PEMIKIRAN PENDIDIKAN AL-GHAZALI

Makalah
Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pemikiran Pendidikan Islam
yang Dibina oleh Drs. H. Asmaun Sahlan, M. Ag














Oleh:

Moh. Eko Nasrulloh (08110139)
Syaiful Wijayanto (08110215)





JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
Maret, 2010

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
tuhan semesta alam Yang telah mencurahkan air dari langit sebagai riski untuk
manusia, Yang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menghirup
udara-Nya tanpa dipungut biaya sepersen pun, tuhan Yang tidak memiliki
kepentingan apa-apa terhadap hamba-Nya, sehingga peraturan yang dibuatnya
adalah sebaik-baik peraturan, Yang Maha adil, Maha bijaksana, Yang tidak
mengingkari janji-janji-Nya. Satu-satunya Zat Yang berhak disembah, satu-
satunya Zat Yang berhak membuat hukum, yang sekarang sedang didustakan oleh
sebagian besar hamba-Nya.
Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi akhir zaman,
Sang Pembebas yang membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama
makhluk menjadi penyembahan hanya kepada Allah, serta kepada para sahabat
dan generasi penerusnya yang mengalami berbagai kesusahan dan cobaan dalam
melanjutkan kehidupan Islam. Karena perantaraan Nabi dan sahabatnya kita
sekarang bisa merasakan nikmatnya Islam, iman, dan ihsan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada kedua orang tua kami yang
telah membantu penyelesaian makalah ini dengan dananya yang telah diinfaqkan
di jalan Allah ini, maka tunggulah saatnya kami kembali kepada engkau wahai
orang tua kami dengan kunci-kunci surga yang diberikan Allah kepada hamba-
hamba-Nya yang ikhlas dalam mendakwahkan islam melalui tulisan dengan
pertolongan Allah.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Bapak Asmaun Sahlan
selaku dosen pembimbing mata kuliah yang sedang kami tempuh di semester
empat ini. Segala masukkan dari Bapak pasti akan mendapatkan pahala dari Allah.
Kesempatan untuk memecahkan masalah pendidikan negeri ini sangat klami
nantikan. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk duduk
bersama memikirkan urusan umat Islam yang sedang terzalimi di akhir zaman ini.
Dalam pembuatan makalah ini tentulah kami sebagai manusia tidak terlepas
dari kekurangan dan kesalahan. Dalam waktu dua minggu untuk menyelesaikan
makalah ini tidak cukup untuk merujuk langsung kepada kitab-kitab Imam al-
Ghazali. Hal ini dikarenakan beberapa hal, yakni penguasaan kami yang kurang
sekali terhadap bahasa Arab, banyaknya materi yang termuat dalam kitab-kitab al-
Ghazali sehingga membutuhkan waktu panjang untuk merumuskan konsep yang
dimaksudkan, juga karena kesibukan kami masing-masing. Dengan ini maka
sumber yang kami guunakan adalah sumber sekunder.
Harapan kami dengan adanya makalah ini adalah menjadi bermanfaat bagi
pembacanya. Dan segala masukan yang berdasar dan bisa dipertanggungjawabkan
sangat kami nantikan demi kesuksesan kami dalam penulisan tulisan-tulisan
berikutnya. Akhir kata, ingin kami sampaikan atsar dari 'Umar bin Khaththab ra
yang diriwayatkan oleh al-hakim:
˵ Ϫ͉ Ϡϟ΍ Ύ˴ ϧ˷ ΰ˴ ϋ˴ ΃ Ύ˴ ϣ˶ ή˸ϴ˴ ϐ˶ Α ͉ ΰ˶ όϟ˸΍ ˵ ΐ˵ Ϡ˸τ˴ ϧ ˴ Ϣ˸Ϭ˴Ϥ˴ ϓ ˶ ϡΎ˴ Ϡ˸γ˶ Ϲ˸Ύ˶ Α ˵ Ϫ͉ Ϡϟ΍ Ύ˴ ϧ˴ ΰ˴ ϋ˴ ΄ϓ ˳ ϡ˸Ϯ˴ ϗ ͉ ϝ˶ Ω˴ ΃ Ύ͋ Ϩ˴ ϛ ͉ ϥ˶ · ˵ Ϫ͉ Ϡϟ΍ Ύ˴ Ϩ˴ ϟ˴ Ϋ˴ ΃
Kami dulunya adalah kaum yang paling hina. Lalu Allah memuliakan kami
dengan Islam. Karena itu, jika kami mencari kemuliaan selain dari apa
yang Allah telah muliakan kami maka Ia pasti menghinakan kami (Al-
Hakim; ia mensahihkannya dan di sepakati oleh adz-Dzahabi)
Wallahu a'lam bi ash-Shawab
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ................................ ................................ ................
BAB I PENDAHULUAN ................................ ................................ ........
1.1 Latar Belakang Masalah ................................ .......................
1.2 Rumusan Masalah ................................ ................................ .
1.3 Tujuan ................................ ................................ ....................
BAB II PEMBAHASAN ................................ ................................ ...........
2.1 Perjalanan Hidup al-Ghazali ................................ ................
2.2 Pemikiran Pendidikan al-Ghazali ................................ .........
2.2.1 Tujuan pendidikan ................................ .......................
2.2.2 Konsep pendidik ................................ ...........................
2.2.3 Konsep murid ................................ ................................
2.2.4 kurikulum ................................ ................................ .....
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................ ................................ ............
3.2 Saran ................................ ................................ ......................
DAFTAR PUSTAKA ................................ ................................ .................


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Perilaku seorang manusia terhadap sesuatu tergantung dari persepsinya
terhadap sesuatu tersebut. Perjalanan kehidupan seseorang dapat mempengaruhi
persepsinya sehingga juga berakibat pada aktivitasnya. Ulama besar al-Ghazali
pernah mengalami sebuah masa dimana ia mengalami kegoncangan dalam
berpikir, hingga kemudian memutar balik metode berpikirnya. Pemikiran al-
Ghazali terhadap pendidikan pun tidak lepas dari corak berpikirnya.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut di atas, maka pembahasan pada makalah ini
dibatasi pada masalah:
1.2.1 Bagaimana perjalanan hidup al-Ghazali?
1.2.2 Bagaimana pandangan al-Ghazali tentang tujuan pendidikan?
1.2.3 Bagaimana pandangan al-Ghazali tentang pendidik, murid, dan kurikulum
pendidikan?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan pembuatan makalah ini antara
lain:
1.3.1 untuk mengetahui perjalanan hidup al-Ghazali
1.3.2 untuk mendalami pandangan al-Ghazali tentang tujuan pendidikan
1.3.3 untuk mendalami pemikiran atau pandangan al-Ghazali tentang pendidik,
murid, dan kurikulum pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Perjalanan Hidup al-Ghazali
Namanya adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, lahir
pa-da tahun 450 H/ 1058 M di Thus (wilayah Khurasan).
1
Atau lebih tepatnya lagi
di Ghazaleh, kota kecil di Thus Khurasan
2
. Al-Ghazali wafat di Tabristan wilayah
propinsi Thus pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 H/1 desember 1111 M.
3
Al-
Ghazali berasal dari keluarga sederhana. Sepeninggal ayahnya yang bekerja seba-
gai pemintal benang, ia dan saudaranya Ahmad tumbuh menjalani kehidupannya
dalam kesederhanaan bersama dengan seorang sufi teman ayahnya selama kurang
lebih 15 tahun,.
4

Suatu ketika karena sufi tersebut tidak mampu lagi menghidupi al-Ghazali
dan Ahmad, maka keduanya dimaukkan ke sekolah. Selama lima tahun yakni 465-
470 H al-Ghazali belajar ilmu fiqh dan ilmu-ilmu dasar lainnya kepada Ahmad al-
Radzkani di Thus dan dari Abu Nashr al-Isma¶ili di Jurjan. Kemudian al-Ghazali
kembali ke Thus lagi dan selama tiga tahun di Thus ia mengkaji ulang pelajaran-
nya di Jurjan sambil belajar tasawuf kepada Yusuf al-Nassaj (w. 487 H).
5

Tahun 473 H ia pergi ke Naisabur untuk belajar di madraasah al-
Nizhamiyah dan di sana ia berkenalan dengan Imam al-Haramain Abi al-Ma¶ali
al-Juwaini, seorang ulama yang bermadzhab Syafi¶i yang pada saat itu menjadi
guru besar di Naisyafur ataau Naisabur, salah satu kota pusat ilmu pengetahuan.
6

Dari al-Juwaini inilah al-Ghazali belajar ilmu kalam dan mantiq dan di Naisabur

1
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (2002,
Jakarta: Ciputat Press), hlm. 85
2
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (2005, Jakarta: Gaya Media Pratama), hlm. 209
3
Ibid
4
Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (1999, Jakarta: Gaya Media Pratama), hlm. 77
5
Ibid. hlm. 78
6
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 209
ini pula ia sempat belajar kepada Abu µAli al-Fadhl ibn Muhammad ibn µAli al-
Farma-dzi (w. 477 H/1084 M).
7

Di Naisyafur ini al-Ghazali mempelajari teologi, hukum Islam, filsafat, logi-
ka, sufisme, dan ilmu-ilmu alam.
8
Ilmu-ilmu yang dipelajarinyanya inilah yang
kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya di kemudian hari. Hal
ini terlihat dari karya tulisnya yang dibuat dalam berbagai bidang dalam ilmu pe-
ngetahuan. Dalam ilmu kalam al-Ghazali menulis buku berjudul Ghayah al-
Maram fi 'Ilm al-Kalam (tujuan mulia ilmu kalam). Dalam bidang tasawuf dan
fiqh ia menulis buku Ihya¶ µUlum al-Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu
agama), dalam ilmu hukum Islam ia menulis kitab al-Musytasyfa¶ (yang me-
nyembuhkan), dan dalam ilmu filsafat ia menulis Maqasid al-Falasifah (tujuan
dari filsafat) dan Tahafut al-Falasifat (kekacauan dari filsafat).
9

Al-Juwaini menggelari al-Ghazali dengan gelar Bahrun Mughriq (laut yang
menenggelamkan) karena melihat kemampuan dan kecerdasan al-Ghazali.
10

Sebelum al-Juwaini wafat tahun 478 H, al-Ghazali diperkenalkan dengan Nizham
al-Mulk yang menjabat sebagai perdana menteri Saljuk Malkiyyah sekaligus
pendiri madrasah al-Nizhamiyah.
11

Setelah gurunya wafat, al-Ghazali meninggalkan Naisabur untuk berjumpa
dengan Nizham al-Mulk. Di daerah ini ia mendapat kehormatan untuk berdebat
dengan para ulama. Dari perdebatan yang dimenangkannya ini, namanya semakin
populer dan disegani karena keluasan ilmunya. Pada tahun 484 H/1095 M al-
Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyah Baghdad selama
lebih kurang empat tahun. Pengalaman hidupnya selama di madrasah Nizhamiyah
ini dijelaskan dalam bukunya al-Munqidz min al-Dhalal.
12

Selama mengajar di madrasah ini dengan tekunnya al-Ghazali mendalami
fil-safat secara otodidak, terutama pemikiran al-Farabi, ibn Sina, ibn Maskawaih,

7
Hasyimsyah Nasution, Op. Cit..
8
Abuddin Nata, Op. Cit.
9
Ibid., hlm. 210
10
Jalaluddin dan Umar Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan
Pemikirannya, (1996, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), hlm. 139
11
Hasyimsyah Nasution, Op. Cit..
12
Ibid.
dan Ikhwan al-Shafa¶.
13
Selama mengajar di Baghdad, al-Ghazal mengarang
beberapa buku antara lain al Basith, al Wajiz, al Munqil fi µIlm al Jadal, Ma¶khaz
al Kalaf, Lubab al Nadzar, Khulasah µIlm al Fiqh, Tahsin al Maakhudz, Mamadi
wa al Ghayat fi Fan al-Khalaf.
14

Perjalanan al-Ghazali berlanjut pada tahun 488 H/ 1095 M. Al-Ghazali di-
landa keragu-raguan. Skeptis terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum,
teologi, dan filsafat), kegunaan pekerjaannya, dan hasil karyanya, sehingga ia
menderita sakit selama dua bulan dan sulit diobati.
15
Pada masa inilah yang
kemudian dikenal dalam Sejarah Filsafat Islam sebagai masa peubahan seratus
delapan puluh derajat pemikiran al-Ghazali. Abuddin Nata memberikan argumen
mengenai hal ini dalam bukunya
16
:
Dalam pada itu Sejarah Filsafat Islam mencatat bahwa al-Ghazali
pada mulanya dikenal sebagai orang yang ragu terhadap berbagai ilmu
pengetahuan, baik ilmu yang dicapai melalui panca indera maupun akal
pikiran. Ia misalnya ragu terhadap ilmu kalam (teologi) yang dipelajari-
nya dari al-Juwaini. Hal ini disebabkan dalam ilmu kalam terdapat be-
berapa aliran yang saling bertentangan, sehingga dapat membingunkan
dalam menetapkan aliran mana yang betul-betul benar di antara semua
aliran.
Sebagaimana halnya dalam ilmu kalam, dalam ilmu filsafatpun se-
bagaimana dikemukakan di atas, al-Ghazali meragukannya karena
dalam filsafat dijumpai argumen-argumen yang tidak kuat, dan menurut
keyakinannya ada yang bertentangan dengan agama Islam. Ia akhirnya
mengambil sikap menentang filsafat. Pada saat inilah ia menulis buku
yang berjudul Maqasid al-Falsafah (pemikiran kaum filosof). Buku ini
dikarangnya untuk kemudian mengkritik dan menghantam filsafat.
Kritik itu muncul dalam buku lainnya yang berjudul Tahafut al-
Falsafah (keka-cauan pemikiran-pemikiran filosof).
Lebih lanjut al-Ghazali tidak hanya menentang pengetahuan yang
di-hasilkan akal pikiran, tetapi ia juga menentang pengetahuan yang di-
hasilkan panca indera. Menurutnya panca indera tidak dapat dipercaya
karena mengandung kedustaan. Ia misalnya menyatakan ³bayangan
(rumah) ke-lihatannya tidak bergerak, tetapi sebenarnya bergerak dan
pindah tem-pat´. Demikian juga bintang-bintang di langit kelihatannya
kecil, tetapi hasil perhitungan mengatakan bahwa bintang-bintang itu
lebih besar dari bumi.

13
Ibid.
14
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 86
15
Hasyimsyah Nasution, Op. Cit..
16
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 210-211
Kegoncangan berpikir al-Ghazali sangat terlihat jelas dengan pendapatnya
yang menyimpulkan bahwa kebenaran adalah relatif. Kerancuan pemahamannya
nampak ketika menyatakan bahwa panca indera tidak bisa dipercaya karena
mengandung kedustaan. Perjalanan hidupnya yang sempat belajar filsafat secara
otodidak menjadi penyebab kerancuan berpikirnya. Jangankan secara otodidak,
mendalami filsafat dengan didampingi seorang ahli filsafat pun dapat
menyebabkan kerancuan berpikir. Hal ini dikarenakan filsafat itu sendiri.
Kondisi ini membuat al-Ghazali berubah sikap. Hasyimsyah nasution
17

meng-gambarkan kondisi ini yang dikutip dari karya al-ghazali al-Munqidz min
al-Dhalal:
« karena itu al-Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai
guru besar di madrasah Nizhamiyah. Akhirnya ia meninggalkan
Baghdad menuju Damaskus. Selama kira-kira dua tahun al-Ghazali di
kota ini, ia melakukan uzlah, riyadhah, dan mujahadah. Kemudian ia
pindah ke Bait al-Maqdis, Palestina untuk melaksanakan ibadah serupa,
setelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan
menziarahi makam Rasulullah. Sepulang dari tanah suci, al-Ghazali
mengunjungi kota kelahirannya, Thus; di sini pun ia tetap berkhalwat.
Keadaan skeptis al-Ghazali ini berlangsung selama sepuluh tahun. Pada
periode itulah ia menulis karyanya yang terbesar Ihya¶ µUlum al-Din
(The Revival of the Religius Sciences²menghidupkan kembali ilmu-
ilmu agama).
Penjelasan lebih rinci disampaikan oleh Mustaqim mengenai kelanjutan per-
jalanan hidup al-Ghazali setelah sembuh dari masa-masa keraguannya. Dalam bu-
kunya ia menjelaskan sebagai berikut:
« Meditasi al-Ghazali berakhir pada tahun 498 H/ 1105 M ketika
mene-rima kembali tawaran Fakhrul Muluk putera Nizhamul Muluk un-
tuk mengajar lagi di madrasah Nizhamiyah Naisabur. Kedatngan al-
Ghazali yang kedua di Nizhamiyah ini, corak berfikirnya berbeda
dengan sebelumnya (rasionalis). Sekarang ia menjadi seorang sufi dan
cende-rung memberi penilaian relatif terhadap kebenaran inderawi.
Karya yang muncul saat itu adalah al-Munqidz min al-Dhalal.
18


17
Hasyimsyah Nasution, Op. Cit.
18
Mustaqim, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan Kontemporer,
(1999, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang), hlm. 86
Perjalanan panjang al-Ghazali berakhir di tanah kelahirannya Thus. Setelah
mengajar di beberapa tempat (Baghdad, Syam, Naisabur), al-Ghazali kemudian
kembali ke Thus pada tahun 1105 M lalu mendirikan sebuah madrasah dan meng-
abdikan diri sebagai pendidik hingga wafat tahun 505 H/1111 M pada usia 55
tahun.
19

Perjalanan panjang yang penuh dengan liku dan tantangan menjadikan al-
Ghazali menjadi ulama besar. Maka tak aneh jika ulama-ulama memberikan gelar
kepadanya, diantaranya al-Ghazali mendapat gelar Hujjatul al-Islam (pembela
Islam), Syaikh al-Sufiyyin (guru besar dalam tasawuf) dan Imam al-Murabin
(pakar bidang pendidikan).
20
Gelar Hujjatul Islam diberikan karena jasanya
mengomentari dan melakukan pembelaan terhadap serangan-serangan yang dapat
menyebabkan kesesatan baik dar kalangan Islam maupun Barat terhadap akidah
umat Islam.
21


2.2 Pemikiran Pendidikan al-Ghazali
2.2.1 Tujuan pendidikan
Seorang manusia beraktifitas tidak terlepas dari pandangan hidup yang dija-
dikan asas berfikirnya. Perlakuan seseorang terhadap sesuatu yang dicintainya
akan berbeda dengan perlakuannya terhadap sesuatu yang dibencinya. Atau
dengan kata lain persepsi seseorang terhadap sesuatu lah yang mempengaruhi per-
lakuannya. Sehingga tingkah lakunya dalam kehidupan juga tergantung dari pe-
mahamannya terhadap kehidupan yang menjadi asas berfikirnya. Hal ini telah
dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab nizhamul Islam yang
diterjemahkan oleh Abu Amin dkk berjudul Peraturan hidup dalam islam:
Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup,
alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu
yang ada se-belum alam kehidupan, dan sesudah kehidupan dunia. Agar
manusia bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh
terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan
pemikiran lain. Sebab, pemi-kiranlah yang membentuk dan memperkuat

19
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 87
20
Abuddin Nata, op. Cit., hlm. 210
21
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 85
mafahim (persepsi) terhadap se-gala sesuatu, dan manusia selalu
mengatur tingkah lakunya di dalam ke-hidupan sesuai dengan mafahim-
nya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim seseorang terhadap
orang yang dicintainya akan membentuk peri-laku terhadap orang
tersebut, yang berlawanan terhadap orang lain yang di-bencinya, karena
ia memiliki mafahim kebencian terhadapnya.
22

Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya dapatlah dilihat perjalanan kehidup-
an al-Ghazali yang mengalami kegoncangan hidup akibat filsafat yang dipelajari-
nya secara otodidak, sehingga kemudian membuatnya mengkritik habis-habisan
filsafat dan para pemikirnya. Sehingga melihat penjelasan Syaikh Taqiyuddin an-
Nabhani di atas, kemudian memahami perjalanan hiduop al-Ghazali akan dike-
tahui bahwa pendidikan dalam pandangan al-ghazali adalah bertujuan untuk men-
dekatkan diri kepada Allah. Adapun Jalaludin dan Umar Said berpendapat tentang
pemikiran al-Ghazali terhadap pendidikan, yakni:
Menurut pendapat Imam Al-Gazali, pendidikan yang baik
merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
23

Adapun menurut Samsul Nizar, corak pemikiran pendidikan al-Ghazali
dapat dilihat dari bukunya Fatihatal Kitab, Ayyuha al-Walad, Ihya µUlum al-Din.
Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk
mende-katkan diri pada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat
serta me-nurutnya pendidikan adalah transinternalisasi ilmu, dan proses
pendidikan me-rupakan sarana utama untuk menyiarkan ajaran islam, memelihara
jiwa, dan taqarrub ila Allah, sehingga pendidikan merupakan ibadah dan upaya
peningkat-an kualitas diri.
24

Begitu pula dengan Abuddin Nata yang memahami pendidikan menurut al-
Ghazali adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk kebahagiaan
dunia akhirat. Namun, ia menambahkan bahwa Al-Ghazali lebih menekankan
pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Selain itu ia memahami bahwa al-

22
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Islam, (terj. Abu Amin dkk, peraturan Hidup
dalam Islam), (2001, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah), hlm. 1
23
Jalaluddin dan Umar Said, Op. Cit., hlm. 139, mengutip Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem
Pendidikan Versi al-Gazali, terj. Fathur Rahman May dan Syamsuddi Asyrafi, (1986, Bandung:
Al-Ma¶arif)
24
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 87
Ghazali memahami kehidupan sebagai kehidupan sesaat sekaligus menunjukkan
ke-zuhud-an al-Ghazali.
«Dalam masalah pendidikan al-Ghazali lebih cenderung berpaham
empirisme. Hal ini anara lain disebabkan karena ia sangat menekankan
pe-ngaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya seorang anak
tergan-tung kepada orang tua dan orang yang mendidiknya. Hati
seorang anak itu bersih, murni, laksana permata yang sangat berharga
sederhana dan bersih da-ri gambaran apapun. Hal ini sejalan dengan
pesan Rasulullah SAW yang menegaskan:
˶ Ϫ˶ ϧΎ˴ δ͋ Π˴ Ϥ˵ ϳ ˸ϭ˴ ΃ ˶ Ϫ˶ ϧ΍˴ ή͋ μ˴ Ϩ˵ ϳ ˸ϭ˴ ΃ ˶ Ϫ˶ ϧ΍˴ Ω͋ Ϯ˴ Ϭ˵ϳ ˵ ϩ΍˴ Ϯ˴ Α˴ ΄˴ ϓ ˶ Γ˴ ή˸τ˶ ϔϟ˸΍ ˴ Ϟ˴ ϋ˵ Ϊ˴ ϟ˸Ϯ˵ ϳ ˳ Ω ˸Ϯ˵ ϟ ˸Ϯ˴ ϣ ͊ Ϟ˵ ϛ
Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya, maka kedua orangtuanyalah yang
menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi. (H.R. Muslim)
Sejalan dengan hadits tersebut, al-Ghazali mengatakan jika anak
menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik, maka anak itu menjadi
baik. Se-baliknya jika anak itu dibiasakan melakukan perbuatan buruk
dan dibiasakan kepada hal-hal yang jahat, maka anak itu akan berakhlak
jelek. Pentingnya pendidikan ini didasarkan kepada pengalaman hidup
al-Ghazali sendiri, yaitu sebagai orang yang tumbuh menjadi ulama
besar yang menguasai berbagai il-mu pengetahuan, yang disebabkan
karena pendidikan.
«Tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah
bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika
tujuan di-arahkan bukan pada mendekatkan diri pada Allah SWT, akan
dapat menim-bulkan kedengkian, kebencian, dan permusuhan.
Rumusan pendidikan yang demikian itu sejalan dengan firman Allah
SWT tentang tujuan penciptaan manusia, yaitu:
B´ÿ." ´6´l`1´. ´¬´·´6Bb Y´ò6YBb."
´N´l ´´"´P´Ó´´.M´O
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)
Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-ghazali
terhadap dunia, merasa qana¶ah (merasa cukup dengan yang ada), dan
banyak memi-kirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
Sikap yang demikian itu diperlihatkannya pla ketika rekan ayahnya
mengirim al-Ghazali beserta saudaranya, Ahmad, ke madrasah
Islamiyah yang menyediakan berbagai sarana, makanan dan minuman
serta fasilitas belajar lainnya. Berkenaan dengan hal ini al-Ghazali
berkata, ³Aku dat-ang ke tempat ini untuk mencarti keridhaan Allah,
bukan untuk mencari harta dan kenik-matan.
Rumusan pendidikan yang demikian itu juga karena al-Ghazali me-
mandang kehidupan dunia ini bukan merupakan hal yang pokok, tidak
abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan
setiap saat. Dunia hanya tempat lewat sementara, tidak kekal, sedangkan
akhirat adalah desa yang kekal, maut senantiasa mengintai setiap saat.
Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat
ada-lah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat,
sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi di sisi Allah dan lebih
luas kebahagiaannya di akhirat. Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidi-
kan menurut al-Ghazali tidak sama sekali menistakan kehidupan dunia,
melainkan dunia itu sebagai alat saja. Hal ini dipahami al-Ghazali
berda-sarkan pada isyarat al-Quran:
b´¬´o`1´´Bb B´o´ò"0 ´×P¬.M´´OBb
B.M´òHPOBb ´1´´O ´¬´==1."
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan. (QS. Al-Hadid [57]: 21)
´×´M´.õ.O." ´M´M´. ´Ó´O .¬´ÿ
Pß`l"d.Bb
Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang
sekarang (permulaan) (QS. Adh-Dhuha [93]: 4).
25

Lebih lanjut Samsul Nizar merumuskan tujuan pendidikan dari pemahaman-
nya terhadap pemikiran al-Ghazali, yakni:
1. Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu itu sendiri
sebagai wujud ibadah kepada Allah
2. Tujuan utama pendidikan Islam adalah akhlakul karimah
3. Tujuan pendidikan islam adalah mengantarkan peserta didik kepada keba-
hagiaan dunia dan akhirat.
26


2.2.2 Konsep pendidik
Pendidikan secara umum dipahami sebagai proses transfer knowledge.
Dalam pendidikan terdapat komponen-komponen yang menjadi persyaratan
sehingga ia bisa berjalan. Satu di antara komponen tersebut adalah pendidik.
Pendidik dipa-hami dengan berbagai pandangan. Ada yang memahaminya sebagai
pusat ilmu pengetahuan dan informasi dalam proses belajar mengajar. Ada pula

25
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 211-213
26
Samsul Nizar, Op. Cit., hlm. 87
yang mema-hami pendidik hanya sebatas fasilitator dalam proses belajar
mengajar.
Samsul Nizar mengutip dari Ihya¶ µUlum al-Din memahami bahwa pendidik
dalam pandangan al-Ghazali adalah orang yang berusaha membimbing, mening-
katkan, menyempurnakan, dan mensucikan hati sehngga menjadi dekat dengan
Khaliqnya.
27
Lebih lanjut lagi, Abuddin Nata telah merumuskan ciri-ciri pendidik
yang boleh melaksanakan pendidikan menurut al-Ghazali yang dikutipnya dari tu-
lisan Arifin, yakni:
1. Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sen-
diri.
2. Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dari peker-
jaannya (mengajar), karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi saw
sedangkan upahnya dalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamal-
kan ilmu yang diajarkannya.
3. Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu
bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk men-
dekatkan diri kepada Allah swt.
4. Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat,
yaitu ilmu yang membawwa pada kebahagiaan dunia dan akhirat.
5. Di hadapan muridnya, guru harus memberikan contoh yang baik, seperti
berjiwa halus, lapang dada, murah hati dan berakhlak terpuji lainnya
6. Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan intelektual dan da-
ya tangkap anak didiknya
7. Guru harus mengamalkan yang diajarkannya, karena ia menjadi idola di
mata anak muridnya
8. Guru harus memahami minat, bakat, dan jiwa anak didiknya, sehingga di
samping tidak akan salah dalam mendidik, juga akan terjalin hubungan yang
akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya

27
Ibid. hlm. 88
9. Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya,
sehingga akal pikiran anak didiknya tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu.
28

Dalam bukunya tersebut kemudian Abuddin Nata memberikan komentar
terhadap rumusan konsep pendidik menurut al-Ghazali di atas.
Jika tipe ideal guiru yang dikehendaki al-Ghazali tersebut di atas
dilihat dari perspektif guru sebagai profesi nampak diarahkan pada
aspek moral dan kepribadian guru, sedangkan aspek keahlian, profesi
dan penguasaan terhadap materi yang diajarkan dan materi yang harus
dikuasainya nampak kurang diperhatikan. Hal ini dapat dipahami kare-
na paradigma (cara pandang) yang digunakan untuk menentukan guru
tersebut adalah paradigma tasawuf yang menempatkan guru sebagai
figur sentral, idola bahkan mempunyai kekuatan spiritual, dimana sang
murid sangat bergantung kepadanya. Dengan posisi seperti ini nampak
guru memegang peranan penting dalam pendidikan. Hal ini mungkin
kurang sejalan lagi dengan pola dan pendidikan yang diterapkan pada
masyarakat modern saat ini. Posisi guru dalam pendidikan modern saat
ini bukan merupakan satu-satunya agen ilmu pengetahuan dan infor-
masi, karena ilmu pengetahuan dan informasi sudah dikuasai bukan ha-
nya oleh guru, melainkan oleh peralatan teknologi penyimpan data dan
sebagainya. Guru pada masa sekarang lebih dilihat sebagai fasilitator,
pemandu atau narasumber yang mengarahkan jalannya proses belajar
mengajar.
29

Jika dicermati secara mendalam pendapat Samsul Nizar di atas, dapat dipa-
hami bahwa ia melihat konsep al-Ghazali tentang pendidik adalah dilihat dari su-
dut pandang posisi pendidik itu sendiri dalam pendidikan, tetapi tidak melihat
esensi pendidik itu sendiri. Jika dicermati secara mendalam sembilan poin yang
dirumuskan al-Ghazali, maka kita dapat memahami akan nilai-nilai yang harus
ada pada jiwa seorang pendidik. Sembilan poin tersebut berbicara tentang bagai-
mana pendidik itu seharusnya mendidik peserta didik. Jika sembilan nilai tersebut
benar-benar diamalkan oleh pendidik zaman sekarang dengan dukungan sistem
pendidikan yang benar, maka out put yang dihasilkannya benar-benar memiliki
ketakwaan yang tinggi dan intelektual yang mumpuni.



28
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 213-214, mengutip tulisan M Arifin, filsafat pendidikan islam,
jakarta: bumi aksara, cet 1, 1991, hlm. 87
29
Ibid., hlm. 214-215
2.2.3 Murid
Adanya pendidik tanpa adanya yang dididik menjadi tidak berarti. Bagaikan
piring tanpa makanan, menyebabkan tidak berarti apa-apa. Seperti halnya pendi-
dik, peserta didik atau murid dalam pandangan al-Ghazali juga telah dirumuskan
konsepnya. Abuddin Nata mengenai hal ini mengutip tulisan dari Muhammad
Athiyyah al Abrasyi sebagai berikut:
1. Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabur. Hal ini
seja-lan dengan pendapat al-Ghazali yang mengatakan bahwa menuntut ilmu
merupa-kan perjuangan yang berat yang menuntut kesungguhan tinggi, dan
bimbingan da-ri guru.
2. Merasa satu bangunan dengan murid yang lainnya sehuingga merupakan
satu bangunan dengan murid lainnya yang saling menyayangi dan menolong
serta berkasih sayang
3. Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai mazhab yang dapat
menimbulkan kekacauan dalam pikiran
4. Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat saja, melainkan
berbagai ilmu dan berupaya bersungguh-sungguh sehingga mencapai tujuan
dari tiap ilmu tersebut.
30

Kemudian Abuddin Nata memberikan komentarnya terhadap konsep murid
tersebut sebagai berikut:
Ciri-ciri murid yang demikian nampak juga masih dilihat dari pers-
pektif tasawuf yang menempatkan murid sebagaimana murid tasawuf di
hadapan gurunya. Ciri-ciri tersebut untuk masa sekarang tentu masih
perlu ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreativitas
dan kegairahan dalam belajar.
31

Poin-poin di atas adalah sebuah gagasan yang sangat bagus tentang kedu-
dukan murid dalam pendidikan. Nilai-nilai memuliakan guru, ukhuwah
Islamiyyah dengan sesama teman kelasnya, dan bersungguh-sungguh dalam me-
nuntut ilmu di zaman sekarang ini telah mulai tidak terdeteksi. Meskipun hampir
di sekolah-sekolah di Indonesia sejak SD telah ditanamkan nilai-nilai menghargai
guru maupun orang lain, namun faktanya remaja-remaja bangsa ini mengalami
kebobrokan mental. Mulai dari bolos, tawuran, kerusuhan, hingga hilangnya ke-

30
Ibid., hlm. 215-216 mengutip tulisan Muhammad athiyyah al abrasyi, al-tarbiyah akl-
islamiyyah wa falasifatu7ha, mesir, isa al -babi al hababi, cet 3, 1975, h.273
31
Ibid., hlm. 216
perawanan adalah ffenomena yang terang-benderang di tengah komunitas masya-
rakat bangsa ini.

2.2.4 Kurikulum
Menurut pandangan al-Ghazali, ilmu dapat dilihat dari dua segi, yaitu ilmu
sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. Dari segi pertama, al-Ghazali membagi
ilmu menjadi ilmu hissiyat, ilmu aqliyah, dan ilmu ladunni. Ilmu hissiyah
diperoleh manusia melalui penginderaan, sedangkan ilmu aqliyah diperoleh me-
lalui kegiatan berpikir (akal), sedangkan ilmu ladunni diperoleh langsung dari
Allah tanpa melalui proses penginderaan atau pemikiran (nalar) melainkan me-
lalui hati.
32

Sedangkan pembagian ilmu sebagai objek dibagi menjadi tiga sebagai beri-
kut:
5. Ilmu yang tercela secara mutlak, banyak atau sedikit seperti sihir, azimat,
nujum, dan ilmu tentang ramalan nasib.
6. Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit. Misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama.
7. Ilmu yang terpuji pada kadar tertentu, yang tidak boleh diperdalam, karena
ilmu ini dapat membawa kepada kufur dan ingkar, seperti ilmu filsafat.
33

Adapun ilmu dikatakan tercela menurut al-Ghazali bila memiliki indikasi
(1) mendatangkan bahaya bagi pemiliknya dan orang lain, (2) mendatangkan
bahaya bagi pemiliknya, dan (3) tidak memberikan manfaat bagi yang
mempelajarinya.
34

Abuddin Nata dalam bukunya juga hampir sama dalam merumuskan tiga il-
mu dilihat dari objeknya. Namun ia menambahkan bahwa dari ketiga kelompok il-
mu tersebut (dilihat dari objeknya), al-Ghazali membagi lagi ilmu tersebut menja-
di dua kelompok ilmu dilihat dari segi kepentingannya, yaitu:
1. Ilmu yang wajib (fardlu) yang diketahui oleh semua orang, yaitu ilmu
agama, ilmu yang bersumber pada kitab Allah

32
Jalaluddin dan Umar Said, Op. Cit., hlm. 140
33
Ibid., hlm. 140-141
34
Ibid., 141
2. Ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu kifayah, yaitu ilmu yang
digunakan untuk memudahkan urusan duniawi, seperti ilmu hitung, ilmu kedok-
teran, teknik, pertanian, dan industri.
35

Adapun Ilmu bahasa dan gramatika menurut al-ghazali hanya berguna untuk
mempelajari agama, atau berguna dalam keadaan darurat saja. Sedangkan ilmu
kedokteran, matematika, dan teknologi hanya bermanfaat bagi kehidupan di
dunia. Ilmu-ilmu sya¶ir, sastra, sejarah, politik, dan etika hanya bermanfaat bagi
manusia dilihat dari segi kebudayaan bagi kesenangan berilmu serta berbagai ke-
lengkapan dalam hidup bermasyarakat.
36

Sejalan dengan itu al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang
harus dipelajari di sekolah. Ilmu pengetahuan tersebut adalah:
1. Ilmu al-quran dan ilmu agama seperti fiqh, hadits, tafsir
2. Sekumpulan bahasa, nahwu, dan makhraj seta lafadz-lafadznya, karena
ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama
3. Ilmu-ilmu fardlu kifayah, yaitu ilmu keokteran, nmatematika, teknologi
yang beraneka macam jenisnya, ternmasuk juga ilmu politik
4. Ilmu kebudayaan seperti sya¶ir, sejarah, dan beberapa cabang filsafat
37

Selanjutnya Abuddin Nata berkomentar bahwa konsep pendidikan al-
Ghazali tersebut merupakan aplikasi dan respon dari jawabannya terhadap
permasalahan sosial kemasyarakatan yang dihadapinya saat itu. Konsep tersebut
jika diaplikasi-kan di masa sekarang nampak sebagiannya masih ada yang sesuai
dengan seba-gian lainnya ada yang perlu disempurnakan. Itulah watak hasil
pemikiran manusia yang selalu menuntun penyempurnaan.
38

Ketidaksesuaian suatu konsep dengan kenyataannya bisa diakibatkan karena
ketidakjelasan metode untuk mengaplikasikannya. Akan tetapi tidak berarti se-
buah konsep tersebut dikatakan jelek. Karena banyak dijumpai hasil yang diper-
oleh dari suatu gagasan tidak seperti yang diharapkan akibat ketidakjelasan meto-
de untuk mewujudkannya. Konsep-konsep al-Ghazali tentang pendidikan dapat

35
Abuddin Nata, Op. Cit., hlm. 216-217
36
Ibid., hlm. 217
37
Ibid.
38
Ibid., hlm. 218
diaplikasikan tatkala konsep tersebut memiliki metode yang jelas. Buku karangan
Muhammad Ismail Yusanto selaku juru bicara (jubir) Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI) berjudul "Menggagas Pendidikan Islami"
39
dapat dijadikan rujukan untuk
menganalisis permasalahan tersebut.


39
Muhammad Ismail Yusanto, dkk, Menggagas Pendidikan Islami, (2004, Bogor: Al-Azhar
Press)
BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulam
Dilahirkan dari keluarga sederhana, dianjutkan dengan bergelut pada ilmu
pengetahuan telah menjadikan al-Ghazali sebagai ulama besar. Perubahan pola
berpikir dari filsafat yang penuh dengan asumsi dan jauh dari kebenaran kepada
berpikir yang bersandar kepada Al-Quran dan Al-Hadits telah menjadikannya
mampu merumuskan konsep pendidikan yang sudah seharusnya siberi
kesempatan untuk diuji di masa sekarang. Dan tentunya hal ini bisa diaplikasikan
tatkala didukung dengan sistem pendidikan yang baik. Dan sistem pendidikan
yang baik hanya bisa berjalan jika ditopang oleh sistem-sistem lainnya. Dan hal
ini bisa menjadi kenyataan tatkala ada institusi yang bisa menjalankan roda sistem
yang dimaksud tersebut. Itulah sistem Khilafa Islamiyyah akhir zaman yang telah
lama dinantikan umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA



Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis,
dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers

Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama

Nata, Abuddin. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama

Jalaluddin dan Umar Said. 1996. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan
Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Mustaqim, dkk. 1999. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan
Kontemporer. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang
Taqiyuddin, Syaikh an-Nabhani. 2001. Nizhamul Islam, (terj. Abu Amin dkk,
peraturan Hidup dalam Islam). Bogor: Pustaka Thariqul Izzah

Al-Quran al-Karim

Ismail, Muhammad Yusanto, dkk. 2004. Menggagas Pendidikan Islami. Bogor:
Al-Azhar Press


= Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis,
Teoritis, dan Praktis, (2002, Jakarta: Ciputat Pers)
= Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (1999, Jakarta: Gaya Media
Pratama)
= Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (2005, Jakarta: Gaya
Media Pratama)
= Jalaluddin dan Umar Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan
Perkembangan Pemikirannya, (1996, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada)
= Mustaqim, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik
Dan Kontemporer, (1999, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Wali
Songo Semarang)
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis, dan
Praktis, (2002, Jakarta: Ciputat Press), hlm. 85

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT tuhan semesta alam Yang telah mencurahkan air dari langit sebagai riski untuk manusia, Yang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menghirup udara-Nya tanpa dipungut biaya sepersen pun, tuhan Yang tidak memiliki kepentingan apa-apa terhadap hamba-Nya, sehingga peraturan yang dibuatnya adalah sebaik-baik peraturan, Yang Maha adil, Maha bijaksana, Yang tidak mengingkari janji-janji-Nya. Satu-satunya Zat Yang berhak disembah, satusatunya Zat Yang berhak membuat hukum, yang sekarang sedang didustakan oleh sebagian besar hamba-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi akhir zaman, Sang Pembebas yang membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama makhluk menjadi penyembahan hanya kepada Allah, serta kepada para sahabat dan generasi penerusnya yang mengalami berbagai kesusahan dan cobaan dalam melanjutkan kehidupan Islam. Karena perantaraan Nabi dan sahabatnya kita sekarang bisa merasakan nikmatnya Islam, iman, dan ihsan. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada kedua orang tua kami yang telah membantu penyelesaian makalah ini dengan dananya yang telah diinfaqkan di jalan Allah ini, maka tunggulah saatnya kami kembali kepada engkau wahai orang tua kami dengan kunci-kunci surga yang diberikan Allah kepada hambahamba-Nya yang ikhlas dalam mendakwahkan islam melalui tulisan dengan pertolongan Allah. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Bapak Asmaun Sahlan selaku dosen pembimbing mata kuliah yang sedang kami tempuh di semester empat ini. Segala masukkan dari Bapak pasti akan mendapatkan pahala dari Allah. Kesempatan untuk memecahkan masalah pendidikan negeri ini sangat klami nantikan. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk duduk bersama memikirkan urusan umat Islam yang sedang terzalimi di akhir zaman ini.

yakni penguasaan kami yang kurang sekali terhadap bahasa Arab.Dalam pembuatan makalah ini tentulah kami sebagai manusia tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan. Dengan ini maka sumber yang kami guunakan adalah sumber sekunder. Dalam waktu dua minggu untuk menyelesaikan makalah ini tidak cukup untuk merujuk langsung kepada kitab-kitab Imam alGhazali. juga karena kesibukan kami masing-masing. ingin kami sampaikan atsar dari 'Umar bin Khaththab ra yang diriwayatkan oleh al-hakim: Kami dulunya adalah kaum yang paling hina. Hal ini dikarenakan beberapa hal. banyaknya materi yang termuat dalam kitab-kitab alGhazali sehingga membutuhkan waktu panjang untuk merumuskan konsep yang dimaksudkan. ia mensahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi) Wallahu a'lam bi ash-Shawab . Dan segala masukan yang berdasar dan bisa dipertanggungjawabkan sangat kami nantikan demi kesuksesan kami dalam penulisan tulisan-tulisan berikutnya. Lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Karena itu. Akhir kata. jika kami mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah telah muliakan kami maka Ia pasti menghinakan kami (AlHakim. Harapan kami dengan adanya makalah ini adalah menjadi bermanfaat bagi pembacanya.

............................................................. ............................. DAFTAR PUSTAKA ....... .....3 Tujuan ...........1 Latar Belakang Masalah .... 2.........................3 Konsep murid . ................................................ . 3. .................... ....2 Konsep pendidik ................... 1......2....... 2........... ............2.. ......... 2....2 Rumusan Masalah ................... ............................................................................ ............1 Perjalanan Hidup al-Ghazali .......................... ........ BAB III PENUTUP 3.................. ............ 2.. ........DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .............................................. ....................... 1............. BAB II PEMBAHASAN ...... ......4 kurikulum ....2........................................................................... .................................................................2 Saran ....2 Pemikiran Pendidikan al-Ghazali ............. ................... 1. .......... 2.....................1 Kesimpulan .. ....... ............................. BAB I PENDAHULUAN ..... ................................. 2... ..................................................................................................................1 Tujuan pendidikan ................. .............................. .... ....2....

1 Latar Belakang Masalah Perilaku seorang manusia terhadap sesuatu tergantung dari persepsinya terhadap sesuatu tersebut.3 Tujuan Dari rumusan masalah di atas.2. maka tujuan pembuatan makalah ini antara lain: 1. dan kurikulum pendidikan? 1.2. murid.1 untuk mengetahui perjalanan hidup al-Ghazali 1.3 Bagaimana pandangan al-Ghazali tentang pendidik.1 Bagaimana perjalanan hidup al-Ghazali? 1.3. Ulama besar al-Ghazali pernah mengalami sebuah masa dimana ia mengalami kegoncangan dalam berpikir.BAB I PENDAHULUAN 1. maka pembahasan pada makalah ini dibatasi pada masalah: 1. hingga kemudian memutar balik metode berpikirnya. 1.2 untuk mendalami pandangan al-Ghazali tentang tujuan pendidikan 1.3 untuk mendalami pemikiran atau pandangan al-Ghazali tentang pendidik. Perjalanan kehidupan seseorang dapat mempengaruhi persepsinya sehingga juga berakibat pada aktivitasnya.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut di atas.2 Bagaimana pandangan al-Ghazali tentang tujuan pendidikan? 1. murid.3. dan kurikulum pendidikan . Pemikiran alGhazali terhadap pendidikan pun tidak lepas dari corak berpikirnya.3.2.

hlm. salah satu kota pusat ilmu pengetahuan. Selama lima tahun yakni 465470 H al-Ghazali belajar ilmu fiqh dan ilmu-ilmu dasar lainnya kepada Ahmad alRadzkani di Thus dan dari Abu Nashr al-Isma¶ili di Jurjan. hlm. hlm. seorang ulama yang bermadzhab Syafi¶i yang pada saat itu menjadi guru besar di Naisyafur ataau Naisabur. Al-Ghazali wafat di Tabristan wilayah propinsi Thus pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 H/1 desember 1111 M.. (1999. hlm. Jakarta: Gaya Media Pratama).5 Tahun 473 H ia pergi ke Naisabur untuk belajar di madraasah alNizhamiyah dan di sana ia berkenalan dengan Imam al-Haramain Abi al-Ma¶ali al-Juwaini. ia dan saudaranya Ahmad tumbuh menjalani kehidupannya dalam kesederhanaan bersama dengan seorang sufi teman ayahnya selama kurang lebih 15 tahun.6 Dari al-Juwaini inilah al-Ghazali belajar ilmu kalam dan mantiq dan di Naisabur 1 Samsul Nizar. 85 2 Abuddin Nata. 78 6 Abuddin Nata. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis. Teoritis. lahir pa-da tahun 450 H/ 1058 M di Thus (wilayah Khurasan). 77 5 Ibid. Kemudian al-Ghazali kembali ke Thus lagi dan selama tiga tahun di Thus ia mengkaji ulang pelajarannya di Jurjan sambil belajar tasawuf kepada Yusuf al-Nassaj (w. (2002. maka keduanya dimaukkan ke sekolah. Filsafat Islam. Filsafat Pendidikan Islam. Cit. Jakarta: Ciputat Press). Jakarta: Gaya Media Pratama).4 Suatu ketika karena sufi tersebut tidak mampu lagi menghidupi al-Ghazali dan Ahmad.BAB II PEMBAHASAN 2.1 Perjalanan Hidup al-Ghazali Namanya adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali. 209 3 Ibid 4 Hasyimsyah Nasution. Sepeninggal ayahnya yang bekerja sebagai pemintal benang. 1 Atau lebih tepatnya lagi di Ghazaleh. hlm. dan Praktis.. 209 . Op. (2005. 487 H). kota kecil di Thus Khurasan2.3 AlGhazali berasal dari keluarga sederhana.

al-Ghazali meninggalkan Naisabur untuk berjumpa dengan Nizham al-Mulk. Dari perdebatan yang dimenangkannya ini.8 Ilmu-ilmu yang dipelajarinyanya inilah yang kemudian mempengaruhi sikap dan pandangan ilmiahnya di kemudian hari. Hasyimsyah Nasution. (1996.12 Selama mengajar di madrasah ini dengan tekunnya al-Ghazali mendalami fil-safat secara otodidak. Op. filsafat. Hal ini terlihat dari karya tulisnya yang dibuat dalam berbagai bidang dalam ilmu pengetahuan. dan ilmu-ilmu alam. Op. 139 11 Hasyimsyah Nasution. 9 Ibid. dan dalam ilmu filsafat ia menulis Maqasid al-Falasifah (tujuan dari filsafat) dan Tahafut al-Falasifat (kekacauan dari filsafat). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada). ibn Maskawaih. dalam ilmu hukum Islam ia menulis kitab al-Musytasyfa¶ (yang menyembuhkan). Cit. Cit. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya.11 Setelah gurunya wafat. hlm. al-Ghazali diperkenalkan dengan Nizham al-Mulk yang menjabat sebagai perdana menteri Saljuk Malkiyyah sekaligus pendiri madrasah al-Nizhamiyah. Dalam bidang tasawuf dan fiqh ia menulis buku Ihya¶ µUlum al-Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama).. namanya semakin populer dan disegani karena keluasan ilmunya. Pada tahun 484 H/1095 M alGhazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nizhamiyah Baghdad selama lebih kurang empat tahun. 12 Ibid. 210 10 Jalaluddin dan Umar Said.9 Al-Juwaini menggelari al-Ghazali dengan gelar Bahrun Mughriq (laut yang menenggelamkan) karena melihat kemampuan dan kecerdasan al-Ghazali. ibn Sina. Pengalaman hidupnya selama di madrasah Nizhamiyah ini dijelaskan dalam bukunya al-Munqidz min al-Dhalal. hlm. Cit. hukum Islam..7 Di Naisyafur ini al-Ghazali mempelajari teologi.ini pula ia sempat belajar kepada Abu µAli al-Fadhl ibn Muhammad ibn µAli alFarma-dzi (w.. sufisme. 477 H/1084 M). Abuddin Nata. Op. Dalam ilmu kalam al-Ghazali menulis buku berjudul Ghayah alMaram fi 'Ilm al-Kalam (tujuan mulia ilmu kalam). 8 7 . logika.10 Sebelum al-Juwaini wafat tahun 478 H. terutama pemikiran al-Farabi. Di daerah ini ia mendapat kehormatan untuk berdebat dengan para ulama.

Al-Ghazali dilanda keragu-raguan. kegunaan pekerjaannya. 13 14 Ibid.. Demikian juga bintang-bintang di langit kelihatannya kecil. Lebih lanjut al-Ghazali tidak hanya menentang pengetahuan yang di-hasilkan akal pikiran. Ia misalnya menyatakan ³bayangan (rumah) ke-lihatannya tidak bergerak. sehingga ia menderita sakit selama dua bulan dan sulit diobati..14 Perjalanan al-Ghazali berlanjut pada tahun 488 H/ 1095 M. al Wajiz. teologi. Op. al-Ghazal mengarang beberapa buku antara lain al Basith. Hal ini disebabkan dalam ilmu kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Op. Ma¶khaz al Kalaf. Sebagaimana halnya dalam ilmu kalam. Ia misalnya ragu terhadap ilmu kalam (teologi) yang dipelajarinya dari al-Juwaini. Pada saat inilah ia menulis buku yang berjudul Maqasid al-Falsafah (pemikiran kaum filosof). dan hasil karyanya. 210-211 . Khulasah µIlm al Fiqh. 86 15 Hasyimsyah Nasution. tetapi sebenarnya bergerak dan pindah tem-pat´. Skeptis terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum. dan filsafat). Mamadi wa al Ghayat fi Fan al-Khalaf. hlm.. Buku ini dikarangnya untuk kemudian mengkritik dan menghantam filsafat.13 Selama mengajar di Baghdad. Menurutnya panca indera tidak dapat dipercaya karena mengandung kedustaan. sehingga dapat membingunkan dalam menetapkan aliran mana yang betul-betul benar di antara semua aliran.dan Ikhwan al-Shafa¶. Ia akhirnya mengambil sikap menentang filsafat. Lubab al Nadzar. tetapi hasil perhitungan mengatakan bahwa bintang-bintang itu lebih besar dari bumi. Abuddin Nata memberikan argumen mengenai hal ini dalam bukunya16: Dalam pada itu Sejarah Filsafat Islam mencatat bahwa al-Ghazali pada mulanya dikenal sebagai orang yang ragu terhadap berbagai ilmu pengetahuan. baik ilmu yang dicapai melalui panca indera maupun akal pikiran. Op. Cit.15 Pada masa inilah yang kemudian dikenal dalam Sejarah Filsafat Islam sebagai masa peubahan seratus delapan puluh derajat pemikiran al-Ghazali. Tahsin al Maakhudz. Cit. al-Ghazali meragukannya karena dalam filsafat dijumpai argumen-argumen yang tidak kuat. tetapi ia juga menentang pengetahuan yang dihasilkan panca indera. al Munqil fi µIlm al Jadal. 16 Abuddin Nata. Cit. Samsul Nizar. dan menurut keyakinannya ada yang bertentangan dengan agama Islam. hlm. dalam ilmu filsafatpun sebagaimana dikemukakan di atas. Kritik itu muncul dalam buku lainnya yang berjudul Tahafut alFalsafah (keka-cauan pemikiran-pemikiran filosof).

Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan Kontemporer. Akhirnya ia meninggalkan Baghdad menuju Damaskus. 86 18 17 . mendalami filsafat dengan didampingi seorang ahli filsafat pun dapat menyebabkan kerancuan berpikir. Cit. Kerancuan pemahamannya nampak ketika menyatakan bahwa panca indera tidak bisa dipercaya karena mengandung kedustaan. Palestina untuk melaksanakan ibadah serupa. dan mujahadah. Kedatngan alGhazali yang kedua di Nizhamiyah ini. hlm. Sepulang dari tanah suci. al-Ghazali mengunjungi kota kelahirannya. Sekarang ia menjadi seorang sufi dan cende-rung memberi penilaian relatif terhadap kebenaran inderawi. Pada periode itulah ia menulis karyanya yang terbesar Ihya¶ µUlum al-Din (The Revival of the Religius Sciences²menghidupkan kembali ilmuilmu agama). Kondisi ini membuat al-Ghazali berubah sikap. Selama kira-kira dua tahun al-Ghazali di kota ini. (1999. riyadhah.Kegoncangan berpikir al-Ghazali sangat terlihat jelas dengan pendapatnya yang menyimpulkan bahwa kebenaran adalah relatif.18 Hasyimsyah Nasution. Kemudian ia pindah ke Bait al-Maqdis. ia melakukan uzlah. Hasyimsyah nasution17 meng-gambarkan kondisi ini yang dikutip dari karya al-ghazali al-Munqidz min al-Dhalal: « karena itu al-Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah Nizhamiyah. Op. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang). Jangankan secara otodidak. Keadaan skeptis al-Ghazali ini berlangsung selama sepuluh tahun. Perjalanan hidupnya yang sempat belajar filsafat secara otodidak menjadi penyebab kerancuan berpikirnya. Dalam bukunya ia menjelaskan sebagai berikut: « Meditasi al-Ghazali berakhir pada tahun 498 H/ 1105 M ketika mene-rima kembali tawaran Fakhrul Muluk putera Nizhamul Muluk untuk mengajar lagi di madrasah Nizhamiyah Naisabur. Thus. dkk. Penjelasan lebih rinci disampaikan oleh Mustaqim mengenai kelanjutan perjalanan hidup al-Ghazali setelah sembuh dari masa-masa keraguannya. setelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarahi makam Rasulullah. Karya yang muncul saat itu adalah al-Munqidz min al-Dhalal. corak berfikirnya berbeda dengan sebelumnya (rasionalis). Mustaqim. Hal ini dikarenakan filsafat itu sendiri. di sini pun ia tetap berkhalwat.

pemi-kiranlah yang membentuk dan memperkuat 19 20 21 Samsul Nizar. hlm. 210 Samsul Nizar. hlm. Cit. dan manusia.21 2. Cit. Maka tak aneh jika ulama-ulama memberikan gelar kepadanya. op. 85 .. Agar manusia bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini. dan sesudah kehidupan dunia.2. untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Cit.. Sebab.2 Pemikiran Pendidikan al-Ghazali 2. Syaikh al-Sufiyyin (guru besar dalam tasawuf) dan Imam al-Murabin (pakar bidang pendidikan).. Op. Perlakuan seseorang terhadap sesuatu yang dicintainya akan berbeda dengan perlakuannya terhadap sesuatu yang dibencinya. Setelah mengajar di beberapa tempat (Baghdad. Atau dengan kata lain persepsi seseorang terhadap sesuatu lah yang mempengaruhi perlakuannya. serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada se-belum alam kehidupan.Perjalanan panjang al-Ghazali berakhir di tanah kelahirannya Thus. al-Ghazali kemudian kembali ke Thus pada tahun 1105 M lalu mendirikan sebuah madrasah dan mengabdikan diri sebagai pendidik hingga wafat tahun 505 H/1111 M pada usia 55 tahun. hlm. Syam.1 Tujuan pendidikan Seorang manusia beraktifitas tidak terlepas dari pandangan hidup yang dijadikan asas berfikirnya. alam semesta. Sehingga tingkah lakunya dalam kehidupan juga tergantung dari pemahamannya terhadap kehidupan yang menjadi asas berfikirnya. Naisabur). 20 Gelar Hujjatul Islam diberikan karena jasanya mengomentari dan melakukan pembelaan terhadap serangan-serangan yang dapat menyebabkan kesesatan baik dar kalangan Islam maupun Barat terhadap akidah umat Islam.19 Perjalanan panjang yang penuh dengan liku dan tantangan menjadikan al Ghazali menjadi ulama besar. 87 Abuddin Nata. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab nizhamul Islam yang diterjemahkan oleh Abu Amin dkk berjudul Peraturan hidup dalam islam: Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup. Op. diantaranya al-Ghazali mendapat gelar Hujjatul al-Islam (pembela Islam).

yang berlawanan terhadap orang lain yang di-bencinya. hlm. pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. terj.22 Dari penjelasan-penjelasan sebelumnya dapatlah dilihat perjalanan kehidupan al-Ghazali yang mengalami kegoncangan hidup akibat filsafat yang dipelajarinya secara otodidak. Sistem Pendidikan Versi al-Gazali. Cit. Nizhamul Islam. hlm. Adapun Jalaludin dan Umar Said berpendapat tentang pemikiran al-Ghazali terhadap pendidikan. yakni: Menurut pendapat Imam Al-Gazali. sehingga kemudian membuatnya mengkritik habis-habisan filsafat dan para pemikirnya. dan manusia selalu mengatur tingkah lakunya di dalam ke-hidupan sesuai dengan mafahimnya terhadap kehidupan. hlm. 87 22 . Selain itu ia memahami bahwa alSyaikh Taqiyuddin an-Nabhani. (2001. Op. Sehingga melihat penjelasan Syaikh Taqiyuddin anNabhani di atas. sehingga pendidikan merupakan ibadah dan upaya peningkat-an kualitas diri. Ayyuha al-Walad.23 Adapun menurut Samsul Nizar. kemudian memahami perjalanan hiduop al-Ghazali akan diketahui bahwa pendidikan dalam pandangan al-ghazali adalah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah). karena ia memiliki mafahim kebencian terhadapnya. dan taqarrub ila Allah. Ihya µUlum al-Din. Op. 1 23 Jalaluddin dan Umar Said. Bandung: Al-Ma¶arif) 24 Samsul Nizar.. dan proses pendidikan me-rupakan sarana utama untuk menyiarkan ajaran islam. Fathur Rahman May dan Syamsuddi Asyrafi. memelihara jiwa.24 Begitu pula dengan Abuddin Nata yang memahami pendidikan menurut alGhazali adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk kebahagiaan dunia akhirat. (1986. 139. mengutip Fathiyah Hasan Sulaiman. Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mende-katkan diri pada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat serta me-nurutnya pendidikan adalah transinternalisasi ilmu. peraturan Hidup dalam Islam). (terj.mafahim (persepsi) terhadap se-gala sesuatu. Abu Amin dkk. corak pemikiran pendidikan al-Ghazali dapat dilihat dari bukunya Fatihatal Kitab. Cit. ia menambahkan bahwa Al-Ghazali lebih menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik.. Namun. mafahim seseorang terhadap orang yang dicintainya akan membentuk peri-laku terhadap orang tersebut. Sebagai contoh.

«Tujuan pendidikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang. dan banyak memi-kirkan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. Adz-Dzariyat [51]: 56) Selain itu rumusan tersebut mencerminkan sikap zuhud al-ghazali terhadap dunia. maka anak itu akan berakhlak jelek. Karena jika tujuan di-arahkan bukan pada mendekatkan diri pada Allah SWT. Hati seorang anak itu bersih.R. murni. akan dapat menim-bulkan kedengkian. dan permusuhan. makanan dan minuman serta fasilitas belajar lainnya. merasa qana¶ah (merasa cukup dengan yang ada). kebencian. Hal ini anara lain disebabkan karena ia sangat menekankan pe-ngaruh pendidikan terhadap anak didik. «Dalam masalah pendidikan al-Ghazali lebih cenderung berpaham empirisme. yaitu: _ 4/_WT B I  / P[\  $WT DT j  Wl  Y Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Menurutnya seorang anak tergan-tung kepada orang tua dan orang yang mendidiknya. Muslim) Sejalan dengan hadits tersebut. Sikap yang demikian itu diperlihatkannya pla ketika rekan ayahnya mengirim al-Ghazali beserta saudaranya. Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW yang menegaskan: Setiap anak dilahirkan atas fitrahnya. bukan untuk mencari harta dan kenik-matan. laksana permata yang sangat berharga sederhana dan bersih da-ri gambaran apapun. yaitu sebagai orang yang tumbuh menjadi ulama besar yang menguasai berbagai il-mu pengetahuan. nasrani. yang disebabkan karena pendidikan.Ghazali memahami kehidupan sebagai kehidupan sesaat sekaligus menunjukkan ke-zuhud-an al-Ghazali. Ahmad. maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya yahudi. Pentingnya pendidikan ini didasarkan kepada pengalaman hidup al-Ghazali sendiri. Berkenaan dengan hal ini al-Ghazali berkata. ke madrasah Islamiyah yang menyediakan berbagai sarana. . atau majusi. maka anak itu menjadi baik. (H. al-Ghazali mengatakan jika anak menerima ajaran dan kebiasaan hidup yang baik. Rumusan pendidikan yang demikian itu sejalan dengan firman Allah SWT tentang tujuan penciptaan manusia. Se-baliknya jika anak itu dibiasakan melakukan perbuatan buruk dan dibiasakan kepada hal-hal yang jahat. ³Aku dat-ang ke tempat ini untuk mencarti keridhaan Allah.

melainkan dunia itu sebagai alat saja. 87 . Cit. Dalam pendidikan terdapat komponen-komponen yang menjadi persyaratan sehingga ia bisa berjalan.2 Konsep pendidik Pendidikan secara umum dipahami sebagai proses transfer knowledge. Pendidik dipa-hami dengan berbagai pandangan. Ada pula 25 26 Abuddin Nata. Op. 4T  S . Ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghazali tidak sama sekali menistakan kehidupan dunia. 25 $ [  o n[] Q n Lebih lanjut Samsul Nizar merumuskan tujuan pendidikan dari pemahamannya terhadap pemikiran al-Ghazali. 211-213 Samsul Nizar. Adh-Dhuha [93]: 4).P  S NOWT  U Wl 4rj Ketahuilah. tidak abadi dan akan rusak. hlm.26 2. tidak kekal. Al-Hadid [57]: 21) \B \'\UWT sPT9] Dan Sesungguhnya hari Kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan) (QS. Satu di antara komponen tersebut adalah pendidik. sedangkan akhirat adalah desa yang kekal. maut senantiasa mengintai setiap saat.Rumusan pendidikan yang demikian itu juga karena al-Ghazali memandang kehidupan dunia ini bukan merupakan hal yang pokok. Tujuan utama pendidikan Islam adalah akhlakul karimah 3. hlm.2. Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmu itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah 2.. bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan. sehingga orang tersebut derajatnya lebih tinggi di sisi Allah dan lebih luas kebahagiaannya di akhirat. Op.. Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat ada-lah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat. Ada yang memahaminya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan informasi dalam proses belajar mengajar. yakni: 1. (QS. Tujuan pendidikan islam adalah mengantarkan peserta didik kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. sedangkan maut d apat memutuskan kenikmatan setiap saat. Cit. Hal ini dipahami al-Ghazali berda-sarkan pada isyarat al-Quran: QSWl[U  [. Dunia hanya tempat lewat sementara.

Guru harus mencintai muridnya seperti mencintai anak kandungnya sen diri. hlm. 4. Guru harus mengamalkan yang diajarkannya.27 Lebih lanjut lagi. dan jiwa anak didiknya. Guru jangan mengharapkan materi (upah) sebagai tujuan utama dari pekerjaannya (mengajar). Abuddin Nata telah merumuskan ciri-ciri pendidik yang boleh melaksanakan pendidikan menurut al-Ghazali yang dikutipnya dari tulisan Arifin. menyempurnakan. lapang dada. murah hati dan berakhlak terpuji lainnya 6.yang mema-hami pendidik hanya sebatas fasilitator dalam proses belajar mengajar. Guru harus memahami minat. Guru harus mengajarkan pelajaran yang sesuai dengan intelektual dan daya tangkap anak didiknya 7. guru harus memberikan contoh yang baik. Samsul Nizar mengutip dari Ihya¶ µUlum al-Din memahami bahwa pendidik dalam pandangan al-Ghazali adalah orang yang berusaha membimbing. tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. karena mengajar adalah tugas yang diwariskan oleh Nabi saw sedangkan upahnya dalah terletak pada terbentuknya anak didik yang mengamalkan ilmu yang diajarkannya. Di hadapan muridnya. 5. bakat. 3. karena ia menjadi idola di mata anak muridnya 8. sehingga di samping tidak akan salah dalam mendidik. 88 . yaitu ilmu yang membawwa pada kebahagiaan dunia dan akhirat. seperti berjiwa halus. Guru harus mengingatkan muridnya agar tujuannya dalam menuntut ilmu bukan untuk kebanggaan diri atau mencari keuntungan pribadi. meningkatkan. yakni: 1. dan mensucikan hati sehngga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Guru harus mendorong muridnya agar mencari ilmu yang bermanfaat. 2. juga akan terjalin hubungan yang akrab dan baik antara guru dengan anak didiknya 27 Ibid.

hlm. Op. Guru pada masa sekarang lebih dilihat sebagai fasilitator. tetapi tidak melihat esensi pendidik itu sendiri. hlm. idola bahkan mempunyai kekuatan spiritual. maka kita dapat memahami akan nilai nilai yang harus ada pada jiwa seorang pendidik. karena ilmu pengetahuan dan informasi sudah dikuasai bukan hanya oleh guru. Sembilan poin tersebut berbicara tentang bagaimana pendidik itu seharusnya mendidik peserta didik. cet 1. dimana sang murid sangat bergantung kepadanya. Dengan posisi seperti ini nampak guru memegang peranan penting dalam pendidikan. Cit. maka out put yang dihasilkannya benar-benar memiliki ketakwaan yang tinggi dan intelektual yang mumpuni.28 Dalam bukunya tersebut kemudian Abuddin Nata memberikan komentar terhadap rumusan konsep pendidik menurut al-Ghazali di atas. sehingga akal pikiran anak didiknya tersebut akan dijiwai oleh keimanan itu. mengutip tulisan M Arifin. 87 29 Ibid. 214-215 . pemandu atau narasumber yang mengarahkan jalannya proses be lajar mengajar. Jika sembilan nilai tersebut benar-benar diamalkan oleh pendidik zaman sekarang dengan dukungan sistem pendidikan yang benar. Jika dicermati secara mendalam sembilan poin yang dirumuskan al-Ghazali. jakarta: bumi aksara. sedangkan aspek keahlian. hlm. dapat dipahami bahwa ia melihat konsep al-Ghazali tentang pendidik adalah dilihat dari sudut pandang posisi pendidik itu sendiri dalam pendidikan. Hal ini dapat dipahami kare na paradigma (cara pandang) yang digunakan untuk menentukan guru tersebut adalah paradigma tasawuf yang menempatkan guru sebagai figur sentral. 213-214.9. Jika tipe ideal guiru yang dikehendaki al-Ghazali tersebut di atas dilihat dari perspektif guru sebagai profesi nampak diarahkan pada aspek moral dan kepribadian guru. Posisi guru dalam pendidikan modern saat ini bukan merupakan satu-satunya agen ilmu pengetahuan dan informasi. Hal ini mungkin kurang sejalan lagi dengan pola dan pendidikan yang diterapkan pada masyarakat modern saat ini. melainkan oleh peralatan teknologi penyimpan data dan sebagainya.29 Jika dicermati secara mendalam pendapat Samsul Nizar di atas... Guru harus dapat menanamkan keimanan ke dalam pribadi anak didiknya. 1991. profesi dan penguasaan terhadap materi yang diajarkan dan materi yang harus dikuasainya nampak kurang diperhatikan. 28 Abuddin Nata. filsafat pendidikan islam.

dan bimbingan da-ri guru. Mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat saja..2. melainkan berbagai ilmu dan berupaya bersungguh-sungguh sehingga mencapai tujuan dari tiap ilmu tersebut. 2. Bagaikan piring tanpa makanan. kerusuhan. isa al -babi al hababi. hlm. menyebabkan tidak berarti apa-apa. Mulai dari bolos. h. Abuddin Nata mengenai hal ini mengutip tulisan dari Muhammad Athiyyah al Abrasyi sebagai berikut: 1.31 Poin-poin di atas adalah sebuah gagasan yang sangat bagus tentang kedudukan murid dalam pendidikan. Memuliakan guru dan bersikap rendah hati atau tidak takabur. Menjauhkan diri dari mempelajari berbagai mazhab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran 4.273 31 Ibid. ukhuwah Islamiyyah dengan sesama teman kelasnya. Ciri-ciri tersebut untuk masa sekarang tentu masih perlu ditambah dengan ciri-ciri yang lebih membawa kepada kreativitas dan kegairahan dalam belajar. Merasa satu bangunan dengan murid yang lainnya sehuingga merupakan satu bangunan dengan murid lainnya yang saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayang 3. namun faktanya remaja-remaja bangsa ini mengalami kebobrokan mental. dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu di zaman sekarang ini telah mulai tidak terdeteksi. 216 .. Hal ini seja-lan dengan pendapat al-Ghazali yang mengatakan bahwa menuntut ilmu merupa-kan perjuangan yang berat yang menuntut kesungguhan tinggi. mesir. 30 Kemudian Abuddin Nata memberikan komentarnya terhadap konsep murid tersebut sebagai berikut: Ciri-ciri murid yang demikian nampak juga masih dilihat dari perspektif tasawuf yang menempatkan murid sebagaimana murid tasawuf di hadapan gurunya. al-tarbiyah aklislamiyyah wa falasifatu7ha. Seperti halnya pendidik. 1975. 215-216 mengutip tulisan Muhammad athiyyah al abrasyi.2. cet 3. hlm. tawuran. Meskipun hampir di sekolah-sekolah di Indonesia sejak SD telah ditanamkan nilai-nilai menghargai guru maupun orang lain. peserta didik atau murid dalam pandangan al-Ghazali juga telah dirumuskan konsepnya. hingga hilangnya ke- 30 Ibid.3 Murid Adanya pendidik tanpa adanya yang dididik menjadi tidak berarti. Nilai-nilai memuliakan guru.

banyak atau sedikit. 140-141 34 Ibid.34 Abuddin Nata dalam bukunya juga hampir sama dalam merumuskan tiga ilmu dilihat dari objeknya. 6. Ilmu yang wajib (fardlu) yang diketahui oleh semua orang. Op. Dari segi pertama. 141 33 . karena ilmu ini dapat membawa kepada kufur dan ingkar.33 Adapun ilmu dikatakan tercela menurut al-Ghazali bila memiliki indikasi (1) mendatangkan bahaya bagi pemiliknya dan orang lain. yang tidak boleh diperdalam.. sedangkan ilmu ladunni diperoleh langsung dari Allah tanpa melalui proses penginderaan atau pemikiran (nalar) melainkan melalui hati. Ilmu yang terpuji pada kadar tertentu.perawanan adalah ffenomena yang terang-benderang di tengah komunitas masyarakat bangsa ini. Ilmu yang terpuji. hlm. hlm. 32 Sedangkan pembagian ilmu sebagai objek dibagi menjadi tiga sebagai berikut: 5.2. yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai obyek. 140 Ibid. seperti ilmu filsafat. al-Ghazali membagi lagi ilmu tersebut menjadi dua kelompok ilmu dilihat dari segi kepentingannya. ilmu yang bersumber pada kitab Allah 32 Jalaluddin dan Umar Said. 2. al-Ghazali membagi ilmu menjadi ilmu hissiyat. Cit. ilmu aqliyah. nujum. yaitu: 1. Namun ia menambahkan bahwa dari ketiga kelompok ilmu tersebut (dilihat dari objeknya). (2) mendatangkan bahaya bagi pemiliknya.4 Kurikulum Menurut pandangan al-Ghazali.. Ilmu yang tercela secara mutlak. banyak atau sedikit seperti sihir. sedangkan ilmu aqliyah diperoleh melalui kegiatan berpikir (akal). azimat. yaitu ilmu agama. dan (3) tidak memberikan manfaat bagi yang mempelajarinya. dan ilmu tentang ramalan nasib. Misalnya ilmu tauhid dan ilmu agama.. dan ilmu ladunni. Ilmu hissiyah diperoleh manusia melalui penginderaan. 7. ilmu dapat dilihat dari dua segi.

Konsep tersebut jika diaplikasi-kan di masa sekarang nampak sebagiannya masih ada yang sesuai dengan seba-gian lainnya ada yang perlu disempurnakan. Ilmu al-quran dan ilmu agama seperti fiqh. hlm.38 Ketidaksesuaian suatu konsep dengan kenyataannya bisa diakibatkan karena ketidakjelasan metode untuk mengaplikasikannya. dan makhraj seta lafadz-lafadznya. Ilmu-ilmu fardlu kifayah. sejarah. Sekumpulan bahasa. nmatematika.. dan beberapa cabang filsafat37 Selanjutnya Abuddin Nata berkomentar bahwa konsep pendidikan alGhazali tersebut merupakan aplikasi dan respon dari jawabannya terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan yang dihadapinya saat itu. seperti ilmu hitung. teknologi yang beraneka macam jenisnya. Karena banyak dijumpai hasil yang diperoleh dari suatu gagasan tidak seperti yang diharapkan akibat ketidakjelasan metode untuk mewujudkannya. yaitu ilmu keokteran. Itulah watak hasil pemikiran manusia yang selalu menuntun penyempurnaan..35 Adapun Ilmu bahasa dan gramatika menurut al-ghazali hanya berguna untuk mempelajari agama. Ilmu kebudayaan seperti sya¶ir. hlm. 216-217 Ibid. Ilmu-ilmu sya¶ir. Sedangkan ilmu kedokteran. Op. sejarah. Cit. politik. hadits. Akan tetapi tidak berarti sebuah konsep tersebut dikatakan jelek. ilmu kedokteran. dan industri. nahwu.2. matematika. Ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardlu kifayah. Konsep-konsep al-Ghazali tentang pendidikan dapat Abuddin Nata. karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama 3. 217 37 Ibid. pertanian. dan teknologi hanya bermanfaat bagi kehidupan di dunia. yaitu ilmu yang digunakan untuk memudahkan urusan duniawi.. 38 Ibid. Ilmu pengetahuan tersebut adalah: 1.36 Sejalan dengan itu al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah. tafsir 2. dan etika hanya bermanfaat bagi manusia dilihat dari segi kebudayaan bagi kesenangan berilmu serta berbagai kelengkapan dalam hidup bermasyarakat. ternmasuk juga ilmu politik 4. atau berguna dalam keadaan darurat saja. teknik. sastra. 218 36 35 . hlm.

diaplikasikan tatkala konsep tersebut memiliki metode yang jelas. Buku karangan Muhammad Ismail Yusanto selaku juru bicara (jubir) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berjudul "Menggagas Pendidikan Islami"39 dapat dijadikan rujukan untuk menganalisis permasalahan tersebut. 39 Muhammad Ismail Yusanto. dkk. Menggagas Pendidikan Islami. Bogor: Al-Azhar Press) . (2004.

Perubahan pola berpikir dari filsafat yang penuh dengan asumsi dan jauh dari kebenaran kepada berpikir yang bersandar kepada Al-Quran dan Al-Hadits telah menjadikannya mampu merumuskan konsep pendidikan yang sudah seharusnya siberi kesempatan untuk diuji di masa sekarang.BAB III PENUTUP 3. dianjutkan dengan bergelut pada ilmu pengetahuan telah menjadikan al-Ghazali sebagai ulama besar. Dan sistem p endidikan yang baik hanya bisa berjalan jika ditopang oleh sistem-sistem lainnya. Itulah sistem Khilafa Islamiyyah akhir zaman yang telah lama dinantikan umat Islam. . Dan hal ini bisa menjadi kenyataan tatkala ada institusi yang bisa menjalankan roda sistem yang dimaksud tersebut. Dan tentunya hal ini bisa diaplikasikan tatkala didukung dengan sistem pendidikan yang baik.1 Kesimpulam Dilahirkan dari keluarga sederhana.

1996. Samsul. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis. Syaikh an-Nabhani. Filsafat Pendidikan Islam. Hasyimsyah. Nizhamul Islam. dkk. Muhammad Yusanto. 2004. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah Al-Quran al-Karim Ismail. peraturan Hidup dalam Islam). 2001. Jakarta: Gaya Media Pratama Nata. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan Kontemporer. dan Praktis. dkk. 1999. 1999. Abuddin. Bogor: Al-Azhar Press . Jakarta: Gaya Media Pratama Jalaluddin dan Umar Said. 2005. Abu Amin dkk.DAFTAR PUSTAKA Nizar. Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang Taqiyuddin. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Mustaqim. Filsafat Islam. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. 2002. Jakarta: Ciputat Pers Nasution. Menggagas Pendidikan Islami. (terj. Teoritis.

Teoritis. dan Praktis. Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. 85 . Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Wali Songo Semarang) Samsul Nizar. (1996. Teoritis. (2005. (2002. (1999. dan Praktis. Filsafat Pendidikan Islam. (1999. dkk. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis. Jakarta: Gaya Media Pratama) = Abuddin Nata. Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik Dan Kontemporer.= Samsul Nizar. Jakarta: Ciputat Pers) = Hasyimsyah Nasution. (2002. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada) = Mustaqim. Jakarta: Ciputat Press). hlm. Jakarta: Gaya Media Pratama) = Jalaluddin dan Umar Said. Filsafat Islam. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful