P. 1
Pendidikan Moral Anak

Pendidikan Moral Anak

|Views: 864|Likes:
Published by Maskani

More info:

Published by: Maskani on Feb 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

Pendidikan Moral Anak

MEMBENTUK moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng dan berdiskusi antara orangtua dan anak ini dapat dilakukan di rumah.

Anak tentu saja menjadi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bisa jadi anak yang telah dibesarkan dan dididik sebaik mungkin, menjadi anak yang tidak mengerti nilai-nilai moral dalam kehidupan.

Kondisi tersebut tentu saja mengecewakan karena apa yang sejak dini ditanamkan, hilang begitu saja. Padahal, membentuk moral anak bisa dilakukan sejak dini, bahkan ketika anak memasuki tahun pertama usianya.

Hal tersebut terungkap dalam seminar pendidikan dan parenting bertajuk Education in the Changing World, di Kemang Village, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Hadir sebagai pembicara, Kepala Sekolah Pelita Harapan (SPH) Brian Cox M Ed dan Koordinator Sekolah SPH James T Riady.

Selain dua pembicara tersebut, seminar juga dihadiri oleh Pendiri Layanan Konseling Keluarga dan Karier Roswitha Ndraha, Sport and Arts Director Universitas Pelita Harapan Karawaci Stephen Metcalfe BA, dan Rektor Universitas Pelita Harapan Jonathan Parapak. Berbagai topik seminar diangkat dengan tujuan memberikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia.

Seperti diungkapkan James T Riady, yang membawakan makalah bertajuk Youth with a Vision. Dalam makalahnya, dia banyak menyinggung tentang perkembangan moral anak yang tidak saja didapatkan di sekolah.

"Pengetahuan yang tinggi, tidak menjamin seseorang bisa memiliki moral yang baik. Namun, ketika anak-anak memiliki moral yang baik, otomatis mereka bisa menilai mana pendidikan yang baik dan buruk," papar James. Peran orangtua dalam mempersiapkan anak-anak yang memiliki visi dan masa depan, menurut James, sangatlah penting. Lewat orangtua, anak-anak belajar segala sesuatu.

"Pendidikan formal berfungsi melatih anak-anak untuk memperbaiki lingkungan sekitarnya. Sedangkan dengan pengetahuan moral, anak-anak diajak berpikir dan membangun etika dan karakter dirinya yang baik," tambah James dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Harapan Kita itu.

Sedikit berbeda dengan James, peserta seminar yang juga pengajar di Jakarta, William Pakpahan mengatakan, pendidikan moral untuk anak-anak bisa dilakukan di rumah, bisa dengan membahas buku-buku cerita bersama orangtua, membaca kitab suci ataupun mendongeng.

"Saya memang seorang pengajar, namun saya tidak yakin di sekolah-sekolah formal anak bisa mendapatkan pendidikan moral yang benar-benar bisa menjamin anak kita menjadi anak yang baik," kata pengajar yang juga ayah tiga putra ini. Karena itu, lanjutnya, ketika berkumpul dengan anak-anak saya di rumah, saya menanamkan nilai-nilai moral dengan menceritakan kisah-kisah dalam kitab suci.

Menanamkan pendidikan moral untuk anak-anaknya juga dilakukan William dengan sesering mungkin mengajak anak-anaknya yang masih belia mengunjungi panti-panti asuhan, panti jompo, hingga memberikan sumbangan untuk anak-anak jalanan.

''Pernah suatu waktu anak saya bertanya, mengapa banyak anak kecil menyanyi di lampu merah. Setelah itu, untuk mengetuk hatinya dan menggugah rasa simpatinya, saya mengajak anak saya untuk melihat lebih dekat bagaimana anak-anak kecil itu mencari sesuap nasi," terangnya.

Mengajak anak langsung menyaksikan kejadian sehari-hari yang membuatnya trenyuh, ternyata sangat mengena di benak anak-anak William. "Sejak itu, mereka tidak pernah lagi membuangbuang nasi ketika makan," tutur William. Dari pengalaman tersebut, William berkesimpulan bahwa pendidikan moral harus bisa dipraktikkan pada anak-anak, dari rumah hingga di lingkungan sekitar, termasuk di jalanan.

Tahap Perkembangan Moral Anak

1. Perkembangan kuantitas menuju kualitas Ketika anak mulai mengenal larangan orangtua, anak cenderung menilai dosa atau kesalahan

Bila perkembangan moral anak berjalan baik. 2.berdasarkan besar-kecilnya akibat perbuatan yang ditimbulkannya. Bila perkembangan moral anak berjalan baik. anak akan melakukan perbuatan berdasarkan prinsip moral yang dimilikinya. ataupun mengajak teman-temannya untuk berbagi boneka kesayangan. anak tidak memperhitungkan unsur motivasi.com/2010/02/pendidikan-moral-anak.blogspot. Pada tahap ini. Tujuan suatu perbuatan adalah kesenangan pribadi dan kenikmatan. anak menganggap bahwa menjatuhkan beberapa gelas secara tidak sengaja lebih besar dosanya daripada menjatuhkan satu gelas secara sengaja. Ketaatan mutlak menuju inisiatif pribadi Pada mulanya seorang anak akan menaati apa yang dikatakan orangtuanya. barulah pada usia yang lebih dewasa. Misalnya dengan membagi permen yang dimilikinya. teriakan ?'curang'' sewaktu anak bermain akan terdengar keras ketika peraturan bersama ini dilanggar. ia mulai memahami bahwa kualitas suatu perbuatan harus diperhitungkan dalam menilai benar-salah. Bukan itu saja. Sebaliknya. 3. Inilah kesempatan terbaik orangtua untuk mengajarkan apa yang harus diajarkannya karena masa ini akan cepat berlalu. orangtua pun seharusnya terikat dengan peraturan yang mereka tetapkan bagi anak-anaknya. individu dapat melihat kepentingan orang lain dalam melakukan tindakan moralnya. Karena itu. Anak juga sangat peka terhadap ketidakkonsistenan orangtua bila orangtua melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkannya. Anak tidak mudah lagi dipengaruhi lingkungannya. pada usia remaja akhir anak telah memiliki prinsip moral yang menjadi miliknya pribadi dan yang mengarahkan tingkah lakunya.html . Misalnya. anak akan lebih terikat dengan perjanjian-perjanjian. Bagi mereka. Setelah itu. Baru pada usia yang lebih besar. Kepentingan diri menuju kepentingan orang lain Tahap awal perkembangan moral anak adalah egosentris karena anak masih memusatkan perhatian pada dirinya. http://longlifeducation. pengorbanan kepentingan diri dapat dilakukan demi kesejahteraan teman-teman sebayanya. Pada tahap awal perkembangan moral. anak akan bermain dengan peraturan yang dapat diubah sesuai perjanjian sebelumnya.

sejak saat itu anak-anak di desa itu mendapatkan yang terbaik untuk kebutuhan mereka.tengahnya( mengalami menjadi orang tua). Akan tetapi seringkali terjadi adalah kebalikan dari hal itu. kemudian seringkali diartikan sebagai ‘permasalahan’ orang tua dan anak. dengan ditambah sedikit bekal dari pengalaman yang diberikan orang tua dulu. Sang Raja berkata “Apa yang kalian lakukan selama setahun ini adalah memang selayaknya kalian lakukan sebagai orang tua…. Hubungan yang seharusnya mampu menyenangkan kedua belah pihak. Dengan harapan akan bahwa anak mereka akan terpilih menjadi pangeran/puteri yang di janjikan sang raja.MENANAMKAN MORAL KEPADA ANAK USIA DINI BABI PENDAHULUAN 1. Ketika semua rakyat berharap akan mendapatkan anaknya terpilih sebagai puteri/pangeran. seolah orang tua dihadapkan pada dirinya sendiri. Kalian memberikan yang terbaik bagi anak-anak kalian …Karena memang sebenarnya setiap anak adalah pangeran dan puteri yang berhak mendapat semua yang terbaik bagi kebutuhan mereka…! Selamat dan terima kasih aku ucapkan atas yang telah kalian lakukan bagi anak-anak kalian. baik orang tua maupun anak. Dengan segala pertanyaan besar di benak setiap orang tua. semestinya adalah sebuah hubungan yang manis. kesehatan dan penampilan anak-anak mereka. sebagai orang tua memang harus bersedia untuk selalu berbuat yang terbaik. karena anak-anak secara sederhana adalah merupakan cermin dari orang tua. menambah beban yang ada. dengan terus memperkaya diri kita demi anak-anak. indah dan menyenangkan. seperti apakah yang terbaik? Benar memang. yaitu dengan cara menjanjikan akan mengadopsi dua orang anak (putera dan putri) yang akan dijadikan pangeran dan puteri raja kelak dari kalangan suatu desa terpencil. semua warga desa sibuk mempersiapkan anaknya dan serentak berlomba. Satu hal terberat saat menghadapi anak-anak adalah. Hubungan orang tua dengan anak. Satu tahun berlalu ketika sang raja kembali ke desa tersebut. Yang jelas. Melihat kisah di atas. tidak pernah ada sekolah khusus bagi untuk mendidik orang menjadi orang tua. akan berhasilkah mereka mendidik anakanaknya? Apakah hasil dari didikan mereka nantinya? Apalagi jika berpikir tentang pendidikan moral bagi anak-anak. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan mendorong perkembangan moral anak-anak kita agar bergerak kearah yang lebih baik. sesuatu yang mampu membuat dada terasa lega dan senyum cerah tersungging dibibir saat megingatnya.1. Oleh karena itu . Hubungan.. dan membuat orang tua seolah tidak berdaya karena ketidak mampuan orangtua untuk menyiasatinya. Karena hubungan orang tua dan anak adalah hubungan kasih sayang.. LATAR BELAKANG Kisah seorang raja yang hendak mendidik warganya agar dapat mendidik anaknya dengan baik.Sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak-anak terbaik dan harapan terbaik bagi Negara ini. Semuanya mesti dipelajari dengan berada ditengah. hubungan yang tidak terbatas. lebih memperhatikan pendidikan. Adalah hubungan yang kenyataannya lebih sering memusingkan kepala. dengan memberi tenggang waktu satu tahun untuk mempersiapkan anak-anak tersebut.

anak akan menaruh perhatiannya pada harapan-harapan social yang ada di sekitarnya. Dibutuhkan kesabaran orangtua untuk memahami perkembangan moral sebagai proses panjang dan tidak pernah berhenti dalam kehidupan seorang manusia. dapat dipercaya.1. maka makalah ini akan mengawalinya dengan memahami makna moral terlebih dulu.sudah selayaknya jika setiap orang tua selalu berupaya untuk belajar. maka anak akan terlihat sangat patuh dan berbuat baik untuk menghindari hukuman. setiap orang tua hendaklah memahami hal hal seperti. maka.” Ketika orang berbicara tentang nilai-nilai moral. berempati.3. nilai-nilai moral akan terlihat dari mampu tidaknya seorang anak membedakan antara yang baik dan yang buruk. • Tingkat kedua dikenal dengan Conventional Tahap 3: Good Boy Nice Girl Morality Dalam tingkat ini anak lebih memfokuskan diri pada apa yang diharapkan oleh orang lain (keluarga atau kelompok lain seperti sekolah). setia kawan. tergantung apakah itu memuaskan keinginannya atau tidak. mengenai apa yang baik atau benar dalam cara hidup seseorang. pada umumnya akan terdengar sebagai sikap dan perbuatan seseorang terhadap orang lain. yaitu. BABII KAJIANTEORI 2. Pada tahap ini anak sudah mulai tidak egosentris lagi. anak akan mulai dapat membedakan akibat fisik (Jika hukuman fisik terpaksa dilakukan orang tua. • Tingkat pertama dikenal dengan Preconventional Morality Tahap 1: Obedience and Punishment orientation Dalam tingkat ini anak cenderung menghindari hukuman. Salah satu tokoh yang menekuni masalah perkembangan moral adalah Kohlberg. PERUMUSAN MASALAH Melihat latar belakang permasalahan. ramah.” moral berkenaan dengan norma-norma umum. 1. hanyalah beberapa ciri-ciri yang dapat ditemui pada orang-orang yang dianggap memiliki nilai-nilai moral yang baik. Jujur. lembut. Biasanya tingkat dan tahapan ini ditemui pada usia anak dibawah 10 tahun. penuh kasih. menghargai orang lain. Anak akan bertindak tertentu karena menganggap prilaku itu baik untuk keluaga atau kelompoknya. TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL MANUSIA Dan anak-anak mengembangkan nilai-nilai moral ini secara perlahan dan melalui beberapa tahapan tertentu. yang akan di bahas dalam kajian teori. dan belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik.” Saya akan mengerjakan PR kalau nanti malam boleh nonton TV”. Tahap 2: Naïve Hedonistic and Instrumental Orientation Dalam tahap ini. bersahabat. baik hati. serta lebih lengkapnya akan dibahas dalam bab pembahasan masalah. misal memukul pantatnya).2. anak berkata. belajar. . Disini pemikiran anak mengenai benar atau salah belum jelas. nilai. DEFINISI MORAL Jika istilah moral didefinisikan akan berbunyi. dermawan. ada (3) tingkatan perkembangan moral anak. ceria. • Bagaimana anak belajar membedakan yang benar dan yang salah? • Bagaimana cara mengajar anak menjadi manusia yang lebih enhance (meningkatkan kualitas kehidupan) daripada disminish (menurunkan) kualitas kehidupan dalam masyarakat? • Bagaimanakah cara orang tua menyampaikan kepada mereka sebuah kepekaan moralitas. 2. Misalnya. Pada anak-anak. bahwa setiap orang tua diharapkan banyak belajar demi keberhasilannya dalam mendidik putera-puterinya terutama dalam hal pendidikan moral bagi anak. tanggung jawab social? Untuk mejawab semua pertanyaan diatas. dan masing-masing tingkatan memiliki (2) tahapan. Dan dalam tahap ke 3 ini. Menurut teorinya. Misalnya tidak akan bermain jauh karena akan dimarahi orang tua.

3. berlaku adil dengan anak. 3. Masing-masing tahap membawa anak menjadi lebih dekat dengan kematangan perkembangan moralnya.3. Anak mengembangkan moralitas secara gradual dan bertahap. ini berarti memberikan anak sebuah perasaan bahwa orang tua mempertimbangkan sudut pandang anak. dan keadilan yang orang tua harapkan dari anak.2. jika orang tua mengharapkan penghargaan dari anak. • Tingkat ketiga disebut dengan Post Conventional Dalam Tingkat ini anak sudah mengerti aturan social yang ada. B A B III PEMBAHASAN 3. Tidak ada hal lain yang lebih terpatri dan menggores lebih dalam di dalam benak anak-anak selain contoh perilaku orang tua atau orang dewasa lain disekelilingnya. Mengajarkan Dengan Contoh Sebuah cara paling pasti untuk membantu anak mengubah pemikiran moral mereka ke arah prilaku moral yang positif adalah mengajari mereka dengan contoh.1. Dan peranan orang tua dalam setiap perkembangan moral anak tentu sangat penting karena anak akan selalu butuh bimbingan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Tindakan dalam tahapan ini sebagai keputusan kata hatinya .1. Disiplin harus benar benar mendapat penghargaan dan merupakan contoh bentuk pengendalian. Menghargai Anak Dan Mengharapkan Penghargaan yang Serupa Dari Mereka. Karena moralitas adalah jalan dua arah. . Dan menciptakan sejumlah penghargaan bagi tercapainya kematangan tahap perkembangan anak. karena anak selalu dapat belajar dari apapun yang orang tua lakukan. berarti memperlakukan mereka sebagai seorang manusia. Moralitas Adalah Penghargaan Orang tua perlu menghargai anak dan mengharapkkan penghargaan yang serupa dari anak.yaitu. anak menganggap nilai moral baik atau buruk merupakan suatu kewajiban dengan tujuan menjaga keseimbangan dan ketertiban masyarakat. Tingkat dan tahapan ini terjadi pada anak usia 10-21 tahun.Tahap 4: Authority and Morality Dalam tahap ini. terlebih dahulu yang harus dipahami adalah beberapa prinsip dasar tentang moral. Tahap 5: Social Legality Dalam tahapan ini.1.1. penalaran moral sudah merupakan kata hati/ rilekunya sehari hari. kelembutan. Memperlakukan anak dengan penghargaan. PRINSIP-PRINSIP DASAR TENTANG MORAL Sebelum sampai pada cara-cara bagaimana mengajarkan moral kepada anak. jika sesuai ia akan mengikuti aturan tersebut dan sebaliknya.1. maka orang tua harus sangat berhati-hati dalam menjalani kegiatan mereka sehari hari. Maka anak-anak akan belajar mendengarkan pula. Namun teori Kohlberg diatas tentu bersifat dinamis. Mendengarkan pun adalah sebuah contohsalah satu cara menyampaikan nilai-nilai kepada anakanak adalah dengan mendengarkan mereka. Orang tua mengajarkan penghargaan bagi semua orang dengan contoh-contoh langsung (dalam menghargai orang) yang orang tua berikan. Tahap 6: Morality of individual principles and Conscience Dalam tahap terakhir ini. Namun yang menjadi masalah adalah tidak setiap orang tua mampu atau mengetahui/memahami bagaimana cara mengkomunikasikan moral kepada anak. anak akan menentukan apakah aturan tersebut sesuai dengan moral atau tidak. Tahap-tahap ini adalah perasaan yang baik dan buruk yang terus ada sejak masa anak-anak hingga dewasa. tidak statis dan tergantung pada banyak faktor. 3. dalam pembahasan akan dibahas mengenai bagaimana orang tua dapat mendidik anak dan dapat mengembangkan moral anak dengan baik. Maka berdasarkan teori perkembangan moral anak.

Jika anakanak merasa ‘terhubung’ dengan keluarga. antara tetap berpegang dengan sayap yang mereka miliki.1. Membuat variasi kebersamaan dengan anak. akan membuat anak mempercayai orang tua serta menjadikan orang tua sebagai satu-satunya tempat anak mencurahkan segalanya. 3.1. namun hal itu tidak cukup. Membantu Anak Belajar Berpikir.3. Yaitu berpikir untuk mereka sendiri. menciptakan jalan yang lebih baik melalui tahap-tahap pemikiran moral daripada anak-anak yang tidak banyak berpikir. Salah satunya adalah dengan meluangkan waktu untuk anak. Hal ini akan sangat membantu anak untuk memahami prinsip-prinsip yang diajarkan melalui sikapsikap dalam tokoh cerita. Memupuk Perkembangan Moral dan Menciptakan Keluarga Yang Bahagia Membantu anak tumbuh dengan moral yang baik dan menciptakan keluarga yang baik adalah benar-benar hal yang sama. Orang tua yang melewatkan waktu bersama anak secara kuantitatif dan kualitatif sebaik mereka mencintai anak-anak mereka. atau menjaga adik. Orang tua dapat membantu perkembangan moral anak dengan member mereka dorongan yang konstan untuk berhenti sejenak dan berpikir. akan memiliki anak-anak yang mempunyai level perkembangan moral yang tinggi. Sempatkan waktu membacakan cerita-cerita rakyat yang dapat dijadikan ilustrasi suatu nilai moral.1. berarti orang tua melakukan hal yang lainnya. 3. Seimbangkan Antara Kemandirian Dan Kontrol Yang di Berikan Anak-anak membutuhkan batasan dalam kemandirian.1. Caranya. membuat anak menjadi tidak disiplin. dan untuk mengambil keadaan/kondisi orang lain sebagai bahan pertimbangan. 3.8.4. 3. Mengajarkan Dengan mengatakan Meski penting mengajar anak dengan contoh. Biarkan mereka kerjakan sendiri tugas-tugas sekolahnya. Anak-anak yang lebih banyak berpikir akan lebih banyak mendiskusikan isu-isu moral. mintalah pada anak untuk berpikir dan merefleksikan diri.1. JIka orang tua melakukan salah satunya. maka anak-anak membutuhkan kata-kata orang tua seperti halnya anak membutuhkan contoh dari orangtua.7. atau menciptakan sesuatu yang membahagiakan keluarga. karena anak hanya akan menganggap hal itu sebagai hiburan tanpa nilai. Mencintai anak-anak bukan berarti memanjakan mereka dan merusak konsep diri yang positif dari anak.5. Terlalu banyak kontrol dari orang tua menyebabkan anak berontak dan akan melakukan apa saja untuk mendapat sedikit kebebasan. Jangan biarkan anak menonton film sendirian tanpa ada interaksi bertukar nilai-nilai.Jika orang tua bersikap lebih demokratis maka perkembangan moral anak akan terkontrol dengan lebih baik. Tanyakan padanya bagaimana kalau hal ini terjadi padanya? Berikan anak wakt untuk merefleksikan diri atas perilakunya. Cintailah Anak Dan Bantu Mereka Mengembangkan Konsep Diri Positif Cinta dan kasih sayang orang tua membantu anak menangkap nilai-nilai dan peraturan orang tua. 3. akan membuat anak-anak selalu teringat bahwa kebersamaan adalah bentuk cinta kasih. atau memelihara hewan peliharaan. Hal ini cukup rumit. Bagi anak yang terpenting bukan ceritanya. membuka mata hati dan telinga untuk anak.1.6. namun kedekatan dengan orang tua. Karena anak di kelilingi dengan contoh yang buruk juga. Namun dengan kebabasan yang melimpah . mereka akan mendapatkan kemudi yang membantu . Membantu Anak Memikul Tanggung Jawab Nyata Upayakan agar anak ikut memikul tanggung jawab tugas di rumah dan dorong mereka agar dapat menyelesaikanya.7.

Mengutip Robert Coles tentang kecerdasan moral “Kecerdasan moral tidaklah dicapai hanya dengan mengingat kaidah dan aturan. KOMUNIKASI MORAL SEBAGAI PROSES MENGEMBANGKAN MORAL ANAK Berbicara mengenai moral. yaitu keluarga maupun lingkungan luas di sekitar. . Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang abstrak utnuk dikatakan dengan cara apapun. Selain itu menyusun sebuah aturan tentang perilaku yang diharapkan dan yang dilarang juga akan membantu anak. Interaksi atau hubungan timbale balik satu sama lain adalah kebutuhan hakiki manusia. Dan orang tua harus selalu ingat tingkat perkembangan anak agar tidak mengharapkan lebih dari kemampuan yang dimiliki anak atau membanjiri anak dengan daftar aturan yang panjang. pasti akan berpikir bagaiman cara menerangkannya pada anak-anak. Komunikasi yang efektif adalah kooperatif Lebih dari sekedar mendiktekan harapan yang ada kepada anak. 3.2. tatacara ini diwujudakan dalam bentuk nilai-nilai yang disepakati bersama. Moral akan tumbuh dengan mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain. tidak melalui kata-kata namun dengan seluruh pengalaman hidupnya. Hal-hal diatas merupakan komunikasi yang jelas dan mudah dipahami oleh anak.I. hanya dengan diskusi abstrak di sekolah atau di dapur. Manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya untuk mengisi dan melanjutkan hidupnya.2. Anak-anak melihat dan kemudian membuat imajinasi dalam pikirannya. Nilai-nilai moral untuk tingkatan anak-anak adalah membedakan baik dan buruk.mereka bertahan pada sebuah jalur yang bertanggung jawab dalam menghadapi tekanan dalam kehidupannya. aau menuntut hal-hal tertentu. yaitu nilai-nilai moral. Imajinasi dalam pikiran anak. Dalam waktu tak terbatas orang akan selalu mengkomunikasikan moral. termasuk dalam membangun moral.2. Memahami Makna Komunikasi Komunikasi pada dasarnya adalah suatu proses saling berbagi informasi antar semua mahluk di dunia. dan diolah dalam hati mengenai baik buruknya” Orang tua sebaiknya tidak tergesa-gesa dalam member pemahaman kepada anak. misalnya dari teman sebaya. Ada beberapa hal mengenai cara berkomunikasi secara efektif dengan anak: Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang jelas Orang tua terlebih dulu perlu untuk mendefinisikan harapan-harapan orang tua bagi anak anak. akan membantu anak untuk mengingat perilaku yang orang tua harapkan. sehingga membantu proses kemampuan anak untuk mampu merenungkan dan mengolah sesuai dengan kemampuan penangkapannya. komunikasi Yang efektif Komunikasi adalah kunci semua aspek dalam keluarga. bahwa suatu tindakan itu benar atau salah memerlukan suatu pengalaman langsung yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung. 3. karena pada dasarnya manusia adalah mahluk social. bagaimana berperilaku di dunia ini. Proses terjadi sejak pada linkungan terkecil. Perlu diingat pembentukan watak memrlukan waktu bertahun-tahun. pelajaran apa yang ditimbulkan oleh tindakan yang kita lihat dan kita dengar. Dengan menetapkan hal-hal rutin atau prosedur spesifik bagi perilaku tertentu seperti mengerjakan tugas-tugas di rumah atau bersiap-siap untuk pergi tidur.2. 3. dan anak biasanya belum mampu menterjemahkan kata-kata verbal. Diperlukan tata cara hidup yang diperlukan agar tidak saling merugikan satu sama lain.

anak-anak adalah saksi yang selalu memperhatikan moralitas orang dewasa atau tiadanya moralitas orang dewasa. Mengemas pesan moral dalam kalimat sederhana dan menarik perhatian anak. Komunikasi yang dimaksud disini bukan hanya saling memberi informasi atau sekedar menceramahi nilai-nilai moral denga kata-kata. Komunikasi efektif harus lengkap Lengkap dalam arti anak tidak hanya tahu apa yang harus dilakukannya.3. seakan-akan orangtua adalah bagian dari pesan itu.2. sehingga makna yang dimiliki dapat dimaknai bersama. Moral tidak cukup hanya diinformasikan. akan tetapi juga alasan mengapa mereka melakukannya. Ada umpan balik didalamnya yang saling berinteraksi antara orang tua dan anak. anak sangat konkre dalam pemikiran. 3. menggunakan media yang tepat. malaksanakannya dan meyakini hal itu sebagai hal yang baik dalam hidupnya. Dan dalam ini kebaikan hati orang dewasa cukup menentukan nasib mereka selanjutnya. Komunikasi yang efektif harus konkret Sampai menginjak masa remaja. Hal ini berarti orang tua tidak hanya mengatakan kepada anak tentang perilaku yang diharapkan akan tetapi juga mengapa perilaku tersebut penting.4. Yaitu orang tua mampu merendahkan hatinya untuk memahami pikiran anak? Pikiran anak kadang berbeda dengan apa yang orang tua bayangkan karena rentang usia dan pengalaman hidup. orang tua akan dapat menjadi komunikator yang baik. dia adalah subyek yang sedang mencoba menghayati nilai-nilai. Sebenarnya proses komunikasi adalah proses berbagi nilai-nilai. Mereka kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Hal terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah pengkomunikasian alasan tentang perilaku yang diharapkan. serta mencari media lain yang bervariasi. Oleh karena itu Orang tua harus menggunakan contoh konkret untuk memperjelas harapan orang tua kepada anak. Salah satu kegagalan dalam membagikan nilai-nilai moral adalah orang tua tidak memperhatikan unsur-unsur komunikasi. diantaranya adalah bahasa tubuh dan tatapan mata orang tua adalah media yang menarik perhatian anak. Komunikasi dua arah tidak cukup untuk menjamin keberhasilan proses transformasi nilai apabila tidak terjadi proses dialog yang setara antara anak dengan orang tua. Misalnya menyusun tugas. Orang tua harus meluangkan waktu untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari bersama anak. Bukan seperti hubungan yang atas dengan bawah . bersahabat tidak berjarak. yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah menggunakan pendekatan komunikasi yang manusiawi? Karena pada dasarnya orang tua dan anak mempunyai kedekatan yang sangat manusiawi. Anak Bukan Obyek Tetapi Subyek Anak bukan obyek sasaran yang dapat dicekoki dengan berbagai nasihat moral. anak-anak melihat dan mencari isyarat bagaimana orang orang berperilaku” (Robert Coles) 3. “Anak anak merupakan saksi. Komunikasi Moral Yang Manusiawi Setelah memahami makna komunikasi.Komunikasi efektif berarti Berbicara kepada anak. tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut didialogkan secara horizhontal seperti halnya dua teman yang saling berbagi.2.tugas di rumah atau membuat aturan di rumah. komunikasi yang bersifat dua arah adalah dengan membiarkan anak mengambil bagian dalam pengambilan keputusan.

anak-anak akan meyakininya bahwa tindakan itu baik dan pantas ditiru. ACTION DO SPEAK LOUDER THAN WORDS Memilih bagaimana harus berperilaku. Mempertimbangkan Proses Menangkap Pesan Moral Pada dasarnya suatu proses komunikasi moral bertujuan mengembangkan perilaku anak menjadi manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan social masyarakatnya. akan sangat mempermudah. 3. Setelah menyadari anak akan melakukan perbuatan tersebut. Pada awalnya anak baru sampai tahap meniru atau imitasi. Anak cenderung cepat frustasi bila merasa tidak bisa. Orang tua perlu mempertimbangkan tahapan dimana proses komunikasi moral sedang berlangsung. Contoh-contoh konkret dari orang tua cara melakukannya untuk ditiru pada awalnya . anak biasanya mengetahui dari apa yang dia lihat dan dia dengar.2. sebagai orang tua.3. perlu kehati-hatian dan kesabaran orang tua untuk mengembangkan wawasan mengenai anak dan pengembangan moralnya. Apabila orang tua menunjukkan sikap yang konsisten. Pada tahapan dimana anak memahami nilai-nilai moral. maka orang tua harus sabar dalam mendampingi agar anak dapat melakukannya. anak akan tergerak untuk melakukannya. 3. Sejak usia dini harus ditanamkan wawasan ini melalui kata-kata ataupun bahasa tubuh. Lambat laun perilaku tersebut akan berubah menjadi adat kebiasaan. Dalam hal ini ada beberapa hal .atau vertical. maka akan berproses untuk mengolahnya sampai pada tahap menyadari dan meyakini sehingga membentuk suatu sikap. ada masa anak sangat ingin berinteraksi dan mulai bersikap social. Ada saat anak sangat bersifat egois. apakah baru sampai tingkat pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat kesadaran dan akhirnya menjadi perilaku yang diharapkan. • Pengetahuan Pemahaman seseorang biasanya dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu mengenai sesuatu hal. Dan anak akan tertarik untuk mengembangkannya sejak mereka belajar bicara. Mengembangkan wawasan kepada anak bukan hal yang mudah.5. Dengan tetap mempertimbangkan tingkatan usia anak. Perilaku yang terbentuk pada diri manusia mempunyai tahapan yang seharusnya mempertimbangkan aspek intelektual dan emosional anak secara utuh. Misal dalam nilai-nilai moral. Proses ini berlangsung dalam kesatuan waktu dan saling melengkapi satu sama lain. Lambat laun anak akan mampu membuat keputusan dan melakukan dengan caranya sendiri. Tujuan utama membentuk perilaku inilah yang paling sulit. Wawasan ini akan masuk dalam pikirannya dan akhirnya menggerakan kesadaran dalam dirinya dan meyakini sebagai sikap yang benar. Pembentukan sikap ke arah nilai-nilai moral perlu melihat kecenderungan pada umur umur tertentu. karena pada dasarnya anak harus mengetahui terlebih dahulu atau berwawasan mengenai nilainilai moral. tapi horizhontal dalam bentuk berbagi tentang suatu pengalaman hidup. benar-benar jauh lebih bermanfaat daripada sekedar jika kita mengucapkannya dalam kata-kata. • Perilaku Beranjak dari proses kesadaran. • Sikap Setelah anak mempunyai wawasan yang cukup. Komunikasi yang terjadi akan sekaligus mengarah pada proses penyadaran dalam diri anak. Pada saat yang tepat hendaknya anak diajak melaksanakan nilai moral.

serta bertahan pada apa yang telah ditetapkan. Satu hal yang penting dari metode ini adalah anak belajar mengangkat pelajaran tentang nilai empati terhadap suatu peristiwa. Terutama anak-anak. Oleh karena itu orang tua haruslah bersikap tegas terhadap penyimpangan-penyimpangan moral yang terlihat oleh anak di televisi atau dimanapun.video game. film. Mengunakan Pertanyaan Untuk Memperluas Kemampuan Anak dengan Menggambarkan perspektif Orang Lain Menggunakan pertanyaan jauh lebih baik daripada sekedar pernyataan. bahkan sebelum dilahirkan. (misalnya. Orang tua harus menunjukan bahwa orang tua sependapat dengannya bahwa mencelakakan orang lain itu SALAH. Kekasaran dan pertengkaran yang terjadi di depan anak yang sedang belajar mengenai moral akan menjadi trauma negative yang akan merusak perkembangan jiwanya. tayangan visual ini sangat berpengaruh pada jiwa anak.semua itu menunjukan ia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan terdekatnya. Ambilah Sikap Aktif Melawan “racun” Perkembangan Moral Anak Banyak racun yang sering bertentangan dengan nilai moral seperti acara televisi tertentu. tanpa disadari orang tua sudah mengungkapkan nilai mereka dengan cara mempengaruhi orang lain. Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa hampir semua orang tertarik pada televisi dan multi media. Sebaik tidak hanya sekedar mnenghardiknya dan mengatakanitu tidak baik. Lewat perbincangan dalam keluarga . Pada awal kehidupannya anak telah dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. Oleh karena itu orang tua harus dapat memastikan perilaku moral yang akan diambil oleh anak adalah perilaku moral terbaik yang diharapakan oleh orang tua dan orang tua inginkan sebagai contoh untuk anak. Dan orang yang telah terbiasa hidup didalam image visual (kebudayaan citra dan virtual)akan sangat sulit tergerak oleh kata-kata. tetapi dengan mengembangkan pertanyaan yang harus dijawab oleh anak. dan situs internet. Orang tua dapat menyimak pemikiran moral anak dan “menarik” anak ke tingkatan moral yang lebih tinggi. Anak telah belajar banyak sejak awal.Dengan kata-kata yang sederhana dan sikap konsisten yang meyakinkan bahwa semua penyimpangan itu bukanlah prinsip orang tuanya. Orang tua harus mencoba menjelaskan tentang kekhawatiran tersebut kepada anak. dan menetapkan standar. Orang Tua Mencoba Menemukan Isu-isu Moral Untuk Dibicarakan (pada saat isu-isu itu timbul).yang harus disadari oleh orang tua: Orang tua Adalah Guru Moral Pertama Bagi Anak Keluarga adalah kunci pendidikan dasar bagi anak. karena yang dapat merangsang pengaruh pada perasaan dan pikiran adalah image visual . jika anak sudah menyukainya akan sulit orang tua memberitahu salah dan benar melalui kata-kata verbal. Roberts Cole mengatakan bahwa “kehidupan moral anak mendahului kemampuan berbahasanya” Saat anak belum mempunyai kosakata untuk berbicara. ia telah belajar mengungkapkan lewat tindak-tanduknya. Sehingga Anak Dapat Mendengar Keyakinan Moral Yang Orang tua Miliki Bahan pembicaran yang menarik bagi banyak orang biasanya menarik perhatian anak.music. kasus pemboman Bali) bagaimana ia berdoa agar orang yang jahat terhadap orang lain ditangkap. Misalkan anak menyakiti adiknya. terutama dalam mengembangkan nilai-nila moral yang menjadi penopang dalam keutuhan pribadinya. Contoh.”Apa yang .

kamu rasakan jika orang lain memperlakukanmu seperti itu?. dengan menggambarkan apa yang telah dilakukannya dengan baik dan bagaimana orang tua menghargai hal itu. http://paudfip.com/2009/08/10/menanamkan-moral-kepada-anak-usia-dini/ .wordpress. Memperhatikan Anak dan “tangkap” Mereka ketika bertindak secara Moral yang Baik Dengan memberitahukan kepada anak perilakunya yang baik.

begitu menurut sunah nabi. Pemahaman akan konsekwensi bagi anak hanya didapat dengan cara menegakkan kedisiplinan. pemberian konsekwensi. tidak efektif!! Maka ada konsekwensi berkaitan yang cocok. maka disuruh ia untuk membersihkan lantai yang kotor tersebut. bukan hukuman. Konsekwensi berbeda dengan hukuman. Hukuman dapat mengakibatkan dendam dan bersikap kasar. Konsekwensi Relevan Konsekwensi Relevan adalah konsekwensi yang secara langsung berkaitan dengan perilaku buruk anak dan membuat anak memperbaiki sikapnya. anak yang malas bergerak konsekwensi signifikan adalah menyuruh dia berolah raga. listriknya diputus.D (2002) ada dua perbedaan antara hukuman dan Konsekwensi Pertama Konsekwensi memberikan anak pelajaran sedangkan hukuman jarang sekali memberikan pelajaran. Konsekwensi yang diajarkan pada murid-murid guna untuk merubah perilaku buruk anak didik dan sebagai alternatif pengajaran yang benar untuk menghindari tindak kekerasan pada anak. Konsekwensi Logis Konsekwensi logis sering terjadi di masyarakat. Tetapi konsekwensi disampaikan dengan rasa sedih dan empati Anda menunjukkan tanggung jawab ada dipundak anak. karena ada yang berpendapat potong rambut itu gundul. menurut Ray Levi Ph..” Maka jika anak melakukan meninggalkan meja makan dengan piring kotor berserakan maka ia harus mencuci piring. Tapi jika anak kedapatan merokok konsekwensi relevannya adalah menghirup udara bersih. jika merampok mendekam di penjara dan sebagainya. jika tidak tidur keesokan harinya akan mengantuk dan sebagainya. Asal jangan hukuman yang memalukan seperti menggunduli kepala anak padahal ia cewek. dan pemberian penghargaan bagi yang berprilaku baik. “cuci piring.. Konsekwensi alami ini perlu dipahami murid-murid karena berkaitan langsung dengan kehidupan. . Djauzak Ahmad dalam Riau Pos menekankan: “Tetapi kalau tetap melakukan. Contoh seorang anak meninggalkan meja makan dengan piring kotor berserakan maka perilaku apa yang diharapkan jika anak berbuat demikian. dengan cara kongkrit yang dipahami anak. Konsekwensi berkaitan Konsekwensi jika anak kedapat merokok misalnya maka suruh anak ke perpustakaan untuk membaca akan bahaya merokok ditambah misalnya membuat kliping atas bahaya-bahaya merokok. mulai kiyai sampai ustad-ustadnya semua berbuat demikian. Kedua Hukuman disampaikan dengan cara marah-marah karena anak telah membuat sesuatu yang membuat anda marah. Konsekweensi Signifikan Konsekwensi Signifikan yaitu konsekwensi yang efektif terhadap anak. . dipesantren. Konsekwensi dari perilaku buruk digantikan dengan perilaku baik yang diharapkan. sehingga menimbulkan hukuman lain. seperti yang terjadi disebuah pesantren di Pekanbaru )3 Kalau menurut saya tidak mempermalukan karena anak tersebut memakai Jilbab. sedangkan laki-laki sudah biasa pemandangan kepala gundul. Kalau memecahkan kaca disuruh ia mengganti (Tidak Efektif: karena bagi siswa yang orang tuanya kaya akan mudah baginya untuk mengganti berulang-ulang sampai puluhan kali – penulis). diberi hukuman sesuai dengan perbuatannya (Konsekwensi relevan – Penulis). Sebaliknya konsekwensi mengajarkan perilaku yang baik pada anak karena menunjukkan perilaku yang benar sebagaimana yang anda inginkan.)1 Berbagai konsekwensi yang perlu dan patut di terapkan sebagaimana menurut Levy2 Konsekwensi Alam Konsekwensi alami terjadi akibat langsung dari peristiwa yang terjadi secara alamiah.. Kalau misalnya anak mengotori lantai. Contoh jika tidak makan kita akan lapar.Pendidikan Moral Anak Tanpa Kekerasan Murid perlu dididik untuk memahami bahwa setiap tindakan dan prilakunya ada konsekwensi yang haru ia terima. jika tidak membayar listrik.

bengis. Perlakuan kekerasan dan peng¬aniayaan.dinaspendidikan-parepare. misalnya perbuatan melukai dan/atau mencederai anak. kekerasan. e. baik ekonomi maupun seksual. seperti perkelahian harus dilerai. membersihkan WC. perlakuan salah lainnya. Konsekwensi dengan berakibat fatal memang harus dihindari. eksploitasi. berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: a. kejam dan keji terhadap anak-anak. ketidakadilan. misalnya tindakan atau perbuatan secara zalim. Adapun yang dimaksud kekeran menurut UU Perlindungan Anak No.php? option=com_content&view=article&id=269:pendidikan-moral-anak-tanpakekerasan&catid=47:pendidikan-dasar . d. c. Jika memanjat tinggi jangan tunggu sampai anak jatuh. kebut-kebutan harus dilarang. Kalau mengajarkan dan mendidik anak dengan menerapkan konsekwensi maka kita dapat menghindari penggunaan kekerasan dalam pembelajaran anak didik di sekolah.Kalau anak memainkan senjata tajam hukumannya tidak dibiarkan sampai anak terluka. menyuruh anak membersihkan lantai. jangan dibiarkan saja. atau tidak menaruh belas kasihan kepada anak. tanpa belas kasihan sedikitpun. dan tidak semata-mata fisik. Konsekwensi dapat berupa strap didepan kelas atau konsekwensi seperti yang telah diterangkan diatas. diskriminasi. kekejaman.23 Tahun 2002 terdapat dalam pasal 13 ayat 1: Pasal 13 ayat: 1. tetapi jika terjadi kecelakaan akibat kebut-kebutan anak mendapat pelajaran. penelantaran. atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan. dan f. dan penganiayaan. Pejelasan dari butir d ayat 1 tersebut adalah: Perlakuan yang kejam. keji. Sekedar Strap.info/index. tetapi juga mental dan sosial http://www.Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua. dan sebagainya tidaklah disebut sebagai kekerasan dalam rangka atau maksud mendidik. Kalau yang disebut kekerasan terhadap anak-anak itu tidak bermaksud mendidik. tapi anak tidak boleh dikasih tahu akan pelajaran dari konsekwensi dari yang telah ia perbuat biarkan anak yang menyipulkan sendiri. wali. b. berdiri diluar kelas. Ini penerapan konsekwensi yang salah karena berakibat fatal.

TK Taman-Kanak-kanak (TK) adalah sekolah untuk anak-anak yang berumur 5-6 tahun. sehat dan terampil. baik itu mengenai pengalamannya pribadi maupun pengalaman orang lain yang benar-benar terjadi ataupun hanya merupakan khayalan atau imajinasi saja. tulisan yang dituturkan oleh seseorang kepada orang lain.METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN). umum. pendaftaran pertama tercatat sebanyak 40 anak. terdiri dari anak yang berumur 3 s/d 7 tahun. Mengingat banyaknya metode yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut. TK Aisyiyah Bustanul Athfal sebagai institusi pendidikan.[2] Jadi yang dimaksud dengan metode disini adalah sistem atau cara yang digunakan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam diri anak dan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam melalaui cerita. Salah satu yang menjadi tanggung jawab sekolah yaitu mempersiapkan siswa agar mampu mengembangkan kepribadian yang selaras. kejadian dan sebagainya)[3] selain itu cerita juga bisa diartikan sebagai suatu ungkapan. bernyanyi dan lain-lain. mengajar anakanak untuk menjadi anak yang cerdas. Dalam Proses pendidikan. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya atau yang diharapkan supaya dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. dengan demikian cerita adalah suatu ungkapan. penulis akan membatasi permasalahan atau memfokuskan diri pada metode cerita dalam pendidikan Islam Dari penjelasan dan penegasan beberapa istilah yang dimaksud dalam judul penelitian disini. kreatif dan berakhlak mulia. membimbing. dan dengan berbagai macam metode. Sedangkan menurut istilah ialah suatu sistem atau cara yang mengatur cita-cita. didalamnya tentu memuat berbagai macam kegiatan dan pelajaran baik yang dilaksanakan didalam kelas maupun diluar kelas. TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen merupakan lembaga pendidikan yang dirintis dan didirikan oleh Muhamaddiyah Ranting Sapen Yogyakarta pada tanggal 27 Februari 1967. Cerita Cerita adalah hiburan yang membentangkan bagaimana terjadinya sesuatu hal (peristiwa. seperti metode bermain. seimbang antara kedewasaan jasmani dan rohaninya. kelompok. 1. 1. Metode Metode berasal dari bahasa latin “meta” yang berarti melalui dan “hodes” yang berarti jalan atau cara ke. cara atau.[1] Metode yaitu cara kerja yang bersistem yang memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. 1. kejadian yang bisa disebut juga dengan dongeng atau kisah.[8] Taman Kanak-kanak juga sebuah lembaga pendidikan yang mengelolah. bercerita. yang ingin kami maksudkan adalah: ingin melihat bagaimana penerapan dan pengaruh metode cerita dalam pendidikan Islam yang dilaksanakan dan dikembangkan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal dalam rangka membentuk anak-anak yang berkualitas. . tulisan yang berisikan runtutan peristiwa. Dalam bahasa arab disebut dengan “thariqah” artinya jalan. sehat cerdas dan terampil. sistem atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu. maka pada penelitian ini. 1.

Pent. ia berhasil dimana metode-metode yang lain gagal. Sistem Pendidikan Islam. 382 1 . Cerita/kisah berkembang seiring dengan lahirnya manusia dan mengikuti perkembangannya. Alma’arif.). setiap took pendidikan tidak memungkiri pengaruh cerita pada jiwa pendengarnya. konsekwensinya.2 Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi ceita.Jadi yang dimaksud dari judul metode cerita dalam pendidikan Islam disini ialah menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada diri anak dengan menggunakan metode cerita yang dilaksanakan/diterapkan di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal sapen Yogyakarta.t. meskipun berbeda masa.3 Cerita sangat erat kaitannya dengan dunia terbiyah. Metode dalam pendidikan merupakan masalah penting dalam pencapaian tujuan. Salman Harun. (Surabaya : Mutiara Ilm. dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan.1 Dalam Islam metode cerita atau kisah ini telah dipergunakan sejak munculnya Islam itu sendiri. sebab metode merupakan salah satu faktor yang urgen dalam menentukan keberhasilan dan juga sarana dalam mencapai tujuan tersebut. Segi-segi Kesusastraan pada Kisah-kisah Al-qur’an.342 ayat ada lebih dari 1600 ayat mengenai kisah-kisah. Dari keseluruhan ayat al-Qur’an yang berjumlah kurang lebih 6. Pent. 22 3 Muhammad Quthb. Hal. 246 2 A. Abdul Hadi Basulthanah. (Jakarta : Pustaka Al-Husna. Hanafi. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu metode atau teknik dalam pendidikan. 1993). Cerita atau kisah merupakan salah satu cara mendidik anak pada masa lampau da modern.t. Hal. Melalui cerita Abdurrahman Umdirah. setiap pendidik terlebih orang tua untuk senantiasa membiasakan mendidik anak dengan banyak bercerita. sebagaimana Allah memerintahkan kepada Rasulullah. Hal penting yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya adalah upaya untuk membantu mengembangkan pola pikir realistis. Cerita atau kisah termasuk salah satu metode yang sukses. Metode Al-Qur’an Dalam Pendidikan. (Bandung : PT. al-Qur’an dalam usahanya mendidik ummat manusia banyak menggunakan jalan mengungkapkan kisahkisah yang mengandung suri tauladan yang baik. Hal ini terbukti. 1984). yaitu bersikap jujur dan terbuka. Hal.

di awal tahun sangat baik memilih cerita “Sakinah Dan Anaknya”. dan sebagainya. Ada faktor lain yang dapat membantu dalam pemilihan cerita. Karena keadaan jiwa pendongeng akan berpengaruh pula pada setiap ceritanya. tentunya dengan melakukan latihan yang terus-menerus. Namun. oleh karena itu agar dapat bercerita dengan tepat. Dalam hal ini. maka harus memahami terlebih dahulu jenis cerita apa yang hendak disampaikan. tujuan penyampaiaan materi. Karena tokoh-tokoh dalam cerita tersebut sangat dekat dan di kenal anak-anak 4 5 T.5 a. Mendiddik Anak Secara Lisan.disamping mengembangkan hal tersebut juga emosi anak perlu dilatih menghayati. Pemilihan jenis cerita ditentukan oleh tingkat usia pendengar. Hal. guru sebaiknya dapat memilih cerita yang sesuai dengan kondisi jiwanya saat akan bercerita. Gema Insani Press. Cit. binatang. (Jakarta. jumlah pendengar tingkat heterogenitas (keragaman pendengar). suasana acara. tampaknya ia agak sulit jika membatasi diri pada satu bentuk cerita. Seperti penguasaan terhadap ceritacerita humor. khususnya apabila di ambil dari buku ini. Karena cerita banyak sekali macamnya. seorang guru tetap di tuntut untuk menguasai penceritaan dari berbagai jenis dongeng. Ada cerita yang bernada sedih dan gembira. 74 Jaudah Muhammad Anwad. Tetapi lain halnya untuk seorang guru. Pemilihan Cerita Sebagian orang. Antara yang menyedihkan dan yang menyenangkan. suasana (situasai dan kondisi) pendengar dan sebagainya. Hal. Sedangkan jika mengambil bahan dari selain buku ini maka sebaiknya guru memakai satu bentuk cerita saja. Handayu. yaitu situasi dan kondisi siswa. terlebih dahulu harus menentukan jenis ceritanya. 1995). secara piawai. Op. 3 . misteri. mampu menceritakan suatu bentuk cerita tertentu dengan baik di bandingkan jenis cerita yang lain. Memang sebaiknya pendongeng hendaknya memilih jenis yang sangat ia kuasai. Sebab cerita yang akan di sampaikannya.4 Sebelum seseorang bercerita. Misalnya. merenungkan dan merasakan berbagai lakon kehidupan manusia. memuat berbagai cerita dengan aneka bentuk. Masing-masing cerita mempunyai karakteristik yang berbeda.

apa yang terjadi di luar dan di dalam kelas bisa membantu dalam pemilihan cerita. Hal. 20 . dan seterusnya. Cit. Kemudian di akhir tahun cukup baik bila memilih kisah “Cerita Tak Berujung”. 2001). maka guru dapat memilih cerita “Mahjubah Yang Malas”. 30 Sukanto SA. Hal. dan seterusnya. Seni Bercerita Islami. II. (Cimanggis Depok : Bina Mitra Press. yaitu gambaran semut memasuki gudang gandum. Atau ketika seorang murid menemukan seekor tikus memasuki kelas. Kemudian semut yang lainnya memasuki gudang untuk melakuakan hal yang sama. Adapun di pertengahan tahun. Misalnya. dalam cerita yang menyedihkan mereka mereka malah tertawa atau sebaliknya. kita juga harus mengetahui cerita yang berkualitas sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan jiwa dan watak anak-anak karena itu seorang guru harus memperhatikan beberapa hal dibawah ini :7 a) b) Cerita itu memikat (absorsing) dan menghibur Cerita itu mengembangkan imajinasi anak c) Cerita itu yang memberikan pengalaman emosional yang mendalam d) Cerita itu menimbulkan rasa humor yang menyeluruh e) Cerita itu memperluas cakrawala pandangan anak f)Cerita itu memberikan kepuasan terhadap kebutuhan ekspresi diri 6 7 Abdul Aziz Abdul Majid. Cet. Oleh karena itu. untuk menanamkan dasar budi pekerti yang baik maka dapat memilih cerita Singa Dan Tikus. Dalam cerita ini di gambarkan sesuatu yang berulang-ulang dan terus-menerus berlangsung.sebelum masuk sekolah.6 b. guru harus menyiapkan dan membaca seluruh cerita yang hendak di sajikan. harus di ingat bahwa dalam menyampaikan cerita yang lucu dan sedih. Sebab cerita ini akan memberi kesan di hati para siswa menjelang kelulusannya diakahir tahun. Op. ia harus bercerita dengan menggunakan cara yang tepat agar murid tidak salah mengekspresikannya. Misalnya. mengambil sebuah gandum lalu keluar. Kriteria Cerita yang Baik dan Islami 1) Ciri-ciri cerita yang baik Sebagai metode dalam pendidikan. ada seorang murid yang datang terlambat tanpa alasan. Sebagai catatan bagi guru.

Dan tentu lebih dari itu semua. 21 T. 116 . yang mengandung kebaikan dan keburukan. maupun dalam bentuk lain seperti buku cerita dan komik. yaitu sejenis cerita yang penyampaiannya berasal dari al-Qur’an dan kisah teladan lain yang dibaur. Hal. Op. mistis. Cit.9 Dewasa ini buku-buku cerita Islami banyak diterbitkan dalam bentuk majalah aku anak shaleh. untuk itu perlu menilai cerita yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang negatif. Hal. meskipun isinya baik harus diperhatikan pula misi yang dikandungnya atau makna yang ada didalamnya. permusuhan dan kekerasan Membuat anak malas untuk beribadah. Handayu. Dalam hubungan ini penting untuk mengoreksi atau memilih cerita yang mempunyai kwalitas dalam mendukung dunia pendidikan. Cit.8 2) Ciri-ciri Cerita yang Islami Cerita yang Islami dikenal dengan sebutan kisah. Sebuah cerita yang baik disamping kriteria tersebut diatas. b) c) d) Menceritakan kisah kepahlawanan para pahlawan Islami Mengajarkan sifat mulia para Nabi dan Rasul serta para salafus shaleh Menceritakan kehidupan sehari-hari dan cerita kehidupan yang mengandung nilai-nilai moral ajaran Islam e) Cerita yang dapat digunakan untuk berdakwah kepada anak-anak. Op. kita harus mempertanyakan cerita tersebut bersifat edukatif Islami atau tidak. bid’ah dan khurafat) c) d) Menanamkan rasa dendam. syirik. berdampak pada aqidah dan akhlak. sehingga anak dapat membedakannya f) Cerita yang didalamnya sarat dengan hikmah-hikmah 8 9 Sukanto SA. takhayyul. Adapun ciri-ciri cerita yang Islami antara lain : a) Menceritakan orang-orang terdahulu yang disebutkan dalam al-Qur’an dan tak pernah basi untuk diceritakan. pemerosotan moral maka harus dihindarkan sifatsifat cerita yang kurang mendidik : a) Mengandung falsafah yang salah b) Tidak Islami (kebohongan.

Hal. Pada permulaan cerita guru hendaknya memulai dengan suara 1) 2) 3) 4) 10 Ibid.10 Cerita. Sebaiknya. agama dan cara pandang asing. Intonasi guru Cerita itu mencakup pengantar. Kemudian guru duduk ditempat yang sesuai dan mulai bercerita. Bisa dihalaman sekolah. guru tidak langsung duduk pada awal bercerita tetapi memulainya dengan berdiri kemudian duduk. baik cerita umum maupun Islami dari buku maupun cerita langsung hendaklah menghindari sikap taklid. tetapi lebih ringan dibandingkan dengan bahasa cerita dibuku. Metode Penyampaian Cerita Setelah guru selesai mempersiapkan cerita ia bersiap-siap utnuk menyampaikan saat waktunya tiba.g) Cerita yang diambil dari pengalaman rasulullah saw dan para sahabat- sahabatnya. dan sebagainya. Anak sebagai pribadi yang belum matang dapat mudah mengikuti segala hal yang diceritakan. Bahasa dalam bercerita hendaknya menggunakan gaya bahasa yang lebih tingi dari gaya bahasa siswa sehari-hari. teras bawah pohon. c. bergerak mengubah posisi gerakan dan diusahakan jangan duduk terus. Bahasa cerita Bahasa cerita adalah bahasa yang baik dan mudah dimengerti. konflik yang muncul dalam cerita dan klimaks. rangkaian peristiwa. cerita bagi anak merupakan sarana untuk memperoleh petunjuk-petunjuk termasuk didalamnya budaya. 124 . Posisi duduk Sebelum guru memulai bercerita sebaiknya ia memposisikan para siswa dengan posisi yang baik untuk mendengarkan cerita. tetapi juga boleh juga diluar kelas yang dianggap baik oleh guru agar para siswa bisa duduk dan mendengarkan cerita. Pada saat itu ia harus mempersiapkan hal-hal berikut : Tempat bercerita Bercerita tidak selalu harus dilakukan didalam kelas.

kucing.tenang. seorang guru harus mempelajari terlebih dahulu tokoh-tokohnya agar dapat memunculkan secara hidup didepan para siswa. jenuh dan banyak bercanda. 5) 6) 7) 8) 9) . Menghindari ucapan spontan Guru acapkali mengucapkan ungkapan spontan setiap kali menceritakan sesuatu peristiwa. karena bercerita dengan gaya yang monoton. marah dan mengejek maka intonasi dan kerut wajah harus menunjukkan hal tersebut. Jika situasinya menunjukkan rasa kasihan. gelegar petir dan arus sungai yang deras. Penguasaan terhadap siswa yang tidak serius Perhatian siswa ditengah cerita haruslah dibangkitkan sehingga mereka bisa mendengarkan cerita dengan senang hati dan berkesan. jika penyampaiannya bagus. Peniruan suara Sebagian orang ada yang mampu meniru suara-suara binatang dan benda-benda tertentu. Apabila guru melihat para siswa mulai bosan. protes. Para siswa biasanya diam mendengarkan cerita. Pemunculan tokoh-tokoh Telah disebutkan bahwa ketika mempersiapkan cerita. Perubahan naik turunnya suara disesuaikan dengan peristiwa dalam cerita. Sebagai seorang guru jangan malu-malu untuk melakukan itu supaya ceritanya akan lebih menarik untuk di perhatikan. gemercik air. anjing. Kemudian mengeraskannya sedikit demi sedikit. maka ia harus mencari penyebabnya. seperti suara singa. Penampakan emosi Saat bercerita guru harus dapat menampakkan keadaan jiwa dan emosi para tokohnya dengan memberi gambaran kepada para pendengar bahwa seolah-olah hal itu adala emosi si guru sendiri. mungkin ia sendiri yang menjadi penyebabnya. Kebiasaan ini tidak baik karena bisa memutuskan rangkain peristiwa dalam cerita.

rata-rata adalah sesuatu yang bersifat alami dari pada dibuat-buat.pustakaskripsi. 47-54 .11 http://www. kita tidak melupakan menfaat dari latihan dan belajar dalam menguasahakan metode yang tepat untuk itu. Hal.Kesembilan hal tersebut sangat penting untuk diketahui dan diperhatikan oleh guru ketika bercerita. Namun. Memang kita menganggap bahwa bercerita dengan cara yang baik.com/metode-cerita-dalam-pendidikan-islam-di-taman-kanak-kanakaisyiyah-bustanul-athfal-sapen-405.html 11 Ibid.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->