Elemen Kekosongan

Nein Arimasen Tlatah Alemania, Mei 2007

Kisah-kisah

1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau 2 Perubahan-perubahan 3 Hakim Haus Darah 4 Penjaga Keseimbangan 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh 6 Tato 7 Orang-orang Abadi 8 Menari Bersama Air 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu

5 65 125 185 247 309 373 441 505

3

4

KISAH-KISAH

Bagian 1 Kisah Rimba dan Gunung Hijau
Kisah ini dimulai pada suatu masa di suatu tempat, saat suatu pagi terlihat akan mengantar pada suatu hari yang cerah. Kabut tipis yang mengambang masih berusaha mencegah sinar sang surya untuk mencapai hamparan permadani hijau berklorofil di dataran tinggi itu. Orang menamakan gunung yang ada di sana sebagai Gunung Hijau, karena di kakinya terdapat suatu hutan belantara yang dinamakan hutan Rimba Hijau. Kata-kata Hijau tersebut selain datang dari bentuk fisik alam sekitarnya yang dipenuhi oleh jasad-jasad nabati berklorofil, juga dikarenakan pada saat-saat tertentu terdapat gas berwarna hijau yang dikeluarkan oleh rawa-rawa di sekitar hutan tersebut. Kadang pada saatnya orang hampir tidak dapat melihat apa pun yang ada di belakang kabut yang tercampur dengan gas berwarna hijau tersebut. Rimba Hijau dan Gunung Rimba Hijau merupakan sepasang misteri yang membuat orang-orang desa yang tinggal di daerah luaran kedua tempat tersebut amat berhati-hati membicarakannya. Bukan saja karena wujudnya saja yang sudah menyeramkan bagi orang yang melihatnya, akan tetapi juga karena baru-baru ini terdapat suatu peristiwa mengiriskan yang membuat orang menjadi bertanya-tanya. Kejadian itu bermula dari datangnya sekelompok orang yang apabila ditilik dari sandang yang dikenakannya, adalah golongan pendekar. 5

6

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Mereka ini terdiri dari empat orang. Keempatnya adalah saudara seperguruan, di mana hal ini terlihat dari cara mereka saling memanggil satu sama lain dengan ”kakak” atau ”adik” yang diikuti dengan urutannya. Orang pertama yang bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap. Orang kedua memiliki tinggi yang hampir sama dengan orang pertama, akan tetapi dengan postur yang amat kurus, sehingga terlihat seperti galah. Orang ketiga bertubuh rata-rata orang kebanyakan dengan ciri khusus yaitu rambutnya yang dijalin-jalin seperti sumbu kompor. Dan orang keempat memiliki postur tubuh agak pendek akan tetapi dengan otot-otot kekar yang melebihi ketiga saudara seperguruannya. Keempatnya berlari cepat seperti terbang saat memasuki hutan Rimba Hijau. Kedatangan mereka tidak sembunyi-sembuyi. Beberapa petani yang sedang mengerjakan sawahnya dilalui mereka tanpa menyapa. Dan yang menggirisi adalah mereka tidak lagi perlu menggunakan pematang untuk melewati sawah-sawah sebelum mencapai mulut hutan, akan tetapi cukup dengan menggunakan pucuk-pucuk padi yang belum dipanen sebagai pijakan. Pucuk-pucuk tersebut hanya bergoyang-goyang kecil, seakan-akan keempat orang tersebut adalah burung-burung Pipit saja. Melihat hal ini para petani tidak ada yang berani bersuara. Mereka diam saja dengan muka penuh tanda tanya dan kekuatiran. Hal ini dikarenakan sesuatu hal pasti akan terjadi, dan mau tidak mau pasti akan mempengaruhi mereka, para penghuni desa di sekitar hutan dan gunung tersebut. Dulu kala, menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, sebelum hutan dan gunung tersebut menjadi terlarang dan berwarna hijau yang disertai dengan adanya kabut dan gas tersebut, adalah seorang tua pertapa yang datang ke desa itu. Ia menemui kepala desa dan menyatakan niatnya yang hendak menyepi ke gunung yang dikelilingi oleh hutan tersebut. Ia kemudian mewanti-wanti bahwa mulai saat itu gunung dan hutan menjadi tempat terlarang bagi siapa pun. Akan tetapi apabila penduduk desa ada yang membutuhkan pertolongan dalam pengobatan, maka ia dapat dihubungi dengan memberikan tanda-tanda di suatu tempat yang telah ditentukan. Dikarenakan sikap orang tersebut baik dan tidak mengisyaratkan hal

7 yang bukan-bukan, maka tentu saja kepala desa mengabulkan permintaan dan sekaligus mematuhi larangannya. Dan hal tersebut dipatuhi secara turun-temurun tanpa dipertanyakan mengapa. Begitulah orang-orang desa yang masih lugu dan bebas dari prasangka. Oleh karena itu hiduplah mereka dengan baik dan tenteram. Pernah suatu kali terjadi wabah penyakit, dan teringatlah orang akan sang pertapa yang dapat dimintai pertolongan, sesuai dengan janjinya dulu. Setelah memberikan tanda-tanda pada tempatnya beserta berita mengenai wabah penyakit yang menyerang, ditinggalkannya tempat tersebut. Dan keesokan harinya ditemuilah dua buah keranjang bambu besar berisi rempah-rempah obat yang disertai dengan petunjuk bagaimana memanfaatkannya. Dengan menggunakan obat-obatan tersebut, sembuhlah para penduduk desa itu. Oleh sebab itu mereka menghormati hutan dan gunung tersebut sebagai tempat kediaman seorang sakti yang senantiasa menjaga mereka, apabila mereka mematuhi dan menghormati larangan-larangannya. Dan pertolongan itu bukan hanya sekali dua kali, melainkan telah berkali-kali. Dengan demikian tidaklah aneh bahwa orang-orang desa mengeramati tempat tersebut Dan hari itu datanglah keempat pendekar dengan rupa yang aneh bagi orang kebanyakan. Tanpa ”ba-bi-bu” dan tanya-tanya, langsung saja memasuki hutan Rimba Hijau dan lenyap ditelannya. Orang-orang yang tidak saja belum sempat bertanya, dan juga agak segan melihat kepandaian keempat orang tersebut, menjadi was-was. Mereka pun pulang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desa mereka. Tak ada yang dapat dilakukan para penghuni desa tersebut. Mereka hanya dapat menunggu dengan harap-harap cemas, kelanjutan dari masuknya keempat orang tersebut ke dalam hutan Rimba Hijau. Dan hal yang dikuatirkan pun terjadi pada keesokan harinya. Di tempat di mana orang biasa meletakkan tanda-tanda, apabila ingin memperoleh pertolongan obat-obatan dari penghuni hutan dan gunung, tergeletak keempat orang pendekar yang kemarin memasuki hutan. Akan tetapi disayangkan bahwa keempatnya telah melepas nyawa, sehingga tidak dapat ditanyai apa yang sebenarnya terjadi. Hanya sebuah pesan singkat yang ada, yang meminta penduduk desa untuk

8

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

menguburkan keempat orang tersebut di sekitar tempat itu, untuk menjadi peringatan yang lain agar tidak memasuki hutan dan gunung. Waktu pun berlalu bagai dihempuskan angin. Dan pada suatu hari datang kembali secara berterang orang-orang yang berkeinginan untuk masuk ke dalam hutan Rimba Hijau. Jika dulu keempat orang pendekar itu masuk ke hutan dan gunung tanpa basa-basi, maka hari ini datanglah serombongan orang yang terlebih dahulu bertegur-sapa dengan penghuni desa dan menyatakan ingin menemui kepala desa, untuk minta ijin memasuki gunung dan hutan. Seorang muda yang merupakan ketua dari rombongan itu menyatakan niatnya kepada kepala desa untuk memasuki wilayah yang dikeramatkan oleh penduduk itu. ”Kepala desa yang terhormat, kami rombongan dari Pingiran Sungai Merah berniat untuk memasuki hutan dan gunung di pinggir desamu ini,” katanya dengan sopan, ”berilah kami ijin.” ”Maaf saudara dari Pinggiran Sungai Merah,” jawab sang kepala desa dengan bimbang, ”hutan dan gunung itu bukanlah milik kami, sehingga kami tidak dapat memberikan ijin. Akan tetapi telah disampaikan secara turun-temurun di antara kami penduduk desa ini, bahwa hutan dan gunung itu tidaklah boleh dimasuki, jika tidak dilarang. Penghuninya dan kami telah saling berjanji. Kami tidak mengganggu dan mereka akan membantu bila kami dalam musibah.” ”Maksudnya?” tanya pemimpin rombongan, yang kemudian diketahui bernama Asap. ”Ya, dulu sekali, sewaktu sungai-sungai masih jernih mengalir dan kadal-kadal sebesar kerbau masih berkeliaran, ada seorang pertapa yang meminta untuk tinggal menyepi di hutan dan gunung itu.” Lalu diceritakanlah oleh kepala desa itu riwayat bagaimana gunung tersebut menjadi suatu pantangan untuk dimasuki, dan bagaimana penghuninya yang tidak pernah terlihat membantu penduduk desa saat desa diserang wabah penyakit. Dan diceritakannya pula mengenai nasib keempat pendekar yang ma-

9 suk ke sana, akan tetapi pulang dalam keadaan siap berkalang tanah. Mendengar hal tersebut, Asap menjadi tertarik dan semakin kuat niatnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. ”Saudara Asap dari Pingiran Sungai Merah, urungkanlah niat kalian untuk memasuki hutan dan gunung itu,” pinta sang kepala desa, ”selain untuk kebaikan kalian sendiri, juga untuk kebaikan kami. Bagaimana bila nanti penghuni hutan dan dan gunung marah kepada kami, karena kalian tidak menggubris larangan kami ini.” Mendengar itu, Asap menjadi tidak enak. Ya, ia tahu untuk rasa takut, ia dan kawan-kawannya akan dapat menghadapi hal itu karena mereka adalah orang-orang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dan juga sedikit sihir. Akan tetapi untuk akibat yang akan diterima oleh penghuni desa itu, merupakan suatu tanggung jawab moral yang harus ditanggungnya. Bila saja ia bisa agak tak peduli dengan hal itu. Tapi sayangnya tidak. Setelah berunding dengan orang-orang serombongannya, akhirnya berterus-teranglah Asap tentang maksudnya untuk memasuki hutan dan gunung tersebut. Ia dan kawan-kawannya bermaksud untuk mencari sejenis tumbuhan yang akan dipergunakan sebagai obat untuk mengobati saudaranya yang sakit, yang juga berada di dalam rombongan itu. Sakitnya itu tidak biasa, yaitu ia kehilangan ingatannya, akan tetapi dapat memberikan arah ke hutan dan gunung itu, ke suatu tempat di mana terdapat obat-obatan untuk menyembuhkannya. Suatu penyakit yang akan lebih dipandang orang sebagai suatu kesurupan atau kemasukan jiwa lain. Akan tetapi sudah banyak orang-orang yang biasa menangani hal seperti itu dipanggil dan mereka menyerah. Bukan karena orang yang sakit itu melawan, akan tetapi karena yang sakit itu menjawab semua pertanyaan dengan baik dan ramah, dan menyatakan bahwa obat satu-satunya hanyalah di dalam hutan di kaki gunung itu. ”Jika kebutuhan saudara dari Pinggiran Sungai Merah adalah untuk pengobatan, ada baiknya kita meminta petunjuk dari penghuni hutan dan gunung dengan menggunakan cara-cara yang biasa kami lakukan, ketimbang melanggar pantangan dengan memasuki hutan dan gunung itu sendiri,” kata kepala desa.

10

BAGIAN 1. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU

Asap dan kawan-kawannya pun setuju, karena mereka melihat itu sebagai suatu jalan tengah. Mereka tidak ingin memberikan kesusahan kepada penghuni desa yang telah ramah menerima mereka ini. Tak lama kemudian berkumpulah para warga dusun itu untuk mengadakan urung rembug dalam niatan menolong anggota rombongan yang sakit dengan memohon bantuan dari penghuni hutan dan gunung, dengan memberikan tanda-tanda untuk berkomunikasi di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya dari hasil urung rembug tersebut diputuskan ada dua orang warga yang cukup dituakan yang akan menemani anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah untuk berdiam di sekitar tempat yang telah ditentukan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Mereka ini membekali dirinya dengan berbagai keperluan untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Setelah persiapan matang, berangkatlah empat orang anggota rombongan, seorang yang sakit dan dua orang wakil dari desa itu menuju tempat pertemuan yang telah ditentukan dengan membawa syaratsyarat untuk berkomunikasi dengan penghuni hutan dan gunung. Tempat yang dituju oleh rombongan adalah semacam tanah lapang yang dengan tanpa perawatan hanya ditumbuhi oleh rumput-rumput setinggi kuku jari, di mana ditengahnya terdapat tumpukan batu-batu bekas kuil atau candi jaman dulu, jaman di mana kadal-kadal sebesar kerbau masih banyak berkeliaran dan sungai-sungai masih jernih mengalir. Bekas candi atau kuil tersebut terlihat biasa saja, memiliki bentuk empat sisi yang sama panjang, dengan panjang sisi-sisinya antara tiga sampai empat kerbau dewasa berjajar. Tumpukan batu-batu tersebut tersusun rapi sehingga mirip sebuah panggung yang berjarak setinggi dengkul dari rerumputan di sekitarnya. Di keempat sisi yang masing-masing menghadap keempat arah mata angin utama, yaitu utara, timur, selatan dan barat itu terukur berbagai macam simbol yang asing bagi orang kebanyakan. Simbol-simbol tersebut terukir dalam batu dan terisikan oleh sejenis logam, sehingga warnanya dapat dibedakan dengan sekitarnya, oleh sebab itu dari jauh lambanglambang tersebut sudah dapat terlihat dengan samar-samar.

11 Sekitar seratur langkah sebelum menghampiri pelataran batu tersebut seorang dari desa mengangkat tangannya sebagai isyarat anggota rombongan untuk berhenti. Kemudian memerintahkan agar keempat orang penandu dan orang yang sakti tersebut untuk beristirahat, sementara ia dan temannya perlahan mendekat dengan hormat ke pelataran tersebut. Sesampainya di sana kedua orang tersebut berhenti dan membuka perbekalan yang mereka bawa dan mulai memperhatikan simbol-simbol yang terpahatkan di keempat sisi yang menghadap ke masing-masing mata angin. Apabila diperhatikan lebih lanjut ternyata di atas pelataran dekat dengan masing-masing sisi terdapat lobang-lobang sejumlah delapan buah seukuran kepalan tangan pada tiap sisinya, sehingga jumlah keseluruhan lobang-lobang ada empat dikalikan delapan buah. Setelah membaca sebuah semacan lontar yang merupakan bagian dari perbekalan, orang pertama memerintahkan temannya untuk memasang sejumlah tongkat pada lobang-lobang yang telah ditentukan. Tongkat-tongkat tersebut ternyata terbagi menjadi dua macam, yaitu yang ujungnya menggembung terbuat dari kain yang dibasahkan oleh semacam minyak dan yang terbuat dari kaca tembus pandang. Setelah beberapa saat mengamati tulisan pada lontar tersebut, akhirnya orang pertama mengangguk puas pada pemasangan tongkattongkat tersebut. Kemudian kembalilah mereka kepada rombongan yang sedang berdiam tidak jauh dari pelataran batu tersebut. Melihat itu semua Asap, kepala rombongan dari Pinggiran Sungai Merah, yang juga merupakan salah seorang penandu, tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya kepada salah seorang dari desa tersebut, yang meminta dipanggil Ki Gisang. ”Maaf Ki Gisang yang saya hormati, boleh saya tahu apa arti dari pemasangan tongkat-tongkat tersebut?” Ki Gisang tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum. Tentu saja hal ini membuat Asap semakin penasaran jadinya, yang jelas-jelas dapat terlihat dari raut mukanya. Dan sebelum ia bertanya kembali, orang kedua dari desa, Ki Kampar, menyahut, ”Saudara Asap, apa yang baru kami lakukan adalah cara berhubungan yang diajarkan oleh penghuni hutan dan gunung kepada kami.”

Bagi kami cara untuk menyampaikannya tidaklah penting. ”Keempat sisi dari alas Portal ini melambangkan keempat mata angin . Jika saudara beruntung. Mendengar ini ini. Angin yang berbisik-bisik tidak dapat menghalau keheningan yang mencekam itu. Merasa bahwa apabila membunuh waktu untuk bertemu dengan Penghuni Hutan dan Gunung itu hanya dilakukan dengan menunggu saja. tak tega rasanya Ki Gisang. mengingat betapa dulu ia bersikap seperti pemuda Asap ini. ”akan tetapi hal itu diketahui pula olehnya bahwa kami pernah suatu saat menjadi bertanya-tanya bagaimana cara seperti ini dapat bekerja dalam memberi dan menerima kabar. selalu ingin tahu dan penasaran. mungkin saudara bisa memperoleh kesempatan untuk mendengar sendiri penjelasannya dari mereka. Pengalaman mengajarkan padanya bahwa kadang diam dan mengamati itu bisa lebih baik dari bertanya-tanya tetapi tidak berpikir.” Saat berbicara Ki Gisang tersenyum. karena saya tidak tahu berapa jumlah sebenarnya penghuni di sana.” Kemudian lanjutnya. Ia sadar bahwa keingintahuannya tidaklah pada tempatnya. ”Tempat ini disebut oleh Penghuni Hutan dan Gunung sebagai Portal atau Gerbang. Katanya kemudian.12 BAGIAN 1. dan bahkan mau membantu untuk menghubungkannya dengan penghuni hutan dan gunung. Penduduk desa telah amat baik menerima ia dan rombongannya dengan ramah. Keheningan itu tidak sia-sia. melalui suatu cara tertentu. setelah ia melihat bahwa orangorang dari Pinggiran Sungai Merah tersebut malah menjadi gelisah dan mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri. bahwa mereka memang harus menunggu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Suatu cara yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Di sini kami dapat memberikan tanda-tanda yang akan disampaikan pada mereka atau seseorang di sana. Bantuannyalah yang berarti bagi kami. Dan ia masih bertanya-tanya lagi. ”Untuk sementara simpanlah pertanyaan saudara itu.” akhirnya Ki Gisang mengucapkan kata-kata. walaupun biasanya orang yang datang hanya satu dan selalu orang yang sama.” kata Asap dengan sejujurnya. Hening dan sunyi. Tapi semua orang tahu. penghuni hutan dan gunung. Asap menjadi malu dan takhluk.

”Benar.. ”Tanyakanlah apa yang hendak kau tanyakan Tampar. dua pemuda yang baru saja diajarkannya bagaimana orang dapat mengartikan deretan lambang-lambang yang baru saja digambarkannya di atas pasir. ”Ki Tapa. mengapa perlu dituliskan dalam huruf-huruf asing.. sang pertapa tua sambil tersenyum...” jawab Ki Tapa. ”memang ada alasan seperti itu yang membuatku memilih terlebih dahulu dua orang dari kalian untuk kuajari cara-cara berkomunikasi seperti ini. kenapa tidak alam aksara kita saja?” ”Kalau menerut kamu sendiri bagaimana? Atau kamu Gisang.. Masing-masing sisi memiliki arti sendiri-sendiri..” sahut Ki Tapa dengan gembira. ”Salah satu alasan adalah agar cara-cara berkomunikasi ini tidak dapat dengan mudah dipelajari oleh orang-orang yang tidak diinginkan. benar.. Lebih baik sekarang bertanya.. apa pendapatmu?” kata Ki Tapa yang menjawab pertanyaan Tampar dengan pertanyaan balik sekaligus melibatkan Gisang dalam pembicaraan tersebut.” ”Dan alasannya?” desak Ki Tapa tertarik.. selatan dan barat.” lanjut Ki Tampar yang kemudian menceritakan perihat arti-arti dari lambang-lambang dan cara berkomunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung.” . timur. ”Begini Ki Tapa. lambang-lambang ini. ”Apakah kalian berdua telah mengerti?” orang itu bertanya kepada Tampar dan Gisang muda. maaf bila saya masih bertanya. dari pada keliru di kemudian hari. Ia menduga-duga apakah Gisang ini memiliki kecerdikan yang diperkirakannya. ”Kalau menurut saya. Ki Tapa memiliki alasan mengapa lambanglambang tersebut ditulis dalam huruf Yunani ketimbang dalam aksara kita. sebagaimana mereka berdua diajarkan dulu.13 utama: utara. kamu benar sekali Gisang.” jawab Gisang dengan yakin.” ucap Tampar. Yunani.

”Akan tetapi sayangnya keadaan yang aman dan tenteram itu tidak berlangsung lama. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Boleh kami tahu alasan yang mendasari semua ini. Nama perguruan itu sendiri memiliki arti yang tak terkalahkan namun lembut dan yang menyegarkan serta menyembuhkan. Dan Hutan dan Gunung Rimba Hijau ini dirasakan merupakan tempat yang ideal untuk menyimpan rahasia tersebut. dapat diolah oleh mereka. Kami dalam perguruan diajarkan ilmu-ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga untuk menyembuhkan tubuh apabila sakit. Dari gurunya. Dengan tujuan agar mereka dapat hidup dengan baik dalam alam yang keras itu. sehingga tanah di sana. kakek gurunya dan guru dari kakek gurunya. Mereka tidak suka. Ki Tapa?” tanya Tampar dengan hormat. sampai ia tiba di desa ini. dan juga bagian-bagian yang pernah dialaminya sendiri. Mereka menginginkan desa itu menjadi desa tidak berpenghuni. kakek guruku dan guru dari kakek guruku. Apa yang dapat kita makan dan kita hirup harus dimanfaatkan.14 BAGIAN 1. Masih mengingat-ingat cerita yang diturunkan padanya. adalah turuntemurun pertapa dari Perguruan Angin dan Embun. Semua penduduk menjadi lebih sehat dan kuat. Awalnya ilmu-ilmu itu dibawa oleh seorang pertapa juga. Keadaan menjadi berangsur-angsur membaik. guru dari kakek guruku membuka perguruan untuk membantu suatu penduduk desa di daerah yang tandus. tiba-tiba saja bangkit seakan-akan ada keajaiban. akan tetapi dari negeri seberang. Pikiran harus bersih. akan tetapi karena ada . mengingat-ingat cerita yang telah didengarnya turun-temurun. ”Guruku.” Ki Tapa terdiam sejenak. Dan ia sebagai orang terakhir harus menjaganya. ”Alasannya sudah tua sekali. walaupun mereka tidak memiliki banyak yang dapat dimakan. Efesiensi adalah kunci dari ilmu-ilmu itu. Bukan menjadi lahan pertanian. dan diperkirakan bahwa orang-orangnya akan mati dengan sendirinya. Bertahun-tahun sejak itu. bahkan lebih tua dari umurku ini. Lanjutnya. Sudah sekitar empat puluh dasa warsa cerita itu diturunkan dalam perguruannya. Saat orang-orang dari desa lain melihat bahwa desa yang tadinya tandus. sehingga tidak terbuang energi sia-sia untuk menangani pikiran-pikiran ngawur dan sesat.” ucap Ki Gisang sambil menerawang.

Ia melihat ketidak-adilan tersebut. Orang-orang tersebut menginginkan keseluruhan desa. sehingga lambat laun matilah perekonomian desa itu yang kemudian disusul dengan kemarau berkepanjangan. ia tidak ingin menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Ki Patuh. Akan tetapi para penghuni desa itu jelas menolak. akan tetapi usul tersebut ditolak. dengan mengijinkan penduduk lain dari luar desa untuk menggali bahan tersebut dengan membagi hasilnya kepada mereka. melainkan karena desa tersebut merupakan tanah turun-temurun mereka. yang berasal dari tanah seberang. Setelah Ki Patuh dianggap cukup menerima ilmunya Petapa Seberang pun melanjutkan perjalannya. Selain itu tenaga mereka menjadi berlipat ganda.” Jeda terjadi sesaat waktu Ki Tapa menarik napas panjang.” ”Untung saat itu lewatlah sang Petapa Seberang. sehingga mereka dapat mulai membuat sumur dan sumber air lainnya. untuk mengairi ladang-ladang mereka. Dengan ilmu tersebut penduduk desa dapat hidup dengan jumlah makanan dan minuman yang minim. Saat itu Ki Patuh belum mengambil murid. Bukan dengan alasan ingin mengangkangi bahan berharga tersebut. dan memberikan tanahnya kepada mereka. Sudah pernah ada penawaran dari desa-desa di sekelilingnya. Sambil dipikir-pikirnya kembali jalinan kisah-kisah yang merentang dari waktu lampau sampai masa kini. Dan terpilihlah guru dari kakek guruku. apabila penduduk desa itu sendiri tidak berani melakukannya.” ”Mereka telah berupaya mencari jalan tengah.15 kandungan suatu bahan di dalam tanahnya yang dianggap berharga. bukan hanya sebagian yang diijinkan saja. sambil menitipkan sebuah kitab yang berisikan sari dari ilmuilmunya.” ”Petapa Seberang tidak mengajarkan ilmu kanuragan. Apa jadinya bila ia menghancurkan orang-orang di sekitar desa yang menghalangi perekonomian desa itu. Akibatnya mereka mencoba menghalang-halangi perdagangan ke desa tersebut. untuk dipelajari oleh Ki Patuh dan diwariskan pada muridmuridnya. akan tetapi karena pada dasarnya ia berwelas-asih. agar penghuni desa yang tandus itu pindah. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. . Untuk itu ia mencari seorang penduduk desa yang dinilainya cocok untuk diajarkan ilmu-ilmunya. sedesa-desanya ke tempat yang lebih subur. melainkan ilmu menjaga kesehatan dan mengobati jika sakit.

Misalnya Jurus Api dan Tanah akan memberikan kekeringan. tanah dan air) dengan dua pasang kualitas yang berlawanan (panas & dingin dan basah & kering) dilakukan oleh Aristoteles. Masing-masing saling mengisi dan melengkapi. Masing-masing murid mengambil kekhasan masing-masing yang dibagi oleh Ki Patuh mejadi empat mata angin. membuat orang mejadi awas akan adanya perubahan dalam hawa yang kita hirup. selatan. pergerakan angin dan hal-hal lain yang terkait dengan udara. Sedangkan bila ada yang berbakat maka dapat mendalami satu sampai dua jurus itu sampai pada tahapan berikutnya. Jika diibaratkan dengan bahan-bahan di sekeliling kita.” ”Pada intinya semua penduduk desa harus mempelajari keempat jurus tersebut sampai tahapan dasar. ketiga dan keempat. Jurus Air dan Tanah akan menghasilkan dingin. maka pemahaman ini digunakan untuk membantu penduduk desa menjadi lebih sehat dan kuat. ”Ki Patuh kemudian mengambil empat orang murid Ki Setunggal. basah dan panas ini adalah yang dibutuhkan untuk kehidupan. seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungannya. api. yang berarti pertama. ”akan tetapi Ki Tapa. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang tidak berani memotong karena sudah benar-benar terbuai oleh cerita Ki Tapa tersebut. timur. Jurus Api. dingin. Keempat murid tersebut belajar dengan sungguh-sungguh ilmu-ilmu Ki Patuh yang berasal dari Petapa Seberang. Demikian pula dengan tanah. . Pemaknaan keempat elemen (udara. Karena keadaan-keadaan yang dihasilkan. apa hubungannya antara ilmu menjaga kesehatan tubuh tersebut dengan bercocok tanam?” ”Dengan menggunakan ilmu-ilmu tersebut. Ki Tilu dan Ki Uu. Kakek guruku adalah Ki Tilu.16 BAGIAN 1. Akant terjadi hujan. Jurus Tanah dan Jurus Air. Misalnya Jurus Udara. kering. Jurus Air dan Udara akan membuat basah dan Jurus Udara dan Api akan membuat panas.” Lalu tiba-tiba hampir bersamaan Tampar dan Gisang mengajukan pertanyaan. keempatnya akan menghasilkan kombinasi lain apabila dipadukan berdua-berdua. kedua. Ki Duo. utara dan barat. adanya racun dalam udara. yang dibimbing oleh masing-masing dari empat murid utama tersebut. menyalurkan keingintahuannya yang sudah memuncak. jurus-jurus keempat orang itu disebut sebagai Jurus Udara.

dengan mereka di belakangnya menda- . sekarang tidak menjadi masalah karena tubuh para penghuni desa itu menjadi lebih kuat dan terlatih.17 orang akan menjadi awas terhadap kehidupan yang dapat didudukung oleh tanah. dan mereka mulai kembali mencoba untuk melakukan perdagangan. ”Nah. Jalan-jalan yang tadinya diisolasi atau jembatan-jembatan yang diputus. maka kehidupan mulai kembali berjalan. Kemudian mereka dengan berbagai cara memohon pada para murid utama Perguruan Embun dan Angin. untuk mempelajarinya. pembuatan sumur akan menjadi amat efesien. yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kanuragan.” Lalu lanjut Ki Tapa.” ”Beberapa orang desa menjadi kemaruk akan imbalan-imbalan yang diberikan oleh orang-orang luar. ”Lalu mengapa Ki Tapa sampai kemari. bahkan di daerah yang kering sekalipun. bahan-bahan apa yang kurang.” ”Akan tetapi. ”contoh lain adalah misalnya dengan menggabungkan Jurus Air dan Tanah yang menciptakan dingin. sementara orang-orang yang ingin menguasai desa masih berusaha dengan berbagai cara untuk menguasai tanah di desa tersebut. baru beberapa dasa warsa kemudian terjadilah hal yang benarbenar menjengkelkan.” ”Maksudnya?” ”Dengan semakin baiknya kehidupan dan petanian penduduk desa.” Mendengar penjelasan ini kedua orang muda tersebut kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. agar orang-orang luar ini dapat diberikan pula pengajaran. bila keadaan di desa tersebut sudah membaik?” tanya salah seorang dari mereka tidak mengerti. sehingga harus ditambahkan agar tanaman dapat tumbuh subur dan sebagainya. Dengan cara ini. mencoba mencerna dan memahami penjelasan Ki Tapa. ”kekuatan tubuh mereka yang di luar rata-rata kekuatan orang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi orangorang di luar desa.” lanjut Ki Tapa. orang dapat mencari-cari sumber air. apabila mereka mau mengajarkan bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan tubuh seperti itu.

”akan tetapi orang-orang di luar desa itu pun cerdik. yang telah menyiratkan ketinggian hati anggota-anggotanya. karena mereka tahu bahwa orang-orang yang diajukan itu tidak memiliki watak yang baik. Untungnya kelima orang tersebut benar-benar telah menyerap kekuatan alam melalui pembelajaran dengan sungguh-sungguh kitab pusaka tersebut. Mengajarkan ilmu pada orang yang tak berwatak baik akan menyebabkan malapetaka di kemudian hari. hanya mengandalkan kekuatan tubuh saja. sambil sesekali menghela napas.” sahut Ki Tapa. Sudah tentu keempat murid utama itu menolak. Mereka ini memang memiliki ilmu-ilmu kanuragan selain ilmu untuk menjaga kesehatan tubuh.” ”Tapi. ”Memang benar. jadi tidak akan dengan mudah kalah oleh suatu ilmu kanuragan bukan?” tanya Gisang tidak mengerti. yang kemudian diketahui bernama Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Kemudian lanjutnya. mereka kemudian melatih orang-orang yang telah memiliki ilmu menjaga kesehatan tubuh ini dengan ilmu kanuragan sehingga mereka menjadi lebih kuat. mengingat kembali kisah desa yang diseret ke arah kekacauan oleh penduduknya sendiri. ”setelah merasa kuat dan tak terkalahkan mulailah mereka menyerang langsung Perguruan Angin dan Embun untuk merebut kitab pusaka yang ditinggalkan Petapa Seberang. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU patkan imbalan. Dengan demikian mereka mulai dapat menekan penduduk desa lainnya untuk bergabung bersama mereka. Nama perguruan tersebut adalah Perguruan Atas Angin.18 BAGIAN 1.” ”Siksaan-siksaan dilakukan untuk mendapatkan jawaban di mana tersimpannya kitab pusaka tersebut. tanpa pengetahuan ilmu bela diri.” Terdiam sebentar Ki Patuh.” ”Akhirnya dengan berbekal ilmu-ilmu yang masih di bawah keempat murid utama tersebut orang-orang yang dapat diiming-imingkan imbalan bersatu untuk membuat suatu perguruan sendiri untuk menentang Perguruan Angin dan Embun. Keempat murid utama dan Ki Patuh gurunya bertempur bahu membahu. Dalam waktu singkat kelimanya dapat ditangkap. kata Ki Tapa sebelumnya. bahwa hanya dengan ilmu menjaga kesehatan tubuh orang dapat memiliki kekuatan berlipat ganda. sehingga .

Cara halus dengan iming-iming kadang lebih manjur dari kekerasan. ”Pertanyaan yang baik sekali.” ”Jika hampir semuanya meninggal. kenapa harus kembali dikuburkan di tempat lain. akan tetapi siksaansiksaan tersebut dapat teratasi. sudah ditolong. sehingga ia dapat berlaku mati suri saat di dalam tanah.” ”Sebenarnya timbul pula pertanyaan. karena kebetulan keahliannya adalah Jurus Tanah.” bertanya Tampar kemudian. Satu per satu kelima orang itu meninggal sampai tinggal seorang yaitu Ki Tilu. ditugaskan untuk memakamkan kelima orang tersebut yang setelah diperiksa tidak lagi menghembuskan nafas. menunjukkan bahwa terdapat pula batasan kekuatan tubuh manusia.. Jika saja dulu waktu orang-orang di luar desa mau menggunakan jalan seperti orang-orang yang belajar ilmu ini.” ”Setelah hampir setahun kelima orang teresebut tidak juga mau membuka rahasia di mana tersimpannya Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. maka sudah dapat dipastikan orang-orang tersebut dapat memperoleh tanah di desat tersebut. kenapa tidak langsung dikuburkan kembali di tempat tersebut. walaupun suatu ilmu dimilikinya. Berbulan-bulan di dalam tanah. lalu bagaimana ilmu tersebut dapat diturunkan pada Ki Tapa. silau pada sesuatu yang tidak dimilikinya.19 walaupun mereka tidak dapat melepaskan diri. akhirnya dengan kejam kelima orang tersebut di kubur hiduphidup dalam tanah. Gurunya sendiri Ki Patuh tidak dapat karena ia mempelajari keempat jurus tersebut secara seimbang. Saat itu hanya guruku seorang yang berada di lokasi makam. Salah seorang anggota Perguruan Atas Angin yang tadinya bekas anggota Perguruan Angin dan Embun .” Tak tahan kedua pemuda tersebut menyuarakan kejengkelan hatinya. karena ia kebetulan memang penunggu makam. Guruku salah seorang penduduk desa yang tidak ikut dalam Perguruan Atas Angin ataupun Perguruan Angin dan Embun.” ”Begitulah sifat kebanyakan manusia. ”Memang apabila dipikirkan maka itu merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. ”betapa tak tahu terima kasih orang-orang penghianat itu..” sahut Ki Tapa gembira. jika mereka telah dikubur hidup-hidup dan kemudian ternyata telah mati.

dan hampir gelap. Karena adanya rerimbunan dan tumpukan tanah hasil penggalian lubang makam. digalilah lima buah lubang yang empat di pinggir dan satu di tengah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU menjadi tidak tega. Dengan tak terlalu tulus. Dan setelah tubuhnya berkenalan kembali dengan udara bebas. maka Ki Tilu dimakamkan terakhir. mirip posisi pusat dan empat mata angin. hiduplah ia. jadi di dalam tanah adalah tempat ia biasa berada.” Ki Tapa beristirahat sejenak untuk mengambil napas dan menenggak air yang dibawanya. Bila Ki Tapa bercerita seperti dugaan mereka. Setelah memilih tempat yang cukup terhormat menurutnya. mulailah sel-sel tubuhnya kembali berdenyut perlahan-lahan dan hidup kembali. Akan tetapi sayangnya selama proses penyiksaan telah dilakukan berbagai cara. termasuk menyiramkan air pada mereka yang dikuburkan. Dan ia harus memakamkan Ki Patuh di tengah dan Ki Setunggal di timur. sang penjaga makam. Begitulah pesan bekas anggota Perguruan Angin dan Embun. melainkan hanya guruku. orang-orang luar yang menjadi anggota utama Perguruan Atas Angin pun menyetujuinya. Ki Tilu di utara dan Ki Uu di barat.” Mendengar itu kedua anak muda tersebut tanpa dapat dicegah menjadi merinding.” lanjut Ki Tapa. . Ki Makam orang menyebutnya. dan ingin menghormati mendiang kelima bekas gurunya tersebut. Lebih baik dikerjakan hari ini.” ”Saat itu sudah lewat petang. Jika saja ia langsung kembali dimakamkan. selama napasnya dapat diselaraskan dengan bumi. akan tapi tidak memperbolehkan orang-orang menghadiri dan membantu proses pemakaman. berarti Ki Tilu bangkit dari kematiannya untuk memberi pesan kepada Ki Makam. Dan ia tidak ingin. Dan inilah yang menyebabkan guruku masih dapat menerima pesan terakhir dari Ki Tilu. Benar-benar cerita yang sukar dipercaya. biar semua selesai. ”Sebenarnya tidaklah terlalu aneh. sehingga ilmu Ki Tilu tidak dapat digunakan sepenuhnya. Ki Duwo di selatan. mungkin akan terus dalam keadaan itu sampai benar-benar habis nafasnya.20 BAGIAN 1. Guruku Ki Makam harus cepat-cepat menguburkan kelima orang tersebut atau ia harus menginapkan kelimanya di atas tanah dan dijaga untuk dimakamkan keesokan harinya. yang boleh melakukannya. ”keahlian Ki Tilu adalah tanah atau bumi.

seakan tidak berani menggangu pelantunan cerita tersebut. Ia mengatakan bahwa tidak banyak waktu lagi baginya. Dan dimakamkanlah ia oleh Ki Makam sebagaimana rencana semula. dan angin pun bertiup perlahan dan lembut malumalu. Akan tetapi saat ia ingin memberi kabar itu kepada penduduk desa yang masih setia pada Perguruan Angin dan Embun. meninggallah Ki Tilu. bahwa Ki Tilu salah seorang dari penolong desanya masih hidup. terharulah Ki Makam. Tenaga inti dari Ki Tilu yang mungkin melebihi latihan tahunan. dan ia ingin Ki Makam menjadi muridnya dan berjanji untuk meneruskan ilmu-ilmu mereka dan menyelamatkan Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Setelah memberitahu di mana letak kitab tesebut. Sudah tentu hal membuat Ki Tapa tersenyum sangat. Untuk itu ia berlaku sabar dan akan menunggu saat yang tepat untuk . ”Setelah pemindahan tenaga tersebut berlangsung. walau hanya untuk beberapa jam.” Hening sejenak. kemudian Ki Tilu meminta Ki Makam untuk bersila di hadapannya agar dapat diberi tenaga inti terakhirnya.21 ”Refleks karena adanya udara bebas membuat kesadarannya sedikit terguncang sehingga ingin cepat-cepat sadar untuk bangun dan menolong saudara-saudara seperguruannya dan juga gurunya. jika Ki Tilu tidak buruburu menenangkannya. yaitu mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. Setelah memperoleh penjelasan. mempelajarinya dan menyelamatkan serta mengamalkannya. sehingga paru-parunya keracunan. Hanya sekarang ia memiliki tugas baru. yang didominasi oleh Tenaga Tanah. tapi belum ada apa-apanya apabila menghadapi ilmu kanuragan dari Perguruan Atas Angin. Untunglah ia masih bisa menghimpun tenaga intinya sehingga dapat bangkit dan sadar. Ini yang membahayakan. sehingga dapat menjadi lebih mudah untuk belajar isi Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa lebih lanjut. karena ia melihat bahwa Ki Patuh dan keempat muridnya yang telah belajar lanjut ilmu itu pun tidak dapat menanggulangi ilmu kanuragan. Ki Tilu mencegahnya. tanpa terasa mulut mereka menganga. ”Bangunnya Ki Tilu sudah pasti membuat Ki Makam terkejut setengah mati. Untuk itu Ki Makam tidak terburu-buru. hampir saja copot jantungnya.” Kedua anak muda tersebut Tampar dan Gisang mendengarkan cerita tersebut dengan penuh perhatian. apalagi ia yang baru diberi sedikit dasar.

Mereka hanya mendengarkan dan tidak ada pun komentar. akibatnya tongkat-tongkat yang berupa ujung kaca. ”Tongkat yang berujung kaca ini melambangkan udara dan yang bergagang obor ini melambangkan api. maka kedua tongkat tersebut yang digunakan. sehingga memberikan kilauan yang aneh akan tetapi indah.22 BAGIAN 1. ”Mari kita pasang petunjuk berikutnya. baru menunggu fajar untuk kemudian memasang simbol udara. Sebagai contoh bila kami yang bermasalah. Asap dan kawan-kawannya mengangguk-angguk mencoba memahami uraian yang bagi mereka sama sekali baru tersebut. sehingga membuat cuaca menjadi sedikit remang-remang. . maka komunikasi dengan Penghuni Hutan dan Gunung tidak dapat berlangsung.” Kemudian Ki Gisang dan Ki Tampar mulai menyalakan tongkattongkat yang berupa obor. Jika hanya salah satu kode saja dan tidak berurutan. Karena permasalahan yang kita hadapi adalah panas dalam hal ini saudara yang sakit ini.” jelas Ki Gisang. termasuk yang sakit sampai tidak dapat berkata apa-apa.” Cerita yang menarik tersebut membuat Asap dan kawan-kawannya. ”Ini adalah kode kedua yang harus dilakukan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mengambil kitab tersebut serta mempelajarinya. maka kami akan datang waktu subuh.” tambah Ki Gisang. ”Itu tandanya bahwa Penghuni Hutan dan Gunung telah melihat pesan kita. Memekakkan telinga sehingga semua yang mendengarnya harus menutup telinganya. Suatu cerita yang mereka belum pernah sekalipun mendengarkan atau membayangkannya. Saat itu matahari sudah mulai turun. Saat Ki Gisang hendak melanjutkan. terdengar suara semacam suling yang melengking tinggi dan rendah berganti-ganti.” kata Ki Tampar menjelaskan. melihat muka-muka penuh tanda tanya dari Asap dan kawan-kawannya.” ”Dan urut-urutannya juga menjelaskan apakah kami yang bermasalah atau orang luar yang kami ingin bantu. memantulkan sekaligus membiaskan tongkat-tongkat yang merupakan obor. untuk terlebih dahulu memasang obor sebagai simbol api.

lelah nanti pasti. ia belum berani mencarinya. Untuk melenyapkan kecurigaan bahwa ia mempelajari jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah tiada itu.23 ”Kita masih punya banyak waktu. agar selanjutnya dapat langsung mempelajari kitab tersebut. Setelah setahun hanya melatih tenaga inti yang diberi oleh Ki Tilu pada akhir hayat kepadanya. Ki Tampar pun tertawa kecil sambil berkata. Karena alasan yang dipikir jelas itu.” Ki Gisang pun mengangguk setuju dan mempersilakan Ki Tampar untuk melanjutkan cerita yang telah dimulainya tadi.” jelas Ki Gisang. agar ia menjadi sehat dalam melaksanakan tugasnya. Hitungan ini bukan saja untuk melenyapkan kecurigaan juga untuk memberi waktu tubuh Ki Makam agar terbiasa dengan tenaga inti hasil operan Ki Tilu. ”Ada yang ingin mendengar kelanjutan ceritanya?” Dan semua pun mengangguk. biasanya Penghuni Hutan dan Gunung dapat merasakan apa permasalahannya dan sedang memikirkan cara memecahkannya. Biasanya ia akan datang langsung dengan obatnya dalam kasus ini. ”baiknya aku saja yang cerita kakang. Orang yang terpukul oleh jenis pukulan ini tidak akan terlihat memar di . Jika kakang terus yang bicara. Ki Makam memohon pada Perguruan Atas Angin. Ki Makam memperoleh ijin dan dilatih oleh murid-murid tingkat bawah. Sesuai dengan pesan Ki Tilu. agar diajari sedikit ilmu menjaga kesehatan tubuh dan kanuragan. Sementara itu walaupun tidak berhasil memperoleh Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa warisan dari Petapa Seberang. yaitu Ki Jagad Hitam. yang merupakan guru dari Perguruan Atas Angin. memiliki kecerdikan yang sangat. Untuk Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. setidaknya tunggulah sampai sepuluh tahun. Ia menyuruh orang-orang bekas Perguruan Angin dan Embun untuk menunjukkan cara berlatih mereka dan kemudian dipelajarinya untuk kemudian digabungkan dengan ilmu kanuragan ciptaanya. Suatu pukulan yang amat jahat. yaitu Jurus Pukulan Perusak Isi Perut. biar kakang masih ada nafas nanti saat Penghuni Gunung dan Hutan tiba. akan tetapi salah seorang dari luar. Ki Makam baru berani untuk memperaktekkan sedikit-sedikit gerakan yang dipesankan.

sehingga adanya jurus-jurus tingkat tinggi tak akan disadari. apa itu gerakan yang kamu buat? Tak kenal saya posisi itu. walaupun baru tingkat dasar. Untuk menutupi latihannya Ki Makam hanya melatih jurus-jurus Udara. hati. Masih ada dua tingkat lagi dan Lingkaran Dalam yang merupakan tingkatan di atasnya. kakak Gajah. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU luarannya. pada suatu latihan. akan tetapi pemahaman mereka akan Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa sudah tinggi sehingga pukulan jenis ini tidak lagi memiliki arti. setelah menyadari bahwa ia bukan melakukan yang diminta. dengan tak sengaja. Api. Apabila saat ini Ki Patuh dan kelima muridnya masih hidup. Terlebih bahwa ia tanpa sadar melakukan jurus-jurus asli yang tingkatan sebenarnya lebih tinggi dari jurus-jurus yang diajarkan oleh Gajah Duduk.” kata Ki Makam sambil terkejut. jantung. masih disimpannya di dalam hati. Adalah suatu kejadian lucu di mana Ki Makam lupa untuk tidak memperlihatkan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. Ngaco kamu!” ”Maaf. atau minimal pingsan terkena kembangan baru tenaga inti dari Pukulan Perusak Isi Perut dari Ki Jagad Hitam ini. Dengan memperhatikan bagaimana jurus-jurus Udara. Dan akan meninggal dalam hitungan jam. Jurus ini dulu tidak mempan terhadap Ki Patuh dan kelima muridnya.. karena walaupun mereka tidak bisa ilmu kanuragan. Murid-murid tingkat satu adalah murid-murid dengan . Jurus-jurus lain yang telah dibisikkan oleh Ki Tilu di saat sekaratnya. Gajah Duduk. maaf..24 BAGIAN 1. ”Makam. sehingga ia mendapat teguran dari salah seorang pelatihnya. akan tetapi rusak isi perutnya. Api. paru-paru. Tanah dan Air dilakukan. Mulai saat itu Ki Makam lebih berhati-hati untuk tidak. Tanah dan Air yang telah diajarkan oleh murid-murid Perguruan Atas Angin. Untung saja Ki Makam diajar oleh murid-murid tingkat bawah. melakukan jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun. mungkin mereka dapat terluka dalam. Sepuluh tahun telah berlangsung dan tak terasa Ki Makam telah mencapai tingkat ketiga dari murid-murid Perguruan Atas Angin. Ki Jagad Hitam dapat menarik sari-sari ilmu tersebut ke dalam inti jurusnya.

Sedangkan murid-murid tingkat empat dan lima merupakan pekerja-pekerja kasar. delapan orang empat unsur atau langsung berenambelas. Api. dibatasi hanya enambelas orang. Hanya sang guru Ki Jagad Hitam yang dapat menanggulangi keenambelas orang ini sekaligus. Keempatnya memiliki kemampuan yang seimbang.25 pemahaman baik semua jurus ajaran Ki Jagad Hitam. Tanah dan Air. sedangkan orang yang kalah harus menjadi murid tingkat satu. Ia berlatih hanya untuk menutupi latihan sebenarnya. Bila murid-murid tingkat satu dapat mengalahkan salah seorang dari Lingkaran Dalam ini. yang mendapatkan latihan khusus dalam keempat unsur rampasan dari Perguruan Angin dan Embun. sedangkan lingkaran dalam. Oleh karena itu ia memposisikan dirinya pada murid-murid tingkat tiga. untuk itu empat posisi diperebutkan oleh hampir duapuluh orang murid tingkat satu. Keanggotaan dari enambelas orang ini dipertahankan melalui suatu ujian tingkat. empat orang satu unsur. maka posisi tersebut dimilikinya. yang juga guru pertamanya. keenambelas orang ini dapat pula memainkan serangan kelompok. Dengan pengetahuan ini. Tidak banyak murid tingkat satu yang ingin menjadi Lingkaran Dalam. yaitu jurus-jurus asli dari Perguruan Angin dan Embun yang telah hancur. yaitu Penjaga Udara. Masingmasing penjaga terdiri dari satu kelompok yang beranggotakan empat orang. Pernah terjadi sampai empat orang Lingkaran Dalam terluka dalam latihan dan lumpuh. tetapi hal itu tidak dilakukannya. Setelah sepuluh tahun berlatih secara diam-diam Ki Makam dapat dengan jelas melihat kekurangan-kekurangan penerapan jurus-jurus asli pada ilmu-ilmu ajaran Ki Jagad Hitam. aman di tengah-tengah. Ki Makam sebagai seorang murid tingkat tiga tidak berantusias untuk menjadi murid tingkat satu atau bagian dari Lingkaran Dalam. Dengan semakin . ia dapat dengan mudah naik menjadi murid tingkat dua bahkan satu. karena resikonya adalah mati dalam perebutan posisi itu dan juga latihan-latihan keras untuk meningkatkan ilmu supaya bisa kompak dengan anggota Lingkaran Dalam yang lainnya. Karena murid tingkat satu adalah muridmurid yang paling dipercaya dan mendapat banyak tugas. Sekarang yang sedang dipikirkannya adalah bagaimana cara mencari Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa seperti yang dipesankan oleh mendiang Ki Tilu kepadanya.

Walaupun Naga Seni sendiri tidaklah seorang yang haus akan ketenaran. memang murid-murid Perguruan Atas Angin lebih unggul. Mereka ini datang dalam keadaan yang menyedihkan. akan tetapi di luar arena. akan tetapi dalam suasana persahabatan. melabrak murid- . yaitu apabila kita berharap dan dengan sabar menanti sambil selalu mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa. luka-luka dan sakit. Dalam acara tersebut memang terdapat acara pertandingan ketangkasan kanuragan. lalu memanggil saudara-saudara seperguruannya untuk membalaskan kekalahannya. Sang guru dan Lingkaran Dalam umumnya banyak berlatih dan menyepi. Kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Ki Makam pun tiba. akan semakin sulit tugasnya. seorang seniman dan juga ahli kanuragan terkenal dari Paparan Karang Utara. Memang benar dikatakan orang. Dan tanpa malu-malu mereka melaporkannya pada Naga Seni. Penjuru Angin. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU banyak murid-murid Perguruan Atas Angin. Bisa dibayangkan betapa lihainya mereka. Dari mutu ilmu kanuragannya. sang guru. bahkan menambah rasa malu mereka. Memang pada dasarnya darah muda. Mendengar ini. akan tetapi sifatnya yang selalu membela murid-muridnya ini membawanya pada banyak ajang perkelahian. tanpa melakukan telaah lebih dulu. dan tiga puluh lima murid tingkat dua yang akan merupakan permasalahannya. langsung saja Naga Geni dan kedelapan murid utamanya. salah seorang murid Perguruan Kapak Ganda dikalahkan oleh murid Perguruan Atas Angin. maka penantian akan membuahkan kesempatan untuk mencapai harapan. Pada suatu hari datanglah serombongan orang yang merupakan murid-murid tingkat dua yang telah keluar dari perguruan dan kembali kepada pekerjaannya semula. bahwa mereka dihina oleh Perguruan Atas Angin.26 BAGIAN 1. karena umumnya mereka tidak diijinkan keluar dari perguruan jika tidak memiliki tingkatan setidaknya tiga atau dua. hanya dua puluh murid tingkat satu. Peristiwa itu pun bermula dari bersuanya murid-murid Perguruan Atas Angin dengan Perguruan Kapak Ganda di suatu perhelatan. dan ini membuatnya tidak terima. dan juga sang guru. Jadi serangan ketidakpuasan murid-murid Perguruan Kapak Ganda tidak membawa hasil. Mereka ini ternyata telah memperoleh serangan dari Perguruan Kapak Ganda pimpinan Naga Seni. Walaupun dengan tingkatannya.

Setelah ditetapkan bahwa semua murid tingkat satu dan dua akan ikut untuk membalaskan kekalahan itu. Setelah dapat memperoleh kitab-kitab tersebut. Ki Makam sempat bingung karena di tempat yang dipesankan Ki Tilu untuk mengambil kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa. Sekarang hanya tinggal saatnya menunggu malam untuk keluar dari sana. Menjadikan mereka bulan-bulanan. menandakan amarahnya sudah membangkitkan tenaga inti dari Pukulan Perusak Perutnya. terdapat pula tiga buah kitab lainnya. sedangkan Lingkaran Dalam diminta untuk berjaga-jaga di belakang. Kesempatan ini tidaklah disia-siakan oleh Ki Makam. Ki Makam bergegas kembali ke rumahnya dan mengambil perlengkapannya. Rombongan yang seakan-akan akan pergi perang itu melingkupi hampir delapan puluh orang. telah siap untuk berangkat. Buntut dari peristiwa itu membuat Ki Jagad Hitam bak kebakaran jenggot. berkemaslah ia juga untuk mengambil Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa yang disembunyikan di suatu air terjun Air Jatuh tak jauh dari pemakaman. dan menyuruh mereka pulang dan melapor pada Ki Jagad Hitam.27 murid Perguruan Atas Angin. yaitu Petapa Seberang. Mukanya yang sudah hitam terlihat menjadi semakin hitam. jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka juga dapat muncul. Tak lama setelah rombongan berangkat. Setelah berpesan pada murid-murid tingkat tiga dan di bawahnya untuk baik-baik menjaga perguruan. Bila dalam keadaan demikian tak ada seorang pun yang berani membantahnya. Mengingat bahwa kitab-kitab tersebut juga warisan dari guru dari kakek gurunya. . Tempat itu sebenarnya bukan apa-apa. Diambilnya semua kitab-kitab tersebut. sehingga boleh dikatakan Ki Makam tidak memiliki kesempatan. hanya saja sering dijadikan tempat menyepi dari Lingkaran Dalam dan Ki Jagad Hitam. bahwa Perguruan Atas Angin tidak ada apa-apanya dibandingkan Perguruan Kapak Ganda. pergilah mereka dengan keyakinan akan kemenangannya. dengan alasan masuk ke daerah tersebut untuk memeriksa dan karena kebetulan yang menjaga adalah murid tingkat empat dan lima sehingga Ki Makam tidak mengalami banyak masalah.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa kembali datang. Akhirnya terlihatlah ia bahwa posisi suatu prasasti di Air Jatuh tidak seperti keadaan semula. di mana di sisinya terdapat liang seperti tempat menyimpan sesuatu. dari guratan-guratan yang ditimbulkannya di atas batu. Maka dengan seksama ia mencari-cari di rumah Ki Makam dan di Air Jatuh. jika saja seorang murid yang menjaga Air Jatuh tidak terlepas omong bahwa Ki Makam pernah mampir ke sana. ”Di masing-masing sisi lubang ini. Di bekas tempat dudukan semula prasasti yang berukuran sebesar kerbau itu terdapat lubang kecil.28 BAGIAN 1. Kepergian Ki Makam sebenaranya tidak akan menerbitkan kecurigaan. pada masing-masing liang terdapat empat kitab peninggalan Petapa Seberang. melainkan hanya menggesernya. Dengan dalih ingin segera menolong. Dalam hal ini Ki Makam belum cukup kuat untuk mengangkat prasasti itu. Sedangkan Ki Jagad dengan hanya satu tangan dapat mengangkatnya dan meletakkan di tempat sejauh tiga langkah dari tempat semula. Prasasti yang menggambarkan bagaimana keadaan desa itu sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan di sana. ke arah Gunung dan Rimba Hijau. Ki Makam segera berangkat akan tetapi tidak ke arah utara menuju Paparan Karang Utara. Awalnya Ki Jagad Hitam tidak merasa ada kaitan antara dua peristiwa tersebut. Tapi naluri kecerdikannya mengisyaratkan adanya sesuatu di antara kedua peristiwa tersebut. yaitu hilangnya Ki Makam dan masuknya ia ke Air Jatuh sebelumnya. Yang menemukannya berjodoh untuk mempelajari dan mengamalkannya. apa yang bisa disimpulkan di sana. karena banyak di antara murid-murid Perguruan Atas Angin yang tewas dalam pertempuran itu sebagai ganti punahnya Perguruan Kapak Ganda.” Seakan ingin meletus kepala Ki Jagad Hitam membaca tulisan terse- . Pada malam itu hujan turun dengan derasnya ditambah kabar bahwa Ki Jagad Hitam dan Rombongannya mengalami pertempuran yang seimbang sehingga butuh bantuan seluruh murid. tanpa kehilangan napas. Prasasti tersebut terlihat pernah digeser. melainkan ke timur. Setelah dibantu oleh hampir seluruh muridnya Ki Jagad Hitam akhirnya dapat memperoleh kemenangan. Bagai tak percaya Ki Jagad Hitam membaca tulisan di dasar lubang tersebut.

”Dia harus di cari guru. yang telah .” ucap yang lain. sedangkan guru hanya mencari satu kitab bukan?” tanya seorang dari Lingkaran Dalam.” duga seorang dari Lingkaran Dalam. di sini tertulis empat kitab.29 but. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah.” sahut beberapa orang yang telah membalik prasasti sebesar kerbau bersama-sama itu sehingga alasnya terlihat. Akan tetapi sayangnya Ki Makam bagai hilang ditelah bumi. Tempat itu sering digunakannya bersamasama dengan Lingkaran Dalam untuk berlatih. semacan ilmu kebal dan buku obat-obatan. ”lebih baik kita cari tahu dulu apa tiga kitab lainnya agar tidak dapat nanti Makam membohongi kita bila tertangkap. Kitab Jaga Kesehatan dan Jiwa yang dicari-carinya. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. Sampailah pada suatu saat Ki Makam bertemu dengan seorang anak kecil yatim piatu yang memiliki tulang dan watak yang bagus.” ”Kelihatannya kitab-kitab ini untuk mengolah tenaga inti. sama sekali tidak ada jejaknya.” ”Di sini ada tulisan guru. ilmu meringankan tubuh. ”Makam si penghianat. ”Maaf guru. Dia beri nama anak itu Tapa menggantikan nama sebelumnya. bahkan prasasti itu sering digeser-geser. ”Hmm. ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. Mulai saat itu seluruh murid Perguruan Atas Angin diperintahkan untuk mencari Ki Makam untuk merebut kembali keempat kitab pusaka tersebut. sehingga dahulu lubang tersebut tidak tampak. ”Betul guru!” sahut lainnya.” geramnya. betul juga. berada di bawah kakinya sendiri.” kata Ki Jagad Hitam. pusaka-pusaka ini adalah milik kita. harus kita cari dia dan juga kitab-kitabnya itu. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan. walaupun tidak sejauh hari ini.

Dan menghembuskanlah Ki Makam nafasnya yang terakhir. Seperti telah diceritakan sebelumnya. akan tetapi alih-alih orang tersebut yang terlihat auranya. sehingga sampailah ia di Desa Luar Rimba Hijau ini. berpesanlah ia bahwa Tapa harus menyimpan baikbaik keempat kitab pusaka tersebut. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU dilupakan oleh anak itu. Sontak saja mereka kaget. Akan tetapi secara tidak sengaja salah seorang murid mencoba melatihkan Ilmu Pandang Terawang yang ditujukan sebenarnya pada seorang di sebelah Ki Tapa. yang khusus digunakan untuk mencari orang-orang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Sebenarnya tidak ada niatan dari murid-murid Perguruan Atas Angin tersebut untuk memperhatikan seorang tua renta dengan baju kasar dan sederhana itu. Setelah ia merasa tiba waktunya. dan bergegas menangkap Ki Tapa. malah aura Ki Tapa yang terlihat sebagaimana dijelaskan sebagai aura seorang pengamal Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa.30 BAGIAN 1. melalui pengamatan auranya. Ia boleh menggunakan kemampuannya hanya di saat-saat terdesak saja. membuatnya lebih memilih kabur ketimbang bertempur. lalu mengapa sekarang Ki Tapa perlu sembunyi di Gunung Hijau dan hutan Rimba Hijau di timur? Hal ini sebenarnya adalah suatu kecerdikan dari mendiang guru Perguruan Atas Angin. tapi Ki Tapa masih bukan lawan mereka. Akan tetapi sifatnya yang tidak suka kekerasan. Ki Makam pun melatih Tapa dengan giat sehingga hampir seluruh kemampuannya dapat diturunkan pada anak itu. Adalah kesialan bagi Ki Tapa yang di masa tuanya memutuskan untuk merantau dan dalam perjalanannya secara tidak sengaja bertemu dengan murid-murid Perguruan Atas Angin. setelah . di mana ia setelah mengobrak-abrik Air Jatuh. Dengan kecerdikannya dan sisa umurnya Ki Jagad Hitam menciptakan Ilmu Pandang Terawang. memperoleh catatan-catatan lain bagaimana orang dapat mengetahui apakah orang lain memiliki Tenaga Inti Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Walaupun telah tua renta. Ki Jagad Hitam. mungkin juga bukan lawan Ki Jagad Hitam apabila masih hidup. Ia hanya ingat sering dipanggil ”Gembel” oleh orang-orang di sekitarnya. Dan ilmu ini diturunkan pada anak-muridnya. Melihat dari keadaan tersebut dapatlah dikatakan bahwa keberadaan keempat kitab pusaka tersebut benar-benar boleh dikatakan tidak diketahui.

”Ya. Gisang?” ”Mereka dari Pinggiran Sungai Merah. Para anggota rombongan pun bergegas bangun. di hadapan mereka. Ki Tapa. Tak lama kemudian terdengar lagi suara seruling. dan mungkin saja ada salah satu dari rombongan ini yang akan menjadi penerus mereka. ”Wah ramai sekali di sini.” sambut Ki Tampar. rendah dan cepat lambat. akan tetapi dengan nada yang berbeda.” katanya sambil menunjuk Asap dan menggapainya supaya berbicara pada Ki Tapa. ”dan siapa orang-orang ini. ”Saya. umumnya penduduk desa tidak berminat pada pekerjaan ini. Tampar. Dan untuk itu mereka berdua diajarinya cara-cara berkomunikasi menggunakan portal atau gerbang batu ini. karena dibutuhkan kecerdikan dan juga kesabaran. Tak lama kemudian seakan-akan muncul dari asap. Asap dan kawan-kawanya mengangguk-angguk mendengar kisah yang benar-benar sama sekali baru bagi telinga mereka itu. Ki Tampar pun menarik napas lega setelah selesai menceritakan kisah ini. Ki Tapa. dan apabila mereka butuh bantuan dapat memanggilnya. Ki Tapa. Mereka masih terdiam berusaha meresapi kisah yang bagi mereka itu amat menakjubkan. ”Ia datang.” sahut Ki Gisang.” sahut Asap hormat. tampaklah seorang tua. yang sudah terlihat amat tua akan tetapi masih berjalan dengan ringannya. ”saudara Asap pemimpin rombongan. berlakulah hormat. ”Mengapa orang-orang Pinggiran Sungai Merah bisa terkena Racun Hitam Panas ini? Bukankah di wilayah kalian tidak kadal gurun yang dapat menyebabkan racun itu?” tanyanya.” katanya riang. Ia dan Ki Gisang telah berpuluh tahun menjadi penghubung. Ki Tapa memilih dua orang yang akan diangkatnya sebagai penghubung. .31 mendapat restu dari kepala desa dan meminta agar hutan dan gunung tidak dimasuki. juga si sakit berusaha duduk sambil menunggu orang yang dinanti itu mendekat.” kata Ki Gisang.

”luka itu diperoleh saudara ini saat pergi ke Gurun Besar untuk mencari obat bagi saudaranya. Setelah berada kira-kira dua puluh langkah dari sana dalam satu kali tindakan saja. Obat berhasil diperoleh. Gisang. tapi belum bisa kutebak berasal dari Racun Hitam Panas atau Racun Merah Membara. Dari jauh sudah kurasakan adanya panas.32 BAGIAN 1.” gapainya pada kedua orang tersebut. ”Sebaiknya kalian tinggal dulu untuk sementara di desa itu.” sahut ketua rombongan itu dengan penuh syukur.” katanya. Telebih tampak pada wajah si sakit. Mereka telah lama . Tidak ada yang memberi jawaban atau bereaksi atas ucapan itu. Hal yang sama juga terlihat dari anggota rombongan yang lain. Tak baik bila si sakit terlalu lelah dalam perjalanan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Benar Ki Tapa. bener-benar banyak ucap.” ”Pilihan yang bagus. ”Bagiamana menurut kalian Asap itu?” ”Baik Ki.” sahut Ki Tampar. yang ahli obat-obatan. ini sudah kubuatkan obatnya. untung aku membawa kedua penawar tersebut. Kami sudah mencoba menahannya dengan telur kelabang dan ludah cacing. ”jika sudah sembuh benar. ”Sudahlah.” ”Hmm. tapi bagaimana kalian tahu aku ada di sini?” ”Di dunia persilatan sudah terdengar kalau Ki Tapa adalah pewaris dari Petapa Seberang.” jelas Asap. Saat ia mengambil obat tersebut.” sahutnya kurang senang. tapi ia tidak tahu bahwa di dalam tasnya bersembunyi seekor kadal gurun. aku ingin bicara sebentar. digigitlah tangannya. saya juga setuju. berkatalah Ki Tapa. barulah pergi. orang-orang Perguruan Atas Angin.” sahut Asap mewakili teman-temannya. tanpa berbicara.” ”Baik Ki. ”Tampar. Ki Gisang menggangguk pula.” ”Terima kasih Ki.

bahwa ada suatu malam datang seorang berilmu tinggi yang menerangkan apabila ingin sembuh.” ”Temuilah Ki Tapa di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. Mereka berdua tidak mau karena menyadari kemampuan mereka yang tidak mumpuni. ”dulu saudara mengatakan bahwa temanmu itu terkena semacam sakit ingatan yang aneh. dan engkau malah mengatakan bahwa engkau mengetahui keberadaaan Ki Tapa dari orang-orang persilatan. Dalam perjalanan pulang menuju Desa Luar Rimba Hijau.” ”Baik Ki. Kemudian lenyaplah Ki Tapa dan kembalilah rombongan dari Pinggiran Sungai Merah itu kembali ke Desa Luar Rimba Hijau untuk beristirahat dan malam pun semakin larut yang diwarnai dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan merdu.” kata Ki Tapa kembali. saat si sakit sedang dalam pengobatan. selain sebagai penghubung. Bukannya dari si sakit sendiri?” tanya Ki Gisang kembali. ”ini pun menurut dia. dan bagaimana . Kemudian menjelaskan pula orang itu di mana letak Rimba Hijau dan Gunung Hijau. karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. ”Lalu mengapa tidak kau ceritakan hal itu kepada Ki Tapa. ”tolong cari keterangan apa dan bagaimana jati dirinya. Dialah satu-satunya pewaris Petapa Seberang. pada suatu ketika.” sahut mereka hampir berbarengan. harus mencari obatnya di sini. yang ahli obat-obatan tiada taranya di dunia persilatan.” ”Benar Ki Gisang.” lanjut orang itu. di Rimba Hijau dan Gunung Hijau. di mana ia seperti gila akan tetapi dapat memberikan arah di mana obat untuk penyakitnya dapat diperoleh. Ki Gisang bertanya kepada Asap. ”Baiklah kalau kalian setuju. ”Sebenarnya.” jelas Asap. sambil lalu menjelaskan bahwa racun yang mengenai orang itu disebut sebagai Racun Hitam Panas.” jawab Asap dengan hormat.33 mendapat pesan dari Ki Tapa untuk mencari orang yang dapat dijadikannya ahli waris. ”Saudara Asap.” katanya. Mintalah obat kepadanya.

Setelah rombongan tida di rumah yang disediakan buat mereka dan si sakit menerima pengobatan seperti yang dipesankan oleh Ki Tapa. Asaplah yang ditugaskan sebagai ketua rombongan. Dan malam pun semakin larut. dan kemudian menekankan bahwa ia ingin ke Rimba dan Gunung Hijau untuk mencari obat bagi dirinya. beristirahatlah seluruh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. maka si sakit sering meracau mengenai Ki Tapa dan Rimba Hijau serta Gunung Hijau. *** Pagi yang cerah bagi penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Sambil tak lupa berpesan agar terlebih dahulu minta ijin pada orang-orang Desa Luar Rimba Hijau sesampainya di sana. Lalu lanjut Ki Tampar. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU cara mencapainya dari Desa Pinggiran Sungai Merah. Kejujuran merupakan salah satu prasyarat bagi orang yang akan menjadi murid Ki Tapa. ”Bila engkau bertemu kembali dengan Ki Tapa. mengapa perkataan sekecil itu menjadi berarti bagi orang-orang ini. Mungkin ada pesan tersembunyi dari orang berilmu tinggi tersebut kepada Ki Tapa. Karena keadaannya yang setengah sadar akibat terkena Racun Hitam Panas. Mungkin juga bukan apa-apa. Pun saat ditanya.34 BAGIAN 1. Terbersit rasa bingung dalam hatinya. karena merekalah yang akan menjadi penghubung dengan Ki Tapa. hanya saja lupa mengatakan perihal ini kepada Ki Tapa. yang baru saja kamu ceritakan kepada kami. Mendengar cerita itu baik Ki Tampar maupun Ki Giasang menganggukangguk. Seperti biasa .” Asap mengangguk-anggukkan kepalanya. Sampai akhirnya kepada Desa Pinggiran Sungai Merah memutuskan untuk mengikuti pesan si sakit untuk pergi ke Rimba dan Gunung Hijau. awal-awalnya ia dapat menjawab dengan baik. sebagaimana halnya pula penghuni Desa Luar Rimba Hijau. Dan kemudian kesunyian pun mengisi perjalanan itu sampai ke Desa Luar Rimba Hijau. ceritakan hal tersebut. pikirnya. seakan-akan tiada hal lain yang dipikirkannya. Untuk sementara disimpannya dulu kebingungannya itu. Mereka lega karena Asap tidak berbohong. Selain pula untuk mengatakan sejujurnya apa yang menyebabkan kamu dan rombonganmu dapat ke sini.

Juru Karya dan Juru Cipta. karena harga-harga akan menjadi mahal. Juru Dagang. Mereka tampak sedang berbincang-bincang sesuatu. bekerja untuk melangsungkan kehidupan mereka. walaupun hal tersebut jarang sekali terjadi. setelah orang-orang yang bekerja sebagai petani pergi ke sawah atau ladangnya. juga membantu para petani dalam membuatkan alat-alat yang dapat meningkatkan efesiensi dalam bercocok tanam. selain meningkatkah nilai tambah hasil-hasil pertanian. Ini karena Desa Luar Rimba Hijau tidak memiliki sesuatu yang membuat orang-orang dari luar desa ingin menguasainya. Terlalu sering akan amat tidak menguntungkan. terdapat semacam pamong desa yang bertugas untuk mengatur tata kehidupan dari masing-masing kelompok tersebut. Para pedagang membatu menjualkan hasil-hasil pertanian. Untuk mengatur agar tidak terjadi pertentangan di antara para petani. pengrajin dan adat-istiadat yang berkiatan dengan peribadatan. untuk memeriksa tanamannya atau sekedar mengairinya. Di luar dari keempat kelompok juru tersebut terdapat pula semacam kelompok yang bertugas menjaga keamanan desa dari serangan-serangan luar desa. pedagang dan pengrajin. Dan pagi itu. Selain itu ketentraman desa itu juga terjaga dikarenakan letak desa yang terpencil dan jauh dari desa-desa lain. dan pengrajin.35 para penghuni mulai bersiap-siap untuk melakukan rutinitasnya. Jika dihubungkan. Penduduk desa tersebut umumnya memiliki mata pencaharian bertani. beberapa orang yang berprofesi sebagai pedangang tampak berkumpul di dekat suatu pohon dekat dengan balai pertemuan desa. Di desa itu terdapat empat orang yang dikenal sebagai juru. baik bagi mereka para pedagang sendiri ataupun bagi pembelinya. di Desa Luar Rimba Hijau itu. Ketiga pekerjaan ini sebenarnya salinglah berkaitan satu sama lain. untuk menutupi lelahnya perjalanan yang jauh tentunya. Oleh karena itu para pedagang biasanya hanya pergi ke luar desa sekali tiap dua kali bulan purnama muncul. Umum- . Di atas keempat juru atau ahli tersebut terdapat Kepada Desa yang bertugas menjaga ketentraman sosial dari warganya. akan tetapi ada juga beberapa yang bekerja sebagai pedagang dan pengrajin. Masing-masing berurusan dengan kelompok para petani. maka Ki Gisang dan Ki Tampar termasuk dalam bagian kelompok yang dipimpin oleh Juru Cipta. atau ahli dalam bidangnya. yaitu Juru Tani. pedagang.

kemeriahan pembicaraan bertambah dengan adanya rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang sedang berdiam untuk sementara di desa itu. Boleh berdagang akan tetapi sewajarnya. kita paranin saja. ”Benar usulnya itu. bahwa para anggota rombongan itu perlu didekati untuk mencari tahu apakah mereka dapat menjadi pelanggan dari para pedagang itu. sudah tentu dapat mejadi langganan baru bagi para pedagang tersebut. karena di arah yang berbeda terdapat kota-kota atau desa-desa yang berbeda yang dapat merupakan tempat untuk menjual dan membeli barang-barang kebutuhan. Ia menasehati bahwa janganlah suasana perdagangan yang hanya mementingkan keuntungan di bawa ke dalam desa. kita coba datangi saja mereka. Kemudian terlontar usul-usul lain yang pada intinya bermakna sama. mereka berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut perdagangan mereka. Ki Surya.” sambut Ki Rabat. Apalagi jika mereka dapat pula menceritakan apa-apa yang dapat dijual dan dibeli di Desa Pinggiran Sungai Merah. Kejadian seperti itu sudah seperti biasanya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU nya mengenai apa yang dapat dijual ke luar desa dan apa yang dapat nanti di bawa kembali ke desa untuk dijual kepada penduduk di sini. ”Sudah. Jika para rombongan itu membutuhkan sesuatu dan mereka masih lama berdiam di desa ini. dalam rangka mencari informasi apa-apa saja barang kebutuhan yang mereka perlukan.36 BAGIAN 1. Umumnya terdapat sekitar empat kelompok pedagang yang akan pergi keluar desa ke arah empat penjuru mata angin.” usul seorang pedagang yang dikenal sebagai Ki Untung. sebelum mereka pergi ke luar dari desa. Para pedagang umumnya merasa sungkan pada Ki Surya. Tiba-tiba diskusi itu berhenti karena lewatlah sang Kepala Desa. Akan tetapi hari itu. jangan sam- . Suatu desa yang belum pernah dicapai para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau ini. karena ia sering kali mengingatkan mereka untuk tidak terlalu banyak mengambil untung dari para penduduk desa. guna mengobati anggotanya yang sedang sakit. Toh mereka pasti senang jika diajak berbincang-bincag. Para pedagang itu berdiskusi apakah ada baiknya untuk berbicara sesekali dengan anggota rombongan tersebut. seorang yang disegani di desa itu karena kearifannya.

”lakukanlah!” ”Terima kasih Ki Surya. para penduduk mengadakan perayaan. ”Ah. Dan keluargakeluarga mereka juga petani di desa ini.” ”Lalu apa yang sedang kalian perbincangkan? Terlihat amat menarik dari kejauhan. ”Selamat pagi. ”untuk berbincang-bincang dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah. sudah tentu dengan potongan sebagai ongkos perjalanannya. Lalu tanyanya pada Juru Dagang. mengingat hasil panen dan kerajinan belum cukup berlebih untuk diperdagangkan. ”Selamat pagi. karena kami bersepakat untuk mengundurkannya. Menjajagi apa-apa yang ada di sana dan siapa tahu ada yang bisa didagangkan dengan mereka. ”masih satu bulan lagi. di mana pada saat itu semua penduduk berkumpul untuk saling melakukan kegiatan perekonomian. semua. ”ada apa ini Ki Murah? Akankah ada lagi perayaan sebelum perjalanan ke luar desa?” Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebelum para pedagang keluar dari desa menuju keempat mata angin. karena ia tahu tidak ada lain yang menjadi pembicaraan para pedagang kecuali barang dagangannya.” jawab Ki Rabat melihat bahwa Ki Murah agak sungkan menjelaskannnya kepada Ki Surya.” sapa mereka hampir bersamaan. untuk itu belum Ki Surya.” balas Ki Surya dengan ramah. sambil memperhatikan satu per satu wajah-wajah para warganya yang tergabung dalam kelompok pedagang ini.” kata Ki Surya.37 pai menimbulkan keributan. karena apa yang diutarakan oleh Ki Surya itu benar adanya. . Ki Surya. ”Ada usulan yang telah disepakati oleh kami. yang saat ini dipegang oleh Ki Murah. yang tidaklah mungkin mereka peras atau manfaatkan sehabis-habisnya untuk perdagangan mereka. Menukar-tukarkan hasil pertanian dan kerajinannya.” jawab Ki Rabat. Dan juga pesanan-pesanan yang dicatat oleh para pedagang untuk ditukarkan di kota atau desa lain dengan hasil-hasil pertanian dan kerajinan mereka. Dan para pedangang itu tunduk.” jawab Ki Murah tersenyum.” tanya Ki Surya setengah menggoda.” ”Usul yang baik itu.

ada perumahan.” jawab mereka serempak. perkebunan kering. sampai akhirnya. perkebunan basah. Akan tetapi untuk memastikan hal itu. Ia mengagumi sistem tatanan desa. ”Baik Ki Surya. dan juga sebagai petunjuk jalan. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”Akan tetapi jangan terlalu memaksa walaupun mereka bukan orang sini. membuat salah seorang anggota rombongan Pinggiran Sungai Merah. dapat ditemui adanya suatu barang yang kelihatannya dapat didagangkan antara Desa Luar Rimba Hijau dan Desa Pinggiran Sungai Merah.” mengingatkan Ki Surya lebih lanjut. beberapa orang dari rombongan ikut pulang ke desanya. Dan sebagai tanda kepercayaan. Saat ini mereka merupakan tamu-tamu kita. karena memang didasari oleh otak perdagangan yang kampiun. *** Beberapa hari pun berlalu dengan tenang tanpa ada kejadian yang berarti di Desa Luar Rimba Hijau. terciptalah suatu pembicaraan ngalor-ngidul yang menarik. yang di luarnya terdapat beberapa daerah yang diperuntukkan bagi keperluan yang berbedabeda. parit- . Kemudian berlalulah Ki Surya.38 BAGIAN 1. bahwa orang yang sakit sudah diobati dan sedang dalam tahap perawatan. Asap ingin berjalan-jalan mengelilingi luaran desa. Salah satu perjanjian dagang tersebut sudah tentu berkaitan dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Suatu pagi yang cerah. persiapan rombongan pedagang yang kali ini akan dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat telah mencapai tahap akhir. Masih ada beberapa perjanjian dagang yang belum selesai yang masih menunggu kepastian. melanjutkan perjalanannya memeriksa keadaan di sekeliling desa. Selain itu anggota rombongan yang pulang juga memiliki keperluan untuk menyampaikan kabar ke kepala desa Pinggiran Sungai Merah. Kelihatannya rombongan itu akan pergi dalam waktu kurang dari seminggu. Dan pada saat itu bergegaslah para pedagang beranjak menuju suatu rumah yang sedang dijadikan pondokan oleh rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. rombongan yang dipimpin oleh Ki Murah dan Ki Rabat perlu berkunjung terlebih dahulu ke sana. Setelah orang-orang dari kelompok perdagangan ini bertemu dengan orang-orang dari Pinggiran Sungai Merah.

Salah satu kebiasaan penduduk Desa Ujung yang tidak baik adalah cara mereka membuang kotoran. membuat mereka bersemangat untuk bercerita. Dan untuk menunjukkan keakraban tersebut.” jelas Ki Baja sambil berhenti untuk menerawang. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaaan bahwa cara hidup manusia kadang merusak tatanan alam yang telah alami tersebut. desa kami dikenal sebagai Desa Ujung. yaitu karena kandungan-kandungan tertentu dari kotoran-kotoran yang mereka buat ditambah dengan kondisi lingkungan sekitar Desa Ujung yang kondusif. mengingat-ingat cerita yang dulu diturunkan oleh nenek moyangnya. membuatnya kerasan. dan ini sudah merupakan aturan turun-temurun di desa ini. ”dahulu kala. Keakraban yang ditawarkan oleh suami istri ini. sebelum Gunung dan Rimba Hijau mejadi terlarang. Dari bincang-bincangnya dengan salah seorang penghuni desa yang kebetulan bertempat tinggal di sebelah rumah tempat ia dan rombongannya menginap. sebenarnya tidaklah terjadi pencemaran yang mengkhawatirkan sehingga bisa menimbulkan keracunan. Akan tetapi pernah suatu ketika terjadi wabah di desa ini. Hal lain terjadi. Mereka membuangnya langsung ke sungai sehingga mencemari sungai. Bagian terakhir ini digunakan sebagai padang rumput untuk memberi makan ternak seperti sapi dan kambing. karena toh tidak akan terjadi apa-apa. dan adanya seorang muda seperti Asap. Pada saat itu dengan menggunakan bahan-bahan yang masih alami. yang sebenarnya disebabkan oleh cara hidup yang kurang sehat dari penghuninya sendiri. sambil menghirup teh yang disajikan oleh Nyi Antini. Oleh karena itu tidak ada gunanya tatanan atau pembagian desa yang baik. paman Baja?” tanya Asap ingin tahu. Asap diminta untuk memanggil mereka paman dan bibi.39 parit melingkar dan tanah lapang luas. entah itu hasil keluaran tubuh. dijelaskan bahwa pembagian daerahdaerah di desa ini memiliki arti tersendiri. ”Jelasnya bagaimana.” Kehidupan Desa Ujung yang amat sederhana dan alami memberikan sentuhan keheningan dan kenyamanan bagi orang-orang yang mencintai alam. Jarang ada orang yang bertandang kemari. karena letaknya yang jauh dari mana-mana. sehingga dengan adanya rombongan yang tinggal di sebelah rumahnya. membuat sejenis . ”Begini nak Asap. atau hasil olahan dapur atau kerajinan. istri Ki Baja. Apalagi mereka tidak mempunyai anak.

Dan bila tidak baik bagi ternak. Dengan cara ini hasil panen dapat diolah menjadi bahan baku makanan yang dapat disimpan lama. sudah tentu tidak baik bagi pemilik ternaknya. dan sebaiknya para penghuni mulai memperhatikannya. dengan didahuluinya oleh hujan deras dan angin. Akibatnya sudah tentu fatal. dapat terbang bersama air dan angin. dan menggenangi semua lahan-lahan pertanian yang ada. Jika dahulu kala. sehingga Hamparan Hijau yang berada di sungai atau kobakan jauh dari desa Ujung. Akan tetapi hal itu tidak diperhatikan. Nenek moyang penghuni Desa Ujung telah mengetahui bahwa Hamparan Hijau tidak baik bagi ternak mereka. Orang lebih memperhatikan hasil bahan olahan yang diperoleh. terjadi pengolahan secara besar-besaran yang berakibat meningkatnya kotoran yang mencemari sungai. Bahaya yang akan muncul bila keseimbangan alam terganggu.40 BAGIAN 1. Sedikit demi sedikit. Alam mungkin sedang marah atau ingin memberi peringatan kepada mereka. akan tetapi pasti. Oleh karena saking gandrungnya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU organisma kecil semacam jamur dan ganggang dapat tumbuh dengan subur. Tanaman-tanaman tidak dapat dengan mudah dipanen. Menutupi air dan tanah lembab di sekitar desa. yang diperoleh dari luar desa. Harus dicuci bersih sebelum . Variasi apa yang dihasilkan. Karena adanya kesibukan baru. sehingga tidak lagi memantau perkembangan Hamparan Hijau. dan bagaiman ketahanannya dalam penyimpanan. karena sering membentang terhampar baik di atas air yang tenang maupun di atas tanah yang lembab. orang tidak akan menyadari bahaya yang siap mengincar setiap saat. dan membuanngnya jauh di luar desa. dan mereka hanya menghalaunya dengan menggunakan alat-alat pertanian. membuat mereka kurang alasan untuk jauh keluar dari desa. Pernah ada orang tua-tua yang mengatakan bahwa Hamparan Hijau di sekeliling desa bertambah banyak. Hamparan Hijau mulai berkembang. Akan tetapi hal ini dianggap sepele. Pada saat yang bersamaan orang-orang penghuni Desa Ujung sedang gandrung terhadap suatu pengolahan hasil panen menjadi makanan. sebelum aktivitas penghuni Desa Ujung sedemikian meningkat sehingga kotoran yang dihasilkan sampai membuat perkembangan Hamparan Hijau menjadi sedemikian ganas. ditambah juga dengan lokasi lahan-lahan pertanian yang terpusat di tengah desa. Orang menyebutnya Hamparan Hijau. Oleh karena itu ada larangan untuk memakannya. para penghuni desa jarang jauh keluar desa.

Akan tetapi selama hidupnya ia belum pernah melihat begitu luasnya Hamparan Hijau menyerang. sembari juga ia mempelajari alasan mengapa Hamparan Hijau sampai bisa tumbuh meluas seperti itu. tanpa ada orang tahu akan adanya desa itu. Hamparan Hijau dapat berkembang dengan pesat secara gila-gilaan. Tapi memang kehendak Yang Maha Kuasa tiada yang bisa menduga. mulailah penduduk membagi desa dalam daerahdaerah tertentu seperti yang saat ini. sehingga akan mengalir masuk ke dalam Rimba Hijau. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan bahwa kondisi lingkungan dari Desa Ujung yang dekat dengan rimba dan gunung itu memang kondusif untuk perkembangan Hamparan Hijau. Dengan tuntunan Petapa Lain Pulau. mengajak penduduk desa untuk mengubah desanya agar lebih sehat dan baik. suatu pintu air dapat dibuka. Dan sampah-sampah yang tadinya . Sedikit saja ada tambahan nutrisi di air dan tanah lembab. sedangkan yang berada di luar desa dibuang ke dalam Rimba Hijau. dapat dirancang sedemikian rupa sehingga jika terdapat Hamparan Hijau. yang minta dirinya dipanggil Petapa Lain Pulau. Hasilnya sudah pasti bisa diduga. Dan Hamparan Hijau yang berada di dalam desa dimusnahkan. Dan air untuk mencuci pun kebanyakan sudah tercemar. Dengan berbekal pengetahuan yang dimilikinya. Juga memberitahu perihal kelakuan Hamparan Hijau yang lebih ganas karena didukung oleh kondisi geografis setempat. orang itu mengobati penduduk desa. Akhirnya dengan terpaksa mereka makan makanan yang di dalamnya terkandung sari-sari dari Hamparan Hijau. dengan mengalihkan sedikit aliran sungai. pada saat kritis seperti itu datanglah seorang petapa yang menilik dari pakaiannya bukanlah orang yang berasal dari daerah di sekiling Desa Ujung. Tinggal menunggu waktu untuk binasa. dan mengenali dengan betul akibat keracunan yang ditimbulkan oleh Hamparan Hijau. Orang tersebut kebetulah adalah ahli pengobatan. Setelah seluruh penduduk Desa Ujung sehat kembali sang penolong tersebut. mungkin pula bukan berasala dari pulau yang sama. sampai hampir membinasan satu desa.41 dimasak. Terlebih desa tersebut memang jauh dari mana-mana. Keracunan yang menjangkiti hampir seluruh daerah tersebut membuat seakan-akan Desa Ujung telah sampai pada saat akhirnya. para penghuni Desa Ujung keracunan.

Dan Petapa Lain Pulau berpesan bahwa ia akan berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau. Akan tetapi Ki Tapa mengaku tidak mengenal atau pernah bertemu dengan Petapa Lain Pulau. tidak akan merusak keseimbangan alam di sana. Akan tetapi dari kisah Ki Baja. Dengan demikian pembuangan kotoran dari desa ke hutan. nak Asap bertanya langsung kepada Ki Tapa. Sebelum telah diceritakan bahwa ia dan rombongannya telah bertemu dengan Ki Tapa. saat terjadi peristiwa tersebut. Petapa Lain Pulau telah mengamati bahwa di dalam Rimba Hijau terdapat pula komunitas Hamparan Hijau yang tak kalah padatnya dibandingkan di sekitar desa. Ki Baja menarik napas panjang setelah bercerita.42 BAGIAN 1. Terlihat bahwa ia meskipun menikmati dalam melantunkan kembali kisah tersebut. Hal ini terlihat jelas dari wajahnya yang minta tanggapan. dialihkan ke dalam hutan. Tenaga kasar yang umumnya bertahan saat bertani. Untuk memperingati hal tersebut nama Desa Ujung diganti menjadi Desa Luar Rimba Hijau. Oleh karena itu mengajukan pertanyaanlah Asap mengenai hal tersebut. ”sejauh yang saya tahu Ki Tampar dan Ki Gisang pun pernah bertanya hal yang sama. ia dengan senang hati akan menolongnya. tidak sesuai untuk digunakan saat mengungkapkan suatu cerita yang panjang. bahwa Ki Tapa adalah penghuni Rimba dan Gunung Hijau. yang mengisyaratkan bahwa para penghuni desa hanya diperbolehkan di luar Rimba dan Gunung Hijau. ”Untuk itu ada baiknya. Asap yang sedari tadi mendengarkan dengan tekun. Apabila ada musibah yang terjadi di Desa Luar Rimba Hijau. penguni Rimba dan Gunung Hijau adalah Petapa Lain Pulau. melihat bahwa Ki Baja seperti ingin ditanya. Sejak saat itu rimba dan gunung menjadi terlarang. Dan dalam waktu ini kebetulan Asap memang memiliki pertanyaan. telah terbuang banyak tenaganya. dan juga menjadi lebih hijau dari sebelumnya.” Asap pun mencatat itu dalam hatinya. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU mencemari di sekitar desa. Akan tetapi tidak tampak dari luar.” jawab Ki Baja. Begitu pesannya. Bila ia ada kesempatan untuk . karena ditambah dengan kabut hijau yang kadang-kadang nampak membuat daerah tersebut menjadi lebih disegani untuk dimasuki. dan hal ini diceritakan pula oleh Ki Tampar dan Ki Gisang.

Mereka lebih suka membantu menyelesaikan permasalahan dan kemudian menghilang. bahwa kedamaian yang dicita-citakan haruslah diperoleh dengan pertumpahan darah. Baik keluarga yang ditinggalkan maupun para korban yang ditindas oleh para prajurit. sudah dipastikan akan dilakukannya. dirampas haknya. Kelompok yang memanggungkan konflik pertentangan berdarah. akan tetapi tetap disertai dengan rasa kemanusiaannya dan tidak terlarut dalam kekejaman dan kenikmatan menyaksikan pembantaian sesamanya. Membunuh demi kemanusiaan. demi kemanusiaan dan kedamaian. *** Orang yang belum melihat dan merasakan sendiri kejam dan brutalnya perang sudah tentu tidak akan dapat menikmati kesehari-harian yang amat ’biasa’ dan ’tenang’. dengan melayangnya nyawa. ditindas kemauannya. sudah merupakan anugrah yang me- . mencegah terjadinya perang kembali. Bila ia dapat turut serta dalam konflik tersebut. Berperang. bakat dan pikirannya untuk selalu mencegah terjadinya konflik. Mereka-mereka ini akan berupaya dengan segala tenaga. umumnya memperoleh hikmah yang dapat membuatnya benar-benar mensyukuri makna dari kedamaian dan kehidupan yang ’biasa-biasa’ serta tenang. Akan tetapi umumnya orang-orang seperti ini tidak suka menonjolkan diri.43 bertemu dengan Ki Tapa lagi. Kedamaian dan senyum yang mengembang dari orang-orang yang ditolongnya. semua untuk kepentingan penguasa. Ironis bukan. tidak mengharapkan imbalan dari hasil jasanya itu. Kadang berita ketidakadilan di seberang lautan memicu orang untuk ikut campur. yang pada awalnya memang terjun ke dalam perang karena dorongan rasa keadilannya. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam perang. Yang dalam mana ia tidak tahu bahwa akan ada suatu peristiwa yang akan mengubah jalan hidupnya berkaitan dengan kisah di balik hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau ini. Sudah bukan rahasia lagi bahwa selalu terdapat korban dari luar lingkup para pelaku perang. bahwa salah satu pihak adalah salah dan yang lain adalah benar. rasa kebangsaanya. diperkosa kebebasannya. membumbungnya jerit tangis kesedihan orang-orang. akan dicoba untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. Orang-orang yang ’sah’ untuk ditindas dalam keadaan darurat. Ia akan bertempur untuk membela kebenaran. dengan semangat menggebu-gebu berpendapat. Orang-orang sipil.

entah keturunan keberapa. yang saat itu telah menduduki pangkat jenderal yang mengepalai ribuan tentara. sang adik seperguruan malah menantangnya dengan keras. karena mulai saat itu ia akan memasang harga kepala sang kakak seperguruan sebagai orang yang dicari oleh negara. Banyak kenyataan-kenyataan yang membuatnya terkejut. Setelah beberapa kali bertempur Kang Sang Peng menyadari bahwa ilmunya tidaklah cukup kuat untuk melawan adik seperguruannya itu. sampai sang adik seperguruan menyadari kekeliruannya. ia melihat banyak hal yang merupakan kontradiksi dengan yang diajarkan oleh perguruannya dalam berbagai filsafat yang menjelimet. karena ditegur dengan keras. Dan hal yang paling menyedihkannya adalah terlibatnya ia dalam konflik untuk melawan adik seperguruannya sendiri. bahwa orang sedemikian mudah tergoda oleh harta dan tahta. Sang adik telah belajar banyak dari berbagai guru pandai dalam kemiliteran sehingga kemampuannya berkembang dengan pesat. Dalam keadaan luka parah dan depresi. yang berasal dari Tanah Daratan Tengah yang awalnya merupakan seorang petapa pula. Adalah Petapa Lain Pulau yang merupakan murid dari murid dari murid.44 BAGIAN 1. dan sebagainya. cukup untuk dikenang dan disyukuri oleh orang-orang seperti ini. sambil mengatakan bahwa Kang Sang Peng sebaiknya bersembunyi. dengan masih ditemani oleh . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU limpah. yang menghambakan diri menjadi tentara untuk menindas rakyat. dari seorang ahli bela diri ternama Kang Sang Peng (Zhang Sanfeng). Kang Sang Peng habis kesabarannya dan sempat berujar bahwa mulai saat itu ia akan menentang sang adik seperguruan dengan cara kekerasan. Pembesar menindas rakyat. Telah berulang kali ia bertemu dengan adik seperguruannya dan membujuk agar ia meninggalkan kedudukannya sebagai tentara. terpaksa bergabung dengan kaum pemberontak dan ikut bergerilya untuk menyerang pasukan pemerintah. Dan Kang Sang Peng dalam rangka melawan adiknya tersebut. Bahkan di kali terakhir. Perseteruan antara dua saudara itu menjadi bumbu yang semakin memperumit peperangan. akan tetapi adik seperguruannya selalu menolak. Boro-boro menurut. adiknya mengajaknya untuk bersekutu dengan tentara dengan janji-janji pangkat dan kemewahan. akan tetapi setelah ia meninggalkan perguruannya untuk hidup sebagai orang biasa. pejabat menindas bawahan.

yang setia kepadanya. gerakan yang dimaksud sudah tidak diperlukan. membuat Kang Sang Peng kembali meninggalkan perguruannya untuk membuka kelompoknya sendiri yaitu Perguruan Gu Dang (Wudang). maka lain halnya dengan Petapa Seberang. Kesadaran tentang apa yang dilakukan dan ketenangan dalam mengambil keputusan untuk menyerang atau mengelak itu pun penting. Dengan ilmu baru ini Kang Sang Peng dapat mengalahkan adiknya untuk kemudian memusnahkan ilmu silatnya dan mengirimkannya kembali adiknya kembali ke perguruan untuk dihukum bertapa Menghitung Hari Menghadap Dinding selama sisa hidupnya. Hanya pikiran yang dibutuhkan. Pada penggunaannya dalam pertempuran. yang dalam mengembangkan bela dirinya lebih menitikberatkan pengembangan bagian dalam tubuh ketimbang luarnya. untuk murid yang telah ahli. dari pusat di bawah pusar menuju suatu bagian tubuh. yang berasal dari Negeri Matahari Muncul.45 beberapa temannya. ia menciptakan ilmu yang dikenal sebagai Pukulan Tanpa Tanding (Taijiquan) yang pada dasarnya lebih melatih kekuatan internal ketimbang eksternal. Sang Guru Tua (O Sensei) adalah seorang ahli bela diri yang mengalami pencerahan yang salah satunya juga akibat adanya . akan tetapi perasaan bagaimana hawa digerakkan itulah yang penting. Selain dari pada itu. Setelah tahu cara hawa digerakkan dalam tubuh. Oleh karena itu walaupun gerakan-gerakan yang dilatih tidak terlihat berguna. kaum pemberontak. agar ia terpukul oleh tenaganya sendiri. membelokkan tenaga lawan. Jika Petapa Lain Pulau adalah murid dari Perguruan Gu Dang. jika bisa manfaatkan tenaga lawan untuk menyerang dirinya sendiri. aliran hawa itu akan dengan sendirinya mengalir menuruti pikiran. Selanjutnya karena perbedaan padangan dan juga pencerahan yang diperolehnya. Gerakan-gerakan yang diajarkan akan berguna untuk membangun sirkulasi hawa dalam tubuh. Kang Sang Peng menemukan bahwa yang penting dalam pertempuran antara dua orang bukanlah hanya banyaknya jurus atau kekuatan luar yang penting. Akan tetapi sebelum menjadi ahli gerakan-gerakan tersebut merupakan sarana untuk membantu melakukan visualisasi. Seperti gerak melingkar. untuk pertempuran dalam jangka waktu yang lama. diperlukan siasat sedapat mungkin tidak banyak menghabiskan tenaga. Dengan dasar pengetahuannya dalam bela diri Seni Bertempur (Wu Shu).

ilmu pengetahuan. melukai dan menghancurkan adalah kesalahan terburuk yang dilakukan oleh orang-orang. saat mana hampir semua kerajaan-kerajaan dari segala penjuru saling berperang. uap keemasan bergelombang muncul dari dalam tanah dan menyelimuti dirinya. suatu jiwa yang merangkul dan menghidupi semua hal. Semua jurus dan kembangan yang diturunkan oleh gurunya. secara tiba-tiba ia tidak ingat sama sekali semua jurus-jurus yang pernah dipelajarinya.46 BAGIAN 1. Pada saat itu ia menyadari sifat alami dari penciptaan: Jalan Pendekar adalah untuk mewujudkan Cinta Suci. Sang Guru Tua merasakan dirinya berubah menjadi wujud keemasan. berjodoh untuk belajar pada keturunan keberapa dari Guru Tua. Dalam pencerahannya ini. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU perang. Dua puluh empat pergantian bulan berikutnya. saat masih dini hari dan baru sebentar lewat tengah malam. Pencerahan pertama yang diperoleh sang Guru Tua Morehe Uwesiba terjadi saat ia melawan seorang seorang jago pedang kondang yang menyerangnya dengan ganas. Pencerahan berikutnya diperoleh Guru Tua Morehe Uwesiba 180 pergantian bulan berikutnya. Petapa Seberang yang saat itu masih kecil. dinamakan . Mulai saat itu ia memandang bela diri sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan.Seni Kedamaian. ia memahami bahwa pengertian mengenai Jalan Pendekar telah disalahartikan sebagai alat untuk membunuh dan menghancurkan pihak lain. Guru Tua Morehe Uwesiba kembali mendapatkan pencerahan mengenai Roh Perdamaian Agung. Mereka-mereka yang mencari persaingan telah membuat kesalahan besar. Morehe Uwesiba (Morihei Ueshiba) yang dulunya juga telah merupakan seorang ahli bela diri. dan terlihat bahwa tubuhnya menjadi seringan bulu. kekuatan dari cinta kasih. dan menjadi murid dari su- . pengobatan dan kebaikan. Menyerang. dan bukan lagi alat untuk melempar dan menangkap orang seperti sebelumnya dipelajari. sang Guru Tua sedang melakukan ritual pembersihan. terlihat oleh Morehe Uwesiba sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Jalan sebenarnya dari Jalan Pendekar adalah mencegah pembantaian. memperoleh tiga kali pencerahan yang membawanya pada penciptaan ilmu barunya Jalan Selaras dengan Alam Semesta (Aikido). akan tetapi berhasil dikalahkannya dengan tangan kosong dan juga tidak melukai sang penyerang. Setelah itu Guru Tua Morehe Uwesiba pergi ke taman dan tiba-tiba tanah bergetar.

yaitu Tagasi menemukan buku yang masih terbuat dari kulit yang berisikan tanda-tanda simbolis dan bukan tulisan. yaitu menghafal nama jurus-jurus dan filsafat dari gerakan yang diajarkan. pengorbanan. . kepemimpinan. Sebagaimana unsur filosofis dari ilmu tersebut. Guru yang mengajarnya sampai geleng-geleng kepala melihat kemampuan Petapa Seberang mencerna ilmu yang diajarkannya. Ia belajar ilmu beladiri yang awalnya dikembangkan orang di sana sudah lebih dari puluhan ribu pergantian bulan yang lalu. kebersamaan. dan juga yang dilengkapi dengan kuncian-kuncian dari Kuncian Satu sampai Kuncian Enam.47 atu perguruan untuk mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang dilengkapi dengan filsafat Seni Kedamaian. dari arah putar kanan dan putar kiri. Menurut kitab itu ketujuh unsur rahasia tersebut mengandung tenaga yang maha dasyat dan kekuatan insting sejati dari seorang manusia. tantangan. Bakatnya yang baik dan sifat dasar hatinya yang penyayang membuatnya dapat belajar ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta lebih cepat dari orang-orang seusianya. Dengan ’rasa’ ketimbang dengan pikiran. Lain halnya kisah Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. akan tetapi tidak apabila disuruh menyebutkan. lain pula cerita dari Petapa Gunung Es yang berasal dari suatu tempat jauh di ketinggian. yang dikenal sebagai Atap Langit. Akan tetapi walaupun demikian. di mana ilmu tersebut pada awalnya diciptakan untuk bertahan hidup pada lingkungan Atap Langit yang dingin dan berudara tipis. dari gerakan berdiri dan gerakan berlutut. ilmu tersebut pernah hilang dari Atap Langit. mengalah tetapi tidak kalah. berdasarkan pada tujuh buah unsur filosofis. terdapat pula tujuh macam elemen murni dari kekuatan alami dalam tubuh manusia. yaitu: keberanian. semuanya dicernanya dengan baik. yang berupa berdiam tetapi tidak kaku. Petapa seberang memiliki satu kelemahan. sampai seorang dari Negeri Matahari Terbit. Menurut ujar-ujar para tetua ilmu tersebut. Untuk itu Master Tagasi memerlukan waktu sampai empat ratus bulan berganti untuk memahami kitab tersebut dan belum sepenuhnya. kedamaian dan ilmu pengetahuan. Ia hanya bisa mempraktekkannya apabila diserang. Petapa Seberang menyelami gerakan-gerakan ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Sejalan dengan berlalunya waktu. Kitab tersebut kemudian disebut sebagai Kitab Tujuh Rahasia. Ini merupakan suatu keunikan tersendiri dari Petapa Seberang. sampai ia dijuluki Petapa Seberang Si Pelupa Jurus.

Pencerahan ini membentuk dasar dari keyakinannya bahwa Tu- . Awalnya Petapa Gunung Es telah mempelajari ilmu Seamm-Jasani atau dikenal pula sebagai Alayavijnana. Akhirnya Petapa Gunung Es pun mengangkat Master Tagasi sebagai gurunya. tetap dengan tekun mencoba mencari orang-orang lama yang masih memahami ilmu tersebut. juga dengan pengikut lainnya. yang dikemudian hari diberi nama Takeda ini. perlahan mulai hilang ditelan waktu. membuahkan banyak pertemuan dengan banyak petapa berilmu tinggi yang mengasingkan diri. Perjalan Master Tagasi membuahkan banyak pengikut dan murid. Petapa Gunung Es merasa ilmunya telah mumpuni. mencari keterangan lebih lanjut mengenai ilmu itu dari petapa-petapa yang berdiam di sekitar Kaki Langit. penyakit. dan bersama-sama mereka. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Akan tetapi dengan mulai dikenalnya berbagai senjata mematikan yang sering digunakan dalam perang. kesabaran dan ketenangan. ilmu murni yang menyatakan kedasyatan fungsi tubuh manusia. Saat ia bertemu dengan Master Tagasi. Dan Master Tagasi dengan rendah hati menjawab. Master Tagasi. Usahanya tidak sia-sia. Pada suatu masa yang tercatat dari sejarah Master Tagasi dan tiga puluh orang master lainnya bertandang ke Kawasan Gunung Lautan Awan di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. yang diperolehnya melalui suatu pencerahan saat melihat bagian dari kawah yang menyerupai simbol dalam kitab tersebut. yang saat itu belum menjadi seorang pendekar kondang. menyeberangai Pegunungan Tinggi Tiada Habis sampai ke Kaki Langit. yang membuat orang saat berlatihnya menjadi semakin sehat.48 BAGIAN 1. yaitu Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. Dari mereka ini Tagasi menimba banyak ilmu yang merupakan penjelasan dan pecahan-pecahan dari ilmu yang diajarkan kitab tersebut. yang salah satu di antaranya adalah Petapa Gunung Es ini. ia merasa belum apaapa. yang berarti Ilmu Muda Selamanya. serta untuk pencapaian kedamaian di dalam. yang saat itu telah berjumlah lima orang. bahwa ia juga sedang mencari jawaban dari ilmu yang tertulis dalam Kitab Tujuh Rahasia tersebut. akan tetapi saat berdialog dan saling bertukar ilmu. perjalanannya dari Negeri Matahari Muncul. awet muda dan tidak cepat pikun dan juga dapat digunakan untuk mencegah depresi. di sana ia mencapai dua tahap terakhir dari tahapan kesempurnaan dari ilmu Takeda seperti tertulis dalam kitab tersebut.

merupakan simbol yang diambil dari halaman terakhir dari kitab ini. tapi menjadi kedamaian. yaitu Cara Bernafas. ”Kakang Gunung Es. Gerakan Tubuh. Keakraban dalam perguruan tersebut benar-benar membuat mereka semua seperti berada dalam keluarga besar. di mana mereka pada awalnya memilih pulau tersebut karena letaknya yang aneh dan alamnya yang keras. Penglihatan Dalam dan Pemahaman Dalam. Pemusatan Pikiran. yang merupakan permintaan terkhirnya. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang berdasarkan urutan usia saja. Nama ilmu ini sendiri. Perang adalah pilihan terakhir yang harus diambil. walaupun mereka belajar dari guru atau master yang berlainan akan tetapi masing-masing guru tersebut memperoleh pemahaman bahwa kedamaian dan ketenangan harus dijaga.” tanya Petapa Lain Pulau. dan tugas utama dari seorang pendekar bukanlah berperang. Pertemuan ini menimbulkan keakraban di antara ketiganya sehingga mereka pun saling mengangkat saudara. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. Mereka berpikiran sama untuk memperdalam ilmunya dengan memanfaatkan kedasyatan alam di sana. Pengendalian Otot. sehingga sampai muncul keingingan untuk membentuk suatu perguruan baru dengan menggabungkan ilmu-ilmu mereka tersebut. Pada suatu masa Master Tagasi tutup usia dan diperabukan di kawah Gunung Lautan Awan bersama dengan kitab asli dari Kitab Tujuh Rahasia tersebut. Para penerusnya dapat mempelajari ilmu Takeda dari kitab-kitab salinan yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.49 juh Rahasia dapat dicapai melalui metoda Pertahanan Diri. mereka telah menetap urutan kakak dan adik angkat mulai dari Petapa Gunung Es. Terdapat tujuh tahapan untuk mencapai kesempurnaan dari ilmu ini. Dan karena kesamaan itulah ketiga petapa tersebut secara kebetulah bertemu di Pulau Gunung Api yang terletak di Laut Antara Dua Pulau. Petapa Gunung Es sebagai salah satu orang yang hadir saat upacara perabuan Master Tagasi benar-benar merasa kehilangan. Kateda. . Karena selain ia benar-benar seorang guru yang selalu mengedepankan kedamaian dan kemanusiaan. Terdapat banyak kesamaan antara Petapa Gunung Es. Pergerakan Hawa. Tujuh Rahasia. ia juga merupakan seperti ayah bagi para muridmuridnya.

”sama sekali lain. Mereka menyadari akan ’kelebihan’ dari adik angkat mereka ini. Dan waktu pun berlalu tanpa terasa di Pulau Gunung Api di Laut Antara Dua Pulau tersebut. Akan tetapi banyak hal yang belum aku mengerti di sini.” ”Ini mirip seperti yang dialami Guru Tua Morehe Uwesiba. Sampai lama dan berminggu-minggu mereka berlatih. suatu ’kelupaan’ yang dilengkapi dengan pemahaman gerakan yang mendarah daging. yang .50 BAGIAN 1.” imbuh Petapa Seberang. lalu ujarnya. Mereka tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu mereka yang sama.” jawab Petapa Gunung Es. ”Bukan adik Seberang.” sahut Petapa Seberang menambahkan. Kalau Guru Tua lupa karena ia sudah mencapai Pemahaman Dalam.” ”Misalnya. ”ini membuatku jadi bingung dan kadang-kadang lupa dengan ujar-ujar yang tertuliskan. berdiskusi dan bertapa. melainkan merenung dulu sebentar.” lanjut Petapa Seberang dengan tersenyum malu. sudah sampai tahap berapa kakang ini?” Petapa Gunung Es tidak langsung menjawab. ”aku sedang dalam Pemusatan Pikiran. dikatakan pusatkan pikiran untuk jangan berpikir.” ”Kalau aku lupa. Kadang diperoleh penyelesaian kadang pun tidak. tapi pada bagian sebelumnya.” jawabnya dengan serius. Ketiga orang itu pun berdiskusi kembali saling mengemukakan pikirannya masing-masing. berdasarkan pemahaman lainnya. ”bahwa dalam kitab tersebut dikatakan hawa dikendalikan pikiran. yang tibatiba lupa apa yang dipelajarinya. karena memang tidak mengerti kenapa harus ada penjelasan jurus-jurus itu. dan sedikit awal Pergerakan Hawa. Sambil kadang salah seorang. sedangkan aku baru sampai tahan Pergerakan Hawa dan Pemusatan Pikiran. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU ”jika menurut Kitab Tujuh Rahasia dari Master Tagasi tersebut. Kedua saudaranya tersebut juga sama-sama tersenyum. mempraktekkan ilmunya kembali dengan pemahaman hasil diskusi tersebut.

. tidak seharusnya sampai terdengar oleh orang lain. seorang anak muda yang telah akrab dengan Asap sejak rombongan Pinggiran sungai merah bermukin di Desa Luar Rimba Hijau. membuat mereka saling melengkapi pemahaman masingmasing sehingga menghasilkan ilmu-ilmu baru yang kelak akan mengguncangkan dunia persilatan. ”tidak apa-apa bila kalian berdiskusi mengenai hal tersebut.” panggil Ki Tampar saat Asap melintas di depan rumahnya. tapi janganlah sampai mengarangngarang cerita atau menduga-duga. tapi mendengar suara saudara dan nak Rintah.. Mengenai hubungan antara Ki Tapa dan Petapa Lain Pulau. membuat saya keluar dan ingin menyapa.” ”Tak apa-apa. Aku malah tertarik dengan pembicaraan kalian itu. Ki Tampar yang memahami keingintahaun dua orang berdarah muda itu hanya tersenyum. ”Maafkan atas kerasnya suaraku Ki. maaf Ki Tampar. sambil perlahan mendoakan agar pemahaman mereka dan ilmu-ilmu yang tercipta dari mereka dapat membawa kedamaian pada manusia dan alam sekelilingnya.51 mengisyaratkan adanya penegakkan kedamaian dalam implentasi ilmunya. ”Tidak. baik di Negeri Tongkat Ditanam Jadi Tanaman.” jawab Rintah. melihat ketiga orang yang sedang gandrung dan tekun pada pemahaman ilmu sebenarnya dari Jalan Pendekar.. ”aku tidak terganggu.” jawab Asap dengan sopan. di Negeri Matahari Muncul maupun di Kaki Langit sendiri. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri .” jawab Ki Tampar sambil menggoyang-goyangkan tangannya. *** ”Saudara Asap.. Sang angin pun tersenyum.” Rintah dan Asap terlihat malu. karena mereka menyadari bahwa ucapan mereka mengenai seseorang yang dituakan di desa itu. ”Oh. saya memang sedang mengaso.” jelasnya sambil tersenyaum. ”saya tidak melihat Ki Tampar ada di rumah. Dan sang angin pun bertiup menjauh. lalu lanjutnya. tidak.

”apakah saya boleh ikut?” ”Boleh. ”Kita berangkat setelah bulan muncul setengah tinggi langit.. Juga dalam hari-hari semenjak rombonganmu datang. Ki Gisang dan Ki Tampar.” jawab Ki Tampar.. apalagi bagi anak-anak muda yang lainnya..” memberitahu Ki Tampar. boleh.” Kedua anak muda itu mengiyakan dan kemudian mereka berlalu untuk memberi kabar yang tidak biasa itu kepada kawula muda di Desa Luar Rimba Hijau. ”E. Besok ”Eh. agar mereka besok malam. Sebagian besar terdiri dari laki-laki dan hanya ada tiga orang perempuan.” jawab Ki Tampar penuh rahasia.” sahut Rintah dengan antusias.. Tak jauh . Menyebabkan banyak tanda tanya baik di benak Rintah maupun Asap. Jarang-jarang kami-kami bisa ikut bertemu Ki Tapa. ”Ki Tapa mengatakan sebaiknya beberapa anak muda ikut bersama Asap. Di depan mereka semua berdiri seakan menunggu suatu tanda.52 BAGIAN 1. ”Kabarkan ini pada kawula muda yang tertarik. malam. maaf Ki Tampar. biasanya begitu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU pada Ki Tapa bila ada kesempatan.” sahut Ki Tampar. benar-benar menarik dan menegangkan ini..” Kedua anak muda tersebut mengangguk-anggukan kepalanya. Di alun-alun Desa Luar Rimba Hijau berkumpulah sekitar dua puluh empat orang muda-muda. Akan tetapi mungkin ada hal yang ingin diutarakan Ki Tapa atau ditanyakannya kepadamu. setelah matahari terbenam dapat bersiapa-siap. Suatu pertemuan yang aneh dan tidak biasa.” tanya Rintah malu-malu. Asap.” ”Wah. ada keperluan apa Ki?” tanya Asap ingin tahu. ”bukankah biasanya Ki Tampar berdua dengan Ki Gisang yang berhubungan dengan Ki Tapa?” ”Benar. Ada hal yang ingin disampaikan. ”Kebetulan Ki Tapa ingin bertemu dengan engkau..

Beberapa kawula muda yang ada ikut membantu memancangkan tongkat-tongkat obor di sekeliling alun-alun sehingga suasana menjadi lebih terang dan nyaman. Dan yang membuat peristiwa ini semakin menarik adalah bungkamnya baik Ki Gisang maupun Ki Tampar perihal ada apa di balik ini semua. baik dari manusia atau alam. akan tetapi tidak diajukan oleh siapa pun. dengan membaca tanda-tandanya. sebelum menjadi Desa Luar Rimba Hijau. dan bahkan juga di antara para kawula tua. berkenan untuk bertemu dengan beberapa kawula muda yang ditentukannya melalui Ki Gisang dan Ki Tampar. Dulu sekali waktu Hamparan Hijau menyerang Desa Ujung. Akan tetapi sayangnya setelah membantu penduduk mengatasi Hamparan Hijau.53 dari sana berdiri Ki Surya dan beberapa petinggi desa yang sedang memperhatikan kegiatan yang akan dilakukan oleh para orang muda tersebut. akan tetapi pura-pura tidak tahu dan melemparkannya pada kedua orang tersebut. Hari ini Ki Tapa. karena matahari telah perlahan hilang dari pandangan. Sampai suatu saat tidak lagi terdengar perihal Petapa Lain Pulau melainkan munculnya Ki Tapa yang menolong penduduk desa apabila ada permasalahan. Bahkan Ki Gisang dan Ki Tampar tidak mengerti. pernah Petapa Lain Pulau mengatakan niatnya untuk mendidik pemudi dan pemuda pilihan dari Desa Ujung sebagai pewaris ilmunya. Mereka berdua. Pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar sudah tentu terucap di antara mereka. Hilangnya Petapa Lain Pulau yang digantikan oleh Ki Tapa ini walaupun menjadi pertanyaan bagi sebaian besar penduduk Desa Luar Rimba Hijau. Sudah tentu beberapa tetua desa seperti halnya Ki Surya mengetahui. Petapa Lain Pula lebih banyak berdiam di dalam Rimba dan Gunung Hijau dan tidak mengingat kembali niatannya itu. Ini merupakan hari yang telah ditunggu lama oleh para orang muda di Desa Luar Rimba Hijau. percaya begitu saja karena Ki Tapa berkomunikasi melalui portal dengan tanda-tanda . Apa gerangan yang dikehendaki oleh Ki Tapa dari para pemudi dan pemuda desa ini. sebagai seorang penguhi Rimba dan Gunung Hijau yang hanya diketahui penduduk desa. sebagai penghubung. Sebagian penduduk yang berada di sana mulai menyalakan obornya. sehingga mereka dapat menjaga desanya dari marabahaya. sedangkan bulan belum muncul.

KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU yang sama seperti diwariskan oleh leluhur mereka saat berhubungan dengan Petapa Lain Pulau.” panggil Ki Gisang perlahan kepada pemuda Desa Luar Rimba Hijau yang ditugaskan untuk mengatur pemudi dan pemuda yang akan ikut untuk menemui Ki Tapa malam ini. Saat ini adalah saat yang kita.” tiba-tiba Ki Tampar yang berada di sampingnya menyahut. ”Tak perlu. ”sudah semua datang.” ”Coba kau susul mereka ke rumahnya! Bisa-bisa mereka lupa. sebagai penghuni Desa Luar Rimba Hijau. kemudian lanjutnya. Rantih dan Misbaya.” jawab Jaka dengan hormat. Ki Gisang. Itu mereka datang!” Dan benar. dengan Ki Gisang dan Ki Tampar berada di tengah dan para tetua desa berikut Ki Surya di luar lingkaran. sejak lama ditunggu-tunggu. Setelah kedua orang itu tiba. Oleh karena itu peristiwa ini mungkin akan menjawab pertanyaan mengenai pergantian penghuni Rimba dan Gunung Hijau yang berhubungan dengan penduduk desa. ”kalian akan dilatih dan kelak dipilih sebagai pewaris dari Pergu- . kalian ini akan menghadap Ki Tapa untuk menggenapi apa yang pernah dijanjikan oleh salah seorang dari mereka di masa lalu. dan kita tidak dapat menanti sepanjang malam di sini. di ujung lapangan dalam arah yang ditunjukkan oleh Ki Tampar. Atas permintaan Ki Tapa. sudah tentu membuat sebagian penduduk tertarik untuk mengamatinya. ”Jaka.” Ki Tampar berhenti sebentar untuk mengabil nafas.” usul Ki Gisang. kawula muda yang diminta Ki Tapa?” ”Belum. ”kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. dan persetujuan para tetua desa. mulailah para pemudi dan pemuda itu duduk membentuk lingkaran.54 BAGIAN 1. ”lihat di ujung lapangan sebelah barat. sebagai salah seorang penghuni Rimba dan Gunung Hijau. Para penduduk desa lainnya yang juga tertarik untuk datang berdiri setombak dua tombak agak jauh dari lingkaran tersebut. ”masih ada dua orang lagi. Ki Tampar membuka pembicaraan. yang merupakan perlengkapan mereka untuk menghadap Ki Tapa. tampak Rantih dan Misbaya berlari-lari sambil membawa segumpalan kain.

sehingga punggung mereka saling bersentuhan.” kata Ki Tampar. Ki Surya pun berdiri kembali di tengah-tengah lingkaran. melainkan ia malah berjalan berkeliling. ”Para kawula muda desa sekalian. Setelah para tetua berada dalam lingkaran. saat mereka masuk. ”Ki Surya mewakili para tetua Desa Luar Rimba Hijau akan menyampaikan beberapa pesan berkaitan dengan kegiatan ini. menyibaklah para pemudi dan pemudi di kiri dan kanan rombongan itu. menutuplah lagi mereka yang tadi menyibak. dan masih saja menatap satu persatu dua puluh empat orang muda itu. Itu yang penting. selengkapnya kelak akan diberikan penjelasan oleh Ki Tapa di dalam rimba.55 ruan Rimba dan Gunung Hijau. Belum seucap kata pun diluncurkan oleh Ki Surya. Lalu ucapnya. ”Adapun.” sambung Ki Gisang.” Ki Surya diikuti oleh beberap tetua desa berjalan menuju ke dalam lingkaran. yang diharapkan dapat diingat-ingat dan dipatuhi oleh para kawula muda selama . yang bertugas salah satunya menjaga desa kita ini. Ki Surya kami persilakan. Perihal apakah akan menjadi pewaris atau tidak bukan pokok permasalahannya. dua puluh tiga orang kawula muda desanya dan satu orang anggota rombongan dari Desa Pinggiran Sungai Merah. Ki Surya tetap berdiri dan memandang berputar. sedangkan para tetua lainnya duduk di tengah-tengah lingkaran menghadap ke arah luar. ”Hanya itulah yang dapat saya sampaikan.” Suasana menjadi hening di mana setiap orang berusaha mencerna apa yang sedang disampaikan oleh Ki Tampar. saya mewakili para tua-tua desa ini hanya berpesan agar kalian benar-benar belajar dengan baik saat di dalam rimba. Asap.” Kemudian petuah-petuah dan nasihat-nasihat masih pula diberikan oleh Ki Surya dan juga oleh beberapa tetua lainnya. membuatkan jalan masuk bagi mereka. melainkan berlatih dan belajar untuk mengenal alam ini lebih dekat. Setelah puas mengingat-ingat satu persatu wajah para kawula muda tersebut. sehingga membentuk kembali lingkaran yang utuh.

Dan seperti tadi orang yang berada dalam jalan mereka pun memberi jalan dengan menyibakkan lingkaran untuk kemudian menutupnya kembali. ”Sebelum kita berangkat.” kata Ki Tampar. Mereka yang mendengarkannya termasuk warga desa di luar lingkaran tersebut mencerna dan mengingat-ingatnya sambil mengangguk-angguk. mereka pun berdiri dan kembali berjalan ke luar dari lingkaran.56 BAGIAN 1. Seorang dara yang baru saja dijodohkan dengan dirinya. Tinggal Ki Gisang dan Ki Tampar di tengah lingkaran. Dan ini pun dirasakan oleh Paras Tampan dengan sangat. ”ada yang akan ditanyakan kembali?” ”Ada Ki. Dua puluh satu pemuda dan tiga orang perempuan. akan tetapi Citra Wangi lah yang menjadi persoalan. Sebenarnya baginya tidak ada masalah berapa lama ia harus berlatih di dalam rimba. ”lebih baik sekarang sebelum kita masuk ke dalam rimba. ”Ada pertanyaan lain?” Paras Tampan menggeleng sambil menundukkan mukanya. Akan tetapi saat ia dipanggil oleh Ki Gisang untuk ikut pelatihan di dalam rimba.” jawab Ki Tampar.” jawab Paras Tampan. seorang pemuda berbadan tegap dan gagah yang saat itu memakai pakaian dengan warna dominan abu-abu muda. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU berada dalam rimba.” ucap Ki Tampar memecahkan keheningan. Ingin tentu seorang yang baru dijodohkan untuk berkenalan lebih dekat dengan calonnya. ”Utarakan nak Paras Tampan. kami berdua tidak diberikan pesan perihal hal itu. Lingkaran yang terdiri dari dua puluh empat orang kawula muda. ”Lamanya latihan dan apa kalian boleh keluar dari rimba selama latihan akan ditentukan oleh Ki Tapa. Kawula muda pilihan yang akan bertemu dengan Ki Tapa untuk dilatih agar dapat dipilih untuk mewarisi ilmu-ilmu Perguruan Rimba dan Gunung Hijau.” ”Berapa lama latihan ini berlangsung sampai kita dipilih untuk menjadi ahli waris? Apakah sesekali kita boleh ke luar rimba?” tanya Paras Tampan beruntun. Setelah setiap tetua desa selesai memberikan nasihat dan petuahnya. tak terpikirkan olehnya bahwa ia harus meninggalkan .

Umumnya sisi bagian utara. Tak sampai hati Citra Wangi untuk melepas tunangannya. Rombongan pun berhenti di hadapan sisi yang tidak dipasangi obor. . Ki Gisang menghampiri sisi tersebut dan membaca simbol-simbol yang terpahat di sisi utara tersebut. untuk memasuki Rimba dan Gunung Hijau. yang mengarah ke Gunung Hijau. mulailah rombongan itu berjalan ke arah utara. melalui jalan setapak di tengah tanah lapang berumput tersebut. Citra Wangi sendiri pun merasa kehilangan dan menyesalkan mengapa ia tidak terpilih untuk ikut berlatih di dalam rimba. Saat yang tepat. Bulan saat itu sudah lebih dari setengah langit tingginya. dapat dipastikan ia akan tersesat dan bisa berbulan-bulan lamanya berputar-putar di dalam Rimba Hijau tersebut. Jika Ki Gisang membaca salah satu sisi lontar dan lambang pada sisi utara portal. sambil tetap berdiri. dan mencocokkan beberapa lambang dan tulisan. ia pun mengangsurkannya kepada Ki Tampar. Sekilas dapatlah diterka bahwa ketiga sisi yang terisikan obor-obor tersebut mewakili dua puluh empat kawula muda itu. oleh karena itu tidak hadir dirinya saat pertemuan di alun-alun desa tersebut. Oleh karena itu mereka berjanji pada saat setiap bulan baru untuk bertemu di tepi Rimba Hijau untuk saling melepas rindu. Setelah memperhatikan lambang-lambang tersebut. menurut petunjuk dari portal dan lontar. bersesuaian dengan petunjuk jalan masuk dan jalan keluar dari rimba. jarang dipergunakan. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi pertanyaan dari kawula muda yang akan ikut pelatihan di dalam rimba. Dua sisi yang berlainan pada lontar dan kunci pada simbol di sisi utara portal. Sisi itu berisikan petunjuk untuk memasuki Rimba Hijau secara aman.57 sang pujaan hati. ternyata telah dipersiapkan obor-obor yang telah tertancap rapi. Setelah mereka berdua merasa yakin akan bahwa telah mengerti petunjuk-petunjuk yang ada. Bila orang tidak mengetahui petunjuk tersebut. Setelah mengerti apa yang dituliskan di sana. Delapan buah pada ketiga sisi dan kosong pada sisi yang menghadap ke utara. kemudian Ki Gisang membuka lontar yang diambilnya dari buntalan kain di punggungnya. Ki Gisang dan Ki Tampar pun menyuruh mereka untuk beranjak pergi menuju portal tempat di mana penghuni Desa Luar Rimba Hijau dan Penghuni Gunung dan Rimba Hijau berkomunikasi. menuju Rimba dan Gunung Hijau. Di sana di pelataran berbatu tersebut. maka Ki Tampar membaca pada sisi lain dari lontar.

Ki Gisang dengan cermat memeriksa setiap jengkal permukaan batu-batu itu untuk mencari simbol yang tertera di atasnya. Untung bagi setiap anggota rombongan tersebut telah dilengkapi dengan obor di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri. Tongkat itu berperan untuk menunjang jalan mereka agar lebih stabil. Kemudian setelah ketemu. Rimba dan Gunung Hijau yang selama ini menjadi semacam mitos bagi mereka sejak turun-temurun akan dikunjungi hari ini. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Di tempat yang selama ini terlarang untuk dimasuki. dan rombongan itu pun berjalan beriringan mengikutinya. Sambil sesekali ia melihat ketinggian bulan. Mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Ki Gisang dalam mencerna makna lambang-lambang itu untuk menentukan arah. akan tetapi dengan sungai berbatu-batu di bawah kaki atau padang rumput dengan batu-batu berwarna aneh yang dapat berpendar di malam hari. diamat-amatinya dengan ingatan mengenai pemecahan yang diberikan pada portal dan halaman atas lontar. Atau bisa juga jalan setapak yang di kiri-kanannya terdapat lumpur yang bergelembung-gelembung mengeluarkan gas yang baunya mirip kentut. Rimba pun mulai dimasuki. melainkan tersasar di dalam Rimba Hijau. tampaklah langit kembali di atas kepala. Setelah itu menentukan arah.58 BAGIAN 1. Perjalan yang tidak mudah. Mereka akan berlatih di sana. Siapa yang tidak bersemangat dan tegang dengan keadaan seperti itu. Kadang setelah tiada lagi pohon-pohon lebat dan tinggi yang hanya menyediakan kegelapan. sehingga langit yang berbintang banyak pun hanya tampak samar-samar di tengah-tengah rimbunan dedaunan. . KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Rombongan itu berjalan dengan perlahan-lahan Masing-masing kawula muda terdiam dan bermain dengan pikirannya masing-masing. bisa-bisa mereka tidak sampai ke tempat Ki Tapa. Selama dalam perjalanan itu ditemui banyak batu-batu besar yang bertuliskan simbol-simbol aneh. jika sampai ia salah menafsirkan. Pada beberapa tempat bahkan kanopi pohon-pohon tinggi saling menutupi sehingga tiada lagi sinar bulan yang dapat menerangai perjalanan mereka. Pohon-pohon tinggi dan lebat menjulang sampai ke atas.

Tinggi. Oleh karena itu walaupun tidak mengerti mengenai hal ini. Gunung yang baru kali ini dilihat oleh rombongan itu dari dekat. sesuatu yang pernah dilihatnya. kekar dan dingin. Ia berusaha mengingat-ingat. Bila tidak kira-kira tepat saat mengartikan lambang yang ada. dari luar Rimba Hijau. terkesan kasar. karena ia berencana untuk sesekali kembali ke pinggir Rimba Hijau untuk bertemu dengan kekasihnya. terutama yang perempuan. Di tengah-tengah tanah lapang luar berumput setinggi mata kaki tersebut terdapat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari kayu dengan atap dari rerumputan. berarti arah yang salah akan dipilih. Setelah beberapa saat berjalan. Citra Wangi. di mana beberapa kawula muda. Ki Gisang dan Ki Tampar pun tidak mence- . sukar untuk dilupakan. Dalam artian ini. merasa kakinya hampir habis. Ia adalah seorang yang memiliki ingatan yang baik. Itulah Gunung Hijau. Biasanya mereka hanya bisa melihatnya dari jauh.59 Perjalanan itu kadang berlangsung lambat kadang cepat dari satu batu ke batu lainnya. Di salah satu sisi lapangan luas itu menjulang tinggi ke atas sebuah gunung batu terjal dengan puncaknya tidak terlihat karena tertutup awan dan gelapnya langit. sampailah mereka di suatu tanah lapang luas. Di dalamnya terlihat cahaya api yang memberikan bayang-bayang seseorang. Kali ini mereka tidak lagi berjalan beriring-iring seperti semut. Rombongan itu pun dengan didahului oleh Ki Gisang menuju ke rumah itu yang berada di sebelah kanan dari arah mereka datang tadi. Benar-benar merupakan suatu gunung yang mengagumkan dan mengiriskan. Tanpa diketahui siapa pun Paras Tampan diam-diam mencatat dalam hatinya lokasi-lokasi yang dilaluinya. Ki Tapa. di tengah-tengah rerimbunan pohon-pohon tinggi. para kawula muda hanya diam saja dan mengikuti Ki Gisang yang berjalan di depan. Ki Tampar berjalan paling belakang sambil memperhatikan panjangnya barisan. Saat ini mereka bisa melihatnya pada jarak sedekat ini. melainkan bergerombol. hal itu dikarenakan petunjuk yang diberikan berkaitan dengan tinggi bulan di langit. maka bisa makna yang salah dapat diperoleh.

Di tempat ini sudah tidak ada lagi bahaya akan tersesat. Para kawula muda pun bertanya-tanya dalam hatinya. di tengah malam? Benar-benar makan malam. ”Akhirnya selesai. Akan tetapi setelah perjalanan yang cukup melelahkan melewati Rimba Hijau. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU gahnya. yang sampai saat itu pun belum memperlihatkan mukanya. Suasana pun hening. masih membelakangi tamu-tamunya. sudah pasti tiada lagi persediaan dalam usus mereka. Mereka semua sebelum berangkat dari Desa Luar Rimba Hijau telah masing-masing mengisi perutnya. Tampak seorang yang sudah tua akan tetapi dengan raut muka gembira . Ia membelakangi mereka. Mereka pun masuk satu persatu ke dalam rumah itu. Rumah yang sederhana. Setelah sampai di depan pintu gubuk tersebut. ”Duduklah semua pada kursi di samping meja panjang. Tikus-tikus.60 BAGIAN 1. Tidak banyak perabot di dalamnya. Makan malam. Menunggu dengan hormat apa yang akan dilakukan oleh tuan rumah yang aneh tersebut.” perintah orang itu sambil tetap mengaduk-aduk panci yang sedang dijerangkannya di atas api. Kadang dihentikan oleh ’uhu-uhu’ burung hantu yang sedang berburu mangsanya. oleh karena itu dibiarkannya mereka melepas sedikit ketegangannya dengan bergerombol. Terdapat sebuah meja panjang yang kelihatannya akan muat diisi oleh mereka semua. Suara jangkrik di luar dan di dalam rumah pun dapat terdengar dengan jelas. berhentilah mereka dan Ki Gisang mengucapkan salam. Pemberitahuan mengenai makan malan ini sudah tentu amat menggembirakan. Bau sedap pun mengembang di udara. sambil melirik ke suatu catatan pada daun lontar.” lanjutnya.” sebagai jawaban dari orang yang berada di dalam rumah tersebut. Orang yang mempersilahkan mereka masuk tampak sedang berdiri dekat sebuah panci besar. Tapi mereka diam saja. ”Masuklah. karena terlihat sesekali ditambahkannya sesuatu ke dalam panci.” ucap orang itu. Kemudian ia berbalik. ”Sebentar lagi makan malam selesai.

Entah apa kandungannya. Semua pun makan tanpa bersuara. hanya beberapa orang yang masih lapar. Cukup untuk tambah setiap orang. sambil diambilnya piring-piring dari kayu dan gelasnya yang langsung dilempar-lempar seenaknya. ”terbang” dari tangannya menuju ke hadapan orang-orang tersebut. jangan malu-malu. kembali Ki Tapa menunjukkan sesuatu yang lebih keren. Termasuk di kepala meja. Setelah habis Ki Tapa masih menawarkan untuk tambah. Akan tetapi cocok dengan pakaiannya yang sederhana. selebihnya merasa telah cukup. tanpa ada sececerpun air yang tumpah. Dua puluh tujuh piring kayu telah terisi oleh makanan. Mungkin dipotong dengan menggunakan pedang atau pisau sehingga terlihat tidak rata. Di panci masih banyak tersedia. ”mari makan. Selanjutnya Ki Tapa masih mengambil air dari gentong besar yang ada di dekat panci dan kembali menyiduknya serta melemparkan ke dalam masing-masing gelas. Rambutnya awut-awutan pendek segenggam tangan. tapi yang pasti terlihat bergizi tinggi. Ialah Ki Tapa. tempat ia akan duduk nanti. melainkan makanan tersebut masuk ke dalam masing-masing piring tersebut.” Lalu tanpa menunggu tamu-tamunya. Tak tahan para kawula muda itu pun berdecak kagum. dan pandangan mereka pada Ki Tapa semakin menghormat setelah melihat pertunjukkan itu. kasar dan bersih. dilengkapi dengan kerut-kerut pada sudut mata dan mulutnya. menunggu-nunggu ucapan Ki Tapa.” lanjutnya. ia dengan santai menyuap makanan dari dalam panci sebesar kerbau itu dan melemparkannya seakan-akan dalam arah yang asal-asalan. Tiada yang jatuh ke lantai. . Ternyata walaupun terlihat sedikit. ”Mari-mari makan. makanan tersebut mengenyangkan. ia dengan lahap menyantap makanannya. melainkan jatuh tepat di depat setiap orang yang duduk di kursi pada meja panjang sersebut. Bukannya jatuh atau mengenai salah seorang yang duduk. Benar-benar demonstrasi tenaga dalam yang mengagumkan. ”Yang barusan namanya Jurus Menunggang Angin Mengendalikan Wujud. yang mengundang dua puluh empat kawula muda itu melalui Ki Gisang dan Ki Tampar.61 dan berwajah ramah.” jelasnya sambil duduk di ujung meja. Belum habis kekaguman mereka. Dua puluh tujuh piring kayu dan gelasnya. Makanan berupa bubur kental berbau gurih dan harum.

Setelah menyuruh masing-masing kawula muda untuk meninggalkan barang-barang bawaannya di salah satu sudut ruangan. Masing-masing kelompok delapan orang. Pejamkan mata dan rasakan semua itu.” perintahnya selanjutnya. wangi uap air di udara. ”aku harap kalian tidak segan di rumah ini. ”Tapa dan Gisang. menuju lapangan di sekitarnya.62 BAGIAN 1. terima kasih telah bersusah payah membawa mereka-mereka ini ke pondokku. aliran darah. Duduklah ia agak santai sambil memandang satu persatu tamu-tamunya itu. ”sampai kusuruh berhenti. semilir angin di rambut. Beristirahatlah selama aku dan para kawula muda ini berada di lapangan sana. Setiap delapan orang tentukan pusat dan berdiri menghadap ke delapan mata angin. walaupun demikian terdengar jelas bagi semua orang. Punggung bersentuhan. Gunung Hijau adalah arah Utara. Yang dipandang tiada yang tahan bertatapan dengan matanya yang ramah akan tetapi menyorot dengan tajam. denyut jantung. ”Jangan tidur. ”Bagi jumlah kalian ke dalam tiga kelompok. Katanya pelan seperti hembusan angin.” .” perintah Ki Tapa. Ki Tapa pun mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya keluar rumah. Kemudian mereka berdiri saling membelakangi dan menghadap ke arah delapan mata angin.” ucap Ki Tapa.” Mereka berdua mengiyakan. Dengarkan napas kalian.” Mereka pun mematuhi perintah itu dan membagi jumlahnya menjadi tiga kelompok. Kemudian ia menyuruh masing-masing untuk duduk menyilangkan kaki dan mengheningkan cipta. empat mata angin utama dan empat mata angin antara. Gatal-gatal di pantat. tidak membantah mengapa mereka tidak boleh melihat apa yang akan dilakukan oleh Ki Tapa dengan para kawula muda itu. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU Setelah Ki Tapa selesai makan dan juga kawula muda yang menambah makanannya. ”Setiap orang maju sepuluh langkah. Setelah itu masing-masing kelompok mengambil jarak dan menentukan titik tengah sebagai pusat mata angin mereka. dengarkan alam sekitar kalian.

*** Sudah terlalu lama kita tidak mengikuti perkembangan dari Perguruan Atas Angin yang dahulu dipimpin oleh Ki Jagad Hitam. telah memulai latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuannya. melainkan hanya membaca sebuah pesan pada dinding dekat tempat mereka tidur. Begitulah kawula muda Desa Luar Rimba Hijau. dan masing-masing dari mereka ada yang keluar dan hidup sebagai orang biasa atau membuka perguruan baru. Hal ini dipicu oleh berdirinya kem- . Dubur tidak diangkat. Kemudian banyak aturanaturan perguruan yang diubah. Perut kurang ditarik ke dalam. Berlatih di dalam Rimba dan Gunung Hijau. merasakan alam sekitarnya. Lingkaran Dalam sendiri telah lama dibubarkan. duduklah Ki Tapa di atas sebuah batu. Angin-angin. tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Tapak Kelam. Telah terjadi banyak perubahan di sana. sepeninggalnya Ki Jagad Hitam. agar dapat menemukan jalan pulang. Punggung tidak tegak. membetulkan postur masing-masing kawula muda tersebut. tidak jauh dari ketiga lingkaran yang masing-masing dibentuk oleh depalan kawula muda itu. Setelah yakin semua menjalankan apa yang diperintahkannya. tidak lagi menjadi tujuan perguruan itu. Hanya sedikit yang masih bertahan tetap dalam perguruan. Dua puluh empat orang muda-mudi itu berlatih dengan tekun di bawah petunjuk Ki Tapa.63 Kemudian Ki Tapa pun berjalan berkeliling. Dipejamkan matanya dan ia pun ikut mengheningkan cipta. Saat mereka pamit para kawula muda itu belum beranjak dari posisi mereka tadi malam. agar dapat kemudian dipilih untuk menjadi ahli waris Perguruan Rimba dan Gunung Hijau. salah seorang murid yang termasuk dalam keenambelas orang Lingkaran Dalam. Batu-batu serta Seribu Ramuan. yaitu Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Mereka berdua pun tidak bertemu dengan Ki Tapa. pada awal malam pertamanya di dalam Rimba Hijau. Misalnya saja. Kepada tidak tegak. dan juga pencarian lebih lanjut mengenai kitab-kitab yang hilang. melainkan sebanyak-banyaknya mencari murid baru dan memperluas perguruan. bahwa mereka sebaiknya pergi kembali ke desa sebelum matahari naik tinggi. Bahu tidak rileks. Keesokan harinya Ki Gisang dan Ki Tampar pun pulang kembali ke Desa Luar Rimba Hijau meninggalkan kawula muda desa mereka dalam salah satu babak baru kehidupan mereka.

. KISAH RIMBA DAN GUNUNG HIJAU bali Perguruan Tapak Ganda yang telah dimusnahkan oleh Perguruan Atas angin beberapa dekade yang lalu. sisa-sisa murid perguruan Kapak Ganda membangun kembali perguruan mereka untuk membalaskan sakit hati mereka kepada Perguruan Atas Angin.64 BAGIAN 1. Dengan mendatangkan banyak orang luar yang sakti.

Anak tersebut tampak tak peduli..Bagian 2 Perubahan-perubahan Seorang anak berbaju kumuh dan lusuh tampak habis menangis di pinggir jalan yang berdebu. Tralala. mematut-matut dan menilai-nilai dirinya.. ”Bagus. hmm. ”Burung bersiul bersahut-sahutan.. Seakan tak peduli dengan panasnya matahari dan sesaknya napas menghirup udara kering berdebu itu.. dada. postur tepat.. bunga semerbak merekah.. orang aneh itu pun berhenti. susah itu tak ada gunanya. didi. Ia masih saja duduk termangu.. sayang sedikit perasa. Dengan masih tersenyum. Debu-debu beterbangan semakin tinggi dari jalanan yang berbatu dan bertanah. trilili. 65 . sang anak masih duduk di sana. saat dilalui oleh pedati atau pun kuda.... Nanana.....” Saat padangan matanya bertemu dengan sang bocah lusuh. tulang bagus. haha... matahari bersinar cerah. resah itu juga tiada gunanya. hihi. ninini. dikelilinginya bocah itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.. buat apa resah. sementara orang aneh itu masih berjalan berkeliling... Buat apa susah.. Tak jauh dari sana tampak seorang tua berjalang sambil bernyanyinyanyi kecil seakan-akan hidup ini penuh dengan kecerian belaka.. kera-kera bermain di hutan. Pandang matanya kosong.” gumamnya.

ngeri ah! Kabur. benar-benar. ”Nah tuh.” lanjut orang itu seperti berbicara pada dirinya sendiri. ”Wah. sang bocah yang dipanggil ’cah bagus’ itu masih saja termangu dalam pikirannya.. Tidak biasanya ada bocah yang demikian berani dan tak malu-malu seperti ini.” jawabnya dan lanjutnya. siapa?” Tercengang juga orang itu mendengar pertanyaan balik dari bocah yang mengaku Lantang namanya itu. Lalu ucapnya. karena paman tertawa sambil menangis. siapa namamu?” tanya orang itu tiba-tiba. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Hey. wah kamu itu lucu bener.” Mendengar jawaban yang kasar dan lugas tersebut. ”Nggak ada hujan atau angin. sekarang malah ketawa nggak ketulungan. Situ yang ngomongnya nggak kedengeran. ”engkau cerdik . Ia memang begitu.” kata orang aneh tersebut sambil menghapus air matanya yang berlerenan karena tertawa terbahakbahak tadi. dan ia pun berkomentar. saat tertawa. ”Namaku Rancana. orang aneh tersebut malah tertawa terbahak-bahak. Seakan tidak mendengar pertanyaan tersebut.” jawabnya jenaka. Entah karena kata ’budeg’ atau memang baru saja tersadar dari ketermenungannya. bocah itu baru saat itu menatap sang orang aneh. ”tentu saja. Mimik dan cara menjawab yang menarik itu membuat Lantang menjadi makin ceria sehingga sesaat dapat melupakan kedukaannya.” jawab Rancana terkesan. bukan?” ”Hahaha. cah bagus.” jawab anak itu. ”Wah sayang. paman. tidak bisa menahan air matanya. Senang ia bertemu dengan anak yang perangainya mirip dengannya. ”kalau paman. kecil-kecil sudah budeg. Sudah lupa sedihnya ia saat berhadapan dengan orang aneh itu. tapi orang-orang biasanya memanggilku dengan julukan Bayangan Menangis Tertawa. ”Nama saya Lantang. alih-alih marah. ngatain orang budeg..66 BAGIAN 2.

api yang diatur dapat digunakan untuk memasak.” Mendengar uraian mengenai baik buruknya sesuatu yang relatif terhadap cara penggunaannya itu membuat Lantang menjadi sedikit bingung. ”ilmu silat ataupun kanuragan itu sama halnya seperti pisau atau api. Tidak biasanya bocah-bocah menolak apabila diajari ilmu silat. membunuh atau perbuatan jahat lainnya. Kembali Rancana tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang lucu dan jujur itu. ”tapi paman.67 sekali Lantang. sejak ia melihat bahwa bocah tersebut memiliki struktur tubuh yang cocok untuk menjadi seorang jago silat. Setelah berhenti tertawa dan juga menyapu air matanya. Nalarnya masih meyakini bahwa ilmu silat hanyalah sumber kekerasan belaka. untuk apa ilmu silat jika kita tidak mau berseteru secara fisik dengan orang lain? Buat apa mempelajarinya?” . Akan tetapi pisau dapat pula digunakan untuk mengancam orang lain. apalagi bila tahu bahwa dirinya yang akan menjadi guru. Kita dapat menggunakan pisau untuk membantu pekerjaan kita seharihari. maukah engkau menjadi muridku?” Katanya kemudian mengutarakan maksudnya yang sedari tadi telah disimpannya di dalam hati.. ilmu yang berguna hanya untuk mengundang kekerasan.” Lanjutnya kemudian.” terangnya kemudian. Maukah?” Lantang terdiam dan kemudian dengan lemas menggeleng. melunakkan logam.” Terkejut juga hati Rancana mendengar jawaban sang bocah. Secara umum amat senang anak-anak belajar silat. Benar-benar bocah ini aneh dan amat menarik hatinya. sehingga ucapnya. ilmu silat. mencetak emas dan lainnya.. ”Menjadi murid paman? Apa yang bisa dipelajari dari paman? Menyanyi?” tanyanya penuh selidik. ”saya benci ilmu silat. misalnya memotong daging untuk dimasak. ”Logika yang tidak tepat itu. ia pun akhirnya berkata. memotong sayuran sebelum direbus dan sebagainya. dengan paman. karena tidak melihat kelebihan Rancana si Bayangan Menangis Tertawa itu. Demikian pula dengan api. ”tentu saja belajar kanuragan. cah bagus.. Eh. Akan tetapi api yang tidak terkendali dapat menyebabkan kebakaran rumah dan hutan. ”tidak paman.

cah bagus. ”coba jelaskan pikiranmu mengapa kamu terlihat tidak senang ilmu silat! Atau ada sesuatu yang pernah engkau alami yang menyebabkan engkau benci ilmu silat?” Diingatkan akan tragedi yang barus saja dialaminya. dan bergulirlah air matanya jatuh. tidak pantang seorang lelaki menangis. ”Menangislah. merasa ada yang aneh dengan keadaan Lantang. Hening. perubahan wajah Lantang yang jelas terlihat itu. paman!” jawab Lantang jujur. si Bayangan Menangis Tertawa. Selain suara angin dan debu yang beterbangan.68 BAGIAN 2. Sesaat. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Banyak manfaat ilmu silat selain untuk bekelahi. ”Wah. Akan tetapi ia berusaha untuk tidak menangis.” jelas Rancana. Ia tadi telah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi menangis. Ia tidak mau terlihat lemah. cah bagus?” tanya Rancana dengan hati-hati. keheningan pun lewat di antara mereka berdua. dan sejentik air mata terlihat pada sudut matanya yang mulai berkaca-kaca. Walaupun bibit-bibit persahabatan telah muncul di antara dua insan tersebut akan tetapi waktu masih perlu untuk menanti agar hal tersebut tumbuh dan berbuah. tiada suara lain di sekitar mereka. Mempertinggi daya tahan tubuh terhadap penyakit. ia akan membuktikan pada orang-orang yang menyebabkannya menderita bahwa ia bukan anak cengeng dan ia bisa hidup dengan kekuatannya sendiri. Antara lain untuk menjaga kesehatan. mengisyaratkan adanya peristiwa hebat yang mengguncangkan jiwa anak itu. Dan . Rancana. Bila itu dapat menolong mengeluarkan bebanmu. maka tanyanya lebih jauh. walaupun tanpa suara. melancarkan nafas. si bocah lusuh di pinggir jalan itu. saya belum pernah mendengar hal seperti itu. Melancarkan peredaran darah. Salah satu dari mereka harus bisa meyakinkan yang lain. membuat diri selalu bersemangat dan juga melatih konsentrasi dan kesabaran. Lantang mendadak terlihat murung. Tapi walaupun demikian ingatan yang masih segar akan semua peristiwa tersebut membuatnya kembali bersedih. ”Apa yang sebenarnya terjadi. menangislah!” Tak tahan dengan anjuran dan juga suara Rancana yang bersimpati membuat bendungan air mata Lantang hancur.

Sedangkan di sisi timur berdiri juga sembilan orang. Sedikit lebih baik perasaannya. menyerahlah. Ki Jagad Hitam dan delapan orang sisa dari Lingkaran Dalam. ”He. Naga Geni dan delapan orang Penjuru Angin.” . *** Bukit Utara di sebelah selatan Paparan Karang Utara yang di waktu siang hari umumnya tampak lengang. Hampir habis itu murid-muridmu kami bantai. Jagad Hitam. tiba-tiba saja dipenuhi banyak sekali orang-orang yang berpakaian ringkas dan memiliki gerakan mantap. Setelah mengeluarkan bebannya melalui tangis. Dalam pertempuran pertama hampir hilang seluruh murid perguruan Kapak Ganda.. Lain dengan orang-orang Perguruan Atas Angin yang tidak terbiasa pada daerah berbatu-batu seperti ini. Dan bantuan ini langsung menyerang mereka yang ada di Bukit Utara melainkan akan menyerang dan menguasai markas Perguruan Kapak Ganda yang saat ini sedang kosong. Orang-orang ahli silat.” teriak Naga Geni jumawa. sehingga hanya tersisa sang guru Naga Geni dan delapan orang murid utamanya. ”bahkan separuh dari Lingkaran Dalam yang dibanggakanmu itu sudah masuk liang kubur. Di sisi timur berdiri sembilang orang. karena mereka berada di daerahnya sendiri. Pertemuan ini merupakan kala kedua sejak pertempuran pertama di tempat yang sama. bahwa Ki Jagad Hitam telah memerintahkan untuk meminta bantuan pada sisa-sisa muridnya.69 Rancana pun membiarkan Lantang menggunakan waktunya. dan mengapa ia sampai terdampar di tempat itu. Kedudukan yang sama sembilan lawan sembilan ini tentu saja membesarkan hati orang-orang perguruan Kapak Ganda. Apabila siasat ini berhasil sudah tentu orang-orang Perguruan Kapak Ganda akan menjadi hilang semangatnya dan mudah untuk dijatuhkan. tenanglah Lantang. Akan tetapi ada hal yang tidak diketahui oleh Naga Geni dan murid-muridnya. Dengan perlahan-lahan diceritakannya peristiwa yang terjadi pada diri dan keluarganya. Dan itu harus dibayar mahal oleh perguruan Atas Angin dengan tewasnya separuh anggota lingkaran dalam dan hampir seluruh murid tingkat satu dan dua.

Keringat panas akibat gerakan yang banyak menguras tenaga tampak mengalir deras dari kening keduanya. yang seakan-akan tiada memberi ruang untuk kabur atau menyerang. Dengan pengaturan tenaga yang mumpuni. dan sambil berjungkir balik dilemparkannya ke belakang kedua kapaknya satu per satu. dengan arah putaran yang berbeda. Satu kapak di satu waktu dan yang lainnya di lain waktu. Naga Geni merengsek maju. karena dilemparkan dalam bayangan kapak pertama dan lebih cepat. Gerakangerakan dalam ilmu tersebut didominasi oleh sabetan-sabetan melingkar menyilang. berkacalah. mengingat hampir saja nyawa mereka melayang di tangan lawannya masing-masing. tidak memberi ruang gerak pada Ki Jagad Hitam. yang menjadi ciri Perguruan Kapak Ganda.70 BAGIAN 2.” Tak bisa terima dengan ejekan itu. ”Hemm. Dengan tanpa ’ba-bi-bu’ lagi. akan tetapi tidak yang kedua. Ia dapat dengan mudah melihat lemparan kapak pertama. ”Naga Geni. Akhirnya berada keduanya pada jarak aman untuk diserang. daripada aku yang melakukannya. Lebih baik kamu penggal sendiri kepala murid-muridmu itu. Dengan dua buah kapak. Kaget melihat serangan yang berbahaya itu Naga Geni tak kehilangan akal. Di antaranya juga terdapat keringat dingin menetes. Alih-alih melompat mundur untuk menghindar Ki Jagad Hitam malah meloncak ke atas terbalik dan menyerang belakang kepala Naga Geni dengan tangannya yang siap mencengkram ubun-ubun. dengan segera ia menekuk tubuhnya ke depan untuk menghidar serangan pada belakang kepalanya. malah Naga Geni yang termakan sendiri dengan siasatnya untuk memancing emosi Ki Jagad Hitam. orang-orangmu juga hampir habis. Ia melihat bahwa jurus-jurus dari Kapak Pengantar Nyawa kuat pada arah depan akan tetapi kosong pada arah atas sebelah belakang. . ia pun menyerah Ki Jagad Hitam dengan ilmu silatnya yang bernama Kapak Pengantar Nyawa. kapak kedua Naga Geni bisa datang lebih dulu dari yang pertama.” dengus Ki Jagad Hitam yang hampir saja menjadi makanan kapak kedua yang dilemparkan oleh Naga Geni. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Jagag Hitam yang tidak terpancing dan dengan kalem jawabnya.

Setelah masing-masing memilih lawannya satu-satu. perguruannya. sudah tidak ada yang tinggal dari perguruannya. Toh. Ia kalah bukan hanya oleh ilmu silat dari Perguruan Atas Angin yang lebih baik melainkan pula oleh siasat keji mereka untuk menyerang perguruan saat penghuninya sedang bertempur di luar. Setiap orang melakukan jurus demi jurus. Mengingat kebodohan dan kekalahannya itu Naga Geni pun memutar kapak gandanya lebih cepat dan melemparkan ke samping.!” terpenggallah kepala Naga Geni rapih oleh kedua kapaknya. maju pula kembali Naga Geni berhadapan dengan Ki Jagad Hitam. mereka pun meningkatkan daya serang mereka sampai semampu-mampunya. berselang tak berapa lama jatuh satu persatu kedelapan Penjuru Angin di tangan sisa-sisa Lingkaran Dalam.. Akibatnya sudah dapat diduga. Dan.. Matahari pun telah meminggalkan posisi tertingginya. Murid-muridnya. Lebih baik ia membuhuh diri dari pada dibunuh. Mendadak terdengar suara. perguruan diserang. tipu demi tipu untuk menjatuhkan lawan-lawannya. semua telah habis dibasmi oleh Perguruan Atas Angin. Bertempuran pun kembali dimulai. Tingkat ilmu yang seimbang dan daya tahan diperlihatkan dalam masing-masing pertempuran..” Mendengar berita itu. .71 Dengan isyarat tangannya Naga Geni memerintahkan semua muridmuridnya dari Penjuru Angin untuk maju. Bersamaan maju pula sisasisa dari Lingkaran Dalam. Hilang sudah semangat Naga Geni melihat tumbangnya kedelapan murid utamanya. Sampai tinggal Naga Geni yang masih dapat berdiri. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Perguruan Atas angin. Dengan berdesing kedua kapak itu berputar dalam arah yang berbeda dan kembali kepada yang melemparnya setelah terbang miring melengkung. ”Guru. ”capp. Ia tidak sudah dikalahkan dan dipermalukan oleh Ki Jagad Hitam. itu pun dengan penuh luka pukulan di sana-sini. dan juga mendengar berita bahwa perguruannya telah diserang saat ia dan murid-muridnya berada di sini. akan tetapi belum terlihat ada yang menang atau kalah dari kesembilan perkelahian tersebut. sontak hilang konsentrasi orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang sedang bertempur.

” ujar Ki Jagad Hitam.72 BAGIAN 2. Mulai hari ini orang-orang akan melupakanmu dan juga Perguruan Kapak Ganda.. Mereka adalah anak-anak dari murid-murid Perguruan Kapak Ganda yang masih hidup karena berlindung pada satu ruang bawah tanah di salah satu rumah. Beberapa sosok mayat murid-murid tingkat rendah perguruan yang pada saat terakhirnya masih membela rumah-rumah mereka. cikal bakal masalah. bukan?” ”Boleh juga usulmu itu. Di tengah-tengah puing-puing tersebut terdapat sekumpulan anakanak yang berwajah pucat dan muka habis menangis. yang membela keunggulan nama perguruannya.. Tampak puing-puing bangunan yang telah habis dilalap api. Pada akhirnya mereka pun akan mati juga. Ki Jagad Hitam pun turun dari Bukit Utara menuju Desa Paparan Karang Utara untuk melihat hasil kerja murid-muridnya yang berhasil membumihanguskan rumahrumah Perguruan Kapak Ganda. Secara kebetulah tempat tersebut ditemukan oleh seorang murid Perguruan Atas Angin. Tapak Kelam. Ada yang mati hangus terbakar. Semuanya hancur. Semua yang dilakukannya dirasakan merupakan sudah sepantasnya. dari pada aku bersusahpayah membunuhmu. Mengapa tidak kita buat mereka menjadi gembel saja dan disuruh mengemis.” kata Ki Jagad Hitam. ”bunuh saja semuanya!” ”Ki Jagad Hitam. ”terlalu enak apabila dibunuh. Pakaian mereka kotor dinodai tanah dan percikan-percikan darah. PERUBAHAN-PERUBAHAN Melihat hal tersebut bergelak tawa Ki Jaga Hitam. ”Sesukamulah.” Tidak ada sedikitpun rasa menyesal atau kasihan dalam diri Ki Jagad Hitam. tampak di mana-mana.. Hampir-hampir tak tersisa kejayaan Perguruan Kapak Ganda. Perguruan yang paling tangguh di bumi persilatan. Perguruan Atas Angin. lebih baik engkau bunuh diri. Setelah beristirahat sebentar kemudian. ”Hmm. hanya setinggi lutut dari atas tanah. Juga tumpukan batu-batu yang digunakan sebagai gapura pintu utama perguruan. jika boleh dikatakan. ada pula yang tertusuk golok ataupun tombak. ”hahaha.” lanjutnya yang artinya telah memberi ijin untuk melak- . bagus Naga Geni.” usul seorang dari Lingkaran Dalam.

tidak akan bisa mereka mencapai tingkatan ahli dalam bela diri. Tapi apa dayaku. dengan dibantu oleh beberapa murid Perguruan Atas Angin. harus me- . Lebih baik aku melupakan hal itu dan memulai kehidupanku sendiri. ”Benar. mengapa tidak ingin mempelajari ilmu silat. Dengan demikian sehebat apapun mereka belajar. paman. paman. Lebih jahat ketimbang membunuh begitu saja anak-anak itu. oleh karena itu ia menutup jalan darah penting dari tubuh mereka.” ”Bukankah dengan demikian enkau malah membiarkan orang-orang yang jahat itu berkeliaran. untuk meyakinkan. Mungkin masih lebih baik apabila mereka dibunuh saja.” Lantang pun terdiam. Benar-benar suatu siasat yang keji dan jahat. ”Jadi itu alasanmu. Pada masa itu memang sudah menjadi suatu kewajiban bahwa anak yang orang tuanya dibunuh. Setelah mendapat persetujuan dari Ki Jagad Hitam. yang merupakan salah seorang murid rendahan Perguruan Kapak Ganda dibantai oleh orang-orang Perguruan Atas Angin. Tapak Kelam pun kuatir apabila anak-anak itu besar nanti akan menuntut balas. dipermalukan dan disuruh untuk mengemis. *** Tak tanah Rancana mendengar cerita yang dikisahkan oleh Lantang. Terlebih mereka telah menewaskan kedua orang tuamu dan juga kerabat-kerabatnya. Selain itu anak-anak yang selamat masih pula disiksa.73 sanakan niatan itu.” tanya Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Setelah puas menyiksa mereka. Tapak Kelam pun masih menghadiahi mereka masing-masing satu totokan di punggung. Mengotorkan mukanya dan menyuruh mereka untuk berguling-guling di atas debu dan kotoran hewan. Seperti halnya Ki Jagad Hitam. Tapak Kelam pun memerintahkan anak-anak yang malang itu untuk mengganti pakaiannya dengan rombengan yang disediakan.” ”Tidak inginkah engkau membalas dendam kedua orang tuamu?” ”Keinginan ada. tentang bagaimana orang tuanya.

Ia sedari kecil tidak suka kekerasan. Ia pun mengangkat guru pada Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. Anggap saja semacan cara untuk menjadi sehat. Hal itu sebagai suatu bakti kepada mendiang orang tuanya. PERUBAHAN-PERUBAHAN nuntut balas. atau merupakan bawaan. Terutama dalam hal ilmu meringankan tubuh. yang tidak tahu-menahu atas bencana yang telah . Yang mengejutkan adalah pada tiap-tiap kereta ada simbol dua buah kapak bersilangan dalam suatu lingkaran. Tiga kereta yang di tengah berisikan orang-orang. Entah sikap ini timbul dari keminderannya akan pekerjaan ayahnya yang hanya murid rendahan dan juga pengurus kandang kuda. gulungan-gulungan kain. Tujuh buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua buah kuda semuanya. Ada kotakkotak. Sehat itu perlu dalam bekerja untuk menafkahi hidup. Ayahnya pun sudah berulang kali menasehatinya untuk menghadapi orang-orang yang mengganggunya. Apakah orang-orang ini juga anggota Perguruan Kapak Ganda. yang tidak tahu bahwa perguruannya telah ditumpas habis oleh Perguruan Atas Angin? Ya. Bila teman-teman sepermainannya mengganggunya. salah seorang ahli silat yang tidak banyak pada masa itu. sayur mayur dan barang-barang lainnya. akan tetapi ia tidak bisa. dari pada harus berseteru dengan orang lain. *** Iring-iringan kereta kuda berjalan berurut-urutan. hal ini dapat terlihat dari kepala-kepala yang tampak dari lobang-lobang jendela pada kain terpal yang menutupi kereta-kereta kuda tersebut. bagaimana jika kamu menjadi muridmu dan belajar silat. bukan?” Akhirnya Lantang pun setuju.74 BAGIAN 2. ia hanya menjauh dan menghindar. ”Tapi paman. Lantang tahu hal itu. tapi balas dendam bukanlah hal yang disukainya. mereka adalah sisa-sisa dari Perguruan Kapak Ganda.” ”Begini saja. Ia memilih lebih baik menyendiri. Lambang Perguruan Kapak Ganda. akan tetapi ilmu itu jangan digunakan. saya tidak suka kekerasan. Sedangkan sisa kereta selebihnya berisikan batang-batang kayu seperti bahan dasar untuk membuat tombak. Dua buah kereta yang di depan berisikan hanya barang-barang. Berjalan pelan-pelan seakan-akan waktu tak begitu penting artinya. jauh dari keramaian.

Bisa dibilang mereka adalah anggota dari golongan sesat. karena percuma. marah dan tidak rela. Naga Geni. Sabit Kematian dan Cermin Maut. memberikan tenaga yang lebih baik bagi Mayat Pucat. Sebenarnya tokoh-tokoh sakti dari Tanah Seberang Pulau itu bukanlah orang-orang lain dari sang guru. Lain pula halnya dengan Sabit Kematian. ketakutan. yang merupakan ilmu silat bersenjata kedua kapaknya yang memenuhi ruang gerak lawan – menyapu ke segala arah. Bahkan tidak jarang. ia menculik orang dan membunuhnya untuk digunakan sebagai alat latihan. Dua tokoh pertama adalah laki-laki setengah tua seperti halnya Naga Geni. semakin baik. Melainkah mereka itu adalah saudara-saudara angkatnya. Dengan cara ini ia dapat menyerap sisa-sisa energi dari mayat-mayat saat terurai dalam tanah. Selain itu orang-orang yang matinya penasaran. Semakin segar mayat yang akan digunakan. Mengandung racun keji dan ganas. Adapun ketiga tokoh yang diundang itu adalah Mayat Pucat. mirip dengan malaikat pencabut nyawa pada hikayat-hikayat di suatu tanah jauh. ketimbang orang yang meninggal dengan baik-baik. Energi yang tersisa dari mayat-mayat mereka tidak dapat dimanfaatkannya. Mayat Pucat. Mereka-mereka ini bisa saling mengangkat saudara karena kesamaan sifat yang tidak mematuhi norma-norma yang umumnya dipatuhi oleh seorang pendekar. Orang-orang berilmu akan tetapi memanfaatkan ilmunya semena-mena kepada sesamanya. sedangkan yang terakhir adalah seorang perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik dengan dandanannya yang tebal. maka ketiga orang ini memilki masing-masing keahlian atau ilmu yang canggih pula digunakan dalam bertempur. Saat bencana itu terjadi mereka sedang pergi ke Tanah Seberang Pulau untuk mengundang beberapa tokoh sakti yang akan dijadikan pelatih di perguruan. sesuai dengan julukannya memiliki ilmu yang bersifat dingin. Jika Naga Geni memiliki Kapak Pengantar Nyawa. Senjata andalannya adalah kepalan tangan dan juga kuku kaki dan tangannya yang sudah kuning menghitam. Senjata andalan- . Wujudnya yang selalu berjubah dan bertudung kepala itu. saat ia mencari ilmu di Tanah Seberang Pulau.75 menimpa perguruan mereka. Oleh karena itu Mayat Pucat tidak suka mengganggu kuburan para pendeta atau orang-orang suci. Ilmu yang diperolehnya setelah bertahun-tahun bertapa bersama mayat-mayat di kuburan.

yang menjadi korban Tarian Penjemput Nyawa-nya. Tiada sisa satu orang pun yang dapat memberi tahu apa yang terjadi. Sesekali masih ada asap dari kayu-kayu yang belum habis terbakar.76 BAGIAN 2. maka tiadalah orang yang akan berprasangka bahwa wanita yang terlihat halus ini merupakan salah satu dedengkot kaum sesat.” Kedua temannya mengangguk-angguk setuju. Tokoh terakhir adalah Cermin Maut. Dengan loncatan-loncatannya ia bisa menghabisi musuh yang menyerangnya sampai jarak dua tiga tombak. Pun tidak ada gunanya . tergiur pula ketiga orang ini untuk mengunjunginya. ”Bagaimana kalau kita bangun lagi saja perguruan ini. Sudah banyak jago-jago muda. Dengan ilmunya yang dikenal sebagai Tarian Penjemput Nyawa.” usul seorang. Tak terlukiskan bagaimana marah dan sedihnya ketiga orang itu saat tiba di pintu Perguruan Kapak Ganda yang tiada lagi berwujud. akan tetapi sudah disebar kemana-mana. Hanya puing dan reruntuhan yang ada. Mereka-mereka inilah yang masih dapat menceritakan apa yang terjadi. Dengan sejata ini Sabit Kematian merupakan ahli tempur jarak menengah. ”Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang. Sambil kita menyusun kekuatan dan mencari tahu siapa dalang di belakang peristiwa ini semua. Sayangnya mereka tidak tahu bahwa ada anak-anak yang tidak dibunuh. PERUBAHAN-PERUBAHAN nya adalah semacam sabit besar yang dikaitkan pada tongkat setinggi kepala. Biasanya mereka itu telah terjebak pada pesonanya sebelum dibunuh. Terlebih setelah datang utusan yang mengundang mereka untuk menjadi guru di Perguruan Kapak Ganda tersebut. Mendengar bahwa saudara angkat mereka Naga Geni telah menjadi ketua suatu perguruan dan hidup makmur. Cermin Maut dapat mempesona musuh yang tidak kuat batinnya untuk kemudian membunuhnya. ”toh saudara Naga Geni memang mengundang kita untuk menjadi guru di sini. Oleh karena itu bergegaslah mereka berangkat sambil tak lupa untuk membawa barang-barang yang dapat digunakan sebagai senjata untuk membantu tugas mereka sebagai guru nanti. Tak ada salahnya bila kita meneruskan pekerjaannya.” tanya seorang dari mereka. Apabila dilihat dari wujudnya. terutama yang tampan.

Karena bagi mereka pimpinan bukanlah sesuatu yang diimpikan. Harus ada yang dikerjakan dan membangun kembali Perguruan Tapak Ganda merupakan suatu hal yang masuk akal untuk diusahakan. Dengan cara itu Perguruan Kapak Ganda dalam waktu singkat kembali memiliki jumlah murid yang banyak. ”Tiga ratus delapan belas. terdengar semakin jelas bahwa suara-suara tersebut tidak berasal dari satu orang.!” Dengan semakin dekatnya sumber suara itu. di kaki Gunung Hijau. Sebagai orang yang paling supel diantara mereka bertiga Cermin Maut pun mengambil alih tampuk pimpinan dan kedua orang itu pun setujusetuju saja. Mereka mencari murid-murid yang dianggap baik dan dapat dididik sebagai murid yang handal. Tak malu sang pagi pada mudamudi yang telah bangun dan berkeringat sejak tadi. melainkan berganti-ganti. *** ”Dua ratus tiga puluh tujuh..!” Begitulah suara-suara yang sayup-sayup terdengar dari suatu arah mata angin di dalam Rimba Hijau..!” ”Dua ratus tiga puluh delapan. Ada belasan lebih orang-orang muda yang sedang berjalan dengan cara yang tidak biasa. Dengan bantuan rombongan dari orang-orang Perguruan Kapak Ganda yang masih tersisa ketiga saudara angkat golongan sesat itu pun mulai membangun kembali Perguruan Kapak Ganda. Pagi masih malas menggeliat untuk pergi dari peraduannya.77 apabila mereka kembali ke Tanah Seberang Pulau setelah jauh-jauh ke Paparan Karang Utara. Kadang proses pencarian murid dilakukan melalui bujukan bahkan paksaan... Bila mula-mula mereka menghadap ke utara dan kaki kanan berada . melainkan ketinggilan ilmu silat baru merupakan kebanggaan. Dan pada setiap langkahnya mereka meneriakkan jumlah langkah yang telah dilampaui. walaupun foton-foton sang surya telah membombardirnya.!” ”Tiga ratus sembilan belas.

Dengan manggut-manggut terlihat seperti mengerti para muda itu mengiyakan apa yang diminta oleh Ki Tapa. Dengan bersamaan kaki kanan diayunkan ke depan dan diletakkan persih menghadap utara.” Lanjutnya. ditahan atau digentak-balikkan. dengan titik tengah kedua telapak kaki berada segaris menghadap ke utara. dengan setiap kalinya terdiri dari dua arah. PERUBAHAN-PERUBAHAN di belakang. Untuk itu . dengan jarak kirakira selebar bahu. tenaga pinjaman dari bumi dapat dipindahkan. Kalian bisa berikan seluruh tenaga kalian untuk satu serangan ini.78 BAGIAN 2. ”Dengan adanya kuda-kuda.” jelas Ki Tapa. dan kita tahu atau menduga bahwa lawan tidak akan mengelak. Akan tetapi hati-hati. maka kaki yang berada di belakang tersebut menghadap ke arah timur laut. Bisa dibelokkan. dialirkan. ”bila tenaga kita kuat dan lawan kurang kuat. Ini dikenal sebagai keras lawan keras. berat badan perlahan dipindahkan ke kaki kiri dengan memutar perlahan tumit. dan kita kehilangan kendali. Apabila melangkah ke depan. Hal yang sama pun dilakukan apabila melangkah ke belakang dengan urut-urutan yang berbalikan. Tanpa kuda-kuda tidak ada ilmu silat. Karena saat serangan atau tenaga kita lewat. saat itulah serangan akan masuk.” Begitulah sekelumit keterangan yang diberikan oleh Ki Tapa pada suatu hari saat mengajari murid-muridnya mengenai teori-teori gerakan bela diri. tenaga sudah habis diberikan. bisa kita balikkan tenaga lawan secara langsung. Tergantung apa yang hendak diperoleh. sedangkan kaki yang di depan persis menghadap utara. sehingga sulit untuk menariknya untuk digunakan sebagai tenaga bertahan. ”Kuda-kuda adalah bagian penting dari ilmu silat. maju dan mundur yang harus dilakukan sebanyak 1000 langkah. jika yakin masuk dan menang. Kita merugi. yaitu melakukan sepuluh kali latihan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut. Cara melangkah ini dinamakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut oleh Ki Tapa saat ia mengajarkan bentuk gerakan ini kepada dua puluh empat murid-muridnya. sehingga telapak kaki kiri menghadap ke barat laut. Yang kuat akan menang. jika lawan bisa mengelak atau membelokkan.

masing-masing delapan orang. keliru itu langkahmu. Begitulah mereka saling mengingatkan dan membantu. Mereka yang termasuk dalam golongan ini. adiknya. biasanya minta langsung untuk menirukan. Harus agak serong. akan tetapi tidak melakukannya. Sehingga latihan merupakan waktu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda itu setiap hari.” kata Misbaya. Akan tetapi saat diminta untuk melakukannya. dibandingkan dengan ingatan mereka akan gerakan Ki Tapa. Karena mereka sama-sama baru mulai mempelajari bela diri dan juga cara Ki Tapa yang tidak membeda-bedakan mereka. yang melakukannya dengan beriringan. Melalui cara ini murid-muridnya dapat dengan mudah mencerna apa yang ia ajarkan. Tanpa perlu mengingat-ingat dan membayangkan. Bakat murid-muridnya memang berbeda-beda. Dan . Ingatan mereka akan terekam dengan sendirinya dalam gerakan. yang dirasa Ki Tapa paling banyak mengerti gerakan yang baru diajarkan. ”Wah Rintah. Walaupun demikian ia dan Asap termasuk sebagian kecil yang sudah menyelesaikan sepuluh kali 1000 langkah maju mundur pada pagi itu. Mereka bisa mengoreksi gerakan-gerakan teman-temannya. Ada yang dapat dengan mudah menerima contoh dan teori yang diberikan. Dalam masing-masing kelompok diangkat satu pemimpin. Ada pula yang sulit untuk mengingat-ingat. melengkapi dan mengingatkan.79 mereka dibagi dalam tiga kelompok. akan tetapi sulit untuk melakukannya. karena mereka bisa dengan mudah melihat. sahut Rantih.” ucap Paras Tampan terengah-engah. ”Habis sudah napasku. dan bahkan tidak mau. mereka kurang lancar. tumbuhlah semacam rasa kekeluargaan diantara mereka. Dengan bersama-sama mereka saling membantu proses pembelajaran.!” ”Betul Rintah”. Dengan arif Ki Tapa berusaha memadukan kedua jenis perangai ini dan juga yang berada di antaranya. agar mereka saling membantu. dan Ki Tapa dapat melihat dari cara mereka mendengarkan dan kemudian melatihnya. ”kaki yang belakang jangan segaris dengan kaki yang depan. Dan yang dibantu pun dengan senang hati menerima petunjuk yang diberikan..

melainkan melonjorkannya sambil duduk dan mengetar-getarkannya untuk pelemasan.80 BAGIAN 2. Di kejauhan Ki Tapa tersenyum melihat minggu pertama latihan para kawula muda itu. ”Ramuan ini tidak akan menghilangkan rasa pegal pada kaki kalian. kurang lebih sepeminum teh hijau. Dengan cara ini tubuh kalian akan terlatih untuk cepat segar kembali. .” Benar. untuk melemaskan otot-otot kakinya dan juga memborehkan ramuan daun-daun seperti dipesankan oleh Ki Tapa. walaupun rasa lelah dan pegal masih menghinggapi kedua kaki mereka. Kedua puluh empat orang muda itu pun makan bersama-sama dengan Ki Tapa. selesailah semua kawula muda yang masih berlatih gerakan Melangkah Maju Mundur Kaki Membentuk Sudut tersebut. Sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan kurang dari lima puluh langkah lagi. Ia senang bahwa para muda itu dapat saling bekerja sama dan membantu.” begitu jelas Ki Tapa. Hanya sebagai catatan. Paras Tampan dan Gentong memijit-mijit kaki mereka dan memborehkan semacam daun-daunan yang telah dibusukkan dan diberi ramuan. Di tengah padang rumput. Tapi untuk sementara ia hanya akan menyimpan hal itu di belakang kepalanya saja. Kawan-kawan yang telah selesai lebih dahulu dan telah segar kembali membantu kawan-kawan yang baru saja beristirahat. Ia sendiri belum tahu mengapa ia merasakah hal itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN seperti petunjuk yang sebelumnya diberikan oleh Ki Tapa. Sambil sesekali juga bercanda ria. Asap. Walaupun demikian ia melihat bahwa di antara mereka terdapat bibit-bibit yang kurang baik dalam perangai. ”akan tetapi akan membantu peredaran darah untuk secepatnya mengganti bagian-bagian yang lelah dengan yang masih segar. setelah beberapa saat mereka merasa telah memiliki tenaga kembali untuk melangkah. Tak lama kemudian. *** Waktu makan siang pun datang. mereka jangan menekuk kakinya. Dan mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya yang telah lebih dulu selesai. Dengan tujuan agar otot-otot yang telah dipaksa untuk melangkah dapat terobati.

Saat ini para kawula muda baru mengetaui terdapat dua buah lapangan terbuka di tengah-tengah Rimba Hijau. ungkap Ki Tapa. Makanan yang ditemani dengan udara segar dan keluarnya keringat akibat bekerja fisik akan menjadi bertambah lezat. Nasi dan ikan bakar. Sedemikian cepat sehingga mereka tidak bisa mengenali apakah itu manusia atau bukan. bukanlah perkara mudah. akan tetapi terkait pula dengan kebutuhan tubuh akan asupan energi dari luar. oleh karena itu mereka pun beranjak ke lapangan ini untuk mencari tempat yang cukup. Sedangkan hari-hari selanjutnya. Sayur-sayuran sebagai lalap dan sambal. mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa memang Ki Tapa sendirilah yang memasak. Apabila tubuh butuh tambahan tenaga. telah menjadi pertanyaan tersendiri di benak masing-masing kawula muda itu. Sebenarnya perihal bagaimana makanan-makanan yang disantap mereka dapat hadir. kelinci dan jenis-jenis makanan lain yang akan menyita waktu untuk mempersiapkannya. Sedangkan makanan lezat pun akan menjadi hambar. Makan siang yang sederhana. Akan tetapi saat itu hanyalah semacam sup dalam periuk besar. Mereka pernah juga membicarakannya. makanan pun dihadirkan di sana.81 lapangan lain yang berada di tengah Rimba Hijau. akan tetapi untuk menyiapkan makanan untuk dua puluh lima orang dan tiga kali sehari itu. Ukurang lapangan yang pertama tidak mencukupi untuk melatih 1000 langkah. Pernah sekali waktu Rantih dan Gentong secara tak sengaja melihat sesosok bayangan yang bergerak amat cepat di belakang rumah Ki Tapa. ikan. Apalagi Ki Tapa masih kadang-kadang mengawasi mereka latihan. apabila perut telah kenyang atau banyak hal yang dipikirkan. Yang pertama adalah lapangan di sekitar pondok di mana mereka bermalam dan yang kedua adalah lapangan tempat mereka berlatih 1000 langkah ini. makanan sederhana pun akan menjadi lezat. Memang pada saat kedatangan mereka pertama kali ke pondok Ki Tapa. Hal itu yang sering tidak disadari bahwa kelezatan itu bukan perkara rasa dan campuran bumbu saja. Dan yang aneh tercium bau wewan- . Walaupun mereka tahu Ki Tapa memiliki ilmu. kadang terdapat sayuran. Dan karena setelah makan dan sedikit waktu beristirahat mereka akan kembali melakukan latihan di tempat yang sama.

Kirani. Ki Tapa pun memaklumi hal ini. sehingga ia tidak mencegah terjadinya sumbangan saling silang di . Saat hal tersebut diutarakan oleh Misbaya ke hadapan Ki Tapa saat mereka semua sedang bersantap malam. akan semakin jelas apa yang tampak. satu orang sepersepuluh. Hal ini sudah tentu melegakan dan menggembirakan hati Ki Tapa. Dengan patuh kawula muda itu tidak bertanya-tanya lagi. siapapun dia. Begitu pesannya. Ia. Asal cukup untuk menghasilkan tenaga. lebih dari yang lain. sedangkan Gentong butuh satu sampai dua porsi. Lalu jawabnya. Selalu tandas dan bersih. kepada Gentong sambil mengangsurkan sebagaian makanannya. Pada saatnya semua akan jelas dengan sendirinya. Dengan cara itu tidak ada makanan yang tersisa atau dibuang. Ini juga dikarenakan bobotnya yang memang lebih dari ratarata kebanyakan kawula muda yang lain. Tapi untuk Gentong hal ini tidak dapat dicegah.” kata Kirani. tumbuh pula rasa kebersamaan dalam membagi makanan. ini bagianku. Dalam acara makan bersama seperti itu. biasanya diberikan dari beberapa orang kawan-kawan lainnya. karena memang ia memiliki postur yang lebih besar dan juga tenaga yang dikeluarkannya saat latihan. kita akan tahu batas lapar dan kenyang kita. Untuk sementara waktu. simpanlah dulu pertanyaan itu. umumnya hanya makan setengah porsi. Ki Tapa hanya tersenyum. PERUBAHAN-PERUBAHAN gian bunga pada saat itu. apalagi di Gunung Hijau ini. salah seorang kawula muda putri. Dengan semakin berisinya kalian. Apabila kita berlatih teratur dan mawas diri. ”banyak hal-hal yang belum kalian tahu mengenai kehidupan di Rimba Hijau.” Perkataan itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak boleh lebih jauh bertanya-tanya atau mencari tahu mengenai hal-hal yang bagi mereka masih merupakan tanda tanya. melainkah dengan tekun berlatih dan berlatih.82 BAGIAN 2. ”Gentong. Sudah tentu hal ini akan menggembirakan orang yang memasaknya. Ki Tapa juga melatih para kawula muda untuk tidak makan terlalu kenyang. Kekurangan setengahnya. Lima orang telah menggenapi setengah yang kurang dari kebutuhannya. seperti halnya dalam latihan. Bagi yang memiliki lambung yang besar dan panjang mendapat donor dari yang kurang kebutuhan makannya.

” kata Ki Tapa. ya ’kan?” jawab temannya kukuh. ada perlu apa kalian di sini?” yang ternyata merupakan suara Ki Tapa.. ”Bagaiman kalau Ki Tapa tahu nanti?” tanya temannya balik. ”Kita diminta untuk tidak menampakkan diri dan mengganggu. Dan mulai mendengarkan alam sekitar dan juga diri mereka sendiri. Dan juga kupu-kupu yang beterbagangan lirih dalam aliran udara yang gemulai. Kecil.. Setelah semua siap. Lakukan sampai seribu tarikan nafas. Seperti pada saat kalian pertama kali tiba ke sini. Setiap orang menghadap pada masing-masing mata angin utama dan antara. Keheningan alam pun menyelimuti ketiga lingkaran manusia itu. . Coreng. Kembalikan ke dalam keranjang di sana. Semut-semut yang berjalan. halus. tapi jelas. seakan-akan telah biasa. Angin semilir. mulailah mereka kembali membangun tiga lingkaran yang masing-masing bergaris tengah dua puluh langkah. makan telah usai dan juga waktu istirahat. mereka turun dan bersila hampir dalam saat yang bersamaan. ”Sekali-kali bolehlah. ”Moreng. ”tolong bereskan sisa-sisa daun dan mangkoknya. tapi tidak untuk tidak melihat. Serbuk-serbuk bunga. sambil menunggu beberapa kawan yang membereskan sisa-sisa makan siang. Lamat-lamat terdengarn suara bagai angin semilir. ”Baiklah.. Sontak mengagetkan kedua insan itu. Dan kalian kembali duduk dalam posisi Tiga Buah Delapan Mata Angin. tapi terdengar suaranya. Coreng!” sahut sesosok bayangan setinggi kambing dari sebuah semak-semak di ujung timur laut lapangan itu..83 antara mereka saat makan. Moreng!” bantah bayangan lain yang berada di sebelahnya. Kemudian tanpa diperintah. Tidak terlihat wujudnya. ”Kita tidak boleh mengintip anak-anak itu berlatih.” Para kawula muda itu pun mengangguk dan mereka mengambil tempat untuk mulai melakukan mengheninkan cipta.

Ki. sedapat mungkin tidak menampakkan diri kepada manusia. kedua orang kate tersebut langsung berlutut di depan Ki Tapa yang telah berdiri di depan mereka.!” katanya tegas. tak tega melihat sahabatnya merasa bersalah. Dengan mengetahuinya. maafkan kami. ”Tidakkah.” terang Ki Tapa. ”Berikan penjelasan. ”tapi kalian tahu ’kan alasan mengapa aku tidak memperbolehkan mereka untuk bertemu dengan kalian?” Kedua orang Manusia Tiga Kaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Baiklah. ”Begini.” Tapi tanyanya kemudian.” sahut Moreng. ”bahwa kalian itu bangsa Manusia Tiga . berkaitan dengan hubungan dengan manusia?” ”Hanya bahwa kami. Ia tidak tahu apakah ia harus menjelaskan hal ini kepada mereka atau tidak. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kedua makhluk yang ternyata mirip manusia. Moreng. akan tetapi tanpa senyum. Ki Tapa. langsung dengan ringannya melesat hilang dari tempat itu. ”Iya. maka orang dapat dengan bijaksana mengantisipasinya. Sebuah gerakan yang hanya dimiliki oleh ahli-ahli bela diri papan atas. Sesampainya di depan Pondok Batu. Dengan hanya beberapa gerakan mereka telah sampai pada suatu pondok yang terbuat dari batu yang disusun-susun. Masing-masing satuan batu berukuran sebesar kerbau paling kecil. Kakak Hitam-Putih memberitahu sesuatu pada kalian.” jawab Coreng.. tak apa-apan. Ki Tapa pun menghela nafas. ”Iya. Entah siapa yang bisa membuat rumah yang menakjubkan seperti itu. Ki Tapa pun berpikir sejenak..” tambah Moreng. akan tetapi dengan tinggi tidak sampai sepinggang orang dewasa itu. Coreng.” jawab Coreng.84 BAGIAN 2. kami hanya ingin melihat mereka berlatih.. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk lebih baik memberitahukannya. Wajahnya masih terlihat ramah. lalu lanjutnya. ”Maaf Ki Tapa. Dan paling besar berukuran sebesar gajah. Manusia Tiga Kaki.

”Benar. Dan di saat itu. bolehlah kalian berkenalan. dan belum terdapat Hamparan Hijau sebanyak sekarang.” ”Ihh. dapatlah mereka menerima larangan itu dengan lapang dada.” ”Akan tetapi Ki Tapa sendiri. Dalam kurang dari waktu selang satu purnama. ingin sekali mereka berinteraksi dengan manusia yang katanya memiliki banyak kelebihan dari bangsa mereka. Dan juga dikenal sebagai Yang Da- . bahwa sebelum para kawula muda mencapai tahap tertentu. saat Rimba dan Gunung Hijau belum terlarang. telah berdiam seorang sakti dari Negeri Kering Kerontang di salah satu daratan luas di selatan. aku tidak apa-apa. yang mengambil nama dari salah satu Lua (Loa) dari Uduu (Voodoo).” jelas Ki Tapa.?” tanya Coreng bingung.. Apakah sebenarnya Manusia Tiga Kaki itu? Dahulu kala. Terserap. Setelah mereka mengerti apa bahaya yang akan dialami oleh manusia yang belum memiliki cukup tenaga saat bertemu mereka.” Kedua Manusia Tiga Kaki itu pun mengangguk mengiyakan..” jawab seorang di antara mereka. Tenaga kalian yang secara alami digunakan untuk hidup itu. dapat berbahaya bagi manusia. Bila mereka telah cukup kuat. ”Mengapa hal itu terjadi. jangan tampakkan wujud kalian. ”jika aku tidak berlatih dan selalu bersama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. kalian akan tampak dengan sendirinya bagi mereka. ”Oleh karena itu aku tegaskan lagi. Dalam Uduu dipercaya bahwa Lua yang bernama Mawon Sanmdi ini bertugas sebagai penjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia orang mati.85 Kaki memiliki tenaga alami yang berbeda dengan manusia. Mungkin sudah hukum alam. aku tidak bisa menjelaskan.. Itu karena aku telah memiliki cukup tenaga dasar sehingga tidak terpengaruh oleh tenaga alami kalian. Di mana orangorang yang tinggal di sana umumnya berkulit gelap dan berambut pendek. Apabila dikatakan tidak terpengaruh. maka tenagaku akan habis dan mati.” jawab Ki Tapa. sebenarnya juga tidak seluruhnya benar. Terkejut mengenai akibat yang dapat dialami oleh manusia saat bersua terlalu lama dengan seorang Manusia Tiga Kaki. Orang sakti tersebut dikenal sebagai Mawon Sanmdi (Baron Samedi). Sebelumnya.

ia ingin menciptakan suatu jenis manusia yang belum ada sebelumnya. Mawon Sanmdi melakukan berbagai macam percobaan menggunakan manusia sebagai sarananya. Mawon Sanmdi. Salah satu percobaannya adalah dengan mengawin-kawinkah manusia yang dapat ditangkapnya. Seakan-akan berperan sebagai Sang Pencipta sendiri. Hitam-Putih dapat menang. dan Ki Tapa terkuras tenaganya. disalahtaksirkan secara semena-mena oleh Mawon Sanmdi sebagai sesuatu yang dapat dilakukan. Hitam-Putih. Dengan melakukan variasi-variasi perubahan sifat manusia yang ditunjang oleh ramuan-ramuan. Baik ukurannya. Hasil dari pertaruangan mati-matian ini menumbuhkan rasa persahabatan antara keduanya. Beberapa spesies bahkan saling kawin campur sendiri.86 BAGIAN 2. sehingga tercipta banyak jenis makhluk yang Mawon Sanmdi sendiri tidak memperkirakan sebelumnya. berhasilah Mawon Sanmdi menciptakan beberapa spesies baru yang lain sama sekali dengan manusia. perkawinan-perkawinan dan pengamatannya. PERUBAHAN-PERUBAHAN pat Membangkitkan. Sebutan kakak ini pun dikarenakan ia dan Ki Tapa pernah berhari-hari bertarung tanpa ada yang menang. tenaganya. yang dipanggil kakak oleh Ki Tapa adalah pemimpin kelompok Manusia Tiga Kaki yang berdiam di Rimba Hijau. Akan tetapi mereka ini berbahaya bagi manusia karena dapat menyerap energi kehidupan dari manusia. Kalimat-kalimat yang tersirat dalam kitab curian yang harusnya dipahami dengan hati yang bersih dan tenang. Lalu dengan cerdiknya ia purapura ingin belajar pada sang guru untuk kemudian mencuri kitabkitab pusakanya. Salah satunya adalah Manusia Tiga Kaki ini yang memiliki tenaga lebih besar dari manusia dan juga gerakan yang lebih cepat. Dan hanya dari manusia. yang dulunya bernama Cipta Raga. pemimpin mereka. Sampai-sampai Ki Tapa pun dilayani oleh bangsa Manusia Tiga Kaki tak ubahnya sebagai keluarga dari Hitam-Putih. . bukanlah seorang penganut Uduu sebenarnya. Itulah sebabnya Ki Tapa dapat memperoleh bantuan Coreng dan Moreng dalam hal menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Dengan terinsiprasi oleh kitab-kitab kuna tersebut. hanya dengan berbekal ketahanan tubuh dan kemampuan alamiahnya saja. maupun sifatnya. melainkan hanya kenal dengan seorang pendeta Uduu. dan dipaksa untuk berkembang biak dengan pasangan yang dipilihnya. dengan kesaktiannya yang tinggi.

Coreng dan Moreng pun yang tahu bahwa Ki Tapa memiliki kepandaian tidak berselisih jauh dengan Hitam-Putih pemimpin mereka.” kekeh Ki Tapa saat melihat murid-muridnya mencoba untuk mengangkatnya. Tertekuk hampir dua tiga jam lamanya.” ucap Ki Tapa perlahan tapi jelas terdengar oleh kedua puluh empat kawula muda tersebut. beranjaklah mereka masing-masing dari posisi duduknya. Di antara yang tenang-tenang itu tampak Paras Tampan. ”Dengan menggunakan campuran logam-logam tertentu yang berat . Selain itu secara alamiah bangsa Manusia Tiga Kaki ini pun telah memiliki tenaga dasar dan kecepatan yang melebihi manusia pada umumnya. Dengan sigap Gentong menerima periuk besar yang diangsurkan. karena kaki mereka yang kesemutan. Ki Tapa mengajarkan ilmu-ilmunya.87 Dan tidak hanya itu. dan sudah tentu atas persetujuan Hitam-Putih. apabila tidak cepat dibantu oleh Bayan yang kebetulan berada di dekatnya. ternyata memiliki bobot hampir setengah kerbau bunting. berkaitan dengan struktur tubuh yang berbeda dan juga aliran darah yang sama sekali lain. Dengan senang hati. Beberapa tampak tersungkur dan meringis. Ki Tapa akhirnya hanya dapat mengajarkan mereka cara mengendalikan tenaga mereka dan bagaimana mereka dapat memperhalus gerakan mereka. Misbaya. ”Kalian minumlah ramuan yang kubawa ini. Rintah dan Asap. waktu mengheningkan cipta usai. tak banyak yang dapat diajarkan oleh Ki Tapa. ”Periuk ini tidak sembarang orang bisa menikmati isinya. Sementara beberapa tampak tenang-tenang saja. tampak ringan di tangan Ki Tapa tersebut. Setelah beberapa mencoba. Sebagai reaksinya. dan ia hampir tidak dapat menahan berat periuk tersebut.” angsur Ki Tapa kepada Gentong yang berada di dekatnya. Hanya sayangnya. yakinlah mereka bahwa periuk tersebut memang benar-benar berat adanya.. Periuk besi yang penuh berisi ramuan. sehingga tidak terlalu memboroskan tenaga. *** ”Cukup. meminta agar Ki Tapa mau mengajari mereka ilmu-ilmu yang dimilikinya. Banyak dari mereka yang masih menyangka kalau Gentong hanya tidak sigap untuk menerima periuk itu dan bukan karena beratnya.

yang salah satu diantaranya menceritakan bagaimana ia melatih Langkah Ayam (Ji Xing Bu) ini. Selang tak berapa lama. Seakan-akan tahu apa yang mereka pikirkan.88 BAGIAN 2. Dengan cara ini.” lanjut Ki Tapa. sampai menghampiri. lentur gerakannya akan tetapi mantap. berkatalah Ki Tapa. akan menghasilkan racun pada larutannya. PERUBAHAN-PERUBAHAN dan keras. khasiat dari logam-logam istimewa tersebut akan larut dan memberikan manfaat kepada yang meminumnya. Akan tetapi hati-hati. Ada kisah menarik mengenai gerakan ini yang telah melegenda. Dalam akhir hidupnya dikabarkan bahwa ilmu Li . untuk memasak sejenis masakan. Pertama ia mengejar keretakeretanya. Beberapa dari mereka tampak kecut. saat ia mengawal barang-barang hantaran. ramuan yang tidak cocok. Tak jadilah setelah mendengar cerita Ki Tapa ini. setelah dirasakan ramuan sudah seharusnya bekerja.” Mengangguk-angguk beberapa anak muda di hadapatn Ki Tapa. Berulang-ulang diperagakannya. periuk ini dibuat. Pikir mereka. ”Jangan kuatir. ”Ini disebut Langkah Ayam.” Terdapat beberapa macam cerita mengenai Li Jeng (Li Zheng) dari Negara Tengah (Tiongkok). yakinlah kalian bahwa ramuan tersebut cocok untuk periuk ini. Akan tetapi peringatan ini hanya bagi yang ingin coba-coba untuk menggunakannya. selagi aku sendiri yang membuat ramuan. Ki Tapa pun berkata. bagaimana jika yang mereka minum saat ini adalah racun. tak terasa bergidik hati anak-anak muda tersebut. ”jangan pandang remeh gerakan sederhana ini. dapat menghasilkan ramuan yang bermanfaat dan juga ramuan beracun.” Mendengar bahwa periuk. ”perhatikan gerakan berikut ini!” Sambil lalu ia memperagakan suatu gerakan tertentu dengan kaki agak ditekuk dan melangkah ke depan. yang kemudian diketahui bernama Periuk Kerbau. dan kemudian ia melangkah ke arah yang berlawanan sampai suatu saat dan kembali mengejar lagi. kaki-kakinya menjadi kuat.” jelas Ki Tapa. ”akibatnya saat ramuan direbus di dalamnya. begitu melihatnya. karena ada yang memang pernah tersirat dalam pikirannya untuk meminjam periuk itu.

Ia baru saja memeriksa badan muridnya. yang dia tahu memiliki tulang dan daging cocok untuk menuruni ilmu-ilmunya. Lantang pun dibawanya ke rumahnya yang terletak di sebuah pulau kecil di tengah danau. Akan tetapi entah karena apa. Hanya beberapa orang nelayan dan .89 Jeng sedemikian tingginya. Tidak banyak orang yang hidup di sana...!” Terdengar jawaban lirih pula. membuat anak-anak bertambah semangat untuk berlatih. Dengan tanpa ada setetes air pun yang tumpah. tampak seorang kakek sedang menggaruk-garuk kepalanya bingung. Mendengar cerita yang mengagumkan tentang Li Jeng dari Ki Tapa itu. Sudah berulang kali ia mencoba. Aliran hawa tak bisa mengalir dengan lancar.. jalan darahnya tidak lancar. Tak dapat ditahannya rasa kecewa yang tampak pada wajah. Kawasan yang sunyi dan sepi. Jalan darah yang tidak bisa dilatih untuk mengalirkan tenaga dalam. sehingga ia dapat mendorong orang yang menantangnya terlempar jauh dengan tetap memegang semangkuk air pada tangan yang lain. Setelah bersedia untuk berguru pada Rancana. dan menemukan bahwa muridnya ini memiliki jalan darah yang aneh.. Sesaat setelah semua murid-muridnya berada pada ujung lain lapangan dari tempat ia berada. ”Coreng. Sedih hatinya melihat muridnya. Melihat semangatnya murid-muridnya melakukan Langkah Ayam. Ki Tapa pun tersenyum. Moreng.!” Dan secara tiba-tiba Periuk Kerbau pun menghilang seperti ditelan udara.. Mereka ingin berlatih dan berlatih. Tidak bisa dialirkan. *** Pada jarak ribuan kerbau dewasa dari sana. mungkin pikir mereka. Energi memang dapat dihimpun tapi tetap berada di pusar dan berputar-putar saja di sana. Kedua orang guru dan murid itu adalah Rancana si Bayangan Menangis Tertawa dan Lantang. bahkan perintah untuk mengulangi Langkah Ayam sebanyak sepuluh kali seribu itu pun tidak menyurutkan semangat mereka. menotok sana dan sini untuk melancarkan jalan darah yang diduganya tersumbat. Tidak bisa digunakan. Dibawa pergi oleh kedua Manusia Tiga Kaki tersebut. tolong Periuk Kerbaunya. ”baik. Ki. dengan lirih ia berkata.. Agar seperti Li Jeng. Akan tetapi percuma.

hanya lima orang yang hidup di sana. Dan seperti guru ingat dulu. Tidaklah bisa engkau mencapai tahapan yang tinggi tanpa bisa mengalirkan tenaga atau hawa ke seluruh tubuh. Tidak ada tenaga dalam yang mendasari keampuhan suatu ilmu silat.90 BAGIAN 2. ”Lantang. saya tidak akan menggunakannya. saat mengetahui bahwa tubuhnya. Pun sudah tidak mungkin menjadi seorang ahli silat tinggi. ”bahwa jalan darah saya tersumbat atau tidak dapat mengalirkan hawa itu mungkin sudah suratan bagi saya. menghela napas panjanglah Rancana. Berdasarkan pengalamannya tidak ada yang salah pada tubuh anak ini. tidak dapat mengalirkan hawa yang telah dipusatkan di bawah pusar. ”Guru. PERUBAHAN-PERUBAHAN pemburu serta petani hidup di sekitar danau itu. Akan tetapi hal ini tidak dilihat- . ”Saya tahu. Ditambah Rancana dan Lantang. hanyalah kembangan jurus-jurus belaka.” panggil Lantang perlahan. yang dikatakan gurunya sebelumnya memiliki struktur tulang dan jalan darah seorang pesilat. gurunya. tahukah kau apa artinya ini? Tanpa bisa mengalirkan hawa. Di Pulau Tengah Danau itu sendiri hanya hidup sepasang suami istri tua dan anak tanggungnya. Bukankah hal ini malah sesuai? Saya belajar silat tapi bukan untuk kekerasan.. masih mau dia belajar silat hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. saya tetap akan belajar ilmu silat pada guru. Dalam hatinya masih dirasakan penasaran mengenai keanehan tubuh Lantang. Bila ketidaklancaran atau ketidakmampuan mengalirkan hawa ini adalah buatan orang. saya tidak suka kekerasan sehingga pernah menolak untuk berguru pada guru.” Geleng-geleng kepala Rancana mendengarkan uraian muridnya yang panjang-lebar tersebut. Lantang ini memang benar-benar anak yang baik pikirnya. ilmu silat yang engkau pelajari. masih dengan nada yang sedih. ”Janganlah terlalu bersedih..” Mendengar usaha muridnya yang hendak menghibur dirinya. Ia berjanji untuk terus mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. guru!” dan kemudian jelasnya.” ucap Rancana pada muridnya. sudah tentu ia bisa mengetahuinya. Bila saja Lantang itu benar-benar anaknya sendiri. Ia dapat menyelami kesedihan hati Rancana. Walaupun saya tidak bisa mengalirkan hawa. Toh.

Dengan itu walaupun engkau tidak dapat mengalirkan hawa. ”Mulai hari ini kita latihan gerakan-gerakan dan mengheningkan cipta saja. Ilmu ini berasal dari Negeri Matahari Muncul jauh di sana. Tidak akan mendatangkan banyak lawan. di balik lautan. terdengar sangat menarik. ”ada satu seni bela diri yang kelihatannya cocok dengan keadaanmu. yang mempu mencelakakan jalan darah anak ini. guru. yang dikenal sebagai Jalan Selaras dengan Alam Semesta. ”Baiklah kalau begitu.” kata Rancana pada akhirnya. Melainkan hanya untuk membela diri. dapat mengalahkan seorang lawan berpedang dan bahkan dengan menggunakan tangan kosong serta tidak melukai lawannya. tanpa anak ini menyadari dan juga dirinya yang memeriksanya. setidaknya akan tetap terkumpul hawa di bawah pusar. ”Tapi. guru. Lantang.. Untuk sementara Rancana menyimpan dulu pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam hatinya. engkau akan dapat membela dirimu sendiri. Terlihat Rancana berpikir sejenak.91 nya.” jelas Rancana. ”Benar-benar merupakan ilmu pertahanan yang baik dan halus. Guru Tua Morehe Uwesiba. bila engkau berlatih dengan baik.” sahut Lantang patuh. ”Cobalah engkau serang aku..” ”Baik. Aku harap suatu saat jalan darahmu dapat terbuka sehingga engkau dapat memanfaatkan hawa yang sudah kau himpun sampai saat itu tiba. Lantang ternyata masih tidak bisa membuang pikiran bahwa ia belajar bela diri bukan untuk menimbulkan kekerasan. Apa mungkin ada orang yang selihai itu. Benar-benar pribadi yang baik pikir Rancana. Jadi dengan ilmu ini.” ”Wah. guru. . Lalu katanya. Tak mau ia mengingatkan Lantang pada bencana yang dialaminya dan juga keluarganya. ”Pencipta ilmu ini.” ”Suka saya mendengarkannya.” Tersenyum Rancana mendengar ucapan muridnya. ”tidak mengisyaratkan adanya kekerasan di dalamnya. guru!” tanggap Lantang.” ucap Lantang. Lantang!” perintah Rancana.?” bantah Lantang..

Melihat kebingungan muridnya. sambil memutar tubuhnya. kaki kanan di majukan serentak dengan tangan kanan dikepalkan dan diarahkan ke dada gurunya. Dengan hanya toelan kecil dari gurunya dari . ”Kamu menghabiskan semua tenagamu pada serangan itu. guru!” jawabnya mengiyakan. Rancana hanya menggeser salah satu kakinya. Sederhana karena geraknya mudah. memang serangan paling sederhana dan rumit. Dengan cantik dan lemas. Hanya sayang posisi tersebut dilakukannya terlalu maju. akan tetapi dengan lebih lambat. Pada saat yang tepat.” Lantang mengangguk-angguk. Bagian lain masih gelap baginya.. sehingga berat badannya tidak lagi berada di antara kedua kakinya. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Ini hanya pura-pura.. Dan hal ini pun disadari oleh gurunya. Rancana hanya tersenyum.” jelas gurunya. sehingga Lantang batal terjatuh. Rumit karena harus pada saat yang tepat. Lantang pun menyerang gurunya dengan pukulan lurus ke depan. Lalu diajaknya Lantang untuk melakukan gerakan yang sama.92 BAGIAN 2. Rancana. membiarkan tangan itu lewat sekian jari di depan dadanya. maju tersuruk dan kehilangan keseimbangan. mengapa serangannya itu tidak berhasil. Seperti yang barusan aku lakukan kepadamu. Bahkan dipukul balik. bagaimana kamu nanti dapat membela diri kalau tidak tahu bagaimana orang menyerang. ditangkapnya tangan kirinya yang masih berayun di belakang. mencoba mengerti penjelasan yang diberikan oleh gurunya. ia malah menarik tangan lantang pada arah pukulannya. Dengan gerakan lambat tersebut dapat Lantang melihat bahwa ia tidak seharunya menyerang sehingga kedudukan kakinya tidak lagi stabil. ”Tidak. Ia baru dapat menerima beberapa bagian.” jelas gurunya. guru?” jawab Lantang muridnya jujur. jenis serangan ini akan dapat dengan mudah ditebak. ”Baik. ”Kamu mengerti salahmu?” tanya Rancana. Dengan demikian semakin bertambah lajulah Lantang. secara alami bisa setiap orang melakukannya. ”Serangan lurus ke depan. dielakkan dan dimusnahkan. Kemudian alih-alih menangkis serangan Lantang. Bila tidak pada saat yang tepat. tanpa tipu-tipu.

Belum sampai. Memajukan kakinya. tidak melebihi. Dan pukulan itu tidak lagi mengenai. tapi bukankah pukulan saya pun tidak mengenai?” tanyanya bingung. Maju lagi. memang dengan cara ini. Cobalah!” Lantang pun mencoba.” Lantang pun mengangguk-angguk. ”Kamu benar. saya tidak lagi terguling. apalagi ditarik seperti tadi. gurunya hanya beringsut sedikit mundur. apakah pukulanmu sampai apa tidak. dapat mengenaiku. alih-alih menarik kembali pukulannya dan terlebih dahulu memajukan kakinya. masih memiliki kesempatan untuk menghindar dan mengubah kedudukan kakinya. jangkauan serangannya tidak lagi sepanjang yang pertama.” ucap Rancana. Lantang menarik kepalannya dan dalam posisi yang tidak berubah. ”pada jarak segini. Lantang langsung mengejar gurunya dengan pukulannya. Kesalahan yang sama terjadi lagi. ”Benar. Ia kehilangan keseimbangan dan gurunya memanfaatkan hal itu dengan menariknya. Dengan cara ini apabila gurunya membalas serangannya ia.” jawab gurunya. ”Cobalah!” ucap gurunya. dilepaskannya kepalannya ke arah dada gurunya.93 belakang. engkau harus punya rasa. ”Guru. Gurunya tidak bereaksi. Lantang pun kembali terjatuh. Lantang kemudian mencoba menyerang akan tetapi dengan masih menempatkan berat badannya sebelum lewat kaki depan. Lantang. Ingin melihat apakah muridnya mengeluh saat terjatuh. Jangan lepaskan. Kali ini Rancana membiarkannya. sampai kamu merasa bahwa tanganmu. ”Bagus. Penasaran pada hal tersebut. baru pukulan lurus itu boleh dilepaskan. Setelah mengerti. Dan ia tidak lagi tersungkur. Dengan demikian. ia dapat tersungkur. Mendekatlah. Bila tidak sampai. dengan kedudukan yang stabil. baru memukul. Akan tetapi pada saat hampir mengenai kulit dadanya. barulah pukulannya persis mengenai kulit dada gurunya. Belum sampai. Setelah tiga-empat telapak kaki. . Akan tetapi dengan pemahaman yang baru ini.

hanya gerakannya mirip. pinggang. Alhasil. guru!” jawab Lantang yang pun beranjak pergi untuk memenuhi peraintah gurunya. Dengan sabar Rancana menunjukkan kembali bagaimana seharusnya gerakan itu dilakukan. Tirukan aku!” perintah gurunya. Temui aku nanti di Rumah Kayu. Sudah waktunya beristirahat. Sebelum tenaganya sampai ke dada. Saat bergerak. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Maaf. Hasil rembesan sungai di atasnya. Rancana masih melihatnya punggung muridnya yang berjalan untuk kemudian menghilang di balik rerimbunan. akan tetapi dengan kedudukan yang masih stabil. ”Tidak apa-apa. Guru dan murid itu pun berlatih sampai matahari hilang dari pandangan mata untuk sembunyi di balik bumi sebelah barat. telapak kaki. Rancana menghentikan latihan itu.” kata Rancana.” ucap Lantang sambil bangkit dari jatuhnya. bahkan saat gurunya memerintahkannya untuk melakukan gerakan itu kembali. paha. Menuju ceruk kecil. Mengisi perut. akan tetapi untuk tangan kiri dan kaki kanan. di mana terdapat air yang mengalir keluar dari batu-batu. Lantang mencoba menirukan. Berulang-ulang kali. Dia melihat bahwa Lantang sudah terlihat lelah. Sampai akhirnya Lantang bisa sedikit menyalurkan tenaga bumi ke ujung kepalannya. ”Kita istirahat dulu. Ada baiknya kita latihan dulu serangan lurus ke depan. pinggang keburu diputar tapi telapak kaki belum menolak. akan tetapi tidak minta berhenti. Ia ambil tenaga bumi untuk diteruskan. kaki belakang melurus dan pinggang berputar.” ”Baik. Bumi.94 BAGIAN 2. Rancana pun menunjukkan gerakan serangan ke muka lurus dan bertenaga. tangan sudah dikembangkan. Kagum ia pada semangat muridnya. guru! Saya lupa lagi. lengan dan meledak sampai ke kepalan. Tapi ia tidak mengeluh. tanpa tenaga. Akan tetapi gerakannya tidak saling menunjang. . Pukulan Meriam. Dan sebagai hasilnya otot-ototnya kaku dan lelah tubuhnya. ”kamu mandilah dulu dan bersih-bersih.

Memang untuk urusan masakah keluarga itulah yang menanganinya. Di selatannya terdapat padang batubatu yang terus membentang sepanjang mata memandang dengan dijemput lautan pada horisonnya. tak ada lagi orang yang berani tinggal di pulau itu kecuali keluarga itu ditambah Racana. Waktu Rancana tiba di Rumah Kayu. Bila dilihat dari atas. Itu lebih baik. yang dapat hidup terasing di Pulau Tengah Danau ini. Pulau Tengah Danau dan Danau Tengah Gunung itu terletak di selatan agak jauh dari mana-mana. sehingga tidak merusak persahabatan yang telah tumbuh. Mereka telah menunggu. Kadang bertanya-tanya juga Rancana mengenai siapakah sebenarnya ketiga orang ini. Tidak ada kehidupan yang dapat berlangsung kiranya di Padang Batu-batu itu. Gunung Berdanau Berpulau seakan-akan menjadi pipih. Di timur dan baratnya membentang kaki-kaki gunung. Sebagai imbalannya Rancana diminta untuk membeli atau menukar barangbarang kebutuhan mereka di kota. Nyi Sura.” katanya kepada ketiga orang itu. yang hanya terdiri dari lima orang. karena panjangnya pada arah timur-barat. Lebih baik membiarkan mereka menceritakannya sendiri kelak. Sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa tempat itu merupakan desa karena hanya lima orang yang tinggal di sana.95 Kemudian melangkahlah ia perlahan menuju Rumah Kayu. Akan tetapi suatu saat pernah terjadi badai besar yang menyapu orang-orang yang tinggal di sana. Setela kejadian itu. . Atau juga mencari kabar sesuatu yang ingin mereka tahu. Hidangan makan malam telah tersedia. ”Selamat malam. akhirnya Rancana pun menahan mulutnya. Keanehan ini sudah pasti mengisyaratkan bahwa keluarga itu juga bukan orang biasa-biasa. orang selain Rancana dan muridnya yang tinggal di pulau itu. serta satu keluarga lagi. Ki Sura. Gunung tersebut yang membentang memanjang ribuan kambing dewasa. Gunung Berdanau Bepulau dinamakan orang. Akan tetapi karena mereka juga tidak bertanya-tanya tentang dirinya dan menyediakan kebutuhannya dengan baik. Rancana dan Lantang muridnya. dan Telaga. Suatu bangunan sederhana di dekat tanah lapang di depan pintu desa. akan tetapi pendek pada arah utara-selatan. tampak ketiga orang lain itu. Dulu sekali tinggal banyak keluarga di desa itu.

makan besar hari ini ya?” komentar Rancana saat melihat makanan yang dihidangkan. Ki Rancana?” tanya Telaga tiba-tiba. tidak ada teman bicara dia. Mungkin makan ini karena ia baru saja datang dan membawa seorang murid. pecel belut. Baru saat ini Rancana dapat melihat kegesitan keluarga itu. Tidak banyak bicara mereka. terong dan sudah tentu nasi. karena ada orang yang dapat diajar bicara. ”ini untuk menyambut Ki Rancana dan terutama anak itu. Ada ikan mas bakar. melainkan dari Telaga. Lantang nama anak itu Telaga.” tanya Rancana agak kuatir melihat orang- . Ki Rancana... Sebelum ada seorang pun yang berkata. Dulu sebelum Rancana datang. komentar tidak datang baik dari Ki Sura ataupun Nyi Sura. Eh. Telaga pun bangun sambil menggapainya untuk ikut serta. Memang pendiam orangnya. Hanya Telaga yang banyak bicara. merasa agak malu melihat bahwa kepandaian tiga orang itu setidaknya sama atau lebih darinya. Saat ini dengan adanya Rancana dan juga Lantang. Tidak hanya mendengarkan dan memberikan komentar-komentar pendek seperti kedua orang tuanya. sehingga perlu disambut seperti itu. Ia yang disebut Bayangan Menangis Tertawa dan terkenal karena ilmu meringankan dirinya. sayur bening.. senanglah Telaga. kerang sambal.96 BAGIAN 2. anak dari Ki dan Nyi Sura.” jawab Rancana agak bingung. ”Ceruk mana. Seperti telah diduganya.. Ia dapat melaju seakan-akan tanpa mengeluarkan tenaga dengan kecepatan yang mengagumkan. lalapan. ”Ada apa sebenarnya. siapa namanya. Sedangkan Nyi dan Ki Sura hanya mengangguk tersenyum ramah. ”Betul.” jawab Telaga. melesat Ki Sura diikuti oleh istrinya.” jelasnya. Apalagi Ki Sura. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Malam Ki Rancana. ke arah ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Tersirat rasa kuatir dalam wajahnya. Biasanya hanya ikan bakar dan sambal serta nasi. melihat perubahan wajah ketiga orang tersebut. Saat ini ia sedang bersihbersih dulu di ceruk sana.” jelas Rancana. ”Ceruk sebelah bawah Sungai Batu Hitam. Ki?” ”Lantang. ”Wah.

Rambutnya panjang sebahu. akan tetapi tidak langsung berpakaian. Sungai tersebut disebut demikian karena mengalir di atas batu-batu yang merapat dan berwarna hitam. Tampaknya ia tidak suka api.97 orang beranjak menuju tempat muridnya yang sedang bersih-bersih. melainkan melihat pada suatu arah tertentu. Ayah pasti bisa menolong muridmu. Ia tampak telah bersihbersih. Ia pun mulai mendesis-desis perlahan. Saat-saat yang menegangkan. Biar aku yang menangani Undinen itu. dinyalakannya obor kecil dan ditunjukkannya pada Undinen itu. Setelah kira-kira berjajar dengan Lantang. di mana air-air berkumpul membentuk suatu genangan air yang luas. Tapi sebagai seorang ahli silat .” Yang dimaksud dengan Undinen adalah sosok terlihat seperti wanita yang badannya berkilauan biru hijau bersisik. Ki Sura tetap menggerak-gerakkan obornya sambil perlahan mendekati Lantang. Dalam suatu ceruk yang paling besar. Telaga pun meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya secara vertikal. berparas cantik dan memiliki tinggi seperti umumnya anak-anak remaja wanita. Undinen itu pun bergerak mundur. Ki Sura dengan perlahan mengambil sesuatu dari kantongnya. Rancana sendiri tidak tahu makhluk apa itu yang ada di depan mereka. ditariknya tangan anak muda yang masih terpaku itu dan diajaknya perlahan-lahan mundur ke arah ketiga orang lainnya. tampak Lantang sedang berdiri terpaku. Undine itu maju setapak dua akan tetapi tidak lebih karena masih takut dengan obor yang di bawah oleh Ki Sura. Dengan suatu cara tertentu. Lalu bisiknya lirih. Sebatang kecil obor dan batu pemantik api. jangan bergerak. ”perhatikan saja. Di bawahnya terdapat banyak ceruk-ceruk setinggi dua kali orang dewasa yang mengalirkan air rembesannya. Sang Undinen pun berteriak kecil dan memandang marah pada Ki Sura. Bukan lagi padangan ramah dan memikat seperti ditunjukkannya pada Lantang tadi. meminta Rancana untuk tidak bertanya-tanya. Ki. Terdengar suara lirih Ki Sura. Ada sesuatu di balik batu besar di sisi ceruk itu. ”cah bagus.” Beberapa hembusan napas sampailah mereka berempat di ceruk yang terletak di bawah Sungai Batu Hitam. Seakan-akan suatu parit dari batu.

Hanya terdengar gemerisik angin membelai daun-daun nyiur yang digunakan sebagai atap dari Rumah Kayu itu. Makhluk yang disebut Undinen oleh Ki Sura. Belum ada sepatah kata pun terucap di antara mereka. bila saja tidak ada peristiwa sebelumnya. Apa yang dihidangkan dilahap tanpa sisa-sisa. Saat kemudian membaliklah ia dan menghilang ke dalam aliran air yang mengalir ke bawah di ujung genangan air di samping ceruk itu. keluar dari ceruk itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ia dapat merasakan aura yang tinggi. Dan belum diketahui apa yang akan terjadi apabila makhluk tersebut menyerang muridnya. Malam itu sebenarnya sangatlah indah. Udara perlahan-lahan mulai terasa hangat setelah ketidakhadiran sosok Undinen di dekat mereka. Dengan ukuran aura seperti itu. Akhinya sampailah Ki Sura dan Lantang di tepian air. menghimpit dan amat dingin muncul dari makhluk itu. Ditemani dengan suara jangkrik yang memainkan orkestra mereka. Akan tetapi bila tidak ada. Ketiga orang lain yang lebih mengerti keadaan saat itu. dan terutama Lantang untuk kembali memulihkan perasaannya yang terguncang. Nun jauh di tengah-tengah genangan air dalam ceruk. ”maaf Ki Sura. selangkah demi selangkah. Atas tekanan rasa ingin tahunya yang sudah membuncah. Pindah tempat ke dalam lambung mereka. tidak banyak berucap. Lantang masih dalam ketegangannya. apakah tadi itu? Yang mem- . Rancana masih bingung mengenai apa yang terjadi dan apa sebenarnya makhluk itu. Orang-orang yang sederhana. bertanyalah Lantang pada Ki Sura. Mereka membiarkan lebih dulu Rancana. *** Makan malam yang tadinya digelar di hadapan kelima orang itu pun telah ludes. sudah bisa dipastikan kuat juga tenaga atau hawa makhluk itu.98 BAGIAN 2. Dengan segera Nyi Sura menyampirkan kain yang dibawanya ke pundak Lantang. agar anak itu tidak lebih jauh kedinginan. tidak mengeluh. Sunyi sesaat. Muka lantang yang tadinya pucat mulai terlihat memerah. masih tampak sosok Undinen itu memandangi mereka. Begitulah orang-orang yang bersyukur.

maka tidak ada orang-orang yang berani tinggal di sini. Telaga yang biasanya berbicara banyak malah kebalikan. sang Roh Air. Nyi Sura dan Kakang Telaga masih tinggal di sini?” tanya Lantang penasaran. mereka tidaklah terlalu berbahaya. Masih terasa dinginnya udara saat ia ditatap oleh Undinen. Baru kali ini Rancana melihat Nyi Sura berbicara.” Ki Sura tersenyum.” Sunyi kembali menyeruak di antara mereka. Ia banyak mendengarkan saat orang tuanya berbicara. . Dan hal yang masih tidak dimengertinya. apabila kita tahu bagaimana menyikapinya. Troll. Rasa dingin yang lembab dan menakutkan saat terdapat Undinen. Tidak punya semangat lagi untuk beranjak. selain Duyung dan Nixen.” jelas Ki Sura lebih lanjut. Malah lebih lebar senyum anaknya Telaga. Undinen. ”Itu adalah Roh air.” jelas Ki Sura lambat-lambat. Hanya Rancana yang tidak. mengapa Ki Sura. Rancana dan Lantang merasa seakan-akan keempat macam makhluk yang baru disebutkan oleh Ki Sura itu ada di belakang mereka dan ikut mendengarkan pembicaraan itu. Dengan adanya makhluk-makhluk itu di sini. adalah dengan adanya makhluk-makhluk lain yang dari ceritanya lebih mengerikan. Sedangkan contoh Roh Api misalnya Salamander dan Naga. Ia masih merasakan ketegangan tadi. Dengan adanya kejadian ini banyak ucapan yang dikeluarkan oleh kedua orang itu. akan tetapi mengapa keluarga itu masih saja berdiam di pulau ini. ”yang merupakan bagian dari roh empat elemen. ”Jika demikian.99 buatku seakan-akan membeku. Undinen adalah salah satu contoh Roh Air. air. ”Sebenarnya. Irrwische dan Orang Gunung Kerdil (Bergmnchen). yaitu api. Dan entah kenapa sebagian dari mereka itu muncul setelah badai besar yang menyapu seluruh penduduk dari pulau ini. udara dan tanah. merupakan makhluk-makhluk purba yang dulu dipercaya ada oleh orang-orang dan tertulis dalam bukubuku kuno. Juga istrinya. ”Roh-roh Empat Elemen itu. Roh Udara misalnya Sylphen dan Roh Tanah misalnya Gnomen.” jelas Nyi Sura arif.

aku juga merasakan hawa dingin yang aneh dari anak ini. Ya. Misalnya elemen api dan air yang akan saling meniadakan. ”mengapa Undinen tertarik dengan Lantang?” Semua terdiam. Manusia lebih ke arah sifat Roh Tanah dengan paduan kecil dari ketiga eleman lainnya. PERUBAHAN-PERUBAHAN Kemudian Nyi Sura menjelaskan bahwa sifat-sifat Roh-roh Empat Elemen yang saling membantu dan meniadakan. ”Akan tetapi ada yang membuatkan bertanya-tanya.100 BAGIAN 2. Keempatnya dapat diletakkan pada sudut-sudut suatu bujur sangkar. Sebab itu Undinen mengira bahwa Lantang adalah salah seorang dari jenisnya. pasti itu penyebabnya. ”Waktu dari menariknya. Tidak ada hawa dari pusar yang menghalau dingin itul. ”adakah engkau penyakit atau kelainan sehingga tubuhmu bersifat dingin?” Tiba-tiba saja hal itu menjadi jelas bagi Rancana. akan tetapi elemen api dan udara atau api dan tanah dapat saling membantu. . Elemen pada sudut-sudut yang berseberangan akan saling meniadakan sedangkan elemen-elemen yang bersebelahan dapat saling membantu. Undine adalah Roh Air dan elemen air merupakan musuh dari elemen api. Nyi Sura maupun Telaga tahu bahwa manusia. Lalu diceritakannya hal tersebut oleh Rancana kepada Nyi dan Ki Sura serta Telaga.” tiba-tiba menyeletuk Telaga. Dengan api dan air pada dua sudut berseberangan dan udara dan tanah pada kedua sudut lainnya. akan membuat tubuhnya semakin dingin. Perihal Lantang yang diminanti oleh Undinen merupakan suatu teka-teki bagi mereka. Ketidaklancaran jalan darah dari Lantang yang menyebabkannya tidak bisa melancarkan hawa ke seluruh tubuhnya yang menyebabkan. Baik Ki Sura. yang dalam hal ini adalah obor yang dibawa Ki Sura. Itulah sebabnya mengapa Ki Sura saat itu menggunakan obor untuk menakut-takuti Undine. Ditambah dengan kondisi air yang dingin. sebagai makhluk berdarah panas memiliki sifat yang tidak terlalu cocok dengan Roh Air. Demikian pula dengan elemen udara dan tanah yang dapat saling meniadakan. ”Anak Lantang.” ujar Ki Sura seakan-akan pada dirinya sendiri.” lalu tanya Nyi Sura. Lantang sendiri hanya ikut mendengarkan karena tidak begitu mengerti.

” jelas Ki Sura.” ”Maksud Ki Sura?” tanya Rancana tak mengerti. ”adalah orang-orang terakhir yang menjaga suatu rahasia. Lalu diceritakanlah oleh Ki Sura mengenai sejarah keluarga itu dan ilmu-ilmu yang harus dirahasiakan dan dijaganya. Rahasia ini telah lama disimpan. ”tak usahlah kami diceritakan dan diberi harapan. ”Dengan adanya Roh-roh Air di sini. ”malang sekali nasibmu. ”Akan kutunjukkan mengenai satu jenis cara melepaskan diri dari cengkeraman belakang.” ”Kami. Bukan hawa yang biasanya diperoleh dari latihan-latihan. Dia pun terdiam sambil melirik istri dan anaknya. ya!” menghela napas Ki Sura. Tentu saja ia gembira apa bila ’kekurangan’ Lantang merupakan suatu ’kelebihan’.” kata Rancana. Melainkan hawa para Rohroh Air. Terlihat bahwa ada suatu rahasia di antara mereka yang berat dikatakan pada Rancana dan Lantang.. Itu juga sebagai isyrat bahwa mereka setuju bahwa cerita atau rahasia itu untuk diperdengarkan kepada Lantang dan gurunya.” . Dapat menghimpun tenaga. ”Bila itu suatu rahasia. Akan tetapi kami tidak memiliki ilmu bela diri. Kebetulan anak Lantang ini memenuhi persyaratan seperti tertuliskan dalam salah satu cerita-cerita tua itu. Lantang bisa memanfaatkan aura mereka untuk menumbuhkan hawanya sendiri.101 ”Hmm. Racana si Bayangan Menangis Tertawa. Suatu cara pengolahan tenaga untuk dimanfaatkan dalam gerakan bela diri. melainkan hanya cara mengolah tenaga belaka. Dan memang ada pada saatnya untuk dibuka dan diwariskan. akan tetapi tidak bisa menggunakannya. kemari!” perintah Ki Tapa sambil tangannya menggapai Misbaya agar mendekat. nak Lantang. Lantang sendiri pun telah pasrah hanya akan mempelajari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang tidak memanfaatkan hawa yang dihimpunnya di bawah pusar. Tapi itu merupakan kelebihanmu di daerah ini. begitu. dan tidak untuk kami. *** ”Misbaya.” papar Ki Sura.” Nyi Sura dan Telaga pun mengangguk membenarkan.

Misbaya mendongak ke belakang menyangka akan diserang dengan tangan itu oleh Ki Tapa. yang hari ini diajarkannya pada murid-muridnya. Ilmu yang dibawah oleh Petapa Seberang ke Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman. ”Pegang yang kuat. Dan Gentong pun . Dengan cepat Ki Tapa mengangkat tangan sebelah kanannya. lebih mudah bagi Ki Tapa untuk mencapai batas-batas perputaran sendi dari Gentong. jangan sampai lepas!” begitu perintah Ki Tapa. Melihat murid-murinya masih terkesima dan takjub pada gerakan itu. sembil menjatuhkan tangan kanannya ke depan. yang kemudian dimintanya untuk memegang dengan erat kedua tangannya dari belakang pada pergelangan tangan. Dan untuk itu. Salah satu jurus bantingan dalam ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ki Tapa melihat ketidakyakinan murid-muridnya. Terlempar dan terkapar telentang di atas rumput yang hijau. Tak teduga dan cantik. atau sendinya akan terkilir atau lepas. dikarenakan postur tubuh yang lebih tinggi. bahwa Gentong pun dapat dilemparkan dengan gerakan atau jurus yang sama. Rekan-rekannya terkesiap. Pemuda yang tinggi besar dan berbobot. untuk kemudian mengungkitnya dengan bahu. Gerakan yang memanfaatkan batas-batas sendi manusia.102 BAGIAN 2. PERUBAHAN-PERUBAHAN Lalu dengan perlahan Ki Tapa berdiri membelakangi Misbaya. yang masih digenggam oleh Misbaya ke atas melewati kepala sehingg berada kira-kira di sebelah kiri kepala. Ki Tapa pun menggapai muridnya yang lain. ditekuknya lututnya sehingga kedudukannya lebih rendah dari Misbaya. sehingga mau tak mau sang lawan harus ikut. seperti memotong. Sedemikian halus. Ki Tapa sebagai salah satu penerus dan pewaris ilmu-ilmu dari Petapa Seberang sudah tentu mengerti betul gerakan tersebut. Sebagai akibatnya pegangan Misbaya tidak lagi bisa seerat semula karena pergelangan tangannya telah habis tertekuk ke atas. Demikian mudah Misbaya terlempar dengan gerakan sederhana tadi. Akan tetapi hal yang sama pun terjadi. Pada saat itulah Ki Tapa kembali merendahkan dirinya sehingga bahunya berada lebih rendah dari dada Misbaya. Dari pandangan matanya. Kemudian ia meminta murid-muridnya untuk memperhatikan apa yang akan ditunjukkannya. Dengan perlahan. Akibatnya Misbaya tercongkel dan terungkit ke atas dan terbalik. Kali ini Gentong.

Muridmuridnya pun mengiyakan dan mulai melakukannya. sudah berangsur-angsur sembuh. Sampai gerakan-gerakan tersebut menjadi mendarah daging. Para pedagang yang tadinya hanya akan ditemani oleh beberapa orang wakil dari rombongan.103 terlempat sejajar dengan posisi tempat Misbaya tadi terkapar. untuk kemudian membebaskan tangannya ke atas kepala. akhirnya Ki Tapa memutuskan lebih baik untuk memberi petunjuk satu persatu berpasang-pasangan. Berbagai upaya telah dilakukannya. siap mencongkelnya dengan bahu. misalnya saja bahwa Paras Tampan berusaha untuk menjatuhkan Rintah yang masih saja berdiri dengan stabil. dengan debum yang lebih kentara tentunya. Ki Tapa pun memerintahakan mereka untuk melatihnya sendiri ratusan kali. Setiap murid akan melihat dan merasakan bagaimana jurus itu diterapakan. Setelah beberapa kali memberi contoh menggunakan murid-murid yang berbeda-beda. Lucu tampaknya. yang mengawasinya dengan sabar dan telaten. . Melihat ini menghampiri datang Ki Tapa sambil menunjukkan arah yang harus diambil oleh Paras Tampan agar pegangan Rintah menjadi lunak. Akan tetapi tetap saja Rintah masih berdiri dan menggenggam kedua tangannya di belakang dengan erat. Bersamaan dengan itu pula. Kecuali Asap tentunya. *** Persiapan perginya rombongan pedagang-pedagang tampak mendominasi kesibukan orang-orang Desa Luar Rimba Hijau pagi ini. Menyadari bahwa murid-muridnya terlihat belum paham. Setelah diberi pentunjuk dapatlah Paras Tampan melemparkan Rintah. Begitulah cara latihan dari ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Lebih cepat dari dugaan mereka semula. rombongan dari Pinggiran Sungai Merah ingin berpamit untuk pulang karena orang yang sakit. juga di antara murid-muridnya sendiri. yang menjadi alasan mereka untuk menetap selama ini di Desa Luar Rimba Hijau. Hari pun semakin sore dan para kawula muda itu terus giat berlatih di bawah petunjuk-petunjuk Ki Tapa. Cara ini lebih baik. Berganti-ganti mereka berperan sebagai yang membanting dan yang dibanting. menjadi ditemani oleh seluruh rombongan.

Nama-nama mereka sendiri telah mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah pedagang yang berupaya untuk menjual barang dengan murah. Sedangkan dari pihak Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah diwakilkan oleh Rota Mera dan Reda. Ke arah di mana matahari terbenam. menuju Lautan selatan. lewat Gurun Besar yang luas dan gersang atau menyusuri Sungai Menggelegar (Dssel) di mana terdapat suatu desa yang bernama Desa Pinggir Sungai Menggelegar (Dsseldorf). ke arah barat. PERUBAHAN-PERUBAHAN Ki Tapa pun telah berpesan bahwa si sakit dapat pulang setiap saat. Setelah berbicang-bincang antara kelompok pedagang Desa Luar Rimba Hijau yang diwakili oleh Ki Murah. Salah satu alasan orang mengapa sungai ini dinamakan Sungai Menggelagar adalah terdapatnya saatsaat tertentu di mana air sungai bisa bertambah dengan pesat. keduanya diangkat sebagai ketua rombongan setelah Asap mulai ikut latihan di dalam Rimba . satu tetap ke arah barat daya dan lainnya langsung ke selatan. pun Kepala Desa Luar Rimba Hijau.104 BAGIAN 2. Dan entah bagaimana. telah menjamin bahwa Asap bersamasama dengan kawula muda desanya akan baik-baik saja selama dalam pelatihan di dalam Rimba Hijau. bisa akibat pasangnya air laut ataupun hujan di daerah hulunya. Ki Surya. karena selain telah dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri. Sungai Hijau orang menamakannya. Sungai ini kemudian mengalir menuju ke arah barat daya untuk kemudian bercabang. aliran genangan-genangan ini di antara tonggakantonggakan karang dapat memberikan suara yang satu sama lain saling menguatkan (beresonansi) sehingga menghasilkan suara menggelegar. menggemuruh. Pada percabangan inilah terdapat Desa Pinggir Sungai Menggelegar. mereka tidak akan menunggunya. Dari sanalah diyakini nama itu datang. Pinggiran Sungai Merah terletak jauh di barat. untuk mencapainya hanya terdapat dua cara. sehingga sungai ini meluber sampai ke Padang Batu-batu yang berada di bagian baratnya. Untuk Asap. Akibat luberan ini. Rencana yang akan dilaksanakan adalah rombongan pedagang itu akan bersama-sama dengan rombongan dari Pinggiran Sungai Merah menempuh arah yang sama. jika bisa dengan potongan (Rabat) dan masih memperoleh keuntungan. Ki Rabat dan Ki Untung. Sungai menggelegar merupakan kelanjutan dari sungai yang mengalir keluar dari Rimba Hijau. Padang Batu-batu akan tergenang.

akan memakan waktu dua kali lebih lama?” tanya Ki Murah kemudian. Rombongan dari Pinggiran sungai merah mengatakan bahwa di sepan- . Setelah membicarakan beberapa hal lain. agar perjalanan cepat selesai dan transaksi perdagangan bisa dilakukan. Di Gurun Besar.” komentar Ki Untung.. akhirnya memang diputuskan untuk memilih Jalur Panjang.. ”walaupun dua kali lebih lama.. seperti kata kalian.” ”Bila benar begitu. ”Benar.” kali ini Rota Mera sendiri yang menjawab. Dengan alasan ini kami pun datang ke sini melalui jalur selatan. bila dikompensasi dengan terjadi atau tidaknya proses tersebut. Dari sana akan diambil arah ke barat sambil menyusuri pantai. sampai ke Desa Pinggiran Sungai Merah. ”hal ini didasari oleh pengalaman rekan kami Bujang yang sakit itu. Jalur ini akan mengambil arah ke barat daya dari Desa Luar Rimba Hijau. juga terdapat badai pasir dan penyamun-penyamun ganas..” tegas Ki Rabat agak masih belum setuju.” ucap Reda mengiyakan pendapat rekannya. ”Benar. Menurutnya baiknya bila mereka memilih jalur yang sebaliknya. dan Padang Batu-batu tidak lagi terlihat di utara pantai. ya. ”Jadi menurut nak Rota Mera sebaiknya kita mengambil Jalur Panjang dari pada Jalur Pendek.” ”Tapi bukankah dengan menggunakan Jalur Panjang yang lewat selatan ini. selain ada banyak binatang-binatang beracun. untuk kemudian menyusuri Sungai Menggelegar sampai ke Pantai Selatan.. Sungai itu sudah Sungai Merah. arah akan diubah menjadi menuju barat laut sampai bertemu dengan suatu sungai. Ia terkena gigitan Kadal Gurun saat sedang mencari obat-obatan di Gurun Besar. Setelah beberapa hari perjalanan. Selebihnya tinggal menyusuri Sungai Merah menuju ke utara. sudah sepantasnya bila kita memang memilih Jalur Panjang. ”Keterlambatan proses perdaganan dapat diterima. akan tetapi lebih sedikit bahayanya. Ki.” Kedua rekannya mengangguk-angguk setuju.105 Hijau. Mereka itu sering mencegat rombongan orang yang lewat dan merampoknya. Ki Rabat.

Titipan sana-sini para penghuni desa masih menghiasi keberangkatan itu. Dan orang-orang ini kadang memang membutuhkan sesuatu untuk bekal perjalanannya. Terlebih berkaitan dengan ikatan antara Citra Wangi dan Paras Tampan. sehingga kadang-kadang enggan melepasnya. Sudah lajim bahwa orang yang belum pernah melihat tempat lain akan merasa bahwa tempat itu pasti lebih indah dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Keluarga itu mendengar betapa Desa Pinggiran Sungai Merah merupakan desa yang lebih besar dan maju dari pada Desa Luar Rimba Hijau ini. Semakin banyak ”titipan” semakin banyak pula keuntungan yang dapat diraih oleh para pedagang. walaupun tidak terdapat banyak desa. hanya enam kereta yang ditarik masing-masing oleh dua ekor kuda. Di samping rombongan pedangan dan juga rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Tidak banyak orang yang ikut sebenarnya. akan tetapi sering berdiam orang-orang yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke arah pantai atau utara. Berbeda dengan baju-baju yang ada di sini. Hari telah menjelang sore saat rombongan itu berangkat. terdapat lagi tambahan orang yang akan mengadakan perjalanan. Dua kereta berisikan orangorang dari Desa Pinggiran Sungai Merah dan satu kereta digunakan oleh Citra Wangi dan kedua orangtuanya serta sisanya adalah rom- . Melakukan kontak dengan sebanyak-banyaknya orang untuk mengadakan kegiatan perdagangan. Akanlah sangat bangga apabila pernikahan mereka nanti dilengkapi dengan baju-baju yang dibeli dari tempat yang jauh. yaitu Citra Wangi dan kedua orang tuanya. Tempat yang diduga lebih indah itu. Walaupun pada kenyataannya. kadang terjadi sebaliknya. setelah dilihat malah menimbulkan kekecewaan karena tidak sebaik atau seindah yang dikhayalkan. PERUBAHAN-PERUBAHAN jang Sungai Merah. Setelah siap berangkatlah rombongan itu. tertarik untuk melancong ke sana.106 BAGIAN 2. Berbekal niat itu ikutlah keluarga itu pada rombongan yang akan pergi ke barat. Citra Wangi adalalah tunangan Paras Tampan. Sambil tidak lupa mereka juga mendapat titipan-titipan dari kerabat-kerabatnya yang tidak ikut pergi. Hal inilah yang menarik para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. seorang pemuda yang saat ini sedang berlatih di dalam Rimba Hijau bersama kawan-kawannya.

entah sungai apa namanya. Bila langsung menempuh Gurun Besar. Demikian pula dengan rombongan ini. Sebelumnya mereka hanya berdagang di sekitar daerah mereka saja. Dan ke barat paling jauh sampai pinggiran dari Gurun Besar. Nama atau batasan geografis saat itu tidaklah terlalu penting. Diperkirakan dalam tiga atau empat hari ke depan akan sampai mereka ke awalan Sungai Menggelegar. Lancar dan sedikit membosankan. Paling jauh ke Desa Pinggir Sungai Menggelegar di selatan. akan menjadi terkantuk-kantuk. Membuat siapa pun yang duduk di atas kereta dan berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan sungai tersebut. Benar-benar membosankan.107 bongan pedagang dan barang-barang bawaannya. Dua hari perjalanan dilalui dengan lancar oleh rombongan itu. Bila kegiatan ini membuahkan hasil. seorang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah memiliki gagasan untuk menceritakan suatu . tiada yang tahu. Rombongan itu bermalan di pinggiran sungai. Hampir sebagian besar dari mereka terkantuk-kantuk melihat kiri-kanan hanya dilengkapi pemandangan yang biasa-biasa saja. Atau desa-desa di sebelah utara dari Rimba Hijau. akan tercipta jalur perdagangan baru antara bagian timur dan barat. apakah masih termasuk Sungai Hijau atau tidak. Sungai Hijau selepas dari Rimba Hijau dan Desa Luar Rimba Hijau mengalir perlahan dengan lebar yang kurang lebih sama. mungkin lebih baik dinamakan Sungai Jernih. Untuk melepaskan kebosanan. cukup diperlukan waktu dua sampai tiga minggu saja. Mengalun melintasi hamparan spasial geografis secara hampir tanpa lonjakan atau kejutan. Perjalanan ke barat itu diperkirakan akan memakan waktu sebulan setengah lebih karena mengambil jalan memutar. Kira-kira hanya tiga puluhan orang berada dalam rombongan yang akan berjalan ke barat itu. Perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah dilakukan oleh kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Jadi ini merupakan pengalaman yang ditunggu-tunggu pula oleh kelompok pedangang itu. Akan tetapi bila menilik dari airnya yang tidak lagi didominasi oleh warna hijau pada dasar sungai yang jernih. Malam ketiga.

Wanita Pemetik Anggur (Winzerin). Laki-laki Nelayan (Fischer) dan Awak Perahu (Matrose). Wanita Pengembala Domba (Schferin). Untuk itu dirancang dua belas jenis pekerjaan yang merupakan modal dan kekuatan pembangunan desa. Setelah bertahun-tahun kegiatan kehidupan berlangsung dengan baik. Dan dalam Desa Pinggiran Sungai Menggelegar hal ini ditangani dengan baik. Laki-laki Pemain Musik (Musikanten). Daerah yang akan mereka masuki dalam dua atau tiga hari lagi. Lakilaki Penduga Penyakit Hewan (Spatenmann).108 BAGIAN 2. Entah kapan dan bagaimana mulainya. Laki-laki Penyebar Bijibijian (Smann). desa atau pun negeri bila hal tersebut dibiarkan terjadi. Kedua belas figur yang dimaksud itu adalah Kelompok Wanita Pemungut Biji-bijian Tertinggal (hrenlesergruppe). Pekerjaan-pekerjaan dibagi sedemikian rupa. sehingga masing-masing insan bekerja untuk kebaikan desanya sesuai dengan peran dan kemampuannya. yang terkena gigitan Kadal Gurun. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memiliki tingkat keteraturan pembangunan desa yang amat baik. Taman Utara (Nordpark). Laki-laki Pengembala Ternak (Hirte). Orang-orang yang mengurusi kepentingan umum dipilih dari yang ahlinya. Laki-laki Pelatih Burung Pemburu (Falkner). Kedua belas figur itu kemudian dinamakan 12 Yang Berdiri (Stndichen) dan ditempatkan dalam suatu taman di bagian utara kota. Yang bercerita adalah Rosata seorang tua setengah baya yang pernah mendengar cerita itu dari salah seorang penduduk Desa Pinggir Sungai Menggelegar saat rombongannya menunju Rimba Hijau untuk mengobati Bujang. sedangkan yang hanya mampu bekerja dengan keras dijadikan bawahan. Adalah berbahaya apabila hal-hal yang penting bagi kehidupan dibiarkan ditangani oleh orang yang tidak ahli dalam bidangnya. Akan hancur suatu daerah. Dibangunnya patung-patung itu tidaklah menjadikan cerita mengenai mereka menjadi heboh apabila tidak ada peristiwa yang berkaitan den- . Laki-laki Petani (Bauer). Hal ini sudah tentu mendukung majunya perekonomian dan juga pertanian desa. Wanita Petani (Buerin). muncullah ide untuk membuat suatu peringatan bagi jenis-jenis pekerjaan yang telah dianggap berjasa untuk membangun desa itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN hikayat atau dongeng yang terjadi di daerah Sungai Menggelegar. Orang-orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dijadikan pemimpin.

Akan tetapi hal yang tidak biasa adalah rasa dingin yang dirasakannya itu. Akibat cuaca yang tidak nyaman ini. menjadi semakin sepi dan mengiriskan. Tapi entah kenapa malam itu ia lebih memilih untuk melewati jalan dalam desa baru kemudian mengambil arah ke utara. Dengan agak terburu-buru ia berjalan menuju rumahnya yang terletak agak di utara. Di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri berada. Dan rasa dingin yang aneh ini benarbenar membuatnya shok karena ditambah dengan kenyataan bahwa di dalam Taman Utara. untuk kemudian mengangkat muatan-muatan hasil tangkapannya hari itu. Malam yang menghebohkan. Kentongan bambu pun kemudian bertalu-talu.109 gannya. sempat meresap ke dalam kulit dan menembus tulang. bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dingin ini lain. Setelah Jingkit memberitahu istrinya akan hilangnya keduabelas Yang Berdiri. Ia malah kadang sering mengagumi patung-patung itu. Tidak ada masalah bagi Jingkit untuk melihat keduabelas Yang Berdiri malam-malam. Penduduk dengan rasa-rasa cemas bergegas ke luar dari rumah . Dan merasa bangga bahwa profesinya sebagai nelayan juga diabadikan dalam salah satu patung-patung itu. Dengan demikian mau tidak mau ia harus melewati Taman Utara di mana terdapat keduabelas Yang Berdiri. ia pun bergegas ke rumah Ki Tanah. terasa amat lengang. Tidak ada satu pun Yang Berdiri tersisa di sana. Semuanya hilang. di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. Pada suatu malam yang sunyi dan agak dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Membuat tubuh benar-benar terasa lelah. Tak tahan dengan keadaan itu Jingkit pun lari lintang pukang. menyebarkan kabar ke seluruh penjuru desa. Biasanya ia mengambil jalan pinggiran sungai untuk kemudian menyusurinya ke utara dan berbelok ke timur untuk mecapai rumahnya. Tidak dipedulikannya lagi ikan-ikan hasil tangkapannya dan juga rempat-rempat serta kainkain hasil pesanan istrinya yang terjatuh di tengah taman. kepal desa dari Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Dingin yang bukan lagi dingin udara atau angin. Adalah Jingkit seorang nelayan sungai yang pulang terlalu larut malam itu. ia baru saja menambatkan perahunya di dermaga Sungai Menggelegar. membuat suasana yang telah dingin dan sepi. orang-orang lebih banyak memilih untuk tinggal di rumahnya atau tidak berlama-lama di luar rumah bila tidak ada keperluan. dan atas usul istrinya.

PERUBAHAN-PERUBAHAN dan berkumpul di alun-alun desa untuk mencari tahu apa yang sedang berlangsung. selaku pimpinan di sana. Hanya para laki-laki muda dan yang masih kuat yang muncul. Dan dua belas buah lagi. sudah di luar kemampuan kita. tidak sampai air teh yang baru diseduh dingin. Seakan-akan itu bukanlah perbuatan seorang atau sekelompok manusia saja. Sampai akhirnya berkatalah Ki Tanah. Sekarang atau besok mengetahuinya akan sama saja. mereka bersamasama menuju ke Taman Utara untuk melihat lokasi keduabelas Yang Berdiri. Lalu orang-orang pun bubarlah. dalam langkah yang tergesa-gesa. bagaimana peristiwa itu dapat terjadi. Seakan-akan mengejek orang yang mencari-cari apa yang pernah ada ditanamkan di dalam dan di atasnya. Benar-benar menyeramkan. Dan pada akhirnya atas usul seorang warga. Sunyinya saat itu seakan-akan suara aliran sungai yang semilir dari jauh dapat terdengar dengan jelas. Setelah berjalan bersama-sama. Memindahkan patung-patung yang beratnya hampir tiga kali kerbau bunting dengan tinggi dua kali orang dewasa. ”baiknya kita menenangkan diri dulu. Ucapanucapan yang menyatakan keterkejutan terlontar selama penyampaian itu. untuk mempersilakan menceritakan peristiwa yang dilihatnya. Setelah Ki Tanah menenangkan warganya. sampailah mereka di satu bagian dalam Taman Utara di mana seharusnya keduabelas Yang Berdiri itu berada. hanyalah kegelapan dan dua belas lobang sebesar kerbau yang tertinggal menganga. Beberapa masih bergidik saat Ki Tanah tadi menegaskan ”apapun” sebagai alternatif yang melakukan hal itu.110 BAGIAN 2. Bertanya-tanya hati semua orang. Besok pagi-pagi kita rundingkan lagi.” Semua mengangguk-angguk setuju. kemudian dengan cepat ia mempersilakan Jingkit. sebagai saksi satu-satunya yang ada. Sisanya bertahan di dalam rumah untuk menanti kabar ada apa gerangan. Siapa pun atau apapun yang mengambilnya. . Alih-alih patung-patung tersebut yang terlihat. Tiada suara di antara seluruh penduduk desa.

perlu dua hari dari awalan Sungai Menggelegar untuk mencari desa tersebut. Bisa-bisa sampai menggelegar. Akan tetapi tetap saja mereka masih bergidik dan merinding mendengar cerita yang penuh misteri itu. akan semakin keras suaranya. Tidak bisa dibayangkan ketegangan keluarga Citra Wangi dan kelompok para pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. pada sisi seberang. terdapat banyak sekali batu-batu menjulang setinggi orang sampai setinggi pohon kelapa di pinggir sungai dan di daratnya. yang memiliki suasana hampir sama dengan Desa Luar Rimba Hijau. dengan lebar sampai sepuluh kerbau dewasa berjajar dan air di tengahnya yang tenang. Akan tetapi anehnya. Batu-batuan yang dipilih umumnya bermotif cemerlang dan . lebih-lebih karena lokasi tempat di mana kejadian itu pernah berlangsung tidak jauh dari tempat mereka bermalam saat ini. Selama lima hari tersebut tidak ada apa-apa yang patut diperhatikan terjadi dalam perjalanan rombongan itu. Akibatnya ada aliran air dan udara yang lewat di antaranya menghasilkan suara yang menderu. Sesekali terdengar hanya suara jengkerik dan burung hantu. Desa di mana penduduknya banyak memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan pencari batu-batuan ketimbang petani seperti di Desa Luar Rimba Hijau. yang baru pertama kali mendengar cerita menyeramkan itu. Itulah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Sunyi. menandakan bahwa sungai itu cukup dalam. Bila banjir. Pembawaan suasana yang disajikan benar-benar membuat yang mendengarkannya terkesima dan seakan-akan terbawa ke sana saat peristiwa itu benar-benar terjadi dihadapan mereka. kata seorang anggota rombongan yang pernah mendengar suatu cerita.111 Mendengar cerita yang dilantunkan Rosata itu tidak ada orang-orang yang bersuara. Dengan cara itu orang juga jadi tahu apabila banjir bandang akan datang dari hulu. Sungai Menggelegar terlihat biasa seperti sungai-sungai biasa lainnya. Sebagian besar anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah telah mendengar cerita itu dari Rosata sebelumnya. Desa yang sepi. *** Lima hari kemudian sampailah mereka di daerah Desa Pinggir Sungai Menggelegar. bahkan sekecil apa pun suara. yaitu sisi barat.

Terlihat ikan tersebut menjadi agak berwibawa berenang ke sana kemari dalam sebuah gentong besar yang dipertontonkan di pasar pinggir sungai itu. Di sini mereka melihat banyaknya sampan-sampan dan perahu yang ditambatkan di sepanjang sungai. Bagi Citra Wangi. yang ditemani beberapa orang dari . Itulah salah satu kelebihan desa atau tempat yang kehidupannya bisa dikembangkan sampai ke atas air. pastilah langsung tercetus ide untuk mengembangkannya. Ada yang panjang dan pipih ada juga yang bersisik keperakan dengan jenggotnya. Disebut pula oleh orang yang mempertontonkan ikan itu. Sedikit ada kelebihan suatu daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perdagangan. Orang menyebutnya Arowana. PERUBAHAN-PERUBAHAN campur-campur. ketiganya. Kelebihan inilah yang pertama kali terlihat oleh orang-orang anggota perdagangan Desa Luar Rimba Hijau. Jiwa bisnis mereka memang telah melekat ke sanubari. ibu dan ayahnya sendiri. bahwa umur ikan ini bisa tahunan dan dapat berukuran sampai sebesar orang dewasa. Terdapat pula semacam Pasar Terapung. Suatu suasana yang mereka belum pernah lihat sebelumnya. Desa Pinggir Sungai Menggelegar memberikan wawasan baru mengenai suatu desa. Setelah menunggu beberapa lama. Ki Untung dan Ki Rabat. misalnya saat ia mandi di sungai bersama teman-temannya. yang tidak semestinya bertatanan melulu seperti Desa Luar Rimba Hijau. Di sana tampak sedang menunggu beberapa orang anggota rombongan dari Pinggiran Sungai Merah yang tidak ikut berjalan-jalan. kadang pula telah berpermukaan halus. di antaranya terlihat Ki Murah. di mana kegiatan perekonomian dan perdagangan terjadi bukan di darat melainkan di atas perahu. karena mereka telah pernah mampir di desa ini. Dengan suatu cara tertentu batu-batu ini dapat dipotong dan dibentuk untuk dijadikan hiasan. Terdapat ikan-ikan aneh yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. kembali ke lokasi di mana rombongan itu menyimpan kereta-kereta dan kuda-kudanya. tampaklah anggota rombongan pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau.112 BAGIAN 2. Citra Wangi dan kedua orang tuanya. Bergidik Citra Wangi membayangkan ikan berjenggot itu sebesar dirinya. dan kemudian berenang-renang di sekitarnya. Setelah puas melihat-lihat pasar dan juga hal-hal baru yang ada di sekitar Desa Pinggir Sungai Menggelegar itu.

kecil sebesar kuku jari dan berwarna-warna mirip susu diberi pewarna. ”Ada apa. paling tidak kedua orang ini akan membawakan kabar bagi kawan-kawanya di Desa Luar Rimba Hijau.. Citra Wangi pun menoleh kepada ayah dan ibunya. Ki Rabat sebagai seorang pedagang ulung berdasarkan pengalamannya melihat bahwa kedua wanita tersebut telah terpesona oleh produk barunya itu.. Untuk menambahkan rasa ingin memiliki. ”Lihatlah. ”ini ada sesuatu yang pasti menarik bagimu. minta persetujuan untuk menghampiri Ki Rabat. Orang-orang yang sejenis akan dengan mudah berkawan dan bersahabat. ”Nak Citra Wangi. Bila ia bisa meyakinkan mereka betapa baiknya barang-barang di sini. Pernah mereka mendengar adanya batu-batu mirip telur bentuknya.” Mendengar panggilan itu. begitu kata ujar-ujar kuno. Bisa diduga kawan-kawan mereka itu adalah para pedagang-pedagang dari desa ini. Keduanya mengangguk tanda setuju. batu-batu hiasan ini. Bersemi senyum di wajah Ki Rabat melihat kedatangan mereka berdua. ”untuk Citra Wangi dan Nyi Apik. indah. ditambahkannya kata-kata. Dan saat ini mereka menyaksikannya sendiri.” gapai Ki Rabat dari jauh. Suatu hiasanya yang mereka hanya pernah dengar.113 Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Siapa pembeli tak senang diberi ”harga khusus”. ini harga khusus. walaupun kadang mereka pun tahu bahwa harga itu sebenarnya adalah harga yang telah dinaikkan dulu . Bahkan ibunya pun turut berdiri untuk ikut serta menghampiri Ki Rabat. Tapi jangan bilang-bilang sama orang desa ya?” Berseri kedunya mendengar kata ”harga khusus” itu. sudah tentu akan muncul produk baru yang bisa dijual di sana nanti. Pikirnya. Betapa ingin mereka memilikinya. bukan?” katanya sambil menunjuk batu-batu gemerlap susu yang dibawa oleh rekan dagang yang baru dikenalnya itu. Ki?” tanya Citra Wangi sopan. Terdiam Citra Wangi dan ibunya melihat-lihat batu-batu berwarnawarni itu yang baru kali ini mereka lihat. Mengenakannya.

jadi harus dirayakan dengan cara yang tidak biasa. Peristiwa perjalanan ini pun bukan peristiwa biasa. Setelah berunding sejenak. kemudian diturunkan. suami Nyi Apik hanya geleng-geleng kepala melihat istri dan putrinya begitu bersemangat mengaduk-aduk batu-batu tersebut dalam wadahnya. Hati siapa yang tidak tertarik mendengar pembahasan mengenai hal itu. Sebenarnya di sepanjang Sungai Merah terdapat juga beberapa rumah atau kumpulan rumah-rumah penduduk. Selain itu mereka masih memilihkan beberapa untuk oleh-oleh. Cara seperti ini masih digunakan orang sampai saat ini. Padang rumput yang memisahkan sedikit jarak sampai mereka tiba di Sungai Merah. akan tetapi karena tidak memiliki struktur pemerintahan. Tak jadi soal bagi mereka apakah itu desa atau hanya sekelompok orang. saat itu membiarkannya saja. Pertemuan membicarakan hilangnya keduabelas Yang Berdiri tersebut. Walaupun demikian wajah sumringah kelompok pedagang tak dapat disembunyikan. Bukan desa. Senanglah . Selain suasananya yang nyaman. agak sulit dikatakan atau dinamai apa tempat itu. Tinggal empat sampai lima hari lagi perjalanan. Begitu pikirnya. Para pedagang Desa Pinggir Sungai Menggelegar pun mengatakan bahwa para tamu boleh mendengarkan pertemuan itu. sejauh subyek perdagangan mereka ada. Di kejauhan Ki Rapih. Nyi Apik memilih dua buah yang berwarna merah dan ungu untuk dirinya dan Citra Wangi memilih yang berwarna hijau muda dan kuning bercampur biru. Ia yang biasanya membatasi. *** Setelah lima minggu dalam perjalanan menuju Desa Pinggiran Sungai Merah.114 BAGIAN 2. juga adanya pertemuan adat yang menarik mereka. PERUBAHAN-PERUBAHAN untuk mendapatkan keuntungan berlipat. Sampailah rombongan itu di padang rumput yang luas. melaului Pantai Selatan. di mana di utaranya terbentang Padang Batu-batu. para anggota rombongan pun bersepakat untuk bermalam di Desa Pinggir Sungai Menggelegar. karena diharapkan dapat menjadi mata dan telinga untuk mencari tahu di mana terdapat patung-patung itu sekarang. sehingga sampailah mereka ke Desa Pinggiran Sungai Merah. agar seakan-akan terlihat bahwa barang tersebut menjadi murah harganya.

hampir semua di daerah sekitar Pinggiran Sungai Merah memakai cara penukar barang yang sama. Suatu lempengan logam berbentuk segitiga sama sisi digunakan. Tidak lagi membawa produk-produk langsung yang kadang bisa rusak. yang di dalamnya terlukis enam buah Tigaan. Yang di kemudian hari dapat digunakan kembali untuk berdagang. Dan uniknya pada barangbarang yang dijual. Cukup mencocokkan jumlah Tigaan yang dimilikinya dengan gambar Tigaan yang ada pada barang yang akan dibelinya. Sisi-sisinya berukuran satu dua kuku ibu jari panjangnya. Segitiga besar juga dapat digunakan untuk barang-barang berharga empat Tigaan. Atau Belah ketupat dan jajaran genjang untuk benda berharga dua Tigaan. barang dan Tigaan berpindah tangan. Sebagai contoh untuk barang yang berharga enam Tigaan. Entah siapa yang mulai membuatkan patokan. Selain itu ada pula corak-corak lain yang menambah nilai estetis dari barang yang akan dijual. Bersua kembali sanak saudara merupakan satu-satunya obat bagi keadaan tersebut. akan lebih mudah berdagang. cukup Tigaan sebagai hasil penjualan. Dengan demikian sudah sepantasnyalah mereke juga berbunga-bunga hatinya. Desa Pinggiran Sungai Merah. berbulan-bulan jauh dari kampung halaman telah menumbuhkan rindu di dalam hati mereka. Bila cocok. pada kelompok pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau memikirkan untuk menerapkannya sekembalinya ke desa mereka.115 hati mereka. saat langkah-langkah mereka sudah bisa dipastikan akan sampai ke kampung halamannya kembali. Pada jaman itu perdagangan memiliki cara yang unik untuk menyatakan alat penukar barang atau uangnya. . Untuk orang-orang utara dari Sungai Merah mereka memberi cetakan gambaran Tigaan sejumlah harga barangnya. terdapat gambaran ”mata uang” itu yang disebut Tigaan. Lain halnya dengan para anggota Rombongan dari Pinggiran Sungai Merah. Melihat cara perdagangan yang menarik ini. Mereka membuat lambang-lambang Tigaan yang menarik dan lebih nyeni. mereka gambarkan lambang segienam atau heksagonal. Jadi orang yang tidak bisa berhitung pun dapat melakukan transaksi. Mereka berpikir dengan cara ini. Akan teatpi orang-orang yang tinggal di selatan Sungai Merah lebih kreatif. semacam stempel.

Hanya terdengar bahwa bahan dasar Tigaan itu dapat diperoleh di daerah Gurun Besar. PERUBAHAN-PERUBAHAN Dan atas keterangan seorang yang ditemuinya selama mereka berdagang di Pinggiran Sungai Merah. Jalur perdagangan yang dibuka oleh pedagang- . Api yang meresap dalam sesuatu.116 BAGIAN 2. adalah lambang air yang diberi garis mendatar di tengahnya. Untuk itu ingatlah arah air yang selalu menuju ke tempat yang rendah dalam mengalir. Lambang tanah. sebagaimana orang seharusnya bisa saat belajar ilmu kanuragan. juga keseragaman dari cap yang ada di atasnya. Jadi lambang api diberi garis mendatar di tengahnya.” terang Ki Sura perlahan pada Lantang dan Rancana. Ilmu yang akan diturunkan oleh Ki Sura kepada Lantang dan dititipkan juga melalui Rancana. *** Lima tahun waktu pun berlalu. Ingatlah bahwa itu bentuk api pada obor atau suluh. Bayangkan sebagai air yang merembes ke dalam tanah. Hal in dikarenakan sifat logamnya yang keras dan aneh. Tidak sembarang orang dapat membuat Tigaan. maka dibuat suatu cap di atasnya sehingga orang dapat membedakan mana Tigaan yang asli dan mana yang palsu. Segitiga dengan puncak ke bahwa melambangkan air.” begitu jelas Ki Sura pada kedua orang itu perihal pemahamannya mengenai Empat Elemen. Pernah terdapat Tigaan palsu.” ”Dan satu lambang tersisa adalah udara. Dengan memahami dulu inti dari cara pandang kuno itu baru dapat dipelajari ilmu-ilmu yang didasarkan pada cara pandang itu.. Dan sesuatu itu adalah udara.” ”Segitiga dengan puncak ke atas melambangkan api. ”masing-masing elemen diyakini dalam ujarujar kuno sebagai pembentuk kehidupan ini. Bukan waktu yang sebentar apabila dalam berlalunya tersebut terjadi banyak perubahan-perubahan dalam empat penjuru. Berkaitan dengan kondisi tubuh Lantang yang aneh. Untuk mencegahnya.. Yang tidak dapat mengalirkan hawa. mereka ingin menemui semacam kelompok yang membuat Tigaan tersebut. *** ”Ini adalah lingkaran Empat Elemen. Suatu cara pandang kuno mengenai kekuatan atau unsur-unsur yang membentuk alam ini. Dalam suatu lembah yang terdapat di sana.

yang menghubungkan antara bagian timur dan barat. sejalan dengan diterapkannya Tigaan sebagai mata uang. dan juga utara dan selatan. Desa Pinggiran Sungai Merah. Mereka begitu terpesona akan keadaan Desa Pinggiran Sungai Merah saat itu. Sisanya adalah orangorang yang dapat digolongkan sebagai ketinggalan jaman. Terjadi pula perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota. Di kota-kota tersebut hampir ada semua keperluan. Rombongan pedagang Kota Luar Rimba Hijau. lima tahun yang lalu. yang belum tentu jelek dalam artian luas. Setelah bepergian bersama rombongan pedangan dari Kota Luar Rimba Hijau. bersama-sama den- . Janji akan pertunangan dengan Paras Tampan tidaklah terlalu dipersoalkan. akhirnya pindahlah keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Kemoderenan Kota Pinggiran Sungai Merah sebagai pusat informasi. Benar-benar perubahan yang cepat dalam kurun lima tahun ini. Sedangkan desa-desa yang dulunya sudah teratur seperti Desa Luar Rimba Hijau. semakin kuat niat mereka untuk hijrah ke sana. membuat makin banyaknya tumbuh desa-desa dan kota di sekitar jalur tersebut. Perubahan Desa Luar Rimba Hijau yang menjadi Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menghalangi niat mereka untuk pindah. Citra Wangi sendiri yang mengatakan hal itu. Nyi Apik. Apabila lingkungan berubah. Tak tahu mereka bagaimana anak mereka nanti menghadapi hal ini. tumbuh menjadi kota-kota yang ramai dikunjungi orang. Tempat-tempat yang dulunya hanya merupakan kumpulan rumah dan tidak memiliki pemerintahan berangsur-angsur menjadi desa. Entah sebagai agen perubahan atau pun sebagai obyek modernisasi. dikarenakan banyak kemudahan untuk hidup di kota-kota. saat itu masih Desa Luar Rimba Hijau.117 pedagang dari Desa Luar Rimba Hijau. Desa Air Jatuh dan Desa Paparan Karang Utara. Bukan lagi di kota seperti Kota Luar Rimba Hijau yang jauh dari mana-mana. Berangsung-angsur dengan berkembangnya desa itu menjadi kota. Orang tua Paras Tampan hanya dapat mengelus dada melihat hal itu. membuat mereka merasa kerasan. Ini pun atas desakan dari Citra Wangi dan ibunga. Desa Pinggir Sungai Menggelegar. Dan bahwa orang harusnya tinggal di suatu kota yang seperti itu. bagaimana dengan individu-individu yang hidup di dalamnya? Dapatlah dikatakan secara naif bahwa mereka sudah sepantasnya pun turut berubah.

Dijamin. Tigaan telah memainkan peran dalam kehidupan. yang memiliki semboyan ”Antar barang sampai depan pintu dengan mengarungi hutan. Hanya enam buah tiruan yang dibuat dan diletakkan di tempat di mana patung aslinya seharusnya berada.” Dengan berbekal jaringan yang kuat dan juga didukung oleh pengawal-pengawal yang kuat. yaitu Perguruan Atas Angin yang berlokasi di Kota Air Jatuh. Perguruan pusatnya tetap terdapat di Kota Paparan Karang Utara. Ketiga lokasi cabang-cabang perguruan ini entah mengapa melingkupi perguruan silat saingannya atau lawannya. Jarang-jarang mereka berani melewatkan barang mereka melalui Gurun Besar. semakin tidak ada bedanya antara barang-barang yang dapat dibeli di kota besar dan kota-kota di pedalaman. Di tempat-tempat dudukan patung yang tidak dibuat tiruannya diletakkan bunga-bunga di atasnya. Akhirnya para penduduk bersepakat untuk melupakan saja peristiwa itu. Hilangnya patung-patung keduabelas Yang Berdiri di Kota Pinggiran Sungai Menggelegar beberapa tahun yang silam masih menyimpang banyak tanda tanya. Hanya untuk barang-barang tertentu yang tidak terlalu berharga berani mereka melalui tempat itu. sungai dan gunung. Dengan hampir dua ratusan murid-murid tingkat menengah.118 BAGIAN 2. yang mereka namakan Antaran Pasti. Apa-apa pun dapat dipesan. Jika itu adalah gambaran sekilas perubahan-perubahan pada penduduk dan kota-kota. berani mereka memberikan jaminan seperti itu. Akan tetapi hanya jalan buntu yang ditemui. Perguruan Kapak Ganda semakin memapankan dirinya. Adapun hal ini dapat dicapai dengan dibukanya cabang-cabang perguruan ini di berbagai kota. Asalkan ada Tigaan. Tidak utuh semuanya. dunia persilatan sendiri masih tampak ademayem saja. . sehingga dengan murid-murid tingkat bawah dan yang baru belajar mencapai seribuan orang. Beberapa patung dibangun kembali. akan tetapi terdapat dua cabang besarnya yaitu di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Akibat adanya jasa pengantaran barang Antaran Pasti ini. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengusutnya. Jumlah yang cukup mengiriskan bagi perguruan yang bermusuhan dengannya. Akan tetapi tentu saja dalam batas-batas yang diperhitungkan. PERUBAHAN-PERUBAHAN gan Kota Pingir Sungai Menggelegar berkerja sama membangun suatu jasa pengiriman barang. Barang sampai pasti.

bahwa tradisi Lingkaran Dalam dapat digonta-ganti oleh murid-murid tingkat satu yang pandai. Tidak menggunakan nama sebagai cabang Perguruan Atas Angin. ditempatkan sebagai Empat Pilar. Seorang Lingkaran Dalam yang lain tidak diketahui rimbanya. menanjak dan akhirnya hilang ditelan awan di atasnya. Pemuda itu Paras Tampan sedang menunggu waktu. Dan memang tiada seorang pun dari murid-muridnya dapat menandingi Empat Pilar atau pun sang guru. Saudara-saudaranya yang tinggal lima orang bersama dirinya. Bila saja belum memiliki ilmu seperti yang telah dilatihnya selama ini. Sebenarnya di luar kelima orang ini masih terdapat sedikitnya tiga orang lingkaran dalam yang cukup mumpuni. Tidak seperti dulu. Sejak meninggalnya Ki Jagad Hitam ia pun menghilang. Baik dari segi bakat ataupun finansial.119 Lain halnya dengan Perguruan Kapak Ganda. Sisanya adalah murid-murid tingkat rendahan. akan tetapi tidak pula menyembunyikan diri bahwa mereka mengajarkan ilmu yang sama dengan perguruan tersebut. Kegiatan ini merupakan ujian penghabisan bagi ia dan kawankawannya. puncak pimpinan perguruan dipegang tunggal oleh Tapak Kelam. saat yang tepat untuk mulai mendaki. Saat terakhir hanya tampak ia berada di makam gurunya. Bayangan Hitam Berbisik julukannya. Seorang pemuda tampak berdiri memandangi jalan setepak tersebut yang melingkar-lingkar seperti ular. akan tetapi tidak seagresif Perguruan Kapak Ganda dalam melakukan proses perekrutan anggota. Dua orang dari mareka masih berkecimpung dalam bidang kanuragan dengan membuka perguruan di kota lain. Setelah tiadanya Lingkaran Dalam. Mereka masih memilih dan memililah murid-murid yang dianggap berbobot. lain pula halnya dengan Perguruan Atas Angin. Benar-benar menggirisi. bisa jadi pemuda itu akan mengurungkan niatnya untuk mendaki gunung itu. Perguruan silat ini walaupun terlihat juga berambisi untuk menambah jumlah murid. Menunggu isyarat alam. Tiada pesan yang ditinggalkan. *** Jalan setapak yang menuju lereng-lerang Gunung Hijau tampak membentang di depan matanya. Ujian bahwa ia dan kawan-kawannya telah tamat belajar di . posisi ketua perguruan dan Empat Pilar mutlak adanya. Saudara-saudaranya dari Lingkaran Dalam pun tidak begitu mempedulikannya. mengingat sifatnya yang agak tertutup dan suka menyendiri.

Benar-benar nasib yang menuntun atau catatan-catatan itulah yang mencari penerusnya. oleh karena itu mereka tidak mengikuti ujian ini. Dari dua puluh empat kawula muda yang berlatih saat itu. Rintah. Ketujuh orang yang tinggal adalah Gentong. tidak dapat dipastikan apakah seseorang yang mampu untuk naik ke atas gunung dapat menemukan paling tidak satu catatan tersebut. Kawula muda yang gagal telah pulang kembali ke Kota Luar Rimba Hijau untuk melanjutkan hidupnya. tanpa embel-embel perguruan. Rantih. Bukan perguruan silat. Untuk itu Ki Tapa telah mengajarkan ilmuilmu lain yang lebih cocok untuk mereka. Paras Tampan. Jadi untuk ukuran orang biasa. Untuk itu Ki Tapa pun tidak dapat memberi petunjuk. Misbaya.120 BAGIAN 2. Tinggal tujuh orang yang masih bertahan. Lima orang saya yang harus menggenapi latihannya dengan memanjat ke atas gunung dan melampaui tempat-tempat yang ditugaskan oleh Ki Tapa. Akan tetapi mengingat betapa banyaknya lorong-lorong batu. Asap. mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Bahkan kadang terdapat catatan-catatan palsu yang dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah mencoba tetapi gagal. Untuk berguru sendiri di gunung itu masing-masing kelima orang itu . sedikitnya mereka memiliki kebisaan dalam Ilmu Jalan Selaras dengan Alam Semesta untuk menjaga diri. Mereka pun diperbolehkan untuk melatih orang-orang di kotanya. Dan menjadi suatu kebanggaan bahwa mereka pernah berlatih di dalam Rimba Hijau. gua-gua dan juga sisa-sisa pondok di atas pohon di gunung itu. dan untuk turut menggagalkan orang lain. Seorang seperti Ki Tapa pun belum tentu memperoleh keberuntungan untuk memperoleh catatan-catatan itu. Beberapa dari mereka bahkan bekerja sama membentuk suatu padepokan dan mengajarkan ilmu tersebut. melainkan hanya tempat menempa diri. jangan seperti yang disebutkan penduduk desa imbuhnya. Pesannya. dibuatnya catatan-catatan palsu tersebut. yang bertapa menuliskan hasil-hasil karyanya di atas batu dan meninggal di sana. telah gugur tujuh belas orang. Kegagalan mereka semata-mata hanyalah karena bakat yang kurang cocok dengan ilmuilmu yang lebih tinggi. Cukup Rimba Hijau. PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam Rimba Hijau. Walaupun gagal. Kirani dan pemuda itu. bahwa di tempat-tempat tersebut bila berjodoh dapat bertemu peninggalanpeninggalan ahli-ahli silat jaman kuno. Kedua kawula putri terlihat amat berbakat dalam pengobatan. kata Ki Tapa.

ke arah mana saja tidak jadi soal. semakin kental hawa anak itu menarik hatinya. serta Ki Tapa gurunya. Pertemuannya pertama kali dengan Lantang seorang anak manusia tidak dapat menghilang dari benaknya. Mohon bimbingan atas ujian ini. Paras Tampan mendapat bagian terakhir. Dari urutan yang ditarik. . Sejenak Paras Tampan memejamkan matanya. Menjaga Rimba Hijau seperti dirinya. Sosok yang membayangkan hawa yang lain. Seraya pula tidak lupa mengucap syukur atas karunia yang diterimanya selama ini. Menenangkan dirinya. Temantemannya yang telah pulang ke luar Rimba Hijau. Hawa yang menarik hatinya. Ki Tapa akan memilih dari kelima orang itu nanti. Menyusul kemudian Gentong. saat matahari sedang tinggi-tingginya. Jadilah dirimu sendiri. Melangkahkan kaki menempuh jalan setapak yang akan membawa perubahan besar bagi hidupnya. seorang Undinen yang rupawan.121 diberi waktu dua tahun. Ia tidak tahu kemana ia harus mengambil arah. mulai beranjaklah Paras Tampan. *** Undinen itu bernama Xyra. Setelah merasa tenang. Setelah matahari tiada lagi di puncak titik kulminasinya. Juga untuk Rantih dan Kirani yang tidak turut serta. Asap mendapat giliran sehabis itu. Mengucap puja dan puji pada Sang Pencipta. dua orang yang akan menggantikannya. Sisanya dapat mengembara ke empat penjuru angin untuk menambah pengalaman. Bisa sampai di titik ini. Ada rasa nyaman dalam hawa itu. Apa pun yang terjadi. ia dapat berangkat. Jangan berpura-pura. Masih terbayang bagaimana ia terpesona pada sosok anak kecil itu. Menurut Ki Tapa. dapat atau tidak. mereka harus kembali turun. Paras Tampan. Misbaya mendapat giliran saat ayam belum berkokok. Berdoa pula ia untuk teman-teman seperjuangannya yang telah berangkat. Kitab atau catatan yang sesuai akan mencari orang yang sesuai pula. Rintah berangkat setelah matahari agak tinggi. Biarkan kitab-kitab itu yang menemuimu. Dan sekarang gilirannya. Apalagi sejak anak itu Lantang mempelajari Ilmu Hawa Air atas bimbingan Ki Sura dan Nyi Sura. Keempat temannya telah lebih dulu berangkat. Bukan hawa manusia bukan pula hawa bangsa Undinen.

Rancana yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. Telaga. *** Cermin Maut tampak mematut-matut dirinya. Bila tidak dapat menemui dirinya. juga telah pergi merantau satu tahun sebelum perginya Rancana. Di hadapannya tampak Sabit Kematian duduk. anak dari Ki dan Nyi Sura. untuk mencarinya ke timur. Entah bagaimana telah tumbuh semacam persahabatan di antara mereka. Ingin ia meluaskan pengalamannya dan menambah ilmu. mengetahui keberadaan Undinen yang selalu mengamat-amati Lantang. apabila telah selesai belajar. Katanya dengan arif bahwa dengan adanya Lantang. masih terlihat cantik. walaupun tidak menampakkan diri. akan tetapi lama kelamaan hilang kesedihan itu setelah tenggelam ia dalam kesibukan mempelajari ilmu-ilmu pengolahan tenaga air yang diajari oleh Ki dan Nyi Sura. karena tidak mengganggu. tanpa tudung kepalanya. Saat itu biasanya Xyra sang Undinen telah mengerti tanpa diminta. Mereka membiarkannya saja. Di Rimba Hijau. Rancana sudah satu tahun pergi meninggalkan Pulau Tengah Danau itu. Sosoknya menjadi tidak lagi terlihat menakutkan tanpa . mengingat sifat alami dari Undinen yang membuat hawa di tempat ia berada menjadi amat dingin. di mana tidak ada lagi tempat yang cukup dingin di Pulau Tengah Danau itu. menembus Padang Batu-batu terus ke Pantai Selatan. maupun kedua guru barunya Ki dan Nyi Sura. carilah Ki Tapa. Bahkan keberadaannya kadang dapat membantu Lantang dalam mengendalikan hawa dingin. Kedua orang itu saling memanggil kakak dan adik. Ia mengambil arah ke selatan. Hal dikarenakan ilmu awet muda yang diterapkannya. Ada urusan yang harus diselesaikannya. ayah dan ibunya telah mendapat ganti dirinya. Terlihat lucu karena tampak sosok wajah bulat yang hampir tiada ditumbuhi rambut di atas kepalanya. Ia juga telah menganggap Lantang sebagai adiknya sendiri. Ia hanya berpesan pada Lantang. Pada awalnya sedih hati Lantang melihat kepergian guru pertamanya. sering berada dekat dengan Lantang. Bujukan orang tuanya agar ia menunda perjalanannya tidak diindahkannya. Hal ini terutama baik apabila Lantang harus melatih ilmunya pada saat musim panas datang.122 BAGIAN 2. Wajahnya yang tidak lagi bisa dikatakan muda. PERUBAHAN-PERUBAHAN Baik Lantang.

. ”Kakak Mayat Pucat.. Ia rupanya telah beranjak pergi di saat Cermin Maut dan Mayat Pucat sedang berbicara. Tertulis di atas secarik kertas tulisan Naga Geni. Lambang itu ditemukannya setelah mencongkel-congkel bagian yang tertutup tanah liat kering. ”Di sini.123 tudung kepala yang biasanya menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan dan juga tanpa sabitnya.” ucap Cermin Maut perlahan memecah keheningan. Di dalamnya ternyata terdapat guratanguratan yang membentuk sesuatu. Mendengar itu kedua saudara angkatnya langsung bagaikan terbang melayang dari meja tempat mereka duduk menuju tempat di mana prasasti itu tergeletak setelah diletakkan oleh Sabit Kematian. ia malah membolak-balik prasasti yang dimaksud dengan sabitnya.. yang berbunyi ”Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa memperkuat tulang. tidak ada orang yang mengira bahwa warna coklat kehitaman itu bukanlah batu asli. ”Apakah menurutmu wasiat dari adik Naga Geni itu benar adanya?” ”Hmm.” ”Menarik. melainkan hanya tanah liat yang sengaja direkatkan dan dilapisi sedemikian rupa sehingga terlihat seperti batu biasa.. yang dapat membolak-balik prasasti seukuran kerbau itu... Alih-alih membaca catatan peninggalan Naga Geni.” gumam Sabit Kematian sambil menganggukangguk. Di sisi lain dari meja di hadapan keduanya duduk Mayat Pucat yang tampak sedang memikirkan sesuatu. maksudmu apa yang tertera di alas prasasti itu?” tanya Mayat Pucat sambil menunjuk sehelai catatan peninggalan Naga Geni.!” katanya seakan-akan pada dirinya sendiri. masih ada lambang-lambang aneh. Batu-batu membuat lapisan kulit menebal seperti besi dan Seribu Ramuan memberi tubuh asupan yang berguna. Ketiganya terdiam seakan-akan asik dengan pikirannya masingmasing. di bawah syair yang dituliskan Naga Geni. . menarik. melemaskan otot dan melancarkan peredaran darah.. Bisa dibayangkan berapa besar tenaga Sabit Kematian. Mungkin karena bentuknya yang agak menjorok sejauh ibu jari. Angin-angin meringankan gerak dan menghilangkan bayangan.

Murid ini dirancangnya untuk menjadi penerusnya kelak karena bakatnya yang melebihi kedelapan orang Penjuru Angin. Ketiganya pun kembali termenung. Melayang dalam pikiran masingmasing. Panah tersebut mengarah ke lambang tersebut. Prasasti itu berhasil dicuri oleh salah seorang muridnya dekat saat Perguruan Kapak Ganda dan Perguruan Atas Angin sedang berseteru di Bukit Utara beberapa tahun yang silam. biarkan saja!” usul Mayat Pucat. melainkan jauh ke arah barat laut di kota lain.” ”Maksud Kakak Pucat. Akan tetapi tidak diperkenalkannya sosok itu kepada khalayak ramai karena ia punya misi tertentu dengan orang itu.” tanya Sabit Kematian. Prasasti itu sebenarnya bukan berada pada tempatnya di sini. . ”apakah itu sebuah kitab atau hanya sebuah jurus saja atau ilmu? Menurutku itu masingmasing sebuah kitab. Bagaimana ia dapat memperoleh prasasti dan catatan itu. yang merupakan murid-murid tingkat tinggi perguruan itu. Memang Naga Geni tidak meninggalkan pesan apa-apa terhadap pesan itu. Sudah lama sekali rasanya.” usul Cermin Maut. Lebih baik kita menafsirkan dulu. pernah rasanya ia melihat lambang seperti itu. PERUBAHAN-PERUBAHAN ”Apa maksudnya ini?” tanya Cermin Maut tak mengerti. Murid yang dipesankannya untuk mencuri itu adalah seorang murid pilihannya yang tidak dikenal oleh murid-murid lainnya. ”Sudahlah. Lupa. Dan salah satunya adalah urusan mencuri prasasti di air terjun Air Jatuh.124 BAGIAN 2.” ucap Sabit Kematian dengan ragu-ragu. apa maksud tulisan Naga Geni ini. Di bawah tulisan tersebut terdapat panah dan gambar sebuah segitiga yang ujung lancipnya menghadap ke atas dan di setengah tingginya terdapat garis mendatar. yang merupakan daerah kekuasaan Perguruan Atas Angin. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa jawaban terdapat pada lambang segitiga itu. bahkan oleh Penjuru Angin. ”Paling-paling itu hanya lambang yang tidak berarti. Suatu pertempuran habis-habisan bagi Perguruan Kapak Ganda. Jadi ada empat buah kitab. ”Tentu ada maknanya. Entah di mana.” ”Tapi lebih terdengar sebagai sebuah kiasan saja.

Untuk itu ia perlu pula membawa batu-batu sebesar kerbau dalam keretanya. Murid Rahasia dari Naga Geni berpura-pura sebagai pengukir prasasti dan berkeliling menawarkan barang dagangannya. Bisa dibilang mustahil. mengingat perjalanan yang jauh dan juga penjagaan yang ketak di Perguruan Atas Angin. apalagi membawanya sampai ke Perguruan Kapak Ganda. di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Karena mana ada kereta yang mampu membawa lebih dari tiga buah batu-batu sebesar itu. Suatu prasasti yang sebenarnya mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pe125 .Bagian 3 Hakim Haus Darah Perkara pencurian prasasti sebesar kerbau itu bukan urusan gampang. Ia diperintahkan untuk membuat prasasti yang menceritakan tentang Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam. yang menggambarkan bagaimana kedaan di sana saat sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. maka ia diterima untuk membuat salah sastu prasasti yang akan diletakkan di sekitar air terjun Air Jatuh dalam lingkungan Perguruan Atas Angin. Naga Geni. Akan tetapi seperti dituliskan dalam banyak Ujar-ujar Kuno. Murid Rahasia dipesankan untuk mencuri satu prasasti di sana. Tidak banyak. cukup paling banyak tiga buah. Dengan dalih bahwa perguruan silat sebesar Perguruan Atas Angin seharusnya memiliki prasasti sendiri untuk menceritakan kegagahankegagahan pendiri dan murid-muridnya. Oleh gurunya. Dengan berbekal kemampuannya untuk menyamar.

Lubang di bawah prasasti itu telah ditutup dengan cara yang mirip dilakukan olehnya untuk menyembunyikan lambang itu kemudian. Tulisan di bawah prasasti itu telah ditemukannya secara tidak sengaja. Sampai ia harus menggesernya untuk mengambil kitab-kitab sebagai pelaksanaan pesan dari gurunya. Lalu mengapa Murid Rahasia sampai tidak melihat kitab-kitab tersebut. Dan hal ini amatlah wajar. Gagasan yang dipakainya. Dengan alasan inilah ia menitahkan Murid Rahasia untuk mencurinya. Naga Geni berkeyakinan bahwa prasasti itu tentu akan dapat bercerita kemana perginya kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu warisan tersebut. Bahkan Ki Makam yang kemudian hari mengambil keempat kitab di bawahnya tidak mengetahui palsunya prasasti itu. Ki Makam tentu saja tahu karena telah dipesankan sebelumnya. berikut tulisan di bawahnya. Hal yang sama pun berlaku seperti tipuan yang dilakukannya. Ki Tilu. untuk itu Murid Rahasia perlu terlebih dahulu merencanakannya dengan seksama. yang dibuatnya bersamaan dengan prasasti pesanan Perguruan Atas Angin.126 BAGIAN 3. Selain syair ia menemukan pula lambang di bawahnya. juga bahwa Ki Makam sama sekali belum pernah melihat prasasti itu. Lambang seperti yang ditemukan oleh Sabit Kematian. Setelah prasasti tiruan jadi. yang keberadaannya diabadikan dalam prasasti itu. Murid Rahasia pula yang berinisiatif untuk menutupi lambang tersebut agar tidak semua informasi di bawah prasasti itu dapat dibaca dengan mudah. karena selain kepiawaian Murid Rahasia menirukan bentuk prasasti itu. . Mencuri suatu prasasti tidaklah mudah. adalah ia akan membuat tiruan yang sama persis dengan prasasti yang akan dicurinya itu. HAKIM HAUS DARAH waris ilmu-ilmu Petapa Seberang. Pernah Naga Geni mendapat pesan dari seorang pendekar perantau bahwa dahulu kala terdapat tiga petapa yang merupakan sumber ilmuilmu di tanah ini. ditukarnya prasasti itu dengan diamdiam sehingga tidak ada seorangpun yang tahu. Mengingat cerita itu. Dan ia sama sekali tidak menyangkanya bahwa ada sesuatu persis di bawah prasasti itu. Akan tetapi Ki Jagad hitam yang tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti itu berada di tempat itu. Salah seorangnya adalah Petapa Seberang.

ceritakan.127 Dalam tiruan prasasti Murid Rahasia sengaja tidak mengukirkan lambang yang disembunyikannya. Ke timur. Setelah menempatkan prasasti curian itu pada tempat latihan gurunya yang terletak agak rahasia. Satu-satunya rumah di kawasan itu. Jika saja ia tahu akan perseteruan itu pasti ia lebih memilih pulang untuk membantu gurunya. Akan tetapi sekarang apa yang dapat dilakukannya. Langkahnya ringan dan mantap.. Danau yang cukup luas dengan kehijauan di sekitarnya. Kembalinya Murid Rahasia membawa prasasti yang dipesan oleh gurunya Naga Geni tepat saat perguruannya telah dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Hal ini menandakan ada sedikit ilmu yang dimiliki pemuda itu. *** Seorang pemuda dengan pakaian yang amat sederhana berjalan cepat di atas pasir yang panas di dalam lingkungan Gurun Besar. sehingga tidak dibumihanguskan oleh Perguruan Atas Angin. Tidak terlihat terlalu dalam jejak kaki yang ditinggalkannya di atas pasir yang telah dilaluinya. Sesak kesedihan menjalar ke seluruh darahnya. Setelah berjalan bergegas beberapa lama. Ke arah barat ia melangkahkan kakinya. Tanpa membuang waktu bergerak ia menuju rumah itu. Gunung Hijau. .. sampailah ia pada suatu danau kecil di tengah gurun. Dengan kemampuannya mungkin saja ia dapat mempertahankan kehidupan guru dan saudara-saudara seperguruannya.... Secara naluriah ia merasa bahwa lambang itu memiliki arti penting bagi syair-syair itu. Tujuan hidupnya pun juga. Sedang sedang duduk bersila sambil menuliskan sesuatu di pangkuannya.” Suara itu berasal dari seorang tua yang duduk di atas suatu rajang sederhana yang terbuat dari kayu dan daun-daun. bagaimana semuanya berlangsung. ke suatu gunung di tengah belantara hijau. Lambang itu pula yang sebenarnya dipesankan oleh Ki Tilu kepada Ki Makam untuk ke mana menyimpang kitab-kitab itu. Baru saja dibukanya pintu itu telah terdengar suatu suara menyambutnya. Murid Rahasia pun pergi meninggalkan perguruan itu. semua telah hancur dan hilang. ”ceritakan. atau bahkan merupakan kuncinya. Di pinggir danau itu terdapat sebuah rumah sederhana. Ke arah Gurun Besar.

” katanya tanpa ekspresi. Sudah terbiasa ia.128 BAGIAN 3. ”bagaimana dengan pergerakan-pergerakan?” ”Yang di utara sudah menyebarkan cabang-cabang mengapit yang agak di tengah. Makhluk air di selatan mengatakan seorang telah pergi semakin jauh ke selatan. ”Dan urusanmu sendiri?” tanya gurunya akhirnya.. Lalu katanya. HAKIM HAUS DARAH ”Baik. yang saat ia jumpai sedang meregang nyawa. Sudah kenal pemuda itu pada tabiat gurunya. ”Menarik. ”Malah boleh dikatakan bahwa saya sama sekali belum bertemu dengan makhluk api dan udara. ”Beberapa saat belakangan ini tidak terlihat pergerakan mereka. Tepatnya sejak ia menjadi murid orang tua itu. Tidak dirasakannya dongkol atau pun kesal. ”Di timur makhluk tanah bercerita bahwa pada akhirnya hanya tinggal lima orang yang akan naik gunung untuk menentukan nasibnya.. Tampak seperti ada yang direncanakan. melainkan hanya pada kabar yang dibawanya. lalu tiga kekuatan yang agak di tengah itu?” tanya orang tua itu kemudian. . Makhluk api dan udara belum mengatakan apa-apa. ”Berjanjilah untuk mencari adikmu!” kata salah seorang dari mereka. sama sekali tidak menaruh perhatian pada dirinya. sementara gantinya sedang melatih tenaga air. gurunya.” jelas pemuda itu kemudian. Jadi bisa dikatakan sudah lupa bagaimana rasanya memiliki seorang kakak.. Dan sudah selama itu pula ia mencari kakaknya. Informasi ini menggembirakan dirinya. Saya masih tidak tahu ke mana harus mencari kakak saya yang hilang itu. Sudah telalu lama ia berpisah dengan kakaknya. Yang agak di tengah hanya memusatkan kekuatan di satu titik. Hal itu tampak dari senyumnya dan tawa kecilnya. guru!” jawab pemuda itu patuh. Dua orang tambahan akan hanya jadi peracik obat.” terang pemuda itu. Jadi mulailah ia bercerita. bahwa orang itu. Pencarian itu pun dilakukan hanya karena pesan dari kedua orang tuanya.” Orang tua itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. ”Belum selesai guru. Selain melatih mereka biasanya hanya mengunci diri di ruang semedi.” Pemuda itu tampak berhenti sejenak untuk mengambil napas.

Saat ia sadar. ditanyakannya lagi hal itu dan pemuda itu dengan sabar mengulanginya kembali. Pertempuran harus terjadi.. ”aku tidak akan menjawabnya. Gurun Besar..” komentar gurunya sambil tersenyum. Orang tua itu pun kemudian mencatat beberapa hal yang dianggapnya perlu. Tidak bisa tidak. Mendengar pertanyaan itu gurunya tertawa kecil. Gurunya hanya mengatakan bahwa ia menemukan dirinya pingsan di jalan dan membawanya ke sini. Tak lama melepas nyawalah kedua orang yang telah terluka parah itu. ”Tak bisa dielakkan.” gumamnya. jika kita bisa membaca tanda-tanda jaman. Begitulah kebiasaan dari guru dan murid yang tinggal di dekat Danau Tengah Gurun Besar itu. ”Tetapi guru. Bila ingat akan sesuatu yang dirasanya penting tapi belum dicatatnya. Di luar pun angin berhembus perlahan menghempas pasir-pasir halus kering menuju danau yang beriak kecil-kecil pada permukaannya. Rumput-rumput kering yang bergulung-gulung tampak juga menari- .129 Anak kecil itu pun mengangguk. Ia memang mengajarkan murid-muridnya bagaimana mengali informasi tidak hanya dari orang akan tetapi juga dari alam dan makhluk-makhluk lainnya. Sebagai contoh makhluk-makhluk empat elemen.” Pembicaraan pun berlanjut mengenai hal-hal lain. Bangga atas uraian muridnya mengenai prediksi akan masa yang datang menjelang. Pemuda itu tak ingat jelas bagaimana pertemuan pertamanya dengan gurunya itu. pasti akan terjadi” jawabnya tegas.. Tapi perlu waktu. Walau mungkin suatu hal telah berulang kali dijelaskannya. Aku yakin kamu pasti bisa menjawabnya. ia telah berada di tengah gurun ini. ”Berdasarkan tanda-tanda yang dibaca dan juga suara-suara dari empat elemen makhluk.. mengapa tidak tanda-tanda untuk diri kita sendiri?” tanyanya kemudian. carilah sendiri. ”Bagimana menurutmu?” tanya sang guru kemudian. ”Yakin sekali kelihatannya. Orang tua itu mengangguk-angguk.

sampai ribuan kambing dewasa panjangnya. Baik gerakan melindungi diri sendiri ataupun menyerang orang yang menjadi lawannya. Tenaga Air. melainkan juga pengguna ilmu itu. Dan karena keluarganya hanya merupakan semacam ’Pelestari Ilmu’ dari Tenaga Air tersebut. Sunyi dan kering. Ya. Seorang pemuda tampak berdiri di kaki gunung itu. Suatu ilmu di mana ilmu tenaga yang telah dimilikinya dapat diterapkan dalam gerakan-gerakan. Sekarang ia memandang pada bentangan luas suatu konstruksi geografis yang ter- . Sangar dan tampak seperti berwibawa. Sinar sang surya yang masih temaram menambah gagah ketinggian tebing yang menjulang menghujam langit itu. Setelah puas merekam gambaran dari obyek yang ada dihadapannya. karena mereka pun tak mengerti akan ilmu itu. Gunung Berdanau Berpulau. HAKIM HAUS DARAH Matahari yang masih malu-malu di ufuk timur menyambangi hari itu bersama dengan kicauan burung-burung sebagai latarnya. Ia tidak ingin hanya menjadi Pelestari Ilmu. Sepi. atau kadang dapat mengeras seperti es. akan tetapi kadang dapat memudar seperti uap. Ingin dikenangnya saat-saat ia dididik ayah dan ibunya di gunung itu. Sudah turuntemurun keluarganya menyimpan suatu rahasia bagaimana mengolah tenaga lembut tapi menyimpan kekuatan yang luar biasa itu. dibalikkan tubuhnya. Ilmu itu tak diajarkan oleh orang tuanya. mereka tidak ambil pusing tentang bagaimana cara memanfaatkan ilmu itu dalam pertempuran. Untuk itu ia perlu belajar ilmu beladiri. tapi ia belum memiliki ilmu beladiri.130 nari. Dilatih ilmu mengolah salah satu sumber tenaga di alam ini. Tenaga yang mengalir. ilmu beladiri. Gunung tersebut membentang megah pada arah timur-barat. Diajarkan oleh kedua orang tuanya. Itu saja. Walaupun ia sudah dapat menghimpun tenaga dalam atau hawa untuk menguatkan tubuh. Dipandangnya sekali lagi gunung itu. Tugas mereka hanya menjaga agar cara-cara melatih ilmu itu tidak punah. Akan tetapi pemuda itu lain. Itulah jenis tenaga dalam yang dilatihnya. Ia memandang ke arah utara. *** BAGIAN 3. Sudah saatnya sekarang ia menambah ilmunya dengan merantau dan mencari guru untuk belajar ilmu bela diri. ke arah di mana Gunung Berdanau Berpulau berakar pada bumi.

nak?” tanya ibunya perlahan. Nyi Sura yang umumnya terlihat dingin tanpa senyum akan tetapi gagah. ”ya ibu. Umumnya hanya orang-orang berbakat dan amat tekun yang dapat mencapai tingkat sebelas dan dua belas.. sudah bulatkah tekadmu itu. Perasaan seorang ibu yang tidak mau berpisah dengan anaknya. begitu pikirnya. bahkan sampai ke sudut kiri dan kanannya. Lalu katanya kemudian menegaskan. saya sudah membulatkan tekad. . Dulu sewaktu ia muda. Termasuk di dalamnya adalah belajar Tenaga Air sampai tingkatan ibunya. Ki Sura. Ayahnya sendiri baru mencapai tingkat sepuluh. Oleh karena itu sudah lebih siap dirinya begitu mendengar keinginan anaknya untuk pergi merantau menimba ilmu. Dengan patuh Telaga memenuhi semua tuntutan-tuntutan ibunya.” ”Tapi. Dan sekarang anaknya pasti akan pula mengikuti jejak sang ayah. Ia tenang-tenang saja. ia pun pergi merantau. Selain itu ia harus pula menghafal teori dari sisa tingkatan yang belum dicapainya. tampak agak rapuh di saat akan berpisah dengan anaknya. mengangguklah Telaga. Luas menutupi seluruh matanya. Tak ditemukannya kata-kata untuk menghalangi keinginan anaknya saat itu. Tingkatan ayahnya sudah termasuk cukup tinggi untuk orang-orang biasa. Anak satu-satunya itu. Lain halnya dengan suaminya.131 diri dari batu-batu belaka. Dan sudah berulang alasan diutarakan oleh Nyi Sura. Sudah sejak lama Telaga mempunya niat untuk merantau. Mendengar pertanyaan ibunya.. Padang Batu-batu. ”Lalu ke arah mana rencanamu merantau?” tanya ayahnya memecah keheningan yang timbul di antara mereka bertiga itu.” jawabnya ibunya tercekat. di saat ia meminta ijin untuk pamit menimba ilmu di rantau. Seorang anak lelaki tak jauh beda dengan ayahnya nanti. yaitu tingkat tujuh dari dua belas tingkatan yang ada. Alasan-alasan yang harus dipenuhinya sebelum ia diperbolehkan untuk merantau. ”Telaga. membuatnya tidak seperti biasanya. Bergetar suaranya saat menanyakan itu. Masih diingatnya pembicaraan terakhir dengan ayah dan ibunya. Suatu entitas lansekap yang berada di selatan Gunung Berdanau Berpulau.

untuk kewaspadaan dirinya yang baru kali ini bepergian jauh seorang diri. Sulit untuk menentukan arah setelah masuk ke wilayah Padang Batubatu. Cengkeraman Kristal Es. Kadang terdapat batu-batu yang setinggi orang dewasa kadang lebih. Dalam arah yang berlawanan dilihatnya hanya batu-batu yang . Dengan lincahnya Telaga dapat naik dengan mudah. Kadang selebar kerbau atau gajah. Jurus cengkeraman yang amat keras.” Ayahnya mengangguk-angguk mendengar jawab anaknya. terdapat banyak batu-batu yang menjulang keluar dari tanah. ayah. yang besar dan tingginya bervariasi. sehingga saat tiba di Padang Batu-batu masih pagi. Dipandangnya berkeliling. dingin dan menantang. Beberapa petuah lainnya masih diberikan oleh ayahnya. Katanya kemudian. memasuki sebenarbenarnya wilayah Padang Batu-batu. Mirip hutan belantara. Batu-batu yang lebih lebih kecil dari orang pun ada.” Telaga mengangguk mendengar wejangan ayahnya. Dalam setiap cengkeramannya tercipta legokan-legokan dalam batu keras tersebut. seperti tiang-tiang. Sekarang membentang hari dan petualangan di depannya. HAKIM HAUS DARAH ”Ke arah selatan. dipanjatnya salah satu batu yang cukup besar di hadapannya. Di dalam Padang Batu-batu. Padang Batu-batu. Di sini pemandangan dihalangi oleh tiang-tiang atau gundukan batu-batu yang sangar. benar-benar meninggalkan wilayah Gunung Berdanau Berpulau. Masih tampak Gunung Berdanau Berpulau di salah satu sisinya. Tapi untuk itu mungkin lebih tepat disebut kerikil dari pada batu. Berangkatlah pagi-pagi sekali. Untuk menentukan arah. dan menghujam juga dingin. Berhenti saat malam dan carilah tempat yang baik untuk bermalam. di mana pemandangan dan sinar matahari dihalangi oleh kanopi dari insan-insan nabati. ”Aku pernah mendengar bahwa di Padang Batu-batu terdapat sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. ”hati-hatilah. Dan selalu hati-hati di sana. kadang pula lebih.132 BAGIAN 3. Dengan menggunakan jurus itu Telaga memanfaatkannya untuk menciptakan pijakan-pijakan dan pegangan-pegangan pada batu yang dipanjatnya. Melompatlah ia perlahan ke bawah.” jawab Telaga cepat. Tak berapa lama sampailah ia di atas batu tersebut.

Terdapat aliran kecil-kecil air di sela-sela Padang Batu-batu. karena kadang genangan tersebut berhenti dan tidak mempunyai keluaran. Menyeramkan bagi mereka yang tersesat di dalamnya. Untuk makannya selain telah membawa bekal. Pada awalnya sulit juga Telaga menangkap ikan-ikan Benteur dan Julung-julung serta Keuyeup karena mereka dapat dengan cepat menyembunyikan dirinya ke dalam batu-batu di bawahnya. Tidak bisa dikatakan sebagai sungai. yang juga menjelaskan mengapa burung dapat memanfaatkan udara untuk mengapung ke atas atau ke bawah. dicarinya ceruk yang cukup rapat akan tetapi kering untuk bermalam. ke arah berlawananlah ia harus menuju. Mengendap dan mengalir lewat bawah tanah atau batu-batu yang perpori. Untuk itu ia mengambil patokan lain. Benar-benar lokasi geografis yang menawan hati. Ia harus berjalan ke suatu arah dengan matahari berada di sebelah kirinya saat pagi hari dan di sebelah kanannya pada sore hari. karena sudah tak begitu jelas terlihat. Untuk saat ini tidaklah terlalu sulit menentukan arah. Menuju selatan. yaitu matahari.133 berdiri berderet-deret acak. Bisa selama-lamanya tidak dapat keluar dari lingkungan ini. Dengan memanjat suatu batu besar dan melihat di mana arah beradanya Gunung Berdanau Berpulau. Telaga menangkap pula ikan-ikan kecil berupa Beunteur dan Julung-julung atau Keuyeup (kepiting air tawar) yang hidup di sela-sela tiang batu-batu yang dialiri air. Sejak kemarin sudah agak sulit untuk menentukan arah dengan menggunakan Gunung Berdanau Berpulau sebagai patokan. Pada malam hari angin bertiup agak keras di Padang Batu-batu. Jika malam tiba. Selain itu ditambah dengan sempitnya ruang antara tiang-tiang batu. semakin cepat angin mengalir di antaranya. Prinsip ini diperkenalkan oleh seorang Pengujar Benoli (Bernoulli). membentuk suatu pemandangan yang indah dan juga menyeramkan. Telaga berjalan dengan cepat ke arah selatan. Empat hari itu berlangsung tanpa ada kejadian yang berarti. Bukan di . Muncul di tempat lain seakan-akan sebagai genangan baru dan mulai kembali mengalirkan air. Gunung itu telah terhalang oleh batu-batu yang lebih tinggi dari batubatu yang dipilihnya untuk berpijak menentukan arah. Meloncatlah ia turun dengan gerakan yang ringan dan beranjaklah ia menuju arah yang sudah diingat-ingatnya tadi sewaktu berada di atas batu itu.

apabila tidak mengikuti cara mereka untuk mengelabui mangsanya. melainkan karena tiang-tiang yang ada agak terbenam ke dalam suatu cekungan. Terbuka bukan karena tiada lagi tiang batu-batu.134 BAGIAN 3. Pengujar Senelius (Snellius) menerangkan mengenai efek pembiasan cahaya ini. Mereka memutarinya. untuk mencari ikan dan kepiting. arah di mana binatangbinatang itu tidak dapat melihat dengan baik. Telaga mendapat pelajaran bertahan hidup untuk menangkap ikan-ikan dan kepiting dari beberapa ekor burung mirip bangau yang berukuran sebesar ayam. Umumnya dapat diperoleh hasil dengan cara ini. Sekarang Telaga telah memiliki ”perlengkapan” untuk menangkap ikan dan kepiting. HAKIM HAUS DARAH balik batu. walaupun tidak selebar Danau Tengah Gunung di mana dia dulu pernah tinggal. yaitu tombak-tombak setinggi dirinya. sehingga serangan dapat dilakukan. Air yang jernih membuat mereka dapat melihat Telaga secara langsung. Selain karena batasan pandangan juga karena efek pembiasan dari air. Hari keenam. Tak . Mengingatkan dirinya akan masa kecilnya. sampailah Telaga di suatu tempat yang agak terbuka. sampai ke suatu sudut di mana binatang yang akan menjadi mangsanya itu tak dapat melihatnya lagi. Cekungan itu membentuk suatu genangan air yang cukup lebar. Dengan meniru burung-burung yang berparuh panjang itu ia membuat tombak-tombak tersebut. maka mengasolah Telaga di atas sebuah batu ceper di balik sebuah batu tinggi besar yang melindunginya dari sinar matahari pagi yang telah berada cukup tinggi di langit. Ada saat-saat tertentu dalam satu hari. yang dibantu dengan posisi matahari. Sebagai contoh misalnya. Burungburung itu tidaklah langsung menyerang ikan-ikan dan kepiting begitu melihatnya. Untuk mempelajari ini Telaga sampai berendam dalam air dalam suatu ceruk yang cukup dalam untuk melihat dari dekat bagaimana burung-burung itu bisa berhasil dan juga bagaimana posisi ikan dan kepiting yang diincarnya. Alam ini memang indah dan juga pengasih sebagai karya cipta Sang Penguasa Alam. Tombak-tombak itu tidaklah cukup untuk menangkap ikan dan kepiting. Pada saat-saat seperti itu binatang-binatang itu dapat dikelabui dengan mengambil arah tertentu. Telaga saat itu memahami mengapa burung-burung tersebut hanya berburu pada saat-saat tertentu dan tidak sepanjang hari. melainkan di dalam rongga-rongga batu besar. Mendapati tempat yang indah dan menyenangkan itu.

walaupun jernih. Tak tahu Telaga apa usul itu disetujui oleh dua teman pertamanya itu. Kemudian berlalulah ketiganya.” usul temannya yang lain.” Dengan berkecipuk keras. Tak tahu berapa lama ia tertidur. lemparkan saja di sini. Di Padang Batu-batu me- . Dari kejauhan mereka bertiga tampak sedang mengerjakan sesuatu pada semacam gundukan atau bungkusan dari kain yang ada di antara mereka. Perlahan mulai tenggelam bungkusan itu dengan disertai gelembung-gelembung udara yang menyembul ke atas permukaan air. Berjalan mereka perlahan-lahan. Entah apa isinya. masuklah bungkusan itu ke dalam air setelah dilempar oleh ketiga orang itu. Telaga terdiam melihat kejadian itu. Telaga terbangun saat ia mendengar bisik-bisik orang.. dapat ia mendengarnya. Orang ketiga.” kata orang pertama. Tak ada suara. Dengan berjingkit-jingkit mengendap-endap Telaga mencari-cari dengan matanya. ”Sudah. di mana orang-orang itu berada. ”Bagaiamana bila diberi pemberat dulu. Lempar saja di sini. Menunggu sampai tiada lagi gelembung-gelembung yang timbul. Setelah memeriksa dengan seksama. berkata seorang dari padanya. Setelah kira-kira air mencapai pinggang mereka. ”Jangan. Walaupun amat lamat-lamat. batu. Bungkusan itu cukup besar dan berat.. Ketiganya masih di sana. ”nah itu ada sebuah legokan dalam air yang cukup dalam. nanti cepat ketahuan. Yang pasti mereka tidak mau bungkusan itu diketahui orang. mungkin karena beratnya bungkusan itu atau karena lantai genangan air yang tidak rata. Akhirnya ditangkapnya tiga sosok orang di pinggir lain genangan air itu.” sanggah orang kedua temannya. akan tetapi karena ia telah memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi. kemudian ketiganya membawa bungkusan itu di atas kepalanya dan mulai berjalan menyeberangi genangan air itu.135 terasa datanglah kantuk dan Telaga pun tertidur. Ia tidak tahu dan tidak memiliki gagasan mengenai apa sebenarnya yang tengah berlangsung.

Tampak seperti sedang menunggu sesuatu mereka itu. Kelihatannya ketiganya tidak ingin dicurigai telah berendam di dalam air. ”siang-siang gini ’kan jarang yang datang. Suatu pikiran yang cerdas. untuk menyapa akhirnya diurungkan begitu melihat sesuatu yang serba misterius itu. sehingga walaupun airnya jernih. Maka ditunggunya sampai ketiga orang itu pergi. Sudah habis makan siangnya tapi ketiganya belum juga beranjak. Bergegas mereka menyelinap ke sebuah batu besar di salah satu sudut genangan itu. Sepotong ubi yang dibawanya dari rumah dan ikan Julung-julung kering dan remukan Keuyeup bakar yang ditangkapnya kemarin. Tapi kok tidak ada siapa-siapa ya?” ”Ah. Sekelompok gadis-gadis sambil membawa keranjang cuciannya. Makanya kita nyucinya siang. Niatan Telaga. Hati kecilnya membisikkan agar ia tidak ikut campur. kamu mimpi kali?” jawab temannya. rasa-rasanya tadi ada orang yang berjemur di sini. Selang tak berapa lama. HAKIM HAUS DARAH mang susah untuk menyembunyikan sesuatu. Jurang yang cukup dalam. Lapar juga Telaga menunggu ketiganya pergi. tidak dapat dengan jelas terlihat dasarnya karena kurangnya sinar matahari yang mencapai dasar. Ketiga pemuda yang telah sedari tadi berada di sana tampak sumringah melihat rombongan yang mereka tunggu-tunggu itu tiba. Mereke hendak mencuci dan mungkin juga mandi di genangan air itu. Alih-alih pergi ketiganya malah duduk di salah satu batu ceper di seberang sana. tampak sebuah iring-iringan datang. Sambil terus mengintai dimakannya pelan-pelan bekalnya. ”eh. walau telah dikenakan kembali pakaian mereka yang kering itu. Oleh sebab itu mereka bertiga memilih menyembunyikannya dalam suatu legokan yang cukup dalam di tengah-tengah genangan air itu. Kata salah seorang dari mereka. Tak lama kemudian sampailah gadis-gadis itu di pinggir genangan. Tidak ada tanah. yang tadi gembira melihat adanya orang di Padang Batu-batu. Masih dalam pinggiran yang sama.” . Tapi tidak cukup cerdas karena mereka tidak tahu kehadiran Telaga yang tertidur di seberang lain dari genangan air itu. Ketiganya membuka pakaiannya dan menjemurnya di atas batu-batu.136 BAGIAN 3.

setelah gadis yang memeriksa tadi mulai mencuci. Membayangkan tubuh-tubuh itu dalam air yang jernih dan bergoyang-goyang. Lainnya hanya mengiyakan. Ketiganya telah kembali ke tempat mengintipnya semua. Udara yang panas memang membuat orang ingin berendam di dalam air genangan itu. ayo mandi. Sesuatu yang ia tidak dapat jelaskan. Tak tampak ketelanjangan mereka karena dihalangi oleh air. Telaga yang begitu melihat gadis-gadis itu akan mencuci dan mandi di sana merasa risih.137 ”Sekalian mandi. membersitkan sedikit khayalan yang mengalirkan darah lebih cepat ke beberapa organ tubuhnya. membuatnya menjadi bertanya-tanya. tapi pesan orang tuanya mengingatkan bahwa hal itu tidak aman. Yang dipanggil hanya tersenyum dan kembali mencuci pakaiannya. Menyelinap rasa kuatirnya akan keselamatan rombongan gadis-gadis itu. ia pun berjalan berkeliling ke satu sisi dan kemudian ke sisi lain pinggiran untuk memeriksa siapa tahu ada yang bersembunyi untuk mengintip mereka saat mencuci dan mandi di sana. ”Sarini.. Mereka telah beringsut mundur dan pindah dari persembunyiannya semula saat gadis itu mencari-cari. Andai saja ia maju setombak dua lagi.” jawab temannya terkekeh-kekeh genit. Diayunkan lengannya dan melajulah ia perlahan. . Mereka pun mulai mencuci barang-barang bawaaannya. Dialihkan pandangannya dari rombongan itu ke arah ketiga pemuda yang bersembunyi di pinggiran lain. Gadis yang curiga tadi tidak percaya begitu saja pada ucapan temannya. Hanya gadis itu yang tidak membuka pakaiannya. Walaupun demikian pemandangan itu mau tak mau membuat Telaga sedikit berdesir. Selebihnya telah berendam di tengah. Setelah beberapa saat beberapa orang mulai pula menanggalkan kain yang dipakainya untuk kemudian merendam dirinya sebatas dada. Ia hanya mencuci dengan duduk di pinggiran genangan.. Tak tergoda atas ajakan itu. akan ditemuinya tiga orang yang bersembunyi di sana. Tak ditemuinya seorang pun.!” ajak temannya yang telah berendam dan berenang-renang.. Tapi dengan adanya tiga orang itu yang tadi telah membuang sesuatu. dan ingin segera menjauh. Salain itu perasaannya mengisyaratkan ada sesuatu. Dibiarkannya keranjangnya mengapung.

Tak sadar mereka bahaya yang mengintai mereka. si pedagang keliling. Ketiga orang yang membuang mayat tersebut. Sebagian dari mereka terjun ke dalam air dan mencoba menggapai gundukan itu dengan tongkat mereka. Sementara Sarini tampak beristirahat di pinggiran sambil mencuci mukanya. juga Sarini yang melihat kepergian mereka. Di antara mereka tampak pula ketiga pemuda tadi. Sisa gadis-gadis dalam rombongan itu tampak berenangrenang ke tengah. Tak lama kemudian tampak berduyun-duyun orang-orang desa muncul sambil membawa-bawa tongkat. ”Ini adalah Ki Rontok.” jawab yang lain menegaskan. Tidak seorang gadis pun. Tak lama kemudian selesailah gadis-gadis itu mencuci juga Sarini. tiba-tiba jerit salah seorang gadis yang sedang mandi itu terdengar. di mana belum ada matahari. ada mayat. benar itu Ki Rontok. ”Bagaimana orang Desa Batu Barat bisa berada di sini?” ”Iya.!” katanya sambi menunjuk sebuah benda yang terapung di tengah-tengah genangan air. seling mengangguk satu sama lain. Akibat teriakan itu teman-temannya bergegas keluar dari air untuk menyambar kain mereka masing-masing dan berpakaian. Sepotong tali. Ketiga pemuda yang tengah mengintai itu. tampak oleh Telaga. Lalu salah seorang dari mereka seperti menarik sesuatu dari dalam air. Kemudian mereka bertiga bergegas diam-diam pergi... Sehingga orang tidak dapat mengintipnya dengan mudah. Tidak di siang hari bolong seperti ini. Kawan-kawannya telah diperingatkan. Tak urung Telaga sempat pula menikmati kemulusan tubuh mereka saat mereka keluar dari air untuk menyambar kain mereka. Ia mandi biasanya hanya pada pagi hari.” ucap salah seorang dari mereka. Telanjang.138 BAGIAN 3.” . ”wah bisa berabe nih kita. ”mayat. akan tetapi mereka hanya tertawa-tawa. bergegas rombongan itu pergi untuk memberi tahu orang-orang di desanya. Tanpa membawa keranjang cucian mereka. Menepikannya dan mengamati.. HAKIM HAUS DARAH Keragu-raguannya membuatnya tidak ikut mandi. Saat Telaga masih bingung dengan kelakuan tiga pemuda itu. Penakut disebutkan dirinya.

Dan juga ingin melihat orang yang disebut-sebut sebagai ”Hakim Haus Darah” yang terdengar ditakuti oleh orang-orang itu. setidaknya dalam jarak yang bisa melihat dirinya. Enam orang membantu membawa jenasah Ki Rontok. Telaga masih menunggu beberapa saat untuk melihat sampai orangorang itu pergi. Saat ia bangkit dan hendak berputar ke arah pinggir genangan. Ia kemudian beranjak untuk pergi ke arah orang-orang itu tadi menghilang. Untuk kemudian mengikuti. Menumbuhkan minatnya untuk lebih lanjut melihat kelanjutan dari peristiwa itu. Bisa-bisa ia yang dituduh. Hanya kata-kata ”Hakim Haus Darah” yang jelas-jelas dapat didengarnya. Orang-orang yang tadinya menyembunyikan bungkusan di dalam genangan itu. Ia ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi dengan jenasah itu. ”Habis kita nanti sama Hakim Haus Darah. Selain karena .139 Rekan-rekannya pun mengangguk-angguk. tampak olehnya seorang tua sedang menatapi dirinya. Bisa-bisa fatal akibatnya. Bersama-sama mereka membawanya. Ujung-ujung kain itu dipegang oleh satu orang. Bersamaan pula ia ingin tahu apa peran dari ketiga orang itu. Tak lama kemudian bersahut-sahutanlah ucap-ucapan di antara mereka sehingga Telaga tidak lagi dapat mengerti ucapan-ucapan itu. Tapi itu harus dilakoni Telaga. sementara di tengah-tengahnya ada orang lain yang membantu. Kehadirannya yang tak disadari Telaga itu membuat hampir copot jantung pemuda itu. Untuk itu ia perlu meyakinkan diri agar tidak terlihat oleh siapapun saat meninggalkan tempatnya itu. Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. yang mengatur sehingga seolah-olah ditemukan oleh rombongan gadis-gadis yang akan mandi dan mencuci di sana.” ucap salah seorang dari mereka. Ia tidak ingin terlihat berada di sana selama peristiwa itu terjadi. Ke sebuah jalan setapak di antara tiang-tiang batu. Setelah berunding sebentar kemudian mereka pun mengangkat mayat itu. Akhirnya ia merasa yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berada di sana. dengan tandu dari kain yang mereka bawa.. Benar-benar menarik kata-kata itu. yang dikenali sebagai Ki Rontok.

lalu katanya. HAKIM HAUS DARAH peristiwa yang baru terjadi itu. bergetar dadanya saat orang itu menyentuhnya perlahan untuk kemudian menarik kembali tanggannya dan pergi. Dan perbuatan itu bukanlah suatu perbuatan ”benar”. Dari caranya bergerak. Aku si orang tua. Teruskanlah perjalananmu dan puaskan keingintahuanmu! Dan ingat jangan sembunyikan kebenaran. juga menandakan ketinggian ilmu meringankan tubuh dari si orang itu. yakinlah ia bahwa itu adalah warna kulit mereka. lebih tinggi . Walaupun ia bukan pelaku dari peristiwa itu.” Telaga hanya tersenyum kecut mendengar itu. setelah sebelumnya ia mendekat amat cepat ke arah Telaga. Keanehan ini dirasakan pula saat melihat orang-orang tadi. akan tetapi terdapat pada manusia seperti dirinya.. Telaga baru menyadari suatu keanehan lagi. Tadinya dipikirnya karena warna pakaian mereka atau pantulan langit dan air. Tampak belum tua benar ia. tiba-tiba menghilanglah ia ke arah kanan. Akan tetapi setelah melihat orang tua ini dari dekat. melainkan terus mengamat-amati Telaga. dipandangi sajalah orang tua itu. Malah lebih ke arah seorang setengah baya yang tampak dituakan oleh masalah.!” Bergidik Telaga menyaksikan halus dan tak terduganya gerakan orang tua yang belum dikenalnya itu. tapi ia kedapatan sedang mengintip. Orang tua itu tersenyum. Warna-warna kulit yang aneh. yaitu sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Dari postur tubuhnya yang tegap dan dibalut kain bermotif kasar itu. yang dari kejauhan terlihat seperti kebiruan.140 BAGIAN 3. Warna-warna yang dimiliki oleh Undinen. Seakan-akan ada sesuatu yang sedang dinilainya. Ketuaan yang dikarbit pemikiran yang tidak terkendalikan. Tampak pula warna busana yang aneh. Selang tak berapa lama. anak muda. Orang tua itu pun masih mematut-matut Telaga. ”Jangan kuatir. yaitu bahwa orang itu memiliki kulit yang agak kehijauan. Ia tahu kegundahan yang sepersekian saat tersirat di wajah pemuda itu. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar ucapannya. ”kita akan bertemu lagi. sibuk dengan pikirannya sendiri. Sehingga terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Telaga tidak tahu harus berbuat apa. tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. terlihat tubuh yang terlatih. Tak dibukanya percakapan.

Umumnya jarang orang-orang dari mereka menuju danau itu jika tidak untuk mencuci atau berenang-renang. Dan juga perihal Hakim Haus Darah yang diomong-omongkan oleh mereka. yang terletak sesuai dengan namanya di sebelah barat dan timur. Selain adat. juga ada rasa kesombongan dan merendahkan desa lain yang menghalangi pencampuran itu. Mungkin mereka memang memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan pohon-pohon itu untuk kemudian mereka panen sebagai bahan pembuat rumah. Di atas panggung tersebut baru dibangun rumah dari kayu atau bambu. dapat dibedakan dari penghuni-penghuninya. akan tetapi entah bagaimana dan dari mana orangorang itu dapat memperolehnya. bukan dibangun di atas bumi yang kadang-kadang berair di kawasan Padang Batu-batu melainkan di atas batu-batu atau tiang-tiang batu yang cukup besar dan kokoh. Kata-kata ”puaskan keingintahuanmu” mengingatkan Telaga akan rencananya semula untuk mengikuti orang-orang itu. Pembagian itu sudah lama terjadi sejak nenek moyang mereka. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur. . umumnya mereka dapat memperolehnya dari rembesan air yang keluar dari batu-batu di sekitar desa mereka. *** Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur adalah dua buah desa yang berada di sekitar danau kecil Danau Genangan Batu di tengah-tengah Padang Batu-batu. Di bagian barat tinggal orang-orang yang memiliki kulit agak kehijauan sedangkan di sebalah timur tinggal mereka-mereka yang memiliki kulit agak kebiruan. Tidak banyak terjadi kawin campur di antara kedua penghuni desa yang belainan. Kedua desa itu berlokasi agak jauh satu sama lain dengan di tengah-tengahnya terdapat danau kecil tersebut. Kedua desa itu. Di Padang Batu-batu tidak banyak pepohonan yang dapat tumbuh. Seram rasanya membayangkan orang itu menjadi lawannya.141 ilmu orang itu dari ayahnya dalam meringankan tubuh. Untuk kebutuhan air minum. Konstruksi rumah-rumah mereka pun agak sedikit menarik. orang-orang yang tadi membawa jenasah Ki Rontok. Di atas beberapa tiang batu setinggi pohon kelapa itu mereka lintangkan batu dan kayu membentuk semacam panggung.

Bagi mereka Tigaan lebih penting. Hanya sayang kegembiraan itu dinodai oleh rasa tidak senang beberapa orang baik dari Desa Batu Barat maupun Desa Batu Timur. Walinggih dan Sarnini amat bangga terhadap anak mereka. Dan membangun sebuah rumah jauh dari kedua desa itu. ada pula orang-orang yang menghargainya. Perpaduan warna dari ayah dan ibunya. Orang itu adalah Walinggih dari Desa Batu Barat dan Sarnini dari Desa Batu Timur. akan terhapus mitos pertentangan antara kedua desa itu. Tahun-tahu berlalu dan keduanya hidup dalam penuh cinta dan kasih. Tapi para pedagang atau preman ini tidak peduli. Pernah suatu saat warga desa tidak mau membayar pajak penjagaan. Dengan adanya para penjaga keamanan. langsung saja terjadi perampokan dan penculikan. Keduanya tidak peduli dan memilih tetap memelihara cinta mereka. HAKIM HAUS DARAH Akan tetapi jika ada orang-orang yang memandang golongan lain lebih rendah dan golongannya sendiri lebih tinggi. Bila keluarga itu hidup tenteram dan bahagia sampai tua. Baik oleh kedua orang tua maupun penduduk dari kedua belah desa. yang dituduhkan pada desa yang berlawanan. Budaya Tigaan ini pun mereka bawa . Kedua kelompok ini. Dan bahkan dapat saling jatuh cinta. hampir sama dengan para pedagang senjata yang mendapat untung bila ada konflik atau perang antar daerah. Buah hati pun lahir dari rahim Sarnini. Oleh karena itu supaya tidak ketinggalan. Dan itu bisa menghancurkan mereka para pedagang. situasi menjadi aman dan terkendali. agak ke selatan lagi dari Danau Genangan Batu. bahwa desa lain lebih maju karena adanya satu produk. Mereka tidak suka Walinggih dan Sarnini bahagia.142 BAGIAN 3. Sudah tentu hubungan mereka itu tidak direstui. Mereka biasa memanas-manasi penduduk salah satu desa. Seorang bocah yang memiliki warna kulit biru kehijauan atau hijau kebiruan. Selain itu terdapat pula semacam penjaga keamanan dari kedua kelompok yang seakan-akan menjaga keamanan. Akan terjadi peleburan. Gembira hati mereka. desa yang lain juga harus turut serta dengan membeli produk yang lebih baik. sementara konco-konco mereka dari kelompok yang berlawanan melakukan kerusuhan. yang bisa-bisanya mengadu-adu Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur agar dagangan mereka laku. walaupun berasal dari desa yang berbeda tapi tahu sama tahu kegiatan mereka. Cara-cara ini sudah tentu tidak baik.

bisa tahu orang-orang bahwa hal-hal yang dipanas-panasi oleh para pedagang itu adalah bohong belaka. Hal ini tidak boleh terjadi. Asasin yang merupakan kelompok terdiri dari empat orang itu berhasil dengan mudah membantai Sarnini dan anaknya. Ia dan keluarganya sudah seakan-akan dikucilkan. jauh di barat daya sana. Malam yang naas itu Walinggih kebetulan sedang berada di Danau Genangan Batu. Mengadudomba. akan tetapi mengingat sakit sang istri yang sudah berlarut-larut. Perlu diubah orang-orang yang cukup berilmu karena Walinggih sendiri memiliki ilmu beladiri yang cukup tinggi. untuk kemudian menawarkan jasajasa pengamanan. sudah tentu tidak mudah bagi Asasin untuk membunuh kedua anak dan istrinya. Andai saja Walinggih ada di rumah. tidak mungkin. Minta tolong ke penduduk kedua desa. Walinggih tak tega. bermalam untuk mencari sejenis ikan yang hanya muncul di malam hari. Kedua kelompok itu mengangguk-angguk setuju mendengar ide itu. jelasnya. Dengan cara ini pasti akan lebih laku. Perubahan sosial dan kultur menjadi ke arah yang lebih buruk bukanlah urusan mereka. Asasin. saat mereka berdagang ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Juga intimidasi seakan-akan adanya ancaman. Lalu diupahlah beberapa orang dari luar Padang Batu-batu untuk membunuh keluarga itu. Oleh karena itu disepakati di antara kedua kelompok itu bahwa keluarga itu harus dibasmi. Kemudian mereka menunggu Walinggih yang diduga akan pulang larut malam. seorang pedagang menjelaskan suatu cara berdagang yang lebih menguntungkan. Yang penting untung dapat diraup. Ia pernah merantau jauh ke utara dan menjadi guru orang pandai di sana. Tigaan telah membutakan mereka akan semangat kebersamaan dan kekeluargaan kehidupan di desa. Di kota itu mendengar adanya dua desa yang berbeda dan tidak akur. pulang dan mela- . Sebenarnya istrinya minta ditemani malam itu.143 dari luar Padang Batu-batu. Akhirnya mereka. Bahkan dalam ruang lingkup sekecil itu. ia menjadi tak masalah memperistri orang dari Desa Batu Timur. Bila kedua desa bersatu. Karena ditunggutunggu tidak datang. Ikan itu dapat dimanfaatkan untuk obat istrinya yang sedang sakit. Ingin ia mencari obat untuk kesembuhan istrinya itu. Kejamnya politik perdagangan. Akibatnya keluarga Walinggih dan Sarnini menjadi ancaman bagi konflik antara kedua desa. Mungkin akibat ilmunya itu pula.

Perjanjian mereka adalah dibayar satu hari satu malam untuk pekerjaan itu. Walinggih yang baru saja pulang membawa ikan untuk obat istrinya yang sakit. Dalam setiap perkara kejahatan. Ia akhirnya mengambil sikap. Bagai gila ia berteriak di tengah pagi buta. Walinggih memburunya ke kota tempat kelompok itu membuka layanannya. juga penolong. biasanya harus ada yang tersembelih . kelompok pembunuh bayaran terkenal. Dan ditinggalkannya begitu saja. pikirnya. Untuk kelebihan waktu. harus dibayar lain.144 BAGIAN 3. Setelah semua orang yang bersalah habis. tidak pedulu siapa yang mulai akan dibantainya. Dibelah persis di tengah-tengah. bahwa Walinggih pun harus dibunuh. Dengan ilmunya yang telah mumpuni dan juga kemarahannya dibantainya semua orang yang ikut membunuh keluarganya. Kedua kelompok pedagang. Asasin sebagai kelompok pembunuh profesional biasa meninggalkan tanda di lokasi korban mereka. mengingat ilmunya yang tinggi. Pulanglah mereka kembali ke kota mereka. Walinggih pun kembali ke rumahnya dan meratapi nasibnya. Orang-orang yang saling menimbulkan kerusuhan dibantainya. Tidak bisa kerukunan antara kedua desa itu dicapai dengan cara baik-baik. Akan tetapi para pembunuh tidak mau. Sebagai bukti kesombongan mereka juga sebagai iklan bagi orang-orang yang ingin menggunakan jasa mereka. Dicarinya satu-satu orang-orang dari kedua kelompok pedagang itu. Ia kemudian dikenal sebagai Hakim Haus Darah karena kejamnya itu. Simetris. seakan-akan tidak percaya pada penglihatannya. Ia kemudian menjadi musuh dari kedua desa itu. serta memekakkan telinga. HAKIM HAUS DARAH porkan itu kepada orang yang menyuruh mereka. Orang-orang yang hidup rukun bersyukur karena ada dirinya. Dihasibisinya langsung dengan pedang panjangnya. Ia melihat anak dan istrinya telah terbujur bersimbah darah di ruang tengah rumahnya. Berbekal informasi itu kembalilah Walinggih ke Padang Batu-batu. Demi mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Asasin. bisa berabe nanti jika ia mengamuk. Pandangannya berubah terhadap kerukunan. Jika ada pertentangan. Menggiriskan hati suaranya. Akan tetapi dalam kasus ini berakibat fatal. Tidak ada orang dari kedua desa itu yang bisa meredamnya. Sudah tentu kedua kelompok itu takut dan menyatakan. setelah sebelumnya dikorek keterangan siapa yang menyuruh mereka. Salah satu kota-kota di Pinggiran Sungai Merah di barat sana.

sebelum Walinggih mendengarnya. Jika bertikai dan berlarutlaru.” Benar-benar pikiran yang gila. Alternatif itu lebih baik. fatal akibatnya. Katanya suatu ketika. Mengingat kejamnya Walinggih yang hampir seperti jagal. Tapi tak ada balasan atau pun upaya dari pemerintah pusat mengenai hal itu. *** Penduduk Desa Batu Timur pun berkumpul di pendopo desa mereka. Ujung-ujung dari peristiwa ini yang akan menjadi masalah bagi mereka. Orang yang terkena fitnah misalnya. Atau kadang Walinggih sendiri yang turun tangan apabila terjadi perkelahian antar kedua desa itu. Akan tetapi bukan ketenangan sebenarnya. ”potongan pedangku ini akan memisahkan sisi baik dan sisi jahatnya.145 simetris. ”Bagaimana ini. Bila terjadi pertentangan dan terdengar oleh Hakim Haus Darah. sudah pasti akan ada pembantaian. kecuali kasus-kasus yang parah. Tiada lagi pertentangan di antar kedua desa itu. Akibatnya kehidupan menjadi tenang. jadi dua bagian. Terlepas dari siapa yang bersalah. membuat jarang orang mengadukan sesuatu kepadanya. sudah pasti fatal akibatnya dari kedua belah pihak. Ya.” usul seseorang. Semoga arwahnya nanti damai di sana. Oleh sebab itu cemaslah penduduk Desa Batu Timur yang menemukan jenasah Ki Rontok yang adalah warga Desa Batu Barat. ”Lebih baik kita urus secara kekeluargaan dengan Desa Batu Barat. Di tengahnya berbaring tubuh kaku Ki Rontok. Alasannya boleh berbicara belakangan. Cemas-cemas tertampak dari wajah-wajah mereka. . melainkan ketenangan dalam paksaan. sampai Hakim Haus Darah turun tangan. Tapi itulah kenyataannya. Yang tertangkap basah bertikai akan dibantai. kepala desa?” tanya seorang warga. Ini bisa jad merupakan upaya untuk menyulut pertentangan. Beberapa mengangguk-angguk mengiyakan. Seorang pedagang dari Desa Batu Barat. Telah pula ada upaya dari beberapa orang baik-baik untuk mengadukannya ke pemerintah pusat. walaupun Walinggih membuat keadaan tenang tanpa pertentangan akan tetapi bisa jadi suatu saat kehausdarahannya akan memakan korban yang tak bersalah.

Bagaimana mayat itu mulai mengapung dan ditemukan oleh mereka-mereka yang berenang-renang agak ke tengah. Sebuah jurus yang hanya dimiliki oleh Hakim Haus Darah. Rombongan gadis-gadis yang tadi saat mencuci dan mandi di Danau Genangan Batu menemukan jenasah Ki Rontok saling dorong-mendorong. Dan memang benar. Akan tetapi siapa pelaku dari pembunuhan ini. terdapat suatu celah. si Hakim Haus Darah. bagaimana kejadian sebenarnya?” tanya seorang tua-tua sambil menatap berkeliling. ”Ada yang bisa menceritakan. HAKIM HAUS DARAH Jika orang-orang Desa Batu Barat mau menerima hal ini dan tidak mempersoalkan. akan selesai masalah. .” gumam seorang takut-takut. Kemudian kata orang itu setelah memeriksa. ”Mirip Potongan Simetris dari Hakim Haus Darah. seakan-akan Ki Rontok pernah dibelah dan direkatkan kembali. Seakan-akan sang Hakim Haus Darah ada sendiri di sana dan mendengarkan ucapan itu. ”Jika demikian pasti Hakim Haus Darah pelakunya. Sampai akhirnya terdorong ke tengah Sarini. gadis yang tadi tidak ikut mandi. Salah seorang dari ketiga orang yang dilihat Telaga tadi maju dan memeriksa korban. bahwa dari ujung kepala sampai ke dada. Berapa suara-suara lain pun mengiyakan. Suasana pun menjadi sunyi menakutkan. seperti ditunjukkannya. Bingunglah warga Desa Batu Timur mendengar ungkapan itu dan juga kenyataan bahwa Ki Rontok mati mengenaskan akibat Potongan Simetris. Tidak ada korban dari Walinggih. Ucapan itu bagai hantu yang lewat di siang bolong. berceritalah Sarini tentang apa yang ia dan kawan-kawannya tadi lihat.” ucap seorang. ”lihat seperti ada bekas potongan dan kemudian dijahit kembali. Setelah tak mungkin mungkir sebagai wakil dari saksi mata. Mereka masih membayangkan siapa yang akan nanti jadi sasaran dari Hakim Haus Darah.!” katanya sambil menunjuk pada jenasah Ki Rontok yang telah dibuka bajunya..146 BAGIAN 3. Kehadirannya tidak terlalu diperhatikan oleh para warga desa yang sedang tegang itu. perlu pula diusut.

Dengan adanya peristiwa ini. kami datang untuk menangkapnya. Orang-orang yang semula dikenal hanya sebagai pedagang dari kota besar itu. di mana konflik itu telah berlarut-larut sehingga menimbulkan pertempuran di antara dua desa. dengan tanpa adanya sang hakim telah hidup dengan damai. Tapi orang-orang ini tak berani menyuarakan hatinya. perkenalkan kami. Semua pelaku pertempuran akan dibantainya habis dan dipotong masing-masing setiap orang menjadi dua bagian. . Sementara yang lain.147 sejauh pengetahuan penduduk desa itu. Berkaitan dengan laporan yang menyatakan adanya seorang pembantai yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah di kawasan ini. ternyata adalah perwira-perwira yang menyamar. sebagai bukti. seorang yang agak tua tapi berwibawa angkat bicara.” Sementara orang yang tadi menunjukka bekas luka itu entah sudah hilang kemana. semakin merinding orang-orang Desa Batu Timur. tahutahu sudah terbujur kaku di dalam danau. Melihat orang-orang desa yang terdiam seribu bahasa. Kemudian diceritakan oleh mereka bahwa pengamatan akan sang hakim telah dilakukan lama sebelumnya. Dikuasai kembali oleh para preman dan pedagang. Terdiam lagi penduduk desa mendengar pernyataan itu. Beberapa orang yang selama ini merasa tertekan dengan kehadiran Hakim Haus Darah bersorak dalam hatinya... ”warga desa yang terhormat. Akan tetapi dengan tidak adanya peristiwa ”pembantaian” tak dapat sang hakim di tangkap. agak menyesalkan juga kedatangan ketiga perwira itu. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya Hakim Haus Darah akan turun tangan bila terlebih dulu ada konflik. Jika sekarang Hakim Haus Darah sudah membunuh orang tanpa terlebih dahulu adanya konflik yang berwujud pertempuran. Mereka ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Perintah dari pusat adalah bahwa harus terjadi peristiwa saat pengamatan dilakukan dan akan dijalankan penangkapan. apabila Hakim Haus Darah ditangkap. Tak pandang bulu. Mereka yang terakhir ini kuatir. Saat itulah ia turun tangan. Mereka membayangkan bahwa kapan saja mereka dapat dibantai oleh sang hakim tanpa perlu alasan yang jelas. akan kembali ke masa lalu keadaan di sini. dapatlah sang hakim saat ini ditangkap. Seperti halnya Ki Rontok. tak jelas alasannya. Kami adalah tiga orang utusan dari pemerintah pusat.

sebagian tetap duduk di meja untuk mendengarkan hasil pendengaran rekannya yang bergabung dalam kerumunan tadi. Sang kepala desa tampaknya membiarkan saja ketiga orang yang mengaku perwira dari pemerintah pusat itu mengaturatur. ”Yang murah saja. bagaimana akhir dari peristiwa ini. Anak pasti bukan orang sini.148 BAGIAN 3. ”Mau makan apa. Masih berdebar-debar ia mengingat pertemuannya dengan orang tua berbaju kasar dua warna itu. paman. Kami yang akan menangkap sang hakim. Tak tahu harus ke mana. paman? Kok orang-orang itu pada sibuk ngobrol-ngobrol. nak?” sapa seorang pelayan yang menghampiri meja Telaga dengan ramah. Rencana itu akan dilaksanakan besok pagi. Tak perlu takut!” Orang-orang desa yang sedang dicekam kebingungan itu tak tahu harus berbuat apa. Masing-masing orang bergegas berjalan ke arah masing-masing.” ”Ya. Kita berkumpul untuk menuju ke kediaman Hakim Haus Darah. karena saat ini hari telah menjelang senja. Tak lama kemudian dikirim kabar ke Desa Batu Barat mengenai apa yang terjadi dan agar mereka berkumpul di kediaman Hakim Haus Darah. Telaga menuju ke suatu warung makanan yang ada di pinggir jalan. Sebagian orang berasal dari kerumunan tadi. Sudah jelas dapat terlihat dari warna kulit dan juga pakaian yang dikenakan Telaga. ”ada peristiwa besar ya. Sementara itu jauh di ujung pelosok desa tampak seorang pemuda berjalan perlahan-lahan memasuki pintu desa. Beberapa meja telah terisi oleh orang-orang yang berkumpul dan berbicara dengan meriah. untuk bersama-sama dengan warga Desa Batu Timur menjadi saksi penangkapan sang hakim. Sudah banyak memang pedangan dan . hanya perlu menjadi saksi. nak. Tak ingin ia melibatkan diri sebenarnya.” katanya sambil melihat Telaga.” jawab Telaga sopan. Ingin dicarinya keterangan. Ditujunya sebuah meja yang masih kosong. HAKIM HAUS DARAH Lalu kata seorang dari ketiga perwira itu. ”ada baiknya bila kita menghubungi orang-orang dari Desa Batu Barat. tapi rasa ingin tahunya mengalahkan nalar untuk menyelamatkan diri. Lalu tanyanya sambil lalu. Kalian penduduk desa. Dilihatnya kerumunan orang dikejauhan telah bubar. Telaga adalah pemuda itu.

”Iya. Mengangguk-angguk sang pelayan mendengar jawaban yang sopan akan tetapi pendek dan tegas itu. Telaga yang telah tahu sebagian besar kejadian sebenarnya hanya tersenyum menangguk-angguk. yang ditugaskan untuk menangkap Hakim Haus Darah. Agak ragu dicobanya makanan-makanan itu. Setelah selesai dipanggilnya lagi pelayan itu dan dibayarkannya makanan yang tadi telah disantapnya. akan tetapi tetap saja penduduk asli kedua desa adalah merekamereka yang berkulit kebiruan dan kehijauan. Lalu dengan senang hati diceritakannya apa yang terjadi. Dikatakan bahwa ia bertugas mencatat dan mengantarkan pesanan. Takjub pula Telaga melihat makanan yang belum pernah dilihatnya dipadukan sedemikian rupa. Daun Singkong Bakar dan Sejumput Sagu Rebus. Saya berasal dari utara. Tak berapa lama pesanannya pun datang. yang amat senang ceritanya dilayani dengan antusias. Tiada lagi ragu sekarang. Sampai-sampai ia kemudian dipanggil oleh atasannya untuk melayani. Semua dijawab dengan lancar oleh sang pelayan. tiga perwira. Mengenai ditemukannya jenasah Ki Rontok oleh gadis-gadis yang sedang mencuci dan mandi. Sekarang Telaga tak tahu harus bagaimana.” jawabnya cepat. Ia tidak punya tempat menginap. Gule Julung-julung. paman. Rasa aneh tapi lezet tercipta saat rupa-rupa makanan itu menyentuh lidahnya. bukan bercerita. Di desa itu . Cukup sederhana Pepes Keuyeup. Tak ingin ia membicarakan asal-usulnya kepada orang yang belum dikenalnya. Saya lagi merantau. Dengan malu-malu sang pelayan meminta maaf sambil kembali menegaskan pesanan yang diminta Telaga. perut telah terisi dan hari telah menjelang malam. dilahapnya semua yang dihidangkan sampai licin tandas. sambil sesekali memberi komentar pendek dan bertanya sana-sini.149 orang luar yang berdiam di sini sejak Hakim Haus Darah ”memerintah”. Sudah tentu cerita itu ditambahtambahinya dengan bumbu-bumbu sehingga semakin menarik dan dramatis. Kemudian ditinggalkannya Telaga. Lalu munculnya dugaan bahwa itu dilakukan oleh Hakim Haus Darah dan juga adanya perwakilan dari pusat.

sama yang di dalam desa. ”kebetulan saya tinggal hanya dengan putri saya. ”tidak tidur di rumah nak?” ”Maaf. pelayan itu pun tersenyum dan menghampiri. Cukup tempat bagi kami untuk masih menampung satu orang lagi.150 BAGIAN 3. Akan tetapi lingkungannya yang masih alami dan juga adanya sebuah aliran kecil air di dekatnya. ”Marilah mampir. Saat akan merebahkan dirinya. tampak olehnya pelayan yang di warung tadi. Tidak . Tak berapa lama sampailah mereka di sebuah rumah yang cukup sederhana apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di atas batu yang terdapat di dalam Desa Batu Timur. Dicarinya sebuah tempat di antara batu-batu untuk merebahkan badannya. lalu sapanya. Begitu melihat dirinya.” Telaga mengangguk-angguk. lalu jawabnya.” jawabnya sopan. Malah lebih terlihat alami dan cocok dengan lingkungannya.” katanya. Sudah biasa kok. Istrinya telah meninggal karena sakit. paman. Marilah. Jadi bermalam saja saya di luar. sejak putrinya masih kecil. Dipilihnya suatu legokan yang terletak agak di luar desa. Selain tidak bagus juga mahal. Dengan bekerja sebagai pelayan dapatlah ia banyak bercakap-cakap dengan pengunjung. ”bagus juga. Maka berjalanlah mereka berdua menuju rumah paman pelayan itu. yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Arasan. Ia lebih suka kesunyian saat beristirahat. Arasan mengatakan pada Telaga bahwa rumahnya agak di luar desa letaknya. paman. Dan juga bisa banyak informasi yang diperolehnya dari orang-orang yang mampir untuk makan di warung tempatnya bekerja itu. Batu dan kayu belaka. Arasan tinggal di rumah itu hanya dengan putri satu-satunya. melainkan hanya berwarna alami. ”Saya tidak suka aneh-aneh seperti orang-orang. Saya tidak kenal siapa-siapa di sini. HAKIM HAUS DARAH kelihatannya hanya ada warung itu dan tidak penginapan.. Itulah sebabnya mengapa ia bekerja sebagai pelayan.. ”Beda ya.!” Tangannya sambil menggapai mengisyaratkan Telaga untuk ikut padanya. akan tetapi suka keramaian saat bekerja. sebagaimana dilakukannya tadi dengan Telaga. Tidak dihias macammacam. membuatnya lebih terlihat natural ketimbang rumah-rumah di atas batu yang telah ditambah-tambahi pernak-pernik.?” pancing Arasan.

Ruang depan dan ruang belakang. Seakan-akan pernah dirinya melihat wajah itu.!” ajaknya.” Tak lama menyahut suara dari dalam rumah itu. pastilah ada mirip-mirip darinya pada wajah putrinya. Akan tetapi terdapat sekat-sekat dari daun kelapa yang berfungsi membentuk ruang. Untung saja gadis itu tidak tahu bahwa ia ada di sana. mari masuk.. Hampir berhenti jantung Telaga begitu melihat wajah gadis itu. Jadi tidak ada acara makan malam saat itu. Senang pasti hatinya. ”Paman sendiri yang buat?” Arasan tersenyum menggeleng. Nanti kuperkenalkan. sedangnya ayahnya telah makan di warung tempat ia bekerja. Lalu naiklah mereka ke atas rumah melalui sebuah tangga batu yang dipahat sedemikan rupa pada batu-batu sebesar lima-enam kerbau bunting itu. bertemu dengan orang yang memuji hasil karyanya. Rumah itu cukup besar. Sarini makan sendiri.151 terlihat asal dalam menatanya. berseru Arasan memanggil putrinya. Seorang pemuda yang lugu. putriku! Ayah pulang. Wajah salah seorang gadis yang dilihatnya tadi di Danau Genangan Batu. tetap saja ia merasa malu. Telaga juga kebetulan telah makan tadi di sana.” Lalu muncullah putri Arasan. Sang gadis pun mempersilahkan ayahnya dan tamu ayahnya masuk. selamat datang. tempat yang . Tapi lupa. Biasanya keluarga itu makam malam terpisah.” Bertanya-tanya Telaga dalam hati.” Lalu tanyanya. Sampai depan rumahnya. ”Ayah. Arasan yang tidak mengerti duduk persoalannya.. ”Sarini. ”bukan. tapi putriku. ”Mari. Walaupun ia tidak mengintip mereka dengan sengaja. bagaimana rupa dari putri Arasan.. Sekilas dibayangkannya apabila begitu wajah Arasan.. merasa bahwa Telaga adalah pemuda yang masih malumalu terhadap seorang gadis. Diambilnya barang-barang ayahnya yang merupakan bahan makanan bagi mereka besok pagi. dengan tidak terdapat ruangan lain di dalamnya. Lihatlah ada tamu kubawa serta.

Akan tetapi Sarini tidak mewarisi kulit ibunya. melainkan ayahnya. tetap dengan menggunakan telapak tangan . Jika orang tidak mengenal sejarah keluarga itu. Orang tua itu mengelak tipis. juga secara diam-diam Arasan ternyata adalah seorang berilmu juga.!” teriak suara seorang gadis. Di saat orang-orang belum bangun. hyaaaaa. ”Huut. sehingga mudah untuk mengunakan gelas atau mangkuk itu untuk menghirup isinya.. hanya di pagi hari. Telaga mengikutinya. gadis itu bersalto sekali di udara dan mendarat dengan teguh pada kedua kakinya. Juga mengenai munculnya ketiga perwira yang akan menangkap sang hakim. Salah satu hal karena mereka harus bangun pagi-pagi untuk kembali bekerja. Arasan pun meluruskan kakinya pada salah satu sudut dari ruang depan. pastilah dikira bahwa Sarini merupakan penghuni asli Desa Batu Timur. Dan sedikit keringat menetes pada wajahnya yang manis kemerahan itu.152 BAGIAN 3. Alih-alih terjatuh. hampir tidak memperdengarkan suara. Ilmu beladiri tangan kosong yang menggunakan telapak tangan untuk menyabet bagian-bagian tubuh seperti kepala dan pundak leher. terutama pembicaraan mengenai peristiwa yang terjadi hari ini yang berkaitan dengan kasus Hakim Haus Darah. Tak lama kemudian muncul Sarini membawa sejenis minuman yang dihidangkan dalam gelas atau mangkuk yang terbuat dari batok kelapa yang dipancung atasan. menangkap tanggan yang lewat lembat karena telah mencapai batas sendinya. menekuk dan melemparkan gadis itu. Setelah sedikit melepaskan lelah kemudian mereka pun terlibat dalam pembicaraan. Ibu Sarini ternyata bukan berasal dari desa ini melainkan dari Desa Batu Barat. Ia melatih anaknya Sarini diam-diam. Juga adanya tusukan-tusukan. Mereka berdua sedang melatih ilmu keluarga mereka Sabetan dan Tangkapan Tangan. Pendaratan yang ringan. Memang sudah menjadi kebiasaan keluarga yang terdiri hanya dari anak dan ayah itu tidur tidak terlalu larut. memutar tubuhnya. HAKIM HAUS DARAH berfungsi sebagai dapur. hanya terdengar napasnya yang tersengal sedikit. Tak lama kemudian mereka tidurlah. Mirip seperti kasus Walinggih si Hakim Haus Darah. Bibuat sedemikian rupa sehingga pada salah satu ujungnya ada tempat untuk meletakkan bibir. Sambil meloncat disabetkan tangannya miring ke atas menuju kepala seorang tua di depannya. Gadis itu adalah Sarini dan orang tua itu adalah Arasan. Hal ini diketahui Telaga pada esok paginya.

”Ah. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut Arasan kemudian mengajak Telaga untuk ikut berlatih. akan tetapi tidak melatih bagaimana . ia tidak tahu apakah pertanyaan itu harus dijawab apa tidak. Sampai pada gerakan yang menghentak. paman Arasan. itu sebanya engkau bisa menirukan dengan baik jurus-jurus lemas tapi tidak yang menghentak. Ia memperagakan sedikit-sedikit gerakan dan menyuruh Arasan untuk menirukannya. Salah satu penerus ilmu-ilmu lemas adalah sebuah keluarga yang tinggl di Danau Tengah Gunung di Gunung Berdanau Berpulau di utara Padang Batubatu. Melihat keragu-raguan Telaga. ”tak perlu kau katakan pun. dapat dengan mudah Telaga menirukan gerakan-gerakan yang pada dasarnya lemas itu. ”Belum. ”Nak Telaga. Dikarenakan telah mempelajari Tenaga Air. Tujuaannya adalah ulu hati dan tengah hidup di antara kedua mata. ”boleh paman tahu apa nama ilmu penghimpun hawa yang engkau telah pelajari?” Ragu sejenak Telaga mendengar pertanyaan itu. Terbangun oleh hentakan-hentakan itu. agar susah ia mencobanya. Kedua orang yang sedang berlatih itu menyadari kehadirannya dan menghentikan latihan dan kemudian menyapanya.” kata Arasan sambil menganggukangguk. Guruku pernah bercerita mengenai mereka itu. Orang-orang yang hanya melatih Tenaga Air. pernah belajar ilmu beladiri?” tanya Arasan begitu melihat kemudahan Telaga dalam menirukan jurus-jurus lemas yang diperagakannya. mirip gerakan-gerakan membanting-banting rumput padi yang ingin dirontokkan butir-butiran gabahnya. Lalu tanyanya kemudian.153 yang dibuka.” jawabnya jujur. Engkau pernah berkata bahwa engkau datang dari utara. Sebagai keturunan terakhir Pelestari Ilmu dari Tenaga Air sudah seharusnya ia merahasiakan hal itu. berkatalah Arasan kemudian. kelihatannya aku dapat menebak asal ilmumu. Telaga lalulah turun dan menyaksikan dari dekat penyebab bunyi-bunyian itu. Selain serangan ada pula tangkisan dan tangkapan. Barusan yang diperagakan oleh Sarini adalah jurus Menebang Kelapa dan dibalas oleh ayahnya dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Saya hanya belajar cara menghimpun hawa saja.

Betulkan demikian?” Telaga hanya tersenyum kecut begitu mendengar uraian Arasan. Telaga pun mengangguk.” jelasnya kemudian.. Suatu saat jika ada kelompok yang tidak suka pada mereka. Banyak pengalaman ternyata paman yang berkerja sebagai pelayan di warung ini. HAKIM HAUS DARAH cara menggunakannya. yaitu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Arasan memang sembunyi-sembunyi dalam melatih anaknya Sarini. Guruku sendiri pernah berujar. Mereka memang melestarikan ilmu itu tapi tidak mengamalkannya. nak Telaga. Dan hal ini harus dirahasiakan bahwa kamu belajar ilmu beladiri dari aku.. Awalnya Telaga memang terlihat tertinggal bila dibandingkan dengan Sarini akan tetapi lambat laun ia dapat menyusul dan terlihat lebih pandai..” jawabnya. nak Telaga.154 BAGIAN 3. Ia ingin hidupnya aman-aman saja. Ini sudah tentu dibantu dengan hawa dalam yang telah dimilikinya. Anak muda ini bukanlah seorang pemuda biasa. Setelah matahari mulai sedikit tampak. ”Sudah tentu. Untuk itulah ia mengajari putrinya ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. suatu saat akan kami ceritakan. Tapi jangan panggil aku guru. mereka pun menghentikan latihan. bisa saja mereka ditumpas dan ilmu-ilmu penghimpun hawa itu akan punah selamanya. . Mereka hanyalah orang-orang yang bertugas sebagai Pelestari Ilmu dari Tenaga Air. ”Marilah. sayang sekali bahwa orang-orang Pelestari Ilmu Tenaga Air itu tidak mempelajari ilmu bela diri. ”bolehkan saya mengangkat paman sebagai guru.. Sudah tentu senang hatinya menjadi guru seorang pemuda yang telah mempelajari Tenaga Air. Benar pikirnya. Ia tidak ingin dikenal sebagai seorang yang bisa ilmu bela diri. sudah tentu ia tidak bisa selamanya bersama-sama dengan putrinya terus-menerus dan menjaganya. yaitu Tenaga Air.” Tersenyum Arasan mendengar permintaan itu.” tanya Telaga bimbang. Akan tetapi sebagai seorang ayah. untuk menjaga diri belaka. maksud saya belajar ilmu beladiri dari paman.. ”Paman Arasan. Mulai pagi itu Arasan pun mengajarkan ilmu-ilmunya. Perihal mengapa. terutama untuk gerakan-gerakan yang memanfaatkan kelemasan. Tak terlihat dari sosoknya yang sederhana.

Telaga dalam pada itu tak lupa menceritakan mengenai apa yang dilihatnya waktu ia berada di Danau Genangan Batu.155 Setelah sarapan Arasan dan Sarini mengajak Telaga untuk mengikuti kelanjutan peristiwa yang terjadi kemarin di daerah itu. Baiknya Telaga berhati-hati dulu. Sebuah rumah di atas batu. tentu saja dengan muka merah mengingat adanya Sarini di situ. Hari ini Arasan tidak bekerja. melihat sudah banyak orang yang berpapasan dan juga berjalan bersama-sama mereka ke tempat kediaman Hakim Haus Darah. Di hadapannya tampak halaman atau bebatuan lapang cukup luas. Terlihat . Belum lagi alasan mengapa ketiga perwira pemerintah pusat itu menyembunyikan mayat Ki Rontok di legokan dalam Danau Genangan Batu. Arasan mendengarkan cerita Telaga dengan serius. Arasan berpendapat bahwa jika persoalannya menjadi genting. Lagi pula saat itu topik mengenai Hakim Haus Darah sedang pada puncaknya. Arasan selalu memperkenalkan Telaga sebagai anak dari saudara jauhnya di kota besar. lalu usulnya agar Telaga untuk sementara menyimpan rahasia itu di tengah mereka bertiga dan juga kakek aneh yang ditemuinya itu. Dengan cara itu orang-orang tidak akan curiga bahwa Telaga berguru kepadanya. selain juga menjadi malu. yaitu penangkapan Hakim Haus Darah. Tempat kediaman Hakim Haus Darah. Mendengar alasan dan nasihat itu Telaga pun mengiyakan. tidaklah keberadaan Telaga menjadi perhatian orang. yang katanya akan menangkap Hakim Haus Darah atas tuduhan membunuh Ki Rontok. Lalu berbicaralah mereka hal-hal lain yang lebih ringan. Sarini yang mendengar cerita itu amat tertarik. *** Telah berkumpul banyak orang di suatu tempat agak jauh ke selatan dari Danau Genangan Batu. Jika tidak. juga warung tempatnya menjadi pelayan tidak buka. Untung saja ia saat itu tidak ikut mandi bertelanjang tubuh. tampak sederhana. yang saat ini sedang menginap di tempatnya. Walinggih. Hal ini dikarenakan semua penduduk dari kedua desa akan berada di kediaman Hakim Haus Darah untuk memenuhi himbauan dari ketiga orang perwira dari pemerintah pusat. Dalam perjalanan mereka apabila bertemu dengan orang-orang desanya. bisa-bisa Telaga tersangkut-paut. Masih banyak misteri yang tersimpan dalam peristiwa itu. pastilah seluruh penjuru tubuhnya telah dilihat Telaga dari kejauhan.

sedangkan Walinggih masih tercampur-campur antar rambut yang putih dan hitam. akan tetapi berarti melawan wakil dari pemerintah pusat. Baru kali ini. ”Huh. Hanya ada satu persamaan. yaitu baju yang dipakainya. Ingin tidak hadir. Meninggalakn jejak kaki di atas tanah batu dan juga angin sabetan-sabetan pedangnya. tampak perbedaanperbedaan yang ada pada orang yang baru keluar itu. Memang samasama tua.!” salah seorang dari tiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Orang-orang yang pernah melihat Hakim Haus Darah melatih ilmunya. mau apa kalian orang-orang desa kemari?” jawabnya kasar.156 BAGIAN 3. keluarlah engkau. HAKIM HAUS DARAH guratan-guratan pada halaman berbatu itu. Seorang tua muncul dari dalamnya. yaitu sebelah berwarna kanan biru muda dan sebelah kiri berawarna hijau muda.. Tapi setelah diperhatikannya dengan seksama. Pedang mungkin. Tapi tidak seperti orang tua kemarin yang berbusana bersih. Seperti bercak darah yang mengering. Mereka. Tak lama kemudian tampak pintu rumah di atas batu itu berderit terbuka. Hampir saja Telaga menyeru perlahan karena miripnya wajah orang itu dengan orang tua yang ditemuinya di Gunung Genangan Batu saat dulu itu terjadi. Sesekali seperti guratan kaki. Hanya beberapa . ”Walinggih atau yang dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Orang tua kemarin sudah putih semua. baju Walinggih tampak kotor oleh bercak-bercak coklat kehitaman. Juga rambutnya berbeda. Penduduk yang mendengar ucapan itu menjadi merinding. Sama seperti yang dikenakan oleh orang tua kemarin dulu itu. Walinggih masih terlihat lebih segar dibandingkan orang tua kemarin. Sunyi tak terdengar jawaban. dapat mengenali bahwa gurata-guratan itu merupakan hasil peninggalannya saat ia berlatih pedang panjangnya di pelataran itu. akan tetapi juga tampak seperti guratan yang dibuat menggunakan logam panjang. ”Ada yang mau disembelih?” Kecut hati sebagian hati orang-orang mendengarnya. akan tetapi orang ini. para penduduk kedua desa berada pada keadaan terjepit. dan tua karena pikiran. Belum pernah sampai saat itu mereka mendengar ada orang yang berani menyapa Walinggih seperti itu. Ingin ikut tapi jerih terhadap Walinggih.

tak perlu ada kata-kata lagi.. Halus bagai salju atau serbuk sari bunga yang terbawa angin. Benar-benar ilmu pedang yang dahsyat. ”Bila pedang sudah bicara. di atas batu tinggi. menandakan kuatnya tenaga yang dimiliki oleh perwira tersebut. Sarini. Lemparan itu bukan sembaran lemparan. Turun potongan-potongan kertas perintah penangkapan atas dirinya tadi. Ketiga orang yang pernah dilihat Telaga di Danau Genangan Batu tampak di antara orang-orang tersebut. Mana pemerintah pusat saat di sini ada penekakan oleh pedagang dan preman? Mana pemerintah pusat waktu keluargaku dibantai? Giliran sekarang sudah beres. ”serahkan dirimu. Arasan ayahnya dan Telaga. ”Walinggih atau Hakim Haus Darah. Kertas yang ringan akan tetapi dapat menderu dan menempuh jarak setinggi pohon kelapa untuk mencapai Walinggih yang berada di depan pintu rumahnya.” . Walinggih dengan santainya menangkap sambitan itu. ”Hmm. termasuk di antaranya ketiga perwira dari pemerintah pusat. ”apakah itu artinya bahwa engkau menolak perintah pemerintah pusat?” Walinggih tersenyum jumawa. atas permintaan dari kedua desa ini hendak menangkapmu atau tuduhan telah membunuh Ki Rontok dari Desa Batu Barat. kami tiga orang wakil dari pemerintah pusat. lalu katanya. Juga dengan melihat latar belakang tindakanmu itu. Biarkan hakim sebenarnya yang memutuskan.” terang seorang dari mereka sambil dilemparkannya sebuah gulungan kertas. Kertas yang berisi perintah untuk menangkap Walinggih. Huh!” Seorang dari ketiga perwira itu masih berusaha membujuk. Walinggih! Kami akan beri peradilan bagimu.. Juga beberapa orang yang berdiri di kejauhan. Saat ia menapakkan kakinya dengan berdebam di atas bebatuan di pelataran di depan rumahnya.157 yang cukup berilmu tidak. Dalam jarak yang cukup jauh orang masih dapat mendengar deru gulungan itu. membacanya sekilas kemudian lemparkannya melambung turun.” kata seorang dari mereka bertiga. baru datang. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang pajangnya menyilang beberapa kali dengan kecepatanya yang sukar diikuti oleh mata.

Pedangnya lebih panjang dari tongkat ketiga orang itu. Dua buah. Dengan tenang ia melangkah mundur mendekati orang yang menyabetkan tongkatnya ke arah kepalanya. Dalam serangan pertama. Hampir mencium perut-perut mereka. diputarnya pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga ujungnya berarah ke belakang. Lalu dihujamkannya ke arah di mana orang itu berada. digesernya badannya sedikit ke samping sehingga pedang Walinggih hanya menderukan angin di pinggir kulit pinggangnya. .. Akibat mundurnya itu. Satu menyabet ke arah kepala. Untung saja refleksnya masih bekerja.!” ucap salah seorang dari mereka. Ditundukkan kepalanya sehingga serangan itu luput.158 BAGIAN 3. Bekeringat dingin ketiga perwira itu. Benar-benar serangan yang lengkap. Walinggih malah mendengus dan meludah ke kanan-kirinya. Bersenjatakan tongkat setinggi pinggang. yang kedua ke arah perut dan yang ketiga ke arah kaki. ketiga perwira itu saling bertukar pandangan mata. Ketiganya telah mengelilingi Walinggih. Tidak sempat ada serangan kedua karena pedang Walinggih telah mendekati. Hampir tertutup semua ruang gerak Walinggih. diserang dari ketiga arah pada ketiga ketinggian yang berbeda. Selagi orang yang di belakang Walinggih tertegun melihat serangannya gagal. Tongkat khas penjaga penjara para tahanan. Tak diduganya bahwa Walinggih akan menyerangnya tanpa membalikkan badanya membuat kewaspadaan orang itu berkurang. Lalu secara bersamaan mereka bergerak maju. dua serangan yang di depan kiri dan kanannya pun tak mengena. Akan tetapi bukan Hakim Haus Darah apabila dengan serangan seperti itu dapat langsung ditumbangkan. HAKIM HAUS DARAH Alih-alih menyetujui saran itu. Satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri. dalam satu jurus mereka hampir dikalahkan oleh Walinggih. Bersamaan dengan itu diayunkan pedang panjangnya ke kiri dan kanan. akibatnya kedua orang yang menyabet kaki dan perutnya terpaksa mundur setelah serangan mereka gagal. Ketiganya kemudian menyerang bersamaan. ”Bagus. Melihat penghinaan itu dan juga sikap bahwa ia masih mengandalkan kekuatannya. Serangan mereka yang umumnya membuahkan hasil dapat dimentahkan dengan serta-merta.

Sedari tadi belum sekalipun Walinggih mengaku telah membunuh Ki Rontok. Saat satu orang menyerang. turun dari batu dan bagai melayang tiba di arena pertempuran. Itu saja. Lalu ucap salah seorang perwira.” kata Walinggih begitu melihat kedatangan lima orang itu. Hahahaha. Matahari sudah menempati titik kulminasinya. . Sebagai seorang manusia. sulit Walinggih menyerang balik dengan tepat. ”Hehehe. Sarini dan Telaga juga semakin tertarik melihat bahwa kelima orang yang tadi tak begitu jerih pada Walinggih ternyata juga orang-orang yang berilmu. Arasan. Sudah setengah hari tiada tanda-tanda akan berkesudahan.” Tak terpancing emosi ketiga perwira itu juga para Asasin.! Perwira wakil pemerintah pusat bekerja sama dengan pembunuh bayaran. sudah pasti dimiliki batas daya tahan untuk terus bertempur.” kata Walinggih.159 Kembali ketiganya maju serantak. Bagitu pula dengan ketiga orang perwira itu. Mungkin kegilaannya itu yang membuat ia tidak bisa lelah. tak usah berpura-pura.. Pada Walinggih tidak terlihat tanda-tanda ia menjadi lelah. Mereka-mereka ini hanya membantu kami dalam menunaikan tugas untuk menangkapmu. benar-benar ’penegakan hukum’. dapat saja kekalahan menyambangi pihaknya.. ”Walinggih. urusan apa pekerjaan mereka kami tidak tahu-menahu. rupanya sudah sekongkol pemerintah dengan preman-preman dan pembunuh bayaran. Semakin kecut penduduk kedua desa melihat bahwa akan ada lagi tokoh-tokoh yang berlaga. akhirnya muncul juga orang-orang Asasin.” Mendengar itu berkecamuk pikiran dalam benak Telaga. ”Jadi begitu. salah seorang dari ketiga perwira itu memberi isyarat pada sekelompok orang yang berdiri di atas batu tinggi di kejauhan. Kelimanya bergerak ringan. ”sudah jelas mengapa dulu wakil pemerintah tidak datang. Mereka tidak biasanya menangkap para penjahat sampai selama ini. Menyadari bahwa jika pertempuran berlarut-larut berlangsung. Pertempuran itu pun berlangsung seru. Belum pernah sebelumnya.” ”Hehehe. Cara ini ternyata lebih berhasil. tapi kali ini tidak berani sekaligus menyerang melainkan satu per satu. Ada dukungan dari kawan di kiri-kanan dari sasarannya. temannya membantu dengan menjaga serangan balik Walinggih.

sehingga ketiga orang perwira itu dikirim. Walinggih belum tahu berapa lihai kelima orang Asasin yang beru berlaga itu. Di mana tiga di antaranya adalah orang-orang yang dilihatnya menyembunyikan mayat. yang disebut sebagai Asasin. Biasanya dua titik itu berada bukan pada dua orang lawan yang berdekatan atau berurutan melainkan berseberangan. Dongkol pula Walinggih bahwa ucapannya tidak ditanggapi. dengan isyarat dikatakannya bahwa Telaga sebaiknya tidak berbicara mengenai apa yang dilihatnya itu. Pembunuhan bagi mereka adalah suatu profesi. Diserangnya salah seorang Asasin yang berada di kirinya dengan tipuan tusukan. Dari pikirannya. Jika tidak. Akibatnya rekan-rekannya . Asasin tidak mengerti kesedihan Walinggih. kakinya meregang terbuka selebar dada. menjadi semakin bingun Telaga. di mana dalam satu serangan dua titik yang dituju. Satu ke depan satu ke belakang. mengapa mereka butuh ketiga perwira itu untuk membalaskan dendamnya. Sebagai seorang pembunuh bayaran. Kelima orang itu memang ingin membalaskan dendam kepada Walinggih atas pembunuhan yang dilakukannya pada rekan-rekan mereka dulu. Ia pun tak punya waktu untuk mencari tahu. untuk itu mereka berpura-pura meminta pertolongan pada pemerintah pusat. Dua titik dari dua orang lawan yang berbeda. Dugaan itu tidak salah. Di tariknya pedang panjangnya ke dadanya sehingga ujungnya menghadap ke atas. malah bergerak berputar. Saat itu tangan Sarini menyentuh tangannya lembut. yaitu suatu jurus dari ilmu pedang panjangnya. Teman sebelahnya tentu waspada apabila rekan terdekatnya sedang diserang. langsung menyerang. Lain halnya bila dua orang yang berurutan yang menjadi sasaran. Mereka saja tidak akan mampu menanganinya. dipandang mereka lebih lemah dari ketiga perwira perwakilan pemerintah pusat itu. Dengan cara ini biasanya dua orang lawan tidak akan sadar bahwa mereka berdua yang akan dituju. Saat Walinggih membalaskan dendam atas kematian keluarganya. Ia sedang merapal jurus Sabetan Tunggal Menuai Dua. alih-alih menjawab pernyataanya.160 BAGIAN 3. Kedelapan orang yang telah mengurung Walinggih itu. Akan tetapi para Asasin pun menyadari bahwa Walinggih bukan orang sembarangan. HAKIM HAUS DARAH Dan dengan adanya kelima orang itu. Sebelum kedelapan orang itu bergerak. telah dengan cepat Walinggih mendahului menyerang. Masih dicobanya untuk memahami kejadian itu.

”Settt. Diatur napasnya tenang. juga kedua Asasin.!” Akan tetapi terlambat. pikirnya...! Apa mau kalian. keenam orang yang tersisa segera melompat mundur karena pedang Walinggih masih berpusing ke beberapa arah. Melihat hasil ini. ketiganya telah melemparkan tabung itu yang telah dibuka sumbatnya ke arah Walinggih. Diujungnya terlihat sumbat kain terlekat. ”Hei..?” tegur salah seorang perwira demi melihat apa yang dilakukan oleh ketiga Asasin tersebut. Dua orang yang jauh dari sasaran pertama. Kecewa tampak wajah salah seorang perwira. Ketiganya saling menukar pandang dan mengambil sesuatu dari sakunya. Kaki dibuka selebar bahu. ”Tunggu dulu.. Kembali Walinggih memegang pedangnya rapat ke dada dengan ujung menuju ke atas. ke depan dan belakang.161 berupaya melindungi. Tak berhenti diputarnya pedangnya ke atas kepala dan dibacokkan ke tujuan berikutnya. Tiga orang Asasin yang tersisa tampak geram... Tak sempat ia menghindar karena masih terpesona pada luka yang diderita rekan sebelumnya.. Bantuan dari Asasin yang tampaknya akan memperkuat penangkapan ini ternyata sia-sia. ”Cappp. Masing-masing membawa sebatang tabung kecil sepanjang lengan. Siap untuk serangan berikutnya. Dengan menggunakan saat yang tepat diubahnya serangan itu ke arah dua orang di kanan dan belakangnya. Asasin hanyalah gentong kosong belaka. Terbelah simetris Asasin ini.!” serangan ini pun membuahkan hasil. Hanya tipuan. tidak sadar akan kembangan serangan dari Walinggih. Tak ada yang dapat dilakukan kali. Tak ada hasil setelahnya. Omong besar di depan. Mereka masih tenang karena merasa berada pada jarak yang aman. Tapi pada keadaan genting seperti itu tak ada yang berani coba-coba apa serangan susulah itu benar-benar atau hanya gertak belaka. Sasaran itu tertusuk pada pinggangnya dan berguling ke samping. Bukan ke atas melainkan .!” serangan kedua membuahkan hasil. Sekilas melihat tahulah mereka bahwa kedua rekannya telah merengkuh ajal.

takut di saat sekejap itu ketiga orang musuhnya menyerang balik. Walinggih yang melihat itu tetap diam tak bergeming. Siap melepas serangan lagi bagi pegas.. Cairan kuning muda tampak mengalir keluar dari ketiga tabung itu dan langsung meresap ke dalam tanan. Masih sempat calong korban Walinggih itu bergeser mundur sehingga pedang panjang Hakim Haus Darah hanya lewat tipis di atas rampbutnya. Keenam orang itu masih di luar jangkauan pedangnya. Seakan-akan hidup merambat merambat mereka pada kaki dan betis Walinggih. Oleh karena itu dibiarkannya tabung-tabung itu dilemparkan di sekelilingnya.162 BAGIAN 3. Dengan cara yang sama Walinggih menyerang mereka bertiga secara acak. Walinggih yang akan bergerak. Sekilas terlihat asap putih kekuningan keluar. Pada saat itulah sambil melempar senyum ketiga orang Asasin yang tersisa menyerang Walinggih sang Hakim Haus Darah dengan serentak. Keringat dingin menetes dengan sendirinya dan juga merindingnya bulu kuduk. HAKIM HAUS DARAH ke tanah di sekitar Walinggih berdiri. Kembali ke posisi semula. Walinggih kembali ke tengah. Orang-orang di sekitar Walinggih melihat bahwa cairan kuning susu yang tadi meresap ke dalam tanah. Membacokkan golokn mereka secara bersamaan. tak dapat ia menyerang keenammnya. Terasa sehelai dua rambutnya terpapas ringan. Tak berani ia melihat ke bawah. Perlahan-lahan kumpulan-kumpulan cairan itu merayap naik. Tak berapa lama.!” hampir saja salah seorang dari mereka terkena. tiba-tiba mearasa bahwa kakinya tidak lagi dapat digerakkan. Ia tak ingin hilang konsentrasinya pada posisinya untuk menyerang. Ini sudah . Menyerang untuk kembali pada posisi bertahan. Tegak dan lemas. Tiba-tiba terasa sesuatu pada kakinya. membayangkan bila tadi bukan ramput yang terpapas melainkan kepala. ”Wuttt. Terpaku bagai akar pohon. tampak muncul kembali dan tepat di bawah kaki Walinggih. seperti menunggu sesuatu bergeraklah sisa orang Asasin itu menyerang Walinggih.

Tapi pada saat itu ia tidak bisa lain hanya menerima saja.!!” menyelinap golok orang ketiga ke pinggang Walinggih. Ketiga perwira itu tampak tertegun menyaksikan perbuatan Telaga. Dan ia amat bersyukur bahwa anak muda itu hanya membalut lukanya. di mana orang ketiga sedang menyerang. Andai saja Walinggih belum terkuras habis tenaganya dan juga belum terluka. Masih dengan tenang Walinggih mendengus. Dengan cantik serangan yang tadi diduga akan membelah pahanya itu menjadi melengkung ke atas dan membacok lawan-lawannya di kedua arah. Luka bacokan tak dapat dihindari. Tak tahan akan keadaan itu tiba-tiba Telaga melesat. Benar-benar pemandangan yang mengerikan.163 tentu disebabkan oleh cairan kuning susu itu. Di saat ketiga orang yang sedang mendekat padanya itu terpesona pada gerakan itu. Sunyi. Bisa dikira musuh yang akan menyerang oleh Walinggih. Ternyata pedang panjang itu bisa dibuat menjadi dua bagian yang kira-kira sama panjangnya. Alih-alih menggeser kedudukannya. Mereka sebagai perwira tak ingin menyerang orang yang sudah tak . Akan tetapi pada saat yang bersamaan ”crott!!” menghujam kedua potong goloknya ke kepala seorang Asasin yang masih tersisa itu.. Walaupun kakinya tak dapat bergerak dari atas tanah dan pinggangnya telah meneteskan luka. Bersamaan dengan terbelahnya muka mereka. Sementara itu Walinggih si Hakim Haus Darah tampak masih gagah berdiri di tengah-tengah. Bersamaan dengan itu dua bagian pedang panjang yang masih bergerak ke atas kanan dan kiri itu melingkar ke atas menuju punggung Walinggih. Entah apa namanya. ia memutar pedang panjangnya sedemikian rupa sehingga terlihat ia akan membacok paha depannya sendiri. bisa tak selamat Telaga. Ketiga Asasin tampak terbujur menjadi mayat. ”Heggg. Ia menyobek lengan bajunya untuk disematkan pada luka di pinggang Walinggih. masih tampak wibawa dan keangkerannya. ”Crakkk!” dan ”croott!” lawan yang ada di kanan dan dirinya terpancung dagunya dari bawah. Walinggih mencengkeram ujung pedangnya yang sedang mengayun. terbang pula nyawa mereka dari raganya semula.

. Dalam hal ini Walinggih tidak bersalah karena pelaku pembunuhan Ki Rontok adalah kelompok Asasin itu. yang bajunya sedikit tersingkap saat ia menyobekkan lengan bajunya. Mereka juga malu bahwa orang-orang yang menolong mereka ternyata menggunakan cara licik dengan memakai sejenis cairan yang tidak mereka kenal itu. Ia seharunya tidak mencampuri urusan orang. Isyarat Sarini untuk mencegahnya diabaikannya. HAKIM HAUS DARAH berdaya. kau?” tanyanya tergagap. bergumam orang-orang yang berkerumun di sana.. Sudah itu mereka-mereka ini licik sekali. Sinar yang hanya dimiliki oleh orang-orang seperti dirinya. Diceritakannya dari sejak awal ia berada di Danau Genangan Batu sampai perjumpaannya dengan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih. Saya hanya tak tega melihat paman terluka. Bertempur. paman. ”Maaf.164 BAGIAN 3. Jangan disimpan.. Rupanya mereka berlima sudah tidak sabar untuk membalaskan dendamnya . sudah pasti sebesar ini tentunya.” jawab Telaga sedikit malu. Tiba-tiba dilihatnya suatu tanda di dada anak muda itu. Lalu Telaga pun menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Walinggih juga kepada ketiga perwira wakil pemerintah tersebut. ”Siapakah. Teringat akan anaknya. Setelah mereka bertiga berunding. Orang itu juga dapat menjadi saksi mengenai apa yang terjadi. Juga ketiga perwira menjadi bingung mengenai apa yang harus dilakukan. Mendengar cerita Telaga. Ketiganya tampak termangu. Jika anaknya masih hidup. Seakan-akan menunggu Telaga sampai selesai membalut luka di pinggang Walinggih. untuk dibuat bahan membalut. kok menggunakan racun. Dipandangnya anak muda yang masih membalutnya itu. Walinggih merasa amat terharu atas sikap Telaga itu. akhinya diputuskan bahwa untuk kasus ini sudah selesai. akan tetapi perkataan orang tua yang berbusana sama dengan Walinggih ini mengingatkannya bahwa ia harus mengatakan kebenaran. Salah seorang perwira yang kemudian memeriksa sakusaku mayat Asasin kemudian menemukan jarum jahit dan benang kulit yang digunakan untuk menjahit kembali tubuh Ki Rontok. yang pernah belajar ilmu dari guru yang sama. Terkesiap ia melihat semacam sinar temaram.

165 kepada Walinggih, akhirnya dengan cara membunuh dan memfitnah Walinggih, diharapkan rencana mereka dapat berjalan. Sayangnya kemampuan silat mereka masih jauh dari mumpuni. Itupun masih dibantu dengan cairan kuning susu tadi. Ketiga perwira pun membubarkan orang-orang desa. Akhirnya di sana hanya tinggal mereka bertiga, Walinggih, Telaga, Sarini dan Arasan. Ketiga perwira wakil pemerintah pusat yang tadinya berwajah keren dan galak itu, membantu Telaga memamapah Walinggih ke rumahnya di atas batu. Mereka tadi bersikap garang kepada Walinggih karena mereka yakin Walinggih adalah yang bersalah. Yang telah membunuh Ki Rontok. Akant tetapi sekarang, setelah terbukti bukan, bersikap mereka ramah seperti ke kebanyakan orang. Setelah itu mereka pamit, sambil tak lupa berpesan kepada Walinggih untuk meninggalkan tabiatnya yang cepat marah dan main hakim sendiri. Di kedua desa telah ada perangkat pemerintah, biarkan mereka yang mengatur, ucap mereka. Walinggih yang telah tersentuh oleh perawatan Telaga berjanji akan mengubah dirinya, tidak seganas dulu. Tinggalah saa itu Walinggih yang terbujur lemah masih menahan sakit dan tiga orang di sekitarnya. ”Katakan sekali lagi, nak Telaga.. Bagaimana rupa orang tua itu?” pintanya pada Telaga. Telaga kemudian menceritakan bagaimana rupa orang tua yang ditemuinya di Danau Genangan Batu dan apa yang dilakukannya sebelum berpisah. Mendorong dadanya secara halus dan menggetarkan isinya. Dikatakannya pula bahwa rupanya mirip dengan Walinggih, juga busana yang dikenakannya. Tersenyum Walinggih mendengarkan kejadian itu. Katanya menghela napas, ”kakangku itu Wananggo, masih saja mengawasiku dari jauh. Ia masih juga belum mau bertemu denganku.” Terdiam ketiga orang pendengar itu. Orang tua itu ternyata adalah kakak dari Walinggih. Wananggo namanya. Pantas Telaga melihat banyak kemiripan di antara mereka berdua itu. Walinggih kemudian bercerita bahwa Wananggo juga mengalami kesedihan yang sama dengan dirinya. Ia mengalami pula diting-

166

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

gal keluarganya. Akan tetapi berbeda dengan Walinggih, istri dan anaknya meninggal karena penyakit, bukan dibunuh orang. Ada satu hal yang sama dari ketiga orang itu, Walinggih, Arasan dan Wananggo, yaitu mereka sama-sama beristrikan wanita bukan dari desa asal mereka. Jika Walinggih dan Wananggo yang berasal dari Desa Batu Barat yang kemudian memperistri wanita dari Desa Batu Timur. Sebaliknya Arasan yang berasal dari Desa Batu Timur memperistri wanita dari Desa Batu Barat. Diterangkannya pula oleh Walinggih bahwa kakaknya itu mendorong halus dada Telaga untuk mengoperkan sedikit tenaga pada Telaga yang juga menjadi kesepakatan dari mereka bahwa Telaga adalah seorang yang cocok untuk dijadikan murid. Mendengar itu Telaga kemudian menceritakan bahwa ia sedang berguru pada Arasan. Arasan sendiri, sang guru tidak berkeberatan jika Telaga juga berguru pada Walinggih. Ia melihat bahwa Walinggih perlu teman. Dengan adanya teman akan lebih baik hidupnya. Dapat membantunya keluar dari kebiasaanya yang ganas seperti pada masa lalu. Walinggih pun berkata bahwa selama ia masih sakit, ia belum dapat mengajarkan Telaga. Jadi bisa saja Telaga berguru padanya setelah ia sembuh. Akhirnya disepakati bahwa Telaga tinggal bersama Walinggih dan baru berkunjung pagi-pagi buta untuk belajar. Selain itu para penduduk juga telah tahu bahwa Telaga bukanlah anak dari saudara jauhnya lagi, melainkan hanya mampir. Tidak baik bagi seorang gadis seperti Sarini bila ada seorang pemuda seperti Telaga, yang bukan keluarganya, tinggal serumah. Kedua orang tua itu tertawa-tawa mendiskusikan bagaimana mereka akan melatih Telaga kelak. Sedangkan orang yang dibicarakan tidak diberi kesempatan. Melihat itu semua Sarini hanya tertawa kecil sambil sesekali melihat ayahnya. Belum pernah dilihatnya Arasan sesemangat itu membicarakan sesuatu. Apalagi terhadap orang yang ditakuti, Hakim Haus Darah. *** Pemuda itu berjalan pelan mendaki gunung tinggi di depannya. Gunung Hijau. Gunung yang puncaknya tidak jelas karena tertutup awan. Paras Tampan nama pemuda itu. Ia adalah seorang dari lima pemuda yang sedang menghadapi ujian akhir dari gurunya Ki

167 Tapa salah seorang penghuni Rimba Hijau. Di atas gunung ini terdapat persembunyian kitab-kitab ahli-ahli silat tinggi. Belum jelas bagaimana kabarnya mengapa banyak ahli-ahli silat tinggi menyembunyikan kitab-kitab mereka di gunung itu pada akhir hayat mereka. Ada yang menyembunyikannya di balik batu, di rumah di atas pohon, dalam ceruk, di lobang-lobang karang dan sebagainya. Saking sulitnya menemukan kitab-kitab itu, bolah dikatakan nasiblah yang menentukan. Atau dengan kata lain, kitab-kitab itu yang mencari penerusnya, bukan sebaliknya. Itu yang dikatanan gurunya Ki Tapa. Paras Tampan berjalan perlahan masih saja tebing-tebing yang dilihatnya. Walau kadang ada jalan setapak, tapi tidak mengisyaratkan bahwa itu akan membawanya ke suatu tempat. Ia memutuskan untuk selalu mencari jalan yang lebih menuju atas, apabila menemui persimpangan. Semakin tinggi, mungkin semakin sakti orang yang meninggalkan kitab itu, pikirnya. Berbagai tebing dan batu-batu telah ditelitinya. Batu-batu yang tinggi dan pendek. Celah yang lebar dan sempit. Juga pohon-pohon yang terdapat di sana. Sampai saat ini baru dua rumah pohon ditemuinya. Akan tetapi di sana tidak terdapat kitab apapun. Hanya beberapa baris tulisan. Tulisan dari orang yang juga mencari kitab. Tulisan mengenai keputusasaanya bahwa ia belum juga menemukan apa yang dicari. Tersenyum kecil Paras Tampan membaca tulisan itu. Ia tidak akan berkeluh kesah seperti orang yang menorehkan tulisan itu pada dinding rumah pohon. Ia akan berusaha sekuatnya untuk mencari kitab-kitab itu. Atau tepatnya ia akan terus berjalan, sampai kitab-kitab itu menemukan dirinya. Hari telah menjelang senja. Paras Tampan telah sampai ke suatu batas di mana kabut tipis di atas Gunung Hijau terlihat bertambah lebat. Ia harus beristirahat. Sulit dalam kegelapan kabut dan juga malam untuk terus berjalan, bahkan dengan adanya bantuan obor yang telah dibekalnya tadi. Umumnya pantulan api obor akan malah menghalangi pandangan. Jalan yang dapat dilihat tidak sampai dua kambing ke muka. Benar-benar hampir buta rasanya. Sementara masih berpikir untuk terus berjalan atau beristirahat, Paras Tampan mencari suatu tempat untuk melepaskan lelah dan memakan bekal yang menyertainya. Akhirnya diperoleh suatu tem-

168

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

pat yang cukup nyaman. Legokan dalam batu-batu sebesar gajah. Memberikan ruang yang cukup untuk berlindung dari angin dan juga bila nanti turun hujan. Dibukanya perlengkapan yang dibawa. Laukpauk, obor, beberapa tali dan barang-barang lainnya. Dicarinya di sudut-sudut legokan itu, yang ternyata lebih menyerupai sebuah gua yang dangkal, dan didapatinya ranting-ranting bekas sarang binatang. Diambilnya beberapa buah yang kering-kering. Kembali ke tempat perbekalannya semula diletakkan dan mulailah ia membuat api sambil memakan perbekalannya. Selang tak berapa lama dirasakannya kantuk dan juga lelah menyerang. Tak dapat ditahankannya. Ia pun lalu tertidur. Lelap sekali sehingga tidak diketahuinya beberapa mata sejenis makhluk menatapnya. Mata-mata yang dapat bersinar dalam gelap. Bila saja Paras Tampan tersadar, mungkin terkejut pula dirinya. Beberapa makhluk itu muncul mengitari dirinya dan menjamah beberapa barang-barangnya. Geliat Paras Tampan dalam tidurnya mengagetkan mereka. Makhlukmakhluk itu langsung kabur sambil tak lupa membawa barang-barang yang bagi mereka menarik itu. Sebagian masih tercecer. Juga tali-tali yang dibekal oleh Paras Tampan. Sinar matahari yang hangat datang menggelitik pelupuk mata Paras Tampan yang tertidur di legokan batu itu. Usikan sang surya membuatnya menggeliat sesaat untuk kemudian tersadar dan bangun. Masih galau ingatannya, di mana ia saat ini berada. Diingat-ingatnya kembali. Akhirnya disadarinya bahwa dirinya sedang mendaki Gunung Hijau untuk mencari kitab-kitab peninggalan para pendekar yang menyimpannya di sini. Di suatu tempat di gunung ini. Setelah ingatannya pulih sepenuhnya, dirasakan lapar menggaruk-garuk perutnya. Diedarkannya pandangan mata berkeliling. Seharusnya sisa perbekalannya kemarin ada di suatu tempat di sekitar tempat ia tertidur. Tapi apa yang dilihatnya? Barang-barangnya berserakan, berceceran. Seperti ada seseorang atau sekelompok orang yang mengacak-acak barang-barang bawaannya itu. Makanannya tercecer-cecer juga obor dan lain-lainnya. Sejumput tali yang dibawanya masih tampak, akan tetapi lainnya telah raib. Penasaran Paras Tampan melihat hal ini.

169 Geram dan juga bergidik. Bila benar ada seseorang atau sesuatu yang tadi malam mampir tanpa disadarinya, benar-benar berbahaya. Untuk saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ia benar-benar telah teledor, dengan membiarkan dirinya terlelap begitu saja. Setelah menenangkan dirinya dengan sedikit mengheningkan cipta, beranjak Paras Tampan keluar dari legokan batu itu. Dilihatnya langit cerah telah menantinya untuk kembali mencari kitab-kitab seperti yang dituturkan oleh gurunya, Ki Tapa. Di bawah sana, di bawah tebing di mana legokan tempat Paras Tampan tadi malam tertidur, tampak kabut awan tebal. Gumpalan putih itu menghalangi pandangan Paras Tampan ke kaki gunung, di mana Rimba Hijau berada. Bisanya ia berada di bawah sana tidak bisa melihat ke atas sini. Kali ini malah sebaliknya. Ia berada di atas sini dan tidak bisa melihat ke bawah sana. Pagi hari kedudukan gumpalan putih itu ternyata lebih rendah dibandingkan pada sore hari. Mungkin panasnya hari yang membawa gumpalan-gumpalan itu naik pada siang hari dan dinginnya malam yang membawanya kembali turun pada malam hari. Teringat kembali Paras Tampan akan hilangnya perbekalannya. Dicaricarinya dengan matanya ke berbagai arah, siapa tahu tercecer masih barang-barangnya. Tak berapa jauh, kira-kira dua tiga tombak dilihatnya sejumput tali-tali yang dibawanya tergeletak terurai menuju ke suatu arah. Bergegas ia menghampiri. Menggulung kembali tali itu. Mungkin diperlukannya kelak. Baru dua gulung diperolehnya. Semua seharusnya tujuh gulung tali-tali sebesar ibu jari. Cukup kecil tapi ulet dan kuat. Terbuat dari rumput-rumputan yang diberi ramuan. Ringan tapi ulet, begitu kata gurunya. Dengan berbekal ceceran tali-tali yang terurai itu berjalan Paras Tampan ke suatu legokan lain yang lebih lebar agak ke atas dari tempat ia tertidur tadi malam. Legokan ini sudah dilihatnya tadi malam. Dikarenakan bentuknya yang lebih luas dan lapang sehingga angin lebih leluasa untuk masuk, dipilihnya legokan yang kemarin dan bukan ini. Walaupun demikian ia telah juga memeriksa legokan ini. Kalaukalau terdapat ruang atau gua tempat meletakkan kitab-kitab. Dan kali ini dijumpainya hal yang menarik. Di ujung legokan batu tersebut, di tengah sebuah batu besar yang retak, tampak seutas tali yang dibawanya tersembul. Mustahil.

170

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Bagaimana talinya dapat tesembul dari retakan batu itu? Apa ada orang atau makhluk yang iseng menyisipkannya di situ. Bingung Paras Tampan memikirkan hal itu. Saat sedang termenung, datang kembali usikan sang usus. Meminta makan ia. Belum pagi ini perut Paras Tampan diisi. Sudah sewajarnya tuntutan alamiah itu datang. Teringat itu, kembalilah Paras Tampan ke bawah. Ke tempat ia tertidur semalam. Barang-barangnya masih berserakan di bawah. Dirapikannya. Dikemasnya. Masih tersisa sedikit penganan yang tidak terambil oleh suatu malam tadi. Dimakannya perlahan sambil kembali berjalan ke legokan di atas. Kembali memikirkan bagaimana tali itu dapat tersisipkan pada legokan batu. Hari berlangsung dengan cepat tanpa dirasa bila ada yang dikerjakan. Begitu pula yang dirasakan oleh Paras Tampan. Tidak terasa senja telah kembali datang menjelang. Dan ia boleh dikatakan hampir tidak meninggalkan legokan itu. Dicari-carinya lubang-lubang. Diketukketuknya batu. Dipanjatnya batu retak itu. Digali-galinya sedikit pasir yang terdapat dikakinya. Tapi hasilnya nihil Tak ada petunjuk sedikitpun bagaimana tali itu dapat masuk ke dalam retakan batu. Retakan itu seakan-akan begitu rapat. Tidak dapat dibuka. Tapi bagaimana tali itu dapat masuk? Makin bingung Paras Tampan dibuatnya. Tiba-tiba datang gagasan pada diri pemuda itu. Bagaimana jika sesuatu yang mencuri tali-tali dan barang-barangnya itu datang kembali malam ini. Mungkin dari balik batu itu. Baiknya ditunggu saja. Ia kemudian memilih suatu tempat agak ke atas dari retakan itu. Kebetulan di sana terdapat pula legokan mirip liang. Bisa dimasukinya dengan memanjat. Kaki duluan baru kepala. Cukup luas, tapi ia tidak bisa sampai menekut lutunya. Cukup hanya untuk berbaring. Tapi cukuplah, ini hanya untuk keperluan mengintai, pikirnya. Tunggu punya tunggu, hampir saja Paras Tampan yang terkantukkantuk itu tertidur. Kalau saja kakinya tidak kesemutan, bisa saja terulang kembali kejadian kemarin malam. Kembali tertidur saat sesuatu itu menggerayangi barang-barangnya. ”Kriiittt...!” suatu suara muncul memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jengkerik.

171 Mendengar itu semakin diam badan Paras Tampan. Diatur teratur nafasnya sehingga sedapat mungkin tidak terdengar. Diatur hawanya supaya tanda-tanda keberadaanya tidak dapat dideteksi oleh sesuatu itu. Sambil memicingkan matanya, dilihatnya bahwa batu tempat talinya tersembul dari retakan itu, terbelah. Perlahan tapi pasti sebuah liang gelap tersembul dari dalamnya. Teryata batu itu bisa berputar ke kanan dan kiri membuka. Meloncat keluar dari dalamnya beberapa orang kerdil gemuk dengan hidung yang amat panjang, dua tiga kali hidung seorang dewasa, dilengkapi dengan rambutnya yang gondrong dan kusam. Telapak kaki dan tangan mereka lebar-lebar, menandakan mereka penggenggam dan penginjak yang kuat. Paras Tampan tertakjub melihat makhlukmakhluk itu melihat waspada ke kiri dan kanan. Ia pernah membaca mengenai makhluk itu dalam salah satu kitab di rumah gurunya. Di sana disebutkan makhluk itu bernama Troll, salah satu dari makhluk-makhluk elemen tanah atau Roh Tanah, di samping Manusia Tiga Kaki, Gnomen dan Orang Gunung (Bergmnnchen). Disebut roh karena kadang mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia, seperti kekuatan dan juga kebisaan untuk menghilang atau tidur lama sekali. Para Troll itu memandang sekeliling ruang di depannya dengan waspada. Dilihatnya berkali-kali spasial di depannya. Berhati-hati agar tidak berjumpa dengan musuh-musuh mereka. Setelah yakin bahwa tiada yang mengintai mereka, para Troll itu pun beranjak pergi. Salah seorang diantaranya menggulung tali yang terjepit di retakan batu karang itu. Rupanya ia yang membawa-bawa tali itu sejak kemarin. Di pinggangnya terselip tali-tali lain milik Paras Tampan. Senang kelihatannya ia bermain-main dengan tali. Temannya pun memanggil mereka. Mereka semua kembali ke lekukan batu, di mana mereka tadi malam menemukan Paras Tampan sedang tertidur. Para Troll itu mencoba mengulangi penjelajahannya kemarin. Malam ini mereka mengharapkan Paras Tampan tidak bergerak, sehingga mereke dapat melihat-lihat dan mengambil barangnya tanpa takut-takut. Sebenarnya seorang dari mereka terlihat enggan untuk ikut. Akan tetapi atas ajakan yang lain, mau tidak mau ia turut. Lebih besar rasa ingin tahunya ketimbang ketakutannya untuk melihat lagi manusia yang tertidur di sana seperti kemarin malam.

172

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

Tersenyum Paras Tampan melihat para Troll itu menghilang di balik batuan untuk berbelok ke bawah. Di lekukan tempat ia tertidur kemarin malam telah diletakkannya berbagai perlengkapan juga anyamanyaman yang dibuatnya dari tali dan juga ranting-ranting. Mainan buat Para Troll agar mereka memberinya kesempatan untuk menyelidiki rekahan batu karang yang terbuka itu. Setelah merasa yakin bahwa Troll-trol itu sedang sibuk dengan mainan-mainan dan perlengkapan yang dibuatnya, berbegas Paras Tampan beringsut keluar dari persembunyiannya. Hampir ia terjatuh bila tidak mengingat kakinya yang masih agak kesemutan. Jatuh dari ketinggian pohon pepaya itu, benar-benar dapat membuatnya remuk. Apalagi dengan kepala terlebih dahulu menyentuh lantai tanah berbatu itu. Selah kakinya agak baikan dengan digosok-gosok perlahan, mulai ia merambat turun. Perlahan, agar tidak memperdengarkan bunyi-bunyian yang dapat memancing para Troll untuk kembali. Ia belum mengetahui bagaimana mekanisma pembukaan dan penutupan pintu karang itu. Biarlah, yang penting sekarang ia masuk dan mencari-cari di dalam karang itu. Siapa tahu di sana terdapat kitab-kitab yang dicarinya. Berbekal dengan keyakinan masuklah Paras Tampan ke dalam rekahan batu karang yang terbuka itu. Dibiarkannya dahulu agar matanya terbiasa dalam kegelapan. Tidak berani ia menggunakan obor karena takut terlihat oleh para Troll. Setelah agak lama, keadaan di dalam lorong itu ternyata tidak segelap dugaannya semula. Di dasar lorong terdapat sinar-sinar temaram yang berasal dari sejenis rumputrumputan. Rupanya para Troll sengaja menanam tumbuh-tumbuhan itu sebagai penerang jalan mereka. Benar-benar suatu pemikiran yang maju. Melengkapi lorong-lorong mereka dengan penerangan. Paras Tampan pun maju selangkah demi selangkah. Tak berani ia terlalu cepat karena tak tahu apa yang akan dihadapinya di depan sana. Lebih baik perlahan agar dapat lebih hati-hati. Sudah lebih dari sepeminum teh ia berjalan, hanya dipandu oleh rumput-rumbut yang bercahaya di dalam gelap itu. Sampai akhirnya ia menemui dua buah percabangan. Bingung hatinya. Tak tahu ia harus ke mana. ”Buk-buk-buk-buk..!” tiba-tiba terdengar langkah-langkah datang dari belakangnya. Terkejut Paras Tampan mendengar hal itu. Pasti

173 itu para Troll yang telah bosan dengan hal-hal yang ditemuinya, dan mereka sekarang akan kembali ke dalam tempat tinggalnya ini. Paras Tampan berpikir keras dan cepat, kemana ia harus beranjak. Harus dipilihnya satu dari dua percabangan ini, ke arah ke mana para Troll itu tidak akan berjalan. Tapi tak ada panduan ke arah mana mereka akan menuju, sehingga ia bisa mengambil arah yang berlawanan. Cepat diperhatikannya kedua lorong di hadapannya itu. Lorong yang kiri tampak agak terang karena terdapat masih rumput-rumput penunjuk jalan yang ditanam di kiri dan kanannya, sedangkan lorong sebelah kanan tampak lebih suram. Malah boleh dikatakan tak ada tanaman berkilau dalam gelap itu di dalam lorong tersebut. Akhirnya dengan dasar bahwa lorong itu tidak digunakan, ia berjalan cepat memilih lorong yang kanan. Lorong yang sering digunakan haruslah ditanami rumput-rumput itu, begitu pikirnya. Dengan tersandung-sandung Paras Tampan berjalan memasuki lorong yang gelap itu. Sampai suatu saat tangannya menyentuh suatu legokan dalam dinding batu. Ditariknya badangnya untuk merapat dalam legokan itu. Dari sana masih dapat dilihatnya percabangan yang tadi. Bersinar temaram karena adanya Rumput-Rumput Berkilau Dalam Gelap di sana. ”Buk-buk-buk-buk..!!” terdengar langkah-langkah mereka semakin dekat. Sampai di persimpangan itu rombongan itu berhenti. Hal ini dikarenakan Troll terdepan menghentikan langkahnya. Nampaknya ia ingin berjalan ke arah di mana Paras Tampan bersembunyi. Berdegup Paras Tampan melihat adegan ini. Bila mereka berarah ke sini, bisa tertangkap dirinya. Uratnya pun menegang. Bersiap-siap untuk halhal yang akan terjadi. Tampak teman sang Troll menggoyang-goyangkan tangannya sambil menunjuk-nunjuk arah lorong yang lain. Digeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan hendak mengatakan bahwa jangan memasuki lorong di sebelah kanan itu. Sebaiknya kita cepat kembali pulang, kira-kira katanya. Akhirnya Troll yang paling depan itu pun menurut, dan mereka mulai berjalan kembali melewati lorong yang sebelah kiri. ”Buk-buk-buk-buk..!” suara langkah-langkah itu terdengar lamatlamat menjauh dan menghilang. Sunyai. Hanya tinggal suara

174

BAGIAN 3. HAKIM HAUS DARAH

degug jantung Paras Tampan yang masih dapat dirasakannya sendiri. Perlahan-lahan dilepaskannya ketegangan itu. Duduklah ia untuk mengatur napasnya. Sunyi dan sepi, juga gelap. Setelah ketenangan dan keberaniannya pulih kembali Paras Tampan berdiri. Mulai memperhatikan lorong di mana ia berada. Di arah berlawanan dengan percabangan itu tak dilihatnya sama sekali apapun. Benar-benar gelap gulita adanya. Akhirnya diputuskan untuk kembali ke percabangan, mengambil berapa Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap untuk dijadikan penerangan. Tak dapat ia berjalan begitu saja dalam gelap. Dengan hati-hati ia kembali ke percabangan itu. Diambilnya sedikit rumput dari sejumput yang ada, begitu pula dari jumput lainnya. Tak ingin ia mengambil banyak dari satu jumput. Bisa ketahuan nanti kalau ada yang mencabut jumput itu. Paras Tampan telah memperhatikan bahwa jumput-jumput itu ditanam pada ukuran yang kirakira sama berjarak satu sama lainnya. Benar-benar ditanam beraturan. Sudah cukup banyak rumput-rumput di tangannya, Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. Dilangkahkan lagilah kakinya kembali ke lorong sebelah kanan yang sama sekali gelap itu. Kali tidak terlalu karena telah ada rumput-rumput sebagai penerangan itu di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah dengan melihat langkah-langkahnya dibantu rumput-rumput itu. Lorong itu ternyata berbeda dengan lorong sebelum percabangan. Dindingnya lebih halus dan terbuat dari bahan yang terlihat lebih keras dan dingin tapi kering. Akibatnya dirasakan juga tubuhnya sedikit agak menggigil saat melalui lorong itu. Berjalan ia perlahan-lahan tanpa tahu kapan atau apa yang akan ditemuinya nanti. Waktu pun berlalu dengan amat lambat dalam lorong yang gelap itu. Paras Tampan akan tetapi tidak putus asa. Tak ada jalan lain, lebih baik ia terus menyusuri lorong ini. Untuk kembali resikonya lebih besar, yaitu selain akan bertemu Troll, juga ia belum tahu bagaimana cara membuka batu karang yang retak tengahnya itu. Bisa dikatakan

175 jalan kembali tak ada kesempatan. Tak berapa lama dilihatnya seperti ada cahaya di depan sana. Lamatlamat. Ia bergegas berjalan cepat. Ada pintu keluar, pikirnya. Kegembiraan itu menurunkan kewaspadaanya, sehingga tiba-tiba, ”dukkk!” Kepalanya terantuk dengan langit-langit lorong. Rupanya lorong itu sedikit memendek dan jalan di bawahnya menanjak. Karena cahaya datang dari tengahnya masih temaram, tak dilihat Paras Tampan perubahan itu. Setelah mengusap-usap kepalanya yang agaknya benjol, Paras Tampan mulai agak berhati-hati berjalan. Untung itu hanya langit-langit, bagaimana bila lubang atau jurang. Sudah mati dia bisa-bisa. Lorong itu pun bertambah pendek sehingga ia harus merangkat untuk melewatinya. Akan tetapi cahayanya yang terlihat dari ujung sana semakin jelas dan terang. Ini menambah semangat Paras Tampan untuk terus melangkah, akan tetapi tetap dengan hati-hati. Setelah merangkak beberapa saat sampailah Paras Tampan di suatu ruang yang cukup lapang. Ruang itu terbuat dari batu cadas dengan tinggi kira-kira lima kali dirinya dan seluas sebuah sawah kecil. Udaranya bersih dan cahaya yang dilihatnya berasal dari lubang-lubang pada dinding batu sebesar pelukan tangan orang dewasa. Puluhan lubang terdapat di dinding batu berlawanan arah dengan lorong yang membawanya ke ruangan itu. Seperti jendela saja layaknya lubang-lubang udara itu terpasang pada dinding batu tersebut. Seakan-akan terpancing dengan adanya cahaya tersebut berjalan pelan Paras Tampan menyeberangi ruangan menuju jendela-jendela alam itu. Di luar sana, dibalik dinding batu cadas besar tebal dan berlubanglubang alami itu, sedikit dapat diintip oleh Paras Tampan hanya langit dan awan putih yang terlihat. Di kejauhan baru dilihatnya pepohonan dan juga sungai serta sawah. Lain tidak. Dicobanya untuk merampat naik ke salah satu lubang-lubang itu. Ingin dilihatnya hal lain yang ada di ujung sebelah sana. Perlahan ia merangkak. Pelan. Sampai dua tombak lebih, sampailah ia di ujung sana. Hampir loncat jantungnya saat menyadari bahwa lubang-lubang itu bermuara pada suatu tebing yang tinggi di Gunung

terdapat semacam anak tangga. Tiba-tiba ia bersorak girang. Anak tangga pertama lebih . di dinding di mana terdapat jalan masuk ke ruangan ini. Bergegas ia bergerak mundur mendekati lubang-lubang jendela. dipanjatnya dinding tempat lubang-lubang jendela itu terletak. Mungkin itu semacam anak tangga yang dirancang supaya lubang yang di atas itu tidak mudah dicapai. Satu-satunya jalan hanyalah mundur perlahanlahan.176 BAGIAN 3. Dua sisi lainnya selain lubang-lubang jendela dan lorong tempat ia datang tidak terdapat apa-apa melainkan hanya dinding batu cadas belaka. Awan-awan putih susu tampak sesekali menghalangi pemandangan ke pada pohonpohon hijau di bawahnya. Tiba-tiba didapatnya akal. Oleh karena tinggi dan kerasnya dinding itu tak memungkin kiranya ia untuk memanjat naik. Kemudian ia berputar kembali pada dinding di mana terdapat lorong ia masuk ke ruangan itu. Cukup lebar dan tinggi. Dicobanya untuk meloncat-loncat agar tempat yang diduganya itu lebih jelas terlihat. ada seperti anak tangga di atas itu. Paras Tampan bersorak gembira. Akan letaknya jauh di atas. Paras Tampan merangkak mundur. Diraba-rabanya dinding di hadapannya itu dengan tangannya. HAKIM HAUS DARAH Hijau. Jauh di atasnya terdapat sebuah lubang lain. Hitam dan dingin. soraknya dalam hati. Mudah karena jarak masing-masing jendela tidak berjauhan. Di hadapannya. Dengan masih merinding mengingat ketinggian dinding di mana lubang-lubang itu berada dari bawah sana. Tak terlihat karena warna dinding yang kelam dan tingginya tempat tersebut. Ada. Lubang itu terlalu kecil untuk berputar atau duduk. apa-apa yang ada di sana. Di bawahnya terdapat dinding cadas dan tinggi. Diperiksanya dengan seksama. Ia tidak bisa berputar. Lubang ke lorong terdapat di ketinggian sepinggangnya. sampai ketinggian yang dapat dicapainya. Berbeda dengan udara yang agak hangat akibat masuknya sinar matahari dari lubang-lubang itu. Sudah pasti bukan jalan keluar lubanglubang ini. Setelah memanjat kira-kira dua kali tinggi badannya. Ada pijakan atau anak tangga di ketinggian lebih dari tinggi dirinya. hampir dekat dengan langit-langit. Paras Tampan telah berada kembali pada ruang semula.

Butuh waktu lama. setidaknya setengah pinggah lebih tinggi dari daya lompatnya saat ini. Paras Tampan pun berpikir keras bagaimana naik ke atas dinding tersebut. Bila bisa. Tapi tidak cukup kuat untuk mengangkat dirinya naik. Harus ada pemecahan bagaimana caranya sehingga ia bisa melompak jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Lubang di mana jauh di bawahnya terdapat lubang tempat ia masuk tadi. Duduklah Paras Tampan terpekur di dalam ruangan yang terang dan . Benar-benar akal yang cerdik untuk membuat anak tangga melebihi pandangan orang. Berikutnya semakin rendah dan akhinya mengarah pada sebuah lubang di sampingnya. Salah satu cara adalah bahwa ia harus dapat melompat tinggi. Yang kedua setinggi dirinya dan masuk lagi lebih ke dalam.177 tinggi dari dirinya dan masuk lebih dalam ke arah dinding. Tangannya berhasil mencengkeram lantai di atas dinding itu. anak tangga berikutnya lebih rendah. Akan tetapi dalam ruangan yang kosong ini bagaimana ia dapat menemukan sesuatu untuk mendukungnya? Mungkin di lorong sana. karena selain jarak yang jauh juga karena beratnya. Ada lima anak tangga semuanya. Dan berikutnya lebih rendah lagi. Setelah sampai di tempat ia terantuk kepalanya tadi diedarkan pandangannya. Dengan berbekal pikiran itu Paras Tampan pun kembali ke lorong tersebut. Sekarang tinggal bagaimana caranya ia melewati anak tangga pertama itu. Di salah satu sudut lorong. Merangkak pelan. Agak sukar dibandingkan tadi karena sumber cahaya berada di belakangnya. Seperti dipotong dengan sengaja. Dengan berdebar-debar penuh semangat didorongnya kedua batu itu perlahan-lahan pelan tapi pasti. setelah diraba-raba ditemuinya dua buah batu yang cukup besar dan berat dengan permukaan atasnya rata. tempat dari mana ia datang tadi ada sesuatu. Kemampuan itu sulit untuk dilatihnya dalam waktu hanya beberapa saat saja. Cara lain adalah dengan mencari pijakan sehingga ia dapat merambat naik. Cara ini mungkin lebih masuk akal. Masih saja gagal. Berulang kali dicobanya. Hampir habis tenaga Paras Tampan mendorong kedua batu tersebut. Orang yang cepat putus asa tidak akan melihat anak tangga itu. Setelah berada kembali pada dinding yang dimaksud ia berusaha meloncat ringan.

Ilmu Muda Selamanya. Ia hanya pernah mendengar salah satu dari judul-judul kitab tersebut dari gurunya. Yang lebih kecil di atas yang lebih besar. Tenaga Air. agar lebih stabil. Lalu melompatlah ia dengan menjejak ke kedua batu yang menjadi tumpuannya. Rancang Jiwa Raga dan masih banyak lainnya. Perpustakaan kitab-kitab kuno. Diantaranya bernama Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Seribu Ramuan. Berhasil. Berkeringat tubuh dan wajah Paras Tampan. Gemetar pemuda itu membaca judul-judul yang ada. Kemudian ia menarik napas panjang. Pukulan Inti Es dan Salju. Tak lama kemudian pulih kembali tenaganya. Dan Sekarang . Ruangan yang seakan-akan merupakan sebuah perpustakaan. Angin-angin. Hal yang membuat Paras Tampan gemetar menahan kegembiraannya adalah bahwa selain lubang-lubang yang sama seperti dalam ruang sebelumnya yang berisikan lubang-lubang udara. Racun Selaksa Macam. Seni Beperang. terdapat pula lubang-lubang lain yang berada di antaranya. Pukulan Tanpa Tanding. Tujuh Rahasia. Juga yang berikutnya sampai yang kelima. Lubang-lubang yang berisikan berjilid-jilid kitab. Batu-batu. HAKIM HAUS DARAH berudara bersih itu. Pemuda itu melihat berkeliling. di mana lantai diatasnya paling rendah terlihat. Kemudian diangkatnya salah satu batu untuk ditumpangkannya di atas batu yang lain. Di semua dinding dalam ruangan itu bertahta lubang-lubang yang masing-masing berisikan kitab-kitab kuno. Sisi itu merupakan suatu pintu tanpa penutup yang mengarah pada suatu ruangan yang besar. Lebih besar dari ruangan sebelumnya dan lebih tinggi. Dengan cara ini ia dapat menggapai lantai itu untuk menarik dirinya. Anak tangga kedua tidak begitu menjadi masalah karena memang lebih rendah ukurannya. Sekarang tinggal saatnya memanjat naik. Dua buah batu persegi empat yang rapih terpotong itu telah berhasil didorongnya. Ia perlu beristirahat sebentar untuk beristirahat. Beratus-ratus jumlahnya. Dicobanya untuk melirik beberapa judul yang ada. Aneh-aneh judulnya.178 BAGIAN 3. Dan naiklah ia. Hitam di dalamnya dengan sedikit cahaya terlihat di sisi kanannya. Akhirnya sampailah ia di lubang yang berbentuk mirip pintu itu. tangannya sekarang dapat menggapai lantai di atas itu sampai siku. Dengan bersemangat ia geser kedua batu itu berganti-ganti mendekati dinding. menandakan banyak sudah tenaga yang dikeluarkannya untuk usaha itu. Puas melihat pekerjaannya.

” kemudian lanjutnya. Hanya mereka berdua. Ia sendiri malah bingung harus mulai belajar dari kitab apa. hari ini Paras Tampan dapat menemukan gua ini.” Bingung juga Paras Tampan mendengar cerita gurunya yang tidak jelas itu.. ”dan sekarang. gunung yang terletak di tengah Rimba Hijau. Dipelajari. apakah kamu tahu apa yang dimaksud dengan Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Angin-angin. Jika saja ia bisa menghubungi keempatnya. Atas kehendak Sang Pencipta. Batu-batu dan Seribu Ramuan? Pernahkah engkau mendengarnya?” tanya gurunya hati-hati. Tak akan kurang mereka bagi mereka berlima. ”Benar. Asap pernah menceritakan pada kami bahwa itu adalah kitab-kitab yang dibawa guru atau perintah kakek guru ke Rimba Hijau ini untuk disembunyikan. hanya pernah melihat satu kitab ilmu silat yang ditunjukkan oleh gurunya. Pemuda itu.. Gunung Hijau. ”Pernah guru. Pembicaraan yang tahu-tahu membahas keempat kitab yang hanya pernah didengarnya dari Asap itu. Jalan Selaras dengan Alam Semesta. Ia teringat akan pembicaraan dengan gurunya Ki Tapa pada suatu saat. Teringat Paras Tampan pada keempat saudara seperguruannya: Asap. pastilah diajak keempatnya itu untuk berdiam di sini. Siap untuk dilahap. Rintah dan Gentong. Sayangnya ia tidak tahu di mana mereka berempat berada.. Kitabkitab yang harus disembunyikan dari orang-orang Perguruan Atas Angin. Paras Tampan. ”Paras Tampan. Tapi itu cerita lama. Dengan berbekal ilmu beladiri tersebut ia dan saudara-saudara perguruannya secara terpisah mencari ilmu-ilmu lain yang konon katanya terdapat di gunung ini.” jawab Paras Tampan. Gua di mana tersimpan kitab-kitab ilmu-ilmu dari segala penjuru angin. Ilmu itu telah diajarkan kepadanya. Akhirnya gurunya menceritakan bahwa kitab-kitab itu telah dicuri .179 kitab-kitab tersebut berada di depan matanya. Misbaya. Itu adalah kitab-kitab titipan dari guruku Ki Makam. Ia berharap bahwa saudara-saudara seperguruannya pun seberuntung dirinya. Mempelajari bersama-sama kitab-kitab yang ada di sini. dapat menemukan kitab-kitab yang cocok bagi mereka.

pemimpin dari kaum Manusia Tiga Kaki. maka ia pun tidak begitu menaruh perhatian pada kitab-kitab lainnya. Dan sering dibawa-bawanya kitab itu. sehingga bagian kitab itu tidak sempat hilang bersama dengan kitab-kitab lainnya. karena menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Pun gurunya saat itu sebelum kematiannya hanya sempat mengajari bagaimana cara mengolah keempat elemen tenaga tersebut. Jurus Api dan Jurus Air. Sedangkan bagian kedua adalah Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang merupakan implementasi dari Jurus Air. Akibat dari pertarungan yang berlangsung lama itu. dekat dengan bagian kepala.180 BAGIAN 3. Ki Tapa hanya diajarkan kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. selain jurus air ini. Oleh karena itu Ki Tapa mencopot bagian tersebut. Huruf-hurufnya tampak dipahatkan . yang boleh dikatakan seakan-akan merupakan kitab tersendiri yang sepertinya ditambahkan belakangan. Dikarenakan oleh gurunya. Di balik tempat tidurnya. Ia tidak persis tahu bagaimana peristiwa itu terjadi. ia baru menyadari jauh hari kemudian bahwa kitab-kitab tersebut tidak lagi berada di tempatnya semula. Tulisan itu mirip prasasti. Tiba-tiba padangannya tertumbuk pada sesuatu tulisan di dinding. Jurus Tanah. Kembali Paras Tampan dari kenangannya diperhatikannya sekarang dinding di mana kitab-kitab yang menggoda untuk dipelajari itu bertengger. Entah kenapa tidak ada bagian lain dari kitab yang menerangkan penggunaan jurus-jurus lainnya. Kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa ternyata terdiri dari dua bagian. Hanya diingatnya sebelum dan sesudah ia menyadari bahwa kitab-kitab itu tidak berada lagi pada tempatnya. HAKIM HAUS DARAH darinya. saat ia baru masuk ke dalam Rimba Hijau. Bagian pertama berisikan cara-cara mengolah keempat macam elemen sebagai tenaga yang tertuang dalam jurusjurus: Jurus Air. Entah oleh siapa. Kebetulan saja Ki Tapa mencobot bagian tersebut. Tidak pernah disinggungnya ada bagian penggunaan dari Jurus Air pada bagian belakang kitab tersebut. telah terjadi pertarungannya antara dirinya dengan Hitam-Putih. Kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta yang ada di tangan gurunya saat itu adalah potongan bagian akhir dari kitab Jaga Kesehatan Tubuh dan Jiwa. Dinding di pinggir rongga atau lubang tempat menyimpan kitab-kitab itu.

Semakin ke bawah. Sudah sejak malam kemarin ia belum beristirahat. Untuk menunaikan tugas. Penjaga Keseimbangan. Seperti ditulis seseorang dalam saat-saat terakhir hidupnya. Arahnya tidak rata tiap barisnya. Dengan hati-hati ia mengikuti lorong itu sampai tiba di suatu tempat terbuka yang . Teringat itu. pelajari hanya ilmu-ilmu yang masih murni. Sedari waktu itu.. judul-judul kitab yang ada. Dilihatnya kembali berkeliling.181 dalam keadaan yang buru-buru.. Di sana tertulis. Hanya lambang-lambang aneh di awal tulisan yang kemudian terlihat olehnya. Bertanya-tanya juga Paras Tampan dalam hati apa kelanjutan dari kalimat ”Jangan lupa untuk. Minta untuk diisi.”. Tapi kemudian hal itu dilupakannya karena ia lebih tertarik untuk melihat di lain tempat.. Tidak ada. biar ada gambaran ilmu-ilmu apa yang tersedia di dalam ruangan itu. Badannya juga terasa lelah. Jangan lupa untuk. semakin miring dengan guratan yang tidak lagi dalam. Sedikit berliku dan tidak terlalu gelap keadaannya. Bacalah itu pada kitab-kitab awal. berlawanan dengan ujung lain tempat ia masuk ke ruangan yang penuh dengan kitab-kitab itu Paras Tampan menemukan semacam lorong lain. Lapar. Lambang-lambang yang mirip dengan lambang-lambang yang pernah dijelaskan gurunya. Ia yang berjodoh harus meneruskan apa yang sudah kumulai. Setelah hampir setengah hari melihat-lihat dirasakan bahwa perutnya telah berkukuruyuk. ia berarti berjodoh untuk menjadi muridku. ”Bagi seorang manusia yang bisa membaca tulisan ini. ada baiknya ia membaca dulu semua judul-judul yang ada. belum ada makanan yang dilewatkan ke lambungnya. Di salah satu ujung ruangan. Paras Tampan melupakan dulu kitab-kitab itu untuk mencari apa-apa yang bisa dimakan untuk menyambung hidupnya di tempat itu. Dicobanya lagi mencari-cari apa-apa yang dapat dijadikan petunjuk pada sambungan tulisan itu di sekitarnya. Untuk sementara tulisan pada dinding itu tidak diambil pusing.. Tampak seperti sang penulis telah tidak lagi memiliki kemampuan untuk menuliskannya.” Tulisan tersebut berhenti di sana. Sepanjang malam ia lewatkan di dalam terowongan hingga sampai ke ruangan ini. Sebelum ia belajar.

Dan hal ini memang cocok dengan keadaan ikan ini. Dan ”tak-tak” beberapa buah-buahan yang ranum itu terjatuh ke dalam air. Mirip seperti semacam balkon alam yang terbuat dari batu dengan pandangan tebing ke bawah pada sisi kirinya dan dinding tebing menjulang tinggi pada sisi kanannya. Dan sebelum Paras Tampan sempat berpikir bagaimana cara mencapai buah-buahan yang menarik hatinya itu. Di mana pada siripsiripnya yang seperti kipas terlihat lubang-lubang. Benar-benar ikan yang mengagumkan karena tubuhnya dipenuhi dengan sisik-sisik kasar seperti batu. Ranum dan segar kelihatannya. Akan tetapi dengan menggunakan kecipakan air yang masih melekat ditubuhnya ikan tersebut mengibas sedemikian rupa sehingga percikan-percikan air melesat bagai butiran-butiran batu. . Ditambah dengan laparnya. ingin ia meraih untuk memakannya. tiba-tiba dari dalam air yang jernih itu melompat seekor ikan berduri yang cukup besar. Tebing tinggi seperti dalam arah ia datang tadi. Sungai yang keluar dari lubang. tidak cukup tinggi sehingga ia dapat mencapainya. Warna tubuhnya biru tua keunguan. yang dalam suatu bahasa (Yunani) berarti duri berlubang pada sirip. Matanya melirik pada sesuatu agak ke atas dari arah padangan matanya. Sesuatu itu adalah buah-buahan yang tergantung pada pohon yang tumbuh pada dinding batu di mulut sungai. Sungai Batu Jernih. Ikan Kolakan itu dengan tangkas melompat ke arah buah-buahan itu. Dari gurunya ia pernah diceritakan adanya sejenis ikan purba berciri demikian yang bernama Kolakan (coelacanth). Pesat menuju buah-buahan itu. air terjun dan juga lubang-lubang pada dinding batu di seberangnya tidak terlalu menarik Paras Tampan. HAKIM HAUS DARAH cukup luas. Mengambang.182 BAGIAN 3. Di seberang sungai tersebut terdapat lagi dinding tebing yang tinggi dengan banyak lubang-lubang gelap di permukaannya. Sebuah sungai jernih dan dalam membelah pelataran batu tersebut. Belum pernah Paras Tampan melihat ikan seperti itu sebelumnya. Hampir seukuran dirinya. Sungai itu mengalir keluar dari lubang besar di dinding sebelah kanan dan jatuh membentuk air terjun pada sisi sebelah kiri. Ekor dan sirip-siripnya berbentuk kipas. Matanya besar.

183 Alih-alih memakannya ikan besar itu menyundulnya dengan mocongnya dan melemparkannya ke hadapan Paras Tampan. Tertegun pemuda itu melihat hal tersebut. . Tak tahu ia apa yang seharusnya dilakukan.

HAKIM HAUS DARAH .184 BAGIAN 3.

Bagian 4 Penjaga Keseimbangan Sementara itu. dan kemudian dilontarkannya kembali buah-buahan ke hadapan Paras Tampan. Lembut menyegarkan. Ragu-ragu Paras Tampan mengambil sebuah darinya. ikan Kolakan tersebut kembali mengulangi beberapa kali pertunjukkan yang luar biasa itu sampai didapatnya kira-kira enam butir buah-buahan dari pohon itu. Terlihat sekilas di dalamnya terdapat rongga-rongga yang tak terhitung 185 . Ke sungai dalam tebing batu itu. Dan peristiwa ”diberi makan” oleh seekor ikan menumbuhkan kepercayaan bahwa buah-buahan itu tidaklah beracun. Seakan-akan ikan tersebut menunggu sang pemuda untuk memakan buah-buahan yang diberikannya. Akhirnya dicobanya untuk untuk memakan buah yang telah digenggamnya itu. Masih di sana ikan Kolakan itu mondar-mandir dalam sungai yang jernih. Perutnya telah lapar. atau ke dalam rongga-rongga batu di dalam sungai jernih tersebut. Seketika dirasakannya asupan tenaga yang sedari kemarin malam belum diperolehnya. Manis dan berair. Entah kemana. Melihat itu sang ikan pun kemudian berkecipak pelan dan kemudian menghilang. Diperiksanya perlahan-lahan. Ia seakan-akan ingin berkata bahwa buah-buahan itu dapat dimakan oleh sang pemuda. Digigitnya perlahan. Mirip buah pir bentuknya akan tetapi harum seperti durian dengan warna yang biru memikat.

Senyum Troll tidak terlihat sebagai senyum bagi makhluk lain. Bahkan menambah seram bagi yang melihatnya. Pulas. Tiba-tiba saja datang rasa kantuk.” kata seorang dari mereka. Troll. ”Hehehe. ”Bukankah ini pemuda yang kemarin?” tanya yang lain. Dibawanya kembali ke ruangan tempat terdapat kitab-kitab yang berjajar dalam lubang-lubang di dinding. Paras Tampan tak dapat menahan rasa itu.186 banyaknya. Mungkin karena kelelahan dan juga pengaruh dari buah yang dimakannya itu. betul.” kembali kata orang pertama. PENJAGA KESEIMBANGAN Setelah habis satu butir tersebut Paras Tampan pun membungkus buah-buahan yang tersisa hasil pemberian ikan tersebut dengan baju luarnya. .” jawab orang ketiga dari mereka sambil tersenyum. Tidak seperti kemarin dalam lorong gelap yang diterangi Rumput-rumput Berkilau Dalam Gelap. di mana mereka berjalan dengan langkah-langkah berat dan berdebam. Ia pun tak lama kemudian mendengkur. BAGIAN 4. Seakan-akan tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang terlihat gempal dan berat. Pemuda yang bermalam di lereng di luar sana. ”Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas baru saja memberi tahu ada seorang pemuda datang dari arah Ruang Kitab. kali ini mereka berjalan ringan perlahan. Muncul beberapa sosok orang bertubuh gemuk pendek dengan hidung yang panjang serta berambut kusam.” ”Bukankah adik Gobagkh telah menunjukkan bahwa ada seseorang yang berjalan ke lorong sebelah kanan kemarin malam?” tanya yang lain. Telapan kaki dan tangan mereka lebar-lebar dan kuat. Beberapa sosok makhluk itu berjalan hatihati mendekati Paras Tampan. ”Seorang pemuda yang cerdik. Akhirnya diputuskan untuk tidur di salah satu pojok ruangan tempat penyimpanan kitabkitab itu. Langkah-langkah ringan hampir tak terdengar mendekat perlahan. ”ia bisa mengecoh kita untuk bermain-main dengan barang-barangnya sementara ia masuk ke sini. Sesampainya di sana.

” tegas salah seorang dari mereka. mengapa makhluk-makhluk itu tak mau menampakkan diri kepadanya. untuk naik tangga dalam Ruang Dinding Berlubang. sayuran tanpa daging dan nasi. Tak sampai mereka mencapai Ruang Kitab. Biarkan nasib yang membawa mereka. Mulai saat itu jika tidak diberi makan oleh ikan Kolakan yang dipanggil Ikan Berduri Bersirip Kipas sebagai kakak oleh para Troll.?” tanya seseorang dari mereka. Kemudian ditemukannya tulisan pada salah satu kitab yang sepertinya merupakan buku harian dari orang yang menuliskan guratan pada dinding. Membaca demikian. Paras Tampan mendapatkan bungkusan makanan yang terdiri dari buah-buahan. Dalam kitab tersebut dituliskan bahwa orang yang berjodoh akan ditemani dan diberi makan oleh ikan Berduri Bersirip Kipas dan para Troll. Guratan yang belum selesai itu.187 ”Benar.” kata seorang yang lain. pinggir sungai jernih dan dalam di tengah pelataran batu tersebut.” kata temannya. Dengan tidak mengambil banyak pusing terhadap keanehan-keanehan . seperti janji kita pada Maling Kitab atau yang lebih senang disebut Penjaga Keseimbangan. bahwa dirinya tadi telah jadi bahan pembicaraan beberapa sosok Troll. kakak Rawarang.. ”Kita layani dia. tapi kakak Bagadsh sudah memerintahkan bahwa kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang masuk ke lorong sebelah kanan. ”Tapi pemuda ini benar-benar beruntung dan juga cerdik. Mula-mula ragu-ragu ia memakannya.” ”Jadi. Sudah bisa selamat dari Lorong Panjang Gelap. Akan tetapi rasa laparnya menang. Toh kita sudah sering membersihkan orang-orang yang akhirnya mati kelaparan di sana. Hanya herannya ia. yakinlah Paras Tampan bahwa yang memberikan bungkusan makanan itu adalah makhluk-makhluk Troll itu. Rekan-rekan yang lain menangguk-angguk. Lalu mereka kemudian beringsut pergi dengan ringan. Tak tahu dirinya. Meninggalkan Paras Tampan yang masih tertidur pulas di salah satu sudut Ruang Kitab. ”benar-benar berjodoh. Kemudian bahkan bisa mencapai Ruang Kitab dengan menggunakan dua buah Batu Persegi yang disembunyikan itu.

Awalnya takut juga Paras Tampan berlatih di dinding sebelah luar. Sejalan dengan semakin berkembang ilmu yang dipelajarinya. Dengan ketinggian yang menggiriskan Paras Tampan berlatih naik dan turun kembali pada dinding. Dengan cara ini ia dapat merampat naik dan turun pada dinding itu. cengkeraman. Tahapan ini baru boleh dilakukan setelah orang yang belajar kitab tersebut yakin bahwa cengkeraman dan pijakannya kuat pada dinding dan lubang-lubang itu. PENJAGA KESEIMBANGAN yang ditemuinya. berpijak pada lubang-lubang yang ada. Ruangan sebelah yang disebut sebagai Ruang Dinding Berlubang oleh makhluk-makhluk Troll ternyata berperan dalam salah satu latihan yang dituliskan dalam Kitab-kitab Awal. Setelah cukup mahir untuk naik sampai langit-langit. Akan tetapi karena pada dasarnya latihan yang sama. Ditelusurinya dulu kitab-kitab yang disebut-sebut dalam Guratan Di Dinding sebagai Kitab-kitab Awal. Kadang kepala di atas kadang di bawah. se- . Dengan menggunakan lubang-lubang tersebut dengan masih berada di dalam ruangan Paras Tampan belajar memanjat naik dan turun. Tak terasa bahwa ilmu memanjat dinding. Tidak terlalu banyak yang dipelajari akan tetapi telah cukup memiliki kehebatan. pijakan sekaligus meringankan tubuhnya berkembang dengan pesat.188 BAGIAN 4. Latihan di bagian luar ruangan itu. untuk kemudian masuk dan keluar pada lubang lainnya. Paras Tampan dapat menghemat waktu. Lebih lanjut pada lubang-lubang. Petunjuk mengenai kitab-kitab tersebut ditemuinya pada akhir dari buku harian sang penulis Guratan Di Dinding. selain disertai bahaya untuk jatuh. juga adanya angin menyebabkan tangan dan kaki harus lebih kuat mencengkeram dan berpijak. Dengan mempelajari Kitab-kitab Awal yang merupakan dasar dari kitab-kitab lainnya. Dengan melalui latihan ini Paras Tampan dapat masuk keluar suatu lubang dalam dinding dengan cepat. Paras Tampan mulai membaca-baca kitab-kitab yang ditemuinya. akhirnya dapat ia menekan rasa takutnya. Ia harus terlebih dahulu merangkak dalam salah satu lubang untuk mencapai ujungnya di dinding sebelah luar. baik di luar dan di dalam ruangan terpahatkan simbol-simbol kecil yang menjadi urut-urutan lubanglubang mana yang harus dipanjat atau dilalui. latihan selanjutnya dilakukan di sisi luar dari dinding.

yaitu kulit binatang berbulu. jika ia merasa bosan mempelajari Kitab-kitab Awal. tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itu sebelum tamat. Tak terasa waktu satu tahun pun berlalu. . Para Troll hanya memberikan bahan pakaian untuk dijahitnya sendiri setiap dua atau tiga bulan. Walaupun demikian sering dicuci rambut dan badannya dengan cara mandi berendam di Sungai Batu Jernih. Pohon-pohon yang tumbuh lebih rendah. Badannya menjadi tampak pas sekali. Paras Tampan sebagai orang yang sedang belajar. Berdasarkan tulisan dalam salah satu Kitab-kitab Awal. Dengan tidak memakan daging. Untuk pakaian. Badannya berisi. saat mereka merasa pakaian yang dikenakan pemuda itu sudah tidak terlalu baik. Pemuda itu. Hal itu termasuk menyeberangi sungai atau masuk ke dalam lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih. Dikonsentrasikan pikirannya untuk benar-benar menyerap ilmu-ilmu yang tertuliskan ataupun tersirat dalam kitab-kitab yang dikenal sebagai Kitab-kitab Awal. Jauh lebih tinggi dari pohon yang dapat dikecipak dengan air oleh sang ikan Kolakan. Tumbuh panjang dan digelungnya asal saja. Paras Tampan. para Troll pun menyediakan bahan-bahan seperti yang mereka pakai. tampak semakin tegap. Yang penting nyaman dan hangat dipakai. Mengambil buah-buahan pada pohon yang terletak lebih tinggi pada dinding di atas lubang tempat keluarnya Sungai Batu Jernih tersebut. Tidak terlalu banyak. hanya buah-buahan dan sayur yang disediakan oleh para Troll disertai latihan-latihan yang keras. benang dari rumput-rumputan dan pisau batu untuk memotong. Ia sekarang harus memanjatnya sendiri sekarang. Sudah setengah waktu yang diberikan gurunya untuk berguru di atas Gunung Hijau. Dan Paras Tampan pun mematuhi peraturan itu. Kitab-kitab lain hanya dilihatnya sepintas. membuat otot-ototnya tumbuh dengan baik. Entah binatang apa. tidak terlalu gemuk dan juga tidak terlalu kurus. Hanya mungkin rambutnya saja yang tidak terlalu diurus. telah habis buah-buahannya. terdiri dari jarum yang berasal dari tulang.189 makin jarang pula ikan Kolakan tersebut menyediakan buah-buahan itu. Sederhana tapi cukup memadai. Benar-benar menjadi pemuda yang menarik hati dengan wajah yang selalu ceria. Peralatan menjahit disediakan mereka.

Bukan hanya sekedar mencipak-cipuk air belaka. Ditenggelamkan lagi dirinya pada pelajaran-pelajaran yang disebutkan dalam Kitab-kitab Awal. Undinen misalnya. malah makanannya dengan dibungkus rapat dengan daun-daun agar isinya tidak basah. PENJAGA KESEIMBANGAN Dan selama itu pula para Troll belum sekalipun menampakkan dirinya. Sang ikan pun berkecipak-cipuk. Dan hal ini adalah yang dilakukan oleh ikan Kolakan saat ia dulu memyambit buah-buahan dari pohon yang tumbuh pada dinding mulut Sungai Batu Bening. Salah satu pelajaran yang menarik adalah bagian dari kitab Pukulan Inti Es dan Salju. Perlu ia pergi ke daerah yang benarbenar dingin untuk melatihnya. Dan untuk belajar jurus itu. Ke daerah di mana terdapat roh-roh air. Alih-alih. Akhirnya Paras Tampan pun menyerah. Petunjuk yang diperoleh tidak mengharuskan ia untuk mempelajari Pukulan Inti Es dan Salju secara menyeluruh karena selain lama. melainkan membekukannya untuk kemudian disambitkan dengan gerakan ekornya. tak lagi ia mencoba untuk menunggu-nunggu mereka hanya sekedar untuk melihatnya. Tapi mereka tidak munculmuncul. Mengambil energi dari hawa dingin itu untuk diolahnya membekukan sepercik air dan disambitkan. dimana disebutkan bahwa orang bisa menggunakan air yang disertai dengan hawa dingin sehingga menjadi butirbutiran es untuk dilontarkan. Sentilan Kelereng Es. Pernah sekali waktu Paras Tampan ingin melihat makhluk-makhluk yang selama ini menyediakannya makan. Ikan Kolakan sendiri sebenarnya dapat dipandang memiliki sedikit hawa dingin sehingga bisa secara alami melakukan jurus Sentilan Kelereng Es. Tempat di mana Paras Tampan saat ini berada lebih .190 BAGIAN 4. Benar-benar mengagumkan. ditunggunya mereka di luar ruangan. Paras Tampan harus berendam dalam Sungai Batu Bening pada saat-saat di mana udara benar-benar terasa dingin. seakan-akan mengatakan bahwa belum saatnya untuk bertemu dengan para Troll. Di tepi Sungai Batu Bening. Akan tetapi ia tidak sehebat roh-roh air dalam menyimpan hawa dingin. juga tempat ini tidak sesuai untuk melatih jenis pukulan tersebut. dilontarkan oleh ikan Kolakan. Jurus ini hanyalah sebagian kecil dari jurus yang tersimpan dalam kitab Pukulan Inti Es dan Salju.

Toh. Tenaga Tanah secara tak sengaja dilatih Paras Tampan dengan memperkuat pijakan-pijakan. para Troll. Tiba-tiba terdengar siulan tinggi rendah. akan tahulah mereka. Bila iya. sesuai dengan petunjuk dari kitab tersebut. Memberinya petunjuk lebih jauh. Dengan cara ini ia bisa meminjam tenaga bumi untuk memindahkan berat tubuhnya ke arah yang ia inginkan. Siang sudah belalu setengahnya. Secara pribadi tak mau Paras Tampan menunggu lebih lama. Pada saat itulah makhluk-makhluk itu akan menampakkan dirinya. ia akan bertemu dengan para Troll untuk diuji apakah ia telah cukup mahir dalam memiliki gerakangerakan dasar untuk melatih Tenaga Tanah. Waktu yang diberikan gurunya tidak tersisa banyak lagi. Matahari telah condong ke arah mana ia akan beranjak sembunyi. ia harus kembali melatih gerakangerakan tersebut. Apabila ia berlatih serius. cengkeraman dan panjatan-panjatan. Contoh dari mereka adalah para Troll dan Manusia Tiga Kaki. Termasuk di dalamnya keluar masuk lubang-lubang dalam Ruang Dinding Berlubang dan juga Sentilan Kelereng Es. Hari ini. Senja pun tiba. Ia ingin dirinya siap untuk menerima petunjuk akan tahapan berikutnya. Otaknya . Semua seakan-akan ingin membuatnya bertanya-tanya atau penasaran dalam hatinya. satu hari latihan tidak akan mengubah hasil dari latihannya selama setahun ini. Yang terakhir ini pernah diceritakan gurunya. Akan tetapi itu belum Tenaga Tanah yang sebenarnya. Sang Ikan Kolakan pun tidak tampak batang hidungnya. Belum ada tanda-tanda kedatangan para Troll. Untuk memperoleh Tenaga Tanah perlu bantuan Roh-roh Tanah. Menurut petunjuk yang dibacanya. Dikosongkan pikirannya dan ditenangkan hatinya dengan Mengheningkan Cipta. kapan ia siap untuk dilatih. Juga apabila dirinya dinyatakan belum siap. ingin ia cepat memasuki tahap berikutnya. para Troll akan mengajarinya. Dengan menggabungkan kedua unsur. sesuai dengan tahapan yang telah ia pelajari dari petunjuk mengenai Kitab-kitab Awal. Akan tetapi bila ternyata ia belum siap.191 dikategorikan sebagai tempat Roh-roh Tanah. Sengaja hari itu Paras Tampan tidak berlatih berat. Tenaga Air dan Tanah dapat diciptakan hawa dingin.

Berjalan seorang dari mereka ke arah air dalam Sungai Batu Jernih. ia hanya mengerti bahwa ia diminta datang ke pinggir Sungai Batu Jernih. menggapai Paras Tampan agar mengikuti mereka. makhluk-makhluk Troll yang berada pada sisi lain Sungai Batu Jernih. Menyebar lambat. Tidak berhenti sampai di sana. Sekarang terlihat semacam jalur dari es yang melayang di atas air. Dan kemudian muncullah seperti bongkah-bongkahan es.. PENJAGA KESEIMBANGAN bereaksi seakan-akan ia mengerti arti dari siulan itu. bekuan es itu merampat perlahan menyebar kembali ke hulu Sungai Batu Bening. Tampak ia berkonsentrasi sebentar dan kemudian datanglah sang Ikan Kolakan. Tampaklah wujud sang Ikan Kolakan. Jauh memanjang sampai ke seberang sungai tersebut. Tak tahu apa yang dilakukan. Paras Tampan pun berdiam diri. Perlahan tapi pasti. Lalu terlihatlah apa yang menurut Paras Tampan benarbenar mengagumkan.!” lalu terdengar bunyi air diganggu. Di seberang sungai sana tampak berjejer beberapa makhluk Troll.192 BAGIAN 4. Ikan yang dipanggil sebagai Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas oleh para Troll. Keduanya tampak melihat pada arah yang sama. . Memasuki gua batu di tengahnya. Tak jauh melebar melainkan memanjang. Paras Tampan tidak menyadari bahwa ilmu-ilmu yang dipelajarinya secara bawah sadar menumbuhkan inderanya sehingga siulan semacam itu menjadi memiliki arti. Tidak tersurat apa yang harus dilakukannya setelah berada di tempat itu. Ia juga menjadi bagian dari pemeriksaan kesiapan Paras Tampan untuk tahapan pembelajaran berikutnya. Dari siulan tadi. Sesampainya di sana bergetar pula hatinya. Gagah walaupun terlihat tidak terlalu besar. Menunggu. Membesar. ”Kecipak. Garis mendatar menghubungkan kedua sisi sungai dan garis tegaknya menuju ke sisi dalam gua di hulu sungai. Ia pun beranjak menyusuri lorong yang menuju ke Sungai Batu Jernih. Berjajar menatap dirinya. mencapai sisi di mana Paras Tampan berdiri. Membentuk huruf ’T’ terbalik. Seorang dari mereka. Orang biasa yang mendengarnya tidak akan dapat menangkap maksudnya tanpa diberitahu terlebih dahulu.

Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. Mereka masih berjalan beberapa saat sampai ada semacam pantai atau dataran di ujung sana. agar tidak ada yang mengikut mereka masuk ke dalam gua itu. Padahal apabila dibayangkan. Ia tidak tahu apa yang mereka lakukan.193 Satu per satu dari mereka melangkah di atas Pematang Es itu. Masih ada dua makhluk Troll sesudahnya. Selain malam telah menjelang. Mungkin merusakkan Pematang Es yang mereka lewati. Paras Tampan kemudian mengikut mereka berjalan di atas Pematang Es itu menuju gua di hulu Sungai Batu Jernih. Paras Tampan tidak berada paling belakang. Paras Tampan dan para makhluk Troll telah . di mana Sungai Batu Jernih berasal dari belokan sebelah kiri dan kanan dataran tersebut. Sekarang keadaan telah berubah menjadi gelap. Awalnya tak mudah untuk menjejakkan kaki dengan mantap di atas Pematang Es. Dihiasi dengan Rumput Berkilau Dalam Gelap pada dinding-dindingnya. Dataran itu cukup luas. Troll yang didepan masih saja membuat Pematang Es yang baru. tidak akan bisa masuk ke dalam tempat ini. Terlihat sengaja di tanam dan dengan lantainya yang merupakan air belaka. Cepat berubah kedudukan apabila tempat pijakannya berubah posisinya. Kecil dan di ujungnya tercurah dari lubang-lubang di atasnya. bersama-sama dengan sang Ikan Kolakan. Kanand dari arah ia tadi datang. perlahan tapi pasti. Benar-benar ruangan yang memukau. Pintu masuk gua yang berada di tengah sungai yang cukup dalam tersebut tidak menggambarkan bahwa di dalamnya terdapat sungai bawah tanah yang cukup lebar dengan ruangan di atasnya mencapai tiga sampai empat tombak lebih tingginya. Bagi orang yang tidak bisa berjalan di atas Pematang Es atau tidak memiliki perahu. Tak terlihat goyangan yang berarti. Dengan cara ini Paras Tampan akhirnya dapat mengikuti langkah makhluk-makhluk Troll itu memasuki gua di ujung kanan sana. tapi pengalaman latihannya di Ruang Dinding Berlubang membuat kakikakinya berpijak kuat dan juga lemas. juga karena mereka telah berada di dalam gua di hulu Sungai Batu Jernih. tidak cocok dengan postur tubuh mereka yang tampak besar dan berat.

Ada beberapa lubang yang cukup besar di atas langit-langit ruangan itu. Tapi pertanyaan dalam hatinya itu terjawab selang tak berapa lama. Salah seorang Troll tua yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagadsh. menerangkan ujian yang akan diterima oleh Paras Tampan. dapat dilakukan dalam waktu dua setengah hari. Paras Tampan harus bisa melampauinya dan masuk ke dalamnya. Tidak ambil pusing lagi pada Paras Tampan dan rekan-rekannya. Dan mereka berharap pula bahwa ia bisa menyelesaikan tahapan berikutnya. Ikan Kolakan. Ujian ini lebih berat dari latihan yang pernah dilakukannya di Ruang Dinding Berlubang. Mulanya Paras Tampan agak bingung juga. Kakak Ikan Berduri Bersirip Kipas. yaitu berjalan di atas Pematang Es telah dilampaui. tapi belum pernah yang tegak seperti ini. Setelah tak ada tanggapan dari Paras Tampan. Umumnya ia melakukan latihan dalam lubang-lubang mendatar atau miring. Lalu ditambahkan bahwa proses untuk mecapai ruangan yang ada di atas itu. Dua kelompok bergerak ke sisi kiri dan kanan dataran dan duduk Mengheningkan Cipta. Mereka membagi dirinya menjadi tiga kelompok. Jadi pemuda itu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya dalam dua setengah hari untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dijelaskan bahwa tujuan akhir dari ujian ini adalah memasuki ruangan dia atas sana. tampak berenangrenang di kejauhan. . Banyak celah-celah mengisi sampai ke langit-langitnya. Yang besar kiranya cukup bagi dirinya dan makhluk Troll untuk masuk ke dalamnnya. Mereka senang bahwa Paras Tampan bisa berjalan sampai ke tahap ini.194 BAGIAN 4. PENJAGA KESEIMBANGAN berada di tengah-tengah dataran itu dan masih juga terasa lengang. Bukan tempat bagi makhluk air. Dijelaskan bahwa ujian pertama tadi. Paras Tampan melihat berkeliling di dinding di depannya tampak lubang-lubang seperti lubang-lubang pada Ruang Dinding Berlubang. mengapa diperlukan waktu sampai dua setengah hari. apabila hanya masuk ke dalam ruangan di atas itu. Tidak ikut ia naik ke dataran itu. Di atas langitlangit tampak beberapa lubang besar dan kecil. yang terlihat sebagai pemimpin di sana. para Troll itu menganggap ujian telah boleh dimulai.

tentang bagaimana caranya bisa . Mereka membawa sebatang tongkat setinggi dirinya. mencoba kekuatan barisan itu. Kembali keempat penjaga itu mempertahankan lubang itu dengan rapat. seakan-akan berjalan di atas tanah datar saja. Akan tetapi bukan Paras Tampan. Sekali lagi dicobanya dengan merambat pada dinding. bila pemuda itu langsung menyerah menghadapi keadaan yang tidak masuk akal tersebut. Ada empat orang yang bergantung pada kakinya. jauh tinggi mendekati langit-langit sambil mengayunkan tongkat yang dibawanya. Berdesir Paras Tampan menyaksikan rapatnya penjagaan keempat penjaga lubang di langit-langit itu. Berbagai gagasan masuk ke dalam kepalanya. para makhluk Troll itu dapat seakanakan ”melekat” dan ”berjalan” di dinding dan langit-langit.195 Satu kelompok yang tersisa bergegas bergerak memanjat dindingdinding yang berisikan lubang-lubang itu. Dengan hanya mencengkeram sisi-sisi lubang atau tonjolan-tonjolan yang ada. Bagaimana caranya ia bisa ke sana. Hampir tanpa bantuan tangan mereka berjalan di dinding itu sampai ke langit-langit yan berlubang-lubang itu. kemudian sang pempimpin Troll itu pun membuang tongkatnya dan ia menyusup dengan lincah di antara pertahanan keempat penjaga tersebut. Berputar dan menjaganya dari empat arah secara terbalik. menjejak terbalik pada langit-langit. berjalan di tembok dan langit-langit yang berlubang dan juga mempertahankan diri. Bagadsh yang tidak termasuk salah seorang dari mereka. Setelah yakin akan kekuata nbarisan tersebut. Sepanjang satu tombak kira-kira. Terpaksa Bagadsh menghindar dengan bersalto beberapa kali dan melompat turun. Ia melompat dari tanah. Menunggu Paras Tampan melewati lubang yang sama. Mereka dapat dengan enaknya bergantungan. Berdecak kagum Paras Tampan menyaksikan demonstrasi itu. Belum lagi ditambah dengan penjagaan yang dilakukan oleh keempat makhluk tersebut. Keempatnya berhenti pada sebuah lubang di tengah-tengah langitlangit. Memanjat secara terbalik saja sudah rumit. ”Tak-tak-tak” seorang dari mereka memapaki serangannya dan seorang lagi menyerang jalan darah-jalan darah penting di tubuhnya. Ia menghilang di lubang di atas langit-langit sana.

!” sebutir es tampak menyentuh pembuluh darah di lehernya. ”tukk. tapi membatasi aliran yang menuju kepala. PENJAGA KESEIMBANGAN menyiasati keempat makhluk itu untuk masuk ke lubang yang dijaga mereka. sudah mulai terbiasa Paras Tampan untuk . Ia dapat dengan cepat menggunakan tangan dan kakinya yang mencengkeram kuat untuk mencapai awal dari langit-langit batu tersebut.. Waktu pun berjalan pelan. Ia mencoba untuk bergantung terbalik pada langit-langit. Hampir lepas pegangannya. Setelah tiga kali dicobanya. Rupanya saat bergantung terbalik itu. ia hanya boleh mengerahkan tenaga untuk memperkuat cengkeraman dan pijakan. Akan tetapi jangan sampai mengirim tenaga ke arah kepala. Akan dicobanya lagi naik ke langit-langit untuk mendekat lubang yang menjadi tujuannya. Sekarang saat dimulai masalahnya. Pusing dirasakannya. Akibatnya Paras Tampan tampak bergoyang-goyang cepat. Pertama-tama dicobanya untuk memanjat dinding di hadapannya. Ikan Kolakan itu tampak berenang menyelam menjauh. Sesaat sulit juga. Pada bagian dinding yang tegak. Dikirimnya totokan menggunakan Sentilan Kelereng Es untuk mengambat peredaran tenaga pemuda itu yang membuncah ke kepala. Bila dilanjutkan ia tidak ada tenaga untuk turun kembali. Totokan tadi membuat tenaga yang diarahkan ke kepala berbalik tersimpan. Paras Tampan mulai bisa menikmati posisi bergantung seperti itu. Tapi tenaganya sudah hampir habis. Tak tega sang ikan melihat pemuda itu terjatuh. Ia kemudian memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan mengumpulkan kembali tenaganya. Sekejap pandangan matanya menjadi lebih terang. apalagi dalam posisi yang sama sekali baru baginya itu. Kedudukan yang berbalik itu membuat banyak darah mengalir ke kepala. tidak ada masalah. untuk menjajal apakah ia juga bisa menggantung dengan mudah di langit-langit yang berlubang tersebut. Paras Tampan melirik ke dalam air di kejauhan. Sekarang Paras Tampan mulai bisa membiasan diri dalam posisi bergantung itu dan kemudian mengerahkan tenaga ke tangan dan kakinya. Tak lama ia bisa bertahan.196 BAGIAN 4. Tiba-tiba. Darah tidak mengalir deras seperti tadi.

Walaupun Paras Tampan telah terbiasa untuk bergerak di langitlangit. Setelah beberapa kali mencoba. Paras Tampan pun telah lelah. Semacam buah yang mirip dengan buah yang dulu diberikan oleh sang Ikan Kolakan. Empat orang tampak memanjat cepat ke arah keempat temannya yang sedang menjaga. Pada suatu jalan darah tertentu. Hanya saja yang ini berwarna keperakkan dan tidak biru. Dilepaskannya pegangan dan pijakan. Selain itu telah dicobanya pula untuk melompat dalam keadaan terbalik itu ke bawah. Dirasakan asupan tenaga yang nikmat. Lubang-lubang selain yang dijaga oleh para Troll berukuran terlalu kecil untuk dirinya. Pernah dicobanya sekali mendekati lubang tersebut. Akibatnya pusing kembali diperolehnya. Tidak lebih. Para Troll tampak berganti kelompok. Belum bisa menggunakan kaki saja seperti para penjaga lubang itu. Dengan kondisi seperti ini ia tidak bisa menyerang mereka. Walaupun belum selincah Troll. berayun memutar beberapa kali dan mendarat dengan kaki sedikit bergetar. Untuk mencegahnya cepat ia melepaskan pegangannya bersalto beberapa kali dan mendarat dengan selamat di lantai di bawahnya. Tak terasa telah lewat tengah malam. Ia harus menemukan cara untuk berjalan seperti para Troll sehingga kedua tangannya dapat bebas untuk menyerang. Tak ada jalan lain. Penjaga yang lama dengan sigap meloncat turun. Dengan cara ini ia tidak takut lagi bila pegangannya terlepas atau jatuh. memang ia harus menggunakan lubang yang dijaga tersebut. dengan santai mereka menukil sedikit tubuhnya. tapi ia sudah bisa berputar-putar ke sana kemari menyelidiki lubang-lubang yang ada. bersalto beberapa kali di udara dan mendarat dengan ringan di atas . Mereka juga memakan satu setiap orang. Menghilangkan sedikit rasa lelah dan juga rasa kantuknya. akan tetapi ia masih menggunakan kedua tangan dan kakinya.197 bergerak bolak-balik di langit-langit yang penuh lubang dan tonjolan itu. Bisa juga cara lain sehingga ia bisa menangkis serangan-serangan mereka. dapat ia melompat dengan sempurna ke bawah. Seorang dari para Troll menghampirinya dan memberinya sesuatu untuk dimakan.

BAGIAN 4. Sedangkan temannya berambut pendek. akan tetapi sosok ini terlihat lebih gemuk dari kawannya. Wajah . sosok ini pun senang tersenyum. Mungkin disebabkan dari potongan rambutnya yang pendek. Paras Tampan pun akhinya merasa lelah. Bajunya dari bahan yang kasar akan tetapi bersih. Rambutnya yang juga panjang digelung ke atas dan dikonde di atas kepalanya. Memulihkan tenaga dan juga sembari memikirkan cara-cara untuk mengatasi penjagaan yang berganti-ganti itu. Sama seperti lawannya yang tampak jauh lebih muda darinya.” Berpikir keras ia bagaimana cara untuk mencapai lubang tujuan itu. Rambutnya yang panjang hitam sebahu dihiasi uban-uban putih akan tetapi hanya di sebelah kanan. Melainkan cenderung sebagai petapa yang sederhana hidupnya. Ia orang yang masih setengah baya dengan wajah yang selalu menebarkan keceriaan. *** Tiga orang tampak berhadapan di tengah tanah lapang yang luas di kaki sebuah gunung. Seorang dari mereka rambutnya telah memutih semua. Hal ini membuat sebelah kanan kepalanya berwarna terang dan sisi sebaliknya berwarna gelap. Dengan wajah yang juga sudah lanjut. untuk kemudian Mengheningkan Cipta. Terlihat dari tidak banyak rusaknya rumput-rumput di sekitar tempatnya berdiri. Diputuskannya untuk Mengheningkan Cipta sementara. berabe nih!” gumam Paras Tampan. Oleh karena itu perlu dicari siasat lain agar dapat memasuki lubang itu. PENJAGA KESEIMBANGAN Kelompok yang baru beristirahat itu tampak juga memakan buah keperakan tadi. ”jika mereka semua berganti-ganti menjaga lubang itu. Tubuhnya kurus akan tetapi kekar. ”Hmmm. Tapi sempat terlintas bahwa ia akan menunggu agar para penjaga itu lelah untuk kemudian menyerangnya. Seorang dari mereka tampak senyam-senyum memandang kedua orang lawannya. Perawakannya kekar dan dengan tubuh yang tinggi jangkung. Gerakannya ringan. jauh di atas tinggi rata-rata orang kebanyakan.198 dataran batu itu. bagaimana aku dapat mencapainya. Tak dinyana bahwa mereka melakukan penjagaan berganti-ganti. Kedua lawannya juga bukan orang biasa-biasa dan juga tidak terlihat jahat.

Rawarang tersenyum kecil sambil memandang langit di atasnya. ”Jika memang maksudmu demikian. mengapa perlu meninggalkan pesan... Sudah tentu yang lain akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi. kami harus menuliskannya dahulu. Orangorang yang telah mencapai kesempurnaan dalam beladiri dan tidak lagi menginginkan pertentangan. memberimu kitab ilmu-ilmu kami. ”atau yang dikenal orang-orang sebagai Maling Kitab. ”jika aku tidak menggunakan nama adik ki sanak berdua. Mereka bertiga yang sudah tidak lagi mau ikut campur urusan duniawi. ”Hmmm.. atau jika tidak ada.” sambil ia membungkuk sedikit. seakan-akan adik kami Seberang yang meminta kami datang ke sini. Betul begitu?” Petapa Lain Pulau tersenyum mendengar hal itu. mana mungkin ki sanak berdua akan datang..199 sosok ini tidak seperti kawannya. tidaklah begitu tertarik apabila diundang atau ditantang untuk berkelahi.” tanya orang berkonde yang dipanggil Petapa Lain Pulau itu. Petapa Seberang. Ia lebih serius terlihat. ”Maafkan saya. Bila dipikir-pikir Rawarang ini memang benar.” ucap orang yang rambutnya digelung ke atas. sudah tentu ki sanak berdua dapat menduga.” Kemudian ia menundukkan kepalanya sehingga kembali memandang ke arah kedua lawannya itu.” jawab Rawarang. ”Haruskan kita berseteru untuk memuaskan keinginanmu itu?” . Tapi lain halnya jika undangan itu berkaitan dengan salah seorang dari mereka. ”Apa tidak ada jalan lain?” tanya Petapa Lain Pulau..” kata orang yang berambut pendek itu. apa maksudmu mengundang kami kemari?” ”Dari julukanku. ”siapa yang tidak tahu persaudaraan ketiga petapa sakti yang diikrarkan di Pulau Gunung Api. bila permintaan ini terdengar kurang ajar. menghormat kepada orang yang berkonde dan berambut pendek itu. bukan?” jawab orang yang dipanggil Rawarang itu. ”Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. ”Rawarang.. Sebelum menjawabnya. Lalu jawabnya. Benar-benar suatu sifat yang jumawa.

mau apa engkau dengan kitab-kitab kami.. ”Ya. Ia melihat bahwa Rawarang ini walaupun aneh. ”kalau begitu jelaskan dulu.” Petapa Gunung Es yang jarang tersenyum. Ia pun kemudian menceritakan mengapa ia getol mencuri kitab-kitab ilmu silat dan juga ujar-ujar kuno. itu jadi susah. Kepandaian para penasehat itu sebenarnya akibat dari kebiasaan masyarakat daerah tersebut yang dulunya berawal dari desa dan kota .. akan tetapi kerajaan itu tumbuh dan berkembang atas dukungan dari rakyat-rakyatnya. tak bisa ia menahan sunggingan di ujung bibirnya. pastilah tak perlu kita bersilang pendapat. sebaiknya ki sanak berdua menyerang saya. Baik orang-orang yang terlihat berduit. Makmurnya kerajaan tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan raja yang memerintah dan juga penasehat kerajaan yang pandai.200 BAGIAN 4.” jawab Rawarang sambil menghilangkan senyumnya. tapi tidaklah jahat. Hal ini terlihat dari selalu sumringah wajah orang-orang yang ditemui Rawarang di sana. Keempat penasehat ini tidak memiliki sanak keluarga sehingga konsentrasi mereka benar-benar tercurahkan untuk menghasilkan nasehat-nasehat dan keputusan-keputusan yang baik bagi masyarakat dan kerajaan tersebut. ”Jika kami tidak memberikannya?” tanya Petapa Lain Pulau kembali. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Jika ki sanak berdua mau memberikan kitab ki sanak kepadaku. Di sana terdapat suatu kerajaan yang amat besar dan megah. Dinamai dengan arah-arah utama mata angin. sehingga ada alasan untuk membalas. Dan kudengar juga engkau telah mencuri banyak kitab-kitab dari berbagai orang dan tempat. Raja dari negara tersebut memiliki satu kelompok penasehat yang terdiri dari empat orang. maupun para rakyat kecil seperti petani dan pengrajin. ”Jika tidak memberikan.” Rawarang yang dikenal sebagai Maling Kitab itu tersenyum. Ia mencoba-coba untuk memeriksa perangai sebenarnya dari Rawarang ini. Lalu katanya. Walapun besar dan megah. Ia pernah bertandang ke suatu tempat di seberang lautan.” jawab Rawarang masih jenaka.

Namanya saja Perpustakaan Kerajaan yang menandakan bahwa perpustakaan itu dikelola oleh kerajaan. atau mencari bahan yang tepat untuk membuat perahu. akan tetapi tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan. Kerajaan dalam hal ini pun mengakomodasi tumbuhnya kebiasaan mencatat ini. nenek moyang mereka mempunyai kebiasaan untuk menuliskan apaapa yang mereka alami. jauh sebelum negara berbentuk kerajaan itu terbentuk. Dan ini sudah tentu terbatas. Buku-buku kosong dan alat tulis disediakan gratis oleh mereka. Hasil yang baik atau pun buruk dari modifikas itu kembali dicatat. Itulah yang terjadi di kerajaan tersebut. Dengan menggunakan catatan-catatan leluhurnya. Kebiasaan membaca. Selain itu terdapat pula suatu fasilitas yang dikenal sebagai Perpustakaan Kerajaan. Tidak lagi perlu bertemu dengan pengalaman-pengalaman yang merugikan. Pun hal-hal yang berguna. Mirip dengan buku harian dewasa ini. Dengan demikian anak-cucu mereka tidak lagi perlu mengulang kesalahankesalahan mereka. Tidak lagi perlu mencoba-coba sendiri untuk mencari cara atau waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Akan tetapi dengan banyaknya orang-orang ’biasa’ yang juga menulis. terutama buku-buku yang bermutu sudah tidak bisa dipungkiri lagi akan membawa pembacanya pada proses pembelajaran sehingga dapat menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup ini. Kebiasaan yang dimaksud adalah membaca dan menulis. yang telah diwanti-wanti para penulis dalam kisah-kisahnya. Umumnya buku-buku yang ada adalah hasil dari orang-orang tertentu yang bisa atau mau menuliskan ide-ide atau pengalaman mereka. para penduduk negara itu dapat langsung memodifikasi apa-apa yang telah dicoba nenek-moyangnya. akan menciptakan sumber-sumber literatur yang tak ada habis-habisnya. Catatan-catatan yang telah ribuan tahun usianya itu pun tumbuh menjadi semacam basis ilmu pengetahuan bagi kerajaan mereka. tidak akan ada buku yang bisa dibaca.201 kecil. Begitu pula dengan sekolah-sekolah. seperti waktu bercocok tanam. Akan tetapi kebiasaan menulis pun penting. Di negara itu. Jika tidak ada kebiasaan menulis. cara membuat perahu dan lainnya dapat dipelajari dengan mudah. tapi pada pelaksanaannya semua orang da- .

umumnya dituliskan dalam lembar tambahan dengan segel kerajaan. dan apa-apa yang mereka lakukan. Dengan imbalan buku-buku mereka boleh dibaca orang lain di tempat. dalam artian keluarga atau orang-orang yang tidak punya tempat cukup untuk menyimpan buku-bukunya. dapat menitipkan buku-buku mereka di sana. Dengan cara itu sejarah dapat diverifikasi dari para pelakunya sendiri. Di dalam Perpustakaan Kerajaan terdapat pula tempat penitipan buku. sampai memanfaatkannya. Langsung dari tulisan mereka sendiri dan bukan dari cerita orang-orang. Rawarang yang saat itu sedang merantau ke sana. Hanya buku-buku umum yang benar-benar milik Perpustakaan Kerajaan yang dapat dipinjam untuk dibawa pulang.202 BAGIAN 4. Dari membantu melengkapinya. Diurutkan berdasarkan tahun kelahiran dan abjad. Minatnya pada ilmu telah tumbuh sejak kecil. Bila terdapat jasa besar atau hukuman dari negara. amat takjub pada kemegahan itu. Di bagian ini orang-orang dapat meletakkan buku-buku yang berisikan perjalanan hidup mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN pat berperan di sana. Buku harian. Tidak dibawa pulang. selain pasar-pasar dan tempat-tempat ibadat tentunya. Dalam tiap buku harian biasanya dicantumkan juga hubungan sanak keluarga yang ada. Perpustakaan Kerajaan adalah salah satu gedung atau tempat yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang di kerajaan itu. Ada pula bagian arsip orang-orang di Perpustakaan Negara. Walaupun belum tentu apa-apa yang ditulis selalu obyektif. Dengan cara ini. dapat dilakukan penghibahan. Melalui cara ini. Dengan perantaraan buku-buku itulah. Dengan cara ini koleksi-koleksi tersebut dapat dipinjam untuk dibawa pulang. sering membawakannya oleholeh buku-buku dari negeri-negeri asing jauh di sana. khayalan Rawarang kecil tumbuh dan . seorang anak dapat melacak nenek moyangnya. sehingga koleksi orang-orang yang wafat tersebut menjadi milik Perpustakaan Kerajaan. Di sana orang dapat menambah ilmunya dan juga menelurkan karyakarya yang langsung dapat dinikmati orang. Ayahnya yang seorang pedagang perantau. Bagi orang-orang yang sudah wafat dan ahli warisnya tidak berkemampuan untuk mengurus buku-bukunya.

Bakat sang mantan pencuri itu. ’dicuri’ kembali oleh sang penjaga dan digantikan dengan tulisan untuk membayar denda. Keesokan harinya mereka datang ke Perpustakaan Kerajaan. Umumnya orang-orang yang memperoleh kertas denda itu tak berani macam-macam. Sampai akhirnya ia bersedia menjadi salah seorang penjaga dari Perpustakaan Kerajaan. Buku-buku yang terlambat itu. Untung saja kerajaan masih berbaik hati mau . Semahir-mahirnya tupai melompat. Ia dipekerjakan di sana karena selain memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan. Ia benar-benar mahir mencuri di berbagai tempat. termasuk di dalam istana kerajaan. Buku-buku yang menarik perhatiannya antar lain adalah buku-buku sejarah. Ia dipesankan oleh sang penjaga untuk baik-baik mengamalkan ilmunya. Dari penjaga perpustakaan ini. Seorang penjaga tua yang mewariskan ilmu silat dan mencuri padanya. Penjaga itu dulunya adalah seorang yang gandrung terhadap ilmu-ilmu kanuragan sehingga berguru ke sana kemari. suatu saat jatuh juga. ilmu kanuragan. Mahir ilmu silat dan juga ilmu mencuri. meminta maaf atas keteledoran mereka sambil membayar denda yang dijatuhkan. dan juga karena riwayat masa mudanya sebagai pencuri yang andal. Umumnya dilakukan oleh orang-orang yang malas mengembalikan buku. yang tidak mau memberitahukan namanya. Dengan berbekal kemahiran siasat dan berpikir keras keempat Penasehat Kerajaan menciptakan jebakan untuk menangkap sang pencuri tersebut. ilmu alam dan bahasa. Setelah itu ia diadu kecerdikan dengan mereka dan kalah. digunakan oleh Perpustakaan Kerajaan untuk mencuri balik buku-buku yang dipinjam melewati tenggat waktu. Rawarang menimba ilmu sehingga seakan-akan ia menjadi sang penjaga di masa mudanya. Di sana pulalah ia bertemu dengan gurunya.203 membekas sampai ia dewasa. Jangan seperti gurunya. Kesalahankesalahannya diampuni asal ia mau bekerja dan mengabdi demi kepentingan masyarakat. Banyak waktu dihabiskannya saat berada di kerajaan tersebut dengan membaca buku-buku di Perpustakaan Kerajaan. saat ia kemudian mewujudkan sendiri impian-impiannya untuk melihat luasnya dunia. Ia juga punya kegemaran membaca buku-buku dan juga senang mencuri. Buku-buku lain tidak menjadi pilihan utamanya.

Sehingga di hari tuanya ia masih dapat hidup dengan tenteram dan damai.204 BAGIAN 4. engkau ingin membangun suatu tempat yang bisa seperti Perpustakaan Kerajaan yang pernah engkau kunjungi itu. atau tidak mau menanggapi saya. . ”Tapi dengan mencuri kitab-kitab?” tanya Petapa Gunung Es tidak sabar.” tanya Petapa Lain Pulau.. pastilah akan menodai kebaikan dari tujuan itu sendiri. mengerahkan kecerdikannya untuk mengakali agar kedua petapa yang ada di depannya itu mau menyerahkan kitab-kitabnya. Rawarang. Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es hampir bersamaan menghela nafas.” Saat berkata begitu terlihat bahwa Rawarang masih berpikir keras. jadi susah. Saya jadi tidak punya alasan untuk bertarung dan menggunakan kitab-kitab ki sanak sebagai taruhan. Umumnya Petapa Gunung Es tidak banyak berbicara.” ”Dan sekarang. ”Saya tidak punya jalan lain. Para pesilat atau sastrawan. Memang menurutnya. pasti orang-orang tersebut tidak memberikannya. Biasanya saya menantang mereka dengan taruhan kitab-kitab mereka. ”Sekarang.” jawab Rawarang. atau setidaknya melawan dirinya. Sebaik manapun suatu tujuan. Mendengar cerita itu kedua orang tua yang menjadi lawan Rawarang. akan tetapi apabila dicapai dengan cara yang buruk. Umumnya saya menang. apabila tujuan dari Rawarang ini benar. begitu?” Agak malu Rawarang mengangguk mengiyakan. Hanya kali ini tidak bisa ditahan penasarannya. jika ki sanak berdua tidak menyerang saya. agar pengetahuan orang-orang di tanah ini dapat berkembang dengan baik akan tetapi fasilitas itu dilengkapi dengan cara mencuri kitab-kitab yang dimiliki oleh orang-orang. membangun sesuatu pusat ilmu pengetahuan bagi tanah ini adalah baik. ”jika diminta begitu saja. Sekarang mencoba untuk membangun suatu perpustakaan di tanah ini. Biasanya ia membiarkan kedua adiknya yang mengajukan pertanyaan. Tetapi tidak begitu caranya. ”jadi maksudmu. Lalu kata seorang dari mereka. PENJAGA KESEIMBANGAN mempekerjakan guru Rawarang dan tidak menghukumnya.

. apa maksudmu. Merasai Hawa Pelajari Ilmu. kedua petapa itu mengobati Rawarang. Segera ia mengumpulkan tenaganya dan berkonsentrasi. tiba-tiba ia bergerak cepat. Setelah diobati oleh Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. Dalam usahanya untuk mendapatkan ilmui-ilmu kedua petapa tersebut Rawarang telah membalik jalan darahnya sendiri sehingga ia terluka.. Ia dapat kembali membuka matanya. ”Hey. Tak lama kemudian ia pun batuk mengeluarkan darah. Langsung ia duduk bersila untuk mengatur nafas dan membereskan jalan darahnya yang kacau-balau. Pengetahuan ini diperolehnya dari penjaga tua Perpustakaan Kerajaan. Dari jenis tenaga dalam yang diberikan itu. Tubuhnya tampak memucat dan memerah silih berganti. keadaan Rawarang berangsur-angsur membaik.205 Tiba-tiba ia teringat siasat yang digunakannya saat dulu menghadapi Petapa Seberang. tergantung pada suatu saat ke mana aliran hawa hangat dan dingin mengalir. adik angkat dari Petapa Lain Pulau dan Petapa Gunung Es. berusaha ia . sedikit banyak Rawarang dapat mempelajari ilmu-ilmu mereka. karena luka dalam yang dideritanya. mau tak mau.” gerutu Petapa Gunung Es.. dan memukulnya di dada dan perut untuk membuyarkan tenaga penghancurnya. ”Buk-buk-buk. didasari rasa kemanusiaan. sudah bisa dipastikan bahwa Rawarang akan terluka lebih parah dan mungkin mati. Jika saja kedua petapa itu tidak menyadari maksudnya. Sekarang dalam keadaan yang terluka itu. Keduanya memukul hampir bersamaan dada dan perut Rawarang. Aliran hawa tampak berputar-putar di sepanjang aliran darahnya. Secara tak langsung mereka harus mengoperkan sedikit tenaga dalam mereka.!” terdengar bunyi pukulan keras.. Walaupun wajahnya masih pucat.. Bersamaan dengan itu bergerak pula Petapa Gunung Es. Akibatnya Rawarang terhuyung dua tiga tindak dengan mata terpejam. ”Orang ini benar-benar berhati keras dan aneh.?” tiba-tiba Petapa Lain Pulau mengamatamati Rawarang. Perlawan merambat ke seluruh urat-urat kecil di sepanjang tubuhnya.

Bajunya juga sederhana dan kasar. tiba-tiba terdengar suara lirih di udara. Mengambang tapi jelas. Tidak seperti ketiga orang itu yang saling memiliki satu sama lain. ia tidak memiliki siapa-siapa. Itulah adik angkat kedua petapa yang telah datang lebih dulu ke tempat itu. Petapa Seberang. Ketiga orang itu saling berbincang dengan ramai. ”Kakak Gunung Es. masih terlihat rasa saling menyayangi antar ketiga saudara angkat tersebut. Tak perlu katakata diucapkan. Tiba-tiba terselit rasa kesepian dalam hatinya. seakan-akan Rawarang tidak lagi ada di dekat mereka. Walaupun mereka sudah sama-sama tua dan mungkin hanya tinggal menunggu waktu. kena juga kalian diakali bocah nakal ini.. Sama-sama berambut panjang seperti Petapa Lain Pulau. juga bertanya-tanya banyak hal pada adikn angkatnya. Dibiarkannya tergerai saja... Ia telah berhasil merasai sedikit aliran hawa kedua petapa itu. Gembira ketiganya saling merangkul dan berpelukan.. Menghadapai hujan pertanyaan dari kedua kakak angkatnya tersebut. Petapa Seberang hanya bisa tersenyum. akan tetapi orang itu tidak mengikat rambutnya yang putih dan panjang. PENJAGA KESEIMBANGAN menyunggingkan sedikit senyum di ujung mulutnya.206 BAGIAN 4. Selagi kedua petapa itu memperhatikan Rawarang yang masih berusaha untuk bangun. Petapa Gunung Es yang biasanya lebih senang mendengarkan pembicaraan.. Ada suatu rasa yang hilang dirasakannya. Kira-kira sudah diperolehnya satu dari sepuluh bagian ilmu-ilmu mereka dalam pengolahan hawa.!” Tak berapa lama yang empunya suara pun tiba di hadapan mereka. Wajahnya tampak lebih muda. Petapa Seberang kemudian menjawab satu-persatu pertanyaan-pertanyaan . Petapa Seberang. Tak jauh dari sana tampak Rawarang memandangi ketiga orang itu. Pandangan dan sentuhan di pundak sudah mewakili rasa persaudaraan yang telah tumbuh sejak di Pulau Gunung Api. kakak Lain Pulau. kapan mereka harus melepas nyawa dari tubuh yang rapuh ini.. paling muda dari ketiga petapa tersebut.

Mereka bertiga pun melihat berkeliling. Menggirisi apabila menyaksikannya. Entah siapa dan bagaimana bisa anak-anak tangga itu dibuat. Luka-luka yang dideritanya menguras benar-benar tenaga dalamnya. Setelah berbelok ke sana dan kemari dan berlari mendaki. Keduanya pun mengangguk tanda mengerti. digerakkan tangannya ke suatu arah sambil mengajak kedua kakak angkatnya beranjak dari sana. Hanya sesekali kaki-kaki mereka menotol tanah untuk kembali meloncat jauh bagai melayang di udara. Sampai suatu saat teringat kembali mereka akan orang yang ’mengerjai’ mereka bertiga sehingga tiba di tempat ini. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang sudah amat mumpuni.207 yang diajukan oleh kakak-kakaknya tersebut. melampau ratusan mungkin sampai seribu anak tangga. Rawarang berjalan dengan sempoyongan. sudah tahu di mana harus mencari Rawarang. Cepat dan pesat. Petapa Seberang yang telah lebih dahulu datang ke tempat ini. Rimba Hijau. yang harus dilakukan ketimbang mengobati lukanya itu. sampaillah ketiganya di suatu tangga tinggi di lereng gunung itu. Kedua saudara angkatnya pun tak mau kalah. Lima enam anak tangga sekaligus. Petapa Seberang bergegas menaikinya. Ia harus mencatat bagaimana kedua orang yang baru . Kadang-kadang penjelasan atau ceritanya disela oleh yang lain. Hampir habis tenaganya. Menuju atas. Ada hal yang lebih penting. Tak tahan ia melihat keakraban yang ada di antara ketiga saudara angkat tersebut. Rawarang si Maling Kitab. karena ada hal-hal yang ingin ditanyakan. Akan tetapi tak tampak wujud dari orang yang dicari itu. Ramai sekali suasananya. Menuju suatu tempat di atas sana. Kelihatannya saat mereka bertiga sedang asik bercengkrama beranjak pergi Rawarang. Tangga itu terpahat indah di lereng yang terjal itu. Ketiganya kemudian melesat cepat bagai terbang. bergegas mereka mendaki tangga-tangga batu itu. Tanpa bicara. Seakan tidak memberi kesempatan bagi kedua orang kakaknya untuk sebentar mengagumi arsitektur tangga tersebut. Gunung Hijau. Dipahat sedemikian rapi dan halus. Zig-zag ke kanan dan ke kiri.

Rupanya Bagadsh menyadari bahwa perjalan mendaki tebing karang ini lebih sulit dari hanya menaiki anak-anak tangga tadi. Ia bersyukur makhluk yang dianggap adiknya itu ada di sana. Masih ratusan lain yang menunggu. Secarik kain panjang. Rawarang tersenyum lemah. Jika saja tidak ada tangan kekar dan sosok gempal pendek bergerak ringan memapahnya. Tempat ia menyimpan kitab-kitabnya. Jadi buku yang akan menghiasi koleksi-koleksinya. jatuh pasti ia menggelundung ke bawah. Dan mungkin tak sadarkan diri lagi. Membantu dirinya sehingga tidak terjatuh. Dengan ilmu Merasai Hawa Pelajari Ilmu ia sudah bisa mencerap satu dari sepuluh bagian ilmu kedua orang petapa itu. Bagadsh langsung menggendongnya di punggung. seorang makhluk Troll muda. Pada sisi kirinya. Bagadsh namanya tampak menyeringai seram menyanggahnya. Seakan-akan tak ada bobotnya. Cepat dan lembut. Sampai di sana Bagadsh berhenti dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Tiba-tiba pandangannya gelap. . tampak air terjun yang tinggi dan megah menjatuh turun. Ia mungkin membutuhkan kedua tangannya. Doyong dan bergerak jatuh. PENJAGA KESEIMBANGAN saja mencegahnya tewas itu mengolah tenaga dalamnya. Lebih baik diikat saja. Kain itu akan digunakannya untuk membelit-belit tubuh Rawarang yang masih bersandar lemah di punggungnya. Tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Tak cocok dengan perawakannya yang gempal dan terlihat berat. Seakan-akan sudah mengerti apa kemauan dari Rawarang. Tiba-tiba dirasanya sama sekali tak ada tenaga. Hampir ia terjadi dari anak tangga yang baru dua puluhan itu dilampauinya. Dan untuk itu tidak ada cukup tangan untuk mengendong Rawarang. agar ia bisa cepat memanjat ke atas.208 BAGIAN 4. Dengan menganalisa arah tenaga mereka bisa sampai dua bagian lagi diperolehnya. Membuat udara terasa basah dan segar. Sosok itu. Pada akhir dari anak tangga itu membentang tembok tinggi di atasnya. Sebelum ia mencapai lereng puncak. Sudh cukup untuk dituliskan. Dengan langkah ringan dan cepat ia melompat-lompat melampau anak-anak tangga itu.

Bergantian tangan yang melempar kain ke belakang bahu dan yang memegang Rawarang bekerja.” Makhluk Troll itu tidak bisa berbuat banyak. Bagadsh kemudian membawa Rawarang ke sebuah lorong di sebelah kanannya. kitab ini harus diselesaikan. Bagadsh termangu sebentar untuk kemudian melompat naik. Rawarang tampak telah terikat dengan erat tapi nyaman di punggung Bagadsh. ditampiknya dengan lemas. judulnya. Mengalirkan hawa Tenaga Tanah. Lalu ia pun duduk bersila di belakang Rawarang. Juga kaki-kakinya. Tangan yang satu masih memegang Rawarang agar tidak tergelincir dari punggungnya. Dilemparkannya kain tersebut ke belakang bahunya dan disambar oleh kakinya yang melengkung ke belakang.. Tak berapa lama sampailah makhluk itu dengan seorang manusia di punggungnya pada suatu ruang luas yang mirip balkon alam dari di atas dinding terjal itu. Mungkin dirimu berpikir aku agak gila. Usul Bagadsh agar Rawarang beristirahat lebih dahulu sebelum menuliskan suatu kitab. Penulisan kitab itu pun berlangsung. Seperti menarik napas sebentar untuk berkonsentrasi. Berkelokkelok sebentar dan sampailah pada suatu ruang luas tempat tersimpan banyak kitab-kitab yang tersusun pada lubang-lubang dalam dinding. adik Bagadsh. yang mau mengantar nyawa hanya sekedar untuk mencari tahu sesuatu untuk kemudian dituangkan dalam sebuah kitab. ”Tak banyak lagi waktunya. ”tapi itulah diriku.209 Segera hal itu dikerjakannya dengan cepat. membantu Rawarang untuk menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. di mana di satu sisinya mengalirkan sungai bening ke bawah sebagai air terjun.” ia berhenti sejenak karena hampir putus napasnya saat berbicara tadi. lalu lanjutnya. . berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menempelkan kedua telapak tangannya di punggung sang kakak. Memanjat dengan cepat dinding batu dari tebing terjal di hadapannya itu. Bagadsh menyenderkan Rawarang yang masih sadar akan tetapi tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak itu di punggungnya. Tak perlu agak membungkuk karena makhluk Troll umumnya telah memiliki tubuh yang lebih pendek dari manusia. Tak lama selesailah pekerjaan itu. Ilmu Tiga Petapa..

sebagai bagian dari kalian. Ruang yang dituju oleh Bagadsh disebut sebagai Ruangan Kediaman Terakhir.” dan menutup matalah Rawarang di dalam pelukan adiknya. Sampai suatu saat Rawarang merasakan waktunya datang. Dihentakkannya punggungnya dari tangan Bagadsh. Berangkat ia menuju suatu ruangan. Dinding yang telah lama dipersiapkannya untuk dituliskan pesan-pesan terakhirnya. selamat tinggal. Agar orang-orangnya dapat belajar dengan cuma-cuma. Tak ingin ia adiknya itu membuang terlalu banyak energi hanya untuk dirinya. Hanya ungkapan kecewa atas perginya orang-orang atau sanak-saudara yang dihormati dan dikasihi.. Memeluknya. Tak ada air mata dalam kebiasaan mereka.210 BAGIAN 4. Aku minta taruh jenasahku di ruang sana. Juga semakin lama semakin miring ke bawah. Mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang suatu bangsa dalam Katakombe (Katakombe) mereka. Lalu bergegas ia menuju ke salah satu dinding batu di situ. Ia tidak in- . Sang adik hanya bisa menggereng-gereng sedih... tempat jasad-jasad para Troll diletakkan di dinding dan dibiarkan mengering dimakan waktu. Tak lupa disambarnya sejilid kitab yang belum selesai hasil karya sang kakak tadi. PENJAGA KESEIMBANGAN Sunyi kemudian suasana. Tangannya pun terkulai lemah.. Bagadsh pun bergegas memanggul jasad Rawarang. Dirinya akan terantuk lantai batu apabila tak ada tangan besar dan kasar dari Bagadsh yang menyambutnya. Bagadsh. Membuat orang-orang menjadi lebih pintar dan maju. tempat di mana jasad Rawarang akan diletakkan. ”Adik Bagadsh. Tak dipikirnya bahwa hari ini dinding itu akan ditulisiknya. hanya terdengar goresan-goresan bulu bertinta yang beradu dengan kertas kasar bahan dasar kitab-kitab pada masa itu. Semakin lama semakin lemah. Coretan-coretannya semakin tak lagi dalam. Membangun perpustakaan di tanah ini. Orangorang yang beruntung bisa masuk ke sini harus menjadi penerusnya.. Rawarang ingin jasad dirinya pun dimakamkan di sana.. sang makhluk Troll. Meneruskan cita-citanya. Dikerahkan tenaga terakhirnya untuk menuliskan pesan-pesannya dengan guratan-guratan di atas dinding batu itu. Condong ke arah ketiadaan tenaga untuk dikerahkan..

Makhluk-makhluk yang kesetiaannya kadang melebihi kesetiaan antar sesama manusia. Dan menunggu. Pada orang-orang dengan keinginan yang utuh dan tekun. Lebih banyak bertahan. Suatu ilmu yang gerakan awalnya lambat. mengapa kakaknya Rarawarang tidak berteman saja dengan mereka dalam mewujudkan cita-citanya. Tersentuh ia akan kesungguhan dari Rawarang yang ingin menuliskan apa-apa yang diketahuinya mengenai ilmu-ilmu mereka bertiga. mengalirnya hawa akan berlainan dengan pada orang-orang yang malas ataupun amat ambisius. Hanya tak dimengertinya. dan dinamakan oleh ketiga petapa itu sebagai Ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. Ilmu ini yang memang ditujukan hanya bagi orang-orang yang sabar dan tekun. Mereka benarbenar terharu atas kegigihan Rawarang yang ingin menuliskan kitab mengenai ilmu-ilmu mereka. Dalam perjalanannya menuju ruangan tersebut Bagadsh berpapasan dengan ketiga petapa di Sungai Batu Bening. ia dapat mengerti bahwa ketiga orang petapa ini bukanlah orang-orang yang berniat tidak baik. demi melengkapi koleksinya untuk mewujudkan suatu perpustakaan yang di tanah ini. Sebagai seorang Troll yang kemampuan dalam membedakan manusia yang jahat dan baik di atas manusia pada umumnya. akan tetapi dapat membalas dengan cepat dan keras. Petapa Gunung Es yang menerima sejilid kitab tersebut. Bahkan sampai merelakan nyawanya sebagai imbalannya. Sama pula yang dialami oleh kedua adiknya tersebut.211 gin dirinya dibedakan dari makhluk-makhluk yang selama ini telah banyak membantunya. dibacanya dengan cepat tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya. akan tetapi dapat mem- . Tak tahan berkaca-kaca matanya membaca isi dari kitab tersebut. Ia hanya memandang sayu mereka. Mengangsurkan kitab setengah jadi yang ditulis Rawarang pada saat-saat terakhirnya. Ilmu ini dirancang untuk orang-orang yang tidak suka mencari-cari masalah lebih dulu. Akhirnya diputuskan sebagai penghormatan mereka bagi Rawarang dan juga peringatan bagi dirinya serta orang-orang yang telah teracuni ambisi. Lalu diangsurkannya kitab itu kepada kedua adiknya. akan diciptakan ilmu yang hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berhati teguh.

Jika tidak tekun merapal ilmu ini. Mengenai misi untuk melaksanakan rencana Rawarang lebih lanjut. Ilmu yang boleh dipelajari oleh orangorang yang dapat terlebih dahulu masuk ke Ruang Kitab dan mempelajari ilmu-ilmu yang di ada di sana sesuai dengan petunjuk yang ada. mengingat bahwa ilmu itu bukanlah hasil pencurian dari Rawarang melainkan hasil karya ketiga petapa itu. Mereka kemudian merancang sedemikian rupa cara mencapai ruang kitab itu dan juga petunjuk-petunjuk untuk mempelajari kitab-kitab yang ada. yaitu ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas itu tidak diletakkan di Ruang Kitab melainkan di Kediaman Terakhir. atau keturunan-keturunannya. Saat mereka menyerang itulah muncul kelemahan-kelemahan yang harus segera dimanfaatkan untuk diserang. Dengan sendirinya jurusjurus yang dipelajari tidak akan banyak berguna dan seampuh seperti yang dituliskan. Hal ini dikarenakan umur Troll yang relatif bisa tiga sampai empat kali lamanya umur manusia. Kitab-kitab tertentu apa saja yang perlu dipelajari untuk dapat memahami kitab-kitab yang lain. . kitab karangan ketiga petapa. Selain karena indahnya tempat itu juga untuk merampungkan sedikit-sedikit catatan-catatan yang pernah dimulai oleh Rawarang. Mengikuti tradisi dari para penghuni dataran tebing itu. hal itu diserahkan pada Bagadsh untuk menceritakannya. Setelah melihat ruangan Kediaman Terakhir yang menyerupai Katakombe. ketiga petapa itu pun berpesan kepada Bagadsh agar mereka bertiga apabila nanti juga telah tidak lagi bernyawa. Mempelajari keseluruhan kitab-kitab yang dikumpulkan Rawarang akan menghabiskan waktu. dan tidak sempat mengamalkannya. Dengan cara ini mau tak mau lawan akan terlebih dahulu menyerang karena tak sabar.212 BAGIAN 4. Kelebihan dari ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas ini terletak pada kuda-kuda dan posisi yang harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. agar dimakamkan pula di sana. Ketiga petapa itu pun akhirnya memutuskan untuk berdiam di tempat itu. Atas permintaan Bagadsh dan hasil urung-rembug. PENJAGA KESEIMBANGAN balas dengan ampuh. kesabaran untuk menanti terlebih dahulu serangan lawan tidak akan tercapai.

Mendengar hal itu ketiga petapa hanya dapat tersenyum.213 Untuk pesan yang tidak selesai dituliskan oleh Rawarang. . akan tetapi kemudian lubang di atas tebing itu ditutup dan digantikan dengan lubang di langit-langit dalam gua. hanya pesan mereka kepada Bagadsh. sehingga apapun tindakannya dapat ia benarkan dengan argumenargumen tertentu. ketiga petapa itu tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Hanya orang-orang yang telah mereka restui saja akan diberi tahu di mana letak makam dalam gua atau Katakombe tersebut berada. agar keterangan mengenai ruangan itu jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Sang Maling Kitab juga melihat dirinya sebagai Penjaga Keseimbangan. Bahkan Bagadsh pun sebagai orang terdekat dari Rawarang tidak mengerti maksud dari pesan terakhir yang tidak selesai dituliskan kakaknya itu. Mulanya Kediaman Terakhir dapat dicapai dengan memanjat dinding tempat sungai Batu Bening mengalir ke luar. Bagadsh pun mengiyakan hal ini. Ia melihat ada benarnya permintaan dari ketiga petapa itu. Mereka sendiri pun tidak memahami hal itu. sedangkan kitab-kitab tokoh-tokoh baik dapat dipelajari oleh orangorang yang dapat mencapai ruangan itu. Hal ini dilakukan oleh para Troll setelah ketiga petapa tersebut menutup mata. Pemikiran dan ambisi Rawarang telah sedemikian jauh merasuki jiwanya. agar orang-orang yang tidak sengaja menemukan ruangan itu tidak mempelajari ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya. Dengan cara ini diharapkan tokoh-tokoh jahat tidak memiliki pewaris. Perlu dituliskan cukup keterangan di ruangan itu. Dalam pada itu Bagadsh sempat menceritakan misi lain dari pencurian kitab-kitab yang dilakukan oleh Rawarang. Sedangkan kitab-kitab dari orang-orang yang dianggapnya baik diletakkan di Ruang Kitab. Hal itu untuk keselamatan mereka sendiri pula. Letak ruang tempat meletakkan kitab-kitab dari tokoh-tokoh sesat dunia persilatan tidak ditanyakan oleh ketiga petapa. Mereka tidak ingin makam mereka mudah dicapai oleh orang-orang yang tidak berhak. yaitu ia juga mencuri kitab-kitab dari orang-orang yang juga dianggapnya jahat dan menguncinya dalam suatu tempat di gunung itu.

Suatu cara kamuflase yang dikenal oleh para Troll. Sudah mandi keringat Paras Tampan hari itu menyerang sana-sini para Troll yang menjaga lubang di langit-langit itu dari empat jurusan. Tak kuat badannya dipaksakan untuk terus bergayut terbalik dan melakukan serangan-serangan terus menerus. Ia belum sekalipun berhasil memasuki lubang di langit-langit untuk mencapai ruang berikutnya itu. Terduduk dalam capainya. Ia sedang duduk dalam suatu ruangan beratap tinggi. Akan tetapi belum sehandal para Troll yang bahkan dapat berlari secara terbalik. ia sekarang telah terampil untuk bergerak secara terbalik di langitlangit. Dengan cara ini diharapakan agar terlihat bahwa tempat itu tidak pernah sebelumnya menjadi jalan masuk ke suatu tempat di dalamnya. Seakan-akan tanpa celah. Hanya saja sekarang lain rasanya. Dikarenakan telah dapat berjalan secara terbalik pada langit-langit. Perlu dipikirkan cara yang efesien untuk menyerang. kira-kira dua . Paras Tampan pun kemudian bermimpi. tak pernah sampai pukulan atau sodokan tongkatnya pada bagian-bagian berbahaya dari tubuh mereka. Tak terasa hari kedua pun berlalu dengan cepatnya. walaupun masih dilengkapi dengan semangat yang membara. Dengan tubuh yang lelah dan mata penat. Berlatih dengan cara terbalik ini mengembangkan kemampuan baru bagi Paras Tampan dalam penguasaan menggunakan tongkat. Bacokan ke bawah malah terasa lebih berat. PENJAGA KESEIMBANGAN Di pintu tempat dulunya terdapat jalan masuk ke Kediaman terakhir ditanam beberapa pohon dalam rekahan-rekahan karang. melainkan memang begitu adanya sejak lama. dengan hanya kakinya yang mencengkeram langit-langit batu. Walaupun demikian secara tak sengaja. Paras Tampan pun akhirnya harus beristirahat. Umumnya saat menyerang kita juga memanfaatkan gaya berat bumi pada tongkat. Paras Tampan baru dapat berjalan perlahan-lahan. *** Hari pertama pun telah berakhir bagi Paras Tampan.214 BAGIAN 4. ia pun mulai membiasakan diri untuk melakukan serangan dengan menggunakan tongkat. Dalam posisi terbalik ini justru ungkitan ke atas yang memanfaatkan gaya berat tersebut.

Seakan-akan tidak lagi asing wajah orang itu. Umumnya dikeluarkan bersamaan dengan ia mencengkeram atau menjejak. Kemudian dibalikkan telapak tangannya dan batu itu pun masih menempel. seakan-akan tidak mau lepas dari telapak tangannya. Tak ada kata-kata di antara mereka. Bagadsh. masih terlihat lebih pendek apabila dibandingkan dengan orang itu. Dicobanya Paras Tampan mengingat-ingat. Paras Tampan yang untuk ukuran pemuda di kampungnya telah berbadang besar dan tinggi. dan di- . Ia hanya muncul sebentar sambil menunjuk pada orang itu. Orang tua berambut putih sebelah itu pun melambaikan tangannya. Ia kemudian menggambarkan segitiga terbalik dengan garis mendatar di puncak bawah segitiga. Setelah itu ia pun kembali menghilang. Tak lama kemudian muncul sesosok Troll tua di samping orang itu. Orang itu tersenyum-senyum sambil menatap Paras Tampan yang sedang duduk bersimpuh di hadapannya. Atau hal lain pada orang itu yang rasa-rasanya pernah dikenalnya. Beringsut Paras Tampan mengikuti permintaan orang itu. Dengan masih sedikit bingung Paras Tampan pun mencoba mengerahkan Tenaga Tanah yang pernah dipelajarinya. Lalu diangsurkan batu itu kepada Paras Tampan seakan meminta untuk mencobanya melakukan hal yang sama.215 tiga tombak di hadapan seorang agak tua. Entah apa. Setelah cukup dekat. Lambang Tanah. Batu itu terlihat menempel. seakan-akan memberi tahu Paras Tampan bahwa ini adalah orang yang dimaksud. Kira-kira setua gurunya Ki Tapa akan tetapi dengan tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar. Rambutnya yang berwarna dua merupakan tanda yang khas dari orang itu. orang tersebut kemudian mengambil sebuah batu yang ada di sekitarnya. meminta agar Paras Tampan mendekat. Entah apa yang menyebabkan hal itu. Diletakkannya di atas telapak tangannya. warna hitam dihiasi ubanuban putih di sebelah kanan dan warna hitam belaka di sebelah kiri.

Paras Tampan pun mengiyakan. Saat ia sedang gembira akan pengertian dan pemanfaatan barunya mengenai Tenaga Tanah. Ia berhasil membuat batu itu menempel pada telapak tangannya. Paras Tampan pun mencoba lagi.216 BAGIAN 4. Kali ini berhasil. orang itu menepuk bahunya dari belakang. Meminta Paras Tampan dengan isyarat tangannya untuk mencoba agar batu itu menempel pada telapak tangannya yang menghadap ke bawah. Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah Paras Tampan dapat mengerti orang itu kemudian mem- . menimbulkan sensasi yang berbeda saat Paras Tampan mencoba menempelkannya pada telapak tangannya. Lalu ia berdiri. PENJAGA KESEIMBANGAN gunakan saat memanjat lubang-lubang di Ruang Dinding Berlubang. Terlihat sedikit hasil. Di sana tampak bertumpuk-tumpuk kerikil dan batu bersebaran. Tersungging senyum pada wajah orang itu menyaksikan keberhasilan Paras Tampan melakukan petunjuknya. Hal itu juga tampak dari penjelasan orang itu. Lama dan stabil. Dengan cara ini ia tidak akan terlalu lelah saat menempel pada dinding atau bebatuan. mengisyaratkan Paras Tampan untuk mencoba kebisaan barunya itu pada dinding di sekitarnya. Batu itu sempat bertahan beberapa lama untuk kemudian terjatuh. tapi menempelkan benda. Orang itu kemudian mengambil sebuah batu yang cukup besar. lembut tapi mengalirkan Tenaga Tanah. Perbedaan struktur dan komposisi bahan dari batuan yang diberikan orang itu. sehingga efesien pemanfaatannya. yang berusaha mengatakan bahwa tenaga yang dikeluarkan harus disesuaikan. Tenaga Tanah dapat dikeluarkan tanpa perlu terlalu mengeluarkan tenaga fisik. Ia mengajak Paras Tampan menuju ke suatu tempat. Setelah beberapa kali mencoba Paras Tampan mengerti bahwa yang selama ini dilakukannya terlalu menguras tenaga. Paras Tampan pun mengikuti orang itu ke suatu ruangan terbuka beratapkan langit. Bermacam-macam warna dan ukuran. ia lalu memberi isyarat bahwa jangan terlalu keras. Ini bukan menjejak.

Naik terus sampai dua tombak lebih.217 berikan batu-batu yang lain dari berbagai jenis. Demikian pula untuk mengapungkan batu. Naik kembali mendekati telapak tangan dan kemudian turun kembali. orang tersebut telah berdiri di tengah-tengah lapang yang dihiasi berbagai jenis batu itu. ia hanya bisa sejauh satu jari di atas telapak tangannya. Orang itu tampak berkonsentrasi sebentar. Batu itu menempel. seakan-akan mengatakan cukup. diletakkannya di atas telapak tangannya dan kemudian dibalikkan. Kagum Paras Tampan akan demonstrasi yang dilakukan oleh orang itu. Lebih jauh ke bawah. Diambilnya sebutir batu sembarang. akan tetapi orang itu menunjukkan sesuatu yang sama sekali lain. Hal yang dilihatnya seakan-akan . akan tetapi ia tidak membalik telapak tangannya itu. melainkan membiarkannya menghadap ke atas. agar ia dapat merasakan perbedaannya dari berbagai contoh. Tapi ia hanya mampu untuk menahan batu itu tergantung di bawa tangannya sejauh dua kuku. Ia mengisyaratkan agar Paras Tampan memperhatikan gerak-geriknya. orang itu menunjukkan hal lain. Kemudian tampak bahwa batu itu melayang jauh ke atas seakan-akan terdorong oleh tenaga tak tampak dari telapak tangannya. mengatur nafasnya sehingga hampir tak lagi terdengar dan kemudian menggerakkan tubuhnya. Ia menunjukkan pula bahwa hal yang sama bisa berlaku sebaliknya. dan kemudian perlahan-lahan turun ke atas tanah. Kemudian. Belum Paras Tampan sempat mengucap sesuatu berkaitan dengan cara yang baik untuk membangkitkan tenaga tarik dan tolak itu. Batu yang tadi diletakkan kembali ke atas telapak tangannya. Dulunya ia menganggap Tenaga Tanah itu hanya bisa muncul sebagai tenaga menempel apabila bagian tubuhnya bersentuhan langsung. Kemudian turun perlahan-lahan kembali ke telapak tangan orang itu. Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Paras Tampan. batu tersebut kehilangan kendali dan jatuh berdebam. Ternyata lebih sulit membangkitkan tenaga tolak ketimbang tarik menggunakan Tenaga Tanah. Beberapa gerakan yang langsung dapat diserap oleh Paras Tampan yang memiliki ingatan baik. Dicobanya untuk melakukan hal yang sama.

Liar.. orang itu merangkumkan kembali jurusnya dengan Tenaga Tanah sehingga kembali batu-batu kecil dan besar beterbangan bagai debu. seakan-akan akan terjadi longsor atau badai. PENJAGA KESEIMBANGAN tak akan terlupa kembali. Pada pukulan penutup diarahkannya jurus tersebut ke arah Paras Tampan. Kembali mati seperti keadannya semula. uap air. Di mana semua bagian dari air bergetar liar. Hanya gurunya Ki Tapa yang mengetahui bakatnya ini. Membentuk kelompok-kelompok yang berubah-ubah sesuai dengan gerakan orang itu. Sejenis pukulan yang yang sulit untuk dihindari. batu-batu yang mengambang itu pun kembali terjadi ke atas tanah. ”Dukkk. Seluruh batu-batu yang berada di lapangan itu bergetar. Padangannya tiba-tiba gelap. ingin bergegas menjadi gas. Rupanya dalam posisi duduk tadi.. Ada hawa tenaga luar dan tenaga dalam secara bersamaan. Sampai di akhir jurus ke sepuluh. Tak berapa lama terdengar suara bergemuruh. Paras Tampan menyaksikan dan mencoba mengingat-ingat sekecilkecilnya perubahan yang dilihatnya. Angin pukulan belaka bagi Paras Tampan mungkin tidak lagi menakutkan karena ia telah melihat demonstrasi gurunya akan hal itu. Setelah mengurangi tenaganya. Mengambang dan liar. Ia tercengang akan serangan itu dan tak sempat mengelak. Serangkum batu-batu bergerak bergerombol mengambang di udara. Menunjukkan sepuluh jurusa dari Pukulan Badai Pasir.. tapi di sini gerakan angin itu tidak hanya diikuti hawa belaka melainkan juga batu-batu. yang merupakan salah satu kelebihannya. Tak terasa Paras Tampan menahan nafas menyaksikan peragaan ini. Pukulan yang menyertakan batu-batu dan pasir dalam hawa pukulannya. Benar-benar pukulan yang mengerikan. Inilah apa yang dikenal sebagai Pukulan Badai Pasir. seperti halnya air yang mendidih. Lalu orang itu mulai mengayunkan anggota-anggota tubuhnya. dan.!!” Paras Tampan terbangun dari tidurnya karena kepalanya mengantuk batu yang ada di sisinya.. perlahanlahan tubuhnya membungkuk sampai posisi tertentu dan kemudian .218 BAGIAN 4. Selanjutnya orang itu menggerakkan tangan dan kakinya sedemikian rupa sehingga menghasilkan angin sapuan yang dasyat.

Tiba-tiba ia mengerti. Teringat ia kembali akan mimpinya itu. Cepat dan keras. baru kemudian dikendalikan dengan Tenaga Tanah menjadi hawa pukulannya. Salah seorang dari mereka tampak tersenyum ala Troll melihat Paras Tampan yang sedang asik bergerak-gerak sendiri di bawah sana. belum terisi oleh Tenaga Tanah. Tak berapa lama telah berhasil ia melakukan kesepuluh jurus itu. Kegiatannnya ini tak lepas dari pengamatan keempat penjaga Troll yang masih nemplok di langit-langit gua tersebut. Mendapatkan bantuan itu Paras Tampan pun membungkuk kepada sang ikan Kolakan . Dilontarkannya bongkahan es tersebut.219 jatuh membentur dinding di sampingnya. Untuk itu ia harus membuat air yang ada di sekelilingnya menjadi es dahulu. Sambil kadang berhenti untuk kembali merangkai ingatannya kembali. Tapi tanpa batu. Pun di sana tidak terdapat batubatu seperti dalam mimpinya. Digosok-gosokkan kepalanya yang membenjol kecil. Paras Tampan yang tidak siaga hampir saja benjol kepalanya untuk kedua kalinya. Pukulan Badai Pasir. Masih berupa gerakan saja. Sakit. Dengan tipis mengelak Paras Tampan menangkap bongkahan es sebesar kepalan tangannya itu. Paras Tampan memutuskan untuk berlatih jurus-jurus dalam mimpinya itu. Dicobanya untuk melakukan jurus-jurus yang tadi dilihatnya dalam mimpi. ”Kecipak.. untuk menarik dan menolak benda-benda padat. seakan-akan ia hendak memberikan jawaban atas kebingungan Paras Tampan yang sedang mencari-cari batu-batu. Tapi ia belum dapat menggerahkan Tenaga Tanah seperti dalam mimpinya. Batu yang tidak ada dapat digantikan dengan es. tampak sebongkah es terbentuk mengambang. Perlahan. Untung ikan kolakan itu tidak bermaksud untuk benar-benar menyambitnya. Kesepuluh jurus dari Pukulan Badai Pasir telah dapat dilakukannya dengan lancar. Karena belum menemukan alternatif untuk masuk ke lubang di langitlangit gua itu. Setengah hari pun lewat. walaupun masih kaku. Karena Paras Tampan tidak terlihat mengerti.!” tiba-tiba terdengar deburan air yang diciptakan oleh ikan Kolakan. ikan Kolakan tersebut kemudian menggerakkan ekornya setelah berputar beberapa kali. Sekarang ia berpikir untuk melatih jenis tenaga tersebut.

sedangkan rekannya menggantikan posisinya untuk menjaga lubang di langit-langit itu. Ia memikirkan bagaimana cara yang paling cepat untuk melatih ilmu barunya. BAGIAN 4. Tinggal setengah hari lagi sampai batas waktu yang diperbolehkan bagi Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Pukulan Badai Pasir yang tidak menggunakan pasir dan batu melainkan butiranbutiran es. Ia masih bingung membagi tenaganya antara membekukan air dan menjalankan Tenaga Tanah untuk mengendalikan butiran-butiran padat tersebut. Hari pun telah menjelang senja.220 untuk berterima kasih. semakin lama diputarkan semakin kecil bongkahan es jadinya karena bergesekan dengan udara. Akhir hari kedua. Tapi ia belum dapat menguasainya dengan baik. Buah yang berwarna keperakkan pun telah diberikan sebuah kepadanya. Paras Tampan tidak mempedulikan mereka. Tak terasa tengah malam telah menjelang. Jadi jurus yang harus digunakannya tidak boleh menggunakan banyak perputaran. Lebih tepat disebut Pukulan Butiran Es. Yang baru turun dari langit-langit tampak Mengheningkan Cipta untuk memulihkan tenaganya. Pukulan Badai Salju efektif apabila batu-batu es yang digunakan cukup banyak. Sunyi. melainkan harus langsung. Saatnya untuk sedikit beristirahat. Sudah ditemukannya jenis pukulan dan serangan yang dapat digunakan. Jika tidak serangan es itu tidak akan berhasil. Dan lagi dalam memutarmutarkan bongkahan es itu. Para Troll sudah berganti kembali penjagaan. Perlahan-lahan. PENJAGA KESEIMBANGAN Penghormatannya dibalas dengan lompatan tinggi sang ikan yang kemudian menghilang dalam air yang jernih dan dalam itu. Selain itu Paras Tampan juga telah menemukan cara lain meman- . Dicobanya dengan sedikit butir-butiran es. akan tetapi untuk membentuk batu es yang cukup banyak diperlukan tenaga awal yang besar. ia tidak bisa membuat bongkahan es melebihi kepalan tangannya. Mengingat Paras Tampan tidak melatih Tenaga Air dengan mendalam.

Semangat mulai mengisi tubuhnya. untuk memasuki ruangan di atas langit-langit sebagai tujuan ujiannya. Sekarang ia harus bersiap-siap untuk kembali mencoba masuk ke lubang di langit-langit itu. Capai sudah baik fisik maupun pikirannya untuk melatih jurus-jurus yang akan dirapalnya besok. Sekarang ia bisa melakukan levitasi (levitation) atau mengambang di udara. Sebenarnya ia tidak benar-benar mengambang akan tetapi menyeimbangkan antara gaya tarik bumi. Tenaga yang diperlukan untuk pertarungan terakhir hari ini.221 faatkan Tenaga Tanah selain menolak dan menarik yang diajarkan orang agak tua itu dalam mimpinya. Saat ia bangun. Benar-benar tidur. Dilemaskan otot-otot yang kaku akibat tidurnya. Percobaan terakhir. Ia memakannya dan segera terasa asupan tenaga segar menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Sudah tidak terasa lagi lelahnya kemarin malam. Dengan cara ini ia bisa melompat lebih tinggi dan bertahan lebih lama di udara baru kemudian turun kembali dengan ringat. Sekarang yang ia butuhkan hanyalah istirahat. Pemuda itu menggeliat bangun. tidak seperti dua malam berturut-turut yang lalu yang hanya setengah tidur. Ia amat berterima kasih pada orang tua yang ditemuinya dalam mimpi dan juga sang ikan Kolakan. juga siasat yang diaturnya. Jika gagal ia harus berlatih lagi ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. satu tahun lagi. tampak satu buah keperakan tampak telah tersedia di sampingnya. Tidur enam jam sudah cukup baginya. Gabungan dari Pukulan Badai Pasir dan Sentilan Kelereng Es. *** Pagi telah datang. Ia kemudian mulai memperaktekkan jurus-jurus Pukulan Butiran Es yang ditemukannya kemarin. Ia merencanakan akan menggunakan tenaganya habis-habisan untuk menyerang keempat penjaga itu besok pagi. Paras Tampan pun mencari posisi yang enak di salah satu sudut gua. Hampir-hampir ”terbang”. Tinggal setengah hari kurang waktu yang diberikan pada Paras Tampan untuk mencapai ruangan di atas langit-langit itu. Digerak-gerakkan tubuhnya. . melingkarkan tubuhnya dan tidur. gaya tarik dari tubuhnya ke langit-langit dan gaya tolak dari tubuhnya terhadap lantai. Paras Tampan pun segera berdiri.

Ia akan mulai menyerang para penjaga itu.. Melihat itu para Troll penjaga menjadi bersiaga. Sekejap butir-butiran air yang sedang melaju itu mengeras menjadi es kecil-kecil. Sebelum para penjaga sadar apa yang akan menerima mereka Paras Tampan telat merapal sedikit Tenaga Air yang dimilikinya. Penjaga-penjaga yang baru tampak segar bergayut terbalik di atas sana. Satu tidak cukup.. Memohon pada Sang Pencipta restu-Nya. Ia memutar-mutar tangan dan kakinya dengan masih melayang di udara sedemikian rupa sehingga butiran-butiran es tersebut tidak lagi langsung menuju para penjaga melainkan menari-nari mengikui gerakan tangannya. Tapi mereka tidak terlihat panik karena butir-butir es yang kecil itu. dimintanya ijin untuk menggunakan mangkuk minum mereka. Paras Tampan pun bangkit dari sikap heningnya. Dihampirinya para Troll yang sedang beristirahat. Paras Tampan kemudian mengisi mangkuk-mangkuk kayu tersebut dengan air. agar ia dapat berhasil pada pagi hari ini.222 BAGIAN 4. Ia pun melompat tinggi dengan membawa beberapa mangkuk kayu yang berisi air. Setelah merasa penuh oleh semangat dan juga aliran hawa. Menjaga lubang yang menjadi tujuan akhir dari ujiannya selama dua setengah hari ini. Saat para Troll penjaga itu akan menangkis butiran-butiran es tersebut. Meletakkannya di atas lantai di bawah sekeliling posisi para penjaga lubang yang bergelantungan itu. Ia menegadah. Pertama-tama diambilnya tempat mangkuk minumnya yang terbuat dari semacam kayu yang berasal dari tempurung buah-buahan mirip kelapa. Dihamburkannya isi mangkuk tersebut ke arah para penjaga dengan cara ditendang atau dilemparkannya. Paras Tampan telah berganti menggunakan Tenaga Tanah. ”Heghh. Dilihatnya bahwa para Troll pun menggunakan tempat yang sama. .!!” hentaknya. PENJAGA KESEIMBANGAN Untuk menenteramkan jiwanya. Dilihatnya para Troll penjaga baru saja berganti tugas. Salah seorang dari mereka mempersilakannya. apalah artinya bagi kulit mereka yang tebal. Paras Tampan pun Mengheningkan Cipta sebentar. Ditariknya napas dalam-dalam dan ia pun bersiaga untuk mulai menyerang.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Paras Tampan. Sasaran yang dituju adalah jalan darah-jalan darah penting dan juga mata. Paras Tampan meluruskan tangannya ke depan. Dengan badan sedikit bergetar akibat hawa pukulan tersebut. Paras Tampan masih melaju memanjat lubang di atas langit-langit tersebut. Hampir habis tenaganya. tapi luput karena terhalang perisai butir-butir es. Kembali dengan cara yang sama. Hal ini tentu saja membuat sibuk pada penjaga yang berusaha melindungi bagian-bagian tubuhnya itu. tiba-tiba terdiam di udara dan mendekat dengan pesat ke arah pusat lubang. . melindungi tubuhnya dari kemungkinan serangan-serangan tongkat para penjaga.223 Setelah cukup membingungkan para penjaga dengan arah gerak butiran-butiran es-nya. Paras Tampan turun kembali dan melemparkan sisa air yang ada di mangkuk kayu yang masih belum digunakan.! Masuk ia ke lubang di atas sana. akan tetapi kali ini tidak memutar-mutar dulu.!!” beberapa tongkat dari penjaga yang telah terlepat dari serangan butir-butiran es-nya mendarat di depan dan belakangnya. Dengan merapal Tenaga Tanah untuk mengambangkan diri atau levitas. ”Tak-tak-tak. Dan ia berhasil. Menyerang keempatnya dari empat penjuru sekaligus.. Tapi kelelahan itu tak ada artinya apabila dibandingkan dengan keberhasilannya memasuki ruang di atas langit-langit itu. Kembali serangan ini menambah bingung keempat pejaga Troll yang sedari tadi masih menangkis serangan butiran-butiran es yang lebih kecil. sampai sekepalan tangan. Butiran-butiran yang terbentuk kali ini lebih besar. melainkan langsung dengan serangan langsung. Pada saat mereka berempat sedang kebingungan akan serangan butiran-butiran es tersebut. Masih terasa napasnya yang kembang-kempis karena mengeluarkan banyak tenaga untuk menggunakan sekaligus Tenaga Air dan Tenaga Tanah.. ia melompat. Di sisi-sisi tubuhnya tampak butiran-butiran es mengambang bergerak melingkar cepat. melesat menuju lubang itu. Akibat gerakan itu butir-butiran yang tadinya telah menyebar ke empat penjuru dari para penjaga.

”Majulan terus. Bisa dari depan atau belakangnya. Kemudian ia mengedarkan pandangannya turun. Suara tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari mana. Ada kerangka yang benar-benar tinggal tulang saja. sampai ke suatu pintu di sebelah kananmu. karena sebagaian akarnya terlihat akibat kulit kepala yang telah mengering atau terkelupas. Bingung dan juga takjub Paras Tampan menyaksikan hal ini. Paras Tampan pun berjalan terus hingga ke ruangan yang diisyaratkan oleh Bagadsh. Semacam lubang-lubang yang dibuat untuk membiarkan sinar matahari masuk dan menerangi ruangan itu. Hampir habis waktu ujian. PENJAGA KESEIMBANGAN Ruang itu tidak setinggi dengan ruangan di bawahnya. ada pula yang masih dilengkapi dengan kulit yang mengering. Dan anak telah berhasil. Dan lebih terang. Rambut-rambut kasarnya menjadi terlihat lebih panjang. Di sana. Kurus kering dan menyeringai dengan rongga mata yang bolong hitam. Wajah-wajah mereka menjadi lebih mengerikan dibandingkan di saat masih hidup. ”Bagus nak Paras Tampan.” Sunyai sebentar. Bagadsh akan menunjukkan sesuatu bagimu. Ia tidak mengerti mengapa ia harus diuji untuk masuk ke dalam kuburan ini. Apa yang dilihatnya dalam ruangan itu hampir-hampir membuatnya tersentak. Lamat-lamat terdengar suara. berkeliling menjelajahi apa-apa yang bisa dilihat. Dilaluinya rongga-rongga yang berisikan tulang-belulang Troll. . Di ruangan di atas langit-langit gua yang berhasil dicapainya terdapat berpuluh-puluh lubang di dinding sebesar manusia. Sebuah kuburan dalam gua (Katakombe).224 BAGIAN 4. Dan di dalam lubang-lubang tersebut terdapat sebuah kerangka mirip manusia yang lengkap dengan pakaian dan beberapa perlengkapannya. Luband dari ruangan di bawahnya berada di tengah-tengah ruangan itu. Tampak beberapa garis-garis sinar jatuh dari langit-langit.” kembali suara terdengar memberinya petunjuk. Ia pun melangkah mengikut petunjuk itu. Di sana tampak Troll tua tersebut menantinya. Ikuti jalan itu.

”Dan ketiga orang ini adalah tiga bersaudara petapa. Tapi tidak menegaskan siapa Petapa Seberang itu.225 Setelah dekat dengannya. Mereka mengikat tali persaudaraan di Pulau Gunung Api. Engkau mem- .” sambil ditunjukkan oleh Bagadsh ketiga kerangka yang duduk bersila dekat kerangkat Rawarang. Tiga buah kerangka tampat duduk bersila. Melihat kebingungan Paras Tampan. Petapa Lain Pulau dan Petapa Seberang. mungkin gurunya Ki Tapa pernah sekali dua kali menyebutkan. melainkan masih terbalut kulit dan ditutupi dengan jubah yang sederhana. Bagadsh menceritakannya dengan kata-kata yang amat memukai bagi telinganya. Murid-murid mereka dan hal-hal lain yang memang dititipkan oleh ketiga orang petapa itu untuk diceritakan pada orang yang dapat mencapai tempat ini. kadang juga sedih atau gembira.” jelas Bagadsh sambil menunjuk pada kerangka manusia jangkung itu. karena ilmuilmu yang engkau bawa sebelum ke sini bersumber dari beliau. Bagadsh sang Troll tua pun akhirnya menceritakan kisah ketiga Petapa tersebut. ke masa di mana orang-orang yang diceritakan itu masih hidup dan menjalani pengalaman hidup mereka. Petapa Gunung Es. ”Nah. Samar-samar terasa Paras Tampan teringat pada sosok tubuh sejangkung itu.” jelas Troll tua tersebut. Pengembaraan mereka dari luar pulau sampai tidak di tanah ini. Troll tersebut mengangsurkan tangannya menunjuk sesuatu di dinding. Ia seakanakan dibawa ke masa lampau. ”Ini adalah Rawarang yang oleh orang-orang dunia persilatan disebut sebagai Maling Kitab. Kerangka mereka belum tinggal tulang. ”Engkau seharusnya tahu mengenai Petapa Seberang. Pakaiannya mirip dengan pakaian para petapa pada umumnya. Menangguk-angguk Paras Tampan mendengar cerita itu. Di tempat yang ditunjukkannya tersebut terdapat empat buat lubang di dinding. ia tak banyak tahu mengenai hal itu. Kadang tegang. sekarang setelah engkau berada di tempat ini. Di sisi mereka tampak sebuah lubang tegak cukup tinggi dengan kerangka orang yang jangkung di dalamnya. Ya. Ia sendiri lebih senang menamakan dirinya Penjaga Keseimbangan. Paras Tampan menggelengkan kepalanya.

” jelas Bagadsh. Semoga engkau dapat mempelajari dan mengamalkannya. tidak dibatasi. PENJAGA KESEIMBANGAN punyai tugas untuk belajar ilmu yang diciptakan oleh ketiga petapa itu pada akhir hidupnya. ”Aku Bagadsh. Bila mereka telah tiada. Kitab yang asli tidak boleh dibawa. jangan ceritakan pada siapasiapa tempat ini. Di Katakombe itu. memperagakan sebagian gerakan-gerakannya. Terserah ia. Lalu diceritakannya perihal ilmu Menanti Tekun Memukul Tegas. baru kemudian menyerang dengan cepat. Ki Bagadsh. Tidak mengulangi kesalahan yang sama. ada satu permintaan padamu. boleh engkau bangun suatu perguruan untuk menyimpannya dan mengamalkannya. ”tiap kitab yang telah dicurinya telah disalin ulang oleh Rawarang. Ilmu untuk mengenang dan juga sebagai peringatan akan ambisi Rawarang.” Mengangguk-angguk Paras Tampan mendengarkan hal itu. Untuk waktu pembelajaran tersebut. Ilmu yang kelihatannya sederhana akan tetapi sulit untuk dilakukan karena terlihat kadang amat lambat. Kitab yang asli dikembalikan agar orang-orang tidak lagi mendendam pada Rawarang si Maling Kitab.” jawab Paras Tampan sopan. dan juga engkau selaku pewaris ilmunya. Satu jurus dapat dilakukan cukup lama.” kemudian lanjut Bagadsh. Kembalikan pada keturunan-keturunan dari pemilik yang terdahulu... Ia pun mengiyakan akan mempelajari ilmu itu. ”Setelah engkau keluar dari tempat ini. untuk masih menanti orang yang dapat dijadikan penerus ilmu-ilmu mereka. Biarkan kami hidup dengan damai di sini. Bisa juga ia turun gunung sekarang apabila telah hapal teori dari ilmu itu atau apabila ia dapat menyalinnya. nak Paras Tampan.” ucap sang Troll tua. harus ditinggalkan di sini. Disamping keempat tokoh yang berkaitan dengan penciptaan ilmu tersebut. Bagadsh yang telah sedikit dilatih oleh ketiga petapa itu. Dan kemudian kembali diam. Ia menghargai benar-benar kesetiaan Troll tua itu atas pesan Rawarang dan ketiga petapa. Terli- . Jadi di sini masih akan tersimpan arsipnya. Kitabkitab hasil curian Rawarang boleh engkau bawa keluar.226 BAGIAN 4.” ”Sejauh yang saya bisa. ”ku harap engkau mau mengabulkannya. Paras Tampan mengangguk-angguk melihat peragaan itu.

Di tengah kepungan para prajurit Perguruan Kapak Ganda itu. Prasasti yang dicuri dari Air Jatuh dalam Perguruan Atas Angin oleh Murid Rahasia. Ya. Cermin Maut. Gentong.227 hat jelas rasa sayang dari Bagadsh pada Rawarang kakak angkatnya itu. Sudah cukup lama mereka bertanding. Lain .. *** ”Hiattt.. Hal ini terlihat dari cara mereka melangkah yang lain saat bila dibandingkan saat mereka naik dulu. Puluhan orang berseragam hitam-hitam tampak mengayunkan senjatanya melawan lima orang yang bersenjatakan tongkat belaka.. Biar tidak ada orang yang memanfaatkan kitab-kitab yang tidak baik tersebut. Rimba Hijau diserang. agar tempatt tersebut dirahasiakan sama sekali. Ketiga petapa telah berpesan kepadanya.. masih ia berupaya agar sang kakak tidak meninggalkan dendam dan penasaran bagi keturunan orang-orang atau keluarga-keluarga yang kitab-kitabnya dicuri dulu. Murid-murid yang dilatih khusus oleh ketiga pimpinannya. Asap. Stamina sudah menurun. Perguruan Kapak Ganda akhirnya dapat menguraikan pesan yang tertulis di bawah prasasti yang ada di perguruan mereka. Keempatnya telah turun gunung dari mencari kitab-kitab untuk menambah ilmu mereka. Bahkan setelah sang kakak meninggal. Mayat Pucat dan Sabit Kematian bersepakat untuk menyerang saja Rimba Hijau untuk merampas kitab-kitab tersebut. kali ini yang dihadapi adalah murid-murid tingkat atas Perguruan Kapak Ganda. Misbaya dan Rintah. tampak Ki Tapa dan keempat muridnya. takkk!!” Terdengar dentang-denting beradunya senjata di pagi hari di dalam Rimba Hijau. Akan tetapi sayang. Dengan kitab-kitab itu mereka akan dapat meningkatkan ilmu-ilmu mereka. trangg.!” ”Tringgg.. Bagadsh tentu saja tidak menceritakan masih adanya tempat penyimpanan kitab-kitab yang dicuri Rawarang dari para tokoh-tokoh sesat.

Hal yang tidak diketahui oleh Ki Tapa adalah bahwa di luar sana. Akibatnya fatal. ”Jika saja Paras Tampan ada di sini. Ia yang selama ini yakin akan kerahasiaan dari Rimba Hijau benar-benar tidak dapat mempercayai bahwa musuh dapat masuk sampai sejauh ini. diperoleh keteranganketerangan dari Ki Tampar dan Ki Gisang yang akhirnya pun dibunuh oleh mereka. Masuk sampai ke pondokannya. di mana bahasa dan tanda-tanda yang dipergunakan dlaam lontar itu adalah sama artinya. Demi untuk mencari keterangan bagaimana memasuki Rimba Hijau.. ”Ya. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari negeri jauh di seberang lautan. PENJAGA KESEIMBANGAN halnya dengan para penyerang. .” kata Misbaya. dan bukan untuk orang-orang dari seberang. Penduduk kota itu telah dibunuh dan kotanya dibakar. Telah terjadi pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda ini. Hanya dengan berbekal lontar yang dimiliki Ki Tampar dan Ki Gisang saja..” sanggah Rintah. ketiga pemimpin Perguruan Kapak Ganda dapat menguraikan jalan-jalan rahasia untuk masuk ke dalam Rimba Hijau. tidak banyak kemajuannya apabila dibandingkan dengan mereka. Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman.” Ki Tapa sendiri tampak tegang. Jalan-jalan rahasia dan juga tanda-tanda tidak lagi berarti untuk menyesatkan para penyerang. Akhirnya dengan siksaan-siksaan. Mereka dapat berganti-ganti menyerang dan beristirahat karena jumlanya yang lebih banyak. Bingung apabila ia memikirkan hal itu. ”kita yang baru turun gunung saja. tapi belum tentu bantuannya berarti banyak. sehingg mereka bisa membantu gurunya untuk melawan musuh-musuh itu.228 BAGIAN 4. Kebetulan saja keempat murid Ki Tapa baru turun gunung. di Kota Luar Rimba Hijau.. Dulu cara tersebut dirancang untuk menyulitkan orang-orang dari tanah ini.. Orang-orang Perguruan Kapak Ganda dapat dengan leluasa masuk ke dalam Rimba Hijau dan melakukan serangan tibatiba.

Cermin Maut.” tawanya sambil menutup mulutnya.. salah satu dedengkok Perguruan Kapak Ganda... bila saya tak salah. ”Jangan berpura-pura.” ucap Ki Tapa. Tersembunyikan oleh bayangan tudungnya. Dengan siapa saya berhadapan?” tanya Ki Tapa kemudian.. ”Kitab-kitab mana yang dimaksud?” tanya Ki Tapa masih tidak mengerti. ”salah satu pewaris Petapa Seberang. ”sejauh yang saya dengar.!” ”Benar.!” tiba-tiba terdengar suara merdu dan bening melayang di udara. Untuk kita kami perlu meningkatkan ilmu kami. Bersamaan dengan itu melayangnya seorang wanita yang masih terlihat cantik walaupun telah berumur. Kami masih mencari siapa yang melakukannya.!” tiba-tiba melayang seorang lain. Dibunuh orang. saya Ki Tapa. Tinggi kurus dengan wajah yang tertutup tudung panjang sehingga wajahnya tidak terlihat. itu sudah cerita lama. Berpura-pura sebagai perempuan baikbaik.. Tiga pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Sabit yang dibawanya. Ia turun dengan ringannya di hadapan kelima orang itu.. karena ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu.. menunjukkan perangainya yang kejam. Kakak Naga Geni telah berpulang lama. Rambutnya yang hitam panjang tampak sebentar mengembang melayang untuk kemudian jatuh lurus di belakang kepalanya.229 ”Tahan.. Jadi serahkan kitabkitab tersebut kepada kami. kemana saja engkau selama sini orang tua..” ucapnya sambi memandang lurus pada orang tua di depannya. ”Maaf bila kami tidak tahu.. ”Ki Tapa. Hanya orang- . Bukankah Perguruan Kapak Ganda itu dipimpin oleh Naga Geni?” ”Orang tua. ”Hik-hik-hik. sampai tidak mengenai kami..!” jawabnya langsung dengan nada bicara yang tidak lagi ramah.. Mundur dengan teratur dalam posisi masih mengepung kelima orang itu di tengah. Mendengar ini para prajurit Perguruan Kapak Ganda pun menarik serangannya.

Cocok anak ini untuk melampiaskan kebiasaannya yang sesat.230 BAGIAN 4. baru kita geledah hutan ini. Telah lengkap tiga pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda..!” gumam Mayat Pucat sambil melihat siapa yang berani berkata demikian. jika adik-adikku ini tidak menjelaskan apa maksud kedatangn kami ini.” Lalu ia menjelaskan apa yang dicari oleh mereka setelah sebelumnya memperkenal diri dan juga adik-adiknya... dan kemudian menyerap sari-sari dari anak itu. Berdasarkan ukiran lambang di bawah prasasti yang mereka peroleh. Badannya agak tinggi. seperti orang-orang di Kota Luar Rimba Hijau. Memuaskan dahaganya. ”Kami tak punya kitab-kitab itu!” jawab Misbaya yang tak dapat menahan sabar melihat sikap mengalah terus dari gurunya. ”Tak usah banyak bicara. dikatakan bahwa kitab-kitab peninggalan Petapa Seberang berada di timur. berdesir darahnya menyaksikan kemudaan dari Misbaya. Rimba Hijau. bahkan yang empat masih amat muda tampangnya. telah melayang seorang lagi dari mereka. Tanda racun yang amat ganas.” . Mayat Pucat. Tak terasa dileletkan lidahnya. tolong Ki Tapa serahkan saja kitab-kitab tersebut. Setelah itu kami akan angkat kaki dari ini. ”kita bunuh saja semua.. Dan tempat di timur yang mungkin untuk menyimpan rahasia itu adalah di sini. Kuku-kuknya tampak panjang dan bewarna kuning kehitaman. tulang baik. Mereka tidak sabar lagi karena para prajuritnya belum dapat mengalahkan kelima orang itu. Wajahnya kurus putih pucat..” jawab Sabit Kematian tak sabar. Orang itu Sabit Kematian. Belum sempat Ki Tapa berbicara. ”Maaf Ki Tapa. Lain pula dengan Cermin Maut. kakak Mayat Pucat.” akhirnya Mayat Pucat menyelesaikan uraiannya. Rambutnya yang agak jarang tergerai kusam. Orang yang baru datang itu lalu membuka pembicaraan.!” ”Anak baik. ”Jadi. PENJAGA KESEIMBANGAN orang kejam saja yang membawa senjata yang aneh-aneh dan menyerampkan. ”pun jika kami punya tak akan kami berikan.

Tak dapat lagi mereka menahan sabarnya. tapi tidak semarah ketiga rekannya. Murid-murid yang dilatihnya untuk meneruskan tugasnya habis hari ini. Ia berharap Paras Tampan dan kedua murid lainnya selamat dan tidak muncul saat ini. Ia pun juga menyerang ketiga orang itu dengan cepat. Mereka menyerang dengan ganasnya. Satu persatu murid-murid Ki Tapa terjatuh di tangan ketiga dedengkok Perguruan Kapak Ganda dibantu dengan murid-murid tingkat satu mereka. Meninggalkan jejak gosong kehitaman pada rumput yang dikenai sesuatu itu. Kelima orang Rimba Hijau boleh dikatakan sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menang. terlihat sudah ketimpangannya. Memang sejak ia mendidik murid-muridnya. Asap kekuningan tampak mengambang perlahan. Kekalahan hanyalah masalah waktu saja.231 Mendengar bahwa mereka telah membantai para penduduk Kota Luar Rimba hijau tak sadar ketiga orang yang memang berasal dari sana menjadi amat marah. .. Ki Tapa yang tidak memiliki kesempatan untuk meredakan amarah murid-muridnya mau tak mau ikut terjun ke dalam pertempuran itu. Tanda rahasia dari Perguruan Kapak Ganda. Bergeges orang-orang Perguruan Kapak Ganda pun menghilang. mari kita pergi. seakanakan telah putus hubungannya dengan luar rimba saking sibuknya. mereka telah menemukan sesuatu. Setelah Cermin Maut. Ki Tapa yang hanya tinggal sendiri tampak tak lagi bersemangat untuk melawan. ”Hmm.!” kata Mayat Pucat sambil tak lupa melemparkan sesuatu ke sekeliling Ki Tapa yang telah terluka sana-sini. Ingin membalaskan kematian keluargakeluarga mereka. Pertempuran itu berlangsung singkat. Juga karena kesalahannya tidak sering lagi memeriksa kehidupan di luar rimba itu. Gapaian tangan Ki Tapa tak dihiraukan lagi oleh mereka. Sabit Kematian dan Mayat Pucat ikut dalam pertempuran itu. Tiba-tiba terdengar siulan yang melengking nyaring panjang dan pendek ditambah pukulan beberapa batang kayu. Asap sebagai bukan orang dari Kota Luar Rimba Hijau pun tak dapat menahan amarahnya mendengar hal itu.

semua orang. Mereka tadi telah dipesankan untuk tidak ikut campur.” Kesedihan tampak jelas di wajah pemuda itu. Tak ada kesempatan ia untuk beranjat dalam keadaan hidup dari sana. Sayang terlambat untuk mencegahnya. Tak usah dibalas. Lukanya telah cukup parah. Ki Tapa berusaha tersenyum saat menghembuskan nafas terakhirnya.” Terhenti ucapannya karena racun yang dihirupnya telah tiba ke jantung dan juga otaknya.. Moreng. Beberapa diantaranya masih terlalu muda untuk berpulang. Angin pun berhembus pelan. PENJAGA KESEIMBANGAN menuju pemberi isyarat tadi. Ki Tapa gurunya dan keempat saudara-saudara seperguruannya di Rimba Hijau telah meninggalkan kehidupan di dunia ini.. ”beritahu Paras Tampan apa yang terjadi. ditambah lagi dengan racun yang baru saja disebarkan oleh Mayat Pucat. Kertas itu adalah pesan terakhir gurunya yang ditemukan oleh Coreng dan Moreng. Turut berduka atas pergi selamanya beberapa manusia penghuni Rimba Hijau. *** Tertulis di atas secarik kertas terlipat-lipat itu kalimat-kalimat. Sunyi.. untuk menanti bertemu dengan Sang Pencipta. ”Cari Seh Pratahu (Pratahu Tua) dan minta kesediaan Nah Pratahu (Pratahu Muda) untuk menyertai. Ramalan mereka kelihatannya menjadi kenyataan. Urusan manusia bukan urusan mereka. ”Coreng.. saat akan memakamkan mereka. Didengarkannya dengan tabah penuturan Corang dan Moreng mengenai serangan yang dilakukan oleh orang-orang Perguruan Kapak . Jauh di pinggir lapang sana. tampak dua orang Manusia Tiga Kaki menyaksikan sisa-sisa pertempuran yang menyedihkan itu. kedua Manusia Tiga Kaki di balik jubahnya.. Tapi tegakkan saja keadilan... bagi. Kembali ke suatu tempat. Hawa kembar mungkin bersatu.” ucapnya lirih dengan sisa-sisa tenaganya.232 BAGIAN 4. Ki Tapa mencoba mengatur lagi pernafasannya.. Telah dilakukan hal-hal yang diusulkan.

Duduk di atas pembaringan yang terbuat dari kayu-kayu dan daun. Beranjak ia kemudian ke arah meja . *** ”Guru.233 Ganda yang dipimpin oleh tiga dedengkotnya. bukan tulisan yang biasa dikenal di tanah di tempat mereka berdua bermukim. Di luar sana. di Kota Luar Rimba Hijau mereka juga melakukan pekerjaan besar.. ”Hmmm. ia meletakkan alat-alat tulisnya dan menengadah melihat pada sang pemuda. Lusuh dan buram warnanya. Cermin Maut.!” Tampak sang guru termenung sejenak. Raut mukanya berubah gembira. melainkan tampak berpikir sebentar untuk kemudian membungkuk dan menuliskan sesuatu dalam buku yang ada di pangkuannya. Dibacanya satu per satu judul-judul di hadapannya. saya tidak mengerti apa maksud dari ujar-ujar ini?” tanya seorang pemuda pada seorang tua yang duduk di balik meja kayu sederhana di depannya. Lalu dibolak-baliknya buku bersampul merah tua tersebut. Membantai hampir seluruh penghuni kota itu. muridnya yang menanyakan sesuatu tadi. Sang guru pun kemudian berjalan menghampiri sebuah perabotan yang berfungsi sebagai rak buku. dan diambilnya sebuah buku bersampul merah tua yang tampak telah lama menghuni alam ini... berkerut-kerut keningnya memikirkan kata-kata itu. Dipilih-pilihnya beberapa kitab yang berjejer di sana.” jawab pemuda itu sambil menunjuk sebuah buku yang tengah dibacanya. Tempa ia menumpukkan kitab-kitab lainnya.. Telah ditemukan apa yang dicarinya. Lalu ia pun bangkit dari pembaringannya. sampai ditemukannya suatu halaman. Orang yang dipanggil guru oleh pemuda itu tidak langsung menjawab. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. ”Ujar-ujar mana maksudmu?” tanyanya kemudian. Setelah menyelesaikan hasrat untuk menorehkan sesuatu dalam bukunya. Sebuah buku tua dengan tulisan-tulisan yang aneh. Berderit-derit ranjang itu berbunyi saat ia berlalu darinya.. ”Ini. Sampai suatu saat ia berhenti.

Lalu lanjutnya sambil membacakan kalimat-kalimat yang ditemuinya. Keluar menuju ke suatu arah dari pondokan mereka. Memastikan apa yang didengarnya barusan. Dibukanya pintu pondok di mana mereka berada. Setidaknya harus ada dua (benda/hal) agar satu dapat dinyatakan terhadap yang lainnya.” tunjuknya dengan bersemangat. Gurun Besar. ada di sini.. apabila ada yang dijadikan rujukan atau acuan. Debu-debu tampak sedikit beterbangan keluar dari buku tua tersebut. ”Ini. dapat disebut ruang. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. Rujukan menciptakan ruang . terdapat alur-alur batu-batu kecil di tengah-tengah lautan pasir yang membentang.. Ke arah di mana di tengah-tengah gurun pasir tersebut. Lainnya kering. memang benarbenar telah mendarah daging. ”Mari kita jelang. Bergegas sang guru beranjak dari tempatnya. Samar-samar tapi jelas terdengar..” Masih tak mengerti sang murid pun mengikuti gurunya. sampai tiba-tiba terputuskan oleh suatu deru angin lemah dan berat.” Sang guru membacakan beberapa kalimat yang dirasanya penting untuk diketahui oleh muridnya setelah ia kembali duduk di pembaringannya.234 BAGIAN 4. Binatang-binatang umumnya bermigrasi ke luar Gurun Besar untuk mencari tempat . Suatu perwujudan kegembiraan bisa menemukan suatu rujukan atau menandakan bahwa ingatannya masih jalan. Kebiasaan menghempaskan buku yang mengandung sesuatu yang dicarinya dan telah ditumukan. Dalam suatu kekosongan mutlak (tiada apa-apa dan siapa-siapa) tidak bisa didefinisikan ruang... Kemudian berlangsung diskusi dua arah antara guru dan muridnya tersebut.. Bekas sungai yang kering saat kemarau. Percakapan mengenai arti dan makna ujar-ujar itu berlangsung cukup lama.. itu suara air. Sang murid tampak tenang-tenang saja melihat kelakukan gurunya yang telah berulang-ulang kali disaksikannya itu. ”Betul. apa yang engkau tanyakan tadi.. Dihempaskannya buku itu ke atas meja. ”. PENJAGA KESEIMBANGAN kayu tempat sang murid sedang berada.... Orang yang tidak mengerti tentu bisa merasa tersinggung atas sikap seperti itu. Kehidupan akan mulai muncul kembali. Pada musim tersebut hanya danau tersebut yang tersisa.” katanya gembira.

Suatu pemandangan yang indah. Kehidupan renik-renik seakanakan dibangunkan dari tidurnya. . Tak terasa orang tua itu menitikkan air matanya. Memberikan kehidupan kembali di sepanjang alirannya. Entah ke mana. Air. Pemuda itu mau tak mau tergugah pula oleh suasana yang baru pertama kali ditemuinya itu. Mengisi kembali jejak-jejaknya yang telah mengering. Menikmati semua itu. Dibebaskan dari tapanya. Umumnya peristiwa itu berulang setiap tahun. Baru saat ini ia bisa melihatnya sendiri. Orang tua itu berdiri diam. Jalur-jalur batu kecil tersebut bergulung-gulung terisi oleh air bercampur pasir yang mengalir. Diberitahu bahwa salah satu sumber kehidupan telah tiba kembali. Akan tetapi sebelumnya ada saja keperluan gurunya yang harus dipenuhi. Di hadapan kedua orang itu terbentang sungai kecil yang dangkal dengan lebar dua tiga tombak akan tetapi membelah gurun itu dari selatan ke utara. Sisanya yang sebagian besar melaju terus menuju utara. Setelah lama aliran tersebut telah menghilang ujungnya di kejauhan.235 yang lebih subur dan banyak makanannya. Hanya sedikit pecahannya yang menuju danau dekat pondokan kedua orang itu. terbentuk dari tiada menjadi ada. Ke suatu tempat di tengah sana. Ke tengah-tengah Gurun Besar. Terharu ia merasakan kedahsyatan alam dalam membangun kembali kehidupan. Perlahan dengan mendesis pelan. sehingga saat-saat aliran itu datang ia tidak berada di sana untuk menyaksikannya. Tidak seperti saat ini. Dari arah Gunung Berdanau Berpulau menuju ke tengah-tengah Gurun Besar. Aliran itu mengalir cukup aneh. Hanya sedikit hewan yang tidak bisa pindah jauh tetap bertahan dengan berlindung di balik batu-batu atau di dalam pasir. Benarbenar mengharukan hatinya. Ia pernah diceritakan oleh gurunya mengenai hal itu. akan tetapi baru kali ini ia mengalami sendiri. Umumnya bila ia ada di sana. sungai itu telah ada atau sama sekali kering. Rahmat yang tiada tara yang diberikan oleh Sang Pencipta. Merasakan bagaimana hawa atau aura alam sekitarnya seakan-akan tergugah bangkit dengan munculnya aliran itu. Air mengalir pelan tapi pasti.

Orang tua itu kemudian duduk di salah satu bangku alam itu...” Kemudian diajaknya sang murid untuk beranjak dari sungai yang baru saja airnya mengalir kembali setelah melewati musim kering yang panjang. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Sudah saatnya. Kemudian lanjutnya. ”Muridku. dan mencari tahu siapa-siapa anggota keluarganya.. Akibatnya keberadaan keluarga itu boleh dikatakan hampir-hampir seperti dongeng saja.” Menarik napas sebentar orang tua itu. mengendalikan sesuatu dengan pikiran.. mengelilingi satu yang besar.. Tersusun secara alami. seakan-akan mengheningkan cipta untuk bersyukur atas fenomena alam yang baru saja disaksikannya itu. Sudah lama sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Di atas bangku alam yang lain. Alami terbuat dari batu.. sudah saatnya. Keluarga orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membaca masa depan. Delapan yang kecil. Halus seakan-akan dikerjakan dengan tangan. Keluarga tersebut umumnya tidak memiliki banyak orang dalam satu generasinya. Pratahu dikenal orang-orang.” jawab sang murid hormat.” orang tua itu seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri.. Melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan.” panggil orang itu perlahan. Di sanasini terdapat celah-celah yang ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhantumbuhan perintis lainnya. ”cerita ini akan merupakan bekalmu nanti.. Muridnya si anak muda duduk di sisinya. Lalu ia menutup mata sebentar. Lebih rendah dari batu pertama tersebut.236 BAGIAN 4. di suatu tempat di Tanah Tongkat Ditanam Jadi Tanaman terdengar kabar akan adanya suatu keluarga yang pandai meramal. Anggota keluarga Pratahu. Akan tetapi kadang-kadang terdapat peristiwa- . Dicarinya sebuah batu bundar besar datar yang di sisi-sisinya terdapat beberapa batu-batu bundar kecil.. Mencari paman dan sepupumu. ”Ya guru. Sembilan buah semuanya. ”Sudah saatnya aku ceritakan padamu tentang keluarga Pratahu. seakan-akan sebuah meja bundar dengan delapan buah bangkunya. mendengarkan yang tak terdengar.. Siap mendengarkan kisah yang akan dibawakan oleh gurunya. Hening.

untuk sama-sama dihabisi. Bersamaan dengan itu sang senopati pun menangkap belasan orang senopati-senopati utama yang rekannya sendiri. Ia pun diberikan petunjuk-petunjuk tersirat dalam syair-syair. yang saat itu merupakan seorang senopati kepercayaan pula melakukan pembenaran atas tindakannya itu. Untunglah raja yang baru itu bersikap lebih baik. dan merupakan kawan-kawan dekat dan kepercayaan raja yang lama. Sang raja yang baru itu merasa takut. Hanya terjadi sedikit peristiwa berdarah dalam internal keprajuritan kerajaan. Hanya saja orang-orang tidak tahu apa sebenarnya peristiwa di belakang itu. Kekuasaan pun berpindah dengan mulus. Sang senopati yang kemudian menjadi raja. jika anggota keluarga Pratahu mencari orang . Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang mengambil kekuasaan dari raja sebelumnya dengan cara paksa. Korban dalam pihak tentara saja. Dengan alasan ini raja yang baru. apabila melakukan gerakan pada saat yang tepat. sang senopati pun bisa memecahkan syair-syair tersebut dan memperolah apa yang diinginkannya. Demi rakyat dan kerajaannya agar tidak terpuruk lebih dalam ke arah kekeliruan. Raja yang lama hanya mengerjakan pembangunan-pembangunan menara gading. Akan tetapi kemudian terbersit suatu pikiran gila yang umumnya menghinggapi orang dalam tampuk kekuasaannya.237 peristiwa besar yang terjadi akibat adanya kisikan dari orang-orang yang berasal dari keluarga Pratahu ini. Suatu kejadian yang sebenarnya pun sulit diterima oleh para rakyatnya. Dikarenakan bakatnya yang memang cerdas. Membentuk kerajaan baru dengan nama keluarganya sebagai nama era pemerintahan yang baru. mendapat kisikan dari salah seorang anggota keluarga Pratahu bahwa ia bisa menjadi penguasa. Pembangunan dengan tujuan agar dipuji oleh kerajaan tetangga Ingin dibilang pemerintahannya maju. Lain tidak. Dituduh akan berkhianak kepada raja yang lama. Dalam satu jaman terdapat suatu kerajaan yang menguasai tanah ini. Perebutan kekuasaan tersebut dilakukan dengan menuduh bahwa raja yang lama terlalu terlena dalam semangat nasionalis kerajaan sehingga menelantarkan rakyatnya. Rakyat dalam hal ini tidak dikorbankan.

Dalam mimpi tersebut ia diberi kisikan agar menjalankan ilmu leluhurnya yang sudah lama tidak digunakan. Bisa jadi kekuasaan akan berpindah dari tangannya ke orang tersebut. Ia tinggal mencari anak yang dimaksud. Ilmu itu membuka aliran keturunan keluarga Pratahu agar bakat dan ilmu mereka tidak lagi perlu diturunkan melalui pertalian darah. Ia hanya harus berkelana. Orang terakhir itu bernama Kas Pratahu (Pratahu Terakhir). tinggal diambilnya sebagai murid. Demi hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. mencari-cari tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak adalah anggota keluarga Pratahu. Seorang yang berhasil selamat mengungsikan dirinya di gurun pasir. Akan tetapi tanpa keturunan ia tidak bisa mewariskan kemampuan keluarga Pratahu kepada orangorang. Hal ini harus dicegah. PENJAGA KESEIMBANGAN lain dan memberikan kisikan yang sama atau mirip seperti dirinya. Bila telah yatim piatu lebih mudah. melainkan melalui pertalian aura atau hawa. Bersembunyai di gua-gua batu dalam pasir yang kadang-kadang muncul. Begitulah tiga ratusan tahun belakangan ini keluarga Pratahu berkem- . Keluarga Semesta. Keluarga yang ditunjukkan oleh ilmu Keluarga Semesta. Gurun Besar. bisa pula anak perempuan. kadang-kadang hilang tertelan pasir. Bertahan di sana selama bertahun-tahun. Bisa anak laki-laki. bisa pula berbeda. Seluruh keluarga Pratahu hampir dibasmi. Hampir habis dan musnah dari muka bumi. ia didatangi oleh roh-roh leluhurnya dan juga anggota keluarga Pratahu yang mati dibantai oleh para prajurit kerajaan atas perintah raja. Ramalannya tidak bisa dimanfaatkan. sulit baginya untuk melanjutkan keturunan. bisa pula di seberang pulau.238 BAGIAN 4. Dengan adanya niatan raja untuk membasmi seluruh keluarganya. Mendidiknya secara diam-diam bila anak itu masih berkeluarga. Bisa berada di tanah ini. Kas Pratahu tinggal mengembara mencari ”anaknya”. Untuk itu ia memerintahkan untuk mencari seluruh keluarga Pratahu dan membunuhnya. Pada suatu malam. Dengan cara ini Kas Pratahu tidak perlu lagi berkeluarga. Setelah ilmu Keluarga Semesta itu dirapalkan. Bisa berasal dari suku yang sama. Dengan cara itu ia bisa bertahan dan tidak didapati oleh tentara kerajaan. Terjadilah bencana tersebut.

Seh Pratahu dan Nah Pratahu serta dua orang lainnya.. Menurunkan ilmu-ilmunya. Keturunan akibat ilmu Keluarga Semesta. Seperti seorang yang tidak lagi punya keinginan atau tahu apa yang akan dilakukannya dalam hidup ini. Menggapai si anak dan menenangkannya. Mendengar pertanyaan penuh haru itu... Dialirkan .” jawab sang ayah sambil turun menyambut sujud anaknya. Bukan ayah akibat pertalian darah. Si orang tua itu kemudian menguburkan jasad orang-orang yang tergeletak di sekitar situ. ”Ayah. Hari inilah baru kisah turun-temurun keluarga Pratahu dibeberkan oleh Seh Pratahu kepada Nah Pratahu.” ucapnya sambil bersujud. Pada saat itulah ia melihat tanda-tanda pada anak itu yang menyatakannya sebagai keturunan dari Pratahu... Terbersit pula rasa haru di dadanya.” ucap anak muda itu tersekat. Sampai saat ini baru ada empat orang. ”Anakku.. Tak tahan dengan keharuannya dan juga rasa hormatnya pada sang orang tua. Tak disangkanya bahwa ia masih dapat memiliki seorang ayah. Ia kini punya seorang anak. Melatihnya agar dapat menjadi penerusnya kelak. melainkan ayah karena pertalian aura atau hawa. melainkan anak dalam ilmu Keluarga Semesta. Dan bahwa akan menjadi kewajibannya kelak untuk mewariskan ilmunya pada orang-orang yang ditandai merupakan keturunan atau keluarga mereka. Nah Pratahu sendiri ditemukan oleh Seh Pratahu sebagai anak yang baru saja ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang dibunuh oleh perampok. Seh Pratahu hanya mengangguk.... pemuda itu pun berlutuh. Anak itu kemudian terlunta-lunta di jalanan di sekitar sisa-sisa rumahnya yang telah hancur terbakar. Sampai lewatnya Seh Pratahu... Rahasia telah dibeberkan. Dielus-elusnya kepala sang anak dan kemudian dipeluknya. Pemuda itu bukan lagi sekedar muridnya. ”Jadi guru. adalah ayahku dalam keluarga Pratahu.239 bang satu persatu melalui cara ini. Seh Pratahu kemudian mengangkat si anak yang kemudian diberi nama Nah Pratahu menjadi muridnya.

Di sana ia belajar ilmu-ilmu pedang yang dikenal sebagai ilmu Pedang Panjang. anakku. walau mereka baru saja tiada saat itu. Dikarenakan lihai dan juga kejam. kakak Walinggih saat ia bertemu dengan Telaga di Danau Genangan Batu..240 BAGIAN 4. Syukurnya rasa sayang ini dapat tumbuh. ”demikian pula dengan aku. Kecocokan yang menandakan bahwa mereka bertalian aura dalam keluarga Pratahu. terdapat suatu ceruk atau jurang dalam yang di mana sebagian aliran sungai masuk ke dalamnya. Sarini. Telaga juga belajar ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan dan putrinya. Sambil tersenyum sang ayah berkata. Engkau sudah memiliki orang tua saat aku temukan. *** Tak terasa waktu telah lama berlalu. Desa Batu Barat dan Desa Batu Timur..” Lalu lanjutnya. Selain belajar ilmu Pedang Panjang dari Walinggih. sekarang ia tidak lagi kejam setelah memperoleh seorang murid dan juga seorang teman. ilmu yang membuat Walinggih dikenal sebagai Hakim Haus Darah. Seorang anak yang aku temui dalam perantauan. PENJAGA KESEIMBANGAN rasa sayangnya yang selama ini ditahan-tahannya. Dan sebagai tambahan ia mendapat pula sedikit operan tenaga dalam dari Wananggo. ”Ayah. Tapi itu dulu. Di Padang Batu-batu jauh lagi ke selatan dari kedua desa. ”tak mudah untuk melakukan hal itu. Perlu waktu agar engkau dapat menerimaku sebagai ayah dalam keluarga Pratahu. mengapa baru saat ini ayak katakan dengan selama ini ayah menjaga jarak padaku sebagai guru. sehingga aku benar-benar dapat merasakan bahwa engkau adalah anakku dalam keluarga.” Rasa sayang dan cocok yang tidak dikatakan terpancar dari kedua sosok manusia itu. Kedua orang itu adalah orang-orang pertama yang akrab dengannya di daerah di mana ia bermukin saat ini. Sudah tentu telah terpatri dalam ingatanmu akan mereka. jika dalam keluarga Pratahu aku adalah anakmu.” tanya anaknya tak mengerti. Sudah hampir setahun lewat Telaga berdiam di rumah Walinggih. Lega rasanya setelah rahasia ini diberitakan. Engkau pada awalnya adalah orang asing. Lubangnya amat lebar dengan di tengahnya terdapat lubang yang jauh lebih kecil . Telaga.

Seperti makhluk hidup. Tidak lagi ingat bahwa ia dan gurunya harus bersembunyi untuk mengamati apa yang akan datang di seberang mereka. Bergerak lambat memenuhi ruang di atas suatu batu dekat dengan air terjun. Semakin lama semakin banyak sehingga membentuk kabut. .241 yang dalam dan gelap. Percikanpercikan air terasa menghujani mereka. Bukan uap air atau pun butiran air.. Hanya terdengar deburan air-air yang berjatuhan akibat gaya tarik bumi menghantam batu-batu dan rekan-rekan sesama air dibawahnya. Ia melompak ringan dari satu batu ke batu lain. ”Itu makanannya datang. Tiba-tiba tampak kilauan-kilauan di udara jauh di sana. Tak lupa diberikan syarat agar Telaga tidak menimbulkan banyak suara. Suatu fenomena alam yang membuatnya menciptakan suatu gerakan silat dalam rangkaian ilmu Pedang Panjangnya. membuat mau tak mau bajubaju mereka menjadi basah. Telaga yang tidak mengerti berusaha memicingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat. Hening. Tak disadarinya ia bergeser maju dengan kepala yang agak meninggi. ”Mari. Mengambang. Pagi hari itu Walinggih dan muridnya Telaga berada di sana. Tak lama kemudian mereka tampak merebahkan dirinya di atas sebuah batu ceper hitam di pinggir air terjun yang ada di sana.!” Walinggih sambil menggapai Telaga. Walaupun merasa aneh Telaga masih berdiam diri untuk mengikuti apa yang akan disaksikannya nanti. agar apa yang diamati tidak menjadi takut dan hilang.. Kadang padat di satu tempat kadang di tempat lain.. Walinggih ingin menunjukkan sesuatu pada Telaga. terciptalah sedikit air terjun dengan ketinggian satudua tombak. Akibat tercurahnya air ke dalam lubang yang dipinggirnya dihiasi batu-batu itu. Di seberang dari tempat di mana Telaga dan Walinggih bersembunyi mengamati.” tunjuk Walinggih pada muridnya. Tak bisa diduga berapa dalam dan jauhnya.

Hal lain yang membuatnya terkagum-kagum adalah warna dari makhluk itu. Kadang ada yang sampai berjungkir balik.. Anehnya mereka dapat . ”kita ke sini hanya untuk menyaksikan itu. PENJAGA KESEIMBANGAN ”Huggg. Tak berapa lama berkumpul banyak kadal-kadat tersebut di atas batu yang di atasnya menari-nari serangga-serangga yang membentuk kabut keputihan saking banyaknya. Kadal Pelangi (Agama agama). keluar dari sela-sela batu untuk mendaki batu mencapai permukaan yang dekat dengan serangga-serangga yang sedang menari-nari di udara.. beterbagangan. Belum pernah Telaga melihat sebelumnya.!!” dengan cepat dan tiba-tiba Walinggih menekan punggung muridnya agar kembali bertiarap sembunyi. Memangsanya. Rupanya saat itu adalah saat mereka melaksanakan kegiatan makan mereka. muncul makhluk hidup lain yang amat aneh.!” ucapnya. yang ternyata ada serangga kecil-kecil yang memanfaatkan percikan-percikan air. Berpuluh-puluh Kadal Pelangi berlompat-lompatan dengan indah.. ”Jangan ketahuan.?” tanya Telaga. Setelah agak lama kilauan-kilauan di udara. ”Maaf. Kemudian kadal-kadal itu mulai meloncat-loncat menggapai serangga-serangga yang beterbangan dengan moncongnya. Semacam kadal seukuran setengah telapak tangan lebarnya. Warna kemerahan berada di kepalanya berangsur-angsur berubah seperti pelangi sampai menjadi biru keunguan di ujung ekornya..?” ”Ssst. supaya apa yang mereka akan amati tidak terganggu. Lupa apa yang telah dipesankan gurunya sebelumnya saking tertariknya dengan apa yang dilihatnya saat itu. ”Apa itu guru. akan tetapi dengan panjang ekornya bisa satu sampai satu setengah kali panjang tubuhnya. Gurunya kemudian memberi isyarat dengan tangan untuk kembali mengamati batu-batu yang ada di sana. Warna pelangi. Benar-benar indah. guru!” sahut Telaga lirih.242 BAGIAN 4.!” jawab gurunya sambil kembali memberikan isyarat untuk kembali memperhatikan Kadal-kadal Pelangi itu. Mereka bergerak-berak.. yang dipisahkan oleh sungai yang jatuh di antara mereka dan batu-batu itu.

Lalu lanjutnya. guru. melainkan miring.” sahut Telaga pendek. Dan juga bagi Kadal Pelangi yang kebetulan berada pada bebatuan yang tidak mendatar. Mantap dan kokok. Mereka melompat dan kemudian kembali lagi ke tempat kirakira mereka awalnya berpijak. Bagaimana caranya mereka bisa bergerak ke atas. kadang terbalik akan tetapi dapat kembali pada kedudukannya semula. terjadi hal yang sama. Di atas batu kecil yang lain. Keduanya kembali berloncatan dari batu ke batu meninggalkan ceruk atau jurang di mana terdapat air terjun tadi. . ”Bagaimana pendapatmu tengang Kadal-kadal Pelangi tadi?” pancing gurunya. Digugahnya bahu muridnya agar mengikutinya. ”Gerakan mereka. Telaga pun mengikuti dengan mengambil tempat duduk di dekat gurunya. Melombat ke atas dan kembali. Mereka pun meninggalkan dengan diam-diam kadalkadal tersebut yang masih melompat-lompat memangsa seranggaserangga makanan mereka. Suatu ciri khas tempat di daerah Padang Batu-batu. Tak lupa ia menyenderkan pedang panjang yang selalu dibawa-bawanya. Bahkan pada Kadal Pelangi yang berpijak di batu yang miring. Walinggih pun mengambil suatu batu menonjol di tengah pelataran itu untuk duduk. ”tapi ada yang membingungkanku. ”Indah.” terang Telaga. Ia berharap muridnya dapat menarik pelajaran dari gerakan-gerakan Kadal Pelangi yang melompat-lompat memangsa serangga-serangga tadi. Di sekelilingnya masih tampak bebatuan menyemut dan meninggi. Ia ingin menguji kepekaan muridnya atas apa yang baru saja mereka berdua saksikan. Setelah beberapa lama menyaksikan tingkah polah kadal-kadal tersebut. Tak lama kemudian sampailah mereka di pelataran batu yang cukup luas. Walinggih pun beranjak pergi. Entah bagaimana caranya. terlihat seakan-akan mereka memiliki magnit pada tempat pijakannya semula.” ”Apa itu?” tanya gurunya.243 dengan mudah kembali lagi ke posisi semula di atas batu tanpa terbalik.

hanya Sabetan Tunggal Menuai Dua saja yang paling ampuh. Bagian dari ilmu Pedang Panjang. Yang barusan guru tunjukkan. Dan pada suatu saat. menyabetkan pedangnya ke atas dan menghentak kembali untuk mendarat ke tempat ia tadi melompat. PENJAGA KESEIMBANGAN Gurunya mengangguk-angguk. Akhirnya Walinggih pun berhenti. saat mereka memangsa serangga-serangga yang memenuhi udara.” ”Kupikir. Alih-alih menerangkan dengan kata-kata Walinggih menarik keluar pedang panjangnya. Menyabetkan pedangnya ke suatu obyek khayalan di udara. Dan berjungkir balik kembali. dalam ilmu Pedang Panjang. Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Rupanya diperlukan pengeluaran tenaga yang cukup besar untuk mempraktekkan gerakan itu. ”Mirip dengan kelakuan-kelakuan kadal-kadal yang baru kita saksikan tadi. Dan tidak hanya itu. Gerakan-gerakanya yang mirip yang dilakukan oleh Kadal-kadal Pelangi tadi. berjalan menjauhi tempat mereka duduk dan mulai membuat suatu gerakan-gerakan pada daerah terbuka itu. ”Gerakan itu kunamai.244 BAGIAN 4. Mendarat dengan kakinya kembali.. ”Sebenarnya juga tidak. ia kembali melompat pada arah yang berlawanan.” jelas gurunya. ke posisi semula di mana ia awalnya melompat. ”Guru. Walinggih melompat ke atas terbalik.” katanya jenaka.” tanya Telaga yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas gerakan gurunya tadi. Gerakangerakan ini diulang-ulangnya beberapa kali.” ucap Telaga kagum. sempai hampir habis napasnya. Pelan dan teratur. akan tetapi kemudian semakin lama gerakangerakannya menjadi semakin cepat dan liar. Berbutir-butir peluh nampak berjatuhan dari sekujur tubuhnya. barusan tadi. Ternganga Telaga melihat demonstrasi itu. benar-benar lebih dari itu.. Menyentakkannya kembali ke belakang. Puas ia melihat bahwa muridnya menangkap sesuatu fenomena yang baru saja mereka saksikan bersama. dengan memanfaatkan tolakan saat mendarat yang diolah oleh kakinya yang berfungsi seakan-akan sebagai pegas.. ”Sabetan Tunggal Menuai . setelah cukup mendapat kecepatan dan hawa.

Dengan tidak meredam laju saat melakukan satu serangan. Posisi-posisi ini membuatnya lebih mudah untuk mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukannya. Tinggal waktu yang diperlukan untuk mematangkan gerakan-gerakan tersebut. Pertama-tama dibutuhkan dulu gerakan awal untuk membangkitkan hawa dan juga kecepatan. akan tetapi memanfaatkannya.” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh gurunya itu. Mengangguk-angguk Walinggih bahwa Telaga telah dapat sedikitnya menyelami satu dari empat bagian ilmunya. karena sebenarnya hanya memutarnya saja.” kata gurunya yang tidak memberikan kesempatan muridnya untuk lebih bertanya-tanya. Dicobanya menirukan dan melakukannya. Tidak ada gunanya teori bila tidak bisa melakukan prakteknya. Membuat lawan menjadi bingung karena sifatnya yang pelan akan tetapi kemudian menjadi liar. Lambat-laun dirasakan ada posisi-posisi yang enak untuk diulang-ulang. Teori ada untuk menyempurnakan praktek dan bukan sebaliknya. Walinggih pun kemudian menjelaskan pada Telaga muridnya bagaimana Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi itu dilakukan. Dengan susah payah Telaga berusaha memahami gerakan-gerakan yang ditunjukkan oleh gurunya. Selain itu pengguna gerakan juga tidak harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga untuk membelokkan gerakannya secara drastis. Membelokkannya pada arah yang berlawanan. juga berguna sebagai ilmu pertahanan diri. Tapi jangan dikira gerakan pemanasan ini tidak berguna. sehingga dapat membingungkan lawan. . ”Mari. Setelah bisa. baru perlu pemahaman teoritis. Bagi Walinggih praktek melakukan gerakan-gerakan lebih penting. Gerakan pemasanan itu selain untuk pelemasan dan penghimpunan hawa.245 Dua bisa dibilang merupakan gerakan mendatar dari Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang geraknya hanya vertikal. dapat menyebabkan kerusakan atau kram apabila dipaksakan mendadak untuk melakukan gerakan-gerakan tersebut. Untuk itu Walinggih telah menciptakan gerakan-gerakan pemanasan. Otot-otot manusia yang diciptakan tidak sama dengan otot-otot Kadal Pelangi.

Waktu untuk mencari makan. Tidaklah bisa disebut hutan. . Umumnya orang-orang di daerah itu jika tidak mencari-cari sayur-sayuran di hutan. Matahari telah tinggi di langit.246 BAGIAN 4. sehingga menjadi lebih teduh dan gelap. PENJAGA KESEIMBANGAN Saat itu hari telah menjelang siang. mereka menangkap binatang-binatang yang ada. karena tempat yang dimaksud masih didominasi oleh bebatuan dan hanya sedikit pohon-pohon yang tumbuh di atas batu-batu yang memayungi ruang di bawahnya.

”sudah hampir tiga tahun engkau bersama kami di sini.” ucap Ki Sura. Sudah waktunya pula kita berpisah. Lantang yang seolaholah sebagai pengganti Telaga. Ikan yang terakhir ini sering juga disebut sebagai ikan kepala timah karena di kepalanya ada bagian yang berwarna kelabu seperti warna timah pada umumnya.” Menghela napas Nyi Sura mendengar perkataan suaminya. haruslah pula berpisah. Dan ini memang kehendak suaminya.Bagian 5 Yang Kembali dan Yang Tumbuh Siang itu Walinggih berencana untuk pergi ke Danau Genangan Batu dan daerah sekitarnya untuk menangkap Keuyeup dan ikan Julung-julung untuk dibuat Peyek. Telaga masih tampak berpikir keras untuk menuangkan ingatannya pada gerakangerakan yang baru saja ditunjukkan gurunya itu. teringat ia pada anaknya Telaga yang sedang merantau ke selatan. Entah kapan mereka dapat bersua kembali. agar ia dapat meluaskan pengalamannya 247 . Jika beruntung ikan Beunteur pun mungkin dapat diperolehnya. nak Lantang. Dan anak ini. Setelah berpesan agar Telaga kembali mengingat-ingat gerakan yang baru saja diajarkannya Walinggih pun berlalu dari situ. *** ”Sudah cukup kelihatannya Tenaga Air yang engkau pelajari.

”Tapi guru berdua. nak Lantang. nak Lantang.. Ilmu yang dikuasainya bersumber dari kitab Jalan Selaras dengan Alam Semesta..” Nyi Sura yang menyahut. melihat ilmunya bersumber dari kitab yang sama. tak perlu engkau kuatir.. Selain itu ia juga memiliki Jurus Air. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH dan juga sebagai pelaksanaan tugas dari gurunya. ”Orang-orang menyebutnya Ki Tapa. Rimba Hijau.” tak sanggup Lantang melanjutkan kata-katanya. Konon kabarnya berdiam seorang keturunan Petapa Seberang di timur sana. ”Kamu tahu ’kan.” jawab Ki Sura gembira.248 BAGIAN 5.” ”Engkau memang cerdas. Kemungkinan gurumu bertandang ke sana. ki?” tanya Lantang. Ia pernah menyembuhkan kami saat kami salah melatih Tenaga Air. Adik dari Telaga. ”akan . Jurus yang berisikan gerakangerakan yang memanfaatkan sifat-sifat air dalam gerakannya. ”Siapa nama orang yang tinggal di Rimba Hijau itu.” jelas Ki Sura. Ia belum pernah diceritakan gurunya bahwa ada tempat seperti Rimba Hijau itu di timur. Atau ada hubungan dengan guru Rancana. Rasa sayang kedua orang tua itu yang ditunjukkan saat mereka mengajarkannya Tenaga Air benar-benar telah menorehkan hubungan yang lebih dari murid dan guru dalam hatinya.” ”Apakah Ki Tapa adalah saudara perguruan Ki dan Nyi Sura?” tanya Telaga.” Ki Sura berusaha berkata arif. Berat rasanya apabila ia harus berpisah dengan mereka. Ia mencari orang yang dapat menyembuhkannya. ”melihat bahwa nama ilmunya sama-sama menggunakan kata ’Air’. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa agar mencari dirinya setelah tamat belajar di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau.. bahwa gurumu Rancana masih berupaya agar jalan darahmu dapat berjalan lancar kembali. menekan rasa harunya yang muncul melihat keenganan sang anak untuk berpisah dari mereka. ”Kami akan baik-baik saja. ”Kami dulu sekali pernah bertemu dengannya. Sebetulnya tidak ada hubungan langsung dengan Tenaga Air selain pemanfaatan gerakan-gerakannya yang luwes seperti air mengalir. Mereka berdua telah menganggap Lantang sebagai anaknya sendiri.

Karena buntu akhirnya kami pun tidak melanjutkannya. Entah gerakannya yang tidak murnni ataupun tenagannya yang tidak murni. Baru setelah seorang berilmu tinggi meminta mereka menjadi pewaris Tenaga Air. udara dan api. Lantang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. nak Telaga? Apa akan langsung menyusul gurumu ke Rimba Hijau atau hendak berputar dahulu menambah ilmu?” goda Nyi Sura. Untuk menjaga apabila satu diantaranya meninggal terlebih dahulu. Suatu hal yang menarik bahwa ada ilmu Tenaga Air dan juga Jurus Air. yang lain dapat menjaga dan mewariskannya pada orang yang bertulang dan . apabila ia tidak bisa Tenaga air?” tanya Lantang bingung. ternyata bisa. Menunggu saat yang tepat untuk mewariskan ilmu-ilmu mereka. ”Memang ia tidak bisa Tenaga Air. ”Saat itu kami bertiga. kami pernah mencoba apakah Tenaga Air dapat digunakan dalam Jurus Air. kami tidak tahu. akan tetapi keduanya. Entah di awal-awalnya. Dengan berbekal pengetahuan ini ia dapat mengobati luka dalam yang kami derita.” Mereka kemudian terdiam sejenak. ”Jadi bagaimana rencanamu. yaitu air.” lanjut Nyi Sura saat melihat bahwa pandangan Lantang masih mengisyaratkan kelanjutan dari kisah itu.249 tetapi walaupun namanya sama-sama air. mereka berdiam diri di Gunung Berdanau Berpulau. tanah. Tapi tidak untuk semua gerakan. Jurus Air dan Tenaga Air tidak berhubungan secara langsung. sedangkan Tenaga Air hanyalah ilmu hawa atau tenaga dalam. Dengan adanya Telaga anak mereka dan juga Lantang. akan tetapi dari gurunya ia memperoleh ilmu pengobatan yang pada dasarnya diambil dari pemanfaatan energi dari empat elemen. sudah genap janji mereka bahwa ilmu Tenaga Air harus diwariskan kepada dua orang. Akan tetapi keduanya tidak berkaitan secara langsung.” terang Ki Sura. Jurus air adalah suatu ilmu beladiri. ”Lalu bagaimana Ki Tapa itu dapat menyembuhkan guru berdua. Lebih baik engkau tanyakan sendiri padanya nanti bila bertemu. Di masa mudanya Ki dan Nyi Sura ini juga senang berpetualan merantau ke sana ke mari. Mengenai hubungan dengan gurumu. Kami berguru pada orang yang berbeda dan masingmasing diwujudkan pada praktek yang berbeda.

Lantang mengangguk-angguk mengiyakan apa-apa yang dipesankan kepadanya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH berperangai baik. dan baru beranjat menjelang tiga perempat siang. karena hal itu tidak baik. Dengan bantuan Xyra Lantang dapat lebih cepat memahami Tenaga Air. Jangan mencari-cari masalah. Selain itu Ki dan Nyi Sura. mengingat ia tak mampu untuk mewujudkannya karena aliran darahnya masih tersumbat. Walaupun telah dilatih Tenaga Air oleh Ki dan Nyi Sura. Kepada kedua gurunya ia pamit saat itu juga karena mereka biasanya pada saat pagi-pagi seperti itu sedang tenggelam dalam samadinya. Lantang hanya tersenyum saja menyaksikan kelakuan kedua gurunya. ”Janganlah kau goda nak Lantang ini. Selain itu pula ia belum dapat menggunakan tenaga dalamnya. Xyra sebagai makhluk yang termasuk dalam Roh-roh Air memiliki Tenaga Air dalam dirinya secara alamiah. Ia dapat dengan mudah membangkitkannya dan menunjukkannya pada Lantang. Ki dan Nyi Sura pun kemudian berpesan apa-apa yang harus diperhatikan telaga di rantau nanti. dan juga Jalan Selaras dengan Alam Semesta oleh Rancana.250 BAGIAN 5. Jangan kenyang hanya dengan petuah-petuah teoritis akan tetapi miskin pengalaman dan praktek. Pagipagi sekali. Lantang hanya dapat menggunakan tenaga kasarnya dan tidak tenaga yang terhimpun di pusarnya. Hanya satu ganjalan yang masih ada ada di hati Lantang. . Ada suatu sebab. Xyra adalah seorang atau sesosok Undinen yang telah akrab dengan dirinya sejak semula ia datang ke tempat ini. ”biarlah ia berputar-putar dulu baru ke timur. kedua gurunya pun berpesan agar jika bertemu dengan Telaga.” senyum suaminya. walau di dalam bawah sadar. Anak muda harus menimba ilmu dari menjalani kehidupan ini sendiri. Ia akan pergi dari pulau itu keesokan paginya. Pulau Tengah Danau. yaitu Xyra. tapi gaya dan cara mereka bicara masih seperti orang-orang muda. Meskipun mereka telah sama-sama berusia lanjut. Tidak terlalu terikat akan adat sopan-santun kebanyakan orang. sehingga pemuda itu dapat merasakan dan mencoba untuk menirukannya.” Kedua orang tua itu pun kemudian tertawa hampir bersamaan. yang belum diketahui yang menghambat aliran hawa dalam tubuhnya. menyampaikan rasa kangen dan sayang dari mereka.

Ki dan Nyi Sura. Setelah mantap dengan apa yang dipikirkannya Lantang pun mulai berkemas. Dan sekarang Lantang hendak meninggalkan tempat ini. Biarlah pikirnya. Dewasa ini mungkin mirip dengan apa yang dikenal orang sebagai simulator. Undinen temannya mengenai kepergiannya itu. Aneh. Terasa pula berat untuk berpisah dengan Xyra. Lebih alami dibandingkan Ki dan Nyi Sura. Dan mereka dapat kembali bersua. dikerahkannya suaranya. Tapi tidak ada sahutan. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini Xyra pasti menantinya di sana. Ia tidak tahu bagaimana harus mengatakan hal ini kepadanya. Lantang tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Xyra. Lantang pun berusaha memanggil-manggil. sehingga tidak dibu- . Dalam mimpi dapat dibangun jalan darah-jalan darah khayalan yang lancar dan dapat diatur sesuka hati. Mungkin nanti Ki dan Nyi Sura yang dapat menjelaskannya. tak satu pun katakata untuk perpisahan itu yang dapat ditemuinya. Dengan kerja sama ini. Barang-barang miliknya tidak banyak. Suatu saat ia mungkin kembali. Sesampainya di sana tak dijumpainya kawannya itu.251 Ki dan Nyi Sura telah dapat menemukan suatu cara agar Lantang yang jalan darahnya tersumbat dapat masih mempelajari Tenaga Air. Berlatih dalam mimpi Lantang. Perlahan ia berjalan mencoba untuk mencari-cari kata-kata yang bisa diucapkan pada Xyra bahwa kepergiannya ini bukanlah selamanya. Tapi sampai di ceruk di bawah Sungai Batu Hitam. Ia tidak harus menjelaskan hal yang sulit itu kepada Xyra. Lantang memperoleh kemajuan pesat akan pemahaman terhadap Tenaga Air. Ia dapat menunjukkan bagaimana corak-corak aura dari Tenaga Air pada berbagai keadaan dan posisi. Dengan cara ini pengetahuan Lantang mengenai Tenaga Air dapat dilatih. Xyra pun berdasarkan kemampuan alamiahnya dapat berhubungan dengan Lantang melalui mimpi. Akhirnya ia pun duduk terpekur. ini pun lebih baik. sesosok yang boleh dikatakan teman main seumurnya di tempat itu. Untuk kemudian berlatih bersama-sama Tenaga Air sampai menjelang dini hari. Sudah terasa berat untuk berpisah dengan kedua gurunya. yaitu melalui mimpi.

. Lalu naik ke udara dan kemudian kembali menyentuh meja. Remah-remah gosong tampak menghiasi tangannya. Membuat api. Nah Pratahu telah mengenal ilmu-ilmu yang dituliskan oleh para Pen- . Setelah itu Seh Pratahu menunjukkan jarinya ke pada sebuah kertas yang terletak di atas meja itu. Ia berkonsentrasi sebentar untuk kemudian menunjuk pada sebuah batu yang ada di hadapannya. Terlonjak Nah Pratahu menyaksikan hal itu. *** ”Anakku Nah. Setelah itu ia akan menghabiskan waktunya untuk Mengheningkan Cipta dan tidur sampai besok pagi. Menjadi es.252 BAGIAN 5. dan mendadak ”wwwwrrrrt!” kertas itu pun terbakar. air dalam gelas itu telah membeku semuanya. Alih-alih mengalir. Kekaguman terpancar dari wajah Nah Pratahu menyaksikan kebisaan ayahnya dalam memanipulasi keadaan dari obyek-obyek di sekitarnya yang berkaitan dengan sifat empat elemen. kertas itu bergerak-gerak seakan-akan tertiup angin. Batu itu tambak bergerak sedikit. dengan hanya berpikir engkau dapau melakukan sesuatu. Mempersiapkan fisik dan juga batinnya untuk perjalanan nanti. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tuhkan banyak waktu untuk mengumpulkannya.” Seh Pratahu kemudian menjelaskan hal-hal lain yang bisa dilakukan dengan menggunakan kekuatan otak atau pikiran. berputar. Dari buku-buku yang dibacanya. lama ia berupaya berkonsentrasi. apa bedanya dengan Hawa Tenaga Dalam – yang juga bisa membuat orang berlari cepat dan memukulkan hawa dingin dan panas?” tanya anaknya ingin tahu.. Tak percaya dihampirinya kertas yang telah menjadi hitam itu. ”Ini namanya Hawa Pikiran (telekinetik). Tidak berhasil. Seh Pratahu kemudian kembali menunjukkan jarinya kepada sebuah gelas yang berisi air. perhatikan apa yang bisa aku lakukan dengan bendabenda di atas meja ini!” ucap Seh Pratahu pada anaknya Nah Pratahu. membekukan air. mengangkat benda-benda dan bahkan bergerak cepat atau menghilang. Ia pun beranjak kembali menemui Ki dan Nyi Sura untuk makan malam. ”Tapi ayah. Setelah selesai hari pun telah menjelang senja. Belum selesai dengan demonstrasinya. sampai akhirnya dimintanya anaknya untuk menuangkan air dari dalam gelas itu keluar.

”hanya saja Hawa Pikiran tidak melatih otot-otot untuk mengerakkan energi-energi tersebut melainkan hanya pikiran. Unsur Angin dan Unsur Tanah. Untuk manusia sifat-sifat ini meliputi pribadi dan keadaan emosinya. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan gerakan-gerakan tertentu. akan tetapi semakin dewasa dengan semakin bergantungnya orang pada penglihatan akan benda-benda disekitarnya. Selain itu Seh mengajarkan pula apa yang disebut melihat Hawa Getaran (aura) yang ada atau dimiliki oleh setiap benda mati ataupun hidup. yaitu Unsur Air. Dengan cara ini misalnya kita bisa tahu keadaan hati sesorang walaupun ia tidak mengetahuinya dari Hawa Getaran yang dipancarkannya.” Mengangguk-anguk Nah mendengarkan petuah dari Seh mengenai perbedaan dari Hawa Pikiran dan Hawa Tenaga Dalam. Lain dengan Hawa Pikiran yang tidak membutuhkan gerakan-gerakan tertentu untuk memanifestasikan energinya di luar tubuh. Dengan mengetahui Hawa Getaran dari sesuatu kita bisa mengetahui sifat-sifatnya.” jelas sang Ayah. Unsur Api. Hawa Getaran ini merupakan sifat alamiah dari bendabenda. ilmu-ilmu tenaga dalam dan bela diri yang amat ajaib bagi telinganya. Lain dengan ilmu beladiri yang membangkitkan energi dari empat elemen dengan perantaraan hawa dari pusat. Seh pun kemudian mengajari bagaimana Nah dapat mempelajari pengolahan Hawa Pikiran sehingga ia dapat memanfaatkan energi-energi dari empat elemen untuk memanipulasi benda-benda di sekitarnya.253 gujar Tua. Informasi mengenai sifat-sifat ini telah dipancarkan melalui Hawa Getaran. kira-kira empat jari di bawah pusar. Seh kemudian menceritakan bahwa manusia pada lahirnya memiliki kemampuan untuk melihat Hawa Getaran secara alamiah. Anak kecil adalah tingkatan awal di mana ia dapat melihat Hawa Getaran ini. semakin berkurang kemampuan mereka untuk melihat Hawa Getaran itu. Dikatakan pula bawa Hawa Tenaga Dalam digerakkan pula oleh pikiran tapi hanya dalam perputarannya di dalam tubuh tidak diluarnya. Kadang orang tidak . Keduanya memanfaatkan energi dari empat unsur yang ada di alam. tanpa perlu mendekati atau menyentuhnya. ”Pada prinsipnya sama. Suatu tandon sumber tenaga.

Ia baru kali ini mendengar apa yang disebut sebagai Hawa Getaran dan bagaimana cara melihatnya. Akan tetapi untuk yang terakhir ayah tidak terlalu memahaminya. ”Caranya tidak terlalu sulit. akan ayah ajarkan.254 BAGIAN 5. ”Melihat Hawa Getaran bersama-sama dengan Hawa Pikiran merupakan ilmu wajib bagi keluarga Pratahu. Atau dengan kata lain Hawa Getaran orang tersebut tidak cocok atau menyakiti Hawa Getaran si anak. Pengujar-pengujar Tua yang dikenal sebagai orang-orang suci umumnya mempunyai Hawa Getaran yang gemilang dan berwarna emas. Dengan melatih mata untuk melihat warna-warna dari Hawa Getaran. karena lawannya telah keder duluan. Hal ini akan ayah ceritakan belakangan. ayah?” tanya Nah amat tertarik.” Selanjutnya Seh pun menerangkan bagaimana cara untuk melatih Melihat Hawa Getaran. Hal ini dikarenakan anak kecil yang masih dapat melihat Hawa Getaran dari orang itu.” jawab Seh sambil tersenyum. Akan tetapi diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk melatihnya. Selain itu ada pula Hawa Berbicara dan Mendengar Terbalik. ”Lalu bagaima cara kita melatihnya. Sedangkan orang-orang yang kurang baik atau mengikuti hawa nafsunya umumnya memiliki Hawa Getaran yang kelam dan dingin menakutkan. entah dengan sengaja atau tanpa sepengetahuan orang itu sendiri. Secara sadar atau tidak mereka telah menggunakan Hawa Getaran. pukulan-pukulan Hawa Tenaga Dalam dapat dilihat dan juga rambatan energi Hawa Pikiran. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mengerti mengapa ada orang yang disukai oleh anak kecil akan tetapi ada orang yang dijauhi atau bila ia mendekat. maka anak kecil tersebut akan menangis. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan sebagai suatu bentuk ilmu pertahanan diri. Lalu lanjutnya. Ia menjelaskan mengapa anak kecil masih . Pamanmu yang lebih banyak tahu. Ini biasa digunakan oleh petarung-petarung wahid yang bisa menang sebelum bertanding. Dengan melatih Hawa Getaran seseorang dapat menggunakannya untuk mengintimidasi orang lain. tidak menyukai warnanya. walaupun mereka ataupun lawannya tidak bisa melihatnya sendiri melainkan hanya merasakan. Ia senang bahwa anaknya antusias terhadap apa-apa yang diajarkannya.

antara lain dengan melihat dua buah lingkaran belah berbeda warna yang di antaranya terdapat titik di mana harus dilihat pada jarak tertentu. Kuning memerikan ungu (violet) dan sebaliknya serta hijau memberikan merah muda (pink) dan sebaliknya. dengan demikian masih bisa dimanfaatkan untuk melatih Melihat Hawa Getaran. ”Orang yang telah dewasa sebenarnya lebih sulit untuk belajar Melihat Hawa Getaran dibandingkan anak kecil karena telah rusaknya lembaran halus (selaput retina) pada depan matanya. ”Ada suatu cara yaitu dengan menggunanan Pandangan Samping (peripheral vision) di mana kita berusaha melihat Hawa Getaran dengan sudut mata kita.255 peka sehingga memiliki ilmu Melihat Hawa Getaran secara alamiah. Hal-hal lain di luar itu. ”Selain itu terdapat pula kelengkapan dari warna-warna yang ada. Ditunjukkan pula beberapa cara. Apabila cukup berkonsentrasi maka akan terlihat bahwa kedua lingkaran belah tersebut seakan-akan bercahaya atau berpendar dengan warna-warna yang berbeda. nama yang dipetuturkan oleh pelaut-pelaut suatu bangsa pelaut. merek mulai merusak matanya dengan memusatkan pandangan hanya pada hal-hal yang umumnya dapat dilihat.” Dijelaskan oleh Seh bahwa bagian lembaran halus pada pinggir mata umumnya tidak banyak dimanfaatkan. yang ”kamu tidak lihat” – ose tra lia (Australia). ”artinya warna yang kita lihat biasa akan membangkitkan Hawa Getaran yang berbeda. . atau benda berwarna apa memberikan Hawa Getaran apa. Hal ini dikarenakan mereka belum manfaatkan matanya secara paksa sehingga ada bagian-bagiannya yang rusak. umumnya diabaikan oleh pikiran sehingga lambat-laun apabila terlihatpun tidak akan dilaporkan oleh otak. Berangsur-angsur dengan bertambahnya umur. Dituliskan di sana bahwa benda berwarna merah memberikan Hawa Getaran berwarna hijau-biru telur asin (turquoise atau cyan gelap). Dalam kitab tersebut dijelaskan padanan warna-warna. boleh dikatakan pelangkapnya.” jelas Seh pada Nah. Jingga (orange) memberikan Hawa Getaran biru dan sebaliknya.” Lalu ditunjukkan oleh Seh suatu kitab yang ditulis oleh Pengujar Chalko (Tom Chalko) yang berasal dari pulau yang jauh di sana.” jelas Seh pada Nah. dan sebaliknya.

Lain dengan pedang yang digunakan anak ini. Peluhnya berbutir-butir meluruh di sekujur tubuhnya saat ia berlatih. Dan tidak disarungkan. Suatu ilmu yang wajib dilatih oleh anggota keluarga Pratahu. Warna ini merupakan warna pilihan yang diyakini dilihat orang-orang pada seorang yang menjelang ajal pada jaman dahulu seperti tertuliskan dalam kitab-kitab lama. konsentrasi pada benda ini untuk melihat hawa getarannya. ”Nah sekarang latihlah. *** Di suatu pagi tampak seorang anak muda berbadan tegap tanpa baju dan hanya mengenakan celana coklat berlatih ilmu pedang. melainkan dibungkus begitu saja oleh kain sebagai sarungnya. Akan dicobanya lagi gerakan itu setelah pulih tenaganya. jauh lebih panjang. yang mana masih berusaha untuk melatih ilmu Melihat Hawa Getaran. Kadang ia bergerak cepat kadang lambat. Kadang teratur kadang liar. Anak muda tersebut tampak bergerak pelan. Napasnya pun mulai terengah-engah. Mungkin bisa sampai dua kali panjang pedang biasa. Diaturnya kembali pernapasan sambil beristirahat.256 BAGIAN 5. Gerakan-gerakan dari ilmu Pedang Panjang. ia pun melakukannya. Ia masih gemas karena jurus terakhi yang diajarkan gurunya belum dapat dikuasai sepenuhnya. Bila dirasa cukup pembayangannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dituliskan pula bahwa warna-warna terang menunjukkan hal yang positif sedangkan gelap yang negatif. Selagi ia membayangkan gerakan-gerakan gurunya dan juga Kadal- . serta ditekankan bahwa warna putih menunjukkan gangguan kesehatan. Telaga si anak muda tersebut sudah tampak berkeringat. Pedang yang digunakan tak lazim panjangnya. Juga ingat-ingat akan warna padanannya. Kadang ia hanya terdiam terlena dalam pembayangan gerakan yang pernah ditunjukkan gurunya.” Setelah berkata demikian Seh pun meninggalkan Nah dalam heningnya. terlihat bahwa ia sedang mengingat-ingat gerakan yang sedang dilatihnya. Umumnya pedang memiliki panjang yang maksimal selengan penggunanya sehingga setiap saat bila dibutuhkan dapat ditarik dari sarungnya. ini penting untuk memisahkan apakah yang engkau lihat nanti adalah Hawa Getaran dari seseorang atau sesuatu atau hanya Hawa Getaran dari pakaian yang dipakai seseorang atau warna bendanya saja.

Menuju jalan darah penting ditubuhnya. sosok tersebut telah menarik balik kakinya sehingga ia jatuh ke atas tanah dan menyusup di bawah pedang panjang telaga yang lewat tipis di . Tapi walaupun bertangan kosong jangan dikira seranganserangannya lembek dan tidak berbahaya dibandingkan dengan serangan menggunakan senjata tajam. ”Hei. sesosok bayangan telah menyerangnya gencar.!” belum selesai Telaga bertanya tentang apa maksud dan siap orang itu.257 kadal Pelangi yang sedang menari-narikan gerakannya saat memangsa serangga.. Belum sempat ia berputar untuk mencari tahu siapa gerangan sosok tersebut. Mundur dan mundur. Ia belum tahu siapa yang menyerangnya dan bukan sifatnya untuk langsung membalas menyerang. Telaga pun menggerakan pedang panjangnya sehingga berfungsi sebagai tameng terhadap batu tersebut. Sebelum Telaga menyadari bahwa serangan itu hanyalah tipuan. Terpaksa Telaga pun mengelak. apalagi menggunakan pedang panjangnya. Dicobanya menyabetkan pedangnya secara mendatar untuk mengincar pinggang sang penyerang. dan ”tingg!!” batu tersebut pun terpental. Dalam gerakan ini pedang akan dilengkungkan ke atas untuk ditarik balik dalam rangka mengantisipasi lawan yang akan mengelakkan serangan pertama dengan melompat tinggi. Dengan indah alih-alih mengelak. siapa. dan ia pun telah memberi jarak agar pada saat yang tepat dapat menahan pedangnya agar tidak sampai melukai. beputar seakan-akan tidak mengindahkan serangan pada pinggangnya. alih-alih melompat sosok tersebut malah bergerak maju dan menyerang leher dan kepalanya dengan telapak kakinya. terdengar suara batu kerikil yang dilangkahi orang di belakangnya. Tapi Telaga kecele. sebuah batu telah melaju terbang ke arah dirinya. berkelit di sana-sini di antara ruang kosong yang tercipta dari serangan-serangan itu. Sabetan tangan dan kakinya yang dilengkapi dengan Hawa Tenaga Dalam membuat serangan tersebut sama bahayanya dengan sabetan pisau atau golok. Telaga telah gembira bahwa sang lawan tampak tidak waspada akan serangan yang dilakukan dirinya. Untuk sementara ia akan bertahan dulu sambil mencari tahu maksud dari penyerangnya juga sekaligus melatih ilmu yang sedang dipelajarinya.. Bertangan kosong. Tak jadi mencapai jalan darah di tubuhnya.

Akibatnya ia kehilangan nyaris keseimbangan. Lamat-lamat Telaga serasa mengenal sosok itu. Tidak banyak gerakan yang dapat dilakukan sehingga Telaga pun mengalihkan tenaga ke pinggangnya untuk menahan serangan itu. ”Deggg!!” sebuah serangan ringan menyambar pinggang Telaga. Dengan tenaga penuh sosok tersebut menambah tenaga pada arah dorongan pedang semula sehingga gerakan Telaga menjadi berlipat ganda. Langkahnya ringan dengan muka yang disembunyikan oleh selendang yang dikenakannya. Pada jarak seperti itu. Dan ”capp!!” menancap pada bebatuan tak tahu dari sana. Jarak yang hanya dapat dicapai dengan bertangan kosong. Telaga akhirnya memutuskan untuk melepaskan pedang panjangnya. Untung saja tidak ada manusia atau hewan yang berada di tempat tersebut. sudah dihentikan. Berperawakan ramping dengan rambut yang digelung. Mungkin panjang rambutnya. Sekarang Telaga lebih leluasa menghadapi lawan yang selalu berusaha menyerangnya dari jarak dekat. Saat ia sedang dalam lamunannya untuk menebak-nebak siapa gerangan sosok yang sedang menyerangnya itu. Setelah lama-lama memperhatikan terlihat bahwa sosok itu agak kecil dibandingkan dengan dirinya. Hanya ada dua pilihan tetap mempertahankan pedang panjangnya yang tiba-tiba menjadi berat akibat dorongan lawan atau melepaskannya dan menyerang balik dengan menangkap lawan menggunakan ilmu Sabetan dan Tangkapan Lawan yang diajarkan oleh gurunya Arasan. masih menyimpan tenaga dorongan telaga dan lawannya. Seperti pernah dilihat entah kapan dan di mana. Lawan telah masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dari ruang pedangnya. Dengan cepat sosok itu lalu menempel pada Telaga memegang pedangnya sedemian rupa sehingga Telaga tak mampu untuk memindahkan arah geraknya. Perlahan Telaga telah dapat mengimbangi permainan dari lawannya itu. Pedang tersebut melesat dengan kuat. tak diduga sosok tersebut menggunakan salah satu gerakan yang agak sulit yaitu agak berjongkok kemudian menyerang kepala Telaga dengan jurus Menebang . YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH atas rambutnya. pedang panjang tidak ada gunanya.258 BAGIAN 5.

kecuali gurunya yang dapat melakukan gerakan itu di daerah ini hanya tinggal satu orang. Akibatnya sudah dapat diduga. ”Sarini. Ia ingin lebih dulu melihat bagaimana Sarini . ”Telaga jika sudah tahu siapa aku ayo coba kalahkan aku! Aku dengar dari paman Walinggih bahwa engkau baru diajari jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. rupanya Sarini ini memang hendak menggodanya. Untuk menghadapi Sarini yang mengambil jarak tempur pendek. Setelah memutuskan gerakan yang akan dilakukannya Telaga pun mulai menyerang Sarini. tidaklah aku bisa menang melawanmu!” Sosok itu tertawa geli mendengar ucapan Telaga. ia ingin melihat apakah gerakan itu dapat mengatai ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Sarini. Terbanting. Lawan yang lebih besar tenaganya dari dirinya. Awalnya hanya gerakan-gerakan sapuan mendatar dan miring. Beranjaklah Telaga ke batu tempat di mana pedang panjangnya tadi tertancap. Telaga terkunci. Senang rupanya ia dipuji sedemikian rupa. Lalu katanya. Gerakan yang baru saja dipelajarinya itu sudah hendak dicobanya pula. Jika langsung dikeluarkan Sarini mungkin dapat menebaknya. Saat itu tersadarlah Telaga. Ayo tunjukkan padaku!” Mendongkol juga sedikit hati Telaga mendengar ucapan itu. Pertama-tama ia harus membuat gadis itu kalang kabut baru bisa mengeluarkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang tidak terduga dari atas untuk kembali menyerang posisi awal ia melompat. Ditariknya pelan sambil diingat-ingat lagi jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang diajarkan gurunya dan telah sedikit dipahami olehnya. mungkin perlu perubahan-perubahan sedikit dalam pemanfaatan jurus itu. terseret arah gerakan lawannya dan terlempar ke atas tanah. Darah mudanya pun sedikit bergolak.259 Kelapa yang diikuti satu tipu berkelit untuk mengunci kedua tangan Telaga dan diakhiri dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. Rupanya cukup banyak tenaga yang dikeluarkannya untuk mengatasi Telaga. ”Deggg!!” Terengah-engah sedikit sosok itu saat bergerak mundur. janganlah permainkan aku. Sarini putrinya. Tapi kemudian katanya.

Kagum juga Telaga melihat keberanian dan perhitungan yang tepat dari Sarini. Belum habis gaya tarikan pedang panjangnya. Ia hanya membiarkan pedang panjang Telaga lewat satu dua jari dari tubuhnya. Tidak banyak ia bergerak. akhinya Telaga mulai meningkatkan kadar serangannya. Kelihatannya Sarini masih mencari-cari celah untuk bertarung jarak dekat. kembali Sarini telah menggapai kedua tangganya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH menanggapinya.260 BAGIAN 5. seperti gerakan-gerakan Kadal Pelangi. . Masih belum menyerang. ”Ayo keluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi!” pancing Sarini. Telaga pun meloncat terbalik dan menyabetkan pedangnya ke arah Sarini. Setelah sedikit bergerak liar menyabet ke sana ke mari membuat hampir tidak ada ruang kosong di kiri-kanan Sarini. cukup mengelak tipis. yaitu Telaga dan pedangnya terlempar mendatar di atas tanah. Sekarang serangannya mulai gencar dan dibalas pula oleh Sarini dengan elakan-elakan yang lebih cepat. Terlentang. Tipis akan tetapi mengenai selendangnya sehingga wajahnya pun terbuka. Bukan hanya karena emosi juga karena ia tertarik bagaimana gadis itu bisa menangani serangannya. Sarini telah mengambil posisi rapat. Gadis ini benar-benar berhati harimau. menambah dorongan sehingga Telaga kembali terikut arus putaran tenaga Sarini. Mendengar ini Telaga pun tergerak untuk mengeluarkan jurus itu. di mana Telaga akan mendarat. Sarini bergerak cepat. Saat Telaga tersenyum atas hasil yang didapatkannya dan ia menyentak balik untuk kembali ke posisi semula di mana ia melompat tadi. Kaget tersurat pada wajah Telaga melihat posisinya tidak lagi menguntungkan. Sedemikian rapat sehingga jarak itu tidak dapat dimasuki lagi oleh pedang panjang. Ia tidak banyak bergerak. agar ia bisa menangkap atau memukul bagianbagian tubuh dari Telaga. Hasil yang mirip diperoleh. Sarini pun melompat mundur untuk mengelak. Karena lama tak membuahkan hasil. Sarini ternyata memiliki perasaan dan perhitungan yang tajam. Dan dalam sekejap kembali jurus Berkelit Membanting Padi digunakan.

Ia dapat dengan jelas melihat bagaimana anaknya Sarini memberi pancingan pada Telaga sehingga pemuda itu mengeluarkan jurus Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi yang langsung direbut posisi awalnya untuk dihancurkan. Melainkan digunakan pada situasi yang cocok untuk memanfaatkannya. ”Nak Telaga. Perhatikan waktu gurumu dulu menghadapi keroyokan orang-orang . Meninggalkan Telaga yang masih agak-agak bingung atas kekalahannya.261 ”Hehehehe. Kembali Telaga menggelengkan kepalanya..!” sahut Telaga sambil cepat bangun dan menjura. ”Tahukan pula. apa yang akan dilakukannya menghadapai lawan yang bertangan kosong?” tanya Arasan kembali alih-alih menjelaskan jawaban dari pertanyaan pertamanya tadi. tidak untuk jarak dekat. bila itu tadi adalah Walinggih. ”tahukah kamu mengapa engkau bisa kalah dari Sarini?” Telaga menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Aku pergi dulu!” sahut Sarini yang segera hilang dari sana. Mohon petunjuk!” ”Ilmu bela diri itu harus dipahami inti dan maksud gerakannya. Entah malu entah agak tak suka bahwa ayahnya tiba-tiba muncul di sana. kena engkau diperdaya Sarini. ”Ayah!!” suara Sarini dengan manja. ”Memang jurus yang diajarkan oleh Walinggih itu teramat ampuh. Setelah mereka berdua berdiam agak lama.” Orang itu ternyata adalah Arasan. ”Guru. Ia telah lama berada di sana.” jelas Arasan.. Jurusjurus tidak hanya digunakan karena dirasakan indah atau ampuh saja. ”tak tahu guru. tapi hanya untuk jarak menengah dan jauh. bertanyalah Arasan pada Telaga. ”Maksud guru?” tanya Telaga menyakinkan ketidahtahuannya. Tampak merah mukanya.!!” tiba-tiba terdengar kekeh seseorang dari sisi kedua orang yang sedang bertarung itu. Ia masih agak bingung mengapa jurus yang dirasakannya ampuh itu tidak terlalu berguna dalam menghadapi Sarini.

Istilahnya ilmumu semakin telanjang atau transparan. ada rahasia lain mengenai kemenangan Sarini. ia memang lebih jeli dalam menggunakan gerakangerakan dalam ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan. guru. Jika ruang terlalu sempit engkau harus mundur atau pergi sehingga tetap cukup ruang untuk pedangmu. nak Telaga. ”Menurut saya. ”bahkan ia telah pula diajarkan tipu-tipu gerakan untuk memunahkan Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. Ada apa pula ini sampai tidak boleh menceritakan pada Sarini mengenai hal ini. semakain kenal lawanmu akan gerakan-gerakan yang akan engkau lakukan. perlahan-lahan wajahnya pun memerah. Ia selalu mengambil cukup jarak bagi pedangnya untuk bergerak.. Lalu katanya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan rahasia itu. ”Bagus bila engkau berpendapat begitu. Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan pendapat gurunya mengenai ilmu yang diturukan oleh gurunya yang lain.” Tak bangga pula ia bahwa kekalahannya diakibatkan Sarini telah mempelajari ilmunya dan juga diajari oleh gurunya.” begitu jelas Arasan.” kata Arasan kemudian. Itu sebabnya ia dapat dengan mudah mengalahkan mu. ”Maksud paman?” tanya Telaga ingin tahu. Semakin engkau sering bertarung dengan lawanmu. Telaga mengiyakan. Jadi sebaiknya seorang pendekar memperkuat ilmu dan gerakan yang disertai efesiensi pemanfaatannya ketimbang ragam dan gerakan-gerakannya yang tak . ”Sebenarnya.” ucap Arasan sambil tersenyum saat melihat Telaga terkejut. ”Tapi engkau harus berjanji dulu tidak menceritakannya kepada Sarini. ”Sarini sebenarnya telah belajar pula belajar pada Walinggih. agak tidak enak kelihatannya ia hendak menyampaikan. ”tapi itu bukan alasan bahwa Sarini dapat mengalahkan saya. Dan memang demikianlah. Walinggih.” Telaga terngaga mendengar hal itu.. kalah ya kalah!” begitu jawab Telaga.” jawab Arasan. Bisa kecewa ia nantinya. tak peduli orang telah mengenal ilmu kita atau tidak. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH itu.262 BAGIAN 5.

Dan tidak biasanya bahwa malam itu tidak terdengar celoteh renyah dari Sarini yang biasanya ditimpali oleh Telaga. Di hadapan mereka tersaji apa yang disebut orang-orang di ujung suatu pulau besar Le Bu Peudah atau Bubur Pedas. kelapa parut dan rempah-rempah seperti kunyit. Tak lama kemudian mereka pun berlalu. Di samping mangkok tersebut masih pula ada buah-buahan dan umbi yang telah dibakar. Tiba-tiba Walinggih memberikan sedikit isyarat pada Arasan melalui kedipan matanya. Jadi boleh dikatakan berhadap-hadapan Walinggih dan Arasan. Arasan malah memberi isyarat balik agar Walinggih saja yang memberitahu kedua anak muda tersebut mengenai hal yang mereka telah bicarakan sebelumnya. Dimasak kira-kira hingga tiga jam. . Alih-alih melakukan apa yang diisyaratkan Walinggih. yang kemudian diikuti oleh Walinggih dan Sarini. juga Telaga dan Sarini yang masing-masing dipisahkan oleh perabot makan yang berisikan santapan makan malam mereka.” jelas Arasan. Kembali ke rumah di mana ternyata telah menanti Walinggih dan Sarini. merica dan tunas pohon kala. Cara memasaknya adalah dengan memasukkannya semua dalam satu kuali dan mengaduknya cukup lama. Arasan dan Walinggih hanya saling bertukar pandang melihat kekakuan yang muncul di antara kedua anak muda yang duduk saling berseberangan itu.263 terduga. Arasan duduk di samping Telaga. Setelah membersihkan kaki dan tangan untuk mulai makan. Telaga dan Arasan pun duduk di sekitar semangkok besar Le Bu Peudah. Suatu makanan khas yang umumnya disajikan hanya pada menjelang matahari terbenam. Jenis makanan itu merupakan campuran dari bahan-bahan beras. Kedua orang tua yang sedang makan. Telaga pun mengangguk-angguk. Yang terakhir ini sedang menyiapkan makan malam bagi mereka berempat. mereka pun kemudian mulai makan. Setuju atau pendapat gurunya. Setelah sebentar mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Isyarat ini dilontarkan saat kedua anak muda sendang menunduk menyupa Le Bu Peudah-nya.

”Lebih baik ayahmu saja yang menjelaskan. dipegangnya perutnya yang sakit. Juga sekalian melemparkan tangguna jawab agar Walinggih yang menjelaskan tingkah laku aneh mereka.! Kita malah jadi bahan tertawaan mereka. Sarini.. ”Arasan. Terdiam. Dia lebih pakar dari paman. Keduanya pun tak dapat menahan tawa melihat kelakukan guru-guru mereka.. Tidak lagi serang dan dingin saat masih menjadi Hakim Haus Darah.. Sudah empat kali ia tambah. akhirnya gerakan ini pun dilihat keduanya. Telaga tak lagi dapat menahan tawanya. Menyadari bahwa isyarat-isyarat mereka telah dilihat kedua anak muda tersebut. Walinggih keluar sifat aslinya yang ramah dan jenaka. Sedangkan Sarini masih berusaha menyembunyikan suara tawa yang barusan terceplos keluar. Setelah mempunyai murid Telaga dan berhubungan dengan keluarga Arasan dan Sarini. ada apa sih?” tanya Sarini pada Arasan. Telaga hanya tersenyum. itu tanya saja sama pamanmu Walinggih.” tuduh Walinggih jenaka. ”Eh.264 BAGIAN 5. Diupayakan untuk menutup mulutnya.” jawab Arasan sekenanya.. tidak mau menjelaskan. .. tuh! Ini gara-gara kamu sih. lihat. Walinggih dan Arasan pun menghentikan aksi mereka. Sekalian ia menambahkan Le Bu Peudah dalam mangkoknya. sedangkan Sarini sampai terkekeh kecil dan kemudian menutupi mulutnya agar makanan yang sedang dikunyahnya tidak tersembur keluar.” jawab Walinggih merendah sambil kembali lempar tanggung jawab. terlihat salah tingkah. ”Ayah. Mirip-mirip orang yang sedang tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang salah.. Seanak-akan perutnya tak berbatas dalam mengasup makanan kegemarannya itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Karena berulang-ulang keduannya saling mengedip-kedipkan mata dan juga menggerak-gerakkan dagu menunjuk-nunjuk pada kedua muda-mudi itu. Sementara air mata geli tampak telah mengalir sedikit di sudut kedua matanya. Melihat kejenakaan yang muncul dari tingkah polah kedua orang itu. pecahlah tawa antara orang muda itu. Tak tahan dia menahan geli melihat ayah dan Walinggih saling bergerak aneh-aneh dengan memainkan dagu dan juga sebelah mata mereka..

sebaiknya engkau tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan!” Kedua muda-mudi itu benar-benar mati kutu. Setelah hening sebentar diberikan oleh kedua orang tua itu kepada Sarini dan Telaga agar mereka dapat menguasai diri mereka kembali.. Mereka tidak bisa bicara apa-apa. Akan tetapi lain dengan keluarga Arasan. Walinggih pun berubah gaya bicaranya. saat ini telah menjalar ke leher dan telingah. sebagai pasangan dari anakmu yang cantik dan pandai memasak.. ”Kakak Walinggih. rendah hati dan bersemangat itu. Semoga usul ini dipertimbangkan dan diterima. dengan si anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keputusan orang tuanya. Seharusnya engkau saja yang bilang. Bagaimana jawabanmu atas lamaran paman Walinggih?” Memang suatu kebiasaan yang tidak lazim di jaman itu bahwa anak yang akan dijodohkan ditanyakan langsung pendapatnya. berkatalah Arasan. ”Nah. Jika tadi semburat merah telah ada di wajah. Kan dari pihak yang pemuda!” jawab Arasan tak mau kalah.!” Arasan pun tak mau kalah. Jelaslah sudah apa yang ada di benak kedua orang tua itu dengan kata tersebut. Menjadi keren dan serius.265 ”Eh. Ia pun lalu membalas dengan merendah. saya Walinggih dengan rendah hati ingin menjodohkan murid saya yang bodoh ini. Sarini. saya Arasan merasa amat beruntung bahwa putriku yang bodoh ini bisa mendapatkan perhatian dari muridmu yang gagah. Kata ”pihak pemuda” tiba-tiba saja menghentikan tawa yang ditahan dari kedua muda-mudi itu. ”Adik Arasan. putriku Sarini. Keduanya tampak mirip-mirip kepiting atau udang rebus. Akan tetapi perjodohan adalah urusan yang akan dijodohkan. Lalu katanya. Mungkin dikarenakan mereka hanya tinggal berdua dan tidak memiliki saudara lain di sekitar situ dan juga Arasan memberikan kebebasan . Dan hanya satu yang mungkin. Umumnya kedua orang tua yang menerima pinangan perjodohan yang menentukan. Tiba-tiba saja keduanya tertunduk malu dengan semburat merah di wajahnya. Perjodohan!! Masih dalam rangka menggoda keduanya. bukannya engkau Walinggih yang mulai. Telaga.

Mereka teringat bahwa mereka sama sekali belum menanyakan pendapat murid mereka Telaga apakah mau dijodohkan dengan Sarini. Pandai masak pula. menuju ruangan di balik yang dipisahkan oleh sekat terbuat dari daun kelapa untuk mulai mencuci perabot-perabot makan malam. ”ayah.. ”Maafkan perkataan saya ini. Ia di dalam hatinya telah lama menyukai Telaga. terserah ayah saja.! Saya masih harus membereskan perabot makan ini. Dengan wajah yang masih memerah dan tertunduk malu Sarini berkata.!” Lalu dengan cepat ia berdiri dan membereskan perabot-perabot bekas mereka berempat makan malam itu dan berlalu dari ruang tengah itu. berkatalah Telaga. yang sedari tadi hanya tertunduk diam dan malu. Arasan tertawa melihat tindak-tanduk putrinya. Ia merasa bahwa putrinya menerima pinangan dari Walinggih untuk dijodohkan dengan Telaga. ”Hahahaha. Mereke sama-sama senang bahwa urusan ini menjadi beres sesuai dengan hasil yang mereka perkirakan. akan tetapi guru berdua ini sedari tadi sama sekali belum menanyakan pendapat saya.. Karena dipergoki oleh ayahnya... karena siapa sih yang tidak mau dijodohkan dengan gadis semanis Sarini. bahkan ayahnya pun mengetahui itu dari sikapnya yang kadang melamun saat Telaga tidak datang ke rumah mereka untuk berlatih ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan.. . sampai terhenti kegiatannya mencuci mangkok yang digunakan itu mendengar perkataan Telaga.. Setelah berhasil menenteramkan hatinya. Mereka sudah saja merasa yakin. Sebagai seorang ayah yang dekat dengan anaknya.. Karena ia sendiri yang akan nanti menjalani konsekuensi dari keputusannya itu.” Kedua orang itu terdiam. Yang paling terkejut adalah Sarini.!” berderai tawa Arasan yang kemudian diikuti oleh Walinggih. Atas dasar pengakuan itu dan juga rasa sukanya pada muridnya. dapat ia merasakan itu. Biasanya Sarini akan menyatakan dengan tegas apabila ia tidak setuju akan sesuatu yang dikemukakan ayahnya. Tak lupa mereka menepuk-nepuk punggung Telaga yang duduk di antara mereka. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH kepada anaknya untuk mengambil keputusannya sendiri. mengakulah ia akan hal itu.266 BAGIAN 5.

Tak terasa bersemu merah kembali wajahnya mengingat bergolaknya perasaannya tadi. Lalu kemudian kita bicarakan lagi kapan hari baiknya.” jawab Walinggih. aku akan ke utara mencari kedua orang tua Telaga untuk memberitahukan perjodohan ini. gimana ini. bila kakak tidak berkeberatan bagaimana bila kakak yang mengatakan kepada kedua orang tua Telaga di Gunung Berdanau Berpulau soal perjodohan ini.” ”Ah. Ia hanya bisa pasrah. Pasrah untuk dijodohkan pada Sarini.” usul Arasan.. Tanpa pikir panjang Walinggih mengatakan bahwa pastilah muridnya bersedia dijodohkan dengan Sarini.267 Arasan pun menghubungi Walinggih.. ”Hmm. Baiklah. gadis yang diam-diam juga ia sukai. ”Saya. boleh juga itu! Sudah lama aku tidak berjalan jauh ke manamana... Yang dihubungi merasa gembira pula.” begitu ujar Walinggih. kakak Walinggih. Telaga yang berada di antara mereka tidak lagi menyanggah. Salah satu kemampuan mereka adalah bela diri dalam air.? Padahal engkau ingin aku suruh pergi jauh ke selatan mencari orang-orang yang tinggal di perahu. ”Engkau masih ada orang tua di utara sana. Saya tidak pada tempatnya karena saya adalah orang tua yang perempuan. kamu benar sekali! Sudah pikun orang tua ini. Tadinya sempat perasaannya bergolak. Kedua orang tua itu akhinrya sepakat. Bagus untuk engkau pelajari untuk melengkapi ilmu-ilmumu. suka guru. ”Hmm.. Kehilangan keluarga. ”Eh. yang membuatnya sedih tiba-tiba terlupa. tapi saya harus memberitahu kedua orang tua saya dulu.!” kata Walinggih sambil menepuk jidantnya sendiri. .” Sarini yang mendengarkan itu dari tempat mencuci piring merasa lega. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya benar-benar di atas air. Ia takut bila Telaga menolak atau bisa saja telah dijodohkan. anak dan istri. apa maksudmu Telaga?” tanya Walinggih. Lalu ujarnya. Moga-moga mereka setuju. di tengah laut. ”Kamu tidak suka dengan Sarini? Bodoh kamu!” Bersemu merah wajah Telaga.. ”Begini saja.

... Terasa kuatir pula bila kedua orang tua Telaga tidak menyukai dirinya. Berganti-ganti Arasan melihat kedua rombongan itu sampai hilang dari pandangan. Suku Pelaut. Baik sekali apabila ia bisa menjadi murid dari kedua Pelestari Tenaga Air. Dan anehnya setelah pembicaraan perjodohan itu. Sarini pun dibawa serta untuk sekaligus diperkenalkan. Telaga ke arah selatan. ”tak ada yang kekal di dunia. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Hari pun berlalu dengan cepat. kedua muda-mudi malah menjadi agak asing satu sama lain. Terasa sepi dunianya tanpa kehadiran orang-orang yang dekat dengannya. sedangkan Sarini dan Walinggih ke arah utara. Kedua ilmu itu harus dipadukan agar pertahanan dan serangan menjadi mantap. Sementar itu Walinggih akan pergi ke utara. ke Gunung Berdanau Berpulau untuk menceritakan soal perjodohan itu kepada kedua orang tua Telaga. Dengan atau tanpa pedang panjang. Ki dan Nyi Sura. Telaga diberikan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke Padang Batu-batu untuk melanjutkan perjodohannya. ”Ada waktu berkumpul. Tibatiba saja dirasakan umurnya bertambah beberapa tahun. Sekalian mengenal calon mantu mereka. Akhirnya tibalah hari perpisahan itu... Sisa hidupnya benar-benar dihabiskan di atas air. begitu pikir keduanya.” sambil melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya. ada pula waktu berpisah. Atas usul Arasan. Kedua rombongan itu pun berpisah.” gumamnya.268 BAGIAN 5. Telaga disuruh gurunya untuk menimba ilmu di selatan. Nanti mereka juga akan kembali seperti semua. Urusan perjodohan itu membuat mereka merasa sungkan satu sama lain. Orang-orang yang hanya sesekali ke darat untuk menukarkan kebutuhan hidup mereka. Ia juga menyuruh Telaga untuk melatih kembali ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan dari Arasan. Di antara orang-orang yang tinggal di laut. Tidak lagi bebas dan akrab seperti semula. . Sarini hanya dapat menunduk mengiyakan mendengar keputusan ayahnya. Baik untuk jarak pendek ataupun menengah dan jauh. Kedua orang tua yang melihat hal itu membiarkannya saja. jauh di lepas pantai. Walinggih kembali berulang-ulang mengajarkan Telaga bagaimana jurus-jurus dalam ilmu Pedang Panjangnya digunakan.

hihi.. Tralala.. Sudah bisa ditebak bahwa pemuda itu adalah Lantang. Lantang tidak pernah sekalipun turun gunung. Tak terlihat ada orang yang berjalan bersama atau mengikutinya.” Lagu yang sering dinyanyikan gurunya saat sama-sama bepergian. Selama berdiam di Gunung Berdanau Berpulau.. Buat apa susah. resah itu juga tiada gunanya. ”Burung bersiul bersahut-sahutan. Padang Batu-batu merupakan suatu hutan yang bukan ditumbuhi pepohonan akan tetapi batu-batu dari ukuran kecil sampai sebesar rumah. Hal-hal tersebut menarik hatinya. Seyogyanya ia harus mencari gurunya ke timur.269 *** Seorang pemuda tampak sedang berjalan seenaknya.. Ini barulah pertama kalinya ia turun gunung saat mulai remaja... matahari bersinar cerah. ia pun bernyanyi-nyanyi kecil... bunga semerbak merekah. trilili.. Nanana.... dada.. Ia baru saja turun dari Gunung Berdanau Berpulau. Untuk menghilangkan rasa sepi. Perangainya yang riang menambah daya tariknya. haha. ninini. Wajahnya bersih dan selalu dihiasi senyum. Suasana sudah banyak berubah dibandingkan dengan keadaan dulu saat ia ditemukan oleh gurunya dan diajak berdiam di gunung. Tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyi lucu dari perutnya. buat apa resah.. Selain itu ada pula Kota Batu-batu yang terletak di tepi Padang Batu-batu. Mirip kuku- .. Ada kota Dsseldorf (kota Pinggir Sungai Menggelegar) yang dikatakan memiliki dua belas Stndischen (Yang Berdiri) di Nordpark (Taman Utara) yang pada suatu waktu hilang sama sekali digondol entah oleh siapa.. susah itu tak ada gunanya. didi. Pemuda itu tampak sedang melakukan perjalan seorang diri. Akan tetapi dari cerita-cerita orang yang didengarnya sambil lalu ia tertarik untuk sedikit berjalan ke selatan baru ke timur. Badannya cukup berisi dengan perawakan tidak terlalu tinggi tapi proporsional sehingga membuatnya terlihat enak untuk diajak bicara. Melewati kota-kota yang dibicarakan oleh orang-orang itu. kera-kera bermain di hutan.

tampak seorang tua sedang duduk memandangnya. Lantang tidak bisa begitu melihat raut wajah orang itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seorang di depannya. lambung pun mendapat giliran untuk disua oleh penganan itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH ruyuk seekor ayam jadi. Saat baru turun gunung. pemuda itu. Memandangnya dengan tertarik. diduganya bahwa itu adalah seorang . Orang tua tersebut tampak sedang dalam posisi berjongkok. pun celingak-celinguk. Tak perlu terlalu lama perut Lantang menunggu untuk diasup. manis-manisan dan bumbu-bumbu. Dipilihnya suatu batu besar sebagai senderen untuk duduk.270 BAGIAN 5. yaitu suasana warna kehijauan yang tampak. Segera setelah kunyahan-kunyahan di mulut berlangsung. Agak kontras dengan batang pohon tempat ia menyandar yang jelas-jelas berwarna coklat tua. Nikmat rasanya. Di antaranya terdapat dendeng. Lantang yakin bahwa tadi tiada seorang pun di sana. dibentangkannya kain yang tadi dibawanya di pundak. Sudah dibayangkan betapa enaknya melangsungkan makan siang di tepi sungai yang jernih dan segar dan ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi menyejukkan pada siang yang panas ini. Ada sesuatu yang aneh dari orang tua itu. Bergegas ia menuju pada sumber gemericik air itu. Lantang. Suatu bunyi yang sudah menjadi temannya sehari-hari saat menimba ilmu Tenaga Air di Gunung Berdanau Berpulau. Ia mencari-cari dengan matanya tempat yang enak untuk digunakan untuk makan siang. hanya dari warna rambut dan kerut-kerutan di wajahnya. ia telah dibekali oleh kedua gurunya sedikit uang dan juga makanan kering yang dapat tahan hingga seminggu. Sekujur tubuh serasa mendapatkan energi baru. Bunyi itu ternyata tanda-tanda bahwa perut yang punya telah minta untuk diisi. Agak jauh di hadapannya. di bawah sebuah pohon yang rindang. Berjarak satu-dua tombak dari sungai jernih yang ditemukannya. Diasupi penganan agar dapat menenteramkan lambung yang ada di dalamnya. Samar-samar didengarnya gemericik air yang khas saat melewati batubatu. teruma terhadap penganan yang sedang disantapnya. Sebagai makanan utama masih ada ketan dan juga ubi kering yang siap disantap. yang berfungsi sebagai kantung perbekalan yang dibawanya.

Mirip dengan kelakukan hewan-hewan mamalia yang hidup di hutan. orang itu kemudian menghilang. saat ini kelihatannya tidak lagi. ”Ki sanak yang di sana. Bunyi kukuruyuk. seakan-akan benar-benar menikmati rasa lezat yang muncul saat bagian-bagian yang dikunyahnya dibasahi oleh air liur. alih-alih menjangkau air dengan telapak tangannya untuk diminum. Kalau tadi bersumber dari perutnya. Ada ungkapan terima kasih di matanya. mirip warna kulitnya dan sisanya biru muda. Cepat. Rancana si Bayangan Menangis Tertawa. orang itu telah bergerak ke arahnya. melainkan karena warnanya yang berbeda pada bagian kiri dan kanan. Tua dikarbit permasalahan atau pikiran. Tak berapa lama habislah sepotong ubi dan sekerat dendeng itu. Tak bisa dirasakan. Pasti dari orang itu. Juga guru pertamanya. Mengambil makanan yang ditawarkan dan langsung menguyahnya perlahan-lahan. Sebelah hijau muda. Tua sebelum waktunya. sehingga dalam beberapa kejapan mata ia telah berada di hadapan Lantang. ”hanya makanan sederhana.” Belum habis Lantang mengucapkan kata-kata untuk menjelaskan apa yang bisa ia tawarkan. Halus akan tetapi cepat. Suatu paduan busana yang belum pernah dilihat Lantang sebelumnya. Dalam jarak sedekat ini tampak lebih jelaslah raut wajah orang tua itu.. Seakan-akan mengangguk. Serius. Ki dan Nyi Sura. Mendengar ini mau tak mau Lantang pun tersenyum. mau makan sama-sama saya?” tanyanya sopan. Mirip dengan cara ia datang . melainkan wajah khas orang muda yang banyak dirundung masalah.271 yang sudah agak tua. orang itu malah menurunkan kepalanya untuk langsung meminum air sungai itu dengan mulutnya.. Setelah itu ia kembali memandang Lantang. Orang itu langsung beranjak ke arah sungai yang terdapat tak jauh dari sana. Amat cepat. Bukan karena bahannya yang kasar. Mungkin lebih tua dari kedua gurunya. Sebenarnya belumlah ia terlalu tua. Terdengar tiba-tiba bunyi yang barusan membuat Lantang memutuskan untuk berhenti makan siang. Lalu ditawarkannya makanannya sambil mengangsurkan sekerat dendeng dan sepoton ubi. Baju yang dikenakannya juga aneh. Setibanya di dekat air.

Ditambah lagi dengan rasa letih yang telah menumpuk sejak perjalannya tadi pagi sedari turun dari gunung. setelah terlebih dahulu membereskan perbekalannya kembali ke dalam buntalan. Dari caranya mereka berdiri terlihat bahwa bukan suatu pembicaraan ramah-tamah. Lantang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan orang tua itu. ”Happ! Deggg!!” tiba-tiba lelaki tua itu memasukkan tendangannya dan juga pukulannya pada sang wanita.272 BAGIAN 5. Sosok yang lain seperti seorang laki-laki tua. Melayang dan turun dengan halusnya di atas kedua kakinya. Dalam tidurnya. Angin sepoi-sepoi dan juga perut yang telah terisi benar-benar paduan yang cocok untuk membuat mengantuk. Keduanya memancarkan seperti cahaya hijau muda. Di sana di kejauhan Lantang melihat dua sosok orang sedang berhadapan. Hal ini terlihat dari bentuk tubuh dan juga rambutnya yang panjang. Ia berdiri di pinggir sebuah pantai di mana di salah satu bagian di hadapannya tampak air sungai bersua dengan air laut. . Di bagian muara yang melebar itu terdapat sebuah pulau. Kembali dalam posisi siap menyerang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tadi yang secara tiba-tiba. Khas pulaupulau delta pada umumnya. Tidak jelas alasannya. Saling mengitari dan melemparkan pukulan dan tendangan. Keduanya berdiri setombak dua tombak lebih. Bukan dari busana mereka. apabila mereka bersua kembali. Tak lama Lantang pun terlelap. Direbahkan badannya di samping batu yang dijadikannya tadi sebagai sandaran. Wanita itu terlempar mundur beberapa langkah. Lantang pun berniat untuk bertanya pada orang tua itu. ia pun bermimpi. Tidak terlihat dengan jelas dari tempatnya berdiri. Sebagai alas kepala digunakannya buntalan bekalnya tadi. Setelah mereka bergerak terlihat bahwa salah satu sosok adalah seorang wanita. Tetapi tidak terjatuh. Melainkan melayang ringan bagai bulu yang tertiup angin. Sebuah muara. melainkan cenderung dari bagian-bagian tubuhnya. Keduanya tiba-tiba bergerak cepat. Tiba-tiba teringat ia pada Xyra. Selain itu terdapat persamaan di antara keduanya. Warna-warna Undinenlah yang dilihatnya pada busana dan kulit orang tua itu. sahabatnya yang seorang Undinen.

Mencari-cari posisi yang lowong untuk melemparkan sekepal dua kepal pukulan. Menuju ke pusat bumi akan tetapi tidak kaku. Berdiri satu di depan lainnya. Keras tetapi tidak getas. Tanpa lebih jauh mempedulikan apakah tindakannya itu berbahaya atau tidak bagi keselamatan dirinya. Sekarang lebih jelas dilihatnya bagaimana sosok dan perawakan kedua orang itu. Tapi apa maksudny ini? Mengapa keduanya berseteru? Belum habis Lantang berpikir tentang apa-apa yang bisa menjadi sebab. Keduanya ingin mengalahkan yang lain.273 Lelaki itu setelah melepaskan serangannya terlihat seperti terhuyung. Mengalir seperti air. Menimbangnimbang serangan apa yang akan dikeluarkan. Menilik dari serangan tadi. Maksud ingin menengahi. Luwes. Ia menyelak masuk saat kedua orang yang sedang bertempur itu sedang melepaskan masing-masing pukulan mereka. Bergerak dengan halus dan cepat. keduanya telah kembali berlaga. begitu tertariknya ia sehingga tak sadar ia telah berada di atas pulau delta itu. Air. Xyra sang Undinen dan pak tua yang tadi siang menerima pemberian bekalnya yang sederhana. Mengendap ke bumi. Suatu cara pengaturan tenaga yang mengalir. Keduanya kembali berhadapan. Hanya saja saatnya tidak tepat. Lantang yang tadi melihat dari jauh. Air. Lantang langsung bergerka ke tengah. Sekarang ia hanya berada dua tiga tombak jauhnya dari kedua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Lentur dan membaur. Ia merasa bahwa ia harus mencegahnya. Mencegah pertarungan ini berlanjut. Seorang yang malah menjadi sasaran pukulan ked- . ”Deggg! Dess!!” keduanya pun terkejut melihat ada seorang di tengahtengah mereka. Kedua orang itu ternyata orang-orang yang telah dikenal dan pernah ditemuinya. Lantang yang dapat merasakan himpitan aura dingin dari keduanya menyadari bahwa pertarungan ini sungguh-sungguh. Membuang tenaganya dalam satu serangan. Entah bagaimana caranya. sebelum salah seorang dari mereka tersungkur di atas tanah. Akan tetapi alih-alih ia terhuyung gerakannya malah tambah kuat. keduanya bersumber pada elemen alam yang sama.

Kota Luar Rimba Hijau. Sebagian mayatmayat telah dikuburkan.274 BAGIAN 5. Hanya yang tersisa berupaya untuk menguburkan. Kedua orang yang ada di dalam mimpinya tadi tampak di hadapannya. Akhirnya Lantang pun mengiyakan. Xyra. Semampunya. Rasa sakit ditambah dengan kehilangan tenaga membuatnya tak dapat bangkit. Kesadarannya pun mulai perlahan-lahan menghilang. Terlihat seorang tampak meletakkan kain basah itu di keningnya. Lagi pula tak ada yang dapat ia lakukan. Dirasakannya tubuhnya sakit-sakit saat ia mulai tersadar kembali. Hancur tak tersisa. Masih bingung dirinya mengenai apa yang baru terjadi. Sementara Pak Tua masih sibuk mengaduk-aduk kuali yang sedang dijerangnya di atas air. Paras Tampan tanpa banyak berucap langsung saja membantu para penduduk yang tersisa membenahi kota mereka. Sehabis Pak Tua itu meninggalkan dirinya. *** Paras Tampan hanya bisa menghela nafas menyaksikan desa tempat ia dilahirkan yang sekarang telah menjadi sebuah kota. Apakah tadi itu benar-benar terjadi atau hanya mimpinya saja. Tapi tak ada tenaga. Sebagian besar penduduk entah mati atau mengungsi. agar bau busuk mayat tidak mengudara dan menjadi sebab penyakit bagi yang masih hidup. Selain itu dengan isyarat tangannya Xyra mengatakan bahwa sebaiknya ia tetap dalam posisi berbaring. Pak Tua. tapi belum semuanya. Xyra tampak menguatirkan dirinya dengan sesekali menyeka keningnya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH uanya. Saat ia tiba di sana asap dan api telah lama berlalu. Beberapa orang tua yang ada masih mengenalinya. Beberapa tahun di Rimba Hijau dan juga perkembangan kota yang pesat melahirkan penduduk-penduduk baru yang berpindah . menjadi puing-puing. Para muda-muda merasakan wajahnya yang asing. Selanjutnya gelap pandangan Lantang. Secarik kain yang dibasahi meringankan sedikit rasa sakitnya. Lantang berusaha untuk bangun. Sesuatu yang tercium lezat dari aromanya yang mengambang di udara. Sementara seorang lain tampak sedang memasak sesuatu. Keningnya pula dirasa berdenyut-denyut pusing. Seingatnya ia tadi tertidur sehabis makan siang.

Suatu perguruan beladiri. Di dalamnya ia melihat tiruan dari portal Rimba Hijau lengkap dengan ukiran-ukiran di keempat sisinya. Walaupun telah terbakar habis akan tetapi masih memperlihatkan bentuknya yang kokoh dan kaku. Para pengajar di sana adalah rekan-rekannya yang tidak beruntung karena tidak diijinkan untuk mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Hanya tua-tua yang tahu dan dulu hadir saat mereka mulai belajar ke Rimba Hijaulah tahu dan masih mengenal dirinya. Tiba-tiba perasaannya seperti tercekat. .? Pertanyaanya terjawab tak lama kemudian saat ia memasuki bangunan kayu yang sudah rusak sebagian dimakan api dan terbasahkan hujan itu. Sedih dan sunyi. ia melihat sebuah papan yang berisikan tulisan-tulisan nama-nama orang-orang yang terdaftar di perguruan beladiri itu. Jadi masuk akal banyak orang-orang baru yang tidak mengenal dirinya. akan tetapi telah menghadap kepada Sang Pencipta akibat ulah Perguruan Kapak Ganda.275 dari satu tempat ke tempat lain. dan lainnya. Dibacanya perlahan-lahan dari bawah ke atas. Ya. Juga lubang-lubang bendera atau panji-panji di atas keempat pinggirnya. Di salah satu dinding yang masih tersisa dari amukan api.. Tak terasa menetes sedikit air mata di ujung-ujung pelupuk mata Paras Tampan. Orang-orang yang telah berhasil mengikuti ujian akhir di Gunung Hijau. Tak terasa ia akhirnya mencapai suatu bangunan yang cukup luas. Misbaya. Gentong. Setengah hari telah dihabiskan Paras Tampan untuk membongkar bagian-bagian rumah yang dibakar untuk mencari-cari apa ada mayat yang tersembunyi di bawahnya. pekarangan di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang telah pulang ke Kota Luar Rimba Hijau. Dan di sebelah kanan dari nama-nama itu tertulis pula nama-nama seperti Rintah. nama-nama yang tertulis di sana dikenalnya. Siapa gerangan yang membangun tempat ini? Apakah. Tidak terkecuali Kota Luar Rimba Hijau.

kedua Manusia Tiga Kaki pun tidak tahu perihal mereka. Paras Tampan kemudian menggantungkan papan daftar nama itu di punggungnya. ”Nak. Sebenarnya masih terdapat dua orang rekan putrinya.. ”Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. nak Paras Tampan. Semoga saja mereka berdua masih hidup dan sehat. Paras Tampan pun mengambil papan daftar nama-nama murid-murid perguruan itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Saat ini hanya tinggal ia satu-satunya yang telah masih hidup dari turun gunung. ”Bibi Antini. Walaupun Ki Tapa tidak memperbolehkan Rimba Hijau dinamakan sebagai suatu perguruan beladiri. Apapun yang ditanyakan pastilah akan membangkitkan kesedihan orang-orang di sekitar sini.. Masih banyak korban yang belum ditemukan dan dimakamkan dengan baik. yaitu Kirani dan Rantih.. Tak terkecuali sosok perempuan tua itu. Nyi Antini hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Di bagian paling atas tertulis pula Ki Tapa. Saat keluar dari reruntuhan dan puing-puing perguruan itu. bagaimana kabar Paman Baja. Coreng dan Moreng. Ia tadi telah terlebih dahulu mengunjungi makam kedua orang tua dan juga adiknya. Akan tetapi ia tidak tahu di mana keduanya berada. Setelah cukup lama termenung.?” tanya Paras Tampan sekenanya. Guru mereka semua. Paras Tampan hanya dapat mengangguk. Ia akan membawa-bawa papan itu sebagai kenangan atas teman-temannya dan juga gurunya. akan tetapi murid-muridnya yang tidak lulus ujian akhir dan membuka perguruan ini masih mempergunakan namanya sebagai guru besar. Ia tidah tahu harus berkata apa. Mereka yang telah menjadi korban pembantaian oleh Perguruan Kapak Ganda. Dengan menyematkan tali pada kedua ujung papan yang panjangnya sekitar tiga perempat tombak dengan lebar dua telapak tangan dirapatkan itu.. Sebagai suatu penghormatan saja.276 BAGIAN 5. nak Paras Tampan kan?” tanyanya sambil menyebutkan nama orang tua dan adiknya... Nyi Antini. Saat terjadi . sesosok orang tua menyapanya. Beruntung bahwa mereka telah dimakamkan dengan baik oleh orang-orang kota yang tersisa.

begitu kata mereka seperti ditirukan Nyi Antini. Diperintahkannya untuk diam di sana sampai keesokan harinya. Pada mulanya orang-orang Perguruan Kapak Ganda datang dengan baik-baik dan mencari orang-orang yang tahu mengenai penguni Rimba Hijau. menjadi curiga karena sepengetahuannya perguruan bela diri itu bukanlah suatu perguruan baik-baik. Akan tetapi hal itu tidak digubris.” Lalu diceritakannya bagaimana peristiwa yang dialami oleh Ki Baja dan Nyi Antini itu. Nyi Antini pun melaksanakan hal itu.277 pembumihangusan itu. Berendam semalaman bukanlah hal yang mudah. Belum lagi ia mendengar teriakan-teriakan yang menyayat hati dari orang-orang . sedangkan suaminya hilang entah ke mana. Ia pun kuatir apabila terjadi sesuai dengan kota mereka. Mereka sering berbuat semenamena hanya untuk mencapai tujuan mereka. Disuruhnya istrinya. untuk ”dimintakan bantuan” membuka jalan. Dan dikarenakan rumah mereka memang keci dan tidak ada tempat untuk bersembunyi. Langsung diceritakan hal itu kepada kepala desa Ki Surya. Patuh pada perintah suaminya. Ki Baja yang pernah mendengar mengenai Perguruan Kapak Ganda. Berendam dengan menggunakan batang-batang rumput yang cukup besar agar dapat bernafas. Dari orang-orang yang hidup ia memperoleh keterangan bahwa Ki Baja termasuk orang-orang yang dibawa hiduphidup oleh rombongan itu ke Rimba Hijau. Dengan alasan bahwa mereka membutuhkan pertemuan itu dikarenakan adanya suatu keperluan. Bibi masih selamat karena sempat disuruh olehnya untuk bersembunyi di dalam kolam ikan. Padahal mereka telah datang dengan persenjataan lengkap. Akan tetapi keperluan itu tidak mau mereka ungkapkan. Nyi Antini untuk bersembunyi. dimintannya istrinya untuk bersembunyi di kolam ikan. Berendam semalaman. Masih merasa kuatir Ki Baja pun langsung pulang ke rumahnya. Melainkan mereka menyambut dengan ramah rombongan yang datang itu. Akibatnya ia selamat. Dingin dan basah. Biar saja nanti dikatakan langsung pada para penghuni Rimba Hijau. apalagi dengan seluruh tubuh barada di dalam air. untuk membuka jalan di Rimba Hijau. ia dipaksa ikut oleh mereka. Sudah pasti mereka adalah Ki Tampar dan Ki Gisang.

yang tadinya adalah hanya mengembalikan kitab-kitab yang dikumpulkan oleh Maling Kitab. Sudah tentu diakibatkan oleh himpitan perasaannya yang timbul dari peristiwa itu. Mengeras.” tak dapat Nyi Antini meneruskan ucapannya. hampir menjerit Nyi Antini karena terdengar jeburan air dan sebuah benda terlempar dekat dengan dirinya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH yang dibantai oleh Perguruan Kapak Ganda.. Tangis dan rintihan pun membumbung langit meninggalkan kepedihan bagi yang masih hidup. Suara-suara minta ampun yang tidak digubris oleh sang eksekutor. Hampir pingsan Nyi Antini menyaksikan itu. Sebentar Paras Tampan menunggu Nyi Antini yang melepaskan bebannya dengan bercerita.” Nyi Antini berhenti sebelum . Tangannya mengepal keras. ”Maaf nak Paras Tampan. Terlihat akibat peristiwa yang mengerikan itu. Harap-harap itu Ki Baja. yang luput dari peristiwa itu karena bisa bersembunyi atau tidak dianggap oleh para penyerang. Wajah Paras Tampan tampak membeku. Ia benar-benar tergores hatinya mendengar kekejaman dari para pembantai itu. Apalagi yang menceritakannya adalah orang yang cukup dengan dengannya.278 BAGIAN 5. ”Ada satu hal lagi. nak Paras Tampan.. Menyebarkan amis darah. dan juga mencari kabar Kirani dan Rantih.. Sesosok mayat dengan luka di mana-mana. Sedih Paras Tampan mendengar ucapan itu. Bertambah satu pula tugasnya. Nyi Antini. Membuat air di kolam tersebut mulai berwarna. Sisa orang-orang yang terselamatkan dari peristiwa itu. Lebih tua dari umur sebenarnya. Hanya dengan menguatkan diri ia bisa bertahan hidup dengan tidak berteriak atau keluar dari tempat persembunyiannya. bukan maksud bibi untuk berkeluh kesah terhadapmu. Bibi pikir itu pastilah seorang dari kami yang kebetulan saat itu tidak berada di sini. Nyi Antini tampak bertahun-tahun menjadi lebih tua. Bibi kebetulan saja mendengar dari orang-orang tentang adanya seseorang yang datang membantu mencari dan juga menguburkan para korban di kota ini. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari keterangan mengenai bagaimana nasib Ki Baja untuk disampaikan pada Nyi Antini. Tiba-tiba ”byurr!!!”. Memerah.

hanya saja pindah. Melihat ekspresi Paras Tampan yang berubah-ubah. Kabar kedua orangtua dan adiknyalah yang pertama-tama ia cari. Ki Rapih. Bergelora dada Paras Tampan mendengar hal itu..” Sedikit merona wajah Paras Tampan mendengar komentar Nyi Antini.. Janganlah nak Paras Tampan kuatir.. ia dan kedua orang tuanya telah lama pindah dari sini.! Tak ada lagi kiranya yang lebih buruk dari kenyataan saat ini di Kota Luar Rimba Hijau. ”Bibi. Sudah kira-kira dua tahun yang lalu mereka pindah..” ucap Paras Tampan sendu. bibi.. ”Dari cerita para pedagang yang sering mampir ke kediaman Ki Rapih di Kota Pinggiran Sungai Merah. ia pun berkata. ”bibi tidak tahu apakah ini menggembirakanmu atau sebaliknya. Citra Wangi.” jelas Nyi Antini. Gembira ia mendengar kabar ini. ”Tunanganmu. apa yang bisa saya bantu? Apakah rumah bibi masih baik?” Nyi Antini hanya menggeleng. akhirnya Nyi Antini pun menambahkan. Apakah mereka telah melupakan pertunangan antara putri mereka dengannya? Atau mereka tidak lupa.” ”Katakanlah... Lalu diajaknya Paras Tampan untuk berjalan ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana.. Tidak seharusnya ia berpikir hal itu di tengah musibah yang menimpa kotanya. Ia sedari memasuki kota ini belum mencari keterangan mengenai Citra Wangi dan keluarganya. Nyi Apik dan Citra Wangi tunanganmu selamat karena telah tidak tinggal di kota ini lagi. Citra Wangi masih sendiri. Ia dan Citra Wangi yang telah berjanji untuk bertemu. Untuk menghilangkan jengahnya. Tidak mudah untuk melangsungkan pertemuan saat itu. Tapi terselip pula rasa yang aneh. . Ke Kota Pinggiran Sungai Merah. Setelah itu membantu penduduk untuk menguburkan orangorang yang menjadi korban. Belum menikah. Rasa bertanya-tanya atas kepindahan keluarga Citra Wangi ke Kota Pinggiran Sungai Merah. memang tidak melaksanakan janji mereka saat ia menimba ilmu di dalam Rimba dan Gunung Hijau.279 melanjutkan. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam benaknya.

menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang cukup mempunyai ilmu.” jawab sang gadis jenaka. Begitu halnya pula sering meminum sperma ikan-ikan saat kita minum air dari sungai. Batubatu ini terlihat tidak wajar. Gelap ditumbuhi oleh jamur-jamur dan lumut yang tumbuh subur akibat diberi sesuatu.. Langkah keduanya ringan dan mantap. . Sedangkan yang lain adalah seorang gadis muda dengan wajah yang manis. Kelihatannya kita memasuki daerah yang ada pemiliknya. Dari arah tengah Padang Batu-batu menuju ke Gunung Berdanau Berpulau. Seorang dari pada mereka adalah laki-laki yang sudah terlihat tua dengan perawakan yang kekar dan busana sederhana. Entah mereka sadari atau tidak.. racun hijau.. Gambar bunga berkelopak lima berwarna merah tua. ”Hmmm..” terang orang tua itu. tampak beberapa pasang mata sedang mengintai mereka sejak memasuki suatu kawasan. guru? Kita toh sering menghirup spora dan serbuk sari tumbuh-tumbuhan saat bernafas. Racun. Juga menumbuhkan lumut khusus yang bisa menebarkan spora-sporanya ke udara. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Dua orang tampak sedang dalam perjalanan di antara batu-batu yang menjulang menghutan di Padang Batu-batu. Mereka berarah ke utara. ”Hatihati. Kawasan di mana batu-batu yang menjulang tidak lagi berwarna abu-abu melainkan hijau kehitaman.” Sambil berkata demikian orang tua itu mencium-cium batu-batu yang berwarna hijau kehitaman dalam jarak sejengkal dari hidungnya. ”Tapi apa bahayanya.. Kedua orang itu tampak gembira dalam melakukan perjalanan. Pakaiannya ringkas tidak seperti kebanyakan pakaian mudi-mudi yang penuh dengan pernak-pernik dan warna-warna.280 *** BAGIAN 5. Racun untuk menghitamkan batu-batuan dengan menggunakan lumut dan jamur. Rupanya ia murid sang orang tua. Rambutnya yang panjang diikatnya dengan rapih dan diselempangkan di samping dada kanannya. Busananya berwarna cerah dengan hanya sebuah corak sulaman di dada kirinya. Orang tua itu pun berkata kepada rekannya yang gadis muda.

Tapi spora ini lain. ”Ada penawarnya. Dengan cara ini mereka tak perlu bekerja keras.281 Tersenyum gurunya mendengar komentar muridnya. Ini akan menetralkan pengaruh spora-spora yang memabukkan tadi. ”Engkau benar. Dibalik lumut itu sendiri terdapat penawarnya. Jenis ini bisa menyebabkan halusinasi sehingga engkau dapat bermimipi. Pendengaran mereka yang terlatih menangkap adanya gerakan-gerakan di balik batu-batu yang hijau menghitam ditumbuhi jamur-jamur itu.” Kata-katanya tidak diteruskan.” Muridnya pun melakukan hal yang dianjurkan oleh gurunya.” Ia pun berhenti sebentar untuk kemudian melanjutkan lagi. Tangannya diletakkan di depan bibirnya. Borehkan sedikit di dekat lubang hidungmu. di bagian di atas bibir yang terlihat cekung. Biasanya digunakan oleh rampokrampok atau jagal yang akan menghadang rombongan. ”Ini. Ada pengujar tua yang pernah berkata. buat apa ditanam di sini guru?” tanya gadis itu ingin tahu. Borehan dari butir-butir kemerahan dari bawah lembaran lumut tadi.. Lihatlah di sekitarnya. ”Tidak semudah itu. guru?” ”Hehehe. Jika ada yang positif pasti ada yang negatif di sekitarnya. Dibaliknya lembaran lumut itu sambil ditunjukkan butir-butir berwarna meran. muridku. mengisyaratkan agar muridnya diam dan mendengarkan.” Muridnya menggangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Amat indah dan seimbang. ”Kalau penawarnya sedemikian mudah. Jangan cari jauh-jauh lawan suatu hal. ”aku saja jika tidak diberitahu guruku tidak akan mengerti. ambil dan remas-remas dengan jarimu. . Itulah alam. Berhalusinasi betapa sangar dan mengerikannya sang perampok. muridku.” Lalu ia mengambil sejumlah lumut yang disebutnya akan menyebarkan spora ke udara. Dan amat mudah. Tidak semua orang tahu bahwa penawarnya berada dekat dengan sumber racunnya. Keduanya sekarang tampak agak lucu karena di bawah hidung mereka. tentu saja ada. yang dapat membuat orang berhalusinasi apabila menghirupnya. terdapat warna-warna merah. karena yang akan dirampok sudah takut lebih dahulu.

Rupanya mereka telah memilih tempat yang strategis untuk melakukan pengepungan. tiga orang lain tampak muncul dari arah yang berlawanan. ”Guru. boleh juga ditinggal. Orang tua itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Jangan pura-pura orang tua! Siapa yang tidak bisa melihat bungkusan panjang yang ada di belakangmu itu. Akan tetapi hawa tenaga telah dialirkannya dari pusar menuju ke anggota-anggota tubuhnya. Siap untuk melontarkan sepukul dua pukul tendangan dan pukulan. Sudah pasti terjadi hal yang amat akan disayangkannya. Hanya isyarat gurunya saja yang masih membuatnya sabar. kalian telah melalui wilayah kami. ”Dan yang cantik ini. . ki sanak sekalian.” bentak teman si brewok.” ucap temannya yang berada di belakang yang disambut dengan haha-hihi teman-temannya.” ucap orang tua itu masih sabar. bagaimana ini?” tanya sang murid. Ia telah berubah. boleh saya tahu kenapa kalian menghalangi perjalan kami guru dan murid ini?” tanyanya sopan kepada orangorang yang menghadangnya. Hanya bekal makanan dan baju pengganti. Merah padam gadis muda itu mendengar ucapan yang ditujukan pada dirinya. Mengepung dari kedua arah. ”Maaf. Pasti itu suatu yang berharga. ”Hehehe. Mengisyaratkan niat yang terasa tidak baik. Ia berusaha untuk menahan sabarnya. Setidaknya mengayunkan golok besar yang disandangnya.” ucap salah seorang brewok dari mereka. Jika kejadian ini terjadi dulu sekali sebelum ia bertemu dengan seseorang. Arah yang tersisa hanya diisi oleh batu-batu menjulang. Saat kedua orang itu memutar badan hendak mundur ke arah semua mereka datang.282 BAGIAN 5. Batu Lumut Hitam. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tiba-tiba di hadapan muncul tiga orang berpedang dan bertombak. Perawakannya yang besar menunjukkan kemampuan fisiknya dalam bertarung. Maka sudah sepantasnya kalian tinggalkan bekal kalian. Sekarang semuanya enam orang. Ketiganya langsung menghadang perjalan kedua orang itu. ”Tapi kami tidak punya apa-apa yang bisa ditinggalkan. Tetapi tidak saat ini.

Salah seorang dari . orang tua?” tanya balik orang itu. Tidak sabar diriku ini!” ”Meregang nyawa kok terburu-buru sekali sih?” ucap orang tua itu. biar aku yang di belakang. Kain penutupnya ternyata memiliki mekanisme sedemikian rupa. yang langsung dengan sigap menangkapnya.283 Gurunya pun tak ada melihat ada pilihan lain.?” belum selesai perkataan orang yang bertanya tersebut. jika talinya ditarik. ”Engkau ambil tiga yang di depan. Tak disangkanya bahwa dara yang terlihat halus itu memiliki tenaga serangan yang sedemikian kuat. lalu katanya lirih. ”Pak tua. kainnya langsung terbuk.. ”Singg! Takkk!” pedang sang murid menghantam golok seorang penghadang. Bergetar tangan yang memegang golok tersebut. apa maksudmu.” Mengangguk muridnya mendengar usul gurunya. Sisakan satu untuk penunjuk jalan. Memang orang- Untuk sedikih memecah perhatian gurunya tampak membuka bungkusan panjang yang tadi disebut salah seorang dari mereka. Jangan lama-lama. Jika saja mereka tahu apa isi bungkusan itu. Menyerang. kedua orang itu langsung dengan cepat bergerak. ”Hey.. Tak sabar melihat orang tua yang membuka bungkus itu perlahanlahan. ”Heh. Dua buah pedang panjang. Dengan gerakan cepat orang tua itu membuka bungkus dari benda panjang yang ada di tangannya. Dengan lemas orang tua itu langsung mengambil salah satu isi dari bungkusan kain itu dan melemparkannya pada muridnya. Pedang yang lebih panjang dari pedang kebanyakan. Mengayunkan barang yang tadinya terbungkus rapi tadi.. orang seperti ini tidak boleh diberi ampun. Sementara lawan si orang tua dikarenakan pengalamannya yang banyak dalam perampokan-perampokan sempat menghindar mundur atas dasar naluri belaka. pasti mereka tidak akan memintanya. apa maksud kalian. Dua buah pedang panjang. Sebuah untuk sang guru dan sebuah untuk sang murid. cepat serahkan bungkusan itu. seakan-akan ia memiliki seluruh waktu di bumi itu. salah seorang penghadang menghardiknya.. Hampir dua kali panjang pedang biasa.

yang untuk membasminya tidak perlu sungkan-sungkan. Bukan hanya itu. ”Minumlah! Air rebusan akar-akaran ini akan membersihkan darahmu dan menyegarkan pikiranmu kembali. ”Nah Sarini. Tenangkan dirimu. Walinggih dan Sarini tampak bergerak hati-hati. Kedua orang itu. Lalu kata si orang tua. mendatangi Lantang yang masih terbaring ditemani oleh Xyra. Biarkan sahabatmu yang Undinen itu merawatmu. Ia telah melatih ilmu pedang panjang yang diturunkan dari gurunya. Kemampuan alamiah seorang pemangsa. Bangsa Penghadang. akan tetapi mereka adalah orang-orang kasar yang sering merampok dan berbuat keji. Naluri mereka kadang lebih baik dari keahlian seoran ahli silat. Ini adalah orang-orang yang punya sedikit kepandaian. ”Bagus! Ini bisa menjadi hiburan sebelum makan malam.” Tersenyum murid yang bernama Sarini itu. Melihat ini sadarlah orang-orang itu bahwa yang mereka hadang bukanlah mangsa yang biasa.” . Lalu katanya.” kata seorang dari mereka.284 BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH mereka bertiga hampir saja kehilangan tangannya. Guru dan murid itu tampak beradu pungguh melihat ke arah lawanlawannya. Biasanya ia hanya berlatih dengan gurunya atau batu-batu yang tidak bisa balas menyerang. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang mereka hadapi ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya. Walinggih. ”Bunuh!! Jangan biarkan seorang pun hidup!” Mendengar aba-aba itu kelima rekannya langsung mengambil posisi mengepung. Sekarang jangan banyak pikiran dulu. *** Orang tua itu setelah menyendokkan sesuatu dari dalam panci yang sedang dijerangnya di atas air. Mengayun-ayunkan golok dan tombak mereka untuk menghabisi kedua orang itu. Seperti seekor binatang buas yang memiliki kemampuan untuk menaklukkan mangsanya. Orang-orang penguasa dari daerah Batu Lumut Hitam. Ia telah kupesankan caranya. melainkan para perampok jahat. ini kesempatanmu untuk mencoba ilmu pedang panjangmu. Hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk bertarung dengan sesama manusia. Sang guru dan muridnya.

Tak lupa Xyra menyelimuti dirinya dan menunggu di sisinya. . Setelah yakin akan panasnya. Di seberang sana si orang tua tampak menghela napas menyaksikan itu. tetapi tidak. Ia tidak tahu apakah bentuk kasih itu dapat berlanjut. Pagi pun datang menjelang. Keanehan yang berkaitan dengan peredaran hawa dalam tubuhnya. Dengan Tenaga Air ia bahkan dapat membekukan ramuan dalam mangkuk itu. Lantang telah merasa sehat kembali.285 Mengangguk lemah Lantang mengiyakan. Ia tampak tertidur dengan nyenyak. walapun mereka lebih tahan dingin ketimbang dirinya. Bila tidak amat disayangkan. Tampak kasih sayangnya dalam melakukan itu. Diambilnya selimutnya untuk ditutupkan pada tubuh Xyra. Akan tetapi ramuan itu belum untuk menyembuhkan. perlahan ia menuangkan ramuan itu ke dalam mulut sang pemuda. Selain itu ditemui pula adanya keanehan pada diri pemuda itu. Ditiupnya sedikit. Lantang membutuhkan ramuan yang suam-suam kuku. Dan ini dihadapannya tampak kasih sayang sesosok Undinen kepada seorang manusia. Penuh dengan kelembutan. melainkan untuk menyadarkan saja. Undinen memilik tubuh yang berbeda dengan manusia. Oleh sebab itu ia lebih berkonsentrasi pada kesembuhan Lantang ketimbang dirinya sendiri. Xyra dengan cepat menerima mangkuk yang diangsurkan oleh orang tua itu. Setelah diberi obat dan dibelai-belai dengan syang oleh Xyra. Ia bangun dan melihat Xyra tampak tertidur di sisinya dengan masih memegang kain yang digunakan kemarin untuk menyeka keringat di dahinya. Lantang pun merasa nyaman dan dapat tidur. Sebelum Lantang sehat. Teringat ia akan nasibnya yang tidak lama bersama dengan orang yang dicintainya. Mereka dapat bertahan lama dalam air dan bahkan tanpa makanan. Tak dihiraukan orang tua yang meletakkan makanan di hadapannya. Tidak terlalu panas dan juga tidak dingin. Entah sampai kapan Undinen itu berjaga untuk Lantang. suatu penyakit sulit untuk disembuhkan. Sebelum tahu sebabnya. Kelainan itu pula yang menyebabkan sang pemuda mengalami ketidaksadaran sehingga perlu untuk diberi ramuan. tak ingin Xyra bersantap. karena nasib anak muda itu dapat mengikuti perjalanan hidup dirinya yang tidak menyenangkan.

Semakin baik orang dapat mengotrol dirinya. semakin besar kemungkinannya untuk menang. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Tak dilihatnya orang tua yang memberinya obat.” usul gurunya. Pertahanan mereka rapat dan saling melindungi. Ada hal yang masih meragukan Walinggih untuk turun tangan menamatkan riwayat orang-orang jahat itu. Makanan yang telah dibubuhi obat-obatan untuk kesembuhannya. Setelah gurunya memberikan sedikit petunjuk mengenai kekuatan dan kelemahan lawan-lawannya.286 BAGIAN 5. Dulu Telaga boleh dikatakan orang yang tidak akan menjatuhkan tangan jahat kepada orang yang tidak dikenalnya. Orang-orang yang memang kegiatan sehari-harinya adalah berbuat jahat. ”Cobalah pada mereka. Sarini pun maju sambil berkata dengan lantang. Menjatuhkan tangan kejam bukan pantangan bagi mereka. Ia ingin melihat hasil latihan muridnya dalam situasi sebenarnya. Menghadapi suatu pertempuran yang menentukan hidup atau mati memerlukan ketenangan. Akan tetapi ditemuinya sebuah mangkok besar berisi rempah-rempah dan ubi dan pesan agar ia memakan makanan itu. Akan tetapi sekarang lain. jatuhkan pedangmu! Mereka pasti berpikir bahwa lebih mudah mengalahkanmu tanpa pedang.. Tidak demikian dengan orang-orang ini. Walinggih ingin melihat sejauh mana muridnya dapat mengendalikan ketenangannya. Menghadapi Telaga. bagaimana bila kita main-main tanpa senjata? Dan satu lawan satu?” .. *** Bertarungan pun berjalan dengan seru. Sarini telah berhasil memanfaatkan hasil latihannya. ”Kamu ingat gerakan yang pernah engkau coba untuk mengalahkan Telaga?” tanya Walinggih pada muridnya Sarini.. Bahkan kadangkadang pedang panjang keduanya colak-colek tubuh mereka sehingga lepasnya nyawa tinggal berbeda beberapa jari saja. Entah apa. Bahkan dalam berbagai situasi. Keenam orang perampok itu tidak bisa berbuat banyak terhadap kedua orang guru dan murid itu. Sarini hanya mengangguk. ”Saudara-saudara perampok.

Sudah ada senjata di tangan malah ingin dilepaskan. Kelembutan tubuh Sarini dan lekuk-lekuk tubunya telah memenuhi ruang otaknya. *** ”Petani ompong she Gu. Seorang dari para perampok tersebut. mungkin ia ingin berlama-lama bermain dengan kita. Orang dengan tenaga kasar yang besar. sehingga ia bisa membuatnya tak mampu mengeluarkan gerakan yang mematikan. Keempat orang tersebut terlihat berwajah garang. Orang seperti ini harus ditemukan dulu jarak serangnya dan juga sudut mati serangannya. Seorang dari mereka akhirnya berkata. membuat wajahnya yang sudah mengerikan sebagai perampok menjadi bertambah mengerikan. bertubuh kekar tinggi dan beperawakan kasar. Sebilah golok tampak tergantung pada . Segera mereka menyarungkan kembali senjatanya dan sebagian dari mereka mengambil tempat untuk melihat pertarungan yang akan berlangsung. Akibatnya beberapa di antara mereka saling menoleh seakan-akan minta pendapat. bertubuh gembul dan berkulit agak gelap. Repot juga pikirnya. Rakrakrak.287 Tercengang juga beberapa orang perampok yang mendengar usul yang diutarakan oleh dara itu. Rambutnya yang kaku menghiasi berdiri kepalanya. ”Hehehe. Ia sudah membayangkan akan memegangmegang dara cantik yang menjadi lawannya itu. Mirip durian. Ia menyeringai saat mengajukan dirinya sebagai orang pertama yang akan menghadapi Sarini. Sarini sedikit mengernyitkan hidungnya melihat orang yang menjadi lawannya. Nafsu telah menguasainya. toh enak juga colak-colek sedikit” Ia mengatakan itu sambil menyeringai. Kelembutan yang akan segera mengisi kedua tangannya yang besarbesar. jangan petantang-petenteng di depan kami!” bentak seorang dari empat orang yang berhadapan dengan seorang tua yang sedang senyam-senyum itu. Ikuti saja maunya. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Tingginya kira-kira sama dengan Sarini. Terbahak-bahak rekan-rekannya mendengar komentar yang miring itu.

288

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

pinggang masing-masing dari mereka. Sedangkan si kakek sendiri tampak lemah dan kurus. Bajunya sederhana tapi bersih. Sedikit tambalan tampak di sana-sini. ”Kalian Su-Mo (Empat Setan), apa maunya menghadangku di sini?” alih-alih takut seperti kebanyakan orang bila bertemu denga Su-Mo, si Petani Ompong she Gu tampak tenang-tenang saja. Malah senyumnya semakin berkembang dengan melihat semakin gelapnya wajah keempat Su-Mo yang berusaha menahan marah. ”Orang she Gu, jangan banyak omong! Engkau tau sudah apa kesalahanmu. Engkau sudah mengasut para petani di desa sebelah timur sehingga tak mau lagi menurut dan membayar pajak kepada kami,” ucap seorang lain dari mereka. Kali ini yang berbicara adalah seorang yang berwajah paling putih dari Su-Mo. Mereka, Su-Mo terdiri dari empat orang yang dinamai dengan warna wajah masing-masing, Pek-Mo, Hek-Mo, Huang-Mo dan Ceng-Mo. ”Engkau tentu Pek-Mo,” ucap kakek Gu itu, ”wabis wajahmu putih pucat mirip mayat!” ”Grrrhhg!” terdengar dengus marah Hek-Mo. Ia adalah seorang dari Su-Mo yang paling tidak sabaran. Mendengar saudaranya dihina, ia pun mendengus marah dan membuka serangan. Dibacoknya kakek Gu itu dengan golok yang tadi bertengger dipinggangnya. ”Wuttt!” Saat ia melakukan serangan itu ketiga saudaranya tertawa-tawa membayangkan tubuh kakek Gu yang akan terbelah dua terbabat oleh golok Hek-Mo. Tapi sayangnya perkiraan mereka keliru. Bukannya kakek Gu yang terbelah, malah Hek-Mo yang tampak terpincang-pincang memegangi telapak kakinya yg tampak biru legam. Rupanya saat dengan yakinnya Hek-Mo membacok kakek Gu tadi, ia tidak memperhatikan pertahanan tubuhnya. Kakek Gu dengan santainya mengelak dari serangan golok tersebut, memutar tubuhnya dan mejatuhkan tumitnya dengan tenaga penuh ke atas telapak kaki Hek-Mo. Walaupun memakai alas kaki, akan tetapi dengan kuatnya putaran tubuh dan juga tenaga yang disalurkan, tendangan cangkul kakek Gu memberikan hasil yang telak. ”Bangsat, orang she Gu! Kubunuh engkau sekarang!!” erang garang

289 Hek-Mo. Tampak ia masih berusaha menahan rasa sakit dari telapak kakinya yang dirasakan hampir remuk tersebut. Senut-senut rasanya. Huang-Mo sebagai orang paling tua dari Su-Mo segera tangap bahwa si kakek Gu bukanlah orang sembarangan. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong) mari kita main-main sebentar!” Ia pun mengisyaratkan pada ketiga saudaranya untuk segera mengepung Zahnloserbauer dari keempat penjuru. ”Hehehe, baru sekarang kudengar lagi orang menyebut Zahnloserbauer,” ucap kakek Gu, tapi sekarang nada suaranya berubah keren. Tidak lagi cengangas-cengeges seperti tadi. Tampak bahwa sikap tadi bukanlah sikap kebanyakan dari pembawaannya. ”Su-Mo, bukanlah pembawaanku mencampuri urusan orang, tapi kejadian kemarin dulu di desa sebelah timur sudah mengusik rasa geramku.” Tampak bahwa kali ini kakek Gu atau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer agak menahan amarahnya. Lalu lanjutnya, ”orangorang yang sudah susah itu masih kalian haruskan untuk membayar pajak tinggi kepada kalian, dengan alasan keamanan.” ”Zahnloserbauer, apa urusanmu? Memang ada di antara orang-orang di desa sebelah timur itu adalah sanak saudaramu? Jika ada tunjuk yang mana, tidak akan kami tarik pajak dari mereka,” ucap HuangMo agak mengalah. Ia pernah mendengar kehebatan Zahnloserbauer di suatu wilayah Alemania (Jerman), di mana ia mengalahkan beberapa orang Ritter (Ksatria Berbaju Besi) di sana. Giginya yang ompong itu juga akibat ulahnya yang menantang orang-orang untuk mengadu kekuatan mengangkat beban berat dengan gigi. Walaupun berhasil, akan tetapi tak lama setelah itu beberapa gigi mukanya tanggal. Meskipun demikian para Ritter tak berani lagi berlaku sembarangn dengannya. Di sana julukannya adalah Ritter Zahnloserbauer. Gu Ming adalah nama kakek Gu sebenarnya. Keluarganya berasal dari Jiangxi. Ia yang tidak suka keadaan pada saat itu kemudian merantau ke mana-mana dan beguru pada banyak orang. Kemampuan silatnya yang campur-campur menjadi ciri khasnya. Selain itu banyak pula pengetahuan tentang luasnya dunia ini, yang memicunya untuk merantau, diperoleh dari saudara tuanya, Gu Long, seorang pengujar

290

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

terkenal pada jaman itu. Panjang ceritanya sampai ia tiba di Tlatah Antara (Nusantara). Berasal dari daerah sekitar Tlatat Tengah (Tiongkok) merantau sampai ke Tlatah Langit (Himalaya), melampui Tlatah Barat (Alemania) dan sekitarnya, akhirnya sampai ke Tlatah Antara. Tadinya ia pernah mendengar jauh di selatan terdapat Tlatah Gurun (Osetralia) dan Tlatah Kebekuan (Artika). Tapi melihat kehidupan di Tlatah Antara, kakek Gu pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Selagi mencari-cari tempat yang akan didiaminya untuk menghabiskan hari tua, kakek Gu tiba desa sebelah timur yang menjadi pokok pembicaraan mereka itu. Di sana kakek Gu melihat bahwa orang-orang hidup dengan sangat sederhana bahkan cenderung miskin. Padahal alam sekitarnya kaya akan keanekaragaman hayati. Karena ingin tahu ia pun mulai berdiam di sana. Baru seminggu di sana ia mulai mengenal bahwa kesederhanaan dan kemiskinan para penghuni desa adalah akibat adanya tekanan, bahwa mereka harus menyetor pajak kepada para penjaga keamanan di sana. Namanya saja penjaga keamanan, sebenarnya mereka itu adalah pemeras. Orang-orang yang memeras para penduduk desa sebelah timur dan juga desa-desa lain di sekitar tempat itu, dipimpin oleh Su-Mo. Akan tetapi penduduk desa hampir tidak pernah melihat Su-Mo, mereka hanya bisa merasakan pukulan dan tendangan para kaki-tangannya saja, apabila telat membayar. Naluri kependekaran kakek Gu pun bangkit, ia mendatangi para petani dan menganjurkan agar mereka tak usah lagi membayar pajak kepada Su-Mo. Tapi seperti kebanyakan rakyat yang berada dalam tekanan, mereka takut. Mereka tidak mau mengikuti anjuran kakek Gu, walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Akhirnya karena jengkel kakek Gu pun merampok pajak yang seyogyanya diberikan kepada kaki-tangan Su-Mo dan menunggu seorang diri kedatangan mereka. Sementara semua penduduk desa bersembunyi dengan ketakukan dalam rumahnya masing-masing. Kaki tangan Su-Mo bukanlah sesuatu kekuatan yang berarti bagi kakek Gu. Mereka semua tunggang-langgang dibuatnya. Terkencingkencing dalam celana selagi berlari pulang.

291 Walaupun telah diselamatkan uangnya, para penduduk masih was-was akan pembalasan yang akan tiba dari Su-Mo dan tukang pukul-tukang pukul lainnya. Kakek Gu akhirnya menyanggupi untuk melindungi mereka untuk berhadapan dengan Su-Mo. Dengan jaminan itu para penduduk berani untuk dua masa penarikan pajak berikutnya tidak memberikan bayaran, melainkan mereka simpan untuk diri mereka sendiri. Su-Mo yang saat itu sedang berada di Tlatah Tengah tidak tahumenahu mengenai kejadian itu. Saat mereka kembali ke Tlatah Antara, berang wajah mereka mendengar ada ketidak-beresan pada daerah kekuasaan mereka. Sebenarnya masalahnya tidak sesederhana itu. Su-Mo sendiri memiliki hak menarik pajak karena dukungan dari Pemerintah Pusat, yang tidak peduli pada nasib rakyatnya. Seseorang atau sekelompok orang yang dapat menjanjikan akan menyetor pajak sejumlah tertentu dari suatu daerah, akan diberikan hak untuk menarik pajak. Begitulah sistem pada masa itu. Setelah mendapat informasi cukup dari para tukang pukulnya yang babak-belur dipukul balik berulang-ulang oleh kakek Gu dan juga informasi dari pemerintah bahwa kakek Gu itu sebenarnya adalah seorang perantau yang dikenal sebagai Zahnloserbauer, masih saudara dari seorang pengujar terkenal, akhirnya Su-Mo pun berniat untuk bertemu dengannya. Jika mungkin mengajak kakek Gu menjadi rekanan mereka. Seorang dengan kemampuan beladiri seperti kakek Gu sudah tentu banyak gunanya. Tapi bukanlah kakek Gu jika dengan mudah dapat dibujuk. Jabatan dan pembagian hasil keuntungan yang awalnya ditawarkan oleh Su-Mo melalui utusannya ditampik mentah-mentah. Sudah tentu ini membuat darah Su-Mo mendidih. Akhirnya diputuskan bersama bahwa mereka akan bertemu hari itu di suatu padang rumput yang luas untuk ’menyelesaikan’ permasalah itu. Su-Mo merasa tidak ada lagi gunanya untuk membujuk kakek Gu, mereka saling melirik satu sama lain. Kebersamaan yang telah puluhan tahun dilewati, membuat pengertian tanpa kata-kata dapat dengan mudah terjadi. Keempatnya kemudian bergerak mengurung.

292

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Mengelilingi kakek Gu dari keempat penjuru angin. Hek-Mo tampak telah dapat bergerak normal kembali. Ceng-Mo tadi telah membubuhkan obat dan juga mengurut-urut kakinya sedikit. Rupanya kakek Gu belum menurunkan kaki kejam sehingga Hek-Mo masih dapat berjalan dan menggunakan kakinya. Hanya mengkalnya hati masih dapat terlihat pada wajah Hek-Mo. Ia yang hari-hari ditakuti orang, hari ini dapat segebrakan dipacul kakinya oleh tumit kakek Gu. Hampir saja remuk atas telapak kakinya. ”Begini lebih baik,” kata kakek Gu, ”langsung bak-buk-bak-buk. Lebih jelas dan tegas!” Walaupun tampaknya masih tenang-tenang, kakek Gu sudah mulai menimbang-nimbang, siapa yang akan menjadi konsentrasi serangannya nanti. Ia pernah mendengar bahwa Su-Mo telah menciptakan semacam serangan bersama. Jika mereka menggunakan barisan serangan itu, bisa repot dirinya. Ia harus cepat memecah belah mereka, sebelum tenaganya habis terkuras. Bagai dikomando, Su-Mo berempat mencabut golok masing-masing dan mulai menyerang. Kakek Gu dengan santainya menari-nari di tengah-tengah hujan golok yang riuh-rendah itu. Sesekali perlu juga ia menepis tangan atau kaki dari Su-Mo yang ingin mencicipi tubuhnya. Selebihnya, ia hanya perlu bergeser, depan belakang kiri kanan. Langkah-langkah ajaib, Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Sepeminum kopi dan sepenghisap rokok telah lewat, tapi tetap saja Su-Mo belum pernah mencapai seujung kulit pun kakek Gu. Akan tetapi pakaiannya sudah sering tersambar angin sabetan golok. Terlihat semakin compang-camping saja pakaian yang dikenakannya. Tidak seperti melawan Hek-Mo tadi, kakek Gu terlihat agak kewalahan. Ia terkejut juga bahwa serangan berempat Su-Mo ini benar-benar rapat. Saling mengisi dan melindungi. Satu menyerang, yang lain menangkis. Satu kosong, yang lain mengisinya. Dengan cara itu ia hanya punya peluang terbesar untuk mengelak ketimbang menyerang balik. Su-Mo pun tidak terlalu berani menyerang dengan kekuatan penuh, mengingat kepandaian kakek Gu dalam serangan balik. Jadi sampai saat itu kedua pihak masih melihat-lihat kesempatan untuk memberikan pukulan maut. Untung pertarungan jangka panjang faktor usia mulai menunjukkan

293 perannya. Su-Mo yang masing-masing baru berumur tiga puluhan tahun menang stamina atas kakek Gu yang telah berusia hampir enam puluh tahun. Napasnya mulai kembang-kempis dan bajunya yang sobek sana-sini tampak telah benar-benar basah mandi keringat. Senyum-senyum mulai mengembang di wajah keempat orang lawannya. Su-Mo telah merasa yakin bahwa tak lama lagi kemenangan akan singgah di tangan mereka. Tinggal masalah waktu saja untuk menunggu salah satu golok mereka singgah di tubuh kakek Gu. Bila terjadi sudah dipastikan cairan merah akan memuncrat. Darah. Berputar pula dengan keras pikiran kakek Gu. Ia harus menemukan akal agar dapat lolos dari situasi ini. Tadinya dipikir bahwa menghadapi Su-Mo seorang diri tidaklah terlalu sulit. Tetapi ternyata hal ini diluar perkiraannya semula. Jika satu per satu, ia dapat dengan yakin dapat mengalahkan Su-Mo, seperti tadi ia menghadapi HekMo. Akan tetapi dengan maju berbareng, Su-Mo menciptakan suatu barisan yang saling bekerja sama sehingga seakan-akan kekuatan serang mereka menjadi berlipat-lipat. Pada saat-saat genting seperti itu tiba-tiba terdengar ucapan seseorang, ”Wah-wah, betapa tak tahu malu ini, empat orang mengeroyok seorang kakek tua!” Ucapan yang disertai pengerahan tenaga dalam ini sontak membuat kelima orang yang sedang bertarung itu meloncat mundur dan menghentikan kegiatannya. Masing-masing pihak masih menebaknebak siapa yang barusan mengeluarkan perkataan tersebut. Tak lama sang pengucap pun tiba. Seorang pemuda dengan wajah yang tampan dan berperawakan bagus. Pakaiannya sederhana dan berwarna cerah. Jalannya ringan seringan pembawaannya yang terlihat riang. Mendadak kakek Gu mendapat ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalanya, lalu katanya, ”Anak Yo, ayo bantu paman usir begal-begal ini!” Terkejut pemuda itu dan apalagi Su-Mo. Mereka belum tahu kepandaian pemuda itu, tapi dengan kakek Gu saja mereka telah seimbang, bisa runyam apabila ditambah dengan adanya pemuda itu. Gelengan kepala dan tangan yang dilakukan pemuda itu dengan cepat

294

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

dibuyarkan oleh kakek Gu yang terus menyerocos, ”Bagus kamu cepat datang anak Yo, ayo kita pukul pantat keempat setan ini! Gunakan jurusmu, Menendang Pantat Setan, Usir ke Seberang Lautan!” Sebenarnya ucapan yang terakhir ini hanya untuk menakut-nakuti Su-Mo belaka. Ia sendiri juga belum tahu kemampuan pemuda itu. Hanya saja ia yakin akan sesuatu bahwa pemuda itu bukanlah dari golongan begal, paling tidak orang-orang yang tidak akan memihak golongan hitam. Untung saja tebakan kakek Gu tidak meleset. Melihat bahwa pemuda itu adalah keponakan atau memiliki hubungan dengan kakek Gu, PekMo dan Hek-Mo tidak mau buang banyak waktu, mereka langsung menyerang pemuda yang dipanggil anak Yo oleh kakek Gu dengan serangan maut mereka. Jika bisa dituntaskan dengan cepat, pertarungan akan kembali seimbang seperti semula. Sementara itu Huang-Mo dan Ceng-Mo masih menanti pergerakan kakek Gu sebelum mereka membuka serangan kembali. ”Anak Yo, hati-hati!” ucap kakek Gu yang kuatir pula melihat bahwa serangan pembuka yang dihambur oleh Pek-Mo dan Hek-Mo adalah serangan maut. Serangan satu tindak cabut nyawa, suatu jenis serangan tanpa basa-basi dan belas kasihan. Tapi bukan pemuda itu kalau ia diam saja dan menantikan kedua golok yang datang menyilang itu membasuh keduanya dengan daging dan darahnya. Dengan tenang sang pemuda mengesek kakinya, memiringkan tubuhnya, lalu dengan menggunakan hawa dalam tubuhnya yang bisa memanipulasi gravitasi, ia melayang miring condong. Menyelinap tubuh pemuda itu dengan cantik di antara sabetan diagonal golok-golok Hek-Mo dan Pek-Mo. Dan tidak hanya sampai di sana, setelah kedua golok itu yang hanya berjarak sejari di atas dan bawah tubuhnya lewat, ia mendaratkan kembali tubuhnya yang tadi berlevetasi dengan empuk di atas tanah. Setelah mengeramkan kakinya sehingga berakar di atas tanah ia kemudian mendorong-dorong kedua tangannya ke arah Hek-Mo dan PekMo yang masih tampak terkejut karena serangan mereka dapat dengan mudahnya dihindari oleh pemuda itu. Sebelum Hek-Mo dan Pek-Mo sadar apa yang dilakukan oleh pemuda

295 itu, semacam kabut yang terbuat dari debu dan pasir yang ada di sekitar situ mulai terbentuk. Mengambang kecoklatan dan perlahan makin pekat warnanya. ”Jarum Terbang Debu Pasir, awas!!!” ucapan Huang-Mo, orang yang paling banyak makan asam garam di antara keempat Hek-Mo, datang terlambat. Elakan dari Hek-Mo dan Pek-Mo tidak sempat menyelamatkan seluruh tubuh mereka. Pinggang ke bawah tampak bertitiktitik merah meneteskan darah. Kabut debu dan pasir yang tadi terbentuk dihentakkan oleh pemuda itu dengan kibasan tangannya ke arah Hek-Mo dan Pek-Mo. Dalam perjalanannya debu dan pasir tersebut berurut-urut membentuk semacam garis. Mirip seperti jarumjarum yang terbang. Benar-benar ilmu yang menggiriskan. Sekujur tubuh Pek-Mo dan Hek-Mo bagian bawah tampak terluka parah. Bolong-bolong mirip saringan. Sempat mereka memiringkan tubuh sehingga bagian sensitif dari seorang lelaki yang mereka miliki tidak sempat terhujani jarumjarum debu dan pasir itu. Jika tidak, maut sudah dijelang keduanya. Tanpa banyak cakap lagi, Huang-Mo dan Ceng-Mo segera bergerak. Huang-Mo mengambil Pek-Mo dan Ceng-Mo mengambil Hek-Mo. Mereka bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Satu serangan pemuda itu telah cukup membuktikan ketangguhannya. Belum lagi di sana masih ada kekek Gu, si Zahnloserbauer. Urusan lain bisa diselesaikan lain hari, yang penting hari ini adalah menyelamatkan kedua saudara mereka. Untung saja keempat penjahat itu telah lama lalu dari sana, karena jika mereka tahu, mereka mungkin masih dapat meraih kesempatan. Pemuda yang tadi dipanggil anak Yo oleh kakek Gu, setelah melepaskan serangan tampak masih berdiri dalam posisi semula. Wajahnya yang kemerahan tiba-tiba memucat dan tampak darah mengalir dari pinggiran mulut dan juga lubang mata, telinga dan hidungnya. Kakek Gu yang berada di sampingnya dapat dengan jelas melihatnya. ”Nak, engkau kenapa...?” sebelum pertanyaannya diselesaikan, pemuda itu terhuyung bagai layangan putus tanpa angin, ia melorot jatuh. Bila kakek Gu tidak bergegas menangkapnya sudah terhempas tubuh pemuda itu di atas tanah.

296

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

”Hmm, ilmu sesat. Benar-benar mengacaukan jalan darah yang merapalnya,” gumam kakek Gu sambil memeriksa denyut nadi pemuda yang dipanggilnya anak Yo itu. Menggeleng-geleng kepalanya melihat kekacauan jalan darah sang pemuda. Untung saja pemuda itu telah memiliki dasar yang kuat sehingga luka dalamnya tidak terlalu parah ketimbang seorang pemula yang merapat Jarum Terbang Debu Pasir. Bergegas kakek Gu membopong pemuda itu. Urusan para petani bisa ditunda, pun dua orang dari Su-Mo juga sama-sama terluka. Untuk beberapa saat mereka pasti tidak akan berani melakukan gerakan apa-apa. Saat membuka matanya, pemuda itu tampak agak bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat ia sedang menyerang dua orang jahat menggunakan suatu ilmu yang baru saja dipelajarinya dari kitabkitab yang dibawanya. Jarum Terbang Debu Pasir, adalah salah satu penggunaan Tenaga Tanah yang memanipulasi gerakan debu dan pasir sehingga dengan pengerahan hawa tenaga dalam bisa diarah sesuka pikiran. Tetapi terdapat pula kelemahan dari ilmu tersebut, yaitu perlu pencurahan tenaga dan pikiran yang cukup besar, sehingga kadang dapat membuat pengguanya kehabisan tenaga. Dan bila sampai pingsan atau tak sadarkan diri, si perapal bisa bertambah parah dengan kekacauan jalan darah yang belum sempat diselaraskan setelah merapal gerakan tersebut. Suatu ilmu yang benar-benar memerlukan penguasaan tingkat tinggi. Ia melihat dirinya berbaring di dalam suatu pondok kayu yang sederhana. Ia rebah di atas suatu dipan kayu yang dialasi kain berwarna coklat tua agak kasar. Dengan bau-bau khas kayu dan tumbuhtumbuhan hutan, rumah itu dipenuhi oleh pernah-pernik dari kayu. Berbotol-botol potongan-potongan daun tampak menghiasi sebuah rak yang terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Hanya itu yang bisa dilihatnya dari posisinya sekarang. Dicobanya untuk bangkit, tapi tubuhnya masih melawan. Dunia menjadi berputar dan terbalik-balik saat dicobanya duduk. Akhirnya pemuda itu menyerah dan membiarkan waktu berlalu agar tubuhnya dapat sembuh dengan sendirinya, sebelum berusaha untuk bangkit kembali. ”Kreeekk!!” tiba-tiba pintu pondok itu terbuka. Pemuda itu tak da-

297 pat melihatnya karena terhalang sebuah meja besar yang di atasnya bertumpukkan buku-buku dan segala macam benda, benda-benda pengobatan agaknya. ”Kakek Gu, untung kau bawa pemuda itu cepat ke mari. Jika terlambat, bisa putus nyawanya,” ucap seorang wanita. Dari getar suaranya terlihat bahwa wanita itu sudah cukup tua, akan tetapi suaranya masih cukup nyaring dan jelas. ”Nenek Po, tolong kau sembuhkan anak itu! Ia telah menyelamatkan hidupku ini. Aku akan amat berhutang budi padamu..,” ucap lawan bicaranya. ”Tak usah ucap-ucap hutang budi, kakek Gu! Kita orang, orang-orang di akhir hidup, buat apa membawa-bawa pikiran nanti ke liang kubur. Apa yang bisa dikerjakan, kita kerjakan. Setelah itu pasrahkan kepada Sang Pencipta,” jawab suara yang pertama tadi. Lalu terdengar seperti sebuah bungkusan besar dijatuhkan berdebam di atas lantai pondok itu. Perempuan tua itu kemudian menginstruksikan agar rekannya mengambil ini dan itu, sebanyak sekian dan sekian. Mencampurkannya dalam sebuah belanga hitam yang diletakkannya dengan kasar di atas meja. Tak lama kemudian tercium bau harum mengembang di udara, terbawa angin dan menyebar ke mana-mana, termasuk menggelitik hidung pemuda yang masih berbaring di atas dipan kayu itu. Tak dapat dicegah, perutnya pun berkerotak, berkukuruyuk meminta diisi. ”Hehehe, kakek Gu, lihat anak sudah siuman! Bahkan perutnya sudah minta diisi..,” terkekeh-kekeh perempuan tua yang dipanggil nenek Po menghampiri pembaringan sang pemuda. Semburat merah tampak menyebar pelan di atas wajah pucat sang pemuda. Ya, ia merasa malu sekali atas ketidaksopanan perutnya yang tanpa tedeng aling-aling meminta untuk segera diisi. Seakan-akan tahu akan pikiran sang pemuda, kakek Gu pun berkata, ”Jangan kuatir anak Yo, nenek Po ini memang suka menggoda orang. Tapi walaupun demikian sup buatannya tak ada tandingannya di daerah tiga empat sungai dari sini.”

298

BAGIAN 5. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH

Berseri wajah nenek Po mendengar pujian kakek Gu akan makanannya. Sudah menjadi suatu kekurangan pada manusia bahwa kadang mereka suka dipuji. Sebenarnya hal itu tidaklah salah, asalkan tidak berlebihan dan menjadi melakukan segala sesuatu karena ingin memperoleh pujian. Bergegas nenek Po kemudian mengambil sup yang sejak tadi sudah tercium keharumannya. Diambilnya semangkok besar. Porsi dua orang. Lalu ia kemudian kembali ke dekat tempat sang pemuda berbaring dan menotok beberapa jalan darah dan juga mengambil beberapa jarum halus yang tadinya ditusukkan di beberapa titik di kepala sang pemuda. ”Bangunlan dan coba makan..,” ucapnya. Sang pemuda tampak ragu-ragu mengingat tadi ia hampir terjatuh saat mencoba bangun. ”Tak usah takut, tadi engkau pusing saat bangun karena beberapa jalan darahmu sedang diarahkan ke tempat lain, agar mempercepat kesembuhanmu. Setelah dipindahkan kembali engkau tidak akan kehilangan keseimbangan saat bangun,” jelas nenek Po yang ternyata mengetahui bahwa sang pemuda telah mencoba bangun tadi. Dengan malu-malu karena kembali pikirannya dapat ditebak orang, sang pemuda mencoba duduk. Pertama-tama perlahan-lahan, karena ia masih kuatir akan pusing dan kehilangan keseimbangan seperti tadi saat ia mencoba duduk. Setelah merasa yakin dengan sedikit mengangkat tubuhnya bahwa ia tidak lagi pusing, ia pun mendudukkan dirinya di atas tempat ia tadi berbaring. Saat ia masih ragu-ragu untuk menggapai mangkuk sup yang dibuat oleh nenek Po itu, kakek Gu dengan sigap mengambilkannya dan meletakkannya di atas tangan pemuda itu. ”Makanlah pelan-pelan.., jika mampu habiskan. Ini mengandung banyak obat-obatan dan ramuan untuk kesembuhanmu.” Pemuda itu mengangguk dan mulai mencoba menyuap makanan yang disiapkan untuknya itu. Dimasukkannya perlahan sesuap sup yang masih mengepul panas itu. Harumnya yang merebak memacu gemuruh perutnya semakin kerap. Rasa hangat pun mulai menyebar dalam

perambok bertubuh subur dan berkulit gelap itu. kedua orang tua dihadapannya tak habis-habisnya memperhatikan dirinya. Kakek Gu pun beranjak dari sana ia mengambil tempat di seberang tempat pemuda itu duduk dan mengasolah ia. kita tinggalkan dulu anak Yo-mu ini. Ia kemudian mencoba untuk merebahkan dirinya. Napasnya yang keluar masuk dengan teratur menandakan ia sudah lelap. ”Duh. kedua orang tua itu tertawa hampir berbarengan. Tak tertelan nanti kalau kita pelototi terus-menerus. Ketawa yang ramah dan hangat.” seraya nenek Po beranjak dari situ untuk mengerjakan sesuatu di sudut ruang sana. ”Kakek Gu. Tak terasa sudah setengah isi dari mangkok ukuran jumbo itu pindah ke perutnya. mari sini ke dalam dekapanku!!” ucapnya . Ia sampai mencari-cari dengan jarinya apa ada sisa-sisa sayur dalam sup yang nyangkut di gigi atau nempel dekat pipinya akibat giatnya ia menyantap sup itu setelah isi mangkuknya kurang dari setengahnya. seakan-akan ada yang salah pada wajah atau dirinya. Menyusul Kakek Gu yang telah pergi lebih dahulu ke dunia mimpi. Lelah setelah bertempur dengan Su-Mo dan juga memanggul pemuda itu serta mencari bahan-bahan untuk mengobatinya. Walaupun cukup gemuk.299 tubuh sesaat sesuap demi sesuap sup buatan nenek Po memasuki tubuhnya. dada yang ranum. Melihat kekikukkannya itu. Setelah habis semangkut sup yang lezat dan juga berkasiat itu. Mau tak mau terasa pula jengahnya. *** ”Hiaattt!! Haahh!” begitu bentakan Sarini saat ia membacok Rakrakrak. Rakrakrak dapat dengan lincah meloncat sana-sini untuk menghindari tangan Sarini. tak lama. ia pun segera tertidur. Saat sang pemuda menyantap makanan itu. Tak lupa celoteh ganjen dan centil dilontarkan Rakrakrak untuk menggoda Sarini yang makin lama makin merah bagai kepiting rebus pipinya itu. Tak terasa ia pun terlelap. Cepat. pemuda yang terus saja dipanggil anak Yo oleh kakek Gu. merasa dirinya lebih enakan.

Girang sudah wajah perampok gembul itu.. ”Pinggang molek. mereka harus perg jauh merampok desa atau pelesir ke kota. Dan tidak tanggung-tanggung. Umumnya bila ingin bertemu dengan wanita. kaki jenjang. Kedudukan yang lemah dapat menjadi suatu titik awal serangan yang kuat apabila tahu memanfaatkannya. jarang-jarang mendapat rejeki bertarung dengan dara semanis Sarini di dekat tempat tinggal mereka. Ilmu Sabetan dan Tangkapan Tangan adalah ilmu tangan kosong yang penuh dengan tipu-tipu. Sarini tidak diam pasrah di bawa masuk dalam lingkaran tangan Rakrakrak melainkan berputar searah putaran yang menariknya. Ia berusaha hanya menyentuh bagian-bagian lemah dari Rakrakrak dengan tangannya. tetapi bukan untuk dipeluk melainkan untuk melancarkan gerakan menyerang. bahwa ia masuk perangkap dalam gerakan itu. Saat berpusing. Akibatnya. Lima orang . Jijik rasanya bila harus menyentuh bagian tubuh dari orang yang berkeringat dan ceriwis itu. Dibayangkannya dara itu dalam pelukannya setelah tangan itu ditariknya mendekat.!” kembali Rakrakrak mengeluarkan celoteh untuk mengganggu Sarini dan juga mengeluarkan hasrat hatinya yang telah membayangkan suatu saat akan dapat mendekap dara yang memikat hatinya itu. Sarini sebagai putri Arasan. Suatu saat Sarini bergerak lambat sehingga pergelangan tangannya dapat tertangkap oleh Rakrakrak. tapi lebih cepat sehingga ia bisa mengambil celah kosong dari persendian Rakrakrak yang saat itu tidak menyadarinya. Malah sang gadis yang berusaha untuk menghindar. Bagi mereka. jelas-jelas menguasai ilmu itu dengan amat baik.300 BAGIAN 5. Kejadian itu sudah tentu mengejutkan kawan-kawannya. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH sambil kembali menyerang Sarini dengan kepalan tangannya yang besar-besar itu. ”krakkk!!” patahlah tangan kanan Rakrakrak yang sempat terlena sehingga tidak waspada itu. pujaan hati. ia terus menggerakkan sampai melalui batas putaran sendi umumnya. para perampok. Ini yang tidak diketahui oleh Rakrakrak. Sesekali dikenakannya juga tangannya agak bersinggungan dengan tangan Sarini yang halus dan mulus. Dan memang dengan sentakan yang kuat dara itu tertari memutar ke arah dekapannya. berbalik dan berganti memiting tangan Rakrakrak sampai batas sendinya.

mereka . Belum lama.” Mendengar nama tempat itu. apa yang telah muridmu lakukan itu akan dibayar dengan darahmu dan juga gadis itu. Mereka telah lama tidak lagi bekerja pada kelompok pembunuh bayaran itu karena ketidakdisiplinannya dan juga kurang dapat menjaga rahasia. Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka ada bekas anggota Asasin. Setelah tahu bahwa mereka adalah Asasin atau tepatnya bekas anggota kelompok itu. ”tahan!!” ”Orang tua.” kata seorang dari mereka. Orang-orang yang telah berkali-kali berupaya membunuh dirinya.” jawab Walinggih.” tertawa Walinggih mendengar pertanyaan itu. Terkejut pula keenam orang itu atas pertanyaan yang diajukan Walinggih.. Selama ini ternyata kakek dan gadis itu masih menahan diri untuk tidak menghabisi mereka..” Mendengar itu keenam orang itu menjadi pucat wajahnya. ”Biar kalian tak penasaran. Kami bukan lagi Asasin. nanti dulu!” jawab seorang dari mereka dengan cepat. Sekarang ia teringat adanya kesamaan ciri-ciri orang-orang itu dengan orangorang Asasin. ”Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Asasin?” balas bertanya seorang dari mereka. ”Satu tahun. Desa Batu Barat dan Timur.301 yang lain pun menjadi marah. ”Apa hubungan kalian dengan Asasin?” tanya Walinggih. Asal aku sekarang sudah yakin siapa kalian sebenarnya. pucatlah keenam orang itu. lebih dari satu tahun kami tidak lagi turut pada kegiatan Asasin.. Akan tetapi saat kelimanya ingin menyerang setelah meraup senjata masing-masing dalam genggamannya. mau apa lagi engkau? Sekarang tidak ada lagi permainanpermaian. ”Nan. ”Sudah lama.” Berusaha orang itu untuk membela dirinya. bisa lega aku memulangkan kalian. malah mereka menjadi terdorong untuk melepaskan tangan kejam. Rupanya mereka tadi telah dibohongi oleh dara itu untuk bertarung tangan kosong. ”Siapa aku? Tak perlu engkau tahu. aku sebutkan satu tempat. Walinggih berseru. Suatu teknik yang dimahiri oleh sang gadis. ”Hehehe.

Lalu ia mengisyaratkan agar mereka menggali sebuah lubang yang cukup be- . juga amarah untuk selalu membalas dendam dan menghukum orang-orang yang berseteru. ingatan masa lalu akan keluarganya. ”Engkau. gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi lebih menitikberatkan pada loncatan-loncatan berbalik yang membingunkan lawan. Satu persatu dari mereka tersungkur di atas tanah dengan tubuh terpotong.. Sabetannya tidaklah seindah gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua akan tetapi lebih efesien dan telak. Tangan kecil dan halus milik Sarini. Di sana mereka bertemu dengan orang yang pilih tanding. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH tentu telah mendengar nama tempat yang menjadi salah satu dan mungkin satu-satunya kegagalan pekerjaan yang diemban Asasin dari para pemesannya. Ditepisnya rasa sedih yang kembali menjelang. Menyadari bahwa tak ada gunanya lagi untuk berdepat keenamnya langsung mengambil posisi mengurung Walinggih. Bukan lagi Walinggih si Hakim Haus Darah.” Mengangguk sedikit Walinggih mendengar hiburan Sarini. Tanpa mengangguk Walinggih pun memegang posisi pedangnya sedemikian rupa.. Sarini pun mengambil langkah mundur dan melihat dari kejauhan. Rakrakrak yang sebelah tangannya telah dipatahkan oleh Sarini tampak memegang senjatanya dengan tangannya yang lain. anak dan istrinya yang terbunuh kembali datang. Termangu tampak Walinggih setelah keenam orang lawannya itu tidak lagi bernyawa. Ia telah berubah. Keenamnya pun bersiap untuk mempertahankan satu-satunya nyawa mereka. Tak terasa sebuah tangan menepuk bahunya. ”Paman. Mereka-mereka ini memang patut untuk dibasmi. sudahlah. Posisi untuk mengeluarkan gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi. suatu gerakan yang ditiru dari kadal-kadal pelangi saat mereka mencari makan di batu-batu yang diperciki buih-buih air. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Walinggih untuk menumbangkan mereka. Tidak lagi terbelah dua seperti dahulu ia menggunakan gerakan Sabetan Tunggal Menuai Dua. Hakim Haus Darah. Jangan lagi paman bersedih atas perginya bibi dan adik.!!” ujar seorang dari mereka pucat. Hakim Haus Darah..302 BAGIAN 5.

tanpa ba-bi-bu langsung menyapa saya seakanakan kita telah kenal sehingga mereka kena dikadali. Nenek Po yang sedari tadi sedang membaca-baca buku-buku pengobatan di mejanya. ”Ah. paman bisa saja. bila sedari tadi engkau kupanggil terus dengan anak Yo. ”Tidak baik. Setelah itu sebuah batu besar dipotong Sarini untuk diletakkan di atas makam itu. Sayang sekali akibatnya engkau jadi menderita luka seperti ini.303 sar untuk menguburkan keenam orang itu.. paman!” balasnya. Salah seorang bernama Rakrakrak.” jelas pemuda itu sambil lalu menjelaskan kisahnya di mana ia mempelajari Tenaga Tanah itu.” kata kakek Gu kepada pemuda yang menolongnya dari serangan Su-Mo. tidak baik! Hukum alam tidak boleh dibolak-balik. karena ia tidak tahu nama-nama mereka kecuali Rakrakrak tadi. Saya juga baru belajar dari para Troll. ”Ini juga salahku.!” . tenagamu itu boleh juga. Aku belum memahami jurus Jarum Terbang Debu Pasir dengan baik tetapi telah mencoba-coba. *** ”Maaf. ”Malah saya pikir paman cerdik sekali pada saat itu. benar-benar menunjukkan penguasaan Tenaga Tanah yang sudah mumpuni. ”Tidak apa-apa. ”Omong-omong. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan pemuda itu.” Hanya itu saja. mengguman-gumam.” ”Ah. tidak terlalu berarti jika engkau tidak selihai itu ilmu beladirinya. paman.” jelas pemuda itu. Senjata-senjata mereka pun dimakamkan bersama-sama dengan jasadnya. Setelah itu mereka berdua kembali meneruskan perjalan mereka ke arah utara untuk menjumpai orang tua Telaga untuk memberitahukan mengenai perjodohan Telaga dan Sarini.” puji kakek Gu.” ucap kakek Gu sedih. Digoreskannya di atas batu tersebut ”Makam enam perampok mantan Asasin.

Oleh karena itu perlu ada tenaga yang dicadangkan untuk menghalangi luapan tenaga yang ingin mengisi hawa tubuh yang kosong itu.” Melihat tatapan bingung dari kedua orang di depannya itu. Belum lagi upaya untuk membuat mereka terbang dan berurutan sehingga berbentuk jarum-jarum padat. ”Nak Paras Tampan.” Lalu dijelaskannya bahwa apa yang barusan dilakukan oleh Paras Tampan adalah dengan mengubah kerapatan benda-benda disekelilingnya atau juga disekitarnya sehingga debu-debu dan pasir dapat bergerak seperti keinginannya. telah menggunakan Tenaga Tanah untuk memanipulasi gaya berat. Ia pun berjanji untuk lebih hati-hati dalam mera- . Setelah hawa dikeluarkan untuk mengendalikan butiran-butiran itu. tanah. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Gumaman itu memecah pembicaraan antara kakek Gu dan pemuda itu. udara dan api. ”Nenek Po. ”Anak muda ini. Alam ini terdiri dari materi. Semunya punya isi. Dengan mengubah-ubah gaya berat. baru ngeh dengan apa yang dijelaskan oleh nenek Po. Tenaga alami alam yang terdiri dari empat unsur itu berebut masuk untuk mengisi kekosongan itu. Lain dengan benda-benda yang berukuran cukup besar sehingga kekuatan dapat dipusatkan.304 BAGIAN 5. Itu melawan alam. keseimbangan akan terganggu. Sisakan untuk mengembalikan aliran hawamu ke sirkulasinya semula. Ada empat unsur air. nenek Po pun tersenyum. Konsekuensinya berat. sehingga tenaga yang dikeluarkan pun harus ekstra besar dan tersebar. Menjadi jelas sekarang bagi Paras Tampan perihal ilmu yang baru dipelajarinya itu.. aku kembali ngomong sendiri ya?” ucapnya malu. ”Ini dalam buku ini tertulis bahwa hukum-hukum alam sebaiknya tidak dicobacoba untuk dilawan. Jangan semua tenagamu dikerahkan ke sana. tubuh menjadi kosong. Lalu lanjutnya. boleh-boleh saja engkau menggunakan jurus Jarum Terbang Debu Pasir. apa maksudmu?” ”Ah. Itulah yang terjadi sehingga tubuh Paras Tampan saat itu melupa terisikan tenaga alami dan mengalami luka dalam. Dan semuanya patuh pada gaya berat. bendabenda seperti pasir dan debu amatlah kecil dan banyak. tapi dengan perhitungan tentunya.” Kedua orang itu pun mengangguk-angguk. Terutama aliran hawa dalam tubuh.

Sudah seminggu Paras Tampan tinggal di pondok nenek Po. Hidup sederhana seperti pengujar Tao Yuan Ming (penyair jaman dinasti Han dari Tlatah Tengah). tapi tak tak bisa dibilang benar-benar rumah mengingat letaknya yang di atas pohon dan dibangun sekenanya. Kakek Gu kemudian menceritakan bahwa saudara tuanya itu. Kakek Gu yang bernama Gu Ming itu ternyata adalah masih saudara jauh dari seorang pengujar terkenal Gu Long. hampir selalu menceritakakan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. ia malah berandai-andai dahulu dan berusaha menjadi seorang penulis di kotanya.305 pal ilmu itu. unsur cintanya tetap kental dalam kisahkisah orang-orang rimba persilatan. Jika tidak benar-benar diperlukan tidak akan digunakannya. Dalam seminggu itu sudah banyak perubahan dalam kesehatannya. Sekitar 12 tahun. yaitu Chu Qing Yun. Kakek Gu sendiri sebenarnya punya rumah. ilmu itu juga berbahaya bagi sang perapalnya sendiri. Dan bisa memperoleh penghasilan pertama saat berusia 19 tahun. ditambah tidak kedinginan saat malam hari. Kakek Gu pun tinggal di sana menemaninya. baik dari nenek Po maupun kakek Gu. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya bekerja setelah tamat belajar. Diceritakan bahwa Gu Long adalah seorang yang cerdas akan tetapi agak nyeleneh. serta Gu Long sendiri. Cukup asal nyaman untuk tidur dan tidak kepanasan saat hari cerah dan tidak kehujanan saat hari hujan. Tubuhnya berangsur-angsur membaik dan juga ia memperoleh banyak cerita. bila menggunakannya dengan benar. Saat itu terdapat empat pengujar besar penghasil cerita orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah Sempalan (Taiwan). Pengujar yang banyak menghasilkan karya-karya cerita tentang kehidupan orang-orang di rimba persilatan. Walaupun demikian. ia telah dapat menulis kisah pada usia yang amat muda. Wu Lung Sheng dan Shi Ma Ling. Gu Long adala seorang yang cerdas. Selain berbahaya bagi lawan. yang menceritakan . Sampai suatu saat ia mendapat saran untuk menulis mengenai orang-orang rimba persilatan. Kakek Gu sendiri sampai merantau ke sana ke mari karena terinsipirasi atas karya-karya para pengujar-pengujar tersebut.

yaitu gemar minum dan mabuk-mabukkan.” Paras Tampan tidak tahu mengapa Ki Tapa menceritakan perihal pengujar Gu Long padanya saat itu. Sayangnya saudara tuanya itu mempunyai suatu sifat jelek. Gu Long namanya. Tidak sebahagia tokoh-tokoh rekaannya.” jelas Ki Tapa suatu saat pada Paras Tampan. Digigitnya ubi. Tapi apa-apa tentang cinta yang ditulisnya tidak dapat diwujudkannya dalam dunia nyata. Tanpa ubi mungkin akan termuntahkan kembali.306 BAGIAN 5. Karyanya amat gemilang tentang orang-orang rimba persilatan di Tlatah Tengah. Paras Tampan dapat merasakan keharuan kakek Gu saat menceritakan kisah saudaranya itu. Ubi itu untuk membuat agar rempah-rempah yang mengandung obat itu dapat termakan. Tak terasa setengah rempah-rempah obat yang harus dimakannya telah mengisi perutnya. Ubinya tinggal sebuah. Saat ia meninggal kakek Gu sedang merantau sehingga tidak dapat menjenguk saudara tua yang dikaguminya itu. tapi belum pernah membaca hasil karya atau pun cerita mengenai orang itu. Tidak cukup kiranya . Ia hidup tidak bahagia. Itu yang terbaik. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH keanekaragaman dunia dalam kisah-kisah persilatan. *** Lantang mengambil satu buah ubi dan sejumput rempah. Setelah sembuh ia sempat beberapa saat terbebas dari arak. ucapan dan pelaksanaan. apa yang kita tuangkan dalam karya. Ia sendiri pernah mendengar. lalu rempah-rempah. ”Ada seorang pengujar dari Tlatah Tengah Sempalan. Kebiasaan ini datang kembali sehingga akhirnya membuat kesehatannya menjadi semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Jangan terlalu berhadap atau terlena seperti dalam kisah-kisah. akan tetapi tidak lama. ”Sebaiknya seimbang. Bila sedih ia minum arak. Setelah lama baru disadari bahwa Ki Tapa ingin mengingatkan bahwa apa-apa yang dihadapi haruslah diresapi. Sifat Paras Tampan yang cenderung romantis mungkin mengundang kekuatiran sendiri pada Ki Tapa sehingga ia menceritakan tentang kisah itu. Ia melihat kekaguman kakek Gu pada sosok pengujar Gu Long. dikunyahnya perlahan. Kerap sekali sehingga jatuh sakit.

Ditunggu saja sambil beristirahat. Xyra yang tadinya tertidur telah bangun. Xyra tampak senang melihat hal itu.” Lantang pun menurut. apa-apa yang bisa menggantikan ubi untuk memakan rempah-rempah itu. Oleh karena itu ia tidak mau menemui Lantang. Ia menyangka Lantang membenci dirinya dan meninggalkan dirinya.” jelas Xyra. ”Ia tadi pergi sebentar. Ia mengeluarkan nada tinggi. ”Makanlah untuk teman rempah-rempah. Ada sesuatu yang harus dicarinya. Segigit lagi dan juga rempah-rempah sampai akhirnya takaran yang harus dimakannya habis. Lantang pun mengangguk diambilnya dua buah pisang. Tiba-tiba bahunya ditepuk. Dengan perlahan sambil tertunduk malu Xyra pun menceritakan bahwa ia dulu merasa marah dan sedih. Ia tampak mengangsurkan beberapa buah pisang. Lantang pun celingakcelinguk mencari-cari dengan matanya. Khas kecantikan seorang Undinden. bahwa Lantang akan meninggalkan tempat di mana mereka bertemu. Ia teringat pada orang tua yang tadi memasakkannya obat. ”Ia memperkenalkan diri dengan nama itu.307 untuk memakan rempah-rempah yang tersisa.” katanya pelan. ”Kakek itu bernama Wananggo?” balik bertanya Lantang. ”Di mana orang tua itu tadi?” tanya Lantang tiba-tiba. ”Wananggo. nada khas Undinen apabila hatinya gembira. Akan kembali untuk menengok kesehatanmu. Rambutnya yang awut-awutan tampak manis menghias wajahnya. Akan tetapi jauh setelah Lantang pergi Xyra pun merasa kehilangan. maksudmu?” tanya Xyra. Gembira bahwa Lantang akan kembali sehat. Pindah mengisi lambungnya. Sambil berbaring ia minta Xyra untuk mengisahkan perjalanannya dan mengapa saat ia ingin pamit Xyra tidak bisa ditemuinya di Danau Tengah Gunung. Segigit pisang dan rempah-rempah. Dan ia menemui Ki dan Nyi .

Saat Lantang menderita sakit. ia pun tidak tahan dan memunculkan diri untuk membantu Wananggo merawat pemuda itu. YANG KEMBALI DAN YANG TUMBUH Sura untuk minta penjelasan keamana perginya Lantang. .308 BAGIAN 5. Menggelora jiwa muda. Setelah tahu ia pun pergi mengikuti. Setelah menemukan. Terharu Lantang mendengar penjelasan sang Undinen. Jiwa yang ingin berpadu dan dekat selalu. ia pun membayangi sosok yang dirindukannya itu dengan diam-diam. Dengan kemampuannya berbicara pada binatang-binatang air. Keduanya pun terdiam. Xyra hanya tertunduk semakin dalam sambil memainkan rambutnya dengan tangannya yang lain. Perasaan dalam hati masing-masing bergolak. Tak terasa tangannya menggenggam dan mengelus lembut telapak tangan Xyra yang berhasil digapainya. Xyra memperoleh keterangan ke arah mana Lantang berlalu.

Guratan di atas kulit nan indah.” Sajak di atas berjudul ”Pembicaraan Angin” hasil karya seorang Eremit (petapa) tak dikenal. Setelah semuanya berakhir. Bergetar hati seorang pemuda saat membaca sajak dalam kitab itu. pemuda itu mendapat banyak cerita mengenai situasi dunia persilatan dalam puluhan tahun terakhir ini dan 309 . Keturunan orang dari mana kitab tersebut semua diambil. Senyap. Unbekanteeremit. Lega. Dan jiwa pun tenteram kembali. ia menugaskan muridnya. Sunyi dan sepi. untuk disalin dan dikumpulkan. Ia sekarang bernama Gu Yo. Kitab yang dicuri oleh guru pemuda itu dan disembunyikannya. Sekarang jauh masa setelah kematian sang pencuri. Mengekang nafsu. agar sang murid mengembalikan kitab tersebut kepada yang berhak. Menghirup keheningan. Lepas. Dari perkenalannya yang singkat dengan kakek Gu dan nenek Po.Bagian 6 Tato ”Deru pun perlahan melembut. Secarik kulit dicabik halus. Menghilang. keponakan jauh dari Gu Ming. Menegaskan guratan-guratan mistis. Darah menetes lembut. salah satu kitab yang harus dicari keturunan dari pemiliknya semula. sang pemuda melalui para saudaranya para Troll. seorang kakek yang menyelamatkan nyawanya dan membawanya ke rumah nenek Po untuk diobati. Menghela napas. Tato.

” bingung pula pemuda itu. TATO ”Jadi engkau mencari keturunan seseorang yang senang mengumpulkan koleksi tato dari tubuh manusia?” tanya kakek Gu saat itu hampir tidak percaya. Ia merasa tak enak hati dengan pertolongan kedua orang yang telah menyelamatkannya itu.” Kedua orang tua yang berada di hadapannya pun menggangguk lega.. ”Bila ada rahasia yang enggan engkau ceritakan.” ujar nenek Po ramah. ”cukup kamu katakan bahwa tidak ada sama sekali niat untuk berseteru dengan keturunan orang ini. Ia bimbang apakah ia harus menceritakan apa sebenarnya tujuan ia mencari keturunan dari orang yang dimaksud atau tidak. BAGIAN 6. ”Begini saja. ”Ya. bisa pula mendatangkan masalah baru bagi misinya. tak usalah. ”Dulu.310 juga orang-orang yang muncul dan menghilang. Ia dapat melihat kebimbangan pada wajah pemuda itu. Kulit yang bertato.. kekek Gu. Penasaran juga ia mendengar keperluan pemuda yang baru disembuhkannya itu untuk mencari seseorang yang dalam pandangannya cukup sesat. Saya tidak berpikir untuk berseteru dengan keturunan orang ini. yang disayat dari tubuh empunya.” jawab pemuda itu hormat. Saya mencari keturunan dari orang itu. Terdiam sebentar pemuda itu. ada seorang berjulukan Ceng-Liong Hui-To (Naga Hijau Pisau Terbang) yang memiliki kegemaran untuk mengeletek kulit tubuh musuh-musuhnya meniru legenda tradisi suatu suku bangsa yang .” Pemuda itu pun mengangguk. ”Untuk apa mencari orang atau keturunan orang gila seperti itu?” tanya nenek Po menyelak.. Kedua orang tua dihadapannya nampak memperhatikannya saat ia berpikir.” ucap kakek Gu kemudian menengahi. Tapi apabila ia menceritakan hal yang sebenarnya. dan kamipun akan merasa lega. ”Tidak sama sekali. Kakek Gu tidak percaya bahwa ada orang yang punya kegemaran mengumpulkan bagian tubuh manusia. ”Sebenarnya.

.” tambah kakek Gu. ”Benar..311 mengambil kulit kepala musuh yang dikalahkannya.” pemuda itu tampak kaget mendengar jawaban kakek Gu. kakek Gu dengan masih mengapus air mata yang meleleh pada matanya berkata. Musuh yang dicari umumnya adalah para golongan orang-orang jahat yang memiliki tato pada bagian tubuhnya. yang dianggapnya benar-benar membingungkan. maka para begal ini dicirikan oleh tato yang dikenakannya. ”orang-orang jahat pada masa itu berkumpul dan membentuk suatu kumpulan yang dicirikan dengan adanya tato pada tubuh mereka. ”Sebenarnya. sebelum orang-orang bertato itu dipandang sebagai penjahat.” lanjut nenek Po. Orang yang sudah dewasa.. Sungkan ia melanjutkannya. dianggap lengkap bila telah memiliki tato.” ”Dan corak yang semakin rumit menunjukkan ketinggian kedudukan atau pengalaman yang telah dimiliki seorang anggota kelompok kejahatan ini. Semacam kejahatan yang diatur oleh para pemimpinnya. budaya tato itu sebenarnya telah ada jauh sebelumnya..” ”Eh. Apalagi terhadap orang yang baru saja beberapa hari ini menolongnya.” cerita kakek Gu. ”Bagaimana kakek Gu dan nenek Po bisa tahu banyak tentang soal ini?” tanya pemuda itu ingin tahu. ”Pada jaman itu. Dan budaya itu dianggap sebagai suatu tanda kematangan. Jika suatu suku bangsa di suatu tempat dicirikan oleh corak sarung yang dipakainya (Skotlandia). Akan tetapi ia tidak sembarangan mencari musuh. ”tapi berarti. Beda kelompok. ”Bukan. Setelah tawa berderai keduanya usai. kakek dan nenek..!. beda ciri khas tato yang digunakan. kami bukan menjadi begal atau mungkin belum. Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan kemudian meledaklah tawa di antara mereka. Pemuda itu hanya dapat menatap bingung pada kelakukan dua orang tua dihadapannya.” ucap nenek Po. kami berdua pernah juga ikut pada kelompok semacam itu.” Sambil berkata demikian nenek Gu menggulung salah satu lengannya ...” tak diselesaikannya ucapan itu.

Merusak tubuh yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dengan gambar-gambar yang kadang tak jelas artinya. begitu!” jawab pemuda itu.” lanjut nenek Po. maka kami yang juga bertato bisa saja salah sasaran dan menjadi musuhnya. ”Kelompok yang hanya terdiri dari para wanita. boleh dikatakan adalah pahlawan pada saat itu.312 BAGIAN 6. ”Itu kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. nenek Po terlihat bahwa ia amat mengagumi sosok Ceng-Liong Hui-To tersebut. Ialah yang membantu penduduk menghalau para begal bertato. Lalu sambungnya. padahal itu adalah tubuhnya sendiri. Sebagian orang menuruti anjuran tersebut. Mereka malah menuduh Ceng-Liong Hui-To mengekang kebebasan berekspresi orang-orang. Tampak di punggungnya gambar sebuah naga hitam dan lingkaran di tengah yang dicengkeramnya. ”Ceng-Liong Hui-To. ”bagian yang bulat ini adalah mutiara yang dijaga.” jelasnya. ”malah ia adalah orang yang yang amat terpelajar.” ”Itulah sebabnya kakek dan nenek bertanya apa saya bermaksud berseteru dengan keturunan Ceng-Liong Hui-To?” tanya pemuda itu kemudian. Jika Ceng-Liong Hui-To adalah musuh dari penjahat bertato.” ”Untunglah Ceng-Liong Hui-To bukan seorang gelap mata yang main bunuh saja seorang yang bertato tanpa tahu terlebih dahulu asal-usul dan kesalahannya. ”dan pertanyaanmu itu sama sekali salah. ”Dan kakek Gu punya.” kali ini kakek Gu yang menjawab.. TATO ke atas. dan boleh dikatakan menawan. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Di atas lengan yang kepucatan itu tampak dua ekor naga yang saling berbelit. Lalu mereka berdua menceritakan bahwa Ceng-Liong Hui-To menasehati para pemuda dan pemudi tidak lagi menato dirinya. Dibukanya bajunya sambil berbalik membelakangi. Bagian yang tidak ini yang kemudian menjadi lepas kendali.” Kakek Gu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.” Dari tekanannya pada kata terakhir yang diucapkannya. ”Ini kelompok Naga Merah Naga Biru. akan tetapi sebagian lain tidak. .” jelas nenek Po. karena hal itu dianggapnya tidak baik.” ”Oh.

. Rasa kebersamaan yang tumbuh di antar orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas. Apa-apa yang tidak dianjurkan. orang-orang yang mendukung ’kebebasan bertato’ ini kemudian membentuk kelompok yang anti keteraturan. main tangkap saja orang-orang yang bertato. anti kemapanan. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka hanyalah dimanfaatkan oleh sedikit begal demi keuntungan mereka. Dengan dalih kebebasan mereka menyiarkan ketakukan dan rasa tidak aman di antara orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Dengan jumlah yang banyak mulai timbullah perlawanan. Kelompok pemuda dan pemudi bertato tumbuh dengan pesat. di antara orang-orang senasib. Ceng-Liong Hui-To pernah suatu kali menyatakan pendapatnya kepada beberapa rekannya yang duduk di pemerintah bahwa budaya tato yang telah turun-temurun dilakukan orang di kota itu. Mereka melakukan apa-apa yang dilarang. para rekannya itu malah menenangkan dirinya. pemerintah yang tidak memiliki bukti keterlibatan begal-begal yang seakan-akan merupakan kelompok pemuda anti kemapanan itu. membuat orang-orang tersebut benar-benar merasa di rumah. Ia pernah mendengar bahwa budaya itu cenderung membuat orang-orang menjadi kasar dan tak tentu arah. pencurian dan lain-lain oleh orang-orang bertopeng dan bertato. Merampas ’kebebebasan’ orang yang tidak sepaham. Akibat pesatnya pertumbuhan orang-orang yang mendukung kebebasan bertato ini. Akibatnya jelas. dan selalu saja berlebihan. pemerintah menjadi kalang-kabut. Alih-alih mendengarkan. akan tetapi memperlihatkan tato di tangan dan punggung mereka. Sengaja mereja menggunakan topeng. Ucapan Ceng-Liong Hui-To terbukti tidak sampai setahun kemudian. agar dihapuskan.313 Atas bumbu-bumbu hasutan para begal. Suatu pertentangan yang bukan disebabkan oleh mereka. Kerusuhankerusuhan pun terjadi di mana-mana. Bersamaan dengan itu terjadi pula perampokkan. dan berujar bahwa ketakutannya yang masih saja terbawa dari jaman perang dulu.

Organisasi-organisasi kepemudaan bertato pun dibubarkan oleh para massanya sendiri. Berseri wajah pemuda itu melihat gerbang batu yang megah itu. Walaupun telah salah tangkap. tidaklah jadi hal itu dilakukan. tapi pemerintah masih berdalih bahwa itu untuk kepentingan umum. Dengan hati-hati ia menyelediki kelompok-kelompok bertato. Luka antara penguasa dan rakyat yang seharusnya diayominya. yaitu CengLiong Hui-To sendiri.314 BAGIAN 6. *** ”Kota Siaw Tionggoan” begitulah yang tertulis di atas sebuah gerbang batu setinggi pohon kelapa dan selebar empat kalinya. Walaupun terlihat sederhana dengan sedikit ukir-ukiran. Sebuah luka yang kelak akan kembali bernanah. kantor polisi di kota itu dinamakan Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Tenang dan damai. . Suasana kembali seperti semula. Akan tetapi ada yang hilang di akhir pergolakkan itu. akan tetapi komposisinya yang bernuansakan warna yang teduh keabuan. Pemerintah sebenarnya ingin mengangkatnya sebagai perwira kerajaan untuk menangani masalah-masalah kerusuhan. Dengan membawa beberapa saksi dan bukti. Kota Siaw Tionggoan terletak di tepi suatu sungai kecil pecahan dari sungai Merah yang mengarah jauh ke timur laut meninggalkan pantai selatan dan padang Batu-batu. Pendek kata kerusuhan dan ketegangan akibat tato pun menghilang. TATO Pada saat itulah Ceng-Liong Hui-To turun tangan. menyelinan sana dan sini dan mendengarkan percakapan-percakapan. mendatangkan kesan masif dan keren. para pemuda dan juga pemerintah disadarkan. Besar dan gagah. informasi rahasia dan keamanan. Kota yang banyak dihuni oleh perantau dari Tlatah Tiongkok. Gerbang yang menandakan awal kota tersebut. Mereka merasa telah diperalat oleh para begal. Roda perekonomian kembali bergulir normal. Akan tetapi dengan hilangnya. Untuk mengenangnya. Akhirnya ia bisa menemukan orang-orang atau begal-begal yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang menyebabkan pemerintah bersiteru dengan para pemuda bertato secara umum.

membuat jalan orang dan juga pedati yang lewat menjadi lebih mudah. Dia merasa yakin bahwa sosok itu adalah orang yang ada dalam kenangannya. yang ujungnya hampir-hampir tak bisa diperkirakan. Tiba-tiba matanya tertarik pada gerakan seseorang yang membelok pada suatu jalan kecil di sisi kanan jalan yang berarah ke kiri. Warna udara dan asap. kota Luar Rimba Hijau. sehingga ia tak dapat dengan segera memilih salah satunya. Citra Wangi. bagai tanpa akhir. Di sepanjang jalan yang lurus dan panjang itu. Tak terpikirkan lagi oleh Gu Yo bagaimana sosok yang disangkanya sang kekasih bisa berada di kota Siaw Tionggoan dan bukan di Kota Pinggiran Sungai Merah seperti diberitakan oleh Nyi Antini. yang dilambangkan dengan segitiga puncak ke atas. Jalan di belakangnya mengarah kembali ke Gerbang Udara. dan tengahnya dicoret garis mendatar.315 Ia tidak tahu bahwa gerbang sebelah timur itu memang dibuat sedemikian rupa dengan warna keabuan. Sesuatu yang diapungkan atau diresapi oleh api. tapi tidak ada yang memberatkannya. Sosok tubuhnya yang langsing dan cukup tinggi. Oleh karena memang gerbang tersebut bernama Gerbang Udara atau Angin. Terdapat lambang besar segitiga dengan puncaknya menghadap ke atas. Lenggak-lenggoknya yang secukupnya dan tidak berlebihan. tidak ada lagi lumpur atau genangan air yang mengganggu. Kebingungan pemuda itu akhirnya berdiri pada suatu persimpangan jalan. Gerakan langkahnya yang mengalir dan mantap. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini. Suatu sosok yang menghentakkan kenangan lama. Tidak juga kota tempat asalnya. Pastilah itu dia. Kepala dari gerbang itu. Gerbang Udara. ia melihat berbagai aneka toko-toko. Kedua jalan kiri dan kanan sama-sama menarik. Jalan di depannya masih lurus jauh. terpenuhi mulailah ia melihat-lihat hal-hal lain. Setelah kekagumannya atas gerbang sebelah timur itu. istri mendiang Ki Baja dari . Saat hari hujan. Bergegas pemuda itu mengikuti nalurinya membuntuti sosok bayangan yang memincut rasanya itu. Jalan batu. terpahat pada tengah batang melintang. Jalan-jalan yang sudah dipadatkan dan dilapisi batu-batu persegi di atasnya. Lambang elemen kuno udara.

Nalarnya telah ditundukkan oleh kenangan yang menggelora.. karena dialek mereka yang cukup kental.. Akibatnya jarak ia dan Gu Yo masih tetap belasan tombak lebarnya. Bergegas ia kembali menaikkan laju langkahnya. Tak lama ia membelok ke kiri satu dua gang kecil dan akhirnya kembali mengambil jalan kecil di kanan. Tak dihiraukannya saat ia tak sengaja berpapasan dengan beberap orang yang hampir saja ditabraknya. . Seorang pemuda berbadan tegap yang terlihat ramah. Tapi rasanya bukan ini. jarak antara Gu Yo dan sang gadis semakin lebar. TATO Kota Luar Rimba Hijau. Akhirnya perburuan itu pun berakhir. Jalan yang sejajar dengan jalan besar sebelah kiri yang pertama-tama diambil Gu Yo sejak di persimpangan. saat ia bingung tadi. Sekarang dengan banyak berlalu-lalangnya kereta kuda. Cepat. Lamunannya pun terhenti saat seorang penjaga menegurnya. Bergegas dipacu langkahnya. pikirnya. atau ”Matamu kemana?” dan sejenisnya. Entah kebetulan atau memang sang gadis memang sedang juga dalam kegergesaan. yang kemudian membawa sang penguntit dan yang dikuntit kembali ke suatu jalan besar. Gu Yo yang tidak terbiasa berjalan di suatu tempat dengan banyak kendaraan dan orang. Besar dan mewah menurut Gu Yo. dengan sampainya sang gadis di suatu rumah atau toko yang cukup besar. Beberapa dari mereka sempat mengumpat-umpat dengan bahasa yang kurang dimengertinya. ”Lagi-lagi Ceng-Liong Hui-To. dilihatnya sosok gadis yang diikutinya tersebut berada pada jarak belasan tombak di depannya. seperti ”Pake matamu!”. dan sudah tentu kaya dengan umpatan dan makian. berkali-kali hampir tertabrat.” bergumam Gu Yo dan teringat pada cerita kakek Gu dan nenek Po. agar dapat cepat dicapainya orang yang diharapkan sebagai kekasihnya itu.316 BAGIAN 6. ”Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To”. yang digerakkan oleh orang atau mesin bersuara ribut. pedati dan juga kereta tanpa kuda. Sesampainya ia di jalan kecil di sebelah kanan dari jalan besar yang mengarah ke kiri. dilihat dari papan namanya yang lebar dan berwarna cerah di atas wuwungan depannya. ia pun memacu langkahnya.

”Maaf. itu. Seorang gadis yang juga terlihat manis seperti sang nona Lin. sesuatu yang tidak ia temui di kotanya. yang merasa tak mengerti dengan ucapan yang dikeluarkan oleh sang pemuda. Mungkin lain kota. mereka terlebih dahulu harus membuat janji. ”Eh. Gu Yo tidak tahu. akhirnya menggapainya untuk ikut. lain tata cara-nya. entah toko atau apalah. sempat tidak terlihat dari luar apabila tidak benar-benar diperhatikan dan diketahui keberadaannya.. dapat langsung datang kapan saja. Bayangan yang sudah lenyap di balik pintu bangunan itu..?” tanya sang penjaga kembali.!” katanya gagap sambil menunjuk kepada bayangan gadis yang diikutinya tadi.. Lalu lanjutnya.. orang sedemikian sibuknya. Posisi gadis yang tersembunyi di balik tembok setinggi dada orang dewasa berdiri itu. harus sudah ada janji ya?” tanya Gu Yo kembali. Bayangan yang tadi sempat bertegur sapa dengan penjaga yang menyapanya. ”dan apa urusannya? Sudah ada janji atau belum?” ”Eh. Nona yang baru saja masuk itu!” jawabnya kemudian setelah dapat menenangkan dirinya. Penjaga itu melihat kebingungan sang pemuda.. Lalu ditunjukkannya seorang gadis yang sedang duduk di meja dekat tempat penjaga tadi berdiri. Orang-orang di sana bila ingin berkunjung. Ia tidak tahu bahwa di kota-kota besar seperti kota Siaw Tionggoan ini. Janji. itu. dan disapa balik dengan. . ”Nona Lin!” ”Hah? Apa maksudmu dengan eh. anu. Rupanya itu tempat untuk membuat perjanjian untuk bertemu dengan penghuni gedung itu. ”Ah. saya ingin bertemu dengan nona tadi. ”Apa keperluanmu? Apa sudah ada janji?” ”Janji?” bengong Gu Yo mendapati pertanyaan itu diajukan padanya.. maksudmu nona Lin?” tanya penjaga itu kembali untuk menegaskan. sehingga untuk bertemu. anu. Tak perlu ada janji-janjian segala.317 ”Tahan dulu. Demikian pikirannya menyimpulkan. maksud saya. anak muda!” katanya bersahabat.

kekasihnya dulu. Setelah diakurkan dengan apa yang tertera dalam buku janji tersebut mereka dipersilakan untuk masuk. gadis yang mencatatkan janji-janji untuk bertemu dengan para penghui gedung itu. di kota Siaw Tionggoan. nama sebenarnya dari nona Lin. Dua orang dari mereka rupanya telah membuat janjinya kemarin. Sedangkan sisanya baru akan membuat janji untuk bertemu dengan penghuni gedung itu sore ini atau keesokan harinya. ”nanti sore. Mengangguk-angguk Gu Yo melihat hal yang baru itu. Akhirnya sampailah ia pada suatu kolom. Saat itu dilihatnya beberapa orang masuk. antara pukul empat dan setengah lima nona Lin belum ada janji. Rupanya ia harus membuat janji dulu untuk bertemu orang-orang yang tinggal dalam rumah itu. Sosok gadis yang dipikirnya adalah Citra Wangi. Beberapa di antaranya menyebutkan nama yang akan dikunjungi. keperluannya dan waktunya. ia menyebutkan ”Gu Yo”. Setelah cukup memperhatikan dan merasa mengerti. Seorang pelayan mengantarkan mereka. sebagaimana disampaikan oleh penjaga tadi. lalu sang gadis membuka bukunya dan melirik pada kolom-kolom yang di atasnya tertuliskan ”Swee Sian Lin”. Gu Yo pun mengangguk mengiyakan. Di tepi jalan besar di muka Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak . Kemudia saat ditanya namanya. memberi salam kepada penjaga dan menuju tempat sang gadis. Gu Yo pun keluar untuk menghabiskan waktu. Persoalan membuat janji masih asing baginya. ia hanya membubuhkan ”ingin bertemu” tanpa bertanya dulu kembali kepada Gu Yo.318 BAGIAN 6. sebelum bertemu dengan nona Lin. Untuk keperluannya. dan bertanyalah ia pada Gu Yo.” saran sang gadis tersebut. ”Anda bisa berjalan-jalan dulu. anda bisa berkunjung pada saat itu? Apakah anda bisa dan mau?” Mengangguk saja Gu Yo atas usulan itu. TATO Setelah dijelaskan oleh sang penjaga bahwa pemuda itu ingin bertemu dengan nona Lin akan tetapi belum membuat janji. yang kemudian dituliskan oleh gadis itu. Suatu pengalaman yang baru dialaminya di sini. Masih sekitar empat jam untuk bertemu dengan nona Lin. menunjukkan jalan ke bagian ke mana mereka akan menuju. Orang yang telah ditunangkan dengan dirinya. melihat-lihat kota Siaw Tionggoan untuk membunuh waktu.

kerbau. mari masuk mencicipi!” ajaknya. bagaimana?” jawabnya ramah. tapi setelah itu bantu-bantu. sembari menunaikan misinya mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. ditemukannya sumber kelezatan yang seakan-akan mengundangnya ke tempat itu.319 Gu Yo celingak-celinguk kebingungan. membujuknya untuk pergi ke suatu arah di mana aroma lezat hidangan mengambang di udara. Ia tidak tahu harus kemana untuk membunuh waktu sebelum jam empat nanti. tapi. Sukur-sukur pemasukannya bisa berlipatlipat pada saat-saat itu. Ia tak tahu harus berucap bagaimana. Ia baru saja berjalan ke bagian lain kota untuk mencari tenaga tambahan. orang tua itu memang pemilik kedai itu. Rencananya beberapa hari lagi akan ada perayaan menyambut tamu dari pemerintah pusat. Kedai Daging Bakar namanya.” Gu Yo tak bisa melanjutkan ucapannya. Saat ia sedang melihat-lihat ”hiasan” berupa daging yang sudah dikeringkan itu.. ”Ah. dipajang di suatu bagian depan kedai dan diberi nama. ”Eh.. Berbagai jenis daging dapat ditemui di sana. berwarna merah dan masih menyajikan bau sedap khasnya masing-masing. Sebagaimana diketahui tidak banyak Tigaan yang dibekalinya sedari keluar dari Rimba Hijau dan juga sehabis bertemu kakek Gu dan nenek Po. Dan ia memang telah berniat untuk mencari pekerjaan di kota ini. Biasanya pada hari-hari ”besar” seperti itu pengunjung akam membeludak. Yok Seng. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai masakan yang dipanggang atau dibakar. pasti kau tidak cukup punya uang. Berbagai jenis-jenis daging yang telah kering dan diasap. seorang tua menyapanya. sapi. dari ayam. ”Ayo jangan malu-malu. suatu suara dalam lambungnya merekah. masuk saja. kambing sampai ular dan kelinci. Aku pemilik kedai ini. Ia telah berusaha menuju ke suatu bagian kota di mana di sana terdapat suatu semacam agen yang menyalurkan tenaga-tenaga kerja paruh . Untuk itu ia perlu tenaga segar agar bisnisnya dapat tetap berjalan dengan baik. ’kan? Ayo anak muda. Kamu boleh makan sepuasmu. Takjub juga Gu Yo melihat model iklan dari kedai tersebut. Setelah berjalan beberapa saat. Saat ia sedang memandang ke kiri dan ke kanan.

. ”Tidak. Ia melihat bahwa pemuda itu. Yok Seng yang telah berpuluh tahun mengelola kedai itu dapat dengan segera melihat sifat seseorang dari percakapan singkat saja. Swee Sian Lin di Rumah Tato CengLiong Hui-To. Demi melihat seorang pemuda di depan kedainya yang sedang termangu menatap daging-daging keringnya. toko-toko dan kedai-kedai lain pun sudah memborong tenaga kerja. Jujur itu adalah sifat yang dibutuhkan untuk dapat bekerja dengan langgeng.320 BAGIAN 6. langsung saja Yok Seng menawarkannya pekerjaan. . mengingat permintaan yang banyak. tapi. ”Eh. ”Eh. akan tetapi dapat dengan mudah memperolehnya. tapi telah membuat janji dengan nona Lin.. Ini adalah betul-betul suatu kesempatan yang tidak disangkasangkanya. saya. paman! Saya hanya ingin bertemu dengan nona Lin saja. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To adalah suatu galeri seni tato yang cukup beken di kota itu. Suatu saingan dalam mempekerjakan orang pada saat hari-hari ”besar”. Yok Seng yang ditanya hanya mengangguk. TATO waktu. Entah bagaimana ia tak rela calon tenaga kerjanya akan diambil oleh orang lain.. Mungkin sang penyalur tenaga kerja bahkan ikut ”bekerja” sebagai tenaga paruh waktu.” jawabnya. Tiada yang tersisia. Ia tidak harus sulit-sulit mencari pekerjaan. ”Engkau tidak akan bekerja di sana. Habis. masih baru dan belum ada pengalaman sama sekali. Dari perawakannya yang tegap dan berisi. Kejujuran pun tampak dari wajahnya.” ucap Gu Yo bingung dan ia pun lalu menceritakan keperluannya ke kota itu yang memang ingin mencari kerja. bukan?” tanya Yok Seng penuh selidik. Tidak ingin bekerja di sana. Orang bilang itu memang sudah rejekinya atau suratan langit. Bahkan ia hanya menemui tulisan ”tutup” di sana. sudah bisa dipastikan gajinya pun akan lumayan. benar paman? Saya boleh bekerja di sini?” tanya Gu Yo tak percaya. sudah pasti pemuda itu kuat untuk bekerja keras. Tapi berhubung suatu peristiwa kunjungan oleh pemerintah pusat ke kota Siaw Tionggoan adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi. Sosok yang dibutuhkannya untuk saat itu. hasil asahan pengalaman yang menahun. Gu Yo.

Tubuhnya tak terlalu tinggi. Tulang tangan dan kakinya lebar-lebar. ya untuk hari ini kasih dia waktu nanti jam empat untuk keluar sampai jam lima.” kelakar Yok Seng.” ucap Yok Seng kepada Gu Yo. Di sana ada sebuah meja besar dan panjang yang dipenuhi berbagai macam benda. ”Gu Yo!” jawab pemuda itu pendek.” sambil tak lupa Yok Seng memberi tahu. Lapar. ”Siapa namamu?” tanyanya singkat kepada Gu Yo setelah Yok Seng meninggalkan mereka untuk memeriksa pekerjaan lain-lain yang dilakukan lain orang. Orangnya tak banyak senyum. ”Ini Ma She. ke suatu ruangan besar yang berfungsi sebagai dapur dan juga tempat orang-orang pekerja kedai itu berkumpul. Malu ia akan ususnya yang tidak sungkansungkan untuk menyuarakan isi hatinya. melainkan mengajaknya terus ke belakang. Mukanya lebar dan besar. Ma She dengan cekatan mengambil sejumput besar nasi dengan sendok besar dan dua kerat daging seukuran dua kepalan tangan dan meletakkan di piring Gu Yo. tempat orang-orang yang sedang menjadi pelanggan kedai itu makan. Di keempat sisi meja tersebut terdapat kursi panjang tanpa sandaran. sehingga tampak gemuk padahal tidak. sudah terdengar ususmu itu belingsatan. Ada keperluan dia di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. ”kepala koki di sini. Tapi wajahnya ramah. Piring paling lebar yang pernah dilihat Gu Yo. Hampir sebesar nampan bundar. Ma She hanya mengangguk. ”Duduk di sini dan makan semampumu. Satu kursi bisa muat empat sampai lima orang kiranya.321 ”Bagus kalau begitu! Ayo kita makan dulu.” ”Ma She. Entah berapa jumlahnya. Oh.” katanya kemudian sambil mengangsurkan piring kosong lebar. Dan juga yang bertanggung jawab jika aku tidak ada. Tak lupa diambilnya den- . Saat Gu Yo terlihat agak ragu-ragu mengisikan lauk dan juga nasi ke dalam piringnya. Kasih dia makan terus atur tugasnya. Yok Seng tidak menyuruhnya duduk di depan. pemuda ini akan kerja sini mulai hari ini. Memerah wajah Gu Yo itu.

Saat itu lewatlah seorang gadis. ”kalau kurang. pisau. tambah lagi!” Ia juga tak lupa meletakkan sendok. terus nasi ini gimana?” masih bingung dirinya bagaimana bisa makan nasi menggunakan garpu dan pisau tersebut. Lalu dengan jenaka gadis itu mengucapkan. tangan kiri memegang garpu. Ia tidak menanyakan alat makan apa yang biasa digunakan oleh Gu Yo. Dipotongnya lagi potongan yang masih tertancap berulang kali sehingga tersisa seukuran setengah telur ayam. langsung dimakan. ”Begini caranya: tangan kanan memegang pisau.” Dan ”Hap!!” daging tersebut lenyap di mulut mungilnya yang menawan. ”Bisa? Perlu dibantu?” Gu Yo hanya menggangguk. Suatu sensasi yang belum pernah ditemuinya. Mula-mula dicobanya daging keratan pertama yang berwarna lebih gelap dari keratan kedua. Satu bagian Potongan telah lepas dan sisanya masih tertancap pada garpu. Tanpa dipersilakan gadis itu dengan duduk di samping Gu Yo. Begitu dekat sehingga hidungnya bisa mencium keharuman keringatnya yang tercampur dengan semerbak masakan-masakan. Juga tidak bisa. TATO gan sumpit sejumput sayur-sayuran dan terkahir dituangkannya saus merah harum di atas dua kerat daging tersebut. Setelah Ma She berlalu dari sana. Alih-alih menjawab. Lalu dicobanya dengan menggunakan sendok. ia pun berkata. Gu Yo hanya dapat melongo melihat hal itu. Ucapan sang gadis membuyarkan lamunan sesaat itu. Melihat kesulitan Gu Yo dalam menyantap penganannya. hanya meletakkan semua yang biasa digunakan. Lain dengan semerbak wangi tunangannya dulu. Dan semakin takjud saat masih Ma She berkata. mulailah Gu Yo menyantap hidangan yang ada dalam piring jumbonya itu.322 BAGIAN 6. ”jika sudah cukup kecil. si gadis menyisir nasi dalam piring besar itu ke . Takjub Gu Yo melihat hidangan yang harus disantapnya itu.” Lalu diperagakannya cara memantapkan daging agar tidak bergulir untuk kemudian dipotong dengan pisau. garpu. Dengan sumpit gumpalan daging keras itu tak bisa diceraikan. ”Eh. sumpit.

walaupun ia tahu bahwa gadis itu mungkin memang mengajari Gu Yo. Masak cuma itu. Dan kembali ”happ!” lenyap di balik mulutnya. Ma She masih berpikir-pikir apa yang telah dikerjakan oleh Ma Siang. sedang mengerjai Gu Yo. atau sayur yang harus dipotong dulu. benar-benar mengajari. ”Eh. Gu Yo dapat dengan mudah menyantap hidangannya. Si gadis dengan cepat bangkit dan bergegas pergi. ”Sudah habis makanmu?” tanyanya setelah sampai di samping pemuda itu. menyuapnya dengan garpu di tangan kiri dan memadatkan nasi pada garpu dengan pisau di tangan kanan dan menyantapnya. ”Masih belum bisa pakai garpu dan pisau ini. memadatkan sedikit di atasnya dan menggerakkan garpu yang sudah berisi nasi itu ke arah mulutnya. begitu!” sahut Gu Yo menggangguk-angguk. Ia kebetulan saja melihat gadis itu bersama dengan Gu Yo. Setelah diajari oleh Ma Siang. Untung ada gadis itu tadi yang mengajari. ”Ah. tampak menggeleng-gelengkan kepala. Gu Yo pun mulai dapat menikmati makan siangnya dengan cara itu.” ucapnya kemudian.” Suatu pengalaman baru lagi yang didapatnya di tempat ini. Tapi saat ini bukan waktunya.” ”Ma Siang? Mengajari?” tersenyum Ma She mendengar itu. belum. . ke atas daging atau nasi yang telah siap untuk untuk diangkat oleh garpu. ”Bisa juga iisau digunakan seperti itu. ”Iya. paman!” jawabnya.323 arah garpunya menggunakan pisau. Dan seperti yang diduganya. Ayo. Bagaimana ia memotong daging. Kuah atau saus merah harum yang tergenang pun dapat dengan mudah disisirnya. ”Bagus kalau begitu. Ia pun kembali membiarkan pemuda itu menyantap makan siangnya. habiskan makananmu! Kerjaan sudah menunggu. tapi pasti ada sesuatu yang dinakalinya. ”selamat makan!!” Ma She yang tiba-tiba berada di sana. Sambil tak lupa berucap. ”Ma Siang!” tiba-tiba terdengar suara mengguntur di belakang mereka. paman!” jawab Gu Yo sambil memperagakan cara makan yang diajari oleh Ma Siang.

kau banyak sekali berdiam. masih saja tenggelam dalam lamunannya. Biasanya ia hanya makan menggunakan tangan kosong saja.. kakek Gu! Apa yang kamu pikirkan? Sedari Gu Yo pergi ke kota Siaw Tiong Goan. masing-masing ada wadahnya sendiri-sendiri. Nenek Po dan kakek Gu. seorang menggapai bahunya.” ucap nenek Po kembali sambil bangkit dan berbalik masuk ke dalam pondoknya.. di mana ia melihat beberapa orang sedang mencuci alat-alat makan. Setelah habis ia pun sedikit mengelus perutnya yang telah terisikan. ”Ya. Kakek Gu. menggunakan alat makan yang belum pernah dialaminya. Keharuman akan kelezatan yang tidak akan didiamkan begitu saja oleh cacing-cacing penghuni perut. sepeninggal nenek Po. sendok. kedua orang yang sebelumnya telah merawat luka Gu Yo atau Paras Tampan akibat merapal ilmu Jarum Terbang Debu Pasir yang belum dikuasainya dengan benar. TATO Cara makan yang baru. bahwa ia .. *** Dua orang tua tampak sedang duduk-duduk di depan sebuah gubuk di tengah hutan. sebentar lagi kita makan bareng. ”Heh. sumpit dan pisaunya.324 BAGIAN 6.” ucap nenek Po terhadap orang sedang duduk tak jauh darinya itu. Ucapan yang kiranya menandakan bahwa pikirannya masih mengembara ke sana kemari dalam alam khayalannya sendiri. Saat ia bingung tentang apa yang harus dikerjakannya. Segera mereka akan berontak minta diasup.” jawap kakek Gu pendek. ”Ikut aku!” katanya. Sibuk ia kemudian mengaduk-aduk kuali besar yang menebarkan di udara suatu keharuman menggoda lambung. Dibawanya piring bekas santapannya itu ke suatu sudut. Saat seorang menunjukkan padanya tempat untuk meletakkan piring kotor beserta garpu. Gu Yo pun mengikuti dan meletakkannya di sana. Kenyang dan tenang. Dan benar seperti perkataan nenek tersebut. sudah! Aku mau masak dulu. Seorang wanita tua dan lainnya lelakit tua. Terpisah. ”Hmmm.

Entah bagaimana. Tetapi akibat ilmu mujijat yang dirapalnya yaitu Jarum Terbang Debu Pasir. suatu ilmu dasyat yang dapat mengubah butir-butir debu di sekeliling perapalnya menjadi padat dan berbentuk jarum untuk diterbangkan menyerang sang lawan. saatnya kita putuskan perhitungan kita! Utangmu padaku harus lunas hari ini. kakek Gu mencarikan daun-daun obat untuk ramuan kesembuhan pemuda itu. sehingga tetap lekat pada ingatannya. Ia terpikir akan pemuda itu. Di situlah perkenalan antar keduanya dimulai. Kakek Gu yang saat itu sedang menerawang pada sosok Gu Yo. Meskipun demikian jumlah yang berlipat dua ini pasti akan menjadi masalah baginya. Lamunan kakek Gu terhenti saat beberapa orang memasuki halaman rumah nenek Po. Hek-Mo. suatu kota di mana penduduknya kerap berasal dari Tlatah Tengah (Tionggoan) yang kadang sulit untuk melafalkan nama dari tempat lain. salah seorang dari Su-Mo (Empat Setan). . ia pun menoleh. Diantara mereka terdapat empat orang yang sekilas terlihat berbeda karena langkahnya yang lebih ringan dan berisi. ia tidak mungkin memang. Nama yang juga memudahkan perjalanan anak tersebut di kota Siaw Tiong Goan. Empat orang Su-Mo dan empat orang baru yang belum pernah ditemuinya. karena dulu dengan hanya berempat. Apalagi sekarang. memperhatikan benar-benar kedelapan orang yang ada di hadapannya sekarang. Akan tetapi melihat dari tongkrongan dan busana yang dikenakan.325 terlamun-lamun ada kaitannya dengan pemuda yang disebut-sebut itu. yang kerap dipanggil ”anak Yo” oleh kakek Gu. ”Zahnloserbauer (Petani Ompong). ada hal yang menarik dari pemuda itu. Gu Yo. yang berwajah agak gelap. Orang berilmu. sontak terkoyak. Ia masih teringat bagaimana ia yang saat itu sedang bertarung sengit dengan Su-Mo ditolong oleh pemuda itu. Sampai akhirnya ia diberi nama dengan she kakek Gu. Dengan dibantu nenek Po. dalam rangka mencari keturunan dari Ceng-Liong Hui-To.” ucap seorang dari mereka. menjadi Gu Yo. yang melukai sang pemuda sendiri karena belum benar-benar menguasainya. jika tidak dibantu oleh Gu Yo. ilmu keempat orang yang baru dilihatnya ini tidak lebih tinggi dari Su-Mo. Orang-orang dengan tubuh-tubuh kekar dan kasar.

yang merisaukan hatinya. membuatnya lebih mawas diri akan siapa yang dihadapinya saat ini.” ”Hmm. seorang dari Su-Mo yang terkenal dengan keberangasannya. TATO Kakek Gu bukanlah takut untuk mati. Aku berada pada pihat petani yang keberatan akan pajak yang berlebihan besarnya. Ia menyesal kenapa tidak dulu-dulu hari ia ceritakan hal tersebut kepada pemuda itu. Hek-Mo. Itu bukan pertanyaan yang menandakan keingintahuan mencari kabar. tetapi lebih merupakan ejekan karena dilontarkan oleh orang yang menjadi lawan dan penyebab keadaan mereka ”tidak baik” yang ditekankan dengan ”sudah baikan”. dan kalian berada pada pihak Su-Mo yang berlaku sebagai penarik pajak. Kami Empat Begal Hutan datang untuk mencoba-coba kemampuanmu. Orang yang ditanya sudah tentu memerah wajahnya. bagaimana keadaan kalian? Sudah baikan?” tanyanya menggoda sambil mengulur-ulur waktu untuk memikirkan suatu siasat agar dapat meninggalkan pesan pada Gu Yo. kata seorang dari mereka. Tapi adanya suatu rahasia yang mesti disampaikannya kepada Gu Yo. Konsekuensi perbuatannya yang membela para petani yang diharuskan membayar ”pajak” kepada Su-Mo dan kaki-tangannya.” . ”apa hubungan kalian dengan SuMo?” ”Su-Mo menjanjikan pekerjaan penarikan pajak di daerah ini bagi kami. keempat orang yang baru hari itu dilihat kakek Gu yang mengambil pembicaraan. orang tua yang bergelar Petani Ompong.” jawab kakek Gu pendek. tidak biasanya berdiam diri. Rupanya hampir remuknya telapak kakinya akibat tendangan cangkul kakek Gu. Mengangguk-angguk kakek Gu mendengar penjelasan itu.326 BAGIAN 6. menunjukkan emosi yang telah meningkat. si Petani Ompong. Hanya napasnya saja yang berderu-deru. ”baiklah. akan dihadapinya dengan jantan. Alih-alih Su-Mo yang menjawab. ”Su-Mo. sudah jelas kedudukan kita masing-masing. bila kami bisa menundukkan dirimu. ”Salam. wahai orang tua!” jawab yang ditanya.

Sunyi. Seorang dari Empat Begal Hutan berkata. ”Wahai orang tua. sehingga napsu membalas dendamnya agak berkurang. entah bagaimana hanya bisa menurut dan bersama-sama menuju sebuah meja panjang yang terletak di depan pondok nenek Po. Setelah nenek Po selesai melempar-lemparkan mangkok-mangkok yang ”terbang” dan mendarat dengan sunyi di kesepuluh tempat dari enambelas tempat yang ada. nenek Po seakan-akan tahu akan kedatangan kedelapan orang itu. Dan mereka pun mulailah makan. enaknya perut telah kenyang. terima kasih atas jamuanmu. sehingga ia telah membawa sebuah nampan besar berisikan sepuluh buah mangkok besar. Hek-Mo yang biasanya berangasan tampak agak terkantukkantuk. banyak tamu ternyata! Mari-mari. Setelah semua perabotan makan dibereskan dan meja kembali kosong seperti semula. Su-Mo dan kalian Empat Begal Hutan.327 Tiba-tiba percakapan itu terhenti oleh terbukanya pintu pondok dan keluarnya nenek Po. kenyang dengan apa-apa yang ada dalam sup nenek Po. Benar seperti yang diberitakan di tanah Alemania. Hanya suara-suara menyeruput yang terdengar sesekali dan juga kunyahan ringan serta telanan sepi bahan-bahan dalam sup nenek Po. orang-orang itu duduk pada tempatnya masing-masing. kakek Gu mulai angkat bicara. Delapan buah tempat duduk pada sebelah sisi telah terisi. ”Ah. mari kita bicarakan ’urusan kita’ sekarang. Setengah semangka ukurannya. Semua . sebelum ’berdiskusi’. Bisa dibayangkan adanya suatu ”keahlian” karena ia membawa nampan yang panjangnya seukuran peti mati dan di atasnya terdapat sepuluh mangkok besar-besar berisi sup. Puas rupanya ia telah terisi perutnya.” Kelompok lawan bicaranya yang duduk di separuh meja sana menganggukangguk. Dua buah pada sisi yang berlawanan ditempati oleh nenek Po dan kakek Gu. kita isikan dulu perut yang meronta-ronta!” Entah bagaimana. bahwa Zahnloserbauer tidak membeda-bedakan kalangan. Tamu-tamu tak diundang yang datang untuk menagih ”utang” dengan kakek Gu. ”Ah. Setelah makan semuanya duduk lemas. Semuah meja kayu besar bundar yang dilengkapi dengan enam belas kursi.

keempat orang Empat Begal Hutan diikuti oleh Su-Mo berdiri dan mengambil tempat di suatu tempat terbuka tidak jauh dari sana. Jika tidak mampu menundukkan kakek Gu. menganggap ’urusan’ seperti ini adalah suatu yang ’biasa’.. bukannya kami tidak sopan. Mari kita langsung pada permasalahannya.” ucap seorang dari Empat Begal Hutan tersebut pada kakek Gu. Pukulan-pukulan dan tendangantendangan mulai dilemparkan oleh yang punya. pikir mereka. Bila engkau keberatan. ”tidak perlu sungkan-sungkan.” ”Tidak. terlihat bahwa kakek Gu hampir-hampir tidak memperoleh ruang untuk bernapas. Keempat orang Empat Begal Hutan lalu mengambil posisi mengepung kakek Gu saat ia berdiri di tengah tempat terbuka tersebut. Mengikuti dari belakang kakek Gu dan nenek Po. Keduanya tampak senyam-senyum di antara mereka. tidak.. Kami merasa tersanjung atas kehormatan ini. Su-Mo hanya tampak memperhatikan dari pinggir. Serangan keempatnya cukup bagus.” Setelah itu. gerakan-gerakan mereka cukup bagus dan kompak. ’Jamuan’ selalu siap tersedia bagi tamu-tamu kami.” kata kakek Gu sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya. Su-Mo tampak senyam-senyum melihat ketangguhan Empat Begal Hutan yang akan menjadi penarik pajak bagi mereka. Tulang beradu tulang. dengan makanan maupun dengan pedang dan tendangan serta pukulan. Su-Mo ingin terlebih dahulu melihat kemampuan orang-orang yang menawarkan diri untuk menjadi penarik pajak bagi mereka. Tenaga kasar dan otot. Mengejar setiap ruan kosong yang akan dimasuki oleh kakek Gu. Empat Begal Hutan. Ya.328 BAGIAN 6. tapi kami biasa bertempur berempat. seperti mengucapkan. Dalam sepeminum teh. apalah gunanya Empat Begal Hutan ini. lalu ia pun menggerakkan tangannya sedikit. sebagaimana kakek Gu adalah orang-orang yang ahli menyerang dengan tangan kosong. ”Wahai orang tua. Dengan hanya pukulan dan tendangan mereka dapat mendesak kakek Gu sedemikian rupa . bahkan cenderung bagus. Walaupun demikian. Kakek Gu hanya menggeleng ramah. TATO dijamu baik. ”silakan mulai!” Kelimanya pun mulai berlaga. katakan saja.

Kelebihan tipis yang tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang telah tinggi ilmu silatnya. Mereka perlu berhati-hati bila orang yang diwaspadai itu terlihat batang hidungnya. sang pemilik Kedai Daging Bakar. tanpa perlu bertanya-tanya kepada orang-orang yang berpapasannya di jalan. tapi mereka masih menanti-nanti kemunculan pemuda yang dulu melukai Hek-Mo dan Pek-Mo. Selain itu keduanya berada pada sisi jalan yang berseberangan. . Su-Mo sebenarnya sudah agak gatal pula untuk turun tangan melihat pertarungan yang seimbang itu. Ada persimpangan jalan yang memisahkan keduanya. Kedai Daging Bakar dan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To terletak pada jalan besar yang sama. Sekarang seorang pemuda juga berbadan tegap dan gadis lain yang juga manis untuk dilihat tampak menggantikan tempat mereka bertugas. sedangkan Empat Begal Hutan hanya kepalan dan tendangan. Gu Yo telah berada kembali di jalan raya. bahwa ia diberikan waktu luang antara jam empat dan jam lima untuk keperluan memenuhi janjinya. Sebenarnya tingkatan Su-Mo dan Empat Begal Hutan tidaklah berbeda jauh. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tampak lebih sepi dari pada tadi siang saat ia pertama kali dalam hidupnya membuat janji. Gu Yo dapat dengan mudah menemukan tempat itu kembali. Akan tetapi tidak terlalu berdekatan. *** Pukul empat kurang sepuluh menit saat itu. Penjaga yang tadi menyapanya pun sudah tidak kelihatan juga gadis yang tadi menuliskan janjinya. Janji untuk menemui nona Sian Lin di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.329 apalagi bila menggunakan senjata. Ia telah meminta ijin kepada Ma She yang telah diberitahu sebelumnya oleh Yok Seng. Selain itu Empat Begal Hutan masih terhitung belia. Perbedaan ini hanyalah karena Su-Mo seringkali menggunakan senjata tajam golok. Karena ia telah cukup memperhatikan jalan yang dilalui tadi dari Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To sampai tiba ke Kedai Daing Bakar. baru belasan tahun apabila dibandingkan dengan Su-Mo yang telah tiga puluhan tahun.

” jawab Gu Yo gugup. Ia tadi dibawa ke ruang ini oleh seorang gadis penunjuk jalan. menegur sapa terlebih dahulu sang penjaga untuk kemudian mencocokkan janji. Benda seni menurut beberapa orang. ”Mungkin ini yang disebut labyrinth. Pada masing-masing panel baik langsung pada dinding maupun sekat tampak semacam obyek mirip lukisan atau ukiran pada alas dua dimensi yang berlatar belakang warna kecoklatan. Gu Yo yang bingung hanya menjura. Lalu katanya.. ”Ah. orang kadang bersalaman saat pertama kali berkenalan. tidak menyadari bahwa Gu Yo tadi pagi adalah orang yang sama sekali belum mengetahui tata cara mengunjungi penghuni Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. kadang kekuningan atau agak gelap. anu.” .” pikir Gu Yo. Gu Yo pun melakukannya. Di bawah benda-benda tersebut selalu diawali dengan kata ”Tato”. Karena sikapnya yang baik dan mirip orang-orang tersebut. sang penjaga dan gadis pencatat janji. Ini merupakan pengalaman pertamanya berada dalam suatu ruang dengan dihiasi banyak benda-benda yang memberikan nuansa tersendiri. apakah anda menyukainya?” ucap sebuah suara merdu yang memecahkan lamunan Gu Yo yang sedang menikmati atau sekedar melihat-lihat obyek-obyek pada panel-panel tersebut. ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?” tanyanya sambil mengangsurkan tangannya.330 BAGIAN 6. tulisan kaligrafi ataupun obyek-obyek lain. TATO Dengan meniru pada cara satu dua orang yang datang. ”Halo. nama pengunjung dan nama yang dikunjungi atau membuat janji baru. kedua petugas itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa.. anda pasti dari kalangan pesilat. Di sana-sini tampak sekat-sekat ruangan sehingga ruangan yang berlangit-langit lebar itu menjadi bersegmen-segmen terkotak-kotakkan secara acak oleh sekat-sekat tadi. ”Eh. Kadang sederhana berwarna satu atau pun berwarna banyak. Melihat itu sang gadis hanya tersenyum. saya Swee Sian Lin. Ruangan itu lebar dan terang. ”Bagaimana. Ia tidak tahu bahwa di beberapa tempat. melihat cara anda memberi salam. selepas janjinya untuk bertemu nona Sian Lin dicocokkan. Gambar yang terlihat kadang berupa naga.

Bingung. Sopan. Baginya seni bukan merupakan sesuatu yang benar-benar penting. sederhana dan kikuk akan tetapi tampan dengan perawakan yang bagus. apa sebenarnya maksud kedatangan anda ke mari. Saat ini sudah tidak ada lagi hal-hal semacam itu. Lalu dengan lugas dan menawan gadis itu menerangkan bahwa obyekobyek yang dilihat Gu Yo adalah tato atau rajah.331 Gu Yo hanya mengangguk saja. dengan ringan gadis itu mengiyakan dan menambahkan bahwa dulu lukisan-lukisan ini merupakan koleksi seorang penjahat yang gemar mengoleksi tato. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya sang korban saat kulitnya dilepas atau dikletek untuk diambil tatonya. Tapi itu masa lalu. Suatu proses yang menyakitkan tapi menurut mereka tak sebanding dengan keindahan serta kepuasan yang diperoleh kemudian. Memuji-muji akan tetapi tidak tahu apa yang dipuji. karena sebenarnya tujuannya adalah mencari nona Swee Sian Lin sendiri.. Biasanya orang-orang yang datang menemuinya adalah tipe-tipe pesolek dan manis mulut. Tato dari seorang korban yang hidup. Keindahan yang terpancar dari sang gadis lebih menarik untuk dinikmati. walaupun ia tidak mengerti mengenai tato.” jawab Gu Yo sambil tak bisa ditahan wajahnya pun sedikit memerah. Dilarang oleh hukum. tapi ia menyimak dan tidak berpura-pura . Swee Sian Lin benar-benar baru menemui seorang seperti Gu Yo hari ini. ”Mari silakan melihat-lihat!” ucap gadis itu kemudian saat melihat bahwa Gu Yo masih kikuk dengan pertemuan mereka. Saat Gu Yo memastikan bahwa apa yang disajikan sebagai obyek seni tersebut adalah benar-benar kulit manusia. ”Itu. Lukisan yang digambarkan di atas tubuh orang. menemui saya?” tanya gadis itu lagi setelah ia menjelaskan panjang lebar mengenai apa-apa yang umumnya diceritakan oleh seorang pemandu dalam suatu galeri atau musium. ”Jadi. Pemuda ini lain. agak memalukan untuk diceritakan. Tapi ia tahu diri dan tidak memandang terus-menerus terlalu lekat. sebenarnya. Manggut-manggut Gu Yo mendengarkan penjelasan tersebut.. Digambar dengan menggunakan jarum yang dibubuhi ramuan dan ditorehkan di atas kulit sang pemiliki.

332 mengerti. Hanya untuk memastikan apakah dirinya adalah tunangan sang pemuda. Berdasarkan pengalaman Sian Lin dapat membedakan cara pandang seorang pemuda kepadanya.” jawab Gu Yo pendek. ia bisa mengerti dari cara pandangannya. Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. hanya kagum tetapi tidak kurang ajar. Sebagai seorang gadis yang sudah sering dipuji orang. dan saya juga telah meluangkan waktu bagi anda. ”Tunangan saya.. ”Eh. Jengah ia mengatakan hal yang sebenarnya itu. ”Karena anda telah di sini. Rupanya hanya masalah salah lihat saja. Kemudian mereka pun berkeliling lagi dalam galeri itu. Akan tetapi ternyata sosok itu bukan orang yang saya perkirakan. BAGIAN 6. memandanginya seakan-akan membayangkan dirinya tanpa busana. Saat ini Gu Yo benar-benar menyimak apaapa yang dijelaskan oleh gadis itu. Pandangan kurang ajar adalah pendangan menjelajah yang seakan-akan mengerayangi seluruh tubuhnya. saya mengerti sekarang. Jadi anda salah lihat orang. saya saat tadi pagi menjelang siang melihat orang yang sosoknya mengingatkan saya pada seseorang sehingga saya pun kemudian mengikutinya. melainkan nona Sian Lin.” menganggukangguk gadis itu mendengar penjelasan sang pemuda.. marilah kita tuntaskan melihat-lihat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To ini. ”Siapa orang yang anda maksud itu?” tanya gadis itu ingin tahu. dirinya menjadi lebih . ”Ah. Walaupun demikian ia menyukai cara pemuda itu memandangnya. meninjau ruangan-ruangan yang terbentuk oleh panel-panel sekat yang tadi belum dirampungkan. Ia sengan bahwa gadis itu tidak marah karena waktunya terbuang percuma. mungkin karena suara yang merdu dan juga caranya menjelaskan. Baginya tak jadi soal bahwa ternyata pemuda itu tidak memiliki keperluan sebenar-benarnya dengan dirinya. anu. sehingga pemuda itu sampai membuat janji untuk bertemu dengannya.” usul sang gadis.” jelas Gu Yo dengan wajah yang agak kemerahan. Entah bagaimana. TATO Gadis itu pun menyadari bahwa Gu Yo juga memandang kagum pada kecantikannya.

”Ini tato seorang gadis panggilan. akan tetapi tidak sepucat kedua karyawannya itu.... baru dan berdarah-darah pada panel diding. ”Ahhhhhh!!! Ada darahhh!!” Bergegas Sian Lin diikuti oleh Gu Yo menuju sumber suara tersebut. Ditempelkan sedemikian rupa sehingga melengkapi tato yang telah ada sebelumnya. melainkan suatu bagian lain ruangan yang merupakan koridor dari dua ruang besar.. Salah satunya ruangan tempat ia dan Sian Lin tadi berada. sang pemuda yang berusaha membantunya bangkit juga terlihat pasi saat melihat tato tersebut. Berbelok ke kiri dan ke kanan di antara panel-panel yang ada sampai mereka tiba di suatu lorong panjang yang tidak lagi menjadi bagian ruangan besar tadi... Ia dipesan oleh sang penjahat pengumpul tato. memang. Kemudian ia dibunuh di ruangan tempat seyogyanya orang pelesir dalam rumah bordil dan ditinggalkan di sana mayatnya. *** ”Hidup membujang ada enak dan tidaknya.333 tertarik pada kisah-kisah di balik tato-tato tersebut.” guman seorang pemuda yang tampaknya sedang memasak sesuatu di atas kom- . Keduanya saat itu menjadi tato pasangan burung merak hitam dan putih.. pemuda yang tadi pagi bertugas menjaga dan membantu Gu Yo membuat janji. itu.” begitu salah satu dari cerita-cerita seram di balik pengumpulan bagian tubuh manusia yang berlukiskan macam-macam itu. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris seorang wanita. Tak luput dari pengamatan Gu Yo bahwa wajah Swee Sian Lin pun berubah. ”Nona Sian Lin. dan juga bayarannya plus bonus. Di hadapan gadis itu tampak sehelai tato segar. Dan tidak hanya ia. Bunga Merah.. ”Dia datang kembali.!” tunjuknya dengan muka pucat.. Di tengah-tengah koridor itu tampak seorang gadis yang terduduk di salah satu dinding dan memandang dinding lain dihadapannya.. Di sininya telah ada seorang pemuda.!” ucap sang pemuda tak selesai karena lirikan mata Swee Sian Lin.

membuatnya menarik untuk dilihat. Tidak seperti teman-temannya yang biasanya diberi bekal oleh istri-istrinya dan memakan bekalnya di tempat mereka bekerja. Warna penanda gulungan surat itu hitam. Ruangan tempat San Cek Kong berada tidak terlalu besar. ”Pembunuhan atau bunuh diri. Tempat ia memasak masakan sehari-harinya. dapat mengantarkan surat yang terlebih dahulu dimasukkan dalam suatu tabung dari kayu. Di ujung selang tersebut tersembul sebuah gulungan kecil surat. hanya dua tombak kali dua tombak ukurannya. sam- .334 BAGIAN 6. TATO por. Lubang gulungan surat itu pas dengan ukuran ibu jari orang dewasa. Tak jauh dari kotak mandi tersebut adalah tempat ia berdiri sekarang. Ia biasa pulang saat waktu makan dan masak serta makan sendiri di rumah. Tabung ringan dan kuat. perawakannya tidak terlalu tinggi. Atau tepatnya meja serba-serbi. Ia makan. dan dialirkan ke tempat tujuan. yang akan terhembus dengan cepat oleh udara bertekanan tinggi. dengan wajah bulat dan selalu diselipi senyum yang ramah. Badannya tegap. dicari-carinya di mana ujung selang atau pipa besi yang berada di atas meja. Akhirnya berhasil didapatkannya. yang di dalamnya dengan menggunakan tekanan udara dari suatu mesin. Saat ia sedang menjerang sayur-sayuran untuk ditumis. Warna yang dilukiskan pada sisi gulungan sehingga berlaku seolah-olah pita pengikat gulungan itu. Tiba-tiba berdering dan berderu selang besi yang ada di depan meja kerjanya. ya?” gumam San Cek Kong. Di sudut lain ada kotak kecil yang berfungsi sebagai jamban dan juga tempat mandi menggunakan pancuran. Kematian. San Cek Kong nama pemuda itu. Bergegas ia beranjak ke meja tersebut. Sebuah teknologi surat mekanik. yang telah tertutup oleh timbunan kertas-kertas dan buku-buku itu. Suatu selang atau pipa tepatnya yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Di salah satu sudut ada tempat tidurnya yang ditemani dengan sebuah lemari kayu besar. dapur kecil. Pengikatnya sendiri adalah seutas benang berwarna sembarang. bekerja dan juga membacabaca di atas meja tersebut. Selang besi yang dikenal orang sebagai Selang Surat.

335 bil ia menggigit sendok pencicip makanan yang saat itu sedang dipegangnya dan membuka surat itu dengan tangannya yang lain. Sudah tentu dulunya koleksikoleksi itu didapatkan dengan cara yang tidak manusiawi dan legal. sang pemilik tato masih hidup. Rumah Jaga Ceng-Liong Hui-To. Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. dikatakan bahwa para rekannya telah dalam perjalanan ke tempat peristiwa tersebut terjadi. Dengan tatapan sedik San Cek Kong memandang sayuran yang baru dimasaknya. Seragam seorang Paturan (penegak aturan atau polisi). Dengan langkah ringan karena rapalan gerak Terbang Menyentuh Ujung Rumput. Sebuah kulit yang masih segar dan mengeluarkan darah. Tak ada lagi waktu untuk makan sekarang. meskipun buku catatan yang biasa digunakannya ada di sana. Suatu cara yang tak lazim untuk menandakan adanya suatu kasus pembunuhan. Untuk itu kasus ini memang memerlukan penanganan sesegera mungkin. Dan dalam surat itu tertera bahwa suatu ”koleksi baru” telah dipasang orang di dekat sebuah tato. Suatu koleksi yang saat ini telah dilarang karena berkaitan dengan rasa kemanusiaan. walau dalam keadaan kritis. Dengan kata lain. Di sana umumnya hanya dipamerkan lukisan berupa tato-tato pada kulit manusia yang langka dan mahal. melainkan langsung ke tempat kejadian. Berubah matanya saat membaca isi dari surat itu. menjejalkannya ke dalam mulut dan bergegas memakai seragam dinasnya. Makan siang yang sudah jauh telat dari waktu seharusnya pun tak bisa dinikmatinya. San Cek Kong segera sampai pada tempat kejadian. Dari surat yang diterimanya. *** . Ia tidak terlebih dahulu ke kantornya. siapa orang yang rela kulitnya ditato untuk kemudian dikletek dan dijadikan pajanganan. Jarang-jarang terjadi kasus pada suatu tempat seterkenal Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Bukan karena kasus itu sendiri melainkan lokasi tempat kasus itu terjadi. Ya. Jadi tidak ada gunanya ia pergi terlebih dahulu kembali ke kantor. Ia hanya mengambil sepotong daging setengah kepal dari sayur telah masak itu. bisa saja korbannya. belum tentu terjadi pembunuhan.

Dengan sigap pegawai Paturan tersebut menyerahkan sebundel kertas-kertas bertuliskan tangan berbeda-beda. sehingga sulit untuk mencari keterangan mengenai hal itu secara cepat. tidak banyak informasi yang bisa diserap San Cek Kong. cepat sekali anda datang!” sapa seorang pegawai Paturan kota Siaw Tionggoan. belum ditemukan atau bisa diindikasikan. ”Cek Kong-koko!” sapa Sian Lin saat melihat San Cek Kong masuk ke dalam ruangan tempat ia sedang menenangkan pegawainya yang menjadi saksi ditemukannya tato burung merak hitam yang masih segar. kecuali posisi tempat terdapatnya tato segar yang masih berdarah. bila memang ada. Selain itu ada hal lain pula yang membuat San Cek Kong tertarik untuk menuntaskan masalah ini. Pada jaman itu.” lanjutnya kemudian.336 BAGIAN 6. yaitu siapa lagi jika bukan nona Swee Sian Lin. Ceng-Liong Hui-To. Agak desa suasananya. Antara keduanya tidak terdapat hubungan khusus kecuali bahwa keduanya dulu pernah bersekolah bersama-sama di suatu perguruan silat yang kebetulan juga tempat seorang yang namanya digunakan pada kedua tempat mereka bekerja sekarang. tempat kejadian itu berlangsung. Hasil catatan beberapa orang mengenai peristiwa yang terjadi. Orang-orang yang bekerja dalam tim forensik pimpinan Ang Tiong. karena ia pada saat tersebut berada . ”Rasanya baru saja saya kirimkan anda surat mekanik. Korbannya sendiri. TATO ”Hai Inspektur San Cek Kong. pemilik Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. yang melengkapi tato burung merak putih yang telah ada sebelumnya. tato tidak lagi menjadi tren. Tapi ia telah dipesankan oleh seorang paturan bahwa sekali-kali ia akan dipanggil untuk diminta keterangan. San Cek Kong atau tepatnya Inspektur San Cek Kong tidak terlalu menghiraukan ucapan itu melainkan langsung meminta catatan situasi di lapangan yang telah dirangkum oleh Ang Tiong. jauh di arah barat dari kota. Saya perkirakan anda seharunya masih dalam perjalanan. Perguruan silat tanpa nama itu terletak di sebuah bukit di luaran kota Siaw Tionggoan. Dari catatan para rekannya yang bertugas pertama-tama mengumpulkan bukti-bukti forensik di lapangan. saksi-saksi dan waktu kejadian. Gu Yo saat itu telah kembali ke Kedai Daging Bakar karena waktunya untuk rehat di sela-sela pekerjaannya telah habis. Ang Tiong namanya.

Ya. telah ditanyai.” senyum Cek Kong. masih jalan yang sama. Setelah sedikit melihat-lihat tempat kejadian tersebut. pegawai paturan. apalagi bila yang ditemui dalah mayat korbannya dan bukan hanya kletekan kulitnya yang bertato. kebetulan aku belum sempat makan siang.” jelas gadis itu. dan eh – sekalian berbicara dengan pemuda itu. ”Bagaimana bila kita makan malam di sana. engkau baik-baik saja?” tanya Cek Kong kepada gadis itu. Gadis itu menggangguk mengiyakan. ”Eh. Dulu waktu kakek Gu bertarung dengan Su-Mo setelah lama berlangsung. ”Ya. keterangan mereka tidak banyak berbeda. katamu tadi engkau mendapat tamu?” tanya Cek Kong kemudian pada Sian Lin. tidak setiap orang siap dengan keadaan tersebut. mulailah kakek . Gu Yo namanya. Cek Kong pun pamit pada rekannya sesama paturan. ”Sian Lin-moymoy. Gu Yo ’kan namanya?” usul pemuda itu kemudian. Ia kemudian berjalan bersama nona Sian Lin menuju Kedai Daging Bakar. harganya juga agak terjangkau bagi kantung kami-kami ini. Tak banyak informasi tambahan yang diperoleh San Cek Kong. Selain lezat. tempat di mana Gu Yo bekerja. Gadis itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk pada pegawainya yang kelihatannya masih dalam keadaan stres akibat penemuan tato segar tersebut. mencatat halhal yang dipikirkan agak janggal di tempat kejadian. sering kami makan-makan di sana. kecuali gadis yang sedang stres dan masih sesengukan itu. Dan saat ditanya ulang oleh San Cek Kong. tim forensik pimpinan Ang Tiong telah bekerja sangat baik.337 di tempat kejadian. ”Tentu saja aku kenal Kedai Daging Bakar paman Yok Seng. Semua pihak. Ia bekerja di Kedai Daging Bakar paman Yok Seng di seberang simpang jalan sana. *** Perbedaan usia dalam suatu pertempuran akan menampakkan hasilnya apabila telah berjalan cukup lama. ada seorang pemuda.

Bergerak hanya saat-saat diperlukan saja. ini akibat langkah maju yang seharusnya tidak dilakukannya tadi. Dalam pertempuran dengan banyak lawan. Cepat. TATO Gu terlihat terdesak karena perbedaan usia. Untung keempat orang lawannya itu hanya menggunakan tendangan dan pukulan. Saat ini dengan Empat Begal Hutan yang usianya baru kira-kira seperempat usia kakek Gu. lebih cepat kakek Gu mengalami kelelahan. satu langkah yang salah. ”Hiaatt!!” serangan kakek Gu ke arah kepala dan pundak beberapa . Tumit si Zahnloserbauer. Ia yang pernah mengalami sendiri keampuhan jurus itu tanpa sadar berucap. seperti dulu saat ia gunakan jurus itu untuk menyerang Hek-Mo. ”Desss!!” sebuah pukulan pun masuk ke dalam perutnya. Kiranya dengan sisa-sisa tenaganya kakek Gu mengharapkan setidaknya ada satu dua kaki yang bisa remuk oleh tumitnya. berhati-hati terhadap serangan mendadak kakek Gu. yang membuat kakek Gu terdorong maju selangkah. ”plakk!!” sebuah tamparan mengenai pinggang kanannya. harus dibayar dengan tiga sampai empat pukulan. Dan benar saja. memasang kuda-kuda dengan kaki lebar terpentang. ”Hati-hati tendangan pacul rendahnya!” tiba-tiba Hek-Mo berucap. Tapi saat itu perlu beberapa saat mengingat usia Su-Mo yang kira-kira telah setengah usia kakek Gu. Untuk mengakhiri kedudukannya yang tidak menguntungkan itu kakek Gu pun merendahkan dirinya. Akibat ketidakwasapadaannya itu ia harus kehilangan beberapa saat yang menguntungkan. ”Bukkk!” sebuah tendangan mendarat pada punggunggnya. sang penyerang telah bergerak. Ia mencoba untuk tidak terlalu menggunakan kecepatan dan tenaga.338 BAGIAN 6. Ia akan menyerang kaki-kaki para lawannya itu dengan tumitnya. yang hampir meretakkan tulang atas telapak kaki dari HekMo tersebut. Dan kemudian masih. Akan tetapi sayang ucapan itu telat. sehingga ia tidak terlalu terancam bahaya seperti saat dulu bertarung langsung dengan Su-Mo. Mendengar kata-kata tersebut keempat orang Empat Begal Hutan melambatkan geraknya. belum sempat mereka berempat sadar apa yang akan dikeluarkan oleh kakek Gu.

Terpaku pada sesuatu yang telah ”lazim” berlangsung merupakan salah satu kelemahan manusia. Dari sini bisa banyak yang dituai atau ditarik keuntungan. kakek Gu masih berusaha untuk menyerang orang ketiga dan keempat. Menghidari kebosanan. ”itu kaki. awas. Dan hal-hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengetahui dan mengerti untuk menciptkan dinamika.!!” Kedua orang yang menjadi korban tampak sesegera mungkin bersalto ke belakang. kita akan terlena dan menjadi yakin bahwa musuh hanya memiliki gerakangerakan ini dan tidak lainnya. menghindari adanya kemungkinan mendapat serangan dadakan susulan.339 orang dielakkan dengan mudah dan tipis dengan hanya menarik kepala ke belakang dan memindahkan sedikit titik berat tubuh. Demikian pula dengan Empat Begal Hutan yang dari segi umur masih belia apabila dibandingkan dengan . Tendangan yang awalnya ditipukan untuk menyerang kepala dan pudak kedua orang tersebut. Empat serangan dengan delapan variasi telah dilakukannya untuk menyerang Empat Begal Hutan. Dalam pertarungan juga demikian. membiarkan kaki depan mereka tidak berpindah. Dua untuk mengelabui dan dua untuk benar-benar menyerang.. Serangan seorang pakar pertempuran. Tipuan yang meraih korbannya dengen telak. membiarkannya dalam jangkauan tumit cankul kakek Gu. yang telah banyak mengalami pertarungan. Seruan Hek-Mo pun datang terlambat.. suatu tipuan yang telah dipertontonkan sebelumnya kepada kedua orang rekan mereka. Dan ”takk!!” serta ”krakkk!!” dua buah kaki dari dua orang yang berbeda terkena tendangan cankul bergantian kanan dan kiri dan kakek Gu... Seketika mereka melihat bahwa rekannya dengan cara sebegitu saja dapat mengelak. Napas memburu tampak pada wajah kakek Gu. Tipuan manis yang menghanyutkan. dan hal itu yang diharapkan oleh kakek Gu.. mereka menjadi tidak berwaspada. Kedua rekan yang masih sehat pun tampak terkejut. Kedua orang terakhir inilah yang sebenarnya merupakan tujuan kakek Gu. Setelah dua orang lolos. Suatu serangan di luar perkiraan mereka. Apabila musuh terus-menerus mengeluarkan jurus-jurus yang sama. Dengan hanya memindahkan sedikit titik berat dan menarik kepala. si Zahnloserbauer.

Kami masih ingin menjajal ilmu iblisnya itu. dan menunggu terlebih dahulu sampai pemuda itu muncul. tapi juga menyampaikan pesan yang tadinya masih ragu untuk dikatakan kepada Gu Yo. Ia harus mencari siasat untuk itu. Bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya. Keduanya mengalami luka yang cukup parah. ”Bagaimana. Mendengar pertanyaan itu. Jika tidak. berputar keras otak kakek Gu. Tapi setelah lama berdiskusi dengan nenek Po. bagai akan terbang ditiup angin belaka. tanpa ada nada sombong di suaranya yang sudah kembang-kempis. ”Kakek Gu. Untuk itu kakek Gu berniat untuk mengadu jiwa. dalam rangka misinya. telah turun kata dari seorang Su-Mo. bersemayam di sana selamanya. Bagian tubuh pinggang ke bawah diterjang jarum-jarum halus yang terbuat dari debu dan pasir yang direkatkan oleh Tenaga Tanah dan dikirimkan dengan pukulan atau hempasan. Keempat Begal Hutan tidak menjawab. Pertanyaan inilah yang tidak diharapkan oleh kakek Gu. sementara ia melihat . Sebenarnya di dasar hati mereka. Masih untung pemuda itu belum begitu berpengalaman. Ia tahu atau dapat memperkirakan mengapa sedari tadi Su-Mo belum turun tangan. TATO kakek Gu atau pun dengan Su-Mo. Empat Begal Hutan? Masih ingin dilanjutkan?” tanya kakek Gu keren. Ia tidak berusaha menutup-nutupi keuzuran usianya yang berarti staminanya juga telah turun jauh.340 BAGIAN 6. telah tumbuhi rasa malu bahwa mereka yang masih muda dan berempat tidak bisa menghadapi seorang yang telah tua. Mereka masih jerih akan adanya Gu Yo. Seorang yang kelihatannya rapuh. Untuk kebaikan Gu Yo sendiri. Keterlenaan mereka harus dibayar dengan remuknya dua telapak kaki dari dua orang dari mereka. cepat suruh pemuda itu keluar. Hek-Mo.” Saat berkata masih bergidik Hek-Mo sesaat membayangkan saat Gu Yo atau Paras Tampan merapalkan ilmu ”Jarum Terbang Debu Pasir” yang menyerangnya dan juga Pek-Mo. akhirnya diputuskan bahwa hal itu haruslah disampaikan. sudah berada satu dua meter mereka di dalam tanah. Sebelum satu dari empat orang itu menjawab. sehingga bagian tubuh mereka yang luka bukannlah bagian-bagian penting dari jalan darah yang ada. terutama untuk pertarungan jangka panjang.

tapi apa tidak mengganggu kerjanya?” balik tanya si gadis atas usul rekannya itu.341 bahwa nenek Po tampak telah siap sedari tadi berkemak-kemik merapalkan sesuatu. Sesekali terdengar suara dari dalam perut melalui leher sang pemuda.” katanya sambil bangkit dan menuju kepada seorang pelayan yang sedang bertugas mengawasi jalannya kegiatan di Kedai Daging Bakar pada hari itu. sang pelayan kepala yang sedang duduk itu segera berdiri saat melihat pemuda itu menghampirinya. Ia menegakkan tubuhnya dan mengatur nafas lambat sampai tak terdengar.” sahut si gadis pendek mengiyakan. Akhirnya makan malam itu pun usai. masih terbayang peristiwa yang barubaru saja terjadi di suatu tempat. ”Boleh juga. ”Kedai Daging Bakar pamam Yok Seng ini memang tiada tandingannya di kota Siaw Tionggoan. Sebelum pemuda itu bertanya. Keduanya kemudian terdiam. Tempat kerja si gadis. lalu sapa- . memang benar. ”Seharusnya sih jam-jam segini mereka telah beristirahat. Keduanya tampak terduduk agak lemas. Juga lemas akibat halhal yang baru saja berlangsung. Lalu katanya keren.” ucap pemuda itu sambil menyeka mulutnya dengan semacam kertas atau kain yang disediakan untuk itu. ”Bagaimana bila pemuda itu kita tanyai sekarang?” usul sang pemuda. ”Iya. akan tetapi lebih baik bila kutanyakan saja pada kepala pelayan di sana. tidak sepesat dan segarang sang pemuda. Menandakan bahwa makanan yang disantapnya membuat sang perut kenyang.” *** Pemuda dan pemudi itu tampak lahap menyantap daging bakar yang disajikan dengan saus kacang dan kecap manis pekat. Si pemudi tampak lebih santai dalam menyantap. Lemas setelah perut diisi penuh. Kakek Gu pun memantapkan niatnya. ”Bagaimana jika kalian semua berdelapan sekarang maju serentak? Biar tak habis waktu kita.

Sebagai seorang paturan yang telah lama bertugas. selepas kunjungannya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To tadi sore. TATO nya. ”Ji-wi berdua memanggil saya?” tanyanya sopan. ”Saya hanya ingin bertanya. ”Selamat malam. Inspektur San Cek Kong! Apa anda ingin memesan lagi?” ”Ah. Lebih dari cukup. yang dipanggil inspektur San Cek Kong mengangguk. bila orang telah kenal lama. tidak paman. Hal ini perlu. ”bila tidak mengganggu kerjanya.” jawab sang pelayan kepada sambil menggerakgerakkan tangannya. ia memanfaatkan saat pertama bertemu dengan orang baru untuk menilainya. Karena keduanya tidak saling mengenal. tidak perlu inspektur. Tadi sudah cukup. Membiarkan naluri alamiah seorang manusia untuk merasakan apa-apa yang bisa ditangkap. Tapi kemudian ia menambahkan. Gu Yo!” sahut Sian Lin ramah. Gu Yo yang baru mulai bekerja hari ini?” tanyanya. Pemuda itu.” jawabnya ramah. Sementara San Cek Kong hanya menggangguk sambil tersenyum. ”Sebentar akan saya panggilkan. Jam-jam segini sudah tidak ada lagi kegiatan yang kerap di dapur. apa kami – saya dan nona Sian Lin. akan tetapi pemuda yang bersamanya baru dilihat saat itu. tentu saja. Gu Yo dan yang lainnya pasti sedang beristirahat saat ini. maka saling tidak memperhatikan bahwa masing-masing sempat hampir bertubrukan tadi. Ia tidak tahu bahwa ia dan San Cek Kong tadi berselisih jalan di dekat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Gu Yo mendadak hari itu menjadi terkenal karena ia membawa suatu cerita menghebohkan saat ia kembali ke Kedang Daging Bakar. Berdasarkan pengalamannya. naluri ini kadang-kadang menjadi tumpul karena teralihkan oleh kesan-kesan yang timbul dari cerita atau . boleh berbicang-bicang sedikit dengan Gu Yo. ”Duduklah. Sudah penuh lambung kami berdua. Ia telah mengenap nona Sian Lin. Atau perlu saya membawa surat resmi?” ”Ah.342 BAGIAN 6. seorang yang bekerja di sini?” ”Maksud inspektur.” Tak lama kemudian pemuda yang ingin ditanyai oleh San Cek Kong dan Swee Sian Lin pun tiba di meja tempat kedua orang itu duduk.

saudara atau lainnya. . engkau baik-baik saja?” tanya Huang-Mo atau si Setan Kuning kepada rekannya si Setan Hitam. kadangkala memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan juga yang paling sempurna. Akan tetapi niatan untuk menyampaikan pesan kepada Gu Yo membuatnya tenang. Setelah puas menilai dan mengira-ngira San Cek Kong pun kemudian memperkenalkan dirinya sebagai inspektur yang ingin berbincangbincang dengan Gu Yo perihat peristiwa tadi siang yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Orang yang paling baik. malah wajah kakek Gu menjadi lebih sumringah. Atas dasar ini banyak kejahatan yang muncul dari teman dekat. Empat Begal Hutan. Ucapan kakek Gu yang bagaikan menyiramkan minyak tanah kepada api kecil itu membuat Su-Mo bak kebakaran jenggot jadinya... Dicarinya dengan padangan mata di mana rekan kakek Gu. bahkan yang terburuk sekalipun..343 perkataan orang. aku. Tersenyum-senyum dan tampak seakan-akan siap menerima apa-apa yang akan terjadi pada dirinya kelak. Runyam jadinya. ”Tidak. *** ”Hek-Mo. Melawan empat orang saja dari mereka kedudukan sudah seri bagi kakek Gu. Tampak bahwa yang dicari lagi terduduk tenang akan tetapi tanpa tanda-tanda kehidupan.!” katanya agak tak yakin. Gu Yu pun hanya mengangguk dan ia berdiam menunggu pertanyaan yang akan diajukan oleh inspektur San Cek Kong. Alih-alih cemas. Tanpa dikomando keempatnya turunkan tangan dan kakinya melengkapi barisan empat pengeroyok kakek Gu sebelumnya. Melepas nyawa bersamaan dengan terbangnya nyawa kakek Gu. yang baru saja dipeluk erat kepalanya dengan kedua telapak tangan kakek Gu yang meregang nyawa atas bacokan Hek-Mo. Naluri mereka telah tertindas oleh kebiasaan bahwa orang-orang yang dekat dengan mereka adalah orang-orang ”baik” yang tidak mungkin melakukan kejahatan. Apalagi sekarang melawan delapan orang sekaligus. berada. Padahal kadang sebaliknya. Dan juga dari kesan yang ingin ditampilkan oleh orang itu sendiri. tidak apa-apa. nenek Po.

”Hehehe. sehingga jalannya ke arah Hek-Mo terbuka. Sudah tidak tahan lagi ia untuk berkata-kata. Dan mungkin pula dengan nyawa nenek Po. Hampir membuatnya tak bisa bernapas sebelum bergerak ke sana-ke sini. Ia mengerti bahwa pesan itu harus dialamatkan pada orang itu. Hek-Mo menjadi marah. dan kelihatannya harus ditebus dengan nyawanya. Gerengannya itu sudah melambangkan kekesalan hatinya akan kakek Gu. Tanpe membuang waktu. TATO Pertempuran mati-matian mempertahankan nyawa tak dapat dihindari. Belum saatnya terbacok golok atau terpukul kepalan Su-Mo. Waktu. Ia berusaha menghalau hujan pedang dan pukulan ke sana kemari. biar kakiku bisa mampir lagi ditubuhmu!” ejek kakek Gu yang sudah kepayahan terpukul beberapa kali. Adanya ketujuh rekannya membuat nyalinya sedikit berkembang. Dulu sekali dikalahkan dan saat ini pula kakek Gu masih tampak berdiri dengan gagah di tengah-tengah kepungan kedelapan orang itu.344 BAGIAN 6. Kakek Gu pun mengangguk. Kakek Gu harus bergerak ke sana dan kemari untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal selembar itu. Paling kesal padanya. Tapi misinya harus dituntaskan. bagus datanglah Hek-Mo. Ia pun maju mendekat sambil membantu rekanrekannya menyerang kakek Gu semakin gencar. ”Hei. kakek Gu mengempos tenaganya. berbicara sambil bertempur itu akan membahayakan dirinya sendiri. Samar seperti asap. ia harus berkata-kata yang pedas. di antara hujan serangan. anggota Su-Mo yang paling berangasan dan beremosi. atapun kena gebug pukulan dan tendangan Empat Begal Hutan. Hek-Mo! Hanya sampai sini saja kepandaianmu?” ucap kakek Gu merendahkan. Mendengar itu. Untuk membuat lawannya itu tidak lagi waspada memelihara batinnya. Orang yang paling membencinya. demi melihat kelebatan pukulan dan bacokan silih berganti di sekelilingnya. Tiba-tiba tampak sekelebat bayangan nenek Po. Ia menunjuk-nunjuk kepada Hek-Mo. Untuk saja belum ada bacokan golok yang bersarang di tubuh- . Walau ia sendiri sadar. Satu hal itu yang kiranya agak sulit diharapnya sekarang. Lalu sebagai siasatnya agar Hek-Mo emosi. Ia masih perlu waktu untuk sesuatu. sontak Hek-Mo mendelikkan matanya dan mulutnya menggereng-gereng. sehingga paling mudah dirasuki.

345 nya. Lama semua itu dirasakan oleh Hek-Mo berlangsung. ia juga seakan-akan dapat melihat semua yang diceritakan kedua orang itu. Serunpun energi hangat terasa mengalir masuk menggelapkan pandangannya. Suatu titik di atanara kedua mata. tapi juga kedua tangan kakek Gu yang memegang kepalanya. bahwa ia tampak termangu-mangu atas tekanan kedua jari jempol kakek Gu yang sudah bersimbah darah pada tengah-tengah kedua matanya. Suatu serangan yang berbahaya. Sekali lagi mengangguk kakek Gu pun bagai menyongsong sabetan atas ke bawah dan bawah ke atas dari Hek-Mo. Menyentuhkan kedua ibu jarinya pada titik di atas hidungnya. ”Cakkk!!! Crakkk!!” kedua golok itu mendarat dengan ganas di tubuh kakek Gu. Sabetan Serong Atas Bawah Dua Golok. Satu di pundah menuju dada dan satu di bawah ketiak menuju leher. Bermacam-macam keterangan masuk ke dalam kepalanya. selain kedua goloknya yang seakan-akan terjebit oleh dagingn dan tulang yang dibelahnya. Telinganya bagai mendengar kakek Gu dan juga nenek Po bercakap-cakap kepadanya. Matanya tampak tertuju pada sebuah titik di antara kedua mata Hek-Mo. Saat Hek-Mo berpuas diri melihat darah yang mengalir pelan dari kedua tempat di mana kedua senjatanya bersarang. Dan bukan hanya itu. Umumnya ia tidak menggunakan dua golok. Sabetan menyilang. yang kemudian . anggota paling berangasan dari Empat Setan (Su-Mo). ”Grrrrggghh!!” mengerang Hek-Mo sambil melompat membacok dua kali dengan dua goloknya. tapi hari ini entah kenapa ia mencoba menggunakan ilmu baru yang menggunakan satu golok di tangan kanan dan satu di tangan kiri dengan arah pegang yang berbeda. Bukan saja karena ternyata kakek Gu belum mati. Menceritakan banyak hal dari suatu jaman ke jaman lain. walaupun rekanrekannya hanya melihat kurang dari sejurus dua. Matanya tetap lekat ke titik yang tadi diperhatikannya. tiba-tiba ia menjerit ngeri. Satu ke atas satu ke bawah. Suatu jurus dari Hek-Mo. tapi kakek Gu seakan-akan tidak memperhatikannya. Dan ia pun melihat bahwa bayangan samar nenek Po juga telah siap di belakang Hek-Mo.

Walaupun berangasan Hek-Mo adalah sosok seorang yang setia. Pada kebanyakan orang. Kerjanya yang ulet dan rajin membuatnya disukai banyak orang. Tidak dengan Gu Yo. Setelah sunyi dan tiada orang lagi di sana. Tapi ia gembira bahwa HekMo tidak tinggal nyawa di tangan kakek Gu. Barulah umumnya belakangan diketahui dari hasil kerjanya. menggapai kedua sosok yang telah tiada bernyawa itu. Bersamaan dengan itu kembalilah kesadaran Hek-Mo. TATO disusul dengan runtuhnya tubuh kakek Gu ke atas tanah setelah tak bernyawa lagi. tampak sekelebat bayangan putih tiba di sana. . ia bergerak ringan bagaikan tak menapak. Menentengnya dengan ringan dan membawanya pergi dari sana. Dengan tak berkata-kata kedelapan orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. sehingga ia bisa menjawab pertanyaan Huang-Mo. Dan sikap ini cocok dengan Ma She. Ia sendiri tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. sang kepala koki di tempat itu. bahwa sang pelaku tidak benar-benar mengerti apa yang ditugaskan. Setelah memandang sebentar dengan sorot mata yang sedih akan tetapi tenang. Satu tersungkur bersimbah darah dan satu terduduk damai. ”Mari kita pergi!” ajak Huang-Mo kepada rekan-rekannya.346 BAGIAN 6. Seorang tua dengan pakaian berwarna putih yang sederhana. tampak banyak berbicara dan sering menyuruh-nyuruh Gu Yo serta juga mengajari berbagai hal. biasanya hanya mengangguk-angguk walaupun sebenarnya tidak seratus persen mengerti. yang dihiasi dengan ramput putih panjang yang dibiarkannya tergerai. Membiarkan saja kedua orang tua yang telah menjadi jenasah tergeletak di sana. ia tidak mau melakukan pekerjaannya sebelum benar-benar mengerti. Ma She yang biasanya jarang berbicara. Dan itu amat disayangkan oleh Huang-Mo apabila rekannya itu sampai tewas dalam pertempuran yang baru saja berlangsung. *** Tak terasa sudah seminggu Gu Yo bekerja di Kedai Daging Bakar milik Yok Seng. Ini mungkin karena pemuda itu mudah mudah diajari dan langsung bertanya apabila penjelasan yang diberikan Ma She tidak dimengertinya.

Tidak biasanya ia tertarik pada cerita-cerita yang beredar. Biasanya pemuda itu tampak tak acuh dan mendengar ceritanya sambil lalu saja. Ia merasa . Selain karena ada urusannya dengan nona Swee Sian Lin dan inspektur San Cek Kong.. juga sulit. Orang yang dicari tampak sedang menimba air dari sumur yang berada di belakang bangunan utama Kedai Dagin Bakar. bahwa orang yang dikaguminya ingin mendengar ceritanya dengan antusias. bahwa tidak diketahui apakah terdapat korban ataukah tidak. Itung-itung sebagai hiburan. Ada apa?” sapa Gu Yo saat melihat bahwa pemilik suara yang mencari-cari dirinya adalah Ma Siang.... engkau Ma Siang.. ”Ada apa memangnya? Ceritakanlah Ma Siang. bahwa ada kasus baru lagi?” tanya Ma Siang dengan jenaka.!” pinta Gu Yo. Bukan buru-buru memberikan penjelasan. Eh. Gembira Ma Siang melihat bahwa Gu Yo tertarik dengan kisahnya. Ia sebenarnya tidak terlalu berminat dengan gosip-gosip yang sering beredar di tengah-tengah para pegawai di tempatnya bekerja. Kala ini berbunga-bunga hati dara itu. di mana orang menemukan tato segar lain yang masih meneteskan darah. Usai mendengar cerita Ma Siang.. cukuplah mendengar dan tidak menyebarkan lebih lanjut. Gosip-gosip yang kadang tidak jelas sumbernya. Tapi untuk sama sekali tidak tertarik. Untuk kasus yang satu ini. Tugas titipan mendiang gurunya. keponakan dari Ma She.347 ”Gu Yo. Dengan gayanya yang khas kemudian Ma Siang pun menceritakan peristiwa yang terjadi di bagian lain kota Siaw Tionggoan itu. orang dari mana tato segar itu dikeletek.! Dimana kamu. tak dapat disangkal bahwa ia amat tertarik. juga karena ada kaitannya dengan tujuannya datang ke kota Siaw Tionggoan ini.?” tiba-tiba terdengar panggilan orang.” jawab Ma Siang pendek sambil senyum-senyum saat melihat Gu Yo telah tumbuh minatnya untuk tahu lebih lanjut. Paling tidak. ”Tidak. Dan sama dengan keadaan sebelumnya. kasus apa maksudmu?” tanya Gu Yo balik.. ”Eh. ”Kamu tahu tidak. ia malah ingin membuat Gu Yo semakin penasaran.. ”Itu kasus yang mirip kasus yang terjadi di Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.. Gu Yo pun bergegas pergi.

*** ”Manusia. mendarat dengan debam berat pada suatu tempat di ujung masing-masing makam. tongkat yang digunakan itu pun meluruh menjadi serbuk-serbuk halus dari tangan orang itu. ”Gu Ming.” ucap seorang tua berambut panjang putih yang tampak baru saja membuat dua buah kuburan baru. Po Ting Hwa. Setelah selesai. Panggilan Ma Siang tidak dihiraukannya. *** . Aku bakal menyusul tak lama lagi. Menyebar ditiup angin.” ucapnya kepada kedua makam tersebut. Lalu ia dengan masih menggunakan tongkat yang sama menggerakgerakkan tongkatnya. Sederetan huruf yang membentuk kalimat telah dipahatkan di sana. Dua buah batu besar tersebut terungkit dan kemudian terlempar. Dua buah gundukan tanah baru tampak di hadapannya. Usai perkataan itu. TATO ada hal yang harus ditanyakannya kepada nona Siaw Sian Lin. orang tua berbusana putih berambut putih tergerai itu bergerak dengan ringan dan hilang menuju barat. ke arah di mana kota Siaw Tionggoan berada.348 BAGIAN 6. Jika tidak terhadap dua masalah utama: harta dan kekuasaan. Entah apa ada hubungan antara keduanya. dan angin bercuitan terdengar bersamaan dengan debu yang mengepul di sekitar salah satu batu penanda makam. bagaikan memang telah datang waktunya. yang tampak jengkel dan menjejakjejakkan kakinya karena ditinggal begitu saja sehabis bercerita panjang lebar. Tak menunggu lama kemudian ia ”menulis” lagi untuk batu penanda makam satunya. sampai akhir pun tidak dapat melepaskan ketergantungannya. Hal yang berkaitan dengan misinya dan juga kemunculan kembali tato-tato segar tersebut. Dari jarak dua tombak lebih. pastilah pada janji-janji dan rahasia masa lalu. yang dicungkilnya dengan tongkat yang baru saja digunakannya untuk menggali dua buah kuburan itu. Dengan bagai tanpa tenaga ia mengambil dua buah batu sebesar kerbau dewasa. semoga Sang Pencipta menerima jiwa kalian berdua dan tenteram di alam sana.

Baik yang kesalahannya sudah banyak dan menjadi buronan paturan. Ruang Hijau adalah ruang yang berada tidak di tengah-tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To melainkan jauh di balakang. Jika ingin menegakkan keadilan. Aku akan menemuinya. Tapi katanya penting. Siapa lagi jika bukan Ceng-Liong Hui-To sendiri. tidaklah dapat dikatakan indah.” ucap seorang pelayan wanita kepada seorang dara yang sedang bekerja di mejanya. Di saat itulah Ceng-Liong Hui-To memutuskan untuk menghilang. ”Gu Yo? Baiklah. Ketidakbaikan sumber suatu benda yang dikumpulkan kadang dapat menular kepada sang pengumpul. tegakkan saja tanpa ada embelembel sesuatu yang akan diterima. sampai suatu waktu seorang Eremit (petapa) menasehatinya. Suatu tato dari sang penjahat dalam kasus ini. nona!” ucap sang pelayan yang segera mohon diri untuk menjemput sang tamu dan mengantarkannya ke Ruang Hijau. ”Baik. Ceng-Liong Hui-To sempat juga menjadi kejam dengan mengumpulkan tato-tato dari musuh-musuhnya para penjahat. yang kemudian . membuatnya ketagihan untuk membunuh penjahat bertato. yang baru mulai meniti karir. Akan tetapi lama kelamaan ia menyadari bahwa sesuatu yang indah akan tetapi bersumber dari hal atau orang yang tidak baik. dan menyarankan untuk menghentikan hobinya itu. Sebuah ruang yang diperuntukkan bagi karya-karya yang berkaitan dengan orang yang namanya digunakan bagi rumah tato itu. ada seorang pemuda bernama Gu Yo yang mendesak ingin bertemu. Antar ia ke Ruang Hijau!” ucap gadis itu saat mengenali nama yang disebutkan oleh pelayannya. suruh saja ia masuk. Tato-tato itu disimpannya karena ia merasa sayang karya seni yang indah harus hilang dengan terbunuhnya sang penjahat. Dalam hal ini Ceng-Liong Hui-To menjadi tertulari untuk kerap mengumpulkan tato. Di rumahnya itulah koleksi tato-tatonya ditemukan. ataupun penjahat-penjahat muda. Menyepi dan menyucikan hati dan pikirannya.349 ”Nona Sian Lin. Kebiasaannya ini pun berlanjut. Saya sudah bilang bahwa ia harus buat janji terlebih dahulu. Membalik-balik beberapa buah buku dan menuliskan sesuatu pada kertas-kertas di atas meja.

Gu Yo. Disusun sedemikian rupa sehingga kedua burung tampak saling berhadapan satu sama lain. Gu Yo. Lamunan gadis itu terhenti saat sebuah ketukan lembut terdengar pada pintu Ruang Hijau. ”Masuklah!” ucap sang dara pendek. . Untuk mengenang sang pahlawan. begitu!” sahut pemuda itu. Sedang tato burung merak berwarna putih digoreskan di atas kulit manusia berwarna gelap. hitam atau coklat tua. Tato sepadang burung merak. Dari kulit yang melatar belakangi kedua tato tersebut dapat disimpulkan bahwa keduanya berasal dari dua orang yang berbeda. Orang yang ingin menemuinya. Koleksi yang yang salah satunya merupakan pasangan tato segar yang ditemukan di rumah itu beberapa hari yang lalu. Koleksi langka yang oleh sebagian orang dianggap bersejarah dan berharga. Menyesalkan insiden yang terjadi di tempat kerjanya itu.” ucap gadis itu menghela napas. Suatu kontras telah direncanakan. saat itu kami hanya menampilkan separuh saja. putih atau kuning. Sang pahlawan yang kemudian menghilang tak diketahui rimbanya. TATO oleh penjabat kota Siaw Tionggoan dijadikan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Di sana tampak seorang pemuda. setelah kesunyian lama mengisi jeda antara perkataan keduanya. Suatu estetika berdarah yang padu. ”Tahukah kamu. agar cocok dengan tema di kanan dan kiri tato burung merak putih. Tato burung merak berwarna hitam digoreskan di atas kulit manusia berwarna cerah. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya kepada dua buah tato yang tampak terbingkai dengan indah di dinding di hadapannya. ”Oh. Entah mengapa hari itu Sian Lin ingin melihat lagi koleksi-koleksi tato-tato kumpulan atau tepatnya kletekan Ceng-Liong Hui-To. ”Betul.350 BAGIAN 6. ”Bukankah saat itu tato burung merak hitamnya berbeda?” tanya Gu Yo saat melihat kedua tato yang sedang dipandangi oleh gadis itu. bahwa syair mengenai kedua tato ini?” tanya sang gadis tiba-tiba. Sang pahlawan yang gundah hatinya karena dinodai oleh napsu mengumpulkan sesuatu. Tak disangka bahwa ada orang yang menempelkan pasangannya yang masih berdarah. putih dan hitam.

”Betul. merendahkan diri selalu. ”Deru pun perlahan melembut. Menghilang. Tak perlu aku repot-repot mengajak Sian Lin mencarimu di kedai paman Yok Seng di sana. Sunyi dan sepi.” jawab Gu Yo sederhana.351 ”Syair untuk kedua tato ini?” tanya sang pemuda. Dan jiwa pun tenteram kembali. Senyap. melihat bahwa Gu Yo telah mengetahui akhir dari syair yang dilantunkannya itu. Sang gadis tidak menjawab melainkan melantunkan sebuah syair.” ”Begitulah orang berilmu.” Tampak rona malu merekah di wajah sang pemuda begitu mendengar pujian sang dara. Guratan di atas kulit nan indah. memang itu judulnya.” ucap gadis itu kemudian. ”Di sana disebut memiliki judul ’Pembicaraan Angin’. Ucapnya lugas.” ”Hei.. Mengekang nafsu. dari mana engkau tahu syair itu?” tanya Sian Lin kaget. ”Dari buku-buku. aku hanya senang membaca saja. ”Tok-tok-tok!!” tiba-tiba suara ketukan cukup keras mengagetkan keduanya yang sedang dalam alam pikirannya masing-masing.” .” Yang dilanjutkan oleh sang pemuda. Lega. Menegaskan guratan-guratan mistis. ”kebetulan Gu Yo juga ada di sini. Menghirup keheningan. Ternyata engkau memiliki juga pengetahuan di bidang ini. Darah menetes lembut. Pintu yang tidak tertutup menampilkan sosok inspektur San Cek Kong di tengah-tengahnya. Lepas.” Sang gadis mengangguk membenarkan. Secarik kulit dicabik halus.. Suasana hening pun mengisi ruang di antara mereka. Menghela napas.. Tato. ”Setelah semuanya berakhir. ”Tidak. Ia tampak tersenyum saat melihat Gu Yo dan Swee Sian Lin berada di tempat itu.

. yang sudah tentu membuat wajah bingung Sian Lin semakin kentara terlihat..” usul temannya.. Ke suatu tempat di mana suatu peristiwa baru saja terjadi hari itu. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. ”Apakah maksud kedatanganmu di sini adalah untuk menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan peristiwa yang baru saja terjadi di bagian lain kota?” Gu Yo hanya mengangguk mengiyakan. terutama Sian Lin. marilah kalian ikut aku ke bagian selatan kota. San Cek Kong tampak puas mendengar jawaban itu. TATO ”Eh. Lalu katanya. keduanya pun mengikuti inspektur San Cek Kong ke suatu tempat di bagian selatan kota Siaw Tionggoan... kita toh tidak mau merusah barang yang kita cari bukan?” jawab rekannya. ”jika demikian. ”Kita congkel saja.. *** ”Cepat gali!” seru seseorang pada rekannya yang tampak sedang mencangkul-cangkul sesuatu dengan tangannya di dalam lubang di mana mereka berdua berada.” ucapnya. ada apakah Cek Kong-koko? Ada perlu apa kita dengan Gu Yo sampai mencarinya?” tanya dara itu seusai mendengar ucapan inspektur Sang Cek Kong. ”Ya. pertama-tama aku ingin dulu bertanya pada Gu Yo. atau potong. Pasti kain pembungkusnya. ”Sabar!! Ini sudah cukup dalam. ”Aha!!” seru orang kedua kemudian setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar garukan-garukan pada tanah.” jawab rekannya itu.” Dengan penuh tanda tanya. ”Dapat?” tanya orang pertama. ”Nanti kujelaskan. agak liat..352 BAGIAN 6. Ia sedang meraba-raba apakah lubang yang mereka buat itu sudah cukup dalam sehingga hampir menyentuh barang yang terkuburkan di sana. Lalu keduanya mulai membersihkan tanah di bawah lubang di mana .

”Cepat cari bagian itu. Tak ada darah tertumpah karena sang empunya tato telah lama bepulang.. Sinar bulan yang memantul dari padanya mengisyaratkan kirakira sudah berapa banyak darah atau sosok manusia yang disentuhnya.” terdengar ucapan salah seorang dari mereka. Rekannya hanya mengiyakan mengangguk. Satu berwarna meran dan satu berwarna biru. agar kulit bertato itu awet dan tahan tidak membusuk. tongkat kayu yang mereka bawa diungkit sehingga lipatan-lipatan kain di bawahnya dapat terangkat. Malam yang diterangi bulan purnama.. yang segera menyimpannya dalam lipatan sebuah kain yang telah dibubuhi bubuk dan cairan tertentu. tampak di dalamnya sesosok tubuh seorang perempuan tua. seperti telah biasa.. ”Tato kelompok Naga Merah dan Naga Biru. Lalu tanpa menunggu perkataan..” ucap rekannya sambil menyelipkan bungkusan kain tato tadi ke dalam tas di punggungnya.!! Kita tak punya banyak waktu. Keduanya tampak jelas diukirkan di atas kulit pucat sang empunya. Wajah seorang yang seakanakan telah siap menerima hari kematiannya. Dengan santai. Setelah dibuka peti yang berada di bawah kaki mereka.” ucap salah seorang dari mereka.353 mereka berada dan mulai mencongkel-congkel kain liat yang melandasinya. akhirnya mereka menemukan di salah satu lengan bagian atasnya sebuah tato. orang itu menyayat kulit di mana terdapat tato tersebut. Sang penyayat mengangsurkan hasil kerjanya kepada rekannya. sebuah peti mati yang belum lama ditanam.. masih ada satu lagi yang harus diselesaikan. Kedua tangannya dilipatkan di depan dadanya.. Untuk dioleh lebih lanjut tentunya. . Tak lama kemudian setelah mendapatkan pijakan. Setalah memeriksa di bagian kedua tangan jasad itu. Ia tampak tertidur dengan damai. Bau busuk pun segera menyerbak memenuhi udara malam itu.. ”Cepat.. Tak lama selesailah pekerjaan itu. ia mengeluarkan pisau dari sakunya. Tato dua buah naga yang sedang saling berbelit. Suatu pisau yang tajam.

*** ”Ma Siang. ”Hmm. Suatu tato yang umumnya diukirkan di punggung yang empunya. Dibolak-baliknya kumpulan kertas-kertas yang baru diperolehnya itu.” jelas sang paturan pembawa berita. inspektur! Tapi bagian ketertiban fasilitas umum meminta saya untuk menyampaikan salinan dari kejadian itu kepada anda. Sambil tak lupa membuat di sana-sini catatan-catatan kecil. di mana dan mengapa engkau beritakan kepadaku? Bukankah itu kerja dari bagian lain? Bagian ketertiban fasilitas umum?” tanya sang inspektur yang sedang menuliskan sesuatu pada buku di depannya. dia adalah pakar dalam bidang ini. Seseorang dengan tato sebuah naga hitam yang sedang menjaga mutiara.. Kasus yang sedang ditanganinya. ”Terima kasih!” katanya sambil menerima salinan laporan tersebut.. Dibacanya dari depan ke belakang dan diulangnya lagi. TATO Rekannya mengangguk. Suatu makam baru pula. yang di dalamnya terdapat seseorang. Tato dari kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara.” gumamnya hampir tak terdengar. Mendengar kata ”tato”. *** ”Inspektur San Cek Kong. Berkaitan dengan dugaan bahwa bagian jasad yang dirusak kemungkinan besar merupakan tato. Tanpa menimbun kembali kubur yang telah dibuka itu. ada laporan mengenai makam tanpa nama yang dibongkar!” ucap seorang paturan kepada paturan lain yang sedang tampak bekerja di mejanya. ”Hmmm. ”Betul. keduanya pun kembali sibuk bekerja menggali lubang lain di sebelahnya. kemarilah!” ucap seorang pada seorang dara yang tampak sedang mencuci sesuatu pada pancuran dekat sungai kecil di belakang bangunan itu. ”Ah. perlu ketemu Sian Lin lagi kiranya.354 BAGIAN 6. sontak San Cek Kong menjadi tertarik karena hal itulah yang sedang menjadi pikirannya sekarang. Gu Yo! Ada apa?” jawab gadis itu sambil segera meninggalkan .

Begitu yang diceritakan orang-orang kepada Gu Yo.. karena ingin melihat nona Sian Lin. ”Tapi apa untungnya buatku? Kalau kamu pastilah. Lain halnya jika Ma Siang. Dan suatu saat harus dibalas.” ucap Gu Yo cepat. Selain itu juga karena orang tua Ma Siang telah tiada. temani aku ya ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To! Tapi engkau yang mintakan ijin ke pada paman Ma She.!” mohon Gu Yo. ”Tolong ya. Ia tahu jika ia minta ijin langsung. Ya. aku hanya ada urusan sedikit. Ini disebabkan Ma Siang adalah keponakan dari Ma She.355 pekerjaannya dan menghampiri pemuda yang memanggilnya. Kelihatannya ada sesuatu yang direncanakannya untuk ”pembayaran” dari pertolongannya ini. ”Huss! Tidak ada apa-apa. ”Ayo kita pergi!” ucapnya gembira. Ada sedikit nada tersaingi dalam suaranya.. ”Tolong ya?” mohonnya lagi.” ucap pemuda itu. gimana?” ucap gadis itu nakal. Tersaingin dengan nama yang baru disebutnya itu. kemungkinan besar tidak diberikan tanpa alasan yang jelas. kalau apa urusannya sama aku?” tanya Ma Siang pura-pura tak tahu. ”Baik. Ia sempat berpikir panjang karena terdesak dengan keinginannya untuk mencari tahu sesuatu. toh Ma Siang kelihatannya tidak akan minta yang macam-macam.. Wajahnya tampak cerita. Tapi jangan aneh-aneh ya?” pinta Gu Yo. Apalagi apabila kesempatan itu akan dihabiskannya dengan pemuda . tapi artinya engkau hutang satu kali padaku. baiklah. menandakan bahwa ia telah memperoleh ijin dari pamannya. Biarlah nanti saja. ”Eh. ”Lho. ”Eh. Tak lama kemudian tampak Ma Siang kembali dari bangunan itu. Setelah tuntutannya diiyakan oleh Gu Yo lalu dengan segera Ma Siang berlalu dari sana sembari membawa pekerjaannya yang memang sudah hampir selesai saat pemuda itu memanggilnya. kan?” ucap dara itu. Apa sih yang dapat dimintanya dari seorang pemuda sepertinya yang tidak punya apa-apa. yang bahkan telah dianggap anak karena Ma She sendiri tidak berketurunan. siapa yang tidak gembira mendapatkan kesempatan untuk berjalan-jalan di hari yang cerah ini..

”Gurame Bakar dan nasi. ia pun didatangi oleh seorang pelayan untuk ditanyai apa pesanannya. Lebih cepat ketimbang menggunakan jalan besar yang penuh orang dan kendaraan. Jika saja dulu ia tahu. Dan kemudian terdiam. itu saja pesanan makanannya. di mana tak jauh dari sana terdapat Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.” jawab dara itu pendek. berkaitan dengan pengetahuannya mengenai jalan-jalan tikus itu. Harus hati-hati dalam menyeberang dan menyusurinya. keduanya dapat dengan cepat tiba di jalan raya. BAGIAN 6. tau dari mana engkau jalan-jalan seperti itu. Orang itu hanya mengangguk. Setelah duduk di suatu sudut ruangan. Gu Yo. Sang pelayan kemudian meninggalkannya untuk meneruskan pesanan itu ke dapur. Terlihat ada yang tidak ingin diceritakannya. tampak orang-orang berseliweran. pastilah ia menggunakan jalan-jalan itu. Memasak. Ma Siang?” tanya Gu Yo ingin tahu. Di dapur dengan kesibukan yang biasa. ”Eh. Ia pun kemudian lebih memilih diam sampai mereka tiba di depan Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To.356 yang dikaguminya.” ucapnya pendek. Tempat yang ingin dituju oleh Gu Yo. ”Minumnya teh?” tanya sang pelayan lagi. ”Aku tahu dari paman Ma She. karena pertanyaan basa-basinya malah membuat suasana di antara mereka menjadi tidak enak. Gu Yo tidak bertanya lagi. TATO Lalu keduanya pun berlalu dari halaman belakang Kedai Daging Bakar. *** Seorang berbusana putih dan ramput putih panjang digerai tampak memasuki Kedai Daging Bakar. Dan juga . Dengan menggunakan beberapa jalan tikus yang terdapat di antara rumah-rumah bertingkat dua atau tiga. yang lebarnya hanya kira-kira dua meteran dan umumnya becek dan gelap. memindahkan bahan-bahan makanan.

357 meneriakkan pesanan-pesanan. 3 siung bawang putih. 8 butir kemiri. * Lumuri bumbu ini sampai merata pada dua belah sisi ikan gurame yang setengah matang tadi. Cara Membuat: * Bersihkan ikan terlebih dahulu. * Hidangkan dengan menaburkan irisan cabai merah. Di mana ikan-ikan agak sulit untuk didapat sehingga mahal harganya. kunyit. irisan tomat dan jeruk nipis. ”Gurame Bakar satu porsi!” teriak seseorang. Hanya kokikoki yang sudah cukup senior yang bisa. Tidak biasanya ada pesanan ikan di Kedai Dagin Bakar. * Bakar ikan tersebut di atas bara api yang kecil sampai setengah matang. Buat 2-3 guratan di setiap sisi badan ikan agar bumbu dapat masuk dan panas dapat masuk. Untuk itu ia harus terlebih dahulu membaca cara memasaknya. Sang koki yang mendapat giliran pun menjadi ragu-ragu. Tak lama kemudian ia kembali. sehingga ikan tetap utuh. Seorang koki yang sedang kebagian untuk memasak makanan itu agak terdiam. kemiri. * Buat bumbu dengan menghaluskan bawang merah. Campur irisan tomat dan aduk sampai merata. Ma She. dan akhirnya 2 buah jeruk nipis (lemon). Wajahnya cerah. ”Bakaran Ikan”. Kemudian bakar lagi ikan tersebut di atas bara api. garam dan merica. merica secukupnya. bawang putih. Terutama pada musim-musim ini. * Lumuri ikan dengan garam dan merica secukupnya dan biarkan sekitar sepeminum teh agar bumbu dapat terlebih dahulu meresap. cabai rawit. 1 buah tomat kecil (diiris). 4 buah cabai rawit merah. Oleh karena itu tidak semua orang bisa dengan mudah memasak ikan gurame bakar. 1 batang (2 sampai tiga ujung kuku) kunyit. Lebih baik ia menanyakan hal itu kepada atasannya. 6 butir bawang merah. Termasuk Ma She sang koki kepala. Jangan lupa untuk dibolak-balik lalu angkat. Ma She memperbolehkannya memasak ikan gurame. Bahan: 1 ekor ikan gurame ukuran sedang-besar. garam secukupnya. . sedang sampai matang dan sesekali oleskan dengan bumbu yang masih tersisa. Tertulis di judulnya. Buang sisik dan isi perutnya tetapi hati-hati. Dicarinya sehingga sampai pada suatu halaman dengan judul ”Gurame Bakar”. Diambilnya sebuah buku berwarna hitam dan kertas yang sudah dikotori bumbu masak di sana-sini.

betul! Dan anda? Anda orang yang memasaknya?” ”Bukan. Saya bertanggung jawab kepada pekerjaan anak buah saya. menyebutkan . tuan! Tuan tadi mengeluhkan cara memasak Gurame Bakar kami?” tanyanya sopan. Tiba-tiba datang Ma She menghampiri koki yang baru saja selesai membuat hidangan itu. ”Maaf. ”Terima kasih!” jawabnya pendek dan bangga.” jelasnya. TATO ”Hmmm. melihat-lihat pemandangan di hadapannya.. bertanggung jawab terhadap pekerjaan bawahannya. Sedangkan ia sendiri segera beranjak ke luar untuk menerima keluhan dari sang tamu.” jelas Ma She sederhana. Pelayan yang menyajikan pesanan itu kembali lagi dengan ikan gurame bakar itu. Ia kemudian mengikuti petunjuk yang tertera dalam buku resep itu. Ia memeriksa dengan teliti apa-apa yang telah siap disajikan itu. Orang itu tampak sedikit kaget karena terganggu lamunannya. tidak terlalu sulit rupanya. Gurame Bakar tidak seperti ini. Bagai berbicara sendiri orang itu kemudian menyerocos. Tampaknya ia mendapat teguran dari pelanggan yang memesan masakan itu. Oleh pelayan tadi ia ditunjukkan meja tempat orang tua berambut putih dengan busana putih itu sedang duduk. ”ah.. Menandakan bahwa ikan tersebut telah siap untuk dihidangkan. saya adalah koki kepala. ”Bagus!” pujinya. ”Kata sang pemesan. Pucat wajahnya. Dengan tenang ia memberi syarat agar koki yang memasak masakan itu untuk tenang. Orang itu tampak sedang melamun sambil memandang keluar. Langkah per langkap diikutinya dengan teliti. Tapi sayangnya kebanggaanya itu tak berlangsung lama. Ma She sebagai seorang koki kepala.. Tak lama kemudian harum semerbak ikan gurame bakar pun mengembang di udara. Mengembang hidung sang koki mendengar pujian atasannya.358 BAGIAN 6.” gumamnya. Ia pun mengangguk puas..

setelah tahu bahwa orang tersebut adalah kawannya dulu. Biar ia tidak terlalu sedih. ”Eh.” kata Ma She sambil menekankan kata-kata terakhir dari ucapannya itu.. Sekaligus berbincang-bincang..” ucapnya sungguh-sungguh. ”Tuan Ceng Liok!” jawab Ma She sambil sedikit menahan tawa.” ucap Ma She sambil masih beusaha menahan tawa.” kata-kata yang tidak sempat diselesaikannya karena orang itu mencegahnya menyebutkan nama aslinya. bahwa apa yang terjadi .. ”Ma She. berharap dapat melihat sosok dara itu.. Ceng-Liong Hui-To.. Ma She kembali ke dalam sebentar untuk memberitahukan hal itu kepada koki yang memasak tadi sambil juga menghiburnya. ”Maafkan kelakarku. Aku akan bilang. Bisa gempar kota ini bila tahu bahwa orang yang dulu pernah dianggap pahlawan tiba-tiba ada lagi di sana. Ma She yang adalah ahli memasak sampe melongo mendenger perkataan orang itu. Tidak boleh dikipasi tapi harus diputar-putarkan. Ma Siang apa kabarnya? Mana dia?” tanyanya sambil melirik ke kiri dan kanan. anda. Semoga yang tadi memasak tidak merasa tersinggung..! Sudah begitu cepatkah ingatanmu memudar?” kata orang itu sambil tersenyum. ”Eh. ”Ah.” katanya bingung. ”Ia tidak ada.. sambil mengajak Ma She untuk menemani.” ujar orang itu sambil mengedipkan sebelah matanya. tidak perlu dipikirkan. yang menunjukkan bahwa orang itu adalah juga seorang ahli masak.359 bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasask Gurame Bakar yang dikeluhkannya tadi. Ceng Liok. ”Ceng. Ma She. Sedang pergi bersama seorang pemuda. bahwa anda tuan Ceng Liok adalah guru masakku dulu. ”Panggil saja saya. Orang itu hanya tersenyum sambil kemudian meminta agar ikan gurame bakar yang tadi ditolaknya disajikan kembali. Kalau tidak salah ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Juga cara memasaknya dan bagaimana seharusnya dibolak-balik dan api yang digunakan.

Atau boleh dikatakan kebetulan sekali.” sahut pemuda itu dengan tangan mengepalkan tinju dengan erat. Sudah diolah dengan bahan pengawet. TATO hanyalah kelakar saja. Ma Siang yang berada di dekatnya tampak pula tegang dengan apa yang sedang mereka saksikan. itu adalah tato milik mereka. Diketahui bahwa kedua tato itu berasal dari orang yang berbeda. *** ”Benar. dari warna kulit yang tidak . Orang kedua terakhir ini datang kebetulan pada saat yang tepat. Sedangkan tato satunya lagi adalah sebuah naga berwarna hitam yang sedang tampak menjaga suatu bulatan putih di tengah. Kegemaran tuan Ceng Liok. Dua buah tato. Paket yang berisikan tato.. Diletakkan sedemikian rupa di dalam ruang itu tanpa sepengetahuan orang lain. Usai kaget saat mendapati paket yang ditujukan pada dirinya itu. Pertanyaan inspektur San Cek Kong yang diajukan kepada Gu Yo sebenarnya tidak terlalu sungguh-sungguh. Lengkap dengan sayur-mayur tertentu. Baru pada siang itu seorang mengatakan kepada nona Sian Lin bahwa ia menemukan ada paket untuk nona tersebut. Tak lama kemudian masakan yang tadi kembali dihidangkan. Suatu mutiara. tampak sebuah bungkusan yang baru saja diantar oleh orang tidak dikenal. Di sana di dalam ruang tengah Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To. Tapi siapa nyana bahwa pemuda itu mengenalinya dan bahkan tahu atau pernah bersama dengan kedua orang pemilik tato itu.360 BAGIAN 6. Kelakar dari guru masaknya. karena ia ragu apa pemuda itu mengenal tato yang ada di dalam kotak itu.. Tato yang merupakan ciri kelompok Naga Hitam Penjaga Mutiara. yang sudah tentu telah amat dikenal baik oleh Ma She sebagai rekannya. Bersamaan pula datang Gu Yo dan Ma Siang ke sana. Kali ini tidak lagi berdarah. Satu berwarna merah dan satu berwarna biru. Satu menggambarkan dua buah naga sedang berbelit. segera nona Swee Sian Lin menghubungi inspektur San Cek Kong yang langsung bagai terbang tiba di tempat itu. Sebuah tato yang dulu dikenal sebagai ciri dari kelompok Naga Merah dan Naga biru.

Gu Yo bilakah kau ada waktu?” tanya inspektur San Cek Kong. Saat itu nona Sian Lin yang juga tertarik tidak bisa turut disebabkan beberapa janji dan kesibukannya. yang mendasari kedua karya seni itu. Tahun ini. Begitu pikirnya. Dominannya adalah warna biru dan kelabu. menjadi lebih semarak karena bersamaan dengan itu akan datang kun- . Gu Yo sedikit berbohong. Ia dan Ma Siang sudah diberi ijin untuk berwaktu luang sampai malam nanti. ”Keduanya pernah merawatku saat luka parah.” jelas Gu Yo. Suatu keyakinan kuno kota Siaw Tionggoan.361 sama.” Dalam kalimat terkakhir ini. dan juga yang menyebabkan angin dan air bergerak. Sebaiknya ia rahasiakan dulu apa-apa yang kelihatannya belum terkait. Ada kemungkinan bahwa tato ini berasal dari kedua orang tersebut. ”Dan entah dari pembicaraan apa. Ia tiba-tiba teringat akan jasad dua orang yang dirusak sebagian tubuhnya. inspektur San Cek Kong kemudian mengajak keduanya untuk membantunya melakukan identifikasi dari jasad tanpa nama yang dirusak orang tersebut. Kulitnya dikletek. Semua orang bergembira dan menghiasi rumah-rumah mereka dengan lampion-lampion warnawarni. Paling tidak bisa mengetahui siapa kedua jasad tanpa nama itu. Mendengar itu. setelah genap empat tahun dari perayaan terakhir. Ia belum tahu apakah ada kaitan antara misinya dengan kejadian ini. Warna yang diyakini menjadi warna yang terdapat dalam angin dan air dan bendabenda yang bergerak akibat angin dan air. Lalu pergilah mereka bertiga dituruti beberapa paturan ke lokasi tempat makam tanpa nama itu berada. Untuk itu ada baiknya bila Gu Yo yang mengenal kedua tato itu bisa membuktikan bahwa kedua jasad itu adalah pemiliknya. Sebenarnya perayaan Musim Angin dan Air adalah suatu perayaan musiman yang biasa dilakukan empat tahun sekali di kota tersebut. tahu-tahu mereka menunjukkan tato yang mereka miliki. ”Baiklah. Gu Yo lalu menyatakan bahwa saat ini juga. *** Perayaan Musim Angin dan Air pun tiba.

Akibatnya hampir semua penginapan telah dipesan atau didiami. Di suatu lapangan agak ke tengah kota. umumnya . Yang masih ingin melancong-lancong ke daerah-daerah lain telah memesan terlebih dahulu. Orang-orang yang tidak diundang dapat pula datang sebagai penontong. Hari itu Kedai Daging Bakar benar-benar panen rejeki. Yang sudah ingin berada di kota tersebut. Tamu-tamu datang selalu silih berganti memenuhi tempat-tempat duduk yang ada. sang pemilik Kedai Daging Bakar tampak tersenyum puas. Hanya saja mereka harus berada pada jarak yang cukup jauh dari panggung. Benar-benar suasana yang meriah. Pembatas berupa tombak yang ditancapkan dan dihubungkan satu sama lain dengan tali berhias warna biru dan kelabu telah dipasang mengelilingi area itu. Atas usul pemuda itu pula ia mengubah sana-sini dari kedainya agar tampak lebih menarik dan terlihat luas. Seorang yang tidak kepalang gembiranya adalah Ma Siang. Tidak salah ia mempekerjakan Gu Yo. sampai bahkan ada yang harus terlebih dahulu menanti di pintu agar dapat mendapatkan meja. Agar yang menunggu ini sabar. Mendengar kabar bahwa akan datang kunjungan dari pemerintah pusat. Ia pun mengharap-harap dapat melihat tamu-tamu yang berasal dari pusat. sebagai batas terjauh penonton dapat mendekati panggung.362 BAGIAN 6. baik untuk tamu terhormat atau pun undangan biasa. TATO jungan dari pemerintah pusat. Jarangjarang ada orang dari pusat tlatah Nusantara yang berkunjung ke kota tersebut. orang-orang dari kota dan desa sekitar kota Siaw Tionggoan pun jadi merasa tertarik. telah dibangun suatu panggung megah. satu rombongan besar. Pemuda itu benar-benar dapat diandalkan. telah datang dan mendiami penginapan-penginapan yang ada. Yok Seng. Luas dan indah. Orang-orang yang ”berbeda” dengan penduduk kota Siaw Tionggoan. Di kiri-kanannya juga telah disiapkan tempat duduk. Orang-orang yang didengung-dengungkan dekat atau menjadi bagian dari penguasa negeri itu. Ia benarbenar antusias dan gembira dalam menyambut perayaan Musim Angin dan Air kali itu. Dengan harapan agar lebih banyak tamu yang berkunjung pada perayaan Musim Angin dan Air. Suatu rombongan orang-orang penting yang ingin melihat-lihat perkembangan dan kemajuan kota Siaw Tionggoan.

Berbagai suguhan dan juga penganan berdatangan diantar oleh pelayan-pelayan yang menawan. Dengan sedikit memohon pada pamannya Ma She agar ia dimintakan ijin kepada Yok Seng. Siangnya Yok Seng mendapat laporan bahwa kios Kedai Daging Bakar yang dibuka di sekitar panggung di lapangan agak ke tengah kota telah habis terjual barang-barangnya. Panggung telah dibuka. Dan salah seorang pegawainya kembali ke Kedai Daging Bakar untuk mengambil bahan-bahan baru. mereka mendapat kios yang dekat dengan tempat duduk khusus para tamu. Dengan berbekal gerobak penuh barang-barang dagangan berupa daging-daging bakar yang siap dijual. Sebagian dari . Tamu-tamu biasa berdesak-desakkan di pinggir lapangan. Dikarenakan hubungan baik antara Yok Seng dan salah seorang pejabat kota itu. akhirnya dapatlah ia pergi. Untung bagi Gu Yo dan Ma Siang. Karena tanpa Gu Yo. Hal ini sudah tentu tidak disia-siakan oleh Ma Siang. akan tetapi pandangan yang jelas ke arah panggung dan para penonton terhormat itu dimiliki oleh kedua mudamudi ini. Suatu produk samping dari bakaran daging dan ikan. tidaklah Ma Siang merasa hari itu cukup baginya. Jenis kemilan yang gurih dan lezat.363 mereka juga dihidangkan minum-minuman dan makanan kecil berupa abon kering. Benarbenar suatu penghormatan yang diberikan oleh kota Siaw Tionggoan kepada para tamu-tamu khusus tersebut. Ia benar-benar ingin menikmati hari itu bersama orang yang dikaguminya itu. Gemerlap warna-warni menghiasi sana dan sini. Sudah tentu Gu Yo pun turut. Berbagai acara pun mengalir bagai tak henti-hentinya untuk menghibur para tamu dari pusat tersebut. keduanya beranjak berangkat dari Kedai Daging Bakar menuju kois kedai yang terdapat di sekitar lapangan tersebut. orang-orang yang berasal dari pemerintah pusat. Mepet sampai batasan berupa tombak-tombak dihiasi tali biru dan kelabu. Tamu-tamu yang tampak anggun dan mewah tampak duduk di tempat-tempat khusus bagi kalangan mereka. Walaupun situasi sedikit tidak nyaman dengan banyaknya penjaga. Untungnya tidak semua tamu dan tamu khusus diberi pelayanan istimewa atau senang dengan pelayanan tersebut.

Mungkin buat oleh-oleh bagi sanak saudaranya di kota nanti. Mereka ini merasa bahwa uang mereka lebih berarti bila dibelanjakan untuk apa yang mereka inginkan dan tidak suka dipilihkan atau diberi begitu saja. TATO mereka ada pula yang jemu dengan tata cara yang bertele-tele tersebut. pastilah dari rombongan para tukang pukul atau pengawalnya. membeli apa-apa yang mereka lihat menarik dan sudah tentu cicip sana dan sini. Pembantu tersebut bukan termasuk dalam barisan pengawal. Ya. Sudah tiga-empat kios yang diborongnya. Dari golongan inilah para pedangan yang telah memiliki kios di sekitar panggung memperoleh keuntungan. Ia tampak melihat-lihat dari satu kios ke kios yang lain. Seorang pemuda tampan. Bisa jadi bila disuguhkan terusmenerus mereka merasa agak terhina karena tidak dibebaskan. Hiasan yang tidak ada di waktu lain. agak tinggi dan kurus tampak berjalan dengan lagak yang sok dianggun-anggunkan. Ia adalah seorang tua dengan kumis licin dan tipis.364 BAGIAN 6. Menelusuri keramaian. dan mungkin juga di tempat lain. langsung ia memberikan isyarat kepada seorang pembantunya agar barang itu dibeli. Orang-orang ini lebih senang ”berpetualang” sendiri. Bila ia suka. agar ia juga bisa sedikit-sedikit pamer apaapa yang ditemuinya di kota Siaw Tionggoan ini. aneh-aneh saja kelakukan orang-orang yang berkantong tebal. Dan kumpulan orang-orang kekar dan sangar yang menyertainya. Jika tidak ada dan hanya datang tamu-tamu yang maunya disuhugi saja. Dan untungnya lagi. Dan untung saja ada orang-orang yang seperti itu. dapat dipastikan bahwa ia adalah anak seorang dari romobongan dari pemerintah pusat. Dari pakaiannya yang mewah dan berwarna cerah menyolok serta beberapa rekannya yang bertubuh kekar-kekar dan tampak hormat kepadanya. tamu-tamu ”petualang” ini adalah dari golongan yang berkantong lebih tebal ketimbang rekan mereka yang ”mengemis” hidangan-hidangan serta hadiah-hadiah. Mengamatamati dan membanding-bandingkan barang yang satu dengan yang lain. Tampang seorang yang cerdik dan juga licik. Gu Yo dan Ma Siang yang sedari tadi asik memperhatikan apa-apa . rugi besar para pedangan yang telah menyemut itu. Umumnya berupa hiasanhiasan warna-warni yang khas dibuat untuk menyambut perayaan Musim Angin dan Air.

kelelawar. kura-kura. seperti kebiasaan orang di kota Siaw Tionggoan.. tapi daging sapi yang dikeringkan. Mereka masih terpesona dengan pertunjukkan yang sedang dipertontonkan di panggung. seakan-akan ia mengetahui kapan harga suatu barang terlalu mahal atau murah dibandingkan dengan kualitasnya. Tanpa terlebih dahulu memberi salam. ”Ada bentuk lain selain yang ditampilkan di sini?” Sebelum Gu Yo sempat menjawab. Hiasa berupa kepala kambing yang berasal dari dendeng kambing dan sebagainya. Suatu hiasan yang dapat dimakan. Pembantu berkumis tipis dan licin tampak sudah setia di sisinya.” Ucapan kongcu atau ’tuan muda’ digunakannya setelah sekilas melihat gelagat kepongahan pemuda itu dan juga cara orang yang didekatnya membungkuk-bungkukan diri sambil memuji-muji hiasan pilihan pemuda itu. Kagum pemuda itu pada barang-barang yang belum pernah ditemuinya itu. penjual! Berapa harganya ini?” tanyanya sambil menunju pada sebua hiasan berbentuk kera yang sedang memegang pisang. Ada kepiting. Para pengawalnya langsung mengambil posisi di sekeliling kios untuk melindunginya. ”Harga yang bagus. sampai ia melihat beberapa hiasan atau tepatnya daging bakar kering yang dibuat menyerupai berbagai hiasan. Ma Siang yang telah tersadar akan adanya tamu. Sebetulnya pemuda tersebut tidak terlalu tertarik dengan kios tersebut.365 yang sedang berlangsung tidak memperhatikan kedatangan pemuda ”pemborong” tersebut dan gerombolannya. dan juga tidak terlalu muran! Pas!” katanya. hiasan kera itu harganya dua puluh tigaan. pemuda itu langsung saja masuk ke kios Kedai Daging Bakar untuk melihat-lihat. tak terlalu mahal. Pertunjukkan ketangkasan dan sulap. Dan pisangnya berupa benar-benar pisang asli yang telah dibakar dan dihias. segera menghampiri pemuda itu. ”Kongcu. ”Hai. Ada ben- . Hiasa yang dapat berupa ular dan berasal dari daging ular kering. laba-laba dan masih banyak lainnya. segera ikut membantu. Kera tersebut bukan berasal dari daging kera.. Hiasan berbentuk ikan yang berasal dari kulit ikan yang alot dan telah kering. Gu Yo yang lebih dulu tersadar dari Ma Siang. ”Ada kongcu.

”Saya suka kuda. Akan tetapi hanya untuk yang benar-benar tertarik dan tampak mampu saja. Lalu diceritakannya perlihat hiasan kuda yang mereka punya. Hiasan yang tersusun atas daging kering dan dibentuk menyerupai anak kuda dengan ukuran sebenarnya. Mendengar hal itu tertariklah sang pemuda. Ya. Menjadikan hiasan-hiasan tersebut indah dan juga tetap layak untuk dimakan. Dengan berbekal rasa percaya saja Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar menerima dan membuat pesanan itu. seribu lima ratus tigaan. ada bentuk kuda?” tanyanya kemudian. tapi hiasan berbentuk kuda itu agak besar dan sudah lama sekali menjadi simpanan di Kedai Daging Bakar. ”Sebenarnya ada. seribu lima ratus tigaan adalah hampir 7 bagian dari 10 bagian uang yang dimilikinya.366 tuk khusus yang diminta?” BAGIAN 6. walaupun mungkin menjadikannya sayang untuk disantap. pemesannya tak pernah terdengar lagi kabarnya. Masih cukup 8 bagiannya. dapat ditawarkan benda tersebut.. mereka punya. Ia telah dipesan oleh Yok Seng agar bila ada pembeli yang tertarik. Sayangnya setelah beberapa lama waktu berlalu. Hiasan pesanan seseorang tapi telah lima tahun tidak diambil-ambil. harganya juga menjadikannya agak ragu-ragu. TATO Tampak kagum yang tidak ditutup-tutupi dari pemuda itu terlihat jelas. Gu Yo dan Ma Siang saling berpandangan. Ya. Pemuda itu. benar-benar memukaunya. Saat itu ia telah menghabiskannya 2 bagian. akan tetapi ia memiliki suatu kegemaran menunggang kuda. Dan untuk itu belum ada uang yang diberikan. Untuk membuatnya saja perlu waktu hampir setahun. Ia lebih suka menunggang kudanya sendiri ketimbang duduk ke kereta yang dikemudikan oleh pembantupembantunya. walaupun dari kalangan orang kaya. karena menirukan ukuran anak kuda yang sebesar kambing. Hal ini dikarenakan harganya yang sudah pasti mahal....” ujar Ma Siang pelan. Bisa dibayangkan berapa banyak daging kering yang dibutuhkan untuk itu. Walaupun demikian. Ia kagum bahwa ternyata daging kering dapat dibentuk macammacam. Akan tetapi hal ini berarti ia tidak dapat membeli apa-apa lagi .

untuk mengisi lambung mereka yang sudah tak tahan tergoda aroma daging yang menari-nari di udara. Mereka tahu bahwa waktu yang telah lewat untuk hiasan dagin kering akan membuat harganya agak turun. Akhirnya disepakati bahwa seorang dari pembantu kios Kedai Daging Bakar. Sambil menunggu jawaban ia tampak berbisik-bisik dengan pembantunya yang berkumis licin dan tipis. Mereka pun memesan makanan. seperti lakunya kuda daging kering Yok Seng sang pemilik Kedai Daging Bakar senilai seribu lima ratus tigaan. Kota Siaw Tionggoan. Sang pembantu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Selain itu terdapat pula peristiwa haru. Ma Siang ternyata adalah anak sang Naga Hijau Pisau Terbang. Jadi mereka tidak bisa memutuskan sendiri berapa harga yang patut untuk barang tersebut. pergi ke Kedai Daging Bakar untuk menjemput Yok Seng.367 selain itu. ”Tidak bisa kurang harga itu?” tanyanya. Siapa lagi kalau bukan Ceng-Liong Hui-To dengan Ma Siang. Ia merasa kegundahannya dalam hidup tidak baik bila ia membesarkan anaknya sendiri. *** Seorang pemuda tampak berada di suatu ketinggian bukit. Rupanya harga tersebut dirasanya tidak bijaksana untuk dihabiskan hanya untuk satu benda saja. dan bukan hiasan daging kering. atau yang dikenalnya sebagai kakek Gu dan nenek Po. Sementara itu Ma Siang dan Gu Yo melayani pemuda itu dan gerombolannya yang akhirnya juga menjadi lapar. sampai yang menggembirakan. yaitu bertemunya seorang ayah dengan anaknya yang telah lama dititipkan pada temannya. kedua orang yang telah menolongnya. Kota yang sedikit banyak memberikan kenangan kepadanya. Jauh di selatan tempatnya berdiri tampak kota yang beru saja ditinggalkannya. bersama dengan seorang pengawal sang pemuda. Ma Siang yang saat itu juga bercakap dengan Gu Yo. Banyak peristiwa dalam dua minggu ia berada di sana. akhirnya memutuskan bahwa urusan harga lebih baik diputuskan oleh Yok Seng sendiri. yang memang dititipkannya pada sahabatnya Ma She. Dari peristiwa yang menyedihkan seperti harus membantu polisi untuk mengidentifikasi jenasah Gu Ming dan Po Ting Hwa. .

Untung saja hal itu tidak terjadi. yaitu adu ilmu silat. Entah apa yang dibuat mereka berdua. Atas kesigapan paturan yang dipimpin oleh inspektur San Cek Kong dan juga munculnya kembali Ceng-Liong Hui-To.368 BAGIAN 6. Mereka ingin memenangkan pertarungan itu. saat tubuhnya terluka parah oleh jurus Jarum Terbang Debu Pasir. kedelapan orang tersebut dapat ditanggulangi dan bahkan terluka parah. Gu Yo juga sempat berhadapan kembali dengan Hek-Mo dan menggunakan kembali jurus ampuhnya Jarum Terbang Debu Pasir yang membuat lawannya kali ini hampir putus napasnya. Orang yang akan diajari ilmu-ilmunya. Untung saja masih ada satu dua napas dari Hek-Mo. Saat seorang dari perwira dari pemerintah pusat berlaga dan telah banyak menang. Oleh karena itu ia kembali ke kota Siaw Tionggoan untuk menjemput anaknya. dapatlah Gu Yo mengetahui kepada siapa kitab yang diawali sajak ”Pembicaraan Angin” itu . Hek-Mo bicara seperti orang melantur. TATO Setelah menghilang beberapa tahun. jika tidak pesan yang disampaikan oleh kakek Gu dan nenek Po lewat hipnotis pada saat-saat akhir hidup mereka tidak bisa sampai kepada Gu Yo. Orang yang akan menjadi satu-satunya pewarisnya. inspektur San Cek Kong dan juga Swee Sian Lin. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasib kota Siaw Tionggoan apabila tamu-tamu dari pemerintah pusat ditawan dan diminta tebusan. menceritakan hal-hal yang hanya dapat dimengerti oleh Gu Yo yang sedang berdiri di hadapannya. Sebuah kejelasan itu muncul setelah terjadi pertarungan di panggung saat puncak perayaan Musim Angin dan Air digelar. Bisa hancur nama kota itu di depan mata pemimpin tlatah tersebut. menawan para tamu dan secara politis menyatakan bahwa kota Siaw Tionggoan mulai saat itu adalah daerah kekuasaan mereka. Suatu keberanian yang muncul akibat kedekatan mereka dengan salah seorang pejabat kota itu dan juga di kota lain. naiklah delapan orang pengacau. Su-Mo dan Empat Begal Hutan. Setelah bercerita Hek-Mo pun kemudian tumbang. telah dapat menemukan dirinya sendiri dan bersemangat untuk hidup kembali. Ceng-Lion Hui-To atau yang sekarang minta dipanggil Ceng Liok. Berdasarkan keterangan dari mulut Hek-Mo. yang disambut dengan sorak-sorai pada penonton dan juga pandangan kagum dari Ceng-Liong Hui-To.

adalah siapa dua orang yang telah juga dikletek tatonya. Akan tetapi dari hasil pengamatan guru Gu Yo. Tidak seperti tato-tato pada umumnya. Hanya saja yang belum jelas karena keduanya sudah keburu tewas. mengeleteknya. sehingga diharapkan lebih mudah untuk ditemukan anak keturunannya. yang mereka yakini tahu akan pemanfaatan tato-tato tersebut. wanita ini telah memiliki keturunan dari CengLion Hui-To. Ilmu ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa orang yang tidak membaca kitab tersebut secara keseluruhan. Dan tato inilah yang ampuh untuk dipindahkan. Mereka berdua telah mencoba mengeletek tato-tato orang-orang yang ditemui dan tidak dapat memanfaatkannya. bila dipindahkan hanya akan memindahkan kulit belaka tanpa ada kelebihan apa-apa. dan bukan dari wanita tersebut. anak dari Ceng-Liong Hui-To dengan seorang wanita. Sebenarnya tidak. Dua orang yang menggali kuburan nenek Po dan kakek Gu dan mengganggu jenasah mereka dengan mengeletek tato-tatonya. Dengan cara ini apabila tato seseorang yang juga menunjukkan hawa apa yang dimilikinya dapat dipindahkan. Dan orang itu bukanlah orang yang perlu susahsusah dicarinya. Sedangkan tato hasil rajahan. Salah satu sebabnya adalah karena Ceng-Liong Hui-To lebih dikenal orang ketimbang wanita tersebut. Untuk memancing keturunan dari Ceng-Liong Hui-To. Mereka mengira bahwa pemindahan tato dapat dilakukan dengan mengambil tatonya secara paksa. Jadi apa sebenarnya isi dari kitab tersebut? Kitab yang dibawa Gu Yo dan akhirnya diserahkan kepada Ma Siang tersebut berisi suatu ilmu pemindahan tenaga dengan menggunakan tato yang dibuat khusus. mereka pun mengirimkan tato tersebut ke Rumah Tato Ceng-Liong Hui-To dan juga ke kantor polisi. Oleh karena itu cukuplah bila ia mencari keturunan dari orang itu. Wanita inilah yang sebenarnya merupakan keturunan pemilik kitab tersebut. Kedua tato segar yang ditemukan oleh para paturan. maka hawa tersebut juga akan ikut berpindah. Dalam bagian akhir dari kitab tersebut dijelaskan bahwa tato hawa yang sebenarnya muncul akibat hawa tenaga dalam telah sampai pada puncaknya dan bukan dibuat dengan merajahnya. lebih . Perpisahannya dengan Ma Siang atau lebih tepatnya Ceng Siang.369 harus diserahkan. Orang itu adalah Ma Siang. Kesesatan ini yang kemudian dipahami secara salah oleh dua orang dari Empat Begal Hutan.

satu tugas sudah selesai. Karena tidak tahu setelah Ceng Liok kembali menghilang. sisanya masih di Gunung Hijau dan dijaga oleh para Troll. TATO berat dari sisi dara itu. Masih banyak tugas yang harus diselesaikannya. melainkan hanya melalui berita para Troll. Menanyakan kepastian hubungan mereka. Satu per satu kitab-kitab itu akan dicoba untuk dikembalikannya kepada orang-orang yang berhak. Ia benar-benar merasa telah dekat dengan Gu Yo sehingga tidak ingin pemuda itu jauh darinya. pemuda itu pun membalikkan tubuhnya. ada kemungkinan ia akan mencari kembali Ceng Siang.. Kitab yang juga harus dicari pemiliknya atau tepatnya keturunan dari pemiliknya dan mengembalikannya. Entah apa yang akan ditemuinya dalam perjalanan berikutnya ini. Selain Ceng Siang.370 BAGIAN 6. Ia bahkan akan menggaji pemuda itu lebih tinggi. Bila ternyata tidak seperti dulu yang telah diikrarkan. Gu Yo hanya dapat tersenyum. ”Syukurlah. . bila ia masih mau bekerja padanya. sekalian mereka berdua meminta restunya.” sambil berkata demikian ia melongok sedikit ke dalam tas yang ada disampirkan di pinggangnya. Inspektur San Cek Kong dan Swee Sian Lin ternyata telah lama memendam rasa di antara mereka. munculnya Ceng Liok yang bisa dianggap sebagai pengganti orang tua. Dan dijelaskannya kemudian bahwa kota Siaw Tionggoan hanya persinggahannya. Tapi yang penting ia mencoba untuk melaksanakan wasiat dari gurunya tersebut. Berhubung mereka telah samasama tidak memiliki orang tua. Mungkin. Guru yang tidak pernah ditemuinya langsung. Suatu pekerjaan yang entah sampai kapan baru selesai. kali ini dengan anaknya Ceng Siang. Di dalamnya terdapat suatu kitab lain.” kata pemuda itu sambil tersenyum. Mengarah ke utara. si Maling Kitab. ia masih harus mencari tunangannya Citra Wangi. Menuntaskan utang-utang lama dari gurunya. Bagi dirinya sendiri. Melaksanakan tugas berikutnya.. bisa jadi entah kapan ia akan muncul kembali. Agar tidak terlalu berat Gu Yo selalu menyembunyikan kitab-kitab tugasnya di beberapa tempat. adalah Yok Seng yang merasa berat berpisah dengan Gu Yo. Setelah digenapkan tekad dan ditinggalkan kenangannya akan kota Siaw Tionggoan. ”Tugas baru kembali menjelang. karena ia adalah saudara tua perguruan.

memandangi punggung pemuda yang berjalan menuju arah utara. Tugas yang mungkin tidak bisa dituntaskannya seorang diri. Pemuda yang mengemban tugas yang berat.371 Sang surya yang sudah agak condong ke barat pun kemudian tampak malu-malu ditutupi awan-awan yang bergerak-gerak cepat ditiup angin perbukitan di tempat itu. .

372 BAGIAN 6. TATO .

” Yang berbicara adalah seorang berkulit hitam legam dan berambut keriting. ”Angus. seorang berkata kepada yang tadi berbicara. ia tak banyak bicara. Tak lupa ia menggapai kapaknya yang tadinya ditancapkan di dekat kakinya. masih berapa lama kita perlu berada di tlatah ini.Bagian 7 Orang-orang Abadi ”Misun. Lebih baik engkau tanyakan saja nona Siaw Liong. Dhoruba namanya. Sepeninggal Misun. Seperti biasa sikapnya. coba tengok apa makam yang kita cari sudah tidak lagi dijaga!” ucap seorang berkulit putih pucat kepada rekannya seorang berkulit merah.” ”Bertanya kepada si Sesat Naga Kecil? Mending aku menjadi lembab dan basah daripada mendengar penjelasannya yang mumet itu. yang berarti ”saudara muda” dalam bahasa Sioux Lakota. Selalu hujan dan basah. Membuatku selalu merasa kelembaban. Dhoruba. Orang yang dipanggil Angus tampak sedikit berpikir sebelum menjawab. Orang yang dipanggil Misun. Hal ini berarti bahwa malam 373 . Nama yang dalam bahasa Swahili berarti ”badai”. Tak lama kemudian Misun pun kembali.” ucap Dhoruba sambil menunjukkan muka bergidik. Aku tidak tahu. seakan-akan wanita yang dipanggilnya Sesat Naga Kecil benar-benar menggiriskan hatinya. ”Entahlah. itu berbegas bangkit dari duduknya. Ia hanya mengisyaratkan dengan tangan bahwa tempat yang mereka tuju telah tidak lagi dijaga.

Hal yang sama dirasakan pula oleh kedua rekannya. Angus. Misun tampak berdiri di hadapan makam nomor dua dari tengah. Tapi terlalu sulit untuk menemukan berasal dari makam yang mana.. Berkonsentrasi dan bernapas dengan teratur. sang nona pun pergi mencari sesuatu di kota Luar Rimba Hijau.” ucap Angus seakan pada dirinya sendiri. Malam yang dinanti pun tak lama tiba. dengan yakin Shia Siaw Liong mengatakan bahwa salah seorang dari yang terbunuh itu adalah salah seorang dari mereka. Ketiganya kemudian langsung membongkar makam tersebut. Mungkin kuburnya terlalu padat sehingga ia tidak sempat terjaga. Beberapa hari sebelumnya. dengan hati-hati berdiri di depan sebuah makam. Barang-barang yang ada hubungannya dengan tugas kali ini. Didekatkannya telinganya pada tanah. ”Sulit. Ia mencoba merasakan apa-apa yang mungkin bisa dirasakannya dari dalam makam tersebut.” ucap Dhoruba. Membuat kepalanya berdenyut-denyut. Tiba-tiba ada semacam getaran di udara menyerang otaknya. Setelelah memberikan tugas itu. Hal yang sama diulanginya sampai semua makam telah dicoba. ”Ya. sebagai seorang yang memegang pimpinan kala Shia Siaw Liong tidak ada. Lalu dengan isyarat ia memberitahukan Angus dan Dhoruba apa yang didengarnya. Di suatu tempat di mana belum lama ini tak jauh dari sana terjadi pertempuran berdarah dan di atasnya kemudian dibuat beberapa buah makam. ini dia. Wajahnya tampak berubah. Dhoruba dan Misun. Melanjutkan perjalanan mereka jauh ke barat. Dengan hanya diterangi oleh bulan yang tertutup awan. ORANG-ORANG ABADI ini mereka dapat menuntaskan tugas mereka dan mungkin esok hari pergi dari tempat itu. ketiga orang tersebut. Oleh karena itu mereka harus membawanya dari sana. berjalan perlahan menuju suatu lahan terbuka di dalam Rimba Hijau. Lima makam tepatnya. Belum ada petunjuk.374 BAGIAN 7. Melatihnya dan menjadikannya siap untuk menjadi seperti mereka. Angus McLeod. Aku belum bisa merasakannya. *** .

Sebentar lagi. Membuatnya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Sesekali ia seperti tersadar dari mimpi tapi kembali ia dihadapkan pada ruang yang sempit dan juga basah. Ia berusaha sedapat mungkin untuk bernafas dengan rendah dan tidak sampai kehabisan napas seperti keadaan berulang-ulang sebelum kesadarannya hilang. Keringat deras mengalir dan juga kejangnya otot-otot. Tembus sampai dada sehingga ia bisa melihat darahnya sendiri menghiasai senjata tersebut. Mungkin karena sudah dekat dengan orang yang dikuburkan. terucap kata-kata yang menyatakan bahwa pengalian sebaiknya dihentikan. Lambat-laun terdengar suara-suara tersebut semakin jelas dan keras. Setelah itu dirasakannya dingin dan gelap. tapi bagai tak ada suara yang keluar. Hal itu berlangsung berulangulang. Sudah matikah ia? Inikah dunia yang dikunjungi orang setelah mati? Atau ia hanya berada di dalam kubur. Dalam bahasa yang tidak dimengertinya. Suara-suara yang ada di atasnya membuatnya kembali terjaga. kembali tersadar dan menjerit tanpa suara. rasa sakit yang menggila pun timbul menyertainya. Berkali-kali.375 Pemuda itu hanya ingat saat sebuah sabit tajam dan panjang mengayun pelan dan menghujam punggungnya. Sampai akhirnya ia pun pasrah dan menjalaninya. berulang-ulang sejak pertempuran yang lalu. Himpitan tanah di atasnya membuat napas yang kadang-kadang datang menjadi sesak dan mulai menghilangkan kesadarannya. Bau tanah yang lembab juga menyengat. Dan juga apa hubungannya dengan pertempuran yang lalu. Tiba-tiba telinganya menangkap adanya suara-suara di atasnya. Pemuda itu. akan tetapi tidak mati? Jawaban tak kunjung datang. Setiap kali kesadaran muncul. Suara-suara orang menggali-gali. Kesadaran kembali datang. ya sebentar lagi kesadaran ini akan hilang kembali seperti sebelumnya. Seperti itu. Kain yang ditutupkan dimukanya hanya memberikan kegelapan. tapi tidak dapat. Ia tidak ingat bagaimana bisa berada di tempat seperti itu. Lebih baik dilakukan . Gentong. Lalu kesadarannya hilang. Suara-suara yang mendatangkan harapan baginya. Coba digerakkan tubuhnya. melainkan hanya kesadaran yang datang dan pergi.

Tinggi matanya tidak sampai sedada orang dewasa walaupun makhluk itu berdiri di balik semak-semak. seperti warna urat-urat darah orang yang kebiruan. Ia menjadi kembali sesak dan mulai kehilangan kesadaran. Seorang tua dan dua orang muda-mudi. tampak biasa-biasa saja. Kulitnya berwarna sedikit kebiruan. Perlahan tapi pasti membuat aliran darah Gentong semakin cepat. Sambil tak lupa seorang dari mereka kembali merapikan kuburnya kembali. ORANG-ORANG ABADI lanjut dengan tangan. begitu sebutan orang-orang kepada jenis makhluk tersebut. Gelap pun kembali menjelangnya. ”ke mana kita akan mencari buah . bahwa ia adalah seorang Undinen. Hanya memperhatikan apa yang baru saja terjadi di makam di lapangan rumput tersebut. Sedangkan sang gadis yang jelas terlihat dari sisik biru kehijauan tubuhnya dan rambutnya yang hitam keemasan.. ”Paman Wananggo. Ketiganya tampak berjalan perlahan dan tampak tak ada tujuan. Yang tua berbadan tegap dan berbusana kain bermotif kasar yang berwarna sebelah kanan biru muda dan sebelah kiri hijau muda. Garukan-garukan tangan mulai terdengar. dan ini fatal akibatnya. Seorang yang terakhir. Tak dirasakannya saat ketiga orang yang menggali kuburnya.376 BAGIAN 7. agar tidak melukai orang yang dikubur itu. Kesadarannya pun hilang lagi. mengangkatnya dan memanggulnya pergi.” tiba-tiba Undinen yang bernama Xyra itu bertanya kepada orang yang tua. Hujan yang seperti mengamini perbuatan ketiga orang tersebut. Jejak-jejak akan segera menghilang ditelan hujan gerimis yang perlahan-lahan turun. Memang hari itu matahari bersinar tampak ditutupi awan dan angin sepoi-sepoi bertiup.. menciptakan hari yang indah dan cerah. sang pemuda. Sejenak ia menunggu sampai langkah-langkah kaki ketiga orang tersebut tidak lagi terdengar. Sesosok pasang mata tampak bersinar dalam kegelapan. Roh Air. sehingga seakan-akan tidak ada apaapa yang pernah terjadi di sana. kemudian ia pun menghilang di balik rerimbunan. Ia tidak berbuat apa-apa. *** Tiga orang tampak berjalan beriringan. Sesekali mereka berhenti dan menikmati pemandangan alam yang ada di hadapannya.

Orang lain pun sudah dapat memperkirakan bahwa terdapat ”apa-apa” di antara kedua muda-mudi itu. Dan juga tidak lupa mengisi perut yang sudah berbunyi. Suara laksaan air yang dijatuhkan dari tempat yang tinggi. Lalu tambahnya. Geli ia melihat kekhawatiran sang gadis kepada pemuda temannya itu. Sebagai keluarga. ”Sekarang mari kita nikmati dulu indahnya hari ini. Menyatakan tanpa suara bahwa ia akan melakukan apa-apa yang perlu. Sejak saat itu ia menjadi murung dan tidak tentu hidupnya. ”Nak Xyra. asalkan orang yang dikasihinya itu dapat sembuh kembali. sabarlah! Tak akan lari waktu dikejar. entah kenapa setelah bertemu dengan Xyra dan Lantang. Istri dan anaknya telah meninggal karena sakit. besok siang akan kita capai. Ia merasa kedua orang itu sebagai bagian dari dirinya. Lalu diajaknya kedua orang itu untuk bergegas memacu langkahnya agar cepat mencapai tempat bermalam yang dimaksud. sebelum waktu bulan purnama tiba. Setelah mendaki sebuah bukit. Baru belakangan ini ia menyadari buat apa merusak dirinya sendiri dan pada saat itulah ia bertemu dengan Lantang dan Xyra. Tiba-tiba terdengar samar-samar suara deburan.” Sang Undinen pun mengangguk mengiyakan. Wananggo tidak lagi memiliki keluarga.” jawab orang tua itu sambil kembali tersenyum. Dan tempat yang kita tuju itu. Jatuh ke bawah akibat tarikan bumi dan menimbulkan bunyi-bunyi deburan . yang kebetulan juga memerlukan bantuan dirinya.377 dan akar tersebut?” Orang yang ditanya tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum-senyum saja.” ucap orang tua itu lagi. tampak di baliknya sebuah pemandangan yang mengesankan. Air terjun. ”dan di sana kita butuh kemampuanmu sebagai seorang Undinen untuk menemukan buah dan akar dari tanaman tersebut. Kita masih punya waktu beberapa hari lagi.” ujar orang tua itu dengan gembira. Sebuah sungai besar tampak mengalir menjauh dari arah mereka dan kemudian menghilang di horison. ia merasa kerasan. ”Nah itu tempat bermalam kita. Biasanya Wananggo tidak banyak bicara. Ya.

”Ya. ”Itu namanya Air Jatuh. tentu!” jawab Wananggo. Apa mau dipaksa?” kembali orang yang tadi menjawab. ”Belum ’hidup’ dia?” tanya wanita itu kembali.” usulnya. ORANG-ORANG ABADI menggelegar. ”Dulu di sini terdapat banyak tempat pertapaan. ”Dan untuk itu. Mau tidak mau. mengambil tumbuhan tersebut pada waktu khasiat akar dan buahnya sedang pada puncak-puncaknya. Mereka menganggap daerah ini sebagai daerah kekuasaannya. ”Tidak. demi kesembuhanmu. besok siang telah tiba di pulau tersebut dan malamnya. Sebuah air terjun yang megah.” Kedua muda-mudi itu hanya mengangguk mengiyakan. nona Siaw Liong. saat bulan purnama. Dulu juga.” jelas Wananggo.378 BAGIAN 7. biarkan saja. ”Tumbuhan yang aku ceritakan itu tumbuh di salah satu pulau di bawah sana. Tapi semenjak Perguruan Atas Angin melebarkan kekuasaannya. Isi perut dengan baik dan tidur. ”Masih ’mati’. kita perlu tenaga dan konsentrasi. Engkau sem- . ”Belum. para petapa tersebut disuruh pergi atau lebih tepat dipaksa pergi. Untuk itu kita perlu menyusup ke dalam wilayah Perguruan Atas Angin. perlu waktu dua hari aku menungguimu sampai kau benar-benar hidup. Sekarang lebih baik kita mencari tempat yang baik untuk bermalam. Semoga kita mendapat kesempatan yang baik.” jawab seorang yang ada di hadapannya. engkau Angus. ”Besok pagi-pagi sekali kita mencari jalan masuk.” ”Dan kita akan menyusup ke sana?” tanya Lantang ingin tahu. mengajukan usul.” Kembali kedua orang muda di hadapannya mengangguk setuju dan melakukan apa yang disarankan oleh orang tua tersebut. *** ”Bagaimana keadaannya?” tanya sebentuk suara merdu wanita.

Ia menekankan nada suaranya pada kata-kata ”perjalanan pulang”. *** ”Jadi. melayang. Melihat ke segala arah. yang membuat Angus menjadi sedikit berdesir. Selama ini adalah hal itu yang mereka cari.?” tanya seorang wanita pesolek yang berjalan mondar mandir dalam ruangan itu. Angus hanya mengangguk tanpa menjawab. memperebutkan kepala lawannya. Ya.379 pat mati-hidup-mati-hidup karena saat itu belum bisa menguasai peredaran hawa yang beru engkau peroleh itu. Dhoruba sedang mencari makan malam kita.. sehingga ia terluka dalam dan kembali ”mati”. Orang yang diingatkan akan hal tersebut hanya tersenyum saja. Hawa dalam tubuhnya sangat kacau bergerak. untuk memperoleh tenaga.” jawab orang yang dipanggil Angus itu.” berkata kembali sang wanita. Perjalan pulang bisa dilakukan. ia ingat saat itu. Pikirannya sedikit . saling baku-hantam satu sama lain. Lalu ia pun berlalu dari sana. ”Misun seperti biasa sedang mengamati di atas pohon sana. Dan untuk itu perlu lima orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati untuk melakukannya. karena ia adalah salah seorang dari pimpinan Perguruan Kapak Ganda. Hal-hal yang sebenarnya dapat diperoleh bersamasama apabila mereka berhasil ”pulang” ke tempat asal mereka. Umumnya salah seorang dari mereka-yang-takbisa-mati. ”Mana Dhoruba dan Misun?” tanya wanita itu kemudian setelah sunyi sejenak di antara mereka.. Sulit. hawa dan pengetahuan yang telah tercukupi. Jumlah kita sudah cukup. perjalan pulang. ”Beritahu aku bila orang baru itu telah ’hidup’. Cermin Maut.. Kecantikannya yang aneh dan hasil bantuan pupur dan bedak serta ilmu awet muda membuatnya sedikit aneh. Ya. ”Kita perlu bicara malam ini.” ucap wanita itu sambil tersenyum.” katanya pelan. Ya. Tapi pasti tiada orang di luar ruangan itu yang berani menggugahnya.

mulai menuliskan pesan kepada pimpinan perguruan cabang Perguruan Kapak Ganda yang berada di Kota Lembah Batu Langit dan Kota Pinggiran Sungai Merah. Kadang malah ia sengaja memutar sabitnya satu dua jari di atas kepala beberapa orang pelayan.” ucap seorang dari mereka yang tampak sedang memain-mainkan sejenis senjata yang merupakan alat untuk menuai padi. termasuk di Kota Paparan Karang Utara. takut-takut kepala mereka menjadi sasaran dari sabit tersebut. ORANG-ORANG ABADI ”Baiknya kita matangkan saja rencana untuk menyerbu Air Jatuh itu. Cermin Maut sebagai pimpinan yang mengurusi hal-hal kepemimpinan. Tapi tampaknya Sabit Kematian tak ambil pusing. ”Baik jika begitu. Tempat perguruan lawan mereka berada. tidak seperti dua orang saudara seperguruannya yang malas untuk hal selain pertarungan.” Seorang dari murid mereka yang ikut rapat tersebut segera mengambil sejumlah perkamen kosong untuk ditulisi. ”Aku setuju. Tiga perguruan di tiga kota yang terletak mengapit Kota Air Jatuh. *** Pertempuran antara dua klan Orang-orang Dataran Tinggi di Skotlandia kerap terjadi. Beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak ngeri.” jawab Cermin Maut kemudian. Sudah satu orang yang semaput dan kencing di celana saking takutnya. Telah terdapat tiga perguruan besar di tiga kota. ”kita hubungi anak-murid dari dua kota lainnya agar mereka dapat segera bersiapsiap.. Warna yang menunjukkan tingkat ganas racun yang terdapat dalam kuku-kuku tangan tersebut.380 BAGIAN 7. Seorang dari mereka. Antara orang- . Sejenis sabit besar. Seorang yang tampak sedang menimang-nimang kukunya yang semakin kuning gelap warnanya. Ia memutar-mutarkan senjata itu ke sana-ke mari.” sahut sebuah suara lain.. Perguruan Atas Angin. Segera setelah surat itu selesai dituliskan para murid yang bertugas membawa pesan itu segera berangkat ke kota tujuannya masingmasing. Sementara murid-murid Perguruan Kapak Ganda di Kota Paparan Karang Utara tampak bersiap-siap untuk mengumpulkan senjata dan perlengkapan untuk menyerang Perguruan Atas Angin di Air Jatuh. Antara yang jahat dan yang baik.

klan Darkyzp telah menjanjikan orang-orang barbar atas budak-budak laki-laki dan wanita dari klan McLeod yang dikalahkan. orang-orang yang malas untuk bercocok tanam dan lebih gemar mengucurkan darah untuk mengisi perut mereka. Mereka semua harus berjuang. Menggaunggaungkan teriakan-teriakan ke seluruh daerah itu. akan tetapi lebih cenderung pada masalah politis. akan tetapi sebagai bangsa bayaran. Jadilah mereka sekutu dari klan Darkyzp. Tua-muda.” jawab pembawa informasi tersebut. ”Mereka datang!!” teriak seorang anak kecil dari atas pohon di sebuah bukit. Pertempuran kali ini pun amat serunya. .381 orang petani yang hanya mempertahankan tanah pertanian mereka dan orang-orang yang gemar melakukan ekspansi. Klan McLeod memang terkenal dengan semangatnya yang selalu memenangkan pertempuran dan tidak agresionis. Klan McLeod yang menjadi sasaran dari klan Darkyzp. mereka datang. benar seperti informasi yang kita terima. Walaupun tidak ada permusuhan pribadi antara orang-orang barbar liar dan klan McLeod. Berapa banyak?” tanyanya kembali. karena jika kalah tidak ada ampung bagi mereka. Dengan mengontak orang-orang barbar liar. suatu klan ekspansionis dan brutal. Suatu imbalan menggiurkan bagi bangsa yang juga senang berperang itu. Akan tetapi kali ini mungkin tidak seberuntung kali-kali lain. Ucapan itu langsung disahut-sahutkan oleh rekan dewasanya yang berjarak beberapa tombak dari sana dan seterusnya. setengahnya berkuda. mereka tidak pernah menampik tawaran yang berharga. Jika saja klan Darkyzp dapat mengalahkan klan McLeod maka semangat klan-klan lain untuk melawan akan menjadi runtuh. ”Tiga ratus ratus sampai lima ratus orang. Bukan hanya masalah perebutan wilayah dan juga hasil pertanian. Sudah berpuluh-puluh tahun klan Darkyzp berusaha menundukkan klan McLeod tapi tak berhasil.” ”Hmm. lelaki dan perempuan. ”Angus. Menandakan agar semua bersiap untuk bertempur. Seorang masuk ke dalam sebuah gubuk.

” begitu katanya suatu saat. selama ayahnya belum sembuh. ”Baiklah. Yang ditanya hanya mengangguk saja. Tak ada jalan lain. Di sela-selanya mereka bisa bergerilya dan menyerang balik. Ya. Dari yg sehat sampai yang cacat. Apa boleh buat. ia telah lelah beberapa pertempuran dalam beberapa bulan ini. Saudaranya Joseph lebih suka berperang di garis depan ketimbang memimpin dan berpikir strategi yang sulitsulit. Untuk itu tempat-tempat di bawah tanah telah dibuat agar mereka dapat sembunyi dan menyerang dengan cepat. yang sedang terbaring sakit sejak pertempuran yang lalu. ORANG-ORANG ABADI ”Dan orang-orang barbar liar ada di antara mereka?” tanya Angus kembali. Strategi hantam kromo dan bergerilya bergantiganti. atau bangsa lain akan masuk dan mengalahkan semua klan yang senang satu sama lain berperang sendiri-sendiri ini. pemimpin ad interim atau sementara. Ya. Terompet dari tanduk pun ditiupkan. Semuanya bersemangat untuk berperang demi kebebasan mereka.382 BAGIAN 7. Panah klan Darkyzp juga amat berbahaya di lapangan.” ucapnya lelah. Angus McLeod. Ia hanya anak dari pemimpin yang lama. mereka telah mendengar bahwa lawan-lawan bangsa barbar liar . Kondisi yang mirip dengan Padang Batu-batu. tempat tinggal mereka sebagai medan perang sebenarnya. Cemas tampak dalam wajahnya. Mereka telah membicarakan strategi untuk berperang melawan klan Darkyzp kali ini. tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Bangsa barbar liar amat tangguh dalam pertempuran satu lawan satu dan tempat terbuka. Jadilah ia. Kebebasan untuk tetap hidup dan merdeka. Ian McLeod. kita harus berperang habis-habisan kali ini. Angus bukan pemimpin klan McLeod. Menjadikan desa mereka. Dengan segera mereka yang ada di sana mengangguk dan bergegas keluar. ”Kamu saja yang memimpin. Mau tidak mau Angus harus sedikit berkontribusi akibat posisi ayahnya. Dari anak kecil sampai orang tua. Lebih baik di desa mereka yang dilindungi oleh batu-batu dan pohon-pohon. Perlu ada pemerintahan yang sah di Skotlandia. Semua siaga mengambil tempatnya masing-masing.

”Cepat. tapi kalah dalam jumlah. Beberapa orang klan McLeod yang berani memancing dan rela mati pertamatama.!!” ucap seorang pempimpin barbar liar. lawan klan McLeod yang walaupun memiliki semangat dan kemampuan individu tinggi. Sebagian dari klan McLeod telah menyingkir. Dengan bekal pendobrak batang kayu.383 yang kalah akan dijadikan budak atau dijual. klan Darkyzp dan bangsa barbar liar. masuk ke dalam desa. ”Ghrrrrrg. ”Dukkkk!!” gempuran kedua bergema. Satu persatu dari mereka mencium tanah dengan bersimbah darah. yang dikepalanya mengenakan tengkorak beruang. Sudut yang pas dengan dada kuda. . jalan biarkan mereka lari!!” ucap yang lain. darah mereka sendiri. Orang-orang di belakang gerbang tersebut tampak menyusun-nyusun tombak-tombak berujung tajam yang diarahkan membentuk sudut. barisan terdepan pun berlarian. Jumlah yang jatuh terus bertambah. tampak menghadang gelombang serangan kedua kelompok haus darah tersebut. setelah mengajak satu dua orang lawan mereka menuju alam lain. Tak terpikirkan oleh mereka adanya siasat dari klan McLeod yang menanti mereka. mereka memukul-mukulkan pintu gerbang. Tidak ingin kalah. ”Dukkkk!!!” gempuran pertama. Pandangan penuh semangat dan kerelaan untuk mati tampak saling dilemparkan tanpa kata-kata. Gelombang penyerang pun beringsut maju. yang dikedua pundaknya mengenakan hiasan dua buah tengkorak bayi manusia. Kesetiaan dan penghormatan. Pintu gerbang pun ditutup. Dua kelompok besar orang-orang haus darah. Pertempuran yang tidak seimbang.. Memaksakannya untuk terbuka. menginginkan hal itu. Blokade tombak-tombak telah siap dipasang. Dengan adanya isyarat terompet tanduk. Dan mereka tidak Pertempuran pun bergelora. Hanya belasan yang tersisa untuk strategi ini. Waktu pun berjalan. satu di kiri dan satu di kanan. Terlalu tinggi untuk dilompati akan tetapi terlalu rendah untuk dihindari.

Di sela-sela batu dan rumah setelah masuk ke dalam desa melewati blokade pintu gerbang. Semua orang menghilang di dalam desa itu. telah banyak dari mereka bersembunyi. Pintu pun terbuka dengan lebar. . Akibatnya telah diduga. Bagai air bah kuda-kuda para penyerang mengalir masuk.384 BAGIAN 7. Sayangnya tidak banyak orang-orang klan McLeod yang ada. ”Klan McLeod tidak sesedikit orang-orang yang telah mati tadi. Bila sudah semua. ”Ada yang aneh. Mereka mengharapkan hasil yang banyak dalam bentuk tawanan orang-orang McLeod yang kalah. mungkin sudah semua. Menanti untuk menyerang balik. Orangorang klan McLeod yang berjaga lansung menyerang dengan tombak dan panah untuk mengalihkan perhatian para penyerang dari blokade tombak yang dipasang.” ”Siapa yang tahu. sebagian dari mereka langsung tersungkur lengkap dengan kudanya dan menemui ajal bersamaan dengan berdebamnya tubuh mereka di atas tanah. Dibalik-balik jerami dan sebagainya. Cukup untuk baik untuk blokade sekecil itu. Suatu hasil yang dinantinantikan oleh strategi ini untuk mengurangi jumlah musuh. para penyerang mulai membantai siapa saja yang ditemui. tapi hasilnya nihil. ORANG-ORANG ABADI ”Dukkkk!!! Kraakkkk!!” gempuran ketiga datang dan merupakan batas ketahanan dari pintu gerbang desa itu. Lalu ia berlalu dan memerintahkan untuk mulai mencari dipelosok-pelosok desa. Dua puluhan orang berhasil ditanahkan. Tapi apa yang mereka dapatkan. Beberapa orang barbar liar tampak gelisah dan marah dengan keadaan ini.” seru seorang dari klan Darkyzp. Klan McLeod yang tersisa seakan-akan hilang dari pandangan. tidak baik untuk perjanjian dengan mereka. Tidak ada. Semua dibolak-balik. ”Tidak mungkin.” katanya sambil melirik pada orang-orang barbar liar yang masih berkuda dan berlari kesana-kemari mencari-cari korban untuk ditangkap atau dibunuh.” ucap rekannya. Rekannya mengangguk.

segera ia memacu kudanya. sampai beberapa orang dari mereka menjadi tidak sabar dan mulai melakukan pembakaran-pembakaran. yang ditutupi oleh kayu-kayu dan ranting. Asap pun membumbung tinggi ke angkasa. Sisa dari penyerang masih berjumlah cukup banyak. Beberapa patah tulangnya dan lainnya terlempari tombak dan batu dari atas parit. Mati. Anggota klan McLeod berlari-lari di sela-sela batu-batu dan pohon. Panah-panah yang datang dari arah pohon-pohon dan bukit-bukit batu di belakangnya. Di sela-sela batu-batu tampak mereka bersiaga. Setelah parit terkuak. Kawan-kawannya yang lain segera mengikuti arah perginya orang tersebut. ”Grrrggghhh!! Di sana.385 Suasana yang tidak nyaman itu berlangsung cukup lama. Dan kali ini pun kembali berhasil. Menghindar dan menyerang balik. Dan sekarang pertempuran sebenarnya berlangsung. di belakang desa!!” teriak seorang barbar liar. Tiba-tiba. tidak seperti rekannya yang telah hilang nyawanya. Di sana. Pria dan wanita. Menunggu dengan harap-harap cemas. Tua dan muda. Musuh yang tidak menyangka bahwa di hadapan mereka terdapat parit yang cukup lebar dan dalam. Ya. di tempat yang telah dipersiapkan tampak sisa-sisa dari klan McLeod berdiri. Ia yang luput dari serangan panah. Mereka tertipu dengan anggota klan McLeod yang berlari melewati perangkap tersebut. mudah untuk dihindari. Akibatnya terjatuhlan sekitar belasan penunggang kuda dan penyerang yang berjalan kaki. Menghiasi hari yang cerah itu. orang tersebut berlari di atas tongkat-tongkat kayu yang sengaja dibuat sehingg terlihat seolah-olah tidak terdapat perangkap di sana. Cukup banyak jatuh korban di an- . Menorehkan kesedihan atas pembantaian yang sedang berlangsung. ”Ceppp!! Cappp!!” sejumlah panah-panah menghambur pada tubuh-tubuh sang penyerang. Mereka menunggu datangnya musuh yang berlari dan berkuda. menunggu sampai saat-saat terakhir. agar musuh dapat kembali dikelabui sehingga masuk perangkap.

Berdenyut-denyut seakan-akan memberitahukan ada sesuatu yang baru. walaupun mereka bersemangat tinggi. Mula-mula apa yang tampak tidaklah terlalu jelas. Seorang berkulit putih pucat tampak mendatanginya. Ia menangis melihat banyaknya darah yang tertumpah hanya akibat ambisi sedikit orang. Lain halnya dengan klan McLeod yang hanya mempertahankan hidup. bahwa mereka tidak rela ditangkap dan dijadikan budak. memperhatikannya dari dekat. sesuatu yang kontak langsung dengan kepalanya. ”Lihat. Lalu ia mengulurkan tangannya dan membantunya . berdenyut-denyut tak beraturan. Perlahan-lahan ia memegangi kepalanya. Hari itu menjadi hari yang paling gelap dalam sejarah klan McLeod. Tapi bisa dipastikan bahwa klan McLeod tidak akan memperoleh kemenangan. Tiga-empat orang. ”Hmmm. ia mulai merasakan ’kontak’ di antara kita. tapi lambat-laun dengan melihat semakin banyaknya keluarga mereka yang mati. Tapi ada satu hal yang harus dihormati. Matahari pun tak tahan dan turun dari puncak tertingginya hari itu. Orang-orang yang berbeda satu sama lain.” hanya itu jawab temannya yang berkulit kemerahan di sebelahnya. semakin lemahlah semangat mereka. ditambah dengan masih adanya kuda dan kekejaman mereka. tapi mereka masih tiga kali lebih banyak dari anggota klan McLeod yang hidup. Dan ia melihat kurang lebih beberapa orang yang sedang mengamati atau berada di sekelilingnya. Semua kabur dan berkabut. Walaupun musuh sudah separuhnya habis.386 BAGIAN 7. Jumlah yang tidak seimbang. Darah pun mengalir deras memerahkan tanah-tanah di sekitar tempat itu. Hal lain yang segera menggugahnya adalah rasa aneh dalam kepalanya. Teriakan-teriakan penambah semangat masih terdengar dari kedua belah pihak. Lambat laun mulai jelas. ORANG-ORANG ABADI tara mereka dan juga penyerang. *** Pemuda bertubuh subur dan besar itu akhirnya membuka matanya. Mereka berjuang sampai titik darah penghabisan.” ucap seorang yang berkulit hitam legam dan berambut keriting.

”Kumpel. Dia Dhoruba. Sekarang giliran orang yang berkulit merah itu.387 bangun. ”Well. Ia. Anata wa donata desu ka?” Ia sambil berkata itu menunjuk pada dirinya sendiri dan kemudian pada pemuda itu. Entah apa maksud dari senyum itu. Is there someone knows that language?” tanya orang itu kepada rekan-rekannya. what is your name?” tanya orang yang tadi membantunya bangun dalam suatu bahasa yang tidak dimengertinya. ”I try with other language. gadis itu menjelaskan apa yang terjadi pada Gentong. lalu beranjak mendekati. walaupun bagi kupingnya masih kedengaran kaku untuk seorang pembicara menggunakan bahasa dari Tlatah Tengah ini. ”Apa? Apa maksudmu?” tanya pemuda itu. setelah ia menjadi salah seorang dari merekayang-tak-bisa-mati. Misun dan Angus McLeod. orang hitam berambut keriting. menunjukkan bahwa ia tidak mengerti juga apa yang diucapkan oleh orang tersebut. orang berkulit merah dan orang berkulit pucat tadi. Jauh beberapa kaki darinya tampak seorang wanita yang melihatnya dan tersenyum. Perlahan agar pemuda itu tidak kaget mengenai apa yang menantinya sekarang. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh orang yang berada di hadapannya tersebut. Shia Siaw Liong. ”Saya Gentong. Penjelasan yang tenang dan pelan. serta dibawa . ”Saya.” jawab pemuda itu. Lalu mereka bertiga memandang kepada orang keempat yang tampak sedang memperhatikan kejadian itu. Lalu dengan perlahan. was ich sage? Kannst du Deutsch sprechen?” Kembali pemuda bertubuh subur dan besar itu menggeleng.” sahut seorang dari mereka. ”I think he speaks with a local language here. Pemuda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. verstehst du. ”Watashi wa Misun desu. Kali ini ia mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu.” katanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri. sang wanita.

perlahan-lahan untuk mencerna apa yang baru saja aku ceritakan. ORANG-ORANG ABADI oleh suara yang merdu itu.” ucap wanita itu. yang saat itu baru memiliki satu cabang. Ya.388 BAGIAN 7. Bahanbahan berupa makanan dan senjata. *** Kesibukan-kesibukan tampak terlihat di suatu bagian dari Kota Lembah Batu Langit. sang pemuda. Perlengkapan dan bahan-bahan tampak dikumpulkan di atas kereta-kereta yang ditarik oleh kuda. Ketiga cabang perguruan silat tersebut. Tanpa terasa ia meraba dadanya. Mereka-mereka ini kemudian membangun kembali perguruan terse- . tak urung membuat warna wajah sang pemuda sempat berubah-ubah. ”Sekarang. Kota Pinggiran Sungai Merah dan Kota Paparan Karang Utara. Perlengkapan seperti untuk melakukan perang. Pucat. Ia telah mati dan dikuburkan. Suatu bacokan yang mengantarnya ke liang kubur. Gentong. selepas pembantaian terjadi. Suatu hal yang baru kali ini didengarnya. Suatu hutang lama yang disebabkan oleh pertikaian sepele antar keduanya. Lalu ia memberi isyarat kepada ketiga rekannya untuk sedikit menjauh. lalu kembali pucat. perang! Memang demikian halnya. Dan sekarang bangkit lagi sebagai seorang mereka-yang-tak-bisa-mati. merah. memberikan kesempatan kepada pemuda yang baru saja ”hidup kembali” itu waktu untuk merenung dan berpikir. yaitu di Kota Paparan Karang Utara. tampak sekali ’shock’ dengan berita yang didengarnya. Hal yang tidak diketahui oleh Perguruan Atas Angin pada saat itu adalah kawan-kawan atau saudara perguruan ketua yang lama baru saja datang. Kali terakhir Perguruan Atas Angin telah membantai habis Perguruan Kapak Ganda. kami biarkan dulu engkau sendiri. tepatnya di bagian di mana cabang-cabang perguruan Kapak Ganda berada. Terdapat dendam kesumat antara kedua perguruan silat tersebut. yang pusatnya berada di Kota Paparan Karang Utara memang sedang mengadakan persiapan untuk melakukan penyerbuan ke perguruan silat lawan mereka. mencari-cari lubang tempat sabit yang digunakan Sabit Kematian keluar membawa darah dan dagingnya setelah terlebih dahulu masuk dari punggungnya. Dan akhirnya tampak tegan. Perguruan Atas Angin.

” Kembali pemuda mengangguk. kami akan menolongmu membalaskan dendam guru dan saudara-saudaramu. Air Jatuh. sudah mendengar akan adanya desas-desus penyerbuan ke perguruan silatnya oleh perguruan lawan. *** ”Jadi itu kisahmu. Penjuru ke empat tidak perlu karena berbukit-bukit terjal dan tidak mungkin dilalui. Perguruan Atas Angin bagaikan mangsa yang tersudut di pinggir ruangan. Mereka bukannya anti pertempuran. ”dan setelah itu engkau membantu kami menuntaskan misi kami. Setidaknya pertentangan terhadap orang-orang yang menganggap . Sebenarnya ketua Perguruan Atas Angin saat ini. pertempuran. Membuka cabang di dua kota lainnya. yaitu Tapak Kelam. orang yang merasa kuat meremehkan apa-apa yang dianggapnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Dari tiga arah telah datang penyerbu dan di belakangnya terdapat tembok tinggi yang menghalanginya untuk kabur. Menjadi mereka-yang-tak-bisa-mati adalah suatu keadaan yang senantiasa mendekatkan diri mereka pada pertentangan. tapi seperti biasa.389 but. Ya. Mengalir bersama sari-sari makanan dan udara yang dibawa darah. Mereka mengepung Perguruan Atas Angin dari tiga penjuru. yang saat itu adalah ketua Perguruan Atas Angin. Gentong?” tanya Shia Siaw Liong pada pemuda subur dan besar itu. Jadilah serangan Perguruan Kapak Ganda berhasil dengan baik. Tembok tinggi berupa bukit-bukit tinggi dihiasi air-air terjun. yang dibunuh oleh Ki Jagad Hitam. Rekan mereka itu bernama Naga Geni. Pertempuran bisa dikatakan adalah sesuat yang telah ada dalam darah mereka.” ucap gadis itu lagi. Sementara itu tiga orang yang lain tampak agak tegang. Mengisi sela-sela kecil nadi dan urat dalam tubuh mereka. ketua Perguruan Kapak Ganda. ”Baiklah jika begitu. yang diiyakan dengan anggukan kepala oleh sang pemuda. mengumpulkan banyak anak dan murid untuk membalaskan dendam rekan mereka yang dibunuh. bahkan pertempuran.

Jika demikian telah diputuskan. ”Baiklah. ”Baik. Tandanya ia tidak keberatan. pagi-pagi sekali. orang-orang yang tak bisa mati. Ia kemudian teringat pada pertempuran terakhir yang membawanya ’mati’. Besok. Hanya kepalan tangan dan kaki yang biasa digunakan. kira-kira kita butuh tiga hari. menanyakan senjata apa yang akan digunakannnya nanti. tempat di mana orang yang membunuh guru dan saudara-saudara seperguruan Gentong berada. Dapat menghemat tenaga untuk mengurangi lawan dengan cepat. bahwa dalam pertempuran. Dhoruba hanya tersenyum kecil.” Setelah itu kelimanya kemudian bersiap-siap untuk beristirahat. terima kasih!” ucap Gentong. Harus disingkirkan. sudah pagi!” ucap Lantang sambil menggugahgugah bahu seorang tua yang sedang tertidur meringkuk dengan . bukan pertandingan satu lawan satu. ORANG-ORANG ABADI mereka ini. Setelah melihat ini semua kemudian Shia Siaw Lion berkata. Kudengar-dengar di sanalah pusat Perguruan Kapak Ganda. Gentong hanya menggelengkan kepala. Misun hanya menggumam pelan. senjata memegang peranan penting. saat menyerang Perguruan Kapak Ganda.” usulnya. ”Dalam perjalanan ke sana. ia sadar. Atas isyarat dari Shia Siaw Liong..” kata Misun meyakinkan. Lebih baik engkau kuajari menggunakan kapak dan panah.390 BAGIAN 7. *** ”Paman Wananggo. pasti engkau sudah bisa. tapi tidak menyatakan keberatannya. jika dengan tangan kosong. kita berangkat ke Kota Paparan Karang Utara. menyatakan bahwa ia tidak pernah sebelumnya menggunakan senjata. Misun masih mendekati Gentong. Gentong mengangguk mengiyakan. Ya. sebagai orang-orang yang tidak normal dan harus diajuhi.. Sedangkan Angus McLeod tampak menghela napas. ”Tidak efektif untuk menghadapi banyak anak-murid perguruan itu. api pun dimatikan dan mereka pun mulai tidur. untuk besok pagi-pagi sekali bangun dan pergi ke Kota Paparan Karang Utara.

jatuh menjadi air terjun. ”Saat-saat ini biasanya penjagaan tidak ada. ”Tong!! Tong!!! Tong!!!” tiba-tiba terdengar gaung tabung logam besar dan berat yang dipukul berulang-ulang.. Dengkurnya yang teratur menunjukkan betapa pulas orang tua itu tidur. Tampak sebagian ’roh’-nya masih ada di alam mimpi. agar ia yakin bahwa mereka benar-benar pergi dan tidak sembunyi. tapi tak dilihatnya seorang pun. setelah biasa mudah mereka melanjutkan satu langkah. di antara batu-batu yang menonjol. untuk turun ke bawah. ”Cepat. Namun tak lama biasanya.” ucapnya kepada kedua orang di belakangnya itu.!!” ucap orang tua itu. Ia lalu mengajak muda-mudi yang menyertainya itu pergi ke suatu arah. ”Eh. ”Iya. ah. ia tidak mau sosoknya terlihat dari bawah oleh para penjaga di sana..” ucap orang tua itu kepada muda-mudi tersebut.” Langsung segar orang tua itu... ”Hati-hati. Orang-orang itu lengah pada saat-saat pagi seperti ini. ”Tapi apa boleh buat. Dengan perlahan-lahan ketiganya mencari-cari pijakan di pinggir air terjun. paman. ke langkah berikutnya. . Ke arah di mana air menghilang di pandangan mata. kita coba saja turun sekarang.391 enaknya. Dia mengharapkan melihat satu dua orang penjaga yang pergi meninggalkan tempatnya untuk sarapan. Langit sudah agak mulai terang di sana. apa? Sudah pagi?” jawabnya gelagapan. lihat ke sana!” ucap Xyra sambil menunjuk ke arah timur.. Matanya mncari-cari ke sana dan kemari. Turun ke arah curahan air terjun itu diterima oleh sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pulau mungil. Ia sendiri kadang-kadang kesulitan pula memperoleh pijakan. Bangkit dan bergeras membereskan perlengkapan tidur mereka yang tidak seberapa. ”Aneh!!” gumamnya. Di pinggir sungai yang menghilang ke bawah itu Wananggo tampak berbaring melihat-lihat. Warna kuning keemasan dan sedikit merah agak mulai terlihat di ufuk tersebut.

*** Api tampak mengepul di belakang kelima orang yang berjalan dengan tenang tersebut. Di depan mereka membentang danau kecil yang ditengahnya terdapat sebuah pulau. Di atas pintu gerbang suatu perguruan silat yang . Mereka tampak dipanggil oleh adanya isyarat itu menuju pusat perguruan.392 BAGIAN 7. Perlahan-lahan melewati berbagai jenis dinding dan lapisan tanah yang kadang telah berlumut subur atas percikan air dari air terjun. Pulau yang mungil dengan sebuah bangunan terbuat dari batu berwarna kelabu. ORANG-ORANG ABADI ”Wah. Perlahan-lahan dan lebih tenang karena diyakini bahwa para penjaga telah pergi semua. menyelam dan berenang menuju pulau yang terlihat tersebut.” Kedua anak muda itu hanya memandangnya tanpa suara.. akhirnya sampailah mereka di bawah. Wananggo pun memberi isyarat agar mereka mengikutinya. Setelah cukup memperhatikan dan tidak lagi terlihat orang. di suatu ruang sempit berbatu di kaki air terjun. kita ketahuan. Keduanya mengangguk mengiyakan. berenang menyelam menghampiri pulau yang menjadi tujuan mereka. ini malah untung buat kita. Hehehehe. Ketiganya pun kemudian telah berada di dalam air yang jernih dan segar itu. ”Aneh?” ucap orang tua itu lagi. Tertutupi oleh tirai air yang mengalir turun.. Sambil sesekali Wananggo melihat dari sudut tirai air itu. ”tadi kupikir kita ketahuan menyusup. Di sana ternyata terdapat cukup ruang untuk berlindung. membuahkan pemandangan yang aneh dan indah.!!” ucap orang tua itu. Ternyata mereka ada masalah rupanya. Segera ia menggapai kedua muda-mudi itu untuk mengikutinya bergeser masuk ke dalam rongga di belakan air terjun. di mana ia menyaksikan beberapa orang dari pulau di tengah danau itu muncul dan menyeberangi pulau melalui jembatan kecil yang ada. Di sekitar bangunan tersebut tumbuh pohon-pohon buah dan bunga berwarna-warni. Wananggo pun mengisyaratkan agar mereka melanjutkan perjalanan menuruni tebing di pinggir air terjun itu. Keluar dari ruang di belakang tirai air dan kembali merambah ke bawah.

yang papannya sudah miring. Mayat Pucat. Pemuda itu merasa sedikit puas karena ia telah berhasil membalaskan sebagian kematian dari guru dan saudara-saudara perguruannya dari Rimba dan Gunung Hijau. itulah Gentong. Tapi itu belum semua. tampak dingin. bekas digempur. kelima orang itu segera berangkat pergi. ”Perguruan Kapak Ganda”. . Shia Siaw Liong yang ternyata bersenjatan sepasang pedang. Misun seperti biasa tampak tanpa ekspresi. membunuh guru dan saudara-saudara seperguruannya. Mendengar itu. Ada tiga orang yang dicarinya. Masih ada kemungkinan kita bisa berjumpa dengan mereka di sana.” jawah Shia Siaw Liong. Dhoruba tampak senang dengan penyerbuan itu. ”perjalanan memang memakan waktu satu hari.” ”Ada berapa jalan menuju ke Kota Air Jatuh dari kota ini?” tanya Dhoruba kemudian. ”kita tertinggal satu hari. tampak merah oleh darah. mirip bumerang. Sayangnya mereka tidak ada di tempat. sehingga mereka tidak langsung kembali. Menang atau kalah bisa berakibat lain. Menuju ke arah yang sama untuk mencari ketiga orang guru tersebut. Dedengkot dari kejadian dulu belum mendapatkan hukumannya. yang diletakkan di punggungnya. akan tetapi kapaknya yang juga berwarna merah dalam genggamannya telah bicara. Angus tampak agak menyesalkan peristiwa itu. bahwa ketiga guru utama mereka sedang memimpin penyerbuan ke Perguruan Atas Angin yang terletak di kota Air jatuh. tapi bisa saja penyerbuan itu tidak berhasil.393 baru saja mereka tinggalkan itu terpampang sebuah nama. ”Mereka sudah pergi kemarin. Di belakang mereka tampak belasan orang terkapar tanpa napas dan denyut nadi.” ”Belum tentu. pada saat-saat akhir hidupnya. Mati. Dari informasi yang bisa diberikan anggot perguruan silat tersebut.” ucap Misun. Ketiga orang inilah yang memimpin penyerbuat ke tempatnya. Senjatanya berupa parang yang membentuk sudut tumpul. Jika ada yang sedih dan bersemangat. Cermin Maut dan Sabit Kematian.

mari.” ”Mana yang terdekat?” tanya Shia Siaw Liong. kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang dekat dengan air membuat mereka memiliki ketahanan lebih terhadap keadaan baju yang basah. cepat-cepat. ”hanya dua. tidak terlihat adanya pulau lain kecuali pulau tempat mereka berada sekarang. Ketiganya bergegas berjalan mengendap-endap. makhluk yang memang dalam hidupnya. Dingin adalah temannya dan juga kelembaban. dari air terjun yang baru mereka turuni itu. ”Semoga tidak berselisih jalan dengan mereka. memanfaatkan sifat-sifat air.” Yang lain hanya mengangguk dan kemudian berbegas memacu langkah mereka. ”Yang kedua. Baju mereka masih basah. Mereka berjalan memutar melewati beberapa pohon yang tumbuh di tepi pulau yang baru saja mereka capai melalui air itu. yang satu adalah jalan yang juga tadi kita lewati yang berlanjut memutar dan yang lain yang langsung menuju ke sana. di belakangnya terlihat terdapat sebuah pulau lain. basah tidak merupakan masalah. tapi tidak terlalu mereka perhatikan. ”Hei. ORANG-ORANG ABADI ”Tak banyak. kita ambil yang kedua..” ucap orang tua itu kepada dua mudamudi di belakangnya. Bagaimana ini bisa dijelaskan. . Ia adalah roh air. Sebuah pulau yang lebih kecil. Jembatan berukiran unik berwarna hitam yang melengkung cembung di atas air danau yang memisahkan kedua pulau itu.. jika tidak di dalam air. di sini ternyata terdapat pulau lain.” jawab Gentong. yang dihubungkan dengan pulau mereka sekarang oleh sebuah jembatan kecil. Bagi kedua orang yang lain. Setelah memutari bangunan yang terbuat dari batu berwarna kelabu itu.” jawab Gentong.394 BAGIAN 7. menghindari bila ada penjaga yang mungkin ada di tempat itu. Berhati-hati mereka melihat ke kiri dan ke kanan. berjalan cepat. Ia heran karena dari atas sana. Bagi Xyra yang Undinen. ada sebuah pula lagi di sana!” ucap Xyra heran.” jawab Shia Siaw Liong memutuskan. yang tidak terlihat dari arah mereka tadi datang. ”Baik. *** ”Mari.

Setelah didekati ternyata ada dua. Pulau-pulau yang saling dihubungkan oleh jembatan unik cembung berwarna hitam tersebut. Bangunan batu dengan warna kelabu yang sama dan pohonpohon buah serta tumbuhan bunga warna-warni yang mengelilinginya. ”Sekarang kita harus menyeberangi jembatan itu. Pulau yang ukurannya lebih kecil dari pulau pertama. geometri dan ilusi. masih ada dua lagi.” ucap kedua muda-mudi tersebut hampir bersamaan.” ucap Wananggo tersenyum. Sekarang mereka telah ada di pulau kedua. jauh sebelum tempat ini dikuasai oleh Perguruan Atas Angin. Ya. melakukan hal yang sama dan tiba di bagian belakangnya. ”Masih ingat tempat tadi? Apa yang berbeda?” tanya Wananggo. Berbegas mereka menyeberangi jembatan tersebut setelah memeriksa bahwa tiada perangkap dan juga tiada penjaga yang menghalangi. Dengan cara inilah ia membangun pulau-pulau di air jatuh ini sehingga dari jauh terlihat seperti satu. bisa aku bawa kalian ke seorang pengujar yang ahli akan hal itu. Setelah di bawah. Yang diajak bicara mengangguk dan mereka pun berjalan mengitari. takjub bahwa dari atas sana tidak terlihat jelas berapa jumlah pulau yang ada.” bisik Wananggo. akan tetapi dengan susunan yang hampir sama. Mirip dengan prinsip satu bagian ilmu yang disebut fraktal.” jelas Wananggo. ”Fraktal?” tanya Lantang. sehabis kita pergi dari sini. Semakin didekati ada tiga dan pada akhirnya empat.395 ”Bukan hanya satu. Dengar-dengar ia ada hubungannya dengan perancang pulau di tengah danau ini. bahwa tempat ini dibangun oleh seorang yang amat ahli dalam bangunan.” lanjutnya. ”Kita kitari seperti cara yang tadi. ia dulu juga begitu. ”Pernah ada cerita. . ”Baik.” ucapnya. baru ditemuinya ternyata ada sampai tiga pulau lain di belakang pulau pertama yang paling besar. Jika ada waktu. ”Ya. Menemukan pemandangan yang sama dengan sebelumnya. akan tetapi dengan skala yang lebih kecil dari sebelumnya.

.... ”tapi kita butuhkan hanya empat. sehingga orang yang tidak waspada akan lupa dan tersesat. ”Ya.” ucap Wananggo. Lantang dan Wananggo tersenyum mendengar itu. Yang kita lakukan nanti adalah ’meminjam’ salah satu buah tanamannya. ”Ya. Padahal ada perbedaannya. lalu Lantang menjawab.” jelas Wananggo. Lalu lanjutnya. ”Bila orang dapat merancang semua tumbuhan dan makhluk hidupnya. Tapi orang hanya dapat merancang letak bendabenda dan bangunan.. Ia memiliki kebun tanaman-tanaman berkhasiat. ”Jumlah pulau yang sebenarnya aku tidak tahu.. Dan di sanalah aku temukan pohon yang kita cari.” ”Mencuri. tapi tidak makhluk hidup yang ada di sana.” ”Mengapa ada hanya di pulau keempat? Bukannya bila benar teori fraktal itu. Jika sang petapa itu masih hidup.” kata Xyra polos.” tegas Lantang. ya jawabnya.” jawab Wananggo.. Maksudnya aku hanya pernah tiga kali menyeberang sampai pulau keempat. mencuri. ”Sampai berapa kali kita harus menyeberang?” tanya Xyra kemudian. seharusnya ada di setiap pulau?” tanya Xyra kemudian. benar.” jawab Wananggo sambil tersenyum. ”Bagiku tidak apa-apa mencuri. Tapi ia sudah tiada dan meminta pada Perguruan Atas Angin. hanya.” ucap Xyra agak tak senang. ini diatur sedemikian rupa. ”Sama persis. Dan kali ini Wananggo tidak mengajak mereka untuk memutari bangunan batu . ORANG-ORANG ABADI Kedua muda-mudi itu terdiam. lebih baik begini. ”dan kebetulan di pulau keempat inilah dulu kala tinggal seorang petapa yang ahli obat-obatan. yaitu ukuran yang mengecil. Lebih mungil. ”Betul. asal tidak bilang bukan mencuri. Akhirnya sampailah mereka di atas pulau keempat. kita bisa minta.396 BAGIAN 7.” ”Ukurannya lebih mungil!” selak Xyra.

nanti dulu.” ucap seorang perempuan dengan suara merdu yang melengking. Tiga orang yang mengerikan. betul!! Segitu takunya sampai mati lebih dulu. Rekan-rekan seperguruan Naga Geni yang dulu dibunuh oleh gurunya Ki Jagad Hitam. sudah.. Tiga orang pimpinan dari Perguruan Kapak Ganda. tidak usah kecewa. ternyata Jagad Hitam sudah berkalang tanah. ”Ya. cah bagus.” ucap sang wanita lawannya yang dengan sejata cermin yang dibawanya memantulkan sesuatu yang diikat dengan selendang sutra halus yang lemas dan panjang. Merinding Tapak Kelam atas ucapan-ucapan mereka itu.. Ia tidak tahu apa rencana mereka selanjutnya terhadap dirinya. ”Mengecewakan sekali!! Jauh-jauh diserang. ilmu ampuh warisan gurunya. Benar-benar hari akhir bagi perguruan ini. Empat pilar yang diharapkannya telah tersungkur bersimbah darah.. Di sini masih ada muridnya yang bisa kita apa-apakan.397 berwarna kelabu itu. melesat melibat tangan Tapak Kelam. hehehehe.. Mereka telah melakukan strategi sedemikian rupa. Mungkin mati lebih baik bagi dirinya daripada terjatuh ke tangan ketiga orang itu. Musuh-musuh yang datang ternyata tidak bisa dianggap remeh. Anak muridnya telah habis dibunuh. Serangan bunuh diri dari Pukulan Perusak Perut.” lanjut orang terakhir. mencegahnya . Tidak segampang itu mati. ”Sudah. Tinggal dirinya yang masih berdiri dengan sedikit luka-luka dengan tenaga yang hampir habis. *** Tapak Kelam benar-benar marah dan putus asa. melainkan memutar ke arah yang berlawanan untuk mencari pintu masuk. ”Eh.” tambah seorang dengan mukanya yang pucat. sehingga berhasil masuk dengan cepat dan mengalahkan penjagaan di setiap lapisan. karena dari gayanya ia telah tahu siapa mereka. Berpikir itu ia segera mengayunkan tangannya membentuk pukulan untuk dihujamkan ke dalam lambungnya. Di hadapannya tampak tiga orang senyam-senyum. rambut kusut dan kukukuku tangan panjang kuning menghitam.

”Kitab-kitab apa?” jawab Tapak Kelam bingung.” ucap seorang yang dipanggil Mayat Pucat oleh rekannya. saat Ki Jagad Hitam masih hidup dan dirinya masih muda. Ki Makam namanya. ”Sekarang katakan di mana kitab-kitab tersebut!” ucapnya kemudian. Dari tampangnya yang pucat dan kuku-kukunya yang panjang dan kuning kehitaman. ”Itu palsu. Di Air Jatuh. Bahkan sampai ke Rimba dan Gunung Hijau. bunuh saja!!” ucap Tapak Kelam lemas.” terkikik genit Cermin Maut. Saat itu ia masih menjadi salah satu dari enam belas orang Lingkaran Dalam. ”Bagus.” jawab Tapak Kelam. sudah dapat dikaitkan mengapa ia menggunakan julukan itu. yang tersimpan di bawah prasasti!” serang Sabit Kematian tak sabar.398 BAGIAN 7. ”Hehehe. ”Kami sudah mengikuti petunjuk yang ada. Prasasti itu masih ada di sana. Senang ia melihat lawannya . ORANG-ORANG ABADI memuntahkan pukulan pada lambungnya untuk membunuh diri. Lalu ia menceritakan jalannya peristiwa yang dulu kala itu terjadi.” ucap Tapak Kelam semakin bingung. ”Rimba dan Gunung Hijau di timur? Ada apa di sana?” tanya Tapak Kelam tidak mengerti. tidak semudah itu.” tambahnya.” jawab Cermin Maut. Lebih baik mati pikirnya daripada jadi mainan ketiga orang ini. kalau mau bunuh. ”Sudah. ”Begitulah petunjuk yang kami dapatkan dari prasasti yang kami curi?” jawab Sabit Kematian. ”Tak mungkin. Cermin Maut!!” sahut rekannya yang segera melayang mendekat dan menotok Tapak Kelam di beberapa tempat sehingga orang itu tak dapat lagi bergerak dan hanya berdiri kaku di hadapan ketiga lawannya itu. ”Sudah dibawa oleh seseorang lama sekali dulu. ”Kitab-kitab yang ada di Air Jatuh. ”Curi? Jangan bercanda.

Habis. Jauh sebelumnya. Sisa-sisa terakhir yang dicabut kehidupannya oleh murid-murid Perguruan Kapak Ganda. mayat dan lain-lain. Kelihatannya sepenanak nasi lagi. telah mereka lihat banyak sisa-sisa pertempuran. Sorak-sorai para pemenang tampak berkumandang di udara.399 itu bingung. Kebakaran. Bidang-bidang yang tidak menarik bagi mereka. Juga tentang kitab-kitab yang sedikit ditemukan mereka. Kedua rekannya mengangguk. ”Kita bawa saja dia ke Air Jatuh. Tak tersisa. ke Rimba dan Gunung Hijau. Sementara itu di luaran sana masih terdengar sisa-sisa murid-murid Perguruan Atas Angin yang meregang nyawa. kita periksa sekali lagi di sana!” ucap Sabit Kematian. Rumah-rumah yang rusak. tapi tidak banyak berarti karena hanya berisikan caracara pengobatan dan latihan dasar kuda-kuda saja. ”Ya. Memangsa tapi tidak untuk dimakan. Lima orang itu berbegas menuju ke suatu tempat di mana sumber asap itu berasal. Lalu Mayat Pucat menyambar Tapak Kelam dengan entengnya dan membawanya berlari cepat. Lalu mereka menceritakan sedikit tentang penyerbuan mereka ke timur. sampailah kita di sana. kereta kuda terbalik. itulah yang mereka cari. Kebuasan melebihi binatang liar. benar. Ilmu-ilmu tinggi dan menggiriskan. Yang lain hanya mengangguk dan lalu mempercepat langkah masing- . menyusul kedua rekannya yang telah pergi terlebih dahulu.” ucap Gentong. senang mereka melihat ketidaktahuan dari Tapak Kelam tentang apa yang sebenarnya terjadi. di kiri-kanan jalan. *** ”Itu di sana!” ucap Misun sambil menunjuk asap kehitaman yang membumbung tinggi di udara. Ketiganya kemudian terkekeh-kekeh. Bergembira layaknya seorang pemenang. Umumnya hanya kebakaran yang dapat menyebabkan asap demikian pekat dan gelap. Hal-hal yang mungkin timbul akibat perang. hanya untuk kepuasan akan kekuasaan. Kemenangan atas tumpahnya darah lawan.

The one. ”Misun. ORANG-ORANG ABADI masing.” ”Memenggal kepala?” berkata Gentong sambil tak terasa memegang lehernya. mereka akan semakin kuat.400 BAGIAN 7. Ia tampak berpikir apa yang sebaiknya dijelaskan. Orang yang memiliki pengetahuan dari lawan-lawan yang dibunuhnya. ”Ya. maka yang hidup akan menerima ’nyawa’ yang kalah dan menjadi bagian dari dirinya. jika dua orang kaum immortal bertempur dan satu berhasi dipenggal kepalanya. Ia perlu mencari tahu. Jelas tampak dalam wajahnya kebingungan. Begitulah. ”Ya.. Orang dapat dipastikan mati bila leher kepada terpisah dari tubuhnya. Misun tidak langsung menjawab. ”Begini. Sebagai mereka-yang-tak-bisa mati.” ucap Gentong perlahan. kekuatan dan menjadi yang terutama. bela diri.. walaupun tidak dapat mati tentunya. benarkan kita itu tidak dapat mati? Bagaimanapun juga luka kita?” tanya Gentong suatu saat. Lalu katanya. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. kamum immortal. atau lebih tepatnya mirip peraturan bagi kita. ”sebenarnya tidak juga. dan itu kadang menjadi tujuan beberapa orang atau kelompok.” ucap Misun sambil menuliskan sesuatu di atas tanah ..” jelas Misun. dan lain-lain yang ada dalam kepalanya. the one. ”The one?” tanya Gentong kembali. membayangkan apabila bagian tersebut dipotong oleh sebuah senjata. Ilmu pengetahuan.” ucap Misun lagi. Jika tidak mereka akan menjadi terlalu lelah dan tidak dapat berbuat apa-apa. akan tinggal satu orang. yang dituliskan dalam suatu ramalan. Dan itu yang biasanya dilakukan oleh sesama mereka-yang-tak-bisa-mati atau immortal. Beberapa orang memanfaatkan keadaan itu untuk mencari kekuatan. Dengan semakin banyak membunuh. ”Bingung aku. bahwa pada suatu saat lewat pertarungan di antara kita.. orang-orang tersebut perlu pula asupan tenaga dan juga istirahat. juga hal-hal yang telah dipelajarinya. the one. Itu hanya istilah. Baginya keadaan dirinya yang baru ini masih diselimuti banyak misteri.

”Kita sudah sampai. membuat anak-murid Perguruan Kapak Ganda yang baru saja menang perang langsung siaga. berusaha mengabari rekan-rekan mereka yang masih ada di bagian dalam dari lingkungan bangunan Perguruan Atas Angin. Melompat dengan kaki-kakinya yang relatif panjang bagi orang-orang. menemani musuh-musuh mereka yang telah terlebih dahulu hilang nyawan-nyawanya. kenapa kalian diam saja? Ayo bantu aku!!” ucap Dhoruba sambil terus bertempur. Golok melenkung patah. ”Musuh datang!!!” teriak salah seorang dari mereka. ”Hei.401 di depannya. mirip bumerang dangan satu sisinya berupa pegangan dan sisi lainnya bagian yang tajam. Mereka mengira bahwa kelima orang ini adalah bala bantuan untuk Perguruan Atas Angin yang baru saja mereka bantai. Mengucurkan darah pada anak murid Perguruan Kapak Ganda. ”Aku ini sudah membunuh belasan orang dari kaum kita. Golok tersebut dapat dilempar untuk memenggal kepala musuh. Tapi hal tersebut tidak berarti banyak bagi Dhoruba yang segera bergerak ke sana kemari. sehingga tidak waspada saat Dhoruba menyerang tanpa ba-bi-bu lagi. merentangkan tangannya yang memang panjang dan menyabet-nyabetkan golok bumerangnya. sudah basah oleh darah lawan-lawannya. ”Capp!! Heggg!!” alangkah terkejutnya mereka. Bajunya yang tak begitu panjang menutupi tubuhnya.” ucap Dhoruba yang segera mencabut golok bumerangnya. Dhoruba sudah puluhan. yang sebenarnya disebabkan oleh kelengahan mereka sendiri yang jumawa sehabis menang dalam penyerbuan ini.” katanya pendek. Segera berjatuhan beberapa orang dengan luka di bagian leher. Bukan jumlah yang banyak apabila dalam rentang dua ribu tahun. Kedatangan kelima orang ini. Angus dan Shia Siaw Liong bahkan sudah ratusan. Membacok dan menendang sana-sini. Hal ini membuatnya . Segera berlompatan keluar rekan-rekan mereka yang telah siaga dengan senjata di tangan. yang sudah jelas-jelas terlihat membawa senjata. atau leher yang hampir putus.

Khas pedang Tlatah Skotlandia. ”Pakai senjata lebih efektif. Pedang yang cukup panjang dan berat. Angus pun mulai turun ke dalam arena. Putus napasnya. ”Mana dedengkotnya? Siapa namanya? Sabit Kematian?” ucap Dhoruba sambil matanya melihat ke sana-ke mari. Misun mengangsurkan Gentong panah dan beberapa tombak.” tunjuk Misun.” ucap Misun yang tadi meghilang dan sekarang muncul lagi.402 BAGIAN 7. ”Lihat ini. Cocok dengan gambaran Gentong terhadap salah satu tokoh utama mereka.” usulnya. Masing-masing kemudian menyimpan kembali senjatanya. Pertempuran itu tak berlangsung lama. Di dalam suatu ruang terbuka dekat dengan bagian tengah perguruan tersebut. Lawanmu yang sebenarnya bukan keroco-keroco ini. berseliweran ke sana-ke mari yang diikuti oleh percikan darah yang mengambang di udara. tinggi dan kurus. Ia menggapai rekan-rekannya untuk mengikuti. Mayat Pucat. Sekali tetak tak ada lawan yang dapat menahan tenaganya. Ia pun menerima senjata-senjata itu dan menggunakannya sebagaimana ia diajarkan oleh Misun. Tenaga yang besar ditambah dengan bobot pedang yang berat. Simpan tenagamu. Hitam dengan baju merah berdarah. mencabut kedua pedagnya dan memainkannya bak kupu-kupu menari. Tarian Kupu-kupu Penjemput Maut. Gentong menangguk mengiyakan. dan dengan golok bumerang yang menari-nari di atas urat dan darah lawannya. tampak tubuh-tubuh malang melintang. Remuk dan hancur. Ia mengayunkan pedangnya sekali dua kali. melucu. Kelima diam seribu bahasa. Kali-kali saja yang namanya Sabit Kematian telah tak sengaja terbunuh. ”cakaran beracun. Dua ratusan murid-murid Perguruan Kapak Ganda telah malang melintang di atas tanah. Shia Siaw Liong bergerak cepat.” Di sana tergeletak pula empat orang yang dari busananya tampak . ”Di sini. Ia mencabut pedangnya. ORANG-ORANG ABADI makin mengerikan.

Sunyi karena hampir seluruh penghuninya telah berkalang tanah. Bawahan langsung dari Tapak Kelam. menunjukkan jelas garis-garis yang dibentuk oleh darah manusia yang terluka dan diseret-seret. Di mana mereka?” celingakcelinguk Dhoruba sambil mengayun-ayunkan golok bumerangnya yang sudah mengering merah. .” ucap Xyra. Rongga itu tidak terlalu besar. Wananggo. *** ”Itu. mereka adalah Empat Pilar. tidak seperti yang aku pikir. Ya. ”Mari kita ikut. ”Luas juga. Ruangan dalam. di mana ketiga orang itu berada sekarang.” usul Angus kemudian. Mereka pun pergi ke bagian belakang dari bangunan Perguruan Atas Angin yang tampak sunyi itu.” kata Shia Siaw Liong sambil menunjuk ke arah mayat Empat Pilar. Mereka kemudian satu per satu memasuki ruangan itu.” ”Kelihatannya ketuanya belum mati dan dedengkok dari Perguruan Kapak Ganda pun tidak ada di sini. lebih luas dari yang dibayangkan saat orang melihatnya dari bangunan batu berwarna kelabu dari luar sana. agar tidak tarantuk pada langit-langit rongga tersebut. ”Ini ada jejak darah yang seperti terseret. di sana pintu masuknya.” berkata Lantang membenarkan. Lantang dan kemudian akhirnya diikuti oleh Xyra. pempimpin Perguruan Atas Angin saat itu.” tunjuk Wananggo pada suatu rongga pada bangunan batu berwarna kelabu itu. terlihat cukup luas. begitupula dengan hampir seluruh musuh yang menyerbunya. ”Bajunya berbeda dan juga otot-ototnya. ”Benar.” kembali Misun kembali dari suatu ruang di sebelah. Mungkin wakil-wakil ketua.403 sedikit berbeda dengan murid-murid Perguruan Atas Angin yang lain. ”Ini mungkin murid-murid tingkat pertama. sehingga orang dewasa harus agak membungkukkan dirinya untuk memasukinya.

” Kedua muda-mudi itu masih saja bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Wananggo. Ke suatu tempat yang difungsikan sebagai meja dan kursi. karena ia hanya melihat ruangan yang hampir kosong tersebut. sehingga dapat digunakan sebagai meja dan kursi.” jelas Wananggo kemudian.” jawab Wananggo sambil berpikir sedikit. Rak-rak yang di langit-langitnya tampak sinar kemerah-merahan. yang seperti diduga. ”Paman pernah bertemu dengannya?” tanya Xyra menyela. ”Aku tidak pernah bilang bahwa kebun tersebut adalah kebun seperti kebun-kebun tanaman pada umumnya. seperti dihiasi batuan atau jamur yang dapat berpendar dalam gelap. Wananggo pun mengajak mereka ke sudut ruangan itu. sahabat dari pemiliki tempat ini. akan menceritakan apa-apa yang membingunkan mereka tadi itu. ”Pondok ini adalah milik seorang petapa yang ahli obat-obatan. ”waktu itu aku sedang mencari obat untuk anak dan istriku yang . sekali waktu. Hanya beberapa rak terbuat dari batu. ”Mana tanaman yang dimaksud. Ia senang melihat ketidakpercayaan pada mata kedua muda-mudi yang menyertainya itu. Dengan permainan warna. perancang tempat ini membuat atau ingin menimbulkan kesan. ”Pernah. tidak seperti keadaan sebenarnya. Dan aku juga tidak pernah bilang seperti apa tanamannya atau bentuk pohonnya. Keduanya pun menurut dan duduk berhadapan dengan Wananggo. yang dipahat dalam dinding. bahwa bangunanbangunan di setiap pulau tidaklah besar ruangan di dalamnya. bentuk dan komposisi tumbuh-tumbuhan serta cahaya. walaupun kesemuanya itu terbuat dari batu.” jelas Wananggo.404 BAGIAN 7. Batu yang dipotong sedemikian rupa. yang tampak di sana-sini. ”Inilah kebun itu!” ucap Wananggo puas. kebunnya pun aku tidak lihat?” tanya Xyra. Melihat tanda tanya besar seolah-olah terpampang di benar mereka. ORANG-ORANG ABADI ”Itu juga salah satu kelebihan tempat ini. Ia mencaricari dengan matanya sampai pada suatu tulisan di dinding. Ia ahli segama macam tumbuhan dan khasiat-khasiat yang terkandung di dalamnya.

menanggapi jawaban tersebut. Saat itulah aku bertemu dengan petapa itu. ”Xyra dan Lantang. Wananggo menangguk mengiyakan. Suatu penyakit yang aneh. Yang kutahu ia sering membawa-bawa sebuah buku tempat ia menuliskan obat-obatannya. manusia dan Undinen?” Kedua orang tersebut. Suatu penyakit yang juga tidak jelas asal-usulnya. yang mirip dengan yang dimiliki hewan?” tanya Wananggo. Alih-alih menjawab. itu!” jawabnya tersenyum. apa sebenarnya tumbuhan dan hewan? Maksudnya. yang mengingatkan kembali orang tua itu akan tujuannya semula mengajak muda-mudi itu ke tempat ini. ”Tumbuhan tidak bertelur atau beranak?” tebak Lantang.” tanya Xyra. Seribu Ramuan namanya. ia malah mengajukan pertanyaan. ”Paman. Pernah aku diberitahu judul buku tulisannya itu.” jawab Wananggo. ”Nama petapa itu sendiri aku tidak tahu. ”Lalu apa yang namanya buah dan umbi? Bukan itu telur dan anaknya. Mereka tidak dapat langsung menjawab melainkan memikirkannya dulu. tapi paman belum menceritakan mana kebun dan tanamtanaman obat yang akan kita curi. ”Seribu Ramuan?” ujar Xyra.405 sakit. Di sini tidak ada kebun apalagi tanam-tanaman. ”Mungkin. ingin tahu siapa orang yang kemungkinan bisa memiliki obat untuk kesembuhannya. tampak kaget dengan pertanyaan yang tidak diduga-duga itu. apa bedanya mereka berdua dan apa hubungannya dengan makhluk hidup lain seperti kita. ”Mungkin itu untuk menunjukkan betapa banyaknya ramuan obatobatan yang tertulis dalam buku itu. yang satu Undinen dan yang lain manusia. paman?” tanya Lantang ingin tahu. ”Oh. .” tebak Lantang.” ucap Wananggo pendek. Menyembuhkan penyakit yang dideritanya.” ”Siapa nama petapa itu. Ya.

”Paman. aku tahu. Menjelaskan suatu hal tapi hal yang pertama belum jugaa terjelaskan.” ujar Wananggo yang menutup jawaban dari pertanyaannya itu. yang akan menjadi tumbuhan baru. ”Mana tumbuhan obat untuk Lantang. banjir dan sebagainya. yang berpindah tempat akibat kemauan kita sendiri. berpindah tempat. ”Sebenarnya tidak terlalu tepat apabila dikatakan mereka berpindah tempat. sengaja atau tidak sengaja. Manusia dan hewan juga berperan dalam penyebaran itu.” jelas Wananggo kemudian. Lebih tepat bila dikatakan keturunannya atau bagian dari tubuhnya. ”Ini paman. yang menjadi tujuan kita semua ke tempat ini?” Tersenyum Wananggo melihat pertanyaan yang diajukan dengan semangat oleh Xyra.406 BAGIAN 7. suatu kreasi yang mengagumkan dari Sang Pencipta.” ucap Xyra.” ucap Xyra kembali. paman?” tanya Lantang tidak percaya. sedangkan yang tidak sengaja misalnya adalah biji-biji yang tersangkut di sepatu. paman kembali membuat bingung. ”tumbuhan tidak berpindah tempat. baju atau tidak hancur dalam lambung sehingga kembali keluar saat mereka membuang hajat besar.” ”Masak ada sih tumbuhan yang bisa berpindah tempat. ”Begitulah alam ini. Lain dengan hewan dan juga kita manusia dan Undinen.” jawab Wananggo. Hewan selalu berpindah tempat. ORANG-ORANG ABADI Lantang hanya cengengesan mendengar pertanyaan balik itu. ”Tepatnya tumbuhan tidak berpindah tempat akibat kemauannya melainkan akibat rangsangan dari lingkugan. Terlihat jelas kekuatiran dan kasih sayang Undinen wanita tersebut kepada Lantang.” ”Hampir benar. Lalu ia menjelaskan bahwa ada tumbuhantumbuhan yang memanfaatkan angin dan air untuk menyebarkan bagian tubuhnya atau keturunannya. Berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ada pula yang tersebar akibat adanya bencana alam seperti tanah longsor. Yang sengaja misalnya dengan memindahkan tanaman dan ditanam di tempat lain. . Lalu ia kembali terdiam.

”Dulu kala ada seorang pengujar yang bernama Lui Pastur (Louis Pasteur) yang menemukan bahwa bahan makanan yang dipanaskan sampai suhu tertentu. kemudian dikenal sebagai pasturisasi. Dengan tidak percaya kedua anak muda itu menunjukkan muka yang semakin bingung dan tertarik. Inilah yang disebut sebagai organisme mikro. Banyak hewan dan tumbuhan yang berukuran jauh lebih kecil dari mereka. juga lebih sehat. Organisme mikro namanya. ”Benar. menantikan penjelasan yang akan muncul. selain lezat. lalapan itu juga sehat. Kedua muda-mudi yang diberi penjelasan itu kembali mengangguk- .” ucap Wananggo.” ucap Wananggo. ”Tapi katanya.407 ”Sebenarnya aku sudah menjawab secara tidak langsung hal itu. Mereka-mereka ini kadang dapat membuat hewan dan tumbuhan yang lebih besar menjadi sehat atau pun sakit.” Kedua anak muda itu diam. benar begitu. Ikan laut masih baik dimakan mentah. Ukurannya sangat kecil.” jelas Wananggo. Hal ini karena renik-renik dari tumbuhan dan hewan yang hidup dalam bahan makanan mati karena pemanasan tersebut. Umbi-umbi yang keras sebaiknya dimasaka agar mudah dicerna oleh lambung. Lalu Wananggo pun menjelaskan. Ia mendengar hal itu dari mendiang ibu dan ayahnya. Bahkan ada yang tidak bisa dilihat oleh mata.” jelas Wananggo. ”Itu sebabnya kita perlu memasak makanan yang kita makan. Dan itu terutama daging. ”hanya saja belum benar-benar menjelaskan apa yang kumaksud. bahwa tumbuhan dan juga hewan. Amat kecil. Kedua orang yang dijelaskan hal baru itu tampak menganggukangguk. atau disebut juga bibit penyakit. lho!” kata Lantang. tidak saja apa-apa yang diketahui oleh kedua orang muda tersebut. Umumnya harus dimasak adalah makanan yang mengandung atau kemungkinan besar mengandung organisme mikro yang berbahaya bagi tubuh. dapat membuat makanan tersebut tidak cepat membusuk dan lebih sehat untuk dimakan.

Aku tidak tahu efeknya terhadap Undinen. Senang ia melihat ketertarikan kedua muda-mudi itu. Baru kali ini mereka melihat kebun yang berukuran ”mini” tersebut. Di bawah sinar berpendar merah dari setiap langit-langit dalam ceruk tersebut. Ada beberapa yang amat beracun. Sama seperti yang terjadi dulu pada dirinya saat petapa. BAGIAN 7. Wananggo tersenyum masih. lalu katanya. sang penanam tumbuhtumbuhan itu. lalu mana yang akan digunakan sebagai obat untuk mengobati Lantang? Bukan yang tadi?” tanya Xyra kemudian. Yang lain tampak berwarna lembut dan buram. ”Ya!” jawab Wananggo sambil tersenyum. kebingunganmu itu juga sama dengan kebingunganku dulu. hanya setinggi beberapa jari saja. saat bertemu dengan sang petapa penulis kitab Seribu Ramuan. .408 angguk. sekali sentuh dapat seorang manusia mati. ”Hai. ”Ini kebun yang dimaksud?” tanya Lantang dan Xyra hampir bersamaan. ORANG-ORANG ABADI ”Tapi paman. ”Mari kita ambil dan kita gunakan untuk mengobatimu.” ucap Xyra seraya tangannya mengapai ke salah satu tanaman mini tersebut. ”Tenang Xyra. terhampar semacam tempat yang di atasnya diberi tanah halus berwarna coklat kehitaman dan di atasnya tumbuh tanamantanaman kecil dan mungil. itu semua belum menjelaskan letak kebun dan tanaman yang dimaksud?” protes Xyra kemudian.” Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan mengajak keduanya menuju ke rak-rak yang terbuat dari batu.” Mendengar itu segera Xyra menarik tangannya kembali dan tidak jadi memetik tanaman yang menarik. menerangkan pada dirinya. juga keheranannya. ”Paman. ”Ini kebun yang kumaksud!” katanya sambil menunjukk rak-rak tersebut. ”Jangan sembarangan menyentuhnya. yang di dalam ceruknya terdapat langit-langit yang langit-langitnya berpendar kemerahan. hati-hati!” cegah Wananggo. Beberapa tampak berkilauan perak. yang ada dihadapannya itu. Lantang.

” jawab Wananggo pendek. di mana di sana tidak terdapat rakrak berupa ceruk dalam dinding itu. Tampak ia berpikir-pikir agak keras. apapun.” Ucapannya itu diakhiri dengan nada yang pasti.” ”Tapi kalau kita tidak tahu tanaman yang mana.. Keduanya mengangguk mengiyakan.409 ”Bukan. Malu. ”Dulu petapa tersebut pernah bilang kepadaku bahwa saat malam bulan purnama tanaman itu akan berbunga dan tak lama. Setelah. Hening pun menggapai mereka bertiga yang tenggelam dalam pengaturan napas dan pikiran. tumbuhan ini juga akan mengeluarkan semacam aura yang mirip seperti yang dikeluarkan Lantang pada saat itu. sehingga nanti dapat dengan mudah melakukan pengobatan kepadamu. ”Nah.” usul Wananggo. Jika mati. Tapi jangan sampai mati. dan di antara kita bertiga. yang hawanya mirip dengan hawa yang engkau pancarkan.?” ucap Lantang menambahkan. hanya engkau Xyra yang dapat merasakannya. Lantang menjadi terharu mendengar hal itu. demi kesembuhan Lantang. untuk itu kita butuh kemampuan Xyra sebagai seorang Undinen. meditasi. Tak terasa jemarinya menggenggam erat jejari Xyra.” jawab Wananggo sambil tersenyum. Menunjukkan niatan yang teguh. *** . ”akan aku coba.” ucap Wananggo sambil memandang dara Undinen tersebut. Xyra mengangguk.. dalam hitungan menit akan berbuah. khasiatnya akan berkurang. ”Kita masih ada sedikit waktu. ”Nah. Saat itulah ia harus dipetik buahnya dan juga diambil akarnya. tentu saja Xyra mencarikan tanaman yang tepat. Lantang. Hal ini pun tak luput dari perhatian Wananggo sehingga membuat wajah keduanya merona merah. agar hawa kita murni. Lebih baik kita mengheningkan cipta. Segera mereka mencari tempat di salah satu ujung ruangan. ingatkah bila Xyra pertama kali bertemu dan tertarik kepadamu?” Kedua orang di hadapan Wananggo mengangguk. ”Dari cerita kalian.

410 BAGIAN 7. di hadapan bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu.” ucapnya. ”Boleh juga bila kita pindah kemari. Hanya dapat berbicara. dari Tapak Kelam yang sedang dibawa-bawanya. Sabit Kematian hanya diam saja. tapi tanda daya.” Ucapannya itu dibalas oleh dengusan marah. Tangannya telah luluh lemas dikerjai oleh Mayat Pucat. Lunglai bagaikan boneka saja. ”Ayo jika begitu. ”Benar-benar seni tata bangunan yang tinggi.. di tengah pulau..” ucap Cermin Maut. ”Sekarang tunjukkan di mana tempat prasasti tersebut berada.” ucap Tapak Kelam sambil menggerakan dagunya. Lalu ia segera memandang kepada Tapak Kelam. mengoyang-goyangkan ke arah pulau di tengah danau tersebut. ”Di sana. Segera mereka berada di atas pulau pertama. sehingga tidak dapat berbuat apaapa. Kita harus menyeberang. ”ada berapa lipat bentuk yang sama ini?” Tapak Kelam yang tadinya berhadap tipuan akibat kesamaan geometri ini dapat membingungkan ketiganya sehingga ia dapat mencari-cari . Belum pernah ia menemui tempat yang indah seperti ini.” ucap Sabit Kematian sedikit bingung. Kagum akan keindahan tempat tersebut.. bagus juga tempat ini?” kekekeh Mayat Pucat saat mereka berempat tiba di Air Jatuh.” ucap Cermin Maut yang segera melayang disusul oleh kedua saudara seperguruannya. Mau tak mau ia mengagumi hal itu pula. Tapi matanya tampak juga mengiyakan.” ucap Mayat Pucat sambil menggoyang-goyangkan Tapak Kelam yang baru saja dipijit uratnya dan ditotok. ”Bisa nanti itu kita bicarakan. Cermin Maut yang paling cerdik dari mereka segera tahu apa yang dihadapinya. ORANG-ORANG ABADI ”Hehehehe. ”Ha? Bukannya tadi. Di tempat di mana terdapat pemandangan yang sama dengan pemandangan di tempat sebelum mereka tiba di pulau tersebut. Lalu Tapak Kelam mengisyaratkan untuk memutari bangunan itu sehingga sampailah di belakangnya.

” jawab Tapak Kelam pendek.411 kesempatan untuk melarikan diri. mari kita menyeberang. Begitulah mereka berlari cepat. Dengan lunglai ia berkata. ”kira-kira sepuluh. Aku hanya pernah sepuluh kali lewat dan tidak melihat belakang dari yang kesepuluh itu. Yang lain segera menyusulnya. di mana di hadapan mereka terdapat sebuah pulau yang dihubungkan dengan sebuah jembatan melengkung cembung berwarna hitam. Setelah ia bertarung dengan seorang Manusia Serigala yang juga seorang dari mereka-yang-tak-bisa-mati dan berhasil memenggal kepalanya. Tak sadar mereka saat melewati pulau keempat bahwa ada tiga orang dalam bangunan di tengah pulau itu.” jawab Misun sambil mencium-cium darah tersebut. Kemampuan yang dulunya dimiliki oleh lawannya tersebut. Setelah menemukan- .” Mengangguk-angguk Cermin Maut mendengar hal itu.” ucap Dhoruba yang segera meloncat dengan kaki-kakinya yang jenjang.” ucap Shia Siaw Liong saat mereka berlima tiba di Air Jatuh. Keunikan ini menambah rasa sayangnya untuk memiliki tempat ini. *** ”Tempat yang menarik. ia mendapatkan kemampuan untuk membaui seperti halnya serigala. ”Menyeberang kita?” tanya Gentong karena ia tidak melihat alternatif tempat lain yang mungkin menjadi tujuan mereka. ”Kelima. ini sedikit tetetasan darah yang tadi. tampak lemas. ”Ya. Sesampainya di seberang segera Misun mulai lagi mencari-cari jejak dan tanda-tanda orang-orang yang baru lewat. menyeberang ke arah pulau menggunakan jembatan hitam melengkung cembung tersebut. ”Jika demikian. ”Kalau begitu mari kita segera pergi!” ucap Sabit Kematian yang segera berlari cepat menyeberang jembatan melengkung cembung berwarna hitam yang ada di hadapan mereka itu. mendahului keempat orang rekannya. Di pinggir danau. ”Dan di pulau keberapa prasasti itu berada?” tanyanya kemudian. sampai akhirnya tiba di pulau kelima.

Kami harus agak jauh agar tidak hawa kami mengganggu konsentrasimu. ORANG-ORANG ABADI nya ia segera menggapai teman-temannya untuk mengikuti.” ucapnya sambil berjongkok mengamati percabangan dari jejak-jejak yang ada di hadapannya. ditambah dengan ubun-ubun kepala. di sini ada dua jejak menuju arah yang berlawanan.” usul Shia Siaw Liong. ”Sekarang aku dan Lantang akan berdiri dekat pintu masuk.” lalu ia berdiri dan segera mengikuti rangkaian jejak-jejak pertama tadi. Begitulah mereka terus berpindah dari satu pulau ke pulau lain sampai ke pulau yang keempat. Rangkaian jejak-jejak yang membawa mereka menuju pulau berikutnya. ”Sudah hampir tengah malam saat ini. *** Malam pun menjelang tiba. Kedua telapak tangan dan kaki.” ucap Wananggo hampir berbisik. ”Mari kita mulai. yang tadi dalam postur Duduk Teratai. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk merasakan energi dari tumbuhan yang akan digunakan untuk menyembuhkan Lantang. yang datang kecuali dari arah pintu masuk. karena itu adalah posisi yang paling jauh dari rak-rak dalam ceruk batu itu. ”Selanjutnya.. menggugah Xyra dan Lantang dari duduk semadi mereka.” jelas Wananggo pada Xyra dan juga Lantang. ”Kita ikuti saja yang pertama. bayangkan engkau hendak mencari Lantang. menyajikan malam yang tidak segelap biasanya. Hampir tanpa awan dan diterangi oleh rembulan. dengan lima titik menghadap ke langit. Upayakan untuk mencari hawa .. ”Aneh. Rasakan hawa yang dikeluarkannya. Jejak yang dari tadi kita telusuri dan yang baru. Telusuri isyarat yang ada. ”Baik jika begitu. Pulau kelima.412 BAGIAN 7. yang hari itu membulat sempurna.” Kedua muda-mudi itu pun mengangguk dan meninggalkan posisi duduk mereka. Mau tak mau engkau pasti akan merasakan hawa dari Lantang. itu yang sedari dari ruang perguruan kita ikuti.

413 lain yang mirip di antara tumbuhan-tumbuhan mini tersebut. sang Undinen. Dalam ruangan yang sudah tentu lebih gelap dari keadaan di luar. ”Arahkan ke tempat lain. Hanya pendar kemerahan tampak dari langit-langit rak-rak dalam ceruk batu yang berjajar di sisi lain dari sisi tempat pintu masuk berada.” bisik Wananggo perlahan. jangan ke sini. Ia bergerak perlahan. Lidah cahaya itu berhenti memanjang.” kata Wananggo kemudian menambahkan. Perlahan-lahan lidah cahaya bependar itu bergerak-gerak memanjang dan memendek. Jika suasana terang. kadang ke rak yang . kembali memanjang dan seperti mencium-cium pada setiap isi dari rak-rak dalam ceruk-ceruk batu. Putih cemerlang. memutar dan mencari-cari dalam arah yang berlawanan. dengan membayangkan pemuda itu. Dari satu rak batu lidah cahaya itu perpindah. Lalu ia menipis dan bergerak menuju ke arah pintu keluar. mengangguk mengiyakan petunjuk itu dan mulai berkonsentrasi dengan menutup matanya dan mulai hening. di mana hanya seberkas sinar rembulan menerobos masuk dan miring menerangi lantai seluas dua tiga telapak tangan. halus dan bersambung-sambung. terlihat seperti mencari-cari seuatu.” ucap Wananggo memberi petunjuk lebih lanjut. Perlawan-lahan mulai tampak kabut tipis dari kepala Xyra. menghasilkan nuansa warna yang indah dan mempesona dalam kegelapan ruangan itu. Xyra. untuk mencari hawa dari Lantang. Ceruk di mana langit-langitnya masih berpendar kemerahan. ”Bayangkan Lantang ada di sisi lain ruangan ini. Bergerak liar ke sana-kemari seperti cabang-cabang percikan api yang kemudian berubah menjadi tenang dan mulai membentuk seperti suatu lidah masih berwarna biru temaram dan bependar. Kabut yang bersinar kebiruan dalam gelap. Tepatnya menuju ke arah di mana Lantang berada. mungkin kabut tersebut tidak akan jelas terlihat seperti saat ini dalam ruang yang gelap. Pendaran yang bercampur dengan pendaran lidah cahaya Xyra. Sisa dalam ruangan itu boleh dikatakan hampir gelap. Mirip kilauan kunang-kunang. Ia lihat bahwa Xyra telah berhasil membangkitkan indera pencarinya.

. ”Baik. Lebih bercahaya dan kemilau. Di sana lidah cahaya itu tampak berhenti. sudah baik kembali. saling merengkuh. Masih terasa pautan hawa yang tadi dialaminya. Diam seperti mematung.” tanya Wananggo. ORANG-ORANG ABADI sebelah atas. Tampak ada sedikit perbedaan dalam sorot matanya. kembalikan peredaran hawa dalammu. ”Bagaimana keadaanmu sekarang. melebur dalam kegelapan semula ruangan itu. ”Atuh napasmu perlahan. Kedua lidah cahaya tersebut bergumul.” ucap Wananggo perlahan. Kesemuanya itu disaksikan dengan hampir menahan napas oleh Lantang dan Wananggo. ”Hehhhh!” tampak Xyra menarik napas panjang. Keduanya segera menandai dekat mana peristiwa itu terjadi. yang kemudian disusul oleh lidah atau kabut cahaya lembut. Mungkin akibat kontak dengan hawa tumbuhan obat tersebut tadi. . Setelah beberapa saat hening. agar hawa yang kacau tidak menular pada pemuda itu. Ia mengisyaratkan agar Lantang tidak menyentuh Xyra.. Peluh tampak berjatuhan dari pelipis dahinya.” jawab Xyra pendek. Cahayanya bertambah terang dan cemerlang. Suatu perasaan nyaman yang dirasakannya dengan membayangkan sedang bersama Lantang. juga berwarna biru tembus pandang. kadang ke rak yang sebelah bawah. yang perlahan merebak dari rak dihadapan nya. Suatu perasaan nyaman luar biasa.414 BAGIAN 7. Tampak banyak energi telah dikeluarkannya untuk menentukan tumbuhan obat yang tepat untuk Lantang. Menampilkan nuansa indah pancaran foton-foton dinamik. Pemuda yang dikasihinya. Berpindah perlahan seperti memindai satu per satu. melingkar. Xyra pun membuka matanya. ”Apakah itu tadi?” tanya Lantang yang terlihat kuatir dengan keadaan sang Undinen. Ketinggian yang mendekati langit-langit ruangan itu. yang lalu tiba-tiba hilang. Rak tersebutlah yang mereka cari. sampai akhirnya tiba pada suatu rak yang berada cukup tinggi..

Lantang yang tidak mengerti segera menyimpan pucuk-pucuk tumbuhan mini yang diberikan. Kita tidak perlu melakukan pengobatan dengan meminumkan ramuan dari tumbuhan tersebut pada dirimu. Itu pula yang aku harapkan. Tak lupa Mayat Pucat masih ”menenteng” Tapak Kelam yang belum dilepaskannya dari totokannya. Untuk orang lain. Dibukanya suatu kertas berisi bubuk keabuan. Dicampurkannya tumbuhan tadi dan dilumatkan pelan-pelan dengan ujung jarinya.” Lalu Wananggo mencari dudukan untuk dinaiki. yang dapat membantu menyembuhkanmu. Wananggo melihat bahwa di samping tumbuhan-tumbuhan mini tersebut tergeletak juga sebuah kitab kecil. Ia masih ingin bertanya mengenai kitab apa itu.” jelas Wananggo. ”jika tidak. Mayat Pucat dan Cermin Maut memasuki tempat tersebut. di dalam bangunan itu.. suatu hubungan hawa antara dua entitas. Dengan reflek diambilnya kitab itu dan juga beberapa jumput dari tumbuhan yang ada. . Ia mengambil dua pucuk kecil yang akan diolahnya untuk diberikan kepada lantang. jika suatu saat ada yang membutuhkannya. Tidak semuanya. Ia ingin masih menyisakan beberapa agar dapat tumbuh kembali. melainkan cukup dengan kontak hawa seperti yang dilakukan oleh Xyra tadi. tapi mimik serius dari Wananggo menandakan ia tidak ingin diganggu dulu.. membantunya melihat dan mengambil tumbuhan yang tadi telah ditemukan oleh Xyra melalui kontak hawa. Berbegas Sabit Kematian.” ucapnya kemudian. ”kecocokan dua buah hawa akan membawa pada peningkatan energi dari kedua entitas yang berinteraksi.” ujar Tapak Kelam sambil menunjuk ke suatu bangunan berwarna kelabu yang terbuat dari batu. Entah apa.” ”Sayang engkau belum dapat menggunakan Tenaga Air yang engkau latih dan simpan selama ini.415 ”Pautan hawa. *** ”Di sana. ”Ini simpan beberapa pucuk dalam kantongmu dan juga kitab ini.” ucap Wananggo. Saat di atas dekat dengan rak yang hampir menyentuh langit-langit ruangan itu. Ia bergegas menuju meja terbuat dari batu yang ada dalam ruangan itu. berikut kitabnya tersebut.

Prasasti sebesar kerbau bunting. ”Rrrrrrrgggghhh!” dengan suara berat bergumam.416 BAGIAN 7. Dicobanya untuk menggeser-geser prasast tersebut. Lingkaran Dalam. pemimpin Perguruan Atas Angin pada saat itu. bertanya Cermin Maut dengan nada menyindir kepada Tapak Kelam. Demi melihat prasasti kedua. ”Mana prasasti saat engkau menjabat jadi ketua?” Tapak Kelam tidak menjawab. Di dalam lubang tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali empat buah liang yang juga kosong yang terpahat pada keem- . Tanpa banyak berbicara. ORANG-ORANG ABADI Selepas mereka tiba dalam ruangan dalam bangunan tersebut. Ki Jagad hitam. prasasti sebesar kerbau bunting itu tergeser dengan mudah. Perguruan yang hari ini hancur oleh ketiga orang yang berdiri di hadapannya itu. tidak tahu sejarah prasasti itu tetap membiarkan prasasti tersebut berada di sana. Prasasti Ki Jagad Hitam dan Lingkaran Dalam tidak menarik hatinya. Ia hanya tersenyum getir saja. mulai mengamat-amati prasasti pertama. walaupun ia tahu prasasti tersebut adalah palsu. Mayat Pucat setelah terlebih dahulu meletakkan Tapak Kelam di suatu sudut ruangan. Hal ini menandakan betapa besarnya tenaga yang dapat dikeluarkan oleh Mayat Pucat. Ia hanya tertarik pada prasasti warisan Petapa Seberang. Sebuah lubang sedalam dengkul tanpak menganga di atas lantai yang terbuat dari batu. Seseorang mungkin dapat menafsirkan bahwa isi sebenarnya dari prasasti itu adalah untuk mengejek keberadaan Perguruan Atas Angin yang meruntuhkan Perguruan Embun dan Angin sebagai pewaris ilmu-ilmu Petapa Seberang serta memporak-porandakan tatanan yang telah dibentuk. bagaimana perbedaannya sebelum dan sesudah ilmu-ilmu dari Petapa Seberang diamalkan. Sayangnya. ia tidak mendapatkan waktu cukup lama untuk membuat suatu prasasti agar namanya dapat dikenang sebagai salah satu yang pernah memimpin perguruan ini. yang di atasnya menggambarkan keadaan kota atau desa pada saat itu. berdiri di hadapan mereke prasasti yang dicari-cari. Tak jauh dari sana terdapat prasasti lain yang menggambarkan tengan Ki Jagad Hitam sendiri dan enam belas murid utamanya. Ya.

” ucap Tapak Kelam. kakak Sabit Kematian.” ucap Mayat Pucat yang masih memperhatikan lubang tersebut.417 pat sisinya. mungkin tidak lama lagi!” ucap Mayat Pucat yang melihat bahwa lapisan yang dicungkil tersebut tida terbuat dari bahan yang sama dengan lantai batu di sekelilingnya. dan tidak ada apa-apa di sana. siapa tahu tipuan mirip yang digunakan Murid Rahasia digunakan pula di sini. ”Biar sabitku yang bekerja. Dengan mengatur nafas dan mengalirkan hawa pada . Mencongkel perlahan. Rata dan berbentuk kotak.” ujarnya menanggapi ucapan adik seperguruannya tersebut. sampai tercoak lapisan di bawah lubang itu sedalam satu kuku. ”Hati-hati. Lalu dengan cara yang mengagumkan Sabit Kematian pun memainkan sabitnya itu. ”Kita coba saja. Ketiga orang tersebut sedemikian berkonsentrasi sehingga tidak menyadari bahwa Tapak Kelam telah dapat membebaskan dirinya dari totokan Mayat Pucat. guru Jagad Hitam dulu sudah menemukan tempat itu. ”Belum tentu.” ucap Cermin Maut yang telah berada di sisi Mayat Pucat. sabit ini bisa kukendalikan sehalus rambut atau sekeras batu karang. yang juga memperhatikan dasar lubang tersebut.” ”Huh!! Jangan kuatir. ”Hati-hati. Entah bagaimana ia merasa sedikit puas karena ketiga orang musuhnya itu tidak memperoleh apa-apa. Bunyi agak memendam terdengar yang lain dengan ketukan pada permukaan batu di sekelilingnya.” ucap Cermin Maut memperingatkan. Mengetuk-ketuk di sana sini dan juga di dasar lubang. ”kita tentu tidak ingin bila ada sesuatu di sana. Mungkin mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan sesuatu di sana.” kata Sabit Kematian sambil mengayunkan sabit panjangnya. bergaris-garis. rusak oleh sabitmu itu. ”Kosong. untuk mencongkel lapisan di bawah lubang tersebut.

Takut merusak apa-apa yang mungkin terkubur di sana.. Tadinya ia ingin pergi ke pulau keenam dan seterusnya. Segera ia bangkit dan melihat detik terakhir saat sosok Tapak Kelam telah hilang dari pintu ruangan tersebut. Bagi mereka orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi.. yang masih dapat dibangkitkan oleh tenaganya. ia bersiap-siap untuk bergerak cepat dan keluar dari bangunan itu. ia pun bergabung dengan dua saudara seperguruannya untuk mulai menggali-gali menggunakan tangan. dapat merasakan kesiuran angin di belakangnya. Dengan perasa ia menghentikan gerak sabitnya dan mempersilakan kedua saudara seperguruannya untuk melonggok. Tapak Kelam perlahan-lahan mulai dapat menggerakkan dirinya kembali. ORANG-ORANG ABADI jalan darah-jalan darah yang macet.” ujar Sabit Kematian saat sabitnya yang terlihat mengerikan tersebut menyentuh sesuatu. Akan aku tangkap dia!” Segera Cermin Maut berkelebat melompat pergi mengejar. ia bergegas menyelinap keluar. ia melarikan diri. karena di sana lebih banyak tempat untuk bersembunyi. Tapak Kelam yang sedang berpacu dalam langkah dan juga deguban jantungnya. Kesempatan ini tak lama disia-siakan oleh Tapak Kelam.418 BAGIAN 7. ”Ya. Cermin Maut yang membelakanginya mendengar kesiuran angin menjauh. Setelah yakin bahwa ia dapat menggunakan tenaga dalamnya lagi. Tapak Kelam akhirnya membatalkan niatnya . Tapi mengingat Cermin Maut telah menghadang di jalan menuju ke tempat itu. itu mungkin kain pembungkus sesuatu. Dengan sigap ia bergerak ke samping. Ia lalu mengambil arah lain untuk berlari. membiarkan angin pukulan tersebut lewat di sisinya. Suatu pukulan jarak jauh. Ia segera bangkit dan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang masih tersisa. Setelah meletakkan sabit tersebut di sisi lubang. ”Keparat. Sementara itu Mayat Pucat dan Sabit Kematian yang masih sibuk menggali hanya sekali melirik untuk kemudian melanjutkan pengerjaan menggali dasar lubang tersebut. yang di dalamnya telah dijumpai sejumput kain penutup sesuatu. Mereka tidak terlalu mempedulikan Tapak Kelam yang kabur. dan mereka pikir Cermin Maut dapat menyelesaikan persoalan itu sendiri. Sudah selesai tugasnya.

. Ia juga tampak tertegun dengan munculnya kelima orang di hadapan Tapak Kelam tersebut. ”Kamu. yang diikuti dengan tubuhnya.!!” ujarnya tersendat. Di depannya sekarang telah berdiri lima orang. Seorang bertubuh subur dan besar dan seorang berwajah dingin dengan kapak di tangannya. ”Mau lari kemana engkau.. pastilah anda adalah Cermin Maut.. Dan masih terdapat dua orang lain yang warna kulitnya mirip dengan warna kulit orang-orang di tanah ini.. Seorang berkulit putih pucat dengan pedangnya yang besar dan telah kering oleh darah di tangannya.. waktu di mana hampir saja memperoleh sesuatu di bawah prasasti batu di dalam bangunan batu berwarna kelabu di belakangnya. Tapak Kelam!!” sebuah suara merdu wanita segera sampai ke tempat itu. ”Jika engkau Tapak Kelam. golok bumerang... ”Siapa. yang akan membawanya ke pulau keempat. Seorang wanita dengan gagang pedang kembar menyembul di punggungnya.. Seperti halnya Tapak Kelam ia belum bisa memutuskan apakah kelima orang di hadapannya itu adalah lawan atau kawan. . yang terlihat dari cara berjalannya bukanlah orang-orang biasa. Ia belum tahu siapa kelima orang yang menghadangnya ini. Sekarang ia menuju ke arah jembatang cembung melengkung yang lain... Langkahnya berhenti di tengah jalan melihat apa yang ada di hadapannya. Ia tidak mengharapkan muncul lebih banyak musuh dan terlebih di depan jalannya untuk melarikan diri. dan orang ini hendak mengejarmu.419 itu. yang di tangannya terdapat golok yang melengkung patah.” tak jadi Tapak Kelam memperkenalkan dirinya sebagai ketua Perguruan Atas Angin. ”Ya.. Itu belum jelas.. kalian. orang Perguruan Atas Angin-kan?” ujar wanita berpedang kembar tersebut dengan logat yang agak kaku. saya. Ia segera memutar otak untuk mencari-cari akal.. Seorang berkulit hitam dengan lengan dan kaki yang lebih panjang dari orang kebanyakan. Cermin Maut tidak segera menjawab. bukan begitu?” ucap gadis itu sambil memandang wanita yang baru datang tersebut. Dan mereka saat ini sedang dalam waktu yang genting.. Kawan atau lawan.

yang kedua ini . Cermin Maut tidak mau meremehkan pukulan yang menimbulkan angin kesiuran tersebut. serta Mayat Pucat. orang-orang Rimba dan Gunung Hijau!!” ”Eh. Kelima orang ini belum. ”Kami mencari Sabit Kematian. Orang yang dapat sembuh dari suatu luka atau bangkit dari kematian.” kata pemuda tersebut yang segera menggunakan kepalan tangannya menyerang lurus.” ucap wanita berpedang kembar tadi pendek.420 BAGIAN 7. ”Untuk apa?” tanya Cermin Maut. kecuali satu orang yang bertubuh subur dan besar paling pinggir. ORANG-ORANG ABADI ”Ya. kamu!!” ucap Cermin Maut kaget. saya Cermin Maut. dapat saling mendekat. setelah salah seorang dari mereka muncul kembali dari ”kematian” Cermin Maut merasa perlu untuk lebih hati-hati. seakan-akan mereka berdua berasal dari kelompok yang sama. itu adalah salah seorang murid-murid. pada suatu saat yang lalu. Tapak Kelam telah memutuskan untuk bergabung dengan Cermin Maut yang telah ia tahu misinya dan juga kawan-kawannya. Sekarang. Memang lucu. Ya. Dulu sewaktu di Rimba Hijau anak-anak muda itu telah menunjukkan kebolehan sebagai pendekar. Orang tersebut rasa-rasanya pernah dilihatnya di suatu tempat. dari empat murid Ki Tapa dari Rimba dan Gunung Hijau. Serangan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. ada perlu apa dan siapa kalian?” katanya akhirnya sambil menanti respon dari kelima orang tersebut. Entah bagaimana Tapak Kelam tampak berdiri di sampingnya. apabila menghadapi kelompok lain yang dianggap musuh bersama. Ia ingat bagaimana Sabit Kematian membunuh pemuda itu dengan menembuskan sabitnya dari belakangn ke depan. ”Untuk dibunuh!! Untuk membalaskan kematianku!” ucap orang bertubuh besar dan subur yang tadi sempat dilirik oleh Cermin Maut.. ”Dan engkau juga. Hanya saja mereka masih lugu dan miskin pengalaman sehingga tidak terlalu sulit untuk dijatuhkan dengan jurus-jurus yang penuh tipuan dan serangan kosong. Deras dan keras. orang yang berseteru. Sekarang disadarinya di mana ia pernah melihat pemuda tersebut. Ia merasa tidak pernah bertemu dengan kelima orang tersebut. Kalian telah membunuh kami.. ”Engkau sudah mati!!” ucap Cermin Maut. ”Dan sekarang giliran kalian.

” jawab Cermin Maut. agak bingung mereka. ”Siapa mereka?” tanya Mayat Pucat.. . Ia belum dapat mengukur seberapa keras laju pukulan yang dilepas tersebut.. Misun menepuk pundak Gentong.” Ternyata Mayat Pucat dan Sabit Kematian telah selesai menggali dasar lubang yang ditemukan di bawah prasasti. umumnya memiliki ketahanan yang lebih berlipat. Tepatnya oleh kakak Sabit Maut. ”Tak tahu. Sambil melirik ke arah Tapak Kelam ia berbalik.!!! Mau kemana kalian!!” ucap Gentong yang sedari tadi belum sempat menyentuh Cermin Maut karena kelincahannya bergerak di sela-sela hawa pukulan yang dilontarkannya. Namun segera menjadi jelas saat telah melihat lima orang yang mengejar di belakangnya. ”seorang dari yang pernah kita bunuh. ”Mari kita kejar. Tampak sebungkusan kain dikepit oleh Mayat Pucat yang sedang berdiri di pintu bangunan kelabu terbuat dari batu bersama dengan Sabit Kematian.!!” ”Lalu kenapa kita lari?” tanya Sabit Kematian yang juga telah berlari mengikuti. Selain itu ia juga belum tahu bagaimana kekuatan dari keempat teman sang pemuda.421 dia tidak yakin. Cermin Maut lebih memilih untuk menghindar dan memapaki pukulan pemuda tersebut dari samping ketimbang menghadapi langsung dari depan. Setelah beberapa gebrakan Cermin Maut merasa bahwa pemuda itu lebih tangguh dari pertemuan sebelumnya.. ”Tadi aku pikir kalian belum sempat mengambil barang itu.” ucap Angus yang segera bergegas. masih ada kesempatan engkau membalas pada mereka. Dan ia mencarimu. ”Mari. Orang dari Rimba dan Gunung Hijau. di dalam sana. Demi melihat Cermin Maut datang diikuti oleh Tapak Kelam.. jadi lebih baik jika kita mengulur waktu. Tapak Kelam pun mengikuti.. ”Hei. Lebih baik ia segera kembali ke tempat kedua rekannya.” jawab Cermin Maut.

Jauh di bawah sana terdapat air yang merupakan dasar sumur sesungguhnya.” ucap Sabit Kematian jengkel. kamu.” jawab Tapak Kelam menjelaskan. Membuatnya semakin jatuh hati. Ia lebih memilih untuk bertempur langsung saja. Lalu bergegas mereka berlalu melewati lorong tesebut. ”Eh. ”Eh. Mayat Pucat dan disusul oleh Sabit Kematian meloncat turun dan sekarang telah berada dalam lorong yang terdapat di pinggir dinding sumur tersebut. Tapak Kelam telah berpikir bahwa bekerja sama dengan ketiga orang ini bukanlah suatu hal yang buruk. Dan dari sana melarikan diri keluar. Tidak biasanya mereka berlari-lari dikejar orang. kita bisa ke pulau berikutnya. Pulau keempat. Di bawah sana ternyata terdapat rongga yang cukup besar. Kenapa membantu kami sekarang?” tanya Sabit Kematian heran. . Ia senang melihat banyaknya tempat-tempat rahasia di Air Jatuh. ”Aku bantu kalian lolos dari sini. dengan lewat di bawah tanah dan juga di bawah air. ”Ini jalan rahasia. Tampak Sabit Kematian masih menggerutu karena harus lewat lorong-lorong seperti itu.422 BAGIAN 7. ”Belum tentuk kita kalah sama mereka. Berturut-turut Cermin Maut. ”Ikuti aku!” ucap Tapak Kelam yang sedari tadi hanya diam dan berlari bersama mereka. Bungkusan yang dikepit oleh Mayat pucat. tempat apa ini?” ucap Cermin Maut takjub. yang diduganya tertulis dalam kitab yang dibungkus oleh kain tersebut.” ucapnya cerdik. apalagi bila bisa mendapatkan ilmu silat tinggi. Ia segera menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga tidak mendarat di atas air melainkan bergeser beberapa telapak tangan ke pinggir. ”Kita hadapi saja!” Saat itu mereka telah tiba di pinggir suatu sumur yang terletak di belakang bangunan tadi. Biasanya mereka yang dikejar orang. tapi bagi aku tahu apa yang tersimpan dalam bungkusan itu. Sumur itu hanya terlihat kecil dari atas saja. ORANG-ORANG ABADI ”Dan sekarang??” tanya Mayat Pucat kembali. ”Mari masuk.” ucap Tapak Kelam yang segera melompat turun.

” ucap Shia Siaw Liong. pastilah ini menuju ke tempat lain. ”jika ada jalan rahasia. kembali menuju perguruan. Lantang pun menenggak ramuan itu yang disusul dengan air yang telah diambilkan Xyra untuk membasuh kerongkongannya yang terasa pahit dan terbakar oleh ramuan yang lewat. Akhirnya diputuskan bahwa Dhoruba dan Misun akan turun ke dalam sumur. ”Aku menduga menuju pulau sebelumnya.423 ”Mereka menghilang.” ucap Wananggo. sementara biarkan saja dulu ramuan tersebut bekerja dengan sendirinya. Kelak mungkin perlu dibantu untuk menjaga khasiatnya.” Berdasarkan pengalamannya setelah beberapa ratus tahun. ”Aku belum tahu. Paman Wananggo?” usul Xyra kemudian. ”Jangan semua masuk.” ucap Wananggo sambil mengangsurkan ramuan yang telah diraciknya itu. Shia Siaw Lion dengan sekali melihat tahu bahwa di bawah sana pasti ada suatu jalan rahasia yang akan membawa orang-orang itu ke suatu tempat lain. sebagian cari jalan keluar lain dari jalan rahasia ini. ”Perlu dibantu dengan Tenaga Air-ku. *** ”Minumlah ini. Tampak dalam wajahnya harapan akan keberhasilan dari ramuan itu. Setelah hening beberapa saat.” duga Dhoruba. Wajahnya . Shia Siaw Liong dan Angus segera menuju ke pulau keempat untuk mencari jalan keluar orang-orang itu dan menunggu mereka di sana. sedangkan Gentong. ”Sekarang coba alirkan hawa. Sebagian turun. yang terbuat dari pucuk-pucuk tumbuhan mini dicampur dengan berbagai serbuk lain. tampak membuka matanya. Semoga ramuan itu bisa membuka simpul-simpul jalan darahmu yang tersumbat. Lantang yang tadi sedang berkonsentrasi mengendalikan hawanya.” jawab Wananggo. Rekan yang lain mengangguk. perlahan-lahan.” tunjuk Misun pada sumur yang ada di hadapannya.

Tapi rupanya malam itu belum berakhir bagi mereka di Air Jatuh. ORANG-ORANG ABADI tampak lebih bersinar dan cerah. tak usahlah sedih begitu. Wananggo dan Xyra pun mengangguk setuju.” ucap Lantang yang merasa tak enak atas kekecewaan Wananggo. sebabnya hawamu tersumbat itu yang kita tidak tahu.” berkata Lantang setelah ia merasa tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini.. Bergegas mereka keluar dari bangunan batu berwarna kelabu tersebut.. si Bayangan Menangis dan Tertawa.” Lantang sudah seringkali dihadapkan pada upaya penyembuhan aliran hawa dalam dirinya.” sambil ia menunjuk titik dua jari di bawah pusarnya. ”Padahal menurut petapa tersebut. dihancurkan. yang ada di hadapannya sekarang.” ”Paman. Saat lewat di sebuah sumur yang tidak terlalu diperhatikan oleh ketiganya..!!” tibatiba kenangan lama Lantang menyeruak kembali jauh ke belakang.. ... Mencari jalan keluar menuju air terjun di Air Jatuh. Akibat meloncat dengan tiba-tiba tersebut. ”Engkau. Ia masih ingat bahwa orang itu.. Apa-apa yang akan terjadi dan tidak terjadi. hampir saja ia bertubrukan dengan Lantang. ”Sebabanya.424 BAGIAN 7. juga oleh Ki Sura dan Nyi Sura.!!” jawab Wananggo sambil menggaruk-garukkan kepalanya. ”Mari. Dan katanya. Dulu oleh gurunya Rancana. tiba-tiba meloncat sesosok bayangan keluar. ”yang penting kita sudah berusaha. paman! Mari kita pergi dari ini.” ”Aneh. Saat ini oleh Wananggo. ”Tapi aku belum dapat mengalirkannnya ke mana-mana. ”Aku merasa lebih sehat dan segar. Ia amat berterima kasih atas upaya orangorang yang ingin menyembuhkan dirinya. Di bawah sinar rembulan tersebut tampak jelas wajah pemuda tersebut dan juga orang yang hampir menubruknya. ke masa di mana kejadian tersebut terjadi. Yang punya tempat pasti tidak suka kita terlalu lama di sini.. Kedua orang tuanya dan orang-orang yang dikenalnya semua dibunuh. semuanya kehendak Sang Pencipta..” kata Wananggo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada hawa yang terasa bergerak-gerak di bawah sini. paman.

. Dan sekarang orang tersebut ada di hadapannya.. seorang wanita dan dua orang laki-laki. tidak dalam keadaan segenting saat itu. Segera ia mengajak Lantang untu menjauh dari sumur tersebut dan mencari jalan untuk pulang. Wananggo tidak lagi berusaha membawa keduanya pergi dari situ. Sabit Kematian dan Mayat Pucat. siap untuk saling serang. Wananggo segera menggapai Lantang dan Xyra. Mungkin efek samping dari ramuan yang baru saja dimakannya. ”Orang itu yang membunuh kedua orang tuaku dan juga orang tuaorang tua teman-teman mainku.425 memerintahkan agar ia dan teman-temannya mengenakan pakaian rombeng. ”Itu di sana!!” tiba-tiba terdengar suara orang. Ia tidak mempedulikan Lantang.. ”Minggir!!” jawab orang tersebut. orang itu. Ia segera menanti kemunculan dari ketiga rekan barunya. Juga diingatnya bahwa ia dan teman-temannya satu per satu ditohok punggungnya oleh orang itu.. begitu pikir mereka.” ucap Lantang bergetar.. Namun kata-kata selanjutnya yang membuat mereka mengerti.. Ketiga orang yang ditunggunya tak lama segera meloncat keluar dari sumur tersebut. Mereka segera berhadapan. Mereka setelah tiba segera berhadapan dengan empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. tapi bagi anak kecil seusianya saat itu.!!” Wananggo dan Xyra memandang lekat pada Lantang. ”Mari kita pergi! Ini bukan urusan kita.. Tidak terlalu sakit.” katanya kemudian. Cermin Maut. dikotori dengan disuruh berguling-guling di atas tanah berdebu dan penuh kotoran hewan. Tidak biasanya pemuda itu tampak sedemikian gugup dan teganng. Tapi ia mengisyaratkan agar mereka tidak lebih . Wananggo yang entah kenapa juga merasa tidak sreg dengan kehadiran mereka.. segera menampakkan wajah tidak bersahabat terhadap empat orang yang baru saja keluar dari sumur tersebut. Keduanya terdiam. yang adalah Tapak Kelam. ”orang itu.. yang dilanjutkan dengan datangnya tiga orang.” ”Paman. Xyra yang secara alamiah dapat membedakan orang yang baik dan jahat dari pancaran hawa atau auranya.

Dua orang lain nampak baru muncul dari sumur yang tadi. Tak pernah ia rasanya bertemu dengan orang yang perawakannya seperti itu. Angus. Misun dan Gentong. Jika sudah kenal. ini Dhoruba. sehingga punggung dan dadanya terpampang lebar. ”Siapa kamu?” katanya penuh selidik. Sembilan tepatnya sekarang. Dan saat ini kelima orang di hadapannya pun bukan musuh yang cukup tangguh menurut penglihatannya. malah salah seorang dari mereka berkata. ”Siapakah kalian ini?” ucap Sabit Kematian jumawa. Cermin Maut. ini kami. Memainkan kepalan tangannya sehingga jari-jarinya berbunyi ”pletak-peletok” gesekan antar tulang-tulangnya. bukan?” ”Ya. Anda sekalian adalah Sabit Kematian. ORANG-ORANG ABADI dulu turut campur. ”orang sudah hampir mati kok ya. ya ia mulai ingat. Perlahan berubah wajah Sabit Kematian. Dengan perlahan Gentong membuka bajunya. Ia tidak biasa bertemu lawan yang seimbang. ”Sekarang ingat ini? Yang engkau tembusi dari belakang ke muka?” katanya sambi menunjukkan bekas luka di dadanya. Bersiap hendak saling serang. Sekarang empat orang yang pertama berhadapan dengan lima orang yang lain. masih banyak cakap?” ”Siapa itu yang omong?” ucap Sabit Kematian yang malah terbakar emosinya. berkata salah seorang dari mereka. Sabit Kematian telah terlalu banyak membunuh orang sehingga lupa orang-orang yang telah ia cabut nyawanya. Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Dengan logat yang kaku akan tetapi ucapannya jelas. kenapa tidak cepat menggelinding dari sini?” ejek Sabit Kematian jumawa.426 BAGIAN 7. Biarkan dulu apa yang akan terjadi di antara ketujuh orang tersebut. Tidak . ”Aku! Masih ingat?” ucap seorang pemuda bertubuh besar dan subur yang segera berangsur maju. Amarah atau ejekan yang diharapkan oleh Sabit Kematian dapat dilihatnya dari kelima orang lawannya itu tak kunjung tiba. yang wanita. Ya. ”saya Shia Siaw Lion.

Walau tubuhnya terlihat besar dan berat. Pemuda itu adalah.. Sama seperti keterkejutan Cermin Maut saat mengenali Gentong beberapa saat yang lalu.. Bukan hal yang normal. ”Kaum Abadi. Meloncat ke sana kemari sambil tak lupa melepaskan satu dua pukulan lurus dan keras. mereka-yang-tak-bisa-mati.. toh tak ada bedanya engaku percaya atau tidak..427 banyak orang yang sempat bertarung jarak dekat dengannya sehingga ia harus menembusi tubuhnya. Sabit Kematian dapat dengan segera mengubah gerakannya menghindar dan mengayunkan sabitnya yang dielakkan dengan indah oleh Gentong.. Tiba-tiba hening itu dipecah oleh desis lirih Wananggo. mau tak mau membuat mereka merinding.. ”Tidak!!! Engkau sudah mati!” ucapnya cepat. menebas kepala sudahlah cukup. ”Tak ada orang yang tak bisa mati!!” ”Sesukamulah. Ia lalu mulai mengambil sikap untuk menyerang. Hening sesaat. lincah masih geraknya. ”Duggg!!!” sekali waktu telat Sabit Kematian menghindar. pemuda yang berada di depannya sekarang. Orang-orang sesat seperti Cermin Maut.” yang ucapannya hampir tak terdengar apabila keadaan tidak benarbenar sunyi. akibatnya pinggiran pinggangnya sempat dilabuhi kepalan Gentong. mereka benar-benar nyata adanya.” ucap Sabit Kematian sambil menenangkan dirinya.. Pukulan keras dan lurus..” ucap Gentong yang segera bergerak menyerang. Keheningan orang-orang yang gemetar akan keanehan kaum mereka. Sabit Kematian dan Mayat Pucat bukanlah orang-orang yang takut pada yang lain. Dan satu yang belum lama ini memaksanya bertempur jarak dekat adalah seorang pemuda bertubuh besar di Rimba dan Gunung Hijau. Orang-orang dari mereka-yang-tak-bisa-mati tampak menikmati keheningan itu. Keras . Umumnya dengan jarak jauh. Tapi orang yang bisa hidup lagi setelah tubuhnya ditembusi sabit sedemikian rupa. ”Omong kosong!! Engkau pasti saat belum mati dan sekarang sudah sembuh.

Sabit Kematian lebih leluasa menggerak-gerakkan sabitnya. kali ini di bagian tengkuk. mengemis dan kelaparan di jalan. Jika ia harus pergi dari sana. mungkin. Pusing sesaat dirasakannya. Itulah yang sedari tadi dilakukan Gentong. Di mana-mana. Campur baur antara sedih dan marah. Bisa jadi telah menjadi makanan burung dan anjing liar. di sekelilingnya tampak kesiuran sabit mengayun berkelebat sana-sini. Sambil tak lupa diliriknya bungkusan yang masih dikepit oleh Mayat Pucat. Mayat Pucat dan Cermin Maut belum tampak mengambil tindakan. Sekarang minat mereka lebih ke arah pergi dari tempat itu dan mempelajari kitab yang baru saja mereka peroleh. Tapak Kelam tampaknya tidak berapa minat untuk melangsungkan pertempuran itu. ORANG-ORANG ABADI cukup sehingga menggetarkan sedikit isi perutnya. Rancana. ”Bugg!!”” kembali Sabit Kematian terpukul tubuhnya. Mengayun dari atas ke bawah secara serong dan sebaliknya. Jika saja tidak. Sudah cukup energi mereka habis dalam penyerbuan ini dan apa yang mereka cari sudah diperoleh. kitab tersebut harus ikut. . Mereka belum menemukan alasan untuk menyerang teman-teman Gentong. Ia malah celingak-celinguk mencari-cari jalan rahasia lain yang dapat membawanya lari dari sana. Untung bagi kepalannya akan tetapi tidak bagi sabit sang lawan. Lantang yang berada di pinggir arena pertarungan itu bersama dengan Wananggod dan Xyra tampak berusaha menahan emosinya. Dengan jarak yang sekarang agak jauh. Sekarang giliran gentong yang seperti tertutup ruang geraknya. sudah hancur mungkin organ-organ di dalamnya. Jika bisa mereka tak perlu bertempur. Untung saja ia bertemu dengan gurunya. Juga sekelebat ingatan yang tidak pernah dilupakannya. Dalam jarak dekat. jika tidak mungkin ia masih di jalanan sana. Untung saja hawa tenaganya cukup sehingga masih bisa mengusir hawa pukulan tersebut keluar.428 BAGIAN 7. saat Tapak Kelam mengusir anak-anak yang telah dihinakannya untuk terlunta-lunta. Segera ia melompat mundur menjauh. atau berkalang tanah. Dengan atau tanpa ketiga orang tersebut. bertempur jarak dekat. senjatana tidak begitu berfungsi baik.

Lalu katanya.” ucapnya sambil menggerakkan dagunya mengarah ke Tapak Kelam. Gentong menjadi kalang kabut saat Sabit Kematian mencengkeram sana-sini dan juga memukul di selasela sabitnya yang berayun-ayun serong ke atas ke bawah. ”Aku mengerti. Baru saat ini ia menggunakan kepalannya juga. tapi Gentong tidak tahu. Ia belum terbiasa dengan cara serang baru Sabit Kematian. Kedua saudaranya tahu bahwa kepalan tangannya tidaklah terlalu berbahaya dibandingkan dengan sabitnya. Siapa namanya? Tapak Kelam?” Lantang mengangguk. pinggir berganti-ganti. Diantara kedua orang saudara seperguruannya. dipegang di tengah. Kita tidak tahu apakah Kaum Abadi nanti setelah selesai urusannya dengan mereka berempat akan mencari masalah dengan kita.” ”Aku masih ingin mencari tahu apa alasan orang-orang itu melakukan kekejaman dulu. ”baiklah paman. Cara serang yang baru ini. ”Hal itu bisa kita bicarakan lain kali. ”Nak Lantang. ”Kaum Abadi. membuatnya sedikit kewalahan. Setelah ia mengambil jarak tempur jauh. Memang sebaiknya kita pergi. mungkin dapat ia memasukkan satu dua pukulan ke tubuh Sabit Kematian. sekarang ia berani kembali mengambil jarak tempur dekat. Kita sebaiknya tidak mencampuri.” ajak Wananggo. paman. Sabit Kematian hampir tidak pernah bertempur tanpa menggunakan senjata. Berkali-kali ia terpaksa mundur dan maju. rekan-rekan Gentong tampak duduk-duduk tenang. walaupun dalam jangkauan tangan Gentong. mereka itu. Memang untuk keselamatan kita juga. Coba saja ia tahu bahwa lebih tidak berbahaya saat maju. Lain dengan rekan-rekan Sabit Kematian yang tampak sedang memikirkan sesuatu cara untuk berlalu dari sana.” jawab Wananggo. aku tidak tahu apa mereka ada urusan apa dengan mereka berempat. Mundur kena sabit jangkauan panjang. Sementara dua orang tersebut bertarung mati-matian. Lantang.429 Sabit Kematian tampak telah mendapatkan kembali kesigapannya. Tapi kali ini cara menggunakan sabitnya lain.” . Maju kena cengkeraman. seakan-akan menikmati pertarungan tersebut. Lain waktu kita cari lagi orang itu. sekarang yang penting adalah kesehatanmu dulu. baiknya kita segera berlalu dari sini.

”Howgh! Aku Misun. Misun lalu membuka baju luarnya. pulau ketiga. Suatu ucapan yang pernah diceritakan oleh ayahnya mengenai leluhur mereka yang berada di sana. segera mengangkat tangan pula. Tampak ketegangan pada ketiga wajah mereka. menampakkan segenap kalung yang digunakannya. Apa yang diucapkan oleh Misun adalah berarti roh air dalam bahasa Garifuna dan Montana. Aku tak ada maksud jahat. Xyra tampak terkejut. menirukan. yang kemilau diterangi sinar bulan purnama.430 BAGIAN 7. Salah satunya berbentuk segitiga menghadap ke bawah dengan gambar riak-riak gelombang pada tengahnya. di tempat yang selalu berlawanan dengan di sini. . Di sini siang di sana malam dan sebaliknya. Menjadikan udara tiba-tiba menjadi segar dan lembab. Ia pun tidak ada urusan dengan mereka bertiga.” katanya seraya mengangkat telapak tangannya. Entah apa. Tapi ada sesuatu yang menarik baginya dari ketiga orang itu. bagian dalam menghadap ketiga orang tersebut. berbulir-bulir mengambang di udara. ”Aku Wananggo. tak perlu kalian takut. Terdapat banyak untaian. Adalah Misun yang menyadari kepergian ketiga orang tersebut. Wananggo yang segera menyadari bahwa itu mungkin sejenis salam dari Misun. Caiman!!” katanya sambil menunjuk pada Xyra. dan ini Xyra dan Lantang. ”Maya. ORANG-ORANG ABADI Lalu dengan perlahan mereka bertiga bergegas berangsur meninggalkan tempat itu. Keperluan ia dan saudarasaudaranya dari mereka-yang-tak-bisa-mati adalah hanya untuk membantu Gentong membalaskan kematiannya pada Sabit Kematian. kedatangannya telah dinanti oleh ketiga orang tersebut di tepi pulau. ada perlu apa anda mengejar kami?” ”Avanyu. Misun pun bergegas menyusul ketiga orang tersebut yang telah berada di pulau lain. Suatu tlatah jauh di balik planet ini. Mengelilingi sekitar mereka dan kemudian pecah menjadi semacam uap dan kembali jatuh. air!!” Xyra yang entah bagaiman begitu melihat simbol tersebut tampak tersentuh sehingga secara tak sadar air danau yang berada di sekitar mereka tampak merebak. Saat ia berlari cepat.

Bahkan kita lihat sendiri luka mereka berangsur mengering dan sembuh dalam waktu cepat. Selama keuntungan masih berada di pihat mereka. kehilangan seorang rekannya. Ia juga beruntung masih ingat jalan-jalan liang tikus dari pulau keempat itu untuk keluar dari Air Jatuh. . Mayat Pucat dan Tapak Kelam. Bagi orang-orang seperti Cermin Maut. Dan saat itu kitab yang berada dalam bungkusan yang dikepit Mayat Pucatlah yang utama. pasti mereka dapat dikejar dan ditangkap oleh mereka-yang-tak-bisa-mati. Lantang yang takut bila hal itu adalah tipu muslihat bergegas menghalangi. sah-sah saja. ”jika tidak mungkin kita sudah menemani Sabit Kematian di pulau itu. *** ”Untung ada engkau. terima kasih!!” lalu tanpa memberi penjelasan ia segera kembali menaiki jembatan cembung hitam melengkung untuk kembali ke pulau keempat.” ujar Mayat Pucat. ”Tidak apa-apa!” menenangkan Lantang. Tatapannya yang seakan mengatakan.” Tapak Kelam yang dipuji hanya tersenyum tipis. Betul-betul lawan yang tangguh. Tapak Kelam. Lalu Lantang membiarkan Misun menyerahkan untaian atau medali tersebut ke tangan Xyra. Untuk dipelajari sehingga mereka bertiga bisa menjadi lebih tinggi ilmunya untuk malangmelintang dalam dunia persilatan. ”Kaum Abadi itu tak bisa dianggap remeh. Lemparan senjata rahasiaku yang jelas-jelas melukai mereka tak terasa apa-apa. ”Howgh!! Tugasku telah selesai. adalah tidak terlalu berat.431 ”Avanyu!!” ucap Misun kembali yang segera berlutut hormat kepada Xyra. Selepas kepergian Misun tak ada yang berbicara sampai Wananggo menggugah lamunan mereka dan mengajak keduanya pergi dari sana. kembali menemui rekanrekannya. Tapi dengan lembut Xyra menghentikan tangannya. Jika harus lewat jalan biasa.” ”Betul!!” ucap Cermin Maut kemudian. Sabit Kematian. Lalu ia melepaskan untaian berbentuk lambang air itu dari kalungnya dan menyerahkannya kepada Xyra.

Meninggalkan Air Jatuh dan kemudian pula Perguruan Atas Angin. Juga untuk menjadi peringatan dari kematiannya sendiri dan kematian sang pembunuhnya. Menepuk bahunya. Angus dan Shia Siaw Liong tidak berkomentar. Melihat itu. Mereka segera berlalu dari sana. Banyak sudah darah yang dimininumnya. isn’t it?” ucap Angus. ”Yeah. Pada suatu gerakan tipuan. Sabit Kematian pun melepaskan napasnya dengan keadaan tak puas. Ia masih menatapi sosok Sabit Kematian yang telah hancur isi dadanya akibat pukulannya. bagus!!” Misun. Ditimang-timangnya dan akhirnya diputuskannya bahwa itu akan menjadi senjatanya. Melangkah menuju ke suatu tempat untuk me- . Tusukan kecil dekat jantung tidak mengurangi laju pukulan Gentong. Ia tak terima bahwa serangannya gagal dan nyawanya sebagai imbalan.” sambung Shia Siaw Liong.432 BAGIAN 7. Akhirnya dipungutnya sabit milik Sabit Kematian. ”Gentong. yang terus tiba dan melumatkan tulang dada dan organ-organ di dalamnya. ketiganya seakan-akan merupakan tiga sekawan baru. ORANG-ORANG ABADI Tanpa kata-kata. Ia telah mempersiapakn sebuah pisau kecil untuk menyerang dari belakang. Bagus. Sabit Kematian menjatuhkan sabitnya dan berharap Gentong segera masuk melancarkan pukulan. sejenak dipikirnya sesuatu. our problem in this land is alreay finished. Melupakan dengan mudah rekan mereka yang baru saja mangkat. *** ”So. mengajaknya berlalu dari situ. Senjata yang sudah ’tua’. Yang dilupakan oleh Sabit Kematian adalah bahwa tusukan pada mereka-yang-takbisa-mati tidaklah terlalu berpengaruh sejauh tidak melukai mereka secara parah. yang mungkin belum dingin tubuhnya. ”Pilihan yang bagus. Gentong masih tampak termenung. Gentong masih terdiam sesaat untuk kemudian bangkit. Terlihat jelas hal ini dari wajahnya yang penasaran. ”Sudah saatnya kita pergi. mari!” ucap Misun yang saat itu berada di sampingnya. right!” sambut Dhoruba. Dhoruba terkekeh-kekeh.

*** Seseorang tampak berdiri mengitari batu-batu yang ditumpuk rapi. akhirnya memutuskan untuk tidur dulu. tapi ia tidak mengerti. ”Hahh!! Di mana aku?” tanyanya pada dirinya sendiri. portal!” ucap orang itu. – merekayang-tak-bisa-mati. Tahu begitu dicatatnya saat itu sehingga bisa digunakannya kembali pada saat ini. membentuk semakam bekas candi atau kuil. . Undakan batu. Melainkan ia telah tidur di atas sebuah alas tidur terbuat dari daun-daun dianyam dan berada dalam sebuah rumah bambu. Ia. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya sehingga tak tahu apa yang akan dihadapinya esok pagi. hal pertama yang membingungkannya adalah ia tidak lagi berada di lapangan rumput yang di tengahnya ada pelataran batu. di keempat sisi dari undakan batu atau pelataran batu tersebut. ”Ini harusnya tempatnya. terutama bagi kaum mereka.!” Telah dicoba-cobanya membaca apa-apa yang ada di sana-sini.. Siapa tahu orang atau pihak yang ingin ditemuinya ada singgah di tempat itu sehingga ia bisa bersua tanpa harus memberi tanda-tanda. Ia juga jengkel karena petunjuk yang pernah diterimanya telah ia lupakan. persegi. Panjang dan lebarnya seukuran dua tombak lebih. ”Aku harus memberi tanda di sni. orang tua itu. ”Bahasa apa ini? Tak bisa kau pahami!” ujarnya jengkel. Setelah seharian dan kemudian dilanjutkan dengan malam ia tak berhasil pula memecahkan kode-kode itu.433 nunaikan misi mereka sendiri. dan mereka akan datang. Berbentuk bujur sangkar dengan ketinggian sedengkul dari rerumputan yang mengelilinya yang tumbuh di tanah lapang itu. yang umumnya harus lebih dahulu dilakukan. Saat orang itu bangun.

”Maafkan bila tadi malam. ”Eh... ”Selamat datang di tempat kami!” ucap makhluk itu ramah. saya Rancana. ”Ya.. Lalu katanya. saya bermaksud untuk bertemu dengan Ki Tapa. Sekarang makanlah dulu!” Ia kemudian menunjuk pada bungkusan yang sejak tadi telah ada di sudut ruangan. membiarkan Rancana menikmati makan paginya dengan . Anda siapa?” tanya orang itu kemudian. Rupanya itu adalah makanan yang telah disiapkan untuk disantap Rancana. ”Kami lihat anda tidak mengenal cara berkomunikasi.434 BAGIAN 7. ”Kriettt!!” tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sesosok makhluk mirip manusia.. Yang membedakan mereka adalah tingginya. kami kemudian membawa anda ke sini.. ”Eh. Tinggi makhluk itu tidak sampai ke pinggang orang dewasa. ia telah berada di dalam sebuah rumah bambu yang dibangun di atas sebuah pohon yang tinggi. Sejurus tak ada jawaban. Ya.. di atas pohon!!” ucapnya kagum. Manusia Tiga Kaki.” Mengangguk-angguk orang tua itu mendengar penjelasan sang Makhluk Tiga Kaki.” ucapnya perlahan. Orang itu membalas dengan senyum walau agak sedikit bingung. Setelah berkata demikian. pelataran batu tempat anda tidur.. biar ketua kami Hitam-Putih yang menjelaskan. Tiga kaki tingginya. kami tahu. ORANG-ORANG ABADI Bergegas ia bangun dan menjadi semakin terkejut setelah merasa bahwa lantai ruangan yang di mana ia berada tidaklah terlalu keras. ”Ini. Nanti. Makhluk itu tampak sedih dan muram.” jawab orang yang mengaku bernama Rancana itu. ”Saya Coreng. jadi kami menunggu sampai anda terlelap dan melihat apa maksud anda.. melainkan agak lentur dan mengayun sejalan dengan langkahnya. Setelah kami yakin anda tidak bermaksud jahat.. Coreng pun berlalu dengan terlebih dahulu meminta diri. kami ’menculik’ anda dari portal. Perlahan dengan agak takut-takut orang tua itu menghampiri jendela yang ada dan mencoba melihat keluar.” jawab makhluk itu.

Masih penuh pertanyaan di benak Rancana. ”Baiknya kita beritahu saja ketua Hitam-Putih. ia bertemu dengan Manusia Tiga Kaki. membuka bungkusnya dan mulai menyantapnya. ”Benar. Dari mimik wajah Coreng yang berubah saat ia mengungkapkan ingin bertemu dengan Ki Tapa dan juga perihal Manusia Tiga Kaki.435 tenang. Rancana sejenak terkenang akan muridnya. *** ”Engkau yakin. Di Pulau Tengah Danau di puncak Gunung Berdanau Berpulau ia telah pernah bertemu dengan Undinen. Ia kemudian beranjak menghampiri penganan yang tadi ditunjuk Coreng. Dan di sini. Lantang. Pasti ada apa- Yang diajak berbicara menangguk setuju atas usul itu. Juga karena Lantang ia berkunjung ke Rimba dan Gunung Hijau ini. kemungkinan untuk mengobati tersumbatnya aliran hawa dari muridnya.” ucap Moreng meyakinkan. Dunia ini luas rupanya. apanya!” usul kawannya kemudian. menyelinap di antara dedaunan dan pohon-pohon yang tumbuh rapat. *** . Coreng! Aku lihat sendiri mereka membongkar kuburan Gentong dan mengambil mayatnya. ”Entah!” yang dijawab sang kawan dengan mengangkat bahunya. Moreng?” tanya Coreng. Entah jenis makhluk apa lagi yang kelak akan dihadapinya. itu yang penting. ”Untuk apa ya?” tanya rekannya kemudian. di Rimba Hijau.” gumamnya. ”Aku telah tiba di sini. Berikutnya minta pertolongan mereka. untuk mencari tahu dari Ki Tapa. Bergegas kemudian keduanya bergerak lincah. telah ditemuinya. Makhluk-makhluk yang dulunya hanya pernah ia dengar ada dalam cerita.

Dara itu kembali mengangguk. sang dara mulai melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh ayahnya. tampak agak bingung demi menghadapi demikian banyak mayat yang harus dikuburkan. ”Cukup engkau dorong dengan tonkat ke sudut sana.” ucap seorang tua kepada dara muda yang ada di sampingnya. ORANG-ORANG ABADI ”Ceng Siang. Akan tetapi lebih cocok dibilang suatu kuburan. Pekerjaan mereka menjadi lebih sulit karena tak boleh langsung menyentuh mayat-mayat tersebut. Sebagian masih utuh akan tetapi telah ditutupi ulat dan lalat. ”Ini gunakan penutup hidung dan balut tanganmu dengan kain dan lumuri dengan ramuan ini dulu. lihat ini! Hanya manusia yang dapat melakukan kekejaman seperti ini. tidak ada manusia yang masih bernafas di dalam sana.. nanti aku gali sebuah lubang besar. Dara tersebut hanya menangguk. jangan dipegang!!” ucap ayahnya.” Lalu dijelaskannya bahwa mayat yang sudah lama dapat melepaskan racun dan bibit penyakit bagi yang menyentuhkan. karena selain orang mati. ”Perguruan Atas Angin” begitu yang tertulis di pintu gerbang perguruan silat itu. Ceng Liok dan anaknya Ceng Siang kebetulan saja lewat dan tertarik atas lolongan anjing-anjing liar yang jarang didengar siang hari. Sebagian telah membusuk dan dimakan binatang buas. Sambil menutup hidung. . Hanya manusia. menghindari bau mayat yang membusuk dan juga jerih melihat pemandangan yang kejam dan mengerikan itu. Oleh karena itu harus segera dikuburkan..” ujar ayahnya. ayah. berhak atas persemayaman yang layak. ”Iya. ”Hati-hati. Lolongan yang seakan-akan menceritakan bahwa mereka sedang berpesta-pora. ”Mari kita bersihkan! Manusia sebagaimana jahatnya pun. jika juga sudah menjadi mayat. Ia merasa merinding demi melihat mayat di mana-mana. Hati-hati dengan bagian tubuh yang lepas dan cairan yang berceceran!” pesan ayahnya.” jawab sang dara.436 BAGIAN 7. Berpesta santap daging manusia.

” tanya anaknya kemudian. ”Tapi omong-omong apa ada yang mau datang ya? Di sekitar sini terlihat sepi-sepi saja.437 Dengan perlahan-lahan mereka mulai menguburkan mayat-mayat dalam perguruan tersebut. yang penting kita coba. Perguruan Atas Angin. ”Mereka toh telah mati.” usul anaknya. tidak terlalu takut tidak dapat hidup. tampak di ujung-ujungnya gundukan-gundukan besar. ”Ya. Perguruan yang telah tumbang dan tidak menyisakan seorang pun hidup-hidup di tempat itu. Dalam dua tiga hari akhirnya pekerjaan itu pun selesai. terutama air terjun di belakang amatlah indah..” jawab ayahnya. Pintar!!” kata anaknya antusias. Keduanya kemudian tertawa berbarengan. tapi dari tanam-tanaman kita sendiri. Begitulah pandangan hidup orang yang sederhana. benar.” ”Ya. aku ada banyak pengalaman. Bagaimana jika kita tinggal di sini saja?” ucap ayahnya. ”Membuka kedai saja. Keduanya tampak puas. Lalu apa yang kita lakukan untuk hidup?” tanya anaknya kemudian. ”dan tempat ini. bagaimana?” ucap ayahnya kemudian. Sayang untuk ditinggalkan.” balas ayahnya. Toh tanpa ada yang beli kita juga dapat hidup. ”Bagus juga tempat ini. ”Buat apa dipikirkan. membuka perguruan silat. di belakang itu amatlah indah. Suatu kuburan masal dari orang-orang yang terbunuh. ”Bekas orang mati itu?” jawab anaknya sambil masih membayangkan puluhan mayat yang telah mereka kuburkan. berdagang. Atau apa usulmu?” tanya ayahnya kemudian. Entah dari pihak mana. ”Bercocok tanam. . Di beberapa ruang halaman.. ”Setuju! Jadi bumbu-bumu kita tidak mudah ditebak orang. Yang penting semuanya telah dikuburkan.

paman Walinggih?” tanya seorang dara kepada orang tua di sampingnya. dara yang akan ditunangkan dengan muridnya Telaga. Dalam hatinya ia berkata. Lalu keduanya mulai beranjak dari situ. ”Mari kita mulai mendaki.” jawab sang dara ceria. Dari Telaga ia mendengar bahwa mereka juga suka berkelana ke sana ke mari. pastilah ada jalan dari Sang Pencipta.” sarannya kemudian. Di belakang mereka tampak hutan batu-batu membentang.!” ”Kencangkan perbekalan dan kainmu. kedua orang yang akan mereka kunjungi saat ini di atas sana. di gunung. Atau kemungkinan paling jelek kita tinggalkan pesan.. mengeluarkan ilmu berlari . kita berdiam diri saja beberapa waktu menunggu mereka. ”Kita masih harus mendaki gunung ini. kita akan berlari cepat sekarang. Walinggih sendiri juga memeriksa perbekalannya dan mengencangkan sana-sini dari kain dan jubahnya. Dara itu mengangguk. ”Kita tidak tahu itu. Gunung Berdanau Berpulau. Padang Batubatu. Masih ada tenaga sejak pertempuran terakhir itu. ORANG-ORANG ABADI Selama berusaha. Telaga adalah anak dari Ki dan Nyi Sura.” ucap Walinggih sambi memandang dengan sayang Sarini. Bila tidak. ”Apakah kedua orang tua Telaga masih ada di tempatnya?” tanya Sarini kemudian. Masih dapat engkau berlari cepat?” tanyanya kemudian. semoga saja. ”Anak wanita kok senangnya bertempur. Walinggih tampak geleng-geleng kepala atas sikap itu. supaya tidak keburu malam sudah sampai kita di tengah danau di atas sana. Jangan sampai ada barang-barang yang tercecer atau lepas. *** ”Masih jauh.438 BAGIAN 7. ”Masih. Sarini!” ucap orang tua itu sambil menunjuk gunung tinggi dan megah di hadapannya. paman.

Memandangi kedua orang tua yang berada dalam posisi duduk bersila di hadapannya. yang mengangguk perlahan kepadanya. Memutih dan mengeras. Sekujur tubh keduanya tampak tertutup lapisan es. Meloncat di sana-sini. Dan es pun mulai bermunculan menutupi kedua orang tersebut. Lalu udara di sekitarnya berubah menjadi dingin. *** . Menuju suatu tempat di atas sana. Lalu ia pun menggerakkan tangannya perlahan dan kemudian bertambah cepat. Terus semakin tinggi dan menuju ke atas. kering. Sedih bahkan. cepat hampir tak terlihat. Tempat di mana terdapat dua orang tua berdiam diri menanti waktu mereka tiba. Berlari melalui jalan-jalan menanjak dan curam.439 cepat dan mulai menaiki gunung tinggi itu. Membeku. bagai dua buah patung pualam putih. Di hadapan kedua orang tua tersebut tampak sesosok makhluk berdiri tanpa senyum.

ORANG-ORANG ABADI .440 BAGIAN 7.

Telaga pemuda itu. Pulau di puncak Gunung Berdanau Berpulau. Ia tidak asing dengan air. mulai mencari-cari dengan matanya kalaukalau ada orang untuk ditanyakan.. setelah puas melamun dan menikmati keindahan ciptaan Sang Pencipta. Ia pergi ke pinggir lautan ini 441 . Melainkan ia pernah tinggal bersama orang tuanya di sebuah pulau di tengah danau. Tempat yang pula di sana hatinya tertambat dan menjadinya tujuan untuk kembali berlabuh. Sebelah utara dari Padang Batu-batu. akan tetapi bukan air yang bagai tak bertepi seperti sekarang. Tanpa terasa ia berjalan perlahan sampai kedua kakinya tercapai oleh sisa-sisa ombak yang kadang sampai kadang tidak ke tempat ia berpijak. Pemuda baru saja tiba dari perjalannya dari arah utara menuju pantai tersebut yang terletak jauh di selatan. Melesak dan tergores halus.” ucap seorang pemuda pada dirinya sendiri sambil berdiri memandang gulungan-gulungan kecil ombak yang saling susul dan bertumbuk burai. Tak terasa jari-jemari kakinya yang telanjang bermain-main dengan pasir-pasir pantai. tepi daratan. jauh di utara sana. Lautan. Pantai Selatan. Batas dari tlatah tersebut dengan lautan. Yang terakhir ini baru saja dilewatinya beberapa saat yang lalu. Bagi pemuda itu.Bagian 8 Menari Bersama Air ”Ini yang namanya pantai.. batas darat dan air sebenarnya sudah pernah ia alami. Tepatnya tiga tahun dari saat ini.

gerakan-gerakan yang diturunkan dari kegiatan keseharian orang-orang yang hidup dari bercocok tanam. Saat perahu yang ditujunya mendarat. Guru yang pertama adalah Walinggih. Telaga dapat dengan mudah menyelami dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh kedua guru berikutnya selama berada di Padang Batu-batu. seperti dipesan oleh orangtuanya. Bergegas ia setengah berlari menuju ke pantai tempat perahu tersebut hendak berlabuh. Ki dan Nyi Sura. Ilmu yang cocok dengan jenis tenaga yang telah dilatihnya. Telaga menjadi terkejut saat mendapati bahwa perahu tersebut dikemudiakan oleh seorang gadis. Gadis tersebut tampak cekatan dalam menggulung layar untuk kemu- . Tapi ia belum merasa puas. Orangorang yang hampir sepanjang hidupnya tinggal di laut. Tenaga Air. yaitu Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi dan Sabetan Tunggal Menuai Dua. memohon menjadikan dirinya murid dan mempelajari gerakan-gerakan beladiri mereka yang memang khusus dibuat untuk pengamal ilmu Tenaga Air. juga orang tuanya menganjurkan ia mencari orang-orang Suku Pelaut. Sedangkan dari guru keduanya. MENARI BERSAMA AIR untuk mencari suatu kelompok yang disebut Suku Pelaut. Bila ada nelayan mendarat. Dan di perkampungan nelayan adalah tempat yang baik untuk mulai bertanya mengenai Suku Pelaut yang menjadi tujuannya sampai ke pantai ini.442 BAGIAN 8. Sebuah perahu nelayan. Dengan berbekal Tenaga Air yang telah diturunkan oleh ayah dan ibunya. yang mengajarinya dua jurus pokok. Selain belum benar-benar merasa cukup. Dari mereka hendak dicarinya ilmu-ilmu beladiri tinggi. pasti tak tahu dari sana ada perkampungan. Bukan hanya melaut tapi benar-benar hidup di atas air. Arasan ia memperoleh dua jurus pula. Di Padang Batu-batu Telaga telah mendapat dua orang guru yang mengajarkan ilmu pedang menggunakan pedang panjang. Tiba-tiba ia melihat setitik kecil sesuatu berlayar di pinggir horison mendekat ke arah pantai di sebelah kanannya. yaitu Menebang Kelapa dan Berkelit Membanting Padi. Ilmu Pedang Panjang dan ilmu berkelahi tangan kosong yang berisikan gerakangerakan menyebet dengan telapak tangan serta tangkisan dan bantingan. Perlahan-lahan titik tersebut membesar dan terlihat semakin jelas.

Digantungi berbagai pernik untuk melaut dan terpampang nama desa itu. Ia adalah orang asing. Tepi Darat Selatan. Belum mereka berkenalan pula. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur dulu malam itu di luar desa.. Ia tidak memperdulikan tatapan Telaga yang masih berdiri tak jauh dari sana. Ia pun membuka perbekalannya. setidaknya menurut para penghuninya.443 dian melompak keluar dan menarik perahunya sendiri sampai cukup jauh dari batas air laut. setelah melalui semak-semak dan pohon-pohon kelapa serta nyiur. bergegas berlalu dari situ. makan dan setelah itu mulai beristirahat di sana. Cukup terlindung dari angin. Suatu nama yang menandakan desa itu berada di bagian paling selatan dari daratan itu. Gadis tersebut dengan cekatan dan sigap setelah membereskan perahunya dan mengangkat hasil tangkapannya dari laut. sampailah mereka di suatu lapangan agak terbuka.. hanya bisa terpaku melongo. tamu tepatnya. . Telaga yang baru kali ini menyaksikan seorang nelayan perempuan. harus aku ikut dia. matahari tampak sudah mulai menghilang di ujung barat pantai. Tak jauh di depan sana tampak semacam pintu gerbang yang terbuat dari dua buah pohon kelapa yang hidup. Telaga mencari-cari matanya. sampai menemukan sebuah batu karang yang dinaungi oleh beberapa pohon kelapa yang agak membungkuk. Mengikuti gadis tersebut sampai ke rumahnya adalah tidak baik. Ia hanya memandang kagum dan membisu. Telaga menjadi ragu untuk terus mengikuti. Ia pun kemudian beranjak untuk mengikuti langkah gadis tersebut yang tidak saja cepat tetapi juga lebar-lebar. Hari sudah menjelang senja. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. baru besok pagi ia akan berkunjung ke sana.” tersadar Telaga dari kekagumannya. Setelah itu ia mulai membereskan barangbarang tangkapannya dari laut. Tempat yang cukup baik untuk bermalam. yang belum tahu harus menuju ke mana di desa tersebut. Bukan langkah kaki gadisgadis kebanyakan. ”Eh. Setelah gadis tersebut berlalu dari pintu desanya. Kira-kira tiga ratus langkah dari tempat perahu gadis itu ditambatkan.

aku tangkap dia. Mengerti!” jawab kakeknya tegas. Dara itu mengangguk. ”Kalau begitu engkau yang tangkap dia. tidak baik!” ucap kakeknya si Pelaut Ompong kemudian. Tapi awas ya. ”Tampaknya tidak bermaksud jahat. Mungkin karena kurang pengalaman atau karena saking lelahnya.” goda kakeknya kemudian. Pelaut Ompong. Suatu usul yang terdengar kasar dan asal-asalan juga.” ucap gadis itu. Rupanya sedari tadi Telaga memperhatikannya dengan kagum.444 BAGIAN 8. apabila engkau masih mencurigai pemuda itu?” ”Kita tangkap dan ikat saja. ”Belum tentu. kalau engkau yang salah. Lalu dengan perlahan kakek itu melangkah ringan. ”Baik.” usul cucunya itu. kakek!” rengek sang cucu manja. baik. ”Ah. Mayiya memutuskan untuk segera pulang ke desangnya. engkau harus minta maaf kepadanya. ”Jangan terlalu curiga. MENARI BERSAMA AIR Tak lama ia pun mulai terlelap dibuai angin semilir yang mengalun lembut di sela-sela karang yang membelakanginya. kakek! Besok baru kita tanyai. ”Jadi apa maumu sekarang. ”Iya. mungkin belum muncul saja aksinya. Lebih aman di sana. Akan tetapi karena tidak ada siapa-siapa di antara mereka kecuali pasir dan air laut. Telaga tidak waspada sehingga ia tidak menyisakan sedikitpun kesigapan untuk segera terbangun apabila ada suara-suara mencurigakan.” jawabnya. Mayiya?” kata suara seorang tua yang terdengar agak serak. kakek! Pemuda ini. saking ringannya .” ucap orang tua itu lagi sambil mengamat-amati Telaga yang tertidur pulas. ia sudah tahu dan merasa tidak nyaman. meringkuk miring dan juga mendengkur. ”Ini pemuda yang tadi mengikutimu. Setelah sampai ke rumahnya lalu ia melaporkan hal ini kepada kakeknya.

445 tapak kakinya tidak berbekas di atas pasir yang diinjaknya. Jadi apabila Telaga tidak dalam keadaan tidur pulas pun, sudah sulit untuk mendengar kedatangan mereka, apalagi saat ia benar-benar merasa aman dan lelap istirahatnya. ”Hmm, cah.., cahh.., kalo tidur itu sebaiknya tengkurap! Biar gampang notoknya...,” gerutu kakek itu saat telah berada di samping Telaga yang masih tertidur dengan posisi miring meringkuk memeluk kantung perbekalan dan juga lututnya. ”Di punggung saja kayaknya, masih terbuka..,” ujar kakek itu kemudian. Lalu Pelaut Ompong itu pun segerah perlahan mengusap punggung Telaga, sampai ia merasakan sebuah jalan darah yang dicari, dan... ”Tukk!!!” jempolnya memijit pelan. Tubuh Telaga tampak sedikit tersentak tapi pemuda itu tidak terjaga. Mungkin tubuhnya sedikit bereaksi secara reflek terhadap aliran tenaga totokan itu, tapi tidak cukup kuat untuk menolak dan membangunkan orangnya. ”Sudah, kek?” tanya dara itu kemudian, memecah keheningan yang hanya terisi oleh deburan ombak dan gemerisikan angin di sela-sela daun kelapa. ”Sudah! Sekarang kamu yang bawa, Mayiya!” perintah kakeknya. Gadis itu mengangguk. Lalu dengan sigap ia mengambil barang bawaan Telaga, menyatukannya dalam kontong dan memanggul sang pemuda. Bobot Telaga seakan-akan tiada berarti bagi gadis itu, walaupun tingginya hampir sama dengan Telaga. Bila saja Telaga sadar mungkin ia bisa merasa malu, dipanggul sedemikian rupa oleh seorang gadis. Dan malam itu pun berlalu dengan tenangnya. Mayiya tenang karena pemuda yang diduganya punya maksud jahat terhadap dirinya telah ditangkap dan disekap di ruang kecil di belakang rumah sana. Sedangkan Telaga tenang kerana tidak tahu apa-apa, bahwa tempat tidurnya telah berpindah tempat. Hanya Pelaut Ompong yang masih agak tertegun saat membantu membawakan barang-barang pemuda itu. Sebilah pedang panjang. Mirip dengan pedang seseorang yang pernah dikenalnya dulu, jauh di sebelah utara. Pedang itu dibungkus kain-kain dan kulit kayu dan digunakan sebagai tongkat. Bila ia tidak memegang sendiri, mungkin masih dikiranya itu adalah tongkat. Den-

446

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

gan itu, Pelaut Ompong menjadi lebih berhati-hati. Mungkin saja dugaan cucunya benar, pemuda itu bukan orang biasa. *** ”Kukuruyukkkk!!! Kukuruyukkkk!!!” suara satu dua ayam jago memecah kehehingan pagi. Didahului dengan sepercik cahaya pertama dari ufuk timur, ayam-ayam pejantan itu berdulu-dulu meneriakan kabar bahwa hari baru telah datang. ”Agggghhhh!!!” ucap merdu seorang gadis yang menggeliat. Ia tampak manis dengan rona merah wajahnya yang masih kusut akibat tidurnya. Mayiya baru saja bangun dan sempat bermimpi soal pemuda yang dipanggulnya kemarin. Saat ia benar-benar tersadar, langsung ia bangkit dan menuju ruang tengah rumahnya, hendak bertanya pada kakeknya apa yang kemarin itu benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka. ”Pagi, Mayiya!” sahut kakeknya yang sudah duduk di ruang tengah dengan ditemani kepulan kopi. Mayiya tidak segera menjawab karena mulutnya terasa tersumbat. Di samping kakeknya tampak seorang pemuda sedang meniup-niup gelas kopi yang ada di dalam tangannya. ”Huuuhh!! Huhhh!! Masih panas...,” ucapnya pelan. ”Kakek, itu.... dia...?” ucap Mayiya pelan sambil menunjuk sang pemuda. Pemuda yang dipanggulnya kemarin malam. ”Ah, nak Telaga? Nak Telaga ini cucuku, Mayiya. Dia yang minta engkau tadi malam diperlakukan secara ’istimewa’,” ucap Pelaut Ompong dengan gurau. Wajah merona tampak pada muka Mayiya. Malu sekali ia. Orang yang ”ditangkap”-nya tampak tenang-tenang saja, sudah bangun dan malah sedang menemani kakeknya minum kopi. Dan ia sendiri... masih belum merapikan rambutnya. Bergegas ia kembali menghilang dalam kamarnya, menyibakkan kain penutup ruangan tersebut. ”Hahahahaha...!” kakek Mayiya tampak tertawa puas. Senang ia menggoda cucunya. Memang hubungan antara kedua orang itu, cucu dan kakek, benar-benar akrab. ”Itulah cucuku, nak Telaga. Ayo jan-

447 gan sungkan-sungkan, bila sudah dingin langsung saja dihirup. Nanti siang, minuman dan masakan yang lebih enak, buatan Mayiya lebih enak dari buatanku, bisa engkau nikmati.” Telaga yang tak tahu harus mengucap apa, hanya mengangguk-angguk saja. Sambil perlahan diambilnya ubi bakar yang disajikan dan menguyahnya pelan-pelan. Sambil tak lupa tetap meniup-niup kopi yang sekarang sudah mulai agak dingin. ”Ceritakan soal Walinggih! Bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Pelaut Ompong kemudian. Benar seperti dugaanya, pemuda itu ada kaitannya dengan Walinggih, seorang yang pernah dikenalnya dulu. Seorang pengguna pedang panjang. Setelah kunyahan ubi bakar dilancarkan dengan kopi yang dihirupnya. Telaga pun mulai menceritakan mengenai keadaan Walinggih, sampai terakhir ia bertemu dan pamit untuk melanjutkan merantau ke arah selatan. *** ”Jadi engkau ingin mencari Suku Pelaut?” tanya gadis itu kepada seorang pemuda. ”Iya. Tahukah engkau di mana mereka bisa ditemui?” tanya pemuda itu balik. ”Aku pernah mendengarnya dari kakek, bahwa mereka itu sulit dicari. Hidup benar-benar di tengah laut dan jarang merapat. Hanya saatsaat tertentu saja mereka merapat. Benar-benar ’orang laut’,” jawab sang gadis. ”Adakah yang bisa menunjukkan di mana aku bisa mencari mereka?” tanya pemuda itu kemudian. ”Tunggulah sampai kakakku, Mayayo, pulang! Ia banyak tahu. Bahkan dengar-dengar ia pernah bertemu dengan salah seorang dari mereka. Ia diselamatkan dari amukan badai oleh mereka dan diantar pulang ke darat karena perahunya telah hancur,” cerita gadis itu. Mengangguk-angguk pemuda itu mendengar penjelasan sang gadis.

448

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Eh.., Telaga..,” ucap gadis itu lirih. ”Ya... Mayiya..?” jawab sang pemuda. ”Soal waktu itu..., aku...,” ucap sang gadis dengan wajah tersipu malu. Merona merah wajahnya. ”Ah, tak usah dipikirkan. Engkau bisa daja benar, bahwa aku adalah orang jahat yang hendak menunggu tengah malah untuk menyelinap menyerangmu. Itu sudah tindakan bagus. Paling tidak engkau tidak melukai aku sebelum bertanya,” jawab pemuda itu sambil tersenyum. ”Aku... minta maaf!!” ucap gadis itu. ”Tak ada yang perlu dimaafkan, hanya kesalahpahaman saja,” jawab sang pemuda. ”Terima kasih!!” berkata gadis itu kemudian. *** Mayayo, kakak Mayiya, masih membutuhkan waktu kira-kira beberapa minggu sebelum kembali ke desa itu, Tepi Darat Selatan. Jadi selama menunggu Telaga diajar oleh Mayiya dan kakeknya Pelaut Ompong hal-hal mengenai laut. Kalau-kalau Telaga harus berlayar seorang diri dan bertahan hidup di tengah laut. Dari cara mencari ikan, menghemat tenaga sambil berendam di sisi perahu, menyuling air laut untuk minum dan mengobati sengatan matahari dan juga uburubur serta ular laut. Banyak hal yang diajarkan oleh kedua orang itu kepada Telaga. Jarang mereka mendapat kunjungan orang luar, dan orang luar yang tertarik dengan penghidupan mereka. Kepada Telaga mereka menjadi amat terbuka dan menceritakan banyak hal. Sebagai balasan Telaga mengajarkan Mayiya, karena Pelaut Ompong sudah merasa terlalu tua untuk belajar, ilmu-ilmu yang dimilikinya. Salah satunya adalah ilmu pedang panjang dan jurus-jurus beladiri tangan kosong warisan Arasan. Mayiya yang cerdas dapat dengan mudah mencerap apa-apa yang diajarkan. Bahkan teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita menjadi bersemangat dan ikut berlatih. Telaga menjadi tamu yang amat diterima di sana. Membuat suasana desa itu menjadi ceria.

449 ”Ini yang disebut Gerakan Kadal Pelangi Makan Pagi...,” ucap Telaga sambil menunjukkan gerakan-gerakan yang bersalto balik, menyerang dengan pedangnya dan tidak terjatuh, melainkan melenting kembali ke tempat pijakan tadi ia melompat. Suatu serangan yang sulit diduga oleh lawan yang belum tahu. Dikarenakan pedang panjangnya hanya satu dan anak-anak muda yang lain ingin ikut juga berlatih, akhirnya dibuat pedang-pedangan dari bambu yang ditengahnya diisi oleh pasir besi, agar beratnya menyerupai berat pedang panjang. Jurus-jurus pedang panjang hanya bisa dilakukan apabila pedang yang digunakan cukup berat dengan titik beratnya berada di pertengahan ujung dari pedang. Bagi yang tidak tahu dan ingin meniru tanpa tahu seluk-beluk pedang yang digunakan, tidak akan berhasil. Apalagi menggunakan pedang biasa. Tapi bukanlah desa atau kota atau kumpulan komunitas lain bila seorang baru yang datang, mendapat banyak perhatian dan tidak ada yang tidak senang. Ada seorang pemuda, Wassa, yang telah lama menaruh hati kepada Mayiya. Ia menjadi tidak senang dengan kedatangan Telaga yang tampaknya dekat dengan pujaan hatinya. Ia menjadi gusar terbakar api cemburu, walaupun ia sendiri belum pernah menyatakan maksud hatinya kepada sang gadis. Wassa memang berniat untuk mengatakan apa isi hatinya, tapi untuk itu ia hendak menunggu Mayayo, sang kakak dari Mayiya. Di kampung itu ada adat bahwa pernyataan suka dan ada niat untuk meminang harus dikatakan kepada wakil dari yang hendak dipinang. Dalam ini Mayayo adalah wakil dari Mayiya. Pelaut Ompong, sang kakek telah berpesan akan hal itu kepada Wassa. Sebagai orang tua dari ayah Mayiya dan Mayayo ia wajib menikahkan cucu-cucunya, tapi menerima pernyataan ingin meminang Mayiya adalah kewajiban Mayayo. *** Ombak yang bergulung-gulung tinggi, berkejar-kerjaran dalam angin, berlomba-lomba datang, menghantam perahu dan menjatuhkan airnya ke atas geladak kecil tersebut. Seorang pemuda dengan tabah tampak masih berusaha menurunkan layar perahu kecilnya, mengurangi kuasa angin atas perahunya. Kekuatan pengaruh air atas biduknya tak dapat ia reduksi, kecuali harapan dalam hati kepada Sang Pencipta, agar ia masih dapat pulang dengan selamat ke kampungnya. Tampak lelah

450 sudah wajah sang pemuda.

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kampungnya, Tepi Darat Selatan. Kakeknya, Pelaut Ompong. Adiknya, Mayiya. Berkelebat cepat semua apa-apa yang ada di dalam angan. Apa ini tandanya orang yang menjelang maut? ”Tidak!!” ucap pemuda itu membantin. ”Ini belum berakhir! Selama masih ada nafas, tak akan ia menyerah!!” Segera setelah semangatnya pulih, ia teringat pada ujar-ujar dari para tua-tua, bahwa dalam keadaan badai menggila dan berangin, ikatkan diri pada tiang perahu. Jangan sampi jauh dari satu-satunya pelampung kehidupan di tengah lautan. Segera dengan tali yang dapat digapainya, dililitkan dirinya kepada tiang layar perahu kecilnya. Dililitkannya berkali-kali. Satu, dua, tiga.., entah sampai berapa kali putar. Sebanyak-banyaknya, sampai ia sendiri berdiri lemas. Basah, kedinginan dan lelah. Dengan topangan ikatan tali itu, ia masih bisa berdiri. Ombak yang bergulung tinggi, datang seakan tak hendak berhenti. Bertubi-tubi dan silih-berganti. Perahu diombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Dibolak-balik sesuka hati. Untuk saja ada konstruksi, yang membuat perahu dapat tegak kembali. Bila tidak, sudah pasti, sang pemuda bagi ikan-ikan menjadi sarapan pagi. Kesadaran yang perlahan menghilang menyambut sang pemuda. Tertunduk kepalanya lemas. Bak orang yang telah tiada nyawa. Pasrah biarkan diri dipermainkan gelombang laut tiada iba. Tapi memang hari itu bukan hari akhir bagi Mayayo, sang pemuda yang terikat di tiang perahu. Alam berangsur-angsur mulai melunak. Menaruh iba dan berbaik hati. Angin meredup dan gelombang berangsur-angsur mengecil. Laut lalu menjadi tenang. Amat tenang seakan-akan hampir tiada angin bertiup. Suatu kontras yang amat sangat, bila dibandingkan dengan keadaan beberapa saat sebelumnya. Kuasa Sang Pencipta, sosok dari mana seluruh isi alam ini berasal, yang kuasanya bertebaran di mana-mana. Hanya sayang kita kadang kurang menyadarinya sehingga sering terlupa untuk bersyukur dan mengharap dengan tulus. Perlahan-lahan matahari pagi mulai menampakkan sinarnya dari arah biasanya. Kaki langit sebelah timur tampak bersinggungan dengan

451 lautan sejauh mata memandang. Sinar temaram kuning mentari peralahan-lahan mulai menjadi semakin cerah. Ia muncul untuk menghantarkan kehangatan kepada seluruh lautan dan penghuninya. *** ”Hiattt!!!” teriak seorang dara dengan lantangnya. Dengan gerakan yang lincah dan menawan ia melompat ke sana-ke mari di atas balokbalok kayu yang terapung-apung di tengah laut tersebut. Balonkbalok yang satu sama lain diikat dengan tali sehingga tidak dapat saling menjauh atau mendekat. Balok-balok tersebut diikat membentuk jaring kotak-kotak yang di keempat ujung jauhnya ditancapkan pada sebuah pelampung besar yang dijangkarkan ke dasar laut. Walaupun terlihat balok-balik tersebut mengapung, akan tetapi tidaklah terlalu besar beban yang dapat ditampungnya. Oleh karena itu orang yang berlompatan di atasnya harus hanya hinggap sebentar untuk kemudian berpindah pada balok yang lain. Jika tidak, sudah dipastikan yang hinggap di atasnya akan tenggelam. Ini adalah salah satu bentuk latihan ilmu meringankan tubuh yang dilatih di tengahtengah laut. Dara tersebut dengan busana ringkas berwarna biru muda, warna yang dominan di daerah yang didominasi oleh air, tampak tak kenal lelah berlompatan sana-sini sambil menyabetkan tangan dan kakinya. Sabetan yang bukan sembarang sabetan, melainkan sabetan dengan penuh tenaga. Kesiuran angin tampak di sana-sini, di permukaan air yang telah terkena hawa pukulan dan tendangannya. Tampak segumpal air yang lebih putih dari sekelilingnya, menggumpal dan mengapung perlahan untuk kemudian menghilang. Bongkahan es. Ya, ilmu yang dilatih dara tersebut berkaitan dengan penggunaan Tenaga Air. Ia dapat memanipulasi air dengan hawa pukulannya sehingga menjadi dingin, dan sampai membeku. ”Plok-plok-plok!!” terdengar tepukan tangan seorang tua yang berdiri tidak jauh dari sana. Jika dara berjubah biru muda tersebut sudah terlihat menggiriskan dengan pukulan serta tendangannya yang mampu mendinginkan air laut sampai menjadi bongkahan kecil es, ditambah pula ilmu meringankan tubuhnya yang mampu membuatnya ”terbang” di atas

452

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

air dengan bantuan balok-balok kayu yang terapung, lain pula dengan orang tua itu. Ia tampak berdiri seenaknya, dengan kedua kaki dipentang, di atas air. Sebenarnya tidak benar-benar di atas air, karena apabila diperhatikan tampak bahwa di bawah kedua kakinya, di bawah permukaan air di bawah tubuhnya, tampak segumpal es besar. Bongkahan yang menyanggah dirinya sehingga tidak tenggelam dan seakan-akan terapung atau dapat berdiri di atas permukaan air. Es sebesar satu dua gajah dan dalam siang yang seterik ini? Kemampuan yang tidak boleh dibuat main-main. ”Ah, kakek!! Masak sudah latihan hari ini?” rengek dara itu manja kepada orang tua yang ternyata adalah kakeknya sendiri. Tampak mengeluarkan sepatah kata pun orang tua itu lalu menunjuk ke suatu arah di tengah laut, tak tampak apa-apa di sana. Tapi perlahan muncul sebuah titik yang semakin lama semakin jelas. Sebuah perahu. Perahu kecil dengan tiang layar yang doyong miring. Perahu yang jelas-jelas tampak telah didera badai dan dipermainkan ombak laut yang ganas. Pada tiangnya tampak seorang pemuda terikat. Diam. Wajahnya yang pucat dan bibir membiru, menandakan ia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Pingsan. ”Kakek, apa yang harus kita lakukan?” tanya dara itu saat ia dan kakeknya telah tiba di atas perahu yang terombang-ambing dengan sang empunya terikat pada tiang perahu. Sang kakek hanya menggerak-gerakkan tangannya. Dara tersebut kemudian mengangguk mengerti. Lalu ia mengeluarkan sebuah keong dari saku bajunya, meliuk melengkung dan berwarna hitam mengkilat. Keong Pemanggil. Suatu alat yang digunakan dengan ditiup, untuk memanggil bala bantuan apabila terjadi suatu peristiwa yang membutuhkan pertolongan dari kerabat atau kawan. Tak lama kemudian tampak sebuah titik dari arah berlawanan perahu yang terombang-ambing tadi datang. Titik tersebut perlahan-lahan menjadi semakin besar dan memecah menjadi tiga buah. Tiba buah perahu yang bergerak dengan cepat atas bantuan dayung-dayung yang berumlah empat buah, dua di masing-masing sisinya. Selain itu masih ada dua orang di depan dan belakang yang mengerak-gerakkan tangannya mengendalikan air di depan dan belakang perahu.

453 Orang yang didepan menggerakkan tangannya ke depan sehingga di depan perahu mereka terbuka lubang yang cukup dalam akibat angin pukulannya, sedangkan yang dibelakang mendorong air dengan luasan yang lebih lebar, tidak membuat lubang akan tetapi mendorong perahu ke muka. Gerak mereka berganti-ganti dan dibantu dengan para pendayung yang menyibakkan air ke belakang. Paduan tenaga yang membuat perahu mereka bergerak dengan amat cepat. Seakan-akan seperti perahu yang memiliki ”ilmu meringankan tubuh” di atas air. Tak lama kemudian ketiga perahu tersebut telah merapat ke perahu yang terombang-ambing tadi. Sang pemuda yang pucat dan tak sadarkan diri telah dibuka ikatannya oleh sang dara dan dibaringkan di atas perahu, beralaskan gumpalan layar pada kepalanya. Perahu dara dan sang kakek serta ketiga perahu yang baru datang melingkar mengelilingi perahu yang tadi terombang-ambing. Semua orang tampak mengamati pemuda yang masih saja tak sadarkan diri itu. Orang-orang yang baru datang itu tampak menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kakek sang dara juga membalaskan dengan isyarat-isyarat yang tak kalah cepatnya, ingin mengatakan bahwa, ”Perahu ini harus ditarik ke pantai.” Rekan-rekannya yang baru datang itu mengangguk-angguk setuju, kemudian mereka melemparkan tali dan mengaitkannya pada perahu sang pemuda yang masih pingsan itu. Mengikatnya pada empat bagian dan kemudian ke perahu mereka masing-masing termasuk si kakek. Setelah ikat-mengikat selesai, kelima perahu itu segera melaju dengan cara yang sama seperti mereka datang. Di sini terlihat bahwa sang kakek memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lain. Dengan hanya sendiri ia dapat melajukan perahunya selaju ketiga perahu yang lain. Cucunya hanya berdiam di depan perahu sambil mengamati pemuda yang masih pingsan itu. Perjalanan mereka akhirnya berhenti pada sebuah bentuk yang mengapung di tengah-tengah air. Bukan pulau bukan pula perahu. Mungkin lebih tepat dikatakan perahu, akan tetapi dengan ukuran dan bentuk yang tidak lajim. Besar dan luas dan juga ditumbuhi oleh tanam-tanaman. Bukan pulau karena dapat berpindah-pindah. Para penghuninya menamakan Desa Terapung.

454

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

Kelima perahu tersebut, empat yang menarik dan satu yang ditarik melabuh pada satu sisi Desa Terapung. Pada sisi tersebut sengaja dibentuk mirip pantai sehingga perahu-perahu dapat merapat dan ditarik pada bidang yang miring, sebelum disangkutkan pada suatu kaitan dan diikat. Segera kelimat perahu tersebut telah dilabuhkan dan diikat dengan rapi, mencegahnya lepas dan hanyut ke lautlepas. Bagi mereka perahu adalah suatu alat yang penting untuk hidup di tengah laut. Daerah yang hanya terisi oleh air dan langit di atasnya. *** Pemuda itu tampak membuka matanya. Ia merasa menggigil dan pening. Tiba-tiba ia teringat saat-saat terakhir kesadaran masih ada di kepalanya. Ya, di tengah laut, di atas perahu dan dihantam badai dan hujan. Segera ia bangung dan menyadari bahwa ia sedang berbaring di dalam sebuah kamar yang bersih dan terang. Bajunya juga telah berganti dengan baju lain yang kering dan nyaman. Sebelum ia dapat berpikir lebih jauh di mana ia berada, tiba-tiba tampak sebuah pintu, satu-satunya pintu pada ruangan itu, terbuka. Sesosok orang tampak masuk dan tersenyum padanya. Seorang gadis. ”Bagaimana keadaanmu?” tanya gadis tersebut. ”Eh.., aku..? Di mana aku? Bagaimana.. bisa..? Badai itu...,” ucap pemuda tersebut yang masih tampak bingung dengan keadaannya itu. Gadis tersebut berkata menenangkan, ”Jangan terburu-buru untuk mengingat! Istirahat sajalah masih banyak waktu. Lebih penting untuk memulihkan kesehatanmu. Ini makananmu!” Pemuda itu mengangguk. Dan benar, ia merasakan bahwa sekujur tubuhnya sakit-sakit dan juga tak mampu untuk bertahan lama dalam berbicara. Terasa tanpa tenaga. Mungkin akibat demam yang dialaminya. ”Bisa makan sendiri?” tanya gadis itu setelah melihat wajah yang pemuda yang masih pucat tersebut. Pemuda itu mengangguk mengiyakan. ”Ini kuletakkan makananmu. Campuran bubur dan ikan. Baik untuk

455 tubuh yang masih demam dan lemah. Makanlah! Pelan-pelan saja. Jika bisa habiskan,” ucap gadis itu sambil meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa. ”Apa nama tempat ini?” tanya pemuda itu setelah ia memperoleh agak sedikit tenaga setelah beberapa suap bubur dan seteguk teh hangat dicernanya. ”Desa Terapung,” jawab gadis itu pendek. ”Istirahatlah dulu!” katanya kemudian setelah melihat bubur dan teh yang dihidangkannya telah habis berpindah ke perut sang pemuda. Pemuda itu kembali menangguk. Kali ini ia tidak lagi bertanya-tanya dan segera merebahkan badan dan menutup matanya. Berusaha untuk beristirahat, memulihkan tenaganya. ”Desa Terapung..,” kata-kata tersebut masih terngian-ngiang di telinga dan kepalanya saat ia kemudian terlelap. Rupanya di dalam bubur tersebut diberikan sejenis ramuan yang membuat pelahapnya menjadi mengantuk. Hal ini dengan tujuan agar membuat tubuh lebih cepat pulih dengan banyak beristirahat. Tidur. *** Dua orang pemuda tampak berdiri berhadapan di tengah-tengah nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan. Di kejauhan terdengar deburan ombak samar-samar. Saat itu tengah hari lewat sedikit. Bayang-bayang benda mulai kembali menampakkan dirinya. ”Jadi hanya karena itu engkau menantangku untuk berkelahi, Wassa?” tanya pemuda pertama yang beridiri gagah dengan badan tegap dan berotot. Lawannya yang juga tak kalah gagahnya hanya mengangguk pendek. ”Tapi...,” ucap pemuda pertama itu lagi. ”Tak usah banyak alasan! Jika engkau takut, katakan saja, Telaga!” ucap Wassa dengan senyum agak mengejak. Takut, kata itulah yang membuat Telaga hampir tidak dapat berpikir jernih. Ia tidak suka kata itu, apalagi jika kata itu dilemparkan orang

Ia masih ingin melihat sejauh mana Wassa punya kemampuan. Jika Telaga masih tampak segar dan sigap. Pelaut Ompong. walau hatinya juga sudah mulai panas akibat ejekan lawannya. wajah Wassa menjadi semakin merah gelap. adalah Wassa yang sudah terlihat lelah dengan keringat bercucuran di mana-mana. Demi melihat pukulannya dapat dielakkan degan mudah. Segera ia menarik serangannya yang luput itu. pungguh dan lehernya telah basah olehnya. melanjutkan dengan tendangan lurus ke arah kepala Telaga. Napasnya pun terlihat mulai terengah-engah. Ia hanya melihat tidak ada alasan untuk berkelahi dengan pemuda di hadapannya ini. MENARI BERSAMA AIR kepada dirinya. Pukulan yang hanya diisikan oleh tenaga kasar dan dilakukan oleh orang yang tidak mengerti banyak ilmu bela diri. Suatu serangan tanpa pertahanan diri. Berulang kali pula Telaga dengan mudahnya mengelak. Ia belum ingin menjatuhkan pemuda lawannya itu. Suatu alasan yang picik. Berulang-ulang Wassa menyerang dengan beringas. Satu waktu yang cukup untuk memasak nasi pun telah lewat. . Berbekal jurus Berkelit Membanting Padi hasil ajaran gurunya Arasan. Serangan kasar dan membabi-buta. Tapi kembali Telaga hanya berdiam diri. Wajah. ia dapat segera melihat kedudukan lemah dari posisi Wassa. Sebenarnya Telaga dapat dengan mudah menangkap kaki itu dan menekuk lalu membanting Wassa dengan mudah. dada. Wassa telah bergerak dan memukulnya lurus. Tidak hanya mengelak bahkan mengelak dengan tipis dan hanya pada saat-saat terakhir. Kembali tendangan itu dapat dielakkan dengan tipis oleh Telaga yang hanya memiringkan sedikit kepalanya dan membiarkan kaki tersebut kehilangan daya dorongnya dan terhenti dengan sendirinya di udara karena telah terentang habis. Suatu elakan yang seakan-akan berbicara bahwa kepandaian Wassa belum ada cukup untuk dikeluarkan baginya. Dengan mudah Telaga menggeser sebuah kakinya ke belakang dan menghindari pukulan itu. Sebelum Telaga sempat mengeluarkan kalimat lain. Pemuda yang hanya cemburu karena ia dekat dan tinggal serumah dengan Mayiya dan kakeknya.456 BAGIAN 8. Kaku dan keras. Suatu celah yang benar-benar tepat untuk dimakan oleh jurus tersebut.

Dan aku tidak akan mencobacoba untuk tertarik dengan gadis lain selain tunanganku.. Sebersit semangat dan juga kebingungan tampak terlihat sejenak di matanya. Terengah-engah sekali tampaknya. Ia kemudian lanjut berkata. Telaga yang merasa tidak enak bahwa kedatangannya ke tempat ini menyebabkan pemuda itu teracuni pikiran cemburu. kita sudahkan saja hal ini.. Serangan-serangan yang tidak pernah mencapai tubuh Telaga.” ucap Telaga sambil duduk di samping pemuda yang sudah tempak tak bertenaga itu.457 ”Telaga. Tenaganya terkuras habis hanya untuk memberikan pukulan dan tendangan kosong. Wassa hanya tersenyum malu. ”Bila engkau merasa bahwa bersilat dengan pedang panjang dan .” ”Aku ini sudah bertunangan. Telaga yang tadinya merasa agak dongkol kepada pemuda lawannya itu menjadi merasa kasihan. jangan engkau menghindar. Padahal ia tidak tahu apakah apakah sang gadis membalas cintanya atau tidak. aku!!” ucap Wassa yang diselilingi dengan napasnya yang bersambung dan putus.” jelas Telaga. Tapi masih ada rasa penasaran dalam hatinya.” ucap Telaga perlahan.. Tak ada gunanya. ”Tapi aku sering melihat engkau dan dia. Aku merasa ia sudah jatuh cinta kepadamu.. Wassa. Ia pun terduduk lelah.. Walaupun mendongkol Wassa tidak dapat berkata apa-apa. Bukan begitu?” tanya Telaga balik. terus. Sudah dilupakannya perkataan Wassa yang mengatakannya takut tadi sehingga ia terpancing emosinya untuk melayani.. ”Aku melihat bahwa Mayiya tampak kagum pada kemampuanmu mengayunkan pedang panjang dan juga bersilat. ”Aku sama sekali tidak tertarik pada Mayiya..!! Ayo lawan. ”Wassa. Pemuda yang telah dibutakan cintanya kepada Mayiya.. Dan termenung. Lalu katanya..” ”Aku ’kan menumpang di sana.. Lucu jika orang yang menumpang di rumah orang lain. Lelah sudah pemuda itu. akan tetapi tidak berinteraksi dengan yang punya. mencoba untuk membantu. Sedih.

*** . Biar nanti Mayiya tahu setelah engkau mahir.” ucap Wassa yang sudah merasa gembira bahwa ia akan diajari ilmu beladiri oleh Telaga. aku juga tertarik dengan tempat ini.? Setelah aku hampir mati-matian ingin menghajarmu?” tanya Wassa tidak percaya akan tawaran yang diajukan oleh Telaga. tidak seperti semula yang terisi dengan rasa curiga dan ketidaktahuan. Aku senang sekali!” ”Baiklah kalau begitu. baiknya kita latihan diam-diam.” katanya sambil mengedarkan pandangan. Menuju desa Tepi Darat Selatan. Perkelahian yang barusan terjadi membuat keduanya menjadi akrab satu sama lain. mari sini aku ajarkan!” ”Engkau mau mengajarkan aku ilmu silat itu.. Keduanya kemudian bersama-sama berjalan menuruni bukit kecil itu. ”Pemakaman kuno ini? Ada cerita menarik mengenai tempat ini. MENARI BERSAMA AIR tangan kosong bisa menarik perhatian seorang gadis. Seorang berilmu dan juga ramah. melihat berkeliling pada nisan-nisan batu yang tersebar tak beraturan itu. Aku rasa. Wassa mengangguk setuju. Dengan ini kita jadi bersahabat. Telaga.. Wassa?” ”Tidak!! Tidak!!” sahut Wassa cepat. Tampak kuno dan beberapa sudah terguling. menyisir lembut daun-daun nyiur. untuk suatu kejutan. Sekarang mereka berjalan berdua bagai seorang sahabat. Sudah menjadi sahabat rupanya mereka berdua. Bagaimana?” usul Telaga. ”Di samping itu. lalu katanya. Atau engkau tidak mau bersahabat denganku. ”Ini semua hanya salah paham. Gembira akan persahabatan dua manusia yang baru saja terbentuk. Telaga menganggguk. Nanti malam kita bertemu lagi di sini.458 BAGIAN 8. Angin pun berhembus perlahan. ”Sudah tentu senang sekali bersahabat denganmu. Sudah lupa ia akan kekesalannya tadi. Nanti kuceritakan.

” jawab Telaga singkat. Wassa merasa bangga bahwa Telaga yang dikaguminya dalam ilmu beladiri masih merasa tertarik dengan ceritanya mengenai keteraturan pemakaman kuno ini. Ia tertarik pada ucapan Wassa tadi siang.459 ”Pernah dengan kata Fibonacci?” tanya Wassa seusai Telaga mengajarkan beberapa gerakan beladiri dan juga latihan kuda-kuda yang cukup melelahkan.” ucap Telaga penuh ingin tahu.” cerita Mayayo. tapi apa hubungannya dengan makam ini? Eh. setelah bilangan ketiga. Ditemukan bahwa barang-barang yang berbeda ukurannya dapat memenuhi kantong dengan sangat pas seperti barang-barang yang berukuran sama. yang tidak secara sengaja menemukan suatu keteraturan. ”Belum. ”Perhatikan angka-angka berikut ini!” ucap Wassa sambil menuliskan sederat angka-angka di atas tanah menggunakan potongan ranting kayu. Mereka sedang memasukkan barang-barang ke dalam kantong.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. sebelummya tunjukkan dulu bagaimana keteraturan yang engkau maksud dalam cerita itu! Aku sama sekali belum mengerti. ”Alkisah ada dua orang dari Tlatah Bharat (India). ”Perhatikan bahwa suatu bilangan. adalah hasil penjumlahan dua bilangan sebelumnya. saat mereka masih belum bersahabat bahwa ada cerita menarik di balik posisi nisan-nisan yang terlihat tidak beraturan di pemakaman kuno di atas bukit ini.” ucap Wassa memberi .” ”Menarik. yaitu Gopala dan Hemachandra. ”Seratus tahun kemudian para pengujar dari tlatah lain mempelajari hal tersebut dengan lebih tekun dan berhasil merumuskan aturannya. selebihnya aku tidak hapal. ”Masih belum mengerti.” ucap Wassa. Telaga kemudian mengamati akan tetapi ia tidak melihat keteraturan dari angka-angka yang baru saja dituliskan oleh Wassa. yang dinamakan deret Fibonacci. O I I II III V VIII XIII XXI XXXIV LV LXXXIX CXLIV CCXXXIII CCCLXXVIII DCX CMLXXXVII ”Sampai di sini saja.

”Menarik!” ucapnya kemudian. apalagi berkaitan dengan ilmu beladiri tinggi.. CMLXXXVII.. ternyata tersembunyi suatu keteraturan yang mengagumkan. ”terdapat rahasia ilmu beladiri tinggi. Yang satu bersemangat untuk bercerita dan yang satu bersemangat untuk mencari tahu apa cerita di balik pemakaman kuno itu. Lalu terdengar Telaga bertanya. Tapi tidak delapan luasan yang sama besar. ”Dan hubungannya dengan pemakaman kuno ini?” Tersenyum Wassa mendengar itu. Mengangguk-angguk Telaga mendengar penjelasan tersebut. Benar sampai bilangan terakhir yang dituliskan oleh Wassa. membuatnya benar-benar tertarik. ”Di balik itu. Pelaut Ompong. Lalu Wassa menceritakan bahwa pemakaman kuno itu dibagi menjadi delapan bagian. Hening sejenak. Rahasia. Dibalik ketidakteraturan yang sekilas terlihat itu. dan benar menemukan apa yang diucapkan oleh Wassa.” ucap Wassa dengan penuh kemisteriusan.” jawab Wassa. Batas dari kedelapan bujursangkar tersebut ditandai dengan nisan batu yang tinggi. benar!!” ucap Telaga kemudian yang setelah menghitung-hitung. Dinginnya udara malam di bukit itu tidak dapat menghalangi dua pemuda itu untuk berlalu dari sana. melainkan delapan daerah berbentuk bujur sangkar yang sisi-sisinya mengikuti ukuran delapan angka pertama derat Fibonacci.460 petunjuk. Kemudian keduanya menyudahi latihan dan juga cerita mengenai pe- . Coba tanyakan kepadanya. ”Sayangnya aku juga tidak banyak tahu. Wassa membiarkan Telaga menikmati keteraturan dari hal baru yang baru saja dijelaskan. kakek Mayiya yang paling mengetahui di kampung ini. yang sayangnya tidak ada orang sampai saat ini berhasil memecahkannya. Sedangkan nisan-nisan lain yang lebih kecil berada di dalam kedelapan daerah bujursangkar tersebut.” ”Sungguhkan? Ceritakan tentang hal itu!” pinta Telaga ingin tahu. Ceritanya ternyata membuat Telaga amat tertarik. MENARI BERSAMA AIR ”Iya. BAGIAN 8.

461 makaman kuno tersebut. itu karena pernah kami geser dan tidak kokoh kembali dikuburkan.” ”Jika memang kitab itu tidak ada. ”Orang yang menceritakan berita itu. ”benar-benar lupa aku. ”Saya dengar dari Wassa. . Jika ada nisan-nisan yang tidak lagi tegak. ”Jadi paman tidak menemukan kitab silat itu?” tanya Telaga kemudian.” jawab Pelaut Ompong. *** ”Mengapa engkau ingin tahu cerita mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu?” tanya Pelaut Ompong saat mereka sedang menikmati sarapan pada suatu pagi. ”Kami tidak berhasil menemukannya. ”Hanya lelah-lelah dan rasa dongkol yang kami peroleh saat itu. Dan di balik itu malah ada rahasia ilmu silat tinggi. sampai kami-kami saat itu menggali sana-sini untuk mencari-cari di mana letak kitab silat tersebut dikuburkan. hmmm.. Jadi. bahwa ada keteraturan Fibonacci terkait dengan pembagian pemakaman itu.. ”Hahaha. mungkin saja cerita mengenai ilmu silat tinggi di balik keteraturan dalam pembagian pemakaman kuno di atas bukit itu hanyalah suatu isapan jempol belaka.! Anak muda selalu ingin tahu sesuatu yang berkaitan dengan ilmu silat..” Mengangguk-angguk Telaga mendengarkan penjelasan itu.” berkata Pelaut Ompong arif.. tunggu dulu. Waktu aku seumurmu juga demikian. Jika Pelaut Ompong tidak bisa menceritakan lebih jauh ketimbang cerita Wassa. Keduanya akan bertemu kembali di tempat itu untuk meneruskan latihan dalam beberapa hari ini. ”Bahkan. mengapa bisa ada cerita mengenai hal itu?” tanya Telaga kembali.. berarti tidak banyak informasi yang bisa diperolehnya..” jawab Telaga jujur..” Tampak ada sirat kecewa pada wajah Telaga mendengar hal itu.!” ucap Pelaut Ompong yang tampak memikirkan suatu nama yang sudah lama tidak diingatnya itu.

Ia membiarkan sang pemuda tenggelam dahulu pada kekecewaannya akan ketidaktahuannya akan cerita lebih lanjut mengenai pemakaman kuno di atas bukit itu. Mungkin mereka melakukan hal-hal yang mereka tidak ingin bagi tahu kepada Telaga. Telaga beristirahat lebih cepat. akan tetapi cepat rasa itu dihapuskannya. Ia orang baru di rumah dan juga di kampung itu.462 BAGIAN 8. Sejenak dirasakannya suatu keanehan. Bisa berarti suatu kabar benar bisa juga palsu. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin itu hanya isapan jempol. karena tidak ada janji untuk melatih Wassa dan juga pemuda-pemudi di desa tersebut. Secara reflek ia tersentak dan berdiri. Pelaut Ompong hanya tersenyum dan tidak menjawab lebih jauh. sehingga kemungkinan mereka baik-baik saja. . Suatu pesan yang dikenal sebagai surat kaleng. ya paman?” ucap Telaga kemudian kepada Pelaut Ompong dengan nada putus asa. Saat ia merebahkan diri di ruangan tempat ia biasa beristirahat. rumah di mana ia menumpang tinggal. Mungkin ini petunjuk yang dicari-carinya. ”Jika ingin tahu rahasia di balik pemakaman kuno di atas bukit. Bisa jadi ia tidak banyak tahu kegiatan orang-orang di sana. tibatiba ia melihat sebuah catatan ditempelkan dengan pisau di langitlangit. Jangan beritahu siapa-siapa. Ia tidak menemukan baik Pelaut Ompong maupun Mayiya di rumah mereka. datanglah ke sana tiga malam lagi saat bulan benar-benar gelap. *** Malamnya. Sebuah pesan pendek tertera di atas kertas tersebut.” Tidak ada tanda-tangan di bawah pesan itu. Segera ia berpura-pura tidur sambil pikirannya bergerak kemana-mana. Berdebar-debar Telaga saat setelah membaca pesan tersebut. Segera ia menyembunyikan pesan itu di balik pakaiannya dan juga pisau yang digunakan untuk menancapkan pesan itu tadi di balok kayu langit-langit rumah itu. melompat meloloskan pesan tersebut dari langit-langit dengan mencabut pisaunya. membayangkan apa yang akan dihadapinya dan siapa yang akan ditemuinya di sana.

Sementara itu pikiran sang pemuda semakin liar dan berkecamuk macam-macam. ”Enggak ada apa-apa. *** Dalam beberapa hari itu. Saat untuk pergi ke bukit. ”Itu Telaga. Pergi mencari tahu rahasia di balik pemakaman kuno tersebut. kek. ”Kamu ada apa dengan Telaga?” tanya Pelaut Ompong pada cucunya. Tumben. sebelum hari yang dituliskan dalam surat tanpa pengirim itu datang. ke tempat di mana pemakaman kuno tersebut berada. agar terlihat ia sudah tidur dan tidak terjadi apa-apa. di atas bukit. Telaga masih bimbang apa ia harus meninggalkan pesan atau tidak kepada Pelaut Ompong dan Mayiya. Kedua orang pemilik rumah merasa agak sedikit aneh karena tidak biasanya Telaga buru-buru minta beradu. Tak berapa lama beristirahat pula Pelaut Ompong di samping sang pemuda dan Mayiya di kamarnya. jika pesan tanpa pengirim itu benar adanya. karena masih merasa agak curiga pada pengirim pesan tersebut. Mayiya. membelai lembung daun-daun pohon kelapa dan juga ujungujung rerumputan. Angin masih berhembus lembut di kejauhan. kok masih hari ini sudah minta diri. Setelah bersantap malam dengan Pelaut Ompong dan Mayiya. *** Malam baru menjelang tiba. Tidak tahu ia siapa yang mengiriminya pesan tersebut dan apa yang akan dihadapinya di sana. Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Lagi pula ia masih orang asing di desa itu. biasanya ia malah tidur paling larut setelah berbicara ngalor-ngidul dengan Pelaut Ompong. Malampun semakin larut.” jawab . Dan malam ini adalam malam di mana bulan sedang gelap-gelapnya. Memang kenapa?” tanya balik Mayiya.463 Tak berapa lama ia mendengar Pelaut Ompong dan Mayiya pulang. Telaga minta diri untuk beristirahat. Segera ia mengatur napasnya semakin teratur dan pelan.

kita istirahat juga saja.” jawab kakeknya. Kemudian Mayiya membereskan bekas-bekas makan. kek. Dengan hati-hati ia melangkah agar jangan sampai menerbitkan bunyi yang dapat membangunkan kedua orang dalam rumah tersebut. Dan secara kebetulan angin sedang tenang-tenangnya. MENARI BERSAMA AIR ”Mungkin ia capek sedari tadi pagi melatih anak-anak muda beladiri. *** Adalah seorang pemuda yang sedari tadi tidak dapat tidur.” tebak Mayiya. mungkin udara malam tanpa angin membuatnya sedikit kegerahan. yang di atasnya terdapat suatu pemakaman kuno. BAGIAN 8.464 sang kakek.” ”Iya. Begitu pula orang lain di ruang sebelah. Mayiya. membuat malam itu gelap dan lengang. Setelah membiasakan matanya pada keadaan yang gelap itu. ”Ah. Sang kakek yang tidur di sebelahnya tampak masih bolak-balik mencoba terlelap. Tapi waktu itu tak kunjung tiba. Akhirnya ia berada di luar rumah. Sang kakek di samping Telaga dan Mayiya di kamarnya sendiri.” jawab cucunya. Langit benarbenar gelap. Setelah hampir-hampir tertidur. Malam tanpa bulan. mungkin juga. Ia menunggu sampai dengkur orang di sebelahnya benar-benar teratur. Telaga mendengar bahwa dengkur orang di sebelahnya telah teratur. Setelah itu mereka berdua pergi tidur. Ia baru memperhatikan perubahan kelakuan Telaga saat kakeknya bertanya. Arah di mana suatu bukit berada. Telaga pun beranjak menuju suatu arah. . Untuk benar-benar meyakinkan ia menunggu sebentar untuk kemudian mengendap-endap beranjak keluar. Untung saja masih ada bintang-bintang yang tidak tertutup awan yang memberikan sinarnya untuk menerangi padangan saat itu. di mana sang kakek tampak mengepul-kepulkan rokoknya menunggu cucunya selesai. Hari itu bulan benar-benar pada titik terendahnya. ”Kalau begitu. Tapi sehabis saya bereskan ini cucian piring dan bekas makan kita tadi.

. dan ia tidak tahu apakah orang yang menantinya di pemakaman kuno di atas bukit itu akan selalu berada di sana atau tidak. meraba-raba sana-sini.” Merinding sedikit buluk kuduk Telaga. Telaga kemudian memperhatikan batu yang membuatnya tersandung. Jika tidak. Berdebar-debar jantung Telaga. ”Jangan nyalakan api. Ia sudah hampir berada di sana. Akibat parit tadi ia jadi kehilangan konsentrasi untuk memperhatikan arah ke mana ia harus berjalan. ia pun mengikuti petunjuk orang tersebut. Akhirnya saat ia tersandung sebuah batu setelah merambah agak menanjak. Dan tiba-tiba awan menutup langit sehingga ia sama-sekali buta dalam kegelapan malam. Perlahan mendengarkan dengan baik dari mana bunyi ombak berdebur. tiba-tiba terdengar suara lirih yang hampir-hampir tidak terdengar bila tidak memiliki pendengaran yang tajam. Hampir ia terjatuh pada suatu parit di luar desa. Sebelum ia sempat menyalakan obornya. tahulah Telaga bahwa ia telah tersasar. segera ia melihat bahwa itu adalah sebuah batu nisan tua. Setelah berjalan beberapa saat. Kemungkinan pertama bisa lama datangnya. Hening. Untung saja refleknya bagus sehingga dapat segera menarik kakinya dan mencari pijakan lain. Menunggu awan menghilang atau menyalakan obor yang ia bawa. bisa memar-memar ia terhantam pinggiran parit yang terbuat dari tanah dan batu. Ia memikirkan apa yang harusnya ia lakukan. awan pun tertiup angin sehingga bintang-bintang kembali menampakkan sinarnya.. ia pun mengambil arah berlawanan.465 Agak sulit Telaga berjalan terseok-seok akibat gelapnya malam. Pemakaman kuno di atas bukit . Setelah rasa terkejutnya pulih. Kemungkinan kedua dapat menyebabkannya terlihat oleh orang yang berjaga. Orang yang menantinya telah tahu ia kesasar dan memberi petunjuk. Perlahan. Setelah yakin. Bukit ada di sana. ikuti arah berlawanan dengan deburan ombak.

tempat yang sering ia gunakan untuk melatih Wassa. Kecuali dirinya ia tidak merasa ada siapa-siapa di sana. Sendiri. Nisan yang tersandung oleh kakinya rupanya tergeletak agak jauh dari lokasi pemakaman itu. Sepi. Sedikit gelisah ia menunggu. MENARI BERSAMA AIR terlihat hanya beberapa tombak lagi jauhnya. Suatu hawa dingin yang umumnya dimiliki oleh mahluk-makhluk yang memiliki Tenaga Air secara alami. Hawa dingin yang sekali dua kali pernah dirasakannya saat ia masih menuntut ilmu pada kedua orang tuanya di Pulau Tengah Danau di Gunung Berdanau Berpulau. merapalkan Tenaga Air. menjurus ke sebuah pohon besar yang berdiri dengan angker di tengah kegelapan . dua. Suasana tampak lengang. membuatnya sedikit tidak tenang. Hawa tersebut bertambah kuat semakin lama.466 BAGIAN 8. Dan Telaga pun menunggu dalam kesunyian. Tak terasa tubuh Telaga menjadi menggigil. Tak ada seorang pun kecuali dirinya. akan tetapi tidak ada suatu pun terjadi. tiga kali waktu yang cukup untuk menanak nasi telah lewat. Serangkum aliran hawa dirasakannya berasal dari muka. Di tengah-tengah pemakaman kuno. Beberapa langkah kemudian di tempuhnya. Sekarang ia telah berada di sana. mengalirkan hawa hangat yang berputar perlahan dalam tubuhnya untuk mengimbangi hawa dingin tak wajar yang ia rasakan. Satu. Sunyi. Juga tak tampak orang yang membisikanya tadi. Tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang menusuk mengembang. kecuali deburan ombak di kejauhan serta gemerisik angin membelai daun-daun nyiur ang melambai. Mau tak mau ia harus mengerahkan tenaga dalamnya. Telaga telah berada cukup lama di pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan berkonsentrasi ia mulai ”membaca” dari arah mana datangnya hawa tak wajar itu. Setelah ia merasa sedikit nyaman. lebih tepatnya merasakan apa atau siapa yang menjadi sumber dari hawa dingin tersebut. Jenis tenaga dalam seperti yang dilatihnya. mulai Telaga mencoba-coba untuk memperhatikan. Suasana yang terlalu sepi.

Tiba-tiba seberkas angin menyambar perlahan dari belakangnya. Akhirnya Telaga menyadari bahwa seseorang atau pun sesuatu mungkin sedang ”menguji” dirinya. Kembali hening. aliran hawa itu tiba-tiba hilang. Se- . Membuatnya kali ini menjadi lebih menggigil dari sebelumnya. dingin. ”Bilakah ki sanak akan memunculkan diri?” ucapnya lagi. Dan udara malam kembali terasa seperti sebelumnya. kembali keberadaannya menghilang dari pengamatan Telaga. kali ini dengan dada agak berdebar-debar. Belum belasan langkah ia melangkah. sambil tak lupa mengedarkan pandangan ke segala arah. kali ini dari arah kirinya. Berkali-kali. Udara malam kembali terasa ”hangat” seperti semula. tiba-tiba serangkum aliran hawa kembali dirasakannya. dan masih sejarah dua tombak dari tempat yang diduganya terdapat apa atau siapa penyebab hawa dingin tersebut. Akan tetapi saat ia kembali memburu arah datangnya hawa tersebut. Untuk itu bahkan ia sampai perlu memejamkan mata untuk berkonsentrasi menghalau hawa tersebut. dan perlahan-lahan semakin kuat intensitasnya. Menyambar dengan lembut. Sebelum Telaga sempat berpikir lebih jauh. Sunyi. Dan kembali berlaku hal yang sama. Dengan perlahan dan hati-hati Telaga beranjak ke sana. ”Maaf. Tapi tak lagi datang rangkuman hawa dingin untuk beberapa saat. menghilang saat Telaga telah berhasil mengatasinya dan mencoba untuk mencari sumber dari hawa tersebut. Tak perlu waktu lama berlalu kali ini kembali datang ”serangan” dari arah yang berbeda. dan juga kembali datang rangkuman hawa dingin dari arah yang sebelumnya telah datang. menduga-duga apa atau bagaimana wujud dari sosok yang bisa membangkitkan hawa dingin sekuat itu dari jarah yang tidak dapat dirasakannya. Hening tak ada jawaban.467 malam yang hanya dihiasi oleh bintang-bintang. bila saya Telaga mengganggu ketengangan ki sanak.” ucapnya pelan dan menghormat ke pada kegelapan di sekelilingnya.

menghindar karena menyangka dirinya diserang. yang memberinya tadi petunjuk saat ia tersesat dalam perjalanan menuju pemakaman kuno ini. Kita akan bersua lagi nanti. Perlahan ia terbangun dan tampak berusaha mengingatingat sesuatu. Dan itu pula yang diperintahkan oleh gadis itu.. Telaga pun beranjak dari sana kembali ke rumah Pelaut Ompong dan Mayiya. Ya. Sesuatu yang agak sulit dijelaskkanny kepada kedua orang yang telah amat baik menampungnya dalam rumah mereka. Saat itu tubuhnya masih lemah dan istirahatlah hanya hal yang dapat dilakukannya. Tampak di salah satu ujungnya corak-corak seperti tulisan. Jelas tampak dalam raut wajahnya bahwa ia masih bingung di mana ia sekarang berada.468 BAGIAN 8.” suatu suara lirih terdengar samar-samar. . Ia tidak begitu ingat. *** Sinar matahari yang telah cukup tinggi.. Dan di depannya... mengusik seorang pemuda yang sedang terlelap. ia harus cepatcepat pulang atau nanti akan memperoleh hujan pertanyaan mengenai kepergiannya yang diam-diam ini pada malam hari. yang segera jatuh lunglai di telapak tangannya. tapi jelas. Merawatnya dan memberikan apa-apa keperluannya.. Mengirimkannya hampir tanpa suara. di udara. menahannya bertahan di udara dan melepaskannya terjatuh dalam tangan Telaga tanpa menyakiti pemuda itu. itu kata-kata yang diucapkan oleh seorang gadis yang kemarin memberinya makan dan juga mengawasinya. Ia menggapai kain lusuh tersebut. pelan. Pengendalian tenaga yang mengagumkan. Suatu demonstrasi pengendalian tenaga dalam dari jauh yang mengagumkan. Setelah menunggu beberapa saat dan tidak ada apa-apa lagi. MENARI BERSAMA AIR cara reflek Telaga berbalik. ”Desa Terapung. Suara yang sama.” tiba-tiba kata itu terucap oleh mulutnya. Hari pun sudah mulai mendekati fajar. ”Baca baik-baik pesan yang tertulis di sana. hawa dingin yang menyerang ataupun suara lirih yang memberikan petunjuk. yang menerobos masuk ke dalam jendela ruangan itu. mengambang sebuah kain lusuh terlipat.

Menandakan yang membuatnya benar-benar memahami cara membuat pintu dan engsel yang baik. Ia pun kembali berjalan ke arah tersebut. Sekarang tampak di depannya. Pintu yang terbuat dari kayu sederhana akan tetapi rapih pengerjaannya. Laut. Bentuknya yang kotak-kotak sederhana dan berwarna murni kayu. Setelah mencoba dan yakin bahwa ia benar-benar kuat untuk berdiri dan berjalan-jalan. Terkagum-kagum . Melemas-lemaskan kaki dan tangannya. menyajikan nuansa yang belum pernah dilihat pemuda itu sebelumnya. hanyalah berupa pinggiran kayu yang dipahat miring dan ujungnya terendam dalam air. Tak berbunyi. Kaku masih. Ke tempat yang ia tahu hanyalah dari nama yang disebut oleh gadis itu. dengan dihiasi sedikit daun-daun kering dan jala-jala. pemuda itu bergerak ke sana-ke mari dalam ruangan. sejauh mata memandang bangunanbangunan kayu yang bersebaran di atas lantai yang juga terbuat dari kayu. Deburan ombak perlahan menyembunyikan dan memperlihatkan secara berganti-ganti ujung dari ”pantai kayu” tersebut. Perlahan ia mulai berjalan ke suatu arah. Pertemuan antara ”daratan” tempat ia berdiri dengan air di hadapannya. Kapan dan bagaimana ia ditemukan pun ia belum tahu. Tapi ia merasa dirinya lebih segar dan bertenaga. Menyusuri jalan di antara bangunan-bangunan kayu tersebut. Akan ia tanyakan nanti kepada orang-orang yang membawanya ke sini. Minuman dan makanan yang disuguhkan kepadanya telah memulihkan tubuh sang pemuda yang lelah dan lemas akibat dihantam badai serta angin. Membentang di hadapannya tampak air. Jalan yang juga terbuat dari kayu. Dibukanya pintu kamar tempat ia selama ini tinggal. Merebak sejauh mata memandang air lautan yang saat itu hanya berombak perlahan. Ia pun kemudian berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya.469 Sekarang ia telah merasa lebih sehat tubuhnya. Tak lama mulailah ia bosan dan ingin keluar untuk melihat-lihat. Sampai saat itu belum ditemuinya seorang pun. mungkin akibat terlalu lama tidur setelah memakan penganan yang diberikan. Semuanya serba kayu. sebelum ia ditemukan oleh seseorang di laut sana. Desa Terapung. Terasa benar lemasnya. Akhirnya ia sampai di ujung jalan itu. tidak seperti saat ia pertama kali sadar.

membawanya sampai ke tepi air dan meluncurkannya ke dalam air. Saat ia tenggelam dalam lamunannya menikmati tempat tersebut. Kadang ke atas kadang ke bawah. lalu juga menunjuk ke arah orangorang dan juga ke arah yang telah wafat. tampak sebuah mayat yang telah dibungkus dengan kain dan dimasukkan ke dalam kotak kayu berbentuk perahu. Kurang dari sepeminum teh. tiba-tiba sebuah lengan menepuk bahunya. Perlahan-lahan ia mulai tenggelam dengan mengeluarkan gelembung-gelembung udara. Lalu dengan isyarat tangannya ia meminta maaf telah mengagetkan. peti itu telah hilang dari pandangan . MENARI BERSAMA AIR pemuda itu menyaksikan ”pulau” tempat ia berada saat itu. Peti mati bentuk khas Desa Terapung. Lalu delapan orang menggotong peti mati itu. Dan akhirnya mempersilakan dua orang untuk menutup peti mati itu dan mengikatnya erat-erat dengan akar-akaran yang telah disediakan. Orang yang menepuknya hanya tesenyum melihat kekagetan sang pemuda. Mengangguk-angguk orangorang yang ”mendengarkan” wejangannya tersebut. yang tampaknya sedang memimpin upaca pemakaman tersebut. Memang benar-benar orang itu dapat menghilangkan keberadaannya. di tengah-tengah orang yang membentuk setengah lingkaran. atau ia saja yang sedang melamun mengagumi keindahan dari tempat tersebut. Di sana. Dengan mengikuti orang yang menepuknya tadi pemuda itu pun beranjak ke sana menuju orang-orang yang sedang berkumpul. Di sana tampak pula gadis yang memberinya makan. Orang tua berjenggot dan berambut panjang yang duduk dekat mayat yang akan disemayamkan itu tampak menggerak-gerakkan tangannya. Rupanya di sanalah orang-orang berada sehingga sedari tadi pemuda itu tidak berjumpa dengan siapa-siapa. Lalu setelah diam sesaat ia kembali menggerak-gerakkan tangannya. Kaget pemuda itu karena kedatangan orang itu benar-benar tidak dapat dirasakannya. Lalu ia menunjuk ke satu arah di mana dari sana terdengar bunyi-bunyian dan tampak bahwa terdapat banyak orang berkerumun.470 BAGIAN 8. Ia berdiri bersama dengan orang-orang lain memperhatikan seorang dengan rambut dan jenggot yang panjang. Berdebur pelan peti itu tampak sebentar terapung.

Balai desa dari Desa Terapung. hanya dengan sang gadis ia berbicara. mungkin dengan tinggal di atas ”pulau” buatan ini. Baru sekarang mereka menyadari kehadiran sang pemuda. Dan dalam pertemuan ini semakin besar tanda-tanya dalam dirinya. Orang yang mati telah dikuburkan. Tak ada kata-kata yang terucap. Tak berapa lama orang-orang itu pun berbubaran. yang kelihatannya dituakan. mengapa sedari ia datang. Di dinding kayu yang membatasi ruangan tersebut dengan ruang di luarnya. Orang yang membawa pemuda itu tadi ke sana menjelaskan dengan menggerakgerakkan tangannya. Dari luar terlihat biasa. laut adalah satu-satunya solusi. Orang-orang pun duduk melingkar dalam ruangan besar itu. Padahal warna bangunan tersebut dari luar sudah cerah. perlahan-lahan semakin kabur dan akhirnya lenyap sama-sekali. orang yang menepuk bahunya tadi dan sang gadis yang memberi sang pemuda makan. Dikuburkan dengan peti yang berat di bawah air. Ada juga orang-orang tua dan pemimpin upacara penguburan tadi.471 mata. kapal. Bila sudah tentu tidak dibakar. Mungkin dari warna di dalam yang lebih cerah. Takjub pemuda itu melihat cara penguburan yang belum pernah dilihatnya. Untuk itu. termasuk si pemuda. orang yang diselamatkan dari amukan badai. Sang pemimpin upacara pun menganggukangguk. mulai bertanya-tanya. Dibiarkan bersemayam dengan damai di dasar lautan. ternyata di dalamnya lebih besar dari kelihatan dari luar. Lalu seorang dari mereka. Dengan orang yang tadi menepuk bahunya pun ia tidak bertukar kata. Hanya bayangannya yang terlihat samar-samar di dalam air. Tinggal beberapa orang di antara mereka. Tapi ia mengerti kira-kira apa yang akan diungkapkan. Ya. ikan paus dan sebagainya. Pemuda itu. tampak beragam hiasan menempel. masing-masing orang hanya menggerak-gerakkan kedua . tidak terdapat cukup tanah untuk mengubur orang yang meninggal. mengajak semua masuk ke salah satu bangunan kayu berwarna cerah tak jauh dari sana. gurita raksasa. Ada ikan. Sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan. gambar-gambar dan juga ukiran. Benar-benar tak ada suara yang terucap. Umumnya topik-topik yang terkait dengan isi laut dan air.

Lalu seorang dari mereka.” jawab gadis itu. Lalu ia memperkenalkan masingmasing tetua dan juga orang yang tadi memimpin upacara. ”Saya bernama Mayayo. Jumlah nama yang tidak akan diingat oleh Mayayo dalam sekali temu itu. ”Siapa namamu?” tanyanya ramah. Orang yang ditunjuk mengerti. ia kemudian mulai membuka percakapan. Mungkin itu salam untuk di antara orang-orang ini. Semua orang disebutkan namanya oleh gadis itu. maju dan bercerita menggunakan gerak-gerak tangannya dan mimik muka yang berubah-ubah. Rupanya itu adalah budaya menceritakan sejarah kepada orang baru yang singgah di tengah komunitas mereka. Senang rasanya ada yang bisa diajak berbicara. ke tempat yang segera diberikan oleh orang-orang yang tadinya duduk bersisian dengan sang pemuda. Salah seorang dari mereka menepuk tangannya dan menunjuk pada sang gadis. Sunyi karena tiada percakapan selain gerak-gerak tangan mereka Kesun- . Bila tidak ada orang baru. orang yang sudah terlihat cukup tua. Mayayo pun mengikuti apa yang mereka lakukan. Setelah mengangguk kepada orang tua-tua yang ada di sekitarnya. MENARI BERSAMA AIR tangannya ke sana-ke mari disertai mimik dan juga perubahan kernyit wajah. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing. sebagian dari Suku Pelaut yang sering disebut Suku Pelaut Sunyi.” jawabnya. Gadis tersebut tersenyum padanya. ”Saya Akanamia. kebiasaan ini pun tetap dilakukan. Dengan cara ini cerita mengenai mereka dan leluhurnya tidak hilang. Ia mengangguk dan berangsur bangkit. dan menempatkan dirinya di samping pemuda. tersenyum saat namanya disebutkan dan menepuk dada kiri mereka dengan telapak tangan masing-masing. Mereka rupanya dalah orang-orang yang tidak dapat berbicara. dengan pendengar orang-orang sendiri.472 BAGIAN 8. Akanamia dengan perlahan mengucapkan apaapa yang diceritakan oleh orang tua yang bercerita tersebut.

yang membuat mereka mudah untuk memanen hasil laut berupa ikan dan tumbuh-tumbuhan. pernah bercerita adanya orang-orang yang hidup selamanya di atas air. Sudah tentu dilakukan melalui perantaraan Akanamia. Selain itu terdapat pula. Tak lupa setelah cerita Mayayo habis.473 yian yang diperoleh akibat suatu dan lain hal terkait dengan kebiasaan mereka yang tinggal seumur hidup mereka di atas laut dan tidak berkawin-campur dengan suku-suku lain sehingga variasi gen mereka tidak terlalu kaya. yaitu dapat berkomunikasi dengan makhluk air melalu pikiran. Mayayo diminta Akanamia untuk bercerita tentang dirinya. Untung saja tidak ada pertanyaan aneh-aneh yang diajukan. berikut pula perahunya. . Mayayo kemudian berterima kasih kepada kedua orang tersebut setelah mendengar bahwa mereka yang pertama menemukan dirinya dan memanggil rekan-rekan mereka untuk membawanya ke Desa Terapung. Setelah cerita itu selesai. Tapi di luar kekurangan mereka itu. Mereka-mereka itu disebut sebagai Suku Pelaut. berkaitan dengan tempat mereka tinggal. bagian dari Suku Pelaut yang tidak bisa berbicara akan tetapi mahir Tenaga Air dan bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk dalam laut. Cukup sulit juga ternyata kegiatan itu. rupanya orang-orang itu hanya tidak bisa berbicara. tapi mereka dapat mendengar dengan baik. kepandaian mengendalikan Tenaga Air dengan lebih alami karena cocok dengan susunan aliran hawa yang membuat mereka tidak bisa berbicara tersebut. Dengan perlahan Mayayo menceritakan perihal dirinya dan mengapa ia sampai teramuk badai. terlihat bahwa kadang-kadang Akanamia bertanya balik dengan menggerakgerakkan tangannya. Akhirnya selesai juga pertemuan itu. Kali ini Akanamia tidak ”menerjemahkan”. Mengangguk-angguk Mayayo mendengarkan penjelasan itu. beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan ini-itu kepadanya. Kakeknya. Sudah tentu atas permintaan orang tua-tua tersebut. Dua orang menghampiri Mayayo. mereka memiliki kelebihan. yang dikenalkan sebagai kakeknya tadi oleh gadis tersebut. Tapi belum pernah ia mendengar cerita bahwa ada Suku Pelaut Sunyi. Satu adalah Akanamia dan seorang lagi seorang tua. Pelaut Ompong. Orang-orang pun berbubaran.

474

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Mari kita makan siang!” ajak Akanamia setelah kakeknya memberi isyarat kepadanya. Mayayo mengangguk dan berjalan mengikut kedua orang itu. Kembali menyusuri lorong-lorong di antara bangunan kayu yang ”tumbuh” di atas tanah berupa papan-papan kayu. *** Ikan bakar, sayur-sayuran hasil bercocok tanpa atau dengan sedikit tanah, dan bubur rebusan tulang dan sumsum ikan besar adalah menu makan siang itu. Tiga orang itu tampak mengelilingi hidangan yang disajikan dalam piring dan mangkok yang terbuat dari kayu dan perabotan dari tulang ikan. Lahap ketiganya menyantap apa-apa yang ada. Tidak terdengar percakapan kecuali kunyahan samar-samar. Begitulah makan yang baik. Berkonsentrasi, menyerap kenikmatan yang hanya sejengkal usianya, dari ujung bibir, dibaui hidung, sampai akhir lidah. Setelah itu tak ada lagi perbedaan rasa makanan yang hambar ataupun nikmat. Bila menyadari, proses memakan hidangan akan menjadi lebih sakral dan khidmat. Akanamia dan kakeknya tak lupa menjelaskan bagaimana makananmakanan itu disiapkan. Sang kakek dengan gerakan-gerakan tangannya, yang kemudian dijelaskan dengan ucapan oleh cucunya, Akanamia. Mayayo mengangguk-angguk mendengarkan. Sebagai seorang nelayan ia telah banyak berkecimpung di laut dan makanmakanan ikan, tapi apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang Suku Pelaut ini, menambah sedikit-banyak pengetahuannya. Cara memasak yang lebih hemat energi, cara mengawetkan ikan yang lebih baik dan memanfaatkan tulang-tulang ikan untuk perabot makan dan lainnya. Bagi Suku Pelaut, pergi ke darat untuk mencari bahan-bahan dasar untuk perabot amat jarang dilakukan. Begitu kebiasaan leluhur mereka, begitu pula yang mereka lakukan tanpa banyak bertanyatanya. Suatu kearifan orang-orang yang sederhana. ”Apakah engkau telah beristri?” tanya sang kakek itu setelah makan siang mereka selesai. Suatu pertanyaan yang diterjemahkan dengan muka merah padam oleh Akanamia, cucunya.

475 ”Belum!” jawab Mayayo pendek. Nalurinya mengatakan ada yang ”tidak beres” dengan pertanyaan ini. Orang yang baru kenal, memiliki cucu yang telah dewasa dan cantik, dan mengajukan pertanyaan seperti itu kepadanya. ”Bagus!!” ucap kakek itu kemudian. Untuk kata-kata pendek seperti ”ya”, ”tidak”, ”bagus” dan ”jelek” Mayayo telah diajari dan dengan cepat mengerti. Bahasa isyarat yang diajarkan tidak terlau sulit, hanya saja kembangannya yang banyak dan gerakannya yang cepat membuatnya tidak dengan mudah dapat mengikutinya. ”Akanamia juga belum,” ucap kakek itu kemudian melalui perantaraan mulut kakeknya. Merahnya wajah sang cucu menjadi semakin jelas. Bila bisa terbakar, mungkin sudah terbakar wajah itu. Sudah memerah bahkan sampai ke lehernya yang putih dan jenjang. Ia sudah bisa merasakan ke mana akan arah pembicaraan ini selanjutnya. Hening mengisi sesaat waktu di antara mereka. Kakek Akanamia yang telah banyak makan asam garam dunia masih menjajagi tanggapan Mayayo atas pernyataannya. Ia melihat sedikit banyak bahwa cucunya tertarik pada pemuda itu. Dan sekarang ia ingin tahu apakah terdapat juga hal yang sama dari pemuda itu kepada cucunya. Bila ya, amatlah menggembirakan karena ia juga suka akan sikap pemuda itu yang baik menurut pandangannya. ”Aku ingin menjodohkan cucuku dengan dirimu, Mayayo!” ucap kakek itu. Akanamia, sang cucu yang menjadi penerjemah sudah tentu menjadi kikuk sekali. Hampir-hampir ia salah menyampaikan pesan kakeknya. Sempat ia ditepuk oleh kakeknya pelan, yang tampak senyam-senyum kecil. Bengon Mayayo mendengar itu. Ia telah dapat menduga hal ini, tapi terjadi banyak hal dalam beberapa hari belakangan ini. Ia terkena hantaman badai, tidak tahu berada di mana. Harus juga ia segera pulang, atau kakeknya dan adiknya kuatir, sedangkan ia belum tahu jalan pulang. Di luar itu ia malah ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucu kakek yang duduk di hadapannya ini. Cucu yang menerjemahkan pesan-pesan sang kakek yang hanya bisa berisyarat tangan tapi tak bisa berbicara. ”Ini..., aku..., eh..,!!” katanya tak jelas. Sudah tentu kakek itu tahu,

476

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

setelah ia bercerita bahwa ia telah pula tidak berorang tua, dan hanya berkakek dan beradik. Jadi ia sendiri, sebagai seorang pemuda dewasa yang menentukan dia siapa ia akan menikah nanti. Tak lagi ada alasan untuk meminta persetujuan orang lain. Memerah wajah sang pemuda. Hatinya telah bicara, ia pun tertarik kepada Akanamia. Ya, siapa tak tertarik pada dara yang ada di depannya ini. Wajah dan cara berbicaranya yang menawan, juga sikapnya yang tidak dibuat-buat serta ramah. Tak perlu dua kali setiap pemuda ditawarkan kesempatan seperti ini. ”Jika engkau tidak suka...!!” kata kakek tersebut dengan gerakangerakan tangannya. Berdebar-debar pula Akanamia saat menerjemahkan kalimat ini. Hatinya telah jatuh hati pada sang pemuda, dan ia tidak ingin mendapat jawaban yang berlawanan dari keinginan hatinya. ”Tidak!! Bukan itu!! Saya suka... Akanamia..,” ucap pemuda itu dengan agak bergetar. Mungkin ia tidak takut badai di lautan, tapi pengucapan rasa suka terasa lebih berat dari hantaman angin dan air ke atas diri dan perahunya. Lucu memang, mengucapkan isi hati kadang-kadang sulit. ”Bila demikian, engkau menerima...?” tanya kakek itu kemudian. Menangguk pemuda itu perlahan. Lalu ia tertunduk. Demikian pula dengan dara yang duduk di dekat kakeknya itu. Suara tawa kakek tersebut tanpa nada, hanya udara yang keluar masuk dengan cepat dari mulutnya menggema lirih-lirih. Senang ia bahwa cucunya mendapatkan seorang pemuda seperti Mayayo. ”Tapi saya harus memberitahu dulu kakek dan adikku, tak bisa saya tiba-tiba membawa Akanamia ke sana..,” ucap pemuda itu ragu-ragu. Ya, amatlah aneh. Ia hilang, terserang badai dan pingsan, tahu-tahu muncul kembali membawa seorang istri. ”Sudah tentu.., sudah tentu...! Itu bisa diatur. Engkau tinggalkan saja sesuatu tanda pada Akanamia dan janji akan menjemputnya kembali. Setelah itu engkau sendiri atau bersama pengantarmu bisa kembali dan membawanya ke desamu,” ucap kakek itu kemudian. Mengangguk Mayayo mengiyakan. Akanamia memandangnya den-

477 gan tersenyum bahagia. Tak terasa air matanya menetes. Andai ibu dan ayahnya masih hidup dan dapat melihat ini. Kakeknya kemudian memegang bahunya sebentar dan mengangguk-angguk puas. *** Hari-hari pun berlangsung dengan cepat bagi Mayayo di Desa Terapung. Persiapan kepulangannya dan juga untuk memberitahu keluarga akan perjodohannya dengan Akanamia. Tak lupa ia diajari beberapa Jurus Air dan juga pengolahan tenaganya, Tenaga Air. Itu adalah ilmu-ilmu khas yang dimiliki oleh anggota Suku Pelaut. Waktu beberapa hari itu tak cukup bagi Mayayo kecuali untuk menyerap dasar-dasar dari kedua ilmu tersebut. Untung saja ada sedikit bakat dan otaknya yang cerdas, membuat pemuda itu sedikit banyak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah diajarkan. ”Masih banyak waktu nanti untuk belajar lebih lanjut. Akanamia kelak sebagai istrimu akan dapat mengajarimu setiap hari,” ucap kakek sang dara. Sekarang setelah isi kedua hari muda-mudi itu jelas, tak lagi jengah Akanamia menerjemahkan isyarat tangan kakeknya kepada sang pemuda, bahkan dengan muka yang gembira. Selain itu Mayayo diajarkan pula cara-cara membaca cuaca tidak hanya dengan memperhatikan panas dinginnya udara, kencangnya angin serta riak gelombang laut, melainkan juga dengan kelakuan ikan-ikan di dalam air. Sudah tentu untuk itu ia harus mencelupkan kepalanya ke dalam air dan mengamati. Berbicara melalui pikiran tidak mudah diajarkan bagi orang-orang luar yang aliran darah dan hawanya tidak seperti orang-orang dari Suku Pelaut. Tapi walaupun demikian kakek Akanamia menjelaskan teorinya kepada Mayayo, kalikali pemuda itu dapat merapalkannya. Tak terasa telah tiba saatnya untuk berpisah sementara. Dua mudamudi, Mayayo dan Akanamia, merasa bahwa perpisahan itu akan berlangsung lama. Suatu hal yang wajar antara dua insan yang sedang menjalin kasih. Kakek Akanamia hanya memandang kedua insan yang sedang berbicara itu dengan tersenyum. Ia merasa tenang bahwa cucunya akhirnya memperoleh tambatan hati. Tidak mudah untuk mencari pasangan hidup di Desa Terapung untuk masa-masa ini. Orangorang telah banyak yang menjadi tua. Anak-anak kecil baru mulai

478

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

belajar berjalan. Tidak ada yang cocok untuk umur cucunya saat ini. Itulah salah satu kekurangan komunitas yang terpencil. Dengan keberaniannya dan hasil urun rembug, kakek Akanamia menjodohkan cucunya dengan orang luar. Ini bukanlah suatu kebiasaan koloni itu. Tapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan melihat jumlah orang pada umur yang ada sekarang, kebiasaan lama untuk hanya menikah antar sesama mereka perlu sedikit diperlunak. Perlu ada kesempatan untuk orang-orang pergi atau masuk. Jika tidak koloni Suku Pelaut Sunyi akan dapat punah dengan sendirinya. Sendiri, begitulah yang dirasakan Mayayo saat ini. Baru saja dua orang dari Suku Pelaut Sunyi mengangatarnya dengan sampan mereka. Mendampinginya kanan kiri agar perahunya dapat melaju dengan cepat meninggalkan pulau terapung mereka. Tidak mudah bagi orang biasa untuk mendekati, masuk atau keluar dari pulau tersebut, Desa Terapung, tanpa dibekali pengetahuan khusus. Bisa mereka akan berkeliling-liling saja sampai kecapaian akibat arus putar di bawah permukaan air yang tidak terlihat. Arus putar yang memang sengaja dibuat untuk menjaga Desa Terapung dari pendaratan pihak-pihak yang tidak diinginkan. Setelah lepas dari arus putar tersebut, kedua orang yang berasal dari Suku Pelaut Sunyi itu melepaskan Mayayo untuk berlayar seorang diri. Berlayar kembali ke desanya. Bertemu dengan adiknya Mayiya dan juga kakeknya Pelaut Ompong. Ia membawa kabar yang menggembirakan bahwa ia telah berjodoh dengan seorang dari Suku Pelaut Sunyi, Akanamia. Seorang dara yang sejak awal pertemuannya dikagumi oleh pemuda itu. Tak terasa telah lama ia berlayar. Desa terapung telah tidak lagi terlihat, begitu pula dua orang pengantarnya tadi. Sekarang ia sendiri, seperti keadaanya beberapa hari yang lalu, sebelum dihantam badai dan ditemukan oleh Akanamia dan kakeknya. Masih perlu beberapa waktu lagi sebelum ia tiba di desanya. Tangkapan ikan yang hilang akibat dihantam badai telah digantikan dengan oleh-oleh dari Suku Pelaut Sunyi. Pasti orang-orang di kampungnya akan senang dengan oleh-oleh ini. Ia harap juga adiknya suka dengan hias-hiasan dari dasar laut yang merupakan rantaian mutiara yang khusus diberikan oleh Akanamia untuk calon ipar perempuannya.

479 Angin pun perlahan bertiup kencang dengan riak air yang bersahabat, seakan-akan mengatakan bahwa ”Gunakan aku untuk memacu perahumu melaju ke rumah!” Dengan sigap Mayayo membentangkan layarnya. Mengarahkan kemudinya ke arah pulang dan perahu pun melaju dengan lebih cepat. *** ”Baru melaut?” tanya seorang kepada pemuda yang sedang menarik sampannya, mendaratkannya di atas pasir dan kemudian mengikatnya pada tonggak-tonggak kayu yang memang disediakan untuk itu. ”Iya!” jawab pemuda itu pendek. Ia tidak kenal orang yang baru menyapanya itu. Aneh, tidak biasanya ia tidak kenal seseorang yang berada di pantai dekat dengan desanya. Mungkin tamu orang-orang desa, pikirnya. Kemudian ia mulai menurunkan muatannya dari dalam perahu. ”Wah, tangkapan yang bagus dan juga hias-hiasan ini. Berdagang pula rupanya?” ucap orang itu lagi. Kali ini ada sesuatu yang tidak enak yang terkandung dalam nada bicaranya. Pemuda yang sedang menurunkan muatan sampannya ke atas pasir, merasa agak tidak nyaman karena orang tersebut benar-benar memperhatikan satu-satu barang-barang yang dikeluarkannya dari perahu. Apa orang ini tidak mengerti bahwa itu adalah urusan pribadi, sehingga mengamati sampai sedekat itu. Tapi tak lama kemudian semuanya jelas, memang ada maksud tidak baik di sana. ”Engkau harus membayar pajak atas barang-barangmu ini!” ucap orang itu. Kali ini nadanya tidak lagi ramah. Terkejut pemuda tersebut mendengar hal ini. Sejak kapan ada pajak penangkapan ikan dan penukaran barang-barang di laut. Bila berdagang di pasar, barulah ada pajak. Itu pun pajak-pajak itu digunakan untuk membersihkan tempat sehabis berdagang dan memperbaiki gubug-gubug yang digunakan untuk menggelar barang-barang yang akan dijual. ”Sejak kapan ada pajak?” tanya pemuda itu balik. Masih ramah dan sedikit bingung.

480

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

”Sejak detik ini!” ucap orang itu dengan nada kurang ajar. Sambil tak lupa ia menyampirkan tangannya ke arah pinggang, di mana sebatang golok dengan pongahnya bertengger di sana. Sebelum pemuda itu berpikir untuk bertindak, tiba-tiba datang beberapa orang dari arah semak-semak di pinggir pantai. Enam orang yang segera menghampiri mereka berdua yang baru akan bersitegang. ”Hahahaha!!” ucap seorang dari mereka. ”Buat apa lama-lama, jika tak mau bayar, rampas saja barangnya!” Rupanya mereka adalah teman dari orang yang memamerkan goloknya itu. Orang yang ingin menarik ”pajak” atas jerih payah orang dari melaut. Senyam dan senyum kecongakkan dan tampak mengiasi wajah mereka. Ciri-ciri orang yang tidak jantang. Mengandalkan jumlah banyak dan senjata untuk memeras satu orang yang berada di tempat yang sunyi sehingga tidak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa. Sang pemuda masih sedikit berpikir, melawan kelihatannya berat, walau bukan berarti tidak mungkin. Tapi bukan itu yang menjadi bebannya, melainkan harga diri. Ia tidak suka dilecehkan seperti itu. Dan sekali hal ini terjadi pada para nelayan, orang-orang ini pasti akan melanggengkan pemerasan mereka kepada orang-orang lain yang tinggal di sini. Ini yang ia tidak mau. ”Jadi kalian ini yang disebut orang Bajak Pantai. Para pemeras nelayan-nelayan yang baru saja melaut?” tanya pemuda itu tanpa takut sambil memperhatikan satu-satu bakal lawannya dan berpikirpikir bagaimana cara melawan mereka tanpa merugikan dirinya. Ia pernah mendengar soal Bajak Pantai, yang tidak seperti Bajak Laut yang merampok kapal-kapal, orang-orang ini memeras para nelayan dan penghuni desa yang tinggal di tepi pantai. Orang-orang yang tinggal jauh di dari perlindungan para Paturan sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. ”Jika engkau sudah tahu siapa kami, bagus itu! Jadi tinggal berikan saja barang-barangmu,” ucap seorang dari mereka yang segera mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu bungkusan milik si pemuda. ”Nanti dulu!” ucap sang pemuda pelan. Dayungnya telah diayunkan

481 mencegah tangan itu menggapai barang-barang miliknya. Walaupun digerakkan perlahan tapi dayung itu menimbulkan sedikit angin. Tenaga kasar yang perlu diperhatikan. ”Jadi engkau ingin melawan?” ucap rekannya yang lain yang diikuti oleh seluruh kawannya meloncat mundur dan mencabut golok masingmasing. Sekarang tujuh orang tampak mengelilingi pemuda itu dengan golok yang terhunus. Tidak ada lagi wajah-wajah ramah palsu yang tadi disajikan mereka. Sebenarnya mereka tidak ingin beramah-ramah, melainkan mencoba hanya untuk menghemat tenaga, kalau-kalau dapat memperoleh rampasan tanpa harus mengeluarkan keringat. Cukup dengan ancaman. Tapi sayangnya tidak berhasil dengan pemuda ini. Sekarang mau tidak mau mereka harus berlaga. Selain untuk mendapatkan hasil, perlu pula untuk menjaga keangkeran nama besar mereka. ”Wutttt!!” serangan golok seorang dari mereka dapat dielakkan dengan mudah oleh sang pemuda. Sementara bacokan golok yang lain terpaksa ditangkisnya dengan dayungnya, ”Dheggg!!” Bergetar tangan orang yang goloknya ditangkis, ternyata si pemuda memiliki tenaga kasar yang cukup besar sehingga dapat dengan mudah menangkis goloknya serta masih menggetarkan tangannya. ”Wutt!! Plakk!!! Bleggg!!” bertubi-tubi hujan golok dan juga tendangan dijatuhkan oleh para Bajak Pantai kepada si pemuda nelayan itu yang mengelak, menangkis dan membalas dengan dayung kayunya, Perkelahian yang jelas-jelas tidak seimbang. Satu lawan tujuh dan golok lawan dayung. Bisa dipastikan si pemuda tak lama lagi akan bersimbah darah. Sebaret luka telah diperolehnya saat ia tidak cepat menghindar sehingga punggungnya kena sabetan golok. Dengan menggigit bibir pemuda itu memantapkan semangatnya untuk terus berlaga. Luka yang mulai meneteskan darah dan memberikan perasaan perih itu coba untuk dia tahan. ”Duggg!!!” dayung sang pemuda memakan salah satu kepala penyerangnya yang segera tersuruk ke atas pasir dengan kepala pecah. Rupanya walaupun tidak bisa bersilat dengan baik, pemuda itu men-

482

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

genal beberapa gerakan yang mengalir dan tak terduga. Ia serang sana-sini dengan kacau, tapi kadang berurutan dan saling mengejar. Lawannya yang meremehkan tidak menyangka bahwa dayung tersebut dapat berbali arah dengan cepat dan menyerang balik dirinya. ”Hati-hati!!” ucap seorang lawannya memperingatkan rekan-rekan sesama pengeroyok sang pemuda. ”Dia bisa juga sedikit-sedikit ilmu beladiri...!! Kurung rapat!!” ”Telaga, itu Mayayo!” ucap seorang pemuda yang segera berlari-lari dengan disusul temannya yang dipanggil Telaga tadi. Kedua pemuda itu segera berlari cepat ke arah batas air dan pantai di mana pertarungan telah berpindah tempat. Mayayo yang dikeroyok dengan tubuh terluka sana-sini tampak berdiri dengan air telah merendam kakinya sebatas dengkul, yang terlihat menyulitkannya untuk mengelak. Tampak di pantai tak jauh dari sana seorang dengan kepala retak dan permukaan pasir yang memerah di bawah kepalanya tergeletak. Di tangannya tampak masih golok tergenggam erat. Ada enam orang yang mengeroyok Mayayo. Yang dikeroyok sudah tampak kelelahan. Bibirnya tampak terkatup rapat menahan sakit akibat luka sabetan golok dan lebam pukulan serta tendangan. Saat ia melihat kedua orang yang datang, berucap ia ”Wassa!!”. Tidak kenal ia pemuda yang datang bersama Wassa. Tapi melihat adanya bantuan datang, naik kembali semangat bertarugnya. Demi mendengar bahwa pemuda yang dikeroyok itu adalah Mayayo, kakak dari Mayiya. Telaga tak terasa tersenyum. Kejadian ini amat baik untuk menonjolkan kemampuan Wassa yang baru diajarinya dan juga sebagai kepedulian Wassa kepada orang-orang di desanya. Bisa jadi hal ini akan menjadi nilai yang baik bagi pemuda itu di mata kakak dari orang yang dicintainya. Segera kedua pemuda itu, Wassa dan Telaga, menceburkan diri dalam pertarungan. Segera jalannya bertarungan berpindah dari tadi berat ke kekalahan Mayayo menjadi seimbang. Mungkin lebih berat ke kemenangan pihak Mayayo andai saja ia tidak terluka dan Telaga tidak menahan serangannya. Dengan tangan kosong saja kedua pemuda itu dapat menahan seran-

483 gan orang-orang Bajak Pantai yang menggunakan golok, tapi tidak mendesaknya. Pertarungan pun berjalan sedikit lama dengan kedudukan seimbang. Karena bertangan kosong, kedua pemuda yang baru datang itu tidak bisa mendesak terlalu dalam orang-orang yang bersenjatakan golok tersebut. Lawan dari ketiga pemuda itu, begitu melihat adanya bala bantuan, menjadi kecut hatinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memeras hanya di tempat yang sunyi. Sekarang hati mereka menjadi kebat-kebit kalau-kalau orang sekampung akan datang mengeroyok mereka. Begitulah watak yang pengecut, tidak berbanyak atau bersenjata, tak ada keberanian. Tiba-tiba Telaga berbisik kepada Wassa, ”Serang yang jauh darimu dengan loncatan belakang, ingat gerakan yang aku ajari!”. Menangguk Wassa mendengar petunjuk itu. Dari hasil diskusi mereka saat berlatih di makam kuno di atas bukit mereka menciptakan gerakgerak menyerang yang tak terduga. Menyerang orang yang jauh dan mengabaikan yang dekat. Sudah tentu Telaga tidak menceritakan sejujurnya bahwa ide itu datang dari orang yang ditemuinya seorang diri di sana. Sesosok wujud yang sama sekali belum dikenalnya. Kepada Wassa ia hanya mengatakan bahwa ide itu datang dengan memperhatikan keteraturan dari pemakaman kuno di atas bukit tersebut. Dengan mendadak Wassa meloncat mundur saat serangan di sebelah kirinya kosong dan lawan yang dituju sedang menarik goloknya. Ia menyerang cepat dan mengejar. Lawan itu terkejut karena tak disangka dirinya yang berdiri paling jauh dari sang pemuda, malah diserang dan dikejar. Rekannya yang mencoba menyerang, dipapaki serangannya oleh Telaga. Sebenarnya bila Wassa cukup hati-hati dan melakukan gerakan dengan tipuan secara tiba-tiba, tak perlu Telaga membantunya. Ini karena Wassa belum begitu paham gerakan ini sehingga perubahan serangannya dapat terbaca oleh rekan sang lawan yang ditujunya. ”Deggg!!!” pukulan Wassa masuk ke dada lawannya tersebut. Dan selagi lawannya itu terhuyung ke belakang untuk menghindar, Wassa terus merengsek maju. Ia membungkukkan tubuhnya sehingga bacokan ngawur lawannya yang dilakukan sambil menahan dadanya yang

484

BAGIAN 8. MENARI BERSAMA AIR

sakit lewat di atas kepalanya, lalu menyelinap di bawah tinggi bahu lawannya, mengait tangan yang tidak memegang golok, memutarnya dan melakukan bantingan dengan jurus Berkelit Membanting Padi. Gerakan yang diajarkan Telaga. Suatu ilmu tangan kosong yang diperoleh Telaga dari gurunya Arasan. Akibatnya Bajak Pantai itu terbanting di atas pasir dan pingsang. Tak bergerak-gerak. Gerakan yang cepat ini juga membungkamkan mulut rekan-rekannya yang semakin ciut nyalinya. Sudah dua teman mereka ditumbangkan. Belum lagi jika penduduk kampung datang. Dengan saling melirik antara mereka, orang-orang Bajak Pantai itu pun bersuitan dan segera ambil langkah seribu dari tempat itu. Tak lupa salah seorang dari mereka mengucapkan sumpah serapah dan juga ancaman kepada ketiga pemuda itu. Mayayo segera terduduk letih. Dengan dipapah oleh Wassa dan Telaga ia didudukan di atas pasir, menyandar pada perahunya. Segera Wassa meminumkan air yang dibawanya di pinggang. Sunyi kemudian di antara mereka. Sementara kedua lawan mereka, yang satu mati dan yang satu pingsan, tampak tergeletak tak jauh dari sana. Sementara itu tampak riuh-rendah di kejauhan. Rupanya selain Wassa dan Telaga yang melihat dan terjun langsung ke perkelahian itu, ada pula orang desa lain yang melihat dan segera melaporkan hal ini. Berbondong-bondong orang dengan tongkat dan golok datang menjelang. Tajam juga intuisi para Bajak Pantai, sehingga melihat kedudukan yang tidak seimbang melawan Mayayo, Wassa dan Telaga, segera mereka mengambil langkah seribu. Jika telat mereka memilih keputusan itu, bisa jadi mereka sudah berbaring di atas pasir dan babak-belur dihajar orang-orang desa ini. *** ”Kakak!!” teriak Mayiya saat melihat kakaknya dipapah oleh Telaga dan Wassa. Menghambur gadis itu dalam rengkuhan kakaknya dan menangis sesenggukan. Ia tidak menyangka bahwa perkelahian di pantai yang disampaikan oleh seseorang sehingga para pemuda dan lakilaki bersama-sama ke sana, melibatkan kakaknya. Untung saja tidak terjadi apa-apa terhadap sang kakak. ”Huss!! Sudahlah adiku, aku tidak apa-apa! Terima kasih pada ke-

Di sana telah berkumpul orang tua-muda yang segera berdatangan serta-merta mendengar kedatangan Mayayo dan juga perkelahian di pantai tersebut. Menangguk-angguk beberapa orang menyetujui usul itu. Tak lupa Mayiya juga menanyakan keadaan Telaga dan Wassa. sehingga golok mereka tidak dibubuhi racun. Dengan cekakan Mayiya mengobati kakaknya. Rasa-rasa cemas tampak dalam wajah mereka. *** Beberapa hari kemudian Pelaut Ompong pun pulang. kembali ke rumah masing-masing dan meneruskan pekerjaan mereka yang tadi terhenti. Ia sedang pergi ke desa lain untuk suatu urusan. Menangguk dan memandang dengan penuh terima kasih Mayiya kepada kedua orang ini. Wassa yang dipandang seperti itu menjadi jengah dan berdebar-debar hatinya. Bila suatu saat mereka mendapat giliran. Telaga mengatakan ia baik-baik saja. Untung saja para Bajak Pantai itu adalah orang-orang kasar biasa. orang-orang pun mulai berpamitan. Setelah mengucapkan selamat datang dan semoga cepat sembuh kepada Mayayo. Mayayo. Dengan gembira ia mendapati bahwa cucu laki-lakinya. dan menunjuk ke pada Wassa yang terluka ringan. Dengan segera gadis itu mengobati sang pemuda yang ditunjuk. telah tiba kembali . Pelaut Ompong tak ada di tempat.” katanya sambil menunjuk pada Telaga dan Wassa. menjadi bahan pikiran masing-masing orang. Luka yang terkena racun dapat berbahaya sekali. setelah terlebih dahulu membersihkannya. Segera Mayiya membawa kakaknya ke serambi rumahnya. Dan dalam waktu dekat rencananya akan diadakah rembug desa untuk membahas hal ini. Membubuhkan luka sang kakak dengan ramuan dan membalutnya. Kemudian warga pun bubaran setelah mereka saling membicangkan soal penyerangan di pantai itu. yang menjadi berdebar-debar dan bergemuruh dadanya saat gadis itu menyentuh dan mengobati lengannya yang luka tergores golok. terutama Wassa yang sudah membelaku sehingga para Bajak Pantai itu lari terbirit-birit.485 dua orang ini. Ada yang mengusulkan bahwa masalah ini harus dibicarakan sedesa dan dicarikan pemecahannya.

pandagangannya terhadap pemuda itu berubah banyak. . Kedua cucunya akan segera menikah karena telah memiliki jodoh masing-masing. Pelaut Ompong dan juga Mayayo tidak bisa memberikan keterangan tambahan. Bahwa Suku Pelaut umumnya memiliki tempat yang berpindah-pindah. segera meminta keterngan perihal Suku Pelaut. Ia hanya akan berlayar kembali ke tempat ia terakhir berpisah dari mereka dan menunggu tanda-tanda di sana. Mendengar itu Telaga pun semakin bersemangat untuk mencari tahu mengenai Suku Pelaut itu. Mayayo. Jadilah kebahagiaan pada keluarga Pelaut Ompong. Ia kagum akan sikap pemuda itu.486 BAGIAN 8. Ia saja yang telah berjodoh dengan seorang dari mereka. tidak tahu bagaimana cara mencari kediaman mereka. Ia merasa keterangan lebih lanjut dari orang-orang di desa itu tidak dapat diperolehnya. Dengan segera ia menyetujui pinangan Wassa. terlebih setelah mendengar bahwa Telaga yang dikaguminya pun sudah bertunangan. akan tetapi setelah pemuda itu menolongnya dari serangan para Bajak Pantai waktu ia baru mendaratkan perahu. Akan tetapi mengingat bahwa Telaga pulalah yang mengajarkan ilmu beladiri kepada Wassa sehingga pemuda itu dapat menolong dirinya. Mungkin ke desa lain masih di sepanjang pantai. dan ia secara kebetulan dapat bertemu dengan mereka. Hanya waktu belum ditentukan kapan mereka berdua akan menikah. Tak lupa pula Pelaut Ompong menyampaikan maksud dari Wassa yang ingin meminang Mayiya. Adapun Telaga setelah orang yang ditunggu-tunggunya tiba. Jika ada satu hal yang memberatkannya adalah orang yang mengundangnya ke makam kuno di atas bukit itu. Awalnya Mayayo tidak mau banyak bercerita mengingat Suku Pelaut tidak terlalu suka dikunjungi oleh orang tak dikenal. Sampai sekarang ia belum tahu siapa orang itu dan apa maksudnya. MENARI BERSAMA AIR di rumah. bercerita pulalah ia. Perkara perkelahian di pantai tidak terlalu menyita perhatiannya melainkan jauh lebih senang ia mendengar bahwa Mayayo telah berjodoh dengan Akanamia dari Suku Pelaut. Tadinya Wassa bagi Mayayo adalah seorang pemuda biasa. Keduanya hanya menggeleng-gelengkan kepala saat ia menceritakan hal itu. bahkan setelah Telaga menceritakan perihal pertemuannya dengan suara tanpa wujud di sana. Sudah saatnya ia melanjutkan perjalanan. Mayiya yang merasa berhutang budi pada Wassa menerima bahwa pemuda itu menjadi jodohnya.

Mungkin. Tapi ia masih ragu-ragu melihat jarak tempuh yang harus dilampauinya sebelum mereka mencapai pulau di tengah itu. past!” ucap seorang dara kepada lelaki tua yang menyertainya. Sebuah danau yang luas dan indah. yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah pula. Orang tua. sang paman Walinggih mengangguk setuju karena ia tidak ada ide lain yang lebih baik untuk dilakukan. yang mungkin dapat menghambat penyeberangan mereka. *** ”Itu paman! Itu pulau yang diceritakan Telaga. minta diri. paman Walinggih! Siapa tahu ada tempat untuk menyeberang.487 Telaga kemudian setelah melihat Mayayo sembuh dan para Bajak Pantai tidak lagi datang untuk membalaskan kekalahannya. Tempat yang suatu saat akan dikunjungi kembali. Ia merasa pemuda itu telah banyak membantunya sehingga ia sampai bisa merebut hati gadis yang dicintainya. Dilepas dengan rasa persahabatan Telaga pun berlalu dari desa yang bernama Tepi Darat Selatan itu. Sarini?” katanya kemudian kepada dara yang ada di dekatnya. seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Yang paling merasa kehilangan sudah tentu Wassa. Terpikir hanya satu jalan.” usulnya kemudian. yaitu berenang. ”Engkau ada ide. Ya. Keduanya terdiam saat langkah kaki mereka hampir menyentuh batas antara darat dan air. Beberapa orang sahabat telah diperolehnya di tempat itu. ”Mari kita kelilingi dulu danau ini. Pulau yang menjadi tujuan mereka. Pemuda dan pemudi yang telah sedikit banyak dilatih beladiri olehnya merasa cukup kehilangan karena telah tercipta keakraban di antara mereka. Dara yang dipanggil Sarini itu hanya menggelengkan kepalanya. ”Sekarang bagaimana caranya menyeberang ke sana?” tanya orang tua itu perlahan. Belum lagi apa-apa yang hidup di dalam danau itu. yang hanya mengangguk mengiyakan. . ia tidak tahu harus bagaimana menyeberang danau itu untuk mencapai pulau di tengahnya.

Ia sudah amat berterima kasih ada yang akan membantunya menyeberang ke pulau itu. ”Cape paman.. Ketiga orang yang hidup di tengah pulau itu telah cukup membantu kami. ”kelihatannya kita tidak dapat menyeberang sekarang. kami bantu menyeberang. apalagi menyeberang ke pulau di tengahnya. Di langit bagian tersebut tampak sinarnya sudah mulai menguning dan bertambah temaram.” ucap Walinggih. Kami ingin sekali membantu mereka kembali. Kegembiraan akan keindahan tempat itu rupanya menulari sang dara dan sang lelaki tua. Segera Walinggin menyapa mereka dan menyatakan maksudnya untuk minta diseberangkan ke pulau di tengah-tengah danau tersebut. dan itu matahari sudah mulai hilang. ”Lebih baik kita mencari tempat untuk bermalam dulu.. Hal ini karena jarang sekali ada orang luar yang berkunjung ke danau itu.” ”Kalian tidak usah kuatir masalah penangkapan ikan. ”Baiklah kalau begitu. Untuk itu berceritalah Walinggih tentang maksudnya dan juga perihal Sarini. saya akan mengganti ongkos penyeberangan ini. tamunya Ki dan Nyi Sura?” ucap seorang dari mereka... Kedua orang nelayan yang baru datang itu tampak agak curiga terhadap Walinggih dan Sarini. sehingga mereka memacu langkah mereka dalam mengelilingi pantai itu. Mungkin ikan-ikan yang hanya muncul dalam gelap.” ucap Sarini sambil menunjuk ke arah barat. Mereka rupanya ingin mencari ikan di danau itu pada malam hari. jadi anda berdua ini. Kedua orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak terasa akhirnya mereka tiba di tempat semua. dan makin lama makin cepat. MENARI BERSAMA AIR Mereka pun mulai menyusuri pantai di tepi bagian luar danau tersebut. pikir Walinggih. ”Tidak!! Tidak!! Kami membantu dengan cuma-cuma..” ucap Walinggih ramah.” Seakan-akan tahu kebutuhan mereka tiba-tiba dari arah daratan tampak dua orang berjalan sambil menggotong perahu mereka. Mungkin ada nelayan atau orang yang suatu saat ingin menyeberang dan kita dapat meminta tolong. ”Ah. dan saat ini adalah kesempatan kami.. Berjalan agak cepat.488 BAGIAN 8..” .

Samar-samar terdengar suara perut mereka minta diisi. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Nelayan yang bercerita tidak mendengar karena sendang asiknya mendongeng sedangkan temannya sedang asik mengemudikan perahu yang bergerak perlahan ke arah pulau karena adanya arus di bawahnya. Suatu perangkap satu arah. Orang-orang desa yang masih mengingat jasa orang lain dan mau membalas budi. Naiklah kemudian mereka berempat di atas sampan itu. Andai saja orang-orang kota saat ini juga masih seperti itu. Untuk itu para nelayan akan memasak jebakan jaring yang membuat ikan tersebut mendekati permukaan karena sinar bulan. Ikan tersebut terutama keluar saat bulan bersinar. ikan dapat masuk tapi tidak lagi dapat keluar atau berbalik.489 Mengangguk-angguk Walinggih mendengar itu. Yang mereka tidak ketahui adalah bahwa Walinggih dan Sarini mengerahkan ilmu meringankan tubuh selama penyeberangan itu sehingga seolah-olah perahu kedua nelayan itu hanya mendapatkan tambahan bobot dua orang anak kecil saja. Dengan sigap kedua nelayan yang membawa mereka mendaratkan perahu mereka dan mempersilakan mereka untuk mendarat. Sembari menyeberang itu berceritalah kedua nelayan tentang pekerjaan mereka dan ikan apa yang ingin ditangkap mereka hari itu. saling tolongmenolong dan membantu tanpa perhitungan. Tapi alangkah herannya mereka bahwa perahu mereka tidak melesak ke dalam air seperti perhitungan mereka semula. Keduanya sempat menanyakan apakah Walinggih . Entah mengapa sinar bulan menarik jenis ikan tersebut untuk berenang-renang dekat permukaan seperti halnya laron yang terbang mendekati nyala api. mereka mencari ikan yang hanya keluar pada malam hari. Awalnya seorang dari nelayan tersebut agak kuatir perahu mereka akan tenggelam atau terbalik dikarenakan muatan yang berlebih. *** Tak lama sampailah perahu yang ditumpangi Walinggih dan Sarini ke pulau di tengah danau itu. Umumnya perahu mereka hanya kuat mengangkut dua sampai tiga orang. Kedua penumpang mereka mendengarkan cerita kedua nelayan dengan membisu. akan tetapi tidak melihat jaring yang dipasangkan. Dan benar seperti dugaan Walinggih semula.

Setelah mengucapkan terima kasih.490 BAGIAN 8. Itu pasti jalan setapak yang akan membawa kita ke tempat orang tua Telaga.” tunjuk orang tua itu pada sebuah jalan setapak yang terlihat samar-samar di balik rerimbunan rumput. Mungkin sebaiknya ditanyakan kepada kedua orang yang akan mereka temui di pulau itu. bagaimana tidak. paman! Saya tidak melihatnya tadi. MENARI BERSAMA AIR dan Sarini ingin diantar kembali ke seberang setelah berjumpa dengan Ki dan Nyi Sura. kita sudah di sini. ”Ki dan Nyi Sura pasti juga memiliki sampan. Kedua nelayan tersebut kemudian mengangguk mengerti. ia akan bertemu dengan orang tua dari pemuda yang akan menikahinya. . Arus danau ini akan membawanya ke tempat kami. kedua nelayan itu pun kembali ke air untuk menangkap ikan yang tadinya merupakan tujuan mereka mendanau. Keduanya kemudian beranjak dari sana dan mulai menyusuri jalan setapak yang mulai tampak ditumbuhi rerumputan sehingga tidak terlalu jelas terlihat. Tak terasa ada rasa sungkan dan jengah. harusnya Sarini dan Walinggih berjalan sambil membuat jalan setapak baru. Lalu kata seorang dari mereka. Ya. di belakang hamparan pasir putih yang sunyi akan tetapi bergemerlap oleh timpaan sinar bulan. Walinggih mempelajari dulu rerimbunan yang ada di hadapannya.” Menangguk mengiyakan Sarini dan Walinggih. Atau jika kalian ingin dijemput.. ”Mungkin ke sana. Ke arah mana kita harus berjalan?” tanya Sarini kemudian. walaupun mereka sebenarnya tidak terlalu mengerti bagaimana cara itu bisa menyampaikan pesan kepada nelayan yang tinggal di pinggir pantai danau itu. Untung tidak terlalu lama. jika tidak. Keadaan jalan itu seakan-akan menceritakan bahwa ia sudah cukup lama tidak digunakan sehingga rumput-rumputan memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menghapus jalur-jalur lindasan kaki yang tadinya ada. apungkan saja sesuatu dan sertakan kertas di atasnya. ”Betul. ”Nah. Tapi mereka tidak bertanya lebih lanjut melainkan menyimpannya dalam hati.” ucap gadis itu. paman. akan tetapi kedua orang itu mengatakan bahwa waktu untuk itu tidak dapat dipastikan..

dan syukur-syukur dekat batu yang berwarna hitam. Akan tetapi sama dengan kondisi jalan setapak yang baru saja mereka lewati. terlihat seperti sudah lama tidak ada orang di sini. ”kelihatannya mereka tidak ada di sini?” ”Iya. Malah senang bahwa ia dan Sarini hendak berkunjung ke pulau itu. sehingga bisa saja adalah sungai yang dimaksud. Terlihat telah lama tidak disentuh oleh tangan manusia yang menggunakannya. akhirnya gemerik air terdengar samar-samar. Tidak diambilnya catatan itu melainkan hanya dibacanya. ”Paman.” jawab Walinggih mengiyakan. Pikirannya melayang ke mana-mana. Setelah lama mencari-cari. Agak terletak di sebelah dalam.491 Tak lama kemudian sampailah mereka ke suatu tempat yang agak terbuka. Keduanya pun mulai mencari-cari di mana kiranya dari tempat itu bisa terdapat sebuah sungai. kondisinya pun tak terurus. Di sana berdiri sebuah saung. Ada yang dirasanya tidak beres dan telah terjadi di tempat ini. apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sarini perlahan. Sudah keadaan tempat ini yang tidak terurus ditambah dengan petunjuk yang asing bagi mereka. mengapa kedua nelayan yang mengatakan kenal dengan mereka tidak mengatakan apa-apa tadi. Keduanya pun berjalan ke arah sana dengan ditemani oleh sinar bulan yang cukup membantu mereka menemukan jalan dalam rerimbunan tersebut.” katanya kemudian kepada Sarini yang setelah diberitahu juga terlihat bingung. ”Mari kita ikuti petunjuk ini. sehingga orang yang tidak masuk tidak akan menyadari bahwa ada catatan di sana. yang tahu di mana itu ”Sungai Batu Hitam”.” Tak ada kata-kata lain. Tiba-tiba matanya melihat ke sebuah catatan yang terlihat sengaja disimpan di dinding saung itu. Mungkin pesan yang sengaja ditinggalkan bagi orang yang sudah tidak asing lagi dengan keadaan tempat ini. Tapi bila kedua orang yang ingin dikunjungi mereka tidak berada di tempatnya. ”Di gua dekat ceruk Sungai Batu Hitam. tetapi juga telah dipenuhi rerumputan. .

Dengan hati-hati mereka masuk ke dalam gua dan melalui beberapa stalaktit dan staklamit yang hampir membentuk tiang-tiang.” ucap Walinggih. Tiba-tiba serangkum hawa dingin memembelai mereka sehingga tersentak dan menuju ke suatu arah. ”Benar. Perlahan mereka menyelinap di antara tiang-tiang batu yang ada dan tetap hati-hati. mungkin rembesan air dari sungai yang mengalir di atas gua batu ini. di bawah sebuah sungai yang sebagian airnya merembes dan mengalir perlahan ke bawahnya. Tampak sesosok sedang duduk di hadapan dua buah gundukan berwarna putih pualam setinggi dirinya. Ia tidak tahu siapa yang tadi mengirimkan serangkum hawa dingin sehingga mereka dapat mengetahui posisi gua ini. ”Jika ceruk ini yang dimaksud dan sungai tersebut. Sarini mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Hati-hati. Tapi matanya belum dapat menemukan di mana sekiranya sebuah gua dapat berada di tempat itu. Di sana ditengah-tengah ruangan yang temaram disinari rerumputan dan tanaman yang bersinar dalam gelap. Keduanya pun segera beranjak ke sana. mereka berdua belum mengetahui maksudnya. kita harus hati-hati!” ucap Walinggih mengiyakan. paman!” ucap Sarini saat mereka tiba di muka gua tersebut. Sebagian lain mengalir menuju tempat lain dan menuju danau. . Sebuah gua yang memancarkan sedikit sinar temaran dari dalamnya. MENARI BERSAMA AIR Sebuah ceruk yang digenangi air yang cukup lebar dan berwarna kegelapan berada di sana. Di sana-sini tampak air perlahan menetes perlahan.492 BAGIAN 8. maka guanya berada tak jauh dari ini. dengan gemerlapan kemilau putih samar-samar terpancar dari dalamnya. Siapapun orang itu. ”Itu seharusnya gua yang dimaksud dalam pesan itu.” ucap Walinggih perlahan. tapi yang pasti ilmu kepandaiannya tidak boleh dianggap sepele. di mana dalam arah tersebut tampak sebuah lubang gelap dalam dinding batu hitam. sampai akhirnya mereka di suatu ruangan dengan langitlangit yang lebar dan tinggi.

”aku melakukan ini untuk mencegah mereka terluka lebih parah. di mana mereka harus membolak-balik aliran darah mereka untuk menerobos titik-titik yang tersumbat.” ”Terluka? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Walinggih yang sikapnya kemudian melunak demi mendengar jawaban yang jujur dari orang tersebut.” jelas orang itu. menambah intensitas hawa dingin yang terasa mengisi dengan pekat udara di sekitar mereka. Bisa tolong tunjukkan di mana mereka berada?” tanya Walinggih dengan sopan. mendekati sesosok yang tampak sedang berkonsentrasi tersebut.493 Perlahan kedua orang itu. Tak berani menganggu. tampak samar-samar wajah seorang manusia.” ucapnya perlahan. ”Ini. Lalu lanjutnya. mereke!!!” ucap Sarini yang tidak dapat menahan keterkejutannya demi melihat bahwa di balik pualam putih. Tapi sayangnya terdapat kesalahan sehingga mereka terluka. kami mencari mereka. Orang itu dengan raut muka sedih menunjuk kepada kedua gundukan berwarna putih yang ”duduk” di hadapannya.. Tampak bola matanya yang tidak seperti biasanya melainkan berwarna keputihan. Walinggih dan Sarini. Tak tersembunyi kepura-puraan dari cara orang itu berbicara dan mejawab pertanyaannya tadi. seperti kulitnya yang pucat dan rambutnya yang seluruhnya telah memutih. ”pada saat-saat itu kebetulan . ”Kalian mencari Ki dan Nyi Sura?” tanya orang itu perlahan sambil membuka matanya. ”Aku adalah sahabat mereka. yang ternyata adalah es.. ”Engkau yang membuat mereka demikian??” ucap Walinggih yang segera siapa dengan gerakan siap mencabut pedang panjangnya. Dua buah manusia yang telah membeku. Ki dan Nyi Sura. ”Mereka sedang melatih Tenaga Air tingkat tertentu.. Hening sejenak meliputi suasana di sana.. keduanya pun duduk bersila dalam jarak setombak darinya dan menunggu.. Walaupun ia tahu orang dengan kemampuan yang dapat membuat orang membeku seperti itu adalah di atas kemampuan dirinya dan Sarini. ”Ya..

”Tidak tahu. kalian membawa kabar baik. Pembekuan mereka akan langgeng selamanya apabila suatu tahap mati suri telah tercapai. MENARI BERSAMA AIR aku kembali dan menemukan mereka dalam keadaan terluka dengan jalan darah terbalik-balik.” Wajahnya kembali muram demi ia menyelesaikan kalimatnya.” Walinggih dan Sarini mendengarkan penjalasan itu dengan penuh perhatian. Dengan membekukan mereka. Kedua orang yang duduk bersila di hadapannya tampak diam. ”Ah.494 BAGIAN 8. Tapi perlu dicari orang yang dapat mengobati mereka. yang mengaku bernama Rancana. Lalu katanya. ”proses ini juga membahayakan diriku sendiri. Tak tahu harus berbuat apa.” ucapnya pelan. jika saja mereka dapat mendengarnya. Tapi beberapa hari lagi mereka sudah tidak perlu dibantu. untuk sementara mereka berada dalam keadaan aman.” jawab Rancana pendek. Tentunya kedua sahabatku ini akan gembira sekali. Lalu setelah ditanya. Tersungging senyum di wajah pucat orang itu demi mendengar kabar gembira yang dibawa oleh kedua pengunjung itu. Melakukan olah tenaga yang mereka ajarkan sehingga dapat membekukan tubuh mereka. Tak disangkanya kedua orang yang membeku tersebut sedang ditolong oleh sang sosok yang hampir berwarna seluruh tubunya keputihan tersebut. *** ”Berapa lama pembekuan ini bisa dilakukan?” tanya Walinggih kepada orang yang terlihat seluruh tubuhnya hampir berwarna putih tersebut. ”Tidak juga. ”Dan engkau dapat melakukannya sendiri. terus-menerus?” tanya Walinggih kemudian. Keheningan pun kembali menyeruak di antara mereka berlima. Ia hanya melakukan apa yang diminta oleh kedua orang temannya itu untuk menghambat luka dalam tubuh mereka. Walinggih dan Sarini pun menjelaskan maksud kedatangan mereka untuk bertemu dengan Ki dan Nyi Sura.” .

seperti lidah dan rongga mulut. Pengembaraan Rancana yang ke sana-ke mari ternyata telah membawa padanya juga kabar mengenai Hakim Haus Darah.495 Keduanya kemudian terdiam.” ucap Rancana. rambutnya dan juga kulitnya. latihan Sarini dan perbincangan antara Walinggih dan Rancana. Dan akhir yang tidak diharapkan adalah ia akan memutih membeku. Julukan yang telah lama ditinggalkan . ”tolong katakan pada muridku. bila aku harus menemani mereka ’membeku’. memang memiliki ilmu simpanan dalam meringankan tubuh dan bergerak cepat ke sana-kemari. ”Warna putih pada tubuhmu juga akibat penyaluran tenaga untuk membekukan mereka. betul begitu?” tanya Walinggih kemudian. Lantang. Rancana pun menyempatkan diri untuk mengajari Sarini ilmu meringankan tubuhnya. bahwa aku belum menemukan cara melancarkan aliran hawa dalam tubuhnya.. Sudah tentu yang merasa gembira pula selain Sarini adalah Walinggih. Pada akhirnya bagian-bagian dalam tubuhnya juga. mirip dengan kedua orang yang ditolongnya.” Lalu diceritakan perjalannya ke Rimba Hijau.. Rancana hanya mengangguk. Ia yang dikenal sebagai Bayangan Menangis Tertawa. Mengangguk-angguk Walinggih mendengar pesan tersebut. bahwa efek samping dari cara ia menolong adalah memperoleh kehilangan warna pada bagian-bagian tubuhnya. ia merasa senang bahwa muridnya mendapat tambahan ilmu dari seorang yang tokoh yang selama ini telah lama menghilang dari dunia persilatan. Walinggih pun menyanggupi permintaan itu. menjadi patung es. Ia melihat betapa besar kasih sayang Rancana kepada muridnya itu. yang ternyata tidak mampu menyalurkan tenaga dalamnya akibat sebab yang tidak diketahui pada susunan jalan darahnya. julukan yang dulu dimiliki Walinggih. larut dalam pikirannya masing-masing. Disamping mengoper tenaga dalamnya kepada Ki dan Nyi Sura. bertemu dengan para Manusia Tiga Kaki dalam upaya mencari penyembuhan muridnya. Dugaan Walinggih benar adanya. Hari-hari pun berlalu diisi dengan pengoperan tenagan kepada Ki dan Nyi Sura. Sudah bola matanya. ”Pesanku.

kecuali bahwa ia telah gagal mencari jalan keluar bagi kesembuhan murinya. Jurus yang . Suatu pengorbanan yang tidak disesalkan oleh Rancana sendiri. mungkin ia masih dapat memberikan satu dua keterangan yang berguna. menemani Rancana yang terus menerus menyalurkan tenaga dalamnya ke Ki dan Nyi Sura yang telah membeku. BAGIAN 8. *** Tak terasa telah berlalu hari-hari di mana Walinggih dan muridnya Sarini menetap di Pulau Tengah Danau. suatu jurus yang dapat menyelamatkan diri dari terkena sengatan senjata tajam di dalam hujan serangan lawan.496 dengan sifat-sifat jeleknya. Jika saja Ki Tapa masih hidup. Lantang. Pada tahap tersebut Ki dan Nyi Sura tidak lagi perlu diasup tenaga dalam karena kondisi mereka telah dapat menyerap sendiri aliran tenaga yang dibangkitkan oleh gua di mana mereka berada dan juga aliran sungai di atas gua tersebut. Dengan tergesa Rancana pun mengajarkan ilmu meringan tubuhnya kepada Sarini dan juga langkah ajaibnya. Bahkan kunjungannya ke Rimba Hijau. Rancana pun memaksa untuk menolong. Yang mereka pikirkan sekarang adalah orang-orang yang menjadi murid-murid mereka. sempai bertemu dengan Hitam-Putih. Dengan cara yang diberikan oleh mereka berdua. Suatu kesamaan dari orang-orang yang menjadi lebih bijaksana setelah diri mereka menjadi tua dan sadar hidup tidak lama lagi di dunia ini. tetapi setelah mereka berdua tak sadar diri lagi. pemimpin salah satu Kaum Manusia Tiga Kaki pun tidak membuahkan hasil yang berarti. MENARI BERSAMA AIR Keduanya tertawa karena mereka saat ini telah menjadi tua dan julukan-julukan kuno telah lama lewat. mau tak mau Rancana pun berangsur-angsur akan menjadi seperti mereka. Rancana pada awalnya telah tahu resiko ini. dengan harapan ia dapat mengatasi hal tersebut dan tidak menjadi seperti mereka. dan kedua rekan yang akan ditolongnya telah mencoba mencegah. Langkah-langkah Kering di Bawah Hujan. Tapi rupanya tenaga yang ia miliki belum cukup kuat sehingga mau tak mau penyaluran tersebut merugikan dirinya. Menjadi sesuatu yang hanya memiliki hawa dingin dan pada akhirnya akan membeku menjadi sama seperti mereka.

Entah apa hubungan antara keduanya. Arasan. Lalu Walinggih dan sekarang Rancana. menggunakan pedang dan sekarang meringangkan tubuh dan ilmu menghindar telah dipelajarinya. Beragam ilmu dari ilmu silat tangan kosong. Ia . Sia-sia. Perlu waktu memang. disiramai dan akhirnya berbuah. Sehabis serangan lewat. Walaupun demikian ia masih berusaha untuk menyalurkan tenaga terahir yang dapat dia bangkitkan untuk menyurup ke dalam tubuh Ki dan Nyi Sura. sehingga tidak ada orang yang ingin mencaricari masalah dengan mereka. ”Engkau juga dapat membicarakannya dengan gurumu.497 juga yang juga dimiliki oleh Kakek Gu. Dengan cara ini sebagai manapun lawan mendesak ia akan bisa menghindar. Guru pertama adalah ayahnya sendiri. yang dibelah akan kembali mengisi ruang yang tadi kosong. ia merasa menggigil hebat dan badannya mulai sulit digerakkan.” Sarini mendengarkan dengan tekun ucapan gurunya ini. Hanya saja ilmu-ilmu tersebut belum cukup matang dan mengendap dalam pemahamannya. agar suatu ilmu dapat berjalan dengan otomatis dalam pemanfaatannya. yang mendasarkan gerakannya pada gerakan aliran. Mirip seperti pohon yang dirawat. Mirip dengan upaya orang yang membelah udara atau air. Walaupun ilmu kami berbeda. tapi setidaknya pengalamannya dalam bidang ilmu beladiri akan memudahkanmu untuk mencerna apa-apa yang aku ajarkan ini. Rancana walaupun tidak ingin disebut guru. Walinggih. ”Jika belum bisa menerapkan. Tapi sepertinya orang-orang yang tinggal di pulau tersebut tidak memiliki musuh.” ucap Rancana suatu saat demi melihat Sarini agak sulit untuk mencerna apa yang ia ucapkan. telah menjadi guru ketiga dari Sarini. Di saat itu Walinggih yang bertugas mencarikan mereka makan dan juga memantau kalau-kalau ada pendatang yang tidak diinginkan menganggu penyaluran tenaga dalam ke Ki dan Nyi Sura oleh Rancana. Membuat tubuh bergerak dengan lincah ke sana-kemari memanfaatkan aliran tenaga lawan. Jurus ini adalah jurus yang berasal dari ilmu dasar yang dimiliki oleh Rancana. air atau angin. Tidak mencari musuh adalah suatu sikap hidup yang baik dalam rimba persilatan. Tibalah hari yang telah lama diduga Rancana. hapalkan dulu gerakan dan teoriteorinya.

Gundukan seperti pualam putih tampak bertambah satu jumlahnya sehingga menjadi tiga buah sekarang. Tak lupa disirami . MENARI BERSAMA AIR telah berpesan kepada Walinggih dan Sarini. Kemudian setelah selesai ia menyerang lurus. Pesan untuk Telaga dan Lantang dituliskan di batu di luar gua tersebut. memutar. ”Gunakan tenagan gempuran yang kuat dengan pedang panjangnmu untuk meremukkan batu-batu besar di atas itu. ”Engkau sudah siap?” tanya Walinggih kepada muridnya. ia bergerak cepat meloncat dan menyabetkan pedang panjangnya berulang-ulang.” perintah gurunya itu kemudian. aku tak tahu apa mereka bertiga masih memerlukannya atau tidak.498 BAGIAN 8. bahwa setelah ia ”membeku” agar disandingkan dekat dengan kedua rekannya. membentuk posisi segitiga. Tak lupa ia memesankan untuk menutup pintu gua itu agar tak ada orang yang tak dikenal datang dan mengganggu. Walinggih dan Sarini tampak berdiri di muka gua yang dari dalamnya tampat sinar temaram memancar. tetapi masih lengket pada tempatnya. beberapa batu tampak berderak-derak. ”Bagus!! Sekarangn biarkan lubang yang di atas itu untuk sedikit pertukaran hawa. menancapkan pedangnya dalam dan menghentakkan ke arah samping.” ucap gurunya. Sarini mengangguk. Ki dan Nyi Sura serta Rancana. ”Kita perlu berikan sedikit tanah dan rerumputan untuk kamuflase agar mulut gua ini tidak mudah ditemukan. Gadis itu segera melaksanakan perintah gurunya. dengan tanah dan rumput-rumputan. yang baru saja mereka tutup dengan batu-batu. lalu gempur dengan hentakan kasar sehingga mereka runtuh dan menimbuni mulut gua. Di luar itu juga ditarik geris antara mereka yang saling menghubungkan dan dipasang beberapa simbol dan batu untuk menjaga aliran hawa antara mereka dan juga gua tempat mereka tinggal. Pada suatu tempat yang hanya diketahui oleh penghuni tempat tersebut.” Lalu keduanya mencari-cari tanah dan juga rumput-rumputan dan mulai mendandani mulut gua. menyebabkan batu-batu yang sudah retak tadi bergetar dan mulai berjatuhan menutupi mulut gua tersebut.

Kedua nelayan yang sama juga yang membawa mereka kembali ke pantai. sehingga orang yang tidak kenal dengan tempat itu pasti tidak akan menyadari bahwa dulu di tempat itu pernah ada gua. Kakek akan sangat bangga kalau suatu saat masih dapat bersua dengan mereka. sudah tentu . Selain itu juga memberi kabar ke pada ayah Sarini. Sarini sendiri akan menanti kepulangan kembali Telaga di rumahnya. Bukan orang usil mereka akan urusan orang lain. Arasan tentang apa yang menimpa calon besanya. kalau-kalau ada perubahan atau sesuatu terjadi. Walinggih dan Sarini pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Tak dinyana akan datang suatu hari di mana mereka harus berpisah. kembali ke Padang Batu-Batu di mana rumah mereka berada. Selama seminggu masih Sarini dan Walinggih menunggui gua tersebut. Juga untuk meyakinkan kalau rumput-rumput yang dipindahkan telah tumbuh dan benar-benar menutupi gua tersebut.” ucap orang tua itu kepada cucunya dengan isyarat tangan yang ditanggapi dengan anggukan oleh cucunya. *** ”Akanamia.499 pulau dengan air dari ceruk yang tak jauh dari sana. Sudah lama sekali sejak ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Setelah yakin bahwa semunya baik dan sesuia dengan kemamuan Rancana. ada waktu berpisah. dengan terlebih dahulu meninggalkan pesan bagi mereka. Sehabis mengucapkan terima kasih Walinggih dan Sarini pun mulai menuruni Gunung Berdanau Berpulau. Tanpa dapat menahan rasa sedihnya ia pun berlutut dan memeluk lutuh kakeknya sedang bersila di hadapannya. ”Kita tidak berpisah selamanya. kakeknya menjadi orang tua tunggal baginya. latih baik-baik rangkaian jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. ”Engkau tak lama lagi akan dijemput oleh calon suamimu.” Tak terasa air mata menetes pada pipi dara itu. menyeberang kembali ke pantai di pinggi danau dengan menggunakan perahu nelayan yang dulu mengantarkan mereka. Keduanya tidak banyak bertanya. Kalian latih baik-baik ilmu tersebut dan turunkan kepada anak cucu kalian.

” ucapnya sambil menunduk dan mencium tangan kakeknya yang dibalas dengan kembali usapan sayang tangan tua renta pada rambut dara tersebut. Apa kamu mampu?” tanya pelaut tua itu lagi. paman. ”Saya akan coba. *** ”Jadi engkau ingin ikut melaut?” tanya seorang pelaut tua kepada anak muda di depannya.” begitu ucap tangan kakek itu kepada cucunya. ”Menari Bersama Air. membuat para tamu yang menghadiri pesta sederhana itu pun merasa amat berbahagia dan bersyukur. Mayiya dan Mayayo melangsungkan pernikahan pada hari yang sama. Ucapan yang semakin memembuat mata Akanamia basah. ”adalah nama jurus pamungkas yang aku ajarkan tadi. Demi melihat kesungguhan dalam mata pemuda itu. ”Baik. kakek.” Cucunya mengangguk mengiyakan pesan kakeknya tersebut. Gunakan hanya dalam kesempatan terdesak saja. calon iparnya.500 BAGIAN 8.” jawab anak muda itu cepat. Akan kuturuti kata-katamu. disetujuilan usulan itu.” ucap anak muda itu meyakinkan. sang pelaut tua akhirnya mengijinkan ia untuk ikut sebagai anak buah kapal. Postur . paman! Ingin menimba ilmu di kapal. Kedua pasangan muda-muda yang memperoleh jodoh yang samasama gagah dan cantiknya. Dan kamu bisa saja nanti kangen dengan darat. ”Tidak mudah. MENARI BERSAMA AIR ada waktu berkumpul lagi. ”Benar. Waktu pun berlalu dengan cepat sampai kedatangan kembali Mayayo untuk meminang Akanamia.” begitu kira-kira ucapan orang itu yang dilekukan dengan usapan-usapan pada rambut cucunya itu. Dengan menerangkan bahwa adalah baik apabila kedua saudara itu. Bisa berminggu-minggu bahkan berbulanbulan kami berada di atas air tanpa singgah sehari pun di mana-mana. Saya berjanji untuk tidak mengeluh. Turut mendoakan hal-hal yang baik bagi keempatnya. untuk itu turut bersamanya Pelaut Ompong kakeknya dan juga Wassa. lho! Beda di dengan di darat.

501 anak itu yang kuat dan sehat menyenangkan hatinya. ”Telaga!” jawab pemuda itu mantap. Terdapat puluhan bahkan ratusan tanah seberang. Tlatah Matahari Terbit. Semuanya membuatnya amat bergairah dalam perjalanannya ini. ”Baik. bapak dan kedua anaknya. Lalu mereka berdua pun berpisah. Kehidupan di atas laut adalah kehidupan yang keras. Ia selain ingin mencari tahu mengenai Suku Pelaut juga ingin menambah pengetahuannya dengan mengenal tempat-tempat lain yang dipisahkan dengan air dari tanah kelahirannya. Ia tidak ingin ada anak buah yang sakit-sakitan dan lemah. Perjalanan di atas laut bagi Telaga pun dimulai. Cari aku atau kapal yang kutulis di atas secarik kertas itu. Tanah seberang. paman!” jawab pemuda itu dengan raut gembira yang tidak disembunyikannya. Lalu pelaut tua itu mencatatkan nama pemuda itu di dalam buku lognya. buku yang mencatat nama-nama kelasi dan juga penumpang yang akan ikut berlayar dalam kapalnya. Dilihat dari tongkrongan mereka. hanya terdapat lima orang yang menumpang kapal tersebut. yang orangorangnya hidup dengan cara yang berbeda dengan orang-orang di Tlatah Nusantara. Sebuah kapal yang membawa penumpang dan juga barang-barang ke berbagai negara di penjuru dunia. Tlatah Alemania dan masih banyak Tlatah-tlatah lainnya. Telaga dapat memahami itu dari cara mereka berjalan . ”Jangan telat hadir dua hari lagi di sini. Beberapa yang pernah di dengarnya misalnya Tlatah Tengah. begitu kata orangorang. ”Baik! Siapa namamu?” tanya pelaut itu kemudian. Selain sebuah keluarga yang terdiri dari ibu. mengerti!” ucapnya kemudian setelah meneliti beberapa tulisan dalam buku tebalnya itu. Rupanya saat musim ini tidak banyak orang yang ingin bepergian dengan kapal. kelima orang tersebut adalah para pesilat walaupun tidak secara kentara senjata yang mereka bawa terlihat. Ia benar-benar merasa senang karena ini merupakan perjalanan pertamanya di atas sebuah kapal laut.

Terlihat bahwa orang itu ”baru” di antara mereka berlima. ”Teman-teman yang menarik.502 BAGIAN 8. apa yang mengaitkan mereka berlima yang terlihat amat berbeda tersebut. ”Hai. bertubuh besar dan subur itu. ”bila cuaca buruk dan ada perompak. ”Berapa lama perjalan ini sampai ke sana?” tanya seorang bertubuh subur dan besar kepada seorang gadis manis yang berdiri di sisinya. MENARI BERSAMA AIR yang pasti dan seimbang dan juga sorot mata tajam serta waspada ciri dari orang-orang yang selalu siap akan pertarungan. ”Yang pertama itu bekerja di laut. entah bagaimana telah merasa akrab dengan pemuda berkulit coklat. Mungkin dari kesamaan fisik mereka yang sama-sama berasal dari Tlatah Nusantara ini.” sela seorang dari mereka yang berkulit pucat. sedangkan yang kedua engkau sebutkan itu bekerja di darat.” ucapnya saat melihat pemuda itu tampak termangu sendiri menghadapi laut yang tenang hampir tanpa gelombang. Mengangguk-angguk orang yang mengajukan pertanyaan itu. Ia pernah bertukar pandang dengan pemuda itu dan saling tersenyum. Juga bahasa yang mereka gunakan.” ucap Telaga sambil melirik ke arah rekan-rekan pemuda itu yang tampaknya sedang bermain kartu berempat. tapi dapat saling mengerti dengan baik. . Masing-masing kelihatannya memiliki asal dan bahasa masing-masing. Telaga tak terlalu peduli karena mereka pun tidak mempedulikan dirinya. yang mungkin dianggapnya hanyalah seorang anak buah kapal yang tidak berarti.” jawab orang yang ditanya.” jawabnya ramah.” ”Perompak? Perampok maksudmu?” tanya orang pertama itu lagi. Hal yang aneh dari mereka adalah corak dan ragam kulit dan bentuk tubuh mereka yang beraneka. mungkin malah lebih lama. Telaga pun bertanya-tanya dalam hatinya. Telaga yang tidak sengaja menguping. Dengan keempat rekan pemuda itu. Masih banyak hal yang mungkin harus dipelajarinya. ”Aku Gentong. ”Empat sampai lima minggu. aku Telaga.

”Jangan terlalu banyak bercerita. tidak tahan laut tapi kok berlayar? Pasti ada keperluan yang mendesak. Di dalamnya para pendekar-pendekar memilih jalannya masing-masing. Bisa-bisa orang suruhan dari mereka-mereka yang menginginkan kepala kita. Keluarga yang terdiri dari ayah. sehingga lebih sering menghabiskan waktu di kamar mereka. Dhoruba!” ucap Gentong sedikit jengkel. Kisah yang masih akan panjang berlangsung dalam waktu dan ruang. Mengikut tuntunan dari Sang Pencipta untuk mengisi arah hidupnya sendiri-sendiri. Pelaut tua yang mengijinkan Telaga untuk ikut dengan pelayaran itu hanya mengatakan bahwa mereka tidak begitu tahan udara laut. Tidak menggurui. Seorang berkulit merah dan berwajah keras tampak mengerlin kepada Gentong. ia memang yang paling ”muda” dari mereka berlima. Cara yang mengingatkannya kepada mendiang gurunya. Ya. Ia tidak banyak mengatur akan tetapi menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya dengan cara yang menyenangkan. . Setelah ia pergi. rekan pemuda itu tampak bangkit meninggalkan permaiannya dan berdiri dekat pemuda bertubuh subur dan besar itu. bersihkan dek bagian bawah!” tiba-tiba teriakan perintah memanggilnya. Kelihatannya ia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai keempat rekannya tersebut. Kita tidak tahu siapa pemuda itu. Segera ia beranjak dengan tak lupa pamit pada Gentong.503 ”He-eh!” jawab pemuda itu sekenanya. akan aku camkan itu. Ki Tapa. Yang dipanggil Dhoruba itu segera kembali ke permainan yang sedang menunggu kedatangannya. Misun nama orang itu. ”Telaga. Suatu yang aneh menurut pemuda itu. ibu dan putra-putrinya itu jarang terlihat di atas dek. Tapi kadangkadang sikap mereka yang masih memperlakukannya sebagai anak kecil dengan larangan-larangan membuatnya tidak dapat menahan emosi. Hanya dengan Misun Gentong merasa tenang. Perubahan hidupnya yang tiba-tiba dan banyaknya hal-hal yang ia tidak tahu membuatnya menjadi gampang tersinggung.” ”Ya. Begitulah kehidupan berjalan. membuyarkan lamunannya akan kemungkin-kemungkinan yang dimiliki oleh keluarga tersebut.

*** . Angin yang hampir tak ada tiba-tiba mengencang dengan wajah langit yang gelap tibatiba tampak di depan kapal.504 BAGIAN 8. termasuk Telaga pun bersiap. di kejauhan dekat horison. Wajah dari badai dasyat yang akan menjelang. MENARI BERSAMA AIR ”Turunkan layar!!” tiba-tiba terhembus perintah. Kelima orang penumpang masih tampak tenangtenang bermain permainan mereka. Para anak buah kapal. Dan angin pun bertambah kencang bertiup.

tapi itu bukan suatu buku yang bagus. ”Tidak apa-apa guru. Jadi bagi saya. saya ’kan belum punya banyak pengalaman.. itu! Itu buku kumpulan tulisan oleh seorang. ”Aku suka sikapmu..” Pemuda itu pun mulai membuka kisah pertama setelah memenpatkan dirinya di akar sebuah pohon besar. menghayal kemana-mana – kadang melewati waktu dan ruang. Mengangguk-angguk orang tua yang dipanggil ayah oleh pemuda itu.” jawab pemuda itu rendah hati..” jawab orang tua tersebut setelah sedikit melirik ke buku yang berada dalam genggaman pemuda itu.Bagian 9 Kisah-kisah antar Ruang dan Waktu ”Ayah. buku apa ini?” tanya seorang pemuda kepada orang tua yang duduk dihadapannya.” ucap orang tua itu kemudian. buku yang baik atau tidak. Cerita Dua Hari Sebagai Komuter 505 . belum bisa saya menilai. ”Boleh aku membacanya?” tanyan pemuda itu lagi. ”Engkau mau? Kalau begitu silakan. Isinya macammacam. ”Oh.

Mereka bukanlah sosok yang akan menimbulkan keinginan untuk memperhatikan apalagi berinteraksi dengannya. Hal pertama yang membuatku mulai memperhatikan seorang tua adalah semi-dialognya yang diucapkan kepada seorang murid SMP yang mencoba-coba untuk melihat ke luar kereta pada pintu kereta yang terbuka. jangan belagu lu! Macem-macem aja! Jatuh baru tahu rasa lu!” Begitu katanya. . Di depan sebuah pasar yang telah berubah seingatku. Hampir dekat pintu masuk penumpang yang selalu tidak pernah ditutup. Tentu aja apabila tidak terdapat banyak penumpang lain yang berdiri. Sepeminum teh botol setelah tengah hari kunaikkan diriku ke dalam sebuah Kereta Api Ekonomi yang menuju Bogor. dua hari yang biasa-biasa saja. Saat itu kereta cukup sepi. Sedangkan sang orang tua itu sendiri duduk di lantai pada pintu kereta yang terbuka tersebut. Mungkin akan menjadi dua hari yang amat biasa apabila tidak terdapat seorang tua yang berinteraksi denganku dalam perjalan pulangku menggunakan Kereta Api Ekonomi Jakarta-Bogor. Aku naik dari sebuah stasiun kecil di salah satu sudut Jakarta. Banyak tempat duduk yang belum terisi.506 BAGIAN 9. Hari Pertama Seingatku. ”Lu. Aku duduk di sisi kanan ke arah majunya kereta. Mungkin hal ini disebabkan pula karena aku lama tinggal di Bogor dan Bandung. Kebetulan jenis gerbong yang kutempati adalah yang saling berhadapan pada kedua sisinya. Kupilih tempat duduk yang menghadap ke sisi tempat aku naik. Cukup panas menurut kulitku. Tidak sama lagi dengan pasar di mana aku pernah makan nasi tim bersama nenekku. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU Dua hari yang panas. Mungkin kulitku menjadi lebih sensitif dewasa ini. Baru kira-kira dua bulan kulakoni menimba ilmu kembali pulang pergi setiap hari Bogor-Jakarta. hari itu adalah hari Kamis. Akan tetapi keduanya tetap seorang insan yang juga memperhatikan sesamanya walaupun mereka kurang bahkan terlupakan oleh sesamanya. Atau mungkin manja? Entahlah. Dengan demikian penumpang yang duduk pada sisi kiri akan berhadapan dengan penumpang pada sisi kanan dan dipisahkan oleh ruang yang cukup besar.

”Aqua. Setelah terjadi sedikit konfrontasi dalam benakku akhirnya kubiarkan diriku statis dan kutunggu perkembangan selanjutnya. dan lanjutnya. muncullah seorang penjual Aqua gelas dan Sari Jeruk gelas. Lalu. ”Jeruk seribu. Terjadi sedikit dialog dan terjadilah transaksi antara segelas Aqua dan sekeping uang logam lima ratus rupiah. Ini adalah tafsiran yang terbersit secara reflek dalam benakku. muncullah seorang penjual pulpen yang menawarkan . Badan yang bungkuk dan dekillah yang pertama kali tampak oleh penghilatanku saat ia berpindah dari lantai ke bangku yang kosong disebelahku. Tak lama setelah itu. Yang dijawab dengan senyuman sedikit bingung oleh sang penjual. lima ratus. Keingintahuanku berkembang pada karakter yang dibawa oleh seorang tua ini. ”Terima kasih!” kata sang orang tua. Hanya senyum cengegesan yang diperlihatkannya untuk merespon ucapan orang tua tersebut. Dan mulai kulakukan monolog dengan diriku adakah alasan untuk berpindah tempat duduk hanya karena penampilan seorang tidak sesuai dengan keinginan kita. Aqua. jeruk seribu!” ”Aqua!” kata seorang tua tersebut. Sesaat ingin kugeser pantatku menjauhinya melihat penampilannya. Tapi hati nurani dan otakku merespon menghalangi refleksku. Apalagi diucapkan oleh seorang tua yang terlupakan. Lalu minumlah dengan nikmat orang tua tersebut. Dan berhentilah sang penjual mendekatinya. Mungkin sudah langka pada jaman sekarang ucapan tersebut. Dicobanya melongok keluar beberapa kali tanpa mengindahkan kemudian ia kembali ke bangku yang berseberangan dan bergabung kembali dengan teman-temannya. lima ratus!” katanya.507 Serentetan kata-kata lain keluar dari mulutnya untuk memperingatkan murid SMP tersebut agar tidak mencoba untuk melihat-lihat keluar dan bergelantungan pada pintu kereta. dan mulai kuamati dirinya. Lalu orang tua tersebut menggerundel beberapa perkataan dan kemudian diam.

Setelah mengeluarkan dompetnya.508 BAGIAN 9. Kuberikan kepada mereka sekeping uang lima ratus rupiah. Seorang tua dengan kulit kusam gelap dan berminyak berdebu. di kantong ada. Di saat itulah untuk pertama kalinya dapat kuamati sosoknya dari depan. Nggak perlu ngamen. Mau makan bisa!” ”Banyak entu orang istri ngamen.” kata sang pedagang dengan penuh harapan. Nggak ngamen. Di kampungnya. Bapak sih nggak sampe apa lagi minta-minta!” .” ”Tapi bapak masih kerja. ”Bapak tinggal sendiri. dibayarlah pulpen tersebut oleh sang orang tua. ”Dari pada bengong di rumah mendingan jalan. Sebelah matanya yang picak dan giginya yang jarang menambah kuat kekerasan hidup yang dijalaninya.” katanya dengan suara yang kurang jelas. ”Nggak ada sodara. Harga yang sesuai dan bentuk pulpen yang menarik membuat sang orang tua tertarik untuk kemudian memanggil sang penjual pulplen. ”Rejeki itu dari Tuhan. KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU barangnya seharga seribu rupiah. Wajah yang dipenuhi dengan kerut-kerutan kekerasan hidup. Simpatiku untukmu orang tua di Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. ”Ya. di rumah!” katanya dengan sedikit tajam. Kali ini cara menjajakan barang dagangannya hanya dilakukan dengan berbicara. Tadi masih muda-muda udah ngamen. Dua setengah kali lebih mahal. Begini-begini kerja dibayar orang. Ternyata kemudian perbuatanku inilah yang membuat seorang tua tersebut bercerita lebih banyak tentang dirinya. suami enak-enakan nggak kerja. seribu.” katanya. pulpen seperti itu dapat dihargai dua ribu lima ratus rupiah. Tidak dibagi-bagikan sebagaimana halnya pedagang sebelumnya. Suasana hening yang hanya dihiasi oleh bunyi kereta dipecahkan oleh munculnya sepasang pengamen menggunakan seperangkat alat karaoke. Nggak ada istri. ”Satu seribu?” tanyanya antusias. Mampang. Kalau duit sih cukup. kalo mau kerja pasti dapat. Dan kemudian ia mulai bercerita kepadaku mengenai murahnya pulpen tersebut. Aku hanya tersenyum saat mendengarnya.

seorang tua dalam hari kedua. Dasar inilah yang membuatnya tetap bekerja dengan tidak merendahkan diri. Hari Kedua Pertemuan hari kedua lebih sederhana. Saat kuberikan tempat dudukku kepada seorang ibu dengan anak dalam gendonganya. Tak terasa sampailah kereta di stasiun akhirnya. Proses mencari uang juga dipikirkannya. ”Terima kasih. Akhirnya kuperoleh sebuah tempat duduk dihadapan seorang tua. Entahlah. Bersyukurlah diriku. kuputuskan untuk pindah gerbong dan mencari tempat duduk lain serta mencari suasana baru. Akhirnya sampailah kereta tersebut di Stasiun Bogor. Mungkin saja ia sedang mengalami masa-masa sulit sehingga harus merokok seperti itu. Akan tetapi banyak hal yang akhirnya membuatku terdiam dan hanya berharap di dalam hati agar ia menghentikan kegiatannya tersebut. Sayangnya. menurutnya. Dan kemudian terkantukkantuklah aku dan akhirnya tertidur. Kulihat ia tersenyum sekilas di sudut mataku. ia tengah merokok suatu merek yang amat tidak menyenangnkan aromanya. Ternyata di hati seorang tua. Sesaat sebelum turun. Aku terkejut dan tersenyum seraya berkata. Atau hanya rokok dengan jenis seperti itu yang dapat dimilikinya. masih terdapat harga diri mengenai jenis pekerjaan yang dilakoninya. pamitlah aku padanya. Pak!” Lalu kami terdiam. Ingin kuminta dirinya untuk menghentikan kegiatannya. Semoga sukses dan selamat selalu seorang tua dalam Kereta Ekonomi Jakarta-Bogor. . walaupun mungkin secara sederhana saja. Akhirnya pada suatu stasiun dimatikanlah rokoknya tersebut setelah habis dihisapnya. dan dibangunkanlah aku oleh dirinya. ”Mari pak!” kataku sambil tersenyum.509 Kujawab dengan senyum dan anggukan serta ucapan. ”Bagus. Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya. Uang bukanlah tujuan akhir. Ia kembali dalam lamunannya dan aku dalam lamunannya mengenai kebanggaan diri seorang tua mengenai pekerjaan yang dipilihnya. Amin. akan tetapi terbersit suatu hal. Pak!” Ternyata terdapat sisi lain dirinya yang masih memperhatikan orangorang di sekelilingnya. sang orang tua.

Deshalb muss ich viel Geld sparen. Ich wollte den Laden in ein kleines Restaurant machen. obwohl man viele Fehler macht. biasa saja. Dann habe ich einen kleinen alten Laden um die Ecke zwischen Erstenstraen und Zweitenstraen gekauft. Banyak kata-kata yang tak kumengerti. Ich wolte gern ein Schriftsteller werden und mchte es noch immer. Aber heute ee ich lieber Suppe. Meine Mutter a gern Salat und Gemse.510 BAGIAN 9.. Das was letztes Jahr. Ein Problem hatte ich und ich konnte dafr keine Lsung finden. Gemse. Fleisch und Fisch). Dann habe ich in einem Buch in einer Buchhandlung gelesen. Seit dem habe ich mich an ein kleines indonesisches Restaurant erinnernt. Danach habe ich diese . KISAH-KISAH ANTAR RUANG DAN WAKTU **Kolaborasi dengan Dancewith – 2003-08-22 ”Hmm. Und dann habe ich mit meinem Freund darber diskutiert. um ein kleines Restaurant zu machen.” gumam pemuda itu. Jedes Wochenende ee ich Salat und Obst. Dort habe ich zum ersten Mal gutes orientalisches Essen gegessen. Zum ersten Mal habe ich hier diese Geschichte geschrieben. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-03 Ein Schriftsteller werden mchten Ein heier Tag war es. Manchmal ee ich Fisch und Fleisch. misalnya saja ’komuter’. Das ist mein Traum. aber main Vater a nur Fleisch und Fisch. weiter zu screiben.” Ein kleines Restaurant Damals ging ich als kleines Kind mit meiner Familie ins Restaurant. Aber heute habe ich kein Geld. aber ich konnte noch keine richtige Gramatik und keine richtigen Wrter auf Deutsch schreiben. Brot und Kartoffeln. da man immer wieder schreiben soll.. Deshalb a ich alles (Salat. Ich bin schon mal in ein indonesisches traditionelles Restaurant gegangen. Schon lange hat es nicht geregnet. Das has mich den Mut gegeben. ”Mungkin sebaiknya kubaca lebih lanjut.

Und dann sehe ich heute. denn die Mlleimer sind schwer zu finden. Ich bin zu mde. Finden Sie auch? **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-10-06 Tiga kisah pendek dengan cepat dibaca pemuda itu.511 Geschichte geschrieben. deshalb steige ich in diesen Zug ein. finde ich. Bertepuk Sebelah Tangan ”Terinsipirasi dengan Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto :p . Ich denke. Ich habe schon den Name des Schriftstellers von dem Buch vergessen. da jede Leute saubere Stadt leben. Di banyak negara diberi nama berbeda. Boleh setuju boleh juga tidak. aber an seinem Rat erinnere ich mich noch immer. obwohl er schon voll ist. da die Leute fast immer irgendwo M werfen.di mana dalam novel ini terdapat jurus Tepukan Satu Tangan yang merupakan pemahaman Eyang Sepuh terhadap Kitab Bumi. Aber sie haben nicht immer Schuld daran. di mana satu tangan lebih terdengar daripada dua tangan. Sie machen die Umgebung schmutzig. Cepat karena ia tidak mengerti bahasa yang dituliskan. Pasrah diri secara total” Cinta adalah masalah yang memusingkan. Ich danke ihm fr diesen Rat. Semua tahu orang dan mengerti mengenai cinta akan tetapi sekaligus semua orang tidak mengerti bagaimana cinta itu sebenenarnya. Banyak contoh mengenai hal ini dan rasanya tidak perlu disebutkan satu per satu bukan? . Die Gemeinde soll mehr Mlltonnen machen. Es ist hei und feucht. Bukankah hal ini menjadi suatu paradoks? Mungkin. Akan tetapi hal itulah yang dapat dikatakan. **Zusammenarbeit mit Gnud D – 2003-09-27 Die Ml