P. 1
PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

|Views: 1,424|Likes:
Published by Pri Rhoro Menduth

More info:

Published by: Pri Rhoro Menduth on Feb 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

Sections

  • PEMBAHASAN
  • A. MENERAPKAN ASPEK HUKUM DAN DALAM PRAKTIK
  • KEBIDANAN
  • PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
  • NOMOR HK.02.02/MENKES/149/2010 TENTANG IZIN DAN
  • PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN
  • BAB I
  • KETENTUAN UMUM
  • BAB II
  • PERIZINAN
  • BAB III
  • PENYELENGGARAAN PRAKTIK
  • BAB IV
  • PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
  • BAB V
  • KETENTUAN PERALIHAN
  • BAB VI
  • B. PERATURAN PERUNDANGAN YANG MELANDASI PELAYANAN
  • KESEHATAN
  • Pasal 1
  • ASAS DAN TUJUAN
  • Pasal 2
  • Pasal 3
  • HAK DAN KEWAJIBAN
  • Hak
  • Pasal 4
  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 8
  • Bagian Kedua
  • Kewajiban
  • Pasal 9
  • Pasal 10
  • Pasal 11
  • Pasal 12
  • Pasal 13
  • TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH
  • Pasal 14
  • Pasal 15
  • Pasal 16
  • Pasal 17
  • Pasal 18
  • Pasal 19
  • Pasal 20
  • SUMBER DAYA DI BIDANG KESEHATAN
  • Bagian Kesatu
  • Tenaga Kesehatan
  • Pasal 21
  • Pasal 22
  • Pasal 23
  • Pasal 24
  • Pasal 25
  • Pasal 26
  • Pasal 27
  • Pasal 28
  • Pasal 29
  • Fasilitas Pelayanan Kesehatan
  • Pasal 30
  • Pasal 31
  • Pasal 32
  • Pasal 34
  • Pasal 35
  • Bagian Ketiga
  • Perbekalan Kesehatan
  • Pasal 36
  • Pasal 37
  • Pasal 38
  • Pasal 39
  • Pasal 40
  • Pasal 41
  • Bagian Keempat
  • Teknologi dan Produk Teknologi
  • Pasal 42
  • Pasal 43
  • Pasal 44
  • Pasal 45
  • UPAYA KESEHATAN
  • Umum
  • Pasal 46
  • Pasal 47
  • Pasal 48
  • Pasal 49
  • Pasal 50
  • Pasal 51
  • Pelayanan Kesehatan
  • Paragraf Kesatu
  • Pemberian Pelayanan
  • Pasal 52
  • Pasal 53
  • Pasal 54
  • Pasal 55
  • Paragraf Kedua
  • Perlindungan Pasien
  • Pasal 56
  • Pasal 57
  • Pasal 58
  • Pelayanan Kesehatan Tradisional
  • Pasal 59
  • Pasal 60
  • Pasal 61
  • Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
  • Pasal 62
  • Bagian Kelima
  • Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan Kesehatan
  • Pasal 63
  • Pasal 64
  • Pasal 65
  • Pasal 66
  • Pasal 67
  • Pasal 68
  • Pasal 69
  • Pasal 70
  • Bagian Keenam
  • Kesehatan Reproduksi
  • Pasal 71
  • Pasal 72
  • Pasal 73
  • Pasal 74
  • Pasal 75
  • Pasal 76
  • Pasal 77
  • Bagian Ketujuh
  • Keluarga Berencana
  • Pasal 78
  • Bagian Kedelapan
  • Kesehatan Sekolah
  • Pasal 79
  • Bagian Kesembilan
  • Kesehatan Olahraga
  • Pasal 80
  • Pasal 81
  • Bagian Kesepuluh
  • Pelayanan Kesehatan Pada Bencana
  • Pasal 82
  • Pasal 84
  • Pasal 85
  • Bagian Kesebelas
  • Pelayanan Darah
  • Pasal 86
  • Pasal 87
  • Pasal 88
  • Pasal 89
  • Pasal 90
  • Pasal 91
  • Pasal 92
  • Bagian Kedua Belas
  • Kesehatan Gigi dan Mulut
  • Pasal 93
  • Bagian Ketiga Belas
  • Penanggulangan Gangguan Penglihatan
  • Pasal 95
  • Pasal 96
  • Bagian Keempat Belas
  • Kesehatan Matra
  • Pasal 97
  • Bagian Kelima Belas
  • Pengamanan dan Penggunaan
  • Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
  • Pasal 98
  • Pasal 99
  • Pasal 100
  • Pasal 101
  • Pasal 102
  • Pasal 103
  • Pasal 104
  • Pasal 105
  • Pasal 106
  • Pasal 107
  • Pasal 108
  • Bagian Keenam Belas
  • Pengamanan Makanan dan Minuman
  • Pasal 109
  • Pasal 110
  • Pasal 111
  • Pasal 112
  • Bagian Ketujuh Belas
  • Pengamanan Zat Adiktif
  • Pasal 113
  • Pasal 114
  • Pasal 115
  • Pasal 116
  • Bagian Kedelapan Belas
  • Bedah Mayat
  • Pasal 117
  • Pasal 118
  • Pasal 119
  • Pasal 120
  • Pasal 121
  • Pasal 122
  • Pasal 123
  • Pasal 124
  • Pasal 125
  • BAB VII
  • REMAJA, LANJUT USIA, DAN PENYANDANG CACAT
  • Pasal 126
  • Pasal 127
  • Pasal 128
  • Pasal 129
  • Pasal 130
  • Pasal 131
  • Pasal 132
  • Pasal 133
  • Pasal 134
  • Pasal 135
  • Kesehatan Remaja
  • Pasal 136
  • Pasal 137
  • Kesehatan Lanjut Usia dan Penyandang Cacat
  • Pasal 138
  • Pasal 139
  • Pasal 140
  • BAB VIII
  • GIZI
  • Pasal 141
  • Pasal 142
  • Pasal 143
  • BAB IX
  • KESEHATAN JIWA
  • Pasal 144
  • Pasal 145
  • Pasal 146
  • Pasal 147
  • Pasal 148
  • Pasal 149
  • Pasal 150
  • Pasal 151
  • BAB X
  • PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR
  • Penyakit Menular
  • Pasal 152
  • Pasal 153
  • Pasal 154
  • Pasal 155
  • Pasal 156
  • Pasal 157
  • Penyakit Tidak Menular
  • Pasal 158
  • Pasal 159
  • Pasal 160
  • Pasal 161
  • BAB XI
  • KESEHATAN LINGKUNGAN
  • Pasal 162
  • Pasal 163
  • BAB XII
  • KESEHATAN KERJA
  • Pasal 164
  • Pasal 165
  • Pasal 166
  • BAB XIII
  • PENGELOLAAN KESEHATAN
  • Pasal 167
  • BAB XIV
  • INFORMASI KESEHATAN
  • Pasal 168
  • Pasal 169
  • BAB XV
  • PEMBIAYAAN KESEHATAN
  • Pasal 170
  • Pasal 171
  • Pasal 172
  • Pasal 173
  • BAB XVI
  • PERAN SERTA MASYARAKAT
  • Pasal 174
  • BAB XVII
  • BADAN PERTIMBANGAN KESEHATAN
  • Nama dan Kedudukan
  • Pasal 175
  • Pasal 176
  • Pasal 177
  • BAB XVIII
  • Pembinaan
  • Pasal 178
  • Pasal 179
  • Pasal 180
  • Pasal 181
  • Pengawasan
  • Pasal 182
  • Pasal 183
  • Pasal 184
  • Pasal 185
  • Pasal 186
  • Pasal 187
  • Pasal 188
  • BAB XIX
  • PENYIDIKAN
  • Pasal 189
  • BAB XX
  • KETENTUAN PIDANA
  • Pasal 190
  • Pasal 191
  • Pasal 192
  • Pasal 193
  • Pasal 194
  • Pasal 195
  • Pasal 196
  • Pasal 197
  • Pasal 198
  • Pasal 199
  • Pasal 200
  • Pasal 201
  • BAB XXI
  • Pasal 202
  • Pasal 203
  • BAB XXII
  • KETENTUAN PENUTUP
  • Pasal 204
  • Pasal 205
  • Menimbang :
  • Mengingat :
  • MEMUTUSKAN :
  • Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG
  • TENAGA KESEHATAN
  • DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN
  • DAN ALAT KESEHATAN
  • Perencanan
  • Pengadaan
  • Penempatan
  • Bagian kedua
  • Perlindungan hukum
  • a. Undang-undang tentang aborsi

BAB II PEMBAHASAN

A. MENERAPKAN ASPEK HUKUM DAN DALAM PRAKTIK KEBIDANAN 1. PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG

MELANDASI TUGAS, FUNGSI DAN PRAKTIK BIDAN Hukum kesehatan adalah rangkaian peraturan perundang-undangan dalam bidang kesehatan yang mengatur tentang pelayanan medik dan sarana medik. Perumusan hukum kesehatan mengandung pokok-pokok pengertian sebagai berikut : a. Kesehatan menurut WHO, adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan, jiwa dan sosial, bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Adapun istilah kesehatan dalam undang-undang kesehatan No. 36 Tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. b. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. c. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk

melakukan upaya kesehatan. d. Tenaga kesehatan meliputi tenaga kesehatan sarjana, sarjana muda. Adapun yang di maksud dengan tenaga adalah tenaga kesehatan pada tingkat sarjana dan sarjana muda. Di bidang kebidanan adalah bidan yang terdiri dari diploma III dan IV kebidanan.

2

e. Sarana medik meliputi rumah sakit umum, rumah sakit khusus, dan rumah bersalin, praktik berkelompok, balai pengobatan/klinik dan sarana lain yang diterapkan menteri kesehatan. f. Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. g. Transplantasi adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh seseorang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/149/2010 TENTANG IZIN DAN PENYELENGGARAAN PRAKTIK BIDAN

Merupakan revisi dari KEPMENKES RI NO. 900/MENKES/SK/VII/2002 ini terdiri dari 10 bab. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 2. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

3

3. Surat Izin Praktek Bidan yang selanjutnya disingkat SIPB adalah bukti tertulis yang diberikan kepada Bidan yang sudah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik kebidanan. 4. Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi yang meliputi standar pelayanan, standar profesi dan standar operasional prosedur. 5. Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Pemerintah kepada tenaga kesehatan yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 6. Obat Bebas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna hijau yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. 7. Obat Bebas Terbatas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna biru yang dapat diperoleh tanpa resep dokter. 8. Organisasi Profesi adalah Ikatan Bidan Indonesia BAB II PERIZINAN

Pasal 2 1. Bidan dapat menjalankan praktik pada fasilitas pelayanan kesehatan 2. Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) meliputi fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktek mandiri dan/atau praktik mandiri. 3. Bidan yang menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berpendidikan minimal Diploma III (D III) kebidanan.

4

Surat pernyataan memiliki tempat praktik d. sebagaimana tercantum dalam Formulir I (terlampir) 5 . c. Pasfoto berwarna terbaru ukuran 4×6 sebanyak 3 (tiga ) lembar. dan e. SIPB sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota. Kewajiban memiliki SIPB dikecualikan bagi bidan yang menjalankan praktik pada fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri atau Bidan yang menjalankan tugas pemerintah sebagai Bidan Desa. Pasal 4 1. Untuk memperoleh SIPB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 5 1. Fotocopi STR yang masih berlaku dan dilegalisir b. bidan harus mengajukan permohonan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan melampirkan: a. 2. Surat permohonan memperoleh SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Pasal 3 1. Setiap bidan yang menjalankan praktek wajib memiliki SIPB 2. Surat keterangan sehat fisik dari Dokter yang memiliki Surat Izin Praktik. SIPB berlaku selama STR masih berlaku. Rekomendasi dari Organisasi Profesi 2.

3. SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sebagaimana tercantum dalam Formulir II terlampir Pasal 6 1. Yang bersangkutan meninggal dunia BAB III PENYELENGGARAAN PRAKTIK Pasal 8 6 . 4. 3. Dalam menjalankan praktik mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Masa berlakunya habis dan tidak diperpanjang 3. Tempat praktik tidak sesuai lagi dengan SIPB 2. Bidan wajib memasang nama praktik kebidanan Pasal 7 SIPB dinyatakan tidak berlaku karena: 1. Bidan dalam menjalankan praktik mandiri harus memenuhi persyaratan meliputi tempat praktik dan peralatan untuk tindakan asuhan kebidanan 2. Ketentuan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantu dalam m lampiran peraturan ini. SIPB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan untuk 1 (satu) tempat praktik. Dicabut atas rekomendasi Organisasi Profesi 5. Dicabut atas perintah pengadilan 4.

Pasal 10 1. masa nifas dan masa menyusui. dan c. Pertolongan persalinan normal e. 3. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a ditujukan kepada ibu dan bayi 2.Bidan dalam menjalankan praktik berwenang untuk memberikan pelayanan meliputi: a. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal d. Pelayanan reproduksi perempuan. Pelayanan kebidanan b. Pelayanan ibu nifas normal 7 . Pelayanan kesehatan masyarakat Pasal 9 1. Penyuluhan dan konseling b. masa persalinan. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pada masa kehamilan. Pemeriksaan fisik c. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) meliputi: a. Pelayanan kebidanan pada bayi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pada bayi baru lahir normal sampai usia 28 (dua puluh delapan) hari.

Memberikan imunisasi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah b. Pemberian imunisasi bayi dalam rangka menjalankan tugas pemerintah. Pelayanan kebidanann kepada bayi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3) meliputi: a. Inisiasi menyusui dini dan promosi air susu ibu eksklusif h. Penjahitan luka episiotomi e. Kompresi bimanual dalam rangka kegawatdaruratan. Perawatan bayi d. Perawatan tali pusat c. Resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia 8 . Resusitasi pada bayi baru lahir e.2. dan f. dilanjutkan dengan perujukan. f. Pemberian penyuluhan Pasal 11 Bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a berwenang untuk: a. Pencegahan anemi g. Bimbingan senam hamil c. Pemeriksaan bayi baru lahir b. Episiotomi d.

Pemberian surat keterangan kelahiran m. Memberikan penyuluhan/konseling pemilihan kontrasepsi d.i. j. b. c. l. Pasal 13 Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf c. berwenang untuk. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk. Memberikan konseling dan tindakan pencegahan kepada perempuan pada masa pranikah dan prahamil. Pemberian obat bebas. a. berwenang untuk: 9 . Pemberian surat keterangan hamil untuk keperluan cuti melahirkan Pasal 12 Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b. Melakukan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. Pemberian minum dengan sonde/pipet k. Memasang alat kontrasepsi dalam rahim di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dengan supervisi dokter. dan kondom. Memberikan alat kontrasepsi oral. suntikan dan alat kontrasepsi dalam rahim dalam rangka menjalankan tugas pemerintah. uterotonika untuk postpartum dan manajemen aktif kala III. dan e.

b. 4. Pemerintah daerah menyelenggarakan pelatihan bagi bidan yang memberikan pelayanan di daerah yang tidak memiliki dokter. 2. 3. merujuk dan memberikan penyuluhan Infeksi Menular Seksual (IMS). Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas. dan c. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat dibidang kesehatan ibu dan bayi. Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan nyawa seseorang/pasien dan tidak ada dokter di tempat kejadian. 2. Melaksanakan deteksi dini. Pasal 14 1. Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diseleenggarakan sesuai dengan modul Modul Pelatihan yang ditetapkan oleh Menteri. 10 . Daerah yang tidak memiliki dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah kecamatan atau kelurahan/desa yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pasal 15 1. Bagi bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter. kewenangan bidan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku. Dalam hal daearah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah terdapat dokter. dalam rangka melaksanakan tugas pemerintah dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8. bidan dapat melakukan pelayanan kesehatan di luar kewenangan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8.a. penyalahgunaan Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) serta penyakit lainnya.

Meminta persetujuan tindakan kebidanan yang akan dilakukan.3. Pasal 16 Pada daerah yang tidak memiliki dokter. Menghormati hak pasien b. pemerintah daerah hanya menempatkan Bidan dengan pendidikan Diploma III kebidanan atau bidan dengan pendidikan Diploma I kebidanan yang telah mengikuti pelatihan. Bidan yang lulus pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memperoleh sertifikat. bidan berkewajiban untuk: a. c. f. Mematuhi standar. e. g. Merujuk kasus yang tidak dapat ditangani dengan tepat waktu. dan 11 . Menyimpan rahasia kedokteran sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Dalam menjalankan praktik. Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan. Melakukan pencatatan asuhan kebidanan secara sistematis. Pasal 17 Bidan dalam menjalankan praktik harus membantu program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. d. Pasal 18 1.

Bidan dalam menjalankan praktik senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya. Menerima imbalan jasa profesi. b. Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan dan mengikutsertakan organisasi profesi.h. bidan mempunyai hak: a. dan d. BAB IV PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 20 1. 12 . Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik sepanjang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan. Melakukan pelaporan penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk pelaporan kelahirana dan kematian. standar pro fesi dan standar pelayanan. dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya. 2. Melaksanakan tugas sesuai dengan kewenangan. Memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien dan/ atau keluarganya. Pasal 19 Dalam melaksanakan praktik. Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan. keselamatan pasien dan melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan. c. 2.

Teguran lisan b. BAB V KETENTUAN PERALIHAN Pasal 22 1.Pasal 21 1. atau d. Pada saat peraturan ini mulai berlaku. dilaksanakan sesuai ketentuan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan tin dakan administratif kepada bidan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan penyelenggaraan praktik dalam peraturan ini. Pencabutan SIPB selamanya. SIPB yang sedang dalam proses perizinan. SIPB yang dimiliki Bidan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan masih tetap berlaku sampai masa SIPB berakhir. 2. Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: a. Dalam rangka melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 20. 2. BAB VI KETENTUAN PENUTUP 13 . Teguran tertulis c. Pencabutan SIPB untuk sementara paling lama 1 (satu) tahun.

PERATURAN PERUNDANGAN YANG MELANDASI PELAYANAN KESEHATAN 1. spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. PH B. Agar setiap orang mengetahuinya. 14 . memerintahkan pengundangan peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 27 Januari 2010 Dr. Pasal 24 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi dan Praktik Bidan sepanjang yang berkaitan dengan perizinan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Endang rahayu Sedyaningsih. baik secara fisik. DR.Pasal 23 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan : 1. MPH. mental. Kesehatan adalah keadaan sehat.

7. merawat orang sakit. tenaga. pemerintah daerah. preventif. aparatus. 8. obat tradisional. mendiagnosis. perbekalan kesehatan. sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah. 3. bahan mineral. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Obat adalah bahan atau paduan bahan. bahan hewan. untuk manusia. 9. pemerintah daerah. penyembuhan. 6. menyembuhkan dan meringankan penyakit. dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. mesin dan/atau implan yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah. termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis. peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. pemulihan. bahan obat. dan/atau masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan. pencegahan. 5. baik promotif. kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah. Alat kesehatan adalah instrumen. atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah 15 . 4. sediaan sarian (galenik). dan kosmetika. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dala m bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sediaan farmasi adalah obat. memulihkan kesehatan pada manusia. Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana.2. dan/atau masyarakat. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan.

15. pencegahan. pengurangan penderitaan akibat penyakit. pengendalian penyakit. dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. 12. Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. 13. 11. atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin. 14. terintregasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit. peningkatan kesehatan. 16. Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit. Pelayanan kesehatan preventif adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu. dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat 16 . pengobatan penyakit. Teknologi kesehatan adalah segala bentuk alat dan/atau metode yang ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosa. Pelayanan kesehatan promotif adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan. dan penanganan permasalahan kesehatan manusia.digunakan untuk pengobatan. 10.

gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama. pelindungan. penghormatan terhadap hak dan kewajiban. 17. Pemerintah Pusat. 17 . dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. 18. 19. keadilan.dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. keseimbangan. selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintah Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. bupati. Pasal 3 Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. kemauan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan. atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pemerintah daerah adalah gubernur. Menteri adalah menteri yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang kesehatan. manfaat.

Pasal 6 Setiap orang berhak mendapatkan lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Pasal 8 Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang akan diterimanya dari tenaga kesehatan. 18 . Pasal 5 (1) Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan.BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Kesatu Hak Pasal 4 Setiap orang berhak atas kesehatan. Pasal 7 Setiap orang berhak untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggung jawab. bermutu. (2) Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman. dan terjangkau. (3) Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya.

Pasal 11 Setiap orang berkewajiban berperilaku hidup sehat untuk mewujudkan. dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. upaya kesehatan masyarakat. 19 . Pasal 10 Setiap orang berkewajiban menghormati hak orang lain dalam upaya memperoleh lingkungan yang sehat. mempertahankan. dan pembangunan berwawasan kesehatan. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maupun sosial. Pasal 12 Setiap orang berkewajiban menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan bagi orang lain yang menjadi tanggung jawabnya.Bagian Kedua Kewajiban Pasal 9 (1) Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan. biologi. Pasal 13 (1) Setiap orang berkewajiban turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial. dan memajukan kesehatan yang setinggi-tingginya. mempertahankan. pelaksanaannya meliputi upaya kesehatan perseorangan. (2) Program jaminan kesehatan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. baik fisik.

20 . (2) Tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikhususkan pada pelayanan publik. membina. mengatur. dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. tatanan. Pasal 15 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan lingkungan. Pasal 18 Pemerintah bertanggung jawab memberdayakan dan mendorong peran aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya kesehatan. Pasal 17 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi. fasilitas kesehatan baik fisik maupun sosial bagi masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggitingginya.BAB IV TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH Pasal 14 (1) Pemerintah bertanggung jawab merencanakan. menyelenggarakan. Pasal 16 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. edukasi.

(2) Ketentuan mengenai perencanaan. pembinaan. pengadaan. (2) Pelaksanaan sistem jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan mengenai tenaga kesehatan diatur dengan Undang-Undang. 21 . BAB V SUMBER DAYA DI BIDANG KESEHATAN Bagian Kesatu Tenaga Kesehatan Pasal 21 (1) Pemerintah mengatur perencanaan. dan terjangkau. efisien. aman. Pasal 20 (1) Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat melalui sistem jaminan social nasional bagi upaya kesehatan perorangan. (2) Ketentuan mengenai kualifikasi minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 22 (1) Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum. pembinaan. dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan.Pasal 19 Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk upaya kesehatan yang bermutu. pengadaan. pendayagunaan. dan pengawasan mutu tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. pendayagunaan.

hak pengguna pelayanan kesehatan. Pasal 25 (1) Pengadaan dan peningkatan mutu tenaga kesehatan diselenggarakan oleh Pemerintah. (3) Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan.Pasal 23 (1) Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. standar pelayanan. (5) Ketentuan mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Menteri. pemerintah daerah. tenaga kesehata n wajib memiliki izin dari pemerintah. 22 . dan standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Ketentuan mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan. (4) Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi. standar profesi. (2) Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. dan standar prosedur operasional. dan/atau masyarakat melalui pendidikan dan/atau pelatihan. (2) Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh organisasi profesi. standar pelayanan. Pasal 24 (1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik.

23 .(2) Penyelenggaraan pendidikan dan/atau pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah. b. (3) Ketentuan mengenai penyelengaraan pendidikan dan/atau pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 27 (1) Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. c. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan tenaga kesehatan diatur dalam Peraturan Pemerintah. jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. jumlah sarana pelayanan kesehatan. (2) Pemerintah daerah dapat mengadakan dan mendayagunakan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan daerahnya. Pasal 26 (1) Pemerintah mengatur penempatan tenaga kesehatan untuk pemerataan pelayanan kesehatan. dan jumlah tenaga kesehatan sesuai dengan beban kerja pelayanan kesehatan yang ada. (3) Pengadaan dan pendayagunaan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan memperhatikan: a. (4) Penempatan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tetap memperhatikan hak tenaga kesehatan dan hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang merata.

pelayanan kesehatan perseorangan. tenaga kesehatan wajib melakukan pemeriksaan kesehatan atas permintaan penegak hukum dengan biaya ditanggung oleh negara. kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi. dan pelayanan kesehatan masyarakat. (2) Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Pasal 28 (1) Untuk kepentingan hukum.(2) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. menurut jenis pelayanannya terdiri atas: a. (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada kompetensi dan kewenangan sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pasal 29 Dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya. (3) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah. 24 . Bagian Kedua Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pasal 30 (1) Fasilitas pelayanan kesehatan. b.

Pasal 31 Fasilitas pelayanan kesehatan wajib : a. baik pemerintah maupun swasta dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka. Pasal 33 25 . mengirimkan laporan hasil penelitian dan pengembangan kepada pemerintah daerah atau Menteri. baik pemerintah maupun swasta. Pasal 32 (1) Dalam keadaan darurat. Pelayanan kesehatan tingkat kedua. wajib memberikan pelayanan kesehatan bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan terlebih dahulu. dan Pelayanan kesehatan tingkat ketiga. fasilitas pelayanan kesehatan. (3) Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh pihak Pemerintah. (5) Ketentuan perizinan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. c. (4) Ketentuan persyaratan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku. pemerintah daerah. memberikan akses yang luas bagi kebutuhan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan. (2) Dalam keadaan darurat.b. fasilitas pelayanan kesehatan. dan b. dan swasta.

Jumlah dan persebaran penduduk. Pasal 35 (1) Pemerintah daerah dapat menentukan jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan serta pemberian izin beroperasi di daerahnya. b. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. f. Fungsi sosial. Pemanfaatannya. Pola penyakit. (2) Penentuan jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemerintah daerah dengan mempertimbangkan: a. Pasal 34 (1) Setiap pimpinan penyelenggaraan fasilitas pelayanan kesehatan perseorangan harus memiliki kompetensi manajemen kesehatan perseorangan yang dibutuhkan. e. g. c. dan Kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. 26 . Luas wilayah. (2) Penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan dilarang mempekerjakan tenaga kesehatan yang tidak memiliki kualifikasi dan izin melakukan pekerjaan profesi. d.(1) Setiap pimpinan penyelenggaraan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat harus memiliki kompetensi manajemen kesehatan masyarakat yang dibutuhkan. (2) Kompetensi manajemen kesehatan masyarakat sebagaimana d imaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri. Kebutuhan kesehatan.

dan asilum. harga. terutama obat esensial. Pemerintah dapat melakukan kebijakan khusus untuk pengadaan dan pemanfaatan obat dan bahan yang berkhasiat obat.(3) Ketentuan mengenai jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan serta pemberian izin beroperasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga untuk fasilitas pelayanan kesehatan asing. 27 . (2) Dalam menjamin ketersediaan obat keadaan darurat. (2) Pengelolaan perbekalan kesehatan yang berupa obat esensial dan alat kesehatan dasar tertentu dilaksanakan dengan memperhatikan kemanfaatan. penelitian. dan keterjangkauan perbekalan kesehatan. (4) Ketentuan mengenai jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk jenis rumah sakit khusus karantina. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan factor yang berkaitan dengan pemerataan. pemerataan. Pasal 37 (1) Pengelolaan perbekalan kesehatan dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat akan perbekalan kesehatan terpenuhi. Bagian Ketiga Perbekalan Kesehatan Pasal 36 (1) Pemerintah menjamin ketersediaan.

Pasal 38 (1) Pemerintah mendorong dan mengarahkan pengembangan perbekalan kesehatan dengan memanfaatkan potensi nasional yang tersedia. (2) Pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan terutama untuk obat dan vaksin baru serta bahan alam yang berkhasiat obat. (3) Pengembangan perbekalan kesehatan dilakukan dengan

memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, termasuk sumber daya alam dan sosial budaya.

Pasal 39 Ketentuan mengenai perbekalan kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 40 (1) Pemerintah menyusun daftar dan jenis obat yang secara esensial harus tersedia bagi kepentingan masyarakat. (2) Daftar dan jenis obat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditinjau dan disempurnakan paling lama setiap 2 (dua) tahun sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan teknologi. (3) Pemerintah menjamin agar obat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersedia secara merata dan terjangkau oleh masyarakat. (4) Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat melakukan kebijakan khusus untuk pengadaan dan pemanfaatan perbekalan kesehatan. (5) Ketentuan mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan mengadakan pengecualian terhadap ketentuan paten sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur paten.

28

(6) Perbekalan kesehatan berupa obat generik yang termasuk dalam daftar obat esensial nasional harus dijamin ketersediaan dan

keterjangkauannya, sehingga penetapan harganya dikendalikan oleh Pemerintah. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai perbekalan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 41 (1) Pemerintah daerah berwenang merencanakan kebutuhan perbekalan kesehatan sesuai dengan kebutuhan daerahnya. (2) Kewenangan merencanakan kebutuhan perbekalan kesehatan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap memperhatikan pengaturan dan pembinaan standar pelayanan yang berlaku secara nasional.

Bagian Keempat Teknologi dan Produk Teknologi Pasal 42 (1) Teknologi dan produk teknologi kesehatan diadakan, diteliti, diedarkan, masyarakat. (2) Teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup segala metode dan alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit, mendeteksi adanya penyakit, meringankan penderitaan akibat penyakit, menyembuhkan, memperkecil komplikasi, dan memulihkan kesehatan setelah sakit. (3) Ketentuan mengenai teknologi dan produk teknologi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kesehatan

29

Pasal 43 (1) Pemerintah membentuk lembaga yang bertugas dan berwenang melakukan penapisan, pengaturan, pemanfaatan, serta pengawasan terhadap penggunaan teknologi dan produk teknologi. (2) Pembentukan lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 44 (1) Dalam mengembangkan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 dapat dilakukan uji coba teknologi atau produk teknologi terhadap manusia atau hewan. (2) Uji coba sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan jaminan tidak merugikan manusia yang dijadikan uji coba. (3) Uji coba sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh orang yang berwenang dan dengan persetujuan orang yang dijadikan uji coba. (4) Penelitian terhadap hewan harus dijamin untuk melindungi kelestarian hewan tersebut serta mencegah dampak buruk yang tidak langsung bagi kesehatan manusia. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan uji coba terhadap manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 45 (1) Setiap orang dilarang mengembangkan teknologi dan/atau produk teknologi yang dapat berpengaruh dan membawa risiko buruk terhadap kesehatan masyarakat.

30

Keluarga berencana. h. Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan tradisional. b. menyeluruh. d. dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu. g. kuratif. Kesehatan reproduksi. e.(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan. Kesehatan sekolah. f. c. Pasal 47 Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif. Pasal 48 (1) Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dilaksanakan melalui kegiatan: a. diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. BAB VI UPAYA KESEHATAN Bagian Kesatu Umum Pasal 46 Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat. Kesehatan olahraga. Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. 31 . preventif.

(2) Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didukung oleh sumber daya kesehatan. moral. (2) Penyelenggaraan upaya kesehatan harus memperhatikan fungsi sosial. j. Pasal 50 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab meningkatkan dan mengembangkan upaya kesehatan. Pengamanan zat adiktif. dan/atau Bedah mayat. p. k. Pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Pelayanan darah. (2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang kurangnya memenuhi kebutuhan kesehatan dasar masyarakat. l. Pengamanan makanan dan minuman.i. Pelayanan kesehatan pada bencana. o. Penanggulangan pendengaran. dan norma agama. Kesehatan gigi dan mulut. dan etika profesi. n. gangguan penglihatan dan gangguan m. q. Pasal 49 (1) Pemerintah. nilai. (3) Peningkatan dan pengembangan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan pengkajian dan penelitian. pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung jawab atas penyelenggaraan upaya kesehatan. 32 . sosial budaya. Kesehatan matra.

(2) Upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada standar pelayanan minimal kesehatan. preventif. 33 . b. (2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif. Pelayanan kesehatan perseorangan dan Pelayanan kesehatan masyarakat. Bagian Kedua Pelayanan Kesehatan Paragraf Kesatu Pemberian Pelayanan Pasal 52 (1) Pelayanan kesehatan terdiri atas : a. dan rehabilitatif. Pasal 51 (1) Upaya kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi individu atau masyarakat. Pasal 53 (1) Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga.(4) Ketentuan mengenai peningkatan dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui kerja sama antarPemerintah dan antarlintas sektor. kuratif. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan minimal kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). nondiskriminatif. Paragraf Kedua Perlindungan Pasien Pasal 56 (1) Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah 34 . Pasal 55 (1) Pemerintah wajib menetapkan standar mutu pelayanan kesehatan. dan masyarakat.(2) Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat. (3) Pengawasan terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah. Pasal 54 (1) Penyelenggaraan bertanggung pelayanan aman. (3) Pelaksanaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien disbanding kepentingan lainnya. kesehatan bermutu. dilaksanakan serta merata secara dan jawab. pemerintah daerah. (2) Standar mutu pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Perintah pengadilan. dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan keseh atan yang diterimanya. atau Kepentingan orang tersebut. b. 35 . c. e. Kepentingan masyarakat. b. c.menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap. Pasal 58 (1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang. (2) Ketentuan mengenai hak atas rahasia kondisi kesehatan pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal: a. (2) Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada: a. (3) Ketentuan mengenai hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Perintah undang-undang. tenaga kesehatan. Penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas. d. Pasal 57 (1) Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan. Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri. Izin yang bersangkutan. atau Gangguan mental berat.

(3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Pelayanan Kesehatan Tradisional Pasal 59 (1) Berdasarkan cara pengobatannya. b. Pasal 60 (1) Setiap orang yang melakukan pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi harus mendapat izin dari lembaga kesehatan yang berwenang. (2) Pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibina dan diawasi oleh Pemerintah agar dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan jeni pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksudpada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan keterampilan. (2) Penggunaan alat dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma agama dan kebudayaan masyarakat. pelayanan kesehatan tradisional terbagi menjadi: a. 36 . pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ramuan.(2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam keadaan darurat.

meningkatkan pelayanan kesehatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya. Bagian Keempat Peningkatan Kesehatan dan Pencegahan Penyakit Pasal 62 (1) Peningkatan kesehatan merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah. pemerintah daerah. atau kegiatan lain untuk menunjang tercapainya hidup sehat. (3) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin dan menyediakan fasilitas untuk kelangsungan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. dan/atau masyarakat untuk menghindari atau mengurangi risiko. dan dampak buruk akibat penyakit. penyebarluasan informasi. kepentingan. dan/atau masyarakat untuk mengoptimalkan kesehatan melalui kegiatan penyuluhan. pemerintah daerah. (2) Pencegahan penyakit merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah.Pasal 61 (1) Masyarakat diberi kesempatan yang dan seluas-luasnya menggunakan untuk mengembangkan. (2) Pemerintah mengatur dan mengawasi pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan didasarkan pada keamanan. masalah. (4) Ketentuan lebih lanjut tentang upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit diatur dengan Peraturan Menteri. 37 . dan perlindungan masyarakat.

(2) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan. atau menghilangkan cacat. 38 . (4) Pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. (3) Organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun.Bagian Kelima Penyembuhan Penyakit dan Pemulihan Kesehatan Pasal 63 (1) Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan diselenggarakan untuk mengembalikan status kesehatan. bedah plastik dan rekonstruksi. (5) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan atau berdasarkan cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan. mengembalikan fungsi tubuh akibat penyakit dan/atau akibat cacat. (3) Pengendalian. dan/atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatan dan keamanannya. dan/atau perawatan. (2) Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengendalian. pengobatan. implan obat dan/atau alat kesehatan. serta penggunaan sel punca. pengobatan. Pasal 64 (1) Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh.

hanya dapat dilakukan apabila telah terbukti keamanan dan kemanfaatannya.Pasal 65 (1) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. (2) Pengambilan organ dan/atau jaringan tubuh dari seorang donor harus memperhatikan kesehatan pendonor yang bersangkutan dan mendapat persetujuan pendonor dan/atau ahli waris atau keluarganya. Pasal 66 Transplantasi sel. Pasal 68 (1) Pemasangan implan obat dan/atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang 39 . (3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengambilan dan pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Pasal 67 (1) Pengambilan dan pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. baik yang berasal dari manusia maupun dari hewan.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 70 (1) Penggunaan sel punca hanya dapat dilakukan untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. (2) Bedah plastik dan rekonstruksi tidak boleh bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dan tidak ditujukan untuk mengubah identitas. Pasal 69 (1) Bedah plastik dan rekonstruksi hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. 40 . (3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara bedah plastic dan rekonstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) Sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh berasal dari sel punca embrionik. serta dilarang digunakan untuk tujuan reproduksi.mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. (2) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan pemasangan implan obat dan/atau alat kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

saat sebelum hamil. 41 . edukasi. d.Bagian Keenam Kesehatan Reproduksi Pasal 71 (1) Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik. mental. alat konstrasepsi. tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem. preventif. paksaan. menentukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi. pengaturan kehamilan. menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat. reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) (3) Kesehatan dilaksanakan melalui kegiatan promotif. fungsi. c. Pasal 72 Setiap orang berhak: a. menentukan sendiri kapan dan berapa sering ingin bereproduksi sehat secara medis serta tidak bertentangan dengan norma agama. dan sosial secara utuh. (2) Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. serta bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan yang sah. dan/atau kekerasan yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia sesuai dengan norma agama. c. dan kesehatan sistem reproduksi. kuratif. b. dan rehabilitatif. melahirkan. aman. hamil. b. dan kesehatan seksual. dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. memperoleh informasi. dan sesudah melahirkan. dan proses reproduksi pada lakilaki dan perempuan.

preventif. bermutu. maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. (3) Ketentuan mengenai reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 74 (1) Setiap pelayanan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif. (2) Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tidak bertentangan dengan nilai agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. kuratif. (3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan 42 . yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan. dan/atau rehabilitatif.Pasal 73 Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman. termasuk reproduksi dengan bantuan dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas. khususnya reproduksi perempuan. diatur dengan Peraturan Pemerintah. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan. dan terjangkau masyarakat. termasuk keluarga berencana. baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin. atau b. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.

oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri. kecuali dalam hal kedaruratan medis. 43 . b. c.diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. e. Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. tidak aman. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan. Bagian Ketujuh Keluarga Berencana Pasal 78 (1) Pelayanan kesehatan dalam keluarga berencana dimaksudkan untuk pengaturan kehamilan bagi pasangan usia subur untuk membentuk generasi penerus yang sehat dan cerdas. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. dengan izin suami. dan penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu. dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. d. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan. kecuali korban perkosaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

dan terjangkau oleh masyarakat. (3) Ketentuan mengenai kesehatan sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedelapan Kesehatan Sekolah Pasal 79 (1) Kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar. (2) Kesehatan sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui sekolah formal dan informal atau melalui lembaga pendidikan lain. kerja. Bagian Kesembilan Kesehatan Olahraga Pasal 80 (1) Upaya kesehatan olahraga ditujukan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat. 44 . tumbuh. alat dan obat dalam memberikan pelayanan keluarga berencana yang aman. (3) Ketentuan mengenai pelayanan keluarga berencana dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan. bermutu. dan olahraga. dan berkembang secara harmonis dan setinggitingginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.(2) Pemerintah bertanggung jawab dan menjamin ketersediaan tenaga. (2) Peningkatan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan upaya dasar dalam meningkatkan prestasi belajar. fasilitas pelayanan.

(3) Upaya kesehatan olahraga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui aktifitas fisik. latihan fisik. (2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan kesehatan pada tanggap darurat dan pascabencana. (2) Penyelenggaraan upaya kesehatan olahraga diselenggarakan oleh Pemerintah. Bagian Kesepuluh Pelayanan Kesehatan Pada Bencana Pasal 82 (1) Pemerintah. dan masyarakat. Pasal 83 45 . fasilitas. (4) Pemerintah menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemerintah daerah. dan pelaksanaan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan pada bencana. dan masyarakat bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya. anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). (3) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup pelayanan kegawatdaruratan yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan lebih lanjut. atau bantuan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (5) Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN). dan/atau olahraga. Pasal 81 (1) Upaya kesehatan olahraga lebih mengutamakan pendekatan preventif dan promotif. pemerintah daerah. tanpa mengabaikan pendekatan kuratif dan rehabilitatif.

baik pemerintah maupun swasta wajib memberikan pelayanan kesehatan pada bencana bagi penyelamatan nyawa pasien dan pencegahan kecacatan.(1) Setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan pada bencana harus ditujukan untuk penyelamatan nyawa. (2) Pemerintah menjamin perlindungan hukum bagi setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (2) Fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka terlebih dahulu. fasilitas pelayanan kesehatan. Bagian Kesebelas Pelayanan Darah Pasal 86 (1) Pelayanan darah merupakan upaya pelayanan kesehatan yang memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan kemanusiaan dan tidak untuk tujuan komersial. pencegahan kecacatan lebih lanjut. 46 . Pasal 85 (1) Dalam keadaan darurat. dan kepentingan terbaik bagi pasien. (2) Darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh dari pendonor darah sukarela yang sehat dan memenuhi kriteria seleksi pendonor dengan mengutamakan kesehatan pendonor. Pasal 84 Ketentuan lebih lanjut tentang penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada bencana diatur dengan Peraturan Menteri.

pemerintah daerah.(3) Darah yang diperoleh dari pendonor darah sukarela sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebelum digunakan untuk pelayanan darah harus dilakukan pemeriksaan laboratorium guna mencegah penularan penyakit. dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (2) Unit Transfusi Darah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. Pasal 88 (1) Pelayanan transfusi darah meliputi perencanaan. 47 . pengerahan pendonor darah. Pasal 89 Menteri mengatur standar dan persyaratan pengelolaan darah untuk pelayanan transfusi darah. penyediaan. mudah diakses. Pasal 87 (1) Penyelenggaraan donor darah dan pengolahan darah dilakukan oleh Unit Transfusi Darah. dan tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. dan/atau organisasi sosial yang tugas pokok dan fungsinya di bidang kepalangmerahan. Pasal 90 (1) Pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan darah yang aman. pendistribusian darah. (2) Pelaksanaan pelayanan transfusi darah dilakukan dengan menjaga keselamatan dan kesehatan penerima darah dan tenaga kesehatan dari penularan penyakit melalui transfusi darah.

(2) Pemerintah menjamin pembiayaan dalam penyelenggaraan pelayanan darah. (3) Darah dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun. pengobatan penyakit gigi. pemerintah daerah. usaha kesehatan gigi sekolah. (2) Kesehatan gigi dan mulut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan gigi perseorangan. Pasal 91 (1) Komponen darah dapat digunakan untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan melalui proses pengolahan dan produksi. pelayanan kesehatan gigi masyarakat. Bagian Kedua Belas Kesehatan Gigi dan Mulut Pasal 93 (1) Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi. dan pemulihan kesehatan gigi oleh Pemerintah. dan/atau masyarakat yang dilakukan secara terpadu. terintegrasi dan berkesinambungan. (2) Hasil proses pengolahan dan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikendalikan oleh Pemerintah. pencegahan penyakit gigi. Pasal 92 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan darah diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 94 48 .

Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin ketersediaan tenaga. dan terjangkau oleh masyarakat. Bagian Ketiga Belas Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Gangguan Pendengaran Pasal 95 (1) Penanggulangan gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran merupakan semua kegiatan yang dilakukan meliputi pelayanan promotif. pemerintah daerah. kuratif. alat dan obat kesehatan gigi dan mulut dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang aman. Bagian Keempat Belas Kesehatan Matra Pasal 97 (1) Kesehatan matra sebagai bentuk khusus upaya kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggitingginya dalam lingkungan matra yang serba berubah maupun di lingkungan darat. dan pendengaran masyarakat. (2) Penyelenggaraan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah. dan udara. preventif. laut. Pasal 96 Ketentuan lebih lanjut mengenai penanggulangan gangguan penglihatan dan pendengaran diatur dengan Peraturan Menteri. bermutu. dan masyarakat. fasilitas pelayanan. dan rehabilitatif yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan indera penglihatan. 49 .

bermutu. berkhasiat/bermanfaat. dan/atau perawatan. (3) Penyelenggaraan kesehatan matra harus dilaksanakan sesuai dengan standar dan persyaratan. mengendalikan. pengobatan. mempromosikan. pengolahan. promosi.(2) Kesehatan matra meliputi kesehatan lapangan. 50 . Pasal 99 (1) Sumber sediaan farmasi yang berasal dari alam semesta dan sudah terbukti berkhasiat dan aman digunakan dalam pencegahan. (4) Pemerintah berkewajiban membina. (2) Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan dilarang mengadakan. dan mengawasi pengadaan. kesehatan kelautan dan bawah air. (3) Ketentuan mengenai pengadaan. mengolah. promosi. mengatur. penyimpanan. serta kesehatan kedirgantaraan. menyimpan. serta pemeliharaan kesehatan tetap harus dijaga kelestariannya. dan pengedaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dan mengedarkan obat dan bahan yang berkhasiat obat. dan terjangkau. pengedaran sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi standar mutu pelayanan farmasi yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kelima Belas Pengamanan dan Penggunaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Pasal 98 (1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan harus aman. penyimpanan. (4) Ketentuan mengenai kesehatan matra sebagaimana dimaksud dalam pasal ini diatur dengan Peraturan Menteri.

meningkatkan. Pasal 102 (1) Penggunaan sediaan farmasi yang berupa narkotika dan psikotropika hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dokter atau dokter gigi dan dilarang untuk disalahgunakan. Pasal 101 (1) Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah. mengembangkan. mengedarkan. mengembangkan. dan menggunakan obat tradisional diatur dengan Peraturan Pemerintah. perawatan. (2) Ketentuan mengenai narkotika dan psikotropika dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(2) Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah. 51 . (2) Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan bahan baku obat tradisional . mengembangkan. meningkatkan. mengedarkan. mengedarkan. Pasal 100 (1) Sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman digunakan dalam pencegahan. (2) Ketentuan mengenai mengolah. dan/atau pemeliharaan kesehatan tetap dijaga kelestariannya. memproduksi. (3) Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan sediaan farmasi. dan menggunakan sediaan farmasi yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya. meningkatkan. dan menggunakan obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya. memproduksi. memproduksi. pengobatan.

(2) Penggunaan obat dan obat tradisional harus dilakukan secara rasional. (2) Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan.Pasal 103 (1) Setiap orang yang memproduksi. (2) Ketentuan mengenai produksi. peredaran. Pasal 104 (1) Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau khasiat/kemanfaatan. Pasal 106 (1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar. serta penggunaan narkotika dan psikotropika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. (2) Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat kesehatan harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditentukan. Pasal 105 (1) Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan baku obat harus memenuhi syarat farmakope Indonesia atau buku standar lainnya. menyimpan. mengedarkan. penyimpanan. 52 . dan menggunakan narkotika dan psikotropika wajib memenuhi standar dan/atau persyaratan tertentu.

dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.(3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin edar. Pasal 107 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau kemanfaatan. bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Keenam Belas Pengamanan Makanan dan Minuman Pasal 109 Setiap orang dan/atau badan hukum yang memproduksi. pelayanan informasi obat serta pengembangan obat. pengamanan. Pasal 108 (1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengadaan. mengolah. serta mendistribusikan makanan dan minuman yang diperlakukan sebagai makanan dan minuman hasil teknologi rekayasa genetik yang 53 . pelayanan obat atas resep dokter. (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pengendalian mutu sediaan farmasi. penyimpanan dan pendistribusian obat.

Nama produk. Berat bersih atau isi bersih. Daftar bahan yang digunakan.diedarkan harus menjamin agar aman bagi manusia. hewan yang dimakan manusia. b. (4) Pemberian tanda atau label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara benar dan akurat. d. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukan makanan dan minuman kedalam wilayah Indonesia. Pasal 111 (1) Makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan pada standar dan/atau persyaratan kesehatan. dan e. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian label sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 54 . (3) Setiap makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau label yang berisi: a. (2) Makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan lingkungan. c. bulan dan tahun kadaluwarsa. Tanggal. Pasal 110 Setiap orang dan/atau badan hukum yang memproduksi dan mempromosikan produk makanan dan minuman dan/atau yang diperlakukan sebagai makanan dan minuman hasil olahan teknologi dilarang menggunakan kata-kata yang mengecoh dan/atau yang disertai klaim yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

pendistribusian makanan. dicabut izin edar dan disita untuk dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pengolahan.ndan minuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109. peredaran. dan/atau membahayakan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk diedarkan. (2) Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau. Pasal 110. dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya. produk yang mengandung tembakau. dan lingkungan. 55 . Pasal 112 Pemerintah berwenang dan bertanggung jawab mengatur dan mengawasi produksi. dan Pasal 111. cairan. persyaratan kesehatan. dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditetapkan. (3) Produksi. padat. Pasal 114 Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan rokok ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan. Bagian Ketujuh Belas Pengamanan Zat Adiktif Pasal 113 (1) Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan. keluarga. ditarik dari peredaran.(6) Makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar. masyarakat.

pemerintah daerah. (2) Pemerintah. tempat proses belajar mengajar. (2) Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya. Bagian Kedelapan Belas Bedah Mayat Pasal 117 Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem jantungsirkulasi dan sistem pernafasan terbukti telah berhenti secara permanen. Pasal 116 Ketentuan lebih lanjut mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 118 (1) Mayat yang tidak dikenal harus dilakukan upaya identifikasi. tempat ibadah. angkutan umum. d. g. atau apabila kematian batang otak telah dapat dibuktikan. tempat anak bermain.Pasal 115 (1) Kawasan tanpa rokok antara lain: a. b. f. dan tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan. tempat kerja. 56 . fasilitas pelayanan kesehatan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya identifikasi mayat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. e. c. dan masyarakat bertanggung jawab atas upaya identifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

57 . tidak diperlukan persetujuan. dipublikasikan untuk dicarikan keluarganya. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai bedah mayat anatomis sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Mayat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus telah diawetkan. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. atas persetujuan tertulis orang tersebut semasa hidupnya atau persetujuan tertulis keluarganya. (2) Bedah mayat anatomis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan terhadap mayat yang tidak dikenal atau mayat yang tidak diurus oleh keluarganya. ayat (2). dan disimpan sekurangkurangnya 1 (satu) bulan sejak kematiannya.Pasal 119 (1) Untuk kepentingan penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan dapat dilakukan bedah mayat klinis di rumah sakit. (3) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas persetujuan tertulis pasien semasa hidupnya atau persetujuan tertulis keluarga terdekat pasien. (4) Dalam hal pasien diduga meninggal akibat penyakit yang membahayakan masyarakat dan bedah mayat klinis mutlak diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan/atau penyebab kematiannya. (2) Bedah mayat klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menegakkan diagnosis dan/atau menyimpulkan penyebab kematian. Pasal 120 (1) Untuk kepentingan pendidikan di bidang ilmu kedokteran dan biomedik dapat dilakukan bedah mayat anatomis di rumah sakit pendidikan atau di institusi pendidikan kedokteran.

atau oleh dokter lain apabila tidak ada dokter ahli forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter ahli forensiknya tidak dimungkinkan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan bedah mayat forensik diatur dengan Peraturan Menteri. 58 . tenaga kesehatan wajib melaporkan kepada penyidik sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas tersedianya pelayanan bedah mayat forensik di wilayahnya. (2) Bedah mayat forensik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter ahli forensik. (2) Tindakan pemanfaatan organ donor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam hal pada saat melakukan bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis ditemukan adanya dugaan tindak pidana.Pasal 121 (1) Bedah mayat klinis dan bedah mayat anatomis hanya dapat dilakukan oleh dokter sesuai dengan keahlian dan kewenangannya. Pasal 122 (1) Untuk kepentingan penegakan hukum dapat dilakukan bedah mayat forensik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penentuan kematian dan pemanfaatan organ donor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 123 (1) Pada tubuh yang telah terbukti mati batang otak dapat dilakukan tindakan pemanfaatan organ sebagai donor untuk kepentingan transplantasi organ.

kuratif dan rehabilitatif. LANJUT USIA. REMAJA. (2) Upaya kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi upaya promotif. bayi. Pasal 125 Biaya pemeriksaan kesehatan terhadap korban tindak pidana dan/atau pemeriksaan mayat untuk kepentingan hokum ditanggung oleh pemerintah melalui APBN dan APBD. dan terjangkau. dan anak Pasal 126 (1) Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu. norma kesusilaan. preventif. alat dan obat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu secara aman. ANAK. (3) Pemerintah menjamin ketersediaan tenaga. BAYI. BAB VII KESEHATAN IBU.Pasal 124 Tindakan bedah mayat oleh tenaga kesehatan harus dilakukan sesuai dengan norma agama. DAN PENYANDANG CACAT Bagian Kesatu Kesehatan ibu. fasilitas. dan etika profesi. 59 . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelayanan kesehatan ibu diatur dengan Peraturan Pemerintah. bermutu.

dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. kecuali atas indikasi medis. \ 60 . (2) Selama pemberian air susu ibu. dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. b. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. (2) Ketentuan mengenai persyaratan kehamilan di luar cara alamiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 127 (1) Upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan: a. hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal. Pemerintah. pihak keluarga. dan c. pemerintah daerah. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum.

Pasal 130 Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak. 61 . dan sam berusia pai 18 (delapan belas) tahun. dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak. Pasal 131 (1) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan u ntuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat. (2) Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. cerdas. dan pemerintah daerah. keluarga. masyarakat. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis-jenis imunisasi dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Menteri. (3) Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi. dilahirkan. setelah dilahirkan. (2) Ketentuan mengenai anak yang dilahirkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan Pemerintah. (3) Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menjadi tanggung jawab dan kewajiban bersama bagi orang tua. Pasal 132 (1) Anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggung jawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.

Pasal 135 (1) Pemerintah. pemerintah daerah.Pasal 133 (1) Setiap bayi dan anak berhak terlindungi dan terhindar dari segala bentuk diskriminasi dan tindak kekerasan yang dapat mengganggu kesehatannya. dan masyarakat berkewajiban untuk menjamin terselenggaranya perlindungan bayi dan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menyediakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan. 62 . (2) Standar dan/atau kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diselenggarakan sesuai dengan pertimbangan moral. dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 134 (1) Pemerintah berkewajiban menetapkan standar dan/atau kriteria terhadap kesehatan bayi dan anak serta menjamin pelaksanaannya dan memudahkan setiap penyelenggaraan terhadap standar dan kriteria tersebut. nilai agama. dan masyarakat wajib menyediakan tempat dan sarana lain yang diperlukan untuk bermain anak yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara optimal serta mampu bersosialisasi secara sehat. (2) Pemerintah. (2) Tempat bermain dan sarana lain yang diperlukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilengkapi sarana perlindungan terhadap risiko kesehatan agar tidak membahayakan kesehatan anak. pemerintah daerah.

pemerintah daerah.Bagian Kedua Kesehatan Remaja Pasal 136 (1) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja harus ditujukan untuk mempersiapkan menjadi orang dewasa yang sehat dan produktif. baik sosial maupun ekonomi. (3) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah. dan masyarakat. Pasal 137 (1) Pemerintah berkewajiban menjamin agar remaja dapat memperoleh edukasi. (2) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk untuk reproduksi remaja dilakukan agar terbebas dari berbagai gangguan kesehatan yang dapat menghambat kemampuan menjalani kehidupan reproduksi secara sehat. informasi. 63 . (2) Ketentuan mengenai kewajiban Pemerintah dalam menjamin agar remaja memperoleh edukasi. informasi dan layanan mengenai kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan pertimbangan moral nilai agama dan berdasark ketentuan an peraturan perundang-undangan. dan layanan mengenai kesehatan remaja agar mampu hidup sehat dan bertanggung jawab.

Pasal 140 Upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia dan penyandang cacat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 138 dan Pasal 139 dilakukan oleh Pemerintah. Pasal 139 (1) Upaya pemeliharaan kesehatan penyandang cacat harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial. BAB VIII GIZI Pasal 141 (1) Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.Bagian Ketiga Kesehatan Lanjut Usia dan Penyandang Cacat Pasal 138 (1) Upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan. ekonomis. dan bermartabat. pemerintah daerah. (2) Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis. (2) Pemerintah wajib menjamin ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan memfasilitasi penyandang cacat untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomis. dan/atau masyarakat. 64 .

(4) Pemerintah berkewajiban menjaga agar bahan makanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memenuhi standar mutu gizi yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. b. perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang. pemerintah daerah. Pasal 142 (1) Upaya perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada kelompok rawan: a. perbaikan perilaku sadar gizi. 65 . peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. (2) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan standar angka kecukupan gizi. aktivitas fisik. c. dan/atau masyarakat bersama-sama menjamin tersedianya bahan makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi secara merata dan terjangkau.(2) Peningkatan mutu gizi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui : a. standar pelayanan gizi. dan ibu hamil dan menyusui. (5) Penyediaan bahan makanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara lintas sektor dan antarprovinsi. dan kesehatan. antarkabupaten atau antarkota. bayi dan balita. (3) Pemerintah. (3) Pemerintah bertanggung jawab atas pemenuhan kecukupan gizi pada keluarga miskin dan dalam situasi darurat. remaja perempuan. c. dan d. peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi. dan standar tenaga gizi pada berbagai tingkat pelayanan. b.

dan masyarakat melakukan upaya untuk mencapai status gizi yang baik.(4) Pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan dan informasi yang benar tentang gizi kepada masyarakat. (5) Pemerintah. BAB IX KESEHATAN JIWA Pasal 144 (1) Upaya kesehatan jiwa ditujukan untuk menjamin setiap orang dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat. dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa. (5) Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban untuk mengembangkan upaya kesehatan jiwa berbasis masyarakat sebagai 66 . promotif. (4) Pemerintah. rehabilitatif pasien gangguan jiwa dan masalah psikososial. Pasal 143 Pemerintah bertanggung jawab meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi. dan masyarakat. pemerintah daerah. dan masyarakat bertanggung jawab menciptakan kondisi kesehatan jiwa yang setinggi-tingginya dan menjamin ketersediaan. aksesibilitas. kuratif. bebas dari ketakutan. (2) Upaya kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas preventif. pemerintah daerah. pemerintah daerah. tekanan. mutu dan pemerataan upaya kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud dalam pada ayat (2). (3) Upaya kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah.

(3) Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban menyediakan layanan informasi dan edukasi tentang kesehatan jiwa. kuratif. 67 . pemerintah daerah dan masyarakat. (2) Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menghindari pelanggaran hak asasi seseorang yang dianggap mengalami gangguan kesehatan jiwa. Pasal 147 (1) Upaya penyembuhan penderita gangguan kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab Pemerintah. promotif. pemerintah daerah dan masyarakat menjamin upaya kesehatan jiwa secara preventif.bagian dari upaya kesehatan jiwa keseluruhan. digunakan fasilitas pelayanan kesehatan khusus yang memenuhi syarat dan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Upaya penyembuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang dan di tempat yang tepat dengan tetap menghormati hak asasi penderita. Pasal 145 Pemerintah. termasuk mempermudah akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jiwa. termasuk menjamin upaya kesehatan jiwa di tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (3). dan rehabilitatif. Pasal 146 (1) Masyarakat berhak mendapatkan informasi dan edukasi yang benar mengenai kesehatan jiwa. (3) Untuk merawat penderita gangguan kesehatan jiwa.

(3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas pemerataan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan jiwa dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat.Pasal 148 (1) Penderita gangguan jiwa mempunyai hak yang sama sebagai warga negara. dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum wajib mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan. (4) Tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk pembiayaan pengobatan dan perawatan penderita gangguan jiwa untuk masyarakat miskin. Pasal 149 (1) Penderita gangguan jiwa yang terlantar. mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain. kecuali peraturan perundang-undangan menyatakan lain. (2) Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi persamaan perlakuan dalam setiap aspek kehidupan. dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum. mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain. 68 . Pasal 150 (1) Pemeriksaan kesehatan jiwa untuk kepentingan penegakan hukum (visum et repertum psikiatricum) hanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa pada fasilitas pelayanan kesehatan. menggelandang. dan masyarakat wajib melakukan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar. menggelandang. (2) Pemerintah. pemerintah daerah.

preventif. dan rehabilitatif bagi individu atau masyarakat. dan pemberantasan penyakit menular serta akibat yang ditimbulkannya. dan pemberantasan penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk melindungi masyarakat dari tertularnya penyakit. pengendalian. dan penanganan penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan promotif. pemerintah daerah dan masyarakatbertanggung jawab melakukan upaya pencegahan. 69 . menurunkan jumlah yang sakit. (3) Upaya pencegahan. (2) Upaya pencegahan. kuratif. serta untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit menular.(2) Penetapan status kecakapan hukum seseorang yang diduga mengalami gangguan kesehatan jiwa dilakukan oleh tim dokter yang mempunyai keahlian dan kompetensi sesuai dengan standar profesi. pengendalian. cacat dan/atau meninggal dunia. Pasal 151 Ketentuan lebih lanjut mengenai upaya kesehatan jiwa diatur dengan Peraturan Pemerintah. pengendalian. (4) Pengendalian sumber penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan terhadap lingkungan dan/atau orang dan sumber penularan lainnya. BAB X PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR Bagian Kesatu Penyakit Menular Pasal 152 (1) Pemerintah.

dan lama karantina. dan merata bagi masyarakat untuk upaya pengendalian penyakit menular melalui imunisasi. (6) Pelaksanaan upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melalui lintas sektor. 70 . bermutu. (3) Dalam melaksanakan surveilans sebagaimana dimaksud pada ayat (2). tempat karantina. Pemerintah dapat melakukan kerja sama dengan negara lain. (8) Upaya pencegahan pengendalian. dan pemberantasan penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 154 (1) Pemerintah secara berkala menetapkan dan mengumumkan jenis dan persebaran penyakit yang berpotensi menular dan/atau menyebar dalam waktu yang singkat. Pemerintah dapat melakukan kerja sama dengan masyarakat dan negara lain. serta menyebutkan daerah yang dapat menjadi sumber penularan. Pasal 153 Pemerintah menjamin ketersediaan bahan imunisasi yang aman. terjangkau. (7) Dalam melaksanakan upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Pemerintah menetapkan jenis penyakit yang memerlukan karantina. efektif. (2) Pemerintah dapat melakukan surveilans terhadap penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(5) Upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan harus berbasis wilayah.

Pemerintah dapat menyatakan wilayah dalam keadaan wabah. atau kejadian luar biasa (KLB) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang diakui keakuratannya. 71 . pengendalian. tempat karantina. letusan. pemerintah daerah. atau kejadian luar biasa (KLB). (3) Pemerintah. (4) Pemerintah daerah menetapkan jenis penyakit yang memerlukan karantina. tempat karantina. serta menyebutkan daerah yang dapat menjadi sumber penularan. Pasal 156 (1) Dalam melaksanakan upaya pencegahan. (2) Penentuan wilayah dalam keadaan wabah. (2) Pemerintah daerah dapat melakukan surveilans terhadap penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) Pemerintah daerah dalam menetapkan dan mengumumkan jenis dan persebaran penyakit yang berpotensi menular dan/atau menyebar dalam waktu singkat dan pelaksanaan surveilans serta menetapkan jenis penyakit yang memerlukan karantina. pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama dengan masyarakat. dan masyarakat melakukan upaya penanggulangan keadaan wabah.Pasal 155 (1) Pemerintah daerah secara berkala menetapkan dan mengumumkan jenis dan persebaran penyakit yang berpotensi menular dan/atau menyebar dalam waktu yang singkat. dan pemberantasan penyakit menular sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1). (3) Dalam melaksanakan surveilans sebagaimana dimaksud pada ayat (2). letusan. letusan. atau kejadian luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan lama karantina berpedoman pada ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan lama karantina.

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemerintah daerah dan masyarakat melakukan upaya pencegahan. (2) Dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit menular. le tusan. dan penanganan penyakit tidak menular beserta akibat yang ditimbulkannya. 72 . Bagian Kedua Penyakit Tidak Menular Pasal 158 (1) Pemerintah. pengendalian. kuratif. pengendalian. kemauan berperilaku sehat dan mencegah terjadinya penyakit tidak menular beserta akibat yang ditimbulkan. dan rehabilitatif bagi individu atau masyarakat. kesadaran. (3) Upaya pencegahan. dan penanganan penyakit tidak menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan promotif. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyakit menular sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. preventif.(4) Penentuan wilayah dalam keadaan wabah. (2) Upaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk meningkatkan pengetahuan. Pasal 157 (1) Pencegahan penularan penyakit menular wajib dilakukan oleh masyarakat termasuk penderita penyakit menular melalui perilaku hidup bersih dan sehat. tenaga kesehatan yang berwenang dapat memeriksa tempat-tempat yang dicurigai berkembangnya vektor dan sumber penyakit lain. atau kejadian luar biasa dan upaya penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3).

merokok. mengkonsumsi alkohol. Pasal 161 (1) Manajemen pelayanan kesehatan penyakit tidak menular meliputi keseluruhan spektrum pelayanan baik promotif. dan edukasi yang benar tentang faktor risiko penyakit tidak menular yang mencakup seluruh fase kehidupan. preventif. kurang aktivitas fisik. informasi. Pasal 160 (1) Pemerintah. (3) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kerja sama lintas sektor dan dengan membentukjejaring. dan surveilan kematian. kuratif dan rehabilitatif. (2) Faktor risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain meliputi diet tidak seimbang. dan perilaku berlalu lintas yang tidak benar. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan memperoleh informasi yang esensial serta dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular. (2) Manajemen pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola secara profesional sehingga pelayanan kesehatan penyakit tidak 73 . Pasal 159 (1) Pengendalian penyakit tidak menular dilakukan dengan pendekatan surveilan faktor risiko. pemerintah daerah bersama masyarakat bertanggung jawab untuk melakukan komunikasi. ayat (2). dan ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. registri penyakit.(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik nasional maupun internasional.

c. (3) Manajemen pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dititikberatkan pada deteksi dini dan pengobatan penyakit tidak menular. tempat kerja. limbah gas. 74 . maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah. pemerintah daerah dan masyarakat menjamin ketersediaan lingkungan yang sehat dan tidak mempunyai risiko buruk bagi kesehatan. (3) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan gangguan kesehatan. (2) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup lingkungan permukiman. biologi. antara lain: a. kimia. serta tempat dan fasilitas umum. Pasal 163 (1) Pemerintah. berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat.menular tersedia. limbah cair. baik fisik. BAB XI KESEHATAN LINGKUNGAN Pasal 162 Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat. tempat rekreasi. dapat diterima. b. d. e. limbah padat. binatang pembawa penyakit. mudah dicapai.

(2) Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pekerja di sektor formal dan informal. dan makanan yang terkontaminasi. g. (5) Pemerintah menetapkan standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). 75 . laut. zat kimia yang berbahaya. radiasi sinar pengion dan non pengion. udara yang tercemar. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. air yang tercemar. kebisingan yang melebihi ambang batas. dan ayat (3). j. (3) Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi setiap orang selain pekerja yang berada di lingkungan tempat kerja. h. i. maupun udara serta kepolisian Republik Indonesia. BAB XII KESEHATAN KERJA Pasal 164 (1) Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. (4) Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku juga bagi kesehatan pada lingkungan tentara nasional Indonesia baik darat.f. k. (4) Ketentuan mengenai standar baku mutu kesehatan lingkungan dan proses pengolahan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

dan ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Dalam penyeleksian pemilihan calon pegawai pada perusahaan/instansi. peningkatan. (3) Pemerintah memberikan dorongan dan bantuan untuk perlindungan pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Pekerja wajib menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan menaati peraturan yang berlaku di tempat kerja. pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan pekerja. (2) Majikan atau pengusaha menanggung biaya atas gangguan kesehatan akibat kerja yang diderita oleh pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 76 .(6) Pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan menjamin lingkungan kerja yang sehat serta bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kerja. pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 165 (1) Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya pencegahan. peningkatan. ayat (2). Pasal 166 (1) Majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan. hasil pemeriksaan kesehatan secara fisik dan mental digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. (7) Pengelola tempat kerja wajib bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

peran serta dan pemberdayaan masyarakat. BAB XIV INFORMASI KESEHATAN Pasal 168 (1) Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan. upaya kesehatan. serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. informasi kesehatan. 77 . (2) Pengelolaan kesehatan dilakukan secara berjenjang di pusat dan daerah. ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan. (3) Pengelolaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam suatu sistem kesehatan nasional. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.BAB XIII PENGELOLAAN KESEHATAN Pasal 167 (1) Pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah. pembiayaan kesehatan. (2) Informasi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas sektor. ayat (2). pemerintah daerah dan/atau masyarakat melalui pengelolaan administrasi kesehatan. sumber daya kesehatan. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Presiden. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

teralokasi secara adil. (3) Besaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada aya (1) dan t ayat (2) diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari anggaran 78 . (3) Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari Pemerintah. kabupaten/kota dialokasikan minimal 10% (sepuluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji.Pasal 169 Pemerintah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. swasta dan sumber lain. pemerintah daerah. alokasi. dan pemanfaatan. masyarakat. (2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi. (2) Unsur-unsur pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas sumber pembiayaan. BAB XV PEMBIAYAAN KESEHATAN Pasal 170 (1) Pembiayaan kesehatan bertujuan untuk penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan jumlah yang mencukupi. dan termanfaatkan secara berhasil guna dan berdaya guna untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi tingginya. Pasal 171 (1) Besar anggaran kesehatan Pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji.

Pasal 172 (1) Alokasi pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 171 ayat (3) ditujukan untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan publik. kelompok lanjut usia. dan anak terlantar. BAB XVI PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 174 (1) Masyarakat berperan serta. 79 . baik secara perseorangan maupun terorganisasi dalam segala bentuk dan tahapan pembangunan kesehatan dalam rangka membantu mempercepat pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara alokasi pembiayaan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.kesehatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. Pasal 173 (1) Alokasi pembiayaan kesehatan yang bersumber dari swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 ayat (3) dimobilisasi melalui sistem jaminan sosial nasional dan/atau asuransi kesehatan komersial. (2) Ketentuan mengenai tata cara penyelenggaraan system jaminan sosial nasional dan/atau asuransi kesehatan komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. terutama bagi penduduk miskin.

(4) Kedudukan BPKN dan BPKD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) berada sampai pada tingkat kecamatan. yang memiliki tugas. Bagian Kedua Peran. fungsi. Pasal 176 (1) Badan pertimbangan kesehatan berkedudukan di Pusat dan daerah.(2) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup keikutsertaan secara aktif dan kreatif. (3) Badan pertimbangan kesehatan daerah selanjutnya disingkat BPKD berkedudukan di provinsi dan kabupaten/kota. dan wewenang di bidang kesehatan. dan Wewenang Pasal 177 (1) BPKN dan BPKD berperan membantu pemerintah dan masyarakat dalam bidang kesehatan sesuai dengan lingkup tugas masing-masing. (2) Badan pertimbangan kesehatan pusat dinamakan Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional selanjutnya disingkat BPKN berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia. (2) BPKN dan BPKD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas dan wewenang antara lain: 80 . Tugas. BAB XVII BADAN PERTIMBANGAN KESEHATAN Bagian Kesatu Nama dan Kedudukan Pasal 175 Badan pertimbangan kesehatan merupakan badan independen.

(3) BPKN dan BPKD berperan membantu pemerintah dan masyarakat dalam bidang kesehatan. f. dan sesuai dengan strategi yang ditetapkan. menyusun strategi pencapaian dan prioritas kegiatan pembangunan kesehatan. dan g. d. melakukan advokasi tentang alokasi dan penggunaan dana dari semua sumber agar pemanfaatannya efektif. merumuskan dan mengusulkan tindakan korektif yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan yang menyimpang. memberikan masukan kepada pemerintah tentang sasaran pembangunan kesehatan selama kurun waktu 5 (lima) tahun. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai keanggotaan.a. menginventarisasi masalah melalui penelaahan terhadap berbagai informasi dan data yang relevan atau berpengaruh terhadap proses pembangunan kesehatan. susunan organisasi dan pembiayaan BPKN dan BPKD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. efisien. c. memberikan masukan kepada pemerintah dalam pengidentifikasi dan penggerakan sumber daya untuk pembangunan kesehatan. BAB XVIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian Kesatu Pembinaan Pasal 178 Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan terhadap masyarakat dan terhadap setiap penyelenggara kegiatan yang 81 . e. b. memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pembangunan kesehatan.

memenuhi kebutuhan setiap orang dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan. menggerakkan dan melaksanakan penyelenggaraan upaya kesehatan. Pemerintah dan pemerintah daerah. dapat memberikan penghargaan kepada orang atau badan yang telah berjasa dalam setiap kegiatan mewujudkan tujuan kesehatan. melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan. informasi. pembiayaan.berhubungan dengan sumber daya kesehatan di bidang kesehatan dan upaya kesehatan. e. d. f. komunikasi. memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan standar dan persyaratan. Pasal 181 Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinan diatur dengan Peraturan Menteri. b. 82 . memfasilitasi dan menyelenggarakan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan. termasuk sediaan farmasi dan alat kesehatan serta makanan dan minuman. c. Pasal 179 (1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178 diarahkan untuk: a. pendayagunaan tenaga kesehatan. b. (2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui: a. c. edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Pasal 180 Dalam rangka pembinaan. memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan perbekalan kesehatan.

(2) Menteri dalam melakukan pengawasan dapat memberikan izin terhadap setiap penyelengaraan upaya kesehatan. kepala dinas di provinsi. tenaga pengawas mempunyai fungsi: a. 83 . b.Bagian Kedua Pengawasan Pasal 182 (1) Menteri melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan setiap penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan upaya kesehatan. Pasal 183 Menteri atau kepala dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 182 dalam melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga pengawas dengan tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan upaya kesehatan. (3) Menteri dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat mendelegasikan kepada lembaga pemerintah non kementerian. memeriksa perizinan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. memasuki setiap tempat yang diduga digunakan dalam kegiatan yang berhubungan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. Pasal 184 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183. dan kabupaten/kota yang tugas pokok dan fungsinya di bidang kesehatan. (4) Menteri dalam melaksanakan pengawasan mengikutsertakan masyarakat.

84 . Pasal 186 Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan atau patut diduga adanya pelanggaran hukum di bidang kesehatan. atau kabupaten/kota yang tugas pokok dan fungsinya di bidang kesehatan. (2) Menteri dapat mendelegasikan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada lembaga pemerintah nonkementerian. (3) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. pencabutan izin sementara atau izin tetap. tenaga pengawas wajib melaporkan kepada penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 187 Ketentuan lebih lanjut tentang pengawasan diatur dengan Peraturan Menteri. kepala dinas provinsi. Pasal 188 (1) Menteri dapat mengambil tindakan administrative terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. peringatan secara tertulis. b.Pasal 185 Setiap orang yang bertanggung jawab atas tempat dilakukannya pemeriksaan oleh tenaga pengawas mempunyai hak untuk menolak pemeriksaan apabila tenaga pengawas yang bersangkutan tidak dilengkapi dengan tanda pengenal dan surat perintah pemeriksaan.

d. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak pidana di bidang kesehatan. b. c. e. melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang kesehatan. BAB XIX PENYIDIKAN Pasal 189 (1) Selain penyidik polisi negara Republik Indonesia. kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan pemerintahan yang menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan juga diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang kesehatan. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang kesehatan. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan. (3) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh penyidik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Hukum Acara Pidana. f. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: a. g. 85 . meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang kesehatan.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengambilan tindakan administratif sebagaimana dimaksud pasal ini diatur oleh Menteri. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan adanya tindak pidana di bidang kesehatan. melakukan pemeriksaan atas surat dan/atau dokumen lain tentang tindak pidana di bidang kesehatan.

Pasal 192 Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau jaringan tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 86 . (2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan terjadinya kecacatan atau kematian.000.000. pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000.000. luka berat atau kematian dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (satu miliar rupiah).BAB XX KETENTUAN PIDANA Pasal 190 (1) Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang melakukan praktik atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama terhadap pasien yang dalam keadaan gawat darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) atau Pasal 85 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp. Pasal 191 Setiap orang yang tanpa izin melakukan praktik pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) sehingga mengakibatkan kerugian harta benda.100.000.200.000.00 (seratus juta rupiah).000.00 (dua ratus juta rupiah).1.

000.000.000.000.500.000. Pasal 196 Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak meme nuhi standar dan/atau persyaratan keamanan.1.00 (lima ratus juta rupiah).000.000. khasiat atau kemanfaatan. 87 . dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (satu miliar rupiah).000. Pasal 193 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan bedah plastic dan rekonstruksi untuk tujuan mengubah identitas seseorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000.00 (satu miliar rupiah). Pasal 195 Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan darah dengan dalih apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 Ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000.000.00 (satu miliar rupiah) Pasal 194 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000.00 (satu miliar rupiah).1.1.000.000.

000.100.Pasal 197 Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.100.000.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 199 (1) Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau memasukkan rokok ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tidak mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk gambar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dendan paling banyak Rp500.1. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.000.00 (lima ratus juta rupiah).000.000.00 (seratus juta rupiah) 88 .00 (seratus juta rupiah). (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 dipidana denda paling banyak Rp.500.50.000.000.000.00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).000.000. Pasal 198 Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp.

(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 199. Pasal 199. semua peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Pasal 191. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a.Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1). Pasal 197. selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. Pasal 198. BAB XXI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 202 Peraturan Perundang-undangan sebagai pelaksanaan Undang-Undang ini ditetapkan paling lambat pengundangan Undang-Undang ini. pencabutan izin usaha. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1). Pasal 196 . 1 (satu) tahun sejak tanggal Pasal 203 Pada saat Undang-Undang ini berlaku. b. Pasal 192. dan/atau pencabutan status badan hukum. dan Pasal 200. Pasal 191. Pasal 198. 89 . Pasal 197. dan Pasal 200 dilakukan oleh korporasi. Pasal 196. Pasal 192.

Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 2. Mengingat : 1. Pasal 205 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.BAB XXII KETENTUAN PENUTUP Pasal 204 Pada saat Undang-Undang ini berlaku. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1996 TENTANG TENAGA KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : Bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan. dipandang perlu menetapkan peraturan pemerintah tentang tenaga kesehatan. Agar setiap orang mengetahuinya. 90 . memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TENAGA KESEHATAN. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100. Undang-undang 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 2.

3. Tenaga keperawatan c. Tenaga gizi f. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. 2. Tenaga kefarmasian d.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Tenaga medis meliputi dokter umum dan dokter gigi 3. Tenaga kesehatan terdiri dari : a. Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Tenaga medis b. DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 4. Tenaga keteknisan medis 2. Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan 91 . Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan BAB II JENIS TENAGA KESEHATAN Pasal 2 1. Tenaga kesehatan masyarakat e. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga keterapian fisik g.

4. 6. BAB III PERSYARATAN Pasal 3 Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan dibidang kesehatan yang dinyatakan dalam ijazah dari lembaga pendidikan DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN Pasal 4 1. okupasiterapis dan terapis wicara. Pasal 5 1. 8. bagi tenaga kesehatan masyarakat. penyuluh kesehatan. radioterapis. 5. Selain izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1). analis farmasi dan asisten apoteker. Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh menteri. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker. analisis kesehatan. 92 . mikribiolog kesehatan. Dikecualikan dari pemilik izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1). tenaga medis dan tenaga kefarmasian lulusan dari lembaga pendidikan di luar negeri hanya dapat melakukan upaya kesehatan setelah yang bersangkutan melakukan adaptasi. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan entomolog kesehatan. otorik prostetik. refraksionis optisien. 2. teknisi elektromedis. 7. Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien. 3. teknisi gigi. Tenaga kesehatan hanya dapat melakukan upaya kesehatan setelah tenaga kesehatan yang bersangkutan memiliki izin dari menteri. Tenaga keteknisan medis meliputi radiografi. administrator kesehatan dan senitarian. Tenaga keterapianfisik meliputi fisioterapis. teknisi tranfusi dan perekam medis.

Sarana kesehatan masyarakat c. Pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan nasional tenaga kesehatan. PENGADAAN DAN PENEMPATAN Bagian kesatu Perencanan Pasal 6 1. DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 4. Jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Perencanaan nasional tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh menteri. 93 . BAB IV PERNCANAAN. Perencanaan nasional tenaga kesehatan disusun dengan memperhatikan faktor : a.2. 2. Pengadaan dan penempatan dan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat. 3. Bagian kedua Pengadaan Pasal 7 Pengadaan tenaga kesehatan dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan di bidang kesehatan. Ketentuan lebih lanjut mengenai adaptasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh menteri. Jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat b.

2. Pasal 10 1.Pasal 8 1. Setiap tenaga kesehatan memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan dibidang kesehatan sesuai dengan bidang tugasnya. Penyelenggaraan dan/atau pimpinan sarana kesehatan bertanggung jawab atas pemberian kesempatan kepada tenaga kesehatan yang ditempatkan dan/atau bekerja pada sarana kesehatan yang bersangkutan untuk meningkatkan keterampilan atau pengetahuan melalui pelatihan di bidang kesehatan. Pelatihan di bidang kesehatan dapat dilakukan secara berjenjang sesuai dengan jenis tenaga kesehatan yang bersangkutan. Dilaksanakan berdasarkan izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 1. Pasal 9 1. Pelatihan dibidang kesehatan diarahkan untuk meningkatkan keterampilan atau penguasaan pengetahuan di bidang teknis kesehatan. 2. Penyelenggaraan pendidikan dalam bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat. 2. 3. DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 94 . Pelatihan di bidang kesehatan dilaksanakan dibalai pelatihan tenaga kesehatan atau tempat pelatihannya. Pendidikan dibidang kesehatan dilaksanakan di lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat.

Menteri yang dapat menghentikan pelatihan apabila pelaksanaan pelatihan di bidang kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat ternyata : a. 2.2. 2. e. d. Tenaga kepelatihan. Pasal 13 1. Tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (1). Kurikulum. Pelatihan di bidang kesehatan wajib memenuhi persyaratan tersedianya : a. c. b. Pasal 14 1. Sumber dana yang tetap untuk menjamin kelangsungan penyelenggaraan pelatihan. Sarana dan prasarana. Tidak sesuai dengan arah pelatihan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) b. sar 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur oleh menteri. Pelatihan di bidang kesehatan dapat diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Pasal 12 1. Calon peserta pelatihan. Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan pelatihan di bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh menteri. (2) 95 . Pelatihan di bidang kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilaksanakan oleh masyarakat atas da izin menteri. Pelatihan di bidang kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Lamanya penempatan c. Pelaksanaan penempatan tenaga kesehatan dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 16 Penempatan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh dan menjadi tanggung jawab menteri. Jenis pelayanan kesehatan yang di butuhkan oleh masyarakat d. Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian pelatihan dan pencabutan izin pelatihan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh menteri. DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 3. pemerintah dapat mewajibkan tenaga kesehatan untuk ditempatkan pada sarana kesehatan tertentu untuk jangka waktu tertentu. Bagian ketiga Penempatan Pasal 15 1. 2. Pasal 17 Penempatan tenaga kesehatan dengan cara masa bakti dilaksanakan dengan memperhatikan : a. Kondisi wilayah dimana tenaga kesehatan yang bersangkutan ditempatkan b. Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. 3. Prioritas sarana kesehatan 96 .2. Penempatan tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan cara masa bakti. Mengakibatkan dicabutnya izin pelatihan.

Pasal 19 1. Surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan persyaratan bagi tenaga kesehatan untuk memperoleh izin menyelenggarakan izin kesehatan pada sarana kesehatan 3. Pasal 20 Status tenaga kesehatan dalam penempatan tenaga kesehatan dapat berupa : a. Penempatan tenaga kesehatan dengan cara masa bakti dilaksanakan pada : a. Sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh masyarakat yang ditunjuk oleh pemerintah c. Lingkungan perguruan tinggi sebagai staf pengajar DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN d. Pegawai negeri atau b.Pasal 18 1. Pegawai tidak tetap BAB V STANDAR PROFESI DAN PERLINDUNGAN HUKUM Bagian kesatu Standar profesi Pasal 21 97 . Sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah b. Tenaga kesehatan yang telah melaksanakan masa bakti diberikan surat keterangan dari menteri 2. Lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia 2. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh menteri setelah mendengar pertimbangan dari pimpinan instansi terkait. Pelaksanaan ketentuan huruf c dan d. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh menteri.

Menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien. d. c. 2. 2. e. persetujuan terhadap tindakan yang akan 98 . Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk memenuhi standar profesi tenaga kesehatan 2. Membuat dan memelihara rekam medis. Pasal 22 1. Standar profesi tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh menteri. atau kematian yang terjadi karena kesalahan atau kelalaian. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh menteri. cacat.1. Ganti rugi sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Pasal 23 1. Memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan. Pasien berhak atas ganti rugi apabila dalam pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 mengakibatkan terganggunya kesehatan. Menghormati pasien DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN b. Meminta dilakukan. Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk : a.

uang atau bentuk lain. kesetiaan. Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diberikan oleh pemerintah dan atau masyarakat. martabat dan kesejahteraan tenaga kesehatan. 2. 3. BAB VII IKATAN PROFESI Pasal 26 1.Bagian kedua Perlindungan hukum Pasal 24 1. Bentuk penghargaan dapat berupa kenaikan pangkat. berjasa pada negara atau meninggal dunia dalam melaksanakan tugas diberikan penghargaan. 99 . 2. pengabdian. tanda jasa. BAB IV PENGHARGAAN Pasal 25 1. Pembentukan ikatan profesi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Kepada tenaga kesehatan yang bertugas pada sarana kesehatan atas dasar prestasi kerja. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh menteri. Perlindungan hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan 2. Tenaga kesehatan dapat membentuk ikatan profesi sebagai wadah untuk meningkatkan dan atau mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.

BAB IX PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Bagian kesatu Pembinaan Pasal 28 1. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui pembinaan karir. Pasal 30 1. 2. Pembinaan karier tenaga kesehatan meliputi kenaikan pangkat. Tenaga kesehatan warga negara asing hanya dapat melakukan upaya kesehatan atas dasar izin dari menteri. Pembinaan karier tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. disiplin dan teknis profesi tenaga kesehatan. Pasal 29 1. Pembinaan tenaga kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu pengabdian profesi tenaga kesehatan. Ketentuan lebih lanjut mengenai perizinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh menteri dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang tenaga kerja asing. Pembinaan disiplin tenaga kesehatan menjadi tanggung jawab penyelenggara bersangkutan. jabatan dan pemberian penghargaan. 2. 2.BAB VIII TENAGA KESEHATAN WARGA NEGERA ASING Pasal 27 1. dan atau pimpinan sarana kesehatan yang 100 .

b. 2. Menteri melakukan pembinaan teknis profesi tenaga kesehatan. Pengambilan tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan peraturan yang berlaku. Pembinaan disiplin tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan perundangundangan yang berlaku. Bimbingan b. Pencabutan izin untuk melakukan upaya kesehatan. Pembinaan teknis profesi tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan melalui : a.2. Pasal 31 1. Dalam rangka pengawasan. Tindakan disiplin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : a. menteri dapat mengambil tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan yang bersangkutan. Teguran. BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 34 Barang siapa dengan sengaja menyelenggarakan pelatihan di bidang kesehatan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (2). 2. 101 . Penetapan standar profesi tenaga kesehatan Bagian kedua PENGAWASAN Pasal 32 Pengawasan terhadap tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya. Pelatihan di bidang kesehatan c. 3. Pasal 33 1.

BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 36 Dengan berlakunya peraturan pemerintah ini.00 (sepuluh juta rupiah). memerintahkan pengundangan peraturan pemerintahan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Melakukan upaya kesehatan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1). 10.000. Melakukan upaya kesehatan tanpa melakukan adaptasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (1). b. c. Tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 ayat (1) dipidana denda paling banyak Rp. 102 .dipidana sesuai dengan ketentuan pasal 84 undang-undang nomor tahun 1992 tentang kesehatan. Pasal 37 Peraturan pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.000. Melakukan upaya kesehatan tidak sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam : Pasal 21 ayat (1) d. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 35 Berdasarkan ketentuan pasal 190 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan barang siapa dengan sengaja : a. maka semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tenaga kesehatan yang telah ada masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentang dan/atau belum diganti berdasarkan peraturan pemerintah ini.

Pasal 81 ayat 1 atau buruh perempuan yang didalam masa merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha. Sebagai unsur tenaga kerja. 13 TAHUN 2003 TENTANG Bidan termasuk kategori tenaga kerja. c. b. selama dan sesudah kerja. 103 .3. peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. yang mempunyai peranan dan kedudukan yang sangatlah penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Bid sebagai an tenaga kerja juga berhak mendapat perlindungan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja atau buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi. Pasal 83 pekerja atau buruh perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberikan kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. Pasal 81 ayat 2 pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diatur dalam perjanjian kerja. bidan juga berhak memperoleh perlindungan tenaga kerja sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. e. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua haid. Pasal 82 ayat 1 pekerja atau buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum.5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan. Sehingga bidan memenuhi kaidah unsur sebagai tenaga kerja. d.5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1. Pasal 82 ayat 2 pekerja atau buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1. UNDANG-UNDANG KETENAGAKERJAAN NO. a.

f.

Pasal 84 setiap pekerja atau buruh yang menggunakan hak waktu istirahatnya, mendapat upah atau gaji penuh.

4.

UNDANG-UNDANG TENTANG : a. Undang-undang tentang aborsi Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup diluar rahim, yaitu sebelum 20 minggu. Aborsi juga berarti penghentian kehamilan setelah tertanamnya ovum yang telah dibuahi dalam rahim sebelum usia janin mencapai 20 minggu. Macam-macam abortus : a. Abortus spontaneous Yaitu abortus yang terjadi tanpa disengaja. b. Abortus provocatus Abortus yang dilakukan dengan sengaja atau dibuat, ada dua macam abortus provocatus, yaitu : 1) Abortus provocatus therapiticua 2) Abortus provocatus kriminalis Dasar hukum abortus adalah sebagai berikut : a. HP Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa orang 1) KUHP pasal 299 Ayat 1 memberikan harapan dan digugurkan dihukum 4 tahun penjara. Ayat 2 mengambil keuntungan dari

pengguguran tersebut hukuman 4 tahun penjara ditambah sepertiganya. Ayat 3 menggugurkan kandungan orang

menjadi suatu profesi, dicabut haknya dan dipidana penjara. 2) KUHP pasal 322 Ayat 2 pengangguran dikerjakan hanya orang tertentu tergantung atas pengaduan itu.

104

3) KUHP pasal 436 Seorang wanita yang dengan sengaja 4

menggugurkan tahun. 4) KUHP pasal 347

kandungannya,

dihukum

Sengaja menggugurkan hingga menyebabkan kematian dihukum maksimal 15 tahun. 5) KUHP pasal Sengaja menggugurkan dan atas persetujuan pasien maka dihukum maksimal 7 tahun. 6) KUHP pasal 349 Seorang dokter, bidan dan apoteker membantu kejahatan tersebut, dapat dicabut haknya. b. Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. (3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan

105

yang dilakukan oleh konselor berwenang.

yang kompeten dan

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan : a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; c. d. e. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Undang-undang tentang bayi tabung Bayi tabung adalah upaya jalan pintas untuk mempertemukan sel sperma dan sel telur diluar tubuh ( in

106

Inseminasi buatan dengan sperma suami. Adopsi juga berarti memasukkan anak yang diketahuinya sebgai orang lain kedalam keluarganya dengan status fungsi sama dengan anak kandung. Setelah terjadi konsepsi hasil tersebut dimasukkan kembali kedalam rahim ibu atau embrio transfer sehingga dapat tumbuh menjadi janin sebagaimana layaknya kehamilan biasa. c. 107 . pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. b. c. dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. 36 Tahun 2009 : Pasal 127 (1) Upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan: a. dan c. (2) Ketentuan mengenai persyaratan kehamilan di luar cara alamiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. b. Status bayi tabung ada tiga macam : a.vitro fertilization). Dasar hukum pelaksanaan bayi tabung di indonesia adalah Undang-undang Kesehatan No. hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal. Inseminasi buatan dengan sperma donor. Undang-undang tentang adopsi Adopsi adalah suatu proses penerimaan anak dari seseorang atau lembaga organisasi ketangan orang lain secara sah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Inseminasi dengan model titipan.

Bahwa yang dapat mengadopsi anak adalah pasangan suami istri. 5. janda atau duda. belum diadopsi orang lain. batal secara hukum. Adopsi berbentuk akta notaris.Ada tiga macam hukum perdata. anak laki-laki belum kawin. yaitu para pihak datang. jika janda lebih muda 15 tahun dari ibu angkatnya. baru boleh mengadopsi bila tidak melahirkan keturunan laki-laki. Perdata barat Perdata adat Perdata sesuai agama Hukum perdata tentang adopsi. 7. Anak yang boleh diadopsi. Dari orang tua alami anak yang diadopsi. 108 . 6. Adopsi yang tidak berbentuk notaris. y Anak yang diadopsi dianggap dilahirkan atau dianggap sah. y Gugur hubungan perdata dengan orang tua alami. dengan akta adopsi. 4. 3. Dari anak yang diadopsi sendiri ( tidak mutlak ). 3. yaitu : 1. 2. umur lebih muda minimal sepuluh tahun dari ayah angkatnya. Syarat persetujuan dapat meliputi : y y y y Dari suami istri yang melakukan adopsi. Dari ibu anak apabila ayah meninggal. 2. pernyataan persetujuan bersama orang tua alami dengan calon orang tua angkat. meliputi : 1. Akibat hukum adopsi adalah sebagai berikut : y Anak mendapat nama keturunan orang tua angkat. jika dikuasakan harus dengan surat kuasa notaris. Anak yang diadopsi hanya laki-laki. Kebolehan mengadopsi. terjadi nilai diskriminatif dan patriakal.

8.y Adopsi tidak dapat dicabut atas persetujuan bersama. 109 . Pada hukum perdata adat tidak ada ketentuan jelas. tergantung daerah masing-masing dan garis kekeluargaan yang dianut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->