak mau. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu.

Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa.. Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu. kakak Lain Pulau. paling muda dari ketiga petapa tersebut. kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini. Dibiarkannya tergerai saja.. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau. Petapa Seberang. Mengambang tapi jelas.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka.. Tak perlu katakata diucapkan. ia tidak memiliki siapa-siapa. ”Kakak Gunung Es. Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan .. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api. Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. Petapa Seberang.. Wajahnya tampak lebih muda. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. Bajunya juga sederhana dan kasar. Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun.206 BAGIAN 4. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan.. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan. Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. kena juga kalian diakali bocah nakal ini. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara.

Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. Lima enam anak tangga sekaligus. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara. Keduanya pun mengangguk tanda mengerti. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. Cepat dan pesat. Rimba Hijau. Menggirisi apabila menyaksikannya.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Zig-zag ke kanan dan ke kiri. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Menuju suatu tempat di atas sana. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. Hampir habis tenaganya. Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki. Petapa Seberang bergegas menaikinya. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu. Rawarang si Maling Kitab. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Tanpa bicara. Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. Gunung Hijau. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. Ramai sekali suasananya. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . Menuju atas. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. Ada hal yang lebih penting.

Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang. Sosok itu. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya. Membuat udara terasa basah dan segar. Sebelum ia mencapai lereng puncak. Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. Sudh cukup untuk dituliskan. . Pada sisi kirinya. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Doyong dan bergerak jatuh. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. agar ia bisa cepat memanjat ke atas. Tiba-tiba pandangannya gelap. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat. tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh. Lebih baik diikat saja. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. seorang makhluk Troll muda. jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. Secarik kain panjang. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Cepat dan lembut.208 BAGIAN 4. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Masih ratusan lain yang menunggu. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Rawarang tersenyum lemah. Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. Seakan-akan tak ada bobotnya.

Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. kitab ini harus diselesaikan.. berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia. Juga kaki-kakinya.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila. ”tapi itulah diriku. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang.” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. ”Tak banyak lagi waktunya. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. Penulisan kitab itu pun berlangsung. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. ditampiknya dengan lemas. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang. judulnya. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. adik Bagadsh. Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. lalu lanjutnya.. Ilmu Tiga Petapa. .

Berangkat ia menuju suatu ruangan. Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi. sebagai bagian dari kalian.. Juga semakin lama semakin miring ke bawah. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir. Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh.. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka. Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang. Semakin lama semakin lemah. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Tangannya pun terkulai lemah. ”Adik Bagadsh. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu.. Memeluknya.. sang makhluk Troll. tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu. Membangun perpustakaan di tanah ini. Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya.. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu. Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi.. selamat tinggal.” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Bagadsh. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana.210 BAGIAN 4.. Ia tidak in- . Meneruskan cita-citanya. Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan.

Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut. Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. Lebih banyak bertahan. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu. demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Ia hanya memandang sayu mereka. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. akan tetapi dapat mem- . mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Dan menunggu. Hanya tak dimengertinya. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka.

Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. . Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe.212 BAGIAN 4. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. atau keturunan-keturunannya. Jika tidak tekun merapal ilmu ini. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. agar dimakamkan pula di sana. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. dan tidak sempat mengamalkannya. kitab karangan ketiga petapa. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang.

agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. hanya pesan mereka kepada Bagadsh. . Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata.213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar. ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu. Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula. yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu.

Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan. Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Seakan-akan tanpa celah. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat. Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan.214 BAGIAN 4. Terduduk dalam capainya. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. Hanya saja sekarang lain rasanya. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. melainkan memang begitu adanya sejak lama. Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. Walaupun demikian secara tak sengaja. Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. kira-kira dua . dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. Paras Tampan pun kemudian bermimpi.

Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu. Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Lambang Tanah. Bagadsh. orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. Batu itu terlihat menempel. Diletakkannya di atas telapak tangannya. Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel. Setelah itu ia pun kembali menghilang. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud. Entah apa. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama. Entah apa yang menyebabkan hal itu. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. Setelah cukup dekat. Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi. Tak ada kata-kata di antara mereka. Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. meminta agar Paras Tampan mendekat. dan di- . seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu.

tapi menempelkan benda. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah. Kali ini berhasil. yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya. Paras Tampan pun mencoba lagi. orang itu menepuk bahunya dari belakang. Paras Tampan pun mengiyakan. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Lama dan stabil. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya.216 BAGIAN 4. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. Ini bukan menjejak. Lalu ia berdiri. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. Terlihat sedikit hasil. ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. sehingga efesien pemanfaatannya. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Bermacam-macam warna dan ukuran. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran.

Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. Diambilnya sebutir batu sembarang. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya. Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. seakan-akan mengatakan cukup. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. Lebih jauh ke bawah. Batu itu menempel. Naik terus sampai dua tombak lebih. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. Hal yang dilihatnya seakan-akan . Kemudian. ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. orang itu menunjukkan hal lain. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali. batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu. Demikian pula untuk mengapungkan batu. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah. akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu.

yang merupakan salah satu kelebihannya. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai. Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar.. ingin bergegas menjadi gas.!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh. Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. Sampai di akhir jurus ke sepuluh. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali. Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. ”Dukkk. Setelah mengurangi tenaganya. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Kembali mati seperti keadannya semula. batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah. Rupanya dalam posisi duduk tadi. Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari.218 BAGIAN 4. Liar. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini. Padangannya tiba-tiba gelap. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir. Benar-benar pukulan yang mengerikan. Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini. seperti halnya air yang mendidih.. dan. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. Mengambang dan liar. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. uap air. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian .. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan..

Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali.. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan . Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. Masih berupa gerakan saja. Sakit. belum terisi oleh Tenaga Tanah. Dilontarkannya bongkahan es tersebut. Tapi tanpa batu. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti. Setengah hari pun lewat. walaupun masih kaku. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya. Pukulan Badai Pasir. Teringat ia kembali akan mimpinya itu. Cepat dan keras. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. tampak sebongkah es terbentuk mengambang. Perlahan.219 jatuh membentur dinding di sampingnya.!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan. ”Kecipak. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Tiba-tiba ia mengerti. untuk menarik dan menolak benda-benda padat. Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi.

sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu. Perlahan-lahan. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut.220 untuk berterima kasih. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . Hari pun telah menjelang senja. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu. BAGIAN 4. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. Saatnya untuk sedikit beristirahat. ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Akhir hari kedua. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. melainkan harus langsung. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. Sunyi. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam. Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran. Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Para Troll sudah berganti kembali penjagaan.

tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Percobaan terakhir. satu tahun lagi. Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. Tidur enam jam sudah cukup baginya. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Benar-benar tidur. Pemuda itu menggeliat bangun. melingkarkan tubuhnya dan tidur. Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. juga siasat yang diaturnya. Hampir-hampir ”terbang”. Paras Tampan pun segera berdiri. Saat ia bangun. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Digerak-gerakkan tubuhnya. Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat. Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. . Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. *** Pagi telah datang. Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Semangat mulai mengisi tubuhnya. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur. Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya.

Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa.. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar. Satu tidak cukup.222 BAGIAN 4. ”Heghh. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini. dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil.. Ia menegadah. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang. Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya. Ia akan mulai menyerang para penjaga itu.!!” hentaknya. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana. . Salah seorang dari mereka mempersilakannya.

sampai sekepalan tangan. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas. Hampir habis tenaganya. Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah. melainkan langsung dengan serangan langsung. Dan ia berhasil. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil.!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu. Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan. tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut. Kembali dengan cara yang sama. ”Tak-tak-tak. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. melesat menuju lubang itu. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga.. ia melompat. akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu. .! Masuk ia ke lubang di atas sana.. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata.

224 BAGIAN 4. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup. Di sana. Dan lebih terang. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Lamat-lamat terdengar suara. Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. ”Majulan terus.” Sunyai sebentar. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang. Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. ”Bagus nak Paras Tampan. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. Bisa dari depan atau belakangnya. Hampir habis waktu ujian. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. . Ikuti jalan itu. Dan anak telah berhasil.

Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. sekarang setelah engkau berada di tempat ini. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu. Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Kerangka mereka belum tinggal tulang. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau.” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. kadang juga sedih atau gembira. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. Petapa Gunung Es. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding. ”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. Ya.” jelas Troll tua tersebut. ”Nah. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding.225 Setelah dekat dengannya. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. Engkau mem- . Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. Paras Tampan menggelengkan kepalanya. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. Melihat kebingungan Paras Tampan. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. Kadang tegang. Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya.

Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya. memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. Satu jurus dapat dilakukan cukup lama. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya.” ”Sejauh yang saya bisa. Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. Kitab yang asli tidak boleh dibawa. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya. ”Aku Bagadsh. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab. ada satu permintaan padamu. Terserah ia.” ucap sang Troll tua. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. baru kemudian menyerang dengan cepat. Ki Bagadsh.. nak Paras Tampan.” jawab Paras Tampan sopan. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini. Untuk waktu pembelajaran tersebut.” jelas Bagadsh. Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut. Bila mereka telah tiada. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas.226 BAGIAN 4.” kemudian lanjut Bagadsh. PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. Dan kemudian kembali diam. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang. ”ku harap engkau mau mengabulkannya. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu. Terli- . ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. tidak dibatasi. harus ditinggalkan di sini. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu.” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu.. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. Di Katakombe itu.

takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau.. *** ”Hiattt. Lain . Misbaya dan Rintah. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali. Sudah cukup lama mereka bertanding. trangg. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka.!” ”Tringgg. Rimba Hijau diserang.. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu.. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka. Ya. Cermin Maut. Gentong. Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut.. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. Bahkan setelah sang kakak meninggal. Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya. Akan tetapi sayang..227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu. Stamina sudah menurun. Asap. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda.

Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. dan bukan untuk orang-orang dari seberang. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau.” kata Misbaya.” sanggah Rintah. Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. di Kota Luar Rimba Hijau. diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka.” Ki Tapa sendiri tampak tegang. Akhirnya dengan siksaan-siksaan. ”kita yang baru turun gunung saja. Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini.. ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak. ”Ya. Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan.. Masuk sampai ke pondokannya. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba.228 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang.. Akibatnya fatal. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini. .. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya.

”Maaf bila kami tidak tahu. itu sudah cerita lama.” tawanya sambil menutup mulutnya.229 ”Tahan. Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya.” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya.!” tiba-tiba melayang seorang lain. Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur. bila saya tak salah. Kami masih mencari siapa yang melakukannya. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda.. ”sejauh yang saya dengar. Dibunuh orang..” ucap Ki Tapa. salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda.. kemana saja engkau selama sini orang tua. ”salah satu pewaris Petapa Seberang. Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami. ”Jangan berpura-pura. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti. ”Hik-hik-hik.. Hanya orang- . Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami..!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu. Kakak Naga Geni telah berpulang lama.. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya. Cermin Maut. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian.. menunjukkan perangainya yang kejam.. saya Ki Tapa. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah..!” ”Benar. Sabit yang dibawanya... Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik. ”Ki Tapa.!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara. sampai tidak mengenai kami. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu..

Wajahnya kurus putih pucat. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau.!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian. ”kita bunuh saja semua. kakak Mayat Pucat.. Badannya agak tinggi. ”Maaf Ki Tapa. dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya. berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya.!” ”Anak baik. Lain pula dengan Cermin Maut. Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan. Orang itu Sabit Kematian. tulang baik.” . ”Tak usah banyak bicara.” jawab Sabit Kematian tak sabar. telah melayang seorang lagi dari mereka. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman. Memuaskan dahaganya. Tak terasa dileletkan lidahnya. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur. ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh. Belum sempat Ki Tapa berbicara. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Mayat Pucat.. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan.230 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan... Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya. ”Jadi. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini. Rimba Hijau. baru kita geledah hutan ini. Tanda racun yang amat ganas.” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya..

Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu. Pertempuran itu berlangsung singkat. Setelah Cermin Maut. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda. mari kita pergi.. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini. terlihat sudah ketimpangannya. Mereka menyerang dengan ganasnya. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka. Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang. Asap kekuningan tampak mengambang perlahan. seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. ”Hmm. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. mereka telah menemukan sesuatu. Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu. . Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja.

bagi.. kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya. PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan. Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng. Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan.. Moreng. ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat. Tak usah dibalas.. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini.. ”Coreng. Hawa kembar mungkin bersatu.. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. saat akan memakamkan mereka. Tapi tegakkan saja keadilan. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya. Sayang terlambat untuk mencegahnya. Lukanya telah cukup parah. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya.” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya.. tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak .. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai. semua orang. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana. Angin pun berhembus pelan. Sunyi. Urusan manusia bukan urusan mereka.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang. Kembali ke suatu tempat..232 BAGIAN 4. Jauh di pinggir lapang sana.

Lusuh dan buram warnanya. *** ”Guru.. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya. Cermin Maut. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar. berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu. Di luar sana.. melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya.” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya.. Sampai suatu saat ia berhenti.233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya. Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian... sampai ditemukannya suatu halaman. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. ”Hmmm. Membantai hampir seluruh penghuni kota itu. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. ”Ini. Telah ditemukan apa yang dicarinya. Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya. Beranjak ia kemudian ke arah meja .!” Tampak sang guru termenung sejenak. Raut mukanya berubah gembira. Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku. Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun.

Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang. ”Mari kita jelang. Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. ”Betul. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya.. Rujukan menciptakan ruang . Memastikan apa yang didengarnya barusan. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan. memang benarbenar telah mendarah daging. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat .. Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan.” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya. Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa.” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu. terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang. dapat disebut ruang. apa yang engkau tanyakan tadi. Dihempaskannya buku itu ke atas meja. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama. itu suara air..” tunjuknya dengan bersemangat.. ”Ini. Bekas sungai yang kering saat kemarau.. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut. PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada.. Samar-samar tapi jelas terdengar. ada di sini. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan. Lainnya kering.. Kehidupan akan mulai muncul kembali. Gurun Besar. ”....” katanya gembira. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut.234 BAGIAN 4. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada..

Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi. Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Air. Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Ke tengah-tengah Gurun Besar. Orang tua itu berdiri diam.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. Aliran itu mengalir cukup aneh. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. Entah ke mana. sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu. Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Perlahan dengan mendesis pelan. Ke suatu tempat di tengah sana. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya. Dibebaskan dari tapanya. Air mengalir pelan tapi pasti. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. Suatu pemandangan yang indah. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. . Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Umumnya bila ia ada di sana. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. Tidak seperti saat ini. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu. Benarbenar mengharukan hatinya. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan. Menikmati semua itu. terbentuk dari tiada menjadi ada. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan.

Delapan yang kecil..” jawab sang murid hormat.. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan. Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya.” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang.” Menarik napas sebentar orang tua itu. mendengarkan yang tak terdengar. di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal. Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya. Sembilan buah semuanya. Lalu ia menutup mata sebentar.. Muridnya si anak muda duduk di sisinya. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan. sudah saatnya. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu.. Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Tersusun secara alami. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya.. mengelilingi satu yang besar.” panggil orang itu perlahan. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu. seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya. Anggota keluarga Pratahu. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya.. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja.. ”Muridku. ”Ya guru. Alami terbuat dari batu. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- .. Di atas bangku alam yang lain. Lebih rendah dari batu pertama tersebut. Pratahu dikenal orang-orang. mengendalikan sesuatu dengan pikiran.236 BAGIAN 4. Mencari paman dan sepupumu.. Kemudian lanjutnya.” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. Hening..

Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. Lain tidak. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama. Sang raja yang baru itu merasa takut. Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu. Sang senopati yang kemudian menjadi raja. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. Korban dalam pihak tentara saja.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. untuk sama-sama dihabisi. Dengan alasan ini raja yang baru. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat.

Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga.238 BAGIAN 4. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta. Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. bisa pula di seberang pulau. Bisa berasal dari suku yang sama. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi. bisa pula berbeda. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. Gurun Besar. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. Hal ini harus dicegah. Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut. tinggal diambilnya sebagai murid. Bisa anak laki-laki. Bila telah yatim piatu lebih mudah. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Pada suatu malam. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. Keluarga Semesta. Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. kadang-kadang hilang tertelan pasir. bisa pula anak perempuan. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan. Bisa berada di tanah ini. Terjadilah bencana tersebut. Ia hanya harus berkelana.

”Anakku. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. ”Jadi guru. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok.. Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar.. Mendengar pertanyaan penuh haru itu. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa.. Terbersit pula rasa haru di dadanya... Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya. Menggapai si anak dan menenangkannya. melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. Rahasia telah dibeberkan. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu. Sampai lewatnya Seh Pratahu. Ia kini punya seorang anak. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah. Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta.239 bang satu persatu melalui cara ini. Sampai saat ini baru ada empat orang. Seh Pratahu hanya mengangguk. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. ”Ayah.. pemuda itu pun berlutuh.. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu. adalah ayahku dalam keluarga Pratahu.. Dialirkan .” ucap anak muda itu tersekat.” ucapnya sambil bersujud. Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya. Menurunkan ilmu-ilmunya... Bukan ayah akibat pertalian darah..” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka.

walau mereka baru saja tiada saat itu. Sarini. ”demikian pula dengan aku.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya. Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu.240 BAGIAN 4. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu. *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini. Engkau pada awalnya adalah orang asing. ”Ayah. Sambil tersenyum sang ayah berkata. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih. Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang. anakku. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo. Telaga. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. Tapi itu dulu. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. Dikarenakan lihai dan juga kejam. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya. Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa.” Lalu lanjutnya. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan.. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya.” tanya anaknya tak mengerti.. jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu. ”tak mudah untuk melakukan hal itu.

Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya. Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut.. terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak.241 yang dalam dan gelap. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain. ”Itu makanannya datang. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang.!” Walinggih sambil menggapai Telaga. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana. Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya... Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. Seperti makhluk hidup. Bukan uap air atau pun butiran air. Mengambang. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka. Hening. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu. . ”Mari. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati.” tunjuk Walinggih pada muridnya. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat.

yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara.!” ucapnya. muncul makhluk hidup lain yang amat aneh. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya..242 BAGIAN 4.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi. yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air.!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu. guru!” sahut Telaga lirih. Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah. Warna pelangi. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya.. beterbagangan. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya. ”Jangan ketahuan. Kadang ada yang sampai berjungkir balik.. Anehnya mereka dapat . Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana. ”Maaf. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya. ”Apa itu guru. Benar-benar indah. Kadal Pelangi (Agama agama). ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu.?” tanya Telaga. Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya.. Memangsanya. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu.. keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg. supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu. Mereka bergerak-berak.?” ”Ssst.

Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya. ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. . Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk. Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula. ”tapi ada yang membingungkanku.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik. ”Gerakan mereka. guru. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas. Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. Lalu lanjutnya. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya. Entah bagaimana caranya.” ”Apa itu?” tanya gurunya. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. Melombat ke atas dan kembali. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. ”Indah. Mantap dan kokok.” sahut Telaga pendek. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. terjadi hal yang sama. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu.” terang Telaga. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka. Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan. melainkan miring. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. Di atas batu kecil yang lain. Walinggih pun beranjak pergi.

”Gerakan itu kunamai. ”Guru. ”Sebenarnya juga tidak.. Akhirnya Walinggih pun berhenti.. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya. Dan berjungkir balik kembali. Dan tidak hanya itu. benar-benar lebih dari itu. Mendarat dengan kakinya kembali. Walinggih melompat ke atas terbalik. setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa.244 BAGIAN 4. sempai hampir habis napasnya. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat. Yang barusan guru tunjukkan. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas.. Bagian dari ilmu Pedang Panjang. Pelan dan teratur. dalam ilmu Pedang Panjang. ia kembali melompat pada arah yang berlawanan. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara. Dan pada suatu saat. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu.” ”Kupikir.” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi. Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi.” jelas gurunya. Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama. hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh. Menyentakkannya kembali ke belakang. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat.” katanya jenaka. ”Sabetan Tunggal Menuai . akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. barusan tadi.” ucap Telaga kagum. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya.

Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Membelokkannya pada arah yang berlawanan. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. . Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya. ”Mari. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan. Dicobanya menirukan dan melakukannya. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya. Setelah bisa. sehingga dapat membingungkan lawan. baru perlu pemahaman teoritis. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya.” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. akan tetapi memanfaatkannya. karena sebenarnya hanya memutarnya saja.

Waktu untuk mencari makan. Tidaklah bisa disebut hutan. PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang. Matahari telah tinggi di langit. sehingga menjadi lebih teduh dan gelap.246 BAGIAN 4. . karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya. mereka menangkap binatang-binatang yang ada. Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan.

Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu. Dan anak ini. haruslah pula berpisah. Entah kapan mereka dapat bersua kembali. Dan ini memang kehendak suaminya. ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini. Sudah waktunya pula kita berpisah. Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan.” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari.” ucap Ki Sura. nak Lantang. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 . Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ. Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga.

Kemungkinan gurumu bertandang ke sana. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka.” ”Engkau memang cerdas. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa. ”Kami akan baik-baik saja.” jawab Ki Sura gembira.... Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya. Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air.” jelas Ki Sura. ”Tapi guru berdua. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur. ”akan .248 BAGIAN 5.” Ki Sura berusaha berkata arif. nak Lantang. Rimba Hijau. nak Lantang. ki?” tanya Lantang. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Adik dari Telaga. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga.” Nyi Sura yang menyahut. tak perlu engkau kuatir. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’. ”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu. Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka. ”Kamu tahu ’kan. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya..

Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu. sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu.” Mereka kemudian terdiam sejenak. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita. ”Saat itu kami bertiga. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura. ”Jadi bagaimana rencanamu. akan tetapi keduanya. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda. ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung. Tapi tidak untuk semua gerakan. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu. kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. ternyata bisa. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. Entah di awal-awalnya.” terang Ki Sura. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni. kami tidak tahu. yaitu air. udara dan api.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. tanah. Mengenai hubungan dengan gurumu.

. Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. yaitu Xyra.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat.250 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air. Pagipagi sekali. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri.” senyum suaminya. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya. Pulau Tengah Danau. Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. Jangan mencari-cari masalah. tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka. Ada suatu sebab. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. walau di dalam bawah sadar. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga. Selain itu Ki dan Nyi Sura. Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. karena hal itu tidak baik. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur.

Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. Tapi tidak ada sahutan. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. Barang-barang miliknya tidak banyak. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu. dikerahkannya suaranya. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Biarlah pikirnya. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi. Aneh. Akhirnya ia pun duduk terpekur.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Dan mereka dapat kembali bersua. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. yaitu melalui mimpi. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. Berlatih dalam mimpi Lantang. Suatu saat ia mungkin kembali. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. Dengan kerja sama ini. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. ini pun lebih baik. Ki dan Nyi Sura. sehingga tidak dibu- .

Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen..252 BAGIAN 5. dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu. sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya..” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. Alih-alih mengalir. ”Tapi ayah. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu. Membuat api. Batu itu tambak bergerak sedikit. berputar. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya. mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. Dari buku-buku yang dibacanya. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. *** ”Anakku Nah. lama ia berupaya berkonsentrasi. Belum selesai dengan demonstrasinya. Tidak berhasil. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu. ”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik). Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- . Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu. Menjadi es. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja. air dalam gelas itu telah membeku semuanya. Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. membekukan air. Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu.

Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran. Kadang orang tidak . Suatu tandon sumber tenaga. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya.” jelas sang Ayah. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah. ”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran. Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. kira-kira empat jari di bawah pusar. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. Unsur Api.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. ”Pada prinsipnya sama. Unsur Angin dan Unsur Tanah. Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam.253 gujar Tua. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya. yaitu Unsur Air. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya. Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda.

tidak menyukai warnanya. walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. ”Caranya tidak terlalu sulit. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak. Pamanmu yang lebih banyak tahu. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. Lalu lanjutnya. Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. maka anak kecil tersebut akan menangis. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. karena lawannya telah keder duluan. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih . ”Lalu bagaima cara kita melatihnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan. Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. ayah?” tanya Nah amat tertarik. Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri. akan ayah ajarkan. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan.” jawab Seh sambil tersenyum.254 BAGIAN 5.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran.

antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia). boleh dikatakan pelangkapnya. Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna. nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada.” jelas Seh pada Nah. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap). dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat. atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. dan sebaliknya. ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya.” jelas Seh pada Nah. umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. Hal-hal lain di luar itu.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah.” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana. Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. Ditunjukkan pula beberapa cara. ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda. . Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda. Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur.” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan.

Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya. Dan tidak disarungkan. jauh lebih panjang. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . Napasnya pun mulai terengah-engah. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja.256 BAGIAN 5. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. Juga ingat-ingat akan warna padanannya. Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. ia pun melakukannya. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. Kadang teratur kadang liar. serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu. ”Nah sekarang latihlah. Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. Bila dirasa cukup pembayangannya.

Bertangan kosong. siapa. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya. Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu. Mundur dan mundur. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya. Dengan indah alih-alih mengelak. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga. Terpaksa Telaga pun mengelak. apalagi menggunakan pedang panjangnya. beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai.. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Tapi Telaga kecele. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. ”Hei. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. Menuju jalan darah penting ditubuhnya.. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan.

YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. pedang panjang tidak ada gunanya. Mungkin panjang rambutnya. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya. ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung. sudah dihentikan. Pedang tersebut melesat dengan kuat. Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana. Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu. Pada jarak seperti itu. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya.258 BAGIAN 5.

Terbanting. Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. Telaga terkunci. Tapi kemudian katanya. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang. Akibatnya sudah dapat diduga. janganlah permainkan aku. Saat itu tersadarlah Telaga. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. Lalu katanya. ”Sarini. Darah mudanya pun sedikit bergolak. Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. Sarini putrinya. ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula.

YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. ”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. Tidak banyak ia bergerak. di mana Telaga akan mendarat. Masih belum menyerang. Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. Terlentang. cukup mengelak tipis. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi. Ia tidak banyak bergerak. Hasil yang mirip diperoleh. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Sarini bergerak cepat. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan. Karena lama tak membuahkan hasil. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. Gadis ini benar-benar berhati harimau. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. . Sarini telah mengambil posisi rapat.260 BAGIAN 5. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga. kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi.

Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana. kena engkau diperdaya Sarini. Setelah mereka berdua berdiam agak lama. bila itu tadi adalah Walinggih. Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. ”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya. Ia telah lama berada di sana. Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya. ”Tahukan pula.261 ”Hehehehe. ”Guru. tidak untuk jarak dekat. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang .!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. Tampak merah mukanya. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh.. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi. ”Nak Telaga. bertanyalah Arasan pada Telaga.!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya.” Orang itu ternyata adalah Arasan. Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh.” jelas Arasan.. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini. ”tak tahu guru. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja.

Dan memang demikianlah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu. Walinggih. agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan. ”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini. ”Menurut saya. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak .” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak. Bisa kecewa ia nantinya. guru. Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. nak Telaga. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga. Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu.262 BAGIAN 5.” begitu jelas Arasan.” Telaga terngaga mendengar hal itu.. perlahan-lahan wajahnya pun memerah. Telaga mengiyakan..” jawab Arasan. ”Sebenarnya. Lalu katanya. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu.” kata Arasan kemudian. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini.

Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka. Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih. mereka pun kemudian mulai makan. Dimasak kira-kira hingga tiga jam. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Arasan duduk di samping Telaga. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. Setuju atau pendapat gurunya.” jelas Arasan. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. Kedua orang tua yang sedang makan. Tak lama kemudian mereka pun berlalu. Telaga pun mengangguk-angguk. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. merica dan tunas pohon kala.263 terduga. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya. . Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini.

! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. .. terlihat salah tingkah. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah. Terdiam.. tuh! Ini gara-gara kamu sih. ”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan. Sudah empat kali ia tambah. lihat. Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar. ”Arasan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu... ”Ayah.” jawab Arasan sekenanya. Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka. ”Eh. tidak mau menjelaskan. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya. ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah. Dia lebih pakar dari paman. Telaga tak lagi dapat menahan tawanya.. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini.264 BAGIAN 5. Telaga hanya tersenyum. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. Sarini. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu.” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka. Diupayakan untuk menutup mulutnya.. pecahlah tawa antara orang muda itu.. dipegangnya perutnya yang sakit. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya. Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka.” tuduh Walinggih jenaka.

dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya. Sarini. saat ini telah menjalar ke leher dan telingah. Lalu katanya.!” Arasan pun tak mau kalah. rendah hati dan bersemangat itu. Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus. ”Adik Arasan. bukannya engkau Walinggih yang mulai. Dan hanya satu yang mungkin.. Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. ”Kakak Walinggih. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan. Menjadi keren dan serius. Telaga. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. putriku Sarini.. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. ”Nah. Mereka tidak bisa bicara apa-apa. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan .265 ”Eh. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak. Seharusnya engkau saja yang bilang. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. Ia pun lalu membalas dengan merendah. berkatalah Arasan. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu.

Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini. Yang paling terkejut adalah Sarini. Pandai masak pula. Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata. mengakulah ia akan hal itu.!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih.. dapat ia merasakan itu. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam.!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu. berkatalah Telaga. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu. Setelah berhasil menenteramkan hatinya. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya.. akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya. karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini. terserah ayah saja. Mereka sudah saja merasa yakin.266 BAGIAN 5.” Kedua orang itu terdiam. ”Maafkan perkataan saya ini. ”Hahahaha.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini.. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya. ”ayah.. Karena dipergoki oleh ayahnya. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka.. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga... . sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga.

”Engkau masih ada orang tua di utara sana. anak dan istri. Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi. Moga-moga mereka setuju. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini. Ia hanya bisa pasrah..” ”Ah. kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini. Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan. ”Begini saja. ”Eh.. . Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air. ”Hmm.” begitu ujar Walinggih..” jawab Walinggih. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan. yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa.” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega.267 Arasan pun menghubungi Walinggih. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. kakak Walinggih. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana. Tadinya sempat perasaannya bergolak. Kehilangan keluarga.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu. Lalu ujarnya. ”Saya.. suka guru. Baiklah. Yang dihubungi merasa gembira pula.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri. ”Hmm. gadis yang diam-diam juga ia sukai. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat.. gimana ini. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu.. Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini.” usul Arasan. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. ”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga. di tengah laut. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini.

Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu. ada pula waktu berpisah. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain.” gumamnya. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka.. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air.268 BAGIAN 5. Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan.. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula. ”Ada waktu berkumpul.. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Dengan atau tanpa pedang panjang. Suku Pelaut. Telaga ke arah selatan. Sekalian mengenal calon mantu mereka. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. Kedua rombongan itu pun berpisah. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain. Ki dan Nyi Sura. ”tak ada yang kekal di dunia. Di antara orang-orang yang tinggal di laut. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh. Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. Atas usul Arasan. begitu pikir keduanya.. Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun.. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. . jauh di lepas pantai. Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya.

. Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung.. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung. haha.. dada. bunga semerbak merekah. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara. Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah. didi. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya.. ninini. susah itu tak ada gunanya. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur. hihi. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang. Hal-hal tersebut menarik hatinya.... buat apa resah. Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa. Mirip kuku- .. Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri..269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya. Perangainya yang riang menambah daya tariknya. Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau... resah itu juga tiada gunanya. Buat apa susah. kera-kera bermain di hutan..” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian... Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum. matahari bersinar cerah. trilili.. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu.. Nanana. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil. Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja. Untuk menghilangkan rasa sepi. Tralala.

Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. pemuda itu. Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk. Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. Saat baru turun gunung. manis-manisan dan bumbu-bumbu. Di antaranya terdapat dendeng. di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. Nikmat rasanya. Agak jauh di hadapannya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. Memandangnya dengan tertarik. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya. Lantang. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu.270 BAGIAN 5. diduganya bahwa itu adalah seorang . Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. pun celingak-celinguk. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak.

Sebelah hijau muda. Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan. ”hanya makanan sederhana. Cepat. Juga guru pertamanya. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana.271 yang sudah agak tua. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Tak bisa dirasakan. ”Ki sanak yang di sana. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu. Kalau tadi bersumber dari perutnya. Serius. Amat cepat. Pasti dari orang itu. Bunyi kukuruyuk. Setelah itu ia kembali memandang Lantang.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. Baju yang dikenakannya juga aneh. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. Bukan karena bahannya yang kasar.. orang itu telah bergerak ke arahnya. Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu. Mirip dengan cara ia datang . orang itu kemudian menghilang. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah. Tua sebelum waktunya. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum. Ada ungkapan terima kasih di matanya. Setibanya di dekat air. saat ini kelihatannya tidak lagi. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan. Ki dan Nyi Sura. Seakan-akan mengangguk. Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. Halus akan tetapi cepat.. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua.

Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih.272 BAGIAN 5. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Tak lama Lantang pun terlelap. Tetapi tidak terjatuh. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. sahabatnya yang seorang Undinen. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah. apabila mereka bersua kembali. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. ia pun bermimpi. Kembali dalam posisi siap menyerang. Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan. . Tidak jelas alasannya. Sebuah muara. Bukan dari busana mereka. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita. Khas pulaupulau delta pada umumnya. Dalam tidurnya. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.

Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. Mengendap ke bumi. Lentur dan membaur. Maksud ingin menengahi. Menilik dari serangan tadi. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Membuang tenaganya dalam satu serangan. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. keduanya telah kembali berlaga. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku. Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Keras tetapi tidak getas.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. Mencegah pertarungan ini berlanjut. Air. Luwes. Mengalir seperti air. Berdiri satu di depan lainnya. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Keduanya ingin mengalahkan yang lain. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- . Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. Hanya saja saatnya tidak tepat. Air. Bergerak dengan halus dan cepat. Lantang yang tadi melihat dari jauh. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Entah bagaimana caranya. Keduanya kembali berhadapan. Lantang langsung bergerka ke tengah.

Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. Tapi tak ada tenaga. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. tapi belum semuanya. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Xyra. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit. Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Pak Tua. Hancur tak tersisa. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi. Kota Luar Rimba Hijau. agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Semampunya. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara.274 BAGIAN 5. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. menjadi puing-puing. Lantang berusaha untuk bangun.

Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau.275 dari satu tempat ke tempat lain. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Ya. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. Gentong. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Misbaya. Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Suatu perguruan beladiri. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. Sedih dan sunyi. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. dan lainnya. pekarangan di dalamnya.. ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah.? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. .

.. ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya.. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu. nak Paras Tampan. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu. ”Nak. kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka. Tak terkecuali sosok perempuan tua itu. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik. Guru mereka semua. Sebagai suatu penghormatan saja. sesosok orang tua menyapanya. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya. Ia tidah tahu harus berkata apa. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya. Saat terjadi . Nyi Antini. bagaimana kabar Paman Baja.276 BAGIAN 5. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu.. yaitu Kirani dan Rantih. Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada. Setelah cukup lama termenung. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa. akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini.?” tanya Paras Tampan sekenanya. Coreng dan Moreng. ”Bibi Antini. Paras Tampan hanya dapat mengangguk. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya... Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa.

Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. untuk membuka jalan di Rimba Hijau.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air. Patuh pada perintah suaminya. Nyi Antini pun melaksanakan hal itu. ia dipaksa ikut oleh mereka.277 pembumihangusan itu. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. sedangkan suaminya hilang entah ke mana. Akan tetapi hal itu tidak digubris. Akibatnya ia selamat. Nyi Antini untuk bersembunyi. Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau. Berendam semalaman. Dingin dan basah. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah. menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. Disuruhnya istrinya. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan. begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas.

dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih. Tangannya mengepal keras. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. Bertambah satu pula tugasnya.. Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita. Lebih tua dari umur sebenarnya. Mengeras. Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Harap-harap itu Ki Baja. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. ”Maaf nak Paras Tampan. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini.278 BAGIAN 5. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Menyebarkan amis darah. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu.” Nyi Antini berhenti sebelum . Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Memerah. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. Tiba-tiba ”byurr!!!”. Nyi Antini. Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya. nak Paras Tampan. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda. yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab.” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya. yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya.. ”Ada satu hal lagi. Sesosok mayat dengan luka di mana-mana. Wajah Paras Tampan tampak membeku..

. ia pun berkata. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya. ”Bibi. Citra Wangi masih sendiri. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya.. Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi. ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng..279 melanjutkan. Tapi terselip pula rasa yang aneh.! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. Untuk menghilangkan jengahnya. Janganlah nak Paras Tampan kuatir.” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini.. . Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa.” ucap Paras Tampan sendu. Belum menikah.. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari. ”Tunanganmu. hanya saja pindah. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban.” ”Katakanlah. Gembira ia mendengar kabar ini. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan. Ki Rapih. Citra Wangi. Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu.. memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu. bibi.. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah.. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya.” jelas Nyi Antini. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana.

Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya.” jawab sang gadis jenaka. Batubatu ini terlihat tidak wajar. Rupanya ia murid sang orang tua. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas.” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur. Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis.. racun hijau. ”Hmmm. ”Tapi apa bahayanya.280 *** BAGIAN 5. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan. Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda. Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua. Mereka berarah ke utara.. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya.. Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana. Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau. Entah mereka sadari atau tidak. Langkah keduanya ringan dan mantap. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna. . menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu.. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. ”Hatihati. Racun. tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman..” terang orang tua itu.

” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi. muridku. karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu. ambil dan remas-remas dengan jarimu. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu. guru?” ”Hehehe. ”Ini. ”Engkau benar.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya.. ”Ada penawarnya. Tapi spora ini lain. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. tentu saja ada. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung. muridku. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu. terdapat warna-warna merah. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti. ”Tidak semudah itu. Dan amat mudah. . Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu.” Kata-katanya tidak diteruskan. Lihatlah di sekitarnya. Ada pengujar tua yang pernah berkata. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan. Tangannya diletakkan di depan bibirnya. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. ”Kalau penawarnya sedemikian mudah. Amat indah dan seimbang. Itulah alam. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi.

Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung. Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya. ”Hehehe. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. Batu Lumut Hitam. kalian telah melalui wilayah kami. boleh juga ditinggal. ”Maaf. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar. Hanya bekal makanan dan baju pengganti. ”Dan yang cantik ini. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya. Sekarang semuanya enam orang. . ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu. ”Guru. Pasti itu suatu yang berharga. bagaimana ini?” tanya sang murid. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak.” ucap salah seorang brewok dari mereka. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. Tetapi tidak saat ini.” ucap orang tua itu masih sabar. Ia telah berubah. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya.” bentak teman si brewok. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang. Mengepung dari kedua arah.282 BAGIAN 5. Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya. ki sanak sekalian. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu.

. orang tua?” tanya balik orang itu.. pasti mereka tidak akan memintanya. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. salah seorang penghadang menghardiknya. Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya. Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan. ”Engkau ambil tiga yang di depan. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya.. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu. Jangan lama-lama. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi. apa maksudmu. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak. Hampir dua kali panjang pedang biasa. Dua buah pedang panjang. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. ”Pak tua. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka. Salah seorang dari . yang langsung dengan sigap menangkapnya. Menyerang. orang seperti ini tidak boleh diberi ampun.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain. biar aku yang di belakang. cepat serahkan bungkusan itu.. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang. lalu katanya lirih.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid. kainnya langsung terbuk. ”Hey. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan. apa maksud kalian. Dua buah pedang panjang. ”Heh.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu. jika talinya ditarik. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat. Sisakan satu untuk penunjuk jalan.

Bukan hanya itu. Bangsa Penghadang. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya.” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya.284 BAGIAN 5. Sang guru dan muridnya. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya. melainkan para perampok jahat. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu. Kemampuan alamiah seorang pemangsa. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian. ”Nah Sarini. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam. yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. Kedua orang itu. Lalu kata si orang tua. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. ”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. Lalu katanya. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa.” kata seorang dari mereka. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. Ia telah kupesankan caranya. Walinggih. Tenangkan dirimu. Sekarang jangan banyak pikiran dulu. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati.” . Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat.

Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Setelah yakin akan panasnya. Sebelum tahu sebabnya. Penuh dengan kelembutan. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. Ditiupnya sedikit. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan. Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. Bila tidak amat disayangkan. tak ingin Xyra bersantap. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. . Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. Sebelum Lantang sehat. Pagi pun datang menjelang. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda. Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. Lantang telah merasa sehat kembali. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. melainkan untuk menyadarkan saja. tetapi tidak. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra.

Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan. Menghadapi Telaga. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. Entah apa. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” . Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya.. Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. ”Cobalah pada mereka. ”Saudara-saudara perampok.. Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka.. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. Akan tetapi sekarang lain. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya.” usul gurunya. Tidak demikian dengan orang-orang ini. semakin besar kemungkinannya untuk menang. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat. Bahkan dalam berbagai situasi. Sarini hanya mengangguk. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru.286 BAGIAN 5.

”Hehehe. Orang dengan tenaga kasar yang besar. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Seorang dari para perampok tersebut. bertubuh gembul dan berkulit agak gelap. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Ikuti saja maunya. *** ”Petani ompong she Gu. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Repot juga pikirnya. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar. Sebilah golok tampak tergantung pada . Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu. Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. Mirip durian. Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. Nafsu telah menguasainya. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. Rakrakrak. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. Seorang dari mereka akhirnya berkata. sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya. tak lama. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya. Tak terasa ia pun terlelap. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. Walaupun cukup gemuk. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. Cepat. Ketawa yang ramah dan hangat. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. merasa dirinya lebih enakan. pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . ”Duh. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. Mau tak mau terasa pula jengahnya. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. ”Kakek Gu. dada yang ranum. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini. Melihat kekikukkannya itu. ia pun segera tertidur.

ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar. kaki jenjang. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya. Akibatnya. Sarini sebagai putri Arasan.300 BAGIAN 5. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat. para perampok. Lima orang . Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita.. Girang sudah wajah perampok gembul itu. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. Saat berpusing. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka. Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu.!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. ”Pinggang molek. pujaan hati. Dan tidak tanggung-tanggung. Bagi mereka.

Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih. Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya.301 yang lain pun menjadi marah. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka. mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian..” Berusaha orang itu untuk membela dirinya. Kami bukan lagi Asasin.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat. Belum lama.. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin. apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. pucatlah keenam orang itu. Desa Batu Barat dan Timur. ”Satu tahun.” jawab Walinggih. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam. ”Biar kalian tak penasaran.” kata seorang dari mereka. ”Nan.” Mendengar nama tempat itu. aku sebutkan satu tempat. ”Hehehe. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu. ”tahan!!” ”Orang tua. ”Sudah lama. mereka . ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. bisa lega aku memulangkan kalian. Walinggih berseru. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya.” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya. Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka..

Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa. Hakim Haus Darah. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka. Ia telah berubah.” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak. Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua.. Hakim Haus Darah. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong. ingatan masa lalu akan keluarganya.!!” ujar seorang dari mereka pucat. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air. gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan..302 BAGIAN 5. sudahlah. anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. Tangan kecil dan halus milik Sarini. ”Paman.. ”Engkau.

”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu.” ucap kakek Gu sedih. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni.” ”Ah. Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini. tenagamu itu boleh juga.. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin. ”Tidak apa-apa. paman. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi. Saya juga baru belajar dari para Troll. tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu. mengguman-gumam. *** ”Maaf. Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya. ”Ah. paman!” balasnya.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu. ”Ini juga salahku.” puji kakek Gu.” Hanya itu saja. Salah seorang bernama Rakrakrak. paman bisa saja.” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo. ”Tidak baik. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya. tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo.!” . tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya.” jelas pemuda itu. ”Omong-omong. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini.

.” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Terutama aliran hawa dalam tubuh. Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu. tanah. ”Anak muda ini. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. ”Nak Paras Tampan. keseimbangan akan terganggu. Konsekuensinya berat. Semunya punya isi. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan. Alam ini terdiri dari materi. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- .304 BAGIAN 5. bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu. tubuh menjadi kosong. Ada empat unsur air. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu. apa maksudmu?” ”Ah. Dengan mengubah-ubah gaya berat. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan. ”Nenek Po. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. udara dan api.” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. nenek Po pun tersenyum. tapi dengan perhitungan tentunya. Dan semuanya patuh pada gaya berat. Itu melawan alam. Lalu lanjutnya.” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam.

yaitu Chu Qing Yun. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita. hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. serta Gu Long sendiri. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya. ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri. Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. baik dari nenek Po maupun kakek Gu. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. Selain berbahaya bagi lawan. Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan. Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah). Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po.305 pal ilmu itu. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut. Sekitar 12 tahun. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. yang menceritakan . Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. Gu Long adala seorang yang cerdas. Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. Walaupun demikian. bila menggunakannya dengan benar.

” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan. Ubinya tinggal sebuah. Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. Digigitnya ubi. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Ia sendiri pernah mendengar.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. ”Sebaiknya seimbang. lalu rempah-rempah. dikunyahnya perlahan.306 BAGIAN 5. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. Bila sedih ia minum arak. Tidak cukup kiranya . Gu Long namanya. ucapan dan pelaksanaan. Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya. Ia hidup tidak bahagia. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. apa yang kita tuangkan dalam karya. akan tetapi tidak lama. Itu yang terbaik. Kerap sekali sehingga jatuh sakit. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata.

”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang.” jelas Xyra. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Dan ia menemui Ki dan Nyi . Tiba-tiba bahunya ditepuk. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat.” Lantang pun menurut. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis.307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. Xyra tampak senang melihat hal itu. Ia mengeluarkan nada tinggi. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan. Ditunggu saja sambil beristirahat. Pindah mengisi lambungnya. ”Wananggo. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu. Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu. Ada sesuatu yang harus dicarinya.” katanya pelan. maksudmu?” tanya Xyra. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung. Khas kecantikan seorang Undinden. Segigit pisang dan rempah-rempah. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. ”Ia tadi pergi sebentar. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang.

Keduanya pun terdiam.308 BAGIAN 5. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu. . Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu. Menggelora jiwa muda. Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. Setelah menemukan. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam. Saat Lantang menderita sakit. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu.

Secarik kulit dicabik halus. keponakan jauh dari Gu Ming. Sunyi dan sepi. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. Guratan di atas kulit nan indah. agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. Setelah semuanya berakhir. Menghirup keheningan. Lega. pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 .” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri. untuk disalin dan dikumpulkan. Senyap. Dan jiwa pun tenteram kembali. Menghilang. ia menugaskan muridnya. Lepas. Ia sekarang bernama Gu Yo. Menegaskan guratan-guratan mistis. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. Tato. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Menghela napas. Unbekanteeremit. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. Darah menetes lembut. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. Mengekang nafsu. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu.

”Sebenarnya.” ucap kakek Gu kemudian menengahi.” jawab pemuda itu hormat. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu.” Pemuda itu pun mengangguk. yang disayat dari tubuh empunya. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir. ”Ya. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini. Saya mencari keturunan dari orang itu. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. dan kamipun akan merasa lega. Kulit yang bertato.. ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan.” bingung pula pemuda itu. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. BAGIAN 6. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat.. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang . kekek Gu. ”Begini saja. Terdiam sebentar pemuda itu. ”Dulu. ”Tidak sama sekali.” ujar nenek Po ramah.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang. tak usalah. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini.” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega.. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya.

Beda kelompok. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya.” ucap nenek Po. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata. ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka. Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka.” cerita kakek Gu..” ”Eh. kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu.. Orang yang sudah dewasa. kami bukan menjadi begal atau mungkin belum. ”Pada jaman itu.. yang dianggapnya benar-benar membingungkan. beda ciri khas tato yang digunakan..311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya. Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh..” tak diselesaikannya ucapan itu. ”Bukan. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia).” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu. ”tapi berarti.. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya.” tambah kakek Gu. ”Sebenarnya.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya .. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat. kakek dan nenek. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya.” lanjut nenek Po. ”Benar. dianggap lengkap bila telah memiliki tato. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya. Sungkan ia melanjutkannya. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya. Setelah tawa berderai keduanya usai.” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini.!. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan.

312 BAGIAN 6. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya. ”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. ”Dan kakek Gu punya. Lalu sambungnya.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato.” jelasnya. padahal itu adalah tubuhnya sendiri. ”Ceng-Liong Hui-To.” kali ini kakek Gu yang menjawab. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi. dan boleh dikatakan menawan. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar. akan tetapi sebagian lain tidak.” jelas nenek Po. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita. begitu!” jawab pemuda itu. karena hal itu dianggapnya tidak baik. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut.. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga.” ”Oh. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato. TATO ke atas.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya.” lanjut nenek Po. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. . nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian.

Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. Sengaja mereja menggunakan topeng. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka. dan selalu saja berlebihan. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. .313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah. Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu. pemerintah menjadi kalang-kabut. Apa-apa yang tidak dianjurkan. Alih-alih mendengarkan. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. di antara orang-orang senasib. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. main tangkap saja orang-orang yang bertato. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. Akibatnya jelas. agar dihapuskan. anti kemapanan.

tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. informasi rahasia dan keamanan. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Tenang dan damai. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. Untuk mengenangnya. yaitu CengLiong Hui-To sendiri. tidaklah jadi hal itu dilakukan. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan. Walaupun telah salah tangkap. mendatangkan kesan masif dan keren. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. Roda perekonomian kembali bergulir normal. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Akan tetapi dengan hilangnya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Besar dan gagah. . Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato.314 BAGIAN 6. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. Suasana kembali seperti semula. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. Dengan membawa beberapa saksi dan bukti.

sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. terpahat pada tengah batang melintang. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. kota Luar Rimba Hijau. dan tengahnya dicoret garis mendatar. Jalan batu. tapi tidak ada yang memberatkannya. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Citra Wangi. bagai tanpa akhir. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. Lambang elemen kuno udara. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama. ia melihat berbagai aneka toko-toko. Warna udara dan asap. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. istri mendiang Ki Baja dari . Saat hari hujan. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. Jalan di depannya masih lurus jauh. Kepala dari gerbang itu. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan.315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. Gerbang Udara. Tidak juga kota tempat asalnya. Pastilah itu dia. tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu.

Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan. Besar dan mewah menurut Gu Yo. Akhirnya perburuan itu pun berakhir. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar.” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. .316 BAGIAN 6.. ia pun memacu langkahnya. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian.. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora. saat ia bingung tadi. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”. Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. ”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. Tapi rasanya bukan ini. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. pikirnya. Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya. Cepat. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. seperti ”Pake matamu!”. TATO Kota Luar Rimba Hijau. pedati dan juga kereta tanpa kuda. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya. Bergegas dipacu langkahnya. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. karena dialek mereka yang cukup kental. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri. berkali-kali hampir tertabrat.

sesuatu yang tidak ia temui di kotanya. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali.. anu. Lalu lanjutnya. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda. . Janji.317 ”Tahan dulu. itu. Tak perlu ada janji-janjian segala. orang sedemikian sibuknya. ”Eh. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini. mereka terlebih dahulu harus membuat janji.. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu. anak muda!” katanya bersahabat. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh.. maksud saya. anu. entah toko atau apalah. Mungkin lain kota.. Demikian pikirannya menyimpulkan. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. sehingga untuk bertemu. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. saya ingin bertemu dengan nona tadi. ”Maaf.. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. ”Ah. ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. dapat langsung datang kapan saja. Gu Yo tidak tahu. itu. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi.?” tanya sang penjaga kembali.. lain tata cara-nya. akhirnya menggapainya untuk ikut. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda. dan disapa balik dengan.

di kota Siaw Tionggoan. dan bertanyalah ia pada Gu Yo. sebelum bertemu dengan nona Lin. lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. keperluannya dan waktunya. Kemudia saat ditanya namanya. Untuk keperluannya. ia menyebutkan ”Gu Yo”. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi. Persoalan membuat janji masih asing baginya. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. ”nanti sore. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya. Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu.” saran sang gadis tersebut. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. kekasihnya dulu. nama sebenarnya dari nona Lin. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi.318 BAGIAN 6. Seorang pelayan mengantarkan mereka. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo.

bagaimana?” jawabnya ramah.. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. ’kan? Ayo anak muda. Yok Seng. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. kambing sampai ular dan kelinci. orang tua itu memang pemilik kedai itu. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . tapi. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. kerbau. masuk saja.319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. ”Ah. ”Eh. suatu suara dalam lambungnya merekah. seorang tua menyapanya. Aku pemilik kedai ini. Setelah berjalan beberapa saat. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. Kamu boleh makan sepuasmu. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing. mari masuk mencicipi!” ajaknya. pasti kau tidak cukup punya uang. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu. tapi setelah itu bantu-bantu. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya.. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. dari ayam. ”Ayo jangan malu-malu. Kedai Daging Bakar namanya. sapi. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap.

mengingat permintaan yang banyak. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu. Gu Yo. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. hasil asahan pengalaman yang menahun. ”Tidak. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. Ia melihat bahwa pemuda itu. sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. Tidak ingin bekerja di sana. Habis. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. TATO waktu. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. tapi telah membuat janji dengan nona Lin. Tiada yang tersisia.” jawabnya. ”Eh. paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain. ”Engkau tidak akan bekerja di sana. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu. tapi. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana.. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. . benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya.” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit.. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu.320 BAGIAN 6. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya.. ”Eh. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi. saya. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan.

pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini.” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Lapar. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. Tak lupa diambilnya den- . Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya. sehingga tampak gemuk padahal tidak. Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Oh. Orangnya tak banyak senyum. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. ”Ini Ma She. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada. Entah berapa jumlahnya. Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu. Kasih dia makan terus atur tugasnya.” kelakar Yok Seng. ”kepala koki di sini. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek. Mukanya lebar dan besar. ”Duduk di sini dan makan semampumu. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Ma She hanya mengangguk.” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. Memerah wajah Gu Yo itu. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima. Tapi wajahnya ramah.” ”Ma She. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. Hampir sebesar nampan bundar.

Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. Juga tidak bisa. sumpit. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo.322 BAGIAN 6. Alih-alih menjawab. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut. Setelah Ma She berlalu dari sana. ”kalau kurang. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. ia pun berkata. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. langsung dimakan. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. tangan kiri memegang garpu. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. pisau.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. Saat itu lewatlah seorang gadis. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok. ”jika sudah cukup kecil. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. garpu. Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. ”Eh. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke . Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan.

”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. belum. Tapi saat ini bukan waktunya. sedang mengerjai Gu Yo. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya.323 arah garpunya menggunakan pisau. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. Dan seperti yang diduganya. Sambil tak lupa berucap. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. Setelah diajari oleh Ma Siang. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya. ”Iya. tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. Bagaimana ia memotong daging. atau sayur yang harus dipotong dulu. ”Bagus kalau begitu. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya. Ayo. Masak cuma itu. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang. ”Ah. . walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo. benar-benar mengajari. paman!” jawabnya.” ucapnya kemudian. ”Eh. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu. tampak menggeleng-gelengkan kepala. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya.

sumpit dan pisaunya.” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya. Kenyang dan tenang.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu. ”Ya. ”Ikut aku!” katanya. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut. kau banyak sekali berdiam.. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. sendok.” jawap kakek Gu pendek.. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. Segera mereka akan berontak minta diasup. seorang menggapai bahunya. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu. *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. Nenek Po dan kakek Gu. TATO Cara makan yang baru. bahwa ia . Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja. sepeninggal nenek Po. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut. Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. Terpisah. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri.. ”Heh. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri. ”Hmmm. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan. masih saja tenggelam dalam lamunannya. Kakek Gu. sebentar lagi kita makan bareng. sudah! Aku mau masak dulu.324 BAGIAN 6.

Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu. sehingga tetap lekat pada ingatannya. Ia terpikir akan pemuda itu. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. ia pun menoleh. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan). kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. Hek-Mo. ia tidak mungkin memang. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. yang berwajah agak gelap. Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. Apalagi sekarang. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. Entah bagaimana. Gu Yo. ada hal yang menarik dari pemuda itu. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). karena dulu dengan hanya berempat. suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan. . Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. Orang berilmu. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan. Dengan dibantu nenek Po. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. sontak terkoyak. jika tidak dibantu oleh Gu Yo. menjadi Gu Yo.” ucap seorang dari mereka.

bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo. Hek-Mo. ”Salam. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya.” . Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. ”baiklah. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar. ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami. akan dihadapinya dengan jantan. tidak biasanya berdiam diri. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. menunjukkan emosi yang telah meningkat. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya.” ”Hmm. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu. keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya.326 BAGIAN 6. kata seorang dari mereka. Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya.” jawab kakek Gu pendek. yang merisaukan hatinya. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. sudah jelas kedudukan kita masing-masing. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”. Alih-alih Su-Mo yang menjawab. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo. orang tua yang bergelar Petani Ompong. wahai orang tua!” jawab yang ditanya. si Petani Ompong. ”Su-Mo. bila kami bisa menundukkan dirimu.

”Wahai orang tua. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. ”Ah. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. Sunyi. Dan mereka pun mulailah makan. Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. Setelah makan semuanya duduk lemas. Setengah semangka ukurannya. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi. banyak tamu ternyata! Mari-mari. enaknya perut telah kenyang. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. kakek Gu mulai angkat bicara. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu. Puas rupanya ia telah terisi perutnya. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang.327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. Semua . Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po. terima kasih atas jamuanmu. ”Ah.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. sebelum ’berdiskusi’.

” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. ”Wahai orang tua. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini. Bila engkau keberatan. pikir mereka.. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. Serangan keempatnya cukup bagus. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka.328 BAGIAN 6. TATO dijamu baik. Dalam sepeminum teh. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu. Empat Begal Hutan. Walaupun demikian. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. bukannya kami tidak sopan. Kakek Gu hanya menggeleng ramah.” ”Tidak. tidak. tapi kami biasa bertempur berempat. keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. ”tidak perlu sungkan-sungkan. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga.. Ya. seperti mengucapkan. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa . apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. katakan saja. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas. Mari kita langsung pada permasalahannya. gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. Tulang beradu tulang. Tenaga kasar dan otot.” Setelah itu. bahkan cenderung bagus.

Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. . Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya.329 apalagi bila menggunakan senjata. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. sang pemilik Kedai Daging Bakar.

Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. melihat cara anda memberi salam. Lalu katanya.. Gambar yang terlihat kadang berupa naga. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth. ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. ”Ah.” pikir Gu Yo. Gu Yo yang bingung hanya menjura.. Benda seni menurut beberapa orang. ”Eh. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang.330 BAGIAN 6. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. anu. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. anda pasti dari kalangan pesilat. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”. Ia tidak tahu harus menjawab apa. kadang kekuningan atau agak gelap. ”Bagaimana. sang penjaga dan gadis pencatat janji. ”Halo. Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan.” . Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. kedua petugas itu. Gu Yo pun melakukannya. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. saya Swee Sian Lin. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut. tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji. Ruangan itu lebar dan terang. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan.” jawab Gu Yo gugup.

agak memalukan untuk diceritakan. ”Itu. karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri. Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini.. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji.331 Gu Yo hanya mengangguk saja. Sopan. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. sebenarnya. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. ”Jadi. Dilarang oleh hukum. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut. Pemuda ini lain. Tapi itu masa lalu. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu.. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia. Bingung. dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. Tato dari seorang korban yang hidup. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut.

hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya. Jadi anda salah lihat orang. ”Karena anda telah di sini. Rupanya hanya masalah salah lihat saja.. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya. saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya. Entah bagaimana. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan.” jawab Gu Yo pendek. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma. melainkan nona Sian Lin.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya.332 mengerti. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang. anu. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu.” usul sang gadis. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. BAGIAN 6. ”Ah. dirinya menjadi lebih . dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. saya mengerti sekarang.. ”Tunangan saya. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya. Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu.” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya. ”Eh.

. Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya... baru dan berdarah-darah pada panel diding. dan juga bayarannya plus bonus. ”Dia datang kembali.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu.. akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu.!” tunjuknya dengan muka pucat. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita..” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- .. Dan tidak hanya ia.!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin. Bunga Merah. ”Nona Sian Lin. melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar. *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih. Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato.. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya. memang. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. Di sininya telah ada seorang pemuda... Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya. ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut.333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut. Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah.. ”Ini tato seorang gadis panggilan. itu.

membuatnya menarik untuk dilihat. Sebuah teknologi surat mekanik. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Tabung ringan dan kuat. Ia makan. dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. Warna penanda gulungan surat itu hitam.334 BAGIAN 6. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. Badannya tegap. Kematian. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. sam- . TATO por. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. perawakannya tidak terlalu tinggi. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah. dan dialirkan ke tempat tujuan. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja. Atau tepatnya meja serba-serbi. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. ”Pembunuhan atau bunuh diri. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Akhirnya berhasil didapatkannya. dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. ya?” gumam San Cek Kong. dapur kecil. San Cek Kong nama pemuda itu. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya.

*** . dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana. Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu.335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi). Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. melainkan langsung ke tempat kejadian. Ya. Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. bisa saja korbannya. Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. sang pemilik tato masih hidup. walau dalam keadaan kritis. Dengan kata lain. Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Dari surat yang diterimanya. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. belum tentu terjadi pembunuhan.

Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah.336 BAGIAN 6. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan. tempat kejadian itu berlangsung. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong.” lanjutnya kemudian. Ang Tiong namanya. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi. Agak desa suasananya. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. Pada jaman itu. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. saksi-saksi dan waktu kejadian. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. Korbannya sendiri. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. jauh di arah barat dari kota. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. belum ditemukan atau bisa diindikasikan. Ceng-Liong Hui-To. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin. bila memang ada. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. karena ia pada saat tersebut berada . Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. tato tidak lagi menjadi tren.

”Eh. sering kami makan-makan di sana. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. telah ditanyai. Ya.337 di tempat kejadian. kebetulan aku belum sempat makan siang. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong. masih jalan yang sama. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut.” senyum Cek Kong. ada seorang pemuda. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian. katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar. Gu Yo namanya. ”Ya. ”Sian Lin-moymoy. mulailah kakek . Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. Semua pihak. kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng.” jelas gadis itu. mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. keterangan mereka tidak banyak berbeda. pegawai paturan. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. Gadis itu menggangguk mengiyakan. Selain lezat. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato. tempat di mana Gu Yo bekerja.

belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu. satu langkah yang salah. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. Dan benar saja. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. Tumit si Zahnloserbauer. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya. sang penyerang telah bergerak. Cepat. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. Dan kemudian masih. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa . Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. Dalam pertempuran dengan banyak lawan. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya.338 BAGIAN 6. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan.

Dalam pertarungan juga demikian. awas. Serangan seorang pakar pertempuran. ”itu kaki. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan . Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu. Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala... Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia.. kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. mereka menjadi tidak berwaspada. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan.!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika.339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. si Zahnloserbauer. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut.. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak. Setelah dua orang lolos. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. Tipuan manis yang menghanyutkan. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. yang telah banyak mengalami pertarungan. Menghidari kebosanan. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu.. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu.

telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka. bagai akan terbang ditiup angin belaka. sementara ia melihat . berputar keras otak kakek Gu. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. Jika tidak. TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. bersemayam di sana selamanya. Sebenarnya di dasar hati mereka. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. ”Kakek Gu. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. cepat suruh pemuda itu keluar. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. Mendengar pertanyaan itu.340 BAGIAN 6. Seorang yang kelihatannya rapuh. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. dalam rangka misinya. telah turun kata dari seorang Su-Mo. ”Bagaimana. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Ia harus mencari siasat untuk itu. Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren. terutama untuk pertarungan jangka panjang. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. Hek-Mo.

”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita. memang benar. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap. Keduanya kemudian terdiam.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. Tempat kerja si gadis. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. Lalu katanya keren. Akhirnya makan malam itu pun usai.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar. ”Boleh juga. tidak sepesat dan segarang sang pemuda.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu. tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu. Keduanya tampak terduduk agak lemas. ”Iya. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan. masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat.” sahut si gadis pendek mengiyakan. Lemas setelah perut diisi penuh. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana. Sebelum pemuda itu bertanya. lalu sapa- . Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat.

Sudah penuh lambung kami berdua. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. Karena keduanya tidak saling mengenal. Lebih dari cukup. apa kami – saya dan nona Sian Lin. Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah. yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk.” jawabnya ramah. Tapi kemudian ia menambahkan. bila orang telah kenal lama. tidak perlu inspektur. ”Saya hanya ingin bertanya. ”Sebentar akan saya panggilkan. Tadi sudah cukup. ”bila tidak mengganggu kerjanya. Pemuda itu. tidak paman. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. ”Duduklah. Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. TATO nya. Berdasarkan pengalamannya. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur. boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo. ”Selamat malam. tentu saja. Hal ini perlu.” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah.342 BAGIAN 6. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. Ia telah mengenap nona Sian Lin. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau .

Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Padahal kadang sebaliknya. Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya.343 perkataan orang. saudara atau lainnya. ”Tidak. Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri.!” katanya agak tak yakin. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. nenek Po. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. Runyam jadinya. Orang yang paling baik. tidak apa-apa. Alih-alih cemas. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. . kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam.. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan. bahkan yang terburuk sekalipun.. *** ”Hek-Mo. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. Empat Begal Hutan. aku.. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. berada. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu.

Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu. bagus datanglah Hek-Mo. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. Walau ia sendiri sadar.344 BAGIAN 6. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . Kakek Gu pun mengangguk. Tanpe membuang waktu. Mendengar itu. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. ”Hei. di antara hujan serangan. Hek-Mo menjadi marah. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. ”Hehehe. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. ia harus berkata-kata yang pedas. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. Waktu. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. Paling kesal padanya. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari. Samar seperti asap. sehingga paling mudah dirasuki. kakek Gu mengempos tenaganya. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. Orang yang paling membencinya. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan. sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. Tapi misinya harus dituntaskan.

Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati.345 nya. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. Suatu jurus dari Hek-Mo. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. Suatu serangan yang berbahaya. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang. yang kemudian . Sabetan menyilang. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. Satu ke atas satu ke bawah. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. Suatu titik di atanara kedua mata. tiba-tiba ia menjerit ngeri. Dan bukan hanya itu. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher.

tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. Pada kebanyakan orang. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. sang kepala koki di tempat itu. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. Tidak dengan Gu Yo. ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang. bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana.346 BAGIAN 6. . Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Dan sikap ini cocok dengan Ma She. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ma She yang biasanya jarang berbicara. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti.

Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik. di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. Tugas titipan mendiang gurunya. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar... tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. keponakan dari Ma She..!” pinta Gu Yo. cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut. Eh. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. orang dari mana tato segar itu dikeletek. ”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu.. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang. ”Kamu tahu tidak. ”Tidak. juga sulit. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya.. Paling tidak..! Dimana kamu. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. Itung-itung sebagai hiburan. Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang. Usai mendengar cerita Ma Siang. Untuk kasus yang satu ini. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak.. Gu Yo pun bergegas pergi. kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik. Ia merasa .. engkau Ma Siang. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran.347 ”Gu Yo.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut. ”Eh.. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka.?” tiba-tiba terdengar panggilan orang.

Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. Entah apa ada hubungan antara keduanya. bagaikan memang telah datang waktunya. Dari jarak dua tombak lebih. Menyebar ditiup angin. Aku bakal menyusul tak lama lagi. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar. Setelah selesai. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. ”Gu Ming. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Po Ting Hwa. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu. *** ”Manusia. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan.348 BAGIAN 6. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. Usai perkataan itu. *** . Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya.

Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. yang kemudian .” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. yang baru mulai meniti karir. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja. Aku akan menemuinya. tidaklah dapat dikatakan indah. Tapi katanya penting. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. ”Gu Yo? Baiklah. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. ”Baik.349 ”Nona Sian Lin. Jika ingin menegakkan keadilan. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau. suruh saja ia masuk. dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. Kebiasaannya ini pun berlanjut. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan. membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. ataupun penjahat-penjahat muda.

Untuk mengenang sang pahlawan.350 BAGIAN 6. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. begitu!” sahut pemuda itu. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. ”Betul. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. Orang yang ingin menemuinya. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu. bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. hitam atau coklat tua. Suatu kontras telah direncanakan. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. ”Tahukah kamu. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. Tato sepadang burung merak. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. . Gu Yo. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. putih atau kuning. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. Gu Yo. Suatu estetika berdarah yang padu. putih dan hitam. ”Oh. Di sana tampak seorang pemuda.” ucap gadis itu menghela napas. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja.

Mengekang nafsu. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini. Dan jiwa pun tenteram kembali. Menghilang.” jawab Gu Yo sederhana.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara.. dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget. melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu. Lega.. ”Deru pun perlahan melembut. Menghirup keheningan. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu. Guratan di atas kulit nan indah. Sunyi dan sepi.” ucap gadis itu kemudian. memang itu judulnya. Lepas. Menegaskan guratan-guratan mistis. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’. Secarik kulit dicabik halus. ”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing. Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya.351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda. Ucapnya lugas. Menghela napas.” Sang gadis mengangguk membenarkan. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini.” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda. aku hanya senang membaca saja. Senyap.” . ”Betul..” ”Begitulah orang berilmu. ”Dari buku-buku. Tato. ”Tidak. Darah menetes lembut. ”Setelah semuanya berakhir. merendahkan diri selalu.” ”Hei. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana.

yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat. ”Kita congkel saja. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu. keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan. TATO ”Eh.. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada..” ucapnya. Lalu katanya. ”Dapat?” tanya orang pertama.352 BAGIAN 6. atau potong. Pasti kain pembungkusnya. ”jika demikian. pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo.. ”Nanti kujelaskan. kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya. terutama Sian Lin.. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam.” usul temannya. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.” jawab rekannya itu. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana .” Dengan penuh tanda tanya. agak liat. ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota... Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan.. ”Ya.

”Cepat cari bagian itu. Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya.. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit... orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut. ia mengeluarkan pisau dari sakunya.353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya.. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. sebuah peti mati yang belum lama ditanam.. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat. Lalu tanpa menunggu perkataan. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya. seperti telah biasa. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka.” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan.. Malam yang diterangi bulan purnama.” ucap salah seorang dari mereka. Suatu pisau yang tajam.. tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu.!! Kita tak punya banyak waktu. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka. . Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. Ia tampak tertidur dengan damai. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru.. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya. ”Cepat. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu. Dengan santai. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang.

*** ”Inspektur San Cek Kong. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi.. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya. dia adalah pakar dalam bidang ini. Mendengar kata ”tato”. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. yang di dalamnya terdapat seseorang. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. *** ”Ma Siang. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut. kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya. ”Ah. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya.354 BAGIAN 6. ”Betul. TATO Rekannya mengangguk. Suatu makam baru pula. ”Hmmm. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan . Kasus yang sedang ditanganinya.” jelas sang paturan pembawa berita.. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya.” gumamnya hampir tak terdengar. ”Hmm. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu.

” ucap Gu Yo cepat. ”Huss! Tidak ada apa-apa. ”Tolong ya. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini.” ucap pemuda itu. Ya. aku hanya ada urusan sedikit. ”Tolong ya?” mohonnya lagi. baiklah. tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. ”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira.!” mohon Gu Yo. yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan.. Dan suatu saat harus dibalas. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She.. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. ”Baik.. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She..355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. gimana?” ucap gadis itu nakal. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini. toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam. ”Eh. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya. ”Lho. kan?” ucap dara itu. Ia tahu jika ia minta ijin langsung. Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. Biarlah nanti saja. Wajahnya tampak cerita. Lain halnya jika Ma Siang. ”Eh. karena ingin melihat nona Sian Lin. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo. Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya.

Dan kemudian terdiam. Orang itu hanya mengangguk. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. Gu Yo tidak bertanya lagi. itu saja pesanan makanannya. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar.” ucapnya pendek. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. memindahkan bahan-bahan makanan. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. Jika saja dulu ia tahu. Gu Yo. ”Eh. tampak orang-orang berseliweran. Dan juga . ”Gurame Bakar dan nasi. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. BAGIAN 6. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga. ”Aku tahu dari paman Ma She.” jawab dara itu pendek. Memasak. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. Di dapur dengan kesibukan yang biasa. TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu.356 yang dikaguminya. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur.

. Wajahnya cerah. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. sehingga ikan tetap utuh. Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. 6 butir bawang merah. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. garam dan merica. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini.357 meneriakkan pesanan-pesanan. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. kunyit. 1 buah tomat kecil (diiris). 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. 8 butir kemiri. Ma She. cabai rawit. sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. bawang putih. irisan tomat dan jeruk nipis. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. kemiri. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). Terutama pada musim-musim ini. Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi. ”Bakaran Ikan”. Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. 3 siung bawang putih. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. Tertulis di judulnya. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. Tak lama kemudian ia kembali. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang. merica secukupnya. * Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. Termasuk Ma She sang koki kepala. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. 4 buah cabai rawit merah. garam secukupnya.

”ah. ”Bagus!” pujinya. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan. Ia pun mengangguk puas. menyebutkan . tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan.. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang. ”Kata sang pemesan.” jelas Ma She sederhana. Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. tidak terlalu sulit rupanya. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama. Pucat wajahnya. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk.” gumamnya.. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti.358 BAGIAN 6. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya. betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga. Ma She sebagai seorang koki kepala. saya adalah koki kepala.. Gurame Bakar tidak seperti ini. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. melihat-lihat pemandangan di hadapannya. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu.” jelasnya.. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. TATO ”Hmmm. ”Maaf. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu.

”Eh. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak. ”Ia tidak ada. Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan. berharap dapat melihat sosok dara itu. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan..” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. Biar ia tidak terlalu sedih. Ceng-Liong Hui-To. ”Panggil saja saya.. tidak perlu dipikirkan. Aku akan bilang. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya.” katanya bingung.. Ma She..” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu. ”Maafkan kelakarku. ”Eh. Sedang pergi bersama seorang pemuda.. setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Sekaligus berbincang-bincang. Ceng Liok. ”Ma She. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa.” ucapnya sungguh-sungguh.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya. ”Ceng. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu.359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi.. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ”Ah. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung.. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu. sambil mengajak Ma She untuk menemani.! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum.” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya. bahwa apa yang terjadi . anda.

Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya.360 BAGIAN 6. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru.. Kelakar dari guru masaknya.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. Dua buah tato. Sudah diolah dengan bahan pengawet.. TATO hanyalah kelakar saja. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. *** ”Benar. Paket yang berisikan tato. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. itu adalah tato milik mereka. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. Kegemaran tuan Ceng Liok. Suatu mutiara. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit. dari warna kulit yang tidak . Kali ini tidak lagi berdarah.

menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- .” jelas Gu Yo. ”Baiklah. Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba. Gu Yo sedikit berbohong. Mendengar itu. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan. ”Dan entah dari pembicaraan apa. yang mendasari kedua karya seni itu. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut. Dominannya adalah warna biru dan kelabu. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki.” Dalam kalimat terkakhir ini. dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait.361 sama. Begitu pikirnya. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah. Tahun ini. Kulitnya dikletek.

Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. telah dibangun suatu panggung megah.362 BAGIAN 6. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan. Benar-benar suasana yang meriah. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. Luas dan indah. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. Agar yang menunggu ini sabar. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung. Yok Seng. TATO jungan dari pemerintah pusat. umumnya . Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. satu rombongan besar. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami.

Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Jenis kemilan yang gurih dan lezat. akhirnya dapatlah ia pergi. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Sebagian dari .363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. Panggung telah dibuka. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga. Karena tanpa Gu Yo. Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan. tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini.

Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis. Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. Dan untungnya lagi. Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal. Hiasan yang tidak ada di waktu lain. Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya.364 BAGIAN 6. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. Ya. rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Bila ia suka. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . dan mungkin juga di tempat lain. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Menelusuri keramaian. Seorang pemuda tampan. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja.

hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu.. Tanpa terlebih dahulu memberi salam.. ”Kongcu. ”Ada kongcu. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut. ”Hai. tapi daging sapi yang dikeringkan. kura-kura. tak terlalu mahal. segera ikut membantu. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu. Ada ben- . Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya. Ada kepiting. pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang. laba-laba dan masih banyak lainnya. penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu. ”Harga yang bagus. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering. kelelawar. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap.365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. segera menghampiri pemuda itu. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab. Suatu hiasan yang dapat dimakan. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan.

Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil. Masih cukup 8 bagiannya. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal. ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. benar-benar memukaunya. Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan.” ujar Ma Siang pelan. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya.. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing... dapat ditawarkan benda tersebut. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda. seribu lima ratus tigaan. harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi . Ya. walaupun dari kalangan orang kaya. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap. Walaupun demikian. Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya.366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6. Pemuda itu. ”Sebenarnya ada. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. Ya. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. mereka punya. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan.. ”Saya suka kuda.

untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. dan bukan hiasan daging kering. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. Kota Siaw Tionggoan. . kedua orang yang telah menolongnya. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri. Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. sampai yang menggembirakan.367 selain itu. atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po. Mereka pun memesan makanan. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She.

Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. Hek-Mo bicara seperti orang melantur. Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya. Su-Mo dan Empat Begal Hutan.368 BAGIAN 6. Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. Entah apa yang dibuat mereka berdua. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. yaitu adu ilmu silat. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang. TATO Setelah menghilang beberapa tahun. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. Untung saja hal itu tidak terjadi. naiklah delapan orang pengacau. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir.

Tidak seperti tato-tato pada umumnya. Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Sedangkan tato hasil rajahan. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan. Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. Orang itu adalah Ma Siang. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. lebih . Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. mengeleteknya. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. Sebenarnya tidak. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut.369 harus diserahkan. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. dan bukan dari wanita tersebut. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut.

melainkan hanya melalui berita para Troll. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali. Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini. karena ia adalah saudara tua perguruan. satu tugas sudah selesai. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya.” kata pemuda itu sambil tersenyum. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua. si Maling Kitab.370 BAGIAN 6. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. Mungkin. Gu Yo hanya dapat tersenyum. Bagi dirinya sendiri. Mengarah ke utara. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang.. sekalian mereka berdua meminta restunya. bila ia masih mau bekerja padanya. ”Tugas baru kembali menjelang. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat.. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan. Menanyakan kepastian hubungan mereka. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. kali ini dengan anaknya Ceng Siang. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya. TATO berat dari sisi dara itu. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain. . Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya. Selain Ceng Siang. ”Syukurlah. Melaksanakan tugas berikutnya.

memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri. Pemuda yang mengemban tugas yang berat.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu. .

372 BAGIAN 6. TATO .

Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun.” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu.” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. itu berbegas bangkit dari duduknya. ”Entahlah. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. Selalu hujan dan basah. Aku tidak tahu. yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab. Seperti biasa sikapnya. Sepeninggal Misun. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”. seorang berkata kepada yang tadi berbicara. Orang yang dipanggil Misun. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong. Membuatku selalu merasa kelembaban. Tak lama kemudian Misun pun kembali. ”Angus. Dhoruba. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya.” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah. Hal ini berarti bahwa malam 373 . seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. Dhoruba namanya. ia tak banyak bicara.

Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. Wajahnya tampak berubah. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada. Setelelah memberikan tugas itu. Malam yang dinanti pun tak lama tiba.374 BAGIAN 7. Beberapa hari sebelumnya. Angus McLeod. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. Belum ada petunjuk. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. ini dia. ”Ya. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. Dhoruba dan Misun. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Didekatkannya telinganya pada tanah. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. Membuat kepalanya berdenyut-denyut.. ketiga orang tersebut. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. ”Sulit. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini. Angus. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. Lima makam tepatnya.” ucap Dhoruba. Aku belum bisa merasakannya. *** . Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya.

Seperti itu. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. tapi tidak dapat.375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Kesadaran kembali datang. Sebentar lagi. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. Setiap kali kesadaran muncul. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Hal itu berlangsung berulangulang. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Coba digerakkan tubuhnya. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. tapi bagai tak ada suara yang keluar. Lalu kesadarannya hilang. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Berkali-kali. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Suara-suara orang menggali-gali. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. Lebih baik dilakukan . Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Gentong. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Pemuda itu. Bau tanah yang lembab juga menyengat.

agar tidak melukai orang yang dikubur itu. ”Paman Wananggo. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan.. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. sang pemuda. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. Kesadarannya pun hilang lagi. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. tampak biasa-biasa saja. Ia tidak berbuat apa-apa. Roh Air. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. menciptakan hari yang indah dan cerah. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. Seorang yang terakhir. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya.. Gelap pun kembali menjelangnya. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. ”ke mana kita akan mencari buah . Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan. dan ini fatal akibatnya. *** Tiga orang tampak berjalan beriringan. mengangkatnya dan memanggulnya pergi. Garukan-garukan tangan mulai terdengar. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan.” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran.376 BAGIAN 7. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut. bahwa ia adalah seorang Undinen.

Dan tempat yang kita tuju itu. Setelah mendaki sebuah bukit. ”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. Ya.” ujar orang tua itu dengan gembira.” ucap orang tua itu lagi. besok siang akan kita capai. ”Nah itu tempat bermalam kita. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. ia merasa kerasan. Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. Air terjun. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud. Sebagai keluarga. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi. yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. Lalu tambahnya. ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut. sebelum waktu bulan purnama tiba. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. ”Nak Xyra. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit.

”Itu namanya Air Jatuh. Mau tidak mau. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab. Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan. Sebuah air terjun yang megah. Engkau sem- . ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik. ”Masih ’mati’. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. saat bulan purnama. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita. kita perlu tenaga dan konsentrasi. tentu!” jawab Wananggo. ”Ya. mengajukan usul.” jawab seorang yang ada di hadapannya. ”Dan untuk itu. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. engkau Angus. Isi perut dengan baik dan tidur.” usulnya. biarkan saja. nona Siaw Liong.” jelas Wananggo. ORANG-ORANG ABADI menggelegar. ”Belum. ”Tidak. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali. demi kesembuhanmu.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. Dulu juga. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya.378 BAGIAN 7.

”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. Melihat ke segala arah. Sulit.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. melayang.. Ya. perjalan pulang. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu. Lalu ia pun berlalu dari sana. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka. Pikirannya sedikit . *** ”Jadi.” katanya pelan. memperebutkan kepala lawannya. Ya. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Ya.” jawab orang yang dipanggil Angus itu. saling baku-hantam satu sama lain. ”Kita perlu bicara malam ini. Cermin Maut.. Dhoruba sedang mencari makan malam kita. Jumlah kita sudah cukup. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. untuk memperoleh tenaga. Perjalan pulang bisa dilakukan. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda..” berkata kembali sang wanita. ia ingat saat itu. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka. Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja.” ucap wanita itu sambil tersenyum. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya.

Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari. Sejenis sabit besar. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya. ”Aku setuju.” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut.. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. Antara orang- . ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi.” sahut sebuah suara lain. termasuk di Kota Paparan Karang Utara. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan.. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan.” jawab Cermin Maut kemudian. Seorang dari mereka. Tempat perguruan lawan mereka berada.380 BAGIAN 7. ”Baik jika begitu. Perguruan Atas Angin. Antara yang jahat dan yang baik.

”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. Tua-muda. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp. setengahnya berkuda. Mereka semua harus berjuang.381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. benar seperti informasi yang kita terima. lelaki dan perempuan. Pertempuran kali ini pun amat serunya. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. akan tetapi sebagai bangsa bayaran. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian. mereka datang.” ”Hmm. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. suatu klan ekspansionis dan brutal. klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. ”Angus. . Berapa banyak?” tanyanya kembali. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya.” jawab pembawa informasi tersebut. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang.

ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar .382 BAGIAN 7. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. Apa boleh buat. Dari anak kecil sampai orang tua. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. Ya. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Angus McLeod. Yang ditanya hanya mengangguk saja. Dari yg sehat sampai yang cacat. Cemas tampak dalam wajahnya. selama ayahnya belum sembuh.” ucapnya lelah. kita harus berperang habis-habisan kali ini. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit.” begitu katanya suatu saat. Jadilah ia. Menjadikan desa mereka. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. Ian McLeod. Angus bukan pemimpin klan McLeod. pemimpin ad interim atau sementara. ”Kamu saja yang memimpin. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Tak ada jalan lain. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Ya. ”Baiklah.

tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi.. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. satu di kiri dan satu di kanan. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. barisan terdepan pun berlarian. darah mereka sendiri. setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. Tidak ingin kalah. menginginkan hal itu. Jumlah yang jatuh terus bertambah. yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. Memaksakannya untuk terbuka. ”Ghrrrrrg. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. masuk ke dalam desa. Dua kelompok besar orang-orang haus darah. jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir. . Pertempuran yang tidak seimbang. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. Dengan bekal pendobrak batang kayu. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar. Dengan adanya isyarat terompet tanduk. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama. tapi kalah dalam jumlah. Waktu pun berjalan. ”Cepat.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. Gelombang penyerang pun beringsut maju. Sudut yang pas dengan dada kuda. Kesetiaan dan penghormatan. Pintu gerbang pun ditutup. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama.

Dibalik-balik jerami dan sebagainya. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. Semua orang menghilang di dalam desa itu. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan. ”Tidak mungkin. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. . Rekannya mengangguk.” seru seorang dari klan Darkyzp. Menanti untuk menyerang balik.384 BAGIAN 7. telah banyak dari mereka bersembunyi. ”Ada yang aneh. Akibatnya telah diduga. tapi hasilnya nihil. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. Tapi apa yang mereka dapatkan. Pintu pun terbuka dengan lebar. Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang. Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. Bila sudah semua.” ucap rekannya. Semua dibolak-balik. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada.” ”Siapa yang tahu.” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh. mungkin sudah semua. ”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Tidak ada. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu.

Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit. Ia yang luput dari serangan panah. Mati. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. Tua dan muda. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana. Pria dan wanita. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Di sana. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap. Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. Dan kali ini pun kembali berhasil.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. mudah untuk dihindari. segera ia memacu kudanya. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar. Ya. Tiba-tiba. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Menghindar dan menyerang balik. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. ”Grrrggghhh!! Di sana. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya. menunggu sampai saat-saat terakhir. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. Menghiasi hari yang cerah itu. Cukup banyak jatuh korban di an- . ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. Setelah parit terkuak. Menunggu dengan harap-harap cemas. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon.

tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. Tiga-empat orang. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya . walaupun mereka bersemangat tinggi. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod.” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting. memperhatikannya dari dekat. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu. ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. Tapi ada satu hal yang harus dihormati.” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. Walaupun musuh sudah separuhnya habis. Orang-orang yang berbeda satu sama lain. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. Lambat laun mulai jelas. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati. berdenyut-denyut tak beraturan. Semua kabur dan berkabut. ”Hmmm.386 BAGIAN 7. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya. Jumlah yang tidak seimbang. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang. ”Lihat. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. semakin lemahlah semangat mereka.

387 bangun. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu. ”Kumpel. ”I think he speaks with a local language here. ”I try with other language. ”Saya Gentong. Shia Siaw Liong.” sahut seorang dari mereka. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. Ia. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu.” jawab pemuda itu. serta dibawa . sang wanita. ”Well. Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu.” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. lalu beranjak mendekati. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. orang hitam berambut keriting. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. Penjelasan yang tenang dan pelan. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati. what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini. ”Watashi wa Misun desu. verstehst du. Dia Dhoruba. Misun dan Angus McLeod. ”Saya. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. Entah apa maksud dari senyum itu. menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. Lalu dengan perlahan.

” ucap wanita itu. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- . Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. merah. Pucat. kami biarkan dulu engkau sendiri. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka. Gentong. ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit. perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara. tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. ”Sekarang. Tanpa terasa ia meraba dadanya. sang pemuda. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. selepas pembantaian terjadi. tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. Dan akhirnya tampak tegan. Ia telah mati dan dikuburkan. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. yaitu di Kota Paparan Karang Utara. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. yang saat itu baru memiliki satu cabang. Perguruan Atas Angin. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. Ya. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang.388 BAGIAN 7. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. Bahanbahan berupa makanan dan senjata. perang! Memang demikian halnya. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. lalu kembali pucat.

Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap . Ya. ketua Perguruan Kapak Ganda. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. *** ”Jadi itu kisahmu. Air Jatuh. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. bahkan pertempuran. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. Membuka cabang di dua kota lainnya. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh.389 but. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. ”Baiklah jika begitu. pertempuran. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami. yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Mereka bukannya anti pertempuran. Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. yaitu Tapak Kelam.” Kembali pemuda mengangguk. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan. yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam.” ucap gadis itu lagi. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. tapi seperti biasa. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik.

Gentong hanya menggelengkan kepala. ”Baik. orang-orang yang tak bisa mati. pagi-pagi sekali. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu. jika dengan tangan kosong. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. Dhoruba hanya tersenyum kecil.. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. *** ”Paman Wananggo.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat.. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas. senjata memegang peranan penting. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. Misun hanya menggumam pelan.” usulnya. Gentong mengangguk mengiyakan.” kata Misun meyakinkan. ORANG-ORANG ABADI mereka ini. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. Ya. Harus disingkirkan. sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi. sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . Misun masih mendekati Gentong. tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. bahwa dalam pertempuran. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara. tapi tidak menyatakan keberatannya. menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. pasti engkau sudah bisa. kira-kira kita butuh tiga hari. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah. Jika demikian telah diputuskan. ”Baiklah. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan. terima kasih!” ucap Gentong. Tandanya ia tidak keberatan.390 BAGIAN 7. ia sadar. ”Dalam perjalanan ke sana. bukan pertandingan satu lawan satu. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda. Besok. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong.

Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun. ”Hati-hati.” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut. ”Cepat. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat.. ke langkah berikutnya. apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. di antara batu-batu yang menonjol. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. kita coba saja turun sekarang. ”Iya. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana. ah.. paman. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur.” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu. ”Tapi apa boleh buat. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari. ”Eh.!!” ucap orang tua itu. untuk turun ke bawah. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut. ”Aneh!!” gumamnya.. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur. . Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil.” Langsung segar orang tua itu.. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. Langit sudah agak mulai terang di sana..391 enaknya. tapi tak dilihatnya seorang pun. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini. Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. jatuh menjadi air terjun. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah. Namun tak lama biasanya. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan.

menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut.!!” ucap orang tua itu. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. ini malah untung buat kita. akhirnya sampailah mereka di bawah. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun. Ternyata mereka ada masalah rupanya. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. kita ketahuan. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau. ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. Keduanya mengangguk mengiyakan. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi. Hehehehe. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. *** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka.392 BAGIAN 7.. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu.

Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi. mirip bumerang.” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu.” ”Belum tentu.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama. Ada tiga orang yang dicarinya. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil. tampak dingin. Mendengar itu. sehingga mereka tidak langsung kembali. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya.” jawah Shia Siaw Liong. Tapi itu belum semua. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari. ”Mereka sudah pergi kemarin. Mati. bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. ”kita tertinggal satu hari. tampak merah oleh darah. ”Perguruan Kapak Ganda”. Mayat Pucat. yang diletakkan di punggungnya. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut. yang papannya sudah miring. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu.” ucap Misun. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. . kelima orang itu segera berangkat pergi. pada saat-saat akhir hidupnya. Jika ada yang sedih dan bersemangat. bekas digempur. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul. Menang atau kalah bisa berakibat lain. itulah Gentong. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana. Cermin Maut dan Sabit Kematian. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya.

Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. basah tidak merupakan masalah. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah. di sini ternyata terdapat pulau lain.” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. ”Hei. . Ia heran karena dari atas sana. Baju mereka masih basah. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka.394 BAGIAN 7. Sebuah pulau yang lebih kecil. mari. Bagaimana ini bisa dijelaskan. ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka. berjalan cepat. makhluk yang memang dalam hidupnya. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. ”Baik. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak.” jawab Gentong. *** ”Mari. Bagi kedua orang yang lain.. kita ambil yang kedua.” jawab Gentong. ”hanya dua. Bagi Xyra yang Undinen. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. cepat-cepat.” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong.” jawab Shia Siaw Liong memutuskan. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Ia adalah roh air. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. ”Yang kedua. jika tidak di dalam air. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu. memanfaatkan sifat-sifat air. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap.. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain.

” ucapnya. Ya.” ucap Wananggo tersenyum. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua.” jelas Wananggo. masih ada dua lagi. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. ia dulu juga begitu. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo.395 ”Bukan hanya satu. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama. jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. Setelah di bawah. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu. sehabis kita pergi dari sini. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya. ”Ya. Jika ada waktu. geometri dan ilusi. Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal.” bisik Wananggo. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari. ”Pernah ada cerita. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu. ”Fraktal?” tanya Lantang. baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada.” lanjutnya. ”Baik. ”Kita kitari seperti cara yang tadi.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan. akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. Setelah didekati ternyata ada dua. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat. .

”tapi kita butuhkan hanya empat.” kata Xyra polos.. ini diatur sedemikian rupa.” jawab Wananggo. ”Sama persis.. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan. ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu.” ucap Xyra agak tak senang. kita bisa minta.. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu. ya jawabnya. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari. ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana.. yaitu ukuran yang mengecil. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin.” jelas Wananggo.. ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra.396 BAGIAN 7. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat. benar. mencuri. Lalu lanjutnya. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya.” ucap Wananggo. Lebih mungil.” jawab Wananggo sambil tersenyum. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu ..” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri. ”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. ”Ya. ”Ya. ”Betul.” ”Mencuri. lalu Lantang menjawab.. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat. Jika sang petapa itu masih hidup. asal tidak bilang bukan mencuri. hanya.” tegas Lantang. Padahal ada perbedaannya. lebih baik begini.

Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. sudah. ilmu ampuh warisan gurunya. sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. melesat melibat tangan Tapak Kelam. mencegahnya . nanti dulu. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu..” lanjut orang terakhir..397 berwarna kelabu itu. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. ”Eh.. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan. hehehehe. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut.” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk. ”Ya. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. Tidak segampang itu mati. ”Sudah. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. Tiga orang yang mengerikan. Anak muridnya telah habis dibunuh. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah.. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. cah bagus. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. tidak usah kecewa. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu.” tambah seorang dengan mukanya yang pucat.

tidak semudah itu. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu. ”Tak mungkin. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. ”Curi? Jangan bercanda. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini.” tambahnya.” jawab Tapak Kelam. ”Itu palsu. ”Hehehe. ”Bagus. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu. ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda. Senang ia melihat lawannya .” terkikik genit Cermin Maut. ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian.” ucap Tapak Kelam semakin bingung.” jawab Cermin Maut.” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya. kalau mau bunuh. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas. Prasasti itu masih ada di sana. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada. ”Sudah. Di Air Jatuh.398 BAGIAN 7. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. Ki Makam namanya. ”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh. ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian.

Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. itulah yang mereka cari. kereta kuda terbalik. kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. benar. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda.399 itu bingung. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. sampailah kita di sana. Kebuasan melebihi binatang liar. Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. Kebakaran. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. di kiri-kanan jalan. Tak tersisa. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. ke Rimba dan Gunung Hijau. tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. Jauh sebelumnya. ”Ya. Bergembira layaknya seorang pemenang. Habis. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang. Rumah-rumah yang rusak. Kelihatannya sepenanak nasi lagi. Kedua rekannya mengangguk. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. mayat dan lain-lain. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Memangsa tapi tidak untuk dimakan.” ucap Gentong. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- .

walaupun tidak dapat mati tentunya. Begitulah. the one. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. dan lain-lain yang ada dalam kepalanya. kamum immortal. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. Ia perlu mencari tahu. ”Misun. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata. juga hal-hal yang telah dipelajarinya. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri. the one. ”The one?” tanya Gentong kembali. ”sebenarnya tidak juga. ”Ya. yang dituliskan dalam suatu ramalan. ”Bingung aku. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa. Misun tidak langsung menjawab..” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah . Dengan semakin banyak membunuh.” ucap Gentong perlahan. ”Ya. ”Begini. mereka akan semakin kuat. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat. dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok. akan tinggal satu orang. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal. Itu hanya istilah.” ucap Misun lagi.400 BAGIAN 7.. bela diri.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. Lalu katanya. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya. The one. kekuatan dan menjadi yang terutama.” jelas Misun. ORANG-ORANG ABADI masing.. Ilmu pengetahuan. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat.. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan.

Membacok dan menendang sana-sini.” katanya pendek. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. ”Hei. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. Dhoruba sudah puluhan. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. ”Kita sudah sampai. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya. Kedatangan kelima orang ini. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi.401 di depannya. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. sudah basah oleh darah lawan-lawannya. Golok melenkung patah. Hal ini membuatnya . atau leher yang hampir putus. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher.

Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun.” usulnya.402 BAGIAN 7.” tunjuk Misun. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. Putus napasnya.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak . ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. ”Di sini. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini. ”cakaran beracun. Pertempuran itu tak berlangsung lama. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi. Angus pun mulai turun ke dalam arena. Remuk dan hancur. Pedang yang cukup panjang dan berat. tinggi dan kurus. tampak tubuh-tubuh malang melintang. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. Gentong menangguk mengiyakan. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. Ia mencabut pedangnya. Mayat Pucat. Kelima diam seribu bahasa. Simpan tenagamu. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. Khas pedang Tlatah Skotlandia. melucu. ”Lihat ini. Shia Siaw Liong bergerak cepat. Hitam dengan baju merah berdarah. ”Pakai senjata lebih efektif. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat.

lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. tidak seperti yang aku pikir.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. Bawahan langsung dari Tapak Kelam. Ya.” ucap Xyra. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret. ”Luas juga. Ruangan dalam. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. . terlihat cukup luas. ”Mari kita ikut.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. *** ”Itu. sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut.” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah. menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.” usul Angus kemudian. di mana ketiga orang itu berada sekarang. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu.” berkata Lantang membenarkan. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah. Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra.” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. Rongga itu tidak terlalu besar. Mungkin wakil-wakil ketua. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah. Wananggo. ”Benar. mereka adalah Empat Pilar. di sana pintu masuknya.

Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding.” jelas Wananggo. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya.” jelas Wananggo kemudian. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. Hanya beberapa rak terbuat dari batu. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut. yang tampak di sana-sini.404 BAGIAN 7. yang seperti diduga. walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu. bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. Batu yang dipotong sedemikian rupa. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi. tidak seperti keadaan sebenarnya.” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo. perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya. ”Mana tanaman yang dimaksud. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. sekali waktu. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi. seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap. Dengan permainan warna.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . yang dipahat dalam dinding. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. ”Pernah. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan. sahabat dari pemiliki tempat ini. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya.

itu!” jawabnya tersenyum. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman. ”Paman. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. ”Mungkin. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya. yang satu Undinen dan yang lain manusia. ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang. apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya.405 sakit. ”Oh. Wananggo menangguk mengiyakan. ia malah mengajukan pertanyaan. paman?” tanya Lantang ingin tahu. Suatu penyakit yang aneh. Ya. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo. ”Xyra dan Lantang.” tebak Lantang.” jawab Wananggo.” ucap Wananggo pendek. Alih-alih menjawab. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi.” ”Siapa nama petapa itu. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. Seribu Ramuan namanya. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini. menanggapi jawaban tersebut. . ”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu.” tanya Xyra. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra.

406 BAGIAN 7. Hewan selalu berpindah tempat. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu.” jawab Wananggo. paman?” tanya Lantang tidak percaya. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya. berpindah tempat. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu. . yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan. sengaja atau tidak sengaja.” ”Hampir benar.” ucap Xyra. banjir dan sebagainya. ”Ini paman. ”Begitulah alam ini. aku tahu. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen. baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. paman kembali membuat bingung. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang.” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. Lalu ia kembali terdiam.” ucap Xyra kembali. ”Paman. suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta. yang akan menjadi tumbuhan baru.” jelas Wananggo kemudian. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu. ”tumbuhan tidak berpindah tempat.

Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik. Dan itu terutama daging. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- . selain lezat.” ucap Wananggo. benar begitu. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung.” jelas Wananggo. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. Ikan laut masih baik dimakan mentah. lho!” kata Lantang.” ucap Wananggo. kemudian dikenal sebagai pasturisasi. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. ”Tapi katanya. Ukurannya sangat kecil. atau disebut juga bibit penyakit. Amat kecil. ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut.” jelas Wananggo. juga lebih sehat. ”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu. bahwa tumbuhan dan juga hewan. ”Benar.” Kedua anak muda itu diam. Organisme mikro namanya. menantikan penjelasan yang akan muncul. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk. lalapan itu juga sehat. Lalu Wananggo pun menjelaskan.

BAGIAN 7. hanya setinggi beberapa jari saja. Lantang. sekali sentuh dapat seorang manusia mati.408 angguk. saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. Wananggo tersenyum masih. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. Beberapa tampak berkilauan perak. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. ”Paman. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram. hati-hati!” cegah Wananggo. sang penanam tumbuhtumbuhan itu. . ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu. juga keheranannya. Ada beberapa yang amat beracun. ”Hai. yang ada dihadapannya itu. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. menerangkan pada dirinya. lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. lalu katanya. ”Tenang Xyra. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik.

untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen. khasiatnya akan berkurang. Xyra mengangguk.?” ucap Lantang menambahkan. dan di antara kita bertiga. Keduanya mengangguk mengiyakan.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana. ”Kita masih ada sedikit waktu.” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut. Lebih baik kita mengheningkan cipta. Setelah.” jawab Wananggo sambil tersenyum.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti. ”akan aku coba. Lantang. ”Dari cerita kalian. Tampak ia berpikir-pikir agak keras. apapun. meditasi. Tapi jangan sampai mati. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan. Menunjukkan niatan yang teguh. ”Nah. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. dalam hitungan menit akan berbuah. Jika mati. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. agar hawa kita murni. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat.409 ”Bukan.. ”Nah. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan.” jawab Wananggo pendek. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama.. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. *** . Malu. demi kesembuhan Lantang.” usul Wananggo.

” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. Hanya dapat berbicara. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. tapi tanda daya.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya.” ucap Cermin Maut. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam. Sabit Kematian hanya diam saja. Segera mereka berada di atas pulau pertama. Kita harus menyeberang. ”Boleh juga bila kita pindah kemari. Lunglai bagaikan boneka saja.410 BAGIAN 7.” ucapnya.. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya. ”Bisa nanti itu kita bicarakan. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi. ”Ha? Bukannya tadi. Kagum akan keindahan tempat tersebut. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. di tengah pulau.” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah. Tapi matanya tampak juga mengiyakan. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari . ”Di sana. ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung. ”Ayo jika begitu.. bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh..

Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu. Dengan lunglai ia berkata. mari kita menyeberang. ”Ya. ”Kelima. Begitulah mereka berlari cepat. Yang lain segera menyusulnya. ”kira-kira sepuluh. Di pinggir danau.411 kesempatan untuk melarikan diri. sampai akhirnya tiba di pulau kelima. ”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. ”Jika demikian. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya. tampak lemas. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala.” jawab Tapak Kelam pendek. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian. *** ”Tempat yang menarik. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. mendahului keempat orang rekannya. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini.” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut. Setelah menemukan- . Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut.” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. ini sedikit tetetasan darah yang tadi.

Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. ”Selanjutnya. *** Malam pun menjelang tiba. yang hari itu membulat sempurna.” usul Shia Siaw Liong. Kedua telapak tangan dan kaki. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. ”Kita ikuti saja yang pertama. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. Telusuri isyarat yang ada..412 BAGIAN 7. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka. ditambah dengan ubun-ubun kepala.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya. ”Mari kita mulai. itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya. ”Sudah hampir tengah malam saat ini.” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. yang tadi dalam postur Duduk Teratai. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang.. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang. Pulau kelima. karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. dengan lima titik menghadap ke langit. ”Aneh. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. Upayakan untuk mencari hawa . bayangkan engkau hendak mencari Lantang. ”Baik jika begitu. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk.” ucap Wananggo hampir berbisik. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat.

memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. Xyra.” bisik Wananggo perlahan. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. Ia bergerak perlahan. Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek. jangan ke sini. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra.” kata Wananggo kemudian menambahkan.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap. Jika suasana terang. Putih cemerlang. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. Mirip kilauan kunang-kunang. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. untuk mencari hawa dari Lantang. halus dan bersambung-sambung. terlihat seperti mencari-cari seuatu.413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut. sang Undinen. Lidah cahaya itu berhenti memanjang. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada. dengan membayangkan pemuda itu. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini. kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. kadang ke rak yang . ”Arahkan ke tempat lain.

sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi.” jawab Xyra pendek. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul. sudah baik kembali. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu. Lebih bercahaya dan kemilau.” ucap Wananggo perlahan. Suatu perasaan nyaman luar biasa. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra. ”Bagaimana keadaanmu sekarang. . juga berwarna biru tembus pandang. Xyra pun membuka matanya. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. yang lalu tiba-tiba hilang. saling merengkuh. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. Rak tersebutlah yang mereka cari. ”Baik. Pemuda yang dikasihinya. Setelah beberapa saat hening.” tanya Wananggo. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi. yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. melingkar. kembalikan peredaran hawa dalammu.. Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. kadang ke rak yang sebelah bawah. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya.. Diam seperti mematung. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu.. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang.414 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. ”Atuh napasmu perlahan.

melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. berikut kitabnya tersebut.415 ”Pautan hawa. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. Tidak semuanya. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. Untuk orang lain. . di dalam bangunan itu. *** ”Di sana. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi. Itu pula yang aku harapkan. suatu hubungan hawa antara dua entitas.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu. Entah apa. jika suatu saat ada yang membutuhkannya. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan.. Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan. Berbegas Sabit Kematian. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. yang dapat membantu menyembuhkanmu. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada.” jelas Wananggo.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini. ”jika tidak.” ucapnya kemudian. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini.” ucap Wananggo.. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang.

Sayangnya. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Ya. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. Demi melihat prasasti kedua.416 BAGIAN 7. Tanpa banyak berbicara. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu. Prasasti sebesar kerbau bunting. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. mulai mengamat-amati prasasti pertama. Ki Jagad hitam. berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. Lingkaran Dalam. Ia hanya tersenyum getir saja. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang.

”Hati-hati. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana. ”Belum tentu. rusak oleh sabitmu itu. ”Biar sabitku yang bekerja. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu. ”Hati-hati. kakak Sabit Kematian. sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku.417 pat sisinya.” ucap Cermin Maut memperingatkan. Rata dan berbentuk kotak. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang.” ucap Tapak Kelam.” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. dan tidak ada apa-apa di sana.” ”Huh!! Jangan kuatir. sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada . Mencongkel perlahan. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa. ”Kita coba saja. bergaris-garis.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut.” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut. ”Kosong. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana.

Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh.. itu mungkin kain pembungkus sesuatu. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. Sudah selesai tugasnya. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Dengan sigap ia bergerak ke samping. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya . ia melarikan diri. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar.. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. ”Keparat. dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu. Suatu pukulan jarak jauh.418 BAGIAN 7. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya. ”Ya. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet. Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu. ia bergegas menyelinap keluar. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa.

pastilah anda adalah Cermin Maut. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting.. ”Mau lari kemana engkau.. ”Kamu... Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal. ”Jika engkau Tapak Kelam. orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku... kalian... dan orang ini hendak mengejarmu. Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini. . yang diikuti dengan tubuhnya. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya. ”Ya. Itu belum jelas. Cermin Maut tidak segera menjawab. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya. Kawan atau lawan.. saya. ”Siapa.!!” ujarnya tersendat. yang akan membawanya ke pulau keempat. Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang.” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin. yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya.. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan. golok bumerang.. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan... waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut.419 itu..

Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan. Ya. Kalian telah membunuh kami.420 BAGIAN 7. yang kedua ini . Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. saya Cermin Maut. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut.. Deras dan keras. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. ”Dan engkau juga.” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek. Kelima orang ini belum. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. ”Dan sekarang giliran kalian. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian.. serta Mayat Pucat. Sekarang. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. orang yang berseteru. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya. setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. dapat saling mendekat. ORANG-ORANG ABADI ”Ya. itu adalah salah seorang murid-murid. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. ”Kami mencari Sabit Kematian. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. pada suatu saat yang lalu. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. Memang lucu.

Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut.. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut.” jawab Cermin Maut. agak bingung mereka. Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. ”Mari kita kejar. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. Dan ia mencarimu. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam. .. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau. di dalam sana. Tapak Kelam pun mengikuti. Misun menepuk pundak Gentong. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka.” ucap Angus yang segera bergegas. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. ”seorang dari yang pernah kita bunuh. ”Mari..!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu.. ”Hei. ”Tak tahu.421 dia tidak yakin.” jawab Cermin Maut.!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti.” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti.. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian.

Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. kita bisa ke pulau berikutnya. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. Dan dari sana melarikan diri keluar. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. ”Ini jalan rahasia. tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. Membuatnya semakin jatuh hati. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. .” jawab Tapak Kelam menjelaskan.422 BAGIAN 7. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. Berturut-turut Cermin Maut. yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. ”Eh. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air. ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka. ”Eh. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. kamu. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja.” ucapnya cerdik. Biasanya mereka yang dikejar orang. ”Belum tentuk kita kalah sama mereka. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. Pulau keempat. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu. ”Mari masuk. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat.” ucap Sabit Kematian jengkel.

pastilah ini menuju ke tempat lain. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya.” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. Sebagian turun. ”Aku belum tahu. sedangkan Gentong.” duga Dhoruba. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini.” ucap Wananggo.” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. kembali menuju perguruan. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku. Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain.423 ”Mereka menghilang. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. tampak membuka matanya. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian. yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain. ”Sekarang coba alirkan hawa. Setelah hening beberapa saat. ”Jangan semua masuk. *** ”Minumlah ini.” ucap Shia Siaw Liong.” jawab Wananggo. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya. Rekan yang lain mengangguk. perlahan-lahan. Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana. Wajahnya .” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur. ”jika ada jalan rahasia.

”Aku merasa lebih sehat dan segar.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini. Dulu oleh gurunya Rancana.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju.” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan katanya. paman! Mari kita pergi dari ini. ”Engkau. ”yang penting kita sudah berusaha. hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang. tak usahlah sedih begitu.. ”Padahal menurut petapa tersebut. . Ia masih ingat bahwa orang itu.” ”Aneh.. ”Mari. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo. juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut. ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya.424 BAGIAN 7. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh.” ”Paman. si Bayangan Menangis dan Tertawa. yang ada di hadapannya sekarang.. Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini. Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. paman. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu.. Saat ini oleh Wananggo..!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya.!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang. dihancurkan.. semuanya kehendak Sang Pencipta. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah.. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi.. ”Sebabanya.. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya.

Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka.. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang.. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang. tidak dalam keadaan segenting saat itu. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang..” katanya kemudian.” ”Paman. Tidak terlalu sakit. Cermin Maut. yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang. Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra... Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya.. siap untuk saling serang. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu. Mereka segera berhadapan.” ucap Lantang bergetar.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut. seorang wanita dan dua orang laki-laki. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. orang itu. Keduanya terdiam. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih . Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. yang adalah Tapak Kelam. begitu pikir mereka. segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut.. Ia tidak mempedulikan Lantang. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. ”orang itu.. tapi bagi anak kecil seusianya saat itu. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ.. ”Minggir!!” jawab orang tersebut.

bukan?” ”Ya. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. malah salah seorang dari mereka berkata. ya ia mulai ingat. Cermin Maut. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. Bersiap hendak saling serang. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Angus. yang wanita. ini kami. Tidak . ”orang sudah hampir mati kok ya. Ya. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya. ”saya Shia Siaw Lion. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. Sembilan tepatnya sekarang. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik.426 BAGIAN 7. kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. Jika sudah kenal. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. ini Dhoruba. berkata salah seorang dari mereka. Misun dan Gentong. Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba.

akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. ”Kaum Abadi.. mereka benar-benar nyata adanya. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu. ”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo. menebas kepala sudahlah cukup.. Pemuda itu adalah.. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak. lincah masih geraknya.427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat. Bukan hal yang normal. Hening sesaat. mau tak mau membuat mereka merinding. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras. Keras .” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. Pukulan keras dan lurus.. Umumnya dengan jarak jauh. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh. Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain.” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya... Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong. pemuda yang berada di depannya sekarang. mereka-yang-tak-bisa-mati... ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar.

mengemis dan kelaparan di jalan. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. mungkin. Jika saja tidak. di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. Jika ia harus pergi dari sana. Untung saja ia bertemu dengan gurunya. kitab tersebut harus ikut. Dalam jarak dekat. senjatana tidak begitu berfungsi baik. Di mana-mana. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. Segera ia melompat mundur menjauh. Campur baur antara sedih dan marah. Pusing sesaat dirasakannya. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar.428 BAGIAN 7. Rancana. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. . kali ini di bagian tengkuk. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. atau berkalang tanah. Dengan jarak yang sekarang agak jauh. bertempur jarak dekat. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana.

Diantara kedua orang saudara seperguruannya. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. Maju kena cengkeraman. ”Aku mengerti.” jawab Wananggo. Mundur kena sabit jangkauan panjang. Lantang. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya. ”baiklah paman. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. dipegang di tengah. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. Cara serang yang baru ini. baiknya kita segera berlalu dari sini. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali. membuatnya sedikit kewalahan. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. Memang sebaiknya kita pergi. Lalu katanya. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. tapi Gentong tidak tahu.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. mereka itu. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain. walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. ”Nak Lantang. ”Kaum Abadi. paman. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah.” . pinggir berganti-ganti. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju.” ajak Wananggo. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. Kita sebaiknya tidak mencampuri. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana. Memang untuk keselamatan kita juga. aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang. Lain waktu kita cari lagi orang itu.

430 BAGIAN 7. yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu. Saat ia berlari cepat. Entah apa. ”Howgh! Aku Misun. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. . ”Aku Wananggo.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. tak perlu kalian takut. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra. Xyra tampak terkejut. menirukan. Aku tak ada maksud jahat. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya. pulau ketiga. segera mengangkat tangan pula. ”Maya. Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. dan ini Xyra dan Lantang. Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain. berbulir-bulir mengambang di udara. Terdapat banyak untaian. Misun lalu membuka baju luarnya. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun.

” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat. . kembali menemui rekanrekannya. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. adalah tidak terlalu berat.” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. ”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Tatapannya yang seakan mengatakan. sah-sah saja. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. kehilangan seorang rekannya.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka. Tapak Kelam. Jika harus lewat jalan biasa. ”Howgh!! Tugasku telah selesai. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. Betul-betul lawan yang tangguh. *** ”Untung ada engkau. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan. Sabit Kematian.” ujar Mayat Pucat. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. ”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati. Mayat Pucat dan Tapak Kelam.

Melihat itu. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong. Menepuk bahunya. right!” sambut Dhoruba. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. Gentong masih tampak termenung. yang mungkin belum dingin tubuhnya. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. isn’t it?” ucap Angus. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. ”Pilihan yang bagus. ”Gentong. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Pada suatu gerakan tipuan. sejenak dipikirnya sesuatu. Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. ”Sudah saatnya kita pergi. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin. Bagus. Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. our problem in this land is alreay finished.432 BAGIAN 7. Banyak sudah darah yang dimininumnya. bagus!!” Misun.” sambung Shia Siaw Liong. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. *** ”So. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. mengajaknya berlalu dari situ. ”Yeah. Dhoruba terkekeh-kekeh. Mereka segera berlalu dari sana. Senjata yang sudah ’tua’.

Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. ”Aku harus memberi tanda di sni. Saat orang itu bangun. persegi. ”Ini harusnya tempatnya.433 nunaikan misi mereka sendiri. membentuk semakam bekas candi atau kuil. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. terutama bagi kaum mereka. Undakan batu. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. ”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. *** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi. Ia. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut..!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini. orang tua itu. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. . Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini. tapi ia tidak mengerti. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan. – merekayang-tak-bisa-mati. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu. portal!” ucap orang itu. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. dan mereka akan datang.

Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar. ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi.. kami ’menculik’ anda dari portal. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana.. kami tahu. ”Eh. Manusia Tiga Kaki. saya Rancana. ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras.” ucapnya perlahan. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri. jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda. Yang membedakan mereka adalah tingginya. membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . Sejurus tak ada jawaban. di atas pohon!!” ucapnya kagum.. ”Ini. Tiga kaki tingginya. ”Ya. Nanti. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia.... Makhluk itu tampak sedih dan muram. pelataran batu tempat anda tidur. ”Maafkan bila tadi malam. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. Lalu katanya.. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa.” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat. kami kemudian membawa anda ke sini. Anda siapa?” tanya orang itu kemudian.. Setelah berkata demikian. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa.434 BAGIAN 7. ”Eh.” jawab makhluk itu.. ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. ”Saya Coreng. Ya.

Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki. Berikutnya minta pertolongan mereka.” gumamnya. ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. *** . Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. telah ditemuinya. Lantang.435 tenang. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. *** ”Engkau yakin. di Rimba Hijau. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini. ”Benar. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. ”Aku telah tiba di sini. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat. Dunia ini luas rupanya. kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya. Dan di sini. Moreng?” tanya Coreng. Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. Rancana sejenak terkenang akan muridnya. Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. itu yang penting. apanya!” usul kawannya kemudian.” ucap Moreng meyakinkan.

Berpesta santap daging manusia.” ujar ayahnya. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat. lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu.” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya.” jawab sang dara. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. Hanya manusia. ”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya. Dara tersebut hanya menangguk. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan. Dara itu kembali mengangguk. ”Iya. Oleh karena itu harus segera dikuburkan. ayah..436 BAGIAN 7. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya. ”Hati-hati. . Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. karena selain orang mati. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana. jangan dipegang!!” ucap ayahnya. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan. ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. berhak atas persemayaman yang layak. jika juga sudah menjadi mayat. nanti aku gali sebuah lubang besar. Sambil menutup hidung.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan..

Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana. berdagang. di belakang itu amatlah indah. tidak terlalu takut tidak dapat hidup. Yang penting semuanya telah dikuburkan. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang.” usul anaknya. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian. ”Ya.. Perguruan Atas Angin. Keduanya tampak puas. Keduanya kemudian tertawa berbarengan. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian.” ”Ya. ”Mereka toh telah mati. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu. Pintar!!” kata anaknya antusias. ”Membuka kedai saja. benar. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. terutama air terjun di belakang amatlah indah. membuka perguruan silat. Entah dari pihak mana. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup.437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh.. aku ada banyak pengalaman. yang penting kita coba.” tanya anaknya kemudian. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. ”Bercocok tanam. Sayang untuk ditinggalkan. . tapi dari tanam-tanaman kita sendiri. ”Bagus juga tempat ini. ”Buat apa dipikirkan.” jawab ayahnya. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja. Di beberapa ruang halaman. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya. Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai.” balas ayahnya. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan. ”dan tempat ini.

” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. ”Anak wanita kok senangnya bertempur. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu.. ”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. ”Masih. kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. mengeluarkan ilmu berlari . paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya. ”Kita masih harus mendaki gunung ini. Padang Batubatu. Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha. paman. Dara itu mengangguk. kita akan berlari cepat sekarang. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan. supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. Dalam hatinya ia berkata. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. Bila tidak. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana. Lalu keduanya mulai beranjak dari situ. semoga saja. *** ”Masih jauh. di gunung.” sarannya kemudian. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu.438 BAGIAN 7. ”Mari kita mulai mendaki. ”Kita tidak tahu itu.” jawab sang dara ceria. Gunung Berdanau Berpulau.

*** . Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba. yang mengangguk perlahan kepadanya. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. cepat hampir tak terlihat. bagai dua buah patung pualam putih. Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. kering. Sedih bahkan. Membeku. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Memutih dan mengeras. Meloncat di sana-sini. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. Menuju suatu tempat di atas sana. Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut.

440 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI .

Batas dari tlatah tersebut dengan lautan. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta. tepi daratan. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 . Telaga pemuda itu. Tepatnya tiga tahun dari saat ini.Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai. Pantai Selatan. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. jauh di utara sana. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Lautan. akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh.. Ia tidak asing dengan air. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Bagi pemuda itu.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau.. Melesak dan tergores halus. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau.

Tapi ia belum merasa puas. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. Sedangkan dari guru keduanya. Bila ada nelayan mendarat. memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. yang mengajarinya dua jurus pokok. Ki dan Nyi Sura. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Sebuah perahu nelayan. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Saat perahu yang ditujunya mendarat. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi.442 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . Guru yang pertama adalah Walinggih. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini. Selain belum benar-benar merasa cukup. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. seperti dipesan oleh orangtuanya. Tenaga Air. gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Arasan ia memperoleh dua jurus pula.

Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup.. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. Cukup terlindung dari angin. Ia hanya memandang kagum dan membisu. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. hanya bisa terpaku melongo. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu. Belum mereka berkenalan pula. Tepi Darat Selatan. Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu. setidaknya menurut para penghuninya. Ia adalah orang asing. Ia pun membuka perbekalannya.” tersadar Telaga dari kekagumannya. Hari sudah menjelang senja. bergegas berlalu dari situ. harus aku ikut dia. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan. Telaga mencari-cari matanya.443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. tamu tepatnya. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. . Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana.. ”Eh.

mungkin belum muncul saja aksinya. baik. Dara itu mengangguk. ”Jangan terlalu curiga. ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya. apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. Tapi awas ya. engkau harus minta maaf kepadanya. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya. aku tangkap dia.” jawabnya. kakek! Pemuda ini.” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. kakek!” rengek sang cucu manja. kalau engkau yang salah. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. ”Belum tentu. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan. kakek! Besok baru kita tanyai. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. saking ringannya . Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut.444 BAGIAN 8.” usul cucunya itu. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu. Lebih aman di sana. ”Ah.” goda kakeknya kemudian.” ucap gadis itu. ”Jadi apa maumu sekarang. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. meringkuk miring dan juga mendengkur. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. Pelaut Ompong. ”Baik. ”Iya. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Wajah. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. Kaku dan keras. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Serangan kasar dan membabi-buta. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. dada. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak.456 BAGIAN 8. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. Suatu alasan yang picik. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu. Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Pelaut Ompong. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah. .

”Tapi aku sering melihat engkau dan dia. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. kita sudahkan saja hal ini. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan.” ”Aku ’kan menumpang di sana. ”Wassa. Wassa. Tak ada gunanya.!! Ayo lawan.. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain..457 ”Telaga.. akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya. Wassa hanya tersenyum malu. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak.” ucap Telaga perlahan..” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu.. Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya.” ”Aku ini sudah bertunangan. Lalu katanya.... ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat. Terengah-engah sekali tampaknya. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya. terus.. Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya. mencoba untuk membantu. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan . Lelah sudah pemuda itu. Sedih.” jelas Telaga. Dan termenung. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu. Ia kemudian lanjut berkata.. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga. Ia pun terduduk lelah. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong. Bukan begitu?” tanya Telaga balik. jangan engkau menghindar. Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku.

baiknya kita latihan diam-diam. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling. Bagaimana?” usul Telaga. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain. Wassa mengangguk setuju.” katanya sambil mengedarkan pandangan.. Nanti kuceritakan. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. ”Di samping itu. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. Seorang berilmu dan juga ramah. Dengan ini kita jadi bersahabat..? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. menyisir lembut daun-daun nyiur. aku juga tertarik dengan tempat ini. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku. untuk suatu kejutan. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat. Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. Aku rasa. Angin pun berhembus perlahan. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua. Telaga. Nanti malam kita bertemu lagi di sini. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu.458 BAGIAN 8. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu. *** . ”Ini semua hanya salah paham. Telaga menganggguk. lalu katanya. Menuju desa Tepi Darat Selatan.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga.

” ucap Telaga penuh ingin tahu. yang dinamakan deret Fibonacci.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh.” ”Menarik. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India). yaitu Gopala dan Hemachandra. O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini. ”Belum.” ucap Wassa. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan. selebihnya aku tidak hapal.” ucap Wassa memberi . ”Perhatikan bahwa suatu bilangan.” cerita Mayayo. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. ”Masih belum mengerti. setelah bilangan ketiga. Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama. ”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya.” jawab Telaga singkat. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong.

”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi. Pelaut Ompong. kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. membuatnya benar-benar tertarik. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. Hening sejenak. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan. ”Di balik itu.” jawab Wassa. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu.. ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. Rahasia. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. BAGIAN 8. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan.. Coba tanyakan kepadanya. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci. ”Menarik!” ucapnya kemudian. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa.460 petunjuk. Lalu terdengar Telaga bertanya. MENARI BERSAMA AIR ”Iya. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut. CMLXXXVII. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- .

Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa.” ”Jika memang kitab itu tidak ada. ..461 makaman kuno tersebut..” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu. ”Hahaha. ”Saya dengar dari Wassa.” berkata Pelaut Ompong arif. Waktu aku seumurmu juga demikian.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali.. Jadi. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu. berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya. tunggu dulu. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka.” jawab Telaga jujur. hmmm.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini. Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak..... ”Kami tidak berhasil menemukannya. ”Orang yang menceritakan berita itu. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu. ”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat. ”benar-benar lupa aku.” jawab Pelaut Ompong. ”Bahkan.

462 BAGIAN 8. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu. Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat. *** Malamnya. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Sejenak dirasakannya suatu keanehan. melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. rumah di mana ia menumpang tinggal. Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. Telaga beristirahat lebih cepat. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Jangan beritahu siapa-siapa.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit. . Secara reflek ia tersentak dan berdiri. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut.

kek. Mayiya. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. Angin masih berhembus lembut di kejauhan. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut.” jawab . kok masih hari ini sudah minta diri. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya. *** Dalam beberapa hari itu. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. ”Itu Telaga. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. *** Malam baru menjelang tiba. ”Enggak ada apa-apa. Telaga minta diri untuk beristirahat. Saat untuk pergi ke bukit. Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya. Malampun semakin larut. Tumben. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. di atas bukit. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. Hari-hari pun berlalu dengan cepat.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong.

mungkin juga. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. ”Kalau begitu.” tebak Mayiya. kita istirahat juga saja. . Arah di mana suatu bukit berada. Telaga pun beranjak menuju suatu arah. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi. membuat malam itu gelap dan lengang. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. kek. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap. Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya.” jawab cucunya. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan.” ”Iya.464 sang kakek. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Akhirnya ia berada di luar rumah. BAGIAN 8. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri. Malam tanpa bulan. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. Langit benarbenar gelap. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. Setelah hampir-hampir tertidur.” jawab kakeknya. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. *** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. ”Ah. Mayiya.

Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. Jika tidak.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. meraba-raba sana-sini. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. Setelah rasa terkejutnya pulih. Berdebar-debar jantung Telaga. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. Bukit ada di sana. Perlahan. Pemakaman kuno di atas bukit . Sebelum ia sempat menyalakan obornya.. ”Jangan nyalakan api. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya. Setelah berjalan beberapa saat. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur.465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. Hening. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Ia sudah hampir berada di sana. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam.. ia pun mengambil arah berlawanan. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Setelah yakin.

Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai. dua. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. Suasana tampak lengang. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian. menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan . Satu. tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Sendiri. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. Sekarang ia telah berada di sana. merapalkan Tenaga Air. Sepi. Suasana yang terlalu sepi. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. membuatnya sedikit tidak tenang. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. Setelah ia merasa sedikit nyaman. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil.466 BAGIAN 8. Sedikit gelisah ia menunggu. Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. Di tengah-tengah pemakaman kuno. Sunyi. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan.

” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya. kali ini dari arah kirinya. Hening tak ada jawaban. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. Belum belasan langkah ia melangkah. Berkali-kali. ”Maaf. Dan kembali berlaku hal yang sama. Kembali hening. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah. dingin. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana. Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya. Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. Sunyi. Se- . Menyambar dengan lembut. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. kali ini dengan dada agak berdebar-debar. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi.

Kita akan bersua lagi nanti. Ia menggapai kain lusuh tersebut. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik.. di udara. Ia tidak begitu ingat. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya. Suara yang sama. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu.468 BAGIAN 8. pelan. tapi jelas.” suatu suara lirih terdengar samar-samar. Hari pun sudah mulai mendekati fajar. . menghindar karena menyangka dirinya diserang.” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan. Mengirimkannya hampir tanpa suara. Ya.. itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya. ”Desa Terapung. Dan di depannya. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk.. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya.. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap. mengambang sebuah kain lusuh terlipat. menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada..

Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Semuanya serba kayu. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Terkagum-kagum . Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Terasa benar lemasnya. Sekarang tampak di depannya. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. Desa Terapung. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga. Jalan yang juga terbuat dari kayu. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala. tidak seperti saat ia pertama kali sadar. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Laut. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya. Kaku masih. Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Tak berbunyi. pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. Membentang di hadapannya tampak air.

di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat.470 BAGIAN 8. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung. MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Kadang ke atas kadang ke bawah. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun. membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Di sana. Kurang dari sepeminum teh. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut. peti itu telah hilang dari pandangan .

gurita raksasa. orang yang diselamatkan dari amukan badai. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Tinggal beberapa orang di antara mereka. ikan paus dan sebagainya. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. yang kelihatannya dituakan. Ya. gambar-gambar dan juga ukiran. ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. tampak beragam hiasan menempel. Tak ada kata-kata yang terucap. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. Benar-benar tak ada suara yang terucap. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. Ada ikan. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. mengapa sedari ia datang. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. laut adalah satu-satunya solusi. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. kapal. mulai bertanya-tanya. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. termasuk si pemuda. Dari luar terlihat biasa. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk. Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Orang yang mati telah dikuburkan. Untuk itu. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana.471 mata. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. hanya dengan sang gadis ia berbicara. Lalu seorang dari mereka. Pemuda itu. Bila sudah tentu tidak dibakar. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Balai desa dari Desa Terapung.

Lalu seorang dari mereka.” jawab gadis itu. ”Saya bernama Mayayo. Orang yang ditunjuk mengerti. Bila tidak ada orang baru. tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara.472 BAGIAN 8. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. ”Siapa namamu?” tanyanya ramah. orang yang sudah terlihat cukup tua. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. Ia mengangguk dan berangsur bangkit. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing. ia kemudian mulai membuka percakapan. ”Saya Akanamia. Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya. dan menempatkan dirinya di samping pemuda. dengan pendengar orang-orang sendiri. kebiasaan ini pun tetap dilakukan.” jawabnya. Gadis tersebut tersenyum padanya.

Akhirnya selesai juga pertemuan itu. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. berikut pula perahunya. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. . Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Orang-orang pun berbubaran. Tapi di luar kekurangan mereka itu. Kakeknya. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia.473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. Setelah cerita itu selesai. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. Dua orang menghampiri Mayayo. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. mereka memiliki kelebihan. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. Pelaut Ompong. Selain itu terdapat pula. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. orang-orang pun mulai berpamitan. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang.” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. Pelaut Ompong tak ada di tempat. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok. setelah terlebih dahulu membersihkannya. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. Mayayo. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. telah tiba kembali . Bila suatu saat mereka mendapat giliran. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini.485 dua orang ini. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya.

486 BAGIAN 8. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu. terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. Mayayo. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. MENARI BERSAMA AIR di rumah. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Ia kagum akan sikap pemuda itu. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya. Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. . bercerita pulalah ia.

yaitu berenang. Terpikir hanya satu jalan. Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. Orang tua. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. . Mungkin. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa.” usulnya kemudian. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. minta diri. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini. Pulau yang menjadi tujuan mereka. Sebuah danau yang luas dan indah. yang hanya mengangguk mengiyakan. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. ”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan. ”Engkau ada ide. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang. ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. Ya. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali.

”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu.” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini.488 BAGIAN 8. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka.” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Berjalan agak cepat.. ”Ah. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang.. dan makin lama makin cepat. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua. pikir Walinggih.” ucap Walinggih ramah. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu.. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua.. ”Cape paman. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram. jadi anda berdua ini.. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari.” . ”Baiklah kalau begitu.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu. dan saat ini adalah kesempatan kami.” ucap Walinggih. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini.. kami bantu menyeberang. Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami.. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma. Kami ingin sekali membantu mereka kembali. Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut. sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap. Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. dan itu matahari sudah mulai hilang.

Keduanya saling memandang dan tersenyum. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Suatu perangkap satu arah. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . *** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari.

Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian.. . Lalu kata seorang dari mereka. Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami. Atau jika kalian ingin dijemput. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. Setelah mengucapkan terima kasih. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. Untung tidak terlalu lama. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru. ”Nah.” ucap gadis itu. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya. Ya. paman! Saya tidak melihatnya tadi. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga. walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. kita sudah di sini. Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. jika tidak. bagaimana tidak.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih. paman. ”Mungkin ke sana.. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura.490 BAGIAN 8. ”Betul. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat.

Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Pikirannya melayang ke mana-mana. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. . Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya.” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut. dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati. Agak terletak di sebelah dalam. Di sana berdiri sebuah saung. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam. terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. kondisinya pun tak terurus. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. Setelah lama mencari-cari. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai.” Tak ada kata-kata lain.” jawab Walinggih mengiyakan. ”Paman. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka.

Siapapun orang itu. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang. Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. ”Benar. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu.” ucap Walinggih. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu. Keduanya pun segera beranjak ke sana. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. . dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya.492 BAGIAN 8. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah. maka guanya berada tak jauh dari ini. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini. ”Hati-hati. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap.” ucap Walinggih perlahan.

” ucapnya perlahan.” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. Tak berani menganggu. Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya. kami mencari mereka... Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan. ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka. keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu.” jelas orang itu. ”pada saat-saat itu kebetulan .. ”Ini. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka. ”Ya. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu. Lalu lanjutnya. Walinggih dan Sarini.. yang ternyata adalah es. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih. ”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah.493 Perlahan kedua orang itu. di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. ”Aku adalah sahabat mereka. Hening sejenak meliputi suasana di sana. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi. Ki dan Nyi Sura. tampak samar-samar wajah seorang manusia... Dua buah manusia yang telah membeku. seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini.

MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik. Tak tahu harus berbuat apa. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut. ”Ah. ”Tidak juga. jika saja mereka dapat mendengarnya. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian. Lalu setelah ditanya. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima. Dengan membekukan mereka.” jawab Rancana pendek. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai. kalian membawa kabar baik. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri. Lalu katanya. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam.” ucapnya pelan.” . ”Tidak tahu. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. yang mengaku bernama Rancana.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut.494 BAGIAN 8.

Rancana hanya mengangguk. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah.495 Keduanya kemudian terdiam. seperti lidah dan rongga mulut.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau. julukan yang dulu dimiliki Walinggih. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku. Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya. larut dalam pikirannya masing-masing. ”Pesanku. rambutnya dan juga kulitnya.” ucap Rancana.. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu. ”tolong katakan pada muridku. Julukan yang telah lama ditinggalkan . ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. menjadi patung es. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari.. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. Sudah bola matanya. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga. Lantang. Dugaan Walinggih benar adanya. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut.

Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. Jika saja Ki Tapa masih hidup. BAGIAN 8. kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. Rancana pun memaksa untuk menolong. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna. sempai bertemu dengan Hitam-Putih. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. Jurus yang . Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan.496 dengan sifat-sifat jeleknya. Lantang.

” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana. Perlu waktu memang. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Walaupun ilmu kami berbeda. ”Jika belum bisa menerapkan. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Sehabis serangan lewat. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. Walinggih. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan. Sia-sia. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana. air atau angin. disiramai dan akhirnya berbuah. Mirip seperti pohon yang dirawat. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. Entah apa hubungan antara keduanya. Arasan. Ia .497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh.

MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak. dengan tanah dan rumput-rumputan. tetapi masih lengket pada tempatnya. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping. bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya.” perintah gurunya itu kemudian. Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang. Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. Sarini mengangguk. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan. Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya.498 BAGIAN 8.” ucap gurunya. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. Tak lupa disirami . Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut. membentuk posisi segitiga. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya. memutar. beberapa batu tampak berderak-derak. Ki dan Nyi Sura serta Rancana.

ada waktu berpisah. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua. ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. ”Kita tidak berpisah selamanya. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. *** ”Akanamia. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. Keduanya tidak banyak bertanya. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian. sudah tentu . latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai.

Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja. Postur .” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut. ”Tidak mudah. ”Saya akan coba. disetujuilan usulan itu. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. kakek.” ucap anak muda itu meyakinkan. ”Menari Bersama Air. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi. *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya. Akan kuturuti kata-katamu. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat.” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama. ”Benar. paman! Ingin menimba ilmu di kapal. ”Baik. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu. lho! Beda di dengan di darat. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu.500 BAGIAN 8.” jawab anak muda itu cepat. calon iparnya. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. paman.

Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras. Tanah seberang. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. ”Baik. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. Tlatah Matahari Terbit. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. bapak dan kedua anaknya. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini.501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Dilihat dari tongkrongan mereka. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . Lalu mereka berdua pun berpisah. begitu kata orangorang. hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya. Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal.

entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. ”bila cuaca buruk dan ada perompak. Dengan keempat rekan pemuda itu. aku Telaga. Telaga yang tidak sengaja menguping. ”Hai.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat.” jawabnya ramah.” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi.502 BAGIAN 8. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya. bertubuh besar dan subur itu. ”Empat sampai lima minggu. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini. mungkin malah lebih lama. Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka. ”Teman-teman yang menarik. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. ”Yang pertama itu bekerja di laut.” jawab orang yang ditanya.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. tapi dapat saling mengerti dengan baik. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. . Juga bahasa yang mereka gunakan. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum.” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang. yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti. ”Aku Gentong. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya.

Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. Misun nama orang itu. Keluarga yang terdiri dari ayah. ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. akan aku camkan itu. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong. Begitulah kehidupan berjalan. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut. Ki Tapa. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. Setelah ia pergi. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya.” ”Ya. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. ”Jangan terlalu banyak bercerita. Suatu yang aneh menurut pemuda itu. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. ”Telaga. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. Ya. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Tidak menggurui. . Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung. sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri.

Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal. termasuk Telaga pun bersiap. MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Para anak buah kapal. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang. di kejauhan dekat horison. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka.504 BAGIAN 8. Dan angin pun bertambah kencang bertiup. *** .

Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu.” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu.Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah.” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar.. ”Aku suka sikapmu. menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang. ”Tidak apa-apa guru. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya.. tapi itu bukan suatu buku yang bagus.” jawab pemuda itu rendah hati. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan.” ucap orang tua itu kemudian. ”Oh. belum bisa saya menilai. Jadi bagi saya. itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang.. buku yang baik atau tidak. Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 . saya ’kan belum punya banyak pengalaman. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi. Isinya macammacam.

Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Cukup panas menurut kulitku. ”Lu. Saat itu kereta cukup sepi. Atau mungkin manja? Entahlah. Hari Pertama Seingatku. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas. . Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. hari itu adalah hari Kamis. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. dua hari yang biasa-biasa saja. Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. Banyak tempat duduk yang belum terisi.506 BAGIAN 9.

Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. lima ratus. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. ”Aqua. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Lalu. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. lima ratus!” katanya. Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. dan mulai kuamati dirinya. dan lanjutnya. Aqua. ”Terima kasih!” kata sang orang tua. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. Tak lama setelah itu. ”Jeruk seribu. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini.

508 BAGIAN 9. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen. ”Bapak tinggal sendiri. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. kalo mau kerja pasti dapat. Nggak ngamen. dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua.” katanya. seribu. ”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan. ”Ya. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. di kantong ada. Di kampungnya. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” . Dua setengah kali lebih mahal. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah.” katanya dengan suara yang kurang jelas. Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya. Setelah mengeluarkan dompetnya. suami enak-enakan nggak kerja. ”Nggak ada sodara. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. ”Satu seribu?” tanyanya antusias. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. Begini-begini kerja dibayar orang. Mampang. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu.” ”Tapi bapak masih kerja. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. Nggak ada istri. ”Rejeki itu dari Tuhan. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen. Nggak perlu ngamen. Kalau duit sih cukup. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya.

pamitlah aku padanya. masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. Bersyukurlah diriku. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. menurutnya. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. ”Terima kasih. seorang tua dalam hari kedua. Amin. Ternyata di hati seorang tua. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. dan dibangunkanlah aku oleh dirinya. . Sayangnya. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. akan tetapi terbersit suatu hal. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata. kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. walaupun mungkin secara sederhana saja. Dan kemudian terkantukkantuklah aku dan akhirnya tertidur. Entahlah. ”Bagus. Hari Kedua Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. ”Mari pak!” kataku sambil tersenyum. Sesaat sebelum turun. Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. Pak!” Lalu kami terdiam. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya. sang orang tua. Proses mencari uang juga dipikirkannya. Uang bukanlah tujuan akhir. Pak!” Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang di sekelilingnya.

Deshalb muss ich viel Geld sparen. aber main Vater a nur Fleisch und Fisch. da man immer wieder schreiben soll. Gemse. Manchmal ee ich Fisch und Fleisch. Brot und Kartoffeln. Deshalb a ich alles (Salat. Aber heute ee ich lieber Suppe. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen. Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben. Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst. ”Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut. Das has mich den Mut gegeben. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. Das was letztes Jahr.” gumam pemuda itu. Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen. Aber heute habe ich kein Geld. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU **Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22 ”Hmm. Banyak kata-kata yang tak kumengerti. biasa saja. obwohl man viele Fehler macht.. Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert. misalnya saja ’komuter’. Das ist mein Traum. weiter zu screiben. Schon lange hat es nicht geregnet. Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und Zweitenstraen gekauft.510 BAGIAN 9. Fleisch und Fisch). Ein Problem hatte ich und ich konnte dafr keine Lsung finden.” Ein kleines Restaurant Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. um ein kleines Restaurant zu machen. Meine Mutter a gern Salat und Gemse.. Danach habe ich diese . **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03 Ein Schriftsteller werden mchten Ein heier Tag war es. Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und mchte es noch immer. Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt.

Ich habe schon den Name des Schriftstellers von dem Buch vergessen. obwohl er schon voll ist. Akan tetapi hal itulah yang dapat dikatakan. Ich denke. Ich bin zu mde. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27 Die Mlleimer werden schwer gefunden Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. da jede Leute saubere Stadt leben. Bertepuk Sebelah Tangan ”Terinsipirasi dengan Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto :p . tetapi intinya sama. Bukankah hal ini menjadi suatu paradoks? Mungkin. deshalb steige ich in diesen Zug ein. denn die Mlleimer sind schwer zu finden. Gestern haben wir mit dem Lehrer ber dem Mll in dem Deutschunterricht diskutiert.di mana dalam novel ini terdapat jurus Tepukan Satu Tangan yang merupakan pemahaman Eyang Sepuh terhadap Kitab Bumi. Ich danke i