Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah. bahwa mereka memang harus menunggu. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu. Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu. Jika saudara beruntung. Hening dan sunyi. Asap menjadi malu dan takhluk. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir. Keheningan itu tidak sia-sia. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin . tak tega rasanya Ki Gisang.12 BAGIAN 1. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja. Tapi semua orang tahu.” kata Asap dengan sejujurnya. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama. Katanya kemudian. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. penghuni hutan dan gunung. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar.” Kemudian lanjutnya. Bantuannyalah yang berarti bagi kami. Dan ia masih bertanya-tanya lagi. karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana. selalu ingin tahu dan penasaran. Mendengar ini ini.” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini. mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya. melalui suatu cara tertentu.

Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri. ”Benar.. dari pada keliru di kemudian hari.. benar..” ucap Tampar. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya.” sahut Ki Tapa dengan gembira. Yunani. sang pertapa tua sambil tersenyum. apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut.” jawab Ki Tapa. selatan dan barat. Lebih baik sekarang bertanya.” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung. timur. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang. ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita. ”Ki Tapa.” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik.. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing. ”Begini Ki Tapa. kamu benar sekali Gisang. lambang-lambang ini.. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan.. ”Kalau menurut saya..” .” jawab Gisang dengan yakin.. ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar. maaf bila saya masih bertanya. ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda.13 utama: utara. sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir..

Lanjutnya. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. akan tetapi karena ada . Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. sehingga tanah di sana. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya. guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga. Pikiran harus bersih. mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. bahkan lebih tua dari umurku ini. walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. ”Guruku. ”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. Dari gurunya. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. akan tetapi dari negeri seberang. Bertahun-tahun sejak itu.” ucap Ki Gisang sambil menerawang. Mereka tidak suka. sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat. ”Alasannya sudah tua sekali. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya. Bukan menjadi lahan pertanian. dapat diolah oleh mereka. kakek guruku dan guru dari kakek guruku. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat.14 BAGIAN 1. sampai ia tiba di desa ini. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya.” Ki Tapa terdiam sejenak.

yang berasal dari tanah seberang. Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini. akan tetapi usul tersebut ditolak. untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya. Ki Patuh. Ia melihat ketidak-adilan tersebut. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. . Dan terpilihlah guru dari kakek guruku. dan memberikan tanahnya kepada mereka. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda. Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. untuk mengairi ladang-ladang mereka.” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. agar penghuni desa yang tandus itu pindah.

Ki Tilu dan Ki Uu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. dingin.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas. Misalnya Jurus Udara. Pemaknaan keempat elemen (udara. Ki Duo. kedua. ”akan tetapi Ki Tapa. Akant terjadi hujan. api. kering. Jurus Api.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar. selatan. ketiga dan keempat. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara. Kakek guruku adalah Ki Tilu. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. Jurus Tanah dan Jurus Air. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles. Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita. apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. utara dan barat. basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup. . Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. Demikian pula dengan tanah. adanya racun dalam udara. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. yang berarti pertama. menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. timur. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua.16 BAGIAN 1.

” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.” ”Akan tetapi.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa. bahkan di daerah yang kering sekalipun. bahan-bahan apa yang kurang. dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan.” Lalu lanjut Ki Tapa. untuk mempelajarinya. Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin. sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari.” lanjut Ki Tapa. sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan. agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa. Dengan cara ini.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. ”Nah. dengan mereka di belakangnya menda- . orang dapat mencari-cari sumber air. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus. maka kehidupan mulai kembali berjalan. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu.

kata Ki Tapa sebelumnya. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda. tanpa pengetahuan ilmu bela diri. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari.” sahut Ki Tapa. sambil sesekali menghela napas. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.” ”Tapi. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin. Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut.18 BAGIAN 1. ”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. ”Memang benar.” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap. Kemudian lanjutnya. sehingga . ”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan. karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh.” Terdiam sebentar Ki Patuh. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti.

sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah. walaupun suatu ilmu dimilikinya. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain. Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam. karena ia kebetulan memang penunggu makam. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah.” sahut Ki Tapa gembira.. sudah ditolong.” bertanya Tampar kemudian. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia. Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini. Berbulan-bulan di dalam tanah.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan.” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.” ”Jika hampir semuanya meninggal.. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut. kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun .” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati. Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya. Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang. ”Pertanyaan yang baik sekali.” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa.

Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur.20 BAGIAN 1. sang penjaga makam. hiduplah ia. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya.” ”Saat itu sudah lewat petang. orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya. Benar-benar cerita yang sukar dipercaya. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan. Dengan tak terlalu tulus. Ki Makam orang menyebutnya. biar semua selesai. Lebih baik dikerjakan hari ini. Ki Duwo di selatan. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman. dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. dan hampir gelap. Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas. ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah. Dan ia tidak ingin. yang boleh melakukannya. mirip posisi pusat dan empat mata angin. melainkan hanya guruku. selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. . Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam.” lanjut Ki Tapa.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding.

dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut. jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. meninggallah Ki Tilu. tanpa terasa mulut mereka menganga. Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. Ki Tilu mencegahnya. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru. sehingga paru-parunya keracunan. ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar. walau hanya untuk beberapa jam. Setelah memperoleh penjelasan.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya. bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup. terharulah Ki Makam. karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru. tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk .” Hening sejenak. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya. seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut. hampir saja copot jantungnya. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. yang didominasi oleh Tenaga Tanah. Ini yang membahayakan. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula.

untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api. termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa.” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu. . Saat Ki Gisang hendak melanjutkan.” kata Ki Tampar menjelaskan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya. Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar. Saat itu matahari sudah mulai turun. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya. maka kami akan datang waktu subuh. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. Sebagai contoh bila kami yang bermasalah. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca.22 BAGIAN 1. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api. maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung. ”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita. Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya.” jelas Ki Gisang. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti.” tambah Ki Gisang. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah.

agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya.23 ”Kita masih punya banyak waktu. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin. Karena alasan yang dipikir jelas itu. akan tetapi salah seorang dari luar. yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. ”baiknya aku saja yang cerita kakang. Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu. lelah nanti pasti.” jelas Ki Gisang. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin. yaitu Ki Jagad Hitam. agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut. ia belum berani mencarinya.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. memiliki kecerdikan yang sangat. Sesuai dengan pesan Ki Tilu. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di . Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. Jika kakang terus yang bicara. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba. Suatu pukulan yang amat jahat.

Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk. sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan . Api. Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya.. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya. Tanah dan Air dilakukan.” kata Ki Makam sambil terkejut. Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya. dengan tak sengaja. masih disimpannya di dalam hati. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun.24 BAGIAN 1. Ngaco kamu!” ”Maaf. Gajah Duduk.. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. Api. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. jantung. hati. paru-paru. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan. akan tetapi rusak isi perutnya. Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. mungkin mereka dapat terluka dalam. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. maaf. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. kakak Gajah. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu. ”Makam. walaupun baru tingkat dasar. Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta. pada suatu latihan.

Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam.25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. Dengan semakin . dibatasi hanya enambelas orang. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. yang juga guru pertamanya. Api. ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang. tetapi hal itu tidak dilakukannya. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. Tanah dan Air. aman di tengah-tengah. sedangkan lingkaran dalam. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. empat orang satu unsur. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam. keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. maka posisi tersebut dimilikinya. yaitu Penjaga Udara. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. Dengan pengetahuan ini.

karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. akan tetapi dalam suasana persahabatan. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin. Walaupun dengan tingkatannya. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. Mendengar ini. akan semakin sulit tugasnya. Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. akan tetapi di luar arena. Dari mutu ilmu kanuragannya. yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. bahkan menambah rasa malu mereka. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. dan juga sang guru. tanpa melakukan telaah lebih dulu. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. sang guru. dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya.26 BAGIAN 1. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. Memang pada dasarnya darah muda. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. luka-luka dan sakit. Penjuru Angin. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. dan ini membuatnya tidak terima. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka. Memang benar dikatakan orang. hanya dua puluh murid tingkat satu. melabrak murid- .

Menjadikan mereka bulan-bulanan. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. yaitu Petapa Seberang. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. Tak lama setelah rombongan berangkat. terdapat pula tiga buah kitab lainnya. Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. . Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang.27 murid Perguruan Atas Angin. jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. telah siap untuk berangkat. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana. dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa.

” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. Dengan dalih ingin segera menolong. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh. tanpa kehilangan napas. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu. Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil. apa yang bisa disimpulkan di sana. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. melainkan hanya menggesernya. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya.28 BAGIAN 1. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana. ”Di masing-masing sisi lubang ini. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda. Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. melainkan ke timur.

yang telah . ”Maaf guru. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi. betul juga. sama sekali tidak ada jejaknya. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan. ”Betul guru!” sahut lainnya. harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam.” duga seorang dari Lingkaran Dalam.29 but. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. ilmu meringankan tubuh. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna.” ucap yang lain.” ”Di sini ada tulisan guru.” kata Ki Jagad Hitam. di sini tertulis empat kitab. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus. ”Hmm. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah.” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti. walaupun tidak sejauh hari ini. ”Makam si penghianat. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. bahkan prasasti itu sering digeser-geser. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap. ”Dia harus di cari guru. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut.” geramnya. berada di bawah kakinya sendiri. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat.

lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. Setelah ia merasa tiba waktunya. di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. dan bergegas menangkap Ki Tapa.30 BAGIAN 1. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. melalui pengamatan auranya. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. Ki Jagad Hitam. Walaupun telah tua renta. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. setelah . Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui. Sontak saja mereka kaget. Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. Seperti telah diceritakan sebelumnya.

”saudara Asap pemimpin rombongan. Ki Tapa.” kata Ki Gisang. Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. Ki Tapa. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat. Ki Tapa. ”dan siapa orang-orang ini.31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran.” sahut Ki Gisang. berlakulah hormat. rendah dan cepat lambat. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah. Para anggota rombongan pun bergegas bangun. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya. ”Ia datang.” sambut Ki Tampar. . Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung. dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka.” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa. ”Saya. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya.” katanya riang. ”Ya.” sahut Asap hormat. akan tetapi dengan nada yang berbeda. ”Wah ramai sekali di sini. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu. Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung. Tampar. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini. di hadapan mereka. tampaklah seorang tua.

tanpa berbicara.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa. ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki. Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja.32 BAGIAN 1.” sahutnya kurang senang. ”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya. Telebih tampak pada wajah si sakit. Mereka telah lama . Gisang.” ”Baik Ki.” katanya.” sahut Asap mewakili teman-temannya. Obat berhasil diperoleh. ini sudah kubuatkan obatnya. Saat ia mengambil obat tersebut. digigitlah tangannya.” ”Terima kasih Ki. ”jika sudah sembuh benar. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing.” gapainya pada kedua orang tersebut. orang-orang Perguruan Atas Angin. yang ahli obat-obatan. barulah pergi. berkatalah Ki Tapa. ”Tampar.” ”Pilihan yang bagus. Ki Gisang menggangguk pula. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang. saya juga setuju.” sahut Ki Tampar. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun. Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas.” ”Hmm. untung aku membawa kedua penawar tersebut.” jelas Asap. bener-benar banyak ucap. ”Sudahlah. aku ingin bicara sebentar. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan.

dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa. ”Sebenarnya. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau. selain sebagai penghubung. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu. ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh.” lanjut orang itu.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris. ”Saudara Asap. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni. harus mencari obatnya di sini.” katanya. Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali. Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau. ”Baiklah kalau kalian setuju. Mintalah obat kepadanya.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Ki Gisang bertanya kepada Asap.” jawab Asap dengan hormat.” ”Baik Ki. dan bagaimana . saat si sakit sedang dalam pengobatan. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau.” jelas Asap. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya. pada suatu ketika.” kata Ki Tapa kembali. ”ini pun menurut dia. yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan.” sahut mereka hampir berbarengan. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang.” ”Benar Ki Gisang. bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh.

pikirnya. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. *** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah. Lalu lanjut Ki Tampar. Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa.34 BAGIAN 1. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. Pun saat ditanya. Mungkin juga bukan apa-apa. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. ceritakan hal tersebut. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa.” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti biasa . Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. Dan malam pun semakin larut. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. Mereka lega karena Asap tidak berbohong.

beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. pedagang. di Desa Luar Rimba Hijau itu. Juru Dagang. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. yaitu Juru Tani. Dan pagi itu. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan. karena harga-harga akan menjadi mahal. dan pengrajin. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. Juru Karya dan Juru Cipta. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. Jika dihubungkan. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. Umum- . Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. pedagang dan pengrajin. untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. atau ahli dalam bidangnya. Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul.

Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. sebelum mereka pergi ke luar dari desa. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama. Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah.36 BAGIAN 1. ”Benar usulnya itu. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. kita coba datangi saja mereka. kita paranin saja. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya.” sambut Ki Rabat. seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya. Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. ”Sudah. Akan tetapi hari itu. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin. kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan. Ki Surya. jangan sam- .

karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya. semua. Dan para pedangang itu tunduk. ”Selamat pagi.” jawab Ki Rabat.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. untuk itu belum Ki Surya. ”Selamat pagi. .” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya. ”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya. Lalu tanyanya pada Juru Dagang. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya.” tanya Ki Surya setengah menggoda. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah.” sapa mereka hampir bersamaan.” balas Ki Surya dengan ramah. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini. ”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin. ”Ah. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini.” kata Ki Surya. Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian.” ”Usul yang baik itu.37 pai menimbulkan keributan. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah. ”masih satu bulan lagi. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan. Ki Surya. para penduduk mengadakan perayaan.” jawab Ki Murah tersenyum.

beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. Dan sebagai tanda kepercayaan. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. Suatu pagi yang cerah. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah. dan juga sebagai petunjuk jalan.38 BAGIAN 1. bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan.” jawab mereka serempak. parit- . Ia mengagumi sistem tatanan desa. Akan tetapi untuk memastikan hal itu. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa. yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. ”Baik Ki Surya. Kemudian berlalulah Ki Surya. sampai akhirnya. ada perumahan. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah. perkebunan kering. perkebunan basah. *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini.

Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini. ”Begini nak Asap. membuatnya kerasan.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif. sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi. entah itu hasil keluaran tubuh. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. ”Jelasnya bagaimana. karena letaknya yang jauh dari mana-mana. istri Ki Baja. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. Hal lain terjadi. Apalagi mereka tidak mempunyai anak. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami. membuat sejenis . Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran. paman Baja?” tanya Asap ingin tahu. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. karena toh tidak akan terjadi apa-apa. ”dahulu kala. dan adanya seorang muda seperti Asap. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung. Jarang ada orang yang bertandang kemari. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini.

Harus dicuci bersih sebelum . Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. Oleh karena saking gandrungnya. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. Variasi apa yang dihasilkan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung. karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa. Jika dahulu kala. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan. Hamparan Hijau mulai berkembang. dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. Akibatnya sudah tentu fatal. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. Karena adanya kesibukan baru. dapat terbang bersama air dan angin. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. Dan bila tidak baik bagi ternak. Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya. yang diperoleh dari luar desa. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. akan tetapi pasti. sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. dan membuanngnya jauh di luar desa. Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh. sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. Sedikit demi sedikit. para penghuni desa jarang jauh keluar desa.40 BAGIAN 1. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin.

Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. Tinggal menunggu waktu untuk binasa.41 dimasak. dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. orang itu mengobati penduduk desa. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. suatu pintu air dapat dibuka. para penghuni Desa Ujung keracunan. sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. Dan sampah-sampah yang tadinya . mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. sampai hampir membinasan satu desa. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan.

ia dengan senang hati akan menolongnya. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa. telah terbuang banyak tenaganya. ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Begitu pesannya. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. Akan tetapi tidak tampak dari luar. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana. dialihkan ke dalam hutan. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya. saat terjadi peristiwa tersebut. karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. Bila ia ada kesempatan untuk . bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Akan tetapi dari kisah Ki Baja. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau.” jawab Ki Baja. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa.42 BAGIAN 1. ”Untuk itu ada baiknya. Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau.

akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. Orang-orang sipil. rasa kebangsaanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang. ditindas kemauannya. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. dengan melayangnya nyawa. Ironis bukan. Membunuh demi kemanusiaan.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi. Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. semua untuk kepentingan penguasa. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. sudah dipastikan akan dilakukannya. dirampas haknya. mencegah terjadinya perang kembali. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit. Berperang. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar. Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga. demi kemanusiaan dan kedamaian. diperkosa kebebasannya. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri. sudah merupakan anugrah yang me- . Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang.

ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet. karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara. Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan. Dalam keadaan luka parah dan depresi. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. karena ditegur dengan keras. akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. dengan masih ditemani oleh . Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. pejabat menindas bawahan. dan sebagainya. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. Bahkan di kali terakhir. cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. Pembesar menindas rakyat. adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. entah keturunan keberapa. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa. Boro-boro menurut.44 BAGIAN 1. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid. yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan.

Seperti gerak melingkar. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh. Hanya pikiran yang dibutuhkan. Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. Selain dari pada itu. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama. Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu). yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. kaum pemberontak. Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul.45 beberapa temannya. maka lain halnya dengan Petapa Seberang. untuk murid yang telah ahli. membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. membelokkan tenaga lawan. yang setia kepadanya. Pada penggunaannya dalam pertempuran.

Menyerang. Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan. Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. ilmu pengetahuan. secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang. saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. dinamakan . suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya. dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung. berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua. kekuatan dari cinta kasih. Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar.46 BAGIAN 1. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang. Dalam pencerahannya ini. memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido).Seni Kedamaian. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. pengobatan dan kebaikan. dan menjadi murid dari su- . akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain.

Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya. tantangan. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. Sejalan dengan berlalunya waktu. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. kebersamaan. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. mengalah tetapi tidak kalah. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus.47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. kedamaian dan ilmu pengetahuan. berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. Akan tetapi walaupun demikian. yaitu: keberanian. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. kepemimpinan. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Petapa seberang memiliki satu kelemahan. Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. dari arah putar kanan dan putar kiri. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. yang dikenal sebagai Atap Langit. pengorbanan. semuanya dicernanya dengan baik. yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit. .

kesabaran dan ketenangan. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat. yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut. Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut. penyakit. yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. ia merasa belum apaapa. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. juga dengan pengikut lainnya. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut.48 BAGIAN 1. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul. Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang. Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. Master Tagasi. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu. Usahanya tidak sia-sia. yang saat itu telah berjumlah lima orang. dan bersama-sama mereka. yang berarti Ilmu Muda Selamanya. serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. perlahan mulai hilang ditelan waktu. Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini.

” tanya Petapa Lain Pulau. Pengendalian Otot. Tujuh Rahasia. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja. yang merupakan permintaan terkhirnya. Gerakan Tubuh. Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. tapi menjadi kedamaian. sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es. . Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga. Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. Kateda. Nama ilmu ini sendiri. Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Pergerakan Hawa. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. yaitu Cara Bernafas. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya. Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan. ”Kakang Gunung Es. Pemusatan Pikiran.

50 BAGIAN 1. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran.” imbuh Petapa Seberang.” jawabnya dengan serius. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama. Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih. ”sama sekali lain. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini.” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. ”Bukan adik Seberang. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak.” sahut Petapa Seberang menambahkan. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. tapi pada bagian sebelumnya.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing. berdiskusi dan bertapa. yang . Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut.” ”Misalnya. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. berdasarkan pemahaman lainnya. lalu ujarnya. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu.” jawab Petapa Gunung Es. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. Sambil kadang salah seorang. sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut. ”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran.” ”Kalau aku lupa. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam. melainkan merenung dulu sebentar.

”Tidak. lalu lanjutnya. ”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah. ”aku tidak terganggu. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu.. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu. maaf Ki Tampar.. di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri.” jawab Asap dengan sopan.” ”Tak apa-apa. Dan sang angin pun bertiup menjauh. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri .” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya. tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga. membuat saya keluar dan ingin menyapa.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya.. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar.” jawab Rintah. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau.” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya. tidak. *** ”Saudara Asap. saya memang sedang mengaso.” jelasnya sambil tersenyaum.” Rintah dan Asap terlihat malu. tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah. Sang angin pun tersenyum. ”Oh..

Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang...52 BAGIAN 1. ”E. biasanya begitu. boleh.. Ada hal yang ingin disampaikan. Besok ”Eh. Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan. maaf Ki Tampar. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap. Asap. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda. ”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh...” jawab Ki Tampar penuh rahasia. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu. agar mereka besok malam.” jawab Ki Tampar.” sahut Ki Tampar. benar-benar menarik dan menegangkan ini. Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau. Ki Gisang dan Ki Tampar. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa.” sahut Rintah dengan antusias. Tak jauh .” ”Wah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu. malam.” memberitahu Ki Tampar..” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa.” tanya Rintah malu-malu.

akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau. Mereka berdua. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. baik dari manusia atau alam. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau. sebagai penghubung. berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan. dan bahkan juga di antara para kawula tua. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya. Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. sedangkan bulan belum muncul. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti. akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. Hari ini Ki Tapa. dengan membaca tanda-tandanya. sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini.

”sudah semua datang.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas. sejak lama ditunggu-tunggu. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. ”Jaka. Saat ini adalah saat yang kita. kemudian lanjutnya.” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- . ”Tak perlu. Atas permintaan Ki Tapa. Itu mereka datang!” Dan benar.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. Ki Tampar membuka pembicaraan. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar.” usul Ki Gisang. ”lihat di ujung lapangan sebelah barat.54 BAGIAN 1. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut. dan persetujuan para tetua desa. Setelah kedua orang itu tiba. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. ”masih ada dua orang lagi. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau.” jawab Jaka dengan hormat. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain. Rantih dan Misbaya. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran. Ki Gisang. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa.

Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu.” kata Ki Tampar. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. melainkan ia malah berjalan berkeliling. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu. ”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan. Lalu ucapnya. sehingga punggung mereka saling bersentuhan. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba. yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini.” sambung Ki Gisang. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh. Itu yang penting. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama . Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini. ”Adapun. Asap.” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. ”Para kawula muda desa sekalian.” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya. membuatkan jalan masuk bagi mereka. Ki Surya kami persilakan. Setelah para tetua berada dalam lingkaran. saat mereka masuk. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk. Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran. Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat. ”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba.56 BAGIAN 1.” jawab Paras Tampan. mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran. ”Sebelum kita berangkat.” jawab Ki Tampar. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu.” kata Ki Tampar. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya.” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. ”Utarakan nak Paras Tampan. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan . Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba.

Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. . Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. Umumnya sisi bagian utara. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. menurut petunjuk dari portal dan lontar. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar. Di sana di pelataran berbatu tersebut. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut.57 sang pujaan hati. dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman. Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. Saat yang tepat. yang mengarah ke Gunung Hijau. menuju Rimba dan Gunung Hijau. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut. jarang dipergunakan. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. sambil tetap berdiri.

bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing.58 BAGIAN 1. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan. Setelah itu menentukan arah. Mereka akan berlatih di sana. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan. jika sampai ia salah menafsirkan. akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. Rimba pun mulai dimasuki. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. . Perjalan yang tidak mudah. diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki. tampaklah langit kembali di atas kepala. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. Kemudian setelah ketemu.

Itulah Gunung Hijau. Citra Wangi. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . sesuatu yang pernah dilihatnya. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. di mana beberapa kawula muda. karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. Tinggi. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. terutama yang perempuan. Ia berusaha mengingat-ingat. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. berarti arah yang salah akan dipilih. terkesan kasar. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. Dalam artian ini. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. melainkan bergerombol. maka bisa makna yang salah dapat diperoleh. sukar untuk dilupakan. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. Setelah beberapa saat berjalan. Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh. merasa kakinya hampir habis. dari luar Rimba Hijau.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan. kekar dan dingin. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. Ki Tapa.

karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci. Makan malam. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya.” lanjutnya. di tengah malam? Benar-benar makan malam. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut. Tikus-tikus. Ia membelakangi mereka. Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau. Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Bau sedap pun mengembang di udara.” ucap orang itu. Kemudian ia berbalik.60 BAGIAN 1. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar. masih membelakangi tamu-tamunya. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. ”Masuklah. Rumah yang sederhana. Suasana pun hening. Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api. ”Sebentar lagi makan malam selesai. berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. ”Akhirnya selesai. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. Tidak banyak perabot di dalamnya. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira . Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan. Tapi mereka diam saja.

yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Tiada yang jatuh ke lantai. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan. Semua pun makan tanpa bersuara. kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. Ialah Ki Tapa. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa. tempat ia akan duduk nanti. kasar dan bersih. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut. Cukup untuk tambah setiap orang. Entah apa kandungannya. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum. selebihnya merasa telah cukup. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut. makanan tersebut mengenyangkan. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk. hanya beberapa orang yang masih lapar. Di panci masih banyak tersedia. jangan malu-malu. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. . Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata.” lanjutnya. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. Belum habis kekaguman mereka. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. ”mari makan. ia dengan lahap menyantap makanannya. ”Mari-mari makan. Ternyata walaupun terlihat sedikit. tanpa ada sececerpun air yang tumpah. Termasuk di kepala meja.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi.61 dan berwajah ramah. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut.

empat mata angin utama dan empat mata angin antara. Katanya pelan seperti hembusan angin. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana. ”Setiap orang maju sepuluh langkah. Gunung Hijau adalah arah Utara.” perintah Ki Tapa. Pejamkan mata dan rasakan semua itu. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang. Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok. wangi uap air di udara.” Mereka berdua mengiyakan. Masing-masing kelompok delapan orang. aliran darah. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu. ”Jangan tidur. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka. Punggung bersentuhan. terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. semilir angin di rambut.” ucap Ki Tapa. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin. ”Tapa dan Gisang. Dengarkan napas kalian. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin. menuju lapangan di sekitarnya. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini.” .62 BAGIAN 1. Gatal-gatal di pantat.” perintahnya selanjutnya. ”sampai kusuruh berhenti. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. dengarkan alam sekitar kalian.” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok. denyut jantung.

Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. Bahu tidak rileks. *** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. agar dapat menemukan jalan pulang. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Kepada tidak tegak. merasakan alam sekitarnya. Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. Misalnya saja. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. Angin-angin. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru. salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. Batu-batu serta Seribu Ramuan. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. Dubur tidak diangkat. Telah terjadi banyak perubahan di sana. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. Punggung tidak tegak. Perut kurang ditarik ke dalam. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti.64 BAGIAN 1. . sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin.

Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu.. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka. hihi....” gumamnya.. Nanana. dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling.. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. tulang bagus. Pandang matanya kosong. sang anak masih duduk di sana. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu. Tralala. hmm. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah. postur tepat... sayang sedikit perasa. resah itu juga tiada gunanya.. kera-kera bermain di hutan. Buat apa susah.. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda. bunga semerbak merekah... ninini.. haha. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya. orang aneh itu pun berhenti. trilili. Ia masih saja duduk termangu.. buat apa resah. susah itu tak ada gunanya. 65 .. didi. dada... Anak tersebut tampak tak peduli. ”Bagus. Dengan masih tersenyum. matahari bersinar cerah..” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh...

”Nah tuh.” jawabnya jenaka. ”kalau paman.66 BAGIAN 2. ngatain orang budeg. sekarang malah ketawa nggak ketulungan. alih-alih marah. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi.” jawab anak itu. Ia memang begitu. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya. bukan?” ”Hahaha. Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya. ”Nama saya Lantang. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran. saat tertawa. karena paman tertawa sambil menangis. benar-benar.. Lalu ucapnya. tidak bisa menahan air matanya. kecil-kecil sudah budeg. Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini. wah kamu itu lucu bener. ”Nggak ada hujan atau angin. Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya.” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut.” jawab Rancana terkesan. cah bagus.. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu. tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. ”engkau cerdik . ngeri ah! Kabur. paman. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba. ”tentu saja. ”Wah sayang. ”Namaku Rancana. ”Wah. dan ia pun berkomentar. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak.” jawabnya dan lanjutnya. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu.” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri.

”tidak paman.67 sekali Lantang. ia pun akhirnya berkata.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. Eh. mencetak emas dan lainnya. membunuh atau perbuatan jahat lainnya. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. ”tapi paman.. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru. ilmu silat. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka. Demikian pula dengan api. ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan. Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan.. ”Logika yang tidak tepat itu. misalnya memotong daging untuk dimasak. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya. sehingga ucapnya. ”tentu saja belajar kanuragan. ”saya benci ilmu silat. api yang diatur dapat digunakan untuk memasak. ”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng.” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya.. dengan paman. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati.” terangnya kemudian. melunakkan logam.” Lanjutnya kemudian. cah bagus. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” . Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu.

walaupun tanpa suara. paman!” jawab Lantang jujur. saya belum pernah mendengar hal seperti itu. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. Dan . perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. Rancana.” jelas Rancana. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur. Sesaat. ”Apa yang sebenarnya terjadi. ”Menangislah. mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. Hening. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih.68 BAGIAN 2. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. tidak pantang seorang lelaki menangis. si Bayangan Menangis Tertawa. Lantang mendadak terlihat murung. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi. ”Wah. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain. tiada suara lain di sekitar mereka. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. Antara lain untuk menjaga kesehatan. dan bergulirlah air matanya jatuh. Selain suara angin dan debu yang beterbangan. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah. Melancarkan peredaran darah. cah bagus. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis. Ia tidak mau terlihat lemah. melancarkan nafas. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. maka tanyanya lebih jauh.

Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya. Orang-orang ahli silat. Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang.. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda. Jagad Hitam. Sedikit lebih baik perasaannya. ”He. bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang. menyerahlah. Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis.” . Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin. Di sisi timur berdiri sembilang orang.” teriak Naga Geni jumawa. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua. tenanglah Lantang. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya. karena mereka berada di daerahnya sendiri. Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama.

” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu. Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. daripada aku yang melakukannya.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya. Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu. yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. ”Hemm. dengan arah putaran yang berbeda. berkacalah. Naga Geni merengsek maju. . mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. orang-orangmu juga hampir habis. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang. akan tetapi tidak yang kedua. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. Dengan dua buah kapak.70 BAGIAN 2. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama. ”Naga Geni. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang.

mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran. Murid-muridnya. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut. Dan. Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya. perguruannya. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh.” Mendengar berita itu. sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. . Toh. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar. Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya. Akibatnya sudah dapat diduga. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin.71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur. Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung. Mendadak terdengar suara. Bertempuran pun kembali dimulai. Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam. ”Guru.. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya... ”capp. perguruan diserang. itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam.

tampak di mana-mana.” usul seorang dari Lingkaran Dalam. Perguruan Atas Angin.. lebih baik engkau bunuh diri. yang membela keunggulan nama perguruannya..” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin. ”terlalu enak apabila dibunuh. Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda. bukan?” ”Boleh juga usulmu itu. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu.72 BAGIAN 2. jika boleh dikatakan. ”Hmm. cikal bakal masalah. Tapak Kelam. Ada yang mati hangus terbakar.” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. ”Sesukamulah. Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam. ”hahaha. Setelah beristirahat sebentar kemudian. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis. hanya setinggi lutut dari atas tanah. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. bagus Naga Geni. Semuanya hancur. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api.. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah.” ujar Ki Jagad Hitam.” kata Ki Jagad Hitam. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda. PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam. Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah.

Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang. paman. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung. Tapi apa dayaku.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. paman.” Lantang pun terdiam. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu. tentang bagaimana orang tuanya. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa. tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri. Setelah puas menyiksa mereka. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri. ”Jadi itu alasanmu. Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada. ”Benar. untuk meyakinkan. oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka. harus me- . Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan. Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya.73 sanakan niatan itu. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan.

Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya. Lantang tahu hal itu. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Ada kotakkotak. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju. Lambang Perguruan Kapak Ganda. gulungan-gulungan kain. salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. Ia memilih lebih baik menyendiri. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh. Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. atau merupakan bawaan. PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas. Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda. Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. akan tetapi ia tidak bisa. jauh dari keramaian.74 BAGIAN 2. dari pada harus berseteru dengan orang lain. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. sayur mayur dan barang-barang lainnya. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat.” ”Begini saja. Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya. saya tidak suka kekerasan. ia hanya menjauh dan menghindar. ”Tapi paman. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah .

Semakin segar mayat yang akan digunakan. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin. Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. karena percuma. Senjata andalan- . Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. Mengandung racun keji dan ganas. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. marah dan tidak rela. Bahkan tidak jarang. sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan. Sabit Kematian dan Cermin Maut. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. ketakutan. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik. Mayat Pucat. Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. semakin baik. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci. Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa. Naga Geni. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan. saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau. ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan.75 menimpa perguruan mereka. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh.

”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut.76 BAGIAN 2.” tanya seorang dari mereka. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya. Apabila dilihat dari wujudnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Hanya puing dan reruntuhan yang ada. yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh. akan tetapi sudah disebar kemana-mana. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat. Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa. Pun tidak ada gunanya . Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang.” usul seorang. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud. Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Sudah banyak jago-jago muda. Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar. terutama yang tampan.

. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya.!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja. melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal.!” ”Tiga ratus sembilan belas.. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak. ”Tiga ratus delapan belas.!” ”Dua ratus tiga puluh delapan. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya. melainkan berganti-ganti. Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan. Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan.. di kaki Gunung Hijau.!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau.77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara.. Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda. Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi. Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada .

ditahan atau digentak-balikkan. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan.” jelas Ki Tapa. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung. Kita merugi. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan. dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara. tenaga sudah habis diberikan. dan kita kehilangan kendali. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut. Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut. Ini dikenal sebagai keras lawan keras. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang. jika yakin masuk dan menang. saat itulah serangan akan masuk. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. ”Dengan adanya kuda-kuda. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat. Yang kuat akan menang. sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini. dengan jarak kirakira selebar bahu.” Lanjutnya. Tergantung apa yang hendak diperoleh. dialirkan. ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara. Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan.78 BAGIAN 2. Bisa dibelokkan. Untuk itu . maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. Apabila melangkah ke depan. Akan tetapi hati-hati.

mereka kurang lancar. ”Habis sudah napasku. adiknya. Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran. Mereka yang termasuk dalam golongan ini.!” ”Betul Rintah”. ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan. masing-masing delapan orang. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari. Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan. ”Wah Rintah. Harus agak serong. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. dan bahkan tidak mau. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan..” ucap Paras Tampan terengah-engah. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. akan tetapi tidak melakukannya. karena mereka bisa dengan mudah melihat. akan tetapi sulit untuk melakukannya. Dan . Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. biasanya minta langsung untuk menirukan. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan. sahut Rantih. yang melakukannya dengan beriringan.79 mereka dibagi dalam tiga kelompok. melengkapi dan mengingatkan.” kata Misbaya. keliru itu langkahmu. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. agar mereka saling membantu. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka.

Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. Hanya sebagai catatan. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. Tak lama kemudian. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai. . Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka. melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. Asap. *** Waktu makan siang pun datang. Sambil sesekali juga bercanda ria. Di tengah padang rumput. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi.80 BAGIAN 2. kurang lebih sepeminum teh hijau.” begitu jelas Ki Tapa. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati.” Benar. Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa. untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. mereka jangan menekuk kakinya. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. ”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai.

oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau. mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama. ungkap Ki Tapa. Sedangkan hari-hari selanjutnya.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar. Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. kadang terdapat sayuran. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. Mereka pernah juga membicarakannya. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. Dan yang aneh tercium bau wewan- . Makan siang yang sederhana. Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. ikan. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya. Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. makanan pun dihadirkan di sana. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. bukanlah perkara mudah. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. Nasi dan ikan bakar.

Dalam acara makan bersama seperti itu.82 BAGIAN 2. Ia. simpanlah dulu pertanyaan itu. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. Dengan semakin berisinya kalian. Selalu tandas dan bersih. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. Untuk sementara waktu. ”Gentong. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. Kekurangan setengahnya. akan semakin jelas apa yang tampak. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi. Lalu jawabnya. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. Kirani. kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. Begitu pesannya. lebih dari yang lain. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri.” kata Kirani. salah seorang kawula muda putri. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. seperti halnya dalam latihan. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih. kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya. apalagi di Gunung Hijau ini.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya. umumnya hanya makan setengah porsi. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di . Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. Ki Tapa hanya tersenyum. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. satu orang sepersepuluh. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah. Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. siapapun dia. ini bagianku.

Coreng. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. Kemudian tanpa diperintah. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu. makan telah usai dan juga waktu istirahat.. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai. seakan-akan telah biasa. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa.” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta.. ”Baiklah. . Semut-semut yang berjalan..” kata Ki Tapa. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. ”Sekali-kali bolehlah. ya ’kan?” jawab temannya kukuh. Angin semilir. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. Setelah semua siap. Kecil. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin. Tidak terlihat wujudnya. ”Moreng. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. halus.83 antara mereka saat makan. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. tapi jelas. Sontak mengagetkan kedua insan itu.. tapi tidak untuk tidak melihat. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. Lakukan sampai seribu tarikan nafas. Kembalikan ke dalam keranjang di sana. ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih. Serbuk-serbuk bunga. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. tapi terdengar suaranya. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu.

. Sesampainya di depan Pondok Batu.” tambah Moreng. ”Iya.. ”Baiklah. lalu lanjutnya.. ”Iya.84 BAGIAN 2. Ki Tapa pun menghela nafas. Coreng. Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. Moreng. Dan paling besar berukuran sebesar gajah. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. Ki Tapa. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. ”Maaf Ki Tapa.” terang Ki Tapa. Wajahnya masih terlihat ramah.” sahut Moreng. maafkan kami. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian.!” katanya tegas. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka. akan tetapi tanpa senyum.” Tapi tanyanya kemudian. ”Begini. ”Berikan penjelasan. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu.” jawab Coreng. berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami. Manusia Tiga Kaki. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga . Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil. tak apa-apan. Ki Tapa pun berpikir sejenak. ”Tidakkah. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ki. kami hanya ingin melihat mereka berlatih. Dengan mengetahuinya. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu.” jawab Coreng. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia.

Terserap. Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka. Dan di saat itu.. Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu. Apabila dikatakan tidak terpengaruh. jangan tampakkan wujud kalian. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati. bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- . ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. ”Benar.85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi). ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi. dapat berbahaya bagi manusia.. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang. bolehlah kalian berkenalan. sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki.” jawab Ki Tapa. yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo). aku tidak apa-apa. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala.” ”Ihh. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Mungkin sudah hukum alam.?” tanya Coreng bingung. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian.. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada. Sebelumnya. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek.” jelas Ki Tapa. aku tidak bisa menjelaskan. ”Mengapa hal itu terjadi.” jawab seorang di antara mereka.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri. Bila mereka telah cukup kuat.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan. maka tenagaku akan habis dan mati.

Mawon Sanmdi.86 BAGIAN 2. Baik ukurannya. dengan kesaktiannya yang tinggi. Hitam-Putih. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja. Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri. . Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. pemimpin mereka. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. Dan hanya dari manusia. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. yang dulunya bernama Cipta Raga. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. maupun sifatnya. ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang. Hitam-Putih dapat menang. tenaganya.

”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini. apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya. Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka. Misbaya. tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya.. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting. waktu mengheningkan cipta usai.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya. Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya. Sebagai reaksinya. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan. Setelah beberapa mencoba. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan. karena kaki mereka yang kesemutan. Rintah dan Asap.87 Dan tidak hanya itu. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . *** ”Cukup. meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut. Periuk besi yang penuh berisi ramuan. Hanya sayangnya. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih. ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya. Dengan senang hati. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya.

”Jangan kuatir. ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya. Beberapa dari mereka tampak kecut. lentur gerakannya akan tetapi mantap. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras. yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. kaki-kakinya menjadi kuat. untuk memasak sejenis masakan.” jelas Ki Tapa. tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini.” lanjut Ki Tapa. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. begitu melihatnya. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja. ”Ini disebut Langkah Ayam. Pikir mereka. ramuan yang tidak cocok.” Mendengar bahwa periuk. Pertama ia mengejar keretakeretanya. saat ia mengawal barang-barang hantaran. yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. Berulang-ulang diperagakannya. berkatalah Ki Tapa.88 BAGIAN 2. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya. Akan tetapi hati-hati. Ki Tapa pun berkata. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan. Selang tak berapa lama.” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun. sampai menghampiri. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. akan menghasilkan racun pada larutannya. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li . bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. selagi aku sendiri yang membuat ramuan.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok). periuk ini dibuat. Dengan cara ini. yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau.

.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara. sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain. Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. Agar seperti Li Jeng. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada. Tidak banyak orang yang hidup di sana. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana. Tidak bisa digunakan. Hanya beberapa orang nelayan dan . Tidak bisa dialirkan.89 Jeng sedemikian tingginya. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar.. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Sedih hatinya melihat muridnya. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana. Akan tetapi entah karena apa. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. Kawasan yang sunyi dan sepi. dengan lirih ia berkata. Ki. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh. Ki Tapa pun tersenyum. Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu. tolong Periuk Kerbaunya. jalan darahnya tidak lancar. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam.. Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut. Akan tetapi percuma. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah. Sudah berulang kali ia mencoba.. Ia baru saja memeriksa badan muridnya. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih..!” Terdengar jawaban lirih pula. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah.. mungkin pikir mereka. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang. Moreng. ”baik. ”Coreng.

PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu.” ucap Rancana pada muridnya. sudah tentu ia bisa mengetahuinya. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat. saat mengetahui bahwa tubuhnya. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang. hanya lima orang yang hidup di sana. Toh. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru.. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. saya tidak akan menggunakannya. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa. ilmu silat yang engkau pelajari. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan. ”Janganlah terlalu bersedih.” panggil Lantang perlahan.” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. ”Saya tahu.90 BAGIAN 2. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana. ”Guru. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. gurunya. ”Lantang. Dan seperti guru ingat dulu. tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. Ditambah Rancana dan Lantang. menghela napas panjanglah Rancana. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat. guru!” dan kemudian jelasnya. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya.. masih dengan nada yang sedih. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa. Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya.

Jadi dengan ilmu ini.” ”Suka saya mendengarkannya. terdengar sangat menarik.?” bantah Lantang.” kata Rancana pada akhirnya. Guru Tua Morehe Uwesiba.. guru. bila engkau berlatih dengan baik. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar. Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa.. dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan.” ucap Lantang. Apa mungkin ada orang yang selihai itu. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus.91 nya. Lantang!” perintah Rancana. Lalu katanya. . guru!” tanggap Lantang. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya.” ”Wah. Terlihat Rancana berpikir sejenak. Melainkan hanya untuk membela diri. ”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. ”Baiklah kalau begitu. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu.” ”Baik.” jelas Rancana. ”Cobalah engkau serang aku.. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba. Tidak akan mendatangkan banyak lawan. di balik lautan. engkau akan dapat membela dirimu sendiri. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya.” sahut Lantang patuh. guru. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. ”Tapi. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya. guru.” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya. ”Pencipta ilmu ini. Lantang.

ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari . membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu.. Sederhana karena geraknya mudah. sehingga Lantang batal terjatuh.” jelas gurunya. Bila tidak pada saat yang tepat. sambil memutar tubuhnya. Rancana. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. guru?” jawab Lantang muridnya jujur. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju. mengapa serangannya itu tidak berhasil.” jelas gurunya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura.. Ia baru dapat menerima beberapa bagian. ”Serangan lurus ke depan. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. Melihat kebingungan muridnya. Rancana hanya tersenyum. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang.” Lantang mengangguk-angguk. Dengan cantik dan lemas. ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. secara alami bisa setiap orang melakukannya. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. akan tetapi dengan lebih lambat. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan. Bagian lain masih gelap baginya. ”Baik. tanpa tipu-tipu.92 BAGIAN 2. ”Tidak. bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya. Pada saat yang tepat. Bahkan dipukul balik. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. guru!” jawabnya mengiyakan. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. Rumit karena harus pada saat yang tepat. dielakkan dan dimusnahkan. memang serangan paling sederhana dan rumit. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya.

engkau harus punya rasa. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. baru memukul. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. Belum sampai. Penasaran pada hal tersebut. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. dengan kedudukan yang stabil. ia dapat tersungkur. Dan ia tidak lagi tersungkur.93 belakang. ”Bagus. Jangan lepaskan. saya tidak lagi terguling. tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. tidak melebihi. ”Cobalah!” ucap gurunya. Setelah mengerti. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. Setelah tiga-empat telapak kaki.” jawab gurunya. Bila tidak sampai. Lantang. Maju lagi. . dapat mengenaiku.” ucap Rancana. Memajukan kakinya. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya. ”Kamu benar. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama. Kali ini Rancana membiarkannya.” Lantang pun mengangguk-angguk. ”pada jarak segini. dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya. Mendekatlah. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. Belum sampai. Cobalah!” Lantang pun mencoba. Lantang pun kembali terjatuh. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia. apakah pukulanmu sampai apa tidak. ”Guru. Kesalahan yang sama terjadi lagi. apalagi ditarik seperti tadi. Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini. Dengan demikian. memang dengan cara ini. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. Gurunya tidak bereaksi. ”Benar.

Sudah waktunya beristirahat. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. tangan sudah dikembangkan. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. pinggang. Hasil rembesan sungai di atasnya. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. Tapi ia tidak mengeluh. Bumi. Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. Mengisi perut. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali. Kagum ia pada semangat muridnya. akan tetapi tidak minta berhenti. ”Kita istirahat dulu. Berulang-ulang kali.” ”Baik. Temui aku nanti di Rumah Kayu. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. tanpa tenaga. lengan dan meledak sampai ke kepalan. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. Alhasil. Menuju ceruk kecil. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah. Saat bergerak.94 BAGIAN 2. Tirukan aku!” perintah gurunya. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. hanya gerakannya mirip. Pukulan Meriam. paha.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. kaki belakang melurus dan pinggang berputar. telapak kaki. Sebelum tenaganya sampai ke dada. guru! Saya lupa lagi. Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih. Lantang mencoba menirukan.” kata Rancana. ”Tidak apa-apa. . Rancana menghentikan latihan itu.

Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. serta satu keluarga lagi. Rancana dan Lantang muridnya. akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Hidangan makan malam telah tersedia. yang hanya terdiri dari lima orang. Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. karena panjangnya pada arah timur-barat. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. Ki Sura. Mereka telah menunggu. Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. Nyi Sura.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Itu lebih baik. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. Setela kejadian itu. . Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini. ”Selamat malam. dan Telaga. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu. tampak ketiga orang lain itu. Bila dilihat dari atas.” katanya kepada ketiga orang itu. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu. Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung.

. ”Ceruk mana. pecel belut. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. ”Ada apa sebenarnya. sayur bening. siapa namanya. Ki Rancana. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana.” jawab Telaga. makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan. karena ada orang yang dapat diajar bicara.. Eh. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut. Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba.96 BAGIAN 2. Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu. ”Wah. Seperti telah diduganya. Tidak banyak bicara mereka. kerang sambal. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang.” jelas Rancana. Ki?” ”Lantang. Apalagi Ki Sura. Lantang nama anak itu Telaga. Dulu sebelum Rancana datang. ”Betul. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya. Memang pendiam orangnya.. Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. Hanya Telaga yang banyak bicara. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid. melainkan dari Telaga. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu. Sebelum ada seorang pun yang berkata.” jawab Rancana agak bingung. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi.” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . Ada ikan mas bakar. sehingga perlu disambut seperti itu. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta.. tidak ada teman bicara dia.” jelasnya. senanglah Telaga. lalapan. anak dari Ki dan Nyi Sura. terong dan sudah tentu nasi.

melainkan melihat pada suatu arah tertentu. Ia tampak telah bersihbersih. Tapi sebagai seorang ahli silat . Ayah pasti bisa menolong muridmu. ”perhatikan saja. Undinen itu pun bergerak mundur. Rambutnya panjang sebahu. Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. Dalam suatu ceruk yang paling besar. Lalu bisiknya lirih.” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka. ”cah bagus. Ki. akan tetapi tidak langsung berpakaian. Saat-saat yang menegangkan. jangan bergerak. Seakan-akan suatu parit dari batu. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam.97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi. Dengan suatu cara tertentu. Biar aku yang menangani Undinen itu. Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang. Terdengar suara lirih Ki Sura. Tampaknya ia tidak suka api. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya.

Malam itu sebenarnya sangatlah indah. Orang-orang yang sederhana.98 BAGIAN 2. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. apakah tadi itu? Yang mem- . ”maaf Ki Sura. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura. Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. Sunyi sesaat. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. keluar dari ceruk itu. Lantang masih dalam ketegangannya. bertanyalah Lantang pada Ki Sura. Akan tetapi bila tidak ada. dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Dengan ukuran aura seperti itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa. Begitulah orang-orang yang bersyukur. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. selangkah demi selangkah. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. tidak mengeluh. tidak banyak berucap.

”Itu adalah Roh air. ”Jika demikian. ”Sebenarnya. Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini. air. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga.99 buatku seakan-akan membeku. mereka tidaklah terlalu berbahaya.” jelas Ki Sura lambat-lambat. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. . yaitu api. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. Hanya Rancana yang tidak. mengapa Ki Sura. selain Duyung dan Nixen. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen. udara dan tanah. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan. Troll. Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. ”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran.” Ki Sura tersenyum. Ia masih merasakan ketegangan tadi. Undinen. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu.” jelas Nyi Sura arif. sang Roh Air. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak. Dan hal yang masih tidak dimengertinya.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini.” jelas Ki Sura lebih lanjut. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen. ”Roh-roh Empat Elemen itu. Juga istrinya. Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini.

”Anak Lantang. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu. Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine. . pasti itu penyebabnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. ”Waktu dari menariknya.100 BAGIAN 2.” lalu tanya Nyi Sura. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan. akan membuat tubuhnya semakin dingin. Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini. Ya. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. Baik Ki Sura. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya.

*** ”Misbaya. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang.” .. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. dan tidak untuk kami. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia.” ”Kami.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini. begitu. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat. nak Lantang. ”malang sekali nasibmu. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan. ya!” menghela napas Ki Sura.” kata Rancana. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan. ”Bila itu suatu rahasia. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang. Rahasia ini telah lama disimpan.” papar Ki Sura. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya. Dapat menghimpun tenaga.101 ”Hmm.” jelas Ki Sura. akan tetapi tidak bisa menggunakannya. Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri.” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya. Melainkan hawa para Rohroh Air. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka.

sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. Dengan perlahan. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. atau sendinya akan terkilir atau lepas. Dan untuk itu. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu. Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya. Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa.102 BAGIAN 2. seperti memotong. Sedemikian halus. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. Rekan-rekannya terkesiap. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Tak teduga dan cantik. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. Dan Gentong pun . Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia. PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. Dari pandangan matanya. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. Kali ini Gentong. yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala. ”Pegang yang kuat.

dengan debum yang lebih kentara tentunya. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham. Kecuali Asap tentunya. Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten. Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. siap mencongkelnya dengan bahu. Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. Cara ini lebih baik.103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. sudah berangsur-angsur sembuh. Lucu tampaknya. juga di antara murid-muridnya sendiri. Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. Bersamaan dengan itu pula. Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. Berbagai upaya telah dilakukannya. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. . Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah.

Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. Akibat luberan ini. Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Untuk Asap. Ke arah di mana matahari terbenam. Dari sanalah diyakini nama itu datang. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat. ke arah barat. Ki Surya. mereka tidak akan menunggunya. Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba . satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat. Padang Batu-batu akan tergenang. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. Dan entah bagaimana. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya.104 BAGIAN 2. bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau. Sungai Hijau orang menamakannya. Ki Rabat dan Ki Untung. menggemuruh. menuju Lautan selatan. Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama.

” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. selain ada banyak binatang-binatang beracun. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan. Setelah membicarakan beberapa hal lain.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya.” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju.” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju.. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang. akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian. Ki Rabat. Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. ya.. arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai. ”Benar. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau.. Di Gurun Besar. Setelah beberapa hari perjalanan. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya.” ”Bila benar begitu. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. ”Benar. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. Sungai itu sudah Sungai Merah. seperti kata kalian. ”walaupun dua kali lebih lama.. Ki.” komentar Ki Untung. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut. sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- . Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya.105 Hijau..

Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. walaupun tidak terdapat banyak desa. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Setelah siap berangkatlah rombongan itu. Tempat yang diduga lebih indah itu.106 BAGIAN 2. hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang. tertarik untuk melancong ke sana. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- . Walaupun pada kenyataannya. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara. kadang terjadi sebaliknya. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan.

akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. Bila langsung menempuh Gurun Besar. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih. Malam ketiga. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut. Lancar dan sedikit membosankan. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Untuk melepaskan kebosanan. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. Benar-benar membosankan. Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja. Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan.107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. Demikian pula dengan rombongan ini. entah sungai apa namanya. akan menjadi terkantuk-kantuk. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. tiada yang tahu.

muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann). desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin. Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). Entah kapan dan bagaimana mulainya. Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- . Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann). Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. Wanita Petani (Buerin). yang terkena gigitan Kadal Gurun. Taman Utara (Nordpark). Wanita Pengembala Domba (Schferin). Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya.108 BAGIAN 2. Akan hancur suatu daerah. Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota. Laki-laki Petani (Bauer). Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa. PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte).

Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. Malam yang menghebohkan. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. Dingin ini lain. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. Semuanya hilang. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. terasa amat lengang. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. dan atas usul istrinya. orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Membuat tubuh benar-benar terasa lelah. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. menjadi semakin sepi dan mengiriskan.109 gannya. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar.

selaku pimpinan di sana. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul. Dan dua belas buah lagi. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. sebagai saksi satu-satunya yang ada. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. dalam langkah yang tergesa-gesa. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. Setelah berjalan bersama-sama. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja. Lalu orang-orang pun bubarlah.110 BAGIAN 2. bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. Benar-benar menyeramkan. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja. hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. sudah di luar kemampuan kita. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. Bertanya-tanya hati semua orang. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri. .” Semua mengangguk-angguk setuju. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu. Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. ”baiknya kita menenangkan diri dulu.

perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. Desa yang sepi. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu. Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita. Bila banjir. pada sisi seberang. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. akan semakin keras suaranya. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. bahkan sekecil apa pun suara. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. yaitu sisi barat. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. Bisa-bisa sampai menggelegar. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu.111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. Akan tetapi anehnya. Sunyi. Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya.

Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. Orang menyebutnya Arowana. Bagi Citra Wangi. Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. Ki Untung dan Ki Rabat. Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. ibu dan ayahnya sendiri. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. yang ditemani beberapa orang dari . misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. ketiganya. kadang pula telah berpermukaan halus. Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. di antaranya terlihat Ki Murah. Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. Setelah menunggu beberapa lama. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur.112 BAGIAN 2. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya.

”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu. Mengenakannya. indah.” gapai Ki Rabat dari jauh. ini harga khusus. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini.. ditambahkannya kata-kata. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu. Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu. kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya. ”Lihatlah. Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat. ”Nak Citra Wangi. Betapa ingin mereka memilikinya. minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. batu-batu hiasan ini. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua. Keduanya mengangguk tanda setuju. Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. begitu kata ujar-ujar kuno. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu . ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik. Pikirnya. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti.” Mendengar panggilan itu. ”Ada apa.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Ki?” tanya Citra Wangi sopan. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar..

karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka. saat itu membiarkannya saja. sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Ia yang biasanya membatasi.114 BAGIAN 2. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan. Selain suasananya yang nyaman. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. sejauh subyek perdagangan mereka ada. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. kemudian diturunkan. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Setelah berunding sejenak. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. Di kejauhan Ki Rapih. Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. Senanglah . Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya. Begitu pikirnya. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. Bukan desa. melaului Pantai Selatan.

semacam stempel. Desa Pinggiran Sungai Merah. Bila cocok. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. . Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka. Mereka berpikir dengan cara ini. terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan. barang dan Tigaan berpindah tangan. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan. Melihat cara perdagangan yang menarik ini. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif. hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya.115 hati mereka. Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. akan lebih mudah berdagang. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya.

Pernah terdapat Tigaan palsu. Lambang tanah. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh. Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu.” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara.116 BAGIAN 2. *** Lima tahun waktu pun berlalu. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini. Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh. Untuk mencegahnya. Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan. maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya. Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya. sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan. Yang tidak dapat mengalirkan hawa. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir. Dan sesuatu itu adalah udara... Api yang meresap dalam sesuatu. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- .

Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. Desa Pinggiran Sungai Merah. Apabila lingkungan berubah. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. Nyi Apik. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. membuat mereka merasa kerasan. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana. Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. lima tahun yang lalu. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau. bersama-sama den- . dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau. dan juga utara dan selatan. Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. yang belum tentu jelek dalam artian luas. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah. Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang.

Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara. Tidak utuh semuanya. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada.118 BAGIAN 2. Dijamin. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. . Beberapa patung dibangun kembali. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. sungai dan gunung. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya. Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Apa-apa pun dapat dipesan. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Barang sampai pasti. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu. yang mereka namakan Antaran Pasti. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. Asalkan ada Tigaan. Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah. sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu.

Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. Tiada pesan yang ditinggalkan. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . Baik dari segi bakat ataupun finansial. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. saat yang tepat untuk mulai mendaki. Benar-benar menggirisi. posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya. ditempatkan sebagai Empat Pilar. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu. Menunggu isyarat alam. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. Tidak seperti dulu. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam.

bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan. Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. Cukup Rimba Hijau. melainkan hanya tempat menempa diri. Misbaya. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini. Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau.120 BAGIAN 2. Jadi untuk ukuran orang biasa. tanpa embel-embel perguruan. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. Bukan perguruan silat. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Asap. Rintah. Walaupun gagal. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. telah gugur tujuh belas orang. dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu. Pesannya. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Paras Tampan. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi. sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. kata Ki Tapa. PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. Rantih. dan untuk turut menggagalkan orang lain. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal. Kirani dan pemuda itu.

Bisa sampai di titik ini. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Mohon bimbingan atas ujian ini. dapat atau tidak. *** Undinen itu bernama Xyra. mulai beranjaklah Paras Tampan. Paras Tampan. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen. Apa pun yang terjadi. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta. Menurut Ki Tapa. ke arah mana saja tidak jadi soal. Menenangkan dirinya. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya.121 diberi waktu dua tahun. Jadilah dirimu sendiri. Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. Dari urutan yang ditarik. Ada rasa nyaman dalam hawa itu. seorang Undinen yang rupawan. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. . Asap mendapat giliran sehabis itu. semakin kental hawa anak itu menarik hatinya. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. serta Ki Tapa gurunya. saat matahari sedang tinggi-tingginya. Jangan berpura-pura. ia dapat berangkat. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. Menyusul kemudian Gentong. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Setelah merasa tenang. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. dua orang yang akan menggantikannya. Sosok yang membayangkan hawa yang lain. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. mereka harus kembali turun. Dan sekarang gilirannya. Hawa yang menarik hatinya. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya.

untuk mencarinya ke timur. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. Mereka membiarkannya saja. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . anak dari Ki dan Nyi Sura. masih terlihat cantik. carilah Ki Tapa. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. Bila tidak dapat menemui dirinya. Ada urusan yang harus diselesaikannya. Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. tanpa tudung kepalanya. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang. Di Rimba Hijau. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. sering berada dekat dengan Lantang. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. walaupun tidak menampakkan diri. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. Telaga. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu. akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura. Ia mengambil arah ke selatan. apabila telah selesai belajar. karena tidak mengganggu. maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura.122 BAGIAN 2. Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. Ia hanya berpesan pada Lantang. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya.

. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni.. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah. . Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni. menarik.” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk..!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu. masih ada lambang-lambang aneh. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian. ”Di sini..123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari.” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan. Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu. yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara...” ”Menarik.. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu. maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian. ”Kakak Mayat Pucat. ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya. Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni. melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa.

biarkan saja!” usul Mayat Pucat. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar. ”Sudahlah. Lupa. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. bahkan oleh Penjuru Angin. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh. ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab. Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu. Lebih baik kita menafsirkan dulu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti. Entah di mana. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain. ”Tentu ada maknanya.” tanya Sabit Kematian. apa maksud tulisan Naga Geni ini. Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. .” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini. Ketiganya pun kembali termenung.124 BAGIAN 2. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti.” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu.” ”Maksud Kakak Pucat. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin. Sudah lama sekali rasanya. Jadi ada empat buah kitab. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda. Melayang dalam pikiran masingmasing.” usul Cermin Maut.

apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. Bisa dibilang mustahil. Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. cukup paling banyak tiga buah. Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya. di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin. Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. Oleh gurunya. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 . maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana.Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. Naga Geni. yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar. Tidak banyak.

ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. . Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. Ki Tilu. Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah. Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. Gagasan yang dipakainya. Mengingat cerita itu. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. berikut tulisan di bawahnya.126 BAGIAN 3. Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. Dan hal ini amatlah wajar. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. Setelah prasasti tiruan jadi. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian.

Ke arah Gurun Besar. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya.. Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu. sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun. Gunung Hijau. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya.. atau bahkan merupakan kuncinya. ceritakan... Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu. semua telah hancur dan hilang. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya. Satu-satunya rumah di kawasan itu. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia. Ke timur.. ”ceritakan. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya. Setelah berjalan bergegas beberapa lama. . ke suatu gunung di tengah belantara hijau. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya.” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. Tujuan hidupnya pun juga. Langkahnya ringan dan mantap. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya. bagaimana semuanya berlangsung.

.” katanya tanpa ekspresi. Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara. Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal. Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya.” jelas pemuda itu kemudian. ”Belum selesai guru. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya. Sudah terbiasa ia. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu. ”Menarik. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. sementara gantinya sedang melatih tenaga air. ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya. Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. Tampak seperti ada yang direncanakan. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya. Jadi mulailah ia bercerita. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak. guru!” jawab pemuda itu patuh.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas. Lalu katanya... gurunya. .” terang pemuda itu. bahwa orang itu. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa. HAKIM HAUS DARAH ”Baik.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Informasi ini menggembirakan dirinya.128 BAGIAN 3. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan.

”aku tidak akan menjawabnya. ”Tetapi guru.” gumamnya.” komentar gurunya sambil tersenyum. Gurun Besar. Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. Pertempuran harus terjadi. pasti akan terjadi” jawabnya tegas. ia telah berada di tengah gurun ini. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian.. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil.129 Anak kecil itu pun mengangguk. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya.” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini... jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman. Tapi perlu waktu. Orang tua itu mengangguk-angguk. Tidak bisa tidak. ”Yakin sekali kelihatannya.. Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu. carilah sendiri. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. Saat ia sadar. Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- . Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian. ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu. ”Tak bisa dielakkan.

Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu.130 nari. Sunyi dan kering. ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya. Tenaga Air. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. melainkan juga pengguna ilmu itu. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. ilmu beladiri. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. Sangar dan tampak seperti berwibawa. Ya. atau kadang dapat mengeras seperti es. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya. Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. sampai ribuan kambing dewasa panjangnya. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. Gunung Berdanau Berpulau. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. Itu saja. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. Ia memandang ke arah utara. Tenaga yang mengalir. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . dibalikkan tubuhnya. *** BAGIAN 3. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Akan tetapi pemuda itu lain. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat. Diajarkan oleh kedua orang tuanya. Sepi. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri.

Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh. Padang Batu-batu. mengangguklah Telaga. Ki Sura. . Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau. Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya. Luas menutupi seluruh matanya. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. Anak satu-satunya itu.. Dulu sewaktu ia muda. sudah bulatkah tekadmu itu. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu. nak?” tanya ibunya perlahan. saya sudah membulatkan tekad. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya. begitu pikirnya. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura. yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu. Mendengar pertanyaan ibunya. membuatnya tidak seperti biasanya. Lain halnya dengan suaminya. ”ya ibu. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya.” ”Tapi. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah.” jawabnya ibunya tercekat. di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. ”Telaga. Ia tenang-tenang saja. Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. Lalu katanya kemudian menegaskan. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya.. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya. ia pun pergi merantau. Bergetar suaranya saat menanyakan itu.131 diri dari batu-batu belaka.

sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi. Untuk menentukan arah. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang . Katanya kemudian. ”hati-hatilah. Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. Kadang selebar kerbau atau gajah.” jawab Telaga cepat. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada. ayah. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. Dan selalu hati-hati di sana. seperti tiang-tiang. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. Di dalam Padang Batu-batu. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. dan menghujam juga dingin. untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. Padang Batu-batu. Jurus cengkeraman yang amat keras. dingin dan menantang. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan.132 BAGIAN 3. Melompatlah ia perlahan ke bawah. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. Cengkeraman Kristal Es. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. Berangkatlah pagi-pagi sekali. kadang pula lebih. yang besar dan tingginya bervariasi.” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati. Dipandangnya berkeliling. Mirip hutan belantara.

karena sudah tak begitu jelas terlihat. Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. Untuk makannya selain telah membawa bekal. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu. Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu. Menuju selatan. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu. Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Jika malam tiba. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air.133 berdiri berderet-deret acak. Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya. Bukan di . membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. yaitu matahari. Untuk itu ia mengambil patokan lain. ke arah berlawananlah ia harus menuju. Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli). Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. semakin cepat angin mengalir di antaranya.

Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. HAKIM HAUS DARAH balik batu. Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu. sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu. untuk mencari ikan dan kepiting. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal. Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. Mereka memutarinya. Hari keenam. Sebagai contoh misalnya. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. Tak . yang dibantu dengan posisi matahari. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik.134 BAGIAN 3. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. sehingga serangan dapat dilakukan.

Tak tahu berapa lama ia tertidur. lemparkan saja di sini. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam. walaupun jernih. ”Sudah. Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung. berkata seorang dari padanya. mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang. dapat ia mendengarnya. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. ”Jangan. di mana orang-orang itu berada. akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi.” kata orang pertama. Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka. batu. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. Ketiganya masih di sana.” Dengan berkecipuk keras. Tak ada suara. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu. nanti cepat ketahuan. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu. Lempar saja di sini. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang. Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air. Di Padang Batu-batu me- . Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu. Berjalan mereka perlahan-lahan. Orang ketiga.” sanggah orang kedua temannya. Walaupun amat lamat-lamat. Bungkusan itu cukup besar dan berat. Kemudian berlalulah ketiganya.. Telaga terdiam melihat kejadian itu.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur. Entah apa isinya.. ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya.” usul temannya yang lain. Setelah memeriksa dengan seksama.

Suatu pikiran yang cerdas. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. ”eh. Kata salah seorang dari mereka. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini. Selang tak berapa lama. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. Makanya kita nyucinya siang. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air. Jurang yang cukup dalam. Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu. Niatan Telaga. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak.136 BAGIAN 3. Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. Masih dalam pinggiran yang sama. Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang.” . kamu mimpi kali?” jawab temannya. tampak sebuah iring-iringan datang. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. sehingga walaupun airnya jernih. yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu. Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu. Tidak ada tanah. Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu.

137 ”Sekalian mandi. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman. Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada.!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. membuatnya menjadi bertanya-tanya. Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana.. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya. Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan. dan ingin segera menjauh. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. Selebihnya telah berendam di tengah.. Tak ditemuinya seorang pun. setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. ayo mandi. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan.. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang. Dibiarkannya keranjangnya mengapung. Andai saja ia maju setombak dua lagi. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. . Tak tergoda atas ajakan itu. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih.” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. ”Sarini. Lainnya hanya mengiyakan.

Tidak di siang hari bolong seperti ini. Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. Kawan-kawannya telah diperingatkan. Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat. Menepikannya dan mengamati.” ..” jawab yang lain menegaskan. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka. Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi. di mana belum ada matahari. si pedagang keliling. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari. Sepotong tali. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. seling mengangguk satu sama lain... Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. tampak oleh Telaga. Telanjang. benar itu Ki Rontok.” ucap salah seorang dari mereka. Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. ”wah bisa berabe nih kita. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa. Penakut disebutkan dirinya. bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya. ada mayat.!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air.138 BAGIAN 3. Tidak seorang gadis pun. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini. ”Ini adalah Ki Rontok. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu. juga Sarini yang melihat kepergian mereka. ”mayat.

Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. Bisa-bisa ia yang dituduh. Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah.139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. yang dikenali sebagai Ki Rontok. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya.” ucap salah seorang dari mereka. Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang.. Benar-benar menarik kata-kata itu. Bersama-sama mereka membawanya. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. dengan tandu dari kain yang mereka bawa. Untuk kemudian mengikuti. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. Tapi itu harus dilakoni Telaga. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana. Selain karena . Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. Bisa-bisa fatal akibatnya. sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya.

Warna-warna kulit yang aneh. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Tak dibukanya percakapan. Orang tua itu tersenyum. Dari caranya bergerak. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan. tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. anak muda. Tampak pula warna busana yang aneh. tapi ia kedapatan sedang mengintip. tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. ”kita akan bertemu lagi. Tampak belum tua benar ia.!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu. Selang tak berapa lama. Aku si orang tua. Telaga tidak tahu harus berbuat apa. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya. dipandangi sajalah orang tua itu. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. terlihat tubuh yang terlatih. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. lalu katanya. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu.. ”Jangan kuatir. sibuk dengan pikirannya sendiri. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. melainkan terus mengamat-amati Telaga. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. lebih tinggi . Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”.140 BAGIAN 3.

yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. . Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. Kedua desa itu. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung. Untuk kebutuhan air minum. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. Selain adat. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah. orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu. Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka.

Cara-cara ini sudah tentu tidak baik. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. situasi menjadi aman dan terkendali. walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan.142 BAGIAN 3. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia. Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. Bagi mereka Tigaan lebih penting. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Kedua kelompok ini. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu. ada pula orang-orang yang menghargainya. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . Gembira hati mereka. Akan terjadi peleburan. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua. Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Dengan adanya para penjaga keamanan.

Minta tolong ke penduduk kedua desa. Yang penting untung dapat diraup. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur. Walinggih tak tega. Asasin. tidak mungkin. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. Hal ini tidak boleh terjadi. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana. Dengan cara ini pasti akan lebih laku. Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. jauh di barat daya sana.143 dari luar Padang Batu-batu. Mungkin akibat ilmunya itu pula. Akhirnya mereka. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. Andai saja Walinggih ada di rumah. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Karena ditunggutunggu tidak datang. Bila kedua desa bersatu. jelasnya. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. Mengadudomba. pulang dan mela- . Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. Kejamnya politik perdagangan. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan.

Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. Untuk kelebihan waktu. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. Ia akhirnya mengambil sikap. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. Jika ada pertentangan. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya.144 BAGIAN 3. Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. harus dibayar lain. Setelah semua orang yang bersalah habis. Dan ditinggalkannya begitu saja. Akan tetapi para pembunuh tidak mau. Kedua kelompok pedagang. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit. serta memekakkan telinga. kelompok pembunuh bayaran terkenal. Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. Pandangannya berubah terhadap kerukunan. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. biasanya harus ada yang tersembelih . mengingat ilmunya yang tinggi. juga penolong. Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. Dibelah persis di tengah-tengah. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. Simetris. bisa berabe nanti jika ia mengamuk. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. Dalam setiap perkara kejahatan. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. pikirnya. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana. Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. Menggiriskan hati suaranya.

walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya. sudah pasti akan ada pembantaian. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu. Tapi itulah kenyataannya. Ya. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. ”Bagaimana ini. sebelum Walinggih mendengarnya. melainkan ketenangan dalam paksaan. . Alasannya boleh berbicara belakangan. kecuali kasus-kasus yang parah. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. Akibatnya kehidupan menjadi tenang. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak. Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal.145 simetris. kepala desa?” tanya seorang warga. Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu. Semoga arwahnya nanti damai di sana. ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. Katanya suatu ketika. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. Jika bertikai dan berlarutlaru. fatal akibatnya. Alternatif itu lebih baik.” Benar-benar pikiran yang gila. jadi dua bagian. Orang yang terkena fitnah misalnya.” usul seseorang. Terlepas dari siapa yang bersalah. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya.

” gumam seorang takut-takut. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah.. Kemudian kata orang itu setelah memeriksa. ”Ada yang bisa menceritakan. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini. gadis yang tadi tidak ikut mandi. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. Tidak ada korban dari Walinggih. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali. akan selesai masalah. Dan memang benar. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris. bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. seperti ditunjukkannya. terdapat suatu celah. .146 BAGIAN 3. berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat. Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini.” ucap seorang. Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah.!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. si Hakim Haus Darah. perlu pula diusut.

akan kembali ke masa lalu keadaan di sini. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya. apabila Hakim Haus Darah ditangkap. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. kami datang untuk menangkapnya. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini. dapatlah sang hakim saat ini ditangkap. Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu. semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. Sementara yang lain. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik. Saat itulah ia turun tangan.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang.. . Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran. Tak pandang bulu. Dengan adanya peristiwa ini. Seperti halnya Ki Rontok.. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. sebagai bukti. perkenalkan kami. tak jelas alasannya. ”warga desa yang terhormat. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu. Mereka yang terakhir ini kuatir. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya.

Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa.148 BAGIAN 3.” jawab Telaga sopan. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi.” katanya sambil melihat Telaga. Telaga adalah pemuda itu. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. karena saat ini hari telah menjelang senja. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. bagaimana akhir dari peristiwa ini. ”Yang murah saja. Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. Kami yang akan menangkap sang hakim. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. Kalian penduduk desa. ”ada peristiwa besar ya. Ingin dicarinya keterangan. Tak tahu harus ke mana. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. paman. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu. Sudah banyak memang pedangan dan . sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. hanya perlu menjadi saksi. nak. ”Mau makan apa. ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya.” ”Ya. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. Anak pasti bukan orang sini. Lalu tanyanya sambil lalu. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri.

perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. tiga perwira. paman. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. Cukup sederhana Pepes Keuyeup. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. ”Iya.149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. Kemudian ditinggalkannya Telaga. Gule Julung-julung. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. Tiada lagi ragu sekarang. Tak berapa lama pesanannya pun datang. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan.” jawabnya cepat. bukan bercerita. Saya lagi merantau. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani. Di desa itu . Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Ia tidak punya tempat menginap. Saya berasal dari utara.

Marilah.. Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang. paman. Begitu melihat dirinya.” katanya. sejak putrinya masih kecil. Saat akan merebahkan dirinya. Jadi bermalam saja saya di luar. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. ”Beda ya. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi. Istrinya telah meninggal karena sakit. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri.?” pancing Arasan. ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf. Tidak dihias macammacam. Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan. akan tetapi suka keramaian saat bekerja.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. ”Marilah mampir. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya. lalu sapanya. lalu jawabnya. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya. ”bagus juga.. Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan. Batu dan kayu belaka. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik. paman. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya. Sudah biasa kok. Selain tidak bagus juga mahal. yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. melainkan hanya berwarna alami. Tidak . sama yang di dalam desa.” jawabnya sopan.150 BAGIAN 3. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga.” Telaga mengangguk-angguk. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa.

Senang pasti hatinya. mari masuk. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja. Sarini makan sendiri. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. Ruang depan dan ruang belakang. Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya.. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya.” Lalu tanyanya. Tapi lupa. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis. Rumah itu cukup besar. dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya.. ”Mari. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu. tapi putriku.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu.” Lalu muncullah putri Arasan.151 terlihat asal dalam menatanya.!” ajaknya. putriku! Ayah pulang. Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu. ”Ayah.. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk. ”bukan. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi.” Bertanya-tanya Telaga dalam hati. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng. ”Sarini. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya.. bagaimana rupa dari putri Arasan. selamat datang. Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu. berseru Arasan memanggil putrinya. tempat yang . Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. Lihatlah ada tamu kubawa serta. Seorang pemuda yang lugu. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana. Nanti kuperkenalkan. Sampai depan rumahnya. tetap saja ia merasa malu. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu.

Pendaratan yang ringan. Orang tua itu mengelak tipis. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. hampir tidak memperdengarkan suara. menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya. Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur.. hyaaaaa. memutar tubuhnya. tetap dengan menggunakan telapak tangan . Telaga mengikutinya. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. hanya di pagi hari. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja. Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya. Alih-alih terjatuh. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam. Di saat orang-orang belum bangun.!” teriak suara seorang gadis. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya. Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Tak lama kemudian mereka tidurlah.152 BAGIAN 3. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. Juga adanya tusukan-tusukan. menekuk dan melemparkan gadis itu. ”Huut. melainkan ayahnya. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu.

”Ah. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. ”Belum. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. akan tetapi tidak melatih bagaimana . berkatalah Arasan kemudian. paman Arasan. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya. itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu. kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. ”Nak Telaga. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air.” kata Arasan sambil menganggukangguk.” jawabnya jujur. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. Melihat keragu-raguan Telaga. agar susah ia mencobanya. Sampai pada gerakan yang menghentak. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja. ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. ”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. ”tak perlu kau katakan pun. Lalu tanyanya kemudian.153 yang dibuka.

Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air. Ia ingin hidupnya aman-aman saja. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka. nak Telaga. . untuk menjaga diri belaka. Akan tetapi sebagai seorang ayah. mereka pun menghentikan latihan. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai. Guruku sendiri pernah berujar. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya. yaitu Tenaga Air. Benar pikirnya. sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri. ”Marilah.. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman. Perihal mengapa. ”Paman Arasan. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. nak Telaga. Telaga pun mengangguk.” jawabnya. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. suatu saat akan kami ceritakan. ”Sudah tentu. Tapi jangan panggil aku guru. Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri.. Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru. Setelah matahari mulai sedikit tampak.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu..” jelasnya kemudian.” tanya Telaga bimbang.154 BAGIAN 3... HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air.

bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya. Sebuah rumah di atas batu. Walinggih. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya. selain juga menjadi malu. Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. Jika tidak. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. Tempat kediaman Hakim Haus Darah. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius. yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Hari ini Arasan tidak bekerja. tampak sederhana. Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah. Terlihat . tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ.

Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu. Sunyi tak terdengar jawaban. Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. ”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar. yaitu baju yang dipakainya. Seperti bercak darah yang mengering. ”Huh. Mereka. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. Ingin tidak hadir.. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih.156 BAGIAN 3. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih. Pedang mungkin. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit. sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding. dan tua karena pikiran.!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Baru kali ini. Sesekali seperti guratan kaki. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. Hanya beberapa . Juga rambutnya berbeda. ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. keluarlah engkau. Memang samasama tua. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda. akan tetapi orang ini. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. Hanya ada satu persamaan. Seorang tua muncul dari dalamnya. Orang tua kemarin sudah putih semua.

Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk. Lemparan itu bukan sembaran lemparan. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. di atas batu tinggi. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut. Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. tak perlu ada kata-kata lagi. baru datang. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata. lalu katanya. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. Arasan ayahnya dan Telaga. ”Hmm. Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. Sarini..” .157 yang cukup berilmu tidak. membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun.” kata seorang dari mereka bertiga. ”Bila pedang sudah bicara. ”serahkan dirimu. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan.. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah.

Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. Akibat mundurnya itu. ”Bagus. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih.!” ucap salah seorang dari mereka. . Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang. Dalam serangan pertama. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput. Satu menyabet ke arah kepala. Dua buah. Bekeringat dingin ketiga perwira itu.158 BAGIAN 3. Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. Hampir mencium perut-perut mereka. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya. akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. Untung saja refleksnya masih bekerja. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya. Benar-benar serangan yang lengkap. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan..

Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. ”Hehehe. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu. Cara ini ternyata lebih berhasil. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan.159 Kembali ketiganya maju serantak. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah. .. Pertempuran itu pun berlangsung seru.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran. Saat satu orang menyerang. ”Walinggih. Kelimanya bergerak ringan. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini.” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya. tak usah berpura-pura. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih.. ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin. Arasan. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. Sebagai seorang manusia.” kata Walinggih. Hahahaha. Matahari sudah menempati titik kulminasinya.” ”Hehehe.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah. Itu saja.! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. Lalu ucap salah seorang perwira. Belum pernah sebelumnya. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu. ”Jadi begitu. benar-benar ’penegakan hukum’. rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran.

yang disebut sebagai Asasin. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya.160 BAGIAN 3. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. Dugaan itu tidak salah. sehingga ketiga orang perwira itu dikirim. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. Sebagai seorang pembunuh bayaran. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. kakinya meregang terbuka selebar dada. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. Akibatnya rekan-rekannya . Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu. malah bergerak berputar. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu. Dari pikirannya. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut. mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. alih-alih menjawab pernyataanya. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. Sebelum kedelapan orang itu bergerak. Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. menjadi semakin bingun Telaga. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. Satu ke depan satu ke belakang. langsung menyerang. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Jika tidak.

tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih. ”Hei.. Hanya tipuan. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman. Dua orang yang jauh dari sasaran pertama. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. Terbelah simetris Asasin ini. ”Settt. Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Tak ada yang dapat dilakukan kali. pikirnya. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya.!” Akan tetapi terlambat. ke depan dan belakang. Diatur napasnya tenang. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka.?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut.. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat.!” serangan kedua membuahkan hasil.. ”Cappp. Bukan ke atas melainkan .!” serangan ini pun membuahkan hasil. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram..161 berupaya melindungi.. Siap untuk serangan berikutnya. Tak ada hasil setelahnya..! Apa mau kalian. ”Tunggu dulu.. Melihat hasil ini. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya. Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas. Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. Omong besar di depan. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. Kaki dibuka selebar bahu. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah. juga kedua Asasin. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping.

Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. Tegak dan lemas. Siap melepas serangan lagi bagi pegas. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. tak dapat ia menyerang keenammnya. Tak berapa lama. Walinggih yang akan bergerak. Walinggih kembali ke tengah. Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya. seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih. Kembali ke posisi semula. Tak berani ia melihat ke bawah. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya. membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk. tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih. Ini sudah . ”Wuttt.162 BAGIAN 3. Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. Terpaku bagai akar pohon.. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih.

Masih dengan tenang Walinggih mendengus. Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga.. di mana orang ketiga sedang menyerang. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka.!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih. bisa tak selamat Telaga. Alih-alih menggeser kedudukannya. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka. Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. ”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah. Entah apa namanya. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Luka bacokan tak dapat dihindari. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat. Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja. masih tampak wibawa dan keangkerannya. Sunyi. ”Heggg. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak . Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih. Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya.

”Maaf. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu. Jangan disimpan. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana. kau?” tanyanya tergagap. ”Siapakah. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu.” jawab Telaga sedikit malu. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu.. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. Bertempur. paman. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. Setelah mereka bertiga berunding. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok. Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. Mendengar cerita Telaga. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut..164 BAGIAN 3. Ketiganya tampak termangu. akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran. untuk dibuat bahan membalut. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya . kok menggunakan racun. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. Jika anaknya masih hidup.. sudah pasti sebesar ini tentunya. HAKIM HAUS DARAH berdaya. Teringat akan anaknya.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

Tiba-tiba didapatnya akal.176 BAGIAN 3. Ada. sampai ketinggian yang dapat dicapainya. Anak tangga pertama lebih . Paras Tampan bersorak gembira. Diperiksanya dengan seksama. Hitam dan dingin. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. Akan letaknya jauh di atas. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula. terdapat semacam anak tangga. Tiba-tiba ia bersorak girang. di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. Ia tidak bisa berputar. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat. ada seperti anak tangga di atas itu. Di hadapannya. Paras Tampan merangkak mundur. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. apa-apa yang ada di sana. soraknya dalam hati. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. HAKIM HAUS DARAH Hijau. hampir dekat dengan langit-langit. Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana. Cukup lebar dan tinggi. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu.

Dan berikutnya lebih rendah lagi. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. anak tangga berikutnya lebih rendah. Bila bisa. Seperti dipotong dengan sengaja. Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik. Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. Masih saja gagal. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. Berulang kali dicobanya. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang. Cara ini mungkin lebih masuk akal. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Butuh waktu lama. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Ada lima anak tangga semuanya. Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu. Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut. Di salah satu sudut lorong. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan .177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Merangkak pelan. Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut.

178 BAGIAN 3. Batu-batu. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Seni Beperang. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. Puas melihat pekerjaannya. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Perpustakaan kitab-kitab kuno. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu. Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Dan Sekarang . Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Seribu Ramuan. Berhasil. Beratus-ratus jumlahnya. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno. Pemuda itu melihat berkeliling. Racun Selaksa Macam. Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. Tenaga Air. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. Kemudian ia menarik napas panjang. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Pukulan Tanpa Tanding. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. agar lebih stabil. Angin-angin. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Tujuh Rahasia. Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Juga yang berikutnya sampai yang kelima. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. Ilmu Muda Selamanya. Aneh-aneh judulnya. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Pukulan Inti Es dan Salju. Dan naiklah ia. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu.

” kemudian lanjutnya. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri . hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya. Gunung Hijau. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. Hanya mereka berdua... Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu. ”Paras Tampan. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. ”dan sekarang. Siap untuk dilahap. ”Pernah guru. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya.. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu. Jalan Selaras dengan Alam Semesta. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka. Pemuda itu. Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada. Misbaya. ”Benar. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima. Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya. Angin-angin.179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya. Paras Tampan. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini. Tapi itu cerita lama. Dipelajari.” jawab Paras Tampan. Rintah dan Gentong. Atas kehendak Sang Pencipta. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat.

sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. HAKIM HAUS DARAH darinya. Entah oleh siapa. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu. Dikarenakan oleh gurunya. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. Jurus Api dan Jurus Air. pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut.180 BAGIAN 3. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. Di balik tempat tidurnya. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut. selain jurus air ini. Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. Tulisan itu mirip prasasti. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. dekat dengan bagian kepala. Jurus Tanah.

. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya. Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu.”. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini. Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Teringat itu. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain. Tidak ada. Di sana tertulis. Badannya juga terasa lelah. Jangan lupa untuk. Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini.. Di salah satu ujung ruangan. Lapar. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing. Semakin ke bawah. Sedari waktu itu. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya.. Dilihatnya kembali berkeliling. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. judul-judul kitab yang ada. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya.. Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Minta untuk diisi. Penjaga Keseimbangan. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Untuk menunaikan tugas. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya. Bacalah itu pada kitab-kitab awal. Arahnya tidak rata tiap barisnya.” Tulisan tersebut berhenti di sana. Sebelum ia belajar. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat.181 dalam keadaan yang buru-buru.

Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan. Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. . tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. Hampir seukuran dirinya. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. Pesat menuju buah-buahan itu. Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. Mengambang. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. Warna tubuhnya biru tua keunguan. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang.182 BAGIAN 3. Matanya besar. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. ingin ia meraih untuk memakannya. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Ranum dan segar kelihatannya. Sungai Batu Jernih. Ditambah dengan laparnya. Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Sungai yang keluar dari lubang. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya.

Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan. . Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut.183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan.

184 BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH .

ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu. Lembut menyegarkan. Ke sungai dalam tebing batu itu. Perutnya telah lapar. Diperiksanya perlahan-lahan. Entah kemana. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya. Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan.Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. Manis dan berair. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda. Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. Digigitnya perlahan. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang. Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 .

Ia pun tak lama kemudian mendengkur. ”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab. ”Hehehe. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana.” kembali kata orang pertama. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat.” kata seorang dari mereka. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu. betul. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan. Troll. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam. ”Seorang pemuda yang cerdik. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk. Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain. . Sesampainya di sana. kali ini mereka berjalan ringan perlahan.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya. Pulas.186 banyaknya. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. BAGIAN 4.” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu.

Biarkan nasib yang membawa mereka..” ”Jadi. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut. sayuran tanpa daging dan nasi. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan . Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab. Hanya herannya ia.” kata seorang yang lain. Membaca demikian. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll. ”Kita layani dia.187 ”Benar. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding.” kata temannya. Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab. kakak Rawarang. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya.” tegas salah seorang dari mereka. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik.?” tanya seseorang dari mereka. Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan. Tak tahu dirinya. Mula-mula ragu-ragu ia memakannya. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap. Akan tetapi rasa laparnya menang. ”benar-benar berjodoh. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. Guratan yang belum selesai itu. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu.

Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya. Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. Lebih lanjut pada lubang-lubang. untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya. Latihan di bagian luar ruangan itu. Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. berpijak pada lubang-lubang yang ada. Kadang kepala di atas kadang di bawah. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. cengkeraman.188 BAGIAN 4. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. selain disertai bahaya untuk jatuh. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. se- . Paras Tampan dapat menghemat waktu.

hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Peralatan menjahit disediakan mereka. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan. Paras Tampan. Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. Tidak terlalu banyak. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. tampak semakin tegap. Badannya berisi. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang. Untuk pakaian. telah habis buah-buahannya. yaitu kulit binatang berbulu. Yang penting nyaman dan hangat dipakai. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. Entah binatang apa. Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. Badannya menjadi tampak pas sekali. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah. Sederhana tapi cukup memadai. para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. Pemuda itu. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Dengan tidak memakan daging. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. . Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu.

Sentilan Kelereng Es. Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. Dan untuk belajar jurus itu. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. Benar-benar mengagumkan. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. Undinen misalnya. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih . Tapi mereka tidak munculmuncul. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya. Alih-alih. Sang ikan pun berkecipak-cipuk. Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka. Di tepi Sungai Batu Bening. ditunggunya mereka di luar ruangan. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening.190 BAGIAN 4.

Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. Dengan menggabungkan kedua unsur. Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama. sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Bila iya. Senja pun tiba. para Troll. kapan ia siap untuk dilatih. Hari ini. Menurut petunjuk yang dibacanya. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. Toh. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. akan tahulah mereka. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah.191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal. Otaknya . Akan tetapi bila ternyata ia belum siap. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi. Siang sudah belalu setengahnya. para Troll akan mengajarinya. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah. Apabila ia berlatih serius. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. cengkeraman dan panjatan-panjatan. Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya. Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. Memberinya petunjuk lebih jauh. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi.

Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan. Menunggu. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. Membesar. Tak tahu apa yang dilakukan. mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri. Tidak berhenti sampai di sana. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. Seorang dari mereka. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih. Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es. Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya.!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Berjajar menatap dirinya.192 BAGIAN 4. Dari siulan tadi. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Menyebar lambat. Paras Tampan pun berdiam diri. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan.. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. ”Kecipak. Memasuki gua batu di tengahnya. . Perlahan tapi pasti. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. Tak jauh melebar melainkan memanjang. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar.

tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. Paras Tampan tidak berada paling belakang. tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana. agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah . Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya. Selain malam telah menjelang. perlahan tapi pasti. Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. Benar-benar ruangan yang memukau. juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. Dataran itu cukup luas. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan. Padahal apabila dibayangkan. Kanand dari arah ia tadi datang. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. Tak terlihat goyangan yang berarti. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih.

Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini. dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. tampak berenangrenang di kejauhan. Ikan Kolakan. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. tapi belum pernah yang tegak seperti ini. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya. Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. Bukan tempat bagi makhluk air. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu.194 BAGIAN 4. Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. . Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. yang terlihat sebagai pemimpin di sana. Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu.

Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. tentang bagaimana caranya bisa . Sepanjang satu tombak kira-kira. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. Akan tetapi bukan Paras Tampan. kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit. Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. Ia melompat dari tanah. mencoba kekuatan barisan itu. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. menjejak terbalik pada langit-langit.

sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . Tiba-tiba. Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. Pada bagian dinding yang tegak. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu. Waktu pun berjalan pelan. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Sekarang saat dimulai masalahnya. Pusing dirasakannya. Hampir lepas pegangannya. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Setelah tiga kali dicobanya. Rupanya saat bergantung terbalik itu. Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat. untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu.. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya. Tak lama ia bisa bertahan. Darah tidak mengalir deras seperti tadi. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala. tapi membatasi aliran yang menuju kepala. Sesaat sulit juga. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. ”tukk.!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka.196 BAGIAN 4. tidak ada masalah.

akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya. tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka. Setelah beberapa kali mencoba. Pada suatu jalan darah tertentu. Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. Tak ada jalan lain. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . Akibatnya pusing kembali diperolehnya. Tidak lebih. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh. Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan. Mereka juga memakan satu setiap orang. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya. memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu. Paras Tampan pun telah lelah. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. Tak terasa telah lewat tengah malam. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun. Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. Walaupun belum selincah Troll. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. Para Troll tampak berganti kelompok. Dilepaskannya pegangan dan pijakan.

berabe nih!” gumam Paras Tampan. bagaimana aku dapat mencapainya. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi.198 dataran batu itu. Gerakannya ringan. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. Wajah . Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. sosok ini pun senang tersenyum. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat. Sedangkan temannya berambut pendek. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. ”Hmmm. BAGIAN 4. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. untuk kemudian Mengheningkan Cipta. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya.

Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar. seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. kami harus menuliskannya dahulu.” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas.” sambil ia membungkuk sedikit.” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu. atau jika tidak ada. ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Ia lebih serius terlihat. Petapa Seberang. memberimu kitab ilmu-ilmu kami. menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu. Lalu jawabnya. ”Rawarang..199 sosok ini tidak seperti kawannya. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api. mana mungkin ki sanak berdua akan datang. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua. Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya.. ”Maafkan saya. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. ”Jika memang maksudmu demikian... Sebelum menjawabnya. ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka.” kata orang yang berambut pendek itu. ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan.. ”Hmmm. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga. mengapa perlu meninggalkan pesan. Benar-benar suatu sifat yang jumawa. Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” .” jawab Rawarang..

tapi tidaklah jahat. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota . mau apa engkau dengan kitab-kitab kami. ”Jika tidak memberikan. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya.200 BAGIAN 4. Walapun besar dan megah. Lalu katanya.. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai.” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum.” jawab Rawarang masih jenaka. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno.” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah. sehingga ada alasan untuk membalas. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. itu jadi susah. Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku. ”kalau begitu jelaskan dulu.” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum. ”Ya. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat.. Baik orang-orang yang terlihat berduit.

nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya.201 kecil. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya. Mirip dengan buku harian dewasa ini. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- . Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka. Dan ini sudah tentu terbatas. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. seperti waktu bercocok tanam. akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. Di negara itu. Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. tidak akan ada buku yang bisa dibaca. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Pun hal-hal yang berguna. Jika tidak ada kebiasaan menulis. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka. yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. Kebiasaan membaca. jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut.

umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. amat takjub pada kemegahan itu. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. seorang anak dapat melacak nenek moyangnya. dapat dilakukan penghibahan. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. Melalui cara ini. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. dan apa-apa yang mereka lakukan. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. Dari membantu melengkapinya. Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. Ayahnya yang seorang pedagang perantau. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad. Tidak dibawa pulang. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang. dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. Dengan perantaraan buku-buku itulah. Dengan cara ini. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. sampai memanfaatkannya. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. Buku harian.202 BAGIAN 4. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara.

yang tidak mau memberitahukan namanya. Buku-buku yang terlambat itu. Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. Dari penjaga perpustakaan ini. Semahir-mahirnya tupai melompat. Bakat sang mantan pencuri itu. Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. termasuk di dalam istana kerajaan. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . Jangan seperti gurunya. suatu saat jatuh juga. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya.203 membekas sampai ia dewasa. digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya. Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. ilmu kanuragan. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. ilmu alam dan bahasa. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri.

apabila tujuan dari Rawarang ini benar. atau tidak mau menanggapi saya. agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. atau setidaknya melawan dirinya. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya. Umumnya saya menang. engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. Memang menurutnya. ”Saya tidak punya jalan lain. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. . pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri.. Lalu kata seorang dari mereka.” ”Dan sekarang. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya. jadi susah.” tanya Petapa Lain Pulau.” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara. Para pesilat atau sastrawan. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang. Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya.204 BAGIAN 4. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. ”jika diminta begitu saja. Sebaik manapun suatu tujuan. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya. ”Sekarang. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan. Tetapi tidak begitu caranya. ”jadi maksudmu.” jawab Rawarang. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini. ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar. Rawarang.

Ia dapat kembali membuka matanya. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh. didasari rasa kemanusiaan. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. apa maksudmu.. tiba-tiba ia bergerak cepat. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau.. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang. berusaha ia . dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya. adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam. Merasai Hawa Pelajari Ilmu.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang. mau tak mau. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya.. ”Hey. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya.” gerutu Petapa Gunung Es. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu. Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir. Walaupun wajahnya masih pucat. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan.?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang. ”Buk-buk-buk. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik. karena luka dalam yang dideritanya. kedua petapa itu mengobati Rawarang...!” terdengar bunyi pukulan keras.

. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya.. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api.. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai. Petapa Seberang. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. Bajunya juga sederhana dan kasar. kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini... kena juga kalian diakali bocah nakal ini. Dibiarkannya tergerai saja. Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan . Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan. Mengambang tapi jelas. ia tidak memiliki siapa-siapa.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. paling muda dari ketiga petapa tersebut. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka. Wajahnya tampak lebih muda. Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu. Tak perlu katakata diucapkan. Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. Petapa Seberang. kakak Lain Pulau.206 BAGIAN 4. ”Kakak Gunung Es. Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut.. Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun. Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa. Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu.

Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. Gunung Hijau. Petapa Seberang bergegas menaikinya. Ramai sekali suasananya. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Rimba Hijau. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. Menuju suatu tempat di atas sana. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara. sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu. Rawarang si Maling Kitab. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Zig-zag ke kanan dan ke kiri. Ada hal yang lebih penting. Lima enam anak tangga sekaligus. Tanpa bicara. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. Menuju atas. Keduanya pun mengangguk tanda mengerti. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Cepat dan pesat. Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Hampir habis tenaganya. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. Menggirisi apabila menyaksikannya.

jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. . Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Seakan-akan tak ada bobotnya. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Pada sisi kirinya. Sosok itu. seorang makhluk Troll muda. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang.208 BAGIAN 4. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. Doyong dan bergerak jatuh. Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Masih ratusan lain yang menunggu. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. Tiba-tiba pandangannya gelap. Rawarang tersenyum lemah. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya. Sebelum ia mencapai lereng puncak. agar ia bisa cepat memanjat ke atas. tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Lebih baik diikat saja. Secarik kain panjang. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu. Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. Cepat dan lembut. Membuat udara terasa basah dan segar. Sudh cukup untuk dituliskan. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh.

judulnya. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab. adik Bagadsh. kitab ini harus diselesaikan..” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi. ditampiknya dengan lemas. ”tapi itulah diriku. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. . Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya. berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak. Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. Penulisan kitab itu pun berlangsung. lalu lanjutnya. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah. ”Tak banyak lagi waktunya. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. Tak lama selesailah pekerjaan itu.. Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja. Ilmu Tiga Petapa. Juga kaki-kakinya. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu.

210 BAGIAN 4. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu.. Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi. Ia tidak in- . selamat tinggal. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang. Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh.. Bagadsh. Memeluknya. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka. Berangkat ia menuju suatu ruangan. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan. Meneruskan cita-citanya. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju.. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi.. Tangannya pun terkulai lemah. sebagai bagian dari kalian. Membangun perpustakaan di tanah ini. Semakin lama semakin lemah. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir. Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya. ”Adik Bagadsh..” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana. sang makhluk Troll... Juga semakin lama semakin miring ke bawah. Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana. Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan.

Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Hanya tak dimengertinya. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut. ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik. Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. Dan menunggu.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. akan tetapi dapat mem- . Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu. Lebih banyak bertahan. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut. akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya. mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. Ia hanya memandang sayu mereka. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini.

Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai. atau keturunan-keturunannya. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. dan tidak sempat mengamalkannya. Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar. Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu.212 BAGIAN 4. kitab karangan ketiga petapa. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain. . agar dimakamkan pula di sana. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Jika tidak tekun merapal ilmu ini.

Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. hanya pesan mereka kepada Bagadsh. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula. ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar.213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang. Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu. . Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya.

Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan. Walaupun demikian secara tak sengaja. kira-kira dua . Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. melainkan memang begitu adanya sejak lama. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat. Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. Paras Tampan pun kemudian bermimpi.214 BAGIAN 4. ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat. Hanya saja sekarang lain rasanya. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. Seakan-akan tanpa celah. Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan. Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. Terduduk dalam capainya. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat.

Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya. Lambang Tanah. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. dan di- . Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. Bagadsh. Entah apa yang menyebabkan hal itu. Diletakkannya di atas telapak tangannya. Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud. Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. Tak ada kata-kata di antara mereka.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu. Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. Entah apa. orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. meminta agar Paras Tampan mendekat. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya. Batu itu terlihat menempel. Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. Setelah itu ia pun kembali menghilang. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri. Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. Setelah cukup dekat.

Kali ini berhasil. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Lalu ia berdiri. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Terlihat sedikit hasil. sehingga efesien pemanfaatannya. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah.216 BAGIAN 4. menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. Paras Tampan pun mengiyakan. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. Lama dan stabil. Paras Tampan pun mencoba lagi. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. orang itu menepuk bahunya dari belakang. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . Bermacam-macam warna dan ukuran. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan. tapi menempelkan benda. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. Ini bukan menjejak.

Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. Hal yang dilihatnya seakan-akan . akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah. Naik terus sampai dua tombak lebih. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. seakan-akan mengatakan cukup. orang itu menunjukkan hal lain. Batu itu menempel. Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. Kemudian. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. Demikian pula untuk mengapungkan batu. batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. Diambilnya sebutir batu sembarang. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama. Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. Lebih jauh ke bawah. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali. dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya.

batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan. Mengambang dan liar. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini. Kembali mati seperti keadannya semula. Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini. dan. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu.218 BAGIAN 4.. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Rupanya dalam posisi duduk tadi. Sampai di akhir jurus ke sepuluh..!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali. Padangannya tiba-tiba gelap. ”Dukkk. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat. Setelah mengurangi tenaganya.. Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. Benar-benar pukulan yang mengerikan. ingin bergegas menjadi gas. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya. seperti halnya air yang mendidih. yang merupakan salah satu kelebihannya. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh. Liar. Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian . Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir. uap air. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara..

baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan .!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. Tapi tanpa batu. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi. Tiba-tiba ia mengerti. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. Cepat dan keras. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. Teringat ia kembali akan mimpinya itu.. Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. Pukulan Badai Pasir. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti. Masih berupa gerakan saja. tampak sebongkah es terbentuk mengambang. Setengah hari pun lewat. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. walaupun masih kaku. Sakit. Dilontarkannya bongkahan es tersebut. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya. belum terisi oleh Tenaga Tanah. ”Kecipak. untuk menarik dan menolak benda-benda padat. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil.219 jatuh membentur dinding di sampingnya. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu. Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali. Perlahan. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu.

Para Troll sudah berganti kembali penjagaan. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran. ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. melainkan harus langsung. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. Saatnya untuk sedikit beristirahat. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Sunyi. Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Perlahan-lahan. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. BAGIAN 4. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut. Hari pun telah menjelang senja. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. Akhir hari kedua. Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik.220 untuk berterima kasih. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es.

gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. . Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Saat ia bangun. melingkarkan tubuhnya dan tidur. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. satu tahun lagi. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur. Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya. Semangat mulai mengisi tubuhnya. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Percobaan terakhir. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. Benar-benar tidur. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara. Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. Digerak-gerakkan tubuhnya. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat. tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. Hampir-hampir ”terbang”. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. Pemuda itu menggeliat bangun. *** Pagi telah datang. Paras Tampan pun segera berdiri. juga siasat yang diaturnya. Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini. Tidur enam jam sudah cukup baginya.

dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. . Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu.222 BAGIAN 4. Salah seorang dari mereka mempersilakannya. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini. Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut.. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar. Ia akan mulai menyerang para penjaga itu. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. Ia menegadah.!!” hentaknya. agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. ”Heghh. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. Satu tidak cukup. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air.. Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa. Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana.

akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan.!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya.. melesat menuju lubang itu. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata. Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. sampai sekepalan tangan. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang. ”Tak-tak-tak. melainkan langsung dengan serangan langsung. melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga.! Masuk ia ke lubang di atas sana. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan. ia melompat.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut. Kembali dengan cara yang sama. . Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Hampir habis tenaganya. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas.. Dan ia berhasil.

”Bagus nak Paras Tampan. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun.224 BAGIAN 4. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. Bisa dari depan atau belakangnya. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh. Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit. Dan lebih terang. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe). .” Sunyai sebentar. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini. Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang. Hampir habis waktu ujian. Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Di sana. ”Majulan terus. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. Lamat-lamat terdengar suara. Ikuti jalan itu. Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. Dan anak telah berhasil. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana.

sekarang setelah engkau berada di tempat ini. Paras Tampan menggelengkan kepalanya.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding.” jelas Troll tua tersebut.” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. kadang juga sedih atau gembira. ”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa.225 Setelah dekat dengannya. Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau. Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya. Melihat kebingungan Paras Tampan. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab. Ya. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu. Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. Kerangka mereka belum tinggal tulang. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. Engkau mem- . melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. ”Nah. Kadang tegang. Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. Petapa Gunung Es. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding.

” kemudian lanjut Bagadsh. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. ”Aku Bagadsh. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya. Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut. Satu jurus dapat dilakukan cukup lama. Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya. memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu. ada satu permintaan padamu. nak Paras Tampan. ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang.” jawab Paras Tampan sopan. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. baru kemudian menyerang dengan cepat. tidak dibatasi. PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya.” jelas Bagadsh. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab.” ”Sejauh yang saya bisa. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas.” ucap sang Troll tua. Kitab yang asli tidak boleh dibawa.. Terli- . Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya. Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat. Bila mereka telah tiada. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. Di Katakombe itu. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu.226 BAGIAN 4.” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. ”ku harap engkau mau mengabulkannya. Dan kemudian kembali diam. Untuk waktu pembelajaran tersebut. Ki Bagadsh.. harus ditinggalkan di sini. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu. Terserah ia.

takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya. Gentong. Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu.. Bahkan setelah sang kakak meninggal.227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka.. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda. Akan tetapi sayang. Sudah cukup lama mereka bertanding.. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Cermin Maut.. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. Misbaya dan Rintah. Stamina sudah menurun.. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu. trangg. Lain . Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka.!” ”Tringgg. Ya. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka. Rimba Hijau diserang. *** ”Hiattt. Asap. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut.

228 BAGIAN 4.. Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. Masuk sampai ke pondokannya.” sanggah Rintah. dan bukan untuk orang-orang dari seberang...” kata Misbaya. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang. ”Ya. Akibatnya fatal. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya. diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka. Akhirnya dengan siksaan-siksaan. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini. . Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba. ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini. ”kita yang baru turun gunung saja..” Ki Tapa sendiri tampak tegang. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. di Kota Luar Rimba Hijau. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka.

Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur. Cermin Maut. Sabit yang dibawanya.. Kakak Naga Geni telah berpulang lama.!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah.. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu. Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya.. salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda.. Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu. itu sudah cerita lama.” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya..!” tiba-tiba melayang seorang lain. ”Ki Tapa. ”Hik-hik-hik. ”Maaf bila kami tidak tahu..229 ”Tahan. Dibunuh orang. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat.!” ”Benar. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya... Hanya orang- . saya Ki Tapa. ”Jangan berpura-pura. sampai tidak mengenai kami..!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara. kemana saja engkau selama sini orang tua. ”salah satu pewaris Petapa Seberang.. Kami masih mencari siapa yang melakukannya..” tawanya sambil menutup mulutnya.. Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik. bila saya tak salah. menunjukkan perangainya yang kejam. ”sejauh yang saya dengar. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti. Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami.” ucap Ki Tapa.

” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya. ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya.” . Badannya agak tinggi. ”Maaf Ki Tapa. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. ”Tak usah banyak bicara. dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur. kakak Mayat Pucat. Mayat Pucat. Memuaskan dahaganya. Rimba Hijau.230 BAGIAN 4. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya.!” ”Anak baik.” jawab Sabit Kematian tak sabar. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau.. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. Wajahnya kurus putih pucat.. PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini. ”kita bunuh saja semua. tulang baik. Belum sempat Ki Tapa berbicara.!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian. Lain pula dengan Cermin Maut. berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya. ”Jadi. Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan. telah melayang seorang lagi dari mereka. Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat... Orang itu Sabit Kematian. baru kita geledah hutan ini. Tanda racun yang amat ganas. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya. Tak terasa dileletkan lidahnya.. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh.

Memang sejak ia mendidik murid-muridnya.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. . Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka. mereka telah menemukan sesuatu.. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja. seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. terlihat sudah ketimpangannya. Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. Setelah Cermin Maut. Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya. mari kita pergi. Pertempuran itu berlangsung singkat. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. ”Hmm. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka. Mereka menyerang dengan ganasnya.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Asap kekuningan tampak mengambang perlahan. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang.

Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya. Tak usah dibalas. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana.. Tapi tegakkan saja keadilan... tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. Jauh di pinggir lapang sana. ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat. Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya. bagi. Kembali ke suatu tempat.232 BAGIAN 4.. saat akan memakamkan mereka. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat.. PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi. Moreng. Angin pun berhembus pelan. Urusan manusia bukan urusan mereka.. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak . Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta. Lukanya telah cukup parah. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan. Sayang terlambat untuk mencegahnya. Sunyi. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai. Hawa kembar mungkin bersatu.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya. semua orang..” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya. kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya. Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini. ”Coreng..

Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku.. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya.233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya. Raut mukanya berubah gembira. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi. Beranjak ia kemudian ke arah meja . sampai ditemukannya suatu halaman.. *** ”Guru.!” Tampak sang guru termenung sejenak. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. Telah ditemukan apa yang dicarinya. Cermin Maut. ”Hmmm. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya.. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini.. Lusuh dan buram warnanya. ”Ini. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu. Di luar sana.. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya.” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar. Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab. Sampai suatu saat ia berhenti. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun. Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut. Membantai hampir seluruh penghuni kota itu. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya.

PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada. ”. dapat disebut ruang.. Dihempaskannya buku itu ke atas meja.. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. ada di sini. Samar-samar tapi jelas terdengar. apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan. Lainnya kering. Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. memang benarbenar telah mendarah daging.. terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang.” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya.. Memastikan apa yang didengarnya barusan. ”Ini. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang.. Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut. Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut.” katanya gembira. Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya. Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya.234 BAGIAN 4. itu suara air.” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat .. Rujukan menciptakan ruang . Gurun Besar... Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. ”Betul. Kehidupan akan mulai muncul kembali. Bekas sungai yang kering saat kemarau. Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan.. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa.” tunjuknya dengan bersemangat.. ”Mari kita jelang.. apa yang engkau tanyakan tadi. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan.

Perlahan dengan mendesis pelan. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Benarbenar mengharukan hatinya. Suatu pemandangan yang indah. Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. . Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. Tidak seperti saat ini. Aliran itu mengalir cukup aneh. Dibebaskan dari tapanya. Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. terbentuk dari tiada menjadi ada. Orang tua itu berdiri diam. Air mengalir pelan tapi pasti. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Ke tengah-tengah Gurun Besar. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya. Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Menikmati semua itu. Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan. Entah ke mana. Air. sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. Umumnya bila ia ada di sana. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Ke suatu tempat di tengah sana.

PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya. Pratahu dikenal orang-orang.. Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu. Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya. mendengarkan yang tak terdengar. mengelilingi satu yang besar. Lalu ia menutup mata sebentar.” panggil orang itu perlahan. mengendalikan sesuatu dengan pikiran. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya.” Menarik napas sebentar orang tua itu.” jawab sang murid hormat.. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- . di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti. Tersusun secara alami. Anggota keluarga Pratahu. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan.. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan. ”Ya guru. Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil. Kemudian lanjutnya.. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya. Sembilan buah semuanya. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan.. Alami terbuat dari batu.236 BAGIAN 4.. seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja. Lebih rendah dari batu pertama tersebut. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu..” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang.. Muridnya si anak muda duduk di sisinya. ”Muridku.” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. Di atas bangku alam yang lain. Delapan yang kecil. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu. Mencari paman dan sepupumu. Hening.. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu.. sudah saatnya.

Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya. untuk sama-sama dihabisi. Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas. Sang senopati yang kemudian menjadi raja. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . Korban dalam pihak tentara saja. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik. Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. Dengan alasan ini raja yang baru. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. Lain tidak. Sang raja yang baru itu merasa takut.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan.

Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Hal ini harus dicegah. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta. Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. Terjadilah bencana tersebut. Bisa anak laki-laki. ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. kadang-kadang hilang tertelan pasir. tinggal diambilnya sebagai murid. bisa pula anak perempuan. Bisa berasal dari suku yang sama. Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. Bisa berada di tanah ini. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan. bisa pula di seberang pulau. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul.238 BAGIAN 4. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. bisa pula berbeda. Keluarga Semesta. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. Ia hanya harus berkelana. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. Pada suatu malam. Bila telah yatim piatu lebih mudah. Gurun Besar. Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi. Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya.

” ucap anak muda itu tersekat. Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta. Menggapai si anak dan menenangkannya. Dialirkan .” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya. Terbersit pula rasa haru di dadanya. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak. Seh Pratahu hanya mengangguk... melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. Bukan ayah akibat pertalian darah. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka. ”Anakku. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. pemuda itu pun berlutuh.. ”Ayah. Sampai saat ini baru ada empat orang..239 bang satu persatu melalui cara ini.” ucapnya sambil bersujud. Rahasia telah dibeberkan. Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya.. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok. ”Jadi guru... Menurunkan ilmu-ilmunya. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa. Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya.. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu. Mendengar pertanyaan penuh haru itu. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu... Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini.. Ia kini punya seorang anak. Sampai lewatnya Seh Pratahu. adalah ayahku dalam keluarga Pratahu. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar.

Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya.” tanya anaknya tak mengerti. ”Ayah. Engkau pada awalnya adalah orang asing. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini. Sarini. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga. Telaga.. Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa. Tapi itu dulu. anakku. walau mereka baru saja tiada saat itu.240 BAGIAN 4. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu. Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. ”demikian pula dengan aku. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu.. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu. PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya. ”tak mudah untuk melakukan hal itu. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih. Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang. *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. Dikarenakan lihai dan juga kejam. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru. Sambil tersenyum sang ayah berkata.” Lalu lanjutnya. Seorang anak yang aku temui dalam perantauan.

” tunjuk Walinggih pada muridnya. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. ”Mari. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang. Mengambang. Hening.. Bukan uap air atau pun butiran air. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain. Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut. Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya. . terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak.241 yang dalam dan gelap. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat. Seperti makhluk hidup. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya. Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana... Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi. ”Itu makanannya datang.!” Walinggih sambil menggapai Telaga. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah.

muncul makhluk hidup lain yang amat aneh. yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu.. Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana. Kadang ada yang sampai berjungkir balik. guru!” sahut Telaga lirih.?” tanya Telaga. yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air.. supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu. ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu.!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu.. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya. ”Maaf.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi. Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah. keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara. Warna pelangi.242 BAGIAN 4. Kadal Pelangi (Agama agama). ”Jangan ketahuan. Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya. Memangsanya. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya.!” ucapnya. Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu.. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya. Benar-benar indah. beterbagangan.?” ”Ssst. Mereka bergerak-berak. ”Apa itu guru.. Anehnya mereka dapat .

Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. guru. ”Gerakan mereka. ”Indah. . Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik. Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi. ”tapi ada yang membingungkanku. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula. Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas. Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya.” ”Apa itu?” tanya gurunya. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi.” terang Telaga. Lalu lanjutnya. terjadi hal yang sama. Melombat ke atas dan kembali. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka. Entah bagaimana caranya. Walinggih pun beranjak pergi. ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya. melainkan miring. Mantap dan kokok. Di atas batu kecil yang lain.” sahut Telaga pendek.

Bagian dari ilmu Pedang Panjang. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali. Akhirnya Walinggih pun berhenti.” ucap Telaga kagum. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara.. Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi. Walinggih melompat ke atas terbalik. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas. akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat.” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi. hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh. Dan tidak hanya itu. Mendarat dengan kakinya kembali. ”Sabetan Tunggal Menuai . sempai hampir habis napasnya.” katanya jenaka. ”Sebenarnya juga tidak. setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa. ”Guru. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk.” ”Kupikir. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Dan berjungkir balik kembali. ”Gerakan itu kunamai. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara.. dalam ilmu Pedang Panjang. Dan pada suatu saat. Menyentakkannya kembali ke belakang. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya. Pelan dan teratur. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya. Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama. barusan tadi. benar-benar lebih dari itu.244 BAGIAN 4. ia kembali melompat pada arah yang berlawanan. Yang barusan guru tunjukkan..” jelas gurunya. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu.

akan tetapi memanfaatkannya. ”Mari. Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya. karena sebenarnya hanya memutarnya saja. Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya.” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. sehingga dapat membingungkan lawan.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar. Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. Dicobanya menirukan dan melakukannya. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. Setelah bisa. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan. baru perlu pemahaman teoritis. . Membelokkannya pada arah yang berlawanan. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna.

Tidaklah bisa disebut hutan. Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan. mereka menangkap binatang-binatang yang ada. karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya. Matahari telah tinggi di langit.246 BAGIAN 4. . PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang. sehingga menjadi lebih teduh dan gelap. Waktu untuk mencari makan.

Dan anak ini. Sudah waktunya pula kita berpisah. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 . nak Lantang.” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek.” ucap Ki Sura. Dan ini memang kehendak suaminya. haruslah pula berpisah. Entah kapan mereka dapat bersua kembali. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya. ”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan. Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu. Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga. Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ.

”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu.” jelas Ki Sura. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama. ”Kamu tahu ’kan. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’.248 BAGIAN 5. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana. Kemungkinan gurumu bertandang ke sana. Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya.” jawab Ki Sura gembira. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka.” ”Engkau memang cerdas. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta. tak perlu engkau kuatir. nak Lantang. Rimba Hijau. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri..” Ki Sura berusaha berkata arif.” Nyi Sura yang menyahut.. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya.. Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga. ”Kami akan baik-baik saja.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka.. ”Tapi guru berdua. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa. Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air. ”akan . bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. Adik dari Telaga. ki?” tanya Lantang. nak Lantang.

ternyata bisa. apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. Tapi tidak untuk semua gerakan. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri. sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . akan tetapi keduanya.” terang Ki Sura. kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. ”Jadi bagaimana rencanamu. Mengenai hubungan dengan gurumu. Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua. Entah di awal-awalnya. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni. yaitu air. kami tidak tahu. tanah.” Mereka kemudian terdiam sejenak. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda. ”Saat itu kami bertiga. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. udara dan api. sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang.

Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. . Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. yaitu Xyra. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. karena hal itu tidak baik. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. Selain itu Ki dan Nyi Sura. walau di dalam bawah sadar. tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Jangan mencari-cari masalah. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga. Ada suatu sebab. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. Pagipagi sekali. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana.” senyum suaminya. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya. Pulau Tengah Danau. Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya. Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air.250 BAGIAN 5. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya.

Ki dan Nyi Sura.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Aneh. Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. Akhirnya ia pun duduk terpekur. Barang-barang miliknya tidak banyak. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. Dan mereka dapat kembali bersua. Biarlah pikirnya. Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. Berlatih dalam mimpi Lantang. ini pun lebih baik. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi. Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. Dengan kerja sama ini. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. yaitu melalui mimpi. Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu. Tapi tidak ada sahutan. dikerahkannya suaranya. Suatu saat ia mungkin kembali. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. sehingga tidak dibu- . Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati.

air dalam gelas itu telah membeku semuanya. sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar. Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu. Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. Dari buku-buku yang dibacanya. *** ”Anakku Nah. lama ia berupaya berkonsentrasi. Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti. membekukan air. ”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik). dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu. Alih-alih mengalir. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja.” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran.. Tidak berhasil.252 BAGIAN 5. Batu itu tambak bergerak sedikit. berputar. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu. Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- . mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. Membuat api.. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. Belum selesai dengan demonstrasinya. Menjadi es. ”Tapi ayah. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen.

Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. ”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. Suatu tandon sumber tenaga. Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. yaitu Unsur Air. semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya. Kadang orang tidak . Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam. Unsur Angin dan Unsur Tanah. kira-kira empat jari di bawah pusar.” jelas sang Ayah. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya. Unsur Api.253 gujar Tua. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah. Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran. Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya. ”Pada prinsipnya sama.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam.

karena lawannya telah keder duluan. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran.254 BAGIAN 5. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. Lalu lanjutnya.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran. ”Lalu bagaima cara kita melatihnya.” jawab Seh sambil tersenyum. maka anak kecil tersebut akan menangis. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran. Pamanmu yang lebih banyak tahu. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya. Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri. Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan. Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan. tidak menyukai warnanya. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih . akan ayah ajarkan. ”Caranya tidak terlalu sulit. ayah?” tanya Nah amat tertarik. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding.

Ditunjukkan pula beberapa cara. dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. Hal-hal lain di luar itu. ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur. nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia). Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda. . Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya.” jelas Seh pada Nah.” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana. Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap). antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu.” jelas Seh pada Nah. umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat. ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya.” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan. atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. boleh dikatakan pelangkapnya.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah. dan sebaliknya.

jauh lebih panjang. ”Nah sekarang latihlah.256 BAGIAN 5. Bila dirasa cukup pembayangannya. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Juga ingat-ingat akan warna padanannya. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya. serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya. Kadang teratur kadang liar. ia pun melakukannya. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu. Dan tidak disarungkan. Napasnya pun mulai terengah-engah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya.

Bertangan kosong. ”Hei.. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. Menuju jalan darah penting ditubuhnya. Dengan indah alih-alih mengelak. apalagi menggunakan pedang panjangnya. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. Terpaksa Telaga pun mengelak. siapa. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya. Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya. Tapi Telaga kecele. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu.. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai. Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang. Mundur dan mundur. Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya.

Mungkin panjang rambutnya. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana. Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. pedang panjang tidak ada gunanya. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya.258 BAGIAN 5. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu. sudah dihentikan. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu. Pedang tersebut melesat dengan kuat. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung. Pada jarak seperti itu. Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga.

Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. Tapi kemudian katanya. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. Telaga terkunci. Darah mudanya pun sedikit bergolak. mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. Terbanting. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . Akibatnya sudah dapat diduga. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini. Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. Saat itu tersadarlah Telaga. Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya. ”Sarini. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. janganlah permainkan aku. ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Sarini putrinya. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Lalu katanya.

”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya. Karena lama tak membuahkan hasil. Hasil yang mirip diperoleh. Terlentang. Ia tidak banyak bergerak. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. Masih belum menyerang. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan.260 BAGIAN 5. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. cukup mengelak tipis. Tidak banyak ia bergerak. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. . kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya. Gadis ini benar-benar berhati harimau. di mana Telaga akan mendarat. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi. Sarini bergerak cepat. Sarini telah mengambil posisi rapat. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga.

”tak tahu guru. Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana.” Orang itu ternyata adalah Arasan.” jelas Arasan. Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi..!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. ”Nak Telaga. kena engkau diperdaya Sarini.261 ”Hehehehe.!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini. ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. bertanyalah Arasan pada Telaga. Setelah mereka berdua berdiam agak lama. ”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. Ia telah lama berada di sana. Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana. tidak untuk jarak dekat.. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. ”Guru. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh. Tampak merah mukanya. bila itu tadi adalah Walinggih. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang . ”Tahukan pula. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya.

guru. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Lalu katanya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu. Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya.. Bisa kecewa ia nantinya. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak. agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. perlahan-lahan wajahnya pun memerah.” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu. Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut. ”Sebenarnya. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain. ”Menurut saya. ”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini. Telaga mengiyakan..” begitu jelas Arasan. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak.262 BAGIAN 5. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan.” Telaga terngaga mendengar hal itu. nak Telaga. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu. Walinggih. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak .” kata Arasan kemudian.” jawab Arasan. Dan memang demikianlah.

263 terduga. Telaga pun mengangguk-angguk. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini. . Setuju atau pendapat gurunya. Dimasak kira-kira hingga tiga jam. Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya. Tak lama kemudian mereka pun berlalu. mereka pun kemudian mulai makan. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. Arasan duduk di samping Telaga. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka.” jelas Arasan. Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. merica dan tunas pohon kala. Kedua orang tua yang sedang makan. kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit.

Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah. Dia lebih pakar dari paman. dipegangnya perutnya yang sakit.264 BAGIAN 5. ”Eh.. Telaga tak lagi dapat menahan tawanya. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih. Diupayakan untuk menutup mulutnya. ”Ayah. tuh! Ini gara-gara kamu sih.. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka.. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka. Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka. Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar. Terdiam. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu.” tuduh Walinggih jenaka. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya.! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. ”Arasan...” jawab Arasan sekenanya. lihat. tidak mau menjelaskan.” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya. Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu. pecahlah tawa antara orang muda itu. ”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar.. ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Sudah empat kali ia tambah. Telaga hanya tersenyum. .. Sarini. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini. terlihat salah tingkah. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka.

Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan . putriku Sarini. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. Ia pun lalu membalas dengan merendah. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus. Lalu katanya. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali. ”Adik Arasan. Mereka tidak bisa bicara apa-apa. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak. rendah hati dan bersemangat itu. dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya. Sarini. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. Telaga. sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. bukannya engkau Walinggih yang mulai.. Menjadi keren dan serius.. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. ”Kakak Walinggih.!” Arasan pun tak mau kalah. Seharusnya engkau saja yang bilang. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini.265 ”Eh. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan. berkatalah Arasan. saat ini telah menjalar ke leher dan telingah. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu. ”Nah. Dan hanya satu yang mungkin. Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan.

Yang paling terkejut adalah Sarini. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga.. ”Hahahaha.. Setelah berhasil menenteramkan hatinya. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu. sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya.” Kedua orang itu terdiam. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga.!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih. Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini. Karena dipergoki oleh ayahnya. dapat ia merasakan itu. akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya. ”Maafkan perkataan saya ini. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu. terserah ayah saja. Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya. berkatalah Telaga. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri.!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka. Mereka sudah saja merasa yakin. Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata.266 BAGIAN 5.. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. ”ayah. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya.. Pandai masak pula. . Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya.. karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini.. mengakulah ia akan hal itu..

”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri. kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini. Lalu ujarnya. Kehilangan keluarga. ”Begini saja.. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu. Moga-moga mereka setuju. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi. gadis yang diam-diam juga ia sukai. kakak Walinggih.. gimana ini. di tengah laut. Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini.. anak dan istri.” usul Arasan. suka guru.” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega. Yang dihubungi merasa gembira pula. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air.. Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan. ”Hmm. Baiklah. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat.” begitu ujar Walinggih. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air. .” ”Ah. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini. ”Engkau masih ada orang tua di utara sana. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini. ”Hmm. ”Saya. Ia hanya bisa pasrah.. Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih.267 Arasan pun menghubungi Walinggih. Tadinya sempat perasaannya bergolak. yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan.” jawab Walinggih.. ”Eh.

Dengan atau tanpa pedang panjang. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. Telaga ke arah selatan. ada pula waktu berpisah.. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula. Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. begitu pikir keduanya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun.. Kedua rombongan itu pun berpisah.. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh.. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan. Suku Pelaut. . Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. ”Ada waktu berkumpul.. Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. Sekalian mengenal calon mantu mereka. Di antara orang-orang yang tinggal di laut. Atas usul Arasan. ”tak ada yang kekal di dunia. Ki dan Nyi Sura. Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan. Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain. jauh di lepas pantai.” gumamnya.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya.268 BAGIAN 5.

Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja. Untuk menghilangkan rasa sepi. buat apa resah. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur.. hihi. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur.. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu.” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu. Perangainya yang riang menambah daya tariknya. Hal-hal tersebut menarik hatinya. Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum.. Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung... matahari bersinar cerah. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah. Tralala. Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau.. trilili.. ”Burung bersiul bersahut-sahutan.. resah itu juga tiada gunanya. Nanana... ninini. kera-kera bermain di hutan. dada. Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa. Buat apa susah.. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil. susah itu tak ada gunanya. didi. Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau.. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung. Mirip kuku- . Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya.269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya. haha..... bunga semerbak merekah. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara.

Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. Saat baru turun gunung. diduganya bahwa itu adalah seorang . Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana. teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. pemuda itu. Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. Memandangnya dengan tertarik. Agak jauh di hadapannya. Nikmat rasanya. Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. Di antaranya terdapat dendeng. Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. di bawah sebuah pohon yang rindang. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya.270 BAGIAN 5. tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. Lantang. manis-manisan dan bumbu-bumbu. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk. Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. pun celingak-celinguk. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya.

”Ki sanak yang di sana. melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya. orang itu telah bergerak ke arahnya. Pasti dari orang itu. Cepat.. Sebelah hijau muda. orang itu kemudian menghilang. ”hanya makanan sederhana. Ki dan Nyi Sura. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan. Kalau tadi bersumber dari perutnya. Setibanya di dekat air. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang. Amat cepat. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya. Bukan karena bahannya yang kasar. Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Serius. Halus akan tetapi cepat. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. Tak bisa dirasakan. Baju yang dikenakannya juga aneh.. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua. Juga guru pertamanya. Tua sebelum waktunya. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Mirip dengan cara ia datang . Bunyi kukuruyuk. Seakan-akan mengangguk. Ada ungkapan terima kasih di matanya.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu. Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. saat ini kelihatannya tidak lagi. Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi.271 yang sudah agak tua. Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan.

Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. Dalam tidurnya. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. Kembali dalam posisi siap menyerang. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu. Tetapi tidak terjatuh.272 BAGIAN 5. Sebuah muara. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. sahabatnya yang seorang Undinen. ia pun bermimpi. Tidak jelas alasannya. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. Bukan dari busana mereka. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. . Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya. Tak lama Lantang pun terlelap. Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan. apabila mereka bersua kembali. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Khas pulaupulau delta pada umumnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah.

Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- . Mengendap ke bumi. Menilik dari serangan tadi. Keduanya ingin mengalahkan yang lain. Keduanya kembali berhadapan. Lentur dan membaur. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Air. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Hanya saja saatnya tidak tepat. Mengalir seperti air. Keras tetapi tidak getas. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. Membuang tenaganya dalam satu serangan. Lantang yang tadi melihat dari jauh. keduanya telah kembali berlaga. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. Luwes. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Air. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama. ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Berdiri satu di depan lainnya. Entah bagaimana caranya. Maksud ingin menengahi. Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. Mencegah pertarungan ini berlanjut. Bergerak dengan halus dan cepat. Lantang langsung bergerka ke tengah. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh.

Pak Tua. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan. Kota Luar Rimba Hijau. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Semampunya. Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali.274 BAGIAN 5. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Hancur tak tersisa. Lantang berusaha untuk bangun. Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. menjadi puing-puing. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi. tapi belum semuanya. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan. Xyra. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . Tapi tak ada tenaga. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit.

Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau.275 dari satu tempat ke tempat lain.. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Ya. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda. . Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. Sedih dan sunyi. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau. Suatu perguruan beladiri. Gentong. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api. pekarangan di dalamnya. dan lainnya. Misbaya. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas.? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah. Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya. ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya.

kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat. Coreng dan Moreng. Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa.. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik. ”Nak..?” tanya Paras Tampan sekenanya. yaitu Kirani dan Rantih. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu. Setelah cukup lama termenung.. Guru mereka semua. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa. Saat terjadi . Sebagai suatu penghormatan saja. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Nyi Antini. ”Bibi Antini. akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. Paras Tampan hanya dapat mengangguk.276 BAGIAN 5. Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya. Tak terkecuali sosok perempuan tua itu.. sesosok orang tua menyapanya. bagaimana kabar Paman Baja. Ia tidah tahu harus berkata apa. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu... ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya. nak Paras Tampan. Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini.

menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. sedangkan suaminya hilang entah ke mana. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah. untuk membuka jalan di Rimba Hijau. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas. Akibatnya ia selamat. begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau. Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. Nyi Antini pun melaksanakan hal itu. Patuh pada perintah suaminya. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya. Nyi Antini untuk bersembunyi. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Dingin dan basah. Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu. Disuruhnya istrinya. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan.277 pembumihangusan itu. ia dipaksa ikut oleh mereka. Akan tetapi hal itu tidak digubris. Berendam semalaman. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap.

Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya.. nak Paras Tampan. Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya. Lebih tua dari umur sebenarnya. ”Maaf nak Paras Tampan.” Nyi Antini berhenti sebelum . Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. Harap-harap itu Ki Baja.278 BAGIAN 5. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. ”Ada satu hal lagi. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. Nyi Antini. Menyebarkan amis darah.” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna.. Mengeras. Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya. yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab. Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor. dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini. yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang.. Bertambah satu pula tugasnya. Tangannya mengepal keras. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup. Wajah Paras Tampan tampak membeku. Tiba-tiba ”byurr!!!”. Memerah. Sesosok mayat dengan luka di mana-mana.

” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini. memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau..” ucap Paras Tampan sendu. ”Bibi. Gembira ia mendengar kabar ini.. Citra Wangi masih sendiri. Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana.. bibi. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah. Belum menikah.279 melanjutkan. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban. hanya saja pindah. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan. Citra Wangi. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya.! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari. Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu. Ki Rapih.” ”Katakanlah. Ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Untuk menghilangkan jengahnya. ia pun berkata.. Tapi terselip pula rasa yang aneh.. Janganlah nak Paras Tampan kuatir. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah... Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu. ”Tunanganmu. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa..” jelas Nyi Antini. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi. . ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini. Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah.

menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu. Langkah keduanya ringan dan mantap.” jawab sang gadis jenaka. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. Entah mereka sadari atau tidak. Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna. . Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya. Rupanya ia murid sang orang tua. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu. Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas. Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan. Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau.. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara.. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai. tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan.” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya.. racun hijau.280 *** BAGIAN 5. ”Hatihati. Racun. Batubatu ini terlihat tidak wajar. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda. Mereka berarah ke utara..” terang orang tua itu. ”Tapi apa bahayanya. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman.. ”Hmmm.

”Tidak semudah itu. Dan amat mudah. Ada pengujar tua yang pernah berkata. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya.. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya. muridku. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu. tentu saja ada. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu. guru?” ”Hehehe. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras. muridku. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. Amat indah dan seimbang. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan. ”Engkau benar. Itulah alam. Tapi spora ini lain. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal. Lihatlah di sekitarnya. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi.” Kata-katanya tidak diteruskan. ”Ada penawarnya. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu. . ambil dan remas-remas dengan jarimu. ”Ini. karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu. Tangannya diletakkan di depan bibirnya. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. ”Kalau penawarnya sedemikian mudah. terdapat warna-warna merah.

Tetapi tidak saat ini. Batu Lumut Hitam. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. ”Guru. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. ”Maaf. Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu. boleh juga ditinggal. Sekarang semuanya enam orang. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya.” bentak teman si brewok. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang. Hanya bekal makanan dan baju pengganti. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang. Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang. Pasti itu suatu yang berharga. ”Hehehe.” ucap orang tua itu masih sabar. ”Dan yang cantik ini. ki sanak sekalian.282 BAGIAN 5. Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. kalian telah melalui wilayah kami. . Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya. bagaimana ini?” tanya sang murid. Ia telah berubah. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. Mengepung dari kedua arah. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar.” ucap salah seorang brewok dari mereka. ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya.

biar aku yang di belakang.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain. jika talinya ditarik. ”Engkau ambil tiga yang di depan. Menyerang. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi. orang tua?” tanya balik orang itu. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa. yang langsung dengan sigap menangkapnya. Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. kainnya langsung terbuk. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang. salah seorang penghadang menghardiknya.. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid. Dua buah pedang panjang. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat... apa maksudmu. Hampir dua kali panjang pedang biasa. Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka. Sisakan satu untuk penunjuk jalan. pasti mereka tidak akan memintanya. apa maksud kalian. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. Dua buah pedang panjang. ”Hey. Salah seorang dari . ”Pak tua. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya. ”Heh. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu. Jangan lama-lama. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu. lalu katanya lirih. orang seperti ini tidak boleh diberi ampun.. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu. cepat serahkan bungkusan itu. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak.

Lalu kata si orang tua. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya.” . Kedua orang itu. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air. Tenangkan dirimu. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. Walinggih.” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. Kemampuan alamiah seorang pemangsa. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam. ”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Lalu katanya. Bukan hanya itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. Sang guru dan muridnya. melainkan para perampok jahat. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati.284 BAGIAN 5.” kata seorang dari mereka. Sekarang jangan banyak pikiran dulu. Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. Bangsa Penghadang. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. ”Nah Sarini. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia. Ia telah kupesankan caranya. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu.

Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. melainkan untuk menyadarkan saja. karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan. Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra. Sebelum tahu sebabnya. Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra. Lantang telah merasa sehat kembali. Ditiupnya sedikit. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. tetapi tidak. . Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. tak ingin Xyra bersantap.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya. Setelah yakin akan panasnya. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan. Bila tidak amat disayangkan. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. Pagi pun datang menjelang. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. Sebelum Lantang sehat. Penuh dengan kelembutan. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya.

Bahkan dalam berbagai situasi. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya. Menghadapi Telaga. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya. Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. ”Saudara-saudara perampok. Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. Tidak demikian dengan orang-orang ini.. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini.. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” . Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. semakin besar kemungkinannya untuk menang.” usul gurunya.286 BAGIAN 5. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru.. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat. ”Cobalah pada mereka. Akan tetapi sekarang lain. Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. Sarini hanya mengangguk. Entah apa. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi.

membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan. bertubuh gembul dan berkulit agak gelap. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. Sebilah golok tampak tergantung pada . bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Seorang dari para perampok tersebut. Seorang dari mereka akhirnya berkata. Rakrakrak.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu. ”Hehehe. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. Nafsu telah menguasainya. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar. Repot juga pikirnya. Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. *** ”Petani ompong she Gu. Mirip durian. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. Orang dengan tenaga kasar yang besar. Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. Ikuti saja maunya.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

”Duh. Ketawa yang ramah dan hangat. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. Cepat. pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. Tak terasa ia pun terlelap. Walaupun cukup gemuk. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. Melihat kekikukkannya itu. Mau tak mau terasa pula jengahnya. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. ia pun segera tertidur.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya. dada yang ranum. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu. merasa dirinya lebih enakan. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. tak lama. ”Kakek Gu. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak.

Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. ”Pinggang molek. Dan tidak tanggung-tanggung. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat. kaki jenjang. Sarini sebagai putri Arasan.!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu. Saat berpusing. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu. Girang sudah wajah perampok gembul itu. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka.. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya.300 BAGIAN 5. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. pujaan hati. Bagi mereka. para perampok. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya. Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. Akibatnya. Lima orang .

Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu. Belum lama. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat. mereka . mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian. ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. Kami bukan lagi Asasin. aku sebutkan satu tempat. Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin. Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia. Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. ”Nan. ”Biar kalian tak penasaran.. pucatlah keenam orang itu.” Mendengar nama tempat itu.. ”Sudah lama.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu.” kata seorang dari mereka. Desa Batu Barat dan Timur. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya.” jawab Walinggih. bisa lega aku memulangkan kalian.” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya. ”Satu tahun. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong.301 yang lain pun menjadi marah.. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya. Walinggih berseru. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin. ”tahan!!” ”Orang tua. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka. ”Hehehe. apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam.

. Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Ia telah berubah. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah.” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya.. Hakim Haus Darah. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. sudahlah. anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka.!!” ujar seorang dari mereka pucat. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik. ”Paman. ingatan masa lalu akan keluarganya. Tangan kecil dan halus milik Sarini. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong. gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. Hakim Haus Darah. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa. ”Engkau. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa.. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih.302 BAGIAN 5.

Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya.. Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni.” puji kakek Gu. paman.” ucap kakek Gu sedih. ”Ah.” jelas pemuda itu. paman bisa saja. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya. ”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba. Saya juga baru belajar dari para Troll. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. *** ”Maaf. tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali. ”Tidak baik. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu. mengguman-gumam. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo. tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya. paman!” balasnya.!” . tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik.” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo. Salah seorang bernama Rakrakrak.” Hanya itu saja. ”Ini juga salahku. tenagamu itu boleh juga. ”Tidak apa-apa. ”Omong-omong.” ”Ah. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin.

” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu.” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. apa maksudmu?” ”Ah. tapi dengan perhitungan tentunya. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- .. ”Nenek Po. Dengan mengubah-ubah gaya berat. Dan semuanya patuh pada gaya berat. Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu. Semunya punya isi. Lalu lanjutnya. keseimbangan akan terganggu. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. tubuh menjadi kosong. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po. bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. Itu melawan alam. nenek Po pun tersenyum.” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat. Ada empat unsur air. udara dan api. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. Alam ini terdiri dari materi. Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar.304 BAGIAN 5. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam. Konsekuensinya berat. ”Anak muda ini. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. Terutama aliran hawa dalam tubuh. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan. tanah. Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu. ”Nak Paras Tampan.

305 pal ilmu itu. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). yang menceritakan . hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan. Gu Long adala seorang yang cerdas. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya. Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah). serta Gu Long sendiri. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. baik dari nenek Po maupun kakek Gu. Sekitar 12 tahun. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut. Selain berbahaya bagi lawan. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. yaitu Chu Qing Yun. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. bila menggunakannya dengan benar. Walaupun demikian.

Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali. yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan. Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu. dikunyahnya perlahan. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. Ia hidup tidak bahagia. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Kerap sekali sehingga jatuh sakit. apa yang kita tuangkan dalam karya. lalu rempah-rempah. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya. Bila sedih ia minum arak. Gu Long namanya. Ubinya tinggal sebuah. Itu yang terbaik. ”Sebaiknya seimbang.” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. Tidak cukup kiranya .306 BAGIAN 5. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan. akan tetapi tidak lama. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu. Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. ucapan dan pelaksanaan. Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. Digigitnya ubi. Ia sendiri pernah mendengar.

”Ia tadi pergi sebentar. Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya. Ditunggu saja sambil beristirahat. maksudmu?” tanya Xyra. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. Khas kecantikan seorang Undinden. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat. Dan ia menemui Ki dan Nyi . Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya.” Lantang pun menurut. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu. ”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis. Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat.” jelas Xyra. Segigit pisang dan rempah-rempah. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan.307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa. Ada sesuatu yang harus dicarinya. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. ”Wananggo. Tiba-tiba bahunya ditepuk. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Pindah mengisi lambungnya. Xyra tampak senang melihat hal itu. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang.” katanya pelan. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. Ia mengeluarkan nada tinggi. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang.

308 BAGIAN 5. Setelah menemukan. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. Keduanya pun terdiam. Menggelora jiwa muda. . ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu. Saat Lantang menderita sakit.

Menegaskan guratan-guratan mistis.” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Senyap. Dan jiwa pun tenteram kembali. Setelah semuanya berakhir. Guratan di atas kulit nan indah. Secarik kulit dicabik halus. agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu. Mengekang nafsu. Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. Sunyi dan sepi. Ia sekarang bernama Gu Yo. untuk disalin dan dikumpulkan. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. Menghela napas. ia menugaskan muridnya. Lepas. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po. Tato. Lega.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. Menghirup keheningan. pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 . Unbekanteeremit. Darah menetes lembut. keponakan jauh dari Gu Ming. Menghilang. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri.

. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya.” ujar nenek Po ramah..” ucap kakek Gu kemudian menengahi. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir. tak usalah. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya. ”Ya. Terdiam sebentar pemuda itu. kekek Gu. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang.” bingung pula pemuda itu. Saya mencari keturunan dari orang itu. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu. Kulit yang bertato. dan kamipun akan merasa lega.” jawab pemuda itu hormat. ”Sebenarnya. ”Dulu. BAGIAN 6. ”Tidak sama sekali. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang . ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan..” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega. yang disayat dari tubuh empunya. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. ”Begini saja.” Pemuda itu pun mengangguk. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat.

beda ciri khas tato yang digunakan.” ”Eh. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat. kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu. ”Sebenarnya. Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh.” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata. Setelah tawa berderai keduanya usai.!.” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu. Sungkan ia melanjutkannya. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu... kami bukan menjadi begal atau mungkin belum. Beda kelompok. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. dianggap lengkap bila telah memiliki tato.” lanjut nenek Po. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya.” tak diselesaikannya ucapan itu.. ”Pada jaman itu. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya. ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka. budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya.... Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia). ”Bukan.” ucap nenek Po.” cerita kakek Gu. Orang yang sudah dewasa. ”Benar. kakek dan nenek.. ”tapi berarti. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya. yang dianggapnya benar-benar membingungkan.” tambah kakek Gu. Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya.311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya . Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan.

”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. karena hal itu dianggapnya tidak baik. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya.” lanjut nenek Po. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar.” ”Oh. dan boleh dikatakan menawan.” jelasnya. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. akan tetapi sebagian lain tidak. Lalu sambungnya. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita. TATO ke atas. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya.. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut. . ”Dan kakek Gu punya. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut. padahal itu adalah tubuhnya sendiri. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya.” kali ini kakek Gu yang menjawab. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato.312 BAGIAN 6. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali. ”Ceng-Liong Hui-To. begitu!” jawab pemuda itu.” jelas nenek Po. Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian.

pemerintah menjadi kalang-kabut. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. . anti kemapanan. membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. di antara orang-orang senasib. Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan.313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. agar dihapuskan. main tangkap saja orang-orang yang bertato. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu. Akibatnya jelas. dan selalu saja berlebihan. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka. Alih-alih mendengarkan. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. Apa-apa yang tidak dianjurkan. Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. Sengaja mereja menggunakan topeng. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang.

Besar dan gagah. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. Roda perekonomian kembali bergulir normal. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.314 BAGIAN 6. Tenang dan damai. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. Suasana kembali seperti semula. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. yaitu CengLiong Hui-To sendiri. Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Walaupun telah salah tangkap. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. informasi rahasia dan keamanan. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato. tidaklah jadi hal itu dilakukan. Untuk mengenangnya. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. mendatangkan kesan masif dan keren. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum. . Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. Akan tetapi dengan hilangnya. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. Dengan membawa beberapa saksi dan bukti. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri.

Saat hari hujan. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Jalan batu. sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. Jalan di depannya masih lurus jauh. bagai tanpa akhir. Pastilah itu dia. kota Luar Rimba Hijau. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. tapi tidak ada yang memberatkannya. Tidak juga kota tempat asalnya. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. terpahat pada tengah batang melintang. membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. ia melihat berbagai aneka toko-toko. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama. Citra Wangi. istri mendiang Ki Baja dari .315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Kepala dari gerbang itu. Lambang elemen kuno udara. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. Warna udara dan asap. Gerbang Udara. dan tengahnya dicoret garis mendatar. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan.

yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. karena dialek mereka yang cukup kental. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. TATO Kota Luar Rimba Hijau. Cepat. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. Akhirnya perburuan itu pun berakhir.. ”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora. Bergegas dipacu langkahnya. Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan. saat ia bingung tadi. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. Tapi rasanya bukan ini. ia pun memacu langkahnya. Besar dan mewah menurut Gu Yo.. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu.316 BAGIAN 6. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”. seperti ”Pake matamu!”. yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. berkali-kali hampir tertabrat.” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. pikirnya. Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya. . Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. pedati dan juga kereta tanpa kuda.

anak muda!” katanya bersahabat. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh. saya ingin bertemu dengan nona tadi. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. Mungkin lain kota. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda. akhirnya menggapainya untuk ikut. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda. orang sedemikian sibuknya. ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. itu. Janji. anu. dapat langsung datang kapan saja. ”Ah.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi. Demikian pikirannya menyimpulkan. dan disapa balik dengan.. sesuatu yang tidak ia temui di kotanya. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. ”Maaf. mereka terlebih dahulu harus membuat janji.317 ”Tahan dulu. Lalu lanjutnya. ”Eh.. itu.. sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya. anu. . Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini.. Tak perlu ada janji-janjian segala.?” tanya sang penjaga kembali. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu.. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. lain tata cara-nya. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. maksud saya. entah toko atau apalah. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya.. sehingga untuk bertemu. Gu Yo tidak tahu. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu.

Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi. dan bertanyalah ia pada Gu Yo. sebelum bertemu dengan nona Lin. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin. ia menyebutkan ”Gu Yo”. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. Persoalan membuat janji masih asing baginya. lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”.” saran sang gadis tersebut. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. nama sebenarnya dari nona Lin. ”nanti sore. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. kekasihnya dulu. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. Seorang pelayan mengantarkan mereka. Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. di kota Siaw Tionggoan. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi. keperluannya dan waktunya. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. Untuk keperluannya. Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu.318 BAGIAN 6. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. Kemudia saat ditanya namanya. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu.

Setelah berjalan beberapa saat. Kedai Daging Bakar namanya. ”Ah.. kambing sampai ular dan kelinci. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan. mari masuk mencicipi!” ajaknya. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. pasti kau tidak cukup punya uang. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara.. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu. dari ayam. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. ’kan? Ayo anak muda. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. ”Ayo jangan malu-malu. tapi.319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. Aku pemilik kedai ini. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. bagaimana?” jawabnya ramah. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. seorang tua menyapanya. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. Kamu boleh makan sepuasmu. Yok Seng.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. kerbau. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . sapi. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap. suatu suara dalam lambungnya merekah. ”Eh. Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu. orang tua itu memang pemilik kedai itu. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. tapi setelah itu bantu-bantu. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. masuk saja.

. saya. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk.” jawabnya. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya. Tidak ingin bekerja di sana. paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. ”Eh.. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan. TATO waktu. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. ”Eh. mengingat permintaan yang banyak. . Gu Yo. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu. Habis. benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi.320 BAGIAN 6. Tiada yang tersisia. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. Kejujuran pun tampak dari wajahnya. ”Engkau tidak akan bekerja di sana. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. hasil asahan pengalaman yang menahun. ”Tidak.” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja. tapi telah membuat janji dengan nona Lin. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. tapi.. Ia melihat bahwa pemuda itu.

Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Hampir sebesar nampan bundar. Mukanya lebar dan besar. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Entah berapa jumlahnya. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya. Ma She hanya mengangguk.” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. ”kepala koki di sini.” kelakar Yok Seng.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. Lapar. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. ”Duduk di sini dan makan semampumu. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. sehingga tampak gemuk padahal tidak. Tapi wajahnya ramah. Tak lupa diambilnya den- . Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya.” ”Ma She.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada. Orangnya tak banyak senyum. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. Oh. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. Kasih dia makan terus atur tugasnya. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda.” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Memerah wajah Gu Yo itu. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima. ”Ini Ma She. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran.

Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. pisau. garpu. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok. sumpit. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata. ”Eh. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke . langsung dimakan. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. Saat itu lewatlah seorang gadis. ”jika sudah cukup kecil. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. ia pun berkata. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan. Juga tidak bisa. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo. Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. Alih-alih menjawab. tangan kiri memegang garpu. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu. ”kalau kurang. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan.322 BAGIAN 6. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. Setelah Ma She berlalu dari sana.

Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. ”Iya. benar-benar mengajari. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. ”Bagus kalau begitu. ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. paman!” jawabnya. Setelah diajari oleh Ma Siang. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. tampak menggeleng-gelengkan kepala. . ”Ah. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. Dan seperti yang diduganya. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. belum. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu.323 arah garpunya menggunakan pisau. Sambil tak lupa berucap. sedang mengerjai Gu Yo. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya. ”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya. Bagaimana ia memotong daging. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. Masak cuma itu. Tapi saat ini bukan waktunya. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang.” ucapnya kemudian. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu. walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. Ayo. ”Eh. atau sayur yang harus dipotong dulu.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu.

Nenek Po dan kakek Gu.. bahwa ia . sumpit dan pisaunya. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut. sendok. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. TATO Cara makan yang baru. kau banyak sekali berdiam. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja. Segera mereka akan berontak minta diasup. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu. sudah! Aku mau masak dulu. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. ”Ya. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. sebentar lagi kita makan bareng.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu. masih saja tenggelam dalam lamunannya. seorang menggapai bahunya. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana.” jawap kakek Gu pendek. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. ”Heh.. *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri.324 BAGIAN 6. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. sepeninggal nenek Po. Kakek Gu. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua.” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya.. Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya. ”Hmmm. ”Ikut aku!” katanya. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan. Kenyang dan tenang. Terpisah.

saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. ada hal yang menarik dari pemuda itu. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. sontak terkoyak. Dengan dibantu nenek Po. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan.” ucap seorang dari mereka. Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). Gu Yo. . ia tidak mungkin memang. Orang berilmu. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. Ia terpikir akan pemuda itu. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir. sehingga tetap lekat pada ingatannya. Apalagi sekarang. suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. Hek-Mo. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. menjadi Gu Yo. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. karena dulu dengan hanya berempat. Entah bagaimana. jika tidak dibantu oleh Gu Yo. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. yang berwajah agak gelap. Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. ia pun menoleh. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan).

”Su-Mo. yang merisaukan hatinya. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya. ”baiklah. ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami.” ”Hmm. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo.” jawab kakek Gu pendek. sudah jelas kedudukan kita masing-masing. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya. akan dihadapinya dengan jantan.326 BAGIAN 6. Hek-Mo.” . keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar. Alih-alih Su-Mo yang menjawab. si Petani Ompong. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu. Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”. orang tua yang bergelar Petani Ompong. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya. wahai orang tua!” jawab yang ditanya. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. bila kami bisa menundukkan dirimu. menunjukkan emosi yang telah meningkat. tidak biasanya berdiam diri. ”Salam. kata seorang dari mereka. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak. bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo.

327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. Setengah semangka ukurannya. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. Setelah makan semuanya duduk lemas. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan. Dan mereka pun mulailah makan. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi. banyak tamu ternyata! Mari-mari. ”Ah. Semua . ”Wahai orang tua. Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu. ”Ah. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. terima kasih atas jamuanmu. Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. Puas rupanya ia telah terisi perutnya.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. sebelum ’berdiskusi’. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. Sunyi. enaknya perut telah kenyang. kakek Gu mulai angkat bicara.

”tidak perlu sungkan-sungkan. Empat Begal Hutan. bahkan cenderung bagus. Tenaga kasar dan otot. Mari kita langsung pada permasalahannya. Kakek Gu hanya menggeleng ramah. Tulang beradu tulang.. Serangan keempatnya cukup bagus.” Setelah itu. katakan saja. pikir mereka. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu. menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’.328 BAGIAN 6.” ”Tidak. bukannya kami tidak sopan. tapi kami biasa bertempur berempat.” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. Dalam sepeminum teh. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa . ”Wahai orang tua. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. TATO dijamu baik. apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. Walaupun demikian. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini. keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. seperti mengucapkan. Bila engkau keberatan. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. Ya.. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. tidak.

Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas.329 apalagi bila menggunakan senjata. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. sang pemilik Kedai Daging Bakar. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. .

Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth. Gu Yo pun melakukannya. anda pasti dari kalangan pesilat.. kadang kekuningan atau agak gelap. Ruangan itu lebar dan terang. Ia tidak tahu harus menjawab apa. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain.” pikir Gu Yo. sang penjaga dan gadis pencatat janji. melihat cara anda memberi salam. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. ”Eh. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang. ”Ah. Gambar yang terlihat kadang berupa naga. ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. Gu Yo yang bingung hanya menjura..” jawab Gu Yo gugup. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. saya Swee Sian Lin. Lalu katanya. ”Bagaimana.” . Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”.330 BAGIAN 6. anu. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. Benda seni menurut beberapa orang. kedua petugas itu. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak. ”Halo. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan. tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum.

Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini. apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. Sopan. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting.. Tapi itu masa lalu. ”Itu. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. sebenarnya. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji. Pemuda ini lain. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia. dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. ”Jadi. agak memalukan untuk diceritakan. Bingung.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah. karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri. Dilarang oleh hukum. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Tato dari seorang korban yang hidup.. Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut.331 Gu Yo hanya mengangguk saja.

Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini.. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. Entah bagaimana.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda. ”Karena anda telah di sini. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana.332 mengerti.” jawab Gu Yo pendek. Rupanya hanya masalah salah lihat saja. anu. dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. saya mengerti sekarang. saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. dirinya menjadi lebih .” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan.” usul sang gadis. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya. Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. ”Ah. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya. BAGIAN 6. melainkan nona Sian Lin. ”Tunangan saya.. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya. ”Eh. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. Jadi anda salah lihat orang. Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu.

”Nona Sian Lin.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu. baru dan berdarah-darah pada panel diding. ”Dia datang kembali. Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya. akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu.. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya. dan juga bayarannya plus bonus. Dan tidak hanya ia.. Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih.. Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar. Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato.. ”Ini tato seorang gadis panggilan. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut. memang. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita. Di sininya telah ada seorang pemuda. *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya... melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar. ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut... Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada..” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- . Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya.!” tunjuknya dengan muka pucat. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. Bunga Merah. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi.!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin. itu..333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.

dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. membuatnya menarik untuk dilihat. sam- .334 BAGIAN 6. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. Akhirnya berhasil didapatkannya. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Sebuah teknologi surat mekanik. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. TATO por. Kematian. Badannya tegap. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. perawakannya tidak terlalu tinggi. Warna penanda gulungan surat itu hitam. San Cek Kong nama pemuda itu. ya?” gumam San Cek Kong. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat. Atau tepatnya meja serba-serbi. dan dialirkan ke tempat tujuan. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin. Ia makan. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. ”Pembunuhan atau bunuh diri. bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. Tabung ringan dan kuat. dapur kecil.

*** . Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. Dari surat yang diterimanya. Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya. Dengan kata lain. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. melainkan langsung ke tempat kejadian. Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. sang pemilik tato masih hidup. walau dalam keadaan kritis. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi). Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. bisa saja korbannya. dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Ya. belum tentu terjadi pembunuhan. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu. Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal.335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput.

jauh di arah barat dari kota. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah. Korbannya sendiri. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. saksi-saksi dan waktu kejadian. karena ia pada saat tersebut berada . Pada jaman itu. Ang Tiong namanya. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. Ceng-Liong Hui-To. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. Agak desa suasananya. ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. bila memang ada. tato tidak lagi menjadi tren.336 BAGIAN 6. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin.” lanjutnya kemudian. belum ditemukan atau bisa diindikasikan. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. tempat kejadian itu berlangsung.

tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong. Selain lezat.” jelas gadis itu. ada seorang pemuda. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar. sering kami makan-makan di sana. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. ”Eh. tempat di mana Gu Yo bekerja. Gu Yo namanya. ”Ya. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng. telah ditanyai. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut. masih jalan yang sama. kebetulan aku belum sempat makan siang. Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. ”Sian Lin-moymoy. Semua pihak. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. mulailah kakek . mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. keterangan mereka tidak banyak berbeda. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian. Gadis itu menggangguk mengiyakan. Ya. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut. Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. pegawai paturan.337 di tempat kejadian.” senyum Cek Kong. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato.

satu langkah yang salah. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya. Cepat. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga. Tumit si Zahnloserbauer. Dan benar saja. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa . yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. sang penyerang telah bergerak. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. Dalam pertempuran dengan banyak lawan.338 BAGIAN 6. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. Dan kemudian masih. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya. berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya. belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu.

Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. Tipuan manis yang menghanyutkan. si Zahnloserbauer.. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. Setelah dua orang lolos.. Serangan seorang pakar pertempuran. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan. Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu... awas. mereka menjadi tidak berwaspada. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan .. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu. Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia. Dalam pertarungan juga demikian. yang telah banyak mengalami pertarungan. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah.!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak.339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut. Menghidari kebosanan. ”itu kaki. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang. Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat.

Hek-Mo. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. sementara ia melihat . Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren. telah turun kata dari seorang Su-Mo. bagai akan terbang ditiup angin belaka. ”Bagaimana. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh. Sebenarnya di dasar hati mereka. tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. terutama untuk pertarungan jangka panjang. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. Mendengar pertanyaan itu. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Jika tidak. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. ”Kakek Gu. dalam rangka misinya. Seorang yang kelihatannya rapuh. TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. bersemayam di sana selamanya.340 BAGIAN 6. Ia harus mencari siasat untuk itu. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. cepat suruh pemuda itu keluar. berputar keras otak kakek Gu. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo.

”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang. Tempat kerja si gadis. memang benar.” sahut si gadis pendek mengiyakan. Keduanya tampak terduduk agak lemas. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. Lalu katanya keren. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat. Sebelum pemuda itu bertanya. Lemas setelah perut diisi penuh. tidak sepesat dan segarang sang pemuda. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan. Akhirnya makan malam itu pun usai. ”Boleh juga. lalu sapa- . Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat. tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap. Keduanya kemudian terdiam. ”Iya.

yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. ”Selamat malam. Hal ini perlu. tidak paman. Sudah penuh lambung kami berdua. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. tentu saja. ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. TATO nya. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo.” jawabnya ramah.342 BAGIAN 6.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah. Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah. Tapi kemudian ia menambahkan. Tadi sudah cukup. Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah. Ia telah mengenap nona Sian Lin. Berdasarkan pengalamannya. bila orang telah kenal lama. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau .” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. Lebih dari cukup. Pemuda itu. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur. ”Sebentar akan saya panggilkan. ”bila tidak mengganggu kerjanya. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. tidak perlu inspektur. apa kami – saya dan nona Sian Lin. ”Saya hanya ingin bertanya. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. ”Duduklah. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. Karena keduanya tidak saling mengenal.

berada. engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. Orang yang paling baik. Alih-alih cemas. Runyam jadinya. *** ”Hek-Mo. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong.. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya.!” katanya agak tak yakin. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. bahkan yang terburuk sekalipun. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu.. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri. ”Tidak. tidak apa-apa. saudara atau lainnya. nenek Po. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. . Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan.343 perkataan orang.. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Padahal kadang sebaliknya. aku. Empat Begal Hutan.

Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. ”Hei. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. ”Hehehe. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari. Walau ia sendiri sadar. Hek-Mo menjadi marah. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Samar seperti asap. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. sehingga paling mudah dirasuki. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi. Waktu. bagus datanglah Hek-Mo.344 BAGIAN 6. kakek Gu mengempos tenaganya. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Tapi misinya harus dituntaskan. di antara hujan serangan. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. Paling kesal padanya. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan. Kakek Gu pun mengangguk. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. Orang yang paling membencinya. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. ia harus berkata-kata yang pedas. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. Tanpe membuang waktu. Mendengar itu.

Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. Suatu titik di atanara kedua mata. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. Satu ke atas satu ke bawah. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. Sabetan menyilang. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. tiba-tiba ia menjerit ngeri. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang. Suatu jurus dari Hek-Mo. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher. Suatu serangan yang berbahaya. yang kemudian .345 nya. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati. Dan bukan hanya itu. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo.

Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi. yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo.346 BAGIAN 6. Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Pada kebanyakan orang. bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. . Dan sikap ini cocok dengan Ma She. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. sang kepala koki di tempat itu. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya. Ma She yang biasanya jarang berbicara. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya. tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. Tidak dengan Gu Yo.

engkau Ma Siang. Gu Yo pun bergegas pergi. Tugas titipan mendiang gurunya. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar. Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong. juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak... keponakan dari Ma She. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias.. ”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.?” tiba-tiba terdengar panggilan orang. juga sulit. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran. Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka. Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang..!” pinta Gu Yo. Usai mendengar cerita Ma Siang.. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu.. Ia merasa . cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu. ”Kamu tahu tidak. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. ”Tidak.347 ”Gu Yo. Itung-itung sebagai hiburan.. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang. Untuk kasus yang satu ini. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. Paling tidak... kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik. ”Eh. Eh. orang dari mana tato segar itu dikeletek.! Dimana kamu.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut.

Setelah selesai. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut.348 BAGIAN 6. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya. Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada. bagaikan memang telah datang waktunya. Po Ting Hwa. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana. ”Gu Ming. Menyebar ditiup angin. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar. Entah apa ada hubungan antara keduanya. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat. Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Aku bakal menyusul tak lama lagi. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin. *** . Usai perkataan itu. Dari jarak dua tombak lebih.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. *** ”Manusia. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu.

Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau. yang kemudian . dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Kebiasaannya ini pun berlanjut. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. yang baru mulai meniti karir. ”Baik. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. Jika ingin menegakkan keadilan.” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja.349 ”Nona Sian Lin. ataupun penjahat-penjahat muda. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya. membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. Aku akan menemuinya. suruh saja ia masuk. tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. Tapi katanya penting. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. ”Gu Yo? Baiklah. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. tidaklah dapat dikatakan indah.

Suatu kontras telah direncanakan. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga.350 BAGIAN 6. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. ”Tahukah kamu.” ucap gadis itu menghela napas. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. putih dan hitam. ”Betul. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. Gu Yo. hitam atau coklat tua. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. . bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. putih atau kuning. Tato sepadang burung merak. begitu!” sahut pemuda itu. Untuk mengenang sang pahlawan. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. ”Oh. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja. Suatu estetika berdarah yang padu. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. Gu Yo. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. Orang yang ingin menemuinya. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu. Di sana tampak seorang pemuda.

Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu. Tato.. ”Betul. ”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing. Sunyi dan sepi. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’.” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda. Lega. ”Setelah semuanya berakhir. Menegaskan guratan-guratan mistis. dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget. Senyap. merendahkan diri selalu. Darah menetes lembut.. Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair. memang itu judulnya. ”Deru pun perlahan melembut.” jawab Gu Yo sederhana.” ucap gadis itu kemudian.” ”Hei. Dan jiwa pun tenteram kembali. Menghela napas.” . ”Dari buku-buku. Menghirup keheningan. Ucapnya lugas. Mengekang nafsu.. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. Guratan di atas kulit nan indah. Menghilang. Secarik kulit dicabik halus. Lepas. ”Tidak.351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda.” ”Begitulah orang berilmu. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini.” Sang gadis mengangguk membenarkan. aku hanya senang membaca saja. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya.

terutama Sian Lin. yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat.352 BAGIAN 6.. kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu. Lalu katanya. ”jika demikian. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana . Pasti kain pembungkusnya. ”Kita congkel saja. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana.” ucapnya..” Dengan penuh tanda tanya. keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan.” jawab rekannya itu.” usul temannya.. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. ”Ya. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada. TATO ”Eh. agak liat. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan.. ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong. atau potong. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. ”Dapat?” tanya orang pertama. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam... pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo. ”Nanti kujelaskan.

ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Dengan santai..353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya. orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut.” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya. ”Cepat. Suatu pisau yang tajam.. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat.!! Kita tak punya banyak waktu. Malam yang diterangi bulan purnama. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru. sebuah peti mati yang belum lama ditanam. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya.. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya.. Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya. Tak lama selesailah pekerjaan itu. .. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu.” ucap salah seorang dari mereka. tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya. Lalu tanpa menunggu perkataan.. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka. ”Cepat cari bagian itu. Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya. Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. seperti telah biasa.. Ia tampak tertidur dengan damai. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu..

Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu. ”Hmmm. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. yang di dalamnya terdapat seseorang. ”Betul. ”Ah.” gumamnya hampir tak terdengar. dia adalah pakar dalam bidang ini. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara..” jelas sang paturan pembawa berita. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya. kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu. Mendengar kata ”tato”. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. Kasus yang sedang ditanganinya. *** ”Inspektur San Cek Kong. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan . ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut. ”Hmm. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. *** ”Ma Siang. TATO Rekannya mengangguk. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya.354 BAGIAN 6. Suatu makam baru pula..

”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini. Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo. baiklah.. Biarlah nanti saja. yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada.. ”Lho. ”Tolong ya?” mohonnya lagi. Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. Ia tahu jika ia minta ijin langsung. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu. tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. ”Tolong ya. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She. ”Baik. karena ingin melihat nona Sian Lin. Dan suatu saat harus dibalas. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. aku hanya ada urusan sedikit. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . ”Huss! Tidak ada apa-apa.” ucap Gu Yo cepat. ”Eh. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya. Ya. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She. ”Eh. Lain halnya jika Ma Siang.” ucap pemuda itu. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya. gimana?” ucap gadis itu nakal.355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya... toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah. Wajahnya tampak cerita. Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo. kan?” ucap dara itu.!” mohon Gu Yo.

Orang itu hanya mengangguk. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur. TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. Dan juga . Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. memindahkan bahan-bahan makanan. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan.” jawab dara itu pendek. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya. BAGIAN 6. Memasak. itu saja pesanan makanannya. ”Gurame Bakar dan nasi. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu. Dan kemudian terdiam. di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. tampak orang-orang berseliweran. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. ”Aku tahu dari paman Ma She.356 yang dikaguminya. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo.” ucapnya pendek. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. Di dapur dengan kesibukan yang biasa. Gu Yo. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. ”Eh. Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. Jika saja dulu ia tahu. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu. Gu Yo tidak bertanya lagi. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu.

* Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. garam secukupnya. sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. kemiri. . ”Bakaran Ikan”. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. bawang putih. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. 6 butir bawang merah. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang.357 meneriakkan pesanan-pesanan. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. Terutama pada musim-musim ini. 8 butir kemiri. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. 3 siung bawang putih. Termasuk Ma She sang koki kepala. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi. 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. Tak lama kemudian ia kembali. 1 buah tomat kecil (diiris). Tertulis di judulnya. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. irisan tomat dan jeruk nipis. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu. Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. sehingga ikan tetap utuh. Wajahnya cerah. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. garam dan merica. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. kunyit. cabai rawit. merica secukupnya. Ma She. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. 4 buah cabai rawit merah. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar.

Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. ”ah. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang.. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya.358 BAGIAN 6. melihat-lihat pemandangan di hadapannya. Gurame Bakar tidak seperti ini. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu. ”Maaf. tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara. tidak terlalu sulit rupanya. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu. betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. saya adalah koki kepala. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos. ”Kata sang pemesan. Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. Pucat wajahnya. ”Bagus!” pujinya.. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti. menyebutkan . TATO ”Hmmm.. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama.” gumamnya.” jelas Ma She sederhana. Ia pun mengangguk puas. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya. Ma She sebagai seorang koki kepala.” jelasnya..

Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan. Sedang pergi bersama seorang pemuda. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan.” ucapnya sungguh-sungguh. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan.. ”Ma She. bahwa apa yang terjadi . ”Maafkan kelakarku. ”Panggil saja saya. tidak perlu dipikirkan.” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu. ”Eh. Biar ia tidak terlalu sedih..” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya.! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum. ”Eh.. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana. ”Ceng.. Aku akan bilang.” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu.. ”Ia tidak ada.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya.. setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu.. Ma She. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak.359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi. sambil mengajak Ma She untuk menemani. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa. ”Ah. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung. Ceng Liok. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Ceng-Liong Hui-To. anda.” katanya bingung. berharap dapat melihat sosok dara itu. Sekaligus berbincang-bincang.

Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit. itu adalah tato milik mereka. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut. Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Suatu mutiara. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. Sudah diolah dengan bahan pengawet. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu. Kelakar dari guru masaknya. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru. Kali ini tidak lagi berdarah. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda. Atau boleh dikatakan kebetulan sekali. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. Paket yang berisikan tato. Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. Dua buah tato.. dari warna kulit yang tidak . Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Kegemaran tuan Ceng Liok. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara.. *** ”Benar.360 BAGIAN 6.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. TATO hanyalah kelakar saja.

Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki. Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya. Kulitnya dikletek.” Dalam kalimat terkakhir ini. dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. Dominannya adalah warna biru dan kelabu. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. Mendengar itu. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Gu Yo sedikit berbohong. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba.361 sama. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. ”Baiklah. Begitu pikirnya. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. Tahun ini. ”Dan entah dari pembicaraan apa. menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- .” jelas Gu Yo. yang mendasari kedua karya seni itu.

Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. Benar-benar suasana yang meriah. Yok Seng. telah dibangun suatu panggung megah. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. satu rombongan besar. Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung. Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. TATO jungan dari pemerintah pusat. Luas dan indah. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu.362 BAGIAN 6. umumnya . Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung. Agar yang menunggu ini sabar.

Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. akhirnya dapatlah ia pergi. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Sebagian dari . Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. Karena tanpa Gu Yo. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu.363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Jenis kemilan yang gurih dan lezat. Panggung telah dibuka. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan.

Hiasan yang tidak ada di waktu lain. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Dan untungnya lagi. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya. Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. dan mungkin juga di tempat lain. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal. Seorang pemuda tampan. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja. Bila ia suka. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air. Ya. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan.364 BAGIAN 6. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis. Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain. Menelusuri keramaian.

segera menghampiri pemuda itu. hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap. tapi daging sapi yang dikeringkan.. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab. ”Hai. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya. ”Harga yang bagus. penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera. Ada kepiting. ”Ada kongcu.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu. kura-kura. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. ”Kongcu. laba-laba dan masih banyak lainnya. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya.. Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu. kelelawar. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang. segera ikut membantu. Ada ben- .365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. Suatu hiasan yang dapat dimakan. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut. Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering. tak terlalu mahal. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan. Tanpa terlebih dahulu memberi salam.

Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. ”Saya suka kuda. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja. seribu lima ratus tigaan. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. walaupun dari kalangan orang kaya. harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda.366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6.” ujar Ma Siang pelan. Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap. ”Sebenarnya ada. dapat ditawarkan benda tersebut. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. Pemuda itu. Ya. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi . mereka punya. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. Ya.. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu. karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing. Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya.. Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil. Walaupun demikian.. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan.. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal. Masih cukup 8 bagiannya. Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. benar-benar memukaunya.

367 selain itu. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. dan bukan hiasan daging kering. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri. Mereka pun memesan makanan. Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. kedua orang yang telah menolongnya. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. sampai yang menggembirakan. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. Kota Siaw Tionggoan. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa. untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. . pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar.

telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. Su-Mo dan Empat Begal Hutan. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir. naiklah delapan orang pengacau. yaitu adu ilmu silat. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. Hek-Mo bicara seperti orang melantur. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang. kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Entah apa yang dibuat mereka berdua. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya.368 BAGIAN 6. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya. TATO Setelah menghilang beberapa tahun. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . Untung saja hal itu tidak terjadi.

Sedangkan tato hasil rajahan. Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. Tidak seperti tato-tato pada umumnya. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut. lebih . Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan.369 harus diserahkan. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya. dan bukan dari wanita tersebut. mengeleteknya. mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. Sebenarnya tidak. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. Orang itu adalah Ma Siang. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan. Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya.

Menanyakan kepastian hubungan mereka.370 BAGIAN 6. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang. ”Syukurlah. Mengarah ke utara. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. Bagi dirinya sendiri. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua. satu tugas sudah selesai. Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi.. Mungkin. karena ia adalah saudara tua perguruan. sekalian mereka berdua meminta restunya. melainkan hanya melalui berita para Troll. bila ia masih mau bekerja padanya. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi. Gu Yo hanya dapat tersenyum. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang.” kata pemuda itu sambil tersenyum. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. kali ini dengan anaknya Ceng Siang. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini. TATO berat dari sisi dara itu. Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. ”Tugas baru kembali menjelang.. si Maling Kitab. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. Selain Ceng Siang. . Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut. Melaksanakan tugas berikutnya. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua.

. Pemuda yang mengemban tugas yang berat. memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu.

TATO .372 BAGIAN 6.

Hal ini berarti bahwa malam 373 . itu berbegas bangkit dari duduknya. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah.” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu.” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik. Tak lama kemudian Misun pun kembali. Seperti biasa sikapnya. Sepeninggal Misun. masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong.Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab. Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”. Dhoruba. seorang berkata kepada yang tadi berbicara. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya. yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. ”Entahlah. seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. Selalu hujan dan basah.” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. ”Angus. Orang yang dipanggil Misun. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga. Membuatku selalu merasa kelembaban. ia tak banyak bicara. Aku tidak tahu. Dhoruba namanya.

Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Setelelah memberikan tugas itu. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam. Dhoruba dan Misun. Lima makam tepatnya. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. Angus. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada. ”Ya. Malam yang dinanti pun tak lama tiba. *** . Belum ada petunjuk.” ucap Dhoruba. Beberapa hari sebelumnya. ini dia. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Aku belum bisa merasakannya. ketiga orang tersebut. Wajahnya tampak berubah. Membuat kepalanya berdenyut-denyut.. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini.374 BAGIAN 7. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau. ”Sulit. Angus McLeod. Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. Didekatkannya telinganya pada tanah. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana.

Berkali-kali. Suara-suara orang menggali-gali. Setiap kali kesadaran muncul. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Hal itu berlangsung berulangulang. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. Coba digerakkan tubuhnya. melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. Kesadaran kembali datang. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Pemuda itu. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan.375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Sebentar lagi. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. tapi bagai tak ada suara yang keluar. tapi tidak dapat. Bau tanah yang lembab juga menyengat. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Lebih baik dilakukan . Gentong. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. Seperti itu. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Lalu kesadarannya hilang. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut.

bahwa ia adalah seorang Undinen. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana. Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. Seorang yang terakhir. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan. Kesadarannya pun hilang lagi.. agar tidak melukai orang yang dikubur itu. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. Gelap pun kembali menjelangnya.. Garukan-garukan tangan mulai terdengar. ”Paman Wananggo. dan ini fatal akibatnya. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. Ia tidak berbuat apa-apa. mengangkatnya dan memanggulnya pergi.376 BAGIAN 7. ”ke mana kita akan mencari buah . Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup.” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. tampak biasa-biasa saja. Roh Air. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. *** Tiga orang tampak berjalan beriringan. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat. sang pemuda. menciptakan hari yang indah dan cerah. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan.

Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu.” ucap orang tua itu lagi. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang. Ya. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya.” ujar orang tua itu dengan gembira. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. Air terjun. sebelum waktu bulan purnama tiba.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. ia merasa kerasan. Sebagai keluarga. Dan tempat yang kita tuju itu. yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya. ”Nah itu tempat bermalam kita. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. Setelah mendaki sebuah bukit. Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . ”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. besok siang akan kita capai. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga. ”Nak Xyra. ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. Lalu tambahnya. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud. Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara.

Engkau sem- . ”Itu namanya Air Jatuh. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. tentu!” jawab Wananggo.” jawab seorang yang ada di hadapannya. saat bulan purnama. Isi perut dengan baik dan tidur. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali. mengajukan usul.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut. ”Tidak. Sebuah air terjun yang megah.” usulnya. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. demi kesembuhanmu. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik. engkau Angus. ”Ya. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk. kita perlu tenaga dan konsentrasi. Dulu juga. ”Belum. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab.378 BAGIAN 7. Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. biarkan saja. ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya. ”Masih ’mati’.” jelas Wananggo. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. ”Dan untuk itu. nona Siaw Liong.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. ORANG-ORANG ABADI menggelegar. Mau tidak mau.

Cermin Maut. Perjalan pulang bisa dilakukan. saling baku-hantam satu sama lain. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. ”Kita perlu bicara malam ini.. ia ingat saat itu. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka. Jumlah kita sudah cukup. ”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana.. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. Ya. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati. Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. memperebutkan kepala lawannya. Ya. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. Ya. Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. Dhoruba sedang mencari makan malam kita.” jawab orang yang dipanggil Angus itu. Melihat ke segala arah. Pikirannya sedikit . untuk memperoleh tenaga. melayang. Lalu ia pun berlalu dari sana.” ucap wanita itu sambil tersenyum. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu.” katanya pelan.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu.. Sulit. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka. perjalan pulang. *** ”Jadi.” berkata kembali sang wanita. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’.

Tempat perguruan lawan mereka berada. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota.” jawab Cermin Maut kemudian. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing..” sahut sebuah suara lain. Perguruan Atas Angin. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya. Antara orang- . Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. Seorang dari mereka. termasuk di Kota Paparan Karang Utara. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan. Antara yang jahat dan yang baik. ”Aku setuju.. mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah.” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. ”Baik jika begitu. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap. Sejenis sabit besar. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri.380 BAGIAN 7. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya.

benar seperti informasi yang kita terima. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. Tua-muda.” ”Hmm. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. suatu klan ekspansionis dan brutal. ”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. Mereka semua harus berjuang. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya.” jawab pembawa informasi tersebut. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. ”Angus. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. . Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk. setengahnya berkuda.381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi. Pertempuran kali ini pun amat serunya. Berapa banyak?” tanyanya kembali. mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. lelaki dan perempuan. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang. mereka datang. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. akan tetapi sebagai bangsa bayaran. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod.

”Baiklah. ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka. Yang ditanya hanya mengangguk saja. Ian McLeod. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Ya. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya. Menjadikan desa mereka. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing.” ucapnya lelah. Angus McLeod.382 BAGIAN 7. ”Kamu saja yang memimpin. Apa boleh buat.” begitu katanya suatu saat. Jadilah ia. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. selama ayahnya belum sembuh. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit. pemimpin ad interim atau sementara. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. kita harus berperang habis-habisan kali ini. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. Dari yg sehat sampai yang cacat. Angus bukan pemimpin klan McLeod. Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Dari anak kecil sampai orang tua. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan. Cemas tampak dalam wajahnya. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar . Ya. Tak ada jalan lain.

Tidak ingin kalah. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. barisan terdepan pun berlarian. tapi kalah dalam jumlah. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama. Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. masuk ke dalam desa. Sudut yang pas dengan dada kuda. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. Jumlah yang jatuh terus bertambah. Kesetiaan dan penghormatan. Dengan bekal pendobrak batang kayu. jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. ”Ghrrrrrg. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. Memaksakannya untuk terbuka. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama. setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. Pertempuran yang tidak seimbang.. Waktu pun berjalan. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir. Gelombang penyerang pun beringsut maju. . klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. Dengan adanya isyarat terompet tanduk.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar. darah mereka sendiri. Dua kelompok besar orang-orang haus darah. satu di kiri dan satu di kanan. ”Cepat. menginginkan hal itu. Pintu gerbang pun ditutup. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari.

Bila sudah semua. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. ”Tidak mungkin. Akibatnya telah diduga. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang. ”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi. telah banyak dari mereka bersembunyi. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. Semua dibolak-balik. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. mungkin sudah semua. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. ”Ada yang aneh. Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini. Rekannya mengangguk. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan.” ucap rekannya. Tapi apa yang mereka dapatkan. Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang.” seru seorang dari klan Darkyzp. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Menanti untuk menyerang balik. Tidak ada. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. Semua orang menghilang di dalam desa itu.384 BAGIAN 7.” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk. . Dibalik-balik jerami dan sebagainya.” ”Siapa yang tahu. Pintu pun terbuka dengan lebar. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka. tapi hasilnya nihil.

Setelah parit terkuak. mudah untuk dihindari. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya. Menghiasi hari yang cerah itu. Di sana. Dan kali ini pun kembali berhasil. Mati. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. ”Grrrggghhh!! Di sana. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. segera ia memacu kudanya. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Tua dan muda. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. menunggu sampai saat-saat terakhir. Ia yang luput dari serangan panah. Cukup banyak jatuh korban di an- . Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Menghindar dan menyerang balik. ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. Pria dan wanita.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. Menunggu dengan harap-harap cemas. Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Tiba-tiba. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap. Ya. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana.

Semua kabur dan berkabut. Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati. tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. walaupun mereka bersemangat tinggi. berdenyut-denyut tak beraturan. Lambat laun mulai jelas. ”Hmmm. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya.” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting. semakin lemahlah semangat mereka. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya. Tapi ada satu hal yang harus dihormati. memperhatikannya dari dekat. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu.386 BAGIAN 7. Walaupun musuh sudah separuhnya habis. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. Orang-orang yang berbeda satu sama lain. ”Lihat. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan.” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. Jumlah yang tidak seimbang. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang. Tiga-empat orang. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya . Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka.

what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu. sang wanita. verstehst du. ”Kumpel. ”I think he speaks with a local language here.387 bangun. menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. Entah apa maksud dari senyum itu. ”Saya. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng. ”Well. Dia Dhoruba. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang.” sahut seorang dari mereka. Misun dan Angus McLeod. orang hitam berambut keriting. lalu beranjak mendekati. Penjelasan yang tenang dan pelan. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu. ”Saya Gentong. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. ”Watashi wa Misun desu. Lalu dengan perlahan.” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. Shia Siaw Liong. Ia. ”I try with other language.” jawab pemuda itu. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. serta dibawa . Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu.

Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Ya. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya. Gentong.388 BAGIAN 7. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit. tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah. Bahanbahan berupa makanan dan senjata. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- . perang! Memang demikian halnya. merah. Tanpa terasa ia meraba dadanya. kami biarkan dulu engkau sendiri. Perguruan Atas Angin. Dan akhirnya tampak tegan. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. ”Sekarang. yaitu di Kota Paparan Karang Utara. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan. selepas pembantaian terjadi. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu. Ia telah mati dan dikuburkan. lalu kembali pucat. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. sang pemuda. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara.” ucap wanita itu. yang saat itu baru memiliki satu cabang. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. Pucat. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka.

yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Membuka cabang di dua kota lainnya. bahkan pertempuran. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap . yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan. Air Jatuh. Mereka bukannya anti pertempuran. yaitu Tapak Kelam. Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. ketua Perguruan Kapak Ganda. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami. ”Baiklah jika begitu. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan.” ucap gadis itu lagi. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. Ya. tapi seperti biasa. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru.” Kembali pemuda mengangguk. *** ”Jadi itu kisahmu. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur.389 but. pertempuran. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh.

sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. orang-orang yang tak bisa mati.390 BAGIAN 7. Jika demikian telah diputuskan. jika dengan tangan kosong. Besok. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan. pasti engkau sudah bisa. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. Misun hanya menggumam pelan.” kata Misun meyakinkan. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda. senjata memegang peranan penting. ORANG-ORANG ABADI mereka ini. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. ”Dalam perjalanan ke sana. Dhoruba hanya tersenyum kecil. Misun masih mendekati Gentong. menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. ”Baik. ”Baiklah. Gentong hanya menggelengkan kepala. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. terima kasih!” ucap Gentong. Harus disingkirkan.” usulnya.. *** ”Paman Wananggo.. tapi tidak menyatakan keberatannya. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas. kira-kira kita butuh tiga hari. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah. bukan pertandingan satu lawan satu. sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi. bahwa dalam pertempuran. ia sadar. Ya. Tandanya ia tidak keberatan. pagi-pagi sekali. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu. Gentong mengangguk mengiyakan.

Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur.. Langit sudah agak mulai terang di sana.” Langsung segar orang tua itu. ”Tapi apa boleh buat. ”Cepat. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah.!!” ucap orang tua itu. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut. Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata. paman. di antara batu-batu yang menonjol.” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang.. kita coba saja turun sekarang.. Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun. jatuh menjadi air terjun. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini. . Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil.391 enaknya.. untuk turun ke bawah. ”Eh. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan.” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut. ”Iya. tapi tak dilihatnya seorang pun. Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur. ”Hati-hati. ke langkah berikutnya. Namun tak lama biasanya. agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. ”Aneh!!” gumamnya. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat.. ah.

Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah. Keduanya mengangguk mengiyakan. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun. akhirnya sampailah mereka di bawah. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka. *** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni. ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi. Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup.. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. ini malah untung buat kita. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau.392 BAGIAN 7. menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut.!!” ucap orang tua itu.. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . kita ketahuan. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. Ternyata mereka ada masalah rupanya. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua. Hehehehe. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya.

Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya. kelima orang itu segera berangkat pergi. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Jika ada yang sedih dan bersemangat. ”Perguruan Kapak Ganda”. .” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. Mendengar itu. Ada tiga orang yang dicarinya. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama.” jawah Shia Siaw Liong. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. pada saat-saat akhir hidupnya. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu.” ”Belum tentu. ”Mereka sudah pergi kemarin. yang diletakkan di punggungnya. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. yang papannya sudah miring.” ucap Misun. Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. tampak dingin. bekas digempur. Mati. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari. mirip bumerang. sehingga mereka tidak langsung kembali. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut. ”kita tertinggal satu hari. tampak merah oleh darah. Cermin Maut dan Sabit Kematian. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul. bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana. Mayat Pucat. itulah Gentong. Menang atau kalah bisa berakibat lain. Tapi itu belum semua.

ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran. makhluk yang memang dalam hidupnya. Bagaimana ini bisa dijelaskan.394 BAGIAN 7. berjalan cepat..” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong. cepat-cepat. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. mari. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu. *** ”Mari. Baju mereka masih basah. . Sebuah pulau yang lebih kecil.” jawab Shia Siaw Liong memutuskan. jika tidak di dalam air. ”Yang kedua. Bagi kedua orang yang lain.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka.” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. di sini ternyata terdapat pulau lain. memanfaatkan sifat-sifat air. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka.” jawab Gentong. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan. kita ambil yang kedua. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. Ia adalah roh air. Bagi Xyra yang Undinen. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. ”hanya dua. ”Baik.” jawab Gentong. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. basah tidak merupakan masalah. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah.. Ia heran karena dari atas sana. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu. ”Hei. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain.

Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya. jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal. ”Ya. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya.395 ”Bukan hanya satu.” lanjutnya. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan. baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. Ya. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada. sehabis kita pergi dari sini. . Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama. masih ada dua lagi. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu.” ucapnya. ”Baik. akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. ”Fraktal?” tanya Lantang. ”Pernah ada cerita. Setelah di bawah. Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. geometri dan ilusi. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini.” jelas Wananggo. ia dulu juga begitu. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. Jika ada waktu. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat.” ucap Wananggo tersenyum. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo. Setelah didekati ternyata ada dua.” bisik Wananggo. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu. ”Kita kitari seperti cara yang tadi.

Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat.” ucap Wananggo. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat... ini diatur sedemikian rupa. ”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri..396 BAGIAN 7. Jika sang petapa itu masih hidup. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu.” ”Mencuri. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya. ”Ya..” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu. ”Betul. ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam. ya jawabnya. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana. lalu Lantang menjawab.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra. mencuri.. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan. ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian. kita bisa minta. ”tapi kita butuhkan hanya empat. Lalu lanjutnya. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu . yaitu ukuran yang mengecil.” jawab Wananggo sambil tersenyum.. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian. Lebih mungil.” jelas Wananggo. benar.” ucap Xyra agak tak senang. Padahal ada perbedaannya. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu.” jawab Wananggo. hanya. ”Ya. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari. lebih baik begini.” kata Xyra polos. ”Sama persis.. asal tidak bilang bukan mencuri.” tegas Lantang. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat.

.” tambah seorang dengan mukanya yang pucat. ilmu ampuh warisan gurunya. ”Sudah. Tiga orang yang mengerikan. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa. cah bagus. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. hehehehe. Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk.. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Tidak segampang itu mati. melesat melibat tangan Tapak Kelam. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. mencegahnya . sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. ”Ya. Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. nanti dulu. tidak usah kecewa. ”Eh.” lanjut orang terakhir.. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu. sudah. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini. Anak muridnya telah habis dibunuh. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut.397 berwarna kelabu itu.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang..” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya.

Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini. ”Bagus.398 BAGIAN 7. ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian. ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. ”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi.” jawab Tapak Kelam. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. Ki Makam namanya. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu. ”Sudah. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam. ”Hehehe.” tambahnya. Prasasti itu masih ada di sana. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu.” jawab Cermin Maut. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada.” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas. ”Curi? Jangan bercanda. tidak semudah itu. ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. ”Tak mungkin. Di Air Jatuh. Senang ia melihat lawannya . kalau mau bunuh. ”Itu palsu.” terkikik genit Cermin Maut.” ucap Tapak Kelam semakin bingung. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian.

Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- . Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat. Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. Habis. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. ”Ya. Jauh sebelumnya. Kelihatannya sepenanak nasi lagi.” ucap Gentong. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. Tak tersisa. benar. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. Kebuasan melebihi binatang liar. itulah yang mereka cari. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. mayat dan lain-lain. sampailah kita di sana. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang. Rumah-rumah yang rusak. Kebakaran. Memangsa tapi tidak untuk dimakan. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. di kiri-kanan jalan. Kedua rekannya mengangguk. menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu. kereta kuda terbalik. ke Rimba dan Gunung Hijau. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. Bergembira layaknya seorang pemenang.399 itu bingung. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja.

Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. Ia perlu mencari tahu. bela diri. ”Begini. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita.400 BAGIAN 7. ”Ya..” ucap Gentong perlahan. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa. dan lain-lain yang ada dalam kepalanya. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya. Itu hanya istilah. kekuatan dan menjadi yang terutama. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati.” jelas Misun. dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. juga hal-hal yang telah dipelajarinya. ”The one?” tanya Gentong kembali. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata. mereka akan semakin kuat. Dengan semakin banyak membunuh. ”Bingung aku.” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah . Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. Ilmu pengetahuan. ORANG-ORANG ABADI masing. kamum immortal.” ucap Misun lagi.. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. yang dituliskan dalam suatu ramalan.. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. ”Ya. akan tinggal satu orang. walaupun tidak dapat mati tentunya. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya. the one. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. ”Misun. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal. ”sebenarnya tidak juga. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat. Misun tidak langsung menjawab. The one. Lalu katanya.. Begitulah. the one.

Kedatangan kelima orang ini. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. atau leher yang hampir putus. Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya.” katanya pendek. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. Hal ini membuatnya . Dhoruba sudah puluhan.401 di depannya. ”Kita sudah sampai. sudah basah oleh darah lawan-lawannya. Membacok dan menendang sana-sini.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. ”Hei. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. Golok melenkung patah. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang.

tinggi dan kurus. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. ”cakaran beracun. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka. Pertempuran itu tak berlangsung lama. Simpan tenagamu. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak . melucu. Gentong menangguk mengiyakan. Pedang yang cukup panjang dan berat. Khas pedang Tlatah Skotlandia. Remuk dan hancur. ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi.402 BAGIAN 7.” usulnya. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari. Putus napasnya. ”Pakai senjata lebih efektif. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. ”Lihat ini. tampak tubuh-tubuh malang melintang. Ia mencabut pedangnya. Kelima diam seribu bahasa. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut. Shia Siaw Liong bergerak cepat. Angus pun mulai turun ke dalam arena. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak. Mayat Pucat. ”Di sini. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini.” tunjuk Misun. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Hitam dengan baju merah berdarah. Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut.

menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret.” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama. ”Luas juga. lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. mereka adalah Empat Pilar.” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. Ruangan dalam.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain.” usul Angus kemudian. di sana pintu masuknya. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. di mana ketiga orang itu berada sekarang. tidak seperti yang aku pikir.” berkata Lantang membenarkan. Mungkin wakil-wakil ketua.” ucap Xyra. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret. terlihat cukup luas. ”Mari kita ikut. Ya. . Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu. Rongga itu tidak terlalu besar. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. *** ”Itu. sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. Wananggo. Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra. Bawahan langsung dari Tapak Kelam. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. ”Benar.

Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. Hanya beberapa rak terbuat dari batu. bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. Dengan permainan warna. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan.” jelas Wananggo kemudian. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya. seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. ”Pernah. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. yang seperti diduga.” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. tidak seperti keadaan sebenarnya. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi. ”Mana tanaman yang dimaksud. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan.” jelas Wananggo. Batu yang dipotong sedemikian rupa. sahabat dari pemiliki tempat ini. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu. yang tampak di sana-sini. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. yang dipahat dalam dinding. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya. sekali waktu.404 BAGIAN 7.

” tanya Xyra. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya.” ucap Wananggo pendek. ”Oh. ”Paman. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman. Alih-alih menjawab. Suatu penyakit yang aneh. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya.405 sakit. ”Mungkin. itu!” jawabnya tersenyum. ”Xyra dan Lantang. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut. . ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. Seribu Ramuan namanya. apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang. ”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra.” jawab Wananggo. Wananggo menangguk mengiyakan. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. yang satu Undinen dan yang lain manusia. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini.” ”Siapa nama petapa itu. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu. paman?” tanya Lantang ingin tahu. ia malah mengajukan pertanyaan. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. Ya.” tebak Lantang. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo. menanggapi jawaban tersebut.

suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta. aku tahu. paman?” tanya Lantang tidak percaya. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.” ”Hampir benar. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya.” ucap Xyra. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang.406 BAGIAN 7.” ucap Xyra kembali. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu.” jelas Wananggo kemudian. sengaja atau tidak sengaja. ”tumbuhan tidak berpindah tempat. Hewan selalu berpindah tempat. baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar. ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan.” jawab Wananggo. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu. ”Paman. berpindah tempat. paman kembali membuat bingung. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan. ”Begitulah alam ini. ”Ini paman. banjir dan sebagainya. Lalu ia kembali terdiam. yang akan menjadi tumbuhan baru. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri.” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. .

”Benar.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu.” jelas Wananggo. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. selain lezat. lalapan itu juga sehat. Lalu Wananggo pun menjelaskan. Ikan laut masih baik dimakan mentah.” ucap Wananggo. juga lebih sehat. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh. benar begitu. Organisme mikro namanya. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit.” ucap Wananggo. bahwa tumbuhan dan juga hewan. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan. Ukurannya sangat kecil. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. Amat kecil. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. kemudian dikenal sebagai pasturisasi. ”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu.” Kedua anak muda itu diam. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut.” jelas Wananggo. atau disebut juga bibit penyakit. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung. lho!” kata Lantang. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata. ”Tapi katanya. Dan itu terutama daging. menantikan penjelasan yang akan muncul. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- .

lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. sang penanam tumbuhtumbuhan itu. ”Tenang Xyra. yang ada dihadapannya itu. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik. Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. hati-hati!” cegah Wananggo. ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu. . ”Hai. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. Ada beberapa yang amat beracun. lalu katanya. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu. hanya setinggi beberapa jari saja. Lantang. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu. menerangkan pada dirinya. BAGIAN 7. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. Wananggo tersenyum masih.408 angguk. sekali sentuh dapat seorang manusia mati. juga keheranannya. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. ”Paman. Beberapa tampak berkilauan perak. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan.

meditasi. dalam hitungan menit akan berbuah. ”Dari cerita kalian. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan.. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. apapun. ”akan aku coba. Keduanya mengangguk mengiyakan. *** . Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. demi kesembuhan Lantang. Jika mati. ”Nah. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu. Menunjukkan niatan yang teguh. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. Tampak ia berpikir-pikir agak keras. untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen. Lebih baik kita mengheningkan cipta.. dan di antara kita bertiga.?” ucap Lantang menambahkan. Lantang. Malu. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. ”Nah. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu.” usul Wananggo. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. Xyra mengangguk. khasiatnya akan berkurang. Setelah.409 ”Bukan.” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut. agar hawa kita murni.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti.” jawab Wananggo pendek. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama. Tapi jangan sampai mati.” jawab Wananggo sambil tersenyum. ”Kita masih ada sedikit waktu.

” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya.. bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya. tapi tanda daya. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya.” ucapnya. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut.” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam. ”Di sana. Lunglai bagaikan boneka saja. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. Kagum akan keindahan tempat tersebut. ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe. Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya. ”Ha? Bukannya tadi. Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini. Tapi matanya tampak juga mengiyakan.” ucap Cermin Maut. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari .410 BAGIAN 7. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada. Segera mereka berada di atas pulau pertama. Kita harus menyeberang.. ”Boleh juga bila kita pindah kemari. ”Bisa nanti itu kita bicarakan.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung. di tengah pulau. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. Sabit Kematian hanya diam saja. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. ”Ayo jika begitu. Hanya dapat berbicara..

*** ”Tempat yang menarik. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam. Setelah menemukan- . Begitulah mereka berlari cepat. ”Ya. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu. Di pinggir danau. ”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka. ”kira-kira sepuluh. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat.” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. mendahului keempat orang rekannya.” jawab Tapak Kelam pendek.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya. ini sedikit tetetasan darah yang tadi. tampak lemas. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. mari kita menyeberang. Yang lain segera menyusulnya. Dengan lunglai ia berkata. ”Kelima. sampai akhirnya tiba di pulau kelima.411 kesempatan untuk melarikan diri. ”Jika demikian.” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian.

yang hari itu membulat sempurna.. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat. ”Baik jika begitu. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. dengan lima titik menghadap ke langit. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti. ditambah dengan ubun-ubun kepala.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya. *** Malam pun menjelang tiba. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya..” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu. ”Mari kita mulai. Upayakan untuk mencari hawa . ”Selanjutnya. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang. Pulau kelima. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan. ”Aneh. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. Kedua telapak tangan dan kaki.412 BAGIAN 7.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. Telusuri isyarat yang ada. karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka. bayangkan engkau hendak mencari Lantang.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. ”Sudah hampir tengah malam saat ini. yang tadi dalam postur Duduk Teratai. ”Kita ikuti saja yang pertama. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk.” usul Shia Siaw Liong. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang.” ucap Wananggo hampir berbisik.

untuk mencari hawa dari Lantang. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek.413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut. Xyra. Putih cemerlang. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. kadang ke rak yang . Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada. kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra. Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. sang Undinen. ”Arahkan ke tempat lain. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap. dengan membayangkan pemuda itu. halus dan bersambung-sambung. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini. jangan ke sini.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. Ia bergerak perlahan.” bisik Wananggo perlahan. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. Jika suasana terang. Lidah cahaya itu berhenti memanjang. terlihat seperti mencari-cari seuatu. memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. Mirip kilauan kunang-kunang.” kata Wananggo kemudian menambahkan. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap.

Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya.. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. Setelah beberapa saat hening. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. . Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu. ”Baik. Suatu perasaan nyaman luar biasa. Xyra pun membuka matanya.” jawab Xyra pendek.414 BAGIAN 7. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul. saling merengkuh.. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. juga berwarna biru tembus pandang. ”Bagaimana keadaanmu sekarang. kadang ke rak yang sebelah bawah. yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. sudah baik kembali. Diam seperti mematung. ”Atuh napasmu perlahan. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya. Lebih bercahaya dan kemilau. kembalikan peredaran hawa dalammu. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang. melingkar. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo.” ucap Wananggo perlahan. Pemuda yang dikasihinya. yang lalu tiba-tiba hilang. sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi. Rak tersebutlah yang mereka cari.. Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi.” tanya Wananggo.

Tidak semuanya. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. ”jika tidak. Itu pula yang aku harapkan.. Berbegas Sabit Kematian. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu.” ucap Wananggo.. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi. berikut kitabnya tersebut. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.” jelas Wananggo. melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada. Untuk orang lain. Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang. *** ”Di sana. di dalam bangunan itu. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali.” ucapnya kemudian. Entah apa. yang dapat membantu menyembuhkanmu. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya. jika suatu saat ada yang membutuhkannya.415 ”Pautan hawa. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki. suatu hubungan hawa antara dua entitas. .

mulai mengamat-amati prasasti pertama. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang. Ya. Prasasti sebesar kerbau bunting. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam. Sayangnya. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Lingkaran Dalam. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. Tanpa banyak berbicara. Ki Jagad hitam. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. Ia hanya tersenyum getir saja. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu.416 BAGIAN 7. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu. Demi melihat prasasti kedua. ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini.

” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut. sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat. ”Kita coba saja.417 pat sisinya.” ucap Tapak Kelam.” ucap Cermin Maut memperingatkan. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini. ”Kosong. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana. bergaris-garis. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang. ”Biar sabitku yang bekerja.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang. rusak oleh sabitmu itu.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana. ”Hati-hati.” ”Huh!! Jangan kuatir. dan tidak ada apa-apa di sana. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu. Rata dan berbentuk kotak. kakak Sabit Kematian. ”Hati-hati. Mencongkel perlahan.” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada . ”Belum tentu. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa.

”Ya. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya.418 BAGIAN 7. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana.. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa. Dengan sigap ia bergerak ke samping. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya . yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. ”Keparat. Sudah selesai tugasnya. dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. Suatu pukulan jarak jauh. itu mungkin kain pembungkus sesuatu. ia bergegas menyelinap keluar. Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu. ia melarikan diri.. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu.

orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku.. Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal.419 itu. kalian. Kawan atau lawan. ”Siapa.. yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa.. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya. ”Mau lari kemana engkau. ”Kamu.” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin.. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain. yang akan membawanya ke pulau keempat. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut. bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut.. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan... Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan. dan orang ini hendak mengejarmu. ”Jika engkau Tapak Kelam. pastilah anda adalah Cermin Maut.... Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang.!!” ujarnya tersendat. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya. golok bumerang. waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. Itu belum jelas.. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya.. ”Ya. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu. saya. Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. yang diikuti dengan tubuhnya.. Cermin Maut tidak segera menjawab.. .

orang yang berseteru. Kelima orang ini belum. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian. saya Cermin Maut. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. yang kedua ini . ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus. ”Dan sekarang giliran kalian. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. pada suatu saat yang lalu. ORANG-ORANG ABADI ”Ya..” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek. Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. itu adalah salah seorang murid-murid. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan.420 BAGIAN 7. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya. ”Dan engkau juga. Memang lucu. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata.. dapat saling mendekat. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. Deras dan keras. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. ”Kami mencari Sabit Kematian. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh. serta Mayat Pucat. Ya. Kalian telah membunuh kami. Sekarang.

421 dia tidak yakin. . Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan.. ”Mari kita kejar. Tapak Kelam pun mengikuti.” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka.!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya.. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik. ”Hei. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat. Dan ia mencarimu. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu. agak bingung mereka.!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda. ”Mari. ”Tak tahu...” ucap Angus yang segera bergegas. Misun menepuk pundak Gentong.” jawab Cermin Maut. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian.. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut. Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya. di dalam sana.” jawab Cermin Maut. ”seorang dari yang pernah kita bunuh. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu. Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut.

”Belum tentuk kita kalah sama mereka. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu. Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. Berturut-turut Cermin Maut.” ucap Sabit Kematian jengkel. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja. yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut. ”Ini jalan rahasia. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka.” ucapnya cerdik. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja. Pulau keempat. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. Membuatnya semakin jatuh hati.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. ”Eh. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya. . Dan dari sana melarikan diri keluar. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. ”Mari masuk. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. kamu. Biasanya mereka yang dikejar orang. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air.422 BAGIAN 7. kita bisa ke pulau berikutnya. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat. ”Eh.” jawab Tapak Kelam menjelaskan.

sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya.” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu.” ucap Wananggo. ”Jangan semua masuk. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. *** ”Minumlah ini. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. Wajahnya .” ucap Shia Siaw Liong. ”jika ada jalan rahasia.” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. tampak membuka matanya. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya. Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana. ”Sekarang coba alirkan hawa.” duga Dhoruba.” jawab Wananggo. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya. ”Aku belum tahu.” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku. Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur. sedangkan Gentong. yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian. kembali menuju perguruan. perlahan-lahan. Setelah hening beberapa saat.423 ”Mereka menghilang. pastilah ini menuju ke tempat lain. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya. Sebagian turun. Rekan yang lain mengangguk.

paman! Mari kita pergi dari ini..” ”Paman..” ”Aneh.. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut. Dulu oleh gurunya Rancana. si Bayangan Menangis dan Tertawa. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya. ”Padahal menurut petapa tersebut. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo. ”Mari.” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. semuanya kehendak Sang Pencipta.. juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura. ”yang penting kita sudah berusaha. ”Engkau.. tak usahlah sedih begitu. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah.. Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh. ”Sebabanya. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini. hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang.. Ia masih ingat bahwa orang itu. . ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini.. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya. Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi.!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya. yang ada di hadapannya sekarang. paman. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya.!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang.424 BAGIAN 7. ”Aku merasa lebih sehat dan segar. Dan katanya.. Saat ini oleh Wananggo. dihancurkan. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu.

begitu pikir mereka. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ. Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya.. ”Minggir!!” jawab orang tersebut. Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka.. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih . segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. seorang wanita dan dua orang laki-laki. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut.” ucap Lantang bergetar. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut. siap untuk saling serang. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. Mereka segera berhadapan... Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya. orang itu. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu. Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra. tapi bagi anak kecil seusianya saat itu. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. Tidak terlalu sakit. yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang. ”orang itu. tidak dalam keadaan segenting saat itu.” katanya kemudian.. yang adalah Tapak Kelam. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang... Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya..” ”Paman.. Ia tidak mempedulikan Lantang.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. Keduanya terdiam. Cermin Maut. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya.

Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. ya ia mulai ingat. Bersiap hendak saling serang. Tidak . ”saya Shia Siaw Lion. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. ”orang sudah hampir mati kok ya. Sembilan tepatnya sekarang. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. berkata salah seorang dari mereka. Ya. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa.426 BAGIAN 7. ini kami. Angus. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya. Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba. bukan?” ”Ya. ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. yang wanita. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. ini Dhoruba. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. Jika sudah kenal. Misun dan Gentong. malah salah seorang dari mereka berkata. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. Cermin Maut. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut.

”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh. lincah masih geraknya. mau tak mau membuat mereka merinding. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu... ”Kaum Abadi. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka. mereka benar-benar nyata adanya. pemuda yang berada di depannya sekarang. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa. Pukulan keras dan lurus.. ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu.. Walau tubuhnya terlihat besar dan berat.. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras. Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. Keras . akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. Bukan hal yang normal. Hening sesaat.. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak.427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya. menebas kepala sudahlah cukup. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo..” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut. Umumnya dengan jarak jauh. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi.” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya.. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah. Pemuda itu adalah. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang. mereka-yang-tak-bisa-mati. Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong.

kali ini di bagian tengkuk. mungkin. kitab tersebut harus ikut. . Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. Jika saja tidak. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. Segera ia melompat mundur menjauh. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. Campur baur antara sedih dan marah. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. senjatana tidak begitu berfungsi baik. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. Dengan jarak yang sekarang agak jauh. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. Pusing sesaat dirasakannya. mengemis dan kelaparan di jalan. Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. Jika ia harus pergi dari sana. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar. Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Untung saja ia bertemu dengan gurunya. Rancana. atau berkalang tanah. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. Di mana-mana. Dalam jarak dekat. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. bertempur jarak dekat.428 BAGIAN 7.

walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. Lantang.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. Diantara kedua orang saudara seperguruannya. Memang untuk keselamatan kita juga.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. Mundur kena sabit jangkauan panjang. paman. mereka itu. pinggir berganti-ganti. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita. ”Aku mengerti. Memang sebaiknya kita pergi. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. Lain waktu kita cari lagi orang itu. membuatnya sedikit kewalahan.” jawab Wananggo. aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. ”Kaum Abadi. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu.” . Maju kena cengkeraman. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. Cara serang yang baru ini. ”Nak Lantang. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. Lalu katanya. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk.” ajak Wananggo. ”baiklah paman. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. baiknya kita segera berlalu dari sini. dipegang di tengah. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali. tapi Gentong tidak tahu. Kita sebaiknya tidak mencampuri. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana. rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang.

Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. . dan ini Xyra dan Lantang. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. ”Howgh! Aku Misun. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga. segera mengangkat tangan pula. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. Aku tak ada maksud jahat. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. yang kemilau diterangi sinar bulan purnama. Entah apa. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra. Misun lalu membuka baju luarnya. Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. menirukan. ”Aku Wananggo. pulau ketiga. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu. berbulir-bulir mengambang di udara. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. tak perlu kalian takut. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut.430 BAGIAN 7. kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. Saat ia berlari cepat. Terdapat banyak untaian. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Xyra tampak terkejut. ”Maya.

” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. sah-sah saja. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka.” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra. kembali menemui rekanrekannya. adalah tidak terlalu berat. *** ”Untung ada engkau. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. . ”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu. Tatapannya yang seakan mengatakan. ”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Tapak Kelam. Sabit Kematian. Jika harus lewat jalan biasa.” ujar Mayat Pucat. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan. kehilangan seorang rekannya. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. ”Howgh!! Tugasku telah selesai. Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat. Betul-betul lawan yang tangguh. Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra.

sejenak dipikirnya sesuatu. Bagus. Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Dhoruba terkekeh-kekeh. ”Pilihan yang bagus. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong. ”Gentong. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan. right!” sambut Dhoruba. bagus!!” Misun. Senjata yang sudah ’tua’. Menepuk bahunya. Melihat itu. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. yang mungkin belum dingin tubuhnya. Banyak sudah darah yang dimininumnya. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. mengajaknya berlalu dari situ. isn’t it?” ucap Angus. ”Yeah. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Pada suatu gerakan tipuan. ”Sudah saatnya kita pergi. *** ”So. Mereka segera berlalu dari sana.432 BAGIAN 7. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah.” sambung Shia Siaw Liong. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. our problem in this land is alreay finished. Gentong masih tampak termenung.

”Aku harus memberi tanda di sni. tapi ia tidak mengerti. membentuk semakam bekas candi atau kuil. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. *** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi. dan mereka akan datang. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan. ”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. . Saat orang itu bangun. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. Ia. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini.!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini. terutama bagi kaum mereka. ”Ini harusnya tempatnya. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. portal!” ucap orang itu. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan. persegi. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. – merekayang-tak-bisa-mati. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. orang tua itu. di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu.433 nunaikan misi mereka sendiri.. Undakan batu.

membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . ”Eh.” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki.. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan.. saya Rancana. Lalu katanya. Nanti. ”Ini. Yang membedakan mereka adalah tingginya. Setelah berkata demikian. ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia. ”Eh.. Tiga kaki tingginya. kami tahu.. jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda.. Ya. ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras. ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah. kami ’menculik’ anda dari portal. Anda siapa?” tanya orang itu kemudian.” jawab makhluk itu. pelataran batu tempat anda tidur. Manusia Tiga Kaki. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. ”Maafkan bila tadi malam. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri. di atas pohon!!” ucapnya kagum... ”Ya.. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi.. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan. Makhluk itu tampak sedih dan muram. Sejurus tak ada jawaban.434 BAGIAN 7. kami kemudian membawa anda ke sini. ”Saya Coreng. Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa.” ucapnya perlahan. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana.

Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. Dunia ini luas rupanya. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. Berikutnya minta pertolongan mereka. Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. Moreng?” tanya Coreng. itu yang penting.435 tenang. membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. *** . kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya. Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. di Rimba Hijau. Dan di sini. telah ditemuinya. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. Rancana sejenak terkenang akan muridnya. Lantang. apanya!” usul kawannya kemudian. *** ”Engkau yakin. ”Benar. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat. ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki.” ucap Moreng meyakinkan. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian.” gumamnya. ”Aku telah tiba di sini. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya. Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah.

. ayah. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini. Hanya manusia. jika juga sudah menjadi mayat. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat.” ujar ayahnya. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan. ”Iya. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. ”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana. Berpesta santap daging manusia.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas.. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. Dara itu kembali mengangguk.” jawab sang dara. berhak atas persemayaman yang layak. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun. Sambil menutup hidung. nanti aku gali sebuah lubang besar.” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya. . Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora. Dara tersebut hanya menangguk. ”Hati-hati. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana. Oleh karena itu harus segera dikuburkan. jangan dipegang!!” ucap ayahnya. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya. karena selain orang mati. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan.436 BAGIAN 7. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu.

Keduanya tampak puas. tapi dari tanam-tanaman kita sendiri. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya. Sayang untuk ditinggalkan. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup. di belakang itu amatlah indah. ”Ya. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian. aku ada banyak pengalaman. membuka perguruan silat. berdagang. Keduanya kemudian tertawa berbarengan..” balas ayahnya.” ”Ya. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. Perguruan Atas Angin. Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. Yang penting semuanya telah dikuburkan. terutama air terjun di belakang amatlah indah. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang.” jawab ayahnya. ”dan tempat ini. Entah dari pihak mana. Di beberapa ruang halaman.. ”Bercocok tanam. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja.” usul anaknya. benar. yang penting kita coba. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan. Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana. ”Mereka toh telah mati. Pintar!!” kata anaknya antusias. ”Buat apa dipikirkan. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian. ”Membuka kedai saja. tidak terlalu takut tidak dapat hidup. ”Bagus juga tempat ini. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu.437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. .” tanya anaknya kemudian.

” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan.” jawab sang dara ceria. ”Masih. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha. semoga saja. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana. paman. Dara itu mengangguk. Dalam hatinya ia berkata. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura. Padang Batubatu.438 BAGIAN 7. Lalu keduanya mulai beranjak dari situ.. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu. paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya. di gunung. ”Anak wanita kok senangnya bertempur. ”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. ”Kita masih harus mendaki gunung ini. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. mengeluarkan ilmu berlari . supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. ”Mari kita mulai mendaki. ”Kita tidak tahu itu. kita akan berlari cepat sekarang. *** ”Masih jauh. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang. Gunung Berdanau Berpulau. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta. kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian.” sarannya kemudian.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. Bila tidak.

Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. *** . yang mengangguk perlahan kepadanya.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. Sedih bahkan. Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. cepat hampir tak terlihat. Membeku. Meloncat di sana-sini. Menuju suatu tempat di atas sana. Memutih dan mengeras. kering. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut. Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. bagai dua buah patung pualam putih. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas.

440 BAGIAN 7. ORANG-ORANG ABADI .

Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan. Tepatnya tiga tahun dari saat ini.Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. tepi daratan.. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 . jauh di utara sana. Lautan. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Ia tidak asing dengan air. Melesak dan tergores halus.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Telaga pemuda itu. Pantai Selatan. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang.. Bagi pemuda itu. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai.

Bila ada nelayan mendarat. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini.442 BAGIAN 8. seperti dipesan oleh orangtuanya. yang mengajarinya dua jurus pokok. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi. Sebuah perahu nelayan. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Arasan ia memperoleh dua jurus pula. Tapi ia belum merasa puas. Tenaga Air. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Saat perahu yang ditujunya mendarat. Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Sedangkan dari guru keduanya. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas. Selain belum benar-benar merasa cukup. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. Ki dan Nyi Sura. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. Guru yang pertama adalah Walinggih.

Hari sudah menjelang senja. bergegas berlalu dari situ. Ia pun membuka perbekalannya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa.. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. hanya bisa terpaku melongo. Ia adalah orang asing. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu. setidaknya menurut para penghuninya. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. ”Eh. Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu.443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut.. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana. harus aku ikut dia. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana. tamu tepatnya. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan. Cukup terlindung dari angin. Belum mereka berkenalan pula. Ia hanya memandang kagum dan membisu. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan. Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut. Telaga mencari-cari matanya. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. . Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti.” tersadar Telaga dari kekagumannya. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. Tepi Darat Selatan. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup.

” usul cucunya itu. saking ringannya .” ucap gadis itu. baik. kakek! Pemuda ini. ”Baik. ”Belum tentu. apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. Pelaut Ompong. Lebih aman di sana.” jawabnya. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga. ”Iya. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. kalau engkau yang salah. ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. Tapi awas ya. ”Ah. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan.” goda kakeknya kemudian. aku tangkap dia. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum. ”Jadi apa maumu sekarang. kakek!” rengek sang cucu manja. engkau harus minta maaf kepadanya. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya.” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. Dara itu mengangguk. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. ”Jangan terlalu curiga. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya.444 BAGIAN 8. mungkin belum muncul saja aksinya. meringkuk miring dan juga mendengkur. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. kakek! Besok baru kita tanyai. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah.456 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. Pelaut Ompong. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. Serangan kasar dan membabi-buta. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut. Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. Suatu alasan yang picik. Wajah. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya. dada. adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. Kaku dan keras. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. . Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu.

” ”Aku ’kan menumpang di sana.!! Ayo lawan. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya. jangan engkau menghindar. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan . ”Wassa. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga. mencoba untuk membantu. akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya.” ”Aku ini sudah bertunangan. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain. Lelah sudah pemuda itu. terus. Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya. Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku... Wassa hanya tersenyum malu. Bukan begitu?” tanya Telaga balik.. Ia pun terduduk lelah. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong.. kita sudahkan saja hal ini...” jelas Telaga. Terengah-engah sekali tampaknya.” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu.. Wassa. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. Lalu katanya.457 ”Telaga. Tak ada gunanya.. ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia. Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya. Ia kemudian lanjut berkata. ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat.. Sedih. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Dan termenung. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak..” ucap Telaga perlahan.

Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat. Nanti malam kita bertemu lagi di sini.. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. *** . Aku rasa. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. ”Ini semua hanya salah paham.” katanya sambil mengedarkan pandangan. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu. Telaga. Angin pun berhembus perlahan. Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. aku juga tertarik dengan tempat ini. ”Di samping itu. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis.458 BAGIAN 8. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu. Seorang berilmu dan juga ramah. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain. Nanti kuceritakan. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. menyisir lembut daun-daun nyiur. Wassa mengangguk setuju. Menuju desa Tepi Darat Selatan.? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua. Telaga menganggguk. Dengan ini kita jadi bersahabat. Bagaimana?” usul Telaga. baiknya kita latihan diam-diam. untuk suatu kejutan.. lalu katanya. Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir.

yaitu Gopala dan Hemachandra. ”Belum. Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja.” ucap Telaga penuh ingin tahu. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti.” ucap Wassa memberi .” ucap Wassa.” cerita Mayayo.” ”Menarik. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh. ”Masih belum mengerti. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. selebihnya aku tidak hapal. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang. ”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya.” jawab Telaga singkat. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama. ”Perhatikan bahwa suatu bilangan. yang dinamakan deret Fibonacci. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India). setelah bilangan ketiga.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu.

Coba tanyakan kepadanya. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. CMLXXXVII.460 petunjuk. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. BAGIAN 8. Lalu terdengar Telaga bertanya.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu. membuatnya benar-benar tertarik. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa.” jawab Wassa.. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu. kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. ”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar. Pelaut Ompong. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan. ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. ”Di balik itu. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- . Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. ”Menarik!” ucapnya kemudian. Rahasia. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci. MENARI BERSAMA AIR ”Iya. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu.. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi. Hening sejenak.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan.

”Bahkan. itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan. ”benar-benar lupa aku. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini.” jawab Telaga jujur.” jawab Pelaut Ompong. hmmm. berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya. ”Kami tidak berhasil menemukannya.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu. ”Orang yang menceritakan berita itu.. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat.. ”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian. Waktu aku seumurmu juga demikian. ”Saya dengar dari Wassa. ”Hahaha. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa.” berkata Pelaut Ompong arif.” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu. Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak.. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi. tunggu dulu. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka.461 makaman kuno tersebut. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. ..” ”Jika memang kitab itu tidak ada..” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu... Jadi. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi.

melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. Jangan beritahu siapa-siapa. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. *** Malamnya. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. Secara reflek ia tersentak dan berdiri. Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana. rumah di mana ia menumpang tinggal. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut. Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit. Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Sejenak dirasakannya suatu keanehan.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. Telaga beristirahat lebih cepat. . Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap.462 BAGIAN 8.

Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan. Saat untuk pergi ke bukit. Telaga minta diri untuk beristirahat. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang. di atas bukit. Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. kok masih hari ini sudah minta diri.” jawab . Angin masih berhembus lembut di kejauhan. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. Malampun semakin larut. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong. ”Itu Telaga. Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. Tumben. kek. Mayiya. *** Dalam beberapa hari itu. *** Malam baru menjelang tiba. Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya. ”Enggak ada apa-apa. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya.

Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi. BAGIAN 8. Akhirnya ia berada di luar rumah. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. ”Kalau begitu. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Telaga pun beranjak menuju suatu arah. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. Malam tanpa bulan.” tebak Mayiya. Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan.” ”Iya. mungkin juga. Langit benarbenar gelap. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri. . Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya.464 sang kakek.” jawab kakeknya. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. kek. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya. ”Ah. Setelah hampir-hampir tertidur.” jawab cucunya. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. kita istirahat juga saja. membuat malam itu gelap dan lengang. Mayiya. Arah di mana suatu bukit berada. *** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan.

Hening. Setelah rasa terkejutnya pulih. Setelah berjalan beberapa saat.. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak. ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. ia pun mengambil arah berlawanan. Bukit ada di sana. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. Ia sudah hampir berada di sana. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. meraba-raba sana-sini. Perlahan. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Sebelum ia sempat menyalakan obornya. Berdebar-debar jantung Telaga.465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. Jika tidak. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam.. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. Setelah yakin. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. ”Jangan nyalakan api. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua. Pemakaman kuno di atas bukit .

Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. Satu. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami.466 BAGIAN 8. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. Setelah ia merasa sedikit nyaman. merapalkan Tenaga Air. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. Sekarang ia telah berada di sana. menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan . Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. membuatnya sedikit tidak tenang. tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. Sunyi. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Di tengah-tengah pemakaman kuno. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. Sedikit gelisah ia menunggu. mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Suasana tampak lengang. dua. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. Sepi. Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. Sendiri. Suasana yang terlalu sepi. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai.

Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya. Berkali-kali. Belum belasan langkah ia melangkah. Hening tak ada jawaban. Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh.” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. ”Maaf. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. dingin. kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. Se- . dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. Menyambar dengan lembut. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. kali ini dari arah kirinya. kali ini dengan dada agak berdebar-debar. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. Sunyi. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. Kembali hening. Dan kembali berlaku hal yang sama. Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya.

menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. Dan di depannya. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. menghindar karena menyangka dirinya diserang. itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya.. ”Desa Terapung.. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu.. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu. Hari pun sudah mulai mendekati fajar. . Suara yang sama.. Ya. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi. Kita akan bersua lagi nanti. di udara.” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk. pelan. Mengirimkannya hampir tanpa suara. Ia tidak begitu ingat. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka. *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini.468 BAGIAN 8. mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap.. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Ia menggapai kain lusuh tersebut. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan.” suatu suara lirih terdengar samar-samar. mengambang sebuah kain lusuh terlipat. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya. tapi jelas. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan.

Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya. Jalan yang juga terbuat dari kayu. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Terasa benar lemasnya. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Kaku masih. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Terkagum-kagum . Membentang di hadapannya tampak air. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat. Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. Tak berbunyi. Sekarang tampak di depannya. Semuanya serba kayu. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. Desa Terapung. Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. Laut. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya. tidak seperti saat ia pertama kali sadar.

lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat. Di sana. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya.470 BAGIAN 8. tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. peti itu telah hilang dari pandangan . membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. Kadang ke atas kadang ke bawah. di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. Kurang dari sepeminum teh. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung.

Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. Benar-benar tak ada suara yang terucap. hanya dengan sang gadis ia berbicara. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. Untuk itu. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. Tak ada kata-kata yang terucap. Orang yang mati telah dikuburkan. Balai desa dari Desa Terapung. kapal. tampak beragam hiasan menempel. Pemuda itu. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. orang yang diselamatkan dari amukan badai. termasuk si pemuda. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali. yang kelihatannya dituakan. Ada ikan. Ya. ikan paus dan sebagainya. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. mulai bertanya-tanya. Bila sudah tentu tidak dibakar. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. mengapa sedari ia datang. Tinggal beberapa orang di antara mereka. Lalu seorang dari mereka. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk.471 mata. gurita raksasa. gambar-gambar dan juga ukiran. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi. laut adalah satu-satunya solusi. Dari luar terlihat biasa. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah.

Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. ”Saya Akanamia. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. Orang yang ditunjuk mengerti. Ia mengangguk dan berangsur bangkit. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. orang yang sudah terlihat cukup tua. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara. dengan pendengar orang-orang sendiri. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. Bila tidak ada orang baru. ”Saya bernama Mayayo. dan menempatkan dirinya di samping pemuda.” jawabnya. Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya. Gadis tersebut tersenyum padanya. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. ”Siapa namamu?” tanyanya ramah. ia kemudian mulai membuka percakapan.472 BAGIAN 8. kebiasaan ini pun tetap dilakukan.” jawab gadis itu. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini. Lalu seorang dari mereka.

Selain itu terdapat pula. Pelaut Ompong. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. Setelah cerita itu selesai. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. Tapi di luar kekurangan mereka itu. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis. Dua orang menghampiri Mayayo. Kakeknya. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. berikut pula perahunya. . pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut. mereka memiliki kelebihan.473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. Orang-orang pun berbubaran. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya. Mayayo. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan.485 dua orang ini. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa. telah tiba kembali . Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa.” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok. menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Bila suatu saat mereka mendapat giliran. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. setelah terlebih dahulu membersihkannya. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. Pelaut Ompong tak ada di tempat. orang-orang pun mulai berpamitan.

terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu.486 BAGIAN 8. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. Mayayo. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. MENARI BERSAMA AIR di rumah. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Ia kagum akan sikap pemuda itu. dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. . Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. bercerita pulalah ia. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut.

”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. Pulau yang menjadi tujuan mereka. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Orang tua. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang. ”Engkau ada ide. sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. Ya. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu.” usulnya kemudian. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. Mungkin. Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. minta diri. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya. Sebuah danau yang luas dan indah. yang hanya mengangguk mengiyakan.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya. yaitu berenang. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. Terpikir hanya satu jalan. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka. . Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya.

” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat.” . jadi anda berdua ini. Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut.. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu.. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami. Berjalan agak cepat. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap. dan makin lama makin cepat. Kami ingin sekali membantu mereka kembali.” ucap Walinggih.488 BAGIAN 8. ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini. sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu. kami bantu menyeberang.” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka.. ”Cape paman. pikir Walinggih.. dan saat ini adalah kesempatan kami. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu.. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong.. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua. ”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan. ”Ah.. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya.” ucap Walinggih ramah. ”Baiklah kalau begitu. Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. dan itu matahari sudah mulai hilang.

*** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. Suatu perangkap satu arah. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja.

Atau jika kalian ingin dijemput. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya. ”Betul. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. . Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. bagaimana tidak. di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. Lalu kata seorang dari mereka. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. paman. walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami. kita sudah di sini. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura. Setelah mengucapkan terima kasih. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti.. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru. Ya. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah..490 BAGIAN 8. Untung tidak terlalu lama. ”Mungkin ke sana.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. paman! Saya tidak melihatnya tadi.” ucap gadis itu. jika tidak. ”Nah.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian.

Setelah lama mencari-cari. mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Agak terletak di sebelah dalam. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka.” jawab Walinggih mengiyakan. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya. Di sana berdiri sebuah saung. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam. Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. Pikirannya melayang ke mana-mana.” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung.” Tak ada kata-kata lain. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai. terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. ”Paman. . apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. kondisinya pun tak terurus. Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya.

Keduanya pun segera beranjak ke sana. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau. tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. ”Hati-hati. maka guanya berada tak jauh dari ini. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati.” ucap Walinggih perlahan. Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu. dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya.492 BAGIAN 8. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap. Siapapun orang itu. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam. ”Benar. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini. . MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu.” ucap Walinggih. ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang.

. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya.” ucapnya perlahan. ”Ini. kami mencari mereka.493 Perlahan kedua orang itu. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu.. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut. ”Aku adalah sahabat mereka.. yang ternyata adalah es. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan. Tak berani menganggu. Hening sejenak meliputi suasana di sana... seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. ”pada saat-saat itu kebetulan . di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat. Dua buah manusia yang telah membeku. Ki dan Nyi Sura.” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka. Lalu lanjutnya.” jelas orang itu. keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu. Walinggih dan Sarini. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini.. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih. tampak samar-samar wajah seorang manusia. ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya. Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya. ”Ya. ”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah.

Tak tahu harus berbuat apa. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. Lalu katanya. ”Tidak tahu. ”Tidak juga. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka.494 BAGIAN 8. Dengan membekukan mereka. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri.” . Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut.” jawab Rancana pendek. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. ”Ah. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman. jika saja mereka dapat mendengarnya. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima. kalian membawa kabar baik. MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian.” ucapnya pelan. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali. yang mengaku bernama Rancana. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. Lalu setelah ditanya.

Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah. Sudah bola matanya. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. Julukan yang telah lama ditinggalkan . Lantang. larut dalam pikirannya masing-masing. Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih. Rancana hanya mengangguk. ”Pesanku. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura.. ”tolong katakan pada muridku. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu.” ucap Rancana. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya.. menjadi patung es. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau.495 Keduanya kemudian terdiam. Dugaan Walinggih benar adanya. julukan yang dulu dimiliki Walinggih. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka. seperti lidah dan rongga mulut. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku. rambutnya dan juga kulitnya.

Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. Jika saja Ki Tapa masih hidup. Jurus yang .496 dengan sifat-sifat jeleknya. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. Lantang. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Rancana pun memaksa untuk menolong. MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka. sempai bertemu dengan Hitam-Putih. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. BAGIAN 8. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini.

Entah apa hubungan antara keduanya. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Ia . air atau angin. Perlu waktu memang. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. Sia-sia. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan.497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. disiramai dan akhirnya berbuah. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. Mirip seperti pohon yang dirawat. Arasan. Sehabis serangan lewat. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan.” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu. Walaupun ilmu kami berbeda. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. Walinggih. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. ”Jika belum bisa menerapkan.

bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya. Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya.” ucap gurunya. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut. memutar. ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu.” perintah gurunya itu kemudian. Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya.498 BAGIAN 8. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan. membentuk posisi segitiga. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. Ki dan Nyi Sura serta Rancana. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. dengan tanah dan rumput-rumputan. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. Tak lupa disirami . beberapa batu tampak berderak-derak. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping. MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. tetapi masih lengket pada tempatnya. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. Sarini mengangguk. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.

Keduanya tidak banyak bertanya. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu. ada waktu berpisah. kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. ”Kita tidak berpisah selamanya. sudah tentu . menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka. ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua. *** ”Akanamia. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana. Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai.

Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. ”Tidak mudah. paman. ”Benar. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi. ”Baik. Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama.500 BAGIAN 8. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal. Akan kuturuti kata-katamu. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. disetujuilan usulan itu.” ucap anak muda itu meyakinkan.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya.” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa. lho! Beda di dengan di darat. *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu. Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. calon iparnya. Postur . ”Menari Bersama Air. ”Saya akan coba. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja. paman! Ingin menimba ilmu di kapal. kakek. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya.” jawab anak muda itu cepat.” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat.

Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah.501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras. hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. Lalu mereka berdua pun berpisah. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian. ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. Dilihat dari tongkrongan mereka. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . Tlatah Matahari Terbit. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya. begitu kata orangorang. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. Tanah seberang. ”Baik. bapak dan kedua anaknya. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara.

apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. ”Aku Gentong.” jawab orang yang ditanya. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu.” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang. Juga bahasa yang mereka gunakan. yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti. ”bila cuaca buruk dan ada perompak. tapi dapat saling mengerti dengan baik. Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. ”Yang pertama itu bekerja di laut.” jawabnya ramah. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan.502 BAGIAN 8. entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka. aku Telaga. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat. mungkin malah lebih lama.” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi. Dengan keempat rekan pemuda itu. bertubuh besar dan subur itu. Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. ”Teman-teman yang menarik. ”Empat sampai lima minggu. . ”Hai. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat. Telaga yang tidak sengaja menguping.

akan aku camkan itu. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut.” ”Ya. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung. Tidak menggurui. ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. Begitulah kehidupan berjalan. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. Misun nama orang itu. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. Ya. Suatu yang aneh menurut pemuda itu.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. Setelah ia pergi. ”Telaga. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya. ”Jangan terlalu banyak bercerita. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong. Ki Tapa. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. . Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. Keluarga yang terdiri dari ayah. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut.

Para anak buah kapal. Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka. termasuk Telaga pun bersiap. *** . di kejauhan dekat horison. Dan angin pun bertambah kencang bertiup.504 BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah.

Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 ..” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar. Isinya macammacam. Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu.” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu. buku yang baik atau tidak. tapi itu bukan suatu buku yang bagus.” jawab pemuda itu rendah hati.” ucap orang tua itu kemudian. ”Tidak apa-apa guru. ”Aku suka sikapmu. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan. itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi. Jadi bagi saya. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya. belum bisa saya menilai. menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang. saya ’kan belum punya banyak pengalaman. ”Oh..Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah..

Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. dua hari yang biasa-biasa saja. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. Saat itu kereta cukup sepi. Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya.506 BAGIAN 9. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Banyak tempat duduk yang belum terisi. ”Lu. hari itu adalah hari Kamis. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya. . Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Cukup panas menurut kulitku. Atau mungkin manja? Entahlah. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Hari Pertama Seingatku. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri.

dan lanjutnya. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. ”Jeruk seribu. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. lima ratus!” katanya. Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. ”Aqua. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. Aqua. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. Lalu. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. lima ratus. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya. jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Tak lama setelah itu. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. dan mulai kuamati dirinya.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. ”Terima kasih!” kata sang orang tua. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam.

Tadi masih muda-muda udah ngamen. Nggak ngamen. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. Nggak ada istri. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. ”Ya. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam. Setelah mengeluarkan dompetnya.508 BAGIAN 9. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” . ”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan.” katanya dengan suara yang kurang jelas.” ”Tapi bapak masih kerja. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. Begini-begini kerja dibayar orang. Kalau duit sih cukup. Di kampungnya. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya.” katanya. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Nggak perlu ngamen. suami enak-enakan nggak kerja. ”Bapak tinggal sendiri. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. ”Satu seribu?” tanyanya antusias. kalo mau kerja pasti dapat. seribu. ”Nggak ada sodara. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. Dua setengah kali lebih mahal. dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. ”Rejeki itu dari Tuhan. di kantong ada. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. Mampang. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke.

Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya. Hari Kedua Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. sang orang tua. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. menurutnya. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. Amin. Pak!” Lalu kami terdiam. akan tetapi terbersit suatu hal. walaupun mungkin secara sederhana saja. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. Dan kemudian terkantukkantuklah aku dan akhirnya tertidur. ”Bagus. Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. Uang bukanlah tujuan akhir. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. Sayangnya. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Proses mencari uang juga dipikirkannya. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. Ternyata di hati seorang tua. ”Terima kasih. Entahlah. ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. seorang tua dalam hari kedua. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut. pamitlah aku padanya. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. ”Mari pak!” kataku sambil tersenyum. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata. Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. Sesaat sebelum turun. kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. dan dibangunkanlah aku oleh dirinya. . Bersyukurlah diriku. Pak!” Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang di sekelilingnya.

obwohl man viele Fehler macht. Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen.” gumam pemuda itu. Gemse. Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert. Schon lange hat es nicht geregnet. Fleisch und Fisch). Ein Problem hatte ich und ich konnte dafr keine Lsung finden. misalnya saja ’komuter’. aber main Vater a nur Fleisch und Fisch. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen. Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und Zweitenstraen gekauft. Danach habe ich diese . biasa saja. Aber heute ee ich lieber Suppe. Aber heute habe ich kein Geld. Meine Mutter a gern Salat und Gemse. Das ist mein Traum. Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. weiter zu screiben. Deshalb muss ich viel Geld sparen... Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und mchte es noch immer. Manchmal ee ich Fisch und Fleisch. Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben. Das has mich den Mut gegeben. Das was letztes Jahr. ”Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut. Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03 Ein Schriftsteller werden mchten Ein heier Tag war es. um ein kleines Restaurant zu machen.” Ein kleines Restaurant Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU **Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22 ”Hmm. da man immer wieder schreiben soll. Banyak kata-kata yang tak kumengerti. Deshalb a ich alles (Salat.510 BAGIAN 9. Brot und Kartoffeln.

Finden Sie auch? **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-10-06 Tiga kisah pendek dengan cepat dibaca pemuda itu. aber an seinem Rat erinnere ich mich noch immer. da die Leute fast immer irgendwo M werfen. Und dann sehe ich heute. Banyak contoh mengenai hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan? . Aber sie haben nicht immer Schuld daran. Pasrah diri secara total” Cinta adalah masalah yang memusingkan. Sie machen die Umgebung schmutzig. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27 Die Mlleimer werden schwer gefunden Jetzt ist es Mittag und hier stehe ich am Fenster in diesem Zug. um auf den nchsten Zug zu warten. Ich bin zu mde. Gestern haben wir mit dem Lehrer ber dem Mll in dem Deutschunterricht diskutiert. Bukankah hal ini menjadi suatu paradoks? Mungkin. Ich habe schon den Name des Schriftstellers von dem Buch vergessen. Di banyak negara diberi nama berbeda. finde ich. di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. deshalb steige ich in diesen Zug ein. Boleh setuju boleh juga tidak. tetapi intinya sama.511 Geschichte geschrieben. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. Ich denke. Es